Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereJANGAN MEMBUNUH

JANGAN MEMBUNUH


By novi - Posted on 10 March 2009

Allah menciptakan bumi ini untuk dihuni bersama oleh banyak orang, dan supaya kehidupan dari masing-masing orang itu terjamin maka perlu dibuat beberapa peraturan. Tanpa peraturan maka hidup bersama untuk manusia yang beraneka corak ragamnya ini menjadi tidak mungkin. Kehidupan ini adalah seperti jalan raya yang dilalui oleh banyak sekali kendaraan. Lalu lintas bisa aman kalau semua yang ada di atasnya mematuhi peraturan, seperti tetap menggunakan lajur kiri, tidak mendahului kendaraan yang lain kecuali ruang depan kendaraan itu bebas, tidak menjalankan kendaraannya melampaui batas kecepatan maksimal dan lain-lain. Melanggar peraturan ini akan menyebabkan jalan raya itu tempat yang tidak aman bagi pemakainya, sehingga jalan raya itu tidak lagi menjadi sarana yang menguntungkan, dimana kita bisa pergi ke suatu tempat dengan cepat, tetapi menjadi sarana kehancuran dan kematian. Begitu juga kehidupan, bisa menyenangkan atau menyusahkan -- tergantung sampai di mana ketaatan kita untuk mentaati lima peraturan untuk mengatur hubungan kita satu sama lain. Yang pertama ialah "Jangan membunuh" (Keluaran 20:13).

Pertama, ini mengenai diri kita sendiri. Kita tidak menciptakan hidup ini sendiri dan kita tidak memunyai wewenang untuk merusaknya. Kadang-kadang timbul pikiran untuk bunuh diri. Jelas ini melanggar peraturan Allah. Apa yang Allah akan lakukan terhadap orang yang bunuh diri saya dengan senang hati menyerahkannya kepada-Nya, dan saya tidak tahu bagaimana hasilnya. Hak untuk menghakimi sepenuhnya ada di tangan Allah sendiri, dan pasti Ia akan meninjaunya dari segala segi sebagaimana Ia anggap baik. Bukan saja bunuh diri, membunuh pun dilarang. Semua orang yang berpikiran waras akan setuju bahwa kita tidak boleh mengambil senapan lalu menembak orang lain ataupun diri kita sendiri. Tetapi tercakup ke dalam peraturan ini adalah juga hukum tentang kesehatan, di mana yang melanggar juga berarti membunuh, meskipun kematiannya terjadi dengan perlahan-lahan. Perintah ini melarang kita untuk menempatkan diri kita maupun orang lain ke tempat-tempat dan keadaan yang mengandung resiko tinggi, misalnya menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi, menyukai kesenangan-kesenangan yang berbahaya dan lain-lain.

Juga termasuk di sini ialah menyebabkan diri sendiri maupun orang lain mengalami kematian rohani. Kita bisa membunuh orang dengan membunuh imannya. Waktu seseorang melompat dari jendela sebuah gedung bertingkat, seorang Negro tua yang bekerja sebagai penjaga pintu gedung itu berkata, "Kalau orang sudah kehilangan Allah, tidak ada hal lain yang dapat ia lakukan kecuali melompat". Yotam adalah seorang raja yang tidak pergi ke gereja. Karena ia seorang yang kuat, maka ia tetap tidak melakukan kejahatan. Tetapi orang lain yang melihat dia sebagai contoh, juga tidak pergi ke gereja. Hasilnya ialah "Tetapi rakyat masih saja melakukan hal yang merusak" (2 Tawarik 27:2). Juga kekejaman, acuh tak acuh dan lain-lain bisa menjadi alat untuk membunuh. Juga termasuk dilarang adalah emosi yang merusak, seperti benci, takut, iri hati, marah, kuatir, dan sedih yang berlebihan. Untuk melawannya perlu didatangkan emosi-emosi yang membangun dan menyembuhkan, seperti percaya, berharap, suka cita, kreativitas, dan kasih. Misalnya kasih. Kasih adalah suatu proses dari memberi. Memberi atas dasar kasih menghancurkan keakuan (mementingkan diri sendiri), yang seterusnya akan menghancurkan keinginan-keinginan yang jahat, yang seterusnya akan menghancurkan keinginan untuk membunuh.

Hidup dan membiarkan orang lain hidup barulah setengahnya dari pengertian "Jangan membunuh". Secara positif, itu juga berarti hidup dan membantu orang lain untuk hidup. Yesus tidak terlalu perlu memperingatkan kita untuk tidak menjadi gang ster atau pembunuh, tetapi dengan jelas sekali Ia mencela orang yang berjalan menyingkir sementara melihat saudara-saudaranya terluka di tepi jalan. Dasar dari perintah ini adalah bahwa Allah menghargai nyawa dari setiap orang sama dengan Ia menghargai nyawa saya. Satu Allah yang membuat satu darah dari semua bangsa. Satu Allah yang adalah satu Bapa dari semua orang yang adalah bersaudara. Peraturan tentang kehidupan adalah bahwa kita melihat kepada semua orang pada proporsi yang benar. Klimaks dari ceritera Qua Vadis adalah adegan yang terjadi pada malam hari. Pada tahun-tahun pertama dari kekristenan Ratu Lygia tertangkap dan dibawa ke Roma. Juga tertangkap dan dibawa ke Roma adalah Ursus, seorang raksasa yang menjadi budak Ratu Lygia. Kedua-duanya adalah orang Kristen dan akan diberikan kepada singa-singa untuk dimakan. Jamnya tiba, ribuan penonton memenuhi arena, dan si raksasa Ursus dibawa ke tengah. Ia berlutut berdoa dan berniat untuk tetap berlutut dan tidak melawan walaupun singa datang. Lalu muncullah seekor banteng liar, yang sedang mengejar-ngejar Ratu Lygia.

Melihat bahwa ratunya sedang terancam bahaya, Ursus menangkap tanduk dari banteng itu. Pergumulan yang sangat dahsyat terjadi, tetapi kekuatan yang brutal dari banteng akhirnya tunduk kepada kekuatan dan kemantapan hati dari seorang raksasa. Kaki dari masing-masing makin dalam tertancap ke dalam pasir, dan pelan-pelan kepala dari si banteng makin tertunduk. Dalam suasana yang menegangkan dan menyebabkan semua orang menahan napas itu akhirnya terdengar gemeretaknya tulang si banteng sementara tangan Ursus mematahkan tulang lehernya. Demikianlah ia menyelamatkan ratunya. Itulah cara hidup yang positif. Binatang-binatang seperti kebencian, keserakahan, prasangka, peperangan, kebodohan, kemiskinan, penyakit, tidak menyentuh hati kita sampai ada orang yang kita kasihi diserangnya. Pada waktu itulah kita mencurahkan seluruh tenaga kita untuk melawannya. Dan kalau kita mencintai semua orang, maka kita akan masuk ke dalam peperangan melawan musuh dari semua orang.

Diambil dari:

Judul buletin : Filadelfia, Edisi Januari -- Maret 1999, No. 22
Judul artikel : Jangan Membunuh
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil "Filadelfia", Purwokerto
Halaman : 1 -- 2 dan 34