Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.29 Vol.16/2013 / Isobel Kuhn

Isobel Kuhn


Hati Isobel membara saat mendengar tantangan J. O. Fraser akan datang ke China dan membagikan Injil kepada suku Lisu di sana. Dengan penuh perhatian, Isobel mendengarkan penjelasan Fraser bahwa orang-orang Lisu belum pernah mendengar tentang Allah yang hidup dan yang sangat mengasihi mereka. Mereka pun belum pernah mendengar tentang Yesus yang sanggup menyelamatkan mereka dari hukuman dosa. Lebih dari itu, suku ini bahkan tidak memiliki ungkapan dalam bahasa mereka untuk menyebut pengampunan, belas kasihan, pertobatan, kasih, atau keadilan. Sebaliknya, mereka memiliki ratusan ungkapan untuk menjelaskan cara paling efektif untuk menguliti manusia hidup-hidup. Selain itu, suku ini selalu hidup dalam ketakutan terhadap roh-roh. Mereka hidup dalam takhayul dan memiliki dukun untuk berhubungan dengan roh-roh serta melakukan praktik-praktik sihir demi menenangkan roh-roh itu. Didorong oleh belas kasihan kepada orang-orang yang belum pernah ditemuinya ini, Isobel berkata kepada Tuhan, "Tuhan, aku bukanlah seorang lelaki, tetapi aku akan pergi ke sana! Ya, aku akan pergi!"

Beberapa tahun sebelumnya, Isobel Miller (yang sering dipanggil Belle) tidak pernah bermimpi untuk meninggalkan segala kenyamanan di rumah demi memberitakan Kristus kepada orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Dia. Saat itu, Amerika sedang mengalami masa yang disebut "The Roaring Twenties" (masa keemasan Amerika selama tahun 1920-an, berakhir pada tahun 1929 -red.) dan Belle sangat menikmati setiap menitnya. Apalagi, saat itu ia adalah seorang mahasiswa kehormatan yang terkenal cantik dan sangat populer dalam bidang teater dan tari di University of British Columbia.

Belle lahir pada tanggal 17 Desember 1901 di Toronto, Kanada. Meskipun kedua orang tuanya adalah orang Kristen (ayahnya bahkan seorang penginjil awam Presbiterian), Belle pernah menyatakan diri sebagai seorang agnostik setelah dipermalukan oleh seorang pengajarnya di depan kelas karena percaya terhadap kisah penciptaan menurut Alkitab. Namun, setelah mengalami masalah dengan seorang pria yang ia harap akan menikahinya, Belle mulai tenggelam dalam depresi. Ia mulai menyadari bahwa dunia tidak dapat memberinya sukacita. Pada suatu malam, Belle bahkan berniat untuk melakukan bunuh diri, tetapi saat itulah ia mulai memohon damai sejahtera dari Tuhan. Lewat peristiwa ini, Belle kembali kepada iman Kristen dan mengakui Yesus sebagai Tuhan, dan menjadi semakin dewasa dalam imannya.

Pada tahun 1924, saat mendengar Fraser berbicara tentang suku Lisu, Belle tidak dapat kembali kepada kehidupannya yang biasa-biasa saja. Maka, ia pun menjelaskan kerinduannya untuk menjangkau suku Lisu kepada kedua orang tuanya. Akan tetapi, orang tuanya justru menganggap kerinduannya itu fanatik dan egois. Ibunya bahkan sempat berteriak kepadanya "Langkahi dulu mayatku!" Sebenarnya, ibu Belle menjabat sebagai ketua lembaga Women's Missionary Society selama bertahun-tahun dan ia tidak menentang para misionaris, hari itu, ia hanya menentang keinginan putrinya untuk menjadi misionaris. Kedua orang tua Belle telah melakukan segala sesuatu yang dapat mereka lakukan agar Belle mendapatkan pendidikan terbaik dan menyediakan segala sesuatu untuk kenyamanannya. Keinginannya untuk menjadi misionaris ini seolah-olah membuang semua yang telah diberikan orang tuanya. Tidak hanya menganggapnya sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, mereka memandang Belle sebagai anak yang egois karena pada saat itu ia adalah tulang punggung bagi keluarga mereka; saudara laki-laki Belle tidak memiliki pekerjaan sementara ayahnya kehilangan seluruh tabungan seumur hidupnya dalam usaha bisnis yang gagal. Namun, tak disangka-sangka, Belle kehilangan ibunya dalam sebuah operasi. Akan tetapi, ia mengetahui bahwa pada malam sebelum ibunya meninggal, ibunya berkata kepada seorang sahabatnya, "Belle telah memilih jalan yang lebih baik."

Belle terus menaati panggilan yang ia tahu berasal dari Allah. Maka, ia segera mengemasi kopornya dan berangkat ke Moody Bible Institute di Chicago. Selama di sana, ia bertemu dengan seorang pemuda bernama John Kuhn yang menarik perhatiannya. Sifat keduanya sangat bertolak belakang, Belle adalah seorang perempuan yang spontan dan impulsif, sementara John adalah seseorang yang berhati-hati dan penuh pertimbangan. Namun demikian, keduanya memiliki visi dan hati untuk melayani China. Pada tahun 1926, John berangkat ke China bersama lembaga pelayanan China Inland Mission (CIM), sementara Belle tetap berada di Kanada untuk dipersiapkan Tuhan melayani di luar negeri. Meskipun demikian, mereka berdua tetap saling berhubungan melalui surat selama 2 tahun. Pada tahun 1928, setelah memenuhi peraturan CIM yang mengharuskan misionaris baru untuk tetap melajang selama 2 tahun, Belle berangkat ke China dan menikah dengan John.

Di China, John dan Belle tinggal di Chengchiang selama tahun-tahun awal pernikahan mereka. Meskipun demikian, kata "tinggal" bukanlah ungkapan yang sesuai dengan apa yang mereka alami. Belle menjelaskan bahwa keadaan mereka saat itu sangat tidak nyaman. Tuhan sedang mengajar Belle seperti apakah penyangkalan diri yang sebenarnya. Makanan yang asing, budaya yang asing, kurangnya privasi, dan semuanya itu harus datang bersamaan ketika ia masih harus menyesuaikan diri dengan pernikahannya; itu semua adalah harga yang harus dibayar olehnya karena meninggalkan kenyamanan rumah.

Ia sempat berbesar hati ketika mendapat kesempatan untuk membagikan Injil kepada pengunjung pertama yang datang ke rumahnya. Akan tetapi, ia sangat terkejut ketika salah seorang wanita China itu membuang ingusnya di selimut kapas miliknya, sementara seorang ibu yang lain mengizinkan anaknya meludah di karpet Belle yang indah. Setelah menelan rasa frustasinya, Belle mulai menyadari bahwa rasa sayangnya terhadap barang-barang kepunyaannya harus segera dihilangkan, jika tidak, ia hanya akan lebih menghargai barang-barangnya itu daripada jiwa-jiwa yang datang kepadanya. Meskipun harus terus-menerus berjuang untuk menyangkal diri, Belle menganggap perjuangannya itu terbayar ketika ia dapat melihat orang-orang China mendengar Injil untuk pertama kalinya.

Pada tahun 1930 -- 1932, keluarga Kuhn pindah ke sebuah kota bernama Tali, di Yunnan. Dari sana, mereka pindah ke Yongping, masih di wilayah Yunnan, dan menetap di sana selama 2 tahun di bawah bimbingan J. O. Fraser. Mereka terus berjalan berkeliling untuk membagikan Injil sekaligus melatih beberapa misionaris baru untuk pergi ke daerah-daerah yang belum pernah diinjili. Pada tahun 1934, keluarga Kuhn akhirnya tiba di wilayah orang-orang Lisu; 10 tahun sejak hati Belle terpanggil untuk melayani mereka. Setelah mempelajari bahwa suku Lisu tidak melakukan kegiatan apa pun selama musim hujan, Belle mengambil kesempatan itu dengan mendirikan Rainy Season Bible School yang mengajarkan Injil serta dasar-dasar kekristenan kepada mereka. Ketika orang-orang semakin mengenal Tuhan, Belle melatih dan mengutus mereka ke desa-desa sekitar yang belum pernah mendengarkan Injil. Karena Rainy Season Bible School ini, orang-orang Lisu akhirnya juga memiliki kerinduan untuk pelayanan misi sehingga mereka pergi ke suku-suku lain yang pernah menjadi musuh mereka untuk mengabarkan Injil.

Meskipun mengalami masa-masa sulit, Isobel melihat buah-buah pelayanannya di antara suku Lisu. Pada tahun 1950, saat komunis mengambil alih China, Belle dan keluarganya terpaksa menyelamatkan diri melewati jalan pegunungan yang bersalju menuju Myanmar. Pada saat mereka melarikan diri, 16 tahun sejak hari pertama keluarga Kuhn melayani di antara suku Lisu, 3.400 dari jumlah total 18.000 orang Lisu telah menjadi orang percaya dan 7 suku lainnya telah diinjili secara langsung oleh para misionaris dari suku Lisu. Hari ini, sudah ada 200.000 orang Lisu yang menjadi Kristen, mereka adalah hasil dari pelayanan Isobel dan para misionaris lainnya.

Setelah meninggalkan China pada umur 50 tahun, Isobel harus membuat keputusan, apakah ia akan melanjutkan pelayanannya dengan melayani orang-orang Lisu yang tinggal di Thailand Utara atau tidak. Saat ia bergumul dengan keputusannya, Isobel berseru kepada Tuhan, "Tuhan, aku lelah! Sekarang, aku berumur 50 tahun dan dalam 20 tahun terakhir aku telah melihat perang, dipisahkan berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dari suami dan anak-anakku, aku juga pernah sakit dan hampir mati. Jika aku pergi ke Thailand, aku harus mempelajari bahasa yang baru, beradaptasi dengan lingkungan yang baru, dan membiasakan diri dengan budaya yang baru pula. Aku hanya ingin duduk di sebuah kursi goyang di teras dan beristirahat!"

Setelah mengatakannya, Isobel merasa bahwa Tuhan menjawab seruannya itu, "Belle, apakah kamu benar-benar tidak ingin melayani-Ku?" Perkataan Tuhan itu cukup untuk membuat Belle kembali melayani orang-orang Lisu sampai akhir hayatnya.

Kehidupan Isobel mengingatkan kita bahwa Allah telah terbukti cukup bagi orang-orang yang mendahului kita dalam menjangkau bangsa-bangsa dengan Injil Kristus. Isobel dipakai oleh Tuhan bukan karena ia sempurna, terlatih, atau karena tidak egois. Ia dipakai karena ia menganggap Allah sebagai pribadi yang berharga dalam kehidupannya, dan karena ia merespons keberadaan-Nya dengan ketaatan yang mengagumkan. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : History Makers
Alamat URL : http://www.historymakers.info/inspirational-christians/isobel-kuhn.html
Judul asli artikel : Biography of Isobel Kuhn
Penulis : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 30 Oktober 2013