Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereCOVENANT RELATIONSHIP

COVENANT RELATIONSHIP


By novi - Posted on 25 June 2008

PENDAHULUAN

Masalah "Hubungan" merupakan masalah yang sering dilupakan dalam hidup berjemaat atau bermasyarakat. Gereja sering memperhatikan acara-acara atau program-program yang dipunyainya lebih dari pada mempererat hubungan di antara saudara seiman dalam jemaat.

Gereja yang hidup sering kali diidentikkan dengan gereja yang banyak programnya. Bukan berarti program tidak penting, tetapi apa artinya jika orang yang terlibat di dalam program tidak terlibat dalam hubungan yang erat.

Seorang ayah dapat bekerja mati-matian untuk mencari uang bagi keluarganya. Tapi apa gunanya jika ia harus menghabiskan waktunya dalam pekerjaan sehingga ia tidak punya waktu bersama dengan keluarganya. Pekerjaan penting, membina hubungan yang baik juga penting.

Kebanyakan orang bangga dengan gereja yang besar. Tetapi yang menjadi pertanyaan seberapa banyak dari jemaat itu yang benar-benar bertumbuh dalam hubungan satu dengan yang lain dalam kasih. Jika jumlah orang yang menghadiri kebaktian banyak sedangkan tidak banyak dari mereka yang mempunyai hubungan yang kuat antara satu dengan yang lain, maka gereja itu tidak sehat.

PENTINGNYA HUBUNGAN

Salah satu kekuatan gereja bukan terletak pada banyaknya uang yang ada di kas, bagusnya program yang dipunyai, gedung yang megah melainkan tergantung pada "Hubungan". Yang pertama hubungan terhadap Allah sendiri (hubungan vertikal). Yang kedua hubungan terhadap saudara seiman (hubungan secara horisontal). Kita harus ingat bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati dan baru kemudian mengasihi sesama manusia.

"Hubungan" mendahului "Fasilitas". Saya dapat pergi ke rumah orang tua saya, membuka lemari es dan mengambil segelas coca-cola, duduk di ruang tamu dan membaca majalah di sana dan mengambil kunci mobil untuk pergi jalan-jalan. Pendek kata saya bisa menikmati fasilitas dalam rumah itu karena saya adalah anak. Saya mempunyai hubungan yang baik dengan pemilik rumah itu, yaitu ayah saya. Coba pikirkan kalau ada seorang tidak dikenal masuk ke dalam rumah dan membuka lemari es untuk mengambil segelas coca-cola dan duduk di ruang tamu untuk mengambil majalah, maka nasib orang tersebut bisa berakhir di penjara karena dianggap sebagai pencuri (Ia tidak punya hubungan dengan ayah saya). Banyak orang Kristen menginginkan segala fasilitas atau berkat-berkat tetapi tidak menginginkan pengenalan yang lebih dalam dengan Tuhan. Ini yang membuat kita bisa dikategorikan sebagai pencuri. Tuhan Yesus juga pernah marah ketika Ia menyucikan Bait Allah dan Ia berkata "Rumah-Ku akan disebut rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun". Kita perlu berhati-hati supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Hal lain yang perlu kita sadari bahwa tujuan dari segala sesuatu yang kita lakukan itu berhubungan dengan: "Hubungan/persekutuan". 1 Yohanes 1:3 mengatakan, "Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya Yesus Kristus". Tuhan ingin membangun tubuh Kristus bukan pelayanan tertentu.

MENJAGA HUBUNGAN

Karena "Hubungan" itu sangat penting maka kita perlu serius dalam menjaganya. Pertanyaan-pertanyaan yang sering timbul dalam pikiran kita adalah bagaimana kita bisa menjamin bahwa "Hubungan" ini tidak putus, bagaimana kita bisa yakin bahwa pihak lain punya komitmen yang sama dengan pihak kita untuk menjaga dan mewujudkan suatu "Hubungan yang erat. Jawabannya adalah dengan "Ikatan janji". Atau dalam bahasa Inggrisnya disebut covenant.

Seperti dalam pernikahan, kedua calon suami istri menganggap bahwa hubungan diantara mereka dan yang akan mereka bina itu sangat penting sehingga mereka memberanikan diri untuk mengikatkan diri mereka dalam suatu janji yaitu janji nikah. Isi janji tersebut menuntut kesetiaan di kedua belah pihak untuk saling setia sampai maut memisahkan mereka.

Perjanjian berbeda dengan kontrak. Apa bedanya ? Perjanjian dibuat oleh dua orang yang saling mempercayai dan kontrak dibuat oleh orang yang kurang mempercayai satu dengan yang lain. Perjanjian adalah persetujuan antara dua pihak untuk saling komitmen terhadap "Hubungan" yang akan dijalin. Perjanjian berisi prinsip integrasi yang menjalin bahwa "Hubungan" yang akan dibina akan langgeng.

Tidak akan ada rumah tangga yang kuat yang bisa terbentuk lepas dari "Hubungan" yang terikat janji tersebut. Orang Yang "Kumpul kebo" (Hidup serumah tanpa ada ikatan apa-apa) tidak akan pernah mempunyai rumah tangga yang kuat. Demikian juga tidak adanya ikatan janji yang jelas di dalam gereja membuat gereja menjadi tempat "Kumpul kebo rohani" (Ini istilah). Ke gereja hanya dibuat cocok-cocokan, kalau mereka bosan mereka pindah gereja lain. Kalau mereka tidak senang dengan khotbahnya mereka pindah gereja lain, ditegur pindah gereja lain, tidak diperhatikan pindah gereja lain. Yah, seperti orang yang hidup bersama tanpa ikatan nikah, jika merasa tidak cocok cari pasangan lain.

PERUSAK HUBUNGAN

Setan tidak senang dengan hubungan yang manis, dia merusak hubungan manis antara Allah dan manusia. Dia merusak hubungan manis antara manusia dengan manusia. Sebenarnya dosa itu ada hubungan dengan "Hubungan". Dosa bukanlah kegagalan untuk berprestasi, dosa bersifat relasional. Artinya ada kaitannya dengan oknum lain. Kalau ada orang di dalam jemaat mengatakan "Jangan ikut campur, ini dosa-dosaku sendiri, tidak ada hubungannya dengan kamu, aku tidak merugikan kamu, ini urusanku ungkapan ini tidak benar karena dia tidak melihat bahwa dosa bersifat relasional. Kalau ada satu anggota tubuh yang sakit pasti seluruh tubuh akan sakit. Ingat bahwa dosa seorang yang bernama Akhan menghambat seluruh orang Israel memperoleh kemenangan atas kota Ai (Yosua 7).

Hal yang bisa merusak hubungan yang manis adalah dosa pengkhianatan, dosa ini menghancurkan "Hubungan" dan mengakibatkan perpecahan, kepahitan, perselisihan, dan persaingan. Firman Tuhan sudah berkali-kali memperingatkan hal ini.

1 Korintus 6:7 "Adanya saja perkara diantara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu".

Amsal 6:16-19 "perkara ini dibenci Tuhan, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya; mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan, dan yang menimbulkan pertengkaran saudara".

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah Yudas Iskariot, dia termasuk orang "Dalam" (Lingkaran dalam/inner circle). Ia dekat dengan Yesus tetapi dia menggunakan itu untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri, itulah pengkhianatan. Semakin dalam hubungan kita dengan orang lain semakin besar tanggung jawab dan komitmen kita untuk menjaga supaya "Hubungan" kita dengan orang lain semakin mudah juga terjadinya salah paham.

Hubungan yang terikat janji itu menjaga kesetiaan dibalik penampilan. Orang bisa berpenampilan hebat tetapi belum tentu dia setia. Suami bisa sukses diluar tetapi kehilangan kesetiaan terhadap istrinya. Tuhan tidak terlalu memperhatikan penampilan, Tuhan melihat kualitas "Hubungan" di balik penampilan.

SIFAT-SIFAT DARI IKAT JANJI

Untuk mengamankan hubungan yang telah terjalin, maka hubungan itu harus dibungkus dengan "covenant"/ikat janji. Dan dalam Alkitab, "ikat janji" itu bersifat sebagai berikut:

  1. Harus Diingat

Daud mengingat perjanjiannya dengan Yonatan, itulah sebabnya dia memperhatikan keturunannya yang bernama Mefiboset. Perjanjian Tuhan terhadap Abraham juga bersifat turun-temurun dari generasi kepada generasi.

  • Permanen
  • Artinya tidak bisa diubah. "Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan" (1 Tawarikh 16:15).

  • Kudus
  • Perjanjian itu bersifat kudus karena Allah ada didalamnya. Mengkhianati janji nikah bukan saja berdosa terhadap janji nikah tetapi juga kepada Allah.

    CONTOH

    Dalam Kejadian 21:22-34 dikisahkan tentang Abraham dan Abimelekh, dalam kisah tersebut kita bisa melihat beberapa poin yang menarik antara lain:

    1. Mereka Tertarik Satu dengan yang Lain Karena Melihat Allah.

    Abimelekh berkata kepada Abraham "Allah menyertai engkau dalam segala sesuatu yang engkau lakukan" (Kejadian 21:22). Disini kita dapat melihat bahwa fokus atau pusat dari hubungan yang terikat janji adalah Allah sendiri. Abimelekh tertarik kepada Abraham bukan dengan motivasi karena ia dapat memanfaatkan Abraham, tetapi ia melihat bahwa Abraham adalah orang yang hidup dalam kehendak Allah.

  • Meterai dari Ikat Janji: Sumpah.
  • Lalu kata Abraham: "Aku bersumpah!" (Kejadian 21:24). Di sini kita melihat adanya pernyataan secara verbal dari keseriusan komitmen dalam membina hubungan satu dengan yang lain. Waktu ini memang ada masalah dimana ada sebuah sumur yang telah dirampas oleh hamba-hamba Abimelekh, dan pada poin berikutnya kita akan melihat bagaimana perjanjian itu dapat membantu menyelesaikan masalah dengan baik.

  • Komitmen dari Ikat Janji: Tidak Akan Berlaku Curang.
  • "Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku..." (Kejadian 21:23). Ini berbicara soal integritas. Setiap pihak dalam hubungan yang terikat janji harus membuat komitmen untuk tidak merugikan pihak lain.

  • Kelanggengan dari Hubungan Ikat Janji: Sampai ke Anak Cucu.
  • "...Atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikian engkau berlaku kepadaku dan kepada negeri yang kau tinggali sebagai orang asing" (Kejadian 21:23)

  • Hasil dari Hubungan yang Terikat Janji: Ada Pemulihan.
  • Didalam hubungan yang terikat janji tidak berarti bahwa kita tidak akan mengalami konflik, tetapi adanya rasa percaya, tidak saling curiga merupakan modal yang besar untuk menyelesaikan masalah sampai adanya pemulihan. (Lihat Kejadian 21:29-34)

    GEREJA TUHAN

    Seharusnya yang menjadi anggota gereja atau bisa disebut gereja itu sendiri adalah orang-orang yang mempunyai hubungan satu dengan yang lain (dalam Kristus) yang sudah terikat dalam satu janji. Ikatan dalam tubuh Kristus adalah ikatan kasih, bukan ikatan karena program atau yang lainnya.

    "Dan diatas semuanya itu, kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan" (Kolose 3:14). "Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh" (Kolose 3:15).

    Gereja bukanlah seperti toko suku cadang yang rapi tersusun, tetapi tidak ada kaitan antara suku cadang yang satu dengan yang lain. Tuhan ingin gerejanya seperti suku cadang yang terkait satu dengan lainnya yang akhirnya menjadi satu motor yang dapat bergerak dan dinamis. Hanya gereja yang demikianlah dapat menjadi berkat bagi dunia. Mari kita memberikan respon dan kembali kepada panggilan Allah yang mulia ini, yaitu menjalin hubungan yang terikat satu janji dalam Kristus Yesus.

    PENUTUP

    Sekarang sejauh mana kita dapat melihat pentingnya hubungan yang terikat janji. Kita harus mempelajarinya dan membuka hidup kita supaya hal ini tidak menjadi pengetahuan saja tetapi menjadi nilai dalam hidup kita. Gereja yang kuat adalah gereja yang di dalamnya ada komitmen antar satu dengan yang lain, dan biarlah kita terlibat di dalamnya.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Empowering, Mei-Juni 2001
    Judul Arikel : Covenant Relationship
    Penulis : Andreas Rahardjo
    Halaman : 1, 14 -- 15