Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are here KUASA DARAH SANG ANAK DOMBA

KUASA DARAH SANG ANAK DOMBA


By novi - Posted on 06 April 2009

Pesan Kebangunan Rohani kepada banyak orang dewasa ini sungguh menyelidik hati karena amat sederhana. Hanya ada satu hal di dunia ini yang menghalangi orang Kristen berjalan dalam persekutuan dengan Allah dan dipenuhi oleh Roh Kudus, yaitu dosa. Juga hanya ada satu hal di dalam dunia yang dapat menyucikan kita dari dosa, dan hal itu adalah kuasa darah Tuhan Yesus. Penting sekali bagi kita memahami dari manakah asalnya kuasa darah Kristus yang begitu besar. Karena dengan demikian kita akan mengerti dengan syarat apakah kuasa-Nya dapat dialami sepenuhnya di dalam hidup kita.

Banyaknya prestasi dan berkat-berkat yang diterima manusia disebabkan oleh kuasa darah Tuhan Yesus! Dengan kuasa Darah-Nya manusia diperdamaikan dengan Allah (Kolose 1:20); ada pengampunan dosa dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang menaruh imannya kepada Tuhan Yesus (Kolose 1:14; Yohanes 6:54). Dengan kuasa Darah-Nya Iblis dikalahkan (Wahyu 12:11), dan ada penyucian dosa (1 Yohanes 1:7). Dengan kuasa Darah-Nya kita dibebaskan dari sakit hati dan dimampukan untuk melayani Allah yang hidup (Ibrani 9:14). Dengan kuasa-Nya orang yang terhina sekalipun mendapat kemerdekaan untuk masuk ke dalam tempat yang kudus, yaitu hadirat Tuhan dan hidup disana selama-lamanya. Kita perlu bertanya apa yang menyebabkan Darah-Nya begitu berkuasa!

Kita perlu menghubungkan pertanyaan ini dengan pertanyaan lain, bagaimana kita dapat mengalami segala kuasa-Nya itu di dalam hidup kita? Terlalu sering darah yang indah itu tidak memunyai kuasa yang mencuci bersih, yang mendamaikan, yang menghidupkan, yang membinasakan dosa di dalam hati kita, dan terlalu sering kita tidak mengalami kehadiran Tuhan dan persekutuan dengan-Nya sepanjang hari.

Dari Manakah Kuasanya?

Jawaban atas pertanyaan pertama terdapat dalam Kitab Wahyu yang menggambarkan darah Tuhan Yesus dengan ungkapan yang lemah lembut, yaitu "Darah sang Anak Domba" (Wahyu 7:14). Bukan darah seorang prajurit, tetapi darah sang Anak Domba! Dengan kata lain, apa yang memberikan kepada darah yang indah itu kuasa ialah pembawaan-Nya yang lemah lembut seperti anak Domba. Gelar "Sang Anak Domba" yang diberikan kepada Tuhan Yesus di dalam Alkitab, melukiskan pekerjaan-Nya. Ia menjadi korban karena dosa kita. Apabila seorang bangsa Israel berbuat dosa dan ingin diampuni oleh Allah, darah seekor anak dombalah (kadang-kadang kambing) yang harus ditumpahkan dan dipercikkan di atas mezbah. Tuhan Yesus adalah penetapan Ilahi dari semua anak-anak domba yang telah dikurbankan oleh manusia -- sang Anak Domba Allah yang menebus dosa dunia (Yohanes 1:29).

Tetapi gelar sang Anak Domba itu memunyai arti yang lebih mendalam. Gelar itu melukiskan sifat-Nya. Ia adalah sang Anak Domba karena Ia lemah lembut dan rendah hati (Matius 11:29), halus budi dan tidak melawan, dan menyerahkan kehendak-Nya kepada kehendak sang Bapa bagi penyelamatan manusia. Tiap orang, siapapun kecuali sang Anak Domba tentu mendendam dan membalas perlakuan yang telah diberikan oleh manusia kepadanya. Tetapi dalam ketaatan kepada sang Bapa dan karena cinta kasih-Nya kepada kita, Ia tidak mendendam dan tidak membalas. Ketika Ia di cela, Ia tidak membalas. Ketika Ia dianiaya, Ia tidak membela diri-Nya atau hak-hak-Nya. Alangkah jauh perbedaannya dengan sifat kita. Ketika kehendak sang Bapa dan kebencian manusia menunjuk ke Golgota yang gelap itu, sang Anak Domba dengan lemah lembutnya menundukkan kepala-Nya dalam kerelaan-Nya untuk menjalankan semuanya. Dalam nubuatannya tentang sang Anak Domba Nabi Yesaya berkata, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yesaya 53:7) Penderaan, ejekan, perjalanan yang meletihkan, mendaki ke Bukit Golgota, dipaku pada kayu salib, ditusuk dengan lembing, bercucuran darah-Nya -- tak satu pun dari hal ini akan pernah ada jika Ia bukan sang Anak Domba. Dan kesemuanya itu untuk menebus dosa kita.

Setiap waktu biarlah hal itu mengingatkan kita akan kerendahan hati yang sejati dan penyerahan diri sang Anak Domba, karena pembawaan inilah yang memberikan kuasa yang ajaib di hadapan Allah. Kitab Ibrani 9:14 menghubungkan darah Kristus dengan persembahan diri-Nya kepada Allah. "Berapa banyak lagi darah Kristus yang oleh Roh yang kekal itu sudah mempersembahkan diri-Nya sendiri dengan tiada bercacat cela kepada Allah". Kerendahan hati, penyerahan kehendak kita kepada Allah, itulah yang terutama dicari oleh Allah dari manusia. Justru untuk menyatakan semuanya inilah Allah menciptakan manusia yang pertama. Penolakannya untuk menempuh jalan inilah yang merupakan dosanya yang pertama (dan telah menjadi intinya dosa sejak saat itu). Dengan tujuan untuk mengembalikan perangai ini ke dunialah Tuhan Yesus datang. Semata-mata karena sang Bapa melihat perangai ini di dalam Dia. Allah dapat mengatakan, "Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan".

Pertanyaan yang Kedua

Kita sekarang sampai pada pertanyaan yang kedua -- bagaimanakah kita dapat mengalami sepenuhnya kuasa-Nya di dalam hidup kita? Sudah tentu hati kita sendiri memberikan kepada kita jawabannya, ketika kita memandang kepada sang Anak Domba yang menundukkan kepala-Nya untuk kepentingan kita di Golgota. Jawabannya, hanya dengan bersedia memiliki karakter yang sama, yaitu karakter yang menguasai-Nya dan dengan penundukan diri kepada Allah. Galatia 5:22-23 betkata, Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Ini menggambarkan karakter dari Kristus. Janganlah kita lupa bahwa Tuhan Yesus, walaupun telah naik ke Surga, Ia ingin menyatakan Diri-Nya di dalam kita.

Bersediakah Kita?

Tetapi apakah kita bersedia menerima kuasa itu? Jika kita ingin memperoleh karakter seperti Kristus, maka segala keangkuhan hidup harus dihancurkan. Kita dapat berdoa kepada Allah dan memohon agar Ia mengampuni kita dari setiap dosa yang kita lakukan, serta memohon agar Ia memulihkan hidup kita.

Diambil dari:

Judul buku : Jalan Golgota
Judul buku asli : The Calvary Road
Judul artikel : Kuasa Darah Sang Anak Domba
Penulis : Roy dan Revel Hession
Penerjemah : A. Tjokrowidjojo
Penerbit : YAKIN (Yayasan Penerbitan Kristen Injili), Surabaya
Halaman : 72 -- 78