Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKEKRISTENAN LENGAN KEMEJA

KEKRISTENAN LENGAN KEMEJA


By novi - Posted on 09 February 2009

Ada kalanya orang bertanya kepada saya apa yang saya rasakan jika terjadi hal-hal yang sangat buruk di dalam hidup saya. Sejujurnya saya katakan saya sama sekali tidak ingat. Memang saya telah ditolak orang, dan telah mengalami keberhasilan dan kegagalan dalam bisnis, dan merasa cemas ketika salah seorang anak saya sakit atau mungkin mengalami kesulitan di sekolah.

Ketika hal-hal semacam itu terjadi, saya seakan-akan berjalan saja terus secara otomatis. Saya berusaha menyederhanakan persoalan dan melihat siapa yang saya butuhkan untuk menolong saya memecahkannya. Kurang jujur jika saya berkata kepada Anda bahwa saya terus menerus berpaling kepada Alkitab, banyak berdoa, atau memunyai perkataan yang lama dengan Tuhan tentang persoalan-persoalan saya. Mungkin saya membisikkan sebuah doa singkat ketika mengalami krisis, tetapi sebagian besar doa saya, saya simpan untuk mengatakan: "Terima kasih, Tuhan." Pada waktu stres, saya hanya ingin menyelesaikan maslah saya dengan cepat dan melanjutkan dengan sesuatu yang lebih membahagiakan. Saya kira saya sama seperti kebanyakan orang kristen dalam hal itu. Saya tahu Tuhan beserta saya pada waktu-waktu sukar dan waktu baik, tetapi saya bersikap lebih baik dalam keadaan yang lebih positif dan bahagia daripada dalam keadaan yang sukar. Itulah jenis iman saya.

Mungkin saya seorang tukang bonceng jika berurusan dengan doa, refleksi dan hal-hal semacam itu. Banyak orang telah datang kepada saya -- khususnya sejak pekerjaan saya demi anak-anak angkat dimulai -- yang mengatakan bahwa mereka akan mengingat saya dalam doa-doa mereka, dan saya menganggap mereka bersungguh-sungguh karena saya kira kita semua memerlukan bantuan sebanyak yang bisa kita peroleh. Saya sungguh berterima kasih kepada orang-orang yang mendoakan saya. Mungkin saya harus lebih banyak berdoa, tetapi saya selalu menjadi pelaku lebih daripada pendoa. Puji Tuhan, ada cukup ruang bagi keduanya di dunia ini.

Nah, saya memunyai keluhan terhadap beberapa orang. Saya kira ada perbedaan yang besar antara apa yang saya sebut "Orang Kristen Lengan Kemeja" dan "Orang Kristen yang Menggulung Lengan Kemeja."

Orang-orang Kristen Lengan Kemeja adalah jenis orang yang percaya akan memakai kekristenan mereka pada lengan kemeja mereka. Seorang Kristen Lengan Kemeja lebih banyak menghabiskan waktu mengutip pasal dan ayat-ayat daripada melakukan sesuatu berdasarkan nasehat dalam ayat-ayat itu. Seorang Kristen Lengan Kemeja lebih mencemaskan tentang berapa tingginya menara di gerejanya, atau indah atau tidak kursinya, daripada apakah orang sungguh-sungguh berdoa di sana atau apakah ruang sosial gereja dapat digunakan untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu. Seorang Kristen Lengan Kemeja memandang rendah orang-orang beragama lain atau bahkan orang-orang Kristen dari denominasi lain dan bukannya menghormati mereka dan berusaha bekerja sama untuk memecahkan persoalan bersama-sama. Orang-orang Kristen Lengan Kemeja lebih banyak menghabiskan waktu berkeluh kesah tentang betapa amoral dan tidak ber-Tuhan-Nya dunia ini daripada membuat dunia ini menjadi tempat hidup yang lebih bertanggung jawab dan baik.

Sebaliknya, Orang Kristen yang Menggulung Lengan Kemeja berusaha melakukan sesuatu di dalam dunia ini dengan cara Kristiani. Mereka berperilaku selayaknya orang Kristen di tempat kerja dan sekolah. Mereka mengajar anak-anak mereka nilai-nilai dan percaya akan disiplin dalam kasih, tak peduli apa yang mungkin dilakukan orang tua lain. Mereka mendukung perkara-perkara yang baik. Mereka melibatkan dirinya sepenuhnya dalam kehidupan dan berusaha membuat keadaan lebih baik bagi orang lain yang pantas mendapatkan kesempatan.

Orang Kristen yang Menggulung Lengan Kemeja percaya bahwa kekristenan ialah iman dan tindakan. Mereka tetap menyediakan waktu untuk berbicara dengan Tuahn melalui doa, mempelajari alkitab dengan khidmat, menjadi super aktif di dalam gereja mereka, dan membawa pelayanan mereka kepada orang lain untuk memberitakan Kabar Baik. Mereka adalah orang-orang seperti Billy Graham, Ibu Teresa, Pat Robertson dan Norman Vincent Peale. Dan masih ribuan lainnya. "Orang-orang kecil di bangku gereja" -- orang-orang tak dikenal yang mungkin bahkan melakukan lebih banyak kebaikan daripada semua orang Kristen terkenal di seluruh dunia. Ada nama lain untuk orang Kristen semacam itu -- orang-orang kudus. Alkitab memperingatkan kita bahwa "Banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."

Mari saya katakan kepada Anda dengan bergurau: Di alam yang kekal nanti, saya ingin agar penilaian pekerjaan yang saya peroleh bagi hidup saya menunjukkan bahwa saya telah berbuat baik di bumi ini. Singkatnya, saya ingin menjadi Orang Kristen yang Menggulung Lengan Kemeja yang lebih baik di tahun-tahun yang akan datang daripada sekarang. Dan saya sedang mengupayakannya.

Tetapi kembali ke surga: tidak ada keraguan di dalam benak saya bahwa banyak orang yang telah melakukan hal-hal yang lebih baik dari saya, dan banyak di antara mereka akan berada di sana juga. Tentu saja hanya berbuat baik tidak membuat Anda masuk surga. Jika saya sampai disana, mungkin saya akan mendapatkan tempat yang lebih jauh dari yang paling terhormat dibandingkan orang-orang lain dalam urutan kursi di ruang perjamuan surgawi. Tetapi itu tidak apa, selama Tuhan masih membiarkan saya mengenakan kemeja yang digulung lengannya.

Ajaibnya Rutinitas

Presiden Wendy's Gordon Teter, mungkin adalah orang yang paling rutin yang pernah saya jumpai, dan saya maksudkan itu sebagai suatu pujian. Ia berasal dari keluarga yang sangat religius. Di Purdue University, ia adalah seorang pelajar yang hebat, seorang pemain football yang sangat baik dan seorang pemimpin kampus. Gordon memang cerdas. Bahkan lebih lagi, ia memunyai akal sehat yang kuat. Saya rasa ia dapat menangani setiap pekerjaan di Wendy's. Salah satu hal penting yang diajarkan Gordon kepada kami dalam menjalankan usaha Wendy's ialah untuk menjaganya tetap terfokus dan memelihara keseimbangannya.

Pernah ada satu waktu di mana Wendy's menjadi sebagaimana saya menyebutnya "gila promosi". Satu bulan kami akan mempromosikan hamburger dengan harga 99 sen dan tiap restoran rata-rata akan menjual ribuan hamburger. Bulan berikutnya, kami akan mempromosikan chicken sandwich dengan harga khusus, dan hampir semua restoran kami akan menjual dua ribu potong. Gebrakan-gebrakan seperti itu mendatangkan banyak sekali pelanggan sehingga Anda berpikir itu adalah suatu gagasan hebat.

Sejujurnya, itu adalah suatu gagasan yang buruk, karena sebuah restoran yang menjual ribuan hamburger dalam satu bulan adalah restoran yang berbeda dari yang menjual seribu chicken sandwich. Karena berdasarkan iklan kami, pada dasarnya kami mengubah jenis restoran kami setiap 30 hari. Itulah yang diberitakan Gordon kepada kami.

Satu hal yang membuat Wendy's menjadi sebuah restoran yang lebih baik sesungguhnya ialah dengan membatasi jumlah gagasan baik yang kami punya, atau paling tidak jumlah yang kami putuskan untuk dijalani pada saat yang sama. Daripada memunyai 50 gagasan baik dalam sebulan dan menjalankan semua secara untung-untungan, kami putuskan hanya memunyai 2 atau 3 ide bagus dan melaksanakan sebaik-baiknya. Kami menahan diri dan belajar menjalankan rutin kami. Banyak orang berusaha untuk berbuat dan menjadi segalanya -- terlalu banyak hal sekaligus. Lakukan apa saja yang dapat Anda lakukan dan jadilah sebagaimana adanya.

Tidaklah mudah untuk menjadi disiplin, dan itu membawa saya kembali kepada Gordon Teter. Bukan karena dia orangnya Wendy's tetapi karena dia adalah dia. Mari lihat latar belakang Gordon lebih dekat lagi untuk mengetahui bagaimana dia menjadi begitu tangkas dalam disiplin.

Ayah Gordon, Fred, adalah seorang eksekutif di perusahaan obat-obatan Eli Lilly dari Indianapolis. Kakek Gordon memiliki sebuah pertanian, tetapi sebenarnya ayah Gordon dan kakaknya, Jim, yang mengurusnya. Dan Gordon juga. Pertanian itu cukup luas dan berjalan baik dengan hasil berupa jagung dan kacang kedelai, sapi dan babi. Gordon melaksanakan tugasnya di pertanian, yang artinya memberi makan hewan pada jam 5 pagi dan di petang hari juga. Itu juga berarti kerja lembur bagi setiap orang selama musim menanam dan musim panen.

Ibu Gordon, Bonnie, adalah seorang guru pengganti. Ia berasal dari sebuah keluarga di mana ia diadopsi dan benar-benar menghargai nilai sebuah keluarga dan pendidikan. Jadi Anda dapat mengerti mengapa Gordon belajar sedemikian tekunnya. Keluarga Gordon dipenuhi oleh nilai-nilai kekristenan yang kuat.

Ini semua menjelaskan banyak hal tentang Gordon. Tetapi dimana ia belajar semua tentang disiplin diri untuk menjaga segalanya tetap sederhana? Mungkin ketika bermain football di sekolah lanjutan Lawrence Central di sebuah kota kecil, Lawrence, Indiana. Timnya memenangkan banyak pertandingan. Apakah rahasia mereka? 75% serangan mereka hanyalah 4 permainan yang berbeda. 25% sisanya, merupakan variasi kecil pada ke-4 permainan tersebut. Anda tidak perlu menipu orang lain. Sebagian besar waktu yang perlu Anda lakukan hayalah melakukan dasarnya dengan baik, berulang kali.

Gordon melakukan banyak hal sebagai anak-anak, tetapi ia tidak pernah melakukan terlalu banyak hal berbeda-sama seperti tim footballnya disiplin dan tidak membuat terlalu banyak manuver yang aneh-aneh. Saya kira sebagian besar keluarga Amerika terlalu sibuk melakukan banyak hal yang baik untuk diri sendiri dan bagi anak-anak mereka -- les balet, menjadi anggota tim renang, seleksi sepak bola. Tidak ada seorang anak yang perlu memainkan 5 cabang olahraga, dan tidak ada orang tua yang harus menjadi anggota dari 5 panitia gereja sekaligus. Jika Anda mengambil beban sebesar itu, berapa banyak yang dapat Anda lakukan dengan sebaik-baiknya? Dapatkah hidup Anda benar-benar mengikuti suatu rutinits yang wajar, jenis rutinitas yang membuat Anda melakukan perkara-perkara dengan baik, hari lepas hari?

Banyak orang saat ini tidak menyukai rutinitas. Bukan saya. Saya sepenuhnya mendukung rutinitas. Misalnya saja restoran-restoran yang bersih. Jika ada suatu rutinitas yang perlu diikuti, itu adalah mempersiapkan restoran untuk dibuka setiap hari bagi para pelanggan. Ketika saya berkeliling untuk mengunjungi restoran-restoran Wendy's, manajernya selalu tahu saya akan datang. Tidak heran, mereka bekerja ekstra keras sebelum saya tiba untuk membuat restoran bersih cemerlang. Saya senang mereka melakukannya, tetapi saya harap setiap manajer bertindak seolah-olah saya akan mengunjungi mereka setiap hari sepanjang tahun.

Rutinitas dapat membantu dalam banyak hal lain. Rutinitas dapat memulihkan hal-hal yang tidak terduga. Kekurangan uang di kas register adalah masalah yang umum di banyak restoran. Kadang-kadang itu dikarenakan pencurian oleh orang dalam. Sering kali juga karena memberi uang kembalian dengan sembrono, khususnya jika banyak pembeli. Toko-toko eceran dan restoran-restoran memunyai berbagai cara untuk mengatasi kekurangan di dalam kas. Kamera video, inspeksi mendadak, bahkan mata-mata yang menyamar. Tetapi apakah Anda tahu senjata tunggal yang terbaik dalam menghadapi kekurangan dalam kas? Bukan salah satu yang diatas tadi. Senjatanya adalah disiplin untuk memberikan laporan yang rutin. Mengharuskan mereka melaporkan kekurangan mereka ke kantor pusat satiap hari. Kekurangan itu mungkin sedikit. Mungkin juga banyak. Bagaimana pun Anda tidak memukul orang melalui telepon untuk apa yang mereka laporkan. Tetapi faktanya bahwa mereka harus memberi laporan tentang kekurangan uang membuat orang memberi lebih banyak perhatian terhadap apa yang mereka lakukan dan hal itu membantu mengendalikan masalah.

Keluarga-keluarga memunyai tugas yang rutin. Atau paling tidak, seharusnya demikian:

  1. Pekerjaan rumah adalah suatu rutinitas, dan harus pula ada laporan rutin tentang apa yang sedang terjadi di kelas-kelas yang berbeda.

  2. Tugas merupakan suatu rutinitas, dan laporan tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang belum haruslah jelas.

  3. Gereja, berdoa, atau meluangkan waktu dengan seorang sakit atau saudara yang kesepian -- semua itu adalah rutinitas yang baik.

  4. Makan bersama dan mengobrol beberapa malam seminggu adalah suatu rutinitas yang baik bagi suatu keluarga untuk dilaksanakan.

Disarikan dari buku "Bagus Sekali", Dave Thomas.

Diambil dari:

Judul majalah : abbavoice, Volume 3, Edisi Pembentukan dan Pengabdian
Judul artikel : Kekristenan Lengan Kemeja
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries
Halaman : 10 -- 11