Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.15 Vol.16/2013 / Hidup yang Dijalani dengan Baik

Hidup yang Dijalani dengan Baik


Sering kali, Tuhan menghadirkan pribadi-pribadi luar biasa untuk memberi pengaruh positif yang dapat mengubah keluarga, teman-teman, komunitas, budaya, bahkan dunia yang ada di sekitar mereka. Salah satu dari pribadi-pribadi yang luar biasa itu adalah Doming Lucasi. Ketika pria ini meninggal, ribuan orang terlihat menghadiri pemakamannya sehingga hal itu menyebabkan seorang sopir taksi yang melintas di daerah itu berkata, "Orang ini pastilah orang penting."

Anda mungkin menduga bahwa Doming Lucasi adalah seorang pengusaha kaya dan terkenal sebagai seorang dermawan. Akan tetapi, pria yang saya kenal dan kasihi ini, bukanlah orang seperti yang Anda duga.

Doming Lucasi adalah seorang dari Suku Balangao -- suku bangsa yang berdiam di kawasan Luzon bagian tengah, di Filipina. Semasa kecil, Doming tinggal di sebuah daerah pegunungan dengan terasering berusia ribuan tahun yang terpahat di kaki gunung itu. Masa kecilnya tidaklah mudah. Saat itu, di daerahnya belum ada jalan raya yang layak, tidak ada listrik, dan tidak ada pasokan air yang mengalir ke rumah-rumah. Meskipun Suku Balangao tinggal di daerah yang memiliki sumber daya alam yang kaya, zaman dahulu mereka dikenal sebagai suku pengayau dan penyembah roh. Balas dendam adalah nilai tertinggi yang dipegang oleh suku ini. Akan tetapi, pada tahun 1962 kehidupan suku ini -- dan kehidupan Doming -- berubah selamanya.

Pada tahun itu, atas undangan suku tersebut, Jo Shelter dan Anne Fetzer datang dan tinggal di antara mereka. Tujuan kedatangan kedua wanita ini adalah untuk menerjemahkan Injil ke dalam Bahasa Balangao. Dalam rencana Tuhan, kedua penerjemah muda itu diundang untuk tinggal di rumah ayah Doming, Canao Lucasi, dan tinggal bersama keluarganya. Doming menjadi saudara adat bagi Jo dan Anne.

Doming cepat akrab dengan kedua "saudarinya" itu, ia bahkan tertarik terhadap firman Allah yang mengatakan bahwa Tuhan mengasihi manusia dan lebih berkuasa daripada roh-roh yang selama ini ia percayai. Awalnya, Doming mempertanyakan dan menolak firman itu, akan tetapi Tuhan bekerja di dalam dirinya sehingga ia tidak hanya menerima Yesus, tetapi juga menjadi asisten penerjemah utama dalam proyek penerjemahan Alkitab Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Balangao.

Doming juga merasa haus akan pendidikan, rasa haus itulah yang mendorongnya untuk keluar dari kampung halamannya dan melanjutkan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi. Hal itu tidak umum, sebab sangat jarang ada pemuda Balangao yang melanjutkan pendidikan setelah kelas enam sekolah dasar.

Jo pernah berkata tentang Doming, "Dia sangat mencintai firman Tuhan. Kami sering menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk mendalami firman-Nya. Ia juga mencintai penerjemahan Alkitab sebab ia dapat berada di dalam firman itu sepanjang hari. Ia memiliki bakat untuk menuntun orang lain membicarakan tentang hal-hal yang kekal. Kerinduan terbesarnya adalah supaya orang lain dapat mengenal Allah. Bahkan dalam perjalanan, ia sering bertanya kepada orang lain, 'Apakah Anda mengenal Yesus?' Seumur hidupnya, Doming melihat banyak perubahan terjadi pada sukunya. Bahkan, ia memiliki peran yang besar dalam perubahan-perubahan yang terjadi atas sukunya itu, suku-suku lain, dan dunia.

Doming bukanlah pria yang sempurna, tetapi ia dapat menjadi teladan yang menunjukkan bagaimana menjadi alat yang setia bagi Tuhan. Doming pernah berkata, 'Tepati janji yang kau buat kepada Allah, hanya jangan membuat janji yang konyol!'"

Sekalipun Doming sudah bertobat, sifat pendendam yang dimilikinya sebagai seorang Balangao tidak mudah padam. Bahkan ketika ia sudah menjadi penginjil dan mendirikan asrama bagi mahasiswa di Bayombong (tempat yang didirikannya untuk bisa membagikan pengaruh positifnya kepada mereka), ia masih harus berjuang untuk bisa melakukan kebenaran. Amy West, seseorang yang bekerja bersama Doming, bercerita bahwa suatu hari Lyle, anak laki-laki Doming, dikeroyok oleh anggota geng. Mengetahui hal itu, Doming menjadi amat marah dan berusaha menyelesaikannya dengan cara Balangao. Akan tetapi, firman Tuhan terus-menerus berbicara kepadanya: "Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan!"

Akhirnya, Doming pun menyerah kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk kulakukan?" Kemudian, ia pun mengajak Lyle dan seluruh anggota geng itu ke kantor polisi, lalu membuka firman Allah dan membagikan kasih Kristus kepada mereka. Ketika ia bertanya kepada Lyle apakah ia ingin mengampuni mereka, pengampunan pun hadir di situ.

Selama bertahun-tahun, ketika situasi-situasi yang menuntut pembalasan dalam cara Balangao muncul, Doming selalu menghadap Tuhan dan bertanya kepada-Nya, "Tuhan, apa yang Engkau inginkan untuk kulakukan?" Dan, hasilnya selalu pendalaman firman Tuhan bersama pihak-pihak yang terluka itu.

Pada bulan Februari 2006, Doming didiagnosis menderita "multiple myleoma" (kanker sel plasma), kanker itu menyerang sel plasma dalam tubuh dan sampai kini belum ada obatnya. Tahun itu adalah tahun tersulit yang pernah dihadapi Doming dan Loree, istrinya, sebab di situlah ia harus terus-menerus mengalami rasa sakit yang tak tertahankan. Meskipun demikian, Doming terus taat kepada Allah dan terus bersaksi kepada siapa pun yang merawat dan mengunjunginya. Pada 28 Januari 2007, Doming meninggal dengan tenang, ia telah menjadi inspirasi bagi semua orang yang mengenalnya.

Dalam menjalani kehidupan selama hampir 59 tahun, Doming melayani sebagai penerjemah, pendeta, guru, penginjil, bapak asrama, dan pembimbing. Ia adalah teladan bagi anak-anaknya, yang hampir semuanya mengenyam pendidikan di sekolah tinggi. Doming tidak pernah berusaha untuk meninggalkan warisan yang besar kepada anak-anaknya sampai ia meninggal, akan tetapi ia justru memberikan warisan yang terbesar bagi mereka. Ia pernah berkata, "Lebih mudah bagi seseorang untuk mengajar firman Tuhan daripada menjalaninya," akan tetapi kehidupan kita sering kali dapat mengajarkan lebih banyak hal daripada kata-kata belaka, dan dengan standar itu Doming jelas telah menjalani kehidupannya dengan baik. (t/Yudo)

Diterjemahkan dan disunting dari:

Nama situs : Wycliffe.org
Alamat URL : http://www.wycliffe.org/resources/storiesofimpact/ALifeWellLived.aspx
Judul asli artikel : A Life Well Lived
Penulis : David Ramsdale
Tanggal akses : 19 April 2013