Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.35 Vol.15/2012 / Kuasa di Atas Kejahatan

Kuasa di Atas Kejahatan


"Maka Yesus memanggil kedua belas murid-Nya, lalu memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka untuk menguasai setan-setan." (Lukas 9:1)

Pada saat Yesus akan pergi berkhotbah, Dia mulai membangun jemaat-Nya. Setelah berdoa semalam, Dia memilih 12 murid. Salah seorang dari ke-12 murid itu adalah Yudas. Walaupun demikian, Yesus berkata, "Aku mengenal orang-orang yang telah Aku pilih."

Jangan terkejut bahwa Yesus menunjuk seorang manusia yang lemah, seseorang yang tidak dapat melawan godaan, dan bahkan seseorang yang memberikan dirinya untuk dikuasai iblis (1 Korintus 12:22). Jemaat dibentuk bukan hanya terdiri dari orang-orang yang kuat saja, melainkan juga terdiri dari orang-orang lemah. Tidak ada jemaat tanpa ada anggota tubuhnya yang lemah. Jika yang lemah tidak ada, kepada siapa yang kuat menunjukkan kasih mereka?

Seseorang mungkin bertanya mengapa Tuhan menunjuk Yudas sebagai murid-Nya. Jawabannya sederhana, para pengkhianat akan selalu tinggal di antara orang-orang Kristen. Daud bernubuat untuk Yesus dengan berkata, "Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku." (Mazmur 41:9) Menyedihkan melihat bagaimana seorang teman dekat berubah menentang teman seimannya.

Beberapa orang mengatakan bahwa Yudas sudah dikutuk dari awal sehingga dia tidak dapat berperilaku secara berbeda. Tetapi apakah itu mungkin? Apakah mereka lupa bahwa Allah penuh belas kasihan? Apakah mereka lupa bahwa Yesus tidak melakukan hal yang lain selain kebaikan, bahwa Dia mati bagi semua pendosa tanpa pengecualian? Jika seorang individu tidak menerima keselamatan, ini disebabkan karena dia tidak menginginkan keselamatan itu. Nyatanya, Yesus menangisi Yerusalem, dengan berkata, "Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu ... tetapi kamu tidak mau!" (Matius 23:37) Yesus mau menyelamatkan, tetapi manusia tidak mau diselamatkan.

Manusia bebas untuk memilih. Begitu pula Yudas. Dia tidak diprogram untuk menjadi seorang pengkhianat. Dia sendiri bertanggung jawab menjadi seorang pengkhianat. Setelah Yesus disalibkan, Yudas mengaku dengan mulutnya sendiri, "Aku telah berdosa dengan mengkhianati orang yang tidak bersalah." Oleh karena itu, dia sendiri menyadari bahwa semua kesalahan adalah karena dia, bukan karena Allah.

Mari kita pikirkan ini baik-baik! Sebelum Yudas benar-benar menjadi iblis, dia adalah teman dekat Yesus. Lalu, mengapa kita harus kecewa jika malaikat tidak ada di sekitar kita? Mari kita menahan iblis, seperti Yesus menolak nasihat-nasihat Yudas. Ketika Yesus memberikan kuasa kepada murid-murid-Nya untuk menguasai setan-setan, Yudas termasuk orang yang juga menerima kuasa itu, walaupun dia adalah seorang yang lemah di dalam iman. Bukan hanya yang kuat imannya yang menerima kuasa, melainkan juga yang lemah. Adalah penting memiliki iman. Seperti murid lainnya, Yudas diberi kuasa untuk menguasai iblis dan mengalahkan tipu muslihat musuh. Yesus juga memberikan kuasa kepada kita, bagi orang-orang yang lemah atau kuat untuk tetap setia.

Allah menciptakan Adam sesuai dengan gambaran-Nya (Kejadian 1:28). Namun, seekor perayap yang menyebabkan kejatuhannya, bukan karena Adam tidak memiliki kuasa untuk mengalahkannya, melainkan lebih dikarenakan dia tidak menggunakan kuasa yang telah diberikan kepadanya. Kadang kala, kita juga membiarkan diri diperhamba oleh hal-hal yang lebih daripada Yesus. Alkitab berkata, "Karena itu setiap orang yang berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi" (1 Yohanes 3:6-10).

Sekali diterima di antara murid-murid Yesus, Yudas juga memperoleh jalan masuk menuju sumber kuasa untuk tidak melakukan dosa. Tetapi, dia tidak menggunakan kuasa tersebut. Ini sama seperti yang dilakukan oleh banyak orang Kristen sekarang, yaitu meninggalkan dan tidak menggunakan kuasa itu. Saudara-saudara yang terkasih, "Kuatlah di dalam Tuhan dan di dalam kuasa kebesaran-Nya, yang membuatmu dapat tetap tegak berdiri melawan tipu muslihat iblis."

Diambil dan disunting dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Nopember -- Desember 2003
Penulis : Richard Wumbrand
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 2

e-JEMMi 35/2012