Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Kita Adalah Saksi-Nya 1

Kita Adalah Saksi-Nya 1


Panggilan untuk Bersaksi

Inilah cara Stephen Gaukroger mendefinisikan seorang utusan Injil lintas budaya dalam bukunya "Why Bother with Mission" -- Seseorang yang ditugaskan dan diutus oleh gereja lokalnya untuk melintasi batas-batas budaya dengan tujuan untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Batas-batas ini mungkin berupa bahasa, geografis, atau masyarakat. Ia juga dengan sengaja akan:

  1. Membawa orang-orang kepada Kristus melalui kehidupan, sikap, tindakan, dan kata-katanya.
  2. Berusaha untuk membawa mereka yang datang kepada Kristus untuk bergabung dengan orang percaya yang lain dalam persekutuan suatu jemaat. Suatu jemaat perlu dibangun jika belum ada!

Mengapa Anda seharusnya menjawab tantangan pelayanan pekabaran Injil seperti ini? Mengapa kita harus peduli dengan misi? Pertanyaan ini tidak sama dengan pertanyaan, "Mengapa kita perlu lebih banyak utusan Injil?" "Bagaimana Anda mendorong orang lain untuk terlibat di dalam misi?" Pertanyaan, "Mengapa saya seharusnya terlibat dalam misi?" adalah sebuah pertanyaan yang sama sekali lain karena melibatkan keputusan yang bersifat pribadi, dituntun oleh Roh, terpusat pada Allah tentang arah hidup Anda sendiri. Keputusan semacam itu merupakan sesuatu yang rumit, dan saya tidak ingin mengatakan sebagai sebuah keputusan yang sebaliknya.

Pada akhirnya, apa yang harus dihadapi adalah kenyataan bahwa Allah, melalui firman-Nya, memberi tahu kita bahwa kita akan menjadi saksi-saksi-Nya. Tantangan dari Amanat Agung diberikan dalam Injil Matius 28:18-20, Markus 16:15, Lukas 24:46-49, dan dalam istilah-istilah yang berbeda dalam Yohanes 20:21-23. Kisah Para Rasul 1:8 juga merupakan ayat yang amat penting dalam konteks ini -- "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Ayat ini memberi tahu kita bahwa kita akan menjadi saksi bagi Kristus, untuk membangun Kerajaan itu, di mana pun kita berada (Yerusalem) dan di seluruh dunia (sampai ke ujung bumi). Pengertian ini memberi petunjuk kepada saya bahwa kita seharusnya keluar sebagai saksi mulai sekarang, tanpa memedulikan geografis dari situasi kita. Stephen Gaukroger mengatakan:

"Jadi, Injil menunjukkan kepada kita prioritas misi dengan sebuah logika yang tidak terelakkan dan antusiasme yang penuh semangat. Sifat dan kegiatan Allah Bapa, pekerjaan dan firman dari Putra Allah, dan teladan dari gereja mula-mula yang dikuasai oleh Roh Kudus tampak jelas. Roh Kudus menerapkan Alkitab dalam hidup kita secara terus-menerus ketika kita membawa diri kita ke dalam kedaulatan-Nya. Kita diperintahkan untuk menjadi pelaku-pelaku bagi tujuan misi sampai Yesus kembali, bersiap-siap menyongsong tujuan akbar yang menanti kita. Secara mendasar, Injil menegaskan bahwa iman Kristen adalah sebuah iman yang berdasar kepada misi; jika tidak, maka kita harus mempertanyakan apakah iman itu adalah iman yang alkitabiah atau bukan."

Ada sisi "menampilkan" dan "melakukan" dalam hal bersaksi. Seperti banyak hal yang orang-orang perdebatkan di dalam gereja saat ini, kedua sisi tersebut bukanlah masalah mengenai "salah satu/atau" tetapi "keduanya". A.W. Tozer menyatakan, "Seandainya sifat manusia itu sempurna, maka tidak akan ada kesenjangan antara apa yang ditampilkannya dan apa yang dilakukannya. Manusia yang tidak bercela akan sungguh-sungguh hidup dari apa yang ada dalam hatinya, tidak dibuat-buat. Tindakan-tindakannya akan menjadi ekspresi yang sesungguhnya dari apa yang ada di dalam dirinya."

Dengan sifat manusia yang seperti itu, segala sesuatu tidaklah menjadi sederhana. Dosa telah memasukkan kebingungan moral dan hidup telah menjadi rumit dan sulit. Elemen-elemen yang ada di dalam kita itu sungguh menyatu dalam keselarasan yang tidak disadari, sering kali elemen-elemen tersebut dipisahkan satu sama lain, seutuhnya atau sebagian, dan cenderung menjadi benar-benar bertentangan satu sama lain. Karena alasan inilah, keseimbangan karakter benar-benar sulit untuk dicapai.

Suatu kehidupan yang saleh, yang kudus, dan terdiri atas kasih dan integritas, tak peduli pekerjaan yang dimiliki seseorang, adalah kesaksian yang berkuasa di dalamnya. Namun, kitab Kisah Para Rasul dan sejarah gereja menunjukkan bahwa untuk menjadi seorang saksi, seseorang juga harus berbicara secara berani tentang Yesus Kristus. Buku John Grisham, "The Client", menunjukkan bahwa menjadi seorang saksi pembunuhan dapat menjadi membahayakan dan rumit. Kita tahu bahwa hal itu juga berlaku ketika kita berusaha untuk menjadi saksi-saksi yang setia terhadap kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Hati saya merindukan kejelasan dan kesederhanaan mengenai hal ini. Mari kita berhati-hati ketika kita masuk ke dalam strategi misi, sehingga semua kerumitannya tidak menakut-nakuti kita. Penekanan dalam kitab Kisah Para Rasul tentang keberanian, seharusnya menolong kita untuk berbicara -- mengingat sisi "melakukan" dan "menampilkan" dari bersaksi.

Bagi banyak orang Kristen, kedua hal itu bukanlah suatu masalah yang diperdebatkan. Mereka mengerti bahwa mereka seharusnya menjadi saksi bagi lingkungan mereka, daerah di mana rumah atau pekerjaan mereka berada, menjalani hidup dengan saleh, dan berbicara kepada orang lain tentang Yesus. Banyak orang yang memiliki beban untuk daerah-daerah miskin yang berada di wilayah mereka, kota-kota besar misalnya. Sementara itu, masih ada penekanan yang kurang dengan "ujung-ujung bumi". Ada kecenderungan untuk berpikir bahwa orang lainlah yang mengambil bagian untuk hal itu.

Beberapa orang sangat terbeban dengan kebutuhan-kebutuhan di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak mampu melihat ke bagian-bagian lain dari dunia ini. Beberapa orang lain, khususnya di negara-negara yang mengirim para utusan Injil secara tradisional, benar-benar mendapat informasi yang salah dan mereka menyederhanakan situasi yang rumit dengan mengatakan bahwa para utusan Injil Barat tidak lagi diperlukan atau tidak lagi "bermanfaat", dan bahwa dukungan bagi pekerja-pekerja pribumi seharusnya menggantikan pengiriman tenaga misi. Perhatian beberapa orang dan kelompok telah dialihkan dengan pendapat yang hanya didefinisikan secara dangkal, bahwa hanya orang-orang yang "berkualitas tinggi" yang diperlukan di ladang misi, ketika pada kenyataannya orang-orang dari berbagai kalangan dibutuhkan untuk mengisi jajaran yang luas dari pekerjaan pelayanan itu. Banyak orang yang telah mati rasa karena gambaran-gambaran dan kata-kata dari media yang kuat, sehingga mereka tidak lagi mampu merasakan kebutuhan-kebutuhan di tempat-tempat yang jauh ketika diceritakan kepada mereka. Hanya dengan berada di sana, merasakan, dan membaui sendiri, maka mereka akan mengerti kebutuhan tersebut. (Hal ini, adalah salah satu alasan mengapa saya yakin pekerjaan misi jangka pendek, di luar risiko-risikonya, dapat menjadi sangat berharga dalam membangkitkan pemahaman atas kebutuhan-kebutuhan dari "ujung-ujung bumi").

Jadi, kurangnya penekanan pada "ujung-ujung bumi" mungkin dapat dipahami, tetapi kita tidak dapat mengabaikan janji dan perintah yang jelas, yang Tuhan kita berikan dalam bagian Kisah Para Rasul yang dikutip di atas. Alkitab berbicara dengan jelas -- tanggung jawab kita bukan berakhir dengan "Yerusalem". Rasul Paulus menekankan kebutuhan untuk bergerak kepada orang-orang yang tidak tersentuh: "Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain." (Roma 15:20) "... supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka." (2 Korintus 10:16)

Kuasa untuk Bersaksi

Ketika kita menanggapi perintah Amanat Agung, kita seharusnya tidak melupakan janji yang berisi: "... kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun atas kamu ..." Seorang saksi yang sejati memiliki pengalaman akan kuasa Allah. Alkitab menjelaskan dengan tegas bahwa kuasa untuk menghidupi kehidupan Kristiani datang dari Tuhan, "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7)

Kuasa ini tidak berarti bahwa kita akan mengalami keajaiban-keajaiban besar dalam mukjizat-mukjizat dan penyembuhan. Beberapa orang tampaknya merasa bahwa jika tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban ini tidak hadir, maka tidak ada kuasa. Ini bukanlah persoalannya. Pada saat yang sama, dalam kitab Kisah Para Rasul, Roh Kudus akan memberikan keberanian. Kita harus berusaha untuk tidak masuk ke dalam ekstrem-ekstrem mengenai hal ini, dengan meyakini bahwa beberapa rumus yang sempurna (seperti kehadiran beberapa tanda yang menurut dugaan memberi bukti) akan mengizinkan kita melakukan semua hal yang kita tidak pernah lakukan sebelumnya. Kuncinya adalah untuk melihat Roh Kudus sebagai Pribadi yang membuat keputusan tentang bagaimana pekerjaan utusan Injil seharusnya dilaksanakan.

Kisah Para Rasul 1:8 juga menjanjikan kepada kita bahwa para saksi akan dipenuhi dengan Roh Kudus. Sedihnya, saya yakin bahwa ekstrem dan pandangan-pandangan yang tidak selaras tentang Roh Kudus dan pengudusan, telah membingungkan dan melemahkan banyak orang. Kita cenderung melupakan bahwa walaupun kita mungkin dipenuhi dengan Roh Kudus, masih ada "faktor manusia". Kita hanyalah orang-orang biasa yang bergumul, melakukan kesalahan, dan memiliki kelemahan. Saya semakin meyakini bahwa Allah memenuhi dan menggunakan tipe-tipe orang yang berbeda, banyak dari mereka mungkin tidak terlihat sangat menjanjikan oleh standar-standar "normal". Ketika saya adalah seorang Kristen yang masih muda, saya memiliki kecenderungan terhadap ekstremisme dan "kerohanian super". Jika saya tidak belajar menerima "faktor manusia" di dalam diri saya dan orang lain, saya telah didepak dari pertandingan sejak dari awal.

Jika Anda dilemahkan oleh kemanusiaan Anda dalam menghadapi Amanat Agung, diliputi dan dilemahkan oleh ukuran tantangan, maka pertimbangkanlah suatu komentar pendekatan Paulus terhadap kelemahannya yang diekspresikan dalam 2 Korintus 12:8-10, "Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. Tetapi jawab Tuhan kepadaku: `Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.` Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat." Paulus yang sama, yang dipakai secara luar biasa dan yang kisah keberaniannya kita ikuti melalui kitab Kisah Para rasul, memiliki kepekaan yang sama atas kelemahannya, dan ia dengan bimbingan Roh Kudus memberi kita kata-kata yang memberi semangat ini.

Berjalan Terus Setelah Patah Semangat

Ketika kita menanggapi tantangan Amanat Agung, disemangati oleh janji bahwa kita akan diberikan kuasa saat kita dipenuhi dengan Roh Kudus, ada dua cara pemikiran dan tindakan yang perlu kita upayakan. Pertama adalah kebulatan tekad untuk bangkit dan berjalan terus setelah patah semangat. Kita harus menerima bahwa ketika kita terlibat dengan misi, akan ada kesalahan, kegagalan, dan dosa. Walaupun kita harus menyesali hal-hal itu, tetapi kita harus menggunakan hal-hal tersebut sebagai batu loncatan untuk meluncurkan kita kepada hal-hal yang lebih besar demi Allah, daripada merasa terintimidasi dan membiarkannya menyudutkan kita ke dalam ketidakberdayaan. Suatu kali, saya membaca sebuah buku yang luar biasa berjudul, "Failure: The Back Door to Success", oleh Irwin Lutzer. Jujur, saya tidak pernah membacanya, tetapi judul tersebut benar-benar berbicara kepada saya. Anak-anak yang tidak terpelihara, di luar segala upaya mereka, melakukan kegagalan, dan kadang-kadang bahkan melanggar janji. Alkitab menunjukkan kepada kita tingkah laku yang benar terhadap jenis dosa seperti ini (tentu saja tidak semua kegagalan adalah dosa): "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil." (1 Yohanes 2:1)

Salah satu aspek yang paling penting dari berjalan bersama Yesus ialah mempelajari pelajaran tentang bagaimana melambung kembali ketika kita gagal. Tentu saja ini adalah apa yang dibicarakan oleh Ibrani 12:7-11, "Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (t\Anna)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Out of the Comfort Zone: Grace! Vision! Action!
Judul asli artikel : We Are His Witnesses
Penulis : George Verwer
Penerbit : OM Books, Secunderabad-India 2000
Halaman : 31 -- 39

e-JEMMi 01/2012