Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.51 Vol.05/2002 / Hadiah yang Terus Menjadi Berkat

Hadiah yang Terus Menjadi Berkat


Pada malam Natal sebelas tahun yang lalu, anak-anak perempuan kami memberikan hadiah yang sangat istimewa. Begitu istimewanya hadiah itu sehingga sampai sekarang tetap menjadi berkat dari tahun ke tahun.

Julie dan Jennifer masing-masing berusia enam dan delapan tahun. Anak laki-laki kembar kami, John dan Jeremy, belum genap berusia dua tahun. Saya ingat, waktu itu saya merasa lelah. Anak kembar kami terus-menerus meminta perhatian. Namun, saya masih dapat mengerjakan tugas-tugas yang biasa saya lakukan pada Hari Natal. Pohon Natal yang tinggi sudah selesai dihias, hadiah-hadiah sudah dibungkus rapi. Makanan sudah disiapkan. Pintu juga sudah dihias. Hadiah untuk anak-anak sudah dipilih dengan teliti.

Saya lelah, tetapi gembira. Julie mencegat saya di dapur. "Bu, Jennifer dan saya mempunyai hadiah untuk Ibu dan Ayah. Tetapi hadiah itu bukan hadiah biasa yang dapat dibungkus. Kami ingin Ayah dan Ibu duduk memangku adik-adik supaya kami dapat memberikan hadiah itu." Sebenarnya masih ada yang harus saya kerjakan, dan saya tidak mau duduk-duduk pada waktu itu. "Ayolah, Bu," Julie memohon, "hanya beberapa menit saja." Saya mengalah dan memanggil suami saya. Perlu usaha yang cukup keras juga supaya kedua anak kembar kami dapat duduk tenang di pangkuan. Tetapi akhirnya kami siap. Julie dan Jennifer berdiri dengan gugup di dekat tungku, saling berpegangan tangan. Mereka memakai baju panjang flanel kepunyaan nenek berwarna merah, dan memakai topi kecil penutup debu yang sesuai. "Sebelumnya, lampu-lampu harus dimatikan," kata Julie dengan suara yang mengundang rasa ingin tahu. "Kami hanya ingin lampu pohon Natal itu yang bersinar," kata Jennifer menjelaskan.

Dengan pandangan lurus ke depan, mereka menyanyikan lagu "Malam Kudus". Lalu Julie mendeklamasikan sebuah puisi tentang kasih Allah. Setelah itu, Julie berkata kepada ayahnya, dengan nada malu-malu, "Maukah Ayah membacakan cerita Natal dari Alkitab tentang kelahiran Yesus? Guru Sekolah Minggu kami membacakannya hari Minggu yang lalu." [Cat.Red.: Ada banyak ide lain seperti ini yang dapat Anda temukan dalam tiga edisi terakhir e-BinaAnak (No. 104, 105, 107) atau dalam arsip tahun-tahun sebelumnya. Untuk mendapatkannya, silakan mengakses: http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/]

Jerry mengambil Alkitabnya dan membacakan cerita itu, ia mendekati pohon Natal supaya dapat melihat dengan jelas. Kami semua mendengarkan. Bahkan kedua anak kembar kami juga diam dan duduk dengan tenang. Setelah Jerry selesai membaca, Julie berkata sangat pelan sampai kami hampir tidak dapat mendengarnya, "Sekarang dapatkah kita berdoa bersama?"

Kami belum pernah mengadakan kebaktian keluarga, karena itu kami ragu-ragu bagaimana memulai doa. Tetapi, meskipun begitu kami satu per satu berdoa bergantian. Pada saat itu saya menyadari sesuatu yang istimewa terjadi dalam keluarga kami [Red; karena Guru SM!!]. Melalui hadiah yang diberikan kedua putri kami, kami belajar bahwa kami dapat berdoa bersama. Jadi selama tahun-tahun berikutnya kami tetap mengadakan kebaktian keluarga, tidak hanya pada Hari Natal, tetapi sepanjang tahun.

Hadiah pemberian kedua putri kami pada malam Natal itu merupakan karunia iman. Sejak itu hadiah tersebut membuat kami bertumbuh dan menopang keluarga kami. Hadiah itu merupakan pemberian yang tetap menjadi berkat.

Judul buku : Kisah Nyata Seputar Natal
Penulis : Marion Bond West
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1998
Halaman : 62 -- 63

e-JEMMi 51/2002