Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are heree-JEMMi No. 09 Vol.21/2018 / e-JEMMi No. 09 Vol.21/2018

e-JEMMi No. 09 Vol.21/2018


Bersukacita Jika Dianiaya karena Kristus

Ketika mendengar kalimat "penganiayaan terhadap orang Kristen", apa yang terpikir dalam benak kita? Apakah kita menganggapnya sebagai suatu perbuatan buruk/tidak adil yang dilakukan terhadap orang-orang Kristen? Atau, kita berpikir bahwa itu adalah suatu peristiwa yang terjadi sebagai konsekuensi atas

Apa Itu Penganiayaan terhadap Orang Kristen?

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Ingatlah perkataan yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidak lebih besar daripada tuannya.

Lematang di Indonesia

Lematang adalah satu suku yang sebagian besar populasinya tinggal di sepanjang pinggir Sungai Lematang dan daerah sekitarnya, terbentang dari Kabupaten Lahat sampai ke Kabupaten Muara Enim. Di Kabupaten Lahat, mereka tinggal di wilayah Pulau Pinang, Lahat, dan Merapi. Di Kabupaten Muara Enim, mereka tinggal di wilayah Muara Enim, Gunung Megang, dan Tebat Agung. Tempat orang-orang Lematang tinggal terletak sekitar 25-100 meter di atas permukaan laut. Dialek Lematang mirip dengan dialek Enim. Seringnya dua suku itu berbaur mungkin menyebabkan kemiripan ini, atau mungkin kedua suku itu memiliki nenek moyang yang sama dan dialek mereka berbeda karena pemisahan secara geografis. Orang Enim tinggal di sepanjang Sungai Enim, yang mengalir ke Sungai Lematang. Di Kota Muara Enim, tempat Sungai Enim dan Sungai Lematang bertemu, sangatlah sulit membedakan orang Lematang dengan orang Enim. Di situ, kedua suku sebagian besar telah menjadi sama. Seseorang yang tinggal di Muara Enim bisa dianggap baik sebagai orang Enim maupun Lematang. Dialek Lematang merupakan bagian dari bahasa Musi yang meliputi Pegagan, Musi, Rawas, Palembang, Penesak, dan Belide.