Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.17 Vol.09/2006 / Guinea Bissau

Guinea Bissau


KEMBALI KE LADANG PERJANJIAN

Sekembali dari cuti di Indonesia, pada minggu-minggu pertama di Guinea Bissau saya memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali dengan iklim, budaya, dan terutama dengan bahasa Kreol. Dalam tahap pelayanan yang kedua ini saya melayani di tiga tempat dengan kebiasaan dan juga dengan bentuk pelayanan yang berbeda. Tempat- tempat itu adalah:

Sao Domingos

Letaknya lebih kurang 128 km sebelah Utara Guinea Bissau, berbatasan dengan Senegal. Mayoritas penduduknya masih animis ataupun beragama Katolik. Gereja Protestan bisa berkembang karena banyak orang yang cukup terbuka dengan Injil. Di situ, saya lebih berfokus pada pemuridan, pendidikan guru Sekolah Minggu, dan penginjilan. Selain itu, saya juga mengajar PA di gereja setempat.

Empada

Tempat kedua dalam pelayanan saya terletak lebih kurang 300 km sebelah Selatan Guinea Bissau. Penduduk di daerah ini, suku Beafada, mayoritas beragama non-Kristen yang cukup fanatik. Lebih dari tiga puluh tahun Injil diberitakan di antara suku mereka, tetapi sampai sekarang belum ada orang Beafada yang percaya. Tim kami lebih berfokus pada penginjilan ke desa-desa dan dari rumah ke rumah. Tidak jarang suku Beafada menolak Kristus secara terang-terangan. Gereja di Empada yang berasal dari latar belakang suku-suku lain tidak memiliki visi untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya. Jemaat di Empada bukan suatu perkecualian, walaupun Guinea Bissau adalah negara di Afrika Barat satu-satunya yang belum menjadi negara muslim. Gereja-gereja masih takut menginjili orang yang beragama lama. Selama tiga bulan saya membantu pelayanan teman saya yang berasal dari Brazil sampai dia pulang ke kampung halamannya. Karena tidak ada rekan sekerja di Empada, akhirnya saya pindah lagi ke tempat lain.

Ntchumbe

Letaknya lebih kurang 130 km sebelah Timur Guinea Bissau. Di sini terdapat satu-satunya sekolah Alkitab di negara ini. Sekolah Alkitab ini berada di lokasi yang sangat terpencil. Jika tidak memiliki kendaraan untuk menuju lokasi ini, satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan berjalan kaki sejauh 7 km dari jalan raya. Di sinilah saya mengajar sampai sekarang. Mulanya ini adalah pergumulan berat bagi saya karena harus mempersiapkan materi dari buku-buku berbahasa Portugis yang dimiliki di perpustakaan. Di samping itu, semua tugas dan makalah mahasiswa Alkitab ditulis dalam bahasa Portugis. Bahasa yang sudah lebih kurang lima tahun tidak saya gunakan ini harus dilatih lagi. Oleh karena kesulitan ini, akhirnya saya mengajar dalam bahasa Kreol dan memberi mereka tugas dalam bahasa Portugis. Mahasiswa tahun keempat terdiri dari empat orang dan mereka berasal dari latar belakang suku dan pendidikan yang berbeda. Tidak jarang saat mengajar, saya harus menunggu begitu lama karena mereka sangat lamban dalam menulis. Semua bahan harus ditulis di papan tulis. Maklum, buku atau makalah tidak ada. Jadi, semua serba tulisan tangan.

Karena tidak ada tetangga yang dekat, setiap hari saya bertemu dengan orang yang sama. Saya menikmati persekutuan dengan mereka karena kami mengenal baik satu sama lain. Bahkan setiap akhir pekan saya bersama dua mahasiswa mengunjungi Desa Biana dan Jadda yang beragama non-Kristen untuk penginjilan. Puji Tuhan, ada seorang ibu dan anak yang mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus. Saya juga mengajar di tingkat satu yang terdiri dari dua belas orang. Inilah jumlah terbanyak sejak sekolah Alkitab tersebut dimulai. Tahun ini, untuk pertama kalinya sekolah Alkitab menerima mahasiswa yang berlatar belakang non-Kristen.

Luas : 36.125 km2
Jumlah penduduk : 1,2 juta jiwa
Ibukota : Bissau dengan lebih kurang 223.000 jiwa
Suku bangsa : Afrika Barat [15 kelompok suku, di antaranya Balanta (suku terbesar), Manjako, Papel, Mankanya, Beafada, Bijago, Jola/Felupe, Nalu] (56,5 persen), Fulbe (5 kelompok suku) (25,4 persen), Mande (5 kelompok suku: Mandingo, Maninka, Mandinga, Sarakole, dan Susu) (14,9 persen), Lain-lain (orang Kreol, orang-orang Tanjung Verdian, orang-orang Guinea): (3,5 persen)
Bahasa Utama : Portugis
Bahasa Nasional : Kreol, dipakai oleh 60 persen dari jumlah penduduk
Ekonomi : Negara kurang berkembang. Infrastruktur sulit karena tingkat pendidikannya yang sangat rendah
Politik : Sejak 1974 merdeka dari Portugal. Demokrasi masih sulit, sering terjadi perang saudara. Pemilu terakhir awal tahun 2004
Agama : Animis (48.1 persen), Islam (44.1 persen), Katholik (7.0 persen), Kristen (0.9 persen)

TAHUN-TAHUN PERTAMA DI GUINEA BISSAU

Betapa senangnya hati seseorang jika ia mendapatkan sesuatu yang sudah lama ia rindukan atau doakan. Demikian juga hati saya; ketika berdoa selama dua belas tahun untuk negara Guinea Bissau, akhirnya dalam waktu Tuhan yang tepat, Ia membawa saya masuk juga ke "Tanah Perjanjian." Ketika tiba di Sao Domingos pada 11 Januari 2004, saya mengingat satu bagian Firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:24, "Ia yang memanggil kamu adalah setia Ia juga yang akan menggenapinya". Di situ saya bergabung dengan tim WEC yang terdiri dari Ibu M dan Keluarga Clarke.

Berhubung saya tiba pada hari Minggu, teman-teman langsung membawa saya ke gereja. Acara di sana sangat hangat karena jemaat, khususnya ibu-ibu menyanyi sambil menari-nari dan melompat-lompat sampai debu beterbangan ke mana-mana karena lantai gereja masih berupa tanah. Ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mengesankan sekaligus merupakan tantangan karena terus terang saya tidak bisa menari.

Hari-hari berikutnya, kami mulai mengunjungi orang-orang percaya di desa-desa di sekitar Sao Domingos. Jemaatnya sangat sederhana, namun memiliki kerinduan untuk beribadah. Di antara mereka ada yang harus berjalan kaki berjam-jam lamanya hanya untuk mengikuti kebaktian. Sering tak ada pemimpin atau orang yang mengajari mereka Firman Tuhan. Jemaat seringkali hanya terdiri dari ibu-ibu yang semuanya buta huruf. Maklum mereka sangat kurang dalam pengajaran.

Kami juga berkunjung ke desa yang belum memiliki orang percaya. Ibu M menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa Kreol dan saya mendukungnya dalam doa. Di sinilah saya mengerti betapa pentingnya pelayanan dalam tim. Sewaktu-waktu kami juga membawa satu atau dua orang pengemudi atau remaja untuk menemani kami. Mereka menerjemahkan bahasa Kreol kami ke dalam bahasa daerah karena seringkali orang desa tidak terlalu mengerti bahasa Kreol.

Dalam setiap kunjungan kami selalu harus bergumul dalam peperangan rohani. Hampir setiap desa mempunyai tempat-tempat penyembahan berhala. Misalnya pada bulan Agustus 2004, ketika Ibu M dan saya mengunjungi satu desa, ada sekelompok ibu-ibu, kira-kira dua puluh orang dengan dukun mereka yang baru keluar dari hutan di mana mereka mengadakan upacara penyunatan untuk mengikat diri kepada Iblis. Setelah kami berdua pulang, kami tidak bisa tidur sepanjang malam, karena terus `diganggu`. Akhirnya kami mengambil waktu untuk memuji Tuhan dan terus berdoa.

Sesudah beberapa bulan di Sao Domingos saya pindah ke Cacine, bagian Selatan. Di situ hanya ada gereja kecil. Anggota jemaatnya kebanyakan remaja dan anak-anak. Saya melayani remaja dan Sekolah Minggu, sekaligus mengajar beberapa remaja untuk terlibat di dalam pelayanan Sekolah Minggu. Setiap minggu keempat, kami membawa kaum remaja keluar untuk menyaksikan Injil.

Tantangan di Cacine berbeda dengan di Sao Domingos. Di Cacine ada banyak orang Wasai yang begitu kuat dengan kepercayaan takhyul dan penyembahan berhala. Pada akhir pelayanan saya di sana, ada anak pemimpin Wasai yang hilang di hutan kira-kira jam sembilan pagi. Menurut kepercayaan mereka, anak tersebut dibawa setan. Akhirnya, semua orang Wasai di kampung itu mencari si kecil. Baru jam tiga sore mereka menemukannya. Setelah itu, seluruh kampung mengadakan upacara khusus, agar setan tidak membalas dendam.

Sekarang saya mempelajari bahasa Portugis di ibu kota Bissau agar diperlengkapi untuk pelayan berikutnya.

ESPERANCA (HARAPAN) YOUTH CENTER DI INGORE, GUINEA BISSAU

Matahari bersinar, udara panas sekali, tetapi di dekat rumah misionaris WEC, ada sekelompok orang yang tertawa dan berkeringat. Mereka bekerja keras untuk membangun Youth Center di Ingore, sebuah desa terpencil di pedalaman Guinea Bissau, Afrika Barat yang berbatasan dengan Senegal. Postur mereka tinggi besar dan berkulit hitam. Sekalipun mereka bekerja keras, mereka masih bersukacita. Jika mereka tertawa, cuma gigi mereka yang putih dan sehat yang menonjol. Mata mereka bersinar pertanda sukacita. Dari pagi hingga petang mereka terus mencetak batu bata. Ada beberapa kelompok lain yang sibuk mencabut akar-akar pohon dari tanah supaya pondasi Youth Center bisa dibuat.

Mereka semua adalah anggota gereja Protestan Ingore di bawah pimpinan Pendeta Almandinyo dan pembina Bapak D. Karena negara mereka adalah sebuah negara yang miskin sekali, kebanyakan pemuda meninggalkan daerah asal mereka di pedalaman dan merantau ke ibu kota Bissau. Namun, di situ pun mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan pendidikan seperti yang mereka impikan. Akibatnya, kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran dan membuat kekacauan. Itulah sebabnya para hamba Tuhan, baik misionaris WEC maupun orang pribumi sendiri, beriman untuk mendirikan Youth center, agar generasi muda ini bisa dididik dan selanjutnya mampu mencari nafkah hidup sendiri.

Visi pembangunan tempat ini berawal dari Bapak D pada awal millenium ke-3. Pada tahun 2002, perencanaan ini disempurnakan dan pekerjaan pun dimulai. Banyak kesulitan yang dihadapi pada waktu itu, dan sampai sekarang pun masih demikian. Akta tanah susah diurus karena ada beberapa pemilik tanah yang tidak mau menjual tanah mereka. Bahan bangunan sangat sulit dibeli karena tidak ada persediaan. Itu sebabnya pembangunan ini tidak lancar. Sekarang sudah ada enam buah ruang kelas yang telah terselesaikan dengan satu ruang untuk kursus pertukangan yang sedang dikerjakan.

Marilah kita bergandengan tangan mendoakan mereka supaya mereka tetap bersemangat dan kebutuhan, baik moral maupun material bisa tercukupkan.

Pokok Doa:

  • Naikkan syukur untuk kebebasan beragama, pertumbuhan gereja yang akhir-akhir ini luar biasa, serta pelayanan di antara anak muda di Ingore.

  • Di negara yang kecil dan sangat miskin ini dengan cukup banyak suku terabaikan Bapak T, Ibu R, dan Ibu S memberitakan Injil bersama tim internasional di antara orang Animis dan orang Kedar di berbagai desa dan daerah. Doakan agar Allah selalu menyertai pelayanan mereka.

  • Bersyukur karena perusahaan rekaman Injil di Afrika sudah merekam berita Injil ke dalam beberapa bahasa di negara ini.

  • Doakan agar keadaan politik dan kesejahteraan rakyat Guinea di negara ini lebih stabil. Doakan pula perekonomian dan pendidikan agar dapat ditingkatkan.
  • Berdoalah untuk para petobat baru agar kuat dalam menghadapi tekanan keluarga mereka. Doakan selalu suku Fula dan Mande yang non-Kristen agar membuka diri bagi Injil serta ke-27 suku yang masih terabaikan.

  • Doakan gereja-gereja yang masih sangat membutuhkan para mejelis yang sungguh-sungguh lahir baru.

Bahan diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 63, 2005

e-JEMMi 17/2006