Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.07 Vol.16/2013 / e-JEMMi No.07 Vol.16/2013

e-JEMMi No.07 Vol.16/2013


Misi di Pulau Jawa 2 (Editorial Edisi 07-2013)

Shalom,

Pada masa pemerintahan Inggris, yang diwakili oleh Thomas Stamford Raffles, penyebaran Injil di Tanah Jawa tidak lagi dibatasi seperti pada pemerintahan Belanda. Pada saat itu, misionaris-misionaris, khususnya dari British Missionary Society, diizinkan untuk menyebarkan kekristenan dengan leluasa. Akan tetapi, keadaan itu tidak berlangsung lama. Ketika Belanda kembali menguasai Pulau Jawa, larangan menyebarkan Injil dengan alasan demi mempertahankan status quo pun muncul kembali. Namun, Tuhan selalu bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Ketika pintu-pintu pelayanan misi seakan tertutup, muncullah sebuah karya yang nantinya menjadi pilar yang menopang pelayanan misi di Pulau Jawa. Siapa hamba Tuhan yang menjadi alat-Nya? Dan, apa karyanya? Simaklah dalam artikel yang telah kami siapkan di edisi ini. Selamat membaca, Tuhan Yesus memberkati kita sekalian.

Penyebaran Kekristenan di Jawa dan Pertemuannya dengan Islam pada Abad ke-19 (2)

Diringkas oleh: Yudo

William Carey, seorang tokoh misi dari Inggris, yang juga disebut sebagai "bapak misi modern" mendirikan British Missionary Society pada tahun 1792. Dalam tempo satu tahun, ia telah membuka posnya di Kalkuta, India. Dari sana, ia mengorganisasi misinya dan mengirim banyak utusan ke semua sudut Asia, termasuk Jawa. Setelah Carey berkonsultasi dengan Raffles, tibalah waktunya untuk mengirim William Robinson sebagai misionaris Baptis pertama ke Pulau Jawa. Robinson tiba di Batavia pada 1 Mei 1813. Tugas utamanya ialah menyampaikan Injil pada orang Jawa. Target utama yang diberikan oleh Carey kepada Robinson adalah ia harus menguasai Bahasa Jawa secepat mungkin agar mampu berkhotbah dalam bahasa tersebut, dan kemudian menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Jawa. Namun, ketika tiba di Batavia dan mengenali keadaan kota tersebut, Robinson menyadari bahwa tujuan awal yang telah dirancangkan di Kalkuta harus diubah. Batavia merupakan sebuah kota yang amat kompleks. Batavia merupakan kota perniagaan yang sibuk, pusat pemerintahan, dan dihuni oleh berbagai macam orang. Banyak sekali kelompok orang Kristen yang telah memulai karya misi di situ dan mereka bisa berbahasa Melayu, Portugis, maupun Belanda, namun tidak bisa berbahasa Jawa. Orang Jawa yang tinggal di Batavia, yang sebelumnya diperkirakan berjumlah besar oleh kantor pusat di Kalkuta, sebenarnya sangat sedikit. Sementara itu, ia mulai mempelajari Bahasa Melayu dan Belanda secara intensif.