Renungan Misi

Tuhan bicara tak hanya lewat firman-Nya tapi lewat berbagai macam cara, salah satunya adalah lewat bahan renungan. Kami berharap renungan-renungan yang kami tampilkan dapat menjadi sarana bagi Anda untuk mengetahui apa yang Ia inginkan dalam hidup Anda.

Tahun Baru

Tiba lagi saatnya kita mengingat tahun yang telah lalu dan mulai memikirkan tentang Tahun Baru yang akan kita lewati. Sering kali kita merasa bahagia karena telah meninggalkan segala penderitaan dan permasalahan yang terjadi seiring dengan berakhirnya tahun 2001.

Di banyak negara, Tahun Baru merupakan waktu yang terpenting. Beberapa kelompok masyarakat merayakan Tahun Baru pada tanggal yang berbeda-beda. Hari keempat Divali ('Festival of Lights' yang dirayakan di India dan beberapa kelompok masyarakat Asia selama bulan Oktober) dianggap sebagai permulaan Tahun Baru sesuai dengan kalender Vikrama. Pada hari tersebut, setiap orang mengharapkan nasib baik dan hubungan yang baik di Tahun Baru. Umat Islam merayakan Idul Adha berdekatan dengan dimulainya tahun Islam. Hari tersebut mengingatkan banyak orang pada kesiapan Abraham untuk mengorbankan anaknya, namun kemudian Allah mengirimkan binatang sebagai penggantinya. Di Eid, orang-orang mengampuni musuh-musuhnya dan membuat resolusi-resolusi baru.

Banyak orang memutuskan untuk membuat sebuah "Resolusi Tahun Baru" dan mencoba mengubah cara mereka bertingkah laku di tahun yang baru. Seringkali mereka memilih hal-hal seperti: berhenti merokok, mengurangi minum beralkohol, atau lebih berhati-hati dalam menggunakan uang, dsb. Seberapa lama resolusi-resolusi tersebut dapat bertahan? "Saya hanya dapat bertahan selama seminggu," kata Dave, 19. Dave telah mengemukakan pokok permasalahannya, yang juga menjadi permasalahan setiap orang. Sangatlah sulit bagi kita untuk berubah. Kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan ternyata memberikan pengaruh besar dalam diri kita.

Banyak orang sering kuatir tentang segala sesuatu yang akan mereka alami di tahun yang baru. Sering kali mereka berpikir bahwa ramalan bintang ataupun ramalan nasib akan memandu mereka dalam memasuki Tahun Baru.

Kesimpulannya, Tahun Baru menunjukkan pada kita tentang dua permasalahan besar:

  1. Bagaimana kita dapat menemukan kekuatan untuk mengubah kebiasaan dan tindakan kita sehingga menjadi lebih baik?
  2. Bagaimana kita dapat bertahan dan mengatasi kesulitan- kesulitan yang akan kita hadapi di tahun yang baru ini?

Bagaimana kita dapat mengubah hidup kita? Apakah ada cara untuk melindungi kita dari hal-hal yang jahat dan menolong kita untuk membuat keputusan-keputusan yang tepat? Apakah kita perlu meramalkan nasib kita di tahun yang baru?

Yesus menjanjikan kepada kita kehidupan yang berkelimpahan. Dia dapat memberikan kuasa Roh Kudus dalam diri kita yang memampukan kita hidup dengan cara yang baru. Dia ingin menjadi seorang teman yang akan menolong dan menuntun kita dalam menghadapi waktu-waktu sulit yang akan terjadi di tahun 2002. Sama seperti rumah-rumah yang bersinar terang pada saat Divali, Yesus dapat menjadi terang dalam kehidupan kita. Kematian-Nya sama seperti binatang yang dikorbankan sebagai pengganti anak Abraham. Dengan kematiaan-Nya, dia mengambil alih semua hukuman setiap orang yang mau menerima-Nya. Kita dapat merasakan kebebasan di tahun 2002. Kita dapat menaruhkan harapan dan masa depan kita kepada Yesus.

Sumber: SOON, Issue no. 170



Rencana Agung Penginjilan

"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (Yohanes 14:6)

Oleh: Robert E. Coleman

Masalah dalam Metoda Penginjilan

Setiap usaha penginjilan harus diuji dengan dua ukuran: Pertama, apakah usaha itu mempunyai tujuan tertentu; kedua, apakah usaha ini mempunyai arti bagi dunia sekarang ini. Kedua hal ini saling berhubungan, dan keserasian hubungan keduanya akan menentukan makna segala kegiatan kita. Kecakapan ataupun kesibukan dalam mengerjakan sesuatu belum berarti bahwa kita telah menghasilkan sesuatu. Karena itu, dalam setiap kegiatan, kita harus selalu bertanya, "Apakah usaha ini sangat penting?", "Apakah usaha ini akan mencapai tujuannya?"

Demikian pula, semua usaha penginjilan di gereja-gereja harus terus- menerus diuji: "Apakah segala usaha kita telah dilakukan dengan sebaik-baiknya untuk memenuhi amanat Yesus?", "Sebagai hasil usaha ini, apakah jumlah kader pekerja-pekerja rohani untuk memberitakan Injil semakin bertambah?" Memang kita sibuk dengan berbagai program penginjilan, tetapi apakah usaha kita sedang mencapai tujuan yang benar?

Tujuan Menentukan Cara

Apabila kita menggunakan kedua ukuran itu -- tujuan dan arti -- kita perlu menyusun rencana kerja yang mantap untuk dilaksanakan hari demi hari dalam usaha mencapai tujuan jangka panjang. Jika kita ingin mengalami sukacita dalam melaksanakan rencana kerja yang sudah jelas ada manfaatnya itu, kita harus tahu cara bertindak yang sesuai dengan rencana Allah yang menyeluruh bagi kehidupan kita itu. Inilah yang harus kita perhatikan dalam menyusun rencana ataupun cara untuk memberitakan Injil. Seperti sebuah gedung yang dibangun menurut rencana penggunaannya, demikian pula halnya dengan sesuatu yang kita kerjakan harus mempunyai tujuan. Kalau tidak, segala usaha kita sia- sia dan kacau.

Penyelidikan dari Sumber Lain

Buku-buku dalam bidang ini jarang ditemukan. Memang hampir setiap karangan tentang kehidupan Tuhan Yesus menjelaskan juga prinsip- prinsip dasar penginjilan-Nya. Buku-buku penyelidikan mengenai metoda-metoda pengajaran Tuhan Yesus dan buku-buku yang menceritakan kehidupan serta pekerjaan-Nya, biasanya mengandung prinsip-prinsip dasar ini juga. Sebuah buku yang paling berfaedah bagi kita ialah "The Training of the Twelve" (Latihan terhadap Kedua Belas Murid) oleh A.B. Bruce. Buku ini pertama-tama diterbitkan tahun 1871, dan diredaksi kembali tahun 1899, mengisahkan pertumbuhan murid-murid di bawah asuhan Tuhan Yesus. Sebuah buku yang lain, yaitu "Pastor Pastorum" (Pelayanan Pendeta) oleh Henry Lathan, ditulis tahun 1890, mengupas cara Tuhan Yesus melatih orang-orang. Kemudian terbit beberapa buku kecil yang menguraikan pekerjaan Yesus.

Baru-baru ini ditambah beberapa buku lagi mengenai kehidupan dan pelayanan gereja, khususnya, mengenai pertumbuhan kelompok-kelompok kecil dan kesaksian kaum awam. Walaupun pengarang buku-buku itu kurang menekankan strategi penginjilan, namun kita harus berterima kasih atas penjelasan mereka mengenai prinsip-prinsip dasar dari pelayanan dan pekerjaan Tuhan kita.

Bagaimanapun juga prinsip-prinsip dasar penginjilan yang dipergunakan Tuhan Yesus ini merupakan pusat perhatian kita, karena itu kita memerlukan penyelidikan dan penjelasan lebih lanjut, khususnya dari Alkitab.

Rencana Penyelidikan Kita

Untuk dapat memahami dengan baik rencana kerja Tuhan Yesus, kita harus mempelajari Kitab Perjanjian Baru, khususnya keempat Kitab Injil. Hanya kitab-kitab inilah sebenarnya yang memberikan kesaksian yang benar mengenai Yesus dan pekerjaan-Nya (Lukas 1:2-3; Yohanes 20:30; 21:24; 1Yohanes 1:1).

Keempat Kitab Injil itu pertama-tama ditulis untuk menunjukkan kepada kita bahwa Yesuslah Mesias. Anak Allah, dan supaya kita oleh iman memperoleh hidup dalam nama-Nya (Yohanes 20:31). Tetapi, kadang-kadang kita tidak menyadari bahwa pernyataan itu juga mencakup cara hidup-Nya sendiri dan cara hidup yang diajarkan-Nya kepada orang lain. Para penulis Kitab Injil bukan sekedar melihat cara hidup Yesus yang benar, namun kehidupan merekapun telah diubah oleh kebenaran itu. Itulah sebabnya mereka menuliskan hal-hal yang telah membuat mereka meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Tentu saja tidak semua hal diceritakan. Seperti halnya para penulis sejarah, para penulis Injilpun melukiskan suatu gambaran yang lengkap dengan menonjolkan beberapa pribadi pilihan serta pengalaman mereka, dan peristiwa yang penting. Akan tetapi, kita yakin bahwa segala sesuatu yang telah dengan cermat dipilih dan dituliskan di bawah pimpinan Roh Kudus itu bertujuan untuk mengajar kita bagaimana mengikut Yesus. Itulah sebabnya riwayat kehidupan Tuhan Yesus di dalam Alkitab merupakan penuntun yang terbaik mengenai metoda penginjilan.

Rencana penyelidikan ini juga dimaksudkan untuk mengikuti langkah- langkah yang dipergunakan Tuhan Yesus seperti yang ditunjukkan dalam keempat Injil -- meneliti riwayat hidup-Nya dari berbagai sudut untuk memahami cara pelayanan-Nya, dan menganalisa rencana pelayanan-Nya secara umum untuk menanggapi makna yang lebih luas dari metoda-metoda yang dipakai-Nya dalam pelayanan. Memang tugas ini tidak mudah dan masih banyak yang harus dipelajari. Kesempurnaan Tuhan yang mulia tidak dapat dibatasi oleh pengertian manusia. Makin lama kita memandang Dia, makin jelas kita melihat kebenaran itu.

Kristuslah Teladan yang Sempurna

Tidak ada penyelidikan yang lebih menguntungkan selain penyelidikan mengenai kehidupan Kristen. Walaupun kita dapat memahami seluruhnya, kita tahu bahwa Yesuslah Guru yang sempurna. Ia tidak pernah berbuat salah. Sebagai manusia, Ia sering dicobai seperti kita, tetapi Ia tidak pernah berbuat dosa. Ia tidak dibatasi oleh keadaan tubuh manusiawi yang diterima-Nya demi kita. Sekalipun Ia tidak mempergunakan sifat keilahian-Nya, namun pikiran-Nya jernih. Ia senantiasa tahu apa yang benar, dan sebagai Manusia yang sempurna, Ia hidup sebagai Allah yang hidup di antara manusia.

Sumber:
Judul Buku: Rencana Agung Penginjilan
Penulis : Robert E. Coleman
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 7 - 10
CD-SABDA : Topik No. 18332


Kita Juga Akan Hidup

oleh: Billy Graham

Masih ada banyak tempat pemakaman yang lebih megah daripada makam yang dipakai membaringkan tubuh Juruselamat yang tidak bernyawa dua ribu tahun yang lalu. Di Mesir dapat ditemukan tempat peristirahatan Faraoh-faraoh termasyhur yang terbaring dalam kekayaan yang mewah dalam makam-makam yang dirancang secara artistik.

Taj Mahal di India merupakan makam yang paling mempesona dari makam- makam yang lain. Makam Nabi Muhammad dijaga di Medina dan dikunjungi oleh muslim-muslim yang beribadah. Di Red Square, Moscow, terbaring peti kristal Lenin yang telah dikunjungi oleh jutaan orang. Tetapi letak makam Yesus tidak diketahui dengan pasti dan tidak dapat dibuktikan.

Sementara makam-makam yang lain merupakan bukti kematian dan kebusukan, makam Kristus merupakan bukti kehidupan. Hari ini kita mendengar kembali tantangan malaikat di taman, "Mengapa engkau mencari Yang Hidup di antara yang mati?"

Walaupun masih ada para pengejek yang menuntut, "Di mana terletak bukti mengenai kehidupan yang akan datang? Di mana terletak bukti kebangkitan?", bagi kita orang-orang Kristen, kebangkitan, makam yang kosong, merupakan inti dari iman kita. Tanpa kebangkitan kita tidak memiliki apa-apa.

Para ahli sejarah menerima suatu peristiwa sebagai peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau apabila peristiwa itu dapat memperlihatkan serangkaian bukti-bukti. Kebangkitan disaksikan oleh ratusan kesaksian Perjanjian Baru yang melihat Kristus, berbicara dan makan dengan-Nya, berlutut di hadapan-Nya serta menyambut Dia sebagai Juruselamat mereka. Jika pernyataan-pernyataan mereka yang memberikan kesaksian tentang kebenaran kebangkitan tidak diterima sebagai bukti untuk mengambil kesimpulan, tidak akan ada kesaksian atau bukti apapun yang dapat menetapkan kebenaran pada masa-masa tertentu dalam sejarah.

Siapakah yang mentransformasi kumpulan murid-murid yang pertama, yang gemetar ketika bersembunyi di belakang pintu yang terkunci, ke dalam kemenangan Tuhan mereka yang tersalib? Hal ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang pemimpin yang mati. Sang pemimpin itu harus pemimpin yang hidup, Kristus, Sang Pemenang. Kuasa dan pengaruh apa yang mengubah salib dari alat penyiksa menjadi lambang yang paling mulia dan dikasihi di antara lambang-lambang yang lain? Orang-orang Romawi telah menyalibkan ribuan orang sebelum dan sesudah penyaliban Yesus di Kalvari. Jika Yesus tidak bangkit dari antara orang mati, tidak ada seorang pun yang berpikir sehat yang akan memuliakan salib yang merupakan alat penyiksa yang begitu mengerikan.

Siapakah yang memberikan kepada laskar Kristen yang begitu besar, para martir dan misionaris, kasih dan kuasa untuk menghadapi kematian, menembus hutan-hutan yang berbahaya, menyeberangi gurun pasir dan mempercepat datangnya akhir dunia dengan semangat mereka memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus? Inilah kenyataan lahiriah kebangkitan, kebenaran yang abadi mengenai penaklukan kematian oleh Sang Juruselamat.

Melalui mujizat kebangkitan-Nya dari antara orang mati, Yesus meletakkan meterai jaminan pengampunan dosa bagi kita. Kristus yang mati tidak dapat menjadi juruselamat kita. Sebuah makam yang tidak terbuka tidak akan pernah dapat membuka pintu Sorga. Dengan memutuskan mata rantai pada pintu makam, Yesus membuktikan diri-Nya sebagai penakluk dosa sepanjang zaman. Pengorbanan di kalvari telah mencapai maksudnya, tebusan yang dibayar bagi dosa saya dan anda telah diterima Allah. Haleluya! Ia-lah Sang Juruselamat.

Makam yang terbuka menjadi janji Allah bahwa anda dan saya, selama kita percaya kepada Kristus, akan hidup untuk selamanya. Masalah besar mengenai jiwa manusia mendapatkan pemecahannya pada makam yang kosong. Melalui kebangkitan Kristus kita belajar bahwa hidup kita yang singkat dan penuh dengan kebimbangan, sebagaimana kita jalani segala-galanya: kita tidak dikubur untuk kemudian menjadi busuk. Dengan tergulingnya batu besar pada pintu masuk makam Yesus, segala keraguan dan segala sesuatu yang merintangi kekekalan kita telah disingkirkan.

Jadi, dalam terang PASKAH dan dalam kuasa kemuliaan kebangkitan, biarlah Roh Allah membawa hati anda pada jaminan bahwa anda akan menerima anugerah hidup yang kekal. Kita yang percaya kepada Yesus Kristus dapat mengatakan pada dunia, "Karena Ia telah bangkit, karena Ia telah hidup, kita akan hidup juga!"

DISKUSI DAN REFLEKSI

  1. Apa yang meyakinkan anda untuk percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati?
  2. Kita memperoleh kepastian bahwa melalui iman kepada Kristus, kita akan memperoleh hidup yang kekal. Bagaimana kepastian ini mempengaruhi cara anda memandang kematian?
  3. Sebagai orang-orang Kristen kita merayakan kebangkitan setiap hari ketika menjalani hidup baru kita bersama Yesus. Perubahan- perubahan apa yang anda butuhkan agar dapat menjalani hidup baru ini dengan lebih penuh?

Sumber:
Judul Buku : KRISTUS DALAM PASKAH
Judul Artikel : Kita Juga Akan Hidup
Penulis Artikel: Billy Graham
Penerjemah : Kristina Santi Prijatna
Penerbit : BPK Gunung Mulia, 1998
Halaman : 67 - 69



Kenaikan-Nya Menerobos Keterbatasan Manusia

Manusia yang lemah selalu diikat dengan berbagai keterbatasan, baik itu keterbatasan: stamina tubuh, intelegensia kekayaan, dll. Seringkali pekerjaan Tuhan terhambat oleh adanya berbagai keterbatasan itu. Namun, kenaikan Yesus menerobos beberapa keterbatasan yang menghalangi pekerjaan Tuhan.

  1. Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan orientasi waktu.

    Murid-murid Yesus bertanya kepada-Nya, "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah Para Rasul 1:6). Pertanyaan itu menunjukkan bahwa murid-murid masih berorientasi waktu pada masa lalu, yakni pada masa kejayaan kerajaan Israel yang dipimpin oleh Daud dan Salomo.

    Ada sebagian orang yang selalu mengenang atau dihantui oleh masa lalu; baik itu masa lalu yang gemilang ataupun kegagalan. Masa lalu (sejarah) dibutuhkan untuk mengenal identitas diri. Oleh karena itu setiap siswa perlu belajar sejarah Indonesia, supaya mereka bisa mengenal identitas mereka sebagai orang Indonesia.

    Namun, jangan hanya puas atau diikat dengan masa lalu. Tuhan ingin bertanya dua hal: apa yang sedang engkau lakukan sekarang ini? Dan apa rencana masa depanmu bagi kemuliaan nama-Nya?

    Rasul Paulus menyatakan tekadnya yang penting, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan Sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13b-14).

    Ini bukan berarti, bahwa Paulus menjadi "amnesia" (lupa) terhadap masa lalunya. Tetapi konteks Filipi 3 adalah membahas tentang masa lalu Paulus yang pernah menjadi orang yang "hebat" di dalam masyarakat Yahudi. Ia pernah mencapai beberapa "prestasi" yang bisa dibanggakan menurut versi agama Yahudi. Ia disunat pada hari kedelapan; dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, anggota Farisi; pernah menganiaya orang Kristen yang dibenci oleh orang Yahudi; dan ia tidak bercacat di dalam menaati hukum Torat (Filipi 3:5-6).

    Namun, apa yang pernah dibanggakan Paulus pada masa lalu, sekarang ia anggap sebagai sampah. Sekarang, Paulus melupakan kegemilangan masa lalu yang sia-sia itu. Ia bertekad untuk mengatakan pandangannya ke depan kepada tujuan yang sudah ditetapkan oleh Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Orang yang berjiwa muda selalu berkata, "Nanti saya akan melakukan ini dan itu." Hidupnya menjadi dinamis. Tetapi orang yang berjiwa tua selalu berkata, "Dahulu aku pernah melakukan ini dan itu." Hidupnya sekarang ini mandeg dan statis.

    Bukankah ada sebagian orang yang sering berkata, "Dahulu aku pernah menjadi anggota majelis. Aku pernah menjadi guru Sekolah Minggu. "Itu bagus, namun, Tuhan bertanya kepada mereka, "Apa yang kalian lakukan sekarang ini bagi kemuliaan nama-Ku?"

  2. Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan kesukuan dan geografis.

    Murid-murid Yesus hanya memikirkan kerajaan bagi bangsa Israel. Mereka terkungkung oleh keterbatasan bangsa dan suku. Ruang lingkup merekapun hanya dibatasi oleh geografis Palestina yang luasnya hanya: 192 x 64 km saja. Padahal sasaran penginjilan tidaklah terbatas pada satu suku/bangsa saja, juga tidak terkungkung pada satu tempat/negara saja.

    Ada sebagian orang berkata, "Agama Kristen itu agamanya orang Barat." Apakah pendapat itu benar? Bukankah kekristenan muncul di Timur Tengah (Israel), bukan di Barat. Yesus Kristus bukan hanya untuk satu suku/bangsa, tetapi Dia mau menjadi Juruselamat bagi semua suku bangsa di dunia.

  3. Kenaikan Yesus menerobos keterbatasan fisik.

    Kerajaan Daud dan Salomo pernah memiliki tentara-tentara yang handal dan disegani oleh banyak bangsa di sekitarnya. Namun itu berbeda dengan Kerajaan Allah. Yesus pernah berkata kepada Pilatus, "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini." (Yohanes 18:36)

    Kerajaan Allah yang didirikan oleh Yesus dimulai dengan hal-hal yang rohani, yakni pemerintahan Allah di dalam setiap hati orang yang percaya, seperti yang tertulis di dalam Lukas 17:20b-21, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."

    Juga Paulus menjelaskan di dalam Roma 14:17, "Sebab Kerajaan Allah (terj. sehari-hari: "Sebab kalau Allah memerintah hidup seseorang") bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus."

    Karena sifatnya yang rohani, maka Kerajaan Allah tidaklah terbatas pada teritorial atau bangsa tertentu. Allah dapat memerintah hidup siapa saja dari berbagai suku bangsa, warna kulit, dan bahasa, asalkan orang itu mau taat kepada kehendak-Nya.

  4. Kenaikan Yesus menerobos sikap hidup yang terpaku pada masalah sendiri.

    "Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" (Kisah Para Rasul 1:6). Pada waktu itu orang Israel sedang dijajah oleh bangsa Romawi. Seolah-olah para murid Yesus berkata kepada-Nya, "Tuhan selesaikan dulu masalah intern bangsa kami. Bebaskan kami dahulu dari penjajahan orang Romawi." Namun Yesus menjawab, "Pergilah kamu, jadilah saksi-Ku."

    Hal yang melumpuhkan banyak gereja Tuhan di dalam ber-misi adalah suatu nasehat yang kedengarannya 'bijaksana', "Selesaikan dahulu masalah intern gereja kita; baru pikirkan program misi ke luar." padahal apabila kita mempelajari sejarah gereja, tidak ada satu gerejapun yang bisa terlepas dari masalah intern. Gereja mula-mula di Yerusalem pernah mempunyai masalah ketidakjujuran yakni dalam kasus "Ananias dan Safira" (Kisah Para Rasul 5); pernah terjadi kekecewaan dari sebagian orang dalam hal pelayanan diakonia yang terabaikan (Kisah Para Rasul 6).

    Di dalam gereja Korintus pernah terjadi "klik-klikan" di antara para anggota (1 Korintus 3); terjadi dosa "kumpul kebo" antara seorang pemuda dengan mama tirinya (1 Korintus 5); dan pernah terjadi penyalahgunaan karunia-karunia tertentu dari Roh Kudus (1 Korintus 12).

    Di gereja-gereja yang hanya memikirkan diri sendiri malah akan muncul banyak masalah intern. Sedangkan di gereja yang sibuk bermisi, para anggota mengkonsentrasikan perhatian mereka kepada pelayanan, sehingga tidak ada waktu untuk bergosip dan mencari-cari masalah di antara sesama anggota.

  5. Kenaikan Yesus menerobos kelemahan manusia.

    Pernahkah Anda bayangkan, seorang Petrus dari desa Galilea, dengan latar belakang profesi hanya sebagai nelayan yang sederhana, tetapi sekali berkotbah dapat membawa 3000 jiwa sekaligus untuk percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat (Kisah Para Rasul 2:41)?

    Ketika Paulus dan Silas sampai di Tesalonika, kaum Yahudi yang menyebut mereka sebagai "orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia" (Kisah Para Rasul 17:6c). Kalimat ini menyatakan bahwa pelayanan Saulus dan Silas berdampak sampai ke seluruh dunia.

    Apakah yang menyebabkan dampak pelayanan mereka menjadi luar biasa? Hal itu karena Tuhan Yesus yang naik ke Sorga mengirimkan Roh Kudus untuk memberikan kuasa bagi umat-Nya yang ingin melayani. Yesus berkata, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu ...."

    Kata kuasa di sini di dalam bahasa Yunaninya adalah "dunamis". Dari kata ini muncullah kata "dynamite" dalam bahasa Inggris. "Dynamite" berkuasa untuk menghancurkan bukit batu. Demikian pula kuasa Roh Kudus diberikan kepada umat-Nya agar mereka dapat melayani dengan kuasa untuk menghancurkan "bukit-bukit batu" di dalam hati manusia, sehingga mereka dapat bertobat dari kehidupan mereka yang salah.

  6. Kenaikan Yesus menerobos rasa takut yang keliru.

    Dosa telah memutarbalikkan banyak hal di dunia ini. Seharusnya manusia berani berkata benar, dan takut berdusta. Namun karena dosa, manusia menjadi berani berdusta, tetapi takut berkata benar.

    Murid-murid sebelum dipenuhi Roh Kudus, yang diutus oleh Yesus setelah naik ke Sorga, tidaklah berani bersaksi tentang Sang kebenaran. Namun setelah dipenuhi oleh Roh, mereka memiliki keberanian yang luar biasa (Kisah Para Rasul 27--31).

    Kata "saksi" didalam bahasa Yunani adalah "martus". Dan kata ini muncullah kata "martyr" di dalam bahasa Inggris. Jadi maksudnya, setiap orang yang ingin menjadi saksi Kristus, harus bersiap-sedia juga untuk menjadi martyr (bandingkan Wahyu 1:5).

  7. Kenaikan Yesus menerobos konsep yang salah tentang penginjilan.

    "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)

    Bagaimanakah penginjilan itu dilaksanakan? Apakah harus menunggu sampai semua penduduk Yerusalem diinjili dahulu, baru kemudian seluruh penduduk Yudea, lalu seluruh penduduk Samaria, akhirnya ke negara-negara lainnya. Ternyata tidak demikian. Kata sambung "dan" yang diulangi beberapa kali dalam Kisah Para Rasul 1:8 mempuyai arti serempak. Maksudnya, Yerusalem perlu diinjili, bersamaan dengan itu Yudea, Samaria, dan daerah-daerah lainnya.

    Aniaya yang menimpa jemaat Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 8:1b-3 merupakan koreksi Tuhan terhadap sikap orang Kristen pada waktu itu yang hanya mengkontrasikan pelayanan mereka di Yerusalem saja. Aniaya mencerai-beraikan mereka ke berbagai tempat di negeri Israel sambil memberitakan Injil (Kisah Para Rasul 8:4).

Sumber:
Judul Buku : Kematian, Kebangkitan dan Kenaikan Yesus ke Sorga
Judul Artikel: Kenaikan-Nya Menerobos Keterbatasan Manusia
Penulis : Dr. Roby Setiawan
Halaman : 94 - 101


Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus

"Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus" merupakan bab ketiga dari buku yang berjudul "Hidup yang Dipenuhi dengan Roh Kudus" (The Fulfilled Life Through the Holy Spirit -- diterjemahkan oleh Yayasan Lembaga SABDA yang sekaligus membuat versi elektroniknya.) Ayat-ayat pendukung yang diberikan akan menolong anda untuk lebih memahami tentang "Siapa Roh Kudus" dan "Hal-hal yang berhubungan dengan Roh Kudus".

KEKUATAN DAN KUASA YANG BESAR DARI ROH KUDUS

Kekuatan dan kuasa yang sama-sama besar dari Allah kita yang Maha Kuasa terdapat dalam Roh Kudus, karena Roh Kudus adalah Roh Allah atau juga Roh Anak-Nya Yesus Kristus.

Kekuatan dan kuasa yang besar dari Roh Kudus turun ke atas Anak Manusia ketika Dia dibabtis oleh Yohanes Pembabtis. Roh itu turun ke atas Kristus, seperti yang kita baca dalam Lukas 3:22,

"dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Mu-lah Aku berkenan."

Anak manusia datang ke dunia mengambil rupa sebagai manusia, dengan hidup seperti kita, dan menjadi sama seperti kita untuk menunjukkan kepada kita bahwa dengan bimbingan Roh Kudus kita akan bisa menyerupai Dia. Dia memberitahukan ini kepada murid-murid-Nya dalam Yohanes 14:12:

"Aku berkata kepadamu sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa. "Dan dalam melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak."

Kristus melakukan pekerjaan-Nya yang luar bisa dengan kuasa dan kekuatan Roh Kudus yang tinggal tetap di dalam Dia. Dalam kehidupan yang sementara dan terbatas di dunia ini Dia tahu bahwa untuk menjadi Juruselamat seluruh dunia, Roh Kudus harus selama-lamanya tinggal di dalam orang-orang yang mentaati panggilan Allah untuk melakukan kehendak-Nya. Kemudian Kristus berdoa kepada Bapa supaya Sang Penghibur (Roh yang membantu berdoa, atau Roh Kudus) diberikan kepada pengikut-pengikut-Nya dan supaya Dia tinggal di dalam mereka untuk selama-lamanya.

Jika kita mempunyai kerinduan yang dalam untuk mengikut Kristus dalam kehidupan rohani, maka kekuatan dan kuasa dari Roh Kudus akan bersama-sama dengan anda dan saya. Sebelum pergi meninggalkan dunia ini, Kristus berkata:

"KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Matius 28:18)
Inilah yang disebut kekuatan dan kuasa dari Roh Kudus.

Beberapa ayat Pendukung:

PERJANJIAN LAMA
Kejadian 1:2-3; 41:38-39
Keluaran 4:10-12; 40:34-35
Yosua 3:7-17; 10:12-15; 23:14-16
Hakim-hakim 3:10; 6:34; 11:29; 14:6,19; 15:14; 16:20
1Samuel 10:10-12; 11:6; 19:20-24
1Raja-raja 3:12; 4:29-34; 8:10-11; 10:1-9
2Raja-raja 2:16
2Tawarikh 5:14; 17:2
Ayub 26:13-14; 32:18-19; 33:4
Mazmur 51:12-13; 104:30; 139:7
Yesaya 9:5; 11:2; 28:6; 31:3; 32:15-16; 34:16; 40:7,13;
44:3-4; 58:11; 59:19
Yeremia 1:6-10,17-19; 5:14; 20:9
Yehezkiel 2:2; 3:12,14,24; 33:22; 36:25-28; 37:14
Daniel 4:8-9,18; 5:11-14; 6:3
Yoel 2:28
Mikha 2:7; 3:8
Zakharia 4:6
Maleakhi 3:10; 4:2-3

PERJANJIAN BARU
Matius 3:11; 12:28
Markus 13:11
Lukas 1:15-17,80; 2:40; 3:16; 4:14; 21:14-15; 24:32,49
Yohanes 7:38-39; 14:26; 16:7-15
Kisah Rasul 1:8; 2:1-21; 4:13,29-31,33; 6:8-10,15; 10:38,46-48;
11:24; 19:6
Roma 1:3-4,11; 8:2,26-27; 15:13,19
1Korintus 2:4-10; 3:1; 4:10
2Korintus 3:5-18; 9:8
Galatia 3:5
Efesus 1:17-20; 3:2-5,14-19; 6:10
Filipi 1:9-11
1Tesalonika 1:5
2Timotius 1:7
Ibrani 2:4
2Petrus 1:21
1Yohanes 2:20,27

Sumber: (Versi Elektronik -- SABDA)
Judul : Hidup yang Dipenuhi dengan Roh Kudus
Judul Asli : The Fulfilled Life Through the Holy Spirit
Judul Artikel: Kekuatan dan Kuasa yang Besar dari Roh Kudus
Penerbit : SABDA CD oleh Yayasan Lembaga SABDA (YLSA)
No. Topik : 09565


Apakah Penginjilan Sama Dengan Pertumbuhan Gereja?

APAKAH PENGINJILAN SAMA DENGAN PERTUMBUHAN GEREJA?
(Oleh: C. Peter Wagner)

Walaupun penginjilan dan pertumbuhan gereja mempunyai hubungan yang sangat erat, keduanya tidak boleh saling dicampuradukkan. Dalam lingkungan akademis di Amerika, keduanya mempunyai wadah keilmuan yang berbeda: Academy of Evangelism in Theological Education (Akademi Penginjilan dalam Pendidikan Teologi) dan North American Society for Church Growth (Lembaga Amerika Utara untuk Perkembangan Gereja). Di tempat saya mengajar, Fuller Theological Seminary, terdapat profesor di bidang penginjilan dan juga profesor di bidang pertumbuhan gereja, masing-masing menyajikan serangkaian mata kuliah yang sesuai dengan bidangnya.

"Pertumbuhan gereja meliputi segala sesuatu yang ada sangkut-paut- nya dalam usaha membawa orang-orang yang tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Yesus Kristus kepada persekutuan dengan-Nya dan kepada keanggotaan gereja yang bertanggung jawab." Inilah salah satu definisi operasional yang baku tentang pertumbuhan gereja yang telah menjadi semakin populer. Tetapi definisi di atas tidaklah cukup terinci untuk dapat menjelaskan perbedaan-perbedaan yang terdapat antara pertumbuhan gereja dan penginjilan. Definisi formal tentang pertumbuhan gereja yang paling banyak diterima adalah definisi yang tertulis dalam anggaran dasar North American Society for Church Growth, yang berbunyi:

"Pertumbuhan gereja adalah suatu disiplin ilmu yang menyelidiki sifat-sifat, perluasan, perintisan, pelipatgandaan, fungsi, dan kesejahteraan gereja-gereja Kristen dalam hubungannya dengan penerapan yang efektif dari amanat Allah untuk "menjadikan semua bangsa murid-Nya" (Matius 28:18-20). Para penyelidik pertumbuhan gereja berusaha keras untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip teologi yang abadi dari firman Allah perihal perluasan gereja dengan wawasan-wawasan yang mutakhir di bidang ilmu-ilmu sosial maupun ilmu-ilmu perilaku. Hal di atas dilakukan dengan menggunakan sebagai kerangka acuan awal, landasan-landasan tentang pertumbuhan gereja yang telah dikembangkan oleh Donald McGavran."

Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa hal-hal yang dibahas dalam pertumbuhan gereja tidak secara otomatis berhubungan dengan penginjilan. Perintisan gereja biasanya bukan merupakan bagian dari penginjilan. Proses mendiagnose kesehatan/kesejahteraan suatu gereja biasanya juga bukan termasuk bagian dari penginjilan. Banyak tentang pendewasaan warga jemaat dan penerimaan anggota-anggota baru dibahas dalam pertumbuhan gereja. Hal-hal yang berhubungan dengan karunia- karunia rohani maupun teori-teori dinamika kelompok kecil sangatlah penting bagi pertumbuhan gereja.

Gereja memperoleh anggota-anggota baru melalui tiga macam cara. Pertumbuhan gereja bisa terjadi secara biologis, melalui perpindahan anggota gereja maupun karena pertobatan jiwa-jiwa baru. Pertumbuhan secara biologis terjadi dari anak-anak dari keluarga-keluarga Kristen yang tumbuh menjadi dewasa, dilayani oleh gereja, dibawa kepada Kristus dan dipersiapkan untuk menjadi anggota gereja yang bertanggung jawab. Sebagian besar dari gereja-gereja di seluruh dunia tumbuh dengan cara yang seperti ini. Pertumbuhan karena perpindahan anggota gereja terjadi ketika orang-orang yang telah menjadi percaya meninggalkan keanggotaan mereka pada suatu gereja dan beralih ke gereja lainnya. Pertumbuhan karena pertobatan jiwa- jiwa baru merupakan hasil pemberitaan Injil kepada "orang-orang yang belum masuk gereja" sehingga mereka dapat dibawa kepada Kristus dan menjadi anggota gereja.

Penginjilan terutama berhubungan dengan perkembangan gereja karena pertobatan jiwa-jiwa baru. Tetapi, penginjilan juga berhubungan dengan pertumbuhan gereja secara biologis karena dalam arti yang sesungguhnya anak-anak dari orang-orang yang telah percaya itu juga perlu diinjili. Tetapi penginjilan pada hakikatnya tidak ada sangkut-pautnya dengan pertumbuhan gereja karena perpindahan anggota gereja. Ketiga macam pertumbuhan gereja itu, termasuk yang disebabkan perpindahan anggota gereja, sangat penting bagi pertumbuhan suatu gereja. Misalnya, jika anggota-anggota suatu gereja berpindah dalam jumlah besar, maka hal itu dibicarakan dalam pertumbuhan gereja. Pertumbuhan gereja juga membahas hal-hal yang menyebabkan suatu gereja banyak menerima pindahan dari gereja lain setiap tahunnya. Dalam hal ini, ruang lingkup pertumbuhan gereja lebih luas dibandingkan dengan penginjilan.

Tetapi masalah-masalah yang dibahas dalam penginjilan tidak selalu berhubungan dengan pertumbuhan gereja. Seperti yang segera kita lihat, ada beberapa definisi yang sangat populer tentang penginjilan yang hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan pertumbuhan gereja. Banyak penginjil profesional yang hanya tertarik untuk membawa banyak jiwa kepada Kristus, tetapi mereka tidak begitu mempersoalkan apakah nantinya orang-orang yang telah bertobat di bawah pelayanan mereka itu menjadi anggota gereja atau tidak. Metode-metode penginjilan yang khusus lebih banyak dibicarakan secara terinci dalam bidang penginjilan dibandingkan dengan pertumbuhan gereja. Sehubungan dengan hal-hal di atas, ruang lingkup penginjilan lebih luas daripada pertumbuhan gereja.

Perlambang yang populer tentang penginjilan dan pertumbuhan gereja menunjukkan kesamaan-kesamaan penting yang terdapat di antara keduanya.

PENGINJILAN dapat diklasifikasikan sebagai:

E-0 atau penginjilan nol

Proses membimbing orang-orang yang telah menjadi anggota gereja kepada suatu penyerahan hidup kepada Yesus Kristus. Sewaktu hal ini terjadi, jumlah keanggotaan gereja tidaklah bertambah, melainkan kualitasnya yang meningkat.

E-1 atau penginjilan satu

Membawa orang-orang dari kelompok budaya yang sama kepada Kristus. Untuk dapat melakukan hal ini saudara tidak perlu mempelajari suatu bahasa asing atau membiasakan diri dengan makanan yang asing ataupun mengadaptasi adat istiadat yang baru.

E-2 atau penginjilan dua dan E-3 atau penginjilan tiga

Keduanya menunjuk kepada penginjilan antarbudaya. Untuk melakukan hal ini, saudara harus melayani orang-orang dalam budaya yang berbeda dengan budaya saudara sendiri. E-2 adalah penginjilan yang ditujukan kepada orang-orang yang budayanya serupa dengan budaya saudara, seperti misalnya seorang Indonesia menginjili orang-orang Malaysia. Dalam E-3, budaya orang-orang yang saudara injili berbeda cukup jauh dengan budaya saudara. Contohnya ialah jika saudara (seorang Indonesia) menginjili orang-orang Jepang.

PERKEMBANGAN GEREJA dapat diklasifikasikan sebagai:

Perkembangan Internal

Yang dimaksud adalah peningkatan kualitas suatu gereja. Orang Kristen dapat bertumbuh dalam penyembahan, pemahaman Firman Allah, kasih terhadap satu sama lain, buah Roh, kehidupan doa dan dalam hal-hal lainnya. E-0 termasuk dalam perkembangan internal, karena kualitas gereja akan meningkat jika anggota-anggota gereja yang belum bertobat dilahirkan kembali.

Perkembangan Ekspansi

Gereja melakukan perkembangan ekspansi dengan memperluas jangkauan pelayanan ke luar dan membawa orang-orang baru dari luar ke dalam persekutuan dengan gereja, baik kedatangan mereka itu dikarenakan pertobatan ataupun karena berpindah gereja. Karena anggota-anggota baru dalam gereja itu berasal dari budaya yang sama, maka perekembangan ekspansi itu termasuk dalam E-1.

Perkembangan Ekstensi

Perkembangan ekstensi mempunyai arti yang sama dengan pembukaan atau perintisan gereja. Orang-orang yang baru bertobat itu dikumpulkan dalam jemaat-jemaat yang baru. Perkembangan ekstensi juga termasuk dalam E-1 karena tidak ada perbedaan budaya antara penginjil dan orang-orang yang diinjili.

Perkembangan Antarbudaya

Perkembangan antarabudaya juga mengacu pada pembukaan gereja-gereja baru, tetapi dalam hal ini gereja-gereja itu berada dalam budaya yang berbeda. Baik E-2 maupun E-3 termasuk dalam kategori ini, bergantung dari jauhnya perbedaan budaya antara si penginjil dengan orang-orang yang diinjilinya.

Karena adanya kesamaan-kesamaan ini, penginjilan haruslah ditangani secara sangat serius dalam merencanakan strategi perkembangan gereja.

Artikel dikutip dan diedit dari:
Judul Buku: Strategi Perkembangan Gereja
Penulis : C. Peter Wagner
Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
Halaman : 100 - 101


Motivasi Memberitakan Injil

Oleh: Pdt. Dr. Stephen Tong

Kita harus terlebih dahulu mengerti dengan jelas tentang istilah motivasi. Motivasi bukanlah tujuan, dan tujuan bukan motivasi. Motivasi adalah penyebab yang menghasilkan suatu tindakan, sedangkan tujuan adalah hasil yang diharapkan dapat tercapai melalui tindakan itu. Seringkali kita sudah mencampuradukkan kedua istilah tersebut. Misalnya, orang yang percaya kepada Yesus memperoleh hidup yang kekal. Hidup yang kekal adalah istilah hasil dari percaya, bukan motivasi dari untuk percaya. Motivasinya adalah: karena kasih karunia Allah telah dicurahkan kepada kita, Kristus telah mati bagi kita dan telah menebus kita supaya kita menjadi milik-Nya, maka terdorong oleh kasihNya itulah kita mau kembali kepadaNya. Itulah motivasi untuk percaya. Sedangkan masuk surga merupakan akibatnya atau hasilnya, bukan motivasinya.

Demikian pula motivasi dan tujuan pemberitaan Injil berbeda. Jika seseorang memiliki motivasi yang murni maka ia pasti memiliki jiwa yang lurus, baik antara Allah dan manusia, maupun antara langit dan bumi. Sebaliknya jika seseorang tak memiliki motivasi yang murni, betapapun banyaknya bakat dan talenta yang ia miliki, ia tidak akan dapat mencapai hasil yang positif menyeluruh. Motivasi memang sangat penting. Allah tidak akan menerima pelayanan yang bermotivasi campuran, oleh karena itu kita harus meniadakan unsur-unsur campuran dalam motivasi pelayanan kita.

Di dalam dunia kekristenan, banyak orang berbakat yang tidak mencapai hasil pelayanan yang seharusnya dicapainya. Salah satu penyebab utama ialah motivasi yang tidak murni. Paulus berkata, "Aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus" (2Korintus 11:2). Kesucian dan kemurnian adalah hal yang terpenting pada saat kita melayani. Motivasi yang paling dasar dan paling minimal ini haruslah kita pertahankan.

Seorang yang bermotivasi murni tidak mudah mengalami depresi pada saat putus asa, tidak mudah berkompromi pada saat menghadapi musuh yang kuat, tidak mudah goyah pada saat menghadapi banyak godaan. Sebaliknya motivasi yang benar memberi kekuatan yang besar pada saat yang paling melelahkan, dan memberi keteguhan pada waktu penganiayaan menimpa, memberi suka cita pada waktu sengsara menekan; pada saat lingkungan menunjukkan kegelapan yang paling dahsyat, cahaya di dalam hati kita makin menjadi terang. Maka motivasi yang murni dan hati nurani yang suci adalah salah satu penyebab paling penting bagi suksesnya pelayanan kita. Kalau begitu, apakah sebenarnya motivasi yang murni dalam penginjilan?

1. KEHENDAK ALLAH

Kehendak Allah adalah unsur yang menentukan eksistensi dari segala sesuatu. Selain Allah sendiri, tidak ada hal lain yang lebih besar dari kehendak-Nya. Apakah kehendak Allah? Yaitu segala sesuatu yang telah ditetapkan di dalam hati Allah. Allah adalah Allah yang kekal, yang melampaui sejarah, yang menciptakan waktu dan ruang. Segala sesuatu yang telah direncanakan dan ditetapkan dalam hati Allah melampaui waktu dan ruang adalah hal-hal yang berhubung dengan kekekalan. Kehendak Allah tidak perlu dirundingkan dengan manusia, terlaksananyapun tidak perlu tergantung pada kerja sama manusia dengan-Nya. Dia adalah Allah yang melakukan segala sesuatu menurut kehendak sendiri. Sebagaimana perintah Raja harus dilaksanakan, terlebih lagi kehendak Allah pasti Dia genapi.

Orang Tionghoa menyebut perintah Raja sebagai perintah atau kehendak kudus. Karena itu ketika utusan raja membawa perintah raja dan memasuki sebuah kota, begitu juga menyebut perintah kudus, maka berlututlah kepala daerah dan semua orang kepadanya. Bolehlah mereka berkata, "Perintah raja yang bagaimana? Dapatkah kita mendiskusikannya sebentar, supaya kita tahu apakah perintah itu dapat dilaksanakan atau tidak?" Tentu tidak mungkin hal seperti itu terjadi. Yang ada hanya kewajiban untuk mematuhi, rakyat tidak diberi kesempatan untuk berdiskusi. Jika raja dunia yang salah berbuat demikian, lalu bagaimanakan sikap kita terhadap Allah yang tidak mungkin berbuat salah?

Saya tidak terlalu sering menggunakan istilah "kehendak", karena banyak orang Kristen yang ceroboh memakai istilah "kehendak Allah" atau "pimpinan Roh Kudus". "Dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yohanes 2:17). Sebab itu kita harus membedakan dengan tegas antara kehendak dan pimpinan.

Kehendak Allah berbeda dengan pimpinan Roh Kudus, namun keduanya mempunyai hubungan. Pimpinan Roh Kudus akan membawa manusia memasuki kehendak Allah yang kekal; pimpinan adalah proses, sedangkan kehendak adalah ketetapan. Segala sesuatu yang direncanakan Allah dalam kekekalan merupakan keputusan yang tidak dapat diubah, tetapi bagaimana mungkin manusia yang berdosa dapat masuk ke dalam kehendak Allah? Untuk itu perlu pimpinan Roh Kudus. Siapakah yang dapat dipimpin oleh Roh Kudus kecuali anak-anak Allah? (Roma 8:14) Roh bukan saja memperanakkan kita, Ia juga memimpin kita yang diperanakkan-Nya masuk ke dalam kehendak Allah untuk disempurnakan- Nya.

Karena memberitakan Injil adalah hal yang sudah Allah tetapkan dalam kekekalan dan dipercayakan kepada kita untuk melaksanakannya, maka orang-orang yang dipredestinasikan oleh Allah akan menerima Injil dan menjadi anak-anak Allah. Apakah doktrin ini menghambat pemberitaan Injil? Tidak! Sebab predistinasi Allahlah yang menjamin kita berhasil dalam pemberitaan Injil. Jika kita sungguh-sungguh tahu bahwa penginjilan adalah menjalankan kehendak Allah, maka kita tidak terpengaruh oleh hasil kita. Bukankah Nuh sudah menjadi contoh bagi kita? Setelah 120 tahun memberitakan firman, yang menerima hanya keluarganya sendiri. Itu sebabnya saya anggap Nuh penginjil yang teragung sepanjang sejarah, karena dia memberitakan berdasarkan kehendak Allah, bukan terpengaruh oleh hasil pemberitaannya. Sekalipun demikian, faktanya pada saat kita memberitakan Injil tidak mungkin tanpa ada hasil.

2. PENGUTUSAN KRISTUS

Setelah Tuhan Yesus menang atas kuasa maut, Dia lalu mengutus gereja-Nya untuk memberitakan Injil. Jadi kita memberitakan Injil karena Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan telah mempercayakan tugas penginjilan kepada kita. Paulus berkata, "Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, ... pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku" (1Korintus 9:17). Tuhan mempercayakan tugas itu pada diri kita, betapa mulia hal ini dan menakutkan! Siapakah yang telah menyerahkan tugas ini kepada kita? Pencipta semesta alam, Tuhan yang telah menyelamatkan saya, yang akan menghakimi saya bahkan menghakimi seluruh dunia! Tuhan yang begitu terhormat dan mulia menyerahkan tugas itu kepada kita, maka kita pun patut memiliki rasa tanggung jawab yang serius terhadapnya.

Gerakan penginjilan sepanjang sejarah merupakan kepatuhan anak-anak Tuhan kepada pengutusan Kristus ini. Sejak saat rasul-rasul menerima Amanat Agung di bukit Galilea sampai sekarang kita melihat dalil yang tidak pernah berubah, yaitu barang siapa mematuhi pengutusan ini, mereka menerima pertolongan Roh Kudus. Mereka menikmati penyertaan Allah dan mereka menjadi rekan Allah untuk memberitakan Injil kepada umat manusia.

3. DORONGAN KASIH KRISTUS

Paulus menyebutkan dengan jelas, "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8). Di sini terlihat bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka" (2Korintus 5:15).

Ketika kasih hadir dalam hidup seseorang, dia akan menemukan bahwa hidupnya dilingkungi, dipegang dan diliputi oleh kasih. Kasih telah menguasai kebebasannya, juga telah menentukan arah langkahnya. Oleh sebab itu dirinya sendiri rela ia serahkan kepada Tuhan, dan segenap potensi yang ada pada dirinya ia serahkan sepenuhnya. Dengan kasih Allah inilah beribu-ribu misionaris rela meninggalkan keluarga mereka, bangsa mereka, dan menuju tempat yang jauh untuk memberitakan Injil.

Pada tahun 1969 saya pertama kali melintasi benua Asia menuju Eropa. Pada saat melewati Turki, karena terdorong oleh rasa ingin tahu, saya melihat keadaan di bawah melalui jendela pesawat terbang. Di situ terbentang propinsi Galatia, Atalia dan daerah-daerah lain, yang pernah dijelajahi oleh Paulus. Baru saya tahu daerah itu begitu tandus, begitu luas, begitu kering. Di daerah padang belantara yang kering kerontang semacam ini, bisakah kita membayangkan bagaimana Paulus telah pergi dengan kaki sebagai kendaraannya untuk memberitakan Injil. Jika bukan kasih Kristus yang mendorongnya, mungkinkah Paulus rela berkorban seperti ini?

Dalam hati para rasul terdapat suatu tekad yang agung yaitu pergi, pergi! Paulus pergi, Petrus pergi, Yohanes pergi, Thomas pergi. Pergi ke Afrika Utara, ke Arab, ke Eropa, ke India, ke Asia kecil. Baik di padang belantara, di hutan rimba mereka hanya tahu pergi, tanpa bertanya kemana mereka harus pergi, kapan mereka kembali, apakah dijamin dapat kembali. Asalkan bisa pergi, hati mereka sudah cukup puas. Bagi orang yang rela mati di tangan Tuhan, adakah tempat yang tak dapat dikunjunginya? Manusia semacam ini semakin berat jatuhnya, semakin besar aniaya yang dideritanya, justru mendesak dia untuk menyelinap ke dalam lengan Tuhan yang penuh kasih dan kelembutan. Itulah sebabnya mereka rela pergi.

Di sinilah letak rahasia rohani: berapa besar kasih seseorang terhadap Tuhan tergantung sampai berapa dalam dia menyelami kasih dan pengorbanan Tuhan di bukit Golgota. Bila seseorang sudah mengalami kasih itu dan menyelaminya dengan sungguh-sungguh, dengan sendirinya dia dapat mengasihi Tuhan dengan lebih mendalam.

Paulus mengalami pelbagai mara bahaya, baik yang berasal dari banjir, penyamun, saudara-saudara palsu, di darat, di laut, dari orang Yahudi dan bukan Yahudi; dalam keadaan telanjang, dihina, sengsara, kedinginan, diadili dan dipukul, mengalami penganiayaan dan penderitaan, tetapi dia tetap memberitakan Injil. Apakah sebabnya dia rela menanggung semua itu? Gilakah dia? Bodohkah dia? Sama sekali tidak! sebaliknya, Paulus tergolong kaum intelektual agung pada zaman itu. Sampai hari ini dia tetap termasuk salah seorang dari puluhan pemikir yang paling besar pengaruhnya terhadap umat manusia dalam sejarah. Tokoh yang demikian besar, ternyata telah melalui suatu kehidupan yang amat sangat menderita -- dia dipukuli, dicaci-maki, dan dianiaya. Apakah sebabnya dia mau menderita penganiayaan dunia yang sementara ini? Paulus sendiri pasti merasa heran, sehingga dia menjawab, "Sebab kasih Kristus yang menguasai kami ...." (2Korintus 5:14; dalam terjemahan lain: menggerakkan dan mendorong). Sebagaimana seorang ibu yang melahirkan tidak lagi bisa tahan ketika saatnya sudah tiba, demikian juga orang yang didorong oleh kasih Tuhan tak mungkin menahan diri untuk memberitakan Injil. Itulah arti dari "menggerakkan dan mendorong."

4. PERASAAN BERHUTANG

Orang Kristen adalah orang yang menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang. Dalam Alkitab kita melihat hutang kemuliaan kita terhadap Allah, hutang kasih kita terhadap sesama, dan lebih dari itu kita masih mempunyai hutang terhadap dunia, yaitu hutang Injil. Bila gereja hari ini tidak maju, itu adalah karena gereja tidak memiliki perasaan berhutang. Paulus berkata, "Aku berhutang baik kepada orang Yunani, maupun kepada orang bukan Yunani, baik kepada orang terpelajar, maupun kepada orang tidak terpelajar" (Roma 1:14). Perasaan berhutang semacam inilah yang selalu mendesak Paulus memberitakan Injil kepada manusia dari lapisan mana saja. Bagaimanakah dengan kita? Apakah kita juga menuju kesempurnaan melalui perasaan berhutang ini, atau merasa diri sudah kaya sehingga menuju kepada kemiskinan rohani kita? Bukankah kita yang seharusnya menginjili dunia, tidak peduli siapa mereka, baik kaum miskin, kaum kaya, orang intelektual, maupun rakyat jelata, yang sama-sama membutuhkan Injil? Bukankah perasaan berhutang ini harus diikuti oleh pembayarannya, yakni melaksanakan penginjilan? Apakah kita sudah memperlengkapi diri untuk mengisi kebutuhan setiap lapisan masyarakat dengan Injil secara relevan?

5. PENGHARAPAN MANUSIA

Alkitab dengan jelas memberitakan bahwa, "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya" (Matius 24:14). Jadi apakah yang harus dilakukan oleh orang-orang yang mengharapkan kedatangan Tuhan kembali? Ada dua hal yang harus kita lakukan: yang pertama, menyucikan diri, dan yang kedua, menyelesaikan pekerjaan-Nya melalui pemberitaan Injil.

Bagaimanakah kita harus menyambut kedatangan Tuhan kembali? Bukankah dengan hati yang bersih dan tangan yang suci? Maka kita harus meniadakan kejahatan dari hati kita dan menghapus tipu daya dari tangan kita, menghapus segala kenajisan dan hati yang bercabang, supaya kita dapat menantikan kedatangan Yesus Kristus kembali dengan tulus, dengan tekad yang bulat, dengan hati nurani yang bersih, dengan kehidupan yang suci. Alkitab hampir tidak menyinggung berdasarkan apakah kita dipakai oleh Tuhan, kecuali menjadi kudus. "Jika orang menyucikan dirinya dengan hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia" (2Timotius 2:21). Taat kepada Roh Kudus, membiarkan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, dengan itulah baru kita dapat mempunyai kehidupan yang kudus dan menghasilkan buah-buah Roh Kudus.

Hal yang kedua yaitu memberitakan Injil sampai Kristus datang kembali. Karena kedatangan Kristus yang kedua kali itu bukan dengan status Juruselamat, bukan lagi sebagai utusan perdamaian, melainkan sebagai Hakim yang terakhir, penghakiman dari yang Maha Kuasa. Itu sebabnya kita harus memberitakan firman Tuhan dengan serius, menasehati orang agar bertobat kembali kepada Kristus.

Sumber:
Judul Buku : Konsultasi Pelayanan
Judul Artikel: Motivasi Memberitakan Injil
Penulis : Pdt. DR. Stephen Tong
Penerbit : LPMI dan Gereja-gereja Mitra
Halaman : 21 - 26



Mengucap Syukur Setiap Pagi

Oleh: Pdt. Bob Jokiman

Bulan Nopember setiap tahun di Amerika dikenal sebagai bulan Pengucapan Syukur ("Thanksgiving Month") karena "Thanksgiving Day" jatuh pada hari Kamis terakhir setiap bulan Nopember. Gereja-gereja mengadakan acara khusus pada Bulan "Thanksgiving" tersebut, tidak ketinggalan Gereja kita yang sudah mentradisikan mengadakan retreat setiap tahun. Demikian pula dengan persekutuan-persekutuan dalam Gereja, masing-masing mengadakan acara khusus dengan makanan khusus. Keluarga-keluarga juga tidak mau ketinggalan mengadakan acara "Thanksgiving", menghidangkan kalkun panggang sambil mengundang sanak-keluarga serta teman.

Mengadakan acara-acara "Thanksgiving" selama bulan Nopember adalah baik dan perlu dilestarikan. Namun bagaimana setelah bulan Nopember berlalu? Masihkah kita terus mengucap syukur? Dapatkah setiap pagi kita mengucap syukur atau kita hanya mengucap syukur pada bulan Nopember? Umumnya kita mengucap syukur pada "Thanksgiving Day" karena pemeliharaan dan kecukupan yang telah diberikan Allah selama setahun tersebut. Namun apabila kita mau memperhatikan pula berkat- berkat rohani yang kita terima dari Tuhan maka saya percaya kita akan mengucap syukur setiap pagi.

Adapun berkat-berkat rohani tersebut paling sedikit ada tiga hal yang patut kita syukuri. Yang pertama bersyukurlah karena kita diangkat menjadi anak-anak Allah (Yohanes 1:12). Pernahkah Anda merindukan untuk memperoleh kedudukan yang tinggi dalam hidup ini? Tidak semua kita menjadi orang yang berkedudukan tinggi dalam hidup ini, namun kita semua dapat menjadi anak-anak Allah. Menjadi anak- anak Allah bukan saja berarti bahwa kita mendapat hidup baru dan kekal serta layak masuk ke surga kelak, tetapi juga selama di dunia kita menjadi anggota keluarga Allah, dimana Allah menjadi Bapa kita sehingga kita dapat dengan leluasa bersekutu atau bergaul dengan Allah. Begitu tinggi dan suci kedudukan ini yang kita peroleh hanya dengan beriman pada Tuhan Yesus Kristus dan yang tidak dapat dibandingkan dengan kedudukan apapun juga di dunia ini. Untuknya kita patut bersyukur setiap pagi! Adakah kita menggunakan kesempatan untuk bergaul dengan Allah melalui doa setiap pagi?

Yang kedua, kita patut bersyukur setiap pagi karena kita dipilih menjadi sahabat-sahabat Kristus. Pernahkah Anda merindukan untuk bergaul dengan orang-orang besar dan termasyur, menjadi sahabat para selibriti dunia ini? Tidak semua kita dapat menjadi kawan para selibriti tersebut, namun kita semua dapat menjadi sahabat-sahabat Kristus (Yohanes 15:15-16a). Tuhan telah menyampaikan apa yang didengar-Nya dari Allah Bapa dalam Alkitab. Rahasia-rahasia dan jawaban-jawaban terhadap masalah kehidupan terdapat dalam Firman- Nya. Untuk itu kita patut bersyukur setiap pagi! Adakah kita menggunakan kesempatan untuk bergaul dengan Allah setiap pagi dengan mempelajari dan menaati Firman Allah?

Yang ketiga, kita patut bersyukur setiap pagi karena kita dipanggil menjadi pelayan-pelayan Kerajaan Allah. Pernahkah Anda merindukan untuk melakukan suatu pekerjaan yang agung dan mulia dalam hidup ini? Ketika remaja saya sangat senang membaca riwayat hidup dan mengagumi banyak tokoh sejarah, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Mereka telah mengerjakan tidak sedikit karya-karya yang agung dan mulia. Tidak semua kita dapat menjadi seorang "tokoh". Namun kita semua dapat menjadi pelayan-pelayan Kerajaan Allah (1Petrus 4:10). Menjadi pelayan-pelayan Kerajaan Allah bukan berarti setiap kita menjadi pendeta, melainkan setiap kita melayani sesuai dengan karunia masing-masing. Bila kita melakukannya dengan setia, maka hal itu akan memberi makna yang agung dan mulia bagi hidup kita, sekalipun kita tidak terkenal dan termasyur. Untuk itu kita patut bersyukur setiap pagi! Adakah kita memanfaatkan karunia tersebut untuk melayani sesama setiap hari? Semoga Tuhan menolong kita bukan hanya setahun sekali mengucap syukur, melainkan setiap pagi. Amin.

Dikutip dari sumber:
Judul Buletin : Newsletter GKI Monrovia, Tahun XI No. 11, Nop. 1997
Judul Renungan: Mengucap Syukur Setiap Pagi
Penulis : Pdt. Bob Jokiman
Penerbit: GKI Monrovia, Monrovia, CA
Situs: http://www.gki.org/


Doa Paulus Untuk Orang-Orang Kristen Di Tesalonika

(1Tesalonika 3:9-13)

Ini merupakan doa yang menyatakan bahwa Paulus dapat kembali ke Tesalonika untuk "menambahkan apa yang masih kurang pada iman" mereka (ayat 10).

Doa Paulus biasanya dimulai dengan ucapan syukur Allah atas mereka semua dan segala sukacitanya di hadapan Allah. Paulus bersukacita atas segala sesuatu yang telah dilakukan Allah di dalam mereka. Itu adalah pekerjaan Allah dan Paulus tidak mengambil kehormatan bagi dirinya sendiri. Suatu gagasan yang baik jika kita ingin menegur, maka mulailah dengan apa yang dapat kita puji.

Paulus berdoa siang dan malam bagi kesejahteraan rohani mereka dan supaya Allah memungkinkan dia mengunjungi kembali orang-orang Kristen di Tesalonika.

Paulus bukan hanya ingin sekadar mengunjungi mereka, tetapi ia menginginkan supaya ia dapat mengajar dalam kesempatan itu untuk menyempurnakan apa yang masih kurang pada iman mereka. Sungguh hal itu merupakan suatu tujuan yang agung! Doa Paulus merupakan suatu doa kerinduan hati supaya iman mereka tetap teguh menghadapi ujian dari Allah.

Paulus berdoa supaya Allah membuka jalan baginya untuk bertemu dengan mereka. Paulus berdoa kepada Allah Bapa kita dan kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Ada suatu persamaan di sini. Paulus mempersatukan kedua nama itu. Ia menekankan ketuhanan Yesus Kristus. Bukankah Yesus mengatakan, "Aku dan Bapa adalah satu" (Yohanes 10:30)? Sesungguhnya, Allah adalah Bapa dari semua orang yang beriman dalam Yesus Kristus dan telah menerima Dia sebagai Juruselamatnya pribadi.

Paulus berdoa supaya orang-orang Kristen di Tesalonika bertambah- tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain. Sebagaimana kasih karunia Allah berkelimpahan di dalam diri mereka, begitu juga kasih mereka harus berkelimpahan satu sama lain. Kasih yang didoakan Paulus untuk mereka harus dapat mencapai semua orang, sekalipun itu untuk orang yang tidak menyenangkan.

Paulus berdoa supaya Allah menguatkan hati mereka supaya tak bercacat dan kudus di hadapan Allah pada waktu kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus. Paulus ingin agar kekudusan mereka menjadi sempurna. Tak bercacat dan kudus mengandung arti dipisahkan bagi Allah, menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Etika hidup yang tinggi semacam inilah yang dituntut dari orang Kristen. Penyerahan diri orang Kristen kepada Allah harus sempurna dan sepenuh hati.

Paulus berdoa supaya mereka tidak bercacat apabila Kristus datang sebagaimana dinyatakan dalam 1Tesalonika 4:13-17. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali merupakan dorongan yang kuat untuk kekudusan hidup (1Yohanes 3:3) dan untuk memenangkan jiwa. Apakah Anda berdoa, seperti Paulus, bagi mereka yang Anda bimbing kepada Kristus?

Sumber:
Judul Buku: Doa-doa dalam Perjanjian Baru
Judul Bab : Doa dalam Surat Paulus yang Pertama Kepada Jemaat di Tesalonika
Penulis : J. Wesley Brill
PENERBIT : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1993
CD-SABDA : Topik 18177


Dimanakah Anak Itu?

Oleh: Luis Palau

Beberapa tahun yang lalu sebuah keluarga kaya memutuskan untuk mengadakan upacara pembaptisan bayi di rumah mereka yang megah. Lusinan tamu diundang untuk menghadiri upacara tersebut dan mereka semua tiba dengan mengenakan pakaian-pakaian model terbaru. Setelah menyimpan mantel-mantel elegan mereka di sebuah tempat tidur, di kamar tidur yang ada di ruang atas, para tamu dihibur secara meriah. Akhirnya tiba waktunya puncak acara dari pertemuan tersebut, yaitu upacara pembaptisan bayi. Namun dimanakah bayi itu? Tidak ada seorang tamu pun yang tahu.

Pengasuh bayi itu segera berlari ke ruang atas, dan dia kembali dengan wajah yang putus asa. Setiap orang mencari dimana bayi itu. Lalu seseorang berteriak karena telah melihat bayi itu sedang tertidur di salah satu tempat tidur. Bayi itu tertidur dan tersembunyi dibalik tumpukan mantel, jaket, dan mantel bulu dari para tamu. Obyek perayaan saat itu telah terlupakan, terabaikan, dan nyaris tersembunyi!

Saya teringat cerita itu saat berjalan-jalan di sepanjang jalan kota yang sibuk selama musim liburan ini. Di setiap tempat saya lihat banyak lampu, hiasan-hiasan dari kertas perak dan kertas emas, dan juga hiasan-hiasan natal. Banyak orang berbelanja dan membeli hadiah-hadiah mahal yang kemungkinan baru lunas pembayarannya tahun depan. Dan saya bertanya pada diri sendiri, "Apakah ini arti Natal?"

Dimanakah Anak yang Ulang Tahun-Nya Kita Rayakan Ini?

Pada Natal pertama, orang-orang majus dari Timur datang ke Betlehem mencari bayi Kristus. Mereka datang untuk mencari Seseorang yang akan menjadi Juruselamat dunia. Saat ini, jika kita mencari Yesus di rumah-rumah dan di jalan-jalan yang ada di kota kita, akankah kita menemukan-Nya?

Natal yang Lain

Seperti yang Anda ketahui, sebenarnya ada dua jenis Natal. Jenis Natal pertama adalah komersialisme, makan-makan dan belanja yang berlebihan. Natal jenis kedua adalah kasih, sukacita, harapan, damai dan penghormatan kepada Dia yang mengundang kita untuk merayakan Ulang Tahun-Nya.

Menurut Alkitab, Natal sesungguhnya adalah pernyataan yang jelas tentang kasih Allah:

"Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita" (1Yohanes 4:9-10).

Yesus Kristus adalah anugerah kasih Allah kepada dunia. Dia turun ke dunia, dilahirkan dari seorang anak dara, dan tinggal bersama manusia. Bayi Kristus yang lahir pada Natal pertama telah menjadi Seseorang yang mengorbankan diri-Nya sampai mati guna menebus dosa dunia dan bangkit kembali karena kuasa Allah. Itulah alasannya, seperti yang tertulis dalam Roma 6:23, "... karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."

Untuk mengalami dan menerima karunia Allah yaitu hidup yang kekal, Anda harus menerima Kristus. "... semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yohanes 1:12).

Suatu Hadiah Natal bagi Anda

Tahun ini, Natal akan menjadi liburan paling menyenangkan yang pernah Anda alami. Jika Anda menerima hadiah Allah -- yaitu Kristus -- maka Natal ini akan menjadi sungguh berarti bagi Anda. Anda akan merasa damai bersama Allah dan kedamaian itu ada dalam hati Anda, suatu damai yang berbeda dengan damai yang diberikan oleh dunia.

Dimanakah Bayi Kristus dalam Natal Anda?

Cara terbaik yang saya tahu untuk menempatkan Kristus kembali dalam Natal Anda hanya dengan mengakui semua dosa kita kepada Allah, dengan iman kita percaya bahwa kematian Kristus adalah untuk membayar semua dosa itu, dan menerima hadiah cuma-cuma dari-Nya yaitu hidup yang kekal. Jika itu keputusan Anda, maka katakan hal itu sekarang kepada Allah dalam doa dimanapun Anda berada. Anda juga dapat menggunakan doa berikut ini:

"Bapa kami di surga, saya ingin merayakan Natal yang sesungguhnya. Saya percaya apa yang dilakukan Putra Natal, Yesus Kristus, bagi saya di kayu salib ketika Dia mati bagi dosa-dosa saya. Saya belum mengerti sepenuhnya tentang hal itu, namun saya menerimanya karena iman. Saya ingin menjadi anak-Mu juga. Saya mengundang-Mu untuk masuk dalam hidup saya. Karena Engkau telah mengampuni saya, maka saya mau mengikuti-Mu dan menaati-Mu selamanya." Amin.

Sumber: Luis Palau Evangelistic Association (LPEA)
==> http://www.palau.org/articles/

[Cat.Red.: Simak kolom Sumber Misi untuk ulasan mengenai situs LPEA dan artikel lain tentang "Ide-ide Penginjilan di Hari Natal".]

e-JEMMi 51/2002

Menghargai Natal Di Dalam Hati Kita

Oleh: James Montgomery Boice

Bagaimana kita seharusnya merayakan Natal? (Renungkan Lukas 2:8-20)

Jika Anda bukan orang Kristen, cara yang terbaik untuk merayakan Natal adalah dengan menjadi orang Kristen, yaitu dengan percaya kepada Tuhan Yesus, meminta Dia agar masuk ke dalam hati Anda dan mengambil keputusan untuk mau mengikut Dia sebagai murid-Nya.

Tetapi mungkin Anda sudah menjadi orang Kristen. Mungkin Anda sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau demikian, bagaimana seharusnya Anda merayakan Natal?

Kisah tentang Maria, para gembala, dan para malaikat akan memberikan beberapa petunjuk.

PERTAMA, para gembala "memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu" (Lukas 2:17). Ini berarti mereka menjadi saksi-saksi Tuhan Yesus. Bahwa Allah memakai mereka untuk menyebarluaskan berita surgawi ini, tentunya membuat mereka tercengang. Para gembala merupakan orang dari kalangan bawah yang dianggap rendah di dalam masyarakat Palestina pada awal abad pertama. Keadaan mereka menyebabkan mereka tidak dapat mengikuti upacara-upacara, yang mempunyai arti yang sangat penting bagi orang-orang yang beragama. Para gembala juga dianggap tidak dapat dipercaya dan bahkan tidak diperkenankan memberi kesaksian di depan pengadilan.

Tetapi para malaikat datang kepada para gembala membawa berita yang besar, yaitu bahwa Kristus Tuhan -- Juruselamat dunia -- telah lahir di kota Daud (ayat 11). Dan bertentangan dengan anggapan orang lain terhadap diri para gembala, para gembala itu dapat mengerti bahwa orang yang sesat itu perlu mendengar berita besar itu. Keadaannya masih tetap sama sampai sekarang. Tuhan Yesus adalah Juruselamat dunia. Dan tanpa Tuhan Yesus manusia masih tetap dalam keadaan tersesat.

KEDUA, orang yang mendengar berita itu "heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka" (ayat 18). Orang pada zaman sekarang hampir tidak heran terhadap apapun juga, tetapi sulit sekali untuk dapat melihat orang yang dapat memahami apa yang dimaksudkan dengan Natal tanpa ia menjadi heran dan kagum. Natal adalah kisah tentang Allah yang menjadi manusia, seperti kita, supaya dapat menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Kebenaran ini sungguh sangat mengherankan, sehingga orang percaya, termasuk para gembala! Tetapi, apakah Anda juga merasa heran dan kagum apabila Anda memikirkan tentang apa yang telah dilakukan Allah untuk kita? Ya, masih ada banyak hal mengenai "Allah yang menjadi manusia" yang tidak dapat kita pahami, tetapi seandainya kita dapat memahami sedikit saja tentang hal ini, kita seharusnya masih merasa heran dan kagum.

KETIGA, "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya" (ayat 19). Apa yang dilakukan Maria sudah lebih daripada sekedar heran, meskipun ia merasa kagum dan bertanya-tanya. Wanita yang luar biasa ini juga mencoba mengingat segala sesuatu yang terjadi pada dirinya pada hari-hari itu dan membayangkan apa artinya setiap peristiwa itu. Maksudnya Maria menyediakan waktu untuk memikirkan tentang hal-hal rohani, sebagaimana yang seharusnya kita lakukan. Natal adalah waktu yang sangat sibuk. Tetapi waktu kita akan digunakan sia-sia, apabila kita membiarkan diri terlibat dalam segala kesibukan Natal sehingga kita tidak dapat membaca cerita Natal berulang-ulang serta merenungkannya.

KEEMPAT, "Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat" (ayat 20). Ini berarti bahwa mereka tidak hanya berbicara kepada orang lain tentang kelahiran Tuhan Yesus. Mereka juga berbicara kepada Tuhan Allah dan memuji Dia untuk hal ini. Mereka memandang kelahiran Tuhan Yesus sebagai sesuatu yang telah dilakukan Allah dan mereka hendak berterima kasih kepada-Nya.

Di sini ada satu saran. Seandainya Anda ingin mencoba merayakan Natal seperti Maria dan para gembala, janganlah mulai dengan ayat 17, yang mengatakan agar kita menceritakan kepada orang lain tentang Tuhan Yesus. Mulailah dengan ayat 18-20, yang mengatakan agar kita merasa heran terhadap kelahiran Tuhan Yesus, merenungkan apa artinya, dan memuji Allah untuk hal itu. Pujilah Tuhan, karena Ia mengutus Tuhan Yesus. Coba Anda pikirkan, mengapa Tuhan Yesus datang dunia pada malam yang dingin ribuan tahun yang lalu? Dan biarlah kita merasa heran dan kagum atas kelahiran, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Tuhan Yesus sehingga Anda tidak perlu mengalami penghakiman Allah yang adil atas doa-doa Anda, sebaliknya Anda telah diselamatkan dari semua itu.

Apabila Anda sudah dengan sungguh-sungguh memikirkan hal ini dan berterima kasih kepada Allah atas itu semua, kembalilah kepada ayat 17 yang menyatakan agar Anda menceritakan kepada orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh para gembala itu. Dan akhirnya, pikirkan tentang apa yang dapat Anda berikan kembali kepada Tuhan atas karunia-Nya yang sangat menakjubkan itu.

PERTANYAAN DAN RENUNGAN

  1. Sebutkan beberapa hal yang membuat Anda paling merasa takjub mengenai cerita Natal?
  2. Jika seseorang berkata kepada Anda, "Katakan, mengapa Allah mengutus Tuhan Yesus ke bumi ini?", apa yang akan Anda katakan?
  3. Dapatkah Anda mengingat akan seseorang yang perlu Anda beritahukan tentang cerita Natal yang menakjubkan itu? Bagaimana Anda akan melakukan hal ini selama masa Advent?

Sumber:

Judul Buku : Kristus di dalam Natal -- Perayaan Advent di Tengah Keluarga
Judul Artikel: Menghargai Natal di dalam Hati Kita
Pengarang : James Montgomery Boice
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1996
Halaman : 205 - 207

e-JEMMi 52/2002

Makna Kebangkitan Kristus

Rasul Paulus, salah seorang pengikut Kristus yang sebelum bertobat menjadi penantangnya bahkan membunuh orang-orang Kristen, menulis bahwa jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita (baca: 1Korintus 15:17). Peristiwa kebangkitan tersebut sangat penting karena Kebangkitan Kristus:

  1. Mengesahkan bahwa Tuhan Yesus Kristus, adalah Allah yang tidak dapat ditaklukkan oleh maut, bahkan maut telah dikalahkannya (baca Yohanes 11:25). Oleh karena itu, barangsiapa yang percaya kepada-Nya sekalipun akan mengalami kematian jasmani, namun akan tetap hidup dalam roh bersama Tuhan.
  2. Menyatakan bahwa iman umat Kristen didasarkan pada fakta sejarah dan bukanlah mitos (baca 1Korintus 15:3-8).
  3. Mengukuhkan bahwa pernyataan Kristus yang mengatakan bahwa pada Hari yang Ketiga Ia akan bangkit dari kematian. Inilah keunikan Kristus, yang tidak dimiliki penganjur agama lainnya (baca Kisah Para Rasul 2:23-24).
  4. Menunjukkan bahwa penebusan Kristus di kayu salib untuk membenarkan orang berdosa sehingga mereka bisa diterima oleh Allah Bapa (baca Roma 4:25).
  5. Merupakan inti Injil, tiada berita sukacita yang sempurna dan sejati bagi umat manusia bila Kristus tidak dibangkitkan (baca 1Korintus 15:18-19).
  6. Memungkinkan umat manusia mengenal dan menemukan-Nya pada masa kini, karena Dia tetap hidup (baca Wahyu 2:8).
  7. Menjamin kebangkitan orang-orang percaya di masa yang akan datang, karena Dialah buah sulung kebangkitan (baca 1Korintus 15:20-22).
  8. Mengalahkan kuasa maut. Sekalipun masih ada keresahan dalam menghadapi kematian, namun kita harus melenyapkan ketakutan terhadap apa yang akan terjadi diseberang kematian tersebut (baca 1Korintus 15:55-56; Ibrani 2:14-15).
  9. Memberi kemenangan bagi orang-orang percaya, memperoleh kuasa ilahi untuk mengalahkan kejahatan (baca Efesus 1:18-21).
  10. Menjadi model bagi kebangkitan orang-orang percaya dengan tubuh yang mulia dalam kehidupan yang tidak berkeputusan, kekal dan abadi (baca 1Korintus 15:35-44,49).
  11. Menegaskan akan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya, untuk membawa umat manusia pada akhir sejarah (baca Kisah Para Rasul 17:31).
  12. Mendorong orang-orang percaya untuk tidak goyah dalam iman dan giat bekerja bagi kerajaan Allah, mengabarkan Injil Keselamatan Tuhan Yesus Kristrus, karena mengetahui bahwa semua jerih lelah tersebut tidak sia-sia (baca 1Korintus 15:58).

Tatkala murid-murid Tuhan Yesus dalam ketakutan yang hebat pada malam hari Kebangkitan Tuhan, pada PASKAH Pertama, tiba-tiba Tuhan Yesus muncul di tengah-tengah mereka dengan mengucapkan sebuah kalimat yang sungguh menjadi dambaan umat manusia sepanjang sejarah: "Damai sejahtera bagi kamu!", sambil menunjukkan telapak tangan-Nya yang bekas dipaku dan rusuk-Nya yang telah ditusuk. Rasul Yohanes kemudian melaporkan bahwa murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan (baca Yohanes 20:19-20).

Di tengah dunia yang menakutkan ini -- penduduk dunia menghadapi ketidakpastian ekonomi, sosial dan politik, serta makin merosotnya moral dan meningkatnya kejahatan. Kiranya ucapan Tuhan Yesus: "Damai sejahtera bagi kamu!", akan sungguh-sungguh memberi kita sukacita, karena mengetahui bahwa Tuhan yang sudah mati dan bangkit itu, berkuasa atas sejarah manusia. Dengan menyadari bahwa sebagai manusia yang terdiri dari darah dan daging, kita masih dimungkinkan resah menghadapi kenyataan yang tidak menggembirakan ini, marilah dengan iman kita menghadapi kehidupan dan masa depan kita dengan penuh sukacita surgawi yaitu sukacita yang melebihi akal. Juga dengan penuh gairah seperti para pengikut Tuhan di masa permulaan Gereja menyaksikan kasih dan penebusan Kristus kepada mereka yang belum percaya, karena yakin bahwa segala kuasa di bumi dan di surga telah diberikan kepada-Nya serta Dia pun berjanji untuk senantiasa menyertai kita (baca Matius 28:18). Semoga PASKAH tahun ini membawa suatu perubahan radikal dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun pelayanan kita, hingga Nama Tuhan dimuliakan.

Sumber:

Judul Artikel: Makna Kebangkitan Kristus
Penulis : Pdt. Bob Jokiman
Situs : GKI Monrovia
URL : http://www.gki.org/article/

e-JEMMi 15/2003


Amanat Agung Dan Roh Kudus (Bagian 1)

Oleh : Pdt. Dr. Stephen Tong

Kapankah janji Kisah Para Rasul 1:6-8 betul-betul terwujud dalam gereja di Indonesia sehingga orang Kristen yang memiliki kuasa Roh Kudus dapat menjadi saksi Tuhan dengan melintasi berbagai kota, propinsi, dan suku bangsa kita? Kapankah orang Kristen di Toraja mengirim penginjil ke Minangkabau? Orang Kristen di Tapanuli mengirim penginjil ke Aceh? Orang Kristen di Jawa mengirim penginjil ke Irian? Orang Kristen di Minahasa mengirim penginjil ke pulau-pulau yang terpencil? Kapankah anak-anak Tuhan di Indonesia pergi ke Afrika, Australia, Amerika Latin atau benua-benua lain untuk menjadi saksi bagi Kristus? Sejak gereja berdiri di Indonesia sampai sekarang, ayat-ayat ini sudah terus-menerus dibaca tetapi belum berarti apa-apa bagi kita.

Salah satu ucapan yang paling agung dari Socrates ialah: "Saya adalah warga dunia; jika saudara membunuh saya, saudara bukan pembunuh seorang warga Athena tetapi pembunuh seorang warga dunia."
Tetapi dalam Amanat Agung Yesus berkata:
"Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu."
Perkataan Yesus lebih tinggi dari perkataan Socrates bahkan siapapun yang paling agung, yang paling tajam, yang paling bermutu di dunia. Setelah Amanat Agung diberikan, tak lama kemudian Yesus berpisah dengan para murid dan naik ke surga. Ketika mereka mendengarkan kata-kata Yesus yang terakhir, mereka teringat satu hal:
"Sudah lama kami mengikut Engkau, tetapi apa yang kami harapkan dari-Mu belum juga tiba."
Bukankah Petrus, Yohanes, Yakobus, Andreas dan rasul-rasul mengikut Yesus karena mereka mengira Yesus adalah Mesias? Jika Yesus adalah Mesias, berarti kebangunan negara Israel pasti segera akan terlaksana, dan akhirnya Dia yang akan menjadi Raja. Meskipun kematian Yesus pernah melenyapkan pengharapan mereka yang berapi-api, tetapi sekarang kebangkitan Yesus sudah mengembalikan pengharapan itu. Yesus sudah bangkit dan sudah 40 hari bersama mereka, tetapi mengapa Dia tidak membicarakan kebangunan Israel? Mengapa Dia sama sekali tidak mengatakan bahwa Israel akan segera dilepaskan dari penjajahan Roma? Mengapa Yesus hanya berfokus pada Injil, dan Injil saja? Lalu mereka bertanya kepada Yesus,
"Sekarangkah Engkau mau membangun kerajaan bagi Israel?"
Yesus langsung menjawab,
"Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu harus menunggu di Yerusalem sampai kamu memperoleh kuasa dari atas. Roh Kudus akan turun ke atas kamu, dan kamu akan memiliki kuasa untuk menjadi saksiKu di Yerusalem, di Yudea, di Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Sebelum Amanat Agung, terjadi kematian satu orang, yaitu Anak Allah yang tunggal; setelah Amanat Agung, terjadi kematian syahid dari orang-orang yang mencintai Yesus Kristus. Sebelum Amanat Agung, Bapa mengirim Anak-Nya; setelah Amanat Agung, Anak mengirim gereja. Sebelum Amanat Agung, darah Yesus yang dialirkan; sesudah Amanat Agung, darah orang-orang yang mencintai Tuhan dan menyerahkan diri menjadi sukarelawan-sukarelawati Injil dialirkan. Sebelum Yesus Kristus memberikan Amanat Agung, ada kematian dan kebangkitan-Nya; setelah Amanat Agung, ada kuasa kematian dan kebangkitan Yesus yang mempersiapkan, melengkapi, dan memberikan kuasa kepada gereja. Sebelum Amanat Agung ada Roh Allah, Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal yang berada secara tidak terbatas di atas pribadi Kristus; sesudah Amanat Agung ada Roh Allah, Roh yang sama mendampingi, menguasai, memenuhi, mengurapi, dan mengirim mereka menjadi utusan Injil ke mana-mana. Puji Tuhan! Sesudah Roh Kudus bekerja, David Livingstone dan Moffat pergi ke Afrika; C.T. Studd, Hudson Taylor, dan Richard Timothy pergi ke Tiongkok; Judson pergi ke Birma; dan Nommensen pergi ke Tapanuli.

INJIL BUKAN UNTUK KALANGAN SENDIRI

Karena orang-orang Israel tidak setuju dengan Injil Yesus Kristus, maka mereka berusaha menangkap para rasul. Setelah Yesus naik ke surga, para rasul berdoa, mereka takut. Meskipun Yesus sudah bangkit, tetapi mereka tidak tahu, apakah kebangkitan-Nya menjadi jaminan penyertaan-Nya. Mereka tidak ada pegangan dan tidak ada kepastian, maka mereka mengunci semua pintu dari dalam dan bukan dari luar. Petrus, Yohanes, Yakobus, dan rasul-rasul lain yang mengunci diri itu tidak bijaksana, penakut, kurang beriman dan kurang percaya. Dari peristiwa yang penting ini terlihatlah bahwa pintu Injil tidak pernah ditutup dari luar. Injil selalu ditutup oleh orang Kristen sendiri. Pintu Injil tidak bisa ditutup oleh komunisme, liberalisme, ataupun musuh-musuh dari luar. Pintu Injil selalu ditutup oleh pemimpin-pemimpin gereja yang tidak berani mengabarkan Injil. Sampai kapankah kita begitu takut? Mengapa yang menginjil di Irian Jaya orang-orang berkulit putih, bukan orang yang berkulit sawo matang? Apa sebabnya kita belum sadar, kita masih berada pada tahap di mana kita melihat: sudah mempunyai gereja yang sejarahnya cukup lama, organisasinya cukup kuat, dan segala sesuatu cukup teratur, lalu merasa puas.

Di Taiwan seorang pendeta berkata kepada saya, "Pak Stephen Tong, gereja saya sangat penuh." Saya tanya, "Apa sebab gerejamu penuh?" Dia bilang sebab mereka hebat. Hati saya sedih sekali. Saya berkata, "Maaf Pendeta, jawabanmu kurang baik." "Oh, maaf! Sebab saudara-saudara kita giat sekali." "Saya kira jawaban ini lebih baik, tetapi masih kurang." Dia pikir, pikir, "Oh, sebab anugerah Tuhan." Saya bilang itu sudah lebih baik, tetapi masih kurang. Setelah tiga kali saya menjawab kurang baik, dia jadi marah. "Kalau begitu jawaban apa yang paling baik menurutmu?" Saya berkata, "Gerejamu bisa penuh karena ada empat dinding. Coba bongkar dindingmu, penuh tidak?" Saudara mau gerejamu penuh, gampang sekali, bikin lebih kecil pasti penuh, lebih kecil lagi lebih penuh. Tetapi Tuhan Yesus berkata,

"Aku masih memiliki domba di sana, bukan di sini, Aku harus membawa mereka masuk ke dalam kandang domba ini."

Apa artinya gereja dan misi, misi dan gereja? Hanya menggembalakan gereja dan anggota yang ada, belum berarti mengerjakan pekerjaan Tuhan secara sempurna. Kita harus pergi mencari domba-domba yang sesat. Billy Graham berkata bahwa karena gereja-gereja mempunyai cukup banyak kesibukan, sehingga mereka kekurangan waktu, maka Tuhan membangkitkan organisasi-organisasi parachurch untuk mengisi apa yang belum dikerjakan oleh gereja-gereja. Berapa banyak gereja tidak pernah mengirim uang ke lembaga Alkitab, ke seminari-seminari, ke siaran radio Kristen, dan menunjang pekerjaan penginjilan yang lain? Mereka hanya mementingkan gerejanya saja, kalau ada uang bikin lebih besar, bikin lebih besar lagi untuk membanggakan diri, seolah-olah mereka memonopoli pekerjaan Tuhan. Tetapi saudara, siapakah yang memberitakan Injil melalui siaran radio ke RRC, ke Rusia, ke Jerman Timur, ke Polandia, ke Cekoslowakia, dan ke tempat-tempat lain yang tidak bisa dikunjungi oleh para penginjil karena mereka dilarang masuk ke sana? Tentu harus ada orang yang membuat program, yang menerjemahkan Alkitab, yang menyiarkan, yang memberikan daya listrik yang cukup untuk mendukung penyiaran itu. Banyak gereja kurang memperhatikan hal-hal demikian, maka Tuhan membangkitkan yang lain. Marilah kita bekerja sama, baik di dalam penggembalaan maupun di dalam organisasi parachurch, dengan tidak lagi memisahkan engkau-engkau, saya-saya, karena kerajaan Allah lebih penting dari denominasi dan dinding-dinding yang mengelilingi domba-domba yang diberikan Tuhan kepada kita. Dengan demikian hati kita akan menjadi lebih lapang dan pandangan kita pun akan lebih luas. Saudara perhatikan di semua desa-desa, bahkan yang paling kecil pun selalu ada minuman Coca-Cola, tetapi tidak demikian dengan Injil; ada shampoo dan kosmetik apa saja tetapi belum ada guru Injil; ada onderdil-onderdil mobil dari Jepang tetapi tidak terdengar ada orang memberitakan Injil di sana. Sampai kapankah kekristenan harus tertinggal begitu jauh?

ROH KUDUS DALAM PENGINJILAN

Di mana engkau diurapi oleh kuasa Roh Kudus, di sana padang belantara menjadi tanah yang subur. Tetapi jika engkau tidak memiliki pengurapan Roh Kudus, Bait Allah di Yerusalem pun bisa menjadi tanah yang tandus. Dalam Lukas 3 tertulis,

"Pada waktu Herodes menjadi raja wilayah Galilea, pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi imam besar, pada waktu mereka di tanah Yudea, Roh Allah turun kepada Yohanes Pembaptis di padang belantara."

Mengapa Yohanes Pembaptis tidak berkhotbah di Bait Allah di Yerusalem? Bukankah di sana ada mimbar yang tinggi, ada orang-orang yang terlatih dalam Talmud, Misnah, dan teologi orang Israel? Tetapi Alkitab mengatakan bahwa Roh Tuhan bukan turun di sana melainkan di padang belantara sehingga Yohanes Pembaptis menjadikan padang belantara tempat ratusan ribu orang menerima Tuhan Yesus. Stephen Tong, Thomas Wong, atau Chris Marantika tidak berarti apa-apa, tetapi pada waktu Roh Kudus turun dan mengurapi mereka, barulah penginjilan yang mereka lakukan bisa sukses. Sebab itu demi nama Tuhan Yesus saya berkata kepada para pemuda-pemudi yang masih duduk di SMP, SMA, ataupun universitas,

"Engkau yang tidak ada uang, yang belum memiliki gelar dan pengalaman, jika engkau mau datang dan berkata kepada Tuhan, 'Di sini saya, saya mau menyerahkan diri, mau dipakai oleh-Mu, Tuhan, saya mau mempelajari Injil baik-baik dan mau dipenuhi oleh Roh-Mu yang kudus,' maka engkau akan menjadi orang yang dipakai oleh Tuhan."

Dalam Amanat Agung Yesus memerintahkan,
"Pergilah, jadikanlah segala bangsa murid-Ku." Semangat Injil adalah pergi, pergi! Tetapi dalam Kisah Para Rasul Yesus memerintahkan mereka untuk menunggu di Yerusalem, jangan pergi dulu, sampai Roh Kudus turun ke atasmu. Inilah yang disebut paradoks (seolah-olah bertentangan tetapi tidak). Mereka menunggu dan menunggu, lalu Roh Kudus turun dan memenuhi mereka pada hari Pentakosta yang hanya terjadi satu kali dalam sejarah dan tidak akan pernah terulang lagi. Hari Pentakosta adalah hari jadi gereja. Pada hari itu umat Tuhan berkumpul bersama menjadi tubuh Kristus, dan Roh Kudus yang dikirim pada hari itu tidak ditarik kembali untuk selama-lamanya sampai kita berjumpa dengan Yesus Kristus. Sebagaimana janji Yesus,

"Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi kepada Bapa." Sebab jika Aku tidak pergi, Roh Kudus tidak akan datang kepadamu, tetapi jika Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu dan Ia beserta denganmu sampai selama-lamanya."

Roh Kudus sudah turun satu kali dan tidak turun lagi; lalu bagaimana dengan orang-orang Kristen dalam setiap jaman? Kita menerima Roh Yang sudah diberikan kepada gereja untuk memenuhi kita. Kelahiran baru yang sejati mencakup juga baptisan Roh Kudus secara otomatis. Pada waktu engkau lahir baru, statusmu sebagai orang berdosa berubah menjadi orang suci, maka Roh Kudus pun akan berdiam dalam hatimu dan menjadi Tuan dalam hidupmu. Dia akan menguasai seluruh pikiran, emosi dan kemauanmu. Setelah Roh Kudus memenuhi engkau, engkau diberi kuasa, diberi urapan, diberi kekuatan, diberi perlengkapan dan dipersiapkan untuk menjadi saksi Kristus.

Mengapa penginjilan tidak dapat lepas dari kuasa Roh Kudus? Perhatikan dengan teliti perkataan Petrus: "Kami (rasul-rasul) adalah saksi dari segala sesuatu itu (yaitu kematian dan kebangkitan Kristus, dua hal yang paling penting, yang merupakan inti dan fondasi dari Injil Yesus Kristus, yang menjadi pengharapan satu-satunya bagi manusia yang berdosa untuk kembali kepada Tuhan), kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang menaati Dia" (Kisah 5:32). Puji Tuhan! Barangsiapa betul-betul setia dan taat kepada Injil serta meninggikan Kristus dengan motivasi yang murni, tidak mungkin tidak didampingi oleh Roh Kudus.

Penginjilan bukan pidato, bukan pertambahan anggota gereja, bukan kemegahan supaya orang lain melihat denominasi saya berkembang. Penginjilan adalah peperangan rohani untuk merebut manusia yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah, yang berada di dalam tangan setan, agar ia keluar dari situ dan masuk ke dalam kerajaan Anak Allah yang kekal. Maka tidak boleh ada seorang pun yang mengabarkan Injil tanpa disertai kuasa Roh Kudus, karena setan tidak takut pada gereja yang besar, tidak takut pada mereka yang memiliki pengetahuan teologi yang hebat dan pengetahuan yang kuat, tetapi setan paling takut kepada mereka yang memiliki kuasa Roh Kudus. Sejak bulan Maret 1957 sampai sekarang sudah 20.000 kali saya berkhotbah, tetapi tidak satu kali pun saya berani naik ke atas mimbar tanpa Roh Kudus memimpin saya. Setiap kali sebelum naik saya berkata kepada Tuhan dengan gemetar, "Tuhan jika Engkau tidak naik, saya juga tidak mau naik."

[Bersambung di edisi e-JEMMi 06-23#2003]

Sumber:

Judul Buletin: Momentum, Edisi 5, Desember 1988
Judul Artikel: Amanat Agung dan Roh Kudus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 21 - 25

e-JEMMi 22/2003


Amanat Agung Dan Roh Kudus (Bagian 2)

Pdt. Dr. Stephen Tong

PEKERJAAN ROH KUDUS

Waktu Roh Kudus bekerja untuk mempertobatkan manusia, pekerjaan PERTAMA-Nya adalah memuliakan Kristus. Karena Roh Kudus datang bukan untuk memuliakan diri-Nya sendiri sebagai Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal, melainkan justru untuk menjunjung tinggi dan mempermuliakan Pribadi kedua yang pernah dipermalukan secara tidak wajar dalam sejarah manusia. Yesus dipaku di kayu salib, dihina, dibuang oleh manusia, dan dengan mulut-Nya sendiri mengatakan Dia juga dibuang oleh Allah Bapa. Sekarang waktunya sudah tiba, Roh Kudus turun mendampingi orang yang bersaksi untuk membalikkan hal ini. Roh Kudus mengurapi, memenuhi seseorang supaya dia mengerti maksud Roh Kudus. Roh Kudus memenuhi seseorang supaya dia meninggikan dan memuliakan Kristus, bukan memuliakan diri atau pengalaman-pengalaman diri sendiri, juga bukan memuliakan karunia-karunia tertentu, tetapi memuliakan Yesus Kristus yang mati di salib dan bangkit pula dari antara orang mati.

Dalam 1Korintus 2:2 Paulus berkata, "Aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa, selain Kristus dan Dia yang tersalib." Benarkah Paulus tidak tahu apa-apa? Tidak! Paulus tahu Stoicisme, Epicurianisme, filsafat-filsafat Yunani baik dari Skeptisisme atau Gnostisisme, tetapi fokus pemberitaan Injil Paulus adalah kayu salib, Kristus, dan kemenangan Kristus di atas kayu salib.

KEDUA, Roh Kudus menerangi hati manusia. Sebelum Roh Kudus bekerja, orang-orang berdosa hanya dapat memuliakan dosa dirinya, dan mengangkat tinggi segala perbuatan yang salah dalam diri sendiri. Tetapi setelah Roh Kudus memberikan pencerahan, menembus hati manusia dengan cahaya surgawi, barulah manusia sadar bahwa dirinya adalah orang berdosa, dan apa yang dikerjakannya terlalu jauh dari kehendak Tuhan.

KETIGA, Roh Kudus datang untuk menginsafkan manusia akan dosa, kebenaran dan penghakiman. Lalu Yesus sendiri memberi penjelasan: "Tentang dosa, karena mereka tidak percaya kepadaKu. Tentang kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa. Dan tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini sudah dihukum." Pada waktu saya berumur 17 tahun dan membaca ayat-ayat ini, saya merasa bahwa tiga hal yang di depan tidak ada kaitannnya dengan tiga hal yang di belakang. Secara hermeneutika kedua bagian itu sulit digabungkan; secara homeletika mereka terlepas satu dengan yang lain. Tetapi setelah menyelidiki, membaca, merenungkan, dan berdoa terus-menerus barulah saya menemukan hal yang luar biasa, yang tersembunyi di dalam pekerjaan Roh Kudus.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang dosa. Bukan dosa berzinah, membunuh, berjudi, membakar, menulis cek kosong, atau dosa-dosa lain yang ditegur-Nya, tetapi dosa "karena mereka tidak percaya kepada-Ku." Apa hubungannya antara dosa yang kita perbuat dengan tidak percaya kepada Yesus Kristus? Dosa tidak seharusnya hanya dimengerti dari segi etika yang menyangkut perbuatan manusia yang salah saja, tetapi harus dimengerti juga dari segi mental kita yang telah kehilangan kemuliaan Allah, yang selalu memberontak terhadap sumber kebenaran yaitu Allah sendiri, yang membuat kita tidak percaya kepada-Nya.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang kebenaran, karena "Aku pergi kepada Bapa." Roh Kudus berkata, "Engkau tidak benar. Coba lihat, Yesus kembali kepada Bapa." Apa hubungannya antara Yesus kembali kepada Bapa dengan kebenaran? Dalam Injil Yohanes, "Aku kembali kepada Bapa" adalah suatu istilah yang khusus. Perhatikan perkataan Yesus dalam Yohanes 16:28, "I come from my Father to the world and I depart from the world and go back to my Father." Di sinilah letak perbedaan Injil dengan agama-agama lain. Agama-agama lain adalah one way traffic, dari manusia menuju kepada Allah yang tidak mereka kenal, sedangkan Injil adalah two way traffic, dari Bapa turun ke dunia dan dari dunia kembali kepada Bapa.

Pada waktu Yesus disalibkan manusia menganggap Yesus sudah berdosa, tetapi ternyata Yesus berkata, "Aku kembali kepada Bapa." Itu berarti Dia mutlak benar, karena kalau Yesus pernah berdosa tentu Dia tidak mungkin kembali kepada Bapa. Jadi sekarang manusialah yang harus ditegur karena mereka telah memakukan Dia yang benar di atas kayu salib.

Roh Kudus menerangkan kepada manusia tentang penghakiman, karena penguasa dunia ini sudah diadili. Artinya: yang tidak adil telah mengadili yang Adil secara tidak adil. Ini semua sudah terbalik.

Kalau saudara mempelajari teologi Injil Yohanes (teologi mempelajari Allah itu siapa; manusia itu siapa; lalu relasi-relasi antara Allah dan manusia; manusia dan Allah; Allah, manusia dan setan; Allah, manusia, setan dan malaikat; Allah, manusia, dan bumi; bumi, manusia, dan Allah), khususnya yang terdapat di dalam pasal 16, saudara akan menemukan pengoreksian relasi-relasi universal yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia. Itulah pekerjaan Roh Kudus di dalam penginjilan.

Relasi pertama yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara kita dengan Yesus Kristus. Manusia seharusnya taat kepada Yesus dan hanya ketaatan dalam Yesus kita diterima oleh Allah Bapa, tetapi manusia malah tidak percaya kepada-Nya. Manusia menghina Yesus, menjual Yesus, mengadili Yesus dan memakukan-Nya di atas kayu salib. Semua ini menyatakan bahwa kita telah salah bertindak, salah berelasi dengan Pribadi kedua dari Allah Tritunggal, yaitu Yesus Kristus.

Relasi kedua yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara Pribadi kedua dengan Pribadi pertama. Pada waktu Yesus disalib, manusia berkata, "Jika Allah mengasihi Dia dan memperkenan Dia, biarlah Allah turun dan menyelamatkan Dia." Kalau Engkau betul-betul Anak Allah, turunlah dari salib." Yesus bisa turun dari surga, mengapa tidak bisa turun dari salib yang hanya tiga meter tingginya? Tetapi Dia tidak mau turun, Dia rela menjadi Juruselamat bagi manusia yang berdosa. Manusia tidak mengerti semua ini, mereka hanya melihat Allah membuang-Nya dan mengira bahwa Allah tidak berkenan kepada-Nya. Tetapi Roh Kudus mengoreksi: Tidak! Buktinya Dia kembali kepada Bapa.

Relasi ketiga yang tidak dimengerti secara benar oleh manusia adalah relasi antara Anak Allah dengan setan. Manusia selalu mengira bahwa Yesus diadili karena dosa, karena kalah dengan setan. Demikian juga orang Kristen yang hidup di dalam dunia yang penuh dengan kegelapan dosa telah melakukan penginjilan dengan segala jerih payah selama hampir 2000 tahun, tetapi mengapa masih begitu banyak orang belum menerima Yesus Kristus? Sampai-sampai teolog dari Jerman, Friedrich Gogarten, yang pernah menjadi lawan Karl Barth mengatakan, hari depan menunjukkan bahwa kuasa Allah semakin kecil dan kuasa setan semakin besar. Benarkah dunia ini milik setan? Benarkah setan sudah menang? Tidak! Dunia ini milik Tuhan. Kelihatannya seolah-olah setan menang, tetapi sebenarnya Kristuslah yang menang untuk selama-lamanya. Untuk sementara Tuhan memperbolehkan setan memiliki sebagian orang yang belum menerima Dia, tetapi melalui Injil, melalui iman yang sejati, semakin banyak orang akan kembali menjadi milik Yesus.

Roh Kudus memutarbalikkan pengenalan manusia yang salah tentang relasi-relasi universal. Sesudah itu barulah engkau bisa menangis, "Oh, Tuhan! Dulu saya anggap saya orang benar, tetapi sekarang saya tahu saya orang berdosa. Dulu saya anggap Kristus perlu disalibkan karena Dia orang berdosa, sekarang saya baru tahu Dia yang benar karena Dia kembali kepada Bapa. Dulu saya kira dunia milik setan, sekarang saya tahu dunia sudah dikalahkan oleh Kristus." Tanpa Roh Kudus tidak mungkin ada orang mengalami pembaharuan konsep dan perubahan persepsi semacam ini.

Roh Kudus melunakkan seseorang melalui tiga tahap:

1. Menerangi akalnya dengan kebenaran. Jangan memakai cara-cara lain untuk membawa orang kepada pertobatan, kecuali melalui Firman Tuhan, karena hanya kebenaran Firman Tuhan dapat menciptakan iman di dalam hati manusia. Celaka sekali gereja-gereja yang menyangkal bahwa Kitab Suci adalah Firman Tuhan. Celaka sekali orang-orang Kristen yang menganggap Kitab Suci hanya mengandung Firman Tuhan. Celaka sekali orang yang berusaha mengkristenkan orang lain hanya dengan kebudayaan Kristen.

Perhatikanlah perdebatan antara surga dan neraka tentang metode apa yang paling baik untuk penginjilan. Apakah hal ini ada tertulis dalam Alkitab? Ada! Yaitu dalam khotbah Yesus mengenai Lazarus dan orang kaya. Saya tidak katakan ini perumpamaan karena inilah satu-satunya tempat Alkitab tidak menuliskan bahwa Yesus memberikan perumpamaan. Yesus berkata bahwa dari neraka ada saran kepada orang-orang beriman tentang cara penginjilan yang baik, yaitu dengan menyuruh Lazarus bangkit dan berkhotbah, agar orang yang hidup mau langsung bertobat dan percaya kepada Yesus. Cara dari neraka ialah memakai mukjizat supaya orang bertobat. Tetapi apa jawaban dari surga? Tidak! Abraham menjawab: "Mereka memiliki Firman Allah. Jika mereka memiliki Firman Allah dan tidak mau bertobat, meskipun Lazarus bangkit mereka juga tidak akan bertobat." Cerita itu berhenti dan tidak disambung lagi.

Kita selalu berpikir, cara apa saja bisa dipakai asal orang mau bertobat dan menjadi Kristen secepat mungkin, sampai-sampai mengajar mereka berdoa minta kekayaan, supaya semakin cepat kaya semakin cepat menjadi Kristen. Belajarlah dengan baik! Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan khotbah semacam itu. Yesus Kristus berkata: "Barangsiapa mau mengikut Aku harus meyangkal diri dan memikul ... salib!" Betapa jauh perbedaan ajaran kita dengan Yesus Kristus. Di sini kita mendapatkan suatu prinsip: "Pertobatan harus berdasarkan Firman Tuhan, penginjilan yang benar dan sehat juga harus berdasarkan Firman Tuhan. Roh Kudus memberikan Firman Tuhan untuk menerangi akal manusia."

2. Roh Kudus bekerja dalam emosi manusia untuk menggerakkan dia: Kristus sedemikian mengasihi engkau, mengapa engkau masih menolak Dia? Setiap orang yang menerima pekerjaan Roh Kudus tidak mungkin dapat menahan diri, mereka pasti tersentuh, tergerak dan mau mengaku dosa.

3. Roh Kudus bekerja menaklukkan kemauan mereka yang melawan Tuhan, dan membawa mereka kembali kepada-Nya. Hanya pertobatan yang berlangsung di bawah pimpinan Roh Kudus, dapat membuahkan orang Kristen yang sejati, yang sehat, yang tahan uji sepanjang hidup mereka.

Sumber:

Judul Buletin: Momentum, Edisi 5, Desember 1988
Judul Artikel: Amanat Agung dan Roh Kudus
Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 25 - 27

e-JEMMi 23/2003

Dan Mereka Menutupi Muka-Nya

(Lukas 22:64; Markus 14:65)

Dilihat dari segi sejarah, kesengsaraan Kristus sama sekali adalah termasuk masa silam. "Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah" (Roma 6:10) dan sesudah itu tidak mati lagi; maut tidak lagi memegang kuasa atas diri-Nya. Tetapi secara rohani, kesengsaraan Kristus tetap ada dan berulang-ulang terjadi. Kita menyalibkan Dia lagi. Yesus Kristus terus-menerus dikhianati, ditinggalkan, dipungkiri, ditudungi, diludahi, didera, diejek, dan kemudian disalibkan.Dilihat dari segi sejarah, kesengsaraan Kristus sama sekali adalah termasuk masa silam. "Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah" (Roma 6:10) dan sesudah itu tidak mati lagi; maut tidak lagi memegang kuasa atas diri-Nya. Tetapi secara rohani, kesengsaraan Kristus tetap ada dan berulang-ulang terjadi. Kita menyalibkan Dia lagi. Yesus Kristus terus-menerus dikhianati, ditinggalkan, dipungkiri, ditudungi, diludahi, didera, diejek, dan kemudian disalibkan.

Tiap peristiwa dalam kisah penderitaan-Nya mempunyai ciri tersendiri. Dalam arti rohani kita berada di sana ketika "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci." (1Korintus 15:3)

"Dan orang yang menahan Yesus, mengolok-olokkan Dia dan memukuli- Nya. Mereka menutupi muka-Nya dan bertanya: 'Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?' Lalu mulailah beberapa orang meludahi Dia, menutupi muka-Nya dan meninju-Nya sambil berkata kepada-Nya: 'Hai nabi, cobalah terka! Malah para pengawalpun memukul Dia.'" (Lukas 22:63-64; Markus 14:65)

Hal ini terjadi di halaman istana Kayafas, pagi-pagi benar sebelum fajar menyingsing. Sinar bulan purnama menerangi tempat kejadian itu dan nyala api unggun yang dikobarkan memancarkan sinar dan bayangannya atas halaman itu: Dengan muka-Nya yang ditutupi Yesus duduk di tengah-tengah sekumpulan orang yang tanpa alasan membenci- Nya. Pelayan-pelayan dari Majelis Besar, orang-orang bayaran dari Imam Besar; dan mungkin semua mereka adalah orang-orang Yahudi yang sebangsa dengan Tuhan Yesus. Ada yang mengenal Dia dan pernah mendengar kata-kata yang diucapkan-Nya. Mereka telah menyaksikan keajaiban-keajaiban yang dibuat-Nya.

Di taman Getsemani mereka berkisut melihat pandangan-Nya. Sekarang mereka menutupi muka-Nya dan mengejek-Nya. Kegelapan apakah yang menguasai hati-hati yang dapat berbuat seperti ini dan tahan melihatnya! Betapa matinya perasaan terhadap kasih dan kebenaran; kebutaan apa yang membuatnya tidak melihat keindahan kesucian; dan betapa jahatnya pikiran dan keringnya hati nurani! Dan hal ini mereka lakukan terhadap Yesus dari Nazaret, yang pernah membuka mata seorang yang lahir buta di Yerusalem.

Mereka menutupi muka-Nya. Apakah Malkus ada di antara mereka? Apakah Kayafas turut? Apakah Petrus melihat sesuatu sebelum dia keluar dan menangis sedih? Kemudian dia menulis tentang malam buruk itu ketika dia berdiri dan memanaskan dirinya -- tetapi jiwanya menggigil -- di dekat api: "Kristuspun telah menderita ... tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil .... oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh." (1Petrus 2:21-24) Ya, Petrus tentu melihatnya, paling sedikitnya dari jauh. Rasa malu dan kesakitannya mendera hatinya. Pandangan terakhir dari Kristus sebelum mata-Nya ditudungi diarahkan kepada Petrus, yang juga menyangkal Dia di depan pelayan-pelayan ini.

Betapapun ringkasnya kesaksian ini, kita dapat membaca di antara baris-baris tersebut sifat pengecut, kekejaman, dan kebodohan dari kebencian mereka terhadap Juruselamat itu. Mengapa timbul pikiran pada mereka untuk menutupi mata Yesus? Bukankah karena mata-Nya penuh dengan keheranan suci akan ketidakpercayaan mereka, mata yang penuh belas-kasihan akan kebodohan mereka tetapi juga berkilat dengan sinar yang mendera hati nurani mereka seperti nyala api? Mereka tak tahan melihat-Nya dengan berhadapan muka, maka seperti Markus katakan, ketika beberapa orang mulai "meludahi Dia" yang lain "menutupi muka-Nya dan memukul-Nya."

Kekecutan hati mereka hanya dapat diimbangi oleh kebencian mereka, Mereka memukul Dia. Mereka mengejek-Nya. "Dan banyak hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya." Dan kebencian mereka adalah tidak pantas. "Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?" (Markus 14:65; Lukas 22:64-65) Bukanlah perseorangan yang memukul Dia, melainkan bangsa itu; umat manusia seluruhnya.

Segala kekecutan hati dari pendurhakaan dan ketidakpercayaan yang berabad-abad itu dilambangkan oleh peristiwa ini. Ada orang yang selalu takut dan oleh karena itu tidak rela untuk berhadapan muka dengan Kristus. Orang mencoba mengelakkan Yesus dalam sejarah dengan mengatakan, bahwa cerita itu adalah dongeng; atau mereka tidak mau berhadapan muka dengan Dia. Betapa banyaknya sejarah-sejarah populer dan buku-buku pelajaran menutupi muka Yesus dengan memakai suatu ayat sebagai dalih yang sama sekali tidak menyingkapkan sejarah hidup Yesus Kristus yang sebenarnya.

Ketidakpercayaan menudungi Alkitab dengan menutupi sampulnya dan dengan demikian merintangi amanatnya mencapai dunia kanak-kanak atau dengan membiarkannya tergeletak begitu saja di rak buku, sebuah buku klasik yang menjadi buah bibir tiap orang, tetapi yang tak pernah dibaca orang. Orang-orang menutupi muka Yesus di atas mimbar atau dalam pers dan kemudian mengejek jasa-Nya sebagai nabi, dan kemuliaan-Nya sebagai Mesias. Kalau pendurhakaan dan kemurtadan menutupi muka Juruselamat, maka mereka juga menampar muka-Nya, Valtaire, Nietzsche, Rennan, Bebel, Paine; Ingersoll dan yang lainnya yang sependapat dan sejiwa dengan mereka, semuanya menutupi muka Yesus dulu sebelum mereka mengingkari ketuhanan-Nya; menyembunyikan muka-Nya sebelum mereka mendera kemuliaan-Nya.

Sungguh menyakitkan saat membaca dalam Injil mengenai Kristus yang muka-Nya ditutupi ini, namun terutama mengenai cara orang-orang menutupi muka-Nya berulang-ulang selama sembilan belas abad dan kemudian mengejek-Nya. Dendam dari ketidakpercayaan sama jelasnya pada masa sekarang dengan dulu dalam ruangan pengadilan Kayafas. Orang-orang tidak dapat membiarkan Kristus tenang. Muka-Nya memikat perhatian. Mata-Nya adalah nyala api. Dia menarik atau membuat orang jijik. Dulu Dia berbuat demikian dan sekarang pun juga.

Di depan mata Yesus kubuka kehidupanku dan isi hati yang keruh Di depan mata Yesus.

Di depan mata Yesus yang suci b'laka apinya, kulihat cahya sayang-Nya, Di depan mata Yesus. (Nyanyian Rohani 136)

Orang-orang percaya dari Perjanjian Lama ingin melihat kemuliaan Allah pada muka yang diurapi. Inilah doa Musa, harapan Daud, dan keinginan Yesaya,

"Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2)

"Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!" (Mazmur 31:16)

"Jawablah aku dengan segera, ya TUHAN, sudah habis semangatku! Jangan sembunyikan wajah-Mu terhadap aku, sehingga aku seperti mereka yang turun ke liang kubur." (Mazmur 143:7)

"Siapakah yang buta selain dari hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang tuli seperti hamba TUHAN?" (Yesaya 42:19)

Dengan demikian mungkin ramalan Yesaya itu terwujud.

Kalau kita merenungkan kata-kata seperti ini, maka mulailah kita sadari apa artinya bagi Tuhan Yesus kalau muka-Nya ditutupi dan dengan demikian mengalami pada diri-Nya dan dalam diri-Nya segala kebodohan dan kebutaan dari ketidakpercayaan yang disengaja terhadap Allah dan utusan-utusan-Nya. Ini bukan sesuatu yang baru. Sepanjang zaman orang-orang selalu menuntut bukti dari mereka yang membuat kesaksian bagi Allah. Apakah keajaiban-keajaiban-Nya? Tanda-tanda apa yang diberikan-Nya? Kapankah ramalan-ramalan-Nya dipenuhi?

Mereka yang memalingkan mukanya dari Kristus atau menutupi muka-Nya tetap tidak percaya dan tetap tidak menyadari dosanya. Pelayan- pelayan Imam Besar, tidak melihat apa-apa. Tetapi Petrus didera dalam hati nuraninya dengan satu pandangan saja. Dia dapat menyesal karena dia tidak menutupi muka Yesus. Dan demikianlah selalu halnya.

Maka kita tidak usah heran, kalau orang menutupi muka Juruselamat kita, memukul-Nya atau menghina-Nya di muka umum sekarang.

Tiap agama baru atau falsafah yang menjauhkan orang dari Injil hanya berhasil dengan menutupi muka Kristus. Mereka yang melihat mata-Nya tidak memerlukan cahaya lain. Mereka yang telah melihat muka-Nya tidak mengikuti pemimpin lain. "Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa; yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah. Sebab bukan diri kami yang kami beritakan; tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: Dari dalam gelap akan terbit terang ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus." (2Korintus 4:3)

Mereka yang berjalan dalam gelap dengan mata hati yang buta sering mematikan sendiri lampu dengan lebih dulu menutupi muka Kristus dari Allah. Kekuasaan Iblis merintangi kita untuk melihat kemuliaan Juruselamat kita. Semangat zaman yang mencakup pendapat yang berubah-ubah, pepatah-pepatah duniawi, renungan-renungan lihai, ilham-ilham yang tak murni, dan maksud-maksud untuk menciptakan suatu suasana kesangsian dan ketidakpercayaan telah mencekik segala kepercayaan. Kebutaan mendahului ketidakpercayaan dan merupakan sebabnya. Kebutaan itu dilaksanakan dengan menutupi Injil, dengan menggelapkan firman yang jelas dari Allah, dan dengan menutup mata kita terhadap kebenaran.

"Aku datang," kata Tuhan Yesus, "ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." (Yohanes 9:39)

Lihatlah lagi gambar yang mengibakan hati dari Kristus yang diselubungi itu di tengah-tengah gerombolan Majelis Besar itu. Tataplah muka itu, diterangi sinar matahari pagi -- berdarah, dipukuli, diselubungi, "Pandanglah wajah orang yang Kau urapi," (Mazmur 84:10) kata penulis Mazmur -- dan di sini kita melihat wajah itu sebagai gambar sejati dari Juruselamat yang sedang menderita itu.

"Lihatlah manusia itu!" Diikat, penat, luka memar, dihina, tetapi tetap diam dengan ketenangan kasih yang menderita. "Cobalah katakan siapakah yang memukul Engkau?" Kita pasti harus mendapat jawabannya dalam hati nurani kita sendiri.

"Kristuspun telah menderita" untuk kita, bukan hanya untuk menebus kita dari dosa dan membebaskan kita dari laknatnya, tetapi Dia menderita "dan telah meninggalkan teladan" bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya. (1Petrus 2:21). Dalam tiap peristiwa dari kesengsaraan itu Pemikul Salib itu berseru dalam telinga kita: "Ikutlah Aku. Hiduplah dengan penuh keberanian, berbahaya, lengkap, tanpa puasa. Terimalah lumpur dan lendir, terik-panas dan kemelaratan penuduh-penuduhmu. Tahanlah menderita dan beranilah demi Aku dan demi Injil. Janganlah tolak untuk minum bersama Aku dari cawan kegagalan yang sering lebih pahit daripada cawan kematian -- kesakitan ejekan yang mendahului kesengsaraan salib."

Kalau kita ingat ruangan pengadilan dan Kristus yang diselubungi itu yang menanggung bantahan yang hebat dari orang-orang berdosa terhadap diri-Nya, kita tidak akan bertambah lelah atau akan pingsan mendengar celaan atau nista.

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi- nabi yang sebelum kamu." (Matius 5:11-12)

Ini adalah kebahagiaan yang terakhir dan yang terbesar. Kebahagiaan mereka yang mengikuti Kristus sepanjang jalan sampai akhir.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : Kemuliaan Salib
Judul Artikel : Dan Mereka Menutupi Mukanya
Penulis : Samuel Zwemer
Penerbit : Badan Penerbit Kristen, 1970
Halaman : 23 - 28

Kelahiran Yang Sederhana

Oleh: Novita Yuniarti dan Yulia Oeniyati

Natal dimulai ketika Kristus menjadi miskin karena kita.