Artikel Misi

Artikel-artikel di bawah ini kiranya dapat semakin memotivasi Anda untuk semakin giat melayani-Nya di ladang manapun Anda ditempatkan. Dapat mengenalkan dan mendekatkan Anda ke dunia misi, menguatkan hati dan menambah wawasan. Kiranya menjadi berkat!

Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus

"Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus" merupakan bab ketiga dari buku yang berjudul "Hidup yang Dipenuhi dengan Roh Kudus" (The Fulfilled Life Through the Holy Spirit -- diterjemahkan oleh Yayasan Lembaga SABDA yang sekaligus membuat versi elektroniknya.) Ayat-ayat pendukung yang diberikan akan menolong anda untuk lebih memahami tentang "Siapa Roh Kudus" dan "Hal-hal yang berhubungan dengan Roh Kudus".

KEKUATAN DAN KUASA YANG BESAR DARI ROH KUDUS

Kekuatan dan kuasa yang sama-sama besar dari Allah kita yang Maha Kuasa terdapat dalam Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah Roh Allah atau juga Roh Anak-Nya Yesus Kristus.

Kekuatan dan kuasa yang besar dari Roh Kudus turun ke atas Anak Manusia ketika Dia dibabtis oleh Yohanes Pembabtis. Roh itu turun ke atas Kristus, seperti yang kita baca dalam Lukas 3:22,

"dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Mu-lah Aku berkenan."

Anak manusia datang ke dunia mengambil rupa sebagai manusia, dengan hidup seperti kita, dan menjadi sama seperti kita untuk menunjukkan kepada kita bahwa dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menyerupai Dia. Dia memberitahukan ini kepada murid-murid-Nya dalam Yohanes 14:12:

"Aku berkata kepadamu sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa. "Dan dalam melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak."

Kristus melakukan pekerjaan-Nya yang luar bisa dengan kuasa dan kekuatan Roh Kudus yang tinggal tetap di dalam Dia. Dalam kehidupan yang sementara dan terbatas di dunia ini Dia tahu bahwa untuk menjadi Juruselamat seluruh dunia, Roh Kudus harus selama-lamanya tinggal di dalam orang-orang yang mentaati panggilan Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Kemudian Kristus berdoa kepada Bapa supaya Sang Penghibur (Roh yang membantu berdoa, atau Roh Kudus) diberikan kepada pengikut-pengikut-Nya dan supaya Dia tinggal di dalam mereka untuk selama-lamanya.

Jika kita mempunyai kerinduan yang dalam untuk mengikut Kristus dalam kehidupan rohani, maka kekuatan dan kuasa dari Roh Kudus akan bersama-sama dengan anda dan saya. Sebelum pergi meninggalkan dunia ini, Kristus berkata:

"KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Matius 28:18)
Inilah yang disebut kekuatan dan kuasa dari Roh Kudus.

Beberapa ayat Pendukung:

PERJANJIAN LAMA
Kejadian 1:2-3; 41:38-39
Keluaran 4:10-12; 40:34-35
Yosua 3:7-17; 10:12-15; 23:14-16
Hakim-hakim 3:10; 6:34; 11:29; 14:6,19; 15:14; 16:20
1Samuel 10:10-12; 11:6; 19:20-24
1Raja-raja 3:12; 4:29-34; 8:10-11; 10:1-9
2Raja-raja 2:16
2Tawarikh 5:14; 17:2
Ayub 26:13-14; 32:18-19; 33:4
Mazmur 51:12-13; 104:30; 139:7
Yesaya 9:5; 11:2; 28:6; 31:3; 32:15-16; 34:16; 40:7,13;
44:3-4; 58:11; 59:19
Yeremia 1:6-10,17-19; 5:14; 20:9
Yehezkiel 2:2; 3:12,14,24; 33:22; 36:25-28; 37:14
Daniel 4:8-9,18; 5:11-14; 6:3
Yoel 2:28
Mikha 2:7; 3:8
Zakharia 4:6
Maleakhi 3:10; 4:2-3

PERJANJIAN BARU
Matius 3:11; 12:28
Markus 13:11
Lukas 1:15-17,80; 2:40; 3:16; 4:14; 21:14-15; 24:32,49
Yohanes 7:38-39; 14:26; 16:7-15
Kisah Rasul 1:8; 2:1-21; 4:13,29-31,33; 6:8-10,15; 10:38,46-48;
11:24; 19:6
Roma 1:3-4,11; 8:2,26-27; 15:13,19
1Korintus 2:4-10; 3:1; 4:10
2Korintus 3:5-18; 9:8
Galatia 3:5
Efesus 1:17-20; 3:2-5,14-19; 6:10
Filipi 1:9-11
1Tesalonika 1:5
2Timotius 1:7
Ibrani 2:4
2Petrus 1:21
1Yohanes 2:20,27

Dikutip dari:

Judul buku : Hidup yang Dipenuhi dengan Roh Kudus
Judul asli buku : The Fulfilled Life Through the Holy Spirit
Judul artikel : Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus
Penerbit : SABDA CD oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
Topik : 09565

e-JEMMi 21/2002

Apakah Penginjilan Sama Dengan Pertumbuhan Gereja?

Walaupun penginjilan dan pertumbuhan gereja mempunyai hubungan yang sangat erat, keduanya tidak boleh saling dicampuradukkan. Dalam lingkungan akademis di Amerika, keduanya mempunyai wadah keilmuan yang berbeda: Academy of Evangelism in Theological Education (Akademi Penginjilan dalam Pendidikan Teologi) dan North American Society for Church Growth (Lembaga Amerika Utara untuk Perkembangan Gereja). Di tempat saya mengajar, Fuller Theological Seminary, terdapat profesor di bidang penginjilan dan juga profesor di bidang pertumbuhan gereja, masing-masing menyajikan serangkaian mata kuliah yang sesuai dengan bidangnya.

"Pertumbuhan gereja meliputi segala sesuatu yang ada sangkut-paut- nya dalam usaha membawa orang-orang yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus kepada persekutuan dengan-Nya dan kepada keanggotaan gereja yang bertanggung jawab." Inilah salah satu definisi operasional yang baku tentang pertumbuhan gereja yang telah menjadi semakin populer. Tetapi definisi di atas tidaklah cukup terinci untuk dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat antara pertumbuhan gereja dan penginjilan. Definisi formal tentang pertumbuhan gereja yang paling banyak diterima adalah definisi yang tertulis dalam anggaran dasar North American Society for Church Growth, yang berbunyi:

"Pertumbuhan gereja adalah suatu disiplin ilmu yang menyelidiki sifat-sifat, perluasan, perintisan, pelipatgandaan, fungsi, dan kesejahteraan gereja-gereja Kristen dalam hubungannya dengan penerapan yang efektif dari amanat Allah untuk "menjadikan semua bangsa murid-Nya" (Matius 28:18-20). Para penyelidik pertumbuhan gereja berusaha keras untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip teologi yang abadi dari firman Allah perihal perluasan gereja dengan wawasan-wawasan yang mutakhir di bidang ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu perilaku. Hal di atas dilakukan dengan menggunakan sebagai kerangka acuan awal, landasan-landasan tentang pertumbuhan gereja yang telah dikembangkan oleh Donald McGavran."

Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa hal-hal yang dibahas dalam pertumbuhan gereja tidak secara otomatis berhubungan dengan penginjilan. Perintisan gereja biasanya bukan merupakan bagian dari penginjilan. Proses mendiagnose kesehatan/kesejahteraan suatu gereja biasanya juga bukan termasuk bagian dari penginjilan. Banyak tentang pendewasaan warga jemaat dan penerimaan anggota-anggota baru dibahas dalam pertumbuhan gereja. Hal-hal yang berhubungan dengan karunia- karunia rohani maupun teori-teori dinamika kelompok kecil sangatlah penting bagi pertumbuhan gereja.

Gereja memperoleh anggota-anggota baru melalui tiga macam cara. Pertumbuhan gereja bisa terjadi secara biologis, melalui perpindahan anggota gereja maupun karena pertobatan jiwa-jiwa baru. Pertumbuhan secara biologis terjadi dari anak-anak dari keluarga-keluarga Kristen yang tumbuh menjadi dewasa, dilayani oleh gereja, dibawa kepada Kristus dan dipersiapkan untuk menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. Sebagian besar dari gereja-gereja di seluruh dunia tumbuh dengan cara yang seperti ini. Pertumbuhan karena perpindahan anggota gereja terjadi ketika orang-orang yang telah menjadi percaya meninggalkan keanggotaan mereka pada suatu gereja dan beralih ke gereja lainnya. Pertumbuhan karena pertobatan jiwa- jiwa baru merupakan hasil pemberitaan Injil kepada "orang-orang yang belum masuk gereja" sehingga mereka dapat dibawa kepada Kristus dan menjadi anggota gereja.

Penginjilan terutama berhubungan dengan perkembangan gereja karena pertobatan jiwa-jiwa baru. Tetapi, penginjilan juga berhubungan dengan pertumbuhan gereja secara biologis karena dalam arti yang sesungguhnya anak-anak dari orang-orang yang telah percaya itu juga perlu diinjili. Tetapi penginjilan pada hakikatnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pertumbuhan gereja karena perpindahan anggota gereja. Ketiga macam pertumbuhan gereja itu, termasuk yang disebabkan perpindahan anggota gereja, sangat penting bagi pertumbuhan suatu gereja. Misalnya, jika anggota-anggota suatu gereja berpindah dalam jumlah besar, maka hal itu dibicarakan dalam pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja juga membahas hal-hal yang menyebabkan suatu gereja banyak menerima pindahan dari gereja lain setiap tahunnya. Dalam hal ini, ruang lingkup pertumbuhan gereja lebih luas dibandingkan dengan penginjilan.

Tetapi masalah-masalah yang dibahas dalam penginjilan tidak selalu berhubungan dengan pertumbuhan gereja. Seperti yang segera kita lihat, ada beberapa definisi yang sangat populer tentang penginjilan yang hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan pertumbuhan gereja. Banyak penginjil profesional yang hanya tertarik untuk membawa banyak jiwa kepada Kristus, tetapi mereka tidak begitu mempersoalkan apakah nantinya orang-orang yang telah bertobat di bawah pelayanan mereka itu menjadi anggota gereja atau tidak. Metode-metode penginjilan yang khusus lebih banyak dibicarakan secara terinci dalam bidang penginjilan dibandingkan dengan pertumbuhan gereja. Sehubungan dengan hal-hal di atas, ruang lingkup penginjilan lebih luas daripada pertumbuhan gereja.

Perlambang yang populer tentang penginjilan dan pertumbuhan gereja menunjukkan kesamaan-kesamaan penting yang terdapat di antara keduanya.

PENGINJILAN dapat diklasifikasikan sebagai:

E-0 atau penginjilan nol

Proses membimbing orang-orang yang telah menjadi anggota gereja kepada suatu penyerahan hidup kepada Yesus Kristus. Sewaktu hal ini terjadi, jumlah keanggotaan gereja tidaklah bertambah, melainkan kualitasnya yang meningkat.

E-1 atau penginjilan satu

Membawa orang-orang dari kelompok budaya yang sama kepada Kristus. Untuk dapat melakukan hal ini saudara tidak perlu mempelajari suatu bahasa asing atau membiasakan diri dengan makanan yang asing ataupun mengadaptasi adat istiadat yang baru.

E-2 atau penginjilan dua dan E-3 atau penginjilan tiga

Keduanya menunjuk kepada penginjilan antarbudaya. Untuk melakukan hal ini, saudara harus melayani orang-orang dalam budaya yang berbeda dengan budaya saudara sendiri. E-2 adalah penginjilan yang ditujukan kepada orang-orang yang budayanya serupa dengan budaya saudara, seperti misalnya seorang Indonesia menginjili orang-orang Malaysia. Dalam E-3, budaya orang-orang yang saudara injili berbeda cukup jauh dengan budaya saudara. Contohnya ialah jika saudara (seorang Indonesia) menginjili orang-orang Jepang.

PERKEMBANGAN GEREJA dapat diklasifikasikan sebagai:

Perkembangan Internal

Yang dimaksud adalah peningkatan kualitas suatu gereja. Orang Kristen dapat bertumbuh dalam penyembahan, pemahaman Firman Allah, kasih terhadap satu sama lain, buah Roh, kehidupan doa dan dalam hal-hal lainnya. E-0 termasuk dalam perkembangan internal, karena kualitas gereja akan meningkat jika anggota-anggota gereja yang belum bertobat dilahirkan kembali.

Perkembangan Ekspansi

Gereja melakukan perkembangan ekspansi dengan memperluas jangkauan pelayanan ke luar dan membawa orang-orang baru dari luar ke dalam persekutuan dengan gereja, baik kedatangan mereka itu dikarenakan pertobatan ataupun karena berpindah gereja. Karena anggota-anggota baru dalam gereja itu berasal dari budaya yang sama, maka perekembangan ekspansi itu termasuk dalam E-1.

Perkembangan Ekstensi

Perkembangan ekstensi mempunyai arti yang sama dengan pembukaan atau perintisan gereja. Orang-orang yang baru bertobat itu dikumpulkan dalam jemaat-jemaat yang baru. Perkembangan ekstensi juga termasuk dalam E-1 karena tidak ada perbedaan budaya antara penginjil dan orang-orang yang diinjili.

Perkembangan Antarbudaya

Perkembangan antarabudaya juga mengacu pada pembukaan gereja-gereja baru, tetapi dalam hal ini gereja-gereja itu berada dalam budaya yang berbeda. Baik E-2 maupun E-3 termasuk dalam kategori ini, bergantung dari jauhnya perbedaan budaya antara si penginjil dengan orang-orang yang diinjilinya.

Karena adanya kesamaan-kesamaan ini, penginjilan haruslah ditangani secara sangat serius dalam merencanakan strategi perkembangan gereja.

Dikutip dari:

Judul Buku : Strategi Perkembangan Gereja
Penulis : C. Peter Wagner
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang 1996
Halaman : 100 -- 101

e-JEMMi 22/2002

Motivasi Memberitakan Injil

Kita harus terlebih dahulu mengerti dengan jelas tentang istilah motivasi. Motivasi bukanlah tujuan, dan tujuan bukan motivasi. Motivasi adalah penyebab yang menghasilkan suatu tindakan, sedangkan tujuan adalah hasil yang diharapkan dapat tercapai melalui tindakan itu. Seringkali kita sudah mencampuradukkan kedua istilah tersebut. Misalnya, orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal adalah istilah hasil dari percaya, bukan motivasi dari untuk percaya. Motivasinya adalah: karena kasih karunia Allah telah dicurahkan kepada kita, Kristus telah mati bagi kita dan telah menebus kita supaya kita menjadi milik-Nya, maka terdorong oleh kasihNya itulah kita mau kembali kepadaNya. Itulah motivasi untuk percaya. Sedangkan masuk surga merupakan akibatnya atau hasilnya, bukan motivasinya.

Demikian pula motivasi dan tujuan pemberitaan Injil berbeda. Jika seseorang memiliki motivasi yang murni maka ia pasti memiliki jiwa yang lurus, baik antara Allah dan manusia, maupun antara langit dan bumi. Sebaliknya jika seseorang tak memiliki motivasi yang murni, betapapun banyaknya bakat dan talenta yang ia miliki, ia tidak akan dapat mencapai hasil yang positif menyeluruh. Motivasi memang sangat penting. Allah tidak akan menerima pelayanan yang bermotivasi campuran, oleh karena itu kita harus meniadakan unsur-unsur campuran dalam motivasi pelayanan kita.

Di dalam dunia kekristenan, banyak orang berbakat yang tidak mencapai hasil pelayanan yang seharusnya dicapainya. Salah satu penyebab utama ialah motivasi yang tidak murni. Paulus berkata, "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus" (2 Korintus 11:2). Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita melayani. Motivasi yang paling dasar dan paling minimal ini haruslah kita pertahankan.

Seorang yang bermotivasi murni tidak mudah mengalami depresi pada saat putus asa, tidak mudah berkompromi pada saat menghadapi musuh yang kuat, tidak mudah goyah pada saat menghadapi banyak godaan. Sebaliknya motivasi yang benar memberi kekuatan yang besar pada saat yang paling melelahkan, dan memberi keteguhan pada waktu penganiayaan menimpa, memberi suka cita pada waktu sengsara menekan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita. Kalau begitu, apakah sebenarnya motivasi yang murni dalam penginjilan?

1. KEHENDAK ALLAH

Kehendak Allah adalah unsur yang menentukan eksistensi dari segala sesuatu. Selain Allah sendiri, tidak ada hal lain yang lebih besar dari kehendak-Nya. Apakah kehendak Allah? Yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan di dalam hati Allah. Allah adalah Allah yang kekal, yang melampaui sejarah, yang menciptakan waktu dan ruang. Segala sesuatu yang telah direncanakan dan ditetapkan dalam hati Allah melampaui waktu dan ruang adalah hal-hal yang berhubung dengan kekekalan. Kehendak Allah tidak perlu dirundingkan dengan manusia, terlaksananyapun tidak perlu tergantung pada kerja sama manusia dengan-Nya. Dia adalah Allah yang melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri. Sebagaimana perintah Raja harus dilaksanakan, terlebih lagi kehendak Allah pasti Dia genapi.

Orang Tionghoa menyebut perintah Raja sebagai perintah atau kehendak kudus. Karena itu ketika utusan raja membawa perintah raja dan memasuki sebuah kota, begitu juga menyebut perintah kudus, maka berlututlah kepala daerah dan semua orang kepadanya. Bolehlah mereka berkata, "Perintah raja yang bagaimana? Dapatkah kita mendiskusikannya sebentar, supaya kita tahu apakah perintah itu dapat dilaksanakan atau tidak?" Tentu tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Yang ada hanya kewajiban untuk mematuhi, rakyat tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi. Jika raja dunia yang salah berbuat demikian, lalu bagaimanakan sikap kita terhadap Allah yang tidak mungkin berbuat salah?

Saya tidak terlalu sering menggunakan istilah "kehendak", karena banyak orang Kristen yang ceroboh memakai istilah "kehendak Allah" atau "pimpinan Roh Kudus". "Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1 Yohanes 2:17). Sebab itu kita harus membedakan dengan tegas antara kehendak dan pimpinan.

Kehendak Allah berbeda dengan pimpinan Roh Kudus, namun keduanya mempunyai hubungan. Pimpinan Roh Kudus akan membawa manusia memasuki kehendak Allah yang kekal; pimpinan adalah proses, sedangkan kehendak adalah ketetapan. Segala sesuatu yang direncanakan Allah dalam kekekalan merupakan keputusan yang tidak dapat diubah, tetapi bagaimana mungkin manusia yang berdosa dapat masuk ke dalam kehendak Allah? Untuk itu perlu pimpinan Roh Kudus. Siapakah yang dapat dipimpin oleh Roh Kudus kecuali anak-anak Allah? (Roma 8:14) Roh bukan saja memperanakkan kita, Ia juga memimpin kita yang diperanakkan-Nya masuk ke dalam kehendak Allah untuk disempurnakan- Nya.

Karena memberitakan Injil adalah hal yang sudah Allah tetapkan dalam kekekalan dan dipercayakan kepada kita untuk melaksanakannya, maka orang-orang yang dipredestinasikan oleh Allah akan menerima Injil dan menjadi anak-anak Allah. Apakah doktrin ini menghambat pemberitaan Injil? Tidak! Sebab predistinasi Allahlah yang menjamin kita berhasil dalam pemberitaan Injil. Jika kita sungguh-sungguh tahu bahwa penginjilan adalah menjalankan kehendak Allah, maka kita tidak terpengaruh oleh hasil kita. Bukankah Nuh sudah menjadi contoh bagi kita? Setelah 120 tahun memberitakan firman, yang menerima hanya keluarganya sendiri. Itu sebabnya saya anggap Nuh penginjil yang teragung sepanjang sejarah, karena dia memberitakan berdasarkan kehendak Allah, bukan terpengaruh oleh hasil pemberitaannya. Sekalipun demikian, faktanya pada saat kita memberitakan Injil tidak mungkin tanpa ada hasil.

2. PENGUTUSAN KRISTUS

Setelah Tuhan Yesus menang atas kuasa maut, Dia lalu mengutus gereja-Nya untuk memberitakan Injil. Jadi kita memberitakan Injil karena Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan telah mempercayakan tugas penginjilan kepada kita. Paulus berkata, "Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, ... pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku" (1 Korintus 9:17). Tuhan mempercayakan tugas itu pada diri kita, betapa mulia hal ini dan menakutkan! Siapakah yang telah menyerahkan tugas ini kepada kita? Pencipta semesta alam, Tuhan yang telah menyelamatkan saya, yang akan menghakimi saya bahkan menghakimi seluruh dunia! Tuhan yang begitu terhormat dan mulia menyerahkan tugas itu kepada kita, maka kita pun patut memiliki rasa tanggung jawab yang serius terhadapnya.

Gerakan penginjilan sepanjang sejarah merupakan kepatuhan anak-anak Tuhan kepada pengutusan Kristus ini. Sejak saat rasul-rasul menerima Amanat Agung di bukit Galilea sampai sekarang kita melihat dalil yang tidak pernah berubah, yaitu barang siapa mematuhi pengutusan ini, mereka menerima pertolongan Roh Kudus. Mereka menikmati penyertaan Allah dan mereka menjadi rekan Allah untuk memberitakan Injil kepada umat manusia.

3. DORONGAN KASIH KRISTUS

Paulus menyebutkan dengan jelas, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Di sini terlihat bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2 Korintus 5:15).

Ketika kasih hadir dalam hidup seseorang, dia akan menemukan bahwa hidupnya dilingkungi, dipegang dan diliputi oleh kasih. Kasih telah menguasai kebebasannya, juga telah menentukan arah langkahnya. Oleh sebab itu dirinya sendiri rela ia serahkan kepada Tuhan, dan segenap potensi yang ada pada dirinya ia serahkan sepenuhnya. Dengan kasih Allah inilah beribu-ribu misionaris rela meninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, dan menuju tempat yang jauh untuk memberitakan Injil.

Pada tahun 1969 saya pertama kali melintasi benua Asia menuju Eropa. Pada saat melewati Turki, karena terdorong oleh rasa ingin tahu, saya melihat keadaan di bawah melalui jendela pesawat terbang. Di situ terbentang propinsi Galatia, Atalia dan daerah-daerah lain, yang pernah dijelajahi oleh Paulus. Baru saya tahu daerah itu begitu tandus, begitu luas, begitu kering. Di daerah padang belantara yang kering kerontang semacam ini, bisakah kita membayangkan bagaimana Paulus telah pergi dengan kaki sebagai kendaraannya untuk memberitakan Injil. Jika bukan kasih Kristus yang mendorongnya, mungkinkah Paulus rela berkorban seperti ini?

Dalam hati para rasul terdapat suatu tekad yang agung yaitu pergi, pergi! Paulus pergi, Petrus pergi, Yohanes pergi, Thomas pergi. Pergi ke Afrika Utara, ke Arab, ke Eropa, ke India, ke Asia kecil. Baik di padang belantara, di hutan rimba mereka hanya tahu pergi, tanpa bertanya kemana mereka harus pergi, kapan mereka kembali, apakah dijamin dapat kembali. Asalkan bisa pergi, hati mereka sudah cukup puas. Bagi orang yang rela mati di tangan Tuhan, adakah tempat yang tak dapat dikunjunginya? Manusia semacam ini semakin berat jatuhnya, semakin besar aniaya yang dideritanya, justru mendesak dia untuk menyelinap ke dalam lengan Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan. Itulah sebabnya mereka rela pergi.

Di sinilah letak rahasia rohani: berapa besar kasih seseorang terhadap Tuhan tergantung sampai berapa dalam dia menyelami kasih dan pengorbanan Tuhan di bukit Golgota. Bila seseorang sudah mengalami kasih itu dan menyelaminya dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya dia dapat mengasihi Tuhan dengan lebih mendalam.

Paulus mengalami pelbagai mara bahaya, baik yang berasal dari banjir, penyamun, saudara-saudara palsu, di darat, di laut, dari orang Yahudi dan bukan Yahudi; dalam keadaan telanjang, dihina, sengsara, kedinginan, diadili dan dipukul, mengalami penganiayaan dan penderitaan, tetapi dia tetap memberitakan Injil. Apakah sebabnya dia rela menanggung semua itu? Gilakah dia? Bodohkah dia? Sama sekali tidak! sebaliknya, Paulus tergolong kaum intelektual agung pada zaman itu. Sampai hari ini dia tetap termasuk salah seorang dari puluhan pemikir yang paling besar pengaruhnya terhadap umat manusia dalam sejarah. Tokoh yang demikian besar, ternyata telah melalui suatu kehidupan yang amat sangat menderita -- dia dipukuli, dicaci-maki, dan dianiaya. Apakah sebabnya dia mau menderita penganiayaan dunia yang sementara ini? Paulus sendiri pasti merasa heran, sehingga dia menjawab, "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami ...." (2 Korintus 5:14; dalam terjemahan lain: menggerakkan dan mendorong). Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan tidak lagi bisa tahan ketika saatnya sudah tiba, demikian juga orang yang didorong oleh kasih Tuhan tak mungkin menahan diri untuk memberitakan Injil. Itulah arti dari "menggerakkan dan mendorong."

4. PERASAAN BERHUTANG

Orang Kristen adalah orang yang menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang. Dalam Alkitab kita melihat hutang kemuliaan kita terhadap Allah, hutang kasih kita terhadap sesama, dan lebih dari itu kita masih mempunyai hutang terhadap dunia, yaitu hutang Injil. Bila gereja hari ini tidak maju, itu adalah karena gereja tidak memiliki perasaan berhutang. Paulus berkata, "Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14). Perasaan berhutang semacam inilah yang selalu mendesak Paulus memberitakan Injil kepada manusia dari lapisan mana saja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita juga menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang ini, atau merasa diri sudah kaya sehingga menuju kepada kemiskinan rohani kita? Bukankah kita yang seharusnya menginjili dunia, tidak peduli siapa mereka, baik kaum miskin, kaum kaya, orang intelektual, maupun rakyat jelata, yang sama-sama membutuhkan Injil? Bukankah perasaan berhutang ini harus diikuti oleh pembayarannya, yakni melaksanakan penginjilan? Apakah kita sudah memperlengkapi diri untuk mengisi kebutuhan setiap lapisan masyarakat dengan Injil secara relevan?

5. PENGHARAPAN MANUSIA

Alkitab dengan jelas memberitakan bahwa, "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Matius 24:14). Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengharapkan kedatangan Tuhan kembali? Ada dua hal yang harus kita lakukan: yang pertama, menyucikan diri, dan yang kedua, menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui pemberitaan Injil.

Bagaimanakah kita harus menyambut kedatangan Tuhan kembali? Bukankah dengan hati yang bersih dan tangan yang suci? Maka kita harus meniadakan kejahatan dari hati kita dan menghapus tipu daya dari tangan kita, menghapus segala kenajisan dan hati yang bercabang, supaya kita dapat menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali dengan tulus, dengan tekad yang bulat, dengan hati nurani yang bersih, dengan kehidupan yang suci. Alkitab hampir tidak menyinggung berdasarkan apakah kita dipakai oleh Tuhan, kecuali menjadi kudus. "Jika orang menyucikan dirinya dengan hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia" (2 Timotius 2:21). Taat kepada Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, dengan itulah baru kita dapat mempunyai kehidupan yang kudus dan menghasilkan buah-buah Roh Kudus.

Hal yang kedua yaitu memberitakan Injil sampai Kristus datang kembali. Karena kedatangan Kristus yang kedua kali itu bukan dengan status Juruselamat, bukan lagi sebagai utusan perdamaian, melainkan sebagai Hakim yang terakhir, penghakiman dari yang Maha Kuasa. Itu sebabnya kita harus memberitakan firman Tuhan dengan serius, menasehati orang agar bertobat kembali kepada Kristus.

Dikutip dari:

Judul Buku : Konsultasi Pelayanan
Judul Artikel : Motivasi Memberitakan Injil
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : LPMI dan Gereja-gereja Mitra1996
Halaman : 21 -- 26

e-JEMMi 40/2002

Makna Kebangkitan Kristus

Rasul Paulus, salah seorang pengikut Kristus yang sebelum bertobat menjadi penantangnya bahkan membunuh orang-orang Kristen, menulis bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita (baca: 1 Korintus 15:17). Peristiwa kebangkitan tersebut sangat penting karena Kebangkitan Kristus:

  1. Mengesahkan bahwa Tuhan Yesus Kristus, adalah Allah yang tidak dapat ditaklukkan oleh maut, bahkan maut telah dikalahkannya (baca Yohanes 11:25). Oleh karena itu, barangsiapa yang percaya kepada-Nya sekalipun akan mengalami kematian jasmani, namun akan tetap hidup dalam roh bersama Tuhan.

  2. Menyatakan bahwa iman umat Kristen didasarkan pada fakta sejarah dan bukanlah mitos (baca 1 Korintus 15:3-8).

  3. Mengukuhkan bahwa pernyataan Kristus yang mengatakan bahwa pada Hari yang Ketiga Ia akan bangkit dari kematian. Inilah keunikan Kristus, yang tidak dimiliki penganjur agama lainnya (baca Kisah Para Rasul 2:23-24).

  4. Menunjukkan bahwa penebusan Kristus di kayu salib untuk membenarkan orang berdosa sehingga mereka bisa diterima oleh Allah Bapa (baca Roma 4:25).

  5. Merupakan inti Injil, tiada berita sukacita yang sempurna dan sejati bagi umat manusia bila Kristus tidak dibangkitkan (baca 1 Korintus 15:18-19).

  6. Memungkinkan umat manusia mengenal dan menemukan-Nya pada masa kini, karena Dia tetap hidup (baca Wahyu 2:8).

  7. Menjamin kebangkitan orang-orang percaya di masa yang akan datang, karena Dialah buah sulung kebangkitan (baca 1 Korintus 15:20-22).

  8. Mengalahkan kuasa maut. Sekalipun masih ada keresahan dalam menghadapi kematian, namun kita harus melenyapkan ketakutan terhadap apa yang akan terjadi diseberang kematian tersebut (baca 1 Korintus 15:55-56; Ibrani 2:14-15).

  9. Memberi kemenangan bagi orang-orang percaya, memperoleh kuasa ilahi untuk mengalahkan kejahatan (baca Efesus 1:18-21).

  10. Menjadi model bagi kebangkitan orang-orang percaya dengan tubuh yang mulia dalam kehidupan yang tidak berkeputusan, kekal dan abadi (baca 1Korintus 15:35-44,49).

  11. Menegaskan akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, untuk membawa umat manusia pada akhir sejarah (baca Kisah Para Rasul 17:31).

  12. Mendorong orang-orang percaya untuk tidak goyah dalam iman dan giat bekerja bagi kerajaan Allah, mengabarkan Injil Keselamatan Tuhan Yesus Kristrus, karena mengetahui bahwa semua jerih lelah tersebut tidak sia-sia (baca 1Korintus 15:58).

Tatkala murid-murid Tuhan Yesus dalam ketakutan yang hebat pada malam hari Kebangkitan Tuhan, pada PASKAH Pertama, tiba-tiba Tuhan Yesus muncul di tengah-tengah mereka dengan mengucapkan sebuah kalimat yang sungguh menjadi dambaan umat manusia sepanjang sejarah: "Damai sejahtera bagi kamu!", sambil menunjukkan telapak tangan-Nya yang bekas dipaku dan rusuk-Nya yang telah ditusuk. Rasul Yohanes kemudian melaporkan bahwa murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (baca Yohanes 20:19-20).

Di tengah dunia yang menakutkan ini -- penduduk dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, sosial dan politik, serta makin merosotnya moral dan meningkatnya kejahatan. Kiranya ucapan Tuhan Yesus: "Damai sejahtera bagi kamu!", akan sungguh-sungguh memberi kita sukacita, karena mengetahui bahwa Tuhan yang sudah mati dan bangkit itu, berkuasa atas sejarah manusia. Dengan menyadari bahwa sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, kita masih dimungkinkan resah menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan ini, marilah dengan iman kita menghadapi kehidupan dan masa depan kita dengan penuh sukacita surgawi yaitu sukacita yang melebihi akal. Juga dengan penuh gairah seperti para pengikut Tuhan di masa permulaan Gereja menyaksikan kasih dan penebusan Kristus kepada mereka yang belum percaya, karena yakin bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Nya serta Dia pun berjanji untuk senantiasa menyertai kita (baca Matius 28:18). Semoga PASKAH tahun ini membawa suatu perubahan radikal dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun pelayanan kita, hingga Nama Tuhan dimuliakan.

Sumber:

Judul Artikel: Makna Kebangkitan Kristus
Penulis : Pdt. Bob Jokiman
Situs : GKI Monrovia
URL : http://www.gki.org/article/

e-JEMMi 15/2003

Amanat Agung dan Roh Kudus (Bagian 1)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Kapankah janji Kisah Para Rasul 1:6-8 betul-betul terwujud dalam gereja di Indonesia sehingga orang Kristen yang memiliki kuasa Roh Kudus dapat menjadi saksi Tuhan dengan melintasi berbagai kota, propinsi, dan suku bangsa kita? Kapankah orang Kristen di Toraja mengirim penginjil ke Minangkabau? Orang Kristen di Tapanuli mengirim penginjil ke Aceh? Orang Kristen di Jawa mengirim penginjil ke Irian? Orang Kristen di Minahasa mengirim penginjil ke pulau-pulau yang terpencil? Kapankah anak-anak Tuhan di Indonesia pergi ke Afrika, Australia, Amerika Latin atau benua-benua lain untuk menjadi saksi bagi Kristus? Sejak gereja berdiri di Indonesia sampai sekarang, ayat-ayat ini sudah terus-menerus dibaca tetapi belum berarti apa-apa bagi kita.

Salah satu ucapan yang paling agung dari Socrates ialah: "Saya adalah warga dunia; jika saudara membunuh saya, saudara bukan pembunuh seorang warga Athena tetapi pembunuh seorang warga dunia."

Tetapi dalam Amanat Agung Yesus berkata: "Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu."

Perkataan Yesus lebih tinggi dari perkataan Socrates bahkan siapapun yang paling agung, yang paling tajam, yang paling bermutu di dunia. Setelah Amanat Agung diberikan, tak lama kemudian Yesus berpisah dengan para murid dan naik ke surga. Ketika mereka mendengarkan kata-kata Yesus yang terakhir, mereka teringat satu hal:

"Sudah lama kami mengikut Engkau, tetapi apa yang kami harapkan dari-Mu belum juga tiba."

Bukankah Petrus, Yohanes, Yakobus, Andreas dan rasul-rasul mengikut Yesus karena mereka mengira Yesus adalah Mesias? Jika Yesus adalah Mesias, berarti kebangunan negara Israel pasti segera akan terlaksana, dan akhirnya Dia yang akan menjadi Raja. Meskipun kematian Yesus pernah melenyapkan pengharapan mereka yang berapi-api, tetapi sekarang kebangkitan Yesus sudah mengembalikan pengharapan itu. Yesus sudah bangkit dan sudah 40 hari bersama mereka, tetapi mengapa Dia tidak membicarakan kebangunan Israel? Mengapa Dia sama sekali tidak mengatakan bahwa Israel akan segera dilepaskan dari penjajahan Roma? Mengapa Yesus hanya berfokus pada Injil, dan Injil saja? Lalu mereka bertanya kepada Yesus,

"Sekarangkah Engkau mau membangun kerajaan bagi Israel?"

Yesus langsung menjawab,

"Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu harus menunggu di Yerusalem sampai kamu memperoleh kuasa dari atas. Roh Kudus akan turun ke atas kamu, dan kamu akan memiliki kuasa untuk menjadi saksiKu di Yerusalem, di Yudea, di Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Sebelum Amanat Agung, terjadi kematian satu orang, yaitu Anak Allah yang tunggal; setelah Amanat Agung, terjadi kematian syahid dari orang-orang yang mencintai Yesus Kristus. Sebelum Amanat Agung, Bapa mengirim Anak-Nya; setelah Amanat Agung, Anak mengirim gereja. Sebelum Amanat Agung, darah Yesus yang dialirkan; sesudah Amanat Agung, darah orang-orang yang mencintai Tuhan dan menyerahkan diri menjadi sukarelawan-sukarelawati Injil dialirkan. Sebelum Yesus Kristus memberikan Amanat Agung, ada kematian dan kebangkitan-Nya; setelah Amanat Agung, ada kuasa kematian dan kebangkitan Yesus yang mempersiapkan, melengkapi, dan memberikan kuasa kepada gereja. Sebelum Amanat Agung ada Roh Allah, Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yang berada secara tidak terbatas di atas pribadi Kristus; sesudah Amanat Agung ada Roh Allah, Roh yang sama mendampingi, menguasai, memenuhi, mengurapi, dan mengirim mereka menjadi utusan Injil ke mana-mana. Puji Tuhan! Sesudah Roh Kudus bekerja, David Livingstone dan Moffat pergi ke Afrika; C.T. Studd, Hudson Taylor, dan Richard Timothy pergi ke Tiongkok; Judson pergi ke Birma; dan Nommensen pergi ke Tapanuli.

INJIL BUKAN UNTUK KALANGAN SENDIRI

Karena orang-orang Israel tidak setuju dengan Injil Yesus Kristus, maka mereka berusaha menangkap para rasul. Setelah Yesus naik ke surga, para rasul berdoa, mereka takut. Meskipun Yesus sudah bangkit, tetapi mereka tidak tahu, apakah kebangkitan-Nya menjadi jaminan penyertaan-Nya. Mereka tidak ada pegangan dan tidak ada kepastian, maka mereka mengunci semua pintu dari dalam dan bukan dari luar. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan rasul-rasul lain yang mengunci diri itu tidak bijaksana, penakut, kurang beriman dan kurang percaya. Dari peristiwa yang penting ini terlihatlah bahwa pintu Injil tidak pernah ditutup dari luar. Injil selalu ditutup oleh orang Kristen sendiri. Pintu Injil tidak bisa ditutup oleh komunisme, liberalisme, ataupun musuh-musuh dari luar. Pintu Injil selalu ditutup oleh pemimpin-pemimpin gereja yang tidak berani mengabarkan Injil. Sampai kapankah kita begitu takut? Mengapa yang menginjil di Irian Jaya orang-orang berkulit putih, bukan orang yang berkulit sawo matang? Apa sebabnya kita belum sadar, kita masih berada pada tahap di mana kita melihat: sudah mempunyai gereja yang sejarahnya cukup lama, organisasinya cukup kuat, dan segala sesuatu cukup teratur, lalu merasa puas.

Di Taiwan seorang pendeta berkata kepada saya, "Pak Stephen Tong, gereja saya sangat penuh." Saya tanya, "Apa sebab gerejamu penuh?" Dia bilang sebab mereka hebat. Hati saya sedih sekali. Saya berkata, "Maaf Pendeta, jawabanmu kurang baik." "Oh, maaf! Sebab saudara-saudara kita giat sekali." "Saya kira jawaban ini lebih baik, tetapi masih kurang." Dia pikir, pikir, "Oh, sebab anugerah Tuhan." Saya bilang itu sudah lebih baik, tetapi masih kurang. Setelah tiga kali saya menjawab kurang baik, dia jadi marah. "Kalau begitu jawaban apa yang paling baik menurutmu?" Saya berkata, "Gerejamu bisa penuh karena ada empat dinding. Coba bongkar dindingmu, penuh tidak?" Saudara mau gerejamu penuh, gampang sekali, bikin lebih kecil pasti penuh, lebih kecil lagi lebih penuh. Tetapi Tuhan Yesus berkata,

"Aku masih memiliki domba di sana, bukan di sini, Aku harus membawa mereka masuk ke dalam kandang domba ini."

Apa artinya gereja dan misi, misi dan gereja? Hanya menggembalakan gereja dan anggota yang ada, belum berarti mengerjakan pekerjaan Tuhan secara sempurna. Kita harus pergi mencari domba-domba yang sesat. Billy Graham berkata bahwa karena gereja-gereja mempunyai cukup banyak kesibukan, sehingga mereka kekurangan waktu, maka Tuhan membangkitkan organisasi-organisasi parachurch untuk mengisi apa yang belum dikerjakan oleh gereja-gereja. Berapa banyak gereja tidak pernah mengirim uang ke lembaga Alkitab, ke seminari-seminari, ke siaran radio Kristen, dan menunjang pekerjaan penginjilan yang lain? Mereka hanya mementingkan gerejanya saja, kalau ada uang bikin lebih besar, bikin lebih besar lagi untuk membanggakan diri, seolah-olah mereka memonopoli pekerjaan Tuhan. Tetapi saudara, siapakah yang memberitakan Injil melalui siaran radio ke RRC, ke Rusia, ke Jerman Timur, ke Polandia, ke Cekoslowakia, dan ke tempat-tempat lain yang tidak bisa dikunjungi oleh para penginjil karena mereka dilarang masuk ke sana? Tentu harus ada orang yang membuat program, yang menerjemahkan Alkitab, yang menyiarkan, yang memberikan daya listrik yang cukup untuk mendukung penyiaran itu. Banyak gereja kurang memperhatikan hal-hal demikian, maka Tuhan membangkitkan yang lain. Marilah kita bekerja sama, baik di dalam penggembalaan maupun di dalam organisasi parachurch, dengan tidak lagi memisahkan engkau-engkau, saya-saya, karena kerajaan Allah lebih penting dari denominasi dan dinding-dinding yang mengelilingi domba-domba yang diberikan Tuhan kepada kita. Dengan demikian hati kita akan menjadi lebih lapang dan pandangan kita pun akan lebih luas. Saudara perhatikan di semua desa-desa, bahkan yang paling kecil pun selalu ada minuman Coca-Cola, tetapi tidak demikian dengan Injil; ada shampoo dan kosmetik apa saja tetapi belum ada guru Injil; ada onderdil-onderdil mobil dari Jepang tetapi tidak terdengar ada orang memberitakan Injil di sana. Sampai kapankah kekristenan harus tertinggal begitu jauh?

ROH KUDUS DALAM PENGINJILAN

Di mana engkau diurapi oleh kuasa Roh Kudus, di sana padang belantara menjadi tanah yang subur. Tetapi jika engkau tidak memiliki pengurapan Roh Kudus, Bait Allah di Yerusalem pun bisa menjadi tanah yang tandus. Dalam Lukas 3 tertulis,

"Pada waktu Herodes menjadi raja wilayah Galilea, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi imam besar, pada waktu mereka di tanah Yudea, Roh Allah turun kepada Yohanes Pembaptis di padang belantara."

Mengapa Yohanes Pembaptis tidak berkhotbah di Bait Allah di Yerusalem? Bukankah di sana ada mimbar yang tinggi, ada orang-orang yang terlatih dalam Talmud, Misnah, dan teologi orang Israel? Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Roh Tuhan bukan turun di sana melainkan di padang belantara sehingga Yohanes Pembaptis menjadikan padang belantara tempat ratusan ribu orang menerima Tuhan Yesus. Stephen Tong, Thomas Wong, atau Chris Marantika tidak berarti apa-apa, tetapi pada waktu Roh Kudus turun dan mengurapi mereka, barulah penginjilan yang mereka lakukan bisa sukses. Sebab itu demi nama Tuhan Yesus saya berkata kepada para pemuda-pemudi yang masih duduk di SMP, SMA, ataupun universitas,

"Engkau yang tidak ada uang, yang belum memiliki gelar dan pengalaman, jika engkau mau datang dan berkata kepada Tuhan, 'Di sini saya, saya mau menyerahkan diri, mau dipakai oleh-Mu, Tuhan, saya mau mempelajari Injil baik-baik dan mau dipenuhi oleh Roh-Mu yang kudus,' maka engkau akan menjadi orang yang dipakai oleh Tuhan."

Dalam Amanat Agung Yesus memerintahkan,
"Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku." Semangat Injil adalah pergi, pergi! Tetapi dalam Kisah Para Rasul Yesus memerintahkan mereka untuk menunggu di Yerusalem, jangan pergi dulu, sampai Roh Kudus turun ke atasmu. Inilah yang disebut paradoks (seolah-olah bertentangan tetapi tidak). Mereka menunggu dan menunggu, lalu Roh Kudus turun dan memenuhi mereka pada hari Pentakosta yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah dan tidak akan pernah terulang lagi. Hari Pentakosta adalah hari jadi gereja. Pada hari itu umat Tuhan berkumpul bersama menjadi tubuh Kristus, dan Roh Kudus yang dikirim pada hari itu tidak ditarik kembali untuk selama-lamanya sampai kita berjumpa dengan Yesus Kristus. Sebagaimana janji Yesus,

"Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi kepada Bapa." Sebab jika Aku tidak pergi, Roh Kudus tidak akan datang kepadamu, tetapi jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu dan Ia beserta denganmu sampai selama-lamanya."

Roh Kudus sudah turun satu kali dan tidak turun lagi; lalu bagaimana dengan orang-orang Kristen dalam setiap jaman? Kita menerima Roh Yang sudah diberikan kepada gereja untuk memenuhi kita. Kelahiran baru yang sejati mencakup juga baptisan Roh Kudus secara otomatis. Pada waktu engkau lahir baru, statusmu sebagai orang berdosa berubah menjadi orang suci, maka Roh Kudus pun akan berdiam dalam hatimu dan menjadi Tuan dalam hidupmu. Dia akan menguasai seluruh pikiran, emosi dan kemauanmu. Setelah Roh Kudus memenuhi engkau, engkau diberi kuasa, diberi urapan, diberi kekuatan, diberi perlengkapan dan dipersiapkan untuk menjadi saksi Kristus.

Mengapa penginjilan tidak dapat lepas dari kuasa Roh Kudus? Perhatikan dengan teliti perkataan Petrus: "Kami (rasul-rasul) adalah saksi dari segala sesuatu itu (yaitu kematian dan kebangkitan Kristus, dua hal yang paling penting, yang merupakan inti dan fondasi dari Injil Yesus Kristus, yang menjadi pengharapan satu-satunya bagi manusia yang berdosa untuk kembali kepada Tuhan), kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia" (Kisah 5:32). Puji Tuhan! Barangsiapa betul-betul setia dan taat kepada Injil serta meninggikan Kristus dengan motivasi yang murni, tidak mungkin tidak didampingi oleh Roh Kudus.

Penginjilan bukan pidato, bukan pertambahan anggota gereja, bukan kemegahan supaya orang lain melihat denominasi saya berkembang. Penginjilan adalah peperangan rohani untuk merebut manusia yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah, yang berada di dalam tangan setan, agar ia keluar dari situ dan masuk ke dalam kerajaan Anak Allah yang kekal. Maka tidak boleh ada seorang pun yang mengabarkan Injil tanpa disertai kuasa Roh Kudus, karena setan tidak takut pada gereja yang besar, tidak takut pada mereka yang memiliki pengetahuan teologi yang hebat dan pengetahuan yang kuat, tetapi setan paling takut kepada mereka yang memiliki kuasa Roh Kudus. Sejak bulan Maret 1957 sampai sekarang sudah 20.000 kali saya berkhotbah, tetapi tidak satu kali pun saya berani naik ke atas mimbar tanpa Roh Kudus memimpin saya. Setiap kali sebelum naik saya berkata kepada Tuhan dengan gemetar, "Tuhan jika Engkau tidak naik, saya juga tidak mau naik."

[Bersambung di edisi e-JEMMi 06-23#2003]

Sumber:

Judul Buletin: Momentum, Edisi 5, Desember 1988
Judul Artikel: Amanat Agung dan Roh Kudus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 21 - 25

e-JEMMi 22/2003


Amanat Agung dan Roh Kudus (Bagian 2)

Pdt. Dr. Stephen Tong

PEKERJAAN ROH KUDUS

Waktu Roh Kudus bekerja untuk mempertobatkan manusia, pekerjaan PERTAMA-Nya adalah memuliakan Kristus. Karena Roh Kudus datang bukan untuk memuliakan diri-Nya sendiri sebagai Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal, melainkan justru untuk menjunjung tinggi dan mempermuliakan Pribadi kedua yang pernah dipermalukan secara tidak wajar dalam sejarah manusia. Yesus dipaku di kayu salib, dihina, dibuang oleh manusia, dan dengan mulut-Nya sendiri mengatakan Dia juga dibuang oleh Allah Bapa. Sekarang waktunya sudah tiba, Roh Kudus turun mendampingi orang yang bersaksi untuk membalikkan hal ini. Roh Kudus mengurapi, memenuhi seseorang supaya dia mengerti maksud Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi seseorang supaya dia meninggikan dan memuliakan Kristus, bukan memuliakan diri atau pengalaman-pengalaman diri sendiri, juga bukan memuliakan karunia-karunia tertentu, tetapi memuliakan Yesus Kristus yang mati di salib dan bangkit pula dari antara orang mati.

Dalam 1 Korintus 2:2 Paulus berkata, "Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa, selain Kristus dan Dia yang tersalib." Benarkah Paulus tidak tahu apa-apa? Tidak! Paulus tahu Stoicisme, Epicurianisme, filsafat-filsafat Yunani baik dari Skeptisisme atau Gnostisisme, tetapi fokus pemberitaan Injil Paulus adalah kayu salib, Kristus, dan kemenangan Kristus di atas kayu salib.

KEDUA, Roh Kudus menerangi hati manusia. Sebelum Roh Kudus bekerja, orang-orang berdosa hanya dapat memuliakan dosa dirinya, dan mengangkat tinggi segala perbuatan yang salah dalam diri sendiri. Tetapi setelah Roh Kudus memberikan pencerahan, menembus hati manusia dengan cahaya surgawi, barulah manusia sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa, dan apa yang dikerjakannya terlalu jauh dari kehendak Tuhan.

KETIGA, Roh Kudus datang untuk menginsafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Lalu Yesus sendiri memberi penjelasan: "Tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepadaKu. Tentang kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa. Dan tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini sudah dihukum." Pada waktu saya berumur 17 tahun dan membaca ayat-ayat ini, saya merasa bahwa tiga hal yang di depan tidak ada kaitannnya dengan tiga hal yang di belakang. Secara hermeneutika kedua bagian itu sulit digabungkan; secara homeletika mereka terlepas satu dengan yang lain. Tetapi setelah menyelidiki, membaca, merenungkan, dan berdoa terus-menerus barulah saya menemukan hal yang luar biasa, yang tersembunyi di dalam pekerjaan Roh Kudus.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang dosa. Bukan dosa berzinah, membunuh, berjudi, membakar, menulis cek kosong, atau dosa-dosa lain yang ditegur-Nya, tetapi dosa "karena mereka tidak percaya kepada-Ku." Apa hubungannya antara dosa yang kita perbuat dengan tidak percaya kepada Yesus Kristus? Dosa tidak seharusnya hanya dimengerti dari segi etika yang menyangkut perbuatan manusia yang salah saja, tetapi harus dimengerti juga dari segi mental kita yang telah kehilangan kemuliaan Allah, yang selalu memberontak terhadap sumber kebenaran yaitu Allah sendiri, yang membuat kita tidak percaya kepada-Nya.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang kebenaran, karena "Aku pergi kepada Bapa." Roh Kudus berkata, "Engkau tidak benar. Coba lihat, Yesus kembali kepada Bapa." Apa hubungannya antara Yesus kembali kepada Bapa dengan kebenaran? Dalam Injil Yohanes, "Aku kembali kepada Bapa" adalah suatu istilah yang khusus. Perhatikan perkataan Yesus dalam Yohanes 16:28, "I come from my Father to the world and I depart from the world and go back to my Father." Di sinilah letak perbedaan Injil dengan agama-agama lain. Agama-agama lain adalah one way traffic, dari manusia menuju kepada Allah yang tidak mereka kenal, sedangkan Injil adalah two way traffic, dari Bapa turun ke dunia dan dari dunia kembali kepada Bapa.

Pada waktu Yesus disalibkan manusia menganggap Yesus sudah berdosa, tetapi ternyata Yesus berkata, "Aku kembali kepada Bapa." Itu berarti Dia mutlak benar, karena kalau Yesus pernah berdosa tentu Dia tidak mungkin kembali kepada Bapa. Jadi sekarang manusialah yang harus ditegur karena mereka telah memakukan Dia yang benar di atas kayu salib.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini sudah diadili. Artinya: yang tidak adil telah mengadili yang Adil secara tidak adil. Ini semua sudah terbalik.

Kalau saudara mempelajari teologi Injil Yohanes (teologi mempelajari Allah itu siapa; manusia itu siapa; lalu relasi-relasi antara Allah dan manusia; manusia dan Allah; Allah, manusia dan setan; Allah, manusia, setan dan malaikat; Allah, manusia, dan bumi; bumi, manusia, dan Allah), khususnya yang terdapat di dalam pasal 16, saudara akan menemukan pengoreksian relasi-relasi universal yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia. Itulah pekerjaan Roh Kudus di dalam penginjilan.

Relasi pertama yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara kita dengan Yesus Kristus. Manusia seharusnya taat kepada Yesus dan hanya ketaatan dalam Yesus kita diterima oleh Allah Bapa, tetapi manusia malah tidak percaya kepada-Nya. Manusia menghina Yesus, menjual Yesus, mengadili Yesus dan memakukan-Nya di atas kayu salib. Semua ini menyatakan bahwa kita telah salah bertindak, salah berelasi dengan Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Yesus Kristus.

Relasi kedua yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara Pribadi kedua dengan Pribadi pertama. Pada waktu Yesus disalib, manusia berkata, "Jika Allah mengasihi Dia dan memperkenan Dia, biarlah Allah turun dan menyelamatkan Dia." Kalau Engkau betul-betul Anak Allah, turunlah dari salib." Yesus bisa turun dari surga, mengapa tidak bisa turun dari salib yang hanya tiga meter tingginya? Tetapi Dia tidak mau turun, Dia rela menjadi Juruselamat bagi manusia yang berdosa. Manusia tidak mengerti semua ini, mereka hanya melihat Allah membuang-Nya dan mengira bahwa Allah tidak berkenan kepada-Nya. Tetapi Roh Kudus mengoreksi: Tidak! Buktinya Dia kembali kepada Bapa.

Relasi ketiga yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara Anak Allah dengan setan. Manusia selalu mengira bahwa Yesus diadili karena dosa, karena kalah dengan setan. Demikian juga orang Kristen yang hidup di dalam dunia yang penuh dengan kegelapan dosa telah melakukan penginjilan dengan segala jerih payah selama hampir 2000 tahun, tetapi mengapa masih begitu banyak orang belum menerima Yesus Kristus? Sampai-sampai teolog dari Jerman, Friedrich Gogarten, yang pernah menjadi lawan Karl Barth mengatakan, hari depan menunjukkan bahwa kuasa Allah semakin kecil dan kuasa setan semakin besar. Benarkah dunia ini milik setan? Benarkah setan sudah menang? Tidak! Dunia ini milik Tuhan. Kelihatannya seolah-olah setan menang, tetapi sebenarnya Kristuslah yang menang untuk selama-lamanya. Untuk sementara Tuhan memperbolehkan setan memiliki sebagian orang yang belum menerima Dia, tetapi melalui Injil, melalui iman yang sejati, semakin banyak orang akan kembali menjadi milik Yesus.

Roh Kudus memutarbalikkan pengenalan manusia yang salah tentang relasi-relasi universal. Sesudah itu barulah engkau bisa menangis, "Oh, Tuhan! Dulu saya anggap saya orang benar, tetapi sekarang saya tahu saya orang berdosa. Dulu saya anggap Kristus perlu disalibkan karena Dia orang berdosa, sekarang saya baru tahu Dia yang benar karena Dia kembali kepada Bapa. Dulu saya kira dunia milik setan, sekarang saya tahu dunia sudah dikalahkan oleh Kristus." Tanpa Roh Kudus tidak mungkin ada orang mengalami pembaharuan konsep dan perubahan persepsi semacam ini.

Roh Kudus melunakkan seseorang melalui tiga tahap:

  1. Menerangi akalnya dengan kebenaran. Jangan memakai cara-cara lain untuk membawa orang kepada pertobatan, kecuali melalui Firman Tuhan, karena hanya kebenaran Firman Tuhan dapat menciptakan iman di dalam hati manusia. Celaka sekali gereja-gereja yang menyangkal bahwa Kitab Suci adalah Firman Tuhan. Celaka sekali orang-orang Kristen yang menganggap Kitab Suci hanya mengandung Firman Tuhan. Celaka sekali orang yang berusaha mengkristenkan orang lain hanya dengan kebudayaan Kristen.

    Perhatikanlah perdebatan antara surga dan neraka tentang metode apa yang paling baik untuk penginjilan. Apakah hal ini ada tertulis dalam Alkitab? Ada! Yaitu dalam khotbah Yesus mengenai Lazarus dan orang kaya. Saya tidak katakan ini perumpamaan karena inilah satu-satunya tempat Alkitab tidak menuliskan bahwa Yesus memberikan perumpamaan. Yesus berkata bahwa dari neraka ada saran kepada orang-orang beriman tentang cara penginjilan yang baik, yaitu dengan menyuruh Lazarus bangkit dan berkhotbah, agar orang yang hidup mau langsung bertobat dan percaya kepada Yesus. Cara dari neraka ialah memakai mukjizat supaya orang bertobat. Tetapi apa jawaban dari surga? Tidak! Abraham menjawab: "Mereka memiliki Firman Allah. Jika mereka memiliki Firman Allah dan tidak mau bertobat, meskipun Lazarus bangkit mereka juga tidak akan bertobat." Cerita itu berhenti dan tidak disambung lagi.

    Kita selalu berpikir, cara apa saja bisa dipakai asal orang mau bertobat dan menjadi Kristen secepat mungkin, sampai-sampai mengajar mereka berdoa minta kekayaan, supaya semakin cepat kaya semakin cepat menjadi Kristen. Belajarlah dengan baik! Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan khotbah semacam itu. Yesus Kristus berkata: "Barangsiapa mau mengikut Aku harus meyangkal diri dan memikul ... salib!" Betapa jauh perbedaan ajaran kita dengan Yesus Kristus. Di sini kita mendapatkan suatu prinsip: "Pertobatan harus berdasarkan Firman Tuhan, penginjilan yang benar dan sehat juga harus berdasarkan Firman Tuhan. Roh Kudus memberikan Firman Tuhan untuk menerangi akal manusia."

  2. Roh Kudus bekerja dalam emosi manusia untuk menggerakkan dia: Kristus sedemikian mengasihi engkau, mengapa engkau masih menolak Dia? Setiap orang yang menerima pekerjaan Roh Kudus tidak mungkin dapat menahan diri, mereka pasti tersentuh, tergerak dan mau mengaku dosa.

  3. Roh Kudus bekerja menaklukkan kemauan mereka yang melawan Tuhan, dan membawa mereka kembali kepada-Nya. Hanya pertobatan yang berlangsung di bawah pimpinan Roh Kudus, dapat membuahkan orang Kristen yang sejati, yang sehat, yang tahan uji sepanjang hidup mereka.

Sumber:

Judul Buletin: Momentum, Edisi 5, Desember 1988
Judul Artikel: Amanat Agung dan Roh Kudus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 25 - 27

e-JEMMi 23/2003

10 Alasan ntuk Mempercayai Kristus Bangkit Dari Kematian

  1. Eksekusi yang dilakukan di muka umum memastikan kematian-Nya.

    Ketika kerumunan orang yang marah menginginkan kematian Yesus, Pilatus menurunkan perintah untuk memukul, mencambuk, dan menjatuhkan hukuman pada-Nya. Kematian-Nya disaksikan oleh teman- teman-Nya yang berduka dan musuh-musuh-Nya yang mencemooh-Nya. Seorang prajurit menikam lambung-Nya dengan tombak. Tindakan itu diambil untuk lebih memastikan bahwa Dia tidak menyusahkan mereka lagi.

  2. Pejabat tinggi memastikan kubur terjaga aman.

    Untuk mencegah tipuan akan kebangkitan, Pilatus memerintahkan untuk memeteraikan kubur itu. Setiap pengikut yang berniat untuk mencuri tubuh-Nya harus menghadapi para serdadu yang berjaga-jaga, dan hal itu tidaklah mudah. Hukuman bagi serdadu yang tertidur dalam menjalankan tugas adalah hukuman mati.

  3. Kubur kosong walaupun dijaga.

    Pada pagi hari setelah hari Sabat, para pengikut Yesus pergi ke kubur Yesus untuk meminyaki tubuh-Nya. Di sana mereka menemukan bahwa tempat masuk ke dalam kubur telah terbuka dan tubuh Yesus tidak ada. Para penjaga memberitahukan para pejabat Yahudi bahwa ketakutan menyelimuti mereka karena hadirnya kekuatan supranatural yang menggulingkan batu besar. Para pejabat membayar para penjaga untuk berbohong dengan mengatakan bahwa para pengikut-Nyalah yang mencuri tubuh-Nya di saat para penjaga tertidur. Mereka meyakinkan para penjaga itu bahwa jika gubernur sampai mendengar berita tersebut, maka mereka yang akan bertanggung jawab.

  4. Banyak orang melihat Dia hidup.

    Sekitar tahun 55 SM, Rasul Paulus menulis bahwa kebangkitan Kristus telah disaksikan oleh Petrus, kedua belas murid, lebih dari 500 orang, Yakobus, serta dirinya sendiri (1Korintus 15:5-8). Dengan membuat pernyataan terbuka seperti ini, ia memberikan kesempatan kepada para kritikus untuk memeriksa pernyataannya bagi mereka sendiri. Sebagai tambahan, Perjanjian Baru memulai cerita tentang para pengikut Kristus dengan mengatakan bahwa Yesus "menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia membuktikan, bahwa Ia hidup" (Kisah Para Rasul 1:3).

  5. Para Rasul-Nya diubahkan secara dramatis.

    Ketika Yudas murtad dan mengkhianati Yesus, para murid lain-Nya lari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Bahkan Petrus, yang sebelumnya menekankan bahwa ia siap untuk mati bagi gurunya, menjadi takut dan menyangkal bahwa ia mengenal Yesus. Akan tetapi, para pengikut mengalami perubahan dramatis. Mereka memiliki keyakinan yang tak tergoyahkan untuk mengorbankan segalanya bagi Dia yang disebut Juruselamat dan Tuhan. Bahkan setelah mereka dipenjarakan pun mereka berkata, "Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia," (Kisah Para Rasul 5:29).

  6. Para saksi mati karena kesaksian mereka.

    Sejarah penuh dengan para martir. Tak terhitung jumlahnya pria ataupun wanita yang mati karena kepercayaan mereka. Namun sangatlah besar artinya bahwa ketika banyak orang bersedia mati untuk apa yang mereka percayai adalah kebenaran, hanya sedikit yang bersedia mati untuk apa yang mereka ketahui sebagai kebohongan. Kenyataan psikologis tersebut adalah penting karena para murid Yesus tidak mati karena disebabkan oleh kepercayaan teguh mereka yang dapat saja disalahmengertikan. Mereka mati karena pernyataan mereka bahwa mereka telah melihat Yesus hidup dan sehat setelah kebangkitan-Nya. Mereka mati karena pernyataan mereka bahwa Yesus tidak hanya mati karena dosa-dosa mereka tetapi bahwa Ia telah bangkit secara jasmani dari kematian untuk menunjukkan bahwa Ia bukan seperti para pemimpin rohani lainnya yang pernah ada.

  7. Para pengikut Yahudi mengganti hari penyembahan mereka.

    Hari Sabat untuk beristirahat dan menyembah adalah dasar bagi cara hidup orang Yahudi. Orang Yahudi mana pun yang tidak menghormati hari Sabat dianggap bersalah karena melanggar hukum Musa. Namun para pengikut Yahudi mulai melakukan penyembahan bersama-sama dengan para pengikut yang bukan orang Yahudi pada suatu hari yang baru. Hari yang baru ini, bersamaan dengan upacara pembaptisan, menyatakan bahwa mereka, yang percaya bahwa Kristus telah bangkit dari kematian, siap untuk menghadapi hal yang lebih besar daripada pembaruan Yudaisme. Mereka percaya bahwa kematian dan kebangkitan Kristus telah membuka jalan bagi suatu hubungan yang baru dengan Allah.

  8. Meski tak terduga, hal itu telah dinubuatkan dengan jelas.

    Para murid telah salah menyangka. Mereka mengira bahwa Mesias mereka akan membangun kembali kerajaan Israel. Pikiran mereka begitu terpaku pada pemikiran akan datangnya kerajaan mesias secara politik sehingga mereka tidak mengantisipasi peristiwa yang penting bagi keselamatan jiwa mereka. Mereka melupakan nubuatan Nabi Yesaya akan hamba yang menderita, yang akan menanggung dosa-dosa Israel, digiring seperti seekor domba ke tempat penyembelihan, sebelum "umurnya akan lanjut" (Yesaya 53:10).

  9. Hal ini merupakan puncak yang tepat untuk kehidupan yang penuh keajaiban.

    Ketika Yesus tergantung di kayu salib Romawi, kumpulan orang banyak mencemooh Dia. Ia menolong banyak orang, tetapi dapatkah Ia menolong diri-Nya sendiri? Apakah mujizat-Nya berhenti dengan tiba-tiba? Kelihatannya seperti akhir yang tak terduga bagi seseorang yang memulai hidup-Nya di hadapan umum dengan mengubah air menjadi anggur. Selama tiga tahun pelayanan-Nya, Ia berjalan di atas air, menyembuhkan yang sakit, menyembuhkan orang buta, dan membangkitkan orang mati. Ia memberikan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh orang bijaksana. Ia menegur orang-orang munafik dengan kata-kata yang menyingkapkan kebohongan mereka. Jika semua ini adalah benar, haruskah kita terkejut bahwa musuh-musuh-Nya bungkam tak bersuara?

  10. Hal ini sesuai dengan pengalaman orang-orang yang percaya kepada-Nya.

    Rasul Paulus menulis, "Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu" (Roma 8:11). Ini adalah pengalaman dari Paulus, yang hatinya diubahkan secara dramatis oleh Kristus yang telah bangkit. Hal ini juga merupakan pengalaman dari orang-orang di seluruh dunia yang telah "mati" di dalam cara hidup lama mereka supaya Kristus dapat hidup di dalam mereka. Kuasa rohani ini adalah bukti hanya bagi mereka yang menanggapi kenyataan akan kebangkitan Kristus dengan cara mengenali Dia sebagai Tuhan di dalam hati mereka.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku: Kemenangan dalam Kebangkitan
Judul Artikel: 10 Alasan Untuk Mempercayai Allah Menawarkan Hadiah yang Sempurna
Penulis: Mart De Haan
Penerbit:RBC Indonesia
HalamanHalaman:56 - 59

e-JEMMi 11/2005

10 Alasan untuk Mempercayai Allah Menawarkan Hadiah Yang Sempurna

  1. Allah Senang Memberikan Hadiah

    Pencipta kita rindu untuk memberikan apa yang diinginkan hati kita (Mazmur 37:4). Sebagai Bapa yang di surga, Dialah yang memberikan "setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna" (Yakobus 1:17). Anugerah-Nya yang terbaik sungguh tidak ternilai dan sangat sempurna memenuhi berbagai kebutuhan dan kebahagiaan kita, sehingga banyak orang yang sulit untuk mempercayainya.

  2. Hadiah ini Dijelaskan dalam Alkitab

    Alkitab menjelaskan anugerah yang sangat mengagumkan ini, termasuk di dalamnya adalah kedamaian, pengampunan, penerimaan ke dalam anggota keluarga surgawi, dan kehidupan yang kekal. Alkitab menunjukkan paket rohani ini sebagai keselamatan dan menyebutnya sebagai "karunia Allah" (Roma 6:23; Efesus 2:8-9).

  3. Hadiah ini Tidak Dapat Diusahakan

    Anugerah keselamatan Allah yang sempurna diberikan bukan karena kebaikan manusia, tetapi karena belas kasihan, bukan karena usaha manusia tetapi karena iman. Rasul Paulus menulis demikian, "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri" (Efesus 2:8-9).

  4. Allah Sendiri yang Membayar Harganya

    Pencipta kita memberikan kebebasan kepada kita untuk memilih. Dia memberikan kebebasan kepada kita untuk menerima atau menolak Dia. Nenek moyang kita memilih untuk menjauh dari-Nya. Bukan saja Allah tidak membiarkan mereka dalam pemberontakan mereka, Allah justru menyatakan rencana penyelamatan, yaitu seorang tak bersalah dikorbankan untuk mati sebagai ganti orang yang bersalah. Seperti halnya suatu upacara ritual yang menggambarkan pemujaan berhala di kuil seperti apa yang Allah sendiri lakukan untuk kita di tengah- tengah sejarah umat manusia. Pada waktu yang dipilih Allah sendiri, Dia melakukan hal yang hanya dapat dijelaskan dengan kasih, Ia mengorbankan Anak-Nya untuk membayar dosa kita (Yohanes 1:29; Ibrani 10:5-10).

  5. Hadiah ini Datang dengan Bukti Lunas

    Nabi-nabi Yahudi menubuatkan bahwa seorang Mesias akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Yesaya 53; Daniel 9:26). Ketika Ia datang, Ia menyembuhkan yang sakit, membangkitkan orang mati, dan memberikan pengharapan kepada orang yang tertindas. Kemudian, Ia melakukan hal yang tak terbayangkan. Ia tidak membalas caci maki orang-orang dan Ia dengan rela menyerahkan hidup-Nya kepada para algojo Romawi. Tiga hari kemudian, Ia berjalan keluar dari kubur yang dijaga tentara (Lukas 24:1-7). Para saksi mata kebangkitan Kristus, memilih mati di tangan musuh daripada menyangkal bahwa mereka telah melihat Ia hidup.

  6. Hadiah ini Dibungkus dengan Kasih

    Allah "membungkus" pemberian-Nya yang sempurna ini dengan penggenapan banyak nubuatan dalam jangka waktu ribuan tahun yang diwujudkan melalui mujizat-mujizat dan penyelamatan yang mengagumkan. Setelah selama berabad-abad tindakan antisipasi berlangsung, sebagai keajaiban yang paling besar dari semua keajaiban, Allah yang di surga membungkus diri-Nya dalam kandungan seorang perawan. Hadiah ini bertumbuh di dalam ketidakpastian yang ironis, tanpa kasih dari para pengikut-Nya, keirihatian para pemimpin agama, dan kekecewaan atas kematian yang meremukkan. Ketika segala suatu kelihatannya suram, Allah membungkus hadiah-Nya di dalam laporan yang menarik dari para saksi yang memberitakan kebangkitan dari kematian yang tak terduga. Sebagai sentuhan akhir, sang Pencipta memberikan hadiah keselamatan-Nya dengan berbagai pita yang beragam, orang-orang dari segala bangsa di dunia yang hati dan hidupnya telah diubahkan oleh kasih-Nya (Wahyu 5:9).

  7. Allah Menawarkan Hadiah tersebut karena Anugerah

    Hanya karena anugerah Allahlah, maka para pemberontak yang telah jatuh dan hancur dapat diterima di dalam keluarga Allah yang kekal. Paulus menjelaskan perbedaan antara Adam, yang menurunkan dosa dan kematian kepada keturunannya, dengan Kristus yang membawa anugerah dan kehidupan bagi semua orang yang percaya pada-Nya. Ia menulis, "Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus" (Roma 5:15).

  8. Hadiah Tersebut Dapat Diperoleh Hanya Melalui Iman

    Kalimat, "Oleh anugerah engkau telah diselamatkan melalui iman," menjelaskan kepada kita bahwa Allah hanya datang ke tempat di mana Ia diundang. Dia yang menginginkan kita untuk berbagi kebahagiaan dari keluarga-Nya yang kekal, sedang menunggu kita untuk mengundang Dia ke dalam hidup kita (Yohanes 1:12). Injil mengatakan, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal" (Yohanes 3:16).

  9. Hadiah Tersebut Tidak Dapat Diusahakan

    Bahkan di saat-saat kesengsaraan-Nya, ketika tergantung di kayu salib di antara dua penjahat, Yesus memberikan hadiah kehidupan kekal. Salah satu dari penjahat itu berkata, "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!" Penjahat yang lainnya mencela penjahat yang pertama dengan berkata, "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah." Kemudian ia berkata kepada Yesus, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Karena keselamatan adalah anugerah, maka Yesus dapat berkata kepada dia, "Sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:39-43).

  10. Hadiah Tersebut Mengilhamkan Pujian Syukur

    Mereka yang mengetahui bahwa mereka telah diselamatkan oleh anugerah Allah dari api pengadilan memiliki alasan untuk menjalankan sisa dari hidup mereka dengan rasa penuh rasa syukur kepada Allah (Efesus 2:10).

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku: Kemenangan dalam Kebangkitan
Judul Artikel: 10 Alasan Untuk Mempercayai Allah Menawarkan Hadiah yang Sempurna
Penulis: Mart De Haan
Penerbit : RBC Indonesia
HalamanHalaman: 42 - 45

e-JEMMi 10/2005

7 Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang Pekabaran Injil

Oleh: Michael Green

Apakah artinya pekabaran Injil?

Pekabaran Injil tidak ada hubungannya dengan manipulasi dan media, tidak ada hubungannya dengan para pengkhotbah yang berapi-api dan kebaktian kebangunan rohani besar-besaran. Tetapi Pekabaran Injil adalah, seperti yang dikatakan dalam ungkapan, 'seorang pengemis memberitahu kepada pengemis yang lain di mana dia bisa mendapatkan roti.' Pekabaran Injil adalah, seperti jika Anda mendapatkan kelimpahan -- seseorang yang sedemikian penuh dengan Kristus sehingga ia tidak dapat berdiam diri untuk tidak menceritakan mengenai hal itu. Itu hal yang sangat berbeda bukan? Dan ini barangkali hal pertama yang perlu kita ketahui tentang Pekabaran Injil.

  1. Saya perlu tahu bahwa PI bersifat alami

    Tidak ada sesuatupun yang ganjil atau aneh tentang hal Pekabaran Injil. Jika Anda peduli pada orang lain, maka Anda akan memberitahukan rahasia dan sukacita Anda pada mereka -- apa yang menggembirakan dan memuaskan Anda. Bukankah demikian? Jika demikian, karena Anda orang Kristen dan sudah mengenal hubungan yang indah, persekutuan yang bertumbuh dalam dengan Kristus yang sudah bangkit -- bukankah itu hal yang indah yang Anda ingin bagikan kepada orang lain? Itu adalah hal yang sangat alami.

  2. Saya perlu tahu bahwa PI adalah tanggung jawab saya

    Marilah kita menghadapinya, siapakah yang akan memberitahukan pada teman-teman di lingkungan saya mengenai Yesus, kalau saya tidak melakukannya? Pendeta? Bukankah pendeta Anda tidak mengenal mereka, dan barangkali mereka tidak pergi ke gereja? Ada banyak hal dalam Perjanjian Baru yang sangat jelas menunjukkan bahwa setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Kita tidak dipanggil untuk menjadi pengkhotbah, tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi "duta-duta Kristus" di mana Allah mau berbicara kepada orang lain melalui kita (2 Korintus 5:20). Sebenarnya, itulah yang Dia ingin lakukan. Dia tidak punya tangan, tidak punya kaki, tidak punya bibir seperti manusia tetapi Dia mau orang-orang percaya melakukan pekerjaan-Nya dewasa ini. Itu adalah tanggungjawab kita. Betapa mengerikan jika kita menjadi, seperti yang dikatakan Paulus "bersalah karena darah" dari orang-orang kepada siapa kita tidak mau memberitakan kabar baik pada saat ada kesempatan untuk melakukannya (Kisah Para Rasul 20:26-27).

    Ada dua orang usahawan yang bersahabat. Mereka biasa bermain golf bersama paling tidak sekali seminggu. Yang satu orang Kristen, yang lainnya bukan. Satu saat yang bukan Kristen ini jatuh sakit dan berada diambang pintu kematian. Kawannya yang Kristen itu kemudian menceriterakan kepadanya mengenai Yesus. Orang yang sedang sekarat itu menolak untuk mempercayai apa yang dikatakannya. "Kalau apa yang kamu katakan itu penting," dia menggerutu, "tentunya kamu akan memberitahukan hal itu kepadaku beberapa tahun yang lalu." Komentar yang masuk akal bukan?

    Jika kita peduli pada seseorang, adalah wajar bila kita membagikan hal penting ini pada mereka. Dan itulah yang dimaksudkan dengan pekabaran Injil pribadi: membagikan pada orang lain dengan cara Anda sendiri yang alami, secara wajar Anda ceritakan kepada teman dekat Anda betapa berartinya Yesus bagi hidup Anda. Mereka tidak akan menghindar, kalau Anda berbicara dengan mereka secara santai, seperti kalau Anda berbicara mengenai pertandingan sepak bola atau mengenai barang-barang yang dijual di toko-toko. Mereka akan tertarik, bahkan barangkali menginginkan apa yang anda yakini untuk diri mereka sendiri.

  3. Saya perlu tahu mengenai teman saya

    Kita hanya dapat menginjili kepada teman-teman saya saja. Ini bukan hal yang dibesar-besarkan, tetapi cukup bijaksana. Secara umum orang-orang akan bersedia mendengarkan hal-hal yang bersifat pribadi (tentang iman dan tujuan hidup) dari seseorang yang mereka percayai, seseorang yang hidupnya telah memberi pengaruh pada mereka, seseorang yang memiliki kejujuran dan ketulusan yang mereka tahu secara nyata. Paulus benar ketika ia mengatakan kepada jemaat di Filipi bahwa mereka harus "bercahaya sebagai terang dunia" sebelum mereka dengan meyakinkan "membagikan Firman kehidupan" (Filipi 2:15-16).

    Terlebih lagi kalau kita mengenal seseorang dengan baik, kita dapat menentukan waktu dan cara pendekatan yang tepat, dengan cara terbaik untuk melaksanakannya. Beberapa orang sangat hangat dan bersahabat: Kasih Yesus terhadap kita di kayu salib, dan undangan-Nya secara pribadi kepada kita untuk menerima Dia bisa menjadi jalan masuk bagi orang seperti itu. Yang lain lagi sangat fragmatis: komitmen diri berdasarkan bukti-bukti yang kuat bisa merupakan cara pendekatan yang lebih baik.

    Komitmen kekristenan memiliki banyak kesamaan dengan metode ilmiah. Kedua-duanya melibatkan pengujian terhadap bukti. Kedua-duanya merujuk kepada pengalaman iman. Kedua-duanya mengharapkan adanya verifikasi untuk diikuti. Maksud saya adalah ini: hal yang akan menolong teman kita adalah apabila kita menampilkan kehidupan Kristen yang konsisten, dan kita sangat mengenal apa yang menarik perhatian mereka, kebutuhan-kebutuhan mereka dan cara berpikir mereka. Selanjutnya kita akan mampu untuk mempergunakan sarana-sarana tersebut dan dengan lemah lembut membimbing mereka kepada Yesus.

  4. Saya perlu mengenal Tuhan saya

    Yesus pernah memberitahu kepada kita untuk "tetap tinggal di dalam Dia" seperti sebuah carang yang tetap tinggal atau berada pada pohon yang memberikan kehidupan dan memampukan carang itu untuk berbuah. Tetapi seringkali kita tidak seperti itu, sehingga kita kehilangan kesempatan yang Dia kehendaki untuk kita ambil. Ada saat-saat di dalam kehidupan seseorang di mana mereka lebih terbuka untuk menanggapi Kristus daripada saat-saat yang lain. Itulah saat di mana Tuhan menghendaki salah satu dari hamba-hamba-Nya untuk mendekati mereka.

    Oleh karena itu, sangat penting untuk hidup dekat dengan Tuhan sehingga kita dapat mengenali dorongan-Nya yang lembut untuk "pergi dan berbicara dengan orang itu." Jika persekutuan pribadi kita dengan Tuhan sedang runtuh, jika ada dosa-dosa yang tidak diakui di dalam hidup kita, jika kita terlalu sibuk -- maka kita tidak akan dapat mendengar suara-Nya yang lembut, dan kita akan kehilangan kesempatan. Jangan takut untuk memulai pembicaraan. Jika anda lemah- lembut dan mengasihi, anda tidak akan menyakiti siapapun, walaupun mungkin anda kurang bisa membaca situasi. Anda barangkali bisa menangkap nama atau gambaran dari orang bersangkutan dalam pikiran anda atau mendapatkan dorongan yang kuat untuk menemui seseorang. Ingatlah nasihat Maria yang ditujukan kepada para pelayan pada pesta kawin di Kana, "Apa yang dikatakan kepadamu, perbuatlah itu."

  5. Saya perlu tahu caranya

    Tidaklah terlalu rumit untuk membawa seseorang untuk memulai persahabatan dengan Kristus. Tetapi kita perlu mengetahui bagaimana caranya. Ada banyak cara sederhana yang ditawarkan, tetapi yang sering saya pergunakan adalah "ABCD" [==> Admit-Believe-Consider-Do].

    PERTAMA, ada sesuatu yang orang perlu akui (ADMIT). Orang Kristen tidak perlu putus asa mengenai dosa. Dosa adalah kenyataan yang tidak dapat dihindari dari kehidupan. Kita semua sudah jatuh ke dalam dosa! "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Dan kegagalan kita merupakan masalah karena Allah adalah kudus dan sebagai hakim dari alam semesta, tidak dapat berbuat seolah-olah kegagalan-kegagalan kita bukan masalah; karena "Allah adalah terang, di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan" (1 Yohanes 1:5). Kita tidak perlu menjadi orang yang jahat secara khusus. Kita semua dalam kenyataannya, berada dalam perahu bocor yang sama. "Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri" (Yesaya 53:6).

    Itulah yang merupakan inti permasalahan: mementingkan diri sendiri dan memberontak terhadap Tuhan yang menciptakan kita dan yang rindu untuk mempunyai suatu hubungan dengan kita. Kita mengusir Dia keluar dari kehidupan kita. Kita tidak mau mengenal Dia. Dan dalam hal ini kita bersalah. Hal ini membawa akibat: kata-kata yang jahat, perbuatan-perbuatan yang jahat, sikap-sikap yang jahat muncul dari dasar hati kita yang memberontak.

    KEDUA, ada sesuatu yang harus dipercayai (BELIEVE). Ini sungguh mengejutkan, yaitu kebenaran bahwa Allah sendiri sudah datang untuk mencari domba-domba-Nya yang tersesat. Dia datang ke dalam dunia kita di dalam pribadi Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita (Matius 1:21). Dia hidup dalam kehidupan yang semuanya sempurna, tapi dengan sukarela mau disalibkan untuk "mengorbankan nyawa-Nya demi domba-domba," untuk "memberikan hidupnya sebagai tebusan bagi orang banyak." Dia mengambil tanggung jawab di atas kayu salib yang mengerikan itu untuk kejahatan seluruh dunia, termasuk kejahatan kita. "Ia telah mati untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah" (1 Petrus 3:18).

    KETIGA, ada sesuatu yang layak untuk dipertimbangkan (CONSIDER) yaitu harga dari pemuridan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan," kata Yesus (Matius 6:24). Kehidupan Kristen adalah tidak mudah. Pemuridan itu mahal harganya. Kendatipun biaya masuk ke dalam kehidupan Kristen adalah gratis, langganan tahunannya adalah bagian Anda. Lebih-lebih lagi, kehidupan Kristen berarti juga tampil di hadapan umum, namun tidak malu untuk dikenal sebagai orang Kristen (Roma 10:9-10).

    YANG TERAKHIR, ada sesuatu yang harus dilakukan (DO). Di satu sisi Yesus sudah mengerjakan semua yang diperlukan untuk membawa kita kembali pada Bapa. Tetapi kita harus mengklaimnya untuk diri kita sendiri. Dia berdiri di depan pintu kehidupan kita, siap untuk memasukinya. jika seseorang membuka pintu bagi Dia, Dia berjanji bahwa Dia akan masuk dan tidak akan pernah meninggalkan kita (Wahyu 3:20). Tetapi kita harus membuka pintu. Pintu itu adalah kehendak kita. Kita perlu berlutut, baik secara kiasaan atau secara yang sebenarnya, dan berkata, "Tuhan, marilah masuk ke dalam hidup saya, dan jangan sekali-kali meninggalkan saya." Dia akan. Dia sudah menjanjikan. Tetapi kita harus meminta Dia.

  6. Saya perlu tahu bagaimana mengakhiri

    Saya memerlukan kepekaan dalam hal ini. Teman saya barangkali sudah siap untuk membuka kehidupannya kepada Kristus. Mereka barangkali mau melakukannya dengan pertolongan kita. Tapi mungkin juga mereka lebih senang melakukannya sendiri; jika demikian mintalah mereka memberitahu Anda kapan mereka sudah melakukan hal itu, karena jelas mereka membutuhkan pertolongan lebih lanjut. Mereka barangkali punya masalah-masalah yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Mereka bisa saja mengemukakan sejumlah alasan, dan ini perlu dihadapi dengan lembut.

    Dalam hal ini Anda memerlukan hikmat dari Tuhan. Karena itu berdoalah sementara Anda berbicara dengan mereka dan menanti untuk mereka. Allah akan menjawab doa yang memohonkan hikmat (Yakobus 1:5). Merupakan kesempatan yang luar biasa untuk berlutut bersama dengan teman Anda pada saat seperti itu, berdoa untuk mereka, dan kemudian mendorong mereka dengan kata-kata mereka sendiri meminta kepada Tuhan untuk mengampuni, untuk datang dan masuk ke dalam kehidupan mereka.

  7. Saya perlu tahu langkah-langkah berikutnya

    Pada waktu mereka baru saja membuka kehidupan mereka kepada Kristus, mereka mudah sekali diserang seperti halnya bayi yang baru lahir (1 Petrus 1:23) Dan bayi-bayi mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar.

    Mereka perlu dukungan yang kuat. Tunjukkan pada mereka bahwa Tuhan berjanji untuk memegang mereka erat-erat selamanya dan tidak akan pernah membiarkan ataupun meninggalkan mereka (Ibrani 13:5).

    Bayi-bayi memerlukan banyak kasih. Demikian juga dengan teman Anda. Mereka memerlukan perhatian dan kasih dari Anda dan dari kelurga Kristen. Singkatnya, mereka perlu bertemu dengan Anda secara teratur, sekali dalam seminggu untuk memonitor kemajuannya. Mereka membutuhkan kelompok kecil untuk membantu pertumbuhan mereka. Dan mereka perlu untuk menjadi bagian dari kehidupan Gereja setempat secara teratur. Adalah tugas Anda untuk memperkenalkan mereka pada hal-hal yang sangat perlu ini.

    Mereka perlu mendapatkan banyak udara segar. Jiwa mereka perlu senantiasa disegarkan. Mereka memerlukan pertolongan di dalam doa, menantikan jawaban atas doa-doa, berterimakasih pada Tuhan, dan mengembangkan persahabatan dengan Yesus. Anda adalah orang yang menyediakan bantuan untuk menolong mereka melakukan hal itu.

    Mereka memerlukan makanan. "Seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan," tulis Petrus -- dan ia harus mengetahuinya. Dia adalah bagian dari keluarga. Firman Tuhan (Alkitab) dan Perjamuan Kudus menyediakan susu bagi mereka. Keduanya merupakan makanan vital untuk bertumbuh, agar bayi-bayi itu bertumbuh kuat.

    Mereka juga perlu latihan. Tanpa latihan mereka akan menjadi lemah. Demikian juga halnya dengan orang Kristen baru. Mereka perlu bekerja bagi Tuhan supaya dapat mengembangkan dan mengencangkan otot-otot rohani mereka. Sekali lagi, anda boleh jadi adalah orang yang dapat membimbing mereka untuk berlatih.

    Demikianlah tujuh hal yang perlu Anda ketahui jika Anda ingin melakukan pekerjaan yang paling menggembirakan di dalam dunia, yaitu memperkenalkan orang lain kepada Yesus. Dan ingatlah, ada beda antara mengetahui dan melakukan. Sudah terlalu banyak tulisan yang ditulis tentang Pekabaran Injil. Namun kenyataannya baru sedikit sekali yang sudah dilakukan. Hal yang menyenangkan hati Yesus bukanlah karena kita mengetahui akan hal-hal tentang PI, tetapi karena kita pergi dan melakukannya!

Diedit dari Sumber: Majalah "Hidup Dalam Kristus". Vol. 14 No. 3

Penerbit: Yayasan Pusat Hidup Baru, Solo.

e-JEMMi 23/2001

Ajaran Sesat

Latar Belakang

Rasul Yohanes menulis dalam surat kirimannya yang kedua, "Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak." (2 Yohanes 1:9)

Alkitab memperingatkan kita tentang nabi-nabi dan guru-guru palsu "Yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas." (Matius 7:15) Kadang-kadang kita sulit membedakan seorang nabi palsu ... Yesus berbicara tentang "... Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu ... mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga." (Matius 24:24)

Prinsip utama yang mendasari taktis Iblis ialah penipuan. Dia adalah penyamar yang ahli dan cerdik. Penipuannya dimulai di taman Eden dan berlangsung terus sampai hari ini ... Dia menerobos ke sekolah- sekolah teologia, bahkan ke mimbar. Banyak kali dia menerobos gereja di balik perbendaharaan kata yang ortodoks, sambil mengosongkan istilah-istilah Alkitab dari arti alkitabiah seharusnya.

Apakah yang dimaksud dengan ajaran sesat? Ajaran sesat ialah ajaran yang bertentangan dengan ajaran-ajaran dasar Firman Tuhan, seperti Tritunggal, kelahiran Yesus dari perawan Maria, penebusan melalui kematian Kristus, kebangkitan-Nya secara jasmani dan kedatangan-Nya kedua kali, keselamatan oleh kasih karunia melalui iman dalam Yesus Kristus, kebangkitan tubuh semua orang beriman dan kenyataan surga serta penghukuman kekal atas mereka yang menolak Kristus, dan sebagainya.

Strategi Bimbingan untuk Orang non-Kristen

  1. Hargai orang tersebut atas kesediaannya mengungkapkan pemikirannya dengan sasaran mendapatkan kebenaran. Nyatakan padanya bahwa Allah tidak bingung, Alkitab jelas dan Anda berharap dapat menolongnya melalui pembicaraan bersama itu.

  2. Jika sesudah beberapa saat nampak adanya kesulitan pada yang bersangkutan untuk menerima pengajaran Alkitab yang benar, itu mungkin karena dia belum pernah menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi.

    Jelaskan kepadanya bahwa keputusan tersebut menentukan pengertiannya akan Alkitab. (Lihat 1 Korintus 2:14 dan 2Korintus 4:4). Jelaskan "Damai dengan Allah", minta dia untuk menerima Kristus. [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non- Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; CD-SABDA: Topik 17750]].

  3. Segera sesudah itu, jelaskan langkah-langkah tindak lanjut berikut ini:

    1. Desak dia untuk mulai membaca dan mempelajari Firman Allah. Mulailah dengan "Hidup dalam Kristus" dan Injil Yohanes. Dia perlu memusatkan perhatiannya menyelesaikan Injil Yohanes dan pelajaran-pelajaran dalam buku Hidup dalam Kristus. [["Hidup dalam Kristus" -- Traktat yang berisi pelajaran-pelajaran dasar tentang prinsip memulai Kehidupan Kristen (dari LPMI/PPA); CD-SABDA: Topik 17453]] yang akan menolongnya memulai penyelidikan Alkitab.

    2. Jika dia terpengaruh atau terlibat dalam suatu aliran bidat tertentu, dia harus didesak untuk segera memutuskan segala bentuk hubungan dengan kelompok tersebut. Sebagai gantinya, dia harus melibatkan diri ke dalam suatu gereja yang mementingkan Firman Tuhan, yang di dalamnya dia dapat memperoleh persekutuan dengan Kristen sejati, beribadah bersama, mempelajari Alkitab, dan berdoa bersama.

  4. Berdoalah dengannya agar dia mengenal pikiran Kristus dalam segala pertanyaan di sekitar Firman Allah.

Strategi Bimbingan untuk Orang Kristen

Tidak jarang, orang yang mengaku diri Kristen terpengaruh oleh ajaran sesat.

  1. Jangan menyakiti hatinya dengan mengatakan kepada orang tersebut bahwa dia bersalah dan sudah tertipu. Ingat bahwa Iblis sering menyamar menjadi "malaikat terang" (2Korintus 11:14). Jangan mulai dengan menganjurkan dia untuk meninggalkan kelompok bidat tersebut.

  2. Sambil percaya pada Roh Kudus yang memimpin Anda, gunakan pengetahuan Anda tentang Alkitab dan pengalaman Anda membimbing.

  3. Minta agar dia menulis penjelasan dan ayat-ayat Alkitab yang Anda berikan, untuk dipelajarinya lagi kelak. Tawarkan buku "Hidup dalam Kristus" yang akan membantunya mempelajari Alkitab.

  4. Akhirnya, berdoalah dengannya agar Allah membuka pikirannya untuk mengenal kehendak Allah bagi hidupnya sambil dia berusaha mengenal Alkitab.

  5. Jika sampai di sini, orang tersebut meminta atau menanyakan sebuah gereja, Anda bebas mengusulkan gereja yang di dalamnya Firman Tuhan diajarkan dan diberitakan, yang di dalamnya dia dapat bersekutu. Kemudian percayakan dia pada Roh Kudus yang akan memimpin dia ke tempat yang tepat. Jangan dulu mengusulkan suatu aliran atau gereja tertentu, sebelum dia meminta keterangan tentang itu.

Alkitab

"Usahakanlah supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu." (2 Timotius 2:15)

"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:1-3)

"Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebab dalam Dialah turut berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan." (Kolose 2:8-9)

"Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 16:25)

"Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka." (1 Timotius 4:1,2)

Diedit dari Sumber:

Judul buku : Buku Pegangan Pelayanan
Judul artikel : Ajaran Sesat
Penulis : Billy Graham
Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab
Halaman : 19 -- 21

e-JEMMi 26/2005

Ajaran-Ajaran Sesat

Penyesatan sebenarnya memiliki usia yang sama tuanya dengan usia gereja itu sendiri. Sejak zaman Paulus dan Yohanes, setelah Kristus naik ke surga, berbagai penyesat telah bermunculan. Gereja mula-mula yang muda itu telah diperhadapkan dengan berbagai pengaruh ajaran yang menyesatkan, dan itu akan terus berlangsung sampai Gereja Tuhan ini diangkat sebagai mempelai Kristus (2 Yohanes 1:4,7,9).

Abad-abad berikutnya pun gereja menghadapi berbagai aliran seperti: Marcion, Montanus, Novatianis, Donatis, dan sebagainya. Demikian juga seterusnya. Jadi, gereja tidak perlu terkejut dengan munculnya berbagai ajaran dan aliran yang membingungkan dan menyesatkan, namun justru harus waspada, dan memperkokoh iman, penyelidikan kebenaran yang alkitabiah dan mempererat hubungan dengan Tuhan, Sang Kepala Gereja.

Kriteria yang Salah

Sebelum kita melihat beberapa titik tolak yang merupakan dasar untuk mengukur sejauh mana suatu ajaran itu bernilai sesat, kita perlu melihat dulu beberapa kriteria yang sering dianggap sebagai suatu ukuran, padahal ukuran itu salah, antara lain:

  1. Jemaat Besar Selalu Benar, Kelompok Kecil Adalah Sesat

    Kriteria ini salah, sepanjang perjalanan sejarah gereja, sering terjadi bahwa jumlah aliran yang tidak alkitabiah lebih besar dari pada gereja Tuhan. Di Chili, pada abad lalu tercatat aliran-aliran bidat lebih banyak pengikutnya daripada anggota gereja resmi. Dan, biasanya justru aliran-aliran yang mengandung kesesatan itu lebih banyak diminati orang ketimbang gereja resmi yang setia pada kebenaran dan kekudusan.

  2. Gereja Negara Adalah Benar, Jemaat Pecahan Sesat

    Kriteria ini pun salah. Di Eropa tercatat bahwa waktu gereja menyatu dengan negara, justru membawa berbagai penyimpangan. Di Indonesia setelah zaman kemerdekaan memang tidak terjadi kesatuan antara kekuasaan gereja dan negara.

  3. Gereja yang Benar Adalah yang Menjangkau Golongan Sosial Ekonomi Menengah ke Atas

    Kriteria ini juga salah. Memang, berbagai aliran baru sering lebih dapat menjangkau masyarakat rendah. Sedangkan kalangan gereja besar banyak anggota dari kalangan menengah ke atas. Namun, berbagai catatan sejarah mencatat bahwa aliran-aliran tertentu justru menjangkau kelompok menengah ke atas, seperti kalangan bisnis, pejabat dan sebagainya. Bidat Christian Science, Children of God, dsb. jelas mempunyai pengikut kalangan menengah ke atas.

Batasan Pengertian

Ajaran adalah suatu pemahaman (yang biasanya menyangkut konsep kehidupan) yang disampaikan kepada pihak yang lebih luas dengan sengaja dan terencana. Sesat adalah salah jalan atau menyimpang dari yang telah ditetapkan. Berbicara tentang ajaran yang sesat, kita perlu mengambil titik tolak yang telah dibuktikan dalam sejarah Gereja Tuhan. Sebab, semua penganut ajaran, apa pun isi ajarannya meyakini bahwa ajaran yang mereka anut itu benar. Mereka juga dapat mengatakan bahwa ajaran di luar yang mereka anut adalah sesat. Karena itu, kita perlu melihat penyebab munculnya berbagai ajaran yang disebut sesat, dan dari sudut pandang mana ajaran itu disebut sesat.

Penyebab Timbulnya

Beberapa penyebab ajaran-ajaran sesat, antara lain:

  1. Reaksi Terhadap Gereja Resmi (Aliran Utama).

    Para pencetus dan penganut ajaran-ajaran yang kemudian kita sebut sesat, umumnya diawali dengan kekecewaan terhadap gereja-gereja resmi (gereja arus utama) yang semakin melembaga, semakin baku dan kaku, yang biasanya diikuti dengan ajarannya yang cenderung menekankan intelektualistis. Para penganut aliran ini ingin kembali pada kehangatan persaudaraan, pengalaman rohani, dan persekutuan langsung dengan Allah, kesederhanaan pemahaman atas Alkitab, serta penerapan ajaran Alkitab yang langsung aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Penekanan Terhadap Doktrin Tertentu.

    Alkitab sangat kaya dengan berbagai ajaran untuk pedoman iman dan kehidupan ini. Para penganut aliran biasanya memberi tekanan khusus pada satu atau dua ajaran Alkitab. Lalu diinterpretasikan sedemikian rupa dan ditambah dengan ajaran-ajaran pemimpinnya sehingga menjadi satu doktrin utama dalam aliran itu.

  3. Pengaruh Ajaran/Pola Pikir di Luar Alkitab.

    Bersamaan dengan perkembangan pemikiran (sosial, iptek, komunikasi, dll. yang sudah diawali pada abad 17 dan 18) berbagai fenomena pemikiran serta pemahaman saling bersentuhan dan mempengaruhi. Dalam abad ke-20 yang baru lalu ini, misalnya, munculnya gerakan karismatik (dalam konotasi ekses negatifnya) bertemu dengan ajaran kemakmuran dan hidup sukses (bukan teologi sukses, sebab ajaran tersebut bukan teologi), serta pola bisnis "pasar bebas" menghasilkan menjamurnya penyelenggaraan kebaktian- kebaktian di kota-kota besar. Seperti halnya pola bisnis pasar bebas, mereka tanpa risih membuka kebaktian di samping gereja yang sudah ada. Bahkan, ada satu gedung dengan dua merek gereja yang satu sinode. Maka, yang berlaku adalah hukum rimba: yang kuat yang menang (kuat modal, kuat suara, dan kuat ndablegnya).

Titik Tolak

Apakah yang menjadi titik tolak untuk menyatakan suatu ajaran itu sesat atau tidak? Banyak orang menyatakan bahwa sesat atau tidaknya suatu ajaran adalah ditinjau dari Alkitab. Benar! Tapi persoalannya bahwa ajaran-ajaran di sekitar kekristenan semua berdasarkan Alkitab, dan setiap pokok ajarannya dibubuhi ayat-ayat Alkitab. Hanya, masing-masing mempunyai interpretasi sendiri-sendiri.

Berikut beberapa pedoman yang dapat dijadikan acuan penilaian. Gereja-gereja di sepanjang zaman, terutama di lingkungan gereja-gereja reformatoris, tetap sepakat menerima ajaran dasar tentang keselamatan yang bertumpu pada Sola Gratia, Sola Fide, dan Sola Scriptura, yaitu bahwa keselamatan ini hanya oleh anugerah Allah yang diterima dengan iman berdasarkan berita Alkitab. Semua aliran dan ajaran dalam berbagai kelompok kekristenan memang menerima prinsip tersebut, namun dalam praktiknya ada hal-hal lain yang ditambahkannya, seperti:

  1. Syarat-syarat tambahan.
    1. Betul keselamatan adalah anugerah Allah, tetapi orang percaya harus dapat berkarunia lidah (glosolalia). Kalau tidak....

    2. Memang keselamatan adalah anugerah Allah, tetapi si penerima harus menunjukkan perubahan hidup yang radikal (perfeksionisme).

    3. Keselamatan yang adalah anugerah itu harus disambut dengan peribadahan pada hari Sabat (sesuai berita Alkitab). Hari Sabat adalah hari ketujuh, yaitu hari Sabtu, bukan Minggu (Adventis).

    4. Sebelum seseorang menerima keselamatan, ia harus melepaskan diri dari segala ikatan "duniawi", yaitu: politik dan institusi pemerintah, badan-badan usaha dan bisnis, serta lembaga agama resmi, yaitu Katholik dan Protestan, lalu bergabung dengan "Society of the New World" (Saksi Yehova).

    5. Orang dapat menerima keselamatan setelah mampu menganggap bahwa segala penyakit, penderitaan, dan kematian adalah semu dan khayalan belaka (Christian Science).

    6. Sebelum diselamatkan orang harus memenuhi empat hukum Injil, yaitu: iman, azab, baptisan, dan penumpangan tangan (Mormonisme).

    1. Ada aliran yang membedakan sekelompok orang percaya pada tingkat keselamatan, sementara ada yang sudah pada tingkat hidup rohani yang lebih dekat dengan Allah.

    2. Ada orang yang selamat yang tergolong pada 144.000 yang masuk surga, sisanya hanya tinggal dalam Kerajaan 1000 tahun di bumi ini.

    3. Aliran lain membedakan: orang Kristen Maha Kudus, Kristen Tempat Kudus, dan orang Kristen Halaman.

  2. Pemuliaan tokoh-tokoh manusia. Para pelopor dan penganut ajaran tertentu memang tetap memuliakan Kristus, namun juga memuliakan pendiri/pimpinan kelompoknya yang adalah manusia biasa. Aliran-aliran di berbagai tempat sempat memuliakan para tokoh mereka, seperti:

    1. Lou Voorthuisen di negeri Belanda
    2. Raux di Prancis
    3. Father Divine sebagai Allah di Amerika
    4. Ny. Ellen Gould White-Harmon (Ny. White), Adventis
    5. Nabi Joseph Smith (Mormon)
    6. Ny. Mary Baker-Eddy (Christian Science)
    7. William Branham (Gerakan Faith Healing)

    Di samping nama-nama tersebut pada abad lalu, sampai kini terus bermunculan tokoh-tokoh manusia yang dipuja sebagai wakil Allah seperti yang terjadi di negara-negara Amerika, Eropa, India, Korea, dan Asia Tenggara.

  3. Pemuliaan diri dan kecaman-kecaman terhadap gereja dan teologi. Gejala lain dari kesesatan adalah kuatnya pemuliaan diri dan kecaman terhadap gereja dan kelompok lain yang dinilai duniawi, tidak penuh dengan roh, murtad, dan lain-lain. Di samping itu, mereka umumnya mengecam pendidikan teologi dan orang-orang yang sekolah teologi. Muncul ucapan, seperti: "Aku tidak sekolah teologi, tetapi dipakai Tuhan dengan heran, lihat hasil pelayananku sudah sekian jumlahnya."

  4. Alkitab di tangan kanan, ajaran lain di tangan kiri. Kita semua menerima bahwa Alkitab adalah Firman Tuhan (Sola Scriptura). Para penganut aliran pun demikian, bahkan lebih fanatik dalam "memegang" Alkitab. Tetapi di samping itu ada buku lain/wahyu lain yang dipercaya sebagai tuntunan iman yang setara dengan Alkitab, seperti:

    1. Tn. Sweden-borg, seorang pemimpin sekte tertentu. Setiap selesai membaptiskan orang, ia memberi Alkitab dengan tangan kanan dan buku karangannya sendiri dengan tangan kiri sebagai penuntun hidup beriman.

    2. "Testimonies" Mrs. White yang berisi interpretasi berbagai penglihatan pribadinya tentang Kitab Wahyu merupakan buku wajib penganut Adventis.

    3. Penganut Christian Science menetapkan bahwa buku Mary Baker Eddy, "Science and Health with key to the Scripture" adalah kunci untuk mengerti isi Alkitab.

    4. Para Saksi Yehova menyatakan secara praktis dan teoritis bahwa penjelasan Russell tentang Rencana Allah lebih penting daripada Alkitab.

    5. Para Pemimpin Mormon mengikat para penganutnya kepada buku Mormon yang diterima sebagai wahyu illahi oleh Jospeh Smith.

    6. Di bawah sub pokok ini dapat ditambahkan adanya penggunaan benda-benda tertentu dan doa/ayat yang dipakai sebagai semacam jimat atau mantera karena dianggap benda atau ayat tsb., mengandung kekuatan gaib/magis, yang mendatangkan pertolongan.

  5. Penekanan yang berlebihan tentang Eskatologi. Salah satu ciri utama dari aliran-aliran ini adalah penekanan yang berlebihan tentang eskatologi. Berbagai perhitungan dan tafsiran dikemukakan. Terutama tentang angka-angka dan lambang- lambang. Lalu dicocok-cocokkan dengan situasi yang terjadi pada zamannya. Karena itu, tafsiran tentang apa dan siapa Antikristus selalu berubah-ubah sesuai dengan waktu dan tokoh yang dianggap musuh kekristenan.

Tetapi, kalau anggota-anggota aliran (kelompok) itu makin banyak bergaul dengan gereja dan ada yang belajar teologi, kecenderungan ini makin tipis. Sebab, mereka mulai terbuka tentang bentuk-bentuk sastra yang dipakai dalam Alkitab dan dalam konteks apa suatu firman diwahyukan Tuhan kepada umat-Nya, sehingga mereka mulai meninjau ulang ajaran-ajaran yang pernah disampaikannya. Tahun-tahun belakangan ini tercatat propaganda sesat bahwa Tuhan Yesus datang pada 28 Oktober 1994, lalu September 2001, dan muncul ramalan kiamat terjadi pada 3 November 2003. Dan, ramalan semacam itu akan terus bermunculan.

Penutup

Beberapa ciri yang menjadi pedoman di atas tidak semua terdapat pada aliran/ajaran sesat. Namun, dapat dijadikan sebagai gambaran umum. Makin banyak dan makin kuat ciri-ciri yang terdapat dalam suatu ajaran/aliran, semakin parahlah kesesatannya. Seperti tubuh jasmani yang sakit, makin kompleks dan makin kronis organ-organ tubuh yang terserang penyakit, makin parahlah ia; semakin sedikit dan ringan, semakin besar harapan untuk disembuhkan dan sehat kembali.

Sumber diedit dari:

Judul Buletin: Solagracia, Edisi 2
Judul Artikel: Ajaran-Ajaran Sesat
Penulis : Thomas Bimo
Penerbit : Persekutuan Penginjil Indonesia (PPI)
Halaman : 68 - 70

e-JEMMi 23/2005

Alasan untuk Melayani Tuhan

"Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:14-15)

Motivasi untuk Melayani Tuhan

Ada berbagai macam faktor yang melatarbelakangi mengapa seseorang melayani Tuhan. Tetapi faktor paling utama yang mendasari pelayanan yang sejati adalah panggilan Tuhan. Faktor panggilan Tuhan akan menjadikan seseorang hidup untuk melayani, bukan melayani untuk hidup. Karena panggilan itu pula, seseorang yang mempunyai pengalaman nyata akan kasih karunia Allah dalam hidupnya kemudian akan menjadikan kasih kepada Allah dan sesama sebagai dasar kehidupan dan pelayanannya. Orang yang memiliki motivasi kasih kepada Allah dan sesama inilah yang akan lebih `tahan banting` dalam pelayanan. Paulus adalah salah satu contoh seseorang yang memiliki panggilan Tuhan yang jelas dalam hidupnya. Itulah yang membuat hidup dan pelayanannya begitu luar biasa di dalam tangan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jika Allah memanggil, Dia tahu siapa yang dipanggil-Nya dan untuk apa. Jika Allah menghendaki kita melakukan sesuatu, Dia tahu bahwa kita sanggup melakukannya dengan anugerah-Nya. Allah kita adalah Allah yang Mahabesar dan Ia sanggup melakukan segala perkara. Dia yang mengatur alam semesta, Dia yang empunya bumi dan segala isinya, laut serta segala yang diam di dalamnya. Kitalah yang sering berpikiran picik dan kerdil, membuat Allah seolah-olah tidak mampu berbuat apa-apa. Kepicikan dan kekerdilan iman yang menjadi penghalang bagi kita sehingga kita tidak mampu melihat kebesaran Allah atas seluruh ciptaan-Nya, termasuk juga atas hidup kita.

Para hamba Tuhan yang sungguh-sungguh memiliki panggilan Allah dalam hidupnya telah membuktikan dengan nyata kebenaran panggilan-Nya yang tidak pernah salah. Tuhan tidak mungkin memberikan mandat agar kita memberitakan Injil, menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi, dan memuridkan segala bangsa bagi-Nya jika Dia tahu bahwa kita tidak sanggup melakukannya.

Ia telah berjanji bahwa kita akan diperlengkapi dengan kuat kuasa Roh Kudus untuk menjadi saksi-Nya sampai ke ujung-ujung bumi. Di situlah letak kesanggupan kita, yaitu Allah yang memanggil, Ia juga yang akan memperlengkapi dan menyertai sesuai dengan janji-Nya.

Firman Tuhan kepada Yesaya dalam Yesaya 49:6 berbicara dengan jelas bagi saya dan menjadi suatu peneguhan akan panggilan Tuhan bagi saya pribadi di awal tahun 1980. "Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi."

Dalam masa pembentukan Tuhan (kami memakai istilah `pembentukan` untuk menjelaskan bahwa seorang hamba Tuhan harus mengalami tiga pembentukan, yaitu pembentukan formal berupa pengetahuan akademis, nonformal berupa ketrampilan praktis, dan informal berupa pembentukan karakter) di Institut Injil Indonesia, Batu, Malang, Tuhan memberkati saya dengan orang tua rohani, yaitu keluarga Dietmar Scheunemann yang menolong saya bertumbuh dalam hal rohani, visi, dan misi. Ini ditunjang pula oleh atmosfer misi di kampus di mana setiap harinya ada dua misi bagi pekerjaan-pekerjaan misi sedunia. Hingga pada suatu hari kapten kapal Logos I, Bjorn Kristiansen, dari Norwegia (sekarang bersama isterinya telah pulang ke rumah Bapa), berbicara dengan jelas secara pribadi kepada saya di rumah keluarga Scheunemann di Batu dalam suatu liburan.

Secara pribadi, saya menyakini bahwa melalui pengalaman tersebut Tuhan memanggil saya untuk pekerjaan misi. Kemudian, dalam pelayanan praktik setahun, saya ditempatkan untuk membantu melayani sebuah jemaat kecil di Bengkulu, di satu perkebunan karet yang baru dibuka. Tempat yang sulit, melelahkan, dan secara ekonomi juga sulit. Ketika saya kembali ke kampus dan bersiap untuk menyelesaikan pendidikan sarjana muda, dosen dan teman-teman saya menanyakan arah pelayanan saya berikutnya. Sejujurnya, kenyataan di ladang pelayanan dan keberadaan saya menutupi apa yang seharusnya saya katakan dan lakukan. Seorang teman dengan tegas berkata, "Bukankah Tuhan memanggilmu ke ladang misi?" Saya menjawab, "Memang iya, tetapi bagaimana dengan bahasa? Saya tidak bisa berbahasa Inggris, sedangkan kalau keluar negeri paling tidak harus bisa berbahasa Inggris." Teman saya, Roland Octavianus, menguatkan, "Bagus, kalau Tuhan memanggil, Dia pasti akan melengkapi dengan bahasa yang diperlukan." Tersentak dengan pernyataan ini, saya berkata, "Tuhan, saya bersedia, Ini aku, Tuhan." Selang beberapa waktu kemudian, saya mulai ragu-ragu lagi karena untuk sponsor keuangan, saya tidak melihat sedikit pun tersedia padahal kebutuhannya begitu besar. Steven Scheunemann, seorang sahabat dan saudara, menegur saya dengan tegas, "Lima tahun kamu sekolah di sekolah teologia, belajar tentang iman, menulis makalah tentang iman dengan istilah bahasa aslinya, dan sebagainya, hanya teori, mana buktinya? Kalau Tuhan memanggil, Dia tidak pernah salah. Dia pasti menyediakan apa yang kamu perlukan. Jangan meragukan firman-Nya!". Saya bertekuk lutut di hadapan Tuhan karena meragukan panggilan-Nya dengan berbagai alasan yang kelihatannya logis dan rohani. Dengan sepenuh hati saya berkata, "Ini aku Tuhan, utuslah aku!"

Setelah semua itu saya dengan yakin dapat mengatakan kepada pihak sekolah ke mana saya akan diutus melayani setelah wisuda. Hati saya melimpah dengan damai sejahtera yang luar biasa. Tuhan menyatakan pimpinan-Nya pada hari wisuda ketika satu keluarga yang belum pernah mengenal saya dan belum pernah saya kenal mengatakan akan mensponsori saya secara finansial untuk pelayanan lintas budaya. Itulah keluarga BR. Sahulata di Palembang yang kemudian menjadi sahabat dan pendukung doa yang setia. Bahkan sebelas tahun kemudian, ketika isteri saya dalam perjalanan riset misi mampir di rumah mereka, ia merasa seperti bertemu keluarga sendiri. GEKISIA yang ketika itu komisi misinya adalah orang-orang yang berhati misi mengutus dan mensponsori pelayanan saya di OM. Bahasa? Bahasa Spanyol saya lebih baik dari bahasa Inggris. Ketika saya di Mesir, paling tidak saya bisa berkomunikasi dalam bahasa Arab. Tuhan sungguh luar biasa. Tugas saya hanyalah menaati-Nya dan berusaha melakukan bagian saya sebaik-baiknya. Seandainya waktu itu saya terkungkung oleh perasaan rendah diri karena kemiskinan, kepicikan, kekerdilan berpikir serta kerendahan hati yang salah, akan bayak orang yang seharusnya tersentuh kasih Tuhan melalui hidup saya tidak akan mengalaminya.

Bahan diedit dari sumber:

Judul buku : Misi dari dalam Krisis
Judul artikel : Alasan untuk Melayani Tuhan
Penulis : Bagus Surjantoro
Penerbit : Obor Mitra Indonesia, Jakarta 2003
Halaman : 40 -- 44

e-JEMMi 29/2006

Apa Itu Gerakan Peintisan Jemaat?

Pada tahun 1998, Tim Pimpinan Komite Luar Negeri dari International Mission Board mengadopsi sebuah pernyataan visioner: Kami akan menolong orang-orang yang belum terjangkau untuk datang mendapatkan keselamatan iman dalam Yesus Kristus dengan memulai dan memelihara Gerakan Perintisan Jemaat diantara segala suku bangsa. Pernyataan dari visi ini menjadi acuan pelayanan dari sekitar 5.000 misionaris IMB pada lebih dari 150 negara di berbagai belahan dunia.

Jadi, apakah sesungguhnya Gerakan Perintisan Jemaat itu? Definisi yang sederhana dan ringkas dari Gerakan Perintisan Jemaat (GPJ) adalah peningkatan yang cepat dan eksponensial dari tindakan perintisan jemaat-jemaat yang dikerjakan oleh jemaat-jemaat indigenos di dalam suku atau golongan populasi tertentu.

Ada beberapa unsur kunci dalam definisi ini. Yang pertama adalah cepat. Sebagai suatu gerakan, Gerakan Perintisan Jemaat merebak dengan peningkatan yang cepat dalam hal dimulainya sebuah jemaat baru. Perintisan jemaat yang bersaturasi (mengakibatkan timbulnya titik kejenuhan) yang terjadi selama beberapa dekade atau bahkan beberapa abad memanglah baik, tapi tidak bisa dikualifikasikan sebagai Gerakan Perintisan Jemaat.

Unsur kedua, peningkatan itu bersifat eksponensial. Ini berarti, pertambahan jumlah gereja demi gereja bukan sekedar pertumbuhan kenaikan deret angka biasa, yaitu pertambahan satu atau dua gereja setiap tahun. Sebaliknya, ia berlipatganda dalam deret bilangan berpangkat dua gereja menjadi empat, empat menjadi 16 dan seterusnya. Multiplikasi secara eksponen hanya mungkin terjadi bila jemaat-jemaat yang baru dimulai, dibangun oleh jemaat itu sendiri, bukan oleh para perintis jemaat profesional atau misionaris- misionaris.

Unsur ketiga, semuanya adalah jemaat-jemaat indigenos (asli). Artinya, jemaat-jemaat itu dilahirkan dari dalam dan bukan dari luar. Ini bukan berarti bahwa Injil dapat memancar secara naluriah (intuitif) dari suatu suku. Injil selalu berasal dari luar suatu suku; dan ini adalah tugas seorang misionaris. Meskipun demikian, dalam Gerakan Perintisan Jemaat, momentum dengan cepat berubah menjadi indigenos, dimana inisiatif dan semangat pergerakan berasal dari dalam suku itu sendiri, bukan dari pihak luar.

Jika definisi ini kurang memadai, mungkin kita perlu memperjelas hal-hal apa saja yang bukan Gerakan Perintisan Jemaat. Gerakan Perintisan Jemaat bersifat lebih dari sekedar "penginjilan yang menghasilkan jemaat-jemaat". Penginjilan yang menghasilkan jemaat-jemaat, memang bagian dari suatu Gerakan Perintisan Jemaat, tapi tidak memiliki "visi akhir" seluas Gerakan Perintisan Jemaat. Seorang perintis jemaat (church planter) bisa saja berpuas diri dengan sasaran terbangunnya satu atau bahkan sekumpulan jemaat/gereja, tapi ia gagal melihat bahwa yang dibutuhkan adalah satu pergerakan dimana jemaat akan merintis jemaat untuk menjangkau seluruh suku tersebut.

Gerakan Perintisan Jemaat juga lebih dari sebuah kebangunan rohani yang terjadi pada jemaat-jemaat yang bukan jemaat baru. Terjadinya kebangunan-kebangunan rohani sangat diharapkan, tapi itu pun bukanlah Gerakan Perintisan Jemaat. Kebaktian-kebaktian penginjilan dan program-program kesaksian memang bisa membawa ribuan orang kepada Kristus, dan tentu saja, itu merupakan hal yang menakjubkan. Akan tetapi, itu tidak sama dengan Gerakan Perintisan Jemaat. Gerakan Perintisan Jemaat memperlihatkan bagaimana jemaat-jemaat dengan cepat melahirkan jemaat lain (bereproduksi).

Gerakan Perintisan Jemaat adalah peningkatan yang cepat dan eksponensial dari tindakan perintisan jemaat-jemaat yang dikerjakan oleh jemaat-jemaat indigenos pada suku atau golongan populasi tertentu.

Barangkali, yang paling menyerupai, tetapi tetap bukanlah Gerakan Perintisan Jemaat, yaitu saat dimana para perintis jemaat lokal dilatih dan disebarkan untuk merintis pembentukan beberapa jemaat (multiplikasi) di tengah kaum/sukunya masing-masing. Inilah metode penyebaran jemaat di tengah suku atau golongan populasi tertentu yang paling berhasil, tetapi momentum penyebarannya tetap berada di tangan kelompok para perintis jemaat profesional yang terbatas, bukannya di dalam hati setiap jemaat yang baru saja dibangun.

Akhirnya, sebuah Gerakan Perintisan Jemaat, bukanlah akhir dari pergerakan itu sendiri. Akhir dari semua kerja keras kita adalah agar Bapa di surga dimuliakan. Hal ini akan terjadi, setiap kali seseorang masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Dia melalui Yesus Kristus. Pada saat seseorang melakukannya, ia tergabung ke dalam jemaat-jemaat yang memampukannya terus bertumbuh dalam kasih karunia bersama-sama dengan orang percaya lainnya yang sehati dan sepikir. Kapan saja seseorang datang kepada hidup baru di dalam Yesus Kristus, Bapa dimuliakan. Kapan saja sebuah jemaat dirintis -- tidak peduli siapa yang melakukannya -- maka ada dasar untuk bersukacita.

Lalu, mengapa Gerakan Perintisan Jemaat ini begitu istimewa? Karena nampaknya dalam gerakan ini tersimpan potensi terbesar untuk membawa mereka yang belum terjangkau untuk hidup baru dalam Kristus dan ke dalam komunitas orang beriman dalam jumlah yang melebihi metode apa pun yang telah ada.

Meskipun demikian, Gerakan Perintisan Jemaat bukan sekedar suatu peningkatan jumlah jemaat, meskipun itu adalah hal yang positif. Sebuah Gerakan Perintisan Jemaat terjadi ketika visi jemaat melahirkan jemaat, menjalar dari para misionaris dan para perintis jemaat profesional kepada jemaat-jemaat itu sendiri, sehingga melalui sifat -- dasar, mereka memenangkan jiwa yang terhilang dan bereproduksi sendiri.

Mari kita tinjau lagi beberapa hal kunci. Para misionaris adalah perintis-perintis jemaat yang cakap, tapi jumlah mereka selalu sangat terbatas. Para perintis lokal (yang berasal dari daerah/suku itu sendiri) lebih dapat diharapkan, karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak. Namun, Gerakan Perintisan Jemaat menyimpan potensi jauh lebih banyak lagi, karena tindakan perintisan jemaat dilakukan oleh jemaat itu sendiri, yang akan membawanya kepada kemungkinan jumlah terbesar dari dimulainya jemaat-jemaat baru.

Diterjemahkan dari:

Judul buku : Church Planting Movements
Judul artikel : What Is A Church Planting Movement? [Chapter 1]
Penulis : David Garrison
Situs Web : http://www.churchplantingmovements.com/index.php?option=com_content&view=article&id=54:what-are-church-planting-movements&catid=36:the-big-picture&Itemid=78

e-JEMMi 40/2004

Apa Itu Gerakan Perintisan Jemaat?

Pada tahun 1998, Tim Pimpinan Komite Luar Negeri dari International Mission Board mengadopsi sebuah pernyataan visioner: Kami akan menolong orang-orang yang belum terjangkau untuk datang mendapatkan keselamatan iman dalam Yesus Kristus dengan memulai dan memelihara Gerakan Perintisan Jemaat diantara segala suku bangsa. Pernyataan dari visi ini menjadi acuan pelayanan dari sekitar 5.000 misionaris IMB pada lebih dari 150 negara di berbagai belahan dunia.

Jadi, apakah sesungguhnya Gerakan Perintisan Jemaat itu? Definisi yang sederhana dan ringkas dari Gerakan Perintisan Jemaat (GPJ) adalah peningkatan yang cepat dan eksponensial dari tindakan perintisan jemaat-jemaat yang dikerjakan oleh jemaat-jemaat indigenos di dalam suku atau golongan populasi tertentu.

Ada beberapa unsur kunci dalam definisi ini. Yang pertama adalah cepat. Sebagai suatu gerakan, Gerakan Perintisan Jemaat merebak dengan peningkatan yang cepat dalam hal dimulainya sebuah jemaat baru. Perintisan jemaat yang bersaturasi (mengakibatkan timbulnya titik kejenuhan) yang terjadi selama beberapa dekade atau bahkan beberapa abad memanglah baik, tapi tidak bisa dikualifikasikan sebagai Gerakan Perintisan Jemaat.

Unsur kedua, peningkatan itu bersifat eksponensial. Ini berarti, pertambahan jumlah gereja demi gereja bukan sekedar pertumbuhan kenaikan deret angka biasa, yaitu pertambahan satu atau dua gereja setiap tahun. Sebaliknya, ia berlipatganda dalam deret bilangan berpangkat dua gereja menjadi empat, empat menjadi 16 dan seterusnya. Multiplikasi secara eksponen hanya mungkin terjadi bila jemaat-jemaat yang baru dimulai, dibangun oleh jemaat itu sendiri, bukan oleh para perintis jemaat profesional atau misionaris- misionaris.

Unsur ketiga, semuanya adalah jemaat-jemaat indigenos (asli). Artinya, jemaat-jemaat itu dilahirkan dari dalam dan bukan dari luar. Ini bukan berarti bahwa Injil dapat memancar secara naluriah (intuitif) dari suatu suku. Injil selalu berasal dari luar suatu suku; dan ini adalah tugas seorang misionaris. Meskipun demikian, dalam Gerakan Perintisan Jemaat, momentum dengan cepat berubah menjadi indigenos, dimana inisiatif dan semangat pergerakan berasal dari dalam suku itu sendiri, bukan dari pihak luar.

Jika definisi ini kurang memadai, mungkin kita perlu memperjelas hal-hal apa saja yang bukan Gerakan Perintisan Jemaat. Gerakan Perintisan Jemaat bersifat lebih dari sekedar "penginjilan yang menghasilkan jemaat-jemaat". Penginjilan yang menghasilkan jemaat- jemaat, memang bagian dari suatu Gerakan Perintisan Jemaat, tapi tidak memiliki "visi akhir" seluas Gerakan Perintisan Jemaat. Seorang perintis jemaat (church planter) bisa saja berpuas diri dengan sasaran terbangunnya satu atau bahkan sekumpulan jemaat/ gereja, tapi ia gagal melihat bahwa yang dibutuhkan adalah satu pergerakan dimana jemaat akan merintis jemaat untuk menjangkau seluruh suku tersebut.

Gerakan Perintisan Jemaat juga lebih dari sebuah kebangunan rohani yang terjadi pada jemaat-jemaat yang bukan jemaat baru. Terjadinya kebangunan-kebangunan rohani sangat diharapkan, tapi itu pun bukanlah Gerakan Perintisan Jemaat. Kebaktian-kebaktian penginjilan dan program-program kesaksian memang bisa membawa ribuan orang kepada Kristus, dan tentu saja, itu merupakan hal yang menakjubkan. Akan tetapi, itu tidak sama dengan Gerakan Perintisan Jemaat. Gerakan Perintisan Jemaat memperlihatkan bagaimana jemaat-jemaat dengan cepat melahirkan jemaat lain (bereproduksi).

Gerakan Perintisan Jemaat adalah peningkatan yang cepat dan eksponensial dari tindakan perintisan jemaat-jemaat yang dikerjakan oleh jemaat-jemaat indigenos pada suku atau golongan populasi tertentu.

Barangkali, yang paling menyerupai, tetapi tetap bukanlah Gerakan Perintisan Jemaat, yaitu saat dimana para perintis jemaat lokal dilatih dan disebarkan untuk merintis pembentukan beberapa jemaat (multiplikasi) di tengah kaum/sukunya masing-masing. Inilah metode penyebaran jemaat di tengah suku atau golongan populasi tertentu yang paling berhasil, tetapi momentum penyebarannya tetap berada di tangan kelompok para perintis jemaat profesional yang terbatas, bukannya di dalam hati setiap jemaat yang baru saja dibangun.

Akhirnya, sebuah Gerakan Perintisan Jemaat, bukanlah akhir dari pergerakan itu sendiri. Akhir dari semua kerja keras kita adalah agar Bapa di surga dimuliakan. Hal ini akan terjadi, setiap kali seseorang masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Dia melalui Yesus Kristus. Pada saat seseorang melakukannya, ia tergabung ke dalam jemaat-jemaat yang memampukannya terus bertumbuh dalam kasih karunia bersama-sama dengan orang percaya lainnya yang sehati dan sepikir. Kapan saja seseorang datang kepada hidup baru di dalam Yesus Kristus, Bapa dimuliakan. Kapan saja sebuah jemaat dirintis -- tidak peduli siapa yang melakukannya -- maka ada dasar untuk bersukacita.

Lalu, mengapa Gerakan Perintisan Jemaat ini begitu istimewa? Karena nampaknya dalam gerakan ini tersimpan potensi terbesar untuk membawa mereka yang belum terjangkau untuk hidup baru dalam Kristus dan ke dalam komunitas orang beriman dalam jumlah yang melebihi metode apa pun yang telah ada.

Meskipun demikian, Gerakan Perintisan Jemaat bukan sekedar suatu peningkatan jumlah jemaat, meskipun itu adalah hal yang positif. Sebuah Gerakan Perintisan Jemaat terjadi ketika visi jemaat melahirkan jemaat, menjalar dari para misionaris dan para perintis jemaat profesional kepada jemaat-jemaat itu sendiri, sehingga melalui sifat -- dasar, mereka memenangkan jiwa yang terhilang dan bereproduksi sendiri.

Mari kita tinjau lagi beberapa hal kunci. Para misionaris adalah perintis-perintis jemaat yang cakap, tapi jumlah mereka selalu sangat terbatas. Para perintis lokal (yang berasal dari daerah/suku itu sendiri) lebih dapat diharapkan, karena jumlah mereka yang jauh lebih banyak. Namun, Gerakan Perintisan Jemaat menyimpan potensi jauh lebih banyak lagi, karena tindakan perintisan jemaat dilakukan oleh jemaat itu sendiri, yang akan membawanya kepada kemungkinan jumlah terbesar dari dimulainya jemaat-jemaat baru.

Bahan diterjemahkan dari:

Judul Buku : Church Planting Movements
Judul Artikel: What Is A Church Planting Movement? [Chapter 1]
Penulis : David Garrison
Situs : http://www.imb.org/CPM/default.htm

e-JEMMi 18/2004


Apakah Gereja Rumah Itu?

Gereja Rumah adalah suatu cara hidup orang Kristen secara bersama-sama di sebuah rumah biasa dalam kuasa adikodrati. Begitulah cara orang-orang yang hidupnya telah ditebus. Dengan cara yang sama pula para murid Yesus bersama-sama meneladani kehidupan Kristus dalam hidup sehari-hari. Karena orang-orang yang telah ditebus tidak lagi menjadi milik diri mereka sendiri, mereka lalu mengadopsi gaya hidup yang tidak lagi mengagungkan hak-hak pribadi serta pementingan diri sendiri (individualistik). Gereja Rumah hanya akan mulai berkembang bila para petobat sejati berhenti hidup untuk diri sendiri dan tujuan-tujuannya sendiri, lalu mulai hidup bersama yang sesuai dengan nilai-nilai Kerajaan Allah serta mulai membagi hidup dan sumber-sumber hayati mereka dengan sesama orang Kristen maupun yang belum Kristen di sekitar mereka.

Gaya hidup ini timbul dari keyakinan bahwa kita tidak hanya mengalami Yesus Kristus dan Roh-Nya di dalam ruang-ruang kudus yang memang khusus disediakan untuk maksud tersebut, tetapi justru dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian seperti itu, dinamika kehidupan (organisme) Gereja Rumah adalah ranjang kematian bagi egoisme sehingga merupakan tempat lahir gereja. Kehidupan komunal sejati dimulai saat individualisme mati. Art Katz, seorang Yahudi Mesianik yang sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam kehidupan berkelompok, berkata:

"Hidup secara komunal akan melumatkan ego lama Anda dalam kuasa Roh Kudus, dan menolong Anda keluar dari hidup perseorangan yang runyam, kehidupan di mana kita, setelah saling mengasihi selama satu jam pada kebaktian seminggu sekali, buru-buru pulang untuk menyiram bunga kita masing-masing, duduk di beranda kita masing-masing, makan hidangan kita masing-masing dan mencuci mobil kita masing-masing. Masing-masing! Sudah seharusnya kita mulai berfungsi sebagai salah satu bagian dari persekutuan orang-orang tebusan. Sebagai orang-orang yang telah ditebus, kita sudah tidak lagi 'pulang ke rumah' seusai kebaktian, karena kita 'telah berada di rumah' sewaktu bersama-sama saudara seiman."

Kekristenan "gaya" Gereja Rumah adalah tubuh Kristus yang berada di rumah biasa, sebuah masyarakat yang terdiri dari kaum "tiga pertobatan" yaitu mereka yang bertobat secara vertikal kepada Allah, mereka yang secara horizontal bertobat kepada satu sama lain yang menyebabkan mereka sanggup bertobat untuk melayani dunia dalam kasih, belas kasihan dan kuasa.

Gereja Rumah dalam banyak hal mirip dengan sebuah kerukunan keluarga besar rohani, saling terkait, spontan dan memiliki dinamika kehidupan di dalamnya. Sama seperti sebuah keluarga besar, dalam menjalani hidup sehari-hari mereka sebagai sebuah keluarga, tidak diperlukan suatu pengorganisasian, birokrasi tinggi beserta upacara-upacaranya. Sesungguhnya, Gereja Rumah adalah cerminan bagaimana orang-orang yang memiliki ikatan kekeluargaan bertingkah laku terhadap yang lain. Karena Gereja Rumah adalah ciptaan adikodrati yang ditemukan dan dikaruniakan oleh Allah, maka ia, bukan semata-mata sebuah marga keluarga yang rukun, yang memiliki beberapa kemampuan khusus. Salah satu kemampuan khusus itu adalah membentuk sendiri struktur penunjangnya dari dalam, yaitu pelayanan lima jawatan yang berfungsi seperti struktur penunjang yang dibangun oleh tubuh manusia, sistem kelenjar dan saraf, jaringan pembuluh darah dan kerangka. Orang bersedia melakukan apa saja untuk mendapatkan kasih, rasa hormat dan penghargaan dari orang lain di sekitarnya. Gereja Rumah menyediakan cara yang sehat dan tanpa persaingan untuk mendapatkan hal-hal tersebut. Gereja Rumah pada dasarnya adalah cara untuk saling mengasihi, mengampuni dan hidup bersama.

Bagaimana Gereja Rumah Itu?

Gereja Rumah mencerminkan kualitas dan karakter Allah. Gaya hidup berkelompok ini dibentuk dalam semangat kasih, kebenaran, pengampunan, iman dan kasih karunia, mengampuni, berduka bersama mereka yang berduka, tertawa bersama mereka yang tertawa, menunjukkan dan menerima kasih karunia, serta secara terus-menerus berada dalam kebenaran dan pengampunan Allah. Inilah tempat di mana segala macam topeng ditanggalkan dan kita bisa terbuka satu sama lain dan di saat yang sama tetap saling mengasihi.

Apa yang Dilakukan di dalam Gereja Rumah?

Kita berada dalam bahaya jika begitu saja mengambil cetak biru dan meniru mentah-mentah "bagian aksi"-nya. Jadi, sekali lagi saya ingin mengingatkan bahwa saya tidak menyarankan kepada siapa pun untuk membuat jiplakan dari gereja Perjanjian Baru. Saran saya adalah kita pelajari dengan serius prinsip-prinsip dan nilai-nilai (values) gereja Perjanjian Baru, mengambilnya sebagai asas-asas yang ditetapkan oleh Allah, dan dengan asas-asas itu kita menciptakan sebuah pergerakan Gereja Rumah di jaman kita, di kampung halaman, tempat di mana ada budaya-budaya khusus -- bahkan di tengah suku kita. Hal ini lebih cenderung merupakan proses inkarnasi daripada sebuah usaha kontekstualisasi. Sebuah proses di mana Allah menjadi manusia lagi di dalam konteks kita, dan bukan sekadar membuat fotokopi murahan dari berbagai model yang sudah ada di tempat lain. Orang-orang yang Allah bangkitkan untuk menyingkap dan menginkarnasikan gereja ke dalam sebuah situasi tertentu, dalam tindakan maupun dalam pemahaman alkitabiah, adalah orang-orang Kristen yang memiliki karunia kerasulan dan kenabian.

Dari telaah terhadap Perjanjian Baru serta gereja mula-mula dan juga gereja-Gereja Rumah kontemporer, ada empat hal yang menonjol. Keempat hal ini kelihatannya merupakan landasan bagi Gereja Rumah sepanjang zaman.

  1. Meating

    ... Perjanjian Baru mencatat hal ini mengenai orang Kristen mula-mula: "Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati" (Kisah Para Rasul 2:46). Agaknya hal ini merupakan pengalaman sehari-hari. Makan adalah tujuan utama dari pertemuan mereka. Paulus berkata, "Karena itu, saudara-saudaraku, jika kamu berkumpul untuk makan, nantikanlah olehmu seorang akan yang lain" (1 Korintus 11:33). Makan merupakan hal yang penting dalam perluasan Kerajaan Allah. Waktu Yesus mengutus murid-murid-Nya berdua-dua (Lukas 10:1-8), Yesus menasihati mereka untuk mencari orang yang cinta damai, serta "makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu". Pada saat murid-murid itu mengakui kebutuhan dasar mereka ialah makan semeja dengan tuan rumah mereka, mereka membagi hidup dengan cara yang paling intim dan mendasar, dan secara profetis mengakui bahwa mereka semua, sadar atau tidak, bergantung kepada Allah yang memberi makanan setiap hari pada seluruh umat manusia. Sehingga, sebagai gantinya, mereka menghidangkan roti hidup kepada sang tuan rumah ....

  2. Saling mengajar untuk taat

    Inti dari pengajaran adalah "firman", kisah tentang Allah, Alkitab, apa yang telah Allah tentukan untuk dinyatakan kepada kita tentang diri-Nya, tentang kita, tentang perjalanan sejarah bumi, dan cara hidup (1 Tesalonika 4:1), sehingga kita dapat menyesuaikan kisah kita ke dalam kisah-Nya yang adalah itu sendiri (His-story).... Inilah pengajaran sistematis terbaik, yang bukan sebuah paket pembelajaran yang bertujuan menyampaikan dari A sampai Z-nya seperangkat doktrin kekristenan versi sendiri kepada para murid. "Sistem" pengajaran yang asli sifatnya relasional atau berdasarkan hubungan, yang dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan seorang murid yang dewasa di dalam Kristus melalui roh yang cepat taat serta suatu pelayanan yang membangun yang berorientasi pada karunia ....

    Gaya pengajaran ini dirancang untuk menolong seseorang menjadi "pelaku Firman", mengajar mereka untuk menaati segala sesuaatu yang telah diajarkan Yesus kepada kita (Matius 28:20). Para ilmuwan mengakan bahwa kita dapat mengingat 10% dari yang kita baca, 20% dari yang kita dengar, 30% dari yang kita lihat, 50% dari yang kita dengar dan lihat 70% dari apa yang kita katakan sendiri dan 90% dari apa yang kita kerjakan sendiri. Hal ini merupakan latihan ilmiah sederhana yang baik, sama baiknya dengan penatalayanan yang memiliki waktu dan tenaga pelaksana, untuk menolong dan membangun orang lain mengekpresikan diri mereka, menjadikan mereka terlibat, mengajar mereka untuk mengajar orang lain bagaimana secara praktis menaati Kristus dalam kehidupan nyata, kehidupan sehari-sehari.

  3. Membagi berkat materi dan rohani

    ... Orang Kristen Perjanjian Baru membagikan kedua hal ini dalam Gereja Rumah-Gereja Rumah mereka: berkat-berkat materi dan berkat rohani: "dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan emreka bersama .... Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya" (Kisah Para Rasul 4:32-35)....

    Orang Kristen sadar bahwa mereka bukan lagi milik mereka sendiri, melainkan milik Kristus, termasuk segala kepunyaan mereka. Waktu orang Kristen berkumpul, mereka saling membagikan apa pun yang mereka punyai, baik materi maupun rohani. Dalam prakteknya, masing-masing Gereja Rumah memiliki dana umum, di mana setiap orang dari mereka mendepositokan uang, pakaian dan barang-barang berharga. Setiap orang punya sesuatu untuk dibagikan dan oleh karena itu setiap orang dapat melayani orang lain. Hal ini membuat setiap orang sanggup menghargai dan menghormati saudara seiman yang lain ....

  4. Berdoa bersama

    "Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kisah Para Rasul 2:42). Doa merupakan detak jantung hubungan antara anak-anak Allah dengan Bapa di sorga. Itu sebabnya, setiap kali orang Kristen berkumpul, mereka akan saling mendoakan, mendoakan pemerintahan, berdoa bagi perdamaian, datang ke hadapan Allah dengan permohonan dan ucapan syukur, berdoa bagi orang-orang yang membenci mereka, melakukan pengusiran setan dan berdoa untuk kesembuhan.

    Dalam doa yang diajarkan Yesus kepada kita, Ia mendorong kita untuk berdoa: "Ampunilah kami akan dosa kami" (Lukas 11:4). Dalam sebuah keluarga yang saling membagi kehidupan, tidak ada kesalahan yang disembunyikan dalam waktu lama. Sebuah keluarga memiliki fasilitas untuk memantau dan mempertanggungjawabkan kehidupan masing-masing secara sehat. Seperti itu pula, Gereja Rumah sebagai sebuah keluarga rohani merupakan tempat ideal untuk saling mempertanggungjawabkan tingkah laku, termasuk di dalamnya saling mengaku dosa. Dalam Yakobus 5:16 ditulis: "Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh." Pada saat orang saling mengaku dosa di hadapan orang lain dan saling mengampuni (Kolose 3:13), dalam budaya mana pun, mereka berhenti menjadi orang munafik, mematahkan kuasa dosa yang tersembunyi dalam hidup mereka. Mereka mengakui kebutuhan mereka akan kasih karunia dan pengampunan .... Mereka bertobat, bukan karena ingin menghindar dari konsekuensi dosa, melainkan karena merasa malu atas apa yang telah diperbuatnya. Hal ini juga akan menegakkan kembali sebuah disiplin gereja (jemaat) yang sehat dan alamiah, seperti yang dikenal oleh gereja pada masa Perjanjian Baru.

Diringkas dari sumber:

Judul Buku : Gereja Rumah yang Mengubah Dunia
Judul Artikel: Karakter Gereja Rumah
Penulis : Wolfgang Simson
Penerbit : Metanoia, Jakarta, 2003
Halaman : 93 - 107

e-JEMMi 33/2003

Apakah Menara Doa Kota?

"Menara Doa Kota" adalah tempat dimana murid-murid Tuhan Yesus (Tubuh Kristus) menaikkan doa, pujian dan penyembahan selama 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 365 hari dalam setahun.

'Menara' ini adalah tempat murid-murid Yesus merindukan, memuji dan menyembah Allah Bapa untuk mendatangkan Kerajaan-Nya supaya kehendak-Nya terjadi di bumi seperti di sorga; di kotanya seperti di sorga, di bangsanya seperti di sorga.

Menara Doa Kota juga merupakan pusat penjagaan bersama murid-murid Tuhan Yesus, kesatuan gereja-gereja Tuhan bagi suatu kota dan bangsa dari hal-hal yang tidak diinginkan/tidak diharapkan. Melalui menara ini, sebagai tempat yang tinggi atau strategis, gereja Tuhan bertugas meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan Tuhan (Habakuk 2:1-3).

Sebelum Menara Doa Kota didirikan kita harus terlebih dahulu mendirikan tembok (yang bisa juga diartikan sebagai tempat-tempat doa per wilayah) yang mengelilingi kota sebagai tempat berdoa (Nehemia 2:17). Kemudian Menara didirikan menjulang tinggi sebagai tempat yang strategis untuk melihat, menggumulkan dan dekat dengan Allah.

Dalam suatu penerbangan, pada saat take off maupun landing seorang pilot akan mengemudikan pesawatnya dengan petunjuk dari orang-orang yang bertugas di menara jaga. Apabila penjaga menara memberi informasi yang salah terhadap pilot, maka pesawat yang dikemudikan kemungkinan besar akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Demikian juga penjaga-penjaga di Menara Doa Kota akan menjadi suara hati Allah sesuai dengan yang difirmankan Tuhan kepada para Gembala yang membawa jemaat masuk dalam rencana Tuhan.

Pada masa-masa sekarang ini dimana berbagai macam krisis melanda bangsa Indonesia, yang semuanya di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya serta untuk mengantisipasi tahun-tahun berikutnya dan dimana kejahatan semakin bertambah-tambah, seharusnya mengundang kesadaran dan tanggapan Tubuh Kristus secara global untuk menjadi pendoa kota -- menjaga atmosfir kota dengan menaikkan doa, pujian dan penyembahan yang terus-menerus seperti di sorga sebagai imamat yang rajani, kepunyaan Allah sendiri (1 Petrus 2:9). Tuhan meminta kita menjadi imam-imam pendoa bagi kota kita, bagi bangsa Indonesia bahkan bagi bangsa-bangsa di dunia.

TUJUAN MENARA DOA KOTA DIDIRIKAN

  1. Gereja Tuhan di suatu kota dipersatukan untuk bersama-sama berdoa, mendamaikan dan menenteramkan kota (Kejadian 22:17). Gereja Tuhan yang telah menerima kemuliaan Tuhan menjadi satu (Yohanes 17:22-23) bersama-sama memenuhi jadwal di Menara untuk mendoakan kota di Menara (Mikha 4:8).

  2. Gereja Tuhan menjadi pendoa kota yang berdiri tegak, melihat, menantikan Tuhan dan mendengarkan apa yang difirmankan Tuhan (Habakuk 2:1-3). Gereja Tuhan bersikap untuk menjaga kota dan memelihara kota supaya iblis tidak merusak dan merebut kota. Merenungkan apa yang terjadi/ada di suatu kota serta mengerti isi hati Tuhan bagi suatu kota.

  3. Sebagai tempat pergumulan rohani dalam tingkat strategis, dimana iblis tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk memanifestasikan pekerjaannya. Kita melakukan pergumulan rohani melawan roh-roh jahat yang ingin merusak dan menghancurkan kota (Efesus 6:12).

  4. Gereja-gereja Tuhan dapat melepaskan berkat dan kuasa Tuhan atas kota secara bersama-sama (Kejadian 22:1-8; 1 Petrus 3:9; Mazmur 133:1-3). Kita menaikkan doa-doa profetik untuk memberkati kota (Yeremia 29:7).

  5. Agar api mezbah Tuhan tidak dibiarkan padam (Imamat 6:12-13). Seorang Imam dalam perjanjian lama bertindak untuk menjaga supaya api tetap menyala di atas mezbah, jangan sampai padam. Tiap-tiap pagi seorang imam akan menaruh kayu dan mengatur korban di atas mezbah. Apabila api di atas mezbah terus menyala, maka kemuliaan Tuhan pasti dinyatakan dan membuat setiap orang percaya akan menyembah Allah yang hidup, Yesus Kristus Tuhan (Imamat 9:23-24; Filipi 2:10-11).

  6. Tempat membangun tempat kemurahan (mercy seat) Allah (Keluaran 25:17-22). Membangun "mercy seat" ini berarti memohon agar belas kasihan/kemurahan Allah dinyatakan karena doa, pujian dan penyembahan yang kita naikkan terus-menerus. Tuhan sedang memulihkan pondok Daud yang telah roboh supaya semua orang mencari Tuhan dan segala bangsa menjadi milik Tuhan (Kisah Para Rasul 15:16-18). Saat berdoa, memuji dan menyembah, maka Allah bertakhta atas pujian kita (Mazmur 22:4) dan Allah sanggup mengubahkan keadaan kota, bangsa kita bahkan bangsa-bangsa di dunia.

  7. Tempat mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Yesaya 40:3-5). Menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dasyat itu, kita mempersiapkan jalan bagi Tuhan, membuka jalan raya, menyingkirkan batu-batu, dan menegakkan panji-panji untuk bangsa-bangsa (Yesaya 62:10). Tuhan mencurahkan roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang yang benar (Lukas 1:16-17). Para pemimpin gereja kota bersama-sama mempersiapkan umat yang layak di Menara Doa Kota.

  8. Agar kehendak dan tujuan Allah dinyatakan di kota dan bangsa (Yohanes 17:1-4; Kisah Para Rasul 17:26-27). Allah mempunyai kehendak dan tujuan bagi setiap kota dan bangsa. Gereja Tuhan berdoa di Menara bukan hanya untuk masalah-masalah yang terjadi, tetapi mengerti apa kehendak dan tujuan Allah bagi kota kita dan bangsa kita.

"Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7)

Diedit dari sumber:

Judul Artikel: Menara Doa Kota (Makalah dari "Konsultasi dan Lokakarya VII Jaringan Doa Nasional VII", Mei 2002)
Penerbit : Jaringan Doa Nasional

e-JEMMi 03/2003

Aspek-Aspek Pujian (Mazmur 33:1-22)

Musik merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Hampir di setiap tempat kita pasti mendengarkan musik. Oleh karena itu, jika hidup manusia harus dipisahkan dari musik, maka hidup ini akan terasa hambar seperti sayur tanpa garam. Musik memang merupakan sesuatu hal yang menarik untuk dibicarakan. Banyak hal berkaitan dengan musik dapat digali menjadi topik menarik untuk diperbincangkan.

Secara khusus mengenai musik gereja, musik memegang peranan penting baik pada saat digunakan secara pribadi maupun kelompok. Secara horisontal musik dapat digunakan untuk menguatkan iman, sedangkan secara vertikal musik dapat digunakan sebagai sarana pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Bagi orang percaya, kata "haleluya" merupakan kata yang sudah tidak asing lagi sebagai ungkapan untuk memuji Tuhan. Kata haleluya berasal dari kata "Halal" dan "YHWH". Kata "Halal" artinya membanggakan, menghargai, memuji. Sedangkan "YHWH" berarti Tuhan. Sehingga haleluya dapat diartikan sebagai pujian kepada Tuhan atau Puji Tuhan. Menggali lebih dalam mengenai memuji Tuhan, Mazmur 33 menguraikan aspek-aspek dalam memuji Tuhan.

Aspek PERTAMA: Perintah untuk Memuji Tuhan

Memuji-muji dan bersorak bagi Tuhan merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan (ayat 1). Tuhan senang menerima pujian karena memang Dia layak untuk dipuji. Tetapi, bukan berarti bahwa semua orang layak untuk memuji Tuhan karena Tuhan hanya menghendaki pujian dari umat-Nya yang hidup benar dan jujur di hadapan-Nya.

Hidup benar di hadapan Tuhan maksudnya adalah setiap orang yang dipandang benar oleh Tuhan. Seseorang dipandang benar di hadapan Tuhan ketika ia percaya kepada Yesus dan dilahirkan kembali sehingga menjadi anak-anak Allah. Jadi sangat jelas bahwa orang yang belum dibenarkan oleh Allah tidak layak menaikkan pujian kepada Tuhan. Anak Tuhan atau orang percaya yang tidak hidup dalam kebenaran, bagi Tuhan tidak ubahnya seperti sesuatu yang menjijikkan dan memuakkan. Hal ini penting sekali untuk diingat bahwa tatkala kita memuji Tuhan haruslah diawali dengan suatu kehidupan yang berkenan kepada-Nya, yaitu kehidupan yang telah dibenarkan oleh Tuhan serta berjalan dalam terang kebenaran Tuhan.

Aspek KEDUA: Metode Memuji Tuhan

Mazmur 33:2-3 menjelaskan dengan gamblang tentang aspek kedua dari memuji Tuhan, yaitu metode yang dapat digunakan dalam memuji Tuhan. Banyak orang berpikir bahwa memuji Tuhan itu hanya dengan mulut. Secara garis besar ada dua metode yang dapat digunakan untuk memuji Tuhan.

PERTAMA, menggunakan instrumen atau alat musik seperti kecapi, gambus, dan lain-lain. Pemazmur menyinggung pula tentang kualitas dalam penggunaan instrumen dalam memuji Tuhan. Tuhan menuntut kualitas terbaik dari yang bersangkutan untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Seberapa baik kualitas seseorang memainkan instrumen musik, itulah yang Tuhan inginkan. Hal ini mengandung pengertian bahwa Tuhan menghendaki persembahan terbaik bukan hanya dari segi teknik, tetapi juga dari sikap hati yang rindu memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

KEDUA, ialah menggunakan vokal atau mulut kita untuk menaikkan puji-pujian kepada Tuhan. Kita tahu bahwa tidak semua orang memiliki kualitas suara seperti artis ternama, tetapi bukan berarti kita tidak layak menggunakan mulut kita untuk memuji Tuhan. Tuhan menghendaki nyanyian baru. Ini bukan berarti setiap kali kita memuji Tuhan harus ada lagu baru. Maksud dari pernyataan di atas adalah tatkala kita memuji Tuhan, itu didasari oleh sikap hati yang terbaru sebagai respon kita kepada Tuhan.

Kita dapat menggunakan musik instrumental atau musik vokal saja untuk memuji Tuhan, tetapi dapat juga menggunakan keduanya dengan sikap hati yang ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan.

Aspek KETIGA: Alasan Memuji Tuhan

Aspek ketiga dalam ayat 4-17, pemazmur menjelaskan kepada kita tentang alasan memuji Tuhan. Sangat jelas bahwa alasan memuji Tuhan berorientasi kepada relasi si pemuji dengan oknum kepada siapa pujian itu dinaikkan. Pujian kepada Tuhan didasari oleh pengalaman pribadi seseorang bersama Tuhan. Semakin banyak pengalaman seseorang bersama Tuhan semakin memungkinkan ia memiliki alasan kuat mengapa ia harus memuji Tuhan. Ini merupakan respon atas hubungan yang terjalin antara si pemuji dan yang dipuji. Alasan memuji Tuhan didasari oleh:

  1. Hal-hal yang telah Tuhan kerjakan. Ayat 4a,6,9 pemazmur berusaha untuk menjelaskan segala sesuatu yang telah Tuhan firmankan yang menjadi alasan mengapa ia memuji Tuhan. Pemazmur mengamati bahwa setiap kali Tuhan berfirman, maka segala sesuatu yang difirmankan-Nya jadi seperti yang dikehendaki-Nya. Ayat 4b,5,7-8, pemazmur kembali menjelaskan tentang alasan memuji Tuhan, yaitu segala sesuatu yang telah Tuhan kerjakan. Tuhan menjalankan segala sesuatu dengan keadilan. Tuhan memelihara bumi ini dengan penuh kesetiaan, sehingga jika tanpa campur tangan Tuhan, maka dapat dipastikan semuanya akan kacau balau.

  2. Hal-hal yang akan Tuhan kerjakan. Ayat 10-11 dijelaskan oleh pemazmur tentang rencana Tuhan yang tidak dapat digagalkan oleh siapa pun. Tuhan sanggup menggagalkan rencana baik bangsa-bangsa maupun suku-suku bangsa, tetapi rancangan hati-Nya pasti selalu terwujud. Dalam ayat 12-17 dijelaskan oleh pemazmur tentang jaminan Tuhan. Banyak orang mendasarkan harapannya kepada kekuasaan, kekuatan, ataupun ketangkasan. Namun, terbukti bahwa semua itu tidak dapat dijadikan jaminan. Sebaliknya, jaminan Tuhan sangat pasti dan tidak perlu disangsikan.

Aspek KEEMPAT: Hasil Memuji Tuhan

Pemazmur sangat menyadari bahwa takkala ia memuji Tuhan bukanlah sebagai sesuatu yang sia-sia. Sebaliknya, dalam ayat 18-22 pemazmur menjelaskan bahwa ada banyak hal positif yang dihasilkan dari kehidupan pujiannya kepada Tuhan. Tatkala ia hidup dalam pujian kepada Tuhan, pemazmur merasakan:

  1. Dalam ayat ke 18-19 pemazmur menyadari dan merasakan pemeliharaan Tuhan yang begitu nyata. Mata Tuhan tertuju kepada orang yang takut akan Dia dan mengharapkan kasih setia-Nya. Sehingga di masa-masa yang sulit sekalipun, pertolongan Tuhan menjadi nyata.

  2. Dalam ayat ke 20-22 pemazmur mengalami penyataan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupannya. Tuhan dirasakan sebagai penolong (ayat 20b), pelindung (ayat 20b), pengudus (ayat 21b), dan pengasih (ayat 22).

  3. Dalam ayat 21a, pemazmur mendapatkan sukacita yang meluap dalam hati dan kenyataan tersebut tidak dapat dibandingkan dengan apa pun juga.

  4. Pemazmur merasakan adanya pertumbuhan iman (Mazmur 33:20a,21b, 22b). Pernyataan tersebut menyatakan bahwa pujian yang benar kepada Tuhan memungkinkan si pemuji mengalami pertumbuhan iman sehingga pengharapan dan keyakinannya kepada Tuhan semakin hari semakin kuat.

Pemahaman yang benar tentang aspek-aspek memuji Tuhan berdampak bukan hanya terhadap pertumbuhan si pemuji itu sendiri, melainkan juga kepada orang yang mendengar pujian dan Tuhan senang dengan pujian seperti itu.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Majalah: Sahabat Gembala, Juli 2005
Judul Artikel: Aspek-aspek Pujian
Penulis : Taru Nugroho S.Th.Smg.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 31 - 34

e-JEMMi 28/2005

Baca Cerita Natal dengan Suara Keras

Sekarang panjatkan lagu pujian kepada Tuhan,
Kalian semua yang berada di tempat ini,
Dan dengan kasih dan persaudaraan sejati,
Masing-masing saling berpeluk-pelukan.
(Lagu: God Rest Ye Merry Gentlemen)

Tidak ada cerita seindah ini. Pikirkan sejenak. Dalam cerita apa kita dapat menemukan kejadian lebih menggemparkan selain daripada cerita mengenai pertemuan malaikat dengan seorang anak dara? Lagu mana yang lebih indah daripada yang dinyanyikan Maria? Kelahiran mana lagi yang lebih misterius dan ajaib?

Dalam cerita mana lagi yang adegannya lebih manis dan mengharukan daripada bayi yang lahir di kandang kumuh? Saat mana yang lebih menegangkan dan menakutkan daripada malaikat yang tiba-tiba muncul kepada para gembala yang menjaga domba di tengah malam? Atau perjalanan larut malam mana lagi yang lebih anggun dan khidmat daripada ketika para gembala mencari bayi yang baru lahir di kota yang penuh dengan pengunjung?

Dalam cerita mana lagi kita bisa melihat orang-orang majus pergi dengan unta untuk memberikan hadiah mewah kepada Putra Raja yang tidak dikenal, atau melihat keputusan besar diambil berdasarkan impian, atau ketergesaan pelarian di tengah malam dari pedang berdarah raja yang kurang waras?

Dalam cerita mana lagi kita menemukan kasih yang lebih lembut?

Cerita Natal mengandung semuanya. Sisihkan waktu pada masa Natal ini untuk membacanya lagi dari awal sampai akhir.

Mulailah dengan Lukas 1:1 dan kalau Anda sudah sampai ke Lukas 1:56, bacalah Matius 1:18 dan baca sampai Matius 1:25. Kembali ke Lukas dan baca Lukas 1:57 sampai Lukas 2:38, lalu kembali lagi untuk membaca seluruh Matius 2.

==> www.sabda.org/sabdaweb/?p=Luk+1:1-56;

==> www.sabda.org/sabdaweb/?p=Mat+1:18-25;

==> www.sabda.org/sabdaweb/?p=Luk+1:57-2:38;

==> www.sabda.org/sabdaweb/?p=Mat+2

Tidak peduli berapa sering Anda sudah membaca cerita ini, Anda akan mendapatkan pengertian baru -- saya jamin! Itu memang keunikan Alkitab, mengajak kita melihat sesuatu yang baru tentang Tuhan dan hubungan kita dengan-Nya dalam setiap pembacaan.

Tidak ada cerita lain yang menawarkan emosi yang lebih luas, plot yang dijalin lebih rumit dan penting, atau tokoh-tokoh yang lebih menarik.

Nikmatilah cerita ini -- ini adalah cerita yang ditulis khusus untuk Anda.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa
Judul Artikel: Baca Cerita Natal dengan Suara Keras [31]
Pengarang : Jan Dargatz
Penerbit : Interaksara, Batam, 1999
Halaman : 105 - 107

e-JEMMi 51/2002

Bagaimana Bermisi?

Ada dua bagian terkait dengan pertanyaan ini. PERTAMA, bagaimana supaya jemaat lokal dirasuki semangat misi? KEDUA, bagaimana supaya jemaat lokal yang bersemangat misi dapat melaksanakan peranannya dalam penginjilan lintas budaya?

  1. Melalui pendidikan misi dalam jemaat

    Perjanjian Lausanne menyatakan, "Penginjilan dunia menuntut segenap gereja menyebarkan Injil seutuhnya ke seluruh dunia." Pemahaman kita atas pernyataan itu, berdasarkan Alkitab, ialah bahwa segenap jemaat harus terlibat dalam misi pemberitaan firman. `Jemaat ialah insan- insan misionaris dari Kerajaan Allah` (Arthur Glasser, Crucial Issues in Mission Tomorrow, redaksi Donald A. McGavran, hlm. 47). `Jemaat tidak mengatur misi seperti mengatur kegiatan-kegiatannya yang lain ... jemaat ialah insan-insan misionaris -- kalau tidak, maka ia tidaklah jemaat` (John Bright, Kingdom of God, hlm. 217- 218).

    Ketika saya memulai tugas kependetaan di Richmond Town Methodist Church, Tuhan memberikan tugas kepada saya untuk menjadikan jemaat itu bersemangat misi. Tapi saya kebingungan dan dicekam keprihatinan menghadapi kenyataan bahwa hanya segelintir saja dari anggota jemaat itu yang mau terlibat dalam program misi. Sedangkan yang lain -- dengan jumlah yang sangat besar dan rajin mengikuti kebaktian Minggu -- hanya menonton. Saya hampir putus asa untuk menggerakkan semua anggota jemaat itu terlibat dalam misi. Akan tetapi, Tuhan menunjukkan kepada saya kebijaksanaan yang meyakinkan untuk mencapai tujuan itu. Apabila anggota yang jumlahnya sangat kecil itu dibina menjadi tim yang giat dan bertumbuh, maka anggotanya akan bertambah dari tahun ke tahun. Itulah kebijaksanaan yang tepat untuk mencapai tujuan itu ... dan memang demikianlah yang terjadi.

  2. Pengajaran

    Tugas kita bersama ialah mengarahkan segenap anggota jemaat untuk berpartisipasi dalam misi Tuhan. Hal ini bukanlah masalah struktural, melainkan spiritual. `Masalah misi adalah masalah pribadi... hanya orang-orang rohani, dan jemaat di mana orang-orang rohani berpengaruh, dapat dan tepat mengemban perintah Kristus` (Andrew Murray, Key to the Missionary Problem, hlm. 8,10). Dalam buku itu, Andrew Murray membahas bagaimana pada abad 19 gerakan kebangkitan Church Missionary Society, yakni ujung tombak misi Gereja Inggris, erat berkaitan dengan kebangunan hidup kerohanian. Murray berkata, `Satu-satunya cara untuk menumbuhkan dan menggalakkan semangat misi yang benar, giat, mendalam, dan rohani, bukanlah berupaya sendiri mencapai hal itu, melainkan menuntut orang-orang percaya makin terpisah seutuhnya dari dunia ini, dan kepada pengabdian mutlak beserta segenap milik mereka bagi Tuhan dan pelayanan-Nya .... Mendahulukan pendalaman hidup kerohanian, maka semangat pengabdian misi dengan sendirinya akan menyusul` (Andrew Murray, Key to the Missionary Problem, hlm 74,86).

    Rahasia pendalaman hidup kerohanian dalam jemaat lokal ialah pengurapan Roh Kudus atas pelayanan Firman Allah. Jemaat wajib mengadakan pembinaan melalui pengajaran dan khotbah untuk mengarahkan setiap anggota jemaat supaya mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan guna menggenapi maksud-Nya. Tanggung jawab misi setiap orang percaya harus jelas terbit dari Firman Allah. Karena itu, pembinaan yang berkesinambungan bagi seluruh anggota jemaat tentang tanggung jawab misi adalah sangat vital. Khotbah sekali setahun tentang misi atau sekali-kali mengundang beberapa misionaris kemudian memaparkan kegiatan mereka tidaklah cukup. Sebelum Paulus dan Barnabas diberangkatkan sebagai utusan jemaat Antiokhia, dalam jemaat itu telah berlangsung pelayanan khotbah dan ajaran yang diurapi Roh Kudus. Perhatikanlah `beberapa nabi dan pengajar` dalam Kisah Para Rasul 13:1.

    1. Pendeta
      Pendeta mempunyai peranan utama dalam program pendidikan misionaris di jemaat lokal ... Ia memimpin dan melayaninya. `Kepadanya dipercayakan tantangan istimewa dan tanggung jawab untuk menanggulangi masalah pencarian, pembinaan, pendanaan, dan pengutusan tenaga misionaris .... Bahkan, pendeta jemaat kecil sekalipun diberi kuasa membuat dampak peranannya dapat dirasakan di seluruh dunia. Tidak seorang pun pendeta layak memangku jabatannya, jika ia tidak memasrahkan dirinya dirasuki oleh Amanat Agung Kristus, menimba daya nalar dan semangat dari Amanat Agung itu guna mengabarkan Injil ke seluruh dunia` (Andrew Murray, Key to the Missionary Problem, hlm. 11-12).

      Seorang pendeta harus meyakini keempat prinsip berikut:

      1. Misi adalah tujuan utama jemaat.

      2. Membimbing dan melengkapi jemaat untuk mengemban misi adalah tugas utama pendeta.

      3. Tujuan utama pemberitaan Firman kepada jemaat ialah melatih dan memampukan jemaat melaksanakan peranannya dalam kegiatan misi.

      4. Dalam kaitan ini tujuan utama setiap pendeta ialah mencakapkan diri untuk tugas ini (Andrew Murray, Key to the Missionary Problem, hlm. 138).

    2. Komisi-komisi
      Pada kebanyakan jemaat lokal ada beberapa komisi tersendiri, antara lain komisi anak, pemuda, wanita, dan pria. Melalui komisi-komisi inilah anggota jemaat dari berbagai kelompok usia dapat disadarkan akan tanggung jawab misinya dan dilatih untuk melayani. Komisi- komisi ini bisa terus-menerus menjadi sumber tenaga trampil yang penuh pengabdian untuk pelayanan misi. Tapi sayang, pada kebanyakan jemaat komisi-komisi ini merana, terombang-ambing tanpa arah, tanpa rencana kerja dan kepemimpinan.

    3. Usaha-usaha khusus
      Di samping program pelayanan rutin tersebut tadi, jemaat lokal wajib mengadakan konferensi tentang misi, setidak-tidaknya sekali setahun. Dalam kesempatan itu diberikan ajaran yang gamblang tentang misi sesuai amanat Alkitab. Tema khotbah tentang misi dapat disajikan pada kebaktian Minggu sebulan sekali atau tiga bulan sekali. Atau, menyelenggarakan seminar-seminar dengan topik khusus tentang misi, mengundang tokoh-tokoh misionaris dan pemimpin-pemimpin badan misi.

  3. Inspirasi

    Jemaat di Antiokhia adalah jemaat misioner teladan. Jemaat itu terkendali dan bersemangat karena dipacu oleh para nabi dan para pengajar (Kisah Para Rasul 13:1). Dan yang terpenting lagi, jemaat itu beribadah, berpuasa, dan berdoa (Kisah Para Rasul 13:2,3). Jemaat duniawi yang tidak menyangkali diri, atau tidak mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan, mustahil memberi perhatian yang sungguh- sungguh terhadap misi.

    1. Doa
      Jemaat lokal harus belajar dan berlatih terlibat dalam pelayanan misi melalui doa syafaat. Jemaat wajib mendoakan kebutuhan orang- orang yang tersesat, orang-orang yang belum pernah mendengar Injil, dan para misionaris yang bekerja di antara mereka. Jemaat harus tahu cara mengkomunikasikan Injil, sehingga si komunikan tergerak membuat keputusan sendiri untuk menerima Injil. Berpuasa dan berdoa senantiasa adalah persiapan yang baik bagi keterlibatan dalam misi yang begitu penuh pergulatan dan sangat peka. Di India, paling sedikitnya ada dua badan misi yang lahir oleh dukungan doa demikian.

    2. Iman dan pengabdian
      Jemaat yang dirasuki semangat misi pastilah jemaat yang beriman dan setia mengabdi kepada Tuhan. Adalah bermanfaat bagi setiap anggota jemaat -- pribadi atau keseluruhan -- pada awal tahun kegiatannya memutuskan jumlah dana yang akan mereka khususkan untuk kegiatan misi pada masa pelayanan satu tahun itu. Jumlah dana itu haruslah realistis -- tidak ada gunanya memutuskan jumlah yang besar padahal sangat tipis kemungkinannya dapat mengumpulkan uang sebanyak itu pada waktunya. Setiap anggota harus setia pada janjinya; jangan sampai pada akhir tahun seseorang menyesali dirinya karena tidak dapat memenuhi janjinya. Menepati janji dalam hal persembahan ini adalah ujian iman dan tekad bagi orang bersangkutan.

    3. Kuasa Roh Kudus
      Kegiatan misi yang dirasuki oleh semangat pentakosta, hanya mungkin dilaksanakan ... dengan kuasa pentakosta. Jemaat lokal perlu dipenuhi dan dituntun oleh Roh, sehingga peka dan cepat tanggap untuk menaati Roh Kudus. Roh Kudus mempersiapkan Kristus untuk merelakan diri-Nya menjadi korban tebusan dosa guna memenuhi maksud Allah. Roh Kudus juga mempersiapkan jemaat dan orang-orang percaya untuk melaksanakan maksud penebusan Allah pada zaman ini.

  4. Informasi

    Informasi tentang misi sebagai bagian dari pendidikan misi di jemaat lokal adalah sama pentingnya dengan unsur `pengajaran` dan `inspirasi` (lihat bagian terdahulu). Yesus berkata, `Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai` (Yohanes 4:35). Perintah ini erat berkaitan dengan segala kebutuhan penginjilan, perintah yang harus diketahui oleh semua anggota jemaat. Ketidaktahuan akan misi merupakan kendala besar bagi anggota jemaat untuk terlibat dalam kegiatan misi. Banyak anggota jemaat yang sama sekali tidak mengetahui kebutuhan penginjilan di dunia. Bagaimana menyampaikan informasi ini?

    1. Literatur tentang misi
      Menyediakan bagi anggota jemaat majalah, buku, pamflet, ataupun brosur yang melukiskan keadaan dan kebutuhan daerah-daerah atau suku-suku tertentu. Media cetak itu dapat diedarkan, misalnya melalui perpustakaan gereja. Juga melalui mimbar, apabila sekali- kali pendeta menyinggung hal dan berita penginjilan sambil menunjukkan media terkait sebagai sumber berita itu.

    2. Berita tentang misi
      Jemaat lokal seharusnya memiliki -- paling tidak -- sebuah papan penerangan untuk tempat menempelkan peta, guntingan koran atau majalah tentang misi, gambar-gambar misionaris, dan suku-suku bangsa di dunia. Juga informasi faktual mengenai suatu suku bangsa yang belum mengenal Injil, misalnya, baik sekali bila ditempelkan. Informasi penginjilan macam ini baiklah diusahakan senantiasa baru dan segar, justru harus diganti secara teratur.

    3. Kunjungan tokoh misionaris
      Mengundang misionaris atau pemimpin badan misi dan memperkenalkan mereka kepada jemaat, penting dan besar sekali manfaatnya. Mereka ditugasi menyampaikan informasi yang segar tentang misi kepada jemaat. Pendeta dapat menyinggung pokok-pokok informasi ini dalam doa pada kebaktian minggu-minggu berikutnya.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku : Misi dan Jemaat Lokal
    Judul Artikel: Bagaimana Bermisi?
    Penulis : L.S. Teesha
    Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih, Jakarta
    Halaman : 20 - 29

    e-JEMMi 21/2005

Bagaimana Gereja Anda Dapat Menginjili?

Para pemimpin telah sering menekankan pertobatan, namun kunci penginjilan saat ini adalah pra pertobatan.

Saya bertanya kepada salah seorang wanita yang akan segera dibaptis, "Sudah berapa lamakah Anda berbakti di gereja ini?" "Dua tahun." "Kapan Anda bertemu Tuhan Yesus secara pribadi?" "Dua minggu yang lalu."

Saya merasa tergugah untuk mengetahui lebih lanjut. Seusai kebaktian, saya mencari wanita tadi dan bertanya, "Anda perlu memberitahukan kepada saya: Apakah Anda datang di gereja ini setiap minggu selama dua tahun, ataukah hanya sekali setahun, atau yang lainnya?" "Saya datang hampir setiap minggu." "Dan Anda baru menerima Kristus dua minggu yang lalu?" "Benar." "Saya tidak ingin membuat Anda merasa sedih," tutur saya, "tetapi mengapa Anda menunggu begitu lama?" "Keluarga saya mulai menjadi Kristen dan kemudian goyah. Saya telah mengalami aborsi tiga kali dan masalah obat-obatan. Saya menghadiri sebuah sajian acara musik gereja dengan seorang teman, dan ia mengajak saya datang di kebaktian-kebaktian penyembahan. Saya telah mendengar bahwa di tempat inilah saya akan dikasihi dan diterima sebagaimana adanya saya. Tetapi, memerlukan waktu yang cukup lama bagi saya untuk dapat meyakininya."

Pada tahun 1990-an, orang-orang tak bergereja di Amerika yang menerima Kristus biasanya melewati suatu "fase pra pertobatan" yang panjang. Kami mendapati bahwa sebagian besar jemaat mengikuti sedikitnya empat peristiwa penjangkauan sebelum mereka hadir di suatu kebaktian secara teratur. Fase pra pertobatan ini mungkin berlangsung setahun sampai dua tahun, dan ditandai dengan kehadiran secara sporadis.

Mengapa?

Pada saat orang-orang yang belum bergereja hadir dalam gereja kami, mereka berada pada suatu titik awal yang berbeda bila dibanding dengan golongan orang yang belum bergereja 50 tahun yang lalu. Golongan orang yang belum bergereja itu adalah kaum relativis yang sempurna, yang telah menerima pluralisme sampai batas yang tak masuk akal, dan tidak dapat menerima bagaimana Alkitab dapat memiliki kewenangan mutlak (bersifat otoritatif) dalam hidup mereka.

Mereka memerlukan suatu tahap pra pertobatan yang seksama dan seringkali membutuhkan waktu lama, sehingga mereka dapat membangun kepercayaan kepada kita, membangun otoritas Alkitab, dan hubungan- hubungan yang erat. Kami harus menghormati fase itu. Golongan orang yang belum bergereja dewasa ini tidak mempercayai gereja, dan mereka perlu datang dan hanya mengamati diri kami untuk sementara waktu.

Perbedaan terbesar antara sebuah gereja yang berhasil dalam penjangkauan dan yang kurang berhasil adalah: "Di manakah Anda bersedia untuk memulai dengan mereka, dan sampai kapankah Anda akan bersabar bersama mereka selama fase pra pertobatan?"

Selama bertahun-tahun kami telah banyak berdoa, mengadakan riset, dan uji coba di dalam menolong jemaat mengatasi rintangan-rintangan yang tinggi di antara mereka dan iman Kristen.

Fokus pada "Mengajak-dan-Mengikutsertakan"

Mengundang orang-orang yang belum bergereja untuk menghadiri suatu acara penginjilan tidaklah sulit. Tetapi, mengundang mereka untuk menghadiri suatu kebaktian secara teratur, itulah yang sulit. Di Eastside Church, kami memberikan sponsor kepada kelompok-kelompok pendukung dan program-program "dua belas langkah", menyelenggarakan festival jazz dan seni Kristen, dan melanjutkan dengan acara-acara musik pada Hari Natal dan Paskah. Kami selalu mampu mengumpulkan sekelompok orang untuk menghadiri acara-acara penjangkauan seperti itu. Akan tetapi, mengundang seseorang untuk menghadiri sebuah acara khusus tidaklah sama dengan mengundang dia untuk datang ke kebaktian di gereja secara teratur.

Rahasianya bukan memperbanyak jumlah staf yang dibayar. Sebuah gereja akan gagal jika berusaha untuk menerima orang yang belum berpengalaman ke gereja pada saat ini hanya melalui berbagai cara dan program yang kelihatan menarik. Pengikat yang efektif adalah hubungan yang terjalin dalam suasana persahabatan yang akrab -- seorang anggota jemaat mengajak teman-temannya yang lain dan memasukkan mereka ke dalam kehidupan gereja. Riset telah menunjukkan bahwa di antara 10 orang yang datang ke sebuah gereja dan kemudian hadir secara tetap, ternyata yang 9 orang dibawa seorang teman.

Kami menginvestasikan bagian terbesar waktu dan uang kami bukan pada iklan, tetapi pada usaha menolong jemaat kami untuk dapat mengajak dan mengikutsertakan teman-teman mereka (kami lebih senang menggunakan istilah mengajak dan mengikutsertakan daripada penginjilan).

Sedikitnya empat kali dalam setahun, kami membagikan suatu Paket "Mengajak-dan-Mengikutsertakan". Isi paket ini termasuk kaset pelatihan tentang cara mengajak teman Anda untuk hadir dalam sebuah kelompok kecil atau sebuah acara penjangkauan (yang kami sebut pelayanan ajak-dan-ikutsertakan). Paket tersebut termasuk juga kartu-kartu untuk dibagikan kepada teman-teman; kartu itu memuat daftar jam-jam kebaktian dan menunjukkan sebuah peta jalan menuju lokasi gereja.

Kami juga melakukan survei terhadap jemaat kami: "Menurut Anda, berita seperti apakah yang paling ingin didengarkan teman-teman Anda yang akan datang di gereja?" Beberapa kali setahun kami menggunakan hasil riset tersebut untuk menciptakan pesan-pesan yang sesuai dengan keadaan mereka yang belum terbiasa datang ke gereja. Satu seri khotbah tentang keluarga, misalnya, mempunyai sasaran golongan orang yang belum bergereja. Kami menganggap bahwa para pendengar tidak yakin pada rencana Allah bagi keluarga, karena itu kami menjelaskan dan mengilustrasikan mengapa rencana Allah bekerja??. Dalam suatu khotbah untuk penjangkauan seperti itu, kami memulai dengan budaya kami -- lagu-lagu John Lennon atau sebuah film karya Woody Allen, misalnya -- dan kemudian masuk kepada kebenaran Alkitab, dan mengakhirinya dengan eksposisi Alkitab.

Kami menindaklanjuti para pengunjung yang didasarkan pada asumsi bahwa mereka telah diajak oleh teman-teman mereka. Pada saat para pengunjung memutuskan untuk menerima Kristus, kami akan mengatakan sesuatu seperti ini: "Jika Anda mengajak seorang teman hari ini, dan ia dapat menghargai bantuan Anda di dalam mempelajari secara lebih mendalam tentang kehidupan Kristen, kami mendorong Anda supaya pergi bersama-sama ke ruang resepsi. Di sana Anda dapat mengambil paket- paket yang tepat dan sesuai bagi mereka yang baru saja mengambil keputusan untuk menerima Kristus. Setelah itu, Anda dapat melakukan beberapa hal yang baik bagi teman Anda. Pertama, jika Anda belum bergabung dengan sebuah kelompok kecil, bergabunglah dalam salah satu kelompok bersama mereka. Bagian informasi kami akan menunjukkan kepada Anda satu kelompok yang baik. Kedua, ikutilah kelas Pendalaman Alkitab di gereja bersama teman Anda." (Seringkali pertobatan seorang teman menjadi langkah awal bagi si pembawa jiwa baru dalam proses pemuridan selanjutnya).

Dalam beberapa minggu setelah suatu acara penjangkauan, kami menghubungi orang yang baru hadir itu per telepon sekali, tetapi kami menelepon tiga kali kepada si pembawa jiwa baru. Kami bertanya, "Adakah masalah-masalah spesifik yang dapat kami bantu penyelesaiannya?" Beberapa tahun lalu kami berpikir tentang bagaimana menjadikan gereja kami agar tidak terlalu banyak dikuasai pendeta, melainkan lebih banyak dikuasai kaum awam. Hal yang mengejutkan kami, yaitu bahwa kami mendorong jemaat kami untuk melakukan pelayanan, dan sebagai akibatnya, mereka sering dapat membawa seorang teman kepada Kristus. Gereja-gereja yang lain mungkin memiliki alasan-alasan teologis untuk tidak melakukan apa yang kami lakukan, tetapi pokok masalahnya adalah ini: Kami menekankan ikatan si petobat baru dengan tubuh Kristus, bukan dengan kelompok yang profesional. Langkah yang strategis adalah mengaktifkan kaum awam, memandang pendeta sebagai pembantu untuk melengkapi mereka, dan memberikan alat perlengkapan kepada jemaat yang sungguh-sungguh melakukan pelayanan.

Menciptakan Suatu Tempat yang Aman

Seorang pria telah menghadiri beberapa acara penjangkauan dan mulai menghadiri kebaktian pada setiap Sabtu malam. Ia telah terjebak dalam suatu gaya hidup gay dan sedang mencari suatu jalan keluar, namun ia takut kalau-kalau ditolak gereja. Suatu hari ia datang kepada saya sesudah kebaktian dan mengatakan, "Saya seorang homoseksual. Saya telah mengikuti kebaktian di sini selama beberapa bulan dan telah menyaksikan sikap Anda dan gereja Anda. Saya tertarik karena gereja ini menjadi suatu tempat yang aman. Saya ingin menyerahkan kehidupan saya kepada Kristus." Kami berdoa, dan sesudah itu saya memperkenalkan dia kepada para pemimpin pelayanan kami untuk kaum homoseksual. Ia bergabung dalam program ini, dan tiga bulan kemudian ia menulis surat kepada saya. "Saat yang amat menentukan dalam kehidupan saya untuk mengatasi keinginan homoseksual," tulisnya, "adalah ketika saya berjumpa dengan Anda dan menceritakan kepada Anda keberadaan saya apa adanya. Sesudah mengikuti kebaktian selama beberapa bulan, saya merasa bahwa saya dapat diterima. Saya tahu bahwa Anda melihat seorang pribadi, bukannya seorang pria gay. Pada saat itu saya tahu bahwa saya sudah bebas."

Orang-orang yang belum bergereja akan kembali ke suatu gereja yang memberikan rasa aman. Bagi mereka, inilah unsur yang paling penting. Jika mereka tidak merasa aman bersama Anda, mereka tidak akan mau tinggal cukup lama untuk mendengarkan berita kebenaran.

Anda dapat melakukan beberapa hal untuk menjadikan diri Anda dan gereja Anda sebagai tempat yang terasa aman bagi orang-orang yang belum bergereja.

Jelaskan maksud Anda yang sesungguhnya. Apabila kami bertanya kepada mereka yang belum bergereja mengapa mereka tidak datang ke gereja, keluhan nomor satu, yaitu bahwa mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi atau yang sedang disampaikan oleh pendeta. Kami mencoba menghilangkan berbagai asumsi tentang apa yang akan dimengerti para jemaat, dan kami berusaha keras untuk berbicara dengan bahasa yang dimengerti oleh mereka yang belum bergereja dan belum berpengalaman. Berilah penjelasan mengapa. Kelompok masyarakat pasca modernisme menolak komunikasi jenis petunjuk langsung. Jika suatu khotbah dimulai dengan pernyataan otoritatif tentang bagaimanakah seharusnya jemaat bersikap, khotbah seperti itu akan membuat mereka mundur. Saya telah membuktikan bahwa lebih baik berbicara secara persuasif, meski kadang-kadang perlu waktu dua kali lebih lama untuk menjelaskan suatu pokok masalah. "Jika Anda mempercayai hal ini, pasti akan terjadi demikian; jika Anda percaya hal itu dengan sungguh-sungguh, pasti hal itu pun akan terjadi."

Dengan kata lain, jemaat sekarang lebih cenderung akan datang kembali ke sebuah gereja yang memberikan penjelasan mengapa. Salah satu di antara kaset-kaset rekaman yang paling banyak diminati adalah "How We Got the Bible and Why We Know It's the Word of God" (Bagaimana Kita Menerima Alkitab dan Mengapa Kita Tahu bahwa Alkitab adalah Firman Allah).

Jangan merepotkan jemaat. Saya mempunyai seorang teman yang menjadi rabbi. Suatu ketika saya berkata kepadanya, "Tidak takutkah Anda bergaul dengan orang seperti saya, seorang penginjil yang lebih senang melihat Anda bertobat?" Ia seorang pakar Kitab Roma 9-11 dan mengajar di banyak seminari. Ia berkata, "Oh, tidak. Saya adalah anugerah Allah bagi Anda. Menurut pemahaman saya tentang Perjanjian Baru, tugas saya adalah memberikan kesempatan kepada Anda untuk mengasihi. Jika saya diyakinkan, itulah pekerjaan Roh Kudus. Pekerjaan Anda mengasihi, dan Roh Kudus meneguhkan." Rabbi itu mungkin memahami proses tersebut dengan lebih baik dibanding kita! Orang-orang merasa aman apabila kita mengasihi mereka dan tidak berusaha memaksakan keputusan untuk segera menerima dan mengikut Kristus.

Jangan kaget karena banyaknya masalah. Orang-orang yang belum bergereja mengira bahwa gereja tidak menginginkan orang-orang yang bermasalah dengan dosa. Mereka menganggap bahwa orang-orang yang datang ke gereja adalah sempurna -- atau sedikit agak munafik untuk bertindak seperti mereka. Apabila Anda tidak menempelak dosa-dosa mereka, mereka merasa tenang. Apabila pendeta menunjukkan sikap transparan dalam khotbah-khotbahnya, misalnya, hal ini dapat membuat mereka mengakui masalah-masalah mereka.

Berikan tawaran-tawaran yang tidak mengancam. Kami tidak mengadakan tantangan untuk maju ke depan (altar call) di gereja, sebab banyak orang yang belum bergereja telah melihatnya melalui acara TV dan tidak menyukainya. Namun demikian, kami selalu memberikan suatu tawaran pada acara-acara penjangkauan. Biasanya kami akan meminta hadirin agar memejamkan mata, dan kemudian meminta mereka yang mau menerima Kristus supaya memandang pembicara. Kami melakukan kontak mata dengan mereka dan mengajukan beberapa pertanyaan, memohon mereka untuk mengangguk sebagai tanda tanggapan, guna meyakinkan mereka mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Kami akan bertanya, "Apakah Anda diajak seorang teman?" Jika seseorang mengangguk, kami meminta dia untuk bercerita kepada temannya itu tentang keputusan yang baru dibuat. Kami berdoa dan kemudian menawarkan suatu paket gratis berisi kaset-kaset dan pelajaran Alkitab. Pada saat kami mendorong jemaat agar pergi bersama teman mereka menuju ruang resepsi, kami mencoba mengarahkan mereka supaya tidak agresif: "Kami menyadari bahwa banyak orang tidak mau melakukan hal ini segera. Jadi, lakukanlah minggu depan, apabila Anda merasa kurang tertarik pada sesuatu. Kami tertarik dengan keputusan Anda sendiri, bukan memaksakan kehendak kami pada Anda." Tidak berapa lama kemudian, seorang pria anggota gereja kami mengajak tiga atau 40 orang teman sekerjanya ke suatu acara penjangkauan dan kemudian mengadakan suatu pesta besar sesudah acara itu. Di situlah mereka berbicara tentang apa yang mereka alami dalam suasana yang menyenangkan dan nyaman tanpa ada ancaman. Di akhir acara tersebut, ia berkata, "Silakan datang kembali ke gereja secepat mungkin Anda dapat. Saya yakin Anda akan menyukainya." Ternyata ada banyak di antara temannya yang datang ke gereja; bahkan beberapa telah menerima Kristus. Jemaat yang dilatih untuk menjadi "pembawa-dan-penarik" jiwa dapat mengajak teman-teman mereka ke sebuah gereja yang mereka pandang relevan dan aman bagi mereka. Dan cepat atau lambat, sebagian besar di antara mereka, kalau tidak semuanya, pasti akan kembali ke gereja.

[- Doug Murren adalah pendeta pendiri Eastside Foursquare Church di Kirkland, Washington.
- Mike Meeks adalah pendeta senior eksekutif di Eastside Foursquare Church di Kirkland, Washington.]

Diedit dari sumber:

Judul Buletin : Kepemimpinan, Volume 35, Tahun IX
Judul Artikel : Bagaimana Gereja Anda Dapat Menginjili?
Penulis : Doug Murren dan Mike Meeks
Penerbit : Yayasan Andi
Halaman : 37 - 42

e-JEMMi 12/2004

Bagaimana Melibatkan Anak dalam Pelayanan Misi


Apakah strategi mobilisasi di gereja anda juga melibatkan anak-anak? Gerry Dueck, Jill Harris, dan Kim Butts menantang kita melalui artikel di bawah ini untuk melibatkan anak-anak secara strategis dalam pelayanan misi yang kita lakukan, termasuk diantaranya dengan mengajak mereka mendoakan pelayanan misi.

Sebagian besar dari kita yang memikirkan visi jangka panjang harus sepenuhnya menyadari bahwa anak-anak generasi ini merupakan calon-calon tenaga potensial untuk menjadi pendoa dan pelaku pelayanan misi pada generasi yang akan datang. Berikut ini adalah beberapa hal yang disarankan bagi mereka yang terlibat dalam merencanakan strategi bagaimana mobilisasi gereja untuk pelayanan misi:

  1. Gunakan SETIAP KESEMPATAN untuk menginformasikan, mendidik, menantang dan melibatkan anak-anak dalam setiap pelayanan misi yang dilakukan gereja anda. Pikirkan bagaimana Allah dapat bekerja melalui anak-anak.

  2. Dorong PARA AKTIVIS MISI di gereja anda untuk menyadari adanya sumber luar biasa yang mereka miliki, yaitu pelayanan anak-anak. Bantulah para aktivis itu untuk memberikan semangat kepada para pelayanan anak sekaligus menyediakan kesempatan bagi para pelayan anak untuk mengikuti pelatihan-pelatihan sehingga dapat meningkatkan pelayanan mereka.

  3. Cari dan gali SUMBER-SUMBER seputar pelayanan anak yang banyak tersedia untuk memuridkan anak-anak itu dan mengenalkan mereka pada pelayanan misi. Sumber-sumber itu kadang-kadang menyediakan bahan-bahan siap pakai.

  4. Sediakan waktu secara teratur untuk MENDOAKAN ANAK-ANAK. Banyak statistik yang menunjukkan tentang kebutuhan-kebutuhan anak-anak di seluruh dunia akan membuat kita menangis. Banyaknya kesaksian yang menceritakan tentang bagaimana Allah bekerja melalui anak- anak yang membuat kita ikut bersuka cita.

  5. Jalin hubungan dengan orang-orang di wilayah anda yang terbeban dalam pelayanan anak. Selenggarakan PELATIHAN bagi para pelayan anak dalam setiap KONFERENSI misi yang diadakan gereja anda. Sajikan juga sumber-sumber PENDIDIKAN MISI untuk anak-anak. Dorong jemaat gereja anda untuk mengikuti SEMINAR-SEMINAR tentang Pelayanan Misi anak baik di tingkat nasional maupun regional.

  6. SHARINGKAN ide-ide anda tentang memobilisasi anak-anak untuk terlibat dalam pelayan misi saat anda MENJALIN JARINGAN dengan gereja-gereja lain.

Sumber: TESTIMONY--2002-03-19 (Mobilizing Children)

e-JEMMi 24/2002

Bagaimana Membentuk Seksi Misi Dalam Gereja Lokal

Mengapa setiap gereja lokal membutuhkan Seksi Misi? Karena pengalaman membuktikan bahwa jika tidak ada orang-orang tertentu yang diberi tanggung jawab atas kegiatan Misi di gereja lokal maka sudah pasti Misi akan dilalaikan oleh gereja tersebut.

Apakah Tugas Seksi Misi?

Tugas-tugas Seksi Misi adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan tujuan/sasaran untuk perkembangan program Misi gereja.

  2. Menentukan rencana tahunan untuk mencapai tujuan/sasaran tersebut.

  3. Merencanakan kegiatan Misi dalam program tahunan gereja. Misalnya antara lain:

    1. Kebangunan Rohani Misi setahun sekali.

    2. Mengundang Pengkotbah Misi/misionari/calon misionari untuk pelayanan mimbar.

    3. Janji iman untuk dana Misi.

    4. Seminar Misi.

  4. Menyalurkan bahan doa dan berita Misi kepada seluruh jemaat.

  5. Mengatur kunjungan tim dari gereja ke daerah Misi tertentu.

Bagaimana membentuk seksi Misi?

Ada dua cara yang dapat kita lakukan:

CARA A: Jika anda tidak duduk pada kepemimpinan gereja

  1. Cari satu dua anggota gereja yang terbeban akan Misi.

  2. Dalam sikap doa dan rendah hati, dekatilah gembala sidang/pendeta/ketua majelis.

  3. Tanyakan kemungkinan gereja membentuk seksi/panitia Misi.

    1. Tunjukkan daftar tugas pokok seksi Misi yang disarankan.

    2. Bahas bersama tetapi hargailah usul dan pesan dari para pemimpin gereja anda.

  4. Nyatakanlah kerelaan anda untuk membantu dalam kegiatan Misi.

  5. Jikalau disetujui dukunglah Misi yang dibentuk.
    Jikalau tidak disetujui adakan kumpulan non-formal secara teratur bersama satu dua teman sehati untuk mendoakan keterlibatan gereja anda dalam Misi. Dukunglah kegiatan Misi yang ada, gairahkanlah orang lain dalam jemaat anda terhadap Misi. Jagalah hubungan baik antara anda dengan gereja anda.

CARA B: Jika anda duduk sebagai pemimpin gereja

  1. Membahas kebutuhan membentuk seksi Misi secara non formil lebih dulu bersama anggota yang lain dari majelis gereja.

  2. Membawa kebutuhan tersebut dalam agenda rapat formil.

  3. Tanyakan kemungkinan gereja membentuk seksi/panitia Misi.

    1. Tunjukkan daftar tugas pokok seksi Misi yang disarankan.

    2. Bahas bersama tetapi hargailah usul dan pesan dari parapemimpin lain di gereja anda.

  4. Tentukanlah hubungan organisatoris Seksi Misi pada bagan organisasi gereja. (Harus jelas kepada siapa dan atas siapa Seksi Misi bertanggung jawab).

  5. Bentuklah Seksi Misi.
    1. Mengangkat anggota Seksi Misi menurut peraturan yang berlaku di gereja anda.

    2. Diatur sesuai dengan situasi kondisi gereja anda.

    3. Sebaiknya paling tidak, salah satu anggota majelis gereja duduk pada Seksi Misi.

Sumber: Terang Lintas Budaya edisi 45

e-JEMMi 26/2001

Bagaimana Mendoakan Para Misionaris

Jemaat-jemaat setempat yang ingin menaati kehendak Allah tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, melainkan harus bersedia untuk terlibat dalam misi sedunia. Itulah sebabnya mereka diminta untuk mendoakan para tenaga yang bersedia diutus.

Tuhan Yesus memberi perintah kepada murid-murid-Nya dalam Matius 9:37-38, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Dengan kata lain, Tuhan Yesus tidak mengatakan, "Lihatlah ladang misi sudah siap. Sekarang, paling tidak, kalian yang sudah mengenal Saya, bekerja keraslah supaya tuaian tidak busuk." Sebaliknya, Dia menasihati para murid-Nya dengan perkataan yang sama sekali lain, "Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Kekurangan pekerja perlu menjadi pokok doa. Karena Allah adalah penuai, Dialah yang harus mengirimkan para pekerja tersebut.

Kata kerja yang dipakai dalam bahasa Yunani adalah "ekballo" yang berarti `dibuang keluar`. Tiap orang yang melayani di ladang misi harus "dipanggil oleh Allah sendiri" dan "dibuang keluar" oleh Allah. Allah tahu bahwa pergi keluar tidak gampang bagi anak-anak- Nya. Itu sebabnya dengan kekuatan Allah, Dialah yang ingin membuang mereka keluar. Jika pekerja-pekerja tidak "dibuang keluar" oleh Allah, mereka tidak akan bisa bertahan di ladang pelayanan yang begitu sulit. Kekurangan tenaga misionaris pada masa kini tidak bisa diatasi hanya dengan menantang jemaat saja, melainkan harus dimulai dengan doa jemaat-jemaat setempat di seluruh Indonesia.

Oleh sebab itu, marilah kita berdoa supaya Tuhan memanggil misionaris untuk hal-hal berikut.

  1. Keluar Indonesia

    Indonesia tidak lagi hanya merupakan sebuah ladang misi yang menerima misionaris berkulit putih, melainkan harus mengambil bagian aktif dalam pekabaran Injil di seluruh dunia. Sekarang sudah ada misionaris asli Indonesia yang melayani dengan OM (Yayasan Obor Menyuluh) dan YPPII (Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia), WEC International, OMF, dan BMI (Badan Misi Injili) di benua Asia, Afrika, Amerika, Amerika Selatan, bahkan Eropa.

  2. Keluar dari jemaat

    Biasanya jemaat-jemaat tidak ingin berdoa agar dari antara mereka ada yang dipanggil untuk melayani Tuhan di ladang misi. Karena menurut hemat mereka gereja mereka sendiri juga memerlukan tenaga.

  3. Dari kelompok pemuda-pemudi

    Adalah satu hak istimewa kalau Tuhan memanggil pekerja dari persekutuan pemuda-pemudi. Allah itu tidak kikir, Dia akan menggantikan "kerugian" ini dengan berkat rohani yang luar biasa.

  4. Dari keluarga

    Paling sulit bagi orang Kristen untuk berdoa supaya Tuhan memanggil tenaga misi sedunia dari keluarga mereka sendiri. Pernah ada seorang ibu yang rohani sekali dan banyak mengikuti persekutuan doa, tetapi tidak pernah berdoa supaya Tuhan mengirimkan pekerja dari keluarganya. Pada waktu ditanya mengapa dia berbuat demikian, dia menjawab, "Saya takut Tuhan mengabulkan doa saya sebab saya tidak siap untuk memberi korban ini." Ibu ini bukanlah suatu perkecualian; dia mewakili banyak anggota jemaat dan keluarga.

  5. "Saya siap"

    Mari kita berdoa, supaya diri kita siap untuk diutus. Dan kita bisa bersaksi seperti Yesaya (Yesaya 6:8c), "lni aku, utuslah aku!" Memang benar bahwa doa bagi misi membangkitkan beban untuk melibatkan diri dalam misi sedunia.

Jikalau sudah ada utusan misi yang dipanggil dan melayani di ladang misi, jemaat mereka biasanya mendoakan mereka seperti ini, "Tuhan, berkatilah keluarga X di Bangladesh, berilah kesabaran dan kemampuan dalam belajar bahasa kepada mereka. Berikanlah sebuah mobil kepada mereka, dan sebagainya." Ini merupakan pokok doa yang penting, akan tetapi masih ada pokok doa yang lebih penting yang hampir selalu dilupakan.

Kalau kita belajar dari cara Rasul Paulus mendoakan jemaat dan teman sepelayanannya, kita akan mengetahui bagaimana berdoa, supaya tidak hanya kebutuhan sehari-hari mereka saja yang didoakan, melainkan juga untuk pelayanan mereka di ladang misi agar sungguh-sungguh efektif di mata Tuhan dan kuasa iblis dikalahkan.

Rasul Paulus berdoa, supaya jemaat yang berada di Efesus bisa hidup sebagai orang-orang yang telah dipanggil dan mereka dapat berpadanan dengan panggilan itu. Mereka harus bersifat rendah hati, lemah lembut, dan sabar (band. Efesus 4:1-2). Dia menasihati mereka supaya mereka memelihara kesatuan roh oleh ikatan damai sejahtera. Paulus tahu bahwa kalau jemaat bersatu, orang kafir bisa bertobat. Sebab teladan orang Kristen amat sangat mengesankan mereka, "Aku telah mengasihi kamu, demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian, semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:34-35). Melalui kasih Allah, jemaat bisa saling menghormati dan mengutamakan yang lain. Orang Kristen tidak menjadi pahit kalau hati mereka disakiti sebab, oleh kasih Tuhan, mereka bisa saling mengampuni dan kelemahan orang lain. Oleh karena itu, Rasul Paulus meminta agar jemaat dikuatkan menurut kekayaan dan kemuliaan Tuhan (band. Ef. 3:16), supaya mereka diteguhkan dalam batin mereka.

Kita juga harus berdoa sebagaimana Paulus mendoakan jemaat di Efesus dan Kolose. Kita harus berdoa supaya mereka kuat di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya, Kristus harus bertakhta di hati mereka (Efesus 3:16-17); agar mereka sehati, sepikir, satu Roh dan bisa melayani Tuhan. Biasanya, para misionaris mengalami banyak pergumulan dalam bekerja sama dengan misionaris yang lain. Hal ini lebih sulit daripada mempelajari budaya baru. Tidak pernah terpikir, bahwa kerja sama dengan saudara seiman merupakan pergumulan yang terberat bagi mereka. Itu sebabnya kita harus mendoakan dan mendukung mereka dalam hal ini, agar iblis tidak bisa menggunakan kesempatan untuk memisahkan mereka, melainkan agar mereka dapat melayani bersama-sama dengan baik. Ini cara bagaimana kasih Kristus bisa dipahami (ban. Markus 13). Mata rohani para hamba Tuhan harus tetap terbuka untuk melihat betapa lebar, panjang, tinggi dan dalamnya kasih Kristus (Efesus3:1) yang melampaui segala pengetahuan.

Sama seperti Rasul Paulus, kita harus memohon hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Utusan-utusan misi perlu kekuatan dan kesabaran supaya mereka bisa hidup layak dengan panggilan mereka (bandingkan Kolose 1:9).

SIL (Summer Institute of Linguistics) memberikan saran-saran dalam mendoakan seorang misionaris secara lebih baik dan efektif, sebagai berikut.

  1. Jangan berdoa supaya Tuhan menunjukkan sebuah jalan yang gampang kepada saya. Tetapi berdoalah agar Dia memberi anugerah, supaya saya bisa mengatasi semua kesulitan dan pergumulan secara rohani (Roma 12:9).

  2. Jangan berdoa supaya Tuhan selalu mengabulkan doa-doa saya, tetapi berdoalah supaya Dia membebaskan saya dari sikap membela diri "tidak ada waktu untuk berdoa".

  3. Berdoalah supaya Tuhan mengambil gangguan-gangguan atau supaya Dia memberi semangat dan kekuatan luar biasa untuk meneruskan jalan walaupun diganggu.

  4. Berdoalah agar Tuhan mengevaluasi kehidupan dan pelayanan saya, supaya saya bisa hidup dalam ketaatan terhadap Allah (Mazmur 139: 23-24) "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenalilah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!"

  5. Tolong jangan mendoakan saya sebagai orang yang hidup di tingkat rohani yang lebih tinggi daripada Anda. Saya tidak sempurna, walaupun saya melayani sebagai utusan misi. Saya juga digoda. Iblis bertekad bulat untuk menggagalkan pelayanan saya, mengambil vitalitas, semangat, dan kesaksian saya, agar saya tidak berguna. Tolong berdoa supaya Tuhan memberi anugerah dan kekuatan sehingga saya selalu bisa bertahan terhadap godaan.

  6. Jangan lupa, saya masih seorang manusia yang merasa sepi, kecil hati, gelisah, bingung, dan kurang sabar. Banyak pekerjaan di ladang misi yang bisa dikerjakan dengan hati yang tidak penuh dengan semangat bagi Tuhan. Oleh sebab itu, saya minta didoakan supaya Tuhan mengisi hati saya dengan kasih bagi semua orang yang masih tersesat dan saya bisa mengerjakan semuanya dengan baik.

Selain itu, penting sekali bagi kita untuk mendoakan keluarga misionaris. Iblis sangat aktif untuk menghancurkan keluarga, supaya mereka tidak bisa menjadi teladan di tengah-tengah orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus Kristus. Kita mendoakan:

SUAMI:

  1. agar dia bijaksana mengatur waktu sehingga waktu untuk keluarga tetap ada;

  2. agar dia bisa memimpin rumah tangga dengan baik.

ISTRI:

  1. agar dia tidak merasa kesepian karena sering ditinggalkan suami;

  2. agar dia bisa seimbang dalam pelayanan, baik sebagai seorang ibu rumah tangga maupun sebagai seorang misionaris;

  3. agar dia pandai dalam mendidik anak;

  • agar dia bisa menjadi teladan baik sebagai istri maupun sebagai ibu bagi orang yang baru percaya.

  • ANAK:

    1. agar di tempat baru mereka tetap dapat merasa berada dalam budaya sendiri, tetapi tetap beridentitas sebagai orang Indonesia;

    2. bagi pendidikan mereka;

    3. agar mereka mempunyai teman untuk bermain.

    LAJANG:

    Di masa kini banyak lajang yang terlibat di ladang misi (kebanyakan wanita). Ini satu kesempatan luar biasa bagi mereka, tetapi mempunyai banyak tantangan. Sering kali orang tidak mengerti mengapa mereka tidak atau belum menikah, kenapa mereka tidak dilengkapi dengan seorang teman hidup atau sahabat tertentu. Mereka sangat membutuhkan doa-doa kita. Adapun pokok-pokok doa bagi mereka:

    1. agar mereka tidak merasa kesepian;

    2. agar mereka tetap fleksibel dan bersedia untuk berkomunikasi dan tinggal dengan siapa saja;

    3. agar mereka mempunyai seorang teman doa yang tetap.

    Mari kita berdoa supaya persekutuan misionaris, baik yang sudah berkeluarga ataupun yang belum berkeluarga bisa tetap terjalin dengan manis dan tidak terganggu oleh perasaan cemburu atau iri. Ingatlah bahwa iblis terus-menerus ingin merusak hubungan orang Kristen.

    Memberitakan firman Tuhan merupakan serangan atas kerajaan kegelapan. Itu sebabnya jemaat-jemaat harus mendukung pelayanan-pelayanan para misionaris, seperti yang dijelaskan Paulus dalam Kolose 4:3 "Berdoa jugalah untuk kami, supaya Allah membuka pintu untuk pemberitaan kami, sehingga kami dapat berbicara tentang rahasia Kristus."

    Selain pokok-pokok doa yang tadi sudah dijelaskan oleh seorang misionaris WEC, kita juga perlu mendoakan pelayanan misionaris sekonkret mungkin. Berdoalah:

    1. supaya mereka menyesuaikan diri dengan baik di negara di mana mereka melayani;

    2. supaya mereka bisa berbahasa dengan baik;

    3. supaya banyak orang dicapai dengan Injil;

    4. pelayanan-pelayanan tertentu, misalnya Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), seminar, dan sebagainya.

    Selain para hamba Tuhan, kita juga harus mendoakan daerah-daerah dan bagian-bagian masyarakat yang belum diinjili. Bagi Tuhan, tidak ada negara yang tertutup. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Itu sebabnya kita perlu memberanikan diri, datang ke hadirat-Nya, dan mendoakan negara-negara tertentu. Tuhan akan mengabulkan doa-doa kita.

    Mari kita mengingat bahwa misionaris-misionaris itu melayani di daerah-daerah di mana iblis, penguasa dunia ini, secara terang- terangan menguasai kehidupan jutaan orang. Dia menahan mereka dalam kerajaan kegelapannya, walaupun dia telah dikalahkan di Kalvari lebih dari dua ribu tahun yang lalu, yakni saat Tuhan Yesus Kristus menang atas dia di atas kayu salib (Kolose 2:15). Sekarang Allah telah memberi tanggung jawab untuk "melakukan hukuman" yang telah dijatuhkan atas pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa iblis kepada umat-Nya (Mazmur 149:9). Kita boleh memiliki sukacita dengan melihat Kerajaan Allah datang di dunia ini, sementara kita berperang melawan "penghulu-penghulu dunia yang gelap" (Efesus 6:12). Apakah kita siap melibatkan diri dalam peperangan ini?

    Bahan diambil dari sumber:

    Judul buku : Doa dan Misi
    Judul artikel: Bagaiman Mendoakan Para Misionaris
    Penulis : Dr. Veronika J. Elbers
    Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 2001
    Halaman : 28--39

    e-JEMMi 41/2006

    Bagaimana Menyambut Kedatangan Bayi Yesus

    " ...Jangan takut, aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." Lukas 2:10-11

    Tidak pernah ada berita lain yang menimbulkan kegembiraan yang begitu membahagiakan sama seperti pernyataan lahirnya Kristus. Kitab Suci menuliskan bahwa nama-Nya akan disebut Imanuel (Matius 1:23), yang artinya Allah menyertai kita. Ini adalah inti dari pesan Natal bahwa Allah Yang Mahakuasa tinggal bersama kita.

    Sungguh suatu kebenaran yang mulia! Ia yang telah menyingkapkan tabir kegelapan pada fajar penciptaan, Ia yang telah menempatkan bintang yang gemerlapan di langit, Ia yang telah menggerakkan matahari pada jalurnya, dan planet-planet pada orbitnya, Pencipta dan Penguasa yang kekal dari dunia ini - Dialah, menurut Alkitab, selalu menyertai kita; menyertai Anda dan saya. Ini satu-satunya keajaiban di dunia. Orang-orang yang terkemuka, terbaik, dan terpandai telah mengetahui dan mengalami kebenaran ini dalam pengalaman pribadi mereka.

    Mengapa Kristus datang? Pernahkah Anda menanyakan pada diri sendiri? Kapan terakhir kali Anda memikirkannya?

    Ia datang untuk menyelamatkan dunia. Untuk menebus dosa-dosa kita dan mengajar kita bagaimana hidup yang benar dan berkenan kepada Allah.

    Kita yang mengasihi dan melayani Tuhan sudah menyadari bahwa pengajaran-Nya sangat praktis, pertolongan-Nya tak pernah gagal, dan nasihat serta petunjuk-Nya selalu menjadi sandaran kita. Kita mengikuti cara hidup-Nya karena menyadari kuasa-Nya setiap hari; meskipun begitu kadang-kadang kita bertanya-tanya mengapa hal ini tidak menyelesaikan semua persoalan yang ada.

    Apakah itu karena kita melupakan tujuan kedatangan-Nya yang utama dan sesungguhnya? Untuk menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita?

    Orang-orang pada generasi kini tidak senang membicarakan dosa; ada orang yang bahkan menganggap dosa itu tidak ada. Jadi dosa harus disebut apa? Apakah cukup bila disebut pengalaman duniawi? Sebenarnya tidak tepat bila disebut begitu karena orang yang hidupnya penuh dosa tidaklah berpengalaman, ia sebenarnya orang yang bodoh. Berpengalaman menurut ukuran duniawi berarti bersikap bijaksana sesuai standar yang berlaku, sehingga Anda tidak terjerat oleh tipu daya dunia. Tetapi, orang berdosa yang mengira dirinya berpengalaman adalah orang-orang yang sudah terjerat. Jadi, apa masalah mereka yang sebenarnya? Mereka melakukan kesalahan dan mereka tidak dapat menghentikannya. Mereka mencoba untuk mencari- cari alasan.

    Mencari alasan seperti itu dapat terjadi bila pikiran Anda mengatakan bahwa apa yang Anda lakukan tidak salah -- bertahun-tahun yang lalu memang salah, namun sekarang tidak lagi demikian. Setiap kali Anda berbuat salah, pikiran Anda selalu berusaha memberikan pembelaan. Pikiran Anda mengatakan, "Tunggu dalu, apa yang Anda lakukan itu sama sekali tidak salah; Anda sebenarnya orang yang sangat baik. Para pendeta ini sudah ketinggalan zaman - jangan percaya kepada mereka yang membicarakan dosa dan hal-hal semacam itu!" Kadang-kadang, begitulah cara pikiran kita bekerja.

    Saya pernah mendengar seorang yang sangat bijak mengatakan sesuatu yang mengubah pikiran saya. Ia adalah rektor sebuah universitas yang banyak menulis buku. Ia mengamati bahwa "Pekerjaan setan yang paling licik ialah mempengaruhi orang supaya beranggapan setan itu tidak ada."

    Kita percaya kepada Allah yang adalah roh. Kita percaya kita memiliki roh yang kekal. Kita mempercayai ajaran Alkitab. Tetapi, banyak di antara kita yang tidak menyadari kuasa roh jahat yang bekerja di tengah-tengah kita.

    Setan? Dosa? Semua itu kuno, kekanak-kanakan, ketinggalan zaman! Dan sudah pasti tidak masuk akal.

    Tetapi Kristus datang ke dunia ini untuk menyelamatkan manusia dari dosa -- untuk menebus dosa kita -- untuk menjadi Juruselamat kita.

    Ya, kita memang hidup di dunia yang penuh dengan konflik dan kebencian - tetapi Allah menyertai kita. Kita tidak dapat menyelamatkan diri kita sendiri, tetapi di dalam Dia yang menyelamatkan, kita menaruh kepercayaan kita.

    Apabila hari ini -- pada menit ini -- kita membuka hati kita dan menerima Dia dan pengajaran-Nya -- kita bukan saja memperoleh sukacita yang berlimpah, tetapi juga pengampunan atas dosa-dosa kita. Itulah sambutan yang paling hangat yang dapat kita berikan kepada bayi Yesus.

    Judul Buku: : Kisah Nyata Seputar Natal
    Judul Artikel : Bagaimana Menyambut Kedatangan Bayi Yesus
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup Bandung 1989
    Penulis Artikel : Norman Vincent Peale
    Halaman : 17-19

    e-JEMMi 49/2004

    Bayi-Bayi Rohani

    Di mana saja anda bertemu dengan orang Kristen yang tidak sedang memimpin orang lain kepada Kristus, mesti ada sesuatu yang salah dalam diri orang itu. Mungkin ia masih bayi. Saya tidak berkata bahwa dia tidak cukup dalam doktrin dan tidak mengerti dengan baik kalau mendengarkan khotbah. Saya kenal banyak orang yang dapat memberi penjelasan tentang sebelum, sesudah dan masa pemerintahan Kristus seribu tahun di bumi dan yang banyak mengetahui tentang masa-masa pembebasan, tetapi tetap belum dewasa. Seperti yang dikatakan Paulus di Korintus, "Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara kepada kamu seperti dengan manusia rohani (atau dewasa rohani), tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus." (1Korintus 3:1)

    Karena masih bayi, mereka belum dewasa, belum mampu memproduksi secara rohani. Dengan perkataan lain, mereka tidak mampu menolong orang lain untuk dilahirkan kembali. Paulus melanjutkan, "Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya ... . Karena kamu manusia duniawi (bayi rohani). Sebab, jika diantara kamu ada iri hati dan perselisihan ..." (1Korintus 3:2,3). Saya kenal banyak anggota gereja, guru sekolah minggu dan anggota perkumpulan missionaris wanita yang berkata kepada orang lain, "Apakah anda sudah mendengar tentang si anu?" dan menceritakan beberapa gunjingan. Hal yang sangat buruk di hadapan Allah. Betapa kejinya kalau orang Kristen lain mendengar dan menyebarluaskan cerita itu! Alkitab berkata, "Enam perkara yang dibenci Tuhan, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: ... lidah dusta ..." (Amsal 6:16,17). Oh, banyak orang Kristen yang saya tahu, baik pria maupun wanita yang terlibat dalam lidah dusta!

    "... dan yang menimbulkan pertengkaran saudara" (Amsal 6:19) adalah bentuk lain. Inilah cara berjalan bayi, dan saya percaya bahwa inilah salah satu alasan yang mendasar mengapa banyak orang Kristen tidak dapat melahirkan orang kembali kedalam keluarga Allah melalui mereka. Mereka sakit secara rohani. Ada sesuatu yang salah. Ada penyakit rohani dalam kehidupan mereka. Mereka belum dewasa. Tidak ada persekutuan dengan Kristus.

    Tetapi kalau semua hal benar antara anda dan Allah tidak peduli berapa banyak atau betapa sedikit pengetahuan anda tentang Firman Tuhan dari sudut pandang rohani, anda dapat menjadi orang tua rohani. Dan secara kebetulan saja anda mungkin masih sangat muda didalam Tuhan.

    Seorang wanita muda bekerja sebagai penerima telepon di kantor kami di Colorado Springs. Satu setengah tahun yang lalu dia bergabung dengan Perkumpulan Pemuda Komunis di Inggris. Wanita ini pernah menghadiri KKR Billy Graham dan menerima Tuhan Yesus Kristus. Setelah itu dia dan dua orang teman wanitanya yang lain di sekolah seni dan drama dipakai Tuhan untuk memenangkan beberapa wanita kepada Kristus.

    Kami mengajar Pat dan beberapa orang lain, dan mereka kembali mengajar wanita-wanita yang lain kepada Kristus. Beberapa dari mereka dari mereka sudah memimpin wanita-wanita yang lain kepada Kristus, dan juga melatih teman-teman mereka. Patricia telah menjadi nenek, walaupun dia masih berusia sekitar satu tahun empat bulan di dalam Tuhan.

    Kami sering melihat kejadian seperti di atas. Saya mengenal seorang pelaut yang telah menjadi moyang. Ia telah memimpin beberapa pelaut kepada Tuhan dan orang yang telah dipimpinnya memimpin beberapa pelaut lain kepada Kristus, dan pelaut-pelaut yang terakhir ini sedang memimpin pelaut lain kepada Tuhan -- walaupun pelaut yang pertama masih berumur empat bulan dalam Kristus.

    Bagaimana hal itu bisa terjadi? Allah memakai saluran murni dari kehidupan orang-orang Kristen muda ini melalui kesungguhan dan kasih mereka kepada Kristus, dan hati mereka disuapi dengan benih Firman Tuhan yang mereka tabur dalam hati orang lain. Benih itu bertumbuh dan berbuah. Iman timbul karena pendengaran dari Firman Tuhan. Mereka lahir kembali karena iman dalam Tuhan Yesus Kristus. Mereka mengamati orang-orang Kristen yang memimpin mereka kepada Kristus dan yang membagikan sukacita, damai dan itu semua menggetarkan hati mereka. Dan di dalam kesukacitaan mereka, mereka ingin orang lain juga mengalaminya.

    Dalam setiap pertemuan orang Kristen, saya yakin ada laki-laki dan wanita yang telah menjadi orang Kristen lima, sepuluh atau dua puluh tahun tetapi yang belum pernah membawa satu orangpun yang hidup untuk Yesus Kristus kepada mereka. Saya maksud bukan orang yang sedang bekerja untuk Kristus, tetapi orang yang sedang melahirkan untuk Kristus. Seseorang mungkin berkata, "saya sudah menyebarkan 100.000 buah traktat". Itu baik, tetapi berapa banyak domba yang telah anda bawa ke dalam keluarga Allah.

    Beberapa waktu yang lalu saya berbicara kepada 29 orang calon misionaris. Mereka telah lulus dari universitas, sekolah Alkitab atau seminari. Sebagai salah satu anggota panitia saya bertanya kepada setiap orang selama lima hari, setiap calon mendapat waktu setengah jam sampai satu jam. Diantara beberapa pertanyaan saya menanyakan dua pertanyaan yang sangat penting. Yang pertama tentang kehidupan ibadah pribadi mereka. Saya tanyakan kepada mereka, "Bagaimana dengan kehidupan ibadah pribadi anda?" "Berapa banyak waktu yang anda berikan untuk Tuhan?" "Apakah anda merasa bahwa ibadah pribadi anda merupakan sesuatu yang dikehendaki Tuhan?"

    Dari ke 29 orang ini hanya satu orang berkata, "Saya percaya bahwa ibadah pribadi saya merupakan hal yang sangat penting". Kemudian pertanyaan saya berikutnya kepada yang lain, "Mengapa anda merasa ibadah pribadi anda tidak begitu penting?"

    "Ya, anda tahu sendiri, saya disini hanya pada musim panas", sebuah jawaban klise. Kami berkonsentrasi pada kuliah. Kami dalam setahun hanya belajar sepuluh minggu. "Kami sangat sibuk". Saya berkata, "Baik. Sekarang coba lihat kembali pada waktu anda masih mahasiswa. Apakah anda dapat melakukan ibadah pribadi?". "Ya, tidak juga."

    Kami menelusuri kembali ke belakang dan menemukan mereka tidak pernah mengerti bahwa Penebus yang mereka miliki sangat mementingkan ibadah pribadi mereka. Itulah salah satu alasan untuk kemandulan rohani mereka -- kurang bersekutu dengan Kristus.

    Pertanyaan lain yang saya tanyakan kepada mereka, "Anda akan pergi ke negara lain. Anda berharap dipakai Allah untuk memenangkan laki- laki dan wanita bagi Kristus. Benarkah itu?" "Ya, benar". "Anda menginginkan mereka hidup dalam berkemenangan, bukan? Anda tidak ingin mereka hanya membuat keputusan percaya kepada Kristus dan kemudian kembali ke dunia mereka, bukan?" "Ya, benar." "Bolehkah saya menanyakan satu pertanyaan lagi? Berapa banyak orang yang anda ketahui namanya saat ini yang sudah anda menangkan untuk Kristus dan sekarang sedang hidup untuk Dia?"

    Sebagian besar mengakui bahwa mereka telah siap menyeberangi lautan dan belajar bahasa asing, tetapi mereka belum pernah memenangkan satu jiwapun yang terus berjalan dengan Yesus Kristus. Beberapa diantara mereka berkata bahwa mereka telah banyak membawa orang pergi ke Gereja; yang lain berkata mereka telah meyakinkan beberapa orang maju ke depan pada saat KKR.

    Kemudian saya tanya, "Apakah mereka hidup untuk Kristus sekarang?" Mereka tertunduk. Kemudian saya lanjutkan, "Apa yang anda harapkan dengan menyeberangi lautan dan berbicara dalam bahasa asing dengan orang yang mencurigai anda, yang cara hidupnya tidak lazim, apakah anda mampu melakukannya di sana jika di sini anda sendiri belum pernah melakukannya?"

    Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya berlaku untuk para missionaris atau calon misionaris. Tetapi juga berlaku untuk setiap anak-anak Allah. Setiap anak-Nya harus menjadi seorang yang dapat mereproduksi secara rohani.

    Apakah anda sedang mereproduksi sekarang? Jika tidak, mengapa tidak? Apakah itu karena kekurangan persekutuan dengan Kristus, Tuhan anda, Yang sangat mementingkan keakraban dengan Dia? Atau ada dosa dalam kehidupan anda, suatu dosa yang belum diakui akan menghambat aliran rohani dari anda? Atau apakah anda masih tetap bayi?

    "Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu perlu lagi diajarkan ...." (Ibrani 5:12)

    Sumber:
    Judul Buku: Dilahirkan untuk Berbuah
    Judul Bab : [Bab 3] Bayi-bayi Rohani
    Penulis : Dawson Trotman
    CD SABDA : Topik No. 18212; 18215

    Cat. Red.: Anda ingin artikel lengkap, silakan menghubungi <endah@sabda.org> .

    e-JEMMi 31/2002

    Berdiri Teguh dan Berjuang!

    Beberapa lukisan mengenai Yesus menggambarkan seorang laki-laki berambut tipis seperti benang, tubuhnya tampak ringkih dan matanya memancarkan kesedihan. Gambaran Yesus seperti ini bukanlah gambaran yang membuat kita ingin menyembah dan menghormati. Dia lebih tampak seperti orang yang membutuhkan, bukannya seseorang yang kita butuhkan!

    Kadang-kadang, kita semua memiliki berbagai gambaran yang memuat kita memandang Yesus lebih rendah daripada diri-Nya yang sesungguhnya. Mungkin kita membayangkan Dia itu lembut, halus, tenang, tanpa semangat, dan "tidak berbahaya". Di saat yang lebih jujur, mungkin kita bertanya-tanya apakah Yesus cukup tangguh untuk melawan Iblis dan memenangkan peperangan rohani dalam hidup ini. Berbesar hatilah -- Tuhan Yesus sungguh pahlawan perang yang berkemenangan!

    Kebenaran Mengenai Allah
    Bangsa Israel baru keluar dari perbudakan Mesir, namun kini mereka diperhadapkan pada dilema yang "mustahil". Di depan mereka, terbentang Laut Merah yang tak terseberangi; di belakang mereka, tentara Mesir kian mendekat dengan ganas. Setelah melewati tanah kering dan melihat bala tentara Mesir tenggelam, umat Allah ini langsung menaikkan pujian kepada Tuhan.

    "Baiklah aku menyanyi bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur, kuda dan penunggangnya dilemparkan-Nya ke dalam laut. TUHAN itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allah bapaku, kuluhurkan Dia. TUHAN itu pahlawan perang; TUHAN, itulah nama-Nya ... Tangan kanan-Mu, TUHAN, mulia karena kekuasaan-Mu, tangan kanan-Mu, TUHAN, menghancurkan musuh. Dengan keluhuran-Mu yang besar Engkau meruntuhkan siapa yang bangkit menentang Engkau." (Keluaran 15:1-3,6,7)

    Mungkin Anda berpikir, ya, itu Perjanjian Lama. Bagaimana dengan Perjanjian Baru? Bagaimana dengan Yesus? Seberapa baikkah Dia mampu mengatasi Diri-Nya bila diperhadapkan dengan musuh? Iblis pasti ngeri memikirkan saat Yesus akan datang untuk menghakimi:

    "Lalu aku melihat sorga terbuka: sesungguhnya, ada seekor kuda putih; dan Ia yang menungganginya bernama: "Yang Setia dan Yang Benar", Ia menghakimi dan berperang dengan adil. Dan mata-Nya bagaikan nyala api dan di atas kepala-Nya terdapat banyak mahkota dan pada-Nya ada tertulis suatu nama yang tidak diketahui seorang pun, kecuali Ia sendiri. Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah." Dan semua pasukan yang di sorga mengikuti Dia; mereka menunggang kuda putih dan memakai lenan halus yang putih bersih. Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan la akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa. Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu: "RAJA SEGALA RAJA DAN TUAN DI ATAS SEGALA TUAN." (Wahyu 19:11-16)

    Anda belum yakin? Tuhan Yesus, yang telah datang untuk menghancurkan pekerjaan Iblis, akan kembali pada hari penghakiman terakhir. Semua musuh-Nya akan dilemparkan ke dalam lautan api untuk selamanya. Saat ini, kita dapat bersukacita karena nama kita tertulis dalam buku kehidupan Anak Domba dan Iblis telah dikalahkan, semua senjatanya telah dilucuti oleh Yesus di atas kayu salib:

    "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka." (Kolose 2:15)

    Kemenangan Kristus atas dosa, maut, dan iblis akhirnya juga akan menjadi milik kita. Di dunia kita akan bergumul melawan dosa dan kadang, bahkan, menyerah pada dosa. Tubuh jasmani kita akan mati, kecuali bila Yesus kembali terlebih dahulu. Mungkin, Iblis akan berhasil menggoda, mendakwa, atau menipu kita. Namun, akhirnya kemenangan ada di pihak kita. Renungkanlah dengan saksama semua kebenaran ini dan bersukacitalah dalam pengharapan:

    "Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:35-39)

    "Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: "Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita." (1Korintus 15:54-57)

    Oleh iman dalam Yesus Kristus, kita dapat mengalahkan dunia ini (lihat 1Yohanes 5:4); menyalibkan kedagingan dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (lihat Galatia 5:24); dan berdiri di dalam Dia yang telah memusnahkan Iblis, yang berkuasa atas maut (lihat Ibrani 2:14). Pujilah nama-Nya yang mulia!

    Kebenaran Mengenai Kemerdekaan
    Meskipun Kristus telah memenangkan peperangan dan hasilnya sudah pasti, Iblis masih berkuasa di bumi. Dia tidak berhenti berusaha menguasai apa yang telah hilang darinya (jiwa orang kudus). Kita berdosa bila mempercayai dusta ini. Jika tidak mengakuinya dan tidak bertobat, berarti kita memberikan lagi dasar pada kuasa-kuasa kegelapan untuk bekerja. Kita menghentikan proses ini dengan menolak dusta tersebut dan menaati Yakobus 4:7, "Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah iblis, maka ia akan lari dari padamu!"

    Kita tunduk kepada Allah dengan tinggal di dalam Yesus, berjalan bersama-Nya dalam kuasa Roh Kudus dan kebenaran Firman-Nya. Kita segera mengaku dan bertobat dari dosa serta meninggalkan segala upaya menjadi orang Kristen berdasarkan kekuatan sendiri dan bagi kemuliaan diri sendiri. Maka kita dapat melawan Iblis dan dia harus lari meninggalkan kita! Tetapi bagaimana kita melawan Iblis? Dengan mengenakan perlengkapan senjata Allah:

    "Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah- pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah." (Efesus 6:10-17)

    Seruan peperangan menuntut kemerdekaan telah dikumandangkan. Kenakanlah perlengkapan senjata Allah. Berdiri dengan teguh! Bertahanlah! Segala kuasa Allah ada di belakang Anda dan Kristus telah mengalahkan Iblis di atas kayu salib. Perlengkapan senjata Allah tidak terkalahkan dan Anda bisa mulai mengenakannya saat ini juga dalam doa.

    Diedit dari Sumber:
    Judul Majalah: Berjalan dalam kemerdekaan
    Judul Artikel: Berdiri Teguh dan Berjuang!
    Penulis : Neil T. Anderson dan Rich Miller
    Penerbit : Yayasan Media Buana Indonesia
    Halaman : 73 - 76

    e-JEMMi 33/2005

    Berdoa Bagi Kota Anda

    "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yeremia 29:7)

    1. Doakan akar sejarah kota Anda. Minta ampun kepada Allah bagi penduduk kota Anda jika pernah terjadi kekerasan, perang, keserakahan, penindasan, perpecahan atau hal-hal lain yang pernah terjadi.

    2. Doakan adanya perdamaian dan pemulihan antarkelompok yang ada di kota Anda. Doakan agar kota Anda memiliki kerukunan antarpenduduknya.

    3. Doakan bagi mereka yang kekurangan dan yang lemah. Doakan agar kekerasan dan ketidakadilan tidak terjadi di kota Anda.

    4. Doakan masalah-masalah sosial yang menonjol.

    5. Doakan tempat-tempat dimana kecelakaan dan kriminalitas sering terjadi.

    6. Doakan gereja-gereja di kota Anda supaya mengalami pertumbuhan dan agar pengaruhnya dapat dirasakan oleh komunitas di sekitarnya. Doakan untuk para pemimpin gereja dan untuk kesatuan di antara mereka.

    7. Doakan pemerintah kota Anda: walikota, anggota DPRD, camat, lurah, ketua RW/RT, hakim, polisi, hansip, dan sebagainya. Doakan agar mereka memerintah dalam integritas dan keadilan. Anda dapat mendoakan mereka melalui Alkitab: Mazmur 58; 61; 72.

    Bahan diedit dari sumber:
    Judul Buku: Kota Doa -- Mengobarkan Api Kebangunan Rohani di Komunitas Anda
    Penulis : Jimmy B. Oentoro
    Judul Artikel : Mendoakan Kota Anda
    Penerbit : Harvest Publication House, Jakarta, 1998
    Halaman : 287 - 288

    e-JEMMi 07/2005

    Berdoa Bersama Orang Lain !!

    "Memunyai rekan doa adalah suatu cara yang indah untuk bertumbuh di dalam Tuhan," demikian kesaksian seorang aktivis pelayanan mahasiswa. Dan kenyataan ini memang telah terbukti dalam pengalaman mereka yang mempraktekkannya.

    Jika dua atau tiga orang Kristen rindu dan rela meluangkan waktu untuk bersama-sama menghampiri Allah dalam doa, serta berjanji untuk setia hadir secara teratur, maka mereka dapat menjadi rekan doa dan memulai suatu persahabatan doa. Persekutuan dalam doa antara dua tiga orang ini merupakan suatu cara yang efektif untuk belajar tentang apa artinya saling mendukung, saling memberi dorongan, saling menanggung, saling melayani, dan bertumbuh di dalam Tuhan. Saudara akan merasakan betapa besarnya kuasa doa itu untuk seluruh jemaat atau persekutuan Kristen yang Saudara doakan serta layani.

    Ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan agar persahabatan doa ini berhasil.

    1. KOMITMEN

      Rekan-rekan doa bukanlah "teman bermain" yang bertemu secara teratur untuk ambil bagian dalam suatu aktivitas bersama. Mereka adalah saudara-saudara dalam Kristus yang rela memberikan dirinya maupun waktunya satu bagi yang lain dalam suatu persekutuan yang unik.

      Mengajak orang lain untuk memasuki kehidupan doa kita bukanlah hal yang gampang. Perlu ada kerelaan masing-masing untuk bersikap terbuka dan jujur satu sama lain. Keterbukaan yang tulus dan akrab ini mengandung risiko: kelemahan-kelemahan kita, yang biasanya kita tutup-tutupi, akan diketahui oleh rekan kita. Namun janganlah kecil hati. Resiko ini adalah sesuatu yang diperkenankan oleh Tuhan, dan melalui keterbukaan itu Ia bekerja, menyempurnakan pribadi masing-masing.

      Rekan-rekan doa yang Tuhan berikan kepada Saudara adalah pribadi yang istimewa. Oleh karena itu, dalam membina doa bersama jangan dihabiskan waktu dengan mencoba mengubah mereka menjadi pribadi yang Saudara inginkan. Jadikan waktu doa bersama itu sebagai waktu singkat untuk menikmati bersama hadirat Tuhan.

    2. PRIORITAS

      Kesungguhan dalam komitmen kepada Allah dan kepada sesama rekan doa, sangat menentukan efektif tidaknya persahabatan doa itu.

      Yang pertama-tama diperlukan adalah kesungguhan untuk menyediakan waktu, memprioritaskan waktu yang telah disetujui bersama. Pengorbanan waktu yang kita berikan untuk berdoa bersama ini merupakan bagian dari "memberikan nyawa" satu kepada yang lain (Yohanes 15:13).

    3. PERTUMBUHAN

      Pertumbuhan rohani akan terjadi secara perlahan tetapi pasti dan teratur dalam persahabatan doa ini. Nantikan pertumbuhan rohani ini, demikian pula satu bagian penting dari pertumbuhan yang akan Saudara lalui, yakni penderitaan dan kesulitan. Sementara Saudara dan rekan-rekan doa berjalan bersama, sambil "diubahkan menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar" (2 Korintus 3:18), pasti akan ada "kerikil dan batu-batu menonjol" di sepanjang jalan itu. Kerelaan untuk menjalani masa-masa sukar bersama-sama akan menjadi ukuran, seberapa penting persekutuan itu bagi masing-masing dan seberapa kesungguhan komitmennya.

      Jangan putus asa bila persahabatan doa Saudara ternyata tidak menjadi sempurna dalam waktu singkat. Sedikit sekali orang-orang yang memulai suatu persahabatan doa dengan kejujuran dan saling percaya sepenuhnya. Sikap ini baru dapat dicapai setelah melalui suatu proses yang memakan waktu.

    4. GODAAN

      Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya persahabatan doa dibentuk antara sesama pria atau sesama wanita, atau calon suami-istri dan antara suami-istri. Jangan keliru, persahabatan doa bukan suatu bentuk baru dari "berpacaran secara Kristen".

      Persahabatan doa juga tidak boleh menggantikan persekutuan pribadi Saudara dengan Tuhan. Masing-masing tetap perlu berjumpa dengan Tuhan secara pribadi dalam Waktu Teduh. "Masuklah ke dalam kamar, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapa yang ada di tempat tersembunyi." (Matius 6:6)

      Sering terjadi, dalam berjalan bersama Roh, rekan-rekan doa perlu saling menopang dan mendukung, tetapi ini bukan berarti mereka lalu bisa saling membebani atau saling tergantung. Bersandarlah bersama-sama pada batu karang yang teguh, yaitu Yesus Kristus.

      Suatu persahabatan doa dapat menjadi bagian yang efektif dari persekutuan pemuridan seperti antara Paulus-Timotius, dan di sini ada banyak kesempatan untuk bertumbuh bersama-sama. Tetapi waspadalah agar jangan rekan Saudara menjadi pengantara antara Saudara dengan Tuhan.

    APA YANG PERLU DILAKUKAN DALAM SUATU PERSAHABATAN DOA?

    1. Saling berbagi pengalaman (sharing), terutama hal-hal yang Tuhan sudah ajarkan kepada Saudara, dan masa-masa ketika Tuhan sedang berusaha mengajarkan sesuatu kepada Saudara.

    2. Berbicaralah dengan tujuan yang jelas; hindari percakapan yang bersifat basa-basi dan tidak terarah.

    3. Berdoalah secara khusus untuk kebutuhan masing-masing, untuk rencana-rencana masing-masing dan hal-hal lain yang menjadi beban bersama. Jangan takut mendoakan agar Tuhan menolong rekan Saudara mengatasi kelemahan dan kekurangannya.

    4. Berdoalah dengan tujuan yang jelas, dengan keyakinan bahwa Allah akan bekerja dalam hidup masing-masing, dan masing-masing rela dipakai Allah sebagai jawaban atas doa-doa yang dinaikkan.

    5. Berdoalah secara teratur; dalam setiap situasi pandanglah kepada Allah terlebih dahulu, jangan datang kepada-Nya sebagai pelarian terakhir kalau semua jalan lain sudah buntu.

    6. Saling mendoakan sepanjang minggu, dan bukan hanya pada waktu bertemu.

    7. Carilah cara-cara yang mudah dan efektif untuk saling berbagi pengalaman, mungkin melalui surat atau telepon apabila Saudara tidak dapat bertemu.

    8. Alaskanlah persahabatan doa Saudara pada Yesus Kristus yang berkata,"Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh BapaKu yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20).

    MEMULAI PROGRAM DOA "BERSAMA"

    1. Sepakati terlebih dahulu waktu berdoa. Usahakanlah menyediakan waktu tanpa harus diingatkan lagi melalui telepon dan semacamnya. Hilangkan ketergantungan semacam itu. Jadi tentukan suatu waktu dan buatlah tanda agar mudah diingat, misalnya dengan memasang jam weker yang selalu akan berbunyi pada waktu yang ditentukan itu, atau dentingan jam dinding, atau setiap selesai makan malam, atau selesai acara TV, dan lain-lain.

    2. Bersikaplah wajar ketika berdoa bersama. Duduk atau berdiri -- terserah mana yang Saudara pilih. Melipat tangan atau bersama-sama menumpangkan tangan di atas buku -- jika itu membantu Saudara mengekspresikan kebersamaan.

    3. Ucapkanlah kata-kata damai. Katakan satu kepada yang lain -- "Damai sejahtera Tuhan menyertai kamu"; -- "Menyertai kamu juga."

    4. Jangan merasa terikat kepada bentuk doa yang itu-itu saja. Saudara dapat menggunakan macam-macam bahan lain, asal disepakati bersama, misalnya membaca satu pasal kitab Mazmur, mengucapkan Doa Bapa Kami bersama-sama sambil menghayatinya, menyanyikan lagu-lagu rohani, dan lain-lain. Buatlah sederhana dan pendek.

    Sumber: HIS, monthly Inter-Varsity magazine, December 1980
    Sumber: Diterjemahkan dan diterbitkan oleh Lembaga Reformed Injili Indonesia dalam "Surat Doa" no. 3 tahun 1988.

    Berdoa Sesuai Dengan Kehendak Bapa

    Dalam rangka menyambut peringatan hari Pentakosta, berikut ini kami sajikan salah satu sub-judul dari kotbah ROH KUDUS DAN DOA oleh Pdt. Dr. Stephen Tong. Selamat membaca!

    Berdoa Sesuai Dengan Kehendak Bapa

    Roh Kudus dan doa. Doa dan Roh Kudus. Pada waktu Yesus, anak Allah yang tunggal, berada di dunia, Dia tidak bisa berdoa tanpa pimpinan Roh Kudus. Ketika Anak Manusia yang menjadi wakil Anda dan saya berada dalam dunia, Allah menjadi daging, Kalam menjadi manusia, Firman menjadi Imanuel, Dia perlu pimpinan Roh Kudus. Siapakah engkau, yang berdoa tak perlu dipimpin Roh Kudus? Siapakah engkau, yang sudah belajar menghafal doa sehingga engkau pintar berdoa di luar kepala dan tidak perlu dipimpin oleh Roh Kudus? Dalam Lukas 4 dan Matius 4 dikatakan, Roh Kudus memimpin Yesus ke padang belantara untuk dicobai dan di situ Dia berdoa 40 hari. Dia berdoa, berdoa, berdoa, dan sebagai puncak doanya kita melihat Roh Kudus memimpin Dia. Selama 40 hari Dia berada dalam pergumulan doa. Roh Kudus mendampingi dan akhirnya doa-Nya sudah memuncak, sudah mencapai suatu status, cukup kuat dan sudah bisa menghadapi pencobaan-pencobaan yang berat. Di dalam dunia, Yesus berdoa dan dipimpin oleh Roh Kudus.

    Saudara-saudara, bukan hanya itu; Alkitab berkata bahwa Roh Kudus menolong kita dengan keluhan-keluhan yang tak terucapkan. Apakah artinya ini? Yang tidak terkatakan, yang tidak dimengerti manusia, demikianlah keluhan-keluhan itu diterima oleh Roh Kudus. Orang yang belajar sabar tahu betapa berat arti S-A-B-A-R ini. Sabar ini sulit. Dalam bahasa Tionghoa kata sabar tersusun oleh dua suku kata, yang artinya jantung yang ditusuk oleh pisau. Itulah arti sabar. Kadang- kadang saudara tidak bisa sabar tetapi mesti sabar, saudara paksa- paksakan, persis seperti jantung ditusuk pisau. Goyang sedikit, pecah jantungmu. Itu namanya sabar. Siapakah yang paling sabar? Roh Kudus. Ketika Ia memperanakkan kita, Ia sudah bertekad untuk mendampingi anak yang dilahirkan itu. Dia mau hidup di tengah-tengah kita, Dia mau hidup di dalam kita. Roh Kudus mendampingi kita seperti seorang ibu, dengan penuh kesabaran Ia mendidik kita, memimpin kita menuju ke jalan yang benar, menuju jalan yang bercahaya dengan terang yang mulia.

    Dalam bahasa Yunani Roh Kudus disebut "parakletos". "Para" artinya disamping. "Parakletos" adalah penghibur yang mendampingi kita. Pada waktu engkau dicela, dihina, sendiri, melayani Tuhan dan tidak dimengerti oleh orang lain, bahkan oleh kawan dan rekan sendiri, ingatlah akan parakletos, Roh Kudus penghibur yang mendampingi engkau di sampingmu dan terus menguatkan engkau, berdoa ganti engkau, karena Dia mengetahui isi hati Tuhan dan Bapa mengetahui doa Roh Kudus. Ini adalah komunikasi antara ketiga oknum: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa mencintai Anak, Anak mencintai Roh Kudus, demikian pula Roh Kudus mencintai Bapa. Ketiga oknum berkomunikasi, ketiga oknum saling mencintai, dan pengertian antara ketiga oknum demikian jelas, demikian tuntas, sempurna dan demikian indah. di sini disebut bahwa Roh Kudus tahu maksud Bapa dan Bapa juga mengerti isi hati Roh Kudus. Karena Roh Kudus mengetahui kedalaman dan keajaiban segala rahasia yang tersembunyi sedalam-dalamnya di dalam diri Allah Bapa, maka Roh Kudus bisa berdoa sesuai dengan kehendak Bapa, sedangkan anda dan saya tidak mungkin.

    Roh Kudus membantu anda dan saya berdoa di hadapan Tuhan. Dulu di desa-desa di Tiongkok banyak wanita tidak sekolah. Kalau mereka ingin menulis surat kepada suami atau anaknya di kota lain, mereka harus meminta bantuan seorang tukang tulis surat. Nah, tukang tulis surat tidak ada modal berdagang tetapi ada modal sekolah. Jadi mereka pasang sebuah meja dengan tempat tinta, sebuah pena dengan kuas dari bulu, dan banyak kertas di lacinya. Wanita-wanita itu lalu mendiktekan apa yang mereka ingin katakan. Biasanya bahasa mereka selalu jelek, tata bahasanya tidak teratur, tetapi penulis itu langsung mengubahnya menjadi kalimat yang indah, tata bahasanya baik dan tulisannya bagus; kalau kata-katanya terlalu kasar dihaluskan, supaya dapat mengungkapkan apa yang diinginkan dengan sebaik- baiknya. Nah Saudara, demikianlah pekerjaan Roh Kudus ketika membantu kita berdoa. Doa kita sering ngawur, Roh Kudus membetulkan. Dia mengeluh dan mengeluh mendengar doa kita, tetapi Ia memperindah doa kita sehingga diterima oleh Bapa. Saudara ingin doa saudara diterima oleh Bapa? Caranya tidak lain adalah dengan hidup menurut kehendakNya dan diperkenan oleh-Nya, dan Roh Kudus akan membantu kita berdoa.

    Saudara, sejak saya berumur sepuluh tahun saya mempunyai beban doa untuk penginjilan dunia, tetapi tidak tahu bagaimana harus berdoa. Kemudian Tuhan menolong saya untuk mulai melihat, siapa yang memberitakan Injil, dukunglah mereka; siapa yang diinjili, cari apa kesulitan mereka; orang-orang yang paling sulit menerima Injil, temukan rintangannya apa. Mulai Tuhan mengajar kebenaran seperti mengupas lapisan-lapisan bawang yang luarnya sudah rusak, mengupas satu per satu sampai ditemukan inti didalamnya yang sesuai dengan hidup yang Allah ingini. Pelan-pelan saya belajar mengetahui bagaimana berdoa sesuai dengan kehendak Tuhan. Dalam berdoa saya dididik, saya dibantu, sehingga lambat laun mulai tidak lagi berdoa untuk hal-hal yang sekunder, hal-hal yang tidak perlu, tidak lagi berdoa untuk keuntungan dan kepentingan diri sendiri, melainkan mengutamakan Tuhan. Lambat laun saya merasakan perasaan saya lain sekali; kalau Tuhan sudah mau begini, hati ingin begitu, tidak ada sejahtera. Setelah berdoa untuk pekerjaan Tuhan, berdoa untuk orang lain, untuk penginjilan seluruh dunia, ada suatu ketenangan dalam hati. Saudara akan mengalami damai sejahtera yang luar biasa kalau Saudara mengingat orang lain, bukan mengingat diri sendiri. Di dalam Alkitab ini merupakan suatu prinsip! Pada waktu Ayub bersungut- sungut tidak habis-habisnya mencela Allah, Ia tidak mendapatkan jalan keluar, tidak ada jalan pembebasan. Tetapi ketika Ayub berdoa untuk kawan-kawannya dan untuk orang lain, Allah melepaskan dia dari kesusahan. Ayat yang indah! Hanya Roh Kudus bisa menolong kita, mengarahkan kita keluar dari doa yang egosentris menuju hidup doa yang altruitis, yaitu berdoa untuk orang lain. Hidup berdoa untuk melihat lebih lebar, lebih luas, penyangkalan diri lebih besar, melihat Kerajaan Allah.

    Roh Kudus menolong kita berdoa karena Ia mengetahui isi hati Tuhan. Kiranya Tuhan memperbaharui, menormalkan dan mengarahkan kebenaran di dalam hidup doa kita masing-masing.

    Sumber:

    Artikel di atas di ambil dan diedit dari Surat Doa No 4, Juli-Agustus 1988, Hal 1-4 dan 10

    [[Cat. Red.: Bagi anda yang menginginkan versi lengkap dari khotbah ROH KUDUS DAN DOA ini, silakan kirim email ke . ]]

    e-JEMMi 21/2001

    Berdoa Untuk Mereka yang Belum Terjangkau

    Adakah Cara yang Terbaik untuk Melakukannya?
    Oleh: Karen Schmidt

    Doa seperti apakah yang mempunyai dampak terbesar bagi Misi Pekabaran Injil? Di bawah ini adalah cuplikan dari tiga buah pendekatan tentang berdoa untuk mereka yang belum terjangkau.

    Pemetaan Spiritual

    Bagi George Otis Jr, pemetaan spiritual merupakan sebuah alat yang sangat penting untuk penginjilan. Otis adalah presiden dari kelompok Sentinel -- sebuah kelompok yang meluncurkan sebuah video dokumenter berjudul "Transformation I dan II" (Transformasi I dan II**) pada tahun 1999. Video ini berdurasi 60 menit dan mendokumentasikan apa yang disebut dengan "Evangelistic Breakthrough" (Terobosan Penginjilan) di empat kota yang ada di tiga benua. Dobrakan ini terjadi sebagai respon dari doa-doa yang dipadukan dengan pemetaan spiritual. Pemetaan spiritual adalah sebuah cara untuk memberi petunjuk kepada para pendoa syafaat tentang bagaimana menyelidiki apa yang disebut dengan "Spiritual Pathology" (Sumber/Analisa Masalah Spiritual) dalam komunitas mereka dan kemudian berdoa melawan roh setan/kuasa kegelapan yang mengikat komunitas tersebut.

    "Mengapa kegelapan rohani terus becokol di sebuah komunitas tertentu?" tanya Otis yang juga adalah koordinator pembantu dari United Prayer Track untuk gerakan AD 2000 and Beyond, dan juga telah mengarang sebuah buku berjudul "The Twilight Labyrinth". Di buku ini dia menjelaskan penelitiannya tentang penyembahan berhala dan tekanan spiritual. Otis percaya, untuk berdoa bagi pertobatan dari orang-orang dunia itu dimulai dari pengidentifikasian penghalang- penghalang spiritual dan kejadian- kejadian yang menciptakan hal-hal tersebut. Setelah melakukan penelitian yang didasari atas pemetaan spiritual, para pendoa syafaat bagi komunitas tersebut diinstruksikan bagaimana berdoa agar Tuhan membebaskan komunitas tersebut dari penghalang-penghalang spiritual sehingga Roh Kudus bisa bebas bekerja.

    Berdoa Seperti Teladan Paulus

    Lain lagi bagi Michael Pocock, Ph.D. yang merupakan ketua Departemen Penginjilan Dunia dan Studi Antar Kebudayaan di Sekolah Teologia Dallas. Dia percaya jika kita hendak berdoa untuk misi penginjilan, kita harus mengikuti contoh teladan yand diberikan di Alkitab. Pocock mengambil contoh Paulus yang berdoa di medan penginjilan terdepan yaitu di tempat para penyembah berhala. "Lihatlah apa yang didoakannya, apa yang dia minta orang lain untuk berdoa bagi dia dan bagaimana hasilnya di surat-suratnya." Kata Pocock.

    Menurut Pocock, adalah sesuatu hal yang benar jika kita meminta Allah untuk mengakhiri kuasa iblis yang menguasai orang-orang tidak percaya di dalam nama Yesus Kristus ketika kita sedang berdoa untuk pertobatan suatu komunitas tertentu.

    Tetapi Pocock tidak melihat adanya alasan untuk mengetahui lebih banyak tentang roh-roh jahat. "Saya tidak menemukan di Alkitab tentang pentingnya kita mengetahui lebih banyak tentang siapakah roh-roh jahat tersebut. Mungkin memang ada setan-setan yang berkuasa di daerah tertentu dan mereka bisa memperoleh kekuatan melalui kerjasama dari para penyembah berhala yang tinggal di daerah tersebut. Tetapi saya mempertanyakan apakah mengidentifikasikan setan-setan tertentu adalah perintah Allah di Alkitab."

    Walaupun begitu, Pocock berpendapat bahwa berdoa di tempat yang merupakan pusat orang yang tidak percaya merupakan hal yang dibenarkan dan dia sangat mendukung filosofi dari apa yang disebut dengan 'Prayer Walk' (Doa Keliling -- Praying Onsite with Insight). "Melakukan 'Prayer Walk' sungguh merupakan sesuatu yang berharga. Saya pikir, dengan kita berdoa di tempat dimana penginjilan sedang berlangsung akan memberikan perbedaan dibanding kita berdoa di tempat lain. Saya tidak perduli jika dibutuhkan biaya yang besar untuk mendatangi tempat tersebut hanya untuk berdoa di sana. Hal ini sangat berharga."

    Pocock sebelumnya melayani di sebuah gereja injili terbesar di Caracas, Venezuela. Gereja dimana Pendeta Samuel Olsen memulai gerakan 'Prayer Walk'-nya. Ketika gereja sedang mencoba untuk menjangkau daerah yang baru, maka Olsen dan orang-orang di gereja tersebut pergi berjalan kaki (atau menggunakan mobil jika terlalu berbahaya) untuk melewati blok demi blok dan berdoa untuk orang- orang yang ada di blok tersebut.

    Doa Yang Tekun

    "Saya meragukan kalau ada organisasi misi atau penginjilan yang didukung oleh doa yang cukup." kata Dr. Wesley Duewel, seorang veteran OMS International berumur 61 tahun yang sekarang menjabat sebagai Presiden Emeritus di organisasi tersebut. Pada awal karir misionarinya, Duewel melayani di India. Dia mengatakan, "Kita berada di daerah yang sulit secara spiritual. Semua ladang misi adalah tempat peperangan untuk Allah. Ketika saya dalam penerbangan ke Amerika untuk menghadiri beberapa rapat setelah 25 tahun melayani di India, saya bertanya-tanya mengapa kita tidak mendapatkan hasil yang besar seperti yang saya harapkan."

    Selama dalam perjalanan di Amerika, Duewel merasa Tuhan mengarahkan dia untuk meminta 1000 orang berdoa selama 15 menit setiap hari untuk misi penginjilan di India. "Kita memperoleh orang-orang yang mau berdoa dan tahun itu Tuhan memberikan kita 1500 petobat baru. Kemudian ada dua sampai tiga gereja yang didirikan dalam setahun, diikuti dengan pendirian lima gereja lagi. Seiring dengan berjalannya waktu, kami melihat rata-rata 25 gereja yang dibangun setiap tahunnya. Hal ini perlu usaha yang keras dalam berdoa untuk bisa memulai dobrakan bagi Allah di ladang penginjilan.

    Duewel percaya kalau peperangan rohani adalah elemen yang selalu hadir di dalam pekerjaan misi. "Peperangan rohani itu lebih dari hanya sekedar melawan setan-setan dan manifestasinya yang kelihatan." katanya. "Peperangan ini berarti menghalau kegelapan dan mengambil inisitatif melalui doa. Hal ini membutuhkan 'a holy hunger' (kerinduan yang kudus) bagi mereka yang terhilang dan doa dengan sepenuh hati serta jiwa. Saya percaya kalau kita perlu berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah untuk jiwa-jiwa tersebut.

    Duewel percaya kalau orang Kristen seharusnya berdoa dengan menggunakan Firman Allah untuk "membujuk" Allah. Namun lebih dari sekedar kata-kata dalam doa, dia menyadari bahwa pengabdian untuk berdoa dan semangat untuk menjangkau orang terhilang adalah kuncinya. "Saya tidak dapat lebih menekankan lagi akan pentingnya peran doa" kata Duewel. "Harapan kami satu-satunya untuk memperoleh tuaian ialah dengan tekun berdoa."

    Sumber: World Pulse, 22 Juni 2001, Halaman 5

    [Catatan Redaksi: ** VCD "Transformation I dan II" yang telah di-dubbing dalam bahasa Indonesia merupakan dua film dokumenter yang bagus untuk ditonton. Anda melihat bagaimana transformasi besar-besaran yang terjadi saat Allah mulai menjamah dan bekerja secara luar biasa di kota-kota itu. Anda bisa mencoba mencarinya di toko buku Kristen di kota Anda.]

    e-JEMMi 44/2002

    Bersaksi Tidak Sama dengan Memenangkan Jiwa

    "Tuhan tidak meminta kebanyakan dari kita untuk menjadi pengacara tetapi Ia memerintahkan semua orang Kristen untuk menjadi saksi Kristus."

    Dalam majalah bulanan Moody diceritakan tentang seorang yang bernama Peter Stam. Di situ dikatakan bahwa ia tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk bersaksi untuk Kristus. Pada suatu hari ia masuk ke dalam sebuah "Lift". Dalam lift itu Peter Stam hanya berdua dengan seorang wanita petugas lift itu. Peter Stam berkata kepada petugas lift: "Semoga perjalanan anda yang terakhir dalam hidup ini adalah naik (menuju ke sorga) dan bukan turun (menuju ke neraka)." Petugas itu terkejut mendengar ucapan itu, tetapi ia mengerti apa maksud perkataan itu. Sebagai jawaban ia hanya dapat memberikan sebuah senyuman manis. Selanjutnya Peter Stam berkata: "Sekarang saya berumur 70 tahun dan tidak lama lagi saya akan bertemu dengan Juruselamat saya, Tuhan Yesus Kristus. Saya harap saya akan bertemu dengan anda nanti di atas
    sana."

    Ini adalah suatu kesaksian yang diucapkan dengan berani sekali dan tentulah Roh Kudus telah bekerja dengan sepenuhnya melalui kesaksian ini.

    Beberapa hari yang lalu, ada seorang pemuda Negro yang bekerja sebagai tukang sapu bertobat dan diselamatkan. Sukacitanya di dalam Kristus selalu terpancar di wajahnya dan kabar tentang pertobatannya tersebar di antara teman-temannya. Pada pagi itu teman-temannya bermaksud hendak mempermainkannya. Sambil tertawa mereka berkata: "Hai, Jasper. Apa kabar tentang Yesusmu pagi ini?" Ia mengeluarkan Alkitab dari dalam sakunya dan sambil mengacungkannya dan berkata, "tentu kalian juga akan mengetahui bahwa Tuhan Yesus itu sama, dahulu, sakarang dan selama-lamanya."

    Tidak seorang pun tertawa lagi. Ini benar-benar merupakan suatu kesaksian bagi Kristus.

    Seperti Dalam Pengadilan

    Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Tetapi ada orang Kristen yang merasa takut untuk bersaksi. Mereka mengira bahwa bersaksi itu sama dengan memenangkan jiwa. Sebenarnya bukan demikian. Bersaksi itu berbeda sekali dengan memenangkan jiwa. Cobalah anda menghadiri suatu pengadilan, di sana anda akan melihat perbedaan yang dimaksudkan.

    Seorang saksi dipanggil untuk memberikan kesaksiannya. Ia hanya menerangkan apa yang diketahuinya. Ia diminta untuk memberikan keterangan berdasarkan pengetahuan yang ada padanya. Hanya itu. Setelah itu selesailah tugasnya. Sekarang perhatikan bagaimana seorang pembela bertindak. Ia bertindak sebagai seorang pemenang jiwa. Ia tidak berdiri di pihak seorang saksi. Pembela adalah seorang yang benar-benar ahli di dalam perkara yang hendak dibelanya. Ia mengadakan persiapan yang teliti serta bertindak dengan sistematis untuk mendapatkan pengakuan demi kepentingan orang yang hendak dibela perkaranya. Ia seorang yang ahli dalam mempengaruhi manusia dan ia mengumpulkan semua fakta-fakta yang diperlukan untuk memenangkan perkara itu. Pembela selalu berusaha untuk menyelesaikan sesuatu perkara dengan berhasil. Demikian pulalah halnya dengan seorang pemenang jiwa.

    Jadi bila kita dapat melihat perbedaan antara seorang pembela dan seorang saksi, kita tidak perlu menjadi bingung lagi.

    Tidak Ada Perintah Untuk Memenangkan Jiwa

    "Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Rasul 1:8b)

    Demikianlah bunyi perintah Tuhan. Perintah itu ialah supaya kita menjadi saksi Kristus, dan bukan menjadi pemenang jiwa. Janganlah anda terkejut bila saya nyatakan di sini bahwa di dalam Alkitab tidak terdapat perintah langsung untuk memenangkan jiwa. Tentunya anda hendak mengajukan keberatan dengan mengemukakan beberapa ayat Alkitab, bukan? Baiklah! Kita akan membahas ayat-ayat itu nanti. Sekarang baiklah saya nyatakan bahwa saya sendiri telah mengalami kebahagiaan yang besar karena telah memenangkan banyak jiwa. Namun demikian, sampai pada saat ini saya tidak pernah menemukan sebuah ayat pun di dalam Alkitab yang memerintahkan orang-orang Kristen untuk memenangkan jiwa.

    Nah sekarang baiklah kita bahas beberapa ayat itu yang mungkin hendak anda kemukakan sebagai ayat-ayat yang mengandung perintah untuk memenangkan jiwa.

    "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." (Markus 1:17)

    Ya, kita diminta untuk mengikut Kristus dan menjadi penjala orang. Tetapi menjala orang tidak sama dengan menangkap orang itu lalu memasukkannya ke dalam jala. Itu bukan lagi menjala namanya. Kita diperintahkan hanya untuk menjala orang.

    "Dan siapa bijak, mengambil hati orang." (Amsal 11:30b)

    Dalam bahasa Inggris ayat ini berbunyi: "He that winneth souls is wise." Ini merupakan suatu pujian dan bukan suatu perintah. Memang benar bahwa kita bijaksana apabila kita memenangkan jiwa, tetapi hal itu bukan merupakan perintah.

    "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil ...."
    (Markus 16:15)

    Di sini kita melihat bahwa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil. Hal ini tak dapat ditawar-tawar lagi.

    "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21b)

    Di sini kita hanya melihat bahwa kita disuruh oleh Yesus. Demikianlah halnya dengan ayat-ayat lainnya dari Alkitab yang berhubungan dengan pemberitaan Injil atau bersaksi. Yang paling mendekati pengertian perintah itu terdapat di dalam sebuah perumpamaan Tuhan Yesus di dalam Injil Lukas. Di situ diceritakan tentang seseorang yang membuat perjamuan besar dan menyuruh hambanya pergi "ke semua jalan dan lintasan dan paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh" (Lukas 14:23). Tetapi dalam perumpamaan ini kita melihat ada hal yang kurang sesuai dengan doktrin kebebasan manusia untuk memilih. Karena itu tidak dapat ayat-ayat di dalam perumpamaan ini dipakai sebagai suatu perintah untuk memenangkan jiwa tanpa memperhatikan hubungan ayat-ayat sebelum atau sesudahnya.

    Saya yakin bahwa perintah yang sebenarnya bagi kita ialah supaya kita setia bersaksi tentang Tuhan Yesus, sedang Pemenang Jiwa yang sesungguhnya ialah Roh Kudus. Tetapi ini bukan berarti bahwa saya menganjurkan orang Kristen supaya tidak memenangkan jiwa. Bila kita dapat dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang datang kepada Tuhan Yesus, itu merupakan suatu hal yang indah.

    Pernahkah Anda Merasa Seperti Ini?

    Pada suatu waktu, ketika saya baru saja selesai memberikan pelajaran tentang "bersaksi" di sebuah gereja, datanglah seorang wanita kepada saya untuk berbicara. Dengan gugup wanita itu berkata:


    "Tuan Lovett, sebenarnya saya merasa malu untuk mengatakan hal ini, tetapi saya benar-benar tidak dapat bersaksi tentang Tuhan Yesus. Saya tidak pernah mendapat latihan untuk itu dan saya takut untuk mencobanya."

    "Lupakanlah sama sekali tentang memenangkan jiwa," jawab saya kepada wanita itu. "Lupakanlah. Buanglah hal itu dari pikiran Ibu. Janganlah memikirkan tentang diri Ibu sebagai seorang pemenang jiwa. Tuhan tidak meminta Ibu untuk menjadi pemenang jiwa, demikian pula saya tidak bermaksud demikian."

    Saya yakin bahwa wanita itu terperanjat mendengar ucapan itu. Ia begitu herannya sehingga saya merasa kasihan padanya. Seperti halnya dengan banyak orang Kristen, wanita itu mengira ia tidak dapat menjadi seorang saksi Kristus tanpa memenangkan jiwa. Ia mengira bersaksi dan memenangkan jiwa itu sama, dan kita dapat melihat betapa lega perasaan hatinya setelah saya terangkan kepadanya perbedaan antara bersaksi dan memenangkan jiwa.

    Dalam beberapa menit saja saya telah selesai menerangkan kepadanya cara bersaksi yang mudah dan praktis dan kemudian iapun pergilah dengan sukacita. Sekarang ia bersedia untuk bersaksi dengan sungguh- sungguh. Tetapi sebelum hari itu, ia tidak pernah membayangkan bahwa ada cara yang begitu mudah untuk bersaksi.

    *Berapa banyak orang Kristen malu bersaksi tentang Tuhan Yesus karena merasa bahwa bersaksi itu sama dengan memenangkan jiwa. Berapa banyak orang Kristen yang tinggal diam saja karena merasa bahwa hanya orang yang dapat memenangkan jiwa yang layak untuk berbicara tentang Tuhan Yesus? Banyak sekali orang Kristen yang berpikir demikian. Dan memang wajar kalau mereka merasa takut untuk bersaksi. Memenangkan jiwa adalah tugas yang berat bila anda tidak mengetahui cara-caranya yang tepat. Bila anda mengetahui caranya, hal ini tidaklah begitu sukar (mengenai hal ini diterangkan dalam buku "Memenangkan Jiwa dengan Mudah", terbitan KALAM HIDUP (Kotak Pos 156, Bandung).

    Memang suatu hal yang melegakan untuk mengetahui bahwa ada perbedaan antara kedua hal itu. Panggilan itu ialah untuk bersaksi dan bukan untuk memenangkan jiwa.

    Ada Seorang Saksi

    Ada seseorang yang setiap hari naik kereta api di Long Island. Begitu kereta api mulai bergerak untuk berangkat, orang itupun mulailah berjalan untuk bersaksi kepada setiap penumpang dari satu kereta ke kereta yang lain. Tetapi ia bukan bersaksi tentang Tuhan Yesus.

    "Maafkan," ia akan berkata. "Jika ada di antara anggota keluarga atau teman-teman anda yang buta, suruhlah mereka pergi berobat kepada Dr. Garl. Dulu saya buta, tetapi berkat pertolongan dokter itu, mata saya sekarang sembuh dan dapat melihat."

    Hanya itulah perkataannya kepada setiap penumpang. Ia selalu memberitakan kabar yang sama. Ia bersaksi tentang dokter yang telah menyembuhkan matanya. Ia tidak berdebat, berbantah atau memaksa orang supaya percaya akan perkataannya. Ia hanya menceritakan tentang pengalamannya dan pergi. Ia tidak mengadakan perjanjian apa pun dengan penumpang kereta api untuk Dr. Garl. Mungkin anda berpikir: Alangkah baiknya kalau ia mau menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada setiap penumpang. Ya, alangkah indahnya kalau ia berbuat demikian. Tetapi baiklah kita lihat apa sebenarnya menjadi seorang saksi itu.

    * Tahukah anda bahwa pengaruh yang paling besar yang dapat mempengaruhi seseorang ialah saran yang diberikan oleh orang lain kepadanya? Pengaruh yang amat besar yang dapat mempengaruhi pikiran seseorang ialah pengaruh yang datang dari orang lain. Dewasa ini pengaruh semacam itulah yang merupakan kuasa yang terbesar dalam hubungan antar manusia. Binatang-binatang seperti anjing dan kucing tidak dapat berbicara satu dengan lainnya, tetapi manusia dapat. Percakapan antara seorang manusia dengan manusia lainnya mempunyai pengaruh besar bagaikan api yang memancarkan panas, tidak peduli apakah si pembicara menginginkannya atau tidak. Mereka yang suka bercakap-cakap kepada orang lain mempunyai pengaruh yang lebih besar daripada yang ia duga.

    * Bersaksi itu sama halnya seperti membunyikan lonceng. Lonceng akan berbunyi bila dipalu. Lonceng tidak dapat berbunyi dengan sendirinya. Jadi karena ia tidak dapat berbunyi sendiri, harus ada yang memalunya. Lonceng dibuat orang supaya berbunyi. Demikian pula halnya dengan manusia. Manusia diciptakan sedemikian rupa sehingga bila ia melihat sesuatu yang indah, maka ia akan mengaguminya. Demikian pula manusia dijadikan sedemikian rupa sehingga bila ia mendengar suatu kesaksian, hatinya akan tergerak. Itulah sebabnya mengapa Allah meminta kepada kita untuk berbicara bagi Dia. Manusia telah dijadikan supaya ia dapat memberikan reaksi terhadap sesuatu yang didengarnya. Prinsip ini akan membantu orang yang bersaksi bagi Kristus.

    Kita Telah Ditolong

    Sekarang pengertian yang kacau tentang bersaksi dan menangkan jiwa telah hilang. Kita telah melihat bahwa memenangkan jiwa dan bersaksi itu merupakan dua perkara yang berbeda. Pengetahuan tentang perbedaan ini akan sangat menolong kita. Sekarang setiap orang Kristen dapat memeriksa kemampuan pribadinya masing-masing dan menentukan bidang manakah yang terbaik baginya. Bagi mereka yang mempunyai bakat di bidang pergaulan sosial, peranan sebagai seorang pemenang jiwa adalah tepat. Mereka akan senang dengan tugas memenangkan jiwa dan membawa orang untuk Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya.

    Tetapi bagi kita orang Kristen pada umumnya adalah menggembirakan untuk mengetahui bahwa panggilan Tuhan bagi kita bukanlah sebagai saksi-saksi Kristus yang setia. Padahal inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah, kesetiaan dalam bersaksi walaupun ada di antara kita yang dapat berbuat lebih daripada itu dan berhasil membawa orang lain datang kepada Kristus.

    Bukankah anda sekarang merasa lega mengetahui bahwa seorang saksi Kristus itu berbeda dengan seorang pemenang jiwa? Tentu saja bukan? Memang demikian kenyataannya. Tidak seorang pun dapat menjadi seorang pemenang jiwa sebelum ia mendapat latihan yang khusus mengenai hal itu atau mempunyai bakat-bakat tertentu yang dapat mempengaruhi orang lain. Demikian pula halnya dengan seorang pedagang. Ia berhasil karena mempunyai bakat alam dalam mempengaruhi orang lain. Orang-orang Kristen yang mempunyai bakat alamiah untuk menjadi pemenang-pemenang jiwa sejak lahirnya. TETAPI ORANG SEMACAM INI SEDIKIT SEKALI JUMLAHNYA. Adalah salah bagi kita orang Kristen bila kita berpendapat bahwa kita harus menjadi seperti pemenang- pemenang jiwa yang berbakat. Itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang Kristen menutup mulut mereka.

    Tetapi sekarang anda dapat merasa lega karena mengetahui bahwa bersaksi itu merupakan suatu pelayanan yang berbeda dengan memenangkan jiwa. Bersaksi itu mempunyai cara-caranya sendiri. Bila anda mengetahui perbedaan ini, maka ...

    ... Buanglah Kesukaran Pertama dalam Bersaksi!

    [[Catatan Penulis: Sementara anda membaca bab yang berikutnya, anda akan dapat pula menghilangkan kesukaran dan ketakutan lainnya di dalam hal bersaksi.]]

    Sumber:
    Judul Buku: Bersaksi dengan Mudah
    Judul Bab : [Bab 2] Bersaksi Tidak Sama dengan Memenangkan Jiwa
    Penulis : C.S. Lovett, M.A., D.D.
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
    Halaman : 16 - 22 (Bab kedua)

    e-JEMMi 28/2002

    Betapa Indahnya Kedatangan Mereka yang Membawa Kabar Baik

    "Sebagai perpanjangan tangan gereja dalam memenuhi Amanat Agung, misi Kartidaya adalah agar setiap kelompok masyarakat memiliki dan menggunakan Alkitab dalam bahasa yang paling dipahami. Hal ini dilakukan dengan cara memberdayakan orang-orang Indonesia yang terpanggil untuk melakukan pekerjaan tersebut."

    Penggalan kalimat di atas merupakan pernyataan misi yang menjadi dasar bagi pelayanan Kartidaya. Kami percaya bahwa pelayanan untuk menyediakan Alkitab dalam bahasa-bahasa yang paling dipahami oleh jemaat suku di Indonesia bukan hanya menjadi tanggung jawab para hamba Tuhan atau para misionaris asing. Pelayanan ini seharusnya juga bisa dikerjakan dengan kualitas yang baik oleh orang-orang Indonesia sendiri.

    "Kartidaya" merupakan singkatan dari Karunia Bakti Budaya Indonesia. Nama ini memiliki arti yang dalam. Yohanes 3:16 mengatakan, "... Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, ...". Melalui karunia yang telah diberikan Tuhan, maka kami melayani dalam bidang bahasa dan budaya, sebab kami rindu agar orang lain juga beroleh hidup kekal.

    Tuhan telah memberikan karunia-karunia yang berlainan kepada setiap orang. ´Karunia´ adalah kuasa dan kemampuan yang diberikan Allah untuk melakukan sesuatu. Kuasa dan kemampuan ini diberikan secara istimewa dan khas kepada tiap-tiap orang. Walaupun demikian, hal ini bukanlah sesuatu yang harus kita usahakan dan perjuangkan.

    Namun, tentu saja kita tidak bisa berharap bahwa orang-orang yang memiliki karunia dan panggilan khusus tersebut pasti sudah mengetahui seluk-beluk di lapangan. Kita tidak bisa menganggap bahwa mereka sudah mengetahui teknik-teknik melakukan survei bahasa, bagaimana menganalisa satu bahasa yang baru, metode-metode yang bisa digunakan dalam program baca tulis, hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengembangkan kehidupan masyarakat, atau prinsip-prinsip untuk menerjemahkan dengan baik. Mereka harus lebih dulu belajar, supaya mereka menjadi tenaga lapangan yang cakap dan trampil dalam melakukan pelayanannya. Jadi, apabila seseorang hanya memiliki panggilan untuk melayani saja, maka itu tidak akan cukup.

    Karena itulah, orang-orang yang terpanggil untuk bergabung sebagai pekerja-pekerja di garis depan ini, harus dipersiapkan dan diperlengkapi terlebih dahulu dengan semua ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan dalam pelayanan di lapangan.

    Melalui pelatihan, peserta diharapkan dapat mengenali karunia yang ada padanya, menggali berbagai potensi yang ada dalam dirinya, serta mengembangkannya untuk pekerjaan di ladang Tuhan. Pelatihan juga menjadi tempat bagi para peserta untuk mengevaluasi kembali kemampuan dan panggilan mereka untuk bergabung dalam tim Kartidaya.

    Sejak Kartidaya didirikan pada tahun 1989, untuk pertama kalinya pada tahun 1993, pelatihan pelayanan lintas budaya dan kebahasaan diadakan, dan kegiatan ini terus berlangsung sekali dalam setahun, sampai sekarang.

    Pelatihan yang diberikan mencakup pelajaran: fonetik, fonologi, tata bahasa dan pemerolehan bahasa, komunikasi lintas budaya, etnografi, teori penerjemahan, serta literasi. Setelah melewati beberapa tahap seleksi, yang salah satunya adalah pelatihan ini, maka barulah seorang tenaga yang rindu melayani bersama Kartidaya, diterima dan diutus untuk melayani di lapangan.

    Beberapa orang lulusan pelatihan Kartidaya memberikan kesan mereka:

    "Senang, bingung, cemas, capek,... tetapi harus ikut terus supaya siap di lapangan. Konsep-konsep pelayanan lintas budaya yang benar, saya dapatkan di sini." (Wona, pelatihan 2002)

    "Baru di sini, saya belajar hal-hal baru dan aneh. Awalnya terasa berat, tetapi lama kelamaan saya menyukainya. Sangat mempermudah saya untuk belajar bahasa dan budaya di lapangan." (Risma, pelatihan 2003)

    "Pelajarannya lumayan berat, tapi fasilitatornya panjang sabar... Lewat pelatihan, kami belajar bagaimana menjadikan bahasa lisan menjadi bahasa tertulis agar bisa menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa itu. Dengan begitu, kami rindu untuk memperluas kerajaan Tuhan." (April, pelatihan 1997, 1999, 2000)

    "Saya senang linguistik karena pelajarannya sangat analitis, praktikal, dan menantang. Saya dengan mudah bisa menerapkannya di lapangan, untuk berbagai kondisi budaya di Indonesia." (Marnix, pelatihan 2000, 2001)

    Di samping pelatihan rutin untuk memperlengkapi para tenaga yang melayani di lapangan, tentu saja ada pelatihan-pelatihan khusus lainnya yang tidak diadakan secara rutin setiap tahun.

    Pelatihan memegang peranan yang sangat penting, tapi seringkali terlupakan dan terabaikan. Jika pelatihan tidak berlangsung, maka tidak ada orang yang dipersiapkan dan diperlengkapi untuk menjangkau suku-suku lain di Indonesia.

    Di Kartidaya, kami senantiasa berdoa, berharap, dan berusaha agar tenaga yang dihasilkan dalam pelatihan bisa menjawab kebutuhan lebih dari 500 suku di Indonesia yang belum memiliki Alkitab dalam bahasa yang paling mereka pahami.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buletin: Kartidaya, Edisi III/2003
    Judul Artikel: Betapa Indahnya Kedatangan Mereka yang MembawaKabar Baik
    Penulis : Yunita Susanto
    Hal : 1

    e-JEMMi 30/2004


    Bimbingan Lanjutan: Coraknya

    Bimbingan lanjutan ("Follow Up") adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang setelah ia dilayani untuk menerima Yesus Kristus atau karena sesuatu persoalan rohani yang lain. Dalam Bimbingan Lanjutan ini ia dibimbing supaya hidupnya sungguh berakar dalam Firman Tuhan. Sebenarnya langkah pertama dari Bimbingan Lanjutan ini telah dilaksanakan pada waktu bimbingan pertama, yaitu pada waktu ia memperoleh kepastian selamat berdasarkan nats-nats tertentu dari Firman Tuhan.

    A. KETAHUILAH TUJUAN DAN BATASNYA

    Setelah seseorang menerima Yesus sebagai Juru Selamatnya, ada suatu jangka waktu (selama beberapa minggu) yang sangat berfaedah untuk pelayanan rohani. Menyesal sekali bahwa kesempatan ini seringkali disia-siakan berhubung si pembimbing tidak tahu apa yang harus dilaksanakannya. Saudara harus mengetahui maksud bimbingan lanjutan ini, supaya kesempatan itu dimanfaatkan bagi Tuhan Yesus.

    Saudara harus mengetahui batas pelayanan ini juga. Pada hakekatnya, bimbingan lanjutan ini berjalan serentak dengan pelayanan yang diberikan dari pihak gereja. Dengan demikian ada kalanya usaha pelayanan dari saudara akan disalah pahami dan dicurigai. Asal saudara jelas mengenai maksud dan batas-batas pelayanan ini, saudara dapat memberikan jawaban yang tepat tanpa perlu terjadi bentrokan dengan para rohaniwan.

    1. Hubungan dengan Gereja.

      Sangat luas jenis-jenis pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan. Gereja mempunyai tugas pelayanan sebagai gereja dan mungkin saudara turut mengambil bagian dalam pelayanan itu sebagai anggota gereja. Tetapi sebagai pribadi saudara mempunyai tugas pelayanan juga.

      Untuk melihat batas-batas bimbingan pribadi itu betapa baiknya kita merenungkan "Amanat Yesus" dan Injil Matius 28:19-20. Dalam ayat-ayat itu dapat dibedakan tiga fungsi dari pelayanan, yaitu: tugas "menjadikan murid," tugas "membaptiskan" dan tugas "mengajar". Seorang penginjil pribadi hanya menjalankan tugas yang pertama saja dengan menyerahkan tugas yang kedua dan sebagian dari tugas ketiga itu kepada pelayanan gereja.

      Meskipun pelayanan saudara hanya mencakup sebagiannya saja, tetapi seharusnya saudara membedakan dua segi dari tugas tersebut. Tugas pelayanan saudara itu mencakup:

      1. Membawa seorang kepada penerimaan Kristus sebagai Juruselamat.
      2. Membawanya kepada Yesus sebagai Tuhan.

      Biasanya kedua fungsi itu dibedakan dengan istilah-istilah "Penginjilan" dan "Peneguhan". Penginjilan berarti bahwa saudara akan memperkenalkan seseorang kepada Kristus sehingga ia lahir baru dan menjadi bayi rohani. Fungsi yang kedua, "Peneguhan" berarti bahwa saudara akan membimbing orang itu sampai ia dapat berjalan dengan teguh atas dasar Firman Allah.

      Tugas saudara belum boleh dianggap selesai sebelum orang yang dilayani itu dihubungkan kepada suatu gereja supaya dapat dilangsungkan tugas-tugas kedua dan ketiga dari amanat Yesus itu. Kalau ia belum mengikuti gereja belum boleh dikatakan bahwa ia telah diteguhkan dalam Alkitab.

    2. Peneguhan Bukan Pelajaran Sidi.

      Setelah orang yang dibimbing secara pribadi itu diserahkan kepada suatu gereja, ia akan diberi pengajaran yang disebut "Sidi". Dalam "Sidi" ia belajar tentang Tuhan Allah, dan tentang pertanggungjawabannya sebagai seorang Kristen dan sebagai anggota Gereja setempat. Biasanya pokok-pokok pertumbuhan iman kurang dibicarakan dalam pelajaran sidi.

    3. Pokok-pokok pertumbuhan iman itu harus dipertanggungjawabkan olehsaudara sendiri sebagai penginjil pribadi. Walaupun gereja saudara menegaskan pokok-pokok tersebut, janganlah terlalu lekas meletakkan tugas bimbingan lanjutan itu, sebelum saudara pertimbangkan hal-hal berikut:

      1. Seperti telah dijelaskan maksud dari bimbingan lanjutan bukan semata-mata mengajar, tetapi untuk meneguhkan.

      2. Biasanya orang yang baru diinjili itu belum mempunyai ikatan dengan suatu gereja. Belum tentu gereja saudara yang paling tepat bagi dia. Ia harus diteguhkan lalu digabungkan dengan salah satu sidang jemaat.

      3. Biasanya rohaniwan setempat, yaitu pendeta-pendeta dan anggota-anggota majelis, demikian sibuk dengan urusan-urusan lainnya sehingga mereka tidak mempunyai waktu lagi untuk berkunjung kepada petobat-petobat baru.

      4. Kalau seorang bayi rohani langsung diserahkan kepada salah satu gereja dengan maksud supaya gereja itu meneruskan bimbingan, maka hal itu tidak tepat sebab kadang-kadang ia terpaksa menunggu sampai 6 atau 10 bulan, baru dimulai kelas-kelas baru untuk calon-calon anggota. Dan tentu saja peneguhan ini tidak boleh ditunda sedemikian lama.

    B. CORAK-CORAK BAGI PELAYANAN YANG BAIK

    Saudara mempunyai tugas yang sangat penting. Dan tentu saja saudara ingin mempunyai perincian atas tugas tersebut. Bahan apakah yang harus diberikan? Apakah filsafat pendekatan terhadap tugas ini? Apakah yang diperlukan seorang bayi rohani supaya ia dapat mewakili Kristus dalam lingkungannya yang penuh dosa itu?

    1. Corak Pengenalan

      Kalau kita memeriksa kembali pengalaman rohani kita sendiri, maka akan menjadi nyata bahwa "pengenalan" lebih penting dari "pengetahuan". Banyak orang mempunyai pengetahuan yang baik, tetapi memusuhi Yesus Kristus. Mungkin tidak pernah ada seorang Kristen yang lebih mengetahui isi Alkitab dari pada si iblis itu. Karl Marx tidak dididik dalam jurusan sosial politik. Charles Darwin tidak dididik dalam ilmu pengetahuan alam. Kedua-duanya memperoleh gelar dalam ilmu theologia. Tetapi mereka memusuhi Yesus Kristus. Pengetahuan itu hanyalah merupakan barang mati, kalau belum dihidupkan melalui pengenalan akan Yesus Kristus. Pengetahuan yang sedikit akan dimanfaatkan oleh iman, tatapi pengetahuan yang banyak akan sia-sia kalau tidak ada ketaatan.

      Kalau seseorang yang hatinya tergerak untuk taat kepada Yesus sebagai Tuhannya, maka ia akan memanfaatkan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya. Tambahan pula kalau ia menemukan hal-hal yang belum diselidikinya, maka ia sendiri akan mencari-cari jawabannya dari Alkitab.

      Oleh karena itu corak pelayanan saudara haruslah merupakan pelayanan yang mengikut sertakan jiwa-jiwa kepada Kristus. Pengikutsertaan memerlukan beberapa kesadaran, yaitu:

      1. Mengenal Tuhan Yesus.

        Yang terutama dalam semua bahan bimbingan lanjutan adalah harus menonjolkan Tuhan Yesus Kristus. Dalam setiap pelajaran carilah contoh-contoh dari kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus. Inilah corak yang harus menggariskan setiap langkah peneguhan, terhadap pokok-pokok pelajaran manapun.

        Orang itu harus demikian mengenal Yesus sehingga nama Yesus selalu dihargainya. Dorongan terbesar untuk menjaga kesucian hidup ialah perasaan takut kalau-kalau sesuatu akan menajiskan nama Yesus.

        1. Pelajaran-pelajaran tentang penyaliban Yesus akan membangunkan rasa terima kasih dan pengucapan syukur.

        2. Pelajaran tentang kebangkitan Yesus akan memberikan kepastian selamat serta ketegasan dalam melawan pencobaan-pencobaan.

        3. Pelajaran tentang perumpamaan-perumpamaan dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus, akan meletakkan dasar untuk mengambil keputusan-keputusan sehari-hari.

          Suatu gejala bahwa seseorang sungguh-sungguh mengenal Tuhan Yesus ialah, keinginan untuk memperkenalkan teman-temannya kepada-Nya. Gejala lain lagi ialah keinginan dan kerinduan untuk lebih mengenal Yesus melalui Alkitab.

      2. Mengenal diri sendiri.

        Setiap orang Kristen harus mengenal diri sendiri. Inilah kunci yang mensukseskan hidup dengan berkemenangan. Ada dua kesadaran yang dibutuhkan, yaitu kesadaran mengenai "waktu dahulu" dan "waktu sekarang".

        1. Waktu dahulu: Dengan Alkitab sebagai dasarnya ia harus melihat dan mengaku bahwa sebelum ia menerima Yesus Kristus ia adalah seorang berdosa yang sesat. Seandainya ia meninggal dunia pada waktu itu, pastilah ia telah terbuang ke neraka. Tidak ada suatu jasa apapun yang ia perbuat dalam hidupnya yang lama itu. Semuanya termasuk kesalahannya dimurkai Allah (Efesus 2:1-3). Setiap orang yang belum menerima Yesus tetap dalam kesesatan dan kesia-siaan itu.

        2. Waktu sekarang: Ia harus mengetahui dan mengakui bahwa ia telah menjadi seorang anak Allah melalui iman kepada Yesus. Meskipun dari waktu ke waktu ia masih melihat dosa dalam dirinya, namun ia tetap mempunyai kedudukan sebagai anak Allah (Efesus 2:4-10; 1Yohanes 1:5--2:2).

          Keyakinan tentang kesesatannya yang dahulu itu mendorong pengucapan terima kasih dan penghargaan kepada Yesus. Pengetahuan tentang kedudukannya sebagai seorang anak Allah (Roma 8:15) memberanikan dia untuk memanfaatkan segala berkat yang telah disediakan oleh Allah Bapa.

      3. Mengenal sifat dunia ini.

        Banyak orang Kristen tidak menampilkan ciri-ciri kehidupan rohani, karena mereka belum mengakui sifat yang sebenarnya dari dunia ini. Mereka masih berharap akan pahala-pahala duniawi. Untuk orang yang percaya hanya ada satu pengharapan yang benar, yaitu Tuhan Yesus.

        Seseorang yang baru percaya harus menyadari bahwa dunia ini akan membencinya. Dunia yang penuh dengan dosa tentu tidak akan senang bergaul dengan seseorang yang memihak kepada Yesus yang suci. Yesus sudah berkata bahwa Ia datang "membawa pedang" (Yohanes 15:18-27; Matius 10:34-39).

        Kalau seseorang sungguh insyaf bahwa dunia ini adalah medan peperangan antara Yesus dengan iblis, maka ia akan menjadi berhati-hati untuk memihak kepada dunia atau berharap kepada pahala dunia (1 Yohanes 2:15-17). Kalau ia tahu bahwa segala barang yang fana ini akan dihanguskan dengan api (2 Petrus 3:10) pada Hari Kiamat, maka ia akan tahu juga bahwa semua tawaran dunia itu kosong belaka.

        Janganlah saudara sangka bahwa kesadaran ini akan melemahkan seorang bayi rohani, tetapi sebaliknya pengetahuan ini pasti akan menguatkannya. Makin cepat ia sadar tentang sifat sebenarnya dari dunia ini, makin cepat ia akan menjadi hamba Tuhan yang baik. Juga Iblis mengetahui hal itu dan akan berusaha menjatuhkan dia sebelum imannya berakar dalam Alkitab. Kalau saudara kurang berterus terang dalam pelayanan, berarti saudara akan membahayakan jiwa baru itu. Tetapi kalau ia didasarkan tentang daya upaya iblis dan kesia-siaan dunia ini, ia akan berlindung kepada Yesus melalui persekutuan dengan anak-anak Allah yang lain.

    2. Corak "Pengetahuan"

      Dasar obyektif untuk kehidupan rohani yang stabil adalah Alkitab. Tugas bimbingan lanjutan bukan semata-mata mengajarkan tentang isi Alkitab, melainkan juga membiasakan orang itu untuk menggunakan Firman. Kalau saudara hanya mempunyai kesempatan satu atau dua kali saja untuk bertemu dengan orang yang dilayani itu, maka itu sudah cukup untuk memberi contoh yang baik. Asal ia sudah tahu bagaimana caranya untuk menyelidiki satu bagian dari Alkitab, maka ia dapat menggunakan cara yang sama itu terhadap bagian-bagian yang lain.

      Bagaimanakah contoh yang baik itu, yang dapat diteladaninya di kemudian hari? Yaitu janganlah saudara loncat dari satu ayat ke ayat yang lain menurut suatu pokok melainkan ambillah satu bagian tertentu dan batasilah pada nats tersebut. Kalau saudara berpindah-pindah saja, maka Alkitab akan dianggapnya sabagai teka-teki di mana ia sendiri belum mempunyai kunci pengertiannya. Jangan lupa juga bahwa Allah lebih tahu dari kita. Kebijaksanaan Allah dalam menyusun suatu kitab tidak boleh dilupakan.

      Supaya jangan sampai Alkitab itu terlalu asing baginya, berilah penjelasan tentang kitab-kitab yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Setelah beberapa pelajaran saja, segera, tuntun orang itu untuk mulai menyelidiki satu Kitab tertentu. Kitab-kitab yang baik untuk orang-orang yang baru percaya adalah: Injil Matius, Injil Yohanes, Galatia, 1Petrus dan 1Yohanes. Janganlah memulainya dengan Perjanjian Lama. Ia membutuhkan dua atau tiga tahun untuk menguasai isi Perjanjian Baru sebelum mulai menguasai Perjanjian Lama.

      Jauhkanlah segala tafsiran-tafsiran yang memakai kiasan. Pakailah arti yang nyata dan jelas saja.

      Padamkanlah segala kecenderungan untuk mempersoalkan karena kemudian hari bagian Alkitab yang lain akan menerangkan ayat itu juga.

    3. Corak "Rahmat"

      Banyak sekali orang memeriksa Alkitab untuk melihat syarat-syarat yang perlu dipenuhi, untuk memperoleh berkat-berkat tertentu. Janganlah memakai cara itu. Pengertian itu keliru sekali, sebab saudara mempunyai tugas untuk mengutamakan rahmat dan bukan "Torat".

      Apakah arti rahmat itu? Dan apakah yang ia harus ketahui mengenai rahmat itu?

      1. Bahwa segala sesuatu yang dibutuhkannya telah tersedia pada Yesus.
      2. Bahwa setiap berkat itu dapat dinikmatinya melalui iman tanpa syarat-syarat tambahan.

      Dengan menerima Yesus ia sudah diberi hak untuk menikmati setiap berkat yang ada di Alkitab. Janganlah mengajak ia "berusaha" memperoleh sesuatu berkat. Asal ia sadar bahwa sesuatu berkat telah tersedia dalam Yesus, dengan sendirinya ia akan menikmati berkat tersebut.

      Satu segi lain dari rahmat perlu dijelaskan. Kalau mengalami kesulitan, janganlah sekali-kali dibiarkan memeriksa diri tentang kemungkinan adanya dosa-dosa tertentu yang mengakibatkan persoalannya itu. Cara itu sangat bertentangan dengan Firman Tuhan. Itulah sejenis ketidakpercayaan. Banyak kesulitan dialami akibat lingkungan yang berdosa dan bukan karena ketidakberesan pribadinya. Satu contoh ialah penyakit-penyakit yang hubungannya bukan langsung dengan dosa, melainkan dengan kuman.

    Artikel diedit dari sumber:

    Judul Buku : Penginjilan dan Pelayanan Pribadi
    Judul Artikel: Bimbingan Lanjutan: Coraknya (Pelajaran 8)
    Pengarang : W. Stanley Heath, Ph.D., M.Div.
    Penerbit : YAKIN, Surabaya
    Halaman : 70 - 77

    e-JEMMi 08/2003

    Butuh Waktu Untuk Melaksanakan Pekerjaan Allah

    Anda dapat membawa jiwa kepada Kristus dalam waktu 20 menit sampai dua jam. Tetapi membutuhkan waktu 20 minggu sampai dua tahun untuk membawa dia kepada jalan kedewasaan, kemenangan atas dosa dan persoalan yang datang berulang-ulang. Dia harus belajar bagaimana membuat keputusan yang benar. Dia harus diingatkan akan adanya berbagai-bagai bentuk "isme" yang dapat mengikat dia, menjerumuskan dia dan mengalihkan dia dari Firman Tuhan. Tetapi kalau Anda memberikan diri Anda kepada seseorang, Anda melipatgandakan pelayanan saudara. Anda tahu mengapa? Ketika Anda mengajar seseorang, dia akan melihat bagaimana itu dilakukan dan dia akan meneladani Anda ....

    Dimana anak rohani Anda? Apakah Anda sudah mempunyai satu? Anda dapat meminta satu orang kepada Allah. Selidikilah hati Anda. Tanyakan kepada Allah, "apakah saya mandul secara rohani?" Jika mandul, tanyakan "mengapa saya mandul?".

    Jangan terus biarkan kebodohan Anda. Hal yang selalu dipakai para Navigator sejak awal berdirinya adalah kapan saja pelaut-pelaut makan malam bersama-sama, setiap orang diminta untuk mengutip ayat Firman Tuhan setelah selesai makan. Saya berkata seperti ini, "Kutip ayat yang telah Anda pelajari dalam 48 jam terakhir. Atau dengan kata lain, kutipkan sebuah ayat untuk kami." Pada suatu sore hari ketika kami mengutip ayat-ayat di meja makan, anak perempuan saya yang berumur 3 tahun, datang masuk. Ada seorang pelaut baru yang duduk di sebelahnya tidak menyangka kalau anak saya sudah menghafal ayat. Tanpa memberi kesempatan kepadanya, pelaut itu sudah mulai mengutip ayat hafalannya. Anak saya melihat pelaut itu terus-menerus lalu menyelanya, "Aku juga menghafal ayat," kemudian dia mengutip Yohanes 3:16 dalam versinya.

    "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

    Dia memberi tekanan pada "setiap orang" karena pada waktu pertama kali dia memikirkan ayat itu, ia tidak dapat mengucapkan kata itu dengan baik.

    Belakangan hari pelaut itu datang dan berkata kepada saya, "Anda tahu, saya telah menghafal ayat itu. Hanya ayat yang satu itu yang saya ketahui. Tapi saya tidak sungguh-sungguh mengerti tentang ayat itu, sampai Ruthie (anak saya) mengutip ayat itu. Pada waktu itu dia berkata, 'setiap orang' saya pikir 'yang dia maksud saya'. Saya menerima Tuhan Yesus di kapal setelah kembali dari sini".

    Sekarang orang muda ini menjadi seorang misionaris di Amerika Selatan.

    Sampai beberapa tahun setelah kami menikah, ayah istri saya belum mengenal Tuhan. Di sini Allah memakai lagi anak-anak untuk mencapai hati yang haus. Pada waktu Ruthie berumur tiga tahun dan Bruce lima tahun, mereka pergi mengunjungi kakek dan nenek mereka. Kakek mereka mencoba mengutip kembali sajak anak-anak. Ia berkata, "Mary mempunyai seekor domba kecil" dan "Anak kecil berbaju biru," tetapi anak saya hanya melihat kepada kakeknya dan bertanya, "Siapa anak kecil berbaju biru?" Ia pikir anak saya tidak tahu banyak.

    Istri saya berkata, "Mereka tahu sesuatu. Kutip Roma 3:23." Bruce mengutip. Kemudian dia bertanya, "Bolehkah saya mengutip satu lagi, Kek?" "Tentu," jawab kakeknya.

    Bruce mulai mengutip ayat Alkitab, lebih kurang 15 ayat, dan Ruthie beberapa diantaranya. Hal ini sangat menyenangkannya kakeknya. Kakeknya membawa mereka ke tetangganya, ke bibinya, dan ke pamannya, memberitahukan kepada mereka betapa baiknya pengenalan anak-anak saya tentang Alkitab. Dalam pada itu Firman Tuhan sedang bekerja. Tidak lama setelah itu Roh Kudus, melalui suara anak-anak, menanam benih dalam hatinya. "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak menyusu telah Kau letakkan dasar kekuatan ...." (Mazmur 8:3)

    Pemenang jiwa bukanlah karena apa yang mereka tahu, tetapi karena Pribadi yang mereka kenal, seberapa baik mereka mengenal Dia, dan seberapa lama mereka memperkenalkan Dia kepada orang lain.

    "Oh, tetapi saya takut," jawab saudara. Ingat, tidak ada sesuatupun di sorga kecuali dosa ketidakdewasaan dan kurangnya ibadah yang menyebabkan Anda tidak berbuah secara rohani. Selanjutnya, tidak ada satu pun di sorga yang dapat mencegah bayi rohani yang baru lahir untuk tetap terus berjalan dengan Tuhan kalau dia mempunyai orangtua rohani untuk merawat dia dan memberi dia makanan rohani yang telah disediakan Allah untuk pertumbuhannya yang wajar.

    Pengaruh ketaatan mereka menyebabkan hukum-hukum sangat menarik. Kalau Anda menanam benih Firman Tuhan, Anda akan menuai hasilnya. Tidak semua hati akan menerima Firman Tuhan tetapi kalau ada beberapa yang menerimanya, bayi baru pasti akan lahir. Kalau jiwa sudah lahir rawatlah dia seperti Paulus merawat petobat-petobat baru. Paulus percaya manfaat bimbingan lanjutan. Ia adalah seorang penginjil yang sibuk, tetapi dia menyediakan waktu untuk memberi bimbingan lanjutan. Sebagian besar Perjanjian Baru adalah surat-surat Paulus mengenai bimbingan lanjutan untuk petobat-petobat baru. Yakobus percaya manfaat bimbingan lanjutan.

    "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja." (Yakobus 1:22)

    Petrus juga percaya manfaat bimbingan lanjutan.

    "Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan." (1 Petrus 2:2).

    Juga Yohanes mempercayai itu,

    "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran." (3 Yohanes 1:4)

    Semua tulisan Petrus, Paulus Yakobus dan sebagian besar surat Yohanes adalah makanan untuk orang Kristen baru.

    Penyebaran Injil sampai dikenal dunia selama abad pertama adalah tanpa radio, televisi, atau media cetak karena Injil diberitakan oleh orang-orang yang mau memberitakan lagi. Tetapi sekarang kita mempunyai banyak orang datang ke gereja hanya duduk -- mereka pikir jika mereka setia menghadiri gereja, memberi persembahan dan mengundang orang lain datang, mereka merasa sudah melakukan bagian mereka.

    Dimana anak rohani Anda? Setiap kita, tidak perduli berapapun umurnya, harus sibuk menghafal Firman Tuhan. Dalam salah satu kelas sekolah minggu ada seorang wanita berumur 72 tahun dan seorang lagi berumur 78 tahun telah menyelesaikan Sistem Penghafalan Ayat (TMS) para Navigator. Setelah itu mereka mempunyai sesuatu untuk dibagikan.

    Penuhilah hati Anda dengan Benih yang sangat berharga. Anda akan merasakan pimpinan Allah yang memimpin Anda kepada orang yang dapat Anda bawa kepada Kristus. Banyak hati yang telah siap menerima Injil saat ini.

    [Dawson Trotman adalah pendiri Pelayanan Para Navigator dan mempengaruhi ribuan orang bagi Kristus.]

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku: Dilahirkan untuk Berbuah
    Judul Bab : [Bab 7] Butuh Waktu untuk Melaksanakan Pekerjaan Allah
    Penulis : Dawson Trotman
    CD SABDA : Topik No. 18212; 18219

    e-JEMMi 26/2003

    Christian Science

    Beberapa Pokok Ajarannya

    Kendati Alkitab selalu disebut sebagai pedoman utama ajarannya, namun dalam praktiknya tulisan-tulisan Mary Baker Eddy-lah, terutama Science and Health, yang dijadikan Christian Science atau Gereja Kristus Ahli Ilmu Pengetahuan sebagai pedoman ajarannya. Sebagai intisari tulisan-tulisan dan ajarannya, bersamaan dengan penyusunan Manual of The Mother Church, Mary merumuskan pokok-pokok ajaran (tenets) gereja itu. Berikut ini disajikan terjemahan dari rumusan ajaran itu, lalu akan kita coba membicarakannya bersama dengan beberapa pokok ajaran lain.

    Pokok-pokok Ajaran
    Gereja Ibu, Gereja Pertama Kristus Ahli Ilmu Pengetahuan

    Untuk ditandatangani oleh barangsiapa yang bergabung dengan Gereja Pertama Kristus Ahli Ilmu Pengetahuan di Boston, Massachusetts.

    1. Sebagai penganut Kebenaran, kami menjadikan Firman yang diilhamkan di dalam Alkitab sebagai penuntun kami yang lengkap menuju Kehidupan kekal.

    2. Kami mengakui dan memuji satu Allah yang Mahatinggi dan tak terbatas. Kami mengakui Putera-Nya, satu Kristus; Roh Kudus atau Penghibur ilahi; dan manusia di dalam citra dan rupa Allah.

    3. Kami mengakui pengampunan dosa oleh Allah, pada pemusnahan dosa dan pengertian rohani yang mengusir kejahatan sebagai yang nyata. Tetapi kepercayaan akan dosa akan dihukum sampai tidak dengan berakhirnya kepercayaan itu.

    4. Kami mengakui penebusan oleh Kristus sebagai bukti Kasih yang ilahi dan mujarab, yang membentangkan kesatuan manusia dengan Allah melalui Kristus Yesus Sang Penunjuk-Jalan, dan kami mengakui bahwa manusia diselamatkan melalui Kristus, melalui Kebenaran, Kehidupan, dan Kasih sebagaimana diperlihatkan oleh Nabi Galilea itu di dalam penyembuhan orang sakit dan penaklukan dosa dan maut.

    5. Kami mengakui bahwa penyaliban Kristus dan kebangkitan-Nya bertujuan meningkatkan iman agar memahami Kehidupan kekal, bahkan kesemestaan Jiwa, Roh, dan ketiadaan materi.

    6. Dan kami dengan sepenuh hati berjanji untuk memperhatikan, dan berdoa agar Pikiran (Mind) itu berada di dalam kami sebagaimana berada di dalam Kristus Yesus; berbuat kepada orang lain sebagaimana kami ingin mereka perbuat kepada kami; dan menjadi penuh belas-kasihan, adil, dan murni. [MARY BAKER EDDY]

    Membaca rumusan pokok-pokok ajaran di atas kita bisa mendapat kesan bahwa tidak ada yang luar biasa atau yang kelewat berbeda dari rumusan ajaran atau pernyataan iman dari gereja atau aliran di lingkungan Protestan, paling tidak menyangkut butir 1-4. Namun, kita akan melihat banyaknya perbedaan pemahaman, kendati seringkali istilah yang digunakan sama atau mirip. Dan, harus dicatat pula bahwa penjelasan Mary Baker Eddy menggunakan bahasa yang sulit dimengerti, yang mengingatkan kita kepada Swedenborg, Quimby, ataupun Emerson. Untuk jelasnya baiklah kita mencoba melihat beberapa pokok ajaran Christian Science ini secara lebih sistematis, dengan mengacu pada tulisan Mary Baker sendiri maupun tulisan beberapa pengamat (a.l. Gottschalk, Hoekema, Harm, Backman, Braswell, dan Gruss).

    Berikut ini ulasan singkat dari butir 1-4:

    1. Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus

      Butir 2 di atas bisa memberi kesan bahwa Christian Science mempercayai Allah yang Tritunggal. Namun kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam glosari yang terdapat pada buku Science and Health (Mary Baker Eddy, hlm. 587), Allah Bapa digambarkan sbb.:

      "Aku adalah Yang Agung, mengetahui semua, melihat semua, melakukan semua, bijaksana semua, mengasihi semua dan kekal; Prinsip; Pikiran; Jiwa; Roh; Kehidupan; Kebenaran; Kasih; Hakikat semua, kecerdasan."


      Membaca penjelasan ini kita tentu bisa bingung, apa persisnya yang dimaksudkan. Namun menurut para pengamat, setidak-tidaknya penjelasan ini telah memuat sejumlah kata-kata kunci yang nantinya juga digunakan untuk menjelaskan banyak hal, baik mengenai Allah maupun mengenai hal-hal lain. Pada bagian-bagian lain dari tulisan yang sama, ataupun pada tulisan-tulisan lain, Mary sangat menekankan bahwa Allah Bapa dan Yesus Kristus, sama seperti Roh Kudus, adalah Roh atau Prinsip yang rohani; karena itu hakikat ciptaan-Nya pun adalah roh atau rohani. Baginya benda atau materi adalah sesuatu yang semu. Lebih lanjut digambarkan juga bahwa Allah bukan hanya sebagai Bapa, melainkan juga Ibu, atau Ibu-Bapa. Konsep "Ibu" menjadi sangat penting bagi pengertian Mary dan Christian Science tentang Allah (bnd. Teologi Feminis Masa Kini; pen.).

      Yesus didefinisikan oleh glosari itu sebagai "konsep tertinggi yang dibutuhkan manusia mengenai gagasan ilahi, yang menghardik dan menghancurkan kesalahan serta membawa kebakaan manusia kepada terang". Di tempat lain kemudian dijelaskan juga bahwa Yesus itu manusia, bukan Ilah, yang lahir dari wanita, berjalan di bumi, yang memampukan manusia untuk memperoleh pengetahuan pengertian tentang Allah. Ia menjadi contoh tentang manusia yang mampu mencapai status "satu dengan Allah". Sedangkan Kristus didefinisikan sebagai "pewujudnyataan tertinggi dan ilahi dari, yaitu, sang Pikiran, yang datang kepada daging untuk menghancurkan kesalahan yang bersarang di dalamnya". Dengan demikian, Christian Science membedakan Yesus dari Kristus. Berdasarkan pemahaman ini pula Christian Science tidak mengakui kematian Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia dan mendamaikan manusia dengan Allah, demikian pula kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (dan dengan sendirinya tidak mengakui kedatangan-Nya kembali kelak; lihat pokok ajaran tentang zaman akhir di bawah).

      Lalu Roh Kudus digambarkan sebagai Ilmu Pengetahuan Ilahi, pengembangan dari Kehidupan, Kebenaran, dan Kasih. Berdasarkan itu Science and Health. menjelaskan "Tritunggal Ilahi" sebagai berikut:


      "Kehidupan, Kebenaran, dan Kasih merupakan Pribadi tritunggal yang disebut Allah, yakni Prinsip ilahi rangkap-tiga, Kasih. Mereka menampilkan suatu ketritunggalan di dalam keesaan; tiga di dalam satu, sama dalam hakikat, kendati pelbagai di dalam jabatan: Allah sang Bapa-Ibu; Kristus sang gagasan rohani tentang keanakan; Ilmu Pengetahuan ilahi atau Penghibur Suci. Ketiganya ini terungkap tiga kali ganda di dalam ilmu pengetahuan ilahi, kodrat hakiki dari yang tak terbatas. Mereka juga menandai Prinsip ilahi dari wujud ilmiah, hubungan yang cerdas antara Allah dengan manusia dan alam semesta."

    2. Manusia

      Sebagaimana disinggung pada ayat 2 rumusan ajaran di atas, Christian Science memahami manusia pertama sebagai citra Allah memiliki keserupaan dengan Allah. Karena Allah adalah Roh maka manusia pada hakikatnya adalah roh. Dalam buku Facts About Christian Science (dikutip dalam Braswell 1986:202) dikatakan sbb.:


      Manusia di dalam citra Allah, Roh, harus seluruhnya rohani dan sama sempurnanya dengan penciptanya. Karena itu orang sakit dan berdosa yang tampak dalam penampilan jasmani adalah perwakilan yang salah dari manusia, bahkan dalam kenyataannya merupakan salah paham yang bersifat bendawi.

      Baker Eddy sendiri dalam Science and Health (hlm. 475-477) menulis sebagai berikut:


      "Manusia bukanlah materi; ia tidak terbuat dari otak, darah, tulang, dan unsur umur bendawi lainnya. Alkitab memberitahu kita bahwa manusia dibuat menurut citra dan rupa Allah. Materi bukanlah rupa itu. ... Manusia itu rohani dan sempurna.... Manusia adalah ide, citra, dari Kasih; ia bukan jasmani. Ia adalah perpaduan ide Allah, termasuk semua ide yang benar; ungkapan asli bagi segala yang memantulkan citra dan rupa Allah ... Manusia adalah pantulan Allah, atau Pikiran (Mind) dan karena itu bersifat kekal dan tidak mempunyai pikiran yang terpisah dari Allah.... Ia tidak mempunyai hidup, kecerdasan, ataupun daya cipta milik sendiri, tetapi memantulkan secara rohani apa yang merupakan milik Pembuatnya....


      Ketika berbicara tentang anak-anak Allah, bukan anak-anak manusia, Yesus berkata: "Kerajaan Allah ada di dalam dirimu"; itu berarti bahwa Kebenaran dan Kasih memerintah di dalam manusia sejati, yang menunjukkan bahwa manusia di dalam citra Allah tidaklah jatuh [ke dalam dosa] dan adalah kekal.... Di dalam manusia sempurna ini Sang Juruselamat menemukan rupa Allah sendiri dan pandangan yang benar tentang manusia ini menyembuhkan si sakit. Jadi, Yesus mengajarkan bahwa Kerajaan Allah itu utuh, universal, dan bahwa manusia adalah murni dan suci. Manusia bukanlah tempat human yang bersifat bendawi bagi Jiwa; ia sendiri adalah rohani."

    3. Dosa dan Penyakit

      Karena Allah adalah baik, "Semua di dalam semua", berupa Mind dan tidak bersifat material, maka dosa, penyakit dan maut; sama seperti materi, sebenarnya tidak ada, atau bukan merupakan hal-hal yang nyata. Kepercayaan akan adanya hal-hal tersebut hanya disebabkan oleh kekeliruan penglihatan atau salah tangkap belaka, atau karena orang itu menolak mengakui fakta bahwa Allah adalah Semua di dalam semua. Orang seperti itu dianggap masih memiliki mortal mind (pikiran yang fana) dan masih terikat pada mortal error (kekeliruan yang fana). Untuk membebaskan diri dari pikiran dan kekeliruan yang fana itu, Mary Baker Eddy memberi resep yang sederhana: "Ubah pikiranmu [tentang kenyataan] dan ubah hidupmu." Segera sesudah seseorang melihat kehidupan dan kenyataan melalui lensa menurut resep itu, maka dosa, penyakit, dan maut akan menghilang (karena semua itu toh bersifat maya) dan ia akan menjadi Allah, dan segala sesuatu menjadi baik. Sederhana, bukan? Di sini sekaligus terlihat bahwa Mary dan Christian Science sangat dipengaruhi kaum Transendentalis di New England yang sudah disebut di atas, yang gemar berkata: "Gampangkan saja!", kendati mereka itu tidak bicara tentang Allah ataupun agama.

    4. Keselamatan dan Penyembuhan

      Keselamatan berarti memahami Allah, Kehidupan, Kebenaran, dan Kasih, dan mendemonstrasikan keyakinan akan semua itu sebagai yang unggul atas dosa, kesakitan, dan maut pada kehidupan masa kini. Sehubungan dengan itu, diyakini bahwa bagi manusia yang sejati tidak ada penyakit dan maut, dalam arti bahwa kehidupan tidak bisa dirusak. Yang mengalami penyakit, maut, ataupun neraka hanyalah manusia jasmani, yang tidak sejati dan yang jahat. "Orang berdosa membuat nerakanya sendiri dengan berbuat jahat, sedangkan orang suci membuat surganya dengan berbuat baik. Bila pemikiran kita jahat, kita berada di neraka, yang merupakan kemalangan yang didatangkan sendiri, termasuk dosa, kesakitan dan maut," demikian ajaran Mary (dikutip dalam Backman 1982:212). Dengan demikian, keselamatan mencakup pengetahuan atau science tentang Allah dan praktik penyembuhan (bnd. istilah Yunani, sozein, yang punya arti ganda: menyembuhkan dan menyelamatkan).

      Christian Science berbicara tentang keselamatan kini dan di sini, membebaskan seseorang agar memiliki kelimpahan energi, tujuan hidup, jati diri, dan sukacita. Istilah "penyembuhan" sebagaimana digunakan Christian Science mencakup penyembuhan masalah-masalah keluarga dan bisnis, ketidak-adilan sosial, keterbatasan intelektual, ketegangan jiwa, dan kerancuan moral (Facts about Christian, Science, hlm. 6).

      Penyembuhan merupakan fungsi yang paling penting dalam Christian Science. Sama seperti Mary Baker Eddy disembuhkan melalui pembacaan Alkitab dan doa, begitu pula para practitioner Christian Science harus menjalankan praktik penyembuhan dengan juga mengandalkan kedua hal ini; tentu menurut petunjuk, tafsiran, dan metode yang sudah digariskan Mary dalam buku Science and Health buku-buku pegangan lainnya. Dengan demikian, bagi para practiner yang bekerja penuh waktu untuk gereja ini, praktik penyembuhan itu merupakan pelayanan rohani sekaligus profesi. Karena praktik penyembuhan ini mengandalkan kedua sarana dan metode `rohani` itu, maka praktik itu tidak boleh dikombinasikan dengan pengobatan dan pertolongan dokter, kecuali menyangkut kasus-kasus usus, antara lain patah tulang dan melahirkan (yang toh tak boleh menggunakan obat-obatan modern). "Hanya melalui pengandalan Kebenaran secara radikallah kuasa penyembuhan ilmiah dapat diwujudnyatakan" (Science and Health, hlm. 167).

    Bahan diedit dari sumber:
    Judul Buku : Berbagai Aliran di dalam dan di Sekitar Gereja
    Judul Artikel: Christian Science
    Penulis : Jan S. Aritonang
    Penerbit : PT BPK PENABUR, Jakarta, 1996
    Halaman : 391 - 395

    e-JEMMi 25/2005

    Dalam Sepatu Penginjilan

    Jika saya harus mengatakan sesuatu tentang perjalanan penginjilan kami ke Kenya, saya akan mengatakan bahwa perjalanan tersebut terlalu singkat. Walaupun perjalanan selama satu minggu pada Juni 2000 itu sangat singkat, perjalanan itu memberikan dampak bagi saya dan orang lain yang tergabung dalam kelompok penginjilan kami, yang terdiri dari dua saudari, satu saudara dari Skotlandia, dan tiga saudara dari Singapura.

    KISUMU

    Jenis Kapel yang Berbeda

    Pada hari Sabat pertama kami di Kenya, kami menempuh jarak lima jam bermobil dari ibukota Nairobi, ke sebuah kota bernama Kisumu. Di Kisumu ada beberapa jemaat, tetapi belum ada gedung gereja, jadi mereka mengadakan kebaktian di sebuah sekolah.

    Separuh kelompok ditinggal untuk berkebaktian di Kisumu, sementara separuh lainnya pergi ke dua desa lainnya, Alunga dan Bunde, untuk mengadakan kebaktian. Saya senang berada di kelompok kedua sebab apa yang saya lihat sungguh adalah pembuka mata. Saya melihat bahwa di area ini kebaktian di dalam rumah-rumah dari lumpur dan di bawah pepohonan bukanlah hal yang tidak biasa. Desa Alunga mempunyai sebuah kapel, tapi bangunannya yang kecil hanya berupa susunan rangka kayu yang bagaimanapun tidak dapat melindungi dari hujan. Di Desa Bunde kami mengadakan kebaktian di bawah pepohonan rindang. Tapi entah itu kayu atau daun, Tuhan berbaik hati memberikan langit yang cerah di atas kepala kami.

    Keramahtamahan Saudara Kita

    Setelah kebaktian di Alunga dan Bunde, beberapa saudara mengundang kami ke rumah mereka. Mereka menawari kami ugali (makanan yang terbuat dari tepung jagung), nasi, kari, dan teh. Orang-orang di Afrika biasanya makan hanya dua kali sehari. Makanan pokoknya terdiri dari ugali, nasi, daging kambing, ayam, dan ikan.

    Seperti kebanyakan rumah-rumah di Afrika, rumah mereka dibuat dari lumpur, dengan atap dari jerami atau seng. Herannya, seni membangun rumah lumpur ini juga merupakan teknologi. Lumpur dipadatkan di sekeliling sebuah rangka kayu untuk membentuk dinding, lalu kotoran sapi diratakan pada dinding dan lantai. Kombinasi unik lumpur dan kotoran sapi ini dapat menahan unsur-unsur alam yang keras dan herannya, dapat mengusir nyamuk.

    Mujizat Turunnya Hujan

    Ketika kami tiba di Kenya, negeri itu telah menderita kekeringan selama lima bulan. Kemarau itu cukup serius sehingga pemerintah mengumumkannya sebagai bencana nasional. Ketika kelompok penginjilan kami mengetahui tentang kekeringan ini, setiap kali berdoa, kami bersama-sama saudara-saudari Afrika dengan sungguh-sungguh memohon agar hal itu segera berakhir.

    Waktu bersepeda keluar dari Bunde, orang Afrika yang mengendarai sepeda saya (saya duduk di belakangnya) menjelaskan kesulitan- kesulitan yang disebabkan oleh kekeringan ini. Dia menyebutkan terjadinya kekurangan makanan yang dihadapi oleh penduduk desa dan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan panen itu akhirnya sia-sia saja. Hampir sepanjang waktu itu saya hanya bisa mendengarkan ceritanya dalam kebisuan, merasakan iba yang memilukan hati terhadap jiwa-jiwa malang ini.

    Tak disangka-sangka, dalam perjalanan meninggalkan desa ini, hujan mulai turun! Ini sungguh merupakan mujizat dan peringatan bagi kita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Peristiwa unik ini mengingatkan saya pada 2Tawarikh 7:14, yang berbunyi: "Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."

    KILGORIS

    Transportasi

    Pada hari Minggu, kelompok penginjilan kami pergi ke kota kecil lain bernama Kilgoris.

    Di Kenya kami biasanya bepergian dengan bis, truk, mobil, sepeda, atau taksi (biasanya hanya di Nairobi). Sepeda adalah alat transportasi umum di pedesaan, dan perjalanannya memakan waktu antara setengah sampai satu jam. Kami tidak mengayuh, tetapi duduk sebagai penumpang di belakang pengendara sepeda. Saya merasa kasihan terhadap orang-orang ini karena mereka bekerja begitu keras, namun menerima upah begitu sedikit.

    Transportasi di Afrika umumnya tidak efisien; pengemudi sering menunggu sampai kendaraannya penuh baru berangkat, dan kadang-kadang acara menunggu ini dapat berlangsung sampai dua atau tiga jam. Kami baru tiba di Kilgoris pada Minggu malam.

    Kunjungan ke Rumah Sakit

    Tugas utama kami di Kilgoris adalah penginjilan karena di sana belum ada jemaat yang dibaptis.

    Pada hari Minggu kami mengunjungi sebuah rumah sakit di Kilgoris yang menyediakan layanan pengobatan dengan biaya ringan kepada penduduk desa yang sakit. Dua dokter (suami dan istri) mengelola rumah sakit ini, dengan bantuan beberapa perawat penuh waktu. Mereka kekurangan peralatan medis dan tempat tidur, jadi mereka menerima peralatan bekas dari negara-negara yang lebih maju dan sedapat mungkin memanfaatkan apa yang mereka miliki agar dapat menolong semua pasien. Menurut ukuran kami rumah sakit tersebut peralatannya menyedihkan, namun menurut ukuran mereka sudah cukup mewah.

    Di rumah sakit itu kami mengadakan kebaktian pekabaran Injil, puji- pujian, dan kunjungan dari bangsal ke bangsal. Dalam kunjungan kami ke setiap pasien, kami khusus berdoa untuk penyakit masing-masing orang dengan bahasa akal, berharap agar mereka juga dapat belajar berbicara kepada Tuhan melalui doa. Kadang-kadang, kami menyanyikan satu atau dua kidung pujian, dan banyak pasien yang bernyanyi dan berdoa bersama kami.

    Walaupun kebanyakan orang tidak memperlihatkan rasa sakit dan penderitaan mereka, Anda dapat melihatnya dalam mata mereka sewaktu Anda berbicara dan bernyanyi bersama mereka. Mereka tampak begitu tidak berdaya dalam penderitaan mereka, Anda dapat merasakan bahwa mereka sedang mencari secercah harapan yang samar-samar dalam kehidupan mereka. Kami berharap bahwa melalui doa dan melalui kuasa Tuhan, orang-orang ini dapat menyadari kebutuhan mereka akan Tuhan dan entah bagaimana menjangkau dan menemukan Dia.

    Kebaktian dengan Cahaya Pelita

    Malam itu kami mengadakan kebaktian di rumah seorang wanita yang sudah percaya, tetapi belum menyampaikan kesaksian bagaimana anugerah Tuhan turun ke atas dirinya sejak dia percaya kepada Yesus Kristus. Puji Tuhan, banyak yang datang untuk mencari kebenaran pada malam itu.

    Karena listrik dan air merupakan kemewahan bagi kebanyakan orang Afrika, kami hanya punya satu lampu minyak tanah kecil sebagai sumber penerangan di rumah yang gelap itu. Lampu itu diletakkan di tengah ruangan, hampir-hampir tidak memberikan cahaya yang cukup bagi setiap orang untuk melihat pembicara. Membaca dengan penerangan seperti ini hampir tidak mungkin dilakukan, jadi para pembicara harus menggunakan senter kecil untuk membaca ayat-ayat Alkitab.

    Dalam rumah ini, saya memikirkan perbedaan antara kehidupan di kota yang kaya dan kehidupan di pedalaman Afrika. Kehidupan di Afrika berjalan dalam alur yang lebih lambat; tidak ada kesibukan gila- gilaan seperti kehidupan kota, dan hampir setiap orang tidur lebih awal. Mungkin inilah sebabnya mengapa tidak dirasakan adanya kebutuhan akan lampu listrik yang terang di rumah-rumah. Saya merasa bahwa orang-orang ini diberkati karena kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka dapat memiliki iman yang lebih sederhana kepada Tuhan. Mungkin perhatian mereka tidak dialihkan oleh banyaknya kemewahan dan kekuatiran dunia, seperti yang kadang kala kita alami.

    Anak-anak

    Di Kilgoris dan sepanjang perjalanan, saya mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan anak-anak Afrika. Anak-anak ini sangat menawan dan bersahabat, dan mereka sungguh-sungguh dapat meluruhkan hati Anda. Saya melihat bahwa mereka sangat berbeda dari anak-anak di negara-negara maju, anak-anak Afrika lebih murni dan sederhana. Hal ini membuat saya memikirkan perasaan Yesus ketika Dia menggendong seorang anak kecil dan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3)

    Anak-anak ini juga mengingatkan saya akan pentingnya pendidikan agama. Membantu mereka belajar tentang Juruselamat selagi mereka masih muda dapat membentuk mereka menjadi orang dewasa yang takut akan Tuhan. Hampir semua tempat yang kami kunjungi punya kelas-kelas terpisah untuk anak-anak, tetapi masih sangat membutuhkan banyak guru pendidikan agama dan pemimpin pujian.

    Menginjili Kepala Suku

    Pada hari Selasa kami mengunjungi kepala desa suku Masai dan mengadakan kebaktian pekabaran Injil kecil di rumahnya. Saya melihat ada warga suku yang mengenakan seragam perang suku Masai dan membawa tombak, busur, dan anak panah. Mereka selalu berjaga-jaga, siap untuk melindungi tanah dan ternak mereka dari usaha pencurian yang kadang-kadang dilakukan suku tetangga. Ini menggambarkan betapa tidak stabilnya kehidupan di pedalaman Afrika.

    PULANG KE RUMAH

    Pada hari Rabu kami mengunjungi Teluk Kendu. Ada rencana untuk membangun gereja di sana. Kami bertemu dengan pengurus gereja setempat untuk memberikan beberapa petunjuk mengenai rencana pembangunan gereja, juga tentang masalah-masalah administrasi lainnya.

    Setelah Teluk Kendu, kami menempuh perjalanan kembali ke Kisumu. Di sana kami berpisah dengan seluruh rombongan dan mengarah kembali ke Nairobi. Pada hari Kamis siang, kami bertiga dari Singapura mengejar pesawat pulang ke rumah. Kami hanya menghabiskan satu minggu dalam pekerjaan nyata penginjilan, dan ini pasti terlalu singkat.

    ALAMILAH SENDIRI

    Selama perjalanan, kami tinggal di hotel-hotel yang dipenuhi serangga dan sering kekurangan air dan listrik. Air mandi, kadang- kadang, diambil dari sumur, dan ada satu tempat yang tidak punya toilet. Tapi di tengah kondisi seperti itu, saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga dari perjalanan ini.

    Kemiskinan orang-orang Afrika adalah pemandangan yang tak akan saya lupakan. Setelah dihadapkan pada kemiskinan luar biasa seperti ini, saya jadi lebih menghargai berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan saya. Hal ini membantu saya untuk memahami dan berempati terhadap orang- orang yang berjuang melawan kemiskinan.

    Melihat betapa berbedanya cara hidup orang-orang dan berpikir dalam pola pikir budaya yang lain telah membantu meluaskan cakrawala pikiran saya. Saya belajar bahwa dalam usaha mengajarkan tentang Tuhan kepada orang lain, kita tidak dapat selalu menggunakan cara yang sama, khususnya dalam budaya lain dan negara lain. Yang terpenting, saya melihat betapa orang-orang ini sungguh sangat membutuhkan Tuhan. Ada begitu banyak orang yang menderita, dan hanya Tuhan Yesus Kristus yang dapat melepaskan mereka.

    Saya sungguh bersyukur karena Tuhan memberi saya kesempatan untuk berjalan dalam sepatu penginjilan walaupun hanya sebentar. Jika Anda tertarik untuk melayani Tuhan dalam pekerjaan penginjlan, dan pada saat yang sama mendapatkan beberapa pelajaran penting, saya sangat menganjurkan agar Anda mengalami sendiri kesempatan ini.

    Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus.

    Sumber diedit dari:

    Judul Buletin: Warta Sejati, Edisi 43/2004
    Judul Artikel: Dalam Sepatu Penginjilan
    Penulis : Joshua Koh
    Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati, 2004
    Halaman : 35 - 40

    e-JEMMi 21/2005

    Dewan Gereja-Gereja Se-Dunia Terbentuk (1948)

    Apabila orang-orang terdorong memikirkan dirinya sendiri, di situ ada pemisahan gereja. Di mana dua atau tiga orang berkumpul bersama, kemungkinan akan timbul empat atau lima pendapat.

    Alkitab berbicara tentang kesatuan orang-orang percaya, namun berbicara juga tentang keharusan berpegang pada kebenaran. Banyak reformis, seperti yang telah kita lihat, berpegang pada kebenaran -- dan akibatnya perpisahan gereja. Yang lain seperti Alexender Campbell dan John Nelson Darby, menentang perpecahan Gereja atas nama kesatuan Gereja. Tetapi malangnya, ide mereka tentang kebenaran ditentang juga, dan kesatuan yang mereka upayakan tidak pernah terwujud. "Berbicara tentang kebenaran dalam kasih" tidak pernah mudah dilakukan.

    Namun, John R. Mott dan rekan-rekannya sadar bahwa karya misi yang efektif membutuhkan kerja sama dan kesatuan gereja -- dan mungkin kesatuan gereja membutuhkan pekerjaan misi. Sekelompok angsa akan berkumpul bersama selama semuanya bergerak menuju arah yang sama. Jika orang-orang Kristen hanya duduk dan berpikir saja, mereka tidak akan sepaham dengan nilai-nilai teologi yang indah. Tetapi, bila mereka dikaryakan dengan menyebarkan Injil Kristus, mungkin ketika itulah kita akan merupakan suatu badan yang menyatu seperti yang diinginkan Kristus.

    Gerakan Relawan Mahasiswa yang dipimpin Mott menghasilkan aktivitas misi seperti pusaran angin. Misi tersebut beroperasi melintasi garis-garis denominasi. Organisasi-organisasi lain menyebarkan aktivitasnya di luar perguruan tinggi pada kaum awam yang lebih tua. Pada tahun 1910, International Missionary Conference (Konferensi Pekabaran Injil Internasional), bertemu di Edinburgh untuk merencanakan strategi-strategi bagi penginjilan dunia. Hal ini umumnya dianggap sebagai awal gerakan oikumene. Dengan John R. Mott sebagai penggerak utama, keseribu delegasi tersebut menggerakkan dua organisasi -- Faith and Order Movement (Gerakan Iman dan Tata Ibadah) [untuk isu-isu doktrinal] dan Life and Work Movement (Gerakan Kehidupan dan Karya)[bagi misi dan pelayanan].

    Kemajuan umumnya bergerak lamban -- dan telah terhambat perang dunia. Setiap sepuluh tahun "gerakan-gerakan" ini bertemu untuk membicarakan kebutuhan-kebutuhan dunia dan status gereja-gereja. Life and Work Movement bertemu di Stockholm pada tahun 1925 untuk mendiskusikan hubungan kekristenan dengan masyarakat, politik dan ekonomi. Dua tahun kemudian Faith and Order Movement bertemu di Lausanne, mengupayakan tugas sulit dalam merencanakan kesatuan ajaran.

    Pada tahun 1937, dengan pertemuan secara terpisah di Oxford dan Edinburgh, kedua organisasi ini memilih untuk bergabung. Para pemimpin gereja bertemu di Utrecht, pada tahun 1938, untuk menyusun sebuah konstitusi. Namun, Perang Dunia II mencegah langkah maju gereja-gereja dengan rencananya tersebut.

    Setelah perang usai, bagaimanapun juga ada rasa kesatuan yang lebih besar ketika gereja-gereja di seluruh dunia berupaya memulihkan keadaan. Pertemuan di Amsterdam pada tahun 1948 akhirnya menyatukan kedua badan terdahulu itu menjadi World Council of Churches (WCC) [Dewan Gereja-gereja se-Dunia]. Terdapat 135 badan-badan gereja yang terwakili dari empat puluh negara. Setelah seumur hidup mengupayakan oikumene, Mott, dalam usianya yang ke delapan puluh, terpilih sebagai ketua kehormatan.

    Menggambarkan dirinya sebagai "persekutuan gereja-gereja yang menerima Yesus Kristus Tuhan kita sebagai Allah dan Juruselamat", WCC mengajak gereja-gereja bekerja sama, belajar bersama, bersekutu bersama, berbakti bersama, dan bertemu bersama dalam konferensi khusus dari waktu ke waktu. WCC menolak rencana apapun untuk membentuk "gereja dunia" baru. WCC tidak akan memiliki kekuasaan yang terpusat. WCC hanya bertujuan memberi gereja-gereja di seluruh dunia kesempatan dan sumber untuk bekerja sama satu dengan yang lain.

    Dari awal, beberapa kelompok Protestan Amerika Serikat utama menolak bergabung -- yang paling menonjol adalah Southern Baptist dan Missouri Synod Lutherans. Gereja Katolik Roma memandang dirinya sebagai suatu kesatuan sehingga tidak akan bergabung, meskipun Vatikan II telah membuka pintu diskusi. Namun, WCC tetap merupakan organisasi dunia yang aktif dan berpengaruh. Kenneth Scott Latourette menyebutnya "badan paling inklusif yang pernah dimiliki agama Kristen".

    Banyak orang Kristen konservatif menyerang sikap "revolusioner" WCC. Baru sekarang terlihat bahwa persatuan organisasi gereja secara organisasional tak dapat dicapai pada milenium ini -- dan mungkin tidak akan pernah. Cara-cara baru untuk bekerja sama dan bersatu sebagai orang-orang Kristen sedang ditemukan dan diimplementasikan. Namun, doa Yesus "agar mereka menjadi satu" (Yohanes 17:21) masih harus dijawab sepenuhnya.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
    Judul artikel : Dewan Gereja-gereja Se-Dunia Terbentuk (1948)
    Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, & Randy Petersen
    Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1991
    Halaman : 160 -- 162

    e-JEMMi 30/2002

    Diciptakan untuk Sebuah Misi

    Sama sepeti Engkau memberiku misi dunia, Aku memberi mereka misi dunia (Yohanes 17:18).

    Hal yang terpenting ialah bahwa aku menyelesaikan misiku, pekerjaan yang Tuhan Yesus berikan padaku (Kisah Para Rasul 20:24).

    Anda Diciptakan untuk Sebuah Misi

    Allah sedang bekerja di dunia, dan Dia ingin Anda bergabung dengan- Nya. Tugas ini disebut misi Anda. Allah ingin Anda memiliki pelayanan di dalam Tubuh Kristus dan juga misi di dunia. Pelayanan (ministry) Anda merupakan pelayanan (service) kepada orang-orang percaya (Kolose 1:25; Korintus 12:5), dan misi Anda merupakan pelayanan (service) Anda kepada orang-orang yang belum percaya. Memenuhi misi Anda di dunia adalah tujuan kelima Allah bagi kehidupan Anda.

    Misi kehidupan Anda bersifat bersama dan spesifik. Sebagian dari misi tersebut merupakan tanggung jawab yang Anda pikul bersama semua orang Kristen lainnya, dan sebagian lainnya merupakan sebuah tugas yang khusus bagi Anda.

    Kata misi berasal dari kata Latin untuk "mengutus". Menjadi seorang Kristen berarti diutus ke dunia sebagai wakil Yesus Kristus. Yesus berkata, "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." (Yohanes 20:21)

    Yesus dengan jelas memahami misi kehidupan-Nya di dunia. Pada usia 12 tahun, Dia mengatakan, "Aku harus mengerjakan urusan Bapa-Ku" (lihat Lukas 2:49) dan 21 tahun kemudian, sementara menjelang ajal di atas kayu salib, Dia berkata, "Sudah selesai" (lihat Yohanes 19:30).

    Misi yang Yesus jalankan ketika ada di dunia, sekarang menjadi misi kita karena kita merupakan Tubuh Kristus. Apa yang Dia lakukan dengan tubuh fisik-Nya harus kita lanjutkan sebagai tubuh rohani- Nya, yaitu Gereja. Apakah misi itu? Menuntun orang-orang kepada Allah! Alkitab berkata, "Melalui Kristus Allah membuat kita berbaik kembali dengan Dia, lalu menugaskan kita supaya orang-orang lain dimungkinkan berbaik juga dengan Allah." (2Korintus 5:18)

    Allah ingin menebus manusia dari Iblis dan mendamaikan mereka dengan Diri-Nya supaya kita bisa memenuhi kelima tujuan yang untuknya Dia menciptakan kita, yakni: mengasihi Dia, menjadi anggota keluarga- Nya, menjadi serupa dengan Dia, melayani Dia, dan memberi tahu orang lain tentang Dia. Begitu kita menjadi milik-Nya, Allah memakai kita untuk menjangkau orang lain. Dia menyelamatkan kita dan selanjutnya mengutus kita. Alkitab mengatakan, "Jadi kami ini adalah utusan- utusan Kristus." (2Korintus 5:18) Kita adalah pembawa berita tentang kasih dan tujuan Allah bagi dunia.

    Pentingya Misi Anda

    Memenuhi misi kehidupan Anda di dunia merupakan bagian penting dari hidup untuk kemuliaan Allah. Alkitab memberi alasan mengapa misi Anda begitu penting.

    Misi Anda merupakan Kelanjutan dari Misi Yesus di Dunia

    Sebagai para pengikutnya, kita harus melanjutkan apa yang telah dimulai oleh Yesus. Yesus memanggil kita bukan hanya untuk datang kepada Dia, melainkan juga untuk pergi bagi Dia. Misi Anda begitu penting sehingga Yesus mengulanginya sampai lima kali, dengan lima cara yang berbeda di Alkitab (Matius 28:19-20; Markus 16:15). Seolah olah Dia berkata, "Aku sungguh-sungguh ingin agar kamu menerima misi ini!" Selidikilah kelima amanat agung dari Yesus ini dan Anda akan mengetahui rincian dari misi Anda di dunia, yaitu kapan, di mana, mengapa dan bagaimana.

    Dalam Amanat Agung Yesus berkata, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20) Amanat ini diberikan kepada semua pengikut Yesus, bukan hanya kepada para pendeta dan misionaris saja. Inilah misi Anda yang diberikan oleh Yesus, dan ini bukanlah pilihan. Kata-kata Yesus ini bukanlah saran agung. Jika Anda merupakan anggota keluarga Allah, misi Anda merupakan kewajiban. Mengabaikannya berarti ketidaktaatan.

    Anda mungkin tidak sadar bahwa Allah mengangap Anda bertanggung- jawab atas orang-orang yang belum percaya yang hidup di sekitar Anda. Alkitab mengatakan, "Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! -- dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungjawaban atas nyawanya dari padamu." (Yehezkiel 3:18) Anda merupakan orang Kristen satu-satunya yang pernah dikenal oleh beberapa orang, dan misi Anda ialah memperkenalkan Yesus kepada mereka.

    Misi Anda merupakan Hak Istimewa yang Mengagumkan

    Sekalipun merupakan tanggung jawab yang besar, dipakai oleh Allah juga merupakan kehormatan yang luar biasa. Paulus berkata, "Allah telah memberikan kehormatan kepada kami unutk mengajak semua orang supaya menerima anugerah-Nya dan diperdamaikan dengan Dia." (2Korintus 5:18) Misi Anda meliputi dua hak istimewa besar: bekerja bersama Allah dan mewakili Dia. Kita menjadi rekan Allah dalam menjadi membangun kerajaan-Nya. Paulus menyebut kita "teman-teman sekerja" dan berkata, "Kami bekerja bersama-sama dengan Allah." (2Korintus 6:1)

    Yesus telah menjamin keselamatan kita, memasukkan kita di dalam keluarga-Nya, memberi kita Roh-Nya, dan selanjutnya menjadikan kita alat-Nya di dunia. Hak istimewa yang luar biasa! Alkitab mengatakan, "Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah." (2Korintus 5:20)

    Memberi Tahu Orang Lain Bagaimana Mereka bisa Memiliki Hidup Kekal merupakan Hal Terbesar yang bisa Anda Kerjakan bagi Mereka

    Kalau teman Anda menderita kanker atau AIDS dan Anda tahu obatnya, merupakan suatu kejahatan kalau Anda menahan informasi yang bisa menyelamatkan nyawa itu. Yang lebih buruk lagi ialah merahasiakan jalan menuju pengampunan, tujuan, damai sejahtera, dan kehidupan kekal. Kita memiliki kabar terbesar di dunia dan menyebarkan kabar itu merupakan kebaikan terbesar yang bisa Anda tunjukkan kepada semua orang.

    Salah satu masalah yang dimiliki oleh orang-orang yang sudah lama menjadi Kristen ialah bahwa mereka lupa betapa sia-sia rasanya hidup tanpa Kristus. Kita harus ingat bahwa tidak peduli seberapa puas dan berhasil tampaknya manusia, tanpa Kristus mereka benar-benar terhilang tanpa harapan dan menuju perpisahan abadi dengan Allah. Alkitab mengatakan, "Hanya melalui Yesus saja orang diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12) Semua orang membutuhkan Yesus.

    Misi Anda Memiliki Makna Kekal

    Misi tersebut akan mempengaruhi masa depan abadi orang lain. Itu lebih penting, ketimbang pekerjaan, keberhasilan, atau tujuan apa pun yang akan Anda raih selama kehidupan Anda di bumi. Hasil dari misi Anda akan berlangsung selamanya, sementara hasil dari pekerjaan Anda tidaklah kekal. Tidak ada apa pun yang Anda kerjakan yang akan bernilai sebanyak menolong orang memiliki hubungan kekal dengan Allah.

    Karena itulah, kita harus bersungguh-sungguh dengan misi kita. Yesus bersabda, "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4) Jam berdetik terus menuju saat dimulainya misi kehidupan kita, jadi janganlah tunda sampai hari berikutnya. Mulailah misi Anda untuk menjangkau orang lain sekarang! Kita akan memiliki seluruh masa kekekalan untuk dirayakan bersama orang-orang yang telah kita bawa kepada Yesus, tetapi kita hanya memiliki waktu seumur hidup untuk menjangkau mereka.

    Ini tidak berarti bahwa Anda harus menghentikan pekerjaan Anda untuk menjadi seorang penginjil purna waktu. Allah ingin Anda membagikan Kabar Baik di mana pun Anda berada. Sebagai seorang pelajar, ibu, guru TK, wiraniaga, atau manajer, atau apa pun yang Anda kerjakan, sebaiknya Anda terus-menerus mencari orang-orang yang Allah tempatkan di jalur Anda dengan siapa Anda bisa membagikan Injil.

    Misi Anda Memberi Makna bagi Kehidupan Anda

    William James berkata, "Pemanfaatan terbaik dari kehidupan ialah menggunakannya untuk sesuatu yang berlangsung lebih lama daripada kehidupan itu sendiri. Yang sebenarnya ialah hanya Kerajaan Allah yang akan berlangsung selamanya. Pada akhirnya, segala sesuatu lainnya akan binasa. Karena itulah kita harus menjalani kehidupan yang memiliki tujuan, yaitu kehidupan yang diserahkan untuk penyembahan, persekutuan, pertumbuhan rohani, pelayanan, dan pelaksanaan misi kita di dunia. Hasil dari kegiatan-kegiatan ini akan bertahan selamanya!

    Jika Anda gagal memenuhi misi pemberian Allah di dunia, Anda tentu menyia-nyiakan kehidupan yang Allah berikan kepada Anda, Paulus mengatakan, "Hidupku sama sekali tidak berharga kecuali jika memakainya untuk mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan Tuhan Yesus kepadaku, yaitu pekerjaan untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang lain tentang kebaikan dan kasih Allah yang ajaib." (Kisah Para Rasul 20:24) Ada orang-orang di planet ini yang hanya Anda yang bisa menjangkaunya, karena tempat Anda tinggal dan karena untuknya Allah telah menciptakan Anda. Walaupun hanya satu orang yang akan masuk surga karena Anda, kehidupan Anda tentu membuat perbedaan bagi kekekalan. Mulailah melihat ladang misi pribadi Anda dan berdoalah, "Tuhan, siapakah yang telah Engkau tempatkan dalam kehidupanku agar kepadanya aku bercerita tentang Yesus?"

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku : The Purpose Driven Life
    Judul Artikel: Diciptakan untuk Sebuah Misi
    Penulis : Rick Warren
    Penerjemah : Paulus Adiwijaya
    Penerbit : Yayasan Gandum Mas
    Halaman :309 - 316

    e-JEMMi 19/2005

    Dipanggil untuk Menjadi Berkat

    Salah satu kegagalan yang paling menyedihkan dari umat Kristen adalah kegagalan untuk dapat menjadi berkat bagi dunia. Sejak umat Allah memperoleh identitasnya sebagai bangsa yang kudus, memiliki hukum dan tanah perjanjian, maka masa peperangan dan permusuhan dengan bangsa-bangsa lain sebenarnya sudah berakhir. Janji Allah kepada Abraham akan digenapi (Kejadian 12:2-3). Umat Allah akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain di seluruh muka bumi, karena memang untuk maksud itulah pemilihan dan keselamatan dianugerahkan kepada mereka (Yesaya 2:1-5). Yosua 24 menyaksikan bahwa umat Israel ditempatkan oleh Allah di tengah bangsa-bangsa lain dengan risiko sangat tinggi karena ilah-ilah mereka begitu menarik untuk disembah, sementara sikap bangsa-bangsa lain itu juga cenderung mempersulit dan menganiaya umat Allah (Lukas 10:3; Yohanes 17:14-19). Meskipun demikian, mereka terpanggil bukan untuk berperang, melainkan untuk menjadi berkat. Memang, peperangan yang tak terhindarkan masih mungkin terjadi, tetapi Allah tidak pernah memanggil mereka untuk membinasakan bangsa-bangsa lain, bahkan kerjasama dalam membangun kesejahteraan dan kebenaran harus diciptakan (1Raja-raja 5:1-12; Yeremia 29:7). Mereka harus mengasihi, bahkan mendoakan mereka yang memusuhi (Matius 5:44), karena panggilan untuk "menjadi berkat" adalah salah satu bukti dari iman yang sejati (Matius 5:46).

    Sayang sekali, semakin lama panggilan dari Allah ini terus-menerus terabaikan. Sejarah membuktikan, fase setelah gereja mula-mula yang berhasil mengemban Amanat Agung ini (Kisah Para Rasul 2:47) kemudian diikuti dengan fase-fase sejarah kegagalan umat Kristen yang semakin mendalam. Umat Kristen makin lama makin tidak mampu menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di dunia ini, karena antara lain:

    Jiwa Manusia yang Cenderung Berat Sebelah dan Egosentristik
    Memang Alkitab dengan jelas sekali menyaksikan panggilan Allah untuk bersatu dan memberitakan Injil, tetapi panggilan untuk menjadi satu atau "ut Omnes Unum Sint" (Yohanes 17:21; 13:35) dan "pemberitaan Injil, pemuridan dan pembaptisan" (Matius 28:19-20) tersebut diresponi dan dikembangkan secara keliru dan berat sebelah oleh jiwa yang berdosa. Akibatnya, apa yang dihasilkan bukanlah berkat dan kebaikan, melainkan kejahatan yang tersamar. Umat Kristen semakin eksklusif, menutup diri, egois, dan tak dapat menjadi berkat bagi dunia ini. Panggilan untuk bersatu dan saling mengasihi telah diubah menjadi upaya untuk menggalang dan menciptakan "solidaritas kelompok". Persis seperti ketika negara-negara Kapitalis berkabung, mengheningkan cipta dan mengutuki pengeboman atas gedung kembar World Trade Center di New York dan Pentagon di Washington DC pada 11 September 2001, begitu juga banyak umat Kristen yang "hanya" berkumpul berdoa puasa untuk kepentingan gereja setelah terjadi pembakaran gedung-gedung gereja dan penganiayaan di beberapa daerah di Indonesia. Jiwa-jiwa yang lebih mementingkan ego, eksklusivitas dan merasa benar sendiri semakin bertumbuh subur. Doa mohon pengampunan dan belas kasihan bagi mereka yang telah menganiaya makin jarang dipanjatkan, sebaliknya kebencian dan keinginan untuk membalas justru semakin sering diutarakan. Sikap mengheningkan cipta dan keprihatinan hanya diberikan untuk kepentingan kelompoknya sendiri namun sikap yang sama tak pernah diberikan untuk kelompok lain yang menderita. Solidaritas memang bagian integral dari "persekutuan (Koinonia)", tetapi solidaritas tanpa jiwa koinonia adalah persekutuan tanpa kehadiran Kristus (Matius 18:20). Sehingga fungsinya pun bukanlah untuk menang atas dosa, namun sebaliknya, malah justru merangsang untuk menghidupkan dosa. Begitu juga panggilan untuk memberitakan Injil. Panggilan agung yang sering disebut dengan "The Great Commission" ini juga hadir dalam hati manusia yang berdosa sebagai satu hal yang telah tercemar dosa.

    Akibat dari semua ini adalah pemberitaan Injil yang seharusnya lahir dari jiwa yang penuh belas kasihan dan kasih Kristus atas mereka yang masih hidup dalam gelap telah berubah menjadi sekadar keinginan atas pertambahan jumlah. Pemberitaan Injil bisa jadi telah menjadi suatu tren religiusitas tanpa hati nurani, karena yang dibanggakan adalah keberhasilannya namun dalam kepuasan batin mereka, sukacita malaikat (Lukas 15:10) untuk pertobatan orang berdosa tidak ada. Tidak mengherankan jika semangat pemberitaan Injil yang berkobar- kobar, seperti pada akhir abad XIX dan permulaan abad XX (Great Awakening) di satu sisi malah mengakibatkan kematian peran umat Kristen di dunia ini. Dosa menyebabkan semangat pemberitaan Injil menghasilkan "antiintellectualism" ("Fundamentalism and American Culture" New York: Oxford, 1980, p. 212), padahal "antiintellectualism" sendiri membuat peran umat Kristen menjadi mati dalam hampir semua bidang kehidupan. Peran umat Kristen pun makin mengecil sehingga terjadilah "pemutarbalikan posisi", dari "sumber berkat" menjadi "objek perubahan paradigma". Kekristenan harus menampakkan diri dan menanggalkan prinsip-prinsip utama identitas mereka, atau mereka akan semakin terisolir dan terasing, bahkan di antara saudara-saudara seiman mereka sendiri.

    Jacques Ellul dalam The Technological Society telah mensinyalir hal ini. Di tengah budaya baru yang diciptakan oleh perkembangan teknologi, begitu banyak ruang untuk mengaplikasikan iman Kristen telah tertutup, termasuk persekutuan dengan saudara seiman. "Natural Grouping", seperti misalnya "persekutuan orang percaya" tak ada lagi. Yang ada adalah "Technological Society" sehingga antara hamba Tuhan pun muncul persaingan dan kecemburuan yang sangat besar. Hancurnya keterikatan relasi dengan sesama ini menutup kemungkinan bagi umat Kristen untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di dunia ini.

    Sikap umat Kristen di tengah kegagalan mereka untuk menjadi berkat.
    Kegagalan untuk menjadi berkat ini juga telah menyeret umat Kristiani ke dalam kesalahan-kesalahan lain yang makin menceraikan mereka dari dunia. Tanpa disadari, telah muncul budaya Kristen yang ekslusif yang memberi perasaan keterasingan, permusuhan, dan penolakan terhadap dunia luar. Meskipun Alkitab sendiri mengajarkan pemakaian "pelayanan" sebagai bahasa inklusif bagi hubungan kekristenan dengan dunia (Matius 25:34-40) seraya mengingatkan bahwa bahasa eksklusif dengan simbol-simbol iman Kristen tak berfaedah untuk dipakai pada saat hati manusia masih tertutup (Matius 7:6), umat Kristen belum berhasil mengintegrasikan kedua kebenaran tersebut dalam sikap mereka terhadap dunia. Mereka terjebak dalam berbagai ekstrim, seolah-olah pemberitaan Injil memang harus konfrontatif dengan risiko penolakan dan kebencian dunia terhadap mereka. Seolah-olah pengalaman nabi-nabi dan rasul-rasul dengan penganiayaan oleh karena Injil adalah "satu-satunya kemungkinan" yang memang menjadi ketetapan Tuhan. Mereka lupa bahwa sebagian besar penolakan dan kebencian dunia atas umat Kristen terjadi oleh karena kesalahan dan kelemahan mereka, dan bukan oleh karena kesetiaan mereka pada Injil Yesus Kristus.

    Tuhan Yesus memang sudah memprediksi kebencian dunia atas umat Kristen (Yohanes 17:14), tetapi Dia tidak pernah mengajarkan sikap dan tingkah laku yang akan menimbulkan kebencian. Berulang kali Alkitab menyaksikan kehadiran yang "sangat positif" dari umat Allah di tengah dunia (Ishak di Bersyeba -- Kejadian 26; Jusuf di Mesir -- Kejadian 39-50; keluarga Elimelekh di Moab dalam Kitab Rut; dan Daniel di Babel). Oleh sebab itu, untuk lebih memahami realita kegagalan untuk menjadi berkat beberapa fenomena di bawah ini perlu diwaspadai, yaitu:

    1. Perasaan takut dan alergi terhadap umat beragama lain yang ada di sekitar kita.
      Ketakutan yang tidak pada tempatnya biasanya lahir dari pemahaman yang keliru tentang kebenaran Firman Allah. Panggilan untuk memberitakan Injil, misalnya, telah berubah menjadi hukum keharusan untuk memberitakan Injil bagi setiap orang Kristen dengan cara dan pendekatan yang sama. Akibatnya, pemberitaan Injil dilakukan di luar konteks "menjadi berkat" dan toleransi menghargai perbedaan yang merupakan modal utama untuk menjadi berkat tidak ada lagi. Seolah-olah toleransi menghargai perbedaan merupakan sikap yang keliru oleh karena merugikan dan membahayakan eksklusivitas iman sehingga perlu dihindari jauh- jauh. Hasilnya, pemberitaan Injil banyak yang dilakukan di luar konteks dialogis antarpribadi yang baik dimana orang memperlakukan objek pemberitaan Injil sebagai satu pribadi yang seutuhnya. Tidak heran jikalau banyak orang Kristen melakukan pemberitaan Injil dengan ketakutan dan kecemasan. Mereka takut oleh karena Injil yang begitu penting harus disampaikan di luar konteks "kepedulian yang sesungguhnya" terhadap sesama. Hal ini pada kenyataannya memang seringkali berisiko tinggi, karena mereka yang menjadi obyek pemberitaan Injil tersebut "merasa dirinya diperlakukan bukan sebagai manusia yang seutuhnya".

    2. Sikap mengisolasi dan bermusuhan terhadap dunia.
      Memang, Alkitab menyaksikan perbedaan hakiki antara umat Allah dengan apa yang disebut sebagai "dunia". Tetapi, Alkitab juga menyaksikan betapa Allah sangat mengasihi "dunia" dan mengutus Anak-Nya yang Tunggal untuk menyelamatkan dunia. Bahkan, Alkitab juga menyaksikan bahwa kita yang sesungguhnya anak-anak dunia telah dipanggil keluar untuk diutus kembali ke dalam dunia. Gereja (ekklesia) adalah kumpulan anak-anak tebusan-Nya yang di tempatkan "di tengah dunia untuk menjadi berkat bagi dunia". Itulah sebabnya, Allah mengizinkan umat- Nya hidup bersama, bahkan bekerjasama dengan "anak-anak dunia" dalam hampir setiap bidang kehidupan. Sejarah juga membuktikan bahwa Allah memakai umat beragama lain untuk membawa filsafat Aristotel (*) kembali mengisi wacana kepedulian terhadap realita kehidupan dalam dunia yang selama berabad-abad telah diabaikan oleh umat Kristen. Teokrasi versi Perjanjian Lama sudah dihapuskan, bahkan negara Kristen seperti zaman Konstantin telah ditiadakan. Allah tidak pernah memanggil umat-Nya menjadi "Reconstructionist" yang akan membangun masyarakat dengan prinsip-prinsip hukum dan peraturan yang eksklusif Alkitabiah. Panggilan untuk umat Kristen adalah panggilan untuk menjadi terang dan garam, dan bukan panggilan untuk menjadi ragi (yeast) yang mengubah hakikat atau mengkhamirkan.

      Di tengah misteri kehidupan yang diizinkan Allah ini, banyak umat Kristen terus-menerus jatuh dalam berbagai kesalahan. Mereka tidak menyadari adanya berbagai peran yang harus mereka mainkan karena di satu pihak mereka "bukan milik dunia", tetapi di pihak lain "mereka adalah bagian dari realitas kehidupan di dunia". Peran mereka bukan hanya satu yaitu "sebagai yang lain dari dunia". Namun mereka memiliki peran "ganda" karena mereka harus hidup bersama, bekerjasama, berdialog, saling menolong, saling menghormati, bahkan saling mengasihi dengan "anak-anak dunia". Mereka harus membangun masyarakat dan kehidupan yang lebih baik untuk dijalani bersama dengan "anak-anak dunia". Sikap menutup diri dan permusuhan adalah dosa.

      Sikap menutup diri dan permusuhan seringkali muncul tanpa disadari. Sikap negatif ini bahkan menjadi pola hidup banyak umat Kristen, khususnya pada saat mereka tidak mampu menjadi fleksibel dalam menjalankan peran "ganda" yang diberikan Allah pada mereka. Mereka dipanggil untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa di dunia, dan panggilan itu tak mungkin terpenuhi jika mereka terus menutup diri dari dunia ini.


    [ (*) Setelah perang Salib (abad XI-XIII) perjumpaan dengan Islam telah membawa masuk filsafat Aristotel kembali ke dalam kekristenan. Filsafat Aristotel bukanlah filsafat Kristen, melainkan pengaruhnya telah membukakan wacana pemikiran Kristen yang selama ini terabaikan. Kekristenan yang selama berabad-abad didominir oleh orientasi Agustinian yang memisahkan Allah dari dunia yang sudah jatuh dalam dosa, sekarang melihat arti keselamatan Kristus dalam realita alam semesta yang sudah diperdamaikan. ]

    Bahan diedit dari sumber:

    Buletin : Newsletter STTRII, Volume IX/2001
    Penulis : Yakub B. Susabda, Ph.D.

    e-JEMMi 35/2005

    Ditugaskan di Babel

    Daniel adalah orang yang diperkenan oleh Tuhan (Daniel 9:23; 10:11, 19); kepadanya Tuhan menyingkapkan banyak dari rencana-Nya atas umat-Nya. Meskipun demikian, Alkitab tidak mencatat adanya panggilan Tuhan kepada Daniel yang sebanding dengan panggilan Tuhan kepada Paulus, sang rasul. Tidak ada cahaya silau yang membuat Daniel terjatuh ke tanah. Tidak ada suara menggelegar dari langit yang mengatakan bahwa ia harus pergi ke Babel. Daniel dan teman-temannya pindah ke Babel bukan karena mereka melihat adanya suatu kebutuhan rohani di tanah asing itu. Tidak- - Daniel, Hananya, Misael, dan Azarya adalah "korban" dari keadaan.

    Nebukadnezar, raja Kerajaan Babel menyerang Yerusalem pada tahun ketiga pemerintahan Yoyakim, raja Yehuda. Kota itu ditaklukkan dan Raja Nebukadnezar mengangkut banyak penduduknya, termasuk sejumlah pemuda Yahudi yang cakap, lagi pintar; mereka ditugaskan untuk melayani di istana kerajaannya. Jadi, bersama dengan para tawanan lainnya, Daniel dan kawan-kawannya dimigrasikan ke Babel.

    Perpindahan dari Yerusalem ke Babel ini sama sekali tidak tampak seperti panggilan Tuhan. Tidak mirip dengan apa yang dialami Yeremia. Kepada Yeremia Tuhan berkata,


    "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa." (Yeremia 1:5)

    Mudah sekali bagi seorang Yahudi yang berada di pembuangan itu berkata, "Kalau saja Allah memanggil saya seperti halnya Ia memanggil Yeremia. Karena Allah memperbolehkan Yeremia tinggal di Yerusalem, sedangkan saya digiring ke Babel, salah satu tempat yang paling bejat di bumi. Pasti tidak banyak yang dapat saya lakukan bagi Tuhan di tempat yang seperti ini."

    Seandainya ada orang buangan di antara kaum Yahudi yang merasa tidak dipanggil oleh Tuhan, ia tentunya melihat dengan mata jasmani, bukan dengan mata iman. Siapakah sebetulnya yang mengangkut mereka ke Babel? Apakah itu adalah tindakan Raja Nebukadnezar? (Yeremia 29:4, BIS) Nebukadnezar hanyalah sebagai alat yang tepat. Tuhan sendirilah yang memanggil kaum Yahudi ke Babel. Daniel, orang yang diperkenan oleh Tuhan, ikut pergi bersama orang-orang Yahudi yang paling bejat.

    Panggilan Paulus dan Yeremia yang terjadi secara dramatis itu merupakan pengalaman yang kudus dan berharga, bukan karena sifatnya dramatis, tetapi karena panggilan itu datang dan Tuhan. Tuhan yang sama itu jugalah yang membawa orang-orang buangan ke Babel. Apakah itu bukan panggilan? Jika tempat mereka dalam hidup ini ditentukan oleh Tuhan juga, mungkinkah itu tidak kudus dan tidak berharga?

    Tuhan kita yang kaya akan keberagaman memakai berbagai sarana untuk menempatkan umat-Nya. Sebagian dari metode yang dipakai-Nya tampak dramatis, sebagian lainnya biasa-biasa saja. Sebagian dipakai-Nya setiap hari, yang lainnya hanya sekali-sekali. Seperti yang dialami Daniel, panggilan terhadap orang-orang Kristen yang bekerja di lapangan, di pabrik, atau di kantor datang melalui keadaan, bukan melalui suatu kejadian istimewa. Dari sudut pandang mata jasmani, pekerjaan seseorang tampaknya merupakan hasil suatu keadaan tertentu yang alamiah. Meskipun demikian, Alkitab meyakinkan kita bahwa Tuhanlah yang menyebabkan segala sesuatu bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan dalam kehidupan mereka yang mengasihi Dia. Kita yang mengasihi Tuhan ditempatkan bukan karena rancangan manusia, bukan juga sebagai hasil usaha kita mengatur keadaan, tetapi sebagai hasil pekerjaan Tuhan. Tuhan memanggil kita menurut maksud tujuan- Nya, bukan menurut maksud tujuan kita. Ada kemungkinan kita tidak dapat mengerti mengapa Tuhan menaruh orang- orang Kristen tertentu pada suatu kedudukan atau pekerjaan. Tetapi pikiran Tuhan bukanlah pikiran kita, jalan-Nya pun bukan jalan kita.

    Menurut pikiran manusia, tidaklah masuk akal untuk memanggil seorang Kristen agar ia hidup kudus, tetapi lalu menempatkannya di lingkungan yang tidak bertuhan. "Politik bukan untuk orang Kristen," begitulah yang sering dikatakan orang sewaktu-waktu. "Permainan yang terlalu kotor."

    Pernyataan seperti itu mencerminkan pandangan kebanyakan orang yang sudah umum terdapat di antara umat Tuhan. Menurut pandangan itu dunia begitu kotor, jadi harus sedapat mungkin dihindari. Pekerjaan tertentu, yang walaupun sah, dipandang kotor dan tidak dapat tidak, harus dijauhi. Jika demikian, hampir semua pekerjaan di dunia tampak ada nodanya. Nama Tuhan bila disebut-sebut, dilakukan dengan sembarangan. Rekan-rekan sekerja minum-minum terlalu banyak di pesta kantor. Pembicaraan mereka cabul. Berlaku licik dan berbohong sudah menjadi sesuatu yang biasa. Banyak perempuan berpakaian dengan cara yang menggoda. Gosip beredar cepat sekali, dan permusuhan yang mendalam dibungkus dengan senyum kepura-puraan. Ambisi yang egois dan cinta uang mendorong mereka untuk saling sikut demi mencapai kedudukan puncak. Semuanya ini dan banyak hal lainnya lagi dapat ditemukan di tempat kerja yang biasa. Galatia 5:19-21 berbicara tentang perbuatan daging dan dengan tepat menggambarkan keadaan di pertokoan atau di kantor modern masa kini.

    Di pihak lain, orang-orang yang berkecimpung dalam organisasi Kristen, gereja, dan badan zending (badan misi) diharapkan untuk hidup dalam suasana yang berbeda. Bekerja bahu membahu dengan orang- orang Kristen lainnya tampak bersih ketimbang bekerja di lingkungan dunia. Meninggalkan pekerjaan biasa dan bergabung dengan organisasi Kristen tampak seperti meninggalkan daerah pertambangan untuk bekerja di ruang operasi. Oleh karena itu, terjun ke dalam bidang penginjilan atau bidang rohani adalah sesuatu yang lebih disarankan. Begitulah pandangan kebanyakan orang. Mereka berpikir, tidakkah Alkitab mengatakan bahwa ibadah yang murni adalah "menjaga supaya diri [kita] sendiri tidak dicemarkan oleh dunia" (Yakobus 1:27)? Maka dari itu, orang-orang tertentu yang rindu menekuni hal-hal rohani terdorong untuk masuk biara.

    Melarikan diri dari dunia bukanlah rencana Tuhan bagi orang-orang Kristen. Kita tidak bebas dari dunia -- kita harus mengatasinya. Dunia bukanlah sesuatu yang harus dihindari, tetapi justru merupakan tempat di mana kita ditugaskan. Alkitab menyatakan hal itu dengan jelas sekali. Ketika Yesus berdoa bagi para pengikut-Nya, la berkata, "Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka daripada yang jahat." (Yohanes 17:15). Dalam suratnya yang mula-mula kepada jemaat di Korintus, Paulus menasihati agar mereka tidak bergaul dengan orang- orang Kristen yang hidupnya tidak bermoral. Di kemudian hari ia harus menjelaskan apa yang dimaksudkannya, karena tampaknya ada sebagian orang yang mengira bahwa mereka harus menjauhkan diri dari orang-orang non Kristen yang tidak bermoral. Ia menjelaskan, "Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini" (1Korintus 5:9-10). Tak pelak lagi, menjauhi dunia bukanlah cara yang dianjurkan Paulus untuk mengalahkan dunia.

    Pola kita sudah ditentukan. Ketika Allah Bapa menyediakan sebuah tubuh bagi Yesus, Anak-Nya, Ia mengutus tubuh itu ke dalam dunia. Dewasa ini gereja adalah tubuh Yesus di bumi. Tubuh ini diutus ke dalam dunia, bukan ke suatu tempat kudus yang aman dan terlindung, tetapi ke dalam dunia yang bejat akhlaknya. Dunia abad kedua puluh ini sudah menjadi begitu kompleks. Di dalamnya terdapat "dunia- dunia". Kita berbicara tentang "dunia perbankan dan keuangan", atau "dunia permobilan", atau "dunia" pemerintah dan dunia usaha. Panggilan ke dalam dunia masa kini tidak terlepas dari semua komponen planet ini yang rumit. Dunia ini tampak terlalu berpolusi untuk menjadi tempat tinggal orang-orang Kristen, tetapi kita tidak ditentukan untuk dikalahkan. "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Roma 12:21). Yesus sudah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33). Dan Ia mengharapkan agar kita melakukan hal yang sama. "Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain daripada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1Yohanes 5:4,5).

    Daniel mengalahkan dunia sekalipun ia diutus ke Babel. Tidak ada banyak hal yang menarik bagi Daniel di Babel. Ia melihat menu makanan istana sebagai sesuatu yang menajiskan dia (Daniel 1:8). Di sekitar dia ada banyak ahli sihir, astrolog, dan ahli jampi (2:2), yang kegiatannya dengan tegas dilarang oleh Hukum Tuhan (Ulangan 18:10-12). Sementara rekan-rekannya mengkhianatinya (6:4-9), minum- minum sampai mabuk dan menyembah berhala (5:1-4).

    Supervisor Daniel bermacam-macam, dari yang ketakutan (1:10) sampai yang angkuh (4:30) dan yang mudah tertipu (6:6-9). Babel bukanlah firdaus bagi orang Yahudi yang penuh pengabdian dan yang rindu melayani Tuhan dengan segenap hati ini.

    Namun ke sanalah (ke Babel) Daniel diutus. Bukan ke kota yang kudus, tetapi yang penuh dengan keangkuhan dan keduniawian. Pekerjaannya bahkan membawanya ke ajang politik praktis. Tetapi Daniel tidak terpolusi oleh kebejatan moral di sekelilingnya. Ia mengalahkan dunia, bukan sesudah ia memindahkan dirinya ke suatu lingkungan yang suci, tetapi sewaktu ia sedang bekerja di tengah- tengah lingkungan yang bejat itu. (Pekerjaan Daniel mengharuskan dia berada di dunia yang dikelilingi kebejatan moral, tetapi pekerjaannya itu sendiri merupakan sesuatu yang benar. Tentu saja ada beberapa jenis pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan oleh orang Kristen. Pekerjaan kita dan tujuannya harus tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar dari Tuhan.)

    Bagi Daniel, dipisahkannya dia dari dunia terjadi di dalam hatinya. Yang dipisahkan dari pengaruh dunia dan bukan fisiknya. Lama sebelum zaman Daniel, Nabi Yesaya menulis: "Keluarlah dari Babel, larilah dari Kasdim!" (Yesaya 48:20). Daniel tidak berusaha pindah dari Babel, tetapi dalam rohnya ia menuruti perintah itu yang dari Tuhan. Alkitab menyatakan bahwa Daniel


    "Berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminun raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya" (Daniel 1:8).


    Keputusan itu terwujud di dalam hati Daniel. Melalui iman kepada Tuhan ia mengalahkan kejahatan dengan kebaikan -- sekalipun saat itu ia sedang sepenuhnya berurusan dengan dunia dalam bidang pekerjaannya.

    Babel pada zaman sekarang ini sebejat Babel pada zaman Daniel. Orang-orang modern masih mengejar kebesaran dan kekuasaan tanpa mempedulikan kekudusan. Masih ada banyak kesempatan di lapangan kerja untuk menuruti keinginan daging. Tetapi orang yang menyadari bahwa sifat kedagingannya sudah disalibkan bersama-sama Kristus, memandang berbagai kesempatan itu sebagai rintangan, bukan sebagai sesuatu yang mempunyai daya tarik.

    Kalau begitu, hal apakah yang menyebabkan seseorang yang rohani mengambil pekerjaan dalam sistem dunia ini yang bejat akhlaknya? Perintah dari sang Raja. Perintah itu sendiri merupakan motivasi yang kuat. Di sinilah letak perbedaan motivasinya. Bertanyalah kepada orang-orang duniawi, mengapa mereka bekerja. Ada yang akan berkata, "Saya bekerja untuk uang." Yang lain mungkin berkata, "Saya bekerja untuk memperoleh kebanggaan. Pekerjaan saya seumpama batu loncatan untuk mencapai kedudukan yang semakin tinggi dan berpengaruh di dunia ini. Anda juga dapat menemukan orang yang bekerja keras dan sungguh-sungguh untuk membangun suatu masyarakat yang lebih baik, untuk memulihkan keadaan sosial yang rapuh, atau untuk meringankan penderitaan manusia. Amatilah baik-baik, dan Anda akan menemukan Babel dalam setiap motivasi yang berpusatkan dunia.

    Apa yang membuat orang kepunyaan Tuhan melakukan pekerjaannya yang biasa itu hari demi hari? Uang? Ketenaran? Usaha mendirikan firdaus di bumi ini? Tuhan Yesus dengan tegas berkata, "Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Dalam bidang pekerjaan kita, seperti dalam bidang lainnya, kita melayani untuk menyenangkan hati- Nya, bukan untuk menyenangkan diri kita sendiri. Raja kita mempunyai masalah di planet ini. Kehendak-Nya terjadi di surga, tetapi jarang terjadi di muka bumi ini. Ia sedang merekrut orang-orang yang mengizinkan kehendak-Nya yang benar itu memerintah atas mereka. Bilamana la menemukan orang-orang seperti itu, sang Raja akan menempatkan mereka secara strategis di sini dan di sana di seluruh dunia menurut rancangan-Nya sendiri.

    Babel dan segala yang mewakili Babel adalah sesuatu yang memuakkan Tuhan -- kekejian di mata Tuhan (Wahyu 17:4, 5). Meskipun demikian, Ia berani mengutus umat pilihan-Nya ke tengah-tengah ketidak kudusan itu. Sungguh mengherankan bila dipandang dari sudut logika manusia, Tuhan mengutus kebanyakan umat-Nya untuk melakukan pekerjaan biasa. Itu pilihan utamanya bagi hidup mereka. Salah satu sebab mengapa Paulus melakukan usaha dagang ialah: "karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti" (2Tesalonika 3:9).

    Setiap kita harus bergantung pada Roh Kudus bila hendak menemukan panggilan Tuhan bagi kita pribadi. Kalau Tuhan menghendaki Anda sepenuhnya melakukan pekerjaan dalam bidang rohani, taatilah Dia. Kalau Tuhan memandang Anda untuk melakukan pekerjaan biasa, juga taatilah Dia dengan senang hati. Terjun ke bidang pekerjaan rohani bukan sesuatu yang menunjukkan tingkat pengabdian seseorang kepada Kristus. Tuhan mengkhususkan sebagian orang untuk melakukan pekerjaan penginjilan, dan la juga mengkhususkan sebagian lainnya untuk menghasilkan buah dalam pekerjaan biasa.

    Bagi mereka yang bersusah hati karena merasa bahwa pekerjaannya sehari-hari tidak berarti bagi Kerajaan Tuhan, dapat memperoleh penghiburan dari pelajaran kehidupan Daniel. Pekerjaan Daniel dalam pemerintahan diperolehnya melalui keadaan yang memungkinkan dia mendapat kesempatan ke arah sana. Dan ia tidak berusaha untuk meningkatkan kedudukannya di hadapan Tuhan dengan jalan semakin banyak melakukan pekerjaan rohani. Daniel belum pernah membaca surat Paulus kepada jemaat di Korintus, namun tindakannya itu sesuai dengan perintah,

    "Hendaklah tiap-tiap orang tetap hidup seperti yang telah ditentukan Tuhan baginya dan dalam keadaan seperti waktu ia dipanggil Allah ...." (1 Korintus 7:17)

    Daniel ditugaskan di Babel. Dan di situlah ia tinggal ....

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku : Pekerjaan Sekuler adalah Pelayanan Sepenuh Waktu
    Judul Artikel: Ditugaskan di Babel
    Penulis : Larry Peabody
    Penerbit : Nafiri Gabriel, Jakarta, 1999
    Halaman : 37 - 50

    e-JEMMi 40/2005

    Diutus Dengan Paksa? Di-Ekballo?

    Kisah Para Rasul pasal 8 mencatat tragedi yang terjadi pada umat percaya. Pada waktu itu, mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria (Kisah Para Rasul 8:1b). Pertanyaannya, dengan urapan Tuhan dan kuasa-Nya, apakah Allah tidak sanggup menjaga mereka dari penganiayaan? Sedemikian kejamkah Allah hingga Ia membiarkan umat-Nya dalam penganiayaan? Bukankah Dia mempunyai rencana yang indah untuk setiap orang percaya agar mereka hidup berkelimpahan?

    "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11)

    Tidak! Allah tidak kejam. Itulah rencana indah-Nya agar orang percaya menjadi saksi-Nya sampai ke ujung bumi. Tuhan Yesus sudah mengutus orang percaya dengan baik-baik (apostello) untuk menjadi saksi, namun berbagai macam hal terjadi dalam jemaat mula-mula sehingga mereka hanya terpaku di Yerusalem.

    Jadi, Tuhan meng-ekballo, mengirim mereka dengan paksa melalui penganiayaan ke tempat-tempat yang Tuhan Yesus perintahkan untuk mereka datangi, yaitu Yudea dan Samaria. Mereka semua tersebar ke seluruh daerah itu. Kata "tersebar" di sini dalam bahasa Yunaninya adalah "diaspeira". Lebih mudah kita kenal dengan "diaspora". Kata ini semula hanya dipakai untuk menggambarkan petani yang menebarkan atau menyebarkan benih.

    Demikianlah Tuhan menebarkan, menyebarkan "benih" Sumber Daya Manusia-Nya untuk melakukan tugas misi dengan cara-Nya, yaitu melalui penganiayaan sehingga melalui orang-orang percaya yang tersebar ini, akses bagi Injil boleh terbuka kepada orang-orang di Yudea dan Samaria. Kisah Para Rasul 8:4 menyaksikan bahwa mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri sambil memberitakan Injil. Kenyataan ini bisa terjadi karena mereka sebelumnya telah bertekun di dalam pengajaran para rasul (Kisah Para Rassul 2:42). Mereka tentu telah diajar dan mengerti bahwa mandat pemberitaan Injil yang ditugaskan Yesus Kristus kepada para rasul adalah juga mandat bagi mereka yang telah percaya kepada Yesus dan menjadi murid-Nya. Filipus, salah satu dari tujuh orang yang diangkat oleh jemaat di Yerusalem untuk pelayanan diakonia (Kisah Para Rasul 6:1-6), adalah seorang figur murid yang berkualitas. Dia tentu terpilih karena dianggap mampu dan memiliki kesaksian yang baik di tengah-tengah jemaat pada waktu itu. Filipus inilah yang memberitakan Injil di Samaria. Mujizat dan kuasa Tuhan dinyatakan melaluinya (Kisah Para Rasul 8:6-7). Bahkan, orang ini juga memberitakan Injil kepada seorang pejabat tinggi dari negeri Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-38).

    Injil adalah Berita Kesukaan, Kabar Gembira. Itulah yang menyebabkan orang-orang percaya yang tersebar karena penderitaan itu tidak mengeluh atau terlarut dalam kedukaan yang dalam. Sebaliknya, dengan kuasa Roh Kudus mereka dimampukan untuk menjadi saksi-saksi-Nya bagi banyak orang di Yudea dan Samaria. Injil yang penuh kesukaan membuat mereka mampu menghadapi tantangan pada saat itu dan tetap teguh bersaksi. Lihatlah akibat yang ditimbulkan dari pemberitaan Injil di Samaria. Ada sukacita yang besar di kota itu (Kisah Para Rasul 8:8). Karena Injil adalah Kabar Kesukaan, tidak mungkin Injil diberitakan dalam kesedihan dan sungut-sungut. Dalam penganiayaan yang hebat itu, orang-orang percaya tidak meratapi penderitaannya. Mereka tetap bersukacita karena keselamatan dari Tuhan sehingga mereka dapat memberitakan Injil dengan penuh sukacita.

    Ketika mengalami penganiayaan dan penderitaan yang amat sangat, kita tidak boleh terjebak dalam rasa kasihan terhadap diri sendiri karena "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28)


    Rencana Allah adalah mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya. Mereka yang telah percaya dan menerima Yesus Kristus menjadi Tuhan dan Juru Selamat adalah umat Allah, tetapi menjadi umat-Nya bukan lagi menjadi hak satu bangsa saja, melainkan hak segala suku bangsa, kaum, dan bahasa. Melalui peristiwa apa pun yang sedang terjadi dalam dunia ini, betapapun sukar dan pahitnya, sesungguhnya Ia sedang bekerja menggenapkan rencana kebaikan-Nya, rencana keselamatan-Nya yang agung bagi segala bangsa.

    Pada waktu meratapi nasib dan keadaan sulit yang kita alami, energi kita akan banyak terkuras untuk itu dan semakin kita mencurahkan pikiran untuk hal tersebut, kita akan semakin tenggelam dalam permasalahan kita. Namun, pada waktu kita memandang kepada Kristus, kita akan melihat bahwa dalam setiap kesulitan dan krisis selalu ada kesempatan dan peluang untuk menjalankan kehendak-Nya yang mulia, yaitu memberitakan Kabar Kesukaan itu. Kata "krisis" dalam bahasa Cina adalah "weiji", terdiri dari kata "wei", artinya kesulitan, dan kata "ji", yang artinya kesempatan (Jan Wong). Jadi, menarik jika kita lihat bahwa dalam falsafah Cina saja, dalam setiap kesulitan selalu ada kesempatan.

    Tuhan mengizinkan penganiayaan hebat terjadi pada orang-orang percaya di Yerusalem agar mereka bisa "keluar" dan pergi membawa Kabar Baik kepada orang-orang lain yang belum pernah mendengarnya. "Mungkin" Tuhan tidak akan perlu memakai "penganiayaan hebat" untuk meng-ekballo orang-orang percaya agar pergi menjadi saksi-Nya diseluruh Yudea dan Samaria seandainya mereka menaati firman-Nya pada waktu mereka di-apostello, diutus dengan baik-baik dan dengan hormat.

    Sebagai kesimpulan, kita melihat bahwa dalam era kisah para rasul pada abad pertama, misi dimulai bukan dari kemapanan sosial, ekonomi, dan politik. Sebaliknya, misi dimulai justru di tengah-tengah masa krisis sosial, ekonomi, dan politik. Misi dimulai bukan ketika gereja sudah besar dan mapan, tetapi justru ketika gereja masih kecil, sederhana, miskin, tidak punya gedung gereja, dan hanya beranggotakan beberapa orang saja. Kita dipercayakan melayani-Nya dalam "Yerusalem" kita, namun hendaknya itu menjadi landasan kita untuk keluar dan membawa Kabar Keselamatan ke segala bangsa, bukannya malah mengungkung Berita Keselamatan itu di dalam gereja kita sendiri.

    Allah sangat serius dengan misi sehingga Dia memberikan kehormatan kepada kita untuk di-apostello, diutus dengan baik-baik sebagai duta-duta-Nya yang membawa Kabar Kesukaan sampai ke ujung bumi. Namun, jika kita menolak kehormatan ini dan mengabaikan rencana keselamatan-Nya untuk dunia ini melalui kita, Allah dalam kasih dan anugerah-Nya akan memakai cara mengirim atau mengutus dengan paksa (ekballo) agar bangsa-bangsa lain dapat mengecap kebaikan Tuhan dan bersuka cita dalam Berita Injil.

    PELAJARAN DARI NABI HABAKUK

    Nabi Habakuk, namanya berarti pelukan kasih (love's embrace), hidup dalam zaman yang begitu berat dengan krisis moral yang luar biasa. Di sana terjadi penindasan, aniaya, kelaliman, kekerasan, dan pertikaian di depan matanya. Hukum kehilangan kekuatannya; keadilan tidak ada lagi. Orang benar dikelilingi oleh orang fasik. Keadilan dan kebenaran diputarbalikkan. Yang benar dipersalahkan, yang salah dibenarkan. Konglomerat menjadi semakin kaya, kaum melarat menjadi semakin miskin dan hina (lihat Habakuk 1:2-4).

    Meskipun begitu, Habakuk tahu bahwa Tuhan dalam kemahatahuan-Nya melihat semua yang terjadi. Habakuk tidak dikalahkan oleh krisis di sekitarnya dan apa yang terjadi di depan matanya. Dia tahu bahwa Allah berdaulat dan berkuasa atas segala sesuatu. Dia tahu bahwa Allah tetaplah berdaulat di tengah-tengah krisis sosial, moral, hukum, dan politik di dalam bangsanya. Habakuk tidak meratapi dan mengutuk "kegelapan" yang terjadi disekitarnya. Tapi dia berdiri "menyalakan lilin terang". Apakah yang ia lakukan?

    1. Mengarahkan pandangannya kepada TUHAN dan bukan kepada krisis (1:12).

    2. Menantikan TUHAN dalam doa yang berjaga jaga (2:1).

    3. Mendengar jawaban TUHAN dan menjadi pelaku Firman (2:2).

    4. Mengaplikasikan firman TUHAN dalam perencanaan yang praktis (2:2).

    Kunci kemenangan Habakuk adalah suatu pernyataan yang penuh kuasa yang dikutip tiga kali dalam Perjanjian Baru (Roma 1:17, Galatia 3:11, dan Ibrani 10:38), yang berbunyi: "Orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya." (Habakuk 2:4) Pernyataan hebat ini jugalah yang mengubah haluan hidup Martin Luther, bapa reformasi gereja pada akhir abad pertengahan.

    Melalui perencanaan dari apa yang sebagian Tuhan nyatakan kepada Habakuk, nubuatan misi sedunia yang luar biasa akan digenapi: "Bumi akan penuh dengan pengetahuan tentang kemuliaan Tuhan, seperti air yang menutupi dasar laut."(Habakuk 2:14)

    Habakuk membuka kitab ini dengan keluhan dan pemaparan krisis multidimensi yang panjang dan tak berkesudahan. Lalu, ia mengakhiri dengan doanya yang unik, doa yang disampaikan dengan nyanyian ratapan. Di dalam pasal 3, Habakuk di tengah-tengah krisis dan tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan matanya, memproklamirkan kedaulatan Allah Yang Maha Tinggi yang mengatasi segala langit. Dalam kesesakan, krisis dan penderitaan Habakuk tetap bersuka-cita dalam Tuhan, penuh semangat dan dinamika hidup serta teguh berdiri dalam Tuhan. Ia tidak tergoyahkan oleh masalah, krisis, dan pergumulan, seperti kesaksiannya:

    "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria dalam Allah yang menyelamatkan aku. Allah Tuhanku kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:17- 19)

    Bahan diambil dan diedit dari sumber:

    Judul Buku : isi dari dalam Krisis
    Judul Artikel: Diutus Dengan Paksa? Di-Ekballo?
    Penulis : Bagus Surjantoro
    Penerbit : Obor Mitra Indonesia, Jakarta, 2003
    Halaman : 10 - 16

    e-JEMMi 18/2006

    Doa -- Pusat Kekuatan Misi

    "Sebuah Gereja Amanat Agung adalah sebuah Gereja yang Berdoa."

    PENTINGKAH, ATAU ESENSIALKAH DOA ITU?

    Saya yakin sebagian besar di antara kita tidak mungkin menjawab bahwa doa adalah esensial. Doa bukan sekadar suatu hal menyenangkan yang bersifat rohani -- sesuatu yang saleh untuk menjadi sekadar pengisi kegiatan rutin keagamaan kita. Doa lebih merupakan cara hidup dengan Bapa.

    Dalam Yohanes 15, Yesus memberi kita sebuah kunci untuk kehidupan dan pelayanan Kristen yang berhasil. Dalam istilah grafisnya, Ia berbicara tentang kebutuhan hidup yang mutlak dalam suatu hubungan mandiri dengan Dia. Yesus adalah pokok anggur; kita adalah carang- carangnya. Seperti sebuah carang bergantung pada pokok demi kekuatan dan makanan, demikian juga kita tinggal dan bergantung pada Kristus.

    Hal yang penting adalah Kristus berkata bahwa tanpa Dia kita tidak dapat berbuat sesuatu. Tidak dapat berbuat sesuatu? Ya; itulah yang Dia katakan.

    Bagi saya tampak bahwa satu di antara cara-cara utama yang kita pakai sehingga kita dapat secara aktif mempertahankan ketergantungan kita pada Kristus adalah berdoa. Apabila kita berdoa kita mengatakan kepada Kristus bahwa kita memerlukan Dia -- bahwa kita tak sanggup berjalan tanpa Dia.

    Apabila kita enggan berdoa pada intinya kita menyatakan suatu pernyataan kemandirian. Apakah kita menyukainya atau tidak, kita sedang berkata kepada Allah bahwa sesungguhnya kita tidak memerlukan Dia. "Terima kasih. Saya dapat mengatur dengan cara saya sendiri." Adakah sesuatu yang mengherankan, dengan kemandirian yang demikian, kita gagal melihat buah yang kekal dalam kehidupan dan pelayanan kita?

    Kita tahu bahwa dalam Yohanes 14-16 Yesus berkata, "Jika kamu meminta ... Aku akan melakukan." Itulah formula ilahi untuk buah yang tinggal. Jelas bahwa doa tidak hanya penting, namun juga bersifat esensial. Dan hal ini tentunya berkaitan ketika kita mempertimbangkan tentang pelayanan misi.

    Apakah kita sedang membangun kepedulian misi, mengembangkan strategi misi, memanggil dan melatih para pekerja, atau mendukung para misionaris, dari awal sampai akhir, doa bersifat esensial.

    Apakah Anda ingin gereja Anda menjadi sebuah gereja Amanat Agung? Apakah Anda ingin gereja Anda bisa menggenapi Amanat Agung? Cara yang tepat untuk memulainya adalah dengan doa.

    BAGAIMANA GEREJA KITA DAPAT MENJADI SEBUAH GEREJA YANG BERDOA?

    1. Bertekun dalam Doa

      Joel mengambil newsletter (surat warta) misionaris. "Menakjubkan," pikirnya. "Misionaris ini berada di penjara tetapi ia sempat menulis surat-surat yang menggugah semangat. Ia tak pernah menyerah. Melalui suratnya ia meminta kepada kita supaya Allah memberi dia kesempatan dan hikmat untuk bersaksi."

      Lalu ia membalik halaman itu dan membaca, "Berikan diri Anda untuk berdoa. Jangan mundur dari komitmen Anda untuk doa. Dan perhatikan apa yang sedang terjadi sehingga Anda dapat berdoa tepat sasaran. Akhirnya, jangan lupa ucapkan syukur dalam doa Anda."

      Tentu misionaris yang dimaksud adalah Rasul Paulus. Surat itu merupakan surat kiriman kepada gereja di Kolose. Dan di antara nasihat-nasihatnya adalah perintah sederhana "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." (Kolose 4:2)

      Satu strategi yang Allah berikan untuk menolong umat percaya di Filipina supaya bertekun dalam doa adalah melalui Gerakan Doa Amanat Agung (GCPM). Gerakan doa ini merupakan suatu tantangan dan suatu kesempatan. GCPM adalah sebuah gerakan umat Kristen yang membantu untuk menggenapi Amanat Agung melalui doa-doa mereka. Gerakan ini merupakan suatu tantangan untuk mempercepat penginjilan bagi orang Filipina dan dunia melalui doa. Hal ini menjadi kesempatan untuk berperan secara strategis dalam memuridkan segala bangsa. Ada dua komponen yang diperlukan: Komitmen Doa Amanat Agung dan Kelompok Doa Amanat Agung.

      Komitmen Doa Amanat Agung

      Ini adalah suatu komitmen, seperti yang Allah mampukan, untuk berdoa sedikitnya sekali seminggu untuk pokok-pokok doa sebagai berikut:

      1. Untuk saya sendiri:

        1. supaya Allah berkenan memberi saya suatu kepedulian lebih besar pada orang-orang yang belum mengenal-Nya.

        2. supaya Allah berkenan menolong saya bekerja begitu rupa supaya melihat Amanat Agung digenapi.

      2. Untuk gereja saya:

        1. supaya Allah berkenan menolong kita menjadi sebuah Gereja Amanat Agung, kita semua bekerja sama guna membantu menggenapi Amanat Agung.

        2. supaya Allah berkenan memakai kita guna membantu dalam menjangkau suatu kelompok masyarakat belum terjangkau.

      3. Lebih banyak pekerja:

        1. supaya Allah berkenan memanggil para misionaris dari gereja saya.

        2. supaya Allah berkenan memanggil para misionaris di seluruh penjuru dunia.

      4. Dunia terhilang

        1. supaya berdiri sedikitnya satu gereja Injili di setiap kelompok masyarakat.

        2. supaya berdiri sedikitnya satu gereja Injili di setiap kelompok suku yang belum terjangkau di dunia.

      Apakah pokok-pokok doa tersebut tampak sepertinya mustahil? Terus- terang, saya agaknya setuju dengan Anda. Jika Allah tidak melakukan mujizat-mujizat yang tidak saya lihat, misalnya, bagaimana akan ada sebuah gereja Injili di setiap kelompok masyarakat pada tahun 2004 atau 2000 misionaris Filipina.

      Namun itu pokok masalahnya, bukan? Menetapkan tujuan-tujuan yang memuliakan Allah jauh melebihi apa yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri, dan berseru kepada Allah supaya menolong kita menjangkau mereka.

      Kesulitan mencapai tujuan-tujuan ini bukan suatu alasan yang cukup untuk tidak berdoa. Sebaliknya, ini merupakan satu di antara alasan- alasan terbaik mengapa kita sebaiknya berdoa -- mengapa kita harus berdoa. Sebab kita tidak akan pernah mencapai tujuan-tujuan ini sebagai hasil usaha kita sendiri.

      Di samping itu, apa arti bekerja untuk tujuan-tujuan ini kalau kita tidak sekaligus berdoa untuk tujuan-tujuan ini? Tidakkah hal itu menjadi deklarasi kemerdekaan yang sudah kita pertimbangkan?

      Pikirkan dampak yang dihasilkan jika ribuan orang Kristen bersedia membuat komitmen ini dan berdoa dengan setia? Ada ratusan orang Filipina telah membuat Komitmen Doa Amanat Agung. Apakah Anda akan bergabung dengan mereka?

      Kelompok Doa Amanat Agung

      Komponen kedua Gerakan Doa Amanat Agung adalah sebuah Kelompok Doa Amanat Agung, yaitu sekelompok orang yang berkomitmen untuk memberikan suatu sumbangan besar bagi penggenapan Amanat Agung melalui doa-doa mereka.

      1. Apakah Ini Sekadar Kelompok Doa Baru?
        Bukan, sebab mereka yang terlibat dalam suatu GCPG tidak pernah lepas dari pandangan Amanat Agung. Yang terutama dalam pemikiran mereka adalah kehendak Allah bagi kita supaya memuridkan setiap golongan, suku, bahasa, dan bangsa. Mereka tidak membiarkan diri mereka sendiri menjadi fokus dalam doa mereka.

      2. Apakah Mereka Berdoa untuk Keperluan Gereja Mereka?
        Tentu. Mereka merasa peduli pada gereja mereka dan berdoa untuk kesehatan dan pertumbuhannya. Mereka mungkin berdoa untuk kebangunan rohani. Namun mereka tekun memelihara hati untuk orang-orang yang terhilang. Mereka dengan tekun menjaga kepedulian mereka bagi domba-domba yang masih di luar kawanan.

      3. Kapan Mereka Bertemu?
        Kapan saja bisa mengadakan pertemuan, itu paling baik bagi mereka yang terlibat. Sebagian ada yang menikmati suatu persekutuan doa menjelang pagi. Lainnya mungkin menemukan bahwa suatu persekutuan malam lebih cocok dengan jadwal mereka. Lainnya lagi mungkin sekedar menambahkan waktu doa Amanat Agung dalam persekutuan- persekutuan mereka yang sudah ada. Lakukan eksperimen untuk menemukan apa yang terbaik bagi Anda dan gereja Anda.

      Ingat, tujuannya bukan menciptakan suatu persekutuan baru. Tujuannya adalah menggerakkan jemaat dalam Doa Amanat Agung. Komentar-komentar J. Campbel White yang dicatat oleh Helen Montgomery lebih dari setengah abad lalu, masih relevan saat ini.

      "Doa adalah metode yang pertama dan utama untuk menyelesaikan masalah misionaris. Di antara segala metode yang telah direncanakan, tidak satu pun lebih praktis, lebih berhasil dibanding dengan metode ini. Jika kita dapat membentuk sekelompok orang secara tetap di rumah dan menjadi kebiasaan untuk mendukung dengan doa setiap misionaris di tengah perjuangan dengan metode sederhana ini saja maka efisiensi kekuatan misionaris saat ini mungkin dapat digandakan."

    2. Angkatlah Seorang Misionaris

      Satu cara untuk menjadikan doa misi lebih berarti adalah dengan mendoakan seorang misionaris secara spesifik. Mungkin gereja Anda sudah mendukung beberapa misionaris. Anda bisa memulai dari sana. Jika belum, ada sejumlah badan misi Filipina yang senang meminta Anda berdoa untuk satu di antara para misionaris mereka.

      Mulailah berkorespondensi dengan misionaris Anda untuk memberi semangat padanya dan mengetahui apa keperluan-keperluannya. Berikut ini adalah beberapa pedoman untuk menolong Anda berdoa.

      Alkitab

      Jadikan pola doa Anda seperti contoh-contoh dan nasihat-nasihat dalam Alkitab (Efesus 1:15-21; 3:14-21; 6:18-20; Filipi 1:9-11; Kolose 1:9-14; 4:2-4; 2Tesalonika 3:1-5; 1Timotius 2:1-4). Ini merupakan satu cara yang sangat baik untuk meyakinkan bahwa Anda berdoa dengan sasaran.

      Keluarga

      Jika misionaris Anda punya sebuah keluarga, mereka sebaiknya menjadi suatu fokus reguler dalam doa Anda. Doakan kesehatan mereka dan keharmonisan keluarga. Doakan untuk suatu pernikahan yang kokoh. Doakan supaya semua anak mereka bertumbuh sehingga mengasihi dan menaati Tuhan Yesus.

      Penyesuaian Budaya

      Berdoalah supaya mereka mau belajar bahasa dengan baik dan menyesuaikan diri dengan kultur baru mereka. Mintakan kepada Allah supaya memberi mereka hubungan kasih dengan orang-orang pribumi dan rekan-rekan misionaris.

      Pertumbuhan Rohani

      Berdoalah untuk pertumbuhan rohani misionaris -- supaya Allah menolong mereka hidup dan melayani dengan kuasa Roh Kudus, dan supaya mereka menjadi lebih seperti Kristus. Mintakan pada Allah supaya mengembangkan Roh dalam hidup mereka.

      Pelayanan

      Kenali sebaik mungkin hal-hal yang spesifik dalam pelayanan misionaris Anda sehingga Anda dapat berdoa sungguh-sungguh. Apakah ia (istri) seorang penerjemah Alkitab di suatu daerah suku? Apakah ia (suami) seorang perintis jemaat di antara kota-kota raksasa dunia? Apakah ia (istri) mengajar di sebuah sekolah untuk-anak misionaris? Apakah ia (suami) sekolah untuk anak-anak misionaris? Tiap-tiap pelayanan ini memiliki tantangan-tantangan dan kesulitan- kesulitan tersendiri. Pelajari tantangan dan kesulitan ini sehingga Anda bisa memusatkan perhatian pada keperluan-keperluan misionaris Anda untuk didoakan.

      Keperluan Finansial

      Anda kemungkinan tidak mampu menyumbang banyak untuk mendukung misionaris Anda, tetapi Anda tentu dapat meminta kepada Allah untuk memenuhi keperluan mereka. Kerja misionaris memang cukup sulit, tidak perlu ditambah dengan kegelisahan karena dukungan yang tidak memadai.

      Peperangan Rohani

      Mintakan kepada Allah supaya melindungi misionaris Anda dari kekuatan-kekuatan roh jahat yang mungkin menghambat pelayanannya atau berusaha untuk menjatuhkannya. Berdoalah supaya misionaris Anda tidak akan memberikan tempat berpijak kepada musuh -- supaya ia menggunakan senjata rohani yang diberikan kepada setiap orang Kristen (Efesus 6:10-18).

    3. Bercermin

      Banyaknya keperluan misionaris Anda akan sama banyak dengan keperluan Anda. Pikirkan bidang-bidang yang ingin Anda doakan, dan karena itu doakanlah juga untuk misionaris Anda.

      Apakah Anda lemah semangat? Berdoalah supaya Allah menguatkan Anda dan misionaris Anda. Apakah Anda merasa kering secara rohani? Sebagian besar misionaris bukanlah 'raksasa rohani'. Mereka juga memerlukan dukungan doa-doa Anda untuk mengatasi permasalahan tersebut.

      Para misionaris memerlukan doa-doa kita. Dan kita memerlukan pertumbuhan rohani yang akan terjadi dalam hidup kita pada saat kita menyerahkan diri kita untuk doa Amanat Agung.

    4. Gunakan Sumber-sumber Daya

      Untungnya, ada beberapa sumber daya yang sangat baik tersedia dengan harga-harga yang terjangkau untuk mempermudah doa Amanat Agung. Satu di antara sumber-sumber daya ini adalah Global Prayer Digest.

      Global Prayer Digest adalah panduan doa bulanan yang cukup baik dan disediakan oleh Patners for World Mission, Filipina. Tujuan Global Prayer Digest adalah mendorong gerakan doa untuk kelompok-kelompok masyarakat yang belum terjangkau. Panduan ini berisi keterangan yang menarik tentang kelompok-kelompok masyarakat belum terjangkau, ditambah dengan uraian-uraian singkat biografi yang menarik dan wawasan-wawasan alkitabiah. Format satu halaman per hari dengan mudah digabungkan dengan renungan pribadi dalam keluarga Anda. Ini juga merupakan suatu sumber daya yang sangat baik untuk digunakan dalam sebuah Kelompok Doa Amanat Agung.

      Sumber lain yang juga bisa menolong adalah Operation World. Buku karya Patrick Johnstone yang sangat bagus ini merupakan satu di antara sumber-sumber paling komprehensif yang ada dan sangat berguna. Sumber ini mencakup informasi tentang sebagian besar negara-negara di dunia yang disusun berdasarkan urutan abjad untuk fokus doa setahun.

      Setiap entry berisi informasi latar belakang yang menarik dan berguna tentang suatu negara. Keterangan ini ditambah dengan pokok- pokok doa.

      Meskipun sejumlah keterangan menarik ditambahkan, sama sekali ini bukan sebuah buku statistik yang kering. Satu di antara aspek-aspek yang paling menonjol pada Operation World adalah kemampuan penulisnya untuk memberikan data bagi setiap negara. Berulang-ulang Anda sendiri akan tergerak untuk berdoa melalui permohonan- permohonan doa yang disarankan.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Menjawab Tantangan Amanat Agung
    Judul Artikel: Doa -- Pusat Kekuatan Misi
    Penulis : Dean Wiebracht
    Penerbit : Yayasan ANDI, Yogyakarta, 1992
    Halaman : 59 - 72

    Dari Redaksi:

    Jika kita bersama mencermati poin keempat dari artikel di atas, maka untuk konteks Indonesia kita bisa memakai Buletin e-JEMMi sebagai salah satu sumber daya untuk mendukung Gerakan Doa Amanat Agung di gereja Anda. Kesaksian-kesaksian singkat dari berbagai negara termasuk Indonesia yang dilengkapi dengan pokok-pokok doa bisa dengan mudah kita tambahkan dalam jadwal doa harian kita. Dengan demikian kita juga sudah mengambil bagian dalam pelayanan misi dunia saat kita bersama-sama bertelut mendoakannya. Karena itu, jangan jemu-jemu berdoa untuk pelayanan Buletin e-JEMMi supaya dapat dipakai mendorong umat Tuhan di Indonesia untuk berdoa bagi pelayanan misi dunia.

    e-JEMMi 17/2004

    Doa

    LATAR BELAKANG

    Di dalam Alkitab, doa dinyatakan sebagai hal yang luar biasa penting. Sebagian dari bagian-bagian Alkitab yang menonjol berkaitan dengan doa, mengungkapkan pujian, penyembahan, syukur, pengakuan, dan permohonan. Tokoh-tokoh terkenal Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ditandai dengan banyak berdoa. Semua Kebangkitan rohani yang dicatat dalam sejarah dimulai dengan doa. Semua yang bernilai dalam Kerajaan Allah diprakarsai dan didukung oleh doa.

    Alkitab mengundang kita untuk berdoa.

    "Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia." (Ibrani 4:16)

    Alkitab memerintahkan kita berdoa.

    "Tetaplah berdoa." (1Tesalonika 5:17)

    Alkitab mengajarkan kita cara berdoa. Misalnya:

    "Janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah." (Matius 6:7)

    "Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah." (Filipi 4:6)

    "Berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi." (Matius 6:6)

    "Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa." (Yakobus 4:2)

    "Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu." (Yohanes 16:24)

    "Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga." (Matius 6:9)

    "Sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa." (Roma 8:26)

    "Mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7)

    "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19)

    "Mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (Lukas 18:1)

    "Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa." (Lukas 21:36)

    Yesus berdoa:

    Menurut Billy Graham:

    "Alkitab berkata, 'Tetaplah berdoa!' Ini berarti kita harus selalu siap berdoa. Doa seumpama persekutuan seorang anak dengan bapaknya. Karena seorang Kristen telah dilahirkan ke dalam keluarga Allah, wajarlah baginya berdoa, seperti seorang anak meminta kebutuhan- kebutuhannya kepada ayahnya. Kita sedang hidup dalam masa-masa penuh bahaya. Masa ini adalah masa untuk berdoa. Lebih banyak hal dapat terjadi melalui doa daripada melalui hal-hal lain. Doa adalah senjata kita terampuh."

    STRATEGI BIMBINGAN

    Banyak orang minta didoakan. Kita harus siap untuk menawarkan dukungan dan mendoakan permintaan-permintaan mereka. Doa Anda, tanpa Anda sadari, akan sangat berarti baginya.

    1. Bila seseorang meminta didoakan, dukunglah dia. Nyatakan bahwa Anda senang dapat mengambil bagian dalam kebutuhannya, sebab Allah mengetahuinya, memperhatikan, dan berjanji akan menjawabnya. Anda akan mengingat permintaannya, tetapi lebih dahulu ingin menanyakan beberapa hal.

    2. Tanyakan, apakah dia pernah mengundang Yesus Kristus memasuki kehidupannya untuk menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Salah satu doa yang menyukakan hati Allah ialah "Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini" (Lukas 18:13). Jika belum, jelaskan "Damai dengan Allah".


      [["Damai dengan Allah" -- Traktat untuk menolong/menuntun orang non-Kristen agar dapat menerima Kristus (dari LPMI/PPA); atau Buku Pegangan Pelayanan, halaman 5; atau CD-SABDA: Topik 17750.]]

    3. Kuatkan imannya dengan mengutip dua janji terhadap doa:

      "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22)

      "Jika dua orang daripadamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga." (Matius 18:19)

      Lalu bawalah permohonannya kepada Tuhan dalam doa.
    4. Kadang-kadang, orang Kristen mengeluh bahwa Allah tidak menjawab doanya. Doronglah ia untuk setia berdoa, tekun seperti kisah wanita dalam Lukas 11:5-9. Juga nasihatkan dia untuk memurnikan motif-motif hatinya (lihat Yakobus 4:3).

    ------------------------------Kutipan-------------------------------

    1. "Doa adalah untuk anak-anak Allah."

    2. "Doa yang berhasil disampaikan dalam iman. Alkitab berkata, 'Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.'" (Markus 11:24)

    3. "Doa yang hidup meluap dari hati yang taat. Alkitab berkata, 'dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.'" (1 Yohanes 3:22)

    4. "Kita harus berdoa dalam Nama Kristus. Yesus berkata: 'apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak.' Kita tidak layak mendekati takhta kudus Allah, kecuali melalui pengantara kita, Yesus Kristus." (Yohanes 14:13)

    5. "Kita harus rindu akan kehendak Allah. Bahkan Tuhan kita sendiri, bertentangan dengan keinginan-Nya sendiri, berdoa: 'Ya Bapa-Ku, jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!'" (Matius 26:42)

    6. "Doa kita haruslah demi kemuliaan Allah. Pola doa yang Yesus berikan kepada kita disimpulkan dengan, 'Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.' Jika doa-doa kita terjawab, kita harus mempermuliakan Allah."

    --------------------------Kutipan_Selesai---------------------------

    AYAT ALKITAB

    Anjuran untuk berdoa: Matius 6:6,7,8; Ibrani 4:16; Efesus 6:18

    Janji-janji Doa : Yohanes 14:13,14; Yohanes 15:7; Efesus 3:12; Lukas 11:9,10

    Bagaimana Berdoa : Matius 6:9-11; 2Timotius 2:8

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku: Buku Pegangan Pelayanan
    Penulis: Billy Graham
    Penerbit : Persekutuan Pembaca Alkitab (PPA)
    HalamanHalaman: 48 - 51
    CD-SABDA: Topik 17537

    e-JEMMi 08/2005

    E-Vangelism: Menjalin Persahabatan Secara Online

    Internet dipenuhi dengan orang-orang yang sedang mencari jalinan/hubungan persahabatan yang berarti. Bagi gereja, internet bisa menjadi kesempatan global -- sebuah ladang misi yang siap untuk dituai. Sekarang adalah saatnya untuk menuai di ladang tersebut. Kita bisa membuat parafrase dari perkataan Rasul Paulus kepada Timotius -- Setiap orang Kristen yang bisa mengakses online seharusnya bisa mengerjakan pelayanan sebagai "E-vangelist" (e-Penginjil) -- seorang penginjil elektronik.

    Penginjilan elektronik adalah penginjilan yang dilakukan via internet. Penginjilan ini mempertemukan orang secara online dan mengembangkan hubungan yang erat dengan orang-orang tersebut. Namun, ada satu masalah yang akarnya sudah muncul di gereja yang nyata. Mayoritas orang Kristen, baik yang online atau yang ada di bangku gereja, biasanya tidak ingin meninggalkan `wilayahnya yang nyaman` dalam komunitas Kristen.".

    Dalam budaya Barat, rata-rata orang Kristen menerima pengajaran untuk menjauhi dunia sekuler. Sebagai hasilnya adalah adanya isolasi dari orang-orang yang seharusnya bisa kita jangkau dengan Injil Yesus Kristus. Kita meluangkan banyak waktu untuk mendengarkan musik Kristen, menyaksikan program kerohanian Kristen, menghadiri acara- acara yang disponsori oleh gereja, dan lingkungan kita pun dikelilingi dengan sahabat-sahabat Kristen. Bagaimana kita bisa menjadi `garam dan terang` bagi komunitas di sekitar kita? Hal yang sama juga dilakukan oleh rata-rata orang-orang Kristen yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk online. Mereka meluangkan banyak waktu untuk online dengan komunitas-komunitas Kristen. Mereka mengunjungi chat rooms Kristen, berselancar ke situs-situs Kristen, membaca artikel-artikel online yang ditulis oleh penulis Kristen dan ditujukan bagi para pembaca Kristen, download musik-musik rohani yang bisa diputar dalam komputer multimedia yang mereka miliki, berkorespondensi online dengan teman-teman Kristen, dan berlangganan milis-milis Kristen yang menyediakan renungan harian, bahan PA, dan pesan-pesan rohani yang memberikan inspirasi. Tidak ada yang salah dengan semua aktivitas tersebut. Ada banyak sumber yang bagus di internet yang dapat membantu seorang Kristen untuk bertumbuh secara rohani. Namun jika kita mau serius melihat jiwa-jiwa yang terhilang di internet dan bersedia mengenalkan mereka kepada kasih Allah, maka kita harus mau keluar dari `tempat garam` dan pergi ke tempat dimana jiwa-jiwa terhilang itu berada.

    Jadi, mengapa tidak ada di antara kita yang bersedia pergi untuk menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang di internet? Kemungkinan disebabkan karena kita tidak ingin tampak terkesan `duniawi` dalam media yang secara terbuka mempromosikan nilai-nilai postmodernisme -- media sekuler dan di mata banyak orang Kristen, media ini banyak menampilkan isi-isi yang tidak layak dibaca bagi umum.

    Namun, hal tersebut bukan hal yang baru bagi kita. Sebagai orang Kristen, kita selalu berhadapan dengan konflik karena kita berada di dunia padahal kita bukan berasal dari dunia. Kita berasal dari dunia yang berbeda dan hanya tinggal sementara di tanah yang asing ini -- dunia yang penuh dengan dosa. Dunia cyber tidaklah jauh berbeda. Dosa juga muncul dalam dunia cyber. Apakah dosa itu lebih buruk dari dosa yang ada di dunia nyata? Kemungkinan besar tidak.

    MPerhatikan permasalahan pornografi online. Penulis seperti Douglas Groothuis menunjukkan hahwa pornografi di dunia cyber mudah sekali diakses, bahkan bagi mereka yang awam di dunia cyber (walaupun ada teknologi yang bisa digunakan untuk memblokir akses ke situs-situs tersebut). Namun ada penulis lain, Quentin J Schultze, menuliskan, "Materi-materi pornografi di internet tidaklah sebanyak informasi- informasi berita lain yang tersaji melalui media ini. Saya meluangkan banyak jam di internet setiap minggunya, dan saya jarang mendapatkan situs-situs pornografi tersebut."

    Sudah jelas bahwa orang Kristen menghadapi godaan dan tantangan di dunia cyber sama seperti godaan-godaan yang kita hadapi di dunia nyata. Sifat internet yang pribadi dan anonim seringkali membuat beberapa dari kita lebih sulit untuk meghindari godaan-godaan tersebut. Namun, nasihat dari Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna," merupakan ayat penting bagi orang-orang Kristen yang melakukan penginjilan secara online sama seperti PI yang kita lakukan di dunia pekerjaan atau bagi lingkungan di sekitar kita. Di setiap lingkungan, tanggung jawab kita sebagai orang Kristen adalah menjadi garam dan terang. Sama seperti yang dijelaskan Schultze, "Segala sesuatu yang dikerjakan di internet merefleksikan sesuatu yang kita percaya dan kita hargai melalui setiap kata yang kita ketik, setiap gambar yang kita atur, dan setiap link yang menghubungkan kita dari satu situs ke situs lain."

    Bahan diterjemahkan dan diedit dari sumber:

    Judul Buku : E-vangelism -- Sharing The Gospel in Cyberspace
    Judul Artikel: E-vangelism: Building Friendship Online
    Penulis : Andrew Careaga
    Penerbit : Vital Issues Press
    Halaman : 31 - 33

    e-JEMMi 16/2005

    Enam Kunci Bagi Pertumbuhan Gereja Sesudah Dirintis

    Begitu sebuah gereja dirintis, bagaimana mengembangkannya? Ada banyak buku yang sudah ditulis tentang tema ini dan banyak pengamatan sudah dilakukan. Bagaimanapun juga, ada enam unsur dasar yang diperlukan bagi pertumbuhan gereja, yaitu:

    1. Pelayanan Doa

      Sebuah gereja perlu mempunyai dasar doa. Para pendeta dan pemimpin tidak hanya perlu memberitahu orang-orangnya bahwa mereka perlu berdoa, tetapi juga perlu mengajar mereka mengenai bagaimana berdoa. Masalah yang dihadapi sebagian besar orang Kristen ialah mereka tidak tahu bagaimana meluangkan waktu bersama Tuhan (saat teduh). Berikut ini tercantum beberapa saran:

      1. Belajarlah bagaimana "mendengar suara Tuhan", dan bagaimana membuat daftar doa syafaat setiap hari sepanjang minggu. Penting juga membuat daftar hal-hal yang hendak disyukuri, dan sebagainya.

      2. Mulailah mengajar orang-orang berdoa dan menerapkan doa ke dalam kehidupannya. Sebab utama mengapa orang-orang Kristen meluangkan waktu sedikit sekali untuk berdoa walau mereka selalu mendengarkan khotbah tentang perlunya berdoa ialah karena mereka tidak tahu bagaimana berada bersama Tuhan dalam saat teduh.

      3. Bentuklah kelompok-kelompok di rumah-rumah. Kegiatan doa tidak harus terbatas dalam lingkup kebaktian.

      4. Kadang-kadang, akhirilah kebaktian dengan meminta setiap orang dalam kelompok-kelompok kecil bersimpuh berdoa. Ini penting sekali untuk mengembangkan gereja yang berdoa.

    2. Pelayanan Puji-pujian

    3. Howard Snyder mengatakan dalam bukunya yang berjudul Guidelines for Urban Church Planting (Petunjuk untuk Perintis Gereja Kota) bahwa untuk mengembangkan sebuah gereja, perlu diadakan kebaktian/ibadah yang penuh sukacita dimana orang-orang akan merasa bersukacita. Ini prinsip universal.

      Tidak ada orang yang ingin berada dalam kebaktian yang suasananya mengingatkan dia akan upacara penguburan. Iman yang tidak memancarkan sukacita dan kegembiraan bukanlah iman sejati. Kebaktian yang penuh sukacita, yang diiringi musik yang baik, menular sifatnya. Ini tidak berarti bahwa kebaktian yang diadakan itu tanpa peraturan atau tidak tertib. Pengamatan dari berbagai tempat di seluruh dunia menunjukkan bahwa gereja-gereja yang sedang berkembang di tiap-tiap negara adalah gereja yang kebaktiannya dilingkupi suasana sukacita.

      Ingatlah bahwa musik adalah sarana puji-pujian. Musik itu sendiri bukan puji-pujian. Kita memuji Tuhan, bukan memuji musik kita. Musik adalah sarana kebudayaan untuk menaikkan puji-pujian. Untuk menyampaikan Injil, tidak perlu kita melenyapkan kebudayaan.

      Puji-pujian yang sejati merupakan penyembahan atas siapa Allah. Puji-pujian adalah sesuatu yang terjadi di dalam hati seseorang dan diungkapkan melalui bermacam-macam cara. Ada gereja yang suka melantunkan lagu-lagu rohani tradisional. Ada juga yang suka melambungkan refrein lagu-lagu. Kami berpendapat bahwa kita harus menghargai kebudayaan dan sub kebudayaan masyarakat setempat, dan kita juga harus menghargai otonomi setiap gereja. Namun, musik model apa pun yang dipilih oleh sebuah gereja, yang penting adalah kebaktiannya harus penuh dengan sukacita dan hidup. Kebaktian adalah perayaan yang diadakan bagi Allah.

      Gereja-gereja di Afrika ada yang memakai alat musik canang (gembrengan) dan mereka bahkan menari-nari sampai di bagian depan gereja pada waktu puji-pujian. Kita salah bila kita berkata, "Kalian tidak boleh melakukan hal itu karena itu bukan cara kami mengadakan kebaktian di Indonesia, Amerika, Brasil, India, atau di mana pun juga."

      Sebagai bagian dari kebaktian, sebuah gereja harus secara tetap mengadakan baptisan dan Perjamuan Tuhan. Dalam buku Dr. Charles Brock yang berjudul Indigenous Church Planting (Perintisan Gereja Pribumi), ia mengemukakan pengamatan berikut ini yang menyangkut kedua upacara penting itu:

      Untuk membaptis, Anda harus mempunyai:

      1. Calon yang tepat -- seseorang yang sudah bertobat dari dosa- dosanya dan yang sudah beriman kepada Yesus Kristus sebagai satu- satunya Tuhan, Juruselamat, dan Perantaranya.

      2. Otoritas yang tepat -- gereja setempat yang mandiri dapat memutuskan siapa yang akan mereka baptis dan siapa yang tidak.

      3. Pengurus yang tepat -- setiap gereja mempunyai wewenang sendiri dan dapat memilih siapa yang akan melaksanakan baptisan.

      4. Metode yang tepat -- membaptis dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

      5. Tujuan yang tepat -- melambangkan bahwa Kristus sudah mati menebus dosa-dosa kita, dikuburkan, dan dibangkitkan dari antara orang mati. Baptisan juga merupakan lambang bahwa kita sudah mati terhadap dosa-dosa kita dan sudah menerima kehidupan yang baru di dalam Yesus Kristus.

      Untuk mengadakan Perjamuan Tuhan, harus ada:

      1. Peserta yang tepat -- murid-murid Kristus.

      2. Otoritas yang tepat -- Yesus Kristus. Ia memerintahkan orang- orang percaya untuk mengadakan Perjamuan Tuhan guna mengingat kematian-Nya.

      3. Pengurus yang tepat -- gereja mempunyai wewenang sendiri dan dapat memilih siapa yang akan melaksanakan Perjamuan Tuhan. Orangnya haruslah si perintis, atau pemimpin setempat, atau gereja dapat memilih para anggotanya sendiri untuk memimpin bagian ini dalam sebuah kebaktian.

      4. Tujuan yang tepat -- untuk mengingat dan memberitakan kematian Kristus sampai Ia datang kembali.

      Di atas segalanya, khotbah tentang Firman Allah dalam kebaktian harus berpedoman pada Firman Allah. Kalau si perintis tidak mempunyai pengalaman berkhotbah, ia harus memilih satu bagian ayat dalam Alkitab dan melakukan keenam hal berikut ini:

      1. Bacalah ayat-ayatnya.
      2. Jelaskan kebenaran rohani dari ayat-ayat itu.
      3. Jelaskan bagaimana setiap kebenaran dapat diterapkan ke dalam kehidupan para pendengar.
      4. Berilah ilustrasi tentang setiap kebenaran.
      5. Lakukanlah hal itu dengan setiap ayat atau paragraf.
      6. Akhiri pemberitaan dengan himbauan.

      Kalau si perintis tidak mempunyai banyak pengalaman dan bukan seorang pengkhotbah yang mahir, ia bisa membatasi waktu khotbah menjadi 20 menit saja sebagai tahap permulaan.

      PERINGATAN: Lebih baik berkhotbah selama 20 menit setiap minggu kepada kelompok orang yang sedang bertumbuh daripada berkhotbah selama 30 atau 50 menit kepada orang-orang yang tidak ingin datang lagi dan yang tidak akan menganjurkan orang lain untuk datang ke gereja itu.

      Si perintis juga dapat memakai bahan Pemahaman Alkitab dan Penyampaian Cerita Alkitab. Pelajari tentang bagaimana Memimpin Kelompok PA di rumah-rumah dan juga tentang Penyampaian Cerita Alkitab, untuk belajar bagaimana mengkhotbahkan kabar baik dan bagaimana memimpin kelompok PA.

    4. Pelayanan Penginjilan

    5. Untuk dapat bertumbuh, sebuah gereja perlu mempunyai pelayanan penginjilan yang menjangkau keluar. Anda dapat memakai rencana yang tercantum di dalam buku pedoman ini atau rencana lainnya. Yang paling penting ialah: gereja mengambil inisiatif menjangkau orang- orang di luar sana yang perlu memahami Injil, bukannya menunggu orang-orang itu datang ke kebaktian pada hari Minggu di tempat ibadah Anda. Si perintis perlu mempunyai pelayanan kunjungan yang melatih para anggotanya menjangkau orang-orang sesat di luar tempat ibadah, menginjili orang-orang sesat dengan tujuan membimbing mereka kepada Kristus di tempat-tempat lain, bukan hanya di gereja saja.

    6. Pelayanan Pemuridan

    7. Untuk dapat bertumbuh, gereja harus mempunyai program yang akan mengintegrasi petobat-petobat baru dan yang akan melatih para pemimpin setempat, orang perseorangan atau dalam kelompok kecil. Si perintis akan melatih para pemimpin ini untuk beriman dan akan memperlengkapi mereka dalam hal praktis seperti: doa, memberi kesaksian, "memenangkan" jiwa bagi Kristus, memimpin kelompok PA di rumah, mengajarkan kebenaran Alkitab, dan sebagainya.

      Hal penting dalam melatih seseorang, yaitu orang yang diajar harus dibawa serta oleh si penginjil perintis kalau ia terjun ke lapangan. Sebagai contoh, para pemimpin yang baru harus menemani si perintis kalau si perintis sedang memimpin kelompok PA di rumah-rumah mereka yang belum menerima Kristus menjadi Tuhannya. Pemimpin setempat harus menemani si perintis dan mengamati dia ketika dia sedang bersaksi, membimbing orang-orang kepada Yesus, dan sebagainya. Tidak ada orang yang dapat memuridkan seseorang bila hanya dilakukan di dalam kelas.

      Ada dua rahasia tentang pemuridan yang baik: Pertama, latihlah orang-orang secara perseorangan atau dalam kelompok-kelompok kecil. Kedua, penting untuk membawa serta mereka terjun ke lapangan bersama Anda sementara Anda memberitakan Injil.

    8. Pelayanan Persekutuan

    9. Untuk dapat bertumbuh, sebuah gereja perlu mempunyai persekutuan bersama saudara-saudara seiman, dimana terdapat kasih sejati di antara para anggota. Bilamana ada pengunjung-pengunjung yang masuk ke gereja, mereka harus dapat merasakan kasih Allah, juga kasih di antara para anggota. Kalau ada kepahitan, kebencian, dan perpecahan, tidak mungkin sebuah gereja dapat bertumbuh. Para pengunjung perlu melihat adanya keharmonisan dan kasih di gereja. Dengan demikian, barulah mereka dapat merasakan adanya persekutuan hangat di antara para anggota dan merasa diterima.

    10. Kepengurusan yang baik

    11. Seorang pendeta sebuah gereja di Amerika yang anggotanya terdiri atas 4000 orang ditanyai, "Apa bedanya menjadi pendeta sebuah gereja yang anggotanya 40 orang dan yang anggotanya 4000 orang?" Jawabannya, "kepengurusan yang baik!"

      Penting sekali bagi seorang perintis untuk mempunyai mentalitas melatih orang-orangnya melakukan pekerjaan Tuhan, dan tidak berusaha melakukan segalanya seorang diri. Seorang pendeta dapat mengatur segalanya di dalam gereja yang anggotanya 30 sampai 80 orang. Tetapi bagaimanapun juga, suatu saat, gereja itu akan sampai pada titik dimana tidak akan terjadi perkembangan lebih lanjut kalau ia tidak melatih orang-orangnya dalam bidang metode kepengurusan. Ia harus mendelegasikan tanggung jawab kepada orang-orang yang dewasa kerohaniannya dan yang sudah terlatih. Dengan demikian, peranan utama seorang perintis ialah menjadi seorang pelatih.

    Dikutip dari sumber:
    Judul Buku : Perintis Penginjilan Memulai Jemaat Baru
    Judul Artikel: Enam Kunci Bagi Pertumbuhan Gereja Sesudah Dirintis
    Penulis : Thomas Wade Akins
    Halaman : 34-41

    e-JEMMi 43/2004

    Gerakan Doa Dunia

    Seperti tanaman tidak dapat hidup tanpa air, demikian pula kebangunan rohani di kota-kota kita tidak dapat terjadi tanpa doa. Benih-benih yang telah ditabur, diairi oleh air mata para pendoa syafaat, menghasilkan jiwa-jiwa yang bertobat dan datang kepada Tuhan. Air melunakkan tanah yang kering kerontang. Air membawa mineral yang memberikan kesuburan. Air memberikan kehidupan bagi tunas yang baru muncul. Air mata para pendoa syafaat telah membanjiri dunia, mempersiapkan sebuah kebangunan rohani besar- besaran yang akan terjadi di akhir zaman ini.

    Di Dunia

    David Barrett memperkirakan, ada 170 juta orang Kristen di seluruh dunia yang berdoa setiap hari bagi kebangunan rohani dunia. Dari jumlah ini, 20 juta menganggap doa syafaat sebagai pelayanan utama mereka. Diperkirakan pula, ada 10 juta kelompok doa yang bertemu secara teratur dengan tujuan mendoakan kebangunan rohani di dunia. (Sumber: "The Days of God´s Visitation". Charisma, Januari 1997).

    19 September 1998 merupakan hari yang bersejarah, karena pada hari itu, World Prayer Center (pusat doa dunia) dibuka di Colorado Springs, Colorado. Dimulai dengan sebuah nubuatan pada tahun 1992 yang menyatakan bahwa gerakan doa dunia akan melebihi apa yang dibayangkan saat itu. Setahun kemudian, Peter Wagner, seorang pakar pertumbuhan gereja dan doa, bertemu dengan Ted Haggard, gembala gereja New Life di Colorado Springs yang kemudian mengajaknya membangun sebuah pusat doa dunia di kota tersebut. Visi ini diwujudkan dengan sebuah gedung megah, lengkap dengan auditorium yang memuat 500 orang, 10 ruangan yang dapat digunakan untuk doa puasa, selain gua-gua doa. World Prayer Center (WPC) merupakan pusat penghuhung para pendoa syafaat dunia. Sebuah jaringan dirancang sedemikian rupa sehingga 50 juta pendoa syafaat dapat mendoakan hal yang sama pada saat yang sama di seluruh dunia. Sebuah permohonan doa yang sangat mendesak di Bangladesh akan didoakan dengan segera di Jepang, Ekuador, Ghana, Swedia, dan di negara-negara lain. WPC juga dihubungkan dengan 120 National Prayer Network, atau kantor-kantor doa nasional di tiap-tiap negara yang akan memberikan update mengenai gerakan doa di bangsa mereka. (Sumber: Prayer Track News, Jul-Sept 1998)

    "Reconciliation Walk" atau Jalan Pendamaian sedang dilakukan di seluruh penjuru dunia. Kelompok-kelompok pendoa syafaat mengadakan doa rekonsiliasi di daerah-daerah yang pernah terjadi perpecahan atau peperangan, seperti di tempat pembantaian orang Indian oleh orang Amerika, tempat terjadinya perang Salib, dan lain-lain. "Reconciliation Walk" juga memasukkan Libanon, Turki, dan Siria dalam agenda mereka.

    Di Jendela 10/40

    Jendela 10/40 adalah daerah di khatulistiwa, antara 10 derajat dan 40 derajat Lintang Utara, antara Afrika dan Asia Timur, sebuah daerah yang paling membutuhkan Injil, karena 97% penduduknya belum terjangkau Injil. Bulan Oktober 1993, 249 tim melakukan perjalanan doa ke Jendela 10/40. Dua tahun kemudian, tahun 1995, peserta meningkat drastis. Ada 35,3 juta pendoa syafaat dari 143.447 gereja mendoakan 100 kota di Jendela 10/40. Selain itu, 407 tim doa datang ke kota-kota di Jendela 10/40 untuk bersyafaat. (Sumber: "The Days of God´s Visitation" oleh Dick Eastman. Charisma, Januari 1997)

    Di Asia

    Sebuah gerakan doa syafaat bagi Asia yang bernama "Prayer Wave Asia" (Gelombang Doa Asia) dimulai tahun 1997. Gerakan Gelombang Doa Asia ini menyatukan gereja-gereja di Asia untuk berdoa bagi kelepasan/kemerdekaan orang-orang yang terikat di benua ini. Dengan tema "Biarkan Umat-Ku Pergi", gerakan doa ini mengkonfrontasi kuasa "Firaun" yang telah mengikat dan menekan "unreached people Group" (kelompok suku terabaikan) di Asia. (Sumber: brosur Prayer Wave Asia)

    Di Amerika

    Gembala-gembala mulai menyadari pentingnya doa bersama dengan hamba Tuhan lainnya di kota mereka. Asian Task Force (ATF) yang berada di bawah pimpinan Pdt. Paul Tan, merupakan persekutuan para hamba-hamba Tuhan dari Asia yang tinggal di Amerika. Mereka membangun hubungan untuk meningkatkan sinergi dalam pelayanan dan mematahkan kuasa kegelapan yang membutakan mata orang Asia terhadap Injil. Konferensi dan pertemuan-pertemuan doa merupakan bagian dari agenda mereka.

    Selain itu, para pemimpin mulai bergerak dalam doa dan puasa. Bill Bright, pemimpin "Campus Crusade for Christ", selama tiga tahun berturut-turut mensponsori tiga hari doa dan puasa bagi Amerika. Ribuan orang dari seluruh Amerika yang dihubungkan dengan satelit mengikuti acara tersebut. (Sumber: "God is Up to Something!" oleh David Bryant)

    Di Houston

    Sebuah gedung yang mirip garasi (warehouse) digunakan sebagai "bukit doa". Spanduk besar bertuliskan "Prayer Mountain" yang dipasang di gedung tersebut pasti terbaca oleh orang-orang yang lalu lalang di dua jalan layang utama di kota tersebut. Bukit doa ini merupakan ekspresi kesehatian dan kasih di antara gereja- gereja di kota tersebut. Tiap malam, tim pujian dan penyembahan yang berbeda melayani di tempat tersebut. Malam ini, pujian dinyanyikan dengan irama Cina, malam berikutnya dengan nada Meksiko dan seterusnya. Kota Houston merupakan pelopor dan contoh kota yang telah ditutupi dengan doa-doa umat Kristen di sana. (Sumber: Prayer Mountain -- Houston oleh Renee DeLoriea)

    Di Argentina

    Gereja Tuhan membuat rencana untuk membangun 2.000 rumah doa atau keluarga yang memiliki komitmen untuk berdoa syafaat bagi komunitas mereka, sehingga seluruh kota/negara ditutupi oleh tirai doa secara menyeluruh. Para gembala juga bertemu sebulan dua kali dalam retreat doa bersama. (Sumber: "God is Up to Something!" oleh David Bryant)

    Di Filipina

    Melanjutkan "Marc for Jesus" (Berbaris Bagi Yesus) yang diikuti oleh 330.000 orang pada bulan Juni 1994, sebuah kongres doa mengumpulkan 2.000 gembala dari seluruh pelosok Filipina. Tujuannya untuk memperlengkapi para pemimpin untuk memobilisasi gerakan doa pada komunitas, kota, negara, dan dunia. Apa yang ditulis oleh Zakaria telah digenapi:

    "Dan penduduk kota yang satu akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami pun akan pergi!" (Zakaria 8:21)

    (Sumber: "God is Up to Something!" oleh David Bryant)

    Di Singapura

    Sebuah gerakan doa terjadi secara dahsyat di Singapura, tepatnya pada tanggal 27 April - 1 Mei 2004 silam. Setelah gebrakan seminar yang diadakan oleh Rev. Ed Silvoso, umat Kristen di Singapura termobilisasi untuk menjangkau kota melalui doa. Empat hari berturut-turut, acara yang disebut National Charity Walk-athon ini, menjadi terobosan baru bagi Singapura. Sekitar 40.000 umat Kristen (dari berbagai negara) berjalan santai di sepanjang kota dengan rute-rute strategis yang telah diatur. Dimulai pk. 06.30 pagi hingga 12.30 siang, umat Kristen memuji Tuhan dan terus menaikkan doa-doa, tanpa mempedulikan cuaca yang panas. Jika diperhatikan, pada rute-rute tersebut, telah diletakkan pokok- pokok doa yang mudah terbaca sehingga orang-orang yang melewatinya dapat mendoakan. Suasana doa memenuhi Singapura pada saat itu, sebuah seruan untuk mengubah kota.

    Di Indonesia

    Gereja-gereja di seluruh Indonesia mengambil bagian dalam doa puasa 40 hari bagi bangsa dan negara yang dimulai 1 Juli hingga 10 Agustus 1998. Di kota-kota besar juga diadakan pertemuan-pertemuan doa, seperti di Semarang, yang melibatkan 10.000 umat Tuhan. Gerakan doa rekonsiliasi juga telah dimulai beberapa kali, diawali di tahun 1995 bersama tim doa "Praying Through the Window" (Doa di Jendela 10/40) dan John Dawson, pertengahan 1998. Daftar ini berkembang terus dan bertambah panjang. Tidak hanya dalam tingkatan negara, namun dalam kota, hamba-hamba Tuhan bekerja bersama-sama dalam berbagai kegiatan doa, antara lain:

    Kegiatan-kegiatan di atas dapat pula dilakukan oleh sebuah gereja lokal, selain tren doa yang telah dilaksanakan di gereja-gereja lokal seperti: menyediakan ruang doa 24 jam, mengadakan doa berantai, menggerakkan altar keluarga, membuat buletin doa, membentuk perkumpulan doa, dan kegiatan-kegiatan doa lainnya.

    Waktu kairos Allah bagi Indonesia adalah sekarang ini! Waktu Allah ini didukung pula dengan gencarnya gerakan doa, baik dari luar negeri maupun dari Indonesia sendiri, untuk menumbuhkan bibit-bibit kebangunan rohani yang telah ditaburkan.

    Namun demikian, ada bagian yang harus dilakukan oleh gereja Tuhan, yaitu kesehatian untuk menaruh kepentingan jiwa-jiwa di kota, di atas interpretasi dan metodologi gereja masing-masing. Sebuah panggilan untuk mengutamakan yang utama.

    Judul Buku: : Kota Doa -- Mengobarkan Api Kebangunan Rohani di Komunitas Anda
    Judul Artikel : Gerakan Doa bagi Kota Anda
    Penerbit : Harvest Publication House, Jakarta, 1998
    Penulis : Jimmy B. Oentoro
    Halaman : 262 - 267

    e-JEMMi 05/2005

    Gerakan Penginjilan Melalui Internet

    Dalam bukunya yang berjudul "Operation World", Patrick Johnstone dan Jason Mandryk mengulas tentang beberapa pelayanan khusus dan salah satu yang dibahasnya adalah tentang pelayanan melalui internet.

    "Internet sedang mengubah cara dunia berkomunikasi. Sarana yang sungguh hebat ini memiliki arti yang sangat besar bagi dunia penginjilan. Pertumbuhan web di India dan China sangatlah menakjubkan -- internet tidak hanya dimiliki oleh negara-negara Barat. Pengguna internet di China yang diperkirakan berjumlah 10 juta orang (di tahun 2000) akan berkembang menjadi 100 juta orang (di tahun 2003). Sebagian besar wilayah di Amerika Selatan dan Asia berkembang dengan pesat sebagai "wired community" ('komunitas' yang terhubung secara on-line).

    Penginjilan dengan menggunakan media internet mencakup beberapa hal utama:

    "Situs Web juga menolong para pekerja dan organisasi Kristen untuk menjalin hubungan dan saling berbagi informasi melalui cara-cara dan kecepatan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Permohonan dukungan doa untuk sesuatu hal yang sangat mendesak kini dapat disebarkan ke seluruh dunia dalam semenit dan dapat diduplikasi ribuan kali." Luar biasa, bukan?

    Berikut ini adalah ajakan berdoa untuk mendukung pelayanan elektronik/internet yang disampaikan melalui buku "Operation World".

    Pokok-pokok Doa:

    1. Tersedianya Situs-situs Penginjilan yang lebih banyak.

      Meskipun banyak organisasi Kristen dan gereja-gereja menggunakan Situs Web sebagai sarana komunikasi antar anggota/bagiannya, hanya ada sedikit Situs Web yang dirancang khusus untuk para pengunjung non-Kristen. Doakan agar banyak orang Kristen menyadari akan potensi Situs Web untuk menjangkau para pengunjung non-Kristen tersebut.

    2. Penggunaan bahasa-bahasa lain (selain bhs. Inggris) di internet.

      Namun ada banyak bahasa yang mulai dipakai di internet. Ada ratusan juta orang di dunia yang dapat memahami bahasa Inggris sehingga mereka dapat mengakses halaman Web berbahasa Inggris. Namun ada milyaran orang yang tidak memahami bahasa Inggris, dan ironisnya hanya sedikit Situs PI yang menggunakan bahasa-bahasa yang dapat dimengerti oleh mereka. Karena itu jangan lupa untuk terus berdoa agar tersedia Situs-situs PI yang dibuat dengan bahasa-bahasa yang dimengerti oleh mereka yang belum terjangkau Injil, terutama dalam bahasa China, Jepang, dan Arab.

    3. Peningkatan potensi orang Kristen ketika ada di rumah.

      Penginjilan online tidak hanya dapat dilakukan oleh organisasi- organisasi Kristen. Pribadi-pribadi (seorang yang pemalu, atau penderita cacat, atau pensiunan) dapat menjangkau dunia dari rumahnya. Doakan agar potensi mereka tergali dan menjadi berkat.

    4. Pengguna internet di Timur Tengah.

      Ada akses internet gratis di seluruh wilayah Timur Tengah (kecuali Saudi Arabia). Cara ini memungkinkan orang Muslim untuk mengetahui pemberitaan tentang Kristus melalui sarana yang "terselubung". Doakan agar tersedia lebih banyak pelayanan melalui Web yang lebih mengena untuk menjangkau mereka.

    5. Pencegahan dan penghentian pornografi.

      Tidaklah mungkin untuk menghentikan sepenuhnya Situs-situs pronografi; namun doakan orang-orang Kristen dan mereka (baik secara organisasi maupun individu) yang sedang memperjuangkan hal tersebut.

    6. Dukungan keuangan.

      Satu alasan mengapa hanya sedikit organisasi Kristen yang membuat Situs Web adalah karena tidak adanya "produk" yang dapat dijual sehingga dibutuhkan dana untuk menutup biaya-biaya produksi yang harus dikeluarkan. Doakan agar banyak orang Kristen menyadari pentingnya potensi pelayanan elektronik melalui internet dan mereka dapat mendukung pelayanan-pelayanan PI melalui internet ini dengan memberikan persembahan uang.

    7. Strategi untuk melakukan penginjilan secara online.

      WEC telah membuat secara terperinci " Web Evangelism Guide" untuk memberikan penjelasan mengenai strategi-strategi dalam melakukan penginjilan secara online: http://www.web-evangelism.com Dibutuhkan orang untuk menerjemahkannya ke dalam berbagai bahasa.

    8. Pelayanan Pemuridan sebagai follow-up.

      Sama seperti pelayanan radio, follow-up untuk para petobat baru menjadi satu masalah baru. Namun hal yang menggembirakan, Situs Web menyediakan cara komunikasi dua arah yang mudah digunakan, yaitu email pemuuridan dan konseling. Tersedia terlalu banyak materi online bagi petobat baru. Ada komunitas cyberspace dari orang-orang percaya, dalam skala internasional, yang sedang bertumbuh. Komunitas ini bisa menolong mereka yang tinggal di wilayah-wilayah yang terisolasi.

    9. Akses ke Web melalui telepon genggam.

      Satu milyar orang diperkirakan akan memiliki akses ke Web melalui telepon genggam pada tahun 2003 nanti. Doakan strategi baru yang dibutuhkan untuk memanfaatkan media tersebut sebagai sarana PI.

    10. Chat rooms.

      Diperkirakan jutaan orang mengakses online 'chat' setiap harinya. Kesaksian-kesaksian yang disampaikan oleh orang-orang Kristen dalam chat rooms akan menjadi cara untuk mengenalkan Kasih Kristus kepada banyak orang. Dua Situs Web yang memiliki fokus untuk melakukan pelayanan tersebut adalah

      http://www.web-evangelism.com/chat dan
      http://www.e-vangelism.org.uk
      Doakan agar banyak orang Kristen yang memakai chat rooms untuk menjadi sarana berPI."

    Diambil dan diterjemahkan dari:

    Judul buku : Operation World
    Judul asli artikel : The Internet
    Penulis : Patrick Johnstone dan Jason Mandryk
    Penerbit : Paternoster Lifestyle, UK; dan WEC International, 2001
    Alamat URL : http://www.operationworld.org

    e-JEMMi 05/2002

    Gereja China Bertumbuh Tanpa Terusik Revolusi Kebudayaan (1966 - 1976)

    Lebih dari seribu orang memenuhi gereja itu, sebagian besar orang- orang yang sudah berumur, namun ada juga beberapa pasangan muda dan para remaja yang memenuhi balkon gereja. Beberapa jendela berarsitektur gotik telah dipecahkan dengan batu, tetapi tampaknya tidak ada orang yang memperdulikannya. Mereka sedang menyanyikan puji-pujian, diiringi alunan piano. Seorang pendeta Methodis menyambut orang-orang yang datang beribadah, seorang pendeta Presbiterian membacakan Kitab Suci, lalu seorang pendeta Baptis berkhotbah.

    Hal itu terjadi pada tanggal 2 September 1979. Tempatnya adalah di Gereja Mo En, di Shanghai (dahulu Gereja Methodis Moore). Ini adalah pelayanan kebaktian umum bagi orang-orang China yang pertama setelah 13 tahun ditutup.

    Revolusi Kebudayaan yang berawal pada tahun 1966 telah menutup gereja-gereja dan menyiksa orang-orang Kristen. Apa saja yang berbau asing dikutuk -- dan kekristenan sebagai hasil misi asing khususnya, dibenci. Gereja harus bergerak di bawah tanah selama lebih dari satu dekade. Ketika muncul kembali ke permukaan, dengan menakjubkan gereja menjadi lebih kuat daripada sebelumnya.

    Dari sejarah, kita mengetahui bahwa kekristenan mulai membuat terobosan pertamanya di China pada tahun 635 Masehi diantara orang- orang Kristen Nestorian, namun gagal berakar di antara penduduk di sana. Upaya-upaya misionaris Fransiskan pada abad ke-13 dan ke-14 serta oleh para Yesuit pada abad ke-16 dan ke-17 gagal menghasilkan penyebarluasan yang berlangsung lama. China adalah peradaban tertutup yang menentang ide-ide asing.

    Perdagangan memaksa China terbuka, dan para misionaris Protestan pada tahun 1800-an datang bergandengan tangan dengan para pedagang. Hudson Taylor berbuat banyak untuk melepaskan diri dari pola-pola misi kolonial dengan mengadopsi pakaian dan kebiasaan China, serta memberanikan diri mendatangi daerah-daerah yang membutuhkan. Tetapi tahun 1800-an adalah masa-masa sulit bagi China. Dinasti Manchu luput dari beberapa pemberontakan. Dan dunia sekelilingnya, khususnya Britania Raya, sedang berupaya menarik China yang tidur untuk masuk ke zaman modern, meskipun China tidak menginginkannya. Akibatnya, orang-orang China mengalami penghinaan orang-orang asing.

    Keadaan berubah dengan pesat pada tahun 1900-an. Sun Yat-sen memimpin pemberontakan yang sukses dan mendirikan republik, meskipun didominasi oleh para panglima pasukan di daerah. Chiang Kai-shek menyatukan negeri itu pada tahun 1920-an dan 1930-an, tetapi ia digulingkan oleh Mao Zedong pada tahun 1949. Mao mendirikan pemerintahan komunis yang secara resmi ateis. Gereja-gereja dibiarkan namun diawasi. Mao bertekad bahwa orang-orang asing tidak akan menghina China lagi. Komunis memaksa gereja-gereja mengambil sikap anti asing ("Christian Manifesto" tahun 1950), dan semua misionaris diusir keluar.

    Three-Self Reform Movement (kemudian disebut Three-Self Patriotic Movement) berupaya membawa gereja-gereja segaris dengan tujuan- tujuan komunis -- pemerintahan sendiri, pendanaan sendiri dan penyebarluasan ide-ide sendiri. Namun, gereja bertahan di bawah tekanan-tekanan semacam itu. Terusirnya para misionaris melemahkan gereja, tetapi juga memaksa gereja China berdikari. Itu dilakukannya dengan sangat baik.

    Keadaan menjadi lebih parah pada tahun 1966. Mao, revolusioner yang menua itu, mungkin merasakan bahwa revolusinya mulai menghilang. Program Loncatan Besar ke Depan (Great Leap Forward Program) pada tahun 1958 - 1960 gagal, dan kaum modernis dalam partainya mulai resah. Ia kemudian meluncurkan Revolusi Kebudayaan yang tidak beradab, yang menimbulkan histeria, khususnya di antara orang-orang muda, melawan apa pun yang berbau pengaruh asing. Para pemimpin komunis sekalipun tidak luput dari pengaduan ataupun penangkapan. Terjadilah huru-hara massal. Kegiatan di bidang seni dan akademis dibatasi, termasuk juga aktivitas-aktivitas gereja. Semua tempat ibadah ditutup dan orang-orang Kristen dilarang mengadakan pertemuan. Mao sendiri dianggap sebagai dewa. "Buku merah kecil" (little red book) yang memuat fatwa-fatwa Mao sajalah yang dibaca dan dihafal, sedangkan Alkitab dibakar.

    Meskipun huru-hara itu redam, kebijakan-kebijakan tetap bertahan sampai tahun 1976. Keduanya, Mao dan orang tangan kanannya, Zhou Enlai, meninggal pada tahun itu. Deng Xiaoping, seorang moderat yang pernah disingkirkan, kembali berkuasa dan mulai memperkenalkan modernisasi. Yang paling menarik perhatian adalah "Gang of Four" (empat sekawan) yang memimpin Revolusi Kebudayaan ditangkap dan diadili.

    China masih menentang kekristenan, namun histeria telah redam. Menjelang tahun 1979, gereja-gereja diizinkan dibuka kembali. (Sebenarnya, dua gereja di Beijing telah dibuka pada tahun 1972 atas permintaan para diplomat dari Afrika dan Indonesia, namun gereja- gereja ini sebagian besar dihadiri oleh orang-orang asing.) Pada tahun 1979, Three-Self Patriotic Movement dibuka juga dengan seorang juru bicara berbakat, Uskup K.H. Ting. Ia meminta semua gereja Protestan bersatu kembali. Pemerintah menyatakan toleransi resmi pada gereja-gereja yang bergabung dengan gerakan ini, namun gereja- gereja bawah tanah masih takut dengan kontrol pemerintah.

    Akan tetapi, setelah ketegangan reda, banyak orang Kristen mulai membicarakan cobaan-cobaan yang mereka alami. Ketika gereja-gereja ditutup, mereka terpaksa bertemu dalam kelompok-kelompok kecil di rumah-rumah pribadi. Hal ini bukannya mematahkan semangat, tapi malah menumbuhkan. Keluarga-keluarga Kristen mendapat kekuatan dari persekutuan semacam ini dan akhirnya mempengaruhi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Tidak ada organisasi tingkat nasional, tetapi satu jemaat rumah kadang-kadang bertemu dengan lainnya yang berdekatan. Para guru, termasuk banyak wanita, mengadakan perjalanan rahasia dari satu kelompok ke kelompok lain. Ada penyiksaan dan penangkapan, tetapi ada juga saat-saat di mana para pejabat setempat menutup sebelah mata pada pertemuan-pertemuan Kristen -- karena mereka tahu bahwa orang-orang Kristen merupakan pekerja keras dan warga yang berharga.

    Sejak abad ke-4, tidak pernah ada gerakan gereja rumah setegar ini. Keadaan dan tekanan dari pemerintah sama -- begitu juga dampaknya. Jumlahnya juga mengejutkan: satu wilayah mempunyai 4.000 orang Kristen sebelum pengambilalihan komunis; sekarang satu wilayah mempunyai 90.000 orang Kristen. Di kota utama, hanya 1% warganya Kristen pada tahun 1949; kini telah menjadi 10%. Sebuah desa mempunyai 10 orang percaya pada tahun 1945, sekarang memiliki 250.

    Apa yang menyebabkan pertumbuhan ini? Para pakar telah mempelajarinya. Kesederhanaan, kata mereka. Kesukaran telah menghasilkan kemurnian iman, semangat kepedulian, kepemimpinan awam yang kuat, kesungguhan berdoa dan kepercayaan akan ketuhanan Kristus. Langkah-langkah kebencian Revolusi Kebudayaan telah menghasilkan iman Kristen yang menanggalkan pakaian kebudayaan barat. Orang-orang China telah mengembangkan gereja pribumi sejati. Tak ada orang yang mengetahui jumlah orang-orang Kristen di China saat itu. Sebagai perkiraan berbeda jauh satu sama lain. Namun, semua sependapat bahwa pertumbuhan orang-orang Kristen di bawah pemerintahan komunis sungguh menakjubkan. Hal ini mungkin mewakili salah satu perkembangan iman paling dramatis dalam sejarah gereja.

    Diambil dari:

    Judul buku : 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah Kristen
    Penulis : A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang, & Randy Petersen
    Penerbit : PT BPK Gunung Mulia, Jakarta
    Halaman : 168 -- 170

    Cat. Red.:
    Populasi penduduk di China pada tahun 2000 mencapai jumlah 1.262.556.787 orang (1.2 Milyar). Orang Kristen di China berjumlah 7,25 persen, atau 91.535.367 orang (91 juta). Tidak tersedia statistik yang akurat tentang jumlah orang Kristen di China. Data tersebut, yang dikumpulkan/dihitung dari "reliable sources/leaders", hanya merupakan indikasi tentang betapa luar biasanya karya Roh Kudus di China. Saat ini, diperkirakan (estimasi) jumlah semua orang Kristen di China berkisar antara 30 juta orang (batas minimum) sampai dengan 150 juta orang (batas optimis/maximum).
    [Sumber: buku Operation World, 21st Century Edition (2001), p. 160]

    e-JEMMi 17/2002

    Gereja Tesalonika Setelah PI Paulus (Bagian I)

    Eksposisi dari 1 Tesalonika 1:5-10

    Penyebaran Injil

    Kisah tentang Yesus yang berbicara kepada perempuan Samaria dekat sebuah sumur dan tentang Filipus yang duduk di sebelah orang Ethiopia dalam keretanya, keduanya memberikan dasar Alkitab bagi penginjilan pribadi. Juga penginjilan secara masal tercatat di Alkitab seperti yang dilakukan Yesus kepada kerumunan orang Galilea, dan khotbah Paulus di tempat terbuka di Listra. Tapi penginjilan melalui gereja lokal dapat mengklaim diri sebagai cara yang paling efektif dari segala macam cara pendekatan. Jemaat Tesalonika merupakan contoh yang baik.

    Di sini rasul Paulus menggariskan perkembangan Injil dalam tiga tahap yang jelas.

    1. Injil datang kepadamu (ayat 5).

      Jelas Injil tidak datang sendiri ke Tesalonika. Injil dibawa oleh Paulus, Silas dan Timotius (ayat 2) dalam perjalanan PI yang kedua. Lukas menulis kisah ini dalam Kis 17 awal. Dan di sini Paulus menjelaskan proklamasi Injilnya:

      1. Berita disampaikan dalam kata.

        Benar bahwa Injil tidak datang hanya dalam kata saja. Tetapi Injil diberitakan dalam kata. Materi berbentuk kata tidak kecil peranannya dalam penginjilan. Karena Injil harus mempunyai isi yang khusus, maka harus dikemukakan dengan jelas, secara verbal. Jelas Injil juga dapat didramatisir, untuk memberikan citra yang kadang lebih berkesan ketimbang sekedar kata. Namun demikian jika berita Injil ingin dimengerti, Injil harus dituangkan dalam bentuk kata-kata.

      2. Injil datang dengan kuasa.

        Kata-kata mereka (rasul) sendiri lemah dan tidak efektif. Manusia tidak selalu mau mendengar mereka atau manusia tidak dapat mengerti mereka atau tidak memberikan perubahan pada mereka. Kata-kata yang diucapkan dalam kelemahan manusia perlu diperkuat dengan kuasa ilahi. Jika tidak, mereka gagal menjangkau pikiran, kesadaran, dan kehendak para pendengar.

      3. Paulus mengabarkan Injil dengan keyakinan yang sungguh.

        Kuasa menunjukkan kepada akibat obyektif dari pemberitaan, keyakinan kepada kondisi subyektif dari pemberitaan. Paulus yakin akan kebenaran dan relevansi dari isi berita. Keyakinan ini yang membuatnya sangat berapi-api. Tapi keyakinan dan semangat jarang ditemukan dalam pemberitaan Injil akhir-akhir ini.

      4. Dan dalam Roh Kudus.

        Saya memasukkan ini pada point terakhir, karena bagi saya sebenarnya ini sudah tercakup dalam tiga hal di atas. Kebenaran firman, keyakinan memberitakan dan kuasa yang mengubah semua datang dari Roh Kudus. Kebenaran, keyakinan dan kuasa adalah ciri-ciri yang tidak bisa dihapuskan dari pemberitaan otentik. Dan tiga hal ini muncul dari pelayanan Roh Kudus. Mereka sangat dibutuhkan oleh pemberita pada zaman ini.

    2. Kamu menerima Firman (ayat 6).

      Seperti Paulus telah memberikan penjelasan dari khotbahnya mengenai firman, maka sekarang ia menjelaskan penerimaan jemaat Tesalonika.

      1. Mereka menerimanya dalam penindasan berat.

        Ada banyak oposisi terhadap Injil, kepada mereka yang memberitakan dan mendengar Injil. Selalu ada si jahat yang membenci Injil dan kesetiaan mereka yang memberitakan Injil membangkitkan antagonismenya. Meskipun demikian, penganiayaan tidak menghalangi iman dari jemaat Tesalonika.

      2. Mereka menerima firman dengan sukacita yang diilhamkan oleh Roh Kudus (ayat 6).

        Kita tidak harus kehilangan referensi kedua ini dari Roh Kudus. Ia yang memberi kuasa kepada pemberita Injil, juga memberi sukacita kepada yang menerimanya. Ia bekerja pada kedua belah pihak. Juga berbicara dan sukacita adalah buah dari Roh Kudus (Galatia 5:22). Ke manapun Injil pergi dan manusia berespon ada sukacita di surga di antara malaikat Allah (Lukas 15:7-10). Dan sukacita di bumi di antara umat Allah (seperti Kisah Para Rasul 8:8,39). Pola dari oposisi yang kelihatan dan sukacita di dalam seringkali terulang dalam sepanjang sejarah gereja.

      3. Kamu menjadi penurut kami dan penurut Tuhan (ayat 6).

        Petobat mengikuti pelajaran dan teladan dari rasul-rasul dan juga Kristus, pemilik rasul-rasul itu. Untuk menerima firman lebih dari sekedar penerimaan secara intelektual dalam kebenaran, juga menyangkut satu transformasi lengkap dari kelakuan dengan menjadi pengikut Kristus dan rasul-rasulnya secara seksama.

      4. Kamu menjadi contoh dari semua orang percaya (ayat 7).

        Dr. Leon Morris menyebutkan, "peniru pada gilirannya akan ditiru." Mereka yang mengambil Kristus dan rasul-rasul-Nya sebagai model bagi diri sendiri, akan menjadi sebuah model bagi orang lain.

      Mengagumkan bila melihat efek dari Injil, di dalam mereka yang menerimanya. Itu dapat berarti pertentangan, tapi juga menyangkut sukacita di dalam melalui Roh Kudus, penurut Kristus dan rasul-rasul-Nya dalam merubah hidup dan juga menjadi contoh bagi orang lain. Tapi jika pengkhotbah ditandai dengan kebenaran, keyakinan dan kuasa, petobat juga akan ditandai dengan sukacita, semangat dan ketaatan. Jangan seorangpun mengatakan bahwa Injil tidak diikuti konsekuensi-konsekuensi yang sehat.

    3. Firman Tuhan bergema terus dari engkau (ayat 8-10).

      Kata kerja Yunani "execheo" (khusus dalam Perjanjian Baru) berasal dari "echos", sebuah ekho atau gema. Menurut Kittel, berarti suara, dering, gema, dengung, dentuman. Dipakai dalam Septuaginta untuk bel, zither, trompet dan alat suara keras lainnya. Paulus menggunakannya di sini untuk Injil. Apakah ia menyamakan pemberitaan firman dengan dering bel, tiupan terompet (menurut Chrysostom) atau dentuman bass (menurut Jerome)? Pengertiannya adalah suara Injil yang menggema melalui lembah-lembah Yunani. Orang Tesalonika tidak mampu untuk berdiam diri tentang itu. Karena Tesalonika adalah ibukota dan terletak pada jalan Egna dan pelabuhan yang mempermudah jalan menyeberang laut Egea ke Asia, tidak heran kalau Injil tersebar jauh dan luas.

      Lebih dari itu petobat baru tidak hanya menyebarluaskan Injil dengan mulut tetapi berita pertobatan mereka, iman mereka yang baru dalam Tuhan, diketahui di mana saja (ayat 8). Di dalam sebuah pelajaran yang penting bagi kita. Kita adalah generasi media-penyadar. Kita tahu kuasa dari media-massa pada pemikiran publik. Konsekuensinya kita harus menggunakan media ini untuk penginjilan dengan cetakan, kaset, dan film, dengan radio dan video, kita ingin memenuhi dunia dengan kabar baik. Tekhnologi modern di bawah pimpinan Allah yang dikembangkan manusia, harus dimanfaatkan untuk penginjilan.

      Tapi ada cara lain yang jika kita bandingkan lebih efektif, tidak memerlukan perlengkapan elektronik; sederhana saja, juga tidak perlu organisasi maupun komputerisasi; spontan. Tidak mahal, tidak butuh biaya: gosip yang kudus! Transmisi mengagumkan dari mulut ke mulut sebagai hasil kabar baik atas manusia. "Sudah dengar peristiwa ini dan itu? Sesuatu sedang terjadi di Tesalonika!"

    [Penulis adalah Ketua dari 'The London Institute for Contemporary Christianity'. Judul asli artikel ini "Evangelization Through The Local Church" dalam majalah "World Evangelization", March - April 1989.]

    Sumber:

    Judul Buletin: Momentum 6, September 1989
    Judul Artikel: GEREJA TESALONIKA SETELAH PI PAULUS -- (Bag. I)
    Penulis : Dr. John R.W. Stott
    Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
    Halaman : 29 - 31

    e-JEMMi 05/2003

    Gereja Tesalonika Setelah PI Paulus (Bagian II)

    Eksposisi dari 1Tesalonika 1:5-10

    Signifikansi Pertobatan dalam Perjanjian Baru
    Kemudian, berita apa yang tersebar dari Tesalonika? Menurut ayat 8 yaitu iman mereka kepada Tuhan. Dalam ayat 9-10, Paulus melanjutkan uraiannya mengenai hal itu, yang dimaksudkan agar dapat memberikan gambaran lengkap mengenai pertobatan dalam Perjanjian Baru.

    1. Memutuskan hubungan dengan berhala.

      "Bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah untuk melayani Allah yang hidup dan benar" (ayat 9).

      Sulit untuk menjelaskan dengan kata-kata bagaimana radikalnya perubahan dalam kesetiaan yang terkandung dalam kata-kata ini karena berhala-berhala adalah mati, sedangkan Allah adalah hidup; berhala salah, Allahlah yang benar; berhala banyak, Allah hanya satu. Berhala dapat dilihat dan nyata, Allah tidak. Berhala adalah ciptaan, hasil pekerjaan tangan manusia, sementara Allah adalah Pencipta alam semesta dan seluruh umat manusia. Misionari Kristen dalam lingkungan animisme atau agama tradisional mengenal tentang semua kuasa berhala dan roh-roh yang bersembunyi di belakang mereka. Praktek penyembahan berhala secara tradisional dari satu suku tampaknya sebagai suatu hal yang tidak dapat dikalahkan yang menguasai pikiran, hati, dan hidup penduduk. Berabad-abad mereka hidup dalam kepercayaan terhadap takhyul yang menakutkan dan kepatuhan yang menjilat. Ide untuk melepaskan diri tertahan karena mereka takut akan pembalasan roh-roh.

      Berhala-berhala yang lebih canggih (pengganti Allah) dalam dunia sekuler Barat dapat disamakan dengan tirani. Manusia dikonsumsikan dengan ambisi terhadap kuasa, kekayaan atau kemasyuran. Lainnya dihantui oleh pekerjaan mereka atau kecanduan pada makanan, obat- obatan, alkohol atau seks. Inilah masalah penyembahan berhala, yang menuntut kesetiaan yang sejajar seperti kepada Allah sendiri.

      Lantas dalam banyak kasus, yang mendadak dan komplit, perhatian mereka berbalik kepada Allah dari berhala-berhala yang lebih dahulu mendominasi hidup mereka, ikatan terputus dan mereka dibebaskan. Pada ahli menyebut hal itu peraduan kuasa, di mana kuasa yang lebih superior dari Allah yang hidup dan yang benar didemonstrasikan atau dinyatakan. Saksi mata menjadi takjub dan tersebarlah berita.

    2. Sebuah pelayanan aktif kepada Allah.

      Pernyataan manusia untuk berpaling dari berhala-berhala kepada Allah adalah suatu kepalsuan kecuali mereka melanjutkan dengan melayani Allah yang hidup dan benar, yang kepada-Nya mereka berpaling. Pertobatan tidak hanya melihat secara negatif (berpaling dari berhala atau dari dosa atau bahkan pelarian dari murka yang akan datang, ayat 10), tapi juga positif (awal dari suatu hidup pelayanan yang baru). Biarkan saja seseorang mengatakan itu sebagai perubahan dari satu perbudakan ke perbudakan lainnya, sejauh kita cepat menambahkan bahwa perbudakan baru itu adalah sebuah pembebasan yang benar.

    3. Penantian yang sabar untuk Kristus.

      "Mereka yang melayani Allah juga menantikan Anak-Nya dari surga, yaitu Yesus" (ayat 10).

      Satu hal yang layak diperhatikan bahwa melayani dan menantikan berjalan bersama dalam pemuridan Kristen. Melayani adalah aktif, sibuk bagi Kristus di dunia, sementara menanti adalah pasif, memandang kepada Kristus yang akan datang dari surga.

      Sebenarnya pengekspresian pasangan ini penting sekali. Satu pihak bagaimanapun sibuknya kita melayani dan bekerja, jangkauan kita terbatas. Kita tidak akan pernah berhasil mendirikan sebuah masyarakat utopia yang sempurna. Oleh sebab itu kita menanti Kristus kembali. Pada saat itulah Ia menjamin kemenangan puncak dari keadilan dan kedamaian Allah. Lagipula kita dapat diyakinkan mengenai kedatangan-Nya karena Allah telah membangkitkan-Nya dari kematian (ayat 10).

      Di lain pihak meskipun kita harus menanti dengan sabar, kita tidak memiliki kebebasan untuk menanti dengan malas, dengan menutup mata dan berpangku tangan. Tidak, sementara menanti, kita harus bekerja, melayani Allah yang hidup dan yang benar. Berarti bekerja dan menanti saling berkait. Dalam variasinya, mereka akan membebaskan kita dari anggapan bahwa segala sesuatu dapat kita kerjakan dan juga dari rasa pesimis bahwa kita tidak dapat melakukan apa-apa.

    Kesimpulan Laporan Mengenai Jemaat Tesalonika

    Menoleh ke belakang, kita sekarang menyimpulkan laporan mengenai jemaat Tesalonika yang menyebarkan berita di seluruh dan ke luar dari Yunani, juga 3 hal penting dari pertobatan Kristen -- berbalik dari berhala-berhala, melayani Allah dan menantikan Kristus. Jelas berbeda dengan berhala-berhala dari orang yang berbalik, juga bentuk dalam pelayanan mereka kepada Tuhan. Tapi selalu pemutusan dengan yang masa lalu secara tegas ("kamu berpaling dari berhala-berhala kepada Allah"), dan pengalaman sekarang akan membebaskan (untuk melayani Allah yang hidup dan benar"), dan memandang ke masa depan yang dinantikan ("untuk menanti Anak-Nya dari surga"). Tanpa perpalingan ini, melayani dan menanti, tidak ada klaim pertobatan yang diakui.

    Hasil dari Penyebaran Injil

    Dua pelajaran mengenai pengabaran Injil melalui gereja lokal dari pasal ini:

    1. Gereja yang menerima Injil harus meneruskan berita itu.

      Tidak ada yang lebih ditekankan dalam 1 Tesalonika pasal 1 daripada urutan peristiwa: "Injil kami datang kepadamu ... dan engkau menerimanya, dan bergema melalui engkau."

      Setiap gereja lokal diharuskan Allah menjadi transmiter, penerima pertama berita, dan melanjutkannya. Inilah rencana Allah yang sederhana untuk dunia penginjilan. Jika setiap generasi menerimanya dengan tanggung jawab, dunia sejak dulu telah di-Injili.

    2. Gereja yang melanjutkan Injil harus mewujudkannya.

      Kita telah melihat tidak hanya berita ditransmisikan dari Tesalonika, tidak hanya orang Tesalonika yang menggemakan Injil (penginjilan secara verbal), tapi berita pertobatan mereka sampai ke mana-mana (Penginjilan desas-desus). Mungkin banyak yang mendengar mengenai pemutusan orang Tesalonika terhadap penyembahan berhala dan hidup baru nampak jelas dalam mereka. Maka mereka diyakinkan tidak hanya melalui pendengaran tapi juga melalui penglihatan. Tidak ada gereja yang dapat menginjil dengan memakai tingkatan masyarakat, kecuali mereka dapat dipercaya dalam pewujudan nyata dari Injil yang diberitakan. Manusia perlu melihat mengenai yang kita katakan. Tanpa suatu penyajian secara audio-visual berita kita kehilangan keasliannya.

    Kiranya Allah memampukan gereja kita untuk menerima Injil dengan sungguh-sungguh, menggemakan dengan keras dan jelas dan mewujudkannya dalam hidup kita sehari-hari dalam iman dan kasih, sukacita dan damai, kebenaran, pelayanan dan kebebasan!

    [Penulis adalah Ketua dari The London Institute for Contemporary Christianity. Judul asli artikel ini "Evangelization Through The Local Church" dalam majalah World Evangelization March-April 1989.]

    Sumber:

    Judul Buletin: Momentum 6, September 1989
    Judul Artikel: Gereja Tesalonika Setelah PI Paulus (Bag. II)
    Penulis : Dr. John R.W. Stott
    Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
    Halaman : 31 - 32

    e-JEMMi 06/2003

    Gereja dan Misi

    Ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan mengatakan "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu" (Yohanes 20:21). Dia menegaskan agar para murid dan pengikut-Nya melanjutkan pekerjaan yang telah Ia mulai. Sebagaimana Kristus telah diutus ke dunia oleh Bapa untuk "mencari dan menyelamatkan" mereka yang terhilang, secara tak langsung Ia juga mengutus gereja yang telah Ia dirikan untuk melakukan hal yang sama. Tuhan telah membuat gereja untuk menjadi saksi lewat perkataan dan perbuatan mereka kepada dunia.

    Gereja adalah `yang terutus` untuk melanjutkan pekerjaan Yesus dalam mencari mereka yang terhilang sehingga mereka dapat diselamatkan dan turut serta dalam Kerajaan Surga. Ini, dalam kata lain, disebut sebagai pekerjaan misi. Misi adalah segalanya tentang gereja, orang-orang yang telah ditebus, yang dikirim atau diutus ke dunia untuk melaksanakannya. Gereja tidak dibuat untuk melakukan pekerjaan misi karena gereja itu sendiri adalah misi. Dengan kuasa Roh Kudus, gereja adalah alat dimana Kristus dapat melanjutkan pemenuhan misi-Nya. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)


    AMANAT AGUNG

    Selain dalam ayat-ayat yang disebutkan di atas, Amanat Agung tersebut juga tertulis di kitab Matius 28:18-20, Markus 16:15, dan Lukas 24:47. Tidaklah penting untuk mempersoalkan keyakinan bahwa ayat-ayat tersebut adalah 5 versi berbeda dari sebuah perintah yang diberikan satu kali. Karena keempat penulis Injil itu telah mengutip Amanat Agung, wajar jika kita menganggap bahwa Amanat Agung tersebut adalah sebuah bagian penting dari perintah yang diberikan Kristus yang telah bangkit kepada para murid sebelum Dia terangkat ke surga.

    Mari kita membaca kembali Matius 28:18-20, versi Amanat Agung terpanjang dan yang paling sering dikutip: "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

    Perlu dicatat bahwa perintah itu dimulai dengan pendeklarasian kebesaran kuasa Kristus dan kemudian diikuti kata "karena itu" yang berarti bahwa kuasa itulah yang menjadi dasar dari perintah untuk pergi, memuridkan, membaptis dan mengajar. Selanjutnya perintah itu pun ditutup dengan sebuah janji.

    Dengan memberikan Amanat Agung, Yesus memberikan pada para murid-Nya perintah berkelanjutan untuk sepanjang masa dan segala tempat.

    Dalam Perjanjian Baru, kita membaca bahwa gereja dengan penuh iman dan kuasa bersaksi pada orang-orang di seluruh daerah kekaisaran Romawi. Mereka terlibat dalam pekerjaan misi -- yakni mengirimkan orang-orang yang memenuhi syarat ke berbagai masyarakat di daerah dan budaya yang berbeda untuk mengabarkan dan menunjukkan kasih Kristus. Dengan melakukannya, Kerajaan Allah pun berkembang ke dalam jumlah yang mencengangkan.

    GEREJA DAN ORGANISASI MISI SEBAGAI MITRA

    Misi adalah tanggung jawab utama gereja. Meski demikian, akhir-akhir ini, sepertinya gereja telah memberikan tanggung jawab tersebut pada organisasi-organisasi misi yang mengambil peran besar dalam pengiriman misionaris.

    Meski gereja harus memikul tanggung jawab utama dalam pengiriman misionaris, masih ada ruang untuk membina kerjasama yang baik dengan organisasi-organisasi misi dan organisasi pelayanan lainnya. Tidak ada gereja lokal yang benar-benar mengerti tentang kemungkinan situasi di suatu daerah misi yang terletak jauh dan begitu luas itu, dan organisasi misi di sini dapat membantu dengan segala pengetahuan dan pengalamannya. Bermodal fokus pada bidang dan pengalaman mereka, organisasi-organisasi misi telah mengembangkan pemahaman tersendiri mengenai suatu daerah misi tertentu, serta dapat memberikan bantuan dan fasilitas administratif untuk para pekerja. Dalam banyak kasus, organisasi misi telah lebih mempunyai pengalaman dengan "kebudayaan daerah sasaran", dan dapat membantu para misionaris pemula dalam hal pengurusan visa, pengetahuan bahasa, pemahaman budaya dan lainnya.

    MENGAPA GEREJA PERLU MENGUTUS MISIONARIS?

    1. Karena misi adalah hakikat alami dari Tuhan. Misi adalah hati, sifat dan perbuatan Tuhan. Suatu dorongan untuk menyemaikan sifat alamiah Tuhan, dan yang melambangkan segala pekerjaan-Nya. Bapa adalah Tuhan yang diutus (Yohanes 20:21). Dan Ia adalah Bapa yang karena kasih, mengutus Yesus untuk menjangkau dunia

    2. Karena misi sebagai sifat alamiah gereja. Tujuan dari gereja untuk menyebarkan Injil Kristus dan melebarkan Kerajaan Tuhan. Kegagalan dalam melakukan tugas ini sama dengan kegagalan tujuan utama yang semula dicanangkan Kristus ketika mendirikan gereja. Kita diperintahkan untuk "mengabarkan" Kabar Baik atau seperti dikatakan penulis lagu "beritakan kabar baik". (1Petrus 2:9; Yesaya 43:10,21)

    3. Karena perintah Tuhan. Amanat Agung adalah perintah yang harus dituruti, bukan sekedar satu permintaan atau nasihat yang bisa tidak dituruti. John Stott menulis: "Gereja telah ada di bawah perintah. Tuhan yang telah bangkit telah menyuruh kita untuk pergi, berkhotbah, memuridkan dan itu telah cukup bagi kita."

    Meski demikian, motivasi kita hendaknya bukan bersumber dari kepatuhan atas perintah yang kaku namun lebih dari kasih kita pada Yesus yang telah mengasihi para pendosa yang merindukan keselamatan. Harus bersumber dari hasrat kita yang menyala-nyala untuk melihat jiwa-jiwa datang pada Tuhan.

    SIAPA YANG HARUS DIUTUS GEREJA?

    1. Mereka yang telah diselamatkan.

      Sikap alami yang harus dimiliki mereka yang telah diselamatkan seharusnya adalah keinginan untuk membagikan sukacita yang telah mereka rasakan dalam Yesus. Gereja, oleh karenanya, harus mengatur, melatih, memperlengkapi dan menggerakkan anggotanya untuk ambil bagian dalam setiap aspek di dunia misi. Setiap orang Kristen memiliki bagian dalam tugas besar misi dan kita harus bertanya pada Tuhan dan diri sendiri tentang hal ini.

    2. Mereka yang memenuhi syarat.

      Setiap tugas tertentu memerlukan orang tertentu pula. Kita perlu mempertimbangkan talenta rohani tiap orang, selain juga latihan, kemampuan, dan apakah ia mampu bekerja baik dalam kelompok, dengan partner, atau sendirian. Normalnya, persyaratan bagi misionaris meliputi pelatihan Alkitab resmi selain juga pengalaman dalam melayani di gereja. Fisik yang prima, kondisi kejiwaan dan emosi yang sehat juga penting. (Catatan: dalam artian lain, calon misionaris yang terbaik adalah yang dengan rendah hati menyadari bahwa ketaatan adalah yang lebih penting dari segala `persyaratan` yang ia miliki.) Persyaratan lain tergantung pada jenis tujuan pelayanan dari tiap misionaris, terutama di negara yang aturan visanya membatasi jumlah pengunjung yang tak terlatih atau tak memenuhi syarat. Status perkawinan juga harus dipertimbangkan bagi misionaris untuk disesuaikan dengan jenis masyarakat dan bidang pelayanan yang akan ia lakukan di ladang misi. Pergi sebagai lajang atau pasangan menikah masing-masing memiliki keuntungan dan kerugian sendiri.

      Di daerah dengan budaya non-Kristen, misalnya, seorang misionaris wanita lajang mungkin hanya akan memiliki sedikit kesempatan untuk berbicara dengan pria, dan di banyak kasus, misionaris wanita juga harus lebih mempersiapkan diri untuk lebih banyak melayani wanita dan anak-anak. Di hampir kebanyakan situasi, pasangan misionaris yang menikah mungkin akan mendapati bahwa anak mereka pun dapat membantu dalam hal menjalin hubungan atau persahabatan. Di lain pihak, misionaris yang menikah juga harus meluangkan waktu untuk pasangan atau anaknya, yang karenanya akan membuatnya tak selalu siap sedia atau fleksibel.

      Status lajang juga dapat disalahpahami di beberapa budaya dimana pria dan wanita menikah di usia muda. Bahkan ada juga budaya yang menganggap jika ada seseorang yang masih belum menikah di usia tertentu, pasti ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Hal-hal seperti ini dan lainnya harus dipahami terlebih dulu.

    3. Mereka yang terpanggil.

      Tuhan memanggil para misionaris. Tuhan pulalah yang menyatukan Paulus dan Barnabas dan bukannya pasangan lain yang mungkin memiliki kemampuan yang sama. Gereja di Antiokhia mengutus mereka karena menaati perintah Roh Kudus (Kisah Para Rasul 13).

      Saat ini, Tuhan terus memanggil orang-orang tertentu untuk menjadi misionaris. Sebagai umat Tuhan, kita hendaknya tidak menahan namun bersedia melepaskan dan mendukung para hamba yang telah Ia utus untuk pelayanan tertentu.

    GEREJA BERTANGGUNG JAWAB ATAS MEREKA YANG DIUTUS

    1. Dukungan rohani.

      Gereja harus mengutus para misionaris dengan diiringi banyak doa dan puasa (Kisah Para Rasul 13). Beberapa gereja mengadakan "Ibadah Pengutusan" untuk para misionaris mereka di tengah ibadah raya sehingga seluruh jemaat dapat terlibat dalam mendoakan dan mengirimkan orang tersebut. Berdoa secara teratur dan sungguh-sungguh bagi misionaris kita harus menjadi prioritas utama. Kita tidak boleh, setelah mengirim misionaris, kemudian tak peduli lagi dengan keadaannya, dengan tidak banyak mendoakannya. "... jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu ...." (1Samuel 12:23)

    2. Dukungan praktis.

      Gereja harus mengutus misionaris dengan dukungan praktis. Hal ini meliputi dukungan keuangan, perhatian pribadi dan gembala lewat jalinan komunikasi yang teratur via surat atau telepon; dan menjenguk jika ada kesempatan.

      Gereja hendaknya juga melihat apakah kebutuhan mendasar dan kebutuhan jasmani misionaris telah tercukupi. Hal ini meliputi makanan, pakaian, kebutuhan rumah tangga, transportasi, pendidikan anak-anak dan sebagainya. Seorang misionaris pernah bercerita betapa leganya ia ketika seseorang memberikan koper sebelum ia pergi. Hal itulah yang ia butuhkan pada saat itu karena ia mengalami kesulitan membawa barang-barangnya dalam tas kecil yang ia miliki.

      Biaya yang dibutuhkan untuk mengirim misionaris memang tinggi, karenanya banyak gereja terhalang masalah dana ini. Namun, beberapa gereja masih dapat melakukannya dengan cara mengumpulkan sumber-sumber yang dimiliki untuk mendukung kebutuhan pekerjanya. Dana yang kurang tidak boleh menghalangi kita untuk menjadi gereja misi.

    KAPAN GEREJA MELAKUKAN PENGUTUSAN?

    1. Pada masa kemakmuran.

      Bagi mereka yang telah diberkati lebihlah, harapan ini digantungkan. Gereja-gereja yang memiliki banyak sumber dana dan sumber daya hendaknya mau melakukan pengutusan dan dukungan bagi kegiatan misi.

    2. Pada masa kesukaran.

      Penderitaan bukanlah alasan untuk tidak terlibat dalam kegiatan misi. Seringkali saat gereja sedang sangat membutuhkan baik sumber daya manusia atau materi, mereka cenderung hanya akan memikirkan kebutuhannya sendiri. Namun Alkitab mengatakan bahwa seharusnya bukan ini yang dilakukan.

      Kitab Wahyu mungkin ditulis pada masa penganiayaan gereja di bawah kekaisaran Romawi pada abad pertama. Walau demikian kita dapat melihat bahwa meski gereja sedang menderita, orang Kristen tetap mengemban tanggung jawabnya untuk menjadi kesaksian hidup untuk melaksanakan Firman Tuhan dan karya-karya-Nya di bumi.

      Gereja di Makedonia sedang dalam ancaman hukuman dan kemiskinan ketika mereka dengan tulus mengirimkan bantuan keuangan pada Paulus. Bahkan mereka berkorban dengan "sukacita meluap". Mereka menganggap bahwa adalah kesempatan istimewa untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan Paulus dan rekan. (2 Korintus 8:1-4) (t/Ary)

    Bahan diterjemahkan dari sumber:

    Judul Buku: Mission is for Every Church
    Judul Artikel Asli: The Church and Mission
    Penulis : Jojo Manzano
    Penerbit: OMF Literature Inc, Philippines, 1994
    Halaman : 37 - 45

    e-JEMMi 06/2006

    Gereja yang Bertumbuh

    Artikel ini ditulis oleh Pdt. Bob Jokiman dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun GKI Monrovia yang ke-18.

    Dua minggu lalu ribuan pemimpin gereja memadati kampus Saddleback Community Church yang digembalakan oleh Pdt. Rick Warren di Lake Forest California, mengikuti "Purpose-Driven Church" Conference untuk mempelajari formula atau rumus-rumus yang ampuh untuk menumbuhkan dan menyehatkan gereja.

    "Gereja di sini sangat terkenal karena pertumbuhannya," komentar Pdt. Michael Chua, salah seorang peserta Conference dari Makati Gospel Church di Manila, Filipina. "Saya ingin belajar bagaimana mereka dapat melakukan semuanya itu," lanjut Pastor Chua yang menemukan dan mendaftarkan diri sebagai peserta Conference tersebut melalui internet bersama dengan para pemimpin gereja dari 34 negara dari seberang benua lainnya. Tidak dapat disangkal bahwa formulasi atau perumusan pertumbuhan gereja yang dipopulerkan oleh Pastor Rick Warren tersebut sangat efektif. Saya berharap suatu saat kelak saya juga akan menghadiri Conference tersebut.

    Namun demikian sekali pun kita belum sempat mengikuti Conference tersebut untuk menumbuhkan gereja kita, saya ingin mengajak kita semua untuk mempelajari Formulasi Gereja yang bertumbuh dengan meneliti pertumbuhan gereja di masa Rasul-rasul, di mana segala macam teori pertumbuhan gereja modern belum mereka kenal!

    Gereja mula-mula bukan hanya bertumbuh secara jumlah tetapi juga dalam mutu iman anggota-anggota jemaat seperti yang dicatat oleh dokter Lukas: "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan" (Kisah Para Rasul 2:47). Dari ayat tersebut kita lihat bahwa secara jumlah mereka "tiap-tiap hari bertambah", ini yang sering disebut kuantitas dan dalam kualitas mereka juga mengesankan, karena yang bertambah itu adalah "orang yang diselamatkan", yaitu orang-orang yang sebelumnya bukanlah pengikut Kristus. Bukan orang yang ikut-ikutan ke gereja, bukan juga orang yang dipaksa atau terpaksa dan terutama sekali bukan anggota jemaat yang dikail dari kolam gereja tetangga!

    Formulasi apakah yang mereka gunakan sehingga terjadi pertumbuhan demikian? Mengingat ruang yang terbatas dalam kesempatan ini kita hanya akan belajar beberapa formula atau rumus secara singkat dan sederhana.

    Gereja yang Mengabarkan Injil

    Gereja mula-mula lahir pada Hari Pentakosta atau Hari Pencurahan Roh Kudus melalui Pekabaran Injil yang dilakukan oleh Rasul Petrus. Setelah ia berkotbah tercatat ada 3000 orang yang percaya, bertobat, diselamatkan dan dibaptis (Kisah Para Rasul 2:41). Tugas ini sering disebut sebagai KERYGMA atau memproklamirkan Injil atau EUANGELION yaitu Kabar Baik tentang Tuhan Yesus Kristus yang disalibkan untuk penebusan kita dan yang dibangkitkan untuk membenarkan kita, itulah keselamatan bagi setiap yang percaya dan mengaku serta menerima Dia sebagai Juruselamat.

    Berita itulah yang diproklamirkan oleh Gereja-gereja Tuhan sepanjang Kitab Kisah Para Rasul, berita itu adalah berita penuh kasih karunia dan kuasa Allah. Sehingga setiap orang yang mendengarnya, percaya serta mengaku dan menerima dalam hati dan hidupnya akan diselamatkan: "Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:10)

    Berita itulah yang dibutuhkan oleh umat manusia sepanjang sejarah, umat manusia yang dikuasai dosa dan akan menuju kebinasaan kekal serta yang tidak sanggup dengan usaha baik apapun untuk menyelamatkan dirinya. Berita itulah yang harus terus meneruskan diberitakan oleh Gereja-gereja Tuhan sepanjang zaman; juga oleh gereja kita sampai Tuhan datang untuk kedua kalinya. Jika kita ingin gereja kita terus bertumbuh.

    Pekabaran Injil adalah bagaikan peredaran aliran darah dalam tubuh manusia. Jikalau peredaran aliran darah dalam tubuh kita baik dan lancar maka kita memiliki tubuh yang sehat. Sebaliknya jika peredaran aliran darah tidak lancar dan terganggu maka kita menjadi orang yang sakit. Demikian juga dengan gereja, jika gereja tidak mengabarkan Injil maka gereja akan sakit dan lama-kelamaan kalau tidak disehatkan kembali maka gereja akan mati. Jikalau kita ingin gereja kita tetap hidup dan bertumbuh maka kita harus terlibat dan mendukung semua usaha pekabaran Injil yang dilakukan dengan berbagai karunia yang Tuhan berikan kepada kita. Gereja yang tidak mengabarkan Injil adalah gereja yang siap untuk mati. Rasul Paulus berkata: "Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." (1 Korintus 9:16). Semoga kita semua mempunyai tekad seperti Rasul Paulus, jadikanlah gereja kita Gereja yang Mengabarkan Injil.

    Berorientasi pada Peranan Jemaat

    Catatan dari Kisah Para Rasul 2:47 akan sangat menarik jika kita perhatikan dengan teliti: "Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap- tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." Di situ jelas dikatakan bahwa "mereka" disukai semua orang. Yang disukai semua orang bukan Petrus, Yohanes atau rasul yang lain, melainkan seluruh anggota jemaat gereja tersebut, yang tentunya termasuk para rasul. Berarti yang berperan dalam pertumbuhan gereja bukan hanya para rasul tetapi seluruh anggota jemaat.

    Demikian juga dengan pertumbuhan gereja kita tidak boleh berorientasi atau berpusat pada pendeta, penginjil, majelis atau aktivis lainnya. Seharusnya seluruh anggota jemaat turut berperan. Itulah juga yang ditekankan oleh Bapak Reformasi Martin Luther (1483-1546) dengan menunjuk pada Surat 1Petrus 2:9. "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan- perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib." Semua orang percaya, segenap anggota jemaat harus berperan bahkan berfungsi sebagai imam yang memanjatkan doa syafaat untuk sesama!

    Apa sajakah yang dilakukan oleh Anggota Jemaat saat itu dengan peran mereka dalam pertumbuhan gereja? Sebenarnya apa yang dilakukan oleh anggota jemaat ketika itu dapat pula dilakukan oleh anggota jemaat sekarang. Alkitab mencatat bahwa "Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa" (Kisah Para Rasul 2:42). Pertama-tama mereka 'bertekun dalam pengajaran', berarti bersungguh-sungguh dan tidak jenuh mau belajar dan bertumbuh dalam pengajaran atau doktrin. Pengajaran atau doktrin adalah bagaikan tulang dalam tubuh kita. Jika kita bertumbuh dan teguh dalam doktrin maka kita tidak akan mudah disesatkan oleh guru-guru atau pengkotbah-pengkotbah palsu, yang pada hari-hari terakhir ini makin banyak bermunculan baik di Amerika maupun di Indonesia.

    Kedua, mereka 'bertekun dalam persekutuan' atau KOINONIA, mereka saling mengenal dengan akrab. Bukan hanya sekedar tahu nama dan alamat, tetapi juga suka duka sebagai sesama anggota jemaat. Persekutuan itu mereka lakukan di saat beribadah dan doa bersama. Ibadah dan doa adalah bagaikan nafas bagi tubuh kita. Itulah hubungan vertikal yang harus ada dalam gereja dan dengan adanya hubungan vertikal tersebut maka dengan sendirinya haruslah terbentuk hubungan horisontal sesama anggota jemaat.

    Persekutuan vertikal dan horizontal yang dinamis tersebut kemudian menghasilkan "banyak mujizat dan tanda" (ayat 43). Untuk gereja kita, kita patut bersyukur dengan adanya berbagai persekutuan menurut kelompok umur dan juga Persekutuan Doa Jemaat pada hari Selasa malam yang melaluinya banyak doa yang terjawab dengan menakjubkan sebagai mujizat dan tanda kuasa Allah.

    Ketiga, mereka melakukan pelayanan kasih dengan tulus dan senang hati "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah." (Ayat 44-47a). Pelayanan kasih adalah bagaikan otot dan daging pada tubuh kita dan inilah yang membuat tubuh itu menarik nafas, tulang dan peredaran aliran darah yang lancar tak akan menarik tanpa otot dan daging. Pelayanan kasih ini perlu lebih ditingkatkan dalam gereja kita, sebab orang akan berkata "I don't care how much you know until I know how much you care". Semuanya itu dapat dilakukan oleh setiap anggota jemaat dan semuanya itu dapat dilakukan tanpa harus melewati pendidikan khusus Sekolah Theologia. Semoga kita semua tanpa kecuali mempunyai tekad untuk lebih berperan dalam pertumbuhan gereja di tahun-tahun mendatang.

    Bertujuan Menyelamatkan Manusia

    Salah satu penyebab orang tertarik dengan "Purpose-Driven Church" Conference-nya Pastor Rick Warren karena "Purpose-Driven" tersebut adalah motivasi yang mendorong pertumbuhan gereja. "Purpose-Driven" kalau diterjemahkan bebas berarti "Didorong oleh Tujuan". Tujuan apakah yang seharusnya dimiliki oleh gereja kita? Kembali jika kita perhatikan ayat 47 "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." di atas kita akan menemukan bahwa tujuan gereja yang bertumbuh adalah untuk menyelamatkan manusia. Tuhan Yesus meninggalkan surga kemudian mati di kayu salib semata-mata dengan tujuan untuk menyelamatkan manusia, bukan program-program ataupun fasilitas gereja. Demikian juga dengan gereja kita yang dimulai oleh sekelompok mahasiswa/i Indonesia yang sedang kuliah di Los Angeles, mereka terdorong untuk melayani dan menyelamatkan sesama rekan-rekan mahasiswa/i lainnya yang belum mengenal Tuhan. Mereka tidak pernah mimpi untuk memiliki gedung ibadah serta fasilitas seperti keadaan gereja kita sekarang. Tujuan mereka hanya untuk menyelamatkan manusia, khususnya mahasiswa/i Indonesia yang sedang melanjutkan kuliah di Amerika. Tuhan memberkati hati mereka, Tuhan telah memberkati pelayanan mereka. Melalui persekutuan dan Pemahaman Alkitab kemudian berlanjut dengan terbentuknya gereja yang banyak menyelamatkan jiwa-jiwa, bukan hanya mahasiswa/i tetapi mereka yang telah berkeluarga dan berimigran ke California. Di antara mereka ada yang sudah kembali ke Indonesia serta banyak juga yang tetap setia sebagai anggota jemaat kita sampai sekarang. Semua program gereja maupun pembangunan gedung ibadah hendaknya dilakukan dengan tujuan menyelamatkan manusia, pasti Tuhan memberkatinya. Semoga dalam melanjutkan pelayanan serta meneruskan rencana pembangunan Gedung Ibadah Utama kita tetap menaruh dalam hati kita semua visi dan tujuan gereja untuk menyelamatkan manusia.

    Bersandar pada Kuasa Tuhan

    Formula atau rumus keempat dan yang terpenting untuk Gereja yang Bertumbuh adalah bersandar pada kuasa Tuhan, inilah sumber dinamika gereja yang utama seperti yang terjadi dengan gereja para Rasul "Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan." Jelas sekali dinyatakan bahwa yang menyebabkan Gereja bertumbuh adalah Tuhan. Bukan Rasul, bukan jemaat, bukan Pendeta, Penginjil dan bukan pula majelis serta aktivis. Usaha apapun yang kita lakukan jika bukan karena kemurahan dan kuasa Tuhan maka semua usaha tersebut tidak akan membawa hasil.

    Selama hampir tujuh belas tahun melayani jemaat kita, filsafat pelayanan yang saya pegang adalah "Accept the reality, do your best and God will take care the rest". Kita harus menerima kenyataan yang ada pada pelayanan kita, orang-orang yang dihadapi dan juga fasilitas yang tersedia. Kita juga harus sadar bahwa kita hidup dalam dunia yang tidak ideal oleh karena itu kita jangan mengharapkan yang ideal dalam pelayanan kita. Namun yang penting kita harus melakukan dengan seoptimal mungkin apa yang harus dan dapat kita lakukan. Kerjakanlah yang terbaik yang dapat kita kerjakan dan percayalah Tuhan yang akan menyempurnakan yang masih kurang.

    Tugas dan panggilan gereja kita ke depan dan tahun-tahun mendatang akan makin banyak serta makin menantang. Kita harus berusaha melakukan apa yang dapat kita lakukan semaksimal mungkin dan dengan sebaik-baiknya untuk keselamatan manusia dan demi kemuliaan nama Tuhan. Tugas dan panggilan itu agung dan besar, kita tidak boleh bersandar pada kepandaian, pengalaman dan ketrampilan sendiri. Semoga gereja dalam melaksanakan dan mewujudkan tugas serta panggilannya sungguh-sungguh hanya bersandar pada kuasa Tuhan. Selamat HUT XVIII GKI Monrovia. Amin,

    Sumber: Newsletter GKI Monrovia, Juni 2002, Tahun XVI No. 6
    ==> http://www.gki.org/


    e-JEMMi 09/2004

    Hakikat Gereja: Gereja Ada dari Misi dan untuk Misi

    "... supaya segala bangsa di bumi mengenal nama-Mu, sehingga mereka takut akan Engkau sama seperti umat-Mu Israel, dan sehingga mereka tahu, bahwa nama-Mu telah diserukan atas rumah yang telah kudirikan ini." (2Tawarikh 6:33)

    DEFINISI MISI

    Pengertian dan paradigma yang keliru tentang misi dan pekerja misi banyak terdapat di gereja-gereja. Misi seakan menjadi satu kata yang asing atau menakutkan dan harus dijauhi. Bahkan, mungkin masih banyak yang menganggap misi adalah kategori pelayanan yang dikerjakan oleh orang-orang Barat. Sementara itu, yang lain berpikir bahwa misi itu pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh gereja yang besar dan kaya. Mustahil gereja kecil dan miskin bisa terlibat dalam pekerjaan misi. Lebih banyak lagi yang beranggapan bahwa mereka yang terlibat dalam pekerjaan misi adalah orang-orang tertentu saja, bukan bagianku. Bahkan ada gereja-gereja yang sama sekali tidak menaruh peduli dengan misi. Tidak ada waktu bagi mereka untuk memikirkan pekerjaan misi apalagi terlibat di dalamnya karena terlalu banyak yang harus dipikirkan oleh gereja. Singkatnya, banyak alasan bisa diangkat untuk menghindar dari misi. Padahal, bukankah misi adalah tugas dan tanggung jawab gereja yang paling utama?

    Dari sekian banyak definisi misi yang ada, saya mengutip dua definisi yang sering saya pakai, yaitu definisi dari Advancing Church Mission Commitment (ACMC). Definisi ini dibuat dan disepakati oleh kira-kira 170 orang pimpinan gereja dan badan-badan misi. Yang pertama, misi adalah:

    "Setiap usaha yang ditujukan dengan sasaran untuk menjangkau melampaui kebutuhan gereja Anda dengan tujuan untuk melaksanakan Amanat Agung dengan menyatakan Kabar Baik dari Yesus Kristus, menjadikan murid dan dikaitkan dengan kebutuhan yang utuh dari manusia baik jasmani maupun rohani."

    Yang kedua, mengenai gereja misioner yang aktif dan sehat, digambarkan sebagai:

    "Gereja yang mengambil sikap agresif dalam penginjilan sedunia. Setiap anggota jemaat melihat dirinya sebagai komponen kunci dalam menggenapi Amanat Agung dan memobilisasi sumber-sumber dayanya semaksimal mungkin untuk tugas ini."

    Bishop Stephen Neil mengatakan, "Mission is the intentional crossing of barriers from church to non-church in word and deed for the sake of the proclamation of the Gospel." (Misi adalah setiap usaha sengaja untuk melintasi atau menerobos rintangan-rintangan dari gereja kepada non-gereja demi memproklamirkan Injil dalam kata dan karya.) Jadi, yang dikategorikan sebagai misi adalah pekerjaan yang memikirkan kebutuhan di luar tembok gereja. Berangkat dari definisi tersebut, setiap orang percaya mendapat hak istimewa untuk ambil bagian dalam pekerjaan misi, siapa pun dan apa pun kondisi kita, di mana pun dan kapan pun, masing-masing dengan cara dan ukuran yang sesuai dengan talenta yang Tuhan percayakan.

    "WE ARE IN THE WORLD, BUT NOT OF THE WORLD"

    Ungkapan ini berarti bahwa kita berada di dalam dunia, tapi bukan berasal dari dunia. Hal ini menegaskan bahwa gereja diciptakan oleh Allah sendiri, tidak seperti lembaga-lembaga lain di dunia ini. Gereja adalah kumpulan orang-orang percaya yang ditebus oleh darah Yesus Kristus dan menjadi milik Allah demi kemuliaan-Nya. Gereja bukanlah gedungnya sekalipun gedung adalah sarana fisik yang diperlukan sebagai wadah bagi jemaat bersekutu dan tumbuh bersama sebagai murid-murid Kristus.

    Walaupun demikian, cerita dalam Perjanjian Lama tentang tempat ibadah umat Allah yang berkaitan dengan bangunan fisik patut disimak. Kitab 1Tawarikh 29 menyaksikan Bait Allah dibangun dengan biaya (menurut perhitungan mata uang Indonesia waktu berada dalam puncak krisis ekonomi) lebih dari 20 trilyun rupiah. Dari sekian besarnya biaya itu, Raja Daud menyumbang kira-kira 100 ton emas dan kira-kira 200 ton perak murni ditambah dengan persembahan kasih dari jemaat yang menyumbang ratusan ton emas, ratusan ton perak murni, tembaga, dan barang-barang berharga yang lain. Ketika Bait Allah telah selesai dibangun dan ditahbiskan dalam 2 Tawarikh 6, Salomo berdoa, isinya antara lain penyataan dan permohonan kepada Tuhan untuk mendedikasikan tujuan dari pembangunan Bait Allah itu. Tujuan itu tercakup dalam 2Tawarikh 6:33, yaitu supaya melalui Bait Allah ini segala bangsa di bumi mengenal nama Allah yang disembah bangsa Israel. Kemegahan Bait Allah kemudian menjadi kesaksian bagi nama Tuhan Allah dengan luar biasa. Berikutnya, sejarah mencatat bahwa Bait Allah ini dihancurkan oleh musuh-musuh bangsa Israel. Allah tidak malu Bait Allah dihancurkan. Dia mengizinkannya. Daniel 1:2 menyaksikan bahwa Tuhan menyerahkan Yoyakim, Raja Yehuda dan sebagian perkakas rumah Allah ke dalam tangan Nebukadnezar. Salah satu sebabnya ialah karena Bait Allah tidak lagi menjadi kesaksian bagi segala bangsa di bumi seperti doa Raja Salomo dan tujuan semula Bait Allah ini didirikan.

    Bait Allah Perjanjian Baru adalah tubuh kita (2Korintus 6:16). Bait Allah adalah juga gereja, dalam arti persekutuan orang-orang percaya. Bait Allah, baik tubuh kita secara pribadi maupun gereja dimaksudkan Allah agar menjadi kesaksian yang hidup tentang Allah yang hidup di dunia ini. Gereja dimaksudkan untuk menjadi "rumah doa bagi segala bangsa" dan membangun jembatan untuk memberkati dunia ini dan bukannya tembok pemisah yang membuat diri sendiri terkurung serta membuat kasih Allah tidak tampak bagi dunia ini.

    Trilogi gereja harus dilakukan dengan seimbang dan penuh kejujuran di hadapan Allah, Sang Kepala Gereja. Ibadah (koinonia) yang menyangkut persekutuan jemaat, segala fasilitas dan kebutuhan di dalamnya seperti gedung gereja, kursi, alat musik, alat-alat kantor dan sebagainya harus dipenuhi dan dijalankan dengan sehat tanpa mengabaikan pelayanan sosial (diakonia) yang dilandasi kasih terhadap sesama dan tetap menaruh perhatian serius agar pelayanan misi dan penginjilan (marturia) berjalan juga. Jika salah satu dari tiang gereja ini tertinggal, kehidupan gereja akan pincang tanpa kita sadari. Perlahan-lahan hakikat gereja akan luntur, tidak lagi menjadi garam yang menggarami, tidak lagi menjadi kumpulan orang-orang kudus yang memuliakan Tuhan, tapi akan mati dan hancur serta menjadi semacam perkumpulan sosial yang bertemu setiap hari Minggu. Gereja tidak lagi menjadi refleksi keluarga Allah, tapi menjadi klub sosial. Dalam keluarga, yang paling kecil dan paling lemah akan mendapat banyak perhatian, tapi dalam klub sosial yang terkuat dan terkaya akan mendapat perhatian paling banyak.

    Ketika menyucikan Bait Allah kembali kepada fungsinya yang seharusnya, Yesus mengutip Yesaya 56:7 dan Yeremia 7:11 dengan menegaskan, "Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa" (Markus 11:17). Penyataan ini sekaligus bisikan untuk gereja masa kini. Mendirikan gereja bukanlah untuk mendirikan gedung yang dibatasi tembok pemisah dari dunia luar, tapi agar orang percaya membangun rumah doa bagi segala bangsa di mana di dalamnya ada mezbah bagi Tuhan dan para imam Perjanjian Baru, yaitu orang-orang percaya, umat tebusan-Nya, yang menaikkan syafaat bagi segala suku dan bangsa.

    Dari keempat Injil, hanya Injil Yohanes yang diakhiri dengan perintah penggembalaan. Sementara itu, Injil Matius, Markus, dan Lukas diakhiri dengan perintah misi dan penginjilan (PI). Bukan berarti penggembalaan mendapat tempat yang lebih kecil daripada misi dan PI, namun tugas penggembalaan tidak boleh menjadi status quo, menjadi tugas akhir tanpa tujuan. Kedewasaan jemaat harus tercermin dari keterlibatan dan perhatian mereka terhadap misi dan PI sehingga gereja tetap menjadi alat Tuhan yang membawa kasih-Nya bagi dunia ini dalam bentuk nyata, baik berkat rohani maupun jasmani untuk kemuliaan nama-Nya.

    Gereja harus bisa menyuarakan firman Allah agar nama-Nya disembah di seluruh bumi. Kebenaran-Nya harus diberitakan di antara segala bangsa dan suku-suku bangsa. Gereja harus mewujudnyatakan kesaksiannya itu kepada dunia. Allah terlalu kecil jika hanya disembah di dalam gereja kita saja. Allah terlalu kecil jika hanya disembah oleh bangsa Indonesia saja. Allah kita adalah Allah yang Mahabesar yang harus diwartakan ke seluruh penjuru bumi hingga segala bangsa, suku bangsa, kaum, dan bahasa mengenal Dia dan sujud menyembah-Nya. Demikianlah seruan pemazmur:

    "Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa. Sebab TUHAN Maha Besar dan terpuji sangat, ia lebih dahsyat daripada segala Allah.


    Sebab segala Allah bangsa-bangsa adalah hampa, tetapi Tuhanlah yang menjadikan langit.

    Keagungan dan semarak ada di hadapan-Nya, kekuatan dan kehormatan ada di tempat kudus-Nya.

    Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan!

    Berilah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya.

    Sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai segenap bumi.

    Katakanlah di antara bangsa-bangsa: "Tuhan itu Raja! Sungguh tegak dunia, tidak goyang. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran ...." (Mazmur 96:3-10)

    Bahan diambil dari sumber:

    Judul buku : Misi dari dalam Krisis
    Judul artikel : Hakekat Gereja
    Penulis : Bagus Surjantoro
    Penerbit : Obor Mitra Indonesia, Jakarta 2003
    Halaman : 27 - 33

    e-JEMMi 46/2006

    Hal-Hal Besar Terjadi Ketika Anak-Anak Berdoa

    Apakah mungkin Roh Kudus berhembus dan bekerja melalui pelayanan yang dilakukan anak-anak? Apakah Allah juga menggerakkan anak-anak itu untuk melakukan tujuan-Nya? Allah menarik anak-anak itu dalam penyembahan dan memenuhi mereka dengan keberanian, suatu visi bagi dunia, dan perasaan belas kasihan bagi mereka yang terhilang.

    Allah juga menggunakan anak-anak untuk mendoakan orang-orang dewasa, teman-teman dan keluarga, serta negara. Pada saat yang sama, Dia membangkitkan para pemimpin dewasa agar tidak hanya bisa merasakan potensi rohani anak-anak, tetapi juga yang mau menginvestasikan hidupnya dalam melatih, memperlengkapi dan menggerakkan generasi belia ini sehingga anak-anak itu dapat dipakai untuk mewujudkan rencana-rencana Allah.

    Children's Global Prayer Movement (Gerakan Doa Global Anak-anak)

    Ide untuk mendirikan Children's Global Prayer Movement (CGPM), bagian dari rangkaian kegiatan anak-anak yang diselenggarakan "AD 2000 and Beyond Movement", muncul begitu kuatnya dalam hati Esther Ilnisky pada tahun 1983. Saat itu, Allah memberikan penglihatan pada Esther tentang anak-anak angkatan tahun 1990an -- bahwa mereka akan diberkati dengan urapan istimewa.

    Di tahun 1991 ide pembentukan jaringan doa itu pun terwujud saat C. Peter Wagner menugasi Esther Ilnisky agar membawa 50 anak sebagai delegasi-delegasi pendoa untuk "Global Consultation on World Evangelization" yang diselenggarakan di Seoul, Korea Utara. Para delegasi pendoa muda itu berasal dari Amerika, Argentina, Australia, Brazil, Fiji, Indonesia, Jamaika, Jepang, Kanada, Korea, dan Malaysia.

    Menggerakkan 1 juta anak di seluruh dunia untuk berdoa merupakan tujuan semula dari Children's Global Prayer Movement. Namun sekarang gerakan ini telah melampaui target dan berkembang dengan sangat cepat. Misalnya, di Nigeria ada lebih dari 50.000 anak yang disebut "Praying Firebrands" juga menjadi bagian dari CGPM.

    Daniel Prayer Group -- DPGs (Persekutuan Doa Daniel)

    Daniel Prayer Group merupakan cikal bakal dari "King's Kids", suatu bentuk pelayanan Youth With a Mission (YWAM) yang menggerakkan anak-anak muda untuk berdoa. Anak-anak yang tergabung dalam DPGs dibagi menjadi beragam bentuk: kelompok mingguan, persekutuan doa harian atau mingguan, dan pelayanan-pelayanan outreach di suatu wilayah.

    DPGs memobilisasi ribuan anak dan keluarga untuk menjangkau dunia Muslim dengan doa dan kasih Allah selama Ramadan, bulan ke sembilan dalam tahun Islam, yang dianggap suci dan dilalui dengan puasa setiap hari dari dini hari sampai senja. Walaupun DPGs dimulai di Inggris, saat ini sudah ada DPGs di Kanada, Mesir, Norwegia, Swiss, Amerika Serikat, dan negara-negara lain.

    The National Children's Prayer Network (Jaringan Doa Anak Nasional)

    Kelompok ini menyatukan anak-anak yang berkomitmen untuk mendoakan pemerintahan nasional Amerika. "Memimpikan lahirnya suatu generasi pemimpin yang tahu bagaimana mencapai surga melalui doa syafaat," kata Lin Story, pendiri jaringan tsb. Tujuannya adalah untuk menantang anak-anak di segala umur untuk mengetahui potensi mereka dalam doa. Setiap tahun bertepatan dengan diperingatinya Hari Doa Nasional, jaringan ini bertemu di Washington, D.C. untuk mengadakan konggres doa mereka sendiri.

    ANAK-ANAK PUN AKAN MEMIMPIN

    Apa yang terjadi ketika anak-anak berdoa? "Aku melihat Allah mulai menyatakan diri-Nya pada anak-anak, memperlihatkan kepada mereka tentang karunia-karunia yang mereka miliki. Allah menyatakan bahwa hal-hal yang dilakukan Yesus dan para pelayan dewasa dapat juga mereka lakukan, dan Roh Kudus tidak melihat usia," kata Karen Moran dari Children's Global Prayer Movement.

    "Anak-anak dari Tim SWAT telah menjadi pejuang-pejuang doa," kata David Walters dari Good News Ministries yang berkantor di Georgia. "Allah memakai anak-anak bukan hanya karena mereka masih anak-anak. Allah bisa memakai semua orang; baik tua atau muda, yang sudah dewasa atau yang belum dewasa. Selama kita berserah dan taat kepada-Nya maka Dia akan memakai kita."

    Jerry Lenz, staf pengembangan dari KIDS Church (kurikulum gereja untuk anak-anak yang diterbitkan oleh Charisma Life) mengatakan bahwa gereja biasa mengajarkan bahwa anak-anak hanya perlu diawasi dan bukan didengarkan. "Tetapi waktu terus berjalan," lanjut Lenz, "tidak hanya dalam kata-kata tetapi dalam kenyataan, seorang anak bisa memimpin mereka. Allah sedang mempersiapkan anak-anak generasi ini untuk melayani dan memimpin banyak orang kepada-Nya."

    Pendeta untuk anak, Nomar Banffi, dari Gereja Rey de Reyes di Buenos Aires, Argentina, menceritakan tentang sebuah keluarga yang datang ke gereja baru-baru ini. Setelah kedua orangtuanya menerima berita keselamatan, segera sesudah itu anak-anak mereka menerima Kristus juga. Tetapi anak mereka yang baru berusia 3 tahun telah bersaksi kepada anggota keluarga lainnya dan meyakinkan kakek serta neneknya untuk pergi ke gereja.

    Anak-anak sangat efektif dalam pelayanan penginjilan. Banffi dan tim pelayanan anak yang dipimpinnya bersama-sama dengan para pengasuh anak-anak itu menceritakan tentang Yesus di sepanjang perjalanan mereka. "Kami sebenarnya hanya mengajak anak yang berusia 8 tahun ke atas. Namun anak-anak yang lebih kecil pun ingin ikut juga. Ketika anak-anak itu bertanya pada orang-orang yang ada di jalan apakah mereka bisa berdoa untuk mereka, orang-orang tersebut mau didoakan mereka." kata Banffi. "Dan ketika anak-anak berdoa, orang-orang itu merasakan kehadiran Allah, dan banyak diantara mereka yang di selamatkan."

    Anak-anak berusia 8 - 12 tahun ikut menghadiri persekutuan doa syafaat selama tiga jam yang diadakan setiap hari Minggu. "Anda tidak bisa mengusir mereka; bahkan mereka juga minta untuk mengikuti persekutuan doa syafaat yang diadakan di hari lain di minggu itu." kata Banffi.

    Di Mechanicville Christian Center di Mechanicsville, Virgina, ada 46 anak berusia 6 - 16 tahun dari tim outreach Gereja Bridge Builders, berangkat ke Chicago pada bulan Agustus 1997 bersama pemimpin mereka, Pete Hohmann, untuk melakukan 12 pelayanan outreach di berbagai tempat di kota tersebut. Satu tim, terdiri dari 2 atau 3 anak, menyatu dalam keramaian, di bawah pengawasan ketat dari seorang pemimpin dewasa. Anak-anak itu bertanya, "Apakah ada yang bisa saya doakan?" atau "Apakah Anda pernah menerima Kristus?"

    Hampir setiap orang menceritakan beberapa masalah, misalnya penyakit yang dideritanya, keprihatinan mereka tentang anak-anaknya, atau kegagalan pernikahan mereka. Doa-doa yang tulus dari anak-anak ini tampaknya memberi semangat tepat di hati orang-orang tsb. Walaupun banyak orang yang belum percaya mulai mengenal Kristus melalui cara-cara seperti ini, namun dampak yang paling kuat ada dalam hidup dan hati anak-anak itu sendiri. Dalam lima tahun terakhir, Hohmann telah melihat pertumbuhan luar biasa dalam diri anak-anak yang telah menjadi bagian dari tim pelayanan penginjilan ini. Salah satu dari anak tsb. mengatakan,

    "Allah telah menunjukkan padaku bahwa orang-orang yang tersesat bukanlah hanya kumpulan angka; mereka adalah orang-orang yang nyata. Dapat memimpin seseorang pada Kristus, melihat wajah mereka yang menjadi cerah ketika aku menceritakan tentang seorang Juruselamat yang mengasihi mereka, merupakan sukacita yang terbesar dalam hidupku."

    Ketika pelayanan outreach di Chicago selesai, anak-anak Bridge Builders telah melayani orang-orang di sekitar Daley Center.

    Sekelompok anak laki-laki berusia belasan berbincang-bincang dengan seorang tunawisma. Seorang anak perempuan pemalu menjelaskan tentang Injil pada seorang dewasa. Beberapa anak perempuan berusia 8 - 10 tahun meniup balon-balon untuk sekelompok anak Hispanic ketika mereka menceritakan tentang Yesus.

    Lalu apa peran para pemimpin dewasanya? Mereka memberi semangat di sisi anak-anak itu dan menjaga keamanan di sekitar mereka. Anak-anak lah yang melakukan semua pelayanan itu. Anak-anak ini belajar bahwa mereka tidak harus menunggu bertumbuh menjadi orang dewasa dulu agar bisa dipakai oleh Roh Kudus.

    Sumber diterjemahkan dan diedit dari:

    Judul Buletin: Prayer Track News, Vol. 8, No. 1, Jan-Mar 1999
    Judul Artikel: Big Things Happen When Kids Pray
    Penerbit : Global Harvest Ministries
    Situs : http://www.globalharvest.org/

    e-JEMMi 09/2003

    Hal-Hal yang Harus Dihindari dalam Mengabarkan Injil

    Berikut ini adalah beberapa petunjuk praktis tentang pelaksanaan pekabaran Injil, yang didasarkan pada pengalaman D.W. Ellis dalam mengabarkan Injil selama beberapa tahun di Indonesia.

    Hal-hal yang sebaiknya dihindari dalam mengabarkan Injil secara pribadi :

    Kita harus mampu menyesuaikan khotbah dengan keadaan tanpa mengingkari amanat Alkitab sebagai Firman Allah yang berdaulat. Lalu kita pasrah dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Sementara itu kita harus berusaha menghindari beberapa hal di bawah ini, supaya pemberitaan Injil secara pribadi itu dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.

    a. Hindari kesan dagang dan paksaan

    Entah bagaimanapun juga, sikap-laku kita dan ucapan-ucapan kita jangan sekali-kali menimbulkan kesan, bahwa kita hendak memperdagangkan Injil atau hendak memaksakan Injil itu kepada teman bicara kita.

    Sebagai pekabar Injil, kita harus bersikap wajar, sopan, rendah hati dan jangan bersikap sok mengetahui lebih banyak tentang segala sesuatu daripada mereka.

    b. Hindari kepura-puraan

    Bila memberikan kesaksian pribadi, bersaksilah dengan sejujur- jujurnya dan terus terang. Dan jika ada yang mengajukan pertanyaan yang tidak kita jawab, jujurlah mengakuinya dan berkata, "Maaf, saya belum tahu jawabnya. Saya akan berusaha mencari jawabannya dari orang lain. Bila dapat, akan saya beritahukan kepada Anda." Janganlah lupa mencari jawaban yang memuaskan, baik melalui buku atau dari seorang ahli, lalu meneruskan jawaban itu kepadanya.

    c. Hindari perdebatan

    Kita adalah juru berita, bukan juru debat. Adalah biasa dalam perdebatan, masing-masing pihak ngotot mempertahankan keyakinannya, bahkan dengan mencari-cari alasan. Hasil akhir debat umumnya tidak ada titik temu. Lagi pula dalam dunia komunikasi, perdebatan adalah kendala yang menjurus kepada kegagalan. Andaikata pun satu pihak menang secara logis dalam mengemukakan pendapat-pendapatnya, besar kemungkinan ia kalah secara psikologis sebagai akibatnya. Artinya, kita menang dengan imbalan yang kalah akan tersinggung dan menutup diri. Hasil akhir, kita sendirilah yang kalah sebab gagal membawa orang itu kepada Kristus.

    Kita harus mengarahkan perhatian teman bicara kita kepada Kristus secara positif, dengan memakai hal-hal yang positif dari kepercayaan kita.

    d. Hindari bicara terlalu banyak

    Meskipun tujuan kita adalah untuk menerangkan Injil sejelas- jelasnya, kita tidak boleh memborong semua kesempatan bicara. Kita harus memberi waktu kepada teman bicara kita, supaya selain dia merasa dihormati, dia juga mendapat kesempatan mengeluarkan isi hatinya. Dengan demikian kita mengetahui bagaimana membimbing dia selanjutnya.

    Setiap upaya meyakinkan seseorang, apalagi mengubah keyakinan imannya, adalah sangat berat dan sukar, dan bahkan bagi masyarakat Asia sangat peka. Karena itu kita dituntut bijaksana dan harus dipimpin oleh Roh Kudus.

    e. Hindari menggunakan terlalu banyak ayat Alkitab

    Lugaslah menggunakan Alkitab. Menjejali atau membanjiri seseorang dengan ayat-ayat Alkitab bisa mengakibatkan orang itu muak. Kita harus sadar bahwa ayat-ayat Alkitab masih asing bagi dia. Memahami apalagi menafsirkannya masih sangat sukar baginya. Karena itu cukuplah mengemukakan ayat-ayat yang terkait dengan penjelasan sederhana.

    Satu atau dua ayat yang jelas dimengerti karena diterangkan dengan tepat dan sederhana, dampaknya akan jauh lebih baik. Ayat yang tepat adalah ibarat sejemput garam yang menggiurkan cita rasa dan selera.

    f. Hindari banyak orang

    Mengabarkan Injil secara pribadi sifatnya memang sangat pribadi. Penuh kesungguhan namun santai, bebas dan bersahabat. Suasana demikian dapat terganggu dalam pertemuan lebih dua orang. Karena MIP (mengabarkan Injil secara pribadi) diharapkan akan sampai pada tahap pertobatan dan pengambilan keputusan, yang sangat penting dan sangat pribadi. Maka pertemuan lebih dari dua orang perlu dihindari karena akan mengganggu, apalagi kehadiran orang ketiga, keempat dan seterusnya.

    Namun, karena sifatnya yang sangat pribadi itu, baiklah kita bijaksana supaya MIP ini berlangsung antara orang sejenis, dan bila mungkin sebaya. Tapi ini bukanlah syarat mutlak, melainkan kebijaksanaan.

    g. Hindari pemakaian 'istilah-istilah rohani'

    Istilah-istilah teologis dan dogmatis (misalnya pembenaran, pengudusan, penebusan) besar kemungkinannya akan membingungkan orang-orang yang belum pernah mengerti hal-hal rohani, terutama orang-orang yang berpendidikan sederhana. Istilah-istilah yang lazim dalam dunia Kristen dengan makna bahkan dengan ajaran tertentu, belum tentu dinalar dengan pengertian yang sama oleh teman bicara kita. Karena itu adalah bijaksana menggunakan bahasa sehari-hari.

    Ungkapan yang lazim pun, seperti 'percaya' misalnya, menuntut kehati-hatian. Mengatakan kepada teman bicara yang kita kabari Injil, bahwa dia harus 'percaya' kepada Tuhan Yesus, bisa menjurus ke pemahaman yang dangkal sebelum ia memahami makna yang dikandung dalam kata 'percaya' sebagaimana dimaksudkan dalam Firman Allah.

    h. Hindari memberikan kepastian yang palsu

    Bukanlah hak seseorang mengatakan kepada siapa pun juga, 'Sekarang Anda sudah beroleh keselamatan'. Kita tidak dapat membaca isi hati orang lain dan mengetahui apakah ia sungguh-sungguh percaya sehingga diterima Tuhan.

    Dasar kepastian adalah Firman Allah, perubahan hidup dan kesaksian Roh dalam hati orang-orang yang bertobat. Yang dapat kita lakukan ialah membantu mereka dengan menunjuk ayat-ayat dari Firman Allah dan menanyakan,

    "Apa yang dikatakan Firman Tuhan tentang hal keselamatan?", "Bagaimana pengertian Anda mengenai hal ini?"

    Kepastian akan keselamatan harus timbul langsung dari Firman Allah yang diterapkan dalam hati seseorang oleh Roh Kudus, bukan berdasarkan kata-kata kita.

    i. Hindari keputusasaan

    Belum tentu kita akan berhasil membawa seseorang kepada Kristus. Ternyata dalam hal ini ada orang yang dikaruniai lebih besar dibandingkan orang lain. Namun ketidaksamaan itu bukan berarti kita bebas dari tanggung jawab dan kesetiaan memberitakan Injil. Kita wajib setia, dan hasilnya kita serahkan kepada Allah.

    Peranan kita sering hanya merupakan satu mata rantai dari untaian rantai yang panjang, yang pada akhirnya akan berhasil membawa seseorang kepada Kristus. Yang perlu kita sadari ialah, apabila satu mata rantai itu tidak berperan, maka akibatnya rantai itu akan putus.

    j. Sumber kuasa -- jangan dilupakan

    Senjata rohani, yaitu 'pedang Roh' dan 'segala doa' (Efesus 6:17-18), tidak boleh dilupakan. Hanya Roh Kudus-lah yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati secara rohani. Tanpa Roh segala sesuatu yang kita kerjakan tidak akan berhasil.

    Diringkas dari:

    Judul buku : Metode Penginjilan
    Penulis : D.W. Ellis
    Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih (YKBK), 1993
    Halaman : 171 -- 175

    e-JEMMi 36/2002

    Halangan-Halangan dalam Berdoa

    Ada beberapa perkara yang dapat menghalangi doa. Hal ini diterangkan oleh Allah dengan sangat jelas di dalam firman- Nya.

    1. Yakobus 4:3, "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu."

    Kehendak yang menurut diri sendiri dapat merampas kuasa doa. Banyak sekali orang yang berdoa menurut kehendak diri sendiri. Doa-doa ini boleh jadi doa untuk perkara-perkara yang sungguh-sungguh layak untuk diminta, yaitu perkara-perkara yang menurut kehendak Allah, tetapi alasan dari doa itu sama sekali salah. Karena itu, doa yang demikian tidak berkuasa. Maksud yang sebenarnya dari doa ialah supaya Allah dipermuliakan oleh jawaban atas doa itu. Jika kita minta sesuatu dengan tujuan supaya kita boleh menerimanya untuk kita gunakan bagi kesukaan kita sendiri atau kepuasan diri sendiri, kita telah "salah meminta" dan tidak perlu mengharapkan jawaban untuk permintaan kita tersebut. Hal ini menerangkan mengapa banyak doa tidak mendapat jawaban.

    Sebagai contoh, banyak perempuan berdoa untuk suaminya supaya bertobat. Hal ini adalah hal yang patut sekali untuk diminta; tetapi alasan dari permintaan tersebut sama sekali tidak patut dan menurut kehendak diri sendiri. Ia mengharap suaminya bertobat sebab baginya hal itu jauh lebih menyenangkan, yaitu memiliki suami yang mengasihi dia; atau betapa susahnya untuk memikirkan bahwa seandainya suaminya meninggal, dia akan terhilang selama-lamanya. Untuk beberapa sebab yang serupa itu, yang mementingkan diri sendiri, ia berharap suaminya bertobat. Doanya semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri. Mengapa seorang perempuan berharap suaminya bertobat? Pertama-tama dan terutama, supaya Allah dipermuliakan; sebab ia tak dapat memikirkan betapa Allah Bapa akan dipermalukan karena suaminya tidak mengindahkan nama Anak Allah.

    Banyak orang berdoa untuk kegerakan. Tentu saja hal itu adalah doa yang memperkenankan Allah; hal itu seturut dengan kehendak Allah; tetapi banyak doa untuk kegerakan-kegerakan hanya menurut keinginan diri sendiri. Gereja-gereja mengharap adanya kegerakan supaya anggotanya semakin bertambah-tambah, supaya gereja boleh memunyai kedudukan yang lebih berkuasa dan berpengaruh di dalam masyarakat, supaya perbendaharaan gereja dapat bertambah, supaya nanti ada laporan baik kepada pimpinan pusat atau yayasan atau perkumpulan. Bagi cita-cita yang rendah seperti ini, sering kali gereja-gereja dan pendeta-pendeta berdoa untuk kegerakan, dan sering kali juga Allah tidak menjawab doa-doa mereka itu. Mengapa kita berdoa untuk kegerakan? Untuk kemuliaan Allah, sebab kita tidak tahan Allah terus-menerus dipermalukan oleh keduniawian gereja, oleh dosa-dosa orang-orang tak beriman, oleh ketiadaan iman dan yang tinggi hati dari zaman ini. Firman Allah tidak dihargai; Allah tidak dipermuliakan oleh pencurahan Roh Kudus di dalam gereja Tuhan Yesus Kristus. Karena sebab-sebab yang paling terutama inilah, kita harus berdoa untuk kegerakan.

    Banyak doa kepada Roh Kudus hanya menurut kehendak diri sendiri. Sesungguhnya kehendak Allah memberi Roh Kudus kepada mereka yang meminta -- Ia telah mengatakan hal itu dengan jelas di dalam firman-Nya (Lukas 11:13), tetapi banyak doa untuk Roh Kudus terhalang oleh alasan kepentingan diri sendiri, yang terdapat di belakang doa itu. Orang laki-laki dan perempuan berdoa untuk Roh Kudus agar mereka selalu berbahagia, atau supaya mereka diselamatkan dari kecelakaan atau kekalahan di dalam hidup mereka, atau supaya mereka boleh mendapat kuasa sebagai pengerja-pengerja Kristen, atau untuk sesuatu alasan lain yang sama sekali menurut diri sendiri. Mengapa kita berdoa bagi Roh Kudus? Supaya Allah tidak lagi dipermalukan oleh kehidupan Kristen kita yang rendah dan oleh pelayanan kita yang tidak berhasil; supaya Tuhan dipermuliakan oleh keindahan hidup baru yang Tuhan berikan dan tenaga baru di dalam pelayanan kita.

    2. Yesaya 59:1-2, "Sesungguhnya, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

    Dosa menghalangi doa. Banyak orang berdoa dan berdoa dan sekali lagi berdoa, tetapi sama sekali tidak mendapat jawaban. Barangkali ia digoda untuk berpikir, bahwa bukan kehendak Allah untuk menjawab atau boleh jadi ia berpikir bahwa hari-harinya telah lalu untuk Allah menjawab permintaan doa. Demikianlah yang orang Israel pikirkan. Mereka berpikir bahwa tangan Allah telah menjadi pendek, sehingga tidak dapat menyelamatkan dan telinga-Nya telah menjadi berat untuk mendengar. "Tidak begitu," kata Yesaya, "telinga Allah terbuka seperti sediakala untuk mendengar, tangan-Nya tetap berkuasa untuk menolong; tetapi ada suatu halangan. Halangan itu ialah dosa-dosamu sendiri. Dosa-dosamu telah menceraikan dirimu dengan Tuhanmu, dan dosa-dosamu telah menutupi wajah-Nya dari padamu, sehingga Ia tidak mau mendengar."

    Demikianlah keadaannya hari ini. Banyak sekali orang yang berteriak kepada Allah dengan sia-sia, tidak lain karena ada dosa di dalam hidup mereka. Boleh jadi dosa itu dosa di dalam hidup mereka yang telah lalu, yang belum diakui dan diadili, boleh jadi suatu dosa pada masa ini yang sedang dikasihinya, bahkan sama sekali tidak dipandang sebagai dosa; tetapi di mana ada dosa, tersembunyi di dalam hati atau hidup kita, Allah "tidak mau mendengar". Seorang yang mendapati doa-doanya tidak berhasil baiklah jangan menarik kesimpulan bahwa perkara yang dimintanya tidak disetujui oleh Allah, bukan kehendak-Nya, ya. tetapi baiklah ia berdoa menghadap Allah sendiri dengan doan Penulis Mazmur, "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mazmur 139:23-24), dan tunggulah pada-Nya, sampai Ia menunjukkan segala sesuatu yang tidak disetujui-Nya. Kemudian dosa ini akan diakui dan ditinggalkan.

    Saya ingat betul suatu waktu di dalam hidup saya ketika saya sedang berdoa untuk dua perkara yang pasti, yang rupanya harus saya terima, karena jika tidak maka Allah akan dipermalukan, tetapi jawabannya tidak datang. Saya bangun pada tengah malam dalam penderitaan jasmani dan kesedihan yang besar. Saya berseru kepada Allah untuk perkara-perkara ini, bersoal jawab dengan Dia tentang betapa perlunya dan segeranya Ia harus menjawab doa saya; tetapi tidak ada jawaban yang datang. Saya minta kepada Tuhan untuk menunjukkan kepada saya, kalau-kalau ada sesuatu yang salah di dalam hidup saya. Ada sesuatu yang timbul di dalam pikiran saya -- yang telah timbul beberapa kali sebelum itu -- sesuatu yang pasti, tetapi yang tidak mau saya akui sebagai dosa. Saya berkata kepada Tuhan, "Jika hal ini salah, saya akan berhenti berbuat itu." Tetapi jawaban belum datang juga. Di dalam hati, saya tahu hal itu salah walaupun saya tidak pernah mengakuinya sebagai dosa. Akhirnya saya berkata: "Ini salah. Saya telah berdosa. Saya mau berhenti berbuat itu." Saya mendapat damai, dan tak lama kemudian saya tidur seperti seorang anak kecil. Pagi-pagi hari saya bangun dengan sehat, dan uang yang sangat dibutuhkan untuk kemuliaan nama Tuhan datanglah.

    Dosa itu suatu perkara yang sangat mengerikan, dan salah satu dari kengeriannya yang paling besar ialah karena ia menghalangi doa, dan bagaimana ia menceraikan perhubungan antara kita dengan sumber dari segala anugerah kuasa dan berkat. Seorang yang ingin berkuasa di dalam doa harus tidak mengenal kasihan dengan dosa-dosanya sendiri. "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar" (Mazmur 66:18). Selama kita terus berdosa atau memunyai perselisihan dengan Tuhan, kita tidak dapat mengharap dari Dia untuk memerhatikan doa-doa kita. Apabila ada sesuatu yang selalu timbul dalam masa-masa persekutuan Anda yang erat dengan Allah, buanglah hal itu, karena hal itu menghalangi doa Anda.

    3. Yehezkiel 14:3, "Hai anak manusia, orang-orang ini menjunjung berhala-berhala mereka dalam hatinya dan menempatkan di hadapan mereka batu sandungan, yang menjatuhkan mereka ke dalam kesalahan. Apakah Aku mau mereka meminta petunjuk dari pada-KU?"

    Berhala-berhala di dalam hati menyebabkan Allah tidak mau mendengar doa-doa kita. Apakah berhala itu? Berhala ialah sesuatu yang mengambil tempat Allah, yaitu sesuatu yang menjadi tujuan yang terutama dari kasih kita. Allah sendiri yang berhak mendapat tempat yang tertinggi di dalam hati kita. Segala sesuatu dan semua orang harus di bawah Dia. Banyak laki-laki menjadikan istrinya sebagai berhala. Bukan karena seorang laki-laki sangat mengasihi istrinya, tetapi karena ia menempatkan dia di tempat yang salah; ia menempatkan istrinya lebih terkemuka daripada Allah; dan jika seorang laki-laki memerhatikan kesukaan istrinya lebih dari kesukaan Allah; jika ia memberikan istrinya tempat pertama dan Allah tempat yang kedua, istrinya menjadi berhala dan Allah tak dapat mendengarkan doa-doanya.

    Banyak perempuan menjadikan anak-anaknya berhala. Bukan karena mereka terlalu mengasihi anak-anak mereka, tapi lebih banyak daripada mengasihi Kristus. Kita dapat menempatkan mereka di tempat yang salah karena kita menempatkan mereka lebih terkemuka daripada Allah, dan kepentingan mereka lebih daripada kepentingan Allah. Jika kita berbuat demikian, anak-anak kita menjadi berhala kita. Banyak laki-laki menjadikan nama baiknya atau pekerjaannya menjadi berhala. Nama baik atau pekerjaan ditempatkan lebih terkemuka daripada Allah. Allah tak dapat mendengar doa orang semacam itu. Satu pertanyaan besar untuk kita putuskan supaya kita mendapat kuasa di dalam doa ialah: Apakah Tuhan Allah kita tempatkan di tempat yang terkemuka? Adakah Ia di atas istri, anak-anak, nama baik, pekerjaan atau kehidupan kita sendiri? Jika tidak, maka doa yang berkemenangan mustahil kita kerjakan. Allah sering kali mengundang perhatian kita kepada berhala di dalam hati kita, dengan jalan tidak menjawab doa-doa kita, dengan demikian memimpin kita untuk menyelidiki mengapa doa-doa kita tidak dijawab; demikianlah kita mengetahui berhala itu, kemudian kita buang supaya Tuhan mendengarkan doa-doa kita.

    4. Amsal 21:13; "Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru."

    Barangkali tak ada suatu halangan yang lebih besar bagi doa daripada kekikiran; kurang murah hati terhadap orang miskin dan terhadap pekerjaan Allah. Barang siapa memberi dengan murah hati, akan menerima dari Allah dengan murah hati pula. "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Lukas 6:38). Orang yang dermawan adalah orang yang berkuasa di dalam doa. Orang yang kikir adalah orang yang lemah di dalam doa. Salah satu dari pernyataan yang paling mengherankan tentang doa yang berkemenangan ialah 1 Yohanes 3:22, "dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada- Nya", yang langsung berhubungan dengan kemurahan hati terhadap orang yang berkekurangan. Berhubungan dengan hal itu dikatakan kepada kita, bahwa jika kita mengasihi, bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan kebenaran, yaitu jika kita membuka hati kita terhadap saudara yang di dalam kekurangan, dan hanya dengan demikianlah kita memunyai keluasan hati terhadap Tuhan di dalam doa.

    Laki-laki dan perempuan yang mencari rahasia dari kelemahan mereka di dalam doa, tidak perlu mencari jauh-jauh; mereka hanya harus berterus terang, bahwa kekikiranlah sebabnya. George Mueller adalah seorang yang doanya berkuasa, karena ia seorang dermawan yang besar. Apa yang diterimanya dari Allah, tidak pernah berhenti di dalam tangannya; ia dengan segera menyampaikannya kepada orang lain. Ia selalu menerima sebab ia selalu memberi. Bila seseorang memikirkan tentang gereja pada hari ini yang hanya memikirkan diri sendiri saja, dan gereja-gereja yang tak pernah berkorban untuk pekabaran Injil, tidaklah mengherankan jika bahwa gereja-gereja hanya memunyai sedikit tenaga di dalam doa. Jika kita mau menerima dari Allah, kita harus memberi kepada orang-orang lain. Barangkali perjanjian yang paling mengherankan di dalam Alkitab mengenai bagaimana Tuhan akan mencukupi keperluan-keperluan kita tertulis di dalam Filipi 4:19, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus." Perjanjian yang diberikan kepada jemaat Filipi, dan dibuat langsung berhubungan dengan kemurahan hati mereka.

    5. Markus 11:25, "Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan- kesalahanmu."

    Suatu roh yang tidak mengampuni adalah salah satu dari halangan-halangan yang biasa ada di dalam doa. Doa itu dijawab dengan alasan, bahwa dosa-dosa kita telah diampuni; tetapi Tuhan tak dapat bersekutu dengan kita atas dasar pengampunan apabila kita sedang mengerjakan kehendak jahat terhadap mereka yang berbuat salah kepada kita. Seseorang yang memelihara suatu kebencian di dalam hatinya terhadap saudaranya, telah menutup rapat telinga Allah terhadap permohonan-permohonannya sendiri. Betapa banyak orang yang berteriak kepada Allah supaya suaminya, anak-anaknya, dan teman- temannya bertobat, dan bertanya-tanya mengapa doa mereka tidak dijawab, sedang rahasianya ialah sedikit kebencian di dalam hati mereka terhadap seorang saudara yang telah menyakiti hati mereka, atau telah mereka kira menyakiti mereka itu. Banyak sekali ibu dan bapak membiarkan anak-anak mereka tidak diselamatkan hanya karena pemuasan hati yang celaka di dalam hal membenci seorang saudara.

    6. Petrus 3:7; "Hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan istrimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."

    Di sini diterangkan dengan jelas, bahwa suatu hubungan yang salah di antara suami dan istri adalah halangan bagi doa. Banyak sekali terjadi doa-doa suami terhalang karena kegagalan mereka dalam melaksanakan kewajiban mereka terhadap istri mereka. Begitu juga sebaliknya, istri gagal memenuhi kewajiban mereka terhadap suami mereka. Jika suami-suami dan istri-istri mau mencari hal yang membuat doa-doa mereka yang tidak mendapat jawaban dengan rajin, sering kali mereka mendapati sebab-sebabnya ada dalam hubungan mereka yang tidak benar.

    Banyak laki-laki yang suka menuntut kealiman (kesalehan) dan sangat aktif (rajin) di dalam pekerjaan kekristenan, hanya menunjukkan sedikit perhatian di dalam hal memelihara istrinya, dan sering kali kurang baik hati atau kasar; kemudian ia bertanya-tanya mengapa doanya tidak mendapat jawaban. Ayat yang telah kita kutip di atas menerangkan rahasianya. Sebaliknya, banyak orang perempuan yang sangat rajin dan cinta kepada gereja dan sangat beriman di dalam segala pelayanan gereja, mempermalukan suaminya dengan kelalaian yang tidak mengenal maaf, bersungut-sungut dan menyesal terhadap dia, melukai dia dengan kata-kata yang tajam dan amarahnya yang tak dapat dikendalikan itu; kemudian ia bertanya- tanya mengapa ia tidak mendapat kuasa di dalam doanya. Ada perkara- perkara lain yang berhubungan dengan suami-istri yang tak dapat dibicarakan kepada umum, tetapi yang pasti, sering kali hal itu merupakan halangan di dalam kita menghampiri Allah di dalam doa. Ada banyak dosa yang terselubung di bawah kesucian perkawinan, yang dapat menyebabkan kematian rohani dan kelemahan di dalam doa. Seorang laki-laki atau perempuan yang doa-doanya seakan-akan tidak mendapat jawaban, baiklah menghadapkan seluruh kehidupan perkawinannya di hadapan Tuhan, dan minta kepada Dia supaya Ia menunjukkan segala sesuatu yang tidak memperkenankan Dia.

    7. Yakobus 1:5-7, "Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikannya kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang- ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."

    Doa-doa dapat dihalangi oleh "ketiadaan iman". Allah menuntut supaya kita percaya kepada firman-Nya. Bersoal jawab tentang hal ini menjadikan Dia pendusta. Banyak di antara kita meragukan perjanjian Allah tatkala kita memohon perjanjian itu. Karena itu, tidak heran kalau doa-doa kita tak mendapat jawaban. Banyak doa kita terhalang oleh kelemahan iman kita yang celaka itu! Kita menghadap Tuhan dan minta kepada-Nya sesuatu yang pasti dan telah dijanjikan di dalam firman-Nya, tapi kemudian kita mengharap agar tidak lebih dari seperdua dari pengharapan itu digenapkan-Nya. "Maka orang yang semacam itu janganlah menyangka bahwa ia akan beroleh suatu barang dari Tuhan."

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Bagaimana Kita Patut Berdoa
    Judul asli buku : How to Pray
    Judul asli artikel : Halangan-Halangan di dalam Doa
    Penulis : R.A. Torrey
    Penerjemah : R.G. Yohanes
    Penerbit : YAKIN, Surabaya
    Halaman : 61 -- 71

    e-JEMMi 40/2009

    Hati Tuhan untuk Semua Bangsa: Kehendak Allah Bagi Dunia

    "Segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu." (Mazmur 86:9)

    PANDANGAN TUHAN SEMULA

    Sejak semula Tuhan mempunyai satu kehendak untuk dunia ini, yaitu wawasan ujung bumi. Ia mau mengisi seluruh dunia dengan mereka yang menyembah kepada-Nya. Dalam Kejadian 1:28 Tuhan memberikan satu perintah yang jelas, "Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Perintah ini diulangi lagi kepada Nuh tatkala ia keluar dari bahtera sesudah air bah, "Beranak-cuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi" (Kejadian 9:1). Dan ketika Tuhan memanggil Abraham Ia berkata, "Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat" (Kejadian 12:3). Dalam surat Galatia (3:9,14) Paulus menjelaskan bahwa dengan berkat tersebut suku-suku bangsa di dunia ini akan diselamatkan.

    Tidak hanya dalam kitab Kejadian saja kita melihat Tuhan mempunyai satu penglihatan yang mencakup seluruh dunia. Dalam Mazmur 86:9 kita pun mendengar bahwa suku-suku bangsa di dunia ini diciptakan Tuhan untuk satu maksud saja, yaitu supaya mereka memuliakan dan menyembah Dia. Dengan kata lain, Tuhan tidak puas kalau hanya satu golongan saja memuliakan Dia. Ia ingin semua suku bangsa masuk dalam koor yang menyembah-Nya sehingga dalam Mazmur 2:8 Tuhan berkata, "Mintalah kepada-Ku, maka bangsa-bangsa akan kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu."

    Nabi Yesaya memberitakan satu pesan Tuhan, "Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi" (Yesaya 49:6). Dalam khotbahnya di Antiokhia, di Pisidia (Kisah Para Rasul 13:47-49), Paulus mengutip ayat ini untuk menjelaskan kepada penduduk kota yang majemuk itu bahwa ia dipanggil Tuhan untuk memberitakan Injil kepada semua suku bangsa. Masyarakat di Antiokhia pun sangat senang mendengar berita ini. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan mempunyai wawasan ujung bumi dan Injil meluas di seluruh daerah itu.

    Nabi Zakharia menjelaskan kepada kita (9:9-10), "Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya, Ia lemah lembut ... ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi."

    Pesan yang sudah Tuhan berikan dalam PL ini diulangi/ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus Kristus dalam Amanat Agung-Nya dalam Kisah Para Rasul 1:8, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

    MANUSIA MERUPAKAN SEORANG PELANGGAR HUKUM YANG MEMBUTUHKAN PEMBENARAN

    Meskipun Tuhan sudah memberikan ketentuan-ketentuan yang jelas tentang apa yang benar dan yang tidak benar, seluruh manusia masih hidup menurut kemauannya sendiri. Dengan mulutnya mereka mengakui adanya Tuhan, tetapi dalam praktiknya, kehendak Tuhan tidak dihiraukan (Markus 7:6-8). Akhirnya, daftar dosa manusia sangatlah panjang. Karena semua manusia berada di bawah kuasa dosa, seperti tertulis, "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang yang mencari Allah. Semua telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak ... rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu ... dan seluruh dunia jatuh ke bawah hukuman Allah" (Roma 3:9-19).

    Di mana ada dosa di sana pula hukuman harus dijatuhkan. Tuhan tidak bisa menerima manusia yang berada dalam keadaan berdosa. Karena manusia yang sudah berdosa itu sudah menjadi najis, ia tidak bisa bertahan di hadapan kesucian Tuhan. Atas kemauannya sendiri, manusia sudah melanggar perintah Tuhan. Hukuman kekal di nerakalah yang menanti.

    Banyak orang menghibur diri dengan harapan yang palsu bahwa Tuhan dipenuhi rahmat dan kemurahan. Memang Tuhan adalah panjang sabar, tetapi kesabaran-Nya hanya ditujukan untuk mengantar orang kepada pertobatannya. Demikianlah tertulis dalam Roma 2:4, "Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan?"

    Kehidupan yang kekal tidak diperoleh sebagai warisan turun-temurun. Aliran sungai di suatu kota tentulah berasal dari daerah pegunungan. Dan air yang jernih tentunya hanya bisa ditemukan di tempat yang menjadi sumbernya. Demikian pula bila hendak mencari kehidupan yang kekal. Pekerjaan Roh Kudus akan menuntun kita kepada sumber kehidupan, yaitu Yesus (Yohanes 1:12-13). Sebagai benih keselamatan, firman Tuhan harus didengarkan oleh setiap manusia. "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Tuhan yang hidup dan yang kekal" (1Petrus 1:23).

    KEADAAN DUNIA SEKARANG INI

    Bila melihat dunia saat ini, setidaknya enam ribu suku bangsa belum mengenal nama-Nya, apalagi menyembah-Nya. Dari sekitar 6,5 milyar umat manusia, tidak sampai setengah milyar yang menyembah Yesus dalam Roh dan kebenaran. Padahal Ia merindukan ciptaan-Nya untuk memuji dan menyembah Dia.

    Di Indonesia sendiri masih ada 127 suku bangsa yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus secara pribadi. Mereka ini sama sekali tidak memedulikan pencipta-Nya. Hal ini tentu saja membuat sedih Sang Pencipta. Ia menciptakan manusia dalam berbagai bahasa dan kebudayaan agar mereka dapat menyembah Dia dalam keberagaman tersebut. Namun, masih banyak suku bangsa yang belum mau mengakui Yesus sebagai Tuhannya (band. Wahyu 7:9-10).

    Kita patut bersyukur kepada Tuhan karena hidup dalam satu masa di mana Injil paling luas diberitakan di seluruh dunia. Diperkirakan empat juta hamba Tuhan bekerja keras untuk memberitakan Injil. Biasanya pemberitaan ini dilakukan secara lisan, tetapi ada juga yang memakai lebih dari dua ribu stasiun radio sebagai penyalur berita Injil. Banyak pula hamba Tuhan yang memakai literatur sebagai siaran Injil. Setiap tahun 70.000 judul buku Kristen diterbitkan dan diedarkan. Sekarang ini, Alkitab atau sebagian dari Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam 2.355 bahasa, dengan rincian: seluruh Alkitab 414 bahasa, hanya PB saja 1.068 bahasa, hanya sebagian saja 873 bahasa. Sementara itu, upaya penerjemahan ke dalam 720 bahasa lainnya sedang dilakukan oleh Lembaga Alkitab Sedunia.

    Dari segi pendistribusian, puluhan juta Alkitab dan PB diperkirakan telah disebarluaskan. Sedangkan ratusan juta eksemplar dari bagian-bagian Alkitab lain telah tersebar. Pemanfaatan film Yesus juga dianggap sangat efektif. Film ini telah diterjemahkan ke dalam 910 bahasa di 101 negara sehingga banyak orang yang bisa menikmati film ini dalam bahasa mereka sendiri. Film ini sendiri sering ditayangkan di TV, meskipun videonya dapat dimiliki oleh setiap orang.

    Bagaimanapun juga, jumlah orang Kristen belum pernah setinggi pada masa sekarang, yaitu sejumlah lebih kurang 200 juta orang Injili. Dari sudut geografis, Injil telah menjangkau semua negara dengan satu jemaat dan setidaknya satu persekutuan, meski di beberapa negara dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Beberapa tahun yang lalu di salah satu negara di Afrika, sebanyak lima puluh orang Kristen dipenjarakan. Sebelumnya, negara tersebut hanya memiliki segelintir orang yang percaya kepada Kristus. Tapi karena sudah pernah dipenjarakan demi Kristus, mereka tidak harus bersembunyi lagi.

    Sekarang di mana-mana ada Persekutuan Doa Penginjilan Sedunia yang menggumuli penginjilan, khususnya di negara-negara yang susah dimasuki Injil. Sebelumnya, negara Albania dan Mongolia termasuk negara yang sulit bagi Injil. Bila sebelumnya tidak terdapat jemaat Kristus, kini sejumlah orang di sana telah menjadi orang percaya. Tuhan merindukan orang-orang Kristen yang memiliki kerinduan yang sama dan mulai mengerjakan sesuatu demi perluasan kerajaan Allah.

    KALANGAN LAIN PERLU MENDENGAR INJIL

    "Untuk kalangan sendiri." Catatan ini sering kita lihat di atas bacaan Kristen. Tetapi Tuhan Yesus Kristus mengungkapkan, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." Mereka yang sudah menjadi warga surga (Filipi 3:20) tidak lagi memerlukan berita keselamatan dari Yesus Kristus karena mereka sudah memilikinya. Tetapi masih ada orang yang merupakan warga asing kerajaan Allah, alias tidak memiliki hak untuk tinggal di surga; mereka adalah kalangan lain. Justru merekalah sasaran yang dikehendaki Tuhan Yesus Kristus supaya diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Timotius 2:4).

    Siapakah yang harus membawa Injil kepada mereka yang masih di luar kerajaan Tuhan? Paulus berkata, "Aku berhutang, baik kepada orang Yunani maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar maupun kepada orang tidak terpelajar. Itulah sebabnya aku ingin untuk memberitakan Injil kepada kamu juga yang diam di Roma" (Roma 1:14-15). Dalam dunia ini ada dua macam hutang, yang pertama karena seseorang meminjam uang. Yang kedua kalau sesuatu dititipkan kepada seseorang untuk diteruskan kepada orang lain, jadi selama ia belum meneruskan titipan ini, ia berhutang. Paulus berhutang karena Injil dititipkan kepadanya supaya diberikan kepada mereka yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya (Roma 15:21). Kita yang percaya juga berhutang terhadap semua orang lain yang belum menerima Yesus sebagai Juru Selamat pribadi. Sebenarnya, kita tidak memiliki Injil karena Injil hanya dititipkan kepada kita supaya kita meneruskannya kepada kalangan yang lain.

    BAGAIMANA RESPONS KITA?

    Bagaimana kehendak Allah untuk dunia? Tuhan menghendaki agar semua suku bangsa, sampai ujung bumi, diselamatkan dan mereka memuliakan nama-Nya! Bagaimana bagian kita? Semua suku bangsa sampai ujung bumi ini pasti akan dijangkau oleh Injil; firman Tuhan menceritakan hal ini. Tetapi apakah Saudara/i ikut ambil bagian dalam usaha Ilahi yang agung ini? Apakah Saudara/i hanya akan duduk saja dengan enak di kursi dan menonton perbuatan Tuhan sampai suku bangsa terakhir tercapai dengan Injil? Tentu saja hal ini tidak mungkin menjadi rencana Allah untuk kita.

    Para Rasul memberi respons yang lain, mereka menaati Amanat Agung yang diberikan kepada mereka. Yesus berkata, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu" (Matius 28:18-20). Dan mereka pun memberitakan Injil ke segala penjuru (ujung bumi) dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya (Markus 16:20). Tentu saja Yesus bisa bekerja tanpa kita. Ia akan bertemu dengan orang percaya lain yang setia dalam tugas yang mulia ini, tetapi apakah kita dapat hidup kekal tanpa menjalankan Amanat Agung Tuhan lebih dahulu? (Perhatikanlah tantangan ini dalam renungan pribadi dengan membaca Yehezkiel 3:16- 21; 33:1-9.) Lebih baik kita berseru kepada Tuhan, supaya kita mendapat hak istimewa mengambil bagian dalam usaha yang mulia ini. Lebih baik pula bila kita memberi diri untuk menjadi bagian dalam rencana Tuhan Yesus Kristus.

    Mari menjadi orang yang berbeban untuk suku-suku bangsa yang belum terjangkau oleh Injil dan memulai merencanakan satu usaha pekabaran Injil untuk memberitakan Injil Keselamatan surgawi kepada mereka.

    *) Dikirim via email kepada Redaksi e-JEMMi oleh WJ, seorang pengamat setia e-JEMMi dan pelayan pada sebuah organisasi misi.

    e-JEMMi 45/2006

    Ini Aku, Tuhan

    Apakah yang Anda perlukan bila Tuhan memanggil Anda menjadi hamba-Nya?

    Alkitab mencontohkan banyak orang yang dipanggil Tuhan. Kita dapat melihat karakter mereka dan bagaimana Tuhan mempersiapkan mereka untuk bekerja bagi-Nya. Salah satu tokoh terkenal yang dipanggil Tuhan dalam Perjanjian Lama adalah Musa. Kisah pemanggilannya dapat kita lihat dalam Keluaran 3.

    Musa lahir sebagai orang Ibrani yang diperbudak oleh orang Mesir. Dengan cara yang unik ia menjadi pangeran di istana Firaun. Upayanya membantu saudara sebangsanya memaksanya menjadi pelarian. Ia menetap di padang gurun dan menikahi gadis setempat. Selama empat puluh tahun ia menjalani hidup sederhana sebagai gembala yang menjaga ternak mertuanya.

    Saat menggembalakan kawanan ternaknya, ia berjumpa dengan Tuhan, dan hidupnya pun berubah. Perhatikan: Musa tidak sedang berdoa dan tidak sedang mencari Allah, juga tidak sedang ziarah. Allahlah yang mencarinya. Perhatikan apa yang Allah katakan pada Musa dan apa yang Musa katakan kepada Allah.

    APA YANG ALLAH KATAKAN KEPADA MUSA

    1. Allah menarik perhatian Musa.

    Tuhan membuat semak duri yang terbakar tanpa membuat daunnya terbakar dan dahannya menghitam. Musa berpikir bahwa hal itu aneh dan ia mendekat untuk melihat lebih jelas. Kemudian Allah memanggilnya, "Musa, Musa."

    Tuhan berbicara dengan kita. Ia mengenal kita secara pribadi dan memanggil kita dengan nama. Itulah cara Pencipta alam semesta berkomunikasi dengan kita. Ia ingin kita berkomunikasi secara pribadi dan khusus dengan-Nya. Ia ingin kita berbicara dengan-Nya dan Ia akan berbicara dengan kita.

    Tuhan ingin menarik perhatian kita dan berbicara dengan kita. Tetapi seringkali kita terlalu sibuk atau terlalu dibingungkan oleh masalah kita sendiri. Kita berkata, "Tuhan, aku tidak bisa berbicara sekarang. Aku punya banyak sekali masalah." Kita mendapati betapa sulit untuk mendengarkan Allah. Kadang kita hanya mendengarkan Allah ketika kita sedang sakit. Jika harus menghabiskan waktu beberapa minggu di rumah sakit sehingga tidak punya hal lain untuk dikerjakan, barulah kita mau mendengarkan-Nya.

  • Tuhan membagikan keprihatinan-Nya.
  • Lalu Tuhan pun membagikan hati-Nya (ayat 7), "Aku telah melihat, Aku telah mendengar."

    Tuhan tahu apa yang telah terjadi dan Ia peduli.
    Tuhan tahu apa yang telah terjadi pada umat-Nya.
    Tuhan tahu apa yang sedang terjadi di dunia-Nya.
    Tuhan melihat penderitaan yang sangat besar di dunia-Nya.

    Ia melihat mereka yang berjalan dalam kegelapan, bagai domba tanpa gembala. Tuhan tahu, peduli, dan membagikan keprihatinan-Nya dengan Musa. Ia peduli pada mereka yang menderita di dunia-Nya dan Ia memanggil kita, sebagai anak-anak-Nya untuk menunjukkan belas kasihan-Nya.

  • Tuhan mengatakan kepada Musa untuk melakukan sesuatu.
  • "Aku mengutus engkau ...." (ayat 10). Aku mengutus engkau untuk memenuhi kebutuhan itu. Itulah hal yang tidak ingin didengar oleh Musa. Tuhan berkata kepada kita, "Lihatlah kebutuhan di sekelilingmu. Lihatlah berjuta-juta orang yang tidak mengenal-Ku. Lihatlah pada sekitar 1,2 milyar orang di Cina yang tidak mengenal Kristus. Lihatlah anak yatim piatu, gelandangan, orang miskin, mereka yang ada di penjara, orang sakit, orang yang kelaparan. Aku mengutusmu untuk mereka."

    Yesaya melihat Tuhan di Bait Allah dan ia mendengar Tuhan berkata, "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Respon Yesaya adalah, "Ini aku, utuslah aku!"

    Inilah yang telah Ia lakukan sejak permulaan Alkitab. Ia telah memanggil pria dan wanita untuk melayani-Nya - Abraham, Musa, Daud, Elia, Petrus, Paulus. Ia memanggil mereka untuk melakukan pengorbanan besar dan menghadapi risiko yang sangat besar. Saat ini Ia memanggil setiap kita yang mengenal-Nya untuk hidup menyenangkan- Nya. Itulah panggilan kita yang mendasar.

    YANG MUSA KATAKAN KEPADA ALLAH

    1. Siapakah aku?

    Musa berkata, "Aku orang yang keliru. Aku sungguh-sungguh tidak tepat. Aku tidak ingin melakukannya." Ia benar-benar merasa tidak cakap meski suatu waktu ia merasa benar-benar penting dan percaya diri. Tapi setelah empat puluh tahun di padang gurun, ia sadar bahwa ia bukan orang yang istimewa. Ia hanyalah seorang gembala dan ia jauh lebih rendah hati. Kita perlu kerendahan hati untuk melayani Tuhan. Paulus mengatakan bahwa kita tidak seharusnya memikirkan diri kita lebih tinggi daripada yang seharusnya kita pikirkan. Kerendahan hati menjadi kualitas dasar dalam pelayanan kepada Tuhan.

    Musa berkata, "Siapakah aku ini sehingga aku harus pergi? Aku tidak cakap."

    Banyak tokoh Alkitab yang berkata demikian. Kapan pun kita berkata bahwa kita lemah dan tidak cakap, Tuhan tidak pernah setuju. Ia berkata, "Aku tahu bahwa Anda tidak cakap. Engkau sedang melihat kepada dirimu sendiri dan kemampuanmu. Engkau perlu melihat kepada- Ku dan memercayai-Ku." Ia berkata, "Aku akan menyertaimu. Suatu hari nanti Aku akan membawamu kembali ke gunung ini."

  • Siapakah Kamu?
  • Siapa namamu? Ketika menanyakan nama seseorang dalam bahasa Ibrani, sesungguhnya Anda sedang menanyakan karakter mereka. Sebenarnya yang ditanyakan Musa adalah, "Tuhan seperti apakah Engkau? Apa yang akan Kau lakukan bagi kami?" Ia sedang berkata kepada Allah, "Aku tidak tahu banyak tentang Engkau. Kita mungkin sering merasa seperti itu. Karena itu, kita perlu mengetahui Alkitab dengan baik dan akrab dengan doktrin utama iman Kristen.

    Tuhan tidak langsung menjawab pertanyaan Musa. Ia memberi suatu janji bahwa Ia akan menyertai Musa. "Percayalah bahwa apa pun yang akan kau hadapi, apa pun masalah dan kesulitan yang kau hadapi, Aku akan ada di sana dan kau akan melihat-Ku bekerja." Jika Anda akan melayani Tuhan, Anda harus memiliki hubungan yang bertumbuh dan semakin dalam dengan Tuhan. Anda harus tahu tentang Alkitab tapi yang lebih penting lagi adalah sikap bahwa Anda bermaksud untuk terus berjalan semakin dekat dengan Tuhan.

  • Bagaimana tentang mereka? (Keluaran 4:1)
  • Mereka tidak akan percaya. Itu bukan tak beralasan. Jika Musa keluar dari padang gurun dan mengklaim bahwa ia telah melihat visi dari Tuhan, sebagian besar orang tidak akan percaya. Orang tidak memercayai Yohanes Pembaptis atau Tuhan Yesus untuk alasan yang sama. Inilah masalah sesungguhnya saat ini. Kita tidak dapat meyakinkan orang dengan hikmat atau kepandaian kita sendiri. Kita hanya dapat percaya bahwa Tuhan akan mengubah mereka. Kita perlu bersandar pada kuasa Roh Kudus. Inilah yang Tuhan katakan kepada Musa, "Kau harus belajar menggunakan kekuatan-Ku dan tidak memercayai kekuatanmu." Jadi, Tuhan memberi Musa kemampuan untuk melakukan tiga mujizat untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya.

    Pertama dengan memasukkan tangan Musa ke jubahnya dan menjadi terkena penyakit lepra. Ini adalah gambaran kuasa-Nya untuk membersihkan.

    Kedua, mengubah tongkat menjadi seekor ular. Ini adalah gambaran kuasa-Nya untuk mengatasi ketakutan kita.

    Terakhir, mengubah air menjadi darah. Ini adalah gambaran kuasa Tuhan melawan kekuatan jahat - karena sungai Nil disembah sebagai tuhan oleh bangsa Mesir.

    Ketiganya adalah peringatan bagi kita tentang perlunya bersandar pada kuasa Tuhan. Orang-orang sudah bosan dengan kata-kata. Mengapa mereka harus mendengarkan kata-kata Anda? Orang harus bisa melihat kehadiran Yesus di dalam hidup Anda. Jika Anda akan melayani Tuhan, ada kualitas penting, yaitu mendemonstrasikan kuasa Tuhan dan kehadiran Yesus di dalam hidup Anda.

  • Aku tidak bisa. (Keluaran 4:10)
  • "Tuhan," katanya. "Aku tidak memiliki karunia yang tepat. Aku tidak memiliki kualifikasi-kualifikasi yang tepat." Adalah penting untuk memiliki karunia-karunia dan kualifikasi-kualifikasi yang tepat. Dan Musa memiliki beberapa kualifikasi yang sangat bagus untuk pekerjaannya. Musa juga memiliki latar belakang yang tepat. Ia besar di istana dan tahu bagaimana segala sesuatu dijalankan di istana. Itu penting. Musa memiliki pendidikan yang bagus, pendidikan terbaik yang ada saat itu. Ia dididik dalam segala hikmat orang Mesir, menurut Kisah Para Rasul 7:22, termasuk pendidikan pemerintahan, hukum, strategi militer, dll. Memiliki kualifikasi yang baik masih menjadi hal yang penting. Bagi beberapa negara, tidak mungkin mendapatkan izin masuk tanpa memiliki kualifikasi yang baik.

    Musa pun memiliki pengalaman praktis yang baik. Ia telah mengembara selama empat puluh tahun di padang gurun. Tahu setiap jalan, setiap oasis, dan setiap bahaya. Pengalaman ini penting karena ia akan memimpin orang Israel melalui padang pasir selama empat puluh tahun dan membantu mereka untuk bertahan hidup. Kita memerlukan pengalaman praktis. Jika Anda mau pergi ke Cina atau Vietnam untuk meneruskan profesi, Anda harus mendapat pengalaman tentang bidang tersebut di negara Anda. Baik juga untuk mendapatkan pengalaman praktis dalam pelayanan Kristen, pengalaman dalam mengajar dan memimpin pendalaman Alkitab, pemuridan, dll.

    Anda perlu memiliki karunia yang tepat tapi Musa tidak berpikir bahwa ia memiliki karunia yang tepat. Ia berkata kepada Tuhan, "Jangan memintaku melakukan hal ini. Aku tidak bisa berbicara dengan benar." Beberapa orang mendapat kesan bahwa ia gagap. Perhatikanlah bahwa ia sedang berbicara dengan Pencipta yang menciptakannya. Ia juga tidak percaya bahwa Tuhan dapat mengubah keberadaannya. Tuhan dapat mengubah kita. Kita harus percaya hal itu. Tuhan dapat menolong kita mengembangkan karunia kita. Tuhan dapat memberi kita karunia-karunia yang kita tidak pernah tahu. Jika mau menjadi hamba Tuhan, kita harus tahu apa karunia-karunia kita. Anda harus mengembangkan karunia-karunia yang Anda miliki dan mulai menggunakannya. Anda harus percaya bahwa Tuhan dapat mengubah dan membantu melakukan banyak hal yang Anda pikir tidak bisa dilakukan.

  • Aku tidak mau. (Kejadian 4:13)
  • Musa berkata, "Aku tidak mau pergi. Tolong kirim orang lain saja." Ia tidak mau pergi. Ia merasa takut. Musa merasa nyaman di tempat ia berada. Ia tidak mau meninggalkan rumah atau keluarganya. Meninggalkan rumah dan keluarga memang sulit. Tapi kadang, ada klaim yang lebih tinggi. Yesus mengatakan bahwa Anda harus mengasihi Dia lebih dari kasihmu pada ibu atau ayah atau saudara laki-laki atau perempuan. Meninggalkan rumah memang berbahaya. Musa pun menghadapi banyak bahaya. Yesus mengatakan bahwa mengikut Dia memang akan berbahaya. Tapi kita percaya bahwa hidup kita ada di tangan-Nya dan Ia akan menjaga kita.

    Mengikut Yesus memang mahal. Jika kita berkata "ya" pada Tuhan, ada suatu harga yang harus dibayar. Jika kita berkata "tidak" pada Tuhan, ada suatu harga yang harus dibayar pula. Jika Musa berkata tidak dan tidak mengubah pikirannya, ia akan kehilangan semua berkat yang akan ia terima sebagai pemimpin umat Tuhan. Ia akan kehilangan hak istimewa untuk melihat kuasa Tuhan yang sedang bekerja di Mesir, mengalami keajaiban Paskah, menyeberangi Laut Merah, penyediaan makanan dan minuman di padang gurun, menikmati delapan puluh hari di hadapan Allah, dll. Jika kita ingin melayani Tuhan, ada kualitas yang harus kita perlihatkan. Kita harus realistis tentang harga. Kita harus bersedia berkorban. Kita harus mau meletakkan Yesus di atas keluarga, keselamatan, atau kenyamanan.

    (Oleh: Christopher David Harley)

    Bahan diringkas dan diedit dari:

    Bahan Seminar Mahasiswa Indonesia Menuai (MIM), Yogyakarta, 22-25 Agustus 2005


    e-JEMMi 23/2006

    International Day of Prayer (IDOP)

    TINJAUAN UMUM

    Secara umum tinjauan IDOP 2006 tentang penganiayaan berfokus pada masalah-masalah keterbukaan dan kebebasan beragama yang sedang menjadi tren dunia. Namun, karena keterbatasan tempat, hanya kasus yang paling kritis dan strategis saja yang akan dibahas di sini. Secara garis besar, penganiayaan orang Kristen di berbagai negara rata-rata situasinya mirip dengan deskripsi berikut.

    KETERBUKAAN DAN KEBEBASAN BERAGAMA

    Kebebasan beragama telah membuat gereja-gereja bawah tanah muncul sebagai saluran berkat bagi komunitas mereka, termasuk bagi perluasan kerajaan Allah. Ideologi dan politik yang menentang kebebasan beragama adalah pekerjaan setan dalam melawan perluasan kerajaan Allah sekaligus penyebab utama penganiayaan terhadap gereja.

    Dalam sistem politik dan agama yang diktator, penindasan - penolakan terhadap kebebasan - adalah poros kekuasaannya. Para diktator agama dan politik mengesampingkan hak-hak asasi manusia demi mempertahankan kerajaan mereka. Dengan sistematis mereka menolak kebebasan beragama untuk melindungi diri mereka dari berbagai pandangan kritis, juga agar tidak kehilangan pengikut.

    Mereka yang menolak kebebasan akan berusaha menekan keterbukaan dalam rangka menghapus pilihan-pilihan. Tapi saat ini, derasnya informasi makin susah dibendung. Sekali ada kesempatan untuk keterbukaan, orang-orang akan dengan segera ingin menyuarakan pendapatnya dan memberi tanggapan berdasar informasi yang mereka terima dengan bebas.

    Dunia sedang bergerak menuju keterbukaan. Globalisasi dan perkembangan teknologi tinggi, terutama teknologi informasi dan komunikasi seperti internet, radio, satelit, dan telepon genggam telah membuat transisi ke era serba terbuka ini tak bisa dihindari. Perlawanan terhadap tren ini menyebabkan jumlah penganiayaan meningkat.

    Banyak orang maupun bangsa yang mulai melihat bahwa keterbukaan dan kebebasan amat penting bagi modernisasi, kerja sama ekonomi global, dan kemakmuran. Di beberapa negara terdapat masyarakat yang menginginkannya namun pemerintahnya menentang. Sementara itu, di negara lain, pemerintahnya mendukung tapi rakyatnya menentang hal itu.

    Tren dunia yang serba terbuka mendapat reaksi keras dari pihak yang terancam. Tapi arus informasi yang makin deras lewat teknologi informasi dan komunikasi kian memicu keberanian dalam mengungkapkan pendapat yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada dekade mendatang.

    Tahun-tahun ini adalah masa-masa penting bagi gereja untuk waspada dan berdoa bagi bangsa-bangsa dan gereja-gereja yang teraniaya. Mereka harus menyikapi peranannya sebagai saluran berkat bagi dunia dengan serius.

    Di Bhutan, pemerintah yang telah tercerahkan akan berusaha dengan tekun untuk menciptakan kemajuan, kemakmuran, dan kebebasan bagi rakyatnya. Pemerintah dari negara yang mayoritas penduduknya beragama non-Kristen ini telah memperkenalkan konstitusi yang baru dan positif untuk negara yang dulunya tertutup ini. Bahkan, Raja Bhutan telah mengubah bentuk pemerintahan dari monarki absolut ke demokrasi konstitusi. Namun, tentu saja pengikut agama non-Kristen yang nasionalis akan menentang perubahan ini. Tidak ada transisi yang tanpa perlawanan.

    Sementara itu, masyarakat Nepal yang mayoritas penduduknya beragama non-Kristen, yang juga merindukan kedamaian, keterbukaan, persamaan, dan kebebasan telah melengserkan raja yang diktator dan mengubah bentuk pemerintahan menjadi negara bebas. Kaum nasionalis Nepal dan India menyulut konflik dan berusaha membangkitkan partai politik non-Kristen. Rakyat Nepal dan pemerintahnya yang baru jelas tidak akan melalui jalan yang mulus untuk mencapai kedamaian, keadilan, kesamaan, keterbukaan, dan kebebasan beragama tanpa sebuah perjuangan.

    Adapun pemerintah liberal Maroko, negara yang mayoritas penduduknya bukan orang percaya, sedang berusaha membawa bangsanya pada keterbukaan dan persamaan. Perlindungan terhadap agama dan hak asasi telah meningkat atau paling tidak kebebasan beragama telah tercipta. Namun, beberapa kelompok orang yang belum percaya memandang perubahan ini sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kepercayaannya. Oleh karena itu, perubahan yang perlu terjadi di sana bukanlah perubahan tanpa suatu perjuangan.

    Hal yang serupa terjadi di India yang mayoritas penduduknya beragama non-Kristen. Pemerintah federal India sekarang telah mendukung keterbukaan dan menjunjung tinggi kebebasan beragama sebagai sesuatu yang penting dan secara hukum merupakan hak asasi. Tapi kelompok nasionalis non-Kristen menentang hal ini. India yang dipimpin oleh kaum nasionalis non-Kristen menekan orang Kristen meski tanpa hukuman. Mereka berusaha memengaruhi situasi politik secara luas untuk meraih suara dalam pemilu 2009. Jika pemerintah nasionalis non-Kristen kembali memegang kekuasaan, India akan kembali menjadi negara non-Kristen. Keterbukaan dan kebebasan beragama pun akan terancam oleh kekuatan nasionalis non-Kristen. India sedang berada pada masa kritis.

    Di negara-negara Barat, di mana kekristenan diperjuangkan sepanjang sejarah, kebebasan beragama dinodai oleh pertikaian antara kelompok pro-agama dan kontra-agama. Mereka yang ingin memanfaatkan atau menghapuskan kebebasan Barat menghadapi pertentangan dari masyarakat yang berkeinginan menghancurkan pendirian sistem masyarakat liberal. Dengan dihapusnya fondasi liberalisme Barat, akar kebebasan beragama tidak dapat menancap kuat. Hasutan-hasutan dari gerakan anti liberalisme akan menghancurkan para pendukungnya. Keterbukaan dan kebebasan beragama di Barat mengalami ancaman yang lebih dari yang dikira masyarakat Barat - bukan karena kekuatan lain akan mencuri hak itu, tapi karena bangsa Barat menyerah pada mereka.

    Di negara Cina yang diperintah Partai Komunis Cina (PKC), jumlah elemen masyarakat yang terdidik semakin banyak dan semakin terbuka pada dunia luar. Mereka ini menuntut keterbukaan dan kebebasan yang lebih luas. Sementara itu, pihak pemerintah berusaha untuk menyeimbangkan sektor ekonomi, sosial, keagamaan, dan politik agar kekuasaan PKC tetap kuat dalam mengatur perekonomian. Kini PKC merasa terancam oleh berkembangnya tuntutan untuk pembaruan. Kaum Maois sekarang menjadi minoritas. Bahkan mantan tokoh aliran Maois penting juga menyerukan keterbukaan dan kebebasan demi kemakmuran ekonomi. PKC mengontrol kekuatan-kekuatan dan pergerakan sosial dengan menekan para intelektual dan keterbukaan serta kebebasan politik dan agama. Usaha untuk menentangnya sedang dilakukan dan tekanan dari kaum Komunis sedang terancam!

    Sementara itu, makin banyak mahasiswa dan perempuan di Iran yang mempertaruhkan nyawanya untuk menyerukan pembaruan dalam kesetaraan, keterbukaan, dan kebebasan. Aksi protes yang berani mereka lakukan harus berbenturan dengan kekuatan Pasukan Revolusioner dan milisi- milisi bersenjata. Keputusasaan menyebabkan bunuh diri dan meningkatnya pembuatan roket udara. Kejayaan budaya Persia yang kaya dengan kreasi seni dan kemajuan intelektual telah ditekan oleh kekuatan aliran garis keras sejak revolusi tahun 1979. Perjuangan untuk keterbukaan dan kebebasan sangat diperlukan. Ini ibarat perjuangan Daud melawan Goliat, yang akan berhasil jika Tuhan ikut campur tangan dalamnya.

    Di Korea Utara, lewat pemerintahan junta Stalinis, mereka yang mengusulkan keterbukaan dan kebebasan telah dihantam dan dicuci otak. Namun, setelah lebih dari separuh abad mengisolasi diri, ada celah yang muncul untuk melihat dunia luar. Kesulitan terbesar terletak pada manusia-manusia yang telah kebal akibat kebohongan dan propaganda selama lima puluh tahun. Namun, Tuhan menciptakan manusia untuk berhubungan dengan-Nya dan dengan kerinduan untuk kebenaran rohani. Usaha perlawanan untuk keterbukaan dan kebebasan sangat dibutuhkan.

    Saat bangsa-bangsa di dunia terbuka, mau tidak mau, masalah utama di antara berbagai hasutan dan konflik adalah kebebasan beragama. Tiap orang harus mempunyai hak untuk memilih Kristus, menyembah dan mempelajari Alkitab, berdoa bersama orang percaya yang lain, dan melayani Tuhan melalui misi dan pelayanan sesuai dengan talenta dan panggilannya. Yesus memanggil, "Datang dan terimalah dengan cuma-cuma." Gereja berdiri di garis depan dalam pertempuran jasmani dan rohani untuk kebebasan ini!

    Orang Kristen harus memiliki kebiasaan melihat dan membaca berita dengan pertanyaan di benak mereka, "Bagaimana hal ini memengaruhi gereja?", sambil berdoa dalam hati, "Tuhan bagaimana perasaan-Mu tentang semua ini?" Hal ini akan membantu kita dalam membaca perubahan zaman (Lukas 12:54-56) agar doa kita cerdas, penuh strategi, dan bernilai. Tidak ada yang lebih buruk daripada gereja yang tidak mau ikut dalam peperangan rohani hanya karena mereka tidak tahu di manakah garis depan itu! (t/dian&ary)

    Sumber diterjemahkan dan disunting dari:

    Judul asli : International Day of Prayer (IDOP)
    Penulis artikel : tidak dicantumkan
    Alamat situs : http://www.idop.org/overview.html

    e-JEMMi 44/2006

    Kapan Kita Memerlukan Revival?

    Berikut ini adalah 50 "gejala" kebutuhan lawatan baru dari Roh Kudus!!

    Kita Membutuhkan 'REVIVAL' (Kebangunan Rohani) ...

    ... ketika kita tidak mengasihi Dia seperti yang dulu kita lakukan.

    ... ketika kepentingan dan kesibukan duniawi lebih penting bagikita daripada kekekalan.

    ... ketika kita lebih suka melihat televisi, membaca buku dan majalah sekuler daripada membaca Alkitab dan berdoa.

    ... ketika kita lebih suka menghadiri aktivitas sosial atau jamuan makan malam di Gereja daripada menghadiri persekutuan doa.

    ... ketika konser lebih menarik daripada persekutuan doa.

    ... ketika kita hanya memiliki sedikit keinginan atau bahkan tidak memiliki keinginan sama sekali untuk berdoa.

    ... ketika kita lebih suka menerima uang daripada membagikan uang.

    ... ketika kita memilih orang yang tidak memenuhi standar Alkitab dan menempatkannya sebagai pemimpin di gereja kita.

    ... ketika kehidupan Kekristenan kita tidak memiliki sukacita dan semangat.

    ... ketika kita mengetahui kebenaran di dalam benak kita namun tidak menerapkan kebenaran itu dalam hidup kita.

    ... ketika kita hanya memiliki sedikit usaha untuk bersaksi bagijiwa yang tersesat.

    ... ketika kita punya waktu untuk olah raga, rekreasi dan hiburan, tetapi tidak ada waktu untuk mempelajari Alkitab dan berdoa.

    ... ketika hati kita tidak lagi tergetar saat mendengar Firman Allah.

    ... ketika khotbah tidak lagi menyadarkan akan dosa kita atau membuat kita bergumul karena tidak ada api dan urapan Roh Kudus yang membakar semangat rohani.

    ... ketika kita jarang memikirkan kekekalan.

    ... ketika umat Allah lebih memperhatikan pekerjaan dan karir daripada Kerajaan Kristus dan keselamatan orang yang terhilang.

    ... ketika umat Allah berkumpul bersama dengan sesama umat percaya.iman, namun pembicaraan utamanya adalah berita TV, cuaca, olah raga dan tidak membicarakan tentang kekekalan.

    ... ketika pelayanan gereja dapat diramalkan dan dianggap sebagai rutinitas biasa.

    ... ketika sesama saudara seiman saling berselisih dan tidak merasa perlu untuk mengadakan rekonsiliasi.

    ... ketika suami dan istri Kristen tidak lagi memiliki waktu untuk berdoa bersama.

    ... ketika pernikahan adalah simbol kasih tapi tidak lagi dipenuhi oleh kasih Kristus.

    ... ketika anak-anak kita bertumbuh dan mulai mengadopsi nilai-nilai dunia, filosofi sekuler, dan gaya hidup orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

    ... ketika kita lebih memperhatikan pendidikan dan kegiatan atletik/sosial anak-anak kita daripada memperhatikan kebutuhan jiwanya.

    ... ketika dosa di gereja disembunyikan/ditutup-tutupi.

    ... ketika dosa-dosa yang kita sadari tidak segera dibereskan dengan proses disiplin alkitabiah untuk memperbaiki kehidupan rohani.

    ... ketika kita mentolerir 'dosa kecil' seperti gosip, kritikan, dan kurangnya kasih.

    ... ketika kita mulai suka melihat sajian yang tidak kudus dalam TV dan film-film bioskop.

    ... ketika puji-pujian kita naikkan dengan setengah hati dan penyembahan kita berikan dengan tidak tulus.

    ... ketika doa kita merupakan kata-kata kosong yang dibuat sedemikian rupa untuk membuat orang lain terkesan.

    ... ketika doa-doa kita kurang bersungguh-sungguh.

    ... ketika hati kita beku dan mata kita kering.

    ... ketika kita tidak lagi melihat bukti dari kuasa supranatural Allah.

    ... ketika kita berhenti menangis, meratap dan bersedih atas dosa kita dan dosa orang lain.

    ... ketika kita menghadapi hidup dengan kekristenan yang masuk akal dan biasa-biasa saja.

    ... ketika kita bosan untuk menyembah Tuhan.

    ... ketika orang harus diberi hiburan agar tertarik ke gereja.

    ... ketika musik dan pakaian kita mulai mengikuti pola dunia.

    ... ketika kita mulai cocok dan beradaptasi dengan dunia daripada mengajak dunia untuk mengadaptasi standar kekudusan Allah.

    ... ketika kita tidak memiliki kerinduan untuk berkumpul dan bersekutu dengan sesama umat Allah.

    ... ketika orang harus diminta dan dimohon untuk memberi dan melayani di gereja.

    ... ketika pemberian kita diukur dan dikalkulasi, tapi pemborosan kebutuhan pribadi dianggap sudah sewajarnya.

    ... ketika kita tidak lagi melihat orang-orang yang terhilang dibawa pada Yesus.

    ... ketika kita tidak melatih iman dan percaya kita pada Allah sebab dianggap mustahil.

    ... ketika kita lebih memperhatikan apa yang dipikirkan orang tentang kita daripada apa yang Allah pikirkan tentang kita.

    ... ketika kita tidak tergerak oleh kenyataan bahwa 2,5 milyar orang di dunia ini belum pernah mendengar nama Yesus.

    ... ketika kita tidak tergerak untuk memikirkan tetangga, relasi bisnis dan sahabat yang terhilang dan tanpa Kristus.

    ... ketika dunia di sekitar kita tidak tahu atau tidak peduli akan keberadaan kita.

    ... ketika kita tidak tampil beda atau hanya membuat sedikit perbedaan dengan dunia sekuler di sekitar kita.

    ... ketika api semangat hilang dari dalam hati, perkawinan, dan gereja kita.

    ... ketika kita buta akan kebutuhan kita dan tidak pernah berpikir bahwa sebenarnya kita membutuhkan REVIVAL (kebangunan rohani).

    Sumber: Nancy Leigh DeMoss; "When Do We Need Revival?, Fifty Evidences of the Need for a Fresh Visitation of the Spirit in Revival" [Untuk versi bahasa Inggris, minta ke saya ]

    Mari kita bersama mengoreksi diri kita pribadi secara jujur. Apakah kita punya atau kehilangan semangat 'REVIVAL' dalam kehidupan kita? Marilah kita menyediakan diri untuk mau menerima kebangunan dari Roh Kudus! Dan marilah kita hidup dalam kemenangan dan sukacita melayani Tuhan dan jiwa-jiwa yang terhilang.

    e-JEMMi 01/2001

    Kapan Yesus Lahir?

    Sejak pertengahan bulan November, suasana Natal sudah mulai dihembuskan oleh pusat-pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Pada saat itu gereja sendiri mungkin baru membentuk panitia Natal. Seakan tidak mau kehilangan waktu, dunia bisnis, melalui dekorasi pohon cemara bersalju, rusa, dan kereta salju serta bingkisan hadiah memberikan dorongan psikologis kepada calon pembeli untuk segera berbelanja. Suasana serba putih yang diciptakan dari tahun ke tahun itu juga membentuk citra bahwa Kristus lahir di musim dingin yang bersalju di kota kecil bernama Betlehem.

    Pemandangan demikian jelas tidak sesuai dengan gambaran yang dilukiskan oleh Lukas mengenai peristiwa besar itu. Injil ini menulis, "Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam" (Lukas 2:8). Sejak zaman Alkitab sampai sekarang, gembala di Betlehem meninggalkan padang penggembalaan di musim dingin dengan berlindung di gua-gua yang disebut Grotto yang banyak terdapat di sekitar Betlehem. Karena malam yang dingin itu, dalam bulan Desember, apalagi tanggal 25 tidak akan ada gembala-gembala yang berada di padang bersama domba-domba. Biasanya mereka menggiring kawanan domba mereka ke padang setelah hari raya Paskah sampai hujan pertama atau salju tipis di awal Oktober. Ini berarti peristiwa kelahiran Yesus terjadi dalam selang waktu di antara Paskah di awal April sampai awal Oktober. Usaha untuk mendapatkan tanggal dan bulan kelahiran-Nya yang tepat ternyata tidak membuahkan hasil yang memuaskan, sehingga tanggal 25 Desember tetap dipakai sebagai patokan. Alasan yang dikemukakan biasanya, "Tidak ada seorang pun tahu kapan Ia lahir. Karena sudah ada yang menetapkan lebih dulu 25 Desember, maka kita pakai saja, yang penting kita memberikan satu hari dalam satu tahun untuk merayakan kelahiran-Nya." Bagi orang yang memiliki sikap kritis dalam mencari kebenaran sejarah, jawaban ini tentu belum cukup memuaskan. Penyelidikan di lingkungan Kristen selama ini dilakukan dengan melupakan suatu prinsip penting dalam kehidupan Yesus bahwa Ia datang untuk menggenapi Taurat dan bukan meniadakannya (Matius 5:17). Hal ini berarti semua kejadian penting dalam kehidupan Kristus sudah dinubuatkan oleh Taurat Musa. Dalam hal ini, Hukum Taurat merupakan tolok ukur untuk menunjukkan siapa Mesias yang sesungguhnya akan datang.

    Tujuh Hari Raya Tuhan

    Hukum Taurat dalam Imamat 23 menetapkan 7 hari raya untuk diperingati dan dirayakan pada waktu tertentu setiap tahun. Hari- hari raya tersebut meliputi Paskah, Roti Tidak Beragi, Buah Sulung, Pentakosta, Sangkakala, Pendamaian, dan Tabernakel. Orang Kristen secara keliru menyangka bahwa semuanya itu adalah hari-hari raya Israel. Firman Tuhan mengatakan, "Hari-hari raya Tuhan yang kamu maklumkan untuk dikuduskan, semuanya itu adalah hari-hari raya-Ku" (KJV). Semuanya itu adalah hari-hari raya TUHAN. Setiap hari raya mengungkapkan satu segi kehidupan Yesus, yaitu Firman Tuhan yang untuk sementara waktu datang ke planet bumi dalam wujud manusia. Bahwa 7 hari raya tersebut merupakan nubuatan tentang Mesias yang semuanya digenapi secara utuh oleh Yesus dapat dijelaskan sebagai berikut:

    1. Paskah (Pesach): Yesus adalah domba Paskah kita. Inilah hari kematian-Nya.

    2. Roti tidak Beragi (Hag HaMatzah): Yesus adalah Roti Hidup, Roti tidak Beragi yang turun dari surga. Ia tidak berdosa karena ragi menyatakan dosa.

    3. Buah Sulung (Sfirat Haomer): Yesus adalah Buah Sulung kebangkitan dari kematian.

    4. Pentakosta (Shavuof): Yesus adalah Pembaptis dengan Roh Kudus.

    5. Sangkakala (Rosh HaShanah): Yesus adalah Mempelai Pria yang menjemput Mempelai Perempuan (Gereja) dalam Pengangkatan Gereja (rapture).

    6. Pendamaian (Yom Kippur): Yesus adalah Mesias orang Yahudi yang datang kedua kalinya.

    7. Tabernakel (Sukot): Yesus akan memerintah sebagai Raja Damai dalam Kerajaan 1000 Tahun.

    Dalam 7 hari raya tersebut, semua segi kehidupan Yesus yang penting sudah dan akan diungkapkan. Kematian dan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan dalam Taurat. Pengangkatan Gereja dan Kedatangan-Nya yang kedua telah dinubuatkan dalam 7 Hari Raya itu, tetapi adakah petunjuk tentang hari kelahiran-Nya? Tentu saja, pada hari raya yang ke-7 yaitu hari raya Tabernakel. Hal ini membentuk suatu pola, kalau hari raya pertama menunjuk pada kematian-Nya, maka hari raya terakhir menunjuk pada kelahiran-Nya; kalau hari raya ke-6 menunjuk pada kedatangan-Nya yang kedua, maka pada hari raya ke-7 menunjuk pada kedatangan-Nya yang pertama.

    Hari raya Tabernakel merupakan hari raya yang paling meriah di antara ke-7 hari raya dan disebut juga sebagai Festival Cahaya. Saat itu Bait Suci bagaikan bermandikan cahaya, di Serambi Wanita dipasang 4 kandil pada empat penjuru seakan-akan ingin menerangi bangsa-bangsa. Ini merupakan petunjuk bahwa Terang Dunia itu sedang datang menerangi bangsa-bangsa yang masih berada dalam kegelapan dosa. Hari raya Tabernakel juga merupakan suatu masa raya yang penuh sukacita. Dalam suasana itulah, malaikat datang kepada para gembala di padang bersama kawanan domba mereka dan berkata, "Jangan takut karena sesungguhnya aku memberitakan kesukaan besar bagi seluruh bangsa" (Lukas 2:10). Bagaimana perhitungan tanggalnya? Injil Lukas 1:5 mencatat bahwa Zakaria, suami Elisabet, kakak ipar Maria ibu Yesus, menjadi imam dari rombongan Abia. Menurut 1Tawarikh 24:10 rombongan Abia mendapat urutan ke-8 dalam tugas di Bait Suci. Tiap rombongan bertugas rutin satu minggu, dua kali dalam setahun.

    Jadwal tugas imam ditetapkan menurut kalender keagamaan yang dimulai dengan bulan Nisan yaitu pertengahan Maret. Jadi Zakaria bertugas pada pertengahan Mei. Tetapi karena hari raya Shavuot (Pentakosta) jatuh pada akhir Mei dan semua imam diminta bertugas bersama, Zakaria harus menetap di Bait Suci untuk tambahan dua minggu. Akibatnya ia baru pulang ke rumah untuk menemui isterinya pada awal minggu kedua bulan Juni.

    Elisabet mulai hamil pertengahan Juni (Lukas 1:24). Pada saat Elisabet hamil 6 bulan, malaikat Gabriel datang kepada Maria, yaitu pertengahan Desember. Maria mulai mengandung saat itu (Lukas 1:36). Walaupun Yesus dikandung dari Roh Kudus (Lukas 1:35), Yesus dilahirkan pada akhir bulan September atau awal Oktober dan saat itulah orang Yahudi merayakan hari raya Tabernakel (Honorof, R.A., 1997, "The Return of the Messiah").

    Hari raya Tabernakel setiap tahun pada tanggal 15 bulan Tishri dan dirayakan selama satu minggu. Ini berarti menurut ketentuan Taurat tanggal kelahiran Yeshua HaMashiach (Yesus Kristus) jatuh pada tanggal 15 Tishri menurut kalender Yahudi. Menurut kalender international (Gregorian), pada tahun 1998 tanggal 15 Tishri jatuh pada 5 Oktober; sedangkan pada tahun 1999 jatuh pada 25 September. Pada tahun 2000 jatuh pada 14 Oktober, sedangkan pada tahun 2001 jatuh pada 2 Oktober 2001 lalu.

    Kalau begitu, mengapa dunia merayakan kelahiran Yesus pada 25 Desember? Kelahiran Yesus tidak pernah dirayakan sampai tahun 336. Kelahiran-Nya mulai dirayakan setelah kaisar Roma yang bernama Konstantin (285-337) menyatakan diri menjadi pemeluk agama Nasrani. Sudah menjadi tradisi setiap 25 Desember penduduk kota Roma merayakan pesta besar yang disebut Saturnalia Romawi untuk menyambut kembalinya matahari ke belahan bumi utara setelah mencapai garis balik selatan. Ketika siang hari menjadi lebih panjang, dewa matahari dianggap telah lahir kembali dan mereka bergembira-ria sambil tukar-menukar hadiah.

    Ketetapan untuk mengkonversikan 25 Desember menjadi hari raya Nasrani dengan menjadikannya sebagai hari kelahiran Yesus dilakukan oleh Paus Julius I pada pertengahan abad 4 di kota Roma (Worldwide Church of God, 1985 "The Plain Truth About Christmas"). Ketetapan tersebut tidak dapat diterima oleh gereja-gereja di Yerusalem yang menolaknya sampai abad 6 (Wagner, C. 1995 "Bridges for Peace"). Setelah itu secara tidak resmi umat Nasrani menerima 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus, walaupun banyak yang mengetahui bahwa itu bukan tanggal yang sesungguhnya.

    Bagaimana Perhitungan Tahunnya?

    Kelahiran Yesus jelas harus terjadi sebelum kematian Raja Herodes Agung yang ingin membunuhnya dengan memerintahkan pembunuhan semua bayi berumur di bawah 2 tahun di Betlehem (Matius 2:16). Flavius Josephus (37-100), sejarawan Yahudi abad pertama, mengatakan bahwa sesaat sebelum Herodes meninggal telah terjadi gerhana bulan yang menurut para pakar perbintangan terjadi pada 13 Maret tahun 4 sebelum Masehi (Antiquities of the Jews, XVII, vi, 167). Dengan mengacu pada taksiran Herodes bahwa bayi yang baru lahir itu tidak lebih dari 2 tahun usianya, maka taksiran intelektual tahun kelahiran Yesus sekitar tahun 4-5 sebelum Masehi.

    Kekeliruan penetapan tahun 1 tarikh Masehi oleh imam Italia Dionysius Exiguus yang hidup di abad 6 mengakibatkan kelahiran Yesus tidak terjadi pada tahun 0 (nol) Masehi, Anno Domini (op cit, 1985). Ini berarti 2000 tahun sebelum Yesus lahir adalah tahun 1996; sedangkan tahun 2000 kemarin yang dihebohkan dengan "kutu mileniumnya" tidak lain adalah tahun 2004 setelah Kristus lahir.

    Sumber diambil dari:

    Judul Artikel: Kapan Yesus Lahir?
    Penulis : Benyamin Obadyah
    (Gembala Sidang GBI Exousia Agape, Jakarta)
    Situs : http://www.bahana-magazine.com/des2001/artikel1.htm

    e-JEMMi 49/2005

    Kasihilah Musuhmu .... ???

    Saya mau menantang saudara-saudara dalam suatu game. Sebelumnya saya minta maaf, pertama karena saya lancang main tantang seenaknya saja, kedua karena saya sendiri juga belum tentu bisa melakukan tantangan ini.

    Begini aturan mainnya: tanggal 14 Februari adalah Hari Valentine, bukan? Saya percaya banyak yang sudah membeli kartu atau hadiah untuk do'i atau untuk papi-mami dan kakak adik atau sahabat-sahabat lain. Itu adalah hal yang biasa. Bagaimana kalau kita menambahkan sesuatu yang lain? Coba pikirkan, selama satu tahun terakhir ini siapa saja orang yang Saudara benci, siapa yang tidak Saudara sukai, siapa yang selalu ingin Saudara hindari, pendeknya, siapa yang tidak Saudara anggap teman yang baik? Sekarang coba Saudara pikirkan, apa yang disukai orang itu, apa hobbynya, lalu berilah satu hadiah kecil yang disukai itu. Apakah terlalu berat dan sulit? Oke, oke.... Bagaimana kalau Saudara mengirimkan kartu Valentine mungil yang di dalamnya berisi kata-kata apresiasi tulisan Saudara kepada orang itu? Dan jangan lupa, doakan pula orang itu: kehidupannya, keluarganya, studi atau pekerjaannya, dan hubungannya dengan Tuhan. Yang gagal melakukan ini semua, akan dihukum. Bukan saya atau Majelis atau Pak Pendeta yang menghukum. Saudara sendiri yang memberi hukuman karena saudara sendiri jurinya. Bagaimana? Saudara punya cukup keberanian untuk menerima tantangan ini?

    Selama berabad-abad salah satu misteri kekristenan terbesar adalah sabda Tuhan Yesus dalam Matius 5:44,

    "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu."

    "Itu tidak praktis," pendapat beberapa orang. Yang lebih ekstrim lagi berkata, "Itu gila!"

    Confucius ditanya oleh seorang muridnya, "Apakah kita harus berbuat baik pada musuh kita?" Dia menjawab tegas bahwa kita harus membalas kebaikan dengan kebaikan dan kejahatan dengan keadilan.

    Memang, mana mungkin kita bisa mengasihi musuh kita? Jika seseorang sudah menipu kita, sombong, tidak tahu aturan, egois, lebih-lebih mau mencelakakan kita; tukang sulap dari mana yang bisa membuat kita mengasihi dia? Apa Yesus tidak asal omong? Jawabnya jelas tidak. Tuhan tahu apa yang diucapkan-Nya. Dia mengerti sungguh-sungguh dan mau membantu kita melaksanakan perintah-Nya ini.

    Kenapa kita perlu mengasihi musuh kita? Yang pertama, seperti yang tertulis dalam Matius 5:46-47, semua orang dapat membalas kebaikan dengan kebaikan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan itu sudah lumrah. Boss Mafia juga berbuat demikian. Pemungut cukai yang paling serakah juga berbuat demikian. Tidak ada yang aneh. Demikianlah sifat dunia. Yang bukan sifat dunia adalah bila kita bisa mengasihi musuh kita. Tuhan berkali-kali menekankan dalam Alkitab bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Kita ciptaan Tuhan Mahasuci yang bukan dari dunia ini -- bahkan dunia ini diciptakan oleh-Nya. Oleh sebab itu, janganlah menuruti arus dunia yang merupakan ciptaan. Turutilah kehendak Sang Pencipta.

    Yang kedua, dalam Roma 5:8 ditekankan bahwa Kristus mati bagi kita ketika kita masih berdosa. Bukan setelah kita bertobat, Kristus mati buat kita, tetapi Tuhan sendiri telah memberi contoh dengan mati bagi musuh-musuh-Nya, yaitu kita, manusia berdosa. Kita musuh Tuhan? Ya! Ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, saat itulah kita telah menjadi musuh Tuhan. Saat itulah seluruh diri kita berontak tak mau mendekati Tuhan. Paulus menegaskan dalam Roma 8:7,

    "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah; karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya."

    Sepanjang sejarah Perjanjian Lama kita membaca pengkhianatan umat manusia yang tak terhitung banyaknya terhadap Tuhan, sampai sekarang! Tapi Tuhan mau membalas kejahatan manusia itu dengan cinta kasih-Nya. Tidak mudah bagi seorang untuk bersedia mati bagi orang benar, kata Paulus, apalagi sangat amat sukar bagi seseorang untuk mati bagi musuhnya. Inilah perwujudan kasih Allah yang tak terbatas bagi manusia. Dapatkah kita sekarang mewujudkan kasih Allah itu terhadap sesama kita? Mengapa Paulus dalam suratnya kepada umat di Korintus berkata bahwa di antara iman, pengharapan, dan kasih, yang terbesar adalah kasih? Dengan iman kita menerima Yesus; dengan pengharapan kita menantikan Dia, tetapi dengan kasih kita dapat menyatakan bahwa Tuhan telah hidup dalam hati kita.

    Pertanyaannya sekarang adalah: Dapatkah kita mengasihi musuh-musuh kita, apalagi mendoakan mereka? Kalau Saudara bertanya pada diri Saudara sendiri, "Dapatkah saya dengan kemampuan saya sendiri mengampuni bahkan mengasihi musuh saya?" Jawabannya tentu tidak atau tidak mungkin. Tidak percaya? Silakan mencobanya. Lalu, bagaimana? Kita memang tak bisa mengampuni dan mengasihi dengan usaha kita sendiri, tetapi dalam Roma 5:5 dikatakan bahwa

    "Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."

    Kalau kita begitu terbatas hingga tak dapat mengasihi musuh kita, gunakanlah kasih Allah yang telah dicurahkan bagi kita itu. Dengan rendah hati kita datang ke hadirat Tuhan, minta Dia membantu kita. Tuhan pasti mendengar doa kita.

    Ah, saya sudah berusaha, tapi tetap tidak bisa tuh? Yang biasanya terjadi adalah bukannya kita tidak bisa, tetapi kita tidak mau. Kita tidak mau mencurahkan kasih Tuhan. Kita mau menyimpan sendiri kasih Tuhan. Dengan kata lain kita seperti orang yang telah menerima pengampunan atas hutang jutaan dollar pada bank tetapi kita memukuli orang yang berhutang sepuluh dollar pada kita. Jadi pertanyaan terakhir yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan adalah: Maukah saya membiarkan Tuhan memakai saya sebagai alat cinta kasih-Nya? Maukah saya mengampuni bahkan mengasihi musuh saya?

    Tuhan Yesus, saya ingat kasih-Mu, saya mau coba mengasihi. Mampukanlah saya, Tuhan, dan hidupkanlah terus semangat kasih dari-Mu ini.

    Sumber :

    Judul Buletin : Newsletter GKI Monrovia, Feb 1997, Tahun XVII No. 1
    Judul Artikel : "Kasihilah Musuhmu .... ???"
    Penulis : Leonard Giarto
    URL : http://www.gki.org/

    e-JEMMi 06/2004

    Keanekaragaman yang Mendatangkan Kemuliaan -- Bob Sjogren

    Siapakah tokoh utama dalam Alkitab? Apa jawaban Saudara untuk pertanyaan ini? Mungkin Saudara akan menjawab Musa, Abraham, Daud, mungkin juga Paulus. Atau jika kita ditanya, untuk apakah Yesus mati di kayu salib? Dapat dipastikan kita akan menjawab untuk menebus dan menyelamatkan saya. Jawaban ini tidak salah. Tetapi jawaban ini adalah jawaban yang hanya dilihat dari satu sisi, yakni dari sudut pandang manusia. Bagaimana jika kita lihat dari sudut pandang Allah?

    Jawaban untuk hal ini adalah: Yesus mati di kayu salib untuk kemuliaan Bapa. Dalam Yohanes 12:27-28b, dikatakan: "Sekarang jiwa- Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa muliakanlah nama-Mu!" Yesus mati untuk menunjukkan kasih- Nya kepada kita, tetapi di atas semuanya itu, tujuan utama-Nya adalah menunjukkan kasih-Nya kepada Bapa, membawa kemuliaan kepada Bapa-Nya.

    Mari kita lihat suatu ilustrasi dari bulan dan matahari. Sinar bulan adalah seperti kasih Yesus kepada kita dan sinar matahari adalah kasih dan kemuliaan yang Yesus berikan kepada Bapa. Kita melihat bulan, padahal itu adalah pantulan dari sinar matahari. Kita hanya berpikir bagaimana Allah mengasihi kita tetapi jarang berpikir bagaimana kita mengasihi Bapa, bagaimana kita memuliakan Bapa?

    Lewat pengorbanan dan kematian Yesus di kayu salib, Allah dipermuliakan. Allah bukan saja Allah yang baik, tetapi Dia juga Allah yang adil. Dengan karya Kristus di kayu salib, Allah mendapatkan pujian kekal dari malaikat-malaikat. Dia kudus, adil, dan Dia hidup untuk mewahyukan kemuliaan-Nya. Allah ingin memiliki semua kemuliaan bukan karena ego, tetapi Dia tahu, ciptaan-Nya akan hidup dan berfungsi dengan baik jika memiliki kemuliaan Allah.

    Kemuliaan Allah adalah seperti kaca mozaik. Setiap keping kaca memancarkan kemuliaannya yang unik. Ciptaan-Nya, surga, bintang- bintang, alam semesta, semuanya memancarkan kemuliaan Sang Pencipta. Demikian juga bangsa-bangsa, semuanya memancarkan kemuliaan Allah.

    Jika kita bisa mengumpulkan bangsa Irak dan Kuwait untuk berkumpul bersama dan dalam satu harmoni bersama-sama menyembah Allah, maka hal itu akan memancarkan kemuliaan Allah. Jika ada orang-orang dari Afrika, Asia, Australia, Eropa, Amerika berkumpul bersama untuk memuliakan Allah maka hal itu akan membawa kemuliaan kepada Allah yang lebih besar lagi. Makin banyak keanekaragaman yang bisa dikumpulkan maka makin banyak kemuliaan yang akan diberikan kepada Bapa.

    Sebaliknya, jika kita melihat kemuliaan Allah tidak bersinar di Aceh, Timor Timur, kita harus berdoa, supaya Tuhan menggerakkan kemuliaan- Nya di sana. Seluruh bangsa akan sujud menyembah Allah, itulah kemuliaan terbesar. Itulah sebabnya Tuhan berkata, "Setiap suku, kaum, dan bahasa dari seluruh bangsa akan sujud menyembah- Ku..." Tuhan bisa saja berbicara: "Pergilah dan jangkaulah 75% dari seluruh bangsa atau 90% dari seluruh bangsa." Tidak! Tuhan tidak sedang berbicara tentang persentase tapi dia berbicara tentang sesuatu yang sangat spesifik, yaitu setiap suku, kaum dan bahasa yang berbeda. Mengapa harus sesuatu yang spesifik? Karena dengan cara itu dan hanya dengan cara itu saja, seluruh keanekaragaman itu bisa dikumpulkan bersama-sama dalam satu harmoni, dan akibatnya adalah menghasilkan kemuliaan yang TERBESAR bagi Allah.

    Jadi, Motivasi yang paling tepat untuk mendorong setiap orang supaya terlibat dalam penginjilan dunia adalah untuk membawa kemuliaan Allah yang TERBESAR. Hal ini akan sangat menggairahkan kita, karena kita tidak akan lagi melihat misi itu sebagai suatu beban atau kewajiban tapi menjadikannya sebagai suatu hasrat dan kerinduan yang amat dalam supaya, membawa kemuliaan yang TERBESAR bagi Allah, supaya kemuliaan Allah dinyatakan di antara setiap suku bangsa.

    Dalam Kejadian 1:28 dikatakan, "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhi bumi dan taklukkanlah itu..." Dengan demikian perintah itu berarti "Hai Manusia! Menyebarlah ke seluruh bumi." Kira-kira apa yang akan terjadi jika terjadi penyebaran umat manusia ke seluruh penjuru bumi? Jawabannya adalah akan makin banyak timbul bahasa dan dialek yang berbeda sehingga akan terjadi suatu keanekaragaman. Kerinduan Allah adalah supaya keanekaragaman itu membawa kemuliaan terbesar kepada Allah.

    Ayat ini menjadi satu hal yang harus mendasari setiap pekerjaan misi ".., kesukaan kami ialah menyebut nama-Mu dan mengingat Engkau" (Yesaya 26:8). Hanya Kemuliaan Allahlah yang menjadi satu-satunya kerinduan kita untuk melakukan pekerjaan misi. Kita hidup bagi kemuliaan Allah. Sekali lagi jika ditanyakan kepada Saudara: "Siapakah tokoh utama dalam Alkitab Saudara?" Allah! Ya, itulah jawabannya. Dan jika ditanya akan: "Apakah Saudara pernah hidup dengan berpusat pada diri sendiri?" Jika jawaban Saudara adalah ya, maka mulailah saat ini hidup hanya bagi kemuliaan Allah.

    Catatan Redaksi: Bahan di atas diadaptasi dari presentasi Bob Sjogren saat seminar "Biblical Basis for Missions" di Persekutuan Jaringan Riset Nasional.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Majalah : Abbavoice, Volume 3
    Judul Artikel : Keanekaragaman yang Mendatangkan Kemuliaan
    Penulis : Bob Sjogren
    Penerbit : Abbalove Ministry
    Halaman : 27 - 28

    e-JEMMi 14/2005

    Kelahiran dari Anak Dara

    Doktrin kelahiran Kristus dari anak dara menyatakan bahwa kelahiran Kristus adalah akibat dari suatu mukjizat yang terjadi pada Maria. Anak dara Maria mengandung seorang bayi dengan kuasa Roh Kudus, tanpa peran serta dari seorang bapak. Mukjizat kelahiran Kristus menjelaskan kepada kita mengenai natur yang dimiliki-Nya. Kelahiran-Nya dari seorang perempuan menunjukkan bahwa Dia adalah benar-benar manusia dan menjadi sama dengan kita. Kemanusiaan Kristus tidaklah sama dengan kita, sebab kita lahir dengan dosa-asal kita, sedangkan Kristus tidak demikian.

    Kelahiran dari anak dara juga berkaitan dengan keilahian Kristus. Yang Ilahi mungkin datang ke dunia melalui kelahiran dari anak dara, dan mukjizat kelahiran-Nya menunjuk pada keilahian Kristus. Pengumuman dari malaikat Gabriel kepada Maria menggarisbawahi hal ini. Pada waktu dia memberitahu bahwa Maria akan melahirkan seorang anak laki-laki, Maria sangat terkejut: "Bagaimana mungkin hal itu terjadi, karena aku belum bersuami?" (Lukas 1:34).

    Jawaban Gabriel merupakan hal yang penting untuk kita memahami kelahiran dari anak dara: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan dilahirkan itu akan disebut Kudus, Anak Allah." (Lukas 1:35). Tidak lama kemudian,, malaikat itu melanjutkan perkataannya: "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37).

    Kelahiran Yesus tidaklah sama dengan pembuahan buatan yang merupakan penemuan teknologi modern pada zaman ini. Pembuahan buatan semacam ini hanya merupakan salah satu variasi dari pembuahan dan bukan merupakan suatu mukjizat. Pembuahan seorang bayi pada dasarnya merupakan suatu hal yang alamiah. Bagi seorang perempuan, menjadi mengandung tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki bukan sekadar tidak biasa secara biologis, tetapi juga merupakan sesuatu hal yang melawan natur.

    Anak dari Maria tidak dihasilkan oleh Maria sendiri. Ayah dari bayi itu adalah Roh Kudus. Pernyataan bahwa Roh Kudus datang atas Maria mengingatkan kita akan penjelasan dari pekerjaan Roh Kudus pada waktu permulaan penciptaan dunia ini. Hal itu menyatakan bahwa bayi itu merupakan ciptaan yang khusus, di mana Bapa-Nya adalah Allah sendiri. Mereka yang tidak percaya pada kelahiran anak dara biasanya tidak percaya bahwa Yesus adalah benar-benar Anak Allah. Jadi, kelahiran anak dara merupakan doktrin penentu yang membedakan orang Kristen ortodoksi dengan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan dan Penebusan.

    Ayat-Ayat Alkitab untuk Bahan Refleksi:
    1. Yesaya 7:10-16
    2. Matius 1:23
    3. Roma 1:3-4
    4. 1 Korintus 15:45-49
    5. Galatia 4:4

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Seri Teologi Sistematika: Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen
    Judul asli buku : Essential Truths of The Christian Faith
    Penulis : R.C. Sproul
    Penerjemah : Dr. Rahmiati Tanudjaja
    Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang 1997
    Halaman : 119 -- 120

    e-JEMMi 48/2009

    Kelebihan Gereja Rumah Dibandingkan dengan Gereja Tradisional

    Saya menemukan paling tidak ada dua belas kelebihan pergerakan gereja rumah dengan dasar sel bila dibanding dengan gereja tradisional kongregasional.

    Multiplikasi dan Pemuridan

    Gereja rumah adalah suatu acuan yang mengutamakan multiplikasi dan pemuridan dengan potensi pertumbuhan yang besar, karena "sel" sendiri merupakan bagian yang dapat memultiplikasikan dirinya sendiri. Pembinaan, multiplikasi, dan pemuridan adalah inti dari konsep ini. Sidang jemaat sama sekali bukanlah sebuah acuan atau model pemuridan, dan secara struktural cenderung mencegah terjadinya pembinaan dan pemuridan. Pemuridan tidak pernah hanya berarti satu-sama-satu: sesungguhnya pemuridan merupakan tugas komunitas. Selain karena Roh Kudus, pengaruh dari teman sebaya merupakan guru yang paling handal di muka bumi, dan hal ini tidak dapat dipungkiri oleh orangtua yang memiliki anak remaja. Gereja rumah juga menerapkan cara ini. Orang-orang yang telah ditebus saling bertanggung jawab satu sama lain, dengan cara yang sehat dan penuh kasih, saling menimba pelajaran tentang nilai-nilai kerajaan baru, menjadi teman dan keluarga bagi teman yang lain, dan saling menolong dalam kehidupan baru mereka. Tidak ada seorang pun yang dibiarkan bergumul sendirian dan menyembunyikan masalah-masalahnya, dan karena hal itulah, setiap orang cepat menjadi dewasa.

    Struktur yang Tahan Aniaya

    Melalui cara hidup mereka yang sederhana dan fleksibel, juga roh tahan aniaya yang mereka miliki, gereja-gereja rumah dapat berkembang sampai pada tahap menjadi struktur yang tahan terhadap aniaya, atau setidaknya melawan aniaya sebagai sebagai kebalikan dari jenis tradisional yang sangat mudah terlihat dan tidak bisa dipindah-pindahkan dari "gereja dengan salib di puncak menara".

    Bebas dari Penghalang-penghalang Pertumbuhan Gereja

    Begitu ada perhatian penuh untuk mencegah beralihnya gereja rumah dari suatu organisme menjadi organisasi, gereja rumah dapat bermultiplikasi secara mitosis, suatu proses reproduksi sel, dan pertumbuhan pergerakan benar-benar akan terbebas dari penghalang-penghalang pertumbuhan gereja.

    Semakin Banyak yang Terlibat, semakin Efisien

    Gereja kongregasional seringkali bertumpu pada suatu program. Sebagian besar program itu diatur oleh anggota jemaat. Hal ini telah terbukti bahwa hal tersebut tidak efisien dan sumber daya manusianya seringkali tidak cukup, biasanya hanya melibatkan 20 persen dari jumlah anggota jemaat ada, yang sudah kelelahan mengerjakan pekerjaan pelayanan bagi anggota lain yang lebih pasif, yaitu sekitar 80 persen jemaat yang tersisa. Dalam gereja rumah, hampir setiap orang dengan mudah dan secara alami akan terlibat, ranting yang mati dipangkas. Karena mereka yang terlibat merasa dipuaskan, jadilah mereka orang- orang yang bahagia, sehingga kualitas dan efisiensi gereja secara keseluruhan terus bertumbuh.

    Menghancurkan Dilema Pelayanan Pastoral

    Model gereja rumah akan menghancurkan dilema pelayanan pastoral, suatu masalah yang umum dan menggerogoti gereja kongregasional; seiring dengan pertambahan jumlah anggota, kualitas pelayanan pastoral biasanya menurun. Hal tersebut disebabkan karena gembala sidang tidak sanggup lagi memelihara domba-dombanya dengan baik.

    Menyediakan Wadah untuk Transformasi dan Tanggung Jawab Kehidupan

    Gereja rumah merupakan landasan ideal untuk mengubah nilai atau pandangan hidup, memindahkan kehidupan yang pada akhirnya akan mengubah gaya hidup. Analisis terhadap gereja-gereja di negara barat menunjukkan bahwa gereja kongregasional hampir pasti tidak efektif di dalam hal mengubah nilai-nilai dasar dan gaya hidup anggota jemaat. Banyak orang Kristen yang mengikuti gaya hidup orang-orang di sekitarnya, sehingga mereka tidak bisa lagi dibedakan dalam masyarakat dan kehilangan ketajaman profetisnya. Gereja rumah memberi tempat bagi transformasi nilai yang radikal, serta penataan ulang kehidupan. Selain itu, juga menawarkan kehidupan yang bertanggung jawab, yang sifatnya saling menguntungkan dan hidup, di mana terdapat pengaruh teman sebaya yang telah ditebus, yang memang ditolong untuk melakukan hal-hal yang baik, bukan yang buruk.

    Rumah adalah Tempat Paling Efektif bagi Orang Kristen Baru

    Banyak hal mengenai mentalitas yang berfokus pada diri sendiri dalam gereja kongregasional yang telah ditulis, di mana gereja dan programnya menjadi pusat, dan hal-hal lain senantiasa berputar di sekelilingnya. Struktur ini tidak menyukai orang-orang baru yang datang "memporakporandakan aturan dan situasi". Dengan kata lain, gereja kongregasional adalah zona yang kurang ramah bagi orang-orang Kristen baru, berdasarkan laporan tentang besarnya jumlah, hampir mencapai 99 persen mereka yang meninggalkan apa yang dinamakan "program follow-up kegiatan penginjilan". Sebaliknya, gereja sel atau gereja rumah adalah zona paling efektif, alami, dan ramah bagi orang-orang baru untuk datang dan membina hubungan dalam komunitas Kristen. Gereja rumah menyediakan orangtua (ayah dan ibu) rohani, bukan guru-guru dan kertas. Gereja rumah juga membalikkan arah pandang orang-orang Kristen, dan tidak membawa orang ke dalam gereja, melainkan membawa gereja kepada masyarakat.

    Menjadi Jalan keluar bagi Krisis Kepemimpinan

    Gereja rumah dipimpin oleh para penatua, dan bukan sekadar itu saja, lebih tua daripada sebagian besar orang di dalam komunitas, tanpa harus berlagak "dituakan". Para penatua itu tidak harus menjadi pembawa acara yang trampil dan guru yang pandai: ayah dan ibu rohani sejati dan rendah hati dengan anak-anak yang taat merupakan modal awal yang baik. Orang-orang seperti itu telah bertahun-tahun menjalani kehidupan yang mendewasakan dan teruji oleh waktu, bukannya seorang lulusan sekolah Alkitab yang mampu menjalankan beberapa fungsi rohani. Kepemimpinan seperti ini dapat dengan mudah ditemukan dan dikembangkan di mana saja tanpa harus menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk sekolah teologi. Dia bergantung pada masukan dan dukungan kerasulan serta profetik, yang pertama kali dan terus-menerus dia terima, pelayanan yang ada di dalam diri mereka dapat berkembang dan akan berpadu serasi serta bertumbuh secara eksponensial (bilangan berpangkat) bersamaan dengan pergerakan gereja rumah yang bermultiplikasi. Apa yang kita kenal sebagai Sekolah Minggu, Sekolah Alkitab, dan seminari kebanyakan bersifat statis, suatu sistem pengembangan kepemimpinan yang pada dasarnya bersifat tambahan, yang bila bertumbuh, paling-paling secara linier dan tidak secara eksponensial. Lembaga-lembaga di atas merupakan sistem yang bersifat informasional, bukan sistem yang transformasional, seperti yang dengan tepat ditunjukkan oleh Beckham. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menandingi multiplikasi pergerakan gereja rumah dengan kebutuhan akan para penatua yang juga bertumbuh secara eksponensial.

    Mengatasi Perbedaan antara Hamba Tuhan dan Orang Awam

    "Di dalam Perjanjian Baru, kita tidak akan menemukan ayat-ayat petunjuk tentang seorang gembala sidang memimpin sebuah sidang jemaat," kata Barney Coombes. Gereja rumah sama sekali tidak memerlukan seorang gembala sidang seperti yang kita pahami selama ini, sebab para penatua berfungsi, bersama-sama dalam karunia- karunia gereja rumah yang saling menyokong, untuk memelihara dan memultiplikasikan kehidupan gereja. Kenyataan ini mematahkan kutuk perbedaan hamba Tuhan dengan kaum awam, yang justru ditekankan oleh gereja kongregasional.

    Gereja Rumah lebih Alkitabiah

    Kita tidak bisa mengabaikan pewahyuan alkitabiah lebih lama lagi sambil berharap bisa berlalu begitu saja. Tradisi memang merupakan guru yang tangguh, tetapi Firman Allah lebih dapat dipercaya dan jauh lebih baik. Bahkan, pada era pasca modernisme dan relativitas, Alkitab tetap mengajarkan hal-hal yang absolut, tidak terbantah. Alkitab sama sekali tidak mengajarkan bahwa sebuah kumpulan kudus yang berkumpul pada hari dan jam kudus di tempat yang kudus untuk berpartisipasi dalam sebuah upacara kudus yang dipimpin oleh orang- orang kudus berpakaian kudus demi gaji yang kudus adalah gambaran dari sebuah gereja Perjanjian Baru. Pekerjaan Allah yang dilakukan dengan cara Allah, sampai kini tetap mendatangkan berkat Allah. Bahkan di zaman Musa, Allah menyuruhnya membangun "seperti contoh yang telah Kutunjukkan". Kita tidak akan rugi jika kita bergumul dengan tradisi yang kita yakini demi mendapatkan kebenaran alkitabiah, sebab bukan tradisi yang akan membebaskan kita, melainkan Firman Allah.

    Tidak bisa Disangkal, lebih Murah

    Gereja kongregasional dapat didefinisikan sebagai "rencana ditambah gedung ditambah pendeta ditambah gaji ditambah program". Definisi dari gereja rumah adalah "orang ditambah rumah biasa ditambah iman ditambah membagikan kehidupan", yang jelas-jelas lebih murah. Jika gereja-gereja kongregasional membutuhkan dana yang luar biasa untuk berdiri, dan lebih banyak uang lagi untuk memelihara serta menyebarluaskannya, maka sel dan gereja rumah sebenarnya justru menghasilkan uang, karena mereka memproduksi lebih banyak daripada yang dikonsumsi. Pada zaman yang banyak memperdengarkan jeritan yang tidak pernah berhenti meminta lebih banyak uang bagi "pelayanan gereja", kita tidak boleh menganggap remeh pilihan-pilihan yang ada, tetapi kita seharusnya menjadi hamba yang setia dari talenta keuangan yang telah Allah berikan kepada kita.

    Gereja Rumah Membangkitkan Gereja Kota

    Saya menemukan bahwa gereja sekarang mengatur diri mereka dalam empat tingkatan:

    1. Di rumah (dimana sebuah persekutuan yang hidup dapat berlangsung, terlepas dari nama yang kita berikan);

    2. Gereja kongregasional (gereja denominasi yang berorientasi pada pertemuan ibadah atau kebaktian tradisional);

    3. Kota atau wilayah;
    4. Denominasi (jaringan kerja, konferensi, atau organisasi dari gereja-gereja denominasi dalam suatu daerah).

    Jika gereja tradisional, terutama berfokus pada tingkatan b dan d, maka gereja sel berfokus pada tingkatan a dan b. Di sisi lain, gereja rumah membuat kita terfokus pada tingkatan a dan c. Gereja dalam Perjanjian Baru dinamakan sesuai dengan lokasi geografisnya, bukan atas denominasi. Bersama gelombang pergerakan baru gereja rumah ini, terbuka pula sebuah jalan pulang menuju bentuk "gereja kota", yang artinya gereja dari sebuah kota semua orang Kristen dari kota atau wilayah itu, bertemu secara rutin atau pun tidak dalam pertemuan raya sekota. Dalam pertemuan tersebut, orang-orang Kristen yang paling berkarunia di kota itu dan para hamba Anak Domba yang rendah hati melupakan semua gelar dan aliran politik, lalu, dalam kedewasaan rohani yang baru, mempersembahkan nama, denominasi, reputasi, dan kesuksesan pribadi demi kemajuan Kerajaan dengan satu orang Raja, sang Anak Domba.

    Bayangkanlah kegemparan yang terjadi saat orang banyak ini berkumpul, mereka datang dari seluruh penjuru kota, lalu pemimpinnya secara tetap memberikan visi-visi profetik, mengajarkan dasar-dasar kerasulan, berdiri dalam satu kesatuan, saling memberkati, dan berbicara kepada dunia dengan satu suara. Apa yang telah iblis upayakan dengan segala cara agar tidak terjadi akan kembali menjadi kenyataan: "jemaat Roma", "jemaat Efesus", "jemaat Korintus", "jemaat Yerusalem", Wina, Singapura, Baghdad, Kartoum, atau Montevideo akan terjalin kembali satu dengan yang lain, akan saling berkait, membentuk sebuah identitas rohani dan pergerakan bersama dalam satu Tuhan dan Tuan, dan juga berbicara dengan satu suara yang penuh kuasa kepada bangsa dan kotanya.

    Apa yang terjadi pada tingkatan gereja rumah yang kecil akan tertumpah pada pertemuan yang lebih besar pada skala kota, dimana gereja akan "unggul dalam hal kecil yang kemudian unggul di dalam hal yang besar". Kegembiraan dan sukacita orang-orang Kristen pada tingkat rumah akan berkembang dan menggambarkan kegembiraan seluruh kota. Sehingga tidak seorang pun yang tidak menyadarinya, dan orang akan mengulangi pernyataan yang pertama kali diucapkan di Yerusalem: "Kamu telah memenuhi kota ini dengan pengajaranmu!" Jadi, ini bukan kegairahan yang digerakkan dari atas oleh para motivator dan pembicara impor lewat konferensi-konferensi tiruan yang diselenggarakan berdasarkan nama-nama besar dan tema-tema, sehingga bila Allah memutuskan untuk mengulang lagi contoh-contoh yang terjadi pada hari Pentakosta, yaitu ketika 120 orang Kristen di Loteng Yerusalem tiba-tiba diperhadapkan dengan tantangan untuk mengakomodasi 3.000 orang petobat baru dalam satu hari, mereka akan siap, sebab struktur multiplikasi gereja rumah yang fleksibel akan segera tersedia dan berjalan.

    Pada banyak tempat di dunia, persekutuan-persekutuan pelayanan rohani (pastoral) dan jaringan doa, baik lokal maupun regional mulai bermunculan. Saya yakin, hal ini dapat menjadi awal bagi suatu proses regional, suatu perhimpunan besar yang dipimpin oleh Roh, yang terjadi secara intuitif dan perlahan dari orang-orang yang memiliki roh yang sama, yang pertama-tama menciptakan hubungan- hubungan yang sehat, lalu bergerak ke arah pembentukan identitas rohani bersama (kolektif), sebuah bejana persatuan, yang di dalamnya, pada suatu titik kairos tertentu dalam sejarah, dapat ditempatkan suatu tantangan yang lebih besar: sebagai suatu kesatuan untuk menerima tantangan untuk memuridkan kota atau wilayah kita -- bersama-sama!

    Diedit dari sumber:

    Judul buku : Gereja Rumah yang Mengubah Dunia
    Judul artikel : Kelebihan Gereja Rumah Dibandingkan dengan Gereja Tradisional
    Penulis : Wolfgang Simson
    Penerbit : Metanoia Publishing, 2003
    Halaman : 38 -- 45

    e-JEMMi 37/2004


    Kendala dalam Pelayanan

    Di dalam pelayanan untuk Tuhan, kita sering menghadapi kendala-kendala. Kita perlu mengenal kendala itu dan bagaimana mengatasinya supaya kita boleh menjadi saksi Tuhan yang betul-betul terlibat dalam pekerjaan Tuhan.

    Melihat konteks dari Matius 4:1-11, dalam bagian sebelumnya baru saja Tuhan Yesus dibaptiskan dan mendapat pengesahan Allah sendiri, bahwa Ia benar-benar Putra Allah, yang diutus oleh Allah ke dalam dunia. Konteks berikutnya sesudah Tuhan Yesus memenangkan pencobaan itu, Ia mulai memberitakan tentang Kerajaan Allah. Kisah pencobaan ini diapit oleh dua hal yang besar tersebut. Konteks pertama adalah pengakuan mengenai Yesus dengan misi-Nya, dan hak-Nya sebagai Anak Allah. Konteks kedua sesudah Ia teruji dan terbukti bahwa Ia betul-betul Tuhan yang menang dan Tuhan yang kudus, dengan penuh kuasa dan wewenang Ia melaksanakan misi-Nya sebagai Juruselamat dunia ini. Orang-orang Kristen yang dalam pertumbuhan imannya tidak pernah berhasil mengatasi godaan-godaan dan kelemahan-kelemahannya tidak mungkin menjadi alat Tuhan untuk melaksanakan misi-Nya bagi dunia.

    Berbicara mengenai pencobaan, sebenarnya pencobaan sudah ada sejak ribuan tahun yang lampau. Inti dari pencobaan itu sendiri dari dulu sampai sekarang tetap sama. Yang berubah adalah jubah pencobaan dari Iblis, yang makin menarik dan makin menggoda -- ini memang merupakan kekuatannya. Iblis membungkus pencobaan dengan tipu muslihat yang berupa bujukan mempesonakan.

    Satu perbedaan dari pencobaan pada jaman dulu dan sekarang adalah bahwa pencobaan pada masa sekarang lebih dimungkinkan untuk tersebar luas. Visual aids lewat alat-alat transportasi dan komunikasi, film, video, iklan, literatur, yang semuanya makin menggelitik dan membuat kita lemah dan jatuh. Perbedaan lainnya adalah masyarakat sekarang lebih permisif. Beberapa puluh tahun yang lalu belum pernah kita mendengar ada pembunuh yang mencincang istrinya sendiri atau keluarga Kristen yang bercerai. Tapi masa kini makin banyak peristiwa-peristiwa sedemikian yang terjadi, membuat godaan yang menurunkan standar iman, dan etika Kristen kita. Iblis sekarang datang mencoba dalam bentuk tekhnologi yang lebih canggih.

    Dari Matius 4:1-11, Roh Allah memenuhi Tuhan Yesus dan juga memimpin-Nya ke padang gurun. Apakah Tuhan Allah bekerja sama dengan Iblis dan membiarkan anak-anak-Nya digodai dan dihancurkan oleh pencobaan? Allah tidak pernah bekerja sama dengan Iblis dan Allah tidak pernah mencobai manusia. Allah memang menempatkan dan mengijinkan Yesus Tuhan kita untuk diuji dan dicobai. Maka kita melihat sisi Firman Tuhan ini bahwa Allah berperan dan dalam kedaulatan-Nya menempatkan Yesus di dalam satu keadaan yang krisis. Tetapi Allah melakukan itu bukan dengan tujuan yang jahat melainkan sebagai satu kesempatan untuk Tuhan Yesus membuktikan bahwa Dia mencintai dan taat kepada Bapa, takluk kepada Firman Allah, dan dikuasai Roh Allah. Dicobai itu merupakan hal yang wajar, tidak ada satu orang Kristen pun yang dimanjakan oleh Tuhan sehingga tidak mengalami pencobaan. Iblis mencobai Yesus untuk mengalihkan jalan-Nya dan membelokkan hati-Nya. Di tangan Allah, pencobaan itu diubah- Nya menjadi alat ujian, yang memurnikan dan membuat Yesus lebih taat dan lebih tekun dalam melaksanakan misi yang sudah Tuhan percayakan kepada-Nya.

    Tuhan Yesus dibawa oleh Roh Kudus dan waktu itu Yesus baru selesai berpuasa selama 40 hari 40 malam. Satu titik klimaks dekat dengan Allah, mengalami hadirat Allah dengan hati yang penuh dan meluap-luap. Pada saat itulah datang pencobaan. Inilah satu paradoks mengenai pencobaan. Pada titik klimaks yang tinggi dalam kerohanian, pada waktu itu juga dapat menjadi titik rapuh yang bisa dimanfaatkan oleh Iblis. Jika pada titik tinggi rohaninya seorang kurang waspada dan waktu itulah Iblis datang. Pada saat itu Iblis tidak senang dan mencari lubang-lubang tertentu. Beberapa kelemahan yang harus kita ketahui:

    1. Satu natur yang pernah jatuh ke dalam dosa.

      Kita semua telah mengalami kejatuhan dan menjadi budak Iblis. Karena dia bekas tuan kita, maka dia tahu kelemahan-kelemahan kita dan mengirimkan kegemaran kita dulu. Ia, yang tidak bodoh, menjerat kita dengan cara yang kita sukai.

    2. Sifat-sifat fisik kita.

      Kita memiliki keistimewaan sifat fisik tertentu, seperti gemar makan. Berarti kelemahannya sekaligus adalah makanan. Ada orang yang meyakinkan dalam penampilan fisik, cenderung menjadi pesolek. Maka kelemahannya di bidang tersebut.

    3. Keadaan psikologi.

      Ada orang yang mudah terganggu emosinya, ketika musim hujan maka perasaannya menjadi sendu, ketika musim panas, ia akan meledak-ledak. Atau orang yang cenderung sombong, nurani yang lemah, dorongan sexual yang tidak terkendali atau ketakutan-ketakutan tertentu dan temperamen yang kurang menguntungkan yang bisa dipakai Iblis untuk menjerat kita.

    4. Membagi berkat.

      Orang yang kurang terlibat dalam kesempatan-kesempatan yang bisa mencurahkan berkat Tuhan dalam hidupnya seperti mengikuti persekutuan, menggali Alkitab, berdoa, atau ke gereja dapat membuatnya gampang jatuh dalam dosa.

    5. Hidupnya telah dikondisikan.

      Nuraninya terbiasa melakukan dosa, ketajaman nuraninya sudah menjadi tumpul. Akibatnya terbiasa dengan dosa dan tidak lagi merasa berdosa bila jatuh dan larut dalam pencobaan. Bila tidak ada sistem dalam diri untuk melawan dosa dengan tekun, kita akan gampang tersapu oleh pencobaan. Di samping itu perlu juga seorang anak Tuhan mempersekutukan diri bersama jemaat Tuhan dalam doa. Kesendiriannya akan menyebabkan kehancuran bila pencobaan menghantam hidupnya.

    6. Kekuatan kita.

      Kekuatan-kekuatan kita juga menjadi kelemahan kita. Daud, seorang yang mendapat kekuatan berlimpah dari Tuhan dan juga bermacam-macam bakat. Bila kita membaca Mazmur, lagu-lagunya menunjukkan bahwa Daud diberi getar seni yang sangat peka. Tapi kepekaannya akan keindahan membuatnya jatuh pada keindahan wanita.

    Kita perlu mengenali kelemahan-kelemahan itu, karena jika tidak kenal bagaimana kita dapat menahan serangan Iblis itu. Supaya menang dalam pencobaan maka kita harus tahu siapa musuh dan senjatanya.

    Perlu kita ingat bahwa Iblis itu ada, bukan takhyul atau mitos. Dia adalah makhluk yang sangat cerdas. Sanggup membungkus pencobaan-pencobaan dengan Firman Tuhan. Kita harus waspada dan perlu mempunyai teologi yang tepat mengenai Iblis. Ia ada sebagai makhluk ciptaan Tuhan, tetapi di bawah Allah. Setiap kali mencobai manusia, ia harus minta ijin kepada Allah. Hanya sejauh Allah mengijinkan dan memberikan batas, ia mempunyai ruang gerak yang bebas. Selebihnya ia tidak mempunyai kebebasan. Dia jahat dan juga penuh kuasa tetapi dikalahkan oleh Tuhan Yesus. Di kayu salib kuasanya dihancurkan. Tapi saat ini Iblis masih mempunyai waktu sisa yang digunakannya untuk menjerat sebanyak mungkin orang. Orang percaya yang tidak dapat lagi direbut keselamatannya masih dicobainya supaya orang tersebut tidak bisa menikmati secara penuh pengalaman sebagai anak- anak Allah.

    Tiga pencobaan Iblis kepada Tuhan Yesus secara berturut-turut dapat disebut dengan tiga P: Pemeliharaan Allah, Proteksi Allah, dan Pimpinan Allah dalam hidup Tuhan Yesus. Banyak orang Kristen yang tidak bergerak dalam misi dan lumpuh total serta tidak dapat bersaksi bagi Kristus karena terikat dalam tiga pencobaan tadi. Mereka terlibat oleh harta, kekuatiran dalam dunia ini, sehingga tidak punya waktu lagi untuk misi, untuk berdoa, dan tidak berguna dipakai Tuhan. Banyak orang Kristen yang terlalu memikirkan mengenai sekuritinya, masa depannya akhirnya mengokohkan istana sendiri, kuasanya sendiri, dan bergantung pada lengannya sendiri. Kata Firman Tuhan, "Terkutuklah orang demikian karena ia tidak mengenal kuasa Allah." Tetapi Tuhan Yesus menolak dan menang atas pencobaan. Caranya dengan mengutip Firman Tuhan. Dari tindakan ini mengindikasikan beberapa hal:

    1. Menunjukkan ketaatan Tuhan Yesus pada Firman Tuhan, penghargaan dan cinta-Nya dalam setiap masalah dan persimpangan jalan (Mazmur 199:9).

    2. Menunjukkan bahwa dalam seluruh hidup Tuhan Yesus hanya memikirkan satu hal yaitu bagaimana dapat lebih taat kepada Allah dan hanya menggenapi misi Allah, dapat hidup lebih dalam pada kebenaran Allah.

    3. Menunjukkan sistem mempelajari Firman Tuhan yang sangat trampil. Umur 12 tahun kita tahu Tuhan Yesus sudah menguasai hukum Taurat. Bukan hanya tahu tapi juga menghafal dan tahu benar Firman Allah harus ditaati dengan cara menaklukkan hidup-Nya kepada Tuhan dan mempraktekkan dengan konsekuensi. Ketika pencobaan datang, Firman itu keluar seperti pedang bermata dua yang menghantam balik setiap pencobaan.

    Orang Kristen sekarang bersemangat dalam memuji Tuhan, bergelora mengikuti persekutuan tapi hanya sedikit yang dengan diam-diam mau tekun mempelajari Firman Tuhan.

    Sikap Tuhan Yesus memberikan dampak pada pengakuan kita atas ketuhanan-Nya. Dia dalam ketuhanan-Nya menaklukkan diri pada Tuhan, maka setiap anak Tuhan harus meneladani-Nya.

    Setelah Tuhan Yesus menang menghadapi pencobaan, Ia meninggalkan Nazaret untuk menyampaikan Firman Tuhan bahwa Terang telah terbit dari tengah kegelapan. Karena Ia telah teruji dan siap sebagai Mesias, Imam, Nabi, dan Raja.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Momentum 6
    Judul Artikel : Kendala dalam Pelayanan
    Penulis : Paul Hidayat, S.Th.
    Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia, Jakarta, 1989
    Halaman : 2 -- 4

    e-JEMMi 20/2003

    Kerjasama Gereja Lokal dalam Pendidikan Misi

    Kita tahu bahwa pendidikan misi disebut sukses jika dapat membawa hasil. Teologi yang bagus menghasilkan sosiologi yang bagus pula. Dasar Alkitab yang kuat bila diikuti dengan fakta-fakta yang tepat dan diskusi yang berbobot akan memunculkan buah yang seturut dengan Amanat Agung dalam segala segi kehidupan. Beberapa petunjuk berikut akan menolong gereja dalam mengembangkan kerjasama antara anggota gereja lokal dengan pelayanan misi.

    Kerjasama misi harus melibatkan orang-per-orang.
    Kerjasama dalam misi dimulai dari tanggapan pribadi seseorang terhadap panggilan Tuhan atas satu jiwa dan kesempatan untuk menjadi seorang rekan kerja Tuhan. Ada begitu banyak cara dan sumber yang tak ada habis-habisnya bagi seseorang yang mau bekerja untuk Tuhan dalam bidang misi. Beberapa diantaranya dijelaskan dalam bagian berikut ini.

    Mengajarkan sebuah kerjasama yang berkomitmen.
    Setiap orang Kristen kelak harus memberikan sebuah penjelasan kepada Tuhan tentang seberapa dalam mereka menyerahkan hidup mereka pada-Nya serta bagaimana mereka menanggapi perintah Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.

    "Sebab kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2Korintus 5:10)

    Tiap orang berhutang nyawa pada Kristus; tiap orang diperintahkan untuk bersandar sepenuhnya kepada kehendak Tuhan dan menyediakan diri untuk melayani dalam misi agung yang direncanakan-Nya. Tidak ada yang dapat dilakukan selain dengan menjadi hamba-Nya, melayani sepenuhnya kepada apa yang diperintahkan Tuhan Yesus. Walau semua harus bersandar dan membuka diri untuk melakukan apa saja, kapan saja, dan dimana saja bagi Kristus, kebanyakan kita akan diberi tanggung jawab di rumah. Gembala adalah satu kelas khusus bagi pribadi yang dituntut Tuhan supaya hidup sebagai teladan bagi jemaatnya, agar mereka mengerti apa maksud dari penyerahan diri. Beberapa menolak untuk menyerahkan dirinya secara pribadi dalam misi karena takut Tuhan akan memerintahkan mereka menjadi bagian dari padanya, untuk meninggalkan gereja serta kampung halamannya untuk melakukan pelayanan yang mereka anggap kurang glamour. Beberapa gembala hanya akan mengizinkan penginjil berbicara pada jemaatnya ketika mereka sedang di luar kota. Sangat sedikit pengajar sekolah seminari yang menekankan pengajaran tentang misi secara serius. Namun, gembala yang menanggapi masalah ini secara menyeluruhlah yang akan mempunyai pengalaman kekuatan spiritual yang dinamis dan efektivitas yang luar biasa -- saat-saat dimana Tuhan bisa mencurahkan api-Nya.

    Mengajarkan kerjasama melalui doa syafaat.
    Tiap hari seseorang dapat memberitakan Injil di Brazil, Jepang, dan daerah lain di dunia. Hal itu dapat dilakukan dari kursi di ruang tamu mereka. Orang tersebut dapat melakukan perjalanan ke daerah- daerah melalui doa syafaatnya. Orang Kristen yang memahami dampak nyata dari percakapan dengan Bapa tidak akan menemui kesulitan dalam mengatur waktu untuk menemui-Nya dalam doa. Banyak orang yang memakai banyak alat pengingat untuk membantu mereka mendoakan orang lain. Ada yang menggunakan alat pengingat doa berbentuk gambar, kartu, surat misi, informasi berita misi, berita, dan nama orang- orang yang menjadi beban doa mereka, menyerahkan semuanya dalam tangan Tuhan melalui doa syafaat yang penuh kasih. Ada juga yang biasa membuat sebuah daftar pokok doa pribadi, membagi daftar itu dalam 5 hari atau lebih untuk menciptakan kebiasaan mendoakan orang lain. Para pendoa tersebut telah mengalami kemenangan dan berkat Tuhan sekarang ini, yang pada akhirnya juga akan menerima bagian dari keselamatan kekal.

    Mengajarkan kerjasama melalui korespondensi misi.
    Setiap orang Kristen yang dewasa sebaiknya mengadopsi seorang misionaris dan memberinya perhatian khusus secara istimewa, menjadikannya fokus doa, berkorespondensi, mengingat ulang tahunnya dan hari-hari yang dirayakannya, mengingatnya saat Natal, dan memberinya paket-paket "kasih" istimewa. Anak-anak dan pemuda juga hendaknya didorong untuk berkorespondensi dengan para misionaris. Suatu ikatan yang kuat akan terjalin diantara mereka, dan memungkinkan terjadinya pertemuan yang hangat antara misionaris yang diutus dengan mereka yang mengutusnya waktu sang misionaris pulang nanti.

    Mengajarkan kerjasama melalui keuangan.
    Sebagaimana doa syafaat, melalui partisipasi dalam dana bagi kegiatan misi, seseorang juga telah turut memberitakan Injil dan mendirikan gereja di seluruh dunia. Karena tidak semua orang percaya dapat pergi dan turun tangan langsung dalam penginjilan di lapangan, dengan memberikan bagian yang terbaik dari apa yang mereka dapat untuk mendukung orang lain, mereka juga dapat melayani lewat keuangan. Sistem pembukuan Tuhan juga memperhitungkan mereka yang harus tinggal di rumah untuk menanti hadiah kemenangan rohani bagi mereka (lih. 1Samuel 30:24). Sangat menarik untuk diamati jika mereka yang mulai dengan menerapkan doa syafaat sebagai gaya hidup biasanya akan menjadi pendukung setia bagi hal yang berhubungan dengan pelayanan misi, terlepas dari berkat istimewa yang akan didapatkannya.

    Mengajarkan kerjasama melalui pengalaman.
    Orang-orang yang mendapat kesempatan melakukan kunjungan ke luar negeri untuk menyaksikan sendiri ladang-ladang misi, biasanya akan segera mengalami perubahan cara pandang secara drastis karena pengalaman itu. Tidak ada yang dapat memberi dampak sebesar dan sedramatis ketika mereka melihat sendiri pekerjaan itu. Biaya transport biasanya tidak akan terlalu membebani orang muda atau pasangan muda. Perjalanan kerja, satu cara lain untuk mendapatkan pengalaman langsung dengan ladang misi, telah menetapkan sasaran dalam menyelesaikan tugas atas nama pelayanan. Perjalanan- perjalanan macam itu biasanya berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu. Ahli bangunan, guru, tenaga medis profesional, mekanik, tenaga-tenaga semi terlatih atau yang tak terlatih dapat menawarkan waktu mereka dalam perjalanan semacam itu untuk memberi bantuan di mana mereka dibutuhkan. Hasilnya akan dapat mempengaruhi diri mereka sendiri serta gereja mereka.

    Dewasa ini, semakin banyak orang yang memberikan waktu satu atau dua tahun bagi pelayanan misi jangka pendek. Tanpa harus merasa dipanggil Tuhan untuk menjadi pelayan Tuhan seterusnya, mereka hanya ingin memberikan sebagian dari hidupnya bagi pekerjaan misi. Pilihan seperti ini hendaknya dapat ditekankan pada jemaat muda atau tua, lajang atau sudah menikah, mahasiswa atau pensiunan. Gereja-gereja hendaknya dapat menyemangati orang-orang Kristen untuk mempertimbangkan gagasan ini. Banyak dari mereka yang telah menjalani pelayanan jangka pendek ini, kemudian kembali lagi untuk berkarir dalam bidang sekuler, karena mereka menangkap visi mereka dalam pekerjaan itu. Sementara yang lain juga ada yang kemudian menjadi pekerja misi dan pemimpin dalam gereja yang berorientasi pada misi.

    Ada banyak cara untuk belajar tentang misi selain dari program pendidikan di gereja lokal. Menyadari bahwa pengajaran dan khotbah yang baik tentang misi dapat membawa dampak yang mengejutkan, sedang akibatnya yang paling luar biasa adalah saat seseorang dapat "terlibat secara pribadi" dalam pelbagai kerjasama -- yang menunjukkan bahwa Tuhan turut bekerja dalam hidup anak-anak-Nya yang mengabarkan Injil ke seluruh dunia.

    KERJASAMA MISI HENDAKNYA MELIBATKAN KELUARGA

    Kesempatan misi yang sesuai diterapkan bagi seseorang juga dapat diterapkan pada keluarganya. Lagipula keluarga dapat mengerjakan sesuatu yang dirasa sulit untuk dilakukan satu orang, dengan cara gotong royong. Tidak ada yang dapat menyamai kekuatan pembentukan yang dimiliki rumah tangga Kristen pada generasi mendatang. Petunjuk berikut dapat membantu keluarga yang ingin lebih terlibat dalam misi.

    Mengajarkan kerjasama keluarga dalam pemikiran tentang misi.
    Seorang misionaris veteran pernah ditanya, di mana ia mendapatkan pelatihan yang mendasari pelayanan misinya yang begitu berbuah selama bertahun-tahun. "Kebanyakan latihan nyata misi saya," jawabnya, "saya dapatkan dari rumah." Walaupun ia juga mendapatkan pelatihan dari kampus dan seminari, minatnya yang mendalam berasal dari rumah yang dikelilingi oleh hal-hal yang berhubungan dengan misi, di mana plakat dan gambar-gambar mengenai misi digantung di dinding, surat-surat misi secara teratur dibacakan pada kebaktian keluarga dan misionaris diundang pada acara makan malam.

    Keluarga yang bersatu dalam kepentingan pekerjaan Tuhan menemukan bahwa dampak yang terbesar muncul dalam keluarga itu sendiri. Hubungan kekeluargaan yang makin dekat tercipta karena adanya kesamaan tujuan. Setiap anggota memiliki potensi untuk memusatkan diri pada misi sepenuh waktu, yang berfokus pada Kristus. Anak-anak diajarkan nilai-nilai dari Tuhan daripada dari dunia. Misalnya, mengajarkan tentang bagaimana membuat bank misi, yaitu menyimpan uang mereka bagi kepentingan misi, hal itu juga merupakan proyek Sekolah Minggu yang bagus. Anak-anak dapat mulai belajar akan berkat dari investasi keuangan di surga.

    Mengajarkan kerjasama keluarga mengenai adopsi misi.
    Sebuah keluarga dapat "mengadopsi" seluruh keluarga seorang misionaris, secara kolektif bergabung dan memfokuskan diri pada doa dan kegiatan untuk melayani keluarga tersebut dalam nama Yesus. Baik pelayanan fokus doa dan surat-menyurat itu akan membawa semangat luar biasa bagi pekerjaan misionaris tersebut. Jika sebuah keluarga yang mempunyai anak mengadopsi sebuah keluarga misionaris yang juga mempunyai anak sebaya, ikatan tersebut dapat membawa kepada sebuah persahabatan jangka panjang dan memberikan anak-anak itu sebuah visi yang lebih besar dan kesediaan untuk melayani Tuhan.

    Mengajarkan kerjasama keluarga dalam kunjungan misionaris.
    Satu cara yang menakjubkan dalam memperkenalkan anak pada dunia misi adalah dengan mengundang misionaris dalam sebuah acara kunjungan. Baik dalam jamuan makan atau sebagai tuan rumah, tidak ada yang dapat menggantikan interaksi pribadi dengan seorang misionaris atau sebuah keluarga misionaris dalam menanamkan ketakjuban akan Tuhan dan tantangan sejak muda. Orang dewasa, pemuda, dan anak-anak semuanya mendapat manfaat dari pengalaman ini. Ini adalah berkat dua arah, dengan membantu misionaris kita membantu hamba Tuhan merasa dipulihkan, dicintai dan disegarkan sementara keluarga tuan rumah sendiri merasa dikuatkan. Karena tamu sesungguhnya adalah Kristus sendiri (Matius 10:41-42). (t/Ary)

    Sumber diterjemahkan dari :

    Judul Buku : Foundations of Ministry
    Judul Artikel Asli : Local Church Partnership in Mission Education
    Pengarang : Michael J. Anthony
    Penerbit : Bridgepoint Book, illinois (USA), 1992
    Halaman : 350 - 353

    e-JEMMi 43/2005

    Kita Memiliki Sumber Daya

    Saat kita memikirkan bahwa masih ada 12.000 kelompok orang lagi untuk dicapai, tugas itu tampaknya bisa mengecilkan hati kita, sampai kita menyadari sumber daya yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Contohnya, pada tahun 100 Masehi, ada sekitar 12 kelompok orang yang belum dijangkau Injil oleh setiap satu dari jemaat orang percaya yang ada. Setiap jemaat saat itu memiliki target 12 kebudayaan, bahkan mereka mulai memuridkan bangsa-bangsa! Itu adalah sesuatu yang tampaknya mematahkan semangat. Namun, pada tahun 1950, rasio itu telah berubah sampai sekitar 33 jemaat orang percaya di antara setiap sisa kelompok orang yang belum dijangkau di dunia! Dan sekarang ini jumlahnya, bahkan lebih membesarkan hati! Bagi setiap sisa kelompok orang yang belum dijangkau, ada sejumlah total 583 jemaat Kristen (rata-rata 80 anggota per gereja).

    Apakah yang dapat terjadi jika 583 gereja bergabung bersama untuk bertanggung jawab terhadap satu kelompok orang yang belum dijangkau seperti suku Ewenki di Cina, orang-orang Bozo di Mali? Apakah yang tidak mungkin jika mereka memadukan potensi jemaat mereka untuk melakukan penanaman-gereja, apalagi jika mereka secara bersama mempersiapkan kekuatan doa pendukung serta mengumpulkan sumber daya untuk menyediakan dukungan keuangan di tanah air mereka?

    Bagaimana jika hanya 100 gereja yang menyerahkan diri mereka untuk mencapai satu kelompok orang seperti orang Bozo? Bagaimana jika hanya sepuluh jemaat memutuskan untuk mencoba kesatuan fungsional yang cukup untuk berhubungan dengan satu lembaga misi dan mencapai orang itu? Atau tiga atau dua? Atau satu yaitu gereja Anda?

    Adalah mustahil untuk menjangkau orang Bozo dan 11.999 kelompok lainnya yang belum dijangkau, tetapi mungkin untuk menempatkan tim penanaman-gereja yang perlu dalam beberapa tahun! Para ahli misi (misiolog) menyatakan bahwa kita bisa mengutus tim penanaman-gereja kepada setiap kelompok yang belum dijangkau dalam periode tujuh tahun. Untuk melakukan hal itu, gereja kita secara keseluruhan haruslah:

    1. Meneliti dan menetapkan 100.000 misionaris baru.

    2. Menggandakan persembahan misi kita.
    3. Berdoalah lebih lama lagi, paling sedikit beberapa jam per hari bagi setiap misionaris baru.

    Allah akan menyelesaikan tujuan-Nya. Gerbang neraka yang menyekat kelompok orang yang belum dijangkau di dunia, tidak akan bertahan menghadapi gerejaNya. Pada akhir zaman, Kristus akan dimuliakan dengan lagu: "Engkau telah disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa serta kaum dan bangsa" (Wahyu 5:9). Jadi, persoalannya hanyalah masalah waktu dan melalui/oleh siapa.

    Kenyataannya, di Amerika Serikat saja kita memiliki sumber daya yang lebih dari cukup untuk menggenapkan tugas itu:

    1. Dari 70 juta orang Injili di Amerika, 17,5 juta berusia 18-35 tahun. 100.000 misionaris baru yang diperlukan hanyalah setengah dari 1% jumlah orang percaya muda di AS.

    2. Orang Injili Amerika memiliki pendapatan tahunan mencapai sekitar $ 850 miliar. Sekitar seperlima dari 1 persen dari pendapatan itu yakni hanya $ 1,5 miliar bisa mendukung 12.000 tim penanaman- gereja yang dibutuhkan.

    3. Berdasarkan survei, waktu doa orang-orang Kristen Injili hanya memakan 2% dari waktu yang mereka habiskan setiap hari untuk menonton TV dan berbelanja.

    Namun, pekerjaan besar ini bukanlah ditujukan hanya untuk orang Amerika saja. Dengan 430 juta orang percaya lainnya di seluruh dunia, jelas sekali sumber daya itu tersedia. Contohnya, diperkirakan bahwa pada tahun 2000 akan ada 83.500 misionaris asal Asia dalam pekerjaan ini. Dalam tahun 1980, gereja-gereja Korea berikrar untuk mengutus 10.000 misionaris baru sampai tahun 2000 Masehi; tetapi jika mereka melanjutkan tingkat rata-rata pertumbuhan mereka yang mencapai 725% per dekade, mereka akan melampaui sasaran itu pada tahun 1995!

    Kita juga bisa menetapkan satu kegerakan gereja untuk setiap sisa kelompok orang yang belum dijangkau, kemudian membantu orang-orang percaya baru itu untuk menginjili kelompoknya sendiri. Hal itu bisa dikerjakan! Namun, akankah kita menjadi bagian darinya?

    Sumber:

    Judul Buku : Melayani sebagai Pengutus
    Judul Artikel: Di Manakah Posisi Anda dalam Rencana Agung? [Bab 8]
    Judul Artikel: Kita Memiliki Sumber Daya
    Penulis : Neal Pirolo
    Penerbit : OM Indonesia
    Hal : 169 - 171

    e-JEMMi 29/2004


    Komunikasi yang Efektif dalam Pelayanan

    Apakah Anda pernah menjumpai seorang yang tidak bersedia mendengar ketika Anda memberitakan Injil? Pernahkah Anda merasa frustrasi dengan seorang yang tidak mau mengerti atau sulit mengerti sekalipun penyampaian Anda sudah jelas? Atau, apakah Anda pernah bahkan sekarang ini sedang kesal karena melihat orang yang Anda layani belum juga mengambil keputusan untuk berubah? Jika ya, berarti Anda sedang berurusan dengan masalah komunikasi.

    Komunikasi? Bukankah itu sesuatu yang tidak perlu dipersoalkan? Nah, justru di sinilah persoalannya, yakni ketika Anda merasa komunikasi tidak perlu dipersoalkan.

    Komunikasi sering dipahami sebagai sesuatu yang biasa saja, sama seperti sistem peredaran darah dalam tubuh dan sistem pernafasan. Tetapi ketika yang "biasa" itu mengalami gangguan, barulah orang sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan sesuatu yang menentukan, mati atau hidup, sesuatu yang vital.

    Komunikasi merupakan bagian yang sangat vital dalam berhubungan dengan orang lain. Begitu banyak persoalan yang muncul di tengah kehidupan manusia gara-gara masalah komunikasi. Kesalahpahaman telah menimbulkan masalah-masalah sekunder seperti sakit hati, kecewa, marah, bahkan pembunuhan. Begitu juga dalam pelayanan gerejawi. Tidak jarang terjadi, hanya karena masalah komunikasi, gereja pecah, iman menjadi luntur, orang tidak mengerti, satu dengan lainnya menjadi tersinggung, dan sebagainya.

    Tetapi berapa banyak di antara kita yang telah sadar dan mulai membenahi komunikasi dan sistem komunikasi agar pelayanan kita bisa efektif, dan lebih dari itu, memuliakan nama Tuhan? Memang keberhasilan suatu pelayanan pekerjaan ditentukan oleh Allah sendiri melalui kuasa Roh Kudus. Namun demikian, kita juga diberi tanggung jawab dalam pelayanan oleh-Nya. Rasul Paulus adalah orang yang sangat bergantung kepada kuasa Roh Kudus dalam pelayanannya, namun sebagai hamba Tuhan yang bersungguh-sungguh ia "berusaha meyakinkan orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani" tentang Injil (Kisah Para Rasul 18:4).

    "Berusaha meyakinkan" Injil kepada orang lain merupakan usaha untuk mengomunikasikan firman Tuhan kepada orang lain. Allah sudah menyediakan Injil yang berkuasa mengubah hati orang. Kita tinggal mengomunikasikan Injil itu kepada orang lain. Kalau Injil itu sampai, hati orang akan berubah; bukan karena usaha kita, tetapi karena kuasa Firman itu.

    PENGERTIAN

    Kalau Si Andi dan Si Susi sedang bercakap-cakap, kita akan berkomentar bahwa mereka sedang berkomunikasi. Pengertian yang sederhana ini membuat kebanyakan orang beranggapan bahwa semua orang dapat berkomunikasi tanpa diajar dan tanpa belajar.

    Sebenarnya, istilah komunikasi dalam bahasa Latin (comunicare) berarti "kesamaan". Berkomunikasi berarti kedua pihak ikut terlibat di dalam usaha mencari kesamaan. Dengan demikian, komunikasi itu lebih dari sekadar berkhotbah, berceramah, berbicara, dan sebagainya.

    Kesamaan itu dapat berupa rasa kesamaan daerah atau suku, juga rasa sepenanggungan, seperasaan, sepikir, sehati, sejenis. Kesamaan tersebut akan membesar jika keduanya berusaha memahami latar belakang keluarga, budaya, dan pendidikan masing-masing. Semakin besar kesamaan di antara dua orang yang berkomunikasi, semakin memungkinkan keduanya untuk efektif dalam berkomunikasi. Dapat dikatakan bahwa kesamaan itu merupakan jembatan komunikasi.

    Kekeliruan kita di dalam berkomunikasi ialah mengabaikan partisipasi pihak lain. Kita sering merasa tidak perlu untuk memahami orang lain; yang penting bahwa "kabar baik" ini harus didengar. Benar, bahwa firman Tuhan itu harus didengar, tetapi bagaimana mereka mendengar jika pengomunikasiannya sudah salah, yakni tidak memperhitungkan pihak lain!

    Pengomunikasian Injil tanpa memperhitungkan pihak "pendengar` adalah suatu pemaksaan yang kadang-kadang berbentuk manipulasi. Yesus adalah komunikator yang agung. Ia memahami keadaan manusia (Yohanes 2:25). Ia, tahu setiap orang adalah berdosa dan membutuhkan Juruselamat (Lukas 5:30-32). Yesus berjalan bersama dengan orang- orang berdosa, berbicara dengan mereka, dan ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Ia mendatangi orang-orang itu di pinggir jalan, di ladang, di pesta pernikahan. Ia betul-betul mengenal audience-Nya.

    AUDIENCE ORIENTED

    Dr. Charles H. Craft, mahaguru di bidang Antropologi dan Komunikasi Antarbudaya dari Fuller Theological Seminary, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa Alkitab kita tidak hanya berisi berita yang baik dan menyelamatkan, tetapi juga berisi metode penyampaian berita itu. Allah tidak hanya memikirkan apa yang harus disampaikan tetapi juga metode untuk menyampaikannya.

    Kita sering terjebak ke dalam "message oriented". Kita mengutamakan berita itu dengan beranggapan bahwa firman Tuhan adalah seperti pedang yang bisa mengoyakkan hati orang ketika mendengarkannya. Memang keyakinan kita yang demikian tidaklah salah, namun kalau hanya memandang demikian, kita menjadi berat sebelah.

    Kedatangan Yesus ke dalam dunia merupakan metode Allah untuk berkomunikasi dengan manusia. Allah mempunyai berita, pesan, firman yang harus disampaikan kepada manusia. Tetapi Ia juga tidak mengabaikan metode penyampaiannya. Cara Tuhan menyampaikan firman kepada manusia pun beraneka ragam. Kepada Adam dan Hawa, Allah menyampaikan perintah-Nya dengan suara yang jelas. Kepada Raja Daud, Allah menegur melalui Nabi Natan dengan sindiran yang tegas dan keras. Kepada orang banyak, Yesus banyak menyampaikan perumpamaan- perumpamaan. Dan itu baru sebagian dari cara Tuhan kita berkomunikasi.

    Tetapi di balik semua metode yang kreatif itu, Yesus memulai dari pengenalan dan pemahaman mengenai manusia yang dihadapi-Nya. Berita yang disampaikan-Nya selalu berorientasi kepada kebutuhan audience- Nya. Perhatikanlah bagaimana Ia mendekati perempuan Samaria sebagaimana yang dikisahkan dalam kitab Injil Yohanes pasal 4. Yesus tidak mulai dengan "message" atau berita atau firman yang hidup itu. Memang Kabar Baik itulah yang menjadi kebutuhan utama wanita Samaria tersebut. Itu juga yang menjadi kebutuhan yang sebenarnya (real need) dari manusia. Tetapi dalam pendekatan-Nya, Yesus mulai dengan apa yang dirasakan (felt need) perempuan Samaria itu. "Berilah Aku minum" adalah kata-kata pembukaan Yesus ketika Ia mendekati perempuan Samaria itu pada waktu terik matahari di pinggir sumur Yakub. Kalimat itu tidak sekadar menyatakan bahwa Yesus membutuhkan air minum, tetapi kata-kata itu bisa juga berarti "Aku mau bersahabat denganmu". Ungkapan ini sungguh menggetarkan hati perempuan Samaria itu. Sebab baginya tidak mungkin seorang Yahudi mengungkapkan kata-kata seperti yang Yesus ucapkan kepada seorang Samaria.

    Pendekatan Yesus kepada perempuan Samaria langsung menyentuh kebutuhannya. Rupanya wanita Samaria itu merasa tertolak oleh kaum Yahudi yang, sebagaimana kebanyakan kita, tidak senang dengan sikap penolakan oleh orang lain. Manusia membutuhkan penerimaan dan pengakuan orang lain. Ia akan merasa tidak aman kalau ditolak. Nah, Yesus mengetahui keadaan ini. Karena itu, Ia mulai dengan suatu sikap bersahabat, "Berilah Aku minum."

    Komunikasi dikatakan sukses bila pihak lain (dalam hal ini pendengar atau audience, ada juga yang mengistilahkannya dengan komunikan), mengerti maksud kita sebagai pembawa pesan (komunikator) dan bertindak sesuai dengan keinginan kita terhadapnya. Namun untuk sampai kepada taraf itu, kita harus mulai memahami kebutuhan audience.

    Bahan diambil dan diedit dari sumber:

    Judul MAjalah : Sahabat Gembala, Juli 1992
    Judul Artikel: Komunikasi yang Efektif Dalam Pelayanan
    Penulis : Yopie F.M Buyung
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
    Halaman : 65 - 68

    e-JEMMi 27/2006

    Kreativitas dalam Pelayanan

    Yang membedakan gereja yang maju dengan gereja yang membosankan dan mandek ialah dalam hal kreativitas. Memang unsur ini bukanlah satu- satunya, namun sangat banyak memengaruhi maju-mundurnya suatu pelayanan.


    Gereja yang mengabaikan kreativitas cepat atau lambat akan ditinggalkan jemaatnya. Situasi inilah yang kita saksikan sekarang ini, terutama di kota-kota besar di Indonesia. Tiba-tiba saja sebuah gereja dijubeli oleh jemaat yang hadir, bahkan beberapa gereja tertentu harus menyelenggarakan empat sampai lima kali kebaktian pada satu hari Minggu. Sementara gereja yang lain dicap "membosankan", tidak punya Roh Kudus, dan "mati". Sikap jemaat yang demikian bisa menyebabkan pertikaian antarpemimpin gereja. Padahal, kebanyakan persoalan terletak pada kreativitas pelayanan.

    Kalau dalam dunia perniagaan pembeli itu raja, demikian pula di gereja, dalam konteks tertentu jemaat itu raja. Ia tidak peduli dengan kesulitan seorang pendeta atau para majelis di dalam mengatur pelayanan. Pokoknya, ia dilayani dengan baik. Kalau tidak, seiring dengan kecenderungan untuk bersikap individualistis, terutama di kota-kota besar, seorang anggota gereja tidak segan-segan meninggalkan gerejanya dan berpindah ke gereja yang dirasakannya cocok.

    Tentu saja kita boleh mengecam sikap oportunis itu. Tetapi, kita pun tidak dapat berbuat apa-apa dengan tren yang tengah melanda orang Kristen di berbagai kota besar itu. Kecaman terhadap gereja yang "mencuri domba" tidak akan pernah menyelesaikan persoalan ini. Saya pernah bertanya kepada seorang pengusaha muda mengapa ia berpindah gereja. Jawabannya, "Di gereja saya yang dahulu, rohani saya tidak bertumbuh. Nanti setelah di gereja yang baru inilah iman saya maju." Jawaban ini tentu subjektif sekali, tetapi jangan lupa ini adalah jawaban klasik.

    Sebagai pelayan sekaligus gembala jemaat, kita tidak dapat mengabaikan begitu saja apa yang dirasakan/dibutuhkan oleh jemaat. Mereka umumnya membutuhkan pelayanan yang segar agar ia betah. Memang tidak semua orang keluar dari sebuah gereja karena alasan bosan, "mati", dan tidak membawa "berkat". Namun, sangat disayangkan kalau hanya karena masalah kreativitas lalu orang pergi meninggalkan gereja itu.

    PENGERTIAN

    Salah satu perbedaan antara manusia dengan binatang adalah dalam hal kreativitas. Seekor anjing dapat saja melakukan keterampilan mengendarai sepeda. Ia melakukannya karena ia dilatih bertahun-tahun sehingga terampil. Tetapi anjing tidak dapat mengembangkan keahliannya itu. Berbeda dengan manusia. Ia tidak hanya terampil, tetapi sanggup mengembangkan apa yang diperolehnya dari latihan, bahkan ia bisa menciptakan permainan yang lain. Ia mampu berkreasi. Inilah beberapa ciri pokok manusia kreatif.

    1. Berpikir dari segala arah.
      Seorang yang kreatif mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi. Ia akan mengumpulkan berbagai fakta untuk memecahkan persoalan itu. Bagi seorang yang kreatif sebuah pensil tidak hanya untuk menulis, tetapi juga untuk menggaruk, mengorek kuping, mengukur, mengganggu teman, menggaris, bahkan bisa dipakai sebagai alat untuk makan. Jadi, satu bahan bisa digunakan untuk banyak fungsi.

    2. Fleksibel tanpa menyalahi aturan.
      Dr. Campbell memberikan contoh, seorang pegawai kantor sebuah yayasan pendidikan swasta di suatu pelosok ditugaskan majikannya mengurus perkara di sebuah ibu kota provinsi. Dalam rangka penyelesaian perkara itu ternyata dia harus membuat surat baru dan harus diberi cap yayasan. Padahal ia tidak membawa cap yang dibutuhkan. Untuk kembali ke kantor jauh, memakan waktu dan biaya. Maka, daripada kembali ke kantor, dia memesan cap yayasan yang baru di ibu kota dan sesampai di kantor kembali, ia memberitahu instansi pemerintah dan relasi bahwa cap resmi yayasan diganti.

    3. Orisinalitas.
      Orang kreatif mampu menelurkan ide, gagasan, dan cara kerja yang tidak lazim, yang tidak terpikirkan sebelumnya. Barangkali bagi kebanyakan orang, untuk mengambil bola pingpong yang jatuh ke dalam lubang harus menggunakan tongkat. Tetapi seorang yang kreatif akan dapat memakai air. Lubang itu diisi air sampai penuh dan bola pingpong itu akan timbul dengan sendirinya.

    4. Senang dengan hal-hal yang rumit.
      Orang kreatif umumnya senang dengan hal-hal yang menantang ketimbang kesederhanaan dan jalan pintas. Di dalam situasi inilah muncul gagasan-gagasan "aneh".

    5. Tidak puas dengan yang monoton.
      Ia merasa gelisah dengan pekerjaan yang itu-itu saja. Orang kreatif tidak senang pada hal-hal yang bersifat rutinitas tanpa menghasilkan yang lebih baik. Ia selalu berada pada pekerjaan yang menghasilkan sesuatu yang baru misalnya, menulis, studi, penelitian, kesenian, dan sebagainya. Dan ia tidak senang pada pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut keterampilan rutin.

    KREATIVITAS DALAM PELAYANAN

    Mendirikan gereja baru tidak selamanya merupakan perbuatan yang kreatif. Bisa saja hal itu dilandasi oleh motivasi pemberontakan. Begitu juga dengan acara yang aneh-aneh. Misalnya, seorang pemuda hadir di sebuah persekutuan yang setiap kali pertemuan dihadiri sekitar lima ratus orang. Bagi dia jumlah ini sangat banyak dibandingkan dengan persekutuan pemudanya yang hanya dihadiri sepuluh orang.

    Kemudian ia mengusulkan agar pengurus persekutuan pemudanya membeli alat musik listrik (band) sebab ia lihat di persekutuan besar itu memakai alat musik tersebut. Ide ini tentu saja bukan ide yang kreatif. Ini adalah peniruan. Karena di sana begitu, di sini juga begitu. Tidak harus sama.

    Kecenderungan pelayanan gerejawi kita bukanlah bersifat kreatif tetapi peniruan. Di Korea, pengkhotbah seperti Paul Yonggi Cho selalu mendapat aplaus begitu ia naik ke mimbar atau menyampaikan pernyataan-pernyataan yang mengesankan dalam khotbahnya. Kebiasaan ini ditiru oleh beberapa gereja di Indonesia. Ini bukanlah kreativitas.

    Roh Kudus adalah Roh yang kreatif. Sejak semula, ketika dunia ini diciptakan, Ia menyatakan diri sebagai Allah yang kreatif. Tidak ada yang membosankan bagi Allah kita, "selalu baru tiap pagi". Karena itu, pelayanan yang tiruan tidak sesuai dengan semangat Roh Kudus.

    Tetapi jangan salah mengerti. Yang saya maksudkan adalah peniruan terhadap metode pelayanan dan bukan pada ajaran atau keteladanan. Meneladani Yesus dalam pelayanan-Nya, itu merupakan patokan atau "frame of reference". Dalam hal prinsip kita tidak mengubahnya, tetapi dalam hal metode harus. Penginjilan, misalnya. Semua orang percaya harus memberitakan Injil kepada semua bangsa. Tetapi cara memberitakan Injil tidak harus dengan mengumpulkan massa di satu tempat dan dikhotbahi oleh satu orang. Banyak sekali metode kreatif yang dapat dipakai untuk memberitakan Injil.

    BEBERAPA KESEMPATAN

    Ada orang yang diberi kemampuan khusus sebagai orang kreatif, tetapi tidak semua demikian. Namun, setiap orang mempunyai kesempatan untuk berkreasi dalam menemukan sesuatu yang baru, berguna, dan dapat dimengerti. Kesempatan-kesempatan itu bisa didapat dari:

    1. Keberanian menanggung risiko.

      Salah satu penghambat kreativitas adalah takut gagal. Orang yang takut gagal cenderung untuk menetapkan tujuan-tujuan yang biasa- biasa saja. Ia merasa lebih aman untuk menetapkan target yang kecil-kecil.

      Kalau kita hanya menargetkan apa yang dapat kita capai, ketergantungan kepada Tuhan tidak akan ada sebab untuk apa menyerahkan kepada Tuhan apa yang dapat kita capai? Tetapi kalau kita membuat rencana-rencana yang melampaui kemampuan-kemampuan kita, sikap kita cenderung berserah kepada Tuhan. Sebab, "Ini bukan rencana saya, tetapi ini pekerjaan Dia."

      Bapak misi modern, William Carey (1761) pernah melakukan pekerjaan besar di India dengan menerjemahkan Alkitab ke dalam 24 bahasa, dan membagikan Alkitab kepada tiga ratus juta orang. Pada tahun 1792, dalam khotbahnya ia berkata, "Expect great things from God, attempt great things for God (harapkanlah hal- hal besar dari Allah, lakukanlah hal-hal besar bagi Allah)."

      Hanya orang-orang yang berani menanggung risiko yang mampu melakukan hal-hal besar. Keberanian ini tentulah keberanian yang bergantung kepada Allah. Keberanian seperti ini pula yang memungkinkan seseorang menjadi kreatif.

      Tetapi keberanian mengambil risiko ini tidak ngawur. Kita harus membuat pertimbangan akal sehat. Tuhan tidak setuju kalau kita berani tanpa pertimbangan yang matang. Ia menghargai akal sehat manusia (Matius 22:37). "Dalam hal-hal di mana kita mampu menanggung kerugian, sebaiknya kita sering mengambil risiko. Tetapi di mana terdapat malapetaka, sebaiknya kita jarang mengambil risiko," demikian saran David Campbell.

    2. Terbuka kepada ide dan gagasan baru.

      Kita sering mendengar orang berkata di kala menghadapi kepanitiaan Natal atau Paskah, "Bentuk acaranya harus begini, soalnya yang dahulu-dahulu juga begitu." Ia tertutup pada ide-ide baru dan hanya terpaku kepada apa yang sudah dilakukan para pendahulu. Seorang kreatif senang menerima hal-hal baru dan bermain-main dengannya.

    3. Rajin dan senang akan pekerjaannya.

      Kalaupun pekerjaan yang dihadapi sekarang ini tidak menyenangkan, bekerjalah dengan rela hati. Pekerjaan akan menjadi lebih efektif kalau dikerjakan dengan rela dan orang yang mengerjakannya merasa ringan sehingga besar kemungkinan untuk lebih kreatif.

      "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya. Perhatikanlah apa yang kukatakan; Tuhan akan memberi kepadamu pengertian dalam segala sesuatu." (2 Timotius 2:6,7)

    Bahan diambil dan diedit dari sumber:

    Judul MAjalah : Sahabat Gembala, Juli 1992
    Judul Artikel: Kreativitas dalam Pelayanan
    Penulis : Yopie F.M Buyung
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
    Halaman : 52 - 57

    e-JEMMi 28/2006

    Ladang Misi yang Tersembunyi di Gereja Kita -- Evelyn Christenson

    Dalam setiap denominasi, pada setiap gereja, ada ladang misi yang tersembunyi. Ada banyak orang yang namanya tertulis dalam daftar gereja, namun tidak memiliki hubungan dengan Kristus.

    Kita tidak perlu menghakimi siapa yang Kristen dan siapa yang tidak -- itu urusan Tuhan. Tetapi Yesus berkata, "Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenai mereka" (Matius 7:20). Kita bisa menjadi pengawas buah. Jikalau anggota gereja tidak bertumbuh di dalam Kristus, jika mereka membenci setiap orang dan tidak mengasihi, jika tidak ada buah-buah dalam hidup mereka, mungkin mereka bukan orang Kristen.

    Saya melihat bahwa tiga perempat dari para pengunjung gereja yang hadir dalam seminar saya berdoa keras-keras untuk memastikan bahwa mereka mempunyai hubungan dengan Allah. Inilah orang-orang yang berusaha keras untuk berubah, tetapi mereka belum yakin apakah mereka mengenal Yesus Kristus.

    Ini terjadi di Australia dalam sebuah seminar yang disponsori oleh kelompok pemahaman Alkitab bagi wanita. Lima ratus dari seribu wanita yang datang ke seminar itu berdoa keras-keras untuk memastikan bahwa mereka mempunyai hubungan dengan Tuhan Yesus. Setelah itu, saya bertemu dengan para pemimpin kelompok itu. Mereka terkejut, karena sebagian besar dari orang-orang yang berdoa keras- keras untuk menerima Kristus itu sebenarnya adalah wanita-wanita yang telah bertahun-tahun mengikuti pendalaman Alkitab. Para pemimpin itu berkata kepada saya, "Ada satu hal yang telah Anda ajarkan kepada kami, yaitu bahwa kami belum menjelaskan dalam bahan- bahan pelajaran kami bagaimana menemukan Yesus Kristus. Kami membiarkan orang-orang ini belajar Alkitab, dengan anggapan bahwa mereka telah memiliki hubungan pribadi dengan Kristus."

    Hal yang sama berlaku juga di gereja-gereja kita. Salah satu denominasi gereja yang terbesar di Amerika memperkirakan bahwa 30 persen dari anggotanya bukan orang Kristen. Denominasi lain memperkirakan bahwa sampai 70 persen anggotanya adalah orang Kristen karena tradisi: yaitu anggota gereja yang pergi ke sekolah Minggu dan berpartisipasi dalam kelompok kaum muda dan telah melewati semua persyaratan menjadi anggota gereja, tetapi tidak pernah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan Yesus. Inilah alasan utama mengapa para anggota gereja tidak bisa bertumbuh. Mereka tidak mengenal Kristus sebagai Juruselamat mereka.

    Bagaimana kita menjangkau ladang misi yang tersembunyi dalam gereja- gereja kita ini?

    1. Periksa, tetapi jangan menghakimi.

      Satu-satunya yang berhak menghakimi adalah Tuhan. Tugas kita adalah mendorong orang untuk bertumbuh. Tetapi, kita tidak boleh melarang orang masuk hanya karena kita pikir, mereka tidak mengenai Kristus. Jikalau mereka mengatakan mengenal Kristus, kita harus percaya.

    2. Berikan kesempatan kepada orang-orang itu untuk menerima Kristus.

      Dalam pelayanan, dalam pelajaran Alkitab, dalam kelas sekolah Minggu, kita hendaknya pada waktu-waktu tertentu menerangkan dasar-dasar keselamatan dan memberikan kesempatan kepada orang- orang yang belum yakin akan hubungan mereka dengan Tuhan agar bertobat dan percaya.

    3. Berikan tantangan kepada mereka yang menyatakan telah mengenal Kristus.

      Kita hendaknya jangan mau menjadi nomor dua dalam pertumbuhan rohani kita atau pertumbuhan rohani orang-orang yang ada di sekitar kita. Dalam kelompok-kelompok kecil dan dalam persekutuan doa, kita bisa menganggap satu sama lain bertanggung jawab atas tugas mulia yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.

    4. Lebih dari segalanya, kasihilah.

      Kita harus mengasihi, baik orang Kristen maupun orang non- Kristen. Kita wajib memenuhi kebutuhan mereka entah mereka memiliki hubungan dengan Tuhan atau tidak.

    Judul Buku: : Pola Hidup Kristen -- Penerapan Praktis
    Penyusun Buku : Josh McDowell
    Judul Artikel : Ladang Misi yang Tersembunyi di Gereja Kita
    Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas bekerja sama dengan Lembaga Literatur Baptis dan Yayasan Kalam Hidup YAKIN -- 2002
    Penulis Artikel : Richard Lovelace
    Halaman : 1020 - 1021

    e-JEMMi 03/2005

    Lagu Malam Kudus

    Kita tentu akan merasa ada sesuatu yang kurang kalau ada perayaan Natal tanpa menyanyikan "Malam Kudus," bukan?

    Terjemahan-terjemahan lagu Natal kesayangan itu sedikit berbeda satu dari yang lainnya, namun secara umum semuanya hampir serupa. Hal itu berlaku juga dalam bahasa-bahasa asing. Lagu itu begitu sederhana, sehingga tidak perlu ada banyak selisih pendapat atau perbedaan kata dalam menerjemahkannya.

    "Malam Kudus" sungguh merupakan lagu pilihan, karena dinyanyikan dan dikasihi di seluruh dunia. Bahkan para musikus ternama rela memasukkannya pada acara konser dan piringan hitam mereka.

    Anehnya, nyanyian yang terkenal di seluruh dunia itu sesungguhnya berasal dari sebuah desa kecil di daerah pegunungan negeri Austria. Inilah ceritanya ....

    Orgel yang Rusak
    Orgel di gereja desa Oberndorf sedang rusak. Tikus-tikus sudah mengunyah banyak bagian dalam dari orgel itu.

    Seorang tukang orgel telah dipanggil dari tempat lain. Tetapi menjelang Hari Natal tahun 1818, orgel itu masih belum selesai diperbaiki. Sandiwara Natal terpaksa dipindahkan dari gedung gereja, karena bagian-bagian orgel yang sedang dibetulkan itu masih berserakan di lantai ruang kebaktian.

    Tentu tidak ada seorang pun yang mau kehilangan kesempatan melihat sandiwara Natal. Pertunjukan itu akan dipentaskan oleh beberapa pemain kenamaan yang biasa mengadakan tour keliling. Drama Natal sudah menjadi tradisi di desa itu, sama seperti di desa-desa lainnya di negeri Austria.

    Untunglah, seorang pemilik kapal yang kaya raya mempunyai rumah besar di desa itu. Jadi ia mengundang para anggota gereja untuk menyaksikan sandiwara Natal itu di rumahnya.

    Tentu saja Josef Mohr, pendeta pembantu dari gereja itu, diundang pula. Pada malam tanggal 23 Desember, ia turut menyaksikan pertunjukan di rumah orang kaya itu.

    Sesudah drama Natal itu selesai, Pendeta Mohr tidak terus pulang. Ia mendaki sebuah bukit kecil yang berdekatan. Dari puncaknya ia memandang jauh ke bawah, dan melihat desa di lembah yang disinari cahaya bintang yang gemerlapan. Sungguh malam itu indah sekali ... malam yang kudus ... malam yang sunyi ....

    Hadiah Natal yang Istimewa
    Pendeta Mohr baru sampai ke rumah tengah malam. Tetapi ia belum juga siap tidur. Ia menyalakan lilin, lalu mulai menulis sebuah syair tentang apa yang telah dilihatnya dan dirasakannya pada malam itu.

    Keesokan harinya pendeta muda itu pergi ke rumah temannya. Franz Gruber, yang juga masih muda, seorang kepala sekolah di desa Arnsdorf yang letaknya tiga kilometer jauhnya dari Oberndorf. Franz sendiri juga seorang pemimpin musik di gereja yang dilayani oleh Josef Mohr.

    Pendeta Mohr lalu memberikan sehelai kertas lipatan kepada kawannya. "Inilah hadiah Natal untukmu," katanya, "sebuah syair yang baru saja saya karang tadi malam."

    "Terima kasih, pendeta!" balas Franz Gruber.

    Setelah mereka berdua diam sejenak, lalu pendeta muda itu bertanya: "Mungkin engkau dapat membuat lagunya, ya?"

    Franz Gruber senang atas saran itu. Segera ia mulai bekerja dengan syair hasil karya Josef Mohr.

    Pada sore harinya, tukang orgel itu sudah cukup membersihkan ruang kebaktian sehingga gedung gereja dapat dipakai lagi. Tetapi orgel itu sendiri masih belum dapat digunakan.

    Penduduk desa berkumpul untuk merayakan Malam Natal. Dengan keheranan mereka menerima pengumuman, bahwa termasuk pada acara malam itu ada sebuah lagu Natal yang baru.

    Franz Gruber sudah membuat aransemen khusus dari lagu ciptaannya Mohr -- untuk dua suara, diiringi oleh gitar dan koor. Mulailah dia memetik senar pada gitar yang tergantung di pundaknya dengan tali hijau. Lalu ia membawakan suara bas, sedangkan Josef Mohr menyanyikan suara tenor.

    Paduan suara gereja bergabung dengan duet itu pada saat-saat yang telah ditentukan. Dan untuk pertama kalinya lagu "Malam Kudus" diperdengarkan.

    Bagaimana Tersebar?
    Tukang orgel turut hadir dalam kebaktian Malam Natal itu. Ia senang sekali mendengarkan lagu Natal yang baru. Mulailah dia bersenandung, mengingat not-not melodi itu dan mengulang-ulangi kata-katanya.

    "Malam Kudus" masih tetap bergema dalam ingatannya pada saat ia selesai memperbaiki orgel di Oberndorf, lalu pulang.

    Sekarang masuklah beberapa tokoh baru dalam ceritanya, yaitu: Strasser bersaudara. Keempat gadis Strasser itu adalah anak-anak seorang pembuat sarung tangan. Mereka berbakat luar biasa di bidang musik.

    Sewaktu masih kecil, keempat gadis cilik itu suka menyanyi di pasar, sedangkan ayah mereka menjual sarung tangan buatannya. Banyak orang mulai memperhatikan mereka, dan bahkan memberi mereka uang atas nyanyiannya.

    Demikian kecilnya permulaan karier keempat gadis Strasser itu, hanya sekedar menyanyi di pasar. Tetapi mereka cepat menjadi tenar. Mereka sempat berkeliling ke banyak kota. Yang terutama mereka tonjolkan ialah lagu-lagu rakyat dari tanah air mereka, yakni dari daerah pegunungan negeri Austria.

    Tukang orgel tadi mampir ke rumah keempat Strasser bersaudara. Di hadapan mereka, ia pun menyanyikan lagu Natal yang baru saja ia pelajari dari kedua penciptanya di gereja desa itu.

    Salah seorang dari keempat wanita itu menuliskan kata-kata dan not- not yang mereka dengarkan dari tukang orgel teman mereka. Dengan berbuat demikian mereka pun dapat menghafalkannya.

    Keempat wanita itu senang menambahkan "Malam Kudus" pada acara mereka. Makin lama makin banyak orang yang mendengarnya, sehingga lagu Natal itu mulai dibawa ke negeri-negeri lain pula.

    Pernah seorang pemimpin konser terkenal mengundang keempat kakak- beradik dari keluarga Strasser itu untuk menghadiri konsernya. Sebagai atraksi penutup acara yang tak diumumkan sebelumnya, ia pun memanggil keempat wanita itu untuk maju ke depan dan menyanyi. Antara lain, mereka menyanyikan "Malam Kudus," yang oleh mereka diberi judul "Lagu dari Surga."

    Raja dan ratu daerah Saksen menghadiri konser itu. Mereka mengundang rombongan penyanyi Strasser itu untuk datang ke istana pada Malam Natal. Tentu saja di sana pun mereka membawakan lagu "Malam Kudus."

    Rahasia Asal Usulnya
    Lagu Natal yang indah itu umumnya dikenal hanya sebagai "lagu rakyat" saja. Tetapi sang raja ingin tahu siapakah pengarangnya. Pemimpin musik di istana, yaitu komponis besar Felix Mendelssohn (lihatlah pasal 14 dari JILID 3 dalam seri buku ini), juga tidak tahu tentang asal usul lagu Natal itu.

    Sang raja mengirim seorang utusan khusus untuk menyelidiki rahasia itu. Utusannya hampir saja pulang dengan tangan kosong. Lalu secara kebetulan ia mendengar seekor burung piaraan yang sedang bersiul. Lagu siulannya tak lain ialah "Malam Kudus"!

    Setelah utusan raja tahu bahwa burung itu dulu dibawa oleh seseorang dalam perjalanannya dari daerah pegunungan Austria, maka pergilah dia ke sana serta menyelidiki lebih jauh. Mula-mula ia menyangka bahwa barangkali ia akan menemukan lagu itu dalam naskah-naskah karangan Johann Michael Hayden, seorang komponis bangsa Austria yang terkenal. (Lihatlah pasal 6 dari JILID 3 dalam seri buku ini.) Tetapi semua penelitiannya itu ternyata sia-sia.

    Walau demikian, usaha utusan raja itu telah menimbulkan rasa ingin tahu pada penduduk setempat. Seorang pemimpin koor anak-anak merasa bahwa salah seorang muridnya mungkin pernah melatih burung yang pandai menyanyikan "Malam Kudus" itu. Maka ia pun menyembunyikan diri sambil bersiul meniru suara burung tersebut.

    Tak lama muncullah seorang anak laki-laki, mencari burung piaraannya yang sudah lama lolos. Ternyata anak itu bernama Felix Gruber. Dan lagu yang sudah termasyhur itu, yang dulu diajarkan kepada burung piaraannya, ditulis asli oleh ayahnya sendiri!

    Demikianlah seorang bocah dan seekor burung turut mengambil peranan dalam menyatakan kepada dunia luar, siapakah sebenarnya yang mengarang "Lagu Natal dari Desa di Gunung" itu.

    Tanda Pengenal Orang Kristen
    Setelah satu abad lebih, "Malam Kudus" sesungguhnya menjadi milik bersama seluruh umat manusia. Bahkan lagu Natal itu pernah dipakai secara luar biasa, untuk menciptakan hubungan persahabatan antara orang-orang Kristen dari dua bangsa yang sangat berbeda bahasa dan latar belakangnya.

    Pada waktu Natal tahun 1943, seluruh daerah Lautan Pasifika diliputi oleh Perang Dunia Kedua. Beberapa minggu setelah Hari Natal itu, sebuah pesawat terbang Amerika Serikat mengalami kerusakan yang hebat dalam peperangan, sehingga jatuh ke dalam samudra di dekat salah satu pulau Indonesia.

    Kelima orang awak kapal itu, yang tubuhnya penuh luka, terapung- apung pada pecahan-pecahan kapalnya yang sudah tenggelam. Lalu nampak pada mereka beberapa perahu yang makin mendekat. Orang-orang yang asing bagi mereka itu mendayung dengan cepatnya dan segera mengangkat mereka masuk ke dalam perahu-perahunya.

    Penerbang-penerbang bangsa Amerika itu ragu-ragu dan curiga:

    Apakah orang-orang ini masih di bawah kuasa Jepang, musuh mereka? Apakah orang-orang ini belum beradab, dan hanya menarik mereka dari laut untuk memperlakukan mereka secara kejam?

    Segala macam kekuatiran terkilas pada pikiran mereka, karena mereka sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa para pendayung berkulit coklat itu. Sebaliknya, orang-orang tersebut sama sekali tak dapat berbicara dalam bahasa Inggris. Rupa-rupanya tiada jalan untuk mengetahui dengan pasti, apakah tentara angkatan udara itu telah jatuh ke dalam tangan kawan atau lawan.

    Akhirnya, sesudah semua perahu itu mendarat di pantai, salah seorang penduduk pulau itu mulai menyanyikan "Malam Kudus." Kata-kata dalam bahasa Indonesia itu masih asing bagi para penerbang yang capai dan curiga. Tetapi lagunya segera mereka kenali. Dengan tersenyum tanda perasaan lega, turutlah mereka menyanyi dalam bahasa mereka sendiri. Insaflah mereka sekarang bahwa mereka sudah jatuh ke dalam tangan orang-orang Kristen sesamanya, yang akan melindungi dan merawat mereka.

    Lagu Duniawi dan Surgawi
    Bagaimana dengan sisa hidup kedua orang yang mula-mula menciptakan lagu "Malam Kudus"?

    Josef Mohr hidup dari tahun 1792 sampai tahun 1848. Franz Gruber hidup dari tahun 1787 sampai tahun 1863. Kedua orang itu terus melayani Tuhan bertahun-tahun lamanya dengan berbagai-bagai cara. Namun sejauh pengetahuan orang, mereka tidak pernah menulis apa-apa lagi yang luar biasa. Nama-nama mereka pasti sudah dilupakan oleh dunia sekarang ... kecuali satu kejadian, yaitu: Pada masa muda mereka pernah bekerja sama untuk menghasilkan sebuah lagu pilihan.

    Gereja kecil di desa Oberndorf itu dilanda banjir pegunungan pada tahun 1899, sehingga hancur luluh. Sebuah gedung gereja yang baru sudah dibangun di sana. Di sebelah dalamnya ada pahatan dari marmer dan perunggu sebagai peringatan lagu "Malam Kudus."

    Pahatan itu menggambarkan Pendeta Mohr, seakan-akan ia sedang bersandar di jendela, melihat keluar dari rumah Tuhan di surga. Tangannya ditaruh di telinga. Ia tersenyum sambil mendengar suara anak-anak di bumi yang sedang menyanyikan lagu Natal karangannya. Di belakangnya berdiri Franz Gruber, yang juga tersenyum sambil memetik gitarnya.

    Sungguh tepat sekali kiasan dalam pahatan itu! Seolah-olah seisi dunia, juga seisi surga, turut menyanyikan "Lagu Natal dari Desa di Gunung" itu.

    Sumber diambil dari:
    Situs GEMA (Gudang Elektronik Media Audio)
    ==> http://www.sabda.org/gema/index.php?n=artikel&id=28

    e-JEMMi 50/2005

    Langkah-Langkah Praktis Untuk Melibatkan Gereja Lokal dalam Misi

    Hal utama yang perlu dilakukan adalah mengatasi "alasan-alasan" yang merintangi tugas-tugas misi. Ada 4 alasan utama yang merintangi gereja lokal dalam memenuhi tugas misinya.

    Alasan pertama: "Kami tidak mengerti misi itu apa?"

    1. Pimpinan jemaat dan anggota merasa belum mengerti Misi itu apa?

    2. Jemaat tidak merasa tertarik pada pokok Misi.

    3. Jemaat hanya mengetahui sedikit tentang tugas Misi.

    4. Jemaat merasa tidak punya waktu untuk menyibukkan diri dengan Misi.

    Alasan kedua: "Kami belum siap!", sebab:

    1. Jemaat tidak mendapat kesempatan untuk belajar tentang Misi.

    2. Gembala merasa seluruh perhatian jemaat saat ini harus dicurahkan pada usaha mendewasakan para anggotanya.

    3. Ketua Majelis mengatakan, "Jemaat kami baru dibuka dua tahun yang lalu, dan kami belum mempunyai gedung gereja sendiri. Jadi kurang tepat bicara soal Misi dengan kami".

    Alasan ketiga: "Kami terlalu sibuk!", "Gereja kami sedang menjalankan program besar agar anggota kami menjangkau tetangga mereka untuk Kristus, jadi tak mungkin tahun ini kami memikirkan masalah Misi."

    Alasan keempat: "Kepemimpinan gereja kami tidak terbeban!", "Masih ada jutaaan orang di daerah kita sendiri yang belum mengenal Kristus, saya tidak bisa merepotkan diri dengan pulau atau negara yang lain", keluh seorang pendeta.

    Bagaimana cara mengatasi keempat alasan tersebut?

    1. Berdoalah buat para pemimpin jemaat agar mendapat beban untuk Misi.

    2. Berdoa agar para pemimpin mulai terbeban untuk Misi, sambil membagi beban Misi secara bijaksana dengan mereka.

    3. Terus menerus mendekati pemimpin gereja agar gereja mengadakan program Misi.

    4. Membagikan literatur, baik buku atau majalah misi, kepada teman-teman di gereja.

    5. Berdoa agar gereja membuka komisi atau seksi Misi.

    6. Bersedia untuk dipilih sebagai pengurus komisi atau seksi Misi.

    7. Mengumpulkan dana untuk Misi lintas budaya.

    Sumber: Terang Lintas Budaya edisi 44

    e-JEMMi 26/2001

    Lima Cara Gereja Lokal Dapat Bertumbuh Secara Sehat

    Judul Asli: Lima Cara Untuk Menjangkau Dunia Dewasa Ini ]

    Paling tidak ada lima cara dimana gereja lokal dapat bertumbuh secara sehat: Paling tidak ada lima cara dimana gereja lokal dapat bertumbuh secara sehat:

    1. Gereja yang sehat harus bertumbuh secara jumlah dan secara kedewasaan rohani.

    2. Gereja yang sehat harus mengalami pertumbuhan keluar (tidak hanya ke dalam), yaitu dengan terlibat dalam pengutusan misi dunia.

    3. Gereja yang sehat harus mendirikan gereja-gereja baru di daerah sekitar yang tidak jauh dari tempat dimana gereja itu berada.

    4. Gereja yang sehat harus memberikan dorongan semangat dan contoh teladan bagi gereja-gereja lain.

    5. Gereja yang sehat harus mengembangkan pengaruh sosialnya di masyarakat di mana gereja itu berada.

    1. Mendorong Adanya Pertumbuhan Baik Secara Jumlah Dan Secara Rohani

    PEMBERITAAN INJIL. Adalah sangat penting bagi pendeta dan anak buahnya untuk membuat rencana-rencana yang dapat memberikan dorongan semangat khususnya di dalam bidang penginjilan untuk jemaat lokal. Dan pekabaran Injil ini harus secara kultural dapat diterima. Terlalu sering gereja-gereja lokal tidak mempunyai kepekaan terhadap masyarakat di sekitar mereka sendiri dengan mengesampingkan kelompok-kelompok masyarakat yang secara geografis berdekatan. Tetapi orang-orang Kristen akan menunjukkan sikap kritis mereka, bilamana melihat adanya seorang penginjil yang melangkah keluar untuk melayani di luar lingkungan budayanya sendiri. Tuhan menemui orang-orang di tempat mana mereka berada/tinggal. Dia makan dan minum bersama-sama mereka dan menghadiri pesta jamuan makan yang mereka adakan. Dia berada bersama orang-orang yang lapar, orang- orang yang sakit, para bangsawan, orang-orang kaya, seseorang yang sudah lima kali mengalami kawin cerai. Pendeta dengan rekan-rekan seimannya harus dapat menemukan alat atau sarana yang melaluinya Injil dapat disampaikan dan didengar dengan sebaik-baiknya.

    PEMURIDAN. Gereja harus terlibat di dalam tugas pemberitaan Injil. Tetapi, jika hanya membuat keputusan-keputusan saja, dan tidak mengadakan langkah pemuridan, maka ini merupakan kesalahan yang tragis. Yesus memerintahkan kepada murid-murid-Nya untuk memandang sekelilingnya, pergi dan menjadikan murid, membaptiskan dan mengajar (Matius 28:19-20). Proses untuk menempatkan domba-domba baru masuk ke dalam kawanan domba harus dilaksanakan dengan hati-hati. Sebuah gereja lokal harus mengembangkan suatu proses pemikiran mengenai hal pemuridan untuk menolong mengarahkan dan menangani hasil-hasil dari pekabaran Injil dan memantapkan orang-orang yang baru percaya tersebut ke dalam persekutuan. Berikut ini beberapa saran tentang langkah-langkah di dalam pekabaran Injil/proses pemuridan sebagaimana sudah dikembangkan oleh dua belas anggota dari team pastoral (pelayanan penggembalaan) di sebuah gereja yang pernah digemabalakan oleh si penulis artikel ini:

    Langkah 1: Setiap pengunjung yang hadir di dalam semua kegiatan kebaktian, pagelaran musik rohani dan acara-acara kebaktian khusus lainnya diminta untuk mengisi kartu-kartu isian yang sudah disediakan.
    Langkah 2: Selama minggu berikutnya satu team pemberita Injil mengunjungi rumah-rumah para pengunjung yang hadir (berdasarkan kartu-kartu yang sudah diisi) dan menyampaikan berita Injil.
    Langkah 3: Jika pengunjung yang dikunjungi itu menunjukkan sikap tertarik terhadap Injil, maka dia didorong untuk bersedia datang lagi di dalam kebaktian gereja. Dia juga diundang untuk menghadiri kelas-kelas pemahaman Alkitab -- yang terdiri dari beberapa kelompok kecil, yang disediakan selama lima minggu secara berurutan, yang khusus membahas mengenai pokok-pokok dasar Alkitab dan Injil, sehingga dalam suasana seperti itu anggota- anggota yang hadir di dalam kelas pemahaman Alkitab mendapat kesempatan untuk menerima Kristus.
    Langkah 4: Proses pemuridan berjalan terus, sementara setiap pribadi diundang untuk menghadiri kelas-kelas dewasa pada hari Minggu sesuai dengan pilihan masing-masing. Kelas-kelas ini mengajarkan hal-hal seperti bagaimana hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai orang yang beriman, bagaimana melakukan tindakan-tindakan sosial, kegiatan cell-group, team-team doa, dan lain sebagainya, dimana para pendatang baru dapat mengembangkan rasa ikut memiliki dari bagian persekutuan dan mengembangkan hubungan antara satu dengan yang lain.
    Langkah 5: Keanggotaan Gereja disampaikan setiap kali pribadi- pribadi menjadi orang percaya. Penulis yakin apabila hal keanggotaan gereja terlalu ditekankan, dapat juga terjadi bahwa hal keanggotaan gereja ini tidak mendapatkan perhatian sama sekali. Keanggotaan gereja dan baptisan adalah penting bagi komitmen kepada gereja lokal.
    Langkah 6. Proses penginjilan dan pemuridan terselesaikan bilamana orang percaya baru sudah dimantapkan di dalam kegiatan-kegiatan kebaktian umum secara reguler; dan di dalam kelas-kelas Sekolah Minggu dewasa untuk bersekutu, saling memberikan perhatian, dan belajar bersama, disamping saling menasehati dan mendoakan. Juga dimantapkan di dalam kegiatan kelompok-kelompok kecil di rumah-rumah yang terdiri dari empat sampai delapan orang anggota (cell-group). Kelompok-kelompok kecil ini sangat perlu untuk mengembangkan adanya komitmen yang dalam, baik untuk perkembangan spirituil masing-masing pribadi, ataupun di dalam hal untuk saling merawat dan memelihara kehidupan rohani dalam kebersamaan.

    Pekerja gereja, di mana penulis pernah menjadi gembalanya, menemukan juga bahwa pada dasarnya Tuhan sudah menetapkan bagi kehidupan gereja tiga tingkatan kontak yang dapat memenuhi kebutuhan spirituil masing-masing anggota dan juga menolong mengembangkan persekutuan dan pemuridan yang sungguh sangat diperlukan bagi suatu pertumbuhan gereja yang sehat.

    Tingkatan pertama: Kontak-kontak yang terjadi selama kegiatan kebaktian Minggu pagi. Kontak-kontak ini menolong orang-orang percaya untuk memelihara hubungan mereka dengan Kristus. Suatu kebaktian yang besar, yang terdiri dari jumlah anggota yang banyak, dimana di dalam kebaktian seperti itu diusahakan agar setiap anggota jemaat mengalami kontak langsung secara pribadi dengan Allah sendiri dan semua aspek dari kebaktian sehingga penyembahan berjalan terus dan bekerja di dalam pribadi setiap anggota jemaat sampai pada akhir kebaktian.

    Tingkatan kedua: Kontak terjadi selama diselenggarakannya kelas- kelas Sekolah Minggu untuk orang-orang dewasa. Jumlah yang hadir di kelas-kelas Sekolah Minggu dewasa bervariasi di setiap kelas yang ada, mulai dari 25 sampai dengan 175 dan sengaja diadakan dengan cara membagi kelompok-kelompok yang jumlah anggotanya besar, menjadi beberapa kelompok-kelompok yang lebih kecil. Kelompok-kelompok kecil ini bersatu dan bersehati untuk berakar dan bersekutu, bersaksi bersama pada tiap akhir minggu, mengunjungi orang-orang sakit, mengadakan perwujudan kasih bagi mereka-mereka yang diperhadapkan pada suatu kebutuhan, melakukan kegiatan retreat, kebaktian bersama akhir tahun dan berbagai langkah kegiatan lainnya di mana melalui kesemuanya itu suasana rasa memiliki satu dengan yang lain, saling memperhatikan, saling bertanggung jawab dapat dikembangkan dan dimantapkan.

    Tingkatan ketiga: Kontak yang dipusatkan pada kelompok kecil. Kelompok-kelompok kecil ini memberikan kesempatan kepada orang- orang percaya untuk mengenal satu dengan yang lain secara dekat dan saling mengasihi. Di sini mereka dapat mengakui dan membereskan dosa-dosa mereka, mendapatkan dukungan rohani dan doa- doa di dalam mencapai sasaran-sasaran masing-masing secara pribadi, dan melayani Allah sebagai bagian dari satu team.

    2. Menekankan Hal Penginjilan Sedunia

    Sebagai tambahan atas pertumbuhan baik secara jumlah maupun rohani, satu jemaat harus bertumbuh juga di dalam keterlibatannya untuk penginjilan dunia. Gereja yang sehat harus mempunyai visi untuk menjangkau dunia dan membuat rencana untuk menerangi dan menggarami dunia. Pendeta berkewajiban untuk memberikan tantangan sehubungan dengan hal ini kepada anggota-anggota jemaat, tantangan untuk memberikan perhatian dan ikut mengambil bagian dalam Amanat Agung. Mengarahkan fokus di bidang misi (pengutusan) bukannya sekedar pilihan tetapi merupakan suatu perintah atau amanat yang harus ditaati. Hal ini memerlukan adanya pemeliharaan secara terus-menerus agar visi yang terarah itu tidak pudar ataupun menyimpang; dan pendeta harus memberikan teladan serta membuka jalan dengan melangkah pergi, melayani, dan mendoakan. Dia sebagai pendeta perlu mengembangkan adanya roh kesediaan untuk memberi di dalam gereja sehingga dengan demikian anggota-anggota jemaat akan bersedia untuk ikut mengambil bagian, baik dengan uang mereka untuk mengambil bagian dalam kebutuhan dunia.

    3. Mendirikan Gereja-Gereja Baru

    Prioritas ketiga dari suatu gereja yang sehat adalah mendirikan gereja-gereja baru. Jika orang-orang Kristen yang sehat berlipat ganda dengan sendirinya, maka demikian juga dengan jemaat yang sehat. Gereja dimana penulis pernah menjadi gembalanya sudah mendirikan beberapa gereja-gereja muda dengan cara yang pada mulanya agak serampangan, tetapi gereja tersebut akhirnya mengalami keberhasilan dan mengusahakan yang terbaik. Pertama, diadakan penelitian terhadap suatu daerah tertentu, untuk mengetahui apakah sebenarnya kebutuhan yang mendesak dan potensial dari daerah tersebut. Dipilih satu letak yang strategis, dan usaha penginjilan pribadipun dilakukan. Daftarkan orang-orang di sekitar tempat tersebut yang merasa tertarik dan bersimpati. Anggota-anggota jemaatpun juga mengadakan penelitian, untuk mencari tahu siapakah anggota-anggota jemaat yang merasa terbeban untuk menolong mendirikan serta memperkuat gereja baru ini. Pada kelas Sekolah Minggu baru yang diadakan berikutnya di gereja "induk", ajaklah orang-orang yang berasal dari tempat baru, yang tertarik untuk bergabung dalam gereja baru dan juga anggota-anggota gereja induk itu sendiri yang menyatakan kesediaan, untuk mengambil bagian untuk memperkuat gereja yang baru dimulai ini.

    Sebagaimana halnya bayi manusia, kelompok ini untuk selama sembilan bulan berada di dalam rahim "gereja induk" di mana mereka saling berdesakan dan merasa nyaman serta saling akrab satu dengan yang lain. Kelas baru ini diberi nama "Gereja Kecil di Lantai Tiga", dan pengajar-pengajarnya adalah anggota team penggembalaan dari gereja "induk" yang sudah dipilih untuk mendampingi, membimbing "gereja yang masih baru" tersebut dan menjadi pendeta (gembala) pertama yang penuh waktu. Sesudah mengadakan pertemuan selama sembilan bulan dan meulai membentuk kelompok-kelompok kecil di antara mereka, maka gereja baru tersebut diluncurkan melalui kebaktian pelepasan yang meriah dan doa-doa bersama. Dewasa ini, sesudah tiga tahun, gereja tersebut memiliki jumlah anggota sebanyak dua ratus. Dan gereja tersebut belum lama ini juga mengangkat pendeta-pendeta pembantu.

    4. Membantu, Memberikan Dorongan Semangat Kepada Gereja-Gereja Yang Ada

    Prioritas keempat untuk suatu gereja yang sehat adalah membantu, memberikan dorongan semangat kepada gereja-gereja yang lain. Pendeta gereja setempat harus terbuka, bersedia untuk mendoakan dan mengusahakan yang terbaik untuk membantu pertumbuhan gereja-gereja di sekitar daerah di mana gereja yang digembalakannya berada. Penulis ini sudah sepuluh tahun lamanya menjadi anggota kelompok pendeta-pendeta di daerah lokal di mana dia menggembalakan. Setiap pendeta yang menjadi anggota dari kelompok pendeta-pendeta gereja lokal di daerah tersebut, bersatu hati untuk menjaga dan memelihara keberadaan dan kebaikkan gereja-gereja satu dengan yang lain dan dengan secara jujur, tulus dan murni mengusahakan pertumbuhan dari gereja-gereja di sekitar daerah tersebut. Seringkali penulis mengadakan waktu dalam satu team, untuk melayani gereja-gereja lokal yang lain ataupun mengundang satu kelompok atau team dari gereja yang lain untuk datang dan saling bersekutu satu dengan yang lain.

    5. Mengembangkan Perhatian Sosial

    Prioritas kelima untuk suatu gereja lokal yang sehat adalah adanya kesadaran sosial. Di sekitar gereja, senantiasa dijumpai banyak orang yang miskin, sakit secara mental, sakit secara tubuh di rumah- rumah perawatan tertentu, mereka yang berada di dalam penjara dan rumah-rumah sakit, dan mereka yang menderita karena masalah-masalah keluarga. Gereja-gereja harus melatih anggota-angota jemaatnya untuk menjadi kelompok-kelompok dengan tugas pelayanan khusus secara lokal dan mengarahkan perhatian gereja untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial yang timbul di daerah di mana gereja berada.

    Diambil dari:

    Judul buku : Filsafat Pelayanan Berdasarkan Alkitab
    Penulis : Raymond C. Ortlund
    Penerbit : Yakin, Surabaya
    Halaman : 65 -- 69

    e-JEMMi 04/2002

    Literasilah Kuncinya

    Tahukah Anda bahwa ada sekitar 1 milyar orang dewasa di dunia ini yang buta huruf atau tidak bisa membaca? Dan 98 persen dari jumlah itu berada di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

    Tahukah Anda bahwa kemampuan membaca berarti kemampuan untuk membuka berbagai pintu? Literasi (baca-tulis) adalah kemampuan dasar yang membuka pintu masuk menuju berbagai dunia termasuk dunia buku, internet, dan juga Firman Tuhan dalam bahasa seseorang.

    Kemampuan membaca memberikan akses untuk informasi pengajaran dan kemajuan. Sedangkan kemampuan menulis menyediakan sarana untuk mengungkapkan berbagai ekspresi, penyebaran informasi, dan juga sebagai metode pelestarian budaya.

    Sampai saat ini tenaga-tenaga literasi Kartidaya bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk mengajar "membaca dan menulis", dan berusaha membangun literasi agar menjadi nilai dalam masyarakat.

    Pekerjaan literasi berjalan berdampingan dengan penerjemahan Alkitab. Apa gunanya Alkitab diterjemahkan sampai selesai ke dalam bahasa masyarakat tertentu kalau kemudian orang-orang itu tidak bisa membacanya? Firman Tuhan yang selama belasan atau bahkan puluhan tahun diterjemahkan dengan susah payah itu akhirnya hanya akan menjadi pajangan berdebu di dalam rumah-rumah mereka.

    Berikut ini adalah beberapa kisah pekerjaan literasi dan buah yang dihasilkannya. Kesaksian-kesaksian ini terjadi di berbagai tempat di seluruh belahan dunia. Kesaksian-kesaksian ini menunjukkan begitu luar biasanya Tuhan bekerja, menjangkau hati manusia yang ada di pedalaman paling jauh sekalipun, untuk dibawa kepada terang-Nya yang kekal.

    FILIPINA: SESUAI DENGAN BUDAYA MEREKA
    Saat tinggal dan bekerja di suatu desa, kami (tim literasi Kartidaya) belajar bahasa dan budaya setempat supaya kami bisa memperkenalkan literasi dengan cara yang sesuai dengan budaya mereka. Kami bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk memproduksi bahan-bahan bacaan serta mengajar mereka membaca dan menulis. Kami juga melatih guru-guru lokal yang akan mengawasi kelas-kelas literasi dan melatih orang lain lagi untuk bisa mengajar.

    KONGO: HIDUP BARU LEWAT LITERASI
    Sejak kecil, Kpawenu selalu ingin belajar membaca, tetapi karena ia tinggal di sebuah desa kecil, tidak ada sekolah dimana ia bisa belajar. Namun di desanya ada sebuah gereja. Ia selalu hadir dalam setiap kebaktian bahkan sampai ia dewasa. Di gereja ia mendengar berbagai kotbah dari Alkitab yang tidak bisa dibacanya sendiri. Walaupun begitu, sulit bagi Kpawenu untuk benar-benar memahami pesan keselamatan yang dikatakan Alkitab, karena Alkitab tidak dibacakan dalam bahasanya sendiri, bahasa Ngbaka.

    Suatu hari Kpawenu mendengar tentang kelas literasi bahasa Ngbaka yang akan dimulai di desanya. Dengan semangat berkobar, ia menghadiri kelas-kelas yang diadakan. Tidak lama kemudian ia mulai belajar membaca Alkitab dalam bahasanya sendiri. Ketika akhirnya ia memahami pesan keselamatan dalam Alkitab, ia menyerahkan hidupnya pada Kristus.

    Iman baru Kpawenu membawanya pada keinginan untuk melayani orang lain. Kemampuan membaca yang dimilikinya dipakainya dalam pelayanan untuk mengajar dan membantu para wanita di gerejanya dimana ia baru saja diangkat sebagai salah seorang anggota majelis.

    Menyadari betapa pentingnya pelayanan literatur Kristen, maka kita tidak boleh jemu mendoakan pelayanan ini. Dalam bukunya "Operation World", Patrick Johnstone dan Jason Mandryk menguraikan tentang beberapa pokok doa yang bisa didoakan sehubungan dengan pelayanan literatur Kristen:

    1. Selain kemajuan di bidang elektronik, produksi buku juga meningkat dengan cepat dibandingkan dengan waktu-waktu sebelumnya, dan buku masih menjadi alat kunci dalam komunikasi -- baik dalam dunia sekuler maupun dalam kekristenan. Program- program literasi besar-besaran yang diselenggarakan di berbagai negara telah menciptakan keinginan yang besar akan tersedianya banyak literatur di kalangan orang-orang terpelajar. Literatur juga masih memainkan peran penting dalam mensharingkan Injil di negara-negara yang tertutup bagi pelayanan misionaris konvensional.

    2. Banyaknya literatur Kristen dalam bahasa Inggris, Spanyol, dan Jerman menciptakan kontras bila dibandingkan dengan sedikitnya literatur dalam bahasa-bahasa lain. Kebanyakan literatur yang tersedia saat ini merupakan terjemahan dari literatur-literatur bahasa Inggris. Namun hal ini tidak menjadi pengganti yang memadai bagi materi-materi tertulis lokal. Doakan agar banyak bermunculan penulis Kristen di seluruh dunia yang bersedia menulis dalam bahasa-bahasa mereka sendiri.

    3. Literatur Penginjilan

      1. Every Home for Christ (EHC) mempunyai visi global untuk mendistribusikan berita Injil secara sistematis ke setiap kota, desa, sampai semua bangsa mendengar berita Injil. Diperkirakan ada sebanyak 52.000 rumah yang dijangkau setiap harinya oleh 3600 sukarelawan. EHC bekerja secara aktif untuk melayani di 100 negara, dan telah mendistribusikan 2 juta literatur Injil. Sebagai hasilnya diperkirakan 26 juta orang membuat keputusan untuk mengikut Kristus dan menerima follow- up dengan menggunakan materi-materi pemuridan.

      2. Selebaran Injil telah berkembang secara dramatis. WEC sangat terlibat dalam pelayanan ini dengan memproduksi sekitar 6 juta selebaran Injil per tahunnya. Tidak seperti traktat, selebaran Injil bentuknya menyerupai majalah dan didistribusikan ke seluruh dunia via pos. Selebaran Injil yang berjudul SOON ini telah diterbitkan dalam bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Portugis, dan Swahili. Selebaran ini juga dibuat dalam bahasa Nepal, Italia, dan Rusia/Inggris yang didistribusikan oleh pihak-pihak terkait. Selebaran ini secara garis besar berisi kesaksian, artikel yang kontekstual, materi follow-up, dan alamat pos yang dapat dihubungi oleh para individu yang tertarik untuk mendapatkan follow-up.

    4. Persediaan Literatur Kristen sangat sulit dilakukan di tempat- tempat yang sebenarnya banyak membutuhkan literatur tersebut. Hal ini disebabkan karena faktor kemiskinan, kesulitan distribusi, biaya cetak, dan terjadinya inflasi. Doakan tersedianya dana yang cukup di Eropa Timur, Afrika, dan negara-negara miskin di Asia sehingga bisa mendukung berdirinya percetakan dan penerbitan lokal. Berdoa juga untuk BookAid, suatu metode inovatif dalam hal memberikan buku-buku bekas kepada negara-negara miskin, baik untuk dijual maupun untuk mendukung agen-agen literatur lokal. CLC juga bekerja sama dengan penerbit-penerbit Barat untuk membuat buku-buku baru yang berkualitas bagus dengan harga yang bisa dijangkau oleh negara-negara berkembang.

    Sumber:
    1. Berita KARTIDAYA, Edisi II/2003

    2. Diterjemahkan dan diringkas dari salah satu artikel di:

    Judul Buku : Operation World
    Judul Artikel: Christian Literature
    Penulis : Patrick Johnstone dan Jason Mandryk
    Penerbit : Paternoster Lifestyle, UK; dan WEC International, 2001
    Halaman : 699
    Situs Web : http://www.operationworld.org/

    e-JEMMi 41/2003

    Makin Mengenal Kristus dan Kebenaran-Nya

    Oleh: Pdt. Bob Jokiman

    Joseph Stowell, president Moody Bible Institute di Chicago dalam bukunya berjudul 'Simply Jesus', menceritakan bagaimana ia begitu bergairah ketika menerima undangan untuk bertemu dengan presiden Amerika di Gedung Putih. Ia lalu menyiapkan diri sebaik-baiknya untuk mengunjungi Gedung Putih dan bertemu dengan Presiden. Seperti kebanyakan pendukung presiden terpilih, Joseph Stowell telah banyak membaca tentang presiden tersebut. Sudah tak terhitung berapa banyak kali ia melihat gambarnya dan menyaksikannya di TV. Jikalau ada yang bertanya kepadanya berapa banyak ia tahu tentang presiden tersebut maka dengan lancar ia dapat mengutarakan dengan berlimpah mengenai latar belakang, filsafat serta kebijaksanaan politik presiden itu. Namun kali ini lain sebab ia akan bertemu langsung dengan presiden tersebut. Maka dengan pakaian yang terapi dan yang telah dipersiapkan secara khusus ia menuju ke Gedung Putih. Hampir kepada setiap orang yang menyiapkan pakaian dan sepatunya dengan antusias ia ingin berkata:

    "Kerjakan semuanya dengan baik, karena aku akan menuju Gedung Putih untuk bertemu dengan presiden."

    Joseph Stowell merasa begitu tenangnya ketika berjalan menuju ruang tunggu yang begitu megah dari rumah kediaman presiden. Dalam hatinya ia berkata: "Sungguh ini adalah serambi kekuasaan. Di balik pintu-pintu yang tertutup itu dihasilkan keputusan-keputusan yang sangat penting; perang diumumkan dan sejarah dibuat."

    Kerumunan orang yang sedang menunggu tiba-tiba menjadi senyap ketika terdengar suara lantang mengatakan, "Tuan-tuan dan nyonya-nyonya sekalian; Presiden Amerika Serikat!" yang mewartakan kedatangan presiden memasuki ruang tunggu tersebut. Semua hadirin kemudian berdiri dengan penuh hormat ketika ia berjalan menuju ke podium yang telah disediakan.

    Joseph Stowell melanjutkan kesannya: "Saya tidak bisa mengalihkan pandangan mata saya daripadanya. Saya berada di hadapannya dan terus mengikuti gerakannya dengan penuh minat. Kemudian menyusul percakapan pribadi yang singkat dengannya, saya menjadi begitu kagum betapa mengesankannya berbicara dengan dia. Apalagi ketika ia melihat kepada saya dan memberikan perhatiannya. Terus terang mengalami sendiri dengan nyata berada di hadapan presiden maka saya tidak akan memandang presiden kita dengan pandangan yang sama lagi. Saya meninggalkan Gedung Putih dengan harapan untuk lebih mengenal dia lagi."

    Saudara, demikian pula seharusnya hubungan kita dengan Kristus. Ada orang yang sudah cukup puas jika hanya mengetahui tentang Kristus atau Anda dapat lebih dalam lagi mengenal Dia melalui pengalaman nyata secara pribadi, itu adalah pilihan Anda. Hanya Anda-lah yang dapat menentukan pilihan tersebut. Pilihan tersebut akan menentukan perbedaan antara penganut agama pada umumnya atau pengikut Kristus yang mempunyai hubungan yang intim dengan Dia yang menghendaki kita sungguh-sungguh menikmatinya!

    Kerinduan untuk lebih mengenal Kristus

    Selama dua ribu tahun ini tidak ada pribadi yang begitu dikenal baik di dunia Barat maupun Timur selain Yesus Kristus. Pergumulan manusia selama dua ribu tahun ini dalam masalah hukum, etika dan moral tidak bisa dilepaskan dari pengajaran-pengajaran Kristus. Dalam dunia seni selama dua milenium ini sangat kental dengan lukisan-lukisan yang berhubungan dengan kelahiran, kematian dan kebangkitan Kristus. Tidak sedikit karya-karya musik yang anggun dan agung dicipta serta kita nikmati yang tidak dapat dilepaskan dari kisah kehidupan Kristus. Bagi yang mengalami pembebasan melalui pengampunan Kristus di atas salib tentu memberikan makna tersendiri pula bagi hidup mereka. Kita juga sudah sering mendengar kotbah atau pengajaran mengenai kehendak dan rencana-Nya untuk hidup kita. Banyak kali kita dapat menceritakan di luar kepala kisah pengorbanan-Nya serta pelayanan-Nya dengan penuh antusias. Namun dalam semuanya itu di dasar lubuk hati kecil kita yang terdalam sering masih ada sesuatu kerinduan yang kita rasakan bahwa kita masih belum mengenal Kristus lebih dalam dan nyata. Sering kali terasa Dia begitu jauh. Dia hanyalah tokoh sejarah yang hidup sekian ribu tahun lalu. Suatu perasaan yang dialami banyak orang Kristen termasuk Rasul Paulus ketika ia berkata: "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, dimana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya," (Filipi 3:10).

    Rasul Paulus mengucapkan jeritan hati tersebut bukan sebagai seorang Kristen yang baru mengenal Tuhan. Ketika ia mengucapkan kalimat tersebut ia telah menjadi pengikut bahkan rasul selama puluhan tahun. Ia sudah berkarya bagi Kerajaan Allah dan menderita bagi Kristus dengan hasil yang melebihi semua rasul yang lain, namun demikian ia masih merasa kurang: "...aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada di hadapanku," (Filipi 3:13).

    Jikalau Rasul Paulus saja begitu merasa kurang dalam pengenalannya akan Kristus, bagaimana pula dengan saudara dan saya? Tentu lebih parah lagi bukan? Oleh karena itu apa yang menjadi tekad Rasul Paulus untuk mengenal Kristus dan kebenaran-Nya lebih dalam dan nyata kiranya menjadi tekad kita juga dalam memasuki tahun yang baru ini: "...segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus," (Filipi 3:8).

    David Roper salah seorang penulis Buku Renungan Our Daily Bread menceritakan bagaimana pada suatu hari ketika ia membongkar garasi putranya, ia menemukan semua trofi yang pernah dimenangkan putranya melalui berbagai macam pertandingan atletik selama bertahun-tahun. Semuanya itu dimasukkan ke dalam sebuah kotak kardus, dan siap untuk dibuang. Ia mengenang darah, keringat dan air mata yang dikucurkan putranya demi mendapatkan semua penghargaan itu. Namun sekarang ia akan membuangnya. Semuanya itu tidak berharga lagi baginya.

    Saudara, sebenarnya seperti itulah nantinya akhir hidup kita. Semua milik kita, semua benda yang kita perjuangkan disepanjang hidup kita, manjadi tidak berarti apa-apa kecuali sampah. Saat itulah kita diyakinkan bahwa harta bukanlah hal yang paling berharga dalam hidup ini.

    Hendaklah kita memiliki pandangan yang benar, seperti cara pandang Paulus. "Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus" (Filipi 3:7). Kita harus bersikap wajar terhadap harta milik kita, karena sebenarnya kita telah memiliki harta yang paling bernilai, yaitu pengenalan akan Kristus Yesus Tuhan.

    Perhatikan pesan Allah yang disampaikan kepada Nabi Yeremiah, yang walaupun telah berusia ribuan tahun namun masih relevan, dapat diaplikasikan dalam hidup kita: "Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN" (Yeremia 9:24).

    Manfaat lebih mengenal Kristus.

    Madame Jeanne Guyon (1648-1717) seorang spiritualis abad pertengahan ketika berusia 16 tahun, dipaksa menikah dengan pria cacat berusia 22 tahun. Namun dalam pernikahannya itu ia merasa sangat direndahkan. Suaminya kerap marah-marah dan bersikap melankolis. Ibu mertuanya seorang pengkritik yang kejam. Bahkan pembantunya pun merendahkan dia. Meski telah berusaha keras membaktikan diri kepada suami dan keluarganya, ia tetap dikecam dengan kejam.

    Karena dilarang ke gereja oleh suaminya, ia mencari Allah melalui Alkitab dan beribadah secara sembunyi-sembunyi. Ia belajar bahwa di tengah keadaannya yang suram sekalipun, ia "berada dalam kondisi sangat baik, dalam tangan Allah yang aman". Dalam bukunya "Experiencing The Depths of Jesus Christ (Mengalami Kedekatan yang Dalam Dengan Yesus Kristus), ia menulis, "Sikap berserah penuh [kepada Kristus] merupakan kunci untuk mendapat pemahaman yang sulit dimengerti. Sikap berserah adalah suatu kunci dalam kehidupan rohani." Itulah salah satu manfaat jika kita lebih mengenal Kristus dan kebenaran-Nya.

    Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Roma bahwa sekalipun tidak ada lagi penghukuman bagi orang-orang percaya dalam Kristus (Roma 8:1) namun tidak berarti bahwa hidup orang percaya tidak ada lagi keluh kesah. Rasul Paulus juga menegaskan dalam pasal yang sama bahwa: "Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita" (Roma 8:22-23)

    Saudara, kita telah memasuki tahun yang baru 2004. Memang kita tidak tahu akan hari esok, namun kita tahu siapa yang memegang hari esok. Keyakinan tersebut mengajak kita untuk menghadapi hari esok dengan benar:

    Billy Graham ketika ditanya selama ini pertemuan dengan tokoh-tokoh dunia siapa sajakah yang paling menyenangkan? Jawabnya:

    "Tak seorang pun diantara mereka. Sampai sekian lama hidupku, persekutuan dengan Kristuslah yang paling menyenangkan. Mendengar Ia berbicara padaku, dipimpin oleh-Nya, merasakan kehadiran-Nya serta kuasa-Nya melalui hidupku. Ini adalah kenikmatan terbesar dalam hidup saya!"

    Bagaimanakah dengan saudara dan saya di tahun baru ini? Pengalaman paling menyenangkan apakah yang kita harapkan? Semoga kita dapat lebih mengenal Kristus dan kebenaran-Nya sehingga kita pun dapat berkata: "Itulah pengalaman yang paling menyenangkan!" Amin.

    Sumber: Newsletter GKI Monrovia, Januari 2003, Tahun XVII No. 1
    ==> http://www.gki.org/

    e-JEMMi 01/2004

    Membangun Gerakan Doa Sekota

    Yang menjadi tujuan diselenggarakannya KDL VII ini adalah:

    1. Diperkuatnya KEGERAKAN DOA melalui jaringan doa di kota-kota baik yang telah terbentuk maupun yang perlu dirintis (tujuan jangka pendek).

    2. Dibangunnya KESATUAN UMAT melalui visi yang dinyatakan Tuhan melalui Firman dan Kesaksian dalam kebersamaan umat dari berbagai kota di seluruh tanah air maupun di luar negeri (tujuan jangka menengah).

    3. Diperbaharuinya panggilan dan komitmen para peserta/fasilitator untuk terlibat secara aktif dalam Gerakan Doa di kota-kota yang berdampak pada TRANSFORMASI MASYARAKAT/KOTA secara nyata (jangka panjang).

    Ada tiga hal yang menandai sebuah kota bila telah mengalami transformasi:

    1. Angka pertobatan jemaat di kota itu meningkat.
    2. Angka kriminalitas menurun.
    3. Tingkat kesejahteraan kota semakin membaik.

    Langkah-langkah yang diperlukan untuk membangun Gerakan Doa Sekota.

    1. PEMETAAN ROHANI:

      Pemetaan Rohani ini dilakukan untuk mengetahui situasi dan kondisi suatu kota baik secara:

      1. Ilmu Pengetahuan
        Mengetahui secara detail kondisi kota secara fisik (tingkat kesejahteraan, tingkat kriminalitas, bangunan bersejarah, jumlah gereja, tempat-tempat hiburan, dsb.)

      2. Doa Terobosan Doa ini dilakukan untuk mengetahui/melihat kondisi "rohani" dari kota itu (mengetahui tempat-tempat pemujaan yang ada serta roh-roh jahat yang ada/yang menguasai kota itu).

    2. PEPERANGAN ROHANI:

      Setelah mengetahui tentang kondisi "rohani" yang ada di kota tersebut maka perlu diadakan peperangan rohani untuk menghadapi roh-roh jahat yang ada. Peperangan rohani dapat dilakukan dengan mengadakan doa bersama, doa keliling kota, dsb.

    3. Terjadinya REKONSILIASI:
      • antar gereja/denominasi
      • antar masyarakat, suku, desa, kota, bangsa, dsb.
    4. Membentuk JARINGAN DOA:

      Perlunya dibentuk jaringan doa sekota yang melibatkan semua gereja/denominasi yang ada di sebuah kota.

    5. Membangun KEMITRAAN:

      Kemitraan antar gereja/denominasi perlu dibangun untuk menghindari terjadinya program yang tumpang tindih.

    Sumber:
    Artikel ini merupakan ringkasan dari Lokakarya yang disampaikan oleh Pdt. Ruyandi Hutasoit, MA (Ketua Yayasan Bersinar Bagi Bangsa) dalam KDL VII.

    e-JEMMi 23/2002

    Membawa Mahasiswa Kepada Yesus

    Membawa Mahasiswa Kepada Yesus.

    Mahasiswa merupakan bagian dari umat manusia di muka bumi, yang sama dengan manusia berdosa lainnya (Roma 3:23). Keselamatan jiwanya juga menjadi kebutuhan mereka yang hakiki. Untuk apa mereka memiliki ilmu dan kemampuan yang terus berkembang, atau berhasil menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mutakhir dewasa ini, namun jiwanya tidak selamat. Mereka semua membutuhkan Injil.

    Masa mahasiswa merupakan masa yang cukup rawan, sebab pada masa ini, terjadi kristalisasi nilai hidup dan kepribadian, yang akhirnya akan memengaruhi setiap pengambilan keputusan atau karier. Dalam situasi seperti ini, mereka perlu mendapatkan penjelasan mengenai kasih karunia Allah dalam Yesus, yang menyediakan keselamatan dan hidup kekal. Kasih Yesuslah yang akan membuat hidup mereka menjadi terarah, berarti, dan bermakna.

    Hamba Tuhan, pendeta, ataupun majelis akan kesulitan untuk menjangkau mahasiswa. Untuk itu mahasiswa Kristen yang sudah Allah tempatkan di kampus, seharusnya mengambil bagian dalam tugas membawa sesama mahasiswa kepada Yesus di kampus. Ladang pelayanan mahasiswa ini cukup strategis, bila dijangkau oleh mahasiswa sendiri.

    Untuk dapat menuai, kita harus menabur. Bila kita tidak mau menabur, maka tidak mungkin kita mengharapkan pohon yang tumbuh subur dan berbuah lebat. Jika kita mau mendapatkan benih yang sungguh-sungguh dapat bertumbuh dan nantinya diharapkan berbuah lebat, kita harus menabur banyak. Hal ini mengingatkan bahwa tidak setiap benih yang kita tabur, semua akan bertumbuh baik (Matius 13:1-23).

    Diambil dari:

    Judul jurnal : Aletheia, Edisi 02, Tahun II
    Judul asli artikel : Membawa Mahasiswa Kepada Kristus
    Penulis : Hery Harjanto, SE
    Penerbit : Persekutuan Mahasiswa Kristen Surakarta
    Halaman : 19 -- 20

    e-JEMMi 11/2003

    Membesarkan Anak-Anak Rohani

    Saya dan istri memiliki enam orang anak. Sesungguhnya, merupakan kegembiraan yang tidak terhingga, melihat anak-anak tumbuh secara jasmani dan rohani. Rasul Yohanes mengatakan, "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran" (3 Yohanes 4). Dalam suratnya yang terdahulu, Yohanes menulis hal yang sama. "Aku sangat bersukacita bahwa aku mendapati separuh dari anak-anakku hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang kita terima dari Bapa" (2 Yohanes 4).

    Tindak Lanjut

    Selama dua tahun saya tinggal di rumah Dawson Trotman dan tahun- tahun berikutnya, saya melayani langsung di bawah kepemimpinannya. Pada waktu itu, saya banyak mendengar tentang suatu konsep yang dilalaikan oleh sebagian besar kelompok Kristen pada saat mereka menjalankan program-program reguler mereka. Dawson menamakan konsep itu "tindak lanjut", dan ia selalu berbicara tentang konsep itu.

    Saya belum pernah mendengar istilah ini digunakan di berbagai kalangan gereja. Sebenarnya, sepengetahuan saya istilah tersebut tidak ada dalam teologi mana pun yang ditulis sebelum Perang Dunia II. Tetapi, Dawson mengajarkannya sebagai prinsip "tindak lanjut" dengan penuh semangat.

    Sebagian besar yang saya tulis, sesungguhnya, boleh dikatakan merupakan suatu adaptasi ide-ide Dawson yang disampaikan kepada saya (2 Timotius 2:22). Ide-ide ini Allah berikan melalui bermacam-macam pengalaman dan ujian dalam hidup saya.

    Tindak lanjut dapat didefinisikan sebagai proses bimbingan bagi seorang bayi rohani dalam Kristus menuju kedewasaan rohani. Yang perlu diperhatikan bahwa tindak lanjut adalah suatu proses. Keselamatan adalah suatu tindakan. Dalam sedetik seseorang dapat berpindah dari maut pada hidup melalui iman kepada Yesus Kristus -- lahir baru pada suatu waktu yang pasti. Tetapi, tindak lanjut adalah proses yang memerlukan waktu dan pengulangan. Pertumbuhan jasmani dan rohani memang lamban.

    Dawson sering menjelaskan, "Untuk membawa seseorang kepada Kristus memerlukan waktu dua jam. Akan tetapi, untuk membawa seseorang menuju kedewasaan rohani memerlukan waktu enam bulan sampai dua tahun." Menurut Dawson, seseorang yang dewasa kekristenannya sanggup menjadi orangtua rohani dan bertanggung jawab menolong orang lain menjadi dewasa di dalam Kristus. Ini yang dimaksud pelipatgandaan secara rohani.

    Dua Macam Tindak Lanjut

    Pada dasarnya ada dua macam tindak lanjut: pastoral (penggembalaan) dan personal (pribadi atau orangtua).

    Tindak lanjut penggembalaan sebagian besar dilakukan melalui gereja setempat. Tuhan memberikan kepada pendeta dan pengajar gereja-Nya tanggung jawab untuk memberi makan dan menggembalakan jemaat.

    Tuhan menekankan hal ini kepada Petrus ketika sedang makan bersama- sama dengan para murid-Nya di tepi danau Galilea setelah kebangkitan-Nya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?" Yesus bertanya hal yang sama sampai tiga kali, dan Petrus tiga kali menjawab "Ya". Kemudian, tiga kali Tuhan dengan khidmat meminta kepada Petrus untuk menggembalakan domba-domba-Nya (Yohanes 21:15-17).

    Penekanan dalam ayat-ayat ini bukan pada arti kata Yunani mengenai kasih: phileo dan agapao. Pelajaran utama di sini jelas: "Gembalakanlah domba-domba-Ku". Pertama-tama, Tuhan ingin Petrus menaruh perhatian yang serius; kemudian Ia menggarisbawahi pentingnya tindak lanjut.

    Dalam percakapan di ruang atas tertulis dalam Yohanes 14-16, lima kali Yesus menjelaskan, bahwa bukti kasih kita kepada-Nya ialah ketaatan pada perintah-Nya (Yohanes 14:15,21,23; 15:10,14). "Gembalakan domba-domba-Ku." Peliharalah mereka dengan kasih melalui Firman Allah.

    Petrus tidak pernah lupa pada pelajaran yang sangat jelas ini. Di akhir hidupnya, ia meminta dengan sangat kepada rekan-rekan penatua, "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu" (1 Petrus 5:2-3). Petrus menambahkan, bahwa sebuah "mahkota kemuliaan" akan diterima oleh setiap pendeta dan guru-guru yang dengan setia menggembalakan domba-domba-Nya (1 Petrus 5:4). Suatu tindak lanjut penggembalaan begitu penting bagi pertumbuhan seorang Kristen.

    Tindak lanjut pribadi yang juga sangat penting untuk pelatihan rohani sebaiknya berlangsung di rumah dan di gereja. Sungguh merupakan suatu keberuntungan bila seorang petobat baru tidak hanya mendapat seorang pendeta yang baik, tetapi juga bersedia menjadi orangtua rohani baginya. Pendeta harus melayani banyak orang; ia memiliki waktu yang sangat terbatas untuk melayani jemaat pribadi lepas pribadi. Jadi, seluruh Tubuh Kristus perlu dilibatkan dalam upaya tindak lanjut. Setiap orang Kristen yang dewasa, setiap murid Yesus yang sejati, baik pria maupun wanita, hendaknya menunjukkan fungsi sebagai seorang ayah yang mampu memberi nasihat (1Tesalonika 2:11) atau seorang ibu yang mendidik (1 Tesalonika 2:7).

    Yesus telah memanggil semua murid sejati-Nya untuk memuliakan Allah dengan jalan menghasilkan buah yang tetap (Yohanes 15:8,16). Tindak lanjut bukan merupakan suatu teori abstrak atau kebenaran rohani yang mati. Upaya tindak lanjut menuntut suatu tindakan. Saya telah menerima tanggung jawab menjadi orangtua yang membesarkan enam anak secara jasmani yang telah Allah berikan kepada saya. Saya juga telah menerima dengan sungguh-sungguh hak menjadi orangtua rohani bagi individu-individu tertentu yang telah Tuhan percayakan dalam hidup saya. Ada yang menjadi anak rohani karena saya pribadi membawa mereka kepada Kristus. Ada juga yang menjadi anak rohani saya karena Allah membangkitkan minat dalam hati saya setelah melihat kebutuhan mereka.

    Empat Cara Melakukan Tindak Lanjut

    Ada empat cara dalam tindak lanjut. Keempat cara tersebut ditulis oleh Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Tesalonika: Doa, kontak pribadi, pena, dan orang yang mempunyai otoritas.

    1. Doa -- Paulus berkata kepada jemaat di Tesalonika bahwa ia berdoa siang dan malam supaya mereka menjadi dewasa dalam iman (1 Tesalonika 3:10). Di depan umum, Dr. Billy Graham pernah berkata bahwa para pendoa kampanye penginjilan sangat ditentukan oleh ribuan orang Kristen yang setia. Dari sinilah bisa terjadi pertobatan.

    2. Kontak Pribadi -- Doa dan kunjungan berjalan bersama. Paulus berulang-ulang mengatakan di Tesalonika, "Kami berdoa sungguh-sungguh supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu" (1 Tesalonika 3:10). Kepada orang-orang di Roma, Paulus menyatakan kekecewaannya karena halangan-halangan yang ada sehingga ia tidak berkesempatan mengunjungi mereka (Roma 1:10-13). Pernyataan yang sama juga dituliskan Paulus kepada orang-orang di Korintus, Filipi, dan Kolose.

    3. Dalam kampanye pekabaran Injil yang mendapat sponsor dari TEL (Training Evangelistic Leadership) di Asia, kami selalu berusaha mengadakan kontak pribadi dengan setiap orang yang menjawab panggilan untuk menerima Kristus.

      Pertama, setiap petobat akan dibebankan kepada seorang pembimbing yang akan meluangkan waktu tiga puluh menit untuk menjelaskan keselamatan dengan gambar ilustrasi jembatan sebagai sebuah pola dasar. Setelah bimbingan selesai, ada doa pribadi oleh si petobat baru ini. Pembimbing berdoa bagi si petobat baru dengan menyebut namanya. Si petobat baru didorong untuk berdoa dengan bersuara dan dengan kata-katanya sendiri. Berdoa dalam iman kepada Tuhan Yesus Kristus, yang ia terima di dalam hatinya sebagai juru Selamat pribadi.

      Dalam waktu seminggu, kami juga mencoba mengunjungi rumah masing-masing orang yang telah menulis suatu keputusan menerima Kristus, khususnya setiap orang yang berasal dari suatu latar belakang non-Kristen. Dalam KKR-KKR TEL, setiap petobat diserahkan kepada sebuah gereja setempat yang khusus, menurut petunjuk-petunjuk yang diatur sebelumnya. Para staf TEL menawarkan pelayanan-pelayanan mereka untuk membantu dan melatih para anggota gereja untuk program kunjungan kepada para petobat baru.

      Di suatu KKR di Jepang utara, para anggota gereja setempat mengunjungi 55 orang petobat baru yang berlatar belakang nonKristen. Empat puluh empat dari jumlah itu memberikan tanggapan dengan menghadiri, untuk pertama kalinya, salah satu kebaktian gereja setempat. Orang memberikan tanggapan apa bila dikunjungi secara pribadi, khususnya pada saat mereka merasakan kasih dan perhatian.

    4. Pena -- Pena dapat melengkapi kunjungan-kunjungan pribadi. Banyak surat kiriman dalam Perjanjian Baru sesungguhnya merupakan surat-surat tindak lanjut yang ditujukan kepada kelompok jiwa baru. Paulus berkomunikasi melalui surat-surat ketika ia berkeliling dari kota ke kota, dan bahkan ia tetap mengirim surat-surat ketika ia berada dalam penjara.

    5. Dalam pelayanan kami di Asia, kami mengirimkan bahan Pemahaman Alkitab kepada setiap petobat baru dan menganjurkan mereka agar ikut program penghafalan ayat Alkitab. Itu semua dilakukan dengan kontak pribadi dan kursus tertulis. Seorang pria Jepang bertobat ketika ia mengikuti Pemahaman Alkitab Para Navigator dari dalam penjara. Ia mengirim setiap pelajaran berikutnya ke kantor kami. Kami memberikan koreksi setiap pelajaran, dan mengirimkan lagi bahan-bahan pelajaran. Dua tahun kemudian, tiba-tiba ia muncul di rumah saya. Ia memerlukan tempat tinggal. Seorang residivis yang tidak dapat dipercaya? Bukan, ia adalah seorang saudara Kristen yang telah ditebus dengan anugerah-Nya!

      Saya menerimanya dalam rumah saya yang bergaya Jepang dengan pintu kayu dorong yang tidak pernah dikunci. Ia menjadi orang kepercayaan keluarga. Saya memberinya pekerjaan di kantor kami untuk memeriksa, memberikan nilai pelajaran kursus tertulis Alkitab seperti yang pernah diikutinya selama di penjara dan ia juga bersaksi di penjara-penjara dan pertemuan pekabaran Injil lainnya. Pada suatu ketika ia jatuh cinta dan menikah dengan rekan kerjanya, seorang wanita yang penyerahan hidupnya tinggi. Mereka berumah tangga dan menjadi saksi yang sangat baik mengenai anugerah Allah. Tsuchiya, yang menjadi seorang majelis gereja, -- karena anugerah -- adalah hasil buah pemahaman Alkitab tertulis, metode tindak lanjut pena.

    6. Perwakilan -- Tiga metode pertama adalah sarana paling baik dalam mengadakan tindak lanjut. Tetapi, kadang-kadang kita dihadapkan dengan kurangnya waktu dan keadaan yang tepat, sehingga kita tidak mungkin menindaklanjuti secara langsung semua orang yang telah menjadi perhatian kita. Oleh sebab itu, saya kadang-kadang mengunjungi seorang teman untuk membantu tugasnya. Ini merupakan upaya tindak lanjut melalui orang yang mempunyai otoritas.

    7. Paulus meminta Filemon untuk menerima kembali dan menolong Onesimus, budaknya yang lari dan telah dibawanya kepada Kristus. Filemon menggantikan Paulus untuk menindaklanjuti Onesimus. Ketika Paulus tidak dapat mengunjungi jemaat di Korintus dan Efesus, ia mengirim Timotius untuk mewakilinya (1 Korintus 4:17; 1 Timotius 1:3). Demikian pula ia mengirim Tikhikus ke Kolose (Kolose 4:7) dan meninggalkan Titus di Kreta (Titus 1:50). Dalam 1 Tesalonika kita belajar bahwa Paulus mengutus Timotius, wakilnya, untuk mengetahui pertumbuhan iman jemaat di Tesalonika.

    Saya berusaha menindaklanjuti orang-orang yang berpapasan di jalan kehidupan ini supaya mereka membuat komitmen (tekad setia) baru kepada Kristus -- melalui kontak pribadi, pena, doa atau orang yang punya otoritas.

    Rasul Yohanes yang sudah berusia lanjut mengingatkan kita, "Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran" (3 Yohanes 1:4). Adalah sukacita kita juga, kalau dapat melihat anak-anak rohani kita tetap setia dalam iman.

    Sumber::

    Judul Buku :
    Pemuridan dengan Prinsip Timotius
    Judul Artikel :
    Membesarkan Anak-Anak Rohani
    Penulis :
    Roy Robertson
    Penerbit :
    Yayasan Andi - 2001
    Halaman :
    87 -- 94

    e-JEMMi 23/2004

    Membuka Mata Hati Masyarakat Pedalaman

    Tahun 1980, N (nama samaran) adalah seorang gadis muda yang baru lulus dari sekolah Alkitab. Saat ia sedang memikirkan ke arah mana Tuhan hendak memanggilnya secara khusus, ia mendengar kabar tentang banyaknya orang di Indonesia yang tidak bisa mempelajari Firman Tuhan karena mereka tidak bisa berbahasa Indonesia. Untuk memastikan fakta ini, bersama seorang rekan perempuannya, N pergi ke daerah W di salah satu pedalaman di Indonesia untuk melihat situasi.

    Ternyata benar. Sebagian besar dari masyarakat setempat tidak bisa berbahasa Indonesia. Kebetulan ada seorang ibu yang bisa berbahasa Indonesia karena suaminya adalah guru yang pernah di tempatkan di Kota M (salah satu kota di daerah W). Ibu ini lalu diutus oleh masyarakat W untuk bicara kepada N dan rekannya.

    "Orang-orang minta saya untuk bertanya pada Nona berdua karena biasanya yang datang kemari adalah laki-laki dan mereka umumnya pegawai pemerintah. Karena itu kami heran sekali, mengapa kalian datang ke sini?" kata ibu itu.

    "Kami ke sini karena kami ingin belajar bahasa W!" jawab N terus terang.

    "Oh, mengapa bahasa W? mengapa tidak bahasa Inggris atau bahasa Belanda saja yang lebih berguna?" tanya ibu ini keheranan.

    "Sebab kami ingin menerjemahkan Firman Tuhan ke dalam bahasa W," jawab N.

    Pada waktu itu, air muka sang ibu yang tadinya penuh dengan tanda tanya langsung berubah. Air matanya mengalir dan ia pun berkata "Kami sudah lama berdoa untuk hal ini. Di sini memang ada gereja yang memakai bahasa Indonesia, tapi setelah keluar dari gereja, kami tidak bisa membaca Alkitab. Bukan karena tidak mau, tapi karena tidak mengerti. Kebetulan suami saya guru, jadi dia bisa membaca Alkitab bahasa Indonesia, tapi dia harus selalu menerjemahkannya ke dalam bahasa W. Jadi, kami berdoa agar pada suatu hari kami bisa punya Firman Tuhan dalam bahasa kami," ujar ibu itu dengan bersemangat.

    Setelah peristiwa itu, N diyakinkan bahwa Tuhan memanggilnya untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. "Sejak itu saya mulai bertemu dengan para penerjemah lain dan saya mendengarkan cerita serupa."

    "Di daerah suku A di Provinsi P, misalnya, ada seorang ibu yang terkaget-kaget waktu membaca 1 Yohanes 1:9 dalam bahasa sukunya. Ayat itu menyatakan: Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

    "Ibu ini yakin ia tidak pernah mendengar ayat ini. Padahal, pendeta dari gereja sang ibu mengatakan bahwa ayat ini sering dibacakan dalam acara pengakuan dosa. Ternyata ibu ini memang bisa bahasa Indonesia dengan kosa kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari saja, sehingga ia tidak mengerti arti kata `dosa`, `pengampunan`, `setia`, dan `adil`. Barulah setelah Firman itu diterjemahkan ke dalam bahasa sukunya, ia dapat sungguh-sungguh mengerti arti dari kata-kata tersebut. Ibu ini, suaminya, dan kedelapan orang anaknya sekarang selalu membaca Firman Tuhan setiap malam dan iman mereka pun bertumbuh," cerita N panjang lebar.

    N percaya kebenaran Firman Tuhan dapat mengubah hidup seseorang dan orang yang diubahkan itu akan membawa perubahan di dalam masyarakat. Karena itu, lebih dari 10 tahun sejak kejadian di kota W tersebut, bersama suaminya, N memimpin sekitar 30 orang staf yang sebagian di antaranya adalah penerjemah, untuk menerjemahkan Firman Tuhan ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia lewat payung lembaga `Kartidaya` (Wycliffe Bible Translator Indonesia).

    MEMBUTUHKAN BANYAK SDM

    Mengingat di Indonesia ada lebih dari 700 bahasa daerah, N mengakui ada banyak sekali hal yang perlu dikerjakan karena masih minimnya sumber daya manusia yang tesedia. "Sekarang kami baru memiliki 6 tim untuk melayani 8 proyek bahasa di berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Dan kami bukan cuma butuh penerjemah tapi juga tenaga dari berbagai bidang lain. Saat ini, misalnya, kami sedang mencari orang yang menguasai ilmu komputer karena proyek-proyek penerjemahan dapat dipercepat berkali-kali lipat dengan bantuan teknologi komputer.

    Selama ini orang berpikir mereka yang jadi penerjemah haruslah lulusan fakultas sastra. Tapi sebetulnya mereka yang dari fakultas teknik atau latar belakang pendidikan apa pun juga bisa dipakai Tuhan untuk menjadi penerjemah Alkitab. Yang penting, mereka yang mau mengikuti panggilan Tuhan sebagai penerjemah bahasa Alkitab akan dilatih agar bisa menganalisa bahasa.

    Selain menerjemahkan, kami juga memiliki pelayanan literasi (pengajaran baca tulis) yang tugasnya mengajari orang-orang untuk dapat membaca dan juga pelayanan pemberdayaan masyarakat. Jadi, memang dibutuhkan orang dari berbagai bidang. Biasanya sebelum menerjemahkan Alkitab, seorang penerjemah terlebih dahulu menerjemahkan buku-buku praktis yang dibutuhkan masyarakat (seperti misalnya buku kesehatan, pertanian, perikanan), dan cerita-cerita pendek dari Alkitab seperi kisah Musa, Yakub, dan kehidupan Yesus. Baru setelah itu mereka masuk ke tahapan berikutnya dengan menerjemahkan Perjanjian Baru. Jika tidak ada hambatan, sebuah program penerjemahan Alkitab (PL & PB) akan selesai 10-15 tahun.

    Untuk menghindari duplikasi, Kartidaya kini bergabung dengan forum `Bible Agency`, yang merupakan forum kerjasama antara berbagai lembaga penerjemahan Alkitab di Indonesia. Dengan begitu, Kartidaya bisa saling bertukar informasi sehingga bisa saling mendukung jika ada proyek penerjemahan yang sudah dilakukan oleh lembaga lain.

    Masih banyak orang di Indonesia yang butuh kebenaran Firman Tuhan. Anda juga bisa ikut berperan untuk membuka mata hati mereka dengan kemampuan Anda.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Majalah: getLIFE! Edisi 16/2005
    Judul Artikel Asli: Kartidaya: Membuka Mata Hati Masyarakat Pedalaman
    Penerbit: Yayasan Pelita Indonesia
    Halaman: 14 - 16

    e-JEMMi 11/2006

    Mempersiapkan Diri Menjadi Penginjil Pribadi

    Telah banyak digunakan dalam usaha mengajak orang percaya untuk terjun ke dalam pekerjaan penginjilan pribadi seperti:

    Bagaimana pendapat saudara? Tepatkah semua pendorong yang diajukan di atas? ... Tidak! Hanya satu saja yang sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu dorongan Kasih. 2 Korintus 5 (TL) berbunyi:

    "Karena kasih Kristus itu menggerakkan hati kami, ... dan sudah menanggungkan ke atas kami kabar perdamaian itu. Sebab itu kami menjadi utusan bagi pihak Kristus, ...."
    (Lihat ayat 2 Korintus 5:14,19,20 TL)

    Kalau saudara pergi mencari jiwa-jiwa yang sesat dengan dorongan yang lain dari Kasih Kristus, maka sikap saudara terhadap orang yang dilayani tidak akan sesuai. Tetapi, kalau saudara memberikan cukup waktu dan dengan tenang merenungkan sengsara Yesus pada salib, dan merenungkan keadaan manusia yang belum percaya kepadaNya, pasti dengan segera saudara akan tergerak oleh kasih itu untuk pergi. Siapakah, yang walaupun hanya memiliki sedikit kasih akan dengan sadar membiarkan teman-temannya menuju ke kebinasaan? Tentu, semua akan diajak untuk melarikan diri ke tempat yang aman, bukan?

    Apa sebabnya peristiwa penyaliban Yesus harus direnungkan sedalam-dalamnya sebagai penggerak kasih? Apakah hal ini suatu disiplin psikologis untuk membangkitkan perasaan ...? Tidak! Perasaan hanya akan bertahan sesaat saja, lalu menghilang. Pengetahuanlah yang akan bertahan lama sebagai pembangkit Kasih. Sebabnya dapat kita lihat dalam ayat yang berikut ini.

    "Karena kasih Kristus itu menggerakkan kami ... sebab kami yakin Seorang telah mati karena orang sekalian, ..." (2 Korintus 5:14 TL)

    Demikianlah hubungan antara pengetahuan ("yakin") dan penggerak kasih. Dan pengetahuan itu tidak akan datang melalui khayal, melainkan telah disediakan bagi saudara di dalam Alkitab. Selidikilah nats-nats dasar dalam pelajaran ini, yakni 2 Korintus 5:11-20. Nats itu merupakan dasar pengetahuan saudara mengenai rencana Allah dan peranan saudara dalam pemberitaan Injil Yesus. Kiranya dengan merenungkannya, saudara akan tergerak untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan Yesus, Juruselamat saudara.

    Tetapi Tuhan Allah tidak akan memberikan tugas tersebut tanpa adanya kerelaan dari saudara sendiri. Panggilan terhadap nabi Yesaya merupakan contoh baik dari sikap terhadap panggilan Allah itu. Allah bertanya:

    "... siapakah akan menjadi utusan-Ku? Maka jawabku: Bahwa aku ini hamba-Mu, suruhkanlah aku!"
    (Yesaya 6:8 TL)

    A. KEINSYAFAN AKAN RENCANA ALLAH BAGI SAUDARA

    1. Keadaan manusia yang belum percaya kepada Yesus.

      Manusia berkeadaan "mati dalam dosa" (Efesus 2:1). Arti dari ucapan itu dapat saudara lihat dalam Yesaya 59:2, yaitu bahwa dosa telah menceraikan manusia dari pada Allah. Dengan kata lain, manusia dalam keadaan TERPISAH DARI ALLAH yang adalah sumber kehidupan satu-satunya.

      Yesus melukiskan keadaan itu dalam Injil Yohanes pasal 15. Dalam perumpamaan "Pokok Anggur yang Benar" itu terlihat bilamana seseorang mempunyai hubungan dengan Yesus, barulah ia memiliki hidup. Kalau hubungan tersebut putus, ia menjadi kering serta tidak berguna bagi pemilik kebun (bandingkan 1 Yohanes 5:11,12).

      1. Beberapa sifat dan sikap manusia

        Tentu saja manusia yang berada di luar persekutuan dengan Allah memiliki sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan yang najis; dan tentu juga bahwa Tuhan Allah akan menentukan beberapa batas kesanggupan bagi mereka. Sebagai perincian dari sifat-sifat tersebut perhatikanlah pernyataan-pernyataan Tuhan yang berikut. Dan bila saudara belum melihat persesuaian antara penjelasan ini dengan pengalaman saudara dalam pergaulan sehari-hari periksalah diri saudara. Mungkin saudara masih mempunyai cita-cita dan sentimen- sentimen yang mengelabuhi pengertian saudara yang seharusnya.

        1. Orang berdosa gemar melakukan yang jahat. Mereka memberontak, melanggar setiap pernyataan dan kehendak Allah; malah mereka demikian bermusuhan dengan Allah, sehingga sering membenci orang-orang yang memihak Yesus (Efesus 2:1-3;Matius 10:16-24; Yohanes 15:18-21).

        2. Mereka belum mempunyai panca indra rohani. Mereka tidak dapat melihat ataupun mengerti perkara-perkara rohani (Yohanes 3:3, 1 Korintus 2:14) sehingga Injil Yesus merupakan suatu kebodohan kepadanya (1Korintus 1:23). Si Iblis telah turut terlibat dalam hal ini membuat pemikiran mereka lebih kacau lagi (2 Korintus 4:4), tetapi manusia tetap menganggap dirinya cerdas (Roma 1:22). Karena mereka memiliki hati yang bejat dan kehendak yang telah menyeleweng, orang-orang berdosa lebih menyukai kegelapan tersebut; bahkan menikmatinya sehingga mereka sering menolak sumber terang yang satu-satunya itu, yakni Yesus Kristus (Yohanes 1:4-5, 1:9-11; 3:19-21).

        3. Sia-sialah segala usaha, amal dan kebenaran dirinya. Semua jalan keagamaan yang ditempuhnya ternyata buntu (Efesus 2:8,9, Roma 3:20). Sama seperti nenek moyang kita telah menukarkan Allah yang benar dengan patung-patung berhala buatan tangannya (Roma 1:23), orang-orang berdosa sibuk menciptakan agama yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Hai saudara, semua keterangan ini agak berat untuk diterimanya, bukan? Berdoalah sejenak, ucapkanlah terima kasih kepada Yesus yang telah memindahkan saudara keluar dari lumpur kecemaran yang sama dengan orang-orang berdosa yang lain itu. Sungguh hidup baru dalam Yesus itu ringan, tetapi tidak ringan bagi Yesus -- Ia harus disiksa untuk melepaskan saudara dari siksaan yang seharusnya ditanggung oleh saudara.

      2. Kasih Allah dinyatakan kepada seluruh manusia

        Meskipun setiap bagian dari hidup manusia itu merosot serta segala perbuatannya najis, Tuhan tetap menganugerahkan dua pernyataan kasih untuk mendorong manusia kepada kesadaran dan kepercayaan. Selama hubungan dengan Yesus ini belum tercapai, seseorang tidak akan pernah puas bahkan akan tetap gelisah.

        Yang pertama, bahwa setiap orang yang belum memperoleh keselamatan dalam Yesus akan merasakan suatu kekosongan dalam dirinya. Kekosongan yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Yesus. Kekosongan itulah yang telah menggerakkan manusia untuk mencari-cari melalui macam-macam agama, tetapi keagamaan ternyata tidak memberi kepuasan.

        Yang kedua, adalah "hati kecil." Fungsi hati kecil menjadi jelas bagi kita dalam Yohanes 16:8. Roh Kudus selalu memakai hati kecil untuk membangunkan kesadaran seseorang bahwa ia telah berbuat dosa. Selain menempelak, suara hati inilah yang akan memeteraikan kebenaran Firman Allah kepadanya supaya ia boleh memperoleh keselamatan. Akan tetapi jikalau tidak ada seorangpun memberitakan Firman itu kepadanya, maka tidak ada bahan yang bersifat kekal untuk disetujui oleh hati kecil itu.

    2. Penyaliban Yesus perlu diberitakan.

      Kita yang percaya mengetahui bahwa segala sesuatu yang mustahil bagi orang berdosa telah dilaksanakan oleh Yesus. Orang yang najis sekalipun dapat dilepaskan dari hukuman maut melalui iman kepada Yesus Kristus. Yesus telah menggenapkan semua syarat yang dari Tuhan Allah kita. Di dalam Yesus setiap orang dapat memperoleh penebusan dan keselamatan.

      Bacalah surat Roma 10:13-15. Jelas bahwa semua usaha dan pekerjaan Yesus pada salib menjadi sia-sia kalau orang berdosa tidak mengetahui tentang jalan kelepasan itu. Jikalau mereka dibiarkan saja meraba-raba dalam dunia yang gelap ini, pastilah mereka akan sesat sampai mati, lalu binasa. Mereka membutuhkan orang lain, yang dapat memegang tangan mereka dan mengantarnya kepada Yesus.

      Tetapi siapakah orang itu yang akan memperkenalkan mereka kepada Kristus? Apakah setiap orang layak memangku jabatan yang luhur itu? Bukankah tugas itu sedemikian mulia, sehingga Tuhan hanya memilih petugas-petugas tertentu saja untuk melaksanakannya? ... Tidak demikian, Saudara! Kalau Tuhan harus menunggu orang yang cukup layak dan suci, Injil tidak akan sampai terberitakan. Hanya Yesuslah orang yang layak dan suci. Yesuslah Penebus! Kita hanya alat pemberita saja.

      Saudara boleh memberitahukan jalan keselamatan itu. Sebab Tuhan Allah tidak melarang seorangpun dari anak-anak-Nya untuk menikmati sukacita sebagai pemberita Injil. Kita mempunyai contoh yang baik dalam Alkitab. Perhatikan Kisah Para Rasul 8:1-4 (TL). Siapakah orang-orang yang melarikan diri dari kota Yerusalem? Mereka adalah anggota-anggota biasa dari jemaat pertama itu. Perhatikan ayat 1: "kecuali rasul-rasul saja." Siapakah yang memberitakan kabar kesukaan itu? "sekalian orang yang terpecah-belah itu" (ayat 4). yang memberitakan Injil Kabar Kesukaan di Yudea dan Samaria adalah semua orang percaya, kecuali petugas-petugas istimewa. Mungkin orang-orang ini sama seperti saudara sendiri. Mereka agak takut juga karena sedang melarikan diri. Tetapi ketakutan tersebut tidak dapat memadamkan berita sukacita yang mengalir dari hati yang penuh semangat.

    3. Peranan Roh Kudus dalam pemberitaan Injil.

      Roh Kudus merupakan kunci pengertian, apakah sebabnya orang-orang biasa juga dapat memberitakan Injil. Kalau pemberita Injil itu tergantung pada kesanggupan dan tenaga si pemberita Injil sendiri, maka hanya sedikit saja yang dapat menjalankannya. Kebanyakan orang merasa tidak mampu untuk belajar dan melatih diri dalam penginjilan sampai merasa cukup lancar.

      Tetapi saudara boleh bersyukur kepada Tuhan bahwa tidaklah demikian halnya. Roh Kudus yang mempunyai peranan utama, dan Saudara yang mempunyai peranan pelengkap. Saudara yang pergi, Roh yang melaksanakannya. Yang perlu bagi Saudara hanyalah memberitahukan tentang jalan keselamatan kepada orang yang sesat dan Roh Kudus yang akan bekerja untuk meyakinkan dia. Dan kalau orang itu mau menerima Kristus, Roh Kuduslah yang akan mengerjakan mujizat pembaruan didalam batinnya. Dalam penginjilan hanya perlu supaya Injil diberitakan dengan sangat sederhana, serta mengajak orang itu untuk percaya.

    B. PERSIAPAN ROHANI UNTUK MENJADI PEMBERITA INJIL

    1. Saudara harus mengalaminya terlebih dahulu.

      Dalam mencari jiwa-jiwa, saudara akan menemukan bermacam-macam penyakit rohani. Di kemudian hari, setiap jiwa yang saudara telah perkenalkan kepada Yesus Kristus akan menghadapi bermacam-macam pencobaan dan rintangan yang lain lagi. Orang buta tidak dapat menolong orang buta (Lukas 6:39). Jadi saudara sendirilah yang harus memanfaatkan segala janji Allah dalam hidup saudara. Saudara harus berkemenangan supaya saudara dapat dengan tegas menawarkan pertolongan Yesus kepada orang lain.

      Beberapa pemberian rahmat Yesus yang saudara perlu alami adalah:

      1. Kelahiran baru

        Kalau saudara sendiri belum diselamatkan menjadi Anak Allah, saudara perlu dilayani, bukan melayani. Kalau kelahiran baru belum saudara alami, betapa baiknya untuk menerima Yesus sekarang karena tak mungkin saudara selamat tanpa pembaharuan itu (Yohanes 3:3,5; 1:12).

      2. Kepastian selamat

        Apakah saudara telah mendapatkan kepastian bahwa dosa-dosa saudara telah diampuni dan bahwa saudara telah memiliki tempat di sorga? Kepastian yang mutlak hanya diperoleh melalui Firman Allah. Kalau Tuhan mengatakan bahwa saudara telah selamat tentu saudara telah selamat (1Yohanes 5:13; Yohanes 5:24; Yohanes 1:12; 1Petrus 2:24). Si iblis akan menertawakan segala dasar kepastian yang lain karena dasar-dasar yang lain itu hanyalah khayalan belaka.

      3. Kemenangan terhadap godaan

        Saudara telah disuruh supaya hidup dengan suci serta sempurna (Matius 5:8; 5:48; Roma 6:6). Iblis akan mengusahakan kelakuan yang bukan-bukan dengan maksud menodai dan meniadakan kesaksian saudara. Tetapi Iblis itu ompong, ia hanya dapat mengaum saja. Ia tidak berdaya lagi, karena giginya telah tercabut pada salib (1 Yohanes 3:8b; Roma 6:14). Melalui iman terimalah segala rahmat kemenangan yang telah disediakan Yesus (1 Korintus 15:57; 10:13; Filipi 4:13).

      4. Persekutuan dan persaudaraan dalam kasih

        Yesus tidak bermaksud supaya saudara hidup dan bertahan seorang diri. Ia telah merencanakan suatu lingkungan khusus demi pertumbuhan iman saudara. Persekutuan itu menggantikan segala kerugian di dunia luar (Markus 10:29,30). Persekutuan dengan Yesus sendiri melalui doa dan Alkitab, dan persekutuan kasih dengan saudara-saudara seiman menjadi sumber penyegaran dan penghiburan bagi saudara dalam dunia yang kering ini.

      5. Dipersenjatai oleh Roh Yesus.

        Bersediakah saudara dilengkapi untuk pekerjaan penginjilan pribadi? Roh Kudus menunggu untuk memberikan pertolongan-Nya atas dasar kerelaan dan ketaatan saudara. Fungsi utama Roh ialah untuk memasyhurkan nama Yesus. Jadi Roh itu hanya memberikan kuasa kepada seseorang yang "rela" dan "taat" memberitakan Injil.

        1. Kuasa sebagai saksi

          Apakah saudara merasa tidak sanggup meyakinkan orang-orang lain? Sebenarnya hal "meyakinkan" bukanlah urusan saudara melainkan peranan Roh Allah. Menurut janji-janji dalam Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 1:8; 2;38-39), saudara dapat diurapi dengan kuasa. Kuasa itu bukanlah sesuatu yang harus saudara tunggu-tunggu seperti rasul Petrus dan rasul Thomas. Mereka disuruh menunggu sampai pada waktunya Roh itu datang, yaitu sampai hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta Roh Kudus yang bukan dari dunia, datang menetap di dunia. Sekarang Roh itu ada beserta kita setiap saat. Apalagi Ia telah mendiami anak-anak Allah, dan menunggu kesempatan untuk menyempurnakan mereka.

          Kuasa ilahi adalah sesuatu yang dialami "sementara berjalan." Kuasa itu bukanlah milik saudara yang dapat dipegang-pegang dan dirasa terlebih dahulu, melainkan mempunyai maksud tertentu: "kuasa dalam bersaksi" yang tidak terlihat jelas terpisah dari aktivitas pemberitaan Injil. Kuasa itu bukan bagi saudara melainkan bagi kemuliaan Kristus.

      6. Pedang Roh

        Hanya satu senjata yang diberikan kepada orang-orang percaya untuk menyerang, yaitu Alkitab. Tidak perlu saudara menunggu untuk diperlengkapi dengan Firman Tuhan. Ambil saja dan pakailah!

      7. Perlengkapan rohani

        Paulus pernah melukiskan perlengkapan rohani yang diperuntukkan bagi kita sebagai persenjataan (Efesus 6:10-20). Perlengkapan ini boleh juga dilukiskan sebagai buah-buah Roh (Galatia 5:22,23; Yohanes 15:1-7). Tujuan Roh Kudus adalah untuk menimbulkan dalam kehidupan seseorang buah-buah rohani yang sesuai dengan pemberitaannya. Kalau orang luar melihat Injil yang saudara beritakan itu terwujud dan diperlihatkan dalam kelakuan saudara sehari-hari, pastilah keyakinannya akan bertambah mengenai kebenaran Injil itu. Roh Kudus menginginkan dua jalan bagi pemberitaan Yesus, yaitu: melalui bibir dan melalui kesucian hidup -- dalam sifat, sikap dan kehidupan saudara yang melawan segala anak panah iblis itu.

    C. DISIPLIN ROHANI SEHARI-HARI

    Hanya sejauh mana saudara menyediakan diri untuk diperlengkapi, sejauh itu pula Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri saudara. Anak- anak Allah yang biasa menginjili telah mengalami bahwa hal-hal yang berikut perlu dilakukan sebagai langkah-langkah penyerahan rohani.

    1. Menyelidiki Firman Allah.

      Secara teratur dan terus menerus. Jangan hanya membaca saja, melainkan renungkan dan bandingkanlah nats dengan nats sampai ajaran-ajaran pokok meresap dan menjadi darah daging saudara (1 Petrus 2:2; Mazmur 119:11-18).

    2. Menghafal ayat-ayat.

      Roh Kudus akan bekerja dalam batas pengetahuan saudara tentang Firman Tuhan. Dalam hal ini saudara seumpama sebuah komputer di mana segala sesuatu yang telah tersimpan di dalamnya dapat diambil kembali oleh Roh Kudus untuk dipergunakan. Makin banyak ayat yang telah terhafalkan, berarti makin banyak pula ayat yang dimiliki oleh Roh Kudus sebagai persediaan dalam penginjilan. Menghafal merupakan hal yang penting sekali supaya saudara selalu dapat mengingat kembali letaknya suatu keterangan dari Firman Tuhan.

    3. Berdoa.

      Berikanlah waktu-waktu tertentu pada setiap hari untuk bersekutu dengan Tuhan melalui doa. Jangan terburu-buru, melainkan dalam waktu yang tenang supaya Tuhan berkesempatan berbisik kepada saudara mengenai tugas-tugas yang akan dilaksanakan dan rintangan-rintangan pribadi yang harus diserahkan. Buatlah suatu daftar pokok doa yang penting yang perlu didoakan setiap hari.

    Sumber:

    Judul Buku : Penginjilan dan Pelayanan Pribadi
    Judul Artikel: Mempersiapkan Diri Menjadi Penginjil Pribadi (Pel. 1)
    Pengarang : W. Stanley Heath, Ph.D., M.Div.
    Penerbit : YAKIN, Surabaya
    Halaman : 7 - 11


    e-JEMMi 01/2003

    Mencari Kehendak Tuhan

    Sejak berjanji di malam Natal, tekad saya untuk kelak menjadi misionaris sudah bulat. Saya yakin saya tidak akan memilih jalan hidup yang lain. Tapi berbagai pertanyaan memenuhi pikiran saya, "Ke mana saya akan pergi? Mungkinkah anak desa seperti saya menjadi misionaris? Bagaimana caranya menjadi misionaris? Akankah keluarga saya mengizinkan saya pergi jauh dari mereka? Gadis Nias tidak boleh jauh dari orang tuanya, dan saya anak perempuan bungsu. Bagaimana caranya mengatakan keinginan ini kepada orang tua saya?" Hati saya berdebar-debar setiap kali memikirkan hal ini.

    Saya belum dapat membicarakan kerinduan saya kepada orang tua saya. Namun, Tuhan mulai membuka jalan. Setamat SMA, saya diterima di universitas negeri sebagai lulusan PMDK (Program Penelusuran Minat dan Kemampuan), suatu kesempatan langka yang banyak siswa bahkan takut memimpikannya. Tapi saya telah memilih impian lain, impian yang lebih besar.

    Berita kelulusan itu saya beritahukan kepada orang tua saya. Di saat mereka sedang bersyukur kepada Tuhan, saya katakan juga bahwa hati saya sudah bulat, saya hanya mau masuk ke sekolah teologi. Mereka kecewa tapi saya tidak berani mengecewakan hati Tuhan yang telah memanggil saya.

    Waktu itu, dua saudara saya sedang kuliah di universitas swasta di Yogyakarta sehingga orang tua saya tidak sanggup lagi menyekolahkan saya. Saya terus berdoa dan menunggu selama dua tahun. Dan ketika akhirnya saya masuk Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta, saya merasa telah berada di jalur yang benar.

    Selagi kuliah di Duta Wacana, saya kembali bertanya-tanya, "Bagaimana caranya menjadi misionaris?"

    Saya bertanya ke sana-sini, kepada teman-teman kuliah dan dosen, ... buntu! Tidak ada yang dapat memberi petunjuk. Namun, saya tidak menyerah. Saya terus bertanya kepada teman-teman kuliah, "Saya ingin sekali menjadi misionaris, tapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Apakah kamu tahu badan misi yang bisa menerima saya?"

    Salah seorang teman berkata, "Di dekat rumah kami di Jakarta ada satu badan misi. Namanya OMF. Nanti kalau saya pulang dari liburan, saya akan ambilkan brosurnya."

    Saya tidak sabar menunggu brosur itu datang. Tapi ketika teman saya itu kembali ke Yogyakarta, ia tidak membawa brosur itu. Ia belum sempat ke kantor OMF. Saya sangat kecewa.

    Tuhan tidak pernah lupa menyelesaikan apa yang telah dimulai-Nya. Dari takhta-Nya Ia akan menggenapi rencana-Nya. Beberapa bulan kemudian, saat mengambil surat, saya melihat brosur berwarna kuning di dekat keranjang surat. Karena ingin tahu, saya ambil satu, dan alangkah senangnya hati saya melihat bahwa brosur itu adalah brosur OMF.

    "Ini dia yang saya cari-cari!" seru hati saya girang.

    Saya langsung menulis surat ke OMF untuk menceritakan kerinduan hati saya menjadi misionaris dan bertanya apakah mereka bersedia menerima saya. Tentu badan misi itu tidak bisa berjanji banyak sebab mereka belum mengenal saya. Karena tidak langsung diterima, saya sangat kecewa dan tertekan. Saya merasa ditolak.

    Namun, ditolak badan misi bukan berarti ditolak Tuhan. Bila Ia sudah memanggil, Ia akan membuka pintu-pintu yang tanpa celah sedikit pun supaya rencana-Nya digenapi. Saat itu, saya membutuhkan beasiswa untuk kuliah dan saya diminta menemui Ibu A, Direktur Pusat Pengembangan Pribadi Duta Wacana.

    Saat berkenalan dengan Ibu A, saya terkejut. Ternyata ia anggota OMF! Dalam hati muncul keinginan untuk mengungkapkan kerinduan saya, tapi kemudian niat itu saya batalkan. "Tidak ada gunanya membicarakan hal itu. Saya telah menyurati mereka dan mereka menolak saya."

    Namun, saya tetap mengingat Ibu A. Sebulan kemudian saya menemuinya dan menceritakan kerinduan saya untuk bergabung dengan OMF "Saya telah menyurati mereka," jelas saya, "tapi saya tidak diterima."

    "Jangan khawatir," jawabnya, "saya akan mengikuti pertemuan kami di Jakarta. Saya akan berbicara kepada pimpinan di sana."

    Dua bulan kemudian ia memanggil saya dan berkata, "Anda telah menceritakan keinginan Anda menjadi misionaris. Saya baru mendapat kabar bahwa ada satu kelompok mahasiswa dan orang-orang muda dari Australia, yang akan datang untuk studi tur di Indonesia. Barangkali Anda tertarik untuk ikut."

    "Ya! Saya ingin ikut!"

    "Tapi Anda perlu belajar bahasa Inggris," katanya mengingatkan.

    "Tidak apa-apa. Saya akan belajar," saya meyakinkannya.

    Saya tidak punya uang untuk kursus bahasa Inggris, maka saya bertanya kepada kakak kelas saya, yang saya tahu bisa berbahasa Inggris.

    "Saya mau belajar bahasa Inggris, bagaimana caranya?"

    "Dengarkan lagu-lagu berbahasa Inggris, hafal kata-katanya dan cari artinya di kamus," jelas kakak itu. Saya langsung melakukannya. Tapi ketika bertemu dengan Ibu A, ia selalu bicara dalam bahasa Inggris, dan saya tidak mengerti sama sekali. Maka, saya bongkar buku pelajaran bahasa Inggris semester pertama saya; saya pelajari kembali dengan tekun.

    Ketika beliau kembali dari pertemuan OMF di Jakarta, ia memberi saya formulir lamaran menjadi anggota OMF.

    "Saya sudah bicara dengan pimpinan di sana," katanya menjelaskan, "Anda bisa menuliskan lamaran.".

    Saya gembira luar biasa! Tapi ketika membaca formulir itu, ternyata semuanya tertulis dalam bahasa Inggris!

    Ibu A tampaknya memahami kesulitan saya. "Kerjakan apa yang Anda bisa," usulnya. "Saya akan berusaha membantu sebelum Anda mengirimnya."

    Pada saat hampir bersamaan, ia juga menolong saya mengisi formulir untuk studi tur. Dan beberapa bulan kemudian ia memberi tahu saya, "Pimpinan tur itu adalah Ibu B, ia sahabat dekat saya. Dulu ia lama melayani di Indonesia. Ia bisa berbahasa Indonesia."

    Hati saya terangkat. "Bagus," pikir saya. "Kalau saya kesulitan berbahasa Inggris, masih ada yang bisa mengerti saya!"

    Selama lima minggu mengikuti studi tur itu saya mendapat banyak kesempatan untuk mendengar dan berbicara dalam bahasa Inggris. Saya juga banyak belajar tentang pelayanan misi dan OMF. Dari Ibu A dan Ibu B saya belajar untuk semakin mengasihi Tuhan dan pelayanan misi. Mereka berdoa bersama saya untuk mencari pimpinan Tuhan, suatu pengalaman yang sangat menyenangkan.

    Menjelang lulus dari Duta Wacana, saya merasa perlu memberi tahu orang tua saya bahwa saya akan melayani Tuhan sebagai misionaris di negara lain. Kembali saya berhadapan dengan tugas yang mendebarkan. "Bagaimana tanggapan mereka nanti?"

    Saya menyurati mereka sambil terus berdoa supaya Tuhan memberi mereka pengertian. Tidak ada tanggapan. Saya menulis beberapa surat lagi, tapi tak satu pun dibalas.

    Saya sama sekali tidak bisa menebak isi hati orang tua saya. Tapi dua bulan kemudian saya mendapat berita bahwa papa saya sakit keras. Saya menelepon ke rumah pada hari ulang tahunnya. Sesudah mengucapkan selamat ulang tahun, saya berkata, "Papa sedang sakit. Biarlah saya pulang untuk mengurus Papa. Saya bisa menunda penulisan skripsi saya."

    Sudah lima setengah tahun kami tidak bertemu. Saya rindu sekali untuk pulang ke rumah. Tapi papa menjawab, "Kami telah menyerahkan kau kepada Tuhan, kau harus menyelesaikan kuliahmu."

    Kemudian saya bertanya, "Kalau saya menjadi misionaris ke luar negeri, menurut Papa bagaimana?"

    Di gagang telepon saya mendengar suara papa begitu tenang. "Kau adalah persembahan saya kepada Tuhan," ungkapnya. "Bila ini kehendak Tuhan bagimu, pergi dan lakukanlah dengan sungguh-sungguh."

    Enam hari kemudian papa saya meninggal dunia. Saya sangat sedih. Saya tidak akan pernah melihatnya lagi. Tapi restunya telah menjadi pendorong yang kuat bagi saya untuk melangkah lebih maju di dunia misi.

    Saya telah diberi tahu bahwa saya perlu dukungan dari gereja asal saya, Banua Niha Keriso Protestan (BNKP). Kebetulan putri Ephorus kami kuliah bersama saya. Sewaktu ia pulang ke Nias untuk praktik tiga bulan, saya memintanya untuk bicara kepada Ephorus kami, ayahnya, tentang kerinduan saya menjadi misionaris.

    Sekembalinya dari Nias, ia memberi tahu saya bahwa Sinode BNKP tidak keberatan dengan kerinduan saya, dan saya diminta menyurati mereka kalau sudah hampir lulus. Berita tersebut memberi saya semangat, tapi saya masih belum yakin betul. Beberapa bulan kemudian, Ephorus kami datang ke Yogyakarta untuk melihat putrinya dan menghadiri wisuda kami. "Ini kesempatan yang baik untuk bertanya langsung kepadanya," pikir saya.

    Dengan harap-harap cemas saya mendekatinya dan bertanya, "Apakah BNKP bersedia mengutus saya sebagai misionaris?"

    Jawabannya sungguh tidak pernah terlintas dalam pikiran saya, "Sinode kita sedang mencari orang yang bersedia diutus sebagai misionaris," jelasnya kepada saya. "Kita akan melakukan pengutusan ini pada ulang tahun ke-130 berita Injil di Nias," tegasnya pula.

    Sinode BNKP mau mengutus saya! "Oh, Tuhan, terima kasih. Sungguh indah pekerjaan-Mu."

    Sekembalinya saya ke Nias, sinode meminta saya melayani selama satu setengah tahun sebagai persiapan untuk penahbisan. Kesempatan pelayanan ini menolong saya kembali mengalami kehidupan desa, khususnya setelah enam setengah tahun hidup di kota Yogyakarta.

    Pada masa ini juga, tidak hanya sekali saya mencoba menampik tangan Tuhan yang ingin segera membawa saya ke ladang misi-Nya. Sering terpikir betapa lebih menyenangkan tinggal di negeri sendiri; ada banyak kemudahan yang bisa saya miliki, tidak perlu bersusah susah mempelajari bahasa lain, tidak perlu mengalami sakitnya perpisahan dengan ibu dan saudara-saudara, lagipula akan lebih mudah untuk menikah.

    Menikah? Saya merindukannya. Namun, bagaimana dengan sekian banyak jiwa yang belum pernah mendengar tentang kasih dan pengampunan Kristus?

    "Saya tidak rela membiarkan ribuan jiwa itu mati dalam dosa hanya demi saya bisa bersuami," cetus hati saya. "Mereka terlalu berharga bagi Tuhan. Untuk apa saya menikah bila harus melawan Tuhan yang telah memberi nyawa-Nya untuk saya?"

    Rasa takut juga beberapa kali hendak menghentikan langkah saya menaati Tuhan. "Sanggupkah saya melakukan tugas ini sendirian, Tuhan?" tanya saya berulang-ulang.

    Sebagai jawaban, Tuhan membawa Matius 28:18-20 dalam renungan saya. Ayat itu membuat jiwa saya tenang, setenang jawaban Tuhan Yesus, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu, pergilah ... Aku menyertai kamu senantiasa!"

    Saya menetapkan hati, "Saya akan pergi. Tuhan yang empunya segala kuasa, di surga dan di bumi, akan menyertai saya."

    Pintu demi pintu telah dibukakan oleh Tuhan. Pertanyaan yang masih tersisa adalah "Ke mana saya akan pergi?"

    Saya teringat pada buku yang diberikan Ibu B, buku tentang profil suku-suku terbelakang di Filipina. Saya membaca profil suku Mangyan dan "jatuh cinta" kepada mereka. "Mungkin ke sanalah Tuhan mau mengutus saya," pikir saya.

    Sejak itu, negeri Filipina dan suku terbelakang yang tinggal di pedalaman selalu memenuhi hati dan doa-doa saya.

    Sumber diambil dari bahan:

    Judul buku : Sampah Menjadi Persembahan
    Judul artikel : Mencari Kehendak Tuhan
    Penulis : Ria Zebua
    Penerbit : Yayasan Komusikasi Bina Kasih/OMF, Jakarta 2006
    Halaman : 14--23

    e-JEMMi 42/2006

    Mendukung Misi dengan Cara Yesus

    Mengapa Allah tidak segera menyediakan uang yang kita perlukan bagi pekerjaan-Nya di atas muka bumi? Tentu Dia dapat menyuruh para milyuner yang mengasihi-Nya untuk menuliskan selembar cek bernilai besar untuk membiayai pemenuhan Amanat Agung. Dia tentunya juga mampu membuat seseorang yang mengasihi-Nya dan bisa dipercayai, untuk menemukan harta karun terpendam atau dalam sekejap menjadikannya kaya supaya dapat memberikan hartanya bagi pekerjaan Tuhan. Mengapa Tuhan tidak membuat seorang di antara mereka yang dikasihi-Nya memenangkan undian sebesar Rp 20 milyar yang tiba-tiba datang lewat surat?

    Setiap orang di dalam pelayanan yang pernah bergumul sambil mencucurkan air mata, yang bertanya-tanya bagaimana dia dapat pergi memenuhi panggilan-Nya, pasti pernah menanyakan pertanyaan- pertanyaan seperti ini. Dalam keputusasaannya, seorang misionaris pernah berseru, "Kami tidak pernah memiliki cukup uang untuk melakukan apa yang seharusnya kami lakukan. Seakan-akan Allah telah mengikat tangan saya di belakang punggung saya dan kemudian menyuruh saya melakukan pekerjaan sebesar itu. Sungguh tidak adil!"

    Mengapa para misionaris harus membuat surat doa? Saya yakin setiap misionaris kadang-kadang juga jengkel pada pekerjaan menulis surat yang terus-menerus itu atau membuat surat doa bagi para sponsornya. Pada akhirnya, sebagian besar dari mereka tidak pernah menuliskannya kembali. Sebab, waktu satu atau dua hari yang disisihkan dalam satu bulan untuk komunikasi semacam ini ternyata sia-sia saja. Bagaimanapun, dengan sedikitnya pekerja yang terlibat dalam pekerjaan Allah ini, beban pekerjaan menjadi terasa amat berat bagi mereka. Jadi mengapa kita harus melakukan pekerjaan yang paling penting di dunia dengan cara ini?

    Kita perlu untuk mempunyai pikiran yang benar-benar mengerti cara Allah melihat pelayanan dan uang. Dengan itu, kita akan mempunyai kepedulian dalam melihat pekerjaan yang sedang dilakukan dan bagaimana memperoleh uang untuk membuat tujuan kita tercapai. Bagaimanapun, semua itu bertujuan bagi pekerjaan Allah, bukan?

    Bagaimanapun, Tuhan mempunyai dasar yang jauh berbeda. Kepedulian- Nya yang utama adalah untuk memulihkan hubungan -- antara kita dan Dia dan antara kita dan sesama. Itulah sebabnya mengapa Dia sedemikian rupa merancang semua ini, supaya kita dapat saling bergandeng tangan secara finansial dalam melakukan pekerjaan-Nya.

    Yesus memberikan teladan ini bagi kita. Dia membiayai Diri-Nya sendiri dengan menjadi tukang kayu pada masa-masa awal kedewasaan- Nya. Namun selama tiga tahun pelayanan-Nya sepenuh waktu, Dia dan para murid-Nya memiliki "Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain ... [untuk] melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka" (Lukas 8:3).

    Ketika orang memberi bagi pekerjaan Tuhan, banyak hal yang ajaib terjadi. Sebuah kisah dari New Orleans menggambarkan apa yang Allah kerjakan lewat pemberian. Lisa yang berusia sepuluh tahun berhasil memperoleh sejumlah uang dari penjualan barang-barang bekas. Tapi ia tidak membelanjakan uang itu untuk membeli permen, mainan atau pakaian. Lisa memutuskan untuk memberikannya kepada seorang misionaris pelayanan kota dari YWAM bernama Chuck Morris, yang melayani di daerah kumuh suatu kota. "Pakai ini untuk pekerjaan misi," kata gadis belia itu, sambil menyerahkan uang itu ke tangan Chuck.

    Karena menyadari bahwa uang sebesar itu amat berarti bagi seorang anak usia sepuluh tahun, Chuck dengan berhati-hati mempertimbangkan di mana dia akan menginvestasikan uang itu. Kemudian dia teringat tentang David, seorang laki-laki yang baru saja dipimpin Chuck kepada Tuhan, yang mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk dapat menjumpai gadis belia itu. David tidak memiliki pekerjaan dan tidur di sebuah taman kota. Ia ingin memperoleh sebuah pekerjaan, tetapi tidak mampu mempunyai uang untuk ongkos pembuatan kartu identitas yang diperlukan supaya dapat bekerja di Lousiana. Chuck memutuskan untuk memakai uang Lisa guna mengurus kartu identitas yang diperlukan David agar dia dapat memiliki rasa percaya diri dalam mencari kerja.

    Chuck lalu mengirimkan kepada Lisa sebuah potret David dan sepucuk surat yang menjelaskan betapa pentingnya uang yang dia kirimkan bagi David. Beberapa minggu kemudian, David juga menulis surat kepada Lisa untuk mengucapkan terima kasih kepadanya dan memberitahu Lisa bahwa dia telah memperoleh pekerjaan. Saat ini, Lisa berdoa secara teratur bagi David, karena dia tahu bahwa pemberiannya kepada Tuhan telah membuat suatu perubahan di dalam hidup seseorang.

    Kisah di atas hanya sebuah kisah kecil di antara jutaan kisah lain, tetapi kisah ini menggambarkan betapa Allah amat peduli terhadap masalah keuangan. Intisari dari buku besar-Nya adalah relasi. Allah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi -- Dia tidak hanya memberikan Putra tunggal-Nya lewat sebuah tindakan kedermawanan terbesar di dalam sejarah, namun secara berkesinambungan, Dia juga memelihara tiap-tiap kita.

    Firman Allah memberitahu kita bahwa setiap pemberian yang baik berasal dari Bapa Surgawi (Yak. 1:17). Sebagai gantinya, kita menunjukkan kasih kita kepada-Nya dengan memberi kepada orang lain. Pemberian kita tidak hanya memperkuat hubungan kasih kita dengan Allah, tetapi pemberian tersebut juga mengikat hati kita dengan orang yang menerimanya.

    Pemberian dengan Ikatan Hati
    Yesus memberitahu kita bahwa di mana harta kita berada, di situ hati kita juga berada. Jika kita memberikan "harta" kita kepada orang- orang tertentu dan pelayanan mereka, hati kita pun akan berada di sana bersama mereka. Kita akan merasa bertanggung jawab untuk berdoa bagi mereka, seperti Lisa kecil di dalam kisah dari New Orleans tadi. Harta kita mungkin akan berada di belahan dunia yang lain, di daerah yang mungkin tidak pernah kita kunjungi, tetapi kita akan lebih dekat dengan orang-orang yang kita beri dan kepada apa yang Allah lakukan di negara itu melalui pemberian kita. Inilah cara Allah menempa dan memperkuat hubungan kita satu sama lain.

    Hal yang tak kalah penting juga terjadi pada mereka yang menerima suatu pemberian. Seringkali, kerendahan hati akan muncul lewat satu tindakan pemberian. Bayangkan jika seseorang memberikan sesuatu kepada Anda, dan Anda tahu bahwa untuk dapat memberikannya, ia harus melewati suatu pengorbanan tertentu. Hal tersebut tentu akan membuat Anda lebih berhati-hati dan tidak menyalahgunakan kepercayaan mereka kepada Anda. Pengalaman seperti ini penting untuk dialami setiap orang. Kebanggaan diri kita akan menyusut ketika kita menjadi penerima pemberian kedermawanan orang yang kita tidak bisa membalasnya. Kita hanya bisa mengucapkan terima kasih kepada orang itu dan berdoa agar Allah memberkatinya. Oleh karena itulah kita lebih senang jika bisa mencukupi kebutuhan kita dengan usaha sendiri.

    Saya sering berbicara dengan para calon misionaris yang bercita-cita untuk mampu membiayai perjalanan mereka sendiri. Tetapi di balik keinginan mereka itu, saya merasa agak sedih. Sebab, jika mereka dapat berhasil tanpa terlibat hutang karena mendapatkan jalan untuk mendapatkan uang dari dana mereka sendiri, mereka akan kehilangan hal buruk tetapi indah. Mereka akan melewatkan kesempatan untuk merasakan ikatan yang menimbulkan kerendahan hati ketika seseorang meletakkan uang ke dalam tangan Anda dan mengatakan bahwa Tuhan menyuruhnya untuk memberikannya kepada Anda.

    Ada suatu ikatan khusus yang akan terjalin antara Anda dan orang yang memberikan uang itu kepada Anda. Anda akan peduli terhadapnya dan Anda akan mendoakannya dengan cara yang berbeda. Anda secara alami akan rindu membagikan berita tentang pelayanan Anda kepadanya, dan melaporkan apa yang telah terjadi berkat pemberiannya dalam pekerjaan Tuhan.

    Semua hal ini terjadi karena metode Allah, agar kita saling memberi di dalam Tubuh Kristus. Karena setiap pelayanan membutuhkan dana, Dia telah menjamin bahwa kita akan selalu membutuhkan satu sama lain dan hal itu akan selalu mempengaruhi hubungan kita. Ketika pada saat yang bersamaan kebutuhan pelayanan itu akan dipenuhi, orang-orang yang memiliki pekerjaan di kota besar dan kecil akan diperluas visinya dan akan melihat dunia seperti Allah melihatnya -- semua karena pemberian mereka dan laporan yang mereka terima kembali dari para duta mereka di "luar sana". Dan doa akan dipanjatkan dari kedua belah pihak, yang berarti melakukan peperangan rohani yang memang diperlukan agar segala sesuatu dapat tercapai.

    Tetapi jika dengan mudah Tuhan menyuruh suatu yayasan besar untuk membiayai pekerjaan-Nya atau beberapa orang milyuner diminta menuliskan cek dalam nilai yang besar, barangkali ini malah akan menjadi lonceng kematian dari suatu pelayanan. Karena hal ini bisa saja menyebabkan para misionaris dan gembala yang terlibat di dalamnya tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Tuhan, karena hal terpenting yang mereka perlukan yaitu dana sudah cukup tersedia. Padahal misionaris perlu lebih dari sekadar uang. Mereka membutuhkan orang-orang yang mendukung mereka, berdoa bagi keluasan Kerajaan Allah, dan melibatkan mereka dalam peperangan rohani melalui pemberian dan doa syafaat.

    Sumber:

    Judul Buku : Berani Hidup di Saat Krisis
    Judul Artikel : Mendukung Misi dengan Cara Yesus
    Penulis : Loren Cunningham dan Janice Rogers
    Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta, 2000
    Halaman : 119 - 125

    e-JEMMi 48/2005

    Menempatkan Perspektif Pelayanan

    Pelayanan: Bagaimana Anda mendefinisikannya? Tiap orang mengartikan kata itu berbeda-beda, dan begitu banyak definisi karena begitu banyak pula bidang pelayanan. Jika Anda menjadi Kristen pada usia muda dan selanjutnya mulai menghadiri kebaktian di sebuah gereja kecil di desa, maka konsep Anda tentang pelayanan akan dibentuk oleh pengalaman itu. Tapi jika mungkin Anda menjadi Kristen ketika telah dewasa atas usaha dari sebuah organisasi pelayanan penginjilan yang tidak terikat satu denominasi gereja. Pengalaman pertama Anda tentang pelayanan mungkin terjadi di dalam konteks sebuah kegiatan pengajaran Alkitab di rumah yang diajar oleh seorang pemimpin yang tidak mewakili sebuah gereja. Dua contoh di atas menggambarkan beberapa dari banyak perbedaan yang ada pada pelayanan. Namun bukan berarti pelayanan yang satu benar dan yang lain tidak. Perbedaan itu secara sederhana telah menunjukkan banyaknya unsur-unsur yang berbeda yang ada pada sebuah pengalaman seorang terhadap pelayanan yang begitu luas itu.

    Banyak orang mengalami pertobatan lewat pelayanan gereja lokal sehingga karenanya memiliki pandangan tentang metode pelayanan yang sama dengan gereja. Meski demikian, bahkan dalam lingkup ini pun, masih begitu banyak jenis pelayanan yang berbeda-beda tergantung pada ukuran gereja, denominasi, tradisi gereja, dan gaya kepemimpinan gembala sidang. Tiap-tiap unsur itu akan mempengaruhi bagaimana hal yang disebut pelayanan itu dikerjakan. Tradisi, baik yang lama atau baru, sangat mempengaruhi perspektif orang tentang pelayanan.

    Ada banyak orang lain yang datang pada Kristus lewat kegiatan penginjilan misionaris dari luar negeri. Orang-orang ini melihat bahwa cara pelayanan yang dilakukan di negara mereka juga menunjukkan bagaimana seharusnya pelayanan dilakukan di seluruh dunia. Dan ketika mereka mengunjungi bagian dunia yang lain serta melihat perbedaan-perbedaan perspektif mengenai pelayanan, mereka pun mengajukan sebuah pertanyaan sederhana: "Apakah pelayanan itu? Jawabannya, bagaimana pun tidak sesederhana seperti halnya ada begitu banyak konsep-konsep umum yang kurang tepat mengenai bukti kepelayanan dalam gereja sekarang ini.

    Konsep Yang Salah Tentang Pelayanan
    Sebelum mencoba menjawab pertanyaan di atas, kita akan terlebih dulu mengenali mana yang pelayanan dan mana yang bukan. Mengetahui hal ini akan membantu kita dalam menghindari beberapa konsep umum yang salah mengenai pelayanan dan menolong kita menentukan mana yang benar.

    1. Pelayanan Bukanlah Sebuah Badan Sosial

      Banyak gereja terlibat dalam kegiatan memberi bantuan kebutuhan masyarakat kita, (seperti pelayanan gelandangan, para janda, dan berbagai kelompok lain). Keterlibatan mereka di kegiatan-kegiatan itu sesuai dengan ajaran Alkitab tentang memberi pakaian bagi mereka yang telanjang, memberi makan mereka yang lapar, dan mengunjungi yang terpenjara, janda-janda, dan anak-anak yatim (Yakobus 1:27; Matius 25:35-36). Kesulitan timbul saat program-program ini telah menjadi yang paling utama sehingga membuat gereja berhenti memenuhi tuntutan tugas utama mereka untuk membawa jiwa-jiwa yang terhilang serta pendidikan moral. Ada beberapa fungsi dari Alkitab yang berbeda-beda, yang hanya bisa dilakukan oleh gereja. Di sini kita harus menyeimbangkan keduanya. Ketika gereja berhenti berfungsi sebagai gereja, karena program-program sosial telah mengaburkan visinya yang lebih dari sekedar badan sosial.

    2. Gereja Bukanlah Sebuah Institusi Pendidikan
    3. Ini adalah kesalahan konsepsi yang umum terjadi pada banyak murid sekolah Alkitab baru. Mereka datang ke kampus dan menikmati pengajaran Alkitab yang di ajar oleh seorang profesor terkenal; mereka mengalami jam-jam ibadah harian bersama seorang pembicara yang dinamis. Pengalaman di sekolah itu tentunya seringkali mempengaruhi mereka untuk mempraktekkan hal yang sama di gereja. Namun gereja, seperti yang Kristus inginkan, hendaknya menjadi lebih dari sebuah tempat pendidikan Alkitab. Ada banyak komponen dari gereja Perjanjian Baru yang tidak dapat dilakukan oleh sekolah Alkitab. Oleh karena itu, kita seharusnya tidak melihat hal tersebut sebagai pengganti pelayanan gereja.

    4. Gereja Bukanlah Sebuah Program

      Banyak gereja memiliki bermacam program yang dibuat untuk melayani kebutuhan komunitasnya (AWANA, VBS, kelompok pemuda). Beberapa gembala pada hari-hari ini mengukur efektivitas pelayanan mereka berdasarkan berapa banyak orang yang dapat mereka libatkan dalam program gereja mereka. Jika tidak hati-hati, gembala tersebut dapat jatuh ke dalam godaan untuk lebih mempromosikan program gereja mereka daripada mengenalkan Yesus, yang selanjutnya akan membawa ke asumsi yang salah bahwa pelayanan adalah sekedar menerapkan program baru setiap beberapa bulan. Namun pelayanan yang sejati adalah lebih dari sebuah program.

    5. Pelayanan bukanlah sebuah bangunan.

      Bagi jemaat muda, sangat mudah untuk menyamakan pelayanan gereja dengan bangunan. Mereka berkata pada kawan mereka, "Aku akan bertemu denganmu di gereja sepulang sekolah nanti." Pernyataan itu memperlihatkan sebuah kesalahan konsep yang umum terjadi di antara orang Kristen yang seringkali membatasi pelayanan gereja mereka dalam batasan sebuah bangunan. Gereja, seperti yang disebut dalam Perjanjian Baru, tidak hanya terbatas pada sebuah gedung atau lokasi geografis. Gereja Perjanjian Baru berbicara tentang orang-orang yang percaya pada Kristus yang memilih untuk berkumpul bersama. Mereka tetap disebut gereja di mana pun mereka bertemu, di sebuah gedung, taman, atau di pinggir danau. Sebuah bangunan bukanlah persyaratan penting untuk sebuah pelayanan gereja dalam memenuhi Amanat Agung. Bangunan-bangunan memang dapat memberikan pengaruh dalam hal efektivitas pelayanan komunitas lokal. Bahayanya adalah ketika ada yang menyamakan bangunan gereja dengan pelayanan gereja.

    6. Gereja Bukanlah Sebuah Organisasi

      Kesalahan konsep tentang pelayanan yang terakhir ini juga seringkali dialami orang Kristen. Hal ini sangat sering terjadi pada orang Kristen yang beribadah di gereja yang besar. Kekaguman muncul akan gaya dan cara-cara pengorganisasian gereja yang besar itu. Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi pelayan di lingkungan kita, dan tidak ada yang salah dengan semua prinsip administrasi gereja. Bahaya muncul ketika orang Kristen melihat pelayanan gereja sebagai sama dengan lingkup dan arti sebuah organisasi. Mereka melihat bahwa keduanya memiliki anggota, dana, staf, tata tertib pekerja, pembagian kerja, struktur organisasi, tujuan, titik berat dan sebagainya. Jika tidak hati-hati, tata cara dan prosedur tersebut dapat membuat orang Kristen melihat bahwa gereja tidaklah lebih dari sekedar organisasi yang bertitik berat pada kekristenan. Namun gereja bukanlah sebuah organisasi. Berdasarkan Alkitab, gereja adalah sebuah organisme (kesatuan hidup). Gereja adalah tubuh Kristus yang berinkarnasi di dunia saat ini.

    Sejarah Awal Pelayanan

    Secara teologis dikatakan, gereja bermula dari dalam pikiran Tuhan. Alkitab berkata bahwa sebelum dosa masuk ke dunia, Tuhan telah merencanakan keselamatan bagi manusia (Efesus 3:9-11; 1 Petrus 1:20). Tuhan telah mempunyai rencana bahwa Kristus akan lahir ke dunia sebagai manusia, berinkarnasi untuk tujuan penebusan. Dia adalah anak domba yang dipilih Allah untuk menghapuskan dosa manusia di dunia (Yoh 1:29) dan memulihkan hubungan manusia dengan Bapanya di surga kembali. Tuhan telah memerintahkan supaya Kristus menjadi korban penebusan bagi manusia lewat kematian-Nya di kayu salib. Dilihat dari segi sejarah, gereja dimulai pada Hari Pentakosta. Perayaan Pentakosta adalah sebuah festival hari raya panen orang Yahudi yang diadakan 50 hari setelah perayaan Paskah Yahudi. Orang-orang berdatangan ke Yerusalem setelah mereka memetik hasil panen mereka dan bersemangat untuk merayakan panen mereka yang berlimpah. Itu juga merupakan waktu bagi mereka untuk merenungkan asal mula kepercayaan mereka sambil mengucap syukur pada Tuhan yang telah memberikan mereka 10 Perintah di gunung Sinai. Pada konteks inilah kitab Kisah Rasul mencatat kelahiran gereja: "Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya"(Kisah Para Rasul 2:1-4). Pedagang dari berbagai belahan dunia yang datang ke Yerusalem untuk menghadiri festival itu menjadi begitu takjub melihat fenomena yang sedang terjadi ini. Petrus lalu berdiri di tengah-tengah keramaian ini dan mulai berkhotbah yang membuat sekitar 3000 orang bertobat. Gereja telah bangkit. Keanggotaan awal mereka terdiri lebih dari 3120 orang (bdk Kis 1:15, 2:41)(t/Ary).

    Bahan diterjemahkan dari sumber:

    Judul Buku : Foundations of Ministry -- An Introduction to
    Christian Education for A New Generation
    Judul Artikel: Putting Ministry in Perspective
    Penulis : Michael J. Anthony
    Penerbit : A BridgePoint, USA, 1992
    Halaman : 13 - 15

    e-JEMMi 39/2005

    Mengabarkan Injil -- Tanggung Jawab Siapa?

    Bacaan: Matius 5:13-16; 28:19,20

    Pendahuluan

    Siapakah yang bertanggung jawab mengabarkan Injil? Pendeta? Majelis? Misionaris? Umumnya orang Kristen menganggap bahwa kewajiban mengabarkan Injil (MI) adalah tanggung jawab para pemimpin Gereja. Alkitab tidak membenarkan anggapan ini. Alkitab tegas menandaskan bahwa:

    1. Semua orang percaya adalah 'garam' atau 'terang dunia' (Matius 5:13-16).

    2. 'Kamu akan menjadi saksi-Ku' (Kisah Para Rasul 1:8); 'Kami ini adalah utusan-utusan Kristus' (2 Korintus 5:20).

    3. Teladan orang Kristen pada Gereja mula-mula (Kisah Rasul 8:1,4).

    4. Perintah Yesus Kristus (Matius 28:19-20).

    Menyimak kepada keempat butir di atas, jelaslah bahwa kewajiban mengabarkan Injil adalah tanggung jawab setiap orang yang telah menerima Kristus menjadi Tuhan dan Juruselamatnya. Setiap orang percaya wajib mengabarkan Injil sesuai kemampuan dan karunia-karunia yang dianugerahkan Roh Kudus kepadanya.

    Harus diakui bahwa kita sering malas atau segan melaksanakan kewajiban ini. Penyebabnya antara lain adalah:

    1. Sikap tak acuh terhadap keadaan buruk sesama manusia Simaklah: Matius 25:31-46; Markus 9:43-48; Wahyu 20:11-15. Ingatlah:

      • akan kasih sayang Kristus akan manusia yang hilang (Lukas 19:41-44; Matius 23:37-39).

      • juga teladan Yeremia dan Paulus (Yeremia 9:1; Roma 9:1-3).

    2. Takut kepada sesama manusia "Takut kepada orang mendatangkan jerat" (Amsal 29:25). Ketakutan kepada sesama manusia bermacam-macam bentuknya, antara lain:

      1. Takut ditertawakan, dibenci, dianiaya, dianggap aneh, dll. Simaklah: Yohanes 15:18-21; Matius 24:9.
        Ingatlah: Roma 1:16; Ibrani 13:5,6; Filipi 4:19.
      2. Takut kehilangan kedudukan dalam masyarakat. Simaklah: Yohanes 12:42,43.
        Ingatlah: Markus 8:38.
      3. Malu karena belum mengerti atau menguasai asas-asas kepercayaan Kristen.
        Simaklah: 1 Petrus 3:15, bandingkan dengan Ibrani 5:12.
        Ingatlah: 2 Timotius 2:15.
      4. Malu karena kehidupan kita sebagai Kristen belum begitu baik. Simaklah: Matius 23:27,28.
        Ingatlah: 1 Petrus 1:15,16; 2:5; 2 Timotius 1:9.

    Oleh penyebab seperti dikemukakan di atas, jelas pula betapa kita perlu digerakkan dan diperlengkapi untuk melaksanakan tanggung jawab untuk mengabarkan Injil dengan 'baik'. Pekerjaan di ladang Tuhan memang berat, namun mulia dan indah. Kalau kesadaran akan kemuliaan dan keindahannya mulai berkurang, kita akan segera merasa lelah dan malas melakukan tugas luhur itu.

    Kita mengabarkan Injil adalah kepada dunia yang tak acuh, bahkan yang bersikap bermusuhan. Dunia tidak menghargai pelayanan kita, bahkan melawannya. Iblis senantiasa menentang setiap dan segala upaya memasyurkan nama Kristus. Dan dalam perjuangan menghadapi kendala demikian, kita akan mengalami, bahwa kendati roh kita bergelora, daging kita lemah sekali. Banyak orang yang mulai mengabarkan Injil dengan penuh gairah dan semangat, tapi lambat laun kemudian semangat mereka mengendor, dan akhirnya putus asa lalu meninggalkan tugas mengabarkan Injil.

    Marilah mengamati 'motivasi-motivasi' yang dapat memacu kita tekun mengajarkan Injil, meskipun semangat kita melemah.

    I. Karena kita mempercayai Tuhan Yesus, kita wajib mematuhi semua perintah-Nya.

    Orang Kristen berada di bawah Penguasa. Orang Kristen adalah pelayan, bentara dari Tuhan Yesus Kristus, dan sekaligus adalah prajurit. Bila ia diperintah oleh Komandan-nya, ia harus patuh (Matius 8:9). Bila Komandan-nya menyuruh dia 'pergi', dia pun pergi. Komandan kita adalah Yesus Kristus. Ia berfirman kepada kita, pergilah ...' (Matius 28:19).

    Marilah mengamati beberapa pokok penting yang terkait pada perintah ini:

    1. Perintah ini dikeluarkan dengan kewibawaan penuh dan kekuasaan Ilahi.
    2. Perintah ini gamblang dalam teladan hidup Kristus sendiri.
    3. Perintah ini disertai janji Kristus sendiri.
    4. Perintah ini ditujukan kepada seluruh Gereja Kristus.
    5. Perintah ini dilengkapi dengan kuasa Kristus.

    II. Mengabarkan Injil adalah bagian dari tanggung jawab melayani Kristus.

    Motivasi kedua pemacu dan pendorong mengabarkan Injil bukanlah melulu kewajiban kita terhadap Kristus pribadi yang mengutus kita, tapi juga kewajiban kita terhadap Injil itu sendiri, yang upaya pengkomunikasiannya telah dipercayakan kepada kita. Tentang kewajiban ini Paulus menjelaskan sebagai berikut:

    1. Injil adalah harta kekal sorgawi yang dipercayakan kepada kita.
    2. Kita 'berhutang' kepada orang yang belum mendengarkan Injil.

    III. 'Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri' berarti juga menyampaikan Injil kepada mereka.

    Kasih adalah pelayanan, bukan perasaan saja (Galatia 5:13). Mengasihi berarti mencari dan melayani seseorang demi memberlakukan yang 'terbaik' bagi diri orang itu. Khusus dalam ihwal mengasihi sesama manusia, kita wajib mencari tahu dan mengerti kebutuhan sesama kita dan bersedia memenuhi kebutuhannya itu (lihat Lukas 10:25-37). Menyimak pada Firman Allah, kita dapat mengetahui hal-hal sebagai berikut:

    1. Kebutuhan utama manusia yang paling hakiki dan mendesak ialah penyelamatan rohnya.
    2. Injil memenuhi kebutuhan manusia seutuhnya.

    IV. Mengabarkan Injil berarti memuliakan nama Tuhan.

    Kualitas utama dan pertama yang mendorong dan memacu Paulus maupun Yohanes melaksanakan tugas mereka sebagai utusan Kristus, ialah kasih yang tulus untuk memuliakan Nama Allah dan Kristus -- keinginan yang utuh dan bulat menghormati Nama itu. Alkitab mencatat 'kami menerima kasih karunia dan jabatan rasul untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepada nama-Nya' (Roma 1:5); dan '... karena nama-Nya' (3 Yohanes 1:7).

    Alkitab kadang-kadang menyatakan hal ini dengan istilah bernada 'cemburu'. Kecemburuan adalah keirian terhadap lawan. Apakah hal itu baik atau buruk, tergantung pada kedudukan lawan dalam perkara itu. Misalnya, bagi orang yang sudah menikah, masing- masing -- suami istri -- berhak cemburu apabila ada orang ketiga mengganggu kehidupan pernikahan mereka, karena pernikahan adalah hubungan istimewa, khas dan suci antara suami dan istri (2 Korintus 11:2,3).

    Tuhan pun dikatakan cemburu (Keluaran 34:14), karena Dia adalah satu-satunya Tuhan, dan Dia tidak mau berbagi kemuliaan dengan berhala, patung, sesuatu apa dan siapa pun juga (Yesaya 42:8; 45:5; bandingkan Yehezkiel 39:25-29). Justru kita harus berperan dalam 'kecemburuan' Ilahi itu demi nama-Nya, dengan mengupayakan sesama manusia memberikan kehormatan dan kemuliaan itu adalah mutlak hak-Nya seutuhnya (1Raja-raja 19:14; 2 Korintus 11:2-3).

    Dalam hal itu unsur kebaktian dan unsur kesaksian terpadu jadi satu. Ada dua aspek dalam kepercayaan diri kita, yang pertama terhadap Allah dan yang kedua terhadap sesama kita. Yang pertama, padu terkait dengan yang kedua. Kedua-duanya tidak terpisahkan. Tidak bisa kita berbakti sungguh-sungguh kepada Tuhan (mengakui dia 'patut' disembah), tanpa kita menginginkan dan mengharapkan sesama kita berbuat yang sama (misal Mazmur 34:4). Tidak bisa kita berbakti tanpa mengharapkan setiap orang yang bertobat akan berbakti juga kepada Tuhan yang telah menyelamatkannya. Karena pengkomunikasian Injil harus dinalar sebagai 'pelayanan keimanan', di mana sang komunikator berlaku sebagi imam yang mempersembahkan para petobat sebagai persembahan kepada Tuhan (Roma 15:16).

    V. Mengabarkan Injil mendampakkan 'harta kekal di sorga'.

    Banyak orang yang segan mencurahkan tenaganya dalam upaya mengabarkan Injil. Mereka takut menghadapi kesukaran, rugi materi, rugi kesantaian dan hura-hura duniawi. Karena itu mereka menyibukan diri meningkatkan karir dan mengumpulkan uang.

    Tapi Tuhan Yesus berkata, "Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Sementara itu -- yakni sementara kita mencari, mensyukuri dan menyatakan Kerajaan Allah dan kebenarannya, antara lain dengan mengabarkan Injil -- Tuhan dengan tegas berkata, "... Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau" (Yosua 1:5). Justru kita dapat dengan penuh keyakinan berseru, "Tuhan adalah Penolong-ku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:6).

    Para Rasul mengalami nyata-nyata dalam hidup mereka kebenaran dari 'semuanya itu akan ditambahkan kepadamu', dan 'janji penyertaan Tuhan', terutama pada ketekunan dan kesetiaan mereka mengabarkan Injil. Karena itu adalah tepat dan berdasar apabila rasul berkata,

    "Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu" (Ibrani 13:5); dan
    "Sebab itu kami tidak tawar hati .... Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. Sebab kami tidak memperhatikan apa yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedang yang tak kelihatan adalah kekal."
    (2Korintus 4:16-18)

    Nampak jelas, bahwa mengabarkan Injil dalam rangka mencari atau menyatakan Kerajaan Allah, mendampakkan harta kekal di sorga -- hal yang patut kita syukuri.

    Kesimpulan

    Kesempatan mengabarkan Injil terbatas (Yohanes 9:4), sangat erat terkait dengan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali yang makin dekat (Wahyu 22:12), juga terkait dengan hidup kita sendiri (Yakobus 4:14) dan hidup mereka -- kepada siapa kita berutang berita Injil!

    Masalah pokok ialah, apakah kita akan memanfaatkan kesempatan yang sangat terbatas itu untuk memuliakan Tuhan, ataukah hanya untuk kepentingan diri kita sendiri?

    Baiklah kita mengingat dan merenungkan, bahwa

    "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, TIDAK LAGI HIDUP UNTUK DIRINYA SENDIRI, TETAPI UNTUK DIA, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2Korintus 5:15)

    Artikel ini diringkas dari sumber:
    Judul Buku : Metode Penginjilan
    Judul Artikel: [Bagian 1] Mengabarkan Injil -- Tanggung Jawab Siapa?
    Penulis : D.W. Ellis
    Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih (YKBK), 1993
    Halaman : 1 - 17

    [Cat.Red.: Untuk memperoleh versi lengkap artikel ini, hubungi <webmaster(at)sabda.org> .]

    e-JEMMi 33/2002

    Mengajar Anak-Anak Berdoa

    Bagaimana sebenarnya "Mengajar Anak Berdoa"? Cheri Fuller dalam bukunya "When Children Pray" (Multnomah, 1998) memberikan beberapa petunjuk sebagai berikut:

    1. Mulailah sejak kecil.

      Ajarilah anak Anda untuk berbicara dengan Tuhan semenjak mereka masih balita dan berdoalah bersama mereka selama masa kanak-kanaknya.

    2. Anak-anak meniru orangtua yang menjadikan doa sebagai gaya hidup.

      Anak-anak "menangkap" doa dari orangtua yang berbicara dan mendengarkan Tuhan, yang bersemangat saat berdoa bersama orang lain dan berbagi doa dengan anak-anak mereka, baik di hari-hari biasa maupun ketika dalam keadaan kritis.

    3. Memberikan doa perlindungan.

      Kita sebagai orang dewasa memberikan suatu "doa perlindungan" bagi fisik dan rohani mereka saat melakukan doa syafaat setiap hari. Hal tersebut berarti, kita mempersiapkan anak-anak dalam menghadapi pergumulan melalui doa kita. Bacakan Firman Allah kepada mereka sehingga mereka menyimpan Firman itu dalam hati dan mereka tidak berbuat dosa. Berdoalah seperti yang diajarkan Tuhan, sehingga mereka akan menyimpannya dalam hati agar mereka tidak berbuat dosa (Mazmur 119:11), Roh Kudus akan memenuhi mereka dengan pengetahuan tentang kehendak-Nya (Kolose 1:9), mereka tidak bersandar pada pengetahuan mereka sendiri tetapi percaya kepada Allah di tiap langkah mereka (Amsal 3:5-6), dan Allah akan menunjukkan bahwa mereka berperan penting dalam keluarga Allah dan menjadi bagian dari rencana-Nya setiap hari.

    4. Berikan kosakata doa pada anak.

      Seiring dengan pertumbuhan anak dalam pengenalannya akan Firman Allah, mereka perlu diperkenalkan dengan kosakata yang tepat supaya mereka tidak perlu bingung tentang siapakah Allah dan apa yang harus dikatakan pada-Nya.

    5. Ajarkan pada mereka untuk mendengarkan Allah.

      Tanyakan pada anak apa yang mereka dengar dari Tuhan ketika mereka berdoa atau membaca Alkitab. Ketika kita menyisihkan waktu untuk bertanya pada anak-anak tentang pikiran mereka dan menganggap serius apa yang mereka sharingkan, itu adalah suatu berkat, karena Allah senang berbicara kepada dan melalui anak-anak.

    6. Ajaklah anak-anak dan para pemuda untuk acara-acara doa yang diadakan di gereja Anda.

      Jangan abaikan anak-anak itu, ajak mereka untuk berdoa -- berikan pada mereka pokok-pokok doa sama seperti yang akan didoakan saat itu. Ketika Anda merencanakan suatu acara doa khusus atau persekutuan, ajaklah anak-anak dan para pemuda, biarkan mereka tahu bahwa kehadiran dan doa mereka sangat penting.

    7. Ketika berdoa bersama dengan anak-anak atau para pemuda, berdoalah dengan sungguh-sungguh, jujur, dan jangan berpura-pura.

      Berdoalah dengan singkat, memakai bahasa percakapan sehari-hari daripada memakai kalimat-kalimat yang panjang dan bertele-tele. Dengan demikian mereka diberi kesempatan untuk berdoa dengan kata-kata yang telah mereka ketahui dan dengan karunia-karunia Allah yang diberikan kepada mereka.

    Jika Anda mempraktekkan hal-hal tersebut, Anda akan mengetahui, sama seperti saya, bahwa anak-anak bisa menjadi rekan doa yang sungguh menakjubkan dan bisa menjadi pahlawan-pahlawan doa yang efektif.

    Sumber diterjemahkan dari:

    Judul Buletin: Prayer Track News, Vol. 8, No. 2, Apr-Jun 1999
    Judul Artikel: Teaching Kids How To Pray
    Penerbit : Global Harvest Ministries
    Situs : http://www.globalharvest.org/

    e-JEMMi 09/2003

    Mengapa Membina Murid?

    "Apakah Saudara akan menghabiskan waktu yang sama banyaknya dalam persiapan untuk memenuhi keperluan seorang seperti dalam menyiapkan sebuah khotbah bagi lima ribu orang? Sejauh manakah kepercayaan Saudara akan potensi seseorang?" [K. Bruce Miller]

    Sekurang-kurangnya ada tiga contoh utama dalam Alkitab tentang membina murid-murid, yaitu pembinaan murid dalam Perjanjian Lama, dan pelayanan Yesus secara umum dan pribadi.

    Pemuridan dalam Perjanjian Lama

    Konsep membagikan kepada orang lain tentang apa yang telah disampaikan Tuhan kepada kita, sudah berusia berabad-abad. Musa membukakan hati dan hidupnya kepada Yosua. Tetapi pendekatan berbagi tanggung jawab ini tidak berasal dari Musa sendiri. Allah menetapkan pola pendidikan ini dengan jalan memerintahkan Musa untuk membagi hidupnya dengan Yosua dalam Ulangan 3:28. "Dan berilah perintah kepada Yosua, kuatkan dan teguhkanLah hatinya, sebab dialah yang akan menyeberang di depan bangsa ini ...."

    Segala sesuatu yang telah diajarkan Allah kepada Musa, hendaknya dilimpahkan kepada Yosua, muridnya. Ini berarti Musa menghabiskan banyak waktu pribadinya bersama Yosua agar Yosua dapat belajar dengan cara pengamatan dan percakapan. Musa, hamba Allah, menjadi saluran manusiawi untuk mengembangkan Yosua menjadi seorang hamba Allah.

    Mengapa Allah harus memerintahkan Musa untuk melepaskan diri dari pola pelayanan kepada beribu-ribu orang untuk menjangkau satu jiwa saja? Karena manusia cenderung untuk melihat keperluan orang banyak secara massal daripada melihat potensi dalam kehidupan satu orang yang telah diserahkan kepada seluruh kehendak Allah. Seperti yang pernah dikatakan oleh Sam Shoemaker, "Manusia tidak dibentuk secara borongan dari massa yang bersifat sedang-sedang, tetapi dibentuk seorang demi seorang." (Sam Shoemaker, Revive The Church Beginning With Me, New York: Harper Brothers, 1948, page 112)

    Elia juga mempunyai murid-murid dalam sekolah untuk nabi-nabi muda. Melalui kelompok itulah Allah akan bekerja untuk mendatangkan kebangunan rohani atau hukuman atas Israel. Di antara mereka terdapat seorang pemuda, Elisa namanya, yang sehati dengan dia. Mengherankan sekali, Elisa meminta kepada Elia untuk memberikan dua bagian dari kuasa Allah. Ia telah menyaksikan mujizat dan kuasa Allah yang bekerja melalui lengan Elia yang kuat. Melalui disiplin dan berbagai visi Elisa telah belajar untuk meminta perkara-perkara yang besar dari Allah.

    Masih ada contoh-contoh lain dalam Perjanjian Lama mengenai orang yang menanam hidupnya dalam hidup orang lain: Daud dengan pahlawan- pahlawannya; para patriarkh yang mendidik anak-anak mereka; dan perintah-perintah konkrit kepada para ayah untuk mendidik anak- anaknya yang kemudian mereka juga akan mendidik anak-anak mereka juga (lihat Ulangan 4:9 dan 6:6-7). Perhatian pada hubungan guru- murid ini memberikan dasar bagi pelayanan pemuridan dalam Perjanjian Baru.

    Pelayanan Tuhan Yesus kepada Umum

    Tuhan Yesus mempunyai pelayanan yang luas kepada masyarakat umum, yang meliputi empat pendekatan pokok.

    IA BERKHOTBAH. Orang banyak mendengar tentang kerajaan, tentang penghukuman atas kemunafikan agama, dan tentang sifat-sifat Allah melalui khotbah-khotbah Tuhan Yesus. Ia mengungkap hal-hal baru tentang konsepsi-konsepsi Perjanjian Lama yang terkubur dalam tradisi. Ia menyatakan kebenaran pokok yang lebih mulia dari konsepsi mengharapkan keselamatan dengan jalan melakukan hukum Taurat. "Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat" (Markus 12:37) ketika Ia berkhotbah dengan kasih dan penuh wibawa.

    IA MENGAJAR. Tak pernah ada orang yang mengajar seperti Dia. Ia mengajar kepada orang banyak di lereng-lereng bukit dengan pemandangan Danau Galilea, kepada kelompok-kelompok di desa-desa, kepada orang seorang dalam rumahnya, kepada orang yang ingin tahu, dan kepada mereka yang membaktikan dirinya. Ia menyatakan kebenaran yang murni melalui perumpamaan-perumpamaan yang menerangi realitas kehidupan. Tidak mengherankan bahwa Ia menggunakan kesepuluh metode mengajar yang dicatat oleh sarjana-sarjana modern (F.H. Roberts, Master´s Thesis, Dallas Seminary, 1955, pages iii - iv).

    IA MENYEMBUHKAN. Tak seorang pun yang meninggalkan Tuhan Yesus tanpa disembuhkan sama sekali. Pada suatu saat, banyak orang berkumpul di sekeliling-Nya, "Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar daripada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya" (Lukas 6:19). Dunia tanpa rumah sakit dan asuransi pengobatan telah menemukan Tabib yang Agung.

    IA MENGADAKAN MUJIZAT. Orang banyak berkerumun dan menyaksikan ketika Tuhan menyembuhkan orang kusta, memberikan penglihatan kepada orang buta, memberi makan orang banyak dan membangkitkan orang mati. Murid-murid-Nya takjub ketika Ia meredakan angin ribut. Dalam keheningan setelah angin ribut diredakan, mereka melihat Yesus berjalan di atas air melalui kabut menuju perahu mereka.

    Menurut sejarah, Gereja Kristus telah merangkum semua aspek dalam pelayanan Kristus kepada umum, tetapi sering kali Gereja melalaikan teladan yang diberikan Kristus dalam pelayanan-Nya kepada orang seorang.

    Pelayanan Yesus kepada Orang Seorang

    Yesus juga mempunyai pelayanan perseorangan yang strategis, yang begitu sederhana sehingga diabaikan sebagai suatu prinsip misi Gereja. Kristus membaktikan diri-Nya untuk membina murid-murid yang akan melipatgandakan berita tentang kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya kepada semua bangsa. Ia berkata,

    "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20)

    Jika kita hendak mengikut seluruh pelayanan Tuhan Yesus, maka Gereja harus memperluas pelayanannya baik dalam penginjilan maupun dalam memantapkan orang-orang bertobat. Sewaktu para petobat bertumbuh, mereka pun harus diajar bagaimana mendidik dan melatih orang percaya yang nantinya akan menjangkau orang lain juga melalui proses pelipatgandaan rohani.

    Memenangkan jiwa bukan menjadikan murid, tetapi memenangkan jiwa penting sekali agar murid-murid dapat melipatgandakan diri mereka dalam kehidupan orang lain. Penginjilan merupakan mata rantai yang pertama dalam rantai pelipatgandaan rohani.

    Gereja-gereja yang terlalu mengutamakan baptisan dan program gereja, atau menaruh perhatian yang terlampau besar pada "kualitas keanggotaan" harus mempertimbangkan kembali perintah Kristus untuk menjadikan murid-murid. Menyelamatkan jiwa dan membina murid tak terpisahkan dalam Kitab Suci.

    Pemuridan Merupakan Metode yang Dapat Dilaksanakan

    Ketika meninjau kembali motivasi saya untuk menjadikan orang lain murid Tuhan, saya teringat bagaimana ada seorang yang memperhatikan saya. Di samping memberi perhatian yang penuh kasih, ia juga melimpahkan ke dalam hidup saya segala sesuatu yang telah dipelajarinya dari Allah. Semuanya ini telah mengubah kehidupan saya. Menjadikan murid tidak dinilai sebagai sesuatu yang mengagumkan, tidak digolongkan menurut denominasi; tetapi hasilnya selalu lebih baik dari apa pun yang telah saya alami selama tiga puluh tahun bekerja dengan orang-orang lain. Ada beberapa alasan untuk hal ini.

    Pemuridan merupakan salah satu cara yang strategis untuk mendapatkan suatu pelayanan pribadi yang tak terbatas. Pelayanan ini dapat dilakukan kapan saja, oleh siapa saja, di mana saja dan di antara kelompok umur apa saja.

    Pemuridan merupakan pelayanan yang paling mudah disesuaikan. Karena tidak perlu dilakukan dalam kerangka waktu atau susunan organisasi tertentu, maka orang yang menjadikan murid ini dapat bertindak dengan sangat fleksibel.

    Pemuridan merupakan cara yang paling cepat dan paling terjamin untuk mengerahkan seluruh tubuh Kristus untuk penginjilan. Tujuan pemuridan bukan sekedar memperoleh lebih banyak murid, karena kelompok yang terdiri dari orang-orang yang telah diselamatkan segera akan mati jika mereka tidak berusaha secara efektif untuk merembes ke dalam dunia yang terhilang ini. Salah satu cara yang tercepat untuk meningkatkan baptisan dan memperdalam kualitas kehidupan orang-orang yang telah dimenangkan bagi Kristus ialah melalui pemuridan. Menjadikan semua bangsa murid tidak hanya menjadi hasil penginjilan, tetapi juga suatu sarana untuk menginjili dunia ini.

    Dalam jangka panjang pemuridan mempunyai potensi yang lebih besar untuk menghasilkan buah daripada pelayanan lainnya. Tuhan ingin agar kita berakar dan dibangun di dalam Dia dan teguh dalam iman (lihat Kolose 2:7). Ini memerlukan waktu dan perhatian. Menaruh perhatian pada orang merupakan unsur penting. Tindak lanjut dilakukan oleh seseorang bukan oleh sesuatu.

    Pemuridan akan memperlengkapi gereja setempat dengan pemimpin- pemimpin awam yang dewasa, yang berpusat pada Kristus dan Firman- Nya. Ada banyak orang yang memenuhi bangku-bangku gereja, tetapi pekerjaannya hanya sedikit. Pekerja-pekerja merupakan hasil usaha pemuridan yang dipimpin oleh Roh dalam gereja. Membangun dalam kehidupan orang lain merupakan rencana Allah untuk mendapatkan diaken-diaken baru, guru-guru, dan pemimpin gereja lainnya. Himbauan komisi pencalonan untuk pekerja-pekerja akan menjadi sorak pujian bagi Allah apabila anggota-anggota gereja melipatgandakan murid- murid yang serupa Kristus.

    Diambil dari:

    Judul Buku : Penggandaan Murid-murid
    Judul Artikel : Mengapa Membina Murid?
    Penulis : Waylon B. Moore
    Penerbit : Penerbit Gandum Mas - 1981
    Halaman : 27-34

    e-JEMMi 25/2004


    Mengapa Orang Kristen Harus Melayani?

    Menjadi pelayan bukanlah pekerjaan yang paling digemari di dunia. Ada yang melakukannya karena terpaksa, karena hanya itulah yang dapat mereka lakukan. Ada yang melakukannya sebagai suatu profesi sehingga mereka menjadi ahli dalam melayani, seperti halnya di Inggris. Tetapi pada umumnya orang dari kebudayaan mana pun, tidak suka melayani orang lain. Namun orang-orang Kristen dipanggil untuk melayani.

    Ada tiga alasan yang dikemukakan dalam Alkitab. ALASAN PERTAMA kita dipanggil untuk melayani ialah karena kita diciptakan agar dapat mengatur hidup kita untuk kemuliaan Tuhan, "Bawalah anak-anak-Ku laki-laki dari jauh, dan anak-anak-Ku perempuan dari ujung-ujung bumi, semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku" (Yesaya 43:6,7). Jika Allah menciptakan kita untuk kemuliaan-Nya, maka Dia mempunyai hak utama atas hidup kita. Apa pun yang dikatakan orang lain agar kita lakukan dalam hidup kita, memuliakan Allah adalah hal yang paling penting bagi seorang Kristen.

    Banyak di antara kita mempunyai macam-macam rencana mengenai apa yang akan kita lakukan bagi Tuhan, dan bagaimana kita akan memuliakan Dia. Rencana yang baik ini sering terbengkalai dan kita menjadi kecewa. Mengapa? Karena kita tidak menyadari bahwa Tuhan lebih memperhatikan bagaimana kita akan memuliakan Dia dalam kehidupan kita daripada apa yang dapat kita kerjakan.

    ALASAN KEDUA kita dipanggil untuk melayani ialah karena Yesus Kristus telah memilih untuk diri-Nya sendiri peran sebagai pelayan, dan Ia memanggil kita untuk menjadi seperti Dia. Pada mulanya kita diciptakan serupa dengan Dia, tetapi dosa telah mencemarkan keserupaan itu. Dalam penyelamatan yang disediakan-Nya Allah membawa kita kembali kepada rencana-Nya yang semula untuk membuat kita menjadi seperti Kristus, termasuk menjadi seperti Dia dalam pelayanan kita.

    Orang-orang Kristen suka berangan-angan untuk makin menjadi seperti Kristus. Memang benar, siapakah yang telah menjalani hidup yang lebih mulia daripada Dia? Kita sering bernyanyi "Ku Mau Seperti Yesus". Kita mengagumi kesucian-Nya, ketulus-ikhlasan-Nya, dan belas kasihan-Nya. Kita suka akan kelemah-lembutan-Nya dan sifat-sifat lain-Nya yang mulia. Tetapi kesaksian Tuhan Yesus mengenai diri-Nya sendiri tidak menonjolkan sifat-sifat ini. Sebaliknya, Tuhan Yesus menyatakan bahwa Ia datang untuk melayani.

    "Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah- tengah kamu sebagai pelayan" (Lukas 22:27). Kita tidak dapat mengabaikan saja sifat Tuhan Yesus itu. Jika sikap melayani yang ada pada kita tidak makin bertambah terhadap Allah dan manusia, maka kita tidak makin menjadi seperti Yesus.

    ALASAN KETIGA dan yang paling meyakinkan untuk menjadi pelayan ialah karena kekekalan itu sesuatu yang nyata, penting, dan ada untuk selamanya. "Hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap" (2Petrus 3:10). Dalam segala hal kita harus ingat akan perkara yang kekal. C.S. Lewis pernah menyatakan, "Semua yang tidak kekal selamanya usang."

    Ijazah sarjana Anda, mobil baru Anda, stereo Anda, reputasi Anda, dan pakaian Anda yang bagus-bagus, semuanya itu sebenarnya tidak mempunyai nilai yang kekal jika tidak menambahkan apa-apa kepada penyelamatan manusia. Semua itu, atau apa saja yang serupa dengan itu pada zaman Paulus, dimanfaatkan oleh sang rasul untuk pemberitaan Injil. Dan ia pun menempatkan diri sendiri serta segala keinginan dan perbuatannya untuk kepentingan itu.

    "Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang- orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, .... Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil." (1Korintus 9:19-20,22-23)

    Pada abad ke-19 beberapa penginjil di Guyana Belanda (sekarang disebut Suriname) ditugaskan untuk memperkenalkan Injil kepada penduduk asli sebuah pulau di dekat situ. Sebagian besar penduduk itu menjadi budak di perkebunan-perkebunan besar yang terdapat di pulau itu. Pemilik-pemilik tanah takut akan Injil serta akibatnya, dan mereka tidak memperkenankan para penginjil itu berkhotbah kepada penduduk ataupun berbicara dengan para budak. Mereka hanya memperkenankan para budak itu berbicara dengan budak-budak lainnya. Karena itu, para penginjil itu menjual diri sebagai budak agar mereka dapat menyampaikan Injil kepada orang-orang itu. Dan sebagai budak, dengan bekerja keras dalam keadaan yang sulit di daerah yang panas, mereka berhasil menyampaikan Kabar Keselamatan.

    Memang sulit untuk melayani orang yang mementingkan diri sendiri dan tidak ramah. Tetapi Tuhan Yesus berkata bahwa Bapa-Nya selalu baik terhadap mereka yang mementingkan diri sendiri, yang tidak tahu berterima kasih dan yang sombong. Mengapa? Karena kekekalan itu sangat nyata. Jika pelayanan dan kebaikan kita terhadap orang-orang semacam itu dapat menjembatani jurang yang menghalang-halangi mereka untuk menerima Kristus, maka hal itu mengobati segala kepedihan hati serta segala pergumulan pikiran yang kita alami.

    Howard Hendricks pernah mengatakan, "Jika seorang tidak mempunyai pandangan mengenai kekekalan, ia akan lebih memperhatikan apa yang diperbuat orang lain untuk dirinya, daripada apa yang diperbuatnya sendiri untuk Kristus." Hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang kita alami jika kita mencoba melayani orang-orang yang tidak kita sukai. Kita akan terlalu mementingkan diri sendiri -- perasaan dan hak-hak kita -- sehingga kita lupa akan kenyataan bahwa Allah memperhatikan hal-hal itu.

    Bagaimana Saya Dapat Memupuk Cara Hidup Demikian?
    Masalah utama yang kita hadapi untuk dapat menjalani hidup menurut kehendak Tuhan ialah karena kita orang-orang berdosa. Pada dasarnya kita ini makhluk yang hanya mementingkan diri sendiri. Kita terjebak dalam keasyikan dunia yang memikirkan siapakah yang terbesar dan bagaimanakah caranya menaiki jenjang ke arah keberhasilan. Jika kita mendengar sedikit gunjingan, maka kita langsung saja berpikir, bagaimana hal itu akan mempengaruhi saya?

    Jalan keluar yang termudah dari masalah tersebut ialah menyerahkan diri dan tunduk kepada Yesus Kristus. Kita harus menyerahkan diri kepada Tuhan untuk menjadi pelayan-Nya, meski kita mengalami tekanan-tekanan dari berbagai pihak sekalipun. Di sinilah kemurnian pelayanan itu akan tampak. Kita semua dipanggil agar memberikan jawaban, dan banyak yang menjawab, "Saya mau," tetapi secara relatif hanya sedikit saja yang benar-benar menyerahkan diri. Penyerahan diri adalah suatu tindakan kemauan yang harus diulang setiap kali ada kesempatan untuk melayani. Jika penyerahan itu sudah menjadi ciri yang nyata dan sikap hidup kita, pelayanan kita pun akan tumbuh secara nyata.

    Masalah kedua ialah kita harus menghadapi kehidupan, orang-orang, lingkungan, dan keadaan dengan sikap, "Saya akan melayani seseorang di sini!" Sungguh mengherankan bagaimana sikap semacam ini dapat melepaskan kita dari ketakutan-ketakutan kita. Banyak di antara kita yang merasa sangat tegang; kita tidak yakin akan berhasil; kita tidak yakin akan diterima; kita berprasangka bahwa mungkin kita akan menyinggung perasaan seseorang; kita takut akan ini, akan itu, dan akan hal-hal kecil lainnya. Tetapi, bila seseorang sibuk memikirkan bagaimana melayani orang lain, maka ia akan terlepas dari banyak kekuatiran. Oleh karena itu, ambillah inisiatif dan layanilah seseorang.

    Dalam Kitab-Kitab Injil kita tidak membaca bahwa Yesus mencari semua orang sakit, semua yang lapar, semua yang terganggu jiwanya. Sebetulnya Ia mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan mereka semua. Tetapi Ia hanya melayani kebutuhan mereka yang dijumpai-Nya dalam perjalanan-Nya. Ia melayani keperluan-keperluan mereka yang dipertemukan dengan Dia oleh Bapa-Nya.

    Mengambil inisiatif tidak berarti bahwa Anda harus membebani diri dengan semua kebutuhan yang diperlukan dunia, tetapi Anda harus melangkah maju dan melayani kebutuhan mereka yang ada di sekeliling Anda. Jika Anda kecewa karena merasa tidak mampu melayani, maka tidak jarang hal itu disebabkan karena Anda mencoba melakukan terlalu banyak. Barangkali Anda mencoba menyembuhkan sekelompok orang, padahal Anda seharusnya memusatkan diri pada satu orang. Persempitlah lapangan kegiatan Anda, bukan untuk mengurangi pelayanan, melainkan untuk memusatkan perhatian pada apa yang dapat Anda lakukan secara efektif bagi mereka yang berada di sekitar Anda.

    Sebelum Yesus makan jamuan Paskah terakhir bersama murid-murid-Nya, Ia mengambil air dan mencuci kaki murid-murid-Nya. Tuhan semesta alam merendahkan diri untuk mencuci kaki yang kotor dari ke-duabelas orang itu! Lalu ia berkata kepada mereka, "Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu." (Yohanes 13:12-15)

    Yesus sangat memperhatikan kepentingan orang lain. Dan Ia mengharapkan agar kita juga berbuat demikian. Jika kita bersungguh- sungguh ingin menjadi seperti Dia dan membawa berita Injil kepada dunia yang belum percaya, kita harus mengikuti jejak-Nya.

    Rasul Paulus melakukan hal itu. Ia mengatakan, "Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus" (2Korintus 4:5). Anda dan saya mendapat keistimewaan untuk secara sukarela menjadi pelayan-pelayan orang lain bagi kemuliaan Yesus dan keuntungannya kekal dan berarti.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku : Dipanggil untuk Melayani
    Judul Asli Artikel: Mengapa Orang Harus Hidup Seperti Itu?
    Penulis : Ray Hoo
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
    Halaman : 19 - 28

    e-JEMMi 45/2005

    Mengapa Sebagian Orang Tidak Percaya

    Alkitab tidak lagi bersikap diplomatis ketika berbicara tentang mengapa sebagian orang tidak percaya akan keberadaan Allah. tidak menutupi sesuatu pun ketika mengatakan, "Orang bebal berkata dalam hatinya: 'Tidak ada Allah.'"

    Ucapan ini tidaklah sekeras kedengarannya. Ayat ini tidak menunjuk pada keterbatasan intelektual mereka yang tidak percaya. Kata Ibrani yang diterjemahkan "bebal" di sini menunjuk pada orang yang jahat, licik dan cacat secara moral. Definisi ini didukung oleh konteksnya, karena ayat Mazmur 14:1 melanjutkan penjelasan tentang orang bebal sebagai berikut: "Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik." Dengan kata lain, ada orang-orang yang menolak keberadaan Allah karena gaya hidup mereka yang jahat.

    Dalam Mazmur 10:13 sebuah pertanyaan muncul, "Mengapa orang fasik menista Allah?" Jawabnya, "Sambil berkata dalam hatinya: 'Engkau tidak menuntut?'" Karena ia tidak mau menghadapi penghakiman untuk dosa-dosanya, ia menolak Allah. Rasul Yohanes mengatakan demikian:

    "... manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak."
    (Yohanes 3:19-20)

    Orang yang memutuskan untuk hidup dengan cara tidak mengenal Allah akan cenderung melihat alam semesta tanpa Allah.

    Kata kunci di sini bukanlah keraguan, tetapi penolakan. Kita dapat melihat sebuah ilustrasi tentang hal ini dengan meneliti sebuah kejadian dalam kehidupan Yesus. Dalam Yohanes 5:1-47 kita membaca bahwa Yesus menyembuhkan seseorang pada hari Sabat. Ketika orang- orang Farisi mendengar hal ini, mereka marah dan "berusaha menganiaya Yesus" (ayat Yohanes 5:16). Situasi menjadi semakin gawat ketika Yesus memanggil Allah sebagai "BapaKu," yang dianggap oleh orang-orang Farisi sebagai suatu pernyataan kesetaraan dengan Allah. Menghadapi para pejabat (rohani) yang marah itu, Yesus memberi berbagai alasan mengapa mereka seharusnya percaya bahwa Dia adalah Allah.

    Namun mereka tidak mau percaya. Dalam penolakan mereka untuk percaya, kita melihat suatu pola yang terulang pada setiap orang yang menolak untuk percaya bahwa Allah Ada. Inilah yang dikatakan Yesus tentang ketidakmauan mereka untuk percaya walaupun bukti-bukti telah jelas:

    1. "Kamu _tidak mau_ datang kepadaKu ... (Yohanes 5:40).
    2. "Kamu _tidak menerima_ Aku" (Yohanes 5:43).
    3. "Kamu _tidak percaya_ ..." (Yohanes 5:47).

    Inti dari ketidakpercayaan, demikian kata Yesus, adalah penolakan. Hal ini bukan masalah pengetahuan atau bukti -- kaum Farisi memiliki pengetahuan dan bukti dalam jumlah banyak. Ini masalah kemauan. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri dan mendengar dengan telinga sendiri perbuatan-perbuatan ajaib Yesus. Mereka mengetahui nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama tentang Mesias, namun mereka mengeraskan hati untuk menyangkal keilahian Yesus.

    Demikian juga halnya dengan banyak orang yang menolak untuk percaya pada Allah. Dengan sadar dan kemauan sendiri mereka menolak bukti- bukti yang meyakinkan. Mereka menjadi pemberontak terhadap apa yang mereka ketahui dan lihat sendiri.

    Perhatikan perkataan Rasul Yohanes tentang mereka yang memilih untuk tidak percaya:

    "Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak." (1Yohanes 2:22)

    Kata-kata tersebut cukup keras. Namun dengan jelas kata-kata itu menggambarkan masalah mereka yang dengan kemauan mereka sendiri menentukan bahwa keempat pernyataan Allah tentang diri-Nya tidaklah cukup untuk meyakinkan keberadaan-Nya.

    Bagaimana Saya dapat Mengenal Allah yang Ada?

    Apakah Allah ada atau tidak, merupakan pertanyaan yang penting. Namun sebenarnya, mengenal Allah ini adalah jauh lebih penting. J.I. Packer menulis:

    Namun siapakah yang dapat memperkenalkan kita kepada Allah? Mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus kepada murid-murid-Nya:

    "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada. Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ." Kata Tomas kepada-Nya: "Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?" Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:1-7)

    Kami mengundang Anda untuk mengakui dosa-dosa dan kebutuhan Anda akan Juruselamat. Sadarilah bahwa Kristus telah mati untuk Anda. Dan percayalah kata-kata Yohanes:

    "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama- Nya;" (Yohanes 1:12)

    Sumber:

    Judul Buku: Seri Mutiara Iman -- Bagaimana Membuktikan Bahwa Allah Ada
    Penulis : Richard W. De Haan
    Penerbit : Yayasan Gloria

    e-JEMMi 45/2003

    Mengatasi Berbagai Kendala dalam Bersaksi

    Pernahkah Anda ingin bersaksi tentang iman Anda tetapi tidak jadi karena takut? Ketika saya menanyakan pertanyaan ini dalam banyak acara pertemuan di gereja, pendeta pun mengakuinya. Hal ini wajar.

    Apa yang menyulitkan kita untuk bersaksi tentang iman kita? Dalam sebuah seminar yang saya pimpin, orang-orang memberikan jawaban sebagai berikut:

    Kita akan membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut, namun sebelumnya kita perlu untuk memperjelas peran dan sikap kita yang tepat.

    Kita perlu menghilangkan mentalitas "harus memenangkan mereka". Orang tidak akan beriman kepada Kristus karena kepandaian kita "memaksa" mereka untuk percaya. Kita harus menyadari bahwa jika kita "memenangkan" seseorang untuk Kristus, ia belum tentu benar-benar diselamatkan. D.L. Moody, seorang penginjil, sedang naik kereta api ketika seorang pemabuk datang kepadanya dan berkata, "Tuan Moody, saya adalah salah seorang yang bertobat karena Anda." Moody menjawab, "Saya kuatir Anda benar, karena nampak jelas Anda bukan petobat milik Tuhan."

    Kita juga harus meyakini bahwa keberhasilan di mata Tuhan adalah: bersaksi tentang iman dan memancarkan hidup kekristenan kita. Dia tidak mengukur keberhasilan dengan berapa orang yang kita bawa kepada Yesus Kristus. Tugas kita adalah beriman kepada-Nya.

    Tentu saja kita masih takut gagal dan ditolak. Tidak ada perasaan yang lebih kuat di dunia ini daripada perasaan-perasaan tersebut. Perasaan itu menyakitkan. Namun kita harus ingat bahwa orang-orang dalam Injillah yang ditolak, Yesus yang mereka tolak, bukan kita. Sepertinya kita yang ditolak, tetapi kita harus membebaskan diri dari perasaan yang menyebabkan kita merasa seperti itu. Yesus berkata, "Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku" (Yohanes 6:44).

    Rasul Paulus menulis kepada orang-orang percaya di Korintus, "Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar" (1 Korintus 2:3). Namun hal itu tidak membuatnya berhenti. Kenyataannya, sebagian besar kitab-kitab Perjanjian Baru ditulis oleh orang yang "penakut" itu.

    Allah memahami bahwa kita mungkin merasa takut. Namun kita tidak memiliki alasan untuk tidak bercerita kepada orang lain tentang Kristus, karena kuasa-Nya menjadi sempurna di dalam kelemahan kita (2 Korintus 12:9).

    Saya merasa takut setiap kali harus ke rumah sakit. Hal itu terlalu berat buat saya. Namun kenyataan itu tidak menjadi alasan buat saya untuk tidak menengok orang-orang yang telah Allah percayakan untuk saya layani di rumah-rumah sakit. Kita harus pergi -- baik suka maupun tidak.

    Ingatlah Musa. Ia gagap. Musa tidak akan menjadi seorang penyiar TV yang baik pada masa kini. Allah memilih kelemahan-kelemahan yang ada di dunia ini untuk mempermalukan orang-orang bijak dan kuat. Dan jika ada orang yang memenuhi kriteria untuk hal-hal tersebut di atas, sayalah orangnya.

    Dan akhirnya, jika Anda berpikir bahwa orang yang kepadanya Anda ingin bersaksi adalah orang yang sulit, Anda harus percaya bahwa Allah adalah Allah dari segala hal yang mustahil. Anda dan saya perlu mengingat bagian kita dan bagian Allah dalam proses menyaksikan iman kita.

    BAGIAN KITA

    BAGIAN TUHAN


    Keberhasilan bukanlah membawa seseorang kepada Kristus. Keberhasilan adalah memancarkan hidup kristiani, bersaksi tentang Injil, dan mempercayakan hasilnya kepada Allah.

    Sumber:

    Judul Buku: Bagaimana Bersaksi Tanpa Berdebat? Seri Mutiara Iman (SMI-002)
    Penulis : Richard W. De Haan
    Penerbit : Yayasan Gloria, 1997

    e-JEMMi 31/2003

    Mengatasi Pencobaan

    Pencobaan merupakan satu misteri yang sulit untuk ditegaskan atau dimengerti. Dalam diri kita masing-masing, ada kecenderungan untuk melakukan hal yang tidak benar, sebab kita adalah bangsa yang telah jatuh.

    Seringkali, sadar atau tidak, kita cenderung untuk melakukan kesalahan karena adanya desakan dari dalam diri kita. Alkitab menyebut sumber desakan ini sebagai keinginan dari tabiat manusia lama kita. Kita terlibat dalam pergumulan seumur hidup, tetapi Tuhan mengetahui apa yang sedang kita alami. Seperti yang telah dinyatakan dalam kitab Yakobus 1:12, "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."

    "Ayat itu diteruskan demikian,Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata, ´Pencobaan ini datang dari Allah!´ Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun. Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:13-15)

    Jadi, Allah tidak mencobai manusia; pencobaan itu lahir dari dalam hati manusia. Namun, pencobaan itu sendiri bukanlah dosa, melainkan godaan dan bujukan ke arah perbuatan dosa. Bila kita menyerah kepada kejahatan yang menarik kita dan bila kita mengikuti bujukan itu, maka pencobaan itu menjadi dosa.

    Sangat mengherankan, karena ternyata pencobaan itu dapat menghasilkan pengaruh yang positif sekali. Pencobaan dapat membangun watak, sebab pencobaan itu menguji kita. Jikalau kita menolak pencobaan untuk taat kepada larangan yang Allah berikan, kita akan berkata kepada Tuhan, demikian "Aku senang melakukan hal ini, sebab sangat menarik dan amat indah. Tetapi, karena Tuhan melarang dan kita taat kepada Allah, maka aku tidak melakukannya, sebab aku mengasihi-Mu." Allah bersuka cita atas tanggapan seperti ini. Allah senang dengan hal tersebut seperti yang tercantum dalam Yakobus bahwa Ia akan memberikan kepada kita "mahkota kehidupan".

    Saya percaya bahwa mahkota kehidupan bukan saja berarti menikmati hidup kekal sepenuhnya, namun juga berarti kita dapat menikmati apa yang terdapat di muka bumi ini setiap saat karena kita telah dapat mengalahkan pencobaan dengan kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita. Itulah kemenangan, di mana kita benar-benar dapat menikmati kehidupan, sebab ketika kita menyerah pada pencobaan, itu berarti kita sedang memasuki suasana kematian. Kita berada di dalam kegelapan, daerah kematian. Namun, bila kita mengatasi pencobaan karena kita mengasihi Tuhan, maka kita dapat hidup di dalam terang dengan sepenuhnya.

    Oleh karena pencobaan menyebabkan watak kita bertumbuh, maka Allah mengizinkan pencobaan itu terjadi, walaupun Ia sendiri tidak mencobai kita. Sewaktu kita tidak melawan pencobaan, bahkan terperdaya oleh daya tarik dan bujukan itu, kita mengalami kematian -- bukan kematian fisik atau pun seperti di dalam neraka, sebab kita adalah orang percaya, melainkan kehilangan rasa dalam kehidupan. Kita tidak lagi merasakan Allah tersenyum, juga tidak lagi merasakan bahwa kita telah menyenangkan Dia. Kita kehilangan nikmatnya kehidupan, dan sebelum kita mengakui dosa kita dan disucikan dengan segera, maka kita akan tetap berada di bawah awan-awan yang menutupi sinar matahari. Jika kita mengaku -- bahwa kita telah berdosa kepada Allah dan memohon pengampunan-Nya -- maka kita bisa kembali memulai hidup baru.

    Dalam Kitab Mazmur pasal 32, Daud menjelaskan mengenai apa yang terjadi pada seseorang yang mempunyai dosa tersembunyi, seperti ketika Daud mengalami kesusahan, sebelum ia mengakui dosanya di hadapan Tuhan -- kasus perzinahannya dengan Batsyeba, walaupun dosa yang khusus itu tidak terlalu penting bagi pesan Mazmur ini. Daud berkata,

    "Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata, ´Aku akan mengaku kepada Tuhan pelanggaran-pelanggaranku,´ dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku." (Mazmur 32:3-5)

    Dengan berharap seperti ini maka kita, orang berdosa, juga dapat bersuka cita,

    "Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu." (Mazmur 32:1, 2).

    Memiliki jiwa seperti itu merupakan tujuan hidup yang layak bagi orang Kristen, karena itu merupakan penipuan bila berusaha mengelabuhi diri kita dan Allah tentang dosa.

    Banyak orang percaya menjadi mangsa yang mudah, khususnya berkaitan dengan tiga pencobaan. PERTAMA adalah kebenaran diri sendiri, ini semacam kesombongan. Ini berarti bahwa kita merasa diri kita lebih baik daripada orang lain, walaupun mungkin kita tidak menyadarinya, bahkan kita merasa lebih baik daripada Tuhan sendiri. Kita melakukannya pada waktu kita mengkritik orang lain dan pada waktu kita bersikap terkejut sekali ketika mendengar tentang dosa orang lain.

    KEDUA, orang Kristen cenderung menolak pandangan hidup yang suka berkorban. Ada kebudayaan yang memaksa kita untuk menonjolkan diri dengan mengorbankan orang lain. Tetapi, Yesus memanggil kita untuk melayani orang lain, bahkan sampai mati sekali pun, dengan jalan memikul salib kita dan mengiring Dia (Markus 10:38).

    KETIGA, orang Kristen tergoda untuk membenarkan dan membela perilaku moral yang dilarang oleh Allah. Terlalu banyak orang yang mencari- cari alasan untuk berbuat dosa dengan berkata, "Tidak ada seorang pun yang sempurna." Sangat berbahaya bila kita begitu terbiasa dengan dosa, sehingga kita tidak mampu lagi untuk membedakannya. Bahkan pornografi -- yang mudah diperoleh melalui berbagai majalah, buku yang dijual di mana-mana, film, dan video di rumah -- makin banyak dilihat oleh orang Kristen sebagai sesuatu yang menarik, hal ini akan mengakibatkan kejatuhan hidup rohani mereka.

    Bagaimana orang Kristen dapat mengatasi pencobaan tersebut serta pencobaan lainnya? Hiduplah di dalam terang Firman Tuhan, sehingga Saudara tetap peka terhadap segala bentuk kegelapan. Berpegang teguh pada Alkitab setiap hari, bukan saja ketika kita mengalami tekanan - - jangan sampai terlambat.

    Pada waktu Saudara jatuh dalam pencobaan, yang kecil sekali pun, akuilah kepada Tuhan dengan segera. Pengakuan haruslah merupakan bagian rutin dari kehidupan Saudara. Begitu Saudara menyadari telah melakukan sesuatu yang mendukakan Roh Kudus, akuilah kepada Tuhan pada saat itu juga. Jangan Saudara sembunyikan dan menunggu suatu hari ketika Saudara dapat mengakui segala dosa Saudara di altar. Semakin cepat Saudara mengakui, semakin kuat Saudara dapat bertahan terhadap pencobaan pada waktu berikutnya.

    Kita masing-masing mempunyai kelemahan yang harus kita perangi sepanjang hidup kita, misalnya sifat pemarah, suka bicara kotor, dosa seksual, atau berdusta. Generasi dahulu menyebutnya sebagai "dosa-dosa yang menjerat," dibandingkan dengan pencobaan lain yang mungkin lebih mudah untuk diatasi.

    "Karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu." (2 Petrus 2:19),

    tetapi kita boleh memilih kepada siapa kita hendak menjadi hamba. Seperti yang dikatakan Yesus,

    "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka." (Yohanes 8:34-36; lihat juga Roma 6:16-17)

    Akhirnya, taatilah nasihat dari Rasul Paulus,

    "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2Timotius 2:22)

    Diambil dari:

    Judul buku : Pola Hidup Kristen -- Penerapan Praktis
    Judul artikel : Mengatasi Pencobaan
    Penulis : Luis Palau
    Penerbit : Gandum Mas, Lembaga Literatur Baptis, Yayasan Kalam Hidup, YAKIN, 2002
    Halaman : 770 -- 774

    e-JEMMi 33/2004

    Mengenal KTB Kontekstual

    Apakah KTB Kontekstual?

    Kelompok Tumbuh Bersama Kontekstual (KTBK) adalah sekelompok orang -- terdiri atas tiga sampai enam orang yang telah didiami Roh Kristus, yang bersama-sama belajar Firman Tuhan. Mereka rindu dan berkomitmen untuk bertumbuh ke arah kedewasaan penuh di dalam Kristus dengan :

    Kelompok ini disebut KTB Konstektual karena:

    Visi KTB Kontekstual

    Visi KTB Kontekstual adalah orang-orang yang telah didiami Roh Kristus akan bertumbuh sampai pada tingkat kedewasaan penuh di dalam Kristus melalui ajaran Firman Tuhan di dalam persekutuan tubuh Kristus (Matius 28:19-20; Efesus 4:11-16).

    Misi KTB Kontekstual

    Adapun misi KTB Kontekstual:

    Karekteristik KTB Kontekstual

    MENGENAL PRINSIP BAHAN KTB KONSTEKTUAL

    Bahan KTB Kontekstual disusun untuk memenuhi kebutuhan rohani anggota-anggotanya. Kebutuhan ini meliputi aspek: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap dan karakter), konatif (tingkah laku dan ketrampilan), dan relasi (hubungan).

    Bahan KTB Kontekstual dirancang meliputi tiga scope:

    1. Peneguhan

      Tujuan bahan scope Peneguhan adalah mengantar anggota-anggota KTBK memiliki kehidupan iman yang teguh di dalam Kristus.

    2. Pembinaan Dasar

      Tujuan bahan scope Pembinaan Dasar adalah untuk menolong anggota-anggota KTBK bertumbuh dengan memahami dasar-dasar kekristenan.

    3. Pembinaan Lanjutan

      Tujuan bahan scope Pembinaan Lanjutan adalah menolong anggota-anggota KTBK agar dapat terus bertumbuh ke arah Kristus dan melayani Tuhan.

    Setiap scope tersedia tiga pilihan bahan, yaitu:

    1. Bahan Utama (menjadi prioritas KTBK)
      Bahan Utama diambil dari kitab-kitab dalam Alkitab yang disesuaikan dengan kebutuhan dasar untuk masing-masing scope. Misalnya:
      • Untuk scope Peneguhan menggunakan Surat 1 Yohanes dan Injil Yohanes.

      • Scope Pembinaan Dasar menggunakan bahan Surat Efesus, Surat Kolose, dan Surat 1 Petrus.

      • Scope Pembinaan Lanjutan menggunakan bahan Kitab Nehemia, Markus, dan Surat 2 Timotius.

    2. Bahan Penunjang

      Bahan Penunjang adalah bahan lain yang dapat digunakan sebagai penunjang Bahan Utama KTBK. Bahan Penunjang yang ada merupakan hasil seleksi dari berbagai bahan Pemahaman Alkitab. Pemilihan dan penggunaannya disesuaikan dengan tujuan KTBK dan diserahkan sepenuhnya pada kesepakatan anggota KTBK.

    3. Bahan Referensi (lihat lampiran)

      Bahan Referensi adalah buku-buku rohani yang selektif. Bahan ini digunakan setiap anggota KTBK untuk memperkaya pengetahuan rohani dan Firman Allah dari setiap scope. Pemilihan dan penggunaan bahan berdasarkan kesepakatan anggota KTBK.

    Desain bahan KTBK di atas akan membawa anggota KTB Kontekstual kepada tujuan pertumbuhan rohani yang dewasa dan sempurna di dalam Kristus (Roma 8:28).

    DELAPAN PRINSIP PELAKSANAAN KTBK

    1. Berdoalah terlebih dahulu untuk setiap pelaksanaan KTBK. Mohon pimpinan Roh Kudus agar menerangi Firman-Nya.

    2. Rencanakanlah pelaksanaan persekutuan KTBK secara teratur seminggu sekali. Pergunakanlah waktu 2 jam untuk setiap pertemuan KTBK. Dengan alokasi waktu sebagai berikut: Pujian, penyembahan, dan doa selama 20 menit, PA induktif 60 menit, dan 40 menit untuk diskusi, aksi, evaluasi, dan doa.

    3. Pelajarilah terlebih dahulu bahan yang akan dibahas dalam KTBK. Hal ini akan mendukung terciptanya interaksi dan komunikasi timbal balik dalam setiap persekutuan KTBK.

    4. Aktiflah untuk membahas materi KTBK dengan bekerja sama secara seimbang antara anggota dengan pemimpin agar tujuan setiap pertemuan KTBK dapat tercapai.

    5. Disiplinlah dalam pelaksanaannya, tepat waktu dalam memulai dan mengakhiri. Disiplinlah dalam ketaatan melaksanakan aksi yang ditugaskan berdasarkan kasih Kristus.

    6. Kasihilah rekan anggota KTBK dengan saling menasihati, membangun, menegur, mengontrol, dan mendoakan, supaya semua menjadi dewasa dalam Kristus.

    7. Kembangkanlah KTBK baru. Setelah selesai KTBK ini mulailah memimpin KTBK baru dengan bahan yang sudah dipahami agar berlipat ganda.

    8. Koordinirlah semua anggota KTBK. Pemimpin berperan secara fungsional dan jadilah pendorong bagi semua anggota KTB untuk berpartisipasi secara aktif dalam setiap persekutuan.

    Sumber:

    Judul Buku: Seri KTB Kontekstual -- TEGUH DI DALAM KRISTUS (Surat Pertama Yohanes)
    Penerbit: Tim Pelayan Persekutuan Mahasiswa Kristen Surakarta (PMKS) dan Sekolah Tinggi Teologia Gamaliel (STTG) Jl. Petir 18, Surakarta 57126

    CD SABDA: Topik 17353

    e-JEMMi 38/2004


    Mengenal Pelayanan New Tribes Mission

    New Tribes Mission didirikan pada tahun 1942 oleh Paul Fleming, seorang misionaris yang baru saja kembali dari pelayanan di Malaysia. Paul dibantu oleh Cecil Dye, seorang pendeta muda dari Michigan. Mereka berdua memiliki kerinduan untuk menjangkau suku- suku terpencil yang sama sekali belum pernah mendengar Injil. Setelah berdiskusi selama beberapa waktu, mereka memformulasikan panduan-panduan bagi masyarakat misi interdenominasi, khususnya untuk tujuan menjangkau suku-suku tersebut. Pada musim gugur 1942, Cecil Dye bersiap memimpin kelompok misi yang beranggotakan 16 orang (termasuk istri dan ketiga anaknya) untuk pergi ke hutan di Bolivia yang belum pernah dijamah.

    Tim misi ini sampai di Bolivia pada saat Natal 1942. Mereka sendiri juga belum pasti ke mana Allah akan memimpin mereka. Setelah mendiskusikan tentang tujuan tim misi ini kepada seorang dokter berkebangsaan Bolivia yang telah mengenal seluk-beluk hutan Bolivia, tim ini merasa dipastikan bahwa suku yang dikenal dengan sebutan Barbaro adalah sasaran pelayanan mereka. Kebiasaan Suku Barbaro (nama aslinya adalah Suku Ayore) adalah menggunakan anak panah pendek yang mempunyai efek yang mematikan, bahkan suku-suku lain di sekitarnya takut menghadapi mereka. Setiap orang yang mendengar sasaran pelayanan tersebut memperingatkan tim ini tentang bahaya-bahaya yang akan mereka hadapi. Meskipun demikian, tim ini tidak pantang menyerah, walau mereka juga banyak mendengar kisah-kisah tentang suku itu, yang membuat bulu kuduk berdiri. "Allah telah memanggil kami untuk menjangkau terlebih dulu suku yang terkenal paling sulit dilayani ini. Tentu saja, banyak risiko yang akan kami hadapi, tetapi kami yakin Allah yang akan memelihara kami."

    Perjuangan untuk menemukan Suku Ayore ini memakan banyak waktu. Suku ini bersifat nomaden, sehingga para misionaris ini tidak tahu di mana tepatnya tempat tinggal Suku Ayore. Pada tanggal 10 November 1943, tim yang terdiri atas Dave Bacon, Cecil Dye, George Hosback, Bob Dye, dan Eldon Hunter mulai menyusuri hutan dan berharap akan dapat segera bertatap muka dengan Suku Ayore. Cecil memberikan pesan kepada istrinya, Jean Dye. Jika dalam jangka waktu sebulan Jean tidak mendengar kabar dari tim ini, maka dia boleh memulai usaha pencarian.

    Setelah sebulan berlalu, tidak ada kabar berita dari tim ini, sehingga istri Cecil Dye, Jean Dye memutuskan untuk memulai pencarian. Meskipun tim pencarian menemukan barang-barang yang tersisa dari Cecil Dye dan teman-temannya, namun mereka tidak berhasil menemukan kelima misionaris itu. Tahun-tahun berlalu, namun tidak ada hasil yang menunjukkan adanya tanda-tanda keberadaan para misionaris itu. Sampai akhir tahun 1946, Jean Dye memutuskan untuk tetap tinggal di Bolivia. Jean mengatakan bahwa fokus mereka tidak berubah. Mereka tetap ingin menjangkau Suku Ayore, meskipun dia sendiri tidak tahu bagaimana kondisi suami dan keempat temannya di hutan Bolivia. Namun, Jean Dye sendiri juga belum tahu bagaimana, di mana, dan kapan dia dan timnya akan menemukan suku itu.

    Jawaban-jawaban itu mulai muncul perlahan ketika Jean Dye dan anggota tim yang masih tersisa mulai mengenal wilayah tempat di mana mereka tinggal. Jean mendengar, ada anggota Suku Ayore yang bekerja menjadi pembantu di San Jose. Jean memutuskan untuk tinggal di San Jose untuk belajar bahasa dan budaya Suku Ayore dari para pembantu tersebut. Posisinya di Bolivia digantikan oleh Joe Moreno. Joe tidak menganggap dirinya sebagai misionaris. Dia hanya menganggap dirinya sebagai orang yang menggantikan pekerjaan Cecil Dye. Namun, berkat usaha dan kesabarannya, akhirnya pelayanan itu membuahkan hasil -- pertemuan-pertemuan damai dengan Suku Ayore.

    Joe segera menyadari bahwa para misionaris pionir yang akan melayani suku-suku primitif tersebut menggunakan proses yang agak lamban. Joe sendiri mencoba cara lain. Dia mulai mengikuti Suku Ayore dari kejauhan dan mempelajari pola pergerakan mereka dan arah yang mereka tuju. Dari Jean, dia belajar mengucapkan salam dalam bahasa Ayore dan kata-kata lain. Joe juga mempelajari budaya dan cara hidup Suku Ayore. Dia mempelajari bahwa pisau, kawat, dan benda-benda dari logam merupakan barang yang sangat berharga bagi Suku Ayore. Waktu terus berlalu dan Joe jadi terbiasa keluar masuk hutan. Dia seringkali hampir mendekati tempat tinggal Suku Ayore, meskipun belum pernah bertemu secara langsung. Joe mulai meninggalkan hadiah- hadiah bagi Suku Ayore di pemukiman yang telah mereka tinggalkan. Akhirnya, setelah tiga tahun lebih Suku Ayore ini menghilang tanpa jejak, ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kesabaran dan usaha Joe membuahkan hasil. Dia sangat bersuka cita ketika melihat ada dua benda khas Suku Ayore yang ditinggalkan, tepat di tempat dia meninggalkan hadiah yang ditujukan bagi Suku Ayore.

    Pada bulan Agustus 1947, barulah terjadi terobosan nyata untuk bertemu secara langsung dengan Suku Ayore. Kerja keras Joe meyakinkan orang-orang Ayore bahwa ´cojnone´ (orang-orang beradab) tidak ingin membunuh mereka telah berhasil. Pengalaman mereka dalam pertukaran hadiah mengajarkan kepada Suku Ayore untuk mempercayai orang asing. Pada tanggal 12 Agustus, sejumlah anggota Ayore muncul di dekat perkemahan dan menunjukkan minat ´ingin berteman´. Ini adalah saat pertama kalinya pertemuan tatap muka secara langsung antara Suku Ayore dengan manusia beradab (the cojnone). Untuk pertama kalinya, Joe tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun. Dari lubuk hatinya, Joe mengucap syukur kepada Allah yang membuat pertemuan itu terjadi. Mujizat terbesar menurut Jean adalah ketika melihat orang-orang Barbaro sendiri yang punya inisiatif untuk mengambil langkah pertama dalam menjalin kontak pertemanan dengan cojnone.

    Suku Ayore dipersilakan untuk menentukan waktu dan tempat pertemuan pertama mereka. Hal ini merupakan kunci utama dari kesuksesan strategi Joe. Setelah pertemuan pertama itu, maka dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan berikutnya. Kurang dari setahun, Suku Ayore mulai membangun kepercayaan kepada cojnone. Hal ini dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk tinggal bersama di rumah para misionaris. Karena rumah menjadi terlalu padat, tim misionaris pindah ke rumah perternakan yang lebih luas dan tinggal bersama seluruh anggota Suku Ayore. Lalu bergantian, tim misionaris mengikuti Suku Ayore dan tinggal di hutan. Tentu saja, ada masalah logistik dan kesehatan. Meskipun demikian, ada suka cita ketika Injil diberitakan dan para anggota suku memberikan respon dengan baik.

    Setelah persahabatan dengan Suku Ayore terbentuk, tim misionaris baru berani menanyakan tentang lima orang misionaris yang menghilang di hutan beberapa tahun yang lalu. Namun, tidak ada yang memberikan jawaban pasti. Tahun 1949, sekitar enam tahun setelah tragedi menghilangnya kelima misionaris, ada seorang anggota Suku Ayore yang tinggal di wilayah di mana kelima orang itu ditemukan. Ia memberikan informasi bahwa dialah saksi mata ketika pembantaian kelima orang misionaris itu terjadi. Berakhir sudah harapan Jean Dye untuk bertemu lagi dengan suami dan keempat temannya dalam kondisi hidup. "Apakah ini harga yang harus dibayar?" Pertanyaan tersebut terlintas dalam pikirannya. Namun, tidak ada harga yang terlalu mahal untuk membayar mujizat pertobatan yang terjadi di antara Suku Ayore.

    Ada peristiwa lain dibalik menghilangnya kelima misionaris tersebut. Pada bulan Januari 1944, berita tentang menghilangnya kelima misionaris itu dibaca oleh Bruce Porterfield, seorang pekerja pabrik di Lansing, Michigan. Malam hari, setelah membaca berita itu, dia mendedikasikan hidupnya untuk menjadi seorang misionaris dan bergabung dengan tim misi yang mencari kelima misionaris itu. Dia secara aktif melayani sebagai misionaris di Bolivia. Dia menjadi perwakilan dari New Tribes Mission dan menjadi penulis buku "Commandos for Christ" dan buku-buku misi lainnya. Tidak hanya Bruce yang terinspirasi oleh keberanian kelima misionaris untuk menjadi martir di belantara Bolivia guna memberitakan Injil, banyak orang yang juga bersedia mendedikasikan hidupnya untuk terlibat dalam pelayanan misi.

    Badai yang melanda perjalanan New Tribes Mission masih bertiup. Beberapa tahun setelah kematian lima misionaris itu, ada banyak tragedi yang terjadi, antara lain jatuhnya pesawat misi di Venezuela yang menewaskan semua penumpangnya, hancurnya pesawat kedua yang dikirim setelah kejatuhan pesawat pertama. Semua penumpang dalam pesawat misi kedua ini pun meninggal termasuk Paul Fleming, pendiri New Tribes Mission. Namun, dibalik semua tragedi itu, New Tribes Mission terus bertumbuh. Pada tahun 1980, organisasi misi ini telah mengirim 1600 misionaris yang siap memberitakan Injil kepada lebih dari 140 suku yang tersebar di seluruh penjuru dunia.

    Diterjemahkan dan diringkas dari:

    Judul buku : From Jerusalem to Irian Jaya -- A Biographical History of Christian Missions
    Penulis : Ruth A. Tucker
    Penerbit : The Zondervan Corporation, Grand Rapids, Michigan, 1983
    Halaman : 307 -- 312

    e-JEMMi 34/2004


    Menjadi Mobilisator Misi (I)

    Seorang mobilisator misi adalah seorang Kristen yang tidak hanya ingin sekedar terlibat dalam dunia misi, namun ia juga ingin untuk dapat membuat orang lain ikut terlibat seperti dirinya. Hal ini sejalan dengan Amanat Agung dan firman Tuhan dalam 2 Timotius 2:2 yang berbunyi: "Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain." (2 Timotius 2:2)

    Tuhan dapat memakai siapa pun dia yang percaya pada-Nya. Tuhan sendiri mulai memakai saya sebagai alatnya dalam tugas misi dan penggerak misi ketika saya masih berumur 16 tahun. Ketika masih berusia 19 tahun, Tuhan mengirim saya ke Meksiko (saya terlibat dalam hal pengumpulan dana bagi misi, terutama peredaran Alkitab, sebelum saya diubahkan). Hal itu pula yang menjadi cikal bakal pelayanan misi jangka pendek yang sekarang telah diterima oleh banyak organisasi misi.

    Selama 4 dekade terakhir kita dapat melihat yang terjadi di organisasi Operation Mobilization (OM), yang sejak awal berdirinya telah membawa sekitar 100.000 orang pria dan wanita, yang kebanyakan, meski juga tidak mengharuskan, masih berusia muda -- untuk digerakkan ke dalam pekerjaan misi. Dalam banyak kasus, keterlibatan mereka dengan pelayanan OM hanya berlangsung selama musim panas atau selama setahun, namun, prosentase mereka yang kini terlibat dalam misi atau mobilisasi misi dengan berbagai macam caranya, sangatlah menakjubkan. Banyak dari mereka yang kembali ke pekerjaan biasa -- yang saya senang menyebutnya sebagai "pelayanan pasar" -- namun dalam tingkatan berbeda, banyak yang berusaha membantu sumber-sumber misi dunia.

    Jika kita lihat sendiri ayat-ayat dimana Amanat Agung disebutkan: Matius 28:18-20, Markus 16:15, Lukas 24:47-48, Yohanes 20:21-23, dan Kisah Para Rasul 1:8, kita bisa mendapati bagaimana perintah Yesus sebelum naik ke surga. Bagaimana Ia menyuruh kita untuk mengabarkan Injil hingga ke ujung bumi. Kata-kata "hingga ke ujung bumi" inilah yang selalu menginspirasi saya. Dan atas dasar itulah saya ingin menjelaskan prinsip-prinsip dasar yang diperlukan jika kita ingin menjadi mobilisator misi yang efektif, sebagai bagian dari ketaatan kita akan perintah Kristus.

    BERJALAN DENGAN TUHAN

    Dalam pembukaan di bukunya yang berjudul "Let the Nations be Glad" yang membahas tentang kekuasaan Tuhan dalam dunia misi, John Piper mengatakan:

    Dalam pembukaan di bukunya yang berjudul "Let the Nations be Glad" yang membahas tentang kekuasaan Tuhan dalam dunia misi, John Piper mengatakan:

    "Jika kerinduan akan kemuliaan Tuhan tidak diletakkan di atas segala kerinduan akan kebaikan manusia dalam hati yang penuh belas kasihan dan prioritas pada gereja, maka orang-orang tak akan dapat dilayani dengan baik dan Tuhan juga tidak akan disembah dengan benar. Saya tidak sedang berusaha untuk mengurangi aktivitas misi demi supaya kita mempunyai waktu mempermuliakan Tuhan. Ketika semangat kita untuk menyembah terbakar oleh api kebenaran dari Tuhan, dengan sendirinya jalan terang bagi kerinduan menginjil sampai ke ujung dunia akan terbuka."

    Sebagaimana pelayanan Kristen lainnya, mobilisasi misi juga menuntut supaya kita terlebih dulu mengenal Tuhan, berjalan dengan-Nya dan mendapatkan pengalaman kehidupan yang berkelanjutan dengan Roh Kudus dalam hidup kita. Roh Kudus adalah CEO dalam dunia misi. Seperti dengan jelas terlihat dalam Kisah Rasul 13 dimana gereja menunggu Tuhan dalam doa dan Tuhan lewat gereja, mengirimkan kelompok misi pertama, termasuk Paulus dan Barnabas, ke ladang misi.

    Setelah melihat betapa pentingnya untuk kita berjalan dengan Tuhan, sebagai mobilisator misi kita juga harus mengerti pentingnya doa. Doa harus ada dalam inti setiap perbuatan dan gerakan doa sedunia harus dilakukan sejalan dengan semua jenis gerakan misi dunia. Tiap orang mempunyai cara doa yang berbeda-beda, namun kita tetap harus menyadari bahwa mobilisasi misi tak akan pernah dapat berjalan tanpa adanya doa secara terus menerus. Seperti yang tertulis di Matius 9:37-38, menurut kata Yesus sendiri "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu." Mintalah pada Tuhan untuk tuaian itu dan kirimkan para pekerja untuk ladang tuaian itu.

    MEMPUNYAI RASA MEMILIKI PENGINJILAN DUNIA

    Orang Kristen harus mempunyai rasa memiliki dalam tugas penginjilan dunia. Selama ini banyak orang cenderung berpikir bahwa orang lain atau kelompok lain telah melakukannya. Berdasarkan berbagai pengalaman saya di berbagai pertemuan di seluruh dunia, sepertinya hanya sedikit orang yang benar-benar mempunyai rasa memiliki tugas tersebut. Untuk mempunyai perhatian dalam bidang misi sendiri, diperlukan adanya rasa keterlibatan dan tanggung jawab secara pribadi. Ketika kita menjalankan tugas penginjilan misi kita, kita juga perlu untuk turut merasa bertanggung jawab dalam setiap tindakan. Bahkan sangat mungkin jika ada seorang yang telah menjadi misionaris namun masih belum benar-benar mempunyai rasa memiliki dalam visi dan tugas yang lebih besar. Mempunyai rasa memiliki berarti juga terus berdoa untuk pengembangan sasaran dan tujuan. Namun, memang adakalanya target tujuan sebuah organisasi misi dapat menjadi terlalu tinggi, meski begitu, saya rasa sebagai seorang Kristen, sering juga kita punya target yang terlalu rendah. Yang kita perlukan adalah untuk dapat menggabungkan antara yang "mungkin" dan "tak mungkin". Kita ingin untuk dipenuhi oleh iman, namun kita juga harus tetap realistis. Ketika kita sedang berpikir dan berdoa tentang perencanaan target tersebut, kita perlu melihat satu hal penting dalam Lukas 14 yang dengan jelas mengatakan bahwa kita harus menghitung harga dari apa yang akan kita lakukan.

    Dalam menentukan target dan sasaran, seringkali kita juga dihadapkan pada keruwetan dan berbagai kesulitan lainnya. Pada waktu itulah kita perlu menerapkan pengajaran Alkitab tentang kesabaran, kasih, dan pengampunan seperti terdapat dalam 1Korintus 13. Dasar Alkitab adalah penting jika kita ingin melihat tujuan dan target kita dipenuhi, dan pada waktu yang sama juga akan tidak akan membuat target itu menjadi tidak realistik, hanya membuang uang dan waktu atau tidak relevan dengan situasi yang ada sekarang.

    Hikmat dan kebijaksanaan adalah dua hal penting yang diperlukan dalam mengambil tindakan dalam misi. Kita tahu bahwa seringkali pada beberapa waktu, iman seseorang dapat mengarah dalam bentuk ekstrim. Dalam dunia misi, menjadi ekstrim tentunya dapat menimbulkan bahaya tersendiri, terutama dalam hal penetapan jumlah, waktu dan metode. Saya selalu menyadari akan bahaya tersebut, namun masalah yang lebih utama saat ini juga terletak pada reaksi orang-orang yang terlalu keras pada ekstrimisme, dan menyerah pada kekakuan tradisi, penghakiman, legalisme, hukum-hukum yang kaku, dan tidak berbuat apa-apa. Oleh karena itulah saya menyarankan supaya kita memiliki target dan tujuan pribadi dalam melakukan tugas misi dan mobilisasi misi. Mobilisasi misi sendiri juga lebih membutuhkan kerja tim ketimbang kerja individu, yang kadang memang mempunyai talenta khusus dalam menggerakkan orang lain. Kita membutuhkan kesatuan dari kelompok-kelompok kecil, gereja-gereja dan komite-komite misi di seluruh dunia dalam dukungan doa serta diskusi untuk mengembangkan tujuan dan target bagi penginjilan dunia sebagai tanda ketaatan kita pada Tuhan Yesus. (Bersambung) (t/Ary)

    Bahan diterjemahkan dan diringkas dari sumber:

    Judul Buku: Out of The Comfort Zone and Into Missions
    Judul Artikel Asli: Being a Missions Mobiliser
    Penulis : George Verwer
    Penerbit: OMF Literature Inc., Philippines, 2000
    Halaman : 64 - 72

    e-JEMMi 02/2006

    Menjadi Mobilisator Misi (II)

    MENGEMBANGKAN PENGETAHUAN YANG LEBIH LUAS TENTANG DUNIA MISI

    Pengembangan pengetahuan tentang misi masih erat hubungannya dengan menumbuhkan rasa memiliki dalam pekerjaan misi. Kita dapat mengembangkan pengetahuan ini dengan membaca buku, menonton video, membaca bahan-bahan dari internet dan mendengarkan kaset. Setelah semua pengetahuan itu terserap, kita bisa mulai menggunakannya dalam menolong orang lain untuk mendapatkannya. Saya percaya jika kita perlu untuk meningkatkan jumlah informasi tentang dunia misi sepuluh kali lipat dari yang sekarang ada serta memungkinkan penggunaan semua jenis metode komunikasi jika kita ingin mencapai target yang telah ditentukan. Kita perlu memungkinkan semua orang, baik yang ada di seberang jalan atau di seluruh dunia, untuk mengalami pengalaman dengan dunia misi. Kita perlu untuk melihat bahwa bertindak secara lokal dapat memunculkan dampak yang global.

    Secara khusus kita juga perlu membuka pintu selebar-lebarnya bagi para pekerja baru untuk mendapatkan informasi yang ada tersebut. Ada begitu banyak informasi tentang hal ini, namun tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya mengajurkan supaya setiap organisasi misi juga menjalin hubungan dengan banyak organisasi misi lainnya, bertukar informasi dan menjalin hubungan lewat korespondensi, hubungan telepon, fax dan email. Jika kita menyadari betapa banyaknya metode komunikasi yang ada sekarang ini, maka tidak ada alasan lagi untuk bersikap pasif. Dapatkah Anda bayangkan Rasul Paulus menenteng ponsel atau menggunakan komputer? Tuhan telah memberikan semua sarana ini bagi kita. Tidak seharusnya kita takut dengan perkembangan teknologi. Hal itu memang dapat disalahgunakan tapi seharusnya hal itu malah membuat kita semakin hati-hati supaya dapat menggunakannya dengan benar. Saat pintu-pintu informasi telah terbuka, saya percaya ketika itu pulalah orang-orang awam dan potensi-potensi yang ada di luar akan menanggapinya dengan baik. Namun langkah pertama untuk itu adalah tersedianya akses untuk mendapatkan informasi tersebut.

    Kita hendaknya menyadari pentingnya menjalin hubungan dengan sebanyak mungkin orang atau kelompok, yang seringkali lebih dapat dilakukan dengan teknologi modern, untuk mendapatkan informasi terkini dan permohonan doa untuk orang-orang yang belum dijangkau di dunia ini. Keuntungan lain yang bisa didapat dari hubungan komunikasi yang erat ini adalah untuk menghindari ketidakpedulian yang sepertinya banyak terdapat dalam dunia misi. Beberapa artikel atau statistik yang saya lihat tidak didasari data yang valid. Kita dapat melihat betapa menakjubkannya apa yang tersaji di internet. Terutama seperti yang terjadi di sebuah konferensi besar, mengenai jumlah "orang Kristen" di Afrika, yang dihitung secara gampang-gampangan saja sehingga membuat semua orang seakan telah "lahir baru", hanya karena kesalahan satu orang. Orang seringkali tidak melakukan riset yang memadai sebelum mengumumkannya pada publik. Bahkan beberapa kisah menakjubkan tentang kejadian-kejadian luar biasa dalam dunia penginjilan, jika diadakan riset menyeluruh, dapat dibuktikan sebagai hal yang tak pernah terjadi. Hal ini dapat menyebabkan ketidakpercayaan umum, kekurangpercayaan pada gerakan misi dan akan menjadi salah satu alat yang akan digunakan iblis di masa mendatang. Kita harus mengingat pengajaran Alkitab di Amsal 18 bahwa kita harus yakin pada informasi yang akan kita sampaikan sebelum membuka mulut dan bicara.

    Namun, tidak berarti kita harus merasa terintimidasi oleh hal itu, sehingga membuat kita lantas tidak berusaha apa-apa. Kita tetap dapat menyebarkan informasi asalkan kita dapat secara hati-hati memilih kata yang benar-benar tepat, memeriksa fakta-faktanya, berani mengaku jika kita memang tidak yakin dan mengutamakan realita, kerendahan hati, dan kesediaan untuk diajar. Hal penting tentang ini seperti terdapat di Filipi 2:3, yang mengajarkan supaya kita menganggap orang lain lebih utama dari diri kita sendiri, adalah penting dalam kasus ini. Saat kita berhubungan dengan kelompok misi lainnya, kita pun hendaknya memberi penghargaan yang tinggi dan menaruh perhatian pada apa yang sedang mereka lakukan. Janganlah kita terpaku pada beberapa berita buruk atau hal lain yang kita baca tentang mereka sehingga membuat kita gagal melihat rencana besar Tuhan, bagaimana Tuhan memakai berbagai jenis gereja, organisasi, dan pergerakan di luar kegagalan, kelemahan dan dosa mereka.

    Kita tidak dapat bekerja bersama dalam hal praktik namun kita tetap dapat memiliki sikap yang baik terhadap organisasi lain dalam Tubuh Kristus. Ada banyak tekanan dalam pekerjaan misi, namun hendaknya kita dapat menerima paradoks bahwa kesatuan kita hendaknya ditempatkan di tengah-tengah perbedaan.

    MEMBUAT PERALATAN YANG TERSEDIA BERGUNA

    Ada begitu banyak peralatan yang tersedia untuk melakukan tugas mobilisasi seperti video, kaset, buku, selebaran, dsb. Saya sering menulis tentang kebutuhan akan ratusan juta literatur di seluruh dunia. Namun sebenarnya, jumlah itu tidaklah sedemikian besar, sebagian besar dari jumlah itu telah diproduksi oleh lembaga-lembaga misi di seluruh dunia. Dan bila kita mau menggandakan apa yang telah tersedia itu, taruhlah 10 kali lipat saja, maka saya percaya akan timbul mobilisasi misi terbesar yang pernah ada.

    Sebuah perdebatan tanpa akhir akan terjadi jika kita membicarakan tentang angka dan waktu. Namun pada dasarnya kita semua berteriak dalam hati agar tugas ini dapat dilakukan secepatnya, ini karena kita berurusan dengan kenyataan bahwa masih banyak manusia yang akan pergi kepada kekekalan tanpa sama sekali mempunyai pengenalan akan Kristus secara pribadi. Kenapa kita tidak memakai sedikit uang kita untuk mendapatkan beberapa materi misi yang dapat kita bawa kemana- mana dan dapat digunakan jika kita memperoleh kesempatan. Anda dapat mempergunakan itu untuk diri Anda sendiri, tapi bagikan juga pada orang lain sehingga mereka pun dapat menggunakannya. Akan ada dampak yang begitu besar yang dapat ditimbulkan jika setiap orang Kristen menyadari untuk mau terlibat dalam misi dengan cara yang pasti akan berdampak luas bagi jutaan orang di seluruh dunia.

    Setelah banyak orang mulai menaruh minat dalam dunia misi, adalah tepat jika selanjutnya kita dapat mendorong mereka untuk menghadiri sejenis acara misi. Acara seperti ini hampir pasti ada di setiap negara dan tentunya juga di setiap gereja dan organisasi. Kita dapat membuat orang-orang tertarik dengan acara itu. Jangan menganggapnya jelek karena kita tidak suka musiknya (meski sangatlah menyedihkan jika sesama Tubuh Kristus masih mempermasalahkan jenis musik karena sejarah sendiri telah membuktikan bahwa Roh Kudus telah memakai berbagai jenis musik untuk membuat orang semakin dekat dengan Tuhan). Informasi tentang acara ini harus disebarluaskan kepada siapa saja, bahkan kepada yang terkecil pun. Untuk kita yang memimpin atau terlibat dalam kegiatan ini sendiri, perlu dikembangkan kepekaan berkenaan dengan begitu banyak jenis orang yang kita hadapi. Jangan suka menjadi pribadi yang kontroversial. Kadangkala, pribadi yang kontroversial bisa jadi adalah cerminan dari ego yang besar. Kadang itu dilakukan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain, dan hal ini tidaklah sehat.

    Kita perlu untuk mendengarkan mereka yang "tidak setuju" dengan kita, dan yang menganggap kita terlalu ekstrim dan memberikan target terlalu muluk, sehingga kita bisa membangun persatuan. Pendidikan formal adalah alat ampuh bagi mobilisasi misi. Kebanyakan sekolah Alkitab memiliki komitmen yang baik terhadap misi, dan kebanyakan organisasi misi memiliki hubungan baik dengan mereka. Jika Anda merasa sebagai mobilisator misi, jalinlah hubungan dengan mereka, pastikan untuk selalu mendapat informasi terbaru mengenai apa yang sedang mereka kerjakan.

    Pertimbangkan juga untuk bersekolah selama satu atau dua tahun di situ, mungkin dengan mengambil jurusan yang ada hubungannya dengan dunia misi selain tentunya terus mempelajari firman. Namun, jangan menganggap bahwa satu-satunya yang dibutuhkan dalam misi adalah ahli teologi dan ahli pertumbuhan gereja modern yang fasih bicara dalam berbagai bahasa. Namun, kita pun membutuhkan orang-orang di belakang layar seperti para mekanik, sekretaris, pemegang pembukuan, dan programmer komputer. Kita juga sangat membutuhkan staf yang bekerja di kantor pusat di negara mereka sendiri. Sangat menyedihkan jika ada orang yang tidak peduli dengan berbagai jenis pekerjaan yang dibutuhkan tersebut.

    Masalah lain yang sangat sering muncul selanjutnya adalah, "Dari mana kami mendapatkan uang untuk semua itu?" Jawaban dari pertanyaan ini terletak pada komitmen dalam doa-doa syafaat untuk membebaskan masalah keuangan dalam pelayanan misi dunia, dan komitmen akan penggalangan dunia yang Alkitabiah. Kita harus belajar dari sejarah dan dari kisah persembahan seorang janda. Tuhan dapat memakai semua orang, pria dan wanita di lapangan yang mendapatkan hartanya dari kerja keras dan air mata mereka untuk kemudian mereka bagikan pada organisasi-organisasi misi dan gereja demi penginjilan dunia. Di luar dari semua itu, hendaknya kita juga berhati-hati ketika kita mulai menuding satu organisasi atau kelompok lain menggunakan cara- cara yang tidak rohani dalam mencari dana. Dalam hal ini, semua dari kita adalah orang berdosa, jadi siapa pun yang merasa dirinya tidak berdosa, bolehlah ia yang melempar batu pertama. Kesatuan dalam Tuhan memang hendaknya muncul di tengah berbagai perbedaan itu dan untuk itulah hendaknya kita bersama merancang sebuah strategi dalam hal penggalangan dana ini.

    KETERLIBATAN GEREJA LOKAL

    Setiap mobilisator misi harus terlibat juga dalam pelayanan gereja lokal. Banyak orang, dengan berbagai cara merasakan panggilannya sebagai mobilisator misi saat mereka berada di gereja lokal, tanggapan dari gereja mereka pun beragam. Tanpa bermaksud menyamaratakan, menghakimi atau menilai ekstrim setiap gereja lokal. Beberapa masalah biasanya akan muncul saat seseorang menerima panggilannya untuk menjadi mobilisator misi di luar gerejanya, (misalnya di sebuah program pekerjaan misi jangka pendek) dan kemudian ingin membawa visinya itu ke gerejanya.

    Banyak anak muda yang berencana untuk bekerja di ladang misi kemudian diragukan kemampuannya, ditanggapi secara negatif atau dianggap macam-macam sehingga semangatnya yang begitu berkobar sepulang dari program misi jangka pendek yang dijalaninya, perlahan meredup. Akan tetapi, hal itu tidak akan terjadi jika kita memegang kenyataan yang ada di 1Korintus 13 mengenai praktik hukum kasih Kristen bagi sesama kita. Sementara bagi mobilisator muda, fokus kegiatan mereka biasanya dimulai dari kampus. Pergerakan pemuda ini, seperti halnya kegiatan KKR anak muda dan lainnya adalah pihak yang memberikan kontribusi terbanyak bagi perkembangan misi dunia saat ini.

    MEMBUAT ORANG LAIN TERLIBAT DALAM PENGINJILAN DAN PELAYANAN

    Satu cara ampuh untuk membuat orang lain dapat menjadi mobilisator misi adalah dengan melibatkan mereka dari tempat mereka berada. Kita tidak boleh menganggap bahwa penginjilan dari rumah berlawanan dengan penginjilan yang dilakukan sampai ke luar negeri. Kita tahu bahwa ternyata di sekitar kita masih banyak orang yang belum dijangkau. Memang, ada nilai tersendiri untuk mereka yang mau meninggalkan tempat mereka untuk mengabarkan Injil ke daerah lain. Namun itu memerlukan panggilan tersendiri, sementara membicarakan mengenai Injil kepada tetangga Anda bukanlah sesuatu yang memerlukan panggilan khusus karena itu sudah merupakan kewajiban kita sebagai anak Tuhan. Memang, dalam menginjili orang lain, kita akan sering mendapati kegagalan dan kekecewaan, namun harus diingat pula bahwa kekecewaan dalam penginjilan seringkali berarti petunjuk dari Tuhan untuk mengajar kita lebih baik lagi. Iman yang alkitabiah dan yang mampu memindahkan gunung tidak akan didapat tanpa melalui keraguan, perjuangan atau ketidakpercayaan dan bahkan dosa. Iman itu tumbuh di tengah-tengah berbagai pengalaman buruk tersebut. Tetaplah sadar dan waspada supaya Anda tidak sampai terjatuh ke dalam cara penginjilan yang tidak alkitabiah. Sadarilah bahwa Tuhan sekarang sedang melakukan banyak hal besar di dunia ini. Dia akan bekerja melalui gereja-gereja lama, baru, serta organisasi-organisasi lama atau yang baru dengan cara-Nya yang ajaib. (t/Ary)

    Bahan diterjemahkan dan ringkas dari sumber:

    Judul Buku: Out of The Comfort Zone and Into Missions
    Judul Artikel Asli: Developing a Greater Knowledge of World Missions
    Penulis : George Verwer
    Penerbit: OMF Literature Inc., Philippines, 2000
    Halaman : 72 - 85

    e-JEMMi 03/2006

    Menjadi Pendoa Syafaat yang Baik

    NATS ALKITAB: Nehemia 1:1-11; 2:1-10

    TUJUAN:

    Belajar dari Nehemia, kita menemukan empat karakteristik pendoa syafaat yang baik, yaitu:

    1. SEORANG PENDOA SYAFAAT yang baik harus pro-aktif dalam mencari informasi doa yang jelas.

      Saudara, informasi doa yang jelas itu penting sekali dalam berdoa syafaat. Hal ini penting agar kita dapat berdoa dengan baik, sungguh-sungguh dan sesuai dengan fakta.

      Saya pernah beberapa kali mengalami kecelakaan dalam memimpin doa. Pernah suatu kali saya memimpin doa sebelum acara latihan koor dimulai. Saya berdoa untuk setiap kami yang menyanyi, untuk pianis dan juga untuk konduktor. Setelah selesai (amin), semua protes karena orang yang saya kira konduktor, ternyata bukan. Seharusnya orang lain yang jadi konduktor saat itu. Yah ... saya pikir bagaimana untuk meralatnya? Apa saya harus berdoa lagi untuk meralat doa saya yang keliru, ya?

      Saudara, hal itu memang hal kecil saja. Tetapi hal tersebut juga sangat mempengaruhi kesungguhan kita dalam berdoa. Jika informasi itu tidak jelas atau bahkan salah, apakah kita akan mengatakan kepada Tuhan, padahal itu bukan hal yang benar?

      Saudara, bagaimana halnya sikap Nehemia dalam hal ini? Saudara-saudara, Nehemia adalah seorang Yahudi yang hidup di pembuangan. Pada tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta I (445 SM) Nehemia ini menduduki jabatan sebagai pejabat minuman raja.

      Jabatan ini adalah jabatan yang tinggi, dan orang yang menduduki jabatan ini merupakan orang yang sangat dipercaya oleh raja. Sebab tugas mereka adalah mencoba minuman yang akan diminum oleh raja, apakah minuman itu beracun atau tidak. Jadi jabatan itu merupakan jabatan yang menentukan hidup matinya seorang raja. Dikisahkan dalam pasal 1:1-2, pada bulan Kislew tahun kedua puluh pemerintahan Artahsasta, salah seorang saudaranya, Hanani, datang dari Yehuda bersama-sama dengan beberapa orang saudara. Perhatikan di ayat 2, "... Aku menanyakan keadaan orang-orang Yahudi yang terluput, yang terhindar dari penawanan dan tentang Yerusalem." Saudara, Nehemia sendiri mengambil inisiatif untuk bertanya. Ini bukan pertanyaan basa-basi. Jika kita bandingkan dengan reaksi Nehemia dan tindak lanjutnya setelah mengetahui hal ini (ayat 4), maka saya dapat simpulkan bahwa pertanyaan Nehemia bukan pertanyaan basa-basi, tetapi dia memang rindu akan informasi yang benar tentang keadaan bangsanya untuk kemudian mendoakan.

      Ia tidak menunggu informasi itu diberikan. Tetapi dia sendiri bersikap pro-aktif mencari informasi yang jelas itu. Memang ia tidak pergi sendiri ke Yerusalem, tetapi kepekaannya dapat melihat peluang akan sumber informasi yang akurat. Memperlihatkan bahwa dia begitu proaktif dan memandang perlunya informasi yang akurat untuk didoakan.

      Saudara, dalam kehidupan kita, jika kita mau menjadi pendoa syafaat yang baik, kita harus pro-aktif dalam mencari dan mendapatkan informasi doa yang jelas. Jangan sekedar berdoa dengan informasi yang tidak jelas. Kita perlu kejelasan informasi tersebut. Jika kita berdoa untuk pergumulan seseorang, alangkah baiknya jika kita tahu tentang pergumulan orang itu. Dan ini haruslah menjadi kebiasaan kita, yaitu aktif untuk mencari informasi doa yang jelas. Jangan tunggu orang datang minta didoakan, tetapi cari informasi tentang pergumulan orang lain, apa yang dapat kita doakan baginya. Jika kita mau proaktif mencari informasi doa yang jelas, maka kita akan menjadi seorang pendoa syafaat yang baik. Sebab hal ini menunjukkan kesungguhan kita untuk berdoa.

    2. SEORANG PENDOA SYAFAAT yang baik memiliki empati terhadap orang yang didoakan.

      Saudara-saudara, dalam ayat 3, Nehemia mendapatkan informasi dari saudara-saudaranya tentang keadaan orang-orang Yahudi yang lolos dari penawanan. Keadaan mereka sangat buruk, tercela. Mereka dalam kesukaran besar. Tembok Yerusalem telah terbongkar dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Reaksi Nehemia setelah mendengar informasi itu (ayat 4): ia sedih sekali, ia menangis, ia berkabung selama beberapa hari, ia berpuasa dan berdoa.

      Saudara, sungguh suatu reaksi yang sangat dramatis. Nehemia memiliki jabatan yang tinggi, namun ia peduli dan berempati kepada saudara-saudara sebangsanya dan terhadap bangsanya. Bukankah lebih enak jika ia tidak ikut campur dengan keadaan bangsanya. Bukankah lebih baik baginya jika ia hidup tenang dengan jabatannya saat itu? Untuk apa dia bersusah payah memikirkan bangsanya (bahkan jika kita lihat dalam pasal berikutnya, nyawanya sendiri harus dipertaruhkan). Tetapi Saudara, rasa ikut memiliki, ikut merasakan inilah yang mendorong Nehemia untuk berdoa dengan bersungguh-sungguh bagi bangsanya.

      Saudara, ingatkah peristiwa Tuhan Yesus memberi makan lima ribu orang? Tuhan Yesus melihat orang banyak yang terus mengikuti Dia, meskipun Tuhan Yesus pergi lewat danau. Mereka mengambil jalan darat. Melihat hal itu, Tuhan tergerak oleh belas kasihan. Tuhan Yesus merasakan kerinduan mereka dan bahkan kelelahan dan kelaparan mereka. Dan hal ini, pada gilirannya mendorong Tuhan Yesus untuk memberi mereka makan.

      Saudara, rasa empati, rasa ikut memiliki, ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dapat mendorong seseorang untuk bertindak dengan kesungguhan dan ketulusan hati.

      Bagaimana halnya dengan kita? Apakah kita dapat ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain dalam berbagai permasalahan mereka? Mungkin mereka mengalami dukacita, dapatkah kita menyelami perasaan mereka? Mungkin mereka mengalami krisis dalam kehidupan rumah tangganya, dapatkan kita merasakan pergumulan mereka? Mungkin juga mereka sedang bergumul keras akan apa yang bisa mereka makan besok pagi, dapatkah kita merasakan pergumulan mereka? Masih ada begitu banyak macam pergumulan yang lain, Saudara, dapatkah kita ikut merasakannya? Mungkin ada saudara yang berkata, "Ah ... yang penting kan saya sudah berdoa bagi mereka. Bukankah itu cukup?" Pertanyaan balik, "Apakah Anda dapat berdoa dengan kesungguhan hati jika Anda tidak merasakan apa sebenarnya yang dirasakan oleh orang yang kita doakan? "

      Marilah kita belajar untuk berempati terhadap orang yang kita doakan. Dengan demikian kita dapat berdoa dengan sungguh-sungguh untuk mereka dan kita menjadi seorang pendoa syafaat yang baik.

    3. SEORANG PENDOA SYAFAAT yang baik memiliki konsep doa yang benar.

      Mulai dari ayat 5-11 dicatat tentang doa Nehemia bagi pemulihan Israel. Jika kita melihat doa Nehemia tersebut kita melihat bahwa Nehemia memiliki konsep yang benar tentang doa.

      Rangkaian kata-kata doa Nehemia diawali dengan pujian bagi Tuhan (ayat 5). Setelah itu dilanjutkan dengan permohonan agar Tuhan mendengar doanya (ayat 6a).

      Kemudian Nehemia mengaku dosa di hadapan Tuhan, dosa nenek moyangnya, dosa bangsanya dan dosanya sendiri (ayat 6b-7). Saudara, pengakuan dosa merupakan hal yang sangat penting dalam doa kita. Tuhan Yesus dalam doa Bapa Kami yang diajarkannya juga memasukkan hal pengakuan dosa dan pengampunan dosa. Bandingkan juga dengan Yakobus 5:16, "... hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya". Apakah di muka bumi ada orang benar? Tidak ada. Tetapi kita dibenarkan jika kita mengaku dosa kita (1Yohanes 1:9).

      Dalam doanya Nehemia memegang janji Tuhan (ayat 8-10). Segala permohonannya dilandaskan atas janji Tuhan dan dia tidak meminta yang berlebihan dari yang dijanjikan Tuhan. Di akhir doanya, Nehemia sekali lagi dengan segala kerendahan hatinya memohon kepada Tuhan untuk mengabulkan doanya. Namun dibalik kerendahan hatinya itu ada suatu keberanian untuk meminta karena dia terbuka di hadapan Tuhan (ayat 11).

      Selain rangkaian doa Nehemia, hal lain yang memperlihatkan bahwa Nehemia memiliki konsep doa yang benar adalah bahwa dia berdoa dengan tak berkeputusan (ayat 4). Dan hal ini nampak pula pada pasal 2:1. Dicatat, "... Pada bulan Nisan tahun keduapuluh pemerintahan Artahsasta ..." Jika ayat ini dibandingkan dengan pasal 1:1 "... pada bulan Kislew ..." maka selang waktu yang ada dari informasi yang didapatkan (berarti juga waktu Nehemia berdoa) hingga peristiwa yang dicatat di pasal 2:1-8 yaitu sekitar 4 bulan. Dan saya yakin dalam waktu empat bulan itu Nehemia terus-menerus berdoa bagi bangsanya.

      Bagaimana halnya dengan kita? Kita seringkali berdoa kepada Tuhan dengan konsep doa yang tidak benar. Kita seringkali datang pada Tuhan dengan membawa shopping list yang panjang. Kemudian kita sodorkan pada Tuhan untuk dikabulkan. Kita seringkali seolah-olah menodong Tuhan, memaksa Tuhan untuk mengabulkan permintaan kita. Ini berarti bukan kehendak Tuhan yang jadi, melainkan kehendak kita yang jadi. Kita seringkali datang kepada Tuhan dengan dosa atau kesalahan yang tidak atau belum kita bereskan. Saudara, marilah pada hari ini kita belajar dari Nehemia untuk memiliki konsep doa yang benar.

    4. SEORANG PENDOA SYAFAAT yang baik siap untuk menjadi jawaban atas doanya sendiri jika Tuhan menghendaki.

      Nehemia sungguh luar biasa. Dia tidak hanya berdoa bagi bangsanya, tetapi dia sendiri siap dipakai Tuhan untuk menjadi jawaban untuk doanya sendiri. Jika kita perhatikan pasal 2:2-10, kita melihat tindakan Nehemia bagi pemulihan bangsanya.

      Diawali ketika suatu hari Nehemia sedang murung pada saat bertugas dan ini dilihat oleh raja Artahsasta. dengan ketakutan Nehemia mengatakan apa alasan dia murung yaitu karena keadaan bangsanya. Sungguh tidak terduga jika kemudian Artahsasta bertanya "Jadi apa yang kau inginkan?"

      Yang dilakukan oleh Nehemia saat itu adalah berdoa. Dalam doanya Nehemia mendapatkan satu keyakinan bahwa dia dipakai oleh Tuhan sebagai jawaban atas doanya sendiri (bandingkan juga dengan ayat 2:12b). Tuhan sendiri yang menaruh beban itu dalam hati Nehemia. Karena itu kemudian dia menjawab pertanyaan Artahsasta dengan mengajukan permintaan yang boleh dibilang sangat besar nilainya. Permintaan itu kecil kemungkinannya untuk dikabulkan. Namun ternyata permintaannya dikabulkan oleh Artahsasta karena tangan Allah yang murah menyertainya. Dan Nehemia sendiri bertindak mengatur restorasi Yerusalem. ....

      Saudara, ini berarti setiap kita berdoa bagi orang lain, bagi kesulitan orang lain, kita harus siap menjadi jawaban atas doa kita sendiri manakala Tuhan menghendaki. Mungkin kita berdoa bagi penginjilan di pedalaman. Kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri untuk pergi. Jika kita berdoa untuk orang yang kekurangan, kita harus siap jika Tuhan menghendaki kita sendiri sebagai saluran berkat bagi orang tersebut.

    PENUTUP

    Saudara-saudara, menjadi pendoa syafaat merupakan satu bentuk pelayanan yang sangat penting dan besar artinya. Namun demikian, untuk menjadi pendoa syafaat yang baik bukan hal mudah. Hari ini kita telah belajar dari Nehemia untuk menjadi pendoa syafaat yang baik. Marilah kita ikuti teladan Nehemia. Kita dapat menjadi seperti Nehemia. Kita akan memiliki suatu relasi rohani yang indah dengan Tuhan dan sesama kita.

    Diedit dari sumber:

    Judul Artikel: Menjadi Pendoa Syafaat yang Baik
    Penulis : Moses David Livingstone
    URL : Situs 5Roti2Ikan
    ==> http://www.5roti2ikan.net/mimbar/21/

    e-JEMMi 02/2003

    Menjembatani Kesenjangan Antara Seniman dan Gereja

    Para pendeta selalu mencari jalan untuk membuat kehidupan gereja menjadi menyenangkan, praktis, dan berharga. Membuka gereja untuk para seniman dan memasukkan kesenian -- drama, musik, pembacaan puisi, kaca berwarna atau spanduk -- ke dalam kebaktian gereja akan membuat orang-orang percaya terbuka bagi cara-cara baru untuk beribadah dan cara-cara baru untuk melihat, dan akhirnya dapat memasukkan hidup baru ke dalam gereja. Hal itu juga dapat menjadi langkah besar untuk menjembatani kesenjangan yang ada antara seniman dan gereja.

    Banyak pemimpin gereja takut dan curiga kepada seniman pada umumnya. Biasanya, gereja-gereja konservatif sepenuhnya menentang teater, drama, fiksi, dan fantasi. Barangkali mereka berpendapat bahwa seni itu palsu, tidak karuan, dan sia-sia; atau mereka keliru mengira bahwa seni itu tak ada hubungannya dengan kehidupan nyata atau dengan kekristenan yang praktis. Bahkan, dewasa ini banyak gereja kelihatannya buta terhadap keindahan. Begitu banyak gereja yang mengganti keindahan dengan efisiensi.

    Kecurigaan itu merembet kepada para seniman sendiri, dan dengan alasan yang kuat. Banyak seniman, terutama seniman sekuler, menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab. Mereka bersifat impulsif, suka memberontak, dan hidup sebagai golongan pinggiran dalam masyarakat. Mereka cenderung menjadi tukang protes yang mengacau keadaan, dan para pendeta dan guru Alkitab menganggap hal itu sebagai ancaman. Mereka takut.

    Tetapi, sifat-sifat yang diperlihatkan oleh para seniman ini -- kemampuan yang kreatif untuk melihat berbagai hal dengan cara baru walaupun hal itu menimbulkan protes atau perubahan -- dapat diarahkan untuk penggunaan yang baik dalam gereja. Namun, sering sekali, para seniman curiga terhadap gereja sama seperti gereja curiga terhadap mereka. "Gereja itu kaku dan terlalu terikat pada peraturan," kata mereka. "Kami tidak pernah mendengar bahasa yang segar; Kabar Baik itu selalu diberitakan dengan kalimat-kalimat yang itu-itu saja dan dengan nada suara yang sama. Kami ingin sesuatu yang membangkitkan semangat kami dan yang menimbulkan imajinasi kami."

    Kenyataan bahwa kesenjangan antara seniman dan gereja ini ada memang merupakan ironi, karena Yesus sendiri adalah penentang pemujaan terhadap lembaga-lembaga yang telah ada sama seperti setiap seniman. Yesus melanggar tradisi dalam segala hal dan Ia memperkenalkan cara bertindak dan cara memberi reaksi yang baru. Misalnya, Ia memberikan contoh-contoh yang mengejutkan untuk menghidupkan kebenaran. Ia akan mengatakan, "Kalau matamu melakukan kesalahan, cungkillah." Atau, "Kalau tanganmu bersalah, penggallah." Yesus tidak memaksudkan hal itu secara harfiah. Ia memakai gaya bahasa hiperbolis untuk menyatakan suatu maksud. Begitu sering ketika kita terjepit dalam hal-hal rutin, para artislah yang dapat menolong kita untuk melihat kebenaran lama dengan cara baru. Dan, seringkali seni itu mengejutkan. Tetapi kita memerlukan kejutan itu, sengatan itu. Seni menonjolkan keadaan secara berlebihan untuk membantu kita melihat kehidupan dengan lebih jelas.

    Seniman dapat merupakan katalisator. Sama seperti pengkhotbah yang baik membuka mata kami untuk melihat kebenaran rohani, demikian juga hal itu dapat dilakukan oleh seniman yang baik. Karya seorang seniman dapat memperkembangkan diskusi. Barangkali akan ada yang pro dan ada yang kontra -- yaitu orang yang mendukung karya itu dan orang lain yang yang menentangnya -- tetapi pendapat yang tidak sama dapat memperjelas persoalan dan mempertajam daya memahami.

    Kalau jalan buntu antara seniman dan gereja itu harus diatasi, bagaimanapun, senimanlah yang harus memulai. Pemimpin-pemimpin gereja mungkin tidak dapat menjangkau para seniman secara besar- besaran, karena kekuasaan ada di tangan mereka dan biasanya mereka mendukung keadaan yang ada. Dengan demikian, para seniman perlu menemui pendeta dan berkata, "Lihat, di sini ada kelompok orang Kristen yang memiliki banyak karunia, tetapi mereka tidak menggunakan karunia-karunia yang dapat mereka sumbangkan. Bolehkah kami menjadi bagian dari gereja ini, dan menjadi hamba? Kami akan tunduk pada pimpinan Bapak dan mulai memegang tanggung jawab. Kami ingin menjadikan karunia kami makanan untuk kehidupan gereja sekarang."

    Sangat sukar bagi seniman untuk tunduk pada sesuatu yang mereka anggap terlalu terikat pada peraturan atau bersifat klise namun mereka harus mulai. Kalau pemimpin-pemimpin gereja melihat bahwa para seniman itu bertanggung jawab, bekerja keras, dan bahkan bersedia melakukan tugas-tugas biasa yang dihindari orang lain, maka mereka akan mulai membangun hubungan yang menguntungkan kedua belah pihak.

    Seorang seniman yang menginginkan perubahan dalam gerejanya perlu menyadari bahwa banyak hal yang harus dikerjakan, baik untuk mengakui potensi artisitik yang sudah ada di gereja itu maupun untuk mendorong daya cipta orang dewasa ataupun anak-anak. Saya kira di dalam setiap jemaat ada banyak potensi artistik yang terpendam. Potensi itu ada tetapi tertahan. Seringkali para wanita mempunyai karunia artistik tetapi di banyak gereja mereka disuruh diam dan pasif, dan itu membuat semua orang rugi. Gereja perlu memperkaya seni tetapi seringkali gereja malah menolak sumber daya yang sudah dimilikinya. Seniman dapat mencari benih-benih kreativitas yang tidak tampak itu dan mengasuh mereka sampai mereka menghasilkan buah bagi gereja dan Tuhan.

    Orang-orang percaya perlu dididik kembali, untuk mengetahui bahwa kesenian dapat memperkaya hidup mereka dan membuka dunia baru bagi mereka. Pendidikan yang paling efektif dimulai dalam keluarga, dengan para orangtua yang mau memperkenalkan bermacam-macam kesenian kepada anak mereka. Misalnya, dalam keluarga tempat saya dibesarkan, kami rakus sekali membaca. Kami, anak-anak terus membaca, dan orangtua kami membaca keras-keras untuk kami. Sekarang, dengan kemajuan-kemajuan teknologi, kami dapat menyampaikan kesenian kepada anak-anak kami melalui bentuk lain juga: kaset video, pita kaset, atau piringan hitam.

    Keluarga dapat diajari untuk mengembangkan anak-anak mereka kalau mereka melihat anak-anak itu memiliki karunia. Saya mengenal beberapa keluarga di Jepang yang setelah mengetahui bahwa salah seorang anak mereka mempunyai bakat musik, telah mendorong, menyokong, dan membantu anak itu dengan segala cara. Keluarga- keluarga itu menghasilkan orang-orang yang hebat, karena mereka berkeinginan menolong anak-anak mereka untuk menjadi seniman yang sebaik mungkin.

    Bagi anak-anak mungkin lebih mudah untuk belajar terbuka pada kesenian karena mereka memang suka mengerjakan sesuatu secara spontan, tetapi orang dewasa pun dapat belajar. Gereja dapat membantu proses belajar itu. Misalnya, gereja dapat membantu mensponsori film-film yang baru pada hari Minggu petang, atau gereja dapat menyelenggarakan konferensi para penulis dan mengundang anggota jemaat untuk berperan serta.

    Kesenian mungkin menimbulkan kecurigaan karena kesenian berhubungan dengan perubahan, dan perubahan itu mengandung risiko. Kesenian mengandung risiko. Namun, hidup sebagai orang Kristen di bawah pimpinan Roh Kudus juga mengandung risiko. (Itulah sebabnya, ada orang yang takut pada pembaharuan karismatik; mereka takut pada apa saja yang membuat kehidupan mereka terlepas dari pengendalian mereka sendiri.) Keluar ke daerah yang belum dikenal memang menakutkan, dan hal itu sangat sulit terutama bagi orang yang tidak mantap dan tidak percaya pada identitas mereka sendiri. Tetapi kalau kita memiliki identitas kuat sebagai anak-anak Allah, kita dapat menjadi lebih terbuka dan percaya diri untuk menggunakan kesempatan. Kemudian kita akan menjadi lebih terbuka untuk mendengarkan Roh Kudus dengan cara- cara yang tidak lazim -- drama, sastra, dan seni.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buku : Pola Hidup Kristen
    Judul Artikel: Menjembatani Kesenjangan antara Seniman dan Gereja
    Penulis : Luci Shaw
    Penerbit : Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup, Yakin, 2002
    Halaman : 582 - 585

    e-JEMMi 30/2005

    Menuju Gerbang Transformasi: Berdoa, Beriman, dan Bertindak

    Kalau pada 1-5 Mei 2005 ini kita akan merayakan (celebrate) apa yang Tuhan telah perbuat selama ini melalui Gerakan Doa dan Kesatuan Umat, maka itu bukan berarti akhir dari perjuangan dan pergumulan kita bagi lahirnya suatu bangsa yang 'diperbaharui' oleh Allah sendiri.

    Pada kenyataannya, justru pada tahun 2005 ini situasi Indonesia yang terus-menerus mengalami pelbagai bencana, bukannya bertambah baik, malah semakin banyak mengalami terpaan dan goncangan yang semakin tinggi pula intensitasnya.

    Beberapa hari sebelum memasuki tahun 2005, persisnya 26 Desember 2004, Aceh mengalami gempa berkekuatan 9 skala Richter disusul gelombang tsunami dahsyat yang mengakibatkan ratusan ribu nyawa melayang dan hancurnya infrastruktur bagi kehidupan masyarakat Aceh.

    Belum selesai masalah Aceh, kita diterpa pula oleh dipulangkannya ratusan ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal dari Malaysia. Masalahnya tidak sesederhana yang kita pikirkan. Mengapa mereka harus mencari pekerjaan di Malaysia? Karena akhir-akhir ini, banyak perusahaan di Indonesia yang gulung tikar sehingga selain ekspor yang semakin merosot (mengakibatkan berkurangnya devisa), lowongan kerja pun semakin tidak memadai. Mengapa perusahaan gulung tikar dan ekspor menurun? Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya produksi yang disebabkan karena KORUPSI. Mengapa para TKI menempuh jalan ilegal masuk ke negeri orang? Jawabannya kembali karena terbelit birokrasi yang mempersulit mereka untuk mendapat dokumen yang diperlukan, yang masalah dasarnya: KORUPSI.

    Belum lagi masalah TKI antara Indonesia dan Malaysia diselesaikan, sudah muncul pula masalah perebutan wilayah kilang minyak di Laut Sulawesi, yang mengakibatkan kedua negara sekarang berhadap-hadapan dengan segala perlengkapan perangnya. Hubungan dengan Singapura pun menemui berbagai permasalahan. Keinginan pihak Indonesia untuk diterapkannya hukum ekstradisi di kota singa itu, masih menemui jalan buntu. Keputusan hukuman yang sangat ringan terhadap gembong al Qaeda di Indonesia, membawa permasalahan pula dengan negara tetangga, khususnya dengan Australia dan Singapura yang mempertanyakan keseriusan Indonesia melawan terorisme.

    Hubungan antarnegara tetangga di Asia pun sedang 'memanas'. China dengan Taiwan, Jepang dengan Korea Selatan, Korea Utara dengan berbagai negara lainnya, dan sebagainya. Begitu pula kemelut dalam negeri khususnya dalam menghadapi terorisme, seperti yang dialami Philipina dan Thailand.

    Ada yang mempertanyakan, "Transformasi apa yang terjadi di Indonesia?" Memang kalau dilihat dari luar, secara fisik, keadaan Indonesia semakin memburuk dan bukan membaik. Tetapi, justru itu menunjukkan diperlukannya Pekerjaan Allah sendiri yang melampaui kekuatan manusia. Di samping itu cara kita melihat juga memerlukan: Mata Iman. Dengan mata iman kita baru dapat melihat terjadinya perubahan yang sedang dikerjakan Allah sesuai dengan cara-Nya, yang mungkin tidak seperti yang kita inginkan. Sama halnya dengan keselamatan umat manusia melalui jalan salib; yaitu disalibkannya Anak Allah yang seolah-olah memperlihatkan 'suatu kekalahan'. Siapakah di antara murid-murid yang bisa menerima fakta itu, pada waktu Yesus menjelaskan pada mereka apa yang akan terjadi atas diri- Nya (Matius 16:21). Sampai Petrus berkata: "Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." (ayat 22) Tetapi Yesus berkata: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Matius 16:23)

    Sebelum Transformasi dahsyat terjadi, setelah kematian dan kebangkitan Yesus, murid-murid diperintahkan untuk "menunggu" dalam doa bersama. Transformasi yang begitu murni dan dahsyat terjadi setelah doa yang sungguh-sungguh dinaikkan selama 10 hari sesudah kebangkitan Yesus. Karenanya dalam mempersiapkan diri kita, maka:

    PERTAMA, pentingnya untuk BERDOA DALAM KESATUAN (UNITED PRAYER). Doa yang benar, bukanlah doa yang hanya melihat pada kepentingan diri/organisasi sendiri, tetapi melihat pada kepentingan keseluruhan TUBUH KRISTUS dimana diri kita adalah bagian didalamnya. Itulah doa yang diberkati oleh Tuhan (Mazmur 133:1,2).

    KEDUA, doa tersebut harus didasarkan atas IMAN kepada Allah yang hidup; dengan menyadari kemahakuasaan Allah dan ketidakmampuan kita. "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman," (Ibrani 10:38); "Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:6)

    KETIGA, barulah dengan yakin kita BERTINDAK sesuai dengan iman kita, dalam pimpinan Roh Kudus dan Firman-Nya. Barulah tindakan tersebut akan menghasilkan buah yang kekal karena bukan kita sendiri yang bertindak tetapi Dia yang melakukan perkara yang besar melalui anak- anak-Nya (2Korintus 3:5,6).

    Bahan dieedit dari sumber: Buletin VIP -- VISI dan PRAKARSA Tahun VII/Edisi APRIL 2005

    e-JEMMi 18/2005

    Merencanakan Doa Keliling

    Doa keliling memberikan kesempatan bagi kita untuk melihat suatu kota sebagaimana adanya, dan mendoakan penduduknya di tempat mereka tinggal. Tujuannya adalah memperoleh visi Tuhan untuk mendoakan tempat tersebut, sekaligus berperang melawan penguasa kegelapan di tempat tersebut. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam persiapan doa keliling.

    1. Lakukan pemetaan rohani dan penelitian mengenai kota Anda (perhatikan pertanyaan di bawah ini) dan rangkumkan hasilnya untuk dibacakan saat tim berada di daerah tersebut untuk membantu mereka berdoa.

    2. Doa keliling dapat dilakukan sehari penuh, seperti hari Sabtu, atau pada malam hari pada hari kerja. Diawali dengan doa bersama untuk perlindungan tiap peserta. Jika doa keliling dilakukan sehari penuh, maka dapat ditutup dengan buka puasa bersama. Akan tetapi, jika doa keliling dilakukan hari biasa, buka puasa dapat dilakukan sebelum perjalanan doa dimulai.

    3. Doa keliling dapat dilakukan dengan menggunakan bis atau mobil. Tunjuk koordinator yang bertanggung jawab pada masing-masing bis untuk membacakan sejarah tempat itu dan pokok doa, di samping mengatur perjalanan dengan bis-bis yang lain (bila lebih dari satu). Bila doa keliling dilakukan dengan menggunakan mobil- mobil, siapkan fotocopy peta yang sudah ditandai dengan rute yang harus dilalui beserta pokok doanya.

    4. Jika perjalanan cukup lama (seperti yang kami lakukan, yaitu 8 jam penuh mengelilingi Jabotabek), sepanjang perjalanan dapat diselingi dengan khotbah singkat dan kesaksian/kesan-kesan dari peserta di bis tersebut.

    5. Tunjuk seorang sekretaris yang mencatat setiap petunjuk Tuhan yang didapat, seorang pemimpin pujian yang memimpin pujian dan penyembahan (bila memungkinkan seorang pemain gitar juga), dan seorang di bagian dokumentasi untuk memotret perjalanan doa.

    6. Siapkan kaset pujian penyembahan yang bertemakan doa atau peperangan rohani untuk diputar sebagai ganti bila peserta lelah karena terlalu lama bernyanyi.

    7. Jangan lupa, siapkan minuman karena orang akan berbicara (berdoa dan bernyanyi) selama perjalanan yang cukup panjang.

    Berikut ini, pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab saat Anda mempersiapkan doa keliling bagi kota Anda.

    Data Sejarah

    Beberapa kota memiliki sejarah yang memberikan warna dan pengaruh yang kuat pada kota itu, seperti: sejarah perang kekerasan, upacara peringatan yang tidak sesuai dengan Alkitab, dan lain- lain. Hal-hal ini dapat mempengaruhi penyebaran Firman Tuhan di kota tersebut.

    1. Siapakah pendiri kota Anda?

    2. Mengapa kota tersebut didirikan?

    3. Apakah nama/lambang/maskot kota itu memiliki arti tersendiri?

    4. Apakah ada karakter-karakter khusus (baik yang positif maupun negatif)?

    5. Bagaimanakah orang-orang minoritas diperlakukan di kota Anda?

    6. Pernahkah terjadi perang, pertumpahan darah, kekerasan, bencana alam, perjanjian khusus yang dilakukan di kota Anda?

    7. Apakah ada masalah-masalah sosial yang selalu terjadi di kota Anda? (contoh: kerusuhan, d1l.)

    Data Rohani

    1. Apakah agama yang dianut mayoritas penduduk kota Anda?

    2. Apakah ada pusat kuasa-kuasa kegelapan di kota Anda? Di mana letaknya?

    3. Kapan kekristenan masuk ke kota Anda?

    4. Apakah ada sejarah perpecahan atau kerjasama antargereja di kota Anda?

      Apakah gereja-gereja di kota Anda bertumbuh?

      Di daerah mana gereja-gereja tidak pernah bertumbuh?

      Apakah ada petunjuk-petunjuk tertentu yang Allah berikan mengenai kota Anda kepada para pemimpin rohani?

    Data Demografis dan Geografis

    1. Berapa jumlah penduduk kota Anda?

    2. Bagaimana komposisi penduduk kota Anda? (keadaan sosial, rasial, umur, pekerjaan dll.)

    3. Apakah kota Anda dibangun menurut bentuk dan aturan tertentu yang memiliki alasan rohani?

    4. Apakah ada daerah-daerah tertentu yang terkenal dengan daerah kumuh, daerah makmur, daerah kriminal, daerah prostitusi dll.?

    5. Apakah ada patung-patung dan bentuk-bentuk khusus di kota Anda yang memiliki pengaruh dalam kerohanian penduduknya?

    Bahan diedit dari sumber:
    Judul Buku: Kota Doa -- Mengobarkan Api Kebangunan Rohani di Komunitas Anda
    Penulis : Jimmy B. Oentoro
    Judul Artikel : Merencanakan Doa Keliling
    Penerbit : Harvest Publication House, Jakarta, 1998
    Halaman : 285 - 287

    e-JEMMi 07/2005

    Merindukan Terobosan dan Tuaian yang Lebih Besar?

    Waktu-waktu yang telah kita lalui dengan bertekad untuk berdoa dan berpuasa bagi keselamatan kaum Muslim pada saat doa bulan puasa telah membuahkan beberapa hal seperti:

    1. Kesadaran untuk mendoakan kaum Muslim dengan fokus doa yang jelas,

    2. Banyak orang Muslim yang telah percaya Tuhan Yesus,

    3. Ada utusan Injil yang bekerja di masyarakat Muslim yang terabaikan.

    Kita bersyukur, namun semuanya ini belum berarti bahwa tugas telah selesai. Kita perlu berkomitmen untuk lebih meningkatkan intensitas doa-doa kita. Kaum Muslim dengan disiplin yang tinggi setiap harinya menunaikan sembahyang lima waktu yang dilakukan dari subuh sampai tengah malam. Mereka sangat bersungguh-sungguh dan terbuka memanggil nama Allah, dan mengharapkan jawaban dari Allah. Kesungguhan mereka diekspresikan dengan ketekunan dan berseru dengan suara yang keras. Keadaan ini menunjukkan mereka sangat membutuhkan Allah, sekaligus mendeklarasikan keyakinan iman mereka. Sebagian besar dari kita hidup dikelilingi oleh mereka, setiap hari lima kali dalam sehari kita dapat mendengar suara sembahyang mereka dengan jelas. Seringkali kita merasa terusik, dan merasakan suatu suasana yang tak nyaman kala mereka mulai memperdengarkan suara mereka, terlebih pada petang hari menjelang sembahyang "Maghrib". Sholat atau sembahyang lima waktu adalah salah satu pilar dari lima rukun iman dalam agama Islam. "Pilar Lima Waktu" ini mengandung kekuatan khusus bagi setiap orang Muslim dalam kehidupan setiap harinya.

    Seirama dengan berputarnya bola bumi, waktu yang berbeda antara tempat dan negara yang satu dengan yang lainnya, maka dalam 24 jam sehari, lebih dari 14 abad suara deklarasi umat Islam yang mengatakan "Allahku besar, tiada Tuhan selain Allah", telah sambung- menyambung bagaikan gelombang yang membentuk suatu "lapisan awan kelabu" yang menyelimuti bumi, dan menutupi mata dan telinga rohani saudara sepupu dari sang Kebenaran itu. (Yohanes 14:6)

    Untuk dapat menembus awan kelabu dan membuka selubung yang menutupi mata dan telinga rohani saudara sepupu kita tidaklah sulit. Mengapa? Karena kita tidak berperang sendiri.

    "Tuhan Allahmu, ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan." (Zefanya 3:17)
    "... sebab Roh yang ada di dalam kamu lebih besar dari roh yang ada di dalam dunia." (1Yohanes 4:4)
    dan berbagai janji Tuhan yang telah diberikan kepada kita sebagai orang-orang yang percaya Tuhan Yesus.

    Yang diperlukan dari kita adalah komitmen dan tekad, lebih disiplin dan berani berkorban waktu. Apa yang akan kita lakukan? Kita hanya perlu mengambil waktu untuk berdoa lebih awal mendahului kaum Muslim sembahyang. Isi dari waktu doa kita selain "pujian, penyembahan dan Firman Tuhan", maka ditambahkan "Doa peperangan rohani" yang bertujuan mengadakan: "pengikatan, penerobosan dan pembersihan suasana rohani" sehingga saat kaum Muslim bersembahyang, mata dan telinga rohani mereka akan terbuka.

    Mintalah Tuhan Yesus berkenan menampakkan diri-Nya secara supranatural kepada mereka, sehingga mereka akan memilih untuk percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan. (Mazmur 149:1-9; Matius 18:18-19, Matius 28:8; 2Korintus 4:3-4, 2 Korintus 10:3-5; Efesus 6:10-12, Efesus 1:16-29).

    Lebih dalam lagi perhatikan penjelasan dalam artikel "Doa 5 Patok". Setiap kita dapat memulai dengan lingkungan dimana kita berada. Sebagai anak- anak Tuhan kita dapat berdoa kapan saja, di mana saja, tanpa dibatasi oleh posisi tubuh, "Allah itu Roh ...." (Yohanes 4:24), dan melalui Roh-Nya yang menyatu dengan roh kita, kita dapat berdoa kepada-Nya (Roma 8:26). Marilah kita menjadikan "doa, pujian, penyembahan dan peperangan rohani sebagai jubah dan gaya hidup kita".

    Diambil dari:

    Judul Buku : "40 Hari Doa Bangsa-bangsa"
    Penerbit : Doa Bangsa-bangsa, Jakarta, 2002
    Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/

    Subscribe: [subscribe-i-kan-buah-doa@xc.org]

    e-JEMMi 44/2002

    Metode Mengabarkan Injil -- Beberapa Petunjuk Untuk "Mi" Umum

    Definisi

    Yang dimaksud dengan MI umum ialah memberitakan Injil kasih karunia Allah kepada sekelompok atau sejumlah orang secara umum.

    Pentingnya MI umum

    Betapa pentingnya upaya ini jelas dari teladan Tuhan Yesus dan rasul Paulus, misalnya Khotbah di Bukit (Matius 5-7), khotbah kepada 5.000 orang (Yohanes 6), Petrus pada hari Pentakosta (Kisah Para Rasul 2), rasul Paulus di Atena (Kisah Para Rasul 17), dan contoh-contoh lain dalam Perjanjian Baru.

    Keuntungan metode ini ialah, dalam satu waktu tertentu banyak orang dapat serentak mendengar berita Injil. Pada zaman ini dunia terasa makin kecil karena segala alat komunikasi semakin canggih. Penduduk dunia bertambah terus, aliran-aliran atau lembaga-lembaga lain terus giat memberitakan ajarannya melalui media cetak dan media elektronik -- buku, majalah, surat kabar, radio, televisi, film, ceramah, kelompok studi, dll. Dan tidak dapat disangkal, bahwa zaman ini adalah zaman persaingan komunikasi yang menuntut keahlian, ketrampilan, dan alat-alat canggih. Maka kita, mau tidak mau, harus memikirkan cara yang paling tepat guna dan berhasil dengan memanfaatkan sarana dan fasilitas komunikasi canggih, untuk mengkomunikasikan terang Kristus kepada masyarakat. Sudah saatnya -- kalau tidak hendak dikatakan terlambat -- gereja, badan-badan misi, dan lembaga-lembaga penginjilan di Indonesia memikirkan peningkatan bobot pelayanan Injil melalui media komunikasi, dengan membina dan mempersiapkan komunikator-komunikator trampil dan lembaga-lembaga komunikasi tangguh yang mencakup media cetak, media elektronik, media panggung, dan bahkan media tradisional.

    Pelaksanaan MI Umum

    I. MI di Gereja

    Apabila Alkitab diuraikan secara alkitabiah dan komunikatif dari mimbar gereja setiap minggu, maka kebaktian Minggu merupakan kesempatan emas MI bagi masyarakat umum, sebab semua khotbah alkitabiah dan komunikatif adalah pemberitaan Injil yang paling berhasil. Namun kadang-kadang khotbah perlu disederhanakan dan ditujukan secara khusus kepada orang-orang yang belum percaya, supaya mereka tergugah dan diarahkan kepada pertobatan dan iman kepada Yesus Kristus.

    Misalnya, sebulan sekali adakanlah kebaktian khusus pada sore hari. Khusus untuk kebaktian itu buatlah undangan istimewa dengan catatan: 'tidak menyalahi kerukunan dan toleransi.' Untuk kebaktian demikian, pengkhotbah harus mengarahkan khotbahnya bagi pendengar non-Kristen. Kebaktian itu perlu disusuli kebaktian lanjutan pada pekan berikutnya, dengan mengundang mereka dan anjuran supaya mereka mengajak saudara atau teman mereka. Sementara kebaktian berlangsung, satu tim pengamat yang telah dipersiapkan, perlu dikerahkan untuk kemudian mengadakan pendekatan atau percakapan pribadi dengan pengunjung yang benar-benar berminat. Pendekatan ini dapat dilanjutkan antara peminat dan pengkhotbah. Dan kebaktian khusus demikian dapat diperluas menjadi suatu Kebaktian Kebangunan Rohani.

    Namun, kebaktian semacam ini janganlah mengganggu apalagi menggeser pemberitaan Firman Tuhan setiap minggu. Kebaktian Minggu harus tetap berjalan dan merupakan pemberitaan Injil untuk kebangunan rohani jemaat.

    II. MI di Rumah Sakit

    1. Rumah Sakit Kristen

      Kita diperintahkan oleh Tuhan Yesus untuk menyembuhkan orang sakit. Rumah sakit Kristen dengan usahanya menyatakan dan menerapkan kasih Kristus melalui pelayanan praktis dan langsung, adalah merupakan suatu pos MI yang sangat efektif dan berkesan.

      Kita, sebagai orang Kristen yang awam dalam bidang medis, dapat menyumbangkan tenaga untuk menata atau mengurus rumah sakit Kristen sesuai kemampuan kita. Misalnya menjahit, muda-mudi mencat gedung rumah sakit atau merawat kebun -- pendeknya cukup banyak kemungkinan dimana kita dapat terlibat secara praktis membantu tim dokter dan jururawat.

    2. Kesaksian di Rumah Sakit

    3. Di samping memberikan kesaksian sosial secara praktis, rumah sakit Kristen dapat dan wajib sekaligus memberikan pemberitaan Injil, supaya para pasien dapat melihat dan mengerti motivasi yang mendasari pelayanan sosial itu, dan menyadari kebutuhan mereka akan Juruselamat.

      Kita juga harus memanfaatkan kesempatan, bahwa sebagai tim Kristen kita bisa memperoleh izin untuk mengadakan kebaktian di rumah sakit pemerintah -- sejauh keadaan memungkinkan hal itu. Dalam hal ini dan untuk semua kebaktian, apakah itu akan diadakan di ruangan khusus, di bangsal atau di teras rumah sakit, maka hal-hal berikut penting kita pedomani:

      1. Disamping izin, kebaktian itu harus didukung oleh karyawan rumah sakit.

      2. Kebaktian harus pendek, sederhana dan teratur. Para pasien kurang kuat, tidak tahan lama mengikuti kebaktian.

      3. Karena mereka dalam penderitaan, maka mereka memerlukan penghiburan yang ada pada Kristus. Segi-segi positif mengenai Yesus dan karya penyelamatan-Nya perlu mendapat penekanan. Maut dan penghukuman janganlah terlalu ditonjolkan.

      4. Sediakan bacaan sederhana untuk diberikan kepada mereka seusai kebaktian. Kalau ada kesempatan berbicara dengan mereka, usahakanlah:

        1. Bicara seperlunya -- ringkas dan pendek, dan jangan mengganggu pasien lainnya.

        2. Jangan berdebat.

        3. Berlakulah sopan dan bersedia mendengarkan keluhan atau apa saja yang merupakan beban hatinya.

        4. Jangan banyak bertanya tentang penyakitnya. Usahakanlah mengarahkan pembicaraan kepada hal-hal positif yang memberi harapan, terutama perihal hidup baru dengan Yesus Kristus.

    4. MI di Lembaga Pemasyarakatan

    5. MI di Lembaga Pemasyarakatan menuntut persyaratan yang sangat ketat:

      1. Harus dengan izin khusus; jangan melanggar peraturan Kehakiman.

      2. Selalu waspada; hindari jangan sampai Injil, atau kita sebagai penginjil, diperalat untuk suatu tujuan jahat.

      3. Bila mungkin, bentuklah kelompok penelaahan Alkitab di antara mereka. Harus diakui bahwa ini sukar sekali bagi mereka dalam keadaan demikian, apalagi untuk mandiri sebagai Kristen.

      4. Kalau kita konsekuen memberitakan Injil, maka kita harus bersedia menolong mereka apabila mereka bebas. Dalam hal ini mungkin kita akan mengalami banyak perilaku pahit. Karena itu sebaiknya dalam kebijakan ini kita mohon didampingi orang-orang yang cukup berpengalaman dan berwibawa, terutama bila terjadi sesuatu yang sifatnya kriminal.

      5. Dalam pemberitaan jangan sekali-kali menyinggung perasaan para tahanan. Menyinggung perasaan mereka berarti kita telah melakukan tindakan dosa. Sedapat mungkin kita harus mengindentifikasikan diri dengan mereka, guna membawa mereka kepada hidup baru dalam Kristus.

      6. Seorang tahanan cenderung putus asa. Jadi tepat sekali apabila pemberitaan kita tekankan pada masa depannya yang penuh harapan yang hidup dan pasti dalam Kristus. Dan bahwa ia dapat menjadi 'ciptaan baru' melalui pengampunan penuh dari Allah Bapak.

      7. Akan sangat menolong bila kita mengunjungi keluarga tahanan itu, untuk dapat lebih mengerti latar belakangnya, dan bila mungkin juga menolong mereka.

    6. MI Rumahtangga

    7. Kebaktian-kebaktian rumahtangga merupakan tempat yang ideal bagi pekabaran Injil kepada para tetangga yang belum Kristen. Tapi dalam hal pendekatan dengan tetangga, kita harus lugas dan bijaksana. Harus menghindari kesan 'mengkristenkan' yang begitu peka di negeri kita ini. Karena itu penting sekali memperhatikan hal-hal berikut:

      1. Kesaksian hidup anggota keluarga kita sendiri sehari-hari harus sedemikian rupa (dalam pergaulan sehari-hari, peran serta kita dalam kegiatan sosial, dll.) sehingga tetangga tidak segan datang ke rumah kita, karena mereka sudah menyaksikan sendiri bahwa hidup kita sesuai dengan amanat Injil.

      2. Kalau kebaktian itu diadakan setiap minggu, maka baik sekali mengundang pengkhotbah berbakat penginjil. Untuk itu acara harus dipersiapkan matang dan undangan khusus untuk mengundang tetangga-tetangga yang belum mengenal Kristus harus sopan dan bersahabat, supaya dengan demikian nyata bahwa kita menghormati mereka, dan mereka pun tergerak datang untuk mendengar berita Injil keselamatan.

      3. Hari-hari besar seperti Paskah, Natal dan ulang tahun dapat kita gunakan untuk MI. Dalam hal ini kita wajib menghargai hari-hari besar golongan lain dan menerima undangan teman atau tetangga untuk merayakannya.

      4. Kebaktian tidak usah terlalu formil, tapi harus tertib dan menghormati setiap peserta. Acara sederhana namun menarik seperti berikut perlu mencakup:

        1. Pembukaan -- Bisa berupa selamat datang disertai ucapan terimakasih dan sekedar penjelasan tentang acara.

        2. Nyanyian -- Koor atau nyanyian tunggal baik sekali dilibatkan. Nyanyian gerejawi secara bersama harus dipertimbangkan secara bijaksana. Itu perlu mengingat yang datang bukan Kristen, dan tentu bisa dimaklumi bila mereka malu atau segan ikut menyanyikan nyanyian Kristen.

        3. Doa -- Doa hendaknya singkat, praktis dan dalam bahasa sehari- hari. Yang berdoa hendaknya menjabarkan dirinya nya dengan jemaatnya. Akan kurang bijaksana bila doa itu berbunyi, 'Ya Tuhan, bukalah mata orang-orang yang belum Kristen, supaya mereka percaya', dsb. Karena itu sebaiknyalah berdoa, 'Ya Tuhan, bukalah mata kami masing-masing supaya kami dapat percaya dan melihat Yesus sebagai juruselamat Dan doa itu janganlah dijadikan seperti khotbah.

        4. Renungan dan khotbah -- Renungan atau khotbah harus betul- betul dipersiapkan, singkat, sederhana, tepat dan sesuai dengan daya nalar hadirin. Pengkhotbah harus menyesuaikan kata-katanya dengan suasana kebaktian itu. Dan yang terpenting ialah pimpinan Roh Kudus.

        5. Kesaksian -- Kesaksian pribadi juga penting karena dapat membawa orang lain kepada Kristus. Tapi harus hati-hati sekali bila bersaksi, sebab yang kita saksikan adalah Kristus, bukan kehebatan dan kepintaran diri kita sendiri. Dan kesaksian itu harus pengalaman diri sendiri, jangan meniru kesaksian orang lain. Dalam bersaksi kita harus jujur dan rendah hati, jangan terjebak oleh dosa kesombongan. Acara kesaksian harus betul- betul dipertimbangkan sebelum diadakan.

        6. Tanya jawab -- Dalam kebaktian MI, bila suasana dan waktu tidak mengizinkan acara tanya jawab lebih baik ditunda untuk kesempatan lain; jangan sampai merusak suasana. Tapi bila ada yang sungguh berminat untuk bertanya, lebih baik dilayani dengan mengatur pertemuan antara dia dengan pengkhotbah secara pribadi seusai kebaktian.

        7. Lain-lain -- Bila mungkin menyajikan hidangan kendati sederhana. Janganlah MI rumahtangga ditiadakan hanya karena tidak mampu menyajikan makanan enak.

      Film ataupun sandiwara adalah alat MI yang efektif, justru perlu dimanfaatkan. Traktat dan bacaan-bacaan lain dapat diberikan kepada orang-orang yang belum Kristen. Hendaknya kita sedia dengan buku- buku kecil untuk diberikan kepada mereka. Tapi isi buku-buku itu harus kita mengerti lebih dulu, apakah cocok dengan keadaan mereka.

    8. MI Melalui Kelompok

    9. Yesus memilih 12 orang untuk menyertai-Nya, dan akhirnya mereka menjadi saksi-saksi-Nya. Pada saat mereka dipilih, mereka belum mengenal Yesus dengan baik. Metode Yesus memilih suatu kelompok pengikut telah terbukti merupakan metode MI yang luar biasa efektifnya.

      Ada beberapa buku mengenai metode MI kelompok. Metode-metode itu dapat disimpulkan sebagai berikut:

      1. Bentuk kelompok kecil yang terdiri dari saudara seiman.

      2. Berkumpul sekali seminggu untuk penelaahan Alkitab, dan untuk mendoakan soal-soal yang dihadapi setiap anggota dan membuat rencana untuk suatu kegiatan MI.

      3. Sekali seminggu bersama-sama melakukan kegiatan MI, misalnya berkunjung ke rumah sakit atau penjara, mengajar Sekolah Minggu, dll.

      4. Mengajak orang-orang lain, baik Kristen maupun yang hanya bersimpati; untuk mengikuti pertemuan-pertemuan maupun kegiatan itu.

      5. Kalau kelompok itu sudah berkembang menjadi kira-kira 10 orang, kelompok itu dapat dibagi menjadi dua kelompok yang mandiri.

      6. Tentukan jadwal pertemuan dan usahakan agar waktu pertemuan tidak terganggu.

      7. Selalu setia pada tujuan-tujuan kelompok:

        1. Bersekutu dalam Kristus.
        2. Mempelajari Alkitab.
        3. Berdoa.
        4. Bersaksi.
        5. Berkembang dan bertumbuh.

      Kita harus, menjaga supaya kelompok itu jangan sampai menjadi semacam arisan atau pertemuan belaka.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Pedoman Penginjilan
    Judul Artikel: Metode Mengabarkan Injil - Petunjuk untuk MI Umum
    Penulis : D.W. Ellis
    Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF - 1993

    e-JEMMi 20/2004

    Metode Mengabarkan Injil -- Secara Pribadi (MIP)

    PENDAHULUAN

    Mengabarkan Injil secara pribadi (MIP) adalah pemberitaan Injil dalam hidup sehari-hari, dimana seorang yang telah mengenal Kristus berupaya memperkenalkan Kristus kepada orang lain dan mengajaknya menerima Kristus. Lalu orang yang baru menerima Kristus itu dibimbing menjadi saksi Kristus pula.

    Tidak ada dua orang yang sama, karena itu tidak ada pula satu metode MIP yang berlaku bagi semua orang. Setiap orang mempunyai kepribadian sendiri. Mereka harus didekati sesuai dengan kepribadiannya. Sangat berbahaya menganggap hanya ada satu metode yang terpaksa harus menjadi pedoman bagi setiap orang.

    Kepribadian sukar dirumuskan. Unsur kepribadian antara lain adalah akal atau kecerdasan, perasaan, dan kemauan. Karena itu penginjil harus berusaha mengkomunikasikan Injil kepada akal seseorang, sehingga perasaannya digerakkan, dan kemauannya diserahkan kepada Yesus Kristus. Manusia tak mungkin mengemban tugas ini dengan kepandaiannya sendiri. 'Kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.' (2Korintus 3:5)

    Karena itu kita harus belajar mengenal kepribadian seseorang, dan menyesuaikan pola pendekatan dan bobot berita Injil yang akan kita sampaikan dengan kepribadian orang itu. Tentang hal ini Paulus berkata, 'Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang' (1Korintus 9:19-23). Kita tak boleh terpaku mengandalkan satu metode tertentu, melainkan menerapkan prinsip-prinsip umum dengan menyesuaikannya pada kebutuhan dan kepribadian orang-seorang.

    Namun ada sifat-sifat tertentu yang umum pada semua orang. 'Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu' (Amsal 27:19). Dengan kata lain, kita sering melihat diri kita sendiri tercermin dalam diri sesama kita. Sering reaksi kita sama dengan reaksi mereka, dan perasaan kita sama dengan perasaan mereka. Maka dalam melakukan pendekatan kepada mereka, kita dapat mempertimbangkan reaksi dan perasaan mereka dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka sebagai pendengar berita Injil. Dalam menjalankan MIP kita harus selalu memakai metode yang sesuai dengan kepribadian kita sendiri dan juga dengan kepribadian orang yang kita injili. Janganlah meniru metode orang lain kalau itu membuat kita canggung dan kikuk.

    I. Contoh-contoh MIP dalam Perjanjian Baru

    1. Tuhan Yesus dengan wanita Samaria (Yohanes 4)

      Ada beberapa hal yang penting kita perhatikan dalam metode Yesus dalam peristiwa ini.

      1. Yesus sengaja mencari wanita itu (Yohanes 4:4).

      2. Yesus tidak terikat pada tradisi dan tidak terpengaruh oleh diskriminasi rasial (Yohanes 4:9).

      3. Yesus memilih waktu yang tidak akan menimbulkan salah paham (4:6). Sebaiknyalah melakukan MIP kepada teman sejenis untuk menghindari motif kita disalahtafsirkan (1Tesalonika 5:22; 2Korintus 6:3).

      4. Yesus seorang diri bercakap-cakap dengan pendengar-Nya (Yohanes 4:8).

      5. Pendekatan Yesus pada hal rohani adalah wajar dan bijaksana; misalnya, Ia minta tolong pada wanita itu (Yohanes 4:7) dan barulah Dia mengarahkan percakapan dari air minum kepada air hidup.

      6. Yesus tidak dibelokkan dari tujuan-Nya oleh pertanyaan mengenai agama (Yohanes 4:20-24).

      7. Yesus memaparkan rahasia keinginan hati perempuan itu (Yohanes 4:15).

      8. Yesus menunjuk kepada dosanya (Yohanes 4:16-18).

      9. Yesus memperkenalkan diriNya sebagai Mesias (Yohanes 4:26). Tujuan MIP ialah membawa orang ke dalam persekutuan dengan Kristus.


    2. Filipus dengan orang Etiopia (Kisah Para Rasul 8:26-40)

      Dalam peristiwa ini juga ada beberapa hal penting yang perlu kita pelajari.

      1. Filipus dipimpin oleh Roh Kudus kepada orang yang dipersiapkan sendiri oleh Roh (Kisah Para Rasul 8:26,29,30).

      2. Filipus segera menanggapi pimpinan Roh Kudus (Kisah Para Rasul 8:30).

      3. Filipus membuka pembicaraan dengan suatu pertanyaan (Kisah Para Rasul 8:30).

      4. Filipus menyimak pada persoalan orang Etiopia itu sebelum menanggapinya (Kisah Para Rasul 8:34).

      5. Filipus menerangkan tentang Yesus dari Firman Tuhan (Kisah Para Rasul 8:35).

      6. Setelah orang Etiopia itu mengaku percaya, Filipus membaptiskannya (Kisah Para Rasul 8:36-38). Kepercayaannya diteguhkan dalam kesaksian baptisannya di depan pelayan-pelayannya.

      7. Usai tugasnya, Filipus tidak nampak lagi (Kisah Para Rasul 8:39).

      8. Orang yang baru menerima Kristus berjalan pulang dengan sukacita (Kisah Para Rasul 8:39).

    II. Contoh-contoh MIP yang dapat dipakai di Indonesia

    Dalam suasana kebebasan beragama di Indonesia, dan dalam rangka toleransi beragama serta saling menghormati antar sesama umat beragama, nampaknya mengabarkan Injil secara pribadi adalah yang paling 'bersahabat'. MIP dalam pola komunikasi persahabatan bisa berlangsung di mana saja. Tidak memerlukan alat-alat, gedung gereja, lembaga organisasi maupun acara dan tata kebaktian. Yang kita butuhkan adalah bimbingan Roh Kudus dan keyakinan kita pribadi, bahwa Tuhan berkenan memakai kita sebagai utusan-Nya (2Korintus 5:20).

    Dalam rangka itu kita dapat mengabarkan Injil:

    1. Di rumahtangga.

      Di rumahtangga kita sendiri maupun tetangga atau orang lain, kita dapat memakai MIP (Kisah Para Rasul 20:20; Lukas 10:38,39). 2Raja-raja 5:1-5 menceritakan seorang pelayan membawa tuannya kepada Tuhan. Andreas membawa Petrus kepada Kristus (Yohanes 1:40-42). Apakah ada anggota keluarga kita yang belum percaya? Bagaimana pula dengan pembantu kita?

      Dalam MIP perilaku pribadi sebagai penginjil mempunyai peranan yang sangat penting, teristimewa dalam lingkungan rumah dan keluarga sendiri. Kalau ucapan kita tidak selaras dengan perbuatan kita, mereka tidak akan mau mendengarkan berita Injil.

    2. Di Sekolah Minggu atau kelompok studi Alkitab ataupun katekisasi.

      Kita dapat menciptakan kesempatan untuk bicara dengan murid Sekolah Minggu, seorang demi seorang dan membimbing mereka kepada pertobatan dan iman akan Yesus Kristus. Kita dapat mengundang mereka datang ke rumah kita, atau bicara dengan mereka seusai kebaktian Sekolah Minggu.

    3. Seusai kebaktian gereja.

      Kalau ada tamu atau pengunjung gereja yang kita anggap belum percaya, maka kesempatan seusai kebaktian Minggu merupakan kesempatan yang baik untuk berbicara dengan mereka. Kesempatan tersebut tepat untuk membicarakan tentang kepercayaan kepada Yesus. Sayang sekali, umumnya suasana usai kebaktian cukup ramai, sehingga sukar mengajak orang membicarakan hal-hal rohani.

      Kebaktian khusus seperti perayaan Natal dan Paskah, yang biasanya dirayakan bersama undangan, adalah kesempatan yang sangat baik untuk bicara dengan orang yang belum percaya.

    4. Dalam perjalanan.

      Bis atau kereta api adalah tempat dimana kita bertemu dengan masyarakat untuk jangka waktu yang cukup panjang. Sewaktu menunggu kendaraan, kita dapat berdoa supaya Tuhan memimpin kita kepada orang yang sudah dipersiapkan oleh Roh Kudus.

    5. Di tempat kerja (Matius 9:9).

      Ini merupakan lapangan yang luas dan mempunyai tuntutan yang sangat berat. Teman sekerja tidak akan mengindahkan ucapan kita kalau kelakuan kita tidak baik, atau kalau kita malas bekerja. Hidup pribadi kita adalah kesaksian yang paling efektif karena kita tidak bisa menggunakan jam kerja untuk mengabarkan Injil.

    6. Kepada orang sakit (Markus 2:1-12; Yohanes 9:1-7, 35-38).

      Mengunjungi pasien-pasien di rumah sakit merupakan upaya mengabarkan Injil yang sangat mengesankan. Kalau kita belum mengenal penderita, maka kita harus minta izin lebih dahulu dari rumah sakit itu. Kita wajib menaati segala peraturan yang berlaku.

    III. Tanggung Jawab Umum

    Setiap orang Kristen dipanggil untuk menjadi saksi Yesus Kristus (Kisah Para Rasul 1:8). Masing-masing bertanggung jawab mengupayakan orang lain bagi Kristus. Ini tidak berarti bahwa kita harus bersaksi tentang Kristus kepada setiap orang yang kita jumpai. Adalah bijaksana sekali kalau kita berdoa, memohon supaya Tuhan menunjukkan kepada kita seseorang -- mungkin teman, tetangga, teman sekerja ataupun anggota keluarga kita sendiri. Kita mempunyai paling sedikit empat kewajiban terhadap orang yang akan kita bawa kepada Kristus.

    1. Berdoa
      Catatlah namanya (atau nama mereka) dan doakanlah dengan teratur, khususnya memohon supaya mereka bertobat.

    2. Teladan
      Mereka akan segan dan tak acuh mendengar kata-kata kita mengenai Yesus Kristus, jika mereka tidak lebih dulu menyaksikan Yesus dalam hidup kita. Teladan kekristenan tidak dapat dipaksakan atau dibuat- buat, melainkan wajar. Bahkan kita sendiri sukar menyadarinya (Matius 5:16), karena itu adalah dampak dari hidup pribadi kita dengan Kristus.

    3. Bersahabat
      Kita wajib mengasihi sesama sebagai insan pribadi yang patut dihargai dan dihormati. Jadi bukan karena data statistik, yaitu seolah-olah dia tidak lebih daripada satu orang yang harus diselamatkan terlepas dari kepribadiannya seutuhnya.

    4. Bila kita mau menjadi sahabat seseorang, kita wajib berbicara kepadanya tentang Kristus. Persahabatan Kristen yang sungguh membutuhkan banyak waktu dan adalah tantangan hebat bagi kita. Sebelum membicarakan secara khusus mengenai pertobatan dan ihwal kekristenan dengan seorang sahabat, kita dapat membawa dia ke gereja atau ke suatu kebaktian lain untuk mendengarkan Injil. Juga meminjamkan atau menyarankan dia membaca buku Kristen.

    5. Bersaksi
      Doa, teladan hidup praktis, dan persahabatan meskipun sangat perlu, tidaklah membebaskan kita dari kewajiban memberi kesaksian pribadi tentang Kristus kepada sahabat kita. Cepat atau lambat kesempatan itu akan datang. Tidak dapat dipaksakan, karena justru kurun waktu ini adalah masa yang mencemaskan. Baiklah kita menunggu kesempatan itu dengan doa dan pengharapan, dan bila tiba waktunya gunakanlah segera.

    IV. Beberapa Petunjuk Pokok

    Kalau kesempatan itu sudah tiba, beberapa petunjuk pembimbing bisa dijadikan sebagai pedoman.

    1. Carilah tempat dan waktu yang tenang untuk bicara
      Hindarilah hal-hal yang dapat mengganggu pembicaraan itu.

    2. Sediakan Alkitab
      Alkitab mutlak harus ada, guna memungkinkan kita dapat bersama-sama melihat ayat-ayat inti. Dari awal pembicaraan harus jelas, bahwa berita yang kita sampaikan bukan dari diri kita sendiri, melainkan Firman yang berasal dari Tuhan. Tujuan kita ialah, supaya Tuhan sendiri yang berbicara kepada sahabat itu dengan perantaraan Firman- Nya.

    3. Berita jelas dan sederhana
      Sebisa-bisa mungkin pemberitaan kita jelas, sederhana dan mudah dipahami.

    4. Mungkin sang sahabat sedang menghadapi suatu soal atau kesukaran.
      Kita tidak boleh masa bodoh terhadap hal itu. Kita harus turut prihatin merasakannya. Namun kita harus berusaha supaya tidak menyimpang dari pokok berita yang kita sampaikan. Kita harus terus melanjutkan percakapan tentang Kristus dan kebutuhan kita akan Dia.

    5. Lugas dan sopan
      Jangan lupa, seorang yang belum percaya masih 'buta'. Adalah suatu kebodohan kalau kita kehilangan kesabaran karena ia 'buta' sehingga tidak dapat melihat. Baiklah kita berusaha tidak marah. Juga menghindari perdebatan apalagi perbantahan. Kalau dia tak dapat atau sukar mengerti apalagi setuju, bahkan kalau nampak ia tidak sungguh- sungguh mencari Tuhan, baiklah dulu menghentikan percakapan itu. Dalam hal demikian kita dituntut berdoa lebih banyak, sambil menunggu kesempatan untuk bersaksi lagi.

    6. Kesaksian pribadi menopang dan menghidupkan pemberitaan
      Kita dipanggil bukan melulu hanya untuk menjelaskan siapa Kristus, apa yang telah dikerjakan Kristus dan apa yang dapat diperbuat-Nya untuk sahabat kita. Tapi kita juga wajib memberikan kesaksian kita pribadi tentang pengalaman kita sendiri dengan Kristus.

    7. Tetap memandang kepada Tuhan selama percakapan
      Hanya Roh Kudus-lah yang dapat membuka mata hati orang yang belum percaya. Kiranya Tuhan berkenan menggunakan kata-kata kita membuka mata. rohani orang itu, dan baiklah kita ingat bahwa kita adalah alat Tuhan. Tuhan sendirilah yang dapat membuka mata hati orang yang 'buta' itu.

    V. Pemberitaan Injil

    Ada banyak cara untuk memberitakan Injil. Namun perlu kita sadari, bahwa masalah orang-orang yang membutuhkan berita Injil adalah bermacam-macam. Kepribadian mereka juga bermacam-macam. Karena itu pola pengabaran Injil harus lugas dan bervariasi -- tidak boleh kaku dan terpaku pada satu metode.

    Sekalipun demikian kita akan tertolong bila mengingat, bahwa orang yang mau datang kepada Kristus pada dasarnya menempuh tahapan- tahapan seperti dikemukakan di bawah ini. Juga penting sekali mengingat beberapa ayat yang terkait dengan tahapan-tahapan itu:

    1. Sesuatu untuk diakui.
    2. Sesuatu untuk dipercayai.
    3. Sesuatu untuk dipertimbangkan.
    4. Sesuatu untuk diperbuat.

    1. Sesuatu untuk diakui: bahwa kita adalah orang berdosa dan memerlukan penyelamatan

      Menurut Firman Allah, kita adalah orang-orang yang:

      1. Berdosa.
        Alkitab memberi arti negatif, 'dosa' adalah kegagalan (Roma 3:22,23), dan 'dosa' adalah pemberontakan melawan Tuhan dan kekuasaan-Nya (1Yohanes 3:4; bnd Matius 22:36-40).

      2. Bersalah.
        Dosa-dosa kita mengakibatkan kita jatuh di bawah pengadilan Allah yang adil, dan menjauhkan kita dari Dia (Yesaya 59:1,2; Filemon 6:23).

      3. Tak berdaya.
        Kita tak berdaya untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Apa pun usaha kita, dan betapa kerasnya pun kita berusaha, kita pasti gagal; kebenaran dan kesalehan kita tidak bersih di mata Allah Yang Mahakudus (Yesaya 64:6). Karena itu tak seorang pun dapat selamat oleh perbuatan baiknya (Efesus 2:8,9). Justru kita memerlukan juruselamat.

    2. Sesuatu untuk dipercayai: Yesus Kristus datang dan mati untuk menjadi Juruselamat kita

      Orang bisa saja mengakui bahwa dia membutuhkan juruselamat. Tapi pengakuan itu belum cukup. Dia harus percaya bahwa Yesus ialah Juruselamat satu-satunya yang dia perlukan. Kemampuan Yesus menyelamatkan baru jelas bila seorang mengerti siapa Dia dan apa yang telah Dia perbuat.

      1. Yesus adalah Tuhan dan manusia sekaligus (1Timotius 2:5,6).

      2. Yesus telah mati untuk dosa-dosa kita (Yesaya 53:5,6; 1Petrus 2:24; 3:18).

    3. Sesuatu untuk dipertimbangkan: Kristus bukan hanya Juruselamat kita, tapi juga Tuhan kita

      Orang Kristen menyerah tanpa syarat kepada Kristus, sesuai dengan kepribadian Kristus. Artinya, kita tidak boleh mengambil dan memilih hanya segi-segi tertentu saja dari Kristus, dan menyerahkan diri hanya pada segi-segi tertentu itu karena kebetulan cocok dengan selera kita sendiri. Itu sama sekali tidak boleh, karena Yesus adalah Juruselamat sekaligus Tuhan dan Raja, yang tuntutan dan kedaulatan-Nya mutlak atas hidup kita seutuhnya.

      Penyerahan yang benar dan sungguh, mustahil tanpa:

      1. Pertobatan.
        Kita harus berbalik dari dosa-dosa lama maupun dari dosa-dosa kini yang biasa kita lakukan (Kisah Para Rasul 3:19).

      2. Penyerahan diri.
        Kita harus menyerahkan diri kepada kuasa Kristus untuk hidup kita selanjutnya (Markus 8:34; Yohanes 13:13; Lukas 14:25-35).

    4. Sesuatu untuk diperbuat: menyerahkan diri kita kepada Kristus sebagai Juruselamat pribadi dan Tuhan

      Penyerahan diri meliputi baik mempercayai Kristus dan mempercayakan diri kepada Dia sebagai Juruselamat, sekaligus pasrah berserah kepada Dia dan mematuhi-Nya selaku Tuhan.

      Dalam Perjanjian Baru, 'penyerahan diri' diuraikan dalam dua sisi:

      1. 'Datang' kepada Kristus, supaya Dia menerima kita (Matius 11:28; Yohanes 6:37).

      2. 'Menerima' Kristus, supaya Dia datang kepada kita (Yohanes 1:12; Wahyu 3:20).

      Kalau kita yakin bahwa sahabat itu sudah siap untuk bertobat, maka baik sekali mengajak dia berdoa pada saat itu juga. Tapi janganlah memaksa dia mengambil langkah itu. Kalau dia belum yakin, maka bijaksana sekali mempersilakan dia pulang untuk mengambil keputusan sendiri. Jika yang terjadi adalah demikian, mohonlah supaya dia memberitahu bila dia telah mengambil keputusan. Kalau dia berjanji akan memberitahu kemudian, buatlah perjanjian (sebelum dia pergi) untuk bertemu lagi.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Pedoman Penginjilan
    Judul Artikel: Metode Mengabarkan Injil - Secara Pribadi (MIP)
    Penulis : D.W. Ellis
    Penerbit : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF - 1993
    Hal : 127 - 134

    e-JEMMi 20/2004


    Misi -- Apakah Itu?

    Sidang Raya ke-4 Persekutuan Injili Afrika dan Madagaskar telah mencetuskan deklarasi: 'Jemaat lokal berdiri atas kehendak ilahi dan adalah persekutuan orang-orang kudus yang dipanggil dari dunia, untuk menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus Kristus, dan yang bersama-sama dipanggil untuk suatu tujuan.'

    Simaklah ungkapan 'bersama-sama dipanggil untuk suatu tujuan'. Hal ini jelas menunjukkan, bahwa jemaat lokal dipanggil untuk melaksanakan kehendak Allah. Dengan perkataan lain, jemaat lokal adalah jemaat yang bermisi.

    Untuk memahami misi jemaat lokal, kita harus ingat bahwa misinya itu adalah bagian dari misi Gereja Am. Misi jemaat lokal di Yogyakarta tidak berbeda dengan misi jemaat lokal di Medan atau di Bangkok atau di Amerika. Perintah dan isi misi itu sama. Namun cara setiap jemaat lokal menanggapi mandat ini bisa berbeda sesuai kondisi dan situasi setempat.

    1. Misi melebihi aksi sosial.

      Betapapun pentingnya pembebasan sosial, politik, dan ekonomi, misi jemaat tidaklah dimaksudkan terutama untuk hal itu. Tentu kesadaran orang Kristen terhadap masalah sosial, politik, dan ekonomi menjadi celik dan bangkit oleh ajaran dan pemberitaan Injil, sehingga mereka peka terhadap situasi nasional dan internasional (Matius 5:13). Garam berfungsi mencegah pembusukan. Kita juga, sebagai murid Kristus, harus bersikap tegas menentang kejahatan perseorangan, kejahatan sosial, dan struktural. Kita tidak dapat tinggal diam menyaksikan kejahatan dan ketidakadilan.

      Tapi hal ini sekali-kali tidak berarti bahwa jemaat lokal harus mengorganisir dirinya menjadi organisasi massa yang terlibat dalam gerakan sosio-politik praktis. Kendati Tuhan Yesus sendiri mengajar para murid-Nya menentang kejahatan dalam bentuk apa pun, Ia tidak pernah mengarahkan atau merekayasa mereka untuk terjun ke dalam gerakan praktis politik pembebasan untuk menentang pemerintah Roma, atau ke dalam gerakan sosial melawan para tokoh agama Yahudi. Menjadi garam dunia adalah bagian dari pemuridan Kristen yang dituntut dari setiap warga jemaat lokal. Namun menggarami dunia bukan merupakan bagian dari Amanat Agung yang Kristus berikan kepada seluruh gereja-Nya.

    2. Misi melebihi keprihatinan sosial.

      Jemaat harus peka terhadap masalah kelaparan, kemiskinan, dan penderitaan di dunia ini. Dan jemaat wajib terlibat berkorban untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Tuhan Yesus berkata, 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri' (Matius 22:39). Untuk mematuhi perintah ini, setiap warga jemaat lokal wajib memperhatikan kebutuhan jasmani masyarakat sekitarnya. Jemaat sebagai satu kesatuan yang utuh wajib terlibat dalam upaya mencukupi kebutuhan mereka. Hanya melalui pelayanan nyata dan dengan kerendahan hati, kesaksian verbal dari jemaat memperoleh pengakuan. Namun pelayanan demikian pada dirinya bukanlah penggenapan misi jemaat lokal. Jemaat lokal harus memberikan kesaksian verbal, yakni memberitakan Injil kepada masyarakat sekitarnya.

      Penginjilan bukanlah kegiatan yang setara dengan keprihatinan sosial. Memang ada penginjil yang menyatakan bahwa penginjilan dan keprihatinan sosial adalah sama. Hal itu tidak benar dan tidak alkitabiah. Alkitab mengajarkan betapa hal yang rohani jauh lebih penting daripada yang jasmani dan yang sosial. Keselamatan yang Yesus berikan kepada manusia seperti yang dibicarakan dalam Alkitab adalah keselamatan rohani. Keselamatan dari dosa dan yang menuntut kita kepada hidup persekutuan dengan Allah dan taat kepada kehendak- Nya. Justru kewajiban memberitakan Injil untuk menghimbau orang supaya percaya kepada Kristus, menjadi murid-Nya dan bergabung dalam jemaat-Nya adalah yang terpenting. Hal itu sekali-kali tidak dapat dianggap sama dengan bantuan dana dan pembangunan atau pelayanan sosial.

    3. Misi melebihi keterlibatan lokal.

      Pendapat umum mengatakan, bahwa tuntas sudah kewajiban seorang Kristen bila ia aktif terlibat dalam kegiatan penginjilan terhadap masyarakat di sekitarnya. Tidak perlu lagi terlibat dalam upaya penginjilan terhadap masyarakat yang berbeda budaya, bahasa dan negeri. Konsep pemikiran demikian adalah keliru.

      Mengamati Amanat Agung Kristus, kita temukan ungkapan-ungkapan: 'semua bangsa' (Matius 28:19); 'segala makhluk' (Markus 16:15); 'segala bangsa' (Lukas 24:47); 'ke dalam dunia' (Yohanes 17:18); 'ke ujung bumi' (Kisah 1:8). Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa murid-murid-Nya harus menuntaskan dulu penginjilan di Yerusalem baru kemudian bergerak ke Yudea, Samaria, dan sampai ke ujung bumi. Kata penghubung 'dan' menunjukkan bahwa kesaksian Kristen itu harus serentak dilakukan di Yerusalem, Yudea, Samaria, dan di ujung bumi. Jemaat yang punya kemampuan tapi tidak melibatkan diri dalam upaya penginjilan lintas budaya (setidak-tidaknya melalui dukungan doa), belum menggenapi misinya sebagaimana mestinya.

      Konstitusi Gereja India Selatan mengemukakan hal ini dengan tepat sekali. 'Setiap warga jemaat Allah wajib menunaikan misinya di lingkungannya, bahkan sampai ke ujung bumi'.

    4. Misi berarti penginjilan.

      Warga yang ideal dari suatu jemaat lokal peka terhadap isu politik, ketidakadilan sosial-ekonomi, dan penindasan. Mereka bangkit menentang sekaligus memperbaiki kebobrokan demikian, sesuai tanggung jawab moral kristianinya. Jemaat wajib terlibat melayani kebutuhan masyarakat. Dalam rangka pemuridan yang bertanggung jawab dan pelayanan, jemaat memproklamirkan Injil kepada lingkungannya dan terlibat dalam penyebaran Injil kepada segala bangsa di bumi.

      Kita tidak menganggap keprihatinan sosial berbeda dan terpisah sama sekali dari penginjilan. Penginjilan yang efektif dan yang mendampakkan kemuliaan bagi Kristus, dapat terjadi hanya di tengah-tengah pelayanan sosial yang tulus. Kendati demikian keprihatinan sosial dan penginjilan tidaklah setara dan sama. Dalam misi jemaat lokal, penginjilan (yakni penginjilan pada masyarakat sekitar) adalah yang utama. 'Pelayanan penginjilan adalah misi utama jemaat yang penuh pengorbanan. Penginjilan dunia menuntut seluruh gereja untuk memberitakan Injil seutuhnya kepada dunia. Gereja adalah pusat tujuan Allah dan sarana yang dipilih Allah untuk menyebar-luaskan Injil' (Lausanne Covenant).

    5. Misi berarti juga mendirikan jemaat.

      Misi jemaat lokal tidaklah melulu pemberitaan Injil. Dalam misi itu tentu termasuk rencana mendirikan jemaat-jemaat di tengah-tengah permukiman masyarakat, kepada siapa Injil itu diberitakan. Misi jemat lokal ialah penginjilan dengan rencana mendirikan jemaat-jemaat di wilayah sekelilingnya dan di dunia. Jemaat lokal menghadirkan dirinya di wilayah sekelilingnya dan di lapangan misinya. Tokoh-tokoh jemaat Yerusalem berpencar akibat penganiayaan. Beberapa di antara mereka berasal dari Kirene dan Siprus. Mereka ke Antiokhia, mengabarkan Injil dan mendirikan jemaat di sana. Inilah pola misi yang alkitabiah. Tujuan misi ialah mendirikan jemaat Yesus Kristus di tempat-tempat di mana belum ada jemaat. Jemaat adalah pusat tujuan misi Allah. 'Supaya sekarang oleh jemaat diberitahukan pelbagai ragam hikmat Allah kepada pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa di sorga.' (Efesus 3:10)

      Jemaat adalah tanda dan 'panjar rasa' dari Kerajaan Allah, yang menjadi tujuan akhir dan harapan kita. Kerajaan Allah bukanlah kerajaan utopia yang didirikan oleh kemelut pertarungan manusia melawan pemerintah-pemerintah yang lalim. Kerajaan Allah adalah Kerajaan rohani, yang bertumbuh bila jemaat didirikan di antara bangsa-bangsa di dunia ini, dan bangsa-bangsa serta suku-suku bangsa tunduk di bawah kedaulatan pemerintahan Allah. Selanjutnya, melalui campur tangan Allah yang supra-alami, Kerajaan Allah dalam ujudnya yang terpadu seutuhnya akan dinyatakan di dunia ini.

      Dalam hal ini kita hanya membicarakan penginjilan lintas budaya, dan menyebutnya 'misi'. Misi ini selalu menghadapi kendala-kendala baru. Sekelompok ma