Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Bukti Profil Diri: Apakah Yesus Memunyai Semua Atribut Allah? 1

Bukti Profil Diri: Apakah Yesus Memunyai Semua Atribut Allah? 1


Segera setelah delapan siswa keperawatan terbunuh di suatu apartemen di Chicago, satu-satunya korban selamat mendekati petugas polisi penggambar sketsa dengan gemetar. Dengan rinci, ia menggambarkan sang pembunuh yang dilihatnya dari tempat persembunyiannya di kolong tempat tidur. Sketsa itu dengan cepat muncul di seluruh penjuru kota -- di kantor polisi, rumah sakit, halte bus, dan bandara. Tidak lama kemudian, seorang dokter UGD menelepon detektif, mengatakan bahwa ia sedang merawat seorang pria yang mirip dengan buronan bermata tajam, yang tergambar dalam sketsa. Demikianlah kisah penangkapan seorang gelandangan bernama Richard Speck oleh polisi. Dia dinyatakan bersalah atas pembunuhan keji dan hidupnya berakhir di penjara 30 tahun kemudian.

Sejak Scotland Yard (kepolisian Inggris) beralih dari metode ingatan saksi ke metode sketsa tersangka pembunuhan pada tahun 1889, penggambar sketsa forensik memainkan peran penting dalam penegakan hukum. Saat ini, lebih dari tiga ratus penggambar sketsa bekerja dengan agen-agen polisi Amerika Serikat. Uniknya, konsep gambar sketsa ini dapat menyediakan sebuah analogi kasar, yang membantu kita dalam pencarian kebenaran tentang jati diri Sang Putra Natal.

Perjanjian Lama menyajikan sejumlah rincian tentang Allah yang menjabarkan secara spesifik seperti apa Dia. Sebagai contoh, Allah digambarkan sebagai Mahahadir, berada di semua tempat di alam semesta; Mahatahu, mengetahui segala sesuatu yang dapat diketahui dalam kekekalan; Mahakuasa, berkuasa atas segalanya; Mahakekal, berada di luar waktu dan sumber terciptanya waktu; dan Mahatetap, semua atributnya tidak berubah. Dia pengasih, kudus, benar, bijaksana, dan adil.

Sekarang, Yesus menyatakan diri sebagai Anak Allah. Namun persoalannya, apakah Dia memunyai semua karakteristik ilahi tersebut? Dengan kata lain, jika kita menyelidiki Yesus dengan cermat, apakah kemiripan-Nya benar-benar cocok dengan gambaran Allah yang kita temukan di bagian mana pun dalam Alkitab? Jika tidak, kita dapat menyimpulkan bahwa pernyataan diri-Nya sebagai Allah itu keliru.

Persoalan ini sangat rumit dan membingungkan. Contohnya, ketika Yesus menyampaikan khotbah di Bukit di luar kota Kapernaum, secara bersamaan Dia tidak berdiri di jalanan Yerikho. Oleh karena itu, dalam hal apa Dia dapat disebut mahahadir? Bagaimana Dia disebut mahatahu jika Dia dengan jujur mengaku dalam Markus 13:32 bahwa Dia tidak mengetahui apa pun tentang masa depan? Jika Dia mahakekal, mengapa Kolose 1:15 menulis bahwa Dia adalah "yang sulung dari segala yang diciptakan?"

Sekilas, persoalan-persoalan tersebut tampak menyiratkan bahwa Yesus tidak menyerupai gambaran Allah. Namun demikian, kesan pertama bisa menipu. Hal inilah yang menjadi alasan saya menemui Dr. D.A. Carson, teolog, salah satu pemikir ternama dalam kekristenan, untuk membahas persoalan tersebut.

WAWANCARA: DONALD A. CARSON, PH.D

D.A. Carson, seorang profesor peneliti Perjanjian Baru di Trinity Evangelical Divinity School, telah menulis atau menyunting lebih dari empat puluh buku, termasuk "The Sermon on the Mount", "Exegetical Fallacies", "The Gospel According to John", dan karyanya yang memenangkan hadiah perlombaan "The Gagging of God". Dia meraih gelar S-3 dalam Perjanjian Baru di Cambridge University dan mengajar di tiga akademi dan seminari sebelum bergabung dengan Trinity pada tahun 1978.

Pertanyaan awal saya berpusat pada alasan utama Carson berpikir bahwa Yesus adalah Allah. Saya bertanya, "Apa yang Yesus katakan atau lakukan sehingga meyakinkan Anda bahwa Dia Allah?" Saya tidak yakin bagaimana ia akan menanggapi, meskipun saya menduga ia akan berfokus pada perbuatan-perbuatan ajaib Yesus. Saya keliru.

"Seseorang dapat merujuk pada beberapa peristiwa sebagai mukjizat-Nya, tetapi orang lain juga melakukan mukjizat. Jadi, hal ini mungkin suatu indikasi, bukan hal mutlak yang pasti. Tentu saja, kebangkitan adalah bukti akhir jati diri-Nya. Akan tetapi, dari banyak hal yang Dia lakukan, salah satu yang paling mencengangkan bagi saya adalah pengampunan-Nya atas dosa," jawab Carson.

"Benarkah? Bagaimana bisa begitu?" tanya saya.

"Intinya, jika Anda berbuat salah kepada saya, saya berhak memaafkan Anda. Akan tetapi, jika Anda berbuat salah kepada saya, lalu seseorang datang dan berkata, 'Aku mengampunimu,' bukankah itu suatu hal yang kurang ajar? Satu-satunya orang yang dapat mengatakan hal semacam itu dengan penuh arti adalah Allah sendiri. Dosa, termasuk juga kesalahan terhadap orang lain, pertama dan terutama adalah suatu pelanggaran kepada Allah dan segala hukum-Nya. Ketika Daud berdosa dengan melakukan perzinaan dan merancang kematian suami seorang wanita, dia akhirnya berkata kepada Allah 'Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat.' (Mazmur 51:6a) Daud menyadari bahwa meskipun ia berbuat salah kepada sesama manusia, pada akhirnya ia berdosa kepada Allah yang menciptakannya seturut gambar-Nya, dan Allah perlu mengampuninya. Demikianlah Yesus mendatangi orang-orang berdosa dan berkata, 'Aku mengampunimu.' Orang-orang Yahudi segera menyadari penghujatan ini. Mereka bereaksi dengan berkata, 'Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah saja?' Menurut saya, inilah salah satu hal mencengangkan yang Yesus lakukan."

"Bukan hanya mengampuni dosa, melainkan Yesus juga menegaskan bahwa Dia sendiri tidak berdosa. Tentu saja, keadaan tidak berdosa adalah suatu atribut keilahian," saya menanggapi.

"Ya. Dalam sejarah Barat, orang-orang yang dianggap paling suci adalah orang-orang yang paling menyadari kesalahan dan dosa mereka. Merekalah orang-orang yang mengetahui kelemahan, nafsu, dan amarah yang mereka miliki. Mereka bergumul tentang hal itu dengan jujur oleh kasih karunia Allah. Nyatanya, mereka berhasil mengatasi pergumulan itu sehingga orang-orang lain memerhatikan dan berkata, 'Betapa sucinya orang itu,'" jawabnya.

Meskipun kesempurnaan moral dan pengampunan dosa adalah karakteristik keilahian, ada beberapa atribut tambahan yang harus dipunyai Yesus jika Dia dianggap cocok dengan gambaran Allah.

MISTERI INKARNASI

"Dr. Carson, bagaimana Yesus bisa dikatakan mahahadir di dunia jika Dia tidak dapat berada di dua tempat dalam waktu yang bersamaan? Bagaimana bisa Dia mahatahu jika Dia berkata, 'Bahkan Anak Manusia pun tidak tahu waktu kedatangan-Nya kembali'? Bagaimana bisa Dia mahakuasa jika keempat Injil dengan terus terang menceritakan bahwa Dia tidak mampu melakukan banyak mukjizat di kota asalnya? Kita akui saja: Alkitab sendiri sepertinya membantah Yesus itu Allah."

Carson mengakui bahwa pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sederhana. Secara umum, pertanyaan-pertanyaan itu menyerang inti inkarnasi, yaitu hakikat peristiwa Natal -- Allah menjadi manusia, roh mengambil rupa dalam daging, sesuatu yang tak terbatas masuk dalam keterbatasan, sesuatu yang baka menjadi fana. Doktrin tersebut telah menyibukkan para teolog selama berabad-abad.

"Dalam sejarahnya, ada dua atau tiga pendekatan untuk hal ini. Contohnya, di akhir abad XIX, teolog Benjamin Warfield mempelajari Injil dan mengelompokkan berbagai hal, baik dalam sifat manusiawi Kristus maupun keilahian-Nya. Ketika Yesus melakukan sesuatu yang mencerminkan-Nya sebagai Allah, itu masuk ke dalam keilahian Kristus. Ketika ada sesuatu yang mencerminkan keterbatasan manusiawi -- contohnya, air mata; apakah Allah menangis? -- itu masuk ke dalam sifat manusiawi-Nya."

Menurut saya, penjelasan itu mengandung persoalan. "Dengan menjawab demikian, bukankah Anda akan sampai pada kesimpulan tentang Yesus yang mengidap skizofrenia? [gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang memengaruhi fungsi otak manusia, memengaruhi fungsi normal kognitif, emosional, dan tingkah laku. Red.]" tanya saya.

"Sangat mudah untuk tanpa sengaja terjerumus ke arah itu. Seluruh pernyataan pengakuan menegaskan bahwa baik sifat manusiawi maupun ilahi Yesus bisa dibedakan, namun kedua hal itu bergabung dalam satu pribadi. Jadi, Anda ingin menghindari solusi adanya dua pikiran manusiawi Yesus dan pikiran ilahi Kristus. Namun demikian, ini salah satu solusi. Solusi lainnya adalah 'kenosis', yang berarti pengosongan. Pendekatan ini beranjak dari tulisan Paulus dalam Filipi 2 -- 'yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dimanfaatkan' -- demikianlah terjemahan yang disarankan -- 'melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri'. Dia menjadi tak dianggap."

Penjelasan yang sedikit ambigu bagi saya. "Dapatkah Anda membuatnya lebih jelas?" tanya saya. "Tepatnya, Dia mengosongkan diri dari apa?"

"Selama berabad-abad, orang-orang telah memberi berbagai jawaban atas pertanyaan itu. Misalnya, apakah Dia mengosongkan diri dari keilahian-Nya? Jika demikian, Dia bukan lagi Allah. Apakah Dia mengosongkan diri dari atribut keilahian-Nya? Ada masalah juga dengan pendekatan itu karena memisahkan atribut dari kenyataannya itu sulit. Jika Anda memunyai seekor binatang menyerupai kuda, baunya seperti kuda, berjalan seperti kuda, dan memunyai semua atribut seekor kuda, berarti Anda memang memunyai seekor kuda. Jadi, saya tidak tahu apa artinya bagi Allah untuk mengosongkan diri dari semua atribut-Nya dan tetap adalah Allah. Beberapa ahli mengatakan bahwa Dia tidak mengosongkan diri dari semua atribut-Nya, tetapi Dia mengosongkan diri dari penggunaan atribut-atribut itu -- suatu jenis pembatasan diri. Jawabannya semakin dekat, meskipun ada saatnya itu bukanlah hal yang Dia lakukan -- Dia mengampuni dosa, yang hanya dapat dilakukan oleh Allah sebagai salah satu atribut keilahian-Nya. Yang lainnya menambahkan bahwa Dia mengosongkan diri dari kebebasan menggunakan seluruh atribut-Nya. Maksudnya, Dia berperan sebagai Allah jika Bapa-Nya di surga memberinya persetujuan untuk melakukannya. Nah, kini semakin jelas. Kesulitannya adalah ada kesan bahwa Sang Anak selalu berbuat seturut dengan perintah Bapa-Nya. Anda tak bisa mengabaikan hal itu, bahkan di kekekalan masa lampau. Tetapi, hal ini semakin jelas," jawab Carson.

Saya merasa kami di dekat titik sasaran, tetapi tidak yakin kami bisa lebih akurat. Tampaknya, itu juga yang dirasakan oleh Carson.

"Jelasnya, Filipi 2 tidak memberi tahu kita dengan tepat Sang Anak mengosongkan diri dari apa. Dia mengosongkan diri-Nya; dia menjadi tak dianggap. Beberapa bentuk pengosongan diajukan, tetapi sejujurnya -- Anda berbicara tentang inkarnasi, salah satu misteri utama iman Kristen. Anda berurusan dengan Roh yang tidak berbentuk, tidak berwujud, mahatahu, mahahadir, dan mahakuasa; sekaligus makhluk yang terbatas, dapat disentuh, berwujud fisik, dan fana. Ketika salah satu bisa menjadi yang lain, Anda pasti dilingkupi misteri."

"Jadi, sebagian teologi Kristen bukanlah 'menjelaskan seluruhnya', tetapi berusaha mengambil bukti alkitabiah dan menampung semuanya dengan jujur, untuk menemukan cara membuat sintesis yang koheren dan masuk akal, bahkan jika semuanya bukanlah penjelasan yang tuntas. Itulah suatu cara unik untuk mengatakan bahwa para teolog dapat muncul dengan penjelasan yang tampak masuk akal, meskipun mereka mungkin tidak mampu menjelaskan setiap nuansa inkarnasi. Dalam beberapa hal, tampaknya masuk akal. Jika inkarnasi itu nyata, tidaklah mengejutkan bahwa pikiran yang terbatas tidak dapat memahami hal itu sepenuhnya."

Bagi saya, pengosongan diri secara sukarela oleh Yesus dari kebebasan menggunakan semua atribut-Nya semacam itu cukup wajar dalam menjelaskan, mengapa Dia tidak menunjukkan bahwa Dia mahatahu, mahakuasa, dan mahahadir dalam keberadaan-Nya di dunia. Padahal, Perjanjian Baru dengan jelas menyatakan bahwa semua kualitas tersebut pada akhirnya benar-benar dipunyai-Nya.

Namun demikian, hal itu hanyalah sebagian dari persoalan. Saya membalik halaman berikutnya dari catatan saya dan mengawali pertanyaan baru tentang cuplikan Alkitab, yang tampaknya langsung bertentangan dengan pernyataan Yesus sebagai Allah. (t/Dicky)

Diterjemahkan dari:

Judul buku : The Case for Christmas
Judul asli artikel : The Profile Evidence: Did Jesus Fulfill the Attribute of God?
Penulis : Lee Strobel
Penerbit : Zondervan, Michigan 1998
Halaman : 55 -- 62

e-JEMMi 49/2012