Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian E. Asas Pengajaran Tentang Manusia

Bagian E. Asas Pengajaran Tentang Manusia


18. PENCIPTAAN MANUSIA

A. Manusia diciptakan oleh Allah

Alkitab menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa manusia diciptakan oleh Allah, manusia diciptakan dalam jangka waktu yang singkat dan berlangsung sebagai manusia dewasa yang sempurna, Kejadian 1:27; 2:7. Dalam bahasa Ibraninya, kata "menciptakan" dalam Kejadian 1:27 yang dipakai adalah "bara", tetapi dalam ayat Kejadian 1:25 kata yang dipakai adalah "asah", yang berkenan dengan binatang, yang liar dan yang jinak. Kedua kata itu tidak mengandung arti "bertumbuh" atau "berubah rupa" atau "menjadi lain". Perkataan "asah" berarti "membuat dengan memakai bahan-bahan" seperti membuat meja dari kayu. Istilah "bara" berarti "menjadikan dengan tidak memakai bahan apa-apa". Jadi, Alkitab tidak mengemukakan alasan apa pun sehingga ilmu pengetahuan atau manusia dapat berpikir bahwa tubuh manusia adalah keturunan dari binatang, apalagi pikirannya dan jiwanya. Alkitab menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia langsung, Kejadian 1:27; 5:1,2. Cara Tuhan menjadikan manusia diterangkan dalam Kejadian 2:7 dan Kejadian 2:21,22. "Pelajaran evolusi (suatu jenis berkembang dan berubah sampai menjadi jenis baru yang lebih tinggi tingkatannya) tidak dapat didasarkan pada pasal Kejadian 1:1-2:25. Pengarang kitab Kejadian juga memakai perkataan Ibrani "yatsar" yang berarti "membuat", bukan bertumbuh atau bertambah-tambah... Tidak ada binatang yang dijadikan menurut gambar dan rupa Allah; badan binatang tidak dibuat atau diciptakan seperti badan manusia." Leader S. Keyser.

B. Semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa

Di dalam Alkitab ada banyak bukti bahwa semua manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, Kejadian 1:27,28; 9:19. Akan tetapi ada bukti yang lain di samping bukti dari Alkitab. Ada bukti dari sejarah dunia: Sejarah negara-negara dan bangsa-bangsa dari seluruh dunia menunjukkan bukti bahwa segenap manusia asalnya dari satu pasang suami isteri di Asia. Ada pula bukti dari bahasa-bahasa manusia: Menurut para ahli yang menyelidiki asal-usul bahasa-bahasa di dunia, maka ada banyak tanda-tanda yang membuktikan bahwa semua bahasa yang terkenal di dunia ini berasal dari satu bahasa. Dan tidak ada bukti bahwa bahasa-bahasa yang tidak terkenal tidak berasal dari satu bahasa. Bukti dari ilmu jiwa manusia: Semua bangsa dan suku-suku bangsa di dunia ini, memiliki cara berpikir yang sama. Ini nyata dari adanya persamaan di dalam pepatahnya, adat-istiadatnya, budi pekertinya, dongeng-dongeng nenek moyang, dan kemungkinan segala bangsa menjadi orang Kristen. Ini membuktikan bahwa semua manusia hanya satu asalnya. Bukti dari ilmu tubuh manusia: Segala bangsa dapat mengadakan perkawinan antara bangsa dan mereka dapat memperoleh keturunan. Suhu tubuh segala bangsa sama panasnya. Segala bangsa mempunyai nadi yang sama banyaknya. Segala bangsa dapat diserang segala macam penyakit. Hal-hal demikian tidak dapat terjadi pada binatang, dan darah manusia selalu dapat dibedakan dari darah binatang, kalau dilihat dengan mikroskop.

Rasul Paulus menerangkan bahwa segenap umat manusia adalah keturunan Adam dan Hawa, dan dosa Adam dan Hawa diwariskan kepada segala manusia. Begitu pula di dalam Kristus ada keselamatan yang cukup untuk segala manusia, Roma 5:12,19; 1Korintus 15:21,22. Bandingkan Kisah 17:26.

C. Manusia diciptakan atas gambar dan rupa Allah

Alkitab menyatakan dengan jelas sekali bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, Kejadian 1:26,27; 1Korintus 11:7. Dalam dua hal manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah, yaitu (1) hal kesucian, (2) sebagai suatu pribadi. Dalam hal kesucian berarti bahwa manusia dijadikan dengan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat; manusia dijadikan suci dan tidak berdosa, Pengkhotbah 7:29; Efesus 4:24; Kolose 3:10. "Adam dijadikan dengan perangai yang suci, yaitu dengan kerinduan akan Allah: semua orang yang lahir setelah dia, dilahirkan dengan kerinduan untuk menjauhkan diri daripada Allah". Farr. Sebagai suatu pribadi berarti bahwa manusia dijadikan satu pribadi seperti Allah adalah satu pribadi; dan manusia mempunyai pengetahuan tentang dirinya sendiri, dan mempunyai kehendak diri sendiri. Ia mempunyai pengetahuan, perasaan dan kehendak. Tidak ada binatang yang demikian. Manusia mempunyai hati nurani yang dapat memberitahukan mana yang baik dan yang jahat. Akan tetapi bisikan kalbu bukan suatu ukuran atau patokan yang sempurna, sebab hati nurani mungkin diabaikan dan dimatikan. Oleh sebab itu perlu sekali kita selalu membaca Firman Tuhan supaya hati nurani kita disesuaikan dengan Firman itu.

Manusia memiliki kehendak bebas. Manusia boleh memilih yang baik atau yang jahat, dan karena itu manusia harus bertanggung jawab atas kelakuannya. Allah adalah Roh: dengan demikian Ia tidak mempunyai tubuh. Oleh sebab itu manusia tidak diciptakan menurut gambar Allah secara tubuh, walaupun tubuh manusia ajaib. Pada pihak lain kita tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus ialah gambar Allah dan pada waktu yang akan datang kita akan serupa dengan Dia, 1Yohanes 3:2.

Manusia mempunyai tubuh, jiwa dan roh. Ia mempunyai bagian jasmani dan rohani. Bagian jasmani ialah tubuhnya, yang rohani yaitu roh dan jiwanya. Ada dua pandangan daripada ahli teologi yaitu yang mengatakan bahwa roh dan jiwa merupakan dua kesatuan dan yang mengatakan bahwa roh dan jiwa itu merupakan satu kesatuan. Alkitab tidak menjelaskan mengenai hal ini, jadi hal ini tidak dapat dipastikan. Oleh sebab itu sebaik-baiknya kita tidak perlu mencoba memastikan hal ini.

D. Hasil penciptaan manusia

Hasil dari penciptaan manusia ada tiga. Secara jasmani manusia elok dan mulia, Mazmur 139:14. Secara jiwa, pikirannya tidak dihalangi. Manusia telah mengetahui banyak hal dari sebab akal budinya. Karena pikirannya tidak dihalangi maka manusia dapat menamai segala jenis binatang, dan hal itu menandakan bahwa Adam pandai dan luas pengetahuannya. Secara rohani, ia mempunyai kesadaran yang tidak dihalangi dosa; ia mempunyai keinsafan akan hal-hal rohani dan mempunyai persekutuan dengan Allah yang tidak dihalangi. Secara jasmani, jiwa dan rohani manusia itu sempurna. Manusia yang diciptakan itu sungguh amat baik, Kejadian 1:31.

Oleh sebab segala bangsa di dunia ini berasal dari satu keturunan (Kisah 17:26), maka kita yang percaya akan Yesus Kristus wajib memberitahukan Injil kepada segala saudara kita. Pekerjaan pengabaran Injil memang ada hubungannya dengan penciptaan manusia.

I. MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA

A. Ujian untuk manusia

Alkitab menyatakan bahwa sesudah manusia diciptakan, maka Allah menempatkan mereka di dalam Taman Eden di mana ditempatkan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Kejadian 2:8-17. Allah menempatkan pohon itu karena Ia hendak menguji manusia apakah manusia akan mentaati apa yang telah dipesankan Allah kepadanya. Kalau manusia mentaati peraturan itu maka tentu ia akan mendapat pahala, dan kalau tidak taat tentu ia akan mendapat hukuman. Di dalam Taman Eden itu hanya satu pohon yang buahnya tidak boleh dimakan oleh manusia. Itu merupakan suatu peraturan yang istimewa, karena tidak jelas apa sebabnya peraturan itu diberikan. Sepuluh hukum Tuhan adalah hukum yang nyata sebabnya, dan hukum itu dapat disebut sebagai hukum moral. Misalnya ada peraturan, "Jangan mencelupkan tangan ke dalam air" maka peraturan itu merupakan peraturan istimewa sebab kita tidak mengetahui alasannya, apa kebaikan dan keburukannya. Demikian pula Adam dan Hawa tidak mengetahui alasan dari peraturan Allah, "...pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya ..." Tuhan telah memberikan peraturan itu, dan Adam dan Hawa wajib mentaati perintah itu.

B. Maksud ujian untuk manusia

Apa sebabnya manusia perlu diuji oleh Allah? Ada tiga jawaban untuk pertanyaan itu.

Pertama, ujian itu perlu oleh sebab manusia memiliki kehendak bebas. Manusia dapat menentukan segala perbuatannya oleh kehendak dirinya sendiri. Oleh sebab itu manusia memerlukan sesuatu untuk menentukan pilihan yang sesuai dengan kehendak dirinya. Kalau tidak ada ujian untuk manusia apakah gunanya ia diberi kebebasan untuk menentukan perbuatannya? Misalnya: kita mengerti bahwa ikan laut bernafas dengan insang, dan insang itu sesuai dengan suasana air. Tetapi, insang tidak sesuai dengan suasana udara, jadi insang itu menuntut supaya ikan hidup dalam air. Begitu pula manusia, ia diberi hak dan kuasa untuk menentukan segala kelakuannya, oleh sebab itu haruslah ia diuji supaya kebebasan menentukan kelakuannya dapat bekerja atau berfungsi. Kalau manusia tidak diberi kuasa untuk menentukan sendiri kelakuannya maka itu bertentangan dengan perangainya.

Kedua, manusia diuji oleh Allah untuk membuktikan apakah ia mentaati perintah Allah dan setia kepada Allah. Tentu Allah yang telah menjadikan manusia berhak menguji manusia dan memberikan suatu hukum yang sesuai dengan keadaan batin mereka. Sebelum Adam bersekutu dengan Allah, ia harus diuji sebab persekutuan menuntut ketaatan dan kasih menuntut kesetiaan.

Ketiga, kita mengetahui dengan pasti bahwa apa yang telah diperintahkan oleh Tuhan kepada manusia adalah hal yang mendatangkan kebaikan untuk manusia. Oleh sebab itu perintah ini diberikan kepada manusia untuk membawa manusia kepada kehidupan yang lebih tinggi dan mulia. Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan suci dan dengan sifat yang ingin dekat kepada Allah. Jadi seandainya mereka telah memilih untuk mentaati perintah Allah, tentu hati nuraninya yang suci akan menyatakan tabiat dan kelakuan yang suci. Seandainya mereka dengan dalam ujian itu, tak dapat tiada kemenangan itu akan meneguhkan manusia di dalam kesucian. Akan tetapi, oleh sebab manusia sudah salah pilih dan sudah melanggar Firman Allah, maka hati nuraninya yang suci menjadi kotor oleh dosa, dan oleh karena itu akibat dan hukuman dosa ditanggung ke atas mereka dan atas segala keturunannya, sehingga dengan demikian mereka sekalian telah terjerumus di dalam dosa. Meskipun Adam dan Hawa telah diciptakan dengan perangai yang suci mereka itu mungkin juga dicobai dan mereka bahkan sudah dicobai.

C. Pencobaan manusia

Alkitab menerangkan bahwa Adam dan Hawa telah dicobai untuk berbuat dosa dengan melanggar perintah Allah yang istimewa, Kejadian 3:1-6; 2Korintus 11:3; 1Timotius 2:14. Ular telah dipakai sebagai alat dalam tangan Iblis untuk mencobai Adam dan Hawa, Kejadian 3:1,4; 2Korintus 11:3.

Iblis, makhluk yang telah jatuh sebelum manusia diciptakan, selalu berusaha menjatuhkan manusia. Ia cerdik sekali sehingga ia dapat memakai si ular. Boleh jadi ular asli adalah seekor binatang yang elok rupanya, dan boleh jadi ia berjalan dengan kaki (Kejadian 3:14). Sesudah Iblis memasuki ular itu lalu ia datang kepada Hawa dan mencobai dia. Iblis itu cerdik sekali, sebab sesudah ia mencobai Hawa sehingga jatuh, Hawa kemudian mencobai Adam. Pencobaan yang dilakukan dengan perantaraan Hawa akan jatuh lebih efektif daripada pencobaan yang datangnya langsung dari Iblis. Patut kita ingat bahwa maksud Iblis yang terutama ialah supaya Adam jatuh ke dalam dosa. Apakah sebabnya? Sebab Adam ialah kepala segala manusia dan raja atas segenap bumi (Kejadian 1:26-28; 1Korintus 11:7-9), dan ialah yang harus bertanggung jawab. Jatuhnya Adam ke dalam dosa mengakibatkan semua manusia tercemar dan ikut jatuh ke dalam dosa, dan itulah yang diinginkan oleh iblis.

D. Cara pencobaan itu.

Pencobaan terhadap Hawa itu dilakukan melalui 3 cara:

  1. Melalui tubuh. Iblis mencobai dengan perantaraan tubuh Hawa. Hawa telah melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan, Kejadian 3:6[a].
  2. Melalui jiwa. Iblis mencobai Hawa dengan perantaraan pikirannya. Ia merasa bahwa pohon itu sedap kelihatannya (Kejadian 3:6[b]), yang menyangkut unsur kesenian, tetapi ia menjadi lebih tertarik karena ia berpikir bahwa pohon itu akan memberi pengertian, Kejadian 3:6[c].
  3. Melalui roh. Dengan rohnya Adam dan Hawa bersekutu dengan Allah. Iblis telah mencobai Hawa melalui rohnya dengan berkata bahwa kalau buah itu dimakan Hawa akan menjadi seperti Tuhan Allah dengan mengetahui yang baik dan yang jahat, Kejadian 3:5. Keinginannya untuk menjadi seperti Allah yang mengetahui baik dan jahat merupakan suatu cita-cita yang mulia, tetapi sesungguhnya itu adalah ambisi yang berpusat pada diri sendiri dan berasal dari Iblis, yaitu ambisi yang sama yang menyebabkan jatuhnya Iblis, Yesaya 14:14.

Apakah mereka mengetahui baik dan jahat sebelum mereka jatuh dalam dosa? Tentu! Mereka tahu bahwa mentaati perintah Allah adalah baik dan melanggar perintah itu adalah jahat. Jadi, tidak ada sesuatu yang ditambahkan kepada pengetahuannya kecuali mengetahui dan menginsafi bahwa diri mereka berdosa.

Perhatikanlah bahwa Iblis juga telah mencobai Tuhan Yesus dengan tiga cara tersebut, (Matius 4:1-11; Lukas 4:1-13). Sampai sekarang pun Iblis tetap mencobai segala manusia dengan cara seperti itu. Dalam 1Yohanes 2:16 terdapat (1) "keinginan daging" (2) "keinginan mata" (3) "keangkuhan hidup".

E. Jatuhnya manusia ke dalam dosa.

Alkitab menyatakan dengan jelas sekali bahwa Adam dan Hawa telah jatuh dari kesucian mereka yang mula-mula, ketika mereka melanggar perintah Allah yang istimewa itu, yaitu larangan untuk makan dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, Kejadian 3:6; Roma 5:12,19; 1Timotius 2:14. Itulah dosa manusia yang pertama, dan akibat dosa itu besar lagi hebat, dan hukumannya segera datang. Dr. R.A. Torrey telah mengemukakan lima hal mengenai dosa yang pertama itu:

  1. mendengar fitnah yang ditujukan terhadap Allah.
  2. kurang percaya akan perkataan Allah dan kasih Allah.
  3. memandang akan hal yang dilarang oleh Tuhan.
  4. ingin akan hal yang dilarang oleh Tuhan.
  5. melanggar perintah Tuhan.

Dosa Adam dan Hawa dilakukan atas kehendak diri mereka sendiri. Segala dosa disebabkan oleh pilihan kehendak manusia. Oleh sebab Adam dan Hawa telah diciptakan dalam keadaan suci, maka dosa datang dari luar mereka. Dosa itu asalnya dari Iblis dengan perantaraan ular. Dosa Adam dan dosa semua keturunannya tidak lain daripada dosa karena tidak percaya akan Firman Allah: mereka mempercayai perkataan Iblis. Oleh sebab itu wajib kita menerima nasihat ini: Kita tidak dapat sungguh-sungguh menjadi milik Allah kalau kehendak kita belum dimiliki Allah serta belum tunduk kepada-Nya. Artinya, kehendak kita harus dikuduskan serta dibebaskan sehingga kita dapat sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Inilah kemerdekaan yang sempurna.

F. Akibat dosa (akibat jatuhnya manusia ke dalam dosa)

Ketika si ular memberitahukan kepada Hawa bahwa mereka akan menjadi seperti Allah dengan mengetahui yang baik dan yang jahat, ular itu berdusta walaupun ada juga sebagian kata-katanya yang betul. Tuhan Allah tidak tahu tentang kejahatan sebab Allah tidak dapat melakukan kejahatan dan tidak dapat dicobai (Yakobus 1:13). Tetapi Adam dan Hawa sudah mengetahui kejahatan karena mereka melakukan atau mengalami kejahatan itu. Sejak saat itu, lebih mudah bagi mereka untuk melakukan kejahatan daripada kebenaran. Sejak saat itu pula perangai manusia dan semua keturunannya ada di dalam dosa.

Akibat dosa mereka ialah:

  1. Mereka merasa malu (Kejadian 3:7). Sebab mereka telah makan buah pohon itu, maka mereka melihat kenyataan diri mereka sendiri, dan mereka merasakan tekanan dosa mereka. Pada saat itu juga Tuhan telah mulai menyadarkan hati nurani mereka.

  • Mereka berusaha sendiri. Mereka telah menyemat daun pohon ara dan membuat cawat (Kejadian 3:7). Setelah Adam jatuh di dalam dosa, maka manusia selalu berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri; ia telah mencobai menenun bagi dirinya sendiri suatu jubah kebenaran. Tudung itu bukan tudung darah dan bukan tudung yang berasal dari Allah, dan bukan jalan keselamatan dari Allah. Pengharapan manusia hanya di dalam menerima tudung kebenaran yang telah disediakan oleh Tuhan (Kejadian 3:21; Filipi 3:9).
  • Mereka menjadi takut (Kejadian 3:8-10). Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa, ia tidak takut, ia dan Hawa bagaikan anak-anak yang selalu senang, mereka menemui Allah pada waktu kapan saja bila mereka mendengar suara-Nya. Tetapi kini sesuatu yang baru telah masuk ke dalam kehidupan manusia, yaitu ketakutan. Dosa telah membuat suatu rantai ketakutan yang sampai kini masih mengikat manusia.
  • Mereka mencoba menyembunyikan diri (Kejadian 3:8). Dengan bodoh Adam dan Hawa menyangka bahwa mereka dapat menyembunyikan diri mereka dari hadirat Allah. Keturunan mereka juga bodoh karena mereka pun masih mencoba menyembunyikan pelanggarannya, tidak mau menghadap Allah untuk mengakui dosa mereka dan mencari keampunan (Amsal 28:13).
  • Mereka telah mencoba membenarkan diri sendiri (Kejadian 3:12). Di sini kita melihat satu akibat dosa yang paling buruk. Meskipun mereka berdosa dan bersalah, tetapi mereka mencoba membenarkan diri sendiri. Bilamana seseorang mencoba membenarkan dirinya sendiri, ia selalu menyalahkan orang lain. Adam telah menyalahkan Hawa, tetapi lebih daripada itu ia telah menyalahkan Allah juga dalam perkataannya, "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku" (Kejadian 3:12). Seolah-olah ia berkata, "Itu salah Tuhan sendiri, yang telah memberikan perempuan itu kepadaku, sebab kalau Tuhan tidak memberikan perempuan itu, tentu pelanggaran itu tidak terjadi. "Pada masa ini banyak orang berdosa yang juga mencoba menyalahkan Allah.
  • Mereka telah menyalahkan orang lain. Adam telah menyalahkan Hawa dari sebab dosanya sendiri, dan Hawa telah menyalahkan si ular (Iblis) dari sebab dosanya sendiri (Kejadian 3:12,13).
  • Sebab yang dikatakan di atas adalah akibat dosa di dalam pribadi manusia.

    G. Hukuman dosa

    Dosa selalu membawa hukuman, dan beberapa hukuman telah langsung ditanggung oleh Adam dan Hawa oleh sebab dosa mereka.

    1. Hukuman telah dijatuhkan kepada ular. Sebab ular itu telah menjadi alat Iblis, maka ular itu dikutuk (Kejadian 3:14; Mikha 7:17). Bahkan dalam Kerajaan Tuhan seribu tahun kutukan itu tetap berlaku atas ular itu (Yesaya 65:25). Ular itu mengibaratkan Iblis (Wahyu 12:9).

  • Hukuman telah dijatuhkan kepada perempuan, yaitu penderitaan pada waktu bersalin dan perempuan harus tunduk kepada suaminya (Kejadian 3:16; Yohanes 16:21). Akan tetapi berkat Injil, Injil mengurangi hukuman itu (1Timotius 2:15; 1Petrus 3:7).
  • Hukuman telah dijatuhkan kepada laki-laki. Hukuman ini berupa kesusahan dan kelelahan (Kej 3:17-19; Ayub 5:7; Pengkhotbah 2:22,23). Pekerjaan adalah suatu berkat, bukan laknat, tetapi laknat atas tanah menyebabkan pekerjaan lebih berat.
  • Hukuman telah dijatuhkan kepada bumi, oleh sebab manusia. Akibat hukuman itu bumi mengeluarkan semak duri dan rumput duri (Kej 3:18). Seperti ular, begitu pula duri adalah musuh manusia (Mat 7:16). Dalam Alkitab duri itu melukiskan kejahatan (Bil 33:55; 2Korintus 12:7). Pada waktu Tuhan Yesus disalib, Ia diberi mahkota duri. Pada masa Kerajaan Tuhan seribu tahun, laknat atas bumi akan dihapuskan (Yesaya 25:8).
  • Semua yang dikatakan di atas adalah akibat dari luar manusia, yaitu dari Allah.

    H. Dosa menyebabkan perceraian

    Dosa selalu membawa perceraian. Adam dan Hawa telah diceraikan dari tiga hal:

    1. Mereka dan keturunan mereka diceraikan dari pohon kehidupan. Dalam hal ini rahmat Allah dinyatakan, sebab seandainya manusia dapat hidup selama-lamanya dalam keadaan berdosa, maka hal itu menjadi bahaya besar. Oleh sebab itu Adam dan Hawa diusir dari pohon kehidupan tetapi oleh penebusan dan kebangkitan Kristus, keturunannya yang menerima Kristus akan dapat makan buah pohon itu (Wahyu 2:7; 22:14). Tubuh manusia akan menjadi rusak dan lemah, tetapi Tuhan telah menyediakan pohon kehidupan untuk meniadakan kerusakan itu. Hal ini nyata bahwa sebelum air bah, manusia berumur panjang sekali. "Mungkin, seandainya manusia tidak berdosa maka tubuhnya akan diangkat atau dibawa naik ke sorga tanpa melintasi kematian." (Strong). Dr. Campbell Morgan menerangkan bahwa kenaikan Yesus Kristus menjamin kebangkitan dan kenaikan semua manusia, jikalau sekiranya tidak ada dosa dalam manusia.

    2. Adam dan Hawa diceraikan (diusir) dari Taman Eden. Hal ini dilakukan supaya jangan sampai mereka makan buah pohon kehidupan itu. Mungkin jadi manusia dapat menghampiri Taman Eden pada sebelah Timur, di mana beberapa Kerub menjaga, dan di sana mereka menyembah serta mempersembahkan korban-korban kepada Allah. Barang kali itulah kaabah yang pertama.

    3. Adam dan Hawa diceraikan dari hadirat Allah yang dapat dilihat oleh mereka. Ketika Adam dan Hawa menyembunyikan diri mereka dari hadirat Allah, hal itu terjadi sebab mereka itu dalam keadaan berdosa, tidak layak memandang Allah atau bersekutu dengan Dia. Sejak saat itu manusia harus menghampiri Allah melalui seorang pengantara (1Timotius 2:5).

    I. Dosa menyebabkan kematian

    Oleh sebab hukuman Allah yang melarang manusia makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, maka Tuhan telah berfirman, "Sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kejadian 2:17). Kematian ini yang disebabkan oleh dosa meliputi 3 aspek:

    1. Kematian jasmani. Kematian jasmani adalah perceraian antara roh dan jasmani, yang menyebabkan kerusakan tubuh. Kematian telah datang kepada manusia dari sebab dosa, dan kematian adalah upah dosa (Roma 5:12; 6:23). Jikalau tidak ada dosa tentu Tuhan menentukan suatu jalan lain bagi orang saleh untuk dibawa ke sorga. Di dalam Kitab Tesalonika dinyatakan suatu jalan bagi saleh-saleh Tuhan untuk dibawa ke sorga selain dari kematian (1Tesalonika 4:17).

    2. Kematian rohani. Kematian rohani adalah perceraian roh manusia dari Allah (Matius 8:22; Lukas 15:32; Yohanes 5:24; 8:51; Roma 8:13; Efesus 2:1). Hukuman mati yang dijatuhkan kepada Adam dan Hawa terutama adalah kematian jiwa dan roh, yaitu perceraian dari Allah. Dengan demikian kematian itu telah dialami oleh Adam dan Hawa pada hari mereka telah makan buah yang dilarang itu (Kejadian 2:17). Hidup yang kekal bukan hanya berarti hidup secara jasmani untuk selama-lamanya. Demikian pula kematian bukan hanya berarti kematian secara tubuh saja (Roma 5:12-21). Ketika dosa telah masuk, maka roh itu mati, dan itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata kepada Nikodemus, "Kamu harus dilahirkan kembali" (Yohanes 3:7). Lihat juga Lukas 15:24; Efesus 2:1; 1Timotius 5:6; Wahyu 3:1.

    3. Kematian Kekal. Kematian kekal adalah akibat kematian rohani, dan merupakan penggenapan dari kematian rohani. Kematian kekal adalah hukuman Tuhan atas orang yang tidak bertobat dan tidak percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, dan hukuman ini diberikan kepada tubuh dan roh orang berdosa (Matius 25:41; 2Tesalonika 1:9; Matius 10:28; Ibrani 10:31; Wahyu 14:11). Akan tetapi kematian rohani dan kematian kekal dapat dihapuskan oleh anugerah Tuhan yang telah menyediakan suatu grafirat (tebusan) dalam Tuhan Yesus (Kejadian 3:21; 4:4; Ibrani 9:22; Yohanes 5:24; 8:51).

    II. KEADAAN MANUSIA SEKARANG

    Alkitab menerangkan bahwa dosa telah masuk ke dalam semua manusia oleh sebab dosa Adam (Roma 5:12-19). Oleh sebab itu tiap-tiap manusia dilahirkan dalam dosa dan mempunyai sifat dosa (Roma 3:9-23; 11:32; Galatia 3:22; Mazmur 14:1-7; 51:7 Yesaya 53:6). Dosa tidak diadakan oleh Hukum-hukum Allah yang diberikan di atas bukit Sinai. Hukum-Hukum itu hanya menyatakan dosa yang memang sudah ada sebelumnya (Roma 5:20) (Roma 7:7-12). Manusia melakukan dosa oleh sebab sifat dosa yang sudah ada di dalam dirinya. Manusia adalah orang berdosa sebab tiap-tiap manusia penuh dengan dosa. Tuhan Allah telah berkata bahwa semua orang telah berdosa (Roma 3:10,23). Oleh sebab itu segenap dunia berada di bawah hukuman, murka, dan kutuk Allah (Roma 3:19; Galatia 3:10) (Efesus 2:3). Hukuman Allah menuntut supaya manusia betul-betul mentaati Hukum-Hukum Allah, tetapi tidak ada seorang manusia pun yang mentaati Hukum-hukum itu. Oleh sebab itu laknat hukum-hukum yang dilanggar itu akan ditanggungkan ke atas orang yang berdosa itu. Jadi murka Allah tinggal di atas semua orang yang tidak sungguh-sungguh percaya akan Yesus Kristus (Yohanes 3:36). Lain daripada itu, orang-orang yang belum dilahirkan kembali berarti masih menjadi anak-anak Iblis dan bukan anak-anak Allah (1Yohanes 3:8-10; Yohanes 8:44; 1Yohanes 5:19). Segenap manusia ditaklukkan oleh Iblis dan dosa sehingga mereka itu tidak dapat menolong diri mereka sendiri. Kita dapat melihat buktinya dalam seluruh pasal tujuh dari Kitab Roma Roma 7:1-23 dan Yohanes 8:13-36; Efesus 2:3. Jelas dari Alkitab bahwa dosa telah menguasai segenap perangai manusia. Pengertian mereka gelap (Efesus 4:18; 1Korintus 2:14). Hatinya licik dan sudah membatu (Yeremia 17:9,10). Hati nurani dan pikirannya telah cemar (2Korintus 7:5). Kehendaknya dilemahkan (Roma 7:18), dan (Roma 7:18). Oleh sebab semua ini, Injil menyatakan bahwa manusia berada di dalam keadaan berdosa dan sesat jiwanya. Manusia berada di bawah hukuman oleh sebab sifat dosanya dan sebab ia juga sudah melakukan dosa. Oleh sebab itu maka perlu sekali manusia dilahirkan kembali (Yohanes 3:3,7). Hukum-Hukum Allah itu menyatakan dosa di dalam tiap-tiap diri manusia.

    III. TANGGUNG JAWAB MANUSIA

    A. Tanggung jawab manusia oleh sebab ia bebas memilih

    Ketika Tuhan Allah menjadikan manusia serta menempatkan dia dalam Taman Eden, maka Tuhan telah mengaruniakan kepadanya kuasa untuk memilih. Oleh sebab Adam telah memilih untuk melanggar perintah Tuhan, maka akibatnya dosa yang hebat telah masuk ke dalam diri manusia. Meskipun Adam telah jatuh ke dalam dosa, hal itu tidak menghilangkan kuasanya untuk memilih, tetapi kuasa untuk memilih itu telah menyimpang dari kebenaran. Oleh karena itu maka penebusan di dalam Injil itu menggerakkan kehendak manusia, dan manusia harus memilih Injil. Dengan perkataan lain, manusia masih bebas memilih (menentukan) kehendaknya; yaitu ia masih bebas untuk memilih Yesus Kristus walaupun ia telah terjerumus ke dalam dosa. Bilamana seorang manusia memilih Yesus Kristus, maka Allah menopang kehendak yang lemah itu dengan kuat kuasa-Nya.

    Kehendak yang bebas berarti manusia bebas memilih, tetapi harus bertanggung jawab atas pilihan yang sesuai dengan kelakuan dan tabiatnya itu. Setiap kelakuan yang berasal dari kehendak yang bebas dikendalikan oleh niat hati. Walaupun begitu, niat hati bukanlah yang menyebabkan pilihan manusia. Manusia mempunyai beberapa niat hati, dan ia dapat memilih salah satu di antaranya. Maka, kehendak manusia itulah yang menentukan pilihannya. Manusia diberi kehendak bebas, dan di dalam hal itu pilihannya ditentukan oleh kehendaknya, bukan oleh niat hatinya.

    B. Tanggung jawab manusia oleh sebab bisikan hati nuraninya

    Manusia mempunyai perangai yang mengetahui yang baik dan yang jahat, oleh karena itu ia berkuasa untuk berbuat baik dan jahat. Ketika Adam jatuh dalam dosa maka hati nuraninya disadarkan. (Sebenarnya sebelum Adam jatuh ia juga telah mengetahui yang baik dan yang jahat. Ia telah mengetahui yang baik, yaitu mentaati perintah Tuhan, dan ia tahu juga bahwa melanggar perintah Tuhan adalah jahat. Tidak ada suatu pengetahuan yang ditambahkan kepada Adam sesudah ia berdosa. Ia hanya mengalami dosa, dan menyadari bahwa dirinya telanjang, dan ia tahu bahwa ia sudah bersalah dan berdosa sebab ia menjadi takut serta mencoba lari dari hadirat Tuhan Allah). Sesudah hati nuraninya disadarkan maka sejak saat itu Adam harus memilih yang baik atau yang jahat, sesuatu yang sudah diketahuinya, jadi hal itu merupakan suatu tanggung jawab baru baginya; bila ia ingin memilih yang baik.

    Hati nurani manusia adalah sifat pikirannya atau batinnya yang mengetahui yang baik dan yang jahat. Hati nurani itu lebih daripada keinginan untuk mentaati batasan-batasan atau undang-undang yang di luar hatinya sendiri, dan undang-undang itu berlainan pada setiap bangsa. Hati nurani membuat undang-undang bagi dirinya kalau tidak ada undang-undang lain (Roma 2:15). Oleh sebab perangai (batin) manusia telah dicemarkan oleh dosa, boleh jadi hati nuraninya kurang sekali memahami hal-hal yang baik dan yang jahat, atau mungkin hati nurani itu tidak berfungsi lagi sebab sering diabaikan (1Timotius 4:2). Sebab itu hati nurani bukanlah suatu pemimpin yang tidak dapat bersalah. "Sifat-sifat lain di dalam diri manusia bisa bersalah, begitu pula hati nurani. Sebab itu hati nurani wajib diterangi dan disucikan. Aneh sekali kalau sifat-sifat lain bisa bersalah tetapi hati nurani tidak. Jadi hati nurani itu juga dapat bersalah. "(L.S. Keyser).

    Hati nurani itu mempunyai batasan (ukuran) bagi dirinya. Batasan atau ukuran itu dapat dipengaruhi dari luar dan dapat juga dibuat oleh hati nurani itu sendiri, atau dapat juga karena dipaksakan oleh peraturan suatu bangsa. Oleh sebab itu hati nurani dapat juga kurang baik, atau salah, atau juga benar. Oleh karena bisikan kalbu dapat salah, dan oleh karena manusia telah dicemarkan oleh dosa, maka lebih baik hati nurani itu mentaati undang-undang yang telah dinyatakan oleh Tuhan Allah kepada manusia. Di Gunung Sinai Tuhan Allah telah memberikan undang-undang bagi hati nurani manusia, dan dengan itu Tuhan telah membuktikan kepada manusia bahwa "manusia telah kehilangan kemuliaan Allah", dan oleh sebab manusia "lemah karena daging" maka ia perlu mendapat seorang Juruselamat yang di luar dirinya sendiri, sama seperti manusia memerlukan undang-undang dari luar dirinya sendiri. Lihat Roma 8:3.

    Kalau begitu apakah pekerjaan hati nurani? Hati nurani menunjukkan kepada manusia suatu bidang pengertian tentang yang baik dan yang jahat. Bidang itu mungkin kecil atau luas, sesuai dengan pengertian yang dimiliki oleh orang itu. Tetapi bidang itu diberikan kepada tiap-tiap orang dan orang itu sendiri tahu apakah ia mau atau tidak mau mentaati bisikan dari hal yang baik dan yang jahat. Hati nurani tidak memaksa seseorang, hanya menasihatkan, dan manusia sendiri yang menentukan pilihannya. Sejauh mana seseorang mentaati bisikan hati nuraninya, ia akan merasakan apakah ia benar atau dipersalahkan. Hati nurani seseorang membuat dia bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatannya.

    C. Tanggung jawab manusia berkenaan dengan kekekalan yang menjadi kodratnya.

    Manusia itu kekal. Manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah. Ada dua rupa Allah di dalam manusia: manusia yang suci dan manusia yang pribadi. Tetapi kesucian manusia hilang ketika ia jatuh ke dalam dosa. Pada waktu ia mati secara rohani ia telah bercerai dari Allah. Kematian rohani adalah perceraian roh manusia dari Allah (1Timotius 5:6; Yakobus 5:20). Gambar Allah di dalam manusia (kesucian-Nya) sudah hilang oleh sebab dosa. Tetapi rupa Allah, yaitu dalam hal manusia adalah satu pribadi, tidak hilang. Sungguhpun manusia jatuh ke dalam dosa ia masih tinggal suatu pribadi. Kesucian manusia dapat hilang, tetapi pribadi manusia tidak dapat hilang atau rusak. Manusia itu kekal, yaitu pribadinya yang kekal.

    "Roh manusia sesungguhnya merupakan pribadi manusia, dan roh manusia yang menurut teladan Allah akan hidup sampai selama-lamanya. Pribadi manusia tidak akan berhenti. Roh manusia tidak lain adalah pribadi manusia yang akan tetap selama-lamanya meskipun tubuh manusia telah mati." (Wm. N. Clarke).

    Oleh sebab itu manusia mempunyai tanggung jawab yang penting, sebab ia akan hidup selama-lamanya baik dalam kehidupan kekal atau dalam kebinasaan kekal. Jadi manusia wajib menerima hidup kekal dari Anak Allah itu (Roma 6:23). Tuhan Allah mau mengaruniakan kepada kita kuasa Roh-Nya supaya kita dapat melakukan kehendak Allah (Roma 8:4). Inilah yang membawa tanggung jawab besar kepada kita, dan kita patut bertanya kepada diri kita sendiri, "Sudahkah saya menerima kuasa Roh Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya?"

    19. ASAS PENGAJARAN TENTANG DOSA


    I. ASAL MULA DAN BUKTI DOSA

    A. Asal mula dosa tidak begitu nyata

    Dosa tidak berasal dari Allah. Allah itu kudus, dan Allah tidak dapat dicobai (Yakobus 1:13). Sebetulnya asal mula dosa tidak begitu nyata. Hanya di dalam Alkitab terdapat sedikit keterangan mengenai asal mula dosa itu. Mungkin di dalam Yohanes 9:3 Tuhan Yesus memberikan sedikit keterangan atas pertanyaan, "Mengapa Tuhan Allah membiarkan dosa masuk ke dunia", "Bukan dia (berbuat dosa) dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia". Dalam 2Tesalonika 2:7 dikatakan bahwa kedurhakaan itu bekerjanya secara rahasia, juga di dalam Wahyu 17:5; mengenai asal mula dosa memang membingungkan banyak orang.

    "Beberapa orang yang tidak percaya telah menyalahkan Alkitab oleh sebab dosa dan kesusahan dalam dunia. Akan tetapi Alkitab tidak mengadakan tentang dosa, melainkan Alkitab memberikan bukti bahwa dosa sudah ada di dalam dunia. Jikalau Alkitab tidak ada maka persoalan dosa akan lebih membingungkan manusia. Sebetulnya kalau tidak ada Alkitab maka asal mula dosa tidak dapat diduga dan tidak dapat diterangkan. Manusia tidak boleh menyalahkan Allah dalam hal Ia telah membiarkan dosa masuk ke dalam dunia ini. Pengertian kita tidak akan menjadi lebih jelas kalau kita menolak Alkitab yang menerangkan bagaimana dosa telah masuk dunia ini." (Leander S. Keyser).

    B. Asal mula dosa adalah dari si Iblis

    Alkitab menerangkan bahwa dosa asalnya dari suatu makhluk yang mempunyai kehendak bebas, yaitu si Iblis. Pada mulanya Iblis adalah seorang malaikat terang yang agung dan suci. Iblis telah memberontak serta mendurhaka kepada Allah, tetapi sebabnya kita tidak tahu. Hanya ada sedikit keterangan dalam Alkitab mengenai sebabnya dosa dalam diri si Iblis, yaitu kesombongan. Dosa berasal dari kehendak Iblis. Tuhan Allah telah menjadikan malaikat-malaikat dengan kehendak yang bebas, dan hal itu akan menjadi baik asal dipimpin dengan baik. Jadi rupanya dosa mulai ada ketika Iblis mendurhaka kepada Allah.

    Dalam Yesaya 14:12-17 diterangkan bahwa Bintang Timur, putera Fajar, telah jatuh dari langit karena mendurhaka kepada Allah. Perhatikan perkataan "Aku hendak" yang diulangi lima kali, dan akhirnya "Aku hendak menyamai Yang Mahatinggi!" (ayat Yesaya 14:14). Bandingkanlah hal itu dengan 2Tesalonika 2:4 di mana Antikristus, wakil Iblis, akan mengaku dirinya sebagai Allah. Juga dalam pasal Yehezkiel 28:1-26, di mana Nabi Yehezkiel menangisi atau meratapi Raja Soer itu, terdapat sedikit keterangan bahwa Iblis telah jatuh dari sebab kesombongannya (ayat Yehezkiel 28:17).

    "Menurut penafsiran Alkitab secara umum, makhluk pertama yang dianugerahi kehendak bebas adalah malaikat-malaikat. Dan dengan demikian, maka asal mulanya dosa dalam alam ini disebabkan makhluk yang bebas kehendaknya, sebab kalau tidak, dosa tidak menjadi dosa, hanya suatu kesalahan atau nasib. Rupanya beberapa malaikat telah mulai iri terhadap kuasa Allah, dan tidak melawan iri hati itu, lalu mendurhaka kepada Allah. Itulah asal mula jatuhnya beberapa malaikat ke dalam dosa. Dosa mengubah mereka sehingga mereka menjadi setan dan roh-roh jahat. Yang menjadi penghulunya adalah Iblis, yang paling mendurhaka kepada Allah." Leander S. Keyser.

    Jadi, rupanya dosa telah timbul di dalam Bintang Timur itu ketika kehendaknya menyimpang pada jalan yang salah, yaitu melawan Allah. Pada waktu beberapa malaikat berdosa, tidak semua malaikat ikut berdosa. Keadaan ini tidak sama dengan dosa Adam yang mendatangkan dosa ke atas segenap manusia.

    C. Asal mulanya dosa di dalam manusia

    Semua orang dilahirkan di dalam dosa, yaitu mereka mempunyai sifat dosa. Semua orang telah berdosa. "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak" (Roma 3:10). Bagaimana hal ini terjadi? Alkitab memberikan jawaban atas persoalan itu. Dalam pasal Kejadian 3:1-24 diterangkan bagaimana dosa telah masuk ke dalam hati manusia. Dosa itu masuk karena empat hal:

    1. karena tertipu, 1Timotius 2:14 (TKB; FAYH; BIS)
    2. karena melanggar hukum Allah, Roma 5:19
    3. karena mendengar bujukan si ular, Kejadian 3:1-6 dan
    4. karena Iblis menggoda dan merusak, Wahyu 12:9 Sejak Iblis mendurhaka ia meneruskan niatnya yang jahat itu sampai sebatas yang diizinkan Allah. Oleh sebab itu kita tidak heran mendapati dia di dalam Taman Eden karena ia berusaha untuk menjatuhkan manusia. Nyata kepada kita bahwa dalam hal ini jatuhnya Bintang Timur ke dalam dosa sama dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa, keduanya jatuh melalui kebebasan kehendak mereka sendiri, mereka salah memilih melawan hukum Allah yang mereka ketahui.

    D. Dosa memang ada

    Dosa memang ada di dalam dunia; ini merupakan kenyataan dan sangat hebat. Hanya ada tiga bukti yang akan kita perhatikan:

    1. Alkitab menerangkan dengan jelas sekali bahwa dosa memang ada. Banyak ayat yang membuktikan hal itu tetapi kami hanya menyebutkan tiga: Yohanes 1:29; Roma 3:23; Galatia 3:22.

  • Kesaksian manusia. Kesaksian manusia atas bukti dosa:
    1. telah dimasukkan dalam undang-undang negara-negara,
    2. telah diakui di dalam tiap-tiap agama, meskipun dalam agama yang salah.
    3. telah diakui oleh ahli-ahli filsafat dari berbagai negara.
  • Kesaksian dari hati nurani manusia. Hati nurani manusia menyaksikan adanya dosa. Tiap-tiap orang tahu bahwa ia berdosa. Tidak ada seorang dewasa yang tidak menyadari bahwa dirinya berdosa. Hati nurani telah menempelak semua anak-anak Adam. Akibat dosa yang hebat telah nyata dalam tubuh dan pikiran manusia, dan dalam hal semua manusia telah terjerumus ke dalam dosa.
  • E. Beberapa persoalan tentang dosa

    Jikalau dosa tidak dibiarkan dalam dunia ini bagaimanakah manusia dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah? Sebab ada dosa, manusia di dalam dunia ini dapat menyatakan kesetiaannya kepada Allah dan keberaniannya untuk melawan dosa itu. Ini bukan berarti bahwa dosa adalah suatu hal yang baik, melainkan hal yang jahat yang dipakai oleh Allah untuk menguji manusia; dan manusia perlu diuji supaya ia dapat menunjukkan kasihnya kepada Allah. Seandainya saudara memiliki sebuah alat listrik yang dapat diputar sehingga segala dosa dan kesusahan dan penyakit dalam dunia ini dilenyapkan, apakah yang akan saudara perbuat, apakah saudara akan memutar alat itu atau tidak? Kalau saya, saya tidak akan memutar alat itu sebab Allah tidak memutarnya. Dosa ialah mendurhakai Allah, tetapi dosa yang terbesar ialah tidak percaya (menolak) Yesus Kristus.

    Perhatikan bahwa manusia memiliki kuasa untuk menentukan kehendaknya, yaitu kuasa untuk memilih yang baik atau yang jahat. Hal ini nyata pada waktu Tuhan Yesus memanggil orang-orang yang menangkap ikan, memanggil Zakheus, perempuan Samaria, orang muda yang kaya, orang-orang Farisi dll. Didalam membawa jiwa kepada Tuhan Yesus, sebaiknya kita mengemukakan kepada orang itu kenyataan bahwa ia berdosa, lalu tunjukkan kepadanya keselamatan dari dosa dalam Tuhan kita Yesus Kristus.

    II. KEADAAN DAN CARA BEKERJANYA DOSA

    A. Hal yang bukan dosa

    Dosa bukan kemalangan yang kebetulan terjadi. Alkitab menyatakan bahwa dosa telah terjadi oleh kehendak Adam, dan dosa itu ditanggungkan kepadanya (Roma 5:19). Hal ini terbukti bahwa Tuhan Allah telah menyediakan korban penebusan dosa sebelum dunia ini dijadikan (1Petrus 1:19,20).

    Dosa bukan suatu penyakit atau kelemahan yang oleh sebab hal itu manusia tidak disalahkan. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa manusia harus menanggung akibat karena dosanya. Kalau dosa itu hanya suatu penyakit, tentu manusia tidak boleh dihukum karena dosa itu. Firman Tuhan menanggungkan kesalahan orang-orang berdosa ke atas diri mereka sendiri (Yehezkiel 18:4).

    Dosa bukan sesuatu yang diada-adakan. Dosa bukan hanya berarti tidak ada kebenaran. Dosa adalah perlawanan atau kedurhakaan yang pasti terhadap Allah (Mazmur 51:6). Dosa bukan suatu kemajuan dalam hal tahu yang baik dan yang jahat seperti yang dikatakan oleh si ular.

    Dosa bukan suatu hal yang harus dilakukan oleh seseorang karena ia tidak dapat menolaknya. Alkitab menerangkan kepada kita bahwa darah Yesus Kristus dapat menyucikan kita dari segala dosa (1Yohanes 1:7). Tuhan Allah telah menyediakan jalan dalam Injil itu supaya manusia dapat memilih yang benar dan dapat melepaskan dirinya dari dosa. Kuasa Allah yang menyertai kita akan menolong kita untuk memilih Yesus Kristus yang dapat mengalahkan dosa di dalam kita.

    B. Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Lama mengenai dosa

    Di dalam Imamat 16:21 terdapat tiga perkataan untuk dosa, yaitu dosa, pelanggaran dan kesalahan.

    1. Dosa. Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti "tidak kena" atau "tidak sampai". Ini dapat dihubungkan dengan anak panah yang "tidak kena" sasarannya. Dosa dalam perkataan ini berarti tidak kena, tidak sampai, atau menyimpang dari tujuan dan maksud Allah. Dalam perkataan ini termasuk bukan saja perbuatan-perbuatan dosa, tetapi juga keadaan hati dan maksud hati yang berdosa. Lihat Kejadian 4:7; Keluaran 9:27; Bilangan 6:11; Mazmur 51:4,6; Amsal 8:36.

  • Durhaka (TKB), pelanggaran/pemberontakan (LAI). Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti melawan yang berhak, yaitu melawan perintah Allah, dan melakukan bidat, Mazmur 51:3; Amsal 28:2.
  • Kejahatan (TKB), kesalahan/kedurjanaan (LAI). Perkataan ini dalam bahasa Ibrani berarti "bengkok" atau "diputar". Ini berarti hati yang bengkok, yang diputar dari yang benar. Perkataan ini tidak terlalu mengenai perbuatan jahat, melainkan berkenaan dengan hati dan tabiat yang jahat (Kejadian 15:16; Mazmur 32:5; Yesaya 5:18). Ada juga beberapa perkataan yang lain untuk dosa, seperti: pendurhakaan, kejahatan, pelanggaran karena ketidaktahuan, penyimpangan, kebencian, kenakalan, dll. Kejadian 41:9; Imamat 4:13; Yehezkiel 34:6; Mazmur 119:21; Imamat 19:17; Mazmur 94:20.
  • C. Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Baru untuk dosa

    1. Dosa (harmatia). Mengherankan bahwa perkataan yang paling umum untuk dosa dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru berarti "tidak mengenai sasaran". Perkataan ini ditulis 174 kali, 71 kali ada di dalam surat-surat Rasul Paulus. Perkataan ini bukan hanya mengenai perbuatan dosa, melainkan juga keadaan hati dan pikiran yang jahat. Perkataan ini berarti manusia ada dalam keadaan ditipu, Roma 3:23.

  • Pelanggaran (parabasis). Perkataan ini berarti menyimpang dari yang seharusnya. Perkataan ini selalu dipakai dalam hal pelanggaran terhadap hukum yang pasti, Roma 4:15. Hukum-hukum Allah menuntut supaya manusia mentaatinya, dan bilamana manusia tidak mau mentaatinya, berarti ia adalah pelanggar hukum dan berdosa, dan murka Allah akan jatuh ke atas dia, Roma 4:15.
  • Kejahatan (adikia). Perkataan ini sama artinya dengan perkataan yang diterangkan pada no.3 dalam daftar Perkataan-perkataan dalam Perjanjian Lama. Dalam 1Yohanes 1:9 diterjemahkan "kejahatan", juga dalam 1Yohanes 5:17 diterjemahkan "kejahatan". Perkataan ini menunjukkan suatu keadaan hati dan pikiran. Oleh sebab itu Yohanes berkata bahwa dosa-dosa kita diampuni dan kita dan kita disucikan dari kejahatan.
  • Durhaka (anomia). Kata ini dapat kita jumpai di dalam Alkitab terjemahan Bode (TKB). Perkataan ini juga terdapat dalam 1Yohanes 3:4 (TKB). Perkataan ini bukan berarti melanggar hukum dalam suatu perbuatan yang pasti, melainkan dalam hal tidak menuruti atau tidak memperdulikan hukum itu. Ini menerangkan tentang keadaan hati.
  • Kefasikan (asebeia). Ini berarti keadaan fasik, yaitu tidak ber-Tuhan. Kata ini mengandung arti bahwa tabiatnya berlawanan dengan tabiat Allah, Roma 1:18; Yudas 1:14,15.
  • Kesalahan (paraptoma). Perkataan ini berarti, "tidak berdiri teguh pada saat harus teguh", "tidak sampai kepada yang seharusnya," Matius 6:14,15; Galatia 6:1 (TKB); Yakobus 5:16 (TKB). Dari keterangan-keterangan di atas nyata bahwa dosa ialah perbuatan-perbuatan yang pasti dan juga suatu keadaan hati. Ada dosa yang disebabkan tidak melakukan yang patut dilakukan, dan ada dosa yang dilakukan dengan pasti seperti melanggar hukum. Oleh sebab itu kita memerlukan korban pendamaian Yesus Kristus bagi keadaan kita dan karena perbuatan-perbuatan kita.
  • Dalam Perjanjian Baru ada banyak kata lain yang di pakai untuk menyatakan dosa, misalnya: kefasikan, kelaliman, keinginan jahat, kecemaran, loba, dendam, kedengkian, pembunuhan, perkelahian, tipu daya, khianat, penghasut, pengumpat, kebencian, kemabukan, takabur, hawa nafsu, zinah, cemburu, menyembah berhala, percederaan, dan lain-lain.

    D. Keterangan Alkitab tentang dosa

    1. Roh Kudus menginsyafkan dunia "akan dosa karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku" (Yohanes 16:8,9). Menolak Yesus Kristus adalah dosa yang terbesar.

  • "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa" (Yakobus 4:17). Tidak melakukan apa yang patut dilakukan adalah dosa.
  • "Dosa ialah pelanggaran hukum Allah" (1Yohanes 3:4). Ini adalah dosa yang pasti dilakukan.
  • "Semua kejahatan adalah dosa" (1Yohanes 5:17). Dalam hal ini termasuk perbuatan dosa dan keadaan hati yang berdosa.
  • "Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa" (Roma 14:23). Kurang beriman adalah dosa. Berdasarkan keterangan itu, maka tiap-tiap orang berdosa telah melanggar Firman Tuhan. Bacalah ayat-ayat tentang dosa yang berikut dalam Amsal 21:4; 24:9.
  • E. Keterangan asas pengajaran Kristen mengenai dosa

    1. "Dosa ialah tidak mentaati atau melanggar hukum Allah" (Westminster Catechism).

  • "Dosa ialah tidak mentaati hukum Allah, dalam hal perbuatan, pikiran, atau keadaan" (Dr. A.H. Strong).
  • F. Pertanyaan-pertanyaan mengenai dosa

    Apakah alat dosa yang terbesar? Pengkhotbah 5:5; Yakobus 3:1-12. Di manakah dosa bercokol di dalam diri manusia? Amsal 4:23; Yeremia 17:9; Matius 5:28. Hati manusia adalah tempat bercokolnya dosa, tetapi tiap-tiap perbuatan dosa adalah pekerjaan kehendak manusia. Seorang pun tidak ada yang dapat mengatakan bahwa ia telah mentaati sebagian besar hukum-hukum Allah, oleh sebab itu ia patut dimaafkan bila melanggar yang lainnya; orang itu tetap bersalah terhadap seluruhnya, Yakobus 2:10.

    III. AKIBAT DOSA

    A. Akibat dosa di dalam sorga dan di udara

    Dosa dan jatuhnya Iblis serta malaikatnya ke dalam dosa telah membawa beberapa akibat di dalam sorga dan di udara. Oleh sebab dosa maka sorga perlu disucikan, dan hal itu digenapkan di dalam darah Kristus (Ibrani 9:23,24). Yesus Kristus sendiri telah masuk ke dalam sorga yang benar. Rupanya di situlah tempat Iblis dahulu mendurhaka, dan dari situ pula Iblis telah dicampakkan. Sejak saat itu tempat bergerak Iblis adalah di udara, yaitu di bawah sorga. Iblis dan setannya menguasai udara dan dari situ mereka menyerang semua saleh Tuhan (Efesus 1:3; 2:6; 6:11,12). Akan datang kelak suatu hari bilamana Iblis dan para setannya akan dilemparkan ke bumi dan sejak saat itu ia hanya akan bergerak di bumi ini saja (Wahyu 12:7-12). Hal ini akan terjadi pada waktu Antikristus memerintah serta menipu dunia ini.

    B. Akibat dosa di dalam dunia ini

    Dosa dan jatuhnya Adam dan Hawa telah mendatangkan akibat-akibat di dalam dunia ini. Tanah dikutuk oleh sebab dosa manusia (Kejadian 3:17,18). Selama Kerajaan Tuhan seribu tahun nanti, kutuk ini akan dicabut (Yesaya 55:13). Dosa manusia membawa akibat pada dunia binatang. Ular juga dikutuk. Sejak terjadi air bah, hubungan manusia dan binatang menjadi hubungan ketakutan, binatang menjadi takut kepada manusia (Kejadian 9:2). Hal itu berlainan sekali dengan keadaan dalam Taman Eden sebelum manusia berdosa. Akibat dosa binatang-binatang menjadi liar. Hal ini jelas karena nanti pada masa Kerajaan seribu Tahun, binatang-binatang tidak menjadi liar lagi (Yesaya 11:6-9). Sebenarnya oleh sebab dosa dan jatuhnya manusia maka "segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin ... sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita" (Roma 8:19-23). Di dalam ayat-ayat Rasul Paulus telah menyatakan hubungan yang erat antara manusia dan binatang. Dosa manusia telah membawa binatang ke dalam "perhambaan kebinasaan", tetapi penebusan yang sempurna bagi manusia akan membawa kelepasan kepada binatang juga (ayat Roma 8:21). Pada masa Kerajaan Tuhan seribu tahun nanti segenap bumi dan isinya akan diperbaiki. Pada waktu itu Iblis akan dibelenggu. Terlebih lagi, bila tiba masanya langit baru dan bumi baru, maka segala sesuatu akan disempurnakan dan tidak akan ada dosa lagi, dan Iblis dan setan-setannya dilemparkan ke dalam lautan api. Pada waktu itu tidak akan ada lagi air mata, perkabungan, ratap tangis, dukacita dan maut sekalipun (Wahyu 21:1-5).

    C. Akibat dosa bagi segenap manusia

    Sebelum Adam jatuh ke dalam dosa ia mempunyai hubungan yang sempurna dengan Allah. Setelah ia berdosa maka hubungannya dengan Allah putus; ia sudah melanggar hukum Allah; dan hubungannya dengan sesama manusia menjadi kacau. Dosa adalah mendurhaka kepada Allah (1Samuel 15:23) atau tidak mengasihi Allah dengan segenap hati (Ulangan 6:5; Markus 12:30). Adam sudah bersalah dalam kedua hal itu. Dosa juga berarti melanggar hukum Allah dengan sengaja (Bilangan 15:30; Mazmur 19:13), atau melanggar hukum itu sebab tidak mengetahuinya (Bilangan 15:27; Ibrani 9:7). Adam tidak dapat mengatakan bahwa ia tidak tahu hukum Allah, dan meskipun ia tidak mengetahuinya, ia tidak dapat berdalih. Dosa Adam adalah sengaja melanggar hukum Allah yang pasti, yang sudah diketahuinya. Dosa adalah juga kesalahan kepada sesama manusia (Imamat 19:18; Markus 12:31). Dosa merusak hubungan antara sesama manusia, oleh sebab itulah anak sulung Adam dan Hawa tidak mengasihi adiknya seperti ia mengasihi dirinya sendiri, ia telah membenci serta membunuh adiknya. Nyata benar bahwa manusia sudah mutlak jatuh ke dalam dosa. Dosa sudah menguasai segenap diri manusia - baik roh, jiwa, maupun badan.

    1. Roh manusia telah kehilangan hubungannya dengan Allah. Manusia telah jauh dari hidup persekutuan dengan Allah (Efesus 4:18). Sekarang manusia tidak tahu tentang perkara-perkara Allah sebab manusia hanya berada di tingkat jasmani (1Korintus 2:14). Manusia harus dilahirkan kembali agar dapat melihat Kerajaan Allah (Yohanes 3:3).

  • Jiwa manusia telah dicemarkan. Pengertiannya menjadi gelap sebab dosa. Hatinya penipu (Yeremia 17:9). Pikiran hati manusia adalah jahat (Kejadian 6:5,12; 8:21; Mazmur 94:11; Roma 7:18).
  • Tubuh manusia menjadi fana dan takluk pada kematian (Roma 8:11).
  • Dengan demikian jelas bahwa oleh sebab dosa dan oleh sebab melawan Allah, roh manusia telah dipisahkan dari Allah, pikirannya menjadi gelap dan bodoh, tubuhnya bisa diserang penyakit serta takluk pada kematian. Manusia tidak dapat menolong dirinya sendiri dan tidak berpengharapan sebab ia berdosa. Manusia telah TERHILANG!

    Dosa ditanggungkan ke atas manusia. Tuhan telah menanggungkan dosa ke atas manusia. Hal ini patut dibedakan dengan hukuman dosa. Tanggungan dosa artinya manusia insaf bahwa dirinya harus menanggung dosanya dan patut dihukum. Hukuman dosa yaitu hukuman yang datang sesudah dosa dilakukan, baik hukuman yang memang mengikuti dosa itu ataupun hukuman yang pasti dari Allah atas dosa itu.

    Alkitab menyatakan bahwa orang berdosa adalah hamba dosa (Roma 6:17; 7:5,14), dalam keadaan mati (Efesus 2:1). Bagaimana dosa telah mengubah tingkah laku manusia dan Allah? (Lihat Galatia 3:10; Efesus 2:3). Siapakah yang lebih dahulu berusaha untuk mengadakan penebusan itu? (Lihat 2Korintus 5:18-21). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, maka pusat kehidupannya bukan lagi Allah, melainkan diri sendiri. Boleh jadi itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus menuntut supaya kita menyangkal diri serta mengangkat salib dan mengikut Dia (Matius 16:24).

    "Keadaan berdosa lebih ditujukan kepada oknum yang berdosa itu, bukan kepada perbuatan dosanya. Keadaan berdosa tidak menyatakan perbuatan orang berdosa melainkan menyatakan tingkah laku batinnya. Perbuatan dosa merupakan akibat dari keadaan berdosa di dalam batin; perbuatan dosa berasal dari perangai yang dinajiskan oleh dosa. Perangai yang dinajiskan oleh dosa lebih jahat daripada perbuatan dosa. Begitulah dosa dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Bilamana hati nurani dilawan dengan melanggar kehendak Allah, maka pikiran orang itu digelapkan dan kehendaknya dilemahkan ... Pada permulaannya seseorang bertobat oleh sebab kelakuan-kelakuannya, tetapi sesudah ia bertumbuh ia akan bertobat oleh sebab keadaan hatinya atau keadaannya yang berdosa. Mula-mula ia berpikir bahwa ia harus memperbaiki banyak hal, tetapi bilamana ia telah sungguh-sungguh menginsafi dirinya sendiri, barulah ia merasakan bahwa dirinya perlu dilahirkan kembali." (James Denney).

    Dosa mendatangkan kematian - kematian tubuh, jiwa dan roh. Kematian roh membuka jalan bagi penyembahan berhala, kesombongan, hawa nafsu, dan segala kefasikan. Kematian kekal ialah kematian roh yang sudah ditentukan untuk selama-lamanya, dan ia keadaan berdosa serta tidak percaya yang kekal. "Alkitab mengajarkan bahwa kematian yaitu hukuman yang kekal untuk roh; roh kehilangan segala sukacita dan diceraikan dari Allah, dan akan mendapat hukuman Allah yang pasti atas dosa-dosanya oleh karena murka-Nya. "Dosa adalah keadaan durhaka", yang dimaksudkan ialah perbuatan dosa. "Upah dosa ialah maut, maksudnya adalah hukuman untuk dosa." (Watson).

    D. Hukuman Dosa

    Hukuman dosa tidak lain daripada tindakan Allah terhadap dosa, karena kesucian-Nya. Hukuman ialah kesusahan atau kesakitan yang diberikan oleh yang memberi hukuman kepada orang yang telah melanggar hukum itu. Maksud yang terutama dari hukuman dari dosa bukan untuk memperbaiki orang yang dihukum, dan bukan untuk menakut-nakuti orang-orang supaya jangan berbuat dosa, melainkan supaya kesucian Allah dibenarkan.

    E. Hukuman dosa bukan hanya akibat langsung dari perbuatan dosa itu

    Hukuman yang merupakan akibat langsung bagi orang berdosa berarti hukuman yang menimpa tubuh, jiwa, dan roh orang berdosa pada waktu sekarang. Umpamanya, seorang bapa telah melarang anaknya memanjat pohon untuk mencegah agar anaknya tidak jatuh. Tetapi anak itu tetap naik juga. Kemudian ia jatuh dan patah lengannya. Sesudah anak itu sembuh bapanya memberi hukuman kepadanya. Hukuman sebagai akibat langsung yaitu patah lengan, dan hukuman yang sudah ditentukan sebagai undang-undang ialah hukuman dari bapanya. "Hukuman yang langsung sebagai akibat dari perbuatan dosa merupakan sebagian dari hukuman dosa, tetapi bukan merupakan hukuman yang pasti. Di dalam tiap-tiap hukuman terdapat juga murka Allah ... Orang yang berpikir bahwa hanya ada hukuman langsung sebagai akibat dari perbuatan dosanya, maka orang itu lupa bahwa Allah berada dalam alam ini, dan Ia berkuasa atas segala-galanya; dan kalau seseorang jatuh dalam tangan Allah yang hidup (Ibrani 10:31), maka ia berarti jatuh ke dalam tangan Dia yang telah memberi hukum-hukum itu." (Farr).

    F. Hukuman dosa bukan berarti bahwa roh dan jiwa lenyap

    Semua roh manusia akan hidup selama-lamanya walaupun ia tidak mengenal Yesus Kristus. Itu berarti bukan hanya orang yang percaya kepada Kristus yang akan hidup selama-lamanya, dan orang yang tidak percaya akan lenyap, melainkan semuanya kekal. Perkataan yang diterjemahkan dengan arti "tidak binasa" ditulis enam kali di dalam Perjanjian Baru. Tiga kali perkataan itu berarti "tidak binasa" (Roma 2:7; 1Timotius 1:17 TKB; 2Timotius 1:10), dan tiga kali berarti "tidak ada kematian" (1Korintus 15:53,54; 1Timotius 6:16). Di dalam Perjanjian Baru bila perkataan "binasa" dipakai, hal itu bukan berarti benda atau orang itu dilenyapkan; hal itu dapat diartikan dengan "sudah rusak", atau lebih dalam berarti "tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semula". Misalnya, dalam Matius 9:17 terdapat perkataan "dan kirbat itu juga binasalah" (TKB; 'dan kantong itupun hancur' LAI). Itu bukan berarti kantong kulit itu dilenyapkan, melainkan tidak dapat di pakai lagi untuk maksud yang semula. Ini nyata juga dalam Matius 26:8 di mana kata yang sama dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan "pemborosan". Perkataan "binasa" dengan arti yang di sebut di atas dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menyatakan keadaan orang-orang yang menolak Yesus Kristus serta tidak bertobat, lihat Matius 7:13; Filipi 1:28; 1Timotius 6:9; Ibrani 10:39. Jelas bahwa hukuman dosa (kebinasaan) bukan berarti roh atau jiwa dilenyapkan, melainkan hidup selama-lamanya dalam keadaan binasa dan dihukum.

    G. Hukuman yang kekal dan pasti bagi orang berdosa

    Hukum yang pasti berarti hukuman akibat bagi orang berdosa, yaitu hukuman kekal yang diberikan oleh Tuhan. Hukuman itu dinyatakan dalam Alkitab dengan beberapa perkataan seperti berikut: "Bangkit untuk dihukum" Yohanes 5:28,29. "Murka dan geram; penderitaan dan kesesakan" Roma 2:8,9. "Lautan api "Wahyu 20:15. "Siksaan api kekal" Yudas 1:7. "Api yang kekal" Matius 25:41. "Lautan api yang menyala-nyala oleh api" Wahyu 19:20. "Kematian yang kedua" Wahyu 21:8. "Neraka" 2Petrus 2:4. "Kebinasaan selama-lamanya" 2Tesalonika 1:9. Semua perkataan diatas hanya satu artinya, yaitu hukuman bagi orang berdosa yang tidak bertobat. Akan tetapi hukuman yang kekal di dalam Alkitab sering disebut "Kematian" dan "Kebinasaan". Oleh sebab itu kalau kita dapat mengerti arti kedua perkataan itu (sebagaimana dipakai dalam Alkitab) tentu kita dapat mengerti hukuman kekal.

    1. Kematian

    Mengenai kematian sudah diterangkan dalam pasal sebelumnya. Kematian jasmani disebut dalam Yohanes 11:14; Kisah 2:24; Roma 8:38. Kematian Rohani disebut dalam Lukas 15:24; Yohanes 5:24; 8:51; Roma 8:13; Efesus 2:1; 1Timotius 5:6 dan Wahyu 3:1. Kematian kekal disebut dalam Matius 10:28; 25:41,46; 2Tesalonika 1:9; Wahyu 4:11.

    Kematian yang kekal mempunyai arti lebih daripada tinggal tetap selama-lamanya dalam keadaan mati rohani. Kematian kekal juga disebut "Kematian yang kedua" Wahyu 2:11; 20:6,14,15; 21:8. Dalam Wahyu 20:10 disebutkan suatu "lautan api" yaitu tempat di mana orang-orang disiksa siang malam tak ada hentinya, sebab ketika Iblis dilemparkan ke tempat itu, "binatang dan nabi palsu" itu sudah ada di sana seribu tahun lamanya, disiksa siang malam. Oleh sebab itu kematian yang kedua adalah suatu tempat siksaan yang tidak ada akhirnya; tempat itu adalah tempat siksaan yang nyata dan dapat dirasakan. "Dalam Alkitab dijelaskan bahwa kehidupan itu yang dimaksud bukan hanya bergerak secara jasmani saja, melainkan hidup didalam kebenaran dengan mengenal Allah, yaitu hidup beserta Kristus. Jadi, kematian itu bukan suatu keadaan tidak ada, dihapuskan atau dilenyapkan, melainkan berada dalam keadaan yang salah, keji, hina dan mengikuti Iblis." -Dr. Torrey (Lihat Wahyu 21:8).

    2. Kebinasaan

    Sudah diterangkan bahwa "binasa" berarti "rusak" yaitu tidak dapat dipakai lagi untuk maksud yang semestinya (Matius 9:17; 26:8). Akan tetapi "kebinasaan" juga dipakai dalam Alkitab untuk menerangkan hukuman yang pasti bagi orang yang berdosa. Kalau kita menyelidiki dan membandingkan Wahyu 17:8,11; 2Petrus 3:16; Filipi 3:19; 2Petrus 3:7 dengan Wahyu 19:20 dan Wahyu 20:10, maka nyata kepada kita bahwa "kebinasaan" berarti keadaan makhluk-makhluk yang disiksa dengan tidak ada akhirnya, dan keadaan itu diinsafi oleh orang yang disiksa. Telah dijelaskan dalam Wahyu 14:10,11; Matius 25:41; 2Tesalonika 1:9,10 bahwa siksaan itu tidak berhenti siang dan malam, sampai selama-lamanya. Perhatikanlah cerita tentang orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31). Banyak orang menganggap cerita ini sebagai perumpamaan, tetapi Tuhan Yesus tidak menyebut perumpamaan dalam cerita itu. Rupanya hal-hal berikut ini merupakan keadaan yang akan terjadi. Perhatikanlah bahwa orang kaya itu:

    1. masih dapat mengingat (Lukas 16:25),
    2. ia menyesal (Lukas 16:24),
    3. ia disiksa (Lukas 16:24),
    4. ia masih mempunyai perasaan sayang terhadap saudara-saudaranya (Lukas 16:28),
    5. ia dapat melihat Lazarus yang senang (Lukas 16:25),
    6. ia memohon kasihan dan kelepasan (Lukas 16:25 dan Lukas 16:26),
    7. ada jurang yang tak terseberangi antara saleh-saleh Tuhan dan orang-orang jahat (Lukas 16:26). Jelaslah bahwa siksaan bagi orang-orang yang tidak bertobat dan tidak percaya akan Tuhan Yesus Kristus adalah siksaan yang tidak ada akhirnya. Siksaan itu dahsyat sekali.

    H. Di manakah orang-orang akan tinggal sepanjang masa kekekalannya ?

    Jawaban untuk pertanyaan itu ada di dalam kehendak pribadi masing-masing. Satu hal yang nyata dari Alkitab ialah persoalan itu harus dipastikan dalam kehidupan sekarang ini. Lihat Lukas 16:26; Yohanes 5:28,29; 8:21,24; Ibrani 9:27.

    I. Ringkasan tentang hukuman yang kekal

    Akibat orang berdosa yaitu siksaan yang kekal. Siksa itu dinyatakan dengan perkataan-perkataan "murka", "geram", "siksaan" dan "hukuman kebinasaan" dalam ayat-ayat yang berikut: Roma 2:8,9; Yudas 1:7; 2Tesalonika 1:9.

    Hukuman dan siksaan itu kekal. Dalam Alkitab perkataan "selama-lamanya" sering dipakai. "Perkataan itu dipakai dalam menyatakan kehidupan Kristus (Yoh 12:34); Roh Kudus yang tetap tinggal di antara kaum-Nya (Yohanes 14:16); pekerjaan Imam Kristus (Ibrani 7:1-28); Firman Allah (1Pet 1:23); kebenaran orang percaya (2Kor 9:9). Perkataan itu juga dipakai untuk menyatakan akibat orang-orang berdosa (Yudas 1:13; 2Petrus 2:17). Dalam ayat-ayat itu tidak disebutkan bahwa ada suatu tempat yang menunjukkan bahwa keadaan di situ tidak sampai "selama-lamanya" (F.W. Grant).

    J. Tempat hukuman yang kekal

    Tempat hukuman yang kekal ialah neraka, (Markus 9:43-48). Api neraka disediakan khusus untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya (Matius 25:41). Api itu adalah api yang sungguh-sungguh, lihat Matius 7:19; Yohanes 15:6; Yes 66:24; Ibrani 6:8; 10:26,27; Wahyu 20:15; 21:8; Mat 13:30,41,42. Tuhan Allah merindukan supaya semua manusia diselamatkan, dan hal itu dibuktikan tatkala Ia mengutus Anak-Nya ke Golgota. Tuhan tidak mau seorang pun binasa (2Petrus 3:9), dan Tuhan telah menyediakan tebusan supaya jangan ada manusia yang binasa. Akan tetapi kalau manusia sengaja mengikuti Iblis tak dapat tidak ia akan menuju ke tempat yang disediakan untuk Iblis itu.

    Rupanya ada perbedaan tingkat hukuman dalam tempat itu (Luk 12:47,48; Roma 2:2-16). Tetapi ayat-ayat ini bukan berarti bahwa ada beberapa orang tidak akan dihukum, sebab semua orang telah berdosa dan melanggar terang yang ada padanya. Maksud kami dalam mengemukakan hal ini ialah untuk menerangkan bahwa hukum-hukum Allah adalah adil. Tiap-tiap orang dihukum sesuai dengan perbuatannya (Wahyu 20:12).

    Tempat hukuman yang kekal ialah di dalam lautan api, dan orang yang disiksa di dalamnya dapat merasakan dan menginsafi siksaan itu. Di dalam Lukas 16:19-31 dikatakan bahwa orang-orang jahat terus masuk ke tempat siksaan sesaat sesudah mati. Mereka itu akan dipanggil dan dibangkitkan dari tempat itu untuk menghadap takhta Allah (takhta putih yang besar) pada kebangkitan yang ke dua (Yohanes 5:28,29; Wahyu 20:11-15). Pengadilan itu bukan untuk orang yang percaya kepada Kristus, sebab mereka telah masuk dalam kebangkitan yang pertama (Wahyu 20:4; 1Tesalonika 4:14-17) dan mereka itu tidak akan kena hukuman lagi (Yohanes 5:24).

    Hukuman yang kekal itu dinamakan kematian yang kedua. Kematian yang pertama bukan berarti jiwa dan roh dihapuskan, dan begitu pula dalam kematian yang kedua (Wahyu 20:14; 21:8).

    K. Masih adakah kesempatan bagi orang-orang yang sudah mau mendengar tentang keselamatan Yesus Kristus?

    Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menawarkan hal itu. Dan semua orang telah memiliki terang yang cukup untuk dapat menghukumkan dia kalau terang itu tidak ditaatinya. Lihat Yohanes 14:6; Kisah 4:12; Roma 2:12-16.

    "Akibat yang akan diterima oleh orang-orang yang menolak keselamatan di dalam Yesus Kristus yang ditawarkan kepadanya yaitu siksaan yang dirasakan dan dialami tanpa ada akhirnya. Ini merupakan sesuatu yang dahsyat sekali, tetapi sesuai dengan isi Alkitab. Betapa hebatnya dosa menolak rahmat Allah yang telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi Juruselamat kita. Orang yang tidak menginsyafi akan hebatnya dosa, dan tidak mengerti tentang kesucian Allah atau kemuliaan Kristus, serta apa yang dituntut oleh Kristus dari manusia, orang itu lebih suka memegang ajaran yang melemahkan hukuman atas orang yang tidak bertobat. Bila kita tahu betapa dahsyatnya dosa, dan tahu akan kesucian Allah yang sempurna, serta kemuliaan Yesus Kristus, tentu hati kita akan menuntut hukuman yang kekal bagi orang yang menolak Kristus, yang mengasihi dosa dan memilih dosa, dan yang lebih menyukai kegelapan daripada terang. " Dr. R.A. Torrey.

    Berhubung dengan asa ini, bagaimanakah saudara-saudara kita yang tidak bertobat dan yang menolak Kristus? Dr. R.A. Torrey menjawab, "Lebih baik kita mengakui hal-hal yang sungguh-sungguh nyata. Lebih baik kita berusaha menyelamatkan saudara-saudara kita dari bahaya dan tidak berbantah-bantah tentang hal-hal yang sungguh-sungguh nyata. Ketidakpercayaan kita bahwa topan akan datang tidak dapat mencegah datangnya topan itu. Kalau kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, serta insaf akan kemuliaan-Nya dan apa yang dituntut oleh Tuhan dari manusia, tentu kita akan berkata bahwa orang-orang yang menolak dan menghina Kristus patut disiksa sampai selama-lamanya, walaupun orang itu saudara kita.

    "Misalnya seorang yang sangat kita kasihi melakukan kesalahan yang besar kepada seorang lain yang lebih kita kasihi, dan ia tetap berada di dalam kesalahannya, tentu kita akan menghendaki bahwa orang itu patut dihukum selama-lamanya.

    "Walaupun manusia telah berdosa, tetapi Tuhan memberikan rahmat-Nya dengan mengorbankan Anak-Nya sendiri supaya dapat menyelamatkan manusia. Jadi, kalau manusia tetap menolak rahmat-Nya serta menghina Anak Allah itu dan ia disiksa selama-lamanya, tentu kita harus mengaminkannya serta mengatakan, 'Benar dan adil hukuman-Mu, ya Allah!'

    "Bagaimanapun juga sudah nyata di dalam Alkitab bahwa orang-orang yang tidak bertobat serta menolak Kristus akan disiksa selama-lamanya. Senang atau tidak senang, kita harus percaya akan hal ini dan menunggu sampai kita tiba di sorga, dan di sanalah kelak kita dapat mengetahui apa sebabnya Tuhan mengatur demikian. Dalam hal ini tentu Tuhan mempunyai maksud yang berbudi. Walaupun kita tidak mengerti maksud itu. Manusia, yang paling berhikmat sekalipun, tidak dapat memerintah Tuhan dalam hal ini. Kita hanya dapat mengetahui hal-hal yang sudah dinyatakan Tuhan kepada kita. Sebagai kesimpulan ada dua hal yang jelas. Pertama: semakin dekat seseorang berjalan beserta Allah, dan semakin ia berserah kepada Tuhan dan pekerjaan-Nya, mereka akan semakin lebih mempercayai asas ini. Ada orang yang berkata, "Saya tidak dapat menerima asas itu sebab saya sangat mengasihi sesama manusia saya. ' Lebih baik orang itu menunjukkan kasihnya dengan menyerahkan dirinya bagi sesamanya manusia, seperti Yesus, agar jiwanya selamat, daripada menentang asas pelajaran ini, sebab kita sama sekali tidak dapat mengubah hal-hal yang sudah dipastikan Allah.

    "Orang Kristen yang duniawi tidak berpegang pada pengajaran tentang asas siksaan yang kekal. Banyak asas pengajaran yang salah mengenai hukuman yang kekal sudah diberitakan di dalam dunia, Lihat 1Timotius 4:1; 2Timotius 4:3. Kalau orang Kristen menolak kesucian, berarti ia juga menolak asas pengajaran yang benar. Jemaat yang duniawi, yang mengikuti kehendak dunia, juga tidak senang dengan asas pengajaran yang mengemukakan tentang hukuman yang kekal. Orang-orang yang berpegang pada asas yang salah mengenai hukuman dosa, akan segera kehilangan kuasa Allah. Boleh jadi orang itu pandai berkhotbah, tetapi satu hal yang jelas, ia tidak pandai menarik jiwa kepada Tuhan. Orang itu tidak dapat meminta kepada orang-orang lain untuk diperdamaikan dengan Allah. Orang semacam itu seringkali merusak iman orang yang sudah percaya kepada Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya bahwa akan ada hukuman yang kekal, dan kalau hal itu tertanam dalam hati kita, tentu kita akan sangat berusaha supaya orang-orang yang terhilang dapat diselamatkan. Dan kalau kita telah meringankan hal ini, berarti kita tidak lagi bernyala-nyala dengan kasih Tuhan. Kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada asas pengajaran yang diterangkan dalam Alkitab ini, tentu kita akan menyerahkan diri kepada Tuhan untuk dipakai bagi keselamatan orang-orang yang terhilang.

    "Janganlah menerima asas pengajaran ini secara akal saja. Sebab kalau saudara mencoba mengajarkan asas pengajaran ini dengan akal, maka saudara akan menjauhkan orang-orang dari Kristus. Tetapi kalau asas ini ditanamkan dalam hati yang penuh dengan kasih, sehingga hati kita terbeban untuk orang-orang berdosa, tentu tenaga kita, uang kita, dan segala yang ada pada kita akan kita pakai untuk keselamatan manusia, yaitu menyelamatkan mereka itu dari neraka, tempat siksaan yang pasti dialami dan dirasakan sampai selama-lamanya." (Dr. R.A. Torrey).

    Robert Murray Mc Cheyne, pengkhotbah yang termasyur di Skotlandia, selalu bersandar pada mimbar sambil menangis apabila ia berkhotbah tentang kebinasaan orang-orang yang tidak mau bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus. Itu merupakan teladan baik untuk tiap-tiap pengkhotbah.

    20. ASAS PENGAJARAN TENTANG KESELAMATAN

    Dalam pasal ini kita akan membahas asas pengajaran tentang keselamatan. Bagian-bagian yang akan diselidiki adalah mengenai: Kasih Karunia, pilihan dan takdir Allah, pertobatan, iman, kelahiran kembali, dibenarkan, diangkat sebagai anak, kesaksian Roh Kudus dan kesadaran akan keselamatan, dikuduskan, ayat-ayat peringatan, dan nasihat-nasihat bagi orang yang percaya, kesembuhan tubuh, ibadat orang Kristen, doa, pengucapan syukur dan puji-pujian kepada Allah, persepuluhan dan persembahan, dan kasih orang yang percaya.

    I. KASIH KARUNIA, PILIHAN DAN TAKDIR ALLAH

    Apakah kasih karunia Allah? Kasih karunia Allah ialah kasih Allah yang bekerja di dalam hati manusia. Kasih karunia Allah mempersiapkan kita dan membawa kita kepada pertobatan. Kasih karunia Allah sangat mempengaruhi kehidupan kita untuk menarik kita kepada Allah. Kasih karunia Allah itu disediakan bagi tiap-tiap orang di dunia ini. Kadang-kadang Tuhan harus berusaha di dalam diri seseorang, lebih daripada yang lain, untuk membawa dia kepada pertobatan. Melalui Roh Kudus Tuhan Allah menarik dan mengajak orang kepada Yesus Kristus dan pertobatan. Kemudian Tuhan Allah membawa orang itu kepada pilihan untuk memutuskan kehendaknya apakah ia mau bertobat dan menyambut Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Akan tetapi keputusan terakhir harus dari kehendak manusia. Demikian pula pilihan terakhir untuk menolak Kristus berasal dari diri manusia sendiri. Dan untuk kesalahan dalam memilih itu manusia harus bertanggung jawab dihadapan Allah. Jikalau hak untuk menentukan pilihan terakhir itu diambil dari manusia, maka kesalahan dan tanggung jawab juga diambil dari orang yang menolak Kristus.

    Berikut ini kami kutip beberapa ayat dari Alkitab: "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat dihadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya" (Efesus 1:4-7). Yaitu orang-orang yang dipilih sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu" (1Petrus 1:2).

    "Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Ku bangkitkan pada akhir zaman" (Yohanes 6:44). Roh Kuduslah yang mengerjakan dan menyatakan kasih karunia Allah. Seringkali Roh Kudus lama bekerja di dalam hati kita sebelum kita dilahirkan kembali. Ia mempersiapkan hati kita untuk pertobatan, dan itulah pekerjaan kasih karunia Allah. Pekerjaan Roh Kudus di dalam kita sama pentingnya dengan pekerjaan Kristus bagi kita di atas kayu salib. Tuhan Yesus telah menggenapkan pekerjaan keselamatan untuk kita dan sekarang Ia berada di Sorga mendoakan kita. Pekerjaan Roh Kudus ialah memimpin kita kepada Kristus. Roh Kudus bekerja melalui hati nurani seseorang, melalui Firman Tuhan dan melalui kesaksian para saleh yang mengetahui cara memakai Firman Tuhan dengan benar sehingga dapat menarik orang-orang kepada Yesus Kristus. Jadi dengan macam-macam cara Roh Kudus memanggil manusia.

    Panggilan itu adalah sebagai berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

    " 'Marilah!' Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!" (Wahyu 22:17).

    "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat" (2Petrus 3:9).

    "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Matius 11:28).

    "Marilah, baiklah kita berperkara! - Firman Tuhan - sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Yesaya 1:18).

    "Jawab mereka: Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu" (Kisah 16:31).

    Tuhan Yesus telah menggenapkan pekerjaan keselamatan yang cukup bagi seluruh umat manusia. Penggenapan keselamatan itu bergantung pada pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus. Dengan perkataan lain keselamatan itu bergantung pada pihak manusia, apakah manusia mau menerima atau menolak keselamatan yang sudah disediakan oleh Tuhan Allah untuk semua manusia dengan cuma-cuma.

    Sejak permulaan dunia ini, karena kemahatahuan-Nya, Allah telah memilih orang-orang yang akan bertobat dan percaya kepada-Nya. Melalui kemahatahuan-Nya Tuhan Allah telah mentakdirkan untuk menyelamatkan mereka yang akan bertobat dan percaya kepada-Nya. Jemaat Kristus telah dipilih dan ditakdirkan untuk memperoleh keselamatan. Akan tetapi pilihan dan takdir didasarkan pada kemahatahuan Allah yang sudah mengetahui lebih dahulu. Orang-orang pilihan itu telah dipilih sebab Tuhan tahu bahwa mereka akan melaksanakan segala tuntutan panggilan Allah, yaitu bertobat dan percaya. Tuhan telah mengetahui lebih dahulu siapa yang akan menuruti panggilan itu. "Yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu" (1Petrus 1:2).

    "Akan tetapi kami harus selalu mengucap syukur kepada Allah karena kamu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang mengkuduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus Tuhan kita" (2Tesalonika 2:13,14).

    "Allah dari mulanya telah memilih kamu". Saya mempunyai hak untuk menunjukkan dan mengenakan perkataan "Kamu" kepada siapa saja yang saya kehendaki. Demikian juga saudara. Seorangpun tidak dapat merampas hak itu dari kita. Apakah sebabnya? Sebab "Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat". Tuhan Allah telah memberikan Anak-Nya kepada "setiap orang" yang mau menerima Dia.

    Roh Kudus menyadarkan roh manusia melalui hati nurani, Firman Tuhan atau oleh kesaksian orang-orang saleh. Melalui hal-hal itu Roh Kudus mulai menempelak hati orang berdosa serta menolong dia menyadari bahwa dirinya berdosa dan terhilang, lalu menunjukkan kepadanya Anak Domba Allah yang mengangkut dosa isi dunia ini. Sementara Roh Kudus meneruskan pekerjaannya, bertambah keraslah tegoran terhadap dosa itu sehingga orang berdosa itu menginsyafi bahwa dirinya bersalah dihadapan Allah dan wajib dihukum. "Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsyafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman" (Yohanes 16:8). Pada waktu Roh Kudus menunjukkan seseorang kepada Anak Domba Allah, Ia menghilangkan keputusasaan dan ketakutan terhadap hukuman Allah di dalam hati orang itu, lalu timbullah pengharapan di dalam hati orang berdosa itu. Demikianlah orang berdosa itu dipimpin kepada pertobatan dan iman kepada Kristus; Ia dilahirkan kembali. Ia dibenarkan dihadapan Allah serta menjadi anak angkat Allah oleh karena Kristus Tuhan kita. Pengasihan dan panggilan Roh Kudus itu tidak lain daripada kasih karunia Allah yang juga disebut anugerah Tuhan kita Yesus Kristus.

    Kasih karunia Allah tidak perlu dibagi-bagi. Manusia tidak perlu memberi nama untuk bagian-bagian kasih karunia Allah. Bagian-bagian dan nama-nama itu hanya akan membuat orang bingung terhadap pekerjaan Roh Kudus di dalam hati manusia.

    Kita tidak perlu bingung mengenai takdir Allah, pilihan dan kasih karunia Allah. Takdir Allah dan pilihan Allah hanyalah penyataan kasih karunia Allah sejak permulaan dunia. "Karena Kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata" (Titus 2:11). Hak untuk menerima atau menolak kasih karunia Allah itu ditanggungkan kepada manusia. Baiklah saudara jangan menolak.

    Pilihan didasarkan atas kemahatahuan Allah, bukan atas takdir Allah. Allah memilih dan mentakdirkan keselamatan orang-orang berdasarkan kemahatahuan-Nya yang terlebih dahulu telah menyatakan kepada-Nya bahwa mereka akan bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus. Tuhan Allah telah mengetahui lebih dahulu sejak dunia ini dijadikan segala sesuatu yang akan diperbuat manusia. Segala sesuatu yang telah diketahui oleh Allah lebih dahulu bukan berarti sudah ditakdirkan.

    Oleh sebab itu baiklah kita pergi ke mana-mana untuk mengabarkan (memberitakan), "Marilah!, baiklah kita berperkara!", "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu"; Marilah! Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barang siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma"; dan Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya" (Yesaya 1:18; Matius 11:28; Wahyu 22:17; Yohanes 4:14).

    II. PERTOBATAN

    A. Pentingnya pertobatan

    Pertobatan sangat dipentingkan dalam Alkitab. Yohanes Pembaptis memulai pelayanannya dengan memanggil orang-orang agar bertobat. Begitu pula Tuhan mulai mengabarkan Injil dengan menyuruh semua orang bertobat (Matius 3:1,2,8; 4:17). Ketika Tuhan Yesus menyuruh tujuh puluh orang murid, Ia telah menyuruh mereka untuk mengabarkan tentang pertobatan (Markus 6:12; Lukas 24:47).

    Asas pengajaran tentang pertobatan banyak dipakai oleh Petrus (Kisah 2:38) dan Paulus (Kisah 20:21) dalam khotbah mereka. Tuhan Allah sangat rindu supaya semua orang diseluruh dunia bertobat (2Petrus 3:9; Kisah 17:30). Oleh sebab itu, kalau manusia tidak bertobat, tentu ia akan binasa (Lukas 13:3). Menyesal sekali sebab ada banyak pengabar Injil yang tidak pernah memberitakan tentang pertobatan. Kalau hal bertobat sangat perlu pada masa Tuhan Yesus, apalagi pada zaman yang penuh dosa ini. Tuntutan Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan sorga tidak pernah dikurangi atau diubah.

    B. Apakah pertobatan itu?

    Pertobatan adalah keadaan di mana seorang berdosa menyesal karena dosa-dosanya, yang dinyatakan kepadanya oleh terang Firman Tuhan dan gerakan Roh Kudus, sehingga dengan kehendaknya sendiri ia mengubah pikirannya dan hatinya lalu berbalik dari dosanya dan berpaling kepada Allah.

    C. Pertobatan yang sejati menyangkut tiga hal dalam diri seseorang:

    1. Pertobatan menyangkut pikiran seseorang.

    "Dan anak itu menjawab, Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga," Matius 21:30. Perkataan menyesal di sini berarti mengubah pikiran kita tentang dosa. Ini dilukiskan dalam perumpamaan Anak yang hilang dalam Lukas 15:11-31, dan juga dalam pasal Lukas 18:1-43. Melalui cara ini kita insaf bahwa diri kita berdosa, lihat Mazmur 32:5; Mazmur 51:1-19; Roma 1:32; 3:19,20.

    2. Pertobatan menyangkut perasaan hati.

    Rasul Paulus berkata, "Namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat" (2Korintus 7:9). Ini adalah dukacita di dalam hati yang disebabkan oleh perbuatan yang melanggar hukum Allah. Lihat Mazmur 34:19; Lukas 10:13 dan Mazmur 51:4. Dapat dikatakan juga: memikul beban karena dosa, menyesal, mengeluh, dan berdukacita oleh sebab perbuatan. Pertobatan yang sejati mengakibatkan perubahan sikap hati yang benar.

    3. Pertobatan menyangkut kehendak seseorang.

    Salah satu perkataan Ibrani untuk bertobat berarti "berbalik". Anak yang hilang itu telah berkata, "Aku akan bangkit dan pergi kepada Bapaku". Anak yang hilang itu telah mengubah pikirannya, telah menyesal, dan telah bangkit serta berbalik kepada Bapanya. Orang yang bertobat merasa hancur hatinya oleh sebab dosa-dosa yang diperbuatnya, karena itu ia meninggalkan dosa itu. Lihat Mazmur 34:15; Yeremia 25:5; Kisah 2:38; Roma 2:4. Jikalau seseorang menyadari bahwa dirinya berdosa, dan hanya menyesali dosa itu, tetapi tidak meninggalkan dosa itu, maka itu bukanlah pertobatan yang sungguh. Dalam pertobatan yang sungguh-sungguh termasuk pengakuan dosa kepada Allah serta permintaan ampun, Mazmur 38:19; Lukas 18:13; Lukas 15:21. Perlu juga ada pengakuan kepada manusia, yaitu mengenai kesalahan yang diperbuat terhadap sesama manusia, lihat Matius 5:23,24; Yakobus 5:16. Dalam pertobatan yang sungguh-sungguh seseorang harus meninggalkan dosanya. Lihat Yesaya 55:7; Matius 3:8-10; Amsal 28:13. Dalam pertobatan yang sungguh-sungguh seseorang harus berbalik kepada Allah. Lihat 1Tesalonika 1:9; Kisah 26:18. Kita dapat menyesal, membenci diri sendiri, tetapi kita mungkin masih mengasihi dosa kita; bila kita sungguh-sungguh bertobat, kita membenci dosa dan mengasihi Juruselamat kita.

    D. Bagaimanakah seseorang bertobat?

    Bagaimanakah seseorang bertobat? Apakah hal itu hanya merupakan perbuatan diri sendiri? Pertobatan adalah karunia Allah, Ia menarik hati kita kepada pertobatan. Itulah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati manusia. "Maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan" (Roma 2:4). Kita diperintahkan Allah untuk bertobat dan Ia akan memberikan dorongan pertobatan kepada barangsiapa yang mau memperhatikan gerakan Roh Kudus di dalam hatinya.

    Pertobatan terjadi oleh sebab seseorang mendengar Injil Kristus (sebab Roh Kudus menyertai pekabaran Injil). Oleh sebab itu Tuhan Allah memakai pengabar Injil untuk membawa pertobatan kepada manusia. Lihat Kisah 2:37-41; dan Yunus 3:5-10. Jadi, karena Injil itu akan membawa pertobatan kepada seseorang, maka Injil itu harus dikabarkan dengan kuat kuasa Roh Kudus (1Tesalonika 1:5-10). Bilamana seorang pengabar Injil memberitakan tentang Yesus Kristus yang disalibkan, dibangkitkan, dan dipermuliakan, maka hal itu membawa orang-orang kepada pertobatan. Lihat Yohanes 12:32. Adakalanya teguran dari seorang saudara seiman mendatangkan pertobatan (2Timotius 2:24,25). Adakalanya hajaran dan hukuman Allah mendatangkan pertobatan (Wahyu 3:19; Ibrani 12:6,10,11).

    E. Bukti Pertobatan

    Pertobatan bukan hanya untuk orang-orang yang baru mau percaya kepada Tuhan Yesus. Orang-orang yang sudah percaya pun perlu bertobat (Wahyu 2:5; 3:2,3,19). Bilamana Roh Kudus menempelak hati seorang Kristen mengenai suatu dosa, maka ia wajib segera bertobat serta mengakuinya supaya dosa itu ditutupi oleh darah Yesus Kristus. Bukti-bukti pertobatan ialah: orang itu sungguh-sungguh menyesal oleh sebab dosa-dosanya, merendahkan dirinya serta mengakui bahwa dirinya bersalah (Lukas 10:13; Yoel 2:12,13; Ayub 42:5,6). Orang itu mengakui dosanya serta berdoa kepada Allah meminta pengampunan (Hosea 14:1-3; Lukas 18:13,14). Orang itu berpaling dari segala kejahatannya, berhalanya, kekejiannya, dan pikirannya yang jahat (Matius 12:41; Yesaya 55:7). Inilah bukti-bukti yang penting dari suatu pertobatan, dan inilah yang paling dipentingkan dalam Alkitab. Perhatikanlah bahwa perkataan "berbalik" sering dipakai di dalam Alkitab, lihat Kisah 3:19. Orang yang bertobat berbalik kepada Allah serta bersandar kepada-Nya dan melayani Dia (Kisah 26:20; 1Samuel 7:3; Matius 3:8). Dalam pertobatan seseorang harus meninggalkan dosanya serta berbalik kepada Allah (1Tesalonika 1:9). Pertobatan itu selain berhenti berbuat jahat, juga harus berbuat baik, lihat Lukas 3:10-14. Membetulkan kesalahan adalah bukti pertobatan. Misalkan seorang telah mencuri, lalu ia bertobat; tentu ia akan mengembalikan barang curian itu kalau pertobatannya sungguh-sungguh. Pertobatan itu dibuktikan oleh perbuatan, yaitu tindakan untuk menyelesaikan dosa-dosa dan kesalahannya - menyelesaikan dihadapan Allah dan dihadapan manusia. Dengan menyelesaikan dosa dan kesalahan kita tidak dapat memperoleh keselamatan, sebab keselamatan diberikan oleh sebab iman; akan tetapi menyelesaikan dosa-dosa ialah suatu bukti pertobatan. Lihat Matius 5:23-25; 3:8. Pertobatan terdiri dari dua bagian: satu dari pihak Tuhan dan satu dari pihak manusia. Pertobatan bukan hanya suatu tindakan dari pihak manusia saja yang dilakukan hanya oleh kuasa manusia tanpa pertolongan dari Tuhan. Sebaliknya, pertobatan juga bukan suatu tindakan dari pihak Tuhan saja tanpa reaksi manusia. Pikiran yang salah mengenai hal ini akan menyebabkan putus asa atau kurang perhatian terhadap pertobatan. Kemurahan Allah menarik kita kepada pertobatan, Roma 2:4; Kisah 11:18. Tuhan memberikan pertobatan dengan membantu dan memberikan dorongan kepada kita agar kita mau bertobat.

    Pertobatan meliputi penyesalan dan dukacita karena dosa. Dalam hal ini orang berdosa berpihak kepada sikap Tuhan terhadap dosa. Mempunyai pikiran yang sama seperti Tuhan mengenai dosa; membenci dosa sama seperti Tuhan membenci dosa.

    F. Hasil Pertobatan

    Bilamana seseorang bertobat maka ada sukacita besar pada malaikat-malaikat Allah (Lukas 15:7-10). Pertobatan juga membawa sukacita kepada Allah sendiri, tetapi siapakah yang bersukacita dihadapan malaikat Allah (Lukas 15:10, TKB)? Apakah saudara-saudaranya yang sudah ada di seberang sana juga mengetahui bahwa ada seorang yang bertobat?

    Pertobatan dan iman mendatangkan pengampunan dosa (Yesaya 55:7; Kisah 3:19). Di luar pertobatan tidak ada jalan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Pertobatan itu sendiri tidak mendatangkan pengampunan tetapi Allah Bapa memberikan pengampunan oleh sebab seseorang bertobat dari dosanya. Seseorang tidak dapat dikatakan sungguh-sungguh bertobat kecuali bila ia menginsafi betapa buruknya dosanya pada pandangan Allah.

    Dan Roh Kudus hanya dicurahkan atas orang-orang yang bertobat. Kalau seorang Kristen keras kepala serta tidak mau bertobat maka orang itu tidak mungkin mendapat kepenuhan Roh Kudus dalam kehidupannya. Pertobatan, iman dan pengampunan dosa adalah tiga langkah dalam keselamatan. Masing-masing merupakan satu langkah yang pasti tetapi ketiganya tidak dapat diceraikan dalam keselamatan kita.

    III. IMAN

    A. Pentingnya iman

    Iman sangat penting bagi orang Kristen (Ibrani 11:6). Tuhan Yesus mengutamakan dan menuntut iman dalam hati orang-orang yang percaya akan Dia; dan iman selalu dihargai-Nya.

    B. Apakah iman itu ?

    Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Dasar dan keyakinan ini ialah Firman Allah (Ibrani 11:1). Lihat juga ayat-ayat yang berikut: Ibrani 11:7,11,17-19,22,30. Perkataan Ibrani yang diterjemahkan "iman" sebenarnya berarti "menyokong" atau "meneguhkan". Perkataan Yunani yang diterjemahkan "iman" atau "percaya" sebenarnya berarti "berharap kepadanya" atau "bersandar padanya". Jadi kita disokong oleh Allah, dan yakin bahwa kita bersandar kepada-Nya. Itulah iman. Iman mengandung unsur ilahi dan kemanusiaan. Iman adalah karunia Allah dan juga tindakan manusia. Dasar iman adalah Firman Allah, Roma 4:20,21. Tujuan iman adalah Pribadi Yesus Kristus. Iman yang menyelamatkan ialah iman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat.

    C. Iman secara umum meliputi tiga hal:

    1. Keyakinan yang timbul berdasarkan pengetahuan (Mazmur 9:11; Roma 10:17). Iman bukan percaya akan sesuatu yang tidak ada buktinya, melainkan iman beralaskan pada bukti yang paling baik dan teguh, yaitu Firman Allah. Bukti yang lain di luar Firman Allah (yang tidak dapat berdusta) tidak perlu. "Bagaimanakah seseorang dapat percaya kepada apa yang belum didengarnya?" Haruskah orang itu harus mendengar lebih dahulu barulah ia dapat percaya. Iman bukan suatu tindakan yang membabi buta, bukan seolah-olah berjalan dalam kegelapan. Kita harus percaya dengan hati tetapi juga dengan pengetahuan. Dalam Alkitab percaya dengan segenap hati berarti dengan segenap pikiran, hati, dan kehendak.

    2. Keyakinan sehingga mengakui kebenarannya (Markus 12:32). Begitulah tuntutan Tuhan Yesus kepada orang yang meminta kesembuhan dari pada-Nya. "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Dan orang itu menjawab, "Ya Tuhan, kami percaya." Kita harus tahu bahwa Yesus Kristus ialah Juruselamat dunia ini, tetapi kita harus mengakui kebenarannya dalam hati kita. Lihat Yohanes 1:12.

    3. Keyakinan sehingga bertindak untuk menerapkannya bagi diri sendiri, Yohanes 1:12; 2:24. Iman adalah bagaikan seorang yang menerima cek dari bank, tetapi ia harus pergi ke bank itu untuk menandatanganinya, baru ia menerima uang itu. Haruskah kita mengalami dan menerapkan kepada diri kita sendiri hal-hal tentang Kristus dan pekerjaan-Nya yang kita ketahui dan yang kita akui kebenarannya. Kalau hanya mengetahui saja, maka itu bukan iman. Boleh jadi seseorang tahu bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan tetapi ia tetap menolak Dia sebagai Juruselamatnya. Pengetahuan tentang Allah tidak cukup sebab pengetahuan itu tidak menentukan apakah ia menerima atau menolak hal-hal itu. Begitu juga hanya mengakui kebenarannya bukanlah iman. Mungkin juga seseorang mengakui bahwa hal ini benar tetapi ia tidak menyerahkan hatinya kepada Kristus. Oleh sebab itu kita perlu menerapkan semua itu bagi diri kita sendiri, dan hal itu sama dengan sungguh-sungguh bersandar kepada Kristus. Jadi jelaslah bahwa tiga hal ini perlu untuk menyatakan iman yang sungguh. Iman adalah suatu tindakan dalam kehendak manusia. Kehendak seseorang mempengaruhi pikirannya tentang kebenaran. Bandingkan Wahyu 2:21 dan Wahyu 22:17.

    D. Iman kepada Allah

    Iman atau percaya kepada Allah berarti yakin bahwa kesaksian Firman Allah itu benar walaupun tidak ada bukti di luar kesaksian itu, dan yakin bahwa janji Allah akan digenapkan walaupun ada banyak rintangan terhadap janji itu (1Yohanes 5:10; Yohanes 5:24; Kisah 27:22-25 Roma 4:3; 4:19-21).Percaya kepada Allah berarti bersandar kepada Dia dan Firman-Nya serta berharap akan janji-Nya dan berharap akan Dia sendiri.

    E. Iman kepada Yesus Kristus

    Iman kepada Yesus Kristus berarti bersandar kepada Dia, dan mendapat sokongan daripada-Nya. Itu berarti kita yakin bahwa Ia akan melakukan semua hal itu (2Timotius 1:12, TKB; FAYH). Kalau kita bersandar pada Dia kita tidak akan jatuh atau kecewa (Yohanes 14:1; Matius 9:21,22,29; Lukas 7:48-50; Yohanes 14:12 Matius 15:25,28; 8:8-10). Kita mempunyai hak untuk beriman dan bersandar pada Yesus Kristus atas semua hal yang sudah Ia janjikan kepada kita. Untuk pertolongan, penyembuhan, kuasa, atau kemenangan, semua itu juga akan kita peroleh (Matius 9:29).

    F. Iman di dalam doa

    Iman di dalam doa ialah pengharapan yang teguh atau keyakinan bahwa kita akan menerima apa yang kita minta, tanpa keragu-raguan (Yakobus 1:5-7; Markus 11:24). Doa yang disertai iman menimbulkan keyakinan bahwa apa yang kita minta itu sudah kita peroleh, sebab Allah telah mendengar doa itu serta memberikannya kepada kita. Lihat 1Yohanes 5:14,15.

    G. Iman yang menyelamatkan

    Perkataan "iman yang menyelamatkan" yang dimaksud bukanlah iman yang lain daripada biasa, melainkan iman yang membawa keselamatan kepada kita. Iman yang menyelamatkan yaitu iman kepada Pribadi Juruselamat. Iman yang menyelamatkan ialah penyerahan jiwa yang najis dan berdosa kepada Tuhan serta menyambut Yesus Kristus sebagai sumber pengampunan, kesucian, dan kehidupan (Matius 11:28,29; Kisah 16:31; Yohanes 1:12; 20:31; Efesus 3:17; Wahyu 3:20).

    Iman yang menyelamatkan yaitu percaya dengan hati, Roma 10:9,10. Iman yang hanya ada dalam alam pikiran sebagai pengetahuan tidak cukup untuk memberikan keselamatan. Dalam Alkitab "hati" berarti pikiran, perasaan, dan kehendak. Selidikilah Ibrani 11:7,8,17,19,20,22,24-26,28, Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai penanggung dosa kita, dan iman yang menyelamatkan menerima Dia seperti demikian serta berharap hanya kepada darah-Nya untuk menebus kita dari dosa. Yesus Kristus juga menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai pelepas kita dari kuasa dosa (Yohanes 8:34,36). Kita wajib menerima Dia seperti demikian. Dan Yesus Kristus juga menyatakan diri-Nya kepada kita sebagai Tuhan dan Guru kita. Wajiblah kita menerima Dia seperti demikian serta menyerahkan pikiran kita semata-mata kepada pengajaran-Nya dan nyawa kita kepada perintah-Nya (Yohanes 13:13).

    Iman yang menyelamatkan ialah iman yang menginsafkan diri kita bahwa kita akan binasa, yang sungguh-sungguh rindu untuk diselamatkan, yang meninggalkan segala pengharapan selain daripada Tuhan Yesus, yang berseru kepada-Nya untuk meminta pengampunan, yang mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan (Roma 10:9,13,14).

    Ada beberapa tuntutan di dalam iman yang menyelamatkan :

    1. Harus percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, Yohanes 20:31.
    2. Harus percaya kepada Injil, Roma 1:16; 1Korintus 15:1-4. Dengan perkataan lain itu berarti kita harus percaya bahwa Yesus Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, dan dibangkitkan oleh Allah, supaya kita dibenarkan, dan percaya bahwa Ia mau dan dapat menyelamatkan kita (Roma 10:9; 1:4; 4:25; Ibrani 7:25; Lukas 7:48-50).

    H. Hasil iman kepada Yesus Kristus

    Kita diselamatkan dan dosa-dosa kita diampuni oleh sebab iman kepada Yesus Kristus (Efesus 2:8; Kisah 10:43). Kita dibenarkan oleh sebab iman kepada Kristus (Roma 3:28; 5:1; Filipi 3:9). Kita mendapat hidup yang kekal oleh sebab iman kepada Yesus Kristus (Yohanes 20:31). Pada saat kita diselamatkan maka Kristus tinggal di dalam hati kita (Efesus 3:17). Bukan hanya iman secara sembarangan yang menyelamatkan kita, melainkan iman kepada Yesus Kristus; Ialah tujuan iman kita (Kisah 10:43; 16:31; 1Yohanes 3:23). Tubuh kita disembuhkan oleh iman kepada Kristus (Yakobus 5:14,15; Matius 9:22,29). Doa kita dikabulkan Allah oleh sebab iman (Matius 21:22; Markus 11:24; Yakobus 1:5-7). Ada banyak hal dan berkat yang diberikan kepada kita oleh sebab iman kepada Kristus. Apabila saudara ingin mengetahui beberapa diantaranya, saudara dapat menyelidiki ayat-ayat yang berikut: Seluruh pasal sebelas dari Surat Ibrani (Ibrani 11:1-40); dan Yohanes 1:12; 2Petrus 1:4,5; Kisah 15:9; 1Yohanes 5:4,5; Efesus 6:16; 1Petrus 1:8; Yohanes 7:38,39; Matius 21:21; Yohanes 14:12. Iman kita seharusnya bertambah-tambah sebab iman itu hidup (2Korintus 10:5; 1Tesalonika 1:10; 1Tesalonika 1:3).

    I. Asalnya iman

    Sebagaimana pertobatan adalah karunia Allah demikian pula iman (Ibrani 12:2), dan segala karunia Allah adalah untuk semua orang. Tuhan tidak memandang rupa orang. Firman Allah dipakai oleh Allah sebagai dasar iman, dan Firman itu tersedia bagi tiap-tiap orang (Roma 12:3; 1Korintus 2:4,5; 12:4,8,9; Roma 10:17). Sebagai orang Kristen kita memandang kepada Yesus Kristus, bukan kepada suasana di sekitar kita; dan janji Kristus dalam Firman-Nya menjadi dasar iman kita. Kalau kita rindu untuk mendapatkan iman yang lebih kuat, wajiblah kita memakai iman yang ada pada kita, maka iman kita akan bertambah-tambah (Matius 25:29). Berdoa dan membaca Firman Tuhan adalah cara untuk menambah iman kita (Lukas 22:32; 17:5). Iman bertambah-tambah di dalam diri kita oleh karena pekerjaan Roh Kudus di dalam kita dan oleh sebab ketaatan kita kepada perintah Kristus serta di dalam hal kita memandang akan Dia (Galatia 5:22; Matius 14:30,31).

    J. Hubungan pertobatan dengan iman

    Alkitab menghubungkan pertobatan dengan iman (Kisah 20:21). Pertobatan adalah suatu sikap terhadap Allah sendiri, sebab Allahlah yang murka oleh sebab dosa-dosa kita. Iman adalah suatu sikap terhadap Yesus Kristus, sebab Ialah yang telah menanggung dosa-dosa kita. "Jarang sekali seorang dapat berdukacita karena dosa-dosanya dengan tidak berharap kepada rahmat Allah. Kita tidak patut berdukacita karena dosa dengan dasar akibatnya yang dahsyat bagi kita, melainkan kita harus berdukacita karena dosa oleh sebab hal itu merupakan kebencian bagi Allah dan bertentangan dengan kesucian dan kasih Allah. Kematian Kristus di kayu salib itulah yang mula-mula membangunkan pertobatan di dalam kita (Yohanes 12:23-33). Oleh sebab itu segala khotbah mengenai pertobatan harus dilengkapi dengan khotbah tentang iman (Matius 3:2-12; Kisah 19:4). Bertobat (berpaling) kepada Allah harus berkaitan dengan iman (percaya) kepada Tuhan kita Yesus Kristus (Kisah 20:21; Lukas 15:10,24; 19:8,9; juga Galatia 3:7)." - A.H. Strong.

    Jelas di dalam Kisah 2:38 bahwa pertobatan dan iman kepada Kristus tidak dapat diceraikan, sebab baptisan dalam nama Yesus Kristus memang menuntut iman kepada Dia. Dalam pertobatan, hal yang terpenting yaitu sikap menolak Kristus berubah menjadi sikap menerima dan percaya akan Dia.

    K. Hubungan iman dengan pekerjaan

    Keselamatan kita tidak bergantung pada perbuatan baik (amal) kita. Keselamatan kita semata-mata bergantung pada iman kepada Kristus. Akan tetapi, sesudah kita diselamatkan tak dapat tidak kita akan melakukan perbuatan (amal) yang baik sebab hal itulah yang berkenan kepada Bapa kita dalam sorga, dan sebab kita rindu untuk menjadi sama seperti Kristus. Iman ialah suatu sikap terhadap Yesus Kristus tetapi perbuatan baik adalah hasil dari iman.

    Rasul Paulus dan Rasul Yakobus tidak berselisih paham dalam hal ini (Yakobus 2:14-26; Roma 4:1-12). Rasul Paulus berkata, "Manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena melakukan hukum Taurat." Rasul Yakobus menyatakan tentang hasil iman yang kelihatan kepada manusia, yaitu perbuatan-perbuatan baik. Perbuatan baik menyertai iman yang mendahuluinya. Iman membawa kita kepada perbuatan-perbuatan yang baik. Iman yang tidak membawa kita kepada ketaatan akan perintah Yesus Kristus adalah iman yang mati (Yakobus 2:14-26).

    L. Nasihat yang berfaedah

    Pada zaman kasih karunia ini patutkah kita hanya berkhotbah dari hal iman, atau patutkah disertai pertobatan? Apakah yang dikhotbahkan oleh Petrus (Kisah 2:38), dan Paulus (Kisah 17:30; 20:21; 26:20)? Apakah hal itu termasuk di dalam Amanat Agung Yesus Kristus kepada kita? (Lukas 24:45-49).

    Ada beberapa ukuran iman: iman yang kecil atau kurang percaya (Matius 6:30); iman yang besar (Matius 8:10); iman yang teguh (Ibrani 10:22); dan diperkuat dalam imannya (Roma 4:20).

    IV. KELAHIRAN KEMBALI

    A. Pentingnya kelahiran kembali

    Kelahiran kembali adalah asas pengajaran yang sangat penting dan patut diketahui dengan benar. Hanya melalui kelahiran kembali kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tak ada jalan lain untuk menjadi seorang Kristen. Kelahiran kembali adalah pintu masuk Kerajaan Allah dan cara untuk menjadi murid Yesus Kristus; dan orang yang tidak masuk dari pintu itu tidak akan dapat masuk, ia akan tetap tinggal di luar.

    B. Perlunya kelahiran kembali

    Di mana ada manusia, di situ ada dosa; dan di mana ada dosa, di situ manusia perlu dilahirkan kembali. Tuhan Yesus telah berkata, "Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yohanes 3:3). Tidak ada kecualinya, dari semua bangsa dan apapun pangkatnya. Orang yang tidak dilahirkan kembali berarti terhilang dan akan binasa. Yang dilahirkan oleh daging berarti harus dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yohanes 3:3-7). Manusia harus dilahirkan kembali oleh sebab Adam dan Hawa telah jatuh ke dalam dosa, demikian pula keturunannya. Jadi, kalau manusia mau diangkat dari keadaan itu kepada suatu tingkat yang lebih tinggi, hanya satu jalan yaitu dilahirkan kembali (Roma 8:7; 1Korintus 2:14; Galatia 5:19-21).

    Tuhan Yesus Kristus telah memberikan perintahnya agar manusia dilahirkan kembali (Yohanes 3:7). Dalam hal ini bukanlah manusia boleh kalau ia mau, melainkan ini adalah suatu keharusan. Lagipula tidak ada hal lain yang dapat menggantikan kelahiran kembali. Amal, agama, pengetahuan, baptisan, usaha memperbaiki diri, menjadi anggota gereja, semuanya tidak cukup dan tidak dapat menyelamatkan seseorang (Galatia 6:15).

    "Apa yang dilahirkan dari daging adalah daging." Yang berasal daripada daging adalah daging, oleh sebab itu haruslah seseorang dilahirkan kembali supaya genap perkataan "Apa yang dilahirkan dari Roh adalah Roh" (Yohanes 3:5-6). Tabiat tubuh atau kedagingan tidak akan berkenan kepada Allah (Galatia 5:20,21; Yeremia 13:23). Oleh sebab itu, manusia tidak perlu memperbaiki tabiatnya yang lama, melainkan ia harus mendapat tabiat yang baru.

    Semua manusia sudah mati di dalam dosa dan kejahatannya (Efesus 2:1). Dalam keadaan demikian manusia tidak dapat bergaul atau bersekutu dengan Allah. Dosa telah menceraikan dia dari Allah, dan hanya apabila ia dilahirkan kembali barulah ia dapat bersekutu lagi dengan Allah. Di samping itu kesucian Allah menuntut supaya manusia dilahirkan kembali (Ibrani 12:14).

    Manusia perlu mendapat hidup yang baru dan perubahan yang terjadi melalui kehidupan yang baru itu. Tabiat manusia bukanlah seperti sebuah mangga yang mentah yang perlu menjadi sempurna hanya dengan menjadi lebih matang; tetapi manusia adalah seperti sebuah mangga yang bibitnya busuk oleh sebab ulat dosa, yang kalau dibiarkan saja, pasti akan binasa. Usaha memperbaiki diri sendiri sama halnya dengan memetik buah yang busuk dari pohon, lalu mengikatkan buah mangga yang baik pada pohon itu dengan tali. Jadi, kelahiran kembali itu penting sekali.

    C. Apakah kelahiran Kembali itu?

    Di dalam Alkitab ada beberapa perkataan yang dipakai untuk menerangkan tentang kelahiran kembali:

    dilahirkan kembali (Yohanes 3:3)
    dilahirkan dari Allah (Yohanes 1:13; 1Yohanes 3:9; 4:7; 5:1,4,18)
    dilahirkan dari Roh (Yohanes 3:5,6)
    dihidupkan (Efesus 2:1,5; Kolose 2:13)
    pindah dari dalam maut ke dalam hidup (Yohanes 5:24; 1Yohanes 3:14)
    ciptaan baru (2Korintus 5:17; Galatia 6:15)
    mengambil bagian dalam kodrat Ilahi (2Petrus 1:4)
    hati yang baru dan Roh yang baru (Yehezkiel 36:26)
    pembaharuan (Matius 19:28; Titus 3:5)
    (Dua ayat yang terakhir akan diterangkan dengan jelas)

    Dilahirkan kembali yaitu Allah mengaruniakan hidup baru di dalam Kristus oleh pekerjaan Roh Kudus, dengan perantaraan Firman Allah, kepada jiwa yang mati dalam dosa dan kejahatan. DR. A.J. Gordon menjelaskan tentang kelahiran kembali demikian: "Dilahirkan kembali berarti menerima kodrat ilahi oleh pekerjaan Roh Kudus dengan perantara Firman Allah. DR. R.A. Torrey menerangkan hal itu demikian: "Dalam kelahiran kembali Allah memberikan perangai-Nya yang suci dan berbudi, yaitu perangai yang berpikir seperti Allah (Kolose 3:10), berperasaan akan seperti Allah, dan berkehendak seperti Allah (1Yohanes 3:14; 4:7,8)."

    Kelahiran kembali yaitu suatu ciptaan baru (2Korintus 5:17; Galatia 6:15). Orang yang dilahirkan kembali pindah dari dalam maut ke dalam hidup yang baru (1Yohanes 3:14; Efesus 2:1,4,5). Itulah pekerjaan Roh Kudus, dan oleh sebab itu kita boleh berkata bahwa orang itu telah dilahirkan dari Allah (Yohanes 1:13).

    Jelas dari ayat-ayat di atas bahwa kelahiran kembali bukan baptisan; dan baptisan tidak dapat membuat seseorang dilahirkan kembali. Ada orang yang sudah dibaptiskan tetapi belum dilahirkan kembali; dan ada orang yang sudah dilahirkan kembali tetapi belum dibaptiskan. Ayat-ayat di atas tidak menyatakan tentang pembaptisan. Dalam Galatia 6:15 dikemukakan bahwa kelahiran kembali berbeda dengan sunat dan syarat-syarat lain yang lahiriah. Begitu juga hal itu dinyatakan dalam 1Korintus 4:15. Dalam ayat itu Paulus memberitahukan bahwa orang-orang saleh di Korintus dilahirkan kembali dalam Injil Yesus Kristus. Tetapi Paulus juga berkata dalam 1Korintus 1:14,17 bahwa ia tidak membaptiskan orang-orang di sana. Tidak mungkin Paulus berkata demikian mengenai pembaptisan, kalau mereka itu dilahirkan kembali melalui pembaptisan. Dari semua itu nyata bahwa baptisan bukan kelahiran kembali.

    Dalam Kisah 8:13,20-23 dikemukakan bahwa baptisan bukan kelahiran kembali. Dalam ayat itu diberitahukan bahwa Simon telah dibaptiskan, tetapi hatinya seperti empedu yang pahit dan terjerat dalam kejahatan. Rupanya Simon itu belum dilahirkan kembali, walaupun ia sudah dibaptiskan. Pada pihak lain, nyata sekali bahwa si penjahat di atas kayu salib itu telah diselamatkan, sebab Tuhan Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus" (Lukas 23:43) tetapi ia tidak dibaptiskan. Di samping itu kita membaca tentang Roh Kudus yang dicurahkan ke atas orang-orang di dalam rumah Kornelius, dan mereka menerima karunia lidah seperti yang terjadi pada Hari Pentakosta, dan semua itu terjadi sebelum mereka itu dibaptiskan (Kisah 10:44-48). Tentu tidak ada orang yang berani mengatakan bahwa mereka itu belum dilahirkan kembali. Nyata di sini bahwa mereka itu dilahirkan kembali dahulu, baru kemudian dibaptiskan. Sebenarnya, hanya darah Yesus Kristus yang dapat menyucikan kita dari dosa (1Yohanes 1:7), bukan air baptisan. Jikalau kelahiran kembali terjadi melalui pembaptisan, mengapa semua Rasul telah berkhotbah, "Bertobatlah dan percayalah kepada Yesus Kristus!"? Bila demikian, mereka hanya perlu menyuruh orang-orang agar dibaptiskan saja.

    Baptisan hanyalah suatu tanda yang kelihatan, yang membuktikan suatu pekerjaan yang sudah dilakukan di dalam hati nurani. Hati nurani tidak dapat disucikan oleh pembasuhan air. Rasul-rasul Tuhan selalu menyuruh orang-orang percaya lebih dahulu, baru kemudian dibaptiskan. Pekerjaan itu terjadi oleh sebab iman, lalu orang itu dibaptiskan untuk menyatakan imannya kepada orang-orang lain.

    Ada tiga ayat yang patut kita selidiki baik-baik yang menyatakan bahwa Firman Allah dipakai oleh Roh Kudus untuk melahirkan kembali orang-orang yang percaya. Dalam 1Petrus 1:23 dikatakan bahwa kelahiran kembali terjadi karena Firman Allah. Dalam Yakobus 1:18 dikatakan bahwa itu terjadi karena Firman Allah yang benar. Dalam Korintus 4:15 dikatakan bahwa itu terjadi karena Injil (yaitu Firman Allah). Tuhan Yesus juga berkata, "Kamu memang sudah bersih karena Firman yang telah Kukatakan" (Yohanes 15:3). Dan "Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; Firman-Mu adalah kebenaran" (Yohanes 17:17). Dan Rasul Paulus berkata, "Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan Firman" (Efesus 5:26). Dengan memakai ayat-ayat itu kita akan dapat memahami perkataan Tuhan Yesus kepada Nikodemus, "Jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Yohanes 3:5). Mengapa Tuhan berkata tentang air dan Roh? Dr. R.A. Torrey berpendapat bahwa "air" dalam perkataan itu melukiskan kesucian atau pembasuhan-Ku yang terjadi oleh Firman Allah; Roh Kudus melahirkan kembali seseorang dengan perantaraan Firman Allah. Boleh jadi air itu melukiskan Firman Allah. Kita tahu bahwa Roh Kudus bekerja dengan memakai Firman Allah, sebab Firman Allah adalah Pedang Roh Kudus (Efesus 6:17).

    Di sini kami memberikan sedikit keterangan mengenai Titus 3:5; Efesus 5:26, dan Matius 19:28. Ada satu perkataan dalam bahasa Yunani yang berarti dilahirkan kembali, atau "dijadikan ciptaan baru". Perkataan itu hanya dipakai dua kali dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam Matius 19:28 dan Titus 3:5. Dalam Perjanjian Baru yang diterjemahkan oleh Dr. Bode, perkataan dalam Matius 19:28 itu diterjemahkan "Pada masa kejadian alam yang baharu", sedangkan dalam terjemahan Dr. Shellabear dikatakan, "Dalam kejadian yang baharu". Perkataan itu sesungguhnya berarti "dilahirkan kembali" dan "diciptakan baru", tetapi karena di sini hal itu berkenaan dengan dunia atau alam ini, jadi lebih tepat diterjemahkan "kejadian yang baharu". Dalam kedua terjemahan itu, dalam Titus 3:5 perkataan tersebut diterjemahkan, "kejadian yang baharu". Akan tetapi arti perkataan itu tidak lain adalah "diciptakan baru" atau "dilahirkan kembali", sebab jelas di situ bahwa kelahiran kembali yang dibicarakan oleh Rasul Paulus. Oleh sebab itu dalam Titus 3:5 perkataan "kejadian yang baharu" (TKB) pantas diganti dengan perkataan "Kelahiran kembali" (LAI).

    Selanjutnya, dalam Titus 3:5 dan Efesus 5:26 terdapat satu perkataan Yunani "loutron", yang hanya berarti "pembasuhan". Akan tetapi dalam terjemahan yang baru (LAI) dipakai "Permandian" untuk kata "loutron". Terjemahan itu sebenarnya salah. Dalam bahasa Yunani hanya kata "baptiso" yang berarti "baptisan", dan dalam dua ayat tersebut "baptiso" tidak dipakai. Oleh sebab itu terjemahan Dr. Shellabear-lah yang tepat dengan bahasa Yunaninya. Terjemahannya demikian: "melainkan menurut seperti rahmat-Nya juga, dalam pembasuhan kejadian baharu, dan dalam hal kita dibaharui oleh Roh Kudus" (Titus 3:5). Dan, "Setelah sudah disucikan dengan pembasuhan air itu oleh perkataan Allah" (Efesus 5:26). Rasul Paulus memakai kata "baptiso" 19 kali dengan maksud "baptisan" atau "dibaptiskan". Seandainya Rasul Paulus bermaksud memakai kata "baptisan" dalam ayat-ayat ini, mengapa ia tidak memakai kata "baptiso"? Jelas bahwa Paulus tidak bermaksud memakai perkataan "baptiso". Dr. Thayer dalam kamusnya Yunani-Inggris menerangkan "Loutron" demikian: "tempat mandi, mandi, hal memandikan dan membasuhkan". Kata "louo" dalam Alkitab dipakai 6 kali, semuanya berarti "basuh". Oleh sebab perkataan "baptisan" (dalam terjemahan Dr. Bode) digunakan salah dalam kedua ayat itu, maka ada orang yang salah mengerti, yaitu bahwa baptisan itu sama dengan kelahiran kembali; padahal banyak ayat dalam Alkitab menyatakan bahwa baptisan tidak sama dengan kelahiran kembali, dan tidak mendatangkan kelahiran kembali kepada kita. Kelahiran kembali ialah pekerjaan Roh Kudus dalam hati nurani seseorang yang percaya kepada Kristus.

    Kelahiran kembali mendatangkan perubahan besar di dalam kehidupan kita, sebab ingatan kita dibaharui, yaitu segenap pikiran, perasaan dan kehendak hati kita. Dan bukan itu saja, kita dibaharui dengan mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2Petrus 1:4). Orang yang tidak dilahirkan kembali, yang masih tetap dalam tabiat duniawi, tidak akan mengerti hal ini dan tidak dapat mengerti tentang perkara-perkara Roh (1Korintus 2:14); pikiran najis (Galatia 5:19-21), dan kehendaknya bertentangan dengan Allah (Roma 8:7). Meskipun dia adalah seorang terpelajar, sopan, ataupun yang halus kelakuannya, ia tetap tidak berkenan kepada Allah kalau ia belum dilahirkan kembali. Bagi orang yang telah dilahirkan kembali, maka segala hal yang sudah lama berlalu, dan semuanya menjadi baru (2Korintus 5:17). "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku daripada pikiranmu" (Yesaya 55:9). Betapa indahnya kelahiran kembali itu! kita didapati dalam keadaan terjerumus di dalam dosa cemar tetapi diangkat Allah, dilahirkan kembali, dan mendapat bagian dalam kodrat ilahi.

    D. Tanda-tanda dan hasil kelahiran kembali

    Orang yang dilahirkan kembali mengalami beberapa hal yang ajaib:

    1. Ia mengalami perubahan dalam perasaannya. Dahulu ia adalah seteru Allah (Roma 8:7), tetapi sekarang ia mengasihi Allah (Roma 5:5; 1Yohanes 4:19). Dahulu ia membenci sesama manusia (Titus 3:3), tetapi sekarang ia mengasihi mereka (Roma 5:5; 1Yohanes 3:14).
    2. Ia mengalami perubahan dalam kehidupannya dan kelakuannya. Kehidupan yang lama, yaitu hidup di dalam dosa, telah berlalu (1Yohanes 3:9; 5:18). Dan sebagai gantinya, ia hidup di dalam kebenaran (1Yohanes 2:29).
    3. Ia menerima kuasa untuk mengalahkan dunia ini dan mengalahkan dosa-dosanya (1Yohanes 5:4). Tetapi rahasia kemenangannya yaitu kuasa Roh Kudus yang patut disambut (Galatia 5:16) dan di dalam hal tetap tinggal di dalam Yesus Kristus (1Yohanes 3:6).

    Orang yang dilahirkan kembali dapat merasakan lagi persekutuan dengan Allah, sebagaimana yang dahulu terjadi dalam taman Eden. Orang itu memperoleh kehidupan rohani dan benarlah perkataan Rasul Paulus tentang dia: "Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu ... dihidupkan" (Efesus 2:1,5).

    E. Hubungan kelahiran kembali dengan pertobatan dan iman

    Kita sudah mengetahui bahwa pertobatan dan iman berhubungan erat sekali. Jadi, jelas juga bahwa pertobatan dan iman juga berhubungan erat dengan kelahiran kembali. Sebenarnya ketiga hal itu tidak dapat diceraikan. Pertobatan dan iman adalah bagian atau pekerjaan manusia, dan kelahiran kembali adalah bagian atau pekerjaan Allah melalui Roh Kudus di dalam hati manusia. Bilamana ketiga hal itu telah terjadi dalam diri seseorang, maka ia diselamatkan, ia mendapat hidup yang kekal. Bilamana ia menerima Tuhan Yesus Kristus, maka Tuhan melakukan ini di dalam hatinya. "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah" (Yohanes 1:12,13). Inilah jawaban kepada pertanyaan Nikodemus: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?" (Yohanes 3:9).

    Di dalam terjemahan Klinkert Bode, Yohanes 1:13 itu dimulai dengan kata "yang kejadiannya", tetapi sebenarnya "yang diperanakkan" lebih tepat dengan bahasa aslinya. Dalam naskah aslinya yang dimaksud dalam perkataan itu berarti lebih dari satu orang. Hanya satu naskah dalam bahasa Latin yang kemudian diterjemahkannya dengan arti hanya satu orang. Karena itu, ayat ini tidak mungkin berkenaan dengan Kristus, melainkan orang-orang yang menerima Kristus yang dikatakan dalam ayat Yohanes 1:12. Ireneus (abad kedua) dan Tertullian (abad ketiga) menafsirkan ayat Yohanes 1:13 adalah berkenaan dengan Kristus untuk memperkuat asas bahwa Yesus Kristus diperanakkan oleh seorang anak dara. Tetapi tidaklah demikian menurut naskah-naskah lama. Mereka tidak berhak mengubah Alkitab, mereka bukan rasul-rasul. Jadi, sesuai dengan naskah dalam bahasa Yunani yang lama, haruslah diterjemahkan dengan: "Yang diperanakkan", dan yang dimaksudkan ialah orang-orang yang dikatakan dalam ayat Yohanes 1:12.

    F. Kesaksian Roh Kudus

    Bilamana seseorang telah dilahirkan kembali maka Roh Kudus bersaksi dalam hati orang itu bahwa orang itu telah menjadi anakmu Allah. "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Roma 8:16). Lihatlah Roma 8:15; Galatia 4:6; 1Yohanes 5:6,10.

    V. MENGENAI HAL DIBENARKAN

    A. Apakah maksudnya dibenarkan itu?

    Dibenarkan berkenaan dengan perubahan dalam hubungan, yaitu hubungan antara Allah dan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dikuduskan berkenaan dengan perubahan keadaan, yaitu keadaan orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dibenarkan adalah perbuatan Allah sebagai hakim, yang oleh karena Yesus Kristus Ia membenarkan orang berdosa yang telah percaya kepada Kristus; dan hukuman dosa tidak lagi dipertanggungkan ke atas orang itu, dan orang itu mulai berkenan kepada Allah. Dengan perkataan lain, dibenarkan adalah suatu perbuatan Allah sebagai hakim dalam mengampuni dosa-dosa manusia, serta melepaskan mereka dari hukuman dosa itu, dan menerima mereka sebagai orang benar dihadapan-Nya, oleh sebab mereka telah percaya dan menerima Kristus menjadi korban dosa mereka. Dalam Alkitab perkataan dibenarkan berarti dianggap benar. Bilamana seseorang berdosa menerima Kristus sebagai korban karena dosa-dosanya, dan percaya akan Dia, maka Allah dapat dan akan menganggap orang itu benar dihadapan-Nya. Kalau kita menyelidiki perkataan "dibenarkan" dalam Alkitab, kita akan mengetahui bahwa itu berarti "dianggap benar", "disebut benar", "memperhitungkan sebagai kebenaran". Lihat Ulangan 25:1; Keluaran 23:7; Yesaya 5:23; Lukas 16:15; Roma 2:13; 3:23,24; 4:2-8; Lukas 8:14.

    Bilamana Allah membenarkan orang berdosa, keadilan Allah tidak dilanggar sebab orang berdosa itu telah percaya kepada Yesus Kristus sebagai korban karena dosanya, dan sebab Yesus Kristus telah menanggung hukuman dosa orang itu di kayu salib.

    B. Ada dua hal bagi orang yang dibenarkan

    1. Dosanya diampuni dan hukumannya dibatalkan. Jikalau seseorang dibenarkan, maka tak dapat tidak dosanya diampuni dan hukumannya dibatalkan, sebab bagaimanakah seseorang dapat dibenarkan kalau hukuman dosanya masih akan ditanggungkan kepadanya? Ada beberapa ayat dalam Alkitab yang menyatakan bahwa pengampunan dosa termasuk di dalam hal dibenarkan. Lihatlah Roma 3:24,25; Efesus 1:7; Kisah 13:38,39; Mazmur 32:2; 130:4; Mikha 7:18; Yohanes 3:16. Bagi orang yang ada di dalam Kristus hukuman dosanya dibatalkan sebab Tuhan Yesus telah menanggung hukuman dosa orang itu sebagai penggantinya.

  • Orang yang dibenarkan dikembalikan ke dalam keadaan berkenan kepada Allah. Hal ini dijelaskan di dalam perumpamaan anak yang hilang (Lukas 15:22-24). Lihat juga Roma 5:1,2. Keadaan berkenan kepada Allah yaitu keadaan seseorang dapat bersahabat kembali dengan Allah (2Korintus 5:18), keadaan itu disebut juga didamaikan dengan Allah. Menjadi anak Allah, yaitu keadaan menjadi anak angkat Allah (Yohanes 1:12; Roma 8:15).
  • C. Bagaimana seseorang dibenarkan

    Manusia dibenarkan sama sekali bukan karena melakukan Hukum Taurat, Roma 3:20-23; Galatia 2:16. Hukum Taurat menyatakan dosa dalam hati seseorang tetapi tidak dapat membenarkan, sebab semua orang telah berdosa. Maksud Taurat yaitu menyatakan dosa serta memimpin manusia kepada Kristus. Walaupun seseorang hanya melanggar satu Hukum Taurat, tetapi laknat Taurat itu ditanggungkan ke atasnya (Galatia 3:10), jadi mustahil ia dibenarkan oleh Taurat itu.

    Manusia dibenarkan oleh karunia Allah karena kasih karunia-Nya, Roma 3:24. Amal dan segala perbuatan baik manusia tidak dapat melayakkan dia untuk dapat dibenarkan. Manusia dibenarkan hanya karena kasih karunia Allah. Hanya Allah pokok kebenaran, Mazmur 71:16; Yesaya 45:24; Yeremia 23:6. Hanya sebab Salib Yesus Kristus Allah dapat membenarkan manusia, yaitu melalui tebusan yang ada di dalam Yesus Kristus. Darah Kristus yang tertumpah (kematian-Nya) menjadi dasar kebenaran kita (2Korintus 5:21; Roma 5:9), dan kebangkitan-Nya menjadi keteguhan kebenaran kita (Roma 4:25). Itu adalah dari pihak Allah, dan dari pihak manusia, manusia harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai korban penggantinya (1Petrus 2:24; Roma 3:26; 4:3-5; 5:1; Galatia 2:16; 3:22). Bukan amal (perbuatan baik) kita yang membenarkan kita, melainkan iman kepada pekerjaan Kristus di atas kayu salib. Sayang sekali sebab ada orang yang berpikir bahwa ia harus membantu pekerjaan Kristus dengan beramal dan berbuat baik, tetapi sebenarnya bukan demikian. Kita harus membuang segala usaha diri kita sendiri dan merasakan kekecewaan atas segala perbuatan kita lalu menyerahkan diri kepada Yesus Kristus serta percaya bahwa Ia membenarkan orang berdosa yang bertobat dan percaya. Semua orang harus dibenarkan dengan cara demikian. Dan barangsiapa yang bertobat dan percaya pasti ia dibenarkan (Kisah 13:39).

    Perbuatan seseorang mengikuti imannya, dan orang yang dibenarkan akan menyatakan imannya melalui perbuatannya (Yakobus 2:14,18-24). Kalau seseorang mengatakan bahwa ia beriman atau percaya tetapi perbuatannya tidak ada yang sesuai dengan imannya itu, maka orang itu tidak dapat dibenarkan. Iman yang dibenarkan yaitu iman yang sungguh-sungguh, yang menggerakkan hati seseorang supaya bertindak sesuai dengan iman dan kebenaran itu. Memang kita dibenarkan oleh iman, bukan karena perbuatan kita, tetapi iman sejati pasti diikuti dengan perbuatan. Iman yang berkenan pada Tuhan, dan olehnya kita dibenarkan, selalu memimpin kita kepada perbuatan-perbuatan yang nyata kepada manusia. Bukti iman nyata dengan jelas dalam Galatia 2:16-21, dan terutama ayat dua puluh (Galatia 2:20) menyatakan bahwa orang yang dibenarkan tidak lagi hidup seperti dahulu, melainkan Kristus yang hidup di dalamnya. Bilamana Kristus mendiami kita, maka perbuatan yang baik, yang berkenan kepada-Nya pasti akan menyertai kita.

    Tuhan Yesus telah bertukar tempat dengan orang-orang yang percaya dan yang dibenarkan. Yesus Kristus telah menggantikan kita, yaitu menjadi kutuk karena kita (Galatia 3:13). Ia telah dijadikan dosa karena kita (2Korintus 5:21). Tuhan Allah telah berbuat kepada Kristus sama seperti kepada seorang berdosa (Yesaya 53:6; Matius 27:46). Dan bilamana kita dibenarkan maka kita mengambil bagian dalam kodrat Kristus, kita diterima oleh Bapa. Kita dibenarkan oleh Allah di dalam Kristus.

    Dibenarkan lebih daripada diampuni. Pengampunan berarti dosa-dosa dihilangkan, tetapi hal dibenarkan merupakan satu hal yang positif, yaitu orang mendapat suatu kebenaran yang sempurna. Yesus Kristus dipersatukan dengan orang yang percaya sedemikian rupa sehingga Allah menanggungkan dosa-dosa mereka kepada Kristus. Dan orang yang percaya itu dipersatukan dengan Kristus sedemikian rupa sehingga kebenaran Kristus diberikan kepadanya. Allah melihat kita di dalam Yesus Kristus serta menganggap kita sama benar dengan Dia.

    Pada saat seorang percaya kepada Kristus, maka pada saat itu juga ia dipersatukan dengan Kristus dan dibenarkan (Kisah 13:39).

    D. Hasil pembenaran

    Bagi orang yang sudah dibenarkan kesalahannya tidak diperhitungkan (Mazmur 32:2). Seorang pun tidak dapat menuduh orang yang dibenarkan (Roma 8:33,34), dan tidak ada hukuman lagi atas mereka (Roma 8:1). Orang yang dibenarkan hidup dalam damai sejahtera dengan Allah (Roma 5:1). Orang yang dibenarkan diselamatkan dari murka Allah (Roma 5:9; Yohanes 5:24) yang akan dijatuhkan ke atas dunia ini bagi yang menolak Yesus Kristus. Bagi orang yang percaya maka hukuman atas dosa sudah berlalu. Dosa-dosa kita telah dipikul oleh Yesus Kristus dikayu salib (1Petrus 2:24; Galatia 3:13). Akan tetapi tiap-tiap orang yang percaya harus menghadap takhta pengadilan Yesus Kristus. Lihat 2Korintus 5:10; 1Korintus 3:11-15; Roma 14:10. Pada waktu itu kelak pelayanan kita akan diperhitungkan oleh Tuhan. Semua pekerjaan dan perbuatan yang kita lakukan sesudah kita diselamatkan akan diperhitungkan oleh Kristus. Kemudian kita akan mendapat balasan atas tiap-tiap perbuatan kita (sesudah kita percaya), perbuatan yang baik maupun yang jahat.

    E. Hubungan antara kelahiran kembali dan pembenaran

    Kelahiran kembali dan pembenaran adalah dua bagian dari satu pekerjaan Allah. Kelahiran kembali adalah pekerjaan Kristus oleh Roh Kudus yang diperbuat di dalam kita; pembenaran adalah pekerjaan Kristus yang diperbuat karena kita dihadapan takhta Allah. Pekerjaan itu dialaskan pada korban perdamaian Kristus dan iman kita. Kelahiran kembali berkenaan dengan perubahan keadaan kita; pembenaran berkenaan dengan hubungan kita dengan Allah. Pada waktu Allah melahirkan kita kembali, pada saat itu Ia membenarkan kita.

    F. Nasihat yang berfaedah

    Iblis paling suka menuduh dan menyiksa orang-orang saleh agar mereka putus asa. Tetapi kita harus lari ke Golgota sebab tidak ada hukuman lagi ke atas orang yang ada di dalam Yesus Kristus (Roma 8:1). Tetapi tegoran terhadap dosa yang datang dari Roh Kudus memimpin kita kepada pengakuan dosa itu dan perdamaian. Bawalah tegoran terhadap dosa saudara ke Golgota dengan mengakui dosa itu serta meninggalkannya.

    VI. MENJADI ANAK ANGKAT

    Hanya ada satu jalan untuk menjadi keluarga Allah, yaitu dengan dilahirkan kembali. Orang yang percaya diangkat menjadi anak Allah ketika ia dilahirkan kembali (Yohanes 1:12). Dalam hal menjadi anak angkat, orang yang dilahirkan kembali diakui atau diberi hak sebagai anak-anak Allah. Dalam satu segi dijadikan anak angkat menyatakan dan mengesahkan bahwa kita telah dilahirkan kembali, kita telah menjadi anak Allah, dianggap sebagai anak yang dewasa dengan memiliki segala haknya; seolah-olah yang muda menjadi dewasa (Galatia 4:1-7).

    A. Arti menjadi anak angkat

    Menjadi anak angkat berarti diangkat menjadi anak; dijadikan anak sendiri dengan mendapat segala hak seperti anak sendiri. Perkataan itu hanya dikenakan kepada orang-orang yang percaya seperti yang disebut dalam Roma 8:15,23; 9:4; Efesus 1:5; Galatia 4:5. Perkataan itu dipakai untuk menyatakan anak-anak Allah. Dalam kelahiran kembali kita menerima kedudukan dan hak sebagai anak-anak Allah.

    B. Dasar untuk menjadi anak angkat

    Dasar untuk menjadi anak angkat adalah kasih karunia Allah, dan pekerjaan Yesus Kristus bagi kita (Efesus 1:3-6).

    C. Siapa yang menjadi anak angkat

    Hanya orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus yang diangkat Tuhan Allah menjadi anak-anak-Nya, Galatia 4:4-7; Yohanes 1:12.

    D. Saat menjadi anak angkat Allah

    Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus dijadikan anak angkat pada waktu ia dilahirkan kembali, Yohanes 1:12; 1Yohanes 3:1,2; Galatia 3:26.

    Penggenapan penyataan hak kita sebagai anak angkat, yaitu penyataan kepada segenap dunia bahwa kita anak-anak Allah, masih belum terjadi, belum kita alami, tetapi hal itu akan terjadi pada waktu kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali. Lihat Kolose 3:4.

    E. Bukti bahwa kita diangkat menjadi anak-anak Allah

    Bukti bahwa kita diangkat menjadi anak-anak Allah yaitu kesaksian Roh Allah di dalam hati kita yang menyatakan bahwa kita sudah menjadi anak-anak Allah, sehingga kita dapat berkata, "Ya Abba, ya Bapa." Galatia 4:6; Roma 8:15,16.

    F. Hasil menjadi anak angkat

    Hasil menjadi anak angkat Allah adalah:
    Kita dapat menyebut Allah itu Bapa kita, Galatia 4:6.
    Kita dilepaskan dari ketakutan, Roma 8:15.
    Kita dapat melayani Tuhan dengan kebebasan sebagai anak-anak, Galatia 4:6,7.
    Kita menjadi sewaris dengan Yesus Kristus, Roma 8:17; 1Korintus 3:21,23.
    Kita menerima tegoran yang berasal dari Bapa, Allah, Ibrani 12:5-11.
    Kita akan mendapat warisan yang kekal, 1Petrus 1:4.
    Kita dipimpin oleh Roh Kudus, Roma 8:4; Galatia 5:18.
    Kita menaruh harap kepada Allah, Galatia 4:5,6.
    Kita memperoleh hak untuk menghadap takhta anugerah Allah, Efesus 3:12; Ibrani 4:16.
    Kita mengasihi saudara-saudara, 1Yohanes 2:9-11; 5:1.
    Kita mentaati perintah Tuhan, 1Yohanes 5:1-3.

    VII. KESAKSIAN ROH KUDUS DAN KEINSAFAN AKAN KESELAMATAN KITA

    A. Kesaksian Roh Kudus

    Perkataan "Kesaksian Roh Kudus" berarti bukti di dalam hati nurani kita dan kesaksian Roh Kudus yang menyaksikan bahwa kita telah menjadi anak-anak Allah serta telah diselamatkan. Roh Kudus menyatakan hal itu dalam hati nurani orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebaiknya tiap-tiap orang Kristen patut mengetahui dengan pasti bilamana, di mana, dan bagaimana ia diselamatkan. Tuhan juga menginginkan kita mengetahui hal itu dan telah memberikan beberapa ayat di dalam Alkitab yang menyatakan hal itu kepada kita. Ada kesaksian tentang hal itu di dalam Perjanjian Lama dari Habel, Henokh, dan Ayub (Ibrani 11:4,5; Ayub 19:25). Demikian pula dari Daud dan Yesaya (Mazmur 32:5; 103:1,3,12; Yesaya 6:7). Dalam Perjanjian Baru terdapat banyak ayat yang membuktikan hal itu. Dalam Kisah 2:46 dan Kisah 16:34 dikatakan tentang kesukaan yang datang oleh sebab kesaksian itu. Lihat pula Kisah 8:39; Roma 8:14-16; Galatia 4:6; 1Yohanes 5:6-12. Dari ayat-ayat itu nyata bahwa Roh Kudus menyaksikan dalam hati orang yang percaya tentang kenyataan sebagai anak Allah dan tentang keselamatannya.

    Bilamana seseorang dilahirkan kembali maka Roh Kudus menyaksikan dalam hatinya bahwa ia adalah anak Allah. "Roh itu bersaksi bersama-sama dengan Roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Roma 8:16). Roh kita menyaksikan bahwa kita ini anak-anak Allah dalam hal kita berseru "Ya Abba, ya Bapa". Tetapi Roh Kudus juga menyaksikan dalam hati kita, bahwa kita dilahirkan kembali, kita telah menjadi anak-anak Allah. Kesaksian Roh Kudus itu penting sekali, sebab hal itu berhubungan dengan keselamatan kita. Tuhan Allah telah memberikan kesaksian ini sebab Ia tidak mau kita kuatir atau ragu-ragu, Ia tidak mau kita digodai Iblis sehingga hati kita menjadi syak. Tiap-tiap orang Kristen harus dapat memandang akan Allah serta menyeru "Ya Abba, ya Bapa" dengan kesadaran di dalam hatinya bahwa ia telah menjadi anak Allah. Dan tiap-tiap orang Kristen harus mendapat kesaksian Roh Kudus dalam hatinya bahwa ia telah menjadi anak Allah. Bila kita tahu dengan pasti bahwa kita adalah anak Allah, barulah kita dapat berharap dan percaya akan Dia dalam kesusahan apa pun juga.

    B. Keinsafan akan keselamatan kita

    Tuhan Allah menghendaki agar tiap-tiap orang Kristen benar-benar menginsafi bahwa ia telah memperoleh hidup yang kekal dan diselamatkan; Tuhan telah mengutus Rasul Yohanes untuk menulis suratnya yang pertama supaya tiap-tiap orang yang percaya kepada nama Anak Allah, menginsafi dan tahu dengan pasti bahwa ia telah memperoleh hidup yang kekal (1Yohanes 5:13). Itulah hak tiap-tiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus boleh mengetahui dan yakin bahwa ia telah menjadi anak Allah, karena Firman Allah berkata demikian (Yohanes 1:12).

    Kita dapat mengetahui bahwa kita memperoleh hidup yang kekal oleh sebab apa yang tertulis dalam Alkitab, yaitu oleh karena kesaksian Allah sendiri, terutama kesaksian-Nya dalam surat Yohanes yang pertama (1Yohanes 5:13). Kesaksian Alkitab adalah kesaksian Allah. Kita tahu bahwa itu benar, dan tiap-tiap orang yang percaya boleh menginsafi hal itu. Apa yang disaksikan dalam Alkitab tentang keselamatan dan hidup yang kekal diterangkan dalam ayat-ayat berikut: Yohanes 3:36; 5:24; 6:47; 1:12; Kisah 10:43. Ayat-ayat itu menyatakan kepada kita apakah kita percaya atau tidak, menyatakan apakah kita sudah menerima Kristus di dalam hati kita atau belum. Kalau kita sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, maka kita memiliki kesaksian Allah bahwa dosa-dosa kita telah diampuni, kita telah mendapat hidup yang kekal dan telah menjadi anak Allah. Kata "tahu" ada 33 kali dalam Surat Yohanes yang pertama.

    Kita tahu bahwa kita telah lepas dari kematian dan memperoleh hidup oleh sebab kesaksian kehidupan itu yang ada pada kita. Seseorang yang hidup menyadari bahwa kehidupan itu ada di dalam dirinya. Begitu pula orang yang mempunyai hidup rohani, ia insaf bahwa dirinya hidup. Sebab ia mengasihi saudara-saudaranya maka ia tahu bahwa ia mempunyai hidup (1Yohanes 3:14). Tetapi kasih yang bagaimanakah yang menentukan bahwa kita hidup? Kasih itu diterangkan dalam 1Yohanes 3:16-18. Kalau kita menyerahkan diri kita untuk saudara-saudara kita, maka hal itu membuktikan bahwa ada kasih di dalam kita. Boleh jadi kita dipanggil untuk sungguh-sungguh menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita, untuk membuktikan kasih kita. Akan tetapi meskipun kita tidak dipanggil untuk sungguh-sungguh menyerahkan nyawa kita bagi saudara-saudara kita, tentu kita semua dipanggil untuk menyerahkan nyawa kita dalam hal melayani mereka. Kita dipanggil untuk memberikan milik kita kepada saudara-saudara kita yang berkekurangan. Relakah kita melakukan hal itu? Kalau ada saudara kita yang di dalam kekurangan, dan kita mampu menolong dia tetapi kita tidak mau melakukannya, berarti tidak ada kasih di dalam kita, dan kita tidak mempunyai hidup.

    VIII. MENGENAL HAL DIKUDUSKAN

    A. Pentingnya pengudusan

    Tuhan Allah memerintahkan kepada semua orang yang telah ditebus oleh darah Yesus Kristus: "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus" (1Petrus 1:16). Dan Tuhan juga menyuruh kita menjadi sempurna seperti Ia adalah sempurna (Matius 5:48). Manusia tidak dapat menuruti perintah ini dengan kuasanya sendiri. Oleh sebab itu Tuhan menyediakan jalan supaya kita, oleh kuasa Allah, dapat mentaati perintah itu. Kalau tidak, tentu Tuhan akan mengolok-olok kita. Puji syukur kepada Allah, Ia telah menyediakan jalan di dalam Yesus Kristus, "Yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita, Ia membenarkan dan menguduskan, dan menebus kita" (1Korintus 1:30). "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu" (1Tesalonika 4:3). Alangkah baiknya bila pelajaran Alkitab tentang pengudusan diketahui dan dialami oleh semua anak-anak Allah sehingga terjadi suatu gerakan kesucian dalam jemaat Kristus.

    Perkataan "pengudusan", "suci", atau "disucikan" dan perkataan-perkataan lain yang sama artinya ada 1400 kali dalam Firman Allah. Mengenai hal pengudusan penting sekali sebab hal itu berkenaan dengan hubungan kita dengan Allah, dan hal itu perlu sekali untuk mempersiapkan kita dalam melayani Tuhan. "Sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan" (Ibrani 12:14).

    B. Hubungan pengudusan dengan hal dibaptiskan dengan Roh Kudus

    Sebenarnya tidak ada pengudusan atau kesucian di luar baptisan dengan Roh Kudus. Baptisan dengan Roh Kudus itulah yang menguduskan kita. Menyerahkan diri, mempersembahkan segenap diri kepada Tuhan serta menerima Roh Kudus adalah suatu hal yang pasti dan nyata, suatu titik tolak di dalam kehidupan Kristen. Itulah permulaan pengudusan di dalam hati orang yang percaya. Tetapi kelanjutan pengudusan itu ialah menghasilkan buah-buah Roh Kudus sebagai pernyataan bahwa Roh Kudus ada di dalam kita. Bagian kita yaitu menyerahkan dan mempersembahkan diri kepada Tuhan lalu menyambut Roh Kudus ke dalam hati kita dengan iman. Bagian Allah yaitu menyucikan dan menguduskan serta memenuhi hati kita dengan Roh Kudus.

    Evan Roberts, pendeta yang telah membawa kebangunan rohani yang besar di dalam sebuah jemaat di Inggris (bagian Wales), mengatakan: "Kalau seseorang sudah diselamatkan, maka itu merupakan satu hal, tetapi dibaptiskan dengan Roh Kudus adalah satu hal yang lain lagi." Roberts berkata bahwa ia telah menerima dari Tuhan empat perintah kepada orang-orang berdosa, yaitu: 1) mengaku kepada Allah setiap dosa yang sudah dilakukan; 2) kalau ada kekuatiran atau tempelakan terhadap sesuatu di dalam kehidupannya haruslah ia menjauhkan diri dari hal itu; 3) menyerahkan diri semata-mata kepada Roh Kudus; 4) mengakui Kristus dihadapan orang lain. Dan perintah-Nya kepada orang Kristen hanya satu, yaitu "membuka hati kepada Roh Kudus, meminta Tuhan Allah memenuhi hatinya dengan Roh Kudus, dan percaya bahwa Allah sungguh-sungguh melakukan hal itu. Kemudian ia hanya memerlukan satu hal, yaitu taat serta menuruti perintah Tuhan kepadanya". Pelajaran itu dipakai Tuhan untuk mendatangkan kebangunan rohani yang besar di dalam jemaat.

    C. Perlunya seseorang dikuduskan

    Biasanya seseorang belum sungguh mendapat penyataan atau mengerti tentang kekejian hatinya sebelum ia dilahirkan kembali. Sesudah itu Roh Kudus melalui Firman Allah mulai menyatakan hal itu kepadanya (Roma 7:1-24). Seringkali terjadi bahwa seorang Kristen pada suatu saat berada di puncak kemenangan atas dosa dan pada saat yang lain berada di lembah kekalahan. Orang Kristen itu mengetahui bahwa ia tidak dapat mengalahkan dosa di dalam dirinya. Ia dapat merasakan bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang berlawanan dengan Allah, yang mengalahkan dirinya. Lalu ia mulai melawan musuh yang ada di dalam jiwanya itu. Ia berjanji kepada Allah bahwa ia tidak akan berbuat dosa lagi, tetapi janjinya tidak dapat digenapi, dan kehendaknya tidak mampu untuk menang. Kasih kepada dosa memang telah hilang tetapi kuasa dosa di dalam dirinya belum dihancurkan. Begitulah pengalaman orang-orang Kristen, dan keadaan itu bisa digambarkan dengan perjalanan orang-orang Israel di padang belantara. Hal itu diterangkan oleh Rasul Paulus dalam pasal Roma 7:1-24.

    Jadi apakah artinya hal itu bagi orang Kristen? Sebetulnya orang itu sudah mengenal Yesus Kristus sebagai kebenaran tetapi belum mengenal Dia sebagai kekudusan. Bila seorang dilahirkan kembali maka kasih akan dosa ditiadakan tetapi kuasa dosa tidak dihancurkan. Kemenangan atas kuasa dosa hanya diperoleh bilamana orang itu menerima Roh Kudus dan bila Kristus yang bangkit itu mendiami hatinya. Di dalam pasal Roma 7:1-24 dikatakan bahwa Roh Kudus menyertai orang yang percaya dan menyatakan kepadanya keadaan hatinya. Dalam pasal Roma 8:1-39 dikemukakan bahwa Roh Kudus ada di dalam hati orang yang percaya serta memberi kemenangan atas kuasa dosa.

    Seperti dikatakan di atas, kepada orang Kristen yang hidup dalam tabiat duniawi Tuhan Allah memberikan suatu penyataan tentang dirinya yang lama dan tentang kejahatan tabiatnya yang telah jatuh di dalam dosa. Jadi, wajiblah diri yang lama itu diserahkan kepada Allah untuk disalibkan dan agar kita dilepaskan dari kuasanya. Kita harus tetap membiarkan diri yang lama itu di dalam tangan Tuhan dan tidak berkuasa lagi atas kita.

    D. Apakah pengudusan itu?

    Pengudusan merupakan kasih karunia Allah; melalui kasih karunia itu orang yang percaya menjadi kudus atau suci serta mendapat kuasa untuk mengalahkan dosa. Dikuduskan artinya disucikan, diceraikan dari segala yang jahat dan najis (2Tawarikh 29:5,15-18; Imamat 11:14; 20:7; 1Tawarikh 15:12,44; Keluaran 19:20-22; 1Tesalonika 4:3,7; 5:22,23; Ibrani 9:13). Oleh sebab tidak ada kesucian di dalam manusia dan sumber kesucian hanyalah Allah sendiri, maka manusia tidak dapat menguduskan dirinya sendiri. Pekerjaan itu haruslah dilakukan oleh Allah. Tetapi ada juga arti lain untuk perkataan "dikuduskan", yaitu diserahkan dan dipersembahkan kepada Allah. Ini adalah bagian manusia dan memang manusia harus dengan kehendak-Nya sendiri mempersembahkan dirinya kepada Allah. Setelah itu barulah Tuhan menguduskan apa yang kita persembahkan kepada-Nya. Tanpa dipenuhi dengan Roh Kudus tidak ada kekudusan di dalam kita. Pekerjaan Roh Kudus adalah menguduskan kita. Kita menyebut Yesus Kristus Pengudus kita, tetapi Ia bekerja melalui Roh Kudus.

    Ada tiga bagian pada pihak orang yang percaya dan dua bagian pada pihak Allah. Orang yang percaya harus menjauhkan diri dari dunia dan dosa; mempersatukan diri dengan kematian dan kebangkitan Kristus, dan menyerahkan serta mempersembahkan dirinya kepada Allah. Lalu Tuhan akan menyucikan dan memenuhi dia dengan Roh Kudus. Hal ini berbeda dengan hal diselamatkan, dan hal ini terjadinya sesudah keselamatan itu.

    1) Menjauhkan diri dari dunia dan dosa. Memang kita harus menjauhkan diri kita dari segala yang najis, dan dari kasih kepada dunia; lihat 2Korintus 6:17 dan 1Yohanes 2:15. Kita harus melepaskan pegangan kita pada dosa dan dunia ini. Dalam suatu jemaat ada seorang saleh yang dipenuhi dengan Roh Kudus; ia bersaksi dalam jemaat itu tentang kehidupan kemenangan dalam Kristus. Lalu ada seorang lain berkata, "Saya bersedia memberikan segenap dunia, seandainya saya bisa bersaksi seperti itu, tetapi rasanya saya tidak dapat mengalami yang sedemikian". Orang yang telah bersaksi itu menjawab, "Begitulah juga harganya bagi saya - segenap dunia - saya sudah bercerai daripada dunia, dan tuan akan bisa bersaksi demikian dengan harga yang sama".

    2) Di samping menjauhkan diri dari dunia dan dosa haruslah orang itu mempersatukan dirinya dengan kematian dan kebangkitan Kristus, yaitu mengalami kematian beserta dengan Kristus. Sebab hanya ada satu tempat di mana manusia mendapat kelepasan dari dirinya yang lama dan kehidupan bagi dirinya sendiri, yaitu pada kayu salib Kristus (Roma 6:6,8,11; Galatia 2:20). Kematian semacam itu membawa hidup yang baru, yaitu hidup kebangkitan; Kristus yang dibangkitkan mendiami hati orang itu. Seluruh pasal enam dari Kitab Roma (Roma 6:1-23) menjelaskan tentang kita dipersatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Dan orang yang telah dipersatukan dengan Kristus tidak lagi dikuasai oleh dosa melainkan di bawah kasih karunia (Roma 6:14). Bukan hanya kita yang dipersatukan dengan Kristus tetapi Ia pun dipersatukan dengan kita dalam hal Ia mendiami hati kita (Galatia 2:20). Hal ini dinyatakan dalam syair Dr. A.B. Simpson:

    Dulu ada orang lain dalam 'ku,
    Anak dunia, hamba Setan dia;
    Telah dipaku ke salib Yesus,
    Tak hubunganya lagi padaku.
    S'karang Yesus hidup dalam aku,
    Hidup-Nya menjadi hidupku;
    Mati serta-Nya jadi hidupku,
    Hidup-Hu t'lah bangkit dalam 'ku.

    3) Sesudah kita dipersatukan dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, kita patut menyerahkan dan mempersembahkan diri kita kepada Allah; menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah sebagai korban yang hidup (Roma 12:1,2), dengan kesadaran bahwa kita sudah dibeli dengan harga tunai; dan sebab itu kita patut memuliakan Allah dengan tubuh kita (1Korintus 6:20).

    Dari pihak Allah, Ia menyucikan dan memenuhi dengan Roh Kudus. Dan seperti yang dikatakan di atas, maka tentang hal dikuduskan tidak dapat dipisahkan dari hal dipenuhi dengan Roh Kudus. Bilamana kita mempersembahkan diri dan hidup kita kepada Allah serta menyambut Roh Kudus di dalam hati kita, maka dengan demikian kita mengizinkan Tuhan menguduskan kita. Apa yang dipersembahkan di atas mezbah, akan dikuduskan oleh Tuhan (Matius 23:19). Jelas dikemukakan di dalam Matius 3:11,12 bahwa pekerjaan Roh Kudus ialah menyucikan kita. Bilamana seseorang dipenuhi dengan Roh Kudus maka ia mendapat kuasa untuk mengalahkan dosa serta mendapat kuasa dalam melayani Tuhan (Kisah 1:8). Orang-orang yang telah percaya di Efesus tidak memiliki kuasa itu (Kisah 19:2-6). Lalu Rasul Paulus berdoa untuk mereka dan mereka dibaptiskan dengan Roh Kudus. Inilah kuasa yang menjadikan kita saksi-saksi Kristus (Kisah 1:8).

    Pekerjaan Roh Kudus ialah semata-mata meninggikan dan mengutamakan Yesus Kristus (Yohanes 15:26; 16:13-15). Oleh pekerjaan Roh Kudus Yesus Kristus sungguh-sungguh hidup di dalam diri orang yang percaya. Karena itu hal dikuduskan bukanlah suatu berkat, melainkan berkenaan dengan satu pribadi yang hidup dan diam di dalam kita, yaitu Kristus. Hal ini dikemukakan oleh Dr. A.B. Simpson dalam syairnya:

    Dulu yang kucari yakni berkat-Hu, S'karang yang kurindu hanya Tuhanku;
    Dulu hal merasa yang kuinginlah, S'karang yang kucinta Firman sajalah;
    Dulu kuberharap t'rima 'nugrah-Nya, S'karang ku beroleh Dia yang memb'ri;
    Dulu ku bernanti kesembuhan-Nya, S'karang ku mendapat Tabib Almasih.
    Dapat Tuhan Yesus, dapat s'muanya;
    S'mua dalam Yesus, dan Yesus s'muanya.

    Pengudusan merupakan suatu hal yang terjadi secara jelas dan pasti. Hal itu terjadi pada suatu saat yang pasti secara mutlak, dan merupakan suatu pekerjaan yang dilangsungkan terus-menerus. Tentang hal itu diterangkan dalam bagian yang berikut.

    E. Bilamanakah seseorang dikuduskan?

    Dalam satu segi pengudusan itu mulai pada waktu seseorang dilahirkan kembali, sebab kelahiran kembali mempersiapkan seseorang untuk menerima Roh Kudus dan menyerahkan serta mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Demikian juga Roh Kudus tinggal di dalam orang yang baru dilahirkan kembali, tetapi Ia tidak tinggal dengan kepenuhan-Nya. Sebab tiap-tiap orang yang sudah dilahirkan kembali harus dengan tegas dan pasti menyerahkan dirinya kepada Allah untuk dikuduskan dan dibaptiskan dengan Roh Kudus (Lukas 24:29; Kisah 1:5,8; 19:2).

    Pengudusan dalam menjauhkan diri dari dunia dan segala yang najis dan jahat adalah satu hal yang terjadi pada suatu saat secara pasti dan seketika itu juga (Galatia 6:14). Kita harus menganggap diri kita mati terhadap dosa, dunia ini dan kesenangannya. Kita dapat melepaskan semua itu dengan satu tindakan yang pasti, yaitu menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan demikian keinginan akan dunia dan kesenangannya akan lepas dari kita seperti daun yang layu dan gugur dari pohonnya. Pada waktu itu Yesus Kristus menjadi pusat pandangan kita dan daya tarik utama bagi hati kita.

    Seringkali orang mencoba menghilangkan dosa dan keinginan duniawi dengan kuasanya sendiri. Usaha itu bagaikan mencoba mengeluarkan udara dari gelas dengan pompa, tetapi mustahil usaha itu berhasil sebab makin dipompa makin tipis udara itu dan selalu masih tinggal sedikit dalam gelas itu. Tetapi ada jalan yang mudah untuk mengeluarkan udara itu, yaitu mengisi gelas itu dengan air. Cara untuk menghilangkan dosa-dosa dan keinginan-keinginan duniawi ialah dipenuhi dengan Roh Kudus.

    Pengudusan dalam kita mempersembahkan diri kita kepada Tuhan adalah satu hal yang terjadi pada suatu saat secara pasti dan seketika itu juga (Roma 12:1,2). Tindakan ini tidak perlu sering diulangi. Seorang isteri tidak perlu menyatakan setiap hari bahwa ia menyerahkan diri kepada suaminya, sebab hal itu sudah diperbuat sekali saja pada hari pernikahannya.

    Pengudusan dengan disucikan oleh Allah dan dibaptiskan dengan Roh Kudus adalah satu hal yang terjadi pada suatu saat secara pasti dan seketika itu juga (Yohanes 1:5). Pada Hari Pentakosta Roh Kudus datang dengan sekonyong-konyong, begitu pula di Samaria (Kisah 8:14-17), dan di dalam rumah Kornelius (Kisah 10:44). Pada masa sekarang juga orang-orang yang percaya dapat dibaptiskan dengan Roh Kudus dengan jelas dan pasti, dengan keinsafan bahwa hal itu sudah terjadi. Kita patut mengejar dan mencapai kekudusan itu (Ibrani 12:14).

    Pengudusan dalam menjauhkan diri dari segala yang najis dan jahat serta mempersatukan diri dengan kematian dan kebangkitan Kristus sepatutnya terjadi sekaligus, yaitu mempersembahkan diri seluruhnya kepada Allah dan dikuduskan oleh Tuhan serta dipenuhi dengan Roh Kudus. Hal itu dapat terjadi pada suatu saat tertentu secara pasti. Mempersembahkan diri seluruhnya kepada Allah, disucikan oleh Tuhan dengan baptisan Roh Kudus, dua hal itu sepatutnya terjadi sekaligus, yaitu pada suatu saat tertentu secara pasti. Tiap-tiap pekerjaan yang baik harus ada permulaanya, begitu pula orang-orang Kristen patut mengetahui kapan saatnya ia mencari dan kapan ia dikuduskan.

    Sesudah terjadi penyerahan yang pasti dan jelas, maka pekerjaan pengudusan dilangsungkan dan diteruskan. Itulah pekerjaan Roh Kudus di dalam diri orang yang percaya. Dengan demikian kita bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan Yesus (2Petrus 3:18). Hal itu merupakan satu kemajuan dalam kehidupan Kristen. Kita harus mencapai segala sasaran yang menjadi rencana Allah bagi kita, yang untuk rencana itu Kristus telah mencapai kita (Filipi 3:12-15). Kehidupan Kristen merupakan suatu peperangan melawan dosa, dunia, dan Iblis; dan kita harus selalu dalam keadaan siap melawan di dalam perlawanan itu. Sama seperti orang Israel, sesudah mereka itu masuk ke negeri Kanaan, masih ada banyak tanah yang wajib mereka rebut dari musuh. Pada waktu itu terjadi banyak peperangan. Demikian pulalah kehidupan orang yang dikuduskan dan dibaptiskan dengan Roh Kudus. Tetapi orang yang telah dikuduskan itu tidak berperang sendiri melawan dosa, diri yang lama, dunia, dan Iblis, melainkan ia menyerahkan semua musuhnya kepada Tuhan, dan Kristus yang hidup di dalam dirinya itulah yang mengalahkan segala musuh itu. Hal ini dilukiskan dalam Yosua 5:13,14, di mana Tuhan telah menunjukkan diri-Nya sebagai Panglima bala tentara Tuhan; dan dalam 2Tawarikh 20:15, di mana Tuhan berfirman, "Sebab bukan kamu yang akan berperang, melainkan Allah". Tuhan Yesus, Panglima bala tentara Tuhan, akan mengalahkan segala musuh itu.

    Di samping itu, di dalam kelangsungan pengudusan itu Tuhan menghendaki kita "menjadi serupa dengan gambaran Kristus" (Roma 8:29; 2Korintus 3:18; Filipi 1:6; Kolose 3:10; Efesus 4:15). Dari sehari-hari kita patut makin menjadi serupa dengan gambaran Kristus.

    Mengenai kelangsungan pengudusan, pelajarilah seluruh pasal tiga Kitab Kolose (Kolose 3:1-25). Perhatikan perkataan-perkataan yang berikut: "carilah" ayat Kolose 3:1; "pikirkanlah" ayat Kolose 3:2; "matikanlah" ayat Kolose 3:5; "kenakanlah" ayat Kolose 3:12; "kasih" dan "damai sejahtera" ayat Kolose 3:14,15; "perkataan Kristus" ayat Kolose 3:16. Nasihat yang berkenaan dengan perkataan-perkataan itu sangat berfaedah bagi orang yang ingin bertumbuh dalam hal kekudusan. Perhatikanlah juga ayat-ayat berikut yang berisi pelajaran yang sangat menolong dalam hal kesucian: Roma 12:9-21; 14:21; 15:1,2; 1Korintus 13:1-13; 2Korintus 6:17-7:1. Pelajaran lain yang sangat menolong juga dalam kehidupan kesucian terdapat dalam tiga perkataan "memandangnya", "berkuasa", dan "menyerahkan", dalam Roma 6:11-13.

    F. Bagaimanakah seseorang dikuduskan?

    Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus mengambil bagian dalam menguduskan kita (1Tesalonika 5:23; Efesus 5:25,26; Ibrani 13:12; 2Tesalonika 2:13; Roma 8:2; 1Petrus 1:2). Orang yang percaya sepatutnya menjauhkan dirinya dari kejahatan serta mempersatukan dirinya dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus, lalu mempersembahkan diri seluruhnya kepada Allah, barulah Tuhan menguduskan serta membaptiskan dia dengan Roh Kudus. Tetapi baiklah kita memperhatikan apa yang menjadi alasan dari pengudusan itu.

    Kita dikuduskan oleh Firman Tuhan (Yohanes 17:17; 15:3). Penting sekali perkataan Allah dalam pengudusan, sebab Firman itu menyatakan betapa perlunya kita disucikan. Firman Tuhan adalah seperti cermin yang menyatakan noda-noda yang Tuhan lihat di dalam kita.

    Kita dikuduskan oleh darah Kristus (Yohanes 1:7). Firman Tuhan menyatakan dosa kita dan darah Kristus menyucikan kita dari segala dosa. Darah Kristus adalah pancaran di mana kita senantiasa pergi untuk mendapatkan kesucian.

    Segala ganjaran dan pengajaran Tuhan kepada kita juga dipakai untuk pengudusan kita (Ibrani 12:10). Di samping itu, tiap-tiap carang di dalam Tuhan yang berbuah dibersihkan supaya makin lebat lagi ia berbuah (Yohanes 15:2). "Dibersihkan" dalam ayat itu berarti cabang yang tidak baik dipotong.

    Kita dikuduskan oleh iman (Kisah 26:18; 15:19), dan patut kita tetap memandang diri kita mati bagi dosa (Roma 6:11). Penggenapan pengudusan, itu bergantung pada ketetapan dan keteguhan kita di dalam iman (Kolose 1:21-23).

    G. Hasil pengudusan

    Ada beberapa hasil pengudusan yang patut kita perhatikan. Kerinduan hati seseorang yang telah dikuduskan tidak lain hanyalah menyempurnakan pengudusannya dengan takut akan Allah (2Korintus 7:1; Kolose 3:8).

    Orang yang dikuduskan akan mengganti pikiran duniawinya dengan pikiran Kristus. Ia dapat menang atas pencobaan untuk marah, iri hati, cemburu, dan dengki. Kristus akan menguasai pikirannya dan kehendaknya, bertakhta di dalam hatinya, dan keakuannya akan tetap disalibkan. Roh Kudus selalu meninggikan Yesus Kristus, jadi bila seseorang dipenuhi dengan Roh Kudus maka Kristus diberi tempat tertinggi dan terutama di dalam hati dan kehidupannya. Kehidupan orang yang demikian dinyatakan dalam syair Dr. A.B. Simpson:

    Tak'ku, Ya Kristus dicinta-tinggikan;
    Tak'ku, Ya Kristus dilihat-dengar;
    Tak'ku, Ya Kristus dalam tiap kelakuan;
    Tak'ku, Ya Hu, dalam pikir-kata.

    Orang yang sudah dikuduskan tidak lagi menyukai kesenangan-kesenangan dunia ini sebab Kristuslah yang menjadi kesenangan dalam segenap kehidupannya. Persoalan-persoalan yang membimbangkan orang-orang yang setengah Kristen dan setengah duniawi, dijawab dan diselesaikan oleh Kristus. Segenap perbuatannya dilaksanakan dengan maksud untuk mempermuliakan Tuhan Yesus dengan kesadaran bahwa Ia akan segera datang. Orang itu tidak akan senang pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dapat membawa Kristus sertanya, atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan kepada-Nya.

    Kehendak orang yang dikuduskan senantiasa diserahkan kepada Tuhan sehingga ia selalu berkata, "Bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Lukas 22:42).

    Perkataan orang yang dikuduskan akan "senantiasa penuh kasih, dan tidak hambar" (Kolose 4:6). "Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna" (Yakobus 3:2). Perkataan orang itu akan meneguhkan dan membangunkan orang-orang.

    Apabila seorang dipenuhi dengan Roh Kudus ia mendapat kekuatan untuk melawan dosa dan Iblis. Dengan kuasa kita sendiri kita bagaikan karung kosong yang tidak dapat berdiri tegak; tetapi jikalau karung itu diisi dengan beras tentu dapat berdiri tegak. Demikianlah kekuatan kita yang dipenuhi Roh Kudus.

    Pelajaran ini sebaiknya dipelajari bersama-sama dengan pelajaran tentang Baptisan Roh Kudus.

    IX. AYAT-AYAT PERINGATAN DALAM ALKITAB

    Kita sudah mempelajari asas-asas pelajaran Alkitab tentang keteguhan dan keselamatan orang-orang yang percaya. Setelah kita membahas pelajaran tentang kekudusan, maka baiklah kita mempelajari tentang ketekunan orang-orang yang percaya dan berusaha sampai akhir.

    Tuhan Allah berkuasa menyelamatkan dengan sempurna orang-orang yang datang kepada-Nya melalui Yesus Kristus. Allah berkuasa memelihara kita supaya kita tidak jatuh. Tetapi Ia tidak akan memelihara kita kalau kita tidak menghendaki untuk dipelihara. Pada waktu kita berkehendak untuk dipelihara oleh Allah, maka segala kuasa-Nya dilimpahkan kepada kita untuk mengalahkan dosa dan Iblis. Segala sesuatu yang telah ditakdirkan Tuhan Allah akan terjadi, dan Allah berkuasa melakukan kehendak-Nya, tetapi Ia menghormati kehendak kita. Tuhan Allah tidak memaksa kita, tidak melawan kehendak diri kita. Dengan macam-macam daya upaya Allah mengajak kita tetapi Ia tidak memaksa kita untuk menurut Yesus Kristus, Anak-Nya. Kita harus menyatakan kehendak kita sendiri untuk mengikuti Dia.

    Ada beberapa orang yang memegang jabatan penting di dalam jemaat Kristus yang menjadi murtad. Mereka tidak lagi percaya akan asas Alkitab dan Firman Tuhan. Ada juga orang-orang yang dengan sengaja berbalik dari Yesus Kristus. Oleh sebab itu Tuhan memberikan beberapa ayat peringatan di dalam Alkitab, bukan supaya kita takut sehingga putus asa, tetapi untuk menjaga agar kita sampai kepada kehendak Allah, dan supaya kita tetap bertahan dan berusaha sampai kepada kesudahan. Kita patut menyelidiki diri kita apakah kita tetap tegak di dalam iman. Untuk setiap ayat peringatan ada lima ayat yang menyatakan jaminan keselamatan orang yang percaya.

    Walaupun begitu ayat-ayat peringatan itu tertulis dalam Alkitab, dan Tuhan memberikan ayat-ayat itu dengan suatu maksud. Maksudnya ialah supaya kita tetap berjaga-jaga dan tekun sampai kesudahan. Oleh sebab itulah juga kami telah mengumpulkan ayat-ayat peringatan itu supaya para pembaca dapat mempelajarinya, dan berjaga-jaga, dan bertahan sampai kepada kesudahannya.

    Ayat-ayat itu adalah: 1Korintus 9:27; 2Petrus 1:1-11; 1Yohanes 5:4; 1Korintus 11:19; 1Yohanes 2:19; Ibrani 10:25-29; 2Timotius 2:19; Ibrani 6:4-6,11,12; 2Petrus 2:20-22; 1Korintus 10:12; 2Petrus 3:14; 1Petrus 1:1-9; Ibrani 3:6,12-14; Ibrani 4:1; Efesus 5:15; Efesus 6:10; 1Timotius 6:12; Kolose 1:23; Wahyu 2:10,11,17,26; 1Korintus 6:9,10; 16:13; Wahyu 22:15; 2Korintus 7:1; Galatia 5:19-21; Efesus 5:5; Ibrani 12:14.

    Apakah kita diselamatkan oleh sebab kita berjaga-jaga dan bertekun dan berusaha? Tidak! Tetapi hal-hal itu menyatakan hubungan kita dengan Kristus, menyatakan kasih kita dan ketaatan kita kepada Kristus. Sebaliknya, apakah kita diselamatkan oleh iman jikalau kita tetap dalam dosa-dosa kita? Tidak! Lihatlah 1Korintus 6:9,10; Wahyu 22:15 dan Galatia 5:19-21.

    X. PENYEMBUHAN TUBUH

    Dasar Penyembuhan dalam Alkitab

    "Manusia mempunyai dua sifat, yaitu sifat jasmani (badani) dan sifat rohani. Manusia yang telah jatuh ke dalam dosa, sudah mempengaruhi dua tabiat itu. Penyakit telah mengena tubuhnya; dan dosa telah menajiskan jiwanya. Tetapi syukur, tebusan yang sempurna itu meliputi kedua sifat itu, serta membawa hidup baru bagi tubuh dan hidup baru bagi roh. Penebus kita, Yesus Kristus, telah mengulurkan tangan-Nya kepada orang berdosa dan orang yang sakit untuk menawarkan keselamatan jiwa dan kesembuhan tubuh. Ia telah menyerahkan diri-Nya kepada kita sebagai Juruselamat yang sempurna. Roh-Nya yang mendiami kita menjadi hidup bagi roh kita, dan tubuh kebangkitan-Nya menjadi hidup bagi tubuh kita". DR.A.B. Simpson.

    Segala berkat Tuhan sampai kepada kita berdasarkan korban pendamaian (tebusan) Yesus Kristus, dan penyembuhan tubuh termasuk di dalam tebusan itu.

    Kalau jemaat Kristus merindukan penyembuhan tubuh seperti yang terjadi dalam jemaat yang mula-mula, maka iman kita harus beralaskan pada Perjanjian Tuhan dalam Alkitab. Perjanjian pertama untuk penyembuhan tubuh dalam Alkitab terdapat dalam Keluaran 15:25,26. Dalam ayat itu ditulis sebutan bagi Tuhan, yaitu "Yehova-Rafa", yang artinya "Tuhanlah yang menyembuhkan engkau". Mazmur 105:37 menyatakan bagaimana perjanjian dalam Keluaran itu digenapi oleh Tuhan. Dalam Mazmur 103:2,3 penulis memuji-muji Allah yang mengampuni dosa dan dengan ayat yang sama ia juga memberitahukan bahwa Allah menyembuhkan segala penyakit kita. Di dalam ayat itu tidak disebutkan adanya seorang tabib, hanya dengan berharap dan percaya kepada Allah.

    "Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya - dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:4,5). Di sini terdapat suatu gambaran Penebus yang datang dan Injil yang dinubuatkan. Jelas bahwa yang dibicarakan di sini ialah penebusan dari dosa dan dari penyakit. Perhatikan artinya perkataan "dipikulnya". Perkataan dalam Yesaya itu dikutip di dalam Mat 8:16,17. Ayat ini dikutip untuk memberitahukan apa sebabnya Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit. Bukannya Tuhan Yesus ingin menunjukkan ketuhanan-Nya, melainkan Ia mau menggenapkan pekerjaan-Nya sesuai dengan sifat-Nya yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya itu. Kalau Ia tidak menyembuhkan orang-orang sakit, tentu Ia tidak bekerja sesuai dengan sifat-Nya. Dan kalau sekarang Ia tidak menyembuhkan orang sakit tentu Ia bukan "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin, maupun hari ini, dan sampai selama-lamanya" (Ibrani 13:8). Tuhan Yesus menyembuhkan orang sakit yang datang kepada-Nya. Dan "semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh" (Matius 14:36). Karena itu pada masa ini juga Tuhan dapat menyembuhkan kita.

    Dr.A.J. Gordon menerangkan tentang Matius 8:17 dan Yesaya 53:4,5 demikian: "Di atas kayu salib Tuhan Yesus telah memikul dosa-dosa kita dan penyakit kita ditanggung-Nya, supaya genaplah, 'Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita' (yaitu oleh Allah); demikian pula Allah telah membuat Dia (yang tidak pernah sakit) menjadi sakit karena kita. Dia yang hati-Nya telah digerakkan oleh karena kesakitan kita (yang merupakan buah-buah dosa), Ia juga telah menanggung kesakitan kita (yang merupakan hukuman dosa): Ayat-ayat ini menyatakan bahwa Kristus telah merasai kesakitan kita menggantikan kita".

    Yesus Kristus telah memikul dosa-dosa kita dan Ia telah menanggung kesakitan-kesakitan kita. Maka, seringkali di dalam pekerjaan-Nya Tuhan Yesus mengatakan, "Dosamu sudah diampuni" dan "sembuhlah engkau". Kedua perkataan ini sejajar dan tidak boleh dipisahkan satu dari yang lain. Jelas bahwa Penebus kita tidak dapat mengangkut dosa-dosa kita dengan tidak mencabut akar-akar kesakitan yang telah ditanamkan ke dalam tubuh kita oleh dosa itu.

    Dalam Markus 16:15-18 Tuhan Yesus memberikan pesan yang utama dan yang terbesar. Pesan itu disertai dengan janji keselamatan dan janji penyembuhan. Tuhan telah berjanji bahwa tanda-tanda akan menyertai orang-orang percaya. Perhatikanlah bahwa janji ini tidak khusus ditujukan kepada rasul-rasul saja, melainkan kepada siapa saja yang percaya. Oleh sebab itu tak benar bila seseorang berkata bahwa janji ini hanya untuk rasul-rasul. Janji-janji ini untuk semua orang yang percaya. Orang-orang yang mengabarkan Injil harus memberitahukan tentang janji kesembuhan ini. Orang itu tidak perlu takut menumpangkan tangannya ke atas orang-orang yang sakit. Kita tidak berhak menuntut supaya orang-orang percaya kepada berita itu jikalau kita tidak menunjukkan tanda-tanda yang telah dikatakan itu. Janganlah kita berpendapat bahwa sebagian janji itu (yaitu tentang penyembuhan) hanya ditujukan kepada para rasul oleh sebab kita tidak tahu memakainya. Oleh sebab tanda-tanda semacam itulah jemaat di Yerusalem didirikan; demikian pula di Samaria dan tempat-tempat yang lain. Pada zaman para Rasul, mujizat itu dibuat oleh orang-orang yang bukan rasul, seperti Filipus dan Stefanus. Sebenarnya hanya ketidakpercayaan yang melemahkan janji itu, serta menghilangkan mujizat kesembuhan dari kita. Menyembuhkan orang sakit adalah bagian dari pesan Kristus, sama seperti mengabarkan Injil dan membaptiskan orang.

    Di samping janji yang disebutkan di atas, kita patut memperhatikan juga janji Tuhan Yesus dalam Yohanes 14:12,13. Dan baik kita ingat bahwa karunia menyembuhkan orang sakit merupakan suatu hal yang umum dalam jemaat yang mula-mula (1Korintus 12:9-30). Tetapi bagaimanakah karunia itu akan diteruskan sesudah rasul-rasul meninggal? Jawabannya terdapat dalam Yakobus 5:14,15. Roh Kudus telah memberikan pesan itu kepada kita melalui Yakobus; dan jangan lupa, Paulus menyebut Yakobus sebagai "sokoguru" jemaat (Galatia 2:9). Perhatikanlah bahwa kuasa ini tidak diberikan kepada rasul-rasul, yang pada waktu itu hampir semuanya sudah meninggal; tetapi kuasa ini diberikan kepada para penatua jemaat yang mudah dipanggil oleh anggota jemaatnya yang sakit. Sebaiknya selama ada jemaat dan para penatua penyembuhan orang sakit patut dilaksanakan. Pesan ini diberikan pada waktu zaman rasul-rasul hampir berakhir, dan itu juga membuktikan bahwa Tuhan ingin tetap melaksanakan hal ini dalam jemaat-Nya.

    Kita patut menyelidiki bagaimana pesan ini dilaksanakan, yaitu dengan "Doa yang lahir dari iman" dan dengan "mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan". Mengolesi minyak di sini sama dengan yang terdapat dalam Markus 6:13, yaitu yang biasa dilakukan oleh rasul-rasul. Ini bukan mengolesi dengan obat. Dengan mengolesi di sini melukiskan kuasa Roh Kudus. Minyak selalu melambangkan Roh Kudus. Ini menandakan pekerjaan Roh Kudus yang memberikan hidup kebangkitan Tuhan Yesus kepada tubuh orang sakit itu. Orang yang sakit itulah yang wajib memanggil penatua-penatua jemaat. Hal itu merupakan pengakuan dan pernyataan imannya kepada Yesus Kristus. Tidak ada pengampunan dosa atau kesembuhan tubuh tanpa pengakuan akan Kristus. Ada banyak orang yang lebih suka mendapat kesembuhan ilahi secara diam-diam, tidak mau mengakui dihadapan umum bahwa ia telah datang kepada Tabib sorgawi itu. Hal itu tidak benar! Tuhan menghendaki supaya orang-orang yang disembuhkan dengan terus terang mengakui imannya kepada Tuhan Yesus". - Dr.A.J. Gordon.

    Yakobus 5:14 adalah pesan Tuhan yang diwajibkan kepada kita. Itulah jalan yang ditunjukkan Tuhan kepada kita untuk mendapatkan penyembuhan tubuh. Pesan dan janji ini mendatangkan iman kepada kita. Tetapi janganlah kita lupa bahwa ada hubungan antara dosa dan penyakit. Melalui penyakit mungkin Tuhan sedang menghajar kita. Oleh sebab itu, pada waktu kita menderita sakit kita patut mencari hadirat Tuhan serta menyelidiki hati kita, dan mendengar apa yang Tuhan mau katakan kepada kita. Kemudian kita mengakui dosa dan kesalahan kita, sebab dalam janji itu Tuhan menjanjikan pengampunan dosa dan penyembuhan tubuh.

    Sehubungan dengan pelajaran ini, sebaiknya kita menyelidiki ayat-ayat berikut: 3Yohanes 1:2; Efesus 5:30; Roma 8:11; 2Korintus 4:10,11; Ibrani 13:8.

    Beberapa pertanyaan tentang penyembuhan:

    1. Bolehkah kita menggunakan obat? Biarlah Tuhan memimpin kita di dalam hal itu tiap kali pada waktu kita sakit.
    2. Jikalau seseorang menggunakan obat atau pergi ke dokter, apakah ia kurang beriman? Mungkin ya! Dan mungkin tidak! Biarlah Tuhan sendiri yang menjawab pertanyaan itu.

  • Jikalau seseorang percaya kepada Tuhan dan tidak mau menggunakan obat, apakah kita harus menyalahkan dia atau menyokong imannya? Tentunya kita harus menyokong imannya!
  • XI. IBADAT ORANG KRISTEN

    Ibadat orang Kristen dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: berdoa, mengucap syukur, dan pemberian persepuluhan dan persembahan kepada Tuhan. Mengucap syukur meliputi juga pujian, menyanyi dan makan minum Perjamuan Tuhan. Di dalam berdoa wajib disertai dengan pembacaan Alkitab.

    (I). BERDOA

    Berdoa adalah persekutuan antara pribadi dengan pribadi, antara manusia dengan Allah; yaitu manusia yang diterima Allah oleh karena telah menjadikan Yesus Kristus Juruselamatnya dan Penebusnya. Dalam doa termasuk: meninggikan dan menyembah Allah, mengucap syukur dan mengaku dosa kepada Allah, memohon sesuatu dari Allah, serta bersekutu dengan Allah. Doa-doa Daud dan Salomo adalah contoh doa dalam Perjanjian Lama (1Raja 8:22-53; Mazmur 51:1-19). Dalam Perjanjian Baru Tuhan Yesus dan rasul-rasul telah memberikan contoh-contoh doa kepada kita. Hal itu akan dilihat pada bagian yang berikut.

    "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang saleh" (Efesus 6:18). Ayat ini menyatakan betapa pentingnya berdoa. Perhatikan perkataan "setiap waktu", "yang tak putus-putusnya" dan "segala orang saleh". Kita patut "menaikkan permohonan yang tak putus-putusnya", bukan mengantuk, melainkan berjaga-jaga.

    A. Pentingnya berdoa

    Apakah sebabnya kita perlu berdoa dengan tekun pada setiap waktu?

    1. Sebab Iblis ada, dan ia setiap saat melawan kita dengan sekuat-kuatnya. Kita sedang bergumul dengan dia (Efesus 6:12), jadi kita harus menggunakan selengkap senjata Allah untuk menghadapi hal itu, lalu berdoa (ayat Efesus 6:18).
    2. Sebab berdoa adalah cara yang ditentukan Allah bagi kita untuk memperoleh sesuatu dari Allah. Kekurangan kita dalam hal-hal rohani disebabkan kita kurang berdoa (Yakobus 4:2).
    3. Sebab rasul-rasul Kristus (yang telah ditentukan Tuhan untuk menjadi teladan kita) menganggap berdoa adalah pekerjaan mereka yang terpenting (Kisah 6:2-4).
    4. Salah satu sebab yang terutama yaitu karena berdoa sangat dipentingkan oleh Yesus Kristus (Markus 1:35; Lukas 6:12). Dan juga pada waktu ini berdoa adalah pekerjaan mereka yang utama bagi Tuhan kita yang ada di sebelah kanan Allah (Ibrani 7:25; Roma 8:34).
    5. Sebab berdoa ditentukan oleh Allah sebagai jalan bagi kita untuk mendapatkan kasih karunia dan pertolongan pertama pada masa kita memerlukannya (Ibrani 4:16). Kita mendapat kasih karunia kalau kita rajin berdoa.
    6. Sebab berdoa adalah cara yang ditentukan oleh Tuhan bagi kita untuk mendapatkan sukacita yang penuh (Yohanes 16:24).
    7. Sebab berdoa dengan mengucap syukur adalah cara yang ditentukan oleh Allah bagi kita untuk menghilangkan kekuatiran serta mendapatkan damai sejahtera (Filipi 4:6,7).
    8. Sebab berdoa adalah cara yang ditentukan Allah bagi kita untuk menerima Roh Kudus (Lukas 11:13).
    9. Sebab kalau kita tidak berdoa, kita berdosa (1Samuel 12:23).
    B. Siapakah yang dapat berdoa supaya Allah mengabulkan doanya?

    Orang yang membiarkan kejahatan di dalam hatinya niscaya doanya tidak didengar oleh Allah (Mazmur 66:18). Tuhan membenci dosa, dan sikap kita juga patut demikian. Boleh jadi itulah sebabnya doa kita tidak didengar.

    Orang yang tidak mau mendengar dan mentaati hukum Allah, doanya juga menjadi suatu kebencian kepada Allah serta tidak didengar oleh-Nya (Amsal 28:9). Kalau kita memalingkan telinga kita terhadap Firman Allah, maka Ia akan memalingkan telinga-Nya terhadap doa kita (Zakharia 7:11-13).

    Tuhan Allah tidak mendengar doa orang yang menyumbat telinganya terhadap tangisan orang miskin (Amsal 21:13). Pepatah orang-orang duniawi adalah: "Tuhan menolong orang yang menolong dirinya sendiri". Tetapi sebenarnya Tuhan menolong orang yang menolong orang-orang lain.

    Orang berdosa yang menyesal dan mencela dirinya oleh sebab dosanya, yang mau mendapat pengampunan, maka doanya didengar oleh Allah (Lukas 18:13,14). Kita patut mengajak orang-orang berdosa supaya mereka berdoa dan berseru kepada Allah (Roma 10:13), sebab berdoa adalah pekerjaan iman. Berdoa adalah tindakan dari orang-orang yang mau diselamatkan.

    Orang-orang yang percaya kepada nama Anak Allah itu doanya didengar oleh Allah (1Yohanes 5:13-15). Janji-janji di dalam Perjanjian Baru tidak dapat diterapkan kepada setiap orang. Janji-janji untuk orang-orang yang percaya hanya dapat diterapkan kepada orang yang sudah percaya. Begitu pula janji-janji untuk orang yang menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah, haruslah diterapkan hanya kepada orang yang sudah menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah. Bila ada janji yang memakai perkataan "kami" dan "kamu" patutlah kita menyelidiki siapakah yang dimaksudkan, dan apakah kita termasuk di antara orang-orang yang dimaksudkan itu.

    Allah mendengar doa orang yang benar (Mazmur 34:16,18; Amsal 15:29; 15:8).

    Allah mendengar doa orang yang suci atau orang yang saleh (Mazmur 32:6). Bahasa asli yang dipakai dalam ayat ini untuk menyebut orang suci atau orang saleh, di ayat yang lain diterjemahkan "berrahmat" atau "yang beragama", tetapi arti yang sebenarnya dari kata itu adalah "kemurahan". Tiap-tiap orang saleh patut menjadi orang yang berkemurahan. Doa orang itu didengar oleh Allah.

    Orang-orang yang takut akan Allah serta memelihara hukum-hukum Allah doanya didengar Allah (Mazmur 145:19; 1Yohanes 3:22). Takut akan Allah berarti memberi hormat, berbakti dan taat kepada Allah (Ibrani 12:28,29; 1Petrus 2:17; Wahyu 14:7; 2Korintus 7:1; 2Samuel 23:3; Amsal 8:13; 16:6; Yesaya 11:2,3; Mazmur 2:11; 25:14; 33:18; 34:8,10; Wahyu 19:5; Mazmur 115:11; 118:4). Kalau kita taat kepada Firman Allah, Ia akan mendengar doa kita. Memelihara hukum-hukum Allah berarti lebih dari mentaati saja, itu berarti menghormati dan menjaganya sebagai barang yang indah dan patut dijagai. Kalau kita tidak sungguh-sungguh mengindahkan perkataan Allah, tentu Allah tidak akan mengindahkan doa kita.

    Orang yang tinggal di dalam Kristus dan perkataan Kristus ada di dalam dia, ialah orang yang doanya didengar Allah dan dikabulkan (Yohanes 15:7). Inilah rahasia bagi orang yang ingin didengar doanya. Apakah artinya tinggal di dalam Kristus? Artinya tetap di dalam persatuan dengan Kristus. Tetap di dalam hubungan dengan Kristus sama seperti hubungan antara pohon anggur dan cabangnya yang sehat dan hidup, yang tetap mengeluarkan buah dari pohon anggur itu. Cabang itu tidak mempunyai kehidupan pada dirinya sendiri. Airnya dan kekuatannya diperoleh dari pohon anggur itu. Daunnya, bunganya, buahnya, semuanya berasal dari kehidupan pohon anggur itu. Begitu pula kita yang tinggal di dalam Tuhan Yesus tidak mempunyai kehidupan sendiri yang terpisah dari Kristus, tetapi kita menerima kehidupan dari Kristus. Kita wajib berusaha supaya kita tidak mempunyai pikiran, peraturan, perasaan, dan kehendak sendiri, juga bekerja dan mengeluarkan buah dengan usaha kita sendiri, melainkan kita harus membiarkan Kristus yang berpikir, berkehendak, bekerja dan mengeluarkan buah-buah-Nya melalui kita. Bilamana kita sungguh-sungguh melakukan hal itu, maka kita dapat meminta segala sesuatu, dan akan dikabulkan. Dan kalau kita tetap tinggal di dalam Kristus, tentu kita tidak meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

    Orang yang duduk di dalam lindungan yang Mahatinggi, yang mengasihi Allah serta kenal akan nama-Nya, ialah yang doanya didengar Allah (Mazmur 91:1,14,15). Apa artinya duduk di dalam lindungan yang Mahatinggi? Tempat perlindungan berarti tempat di mana seseorang dapat menyembunyikan diri supaya terlindung dari bahaya. Hal itu berarti kita menempatkan diri kita dalam tempat persembunyian, tempat perlindungan yang Mahatinggi, supaya kita dijaga dan dilindungi oleh Allah terhadap segala bahaya. Kita menyerahkan diri kita dan segala keadaan kita ke dalam tangan Allah serta percaya dan harap kepada-Nya. Mengenal nama-Nya berarti mengetahui Dia sebagaimana Ia telah menyatakan diri-Nya kepada kita. Dan kita hanya dapat mengetahui Dia sedemikian bila kita menyelidiki Alkitab.

    Orang yang bersukacita dalam Allah dan menyerahkan jalannya kepada Allah serta berharap kepada-Nya, ialah yang doanya didengar Allah (Mazmur 37:4,5). Apakah saudara sudah menyerahkan segenap jalan saudara kepada Allah? Serahkan semuanya kepada-Nya, pimpinan dan segala sesuatu yang akan terjadi pada masa datang, maka jalan saudara akan menjadi sebegitu dekat kepada Tuhan supaya Ia dapat mendengar segala seruan saudara.

    Orang yang rendah hati dan orang miskin doanya didengar Allah (Mazmur 9:13; 10:17; 69:34; 102:18). Orang miskin tidak dipandang oleh dunia ini tetapi mereka dihargai oleh Allah di sorga.

    Doa anak-anak Allah yang menderita akan didengar oleh Allah (Yakobus 5:13). Kalau ada seseorang yang sedang bersusah hati, hendaklah ia lebih banyak berdoa. Tiap-tiap kesusahan mendorong kita untuk berdoa dan memastikan bahwa Tuhan akan mendengar: lihat Matius 11:28.

    Ayat-ayat lain yang menerangkan tentang doa-doa siapakah yang didengar Allah adalah: Keluaran 22:22,23; Yakobus 1:5; Kisah 10:24,31,32; 11:14.

    C. Kepada siapakah kita patut berdoa?

    Kita dapat berdoa kepada Allah Bapa (Kisah 12:5). Seringkali orang-orang beriman berdoa bukan kepada Allah. Seringkali Allah tidak dipikirkan pada waktu ia berdoa, tetapi yang dipikirkan adalah orang lain, atau keperluannya, dan tidak menginsafi bahwa ia datang menghadap hadirat Allah, Allah Yang Mahakuasa, Yang Mahakasih, yang kepada-Nya ia meminta pertolongan. Bila kita berdoa kita menghadap hadirat Allah, jadi kita harus membuang segala pikiran duniawi atau hal-hal yang tidak sesuai dengan doa kita, lalu meminta Roh Kudus membawa kita kepada hadirat Allah dan memberikan kesadaran kepada kita bahwa Allah sungguh-sungguh mendengar kita. Roh Kudus dapat menolong kita untuk menginsafkan bahwa Allah sungguh-sungguh menyertai kita pada waktu kita berdoa. Dalam Alkitab doa yang dinaikkan kepada Allah Bapa dimulai dengan beberapa perkataan sebagai berikut: Ya Bapa yang kudus, Bapa yang benar, Ya Bapa kami yang di sorga, Ya Tuhan dll. Periksalah ayat-ayat yang berikut: Yohanes 17:1; 17:11; 17:25; Matius 6:9; Kisah 4:24; Efesus 1:17; 3:14.

    Kita dapat berdoa kepada Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah (Kisah 7:59; 2Korintus 12:8,9; Kisah 9:9,10,13,17,20,21; 2Timotius 2:22; 1Korintus 1:2; Roma 10:12,13). Berdoa kepada Tuhan Yesus adalah kebiasaan orang Kristen yang mula-mula. Pada waktu itu orang Kristen dinamai "orang yang menyeru nama Yesus Kristus".

    Di dalam Alkitab tidak ada doa kepada Roh Kudus. Kita dapat berdoa dalam Roh Kudus, yaitu Ia yang menolong kita berdoa. Sebaiknya kita berdoa kepada Allah Bapa dan Allah Anak, dengan kuasa Roh Kudus, yaitu dengan pertolongan Roh Kudus. Periksalah Roma 8:15,16,26,27; Efesus 6:18; Yudas 1:20; Zakharia 12:10.

    D. Untuk siapakah kita patut berdoa?

    Kita patut berdoa untuk diri sendiri. Ini bukan berarti menyayangi diri sendiri. Kita patut berdoa untuk diri sendiri supaya Allah dipermuliakan di dalam kita, lihat Mazmur 50:15. Kalau kita banyak berdoa untuk diri sendiri, tentu Tuhan dipermuliakan di dalam kita, dan di samping itu kita menjadi berkat yang lebih besar kepada orang lain. Seringkali Tuhan Yesus berdoa untuk diri-Nya sendiri. Kalau seseorang mendoakan orang-orang lain tetapi untuk diri sendiri tidak, maka itu adalah tanda yang kurang baik. Lihatlah 1Tawarikh 4:10; Mazmur 106:4,5; 2Korintus 12:7,8; Ibrani 5:7; Yohanes 17:1.

    Orang-orang yang percaya kepada Kristus patut berdoa untuk saudara-saudaranya yang seiman (Yakobus 5:16; Roma 1:9).

    Kita patut berdoa untuk semua pengabar Injil (Efesus 6:19,20; Kolose 4:3; 2Tesalonika 3:1,2; Kisah 13:2,3; Matius 9:38). Semua orang percaya hendaklah dengan yakin dan tekun berdoa bagi tiap-tiap orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah untuk mengabarkan Injil. Seringkali terjadi bahwa seorang pengabar Injil kurang memiliki kuasa Roh sebab anggota-anggota jemaatnya kurang berdoa untuk dia.

    Kita patut mendoakan orang-orang yang telah kita bawa kepada Tuhan Yesus, yaitu anak-anak iman kita (1Tesalonika 3:9-13). Tuhan Yesus telah berbuat demikian (Yohanes 17:9-26), dan juga para Rasul Paulus. Pada masa ini banyak para pengabar Injil yang kurang mendoakan anak-anak iman mereka.

    Kita patut berdoa untuk saudara-saudara seiman kita yang menderita sakit (Yakobus 5:14-16)

    Kita patut berdoa untuk saudara kita yang berbuat dosa (1Yoh 5:16), kalau dosa kita itu bukan dosa yang mendatangkan maut. Tidak ada faedahnya berdoa untuk orang yang berdosa kepada Roh Kudus; lihat Matius 12:32.

    Kita patut berdoa untuk orang-orang saleh (Ef 6:18). Semua orang yang percaya dari segala zaman termasuk dalam doa Tuhan Yesus di dalam Yohanes 17:9-20. Sebab itu kita patut untuk mendoakan segenap jemaat Kristus. Mengherankan bahwa hanya sedikit orang Kristen yang berdoa untuk orang-orang lain. Tiap-tiap anak Allah adalah saudara kita dan patut kita doakan.

    Kita patut mendoakan anak-anak kita (1Tawarikh 29:19)

    Kita patut mendoakan pemerintah negara kita (1Timotius 2:2,3). Pada masa sekarang banyak orang yang bersalah dalam hal ini. Banyak orang menyalahkan pemerintah negaranya, tetapi sesungguhnya hal itu tidak sesuai dengan Firman Tuhan, lihat Yudas 1:8,9; 2Petrus 2:10,11; 1Petrus 2:17. Kalau orang-orang Kristen mendoakan pemerintah negaranya akan bertambah baik.

    Kita patut berdoa untuk bangsa Israel (Roma 10:1; Yoel 2:17; Yesaya 62:6,7). Orang-orang yang berdoa untuk bangsa Israel akan mendapat berkat yang istimewa (Mazmur 122:6,7). Bangsa Israel adalah bangsa yang sangat dikasihi Allah (Zakharia 2:7,8,10-12).

    Kita patut berdoa untuk orang yang menyiksa dan menganiaya kita (Lukas 6:28; Matius 5:44). Bacalah Lukas 23:34 dan Kisah 7:60. Kita diwajibkan untuk mendoakan orang-orang yang bersalah kepada kita (Roma 12:20,21).

    E. Bilamana kita patut berdoa?

    Orang-orang suci dalam Alkitab berdoa tiga kali sehari, yaitu pagi, tengah hari, dan petang (Daniel 6:11; Mazmur 55:18; Kisah 10:9,30). Lihat juga Mazmur 119:146,147; Markus 1:35.

    Tuhan Yesus, yang menjadi teladan kita, berdoa semalam-malaman kepada Allah (Luk 6:12). Tuhan berdoa sepanjang malam sebab keesokan harinya Ia akan memilih kedua belas Rasul, dan itu adalah satu hal yang amat penting. Tuhan Yesus juga berdoa sepanjang malam pada saat lain ketika Ia di dalam suatu keadaan yang penting sekali, yaitu orang-orang hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia Raja, lihat Yoh 6:15 dan Mar 6:46-48. Ini merupakan satu teladan yang baik sekali dan patut kita ikuti. Mengherankan sebab ada juga orang Kristen yang tidak setuju dengan berdoa sepanjang malam. Mereka mengatakan bahwa iman yang benar akan menerima apa yang dimintanya pada waktu diminta. Bukankah Tuhan mempunyai iman? Ia sering berdoa sepanjang malam. Lihat Yesaya 40:31. Berdoa sepanjang malam kepada Allah tentu diikuti oleh kuasa sepanjang hari di hadapan manusia. John Livingston, dari Skotlandia, pada suatu malam berdoa sepanjang malam bersama dengan beberapa orang lain, lalu pada esoknya ia berkhotbah dengan kuasa Allah sehingga 500 orang diselamatkan atau mengalami berkat rohani pada hari itu.

    Kita patut mengucap syukur setiap kali kita makan (Matius 14:19; Kisah 27:35; 1Timotius 4:4,5).

    Kita patut berdoa kepada Allah pada waktu kesesakan (Mazmur 50:15; Mazmur81:8; 77:2,3; 86:7), pada masa peperangan (1Tawarikh 5:20), dan bila musuh-musuh menyerang kita (1Tawarikh 14:8,9,11).

    Kita patut berdoa kepada Allah pada waktu kita merasakan tekanan dosa-dosa kita, yaitu bila kita merasa jauh dari Allah dan kita rindu kembali kepada-Nya. Ganjaran dari Allah merupakan suatu pendorong untuk berdoa.

    Kita patut berdoa senantiasa, dengan tidak tawar hati, pada setiap waktu (Lukas 18:1; Efesus 6:18; 1Tesalonika 5:17). Hati kita patut berseru kepada Allah pada setiap waktu. Segenap hidup kita haruslah menjadi satu doa kepada Allah. Orang-orang Kristen patut senantiasa hidup dalam semangat berdoa. Kita yang beriman kepada Allah selalu mempunyai kesempatan untuk menyeru Dia. Pengharapan kepada Allah selalu diteguhkan dalam doa yang tekun.

    F. Tempat berdoa

    Kita boleh, dan patut berdoa kepada Allah di segala tempat. Tempat tidak penting, yang penting ialah berdoa dengan roh dan kebenaran (Yohanes 4:20-24). Akan tetapi dalam Alkitab kita disuruh masuk ke dalam kamar kita, di tempat yang tidak kelihatan oleh orang lain, dan di situlah kita berdoa (Matius 6:6). Dengan demikian kita diasingkan dari dunia untuk bersekutu dengan Allah. Hal ini untuk menjaga supaya kita tidak berdoa dengan pura-pura supaya didengar manusia, seperti orang-orang Farisi. Selain itu Tuhan Yesus juga memberikan teladan kepada kita ketika Ia pergi ke gunung untuk berdoa. Itulah tempat yang sunyi di mana Ia menjauhkan diri dari manusia, untuk menyendiri beserta dengan Allah (Matius 14:23). Rasul-rasul Tuhan berdoa dalam penjara (Kisah 16:25). Penjarapun mungkin jadi pintu surga. Kita patut berdoa kepada Allah bila ajal kita dekat; kita dapat berdoa bersama-sama dengan orang-orang yang percaya; di antara orang-orang yang tidak percaya; dan di mana-mana tempat (Yunus 2:2; Yohanes 17:1; Kisah 27:35; 1Timotius 2:8).

    G. Untuk apakah kita berdoa?

    1. Berdoa tentang Allah dan Kerajaan-Nya
    2. Berdoa untuk para pengabar Injil
    3. Berdoa untuk berkat-berkat rohani
    4. Berdoa untuk berkat jasmani

    1. Berdoa tentang Allah dan Kerajaan-Nya

    Kita patut berdoa supaya Allah dipermuliakan (Matius 6:9). Mengho mati dan mempermuliakan Allah patut menjadi kerinduan dan tujuan kita yang utama. Segala doa kita hendaknya bertujuan untuk mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan, lihat Yohanes 17:1; 12:27,28. Apakah saudara sungguh-sungguh rindu dan ingin supaya Allah dipermuliakan dalam segala doa saudara? Apakah saudara sering berdoa demikian? Apakah tujuan itu memenuhi segala doa saudara?

    Kita patut berdoa supaya Kerajaan Allah datang (Matius 6:10). Kerajaan Allah pasti akan datang, apakah kita mendoakan hal itu atau tidak, tetapi doa-doa kita akan mempercepat kedatangan Kerajaan itu. Kebanyakan orang Kristen tidak menyadari bahwa kedatangan Kerajaan Allah dapat dipercepat oleh sebab doa orang-orang saleh, atau kedatangan-Nya dirintangi sebab orang-orang saleh tidak berdoa. Orang yang sungguh-sungguh sudah dilahirkan kembali tentu akan sangat merindukan supaya Kerajaan Allah segera datang. Walaupun begitu doa ini sering diucapkan tanpa memikirkan apa maksudnya.

    Kita patut berdoa supaya Raja yang ditentukan oleh Allah, yaitu Tuhan Yesus Kristus, segera datang (Wahyu 22:20). Kerajaan itu tidak akan datang sebelum Rajanya datang. Banyak orang berdoa supaya Kerajaan Allah datang, tetapi jarang orang berdoa supaya Rajanya datang. Inilah puncak kerinduan orang-orang Kristen, dan inilah doa yang terakhir dalam Alkitab. Segenap nubuat dari Alkitab diarahkan kepada hal ini. Apakah saudara berdoa untuk hal ini?

    Kita patut berdoa supaya kehendak Allah jadi di atas bumi ini seperti di dalam surga (Mat 6:10). Bagi orang-orang yang sungguh-sungguh menjadi anak Allah, inilah yang paling dirindukan daripada segala sesuatu dalam dunia ini. Kita wajib dengan segenap hati berdoa. "Jadilah kehendak-Mu, ya Allah." Itulah yang patut menjadi doa yang terutama bagi orang Kristen.

    Kita patut berdoa supaya pekerjaan Tuhan dihidupkan, yaitu supaya terjadi gerakan dan kebangunan rohani di dalam jemaat Tuhan.

    Perhatikanlah bahwa pekerjaan Tuhan harus dihidupkan, dan umat Allah harus mendapat suatu gerakan dari Tuhan. Saleh-saleh Tuhan yang sudah menjadi lemah perlu dikuatkan. Tuhan Allah mau mengabulkan doa untuk kebangunan rohani di antara umat Allah. Dalam sejarah Israel dan dalam sejarah gereja juga Tuhan Allah telah memberikan kebangunan rohani itu. Tuhan berkenan mengabulkan doa-doa orang saleh. Kebangunan rohani sering terjadi meskipun orang yang memimpinnya tidak pandai berkhotbah, akan tetapi tidak pernah terjadi kebangunan rohani kalau tidak ada orang yang berdoa. Bilamana jemaat Tuhan suci dan bersih kelakuannya, pada waktu itu Tuhan akan menarik orang-orang berdosa ke dalam jemaat. Tuhan tidak mau menarik orang-orang berdosa ke dalam jemaat yang tidak suci. Pada masa sekarang doa ini sangat perlu didoakan dengan tekun dalam jemaat Kristus.

    2. Berdoa untuk para pengabar Injil

    Kita patut berdoa kepada Tuhan yang mempunyai tuaian itu supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu (Matius 9:37,38). Sepanjang waktu sejarah jemaat Tuhan, sekarang masanya doa ini sangat diperlukan. Kiranya kita mentaati pesan ini. Ladang Tuhan sudah kuning dan siap untuk dituai, tetapi, masih banyak diperlukan orang-orang untuk menuai. Ada banyak pekerja di dalam ladang Tuhan yang tidak dipanggil oleh Tuhan. Cara untuk mendapatkan pekerja-pekerja yang baik bagi ladang Tuhan yaitu berdoa untuk mereka. Bacalah Kisah 1:24. Jikalau Paulus dan Barnabas terlebih dahulu berdoa kepada Allah tentang Markus harus dibawa atau tidak, dan mereka tidak mencoba memutuskannya sendiri, sudah tentu ayat Kisah 15:39 yang kurang menyenangkan itu tidak perlu ditulis. Banyak percekcokan yang terjadi di antara pengabar-pengabar Injil akan dapat dihindarkan kalau mereka mentaati Kisah 1:24.

    Kita patut berdoa supaya Allah membukakan pintu bagi orang-orang yang memberitakan Firman Allah (Kol 4:3). Inilah jalan yang terbaik supaya pintu pengabaran Injil terbuka. Orang-orang yang merasa dirinya dipanggil oleh Allah tetapi tidak menemukan tempat untuk bekerja, patut berdoa demikian. Dan kalau ada tempat yang memerlukan pemberitaan Injil tetapi pintu tidak terbuka, maka inilah cara untuk membuka pintu itu. Tuhan sudah membukakan pintu bagi Rasul Paulus pada waktu ia di dalam penjara, dalam hal ia menulis banyak surat kepada jemaat-jemaat Tuhan. Surat-surat Paulus itu masih ada pada kita sekarang dan melalui surat-surat itu Injil dikabarkan kepada banyak orang. Banyak pintu bagi orang kafir dibukakan melalui doa. Kalau orang-orang saleh berdoa kepada Allah, doa-doa mereka akan membuka lebih banyak pintu daripada permintaan kepada pemerintah-pemerintah dunia.

    Kita patut berdoa supaya pengabar-pengabar Injil diberikan karunia dalam memberitakan rahasia Injil, sehingga mereka dapat memberitakannya dengan berani, sebagaimana yang sepatutnya (Efesus 6:19,20). Bukan hanya pintu-pintu yang perlu dibukakan, melainkan mulut-mulut juga. Masih diperlukan pengabar-pengabar Injil yang berkata-kata dengan keberanian hati, dan orang-orang saleh patut berdoa supaya hal itu terjadi. Kalau hal itu perlu bagi Rasul Paulus, sudah tentu perlu juga bagi kita sekarang ini.

    Kita patut berdoa untuk pengabar-pengabar Injil supaya Firman Tuhan makin luas diberitakan dan dipermuliakan. Jangan menyalahkan pengabar-pengabar Injil, melainkan doakanlah mereka. Di samping itu patut kita berdoa supaya para pengabar Injil berpakaian kebenaran (Mazmur 132:9). Ingatlah, Iblis paling suka menyerang pengabar-pengabar Injil, oleh sebab itu kita wajib mendoakan mereka dengan tekun supaya kebenaran menjadi jubah mereka. Baiklah kita ingat bahwa oleh kejatuhan mereka Allah dihina dan oleh kebenaran mereka Allah dipermuliakan.

    3. Berdoa untuk berkat-berkat rohani

    Kita patut berdoa untuk pengampunan dosa-dosa kita (Matius 6:12; Mazmur 25:11; 51:3; Lukas 18:13; Hosea 14:2; Keluaran 34:9; 32:31,32; 1Raja 8:47-50; Kisah 8:22). Allah Bapa kita telah menyediakan pengampunan dosa untuk kita orang-orang saleh, yaitu dengan darah Kristus; tetapi jelas dikemukakan dalam Alkitab bahwa Tuhan menghendaki kita, orang Kristen, mengakui dosa kita serta berdoa untuk pengampunan itu. Kalau kita berdoa kepada Allah dan meminta pengampunan dosa; dan karena kita tahu bahwa Tuhan sudah mengampuni maka tidak perlu kita meminta ampun sekali lagi untuk dosa itu.

    Kita patut berdoa agar Tuhan menyelidiki kita dan menguji kita (Mazmur 139:23,24; 51:11; 19:13). Anak Tuhan yang sungguh-sungguh akan merindukan supaya tiap-tiap hal yang jahat di dalam dirinya diselidiki dan dinyatakan kepadanya. Pekerjaan itu tidak dapat dilakukan dengan benar oleh kita sendiri, melainkan Allah yang harus melaksanakannya; dan Ia akan melaksanakan hal itu, sebab di dalam doa kita meminta Ia melakukannya. Hal ini wajib sering dilakukan. Dosa, sifat mengasihi diri sendiri, tabiat duniawi, dan keinginan untuk menurut dunia selalu mengelilingi kita seperti udara, dan hal-hal itu sering masuk ke dalam hati kita walaupun kita tidak menginsafinya. Oleh sebab itu patutlah tiap-tiap hari kita menghadap Allah dan membuka hati kita kepada-Nya, serta meminta Dia menyelidiki hati dan kelakuan kita untuk menyatakan segala sesuatu di dalam kita yang tidak berkenan kepada-Nya. Tentunya hal itu kadang-kadang menyakiti kita, akan tetapi akan memperbaiki diri kita serta berfaedah bagi kita.

    Kita patut berdoa supaya Allah menjadikan di dalam kita suatu hati yang bersih (Mazmur 51:12). Mustahil manusia dapat menyucikan hatinya sendiri. Hati yang bersih merupakan suatu pekerjaan Allah. Tuhan mau melakukan hal itu sesuai dengan doa kita. Tuhan berkenan menjadikan di dalam kita suatu hati yang suka akan kebenaran dan yang membenci dosa.

    Kita patut berdoa supaya Allah menyokong dan membimbing kita, memegang kita dalam tangan-Nya (Mazmur 119:117). Jikalau Allah membimbing dan memegang kita dalam tangan-Nya tentu kita akan selamat. Memang mustahil kita berdiri sendiri. Jalannya terlalu licin dan kita akan mudah tergelincir. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh" (1Korintus 10:12). Allah dapat, dan bersedia memegang kita supaya kita tidak jatuh, dan caranya ialah dengan banyak berdoa dengan kerendahan hati; lihat 1Korintus 10:13.

    Kita patut berdoa supaya Tuhan tidak menghindarkan kita dari dosa congkak (Mazm 19:14, TKB). Ini berarti dosa-dosa yang diperbuat dengan kecongkakan, dengan mempermainkan rahmat Allah. Kita patut berdoa supaya Allah menahan kita sehingga kita tidak menyimpang dari perintah-perintah-Nya (Mazmur 119:10). Domba itu mudah tersesat, begitu pula dengan tiap-tiap anak Adam. Oleh sebab itu hendaklah kita selalu berseru dan berharap kepada Allah supaya Ia memelihara kita pada jalan yang betul.

    Kita patut berdoa supaya Tuhan tidak membawa kita masuk ke dalam pencobaan (Mat 6:13; Mar 14:38). Kalau kita benar-benar mengetahui kelemahan diri kita dan kalau kita rendah hati, tentu doa ini akan sering kita ucapkan. Orang yang demikian tidak akan bermain-main dengan pencobaan, melainkan ia akan lari dari pencobaan itu serta meminta Tuhan menjauhkan dia daripadanya. Banyak orang yang telah maju dalam hal rohani jatuh sebab mereka lupa dan tidak menaikkan doa ini.

    Kita patut berdoa supaya Tuhan melepaskan kita dari si jahat (Matius 6:13). Tiap-tiap orang yang menyelidiki Perjanjian Baru dan yang sudah mulai menjalankan kehidupan Kristen itu tentu akan menginsafi bahwa ada suatu kuasa yang dahsyat, cerdik dan jahat, yaitu Iblis. Perlindungan dan kelepasan dari kuasa itu hanyalah di dalam Allah, dan kita dapat memperolehnya hanya dengan senantiasa berdoa.

    Kita patut berdoa supaya Tuhan mengawasi mulut kita dan menjaga pintu bibir kita (Mazmur 141:3). "Tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan" (Yak 3:8), akan tetapi Allah dapat menaklukkan lidah kita sebagaimana doa kita.

    Kita patut berdoa supaya Allah menunjukkan jalan-Nya kepada kita, agar kita hidup menurut kebenaran-Nya (Mazmur 86:11; 119:33; 25:4; 143:10).

    Kita patut berdoa supaya Tuhan mengajar kita bagaimana kita harus berdoa, Lukas 11:1; Roma 8:26.

    Kita patut berdoa supaya Tuhan membukakan mata kita untuk melihat hal-hal ajaib dalam Firman-Nya (Mazmur 119:18). Kita tidak akan dapat menyadari hal-hal ajaib dalam Firman Tuhan bila Tuhan sendiri tidak membukakan mata kita untuk melihatnya. Hal ini akan Tuhan lakukan kalau kita berdoa memintanya. Dengan berdoa kita dapat melihat hal-hal rohani yang indah, yang tak dapat dilihat oleh orang yang tidak berdoa. Meskipun seorang pandai sekali dalam bahasa asli Alkitab, tetapi keahlian orang itu tidak dapat membukakan matanya yang telah dibutakan oleh dosa. Jikalau seorang buta memakai kaca mata yang terbaik sekalipun ia tetap tidak dapat melihat permainya alam ini; begitu pula orang yang tidak berdoa tidak dapat melihat permainya kebenaran Firman Allah, walaupun ia memakai kaca mata pengetahuan bahasa Yunani dan Ibrani sekalipun. Orang yang celik matanya dapat melihat lebih banyak keindahan alam ini dari pada orang buta walaupun si buta itu memakai kaca mata yang terbaik. Begitu juga orang yang celik mata rohaninya dapat melihat lebih banyak keindahan Firman Allah, walaupun ia tidak terpelajar, daripada orang yang terpelajar yang tertutup mata rohaninya. Seorang yang duduk satu jam saja di bawah kaki Yesus, akan lebih banyak melihat keindahan Firman Tuhan, daripada orang yang duduk empat tahun pada kaki manusia yang menganggap dirinya berbudi, tetapi sebenarnya bodoh (Roma 1:22; Markus 10:51). Setiap orang Kristen harus belajar dalam "sekolah doa". Baik orang terpelajar maupun orang yang bodoh akan tahu bahwa keindahan Firman Tuhan hanya dapat dilihat dengan berdoa. Setiap kali kita membuka Alkitab untuk membacanya, baiklah kita berdoa, "Celikkan mataku, ya Tuhan, supaya aku dapat melihat hal-hal yang ajaib dari dalam Firman-Mu".

    Kita patut berdoa supaya Tuhan memimpin kita (Mazmur 31:4; 27:11; 139:24). Siapakah yang mengetahui jalan yang patut diturutnya? Ada bahaya pada sebelah kanan dan kiri, tetapi puji Tuhan, sebab selalu ada tangan yang tidak dapat bersalah yang memimpin kita dengan selamat. Melalui doa tangan Tuhan itu dapat kita pegang (dan kita dipegang oleh-Nya). Tiap-tiap langkah kita harus dipimpin oleh Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat memimpin kita pada jalan yang benar (Mazmur 27:11).

    Kita patut berdoa supaya Tuhan memberikan roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Yesus Kristus dengan benar (Efesus 1:16-19). Kita dapat mengenal Kristus hanya oleh karena roh hikmat yang diberikan oleh Allah sesuai dengan doa kita. Apabila kita telah menerima roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Yesus Kristus dengan benar, maka mata hati kita menjadi terang, sehingga kita mengetahui pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya; betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus dan betapa hebatnya kuasa-Nya bagi kita yang percaya.

    Kita patut berdoa supaya kita mengetahui kehendak Allah dengan sempurna, sehingga hidup kita layak di hadapan-Nya, serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan dapat memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah (Kolose 1:9,10).

    Kita patut berdoa supaya kita dipenuhi dengan pengetahuan akan kehendak Allah, dan dikuatkan oleh kuasa Roh Kudus, dan supaya Yesus Kristus mendiami hati kita oleh iman, dan kita berakar serta berdasar di dalam kasih (Efesus 3:14-19). Ini adalah suatu doa yang mulia dan tidak ada hentinya.

    Kita patut berdoa supaya kita bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang (1Tesalonika 3:12). Kalau saudara insaf bahwa saudara masih kurang dalam hal kasih, inilah jalan untuk mendapatkan kasih itu. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu."

    Kita patut berdoa supaya Allah menguduskan segenap diri kita, yaitu roh, jiwa serta tubuh kita, agar terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita (1Tesalonika 5:23,24). Perhatikan bahwa Tuhan rindu menguduskan segenap diri kita dengan sempurna. Kurang dari itu tidak memuaskan hati Tuhan ataupun hati seorang yang bersungguh-sungguh menjadi anak Allah.

    Kita patut berdoa supaya kita dipenuhi oleh Roh Kudus, yaitu menerima karunia Roh Kudus (Kisah 2:38; Lukas 24:49; Efesus 5:18; Yohanes 20:22; Kisah 19:1,2; Lukas 11:13; Kisah 8:15).

    Kita patut berdoa supaya kita tinggal tetap di dalam Allah, selalu bersekutu dengan Dia, serta selalu memandang kepada keindahan-Nya (Mazmur 27:4). Daud tidak selalu rindu akan berkat dan karunia Allah, tetapi ia rindu kepada Allah sendiri. Bilamana sukacita keselamatan kita telah hilang, kita patut berdoa supaya Tuhan mengembalikan sukacita itu (Mazmur 51:14).

    4. Berdoa untuk berkat jasmani

    Tuhan telah banyak menyediakan berkat jasmani untuk kita yang percaya kepada Yesus Kristus, dan kita patut berdoa untuk berkat-berkat itu. Kita patut berdoa untuk hikmat (Yakobus 1:5); untuk rezeki kita sehari-hari (Matius 6:11); untuk kesembuhan tubuh kita (Yakobus 5:14-16); untuk hal-hal yang sesuai dengan kehendak Allah (1Yohanes 5:14,15); untuk segala sesuatu yang kita perlukan (Filipi 4:6,19). Sebagai orang Kristen kita hidup tanpa kekuatiran atau kebimbangan. Tetapi hal ini hanya dapat dilakukan oleh Tuhan kalau tiap-tiap keperluan kita dihadapkan kepada Allah di dalam doa. Dengan demikian barulah digenapkan, "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (ayat Filipi 4:7).

    H. Bagaimana kita harus berdoa

    Kita harus berdoa dalam nama Yesus Kristus (Yohanes 14:13,14; 15:16). Apakah artinya berdoa dalam nama Yesus Kristus? Cobalah periksa ayat-ayat yang berikut: Lukas 24:47; Matius 7:22; Markus 9:38,39; Kisah 3:6; 1Korintus 6:11; Efesus 5:20; Kolose 3:17; Yakobus 5:14; Yohanes 16:23. Berdoa dalam nama Tuhan Yesus berarti berdoa dan meminta dengan kesadaran dan keyakinan bahwa kita akan mendapat apa yang kita minta oleh sebab kasih karunia dan kebajikan Tuhan Yesus, karena Ia telah diterima baik oleh Allah Bapa-Nya. Tuhan Yesus memberi hak dan kuasa kepada tiap-tiap orang yang percaya kepada-Nya untuk memakai nama-Nya dalam meminta segala sesuatu yang disimpan-Nya di dalam sorga bagi mereka itu. Sebenarnya kita tidak memiliki apa-apa yang tersimpan di dalam sorga, tetapi Tuhan Yesus memiliki segala sesuatu yang tersimpan di situ. Dan kalau kita meminta dari Allah atas nama kita sendiri atau sebab jasa-jasa kita, tentu kita tidak akan mendapatkan apa yang kita minta itu. Kita patut selalu dalam keadaan berkenan kepada Tuhan supaya kita dapat menerima apa yang kita minta daripada-Nya (1Yohanes 3:22). Dalam hal inilah doa orang Kristen berbeda dengan doa-doa orang kafir. Doa orang Kristen selalu dinaikkan dalam nama Tuhan Yesus.

    Dalam terjemahan lama (TKB) dikatakan bahwa kita harus berdoa dan berseru kepada Allah dengan sebenarnya (Mazmur 145:18). Apakah artinya berseru kepada-Nya dengan sebenarnya? Berseru kepada Allah dengan "Sebenarnya" berarti" dengan hati yang tulus dan tidak berpura-pura". Berseru kepada Tuhan dengan sebenarnya artinya memohon sesuatu yang sungguh-sungguh kita rindukan dan percaya dengan yakin bahwa Tuhan akan memberikannya. Sering orang meminta dari Allah sesuatu yang mereka tidak sungguh-sungguh rindu untuk memperolehnya. Dan sering juga orang meminta sesuatu dari Allah dengan hati yang tidak percaya bahwa Allah akan memberikan hal itu kepadanya. Sebelum kita meminta sesuatu dari Allah, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, "Apakah saya sungguh-sungguh memerlukan hal ini ?" Dan: "Percayakah saya bahwa Tuhan akan memberikan hal itu kepada saya?" Banyak doa memakai nama Tuhan dengan sia-sia sebab orang itu tidak percaya Tuhan akan memberikan apa yang dimintanya.

    Kita harus berdoa kepada Tuhan dengan segenap hati (Yeremia 29:12,13; Ulangan 4:29). Seringkali orang berdoa dengan tulus hati tetapi bukan dengan segenap hati. Doa yang demikian kurang dihargai oleh Tuhan. Bilamana kita berdoa dengan segenap hati kita, tentu doa kita dikabulkan dengan segenap hati Tuhan. Di Taman Getsemani Tuhan Yesus berdoa dengan sungguh-sungguh (Lukas 22:44). Dalam Roma 15:30 Rasul Paulus meminta agar kita bergumul dalam doa. Bergumul dalam ayat itu berarti berusaha, berjuang, bertekun. Pada masa sekarang ini hanya sedikit orang yang berdoa demikian. Kita patut bersikap demikian di dalam segala doa kita. Doa semacam itu tentu dikabulkan oleh Allah. Bacalah Kejadian 32:26; Ibrani 5:7

    Kita patut berdoa dengan bertekun (Roma 12:12; Kolose 4:2; Lukas 18:1-8). Janganlah kita berhenti berdoa kalau permintaan itu belum dikabulkan pada pertama kali kita berdoa. Seringkali seorang yang mengalami hal itu segera berpendapat bahwa "bukan kehendak Allah untuk memberikan hal itu kepadanya". Itu adalah kemalasan dalam berdoa. Iman kita sering diuji oleh Tuhan. Lihat Matius 20:31; 15:23-28. Seringkali juga kita merasa yakin benar bahwa apa yang kita minta itu sudah dikabulkan dan tentu akan diberikan. Lihat Yohanes 11:4; 1Yohanes 5:14,15; Markus 11:24. Pada waktu itu tidak perlu meminta untuk hal itu lagi dari Tuhan, melainkan kita mengucap syukur untuk hal itu. Ada orang yang berpendapat bahwa kalau kita berulang-ulang meminta, hal itu menandakan kita kurang beriman; tetapi sebenarnya bukan demikian. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus berdoa tiga kali untuk satu permintaan, lihat Matius 26:44

    Jangan kita mengulang-ulangi dan menambah-nambah perkataan dalam doa, sebab kita tidak didengar karena kita menambah-nambah perkataan dalam doa kita (Matius 6:7).

    Kita patut berdoa dengan berpuasa (Daniel 9:3; Kisah 14:23; 13:2,3). Itu bukan berarti bahwa kita harus berpuasa tiap-tiap kali kita berdoa. Tetapi dalam beberapa hal yang penting kita patut berdoa dengan berpuasa. Bilamana kita menahan diri selama beberapa waktu dari hal-hal duniawi yang mengikat kita, dan kita memusatkan diri seluruhnya untuk berdoa, maka doa kita akan berkuasa di hadapan Tuhan. Setiap persoalan yang besar dan penting dalam kehidupan kita patut diputuskan dengan jalan demikian, lihat Matius 9:15.

    Pada waktu kita berpaling dari Allah, kita patut berdoa kepada Allah dengan merendahkan diri, menyesal serta meninggalkan dosa-dosa kita (2Tawarikh 7:14). Inilah penawaran untuk segala kesusahan di dunia ini. Perhatikanlah bahwa umat Allahlah yang harus merendahkan diri serta mengaku dosa-dosanya.

    Kita patut berdoa dengan disertai ucapan syukur kepada Tuhan (Filipi 4:6; Kolose 4:2). Bilamana kita menghadap Allah Bapa dalam doa, kita patut mengucap syukur oleh karena segala berkat yang telah diberikan oleh Bapa sorgawi kita. Banyak doa kita tidak berkenan di hadapan Allah sebab tidak disertai ucapan syukur. Tuhan Allah berdukacita kalau kita melalaikan kewajiban ini, lihat Lukas 17:17,18.

    Kita patut berdoa bersama-sama dengan orang lain, dengan sepakat (Matius 18:19,20). Dalam Alkitab Tuhan sering berpesan supaya kita berdoa bersama-sama, dan doa semacam itu mengandung kuasa yang luar biasa dan selalu diberkati oleh Allah. Hal ini bukan berarti hanya bersama-sama meminta, tetapi harus sehati dan sepakat dalam permintaan itu. Bilamana Roh Kudus menaruh satu permohonan yang sama dalam hati dua orang dan mereka sepakat dalam permintaan itu, tentu ada kuasa yang besar dalam doa-doa mereka. Kalau mereka sepakat di dalam permintaan mereka, tentu mereka lebih berani dalam meminta.

    Kita patut berdoa dengan penuh kepercayaan bahwa kita akan menerima apa yang kita minta (Matius 21:22). Percaya dalam ayat ini bukan berarti hanya percaya kepada Allah secara umum, tetapi ini berarti kita percaya dan yakin bahwa kita sudah menerima apa yang kita minta, lihat Yakobus 1:5,6 dan Markus 11:24. Tuhan Allah menghormati dan menghargai iman semacam itu. Bagaimanakah kita dapat memiliki iman yang semacam itu? Kita dapat memilikinya dari Firman Allah, melalui janji-janji-Nya (Roma 4:20,21; 10:17); dan dari Roh Kudus yang mengajar kita (Roma 8:26,27).

    Kita patut berdoa dalam Roh Kudus (Efesus 6:18; Roma 8:26,27; Yudas 1:20). Kita hendaknya selalu berdoa menurut pimpinan dan kuasa Roh Kudus. Mungkin terjadi bahwa kehendak daging kita menginginkan kita berdoa untuk beberapa hal, tetapi kita tidak boleh menuruti kehendak daging, baik dalam pencobaan ataupun dalam doa. Tiap-tiap kehendak diri kita harus diserahkan kepada Roh Kudus, serta mencari pimpinan-Nya dalam segala doa kita. Sering kali doa-doa kita menuruti kehendak diri kita, oleh sebab itu tidak dikabulkan Allah. Kita harus menuruti pimpinan Roh Kudus dalam doa kita. Sebagaimana murid-murid Tuhan Yesus telah meminta kepada-Nya: "Tuhan, ajarlah kami berdoa", begitu pula kita patut meminta dari Roh Kudus. Dan kalau kita memintanya, tentu kita akan memperolehnya, Yohanes 14:16; 16:7.

    I. Halangan-halangan di dalam doa; alasan mengapa banyak permintaan doa tidak dikabulkan

    Seringkali doa tidak dikabulkan sebab orang itu meminta dengan maksud menyayangi diri sendiri, atau ingin menuruti kehendak diri sendiri (Yakobus 4:3). Tiap-tiap orang yang berdoa hendaknya bertujuan supaya dengan tujuan dengan dikabulkannya doa kita Allah juga dipermuliakan. Kalau kita berdoa dengan tujuan untuk memperoleh sesuatu kesenangan bagi diri sendiri atau supaya diri kita dipuji, tentu doa itu tidak akan dikabulkan oleh Allah.

    Doa tidak dikabulkan kalau ada dosa yang menceraikan orang itu dari Allah (Yesaya 59:1,2; Mazmur 66:18). Kalau kita sudah berdoa kepada Tuhan tetapi Tuhan lama tidak memberikan apa yang kita minta, janganlah segera berpendapat bahwa Tuhan tidak berkehendak mengabulkan permintaan itu. Lebih baik kita bertanya dulu kepada Tuhan apakah masih ada dosa di dalam kita yang menceraikan kita daripada-Nya, yang menyebabkan Ia tidak mendengar doa kita. Kalau kita membiarkan dosa yang ada di dalam kita tentu Tuhan tidak akan mendengarkan doa kita.

    Kalau orang yang berdoa menyimpan berhala di dalam hatinya tentu doanya tidak dikabulkan (Yehezkiel 14:3). Ada juga orang-orang Kristen yang masih menyimpan berhala di dalam hatinya. Mereka tidak mengaku bahwa hal-hal itu adalah berhala, tetapi sebenarnya itu merupakan berhala. Apa saja yang Tuhan Yesus inginkan agar kita melepaskan diri dari padanya, tetapi kita tidak mau, maka hal itu menjadi berhala. Sering Tuhan Allah tidak mengabulkan doa kita sebab Ia menghendaki kita insaf bahwa kita masih menyimpan berhala di dalam hati kita. Banyak orang Kristen di Indonesia yang tetap menggunakan jimat, tiup-tiupan, guna-guna, ikat pinggang merah, batu licin, mantera, doti-doti, suanggi, sihir, hobatan, keris, berhubungan dengan orang mati, dll., semua itu adalah berhala. Kalau Tuhan sudah menjadi pelindung kita, untuk apa lagi kita percaya kepada benda-benda mati dan roh-roh jahat? Semua itu menjadi berhala dan Tuhan tidak akan mendengar doa orang yang masih menggunakan benda-benda itu atau yang percaya kepada benda-benda itu.

    Sering doa kita tidak dikabulkan oleh sebab kita tidak mau mengampuni seseorang atau sebab kita masih menaruh dendam kepadanya. Doa seringkali terhalang oleh hal itu. Tuhan Allah mengabulkan doa kita sebab dosa-dosa kita sudah diampuni, tetapi kalau kita tidak mengampuni orang lain tentu kita tidak berhak untuk menuntut agar Tuhan mendengar doa kita. Kalau kita menaruh dendam terhadap orang lain, tentu telinga Allah tertutup bagi doa kita.

    Sering doa kita tidak dikabulkan sebab kita tidak percaya; kita bimbang apakah benar-benar kita akan memperoleh apa yang telah dijanjikan oleh Tuhan kepada kita (Yakobus 1:5-7; Markus 11:24). Allah menuntut agar kita dengan kesungguhan hati percaya akan Firman-Nya. Kalau kita bimbang terhadap janji-janji Allah, hal itu sama dengan menganggap Allah sebagai pendusta.

    Boleh jadi doa suami dan isteri tidak dikabulkan sebab hubungan suami isteri itu tidak sesuai dengan isi Alkitab (1Petrus 3:6,7).

    J. Hasil Doa

    Doa menggerakkan tangan yang Mahakuasa, tangan yang menggerakkan alam ini, dan tangan yang menggerakkan hati manusia. Doa itu mengandung kuasa yang luar biasa (Yakobus 5:16-18; 1Raja 18:37,38). Banyak orang Kristen tidak memiliki Kuasa dalam kehidupannya, dan banyak pula jemaat Tuhan yang demikian. Alasannya dikemukakan di dalam Yakobus 4:2, "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa."

    Apa juga yang kita minta di dalam doa akan kita peroleh (Yohanes 14:13,14). Segala sesuatu yang kita minta dari Allah akan dapat kita peroleh kalau kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya (1Yohanes 3:22). Jikalau kita minta sesuatu menurut kehendak Tuhan, niscaya Ia akan mendengarkan kita, dan tentu kita memperoleh apa yang kita minta (1Yohanes 5:14,15).

    K. Contoh-contoh doa dalam Alkitab

    Akan sangat menolong bagi kita apabila kita menyelidiki doa Tuhan Yesus Kristus yang terdapat dalam ayat-ayat berikut: Matius 6:9-13; Lukas 11:2-4; Yohanes 11:40-43; 12:27,28; 17:1-26; Matius 26:29,42; Lukas 23:34; Matius 27:46; Matius 11:25,26.

    Disamping itu kita perlu juga menyelidiki doa Rasul Paulus dan Yohanes: Kisah 9:5,6; Roma 16:25-27; Efesus 1:16-20; Efesus 3:14-21; Filipi 1:9-11; Kolose 1:9-14; 1Tesalonika 3:10-13; 2Tesalonika 1:11,12; Ibrani 13:20,21; Wahyu 22:20.

    Demikian pula doa Abraham dan perempuan Kanaan: Kejadian 18:23-33; Matius 15:22-28.

    (II). UCAPAN SYUKUR DAN PUJI-PUJIAN KEPADA ALLAH

    Kehidupan orang-orang Kristen tidak sempurna kalau tidak disertai dengan banyak ucapan syukur. Ucapan syukur adalah hal yang sangat dipentingkan dalam Alkitab. Hal ini jelas oleh sebab banyak ayat dan pasal yang berisi ucapan syukur kepada Allah. Maka diwajibkan kepada orang-orang Kristen untuk mengucap syukur dan memuji-muji Allah (Mazmur 92:2,3,5; 107:8,15,21,31; 103:1,2; Efesus 5:4; Kolose 3:15,17; 1Tesalonika 5:18). Kita melanggar hukum Allah kalau kita tidak mengucap syukur kepada Allah untuk segala berkat yang telah dilimpahkan-Nya ke atas kita. Semangat orang-orang Kristen yang mula-mula ialah senantiasa mengucap syukur dan menaikkan puji-pujian kepada Allah (Lukas 24:52,53; Kisah 2:46,47). Segenap Alkitab penuh dengan ucapan syukur dan puji-pujian kepada Allah. Orang-orang yang dipenuhi dengan Roh Kudus akan sering mengucap syukur (Efesus 5:18-20). Hal itu mempermuliakan Allah, di samping itu dapat menarik orang-orang lain untuk percaya kepada Tuhan Yesus Kristus (Yohanes 11:41,42). Kalau kita menginginkan doa yang sempurna maka doa kita haruslah disertai dengan ucapan syukur (Filipi 4:6).

    Kita patut mengucap syukur kepada Allah oleh sebab Ia telah memberikan Yesus Kristus menjadi Juruselamat kita. Kita patut mengucap syukur untuk pengampunan dosa dan kelepasan dari kuasa dosa. Kita patut mengucap syukur untuk segala sesuatu yang Tuhan Yesus telah perbuat bagi kita; dan oleh sebab Tuhan telah mengabulkan doa kita. Kita patut mengucap syukur untuk Roh Kudus dan karunia-karunia Roh itu; dan karena orang-orang yang baru bertobat.

    Kita patut mengucap syukur dalam segala hal dan untuk segala hal (Filipi 4:6; 1Tesalonika 5:18; Efesus 5:20). Oleh sebab pada masa ini telah beredar ajaran palsu berkenaan dengan mengucap syukur untuk segala hal, maka kita perlu berhenti sejenak untuk bertanya,"Apakah yang dimaksud Paulus ketika ia berkata, "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan serta Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita' (Efesus 5:20)?" Apakah Paulus bermaksud bahwa kita patut mengucap syukur atas kejahatan dan juga kebaikan, tanpa membedakannya.

    Akhir-akhir ini telah muncul beberapa penafsir Alkitab yang mengemukakan tafsiran yang ekstrim. Contohnya: Mereka mengatakan, "Andaikata seorang anak laki-laki telah terjerumus ke dalam dunia narkotik sehingga ia menjadi pecandu heroin, atau seorang anak perempuan telah menjadi pelacur, selayaknya ibu mereka patut mengucap syukur kepada Allah untuk hal itu." Apakah Paulus mengajar kita untuk mengucap syukur kepada Allah Bapa untuk hal-hal demikian?

    Ayat yang sejajar dengan Efesus 5:20 yaitu Kolose 3:17, berbunyi: "Segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita". Apakah ketika Paulus berkata "Lakukanlah semuanya itu", termasuk kejahatan juga? Tidak mungkin! Jadi, bilamana Ia berkata, "Ucaplah syukur atas segala sesuatu", tidak mungkin bahwa kejahatan juga termasuk.

    Efesus 5:20 menyatakan kebenaran tafsiran itu. Paulus telah menasihati orang Kristen agar jangan hidup di dalam dosa, sebagaimana keadaan mereka dahulu. Sikap yang tepat terhadap kejahatan dan dosa ialah, "menanggalkan" (Efesus 4:22). Dan "buanglah" (Efesus 4:25) kejahatan dan dosa itu. Perkataan kotor tidak boleh diucapkan (Efesus 4:29); perbuatan kotor tidak boleh dilakukan (Efesus 5:5). Kejahatan harus ditelanjangi, dan orang Kristen tidak boleh terlibat dalamnya (Efesus 5:11). Tidak masuk akal kalau Paulus mengajar kita agar mengucap syukur kepada Allah untuk kejahatan. Kejahatan adalah hal yang seharusnya dilawan dan dikalahkan dengan kebaikan (Roma 12:21), bukan merupakan suatu hal yang untuknya kita patut mengucap syukur kepada Allah. Kita patut mengucap syukur dengan tidak putus-putus (1Tesalonika 2:13). Pujian kepada Allah akan memenuhi hati kita dengan sukacita.

    (III). PERSEPULUHAN DAN PERSEMBAHAN

    A. Peraturan Perjanjian Lama tentang Persepuluhan dan Persembahan kepada Tuhan

    Persepuluhan Tuhan berarti satu persepuluh daripada segala hasil, pemberian, pendapatan, dan gaji yang wajib dipersembahkan kepada Allah Bapa kita "yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati" (1Timotius 6:17). Dengan perkataan lain, kita wajib memberikan kepada Tuhan satu persepuluh dari seluruh gaji atau pendapatan kita, dari segenap hasil tanah dan kebun, dan dari hasil ternak kita, dan dari segala bunga uang dan keuntungan kita. Itulah yang disebut persepuluhan Tuhan.

    B. Persepuluhan Tuhan itu telah ada sebelum Taurat Musa

    Pemberian persepuluhan kepada Allah sudah dilakukan orang-orang sejak purbakala, baik oleh orang Ibrani maupun bangsa-bangsa lain. Sebelum Musa memberikan Taurat kepada bani Israel, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk memberi persepuluhan kepada Tuhan. Rupanya hal itu telah ditanamkan di dalam hati nurani manusia sejak purbakala. Kita dapat mengetahuinya dari Kitab Kejadian. Abraham telah memberi persepuluhan kepada Melkisedek, imam Allah (Kejadian 14:18-20). Ketika Yakub di Bethel ia berjanji akan memberi persepuluhan kepada Allah. Kalau cerita itu diselidiki, maka rupanya hal memberi persepuluhan itu adalah sebagai pengakuan kesalahannya karena ia belum memberikan persepuluhan, dan sejak itu ia mulai melakukannya (Kejadian 28:20-22). Oleh sebab memberi persepuluhan itu sudah ada sebelum Taurat, maka hal itu diwajibkan kepada semua manusia.

    C. Persepuluhan diteguhkan dalam Taurat

    Tentang memberi persepuluhan kepada Tuhan telah diteguhkan oleh Allah dalam Taurat (Imamat 27:30-33; Bilangan 18:21-26; Ulangan 12:17-19; 14:22-29; 26:12-15). Walaupun persepuluhan itu telah dilaksanakan sebelum zaman Nabi Musa, tetapi hal itu wajib pula dimuat dalam Taurat. Dan itulah yang menjadi alasan bagi bangsa Israel untuk memberikan persepuluhan termasuk dalam Taurat. Oleh karena persepuluhan termasuk dalam Taurat, maka hal itu diwajibkan kepada segenap bangsa Israel.

    D. Tujuan memberi persepuluhan

    Segala sesuatu yang ada pada kita adalah karunia dari Allah. Segala hasil tanah, hasil ternak, kesehatan tubuh, sehingga kita dapat bekerja dan memperoleh hasil, gaji, atau upah, semuanya itu asalnya dari Allah, dan kita wajib berharap kepada Allah untuk semua itu. Dalam hal memberi persepuluhan kepada Tuhan seseorang mengakui dan menyatakan bahwa ia sangat berharap dan bersandar kepada Allah untuk segala keperluannya. Orang yang memberi persepuluhan mengucap syukur kepada Allah atas segala sesuatu yang sebenarnya berasal dari tangan Allah. Orang itu mengakui bahwa ia tidak dapat hidup sendiri di luar pertolongan Tuhan. Sebenarnya dalam hal ini ia memberikan semuanya kepada Allah dan Allah mengembalikan sembilan persepuluh untuk keperluan orang itu. Kepada orang-orang yang mentaati Firman Tuhan itu, maka Ia berjanji akan memberikan berbagai macam berkat yang indah (Ulangan 14:29; Maleakhi 3:10).

    E. Peraturan Perjanjian Baru tentang persepuluhan dan persembahan kepada Tuhan

    Oleh sebab hal memberi persepuluhan itu telah ditetapkan sebelum ada Taurat; dan dalam Kitab Maleakhi kita juga diperintahkan untuk melaksanakannya (Maleakhi 3:8-10); dan Firman Tuhan melalui Maleakhi itu tidak pernah dibatalkan oleh Tuhan, jadi wajiblah orang-orang Kristen memberi persepuluhan kepada Tuhan. Tetapi janganlah kita memikirkan hal itu sebagai perintah, melainkan sebagai suatu berkat, suatu perjanjian yang indah sekali. Tuhan ingin agar kita menguji Dia, supaya janji Tuhan itu digenapkan dan diteguhkan. "Ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." Ini bukan suatu tanggungan berat, melainkan suatu berkat yang Tuhan mau curahkan kepada kita.

    F. Peraturan memberi persepuluhan disahkan oleh Kristus

    Ketika orang-orang Farisi datang hendak mencobai Tuhan Yesus dengan berkata, "Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?" Orang-orang Farisi itu berharap supaya Tuhan Yesus bersalah terhadap Kaisar. Mereka menyangka bahwa Tuhan akan berkata, "Berikan persembahanmu hanya kepada Tuhan saja". Dengan demikian mereka mendapat kesempatan untuk menyalahkan Tuhan Yesus terhadap Kaisar. Tetapi Tuhan menjawab demikian: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan" (Matius 22:16-21). Apakah yang "wajib diberikan kepada Allah" itu? Tentu persepuluhan Tuhan. Dalam hal ini Tuhan Yesus telah menyatakan tentang persepuluhan, dan dengan demikian hal memberi persepuluhan kepada Tuhan disahkan oleh Tuhan Yesus sendiri.

    Tetapi pada bagian lain Tuhan juga mengesahkan persepuluhan itu, lihat Matius 23:23 dan Lukas 11:42. Dalam ayat-ayat itu Tuhan tidak menegur orang-orang Farisi dan para ahli Taurat tentang persepuluhan, sebab mereka memberikan persepuluhan, meskipun dari selasih, adas manis dan jintan, melainkan Tuhan menegur tentang keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan yang tidak ada pada mereka. Tuhan Yesus berkata bahwa hal yang hal penting itu harus dilakukan. Tetapi perhatikanlah bahwa Tuhan juga berkata, "Dan yang lain jangan diabaikan". Artinya, mereka itu wajib melakukan hal yang lebih penting, tetapi janganlah mereka mengabaikan hal memberi persepuluhan, sampai kepada persepuluhan selasih, adas manis dan jintan (rempah-rempah). Dengan perkataan itu Tuhan Yesus telah mengesahkan tentang memberi persepuluhan, dan oleh sebab kita orang Kristen kita wajib mentaatinya.

    G. Rasul-rasul menetapkan tentang memberi persepuluhan dan persembahan kepada Tuhan

    Dalam Ibrani 7:1-10 penulis tidak bermaksud memberi pelajaran tentang persepuluhan, melainkan ia memberikan pelajaran tentang Tuhan Yesus sebagai Imam Besar kita, yang lebih besar dari imam-imam keturunan Harun. Akan tetapi mengenai persepuluhan dikatakan empat kali dalam ayat-ayat itu. Kalau seandainya orang-orang Kristen tidak perlu memberi persepuluhan, tentu penulis tidak memakai lukisan tentang Melkisedek yang di dalam lukisan itu banyak mengemukakan tentang persepuluhan. Satu hal yang nyata yaitu tidak ada alasan apa pun dalam Perjanjian Baru yang membatalkan persepuluhan, justru mengesahkan.

    Di samping itu rasul-rasul mengajarkan agar orang-orang Kristen tetap memberikan persembahan-persembahan mereka pada waktu-waktu tertentu. Bacalah 1Korintus 16:1,2 dan Kisah 20:7. Jelas bahwa jemaat yang mula-mula berhimpun pada hari yang pertama dalam seminggu (hari Minggu). Dan pada tiap-tiap hari pertama itu orang-orang Kristen diajar memberi persembahan tetap kepada Tuhan. Persembahan itu adalah persembahan sukarela, sesuai dengan berkat yang ia terima dari Tuhan pada Minggu itu.

    Sejarah gereja menyatakan bahwa setelah zaman rasul-rasul pemimpin-pemimpin jemaat Kristus berpegang teguh pada peraturan memberi persepuluhan.

    H. Persepuluhan sebagai alat Tuhan untuk membiayai para pengabar Injil

    Rasul Paulus menerangkan kepada kita bahwa Tuhan telah menetapkan mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari pemberitaan Injil itu (1Korintus 9:14). Hal itu lebih diteguhkan oleh lukisan-lukisan dalam ayat 1Korintus 9:7-11, juga dalam Galatia 6:6 Rasul Paulus memberi pesan tentang hal itu.

    Dalam Perjanjian Lama imam-imam dan orang-orang Lewi hidup dari persepuluhan orang-orang Israel. Begitu pula Tuhan menghendaki supaya para pengabar Injil hidup dari persepuluhan orang-orang Kristen. Oleh sebab perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 23:23 dan Lukas 11:42 (yang diterangkan di atas), maka pesan dalam Maleakhi 3:10 diwajibkan bagi orang-orang Kristen.

    Rasul Paulus pada mulanya tidak menerima pemberian apa-apa dari jemaat di Korintus. Tetapi kemudian Rasul Paulus mengakui bahwa hal itu salah, dan ia meminta ampun dari jemaat itu (2Korintus 12:13). Paulus memberitahukan bahwa jemaat di Korintus masih terbelakang dibandingkan dengan jemaat-jemaat yang lain hanya karena jemaat Korintus tidak membiayai Rasul Paulus. Saya kira banyak gembala sidang patut meminta ampun karena kelalaian mereka dalam mengajarkan persepuluhan kepada jemaat mereka.

    I. Berkat dan hasil memberi persepuluhan

    Tuhan telah berjanji bahwa Ia akan memberi banyak berkat jasmani kepada orang-orang yang memberikan persepuluhan (2Tawarikh 31:10; Mazmur 50:14,15; Amsal 3:9,10; Maleakhi 3:10). Tuhan akan memberkati ladang, sawah, kebun, pohon-pohon, ternak, usaha, mata pencaharian dan kesehatan tubuh orang yang memberi persepuluhan itu. Sisanya yang sembilan persepuluh akan diperbanyak oleh Tuhan lebih daripada sepuluh persepuluh yang ada pada orang yang tidak memberi persepuluhan.

    Banyak orang yang mempunyai perusahaan, atau pabrik, dan banyak orang yang bekerja sehari-hari untuk penghidupannya, memberikan kesaksian bahwa sesudah ia mulai memberi persepuluhan secara tetap maka Tuhan sangat memberkati perusahaannya atau pabriknya atau pekerjaannya.

    Dalam Kitab 1Raja 17:8-16 ada cerita tentang Nabi Elia dan perempuan janda. Oleh sebab perempuan janda itu lebih dahulu memberi makan kepada nabi Allah, maka tepung dan minyaknya tidak habis. Ini merupakan pelajaran bagi kita sekarang, yaitu ada berkat jasmani untuk orang-orang Kristen yang menyokong secara tetap pengabar Injil dalam jemaat.

    Kalau seorang Kristen mencuri hak Allah dengan tidak memberi persepuluhan (Maleakhi 3:8-10), maka sebenarnya ia mencuri berkat dari dirinya sendiri. (Perkataan "menipu Allah" dapat juga diterjemahkan "mencuri dari Allah").

    Berkat rohani bagi orang yang memberi persepuluhan itu jauh lebih indah daripada berkat-berkat jasmaninya. Patut diketahui bahwa berkat-berkat yang dijanjikan dalam Maleakhi 3:10 juga mengandung berkat-berkat rohani.

    Kasih karunia Allah kepada kita tidak dapat diduga. Tuhan Yesus sangat kaya tetapi Ia menjadi miskin karena kita supaya oleh karena kemiskinan-Nya kita menjadi kaya (2Korintus 8:9). Kasih karunia Tuhan yang memberi pengampunan dan menebus kita sangat indah. Kalau kita menyadari akan kasih karunia Allah kepada kita, maka kita akan memberikan lebih daripada hanya persepuluhan saja; kita akan memberi dengan kerelaan dan bukan paksaan atau dukacita (2Korintus 9:6,7). Kepada orang yang memberi dengan kerelaan hati, Allah akan melimpahkan kasih karunia-Nya (ayat 2Korintus 9:8); dan Tuhan akan melipatgandakan hasilnya (ayat 2Korintus 9:10); dan orang itu akan diperkaya dalam segala kemurahan hati (ayat 2Korintus 9:11).

    Orang-orang saleh dalam jemaat di Makedonia merasakan sukacita yang meluap selagi dicobai dengan berat, dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan (2Korintus 8:2). Mereka telah memberi lebih daripada kemampuan mereka (ayat 2Korintus 8:3). Apakah sebabnya? Sebab mereka pertama-tama memberikan diri mereka sendiri kepada Allah (ayat 2Korintus 8:5). Dan inilah yang ingin kami katakan, yaitu: memberi persepuluhan adalah sebagian dari menyerahkan diri seluruhnya kepada Allah. Memberi persepuluhan mengajar kita dalam hal beriman kepada Allah; melalui hal ini kita dapat mengetahui bahwa Allah selalu mencukupkan segala keperluan kita, dan dengan demikian jiwa kita diberkati dan kasih kita kepada Allah makin bertambah-tambah.

    Orang Kristen yang memberi dengan kerelaan hati dapat mengetahui bahwa Tuhan mengembalikan lebih daripada yang kita berikan. Perjanjian dalam Filipi 4:19 diberikan sebab mereka telah memberi dengan rela hati. Hal ini jelas dalam ayat-ayat sebelum ayat sembilan belas (Filipi 4:10-19; Filipi 4:6-9). Sebenarnya orang Kristen hanya boleh menuntut penggenapan perjanjian ini jikalau ia memberi persepuluhan kepada Tuhan.

    Bila seorang Kristen dengan setia memberi persepuluhan kepada Tuhan maka orang itu sangat diberkati dengan berkat-berkat rohani. Begitu pula bila anggota-anggota suatu jemaat memberi persepuluhan dengan setia maka jemaat itu akan maju dalam hal-hal rohani. Hal ini dibuktikan oleh banyak orang dan jemaat-jemaat yang mengalami hal itu.

    J. Kemurahan hati orang-orang Kristen

    Ada banyak pesan dalam Alkitab yang menganjurkan agar orang-orang Kristen bermurah hati kepada semua orang dan terutama kepada orang-orang Kristen lain yang berkekurangan. Selidikilah ayat-ayat yang berikut: Lukas 12:33; Filipi 4:10-19; 2Korintus 9:1-15; Roma 12:8; Ibrani 13:16; 2Korintus 8:1-9.

    XII. KASIH ORANG YANG PERCAYA

    (I). KASIH KEPADA ALLAH

    Kasih kepada Allah merupakan suatu tuntutan yang terutama bagi orang Kristen. Hukum Allah yang besar dan terutama ialah: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" (Matius 22:37).

    A. Bukti kasih kepada Allah

    Kita sebagai orang Kristen wajib menyelidiki diri kita sendiri apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya. Bila kita mengasihi Allah, maka akan ada buktinya. Kita membuktikan kasih kita kepada Allah dalam hal kita memeliharakan hukum-hukum Allah (1Yohanes 5:3). Tetapi bukan hanya itu, sebab kalau kita mengasihi Allah tentu kita akan melayani dan berbakti kepada-Nya (Ulangan 10:12; 1Tesalonika 1:3). Kalau kita mengasihi Tuhan kita akan bekerja bagi-Nya. Bukti yang terbesar bahwa saudara seorang Kristen ialah: saudara mengasihi Allah dan Yesus Kristus dan sesama orang Kristen juga.

    Kasih kepada Allah dibuktikan dalam hal kita membenci dosa (Mazmur 97:10), dan tidak mengasihi dunia (1Yohanes 2:15). Orang yang mengasihi Allah tidak akan merindukan atau mengasihi hal-hal duniawi. Kasih kepada Allah juga dibuktikan dalam hal kita mengasihi saudara-saudara kita (1Yohanes 4:20,21). "Saudara" dalam ayat itu berarti orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Mustahil seseorang mengasihi Allah dan mengasihi dosa pada waktu yang sama.

    B. Hasil kasih kepada Allah

    Seorang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah akan mendapat banyak berkat dari Allah (Ulangan 5:10; 7:9; Keluaran 20:6; Mazmur 69:36; 91:4). Dalam Perjanjian Baru dikemukakan banyak janji berkat kepada orang-orang yang mengasihi Allah. Orang itu akan dikenal oleh Allah (1Korintus 8:3). Mahkota kehidupan akan diberikan kepadanya (Yakobus 1:12). Ia akan menjadi ahli waris kerajaan yang telah dijanjikan kepadanya (Yakobus 2:5). Hal-hal indah yang belum pernah dilihat oleh mata atau timbul di dalam hati manusia disediakan untuk orang-orang yang mengasihi Allah (1Korintus 2:9). Segala kejadian dan keadaan akan mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah, dan di akhirat kelak orang itu akan dipermuliakan (Roma 8:28-30).

    C. Kasih berasal dari Allah

    Kasih berasal dari Tuhan Allah dan orang-orang yang lahir dari Allah akan mengasihi Allah, sebab kasih itu dicurahkan ke dalam hatinya (1Yohanes 4:7). Kita mengasihi Allah sebab Ia telah lebih dahulu mengasihi kita, dan bila kita merenungkan kasih Allah kepada kita maka kasih kita kepada-Nya semakin bertambah-tambah (1Yohanes 4:19). Dengan mempelajari dan menyelidiki Firman Tuhan (Alkitab) dan dengan berdoa maka kasih kita kepada Allah bertambah-tambah (2Tesalonika 3:5).

    (II). KASIH KEPADA KRISTUS

    Kasih kita kepada Yesus Kristus membuktikan kasih kita kepada Allah (Yohanes 8:42). Kalau kita mengasihi Allah tentu kita percaya kepada Anak Allah itu. Sebenarnya Tuhan Yesus menuntut dari murid-murid, rasul-rasul, dan para pengikut-Nya kasih yang lebih besar daripada kasih kepada ibu, bapa dan saudara-saudaranya (Matius 10:35-38). Dalam Lukas 14:26 dikatakan bahwa kita harus membenci ibu, bapa dan saudara kita. Itu bukan berarti kita harus membenci mereka, sebab orang Kristen tidak boleh membenci orang lain. "Benci" dalam ayat itu adalah untuk perbandingan. Maksudnya, kasih kita kepada Kristus haruslah sedemikian besar sehingga bila dibandingkan dengan kasih kita kepada ibu, bapa dan saudara kita seolah-olah kita membenci mereka, sebab jauh sekali perbedaan antara keduanya. Kalau seseorang tidak mengasihi Kristus, maka jelas bahwa orang itu bukanlah anak Allah (1Korintus 16:22). Dan semua orang yang tidak mengasihi Kristus akan binasa.

    A. Bukti kasih kepada Kristus

    Kita membuktikan kasih kita kepada Kristus dalam hal kita memelihara hukum-hukum-Nya (Yohanes 14:15,21,23); dalam hal kita hidup bagi Kristus (2Korintus 5:14,15); dalam hal kita memelihara domba-domba Kristus (Yohanes 21:15-17); dalam hal kita melayani Kristus (Lukas 7:44-47). Seorang yang mengasihi Kristus dengan sukacita akan menyerahkan segala sesuatu bagi Kristus (Filipi 3:7,8); dan kita akan rela menderita kesusahan atau mati karena Kristus (Kisah 21:13). Kasih kita kepada Kristus dinyatakan dalam hal kita rindu untuk diam bersama-sama dengan Dia (2Korintus 5:8; Filipi 1:23); dan dalam hal kita merindukan kedatangan-Nya yang kedua kali (2Timotius 4:8; Wahyu 22:20).

    B. Hasil kasih kepada Kristus

    Semua orang yang mengasihi Kristus dikasihi oleh Allah dan Kristus (Yohanes 14:21-23). Tuhan Allah mengasihi semua manusia, tetapi kasih-Nya lebih besar kepada orang-orang yang mengasihi Anak-Nya. Allah mengasihi mereka itu sama seperti Ia mengasihi Anak-Nya (Yohanes 17:23). Kristus menyatakan diri-Nya kepada orang yang mengasihi Dia (Yohanes 17:15,16,23; 16:14). Allah Bapa dan Kristus diam di dalam orang-orang yang mengasihi Kristus. Karunia Allah, yaitu Roh Kudus, diberikan kepada orang-orang yang mengasihi Kristus (Yohanes 14:15-17).

    Kasih kepada Tuhan Yesus akan terus-menerus bertambah di dalam kita, bila kita insaf betapa besarnya dosa-dosa kita dan betapa besar kasih Tuhan Yesus kepada kita sehingga Ia mengampuni dosa-dosa kita (Lukas 7:47-50). Hal ini dilukiskan dalam kehidupan Rasul Paulus dan Yohanes. Lihat 1Timotius 1:12-15; Galatia 2:20; 1Yohanes 4:10.

    (III). KASIH KEPADA MANUSIA

    Allah itu kasih (1Yohanes 4:8), dan Ia telah membuktikan kasih itu di dalam Tuhan Yesus yang mati di atas kayu salib untuk kita. Sebab itu wajiblah kita mengasihi Allah. Tetapi kita tidak dapat mengasihi Allah kalau kita tidak mengasihi saudara-saudara kita (1Yohanes 4:21). Kasih lebih besar daripada iman dan pengharapan (1Korintus 13:13). Kasih adalah hal yang terbesar dan terutama dalam dunia ini. Sebab kasih itu asalnya dari Allah, maka Ia telah menyediakan jalan supaya kasih itu dicurahkan di dalam hati kita. "Karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita" (Roma 5:5). Oleh sebab itu orang-orang Kristen tidak dapat mengasihi dengan benar di luar pertolongan Roh Kudus.

    Tetapi syukurlah! Bila kita dipenuhi Roh Kudus, maka kita akan sungguh-sungguh mengasihi saudara kita dan sesama manusia, bahkan seteru kita.

    Kita patut mengasihi saudara-saudara kita seiman, yaitu semua orang saleh (1Petrus 2:17; Efesus 1:15). Memang orang Kristen harus mengasihi semua orang, tetapi terutama ia patut mengasihi saudara-saudara Kristen yang lain (Galatia 6:10). Kita patut mengasihi sesama kita (Matius 19:19; 22:39). (Siapakah sesama manusia itu dapat kita ketahui dalam Lukas 10:29-37). Di samping itu patutlah kita mengasihi semua orang, juga lawan dan musuh kita (1Tesalonika 3:12; Matius 5:44). Di samping itu patutlah kita mengasihi satu kepada yang lain (Efesus 5:25; Titus 2:4). Suami dan isteri patut mengasihi satu kepada yang lain (Efesus 5:25; Titus 2:4).

    Bukti kasih kepada manusia

    Kita membuktikan kasih kita kepada orang lain dalam hal kita tidak mengerjakan suatu kejahatan kepadanya (Roma 3:10), melainkan kita berbuat baik kepada semua orang (Galatia 6:10). Kasih kita dinyatakan dalam hal kita melayani orang-orang lain (Galatia 5:13). Tuhan Yesus telah memberikan teladan dalam hal Ia melayani orang lain (Yohanes 13:1-5), lihat Filipi 2:4-7. Kasih kita dinyatakan dalam hal kita menanggung beban sesama kita (Galatia 6:2), dan dalam hal kita mengampuni serta menghibur orang yang berdosa (2Korintus 2:7,8; Galatia 6:1).

    Kasih kita buktikan dalam hal kita tidak berbuat sesuatu yang menjadi batu antukan kepada saudara kita yang lain (Roma 14:15,21), dan dalam hal kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera (Roma 14:19). Kasih kita dinyatakan dalam hal kita berbuat baik kepada orang lain serta memberi pinjaman kepadanya (Lukas 6:35; 1Yohanes 3:17). Kasih kita dinyatakan dalam hal kita menegur seseorang yang berbuat salah (Amsal 27:5; Matius 18:15-17), dan dalam hal kita mendoakan mereka (Matius 5:44). Pelajaran lain mengenai kasih terdapat dalam ayat-ayat yang berikut: Roma 12:10; 1Korintus 13:4-7; Yohanes 15:13; 1Yohanes 3:16.

    Kasih adalah buah Roh Kudus (Galatia 5:22; Roma 5:5), dan kita patut berdoa kepada Allah supaya kita bertambah-tambah di dalam kasih (Filipi 1:9). Kalau kita ingin mengasihi orang-orang lain, maka sebaiknya kita membiarkan Tuhan Yesus berdiam di dalam hati kita (Galatia 2:20).

    21. ASAS PENGAJARAN TENTANG JEMAAT KRISTUS


    I. ASAL MULA DAN ARTI JEMAAT KRISTUS

    Jemaat Kristus adalah suatu perhimpunan orang-orang yang telah bertobat dari dosa-dosa mereka, dan telah percaya kepada Yesus Kristus, dan telah dilahirkan kembali oleh pekerjaan Roh Kudus, dan telah dipersatukan dengan Kristus, Kepala mereka, yang senantiasa menyertai mereka (Yohanes 3:7; Kisah 5:14; 11:24). Jemaat adalah tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepalanya (Efesus 1:22,23). Jemaat adalah kabah (tempat kediaman) Roh Kudus (Efesus 2:21,22); dan jemaat itu telah dipersatukan dengan Kristus sebagai satu tubuh (Efesus 5:30,31); dan sebagai anak dara yang suci ia dipertunangkan kepada Kristus (2Korintus 11:2-4).

    Yesus Kristus disebut Kepala Jemaat dan Gembala Agung, Mempelai Laki-laki, Imam Besar dan Batu Penjuru. Anggota-anggota jemaat disebut imam-imam, mempelai perempuan, isteri, kawanan domba, tiang-tiang dan batu-batu yang hidup.

    Dalam Perjanjian Baru ada suatu istilah dalam bahasa Yunani untuk jemaat, yaitu "Eklesia", yang berarti "Orang-orang yang dipanggil". Perkataan-perkataan yang berarti "memanggil" atau yang berhubungan dengan "panggil" terdapat dalam ayat-ayat yang berikut: Roma 8:30; 1Kor 1:9; 2Tesalonika 2:14; 1Petrus 2:9; Roma 1:6,7; 8:28; 1Korintus 1:1,2; Yudas 1:1; Matius 16:18; 18:17.

    Dari ayat-ayat diatas dijelaskan bahwa jemaat telah dipanggil kepada Kristus, dan ada dibawah perintah Kristus. Jadi, jemaat adalah orang-orang yang telah dipanggil (2Timotius 1:9). Jemaat Kristus lebih besar daripada suatu golongan atau bagian dalam jemaat. Suatu golongan tidak dapat mengatakan, "Kami adalah jemaat yang sejati" adalah orang-orang dari antara banyak golongan dan dari antara banyak bangsa dimana-mana tempat. Perkataan "Gereja" lebih cenderung berarti "rumah" atau "Rumah Tuhan". Kata itu berasal dari perkataan Yunani "Kuriakon" yang berarti "milik Tuhan" dan perkataan "Kuraika" yang berarti "rumah Tuhan".

    Tuhan Yesus telah memberi pelajaran tentang jemaat-Nya kepada rasul-rasul dan orang-orang yang percaya kepada Dia, lihat Mat 16:18; Markus 11:17; Matius 18:17. Di dalam doa-Nya (pasal Yohanes 17:1-26) Tuhan telah mempersiapkan murid-murid-Nya untuk jemaat yang akan didirikan.

    Susunan anggaran dasar jemaat adalah seperti berikut: &&Kepala jemaat : Yesus Kristus, Efesus 1:22,23. Anggota-anggota jemaat-Nya : Orang-orang yang sudah dilahirkan kembali, Yohanes 3:1-18. Kerinduan Kristus untuk jemaat-Nya : Segenap pasal Yohanes 17:1-26, Efesus 4:13; 5:27; 1Tesalonika 3:13; Kolose 1:28. Pemimpin-pemimpin jemaat : Pemimpin-pemimpin harus menjadi hamba kepada Kristus dan kepada anggota-anggota jemaat, Efesus 6:6; 2Petrus 1:1; 2Korintus 4:5; Yohanes 13:5,14. Tujuan jemaat : supaya Allah dan Kristus dapat tinggal di dalam hati kita, Yohanes 17:3; Yohanes 14:23; supaya Injil Kristus dikabarkan kepada semua orang, Markus 16:15; Matius 28:19,20. Disiplin jemaat : Lihat Matius 18:15-20; dan pasal 1Korintus 6:1-20. Anggaran rumah tangga jemaat : Khotbah Kristus di atas bukit, pasal Matius 5:1-7:29.

    A. Jemaat Kristus terbentuk pada hari Pentakosta

    Terbentuknya jemaat yaitu pada hari Pentakosta. Sebelum hari itu sudah ada orang-orang yang telah percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi pada hari itulah jemaat terbentuk. Murid-murid Tuhan berhimpun dengan sehati di Yerusalem dan tiba-tiba Roh Kudus turun keatas mereka, dan demikian jemaat Kristus terbentuk. Akan tetapi dasar jemaat telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus sendiri, yang telah berkata, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Matius 16:18,19). Batu karang ini tidak lain adalah Yesus Kristus sendiri, bukan Petrus. Sebenarnya Petrus tidak diangkat lebih tinggi daripada rasul-rasul lain, seperti yang nyata dalam ayat-ayat: Yohanes 20:19-23; Matius 18:18. Dalam ayat-ayat itu kuasa untuk mengikat dan melepaskan diberikan kepada semua rasul dan kepada segenap jemaat. Tuhan Yesus berkata, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Barang siapa jatuh keatas batu itu, ia akan hancur, dan barang siapa ditimpa batu itu, ia akan remuk" (Lukas 20:17,18). Kalau ayat itu dibandingkan dengan Matius 18:18; 16:18,19; 1Korintus 3:11; 1Petrus 2:6; dan Efesus 2:20, nyata bahwa dalam hal ini tidak ada perbedaan antara rasul-rasul. Jelas juga dari ayat itu bahwa Tuhan Yesus Kristuslah batu penjuru jemaat. Kesaksian Petrus baik sekali, tetapi hal itu tidak menjadi dasar bagi jemaat. Memang kesaksian itu patut menjadi kesaksian tiap-tiap orang Kristen, dan kesaksian itu telah menjadi asas pelajaran orang Kristen. Tuhan Yesus Kristus yang mendirikan jemaat dan Ia adalah dasar jemaat. Jemaat didirikan oleh rasul-rasul dan orang-orang percaya. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambahkan jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan, akan tetapi Tuhan menambahi jumlah mereka setelah mereka sendiri bertobat dan percaya (Kisah 11:24).

    Jemaat yang mula-mula itu mempunyai tempat-tempat tertentu untuk berhimpun, misalnya: dalam bilik yang di atas (Kisah 1:13), dalam Kabah (Kisah 5:12), dalam rumah-rumah anggota (Kisah 2:46; 12:12). Maka mereka berhimpun pada waktu-waktu tertentu, yaitu pada mulanya setiap hari (Kisah 21:46), kemudian pada tiap-tiap hari yang pertama dalam seminggu (Kisah 20:7; Wahyu 1:10). Ada juga jam-jam tertentu untuk berdoa (Kisah 3:1; 10:9). Dan setiap hari bertambahlah orang yang diselamatkan (Kisah 2:47; 1:15; 2:41; 4:4).

    Jemaat itu meluas sampai ke Yudea dan Samaria seperti yang dikatakan dalam Kisah 8:1-25. Kemudian meluas lagi sampai ke Antiokhia di Siria, dan Rasul Paulus menjadi pemimpinnya seperti Petrus dan Yakobus menjadi pemimpin jemaat di Yerusalem. Sebenarnya bilamana ada dua, tiga, atau lebih orang yang percaya berhimpun untuk menyembah kepada Tuhan Yesus, maka disitulah terbentuk jemaat Kristus.

    B. Dalam Perjanjian Baru ada dua arti untuk Jemaat

    Perkataan jemaat mempunyai dua arti dalam Perjanjian Baru. Pertama, jemaat yang tidak kelihatan. Ini berarti perhimpunan semua orang saleh sepanjang masa yang dipersatukan dengan Allah oleh iman kepada Kristus, baik di dalam sorga maupun di atas bumi (Ef 1:2; 3:21; Ibrani 12:23). Itulah jemaat seperti yang dilihat oleh Allah. Kedua, jemaat yang kelihatan. Ini berarti perhimpunan orang-orang yang percaya yang dipersatukan dengan Allah oleh iman kepada Kristus. Tetapi ada juga diantaranya orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen. Namun tidak pernah bertobat atau sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan. Jemaat yang kelihatan itu dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

    1. Suatu perkumpulan kecil di dalam rumah orang yang percaya, Roma 16:5; dan Filemon 1:2.
    2. Jemaat di dalam suatu kota atau daerah, 1Kor 1:2; 1Tesalonika 1:1.
    3. Seluruh jemaat dalam satu negara atau kerajaan, Galatia 1:2.

    Dalam sebuah jemaat yang kelihatan terdapat orang-orang yang sungguh-sungguh percaya dan dilahirkan kembali, ada pula orang-orang yang mentaati peraturan jemaat tetapi mereka belum dilahirkan kembali, meskipun nama mereka tercatat dalam daftar anggota jemaat itu. Hal ini diterangkan dalam perumpamaan tentang gandum dan lalang, dan tentang ikan yang baik dan yang tidak baik (Matius 13:24-43,47-52).

    Jemaat secara keseluruhan berarti segenap jemaat dari segala bangsa dan dari semua negara. Suatu golongan atau tatacara jemaat hanyalah merupakan sebagian daripada jemaat secara keseluruhan. Tiap-tiap orang Kristen patut mencari dan menjadi anggota dalam jemaat dimana segenap Injil diberitakan. Yang dimaksud "Jemaat yang sejati" ialah semua orang yang telah bertobat dan percaya kepada Kristus serta sungguh-sungguh telah dilahirkan kembali. Baiklah kita menyelidiki lebih jauh tentang jemaat yang kelihatan.

    C. Lukisan-lukisan tentang Jemaat

    Jemaat Kristus dilukiskan seperti suatu tubuh, seperti kabah, seperti mempelai perempuan dan seperti ranting-ranting. Jemaat adalah tubuh Kristus dan Kristus ialah Kepalanya. Jadi ada hubungan yang erat sekali antara Kristus dan jemaat. Sesungguhnya hal itu lebih daripada suatu hubungan, itu adalah persatuan dengan Kristus. Seperti Kristus dan Allah Bapa itu satu, begitu pula kita dengan Kristus (Yohanes 17:21). Keduanya dapat hidup dari satu pancaran, sama seperti kepala dan tubuh manusia. Tuhan Yesus ialah Kepala Jemaat dan pemberi kehidupan kepada jemaat (Efesus 5:23,24; 1:22,23; Kolose 1:18; 2:19). Kristuslah pusat persatuannya dan dengan kuasa-Nya jemaat makin bertambah-tambah (Efesus 4:15,16; Kolose 2:19). Demikian juga ada hubungan yang erat sekali di antara anggota-anggota jemaat seperti yang diterangkan dalam 1Korintus 12:12-27; Roma 12:4,5; Efesus 4:1-4,15,16. Anggota-anggota "Tubuh" itu wajib bekerja sama, serta saling menolong dan saling membantu supaya Kepala itu ditinggikan dan dipermuliakan; dan supaya tubuh itu bertambah suci, menuju kesempurnaan, sesuai dengan teladan Kristus (Efesus 4:12,13). Mengenai Tuhan Yesus sebagai pusat persatuan jemaat dilukiskan dengan roda dan jari-jarinya. Lebih dekat dengan pusat roda jari-jari itu lebih dekat satu kepada yang lain. Demikian pula keadaan kita dengan Kristus, sebagai pusat roda itu. Makin lebih dekat kepada Kristus, makin lebih dekat pula anggota-anggota satu dengan yang lain.

    Jemaat itulah kabah (tempat tinggal) bagi Roh Kudus (Efesus 2:21,22). Rasul Paulus menyebutkan Yesus Kristus "Dasar" jemaat (1Korintus 3:9-17). Petrus dan Paulus menyebutkan Yesus Kristus "Batu Penjuru" jemaat (Efesus 2:20; 1Petrus 2:4-8).

    Ada satu pasal dimana Rasul Paulus menjelaskan tentang tiap-tiap orang Kristen sebagai anggota tubuh Kristus dan sebagai kabah Roh Kudus (1Korintus 6:15,19). Lalu Rasul Petrus berkata bahwa orang-orang Kristen adalah batu-batu yang hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, dan imam-imam yang kudus (1Petrus 2:5). Rasul-rasul mengerti bahwa Tuhan sendiri berkata, "Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu, Aku datang kembali kepadamu" (Yohanes 14:18). Mereka mengerti bahwa Tuhan Yesus akan tetap mendoakan mereka di hadapan Allah, dan Tuhan Yesus akan menyertai mereka dengan perantaraan Roh Kudus. Seperti Kristus adalah kabah Roh Kudus yang mendiami Dia dengan tidak dibatasi, demikian pula jemaat yang menjadi Tubuh-Nya adalah kabah Roh Kudus yang dikaruniakan kepada jemaat itu dengan perantaraan Kepalanya yang hidup, yaitu Kristus. Sebagaimana Allah hanya dapat dilihat dalam Kristus, demikian pula Roh Kudus hanya dapat dilihat dalam jemaat itu. Selanjutnya, sebagaimana Kristus adalah teladan Allah begitu pun jemaat adalah teladan Kristus; dan kelak bila anggota jemaat dipermuliakan maka mereka itu akan menjadi serupa dengan Dia. "Jemaat Kristus dan kerajaan Kristus, yaitu kerajaan Kristus di atas bumi, tidak sama. Dalam arti lain keduanya sama, sebab sebagaimana rajanya demikian pun kerajaannya. Pada waktu ini Raja itu ada di dalam dunia melalui Roh Kudus, dan tidak kelihatan. Demikianlah Kerajaan Kristus itu ada didalam hati orang yang percaya dan tidak kelihatan. Tentu Raja itu akan datang kembali dengan kemuliaan dan dalam kenyataan, sebagaimana kerajaan-Nya nanti datang di dalam kenyataan dan dengan kemuliaan. Dengan perkataan lain, Kerajaan Kristus sudah ada di sini, tetapi belum tampak, dan kelak akan dinyatakan. Sekarang kerajaan rohani itu diatur oleh Roh Kudus, dan kerajaan rohani itu ada sejak hari Pentakosta sampai hari kedatangan-Nya kelak (Parousia). Pada waktu Ia datang dalam kemuliaan-Nya pada waktu Ia mengambil kekuasaan-Nya lalu memerintah (Wahyu 11:17), pada waktu Ia, yang sekarang telah pergi ke tempat yang jauh untuk menerima kerajaan-Nya, kembali dan mengambil kuasa untuk memerintah (Lukas 19:15), barulah yang tidak kelihatan akan dinyatakan dengan terus terang dalam kerajaan itu, dan pada waktu itu kuasa untuk memerintah akan diserahkan oleh Roh Kudus kepada Yesus Kristus". Dr. A.J. Gordon.

    Jemaat adalah mempelai perempuan, dan Tuhan Yesus adalah mempelai laki-laki. Memang hal ini merupakan satu rahasia, tetapi benar (2Korintus 11:2; Efesus 5:25-27; Wahyu 19:7-9; 22:17). Tuhan Yesus sangat mengasihi mempelai perempuan-Nya (jemaat-Nya) sehingga nanti Ia akan menghadapkan mempelai perempuan itu kepada Allah dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, dan dalam keadaan kudus. Rupanya hal itu akan terjadi pada perkawinan Anak Domba, yang dikatakan dalam kitab Wahyu. Peristiwa itu tentu merupakan suatu peristiwa yang sangat mulia dan penuh kesukaan.

    Jemaat ataupun anggota-anggotanya dilukiskan sebagai ranting-ranting dan Kristus adalah pokok anggur (Yohanes 15:1-10; Roma 11:24). Hal itu menyatakan bahwa anggota-anggota jemaat tidak dapat hidup kalau terpisah dari Tuhan Yesus.

    II. MENGATUR JEMAAT DAN ANGGOTA-ANGGOTANYA

    A. Mengatur Jemaat

    Dalam jemaat yang mula-mula, anggota-anggotanya telah menyadari bahwa di dalam suatu jemaat perlu ada beberapa peraturan, lalu mereka mulai mengatur jemaat itu. Sebelum hari Pentakosta mereka telah memilih seseorang yang menggantikan Yudas (Kisah 1:15-26). Pada waktu Rasul Paulus berjalan keliling mengabarkan Injil di tempat-tempat itu ia menentukan ketua-ketua di dalam jemaat-jemaat yang baru terbentuk itu (Kisah 14:23). Dan rupanya peraturan itu tetap dijalankan dalam jemaat-jemaat selanjutnya (Titus 1:5).

    Dalam hal mengatur jemaat kita meneguhkan jemaat itu serta memberikan cara bagaimana jemaat itu dapat bertambah-tambah dan bagaimana jemaat itu melaksanakan tugasnya, yaitu mengabarkan Injil ke seluruh dunia. Orang-orang Kristen bebas untuk mengatur jemaat asal mereka mentaati segenap Perjanjian Baru. Akan tetapi kalau suatu perhimpunan menganggap bahwa jemaatnya sempurna, yang paling benar, dan melebihi segenap jemaat yang lain, maka orang-orang itu menabur bibit perpecahan. Memang orang-orang Kristen bebas mengatur jemaatnya, tetapi tidak boleh ada suatu golongan yang berpendapat bahwa hanya jemaatnya yang benar.

    Ingatlah bahwa peraturan jemaat itu hanyalah sebagai kaki pelita, bukan pelitanya. Kaki pelita hanya menolong pelita, dan kalau pelita sudah padam maka kakinya tidak berfaedah lagi (Wahyu 2:5).

    Mula-mula peraturan jemaat itu sederhana sekali, tetapi makin lama makin bertambah peraturannya. Kita patut menjaga supaya tidak ada peraturan-peraturan yang kurang penting, dan segala peraturan harus dialaskan pada Perjanjian Baru. Pada mulanya, jemaat Kristus adalah perhimpunan beberapa orang yang sudah diselamatkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Itulah perhimpunan yang suci, lalu berkembang menjadi perhimpunan asas yang benar, selanjutnya menjadi perhimpunan yang dikepalai oleh ketua-ketua dan uskup-uskup. Kita harus menjaga agar asas pengajaran yang diberitakan tetap benar, tetapi terutama kita harus berjaga-jaga supaya jemaat tetap merupakan suatu perhimpunan yang suci.

    B. Anggota-anggota Jemaat

    Tiap-tiap anggota jemaat harus percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan yang menebusnya (Matius 16:16-18; Kisah 2:38,39). Seluruh khotbah Petrus dalam Kisah para Rasul dua menerangkan hal ini. Tiap-tiap anggota wajib diselamatkan, yaitu dilahirkan kembali (Kisah 2:47, bandingkan dengan Yohanes 3:3,5). Dalam jemaat yang mula-mula anggota-anggotanya harus "bertambah di dalam Tuhan" sebelum bertumbuh di dalam jemaat (Kisah 5:14; 11:24). Tiap-tiap anggota harus sudah bertobat, lalu dibaptiskan dengan nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus (Kisah 2:38-41; 10:47,48; 22:16; Matius 28:19; Roma 10:9,10). Tiap-tiap anggota harus percaya serta mentaati pengajaran rasul-rasul (Kisah 2:42; Efesus 2:20), yang tidak lain adalah pengajaran Alkitab.

    C. Jabatan dalam Jemaat

    Dalam jemaat yang mula-mula sudah ada pemilihan orang-orang untuk menerima jabatan, yaitu, penatua pemilik jemaat dan diaken (Kisah 1:15-26; 14:23; Titus 1:5; Kisah 6:3). Dalam jemaat yang mula-mula itu hanya ada dua jabatan, yaitu ketua (penatua) atau uskup (penilik jemaat) dan syamas atau diaken (pelayan jemaat). Sesudah zaman rasul-rasul jemaat mulai membedakan antara ketua dan uskup, padahal pada mulanya kedua jabatan itu sama. Waktu itu uskup ditinggikan, lihat Kisah 20:17,28; Filipi 1:1; 1Timotius 3:1,8; Titus 1:5,7; 1Petrus 5:1. Perkataan "uskup" dalam bahasa Yunani artinya "pengatur", dan "ketua" berarti orang yang tua yang mempunyai banyak pengalaman dan berakal budi. Diaken berarti pelayan atau pembela jemaat. Jadi, ketua atau uskup ialah orang yang mengatur hal-hal rohani dalam jemaat dan diaken mengatur perkara jasmani dan juga membantu dalam hal rohani. Diaken itu mula-mula ditentukan dalam Kisah 6:1-6, dan mereka itu diberi pekerjaan mengatur makanan. Tetapi dua dari mereka (Stefanus dan Filipus) telah melakukan pekerjaan rohani, dan rupa-rupanya yang lain juga demikian. Memang tuntutan bagi mereka itu adalah tuntutan rohani sama seperti untuk ketua-ketua (Kisah 6:3). Diaken mulai ditentukan mulai tahun 33 (Kisah 6:1-6), dan ketua-ketua ini mulai ditentukan mulai tahun 45 (Kisah 11:30). Akan tetapi dalam jemaat yang mula-mula itu terdapat dua jabatan lagi, yaitu diaken perempuan (Filipi 4:2,3; Roma 16:1), dan pemberitaan Injil (Evangelist) (Efesus 4:11). Pengabar Injil biasanya berjalan berkeliling diantara jemaat-jemaat, tetapi diaken perempuan itu bekerja dalam jemaatnya sendiri.

    Pada mulanya jelas bahwa atas kehendak semua jemaat rasul-rasul itu menjadi pengurus jemaat. Akan tetapi rasul-rasul juga menyerahkan pekerjaan menjadi pengurus itu kepada orang lain, seperti Timotius dan Titus.

    Rasul Paulus dalam Efesus 4:11 menyebutkan pejabat-pejabat sebagai: rasul, nabi, pemberita Injil (evangelist), gembala dan guru. Gembala dan guru patut dipersatukan sebab tugas keduanya tidak dapat diceraikan. Pada masa sekarang tidak lagi rasul dan nabi-nabi, yaitu dalam hal bernubuat tentang hal-hal yang akan datang. Sekarang nabi tidak lain adalah orang yang menyampaikan Sabda Allah kepada manusia, dan dalam hal itu ia sama dengan gembala sidang atau pemberita injil. Pemberita injil (evangelist), gembala sidang dan guru masih ada sampai sekarang. Gembala sama dengan yang mula-mula disebut ketua atau uskup. Jabatan diaken pada masa kini hampir sama dengan jabatan majelis gereja.

    D. Kewajiban Pejabat dalam Jemaat

    Di dalam jemaat pada waktu ini hanya ada tiga macam jabatan yang sesuai dengan keadaan pada masa jemaat yang mula-mula yaitu Gembala Sidang, Pemberita Injil (evangelist) dan Majelis Gereja. Kewajiban Gembala Sidang dan Majelis Gereja akan diselidiki pada bagian selanjutnya karena kedua jabatan itu penting bagi jemaat Kristus pada masa kini.

    1. Kewajiban Gembala Sidang

    Gembala Sidang wajib menjadi teladan rohani serta guru untuk hal-hal rohani baik kepada umum maupun kepada setiap pribadi anggota jemaatnya (Kisah 20:20,21,35; 1Tesalonika 5:12; Ibrani 13:7,17; 1Timotius 2:1-4,8; 4:12-16; 5:1,19-22; 6:10-14,20,21; 2Timotius 1:6-8; 2:1-6,15,23,24; 4:1-8). Berdoa dan menjadi tauladan rohani sama pentingnya dan lebih penting daripada pekerjaan berkhotbah. Gembala Sidang patut menjadi pembawa jiwa, membawa orang-orang kepada Tuhan Yesus, dan menjadi teladan bagi anggota-anggotanya dalam hal itu, supaya mereka menuruti teladannya. Di samping itu Gembala Sidang wajib melakukan tanda Ezrar (Perjamuan Tuhan dan Pembaptisan) pada waktu-waktu yang ditetapkan dalam jemaat (Matius 28:19,20; 1Korintus 11:20-54). Gembala Sidang wajib menjadi ketua bagian tata usaha jemaat dan ketua bagian yang bertugas menjalankan disiplin (1Korintus 5:4,5).

    2. Kewajiban Majelis Gereja

    Majelis Gereja harus menjadi penolong Gembala Sidang dalam hal-hal rohani, dan mengatur hal-hal jasmani (Kisah 6:1-6; 8:20; Roma 12:7; 1Korintus 12:28; Filipi 1:1). Majelis Gereja harus membantu Gembala Sidang dalam mengunjungi dan menolong anggota-anggotanya yang sakit, yang miskin, serta anggota-anggota yang perlu ditolong baik dalam hal-hal rohani maupun jasmani (1Timotius 3:8-13; Kisah 6:1-4; Roma 16:1,2; 1Timotius 3:11). Sebenarnya, yang diwajibkan kepada Gembala Sidang diwajibkan juga kepada Majelis Gereja; dan tuntutan rohani untuk keduanya juga sama.

    E. Sistem pengaturan dalam Jemaat

    Pada umumnya, ada tiga sistem pengaturan dalam jemaat, yaitu Episcopal, Presbyterian dan Congregational. Tiap-tiap jemaat termasuk dalam salah satu dari ketiga golongan itu meskipun tidak disebut demikian. Dalam gereja Roma Katolik kekuasaan tertinggi ada di dalam tangan Paus. Hal itu tidak benar dan tidak beralaskan Alkitab.

    Episcopal berarti pemerintahan oleh uskup-uskup. Uskup adalah pendeta (Gembala Sidang) yang diangkat lebih tinggi daripada pendeta-pendeta biasa supaya ia mengatur dan memerintah jemaat.

    Presbyterian berarti pemerintahan oleh ketua-ketua serta anggota-anggota. Dalam perkataan lain "ketua-ketua" termasuk juga pendeta-pendeta.

    Congregational berarti pemerintahan oleh anggota-anggota, yaitu anggota-anggota dalam jemaat setempat, tidak ada ikatan dengan jemaat-jemaat lain.

    Walaupun ada jemaat-jemaat yang dengan tepat menuruti salah satu dari ketiga sistem ini serta berusaha membuktikan bahwa sistemnya berasal dari Perjanjian Baru, tetapi sebenarnya Perjanjian Baru tidak mengemukakan satu sistem yang pasti dan tetap. Sistem pengaturan dalam Perjanjian Baru bukan semata-mata Episcopal, walaupun ada yang cenderung kepada sistem itu. Setiap jemaat mempunyai hak untuk mengatur sendiri, dan pendeta-pendeta serta ketua-ketua mempunyai hak untuk ikut mengambil bagian dalam mengatur jemaat. Jemaat-jemaat yang mula-mula diatur oleh rasul-rasul, tetapi setiap jemaat berdiri sendiri dan tidak digabungkan. Jadi, masing-masing mempunyai kuasa untuk mengurus persoalannya sendiri serta berdiri sendiri; akan tetapi Rasul Paulus telah memberikan hak kepada orang-orang di dalam jemaat untuk melantik ketua-ketua dan gembala-gembala sidang. Bacalah ayat-ayat berikut: Kisah 20:17,28; 14:23,24; Titus 1:5; Kisah 1:23-26; 6:3-6; 13:2,3; 15:2,4,22,30; 2Korintus 8:19; Matius 18:17; 1Korintus 5:4,5,13. Tiap-tiap jemaat berhak menjalankan disiplin serta mengucilkan seseorang yang bersalah (Matius 18:17; 1Korintus 5:1-5; 2Tesalonika 3:6). Tiap jemaat memilih pemimpin-pemimpinnya sendiri (Kisah 1:26; 6:1-6).

    III. PENYEMBAHAN DAN TANDA ESRAR DALAM JEMAAT

    Kewajiban yang terutama bagi orang Kristen yaitu menyembah dan mempermuliakan Allah (Yohanes 4:23); dan kedua yaitu supaya ia menjadi suci (Efesus 1:4-6; 1Petrus 1:15; Efesus 5:27; Roma 12:1; Kolose 1:22). Juga jemaat diwajibkan mengabarkan Injil ke seluruh dunia kepada semua bangsa, mengajar mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan Tuhan Yesus, dan membaptiskan mereka dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19,20; Markus 16:15-18; Kisah 2:1-47; 5:42; 6:5-8; Efesus 3:8; Kisah 15:7). Dengan perkataan lain jemaat wajib memberitakan Yesus Kristus serta menyatakan Kristus melalui kehidupan yang suci. Selain itu tiap-tiap orang Kristen wajib disempurnakan sampai menjadi seperti teladan Yesus Kristus (Efesus 4:11-15). Tiap-tiap orang Kristen harus dibaptis dan dipenuhi dengan Roh Kudus (Matius 3:11; Markus 1:8; Lukas 3:16; Yohanes 1:33; Kisah 1:4,5; 19:2; 1Petrus 1:12). Perjanjian-perjanjian itu adalah untuk semua orang Kristen, dan tuntutan-tuntutan itu diwajibkan kepada semua orang Kristen pada masa ini juga. Sebenarnya kita tidak dapat hidup dalam kesucian kalau kita tidak dipenuhi dengan Roh Kudus. Jadi kalau kita dipenuhi dengan Roh Kudus barulah kita dapat menjadi saksi-saksi yang baik bagi Tuhan Yesus (Kisah 1:8; 8:1-4).

    Kebaktian umum dalam jemaat yang mula-mula meliputi tujuh bagian, yaitu: Puji-pujian (yaitu menyanyi dan bermazmur), berdoa, bernubuat (1Korintus 14:3,26,29-31), membaca Alkitab serta memberikan penjelasannya, membaca surat rasul-rasul, penyerahan persembahan dan persepuluhan, dan mengadakan Perjamuan Tuhan. Sikap dalam berbakti: sederhana, penuh rasa hormat dan takut akan Allah, dengan ucapan syukur dan dengan bersukacita (Kisah 2:46,47; Lukas 24:52,53).

    Kalau kita mempelajari Perjanjian Baru kita akan mengerti bagaimana jemaat yang mula-mula itu menyembah. Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya menyanyikan puji-pujian (Mar 14:26, bandingkan dengan Ef 5:19). Orang-orang yang percaya berkumpul untuk berdoa sebelum hari Pentakosta (Kisah 1:14). Mereka biasa memecahkan roti (yang tidak lain adalah Perjamuan Tuhan), serta berdoa (Kisah 2:42,46; 20:7). Mereka biasa berhimpun pada hari Minggu (Yohanes 20:19; Kisah 20:7).

    Justin Martyr menulis bagaimana kebaktian Kristen dilakukan semasa hidupnya, "Pada hari Minggu setelah orang-orang berhimpun lalu dibacakan surat-surat Rasul dan Kitab para Nabi. Kemudian si pemimpin memberi nasihat supaya orang-orang saleh itu mengikuti jejak rasul-rasul dan nabi-nabi itu serta meniru kelakuan mereka. Sesudah itu mereka berdoa. Kemudian Perjamuan Tuhan diadakan lalu persembahan-persembahan diberikan kepada Tuhan.

    A. Hari untuk berbakti yaitu hari Minggu

    Sudah jelas bahwa orang-orang Kristen yang mula-mula biasa berkumpul pada hari pertama dalam Minggu. Hari Minggu umumnya disebut "Hari Tuhan" dalam jemaat yang mula-mula. Mereka tidak lagi memegang hari Sabat (hari Sabtu) orang-orang Yahudi. Sudah nyata bahwa perubahan itu dikehendaki Tuhan oleh sebab: 1) Teladan Yesus Kristus, 2) Pesan Rasul-Rasul, 3) Dibiasakan dalam jemaat yang mula-mula.

    Hari yang pertama (hari kebangkitan Tuhan) disahkan oleh Tuhan Yesus dengan beberapa kali sesudah kebangkitan-Nya Ia berhimpun dengan murid-murid-Nya pada hari itu (Yohanes 20:1,19,26). Kemudian rasul-rasul juga mensahkan perubahan itu; rupanya hal itu menuruti teladan Yesus Kristus sesudah Ia bangkit, yang dikatakan-Nya kepada rasul-rasul-Nya dalam masa empat puluh hari. Selidikilah Kisah 1:1,2; 20:7; 1Korintus 16:1,2; Wahyu 1:10. Prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam memeliharakan Hari Tuhan (hari Minggu) terdapat dalam ayat-ayat yang berikut: Yesaya 58:13; Yohanes 4:24; Markus 2:27,28.

    B. Tanda Esrar dalam jemaat

    Tanda Esrar adalah suatu syarat atau peraturan yang dipesankan oleh Tuhan Yesus, yang menyatakan atau mengibaratkan bahwa keselamatan adalah oleh Kristus. Ada DUA, dan hanya ada DUA tanda Esrar dalam jemaat Kristus, yaitu Baptisan, dan Perjamuan Tuhan. Barangsiapa menambah dengan yang lain lagi berarti tidak sesuai dengan isi Alkitab. Tanda Esrar tidak lain adalah tanda-tanda persatuan orang-orang Kristen dengan Tuhan sendiri. Dalam jemaat yang mula-mula tiap-tiap tanda Esrar diberikan dan disahkan oleh Tuhan Yesus sendiri. Jadi jelas bahwa dalam Alkitab hanya ada DUA tanda Esrar yang diberikan oleh Tuhan Yesus.

    1. Baptisan
    2. Perjamuan Tuhan

    1. Baptisan

    Pada umumnya baptisan adalah tanda bahwa orang itu sudah menjadi pengikut Kristus. Lebih dalam lagi dan lebih lanjut baptisan adalah tanda bahwa oleh iman orang itu telah dipersatukan dengan Yesus Kristus. Itulah tandanya bahwa ia telah dilahirkan kembali karena ia telah dipersatukan dengan Kristus (Matius 28:19,20; Markus 16:15,16; Kisah 2:38; Roma 6:3-5; Kolose 2:11,12; Kisah 19:4). Dalam Matius 21:25 Tuhan Yesus mengesahkan baptisan oleh Yohanes (Matius 3:13-17). Baptisan adalah tanda bahwa orang itu sudah bertobat serta percaya kepada Yesus Kristus, dan itu merupakan pengakuan kepada umum bahwa ia telah menjadi pengikut Kristus. Selain itu baptisan juga merupakan tanda bahwa oleh iman orang itu sudah mengambil bagian dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

    a. Siapa yang patut dibaptiskan

    Jelas dalam Alkitab bahwa hanya orang yang percaya yang patut dibaptiskan, yaitu yang sudah bertobat serta sudah percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya. Atau, dengan perkataan lain, hanya orang yang sudah dilahirkan kembali yang patut dibaptiskan (Kisah 2:37-41; 8:12; Roma 6:1-4; 1Korintus 10:1,2; Kolose 2:12; Matius 28:19; Kisah 18:8; 19:4). Bagaimana mungkin anak-anak kecil dapat bertobat serta percaya kepada Yesus Kristus ? Tentu hanya orang yang sudah cukup umurnya yang dapat melakukan hal itu. Baptisan sekali-kali tidak menghapuskan dosa seseorang, oleh karena baptisan itu hanya suatu tanda bahwa dosa-dosanya sudah terhapus di dalam darah Yesus Kristus, sebab ia telah percaya dan dilahirkan kembali. Dalam Perjanjian Baru perkataan bertobat selalu mendahului perkataan baptisan (Matius 3:2,36; Kisah 2:37-41; 8:12; 18:8; 19:4). Hal itu menyatakan bahwa kanak-kanak tidak layak untuk dibaptiskan sebab mereka belum percaya. Dalam sebagian besar jemaat pada masa sekarang, orang Kristen mempersembahkan anak-anak mereka kepada Tuhan, yaitu Gembala Sidang menggendong kanak-kanak itu atau menumpangkan tangan ke atasnya, lalu mendoakan mereka serta menyerahkan mereka kepada Tuhan. Lihat Matius 19:14; 1Samuel 1:27,28; Lukas 2:23-28). Pada waktu itu ibu bapa anak itu berjanji di hadapan jemaat bahwa anak itu akan diajar tentang Firman Tuhan dan keselamatan di dalam Kristus.

    b. Cara baptisan

    Kebanyakan para ahli bahasa Yunani berpendapat bahwa "Baptiso" hanya berarti baptisan selam. Demikian pula banyak ahli dan guru-guru besar mengakui bahwa baptisan yang sah yaitu baptisan selam. Kepercayaan itu diteguhkan oleh ayat-ayat yang berikut: Markus 1:5,8,10; Yohanes 3:23; Kisah 8:38,39; Roma 6:3,4; 1Korintus 10:1,2; Kolose 2:12.

    2. Perjamuan Tuhan

    Perjamuan Tuhan diberikan kepada jemaat serta disahkan oleh Yesus Kristus (Matius 26:26-30; Markus 14:22-24; Lukas 22:19,20; 1Korintus 11:23-25). Perjamuan Tuhan adalah tanda Esra yang diadakan oleh Yesus Kristus dan diwajibkan kepada orang-orang Kristen. Perjamuan Tuhan menandakan persekutuan orang-orang Kristen dengan Kristus, dan bahwa orang-orang Kristen yang makan dan minum Perjamuan itu tetap mempunyai persekutuan dengan Tuhan Yesus dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Dengan makan dan minum Perjamuan Tuhan kita bersekutu dengan Kristus, dan oleh iman kita makan daging Kristus serta minum darah-Nya, lihat Yohanes 6:51-58. Perjamuan Tuhan harus dimakan dengan iman. Kalau hal itu hanya dilaksanakan secara jasmani saja, maka orang yang makan dan minum perjamuan itu salah besar. Perjamuan Tuhan haruslah dilakukan dengan sikap rohani yang benar. Orang-orang yang ikut makan dan minum dalam perjamuan itu wajib menyelidiki hatinya sendiri dan jangan membiarkan dosa di dalam hatinya. Bila kita makan dan minum dengan sikap rohani yang benar dan disertai iman, tentu kita berkenan kepada Kristus dan jiwa serta tubuh kita disucikan di dalam darah-Nya. Dengan hal itu kita memasyhurkan kematian Kristus sampai pada kedatangan-Nya yang kedua kali. Nanti bilamana Tuhan kembali ke dunia, maka hal itu tidak perlu lagi dilakukan. Dengan cara yang ajaib di dalam Perjamuan Tuhan kita dipersatukan dengan Yesus Kristus. Biasanya hanya orang-orang yang sudah dibaptiskan yang diperbolehkan ikut makan dan minum Perjamuan Tuhan.

    Pelajaran Alkitab dan keyakinan orang-orang Protestan tentang Perjamuan Tuhan adalah demikian: Roti dan anggur itu sesudahnya dipersembahkan kepada Tuhan tidak berubah menjadi daging dan darah Kristus, tetapi tetap sebagai roti dan anggur. Tidak ada jalan untuk menerima Kristus dengan makan atau minum. Akan tetapi Perjamuan Tuhan lebih daripada sekedar perjamuan peringatan untuk Tuhan. Kalau roti itu dimakan dan anggur itu diminum dengan iman, dan dengan cara rohani, maka hal itu membawa hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, dan lebih lagi menguatkan persatuan dengan Dia, yang sesungguhnya tidak didapati melalui cara lain. Dengan iman dan dengan sikap rohani kita makan daging dan minum darah Kristus.

    Pelajaran rohani dari hal Perjamuan Tuhan dan persekutuan kita dengan Dia terdapat dalam Yohanes 6:48-58. Kalau Perjamuan Tuhan dimakan dengan sikap yang benar maka kita dapat menginsafi serta mengalami apa yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Yohanes pasal enam itu.

    Jadi dapat dikatakan, bahwa baptisan adalah tanda Esrar yang melambangkan kelahiran kembali; dan Perjamuan Tuhan adalah Tanda Esrar yang melambangkan kekudusan. Pertama-tama melambangkan persatuan kita dengan Kristus, kedua melambangkan keadaan kita yang tinggal tetap di dalam Kristus.

    IV. PEKERJAAN JEMAAT DAN PAHALA BAGI JEMAAT

    A. Pekerjaan Jemaat

    Pekerjaan jemaat itu ada dua, yaitu meneguhkan orang-orang yang percaya dan mengabarkan Injil.

    1. Meneguhkan orang-orang yang percaya yaitu mengajarkan dan meneguhkan orang-orang saleh dalam anugerah Tuhan dan kebenaran yang ada di dalam Injil. Sesudah orang-orang percaya, maka mereka itu patut diajar tentang asas pelajaran yang benar, dan mereka patut dipenuhi dengan Roh Kudus. Ada lima unsur yang membantu dalam meneguhkan jemaat Kristus, yaitu: a) Pengabar-pengabar Injil (Efesus 4:11-13); b) Alkitab (Kolose 3:16; Ibrani 5:14; 1Petrus 2:2); c) Roh Kudus (Galatia 5:25; Efesus 5:18); d) Karunia-karunia Roh Kudus (1Korintus 12:4-12); e) Kedua Tanda Esrar (1Korintus 11:26).

    Tuhan Yesus memanggil kita supaya kita menerima Dia dan mengikuti Dia. Kita diselamatkan oleh kasih karunia dan kita juga bertambah-tambah dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Tuhan (2Petrus 3:18). Kita bukan hanya diangkat dari lumpur dosa, tetapi kita juga dibangunkan menjadi suatu kabah yang suci, tempat kediaman Allah (Efesus 2:21).

    2. Mengabarkan Injil merupakan usaha jemaat supaya orang-orang berdosa diselamatkan, yaitu dilepaskan dari perhambaan dosa-dosa mereka dan dari hukuman yang kekal. Kita tidak dapat membawa segenap dunia kepada Kristus tetapi kita harus membawa Kristus kepada segenap dunia, yaitu kepada manusia disegala tempat. Jadi pekerjaan jemaat adalah mengabarkan Injil kepada segala bangsa. Dalam masa ini tidak semua orang mau menerima Injil, jadi tidak semuanya mau menerima Kristus (pasal Matius 13:1-58). Kalau begitu apakah kewajiban kita dalam hal ini? Kita harus menjadi saksi, memberitakan Injil kepada seluruh bangsa (Matius 28:19,20; Markus 16:15; Kisah 1:8). Dan apakah yang akan terjadi? Beberapa orang akan percaya dan beberapa orang tidak. Markus 16:16 mengemukakan hal itu. Apakah yang masih diperbuat oleh Tuhan dalam masa kasih karunia ini? "Tuhan masih menilik orang kafir serta memilih daripadanya suatu kaum untuk Nama-Nya" (Kisah 15:14, TKB). Kalau kita mengerti hal itu, kita dapat mengatur pekerjaan kita sesuai dengan maksud dan peraturan Tuhan.

    B. Disiplin dalam Jemaat

    Disiplin dalam jemaat, yaitu membetulkan kesalahan atau dosa anggota jemaat, adalah tanggungjawab segenap jemaat dan Majelis Gereja, dan kalau tidak dapat dibetulkan mereka itu dikucilkan dari jemaat. Melaksanakan disiplin juga merupakan salah satu hal untuk meneguhkan orang Kristen. Kalau dosa dibiarkan dalam jemaat maka hal itu akan menajiskan segenap jemaat (1Korintus 5:1-8). Sama seperti satu mangga yang busuk dibiarkan di dalam keranjang, maka mangga itu akan membusukkan semuanya.

    Ada dua macam kesalahan, yaitu kesalahan terhadap satu atau dua orang anggota dan kesalahan terhadap jemaat. Disiplin untuk kesalahan antara dua anggota terdapat dalam Matius 5:23,24 dan Matius 18:15-17. Pertama-tama orang yang bersalah ditegur, dan kalau ia mau mendengar teguran itu serta bertobat, maka selesailah persoalan itu. Tetapi kalau orang yang bersalah itu tidak mau mendengar teguran itu, orang yang mempersalahkan dia wajib membawa dua orang saksi, dan kalau ia tidak mau mendengar mereka, maka perkara itu haruslah dibawa kepada segenap jemaat dengan perantaraan Majelis Gereja. Kalau hal ini ditaati dengan benar, tentu jarang terjadi perselisihan di dalam jemaat. Sayang sekali bahwa seringkali perselisihan itu dibawa ke hadapan segenap jemaat sebelum Gembala Sidang dan Majelis mendapat kesempatan untuk memecahkan persoalannya dan memperdamaikan orang-orang itu. Lalu, kalau orang itu tidak mau bertobat serta meminta ampun dan menyelesaikan hal itu maka tidak ada jalan lain dari mengucilkan dia dari jemaat itu (1Korintus 5:5,13). Dalam hal ini orang yang bersalah itu dipandang sebagai orang kafir. Tetapi meskipun demikian, kalau ia bertobat dan menyelesaikan hal itu, maka harus ia diampuni serta diterima kembali dalam jemaat (2Korintus 2:5-8). Suatu jemaat tidak dapat diteguhkan dan tidak dapat bertumbuh kalau tidak suci (2Korintus 7:11,12).

    Disiplin untuk kesalahan terhadap segenap jemaat terdapat dalam 1Korintus 5:3-5; 2Korintus 2:6-8; 2Tesalonika 3:6; 1Korintus 5:9,11,12. Dalam ayat-ayat ini terdapat disiplin yang merupakan teguran kepada satu anggota, juga teguran kepada satu anggota di hadapan beberapa orang, dan di hadapan jemaat seluruhnya. Ada juga disiplin yang menyatakan agar anggota-anggota jemaat melepaskan diri mereka dari persekutuan dengan orang yang bersalah itu dengan pengharapan ia akan bertobat (1Korintus 5:9,11,12). Sebaiknya hal itu dilakukan sebelum orang itu dikucilkan dari jemaat. Akhirnya terdapat disiplin yang mengucilkan seseorang dari jemaat sebab dosanya dan sebab ia tidak mau bertobat (1Korintus 5:5,13). Kalau ada satu anggota yang dikucilkan, maka ia patut dikasihani dan didoakan, dan yang lain patut mencari jalan supaya ia bertobat lalu mengembalikan dia ke dalam jemaat. Menghadapi hal itu anggota-anggota jemaat harus bersikap seperti yang dikatakan dalam Galatia 6:1 dan Yakobus 5:19-20.

    C. Pahala yang disediakan Allah untuk Jemaat yang sejati

    Ada dua lukisan yang menyatakan keadaan jemaat pada masa ini, yaitu garam dan terang. Garam mengasinkan dan mencegah kerusakan. Demikianlah seharusnya jemaat bagi manusia pada masa ini. Hanya jemaat Kristus yang dapat mengasinkan dunia ini (Matius 5:13). Terang mengibaratkan kesaksian jemaat dalam dunia ini (Matius 5:14). Terang itu patut disinarkan oleh kesucian asas pelajaran dan kesucian kehidupan anggota-anggota jemaat itu.

    Ada tiga lukisan yang menyatakan hubungan jemaat dengan Kristus pada masa yang akan datang. Ketiga lukisan itu adalah mempelai perempuan, permaisuri, dan permata yang indah. Sebagai anak dara yang menjadi mempelai perempuan, jemaat itu dinikahkan dengan Kristus (Efesus 5:27; 2Korintus 11:2; Wahyu 21:9). Sebagai permaisuri jemaat itu akan ikut memerintah bersama dengan Kristus (1Petrus 2:9; Wahyu 1:6; 3:21; 20:6). Sebagai permata yang indah, jemaat itu adalah seperti sebuah kota, yaitu Yerusalem Baru yang turun dari sorga (Wahyu 21:9-11). Pada masa yang akan datang jemaat itu akan menyatakan pujian, kasih karunia dan kemuliaan Allah (Efesus 1:6,12; 3:10). Orang-orang yang telah percaya kepada Yesus Kristus akan hidup sampai selama-lamanya, dan hal ini merupakan pahala yang ajaib sekali.

    22. ASAS PENGAJARAN TENTANG IBLIS DAN MALAIKAT


    I. ASAS PENGAJARAN TENTANG IBLIS

    A. Iblis benar-benar ada

    Benarkah bahwa Iblis itu ada? Benarkah bahwa Iblis itu adalah suatu pribadi? Jawaban untuk kedua pertanyaan itu terdapat dalam Alkitab, yaitu, Iblis memang sungguh-sungguh ada, dan Iblis adalah suatu pribadi yang pasti. Hal ini terbukti oleh karena: Iblis bergaul dengan pribadi-pribadi yang lain, seperti anak-anak Allah (Ayub 1:6; 2:1; Zakharia 3:1). Iblis bersifat seperti suatu pribadi, ia berkata-kata (Ayub 1:7; 2:2), ia mencobai orang-orang (Yohanes 13:2; Kisah 5:3). Sikap rasul-rasul kepada Iblis adalah sikap kepada suatu pribadi (Yakobus 4:7; 1Petrus 5:8,9); begitu pula sikap malaikat-malaikat kepadanya (Yudas 1:9; Wahyu 2:1-3); dan juga sikap Tuhan Yesus kepadanya (Matius 4:1-11; Lukas 10:18). Ayat-ayat berikut juga membuktikan bahwa Iblis itu ada: Matius 13:19; Efesus 6:11,12.

    Iblis ialah penghulu malaikat-malaikat jahat dan jin-jin. Kita patut mengetahui pengajaran Alkitab tentang hal Iblis; dan pengajaran itu haruslah mendorong kita supaya semata-mata bersandar pada Allah serta banyak berdoa. Bila kita akan belajar tentang Iblis, baiklah kita berdoa supaya kita dibungkus dengan darah Kristus.

    Di dalam Alkitab disebutkan beberapa julukan untuk Iblis, yaitu dalam ayat-ayat berikut: Wahyu 9:11; Matius 12:24,27; 2Korintus 6:15; Matius 4:1; Zakharia 3:1; 1Petrus 5:8; Wahyu 12:9; 2Korintus 4:4; Yohanes 8:44; Yesaya 14:12; Yohanes 12:31; Efesus 2:2; 1Tesalonika 3:5; Matius 13:19.

    B. Asal mula si Iblis

    Keadaan Iblis yang mula-mula dikemukakan di dalam Yesaya 14:12-20 dan Yehezkiel 28:11-19. Dari ayat-ayat itu kita tahu bahwa mula-mula Iblis adalah suatu malaikat yang tinggi kedudukannya, sangat mulia, sangat bagus (elok), dan diciptakan sempurna. Akan tetapi oleh sebab kemuliaannya, timbullah kesombongan dan iri hati di dalam hatinya sehingga ia menuntut penyembahan yang hanya patut diberikan kepada Allah. Maka oleh sebab dosa itu ia jatuh dan kedudukan serta kuasa yang ada padanya diambil oleh Allah. Lalu ia menjadi musuh Allah dan manusia serta melawan Allah dan manusia (Kolose 1:16; 1Timotius 3:6; 2Petrus 2:4; Yudas 1:6,9).

    Dalam Yehezkiel 28:2 dikatakan mengenai seorang manusia, yaitu Raja Tirus. Tetapi dalam ayat Yehezkiel 28:12 dari pasal itu mulai dibicarakan seorang raja yang lain, yaitu kuasa yang ada di belakang takhta raja Tirus itu, yaitu Iblis. Dari ayat Yehezkiel 28:12 ada orang yang menyangka bahwa ada suatu Taman Eden sebelum Taman Eden dalam Kitab Kejadian. Akan tetapi ayat ini tidak cukup untuk membuktikannya. Boleh jadi ada suatu taman Firdaus Allah sebelum taman Firdaus yang didiami oleh Adam, tetapi kita harus berhati-hati dalam hal-hal yang demikian. Semua itu hanya persangkaan orang dan tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang pasti. Kita patut berhati-hati mengenai hal-hal yang tidak jelas dalam Alkitab. Begitu pula mengenai pendapat beberapa orang bahwa ada suatu golongan makhluk yang hidup sebelum Adam dan diam di atas bumi sebelum terjadi keadaan campur baur (Kejadian 1:2; TKB), dan oleh sebab dosa-dosanya maka dunia dihukum sehingga keadaannya menjadi tidak berbentuk. Keadaan dunia yang tidak berbentuk dan kosong itu pasti, tetapi tentang makhluk-makhluk itu tidak pasti. Itu hanya persangkaan manusia dan tidak ada buktinya dalam Alkitab. Satu hal yang nyata, yaitu Iblis adalah suatu makhluk yang sempurna sejak hari penciptaan-Nya sampai kecurangan terdapat padanya (Yehezkiel 28:15).

    C. Jatuhnya Iblis

    Di dalam pasal Yesaya 14:1-32 dan Yehezkiel 28:1-26 terdapat cerita tentang jatuhnya Iblis dan sebab dari kejatuhan itu. Alasan dari kejatuhan itu adalah karena kesombongan dan kehendak dirinya yang ingin ditinggikan melebihi Allah. Dalam pasal Yesaya 14:1-32 banyak terdapat perkataan "Aku hendak". Dari hal ini jelas bahwa ia menghendaki apa yang hanya patut bagi Allah saja. Ia ingin menjadi seperti Allah Yang Mahakuasa. Hal itu sama seperti perbuatan manusia durhaka (Antikristus) (2Tesalonika 2:4). Iblis akan menjelma dalam diri Antikristus itu dengan maksud akan melawan Allah lagi. Dalam Yehezkiel 28:1-26 dinyatakan juga apa sebabnya kejatuhan Iblis itu, yaitu kesombongan atas keelokannya, hikmat, kuasa dan kemuliaan yang dimilikinya (Yehezkiel 28:17). Oleh sebab itu ia berdosa maka ia dicampakkan ke bumi (Yehezkiel 28:17). Barangkali pembuangannya itu adalah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 10:18.

    D. Pekerjaan Iblis

    Meskipun Iblis telah dicampakkan dari tempat yang tinggi di sorga, ia tidak dibatasi pada suatu tempat yang pasti. Akan tetapi, tempat bergeraknya adalah di udara dan di atas bumi (Efesus 6:11; 1Petrus 5:8). Sesudah dicampakkan dari sorga ia mulai menyerang manusia (peristiwa di taman Firdaus). Tentu jatuhnya Iblis itu terjadi sebelum manusia dijadikan sebab Iblis sudah berada di Taman Firdaus sebagai Iblis yang mencobai Hawa, sebagai musuh Allah dan manusia.

    Iblis tetap melawan orang-orang saleh (1Petrus 5:8; Ayub 1:7). Iblislah yang mengadakan dan menyebabkan dosa dalam dunia ini (Kejadian 3:1-6). Pada umumnya Iblis yang menyebabkan kesakitan dalam dunia ini (Kisah 10:38; Lukas 13:16). Boleh jadi Iblis mempunyai kuasa maut untuk orang-orang yang tidak percaya, tetapi pada kayu salib Tuhan telah mengalahkan dia, yang mempunyai kuasa maut itu, serta membuat ia tidak berdaya (Ibrani 2:14; Kolose 2:15). Oleh sebab itu Iblis tidak lagi memegang kuasa maut atas kita, orang-orang percaya. Iblis mencoba serta menggoda orang-orang supaya berdosa (1Tawarikh 21:1; Matius 4:1-9). Iblis menjerat manusia (1Timotius 3:7). Iblis membutakan pikiran manusia supaya jangan percaya (2Korintus 4:4). Iblis menaruh maksud-maksud jahat dalam hati manusia (Yohanes 13:2; Kisah 5:3). Iblis menabur bibit lalang di antara bibit-bibit yang baik (Matius 13:25; Markus 4:15). Iblis merupakan dirinya sebagai malaikat terang (2Korintus 11:14-15). Iblis melawan, menyerang, dan merintangi hamba-hamba Allah (Daniel 10:13; Zakharia 3:1; Lukas 22:31; 2Korintus 12:7; 1Tesalonika 2:18). Iblis mendakwa saudara-saudara kita (Wahyu 12:9,10). Hal ini tidak dapat kita mengerti dengan jelas, tetapi hal itu terjadi; akan tetapi kita memiliki penolong bicara dihadapan Allah Bapa, yaitu Yesus Kristus. Kita akan merasa heran melihat segala pekerjaan Iblis itu. Meskipun Iblis adalah makhluk yang jauh lebih berkuasa daripada manusia, tetapi ia bukan yang mahakuasa. Ia bukan yang mahatahu. Ia tidak ada di mana-mana tempat. Kuasa Iblis telah dibatasi dan ia semata-mata takluk kepada Allah (Ayub 1:10,12; 2:6). Apalagi kuasa Iblis telah dihancurkan (untuk orang yang percaya) di atas kayu salib dan pada hari kebangkitan Tuhan (Yohanes 12:31,32; 16:11; 1Yohanes 3:8; Kolose 2:15; Ibrani 2:14).

    E. Sikap kita terhadap Iblis

    Bagaimanakah sepatutnya sikap orang-orang Kristen terhadap Iblis? Kita wajib mengetahui daya upayanya (2Korintus 2:11). Janganlah kita berbantah-bantah dengan dia, mencerca dia, atau menghardik dia (Yudas 8:9). Janganlah kita memberi tempat kepada Iblis (Efesus 4:27) meskipun ia berusaha mencari tempat dalam hati kita. Kita patut berjaga-jaga sebab Iblis itu seperti singa yang mengaung yang berjalan keliling mencari orang yang dapat ditelannya (1Petrus 5:8). Kalau kita abaikan musuh yang begitu besar itu, tentu kita akan mendapat kesusahan. Kita wajib melawan dan menolak Iblis dengan iman dan dengan nama Tuhan Yesus Kristus (1Petrus 5:9; Yakobus 4:7), maka ia akan lari dari kita. Kita hanya dapat melawan dan menolak si Iblis. Kalau kita memakai selengkap senjata Allah (Efesus 6:13-18) - selidikilah tentang senjata Allah itu. Ingatlah, Iblis sudah dikalahkan oleh Tuhan Yesus (Kolose 2:15; Ibrani 2:14); dan kita telah dilepaskan dari segala kuasa kegelapan itu (Kolose 1:13) serta dipindahkan ke dalam kerajaan Kristus. Jadi kita senantiasa dapat mengalahkan Iblis dengan darah Kristus dan dalam nama Tuhan Yesus (Wahyu 12:11; Lukas 10:17,18). Segenap hidup kita wajib senantiasa diserahkan kepada Allah.

    F. Nasib si Iblis

    Nasib si Iblis sudah pasti. Perhatikanlah bagaimana kejatuhannya sampai kepada hukuman yang kekal.

    1. Pada mulanya di dalam sorga ia memiliki kedudukan yang tertinggi dari antara makhluk yang dijadikan. Hal ini tertulis dalam pasal Yesaya 14:1-32 dan Yehezkiel 28:1-26.
    2. Pasal-pasal itu juga menerangkan kejatuhannya dan bagaimana ia dicampakkan dari sorga. Rupanya ia masih diizinkan untuk masuk ke dalam sorga serta mengadukan perbuatan orang-orang (Ayub 1:6; Wahyu 12:9,10).
    3. Sekarang ia disebut "Penguasa kerajaan angkasa" (Efesus 2:2). Kelak ia tidak dapat lagi masuk ke sorga untuk mengadukan orang-orang dihadapan Allah dan ia juga akan dilemparkan Allah dari udara (Wahyu 12:7-9,12,13), yaitu pada waktu Tuhan datang dalam awan-awan di angkasa untuk melantik jemaat-Nya.
    4. Pada waktu Tuhan Yesus kembali untuk mendirikan kerajaan-Nya 1000 tahun lamanya maka Iblis akan dilemparkan ke dalam jurang maut (Wahyu 20:1-3). Kemudian setelah kerajaan Tuhan 1000 tahun itu Iblis akan dilepaskan untuk seketika saja, dan dalam waktu itu ia akan menyesatkan lagi bangsa-bangsa pada keempat penjuru bumi (Wahyu 20:7-9).
    5. Setelah itu Iblis dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang (Wahyu 20:10). Iblis tidak akan bertobat dan tidak akan diselamatkan. Iblis tetap selamanya akan melawan Allah, oleh sebab itu akhirnya Iblis dimasukkan ke dalam lautan api dan belerang untuk selama-lamanya.

    Pekerjaan Iblis telah dibinasakan oleh kematian Tuhan Yesus (1Yohanes 3:8), oleh sebab itu segala pekerjaannya akan sia-sia belaka. Juga oleh kematian Tuhan Yesus, Iblis dilemparkan ke luar (Yohanes 12:31). Kerajaan Iblis dikalahkan dan dibinasakan di atas Bukit Golgota pada waktu Tuhan Yesus disalibkan. Walaupun kita belum melihat kebinasaan itu digenapkan dengan sempurna, tetapi hal itu sudah ditentukan oleh Allah. Iblis sudah dikalahkan, lihat Lukas 10:18.

    II. MALAIKAT-MALAIKAT YANG JAHAT

    Pada awal mulanya segala yang diciptakan Allah itu baik. Malaikat-malaikat dijadikan dalam keadaan suci, tetapi ia telah jatuh ke dalam dosa. Dengan demikian ia berubah menjadi jahat. Ada dua tingkatan di antara makhluk-makhluk yang jahat itu, yaitu malaikat-malaikat jahat dan jin-jin (roh-roh jahat). Jadi hanya ada satu Iblis atau Setan, tetapi banyak jin.

    A. Malaikat-malaikat jahat

    Ini adalah makhluk-makhluk bangsa roh-roh yang rupanya mereka dijadikan agar menolong Iblis sebelum ia jatuh, tetapi rupanya mereka berkehendak mengikut Iblis di dalam dosanya. Tentang malaikat-malaikat yang jahat dibicarakan dalam Efesus 6:12, di mana mereka itu disebut pemerintah dan penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, dan roh-roh jahat di udara.

    Malaikat-malaikat itu telah jatuh ke dalam dosa. Dalam 2Petrus 2:4 dikatakan mereka itu telah "berdosa"; dan dalam Yudas 1:6 dikatakan mereka itu "tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka". Dosa mereka tidak dijelaskan kepada kita. Rupanya mereka itu telah mengikuti Iblis pada waktu ia memberontak terhadap Allah di sorga. Karena perbuatan mereka itu beberapa di antara mereka dilemparkan ke dalam neraka, ke dalam gua-gua yang gelap (2Petrus 2:4). Mereka berdosa, mendurhaka, dan teguh dalam kejahatannya. Hukuman mereka telah dipastikan, yaitu api neraka (Matius 25:41). Mereka itu tidak akan bertobat dan tidak dapat diselamatkan. Kelak orang-orang saleh Tuhan akan menghakimi malaikat-malaikat yang jahat (1Korintus 6:3). Kalau kita menyelidiki semua ayat dalam Alkitab mengenai malaikat-malaikat, kita dapat mengetahui bahwa rupanya mereka itu memiliki suatu tubuh halus yang lebih berkuasa dari tubuh manusia dan yang tidak dibatasi seperti tubuh manusia.

    B. Roh-roh jahat

    Tidak ada keterangan apa-apa dalam Alkitab yang menyatakan bahwa roh-roh jahat mempunyai tubuh. Jadi kemungkinan mereka ialah roh-roh yang tidak bertubuh, yang suka masuk ke dalam tubuh manusia atau binatang. Mengenai asal-mula roh-roh jahat itu tidak diterangkan dalam Alkitab. Ada beberapa orang yang menyangka bahwa roh-roh jahat itu adalah roh-roh suatu bangsa yang hidup sebelum Adam, tetapi sebagaimana telah dikatakan di atas bahwa hal itu tidak ada buktinya dalam Alkitab, oleh sebab itu kita tidak boleh menerimanya sebagai satu hal yang sudah pasti. Itu hanyalah persangkaan manusia.

    Roh-roh jahat itu berbahaya, mengerikan, dan jahat (Matius 8:28; 9:33; 10:1; Markus 1:23; 5:2-5; 9:17,20; Lukas 6:18; 9:39). Mereka itu mempunyai kepala (Matius 12:24). Mereka berada di bawah kuasa si Iblis dan bekerja baginya (Matius 12:26). Rupanya jumlah mereka banyak sekali, sebab sudah banyak yang masuk pada satu orang saja (Markus 5:9).

    Pekerjaan roh-roh jahat itu semata-mata hanyalah melakukan kejahatan, dan mereka membangkitkan hal-hal yang jahat dalam hati manusia (Matius 10:1; Markus 5:2). Mereka merusak pikiran orang sehingga orang itu menjadi gila (Markus 5:4,5). Juga mereka itu dapat mendatangkan penyakit kepada orang-orang (Lukas 9:37-42). Maksudnya bukanlah setiap penyakit datangnya dari roh-roh jahat, tetapi ada juga penyakit-penyakit yang dibawa oleh Iblis atau roh jahat kepada manusia (Lukas 13:16). Mereka itu memasuki tubuh manusia dan binatang (Markus 5:8,11-13). "Mereka itu biasa ada dalam kegelapan. - Mereka membenci nama Tuhan Yesus Kristus dan mengolok-olok kenyataan bahwa Alkitab itu diilhamkan oleh Allah". -Farr.

    Oleh sebab itulah kuasanya dibatasi. Tempat roh-roh yang jahat itu ialah jurang maut. (Lukas 8:31). Kelak pada waktu yang telah ditentukan Allah, roh-roh jahat itu akan disiksa (Matius 8:29). Hukuman mereka sama dengan hukuman yang diberikan kepada Iblis. Roh-roh jahat itu tunduk kepada Tuhan Yesus (Matius 8:29,31; Kisah 19:15; Yakobus 2:19). Orang Kristen tidak perlu takut kepada roh-roh jahat sebab orang Kristen memiliki senjata yang sangat kuasa, yaitu NAMA TUHAN YESUS KRISTUS. Kita memiliki seluruh perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:13) dan diselimuti dengan darah Kristus (Wahyu 12:11). Kita sendiri memiliki senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng (2Korintus 10:4).

    Dalam masa Perjanjian Baru dan juga sekarang ini masih ada orang yang dirasuk setan. Ada juga orang yang hanya diperalat oleh Iblis. Bila seseorang dirasuk oleh setan, maka ia ada di bawah kuasa setan itu, tetapi yang hanya diperalat tidak sepenuhnya di bawah kuasanya. Orang-orang yang diperalat oleh Iblis contohnya ialah orang-orang yang menyimpang dari pengajaran yang benar (1Timotius 4:1), dan yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini (2Korintus 4:4). Murid-murid Tuhan bersukacita sebab roh-roh jahat itu tunduk kepada mereka ketika mereka memakai nama Tuhan Yesus (Lukas 10:17). Kuasa yang sama telah diberikan oleh Tuhan kepada semua pengikut-Nya (Markus 16:17). Oleh sebab itu kita berani pergi ke seluruh dunia untuk mewakili dan menjadi utusan-Nya yang mempunyai segala kuasa baik dalam sorga maupun di atas bumi (Matius 28:18,19).

    Kita mempunyai hak dan kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dari orang-orang yang dirasuknya. Akan tetapi pekerjaan itu menuntut ketekunan doa dan puasa dari kita (Matius 17:21; 10:1). Dalam pekerjaan itu kita harus dipimpin oleh Roh Kudus dan perlu mendapat hubungan doa dari teman-teman yang sehati (Matius 18:19; Markus 16:15-18).

    III. TENTANG BERHUBUNGAN DENGAN ROH ATAU MENYEMBAH ROH

    Rupanya jemaat di Kolose mulai berbuat pelanggaran dengan beribadah kepada malaikat-malaikat, oleh sebab itu Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat itu (Kolose 2:18). Penganut-penganut ajaran sesat dalam jemaat itu mencoba-coba membawa kesalahan itu ke dalam jemaat. Oleh sebab surat Rasul Paulus, hal itu dapat dicegah.

    Pada akhir zaman ini penyembahan kepada roh-roh serta berhubungan dengan roh-roh makin bertambah-tambah. Kita membaca dalam Alkitab tentang "roh-roh penyesat" dan "ajaran-ajaran setan" (1Timotius 4:1). Sebenarnya hal itu bukan merupakan suatu hal yang baru, melainkan sudah lama, bahkan sejak dari purbakala. Di dalam Alkitab semua hal itu dilarang dan dianggap sama dengan menyembah berhala (1Samuel 15:23), dan tidak diperkenankan oleh Tuhan (Ulangan 18:9-12). Menurut Taurat ahli sihir janganlah dibiarkan hidup (Keluaran 22:18). Demikian pula orang yang menjadi petenung atau peramal (Imamat 20:27). Ayat-ayat lainnya yang mengemukakan hal itu adalah: Maleakhi 3:5; Wahyu 21:8; 22:15.

    Segala sesuatu yang berhubungan dengan roh-roh jahat dilarang dalam Alkitab, misalnya: guna-guna dan mantera (Yesaya 47:9-13; Kisah 8:11; 16:16; 19:19; Wahyu 22:15). Bertenung atau meramal dilarang (Ulangan 18:10-12). Dalam cerita Lazarus (Lukas 16:19-31), Lazarus tidak diperkenankan pergi kepada orang kaya itu, juga tidak diperkenankan kembali ke dunia. Daud juga tahu bahwa hal itu tidak diizinkan oleh Allah (2Samuel 12:22,23). Mengenai Saul dan perempuan petenung yang memanggil arwah Samuel itu, tidak jelas dikatakan apakah benar-benar Samuel yang datang atau Iblis yang merupakan diri seperti Samuel dan berkata-kata dengan perempuan itu. Barangkali dengan izin istimewa dari Allah Samuel sungguh-sungguh datang. Kalau Samuel benar-benar datang, tentu hal itu bukan karena panggilan perempuan itu, melainkan karena perintah Tuhan. Satu hal yang nyata yaitu Saul telah kehilangan kerajaannya oleh sebab perbuatannya itu (1Tawarikh 10:13,14). Jadi biarpun seseorang dapat melakukan hal-hal yang luar biasa dan dapat menyatakan hal-hal yang akan terjadi, hal itu tidak berarti bahwa ia mempunyai hubungan dengan Allah, bahkan mungkin juga hal itu menyatakan hubungannya dengan si Iblis. Jadi, meramal atau melakukan telaah (Imamat 19:26; Yehezkiel 21:21) juga dilarang oleh Tuhan. Juga mengamat-amati peredaran bintang (astrologi) untuk mengetahui sesuatu yang akan terjadi (Yesaya 47:13). Hal-hal lain yang dilarang diterangkan dalam Keluaran 8:7; Bilangan 23:23; 24:1.

    Semua itu sangat bertentangan dengan pimpinan Roh Kudus kepada kita, orang-orang Kristen. Selain itu juga tidak sepadan dengan kasih Allah kepada kita dan dengan pimpinan Roh Kudus (Roma 8:28,38,39).

    Pada zaman akhir ini, "ajaran-ajaran setan" akan bertambah-tambah (1Timotius 4:1). Pada masa Antikristus kelak berkuasa di dunia ini akan ada nabi palsu yang dapat menurunkan api dari langit dengan pertolongan Iblis (Wahyu 13:13). Tuhan Yesus sendiri akan menolak serta menghukum beberapa orang yang tidak benar yang berkata bahwa mereka telah melakukan mujizat demi nama Tuhan (Matius 7:22,23). Tuhan tidak pernah mengenal mereka itu.

    Ada satu hal untuk menguji segala ajaran setan-setan itu, yaitu dalam hal kepercayaannya dan pengakuannya akan Yesus Kristus. - Tentang ketuhanan-Nya dan kemanusiaan-Nya; tentang kematian-Nya dan kebangkitan-Nya (1Yohanes 4:1-13). Kita patut menguji segala roh untuk mengetahui apakah itu roh yang baik atau roh yang jahat. Kitab 2Tesalonika, Timotius pertama dan kedua, dan surat Yohanes pertama memberikan keterangan tentang ajaran-ajaran sesat yang akan ada pada akhir zaman ini.

    IV. MALAIKAT-MALAIKAT YANG BAIK

    A. Asal mula malaikat

    Kita tidak dapat mengetahui kapan Allah menjadikan malaikat-malaikat. Dalam Ayub 38:7 malaikat-malaikat disebut "bintang fajar" dan "anak Allah". Oleh sebab ayat itu dan hal-hal yang lain dalam Alkitab kami berpendapat bahwa malaikat-malaikat dijadikan sebelum dunia ini dijadikan. Tetapi dalam Kolose 1:16 dikemukakan bahwa mereka itu diciptakan oleh Anak Allah dan untuk Dia. Malaikat-malaikat tidak sama dengan manusia, mereka lebih berkuasa dalam keadaannya sekarang (Mazmur 8:6; Ibrani 2:6,7).

    B. Perangai malaikat

    Malaikat yang baik tetap dalam sifatnya yang baik dan tidak berdosa. Sebagaimana malaikat-malaikat yang durhaka itu tetap di dalam kejahatannya, demikian pula yang baik tetap di dalam kebenaran. Malaikat disebut "suci" atau "kudus" (Markus 8:38, lihat juga #Ulangan 33:2; Zakharia 14:5; Kisah 10:22; 2Korintus 11:14). Malaikat-malaikat itu adalah makhluk roh, dan Alkitab menyebut mereka itu "roh-roh yang melayani" (Ibrani 1:14). Rupanya malaikat-malaikat itu memiliki tubuh halus yang sesuai dengan keadaan mereka sendiri. Kadang-kadang malaikat kelihatan kepada manusia sebagaimana adanya dan adakalanya dalam rupa manusia (pasal Kejadian 19:1-29; Hakim 2:1; 6:11-22; Matius 1:20; Lukas 1:26; Yohanes 20:12).

    Malaikat lebih tinggi dan lebih berkuasa daripada manusia (Bilangan 22:23; Kisah 12:7). Mereka tidak terdiri atas jenis lelaki atau perempuan, dan mereka tidak bertambah-tambah jumlahnya (Luk 20:35). Dalam Alkitab (menurut tata bahasa Yunani) mereka selalu disebut sebagai laki-laki. Malaikat tidak mati (Lukas 20:36). Malaikat berpengetahuan dan besar kuasanya (2Samuel 14:17; Mazmur 103:20; 2Tesalonika 1:7; 2Petrus 2:11); dan merekalah makhluk yang mulia (Matius 28:2,3).

    C. Pekerjaan malaikat

    Tuhan telah memberi suatu tugas kepada malaikat-malaikat, yaitu menolong melaksanakan kehendak Allah bagi orang-orang saleh, dan juga orang-orang jahat. Taurat diberikan dengan perantara malaikat (Kisah 7:53; Galatia 3:19; Ibrani 2:2). Malaikat memimpin hal-hal yang berhubungan dengan kerajaan-kerajaan dan negara-negara (Daniel 10:12,13,21; 11:1; 12:1). Malaikat menolong dan memelihara orang-orang saleh (1Raja 19:5; Mazmur 91:11; Daniel 6:22; Kisah 12:15; 27:23,24; Ibrani 1:14). Rupanya malaikat juga bertugas menjagai anak-anak (Matius 18:10). Malaikat-malaikat membawa hamba-hamba Allah ke sorga (Lukas 16:22). Nanti bilamana Tuhan Yesus kembali ke dunia ini, malaikat-malaikat-Nya akan menyertai Dia (Matius 25:31; 2Tesalonika 1:7,8). Malaikat akan melaksanakan hukuman Allah ke atas orang-orang jahat (Matius 13:24-30,39-42,47-50). Malaikat-malaikat menahan hukuman atas dunia ini oleh karena hamba-hamba Allah (Wahyu 7:1-3). Malaikat-malaikat akan menghimpunkan semua umat pilihan Allah (Matius 24:31).

    D. Tempat kediaman malaikat

    Dalam Perjanjian Baru ada beberapa ayat yang menunjukkan bahwa tempat kediaman malaikat adalah di dalam sorga (Mar 12:25; Luk 1:19; 12:8,9); akan tetapi agak mengherankan sebab dalam Kejadian 28:12 (Ibrani; TKB), dan juga pada Yohanes 1:51 (Yunani; TKB) dikatakan bahwa malaikat "naik turun", bukan turun lalu naik. Nyata dari ayat-ayat itu bahwa malaikat mempunyai hubungan yang erat sekali dengan dunia ini, dan dunia ini menjadi tempat pekerjaannya.

    E. Tingkatan-tingkatan malaikat

    Malaikat itu banyak sekali jumlahnya, barangkali tidak terhitung banyaknya (Mazmur 68:18; Ibrani 12:22). Tuhan Yesus pernah berkata bahwa Ia dapat memanggil lebih dari dua belas legion malaikat, berarti lebih dari 72.000.

    Rupanya ada tingkatan-tingkatan di antara malaikat. Kita tahu bahwa ada dua malaikat yang lebih tinggi daripada yang lain, yaitu Mikhael dan Gabriel. Mikhael disebut "penghulu malaikat" dalam Yudas 1:9. Rupanya Mikhael merupakan utusan istimewa bagi bangsa Israel (Daniel 10:13,21; 12:1; Wahyu 12:7).

    Gabriel adalah malaikat pembawa rahmat dan janji (Daniel 8:16-26; 9:21,22; Lukas 1:19,26). Dalam Perjanjian Baru ada suatu pernyataan tentang malaikat-malaikat: "segala malaikat, kuasa dan kekuatan" (1Petrus 3:22), dan "segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan" (Efesus 1:21). Bagaimanapun juga pangkatnya, malaikat tidak boleh disembah oleh manusia. Malaikat-malaikat yang benar tidak pernah menerima sembah dari manusia, dan sebaliknya mereka itu menyembah Allah (Wahyu 22:8,9; Ibrani 1:6).

    Keadaan kita, orang-orang berdosa, yang telah ditebus oleh darah Kristus, lebih mulia daripada keadaan malaikat-malaikat. Ada juga hal-hal yang tidak diketahui oleh malaikat-malaikat (1Petrus 1:12). Mereka itu tidak dapat merasakan kesukaan seperti yang dialami oleh orang-orang saleh yang diselamatkan.

    23. ASAS PENGAJARAN TENTANG SORGA DAN NERAKA


    I. SORGA

    Dalam Alkitab lebih banyak ditulis tentang keadaan dan berkat kekal bagi orang-orang yang percaya daripada tentang keadaan dan kebinasaan kekal bagi orang-orang yang menolak Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia Allah yang memberi peringatan kepada orang-orang jahat, juga memastikan berkat kekal bagi orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Kita akan mempelajari tentang sorga dalam lima bagian sebagai berikut: &1) Di mana letak sorga, &2) Sorga itu kekal, &3) Kesucian sorga, &4) Penduduk sorga, &5) Pusat kerinduan (daya tarik) bagi penduduknya yaitu Kristus.

    Lanjutan 00807

    A. Di mana letak sorga

    Surga bukan hanya suatu keadaan yang baik; melainkan juga suatu tempat yang pasti dan nyata. Hal ini jelas sebab pada hari kenaikan-Nya Tuhan Yesus telah kembali ke sorga, ke suatu tempat yang pasti (Kisah 1:9). Apalagi pada waktu itu Tuhan telah mempunyai tubuh manusia, yaitu tubuh yang pasti. Memang tubuh itu adalah tubuh kebangkitan, akan tetapi itu adalah tubuh yang sesungguhnya. Bagi tubuh itu haruslah ada tempat yang pasti. Begitu pula kita mengetahui bahwa takhta Allah ada di dalam sorga dan takhta itu haruslah merupakan suatu tempat yang pasti. Tuhan Yesus sendiri telah berjanji kepada penjahat di kayu salib di sampingnya bahwa hari itu juga ia akan bersama-sama dengan Dia di dalam Firdaus (Lukas 23:43). Tuhan Yesus sendiri telah berkata bahwa ada banyak tempat kediaman di dalam "rumah Bapa-Nya" (Yohanes 14:2); tentu yang dibicarakan-Nya itu adalah suatu tempat yang pasti. Dalam Surat Ibrani dikatakan bahwa kita menanti-nantikan tanah air yang lebih baik, yaitu suatu tempat yang pasti (Ibrani 11:10,16). Yohanes telah memberikan pernyataan tentang Yerusalem Baru yang tidak dapat tidak adalah suatu tempat yang pasti (Wahyu 21:1-3). Di tempat itu kelak kita akan melihat wajah Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 22:4). Tuhan Yesus telah meminta kepada Bapa-Nya supaya orang-orang saleh ada bersama-sama dengan Dia serta memandang kemuliaan-Nya (Yohanes 17:24). Pada suatu ketika seorang anak perempuan ditanya oleh seorang pengolok, "Di manakah sorga itu?" dan anak itu menjawab, "Di mana Tuhan Yesus ada di situlah sorga".

    Kita patut memperhatikan tentang kemuliaan tempat yang pasti itu. Dalam Wahyu 21:10-26 diterangkan tentang kemuliaan dan keadaan Yerusalem Baru itu, dan dalam pasal Wahyu 22:1-5 kemuliaannya dijelaskan lagi. Kami tidak akan membahas ayat-ayat itu, tetapi kami harap para pembaca memperhatikan kemuliaan tempat itu. Ada juga ayat-ayat lain yang membicarakan tentang kemuliaan kita bila nanti kita bersama-sama Tuhan Yesus di dalam sorga, yaitu Kolose 3:4; Roma 8:18; Yohanes 17:22.

    Tuhan Yesus sendiri telah berjanji bahwa Ia akan menyediakan tempat kediaman bagi kita masing-masing yang percaya (Yohanes 14:1-3). Tuhan juga telah berjanji akan kembali, untuk menjemput kita pergi ke tempat itu. Ada satu pertanyaan yang timbul yaitu, bagaimanakah keadaan tempat tinggal yang kita nantikan itu? Barangkali hanya ada beberapa petunjuk dalam Alkitab tentang hal itu, dan tidak salah kalau kita mempelajarinya. Dalam Matius 6:20 Tuhan Yesus menyuruh kita menghimpunkan harta benda kita di sorga. Juga dalam 1Korintus 3:12-15 kita membaca mengenai ujian api atas pekerjaan-pekerjaan kita untuk Kristus. Jelas dari ayat-ayat itu bahwa hanya emas, perak, dan batu yang indah-indah yang tinggal tetap. Jadi kalau tempat kediaman kita dalam sorga itu dihiasinya dengan harta benda yang telah kita kumpulkan di sana, dan dengan emas, perak, dan batu indah yang tahan api dari pekerjaan kita untuk Tuhan, bagaimanakah kelak hiasan untuk tempat tinggal saudara dan saya? Sebagian harta benda kita yang disimpan di dalam sorga adalah uang dan persepuluhan dan yang telah kita berikan untuk pekerjaan Tuhan.

    B. Sorga itu kekal

    Tuhan Yesus telah menjanjikan hidup yang kekal kepada tiap-tiap orang yang percaya akan Dia (Yohanes 3:16), dan Tuhan menjanjikan hukuman kekal kepada orang-orang yang tidak percaya (Matius 25:46). Dari ayat itu kita dapat memastikan bahwa kedua tempat itu kekal. Dalam Wahyu 22:5 dikatakan bahwa mereka yang ada di Yerusalem Baru itu akan memerintah sebagai raja selama-lamanya. Maka sorga itu disebut "kota Allah" yaitu "kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah" (Ibrani 11:10). Tempat itu disebut "suatu tanah air yang lebih baik" (Ibrani 11:16), dan sebuah "kerajaan yang tidak tergoncangkan" (Ibrani 12:28). Perkataan kekal atau selama-lamanya dihubungkan dengan sorga dalam 2Korintus 5:1; 1Petrus 5:10; 2Petrus 1:11.

    C. Kesucian sorga

    Sorga adalah tempat yang sama sekali tidak terdapat di dalam sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta. Tempat itu semata-mata suci (Wahyu 21:27). Segala yang najis atau penyembah berhala harus tinggal di luar tempat itu (Wahyu 22:15). Mengenai orang yang tidak boleh masuk sorga dijelaskan di dalam 1Korintus 6:9,10. Maka air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, atau dukacita tidak akan ada lagi disitu (Wahyu 7:16; 21:4), sebab hal yang lama sudah lenyap. Iblis tidak ada lagi di situ, oleh sebab itu orang-orang saleh di dalam surga tidak dapat dicobai. Tidak ada lagi kerinduan untuk berbuat dosa. Tidak ada lagi kematian (Lukas 20:35,36), dan keadaan di situ semata-mata baik dan senang. Penduduk di negeri itu akan menjadi sama seperti Dia, yaitu dalam keadaan yang suci (1Yohanes 3:2,3). Di dalam sorga nanti tiap-tiap kerinduan yang baik dapat dicapai.

    Ibadat dan sembahyang penduduk sorga itu sempurna. Di dunia ini sering hati kita menuduh bahwa ibadat kita kurang daripada yang kita rindukan atau maksudkan, tetapi tidak demikian di sorga. Di sana tidak ada halangan untuk menyembah Tuhan, dan ibadat kita akan sempurna. Dalam Kitab Wahyu dijelaskan tentang ibadat orang-orang di dalam sorga (Wahyu 4:8-12; 6:9-13; 7:9-12; 19:1-6). Ibadat di sorga itu sempurna, mulia, dan penuh dengan sukacita.

    D. Penduduk sorga

    Semua orang saleh yang tinggal di dalam sorga itu adalah orang-orang yang benar dan rohnya telah disempurnakan (Ibrani 12:23). Keselamatannya sempurna dan teguh. Orang-orang saleh itu berbahagia dan segala perbuatan menyertai mereka ke dalam tempat mulia itu (Wahyu 14:13). Segala perbuatan kita bagi Tuhan Yesus Kristus akan kelihatan kepada semua orang di dalam sorga. Hal itu patut mendorong kita untuk melakukan dengan sepenuhnya kehendak Allah bagi kehidupan kita. Penduduk negeri itu akan menjadi suatu kerajaan dan iman-iman bagi Allah (Wahyu 5:10). Orang-orang saleh di dalam sorga akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Bapa mereka (Matius 13:43), dan orang-orang yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran akan bercahaya seperti bintang-bintang (Daniel 12:3).

    Di dalam sorga orang-orang saleh akan saling mengenal. Jadi kita akan mengenal Abraham, Ishak, dan Yakub (Matius 8:11), dan kalau kita mengenal mereka itu maka tentu kita akan mengenal juga orang-orang lain. Kita akan mengenal orang-orang lain seperti kita dikenal oleh mereka (1Korintus 13:12). Tubuh kebangkitan kita akan berbeda dengan tubuh kita sekarang (1Korintus 15:41-42), dan tentunya pengetahuan kita akan bertambah, tidak seperti sekarang ini, pengetahuan kita terbatas; sebab itu kita akan saling mengenal.

    Orang-orang saleh di dalam sorga akan mengenakan tubuh baru yang kelihatan (Lukas 24:39). Mereka itu akan mendapat tubuh kebangkitan, yaitu tubuh sorgawi, yang sangat besar kuasanya dan yang sesuai dengan keadaan yang sempurna itu (1Korintus 15:35-58). Tubuh kebangkitan itu tidak akan binasa (1Korintus 15:42). Keadaan kita sebagai anak-anak Allah akan nyata sekali dalam tubuh kebangkitan sebab kita akan serupa dengan Tuhan kita Yesus Kristus.

    Dalam keadaan yang sempurna itu tentu ada persekutuan yang sempurna. Kita akan duduk bersama-sama dengan para nabi, rasul-rasul, orang-orang yang mati sahid dan orang-orang yang telah melakukan hal-hal ajaib demi nama Tuhan Yesus. Persekutuan yang sempurna akan terlihat dalam perjamuan kawin Anak Domba Allah (Wahyu 19:7-9). Tetapi, yang terlebih indah yaitu persekutuan dengan Allah yang akan diam bersama-sama dengan manusia (Wahyu 21:3). Betapa mulianya pula persekutuan kita dengan orang-orang yang telah kita bawa kepada Kristus.

    Kita akan mengalami sukacita yang besar di dalam sorga, sukacita karena pengampunan dosa dan keselamatan. Di dunia ini meskipun kita berjalan dalam lembah kesukaran, sering pula kita mengalami sukacita di dalam hati kita; apalagi di seberang sana, di sorga. Sukacita yang terutama ialah bertemu muka dengan Yesus Kristus. Sukacita yang lain ialah sukacita yang disebabkan oleh orang-orang yang telah kita bawa kepada Kristus (1Tesalonika 2:19). Selain itu adalah sukacita sebab kita bertemu lagi dengan kekasih-kekasih kita yang telah mendahului kita ke sana. Kita yang dibasuh dengan darah Kristus akan mengalami sukacita yang penuh.

    Sorga bukan hanya suatu tempat di mana kita akan berhenti dan bersukacita saja, melainkan kita akan melayani Allah dan Tuhan Yesus sampai selama-lamanya (Wahyu 22:3; 7:15). Pelayanan kita di dunia ini sering tidak sampai kepada tujuan yang sebenarnya sebab kita lemah. Di sana kita akan mendapat kuasa untuk melayani Tuhan dengan cara yang semata-mata berkenan kepada Allah.

    Tuhan telah menyediakan banyak berkat dan pahala untuk kita yang telah melayani dan mengasihi Dia. Apa yang tidak pernah timbul di dalam hati kita telah disediakan untuk kita (1Korintus 2:9). Suatu warisan telah disediakan untuk kita (1Petrus 1:4; Yakobus 2:5). Boleh jadi kita tidak mendapat warisan di dalam dunia ini, tetapi kita mempunyai warisan yang pasti di dalam sorga, yang lebih indah dari segala sesuatu yang terdapat di dalam dunia ini. Bahkan kerajaan pun dijanjikan kepada orang-orang yang setia (Lukas 12:32; 22:28,29,30).

    Ada juga pahala-pahala yang diberikan kepada kita sesuai dengan kesetiaan dan pekerjaan kita di atas bumi ini (1Korintus 3:11-15; Roma 14:10; 2Korintus 5:10). Demikian pula suatu mahkota kebenaran akan dikaruniakan kepada semua orang yang merindukan kedatangan Tuhan Yesus Kristus (2Timotius 4:8). Orang-orang yang setia dan baik pekerjaannya akan mendapat kuasa atas beberapa negeri sesuai dengan pekerjaannya di atas bumi ini (Lukas 19:12-19).

    Mengenai pahala yang lain terdapat di dalam tujuh surat di dalam pasal Wahyu 2:1-3:22. Pahala itu akan dikaruniakan kepada orang-orang yang menang. Orang saleh yang menang akan: diberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah (Wahyu 2:7); ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua (Wahyu 2:11); ia akan diberi manna yang tersembunyi (Wahyu 2:17); ia akan diberi karunia kuasa atas bangsa-bangsa (Wahyu 2:26); ia akan dikenakan pakaian putih dan namanya tidak akan dihapus dari kitab Kehidupan (Wahyu 3:5); ia akan dijadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah (Wahyu 3:12); dan ia akan duduk bersama-sama dengan Bapa di atas takhta-Nya (Wahyu 3:21). Itu bukan berarti bahwa tiap-tiap orang akan memperoleh semuanya, tetapi ia akan mendapat apa yang layak baginya.

    E. Pusat kerinduan (daya tarik) penduduknya yaitu Kristus

    Mengingat semua yang indah itu, Rasul Paulus lebih suka meninggalkan dunia ini supaya dapat bersama-sama dengan Tuhan (2Korintus 5:8). Dalam Wahyu 1:13-18 dijelaskan tentang Tuhan Yesus dan kemuliaan-Nya, dan tentu kerinduan orang-orang saleh yaitu untuk bertemu dengan Dia dan bersama-sama dengan Dia. Di dalam sorga kelak segala makhluk, manusia ataupun malaikat-malaikat, semuanya menyembah Yesus Kristus serta meletakkan mahkotanya pada kaki-Nya sebab hanya Dia saja yang layak dipermuliakan (Wahyu 5:6-13; 4:10,11). Memang Tuhan Yesus adalah Raja segala Raja, dan Tuan di atas segala tuan (Wahyu 19:16). "Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu" (Wahyu 22:14). "Roh dan pengantin perempuan itu berkata: 'Marilah!' Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: 'Marilah!' Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!" (Wahyu 22:17).

    II. NERAKA

    Tuhan Allah menghadapkan manusia kepada dua macam akhirat, sorga dan neraka. Demikian pula ada dua pribadi yang disembah manusia, Yesus Kristus atau Iblis. Setiap orang harus memilih salah satu, Kristus atau Iblis, sorga atau neraka. Jikalau seseorang memilih Kristus maka pasti ia akan masuk ke sorga, dan kalau seseorang memilih Iblis maka pasti ia akan masuk ke neraka. Tiap-tiap orang yang menolak Tuhan Yesus berarti ia memilih Iblis, biarpun ia menginsafi hal itu atau tidak.

    Neraka telah dijadikan untuk Iblis dan malaikat-malaikat yang jahat, tetapi manusia yang menolak Kristus serta memilih Iblis mau tak mau akan menyertai Iblis dalam tempatnya. Alkitab tidak menyatakan dengan jelas di mana neraka itu, tetapi neraka itu pasti ada. Satu hal yang nyata ialah, orang-orang di tempat itu terpisah dari Allah dan tidak mendapat pertolongan lagi dari Allah.

    Sebutan untuk neraka di dalam Alkitab

    Dalam Alkitab terdapat empat perkataan untuk neraka dalam bahasa asli. Perkataan yang umum dipakai dalam Perjanjian Lama ialah "sheol" (syiol), yang berarti "alam maut" atau "kubur". Seringkali kata itu dipakai dengan arti yang jelas sekali yaitu suatu tempat siksaan, dan kadang-kadang kata "api" disebut besertanya.

    Dalam Perjanjian Baru ada satu perkataan yang sama artinya dengan "syiol", yaitu "hades". Perkataan itu selalu ada hubungannya dengan arti kerusakan dan kegelapan. Kata itu juga berarti "dunia orang mati" atau "alam maut". Perkataan itu ditulis sepuluh kali dalam Perjanjian Baru, yaitu: Matius 11:23; Lukas 10:15; Matius 16:18; Lukas 16:23; Kisah 2:27,31; Wahyu 1:18; 6:8; 20:13,14. Adalagi satu perkataan dalam Perjanjian Baru yaitu "gehenna", yang selalu berarti suatu tempat siksaan oleh sebab kelakuan jahat. Perkataan itu terdapat dalam ayat-ayat yang berikut: Matius 5:22,29,30; 10:28; 18:9; 23:15,33; Lukas 12:5; Markus 9:43,45,47; Yakobus 3:6. Dalam 2Petrus 2:4 terdapat perkataan "tartarus", yaitu tempat Iblis dan malaikat-malaikat yang jahat.

    Istilah-istilah yang dipakai dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru itu menyatakan satu tempat saja. Roh Kudus memakai empat istilah itu dari segi kekristenan, dan Ia menghendaki kita mengartikannya satu hal, yaitu suatu tempat siksaan oleh sebab kelakuan jahat, tempat yang dikuasai Iblis, tempat siksaan bagi Iblis dan malaikat-malaikat yang jahat.

    Keadaan neraka dijelaskan lebih jauh seperti berikut: api yang kekal (Matius 25:41); lubang jurang maut (Wahyu 9:2,11); kegelapan yang paling gelap (Matius 8:12); siksaan (Wahyu 14:10,11); tempat siksaan kekal (Matius 25:46); murka dan hukuman Allah (Roma 2:5); kematian yang kedua (Wahyu 21:8); hukuman kebinasaan selama-lamanya, dijauhkan dari hadirat Tuhan (2Tesalonika 1:9); dosa yang kekal (Markus 3:29); lautan api yang menyala-nyala oleh belerang (Wahyu 19:20; 20:10,14,15). Jelas sekali dari Wahyu 20:14 bahwa neraka itu akan dilemparkan ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang. Demikian pula semua orang yang namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan akan dilemparkan ke situ (Wahyu 20:15). Di dalam Wahyu 20:10 diterangkan juga bahwa siksaan di tempat itu akan sampai selama-lamanya.

    Kesucian Allah menuntut siksaan atas dosa. Kesucian Allah telah menyebabkan siksaan atas Yesus Kristus di kayu salib, supaya manusia diselamatkan. Jadi kalau orang-orang menolak keselamatan dari Kristus itu, tentu kesucian Allah menuntut siksaan atas orang-orang itu, dan tempat siksaan itu adalah neraka.

    Dalam bab 19 yang membahas tentang "Hukuman Atas Dosa" sudah diterangkan mengenai hukuman dosa, dan juga diterangkan dengan singkat bahwa kebinasaan yang kekal tidak berarti jiwa itu ditiadakan atau dilenyapkan. Dalam bab itu disebutkan ayat yang membuktikan bahwa siksaan atas orang berdosa, yang menolak Tuhan Yesus, adalah siksaan yang kekal. Oleh sebab siksaan atas orang-orang yang menolak Yesus Kristus itu kekal tentu tempat siksaan itu kekal juga. Perkataan-perkataan yang berarti kekal, yang dipakai untuk menyatakan keadaan Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, juga yang dipakai untuk menyatakan kesenangan orang-orang yang diselamatkan, dan untuk sorga, juga dipakai untuk neraka. Andaikata yang satu tidak kekal tentu yang lainpun tidak kekal (lihat Matius 25:46).

    Dalam cerita tentang Lazarus dan orang kaya di dalam Lukas 16:19-31, terdapat beberapa hal yang pasti yaitu: 1) Tidak ada pengampunan sesudah kematian; 2) Orang kaya itu berdoa supaya siksaannya dikurangi, tetapi tidak dapat; 3) Orang kaya itu berdoa meminta supaya seseorang diutus kembali ke dunia untuk memberitahukan bahwa neraka sungguh-sungguh ada dan janganlah orang-orang datang ke sana, tetapi tidak diizinkan. Ayat-ayat lain dalam Perjanjian Baru juga menerangkan bahwa siksaan itu kekal, oleh sebab itu jelas bahwa sesudah kematian jiwa tidak lenyap begitu saja.

    Dalam Wahyu 19:20 kita membaca bahwa pendurhaka (Antikristus) dan nabi-nabi palsu dilemparkan ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang, lalu sesudah kerajaan Tuhan seribu tahun Iblis sendiri yang dilemparkan ke situ, bersama-sama dengan mereka (Wahyu 20:10). Jiwa orang-orang itu tidak lenyap.

    Tuhan Yesus sendiri berkata mengenai Yudas bahwa "lebih baik kalau orang itu tidak dilahirkan". Pernyataan itu membantah ajaran sesat yang mengatakan bahwa semua orang akan diampuni dan akhirnya diperdamaikan dengan Allah. Ajaran sesat itu didasarkan pada salah pengertian mengenai Efesus 1:9,10 dan Kolose 1:19,20. Kalau orang-orang berdosa pada akhirnya dapat diperdamaikan dengan Allah, tentunya keadaan itu lebih baik daripada "tidak dilahirkan". Tetapi Tuhan Yesus dengan terus terang mengatakan bahwa lebih baik orang itu tidak dilahirkan. Dan perhatikanlah, di dalam Kolose 1:20 tidak dikatakan bahwa mereka yang di dalam neraka akan diperdamaikan dengan Allah. Oleh sebab itu baiklah kita memperhatikan syarat-syarat ini sebelum menentukan suatu asas pengajaran, yaitu: ayat yang kurang jelas tidak boleh dipakai sebagai dasar suatu asas pengajaran bilamana ada ayat-ayat lain yang jelas bertentangan dengan pengajaran itu. Banyak ayat yang membuktikan bahwa neraka dan siksaannya itu kekal. Oleh karena semua itu, doa-doa untuk orang yang sudah mati tidak berfaedah, tidak akan menghasilkan apa-apa.

    Para pengabar Injil perlu berkhotbah tentang neraka dan siksa yang kekal, untuk mengingatkan orang-orang supaya mereka lari kepada Yesus Kristus serta bertobat. Robert McCheyne (seorang pengabar Injil yang masyhur di Skotlandia) berkata demikian, "Kecuali dengan mencucurkan air mata, seorang pengabar Injil tidak pantas berkhotbah tentang neraka dan siksaan kekal". Karena ia selalu berkhotbah tentang siksaan kekal dengan kesungguhan hati dan dengan mencucurkan air mata, maka banyak orang yang telah bertobat serta percaya kepada Tuhan Yesus.

    24. ASAS PENGAJARAN TENTANG AKHIRAT


    I. RINGKASAN MENGENAI URUTAN RENCANA KEDATANGAN TUHAN YESUS KRISTUS YANG KEDUA KALI

    "Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang" (Yohanes 16:13).

     1. Janji Tuhan: Yohanes 14:2,3
     Yohanes 14:28
     Yohanes 16:16
     Yohanes 16:22
     2. Kesetiaan Tuhan: 2Petrus 3:9
     Ibrani 10:23,25
     Ibrani 10:37
     Yakobus 5:8
     Wahyu 22:20
     3. Pengharapan Jemaat: Ibrani 9:28
     Filipi 3:20
     Roma 8:23
     1Korintus 1:7
     Titus 2:13
     2Tesalonika 3:5
     1Tesalonika 1:10
     4. Pelantikan Jemaat. 1Tesalonika 4:16
     Mempelai Laki-laki datang 1Korintus 15:52
     untuk Jemaat-Nya, yaitu mempelai 1Tesalonika 4:14
     perempuan-Nya. (Bagian pertama
     dari kedatangan Tuhan yang
     kedua kali.)
     5. Kebangkitan orang-orang yang 1Tesalonika 4:16
     di dalam Kristus. (Bagian 1Korintus 15:22,23
     pertama dari kebangkitan yang 1Korintus 15:52
     pertama): 1Korintus 15:42-52
     6. Orang-orang saleh yang masih 1Tesalonika 4:15
     hidup diubahkan. 1Korintus 15:51,52
     Filipi 3:20,21
     1Korintus 15:49
     1Korintus 15:53
     7. Diangkat dalam awan menyongsong 1Tesalonika 4:17
     Tuhan di angkasa. 2Tesalonika 2:1
     8. Orang-orang saleh akan 1Tesalonika 4:17
     selama-lamanya bersama-sama Yohanes 14:3
     dengan Tuhan. Yohanes 12:26
     Wahyu 3:12
     Yohanes 17:24
     Yohanes 10:28
     1Tesalonika 5:10
     9. Kursi pengadilan Kristus 2Korintus 5:10
     (Hanya untuk orang-orang saleh.) Roma 14:10-12
     Wahyu 22:12
     10. Pekerjaan tiap-tiap orang 1Korintus 3:12-17
     diuji dan dinyatakan. 1Korintus 4:5
     Matius 25:14-30
     Lukas 19:12-27
     11. Pekerjaan yang baik. 1Korintus 3:14
     Efesus 6:8
     12. Pekerjaan yang tidak baik. 1Korintus 3:15-17
     Kolose 3:25
     13. Pahala untuk pelayanan 1Korintus 3:8
     dan pekerjaan kita bagi Tuhan. Filipi 3:14
     Kolose 3:24
     Yakobus 2:5
     Yakobus 1:12
     Wahyu 2:10
     2Timotius 4:8
     1Petrus 5:4
     1Korintus 9:25
     1Korintus 2:9
     1Korintus 4:5
     14. Perkawinan Anak Domba Wahyu 19:7,8
     dengan Jemaat-Nya: Efesus 5:25-27
     15. Masa kesengsaraan Daniel 12:1
     di dunia ini. Matius 24:21
     Wahyu 11:3
     Wahyu 13:5
     16. Si Pendurhaka (Antikristus) Wahyu 16:12-21
     menghimpunkan orang-orang Wahyu 19:17-21
     pada peperangan Harmagedon 2Tesalonika 2:8
     lalu ia dilempar ke dalam
     lautan api.
     17. Kedatangan Tuhan Yesus Kisah 1:11
     sebagai Raja di atas dunia. Matius 24:29,30
     (Bagian yang kedua dari Markus 13:26
     kedatangan Tuhan yang kedua Lukas 21:27
     kali): Zakharia 2:10
     Matius 25:31
     Wahyu 19:11-21
     Daniel 7:13,14
     Yesaya 26:21
     Mikha 1:3
     Yesaya 59:20
     Zakharia 14:4,5
     Wahyu 1:7
     2Tesalonika 1:7
     2Tesalonika 2:8
     18. Kedatangan Tuhan bersama Wahyu 19:14
     dengan saleh-saleh-Nya. Wahyu 17:14
     Zakharia 14:5
     Yudas 1:14
     1Tesalonika 3:13
     Kolose 3:4
     1Yohanes 3:2
     19. Kebangkitan menuju kehidupan. Wahyu 20:4
     (Bagian kedua dari kebangkitan Wahyu 20:5
     yang pertama). Yohanes 5:29
     Wahyu 20:6
     Daniel 12:2
     20. Bangsa-bangsa diadili Matius 25:31-46
     Tuhan Yesus Kristus: Kisah 17:31
     Daniel 2:44
     21. Kerajaan seribu tahun. Daniel 2:44
     Lukas 1:32
     Mazmur 72:8,11
     Mazmur 2:6
     Mikha 4:7
     1Korintus 15:25
     Wahyu 11:15
     Zakharia 9:10
     Yeremia 23:5
     Yesaya 9:6
     Yesaya 24:23
     Zefanya 3:15
     Wahyu 20:2-7
     Wahyu 19:15,16
     22. Tuhan Yesus Kristus akan 2Timotius 2:12
     memerintah bersama-sama Roma 8:17
     para saleh-Nya. Wahyu 3:21
     Wahyu 5:9,10
     Wahyu 1:6
     Wahyu 20:4,6
     1Korintus 6:2
     23. Iblis dirantai. 1Korintus 6:2
     Wahyu 20:1,2
     24. Iblis dilepaskan seketika Wahyu 20:7-10
     lamanya; pemberontakannya
     dan hukuman baginya.
     25. Kebangkitan menuju kebinasaan. Yohanes 5:29
     (Kebangkitan yang kedua). Daniel 12:2
     Wahyu 20:12,13
     Wahyu 20:5
     26. Langit dan bumi yang lama Matius 24:35
     lenyap. 2Petrus 3:10-13
     Wahyu 20:11
     Yesaya 51:6
     Ibrani 1:11,12
     27. Penghakiman di depan Yohanes 5:22
     takhta Putih. (Hanya untuk Kisah 17:31
     orang-orang yang tidak Wahyu 20:11-13
     selamat).
     28. Lautan api yang menyala-nyala Wahyu 21:8
     oleh belerang, yaitu kematian Wahyu 20:14,15
     yang kedua, musuh yang 1Korintus 15:26
     terakhir.
     29. Langit yang baru dan bumi Wahyu 21:5
     yang baru. 2Petrus 3:13
     Yesaya 65:17
     Wahyu 21:1
     30. Yerusalem yang baru. Wahyu 21:2,9-27
     Wahyu 3:12
     31. Keindahan kota itu. Wahyu 21:12-14
     Wahyu 21:18,19
     Wahyu 21:22
     32. Kemuliaan dan kesucian Wahyu 21:22-27
     kota itu. Wahyu 21:11
     33. Allah diam bersama-sama Wahyu 21:3
     dengan manusia.
     34. Allah menjadi semua di 1Korintus 15:24-28
     dalam semua.
     35. Peringatan dan ajakan. Wahyu 22:11,12
     Wahyu 22:17

    Lanjutan 00814

    II. KEDATANGAN TUHAN YESUS KRISTUS YANG KEDUA KALI

    A. Bukti kedatangan Kristus yang kedua kali

    Tuhan Yesus pasti akan kembali. Hal ini mutlak sama seperti Firman Allah adalah mutlak. Tuhan Yesus sendiri telah berjanji bahwa Ia akan kembali, dan masih banyak bukti lain tentang hal itu di dalam Alkitab (Yohanes 14:3; Matius 24:27,36; Markus 13:26; Lukas 21:27; Wahyu 22:7,20). Berita tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya itu terdapat dalam segenap Alkitab. Daniel telah menubuatkan tentang hal itu (Daniel 7:13,14). Demikian pula Zakharia (#Zakharia 14:4), Yesaya dan Yehezkiel telah bernubuat mengenai hal itu (Yesaya 45:23; Yehezkiel 21:25-27). Rasul-rasul Tuhan menyatakan hal itu dalam pengajarannya (Kisah 3:20,21; 2Petrus 1:16; 2Tesalonika 1:7; Yakobus 5:8; Yudas 1:14; 1Yohanes 2:28; Wahyu 1:7). Malaikat-malaikat juga telah mewartakannya (Kisah 1:11). Tentang kedatangan Tuhan yang kedua kali disebutkan 318 kali dalam Perjanjian Baru (antara lain: Ibrani 9:28; Filipi 3:20,21; 1Tesalonika 4:16,17).

    B. Pentingnya kedatangan Tuhan yang kedua kali

    Banyak nubuat dalam Perjanjian Lama tentang Tuhan Yesus akan digenapkan pada waktu kedatangan Tuhan yang kedua kali. Dengan keyakinan itu kita dapat menghibur orang-orang saleh yang berdukacita (1Tesalonika 4:18). Kedatangan Kristus yang kedua kali itu menjadi pengharapan yang penuh bahagia bagi tiap-tiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus (Tit 2:13). Asas pengajaran tentang kedatangan Tuhan dibenci dan diolok-olok oleh orang-orang yang tidak percaya (2Petrus 3:3,4). Kepastian kedatangan Tuhan yang kedua kali itu patut meneguhkan kita untuk berjaga-jaga, setia, rajin berdoa, dan tinggal tetap di dalam Kristus (Matius 24:44-46; Lukas 21:34-36; 1Yohanes 2:28). Tuhan telah menjanjikan suatu berkat besar kepada orang yang tetap menantikan kedatangan-Nya (Lukas 12:35-37).

    C. Arti dan cara kedatangan Tuhan

    Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali bukan berarti saat kematian orang yang percaya. Kematian adalah musuh kita; dan musuh itu akan dikalahkan pada waktu Tuhan Yesus datang (1Korintus 15:50-57). Pada hari kematian orang saleh tidak akan ada "bunyi sangkakala" dan "seruan" dari penghulu malaikat, tidak ada kebangkitan orang-orang saleh dan hal-hal lain yang dikatakan dalam 1Tesalonika 4:16,17. Kedatangan-Nya bukan berarti saat kematian orang-orang Kristen. Dalam pasal Yohanes 21:15-25 Tuhan sendiri membedakan antara kematian dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Di situ Tuhan Yesus memberitahukan bahwa Petrus akan mati tetapi tentang Yohanes Ia berkata demikian: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu". Jadi beberapa rasul salah mengerti perkataan itu dan berpendapat bahwa Yohanes tidak akan mati, tetapi akan tetap hidup sampai kedatangan-Nya.

    Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali bukan berarti kedatangan Roh Kudus. Roh Kudus sendiri adalah satu pribadi yang pasti, dan kedatangan-Nya bukan kedatangan Kristus. Dalam Alkitab terdapat banyak ayat tentang kedatangan Kristus yang ditulis sesudah Roh Kudus datang pada Hari Pentakosta (Filipi 3:21; 1Tesalonika 4:16; 2Timotius 4:8), jadi jelas bahwa yang dimaksudkan bukanlah kedatangan Roh Kudus. Lihatlah Yohanes 14:15-18. Apa yang dikatakan dalam 1Tesalonika 4:16,17 tidak terjadi pada waktu Roh Kudus turun atas kita.

    Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali bukan berarti kebinasaan Yerusalem. Kedatangan Kristus adalah suatu penghiburan, sedang kebinasaan Yerusalem adalah penghukuman. Kira-kira dua puluh tahun setelah Yerusalem dibinasakan Rasul Yohanes menulis Kitab Wahyu yang menyatakan kedatangan Tuhan yang kedua kali. "Pengharapan yang penuh bahagia", bagi jemaat itu masih belum terjadi, oleh karena itu sekarang ini kita menantikan kedatangan-Nya.

    D. Kedatangan Tuhan yang kedua kali terdiri atas dua bagian

    Kalau semua ayat tentang kedatangan Tuhan yang kedua kali itu diselidiki dengan teliti, maka nyatalah bahwa kedatangan Tuhan yang kedua kali itu terdiri atas dua bagian. Pada bagian yang pertama Tuhan Yesus datang hanya sampai di angkasa dan dari sana Ia memanggil orang-orang saleh-Nya naik ke awan-awan untuk menyongsong Tuhan Yesus. Pada bagian yang pertama Tuhan datang untuk orang-orang saleh-Nya, yaitu untuk menjemput mereka. Tentang kedatangan-Nya bagian pertama dikemukakan dalam 1Tesalonika 4:16,17. Bagian yang pertama itu disebut PELANTIKAN JEMAAT. Pada bagian yang pertama Tuhan tidak sampai ke bumi ini. Pada bagian yang kedua Tuhan Yesus turun bersama-sama dengan orang-orang saleh-Nya ke dunia ini untuk memerintah serta mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi ini seribu tahun lamanya. Itulah yang disebut PENYATAAN KRISTUS sebab Ia dinyatakan kepada semua orang di bumi ini.

    Di antara bagian pertama (pelantikan jemaat) dan bagian kedua (pernyataan Kristus) terjadilah masa kesengsaraan di atas bumi ini. Masa itu pendek, kira-kira hanya tujuh tahun lamanya. Pada waktu terjadi masa kesengsaraan di atas bumi ini, jemaat Kristus yang sudah dilantik itu tinggal di dalam sorga bersama-sama dengan Tuhan Yesus.

    Dalam Perjanjian Baru ada tiga perkataan dalam bahasa Yunani yang dipakai untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali. Perkataan "Parousia" berarti "ada" (hadir) atau "ada di sini", dan diterjemahkan "kedatangan". Perkataan itu sering dipakai, yaitu dalam 1Tesalonika 3:13; 1Tesalonika 2:19; 1Tesalonika 5:23; 2Tesalonika 2:1,8,9. Biasanya perkataan "Parousia" dipakai untuk menjelaskan bagian yang pertama (pelantikan jemaat), bukan untuk kedatangan Tuhan yang kedua kali. Akan tetapi sekali atau dua kali perkataan itu dipakai juga dalam mengemukakan bagian yang kedua. Perkataan "epiphaneia" (epifaneia) berarti "penyataan" atau "cahaya penyataan", dan diterjemahkan dengan "kedatangan" atau "penyataan". Perkataan itu biasanya dipakai untuk menyatakan bagian yang kedua dari kedatangan Tuhan yang kedua kali. Perkataan "epifaneia" itu terdapat dalam ayat-ayat: 2Tesalonika 2:8; 1Timotius 6:14; 2Timotius 1:10; 2Timotius 4:1,8; Titus 2:13. Perkataan "apokalupsis" berarti "penyataan", seolah-olah barang yang diselimuti dibuka selimutnya supaya terlihat. Perkataan "apokalupsis" sering dipakai misalnya dalam ayat-ayat Roma 2:5; 16:25; 1Korintus 1:7; 14:6,26; 2Korintus 12:1,7; Galatia 1:12; 2:2; Efesus 1:17; 3:3; 1Petrus 1:13; Wahyu 1:1. Perkataan "apokalupsis" biasanya dipakai untuk menyatakan bagian yang kedua dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali itu. Adakalanya ketiga perkataan itu tidak dipakai dengan arti yang seharusnya, misalnya kata "apokalupsis" yang biasanya dipakai untuk menyatakan kedatangan Kristus bagian kedua kadang-kadang dipakai untuk menyatakan kedatangan Kristus bagian pertama.

    "Pelantikan Jemaat terjadi bilamana orang-orang saleh yang percaya diangkat ke awan-awan untuk menyongsong Tuhan Yesus di sana, yaitu sebelum masa kesengsaraan. Penyataan Kristus itu akan terjadi pada waktu Ia datang beserta dengan saleh-saleh-Nya, setelah masa kesengsaraan itu berakhir, untuk menghakimi dunia ini dengan kebenaran. Pada saat pelantikan jemaat Tuhan datang ke angkasa (awan-awan) untuk menjemput orang-orang saleh-Nya. Pada waktu itu Tuhan datang sebagai mempelai laki-laki untuk menjemput mempelai perempuan-Nya untuk memerintah bangsa-bangsa dan segenap dunia. Pada masa pelantikan jemaat-Nya, Tuhan Yesus datang hanya sampai ke awan-awan untuk mengangkat orang-orang saleh-Nya (1Tesalonika 4:17). Pada waktu penyataan Kristus, Ia datang ke dunia ini dan kaki-Nya berpijak pada bukit Zaitun dari tempat mana Ia telah naik ke sorga (Zakharia 14:4). W.E. Blackstone.

    E. Penjelasan mengenai dua bagian kedatangan Tuhan

    Kita telah mencoba membedakan ayat-ayat yang berhubungan dengan kedatangan Tuhan bagian pertama dan ayat-ayat yang berhubungan dengan kedatangan Tuhan bagian kedua. Hal ini merupakan suatu pekerjaan yang sulit bagi kami, akan tetapi kami berharap agar hal ini dapat berfaedah bagi jemaat. Tentunya banyak doa telah dinaikkan kepada Tuhan untuk meminta pertolongan-Nya dalam pekerjaan ini.

    Ayat-ayat berikut ini berhubungan dengan bagian pertama dari kedatangan Tuhan Yesus: 1Tesalonika 4:16,17; Filipi 3:20,21; Ibrani 9:28; Yohanes 14:3; Titus 2:13; 1Yohanes 3:2; Kolose 3:4; 2Tesalonika 2:1-3; 1Korintus 15:51-53; 1Tesalonika 5:1-5; Wahyu 3:3; Lukas 12:38,39; Matius 24:42-44.

    Pada bagian yang pertama dalam kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali itu ada beberapa hal yang akan terjadi, yaitu: 1) Tuhan Yesus akan turun dari sorga dengan sorak; 2) Penghulu Malaikat akan berseru; 3) Sangkakala Allah akan berbunyi; 4) Orang-orang yang telah mati dalam Kristus akan dibangkitkan lebih dahulu, yaitu dibangkitkan dari kuburnya; 5) Lalu kita, orang-orang Kristen yang masih hidup di bumi ini akan bersama-sama dengan mereka itu diangkat ke dalam awan-awan; 6) Pada waktu itu orang-orang saleh yang diangkat itu akan diubah oleh Tuhan dan diberi tubuh kebangkitan, yaitu tubuh kemuliaan, yang tidak dapat binasa, lihat Filipi 3:20,21; 1Korintus 15:51-53; 7) Orang-orang saleh, baik yang dibangkitkan dari antara orang mati, maupun yang masih hidup, tubuhnya diubahkan, dan mereka akan bertemu dengan Tuhan di udara; 8) Mereka akan selalu tinggal bersama-sama dengan Tuhan Yesus Kristus. Itulah bagian yang pertama dalam kebangkitan yang pertama.

    Ayat-ayat yang berikut menyatakan bagian yang kedua dari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali: Matius 25:31,32; Zakharia 14:4,5; Kisah 1:11; Wahyu 1:7; Matius 24:26,27,30; Yesaya 25:9; Yeremia 23:5,6; Kisah 15:16,17; Mazmur 72:8-11; Wahyu 20:10; 19:11-21; 20:24; 16:15; 2Petrus 3:10,12,13. Ini terjadi pada waktu Tuhan Yesus datang bersama-sama orang-orang saleh-Nya untuk menyatakan diri-Nya serta mendirikan kerajaan seribu tahun. Kedatangan Tuhan Yesus yang pertama pada waktu Ia lahir di dunia ini sampai kenaikan-Nya ke sorga, memerlukan waktu tiga puluh tiga tahun lamanya, tetapi kedatangan-Nya yang kedua kali kelak tidak akan terbatas waktunya.

    Sebenarnya 2Tesalonika 2:7,8 mengemukakan tentang kedua bagian dari kedatangan Tuhan itu sebab ada hal yang mengenai bagian yang disebut dalam ayat itu yang mengenai bagian pertama dan ada hal yang mengenai bagian yang kedua. Dalam ayat 2Tesalonika 2:7 dikatakan bahwa kedurhakaan itu telah mulai bekerja secara rahasia. Kuasa yang menahan pekerjaan durhaka itu tidak lain adalah Roh Kudus di dalam jemaat yaitu di dalam diri orang-orang saleh. Bilamana jemaat yaitu orang-orang saleh Tuhan sudah dilantik, maka Roh Kudus tidak mempunyai tempat tinggal lagi di dunia ini (sebab jemaat dan orang-orang saleh adalah kaabah-Nya) dan Roh Kudus itu naik bersama-sama dengan jemaat Tuhan. Tetapi itu bukan berarti bahwa Roh Kudus tidak bekerja lagi dalam dunia ini atau dalam hati manusia di dunia ini. Pada waktu itu Roh Kudus akan bekerja seperti Ia telah bekerja dalam masa Perjanjian Lama. Hanya Ia tidak mempunyai kaabah lagi di dunia. Roh Kudus itu diangkat bersama-sama dengan jemaat Tuhan, pada waktu mereka dilantik, yaitu pada waktu kedatangan Tuhan bagian pertama. Akan tetapi yang dikatakan dalam ayat 2Tesalonika 2:8, yaitu kebinasaan sipendurhaka (AntiKristus) akan terjadi pada waktu Tuhan kembali ke dunia ini untuk memerintah, yaitu bagian yang kedua dari kedatangan-Nya.

    Oleh karena ayat-ayat yang menyatakan kedatangan Tuhan bagian pertama kami bedakan dari ayat-ayat yang menyatakan kedatangan Tuhan bagian kedua, berikut ini akan dijelaskan tentang Tuhan Yesus yang "datang seperti pencuri". Ada beberapa bagian dalam Perjanjian Baru yang mengatakan bahwa Tuhan akan datang seperti seorang pencuri, yaitu 1Tesalonika 5:1-6; Wahyu 3:3; 16:15; 2Petrus 3:10-12; Lukas 12:38,39; Matius 24:42-44.

    Jelas dari perkataan Tuhan Yesus dalam Matius dan Lukas bahwa Tuhan menghendaki supaya orang-orang saleh, yaitu jemaat-Nya, tetap berjaga-jaga menantikan kedatangan-Nya yang kedua kali. Dari kedua pernyataan itu jelas bahwa kedatangan-Nya akan terjadi seperti datangnya seorang pencuri, yaitu kepada orang-orang yang tidak berjaga-jaga dan tidak menunggu kedatangan-Nya. Hal itu sesuai dengan perkataan Rasul Paulus dalam 1Tesalonika 5:1-5. Rasul Paulus juga berkata bahwa hari Tuhan akan datang seperti pencuri (ayat 1Tesalonika 5:1,2). Tetapi kepada siapakah Ia akan datang seperti pencuri? Tentunya bukan kepada orang-orang saleh di Tesalonika. Hal itu nyata dari ayat 1Tesalonika 5:4,5, sebab mereka menunggu Tuhan dan siap untuk menyambut kedatangan-Nya. Demikian pula bukan kepada orang-orang saleh yang sekarang berjaga-jaga dan menunggu kedatangan-Nya.

    Dalam 1Tesalonika 5:4 Rasul Paulus membedakan antara jemaat yang sejati dengan kegelapan yang ada pada dunia ini dan pada orang-orang berdosa. Sebab kedatangan Kristus seperti pencuri, hal itu merupakan jerat kepada dunia ini dan orang berdosa. Tuhan datang dengan membawa hukuman kepada dunia ini, dan dunia ini tidak sempat melepaskan diri-Nya, lihat 1Tesalonika 5:3. Lalu dalam ayat 1Tesalonika 5:4 Paulus berkata, "Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri". Perhatikanlah, Tuhan dengan setia selalu memberitahukan kepada orang-orang saleh-Nya tentang hal-hal yang akan mereka alami. Artinya Tuhan selalu menerangkan kepada orang-orang saleh-Nya nubuat yang akan terjadi atas orang-orang saleh itu. Ingatlah baik-baik bahwa Tuhan mewajibkan kepada orang-orang saleh-Nya agar mereka berjaga-jaga setiap saat. Tentunya hal ini bukan suatu pekerjaan yang mudah. Tak seorang pun tahu bilamana hari atau jamnya Tuhan akan datang. Tetapi tentang hal itu orang-orang saleh adalah anak-anak terang, bukan di dalam gelap. Mereka tahu tanda-tanda kedatangan-Nya, dan bilamana hal-hal dan tanda-tanda itu terjadi, maka mereka akan "bangkit dan mengangkat muka sebab penyelamatan mereka sudah dekat" (Lukas 21:28). Kalau begitu, tentu kedatangan-Nya seperti seorang pencuri bagi orang-orang yang tidak percaya, bagi orang-orang di dalam jemaat yang tidak berjaga-jaga, yang tidak siap serta tidak menunggu kedatangan-Nya. Berdasarkan semua itulah maka 1Tesalonika 5:1-5 menyatakan bagian yang pertama dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali.

    Semua itu sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus kepada jemaat di Sardis, "Jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu" (Wahyu 3:3). Tentunya akan ada juga orang dalam jemaat yang tidak berjaga-jaga, oleh sebab itu peringatan ini diberikan sama seperti di dalam Matius dan Lukas. Wahyu 3:3 berarti juga berhubungan dengan bagian pertama dalam kedatangan Tuhan itu, tetapi mengenai orang-orang yang tidak siap dan tidak berjaga-jaga.

    Dalam Wahyu 16:15 Tuhan berkata bahwa Ia akan datang seperti seorang pencuri. Hal itu berkenaan dengan bagian yang kedua dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali. Ayat itu seperti suatu sisipan di antara hukuman-hukuman selama masa kesengsaraan. Dalam ayat itu tidak dikemukakan suatu perjanjian apapun mengenai pelantikan jemaat. Diberitahukan bahwa mereka yang tidak berjaga-jaga kelak akan dinyatakan dihadapan semua manusia di bumi ini, dan malaikat-malaikat juga, bahwa mereka itu telanjang, tidak dilindungi terhadap hukuman-hukuman dan kesusahan yang datang ke dunia ini. Memang ayat itu sukar ditafsirkan, bilamana kita ingat hubungannya dengan Wahyu 3:3 dan Wahyu 3:18. Akan tetapi menurut pendapat kami, orang-orang di Sardis yang tidak berjaga-jaga dan orang-orang yang telanjang di Laodikea akan bersama-sama merasai hukuman dunia ini bersama dengan orang-orang berdosa yang dikatakan dalam 1Tesalonika 5:3 dan lain-lain. Mereka yang di Sardis dan di Laodikea diberi kesempatan yang baik sekali, akan tetapi mereka tidak menggunakan kesempatan itu, maka oleh sebab kealpaan hilanglah pakaian mereka dan Tuhan datang kepada mereka seperti seorang pencuri untuk menghukum mereka.

    Oleh sebab semua itu kita dapat mengatakan bahwa kedatangan Tuhan untuk melantik jemaat-Nya adalah seperti seorang pencuri yang mengejutkan orang-orang berdosa dan orang-orang dalam jemaat yang tidak berjaga-jaga. Begitu pun dalam bagian yang kedua pada akhir masa kesengsaraan itu, kedatangan Tuhan ke dunia ini akan seperti seorang pencuri kepada orang-orang berdosa dan orang-orang yang lengah, yang tidak berjaga-jaga. Mungkin ada yang bertanya, "Kepada siapakah perkataan dalam Wahyu 16:15 itu ditujukan? Kepada jemaat atau kepada yang lain ?" Tentu bukan kepada jemaat. Kami hanya dapat mengatakan bahwa hal itu ditujukan kepada orang-orang dalam masa kesengsaraan itu, di mana mereka seharusnya berjaga-jaga. Barangkali orang-orang dalam jemaat yang tidak berjaga-jaga pada waktu Tuhan datang melantik jemaat-Nya akan tertinggal di bumi ini dan merasakan kesengsaraan itu.

    Dalam 2Petrus 3:10-12 Rasul Paulus mengemukakan dengan jelas tentang hukuman-hukuman yang terjadi pada bagian yang kedua dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali.

    Tentang keadaan orang-orang di dunia ini pada waktu Tuhan Yesus hampir datang untuk melantik jemaat-Nya diterangkan dalam: Matius 24:37-42; Lukas 21:34-36.

    F. Saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali

    Yang kami maksudkan di sini ialah kedatangan Tuhan di atas awan-awan untuk melantik jemaat-Nya. Inilah bagian yang pertama dalam rencana kedatangan-Nya yang kedua kali. Kita tidak dapat menentukan secara pasti kapan hari atau jamnya Tuhan Yesus akan datang untuk melantik orang-orang saleh-Nya (Matius 24:36,42; Markus 13:32). Sebenarnya maksud Tuhan bukan supaya kita tidak tahu waktunya, tetapi supaya kita selalu berjaga-jaga. Saat kedatangan Tuhan itu sudah ada dalam pengetahuan Allah Bapa dan sudah dipastikan oleh-Nya, tetapi hal itu merupakan rahasia bagi diri-Nya sendiri (Kisah 1:7). Kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang kedua kali itu akan terjadi pada waktu yang tidak disangka-sangka oleh manusia (Matius 24:44). Pada waktu Tuhan datang dunia ini tetap dalam keadaannya yang biasa, semua orang tetap sibuk dalam pekerjaannya dan kesenangannya (Lukas 17:26-30).

    Pada akhir zaman, yaitu menjelang kedatangan Tuhan Yesus kembali untuk jemaat-Nya, akan terjadi masa yang sukar; banyak orang menjadi murtad, berpaling kepada roh-roh penyesat, dan ajaran setan-setan sehingga sukar sekali mendapati orang-orang yang masih beriman (1Timotius 4:1; 2Timotius 3:1-5; Lukas 18:8). Kita banyak dinasihati agar selalu berjaga-jaga dan menantikan kedatangan Tuhan (Markus 13:34,36; Lukas 12:35,36; Matius 24:42,44; 25:13). Jadi, hal itu berarti kedatangan Tuhan dapat terjadi pada setiap waktu yang tidak terduga. Dari semua hal yang dinubuatkan dalam Alkitab yang harus terjadi sebelum Tuhan Yesus datang untuk melantik jemaat-Nya, tidak ada satupun yang belum digenapi pada masa ini. Jadi saat kedatangan-Nya itu sudah dekat.

    Mungkin ada orang yang bertanya: "Tidakkah semua orang di dunia ini akan diselamatkan sebelum Tuhan Yesus datang kembali?" Jawaban untuk pertanyaan itu terdapat dalam Matius 24:14; 25:31,32; 2Tesalonika 2:1-4; Lukas 18:8; 21:35; 2Timotius 3:1-5. Dari ayat-ayat tersebut jelas bahwa tidak semua orang akan percaya sebelum Tuhan Yesus datang. Juga dalam Matius 24:14 diterangkan tentang maksud Tuhan untuk masa sekarang ini. Diterangkan di situ bahwa Injil itu akan diwartakan ke seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, bukan semua bangsa akan diselamatkan dan menerima Injil itu. Hal ini diterangkan lebih jelas lagi dalam Kisah 15:14,16,17. Maksud Tuhan sekarang yaitu memilih suatu bangsa bagi nama-Nya dari segala bangsa di dunia ini. Ia menginginkan supaya mempelai perempuan Kristus diambil dari tiap-tiap suku, dan bahasa, dan bangsa, dari seluruh dunia. Tetapi hal itu tidak berarti semua orang di dunia akan diselamatkan.

    III. HAL-HAL YANG TERJADI SESAAT SESUDAH PELANTIKAN JEMAAT

    Sebelumnya kita telah membahas tentang pelantikan jemaat serta hal-hal yang terjadi pada waktu itu, yang merupakan bagian yang pertama dari kedatangan Tuhan Yesus yang kedua. Berikut ini kita akan membahas hal-hal yang terjadi setelah pelantikan jemaat, sebelum Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya di dunia ini, yang merupakan bagian kedua dari kedatangan-Nya. Hal itu terjadi seperti suatu selingan, seolah-olah disisipkan di antara bagian pertama dan kedua dalam kedatangan Tuhan. Kita akan membahasnya dalam dua bagian, yaitu: 1) hal-hal yang terjadi di sorga dan 2) hal-hal yang terjadi di atas bumi ini.

    A. Hal-hal yang terjadi di dalam sorga

    Setiap orang Kristen harus menghadap kursi pengadilan Yesus Kristus, bukan untuk mendapat hukuman atas dosa-dosanya, melainkan untuk memberi pertanggungan jawab atas pekerjaannya atau pelayanannya. Dosa-dosa kita, orang Kristen, telah dihukum di atas kayu salib, yaitu dosa-dosa yang karenanya kita sudah bertobat serta meminta ampun dari Tuhan Yesus Kristus. Akan tetapi kalau ada dosa di dalam kita yang tidak kita akui dan kita tidak bertobat dari dosa itu, maka tak dapat tidak dosa itu akan dihakimi di depan takhta pengadilan Yesus Kristus (Kolose 3:25).

    Jadi semua orang yang percaya, harus berdiri di hadapan kursi pengadilan Yesus Kristus (2Korintus 5:10; Roma 14:10-12; Wahyu 22:12). Hal itu akan terjadi di dalam sorga sesudah jemaat-Nya dilantik. Tujuan pengadilan itu adalah untuk menentukan pahala-pahala bagi kita yang sesuai dengan pekerjaan dan pelayanan kita masing-masing. Hal ini dapat kita ketahui juga melalui perumpamaan tentang talenta dan tentang uang mina (Matius 25:14-30; Lukas 19:11-27). Pahala yang akan kita terima sesuai dengan pekerjaan kita untuk Tuhan, yaitu sesuai dengan pekerjaan yang kita bangunkan di atas dasar yang teguh, yaitu Yesus Kristus. Boleh jadi seseorang dapat diselamatkan tetapi pekerjaannya hangus dalam api (1Korintus 3:12-17). Pada pihak lain ia dapat juga membangun dengan bahan emas, perak, dan batu indah yang dapat tahan api. Oleh sebab segala pekerjaan kita bagi Tuhan akan diuji dengan api maka baiklah kita bekerja sehari-hari sambil mengingat akan hal itu (1Korintus 3:8).

    Tentang pahala bagi orang-orang yang setia dan yang menang terdapat dalam: Filipi 3:14; Kolose 3:24; Yakobus 2:5; 1:12; 2Timotius 4:8; 1Petrus 5:4; 1Korintus 9:25; 1Korintus 2:9; 1Korintus 4:5. Kita juga patut mengetahui tentang pahala-pahala yang dijanjikan kepada orang-orang yang menang, dalam surat-surat kepada ketujuh jemaat dalam pasal-pasal Wahyu 2:1-3:22, di samping pahala-pahala itu ialah segala berkat bagi penduduk Yerusalem Baru (pasal-pasal Wahyu 21:1-22:21).

    Kemudian sesudah kursi pengadilan Kristus dan pahala-pahala yang diberikan kepada orang-orang saleh, terjadilah perkawinan Anak Domba Allah dan Perjamuan Kawin Anak Domba itu (Wahyu 19:7-9; Efesus 5:25-27). Tidak dinyatakan dengan jelas kepada kita hal-hal yang berhubungan dengan Perkawinan Anak Domba itu, tetapi tentunya pada saat itu jemaat dihadapkan kepada Allah Bapa oleh Yesus Kristus dalam segala kemuliaan sorgawi. Hal itu akan merupakan suatu peristiwa yang sangat indah, tak dapat dilukiskan.

    B. Hal-hal yang terjadi di atas bumi

    Ada tiga hal yang akan terjadi pada waktu itu, yaitu masa kesengsaraan di mana si pendurhaka (Antikristus) akan menyatakan diri dan kemudian dibinasakan, dan peperangan Harmagedon.

    C. Masa kesengsaraan (kesukaran)

    Masa kesengsaraan merupakan suatu masa yang pendek antara saat pelantikan jemaat dan saat penyataan Kristus, yaitu kira-kira tujuh tahun lamanya (Daniel 9:27; Wahyu 3:10; 11:3; 13:5). Pada mulanya banyak orang Yahudi akan pulang kembali ke Palestina, mereka tidak percaya kepada Yesus dan mereka mendirikan kaabah di Yerusalem, lalu mereka mengadakan perjanjian dengan si pendurhaka (Antikristus) (Daniel 9:27; Yohanes 5:43). Setelah tiga setengah tahun si pendurhaka atau anti Kristus itu dinyatakan (2Tesalonika 2:3), lalu si pendurhaka itu membunuh "dua saksi Allah" yang telah menubuatkan tentang masa itu, dan ia juga menghentikan korban sembelihan di dalam kaabah. Kemudian si pendurhaka itu mendirikan patungnya di atas tempat kudus (Daniel 9:27; 11:31; 12:11). Lalu Setan yang murka itu beserta malaikat-malaikat pengikutnya dibuangkan ke dalam dunia sebab waktunya telah singkat, diikuti tiga setengah tahun yang akhir dari tujuh tahun itu di mana negeri yang kudus itu diinjak-injak (Daniel 9:26; Lukas 21:24; Wahyu 11:2) dan terjadilah masa kesengsaraan yang besar itu (Yeremia 30:7; Daniel 12:1; Matius 24:21; Wahyu 13:14,17). Masa kesengsaraan yang terbesar itu terjadi pada waktu anti Kristus dan Nabi Palsu menguasai dunia ini. Akan diberikan hukuman mati kepada orang yang tidak menyembah patung binatang itu, dan orang yang tidak menerima tandanya akan disiksa (Wahyu 13:15-17). Sepertiga dari orang Yahudi yang ada di Palestina pada waktu itu akan melalui masa kesengsaraan itu dengan selamat (Zakharia 13:8,9) dan mereka itu akan dikumpulkan oleh Tuhan di Yerusalem dan akan disucikan dari kesalahan mereka. Lalu kerajaan-kerajaan akan menyerang Yerusalem dan isi negeri Yerusalem ditawan oleh raja-raja itu. Sisa orang-orang Israel itu akan tetap bersandar kepada Tuhan. Pada waktu itu raja-raja dunia ini akan berhimpun untuk berperang melawan Allah dan Mesias (Mazmur 2:1-3; Wahyu 16:14,16; 17:14; 19:19). Lalu Tuhan sendiri akan turun dari sorga beserta dengan orang-orang saleh-Nya untuk membinasakan segala musuh-Nya serta melepaskan kaum pilihan-Nya.

    D. Si Pendurhaka (Antikristus)

    Dikemukakan dalam Alkitab bahwa ada sesuatu golongan kejahatan di dunia ini yang diantaranya banyak Antikristus (1Yohanes 2:18). Pada akhir zaman si pendurhaka itu akan dinyatakan sebagai kepala dalam hal agama dan politik, dan Iblis sendiri yang akan menguasai dirinya. Di dalam Alkitab ditulis beberapa sebutan untuk Antikristus yang menyatakan sifat dan pekerjaannya. Ia dikatakan sebagai tanduk kecil di antara sepuluh tanduk dalam Daniel 7:7,8. Sepuluh tanduk itu mengibaratkan golongan politik yang terakhir sebelum Tuhan datang. Ia dinamai "Raja dengan muka yang garang" (Daniel 8:23). Rupanya dalam #Zakharia 11:15-17 ia disebut "gembala yang pandir, yang meninggalkan domba-domba". Tuhan Yesus telah menyebut tentang dia dalam Yohanes 5:43. Dalam 2Tesalonika 2:3 ia disebut "manusia durhaka". Dalam pasal Wahyu 13:1-18 ia dinyatakan sebagai "binatang" yang mengumpulkan kerajaan-kerajaan dunia dalam golongan yang akhir itu (selidiki juga pasal Daniel 7:1-28 yang berhubungan dengan pasal Wahyu 13:1-18). Dalam Wahyu 13:1-18 perdana menterinya disebut "nabi palsu" dan dinyatakan sebagai "binatang" kedua yang bertanduk dua (bandingkan Wahyu 19:20 dan Wahyu 20:10). Juga dalam pasal Wahyu 17:1-18 ia dinyatakan sebagai "binatang" yang menjadi kepala dari segala kekuasaan agama dan politik. Binatang itu, yaitu Antikristus, ialah suatu pribadi (bukan suatu peraturan politik) yang menjadi kepala golongan politik dan agama untuk seluruh dunia. Hal itu jelas dari Wahyu 13:18 dan 2Tesalonika 2:3. Nama binatang itu ialah sebuah bilangan (666), dan ia adalah seorang manusia yang dikuasai Iblis.

    Pekerjaan Antikristus itu dinyatakan dalam ayat-ayat yang telah disebut di atas. Ia melawan Allah dan kebenaran-Nya. Ia meninggikan dirinya serta mengaku dirinya Allah. Iblis memberi kekuasaan besar kepadanya, yaitu kuasa dalam hal politik dan agama. Kita tidak mengetahui kapan ia menyatakan diri di dunia ini. Kita hanya mengetahui bahwa ia akan muncul pada akhir zaman dan ia tidak dapat dinyatakan dengan jelas hingga jemaat Tuhan dilantik (2Tesalonika 2:1-12). Pada akhirnya Antikristus itu akan dilemparkan hidup-hidup ke dalam lautan api yang menyala-nyala oleh belerang (Wahyu 19:20; 2Tesalonika 2:8).

    E. Peperangan Harmagedon

    Selama masa kesengsaraan itu hukuman lepas hukuman dijatuhkan ke atas orang-orang berdosa dan atas kerajaan "binatang" itu. Akhirnya murka Allah dicurahkan ke atas kerajaan si pendurhaka itu. Orang-orang berdosa tidak mau bertobat, melainkan makin lama mereka makin mengeraskan hati sehingga berani melawan Allah dengan terus terang. Anak-anak durhaka itu di bawah pimpinan Antikristus akan berkumpul di suatu tempat yang bernama Harmagedon di Palestina. Mereka datang dari sebelah timur dan utara dengan maksud untuk membinasakan bangsa Yahudi serta berperang melawan Yesus Kristus. Hal-hal yang akan terjadi pada waktu itu akan diterangkan dalam Wahyu 16:12-21; 19:17-21; dan 1Tesalonika 2:7. Pada waktu itu Tuhan datang beserta dengan orang-orang saleh-Nya dan membinasakan Antikristus dan Nabi Palsu itu. Dahsyat sekali hukuman Allah atas mereka, dan akhirnya binatang dan Nabi Palsu itu dilemparkan ke dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Orang-orang yang telah menjadi pengikut mereka itu dibunuh dengan hujan batu, pedang Tuhan, dan gempa bumi yang amat hebat. Dalam Perjanjian Lama juga ada ayat-ayat yang menyatakan tentang peperangan itu (Yesaya 29:1-8; Yoel 2:11; 3:9-17; Zakharia 14:12-15). Sebenarnya ini bukan suatu peperangan sebab mereka itu hanya bersiap-siap mau melawan orang-orang Yahudi dan Tuhan Yesus, tetapi pada waktu itu Tuhan datang beserta dengan orang-orang saleh-Nya dan bala tentara sorga lalu membinasakan mereka semua.

    IV. PENYATAAN KRISTUS

    Saat penyataan Kristus berarti saat kedatangan-Nya beserta orang-orang saleh-Nya ke atas bumi ini, untuk mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi ini selama seribu tahun. Tentunya tindakan Tuhan yang pertama-tama pada waktu Ia datang yaitu membinasakan si pendurhaka (Antikristus) dan Nabi Palsu serta orang-orang durhaka yang mengikut mereka dalam peperangan Harmagedon itu. Penyataan Kristus termasuk bagian kedua dalam kedatangan Kristus yang kedua kali. Pada waktu itu Tuhan akan datang beserta dengan semua orang saleh-Nya dari sorga. Kedatangan itu dinyatakan dalam Wahyu 19:11-21; 1:7; Daniel 7:13,14; Zakharia 14:4,5; 2Tesalonika 2:8.

    "Yesus Kristus akan nyata dan kelihatan kepada semua orang di dunia ini. Kedatangan-Nya di awan-awan hanya akan kelihatan oleh orang-orang yang akan dilantik saja. Yohanes telah melihat penyataan Kristus ketika ia berkata, 'Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia'; dan itulah yang dimaksudkan oleh Tuhan ketika Ia berkata, 'Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit; dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya'" - Dr. A.B. Simpson.

    Pada waktu penyataan Kristus, orang-orang Yahudi akan melihat Dia serta insaf bahwa Ialah Mesias yang telah mereka salibkan, lalu mereka akan bertobat serta percaya kepada Tuhan Yesus. Pada waktu itu suatu bangsa akan dilahirkan hanya dalam waktu sehari (Zakharia 12:10-12; Yesaya 66:8); dan musuh orang-orang Israel akan dibinasakan. Ingat, inilah bagian kedua dalam kedatangan Yesus Kristus. Berikut ini adalah ayat-ayat lain yang berhubungan dengan penyataan Kristus: Matius 24:29,30; Markus 14:62; Matius 26:64; Zakharia 12:10; Yudas 1:14; 1Tesalonika 3:13.

    Pada waktu penyataan Kristus, sebelum Tuhan mendirikan kerajaan-Nya di atas bumi ini, tentunya ada kebangkitan orang-orang saleh yang mati sahid dalam masa kesengsaraan itu (Wahyu 6:9-11; 20:4-6). Ada orang yang berpendapat bahwa kebangkitan itu adalah bagian terakhir atau penggenapan kebangkitan yang pertama.

    A. Hukuman atas bangsa-bangsa

    Dalam waktu yang singkat sesudah Tuhan kembali ke dunia ada beberapa hukuman dijatuhkan untuk mempersiapkan dunia ini bagi kerajaan-Nya seribu tahun lamanya (Wahyu 20:4). Maka bangsa-bangsa di dunia ini akan diadili dan dihukum menurut perbuatan mereka terhadap orang-orang Yahudi dan terhadap orang-orang saleh Tuhan. Hukuman itu dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 25:31-46; Kisah 17:31. Bangsa-bangsa itu dihukum atas perbuatan mereka yang dilakukan sebelum Tuhan kembali ke dunia ini. Yohanes telah melihat beberapa takhta (Wahyu 20:4), maka boleh jadi ada beberapa macam hukuman yang tidak diterangkan jelas dalam ayat itu. Jadi jelaslah bahwa dunia ini akan dibersihkan dan disiapkan untuk Kerajaan Tuhan 1000 tahun lamanya. Pada waktu itu kebenaran akan memerintah di atas bumi.

    B. Kerajaan Tuhan seribu tahun

    Kerajaan Tuhan seribu tahun di atas bumi ini disebut "Millennium". Perkataan "millennium" berasal dari bahasa Latin dan artinya "seribu tahun". Dalam pasal Wahyu 20:1-15 kerajaan seribu tahun itu disebut enam kali. Itu merupakan suatu masa yang pasti dan dalam pasal itu dikatakan hal-hal yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Kerajaan Tuhan seribu tahun lamanya mulai pada waktu Tuhan Yesus Kristus datang ke dunia ini beserta dengan orang-orang saleh-Nya untuk berkerajaan di atas seluruh muka bumi ini.

    1. Hal-hal yang terjadi dalam kerajaan Tuhan seribu tahun itu

    Baiklah kita memperhatikan hal-hal yang akan terjadi pada saat sebelum kerajaan Tuhan itu. Sebelumnya, Antikristus dan Nabi Palsu telah dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang. Orang-orang durhaka dalam peperangan Harmagedon telah dibinasakan dan bangsa-bangsa (kerajaan-kerajaan) telah diadili dan dihukum. Masa kesengsaraan sudah lalu dan Tuhan beserta orang-orang saleh-Nya telah turun ke bumi.

    Dalam pasal Wahyu 20:1-14 kita mengetahui bahwa dalam kerajaan Tuhan itu, Iblis akan dirantai di dalam jurang maut. Orang-orang saleh Tuhan di dalam tubuh kebangkitan bersama-sama dengan Tuhan Yesus di atas bumi ini. Pada waktu itu orang-orang Yahudi akan percaya kepada Mesias mereka dan akan diselamatkan, lalu mereka itu akan membawa berita keselamatan itu kepada orang-orang di seluruh dunia yang pada waktu itu belum percaya kepada Yesus Kristus. Lihat Zakharia 8:13-23 dan bandingkan dengan Kisah 15:14-17. Bangsa Yahudi akan menjadi bangsa yang terkemuka di dunia ini, dan kerajaan-kerajaan lain akan terpaksa mengaku dan menyembah Yesus Kristus. Pada waktu itu Yerusalem akan menjadi ibu kota seluruh dunia (Yesaya 2:1-4; Zakharia 14:16). Pada waktu itu Tuhan Yesus akan memerintah kerajaan itu dengan keadilan dan kebenaran (Yesaya 11:4; Mazmur 98:9). Dunia ini akan diubah dan diperbaiki (Roma 8:19-21; Yesaya 65:17-25; 35:1; 55:13). Binatang yang buaspun akan menjadi jinak.

    Orang-orang saleh Tuhan akan memerintah bersama dengan Tuhan. Mereka itu akan mendapat bagian dalam hal memerintah dunia ini selama seribu tahun.

    Orang-orang Yahudi akan menjadi terkemuka dalam masa itu. Pada waktu itu mereka akan diselamatkan (bandingkan Yeremia 23:5,6 dan Roma 11:26). Tuhan Allah telah mengadakan suatu perjanjian yang kekal dengan Daud dan perjanjian itu tidak akan pernah dibatalkan (pasal 2Samuel 7:1-29). Ia berjanji bahwa senantiasa akan ada seorang yang akan duduk di atas takhta Daud (Yeremia 33:17). Dan ketika Tuhan Yesus datang di dunia zaman dahulu, hanya Ia yang berhak atas takhta itu, bahkan sampai sekarang juga (Lukas 1:32). Bilamana Tuhan datang kembali maka Ia akan duduk di atas takhta Daud itu (Yesaya 9:6,7). Pada waktu itu orang-orang Yahudi akan menjadi suatu berkat besar di dunia ini (Zakharia 8:13), dan orang-orang lain akan mencari Allah bangsa Yahudi itu (Zakharia 8:23). Pada waktu sekarang ini orang-orang Yahudi mulai kembali ke tanah air mereka, tetapi dalam kerajaan Tuhan seribu tahun kelak hal ini digenapkan. Mereka akan disucikan dari segala kecemaran mereka dan diberi hati baru (Yehezkiel 27:23,25; 36:25-27,29). Pada waktu itu padang belantara akan menjadi seperti Taman Eden dan bilangan kaum itu akan bertambah-tambah. Maka Yerusalem akan di sebut sebagai "kota kebenaran".

    Sehubungan dengan semuanya ini maka di dunia ini akan mengalami suatu masa damai. Dalam peperangan Harmagedon tidak semua orang dibinasakan melainkan hanya para bala tentara si pendurhaka itu. Sebagian besar manusia akan tetap tinggal di tanah airnya dan mereka akan hidup dalam kerajaan seribu tahun itu. Semuanya akan mengakui Yesus Kristus dan semuanya akan tunduk kepada-Nya (Yesaya 45:23; Roma 14:11). Kalau ada orang yang mendurhaka kepada perintah Tuhan maka ia akan dibinasakan, dan semua kerajaan akan tunduk kepada Tuhan Yesus Kristus (Zak 14:16-19). Pada masa kerajaan seribu tahun itu tidak akan ada peperangan, orang-orang akan menghancurkan alat-alat peperangan dan menjadikannya alat-alat pertanian seperti bajak, dll. (Yesaya 2:4; Mikha 4:3, bandingkan dengan ketujuh ayat yang pertama dalam pasal-pasal itu). Tuhan Yesus Kristus akan memerintah dengan kebenaran dan dengan tongkat besi (Yesaya 11:4; Mazmur 98:9; Wahyu 2:27; 12:5; 19:15), raja-raja, para pembesar dan semua bangsa akan menyembah Kristus (Mazmur 2:8; Wahyu 15:4; Zakharia 14:16; Yesaya 49:7; Mazmur 72:8-11). Dunia ini akan penuh dengan pengetahuan akan Tuhan seperti air laut yang menutupi dasarnya (Yesaya 11:9).

    2. Maksud kerajaan seribu tahun

    Kerajaan Tuhan yang seribu tahun lamanya itu akan menjadi zaman keemasan atau masa yang terbaik di atas bumi ini. Akan tetapi masa itu juga merupakan suatu masa ujian bagi manusia sama seperti masa-masa sebelumnya. Pada masa itu dunia ini akan mengalami keadaan yang terbaik. Selama waktu itu Iblis dirantai sehingga ia tidak dapat menggoda orang-orang, dan Tuhan Yesus memerintah dengan kebenaran.

    "Maksud Allah yaitu menguji manusia dalam masa seribu tahun itu untuk melihat apakah manusia akan mentaati perintah-Nya atau tidak. Tuhan sudah menguji manusia dalam masa tidak ada dosa, dalam masa di mana manusia bergantung pada tempelakan hati nurani, dalam masa pemerintahan manusia, dalam masa perjanjian, dalam masa Taurat, dan sekarang manusia sedang diuji dalam masa kasih karunia. Dalam kerajaan seribu tahun itu manusia akan diuji dalam masa kebenaran. Ujian itu akan menyatakan apakah manusia akan berkenan kepada Allah atau tidak dalam suasana yang terbaik, yaitu dengan Iblis diikat, keadaan dunia akan diperbaiki, damai di dunia, dan Tuhan Yesus memerintah dengan keadilan dan kebenaran". - Charles Feinberg. Tetapi walaupun demikian manusia dalam keadaan hatinya yang sebenarnya tidak dapat berkenan kepada Allah, meskipun dalam suasana yang terbaik sekalipun.

    Sesudah kerajaan seribu tahun itu maka Iblis akan dilepaskan untuk waktu yang singkat. Lalu ia mulai menggoda manusia lagi dan banyak orang yang akan terpikat oleh Iblis itu (Wahyu 20:7-9) serta melawan Allah. Hal itu menunjukkan bahwa selama seribu tahun itu hati manusia belum diubahkan. Mereka itu telah tunduk kepada Kristus secara lahir, tetapi akhirnya mereka mendurhakai kepada Kristus. Hal itu juga menyatakan betapa perlunya manusia dilahirkan baru. Hal itu juga menyatakan bahwa manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri meskipun dalam suasana yang terbaik. Oleh sebab itu manusia tidak dapat berdalih.

    C. Durhaka yang terakhir

    Sesudah kerajaan Tuhan seribu tahun, maka Iblis akan dilepaskan dari jurang maut. Pada waktu itu Iblis akan menggoda manusia dan bangsa-bangsa dan manusia, dan mengajak mereka berontak kepada Tuhan Yesus Kristus (Wahyu 20:7-10). Kita akan merasa heran sebab ribuan manusia akan mengikuti Iblis dalam maksudnya yang jahat itu. Jumlah mereka adalah seperti pasir di tepi laut. Maksud si Iblis adalah akan melawan Kristus dan orang-orang saleh-Nya, dan mereka mulai menyerang negeri yang dikasihi (Yerusalem) itu. Pada waktu itu kesabaran Allah terhadap dosa, orang-orang berdosa dan makhluk yang berdosa, sudah habis. Lalu Tuhan Allah menurunkan api dari sorga ke atas mereka itu dan Iblis dilemparkan ke dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Di situ Iblis akan disiksa selama-lamanya dan ia tidak dapat lagi menggoda manusia atau pun malaikat. Itulah akhir dosa.

    D. Kebangkitan menuju kebinasaan

    Ketika Yesus berada di bumi ini Ia telah berkata bahwa semua orang mati itu akan mendengar suara-Nya lalu bangkit (Yohanes 5:28,29). Bagi orang yang berbuat jahat kebangkitan itu akan menjadi kebangkitan menuju kebinasaan. Rasul Paulus juga berkhotbah mengenai kebangkitan dalam Kisah 17:31,32, sebab kebangkitan itu adalah salah satu bagian dalam Injil. Akan tetapi kebangkitan orang-orang yang percaya tidak sama waktunya dengan kebangkitan orang-orang yang tidak percaya. Kebangkitan orang-orang yang percaya akan terjadi pada waktu pelantikan jemaat yaitu pada bagian pertama dalam kedatangan Tuhan yang kedua kali, sebelum kerajaan seribu tahun. Kebangkitan orang-orang yang tidak percaya akan terjadi sesudah kerajaan seribu tahun (Wahyu 20:5,12). Tuhan Yesus mengatakan (Yohanes 5:29) itu adalah kebangkitan menuju kebinasaan, sebab mereka itu akan dibinasakan (Wahyu 20:15).

    E. Penghakiman Takhta Putih

    Dosa orang-orang yang percaya telah dihukum di atas kayu salib. Kelak orang yang percaya harus berdiri dihadapan takhta pengadilan Yesus Kristus untuk membuat perhitungan mengenai pekerjaan dan pelayanannya. Hal itu sudah dibahas dan tidak perlu diulangi lagi. Jadi tinggal orang-orang berdosa saja yang harus dihukum.

    Hanya orang-orang berdosa yang tidak percaya yang akan berdiri di hadapan penghakiman Takhta Putih itu. Di situlah hukuman yang terakhir dijatuhkan ke atas orang-orang berdosa, dan itulah akhir dari hukuman atas dosa. Hukuman Takhta Putih diterangkan dalam Wahyu 20:11-15. Tuhan Yesus Kristus adalah Hakim yang duduk di atas takhta itu (Yohanes 5:22; Kisah 17:31). Mereka itu diadili sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab-kitab Allah. Barangsiapa yang namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan, ia akan dilemparkan ke dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang. Semua orang mati yang tidak percaya akan dibangkitkan untuk dihakimi di depan Takhta Putih itu, pasti akan dilemparkan ke dalam lautan api. Tidak ada keterangan dalam ayat-ayat tersebut tentang seorangpun yang lepas dari hukuman itu. Kitab Kehidupan ada di situ tetapi orang-orang yang namanya tertulis dalam Kitab itu tidak ada.

    F. Langit yang baru dan bumi yang baru

    Rupanya langit dan bumi ini akan lenyap pada waktu orang-orang berdosa menghadap takhta Putih (Wahyu 20:11; Matius 24:35; 2Petrus 3:10-13), supaya pada waktu itu hanya Takhta Allah yang tetap teguh. Seolah-olah Tuhan Allah menginginkan segala makhluk sorga, orang-orang saleh, orang-orang jahat dan roh-roh jahat sekalipun hanya memandang kepada Allah pada waktu Ia memberikan hukuman yang terakhir atas dosa itu. Kejadian itu dahsyat. Langit dan bumi yang lama itu akan lenyap sehingga tidak tampak lagi bekasnya. Api dari Allah akan menghanguskan dan melenyapkan semuanya, seperti yang dikatakan oleh Petrus. Lalu Tuhan mengadakan langit dan bumi yang baru, dan itulah yang dilihat oleh Yohanes dalam Wahyu 21:1-27 dan Wahyu 22:1-21. Akan ada orang-orang baru yang tinggal di Yerusalem Baru yang terdapat di bumi yang baru dan langit yang baru itu, yang semuanya semata-mata suci.

    Di dalam langit yang baru dan bumi yang baru itu tidak ada sesuatu yang najis, melainkan sekaliannya suci. Allah sendiri akan diam di Yerusalem Baru itu bersama-sama dengan manusia yang telah ditebus-Nya. Segala akibat dosa telah dihapuskan (Wahyu 21:4). Air Kehidupan diberikan kepada semuanya (Wahyu 21:6). Kota itu lebih mulia dari apa yang dapat kita bayangkan (Wahyu 21:11-27). Tidak perlu lagi Bait Suci sebab Allah dan Anak Domba adalah Bait Sucinya (Wahyu 21:22). Tidak perlu lagi matahari atau bulan sebab Allah dan Anak Domba itu adalah lampunya (Wahyu 21:23). Rupanya akan ada bangsa-bangsa baru di bumi baru itu (Wahyu 21:24). Sungai air kehidupan ada di situ (Wahyu 22:1). Pohon kehidupan ada di situ (Wahyu 22:2). Penduduk negeri itu akan melayani Tuhan sepanjang abad yang kekal (Wahyu 22:3). Tuhan telah menyediakan suatu pekerjaan bagi masing-masing kita, dan pekerjaan itu akan dilakukan dengan sempurna tanpa diganggu oleh Iblis seperti yang terjadi di atas bumi yang lama. Pada waktu itu Allah akan menjadi semua di dalam semua (1Korintus 15:24-28). Dengan demikian nyatalah kemenangan Allah atas dosa dan Setan.

    G. Peringatan dan ajakan

    Pada pasal yang terakhir dalam Alkitab, Tuhan Allah memberikan dua ayat peringatan dan satu ayat ajakan. Wahyu 22:11,12 berisi peringatan kepada orang yang tidak mau bertobat dan peringatan kepada semua orang saleh bahwa Tuhan akan datang segera. Tetapi Tuhan tidak menutup Alkitab ini tanpa ajakan kepada orang-orang yang mau bertobat (Wahyu 22:17). Maka Roh Kudus memanggil semua orang. Mempelai perempuan (jemaat) memanggil semua orang. Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "marilah". Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia berkata: "Marilah". Barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma! "Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu berkenaan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu" (2Korintus 6:2).

    "Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikkan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus" (Efesus 2:7).

    "Alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya" (Roma 11:33).

    "Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu tak kedapatan tak bercacat dan tak berdosa dihadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia" (2Petrus 3:14).

    "Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak ternoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang Esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa, sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin" (Yudas 1:24,25).

    "Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin" (Ibrani 13:20,21).

    "Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: 'Ya, Aku datang segera! Amin, datanglah, Tuhan Yesus!'" (Wahyu 22:20).