Kepada Allah dan Kaisar

Perdebatan mengenai ketaatan kepada Allah dan negara telah berlangsung selama lebih dari dua ribu tahun, dan masih sering diangkat pada masa ini. Perdebatan ini dimulai ketika Allah menciptakan manusia dan menempatkannya dalam sebuah masyarakat. Allah menyatakan kepada kita melalui firman-Nya bahwa pemerintahan dan wewenang yang mereka jalankan adalah milik-Nya. Itu sebabnya, Ia menginginkan kita untuk menjadi warga negara yang baik. Ada banyak pemimpin agama yang menanamkan kesan bahwa kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia. Mereka juga menyatakan bahwa menjadi seorang Kristen yang baik berarti tidak bisa menjadi warga negara yang baik. Maka, bagaimana cara kita memilah-milah pernyataan ini dan bereaksi terhadapnyalah yang terus menerus menjadi fokus dari kontroversi ini.

Saya berharap saya dapat mengatakan bahwa Yesus akan menyelesaikan argumen ini melalui teks Matius 22:15-21, tetapi Ia sama sekali tidak melakukannya. Yesus seakan-akan memberi kita pedoman, tetapi tidak menyelesaikan perdebatan itu. Sebenarnya, ada jawaban mengenai hal ini, tetapi Si Jahat tidak membiarkan kita untuk benar-benar memahaminya sebab jawaban itu benar-benar menentang kedagingan kita. Karena itu, kita perlu terus-menerus kembali kepada Yesus dan firman Allah untuk benar-benar mengerti bagaimana seharusnya tanggapan kita terhadap Allah dan Kaisar, gereja dan negara, dan terhadap status kewarganegaraan duniawi maupun kewarganegaraan dalam Kerajaan Allah.

Latar belakang Matius 22:15-21 adalah saat-saat akhir pelayanan Kristus. Musuh-musuh-Nya menjadi semakin berani dan agresif. Orang-orang Farisi telah memutuskan untuk menjatuhkan-Nya, karena itu mereka memilih suatu topik yang tak terpecahkan (paling tidak, bagi orang Yahudi) tentang bagaimana sikap mereka terhadap penjajahan bangsa asing. Jika Yesus menjawab bahwa mereka harus membayar pajak yang ditetapkan bangsa Romawi dan merendahkan diri mereka pada penjajahan orang-orang kafir itu, musuh-musuh Yesus akan semakin banyak, Ia kehilangan dukungan dari faksi-faksi yang militan, dan kemungkinan besar akan mengecewakan orang banyak sebab mereka adalah orang-orang yang ultranasionalis, tidak suka terhadap hal-hal yang asing, dan membenci pemerintahan Romawi. Di sisi lain, jika Yesus menjawab bahwa mereka tidak harus membayar pajak, Ia akan bersalah karena telah menghasut orang banyak untuk melakukan revolusi, dan pemerintah Romawi akan "membereskan"-Nya.

Jika Yesus mencoba untuk mengambil jalan tengah, mereka akan tetap menggunakan hal itu untuk menodai reputasi-Nya dan menggerakkan kelompok-kelompok yang radikal dan lebih agresif untuk menentang Yesus. Bagaimana pun juga, mereka mengira bahwa Yesus telah terjebak dalam situasi yang tidak mungkin dimenangkan-Nya. Selain itu, usaha mereka juga menyangkut kekuasaan politik. Karena itulah, orang-orang Farisi mengutus murid-murid mereka bersama-sama dengan orang-orang Herodian, yaitu para simpatisan dan teman-teman Raja Herodes, untuk menjebak Yesus.

Pertanyaan mereka kepada Yesus pada ayat 17 adalah perangkap bermata dua. Pertanyaan itu berarti, "Apakah membayar pajak merupakan sesuatu yang sah secara moral dan agama?" Untuk hal ini, mereka berharap bahwa Yesus akan menjawab "Tidak". Namun, pertanyaan itu juga berarti, "Apakah hal itu sah menurut hukum pemerintah Romawi?" Dan, mereka berharap Yesus akan menjawabnya dengan "Ya". Jadi, mereka benar-benar mengira bahwa mereka sudah berhasil menjebak Yesus di depan banyak saksi, tak peduli bagaimana Ia akan menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, Yesus mengetahui kelicikan mereka dan berkata, "Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik?"

Setelah itu, Yesus memberikan jawaban yang tidak mereka duga. Ia meminta sebuah koin yang mereka gunakan untuk membayar pajak jalan. Ketika mereka menyerahkan kepada Yesus sekeping uang dinar, Ia pun bertanya kepada mereka, "Gambar dan tulisan siapakah ini?" Dengan perkataan lain, "Koin milik siapakah ini? Siapa yang mengeluarkannya?" Dan, orang-orang itu pun harus mengakui bahwa koin itu adalah milik Kaisar. Maka, Yesus pun mengatakan ucapan yang terkenal itu, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah."

Yesus menjawab pertanyaan itu dengan menyiratkan bahwa ada hal-hal yang memang berada di bawah hukum dan kepemilikan pemerintah, tetapi ada juga hal-hal yang tidak. Dengan jawaban-Nya itu, Yesus juga menyatakan bahwa golongan Farisi telah bersalah karena mencampuradukkan apa yang menjadi milik Allah dan apa yang menjadi milik negara -- dan bahwa mereka juga tidak memberikan apa yang seharusnya menjadi milik masing-masing pihak. Mereka tidak menyerahkan apa yang menjadi milik negara sekaligus menahan apa yang seharusnya menjadi milik Allah.

Jadi, pertanyaannya: Apa yang menjadi milik Kaisar? Dan, apa yang menjadi milik Allah?

Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa segala sesuatu adalah milik Allah. Mazmur 24 berkata, "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya." Dan, karena Dialah yang menciptakan pemerintah, dan segala wewenang yang mereka jalankan, segala sesuatu yang dimiliki Kaisar adalah segala sesuatu yang diklaim olehnya. Kita mengetahui bahwa daftar hal-hal yang diklaim oleh Kaisar berubah seiring berjalannya waktu. Sebab, ketika suatu pemerintahan berubah, demikian pula tuntutan dan kontrol mereka. Saat ini, warga negara di negara-negara modern dapat menikmati kebebasan yang cukup luas; sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang-orang pada zaman Yesus.

Apa yang menjadi milik Kaisar adalah segala sesuatu yang diklaim olehnya, kecuali jika yang diklaim itu adalah milik Allah. Jadi, sebelum dapat mengenali apa yang menjadi milik Kaisar, kita harus betul-betul mengenali apa yang menjadi milik Allah.

Apa yang menjadi milik Allah selalu bersifat sederhana dan mendasar. Allah telah menciptakan Anda, jadi Allah memiliki hak untuk mengatur hidup Anda. Anda berutang ketaatan dan ucapan syukur atas keberadaan Anda. Selain itu, Allah telah menciptakan segala sesuatu yang Anda butuhkan untuk hidup dan menyediakannya bagi Anda. Untuk semuanya itu, Anda berutang penghargaan, ucapan syukur, dan kepercayaan kepada Allah yang berasal dari hati yang terdalam!

Akan tetapi, kita sering tidak melakukan hal-hal itu. Kita terlalu sering meremehkan hal-hal baik dalam kehidupan kita dan bersungut-sungut ketika menerima yang tidak baik. Kita mengabaikan kehendak dan rencana Allah atas hidup dan tindakan kita; kita selalu mencari kepentingan diri sendiri sambil melukai orang lain. Kita berdosa terhadap Allah! Dan, karena dosa itu, kita layak dihapuskan dari segala ciptaan-Nya dan dilupakan oleh Allah. Dalam firman-Nya, Allah pun mengatakan bahwa kita layak mendapatkan hukuman itu. Akan tetapi, Allah tidak membuang kita, Ia tidak menghancurkan atau membinasakan kita; sebaliknya, Ia menebus dan menyelamatkan kita. Bahkan, sewaktu kita masih menjadi musuh-Nya, Ia tetap mengutus Yesus untuk menanggung dosa kita. Bahkan, Yesus mati menggantikan kita supaya di atas kayu salib itu, Ia menerima segala akibat dari dosa kita di hadapan Allah.

Allah telah mengangkat segala dosa kita dengan cara menanggungkan segala penderitaan, kepedihan, dan kematian di kayu salib pada tubuh Yesus. Lebih dari itu, Ia juga menunjukkan bahwa segala dosa kita telah diampuni dengan membangkitkan Yesus dari antara orang mati. Dan sekarang, Allah menyatakan melalui firman-Nya bahwa setiap orang yang mengetahui apa yang diselesaikan-Nya di dalam Yesus Kristus, dan percaya kepada janji-Nya demi nama Yesus, akan menerima pengampunan dosa dan hidup yang kekal!

Karena itu, kita berutang ucapan syukur dan pujian kepada Allah. Dengan demikian, kita harus melayani dan memuji Dia dengan cara hidup yang suci dan dengan memberikan diri kita bagi sesama atas dasar ketaatan kepada Allah. Kecerdasan, kehendak, kasih, dan nilai-nilai yang kita pegang adalah milik Allah; sisanya adalah milik Kaisar.

Kita membayar pajak kepada pemerintah dengan sukacita karena pemerintah adalah hamba Allah yang dibangun-Nya untuk menjaga ketertiban sosial. Kita harus tunduk pada hukum karena negara menjalankan wewenang dari Allah -- dan karena kita berutang ketaatan kepada-Nya. Ketika kita menyerahkan kepada Allah yang menjadi milik-Nya, kita akan menjadi warga negara yang baik. Dengan menjalankan tugas kewarganegaraan yang baik, kita menjalankan kehendak Allah -- tuntutan itu adalah milik Allah dan harus diserahkan kepada-Nya. Kita berutang perilaku yang baik sebagai warga negara karena jika kita mengabaikan pemerintah, kita mengabaikan Allah. Ketika kita tidak menaati pemerintah, kita sama saja dengan tidak menaati Allah. Ketika kita memberontak terhadap pemerintah, kita sama saja memberontak terhadap Allah sendiri; dengan satu catatan, jika pemerintah memerintahkan kita untuk melakukan apa yang dilarang Allah, atau melarang kita melakukan apa yang diperintahkan Allah. Jika demikian, kita harus menyadari bahwa pemerintah sendiri telah memberontak kepada Allah dan tidak lagi memiliki wewenang atas kita; hanya dalam situasi demikianlah kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia.

Namun, jika harus mengabaikan perintah Kaisar demi kesetiaan kita kepada Allah, kita juga berutang kepada Allah untuk menanggung risiko apa pun akibat komitmen itu.

Terkadang, harga yang harus kita bayar demi kesetiaan kita kepada Allah adalah tunduk terhadap pemerintah; tetapi di lain waktu, harga dari ketaatan itu adalah hukuman dari pemerintah karena kita lebih memilih setia kepada Allah daripada kepada manusia.

Kita berutang nilai hidup kita kepada Allah; kasih kita (sering kali, hal ini menyangkut tentang bagaimana kita menghargai hal-hal tertentu dalam dunia ini), kecerdasan kita (yang menyangkut kesejahteraan sesama manusia), dan kehendak kita (untuk memikirkan apa yang menjadi keinginan dan rencana Allah). Sisa dari semua itu, yaitu waktu kita, uang, harta benda, dan kadang-kadang nyawa kita selama berada di dunia, masuk ke dalam hal-hal yang harus kita serahkan kepada Kaisar. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : LCMSSermons.com
URL situs : http://lcmssermons.com/index.php?sn=576
Judul asli artikel :
Penulis : Pastor Robin Fish
Tanggal akses : 27 Februari 2014