Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKitab Kramat Ukuran Besar (Meksiko, abad ke-20)

Kitab Kramat Ukuran Besar (Meksiko, abad ke-20)


Mengapa Mama gelisah?" tanya Consuela.

Ibu Teresa tidak menjawab pertanyaan anaknya yang perempuan. Ia tetap duduk termenung, menggoyang-goyangkan tubuhnya pelan-pelan sambil kelihatan gelisah.

Consuela merangkak ke sisi ibunyanya. Ia mulai merasa takut. Jarang sekali ibunya kelihatan cemas dan sedih seperti ini! Biasanya dialah yang paling gembira di antara semua penduduk daerah pedesaan di Meksiko itu. Tetapi hari ini, ia bahkan tidak mau diajak bicara.

Consuela melirik ke arah ayahnya. "Pak, kenapa Mama gelisah?" tanyanya lagi dengan berbisik.

Papa mengerutkan dahinya. "Wah, itu gara-gara sang pendeta," jawabnya. "Ia menyuruh kami membeli sebuah Kitab Kramat Ukuran Besar."

Consuela heran. "Kitab seperti itu tempatnya di gereja, kan? Bukan di rumah orang miskin seperti kita ini."

Barulah Mama turut berbicara. "Katanya, karena Kitab itu memang mengandung kuasa kramat, kami semua akan selamat kalau mau membelinya.

Suara papa menggeram. "Yah, `katanya' begitu! Menurut hematku, ia hanya menjualnya untuk mendapat uang. Sang pendeta selalu kekurangan uang. Ia bukan gembala sidang yang baik. Ia tidak memelihara jemaatnya. Kenapa kita mesti beli Kitab itu?"

Tetapi Mama nampaknya menjadi lebih cemas lagi. "Dengarlah, Pak Chico: Sebaiknya kita nurut sama sang pendeta. Kalau tidak, nanti kita akan celaka. Aku takut menolaknya!"

Raut muka Papa sangat murung. "Aku juga takut, Teresa. Tetapi . . . kita tidak punya uang sebanyak itu. Untuk membeli Kitab Kramat Ukuran Besar itu, kita harus menjual sebagian dari tanah kita. Dan bagaimana hidup kita kelak kalau tanah kita sudah dijual?"

Maka mereka tidak jadi membeli. Mama takut-takut terus. Sering juga ia menangis. Dan si Consuela merasakan ketidakbahagiaan yang telah memcengkeram seisi rumah tangganya. Bahkan pada waktu ada pesta di desa mereka, tidak seorang pun di rumah mereka yang turut bergembira.

Setiap minggu Mama dan Consuela pergi ke gereja. Dan setiap minggu pula, sang pendeta mendesak agar mereka membeli Kitab Kramat Ukuran Besar. Ia tidak mau menerima penjelasan mereka bahwa Pak Chico, ayah Consuela, segan menjual tanah untuk dapat membeli Kitab itu.

Memang betul perkataan Papa: Sang pendeta itu bukan gembala sidang yang baik. Ia tidak mengasihi anggota-anggota gereja. Ia tidak menghiraukan kepentingan mereka, hanya kepentingan dirinya sendiri saja. Alangkah baiknya jika pendeta di desa Paman Pedro yang menjadi gembala sidang di desa Consuela! Pendeta desa yang baik hati itu pasti tidak akan mengharapkan seseorang menjual tanah untuk membeli buku yang tak dapat dibacanya.

Beberapa bulan kemudian, ada wabah penyakit yang menjangkiti desa Consuela. Banyak orang yang meninggal, . . . di antaranya Pak Chico. Ibu Teresa dan Consuela meratapi dia, bersama-sama dengan para tetangga mereka. Tetapi sang pendeta, bukannya menghibur mereka; ia malah berkata dingin: "kalau kalian sudah membeli Kitab Kramat Ukuran Besar, itu, mungkin ini tidak akan terjadi."

Mama masih gelisah. Jangan-jangan ia juga akan mati, sehingga si Consuela akan ditinggalkan tanpa orang tua! Maka Ibu Teresa menjual sebagian tanah warisannya serta membeli Kitab itu yang sudah lama ditawarkan oleh sang pendeta. ia tidak tahu bahwa hal membeli atau tidak membeli suatu benda walau benda itu dianggap mengandung kuasa kramat tidak ada hubungannya dengan soal penyakit dan kematian.

Sang pendeta membawa Kitab Kramat Ukuran Besar itu ke rumah kecil tempat tingggal Consuela dan ibunya. Ia menaruh Kitab itu di suatu tempat yang terhormat, dan pura-pura mengucapkan suatu doa berkat untuk seisi rumah tangga. Karena tadinya Mama dan Consuela merasa takut, kejadian itu agaknya menghibur hati mereka berdua. Kemudian sang pendeta memanfaatkan uang yang diperolehnya itu; ia segera bepergian, meninggalkan tugas penggembalaannya.

Pada suatu hari Paman Perdro datang ke rumah Consuela dengan naik seekor kuda besar. Ia meminjam kuda itu dari pemilik perkebunan tempat ia bekerja. "Sudah waktunya aku menengok kalian," kata Paman Pedro sambil merangkum Ibu Teresa dan si Consuela. "Aku ingin tahu bagaimana keadaan adikku dan kemenakanku. Kalau keadaannya kurang baik di sini, kalian boleh saja pindah ke rumah kami!"

Tetapi Mama menolak tawarannya yang baik hati itu. "Aku dan Consuela akan menetap di sini, Kak," katanya. Masih ada cukup banyak tanah di sini sehingga kami berdua dapat mencari nafkah."

Lalu ia bercerita kepada Paman Pedro tentang Kitab Kramat Ukuran Besar yang telah dibelinya dari sang pendeta. Ia memperlihatkan Kitab itu yang berbaring di tempatnya yang terhormat . . . ya, tetap saja berbaring di situ; tidak ada seorang pun yang sanggup membacanya atau pun menjelaskan isinya.

"Huh!" cetus Paman Pedro. "Cara murahan untuk mencari uang ," katanya sambil mencibir. "Menakut-nakuti seorang janda sampai ia melepaskan sebagian tanah warisannya. Tapi . . . apa boleh buat, sudah terlanjur. Nah, . . . mari kita lihat, ada apa sih di dalam Kitab ini sehingga dianggap begitu kramat."

Paman Pedro lalu membuka halaman pertama dari Kitab Kramat Ukuran Besar itu dan mulai membacakan isinya. Kata-kata itu kedengarannya asing, namun sangat indah. Paman Pedro kurang pandai membaca, tetapi ia berusaha terus: ```Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.''' Ayat demi ayat dibacakannya, dengan suara yang kurang jelas itu . . . .

Sayang, ketiga orang Meksiko itu tidak sadar bahwa mereka sedang mendengarkan isi Alkitab! Mereka tidak tahu bahwa yang dibacakan itu adalah Kitab Kejadian, pasal satu. Belum pernah ada orang yang membacakan isi Alkitab bagi mereka. Sang pendeta yang dulu itu terlalu malas untuk menceritakan isi Alkitab dengan cara yang dapat dipahami oleh Mama dan si Consuela. Di desa tempat tinggal Paman Pedro, memang ada gembala sidang yang lebih baik, namun Paman Pedro sendiri tidak pernah pergi ke gereja.

"Sangat menarik," kata Paman Pedro sesudah ia capai membacakan. "Nah, aku harus pulang sekarang. Tetapi lain kali aku akan datang lagi, dan kita akan membaca lebih lanjut."

Setiap kali Paman Pedro datang menengok adiknya dan kemenakannya ia pun meluangkan waktu untuk membacakan Kitab Kramat Ukuran Besar itu. Pembacaannya pelan-pelan, dengan susah payah. Kadang-kadang kata-kata itu dapat dipahami oleh ketiga pendengarnya; tetapi kadang-kadang kata-kata itu seolah-olah masuk telinga yang satu dan keluar telinga yang lain, sama sekali tidak memberi pengertian.

"Namun demikian, sebaiknya kita baca terus," kata Ibu Teresa dengan rasa senang. "pasti kita akan diberkati kalau membaca Kitab Kramat Ukuran Besar ini."

Si Consuela turut senang, karena kini ada rasa kebahagiaan di rumahnya. Cuaca pun baik, dan hasil kebun mereka banyak. Consuela dan ibunya tidak akan kekurangan sebelum datangnya musim dingin.

Pada suatu hari Consuela berlari-lari kecil ke arah rumah temannya, si Trini. Tiba-tiba ia berhenti di jalanan desa itu. Ia mendengar sesuatu: Ada seorang pria yang sedang menyanyi, dan nyanyiannya itu lagu yang baru bagi Consuela.

Consuela paling gemar menyanyi. Kebetulan ia kenal dekat dengan tetangganya, dari mana lagu itu mengalun. Maka ia masuk dan melihat seluruh keluarga itu sedang berkumpul dengan seorang pria yang belum ia kenal. Pria itulah yang tadi menyanyi. Rupa-rupanya bapak itu datang dari tempat lain; ada sepeda dengan bungkusan terikat padanya yang disandarkan pada dinding rumah.

Setelah saat menyanyi selesai, pria itu mengambil sebuah buku kecil dari bungkusan di sepedanya. Ia membukanya dan mulai memmbacakan isinya.

Tiba-tiba si Consuela menarik napas: kata-kata itu persis sama seperti kata-kata yang telah dibacakan oleh Paman Pedro dari Kitab Kramat Ukuran Besar, pada waktu kunjungannya minggu yang lalu!

Consuela lari tunggang langgang ke rumahnya dan memberitahu ibunya apa yang didengarnya. Lalu ibu Teresa juga ikut Consuela kembali ke rumah tetangga mereka. Untung, pria dari tempat lain itu masih berbicara. Ternyata ia sanggup menjelaskan arti kata-kata yang dibacakannya tadi. Ia memakai bahasa sederhana, seolah-olah ia mengerti cara hidup sehari-hari orang desa itu. Kata-kata indah itu yang tadinya melayang tanpa arti, kini mulai bersarang dalam hati Consuela dan ibunya.

Kemudian menyusul saat menyanyi yang kedua. Bapak itu memperhatikan bahwa ada beberapa anak yang hadir, maka ia menyediakan waktu untuk mengajar mereka sebuah lagu khusus. Consuela senang menyanyikannya bersama-sama dengan kawan-kawannya. Menurut lagu itu, Yesus mengasihi setiap anak, karena Alkitab memberitahu mereka hal itu. Belum pernah si Consuela merasa bahwa Yesus mengasihinya, atau bahwa ada tulisan di dalam Alkitab yang membuktikan hal itu.

Bapak itu lalu membacakan tentang saat-saat Tuhan Yesus menyambut anak-anak.

"Inilah Alkitab," katanya menjelaskan. "Inilah Firman Allah. Isinya bercerita tentang Tuhan Yesus. Isinya memberitahu kita bagaimana kita harus hidup sebagai anak-anak Allah."

Pada waktu ia hendak pulang, bapak itu bertanya: "Bolehkah aku datang lagi minggu depan? Bolehkah aku mengajak kalian menyanyi tentang kasih Tuhan, serta mengajar kalian Firman Allah?"

Nyonya rumah itu membalas, "Pak, kata-kata itu sangat baik, juga lagu-lagu tadi. Bapak akan disambut dengan gembira tiap kali Bapak mau datang ke rumah kami."

Bapak itu mengambil sepedanya dan menuntunnya ke luar. "Tuhan memberkati kalian!" serunya pada saat ia berangkat.

Ketika Paman Pedro datang lagi pada minggu yang berikutnya, banyak sekali yang diceritakan kepadanya oleh ibu Teresa dan si Consuela! Mereka mengulangi apa yang dikatakan oleh bapak itu tentang kata-kata yang telah dibacakannya. Lalu Paman Pedro mencari kata-kata yang sama juga dalam Kitab Kramat Ukuran Besar, serta membacakannya sekali lagi.

Kemudian si Consuela membujuk pamannya agar ia membacakan sebuah cerita tentang Tuhan Yesus. Lama sekali Paman Pedro membolakbalikkan halaman dalam Kitab Kramat itu! Namun ia tidak berhasil menemukan apa yang diminta oleh Consuela. "Suruh bapak itu mampir ke mari dan memberi tanda pada halamannya yang tepat," demikian nasihatnya.

Minggu demi minggu bapak penginjil itu datang ke desa Consuela, dengan maenaiki sepedanya. Memang ada penduduk yang tidak menyukai kedatangannya. Sang pendeta yang lama masih bepergian, namun ada anggota-anggota gereja lama yang khawatir bahwa ia akan kurang senang kalau sepulangnya nanti ia mendapati adanya penginjil lain di desa itu.

Tetapi Ibu Teresa tersenyum saja pada waktu ia mendengar omelan tetangganya. "Bagaimana sang pendeta akan merasa kurang senang?" tanyanya. "Kan kami hanya belajar mengerti isi Kitab Kramat Ukuran Besar yang telah dijualnya sendiri kepada kami?"

Minggu demi minggu bapak penginjil kaum awam itu datang dengan setia dari desa lain yang dekat. Minggu demi minggu Consuela dan ibunya mendengar penjelasan Firman Allah yang disampaikannya. Mereka mulai menerima ajarannya. Mereka sudah menghafal lagu-lagunya. Dan yang lebih penting mereka sudah mulai mengasihi Tuhan Yesus.

Pada suatu hari Consuela dan Ibu Teresa dibaptiskan, bersama-sama dengan beberapa tetangga mereka. Lahirlah sebuah jemaat kecil yang baru di desa mereka.

Sang pendeta yang lama tidak pernah kembali ke desa itu. Memang ada petugas-petugas lain dari gereja lama itu yang sewaktu-waktu datang dan mengancam penduduk desa yang sudah berani menganut suatu aliran baru. Tetapi Ibu Teresa selalu menjawab mereka dengan manisnya: "Kenapa kami dianggap berbuat salah? Kami hanya mengikuti Kitab Kramat Ukuran Besar, yang kami beli dulu dengan harga yang mahal dari sang pendeta di gereja kami yang lama."

Pada masa itu si Consuela sudah belajar membaca di sekolah desa. "Mama haru belajar juga," katanya suatu hari kepada Ibu Teresa. "Tidak sulit, Mama! Aku sendiri dapat mengajar Mama membaca."

Ibunya tertawa saja. "Cukup banyak kesibukanku, tidak usah aku belajar membaca. Itu tidak perlu; apalagi kamu dan setiap anak di desa ini dapat membacakannya bagiku."

Beberapa hari kemudian, ketika si Consuela terus membujuk, Mama menambahkan: "Consuela, ibumu adalah seorang desa yang buta huruf. Tetapi kamu sudah mulai belajar, dan kamu harus belajar terus. Sesudah tamat sekolah di desa kita, kamu harus pergi ke sekolah di kota. Siapa tahu, mungkin pada suatu saat kamu akan kembali ke mari sebagai seorang guru Alkitab. Mungkin kamulah yang akan mengajarkan isi Kitab Kramat Ukuran Besar!"

Consuela melongo. Belum pernah terlintas pada pikirannya bahwa hal seperti itu dapat menjadi kenyataan. Namun kalau Mama mengharapkan yang demikian, Consuela siap sedia rajin belajar terus.

"Yah," kata Ibu Teresa, "untung sekali kita telah membeli Kitab Kramat Ukuran Besar itu. Yang menjualnya dulu tidak mengindahkan ajarannya, dan yang membelinya dulu tidak mengerti isinya, namun Firman Allah yang tertulis di dalam Kitab itu membawa kebahagiaan bagi kita."

Consuela tersenyum. "Tahukah Mama, Trini dan anak-anak yang lain sedang melatih sebuah sandiwara pendek? Dan ceritanya diambil dari Kitab itu juga," katanya. "Nanti bapak penginjil akan heran melihat sandiwara kami."

"Bagus!" kata Ibu Teresa. "kalau begitu, sebaiknya kau lari ke rumah Trini sekarang dan bermain di sana. Kan kita dengar dari Firman Allah minggu lalu, bahwa kita perlu tubuh yang sehat supaya kita dapat melayani Tuhan Yesus?"

TAMAT