Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.35 Vol.13/2010 / Chet Bitterman

Chet Bitterman


Kala itu bulan Januari 1981, di Kolombia, Amerika Selatan, kelompok teroris Marxis sedang terbentuk. Mereka benar-benar marah terhadap organisasi Kristen seperti Wycliffe Bible Translators. Salah satu organisasi gerilya dari kelompok Marxis yang dikenal dengan nama M- 19 memutuskan untuk menculik Al Wheeler, direktur Wycliffe di Bogota, Kolombia, dan memakainya untuk menjadi alat negosiasi. Pada tanggal 19 Januari, seorang anggota M-19 yang menyamar dengan pakaian polisi mengetuk pintu kantor Wycliffe. Ketika pintu dibuka, 6 orang bertopeng dan bersenjata menyerbu masuk dan mengikat 12 orang dewasa dan 5 orang anak. Ketika mereka tidak dapat menemukan Wheeler, mereka menangkap ahli bahasanya, Chet Bitterman.

Beberapa hari kemudian para teroris itu menyatakan tuntutan mereka yang berbunyi: "Chet akan dibunuh kecuali jika organisasi Wycliffe Kolombia ditutup sebelum 19 Februari." Tetapi tuntutan mereka ditolak. Sambil menunggu batas hari yang telah mereka tetapkan, yakni 19 Februari, para teroris menghubungi (mantan) Presiden AS Ronald Reagan. Mereka meminta supaya New York Times dan Washington Post memuat tuntutan mereka kalau ingin Chet hidup.

Menjelang batas waktu yang ditentukan tanggal 19 Februari, dibentuklah rantai doa. Para penculik Chet mengirimkan surat-surat yang ditulis Chet ke surat kabar setempat yang mengatakan bahwa ia diperlakukan dengan baik. Sebuah kaset yang dikirim ke sebuah stasiun radio menegaskan bahwa Chet juga bersaksi pada para penculik. Para gerilyawan juga menyampaikan surat Chet yang ditujukan kepada istrinya, Brenda. Dalam surat itu Chet minta supaya istrinya mengirimkannya Alkitab berbahasa Spanyol.

Pada tanggal 7 Maret, tiga dari para teroris tersebut membajak sebuah bis mini di Bogota. Setelah mengikat dan menutup mata serta menyumbat mulut supir, mereka membawa bis itu pergi menjemput Chet dan berputar-putar selama beberapa jam. Supir bis mendengar sebuah tembakan dan melihat para teroris berlari pergi. Ia akhirnya berhasil melepaskan ikatannya dan memanggil polisi. Tubuh Chet ditemukan tewas dalam bis yang telah ditinggalkan itu.

Tujuan hidup Chet untuk menyebarkan Injil Yesus Kristus telah tercapai. Melalui penculikan dan kematiannya, Injil dinyatakan dan tinggal di tengah-tengah penduduk Kolombia. Tetapi kematian Chet tidak hanya membawa pengaruh bagi Kolombia saja. Dalam beberapa kesempatan memperingati kematian Chet di seluruh Amerika Serikat, tidak sedikit orang dari berbagai usia menyatakan komitmen mereka untuk mengisi posisi Chet. Setahun setelah itu, banyak surat lamaran ditujukan ke Wycliffe Bible Translator, yang isinya meminta agar dapat ambil bagian dalam pelayanan internasional. Yang mengejutkan adalah jumlah itu bertambah dua kali lipat.

Dikatakan bahwa "darah para martir adalah benih gereja." Hidup Chet Bitterman merupakan contoh nyata perkataan ini. Hidupnya telah memacu banyak orang untuk menjangkau jiwa-jiwa yang hilang di seluruh dunia.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi Dalam Pondasi Kita
Judul buku asli : The Hidden Stones in Our Foundation
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerjemah : Ivan Haryanto
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2005
Halaman : 119 -- 121

e-JEMMi 35/2010