Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereKesaksian Misi / Ia Akan Memampukanku untuk Menanggungnya

Ia Akan Memampukanku untuk Menanggungnya


Rose Allen melompat dari tempat tidurnya dan mengintip ke luar jendela. Di sana, di depan pintunya, berdiri seorang kepala polisi, dua orang petugas polisi, dan segerombolan orang yang sedang membawa obor. Mereka sedang berbicara kepada ayahnya di anak tangga pintu. Ia menatap pada jam di atas rak pada perapian. Pukul 02.00 dini hari.

Ibu dari Rose, Alice Munt, telah terbangun pula oleh gedoran yang keras pada pintu. "Ada apa, Rose?" Ia berbisik.

"Mereka telah datang untuk menangkap kita, Bu," Rose berbisik kembali. Rose dapat mendengar ayahnya, William, membiarkan para pria itu masuk. Kemudian ia mendengar langkah kaki menaiki tangga.

Teman-teman telah memperingatkan mereka akan bahaya dari tidak menghadiri gereja yang resmi. Namun, rasa tanggung jawab terhadap kebenaran jauh lebih kuat daripada rasa takut mereka. Mereka terus melanjutkan untuk berbakti di tempat-tempat rahasia dengan sedikit pria dan wanita yang beriman sama. Kini, pihak berwajib telah datang untuk membawa mereka pergi.

Alice, yang tidak berada dalam kesehatan yang baik, amat terguncang dengan kejutan yang tiba-tiba itu hingga ia merasa akan pingsan. Ia menanyakan kepada kepala polisi apakah putrinya dapat mengambil sedikit air sebelum mereka semuanya pergi menuju ke penjara.

Kepala penjara mengizinkan Rose untuk pergi ke sumur. Ia mengambil sebatang lilin dan sebuah gayung ke sumur dan kembali dengan air. Saat ia kembali menuju ke rumah, si kepala polisi menyongsongnya di pintu dan berkata, "Bujuklah ayah dan ibumu untuk bertindak lebih seperti orang-orang Kristen yang baik dan tidak seperti bidat-bidat. Maka mereka akan segera dibebaskan."

"Tuan," Rose menjawab, "mereka memiliki instruktur yang lebih baik daripada aku karena Roh Kudus mengajar mereka -- Roh yang kuharap, tidak akan mengizinkan mereka untuk sesat."

"Baiklah! Sudah waktunya untuk mengurung bidat-bidat semacam dirimu!" Kepala polisi itu menjawab. "Aku yakin kau akan dibakar bersama yang lainnya, bagi kepentingan rombongan."

"Tidak, Tuan," balas Rose, "bukan bagi kepentingan rombongan, tetapi bagi kepentingan Kristusku, jika aku harus. Dan aku percaya pada belas kasihan-Nya, bahwa jika ia memanggilku untuk melakukannya, Ia akan memampukanku untuk menanggungnya."

Salah satu dari bawahan kepala polisi berseru, "Buktikan dirinya saat ini, dan kau akan melihat apa yang akan ia lakukan nanti."

Dengan itu, si kepala polisi mengambil lilin yang menyala dari gadis itu, dan memegang pergelangan tangannya dalam jepitan yang kencang, menempatkan lilin yang menyala itu di bawah tangannya, membakarnya pada punggung tangannya demikian lama hingga kulitnya mengelupas, otot-ototnnya berderak, dan tulang-tulangnya terlihat.

"Menjeritlah! Biar aku mendengarmu menjerit!" ia berteriak.

Rose menolak untuk mengeluarkan sepatah kata pun. Ketika ia akhirnya mendorongnya pergi, Rose berkata, "Tuan, apakah Anda telah selesai melakukan apa yang akan Anda lakukan?"

"Ya, dan jika kau tidak menyukainya, maka perbaikilah."

"Perbaiki!" Kata Rose, "Tidak, Tuhan akan memperbaiki Anda, dan memberi kepada Anda pertobatan, jika itu kehendak-Nya. Dan kini, jika Anda pikir baik, mulailah dari kaki, dan bakarlah pula kepalaku. Karena ia yang mengirim Anda pada pekerjaan ini akan membayar upah Anda pada suatu hari nanti, aku berjanji pada Anda."

Setelah mengatakan hal ini, Rose membawa air ke dalam rumah kepada ibunya.

Pada pagi yang sama, kepala polisi dan orang-orangnya juga menahan enam orang lainnya. Setelah mereka dipenjarakan selama beberapa hari, mereka semua dibawa ke persidangan. Masing-masing dari mereka menjawab dengan ketegasan dan menolak untuk mengubah kepercayaan mereka dengan cara apapun. Mereka dijatuhi hukuman untuk dibakar pada tiang pancang.

Saat mereka dibawa keluar, para martir berlutut, mengucapkan doa mereka, dan diikat pada tiang-tiang pancang. Ketika api membumbung ke sekitar mereka, mereka bertepuk tangan bagi sukacita di dalam api.

Orang-orang yang terus menatap -- ribuan dari mereka -- berteriak, "Tuhan menguatkan kalian! Tuhan menghibur kalian! Tuhan melimpahkan belas kasih-Nya kepada kalian!" Dan kata-kata penghiburan yang lain.

Para martir memberikan diri mereka dalam jilatan api dengan keberanian yang membuat semua yang melihat mereka menjadi takjub.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 75 -- 77

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/ia_akan_memampukanku_untuk_menanggungnya