Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are heree-JEMMi No. 04 Vol.21/2018 / John G. Paton: Seorang Misionaris yang Penuh dengan Keberanian

John G. Paton: Seorang Misionaris yang Penuh dengan Keberanian


By admin - Posted on 07 May 2018

John Paton adalah seorang yang berani. Seperti ayahnya, John Paton memiliki kekuatan dalam imannya dan bekerja di antara para kanibal New Hebrides, yang merupakan bangsa modern Vanuatu di Samudra Pasifik Selatan.


Masa Muda

John Paton lahir pada 1824 di Skotlandia. Ayahnya mengabdikan imannya kepada Kristus. Tiga kali sehari, ayah John akan masuk ke dalam kamar doa dan berdoa. Setiap kali keluar dari kamar doanya, wajahnya akan berbeda dari sebelumnya. Dalam karyanya, John G. Paton: Apostle of Christ , Eugene Harrison menulis, "Dalam sebuah bagian yang luar biasa indahnya, dia membayangkan ayahnya, James Paton, sebagai orang yang saleh, tiga kali sehari pergi ke kamar doa dan keluar dengan wajah bersinar seperti orang yang pernah berada di Bukit Transfigurasi."[1] Hal itu sangat memengaruhi John muda. John belajar di sekolah dasar dan kemudian keluar pada usia 12 tahun untuk membantu ayahnya dalam perdagangan pembuatan stoking. Meskipun John tidak mendapatkan pendidikan formal di luar sekolah dasar, dia belajar bahasa Yunani dan bahasa Latin selama dua jam setiap hari.

Persiapan untuk Pelayanan Misionaris

John Paton adalah seorang misionaris kota di Glasgow selama 10 tahun. Sebenarnya, sementara menjadi seorang misionaris di Glasgow, "Dia belajar untuk berurusan dengan semua jenis orang, dan dia melihat kekuatan Injil untuk mengangkat yang paling rusak".[2] Pekerjaannya di Glasgow, mempersiapkan Paton untuk bekerja di antara para kanibal di New Hebrides.

Bekerja di Antara Para Kanibal

Ketika Paton pertama kali diterima bekerja di antara para kanibal New Hebrides, ada orang-orang yang mencoba membujuknya untuk tidak pergi. Seorang pria tua memperingatkan John, "Orang-orang kanibal! Anda akan dimakan oleh para kanibal."[3] Terhadapnya, John menjawab bahwa dia mungkin akan menyerahkan hidupnya untuk Kristus karena pada akhirnya, tubuhnya akan membusuk di tanah.

Pada 1858, Paton berlayar ke New Hebrides untuk bekerja di antara orang-orang Tanna, yang bersifat kanibal. Setahun setelah tiba di pulau itu, istri Paton meninggal. Orang-orang Tanna adalah orang-orang yang tidak jujur, pengkhianat, dan Paton tidak menyukai nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakatnya. Orang-orang Tanna mencoba membunuh Paton berkali-kali melalui sihir hitam. Selain pertentangan dengan masyarakat, Paton juga mengidap Malaria.[4] Tidak seperti keluarganya yang lain, Paton selamat dari serangan Malaria.

Cuti

Pada 1862, para misionaris yang bekerja dengan Paton setuju bahwa dia harus mengambil cuti. Dia menggunakan cuti sebagai kesempatan untuk mengumpulkan dana bagi sebuah kapal untuk membantu misionaris di New Hebrides. Awalnya, Paton hanya pergi ke Australia untuk melakukan penggalangan dana, dan hasilnya berjalan sangat baik. Karena begitu sukses, dia memutuskan untuk pergi ke Skotlandia dan Inggris juga. Sementara di Skotlandia, dia bertemu dengan seorang wanita bernama Miss Margaret Whitegross, menikahinya, dan kemudian kembali ke New Hebrides -- kali ini ke Pulau Aniwa.

Bekerja di Aniwa

Orang-orang Aniwa lebih terbuka terhadap Kabar Baik daripada orang-orang Tanna. Banyak orang datang untuk mengetahui kasih Kristus dan sebuah gereja dimulai di sana.

Perjalanan yang Meluas

Pada 1884 dan 1892, Paton melakukan perjalanan yang lebih luas untuk berbicara tentang kebutuhan akan lebih banyak misionaris di New Hebrides. Pada 1900, Paton melakukan perjalanan terakhirnya di Amerika.

Kematian

Paton meninggal pada tanggal 28 Januari 1907 di Melbourne, Australia. Dia hidup sampai usia 83 tahun.

Warisan

Kisah Paton telah mengilhami ribuan orang untuk menjadi misionaris. Menurut Randy Alcorn, "Karena kisah Paton, hampir satu dari enam pendeta Presbyterian di Australia pergi untuk melayani Allah sebagai misionaris."[5] Itu adalah dampak yang luar biasa. Semua penderitaan Paton tidak sia-sia.

Kesimpulan

Paton tidak pernah membiarkan rasa takut menahannya untuk membagikan Kabar Baik, bahkan saat hidupnya berada dalam bahaya dari ancaman kanibal. Kita juga bisa untuk tidak menjadi takut pada saat membagikan Kabar Baik. (t/N. Risanti)


[1] Harrison, Eugene Meyers. John G. Paton: Apostle of Christ. Wholesome Words. http://www.wholesomewords.org/missions/biopaton.html


[2] Pounds, Jessie Brown. Pioneer Missionary: John G. Paton. Wholesome Words. http://www.wholesomewords.org/missions/biopaton9.html


[3] Piper, John. You Will Be Eaten by Cannibals! Lessons from the Life of John G. Paton. http://www.desiringgod.org/messages/you-will-be-eaten-by-cannibals-lessons-from-the-life-of-john-g-paton


[4] Parsonson, G.S. Biography - John Gibson Paton. Australian Dictionary of Biography. http://adb.anu.edu.au/biography/paton-john-gibson-4374


[5] Alcorn, Randy. To “Live and Die Serving and Honoring the Lord Jesus”: Missionary John G. Paton. Eternal Perspectives Ministries. http://www.epm.org/blog/2016/Jul/27/john-g-paton








Diterjemahkan dari:
Nama situs : Mission Box
Alamat situs : http://missionsbox.org/missionary-bio/john-g-paton-missionary-courage/
Judul asli artikel : John G. Paton: A Missionary of Courage
Penulis artikel : Tim Missions Box
Tanggal akses : 14 November 2017