Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.21 Vol.12/2009 / John Wesley: Bara yang Meletup

John Wesley: Bara yang Meletup


Menjelang akhir bulan Januari 1736, sebuah kapal barang bernama Simmonds, yang berlayar menuju Savannah, Georgia, AS, diserang oleh angin topan. Angin meraung dengan dahsyatnya. Kapal itu terombang-ambing tanpa kendali dan ombak laut menghantam geladak. Seorang pendeta gereja Anglikan yang ada di atas kapal gemetar ketakutan. John Wesley telah memberitakan Injil keselamatan kepada orang lain, tetapi ia sendiri takut mati. Sementara ombak terus menghantam geladak kapal, memorak-porandakan layar kapal berkeping-keping, Wesley terheran-heran melihat beberapa orang dari Moravian Brethren yang dengan tenang menyanyikan mazmur kepada Tuhan. Setelah badai berlalu, Wesley bertanya kepada salah satu di antara mereka, apakah ia merasa takut? "Tidak," jawab orang itu. Wesley menulis, "Ini merupakan hari luar biasa yang pernah saya alami."

Raksasa Kecil

Wesley (1703 -- 1791) berasal dari keluarga yang sangat mengutamakan kesopanan dan keteraturan. Ayahnya, Pdt. Samuel Wesley, adalah seorang rohaniwan yang terpelajar dan saleh, yang melayani di Epworth, Lincolnshire. Ibunya, Susanna, adalah putri seorang pendeta non-Conformist. John merupakan anak kelima belas dari sembilan belas bersaudara. Ketika Wesley berusia 6 tahun, rumah pendeta di Epworth terbakar. Seorang tetangganya, dengan berdiri di atas pundak kawannya, menolong anak itu dari sebuah jendela di tingkat dua. Kelak, Wesley yang menyebut dirinya "Bara yang Meletup", tidak pernah meragukan bahwa Allah telah memelihara hidupnya. Pada usia 17 tahun, Wesley melanjutkan studinya ke Universitas Oxford. Ia membaca banyak hal dan terutama terkesan oleh bapak-bapak gereja yang mula-mula dan buku-buku ibadah klasik. Dari "Holy Living" karangan Jeremy Taylor, "Imitation of Christ" karangan Thomas a Kempis, dan "Serious Call to Holy Life" karangan William Law, Wesley belajar bahwa kehidupan Kristen merupakan pengudusan dari keseluruhan manusia dalam kasihnya kepada Allah dan sesamanya.

Orang-orang ini, katanya, "Meyakinkan saya tentang ketidakmungkinan yang mutlak untuk menjadi setengah Kristen. Saya berketetapan, melalui kasih karunia-Nya, menyerahkan hidup saya kepada Allah." Jadi ia mempelajari seluruh kelemahannya dan mencari cara-cara untuk mengatasinya. Pada tahun 1726, Wesley dipilih untuk memperoleh beasiswa dari Lincoln College di Oxford. Hal ini bukan hanya memberinya kedudukan akademis di universitas, namun juga meyakinkannya bahwa ia akan menerima penghasiian secara teratur. Dua tahun kemudian, ia ditahbiskan menjadi pendeta Anglikan dan kembali ke Epworth selama beberapa waktu untuk melayani sebagai asisten ayahnya. Ketika mulai melakukan tugasnya kembali di Oxford, ia mendapati bahwa saudaranya, Charles, yang gelisah melihat perkembangan deisme di kampus, telah mengumpulkan sekelompok mahasiswa yang bertekad untuk menjalani kehidupan Kristen dengan benar dan serius. John terbukti menjadi pemimpin yang mereka butuhkan. Di bawah bimbingannya, mereka membuat sebuah rencana studi dan peraturan hidup yang menekankan pada doa, pembacaan Alkitab, dan menghadiri Perjamuan Kudus secara teratur.

Kelompok kecil itu dalam waktu singkat menarik perhatian dan ejekan dari para mahasiswa yang malas. Mereka menyebut diri Kelab Kudus dan Ngengat Atkitab, Metodis, dan Kelab Pembaruan. Para anggotanya merupakan orang-orang yang sangat rajin dan tak mau tinggal diam. Mereka terus-menerus mencari berbagai cara agar kehidupan mereka sesuai dengan pola hidup orang Kristen yang mula-mula. Mereka membantu orang miskin dan mengunjungi para narapidana. Tetapi Wesley dengan cepat mengakui bahwa ia kurang memiliki damai sejahtera seorang Kristen sejati. Seorang sahabatnya dari Georgia, Dr. John Burton, menyarankan agar John dan Charles melayani Tuhan di koloni baru yang dipimpin oleh Jendral James Oglethorpe. Charles dapat menjadi sekretaris jendral dan John menjadi pendeta tentara di koloni tersebut. Kedua bersaudara itu berangkat dengan kapal Simmonds pada bulan Oktober dengan idealisme yang menggebu-gebu dan semangat penginjilan, tanpa menyadari akan angin topan yang akan menyerang mereka.

Di Georgia, Wesley mendapati bahwa kebuasan orang-orang Amerika yang terhormat ialah "pelahap, pencuri, penipu, dan pembunuh". Dan para penghuni di koloni itu membenci cara hidupnya yang sangat rohani, penolakannya untuk memimpin upacara kematian seorang non-Conformist dan larangannya bagi wanita untuk memakai gaun mahal dan perhiasan. Rasa frustrasinya semakin berlipat ganda karena kisah cinta yang dijalinnya dengan Sophy Hopkey, seorang gadis berusia 18 tahun, keponakan hakim kepala Savannah. Sophy akhirnya memutuskan hubungan dengan melarikan diri dengan saingan Wesley. Kekasih yang cintanya ditolak itu melarang mantan kekasihnya untuk mengikuti perjamuan kudus dan suaminya yang marah menggugat Wesley karena dianggap telah merusak karakter Sophy. Pengadilan itu beriarut-larut dan mengalami gangguan selama 6 bulan. Wesley meninggalkan koloni tersebut dengan rasa jijik. Dalam perjalanan pulang, ia memperoleh kesempatan untuk merenungkan seluruh pengalamannya. Ia menulis, "Saya pergi ke Amerika Serikat untuk menobatkan orang-orang Indian, tetapi siapakah yang akan menobatkan saya?"

Hati yang Suci Semakin Hangat

Wesley mendarat di Inggris pada tanggal 1 Februari 1738 dalam keadaan terpukul dan tidak yakin akan imannya sendiri dan masa depannya. Selama 12 tahun, ia mencoba untuk menjalani kehidupan yang sempurna. Kegagalan di Georgia hanya menunjukkan kebobrokan rohaninya. Di London, ia bertemu dengan Peter Bohler, seorang pendeta Moravian yang terkesan akan kebutuhan Wesley akan suatu kelahiran baru, suatu iman baru kepada Kristus yang memungkinkannya untuk mengatasi dosa dan benar-benar memperoleh kekudusan dalam hidup. Dibenarkan oleh iman, kata Bohler, bukan hanya sekadar sebuah doktrin, melainkan suatu pengalaman memperoleh pengampunan dari Allah. Tetapi Wesley bertanya, "Bagaimana iman dapat diberikan dalam sekejap mata?" Ia mendapatkan jawabannya bagi dirinya pada tanggal 24 Mei.

Ia menulis, "Pada suatu sore dengan rasa segan, saya pergi ke sebuah pertemuan di Jalan Aldersgate, di mana seseorang sedang membacakan kata pengantar Luther untuk Kitab Roma. Sementara ia sedang menjelaskannya, suatu perubahan dari Allah terjadi dalam hati saya melalui iman kepada Kristus. Saya merasa hati saya hangat. Saya merasa bahwa saya benar-benar percaya kepada Kristus, hanya Kristus saja, untuk memperoleh keselamatan dan suatu jaminan diberikan kepada saya bahwa Ia telah menghapuskan semua dosa saya dan menyelamatkan saya dari hukum dosa dan maut." Demikianlah Wesley memperoleh jaminan yang tak dimilikinya, suatu kehidupan yang akan membuatnya bertahan selama setengah abad dengan energi yang tak ada duanya. Ia telah menerima pesan hidupnya.

Dari Pesan Kepada Metode

Pada musim panas berikutnya, Wesley mengunjungi kelompok Moravian di Saxon. Ia ingin melihat sendiri kuasa hidup saleh seperti yang disaksikannya di atas kapal. Ia bertemu dengan banyak orang yang memberikan teladan "jaminan sepenuhnya dari iman Kristen". Tetapi dengan cepat ia melihat tanda-tanda pembenaran terhadap diri sendiri dalam diri mereka. Tak lama kemudian, Wesley dan kelompok Moravian berpisah. Ia berutang banyak kepada mereka terutama akan hal pembenaran oleh iman dan sistem kelompok kecil mereka untuk pertumbuhan rohani. Tetapi Wesley tidak dapat menganggap dirinya sebagai seorang dari mereka. Ia kembali ke London dan melanjutkan kembali berkhotbah di gereja-gereja. Tak lama kemudian, Wesley menerima undangan tak terduga dari seorang anggota kelab Kudus dari Oxford. George Whitefield telah mengikutinya sampai ke Georgia pada tahun 1738, tetapi kembali pada musim gugur tahun itu untuk ditahbiskan menjadi pendeta. Karena tidak puas dengan kesempatan yang diberikannya di mimbar, ia mulai berkhotbah di lapangan-lapangan terbuka di dekat Bristol kepada para pekerja tambang batu bara yang jarang berani atau memerhatikan untuk memasuki sebuah gereja.

Suara Whitefield terang, keras, dan kepiawaiannya dalam berkhotbah begitu menggerakkan hati pendengarnya sehingga ia dapat melihat "air mata mereka" berlinangan dari pipi mereka yang hitam sementara mereka keluar dari lubang tambang. Ketika sejumlah besar pekerja tambang batu bara memohon belas kasihan Allah, Whitefield mendorong Wesley untuk mengikuti pimpinannya memasuki ladang penginjilan secara terbuka. Wesley tahu bahwa ia tidak dapat dibandingkan dengan kepandaian Whitefield dalam berkhotbah. Ia berbicara sebagaimana layaknya seorang cendekiawan dan pria terhormat. Tetapi yang menjadi keraguannya ialah karena sebelumnya ia tak pernah membayangkan bahwa ia harus berkhotbah di alam terbuka. Tulisnya, "Karena sepanjang hidup saya begitu bersikeras menghubungkan segala sesuatu dengan kesopanan dan aturan, saya hampir berpikir bahwa menyelamatkan jiwa seseorang di luar gereja merupakan suatu dosa."

Di Alam Terbuka

Dalam posisi lebih kepada seorang martir dan bukan seorang juru khotbah yang penuh sukacita, Wesley akhirnya pergi juga ke Bristol. Kemudian, "bara yang meletup itu" dibawa menaiki anak tangga kebangunan rohani sepanjang sisa hidupnya. Ia berkhotbah kepada lebih dari tiga ribu orang di alam terbuka dan pertobatan selalu terjadi. Kebangunan rohani golongan Metodis telah dimulai. Dampak-dampak yang memengaruhi Wesley juga tak kalah luar biasanya. Sebelumnya, ia selalu merasa cemas dan tidak aman, namun setelah di Bristol, ia menjadi penyulut api bagi Tuhan. Wesley memberitakan Kabar Injil kepada orang miskin di mana pun bilamana mereka mau menerimanya. Ia menulis, "Saya memandang seluruh dunia sebagai jemaat, beban saya ialah memberitakan Kabar Kesukaan dan Keselamatan kepada setiap orang yang mau mendengarkannya." Ia berkhotbah di penjara, di pemondokan kecil, dan di atas kapal. Di sebuah amphiteater di Cornwall, ia berkhotbah kepada 30.000 orang, dan ketika ia tidak diizinkan masuk untuk berkhotbah dalam gereja Epsworth, ia berkhotbah kepada ratusan orang di halaman gereja sambil berdiri di atas makam ayahnya.

Datam catatan hariannya tertanggal 28 juni 1774, Wesley mengklaim bahwa sedikitnya ia mengadakan perjalanan sejauh 4.500 mil setahun. Itu berarti bahwa sepanjang hidupnya, ia telah mengadakan perjalanan sejauh 250.000 mil atau sepuluh kali keliling dunia. Sebagian besar perjalanannya dilakukan dengan naik kuda, dan dalam waktu singkat, ia mempelajari bahwa ia harus sering mengekang kudanya supaya ia dapat membaca dan menyiapkan khotbahnya dalam perjalanannya menuju ke kota lain. Dalam tahun-tahun pertama penginjilan kelilingnya, orang-orang tidak selalu dapat menerima kedatangannya. Mereka melempar batu dan benda-benda lain. Kadang-kadang ia dipukuli oleh beberapa orang. Tetapi Wesley tidak takut pada siapa pun. Dengan daya tariknya yang begitu kuat, ia bisa mengumpulkan begitu banyak orang dan keributan dapat diatasi. Wesley terus berkhotbah menginjili sampai akhir hayatnya. Ia meninggal di London pada tanggal 2 Maret 1791 dalam usia 88 tahun dan meninggalkan 79.000 pengikutnya di Inggris dan 40.000 di Amerika Utara.

Setelah kematiannya, golongan Metodis di Inggris mengikuti saudara-saudaranya di Amerika Serikat dengan memisahkan diri dari gereja Anglikan. Tetapi pengaruh Wesley dan kebangunan rohani yang ditimbulkannya memberikan dampak yang lebih jauh melewati batas-batas gereja Metodis. Wesley memberi pembaruan dalam kehidupan agama di Inggris dan koloni-koloninya dan menaikkan kehidupan orang miskin. Selain itu, tindakannya menstimulasi badan-badan pengabaran Injil di luar negeri dan perhatian sosial golongan injili sepanjang abad ke-19 dan ke-20.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama majalah : Sahabat Gembala, Edisi Agustus/September 1991, Tahun XIII
Penulis : Rin
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia, Bandung 1991
Halaman : 44 -- 48

e-JEMMi 21/2009