Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereDasar Alkitabiah Pelayanan Kota

Dasar Alkitabiah Pelayanan Kota


By novi - Posted on 01 September 2008

Ada konsekuensi yang mengerikan bila para pemimpin Kristen melalaikan renungan teologis yang serius tentang kota dan kepentingannya bagi gereja dan misi. Keadaan-keadaan religius di kota-kota Eropa dapat dijadikan suatu peringatan. Kekristenan ada dalam bahaya di sana. Tempat-tempat yang dahulu menjadi benteng-benteng iman dalam beberapa tahun terakhir ini malahan menjadi ladang penginjilan.

Bagaimana gereja-gereja sampai kehilangan pengaruh di kota-kota? Berbagai faktor menjadi biang keroknya. Salah satu faktor ialah bahwa para teolog dan pendeta telah melalaikan kota-kota. Penjelasan ini diberikan oleh C. Henk Koetsier, seorang pakar dari Eropa yang hidup dan bekerja di Amsterdam. Koetsier berkecimpung dalam misi perkotaan selama beberapa tahun menilai situasi tersebut sebagai berikut:

Hanya ada sedikit analisis dan refleksi teologis tentang apa yang terjadi di kota-kota. Kelihatannya seolah-olah teologi telah kehilangan perhatian dalam kehidupan di kota modern. Hanya belakangan ini ada beberapa ahli teologi telah meninggalkan menara gading dari pengetahuan teologinya untuk menghadapi kemelut dalam kehidupan di dalam kota. Karena itu gereja belum dapat mengatasi situasi tersebut di kota-kota. Mereka telah mengundurkan diri dari kota-kota secara sosial melalui migrasi dan secara teologis dengan peninggalan yang serupa. Gereja-gereja belum bersedia untuk merenungkan secara kritis dan kreatif menghadapi tantangan yang diperhadapkan mereka di kota-kota.

Ada tanda-tanda bahwa apa yang telah terjadi di Eropa akan terulang di kota-kota Amerika Utara, dan kemudian di bagian lain di dunia. Di mana-mana kita melihat kecenderungan gereja-gereja melarikan diri dan para ahli mengabaikan tantangan yang amat besar dari kota-kota. Sungguh sedikit sekali perhatian yang diberikan kepada pelayanan kota yang cenderung memakai metode-metode yang strategis dan bukan berdasarkan pertanyaan-pertanyaan asasi yang bersifat alkitabiah dan teologis.

Pandangan Alkitab tentang Kota

Kita akan lebih dahulu membahas kota-kota yang mungkin akan menjadi kota, kemudian kota-kota di masa depan. Setelah itu, kita akan melihat secara lebih jelas kota-kota masa kini, kota di mana Anda dan saya hidup dan melayani. Melalui analisis ini, kita akan mencapai pengertian yang lebih mendalam tentang misi kita di dalam kota-kota ini.

Kota tanpa Dosa

Yang dimaksudkan di sini ialah masyarakat yang akan terbentuk seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa. Dalam keadaan tidak berdosa semua bentuk peradaban manusia akan berkembang sampai ke puncaknya tanpa pengaruh bobroknya kejahatan. Semuanya akan membawa kemuliaan kepada Allah dan bermanfaat bagi keluarga manusia. Karunia-karunia yang dimiliki manusia akan mencapai ekspresi yang tertinggi dalam kota-kota, dalam kehidupan masyarakat dan lembaga, sementara orang-orang tanpa dosa bekerja sama, saling membagi talenta dan akan menghasilkan hal-hal agung dengan sumber-sumber alam pemberian Allah dan ciptaan-Nya.

Dunia yang mungkin akan terbentuk dalam keadaan seperti itu ialah masyarakat kota. Umat manusia diciptakan di Taman Eden, tetapi hidup mereka sebagai pengemban citra Allah dan sebagai makhluk sosial terletak di kota. Lebih daripada itu, mandat kultural yang diberikan Allah kepada Adam (Kejadian 1:28) mengimplikasikan pembentukan kota. Adam diperintahkan untuk mendiami bumi dan membangun dengan sumber alam yang tersedia. Ia harus mengorganisasikan dan memerintah di bawah pimpinan Allah, dunia yang telah diciptakan Allah. Dari sebuah keluarga kecil berkembang terus menjadi satu suku bangsa dari mereka yang tak berdosa dengan sendirinya akan berkembang menjadi kota-kota. Kota-kota ini akan berkembang menjadi tempat penuh sukacita, tanpa dosa, kebobrokan dan semuanya mendukung ke arah kemuliaan Allah.

Kota-kota yang didirikan oleh orang-orang tak berdosa akan melebihi kemegahan kota-kota kita dewasa ini. Di sini akan menjadi pusat ibadah yang hanya akan memuji dan memuliakan Allah yang benar. Mereka akan menjadi kota-kota teosentris, kota perjanjian, memuliakan Allah dengan ketaatan sepenuhnya dan setiap kota mungkin akan disebut "Kota Allah yang Kudus".

Tetapi sayangnya, kota-kota seperti itu tidak ada dan tidak dikenal dalam sejarah umat manusia. Yang terjadi ialah, manusia jatuh ke dalam dosa dan kota-kota yang kita kenallah yang ada sekarang.

Kota Masa Depan

Kota yang dimaksud dalam kitab Wahyu 21, disebut Kota Kudus, Kota Yerusalem baru. Kota ini tidak dibangun oleh manusia, melainkan datang langsung dari surga. Keindahannya sulit dilukiskan, tidak ternoda oleh dosa, seperti mempelai perempuan yang menyambut suaminya. Di kota ini kehidupan masyarakat penuh kedamaian dan harmonis. Tidak ada tangisan, tidak ada yang bisa membuat orang-orang menangis. Kematian dan kesedihan tidak ada. Tidak ada kesakitan. Allah diam bersama umat-Nya dalam hubungan yang sempurna.

Kota yang baru ini adalah kota ibadah. Bait Allahnya adalah Yesus Kristus, yang selalu hadir di tengah umat-Nya. Alkitab menyebut-Nya sebagai Anak Domba Allah yang dikurbankan untuk menebus dosa umat-Nya yang berdosa sebagai Anak Domba, ia memiliki hak untuk menerima kemuliaan dan pujian dari seluruh penghuni kota baru tersebut.

Alkitab menyatakan bahwa kota yang akan datang itu berbentuk kota. Drama penebusan yang dimulai di Taman Eden akan berakhir di kota itu, Kota Yerusalem baru. Para warga surgawi akan hidup di kota. Dengan ikatan kasih, karunia para warga dari pelbagai suku bangsa, bahasa akan hidup bersama dalam kelanggengan yang sempurna sebagai orang-orang tebusan Allah masyarakat perjanjian-Nya yang baru. Kota ini akan menikmati segala sesuatu yang disediakan kota-kota pada umumnya dan satu kelebihan lain: para warga dari kota baru tersebut bukan hanya tidak berdosa, melainkan orang-orang berdosa yang sudah disucikan. Kisah mereka merupakan kisah penebusan. Lagu-lagu mereka bersenandung tentang Juru Selamat dan darah-Nya (Wahyu 5:9).

Kota-kota Masa Kini

Antara sinar yang semakin meredup dari suatu kesempatan yang hilang dan janji akan suatu masa depan yang indah berdirilah kota-kota masa kini. Kota-kota setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa tidaklah sama dengan kota-kota yang seandainya dibangun ketika manusia belum berdosa. Karena dosa, dewasa ini kota-kota menjadi berpusat kepada manusia, sering kejam, dan penuh perselisihan, kerakusan, dan keduniawian. Dosa bergerak dengan bebas di jalan-jalan dan pasar. Dosa bertakhta di tempat tinggi dalam kehidupan masyarakat. Kota-kota ditandai dengan janji-janji yang dilanggar, sebagian besar merupakan pelanggaran terhadap perjanjian dengan Allah. Kehidupan di kota-kota ini diadaptasi dengan kondisi penduduknya yang berdosa. Ada polisi, pengadilan, dan penjara. Ada hukum-hukum untuk melindungi dan menghukum. Setiap aspek dari kehidupan kota merefleksikan hadirnya dosa dan kebobrokan. Sesungguhnya, kehidupan kota dapat terus bertahan dan tidak semakin rusak karena mekanisme pertahanan. Dari para penduduk kota untuk mengembangkan dan mengatasi kondisi mereka yang sudah jatuh ke dalam dosa.

Dengan mengacu kepada Kejadian 4:1 -- 6:8, Meredith Kline menjelaskan bagaimana ayat-ayat ini menjelaskan tentang keberadaan dan tujuan dibentuknya kota. Ia berpendapat bahwa karena kasih karunia dan belas kasihan Allahlah, maka setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa dan merusak perjanjian dengan Allah, Allah menentukan kehidupan kota demi kebaikan umat manusia. Tidaklah mengherankan bahwa Kain membangun sebuah kota untuk melindungi kehidupan manusia. Kota-kota perlindungan (Bilangan 35) menawarkan perlindungan bagi orang-orang yang sudah membunuh orang lain.

Perintah yang dinyatakan dalam Kejadian 4:15 -- firman Allah kepada Kain mengenai hukum yang akan melindunginya -- merupakan awal pembentukan sebuah kota (ayat 17). Kline mengatakan bahwa Kejadian 4:15 merupakan anggaran dasar kota yang sebenarnya. Kota itu dibangun sebagai tempat perlindungan dari hutan belantara, suatu tempat perlindungan dari musuh dan sebuah tempat untuk mengembangkan kebudayaan dan kreativitas. Tak lama kemudian kota juga seperti dalam kisah Lamekh (ayat 23-24), menjadi tempat kesombongan dan kekerasan.

Sebagai akibat kejatuhan manusia, perubahan fundamental terjadi di kota. Kutuk itu telah menyebar ke mana-mana. Misalnya, di setiap kota sekarang ada banyak kuburan, merefleksikan bahwa metropolis telah berubah menjadi nekropolis. Perubahan lain ialah bahwa usaha-usaha kota untuk mengumpulkan sumber-sumber dan kekuatan serta bakat manusia bukan lagi sebagai alat untuk memenuhi mandat Allah untuk menaklukan dunia; mereka mengumpulkan kekuatan untuk berperang dan mempertahankan diri terhadap serangan dari luar. Kota-kota sepanjang sejarah mendirikan benteng-benteng dengan tembok tebal dan tinggi untuk melindungi penduduknya. Kota bukan lagi menjadi pusat geografis untuk perdagangan, sebuah pasar untuk mempercepat penyebaran hasil produksi alam, tetapi kota telah menjadi pusat administrasi yang menyediakan kesejahteraan dan bantuan bagi orang-orang yang tertekan. Kota harus menyediakan pejabat polisi, pengadilan, dan penjara, untuk melindungi warganya dan menghukum yang bersalah.

Suatu Kerangka Misi

Perspektif ini memberikan suatu kerangka umum dari mana kita dapat mengajukan banyak pertanyaan yang muncul tentang misi perkotaan. Kota-kota yang kita kenal sekarang tidak dapat diidentifikasikan baik dengan Kerajaan Iblis maupun dengan Kerajaan Allah. Kota merupakan hasil dari kasih karunia Allah. Melalui kota-kota ini Allah mengekang perkembangan kejahatan, memberkati makhluk ciptaan-Nya, dan melaksanakan rencana-Nya, baik dalam penghakiman maupun dalam kasih karunia. Kesadaran akan perspektif alkitabiah akan keadaan kota-kota memiliki beberapa akibat:

  1. Kenyataan bahwa keberadaan kota-kota merupakan tindak kasih karunia Allah, kita dapat melihat sifat asasi dari peperangan rohani yang terjadi setiap hari di kota-kota di seluruh dunia. Kota-kota masa kini secara alami merupakan badan hukum yang murtad. Bahkan prestasi mereka yang terbaik sekalipun memiliki ciri dosa dan aktif memusuhi Allah dan firman-Nya. Kitab Suci menceritakan tentang peperangan rohani dari kota sebagai peperangan antara Babel dengan Yerusalem. Babel merupakan wakil dari kota manusia yang pemberontak, rakus, jahat, memuja berhala, dan nasibnya sudah ditentukan. Yerusalem, di pihak lain merupakan wakil dari kota Allah. Kota itu berpusat pada Allah, karena Allah memerintah di sana. Kota Yerusalem melambangkan damai sejahtera Allah, Persatuan, dan kebenaran. Dalam kota Yerusalem, Mesias adalah Raja, sementara dalam Babel, Mesias dihina dan dilawan. Warga sejati kota Yerusalem mengadakan perjanjian dengan Allah, sedangkan warga Babel bersekutu dengan Iblis. Pimpinan kota Yerusalem ialah Kristus sedangkan kota Babel adalah Antikristus.

  2. Orang-orang Kristen yang tinggal dan bekerja di kota-kota dapat mengerti hal-hal yang tetap merupakan suatu misteri bagi mereka yang tidak mengerti kerangka Alkitab. Orang-orang Kristen sangat realistik tentang sifat utama dari kota dan penyebab frustrasi yang tak ada putusnya yang terjadi bila warganya mencoba memperbaiki kehidupan kota. Orang Kristen mengerti akar permasalahannya, yaitu kejahatan moral yang berdiam di dalam hati sebuah kota. Itu merupakan warisan Kain dan roh Lamekh yang tidak pernah pergi meninggalkannya. Para pengikut Yesus Kristus memiliki peranan penting di kota-kota di dunia, tetapi mereka tidak boleh tertipu ke dalam pemikiran bahwa melalui usaha mereka bersama dan maksud baik mereka, entah dengan cara apa atau sampai pada tingkat apa, kota-kota ini akan menjadi Kerajaan Allah dan kota di mana Yesus bertakhta sebagai Raja. Kota-kota bersifat sementara, berada di bawah kutuk, dan pada suatu hari kelak akan diganti dengan kota surgawi seperti yang telah dijanjikan dalam Alkitab.

  3. Karena kerangka alkitabiah yang sudah kita miliki, maka orang Kristen dapat mengambil sikap positif menghadapi kehidupan kota. Bukannya meninggalkan dan melepaskannya, orang Kristen justru dapat dan seharusnya memperkuat kota dan menerima bagian tanggung jawab mereka terhadap pemeliharaan kota. Dalam Yeremia 29:7 tertulis bahwa bahkan dalam kota Babel yang kejam sekalipun, orang-orang Israel yang menjadi tawanan diperintahkan Allah untuk: "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." Melalui kasih karunia Allah, kota-kota yang sekarang dibangun tetap bertahan. Perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia tergantung pada kehidupan kota. Dalam kota-kota pertempuran yang paling kejam bagi pikiran dan hati manusia berlangsung untuk alasan itu, kota-kota merupakan ajang utama bagi misi kristiani, merupakan drama pengampunan yang besar. Bila Anda mengerti hal ini, maka orang-orang Kristen tidak boleh melarikan diri dari perjuangan di kota, sebaliknya mereka harus sengaja berdiam di kota dan menduduki setiap pojok dari kehidupan perkotaan, sambil membawa terang, garam, dan ragi berita Injil. Pekerjaan umat Allah di kota-kota tidak boleh sempit dan menyendiri. Gereja yang ada di dalam kota memiliki suatu tugas untuk mengajak para anggota jemaatnya ikut terlibat dalam semua sistem dan semua daerah yang tercakup dalam kehidupan kota. Apakah dalam bidang pendidikan, politik, balai kota atau pasar, tanggung jawab dari warga Yerusalem ialah menyatakan siapa yang sesungguhnya memerintah. Mereka harus berdoa bagi kesejahteraan kota, menyerang tindakan sewenang-wenang, dan mempromosikan kebaikan yang sejati. Umat Allah tahu di mana letak masalah yang paling penting. Mereka tahu bahwa perjuangan kota yang terberat ialah kehidupan rohani. Karena itu, mereka tidak boleh membiarkan apa pun ada di luar ruang lingkup pekerjaan dan kesaksian mereka. Semua yang ada di dalam kota harus diperhadapkan dengan ajaran Kristus.

  4. Karena orang Kristen yang sudah mendapatkan penerangan Alkitab telah mulai mengerti keadaan kota dan telah mendengar perintah untuk mengabarkan Injil ke seluruh bangsa dan memuridkan semua orang, mereka harus mengadakan pendekatan terhadap kota secara realistik dan menginjilinya. Orang Kristen tidak boleh goyah atau terkejut oleh apa pun yang terjadi dalam kota. Mereka berharap menemukan banyak hal yang indah dan bermanfaat karena kasih karunia Allah bekerja di sana, dan keadaan suatu kota mendorong perkembangan kultural. Tetapi roh Kain juga hadir di sana, dengan segala ketamakannya, penindasan, dan cara-cara duniawinya. Orang Kristen mengetahui sebenarnya apa yang sedang terjadi di kota-kota. Mereka mengerti bahwa dosa dan kejahatan bekerja di dalam kota, baik dalam kehidupan pribadi-pribadi dan dalam struktur sosial yang direncanakan orang banyak. Mereka juga tahu bahwa karena kasih karunia Allah, maka ada suatu bentuk keindahan dan kebaikan dalam kota, roh Kain dikendalikan, dan potensi roh-roh jahat dikekang untuk dapat meningkatkan aktivitas mereka dengan terlalu cepat. Orang Kristen juga tahu bahwa karena kasih karunia Allah yang istimewa, maka suatu kekuatan lain telah ikut campur dan sedang bekerja di dalam kota. Itu termasuk kuasa kejahatan dan membangun suatu masyarakat yang berbeda. Roh Kristuslah yang menggerakkan umat Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan. Roh ini merindukan agar Kabar Baik tentang Yesus disebarluaskan di jalan-jalan.

Panggilan terhadap Misi Perkotaan

Dalam Kitab Suci, panggilan terhadap misi perkotaan DImulai dari Nabi Yunus dan perintah Allah untuk pergi ke Niniwe untuk menyampaikan firman Allah (Yunus 1:2; 3:2). Paulus dan rasul-rasul lain dari masa Perjanjian Baru ikut serta dalam misi penginjilan ini dan menerapkannya di kota-kota pada masa mereka.

Menurut Kitab Suci, Niniwe merupakan "kota yang benar" (Yunus 1:2). Kasih karunia Allah dinyatakan dengan limpahnya di sana. Niniwe bukan hanya sebuah metropolis yang besar, ibu kota sebuah kerajaan, tetapi juga dikenal karena keindahannya. Secara militer, kota itu dapat menahan serangan-serangan musuh. Dilaporkan bahwa di kalangan bangsa purba, Niniwe memiliki kubu pertahanan sebelah luar yang membentang sejauh 60 mil dan tembok sebelah dalam setinggi 100 kaki. Kereta-kereta perang yang ditarik kuda dapat berjajar tiga sekaligus. Untuk membangun istana raja di Niniwe diperlukan sepuluh ribu budak selama 12 tahun dan taman kota serta bangunan umum dipuji oleh dunia. Niniwe bertahan selama seribu lima ratus tahun, yang membuat kota-kota lain di dunia tak ada artinya. Niniwe benar-benar sebuah kota yang besar.

Niniwe dalam Kitab Suci merupakan kota representatif, sebuah lambang dari kota-kota sepanjang zaman purba dan dunia modern. Kota ini merupakan pusat kebudayaan dan menjadi ajang tindak Penindasan, ketidakadilan, dan kekejaman. Karena kekejaman penduduknyalah, maka Allah mengutus Yunus ke sana (Yunus 1:2). Walaupun sangat indah dan kuat, namun kota ini berada di bawah hukuman Allah. Allah mereka adalah patung berhala dan seluruh kehidupan politik serta ekonomi didasarkan pada eksploitasi terhadap bangsa-bangsa yang lemah, pendudukan militer, dan kerja paksa para budak. Nabi Nahum menjabarkan Niniwe sebagai pengkhianat bangsa-bangsa, dan merupakan kota persundalan (Nahum 4). Setiap bentuk kejahatan dan sihir dilakukan dan bahkan prestasi seni dikotori oleh penyembahan berhala dan perbuatan mesum. Nahum secara tepat menyebut Niniwe sebagai "kota darah" (Nahum 3:1) karena penuh dengan kekejaman.

Pentingnya Kitab Yunus bagi penginjilan kota dapat dipelajari dari pelbagai sudut. Para pengatur strategi misi melihat suatu pola serupa di dalamnya Allah mengutus utusan-Nya, yang pergi ke kota dan menyatakan firman Allah, dan akibatnya penduduk kota bertobat dan berpaling kepada Allah. Dari sudut pandang strategi misi, Yunus sering dijadikan model sepanjang waktu.

Para ahli teologi digerakkan oleh kenyataan bahwa inisiatif dalam penginjilan dilakukan oleh Allah. Kisahnya bercerita tentang Yunus, tetapi aktor utamanya bukanlah manusia, melainkan Allah. Allah memanggil nabi itu dan mendesaknya sampai ia mau taat. Belas kasihan Allah terhadap kota yang jahat itu memotivasi seluruh operasi, walaupun Yunus segan melaksanakannya. Itu merupakan misi Allah dan bukan misi Yunus. Allah ingin agar penduduk Niniwe diselamatkan, dan melalui kasih karunia-Nya ia memaksa Nabi Yunus untuk bertindak supaya mereka bertobat. Yang paling penting, misi Yunus merupakan suatu tanda tentang panggilan Allah kepada umat-Nya untuk memproklamirkan berita pertobatan dan keselamatan kepada kota-kota yang sebenarnya merupakan kota yang sangat jahat yang lebih cocok untuk dimusnahkan. Walaupun memiliki banyak kekurangan, namun Niniwe dianggap penting bagi Allah dan Ia ingin agar berita keselamatan-Nya disiarkan di jalan-jalan. Tugas Yunus, dan juga tugas Allah terhadap umat-Nya sebagai satu kesatuan yang utuh ialah menjadi juru warta Allah di benteng kejahatan ini dan bergabung dengan Dia dalam perjuangan untuk penghakiman, pencurahan kasih karunia terhadap kota tersebut.

Kisah Yunus dan apa yang terjadi di Niniwe patut dianalisis dan direnungkan. Sama seperti penginjilan kota dimulai di kota itu beberapa abad yang lalu, ada suatu kesan bahwa penginjilan kini harus dimulai kembali dari tempat itu. Allah masih berbicara kepada kita melalui Yunus tentang situasi dari penginjilan kota, belas kasihan Allah terhadap penduduk kota, dan kerinduan-Nya, supaya mereka mendengarkan firman-Nya. Kisah Yunus mengingatkan kita juga akan roh pemberontakan yang menolak mengenal kota-kota sebagai tempat-tempat strategis untuk ladang penginjilan.

Bayangkan bagaimana kisah itu jadinya jika Yunus harus berdiam di Niniwe untuk melayani, mengajarkan hukum Taurat, menegakkan keadilan, dan melayani sebagai terang kepada bangsa kafir itu, seperti Israel dipanggil untuk melakukannya dalam Yesaya 42:1-9. Yunus mungkin akan mengirimkan pesan kepada sesama rekan nabinya di Israel, sambil memberikan informasi kepada mereka bahwa suatu kebangunan rohani telah terjadi di Niniwe dan mendorong mereka untuk bergabung dengannya di sana untuk melakukan tindak lanjut terhadap apa yang telah dirintisnya. Mungkin hal ini akan menuntut bangsa Israel kepada suatu era baru, suatu saat penting dalam pengertiannya akan Allah dan terutama perhatiannya terhadap dunia -- bahkan bagi kota-kota sejahat Niniwe. Israel mungkin akan menjadi bangsa utusan Allah kepada dunia.

Namun keengganan Yunus untuk melayani masih cukup kuat. Kegagalan misi, berangkat dari kekeraskepalaan Yunus dan Israel yang menolak untuk mengerti keprihatinan Allah terhadap segala bangsa dan tanggung jawab warga Yerusalem untuk menjadi terang bagi Niniwe dunia. Hal itu juga menjelaskan teologi Israel yang salah mengerti bahwa Roh Kudus mengilhami penulisan kitab singkat ini dan memasukkannya sebagai bagian dari Alkitab. Kitab Yunus memberikan penerangan kepada bangsa Israel kuno dan juga melayani orang Kristen masa kini sebagai instruktur, suatu teguran, dan peringatan tentang misi.

Ternyata kemudian Yunus mengundurkan diri dari kota itu, dan pertobatan Niniwe tidak langgeng. Belakangan kemudian kota itu dihancurkan. Namun Yesus meneguhkan kemurnian pertobatan orang Niniwe: "Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!" (Lukas 11:32). Sejak kedatangan Yesus, isu bagi kota-kota dan penduduknya ialah apa yang dilakukan mereka terhadap Kristus dan berita Injil.

Pertobatan Niniwe, sejauh mana pertobatannya bertahan, tetap menjadi suatu tanda akan apa yang dapat terjadi di kota-kota dan tetangganya ketika kabar baik dari Allah dinyatakan dan Roh-Nya bekerja. Sayangnya, kisah Niniwe dalam sejarah agama lebih dikenal sebagai suatu kegagalan daripada lahirnya suatu gerakan bagi Kerajaan Allah.

Isu Niniwe tetap masih relevan bagi umat Allah. Pada saat ini dimana urbanisasi sedang mendunia, maukah umat Allah menggunakan kesempatan untuk menginjili Niniwe modern, atau apakah mereka akan berpaling ke belakang seperti Yunus, yang lebih suka melayani di tempat-tempat yang tidak begitu berbahaya? Dan jika mereka benar-benar pergi ke kota-kota, sejauh mana berita yang disampaikan mencapai sasarannya? Akankah berita yang disampaikan menantang kejahatan kota, sehingga mereka terpanggil untuk bertobat dari toko-toko, jalan-jalan, sampai ke balai kota?

Ayat-ayat penutupan Kitab Yunus merupakan sesuatu yang menyedihkan dilihat dari kegagalan nabi tersebut, tetapi dari sudut teologi dan kerangka bagi misi perkotaan, itu merupakan sesuatu yang hebat. Allah sendiri bertindak sebagai seorang demografer yang tahu jumlah penduduk dan yang menaruh perhatian terhadap anak-anak dan bahkan binatang peliharaan mereka. Niniwe yang pemuja berhala, jahat, dan kejam masih tidak terlepas dari pandangan Allah.

Keseluruhan panjang serta luas dari penginjilan kota diimplikasikan dalam penyataan ini. Allah yang tertulis dalam Alkitab merupakan Pemrakarsa dan Direktur dari badan penginjilan. Ia memupuk tanaman hijau dan mengelola hasil penciptaan demi kesejahteraan umat manusia, tetapi perhatian-Nya yang utama ditujukan terutama pada orang banyak. Demi keselamatan mereka, Ia mengutus nabi-Nya, Anak-Nya sendiri ke kota.

Diambil dari:

Judul Buletin : Sahabat Gembala, Agustus/September 1991
Judul Arikel : Dasar Alkitabiah Pelayanan Kota
Penulis : Roger S. Greenway
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup
Halaman : 12 -- 21