Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.47 Vol.08/2005 / David Livingstone -- Mahasiswa Kedokteran

David Livingstone -- Mahasiswa Kedokteran


David Livingstone dilahirkan tahun 1813 di tengah-tengah situasi gencarnya Revolusi Industri di Inggris. Rumahnya terdiri atas satu ruangan berhadapan dengan pabrik pemintalan kapas -- pabrik tempat di mana ia bekerja empat belas jam sehari sejak usia sepuluh tahun. Meskipun demikian, hal itu tidak mengendurkan semangatnya untuk menuntut ilmu. Dia melanjutkan pendidikannya dengan mengikuti sekolah malam. Membagi waktu antara bekerja dengan belajar tidaklah mudah. Namun David bisa mengatasi kesulitan-kesulitan selama mengenyam pendidikan. Sambil bekerja, ia membaca buku-buku yang ditaruhnya di atas pemintal benang tempatnya bekerja. Ia mengalami pertobatannya di usia belasan tahun. Namun, karena keluarga tidak menganggap pendidikannya sebagai prioritas, maka dia baru memulai kuliahnya di Anderson`s College tahun 1836 di Glasgow. Dia belajar tentang misiologi dan pelayanan medis.

Setelah membaca suatu seruan mengenai dibutuhkannya utusan Injil dalam bidang kedokteran di Cina, yang ditulis oleh utusan Injil berkebangsaan Jerman, Karl Gutzlaff, Livingstone memantapkan pilihannya untuk dilatih menjadi dokter untuk pelayanan misi. Pendidikan medis dan teologi di Glasgow membuatnya diterima oleh London Missionary Society (LMS) pada tahun 1838 untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut. Akan tetapi, karena pecahnya Perang Candu yang pertama, pelayanan ke Cina ternyata menjadi tidak memungkinkan untuk dilakukan. Walau demikian, berkat kedekatan hubungannya dengan Robert Moffat (1795 - 1883), yaitu utusan Injil LSM terkenal di Afrika Selatan (dan kelak menjadi ayah mertua Livingstone), pemuda Skotlandia inipun terdorong untuk menjadi relawan yang diutus melayani di bagian Selatan benua Afrika.

Livingstone memulai kariernya sebagai utusan Injil di pangkalan Kuruman, tempat Moffat bertugas, pada tahun 1841. Begitu mulai, dia dengan segera bergerak lebih jauh ke pedalaman untuk mencari orang- orang yang belum terjangkau Injil. Dari tahun 1843 sampai tahun 1853 ia bekerja di antara suku Tswana, tetapi hanya satu jiwa yang dapat dimenangkannya, yaitu Seehele, kepala suku Bakwera -- sebagai hasil jerih payahnya. Sasaran Livingstone semakin terpusat pada wilayah yang jauh lebih ke Utara, di kedua sisi Sungai Zambesi. Di daerah ini penduduknya lebih padat dan berada di luar jangkauan para petani Boer yang berasal dari Selatan; lebih dari itu semua, Sungai Zambesi menawarkan kemungkinan terbukanya jalur untuk perdagangan yang `sah`, yang dipercayai oleh Livingstone sebagai satu-satunya kekuatan yang dapat menghalau perdagangan budak dari daerah itu.

Awalnya, ia memutuskan untuk berusaha menembus ke arah Barat laut, ke pantai Atlantik, dengan harapan akan menemukan jalur lain menuju Afrika tengah yang tidak melintasi daerah orang Boer yang memusuhinya. Setelah menempuh suatu perjalanan dengan keberanian yang sangat menakjubkan, Livingstone tiba di pantai di Luanda pada bulan Mei 1854. Karena kecewa dengan jalur pantai barat ini, ia tidak hanya maju kembali mengikuti jejaknya sendiri, tetapi ia bahkan menyusuri tepi Sungai Zambesi sampai ke muaranya di Samudera Hindia. Ia tiba di sana pada bulan Mei 1856 setelah menempuh perjalanan sejauh 2500 mil.

PAHLAWAN NASIONAL
Livingstone kembali ke Inggris pada bulan Desember 1856 dan mendapatkan dirinya disambut meriah sebagai pahlawan nasional. Prestasi geografisnya merupakan sesuatu yang belum pernah dicapai sebelumnya, dan hal ini terlaksana karena suatu alasan yang sesuai dengan semangat penginjilan di Inggris -- yaitu dihapusnya perdagangan budak yang dibenci itu dari benua Afrika. Namun demikian, sambutan publik ini menyelubungi suatu perbedaan pandangan yang serius di antara Livingstone dan LMS, yang telah timbul jauh sebelum Livingstone kembali. Livingstone membicarakan rencana kembali ke Afrika untuk "mencoba merintis jalan untuk perdagangan dan kekristenan". Karena menyadari bahwa LMS tidak akan membantunya untuk terlibat dalam penjelajahan dan perdagangan, Livingstone membiarkan berlanjutnya negosiasi dengan Pemerintah Inggris mengenai penunjukannya sebagai konsul Inggris. Pada bulan Oktober 1857 ia memberitahukan kepada LMS bahwa perjalanan kembalinya ke Afrika tidak lagi memerlukan bantuan organisasi tersebut, dan pada bulan Maret tahun berikutnya ekspedisi Zambesi berangkat berlayar di bawah pimpinan Livingstone.

Ekspedisi ini ternyata merupakan bencana. Dalam perjalanan lintas- Afrika ini, Livingstone telah terburu-buru membuat kesimpulan yang keliru, ia mengira bahwa Sungai Zambesi dapat dilayari seluruhnya. Ia juga terlalu memandang ringan riam-riam di Cabora Bassa. Ketidakmungkinan riam-riam ini untuk dilayari kapal-kapal uap telah menghancurkan gagasan Livingstone untuk menjadikan Sungai Zambesi sebagai jalur utama penginjilan dan perdagangan ke pusat benua Afrika. Sebagai gantinya, ia berpaling ke Sungai Shire, yang mengalir di sebelah utara dari Sungai Zambesi menuju Danau Malawi, yang ternyata berada di ujung sungai tersebut. Tanah di ujung selatan danau ini tampaknya berpenduduk cukup padat dan dapat dimanfaatkan untuk budi daya kapas; kehadiran perdagangan Kristen di sana mungkin dapat mematahkan sebagian besar perdagangan budak di Afrika Timur pada sumbernya. Sebelum gagasan tersebut terlaksana, pemerintah Inggris memanggil pulang rombongan ekspedisi ini pada tahun 1863. Demikianlah salah satu episode yang paling menyedihkan dalam hidup Livingstone, yang ditandai dengan perselisihan terus- menerus antara Livingstone dengan rekan-rekan seperjalanannya, dan mencapai puncaknya dengan kematian istrinya, Mary, pada bulan April 1863.

Sambutan terhadap Livingstone di Inggris ketika ia pulang untuk kedua kalinya pada tahun 1864-1865 jauh lebih dingin daripada tahun 1856-1858. Pemerintah Inggris telah kehilangan antusiasmenya yang mula-mula terhadap rencana-rencananya. Ia kembali ke Afrika untuk terakhir kalinya sebagai konsul yang tidak dibayar, dengan menyandang wewenang yang sekedar nama saja. Tahun-tahun terakhirnya dilalui dengan menjelajahi wilayah yang belum pernah dilewati antara Danau Malawi dan Tanganyika. Selama bertahun-tahun, sangat sedikit kabar mengenai keberadaan dan keselamatannya yang dapat diketahui dunia luar.

Berbagai rombongan ekspedisi diutus untuk mencari Livingstone. Rombongan yang dipimpin oleh wartawan ternama H.M. Stanley mungkin yang paling banyak dipublikasikan dan paling berhasil. Pertemuan Stanley dengan Livingstone pada bulan November 1871, diikuti dengan berita kematiannya yang menyedihkan di Chitambo pada 1 Mei 1874, semua ini mengokohkan anggapan bahwa sekali lagi Livingstone merupakan legenda, lambang kepahlawanan dari semangat yang mendorong penginjilan sebagai inti dari kekristenan pada zaman Victoria.

MENEMBUS MITOS
Beberapa gagasan Livingstone kedengarannya usang dan eksentrik. Harapannya untuk menghapuskan perdagangan budak dengan cara memperkenalkan perdagangan resmi bahan-bahan mentah dari Afrika kepada para industriawan Eropa, mencerminkan pengaruh intelektual masa mudanya yang khususnya didapat dari gagasan ahli filsafat ekonomi berkebangsaan Skotlandia, Adam Smith. Usaha-usaha Livingstone untuk menggabungkan pekerjaan penginjilan di Afrika tengah dengan perdagangan Eropa tidak membuahkan hasil. Setelah kematiannya, keyakinan terhadap rumusan utusan Injil dari awal zaman Victoria ini mengenai "perdagangan dan kekristenan" sedikit demi sedikit memudar.

Livingstone berkeyakinan bahwa Allah bekerja melalui setiap jenis aktivitas manusia -- dalam penemuan-penemuan wilayah geografis atau hubungan dagang -- sama halnya dalam ruang lingkup kekristenan yang kuat untuk membawa pergerakan sejarah menuju suatu "penyempurnaan yang gemilang" saat dimana pemerintahan Kristus akan mencapai puncaknya. Pandangannya tersebut merupakan wawasan kristiani yang khas pada zaman Victoria dalam hal optimisme rasionalnya. Meskipun begitu, wawasannya yang luas dalam bidang penginjilan juga selalu mengingatkan jemaat gereja pada masa-masa yang kurang meyakinkan, bahwa pertobatan dalam Kristus memang membawa dampak terhadap kehidupan ekonomi dan budaya suatu masyarakat.

EKSPANSI DALAM PENGUTUSAN INJIL
Satu hal yang lebih relevan dengan masa kini ialah tuntutan Livingstone yang tidak berubah, yaitu bahwa semboyan dalam strategi penginjilan seharusnya bukanlah konsolidasi (penggabungan), melainkan ekspansi (perluasan). Ia mengritik LMS yang memusatkan sumber-sumber pengutusan Injilnya pada gereja-gereja yang sudah mapan di wilayah koloni di Semenanjung Afrika Selatan, sementara sejumlah besar orang-orang yang tinggal di bagian lebih utara diabaikan. Ia mengingatkan bahwa politik konsolidasi yang kuat menyebabkan timbulnya gereja-gereja yang didominasi oleh para utusan Injil: "pengawasan yang terus-menerus dan pengendalian yang tidak berkesudahan akan melemahkan para malaikat." Laju pertumbuhan gereja-gereja Afrika, debat Livingstone, berbanding terbalik dengan jumlah utusan Injil yang ditempatkan di antara mereka.

Dalam beberapa hal, sebenarnya, Livingstone telah merintis teori pertumbuhan gereja modern. Ia membenarkan strateginya untuk terus mendesak maju melewati suku Tswana dan menginjili suku-suku di sekitarnya sebagai "satu-satunya cara yang memberi harapan yang rasional, sehingga bila orang-orang tersebut mau berpaling kepada Allah, mereka akan datang secara berkelompok."

Menyadari bahwa tingkat penerimaan terhadap kekristenan di antara sebagian besar orang Afrika pada saat itu sangatlah rendah, ia mendorong agar usaha-usaha penginjilan dipusatkan bukan demi memperoleh pertobatan-pertobatan dari penduduk yang terpencil dalam suatu wilayah terbatas yang telah ditaburi benih Injil dengan baik, tetapi melalui penyebaran yang seluas-luasnya mengenai kebenaran dan prinsip-prinsip kristiani sehingga tercipta suatu kondisi yang memungkinkan seluruh suku untuk berpaling kepada Kristus.

Menurut David Livingstone, tidak akan mungkin memperoleh hasil tuaian penginjilan yang besar jumlahnya tanpa didahului usaha yang sungguh-sungguh untuk menabur pada lahan yang seluas-luasnya. Dan dengan pandangan itulah, seluruh usaha penginjilannya tersebut dilakukan. Gereja-gereja Protestan di wilayah Afrika sub-Sahara yang sebagian besar didirikan setelah masa-masa penjelajahan Livingstone, sekarang merupakan gereja-gereja yang terkuat di dunia. Livingstone meyakini dirinya telah dipimpin oleh Allah untuk "membuka" Afrika bagi penginjilan. Lebih dari seabad setelah kematiannya, terbukti ia memang benar.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Majalah:Sahabat Gembala, Aug 1995
Judul Artikel:David Livingstone
Penulis:Brian Stanley
Penerbit:Yayasan Kalam Hidup -- Gereja Kemah Injil Indonesia
Halaman:24 - 28

e-JEMMi 47/2005