Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 05 Vol.18/2015 / Ernst Ludwig Denninger

Ernst Ludwig Denninger


By admin - Posted on 26 May 2015

Dirangkum oleh: Mei

Ernst Ludwig Denninger adalah salah seorang lulusan Bassel Missions Seminarie, tetapi sebelumnya, ia hanya bekerja sebagai pembersih cerobong asap. Ia diutus oleh RMG (Rheinische Missions Gesselschaft) dan tiba di Pelabuhan Gunungsitoli, Nias, pada hari Rabu, 27 September 1865. Hingga sekarang, tanggal kedatangannya inilah yang dianggap sebagai permulaan datangnya berita Injil di Nias.

Denninger lahir di Berlin, 4 Desember 1815. Pekerjaan awal Denninger adalah pembersih cerobong asap. Setelah terpanggil dan mengikuti pendidikan Seminari Misi RMG selama kurang lebih 4 tahun (1844 -- 1847), Denninger ditetapkan sebagai misionaris. Pada 11 Oktober 1847, Denninger menikah dengan Sophie Jordan, wanita yang berasal dari Kassel, Jerman. Pada Oktober 1847, perjalanan sebagai utusan misi dimulai. Denninger dikirim ke Kalimantan pada 1848 -- 1851, dan bertugas di stasiun Bintang (Kapuas), di stasiun Sihong (Siung dekat Telang). Selama berada di Murutuwu, Denninger membuka sekolah dan banyak memberikan pendidikan baca tulis kepada anak-anak Dayak Ma'anyan. Namun, akhirnya beliau meninggalkan Murutuwu melewati Telang untuk mengungsi ke Banjarmasin akibat meletusnya perang Hidayat. Denninger bisa dikatakan sebagai peletak pendidikan modern pertama untuk orang Ma'anyan. Sekolah kecil yang dibangunnya di Murutuwu berhasil membuat sebagian orang Ma'anyan menguasai baca tulis.

Setelah beberapa lama Denninger bermisi di Kalimantan. Akhirnya, badan penginjilan RMG memutasi Denninger ke pulau Nias. Awalnya, Denninger bermaksud membentuk satu jemaat bagi orang-orang Nias di Padang, tetapi kemudian ia menyadari bahwa mereka hanya perantau yang sering berpindah-pindah sehingga akhirnya Ia memutuskan untuk datang langsung ke pulau Nias. Dengan mudah, ia mendapat persetujuan dari RMG dan Pemerintah Hindia Belanda karena sebelumnya sudah ada permintaan pemerintah kepada RMG agar diutus Pendeta Penginjil ke pulau Nias, dan ia tiba di sana pada 27 September 1865.

Untuk menarik perhatian orang banyak supaya mereka tertarik untuk belajar firman Tuhan dan nyanyian-nyanyian gereja, Denninger lebih dahulu membagikan tembakau untuk rokok dan ramuan sirih. Dalam masa permulaan yang sulit itu, Denninger berusaha mengajar beberapa pemuda agar dapat membaca dan menulis. Awalnya, sekolah ini hanya diselenggarakan di rumah penduduk, dan ternyata berhasil. Pemuda-pemuda inilah yang kemudian membantu Denninger untuk mengajar anak-anak di sekitar Gunungsitoli pada tahun 1866.

Dalam proses mengajar, Denninger mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan-bahan dan sarana untuk mengajar, seperti buku-buku pendukung. Pada tahun 1870, Denninger berhasil menulis sebuah buku sekolah (Erste Schoolboekje) sebagai bahan pelajaran sekolah di Hulo Niha. Dalam mencetak buku ini, Denninger dibantu oleh seorang Belanda yang tinggal di Batavia, dia membantu pencetakan sekaligus mengurus pengiriman paket buku sejumlah 200 buah tersebut pada Denninger di Gunungsitoli. Dalam pekerjaan Misinya terhadap orang Nias, selain Denninger dapat membuka satu sekolah untuk suku Nias, Denninger juga telah berhasil menerjemahkan Injil Yohanes dan Injil Lukas ke dalam bahasa Nias. Karyanya ini sangat berarti, baik bagi orang-orang Nias yang dapat membaca maupun bagi para misionaris lainnya. Tahun 1874 secara resmi terbitnya terjemahan Injil Lukas dalam bahasa Nias, dan pada saat itu Alkitab dalam bahasa Nias belum ada. Dalam proses menerjemahkannya, beberapa pemuda turut membantu.

Pada tahun 1875, Denninger mengalami sakit. Ia berobat ke Batavia dan satu tahun kemudian Denninger meninggal dunia. Sepeninggalnya, pada tahun 1876, salah satu misionaris bernama Dr. W.H. Sundermann tiba di Nias. Setelah dua tahun di Gunungsitoli, Doktor Teologia ini merasa matang berbahasa Nias, lalu membuka Pos Pekabaran Injil di Dahana, yaitu daerah yang lain di suku Nias. Namun, di sana, ia berhadapan dengan penyembahan berhala yang begitu kuat. Oleh karena itu, seperti yang dilakukan Denninger, ia beralih ke bidang pendidikan, dan menghimpun dan mengajar para pemuda setempat. Usaha dari para misionaris inilah yang merupakan cikal bakal berdirinya Sekolah Guru di Nias.

Dirangkum dari:

  1. Katitira. Dalam: http://niasonline.net/2007/01/22/mari-mengenal-pemberita-injil-di-tano-niha/
  2. Saputra M., Hadi. Dalam: http://hadi-saputra-miter.blogspot.com/2013/03/ernst-ludwig-denninger-carl-johann.html
  3. "Sejarah Singkat datangnya Berita Injil di Nias". Dalam: http://bnkpshalom.wordpress.com/2012/08/31/sejarah-singkat-datangnya-berita-injil-di-nias-2/
  4. Pdt. (Em). B. Gulo, STh. Dalam: https://bnkpteladan.wordpress.com/bnkp/