Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Ghulam Masih Naaman (Kasih Karunia-Ku Cukup Bagimu)

Ghulam Masih Naaman (Kasih Karunia-Ku Cukup Bagimu)


Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Ghulam Masih Naaman dilahirkan di Jammu, Kashmir. Ia adalah anak ke-5 dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang tuan tanah yang sangat berhasil. Semasa kecilnya, Ghulam hidup berkecukupan. Setelah kelahiran kakak-kakaknya, ibunya rindu memiliki anak lagi. Namun, selalu gagal karena semua anak yang lahir meninggal ketika masih bayi. Oleh sebab kelahiran Ghulam dianggap sebagai mukjizat, setelah Ghulam lahir, ibunya membawanya ke sebuah kuil yang terletak di pegunungan Kashmir untuk dipersembahkan kepada dewi-dewi (ibunya adalah seorang Kedar yang taat, namun masih percaya kepada dewi-dewi -- agama warisan dari orang tuanya). Oleh sebab itulah Ghulam masih membawa tanda lahir di tubuhnya, yaitu kuping yang berlubang, tanda bahwa ia adalah milik dewi-dewi.

Pada usia lima tahun, Ghulam masuk sekolah dasar. Pada usia ini juga, untuk pertama kalinya, ia pergi ke tempat ibadah agamanya yang terletak tidak jauh dari rumahnya untuk belajar mengaji dan mempelajari kitab sucinya. Ketika Ghulam berusia sembilan tahun, ia menempuh pendidikan sekolah menengah di Jammu, Kashmir -- Sekolah Menengah Maha Raja Ranbeer Singh, sekolah yang diperuntukkan bagi anak-anak raja atau penguasa. Sekolah tersebut menawarkan berbagai macam pralatihan militer, seperti menunggang kuda dan menembak -- sesuatu yang pantas bagi anak-anak raja. Namun bagi Ghulam, pendidikan semacam ini merupakan hal yang cukup membingungkan baginya karena tidak jelas ke mana pendidikan tersebut mengarahkannya. Karena sekolah ini dikhususkan bagi orang Hindu, maka setiap siswa harus mempelajari agama dan kitab suci Hindu.

Perang dunia ke-2 terjadi ketika Ghulam berusia enam belas tahun -- India masuk ke dalam sebuah dilema. Seperti rakyat India yang menginginkan kemerdekaan dari kekuasaan Inggris, Ghulam pun menginginkan hal yang sama. Namun, Ghulam masih terlalu muda untuk mengerti apa yang terjadi dalam dunia politik dan ideologi di India. Melihat situasi tersebut, Ghulam memutuskan untuk malamar sebagai anggota angkatan udara. Ia diterima dan ditempatkan sebagai montir yang bertugas untuk memelihara dan memerbaiki pesawat terbang. Latihan pertama Ghulam dilaksanakan di Lahore. Setelah itu, ia dipindahkan ke Birma dan Ronggon. Beberapa waktu kemudian, ia dikirim ke akademi angkatan udara dan di tempat inilah ia memeroleh gelar master dalam bidang intelijen militer.

Ketika melakukan tugasnya, Ghulam selalu membina hubungan baik dengan siapa saja. Baginya, nilai seseorang tidak tergantung dari warna kulit, ras, dan kepercayaannya. Pengabdian penuh pada pekerjaan, integritas, dan sifatnya yang dapat dipercaya menjadi kualitas yang memampukannya mencapai sukses dalam setiap kedudukannya. Ia tidak dapat menerima ketidakjujuran, baik dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Ia juga tidak pernah menekan bawahannya, bahkan ia menjadi pendengar yang baik terhadap keluhan-keluhan bawahannya. Namun, tidak semua orang bersikap demikian. Ia tidak dapat memungkiri bahwa hubungan di antara para perwira dalam angkatan udara kurang baik. Para perwira Inggris sering memandang rendah para perwira India. Mereka menganggap para perwira India memiliki mutu yang rendah dan menyebut mereka dengan istilah "Bloody Indians". Kehidupan para perwira India tidak dihargai, meskipun mereka berpangkat sama. Tutur kata mereka terkadang kasar dan tidak sopan. Hal ini membuat Ghulam sangat terganggu.

Diskriminasi tersebar dengan luas. Orang-orang Inggris tidak mau menyesuaikan diri dengan dengan orang-orang India. Namun, di antara sekian banyak perwira Inggis yang angkuh, Ghulam menemukan sosok perwira Inggris yang penuh belas kasih. Perwira tersebut bernama Kapten Bexter. Ia adalah orang yang agak tertutup, namun dari sikapnya, Ghulam mengetahui orang seperti apa dia. Kapten Bexter tidak merendahkan perwira India, ia memerhatikan jaminan sosial mereka. Hal yang paling berkesan tentang Kapten Bexter adalah tindakannya dalam peperangan. Jika ada serangan dari pihak lawan, ia akan memerintahkan bawahannya untuk berlindung di gereja (sebuah tenda yang dipakai untuk kebaktian). Di tempat itu, Bexter akan berdoa dan hal yang dilakukan bawahannya adalah mengucapkan kata "amin" ketika ia selesai berdoa. Ghulam belum pernah mendengar doa seperti yang dilakukan Bexter -- doa yang sangat sederhana, yang langsung menuju kepada Tuhan.

Suatu ketika, Ghulam mendapat tugas untuk menguji sebuah pesawat terbang. Namun setelah berjarak kira-kira tiga puluh mil, ia terkena tembakan dari pihak lawan. Pusan, rekan kerja Ghulam, mengambil kendali atas pesawat tersebut. Pendaratan dapat dilakukan dengan selamat, tetapi Ghulam tidak sadarkan diri akibat peristiwa tersebut. Ia dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan selama dua puluh hari. Selama menjalani perawatan, Ghulam tidak kekurangan apa-apa. Ia dirawat oleh dua orang perawat, Amber dan Marry, yang merawatnya dengan penuh belas kasih. Ghulam ingin mengetahui apa alasan Amber dan Marry sehingga mereka sangat mengasihinya. Mereka berkata, "Kami merawat Anda bukan karena Anda tampan, bukan untuk mengharapkan hadiah dari Anda, namun kami adalah orang Kristen. Tuhan Yesus telah menderita demi keselamatan manusia, dan tugas kami adalah untuk melayani sesama manusia."

Ghulam terharu mendengar kesaksian ini. Sekali lagi ia dikonfrontasikan dengan Tuhan Yesus melalui dua murid-Nya, ketika ia melihat anak-anak Tuhan mengasihi dan melayani sesama manusia di tengah-tengah pembantaian dan kurangnya perhatian terhadap sesama. Ghulam merasakan kehadiran Allah, tetapi tidak ada waktu baginya untuk merefleksikannya. Ghulam keluar dari rumah sakit dan bergegas kembali ke markas. Ia mendapat tugas baru, yaitu mencegah pegawai-pegawai angkatan udara memasuki daerah-daerah pelacuran. Di sini ia berkenalan dengan Philips, seorang anggota angkatan udara. Kehadiran Philips membuatnya gembira, ditambah lagi dengan lelucon-leluconnya. Pada suatu hari, Philips akan dipindahkan ke tempat lain. Philips sangat marah atas keputusan tersebut. Alasan mengapa ia tidak mau dipindahkan adalah karena ia mencintai Kumla, seorang pelacur. Ghulam mencoba memberikan nasihat kepada Philips bahwa dengan menikahi wanita semacam itu, berarti menentang norma sosial. Philips tetap teguh pada pendiriannya. Ia berkata, "Tuhan Yesus menyayangi seorang penjahat seperti saya dan mengorbankan hidup-Nya sebagai tebusan untuk menyelamatkan jiwa saya, maka saya juga harus bisa menerima orang yang berdosa dan dihinakan dunia."

Pada tahun 1945, perang dunia II berakhir. Namun, bagi India ini merupakan periode yang sangat buruk. Agama dijadikan sebagai batu antukan di mana banyak orang tersandung karenanya. Hindu dan kaum Kedar tidak dapat hidup secara damai. Ketakutan dan kebencian semakin meningkat, pembunuhan dan kerusuhan terjadi di seluruh penjuru India. Sebenarnya, kaum Kedar bukanlah sesuatu yang baru di India. Agama kaum Kedar tersebut pertama kali masuk di India pada tahun 712 SM. Pada mulanya, kaum Kedar dan Hindu hidup secara berdampingan, namun kaum Kedar mengambil alih kekuatan politik di bagian utara India, sebagai keturunan Jengis Khan yang mengalahkan Delhi pada tahun 1526 dan mendirikan dinasti Mughal. Dinasti ini tidak berusaha memaksa penduduk memeluk agama kaum Kedar karena golongan Hindu Brahmana dari golongan kuat tidak akan memberi kesempatan, walaupun mereka telah mencobanya. Sedangkan beberapa orang kaum Kedar dari golongan tinggi Mughal adalah orang-orang yang bertobat dari kasta Hindu terendah.

Hal ini membuat Ghulam seolah berada di persimpangan jalan, ia tidak tahu harus berbuat apa. Pada Agustus 1947, kekuasaan Inggris berakhir di India. Namun hal ini tidak membuat situasi di India membaik. Kerusuhan, pembunuhan, dan peperangan terjadi di India. Setiap orang Kedar sejati harus percaya dan mengakui prinsip-prinsip dasar iman -- jika seseorang tidak bisa mengucapkan kalimat sahadat, mereka adalah orang kafir dan berperang melawan mereka adalah benar. Pertemuan Ghulam dengan Yesus terjadi ketika ia mendatangi sebuah keluarga Kristen dan meminta mereka untuk menyangkal imannya. Seorang gadis kecil berusia sepuluh tahun dari keluarga tersebut menolak untuk menyangkali Yesus meskipun telah diancam. Tidak ada rasa takut terpancar dari wajah gadis kecil ini. Ketika keluarga ini berdoa, tiba-tiba suatu cahaya menyembunyikan mereka dari pandangan Ghulam. Cahaya itu begitu cemerlang dan mengerikan. Sedikit demi sedikit, cahaya itu mendekati Ghulam dan ia mulai merasa takut. Ghulam tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba dalam benaknya muncul pemikiran untuk meminta maaf kepada makhluk tersebut. Lalu Ghulam mendengar suara yang berkata, "Kami mengampuni Anda dalam nama Yesus."

Setelah kembali ke markas, nama Yesus terus terngiang di telinganya, dan Ghulam mulai mengingat pengalaman masa lalunya. Yesus yang dipercayai oleh Bexter, melindunginya dan teman-temannya dari serangan lawan. Yesus yang dipercayai Amber dan Marry, demi Dia, mereka telah menyelamatkan kehidupan seorang pria yang sudah tidak bisa ditolong. Yesus yang dipercayai Philips, memberi kekuatan kepadanya untuk berkorban bagi orang lain. Dan yang paling berkesan dari semua pengalaman itu ialah pertemuannya dengan Yesus yang diimani oleh seorang gadis kecil yang datang dan menyelamatkan para pengikut-Nya di waktu yang tepat. Matanya telah melihat tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus kepada gadis kecil bersama orang tuanya. Pemikiran ini selalu membayangi dirinya dan Ghulam tidak memiliki kekuatan untuk menghindar. Suatu pagi, Ghulam bangun untuk melakukan sembahyang seperti biasanya. Tiba-tiba ada yang datang dari belakang, meletakkan tangan di bahunya dengan penuh kasih dan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu .... " (2 Kor. 12:9). Kalimat ini diulangi tiga kali, lalu Ghulam merasa seperti ada aliran listrik yang masuk ke dalam tubuhnya -- seperti ada sesuatu yang menyegarkan dan menggembirakan dalam dirinya. Pengertian, pengampunan, dan pendamaian merupakan kenyataan yang benar.

Petualangan kekristenan Ghulam terjadi ketika ia bertemu dengan seorang pegawai Kristen yang sedang membersihkan tempat di mana ia tidur dan mendengar Ghulam berulang-ulang mengucapkan kalimat, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu ...." Orang tersebut menyarankan kepada Ghulam untuk menemui Pendeta Inayat Rhumal`shan di wilayah Faisalabad. Pendeta Inayat menyarankan kepada Ghulam untuk menemui Pendeta RWF. Wooton di Gorja. Betapa suram awal pengenalan Ghulam akan Yesus, namun ia tidak putus asa. Setelah sampai di Gorja, Ghulam menemui Pendeta Wooton. Di tempat ini, ia harus menghadapi berbagai tantangan, khususnya yang berasal dari orang Kristen sendiri. Mereka menyangka keputusan Ghulam untuk menjadi Kristen karena ia ingin menikah dengan seorang gadis Kristen, yang lain berkata bahwa ia hanya mencari pekerjaan sebagai hamba Tuhan, dan yang lainnya lagi berkata ia hanya mau uang.

Akhir September 1949, Ghulam mendapat kabar bahwa ia akan dibaptis pada tanggal 2 Oktober mendatang. Ghulam sangat senang mendengar kabar terebut. Ketika Ghulam sedang sendirian, ia didatangi oleh pamannya dan meminta Ghulam untuk pergi bersama dengan mereka tanpa sepengetahuan siapa pun, dan jika Ghulam menolak, maka pamannya mengancam akan memberitahukan pertobatan Ghulam kepada semua orang. Hal ini dapat menyebabkan penganiayan terhadap dirinya dan orang-orang Kriten di Gorja. Ghulam tidak dapat membiarkan hal ini terjadi. Dalam kondisi ini, Ghulam mendengar suara yang berkata kepadanya, "Akan ada lebih banyak lagi duri dan penghalang yang harus engkau hadapi, jika engkau memutuskan untuk mengikut Aku. Pergilah dengan mereka karena di rumahlah tempat pertama di mana engkau harus bersaksi. Engkau berdiri sebagai saksi-Ku, pertama di Yerusalem, kemudian di Yudea, Samaria, dan kemudian seluruh dunia." Ghulam menyetujui untuk pergi bersama dengan mereka, ia tidak takut karena ia tahu siapa yang akan menolongnya.

Tuhan telah membimbing Ghulam ke jalan yang telah Ia tetapkan. Jalan ke Kalvari baginya adalah suatu jalan yang penuh dengan duri. Walaupun terkadang salib-Nya terasa berat, namun ini adalah satu-satunya jalan yang harus ia jalani, di mana ia bisa melayani Tuhan dan membawa salib-Nya ke kaki orang lain. Keluarganya sudah tidak menerima ia sebagai bagian dari anggota keluarga, teman-temannya telah memutuskan tali persahabatan dengannya ketika ia menolak untuk menyangkali imannya. Namun, semuanya itu tidak menyebabkan Ghulam berpikir bahwa keputusan yang diambilnya adalah salah. Ia tahu, kekristenan adalah satu-satunya jalan -- tidak ada satu pun yang dapat mengubah keyakinan ini. Ghulam tahu bahwa ia telah memilih jalan yang benar walaupun harus berakhir dengan kematian. Mati setiap hari bagi Kristus tidaklah mudah. Sekarang ia sudah siap kalau Tuhan memanggilnya. Kematian bagi orang Kristen bukanlah akhir kehidupan, tetapi permulaan dari kehidupan yang baru.

Diringkas dari:

Judul buku : Kasih Karunia-Ku Cukup Bagimu
Penulis : Ghulam Masih Naaman
Penerbit : Jalan Alrahmat
Halaman : 1 -- 126

e-JEMMi 25/2008