Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.41 Vol.14/2011 / Kembali ke "Agama lain"...atau Mati

Kembali ke "Agama lain"...atau Mati


MS, 27 tahun, menikmati kariernya di dalam seni memasak. Dia adalah seorang pemimpin koki yang masih muda. Dia hanya menemukan sedikit sukacita dan kepuasan di dalam iman "agama lain" dari keluarganya. Jadi, dia mulai untuk belajar mengenai agama lain dalam usaha mencari pemenuhan spiritualnya. Teman-teman Kristennya, memberitahukan kepada MS mengenai festival kesembuhan, yang akan diadakan dekat desa BA. MS diberitahu mengenai mukjizat-mukjizat kesembuhan yang terjadi. Dia ingin sekali menghadiri festival yang akan datang tersebut, untuk melihat secara langsung. Seorang teman "agama lain" yang mengidap penyakit kanker mengatakan, bahwa dia juga akan ikut dengannya.

MS tidak pernah mengalami suatu peristiwa seperti ini, festival rohani Kristen. Dia kagum atas hadirat Tuhan dan kesembuhan yang terjadi. Para penginjil berdoa bagi teman MS, dan beberapa hari kemudian laporan medisnya mengatakan bahwa dia sembuh dari kanker. MS makin diyakinkan dan ingin mencari tahu lebih dalam tentang Nabi Isa, yang telah menyelamatkan temannya dari kematian oleh kanker. Akhirnya, dia menerima Kristus, dibaptis, dan menghadiri ibadah gereja dengan rutin.

Hari-hari berlalu, MS tumbuh makin kuat di dalam iman dan lebih bersuara dan agresif dalam membagikan kasih Kristus dengan orang lain. Dia menceritakan tentang Yesus kepada orang lain, mengetuk pintu-pintu, dan mendoakan mereka yang dia temui. Keluarga, teman, tetangga, dan bahkan beberapa jemaat gereja menentang dan menolaknya. Seorang pemimpin gereja takut akan pembalasan dari komunitas "agama lain", dan mendesak MS untuk kembali ke "agama semula". Dia dianggap kafir oleh teman kerja dan pelanggan di restoran tempat dia bekerja, dan mereka menolak untuk makan masakannya. Kedua orang tua dan keluarganya menolak untuk memberinya makan, dan dia dilarang menyentuh segala perkakas dapur. Bahkan lebih jauh, dia diusir paksa untuk meninggalkan pekerjaan dan rumahnya. Istrinya membawa kedua anak laki-laki mereka dan pindah ke rumah orang tuanya.

MS diperingatkan bahwa dia akan dibunuh jika dia tidak berhenti menginjili dan tidak kembali ke "agama lain". Teman-temannya mengatakan, meskipun ada ancaman, dia tetap tidak takut, mulia dalam karakter, dan lemah lembut dalam roh.

Empat tahun setelah pertobatannya, seorang "agama lain" yang masih keluarganya bernama S, memanggil MS untuk datang ke tokonya, dengan mengatakan bahwa dia ingin mengetahui lebih dalam mengenai Nabi Isa. Pada 8 Juni 2002, MS tiba di toko tersebut, dengan menggendong anaknya yang berumur 9 bulan di tangannya. Ternyata S dan seorang temannya menutup pintu toko, dan memaksa MS untuk kembali ke "agama lain". Mereka mengingatkan bahwa dia akan dibunuh di tempat jika dia tidak menurut. Tetapi MS tetap teguh bahwa dia tidak akan menyangkal imannya. Dia siap mati bagi Yesus. S, tanpa banyak bicara lagi, mengeluarkan sebuah pisau, menikam keluarga "kafirnya" di perut, dan menggorok tenggorokan, bibir, dan lidahnya. Anak angkat MS, ditemukan duduk bersimbah darah, di samping tubuh martir ayah angkatnya.

Pokok doa:

  1. Doakan agar para pembunuh MS, mengalami pertobatan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.

  2. Doakan agar Tuhan memakai acara-acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya kuasa Kristus.

  3. Doakan setiap petobat baru yang dikucilkan oleh keluarga dan teman teman dekatnya, supaya tetap menaruh pengharapan dalam Yesus dan mendapat dukungan rohani dari persekutuan orang-orang percaya di lingkungan mereka.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei - Juni 2004
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 5 -- 6

e-JEMMi 41/2011