Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereTokoh Misi / Tokoh Misi

Tokoh Misi


Christian David dan Hans Egede

Selain Count Zinzendorf, pribadi yang paling terlibat dalam pendirian gereja Moravia adalah Christian David. Ia bertugas membawa saudara-saudara (Unitas Fratum) yang diasingkan dari seluruh wilayah Eropa sampai ke kediaman Zinzedorf. David dilahirkan di Moravia pada tahun 1690 dalam sebuah keluarga Katolik Roma. Sewaktu kecil, dia adalah seorang penganut Katolik yang saleh, sangat tekun dalam ritual ibadah, hari-hari suci, dan pemujaannya terhadap Perawan Maria. Di kemudian hari, ia menceritakan bahwa hatinya berkobar-kobar oleh ketaatan beragama. Namun di samping kesungguhannya, ia tidak memunyai pemahaman yang benar tentang kekristenan yang sejati, sampai dia dikirim untuk magang pada seorang ahli pertukangan, yang bersama dengan keluarganya secara diam-diam memeluk iman Injili. Namun demikian, pengetahuan David mengenai pengajaran Kristen sangatlah terbatas. Akhirnya, sebelum usianya genap 20 tahun, ia mendapatkan Alkitab, sebuah buku yang tidak pernah ia baca sebelumnya.

Clarence W. Jones dan HCJB World Radio

Pelayanan radio misi telah berjuang keras agar dapat diterima oleh masyarakat Kristen pada umumnya; dan tanpa visi ke depan yang dimiliki oleh Clarence W. Jones maka perkembangan radio misi tidak akan seperti sekarang ini. Jones tidak takut untuk menggunakan radio yang saat itu dianggap sebagai "tool of the devil" (alat setan) untuk penginjilan.

Paul Freed dan Trans World Radio

Dari seluruh organisasi penyiaran misi yang ada, Trans World Radio (TWR) adalah satu-satunya organisasi terbesar dan yang memiliki perbedaan secara geografis. Didirikan pada tahun 1954, hari ini TWR mampu menjangkau 80 persen populasi dunia. Dari Monte carlo, Bonaire, Swaziland, Siprus, Sri Lanka, dan Guam, TWR memancarkan program-program radio Kristen melalui pemancar raksasanya dalam 80 bahasa dan dialek yang berbeda. Bagaimana penginjilan semacam ini dibangun dan dikembangkan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini adalah kisah menarik tentang cobaan yang dialami dan kemenangan yang dicapai oleh tim, yang terdiri dari seorang ayah dan anaknya, Ralph dan Paul Freed.

John Eliot

Salah seorang dari para misionaris pertama, dan mungkin yang terbesar di antara semua misionaris yang melayani orang Indian Amerika, adalah John Eliot. Ia disebut juga "Rasul kepada orang-orang Indian". Namun, di balik nama besarnya tersebut, pekerjaan utama Eliot adalah pelayanannya di gereja Roxbury. Ia adalah seorang pelayan jemaat -- seorang bapak gereja di koloni New England -- bukan seorang misionaris menurut arti jabatan yang diembannya itu. Meskipun demikian, ketaatannya untuk memperkenalkan kekristenan kepada orang-orang Indian membuatnya menjadi salah seorang pemimpin misionaris terbaik sepanjang sejarah. Metode-metode yang digunakannya memiliki kualitas yang tak lekang oleh waktu.

Kenneth Pike

Salah satu dari sekian banyak ahli bahasa yang paling brilian dan paling dihormati di abad ke-20, baik di kalangan sekular maupun di lingkup orang percaya, adalah Ken Pike, yang selama bertahun-tahun menjadi direktur dan presiden Summer Institute of Linguistic.

Samuel Zwemer

Kekuatan yang menjadi ciri khas para sukarelawan mahasiswa, yang menyebar ke seluruh dunia pada akhir abad ke-19, adalah kualitas yang menjadi ujung tombak dalam usaha pelayanan misi ke "dunia sepupu", sebuah tempat yang menolak kekristenan dengan begitu keras. Pelayanan misi pertama ke "dunia sepupu" dilakukan oleh Raymond Lull pada abad ke-13. Pada saat itu, ia hampir dapat dikatakan seorang diri menginjili "orang sepupu" daripada memerangi mereka. Pada abad berikutnya, menurut Stephen Neill, "tanah sepupu" sangat tidak diperhatikan oleh pelayanan misi Kristen, dibandingkan dengan ladang lain yang lebih produktif. Keadaan tersebut berubah pada akhir abad ke-19, sebuah masa yang ditandai dengan dimulainya pertemuan yang lebih nyata antara iman kepada Yesus Kristus dan iman kepada "nabi sepupu". Gereja Anglikan memasuki "wilayah sepupu" pada tahun 1860-an, dan denominasi lain perlahan-lahan mengikutinya. Tetapi Samuel Zwemerlah, seorang mahasiswa yang menjadi sukarelawan dan tanpa dukungan denominasi mana pun, yang mengoordinasi usaha pelayanan misi kepada "orang-orang sepupu", serta menarik perhatian dunia kepada "masyarakat sepupu" dan kebutuhan mereka akan Kristus. Banyak sukarelawan mahasiswa yang lain, termasuk W.H. Temple Gairdner, Dr. Paul Harrison, dan William Borden, yang juga menyerahkan hidup mereka untuk bekerja keras dalam pelayanan misi yang paling sulit dan hampir tanpa penghargaan ini.

Torrey Johnson: Menjangkau Kaum Muda untuk Kristus

Waktu itu tengah malam, ketika pesawat telepon berdering di kediaman Doug Fisher, di Chicago. Suara keras yang menjadi lawan bicaranya ialah milik Torrey Johnson, pendeta dari Gereja Alkitab Midwest.

Isaac McCoy

Misi Protestan untuk orang-orang Indian Amerika telah berubah selama akhir abad ke-18. Masa Kebangkitan Besar yang telah mengobarkan api misi pada masa kolonial telah padam, dan selama bertahun-tahun setelah Revolusi Amerika, misi Protestan seakan tertidur. Lebih-lebih para pelayan tidak lagi menemukan orang-orang Indian yang tidak terjangkau dalam jemaat mereka sendiri. Banyak suku Indian yang punah karena peperangan dan penyakit yang dibawa orang-orang kulit putih, dan sebagian besar dari mereka yang selamat menemukan bahwa populasi daerah pesisir sebelah timur terlalu padat untuk gaya hidup pribumi mereka.

Dwight L. Moody

Dwight Lyman Moody dilahirkan pada tanggal 5 Februari 1837 di Northfield Massachusetts. Dia baru saja berusia empat tahun saat ayahnya, seorang tukang batu bata, meninggal. Ditinggalkan bersama sembilan orang anak yang masih berusia di bawah tiga belas tahun, Betsey Moody sepenuhnya berkewajiban untuk memberi makan dan pakaian, serta membesarkan anak-anaknya yang amat banyak. Akibatnya, pendidikan yang diperoleh Dwight mungkin hanya setara dengan pendidikan hingga kelas lima Sekolah Dasar zaman sekarang.

Adoniram Judson dan Ann Judson

Adoniram Judson dilahirkan pada tanggal 9 Agustus 1788 di Bradford, Massachusetts. Dia adalah putra seorang pendeta Kongregasional. Pada usia enam belas tahun, dia memasuki Universitas Brown dan lulus setelah menjalani masa kuliah selama tiga tahun saja. Sambil mempertanyakan imannya, anak muda itu mulai memutuskan untuk "melihat dunia".