Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Etika Suatu Perspektif Injil Sinoptik

Etika Suatu Perspektif Injil Sinoptik


Etika berasal dari kata "ethos" dan "taethika". Bahasa latinnya adalah "mos" yang artinya moral dalam pengertian umum. Dalam kamus Purwadarminta (KUBI terbitan Balai Pustaka Jakarta, 1985) etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak. Kata lain yang mirip dengan itu adalah etiket -- aturan sopan santun pergaulan. Etika teologis secara khusus menjadi suatu bidang studi sistematis yang dipelopori oleh Lambert Daneau (1577) dan Calixtus (1634). Dalam perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi oleh ilmu filsafat yang kurang berorientasi kepada Alkitab.

Kekristenan dan Hukum Taurat

Kehidupan kekristenan dewasa ini diperhadapkan dengan berbagai macam pilihan. Tidak jarang orang Kristen harus bergumul untuk dapat menentukan pilihan yang tepat, baik, dan benar. Berbagai faktor harus dipertimbangkan, terutama yang menyangkut etika sebagai kaidah dalam lingkungan sosial. Untuk dapat menentukan keputusan etis, diperlukan pertimbangan yang etis. Hal ini ditentukan oleh standar yang digunakan. Orang Kristen seharusnya menjadikan Alkitab sebagai dasar etika. Tetapi masalahnya apakah Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru masih relevan untuk digunakan di zaman ini?

Tuhan Yesus dan Hukum Taurat

Dalam Matius 5:17 Kristus menyatakan bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya. Ia sadar bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah dalam rangka misi penyelamatan. John R. W. Stott, mengungkapkan dua hal penting tentang Perjanjian Lama. Pertama, Perjanjian Lama terdiri dari ajaran tentang doktrin (Allah, manusia, keselamatan, dan lain-lain) -- "Torah" -- "hukum", sebenarnya berarti ajaran yang diwahyukan. Kedua, isi Perjanjian Lama adalah nubuat-nubuat yang belum terungkap kenyataan. Pandangannya terarah ke zaman Mesianis yang akan datang. Dapat dikatakan, Perjanjian Lama adalah Injil yang masih berbentuk kuncup, sedangkan Perjanjian Baru adalah Injil yang sudah mekar menjadi bunga. Perjanjian Lama adalah Injil yang masih tersembunyi dalam pucuk, sedangkan Perjanjian Baru adalah lnjil yang sudah keluar sebagai bulir.

Yesus menggenapi semua nubuat penyelamatan dalam Perjanjian Lama. Pernyataan-Nya yang pertama pada awal penampilan-Nya di muka umum ialah, "Waktunya sudah genap ..." (Markus 1:15). Klimaksnya ialah kematian-Nya di kayu salib, di mana seluruh sistem upacara keagamaan, baik keimaman maupun pemberian kurban, memperoleh kegenapan yang sempurna. Mulai saat itu, sistem ritual dalam Perjanjian Lama tidak berlaku lagi.

Hukum Taurat adalah istilah yang dipakai untuk mengungkapkan keseluruhan pernyataan ilahi dalam Perjanjian Lama, bukan terbatas pada Taurat Musa atau kitab para nabi, dan tidak sedikit pun dari pernyataan ilahi itu akan ditiadakan sebelum semuanya digenapi. Penggenapan ini tidak lengkap sebelum langit dan bumi lenyap (Matius 24:35).

Orang Kristen dan Hukum Taurat

Hukum Taurat akan tetap berlaku selama alam semesta masih ada. Suatu hal yang pasti, bahwa Yesus sendiri memiliki kepercayaan yang kokoh kepada hukum Taurat. Meskipun tidak semua perintah hukum Taurat itu sama "bobotnya" (Matius 23:23), Namun perintah hukum Taurat -- sekalipun yang paling kecil, adalah sama pentingnya karena hukum itu adalah perintah dari Allah.

Dalam pengajaran-Nya, Yesus melangkah lebih jauh lagi. Kebesaran dalam surga tidak ditentukan oleh kesesuaian tindak-tanduk dan perilaku kepada hukum Taurat. Sebab mustahil orang dapat masuk ke dalam Kerajaan itu jika kepatuhannya kepada hukum Taurat tidak melebihi kebenaran para ahli Taurat dan orang Farisi (Matius 5:20), karena Kerajaan surga adalah suatu Kerajaan Kebenaran.

Pernyataan Tuhan Yesus tersebut mengejutkan bagi mereka yang mendengarnya. Bukankah ahli Taurat dan orang Farisi adalah profesional ulung dalam soal kepatuhan kepada hukum Taurat? Bagaimana mungkin kebenaran kristiani dijadikan syarat untuk bisa masuk ke dalam Kerajaan surga? Yesus tidak mengada-ada, tetapi yang Ia maksudkan adalah kebenaran kristiani harus jauh melebihi kebenaran Farisi, karena kebenaran itu lebih mendalam dan itu merupakan kepatuhan yang timbul dari dalam hati.

Dalam hal ini, orang Kristen harus mengikuti teladan Kristus bukan teladan orang Farisi. Orang-orang Farisi berusaha menurunkan standar hukum Taurat untuk membuatnya lebih mudah ditaati. Yesus menempatkan hukum Allah pada posisi yang sesungguhnya sebagai otoritas Allah sendiri. Orang Kristen seharusnya memiliki kepatuhan yang merupakan kebenaran dari hati dan yang mungkin dimiliki hanya oleh mereka yang telah dilahirkan kembali (Yohanes 3:3-5).

Karya Kristus dan Etika Kristen

Orang Kristen seharusnya memiliki iman yang mengandung kepercayaan, kesetiaan, dan kasih -- suatu penyerahan diri kepada Allah. Sebagai orang percaya, kita bukan simpatisan melainkan partisipan di "ladang" Allah. Namun demikian, orang Kristen tidak boleh bertindak spekulatif. Iman kita haruslah memiliki makna dan isi. Kita harus memiliki kepercayaan tentang sifat-sifat dan pekerjaan Allah, karena hal ini memengaruhi aktivitas kita. Misalnya kalau kita percaya kepada Allah yang kejam, kemungkinan kehidupan kita menjadi kejam.

"Pengetahuan kita tentang kehendak Allah harus berdasarkan pengetahuan tentang Allah dan pekerjaan-Nya", demikian ungkapan M. Browmee. Karena Allah adalah baik dan menciptakan dunia yang baik, maka kita harus berbuat baik (Matius 5:8). Etika Kristen berkata: kamu harus adil, baik, penuh kasih, dan jujur. Teologi Kristen meyakinkan kita bahwa kalau kita "lapar dan haus akan kebenaran", kita akan dipuaskan (Matius 5:6).

Kelahiran Tuhan Yesus

Inkarnasi adalah suatu ajaran tentang anak Allah yang menjadi manusia. Inkarnasi Kristus adalah bukti utama yang merupakan inti kekristenan. Seluruh susunan teologi Kristen bergantung kepada Inkarnasi Kristus, demikian pendapat J.F. Walvoord.

Setelah berinkarnasi, kita dapat melihat dua hal tentang Yesus. Pertama, Yesus adalah seorang manusia sama seperti manusia pada umumnya. Dia lahir sebagai bayi dan tumbuh seperti anak-anak yang lain (Lukas 2:52). Kedua, Yesus adalah orang biasa yang luar biasa. Dia adalah Anak Allah, "Dalam Dia berdiam seluruh kepenuhan keallahan" (Kolose 2:9). Menurut M. Brownlee, dalam inkarnasi dinyatakan dua hal penting, yaitu pentingnya hal-hal materi dan kesalehan yang wajar.

a. Pentingnya Hal-Hal Materi

Yesus Kristus memunyai tubuh maupun jiwa manusia. Hal-hal rohani tidak dapat dipisahkan dari hal-hal materi. Tubuh tidak lebih rendah daripada roh, melainkan segala sesuatu termasuk tubuh, roh, gereja, waktu, kerja adalah ciptaan Allah dan menunjukkan kekudusan Allah.

Di satu pihak, tidak ada bagian ciptaan yang kudus seperti Allah adalah kudus. Tidak ada batu, gunung, gedung gereja, atau salib yang dianggap keramat dan ajaib. Gereja disebut "kudus" dalam arti "dipilih" bagi tugas kudus, bukan dengan arti ilahi. Setiap makhluk ciptaan menunjukkan Pencipta -- diciptakan dalam gambar-Nya. Tubuh orang Kristen adalah "bait Roh Kudus". Karena itu kita bertanggung jawab bagi tubuh maupun roh. Kita tidak boleh mengabaikan kesehatan jasmani maupun rohani kita. Kita juga harus memerhatikan kebutuhan jasmani dan rohani orang lain. Yesus menuntut kita berkhotbah dan mengajar, beribadah dan membaptiskan. Ia juga menuntut kita memberi makan kepada yang lapar, minum kepada yang haus, tumpangan kepada orang asing, dan pakaian kepada yang telanjang. Gereja harus mengabarkan lnjil dengan kata-kata tentang kasih dan kuasa Tuhan, juga dengan pelayanan sosial yang menyatakan kasih dan memajukan keadilan.

b. Kesalehan yang Wajar

Kesalehan bukanlah kewajiban yang harus dibangga-banggakan jika dapat mewujudkannya. Bukan pula tembok yang memisahkan antara yang saleh dan yang tidak saleh. Yesus turun dari surga -- tempat yang sempurna dan masuk ke dalam dunia yang penuh dosa. Anak Allah tidak merasa bahwa Dia tidak boleh melibatkan diri dalam hal-hal duniawi karena Dia begitu saleh. Sebaliknya, Yesus menyatakan kesalehan yang sejati dengan cara bergaul dengan orang-orang berdosa dalam dunia ini.

Kesalehan Kristen bukanlah kehidupan yang "tidak pernah menyentuh tanah", bukan kehidupan yang terpisah dari dunia, melainkan pelayanan kepada Allah di tengah-tengah dunia. Kesalehan Kristus tidak dinodai oleh dunia melainkan mengubah dunia. Kesalehan Kristen mengandung dua hubungan yaitu hubungan dengan Allah dan dengan dunia. Terang Allah di hati kita tidak menjadi suram dan tidak disembunyikan dari bahaya dunia, melainkan bercahaya di depan semua orang (Matius 13:16).

Kematian Tuhan Yesus

Sebagai bukti ketaatan Yesus yang tidak kompromi dengan kejahatan dunia, Dia harus menyerahkan nyawa kepada Bapa-Nya dalam peristiwa penyaliban di bukit Golgota. Yesus rela mati di salib, hal ini menyatakan kedahsyatan dosa. Dosa bukanlah hal remeh, karena jika demikian Anak Allah tidak perlu disalibkan untuk menghapus dosa kita. Berita utama dari salib Kristus bukanlah bahwa kita dihakimi, tetapi bahwa dosa kita diampuni. Oleh karena itu, respons yang paling tepat kepada pengampunan Kristus adalah hidup sebagai orang yang diampuni, yang dibebaskan dari dosa.

Penyaliban Kristus harus menjadi dasar etika orang percaya. Melakukan kehendak Allah bukan karena takut akan penghukuman-Nya, melainkan karena bersyukur atas pengampunan-Nya. Karena itu, jika kita melakukan kebaikan, bukan supaya kita dapat diselamatkan tetapi karena kita sudah diselamatkan; bukan supaya Allah mengasihi kita, tetapi karena Allah sudah mengasihi kita. Pendirian demikian akan menghasilkan perilaku yang aktif dan berani, bukan pasif dan takut.

Allah mengampuni dosa kita, maka kita patut mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kita mengasihi orang lain seperti Kristus mengasihi kita. Ini berarti bahwa kasih kita kepada seseorang bukan berdasarkan benar tidaknya orang itu. Stephen Tong mengatakan, kalau kita menerima seseorang tidak berarti kita menyetujui perbuatan orang itu. Mungkin ada orang yang membenci kita, tetapi kita harus membalasnya dengan kasih.

Kematian Kristus juga memperlihatkan kepada kita bahwa Anak Allah menderita karena Dia menyamakan diri-Nya dengan manusia, dan Ia memanggil kita untuk berpartisipasi dalam penderitaan-Nya. Mengikut Yesus berarti "menyangkal diri dan memikul salib" (Markus 8:34). Kita tidak perlu mencari penderitaan, namun kita tidak boleh menghindari penderitaan, jika penderitaan itu demi menaati Allah dan mengasihi sesama manusia. Kasih kepada Allah dan sesama mengandung konsekuensi penderitaan, sama seperti kasih Kristus berkonsekuensi penderitaan.

Kebangkitan Tuhan Yesus

Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati. Batu kubur yang besar tidak dapat menghalangi kuasa kebangkitan Yesus. Walvoord mengatakan, dibukanya pintu kubur oleh malaikat bukan untuk memungkinkan Kristus keluar dari kubur, melainkan supaya orang-orang dapat masuk ke dalamnya dan melihat bahwa kubur itu telah kosong. Yesus tidak mati. Dia hidup dan bekerja di dunia ini. Dia berjanji akan menyertai mereka yang percaya kepada-Nya (Matius 28:20). Dia ada di antara saudara-saudara-Nya yang miskin dan hina (Matius 18:20, Matius 25:31-36).

Karena Yesus hidup dan menyertai kita, maka tidak sepantasnya orang Kristen dilanda kekhawatiran dalam melakukan aktivitas kekristenan. Sering kali, Tuhan mengutus orang percaya untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dalam situasi yang sukar, bahkan bagaikan domba di tengah-tengah serigala (Matius 10:16). Tidak jarang, Allah memanggil kita untuk tugas yang melebihi bakat dan kemampuan kita. Hal itu berarti Allah menghendaki kuasa-Nya dinyatakan di dalam dan melalui kehidupan kita. Karena kebangkitan Yesus, orang Kristen memiliki iman yang bermakna dan berisi, membawa harapan -- bagi dunia dan orang-orang yang mau menerima Dia.

Tuhan memanggil orang percaya untuk ada dalam segala bidang kehidupan, bukan hanya dalam bidang rohani untuk memikirkan hal-hal "yang di atas", tetapi kuasa kebangkitan Yesus justru untuk menjangkau dunia ini bagi Dia.

Diringkas dari:

Judul majalah : Kalam Hidup, Oktober 2007
Judul artikel : Etika Suatu Perspektif Injil Sinoptik
Penulis : Drs. Denny R. Kussoy, S. Th.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup
Halaman : 35 -- 41

e-JEMMi 18/2011