Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No. 09 Vol.20/2017 / Elka dari Wai Wai

Elka dari Wai Wai


Elka yang berusia 10 tahun melihat dari tempat persembunyiannya ketika Mafolio, penyihir yang ditakuti dan dihormati, meminta Kworokyam yang kuat dan tak kenal ampun untuk menyembuhkan ayah tirinya. Bagi orang Wai Wai, Kworokyam adalah kumpulan semua roh di dunia mereka. Dia adalah yang paling jahat dan menyebabkan penyakit, tetapi kepada dia juga dukun akan mengajukan permohonan untuk kesembuhan.

Elka terpesona dengan ritual Mafolio, dan segera mulai bernyanyi dan menyenandungkan nyanyian yang dia dengar yang ada dalam pikirannya. Dunia roh menariknya masuk. Lama-kelamaan, Elka pun tinggal bersama Mafolio di rumah besarnya di dekat sungai. Pada suatu malam, seekor babi hutan berbicara kepadanya dalam mimpinya dan memerintahkannya untuk menyanyikan lagu-lagu Kworokyam. Elka menceritakan mimpinya kepada Mafolio. Si penyihir terkejut, menegaskan bahwa Kworokyam telah menyatakan dirinya pada Elka melalui babi hutan.

Tahun-tahun berlalu, Elka pun tumbuh besar dengan memiliki paras tubuh tinggi dan kuat, dan dia mempelajari jalan-jalan di hutan dan kelicikan bangsanya. Dia juga semakin peka terhadap roh-roh dan menjadi penyihir dewasa yang dihormati karena kemampuannya untuk menyembuhkan orang sakit. Orang-orang mengenalinya karena kebijaksanaannya, dan mengikuti nasihat dan kepemimpinannya. Dia bisa bekerja sama, tegas, dan baik hati. Tak lama kemudian, orang-orang mengangkat Elka menjadi kepala mereka dan dia menjadi orang paling berkuasa di wilayah ini.

Akan tetapi, tetap saja kehidupan orang Wai Wai didominasi oleh rasa takut, bahkan Elka, dengan semua kekuatannya, takut akan kehampaan hutan dan teror spiritual. Dia takut pada tersulutnya kembali permusuhan lama antara Wai Wai dan suku-suku tetangga. Namun, ketakutan terbesar adalah hal yang tidak diketahui yang ada setelah kematian.

Jenis Cinta yang Asing

Ketika pria kulit putih masuk ke wilayah mereka, orang Wai Wai menyambut orang asing itu dengan senyuman, tetapi meracuni minuman mereka dan memukuli mereka dengan tongkat sampai mati. Tidak ada lagi yang datang untuk waktu yang lama. Namun, pada suatu hari terdengar berita bahwa sekelompok pria kulit putih lainnya datang. Ketakutan mencekam hati orang-orang, mengira orang-orang ini adalah pembunuh. Akan tetapi, yang mengejutkan orang Wai Wai, saudara-saudara Hawkins, Neill, dan Bob baik hati dan membawa hadiah: kait ikan, pisau, dan sumbu baja.

Mula-mula, para misionaris dari UFM (sekarang Crossworld) tidak berbicara bahasa Wai Wai, tetapi sedikit demi sedikit mereka mempelajari bahasanya. Mereka mulai berbicara tentang Allah, Sang Pencipta, yang menciptakan pepohonan, bebatuan, matahari – seluruh dunia. Dia memiliki seorang putra – Chisusu (Yesus) – yang mati untuk melenyapkan semua kejahatan manusia karena Dia mencintai semua orang, termasuk orang Wai Wai. Cinta semacam ini asing bagi orang Wai Wai, yang hanya mencintai apa yang akan mereka dapatkan sebagai imbalannya.

Elka merenungkan pesan orang kulit putih itu. Dia tahu dia hidup di tengah kejahatan: kebencian ditutupi dengan senyuman, mereka dibunuh melalui tipu muslihat, bayi yang tidak diinginkan dibunuh, istri bisa diperdagangkan atau dicuri. Dia merasa terjebak, tetapi tidak tahu bagaimana cara melepaskan diri.

Bob Hawkins menetap untuk tinggal di antara orang Wai Wai bersama istrinya Florine. Seorang perawat juga bergabung dengan mereka. Bob menjelaskan bahwa dia memiliki God’s Paper, yaitu Allah mengungkapkan diri-Nya dan memberi tahu orang-orang bagaimana mereka seharusnya hidup. Bob bekerja dengan teliti menerjemahkan Perjanjian Baru ke bahasa Wai Wai, sebuah proyek yang dia kerjakan selama bertahun-tahun. Awalnya, Elka dan yang lainnya menertawakan usahanya mengucapkan bahasa mereka, tetapi kemudian terpesona oleh proyek tersebut dan mulai membantunya dan memperbaiki usahanya.

Saat Elka berpartisipasi dalam penerjemahan God's Paper, dia mulai mengerti apa yang Allah harapkan darinya: untuk berbalik dari kejahatannya dan "mengundang Yesus ke dalam hatinya". Dia dan orang-orang lain mulai menghadiri pertemuan pengajaran mingguan yang diadakan Bob untuk mereka. Mereka menikmati lagu yang diajarkan Bob dan bernyanyi dengan riuh. Mereka dengan bersemangat menerima perhatian medis yang efektif yang diberikan perawat kepada mereka, dengan pil dan jarumnya yang mengilap. Namun, sedikit perubahan yang terlihat dalam perilaku mereka.

Melenyapkan Ketakutan

Meskipun tidak ada yang benar-benar menanggapi pesan misionaris, ada sesuatu yang menggelisahkan hati dan pikiran Elka. Pada suatu hari, dia membantu menerjemahkan ayat berikut ini: Di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan ... kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yohanes 4:18).

Ini membuat Elka tertarik karena begitu mengena pada dirinya. Sepanjang hidupnya, dia hidup dalam ketakutan Kworokyam. Namun, kasih Yesus menawarkan kebebasan dan kehidupan yang tidak diketahui Elka. Dia dihadapkan pada sebuah pilihan: hidup sesuai dengan Kworokyam dan seluruh dunia roh yang paling jahat, atau menjalani hidup sesuai dengan Yesus. Entah tinggal dengan dunia spiritual yang ia tahu dari masa kecilnya, atau menyerah kepada Allah yang kekal yang memerintah atas kuasa gelap dari kematian.

Ketika Elka mengatakan kepada istri dan teman dekatnya tentang ketertarikannya untuk menanggapi Injil, mereka menertawakannya. Mereka memperingatkannya bahwa Kworokyam tidak akan menyukainya.

Elka bergumul. Dia bermimpi di mana seseorang seperti Bob muncul di hadapannya dan berkata, "Lepaskan dosa-dosamu. Katakanlah kepada Yesus, 'Masuklah.' Jika kau melakukannya, Dia akan masuk." Pagi-pagi sekali, Elka pergi ke ladang yang kosong untuk berdoa. Dia menatap langit dan berkata, "Bapa, aku ingin mengenal Engkau. Jadi, tunjukkanlah diri-Mu kepadaku selamanya. Apa pendapat-Mu tentang itu? Elka tua ingin Engkau masuk ke dalam hatinya, Bapa, dan membuat jiwanya kuat." Dia mengakui dosanya dan meminta Allah untuk mengambil dirinya yang lama beserta dengan semua kejahatan. "Ubah aku menjadi seperti Yesus."

"Bapa, aku ingin mengenal Engkau. Jadi, tunjukkanlah diri-Mu kepadaku selamanya. Apa pendapat-Mu tentang itu? Elka tua ingin Engkau masuk ke dalam hatinya, Bapa, dan membuat jiwanya kuat. Ubah aku menjadi seperti Yesus."

Allah mendengar doanya yang sederhana dan memasuki hidupnya. Ketika Elka bertumbuh dalam imannya, dia menyadari bahwa dia harus mengambil langkah lain: berhenti melakukan sihir. Prospeknya sangat mengerikan bagi bangsanya, tetapi waktu Elka telah tiba. Pada sebuah perayaan komunal, Elka menyerahkan keranjangnya kepada misionaris tersebut dan mengatakan kepada warganya bahwa dia telah memutuskan untuk memercayai Allah sebagai gantinya. Semua orang yakin dia akan langsung meninggal atau dalam minggu ini.

Komunitas Berubah

Meskipun desa tersebut mencela hari itu, pertobatan total Elka terbukti menjadi titik balik dalam kehidupan komunitas itu. Seiring berjalannya waktu dan dia tidak mati, individu-individu mulai mengambil langkah yang sama dengannya. Sebuah gereja pun lahir. Saat Allah mulai mengubah komunitas mereka, mereka harus belajar apa artinya hidup bagi Allah. Mereka harus belajar pengampunan, kesabaran, belas kasihan, kesabaran, kejujuran, kemurnian, dan banyak hal lainnya. Mereka tidak bisa lagi hidup untuk diri mereka sendiri.

Para misionaris mendorong mereka untuk memilih penatua mereka sendiri dan menerapkan prinsip-prinsip yang mereka pelajari dari Kitab Suci. Orang asing tidak membawa serta kenyamanan modern, untuk menghindari terciptanya harapan material. Mereka tidak mengenakan aturan tentang berpakaian, poligami, upacara pernikahan, atau organisasi sosial. Mereka yakin bahwa Allah akan menunjukkan kepada orang-orang itu bagaimana cara hidup dan melakukan perubahan yang dibutuhkan sesuai dengan waktu-Nya sendiri.

Para penatua Wai Wai mulai melakukan khotbah. Hari Minggu menjadi hari istirahat dan beribadah, dan Rabu pagi adalah waktu mengajar bagi orang-orang yang percaya. Pria berhenti mencuri istri. Mereka bahkan mulai membantu wanita mereka melakukan tugas berat, sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka berhenti membunuh bayi mereka. Dari menjadi suku yang hampir punah, mereka mulai bertambah banyak jumlahnya.

Elka dan para penatua merasakan beban yang besar dari Tuhan untuk menjangkau suku-suku lain dengan pesan yang telah mereka dengar. Dalam khotbah mereka, mereka menekankan bagaimana suku-suku lain hidup seperti mereka dulu -- takut akan roh jahat, curiga, dibunuh dengan tongkat atau sihir. Elka menekankan bagaimana para misionaris datang sejauh ini untuk menjangkau mereka, dan bahwa Yesus sendiri telah datang dari tempat tinggal-Nya untuk menyelamatkan mereka. "Yesus sudah jauh-jauh datang. Jadi, mari kita pergi jauh juga. Dia mati untuk kita. Kita belum mati untuk-Nya. Marilah kita mati demi Yesus." (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Urbana
Alamat situs : https://urbana.org/blog/elka-wai-wai
Judul asli artikel : Elka of The Wai-Wai
Penulis artikel : Jack Voelkel
Tanggal akses : 20 Februari 2017