Kesaksian Misi

Ladang misi tidak hanya menyajikan kehidupan yang tenang-tenang saja, adakalanya malah justru jauh dari ketenangan. Tapi kasih karunia Allah selalu menyertai anak-anak-Nya dan Ia berjanji akan selalu menyertai kita sampai akhir zaman. Kiranya kesaksian-kesaksian di bawah ini dapat menguatkan.

Kesaksian dari Luar Tembok Penjara

Dr. Rebekka Zakaria, Eti Pangesti, dan Ratna Bangun akhirnya dibebaskan dari penjara Indramayu, Jawa Barat, pada tanggal 8 Juni 2007 pukul enam pagi, tiga jam lebih cepat dari jadwal awal untuk menghindari demonstrasi dari kelompok-kelompok radikal.

Kelompok-kelompok ini berencana untuk menunggu di luar penjara dan mengantar ketiga ibu ini keluar dari kota Indramayu dan memastikan mereka tidak kembali lagi dan tidak lagi melayani di Indramayu.

Setelah pembebasan, ketiganya langsung pergi ke Cirebon untuk beberapa hal administrasi. Mengendarai bis yang disediakan Open Doors, tujuh mobil yang berisikan keluarga, kerabat, media, dan aparat menemani mereka.

Dr. Rebekka yang telah dicabut izin praktiknya karena pemenjaraan mengatakan, "Saya akan mengejar impian masa kecil untuk menjadi dokter misionaris."

Ibu Ratna berencana untuk segera bertemu dengan anak-anaknya yang tinggal di Pekanbaru. "Ayah saya meninggal dunia dua bulan lalu. Saya sangat kehilangan karena kami sangat dekat. Jika saja ia masih hidup, pasti kata-kata ini yang akan disampaikannya saat bertemu saya setelah bebas, `Saya sangat bangga padamu, anakku, karena kau menderita bagi Kristus,`" demikian dikatakan Ibu Ratna.

Sementara Ibu Eti belum memunyai rencana setelah pembebasan dirinya. Sebuah acara ucapan syukur telah disiapkan di rumahnya, "Keluarga saya berjumlah dua puluh orang akan hadir. Beberapa dari mereka bahkan cuti dari kantor untuk menyambut saya," ujarnya.

Pembebasan ketiga ibu ini adalah jawaban doa. Namun, tantangan tetap ada, "Kami tetap memerlukan doa saudara-saudara seiman di Indonesia dan di seluruh dunia. Kami masih mencari tempat untuk beribadah. Kemungkinan kami tetap akan beribadah di Haurgeulis jika Tuhan menghendaki. Tolong doakan kami dan keluarga agar tetap setia dan tetap teguh mengikut Tuhan apa pun yang terjadi," Ibu Rebekka berkata mewakili kedua ibu lainnya.

Diambil dan diedit dari:

Judul Buletin : Open Doors, Edisi September -- Oktober 2007, Volume 14 No. 5
Judul Artikel : Kesaksian dari Luar Tembok Penjara
Penulis : tidak dicantumkan
Halaman : 9

e-JEMMi 47/2007

USKUP HAIK HOVSEPIANS-MEHR (1946 -- 1994)

Pemimpin Sidang Jemaat Allah, Haik Hovsepians-Mehr, menjadi martir di tangan para penganut "agama lain" di Iran setelah negara tersebut menjadi republik "agama lain" pada tahun 1979. Di bawah ini adalah tulisan anak berumur sebelas tahun yang mengutip tulisan Haik Hovsepians-Mehr. Situasi di Iran sampai sekarang masih tetap sama.

Revolusi agama sangat memberkati gereja karena kami telah memeroleh banyak pelajaran melalui ini. Penganiayaan telah membuat orang-orang Kristen pilihan tetap melanjutkan pelayanan walaupun mengalami berbagai jenis perlawanan dari pihak yang berseberangan. Di waktu yang sama, penganiayaan membantu gereja untuk mengetahui siapa yang merupakan hamba Tuhan sesungguhnya dan siapa yang hamba Tuhan bayaran! Sebelum revolusi, kami memiliki "orang-orang Kristen Beras", tetapi setelah revolusi terjadi, tidak satu orang pun dari mereka yang kami lihat! Hari-hari ini, semua orang yang datang kepada Kristus harus membayar harga dengan nyawanya atau paling tidak kehilangan banyak uang maupun keuntungan. Kesatuan para hamba Tuhan dari berbagai denominasi adalah berkat yang luar biasa lainnya yang kami alami.

Seorang pendeta Presbiterian di kota Tabriz dipenjarakan dan dipukuli tanpa ampun. Satu minggu setelah dibebaskan dari penjara, dia mengalami sakit tulang punggung belakang dan sakit kepala yang luar biasa. Seorang saudara seiman di kota Ahwas dipenjarakan selama 27 hari. Dia diancam dan diminta bekerja sama dengan polisi untuk memberikan nama-nama petobat baru. Puji Tuhan, semua pendeta yang masih tinggal di Iran tetap setia dalam pelayanan, walaupun hampir semua dari mereka mengalami masalah yang sulit.

Banyaknya pendeta dan jemaat yang meninggalkan Iran adalah ancaman lain bagi keberadaan gereja di sini. Sejumlah besar pemimpin gereja dan jemaat yang mencari suatu kehidupan yang lebih baik dalam kerohanian dan keuangan, mulai pergi ke negara lainnya. Ini adalah pukulan hebat lainnya dari iblis bagi gereja. Lebih dari sepertiga pendeta Injili di sana meninggalkan Iran. Beratus-ratus orang Kristen Iran bermigrasi ke Barat sehingga gereja di sini menghadapi krisis besar.

Penganiayaan terus berlanjut. Mereka mencoba menangkap sebanyak-banyaknya pendeta dengan cara yang brutal. Seorang pendeta digantung di dalam penjara pada Desember 1990 yang lalu. Dia meninggalkan seorang istri yang buta dan empat orang anak. Dulunya dia berasal dari "agama lain" dan bertobat, lalu ditasbihkan menjadi seorang pendeta Pantekosta di kota Mashhad. Ada pula seorang penatua gereja yang sedang menghabiskan masa hukuman delapan tahun penjara. Dia dikenai dakwaan menjadi murtad menurut "agama lain". Masih banyak anggota jemaat lain yang dipenjarakan. Mereka dikenai dakwaan karena membawa orang lain kepada Kristus. Ini adalah hal yang luar biasa, bagaimana para petobat baru dari "agama lain" yang terkasih ini teguh bertahan demi iman di dalam Kritus. Ada satu kejadian, ketika pendeta Hossein Soudmand menjadi martir demi imannya, seorang petobat dari "agama lain" datang kepada saya dengan bercucuran air mata dan berkata, "Saya bingung mengapa saya tidak menjadi martir seperti pendeta itu." Segera sesudah itu, saudara seiman ini ditangkap. Dia dituduh menjual kitab Perjanjian Baru di jalan-jalan. Dia dipenjarakan selama 45 hari dan diperingatkan akan dibunuh karena imannya. Dia sudah mengucapkan selamat tinggal kepada istri dan anak-anaknya, tetapi ia dibebaskan setelah beberapa hari mendekam di penjara. Merupakan hal yang sangat umum terjadi di Iran, di mana orang-orang Kristen keluar masuk penjara atau mati sebagai martir.

Sebenarnya, banyak orang dari "agama lain" yang datang ke gereja dan mengemukakan keinginan mereka untuk bertobat, tetapi mereka takut akan hukuman mati. Kita percaya pada saat masalah ini terpecahkan, akan lebih banyak lagi orang-orang dari "agama lain" yang bertobat.

Satu hal yang kita tekankan di sini bahwa ada sejumlah kecil kelompok Kristen (dari etnis A) yang tidak memiliki masalah khusus. Bahkan pemerintah Iran berusaha sebaik mungkin untuk memecahkan masalah mereka. Mereka tidak pernah mengalami penganiayaan hanya karena menjadi Kristen. Penganiayaan terjadi ketika kami mulai melakukan penginjilan.

Kematian Uskup Haik dan kematian pendeta Iran lainnya telah menghasilkan buah. Hari-hari ini, beberapa ribu para petobat baru dari "agama lain" menyembah Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat di dalam rumah-rumah mereka dengan sembunyi-sembunyi. Perkiraan kasar jumlah para pemercaya Kristus ini adalah antara 15.000 sampai 25.000. Bahkan, jika perkiraan jumlah mereka di bawah angka-angka tersebut adalah mungkin saja benar, ini dapat menempatkan Iran sebagai negara yang memunyai petobat baru dari "agama lain" terbanyak di dunia "agama lain".

Keberanian dan pengorbanan dari saudara seiman kita dan sakitnya penderitaan yang dialami oleh janda-janda mereka tidaklah sia-sia. Berdoalah bagi orang Kristen dan lawatan Tuhan di Iran.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buleti : Kasih dalam Perbuatan, Edisi Juli-Agustus 2004
Penulis : Tidak Dicantumkan
Penerbit : Voice of the Martyrs
Halaman : 12

e-JEMMi 17/2008

"Apakah Yang Di Tanganmu Itu?"

Oleh Harvey Moore, San Diego, California

Sebagai seorang calon pendeta, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan kotbah pada acara informal di rumah perawatan di sebuah kota kecil. Tetapi saya baru sadar kemudian bahwa ternyata para penghuni rumah tersebut adalah orang-orang yang telah memutih rambutnya. Pada pagi Sabtu itu, rasa takut mulai memenuhi benak saya. Saat itu saya baru berumur 21 tahun. Apa yang dapat saya sampaikan pada orang-orang lanjut usia ini?

Untuk menutupi rasa cemas saya, maka sebagai langkah awal saya menemui mereka terlebih dulu untuk berkenalan. Hampir setiap orang menceritakan permasalahan yang sama yaitu bahwa mereka merasa tidak mempunyai apa-apa untuk dapat menolong orang lain. Mendengar cerita- cerita itu, saya segera tahu pesan apa yang harus saya sampaikan dalam khotbah saya, yaitu "Percakapan antara Musa dengan Allah di semak duri yang menyala" ({Keluaran 3}). Pasal itu menceritakan tentang Musa yang merasa tidak mampu mengemban tugas untuk memimpin bangsa Israel. Kesimpulan dari pasal tersebut adalah bahwa setiap orang, entah berapapun usianya, pasti memiliki sesuatu yang dapat dipakai untuk menolong orang lain."

Diskusi yang hidup pun terjadi. Lalu dari ruang sebelah, Ibu Bean memanggil saya dari tempat dia terbaring. Dengan memandang mata saya, Ibu Bean bertanya, "Nak, apakah engkau yakin dengan apa yang engkau sampaikan tadi?" "Ya, sangat yakin," jawab saya.

Ibu Bean melanjutkan, "Aku telah melekat di tempat tidur ini selama lima belas tahun. Katakan padaku, bagaimana aku dapat menolong orang lain." Saya mengulang Firman Tuhan dalam Alkitab kepadanya, "Apakah yang di tanganmu itu?" ({Keluaran 4:2a}).

Ibu Bean menjawab, "Tidak ada, hanya sebuah telepon. Dan apakah manfaat telepon itu sedangkan aku tidak memiliki seorang pun untuk aku telepon?"

"Saya tidak memiliki jawaban untuk saat ini," jawab saya dengan jujur. "Tapi mengapa kita tidak mendoakan hal ini?" Lalu kami berdoa bersama dan dia terlihat lebih baik.

Malam itu saya mulai memikirkan Ibu Bean dan pernyataannya bahwa dia tidak memiliki seseorang untuk ditelepon. Bagaimana kalau saya mencarikan orang-orang yang dapat diteleponnya?

Di gereja tempat saya ditugaskan, saya mulai bertanya kepada ketua- ketua komisi, "Tidakkah lebih baik bila kita memiliki seseorang yang dapat menelepon dan mengingatkan setiap anggota komisi setiap kali mengadakan pertemuan/rapat?" Hari itu juga, saya memperoleh daftar 36 nama dari sebuah buku catatan yang segera saya berikan pada Ibu Bean. Meskipun ragu-ragu, dia setuju untuk menghubungi nama-nama tersebut lewat telepon dan mengingatkan mereka tentang jadwal pertemuan.

Selama seminggu itu, saya mengumpulkan nama-nama dari kelompok lain. Lalu pada hari Sabtu berikutnya, bahkan sebelum saya sempat duduk di kursi, Ibu Bean sudah menanyakan mengenai nama-nama lain yang dapat dia hubungi. Ibu Bean bercerita, "Pada mulanya aku berpikir bahwa aku hanya sekedar mengingatkan mereka. Tetapi ada beberapa di antara mereka yang ingin tahu dan mengenalku, dan kami benar-benar melanjutkan percakapan kami. Mereka mengatakan keinginan mereka untuk sharing lagi dengan saya pada minggu berikutnya!"

Saat saya lulus dari seminari, Ibu Bean telah mengenal hampir setiap orang di kota itu. Dan kami berdua memahami bahwa ketika kita memakai apa yang Tuhan berikan dan sediakan pada kita, maka tidak dapat dibayangkan lagi tentang berapa banyak hal yang dapat kita lakukan dengan pemberian itu.

Sumber: Guidepost, March 1999

"Ayah, Tolong Doakan Aku"

Asya Maria M. adalah seorang gadis asal Irak yang bekerja di toko ayahnya dekat Dohuk, Irak. Hari itu, 9 Juli, ia sedang berada di toko saat pamannya yang beragama lain datang bersama sepupunya.

Pamannya, Sayeed mengatakan ia akan memberi pelajaran pada Maria karena mempermalukan keluarga dengan bekerja di tempat umum. Tapi yang sebenarnya adalah ia sangat marah atas keputusan Maria dan keluarganya menjadi pengikut Kristus.

Ayah Maria, Ahmad, memutuskan untuk meninggalkan iman lamanya dan menjadi pengikut Kristus saat bertugas di Beirut tahun 1998. Ketika kembali dari Beirut ke Irak pada 2002, ia mulai membagikan perjalanannya bersama Yesus dan seluruh keluarga dijamah hingga akhirnya mereka semua menjadi Kristen. Istri dan anak-anak Ahmad dibaptis tahun 2003.

Kakek Maria adalah seorang pemimpin agama. Ia sangat marah dengan keputusan yang diambil keluarga Maria. Sayeed, paman Maria mencoba membunuh kakaknya dan membakar rumah mereka.

Ketika ia datang ke tokonya, Ahmad sedang tidak berada di sana. Sayeed memukuli Maria dan ibunya, pisau tajam sempat merobek wajah ibu Maria sebelum akhirnya ia dapat melarikan diri. Tidak cukup puas dengan ibu Maria, Sayeed juga mengejar Maria dan adiknya, Chuli; mereka dipukuli dan ditendang.

Saat mencoba membela diri dari Sayeed yang semakin beringas, Maria meraih sebuah pisau dapur dan langsung menghujamkannya ke tubuh Sayeed. Pisau itu menembus jantung Sayeed dan langsung membuatnya terjatuh ke lantai. Ia tewas.

Maria, yang tahun ini berusia lima belas tahun, dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Kakeknya menuntut hukuman mati atas dirinya dan membayar denda sebesar $ 50.000. Orang tua dan saudara-saudara Maria terpaksa harus bersembunyi, seluruh keluarga masih mengancam akan membunuh ayahnya. Ahmad harus hidup dalam pelarian.

"Saya kehilangan rumah, mobil, dan sekarang keluarga," ujar Ahmad yang sangat rindu pada Maria.

Maria adalah satu-satunya gadis remaja di penjara yang sekarang dihuninya. Puji Tuhan, Ahmad dapat mengunjunginya di penjara. Dan saat mereka bertemu, Maria berkata pada ayahnya, "Ayah, tolong doakan aku."

Kampanye Penulisan Surat bagi Seorang Gadis Kristen

Anda dapat melakukan sesuatu bagi Tubuh Kristus yang teraniaya selain berdoa. Karena itu, Open Doors ingin menggerakkan Anda untuk menguatkan Maria dengan menulis kalimat-kalimat iman dalam sebuah surat. Tulislah surat kepada Maria dalam bahasa Inggris dan surat Anda akan diterjemahkan ke dalam bahasa Irak. Open Doors, yang menyelenggarakan kampanye ini, akan mengirimkan surat yang Anda buat tersebut kepada Maria. Mohon Anda mengikuti petunjuk penulisan surat (di bawah ini) dan kirimkan surat Anda lewat pos kepada Maria dengan alamat:

Asya Maria M.
c/o Open Doors Indonesia
P.O.Box 5019/JKTM
Jakarta 12700

Petunjuk Penulisan Surat

  1. Jangan menuliskan sesuatu tentang Open Doors.

  2. Disarankan untuk mengirimkan kartu, "artwork", kartu pos yang disimpan dalam amplop.

  3. Tuliskan kata-kata Anda dengan tulisan yang jelas dan singkat (dalam bahasa Inggris).

  4. Cantumkan 1 -- 2 ayat firman Tuhan untuk menguatkan Maria.

  5. Jangan tulis sesuatu yang negatif tentang agama lain atau pemerintah Irak.

  6. Tuliskan nama dan negara asal (Indonesia), tapi jangan cantumkan alamat lengkap Anda.

  7. Jangan kirim uang dalam surat Anda.

Kampanye Penulisan Surat bagi Maria di Irak ini hanya dilakukan Open Doors hingga akhir tahun 2007. Mohon Anda tidak lagi mengirim surat atau kartu setelah tanggal 1 Januari 2008. Open Doors Indonesia akan mengumpulkan semua surat dari seluruh Indonesia dan mengirimkannya sekaligus kepada Maria.

Diambil dari:

Judul buletin : Open Doors, Edisi September-Oktober 2007, Volume 14 No. 5
Judul artikel : "Ayah, Tolong Doakan Aku"
Penulis : Tidak dicantumkan
Halaman : 10

e-JEMMi 46/2007

"Sumur" Rohani

Oleh: Soegianto

Saya melihat kehidupan rekan saya yang sebelumnya pernah mengikuti kelas PESTA Online, dan saya melihat banyak perubahan yang dia alami dan pertumbuhan rohani yang pesat. Saya merasa saya mengalami stagnasi dalam kehidupan rohani saya. Dan kelas PESTA Online ini telah membangkitkan kerinduan saya untuk menggali lebih dalam kepada kebenaran-kebenaran firman Tuhan dan untuk saling membantu dengan teman-teman sekelas sebagai saudara seiman untuk terus bertumbuh melalui pembelajaran firman Tuhan. Pada zaman di mana diskusi rohani semakin sulit dilakukan (karena pekerjaan), maka kelas ini telah menolong saya sebagai salah satu "sumur" rohani setiap harinya (selama kelas ini berlangsung).

Diambil dari:

Nama publikasi : BERITA PESTA - Edisi 25/Juli/2007
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/berita_pesta/025/

e-JEMMi 39/2007

Ada Sukacita Di Yogyd

Suatu Jumat malam di Yogyakarta ada sekitar 150 lebih mahasiswa berkumpul di suatu tempat. Mereka melambaikan tangan, menggoyangkan kaki, sambil melantunkan lagu-lagu rohani. Mereka adalah anggota dari JOY Fellowship yang bertujuan untuk menyatakan Injil kepada sesama mahasiswa dari universitas-universitas lain di Yogyakarta.

Yogya memiliki sekitar 70 universitas dengan 180.000 mahasiswa (1999). Mereka memenuhi kota dan memadati jalan-jalan di Yogya yang semakin memperjelas pentingnya pelayanan bagi mahasiswa. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa OMF mengirim Chang Nam dan Sylvia Son untuk melayani di Yogya pada awal tahun 1992. Sesudah mengikuti sekolah bahasa, Chang Nam mendapat pekerjaan untuk mengajar akuntansi di Universitas Duta Wacana. Kemudian dia mulai mencari cara-cara untuk mengenal para mahasiswanya di luar ruang kuliah.

Namun untuk merintis dan terlibat dalam pelayanan mahasiswa tidaklah secepat perkiraannya dan bulan-bulan berlalu dengan usaha-usaha yang belum menampakkan hasil. Suatu hari beberapa mahasiswa Kristen menjumpainya dan memintanya untuk mengajari bahasa Inggris. Chang Nam berasal dari Korea, dan bahasa Inggris merupakan bahasa kedua baginya. Namun di mata para mahasiswa, Chang Nam adalah dosen asing, jadi dia pasti menguasai bahasa Inggris. Melihat kesempatan ini, Chang Nam mengundang para mahasiswa itu ke rumahnya. Lalu dia mengundang seorang misionaris Amerika dan kelompok kecil itu memulai "pelajaran bahasa Inggrisnya" dengan menggunakan Alkitab sebagai buku pegangan. Kelompok pemahaman Alkitab tersebut yang dimulai akhir tahun 1992 berkembang dengan cepat dan beberapa kali pindah ke tempat persekutuan yang lebih besar.

Sementara itu, Chang Nam dan Sylvia sedang belajar menyesuaikan diri dengan budaya-budaya setempat. Orang-orang Korea, termasuk keluarga Chang Nam, sangat peka dengan posisi dan kedudukan sampai mereka tiba di Indonesia. Anak-anak mereka tidak pernah mendengar seorang pun penduduk Indonesia yang memanggil ayah mereka dengan namanya. Namun, hal itu biasa dilakukan oleh mahasiswa Indonesia. Orang-orang Korea akan siap untuk berkonfrontasi dengan seseorang yang telah melakukan kesalahan atau yang telah menyinggung mereka, tetapi orang-orang Indonesia merasa sangat malu saat mereka kehilangan muka. Para mahasiswa Indonesia di kampus menolong Chang Nam untuk mengatasi kendala-kendala budaya ini terutama saat dia berjuang untuk mengajar dengan bahasa Indonesia yang dipelajarinya sendiri.

Pada retreat pertama, persekutuan tersebut menamakan diri mereka JOY Fellowship (J=Jesus, O=Others, Y=Yourself). Mahasiswa-mahasiswa dari berbagai propinsi yang berkemampuan untuk memimpin persekutuan itu mulai bermunculan. Chang Nam memberi tambahan pelatihan kepada mereka. Sementara itu beberapa mahasiswa dari Sulawesi, Sumatera, Jawa, dan Bali yang mengambil jurusan manajemen, ilmu komputer, akuntansi, dsb. dipilih menjadi pengurus persekutuan. Mereka bertugas untuk merencanakan program, mengatur kelompok-kelompok sel, dan membuat/melakukan program-program outreach. Namun persekutuan ini tidak selalu berjalan mulus. Ada saatnya Chang Nam melihat persekutuan ini mulai pecah karena kurangnya visi. Chang Nam secara perlahan mulai menanamkan visi baru bagi persekutuan ini yaitu memberitakan Injil kepada para mahasiswa di Yogya. Chang Nam juga mengajarkan kepada mereka agar memiliki mentalitas "bersedia diutus".

Meskipun terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada saat itu, setengah lusin pemimpin mahasiswa, setelah mereka lulus, segera mencari kerja dan mengumpulkan dukungan untuk menjadi pekerja full- time. Beberapa di antara pekerja full-time itu baru saja lulus kuliah. Yeni, sarjana arsitektur dari Sumbawa, memimpin pelayanan musik. Sarah, sarjana pertanian, memimpin pelayanan kelompok sel. Nanda, lulusan seminari teologi dari Sumba, bertanggung jawab terhadap pelayanan outreach kampus. Jusak, yang kuliah di jurusan manajemen dari Magelang sedang mengembangkan sebuah yayasan legal sehingga JOY Fellowship dapat menjadi sponsor bagi seorang misionaris luar negeri untuk datang ke Indonesia.

Setiap Jumat malam, mereka mengadakan persekutuan dalam bahasa Inggris dan menarik minat para mahasiswa yang ingin sekali memperdalam bahasa Inggris. JOY Fellowship mengadakan acara bincang-bincang, retreat kepemimpinan, drama, kesenian, dsb. yang menarik banyak mahasiswa untuk mendengarkan Injil. Chang Nam mengatakan, "JOY Fellowship menginginkan tiga hal menjadi ciri persekutuan ini:

Tidaklah mengejutkan jika JOY fellowship mempunyai mimpi-mimpi besar. Mereka rindu suatu saat nanti akan ada JOY Fellowship di berbagai kota di Indonesia. Mereka telah menetapkan target 700 mahasiswa menjadi anggota persekutuan, dan mereka memperkirakan akan membutuhkan 25 pekerja full-time.

Saat ini Chang Nam mulai mendapat dukungan dari alumni JOY Fellowship. Kebanyakan di antara mereka telah enggan mengikuti persekutuan setelah lulus kuliah. "Tali persahabatan dengan teman bisa terputus. Namun persahabatan dengan Allah akan kekal selamanya." kata seorang lulusan dalam acara reuni alumni JOY Fellowship.

Diterjemahkan dan diedit dari sumber:
East Asia's Millions
OMF International, 1st Quarter 1999

e-JEMMi 11/2003


Afak

Afak lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga "Muslim Orthodox". Dia mempunyai empat saudara laki-laki dan empat saudara perempuan. Ketika dia masih muda, ibunya meninggal dan dia dikirim ke sekolah Muslim, Madrassa, dimana dia belajar bahasa Arab dan Urdu. Dia adalah seorang murid yang tekun dan ingin sekali mengetahui Allah yang sejati serta mau menyembah Dia dengan sungguh-sungguh.

Suatu hari, saat sedang membaca Al Qur'an seperti biasa, Afak terpaku pada ayat Al Qur'an dalam Sura 4:171 dimana Yesus digambarkan sebagai Ruh-e-allah, Roh Allah. Hal ini membingungkan Afak karena selama ini dia menganggap Yesus sebagai salah satu nabi, sesuai dengan ajaran Islam yang diterimanya. Namun, dalam kitab Sura dituliskan bahwa Yesus adalah Roh Allah. Lalu Afak menemui seorang pendeta Kristen yang menjelaskan kepadanya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan untuk dapat mengenal Allah dan keselamatan hanya ada di dalam Dia.

Mulai saat itu, terjadilah pergumulan dalam diri Afak saat dia terus membaca, baik Al Quran maupun Alkitab. Afak meluangkan waktu dengan para pemimpin Islam dan juga seorang pendeta Kristen untuk bertanya kepada mereka secara teratur. Ketika mengetahui bahwa Afak juga berdiskusi dengan pendeta Kristen, para pemimpin Islam lambat laun mulai membenci Afak.

Meskipun menghadapi resiko secara fisik, pendeta Kristen terus membantu Afak dan beberapa waktu kemudian Afak menjadi percaya dan yakin bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Keluarga Afak menjadi sangat marah karena Afak menjadi pengikut Kristus. Akhirnya mereka menolak Afak dan mengusirnya dari rumah. Mereka sudah menganggap Afak sebagai orang asing. Segera setelah peristiwa itu terjadi, Afak memutuskan untuk bersedia dibaptis.

Sekarang, Afak melayani orang-orang Muslim di India, khususnya dalam sebuah program pemberantasan buta huruf. Imannya kepada Kristus terus bertumbuh dan dia semakin terbeban untuk menjangkau orang-orang Muslim dan mengenalkan mereka kepada Kristus.

Sumber: <30-days@ls.pmbx.net>
List-Subscribe: <30-days-on@ls.pmbx.net>

Aku Bebas!!

Kevin Mills (bukan nama asli) kehilangan ujung jempol tangan kirinya. Jempolnya terpukul palu dengan keras ketika dia mencoba membuka kotak brankas, saat itu dia baru berusia 15 tahun. Namun Kevin sudah menjadi anggota sebuah geng dan mereka telah melakukan berbagai perampokan besar. Kevin juga pecandu narkoba dan uang hasil curiannya itu dia gunakan untuk membeli obat-obatan terlarang.

Suatu hari, Kevin terlibat dalam perkelahian. Polisi menemukannya tergeletak di jalan. Polisi juga mengetahui bahwa Kevin telah melakukan banyak kejahatan. Lalu dia dikirim ke Dartmoor, sebuah penjara terkenal di Inggris. Di penjara itu, Kevin dikurung dalam sebuah ruangan yang sangat sempit selama 23 jam setiap hari.

Enam tahun kemudian Kevin dibebaskan dari penjara, namun dia belum terbebas dari kecanduan narkoba atau keinginan untuk melukai orang lain. Hal pertama yang dilakukan sesudah keluar dari penjara adalah mencari sebuah senapan karena dia ingin membunuh orang-orang yang dulu melukainya dalam perkelahian sebelum dia dipenjara. Kevin meminta teman-temannya untuk menemuinya di stasiun kereta api dan membawakan sepucuk senapan untuknya. Teman-temannya datang tetapi tidak membawakan apa yang ia minta. Sebaliknya mereka malah mengajak ibu Kevin untuk menemuinya. Satu kalimat yang diucapkan ibunya, "Kevin, kamu harus berubah!" Perkataan ini ternyata berhasil membuat Kevin berpikir.

Suatu hari, saat Kevin hendak menyuntikkan obat terlarang ke lengannya, ia berkata pada dirinya sendiri, "Aku tidak dapat melakukannya lagi." Temannya yang saat itu ada di sampingnya melihat ke seberang jalan dan berkata, "Ayo kita pergi ke sana". Di seberang jalan itu ada sebuah bangunan gereja tempat dimana banyak orang beribadah. Di gereja itu, Kevin mendapat informasi tentang "Betel", sebuah kelompok Kristen yang melayani dan menolong orang-orang yang hidupnya berantakan, terutama mereka yang kecanduan narkoba.

September 1998, Kevin pergi ke Windmill House, "Betel Centre" di Birmingham, Inggris. Teman-temannya berkata, "Paling-paling kamu cuma dapat bertahan 2 minggu di tempat itu. Tapi Kevin ingin sekali mewujudkan apa yang diucapkan ibunya, dan dia berhasil.

"Aku ingat ketika melewati pintu-pintu itu. Aku masih dapat merasakannya. Saat itu aku tahu ada sesuatu yang kuinginkan dari tempat itu ... Setiap orang sangat bersuka cita ... Anda dapat merasakan kasih yang melingkupi tempat itu."

Kevin menyadari bahwa para penghuni "Betel Centre" yang hidup dengan penuh sukacita itu dulu sama seperti dirinya -- orang-orang yang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya.

Kevin berkata, "Aku tidak ingin lagi menjadi Kevin yang dulu lagi ... Aku ingin hidup ... dan merasakan kebahagiaan yang sejati." Di suatu pagi, jam 03.00 dini hari, Kevin tidak dapat tidur dan saat itu pula dia memutuskan untuk menyerahkan hidupnya dalam pimpinan Yesus.

Di situlah awal mula Kevin mulai belajar sesuatu, bahwa ia dapat meminta Yesus untuk menolong dan menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Semenjak itu, Kevin melihat Allah memberikan damai sejahtera dalam hidupnya. "Dimanakah aku dapat menemukan kebebasan hidup selain dalam Yesus? Sangatlah menakjubkan karya Allah dalam hidupku. Aku mengucap syukur dan semakin mengasihi-Nya."

Saat ini Kevin melayani di India, menolong orang-orang yang kecanduan narkoba, agar mereka juga menemukan kebebasan hidup seperti yang telah ditemukannya.

Sumber: S O O N, Issue no. 169

Allah Akan Memberikan Kepadaku Kekuatan

"Rowland, janganlah pergi," bujuk teman-temannya. "Engkau telah menjalankan tugasmu. Engkau telah bersaksi demi kebenaran dan melawan imam yang mencoba membawamu kembali pada berhala. Kristus Juru Selamat kita sudah mengatakan bahwa ketika mereka menganiaya kita di satu kota, kita harus menyingkir ke kota lain. Pertahankan dirimu untuk waktu lain, karena gereja memiliki kebutuhan yang besar akan guru-guru yang rajin dan pendeta-pendeta yang saleh."

Dr. Rowland Taylor menjawab, "Allah tidak akan meninggalkan Gereja-Nya. Ia akan membangkitkan orang-orang lain untuk mengajar Umat-Nya." Ia melanjutkan, "Sedangkan untuk diriku, aku percaya, di hadapan Allah, aku tidak akan pernah dapat melakukan pelayanan yang demikian baik kepada Allah, seperti yang mungkin aku lakukan kini; pernahkah akan kumiliki panggilan semulia sekarang; sedemikian besarnya kemurahan Allah yang diberikan kepadaku. Jadi aku meminta kalian, dan semua kawan-kawanku yang lain, untuk berdoa bagiku; dan aku mengetahui Allah akan memberiku kekuatan dan Roh Kudus-Nya."

Pada pertengahan tahun 1500-an, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Dari seluruh Inggris, kota Hadley merupakan salah satu tempat pertama yang menerima firman Allah. Di sini, banyak orang sering membaca seluruh Alkitab dan mengikuti firman Allah dalam kehidupan mereka. Tetapi, ketika Raja Edward meninggal, kebebasan beragama mengalami kemunduran yang teramat besar. Dr. Rowland Taylor, pendeta dari Hadley, dengan berani menantang mereka yang berusaha memaksa orang-orang percaya untuk kembali ke takhayul dan berhala Zaman Kegelapan. Untuk itu, ia diperintahkan untuk menghadap uskup dan Lord Chancellor [seorang pejabat khusus yang dilantik langsung oleh Raja/Ratu Inggris atas nasihat Perdana Menteri, Red.].

"Aku telah tua dan telah hidup terlalu lama untuk melihat hari-hari yang mengerikan dan paling jahat ini," ia mengatakan kepada kawan-kawannya. "Lakukanlah sebagaimana nurani kalian membawa kalian. Aku telah sepenuhnya bertekad dengan anugerah Allah untuk pergi menghadap uskup. Aku tidak mengharapkan keadilan atau kebenaran, tetapi pemenjaraan dan kematian yang kejam. Tetapi, aku mengetahui alasanku baik dan benar, bahwa kekuatan kebenaran di pihakku." Dengan kata-kata ini, dengan penuh keinginan ia pergi ke London. Dan sebagaimana sudah diperkirakan, ia dituduh sebagai bidat dan dijebloskan ke dalam penjara. Setelah dua tahun, ia lagi-lagi dibawa menghadap uskup dan diberikan kesempatan untuk mengubah pendiriannya.

Ketika para uskup melihatnya senantiasa berani dan tidak tergoyahkan pada kebenaran, mereka menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ia langsung dikirimkan kembali ke kota kelahirannya Hadley untuk dibakar di tiang pancang. Sepanjang perjalanan ia demikian bersukacita dan bergembira sehingga semua yang melihatnya mengira ia hendak pergi ke pesta atau pernikahan. Kata-katanya kepada para penjaganya sering membuat mereka menangis sementara ia sungguh-sungguh memanggil mereka untuk bertobat dari kejahatan dan kehidupan yang sesat. Mereka sangat kagum ketika melihat keteguhannya yang tidak mengenal rasa takut, tetap bersukacita, dan bergembira menghadapi kematian.

Dua mil dari kota, ia turun dari kudanya dengan sedikit menari, ia demikian bergembira menjelang tiba di rumah. Ia kemudian berdoa, "Terima kasih, Tuhan, karena sekali lagi aku akan melihat domba-dombaku, yang kukasihi dengan sepenuh hati dan yang kuajar dengan sungguh-sungguh. Berkati mereka dan jagalah agar mereka tetap teguh dalam firman dan kebenaran-Mu." Ia harus melewati kota untuk menuju ke tempat eksekusi. Pada setiap sisi jalan terdapat wanita-wanita dan pria-pria yang menangis tersedu-sedan, "O Tuhan! Dialah gembala kami yang baik, yang dengan demikian setia mengajar kami, merawat kami, dan memerintah kami. O Allah yang penuh belas kasihan! Apakah yang akan kami -- domba-domba yang miskin dan tercerai-berai ini -- lakukan? Apa yang akan terjadi pada dunia yang paling kejam ini? Tuhan, kuatkanlah dia dan hiburlah dia."

Pada saat menjelang mereka tiba di tempat dia akan dibakar, Dr. Taylor mengatakan kepada mereka semua yang berkumpul di sana, "Aku telah mengajarkan semuanya kepada kalian, firman Allah yang kudus dan pelajaran-pelajaran yang telah kuambil dari kitab Allah yang penuh berkat, Alkitab yang kudus. Aku datang ke sini pada hari ini untuk memeteraikannya dengan darahku." Ketika ia berlutut dan berdoa, seorang wanita miskin melangkah masuk dan berdoa bersama dengannya; tetapi mereka mendorongnya pergi dan mengancam akan menginjak-injak dia dengan kuda-kuda itu. Walaupun demikian, ia tetap tidak bergeming, bertahan tinggal di sana dan berdoa bersama dengannya.

Ia pergi ke tiang pancang, mencium tiang itu, berdiri dan bersandar padanya, dengan tangannya terlipat dan matanya menatap surga. Demikianlah, ia terus-menerus berdoa. Mereka mengikatnya dengan rantai, dan beberapa pria menempatkan kayu-kayu ke tempatnya. Salah seorang melemparkan seikat kayu dengan kejamnya ke arah Dr. Taylor hingga mengenai kepalanya. Darah bercucuran membasahi wajahnya. Ia mengatakan, "Oh kawanku, aku telah mendapat cukup banyak kesakitan; mengapakah engkau perlu melakukan itu pula." Akhirnya, mereka mulai menyalakan api. Dr. Taylor mengangkat kedua tangannya dan berseru kepada Allah, "Bapa Surgawi yang penuh kasih, demi Yesus Kristus Juru Selamatku, terimalah nyawaku ke dalam tangan-Mu."

Ia berdiri di tengah kobaran api tanpa berteriak dan tanpa gerakan, dengan kedua tangan terlipat bersama-sama. Untuk mengurangi penderitaan lebih lanjut, seorang pria dari kota berlari ke arah kobaran api itu, dan ia mengayunkan kampak perang bertangkai panjang ke kepala Dr. Taylor. Ia langsung meninggal seketika itu juga, tubuhnya roboh dalam kobaran api itu. Seorang martir Yesus tidak pernah menghadapi masalah-masalahnya seorang diri. Roh Kudus dari Allah senantiasa berada di sana untuk memberikan penghiburan, kekuatan, dan pengharapan kepadanya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 117 -- 120

e-JEMMi 11/2010



Allah Memakai Penjaga Kebun Binatang Sebagai Seorang Misionaris

Meskipun kesaksian ini telah lama berlangsung, namun dari kisah ini kita dapat belajar memahami bagaimana Allah menggunakan berbagai cara dan kemampuan kita untuk mengabarkan KasihNya.

Pengalaman sebagai seorang penjaga kebun binatang dan pelatih binatang bukanlah kualifikasi yang normal bagi seorang misionaris. Namun Allah telah menggunakan pengalaman itu untuk menjangkau hati suku pygmy yang tinggal di Gabon, Afrika. Pada tahun 1930, Donald Fairley dan istrinya, Dorothy, yang melayani bersama lembaga misi "Christian and Missionary Alliance", tiba di hutan hujan Gabon. Suku pygmy yang tinggal di hutan hujan Gabon tersebut takut pada 2 roh: Mwiri and Bwiti. Untuk itu mereka melakukan upacara penyembahan bagi roh-roh yang sering kali disertai dengan pesta obat-obatan dan pengorbanan manusia. Selain takut pada roh-roh tersebut, suku ini juga takut pada serangan leopard (sejenis harimau) dan gajah. Kedatangan orang-orang kulit putih tidak dapat menghilangkan ketakutan mereka, karena dukun setempat mengatakan bahwa para misionaris tsb. datang untuk memakan jiwa anak-anak mereka. Namun Kasih Allah telah dinyatakan melalui pasangan Fairley sehingga membuka jalan untuk menjangkau hati suku pygmy ini.

Jauh sebelum Don memulai pelayanannya di Afrika ini, dia telah membuktikan keberaniannya. Dia menikahi gadis yang dia selamatkan dari bencana banjir, yaitu Dorothy. Sebelum kejadian ini, jiwa petualangan dalam dirinya telah menuntunnya untuk pergi ke pabrik pengalengan ikan salmon di Alaska dan ke sebuah kebun binatang di California, dimana pelatih sirkus Ringling Brothers mengajarinya untuk melatih binatang. Suatu saat terjadi gempa bumi yang menyebabkan hewan-hewan buas di kebun binatang itu melarikan diri. Semua penjaga kebun binatang lari menyelamatkan diri, kecuali Don. Dia berhasil menenangkan hewan-hewan dan burung-burung yang ketakutan. Dia juga berhasil membujuk seekor gajah yang ketakutan untuk kembali ke kandangnya, bahkan Don tidur di dalam kandang itu.

Di Afrika, Allah telah menggunakan keahlian Don yang diperoleh dari pengalamannya sebagai penjaga kebun binatang, untuk membuka hati suku pygmy yang tinggal di tengah hutan itu. Keahlian Don untuk memanggil burung-burung dan binatang sangat mempesona suku pygmy yang mengira bahwa Don pastilah memiliki roh yang sangat berkuasa. Sehingga saat pasangan Fairley ini menceritakan tentang Kabar Baik dan Kasih Allah, kepala suku pygmy mau membuka hatinya dan menerima Yesus. Lalu kepala suku ini juga mengangkat Don sebagai kepala kehormatan. Namun terjadi peperangan rohani dan penaniayaan yang menakutkan di antara orang-orang percaya. Walaupun demikian perlindungan Allah dan kuasa kesembuhanNya yang luar biasa juga dinyatakan Tuhan di antara mereka (Dalam tahun-tahun tersebut, banyak misionaris yang dibunuh atau meninggal karena sakit.)

Selain Don, para misionaris ini melayani di Gabon di sebuah rumah sakit, sekolah-sekolah keperawatan, dan berkecimpung dalam program pertanian dan kesehatan di berbagai tempat di Afrika. Baik pemerintah Gabon maupun Perancis menghargai pelayanan yang dilakukan mereka, khususnya Don. Namun Don dan istrinya mengetahui bahwa visi terbesar mereka terwujud dengan terbentuknya "Gabon Christian Alliance Church Denomination". Allah telah menggunakan keberanian dan kemampuan pasangan Fairley ini untuk meluluhkan kekejaman dan membawa kedamaian dan iman percaya bagi suku pygmy.

Sumber: Evangelical Missions Quartely (EMQ)

e-JEMMi 10/2001

Allah Mengubah Hidupku

Chandra adalah seorang penduduk yang tinggal di wilayah Andhra Pradesh, India. Dia mempunyai sebuah panti asuhan dimana dia merawat orang-orang yang membutuhkan pertolongan -- anak yatim piatu, para janda dan orang-orang cacat. Chandra bekerja keras merawat dan mengasihi mereka. Tapi dulu Chandra bukanlah orang yang seperti itu. Berikut ini adalah kesaksiannya :

"Seorang pria meninggal karena kebencianku pada Allah dan semua orang Kristen. Tujuan hidupku adalah menghajar setiap orang Kristen yang kulihat sedang menceritakan tentang Allah dan Kasih-Nya. Kadang- kadang aku membakar Alkitab mereka dan menyobek-nyobek traktat yang mereka bagi-bagikan lalu membuangnya ke tempat sampah. Temanku dan aku juga membakar tas dan pakaian mereka. Keinginanku adalah membunuh semua orang Kristen yang kutemui.

"Pada waktu itu, aku telah memiliki sebuah toko perhiasan yang dibantu oleh 10 orang pekerja. Hasil pendapatan dari toko selalu kuhambur- hamburkan untuk memenuhi segala sesuatu yang memberiku kepuasan.

"Ada 3 orang pendeta yang biasa berkunjung ke toko dan mendoakanku. Suatu hari, sesaat setelah ketiga pendeta itu memasuki toko, aku segera menutup semua pintu dan memukuli mereka. Aku lepaskan pakaian mereka dan membakar pakaian tsb. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali memandangiku. Karena pukulan-pukulan yang dilancarkan ke tubuh mereka, salah satu dari pendeta itu meninggal dunia. Polisi menangkapku dengan tuduhan pembunuhan dan aku dihukum penjara seumur hidup. Aku berdoa memohon bantuan kepada para dewa yang kusembah agar membebaskanku dari penjara, tetapi tidak ada sesuatupun yang terjadi.

"Suatu hari, seorang pendeta datang berkunjung ke penjara. Dia menceritakan kepada semua narapidana tentang Allah dan bagaimana Dia telah mengutus Yesus Kristus, Anak-Nya, agar datang ke dunia untuk disalibkan sehingga barang siapa yang percaya pada-Nya akan mendapatkan pengampunan. Lalu, pendeta itu membagi-bagikan traktat yang kemudian mulai kubaca. Semenjak saat itu, hidupku mulai berubah. aku mulai suka membaca Alkitab -- buku yang sebelumnya sangat kubenci dan pernah kubakar. Aku mulai belajar berbicara dengan Allah.

"Setahap demi setahap, tingkah lakuku mulai berubah. Karena tingkah lakuku baik selama di penjara maka kepala penjara mengusulkan namaku pada pemerintah setempat agar memberikan kebebasan. Akhirnya aku bebas -- bebas dari penjara dan bebas dari rasa benci yang selama ini telah menguasai hidupku.

"Sekarang aku mulai menceritakan kepada orang-orang yang kutemui tentang semua yang telah Allah kerjakan dalam hidupku dan apa yang dapat Ia kerjakan dalam hidup mereka. Kebencianku telah diubah-Nya menjadi rasa kasih. Aku sekarang rindu memberi pertolongkan kepada mereka yang membutuhkan."

Sumber: S O O N, Issue no. 169

Amerika: Ibunda Sophia

"Pada tahun 1996, anak perempuan kami Sophia mengalami kejang-kejang yang menyebabkan terjadinya kerusakan pada otaknya. Dia menderita selama berbulan-bulan, menangis tanpa henti selama dua atau tiga hari setiap kali dan merintih kesakitan. Dia tidak mengenal kami dan juga tidak memberikan reaksi."

"Perawat kami tidak dapat memahami mengapa kami tidak marah pada Allah karena telah mengijinkan hal ini terjadi. Saya mencoba membantunya melihat bahwa kami adalah hamba-hamba-Nya dan tidak dapat menolak pemberian-Nya yang besar dalam diri Anak-Nya. Empat bulan setelah terjadinya kejang-kejang itu, Sophia meninggal.

"Pada hari kematiannya, saya melihat dalam artikel Voice of the Martyrs foto seorang wanita Sudan yang payudaranya telah dipotong sedang duduk di sisi bayinya. Tentara Muslim menyiksanya dengan cara yang keji, memaksa dia melihat anaknya mati kelaparan. Ribuan kilometer darinya, saya dapat merasakan penderitaannya, dan saya menangis, dan saya berpikir, saya tidak akan membiarkan saya tenggelam dalam mengasihi diri sendiri.

"Wanita itu dan wanita-wanita lain seperti dia tidak dapat menikmati perawatan medis, persekutuan, dan kasih dari saudara-saudara yang kami miliki. Namun mereka dengan tabah menjalaninya, dan saya dengan kasih karunia Allah juga dapat menjalaninya.

"Saya membutuhkan surat-surat hidup yang menceritakan kenyataan bahwa Yesus hidup dan dunia ini bukanlah rumah saya."

Meskipun hadirat Allah selalu dekat dengan perantaraan Roh Kudus, kita seringkali membutuhkan manusia lain sebagai sumber kekuatan rohani untuk menolong kita dalam iman. Para martir dan orang-orang percaya lainnya mendorong kita untuk percaya bahwa kita mungkin juga dapat memberikan respon yang sama. Meskipun kita tidak mengalami penderitaan yang sama, kita tetap dapat meneladani semangat mereka, daya tahan dan keberanian mereka dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika Anda terinspirasi oleh suatu kisah kehidupan iman, bagikan dengan yang lain. Bagikan agar dapat menjadi teladan. Ajar orang lain untuk dapat memperoleh kekuatan dari mereka yang telah lama pergi, meninggalkan teladan iman bagi kita semua.

Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia (2 Korintus 3:3)

Diambil dari:

Judul buku : Devosi Total
Judul asli buku : Extreme Devotion
Penulis : The Voice of the Martyrs
Penerjemah : Fintawati R. dan Ivan H.
Penerbit : Surabaya, KDP 2005
Halaman : 171

Dipublikasikan di: http://wanita.sabda.org/amerika_ibunda_sophia

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/amerika_ibunda_sophia

Apa Kata Para Penginjil Internet?

Berikut ini adalah kesaksian dari beberapa orang yang melihat internet atau dunia maya sebagai ladang pelayanan yang efektif untuk memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus. Dengan talenta dan kemampuan yang mereka miliki, mereka menerima tantangan untuk menjangkau sebanyak mungkin orang dengan cara seefektif mungkin melalui media internet.

APA KATA PARA PENGINJIL INTERNET?

"Saya sangat terharu saat memikirkan betapa Tuhan telah memberi saya hak istimewa di mana dalam sehari saya bisa menjangkau begitu banyak orang bagi-Nya, yang tak dapat dilakukan di sepanjang hidup para pengkhotbah besar yang hidup seratus tahun lalu. Tak heran, Tuhan menciptakan internet!" -- Dean Craig, gotWWW.com

"Saya terlibat dalam pelayanan web karena hal itu sangat sesuai dengan bakat, talenta, dan kerinduan saya untuk mempergunakan apa yang telah Tuhan berikan pada saya untuk membuat dampak terbesar bagi kerajaan-Nya. Saya merasa Tuhan telah memperlengkapi saya dengan teknologi web, komunikasi sosial secara tersambung (on-line), sehingga pelayanan bagi kerajaan-Nya dapat dilakukan dalam tingkat `glokal` (global dan lokal)." -- Rob Williams, Global Technology Office, CCCI

"Saya senang berkhotbah di gereja, tapi ketika berkhotbah di sebuah gereja, suara saya hanya terdengar sampai sejauh enam puluh meter. Sedangkan saat berkhotbah di internet, suara saya terdengar hingga ke dua ratus negara." -- Eric Elder, www.theranch.org

"Plakat di atas komputer saya berbunyi, `Anda sedang memasuki wilayah misi`. Itulah alasan saya melakukan ini. Di ruang kerja saya yang sempit ini, sesungguhnya saya bisa pergi ke seluruh dunia." -- Terri, penginjil internet, penulis, dan dosen.

"Karena internet adalah sebuah komunitas `para pencari`, yaitu orang yang hanya mampir di sebuah situs karena mereka menemukannya lewat mesin pencari atau lewat tautan (link), hampir semua pengunjung situs adalah orang-orang yang tertarik untuk belajar mengenai doa atau misi atau apa saja -- dan itulah kesukaan bagi seorang pengajar Alkitab! Hal tersebut juga luar biasa bagi pekerjaan penginjilan; tiap tahun saya telah membimbing lebih dari 500 orang kepada Allah lewat media tersambung (on-line), sementara yang bisa saya lakukan dengan tatap muka adalah membimbing 100 orang tiap tahun." -- John Edmiston, cybermission.org

"Internet adalah versi abad ke-21 dari jalan raya, pasar, gedung teater, pagar halaman belakang, dan sarana pendinginan air yang dimiliki bangsa Romawi. Penginjilan internet memberi kesempatan pada orang percaya untuk menjangkau orang-orang dengan Injil di mana pun mereka berada, seperti yang dilakukan Yesus dan Paulus." -- Rusty Wright, penulis dan penginjil.

"Hal yang paling menarik tentang penginjilan internet ialah bahwa saya dapat berada di tengah padang rumput di wilayah barat pusat kota Minnesota sembari mengarahkan pewartaan saya jauh ke pelosok dunia yang tertutup untuk Injil." -- Doug Reese, tothenextlevel.org

"Internet memberikan sebuah mimbar yang bisa bersifat pribadi, sekaligus tanpa nama. Bisa satu lawan satu dan pada saat bersamaan satu lawan banyak. Ini bisa menjadi suatu komunikasi satu arah, tapi pada saat yang sama juga bisa interaktif. Murah, tapi juga terlihat canggih, trendi, dan eksklusif. Inilah alasan mengapa saya tertarik untuk terlibat dalam penginjilan internet di India." -- Joseph Vijayam, mahalife.com

"Dua ribu tahun lalu, Rasul Paulus memanfaatkan dengan efektif media transportasi dan komunikasi tercanggih pada zamannya, ... jalanan Romawi yang lambat dan jasa pengiriman pos satu arah. Saat ini, saya dapat menyebarkan Injil secepat kilat ... dan menerima tanggapan dalam sekejap mata ... dari seluruh dunia…... jauh lebih efektif daripada apa yang bisa saya lakukan dengan terjun di lapangan." -- Allan H. Beeber, WorldLinc CCC.

Diterjemahkan dan disusun ulang dari:

Nama situs : InternetEvangelismDay.com
Judul artikel : Online Evangelism - Why Missions Do Not Use Web for
Outreach; What they say...
Penulis : tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.internetevangelismday.com

e-JEMMi 36/2007

Apakah Pelipatgandaan Rohani Sungguh-Sungguh Berjalan?

Saya yakin bahwa pelipatgandaan rohani sangat efektif dalam memenuhi Amanat Agung. Pada tahun 1962, keluarga saya pindah ke Singapura untuk membuka pelayanan Navigator -- kota yang menjadi pusat jutaan manusia di Asia. Dalam radius tiga ribu kilometer dari Singapura terdapat setengah penduduk dunia.

Beberapa minggu setelah kedatangan saya, saya memutuskan untuk meluangkan waktu sehari dengan Allah, memohon janji-janji-Nya dan mencari strategi untuk pelayanan baru ini. Allah menarik perhatian saya melalui Kitab Kejadian 13:17, "Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Latar belakang ayat ini adalah janji Allah kepada Abraham bahwa keturunannya akan berlipat ganda dan memberkati seluruh dunia.

Pada suatu hari Minggu pagi, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan berdoa dan merenungkan firman sambil berjalan mengelilingi pulau Singapura. Jarak antara pelabuhan pusat Singapura ke ujung pulau yang menghubungkan dengan Malaysia hanya tiga puluh kilometer. Saya duduk di bangku sambil melihat pelabuhan paling sibuk nomor tiga di dunia. Saya mengamati ratusan kapal keluar dari pelabuhan ke pelabuhan-pelabuhan di seluruh dunia. Saya meminta Allah memberi saya hak istimewa untuk mengutus orang-orang yang sama seperti saya untuk menjangkau seluruh sudut muka bumi. Sepanjang hari, ketika saya berjalan dari satu ujung ke ujung yang lain pulau itu, saya mohon kepada Allah supaya membangkitkan generasi-generasi kelompok hamba-Nya yang bersedia menjangkau seluruh Asia dan lebih jauh lagi.

Menjelang sore hari saya berhenti di Kranji Memorial, sebuah makam khusus bagi mereka yang telah memberikan hidup untuk mempertahankan Singapura dari serbuan Jepang pada tahun 1942. Nama dari 22.000 prajurit terukir di batu peringatan di bawah tulisan yang mengekspresikan bahwa para prajurit itu mati dan yang lain mungkin masih hidup. Terlintas dalam benak saya bahwa jika ribuan prajurit bersedia mati untuk takhta Inggris yang nun jauh di sana dan yang tak kekal, tentu harus ada orang-orang yang bersedia memberikan hidupnya untuk Yesus Kristus, Raja yang Kerajaan-Nya kekal selama- lamanya. Sore hari itu saya mohon Allah memberikan kesempatan bagi saya untuk meletakkan fondasi bagi generasi-generasi rohani.

Kini saya telah mempunyai seorang cucu rohani di Singapura. Selama masa tugas di dinas Angkatan Laut, saya telah banyak waktu untuk memuridkan seorang rekan sejawat. Setelah perang selesai, ia bekerja sebagai guru di Singapura. Apa yang pernah saya ajarkan kepadanya diteruskannya kepada seorang pemuda Singapura yang bernama Tom Lee. Tom menjadi salah satu fondasi untuk menjangkau generasi berikutnya.

Orang kunci yang lain adalah Jim Chew yang mendapat lima bulan pelatihan dari seorang staf Navigator, Warren Myers di Vietnam. Jim menemui kami ketika kami tiba di Singapura. Ia telah memulai melatih murid-murid untuk Kristus.

Selama delapan tahun, istri saya dan saya membuka pintu lebar-lebar dengan menyediakan diri untuk pelayanan pribadi lepas pribadi. Beberapa orang Asia datang dan tinggal di rumah kami agar pelayanan kontak lebih intensif.

Selama tahun terakhir, saya memimpin pelayanan Navigator di Singapura, saya juga ditugaskan membuka pelayanan baru di Indonesia. Waktu saya sangat terbatas karena saya menggunakan sepertiganya untuk pelayanan keliling di luar Singapura. Selama tahun terakhir ini, kami tidak banyak mempunyai program dan kegiatan kelompok- kelompok sebagaimana biasanya. Saya menghabiskan waktu untuk mendorong dan membina rekan-rekan dalam pelayanan pribadi lepas pribadi. Kami menetapkan sasaran untuk mendapatkan tiga puluh orang pahlawan (1Tawarikh 11:10) dan tiga puluh wanita saleh (Amsal 31) dalam tahun itu. Kualifikasi utama untuk menjadi seorang pahlawan atau seorang wanita yang saleh adalah untuk berlipat ganda sampai generasi ketiga atas dasar pelayanan pribadi lepas pribadi. Dengan kata lain, tantangannya adalah menjadi kakek atau nenek rohani. Di samping itu, mereka harus tetap bertemu dengan murid lain setiap minggu. Setiap murid diperiksa ketekunannya bersaat teduh, menghafal ayat, dan memahami Alkitab secara pribadi. Akhirnya, setiap murid harus mempunyai paling sedikit satu pelayanan di gereja setempat.

Saya menjadualkan bertemu secara pribadi dengan enam orang bila saya tidak keliling ke luar negeri. Setiap orang bertemu pula dengan orang lain. Istri saya bertemu dengan beberapa wanita dan para wanita itu pun bertemu dengan para wanita lain, demikian seterusnya. Semua murid pria dan wanita melipat ganda hingga generasi ketiga; bahkan dua di antara mereka melipat ganda sampai generasi keempat. Kemudian, satu orang, ia memiliki generasi kelima. Dengan anugerah Allah pada akhir tahun kami meluluskan tiga puluh tujuh wanita saleh dan tiga puluh empat pahlawan pria.

Sukacita yang digerakkan oleh kesaksian orang-orang ini memberikan semangat kepada orang lain untuk melakukan suatu jenis pekerjaan yang sama. Dengan demikian, formula pemuridan individu berkembang ke seluruh penjuru kota. Kami tidak mengelola semua ini, tetapi hanya mengambil bagian dalam memberikan dorongan di dalamnya.

Lima belas tahun kemudian, dalam perjalanan saya mengunjungi Singapura, saya membaca di surat kabar bahwa setengah dari kaum intelektual Singapura yang berbahasa Inggris adalah orang Kristen. Dulu, hanya kurang dari sepuluh persen. Sesuatu telah terjadi dalam kurun waktu dua dekade. Dengan pelayanan banyak kelompok dalam pemuridan seperti Youth for Christ, Campus Crusade for Christ, Scripture Union InterVarsity dan gereja-gereja -- seperti Methodist, Brethren, Baptis, Presbiterian, Sidang Jemaat Allah, dan lain sebagainya -- sehingga kota Singapura yang kompleks berubah karena orang-orang yang bersaksi dengan iman tentang pengalamannya kepada orang lain.

Kami memulai beberapa mata rantai pelipatgandaan itu, tetapi kami tidak mampu menguasai lagi hasilnya. Pelayanan pribadi lepas pribadi meledak ke segala penjuru. Kelompok-kelompok Kristen dan denominasi yang lain menangkap ide pelayanan ini dan menerapkannya dengan modifikasi dan standar mereka. Singapura tetap cocok untuk pelayanan pelipatgandaan rohani karena negara ini kecil dan erat sekali hubungannya sehingga sangat mudah dijangkau. Tak ada alasan untuk tidak saling berhubungan. Setiap bayi rohani melipat ganda atau mati di depan mata kita.

Kini Singapura sangat berpengaruh di seluruh Asia dan telah mengirimkan para pemurid ke India, Thailand, Jepang, Hong Kong, daratan Cina dan negara-negara lainnya. Murid yang setia akan menjangkau orang lain yang nantinya juga akan menjangkau orang lain. Pelipatgandaan rohani adalah mata rantai vital dalam memenuhi Amanat Agung.

Bagaimana Anda menerapkan pelajaran-pelajaran dari buku ini? Ingat, tuaian bukan saja di ladang nun jauh di sana; ladang pelayanan adalah di depan pintu Anda sendiri. Itulah sedikitnya langkah pertama. Pertama, di tempat Anda berada, kemudian di daerah sekitar Anda; selanjutnya kita diutus "sampai ke ujung bumi" (Kisah Para Rasul 1:8).

Akan tetapi, waktu yang tepat untuk mulai adalah hari ini! Benih Injil ada di dalam Anda. Menangkan seorang bagi Kristus. Tolonglah bayi baru itu untuk bertumbuh. Mulailah melipatgandakan diri Anda di dalam hidupnya. Bagikan kepadanya prinsip-prinsip hidup yang berpusat pada Kristus. Tanamkan pandangan dunia di dalamnya. Anda mengajar agar ia melipatgandakan dirinya, selanjutnya rantai pelipatgandaan rohani terus berjalan di seluruh dunia.

Diedit dari sumber:

Judul Buku : Pemuridan dengan Prinsip Timotius
Judul Artikel : Apakah Pelipatgandaan Rohani
Sungguh-sungguh Berjalan?
Penulis : Roy Robertson
Penerbit : Yayasan Andi, Yogyakarta, 2001
Halaman : 130 - 134

e-JEMMi 24/2004

Apakah yang di Tanganmu Itu?

Oleh: Harvey Moore, San Diego, California

Sebagai seorang calon pendeta, saya mendapat kesempatan untuk menyampaikan kotbah pada acara informal di rumah perawatan di sebuah kota kecil. Tetapi saya baru sadar kemudian bahwa ternyata para penghuni rumah tersebut adalah orang-orang yang telah memutih rambutnya. Pada pagi Sabtu itu, rasa takut mulai memenuhi benak saya. Saat itu saya baru berumur 21 tahun. Apa yang dapat saya sampaikan pada orang-orang lanjut usia ini?

Untuk menutupi rasa cemas saya, maka sebagai langkah awal saya menemui mereka terlebih dulu untuk berkenalan. Hampir setiap orang menceritakan permasalahan yang sama yaitu bahwa mereka merasa tidak mempunyai apa-apa untuk dapat menolong orang lain. Mendengar cerita-cerita itu, saya segera tahu pesan apa yang harus saya sampaikan dalam khotbah saya, yaitu "Percakapan antara Musa dengan Allah di semak duri yang menyala" (Keluaran 3). Pasal itu menceritakan tentang Musa yang merasa tidak mampu mengemban tugas untuk memimpin bangsa Israel. Kesimpulan dari pasal tersebut adalah bahwa setiap orang, entah berapapun usianya, pasti memiliki sesuatu yang dapat dipakai untuk menolong orang lain."

Diskusi yang hidup pun terjadi. Lalu dari ruang sebelah, Ibu Bean memanggil saya dari tempat dia terbaring. Dengan memandang mata saya, Ibu Bean bertanya, "Nak, apakah engkau yakin dengan apa yang engkau sampaikan tadi?" "Ya, sangat yakin," jawab saya.

Ibu Bean melanjutkan, "Aku telah melekat di tempat tidur ini selama lima belas tahun. Katakan padaku, bagaimana aku dapat menolong orang lain." Saya mengulang Firman Tuhan dalam Alkitab kepadanya, "Apakah yang di tanganmu itu?" (Keluaran 4:2a).

Ibu Bean menjawab, "Tidak ada, hanya sebuah telepon. Dan apakah manfaat telepon itu sedangkan aku tidak memiliki seorang pun untuk aku telepon?"

"Saya tidak memiliki jawaban untuk saat ini," jawab saya dengan jujur. "Tapi mengapa kita tidak mendoakan hal ini?" Lalu kami berdoa bersama dan dia terlihat lebih baik.

Malam itu saya mulai memikirkan Ibu Bean dan pernyataannya bahwa dia tidak memiliki seseorang untuk ditelepon. Bagaimana kalau saya mencarikan orang-orang yang dapat diteleponnya?

Di gereja tempat saya ditugaskan, saya mulai bertanya kepada ketua- ketua komisi, "Tidakkah lebih baik bila kita memiliki seseorang yang dapat menelepon dan mengingatkan setiap anggota komisi setiap kali mengadakan pertemuan/rapat?" Hari itu juga, saya memperoleh daftar 36 nama dari sebuah buku catatan yang segera saya berikan pada Ibu Bean. Meskipun ragu-ragu, dia setuju untuk menghubungi nama-nama tersebut lewat telepon dan mengingatkan mereka tentang jadwal pertemuan.

Selama seminggu itu, saya mengumpulkan nama-nama dari kelompok lain. Lalu pada hari Sabtu berikutnya, bahkan sebelum saya sempat duduk di kursi, Ibu Bean sudah menanyakan mengenai nama-nama lain yang dapat dia hubungi. Ibu Bean bercerita, "Pada mulanya aku berpikir bahwa aku hanya sekedar mengingatkan mereka. Tetapi ada beberapa di antara mereka yang ingin tahu dan mengenalku, dan kami benar-benar melanjutkan percakapan kami. Mereka mengatakan keinginan mereka untuk sharing lagi dengan saya pada minggu berikutnya!"

Saat saya lulus dari seminari, Ibu Bean telah mengenal hampir setiap orang di kota itu. Dan kami berdua memahami bahwa ketika kita memakai apa yang Tuhan berikan dan sediakan pada kita, maka tidak dapat dibayangkan lagi tentang berapa banyak hal yang dapat kita lakukan dengan pemberian itu.

Sumber: Guidepost, March 1999

e-JEMMi 13/2001

Asia Tenggara: Orang-Orang Kristen Hmong

"Mereka menusuk mulut satu orang Kristen dengan pisau yang panjang dan menuangkan air mendidih ke dalam mulut orang lain yang ditemukan memiliki Alkitab. Satu keluarga ditenggelamkan."

Orang Kristen suku Hmong di Asia Tenggara setuju untuk memberikan kesaksian dengan memakai videotape. Mereka ingin menguatkan orang-orang Kristen di dunia Barat.

Salah satu orang Kristen Hmong bersaksi: "Penguasa Komunis merasa terancam karena banyak orang Hmong menjadi Kristen. Mereka mencoba memaksa kami untuk kembali menyembah roh-roh jahat."

"Polisi lokal melarang kami menjadi Kristen. Mereka mengancam akan memasukkan kami ke dalam penjara dan bahkan membunuh kami," seorang wanita menambahkan. "Tapi jika kami harus mati bagi Kristus, kami mau."

Orang-orang percaya ini bahkan mengambil risiko dengan memberitakan kepada dunia bahwa mereka tetap tegar dalam menghadapi penganiayaan. Suku Hmong adalah suku terbesar di Vietnam, dan pertumbuhan kekristenan terbesar terjadi di sana. Suku ini juga mengalami penganiayaan terburuk. Banyak dari mereka yang lari mengungsi ke negara tetangga.

Seorang wanita yang lain berkata, "Saya bersyukur kepada Tuhan karena kami bisa tetap kuat. Saya percaya bahwa penganiayaan ini hanyalah ujian bagi iman kami kepada Kristus. Penganiayaan ini membuahkan kekayaan sejati. Penganiayaan ini membuahkan perak dan emas. Berdoalah agar kami dapat tetap setia hingga pada akhirnya."

Diambil dari:

Judul buku : Devosi Total
Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2005
Halaman : 212

e-JEMMi 40/2008

Audio Dan Film "Yesus" Untuk Suku Susu

Hampir 950.000 orang dari suku Susu tinggal di Guinea, Afrika Barat. Enam diantara tujuh orang Susu ini beragama Muslim, dan sisanya menganut animisme. Tetapi baru-baru ini sesuatu telah terjadi pada suku Susu. Ikutilah kisah berikut ini:

Pada suatu hari, di sebuah klinik bersalin, ada seorang ibu dari suku Susu sedang membaringkan bayinya di atas kain ayunan dan mengayunkannya. Sambil memegang dan memainkan jari-jari mungil anaknya, dia mendengarkan siaran dari tape recorder yang diletakkan di sisinya. Apakah yang sedang ia dengarkan dari tape recordernya? Ternyata ia sedang mendengarkan cerita tentang YESUS. Hal ini dimungkinkan karena ada seorang perawat yang juga seorang misionaris dari "Conservative Baptist" datang ke klinik bersalin ini secara teratur. Kesempatan berkunjung ini ia gunakan selain untuk menimbang bayi dan memberikan obat-obatan yang diperlukan, juga untuk membagikan kasih Kristus melalui pembagian kaset dari film "YESUS".

Di desa lain yang juga dihuni oleh suku Susu, pada suatu hari penduduknya melihat pemutaran film YESUS dengan penuh perhatian. Sesekali terdengar mereka mengatakan "nondi" (it's true = itu benar) atau "iyo" (yes = ya). Penduduk desa melihat film ini dengan penuh kekaguman dan keheranan, apalagi pada saat mereka melihat Yesus, tokoh utama dalam film ini, melakukan mujizat. Selanjutnya mereka terdiam sejenak saat melihat Yesus menderita di kayu salib. Sore hari setelah pemutaran film YESUS tersebut, kepala desa tidak saja mengundang para misionaris untuk memutar film ini lagi, tetapi juga menawarkan bantuan agar film YESUS ini dapat diputar di desa-desa lainnya! Bersyukur karena suku Susu telah mulai mengenal Yesus dan mereka sangat menghargai pemutaran film YESUS ini.

Sumber: Global Prayer Digest, January 30, 2001

e-JEMMi 06/2001

Ayah Kalian yang Harus Disalahkan

Di Bangladesh, pemimpin-pemimpin kelompok garis keras menjadi marah ketika orang-orang Kristen membagikan iman mereka. Para pengabar Injil aktif menjadi target kekerasan, dan pelayanan mereka membawa anak mereka dalam bahaya. Meskipun demikian, mereka tidak bisa berhenti begitu saja memberitakan Kabar Baik. Untuk menolong memenuhi kebutuhan ini, sebuah rumah yang dikhususkan bagi anak-anak dibangun pada tahun 1993. Rumah aman ini dibangun untuk melindungi anak-anak muda Kristen dari penganiayaan. The Voice of The Martyrs (VOM) mendukung rumah yang sekarang telah menampung dua ratus anak-anak ini. Dengan keamanan anak mereka, para orang tua dapat dengan bebas berkarya.

Daniel (11 tahun) dan Lashar (14 tahun) tinggal di rumah aman dan mendapatkan pendidikan. Ayah mereka adalah hamba Tuhan yang didukung oleh VOM melalui program "Support Hamba Tuhan". Sebelum anak-anak ini pulang ke rumah aman, mereka bersekolah di sekolah pemerintah di desa mereka dan mereka berdua adalah satu- satunya murid Kristen di sekolah yang memunyai dua ratus murid tersebut.

Guru-guru mereka -- karena perasaan sentimen -- sesekali memukuli mereka dengan tongkat bambu karena iman Kristen mereka. Teman satu kelas mereka menghina mereka juga. Akhirnya, guru mereka berkata, "Karena kamu anak orang Kristen, aku tidak mau mengajar kalian lagi. Ayahmu yang pekerja pelayanan Kristen adalah yang harus disalahkan karena masalah kalian sekarang." Pihak sekolah memberhentikan kedua bersaudara ini.

Rumah aman tempat anak-anak ini tinggal adalah sebuah kamp yang berlokasi di pinggir sebuah desa dekat sebuah sungai berlumpur. Di kamp tersebut, kegiatan dimulai sebelum jam 5 pagi, ketika ratusan anak laki-laki dan perempuan keluar dari kamar mereka yang terpisah dan membuka buku pelajaran mereka. Dengungan suara mereka dan lemahnya penerangan cahaya lampu adalah panggilan bangun bagi seluruh penghuni kamp tersebut.

Bel dibunyikan untuk memanggil semua berkumpul di ruang doa pada pukul 5 pagi. Para murid melepas sandal mereka sebelum melangkah masuk ke dalam ruang doa dengan lantai karpet merahnya. Anak-anak perempuan dan laki-laki duduk bersila di sisi yang berbeda ketika mereka menaikkan pujian sebelum kelas pembelajaran Alkitab dimulai.

Setelah persekutuan doa pagi, anak-anak berhamburan keluar ruang doa untuk dengan segera mengganti pakaian mereka dengan seragam sekolah berwarna hijau dan putih. Setelah makan pagi, mereka berjalan berbaris tidak jauh melewati lapangan yang banjir menuju sekolah. Pendidikan adalah terlalu mahal bagi sebagian besar keluarga-keluarga di Bangladesh dan sebagian besar sekolah hanya mengajarkan pelajaran agama setempat. Sekolah yang dituju anak-anak ini adalah sekolah yang terletak di dalam kamp dan dibentuk oleh staf dan pengurus kamp ini. Sekolah ini memunyai tingkatan dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Umum.

Mina adalah kepala sekolah. Ia meminta para murid berkumpul di halaman sekolah sebelum masuk kelas setiap paginya. Beberapa anak di rumah aman tersebut, seperti Soma (11 tahun), adalah korban pemerkosaan. Keluarga Soma berpindah keyakinan menjadi Kristen. Marah dengan perpindahan keyakinan ayahnya, penduduk desa menculik Soma dan melecehkannya. Setelah kejadian itu, Soma ditampung di rumah aman ini. Walaupun sekarang Soma sudah aman, ia tidak pernah berbicara lagi sejak kejadian itu. Mina, yang adalah seorang konselor trauma terlatih, melayani Soma dan anak-anak lain korban penganiayaan yang mengalami trauma.

Cara lain untuk menolong orang-orang percaya di Bangladesh adalah melalui program perlindungan. Di program ini, keluarga-keluarga Kristen yang dikejar keluar dari desa-desa serta diancam dengan kematian dan pemukulan karena kesaksian mereka, datang ke tempat penampungan untuk memulai hidup baru mereka. Penduduk desa mengusir Lut, seorang guru "agama lain", dan istrinya, Beena, dari desa mereka setelah Lut berpindah keyakinan menjadi Kristen. Tidak tahu mau ke mana, Lut, Beena, dan keempat anak mereka bersembunyi di hutan. Mereka selamat berkat nasi basi sampai seorang kontak VOM menemukan mereka. Setelah beberapa minggu dikuatkan dengan pengajaran firman Allah di rumah aman, Beena dan Lut direlokasi ke desa yang lain di mana mereka membagikan firman Allah.

Yang lain yang datang untuk mengungsi adalah orang percaya baru yang diusir dari keluarga mereka karena perpindahan keyakinan. Khalid adalah seorang pemuda "agama lain" yang taat sampai suatu saat ia mendengar seorang hamba Tuhan berbicara di desanya. Ia mempelajari kekristenan dan memutuskan untuk menerima Kristus. Ia berbicara dengan berani mengenai iman barunya. Para tetangga mengancam akan membunuh seluruh keluarganya sambil menuntut orang tuanya untuk mengurus "permasalahan putranya". Kedua orang tuanya memintanya untuk pergi. Khalid bergabung dengan program perlindungan, dan orang-orang Kristen yang berpengetahuan mengajarkannya dasar-dasar kebenaran alkitabiah. Setelah beberapa minggu belajar, ia dibaptis di sebuah kolam setempat. Ketika ia menetap di rumah aman, Khalid juga belajar untuk memperbaiki mesin melalui salah satu kelas profesi yang VOM danai. Sekarang ia sudah mampu membiayai hidupnya sendiri sementara ia mengabarkan Kabar Baik kepada orang-orang di sekitarnya.

VOM terus menyokong para hamba Tuhan di Bangladesh dengan literatur Kristen dan peralatan lainnya. VOM memberikan sepeda untuk membantu mereka bepergian dari satu desa ke desa lain. VOM juga terus menolong keluarga-keluarga Kristen ketika mereka menderita karena iman mereka. Sebagai tambahan, VOM juga menggali sumur-sumur untuk keluarga-keluarga Kristen. Menyediakan mereka air minum juga merupakan kesempatan untuk membagikan kesaksian atas kasih Tuhan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : KDP (Kasih dalam Perbuatan), edisi Maret -- April 2009
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : The Voice of The Martyrs
Halaman : 5 -- 6

e-JEMMi 42/2009



Bagaimana Tata Cara Upacaranya?

Ayah mempelai wanita menanyakan mas kawin yang mereka inginkan kepada keluarga mempelai pria. Kesulitan ekonomi menjadikan pernikahan sebagai sarana penting untuk bisa mendapat uang dan mengabulkan mimpi. Orang-orang meminta mobil, sepeda motor, TV, dan barang mewah lain.

Beberapa keluarga berjanji akan memenuhi permintaan setelah pernikahan berlangsung, dan kalau mereka tidak mampu memberikannya, anak perempuan mereka diganggu, dipukul, dan terkadang dibunuh untuk membalas dendam. Kematian yang disebabkan masalah mas kawin sering kali terpampang di surat kabar. Namun, Injil Yesus telah memberi perspektif yang berbeda pada keluarga ini.

Aku mengitari desa dengan membawa kamera video dan ingin merekam upacara persiapan mempelai pria yang unik itu, yang semuanya diatur oleh keluarga mempelai wanita. Seorang bibi yang tertua memegang otoritas tertinggi. Bak sebuah buku panduan tradisi berjalan, dia adalah sumber terpenting dalam kebudayaan yang masih buta huruf itu. Dia memastikan semua detail dilakukan dengan benar dalam waktu yang tepat, seperti seorang konduktor yang sangat tahu mana nada-nada yang pas.

Pertama, mempelai pria dimandikan lalu dipijat dengan pasta berwarna kuning jingga. Kakinya diwarnai dengan dicelupkan ke dalam cairan merah muda. Para wanita memadati area ini, tertawa, bercanda. Inilah dunia mereka. Pria hanya sebagai embel-embel. Sementara merekam, aku menanyakan maksud dari aspek-aspek ritual yang beragam itu. Nampaknya tidak ada yang tahu. Aku mulai khawatir. Bagaimana kita bisa memisahkan penyembahan berhala dari bagian upacara. Ini hanyalah awal keanehan yang masih susah diterima oleh aku dan teman sekerjaku.

Akhirnya, mempelai pria didandani dengan pakaian pernikahan berupa setelan berwarna coklat keabuan dan sorban yang berkilau. Ia didudukkan di atas panggung yang berupa tempat tidur kecil di bawah sebuah kanopi. Ibunya memegang ekor panjang di belakang sorbannya. Bersamaan dengan itu, makanan disiapkan dan disajikan kepada para kerabat yang datang dari dekat dan jauh.

Setelah kira-kira enam jam, persiapan mempelai pria dan penyambutan keluarga selesai dilakukan. Kami mengemasi barang-barang dan naik ke atas kendaraan sembari menunggu prosesi mempelai pria menuju rumah mempelai wanita. Kendaraan itu disewa dengan tarif yang sangat mahal. Aku diberi kehormatan untuk duduk dengan mempelai pria dan ibunya di sebuah mobil putih bersama beberapa keluarga lainnya. Keluarga yang lainnya naik trailer yang ditarik oleh traktor.

Ketika sampai di desa mempelai wanita, terlihat tenda-tenda besar sudah didirikan untuk kami, tempat di mana pesta bagi mempelai pria digelar semalam suntuk. Pelbet telah disewa dan dipasang. Hari mulai gelap. Api dinyalakan dan makan malam mulai disiapkan di depan rumah mempelai wanita. Mereka menghidupkan generator dan lampu-lampu pijar menerangi tenda kami, yang berjarak lima puluh yard dari rumah mempelai wanita. Aku mencoba merekam sebanyak mungkin dalam kegelapan dan penerangan yang minim. Kami duduk di pelbet di bawah kanopi sambil berbicara, berkenalan dengan keluarga yang belum pernah kami temui sebelumnya. Kami saling bertukar berita. Aku terus menggali informasi tentang maksud ritual yang kami lihat di desa lainnya. Beberapa orang memberikan penjelasan, beberapa lagi menjelaskan yang lain, namun kebanyakan dari mereka tidak yakin.

Sekitar pukul 10 malam, kami pindah ke halaman depan rumah mempelai wanita untuk makan malam. Para pelayan mempersilakan kami duduk berbaris di atas tanah. Piring yang terbuat dari daun telah disiapkan dan berisi nasi hangat, sayuran, roti tak beragi yang digoreng, yoghurt, dan beragam makanan kecil lainnya. Setelah hidangan utama, kami diberi permen tradisional India. Semuanya dilakukan dengan sangat saksama dan sopan.

Kami kembali ke tenda pukul 23.30. Tak lama kemudian, ayah mempelai wanita dan seorang pria lainnya datang menemuiku dan rekan kerjaku. Pertanyaan mereka sederhana saja, "Bagaimana kami seharusnya melakukan upacara?" Mereka tahu bahwa upacara tradisional Hindu Chamaar sudah tidak zamannya lagi. Jadi, kami memberi tahu semua hal yang tidak kami inginkan, seperti penyembahan berhala, pemanggilan roh, dan sebagainya. Mereka mengajak kami melintasi halaman. Kami duduk di atas kursi di bawah tirai. Pendeta lokal, yang merupakan saudara mempelai wanita, juga terlibat dalam diskusi itu. Mereka mengulangi pertanyaan di atas. Pendeta itu memandang skeptis kepada kami sementara ayah mempelai wanita menunggu jawaban. Menurut pengamatan pendeta itu, seluruh upacara Chamaar tidak dapat diterima oleh cara pandang Kristen. Kami tidak bisa menanggapi hal itu. Kami belum pernah melakukan ini sebelumnya, ataupun tahu bagaimana cara merancang suatu upacara baru yang menghormati Tuhan sekaligus sesuai dengan budaya Chamaar. Kami mulai sadar, dengan perasaan kecewa, inilah yang mereka harapkan dari kami, yaitu agar kami siap untuk menjawabnya.

Jadi, mereka melaksanakan upacara sebaik mungkin tanpa pendeta Hindu dan pemimpin upacara. Mulai tersebar kabar bahwa pesta orang Kristen Chamaar tidak mempercayai adanya Tuhan, karena mereka (yaitu kami) terus menyuruh agar jangan ada dewa-dewa Hindu di sana. Kami menjelaskan sisi negatif tanpa memberi sisi positifnya. Mereka merasa tidak ada pilihan lain yang kami miliki. Upacara tersebut adalah upacara Hindu, namun dilaksanakan dengan agak aneh, yang dipertahankan hanya hal-hal kecil -- yang tak berarti apapun. Lambat dan menyakitkan, mulai jelas bagi kami bahwa suatu kesempatan yang berharga untuk memuliakan Tuhan, untuk menyaksikan pemberitaan Injil sekaligus mencintai budaya, telah kandas. Perasaan kami sangat kacau, terjebak di antara pendeta yang mencemooh dan pesta pernikahan yang membingungkan.

Kekaguman bercampur kefrustrasian tentang bagaimana harus mendirikan dan mengembangkan suatu gereja yang aktif masih menaungi kami. Meskipun kami telah terhalang dan harus berjuang, semoga Tuhan tetap menolong kami. (t/lan)

Bahan diterjemahkan dari:
Judul artikel: How Should We Do the Ceremony?
Alamat situs: http://www.wec-int.org/stories/stories.php

e-JEMMi 34/2006

Baju Putih

"Hawa Ahmed adalah seorang mahasiswa non-Kristen di Afrika Utara. Suatu hari, dia membaca traktat Kristen di asramanya dan dia memutuskan untuk menjadi seorang Kristen. Ayahnya adalah seorang Emir (penguasa Muslim). Dapat dipastikan bahwa dia akan kehilangan warisan keluarganya jika dia menyatakan pertobatannya. Dia benar- benar belum siap untuk menghadapi sesuatu yang terjadi berikut ini.

Ketika Hawa memberitahu keluarganya bahwa dia telah menjadi Kristen dan mengganti namanya menjadi Faith, ayahnya benar-benar murka. Ayah dan kakak-kakaknya yang laki-laki melucuti pakaiannya dan mengikatnya di sebuah kursi yang dipasangi sebatang logam. Mereka bermaksud menghukumnya dengan arus listrik. Faith meminta mereka untuk meletakkan Alkitab di atas pangkuannya. Ayahnya menjawab, "Jika kau ingin mati bersama dengan kepercayaanmu yang salah, jadilah seperti yang kau inginkan." Salah satu kakaknya menambahkan, "Itu akan menunjukkan bahwa kepercayaanmu tidak punya kuasa."

Meskipun dalam keadaan terikat, Faith dapat menyentuh ujung Alkitabnya. Dia merasakan kedamaian meliputi hatinya, seolah-olah ada seseorang yang berdiri di sampingnya. Ketika ayah dan kakaknya memasukkan steker ke dalam soketnya - tidak terjadi apapun -- dan tidak ada sesuatupun yang terjadi. Mereka mencoba sampai 4 kali dan mengganti kabelnya, tetapi listrik tetap tidak mengalir juga. Akhirnya, ayah Faith, karena frustasi dan marah, dia memukul, mengusirnya serta berteriak, "Kau bukan anakku lagi." Lalu dia melemparkan anak perempuannya itu ke jalanan tanpa sehelai baju melekat di tubuhnya.

Faith berlari menyusuri jalan, merasa terhina dan dipermalukan. Banyak orang memandangnya dan shock melihatnya. Dalam keadaan gemetar karena kedinginan dan sambil berlinang air mata, Faith berlari menuju ke rumah seorang temannya. Temannya mempersilakan Faith masuk, memberinya pakaian dan tempat bernaung. Hari berikutnya, temannya itu bertanya kepada para tetangga tentang apa yang mereka lihat dan pikirkan saat melihat Faith berlarian tanpa busana di jalanan. "Aku tidak mengerti yang kau tanyakan?" mereka bertanya. "Gadis itu memakai baju putih yang sangat indah. Bahkan kami bertanya-tanya kepada diri kami sendiri mengapa ada seseorang yang memakai baju putih seindah itu berlarian di sepanjang jalan." Saat ini Faith bekerja sebagai evangelis fulltime di EHC.

Sumber: JOEL-NEWS-INTERNATIONAL-396

Cat. Red.:
Masih banyak orang mengalami seperti yang Faith alami, baik yang ada di Afrika Utara ataupun di negara-negara yang tertutup bagi Injil. Berdoalah agar Allah senantiasa memberikan kekuatan, berkat, dan bimbingan agar mereka dapat terus bertahan menghadapi setiap rintangan yang mencoba menghambat pertumbuhan iman mereka.

e-JEMMi 38/2002

Banjir Melanda Sentani

"Hujan turun dan ketinggian air banjir terus naik." Naik. Dan terus naik!

Pada hari Rabu, 7 Maret 2007, staf MAF di Sentani, Papua, Indonesia, terbangun pada pukul 01:00 dini hari dan menemukan markas MAF sedang dilanda banjir. Hujan badai yang dahsyat telah mencurahkan air hujan setinggi empat belas inci hanya dalam beberapa jam, dan menyebabkan tanah longsor serta banyak kerusakan lain di kota.

"Betapa terkejutnya saya, ketika keluar menuju serambi yang ditutup dengan kasa, saya berjalan di air!" kenang Barb, seorang misionaris MAF yang bertugas di Sentani. Banjir itu menghancurkan banyak rumah dan bangunan-bangunan lain.

"Ketika air surut, serambi itu penuh dengan lumpur. Pada pukul 01:30 dini hari, saya memindahkan semua perabotan dari serambi," kata Barb. "Kami masuk ke mobil ingin melihat keadaan di kota, tapi ternyata jembatan yang menghubungkan bagian timur dan barat kota sudah tidak bisa dilalui."

Ketika matahari bersinar pada hari Rabu pagi, staf MAF berjalan di air setinggi lutut di beberapa bagian markas MAF. Hanggar, bandara, gudang, ruang peralatan dan suku cadang pesawat, rumah, dan beberapa kantor kebanjiran. UPS (generator) untuk komputer rusak, begitu juga dengan persediaan beras, mi instan, semen, dan muatan lain. Namun begitu, tak lama kemudian pesawat-pesawat terbang MAF kembali mengudara, membawa harapan dan Injil.

Kota Sentani mengalami kerusakan parah. Sungai yang meluap membanjiri daerah tempat tinggal masyarakat, menghancurkan bangunan-bangunan, jembatan, jalanan, dan meninggalkan lumpur dan tanah setebal beberapa kaki di rumah-rumah. Beberapa jembatan di Sentani hancur oleh banjir yang terjadi pada tanggal 7 Maret. Dasar sungai dan selokan dipenuhi dengan puing-puing dan membuat sungai mengalir ke kota. Beberapa penduduk kehilangan anggota keluarga yang terseret arus deras. Data yang jelas mungkin tak dapat dipastikan, tapi banjir itu kira-kira menewaskan 11 -- 20 jiwa, dengan beberapa orang yang masih hilang.

Dua hari kemudian, badai menerpa lagi. Namun, kali ini staf MAF sudah siap, mereka telah menutup rapat pintu-pintu untuk mencegah air masuk ke markas mereka.

Musim hujan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Meski begitu, badai yang merusak seperti ini jarang sekali terjadi.

Sebelum bencana ini terjadi, sumur di area markas MAF telah menjadi tempat penyedia air bersih bagi ratusan orang seminggu sekali. Sekarang, dengan rusaknya sistem saluran air kota, sumur MAF adalah satu-satunya sumber air bersih yang dapat diminum. "Sementara penduduk lokal dapat menggunakan air hujan dan air sungai untuk mandi dan mencuci, peran kecil yang kami mainkan melalui penyediaan air bersih untuk minum dan memasak adalah suatu berkat bagi penduduk lokal," kata Mike, manajer markas MAF di Sentani.

Bagi para pelajar di Hillcrest International School (HIS), bencana ini adalah suatu kesempatan untuk melayani. Untuk program pendidikan luar ruangan tahunan yang diadakan selama dua minggu, sekolah Sentani memilih untuk mengisinya dengan program usaha pertolongan bagi bencana banjir "di kampung halaman sendiri". Banyak anggota MAF dan anak-anak misionaris bergabung dengan HIS, yang beberapa guru dan administratornya adalah sejumlah anggota MAF.

Delapan tim anggota program pendidikan luar ruangan itu ditugaskan ke daerah-daerah yang berbeda. Para pelajar membersihkan lumpur setebal empat kaki di rumah-rumah. Mereka mencuci pakaian yang penuh lumpur, mengisi karung pasir, dan membersihkan puing-puing dari jalanan. Setiap tim juga melakukan penginjilan melalui program "Kids’ Clubs" (Klub Anak-Anak) yang diadakan di berbagai daerah.

Satu tim bertugas mengalihkan aliran air sungai yang mengalir ke jalanan dan rumah-rumah. Menggunakan karung pasir, bambu, dan daun pisang, para pelajar membentengi tepi sungai, yang membuat air sungai mengalir dengan semestinya.

Di daerah Jalan Pasir, para pelajar membeli dan memberikan barang-barang rumah tangga kepada 51 keluarga yang kehilangan rumah. Sendok, gelas, dan sabun cuci termasuk dalam barang-barang rumah tangga yang mereka bawa, juga banyak sabun mandi untuk setiap orang yang terkena korban banjir.

Menanggapi program pendidikan luar ruangan kali ini, pelajar bernama Jonathan Taylor berkata, "Seseorang mengatakan kepada kami bahwa setelah tiga hari kerja yang sangat melelahkan, sikap dan prduktivitas kerja akan mulai menurun. Tapi hari ini kami melakukan pekerjaan untuk Tuhan, bukan untuk diri kami sendiri, jadi ini sangat menyenangkan."

Membutuhkan waktu berbulan-bulan sampai kondisi mulai normal. Hasil panen rusak, dan banyak sapi, kambing, dan babi hilang terseret arus banjir.

Menurut anggota MAF, Dick Martin, "Banyak penduduk Papua yang bermata pencaharian sebagai petani, kehilangan sawah yang merupakan satu-satunya sumber penghasilan dan makanan mereka. Sebagian besar penduduk itu miskin dan akan menganggur selama beberapa waktu sampai mereka bisa menanam lagi dan menuai panen baru dari sawah yang baru. Mereka sangat kekurangan makanan mengingat banyaknya jumlah penduduk lokal yang ada di sana.

Tim MAF di Sentani sangat menghargai doa penuh iman Anda untuk penduduk kota dan kelangsungan pekerjaan misi di Sentani. Untuk informasi lebih lanjut tentang kegiatan kami, silakan berkunjung ke situs kami. (t/Dian)

Oleh Diana Gibney, Markas Besar MAF, Nampa, Idaho

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Mission Aviation Fellowship
Penulis : Diana Gibney
Alamat URL : http://www.maf.org/field_stories/
story-of-the-week/a-flood-in-sentani#J8rhiGlSeKlmWKB487vD_A

e-JEMMi 33/2007

Batu Bara yang Banyak Sekali

Di malam Natal tahun 1948, salju turun terus-menerus, berputar, dan bergerak di sekeliling truk pembuangan sampah saya yang sudah tua saat saya menyetir menuju Gunung West Virginia. Salju sudah turun berjam-jam dan kedalamannya telah mencapai 20 hingga 25 cm. Tugas saya saat itu adalah mengantarkan batu bara untuk para penambang yang tinggal di perkampungan batu bara. Saya selesai lebih cepat dari waktu yang seharusnya dan sedang dalam perjalanan pulang.

Saat saya berjalan ke arah rumah, ayah tiri saya melambaikan tangan. Ia memberitahukan saya ada seorang ibu dengan tiga anaknya yang tinggal kira-kira 10 kilometer ke arah pegunungan. Suami ibu tersebut meninggal beberapa bulan yang lalu -- meninggalkan istri dan anaknya dalam keadaan melarat. Sesuai kebiasaan penduduk setempat yang saling menjaga satu sama lain, para penambang telah mengumpulkan beberapa kotak makanan kering, pakaian, dan hadiah-hadiah yang mereka minta agar saya antarkan bersama batu bara dalam jumlah besar untuk keluarga tersebut.

Percayalah, saya sebenarnya tidak ingin pergi. Terus terang saja, saya sudah bekerja keras sepanjang hari ini, sedangkan sekarang malam Natal dan saya ingin pulang untuk berkumpul bersama keluarga saya. Tetapi begitulah -- karena sekarang malam Natal, saatnya untuk memberi dan berbuat baik. Dengan pemikiran seperti itu, saya memutar truk dan menyetir menuju alat pengisi batu bara untuk mengisi truk. Saat kembali, jok depan serta seluruh sudut dan celah truk, saya penuhi dengan kotak-kotak. Akhirnya saya siap berangkat.

Di bukit West Virginia, masyarakat setempat membangun rumah di lokasi-lokasi yang cukup sulit dijangkau. Nah, rumah ibu ini sungguh sulit dijangkau. Saya harus menelusuri jalanan yang tak pernah didatangi departeman perhubungan, bahkan penunjuk arah pun tidak ada. Saya menyetir menuju bukit seperti telah mendapat penunjuk arah dan berbalik keluar dari jalan menuju lembah yang bernama Lick Fork. "Jalanan" itu sebebarnya sungai kecil yang diselimuti salju. Ketika saya melihatnya, saya mulai ragu-ragu apakah bisa melalui jalan tersebut. Meskipun demikian, saya memasukkan persneling gigi satu dan melaju.

Ketika saya sampai 1,6 kilometer lebih jauh dari tempat yang seharusnya saya putari untuk menuju gunung -- rumah ibu tersebut -- semangat saya runtuh. Di depan saya, jalan kecil yang berkelok yang menghubungkan sisi gunung telah terputus. Saya masih belum bisa melihat di mana rumah ibu itu. Saya memundurkan mobil dan berbalik ke arah sebelumnya. Setelah memerhatikan situasi, saya menyadari tidak ada jalan lain bagi saya untuk membawa truk seberat 2 ton melalui jalur ini.

"Apa yang harus saya lakukan?" pikir saya. Mungkin lebih baik saya menaruh batu bara di sini dan meminta keluarga ibu itu datang ke sini mengambil makanan dan pakainan ini. Jadi saya keluar dan berjalan menyusuri jalan kecil tersebut. Hari menjelang malam, suhu terus menurun, dan salju melayang menimbuni jalanan.

Lebar jalan kecil itu kira-kira 2 meter, di sisi jalan ranting-ranting ditutupi salju dan dipenuhi dahan dan kayu pohon. Akhirnya saya bisa melihat dengan jelas di mana letak rumah yang dicari -- pondok kecil dengan dinding yang tipis dan retak. Saya berteriak memanggil ibu itu agar keluar dari rumah, menjelaskan mengapa saya ada di sana, dan menanyakan apakah ia tahu cara untuk membawa makanan dan batu bara. Ia menunjukkan ke arah sebuah kereta dorong buatan beroda satu.

Di sinilah saya, kaki saya terbenam di salju setinggi 25 cm dengan sebuah truk yang sudah harus saya kosongkan muatannya sebelum hari gelap, di jalan kecil yang tidak bisa dilewati, dan sebuah kereta dorong beroda satu. Satu-satunya solusi yang bisa saya lakukan adalah memutar truk, memundurkannya sedemikian rupa agar saya bisa menurunkan batu bara dan kotak-kotak hadiah keluar.

Saat saya kembali ke dalam truk, saya terus bertanya-tanya, "Tuhan, apa yang sedang saya lakukan di sini?"

Saya menyalakan mesin, memutar truk tua saya, dan menyetir mundur. Truk tua saya mundur perlahan menyusuri jalan kecil tadi. Saya terus berkata pada diri sendiri, "Aku akan terus berjalan sampai benar-benar tidak bisa bergerak lagi."

Namun, truk saya seperti memiliki pemikiran sendiri. Tiba-tiba saat saya duduk di tengah kegelapan dengan nyala lampu belakang di tengah salju, terlihat pondok kecil. Saya tercengang. Truk tua saya sama sekali tidak tergelincir satu sentimeter pun atau terperosok ke dalam salju. Dan, berdiri di depan beranda, di hadapan empat orang paling bahagia yang pernah saya lihat.

Saya memindahkan semua kotak dan mengeluarkan batu bara, menyekop batu bara sebanyak yang bisa ke beranda pondok yang melengkung. Setelah saya selesai, ibu tersebut menggenggam erat tangan saya sambil terus-menerus mengucapkan terima kasih.

Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan, saya masuk ke dalam truk dan berjalan kembali. Kegelapan mungkin menguasai saya. Namun, setelah mencapai jalan besar, saya menghentikan truk dan melihat ke belakang, ke arah jalan kecil tadi. "Tidak mungkin," ujar saya kepada diri sendiri, "saya bisa memutar balik truk ini menuju gunung, melalui salju tebal, di tengah kegelapan, tanpa bantuan seorang pun."

Saya dibesarkan oleh orang tua saya untuk selalu memuji Tuhan. Saya juga percaya dengan kelahiran Anak Allah. Dan di malam Natal itu, di bukit West Virginia, saya tahu saya telah menjadi alat Allah untuk memberi arti Natal yang sebenarnya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Guideposts bagi Jiwa: Kisah-Kisah Iman Natal
Judul asli buku : Guideposts for The Spirit: Christmas Stories of Faith
Penulis : H. N. Cook
Penerjemah : Mary N. Rondonuwu
Penerbit : Gospel Press, Batam 2006
Halaman : 294 -- 299

e-JEMMi 51/2008

Belajar Bahasa dan Mencari Jiwa

Belajar Bahasa dan Mencari Jiwa
Sekilas tentang pelayanan keluarga C di Asia Timur

Bel berbunyi, Pak C menutup buku, mengambil jaket tebal, memasang topinya, lalu pulang meninggalkan kampus besar dengan banyak mahasiswa asing di dalamnya. Ternyata belajar bahasa tidak gampang. Walaupun Pak C rajin dan sudah lebih dari satu tahun mempelajari bahasa setempat, di hatinya terkadang masih muncul perasaan putus asa dan merasa tidak mengalami kemajuan dalam pelajarannya, meskipun Pak C sadar bahwa itu hanyalah bisikan iblis yang ingin mematahkan semangatnya untuk melanjutkan pelayanan. Jika tidak rajin dan tekun dalam menghafal, maka akan sulit mengomunikasikan Injil kepada orang-orang setempat. Istri Pak C yang telah menunggu di flat asrama universitas untuk keluarga asing, lebih gampang mempelajari bahasa tersebut karena saat berada di Indonesia, mereka juga telah menggunakan dan memperdalam bahasa itu.

Sesudah belajar dan menyelesaikan PR, Pak C kembali ke kampus dan mencari asrama mahasiswa pribumi. Beliau ingin berkunjung ke beberapa mahasiswa yang telah dikunjunginya minggu yang lalu, yang bersedia untuk bersahabat dengan orang asing. Mereka mengobrol dan mengajar satu orang untuk bermain gitar sambil membicarakan tentang agama. Mahasiswa yang dicari Bapak tidak memiliki agama tertentu seperti kebanyakan orang di negara di mana mereka tinggal. Bukan hanya ratusan, bahkan ribuan orang di tempat itu menyembah kepercayaan lain.

Setiap orang yang ingin belajar tentang agama Kristen diundang ke rumah Pak C. Mereka berdiskusi dan menikmati hidangan yang enak yang disajikan istri Pak C. Lama kelamaan mahasiswa tersebut merasa diterima dan sering datang ke flat orang Indonesia. Setiap orang yang sudah mendengarkan Injil ditantang untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Keluarga C sangat bersyukur kepada Tuhan oleh karena ada orang pribumi yang sudah dibaptiskan. Biasanya baptisan diadakan di bak kamar mandi, di flat mereka. Setelah itu mereka mengadakan perjamuan kudus dengan orang yang baru percaya. Walaupun situasinya sulit dan jemaat sangat kecil, tetapi sukacita mereka luar biasa. Sesudah baptisan, keluarga C mulai memuridkan petobat baru, sambil mengajar mereka untuk mencari jiwa. Biasanya petobat baru sangat rajin bersaksi di lingkungan dan keluarga mereka. Jika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan, mereka akan menanyakan kepada keluarga C dan mereka belajar bersama-sama.

Lewat pelayanan keluarga C kerajaan Allah bisa bertambah di antara suku yang jumlahnya tidak terlalu besar ini dan belum pernah mendengar Injil. Di bulan-bulan terakhir, orang asing dan juga keluarga C sangat diawasi oleh orang-orang setempat. Doakanlah agar pelayanan mereka dapat terus berlanjut di sana.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Terang Lintas Budaya Edisi 72 Tahun 2007
Penulis : tidak dicantumkan
Halaman : 3

e-JEMMi 1/2008

Belas Kasihan Bagi Utusan Injil: John Wesley

Kapal itu terombang-ambing dan tergoncang dengan hebat menembus gelombang yang tingginya enam meter di Laut Atlantik. Air menyembur menyapu geladak kapal, membelah layar besar dari kapal layar abad kedelapan belas itu dan mengalir ke dalam ruangan-ruangan di kamar itu.

Pendeta John Wesley gemetar ketakutan. Beberapa orang Inggris di sekelilingnya berteriak. Tetapi ketika ia memandang pada kelompok orang-orang Moravia, ia merasa heran karena mereka sedang menyanyikan mazmur dengan tenang. "Orang-orang yang malas dan bodoh," pikirnya.

Pada saat samudra itu telah tenang, Wesley mendekati pemimpin mereka. "Anda tidak takut akan badai?" tanyanya. "Tidak, Tuhan ada di pihak kami. Kami tidak takut mati."

Hari berikutnya, Spangenberg, pendeta Moravia itu, memunyai sebuah pertanyaan bagi pendeta Inggris itu. "Saudara Wesley, kenalkah saudara dengan Yesus Kristus?" tanyanya. "Saya tahu bahwa Ia Juru Selamat dunia ini," orang Inggris yang bermartabat itu menjawab dengan ramah. "Tetapi dapatkah Saudara mengatakan kepada saya apakah Ia telah menyelamatkan Saudara?" Wesley bingung. "Saya harap demikian," ia menjawab dengan tenang.

John Wesley sedang dalam perjalanannya menuju Georgia untuk menginjili orang-orang Indian. Tetapi sebelum ia mendapatkan damai dalam iman orang-orang Moravia, ia meratap, "Aku datang ke Georgia untuk memertobatkan orang-orang Indian, tetapi siapa yang akan memertobatkan aku? Aku hanya memunyai iman "musiman" saja.

Walaupun Wesley adalah seorang sarjana lulusan Oxford dan sangat saleh, "imannya yang musiman" itu tidak berhasil menggerakkan hati penduduk koloni Inggris yang acuh tak acuh itu, lebih-lebih orang-orang Indian yang masih menyembah berhala.

Setelah dua tahun, Ia kembali ke Inggris dan perjalanan misinya merupakan suatu kegagalan. Ia kemudian mengetahui bahwa di seluruh Inggris, orang-orang sedang membicarakan khotbah-khotbah rekan sekelasnya dulu di Oxford, George Whitefield. Whitefield telah mendapat pengalaman pertobatan yang dramatis dan telah berkhotbah tentang kelahiran baru kepada banyak pendengar.

Pada waktu itu, Charles, saudara kandung John Wesley, sedang sakit. John dengan terburu-buru pergi ke tempat tidurnya, tetapi ia mendapatkan bahwa Peter Bohler menghujani si sakit itu dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai imannya.

John kemudian menulis dalam majalah "Journal", bahwa ia cukup mendengar percakapan mereka "yang meyakinkan aku akan kebutuhanku akan iman". Ia merasa bahwa ia tidak perlu lagi berkhotbah. Namun demikian, Bohler menasihatkan untuk menceritakan kebenaran itu kepada orang lain sampai ia sendiri yakin.

Dua hari kemudian, John Wesley berkata kepada seorang narapidana yang sudah dijatuhi hukuman bahwa ia dapat memeroleh pengampunan dosa hanya dengan percaya kepada Kristus. "Saya mau," jawab narapidana itu. "Sekarang saya bersedia sepenuhnya untuk mati," tambahnya dengan perasaan yang sungguh-sungguh. "Kristus telah menghapus dosa-dosa saya." Narapidana itu memunyai kepastian yang penuh, tetapi Wesley yang malang itu terus bergumul.

Pada tanggal 20 Mei tahun 1738, Charles Wesley menerima kepastian penuh akan keselamatannya setelah membaca "Tafsiran Kitab Galatia" karangan Luther.

Kira-kira jam lima pagi hari Rabu berikutnya, John membuka Kitab Perjanjian Barunya pada II Petrus 1:4 dan membaca: "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi."

Pada malam harinya, ia diundang menghadiri satu pertemuan perkumpulan Kristen di jalan Aldersgate. "Aku pergi dengan perasaan sangat segan," ia kemudian menulis dalam buku hariannya, "untuk mendengarkan seseorang yang membacakan kata pengantar Luther tentang Kitab Roma."

Saat itu merupakan malam kemenangan baginya. Beginilah ia menjelaskan, "Kira-kira jam sembilan kurang seperempat; ketika ia sedang menjelaskan perubahan yang dilakukan Allah di dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku merasa hatiku dihangati secara mengherankan .... Aku merasa sungguh-sungguh percaya kepada Kristus yang memberikan keselamatan."

Ia hampir tidak dapat menunggu untuk menceritakannya kepada Charles. Sambil berlari masuk ke kamarnya, ia berteriak, "Aku percaya." Mari kita menyanyikan satu lagu pujian bersama-sama," Charles mengusulkan. John menyetujui, dan keduanya menyanyikan sebuah lagu pujian baru yang telah dikarang Charles beberapa hari sebelumnya -- sebuah lagu yang masih dinyanyikan oleh orang-orang Kristen pada masa kini, "Kristus Sahabat Orang Berdosa" (Christ the Friend of Sinners).

Delapan belas hari kemudian, John Wesley mengkhotbahkan suatu khotbah yang selalu diingat, "Oleh Anugerah Kita Diselamatkan Melalui Iman", di Universitas Oxford. Ini merupakan tema dari suatu pelayanan di mana ia merasa harus menyelamatkan Inggris dari kemerosotan moral dengan memenangkan berpuluh-puluh ribu orang bagi Kristus serta mendirikan gereja Metodis.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu Dengan Kristus
Penulis : James C. Hefley
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2008
Halaman : 34 -- 36

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/belas_kasihan_bagi_utusan_injil_john_wesley

Berkhotbah dari Atap Bait Allah

Yakobus menatap ke bawah dari tempat ia berdiri, dengan hati-hati ia menjaga keseimbangan pada titik tertinggi bait Allah di Yerusalem. Jauh di bawah, ia dapat melihat bahwa jalan-jalan dipenuhi dengan orang. Saat itu adalah perayaan Paskah kaum Yahudi, dan orang-orang Yahudi dari segala penjuru dunia telah datang ke Kota Kudus.

Sebuah tangan mencengkeram lengannya, membuatnya hilang keseimbangan. "Ayo, lekas teruskan!" sebuah suara mengancam. Di belakangnya, pada jarak yang aman dari langkah, berdiri imam besar, orang-orang Saduki, dan orang-orang Farisi. "Sangkallah bahwa Yesus dari Nazaret itu adalah Mesias! Di hadapan semua orang-orang ini, sangkallah bahwa Yesus adalah Putra Allah dan bahwa Ia telah dibangkitkan dari kematian," mereka meminta.

Yakobus adalah salah seorang adik Yesus, sama seperti Yudas. Jelas ia telah mengenal Yesus dan berjalan bersama-Nya untuk waktu yang lama. Ia telah melihat Yesus hidup kembali setelah penyaliban dan kebangkitan-Nya.

Yakobus mengambil risiko dan melayangkan pandangan sekilas ke jalanan di bawah. Banyak orang di bawah sana mengenalnya. Selama 30 tahun, ia telah dikenal sebagai orang saleh dan gembala di Yerusalem. Selama kurun waktu tersebut, ia telah menulis Surat Yakobus yang ada di Alkitab. Ia telah berkhotbah secara terbuka mengenai Yesus sebagai Mesias dan mengenai kebangkitan Anak Allah pada hampir setiap sudut jalanan. Bagaimanakah ia dapat menyangkal apa yang telah ia lihat dengan matanya sendiri, dengar dengan telinganya sendiri, dan sentuh dengan tangannya sendiri: bahwa Tuhannya telah bangkit?

Melalui khotbahnya, doanya, dan teladannya, Yakobus telah membawa banyak orang kepada Kristus. Ia telah demikian sering bersujud dengan lutut telanjang, menyembah Allah dan berdoa bagi pengampunan atas dosa orang-orang hingga lututnya menjadi mati rasa dan kapalan, seperti lutut seekor unta. Ini juga membawa baginya nama sebutan, "Yakobus si Orang Benar" Ia dihormati oleh setiap orang, bahkan oleh banyak orang yang menentang apa yang ia percayai.

Merasa terancam oleh pertumbuhan yang cepat dari gereja, imam besar, orang-orang Saduki, dan orang-orang Farisi membuat sebuah rencana. Mereka akan memaksa pemimpin gereja yang dikenal baik ini untuk menyangkal imannya di hadapan kerumunan yang besar. Tetapi Yakobus menolak untuk melakukannya.

Dari tempatnya di puncak bait Allah, ia berkhotbah dengan penuh keberanian. Tiap orang dalam kerumunan di bawah menatap ke atas pada saat ia menyatakan, "Yesus adalah Mesias yang dijanjikan! Ia duduk di sebelah kanan Allah, dan akan datang kembali dalam awan surgawi, untuk menghakimi yang hidup dan yang mati!"

Ketika kerumunan di bawah melihat keberaniannya dan mendengarkan kata-katanya yang gamblang, mereka memuji Allah dengan keras dan membesarkan nama Yesus. Dengan dipenuhi amarah, dua atau tiga dari pemimpin agama melompat ke depan dan mendorong Yakobus dari atap bait Allah.

Ajaibnya, Yakobus tidak mati setelah ia dijatuhkan; hanya kedua kakinya yang patah. Kemudian imam besar, orang-orang Saduki, dan orang-orang Farisi mengatakan, "Mari kita rajam Yakobus si 'orang benar'." Mereka mengambil batu-batu untuk merajamnya hingga mati. Yakobus, berlutut pada lututnya yang patah, berdoa, "Tuhan, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang sedang mereka perbuat."

Salah seorang dari para imam, saat mendengar Yakobus berdoa, memohon pada yang lainnya untuk berhenti dan mengatakan, "Apa yang sedang kita lakukan? Orang benar ini sedang berdoa bagi kita. Hentikan lemparan! Hentikan lemparan!"

Sementara ia sedang meneriakkan ini, seorang pria lain berlari dengan tongkat yang besar dan berat di tangannya dan menghantam Yakobus tepat pada kepalanya. Yakobus mati seketika karena pukulan itu, saat masih sedang berdoa.

Kata "martir" pada awalnya berarti seseorang yang menceritakan apa yang telah ia lihat; seorang saksi mata. Orang-orang Kristen adalah orang-orang yang telah melihat kuasa Yesus dalam kehidupan mereka sendiri dan tidak dapat menahan diri dari menceritakan kepada orang lain mengenainya. Simaklah sebuah kalimat dari seorang remaja putri yang dengan berani mendekati para remaja lainnya dan berkata, "Jika kau mengetahui apa yang kuketahui tentang Yesus, aku akan meminta agar kau menceritakannya kepadaku!"

Diambil dan disunting dari:

Judul asli artikel : Berkhotbah dari Atap Rumah
Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 93 -- 95

e-JEMMi 21/2010



Besarlah Upahnya

Pendeta Robert memimpin sebuah gereja yang beranggotakan delapan puluh jemaat di Pakistan. Ia telah menjadi pendeta selama 18 tahun dan memunyai jemaat yang berlatar belakang "agama lain". Suatu hari, pada awal tahun, sang pendeta memeriksa kotak suratnya. Dia menemukan surat bertuliskan tangan yang ditujukan kepadanya. Surat itu sepertinya sebuah surat pribadi, tetapi lebih kepada pertanda buruk.

"Bapak Robert," tulis surat itu. "Ingatlah kami sedang mengawasimu dan kegiatanmu. Kami mendapat informasi bahwa kamu membujuk saudara 'seiman' kami untuk menjadi Kristen. Hati-hati. Jika kamu tidak menghentikannya, kami akan membunuhmu dan semua keluargamu. Kami akan membunuh seluruh anggota keluargamu, yang terkecil sampai yang tertua, sehingga orang-orang dapat menarik pelajaran ...."

Inilah yang akan terjadi ketika seorang pendeta Kristen menjangkau orang-orang dengan firman Kristus di daerah yang menjadi benteng agama lain. Itu bukanlah surat pertama yang sang pendeta terima dari kelompok radikal "agama lain" yang menjadikannya target kematian. Nyatanya, ia menerima surat yang lainnya tahun lalu. Apa yang ia lakukan? "Aku mengabaikannya," kata pendeta Robert, yang memunyai lima orang anak.

Pendeta ini adalah pengkhotbah yang berapi-api, yang memunyai hati melayani komunitas lokal. Pendeta ini tinggal di sebuah rumah batu bata yang berkamar satu di sebuah daerah yang dikelilingi oleh orang-orang "agama lain". Gerejanya, yang beranggotakan lusinan keluarga, semuanya berdikari. Gereja membuka beberapa pelayanan bagi komunitas setempat, termasuk sebuah ibadah untuk kaum ibu, sekolah minggu, dan pelayanan penjara.

"Ketika saya mengunjungi penjara-penjara, Tuhan membukakan kesempatan kepadaku untuk membagikan Injil bagi para narapidana setempat serta narapidana asing," kata Pendeta Robert. "Saya bersyukur pada Tuhan bahwa banyak dari narapidana yang dijatuhi hukuman mati bertobat dari dosa-dosa mereka dan menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamat pribadi mereka."

Ditarik oleh terang Kristus dari dalam dunia kegelapan, ada orang-orang "agama lain" yang mencari-cari Pendeta Robert karena mereka ingin menjadi orang percaya. Ia telah membagikan kesaksian tentang Kristus pada sekelompok orang di daerah itu dan ini membuatnya menjadi sasaran orang-orang garis keras.

Mereka bahkan mencoba untuk memfitnahnya. Jebakan dibuat selama perhelatan perayaan hari besar "agama lain". Pendeta Robert saat itu sedang menghadiri sebuah persekutuan doa bersama istrinya selama perhelatan berlangsung. Dalam perjalanan pulang, ia melewati beberapa orang "agama lain" yang sedang merayakan hari besar mereka dekat rumahnya. Di situlah ketika ia melihat sebuah kantung-kantung plastik.

"Ketika istriku dan aku melihat isi kantung itu kami sangat terkejut," katanya. "Kami sangat terkejut karena kantung tersebut penuh dengan robekan-robekan kecil kitab "agama lain".

Pemusnahan kitab "agama lain" secara hukum dapat dijatuhi hukuman mati. Seseorang ingin orang-orang "agama lain" di daerah itu menemukan kantung itu di depan rumah Pendeta Robert dan agar pemimpin gereja disalahkan.

"Jika saja ada orang 'agama lain' melihat kantung itu, kami akan dibunuh hari itu juga," katanya.

Walaupun Pendeta Robert telah beberapa kali diancam oleh orang-orang garis keras, ia tetap menolong orang-orang menemukan Kristus. Kami mendukung pendeta dan lainnya dengan menyediakan buku-buku Kristen dan peralatan yang mereka butuhkan untuk menjangkau mereka yang mencari-cari Tuhan yang sebenarnya. Kami akan membantu Pendeta Robert dengan memindahkannya ke suatu daerah yang lebih aman di mana ia bisa terus melanjutkan pelayanannya.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret -- April 2009
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2009
Halaman : 4 -- 5

e-JEMMi 28/2009



Bethesda Bedok Mission Church (BBMC)

Sebuah Gereja yang Berkomitmen untuk Misi

[Artikel ini merupakan ringkasan interview dengan Pdt. Sim Kam Tee.]

BBMC, sebuah gereja di Singapura yang memiliki kerinduan untuk terlibat secara aktif dalam pelayanan misi. Oleh karena itu untuk menanamkan tujuan misi dengan jelas kepada jemaatnya. maka kata 'mission' menjadi bagian dari nama gereja ini -- "Bethesda Bedok Mission Church".

Ada tiga hal utama yang dilakukan oleh BBMC:

1. Memberi (Giving)

BBMC mendukung dan menolong beberapa misionaris dan pelayan misi yang berasal dari berbagai organisasi misi. Sebesar 40% dari pemasukan gereja dialokasikan untuk pelayanan misi. "Target kami sampai akhir tahun 1996 adalah memberikan 50% dari pemasukan gereja untuk pekerjaan misi", demikian kata Pdt. Sim.

2. Mengadopsi (Adopting)

Jemaat BBMC tidaklah besar, hanya sekitar 140 jemaat. "Karena jemaat kami kecil maka kami harus "mengadopsi" misionaris. Jika kami mengetahui ada misionaris yang membutuhkan dukungan dana, maka kami menulis surat kepada lembaganya dan mengatakan bahwa kami bersedia menanggung biaya yang diperlukan. Misionaris itu tidak ditugaskan atau dikirim oleh kami, tetapi kami dan para misionaris tersebut dapat saling memberi semangat. Menurut saya, ini merupakan hal unik dari kebijaksanaan pelayanan misi yang kami lakukan."

BBMC tidak hanya menyediakan bantuan dana, tetapi juga membentuk kelompok-kelompok pemerhati yang secara teratur berdoa dan menulis surat pada setiap misionaris yang ditugaskan dalam kelompok mereka. Kadang-kadang, jemaat gereja mengunjungi para misionaris di tempat kerjanya dan menawarkan pertolongan praktis, seperti membangun tempat penampungan air dan sebagainya.

3. Bekerja sama (Partnering)

Pasangan Tehs (misionaris dari Singapura yang saat ini melayani di Thailand bersama OMF) melamar ke OMF berdasarkan rekomendasi dari BBMC. Hal ini dikarenakan BBMC percaya bahwa semua kebutuhan dan pelayanan Tehs di lapangan dapat ditangani dengan baik oleh lembaga misi seperti OMF.

"Setiap gereja seharusnya memiliki pemikiran tentang misi," kata Pdt. Sim. BBMC percaya bahwa gereja bertanggung jawab untuk menanamkan kesadaran akan misi dalam diri jemaatnya dan juga melatih/ mengajak mereka dalam pelayanan misi jangka pendek. Kerja sama dengan lembaga misi harus segera dimulai pada saat gereja mengutus para misionarisnya melalui lembaga pelayanan misi ini.

Sumber: East Asia's Millions

e-JEMMi 03/2001

Budak Perempuan Cilik yang Pandai Membaca (Pulau Malagasy, 1882)

Bagaimana seorang budak perempuan kecil bisa dipakai Allah untuk menyatakan kasih-Nya kepada orang-orang yang belum mengenal Dia di kota Malagasy? Ikutilah sebagian kutipan kisah tentang "Budak Perempuan Cilik" berikut ini, yang diambil dari salah satu kesaksian dalam buku "Alkitab di Seluruh Dunia: 48 Kisah Nyata", karya Grace W. McGavran dengan judul asli "Stories of the Book of Books", yang diterbitkan oleh Lembaga Literatur Baptis.

Satu abad yang lalu, di sebuah pulau besar yang jauh dari kepulauan Indonesia, seorang anak perempuan kecil sedang menangis tersedu sedan. Pantas saja ia menangis! Coba bayangkan: Si Upik baru saja diculik dari rumah orang tuanya. Ia ditangkap oleh orang-orang kejam yang memperbudak manusia. ... --dipotong-- ....

Ketika pagi itu tiba, si Upik diberi sehelai jubah baru yang sederhana. Rambutnya pun disisir rapi. Si penjual budak sudah pandai membuat barang dagangannya kelihatan menarik di mata calon pembeli! Sekali-sekali ada orang yang menanyakan si Upik, yang duduk di bawah naungan sebuah pohon besar dengan perasaan sedikit takut dan sedikit mengharap-harap. Tetapi mereka selalu terus pergi setelah mendengar harga yang ditawarkan itu, walau ada juga orang yang sempat berkomentar dengan berbisik: "Cantik sekali! Mungkin ia akan laku juga semahal itu."

Sebelum sang surya naik tinggi di atas cakrawala, datanglah sebuah tandu yang indah, diusung oleh empat budak laki-laki. Budak yang kelima memagang menaungi seorang wanita muda yang berbaring di atas usungan itu; pakaiannya sangat mewah. Wanita yang kaya-raya itu mengamat-amati setiap budak yang dipertontonkan kepadanya. Kekuatiran dan kesedihan budak-budak itu tidak dihiraukannya. Rupa- rupanya ia menganggap seorang budak itu sama seperti seekor anjing kesayangan saja. Hanya ada satu budak yang kelihatan tidak sedih. Itulah si Upik. Ia begitu tertarik akan penampilan wanita kaya itu sehingga ia memandangnya dengan penuh rasa ingin tahu. Belum pernah ia melihat seorang wanita dengan pakaian sebagus itu!

"Gadis yang itu!" Sang penumpang tandu menunjuk kepada si Upik. "Kelihatannya cerdik, lagi cantik. Suruh dia berdiri!"

Sebelum si Upik insaf apa yang terjadi, jual beli itu sudah selesai. Sekarang ia telah menjadi milik wanita muda yang kaya-raya itu. Di tempatnya yang baru, si Upik dengan cepat dan lancar dapat belajar cara-cara melayani majikannya. Majikannya ternyata sangat baik hati. Perempuan kaya itu merasa senang, terutama karena gadis cilik yang baru dibelinya itu tidak pernah menangis lagi, dan tidak pernah bermuram durja.

Namun kadang-kadang si Upik merasa kesepian. Pada saat-saat demikian, bila tidak ada tugas, ia suka pergi menyendiri dan duduk di bawah sebuah pohon yang besar di taman. Dari dalam jubahnya ia mengambil sebuah buku yang selalu ia bawa serta. Lama ia duduk sambil membaca buku kecil itu.

Buku kecil itu adalah buku yang kebetulan dibaca pada saat ia diculik. Tanpa disadari ia tetap menggenggam buku itu ketika ia ditangkap dan diseret oleh para perampok. Kini buku kecil itu menjadi harta si Upik yang paling berharga: Isinya tak lain ialah Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Malagasy (yang mirip sedikit dengan bahasa Indonesia). Di dalam rumah tangga majikannya itu tidak ada seorang Kristen pun kecuali si Upik. Juga tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat membaca, sang majikan juga tidak. Namun budak-budak yang buta huruf itu senang mengintip pada saat-saat si Upik pergi menyendiri. Dan mereka pun senang mendengar si Upik membaca, karena ia selalu membaca dengan bersuara, sesuai dengan kebiasaan pada zaman itu. Tidak lama kemudian, setiap pelayan di rumah tangga itu mengetahui bahwa si Upik memiliki sebuah Buku kecil, dan bahwa ia pandai membaca isinya.

Pada suatu hari yang panas, sang majikan berjalan-jalan di taman untuk menikmati buaian angin sejuk. Sayup-sayup terdengar olehnya suara orang. Karena ingin tahu, ia menghampiri tempat dari mana suara itu terdengar. Tampaklah si Upik sedang duduk di bawah pohon, asyik membaca. "Ha! Sedang apa kau Upik?" tanya majikannya. "Sedang menghafal cerita, ya?" Dengan hormat si Upik berdiri. Mula-mula ia hendak menyembunyikan Buku kecil itu, tetapi kemudian diperlihatkannya. "Tidak, nyonya besar. Aku sedang membaca Kitab Suci." "Membaca? Sungguh kau dapat?" tanya sang majikan. "Sungguh, nyonya besar," jawab si Upik seraya menganggukkan kepalanya. "Ayah yang mengajarku membaca."

Budak-budak yang lain sedang mengintip peristiwa itu dari jauh, dengan hati yang berdebar-debar. Apakah majikan mereka akan marah? Ataukah merasa geli saja? Namun, kedua dugaan itu meleset. Apa yang mereka dengar kemudian? "Dapatkah kau mengajarku membaca, Upik?" tanya sang majikan. "Dapat, nyonya besar! Dengan senang hati," jawab si Upik. Pelajaran membaca itu segera dimulai. Karena tidak ada buku lain, Kitab Perjanjian Baru milik si Upik menjadi buku pelajaran. Si Upik mulai dengan cerita-cerita yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, seperti misalnya cerita domba yang hilang dan cerita orang Samaria yang murah hati. Kata demi kata sang majikan belajar membaca perumpamaan-perumpamaan itu. "Sangat menarik!" serunya. "Cerita- cerita ini amat indah. Tetapi ... siapakah Tuhan Yesus itu?"

Maka pelajaran membaca yang berikutnya diambil dari Kitab Injil Lukas, pasal 2. Budak cilik itu menolong majikannya membaca tentang kelahiran Yesus pada malam yang ditaburi bintang-bintang. Mereka membaca tentang para malaikat yang menyanyi dan memuliakan Tuhan, tentang sinar surgawi yang turun menerangi palungan Sang Bayi Kudus. Si Upik melanjutkan membaca tentang peristiwa-peristiwa yang indah itu. Pasal demi pasal, pelajaran demi pelajaran, si Upik membacakan cerita Tuhan Yesus, termasuk ajaran-ajaran-Nya, penyaliban-Nya, dan kebangkitan-Nya. Si Upik pun meneruskan cerita itu dengan membacakan perbuatan-perbuatan para pengikut Tuhan Yesus setelah Hari Pentakosta. Sang majikan, beserta semua budaknya yang cukup dewasa, terus mendengarkan dengan penuh perhatian. Belum pernah mereka mendengar cerita yang demikian! Bukan hanya itu saja: Wanita bangsawan itu mulai mengundang teman-temannya untuk berkumpul di rumahnya pada waktu senja. "Aku mempunyai seorang budak baru," katanya, "seorang gadis kecil. Anehnya, ia dapat membaca. Buku miliknya sendiri memuat cerita-cerita yang sangat menarik, serta ajaran-ajaran yang belum pernah kudengar. Ayo datang dan mendengar Upikku membaca!"

Lambat laun Kabar Baik itu mulai meresap ke dalam hatinya. Pada suatu hari wanita yang kaya-raya itu berkata, "Upik, letakkan dulu Bukumu dan jelaskan kepadaku bagaimana caranya aku dapat menjadi pengikut Tuhan Yesus." Hal ini tidak mengherankan si Upik. Siapa yang tidak mau mengikut Tuhan Yesus, demikianlah pikirannya. Siapa yang tidak mau berbakti kepada Allah Bapa, yang begitu mengasihi kita sehingga Ia mengutus Tuhan Yesus untuk menjadi Juruselamat kita! Namun si Upik jadi terheran-heran juga pada suatu hari semua budak dipanggil menghadap majikan mereka. "Kalian sudah tahu," katanya dengan lambat, "bahwa aku telah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Oleh karena itu, aku tidak boleh lagi memperbudak sesamaku. Kalian semua merdeka." Merdeka! Para budak itu hampir-hampir tidak mempercayai apa yang mereka dengar. Sungguh suatu hari yang diliputi kebahagiaan! Beberapa di antara mereka segera pulang ke kampung. Yang lainnya lebih suka tetap tinggal pada majikan mereka sebagai pegawai bayaran.

Dengan sangat gembira si Upik pulang ke rumah orangtuanya. Kedatangannya kembali itu membawa kebahagiaan yang tiada taranya bagi orangtuanya. Tetapi kemudian secara sukarela si Upik kembali lagi kepada sang majikan yang sangat dikasihinya. Mereka berdua, diiringi oleh bebarapa pembantu, pergi jauh ke suatu tempat di mana ada utusan-utusan Injil. Di sana mereka memohon agar penginjil- spenginjil dikirim ke kota mereka di pulau Malagasy, untuk mengajar dan membimbing orang-orang Kristen yang baru. Utusan-utusan Injil yang datang dari negeri jauh itu merupakan jawaban atas permohonan doa mereka. Tetapi iklim di pulau Malagasy itu asing bagi para penginjil. Mereka dijangkiti penyakit, dan satu persatu meninggal. Akhirnya keadaan kembali seperti semula: tidak ada yang memimpin dan mengajar pengikut-pengikut Tuhan Yesus yang baru itu. Namun sang majikan tidak putus asa. Dengan Alkitab di tangannya, ia mulai membaca dan berdoa serta mengharapkan pimpinan Roh Kudus. Lalu dengan sikap yang tenang dan gigih, ia sendiri mengajar setiap orang yang rela berguru kepadanya. Lambat laun di kota Malagasy itu tumbuhlah suatu jemaat Kristen yang banyak sekali anggotanya.

Hingga kini orang-orang Kristen yang tinggal di kota Malagasy masih suka bercerita dengan bangga: "Semuanya itu terjadi oleh karena seorang budak perempuan kecil yang kesepian membaca Kitab Perjanjian Barunya dengan suara keras, dan oleh karena seorang wanita muda yang kaya-raya terbuka hatinya untuk menerima ajaran Firman Allah serta melaksanakannya dalam hidupnya sendiri!"

Kesaksian selengkapnya dari kisah ini dapat anda baca dalam Situs Cerita Misi di alamat:
==> http://www.sabda.org/misi/cerita/
==> http://www.sabda.org/misi/cerita/cerita04.htm

Cara Tuhan Memanggil Hambanya Tidak Akan Mudah Kumengerti

Salam sejahtera di dalam Kristus.

Saya ingin menuliskan sedikit tentang pelayanan sahabat karib saya yang pada tanggal 9 Agustus 2008 dipanggil Kristus Tuhan ke sisi-Nya melalui kecelakaan pesawat di Pegunungan Tolikara, Papua. (--cut--)

Pak Dave Clapper adalah seorang pilot yang berjuang mati-matian setiap hari dalam menghindari cuaca buruk dan pegunungan yang sangat rawan serta mematikan di Papua. Pada tahun 2002, organisasi misi tempat keluarga Dave melayani, menskorsing keluarga ini karena dianggap melanggar kebijakan organisasi tersebut, yaitu hidup terlalu dekat dengan penduduk Papua yang dianggap sangat berrisiko dan mengancam nyawa keluarga Dave. Organisasi ini menskorsing mereka dengan menyuruh keluarga ini pulang ke Amerika untuk mempelajari lagi budaya Asia Tenggara selama dua tahun. Keluarga ini berkunjung ke Medan dan bertemu dengan keluarga saya serta bercerita tentang segala sesuatu mengenai perbuatan Tuhan Yesus yang ajaib melalui pelayanan mereka kepada orang Papua. Keluarga Clapper memutuskan untuk terus melayani di Papua dan pindah ke organisasi misi lain yang memerlukan seorang pilot dan mengenal wilayah Papua. Pada tahun 2002, keluarga Clapper bergabung dengan Associated Mission Aviation (AMA).

Pada bulan Oktober 2005, Dave Clapper dan saya pergi ke Banda Aceh sebagai relawan (volunteers) untuk membangun rumah bagi orang Aceh di Banda Aceh. Saya tidak menduga bahwa minggu itu, pada bulan Oktober 2005, menjadi perjumpaan terakhir kami sebelum Dave Clapper menemui Tuhan Yesus Kristus sebagai Raja yang mengutusnya dan Juru Selamat yang dilayaninya sampai akhir hidupnya di Papua. Pada waktu di Banda Aceh, Dave Clapper menceritakan kepada saya bahwa Tuhan Yesus sudah dua kali melepaskan dirinya dari kecelakaan pesawat.

  1. Pada saat latihan terbang bersama seorang pilot senior di wilayah Papua. Pada waktu itu pilot senior memeragakan jika penumpang tanpa sengaja menarik tali penutup bahan bakar avtur, maka mesin pesawat harus dimatikan. Tetapi pada saat pilot senior ini menghidupkan pesawat kembali di udara, ternyata mesinnya tidak hidup. Nyawa mereka bertiga (satu pilot senior dan dua pilot junior) terancam pada hari itu. Namun Tuhan menyelamatkan mereka bertiga dan berhasil melakukan pendaratan darurat di pantai.

  2. Pada bulan April 2007, pada saat Dave "take off", tiba-tiba ban pesawat sebelah kanan mengenai batu besar dan roda gigi ban kanan pesawat patah. Jika Dave harus mendarat lagi, ada kemungkinan akan celaka. Setelah terbang di udara selama dua jam, akhirnya Dave dapat mendarat dengan selamat. Pada waktu itu saya mengatakan kepada Dave Clapper bahwa belum waktunya bagi Dave Clapper untuk menemui Bapa di Surga.

Pada tanggal 9 Agustus 2008, pukul 11:06 WIT, Dave Clapper menghadap Bapa di surga setelah pesawat yang diterbangkannya seorang diri menabrak sebuah pohon di Gunung Tolikara. Sebelumnya, David (48 tahun) meminta kepada istri dan keluarga besarnya, jika nanti ia dipanggil Tuhan, ia ingin dimakamkan di Papua, tepatnya di pekuburan Lasagna, Wamena.

Sesudah saya mendengar kecelakaan pesawat yang menimpa Dave Clapper, saya membaca firman Tuhan di Kejadian 12 sampai 15, di mana Abram dipanggil oleh Allah meninggalkan tanah Ur-Kasdim yang pada zaman itu sudah begitu maju, dan Abram bersedia meninggalkan semua keindahan dan kemajuan teknologi. Hal tersebut sama seperti David Craig Clapper yang dengan rela hati meninggalkan Pennsylvania, Amerika Serikat, bersama keluarganya demi orang Indonesia yang sangat dia dan keluarganya kasihi. Saya percaya bahwa janji Tuhan kepada keluarga dan keturunan Pak David akan tergenapi. Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

Kiriman dari: Samuel Situmorang <samuelmsit(at)xxxx>

e-JEMMi 35/2008

Chang Shen (Dikenal Juga Sebagai Si Buta Chang)

Dari seluruh martir Cina, tak seorang pun meninggal dengan keberanian yang lebih daripada si Buta Chang, penginjil yang paling terkenal di Manchuria, tanah air pemerintahan Manchu di Cina.

Chang Shen bertobat setelah dipukul sampai buta saat berusia pertengahan. Sebelum bertobat, ia dikenal dengan sebutan "wu so pu wei te", yang berarti seorang penjudi, hidung belang, dan pencuri. Ia mengusir istri dan anak perempuannya dari rumah. Ia pernah dipukuli sampai buta, tetangga-tetangganya mengatakan bahwa itu hukuman dari dewa karena perbuatan jahatnya.

Suatu saat, Chang mendengar ada sebuah rumah sakit misionaris di mana orang-orang dapat melihat kembali. Pada tahun 1886, ia pergi ratusan kilometer jauhnya untuk mendatangi rumah sakit tersebut. Namun saat mencapai tempat tersebut, ia diberitahu bahwa semua tempat tidur sudah penuh. Tapi seorang penginjil rumah sakit merasa kasihan melihatnya dan memberikan tempat tidurnya untuk Chang. Penglihatan Chang sebagian mulai pulih, dan ia mendengar tentang Kristus untuk pertama kali. "Kami tidak pernah memiliki pasien yang menerima Injil dengan penuh sukacita seperti Chang," lapor seorang dokter.

Saat Chang minta dibaptis, misionaris James Webster menjawab, "Pulanglah ke rumah dan katakan kepada tetangga-tetanggamu bahwa kamu telah berubah. Saya akan mengunjungi kamu kemudian dan jika kamu masih mengikuti Yesus, maka saya akan membaptis kamu."

Setelah 5 bulan berlalu, Webster tiba di daerah tempat tinggal Chang, ratusan orang datang menjumpai dan menanyainya. Kemudian ia membaptis penginjil baru tersebut dengan sukacita besar.

Suatu saat, seorang dokter, penduduk asli di sana, melakukan kecerobohan dan merusakkan mata Chang yang telah dipulihkan oleh para misionaris. Namun hal tersebut tidak menjadi masalah. Chang melanjutkan perjalanannya dari desa ke desa, memenangkan ratusan lebih jiwa, dan memuji Tuhan saat dikutuki dan dicaci maki. Ia belajar secara praktis mengutip seluruh bab dari Perjanjian Lama Para misionaris mengikutinya, membaptis para petobat, dan mendirikan gereja-gereja.

Saat pemberontakan Boxer meledak, Chang sedang berkhotbah di Tsengkouw, Manchuria. Orang-orang Kristen merasa yakin bahwa ia akan menjadi salah satu sasaran dan melindunginya di sebuah gua di pegunungan.

Saat kelompok Boxter mencapai daerah dekat kota Chiaoyangshan, mereka mengumpulkan sekitar lima puluh orang Kristen untuk dieksekusi. Namun seorang penduduk berkata kepada kelompok tersebut, "Kalian bodoh membunuh semua orang karena dari setiap orang yang kamu bunuh akan tumbuh sepuluh orang lagi jika Chang Shen masih hidup. Bunuhlah dia dan kalian akan dapat menghancurkan agama asing itu." Kelompok Boxter berjanji akan mengasihani mereka jika ada yang mau membawa mereka kepada Chang. Namun tak seorang pun bersedia. Saat kelompok tersebut mau membunuh orang Kristen, seorang menyelinap pergi menemui Chang untuk mengatakan apa yang sedang terjadi. "Saya akan dengan senang hati mati untuk mereka," Chang menawarkan. "Bawa saya ke sana."

Saat Chang tiba, para pemimpin Boxter sedang berada di kota lain. Namun ia tetap diikat oleh seorang pejabat berwenang setempat, dibawa ke sebuah kuil, dan diperintahkan untuk menyembah.

Ia menyatakan, "Saya hanya dapat menyembah Tuhan yang benar dan hidup."

"Bertobatlah," mereka berteriak.

"Saya sudah bertobat bertahun-tahun yang lalu," kata Chang.

"Kamu setidaknya harus membungkuk kepada dewa," teriak mereka lagi.

"Tidak. Hadapkan wajah saya pada matahari." Chang tahu bahwa saat itu matahari menyinari kuil itu dan punggungnya membelakangi berhala-berhala tersebut. Saat mereka membalikkannya, dia berlutut dan menyembah Tuhan yang tertulis dalam Alkitab.

Tiga hari kemudian, para pemimpin Boxer tiba. Penginjil buta ini diletakkan pada sebuah gerobak terbuka dan dibawa ke pekuburan di luar tembok kota. Saat melewati kerumunan orang banyak, ia menyanyikan sebuah lagu yang dipelajarinya di rumah sakit.

"Yesus mengasihi saya, Dia akan berada dekat dengan saya sepanjang jalan. Jika saya mengasihi-Nya, saat saya meninggal, Dia akan membawa saya pulang ke rumah di tempat yang tinggi."

Saat mereka tiba di pekuburan tersebut, ia didorong untuk berlutut. Ia berteriak tiga kali, "Bapa di Surga, terimalah rohku." Kemudian sebuah pedang diayunkan ke lehernya, dan kepalanya menggelinding ke tanah.

Karena takut adanya berita bahwa si Buta Chang akan bangkit dari kematian, kelompok Boxter memaksa para orang percaya untuk membeli minyak dan membakar tubuhnya. Sekalipun demikian, kelompok Boxter itu ketakutan dan melarikan diri karena mereka percaya bahwa roh Chang akan melampiaskan pembalasan. Dengan demikian, orang-orang Kristen sempat terhindar dari penganiayaan.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi
Penulis : Tim The Voice of The Martyrs
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
Halaman : 86 -- 89

e-JEMMi 13/2009



Cina: Saudari Wong

"Tolong, Saudari Wong, saudariku sakit, ia telah kehilangan indra perasa di kakinya. Maukah engkau datang dan mendoakannya?" Apakah ini pria yang sama yang telah menyita ratusan Alkitab dan buku-buku Kristen darinya? Sekarang ia memintaku berdoa? Tuhan yang sejati pasti telah memerhatikan.

Beberapa hari sebelumnya, saat petugas itu menginterogasi dan menganiaya Saudari Wong, ia menerima telepon bahwa ibunya tertabrak sebuah mobil. Ketika ia memberi tahu ibunya apa yang telah ia lakukan, ibunya berkata banwa penyiksaannya terhadap umat Kristen menyebabkan kecelakaan yang dialaminya. Petugas itu menganggap peringatan itu sekadar takhayul.

Keesoakan harinya, ia melanjutkan menginterogasi Saudari Wong, namun mendapat pesan lain bahwa saudaranya terluka dalam sebuah kecelakaan. Saudaranya juga menyalahkan bahwa serangan petugas itu atas orang-orang Kristen telah membawa kesialan bagi keluarga. Namun, saat saudarinya jatuh sakit, ia meminta Saudari Wong untuk berdoa.

Saudari Wong melihat kesempatan yang telah ia doakan, kesempatan untuk bersaksi bagi penganiayaan. Tuhan menyembuhkan saudarinya dan melalui tindakan Saudari Wong, Tuhan mengubah hati petugas itu? Petugas itu mengembalikan semua Alkitab yang telah disita dan sekarang mendukung gereja.

Banyak orang secara ajaib tertarik untuk berdoa -- terutama pada saat terluka dan sakit. Hambatan-hambatan yang melawan apa pun yang berkaitan dengan kegiatan religius disingkapkan satu per satu saat seseorang memohon atau menerima doa. Jarang ada seseorang yang menolak tawaran gratis untuk didoakan. "Saya akan mendoakanmu" bisa menjadi kata-kata yang sangat berkuasa yang diucapkan seorang percaya kepada seorang tak percaya. Mengapa? Doa adalah agen perubah Tuhan. Doa menghasilkan sesuatu. Terkadang doa mengubah keadaan. Terkadang membalikkan keputusan. Sering kali, doa mengubah mereka yang dijamahnya. Alkitab berkata bahwa tindakan pertama yang dicatat setelah pertobatan penganiayaan umat Kristen, Saulus dari Tarsus, adalah berdoa. Siapa yang menyangka apa yang akan peran doa mainkan dalam pertobatan "Saulus", juga terhadap orang Kristen di seluruh dunia yang sekarang menuju pada kehancuran?

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Devosi Total
Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2005
Halaman : 5

Dipublikasikan di: http://doa.sabda.org/cina_saudari_wong

Dalam Sepatu Penginjilan

Jika saya harus mengatakan sesuatu tentang perjalanan penginjilan kami ke Kenya, saya akan mengatakan bahwa perjalanan tersebut terlalu singkat. Walaupun perjalanan selama satu minggu pada Juni 2000 itu sangat singkat, perjalanan itu memberikan dampak bagi saya dan orang lain yang tergabung dalam kelompok penginjilan kami, yang terdiri dari dua saudari, satu saudara dari Skotlandia, dan tiga saudara dari Singapura.

KISUMU

Jenis Kapel yang Berbeda

Pada hari Sabat pertama kami di Kenya, kami menempuh jarak lima jam bermobil dari ibukota Nairobi, ke sebuah kota bernama Kisumu. Di Kisumu ada beberapa jemaat, tetapi belum ada gedung gereja, jadi mereka mengadakan kebaktian di sebuah sekolah.

Separuh kelompok ditinggal untuk berkebaktian di Kisumu, sementara separuh lainnya pergi ke dua desa lainnya, Alunga dan Bunde, untuk mengadakan kebaktian. Saya senang berada di kelompok kedua sebab apa yang saya lihat sungguh adalah pembuka mata. Saya melihat bahwa di area ini kebaktian di dalam rumah-rumah dari lumpur dan di bawah pepohonan bukanlah hal yang tidak biasa. Desa Alunga mempunyai sebuah kapel, tapi bangunannya yang kecil hanya berupa susunan rangka kayu yang bagaimanapun tidak dapat melindungi dari hujan. Di Desa Bunde kami mengadakan kebaktian di bawah pepohonan rindang. Tapi entah itu kayu atau daun, Tuhan berbaik hati memberikan langit yang cerah di atas kepala kami.

Keramahtamahan Saudara Kita

Setelah kebaktian di Alunga dan Bunde, beberapa saudara mengundang kami ke rumah mereka. Mereka menawari kami ugali (makanan yang terbuat dari tepung jagung), nasi, kari, dan teh. Orang-orang di Afrika biasanya makan hanya dua kali sehari. Makanan pokoknya terdiri dari ugali, nasi, daging kambing, ayam, dan ikan.

Seperti kebanyakan rumah-rumah di Afrika, rumah mereka dibuat dari lumpur, dengan atap dari jerami atau seng. Herannya, seni membangun rumah lumpur ini juga merupakan teknologi. Lumpur dipadatkan di sekeliling sebuah rangka kayu untuk membentuk dinding, lalu kotoran sapi diratakan pada dinding dan lantai. Kombinasi unik lumpur dan kotoran sapi ini dapat menahan unsur-unsur alam yang keras dan herannya, dapat mengusir nyamuk.

Mujizat Turunnya Hujan

Ketika kami tiba di Kenya, negeri itu telah menderita kekeringan selama lima bulan. Kemarau itu cukup serius sehingga pemerintah mengumumkannya sebagai bencana nasional. Ketika kelompok penginjilan kami mengetahui tentang kekeringan ini, setiap kali berdoa, kami bersama-sama saudara-saudari Afrika dengan sungguh-sungguh memohon agar hal itu segera berakhir.

Waktu bersepeda keluar dari Bunde, orang Afrika yang mengendarai sepeda saya (saya duduk di belakangnya) menjelaskan kesulitan- kesulitan yang disebabkan oleh kekeringan ini. Dia menyebutkan terjadinya kekurangan makanan yang dihadapi oleh penduduk desa dan bagaimana usaha-usaha yang dilakukan untuk meningkatkan panen itu akhirnya sia-sia saja. Hampir sepanjang waktu itu saya hanya bisa mendengarkan ceritanya dalam kebisuan, merasakan iba yang memilukan hati terhadap jiwa-jiwa malang ini.

Tak disangka-sangka, dalam perjalanan meninggalkan desa ini, hujan mulai turun! Ini sungguh merupakan mujizat dan peringatan bagi kita bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. Peristiwa unik ini mengingatkan saya pada 2Tawarikh 7:14, yang berbunyi: "Dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka."

KILGORIS

Transportasi

Pada hari Minggu, kelompok penginjilan kami pergi ke kota kecil lain bernama Kilgoris.

Di Kenya kami biasanya bepergian dengan bis, truk, mobil, sepeda, atau taksi (biasanya hanya di Nairobi). Sepeda adalah alat transportasi umum di pedesaan, dan perjalanannya memakan waktu antara setengah sampai satu jam. Kami tidak mengayuh, tetapi duduk sebagai penumpang di belakang pengendara sepeda. Saya merasa kasihan terhadap orang-orang ini karena mereka bekerja begitu keras, namun menerima upah begitu sedikit.

Transportasi di Afrika umumnya tidak efisien; pengemudi sering menunggu sampai kendaraannya penuh baru berangkat, dan kadang-kadang acara menunggu ini dapat berlangsung sampai dua atau tiga jam. Kami baru tiba di Kilgoris pada Minggu malam.

Kunjungan ke Rumah Sakit

Tugas utama kami di Kilgoris adalah penginjilan karena di sana belum ada jemaat yang dibaptis.

Pada hari Minggu kami mengunjungi sebuah rumah sakit di Kilgoris yang menyediakan layanan pengobatan dengan biaya ringan kepada penduduk desa yang sakit. Dua dokter (suami dan istri) mengelola rumah sakit ini, dengan bantuan beberapa perawat penuh waktu. Mereka kekurangan peralatan medis dan tempat tidur, jadi mereka menerima peralatan bekas dari negara-negara yang lebih maju dan sedapat mungkin memanfaatkan apa yang mereka miliki agar dapat menolong semua pasien. Menurut ukuran kami rumah sakit tersebut peralatannya menyedihkan, namun menurut ukuran mereka sudah cukup mewah.

Di rumah sakit itu kami mengadakan kebaktian pekabaran Injil, puji- pujian, dan kunjungan dari bangsal ke bangsal. Dalam kunjungan kami ke setiap pasien, kami khusus berdoa untuk penyakit masing-masing orang dengan bahasa akal, berharap agar mereka juga dapat belajar berbicara kepada Tuhan melalui doa. Kadang-kadang, kami menyanyikan satu atau dua kidung pujian, dan banyak pasien yang bernyanyi dan berdoa bersama kami.

Walaupun kebanyakan orang tidak memperlihatkan rasa sakit dan penderitaan mereka, Anda dapat melihatnya dalam mata mereka sewaktu Anda berbicara dan bernyanyi bersama mereka. Mereka tampak begitu tidak berdaya dalam penderitaan mereka, Anda dapat merasakan bahwa mereka sedang mencari secercah harapan yang samar-samar dalam kehidupan mereka. Kami berharap bahwa melalui doa dan melalui kuasa Tuhan, orang-orang ini dapat menyadari kebutuhan mereka akan Tuhan dan entah bagaimana menjangkau dan menemukan Dia.

Kebaktian dengan Cahaya Pelita

Malam itu kami mengadakan kebaktian di rumah seorang wanita yang sudah percaya, tetapi belum menyampaikan kesaksian bagaimana anugerah Tuhan turun ke atas dirinya sejak dia percaya kepada Yesus Kristus. Puji Tuhan, banyak yang datang untuk mencari kebenaran pada malam itu.

Karena listrik dan air merupakan kemewahan bagi kebanyakan orang Afrika, kami hanya punya satu lampu minyak tanah kecil sebagai sumber penerangan di rumah yang gelap itu. Lampu itu diletakkan di tengah ruangan, hampir-hampir tidak memberikan cahaya yang cukup bagi setiap orang untuk melihat pembicara. Membaca dengan penerangan seperti ini hampir tidak mungkin dilakukan, jadi para pembicara harus menggunakan senter kecil untuk membaca ayat-ayat Alkitab.

Dalam rumah ini, saya memikirkan perbedaan antara kehidupan di kota yang kaya dan kehidupan di pedalaman Afrika. Kehidupan di Afrika berjalan dalam alur yang lebih lambat; tidak ada kesibukan gila- gilaan seperti kehidupan kota, dan hampir setiap orang tidur lebih awal. Mungkin inilah sebabnya mengapa tidak dirasakan adanya kebutuhan akan lampu listrik yang terang di rumah-rumah. Saya merasa bahwa orang-orang ini diberkati karena kehidupan mereka yang sederhana membuat mereka dapat memiliki iman yang lebih sederhana kepada Tuhan. Mungkin perhatian mereka tidak dialihkan oleh banyaknya kemewahan dan kekuatiran dunia, seperti yang kadang kala kita alami.

Anak-anak

Di Kilgoris dan sepanjang perjalanan, saya mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan anak-anak Afrika. Anak-anak ini sangat menawan dan bersahabat, dan mereka sungguh-sungguh dapat meluruhkan hati Anda. Saya melihat bahwa mereka sangat berbeda dari anak-anak di negara-negara maju, anak-anak Afrika lebih murni dan sederhana. Hal ini membuat saya memikirkan perasaan Yesus ketika Dia menggendong seorang anak kecil dan berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3)

Anak-anak ini juga mengingatkan saya akan pentingnya pendidikan agama. Membantu mereka belajar tentang Juruselamat selagi mereka masih muda dapat membentuk mereka menjadi orang dewasa yang takut akan Tuhan. Hampir semua tempat yang kami kunjungi punya kelas-kelas terpisah untuk anak-anak, tetapi masih sangat membutuhkan banyak guru pendidikan agama dan pemimpin pujian.

Menginjili Kepala Suku

Pada hari Selasa kami mengunjungi kepala desa suku Masai dan mengadakan kebaktian pekabaran Injil kecil di rumahnya. Saya melihat ada warga suku yang mengenakan seragam perang suku Masai dan membawa tombak, busur, dan anak panah. Mereka selalu berjaga-jaga, siap untuk melindungi tanah dan ternak mereka dari usaha pencurian yang kadang-kadang dilakukan suku tetangga. Ini menggambarkan betapa tidak stabilnya kehidupan di pedalaman Afrika.

PULANG KE RUMAH

Pada hari Rabu kami mengunjungi Teluk Kendu. Ada rencana untuk membangun gereja di sana. Kami bertemu dengan pengurus gereja setempat untuk memberikan beberapa petunjuk mengenai rencana pembangunan gereja, juga tentang masalah-masalah administrasi lainnya.

Setelah Teluk Kendu, kami menempuh perjalanan kembali ke Kisumu. Di sana kami berpisah dengan seluruh rombongan dan mengarah kembali ke Nairobi. Pada hari Kamis siang, kami bertiga dari Singapura mengejar pesawat pulang ke rumah. Kami hanya menghabiskan satu minggu dalam pekerjaan nyata penginjilan, dan ini pasti terlalu singkat.

ALAMILAH SENDIRI

Selama perjalanan, kami tinggal di hotel-hotel yang dipenuhi serangga dan sering kekurangan air dan listrik. Air mandi, kadang- kadang, diambil dari sumur, dan ada satu tempat yang tidak punya toilet. Tapi di tengah kondisi seperti itu, saya mendapatkan beberapa pelajaran berharga dari perjalanan ini.

Kemiskinan orang-orang Afrika adalah pemandangan yang tak akan saya lupakan. Setelah dihadapkan pada kemiskinan luar biasa seperti ini, saya jadi lebih menghargai berkat-berkat Tuhan dalam kehidupan saya. Hal ini membantu saya untuk memahami dan berempati terhadap orang- orang yang berjuang melawan kemiskinan.

Melihat betapa berbedanya cara hidup orang-orang dan berpikir dalam pola pikir budaya yang lain telah membantu meluaskan cakrawala pikiran saya. Saya belajar bahwa dalam usaha mengajarkan tentang Tuhan kepada orang lain, kita tidak dapat selalu menggunakan cara yang sama, khususnya dalam budaya lain dan negara lain. Yang terpenting, saya melihat betapa orang-orang ini sungguh sangat membutuhkan Tuhan. Ada begitu banyak orang yang menderita, dan hanya Tuhan Yesus Kristus yang dapat melepaskan mereka.

Saya sungguh bersyukur karena Tuhan memberi saya kesempatan untuk berjalan dalam sepatu penginjilan walaupun hanya sebentar. Jika Anda tertarik untuk melayani Tuhan dalam pekerjaan penginjlan, dan pada saat yang sama mendapatkan beberapa pelajaran penting, saya sangat menganjurkan agar Anda mengalami sendiri kesempatan ini.

Kiranya segala kemuliaan hanya bagi Tuhan kita Yesus Kristus.

Sumber diedit dari:

Judul Artikel : Dalam Sepatu Penginjilan
Penulis : Joshua Koh
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati, 2004
Halaman : 35 -- 40

e-JEMMi 21/2005

Damai Bersama Allah

Pendeta, istri, dan enam anaknya yang masih kecil baru saja selesai membaca Mazmur 23 sambil makan pagi. Tiba-tiba polisi menerobos masuk rumah dan menangkapnya.

Polisi menanyainya, "Adakah yang hendak kamu katakan? Apakah kamu tidak menyesal atau sedih?" Pendeta itu menjawab hati-hati, "Kalian adalah jawaban dari doa kami hari ini. Kami baru saja membaca Mazmur 23 yang mengatakan bahwa Allah menyediakan hidangan bagi kami di hadapan lawan-lawan kami. Kami memiliki hidangan, tapi kami tidak memiliki lawan. Sekarang kalian datang. Kalau kalian mau sesuatu, saya akan membaginya dengan kalian. Allah telah mengirim kalian.

"Bagaimana engkau dapat mengatakan kata-kata yang bodoh itu? Kami akan membawamu ke penjara dan kamu akan mati di sana. Kamu tidak akan dapat melihat anak-anakmu lagi." Dengan penuh ketenangan, pendeta itu melanjutkan, "Hari ini kami juga telah membaca: `Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut.`"

Petugas itu berteriak, "Setiap orang takut mati. Aku tahu itu karena aku telah melihatnya di wajah mereka."

"Bayangan seekor anjing tidak dapat menggigitmu, dan bayangan kematian tidak dapat membunuhmu. Engkau dapat membunuh kami dan memenjarakan kami, tapi sesuatu yang buruk tidak dapat menyentuh kami. Kami ada di dalam Kristus, dan jika kami mati, Dia akan membawa kami ke dunia-Nya."

*****

Damai. Kedamaian telah menjadi barang langka yang sangat berharga seperti stok saham dalam situasi ekonomi saat ini yang penuh gejolak dan kekerasan. Semua orang percaya adalah pemegang saham dari karunia Allah dalam Yesus Kristus. Banyak orang tidak memiliki damai. Ada yang minum obat dan selalu kuatir, mencoba untuk memeroleh damai tanpa Allah. Ketenangan yang mereka rasakan semuanya itu hanya sementara. Mereka akan merasa kuatir dan resah lagi. Sebaliknya, kedamaian Allah memampukan kita untuk hidup dalam damai, meskipun kita menderita. Tidak ada satu pencobaan pun yang dapat menggoyahkan iman Anda. Seperti pendeta yang lembut dalam kisah di atas, meskipun bencana datang secara tiba-tiba, Anda siap dengan damai Allah.

*****

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Devosi Total
Judul asli : Extreme Devotion
Judul asli artikel : Rumania
Penulis : The Voice of The Martyrs
Penerbit : KDP, Surabaya 2005
Halaman : 173

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/damai_bersama_allah

Dibutakan oleh Penguasa Kegelapan

Hampir 40% penduduk Ghana memegang teguh kepercayaan tradisional, sementara itu ada 30% penduduknya memeluk agama non-Kristen. Penduduk Kristen di negara ini diperkirakan sebesar 24%. Banyak suku terabaikan di Ghana melakukan praktek-praktek sihir. Seperti yang dikatakan oleh direktur regional EHC untuk Anglo-Afrika, "kepercayaan tradisional para penduduk Ghana dan praktek-praktek sihir yang dilakukan telah membutakan mata mereka. Para penduduk ini hidup dalam ketakutan dan mereka mencari perlindungan dari roh-roh kegelapan." Perwakilan EHC ini pernah memimpin sekelompok orang Ghana yang menyadari bahwa hidup itu berada di dalam darah, tetapi "tidak ada seorang pun yang menceritakan kepada mereka bahwa hidup hanya ada di dalam darah Yesus. Karena itu mereka memuja dan memberikan persembahan darah kepada penguasa kegelapan."

Bersyukur karena saat ini banyak penduduk Ghana yang telah memberikan respon terhadap Injil! Setelah menerima buklet Injil dari EHC dan mengikuti kursus korespondensi Alkitab, salah seorang diantara mereka menuliskan: "Pelajaran-pelajaran dalam kursus Alkitab yang saya ikuti menyadarkan saya untuk melihat realitas bahwa saya adalah seorang berdosa yang sedang berjalan menuju neraka. Melalui pelajaran-pelajaran ini, saya didorong untuk menyerahkan seluruh hidup saya kepada Yesus dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saya secara pribadi. Kursus ini memberikan perubahan positif dalam keseluruhan hidup saya."

Seorang penduduk Ghana lainnya menuliskan: "Saya dibutakan oleh kuasa kegelapan -- saya benar-benar terhilang dan tidak berpengharapan. Saya sungguh bersyukur karena Yesus telah datang untuk membebaskan saya. Terima kasih karena EHC telah merespon dengan cepat kartu keputusan yang saya kirimkan. EHC telah mengirimkan pelajaran-pelajaran dari kursus Alkitab tertulis yang mereka adakan. Pelajaran-pelajaran tersebut sangat membantu saya untuk hidup secara lebih baik. Terima kasih juga atas kiriman Alkitabnya. Allah memberkati pelayanan EHC."

Selain melayani pendistribusian literatur-literatur Injil yang disharingkan secara sistematis dan pendaftaran peserta kursus-kursus Alkitab, para pekerja EHC di Ghana juga disibukkan dengan banyak pelayanan penting lainnya. Salah satu diantaranya adalah penyelenggaraan tiga seminar penginjilan di distrik Sandema dimana para pekerja menggunakan alat peraga yang berupa kartu-kartu warna- warni berbentuk hati yang menggambarkan Hati Manusia. Kartu berbentuk hati ini merupakan presentasi visual dari Injil. EHC juga meneruskan pelayanan ke desa-desa yang ditinggali oleh para mantan ahli sihir. Seiring dengan transformasi rohani yang banyak terjadi di Ghana, para pekerja EHC mempunyai kerinduan yang sangat besar untuk menyediakan fasilitas pelatihan di desa-desa. Penyediaan fasilitas ini sedang bergerak maju setapak demi setapak. Jika Anda mempunyai kerinduan untuk turut berperan dalam pelayanan-pelayanan EHC yang menarik dan menantang di Ghana ini, silakan kontak EHC secara langsung. Selamat melayani!

Sumber: FAX OF THE APOSTLES - November 2001
Every Home for Christ (EHC)
==> http://www.ehc.org/

e-JEMMi 42/2003

Dikuatkan Oleh Para Malaikat

Walau dia belum pernah berada di sana sebelumnya, Prajurit Ivan "Vanya" Moiseyev mengetahui apa yang menantinya di kantor sang Mayor. Para komunis tidak henti-hentinya memanggilnya ke kantor pusat untuk berbincang, berusaha untuk "mendidiknya ulang", untuk membuatnya mengingkari imannya kepada Allah.

Saat itu waktu makan siang, matahari bersinar dengan cerah di langit yang biru dan salju pun terlihat berkilauan. Sambil berjalan di sepanjang trotoar yang bersalju, Moiseyev memuji Allah dalam kesendiriannya. Saat itu merupakan waktu untuk bernyanyi dan berdoa baginya.

Pagi itu demikian cerah, awalnya Moiseyev tidak menyadarinya; tiba-tiba, seberkas sinar tertangkap oleh matanya. Sebuah bintang yang cerah mulai jatuh dari langit. Seperti sebuah komet, benda itu semakin mendekat dan menjadi semakin besar. Ia melihat ke atas dan melihat seorang malaikat di atasnya. Malaikat itu bercahaya dan penuh kekuatan. Hati Moiseyev dipenuhi dengan sukacita dan rasa takut. Malaikat itu tidak turun menyentuh bumi, tetapi melayang-layang sekitar 200 meter di atas tanah. Ia berjalan di atas Moiseyev, seolah-olah berjalan di jalan yang sama dengannya. Kemudian malaikat itu berbicara, "Ivan, pergilah. Jangan takut. Aku besertamu."

Ivan tidak dapat berbicara, tapi sukacitanya bagaikan api di dalam hatinya. Entah bagaimana ia berhasil sampai ke kantor Mayor Gidenko dan mengetuk pintu kantor itu dengan perlahan. Mayor Gidenko, kepala dari Komite Instruksi Politik, menatap ke atas saat sang prajurit muda tersebut masuk. Ivan Moiseyev telah diinterogasi berulang-ulang oleh interogator lainnya dan belum pernah mundur dari imannya. Tetapi, Gidenko yakin bahwa dirinya dapat menyelesaikan persoalan ini.

"Moiseyev, menurutku kamu tidak terlihat seperti murid yang bodoh. Mengapa kamu tidak mempelajari jawaban yang betul?" ia bertanya.

"Kadang-kadang ada perbedaan antara jawaban yang betul dan jawaban yang benar," jawab Ivan. "Kadang-kadang Allah tidak memberi saya izin untuk memberikan jawaban yang 'betul'."

"Jadi, Allah berbicara kepadamu? Siapakah Allahmu itu?" Namun, segera setelah Gidenko menanyakan pertanyaan itu, ia menyesalinya. Ivan bersandar ke depan pada kursinya. Wajahnya bersinar dengan sukacita karena kesempatan yang terbuka untuk membagikan imannya.

"Mayor, Ia adalah Pribadi yang menciptakan seluruh semesta. Ia amat mencintai manusia, dan Ia mengirimkan Putra-Nya ...."

Gidenko menyela, "Ya, ya, aku tahu ajaran-ajaran Kristen. Tetapi apakah hubungannya dengan menjadi seorang prajurit? Apakah kamu tidak menyetujui pengajaran dari Tentara Merah yang hebat?"

"Bukan, Mayor."

"Tetapi kamu tidak menerima prinsip-prinsip ilmiah dari ateisme yang mendasari seluruh negara kita Soviet dan kekuatan militer dari angkatan bersenjata Soviet?"

"Saya tidak dapat menerima apa yang jelas-jelas saya ketahui tidak benar. Segala yang lain dapat saya terima dengan senang hati."

"Moiseyev, tidak ada seorang pun yang dapat membuktikan keberadaan Allah. Bahkan pastor dan pendeta juga menyetujui hal tersebut."

"Mayor, mereka mungkin berbicara tentang mereka tidak mampu untuk membuktikan Allah, tapi tidak ada keraguan-raguan tentang mengenal Dia. Ia ada bersama saya saat ini, di dalam ruangan ini. Sebelum saya datang kemari, Ia mengirimkan seorang malaikat untuk menguatkan saya."

Gidenko menatap dengan tajam pada Ivan. Pada akhirnya ia berbicara dengan lelah, "Aku minta maaf, Moiseyev, karena kamu tidak mau menggunakan akal sehatmu. Sifatmu yang keras kepala itu tidak akan mendatangkan apa pun bagimu kecuali ketidaknyamanan. Bagaimanapun, tahun demi tahun aku telah menemukan bahwa orang-orang sepertimu sering dapat disadarkan dengan sedikit disiplin."

"Aku memerintahkanmu untuk berdiri di jalanan malam ini setelah ketukan dimainkan. Kamu akan berdiri di sana hingga kamu mau mempertimbangkan kembali omong kosong mengenai allah-allah yang dapat berbicara dan malaikat-malaikat ini."

"Karena suhu udara tampaknya akan berada pada suhu minus 13 derajat, demi dirimu sendiri, aku harap kamu cepat-cepat setuju untuk bertindak secara masuk akal. Besok kita akan membuat rencana bersama untuk pendidikan ulangmu. Kamu boleh pergi."

Gidenko mengharapkan Moiseyev untuk bimbang -- untuk mempertimbangkan kembali. Sebaliknya, ia menegakkan bahunya dan berjalan dengan perlahan menuju pintu.

"Prajurit Moiseyev!"

Saat si prajurit membalikkan badannya, Gidenko menyadari bahwa ia sedikit pucat. Maka ia telah memahami perintah tersebut!

"Kamu akan melakukan instruksiku dengan baju seragam musim panas. Itu saja."

Malam itu, saat terompet berbunyi, Ivan berjalan menuruni tangga-tangga barak menuju jalanan yang bersalju. Ia bergidik ketika terpaan angin sedingin es membakar telinganya dan membuat matanya berair. Seragam musim panasnya yang tipis tidak menolongnya dari hawa dingin yang menusuk. Ia melirik arlojinya. Satu menit lewat sepuluh.

Malam ini, ia akan memiliki waktu yang panjang untuk berdoa! Tetapi untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke dalam angkatan bersenjata Soviet, doa tidak datang dengan mudah. Ia khawatir. Mungkinkah ia berdiri di luar sini sepanjang malam? Bagaimana jika ia mati beku? Apakah mereka akan membiarkannya membeku hingga mati? Bagaimana jika ia menjadi demikian kedinginan hingga ia menyerah pada permintaan mereka?

Pertanyaan-pertanyaan "bagaimana" tersebut membanjiri pikirannya dan membuatnya kepalanya berputar-putar. Ia tahu bahwa ia harus memikirkan sesuatu yang lain. Kemudian ia ingat akan malaikat yang mengunjunginya tadi pagi. Malaikat tersebut telah berkata, "Jangan takut. Aku besertamu!" Tiba-tiba ia menyadari bahwa kata-kata malaikat itu dimaksudkan untuk malam ini! Walaupun ia tidak lagi dapat melihatnya, Moiseyev mengetahui bahwa malaikat itu masih berada di sana bersamanya. Ia mulai berdoa dengan tekun.

Ketika waktu menunjukkan pukul setengah satu, konsentrasinya terpecah karena derakan salju. Dibungkus dengan mantel tebal, topi, dan sepatu bot, 3 orang perwira perlahan-lahan berjalan menuju ke tempatnya.

"Prajurit Moiseyev, apakah kamu telah mengubah pikiranmu? Apakah kamu sudah siap untuk masuk dan menghangatkan diri?"

"Tidak, perwira kamerad. Betapapun saya ingin masuk dan pergi tidur, saya tidak dapat. Saya tidak akan pernah setuju untuk tinggal diam mengenai Allah."

Bahkan dalam cahaya temaram Moiseyev dapat melihat para perwira tersebut keheranan dan kebingungan. Bagaimanakah ia sanggup menahan dingin yang seperti itu?

"Apakah kamu berencana untuk berdiri di sini sepanjang malam?"

"Saya tidak dapat melihat kemungkinan pilihan yang lain, dan Allah sedang membantu saya." Ivan memeriksa tangannya -- mereka dingin, tapi tidak terlalu dingin. Ia masih dapat menggerakkan jari-jari kakinya dengan mudah. Itu merupakan sebuah keajaiban! Ia melihat pada para perwira dan dapat melihat bahwa bahkan dengan mantel-mantel mereka, mereka sudah gemetar karena rasa dingin. Mereka menghentak-hentakkan kaki mereka dan menepuk-nepukkan tangan mereka, tidak sabar untuk kembali ke barak mereka yang hangat.

"Kamu akan merasa berbeda 1 jam lagi," sang perwira senior bergumam saat mereka dengan cepat berpaling kembali.

Ivan melanjutkan untuk berdoa bagi semua orang percaya yang ia kenal. Ia menyanyikan kidung-kidung Natal. Ia berdoa bagi setiap perwira yang ia kenal dan yang ia ketahui. Ia berseru kepada Allah atas nama orang-orang dalam baraknya. Perlahan-lahan pikirannya tampak seperti melayang-layang ke suatu tempat di luar kepalanya. Namun seberapa keras pun ia berusaha, doa menghindarinya.

Ivan sedang tertidur sambil berdiri ketika pada pukul tiga pagi, sang perwira senior yang sedang bertugas jaga membangunkannya dan membiarkannya kembali ke baraknya.

Untuk 12 malam berikutnya, Ivan terus berdiri di jalanan di luar baraknya. Ajaibnya, ia tidak membeku; ia juga tidak meminta belas kasihan. Ivan terus berbicara mengenai imannya kepada rekan-rekan dan perwiranya. Ia menyanyikan pujian bagi kemuliaan Yesus Kristus dalam baraknya, walaupun hal tersebut dilarang dengan keras. Kepada mereka yang mengancamnya, ia membalas, "Seekor burung yang diancam dengan kematian karena bernyanyi akan terus bernyanyi. Ia tidak dapat meninggalkan sifat alaminya. Demikian juga dengan kami orang Kristen."

Prajurit-prajurit yang ada di sekelilingnya bertobat, terkesan dengan imannya yang sungguh-sungguh.

Komandan-komandannya terus menginterogasinya, berusaha untuk membuatnya menyangkal Yesus. Mereka memasukkannya ke dalam sel yang diberi pendingin. Mereka memakaikannya baju khusus dari karet, yang ke dalamnya mereka memompakan udara hingga dadanya demikian sesak sehingga ia nyaris tidak dapat bernafas.

Pada usia 20 tahun, Ivan tahu bawa para komunis akan membunuhnya. Pada 11 Juli 1972, ia menulis kepada orang tuanya, "Kalian tidak akan melihatku kembali." Ia kemudian menggambarkan penglihatan malaikat-malaikat dan surga yang telah Allah kirim untuk menguatkannya pada pencobaannya yang terakhir.

Beberapa hari kemudian, tubuhnya dikembalikan kepada keluarganya. Tubuhnya menunjukkan bahwa ia telah ditikam enam kali di sekeliling jantung. Ia memiliki luka-luka pada kepalanya dan di sekitar mulutnya. Terdapat tanda-tanda pukulan di sekujur tubuhnya. Kemudian ia ditenggelamkan.

Kolonel Malsin, komandannya, mengatakan, "Moiseyev meninggal dengan sulit. Ia bertarung dengan kematian, tapi ia mati sebagai orang Kristen."

Ayah dari pahlawan Kristen ini menulis kepada kami, "Kiranya bunga hidup ini, yang memberikan wanginya pada kayu salib, dapat menjadi teladan bagi semua orang muda yang beriman. Semoga mereka mencintai Kristus sebagaimana anak kami telah mencintai Dia."

Diambil dan disunting dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
Halaman : 32 -- 37

e-JEMMi 04/2010



Disidang Karena Membagikan Injil

Persahabatan Anila dan Parveen sudah dimulai sejak mereka sekolah. Parveen merupakan seorang gadis dari keluarga non-Kristen yang ketat, sedangkan Anila adalah gadis Kristen yang sangat percaya akan kebesaran Yesus. Seiring persahabatan mereka, Anila memberikan Alkitab kepada Parveen dan mengajarkan lagu-lagu Kristen yang dengan cepat dipelajarinya. Anila mulai mengundang Parveen menghadiri kebaktian Jumat Agung. Ketika mendengar presentasi Injil, gadis non-Kristen itu langsung menerima Yesus dalam hidupnya. Ia sangat bersemangat mengenai hubungannya bersama Yesus dan merasakan perubahan besar dalam hidupnya.

Tidak lama kemudian, orang tua Parveen mengetahuinya. Sebagai kaum non-Kristen, orang tua Parveen sangat marah ketika mengetahui perpindahan Parveen ke agama lain. Mereka menyuruh adik perempuannya mencari tahu dari mana dia mendapatkan pengaruh kristiani tersebut dan mulai merencanakan pernikahan Parveen dengan seorang pria non-Kristen. Namun, Parveen menolaknya dan melarikan diri.

Orang tua Parveen menuduh Anila dan pendetanya melakukan penculikan sehingga mereka memutuskan untuk memerintahkan penangkapan Anila. Anila disiksa selama sembilan jam di depan keluarganya sebelum akhirnya dibawa ke penjara. Pendeta dan keluarganya menyusul dimasukkan ke penjara sehari sesudahnya. Baik Anila maupun pendetanya mengalami siksaan yang sangat berat selama dipenjara. Ketika dilepas, Anila nyaris tidak bisa duduk dan pendetanya tidak dapat berjalan karena luka-lukanya di pinggang dan paha.

Parveen akhirnya ditemukan oleh keluarganya. Di negara Parveen, orang sering disiksa atau dibunuh oleh keluarganya karena pindah kepercayaan. Untuk mengembalikan kehormatan keluarganya, saudara laki-laki Parveen menikamnya hingga mati.

Saudara laki-laki Parveen yang sudah menikamnya itu dibebaskan oleh pemerintah tanpa hukuman apa pun. Tapi Anila justru ditangkap dengan tuduhan penganiayaan, walaupun akhirnya dapat lepas dari tahanan dengan jaminan setelah sebulan mendekam di penjara. Ia dan keluarganya pergi ke persembunyian karena hidupnya terancam oleh aliran agama radikal yang ada di negaranya.

Puji Tuhan atas doa orang-orang Kristen yang percaya akan Yesus. Bulan Mei 1999, Anila dibebaskan dari segala tuduhan walaupun dia dan keluarganya masih berada di tempat persembunyian. "Aku telah melihat dunia dan dunia tidak memiliki apa pun yang baik. Hanya Yesuslah kedamaianku," kata Anila.

Diambil dari:

Nama situs : Kekal (Kesaksian Kasih Allah)
Alamat URL : http://kesaksian.sabda.org/disidang_karena_membagikan_injil

Sumber asli:

Judul buku : Jesus Freaks
Judul artikel : Disidang Karena Membagikan Injil
Penulis : DC Talk dan Voice Of Martyr
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 29 -- 31

e-JEMMi 45/2007

Doa Dan Gereja Teraniaya

Doa dan Gereja Teraniaya -- keduanya berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.

Beberapa tahun yang lalu, Pendeta Ha bercerita kepadaku di Vietnam, beberapa saat sebelum dia ditangkap dan dipenjara selama lebih dari enam tahun: "Banyaknya permasalahan telah mengajar kami untuk berdoa. Kami memiliki solusi sederhana saat menghadapi banyak masalah; berdoa lebih banyak lagi!"

Setiap kali saya bertemu dengan jemaat Gereja Teraniaya, mereka mendorong saya untuk berterima kasih kepada siapa saja yang telah mendoakan mereka. Ketika ditanya apakah ada yang dapat kami lakukan untuk mereka, hampir semua jawaban pertama mereka adalah: "Tolong doakan kami." Namun hal yang sangat mereka butuhkan itu -- doa -- sangatlah sulit dilakukan di dunia kita yang sarat dengan kesibukan.

Salah satu dari tiga tujuan utama dalam "Open Doors Mission Statement" adalah untuk menyebarkan informasi mengenai Gereja Teraniaya -- sehingga kita dapat berdoa untuk saudara-saudara kita yang menghadapi tekanan dan penganiayaan. Saya merasa terdorong untuk menantang Anda -- dan juga diri saya sendiri -- berkenaan dengan masalah ini, mendoakan dengan tulus setiap mereka yang tercantum dalam buletin Open Doors. Saya jamin, hal ini pasti bermanfaat.

Untuk bisa hadir di tempat-tempat yang sangat membutuhkan dukungan besar adalah suatu prioritas bagi kami yang melayani di "Open Doors". Kami "pergi ke sana" dengan cara mengirimkan Alkitab dan bahan-bahan pelatihan yang tidak tersedia di tempat-tempat tersebut. Kehadiran kita secara fisik akan membuat saudara-saudara seiman kita yang teraniaya tahu bahwa mereka tidak dilupakan.

Sedangkan di lain pihak, saya telah sering mengalami bahwa Anda tidak perlu naik pesawat untuk dapat berada di suatu tempat. Seorang narapidana yang kita doakan tidak selalu dilepaskan. Namun, sangatlah mungkin untuk mengunjungi seseorang di dalam penjara melalui doa-doa kita. Hal ini merupakan dimensi yang sangat ajaib dari doa-doa kita. Dengan berdoa, kita dapat melewati batas-batas negara. Dengan berdoa, kita dapat mengunjungi mereka yang dipenjara. Roh Kudus tidak dapat dipaksa untuk meninggalkan suatu negara. Dia dapat masuk ke pintu-pintu yang tertutup dan mengunjungi mereka yang membutuhkan.

Baru-baru ini, saya mendapat kesempatan istimewa untuk berkhotbah di sebuah ibadah gereja di Maputo, Mozambique. Setelah saya selesai, pendetanya mengambil alih. Dia sendiri telah dipenjara selama tiga tahun selama rezim komunis sebelumnya. Pendeta itu meminta seluruh jemaat untuk berdiri, saling bergandengan tangan -- hal ini berlawanan dengan kebiasaan mereka -- dan berdoa secara simultan dalam doa-doa syafaat bagi saudara-saudara seiman yang menderita di berbagai negara.

Air mata berlinang di mata saya ketika saya turut ambil bagian dalam doa syafaat tersebut. Itulah tubuh Kristus. Orang-orang miskin di Mozambique ini kemungkinan tidak akan memiliki kesempatan untuk pergi mengunjungi saudara kita di China, Timur Tengah, atau Amerika Latin. Namun, mereka dapat meringankan penderitaan saudara-saudara seiman yang teraniaya melalui doa-doa mereka. Jika seorang anggota menderita, semua anggota akan merasakan penderitaannya juga.

Doa yang tulus dari orang yang benar akan sangat besar kuasanya. Apakah kita percaya itu? Jika ya, para petobat dari latar belakang non Kristen akan dapat bertahan di tengah tekanan yang sangat besar. Saudara-saudara kita di Sudan akan dapat mengalahkan rasa takut dan berani terus bersaksi di lingkungan yang tidak ramah. Maka Sudan bisa menjadi pangkalan utama di Afrika untuk memberitakan Injil Yesus Kristus di negara-negara Muslim.

Bersama dengan Anda, saya memandang kepada Tuhan dan percaya kepada- Nya bahwa Dia juga menjawab doa-doa kita tahun ini untuk gereja- gereja teraniaya di berbagai negara.

Bahan diterjemahkan dari sumber:
Judul Artikel: Prayer and the Suffering Church
Penulis : Johan Companjen

e-JEMMi 45/2004

Festival Penginjilan Di Mesir

Siapapun yang mengenal Mesir pasti akan sulit percaya saat membaca laporan berita yang diterima oleh Redaksi FridayFax dari salah seorang pemimpin Evangelical Alliance ini. Setelah diadakan beberapa kali pengecekan, laporan ini terbukti akurat: Bayadiya, sebuah kota di Mesir, telah mengalami terobosan-terobosan penginjilan terbesar di sepanjang sejarah Mesir: sekitar 7,500 orang telah memutuskan untuk menjadi pengikut Kristus.


Gagasan untuk mengadakan Festival Penginjilan (Evangelical Festival) muncul dari para perintis gereja, musikus dan seniman- seniman muda ketika mereka sedang menghabiskan akhir pekan bersama. Mereka ingin membuat suatu perayaan yang mirip seperti perayaan- perayaan yang diselenggarakan oleh gereja Coptic Orthodox. Mereka kemudian mulai merencanakan perayaan besar-besaran yang ditujukan bagi kelompok-kelompok yang berorientasi pada penginjilan. Dengan penuh semangat, orang-orang muda ini mulai menulis lagu-lagu dan drama untuk mempersiapkan perayaan tersebut.


Bayadiya adalah sebuah kota di dekat Minyas yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Kota inilah yang dipilih menjadi tempat untuk menyelenggarakan perayaan tersebut. Meskipun jumlah penduduk Bayadiya yang beragama Kristen sebanyak 30,000 orang, namun hanya 1,000 orang saja yang aktif mengikuti ibadah di enam gereja yang ada di kota tersebut. Lima dari enam gereja di kota Bayadiya menyatakan kesediaannya untuk mendukung perayaan tersebut melalui doa dan melalui persiapan-persiapan lainnya, termasuk mengurus ijin mengadakan perayaan.


Namun ketika hari pelaksanaan perayaan tinggal sehari lagi, polisi Mesir mencabut ijin penyelenggaraan perayaan tersebut. Mereka meminta semua tenda yang telah didirikan untuk dicabut kembali. Puji Tuhan, pencabutan ijin ini tidak menggoyahkan semangat orang- orang Kristen di Mesir untuk tetap mengadakan perayaan tersebut. Sebagai gantinya, perayaan diadakan di jalanan, di hadapan kerumunan massa, di gereja-gereja, dan di rumah-rumah para penyelenggara. Para seniman yang ikut berpartisipasi dalam perayaan tersebut memainkan drama di bak belakang truk yang dikendarai untuk berkeliling di seputar kota Bayadiya dan berhenti di tempat-tempat strategis. Ratusan bahkan ribuan orang datang berduyun-duyun untuk menyaksikan drama, mendengar cerita, mengambil bagian dalam pertunjukkan boneka yang disajikan para seniman, mendengar musik- musik yang disajikan dari para musisi, dan bahkan mereka juga menerima pelayanan doa di kafe-kafe.


Menurut laporan, diperkirakan ribuan pengunjung (sekitar 7,500 - 15,000 orang) dari berbagai kelompok usia, termasuk penduduk dari desa sekitarnya, mengalami kebangunan rohani. Seorang pemimpin gang (perampok) bersedia menyerahkan hidupnya bagi Kristus setelah ia menyaksikan film Yesus. Dia juga memimpin 6 orang anggota gangnya untuk dapat menjadi pengikut Kristus. Selain itu, ada sejumlah besar orang yang disembuhkan dari sakitnya, dilepaskan dari pengaruh kuasa jahat, dan akhirnya mereka bersedia menjadi pengikut Kristus. Banyak orang Kristen dan non-Kristen tersentuh hatinya saat mendengar khotbah yang disampaikan. Beberapa pelaku kriminal dan bahkan pembunuh tersentuh hatinya dan dengan penuh penyesalan bertobat atas segala perbuatan jahat yang telah mereka lakukan.


Sebanyak 50 orang terkemuka dari gereja-gereja di Bayadiya saat ini memiliki tanggung jawab penuh untuk melanjutkan follow up dari kebangunan rohani tersebut. Sekitar 25 persekutuan baru dimulai setiap minggunya. Banyak dari orang-orang percaya baru ini yang minta diijinkan untuk memulai persekutuan Kristen di rumah-rumah mereka. Proses follow up selanjutnya difokuskan pada perintisan gereja-gereja baru. 80 gereja diantaranya direncanakan akan didirikan pada bulan yang akan datang. Festival Penginjilan untuk umum seperti ini direncanakan akan diadakan setiap dua bulan sekali. Sebanyak 350 orang Kristen yang turut terlibat dalam penyelenggaraan festival ini juga telah diubahkan. Mereka kini memiliki paradigma baru tentang pelayanan yang mereka lakukan, dan saat mereka kembali ke gereja mereka masing-masing, roh mereka telah disegarkan dan diperbaharui.


Sumber: FRIDAY FAX: Issue 40, October 12, 2001

Georgi Vins (1928 -- 1998)

Pada tahun 1960, sekelompok pemimpin gereja [di Soviet, sebelum negara itu pecah] dipengaruhi penguasa Komunis agar mereka mau menerima sebuah undang-undang tertulis yang isinya menguatkan larangan terhadap gereja. Georgi Vins, Gennadi Kryuchkov, dan para pemimpin gereja lainnya segera membentuk satu kepanitiaan yang isinya menolak kebijakan baru pemerintah tersebut.

Pada tahun 1964, tanpa izin pemerintah setempat, Vins, Kryuchkov dan beberapa pemimpin lainnya mengadakan rapat supaya gerakan mereka melakukan kampanye "hak asasi manusia" di negara komunis itu. Para anggota gerakan ini mengirimkan daftar 170 orang Baptis yang dijebloskan ke penjara karena iman kepada Kristus -- daftar itu ditujukan kepada pemimpin pemerintahan, organisasi internasional, dan sebagainya.

Sebuah pelayanan dan orang-orang percaya mulai menghimpun bantuan, untuk menolong keluarga dari orang-orang yang dipenjarakan tersebut, selain untuk menolong orang-orang percaya lainnya yang menderita akibat kediktatoran komunis. Tahun 1965, Vins dan kelompoknya mengirimkan sepucuk surat kepada Leonid Brezhnev, ketua komite yang merancang konstitusi baru tersebut, tetapi surat imbauan itu diabaikan.

Pada tanggal 16 Mei 1966, mereka mengadakan demonstrasi yang tidak ada bandingannya. Lima ratus orang Baptis berkumpul di halaman gedung Komite Pusat Komunis di Moskwa. Beberapa pemimpin membacakan surat yang berisi seruan agar para pejabat komite menghentikan campur tangan pemerintah dalam masalah gereja, membebaskan orang-orang percaya dari penjara, dan memberi warga Soviet kebebasan untuk mengajar dan diajar tentang iman. Para pemimpin demonstrasi ini berharap mereka dapat bertemu dengan Brezhnev, tetapi mereka hanya disambut oleh resepsionis. Para demonstran itu tetap bertahan di pelataran gedung sepanjang hari hingga malam.

Pada pagi hari, mereka dikepung tentara dan petugas keamanan KGB [badan intelijen Rusia, Red.]. Siang harinya, seorang petugas mengizinkan sepuluh pemimpin memasuki gedung itu. Sedangkan yang lain diperintahkan untuk meninggalkan lokasi, tetapi mereka menolak. Tiba-tiba, sejumlah bus bergerak mendekati para demonstran dan petugas mendorong mereka masuk ke dalam bus itu. Para demonstran segera bergandengan tangan erat-erat sambil menyanyikan himne. Sepuluh orang pemimpin itu ternyata ditahan di dalam.

Pada tanggal 19 Mei, Georgi Vins dan seorang Kristen lainnya pergi menemui resepsionis di kantor pusat Komite untuk menanyakan keadaan para demonstran. Ketika mereka akan pergi, polisi menangkap kedua orang itu. Kemudian, Vins dan Kryuchkov dihadapkan ke pengadilan dengan dakwaan mendalangi demonstrasi di Moskwa, menerbitkan dan menyebarkan publikasi "ilegal", dan mengadakan pengajaran rohani kepada anak-anak. Dua orang percaya ini masing-masing dihukum tiga tahun penjara.

Berita dan laporan tentang kondisi Vins menggugah perhatian dunia Barat. Presiden Jimmy Carter menyerukan agar pemerintah Soviet membebaskan tahanan politik dan keagamaan. Akhirnya, karena tekanan pemerintah Amerika Serikat (AS) dan negara demokrasi lainnya, pemerintah Soviet pun memberikan respons. Pada tahun 1979, pemerintah Soviet mengusir Vins dan keluarganya ke AS. Seperti Pastor Wurmbrand, setelah ia tiba di AS, Vins memulai pelayanan yang memberikan bantuan kepada keluarga-keluarga orang Kristen di Rusia yang menderita karena iman kepada Kristus. Pelayanan Vins terus berlanjut hingga hari ini bersama dengan Pelayanan Injil Rusia (Russian Gospel Ministries) di Elkhart, Indiana.

Diambil dari:

Judul buku : Batu-batu Tersembunyi dalam Pondasi Kita
Judul buku asli : The Hidden Stones in Our Foundation
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerjemah : Ivan Haryanto
Penerbit : Kasih dalam Perbuatan, Surabaya 2005
Halaman : 129 -- 131

e-JEMMi 17/2010



Gerakan Perintisan Gereja Di Asia Timur

Saat ini, di seluruh dunia, ada banyak orang-orang Kristen baru dan gereja-gereja baru yang mengalami perkembangan pesat sehingga terjadi perubahan proses pelayanan misi, seperti yang dialami oleh di lingkungan gereja-gereja Southern Baptist. Ada dua fakta yang perlu diperhatikan dari laporan misionaris Baptis Southern tahun lalu:

Timbulnya gerakan perintisan gereja -- yang secara spontan meningkatkan multiplikasi murid-murid baru dan jemaat baru - memberikan dampak yang dramatis pada statistik International Mission Board pada tahun 2000. Peneliti mengharapkan adanya laporan yang lebih dramatis lagi di masa mendatang. Gerakan perintisan gereja telah mengembangkan jaringannya sampai ke negara-negara yang memiliki akses terbatas dan telah menghasilkan buah yang berlimpah. Tidak hanya menambah jumlah gereja-gereja baru pada waktu tertentu saja, pertumbuhan gerakan perintisan gereja digambarkan oleh eksponen -- gereja merintis berdirinya gereja-gereja baru dan para petobat juga menghasilkan petobat-petobat baru. "Setelah orang petobat baru dan pemimpin baru dibaptis, semangat mereka menyala- nyala sampai-sampai kita tidak dapat menahan mereka," kata seorang misionaris yang pernah menyaksikan terjadinya gerakan yang sama di antara para pengungsi di Belanda. Mereka menyebar di seluruh negara, memulai kelompok-kelompok Pemahaman Alkitab, dan, beberapa minggu kemudian, kita sudah dapat menerima kabar dari mereka tentang berapa banyak kelompok PA yang telah dibentuk. Ini merupakan hal yang paling luar biasa yang pernah kita lihat! Kita tidak memulainya, namun kita tidak akan dapat menghentikannya meskipun kita menginginkannya."

Sumber: NEWSBRIEF--2001-07-12

Gereja Imigran China Berdiri di Rusia

Kesaksian berikut ini, yang ditulis oleh misionaris/aktivis dari Taiwan, menceritakan tentang perintisan berdirinya gereja bagi para imigran China yang ada di Moskow, Rusia, sekaligus tentang bagaimana ciri khas dari jemaat gereja tersebut.

Karena berkenalan dengan seorang saudara seiman di Amerika, maka terbukalah pintu Injil di Rusia pada tahun 1995. Di bawah pimpinan Roh Kudus, pada awal tahun, pekerja internasional telah membaptis jemaat pertama sebanyak 21 orang, di sungai Moskow, di kota Moskow. Total baptisan pada tahun itu semuanya berjumlah 57 orang. Jemaat di sana memiliki kerohanian yang baik, menaati firman Tuhan, dan mempunyai pengalaman tersendiri dalam hal iman. Sebelum dibaptis, para simpatisan terlihat mantap dengan jumlah kehadiran rata-rata 10 - 20 orang. Dapat terlihat bahwa iman mereka bertumbuh di dalam Kristus.

Jemaat di sini mempunyai ciri khas sebagai berikut:

Dari awal, pekerja internasional telah menaruh perhatian luar biasa pada wilayah ini, dan mereka senantiasa mengutus pekerja untuk menggembalakan jemaat di daerah ini secara bergilir. Saya, sebagai pekerja sukarelawan internasional, pada tanggal 5 - 21 September, pergi bersama Pendeta Go Heng Xiong, untuk membuka ladang Injil di Rusia, dan bersama dengan Sdr. Song Li Qiang, kepala urusan keagamaan, setiap hari berpuasa dan berdoa selama satu jam, sebelum memulai pekerjaan. Puji Tuhan, Tuhan beserta dengan kami!

Kami mendapati bahwa berdirinya gereja ini adalah pekerjaan Allah. Hari ini kami dapat berkumpul bersama karena 5 hal berikut:

Gereja Moskow yang baru berdiri, dapat dijadikan contoh pembukaan ladang baru bagi negara yang merdeka dan negara lain, juga Eropa Timur. Ini berpengaruh besar bagi pekerjaan kudus di China, dan menjadi suatu kekuatan besar bagi seluruh pendeta. Mohon bantu doa demi perkembangan pekerjaan kudus di Moskow di kemudian hari. Amin.

Diedit dari sumber:

Judul Buletin: Warta Sejati, Edisi 33, November - Desember 2002
Judul Artikel: Melintasi Siberia
Penulis : Siao Rung Kuang, Taiwan
Penerbit : Departemen Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia,
Halaman : 16 - 21
Situs : http://www.gys.or.id/

e-JEMMi 07/2003


Gubuk Kecil di Atas Bukit

Tuhan Yesus dengan jelas menyatakan bahwa kita harus menyampaikan berita keselamatan kepada semua orang. Berikut ini adalah kesaksian yang dialami seorang pekerja Every Home for Christ [Red: Review tentang organisasi dan situs EHC dapat anda lihat di kolom Profil/ Sumber Misi] saat melakukan tugasnya di India. Pekerja ini telah mengunjungi banyak desa di sebuah wilayah tertentu yang telah ditugaskan baginya. Tugas terakhirnya adalah membagikan traktat dari pintu ke pintu di sebuah desa kecil dan terpencil. Dia merasa telah mengunjungi semua rumah di desa itu dan bersiap-siap dengan sepedanya untuk kembali ke markas EHC yang jaraknya beberapa mil dari desa tersebut. Di markas itu dia akan bergabung dengan para pekerja EHC lainnya dan menghabiskan malam itu bersama-sama untuk istirahat.

Saat bersiap-siap untuk mengayuh sepedanya sekilas matanya melihat sebuah gubuk yang berada di atas bukit. Dia merasa yakin bahwa dia belum mengunjungi gubuk itu. Hatinya ragu-ragu karena dia harus berjalan mendaki bukit untuk mencapai gubuk itu. Tetapi dia segera menyadari menaiki bukit itu sama artinya dia harus bermalam di desa itu atau sama waktunya dengan perjalanan yang akan dia tempuh menuju markas EHC. Dia memilih untuk kembali ke markas karena dia berpikir itu hanyalah sebuah gubuk kecil. Saat dia mengayuh sepedanya sebagai satu-satunya alat transportasi yang dimilikinya, pedal sepeda itu sulit sekali digerakkan. Saat dia turun untuk memeriksa kondisi sepedanya, dia melihat bahwa kedua ban sepedanya gembos karena ia telah menaiki sepeda itu seharian. Beberapa warung di desa itu masih buka dan pekerja itu bergegas untuk meminjam pompa sepeda di salah satu warung itu. Masih ada sedikit udara di ban sepedanya, dipompa sedikit saja maka dia bisa kembali ke markas.

Namun sayang tidak satupun dari warung di desa itu yang memiliki pompa sepeda. Lalu, saat membayangkan akan menuntun sepedanya beberapa mil pada malam itu, dia melihat seorang pemuda berjalan ke arahnya. "Anak muda," tanya pekerja itu, "apakah ada penduduk desa ini yang memiliki pompa sepeda?" "Oh, ada seorang pria tua yang memilikinya. Dia tinggal di dekat desa ini. Saya pernah melihatnya menggunakan pompa sepeda. Jika anda melihat dengan teliti, anda dapat melihat rumahnya di atas bukit." Allah tidak menghendaki seorang pun binasa. Hal itu yang terpikirkan dalam benak pekerja EHC itu saat dia memanggul tasnya yang berisi traktat-traktat Injil dan mendaki ke atas bukit.

Pria tua yang tinggal di sebuah gubuk di atas bukit senang sekali atas kunjungan pekerja EHC. Pria tua itu lebih bersukacita saat si pekerja EHC memberinya traktat untuk dibaca. Tanpa ragu-ragu, pria tua tadi membaca traktat itu. Dia telah belajar membaca beberapa tahun yang lalu namun literatur Kristen seperti itu jarang ditemukan di tempatnya. Pria tua itu juga memiliki sebuah pompa sepeda dan dia dengan senang hati meminjamkannya kepada si pekerja EHC. Keesokan harinya saat si pekerja EHC mendaki ke bukit itu lagi untuk mengembalikan pompa, tampak jelas baginya bahwa Allah mengasihi pria tua di atas bukit itu sampai-sampai si pekerja EHC perlu menempuh perjalanan dua kali dalam sehari untuk menuju gubuk kecil di atas bukit itu. Allah sungguh-sungguh tidak menghendaki seorang pun binasa.

Sumber: FAX OF THE APOSTLES -- Juni 2002

e-JEMMi 27/2002

Guinea-Bissau -- Bagian Terkecil di Afrika

Jika Saudara mencari bagian terkecil dan miskin di Afrika, silakan datang ke Guinea-Bissau, yang letaknya bertetangga dengan Senegal dan Guinea. Di sebelah Barat, negara ini berbatasan dengan Samudera Atlantik. Secara fisiografis, negara ini terbagi atas tiga daerah: daerah pantai yang indah dan berawa; daerah lembah dan jurang; serta dataran pedalaman. Walaupun rakyat Guinea-Bissau miskin, mereka tetap menyambut semua tamu dengan gembira. Orang Afrika memang ramah.

Sekarang Diperhatikan oleh Tuhan

Walaupun dunia kurang memperhatikan rakyat Guinea-Bissau yang sangat menderita oleh karena perang saudara terus-menerus, Tuhan tidak lupa jeritan orang-orang yang minta pertolongan. Seperti biasanya Tuhan mulai perkara-perkara besar secara sederhana dulu, hampir tidak kelihatan oleh dunia luar.

Pada tahun 1940 seorang putri bernama Bessie Fricker dari Inggris menaati panggilan Tuhan untuk membawa Kabar Baik ke sana. Luar biasa cara Tuhan membuka pintu baginya! Pemerintah Portugis memberi ijin untuk melayani dan menjejaki daerah Afrika ini. Untuk pertama kali dia datang pada tanggal 20 Mei 1940. Kemudian seorang putri lain, Dona Libania (Putri Verdia), bergabung dengan Bessie Fricker dan menabur Firman Tuhan di ibu kota Bissau. Karena didera oleh penyakit yang berkepanjangan, kedua gadis ini terpaksa meninggalkan 16 petobat baru buah sulung pelayanan mereka di Guinea Portugis (sekarang Guinea-Bissau).

Pada tahun 1945 Bessie Brierley (terlahir Fricker) kembali menjejakkan kakinya di negara Guinea portugis dengan meninggalkan suaminya Leslie dan "si kecil" Norman di Senegal. Kedatangannya merupakan suatu kesukaan besar bagi kelompok orang Kristen yang telah dilayaninya dahulu. Dengan ajaib visa cepat diperoleh dan keluarga Brierley (suami dan anak) dapat ikut menetap di Bissau.

Pekerjaan berikutnya dilakukan oleh seorang putri yang bernama Marie Pessoa (meninggal tahun 1990). Ia mulai pelayanan di Bolama dan kepulauan Bijago. Ia dibantu oleh seorang putra pribumi Augusto Fernandes, yang merupakan seorang anggota keluarga bangsawan Bijago. Hal ini sangat membantu dan membuka kesempatan yang lebih luas dan leluasa untuk pelayanan di Bijago. Sekarang kl. 35 misionaris dari berbagai negara yang melayani di sana, termasuk dua orang Indonesia.

Misionaris Indonesia

Tenaga WEC pertama dari Indonesia ikut berjuang di negara Afrika ini yang tiba pada tahun 1997 adalah Bapak T.D. Sesudah belajar bahasa Pak T.D. melayani di Ingore (bersama dengan Pak Glovis dari Brasil dan Pak Joseph dari Korea Selatan). Belum begitu lama melayani di pedalaman Utara negara Guinea-Bissau, terjadilah perang. Bapak T.D. tidak meninggalkan tempat pelayanan yang sangat sulit, melainkan ikut berjuang bersama-sama dengan seorang pendeta pribumi, Pastor Almandinyo dalam melayani jemaat. Delapan jemaat menunggu hamba- hamba Tuhan ini. Karena tidak ada kendaraan, sering mereka harus berjalan kaki sepanjang 8-9 km. Angin panas dan debu serta jemaat yang miskin menjadi pergumulan Pak T.D., tetapi Tuhan tetap memberkati hamba-Nya dari Indonesia ini, sehingga pada pertengahan tahun 1998 ada 36 petobat baru dari agama-agama lain dibaptis. Sekarang Pak T.D. bersama dengan rekan-rekan sekerjanya terbeban untuk membangun satu pusat untuk pemuda-pemudi di Ingore. Pusat untuk kaum muda ini dinamai Esperanca (dalam bahasa Kreol artinya pengharapan). Pusat ini sangat dibutuhkan untuk mendidik generasi muda di negara miskin ini. Hampir tidak ada kesempatan bagi orang Guinea-Bissau untuk mendapat pendidikan. Visi tim WEC di Ingore adalah memberi pengetahuan kepada kaum muda dan sekaligus memuridkan mereka agar mereka bisa menjadi tiang gereja Guinea-Bissau yang masih mudah dan sangat lemah.

Pada tahun 1999 Ibu R.M. tiba untuk memperkuat tim di sana. Di Sao Dominggus, hanya 2 jam dengan kendaraan umum dari perbatasan, Ibu yang berasal dari Toraja berjuang untuk Tuhan. Sesuai dengan bakat dan panggilannya, Ibu R.M. melayani anak-anak yang jarang mendapat kesempatan untuk bersekolah. Selain itu beliau mendidik putra-putri Guinea-Bissau untuk menjadi guru sekolah Minggu yang baik. Mari kita doakan tim WEC yang berjuang di negara termiskin di Afrika ini, agar gereja bisa mandiri dan kuat.

Sumber: Buletin Terang Lintas Budaya, Edisi 51/2003

e-JEMMi 03/2004


Hadiah yang Tidak Diantarkan

Pernahkah Anda mengalami peristiwa dimana Anda hampir saja tidak ingin melakukan suatu kebaikan atau perbuatan murah hati kepada orang lain, tetapi di kemudian hari baru Anda tahu bahwa jika saat itu Anda tidak melakukannya, maka suatu kejadian yang sangat penting tidak akan mungkin terjadi atau dialami?

Setiap kali saya merasa enggan atau tidak tertarik untuk memberi derma atau perhatian, saya pasti teringat kembali hari Natal di Korea tahun 1951.

Waktu itu tanggal 24 Desember, hari sudah sore. Setelah perjalanan yang dingin dan melelahkan di atas sebuah truk, saya kembali ke Pos Komando kami. Setelah menanggalkan pakaian yang basah, saya merasa nyaman berbaring di pelbet dan tidur sebentar. Seorang prajurit muda masuk dan dalam keadaan setengah mengantuk, saya mendengar ia berkata kepada juru tulis, "Saya ingin membicarakan hal ini kepada sersan." "Silakan," gumam saya, "Saya tidak tidur."

Prajurit itu lalu menceritakan kepada saya tentang sekelompok penduduk Korea yang berada 4 mil di sebelah Utara yang dipaksa meninggalkan desa mereka yang terbakar. Dalam kelompok itu ada seorang wanita yang akan melahirkan. Ia mengetahuinya dari seorang anak laki-laki Korea yang mengatakan bahwa orang-orang ini sangat membutuhkan pertolongan.

Reaksi langsung saya ialah: Bagaimana kami dapat menemukan orang- orang itu padahal salju sedang turun? Lagipula, saya benar-benar sangat lelah. Tetapi entah mengapa saya merasa kami harus mencobanya.

"Panggilkan Crall, Pringe, dan Graff," kata saya kepada juru tulis. Setelah mereka datang, saya menyampaikan rencana saya, dan mereka bersedia menemani saya. Kami mengumpulkan makanan dan selimut. Lalu saya melihat kotak berisi hadiah-hadiah Natal di sudut kantor. Hadiah-hadiah itu dikirim dari sebuah organisasi sosial di Amerika Serikat. Kami mengumpulkan cukup banyak hadiah dan berangkat naik jip.

Setelah berkendaraan beberapa mil, salju yang turun semakin lebat menutupi pandangan, sehingga kami memutuskan untuk berjalan kaki sampai di desa itu. Rasanya lama sekali kami baru sampai di sebuah gedung pusat penginjilan yang sudah ditinggalkan. Atapnya sudah tidak ada, tetapi dinding-dindingnya masih utuh. Kami menyalakan api di tungku, sambil bertanya-tanya apa yang akan kami lakukan selanjutnya. Graff membuka salah satu bungkusan hadiah Natal, di dalamnya ada sebuah pohon Natal buatan yang kecil dan lilin-lilin. Ia menaruhnya di rak di atas tungku. Saya tahu kami tidak mungkin meneruskan perjalanan dalam badai salju seperti ini. Akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan makanan, selimut, dan hadiah-hadiah di gedung misi dengan harapan orang-orang yang membutuhkannya akan menemukannya. Kemudian kami mencari-cari jalan kembali ke Pos Komando. Dalam bulan April 1952, saya terluka dalam pertempuran dan dibawa ke rumah sakit di Won Ju. Pada suatu sore, ketika berjemur di bawah matahari, seorang anak laki-laki Korea ikut berjemur di dekat saya. la banyak bicara dan saya hanya setengah memperhatikan pembicaraannya.

Lalu ia mulai menceritakan kejadian yang benar-benar membuat saya terlompat dari kursi saya. Setelah ia selesai bercerita, saya mengajaknya menemui pendeta tentara kami; ia membantu saya menemui seorang penatua gereja Korea setempat yang membenarkan cerita anak itu.

"Ya, itu benar-benar suatu mujizat -- pekerjaan Tuhan," kata anggota gereja Korea itu. Lalu ia menceritakan kepada saya pada malam Natal yang lalu ia termasuk salah satu kelompok penduduk Korea yang selama berhari-hari berkeliling setelah prajurit Korea Utara membakar desa mereka. Mereka sangat kelaparan ketika sampai di bangunan tua gedung misi itu. Seorang wanita yang hamil dalam kelompok itu keadaannya sangat menyedihkan.

"Waktu kami mendekati bangunan itu, kami melihat asap yang ke luar dari cerobong," kata pria Korea itu. "Kami takut kalau-kalau prajurit Korea Utara ada di sana, tetapi kami memutuskan untuk masuk ke dalam. Kami merasa lega karena tempat itu kosong. Tetapi, lihatlah ada lilin dan pohon Natal di atas tungku! Juga ada selimut dan kotak-kotak makanan serta hadiah! Ajaib!!"

Pria tua itu bercucuran air matanya waktu menceritakan bahwa mereka semua bertelut dan berterima kasih kepada Allah karena pemberian itu. Mereka menyiapkan tempat tidur untuk wanita yang hamil itu dan membuat tempat berteduh sederhana di atasnya. Ada cukup banyak kayu untuk dibakar dan makanan untuk disantap. Setelah berminggu-minggu, mereka merasa nyaman untuk pertama kalinya. Waktu itu adalah malam Natal.

"Bayi itu lahir tepat pada hari Natal," kata pria itu. Ia berhenti sebentar. "Keadaannya tidak jauh berbeda dengan kelahiran-Nya bertahun-tahun yang lampau."

Pada keesokan paginya prajurit-prajurit Amerika membebaskan orang- orang Korea, yang nantinya menjadi inti sebuah gereja Kristen di desa tempat saya disembuhkan. Anda tidak pernah tahu kapan Anda mempunyai peran istimewa dalam mujizat yang dilakukan Tuhan.

Wayne Montgomery

Sumber:

Judul Buku : Kisah Nyata seputar Natal
Judul Kesaksian : Hadiah yang Tidak Diantarkan
Penerbit : Yayasan Kalam Kudus, Bandung, 1998
Halaman : 228-230

e-JEMMi 51/2003


Hai Dunia, Gembiralah!

Aku menyesal karena telah berjanji kepada Ny. Saunders, koordinator bazar Natal tahunan. "Bersediakah kamu menyumbang sebuah door prize tahunan, sayang? Mungkin salah satu dari pohon Natalmu yang terkenal," ia membujuk dengan mata bersinar. "Kami berharap dapat menghasilkan banyak uang untuk pementasan Santa Klaus bagi keluarga- keluarga yang berkekurangan. Kamu tahu, tak ada yang lebih menarik daripada sebuah door prize yang luar biasa untuk menarik para pembelanja datang ke sebuah bazar," katanya.

Tiga bulan sebelumnya, permintaan Ny. Saunders yang sederhana mungkin tidaklah terlalu merepotkan. Karena kini waktunya hanya tinggal tiga minggu, tugas yang belum terlaksana itu sekarang menggantung di atas kepalaku seperti dahan beku yang rapuh dan memberatkan.

Sebetulnya, aku bukan orang yang suka menunda-nunda pekerjaan. Namun saat itu aku sedang menanti datangnya ilham. Aku ingin membuat sebuah karya yang benar-benar istimewa dan bermakna. Aku tidak ingin membuat dekorasi dengan aksentuasi yang biasa-biasa saja dan hanya akan berakhir di tempat penjualan barang bekas pada musim panas di tempat seseorang.

Jadi, pada sore hari menjelang bazar malam itu, aku duduk di meja dapurku dengan perasaan yang berat di dadaku. Aku memandang kosong ke beberapa objek, antara lain pohon Natal artifisial setinggi empat kaki, tiga dus lampu kelap-kelip, sebuah dus bekas sepatu berisi hiasan-hiasan yang gemerlapan, satu gelondong pita, dan lem. Ilham tetap belum muncul di benakku.

Kemudian, aku merangkak di loteng kami yang berdebu. Aku sedang mencari sesuatu di antara tumpukan dus sambil berdoa untuk secepatnya memperoleh ilham. Kutarik dua dus berisi barang-barang yang mungkin dapat menjadi sesuatu yang berharga nantinya. Kemudian, aku kembali ke dapur dengan susah payah.

Saat aku memutar kaset Natal, aku berharap musik Natal bisa menciptakan kemeriahan dalam hatiku. Tak lama kemudian, aku menyanyikan kata-kata yang terkenal, "Joy to the world, the Lord is come; let Earth receive her King," (Hai dunia gembiralah, dan sambut Rajamu, di hatimu terimalah ...), ketika aku membongkar isi dus dengan label BONEKA-BONEKA TUA - JANGAN DIBUANG. Kulihat tumpukan boneka kecil beraneka warna. Boneka-boneka itu kubeli di pasar loak di pinggir jalan beberapa tahun lalu ketika aku sedang berlibur. Apa yang membuatku tertarik untuk membeli boneka-boneka itu? Boneka- boneka itu dibungkus untuk disimpan, kemudian dilupakan sama sekali. Pakaiannya tergeletak secara acak di hadapanku. Kemudian, kuambil sebuah boneka Jepang berpakaian kimono yang berwarna biru cerah; sebuah keluarga pribumi Amerika lengkap dengan tenda orang Indian yang terbuat dari kulit binatang berwarna coklat; sebuah boneka "Miss Liberty" yang dihiasi bendera merah, putih, dan biru; boneka empat sekawan yang mengenakan pakaian Skandinavia.

Tiba-tiba, sesuatu yang jauh di dalam diriku meneriakkan sebuah jalan keluar, yakni: buatlah sebuah pohon "Joy to the World" ("Hai Dunia Gembiralah")! Dengan penuh kegembiraan, kuikatkan boneka- boneka itu ke dahan-dahan pohon cemara satu per satu. Dahan-dahan itu melengkung keberatan karena banyaknya beban boneka. Beberapa dari bagian tubuh boneka-boneka malah putus. Dengan seksama, aku menggunakan penjepit dan karet gelang untuk menyambung kembali lengan dan kaki boneka-boneka itu. Ketika aku sedang mengikat kembali anggota badan boneka-boneka itu, tiba-tiba aku merasakan suatu hubungan persaudaraan dengan semua wanita dari segala bangsa. Apa yang sedang kukerjakan membuatku sadar bahwa ada banyak wanita di dunia yang seperti aku. Mereka membutuhkan cinta sang Juruselamat Natal untuk menyatukan diri mereka. Saat itu, temanku, Betty, datang untuk melihat hasil karyaku. Tanpa kami sadari, kami berdua sibuk menghias pohon itu dengan penuh kegembiraan. "Bagaimana kalau kita memakai bunga-bunga yang dikeringkan ini?" Betty mengusulkan sambil menunjuk pada ikatan bunga-bunga yang telah dikeringkan dan bunga mawar berwarna merah jambu yang menggantung dari balok langit-langit dapur. Kemudian, kami menambahkan pita dan renda yang digunting kecil-kecil. Selain itu, kami menggantungkan hiasan-hiasan permata kuno pada setiap dahan.

"Apa yang akan kamu lakukan dengan tempat kosong di tengah-tengah itu?" Betty bertanya. "Kita sudah kehabisan boneka". Kami menelusuri seluruh rumah sampai kami menemukan sesuatu yang cocok untuk dipasang. Akhirnya, kami memakai sebuah bola dunia yang ada di meja kerjaku. Bola dunia itu ditutup dengan lengkungan beludru yang diambil dari kalungan bunga yang menggantung di atas perapian. Kami mundur dan mengamati hasil karya kami dengan tersenyum. "Itu adalah pohon yang paling cantik yang pernah kulihat," Betty menyimpulkan. Aku harus menyetujuinya. Tetapi, aku mempunyai perasaan kuat bahwa yang menghias seluruh pohon itu bukan hanya kami.

Keesokan harinya, kumasukkan pohon "Joy to the World" ke dalam mobilku dengan hati-hati. Secara spontan, aku segera kembali ke dalam rumah dan menyambar segulung kabel tambahan, sebuah tape recorder yang bisa di bawa, dan kaset "Joy to the World". Ketika aku tiba di bazar, semua orang larut dalam suasana kegembiraan hari raya. Seorang wanita berjalan santai dari biliknya. Ia menjual kaos kaki panjang dengan seni tambalan. Wanita itu menyentuh boneka- boneka dari semua negara secara lembut. "Saya mau memesan satu dari pohon-pohon ini untuk cucuku di Jerman," dia memberi tahu.

Lalu, wanita yang menjual roti jahe bergabung dalam pembicaraan kami. "Saya membeli tiga karcis untuk bazar," ia bergurau. "Saya akan pulang dan membawa pohon ini." "Pohon ini akan mencuri perhatian," Ny. Saunders mulai bicara. "Jika tersebar berita tentang karcis berhadiah yang kita sediakan, kita tidak akan bisa membayangkan berapa banyak uang yang akan kita peroleh. Kita pasti akan melampaui rekor orang yang hadir dan mencapai ribuan." Tak lama kemudian, ruangan dipenuhi oleh para pembeli yang terus mengalir. Sepanjang hari, pohon yang kami buat menjadi pusat perhatian para pengunjung yang menginginkannya.

Beberapa menit sebelum jadwal penarikan undian, seorang wanita bertubuh kecil menukarkan 50 sen untuk sebuah karcis. Wanita itu kelihatan lelah dan memakai mantel kelabu yang kumal. Rambutnya dikepang dengan rapi. Rambut itu dikonde kuat-kuat sehingga membentuk sebuah konde kuno. Konde itu membatasi wajah yang bersih dari apa pun, kecuali rona suatu kemantapan.

"Kami datang ke kota untuk membeli makanan ternak dan aku membujuk suamiku agar berhenti di sini," katanya. "Aku mempunyai sedikit sisa uang untuk berbelanja. Tetapi, ia meyakinkanku bahwa tak banyak yang bisa kubeli di tempat mahal seperti ini." Wanita itu mengagumi beberapa barang, di antaranya boneka malaikat yang terbuat dari kain sutera yang mengkilap, agar-agar buatan sendiri, dan kue yang terbuat dari buah dan dipanggang. Kue itu menyerupai rangkaian bunga berbentuk lingkaran untuk hari Natal. Tangannya yang kasar dan berlekuk-lekuk mengambil kue kepingan salju yang dirajut rumit seperti jaringan laba-laba. "Coba lihat ini," katanya. "Suatu hari nanti, aku akan mempunyai pohon Natal dan akan memenuhinya dengan ini semua."

Ketika ia mendekati bilikku, ia berseru, "Pohon itu ... boneka- bonekanya! Sepanjang hidupku, aku menginginkan sebuah boneka yang cantik. Apakah seseorang akan memenangkan semua boneka itu?" Ia bertanya dengan pandangan mata seperti orang bermimpi. Aku memperdengarkan lagu "Joy to the World" dan suaranya memenuhi ruangan. "Paduan suara ini menyanyikan lagu itu sampai ke gereja," katanya. "Ini selalu mengingatkanku tentang orang-orang di seberang laut seperti yang diceritakan oleh wanita misionaris itu."

Semua mata sekarang tertuju pada orang yang akan segera memenangkan nomor untuk undian karcis berhadiah. Dari mana-mana, kudengar bisikan: "Jangan lupa, pohon itu milikku ... Tidak, itu milikku .... Itu untuk cucu-cucuku yang akan datang pada Natal ...." Tetapi, wanita yang sangat kecil itu tidak pernah melepaskan pandangannya dari pohon itu. "Cucuku laki-laki, Jake, ia tinggal hanya satu teriakan jauhnya dari tempat kami," ia bercerita kepadaku. Ia sangat pandai dalam mempelajari buku. Bayangkan, ia dapat menyebut semua negara yang ada di bola dunia itu."

Lalu, terdengarlah pengumuman yang sudah lama dinanti-nantikan: "Hadiah untuk undian karcis berhadiah jatuh pada nomor 1153!" Aku memandang tangan kasar yang berlekuk-lekuk. Ia memegang karcis yang memenangkan hadiah dan kuremas pundaknya yang kurus. "Ibu memenangkan pohon itu! Ibu memenangkan pohon itu!" aku berteriak. "Maksud kamu karcisku? Aku belum pernah mendapat sesuatu yang indah seperti ini." Air mata mengalir di pipinya yang keriput. Aku mematikan lampu-lampu dan tape recorder. Lalu, aku menggulung kabel tambahannya. "Apakah aku juga mendapat kotak musik dan kabel yang panjang itu?" tanyanya. "Aku akan meletakkan pohon itu di alat pemutar dan kami hanya mempunyai satu stop kontak di ruangan. Aku pasti memerlukan kabel tambahan itu."

"Tentu saja ... ini adalah Natal," jawabku ketika kubawa pohon itu ke luar dan kuberikan kepadanya. Setelah itu, sebuah truk pick up kuning yang karatan maju ke depan. Kemudian, seorang pria yang memakai pakaian kerja, kemeja flanel kotak-kotak, dan sebuah topi bertuliskan "I love Kentucky" melompat ke luar. "Sadie, apa yang kau peroleh?" ia berteriak dengan senyuman dan memperlihatkan sebuah gigi yang ompong. "Pa, aku memenangkan hadiah! Aku memenangkan pohon ini!"

Pria itu segera mengatur barang-barang yang ada di mobilnya, antara lain cangkul, rantai roda, dan berkantung-kantung pakan ternak. Ia berusaha menyediakan tempat untuk pohon itu di lantai truknya. Ia menarik pisau sakunya dan memotong dua kantung pakan ternak yang kosong untuk menutupi pohon itu. Kemudian, ia mengikatnya dengan tali timba. "Percayakah Anda?" seorang penonton terperangah. "Mereka membawa pergi pohon yang indah itu dengan truk tua yang usang. Untuk apa mereka memerlukan pohon semacam itu?"

Aku melambaikan selamat berpisah ketika truk yang bersuara bising itu menghilang ke langit malam yang berwarna ungu. Di mata hatiku, aku dapat melihat pohon itu diberi tempat terhormat di jendela sebuah pondok yang sederhana, dengan cahaya yang temaram, dan di tengah-tengah pegunungan Appalachian. Menurutku, rakyat yang tinggal di daerah itu termasuk orang-orang yang bahagia. Mereka bukan penjelajah dunia tetapi pekerja keras. Pada Desember yang dingin, asap hitam sepertinya akan bergulung-gulung keluar dari cerobong asap mereka ke udara bila mereka sekeluarga berkumpul di sekeliling pohon. "Lihat Nek, Jepang ada di sini," Jake kemungkinan akan berkata sambil menunjuk ke bola dunia yang pernah terletak di meja kerjaku. Sadie masih terpukau pada kabel tambahan itu. Ia akan memasang stop kontak lampu-lampu yang berkelap-kelip dan kotak musiknya.

Meskipun demikian, aku tetap yakin bahwa akulah pemenang yang sesungguhnya pada bazar Natal itu. Bazar ini merupakan suatu tradisi yang sudah berlangsung lama di Amerika. Aku menemukan kembali panggilan hati bagi orang-orang percaya di setiap tempat. Aku tak pernah melihat Sadie lagi. Tetapi, aku tak akan pernah melupakan pelajaran yang diberikannya kepadaku. Intinya, tidak peduli adanya perbedaan geografis atau status sosial, kita semua adalah kabel tambahan dari Tuhan. Kita membawa cahaya dan lagu-Nya ke tempat- tempat yang gelap dan kosong di dunia.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buku : The Magic of Christmas Miracles
Judul artikel : Hai Dunia, Gembiralah!
Penulis : Nancy Anderson
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer, Jakarta, 2002
Halaman : 164 - 171

e-JEMMi 51/2005

Harapan Seorang Pemabuk

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda. Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994. Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut.

Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil.

Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku. "Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut. Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku,

"Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa."

Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

Bahan diambil dan diterjemahkan dari:

Judul Majalah : Living Life, Volume 3, Number 12
Judul Artikel : The Drunkard's Wish
Penerbit : Tyrannus International Ministry, 1994
Halaman : 47 -- 48

e-JEMMi 06/2002

Hari-Hari Pertama Di Tanah Perjanjian

Kisah ini merupakan ringkasan dari sebuah surat yang dikirimkan oleh sebuah keluarga Indonesia yang dikirim sebagai misionaris ke Asia Tengah.

"Tanah Perjanjian" adalah sebutan untuk negara dimana Tuhan panggil kami untuk melayani. Selama hampir 2 tahun kami bergumul untuk Tanah Perjanjian kami, karena sangat sulit dan hampir mustahil bagi kami untuk memasukinya. Tetapi Tuhan melakukan banyak mujizat dalam hidup kami sepanjang 2 tahun penantian itu. Firman-Nya meneguhkan keyakinan kami bahwa ada waktunya Tuhan akan membawa kami masuk ke negara yang telah ditunjukkanNya. Di tengah pergumulan dan penantian yang cukup panjang akhirnya waktu Tuhan tiba. Hati kami penuh dengan syukur ketika pesawat membawa kami menuju Tanah Perjanjian yang Tuhan berikan. Dalam perjalanan menuju apartemen, pikiran kami mengembara ke tempat sejuk di tanah air. Memang ada perasaan rindu, namun kami sadar bahwa Tuhan telah memanggil kami untuk melayani di negara lain.

Di Tanah Perjanjian, sebagai orang yang masih baru, segala sesuatu terasa asing. Tetapi Tuhan telah menyediakan tim yang sangat baik untuk kami. Puji Tuhan, tim sangat banyak membantu kami dalam menyesuaikan diri di minggu-minggu pertama. Kami diperkenalkan kepada gereja-gereja lokal dan teman-teman sekerja dari berbagai badan misi.

Selama bulan September, kami belajar bahasa Rusia. Bahasa Rusia bukanlah bahasa nasional, tetapi kami harus mempelajarinya agar kami dapat berkomunikasi dengan orang-orang kota. Bulan Oktober, kami mulai belajar bahasa nasional yang sama dengan bahasa Rusia namun intonasi, huruf dan strukturnya sangat berbeda dengan bahasa kita. Ada sejumlah kata dalam bahasa nasional yang persis sama dengan bahasa kita, antara lan: ayat, kabar, misal, adat, tema, dan basar. Hal ini membuat perasaan kami semakin menyatu dengan bangsa ini.

Beberapa kali kami harus menerima ketokan pintu dengan geram, atau harus menghadapi anak-anak muda yang suka mencari gara-gara di pasar atau di halte bis, dan kami harus menghadapi orang-orang yang sangat mahal senyumnya. Tetapi hati kami adalah untuk mereka.

Dari pengalaman-pengalaman tersebut, kami belajar arti menaklukkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat ({1 Petrus 5:6-11}). Kami semakin yakin bahwa untuk negara inilah kami dipanggil. Akhirnya kami semakin percaya bahwa permulaan yang menantang dalam penantian dan pelayanan adalah pertanda yang meneguhkan bagi pelayanan kami.

Terima kasih untuk segala doa yang dinaikkan dengan setia bagi kami. Teruslah berdoa karena hari-hari kami masih sangat panjang.

Sumber: Buletin Terang Lintas Budaya Edisi 37, 2000

e-JEMMi 05/2001

Hudson Taylor: Salib adalah Pengabdian dan Kebanggaan Baginya

Harga yang harus dibayar, berapa pun mahalnya tidak akan pernah menghentikan semangat yang berkobar-kobar di dalam jiwa yang mencintai Kristus lebih dari apa pun juga. Dihina, dicemooh, menderita sakit, ditinggalkan anak istrinya dalam renggutan kematian, namun semua itu tidak pernah mengoyakkan pengabdian dan kasih mesranya kepada Tuhan.

Oktober 1858, Maria, istri Hudson Taylor, melahirkan anak sebelum waktunya, yaitu ketika janin berusia tujuh bulan. Tapi, akhirnya anak itu meninggal. "Kami senantiasa mempersembahkan bayi kecil yang belum lahir itu kepada Tuhan," tulis Maria kepada ibu mertuanya, "dan Ia tentu menerima maksud kami."

31 Juli 1859, Maria melahirkan anaknya yang kedua dan diberi nama Grace Dyer Taylor. Hudson menulis: "Aku telah mendambakan miniatur mungil manis dari Mariaku yang kusayangi."

Bulan Agustus 1867, Grace terkena radang selaput otak. "Tidak ada harapan Grace akan sembuh," katanya kepada Maria. Mereka menyerahkannya kepada Tuhan dan memohon agar Ia melakukan yang terbaik bagi-Nya dan bagi mereka. Kembali ke sisi tempat tidur Grace, Taylor berkata kapada Grace, "Aku kira Yesus akan membawamu kepada diri-Nya. Kau tidak takut memercayakan dirimu kapada-Nya bukan?" "Tidak, ayah." Terdengar jawaban. Esok harinya Hudson menulis surat kepada saudaranya: "Aku sedang menulis beberapa kalimat dari sisi ranjang Grace kecil yang kucintai, yang sekarang terbaring menghadapi ajal .... Saudaraku, jiwa dan daging kita kalah, tapi Tuhan adalah kekuatan jiwa kita, dan bagian kita selama-lamanya. Bukanlah perbuatan sia-sia atau bodoh, ketika mengenal negeri, rakyat, serta iklimnya (maksudnya negeri Cina yang menjadi ladang misinya), aku meletakkan istriku tersayang, anak-anak dan aku sendiri di atas mezbah untuk pelayanan ini."

23 Agustus 1867, keluarga Taylor dan yang paling dekat dengan mereka, berkumpul di sekeliling tempat tidur Grace. Hudson menyanyikan lagu-lagu pujian, sekalipun kadang-kadang suaranya tak keluar. Maria terbungkuk di atas Grace yang sudah tidak sadar. Pukul 08.40 napasnya terhenti.

Maret 1869, Samuel Taylor, anaknya yang berikutnya yang berusia lima tahun terus-menerus menderita TBC usus dan akhirnya meninggal bulan Februari 1870, ketika ia hampir berusia enam tahun.

7 Juli 1870, Maria, istrinya, kembali melahirkan anak dan diberi nama Noel, tapi tidak beberapa lama anak itu mendapat infeksi berat di mulutnya, mencret-mencret, dan meninggal tiga belas hari kemudian. Pada saat itu Maria berumur 33 tahun, penyakit TBC usus itu juga mulai menyerang tubuhnya dan akhirnya merenggut nyawanya. Hari itu tanggal 23 Juli 1870.

Hudson berlutut di samping ranjang dan berdoa: "Tuhan terima kasih, Engkau telah memberikan Maria kekasihku kepadaku. Terima kasih untuk masa dua belas setengah tahun yang telah kami lalui bersama-sama dengan bahagia. Terima kasih Engkau telah membawanya kepada-Mu. Aku kini kembali mengabdikan diriku dalam pelayanan-Mu. Amin."

Sepuluh hari setelah kematian istrinya, Hudson menulis surat kepada ibunya, "Dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku gembira bahwa Tuhan melakukan atau dengan sengaja membiarkan semua hal, dan membuat segala-galanya bekerja bersama-sama demi kebaikan orang- orang yang mengasihi-Nya. Dia dan hanya Dia, yang tahu apa artinya istriku yang tercinta bagiku. Ia tahu bagaimana sinar mataku dan kegembiraan hatiku dalam dirinya .... Tapi, Ia berpendapat adalah baik mengambilnya; memang baik untuk dia dan dalam kasih-Nya. Ia mengambilnya tanpa rasa sakit; dan tidak kurang untukku yang sejak itu harus bekerja dan menderita sendiri, namun tidak sendirian karena Tuhan belum pernah begitu dekat kepadaku."

Hudson Taylor dilahirkan pada 21 Mei 1823 di Yorkshire, Inggris dan meninggal 3 Juni 1905. Hudson Taylor menjadi misionaris di negeri Cina dan mendirikan Cina Inland Mission (CIM), seorang Bentara Kristus, seorang yang menganggap dirinya hamba yang kecil dari Tuan yang besar. Dalam masa sukar seberat apa pun, Allah selalu menemukan orang-orang-Nya yang setia dan teguh dalam komitmennya kepada Kristus. Mereka adalah orang-orang yang mampu membuktikan bahwa, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13)

Biarlah kemenangan mereka memberi kesaksian yang menguatkan kita untuk bertahan, dan terus berkarya bagi-Nya. Bagaimana dengan Anda?

Diambil dari:

Judul majalah : ABBA GANG, Edisi April 1999
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Abbalove Ministries, Jakarta 1999
Halaman : 8 -- 9

e-JEMMi 13/2008

Ibadah yang Murni

Tim KDP telah melakukan perjalanan ke Sulawesi Tengah untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi di sana. Salah satu proyek mereka adalah memberi bantuan kepada para janda yang suaminya dibunuh oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Seminggu sebelum tim KDP berangkat ke Poso, tepatnya pada bulan Oktober, terjadi serangan di beberapa desa, antara lain di Pinedapa, Beteleme, Pantangolemba, dan Sa`atu. Jadi, mereka memiliki dua agenda yang harus dilakukan.

Kedatangan tim KDP kali ini untuk bertemu dengan 13 orang janda. Tim KDP memberikan bantuan materi kepada umat percaya di sana, serta beasiswa bagi anak-anak.

Tim KDP berjumpa dengan seorang ibu yang suaminya ditahan dan divonis hukuman 8 tahun penjara, dengan tuduhan merencanakan penyerangan yang jelas-jelas tidak dilakukannya. Sekarang, ibu dan anaknya ini mengungsi dan kehilangan rumahnya.

Tim KDP juga bertemu dengan seorang janda yang suaminya, sebut saja Ayub, ditembak dua kali di tubuhnya dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit. Menurut cerita teman-temannya, saat tertembak, Ayub sedang jaga malam. Ayub dan keluarganya baru 6 bulan kembali ke desanya, setelah sekian lama mengungsi ke Tentena. Ia berani kembali ke desanya karena pemerintah Indonesia menyatakan bahwa keadaan aman, dan mengimbau pengungsi untuk kembali ke tempat asalnya. Ayub meninggalkan anaknya yang berusia 4 tahun dan istri yang sedang hamil muda.

Sejak lama, pemerintah Indonesia mengimbau para pengungsi untuk kembali ke desanya, bahkan menjanjikan memberi sejumlah uang untuk membangun sebuah rumah. Namun, banyak para pengungsi menolak karena uang yang diterima tidak cukup untuk membuat sebuah rumah yang layak dan faktor utama lainnya adalah keamanan. Beberapa kejadian, pengungsi yang kembali ke desa yang mayoritas "beragama lain", meninggal di tengah jalan atau sedikitnya dikucilkan, sehingga tidak bisa hidup dan bekerja sebagaimana mestinya.

Dalam serangan yang menimpa desa-desa Kristen pada 10 -- 12 Oktober 2003, 13 orang tewas dan lainnya luka parah. Kami membawa 6 orang yang memiliki luka terparah ke Jawa untuk dioperasi dan mendapat perawatan yang baik, karena kondisi mereka memprihatinkan dengan luka membusuk.

Di antara mereka ada seorang anak perempuan 7 tahun bernama H. Pada malam serangan itu, H sedang tidur bersama keluarga dan tantenya. Peluru memberondong rumahnya. Tantenya yang sedang hamil 6 bulan tertembak 4 peluru di dada, perut, dan punggungnya hingga tewas seketika, begitu pula jabang bayi dalam perutnya. H juga terkena tembakan di kakinya. Sang ibu menggendong dan membawa H bersembunyi ke semak-semak di belakang rumahnya sampai keadaan aman. H dibawa ke rumah sakit terdekat, namun tidak mendapat perawatan yang layak hingga kakinya membusuk.

Natal selalu memberi keceriaan dan kenangan tersendiri, tetapi apalah artinya Natal kalau hati kita tidak terbuka untuk saudara-saudara yang dalam kesusahan. Orang Kristen harus hidup kudus dan bertindak dalam kasih untuk saudara-saudaranya (Yakobus 1:27).

KDP telah bekerja sama dengan Crisis Centre GKST, yang dikoordinasi oleh pendeta RD untuk menangani korban-korban kerusuhan dan kami membiayai operasi dan perawatan sepenuhnya. Kami juga menganjurkan kepada Anda untuk tidak mudah percaya kepada orang yang meminta bantuan untuk korban kerusuhan karena pasien-pasien yang kami bantu telah didatangi dan diambil fotonya oleh orang yang kerjanya mencari bantuan. KDP juga berterima kasih untuk para sahabat yang telah membantu pelayanan ini, baik dalam dana dan daya, serta mereka yang telah setia mendukung dalam doa.

Diambil dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, November -- Desember 2003
Penulis : Tim Kasih Dalam Perbuatan
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 1

e-JEMMi 50/2011

India: Dr. PJ

"Saya merasa seolah-olah salah satu lengan saya terpotong," kata Dr. PJ. Itu adalah khotbah yang paling sulit selama hidupnya -- saat penguburan anak laki-lakinya sendiri. Suaranya penuh dengan emosi, "Namun dengan apa pun yang masih kumiliki, saya akan terus melayani Kristus."

Dr. PJ memimpin pekerjaan The Voice of the Martyrs di India dan sering kali menyabung nyawa dalam perjalanan untuk menguatkan orang-orang Kristen di negara-negara yang tertutup. Dia juga memberitakan firman Tuhan di banyak KKR di India, dan telah menyaksikan ribuan orang datang kepada Kristus.

Pekerjaannya telah membangkitkan amarah orang-orang radikal di tanah kelahirannya. Pada bulan Juli 1999, sebuah batu jatuh menimpa jendela mobilnya dan mengenai dahi Dr. PJ, meninggalkan ceceran darah. Seminggu kemudian anak laki-lakinya yang bungsu, M, berjalan di dekat kampus kedokteran di mana ia sedang belajar untuk menjadi dokter, sebuah mobil FIAT dengan kecepatan penuh menabraknya dan lari. Penabrak itu tidak pernah ditemukan. M, dengan luka parah, jatuh koma dan meninggal beberapa hari kemudian.

Seperti yang dijanjikannya, kematian anaknya tidak menghentikan pelayanan Dr. PJ. Sejak kematian anaknya, ia terus berkhotbah di banyak KKR, memenangkan ribuan orang kepada Kristus. Harga yang harus dibayar oleh pelayanan Dr. PJ sangat besar -- anaknya sendiri. Tapi dia tidak sendiri. Allah juga tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak supaya orang lain dapat diselamatkan.

Jalan ke depan yang harus dilalui gereja Tuhan adalah curam dan panjang. Selama lebih dari dua ribu tahun, banyak orang didorong dengan keinginan jahatnya untuk menentang Injil Kristus. Sebagai orang Kristen, kita harus bersedia untuk bayar harga -- meskipun kita tidak diminta untuk melakukannya. Inilah yang kita pelajari dari kehidupan Abraham. Dia bersedia mengorbankan Ishak -- yang melaluinya berkat akan diberikan. Kesediaan kita berkorban bagi Kristus menjadikan kita kuat. Ide pengorbanan membuat tujuan kita semakin jelas. Pengorbanannya menguatkan karakter kita. Komitmen dengan harga yang harus dibayar mengubah keluarga kita, lingkungan kita, dan dunia kita bagi Kristus. Kita belajar seberapa kuat kita ini sesungguhnya. Meskipun kita tidak berharap untuk kehilangan apa yang kita kasihi -- mari kita tetap bertahan untuk setia, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pokok doa:

  1. Doakan agar Dr. PJ tetap tekun mewartakan Injil di India dan Tuhan makin memakainya secara luar biasa untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan.

  2. Doakan agar penabrak yang menewaskan putra Dr. PJ ini beserta pihak-pihak yang menentang penginjilan di India boleh mengalami lawatan Allah, dan diinsafkan oleh Roh Kudus atas dosa-dosa mereka.

  3. Doakan agar Tuhan mengaruniakan keteguhan hati dan komitmen kuat bagi para utusan Injil yang melayani di India, sehingga mereka tetap setia melakukan penginjilan, apa pun risiko dan pengorbanan yang harus dialami.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul asli buku : Extreme Devotion
Judul buku terjemahan : Devosi Total
Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
Penerjemah : Fintawati Rahardjo dan Ivan Haryanto
Penerbit : Yayasan KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Surabaya 2005
Halaman : 13

e-JEMMi 25/2011

Jalan Tuhan Terindah

Pada bulan Agustus 1973, dengan semangat yang menggebu-gebu untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, aku melanjutkan studi ke Kanada. Meskipun kemudian aku telah berhasil mencapai apa yang kurindukan, tapi bukan kepuasan yang kuperoleh, melainkan kekecewaan dan kehampaan saja yang kurasakan. Aku tidak mengerti, mengapa orang seperti aku yang berhasil masuk di universitas yang terkenal dan menyandang predikat murid terbaik, tidak dapat menutupi kehampaan hidup? Aku tidak mengetahui apa yang harus kutuntut lagi dan apa yang masih kurang dalam diriku?

Aku pernah dididik selama 10 tahun di sekolah Katolik, dan tentu aku banyak tahu tentang Tuhan. Tapi pada waktu itu, aku menganggap diri cukup baik, prestasi sekolah yang kucapai, sehingga aku merasa tidak memerlukan Juru Selamat. Apalagi setelah ditambah menerima pendidikan di luar negeri dan mengalami banyak sekali peristiwa di dalam kehidupanku, maka aku menganggap jika Tuhan itu memang ada, maka Ia pasti Tuhan yang kurang adil, kurang tulus, dan yang tidak diperlukan oleh umat manusia.

Ketika duduk di bangku tingkat dua, aku berkenalan dengan seorang ketua wanita persekutuan gereja. Ia membawaku untuk mengikuti persekutuan di gereja. Sambutan yang penuh dengan kehangatan dan kasih dari anggota persekutuan itu, tidak dapat meluluhkan hatiku. Bagiku, "Tuhan" hanya merupakan nama benda yang tidak ada hubungan apa-apa denganku.

Tapi pimpinan Tuhan sungguh ajaib! Di dalam suatu kesempatan, aku mendampingi seorang ibu tua untuk berobat, dan dokter yang merawat ibu ini dapat melihat tubuhku yang cacat. Memang aku tahu, tulang daguku tidak normal, tapi aku tidak menyangka hal tersebut dapat mengganggu kesehatan tubuhku. Setelah dokter tersebut menjelaskan keadaan kesehatanku dan mengusulkan agar segera dioperasi, otakku berubah menjadi kosong melompong. Aku benar-benar merasakan bahwa apa yang menimpa diriku tidak dapat ditangani dengan ketegaran kepribadian, dan kepintaran. Tahun itu juga, pada musim panas, aku menjalani operasi. Operasi kali ini bukan saja meluruskan tubuhku yang cacat, tapi juga meluruskan hubunganku dengan Tuhan.

Pada waktu masuk ke kamar operasi, di luar negeri aku tidak memunyai sanak keluarga, tetapi saudara-saudara dari gereja secara tiba-tiba mengunjungi aku dan berdoa bagiku. Pada waktu itu, aku merasakan damai sejahtera yang belum pernah aku alami dalam kehidupanku. Ketika dirawat di rumah sakit, ibu pendeta dan saudara-saudara dari gereja tidak jemu-jemunya mengabarkan Injil, sehingga aku memunyai pandangan baru terhadap Tuhan dan manusia. Pada tahun itu juga (1975) dalam suatu kebaktian, firman Tuhan tiba-tiba menyadarkan aku. Jika dokter yang merawat aku dengan kepandaian yang hebat dapat memulihkan cacat tubuhku yang hanya makhluk ciptaan, maka dapat dibayangkan Allah sebagai Pencipta, pasti kuasa-Nya lebih ajaib! Secara tiba-tiba pula aku menyadari nilai hidup manusia, bukan hanya sehelai ijazah, demikian sederhananya. Aku sungguh menyesal, karena dulu hanya memikirkan pendidikan dan masa depan diri sendiri saja, tapi tidak berusaha mengasihi teman dan keluargaku; dan juga tidak memikirkan bahwa manusia pada suatu kali akan berhadapan dengan ketuaan, kesakitan, dan kematian. Terlebih pula, aku tidak mencari Tuhan yang menguasai semuanya ini. Aku mengetahui bahwa keegoisan, kesombongan, dan tabiat yang keras ini tidak dapat diatasi dengan kekuatan diri. Sebab itu, dengan kerendahan hati aku datang kepada-Nya, menyerahkan diri, mengakui kesalahanku, dan memohon agar Ia menguasai seluruh hidupku.

Setelah menjadi orang Kristen, aku suka berdoa, membaca Alkitab, dan juga sering mengikuti kebaktian yang diadakan oleh gereja. Pada suatu kali, dalam sebuah acara seminar, Pdt. Chou memutar sebuah film yang berisi gambar dan berita tentang banyaknya tempat orang yang belum mendengarkan Injil, dan mereka di sana, meraba-raba untuk mencari arah tujuan hidup dan sebagainya. Aku berpikir, keadaan mereka bukankah sama dengan keadaanku sebelum menjadi Kristen? Yaitu, bagaikan domba yang tersesat dalam penderitaan, keputusasaan, dan menyerahkan hidup kepada dunia yang penuh dosa dan kegelapan ini. Tapi setelah percaya, terjadi perubahan. Hati diliputi damai sejahtera surgawi. Sejak itu, aku berdoa agar Tuhan memakai aku menjadi berkat bagi orang lain.

Dalam suatu kebaktian Natal tahun itu, aku secara jelas mengetahui Tuhan memanggilku, dan aku pun taat menyerahkan seantero hidupku bagi-Nya. Meskipun pada waktu itu hatiku bersemangat bagi Tuhan, tapi aku belum mau menyerahkan diri untuk masuk sekolah teologi, karena hatiku masih terbujuk untuk melanjutkan studi untuk gelar master. Tanpa lagi mencari kehendak Tuhan, aku langsung mendaftar dan pihak sekolah juga telah menerimanya. Tuhan berkali-kali mengingatkan dan mendesak, sampai pada akhirnya aku menyerah untuk tidak melanjutkan studiku. Aku berpikir, sebelum masuk sekolah teologi, aku terlebih dulu pulang ke Hong Kong beberapa tahun untuk mengajar agar dapat membantu kebutuhan keluarga. Di samping itu, aku bisa belajar melayani dulu di gereja, setelah itu baru masuk ke sekolah teologi.

Keluargaku di Hong Kong yang belum percaya, merasa kaget dan tidak mengerti waktu mendengar aku tidak mau melanjutkan studi dengan beasiswa yang disediakan pihak sekolah. Di samping itu, seluruh keluarga sudah merencanakan untuk pindah ke Kanada. Untuk maksudku itu, seluruh keluarga tidak menyetujui dan menganggap aku sudah menghancurkan masa depan sendiri. Baik dengan cara halus sampai jalan keras, mereka menghalangi aku mencari pekerjaan, tapi aku tetap pada pendirianku. Setelah keluarga mengetahui aku mendapat pekerjaan dan sudah memutuskan untuk tidak kembali ke Kanada, mereka lalu mencegah dan membatalkan keberangkatan studi adik perempuanku ke Kanada. Untuk mencegah hal tersebut, maka akhirnya aku mengalah dan kembali ke Kanada untuk melanjutkan studi masterku.

Sampai di Kanada, masalah gelar sangat menggodaku, sehingga aku bermaksud untuk melanjutkan studiku ke program doktoral seusai studi master selesai kutempuh. Tapi hatiku tidak tenang, mengingat bahwa aku adalah orang yang sudah memersembahkan diri. Untuk mengatasi hal ini, maka aku bermaksud menyelesaikan studiku di pascasarjana sambil mengikuti pelajaran di sekolah teologi yang berdekatan dengan sekolahku. Tapi, Tuhan melalui firman-Nya mengingatkan aku, "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu" (1 Yohanes 2:15). Selain itu, diingatkan pula, "Hendaklah engkau mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu" (Matius 6:33). Aku menyadari sekarang, jika aku tidak berhenti dari perencanaan yang diatur sendiri, meskipun bagaimana rajinnya aku melayani, Tuhan tetap tidak akan memperkenankan pelayananku. Dalam hati, aku mengambil keputusan, sebelum jelas kehendak Tuhan, aku tidak akan melangkahkan kakiku. Sejak itu, aku merasakan pimpinan Tuhan dalam kehidupanku.

Pimpinan Tuhan makin jelas, yaitu menghendaki agar aku masuk ke sekolah teologi sebagai persiapan untuk melayani seusai studi masterku. Tapi, untuk menaati kehendak Tuhan itu, aku menghadapi beberapa kendala. Di antaranya, pihak keluarga pasti menentang aku habis-habisan. Sebagai konsekuensinya, mereka akan memutuskan bantuan dana studiku. Statusku di Kanada adalah pelajar, dan pemerintah tidak memperkenankan aku sekolah sambil bekerja. Yang amat berat bagiku adalah kemungkinan buruknya hubunganku dengan keluarga yang sangat kucintai. Iblis selalu memakai hal-hal ini untuk menghalangi persembahanku.

Tapi bersyukurlah, Tuhan selalu menggunakan firman-Nya membantu dan menguatkan aku bahwa "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia". Sekarang aku sadar benar bahwa orang yang berjalan dalam kehendak-Nya, maka Ia akan memimpin di jalan yang rata (Mazmur 27:11).

Akhirnya dengan tekad bulat, seusai studi masterku, maka dengan mulus aku masuk ke sekolah teologi, bahkan aku mendapat beasiswa selama 2 tahun. Orang tuaku tetap tidak menyetujui langkahku, tapi aku tahu mereka berbuat demikian karena mencintaiku. Mereka mengkhawatirkan masa depanku, sehingga bersikap demikian. Aku tidak bisa berbuat banyak untuk mereka dan hanya dapat menyerahkannya dalam doa-doaku. Setelah masuk dalam perjalanan persembahan ini, aku menemukan kekecewaan besar, bukan karena tantangan dari orang tua, bukan pelajaran yang sulit, dan bukan kekurangan biaya, melainkan datangnya justru dari orang Kristen yang tidak mengerti jalan persembahan ini. Ketika saudara seiman mengetahui aku masuk ke sekolah teologi, mereka langsung bertanya, "Mengapa kamu mau masuk ke sekolah teologi? Bukankah dengan keputusanmu itu kamu menyia-nyiakan studimu di program pascasarjana?" Ada pula di antara mereka yang menasihati agar aku bekerja lebih dulu, setelah mengumpulkan uang baru masuk ke sekolah teologi, bahkan ada yang menakut-nakuti bahwa kalau masuk ke sekolah teologi, aku tidak akan mendapat calon suami dan sebagainya.

Pimpinan Tuhan yang sangat jelas tidak menggoyahkan tekadku. Masa-masa awal di sekolah teologi, aku jarang menerima surat dari keluarga. Mungkin mereka marah, sehingga tidak menghiraukan aku lagi, betapa sedih dan sakitnya hatiku. Tapi syukurlah Tuhan mengetahui kesedihanku, sebab itu Ia menggunakan masalah pernikahanku, memulihkan hubunganku dengan keluarga. Aku tidak menyangka bahwa di sekolah teologi tersebut, ada pula murid-murid dari Asia. Pada waktu itu, karena terlalu memusatkan perhatian pada pelajaran, aku tidak memerhatikan hubungan dengan mereka. Tapi pimpinan Tuhan sangat ajaib, tanpa terasa aku berteman baik dengan salah seorang di antara mereka yang bernama C.L. Chou.

Persahabatan kami makin dekat, dan akhirnya terjalin hubungan yang lebih intim. Kami bermaksud akan melangsungkan pernikahan seusai studi. Tapi siapa sangka, setelah kedua keluarga mengetahui hubungan kami, maka mereka mengusulkan agar pernikahan diadakan pada musim panas tahun itu. Aku tidak dapat berkata apa-apa, hanya dapat mengucap syukur pada kasih Tuhan. Pada hari pernikahan, ayahku menyempatkan diri untuk datang menyaksikan hari pernikahanku. Dan di sini, ia memunyai kesempatan berdekatan dengan orang-orang Kristen dan memunyai kesempatan mengikuti beberapa kali acara kebaktian. Meskipun ia sekarang belum percaya Tuhan, tapi aku berkeyakinan bahwa pada suatu hari nanti Tuhan akan menggerakkan hatinya untuk percaya.

Seusai menuntut ilmu di sekolah teologi, maka kami sebagai suami istri terjun ke ladang Tuhan. Meskipun adakalanya dalam ladang pelayanan menghadapi hal-hal yang menyedihkan dan mengecewakan, tapi kami tetap maju! Sama seperti kata-kata syair yang diucapkan bagi "pelayan yang tak terkenal", yang berbunyi, "Meskipun jalan salib makin lama makin sulit, tapi tekad kami makin lama makin kuat." Kami suami istri berjanji bekerja bersama-sama, saling mendoakan, dan saling menguatkan untuk melayani Tuhan yang benar dan hidup.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jalan Tuhan Terindah
Penulis : Pdt. Paulus Daun, M.Div., Th.M.
Penerbit : Yayasan Daun Family, Manado 1996
Halaman : 79 -- 85

e-JEMMi 48/2008

Janji Baru

Ibu Endriksana heran sekali ketika 1Yohanes 1:8-10 dibacakan dalam Bahasa Xxx.
"Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu

diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita."

Segera ia bertanya kepada penerjemah yang sedang mengerjakan terjemahan Alkitab ke dalam Bahasa Xxx, "Apakah itu benar? Apakah Tuhan menjanjikan seperti itu?" Si penerjemah menjawab, "Tentu saja benar! Ayat itu ada dalam Alkitab dan Alkitab tidak pernah salah. Apakah Ibu belum pernah mendengar ayat itu?" "Belum, ini pertama kalinya saya mendengar janji itu. Indah sekali!" jawab Ibu Endriksana pelan.

Ibu Endriksana adalah satu dari 3000 penutur Bahasa Xxx di Papua. Sebagaimana Ibu Endriksana, masyarakat yang berbahasa Xxx tidak dapat menangkap dengan baik ketika Firman Tuhan disampaikan dalam bahasa Indonesia.

Tanggal 29 Juni 2004, menjadi hari besar bagi masyarakat Xxx. Setelah selama 18 tahun menunggu, hari itu mereka merayakan penerbitan Alkitab Perjanjian Baru dalam Bahasa Xxx. Ratusan orang berkumpul di gedung gereja di salah satu kota di Papua yang menjadi pusat perayaan untuk mendedikasikan Firman Tuhan yang tertulis dalam Bahasa Xxx.

Tetapi peristiwa ini terlalu besar untuk dirayakan untuk satu hari saja. Setelah ibadah resmi di gereja, masyarakat Xxx pun berkeliling ke desa-desa lain yang juga berbahasa Xxx. Di setiap desa diadakan perayaan besar-besaran, lengkap dengan berbagai kesenian tradisional. Alhasil, total perayaan memakan waktu 10 hari penuh!

Firman Tuhan yang dibaca dan dimengerti dalam bahasa sendiri mengubah hidup orang yang tidak memiliki pengharapan. Sukacita yang sama yang dialami masyarakat Xxx juga dinantikan oleh 500-an suku di Indonesia yang sedang menunggu hadirnya Firman Tuhan dalam bahasa mereka.

Bahan diedit dari sumber:

Judul Buletin : Berita Kartidaya, Edisi I/2005
Judul Artikel : Janji Baru
Penerbit : Kartidaya

e-JEMMi 37/2005

Jason Ma Menjangkau Mahasiswa

Enam tahun lalu, Jason Ma mengikuti perkuliahan pendahuluan untuk mata kuliah Filsafat. Tiba-tiba, Profesor yang mengajarnya bertanya "Siapa diantara kalian yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah?" Hanya Jason dan salah seorang temannya yang mengangkat tangan di dalam ruang kuliah yang dihadiri 100 orang mahasiswa tersebut. Jason tidak bisa percaya bahwa kebanyakan teman mahasiswanya tidak tahu apa yang ditawarkan Yesus kepada mereka, maka dia mulai melakukan doa keliling di universitas. Dia meminta kepada Tuhan untuk memberikan petunjuk, sehingga 28.000 mahasiswa di universitas tersebut bisa mengenal Dia. Tuhan membukakan pintu untuk Jason. Para pengurus univesitas menaruh simpati pada tujuannya dan mereka memberi izin pada Jason untuk mengadakan serangkaian program penginjilan di universitas. Ada ratusan mahasiswa yang diselamatkan.

Satu hal yang segera disadari Jason bahwa hanya sebagian kecil dari petobat baru itu yang beribadah di sebuah gereja, setelah mereka menjadi Kristen. "Sejujurnya," kata Jason, "kebanyakan gereja di sekitar universitas tidak memiliki program pelayanan untuk para mahasiswa. Belum ada gereja yang memikirkan untuk menjangkau mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang bertemu untuk melakukan pendalaman Alkitab. Namun, ketika mereka lulus dari universitas, masalah itu masih tetap ada; mereka tidak bisa menemukan satu tempat untuk beribadah yang memahami kebutuhan mereka. Saya sendiri juga melihat masalah yang sama di beberapa universitas. Kebanyakan mahasiswa memandang gereja-gereja sebagai tempat yang membosankan, tidak relevan dengan kebutuhan mereka dan hipokrit. Namun, para mahasiswa itu sendiri juga tidak menyadari bahwa diri mereka sebenarnya juga merasa kosong, terluka, dan menderita. Mereka mencari kasih sejati melalui obat-obat terlarang, pesta pora, seks, dan juga nilai-nilai yang bagus. Banyak yang mengalami depresi, bahkan banyak diantara mereka yang hampir memutuskan untuk bunuh diri."

Jason mulai mendoakan bagaimana caranya ´membawa´ gereja kepada mahasiswa. Setelah melakukan banyak riset, termasuk mempelajari gerakan gereja bawah tanah di China, dia menjadi yakin bahwa "gereja sederhana" yang berorientasi pada jalinan relasi merupakan cara terbaik untuk menjangkau para mahasiswa. Dia membaca mengenai seorang gadis China berusia 18 tahun yang merintis lebih dari 100 gereja rumah dalam setahun. Gereja-gereja yang dipelajarinya di China merupakan jaringan persekutuan kecil yang beranggotakan 15-30 orang. Mereka bertemu di rumah-rumah atau di toko-toko kecil untuk mensharingkan hidup mereka sehari-hari bersama Yesus. "Jika seorang gadis China berumur 18 tahun dapat merintis 100 gereja dalam setahun di China, apakah seorang mahasiswa tidak dapat merintis beberapa persekutuan di univertas?" Jason bertanya kepada dirinya sendiri.

Dia sadar bahwa, seorang misionaris dapat memenangkan seorang mahasiswa bagi Yesus, yang nantinya mahasiswa ini akan memenangkan teman-teman di sekitarnya, sehingga terbentuklah gereja kecil. Sebuah gereja kecil tentu saja tidak bisa menjangkau berbagai macam mahasiswa, maka Jason mulai menganggap setiap kelompok mahasiswa sebagai "kelompok suku yang belum terjangkau", dan bertujuan untuk merintis sebuah gereja di setiap kelompok. Gereja-gereja baru dengan anggota 15-20 jemaat itu akan bertemu di suatu tempat, dan jika anggota mereka terus bertumbuh, mereka tidak perlu mencari tempat yang lebih besar untuk bersekutu. Kelompok yang semakin besar itu dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dan terus bermultiplikasi. Mereka dapat bertemu di mana pun -- di asrama, apartemen, ruang reuni, kelas atau kedai kopi di seberang jalan. Kemudian Jason mulai merintis gereja- gereja di universitasnya. Mereka kemudian mengirim ´misionaris´ ke universitas-universitas lain untuk melakukan hal yang sama; Campus Church Network (CCN) telah didirikan, dimulai di San Jose State University pada tahun 1998, dan semakin berkembang.

Para misiologi membuat istilah ´10/40 Window´ untuk mendeskripsikan daerah geografis antara 10 dan 40 derajat garis lintang sebagai wilayah yang paling jarang diinjili. "´The 13/30 Window´ kemungkinan juga merupakan hal yang penting," kata Jason. Yang dimaksud dengan ´The 13/30 Window´ adalah orang-orang yang berusia antara 13-30 tahun. Kelompok umur itu berpotensi menjadi ladang tuaian terbesar bagi Injil di masa sekarang. "Kelompok tersebut sangat terbuka terhadap Injil." Survey menunjukkan bahwa 90% dari semua orang Kristen memutuskan untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat sebelum mereka berulang tahun ke-25. Ini juga menjadi kelompok yang paling penting, karena mereka adalah masa depan dunia dan gereja.

Statistik menunjukkan bahwa 60% dari populasi global berusia di bawah 25 tahun; 30% atau sekitar 1,7 juta orang berusia antara 10-24 tahun. Jason mempelajari penelitian yang dilakukan oleh Barna Research Group yang menunjukkan bahwa usia 18-25 tahun merupakan kelompok yang paling jarang ke gereja. Mayoritas mahasiswa yang beribadah di gereja selama masa studi tidak lagi beribadah ke gereja setelah mereka lulus kuliah. Jason menyimpulkan bahwa "Kami sangat membutuhkan gereja baru untuk generasi baru, karena bentuk gereja tradisional kurang bisa menjangkau para mahasiswa di Amerika. Para pemuda post-modern tidak lagi mengetahui standar, tidak percaya pada apa pun dan ingin mencari Tuhan dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak hanya ingin duduk diam di gereja dan mendengarkan seseorang berkotbah. Namun, mereka juga ingin menerapkan iman mereka. Menurut Jason, "Itu tidak membutuhkan komite baru, akan tetapi sebuah revolusi."

Motto Jason adalah "Memulai suatu revolusi berarti memulai sebuah gereja kampus!" Pada Situs Campus Church Networks (CCN), dia menulis "Setiap revolusi dimulai oleh seorang yang revolusioner. Apakah Anda siap menjadi salah satunya? Apakah sudah ada gereja kampus di universitas Anda? Jika belum, maka Anda harus memulainya ...." Campus Church Networks adalah gerakan perintisan gereja yang dilakukan oleh para mahasiswa. CNN menantang sekaligus melatih para mahasiswa untuk merintis gereja-gereja bagi suatu generasi baru di setiap universitas yang ada di dunia.

[Sumber dan informasi: Jason Ma
==> http://www.campuschurch.net/ Link tidak bisa digunakan < Juni 2012 >
==> <info@campuschurch.net> ]

Bahan diterjemahkan dari FridayFax, Edisi September 30, 2004

e-JEMMi 42/2004

Jeanine Brabon

Di bulan Pebruari 1991, Jeanine Brabon, seorang misionaris dari OMS International yang juga merupakan seorang profesor Perjanjian Lama di Biblical Seminary di Colombia, telah mendengar terjadinya revival dari para assasin dan teroris di Bellavista National Jail, sebuah penjara yang terkenal di Medellin. Seorang mantan napi dari penjara tersebut, Oscar Osorio, telah diubahkan oleh Yesus Kristus, dan dia mengundang Brabon untuk menyaksikan revival itu dari dekat.

Keesokan harinya, Osorio, yang sekarang menjadi pendeta penjara, menjemput Brabon dan mengantarnya ke Bellavista. Dalam perjalanan, Osorio meminta kesediaan Brabon untuk berkhotbah di hadapan para napi. "Siapa saja pendengarnya?" tanya Brabon. Osorio menjawab, "Sicario dan teroris." (Di lingkungan pengedar narkoba di Colombia, sicario adalah istilah untuk pembunuh bayaran.) "Oke," jawab Brabon, "aku bersedia melakukannya."

Ketika keduanya sampai di Bellavista, Brabon menjadi objek kecurigaan dari para pengawal penjara dan sesuai prosedur, mereka memeriksa Brabon dan mengambil sidik jarinya. Sesudah pemeriksaan itu selesai, mereka berdua diijinkan memasuki wilayah yang terkunci, tempat dimana para napi tinggal.

Melawan rasa takut dalam dirinya, Brabon mengkhotbahkan tentang belas kasih Allah di hadapan para napi, dan setelah selesai dia duduk kembali di tempatnya. Saat itu dia melihat, ada 23 napi yang berwajah sangar telah meneteskan air mata. Mereka maju ke depan dan berdoa untuk menerima keselamatan dari Yesus. Semenjak saat itu, Brabon memulai pelayanannya di penjara. Tidak hanya itu, Brabon telah dipakai Allah menjadi alat-Nya untuk menerapkan keahlian akademisnya dengan mendirikan Bellavista Bible Institute, sebuah seminari di balik dinding penjara.

Sumber : A WOMAN'S PLACE IN MISSIONS By Stan Guthrie
               World Pulse, September 15, 2000

e-JEMMi 15/2001

Jembatan ke Madura (Indonesia, 1864-1994)

Banyak dari kita mungkin memiliki Alkitab tanpa berpikir panjang bahwa sebenarnya di balik setiap proyek penterjemahan Alkitab terjadi peperangan rohani yang tidak kelihatan? Ada banyak penderitaan (baik secara fisik dan mental) dan berbagai kesulitan lain yang muncul di luar kontrol manusia untuk menghalangi pekerjaan penterjemahan Alkitab. Untuk menolong kita mengerti keadaan ini, maka redaksi mengutipkan sebuah kisah "Penterjemahan Alkitab" yang diambil dari salah satu kesaksian dalam buku "Alkitab di Seluruh Dunia: 48 Kisah Nyata", karya Grace W. McGavran dengan judul asli "Stories of the Book of Books", yang diterbitkan oleh Lembaga Literatur Baptis.

Jembatan ke Madura yang dimaksud dalam kisah nyata ini bukanlah jembatan dalam artian secara fisik, melainkan Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Madura, yang merupakan jembatan yang menghubungkan Kasih Allah dengan suku Madura (Penjelasan secara lebih rinci tentang suku Madura dapat anda baca di edisi ini dalam kolom "Doa Bagi Suku"). Penerbitannya memakan waktu lebih dari satu abad. Beragam hambatan dialami sehingga penerbitan Alkitab berbahasa Madura ini berulangkali tertunda. Tapi puji Tuhan setelah 130 tahun Alkitab bahasa Madura akhirnya dapat diterbitkan! Berikut ini adalah kisah panjang dari "jembatan" yang menhubungkan kasih Allah kepada orang Madura yang dimulai satu setengah abad y.l.:

* Pada pertengahan abad ke-19 (1843), seorang Kristen yang taat, penduduk pulau Jawa tapi keturunan Madura, yang bernama Tosari, berusaha membawa Kabar Baik ke pulau nenek moyangnya. Tetapi orang- orang Madura tidak mau menerima dia sehingga akhirnya ia kembali ke Jawa Timur. Namun melalui pelayanan dan kesaksiannya banyak orang Jawa yang menjadi percaya, sehingga ia mendapat julukan Kiayi Paulus Tosari.

* Pada masa pelayanan Kiayi Paulus Tosari, ada sepasang suami-istri Belanda, penginjil Samuel Harthoorn, yang menetap di Pamekasan yang mencoba melayani orang-orang Madura. Selama 4 tahun mereka berusaha membina persahabatan dengan penduduk setempat. Malangnya, tahun 1868, segerombolan orang Madura mengepung rumahnya dan membunuh istrinya. Peristiwa yang mengerikan itu membuat duda yang berdukacita itu meninggalkan pulau Madura selama-lamanya.

* Tahun 1880, J.P. Esser, seorang pendeta muda dari Belanda yang belajar teologia (doctor) dan juga belajar bahasa Madura, berusaha memasuki pulau Madura, tetapi tidak berhasil. Lalu ia menetap di Bondowoso dan kemudian di Sumberpakem, dimana konon ada banyak orang keturunan Madura bermukim. Di sana Dr. Esser juga menterjemahkan cerita-cerita Alkitab dalam bahasa Madura, yang oleh Ebing, salah seorang yang dilayani Dr. Esser dipakai untuk mengabarkan Injil ke Madura.

* Tahun 1886, Dr. Esser sudah menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Madura. Lalu ia mengambil cuti dinas ke Belanda untuk mengusahakan penerbitan terjemahannya. Tetapi proyek "Jembatan ke Madura" ini mengalami hambatan, karena tahun 1889 Dr. Esser meninggal dunia (37 tahun) dan sebagian naskah terjemahannya juga hilang.

* Tapi puji Tuhan karena Tuhan menyediakan pengganti Dr. Esser, yaitu seorang pendeta muda bernama H. Van der Spiegel. Pada tahun 1889 ia berangkat ke Jawa Timur, untuk meneruskan pelayanan yang dirintis Dr. Esser di Bondowoso dan Sumberpakem. Ia pun mengerahkan tiga orang Madura untuk menolong memperbaiki dan menyempurnakan naskah Kitab Perjanjian Baru peninggalan Dr. Esser.

* Tahun 1903, Pdt. H. Van der Spiegel pulang ke Belanda dengan tujuan untuk menerbitkan seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Madura seperti yang diinginkan Dr. Esser 17 tahun. Tetapi selama Van der Spiegel memperjuangkan proyek penerbitannya di Belanda, kembali tragedi menimpa. Gereja tempat pelayanan Ebing dan rumah seorang penginjil Madura dikepung dan dibakar massa sehingga hampir menyebabkan kematian mereka. Mungkin hal ini yang menyebabkan hasil karya Van der Spiegel tidak jadi diterbitkan, kecuali hanya dua Kitab Injil dan sebuah buku yang memuat 104 cerita Alkitab dalam bahasa Madura. Bahkan ketika Van der Spiegel meninggal (1919), Kitab Perjanjian Baru bahasa Madura yang lengkap masih belum diterbitkan.

* Pdt. Shelfhorst adalah rekan sekerja Pdt. Van der Spiegel yang telah melayani di Bondowoso dan di Sumberpakem sejak tahun 1904. Dari seorang penginjil Madura Pdt. Shelfhosrt mendapat informasi bahwa orang-orang di sebelah Timur Madura lebih terbuka terhadap Kabar Baik. Oleh karena itu pada tahun 1912, ia dan keluarganya tinggal di Kep. Kangean. Pdt. Shelfhorst memberi banyak bantuan pengobatan kepada penduduk setempat. Ibu Shelfhorst membuka kelas-kelas kepandaian putri. Sebagai jembatan Injil mereka juga menggunakan lagu- lagu, gambar-gambar, cerita-cerita Alkitab, dan kelompok diskusi. Namun hampir tidak ada seorang pun yang menerima Tuhan Yesus. Setelah berpuluh-puluh tahun tanpa hasil nyata, Pdt. Shelfhorst mulai mengkhususkan diri dalam proyek penerjemahan Firman Tuhan. Pada tahun 1933, Kitab Mazmur bahasa Madura diterbitkan.

* Pada tahun 1935 Pdt. Shelfhorst pensiun atas permohonannya sendiri. Tetapi ia tidak pulang ke Belanda! Malahan ia menetap di pegunungan Jawa Timur sambil menerjemahkan Firman Tuhan dengan giat serta mengutus keluar para penjual bahan cetakan Kristen. Hasil karyanya berupa Surat-Surat Perjanjian Baru dalam bahasa Madura banyak yang distensil dan dibawa rekan pelayananya ke mana-mana.

* Tahun 1942 Jepang mulai berkuasa di Indonesia. Pdt. Shelfhorst tertangkap dan meninggal dalam sebuah kamp tahanan Jepang di Jawa Tengah. Usahanya selama 41 tahun untuk menginjili suku Madura dan menterjemahkan Firman Tuhan belum berhasil dan belum diterbitkan. Apakah kasih Tuhan untuk menjangkau suku Madura berhenti di sini?

* Sebelum meninggal, di kamp tahanan Jepang Pdt. Shelfhorst bertemu dengan penginjil A.J. Swanborn, seorang Belanda keturunan Swedia. Sudah berpuluh-puluh tahun iapun berusaha menginjili suku Madura, namun kisahnya berakhir berbeda. Sejak masih muda A.J. Swanborn telah menerima panggilan untuk pergi ke Madura. Tahun 1899 ia ditunjuk menjadi utusan Injil ke pulau-pulau Sangir-Talaud, lalu ke Jakarta, Yogyakarta, dan akhirnya ke Kalimantan Selatan. Keinginannya diutus ke Madura ditolak sehingga ia mengundurkan diri sebagai utusan Injil. Namun ketika ia menjadi pegawai sipil pemerintah Hindia Belanda (1914) A.J. Swanborn berhasil dikirim ke kota Pamekasan sebagai kepala sekolah rakyat. Setiap sore ia membuka sebuah sekolah swasta atas biayanya sendiri dan melalui usaha inilah ia mulai menginjili anak-anak Madura. Namun di waktu yang lain Swanborn juga berusaha menerjemahkan Firman Allah ke dalam bahasa Madura. Ketika ditangkap pemerintah Jepang dan dimasukkan ke kamp penampungan itulah ia bertemu dengan Pdt. Shelfhorst. Mereka berdua membagikan kegigihannya dalam memperjuangkan proyek penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Madura. Tapi yang sangat mengherankan Pdt. Shelfhorst ternyata khusus menterjemahkan Surat-surat Kiriman Perjanjian Baru, sedangkan A.J. Swanborn menterjemahkan hanya keempat Kitab Injil dan Kisah Para Rasul. Tapi hidup Pdt. Shelfhorst dan A.J. Swanborn berakhir di dalam tahanan pada bulan Mei 1945.

Naskah terjemahan Bapak Swanborn itu diwariskan kepada putri- putrinya. Mereka mengirim naskah yang sangat berharga itu kepada perwakilan Lembaga Alkitab Belanda di kota Bandung. Namun ..... karena kerusuhan peperangan pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, naskah tadi rupa-rupanya tidak pernah sampai ke tangan orang-orang yang dapat mengusahakan penerbitannya.... Bagaimanakah akhir kisah "Jembatan ke Madura" ini?

* Karena anugerah Tuhan, pada bulan September 1994, yaitu genap 130 tahun sejak pertama kali penginjil Samuel Harthoorn dan istrinya tiba di Pamekasan, Lembaga Alkitab Indonesia akhirnya berhasil menerbitkan Alkitab lengkap dalam bahasa Madura.

Kini "Jembatan ke Madura" itu sudah menjadi kenyataan. Maukah pembaca e-JEMMi terus mendukung dalam doa agar "Jembatan" ini menjadi alat Tuhan untuk menyalurkan kasih Allah yang dicurahkan-Nya melalui Yesus Kristus kepada suku Madura?

Kesaksian selengkapnya dari kisah ini dapat anda baca dalam Situs Cerita Misi di alamat:
==> http://www.sabda.org/misi/cerita/index.htm
==> http://www.sabda.org/misi/cerita/cerita43.htm

e-JEMMi 17/2001

Jenazah Dave Rencananya Dikuburkan di Sinagma

Setiap Terbang Selalu Ajak Penumpang Berdoa

JAYAPURA -- Menurut rencana, Kamis (14/8) hari ini, jenazah pilot AMA, David Craig Clapper, yang biasa dipanggil MR. Dave ini, dikuburkan di Sinagma, Wamena, kabupaten Jayawijaya, Papua. Sebelum dikuburkan, rencananya akan dilakukan ibadah pemakaman di Gereja Efata, Jl. SD Percobaan, Wamena, sekitar pukul 12.30 WIT.

"Rencananya akan dimakamkan besok siang," kata Beth, istri almarhum kepada Cenderawasih Pos saat menerima Bupati Yahukimo, Ones Pahabol SE, MM, bersama ibu dan Wakil Bupati Yahukimo, Ir. Daniel Rendeng, bersama ibu di depan jenazah almarhum Dave yang disemayamkan di teras rumah duka, Rabu (13/8) kemarin. Mengapa tidak dibawa atau dimakamkan di Amerika saja? Beth mengaku bahwa suaminya pernah berpesan, jika ia meninggal atau jatuh bersama pesawat, agar istri menguburkan jenazahnya di Wamena saja. Beth mengatakan, alasan suaminya ingin dikubur di Wamena karena sudah merasa dikasihi masyarakat di Papua, sehingga ia berpesan seperti itu kepada istrinya. Bahkan, menurut Beth, kedua orang tua Dave atau mertuanya dan juga kedua orang tuanya sendiri mengaku tidak memermasalahkan jika Dave dikuburkan di Wamena.

"Kedua pasang orang tua kami menyetujuinya," kata Beth yang tegar menerima kenyataan suaminya jatuh dengan pesawat AMA jenis Pilatus Porter PC-6 dengan nomor penerbangan PK-RCZ tersebut. Apalagi, lanjut Beth, suaminya tersebut sudah sebelas tahun menjadi pilot di Papua, yang khusus melayani daerah pedalaman, tepatnya pada tahun 1997 lalu yang diawali di maskapai Tariku. Beth mengaku sering mendapatkan cerita dari suaminya sehingga ia memakluminya. "Kepada siapa saja yang perlu, pasti dilayaninya, entah itu orang besar, kecil, tanpa membedakan warna kulit, agama, dan suku," ujar Beth. Beth berharap masyarakat di Papua bisa melanjutkan pelayanan suaminya tersebut dan tetap bersatu.

Sementara itu, Bupati Yahukimo, Ones Pahabol SE, MM, yang berkunjung di rumah duka bersama rombongan ini, langsung diterima oleh Beth untuk mengucapkan bela sungkawa. Tampak rombongan turut meneteskan air mata. "Kami, pemerintah dan masyarakat kabupaten Yahukimo, juga merasakan kehilangan dengan meninggalnya Pak Dave," kata Ones Pahabol kepada istri Dave. Bupati dan rombongan juga menghibur istri almarhum Dave agar tidak bersedih dengan peristiwa tersebut. Apalagi, menurut Ones Pahabol, Dave merupakan teman yang sering diajak konsultasi ketika berbincang di atas pesawat. Yang jelas, kata Bupati Ones Pahabol, masyarakat pegunungan Papua, khususnya kabupaten Yahukimo, sangat kehilangan dengan meninggalnya pilot pemberani ini.

"Hampir 50 persen, Dave melayani masyarakat di Yahukimo dan 60 persen khusus untuk pemerintah daerah, sehingga kami menyampaikan turut berdukacita dan selamat jalan buat Dave," ujar Pahabol. "Tidak hanya itu," imbuh Bupati Ones Pahabol, "Dave ini dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat dan pemerintah serta gereja dengan hati, dan selama ini hati Dave memang untuk orang Papua." Kepada keluarga yang ditinggalkan, Bupati Pahabol berpesan dan menyampaikan terima kasih atas pengabdian dan pelayanan yang telah diberikan Dave dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan pemerintah kabupaten Yahukimo. "Dave pergi, pasti Tuhan akan mendatangkan Dave-Dave yang lainnya," imbuh Bupati Pahabol.

Semasa hidupnya, Dave memang dikenal baik dengan siapa saja, termasuk masyarakat yang ada di pedalaman, khususnya di daerah Pegunungan Papua yang dilayaninya. Pilot Dave memang dikenal oleh masyarakat, bahkan ada anggapan jika terbang bersama dengan sang pilot, maka akan merasakan nyaman dan tenang. Cenderawasih Pos sudah enam belas kali terbang dengan pesawat yang dipiloti oleh Dave ini ke daerah-daerah pedalaman di distrik-distrik yang ada di kabupaten Yahukimo. Sebelum terbang, Dave selalu mengajak penumpang untuk berdoa terlebih dahulu. Bahkan, kadang Dave meminta penumpang untuk memimpin doa sebelum berangkat. Menurut Kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto, dalam kesehariannya Dave dikenal sebagai pilot yang tegas dalam bekerja dan memiliki disiplin yang tinggi. "Almarhum juga selalu memberikan motivasi kerja kepada karyawan lain, bagaimana cara kerja yang baik dan sistem kerja yang teratur," ujarnya. Selain itu, lanjut Yanto, Dave memiliki sifat penolong di mana ia sering membantu orang, termasuk karyawan, dan yang lebih penting, selalu menekankan agar pelayanan kepada masyarakat diutamakan dengan sepenuh hati meski kondisi dan tantangannya berat.

Yanto mengungkapkan, dengan jatuhnya pesawat jenis Pilatus Porter ini, berarti AMA tinggal memiliki empat pesawat sejenis, sedangkan lainnya adalah satu pesawat Karapan dan dua pesawat Cesna. Terkait musibah yang dialami Dave ini, PT Jasa Raharja Cabang Papua menyatakan kesiapannya untuk membayar santunan bagi keluarga atau ahli waris korban. "Pada dasarnya kami siap membayar santunan dalam kecelakaan ini, namun karena masih suasana duka, mungkin setelah jenazah dimakamkan," kata Kepala PT Jasa Raharja Cabang Papua, Amos Sampetoding, yang dihubungi terpisah. Amos menjelaskan bahwa pembayaran santunan ada karena sudah bekerja sama dengan pihak AMA dalam asuransi kecelakaan angkutan ini, khususnya untuk penumpang. Namun, ada ekstra asuransi untuk kru dan pilotnya jika mengalami musibah sehingga dijamin asuransi. Amos mengaku bahwa untuk pembayaran santunan ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan AMA di Jayapura, termasuk data-data korban dan ahli warisnya. Dikatakan, pembayaran santunan adalah sesuai peraturan menteri keuangan mengenai tarif santunan untuk kecelakaan angkutan umum dan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1964 tentang dana kecelakaan angkutan umum. (bat)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Cenderawasih Pos.com Online
Alamat URL : http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=17619

e-JEMMi 35/2008

Jenazah Pilot Ama Dibawa ke Wamena

Kondisinya Utuh, Pesawat Terbelah Tiga

(Pemakaman Tunggu Kedatangan Dua Putranya dari Amerika)

SENTANI -- Setelah sebelumnya gagal diangkat lantaran cuaca buruk, akhirnya jenazah pilot David Craig Clapper berhasil dievakuasi Selasa (12/8) kemarin oleh tim evakuasi yang tergabung dalam tim Sarnas dan Paskhas. Seperti diketahui, Dave -- panggilan akrab sang pilot naas itu, tewas setelah pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) jenis Pilatus PC-6 dengan nomor penerbangan PK-RCZ yang diterbangkannya, jatuh di Gunung Teibu, kampung Ndundu, distrik Wori, kabupaten Tolikara, Sabtu (9/8).

Dari lokasi, jenazah korban berkebangsaan Amerika ini diterbangkan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, dengan menggunakan pesawat milik AMA, jenis Pilatus PK-RCY yang dipiloti Erick Robert. Jalannya evakuasi korban sendiri tidak terlalu mengalami banyak hambatan. Perjalanan evakusi dimulai pagi hari, di mana rombongan yang di dalamnya termasuk wartawan Cenderawasih Pos berangkat dari hanggar TNI-AU di Sentani pukul 06.00 WIT menggunakan pesawat Heli Super Puma, dipiloti Mayor Pnb Jumarto. Rombongan tim evakuasi yang terdiri dari tim Sarnas dan Paskhas menuju pendaratan terdekat dari lokasi kejadian, yakni di kampung Taife 2, distrik Mori. Tempat itu ditempuh sekitar satu jam. Setelah menurunkan sebagian muatan, heli langsung menuju lokasi Gunung Teibu.

Masyarakat Taife yang sudah menunggu kedatangan tim evakuasi ini terlihat tegang. Wajah mereka penuh harap, mengingat saat dilakukan kontak menggunakan satelit, tim pemantau tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya, selang 27 menit kemudian, tim evakuasi kembali dengan membawa jenazah yang sudah berada di dalam kantong jenazah. Karena sudah di dalam kantong, kondisi jenazah tidak diketahui secara pasti. Tapi menurut keterangan tim SAR, kondisi jenazah korban dalam keadaan utuh karena saat jatuh, pesawat tidak terbakar, hanya terbelah tiga. Awalnya, jenazah Dave hendak langsung dibawa ke Wamena, namun tidak direlakan oleh warga setempat. Masyarakat Taife memang memiliki ikatan emosional dengan korban. Selain sangat dekat dengan masyarakat, korban juga dianggap sangat berjasa bagi warga setempat. Karena itu, disepakati untuk beberapa menit jenazah disemayamkan di kantor Distrik Mori.

Pantauan Cenderawasih Pos saat pesawat mendarat, enam orang warga yang telah disiapkan langsung mendekati pesawat dan mengangkut kantong jenazah tanpa alat apapun, kemudian menggotongnya ke kantor distrik. Saat itu pula tangisan yang sebelumnya mulai mereda, kembali pecah. Saat pendaratan pukul 07.54 WIT di Taife, terdengar isak tangis yang tak henti dari beberapa wanita, termasuk anak-anak hingga menimbulkan pertanyaan bagi Cenderawasih Pos. Namun setelah mendapat jawaban dari kepala kampung, Gerson, ternyata tangisan tersebut muncul karena perasaan sedih yang cukup mendalam atas kejadian yang menimpa Dave.

"Masyarakat sangat sedih dengan meninggalnya pilot Dave, dia banyak berjasa bagi masyarakat," ujar Gerson. Saking dekatnya dengan masyarakat, menurut Gerson, hari Minggu (10/8), sekelompok masyarakat memutuskan menuju lokasi jatuhnya pesawat dengan berjalan kaki, namun di tengah perjalanan rombongan ini akhirnya kembali setelah mendapat kabar bahwa lokasi jatuhnya pesawat telah ditemukan dan akan dilakukan pencarian melalui udara. "Masyarakat juga sudah berusaha mencari, tapi batal karena mendengar kabar tempat jatuhnya sudah diketahui," imbuh Gerson. Saat jenazah digotong ke kantor distrik, terlihat sekali kerumunan masyarakat yang sudah menunggu sejak pesawat berangkat ke lokasi. Bahkan setibanya di kantor distrik yang bangunannya berbentuk panggung ini, tangisan kembali pecah, terutama kaum perempuan, tidak ketinggalan anak-anak, tua, maupun muda. Bahkan sungguh di luar dugaan, ternyata nyaris seluruh masyarakat yang saat itu berada di Taife berkumpul untuk melepas sang pilot.

"Dia sudah sangat dekat dengan kami, dia bagai keluarga kami, meski dia orang asing," tutur seorang wanita setengah baya seraya mengusap pipinya. Tangisan terdengar tak hentinya ketika jenazah diletakkan di ruangan sementara masayarakat terus mendesak masuk hingga ruangan terasa pengap. Di sela-sela tangisan itu, ada yang mengunakan bahasa setempat dengan lantunan pantun yang jika diartikan menggunakan bahasa Indonesia, memiliki maksud seakan mengelu-elukan. Sekitar pukul 08.42 WIT, akhirnya jenazah dikeluarkan dari kantor distrik dan diputuskan untuk dibawa ke Wamena menggunakan pesawat Pilatus milik AMA yang memang sudah disiapkan dari pagi di landasan. Tak lama kemudian, rombongan kembali ke Jayapura dan sebelumnya masyarakat terlihat sempat mengucapkan terima kasih kepada tim evakuasi yang sudah membawa jenazah sang pilot, meski dalam kondisi meninggal. Sosok Dave tetap dianggap berharga dan berjasa di mata masyarakat kampung Taife.

Sementara itu dari Wamena dilaporkan, setibanya di Wamena, jenazah korban masih disemayamkan di hanggar Heli Mission Wamena hingga Kamis (14/8) untuk menunggu kedatangan kedua putra Dave dari Amerika, Judah dan Tirzah, untuk melihat jenazah ayahnya untuk kali terakhir. Hal itu dibenarkan Kepala Perwakilan AMA Wamena, Yanto. "Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum Sinagma, namun belum bisa dipastikan kapan pelaksanaan pemakamannya karena masih menunggu dua anak Dave yang tiba pada Kamis dari Amerika," tegas Yanto ketika ditemui Cenderawasih Pos saat menjemput jenazah korban di hanggar pesawat Heli Mission Wamena kemarin.

"Seluruh masyarakat Papua, khususnya yang berada di wilayah Pegunungan Tengah sangat kehilangan dengan kepergian Dave, terlebih pihak AMA," tambahnya. Istri dan ketiga anaknya masih terlihat dalam suasana duka. Tak habis-habisnya warga masyarakat berdatangan silih berganti mengucapkan bela sungkawa. Bahkan karangan bunga dari berbagai pihak mulai berdatangan sebagai tanda ucapan dukacita. Sampai berita ini ditulis, situasi dan kondisi kota Wamena dalam keadaan aman dan kondusif. Pascapengibaran bendera bintang kejora pada Sabtu (9/8) lalu tak mengurangi kelancaran prosesi penjemputan jenazah korban. (ade/jk)

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Nama situs : Cenderawasih Pos.com Online
Alamat URL : http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=17590&ses=

e-JEMMi 35/2008

Jika Engkau Mengasihi Yesus, Janganlah Bernyanyi

"Ya, ini tidaklah terlalu buruk," Tom White bergumam kepada dirinya sendiri. Ia berdiri dalam ruangan yang hitam pekat dan dingin. Ia dapat merasakan angin mengalir memasuki ruangan dari sebuah lubang ventilasi di atas pintu. Saat menyelidiki selnya, ia mendapati sebuah tempat tidur dengan pegas yang telah patah, kasur yang berbau, dan sebuah kursi kayu tua yang dipaku ke lantai.

Ia berbaring, tetapi tidak mungkin untuk tidur. Sungguh-sungguh terlalu dingin. Baju coverall tanpa lengannya terbuat dari katun tipis, jadi tidak dapat menolong banyak. Ia bertanya-tanya, berapa lama ia dapat bertahan hidup di dalam ruangan seperti itu.

Tom White, pria Kristen berkebangsaan Amerika telah banyak mengirimkan literatur Injil ke Kuba, dan berhasil mendistribusikan lebih dari 400.000 buah literatur. Tetapi pada tanggal 27 Mei 1979, pesawat kecilnya jatuh mendarat di sebuah jalan tol Kuba, tepat setelah ia menyelesaikan sebuah kiriman malam. Ia langsung ditangkap oleh para komunis, yang menanyainya dan menempatkannya dalam tahanan terasing. Akhirnya para penjaga menempatkan kerudung ke atas kepalanya dan membawanya ke suatu ruangan kecil untuk ditanyai lebih jauh. "Hari ini sungguh hangat, bukan?" ejek si kapten, melepaskan jaket militernya untuk memulai interogasinya. "Anda bekerja bagi siapa?"

"Aku bekerja bagi Yesus."

"Oh, benarkah demikian? Dan berapa banyak uang yang dibayarkan oleh Yesus ini kepadamu untuk melakukan perjalanan-perjalanan ini?"

"Aku melakukan perjalanan-perjalanan ini tanpa dibayar. Bayaranku adalah kasih dan berkat yang diberikan Allah kepadaku karena mentaati-Nya."

Kebanyakan pertanyaan si kapten adalah seputar uang, dan revolusi. Hanya hal-hal tersebutlah yang dapat ia pahami mengenai kekuasaan. Setelah tiga atau empat malam kedinginan dan kurang tidur, White terlalu lelah bahkan untuk mengikuti rentetan pemikirannya sendiri. Ia duduk di hadapan orang yang menginterogasinya, kepalanya terkulai, dan pikirannya berkelana.

"Bagaimana aku dapat melawan ini? Ini bisa berlangsung selamanya," White bertanya pada dirinya sendiri. Tiba-tiba ia mendapatkan jawabannya. Roh Kudus memberikan kepadaku satu ukuran belas kasih dan kasih bagi pria ini yang lebih terpenjara dibandingkan dengan diriku. Aku berhenti menjawab pertanyaan-pertanyaannya dan melihat tepat ke dalam matanya. "O, Allah, tolonglah Kapten Santos," aku berdoa. "Teroboslah masuk, Yesus. Dia salah seorang yang berada dalam kedinginan, karena ia belum pernah merasakan kehangatan kasih- Mu." Aku terus berdoa seperti ini selama berjam-jam. Pertanyaan- pertanyaannya makin jarang hingga akhirya ia berhenti.

"Apa yang sedang kau lakukan?" ia mendesak. "Aku sedang berdoa bagimu."

Mulut si kapten ternganga. Ia mengusapkan tangannya ke rambut, kemudian mencari-cari sebatang rokok. Pertama kalinya, White melihatnya merokok. White terus duduk dengan kaku sebagaimana ia diminta sambil menatap kepada Santos dan berdoa.

Si kapten melihat dengan gugup ke sekeliling ruangan, kemudian mulai mengetuk-ngetukkan jari-jarinya pada meja.

Pada sesi berikutnya, White terkejut melihatnya memakai kacamata hitam. Jelas ia tidak ingin White melihat matanya. "Tidak apa-apa. Allah tidak memerlukan kontak mata. Ia berurusan dengan hati," pikir White, dan dia melanjutkan untuk berdoa.

Santos memanggil Mayor Alvarez. Mayor ini selalu merupakan pilihan terakhirnya. Alvarez berderap memasuki ruangan, dengan muka merah dan marah seperti biasa. "Jadi, Anda pikir ini adalah sebuah permainan?" ia berteriak padaku sambil menghantam ke meja untuk memberikan tekanan. "Kini kami akan mengirimkan Anda untuk melihat kaki ketiga dari kucing."

White mengingat-ingat, "Aku dilemparkan ke sebuah ruangan lain. Mengikuti dinding dalam kegelapan, aku mendapati bahwa tidak ada tempat tidur ataupun kursi. Ventilasi udara di atas pintu sepenuhnya terbuka. Angin mengalir masuk dengan kencangnya hingga rambutku tertiup tegak dari kepalaku.

"Aku berusaha untuk berjalan dalam kegelapan yang pekat, menjulurkan tanganku ke depan supaya tidak terantuk pada dinding. Tetapi dindingnya terlalu dingin untuk disentuh, bukannya menghangatkan diriku. Berjalan-jalan hanya membawaku lebih dekat pada ventilasi udara. Aku meringkuk di sudut ruangan."

"O Allah, tolonglah aku!" aku berteriak dalam keputusasaan. Ia akan menolong, hanya saja bukan dengan cara yang kuinginkan. Aku menjejalkan kaki baju coverall-ku ke dalam kaus kaki untuk menjaga agar udara tidak memasuki lubang celana, dan menarik lenganku ke dalam atasan yang tanpa lengan. Aku menarik bagian atasnya menutupi hidungku, sehingga aku dapat menghangatkan tubuhku dengan nafasku yang hangat. Ini memberikan kepadaku saat-saat kelegaan, tetapi kemudian kelelahan dan kehilangan panas tubuh secara perlahan membuat tubuhku mulai berguncang-guncang. Aku tidak tahan duduk di lantai, atau bersandar pada dinding. Satu-satunya posisi yang dapat dilakukan adalah berdiri dengan hanya kening menyentuh tembok.

"Aku tidak tahu mengapa aku teringat untuk bernyanyi. Tetapi tangan Allah menuntun dan mengajarku. Sementara tingkatan hukuman menjadi lebih berat, demikian juga dengan tingkat peperangan rohani. Iblis berusaha dengan lebih keras untuk menarikku jatuh, tetapi Allah dengan lembut mendorongku ke atas. Mazmur 3:4 berkata, ´Engkaulah kemuliaanku dan yang mengangkat kepalaku.´ Allah murah hati, berbelas kasihan, dan penuh kasih, hanya meminta kesempatan untuk membuktikan diri-Nya kepadaku."

Aku mulai menyanyikan himne yang agung itu, ´Allah Bentengku yang Teguh´. Aku menyanyikan ´Yesus Mengasihiku´, bait-bait Alkitab, dan setiap lagu Kristen yang dapat kuingat. Aku tidak lagi merasakan dingin, hanya merasakan penyertaan Yesus. Dengan mata terpejam, kepalaku nyaris tidak menyentuh dinding, aku bersiul, bernyanyi, bahkan menirukan suara terompet mengumandangkan pujian kepada Tuhan.

"Walapun aku tidak berpikir mengenai berbagai ayat yang mendukung, aku telah memasuki tingkat peperangan paling tinggi dalam melawan si musuh -- pujian. Mazmur 22:4 mengatakan bahwa Allah bersemayam di atas puji-pujian. Aku tidak tahu bagaimana hal ini terlaksana, tetapi hal itu benar. Penebus yang Agung, sang Mesias, sang Juruselamat bersama-sama dengan saya. Ia memegang tubuhku yang gemetar dalam tangan-Nya. Aku berada bersama Yesus, apa pun yang terjadi."

Seorang penjaga membuka daun jendela dari besi kecil pada pintu dan mengintip ke dalam dengan rasa ingin tahu.

"Apa yang sedang kau lakukan?" desaknya.

"Aku sedang bernyanyi tentang Yesus."

"Mengapa?"

"Karena aku mengasihi Dia," jawab White dengan gembira.

Ia membanting daun jendela dan pergi. White melanjutkan untuk bernyanyi.

Ia kembali beberapa menit kemudian dan kembali membuka daun jendela. "Jika kau mengasihi Yesus, janganlah bernyanyi," perintahnya, kemudian pergi. Tetapi White mengasihi Yesus terlalu dalam untuk berhenti bernyanyi.

Selama dua hari berikutnya, para penjaga datang untuk mengawasinya setiap tiga atau empat jam. Daun jendela akan membuka dan sebuah cahaya dari lampu senter akan merayap sepanjang lantai mencarinya. White terus bernyanyi. Di akhir dua hari tersebut, ia dikembalikan ke selnya yang lama. Walaupun masih dingin, namun terasa lebih hangat jika dibandingkan dengan ruangan isolasi. Kini para penangkap yakin bahwa White bukanlah mata-mata hebat yang sedang mencoba menggulingkan pemerintahan, mereka lalu mengirimkan White untuk menerima perawatan.

Setelah tiga bulan, Tom White dipindahkan dari kurungan terasing ke penjara utama di mana 7.000 tahanan ditempatkan. Di sana ia bertemu dan berbakti bersama-sama dengan warga-warga gereja Kuba yang dipenjarakan karena iman mereka.

Sebuah kampanye internasional bagi pembebasannya telah membantu untuk mengurangi masa tahanan White dari hukuman semulanya, yaitu selama 24 tahun. Setelah banyak doa, surat-surat, permohonan dari anggota-anggota Kabinet, dan bahkan dari Ibu Teresa, ia dilepaskan pada tanggal 27 Oktober 1980, setelah 17 bulan dalam penjara. Ia melanjutkan pelayanan sebagai Direktur The Voice of the Martyrs untuk Amerika Serikat.

Bahan diedit dari sumber:
Judul Buku : Jesus Freak -- Kumpulan Kisah dari Mereka yang Berdiri Teguh Bagi Yesus
Judul Kesaksian: Jika Engkau Mengasihi Yesus Janganlah Bernyanyi
Penulis : DC Talk dan The Voice of the Martyrs
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 276 - 280

e-JEMMi 46/2004

KALUMPANG: Kami Menerjemahkan agar Mereka Mengerti

Layaknya bayi yang sedang belajar berjalan, ia tak akan langsung dapat berjalan dengan lancar tanpa terlebih dahulu belajar untuk berdiri. Demikian halnya dengan proses penerjemahan yang saya, SS, lakukan bersama tim penerjemah di Kalumpang. Banyak tahap yang harus kami lakukan sebelum akhirnya terjemahan kami sampai di tangan masyarakat Kalumpang.

Pada tanggal 4 -- 12 Oktober 2006, saya beserta tim pengembangan bahasa Kalumpang dan beberapa bahasa lain yang ada di wilayah Sulawesi, mengikuti lokakarya tahap tiga di Palu. Dalam lokakarya ini, para peserta mengerjakan penerjemahan kitab Amos. Kami pun mempelajari prinsip-prinsip pemeriksaan bahan yang sudah diterjemahkan bersama-sama dengan penutur asli.

Sehari setelah lokakarya selesai, tepatnya pada tanggal 13 Oktober, kami memeriksa hasil terjemahan kitab Yunus bersama konsultan dan seorang penutur asli Kalumpang. Kami sangat bersyukur karena proses pemeriksaan terjemahan ini berjalan dengan lancar, semuanya karena hikmat yang Tuhan berikan.

Kesibukan yang saya jalani selama bulan Oktober lalu memang cukup padat dan semuanya harus dijalani agar proses penerjemahan dapat berjalan dengan lancar dan akhirnya dapat menghasilkan terjemahan yang memenuhi kebutuhan masyarakat Kalumpang.

Namun, kesibukan kami tak hanya berputar di sekitar pekerjaan penerjemahan. Kami pun melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat Kalumpang. Pada tanggal 20 di bulan yang sama, kami membagikan pakaian bekas layak pakai untuk masyarakat. Pakaian yang kami bagikan merupakan bantuan dari para dermawan di Jakarta dan Sulawesi.

Pekerjaan penerjemahan kami tak terhenti hanya pada bulan Oktober saja. Pada bulan November 2006, kami memeriksa Injil Lukas dan melanjutkan pembahasan penerjemahan kitab Amos yang sudah kami kerjakan sebelumnya di Palu. Kami juga mengadakan latihan menyanyi pada malam hari sebagai sarana sosialisasi hasil terjemahan karena kami tidak ingin hasil pekerjaan kami menjadi sesuatu yang asing ketika terjemahan itu sampai ke tangan masyarakat Kalumpang. Kami senang melihat antusiasme masyarakat yang datang dan mengambil bagian dalam kegiatan ini.

Tepat pada akhir November, hasil terjemahan draf pertama kitab Amos selesai dikerjakan. Ini merupakan sebuah sukacita besar yang Tuhan berikan pada kami.

Bulan Desember adalah bulan Natal. Tepat tanggal 5 Desember 2006, saya mengikuti perayaan Natal Persekutuan Lansia (Lanjut Usia) Jemaat Kalumpang. Acaranya meriah dan sangat hikmat; salah satu acara yang disajikan dan sangat mengesankan bagi saya adalah dendang dan puisi Natal dalam bahasa Kalumpang yang dipresentasikan oleh jemaat.

Segala tugas dan tanggung jawab dalam pekerjaan penerjemahan ini memang tidak ringan, namun semuanya terasa sangat menyenangkan karena Tuhan selalu memperlengkapi saya untuk melakukan segala tanggung jawab saya.

Tetaplah doakan pelayanan saya di Kalumpang dengan jadwal yang begitu padat, agar saya dapat mengatur jadwal pelayanan saya dengan baik. Doakan pula agar setiap kebutuhan biaya proyek bahasa di Kalumpang dan biaya pencetakan kitab Yunus, dapat tercukupi. Bantuan doa Anda juga saya butuhkan untuk proses penerjemahan Injil Lukas.

Diambil dan diedit seperlunya dari:

Judul buletin : Berita Kartidaya, Edisi 2/2007
Judul artikel : KALUMPANG; Kami Menerjemahkan agar Mereka Mengerti
Penulis : SS
Halaman : 12 -- 13

e-JEMMi 44/2007

Kaki-Kaki Indah Orang Neme

"Bagaimana elok ... kaki orang yang memberitahu barang yang baik, yang memperdengarkan assalam ... (Yesaya 52:7 Terjemahan Lama) < http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Yes/L_Yes52.htm#52:7 >

"How beautiful are the feet of them that preach the gospel of peace, and bring glad tidings of good things!" (Roma 10:15b) < http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Rom/3_Rom10.htm#10:15 >

Sekelompok orang Neme di Papua Nugini memiliki kaki-kaki indah! Namun bukan karena bentuknya yang bagus dan kulitnya yang halus, karena kaki-kaki mereka justru besar. kasar, dan jelek bentuknya. Yesaya memberikan gambaran yang tepat untuk kaki-kaki orang Neme ini, yaitu "kaki-kaki yang indah" karena mereka memakainya untuk berjalan, dengan bertelanjang kaki, melintasi hutan berhari-hari supaya mereka dapat belajar menterjemahan Alkitab. Mereka ingin membawa Kabar Baik itu agar bisa dibaca dalam bahasa yang mereka mengerti.

Steph dan Beth (bukan nama asli) sedang berada di desa Arammba di Papua Nugini dalam rangka mengikuti program "Discovery" dari Wycliffe. Pada awalnya mereka berada di sana hanya untuk melakukan observasi terhadap penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Arammba yang sedang dilakukan oleh Marco dan Alma B.

Tetapi saat berada di sana mereka terlibat dalam peristiwa yang tidak mereka duga, yaitu ketika desa Arammba kedatangan sekelompok orang ini terdiri dari guru sekolah, seorang pendeta dan istrinya, seorang mahasiswa Sekolah Alkitab, dan lima orang lainnya. Orang- orang ini menempuh perjalanan menuju Arammba untuk belajar tentang penerjemahan Alkitab.

Dengan kemampuan bahasa Inggris mereka yang sangat terbatas, orang- orang Neme itu berusaha mengajarkan bahasa Neme kepada kedua orang asing ini. Mereka melewatkan waktu lima hari untuk mempelajari bahasa Neme sekaligus memeriksa huruf-huruf yang ada agar bisa mewakili semua bunyi-bunyian yang berarti dalam bahasa Neme.

Pada hari ke lima, mereka semua memutuskan untuk mulai menterjemahkan ayat penting dari Yohanes 3:16 kedalam bahasa Neme. Setelah melewati berbagai proses, dengan bantuan dan arahan dari Steph dan Beth dan sambil mendiskusikan konsep-konsep seperti Allah, anugerah, kasih, dan iman, orang-orang Neme akhirnya berhasil membuat terjemahan untuk ayat Yohanes 3:16.

Puncak dari proses penerjemahan itu adalah ketika ayat yang sudah diterjemahkan tersebut mereka tulis dengan tinta hitam permanen di selembar kain putih yang berasal dari karung tepung. Proses penulisan ini ternyata menimbulkan kehikmatan tersendiri karena mereka menyadari bahwa inilah kata-kata Tuhan sendiri yang sedang diwujudkan dalam bentuk tulisan. Ketika proses ini selesai, senyum membias lebar di wajah mereka semua.

Pada saat akan berpisah, si pendeta Neme memohon kepada Steph dan Beth untuk mengabarkan pada teman-teman mereka dan gereja-gereja di Amerika bahwa Neme sangat membutuhkan konsultan penerjemah yang dapat memberikan pelatihan untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Neme.

Pada tahun 1932, untuk pertama kalinya orang Neme mendengar Injil melalui bahasa yang bukan bahasa ibu mereka, dan sampai kini mereka telah menunggu 68 tahun untuk dapat membaca firman Tuhan dalam bahasa mereka sendiri. Beberapa lama lagi mereka harus menunggu?

Disadur dari: In Other Words (WBT/USA, Triwulan ke-3 tahun 2000)

Sumber: Berita KARTIDAYA, Triwulan I tahun 2001

Kami Akan Memotong Kakimu

Kerumunan yang marah itu meneriaki pengayuh sepeda yang seorang diri itu, "Jika kami melihatmu kembali, kami akan memotong kakimu! Lihatlah apakah kamu dapat menaiki sepedamu kembali!"

Ini bukan kali pertama Milon diancam oleh kerumunan radikal yang marah. Tapi ancaman-ancaman semacam ini belum memadamkan gairahnya untuk membawa kebenaran firman Allah kepada saudara setanah airnya.

"Aku bersepeda ke desa-desa dengan sepedaku dan membawa literatur-literatur kristiani. Dalam hujan, aku memegang sebuah payung di tangan yang satu dan menyetir sepeda dengan tangan yang lain. Sering kali, aku jatuh dan menjadi penuh lumpur dan lecet-lecet. Pada malam hari, aku memegang senter. Aku menaikkan pujian dari Mazmur ketika bersepeda. Para orang Kristen yang kutemui tidak memiliki selimut lebih untukku, jadi aku berusaha kembali pulang untuk tidur."

Milon adalah seorang remaja ketika seorang kawan memberinya beberapa traktat Injil. "Aku menyembunyikan traktat-traktat itu dalam peti besi di kamar tidurku. Pada malam hari, aku akan mengambil kunciku, membuka peti, dan membaca dengan lampu minyak tanah. Setelah belajar di sekolah MF selama 12 tahun, aku mengetahui mengenai Yesus sebagaimana yang disebut dalam kitab mereka, tetapi aku belum mengenal-Nya sebagai Juru Selamat. Aku baru menerima Yesus pada tahun 1992 dan dibaptis secara rahasia, 400 kilometer dari rumahku."

Sejak saat itu, Milon telah dianiaya oleh kaum radikal. "Aku menjual baju-baju di pasar setempat dan mulai menempatkan beberapa buku-buku kristiani di tokoku bagi orang-orang Kristen lainnya. Ketika orang-orang radikal mendengar mengenai hal ini, mereka segera berjalan memasuki tokoku dan mengambil kemeja-kemeja, celana panjang-celana panjang, dan kaus kaki-kaus kaki dari rak tanpa membayar. Jika aku meminta uang, mereka mengancam untuk memukuliku. Kapan pun seseorang tertarik pada traktat-traktat itu, aku memberikan sebuah kepadanya."

Milon berkata, "Kami sedang mengalami berbagai masalah, tetapi kami tetap memiliki Yesus Kristus. Kami memiliki kedamaian melalui Dia, dan kami memiliki harapan bahwa ketika kami meninggal, kami akan pergi ke surga."

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Jesus Freaks
Penulis : DC Talk dan Voice Of Martyr
Penerbit : Cipta Olah Pustaka
Halaman : 99 -- 100

Kami Masih Ada

Sekelompok kecil pengusaha asing yang mengadakan kunjungan ke Korea Utara sedang berjalan menuju ke hotel tempat mereka menginap di bawah pengawasan para pemandu yang telah ditunjuk. Sebelum mereka memasuki hotel di Korea Utara itu, tiba-tiba seorang remaja berusia sekitar 17 tahun berlari menghampiri kelompok pengusaha ini. Remaja tersebut meraih tangan salah seorang anggota rombongan dan menekankan jari telunjuknya ke telapak tangan anggota rombongan tersebut. Tindakan ini jelas tidak sesuai dengan adat Korea. Karena seorang anak tidak diperkenankan menyentuh orang asing secara terang-terangan. Pengusaha ini mencoba menarik tangannya, tetapi remaja tersebut terus memegangi tangannya. Pria ini segera menyadari mengapa remaja tersebut tidak mau melepaskan tangannya, remaja tersebut berusaha menulis pesan dengan menggambar bentuk salib di telapak tangannya. Pria ini memandangi wajah remaja yang terlihat kurus tersebut. Remaja itu tetap diam, tetapi matanya yang berbicara. Pesan yang disampaikannya sangat jelas, "Kami masih hidup dan tinggal di Korea Utara. Kami masih ada!"

Keesokan paginya, rombongan pengusaha ini mendapat kesempatan untuk bertemu kembali secara rahasia dengan remaja tersebut. Rombongan ini bertemu dengan ayahnya, yang ternyata beragama Kristen dan pernah dipenjarakan selama beberapa tahun. Meskipun remaja tersebut tidak dapat menceritakan tentang imannya secara terang-terangan kepada orang lain, tetapi dia memiliki beberapa permintaan antara lain agar rombongan ini bersedia menerima perpuluhan yang telah disisihkannya selama beberapa tahun, lalu membaptisnya, dan mengadakan perjamuan; serta memberinya sebuah Alkitab. Remaja ini benar-benar kekurangan makanan. Sebenarnya dia bisa saja meminta makanan, tetapi dia tidak melakukannya. Walau tubuhnya semakin kurus karena kekerasan dari pemerintah Korea Utara, namun imannya tetap bertumbuh dan terus menyembah Allah di Surga. Mungkin dia tahu bahwa makanan secara jasmani hanya bersifat sementara, sehingga dia lebih memilih untuk menyimpan harta di surga yang kekal.

Sumber: NEWSBRIEF

e-JEMMi 16/2001

Kaum Waldensian

Kaum Waldensian merupakan salah satu contoh bagaimana kehidupan sebuah kelompok, sekalipun menderita penganiayaan, masih tetap bertahan dan dapat hidup makmur. Bagaimana mereka melakukan hal tersebut selama hampir 800 tahun? Jawabannya terletak pada inti doktrin kaum Waldensian: fokus pada memiliki hubungan yang dekat dengan Yesus Kristus melalui Alkitab dan pelajaran-pelajaran.

Akhir abad kedua belas, seorang pedagang sukses bernama Waldo dari daerah Lyons, membuat tiga keputusan penting yang tidak hanya akan memengaruhi kehidupannya, namun juga kehidupan banyak orang yang menantinya dan memilih mengikutinya. Pada intinya, tiga keputusan tersebut membentuk dasar doktrin kaum Waldensian. Waldo membiayai beberapa kitab dari Alkitab. Ia memberikan semua yang dimilikinya dan menjadi seorang miskin, dan ia memutuskan untuk mengabarkan Injil kepada mereka semua yang mau mendengar. Meskipun persyaratan menjadi Waldensian cukup keras, banyak orang bergabung dalam kelompok Waldo karena mereka menginginkan hubungan yang lebih dekat dengan Yesus Kristus.

Sejak awal, gereja kaum Waldensian menderita banyak penganiayaan karena mereka dianggap kelompok ajaran sesat. Kepala Uskup Lyons berusaha menghentikan penyebaran Injil yang dilakukan oleh Waldo dan para pengikutnya serta mengucilkan mereka dari Lyons. Tindak kekejaman terbesar yang dilakukan terhadap kaum Waldensian terjadi pada tahun 1655, dikenal dengan peristiwa "Piedmont Easter" (Paskah Piedmont). Saat itu, selama minggu Paskah, lima ribu tentara Perancis diberi izin untuk merampas kediaman kaum Waldensian, dan lebih dari 1.700 kaum Waldensian terbunuh.

Saat Louis XVI bertakhta menjadi Raja Perancis, ia memfokuskan perhatiannya pada pengusiran kaum Waldensian. Louis mencabut peraturan Nantes yang memberikan kebebasan beragama bagi kelompok Protestan Perancis. Pada tahun 1686, keputusan lainnya dikeluarkan, berisi larangan keras bagi kelompok Protestan untuk berkumpul dan adanya baptisan anak dalam gereja. Banyak gereja kaum Waldensian dibakar, para pendeta dan guru sekolah diberi waktu 15 hari untuk memilih antara dibuang atau mundur dari kepercayaan mereka.

Banyak anggota gereja memilih mengikuti pembuangan dan melarikan diri ke utara Italia, tempat mereka mendirikan pengungsian. Namun, keamanan mereka di Italia masih membahayakan. Pada bulan April dalam tahun yang sama, kaum Waldensian di bawah pimpinan pendeta Henry Arnaud maju melawan. Mereka menderita kekalahan besar. Dalam serangkaian perang melawan pemerintahan Italia ini, 2.000 orang Waldensian gugur, 2.000 orang menyangkal iman mereka, dan 8.000 orang dipenjarakan. Setelah serangan brutal ini, jemaat gereja Waldensian menurun menjadi 3.400 orang, namun mereka tidak menyerah.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi
Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
Halaman : 36 -- 38

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/kaum_waldensian

Kebangkitan Gereja-Gereja di Singapura

Lebih dari 180 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 29 Januari 1819, Raffles mendaratkan kakinya di sebuah pulau kecil yang isinya hanya sebuah desa nelayan kecil. Pulau nelayan itu bernama Singapura, dinamai oleh Sri Nilam Utama seorang raja Sriwijaya yang menurut legenda pernah dikagetkan oleh seekor singa di pulau tersebut. Empat bulan setelah penjejakannya yang pertama, Raffles menghibahkan sebidang tanah untuk membangun sekolah guna mempelajari bahasa Ona serta kekristenan. Dia juga memberikan dukungan dan dana kepada misionaris pertama dari London Missionary Society, Rev. Samuel Milton untuk memulai sebuah gereja. Raffles percaya, kekristenan dapat membawa perbaikan sosial.

Sejak hari itu sampai sekarang, ada lebih dari 400 gereja di Singapura. Denominasi-denominasi utama telah merambah ke ladang misi Singapura sejak lama, seperti Presbyterian, Methodists, Lutheran, Baptist, Brethren, Assemblies of God dan Salvation Army. Lokalisasi dan kontekstualisasi gereja berlangsung dengan kuat lewat gereja- gereja yang berbudaya Tionghoa atau India, sehingga tidak heran jika di Singapura ada banyak gereja yang menggunakan dialek tertentu seperti Hakka, Kanton, atau bahkan Tamil bagi orang-orang Singapura India. Komunitas Kristen Tionghoa juga mewariskan beberapa karya, salah satunya Singapore Bible College.

Menurut data statistik, jumlah kekristenan tidaklah terlalu spektakular (14,6% pada tahun 2000) atau cuma menduduki urutan keempat. Mayoritas penduduk Singapura memang beragama Tionghoa tradisional. Walaupun begitu, gereja tersebar di seluruh penjuru Singapura, di tempat-tempat utama sampai di daerah pemukiman terpencil. Jika kita naik MRT (Mass Rapid Transit, semacam kereta) dan mengintip dari balik jendela, rasanya sih ada lebih banyak gereja dibanding kuil atau masjid. Namun data resmi statistik tetap menempatkan kekristenan di bawah agama Budha dan Islam.

Sebetulnya, pemerintah memberikan kebebasan kepada semua pemeluk agama untuk menjalankan ibadahnya. Hanya tidak seperti di Indonesia, dimana kita diwajibkan memeluk satu agama, di sini orang bebas untuk tidak beragama. Tidak heran jika statistik "Free Thinker", sebutan untuk mereka yang tidak beragama, cukup tinggi terutama di kalangan generasi muda. Jumlahnya hanya sedikit di bawah jumlah orang Kristen.

Titik Balik Kebangkitan

Salah satu titik balik dalam sejarah kekristenan di Singapura adalah di era 90-an ketika gerakan Karismatik merambah ke kota singa ini. Bukan hanya terjadi penambahan kuantitas, tetapi gereja yang mula- mula dingin dan diam, serentak menjadi hangat dan bergerak. Salah satu gerakan yang patut dicatat dalam sejarah adalah gereja City Harvest yang kini menjadi gereja terbesar di Singapura, dengan jumlah anggota sekitar 15.000 orang. City Harvest yang didirikan pada tahun 1989 ini, seolah menjadi simbol gerakan gereja yang modern, modis, muda, dan melepaskan diri dari hal-hal yang tradisional.

Gerakan lain adalah FCBC (Faith Community Baptist Church) yang selain memiliki jumlah jemaat yang besar, juga memberikan dampak yang besar kepada masyarakat lewat pelayanan sosialnya yang disebut Touch Ministry. Pelayanan ini bergerak melalui pelayanan sosial untuk anak-anak, orangtua, dan orang yang kurang beruntung. Yang menarik, badan ini juga memiliki divisi pelayanan ´entertainment´ yang memproduksi film-film bernafaskan kekristenan, namun dikemas untuk konsumsi umum.

Ada beberapa hal yang menarik untuk kita pelajari dari kekristenan di Singapura, yakni:

PERTAMA: Adanya fenomena kesatuan gereja yang cukup utuh. Kebangkitan gerakan Karismatik dapat berjalan mulus tanpa ada perpecahan, di tengah denominasi gereja Anglikan yang memiliki ritualistik yang tinggi. Orang boleh memilih, mau datang ke kebaktian kontemporer (yang karismatik) atau ke kebaktian tradisional.

Memang, tidak semua gereja Anglikan memiliki kebaktian kontemporer, namun semuanya berlangsung mulus-mulus saja. Denominasi yang lain seperti Metodis juga begitu. Selain itu, gereja-gereja di Singapura juga bersatu dalam gerakan Love Singapore di mana mereka berkumpul, berdoa dan membagi visi bersama. Hal ini berakibat pada meningkatnya antusiasme gerakan misi gereja-gereja Singapura ke Asia. Banyak sekali gereja-gereja lokal di sini yang melakukan misi ke Cina, Kamboja, Indonesia, Jepang, dan sebagainya. Tidak heran jika Singapura mendapat julukan the Antioch of Asia (Antiokhia-nya Asia).

KEDUA: Tantangan orang Kristen di Singapura mungkin relevan juga buat kita di Indonesia. Dalam dua dekade yang lalu, ekonomi Singapura tiba-tiba meledak. Padahal, Singapura baru merdeka tahun 1965, sehingga masih dianggap anak bawang. Tahun 1970-an Singapura juga masih bukan apa-apa, namun sejak tahun 80-an sampai sekarang, kekuatan ekonomi Singapura tiba-tiba meledak. Pembangunan kota beserta infrastrukturnya seolah tak terhentikan.

Sisi lain dari ´ledakan´ ekonomi ini adalah kerasnya kompetisi untuk hidup di negara pulau ini. Orang di sini sering mengucapkan anekdot bahwa agama orang Singapura yang sesungguhnya adalah uang. Repotnya, karena negara ini kecil dan sumber daya alam terbatas, maka rakyatnya masih terlena untuk ´disuapi´ pemerintah dalam mencari jalan keluar. Akibatnya, goyangan krisis keuangan dalam beberapa tahun terakhir ini membuat keresahan masih menggigit.

Bayangkan saja, sebuah skenario yang normal. Sejak kecil anak- anak Singapura harus bersaing ketat di sekolahnya. Jika pada waktu duduk di bangku SD mereka sudah mengalami kegagalan, maka jalan ke depan semakin tertutup karena anak-anak yang ´gagal´ tersebut akan langsung diarahkan untuk masuk ke institusi- institusi tertentu saja. Persaingan yang keras telah diperkenalkan sejak dini. Setelah lulus sekolah, langsung bekerja. Dan persaingan di sini lebih dahsyat lagi. Makanya, di Singapura terkenal istilah ´kiasu´ atau takut kalah.

Selain persaingan dalam pekerjaan, warga Singapura pun dihadapkan dengan cicilan harga rumah dimana pembayarannya saja memerlukan waktu 30 tahun. Belum lagi cicilan-cicilan lain yang akan makin menumpuk terutama saat kita melihat tetangga atau kolega (teman sekerja) membeli mobil, pindah ke kondominum yang lebih bagus atau jadi anggota country club yang ekslusif. Padahal di saat- saat sekarang, PHK (pemutusan hubungan kerja) sudah jadi barang lumrah.

Kerasnya kehidupan yang materialistis plus benturan antara modernitas dengan nilai-nilai kekristenan menjadi pergumulan yang dihadapi oleh orang-orang Kristen di Singapura. Bagaimana membawa pesan Alkitab yang relevan dan menjawab kebutuhan serta kegelisahan mereka sehari-hari?

Allah tidak pernah berubah. Sang Penjunan pasti akan mampu membentuk dan membawa Singapura the Antioch of Asia sesuai dengan visi-Nya.

Judul Majalah: : GetLIFE! Edisi 02/2004
Judul Artikel : Kebangkitan Gereja-gereja di Singapura
Penerbit : Yayasan Pelita Indonesia
Penulis : Henry Sujaya
Halaman : 74 - 76

e-JEMMi 02/2005

Kegerakan Orang-Orang Dalit Di India

Baru-baru ini ada kegerakan di India di antara orang-orang Dalit (yang dikenal sebagai kelompok "yang terabaikan") untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan sifat ketergantungan yang memalukan melalui peningkatan kemampuan baca tulis, pendidikan, perbaikan kesehatan dan kebebasan ekonomi yang baru. Tapi hal ini justru menyulut terjadinya kerusuhan rasial dan agama karena adanya sistem kasta di India. Padahal kasta Dalit dan beberapa kasta rendah lainnya di India memiliki populasi sebesar 75% dari seluruh populasi penduduk India.

Kelompok orang Dalit tergolong dalam kasta terendah dalam sistim kasta di India. Mereka menderita diskriminasi sosial yang ekstrim bahkan pengucilan. Mereka seringkali juga menjadi korban kekerasan karena posisi kasta mereka yang rendah. Sistem Kasta sebenarnya merupakan bentuk rasialisme, namun sistem ini telah menjadi bagian integral dari agama Hindu dan bagian terbesar dari 'budaya Hindu'.

Struktur keseluruhan dari gerakan nasional Hindu (Hindutva) didominasi oleh kasta-kasta teratas yang menjadi pewaris utama dari sistem ini. Kaum militan RSS, yang didirikan tahun 1925, mempunyai misi untuk mendirikan negara Hindu. BJP, yang baru-baru ini menduduki pemerintahan, adalah sayap politik dari RSS. BJP menginginkan kaum Hindu memberikan suaranya untuk menjamin kedudukan mayoritas parlementernya.

Human Rights Watch (Pengawasan Hak Asasi Manusia) memperkirakan bahwa terdapat kurang lebih 160 juta orang Dalit yang ingin sekali bebas dari tekanan dan keburukan sistem kasta Hindu. Lebih dari satu juta orang Dalit merencanakan pertobatan massal untuk beralih ke agama Budha pada bulan Oktober nanti tetapi pemerintah menolak memberikan ijin untuk menyelenggarakan pertemuan tersebut. Hal ini menyebabkan ketegangan yang cukup tinggi di India.

Sejumlah besar kaum Dalit ada yang datang pada Kristus. Mereka tertarik dengan berita Injil, yang menunjukkan kasih yang tanpa syarat dan menjamin kedudukan yang sama bagi setiap orang di hadapan Allah. Inilah bentuk kemerdekaan tanpa syarat dan sikap yang tidak memihak yang ditawarkan Kristus kepada umat manusia. Dalam suatu pelayanan di India Selatan pada tanggal 29 Juni, 1000 orang Dalit meninggalkan agama Hindu untuk memeluk agama Kristen. Pemimpin-pemimpin Dalit memimpin kampanye "Hentikan Hinduisme" yang terorganisir dan ini melahirkan respon yang luar biasa dari orang- orang Dalit di sepanjang India Utara, terutama di Orissa, Maharastra, Uttar Pradesh dan Bihar.

Pada tanggal 27 Juli, undang-undang larangan untuk beralih ke agama lain diperkenalkan dalam Parlemen Nasional India. Sebagaimana telah diketahui, Nasionalis Hindu adalah kelompok politik tunggal terbesar dalam Parlemen dan mendominasi koalisi pemerintahan saat ini. Mereka berharap dapat segera mengesahkan undang-undang tersebut. Pemerintah juga merencanakan tindakan-tindakan penindasan lain seperti memangkas seluruh dana luar negeri yang ditujukan bagi organisasi misi. Jika undang-undang ini disahkan, maka akan ada pengekangan kebebasan agama yang cukup berat dan hal ini dapat mempersulit organisasi Kristen untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Di Orissa, kurang lebih ada 19 orang petobat baru yang memeluk agama Kristen dihukum. Hal ini sangat ironis karena mereka dianggap melanggar ketentuan-ketentuan Orissa Freedom of Religion Act (Undang-undang Kebebasan Beragama Orissa). Ke-19 orang itu gagal dalam usaha mereka memberikan penjelaskan kepada para penguasa tentang tujuan mereka menjadi Kristen.

Doakanlah, khususnya bagi: * Kedamaian masyarakat Dalit di tengah-tengah perubahan yang menggemparkan ini.

* "Semua pemimpin Kristen yang diterjunkan di tengah kancah perubahan yang menggemparkan ini. Berdoalah untuk kebijaksanaan, belas kasihan dan keteguhan hati," kata Dr. Joseph D'Sousa (All India Christian Council).

* Perjuangan menghadapi tantangan pemeliharaan gelombang petobat- petobat baru yang belum memiliki pengetahuan iman yang dalam.

* Gereja di India. "Saya ingin mendorong orang untuk berdoa bagi gereja di India, agar orang-orang Kristen di India mulai berdiri kokoh dan tidak menjadi takut, agar mereka tahu bahwa Tuhan yang mengendalikan mereka," kata Gladys Staines (janda Graham Staines yang mati sebagai sorang martir).

"Luputkanlah aku, ya Tuhan, dari pada manusia jahat, jagalah aku terhadap orang yang melakukan kekerasan" (Mazmur 140:12).

* Berdoa agar Allah mengendalikan proses politik, agar Allah memberikan kebijaksanaan bagi para anggota parlementer, dan agar ada kuasa hukum Internasional yang efektif untuk jaminan kebebasan beragama bagi setiap orang di India.

Sumber: Religious Liberty Prayer List - No. 126 - Wed 01 Aug, 2001

Kejahatan Apakah yang Bisa Dilakukan oleh Seorang Gadis Kecil

Empat petugas polisi tiba-tiba mendobrak memasuki rumah Linh Dao yang berusia sepuluh tahun. Mereka memaksa ayahnya, seorang pendeta bawah tanah di Vietnam Utara untuk tetap duduk, sementara pihak berwajib mengobrak-abrik rumah mencari Alkitab-Alkitab.

"Aku ingat ketika para polisi datang," kenang Linh Dao. "Mereka menggeledah ke seluruh rumah sepanjang pagi dan menanyakan berbagai macam pertanyaan. Berbicara dengan para polisi menakutkan, tetapi aku tahu apa yang sedang mereka cari, jadi aku berkonsentrasi untuk tidak takut atau gugup." Sementara polisi menanyai orangtuanya, Linh dengan berani menyembunyikan beberapa Alkitab di dalam ransel sekolahnya.

Ketika polisi bertanya kepadanya mengenai isi dari ransel itu, Linh hanya menjawab, "Ini adalah buku untuk anak-anak."

Ayah Linh Dao ditangkap pada hari itu juga dan ia dijatuhi hukuman tujuh tahun pendidikan ulang melalui kerja paksa.

"Ketika para polisi memutuskan untuk membawa pergi ayahku, seluruh keluarga kami berlutut dan berdoa. Aku berdoa terlebih dahulu, kemudian saudara perempuanku, kemudian ibuku, dan yang paling akhir, ayahku. Aku berdoa supaya ayahku akan memperoleh kedamaian dan tetap sehat dan supaya keluargaku bisa selamat dalam masa-masa sulit itu. Kami semua menangis, tetapi aku mengatakan kepada diriku sendiri bahwa aku harus menghadapi apa yang sedang terjadi saat ini."

Berita dengan cepat tersebar mengenai penangkapan itu, dan anak-anak tetangga mulai menanyai Linh tindakan kriminal apakah yang telah dilakukan ayahnya. Ia mengatakan kepada teman-temannya, "Ayahku bukanlah seorang kriminal. Ia adalah orang Kristen, dan aku bangga padanya karena tidak goyah dalam imannya!"

Sementara hari berlalu, Linh Dao membuat tanda pada sampul buku kayunya, sementara ia berdoa bagi ayahnya. Ia ingat, "Aku menangis hampir setiap malam karena aku kuatir bagaimana keadaan ayahku di penjara dan bagaimana para polisi memperlakukannya."

"Sebelum ayahku dimasukkan ke dalam penjara, aku hanyalah seorang anak. Aku tidak perlu kuatir atas apa pun juga. Banyak yang berbeda setelah ayahku pergi. Pikiranku menjadi lebih dewasa dengan cepat. Aku mengatakan kepada saudara perempuanku bahwa kita harus membantu ibu melakukan pekerjaan di sekitar rumah, supaya ia dapat melanjutkan untuk melakukan pekerjaan ayahku di dalam gereja."

"Aku berdoa setiap hari dan setiap malam. Imanku bertumbuh amat pesat. Aku tahu satu hal dimana aku harus berkonsentrasi adalah menghabiskan waktu untuk belajar dari Alkitab, supaya ketika aku dewasa, aku bisa menjadi seperti ayahku, membagikan dan berkotbah. Ketika aku berpikir mengenai hal ini, aku merasakan hatiku membara di dalamku, mendorongku, mengatakan kepadaku bahwa hal ini adalah hal yang benar untuk dilakukan."

Akhirnya, setelah lebih dari setahun, Linh, ibu, dan adiknya dapat mengunjungi ayah mereka di penjara. Ketika mereka tiba di halaman berpagar, mereka dipisahkan oleh gerbang yang dirantai. Linh dengan cepat mendapati bahwa ia dapat menyelusup melewati sebuah gerbang yang dirantai. Ia berlari kepada ayahnya dan memeluknya dengan erat.

Para penjaga mengamati gadis kecil itu, tetapi secara mengejutkan, membiarkannya. Kejahatan apakah yang dapat dilakukan oleh seorang gadis kecil? Pasti mereka berpikir demikian.

Sedikit yang mereka ketahui! Bersenjatakan kepolosan dan iman anak kecil, anak-anak adalah senjata rahasia melawan kerajaan Iblis. Selama kunjungan pertamanya ke penjara ayahnya, Linh berhasil menyelundupkan kepadanya sebuah pena, yang ia pergunakan untuk menulis ayat-ayat dan khotbah-khotbah pada kertas rokok. "Khotbah rokok" ini berkeliling dari sel ke sel dan merupakan alat untuk membawa banyak tahanan kepada Kristus.

Doa-doa Linh Dao dijawab. Ayahnya dibebaskan lebih cepat, sebelum ia menjalani tujuh tahun dari masa hukumannya. "Sungguh kejutan yang besar, pada satu hari ketika aku pulang dari sekolah, dan melihat ayahku telah dibebaskan dari penjara. Aku berlari dan kemudian memberikan kepadanya pelukan yang erat. Kami amat bersukacita. Aku bangga akan keluargaku dan ingin berteriak, dan membiarkan seluruh dunia tahu bahwa aku tidak takut akan apa pun karena Allah selalu melindungi tiap langkah yang kuambil dalam hidupku."

Kini Linh Dao sudah remaja. Ia rindu untuk mengikuti jejak ayahnya dan menjadi pengkhotbah Injil dari Yesus Kristus. Ia tahu dari tangan pertama, bahaya-bahaya karena membagikan imannya di Vietnam Komunis dan tetap berkemauan untuk lebih menaati Kristus daripada manusia. Walau terdapat "masa depan yang suram," ia menghabiskan waktunya dengan mempelajari Alkitab secara intensif. (Linh Dao, Vietnam, 1991)

Bahan dikutip dari sumber:
Judul Buku : Jesus Freaks
Judul Artikel: Kejahatan Apakah yang Bisa Dilakukan oleh Seorang Gadis Kecil
Penulis : DC Talk dan The Voice of the Martyrs
Penerbit : Cipta Olah Pustaka,
Halaman : 253-255

e-JEMMi 44/2004

Kembali ke "Agama lain"...atau Mati

MS, 27 tahun, menikmati kariernya di dalam seni memasak. Dia adalah seorang pemimpin koki yang masih muda. Dia hanya menemukan sedikit sukacita dan kepuasan di dalam iman "agama lain" dari keluarganya. Jadi, dia mulai untuk belajar mengenai agama lain dalam usaha mencari pemenuhan spiritualnya. Teman-teman Kristennya, memberitahukan kepada MS mengenai festival kesembuhan, yang akan diadakan dekat desa BA. MS diberitahu mengenai mukjizat-mukjizat kesembuhan yang terjadi. Dia ingin sekali menghadiri festival yang akan datang tersebut, untuk melihat secara langsung. Seorang teman "agama lain" yang mengidap penyakit kanker mengatakan, bahwa dia juga akan ikut dengannya.

MS tidak pernah mengalami suatu peristiwa seperti ini, festival rohani Kristen. Dia kagum atas hadirat Tuhan dan kesembuhan yang terjadi. Para penginjil berdoa bagi teman MS, dan beberapa hari kemudian laporan medisnya mengatakan bahwa dia sembuh dari kanker. MS makin diyakinkan dan ingin mencari tahu lebih dalam tentang Nabi Isa, yang telah menyelamatkan temannya dari kematian oleh kanker. Akhirnya, dia menerima Kristus, dibaptis, dan menghadiri ibadah gereja dengan rutin.

Hari-hari berlalu, MS tumbuh makin kuat di dalam iman dan lebih bersuara dan agresif dalam membagikan kasih Kristus dengan orang lain. Dia menceritakan tentang Yesus kepada orang lain, mengetuk pintu-pintu, dan mendoakan mereka yang dia temui. Keluarga, teman, tetangga, dan bahkan beberapa jemaat gereja menentang dan menolaknya. Seorang pemimpin gereja takut akan pembalasan dari komunitas "agama lain", dan mendesak MS untuk kembali ke "agama semula". Dia dianggap kafir oleh teman kerja dan pelanggan di restoran tempat dia bekerja, dan mereka menolak untuk makan masakannya. Kedua orang tua dan keluarganya menolak untuk memberinya makan, dan dia dilarang menyentuh segala perkakas dapur. Bahkan lebih jauh, dia diusir paksa untuk meninggalkan pekerjaan dan rumahnya. Istrinya membawa kedua anak laki-laki mereka dan pindah ke rumah orang tuanya.

MS diperingatkan bahwa dia akan dibunuh jika dia tidak berhenti menginjili dan tidak kembali ke "agama lain". Teman-temannya mengatakan, meskipun ada ancaman, dia tetap tidak takut, mulia dalam karakter, dan lemah lembut dalam roh.

Empat tahun setelah pertobatannya, seorang "agama lain" yang masih keluarganya bernama S, memanggil MS untuk datang ke tokonya, dengan mengatakan bahwa dia ingin mengetahui lebih dalam mengenai Nabi Isa. Pada 8 Juni 2002, MS tiba di toko tersebut, dengan menggendong anaknya yang berumur 9 bulan di tangannya. Ternyata S dan seorang temannya menutup pintu toko, dan memaksa MS untuk kembali ke "agama lain". Mereka mengingatkan bahwa dia akan dibunuh di tempat jika dia tidak menurut. Tetapi MS tetap teguh bahwa dia tidak akan menyangkal imannya. Dia siap mati bagi Yesus. S, tanpa banyak bicara lagi, mengeluarkan sebuah pisau, menikam keluarga "kafirnya" di perut, dan menggorok tenggorokan, bibir, dan lidahnya. Anak angkat MS, ditemukan duduk bersimbah darah, di samping tubuh martir ayah angkatnya.

Pokok doa:

  1. Doakan agar para pembunuh MS, mengalami pertobatan dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka.

  2. Doakan agar Tuhan memakai acara-acara Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) untuk menjangkau jiwa-jiwa yang belum percaya kuasa Kristus.

  3. Doakan setiap petobat baru yang dikucilkan oleh keluarga dan teman teman dekatnya, supaya tetap menaruh pengharapan dalam Yesus dan mendapat dukungan rohani dari persekutuan orang-orang percaya di lingkungan mereka.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei - Juni 2004
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 5 -- 6

e-JEMMi 41/2011

Kericuhan Di Rumah Penginapan

Oleh: Dina Donohue

Sudahkah anda membuka hati dan mempersilakan Yesus untuk masuk ke dalam hati anda pada Natal tahun ini?

Selama bertahun-tahun, bahkan sampai sekarang, setiap kali orang membicarakan sandiwara Natal di kota kecil di Midwest, mereka selalu ingat untuk menyebut nama Wallace Purling. Peristiwa dalam sandiwara Natal yang dimainkan oleh si Wally sampai sekarang menjadi cerita legenda yang tak jemu-jemu mereka bicarakan setiap tahun. Bagaimana peristiwa tsb. terjadi? Beginilah kesaksiannya:

Wally berumur sembilan tahun waktu itu dan duduk di kelas dua, meskipun seharusnya ia sudah di kelas empat. Hampir semua orang di kota tahu ia mempunyai kesulitannya dalam mengimbangi teman-teman sebayanya. Ia bertubuh besar canggung, lambat bergerak dan berpikir. Meskipun begitu, Wally disukai oleh teman-teman sekelasnya, mereka semua badannya lebih kecil dari Wally. Tetapi anak laki-laki tidak dapat menyembunyikan kejengkelannya apabila Wally ingin ikut bermain bola bersama mereka atau dalam permainan apa saja karena dalam hal ini yang penting adalah meraih kemenangan. Tetapi mereka sering menemukan cara untuk menghindarkan Wally untuk terlibat, meskipun Wally tetap menunggu di sekitar situ -- ia sama sekali tidak merajuk, hanya berharap. Ia selalu menolong, tulus hati, dan suka tersenyum, tetapi anehnya ia selalu melindungi teman-temannya yang lemah. Apabila anak-anak laki-laki yang lebih tua mengusir anak-anak yang lebih muda, pasti Wally akan membela, "Tidak bisakah mereka dibiarkan bermain? Mereka tidak mengganggu."


Wally berangan-angan menjadi seorang gembala yang memainkan seruling dalam sandiwara Natal tahun itu, tetapi sutradara pertunjukan, Nona Lumbard, memberinya peran yang lebih penting, yaitu menjadi pemilik rumah penginapan. Menurutnya, kalimat yang diucapkan penjaga penginapan tidak terlalu banyak, lagi pula badan Wally yang besar akan membuat penolakan terhadap Yusuf tampak lebih mantap.


Dan begitulah, seperti biasanya banyak orang berdatangan, para penonton yang ingin menyaksikan sandiwara Natal yang megah yang diselenggarakan setiap tahun, tongkat gembala, suasana pada waktu kelahiran Yesus, orang-orang berjanggut, mahkota orang-orang majus, lingkaran cahaya malaikat, dan suara yang nyaring memenuhi panggung pertunjukan. Pada malam itu tidak ada seorang pun yang lebih terpesona dari Wallace Purling. Belakangan orang-orang bercerita bahwa Wally berdiri di sisi panggung dan benar-benar hanyut dalam pertunjukan yang sedang berlangsung sehingga beberapa kali Nona Lumbard harus memastikan bahwa ia tidak naik ke panggung sebelum waktunya.


Lalu tibalah saatnya Yusuf muncul, berjalan perlahan-lahan, dengan lembut menuntun Maria ke depan pintu penginapan. Yusuf mengetuk dengan kuat pintu kayu yang ditaruh di latar belakang panggung yang dicat. Wally, penjaga penginapan, sudah siap di balik pintu.

"Apa yang kalian cari?" tanya Wally sambil membuka pintu dengan gerakan yang kasar.
"Kami mencari penginapan."
"Cari saja di tempat lain." Wally menatap lurus ke depan dan berbicara dengan suara yang keras. "Penginapan ini sudah penuh."
"Tuan, kami sudah mencari-cari di tempat yang lain, tetapi sia-sia. Kami sudah jauh bepergian dan sangat lelah."
"Tidak ada kamar di sini untuk kalian." Wally menatap dengan tajam sebagaimana mestinya.
"Tolonglah kami, penjaga yang baik. Ini istri saya, Maria, sedang mengandung dan perlu tempat untuk beristirahat. Pasti Tuan mempunyai sudut ruangan yang kosong untuk dia. Ia sangat lelah."

Pada waktu itu, untuk pertama kalinya, penjaga penginapan melembutkan sikapnya dan menatap Maria. Dan, saat itu terjadi jeda waktu yang panjang, cukup panjang untuk membuat penonton menjadi sedikit tegang dan malu.

"Tidak! Pergi!" kata juru bisik dari sisi panggung.
"Tidak!" Wally langsung menirunya. "Pergi!"

Dengan sedih, Yusuf merangkul pinggang Maria yang menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya dan mereka berdua berjalan pergi. Tetapi, penjaga penginapan itu tidak masuk kembali dalam penginapan. Wally berdiri di dekat pintu, mengamati pasangan yang sedih itu. Mulutnya terbuka, keningnya berkerut karena ikut prihatin, dan, tidak salah lagi, pelupuk matanya mulai penuh dengan air mata.


Dan tiba-tiba sandiwara Natal ini menjadi berubah total.


"Jangan pergi, Yusuf!" teriak Wally, "Bawa Maria kembali." Dan wajah Wally Purling mengembangkan senyum yang cerah. "Kalian berdua bisa memakai kamar saya."


Beberapa orang di kota berpendapat bahwa sandiwara itu sudah gagal. Tetapi lebih banyak lagi yang menganggap sandiwara itu adalah sandiwara Natal yang paling mengesankan yang pernah mereka lihat.

Diambil dari:

Judul buku : Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Halaman : 80 -- 82

Kesaksian Fatima

"Namaku adalah Fatima. Aku dilahirkan di Maroko dari latar belakang Barbar. Orang tuaku memiliki sebelas anak dan kami semua adalah Muslim. Sejak umur dua belas tahun, aku telah berpuasa dan berdoa setiap hari dengan ayahku. Keluarga kami datang untuk tinggal di Perancis pada tahun 1972. Orang tuaku sering bertengkar dan dari waktu ke waktu mereka menjadi kejam satu sama lain. Adik-adik lelakiku telah menjadi takut dan aku menjadi putus asa terhadap perubahan hidup keluargaku ini.

Selama beberapa tahun, aku berdoa dengan segenap hatiku dan sering aku katakan kepada Tuhan, "Jika Engkau tidak memperkenalkan diri-Mu kepadaku, aku tidak akan mempercayai-Mu lagi." Setelah itu aku bermimpi. Aku melihat seseorang yang berkata kepadaku, "Cobalah mendaki gunung ini." Setelah berusaha beberapa kali, aku melihat seorang laki-laki yang baik, berpakaian putih berkilauan. Ia menunjukkan kepadaku orang-orang yang bahagia dan penuh dengan damai. Aku ingin tinggal di sana untuk selamanya. Namun ada seorang lain yang masih sedih dan tidak bahagia. Aku berkata kepada laki-laki baik itu, "Bukankah kamu dapat melakukan sesuatu kepada orang ini?" Ia menjawab, "Kamu tidak dapat memahaminya sekarang, tetapi kamu akan memahaminya kemudian." Ketika bangun, aku heran, apakah itu sungguh suatu mimpi atau kenyataan.

Hari berikutnya, aku menjelaskan mimpi itu kepada seluruh keluargaku, tetapi mereka tidak mempercayainya dan menyuruhku untuk diam. Aku tetap menyimpan ini dalam hati dan berharap suatu hari nanti, apa yang telah dikatakan oleh pria itu akan menjadi kenyataan. Sejak kehidupan dalam keluargaku menjadi semakin sulit, aku memutuskan untuk mengikuti beberapa pelatihan kerja, sekaligus sebagai cara untuk meninggalkan rumah guna menikmati kebebasan beberapa saat. Walaupun sudah menikmati kebebasan yang baru ini, aku tetap tidak puas dan tidak bahagia dengan hidup ini. Dalam waktu singkat, aku menjadi sangat tertekan, sampai akhirnya aku membulatkan tekad untuk mengakhiri hidupku.

Pada saat itu, ada sepasang suami istri yang tinggal dekat dengan tempatku. Mereka berbicara kepadaku mengenai kasih Tuhan dan mengajakku ke pertemuan Kristen. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mendengar khotbah Injil dan aku dijamah oleh kehadiran Tuhan di tengah umat percaya. Aku kembali secara teratur untuk mendengar lebih lagi tentang Injil dan bersekutu dengan orang percaya yang telah banyak berbuat baik kepadaku. Untuk dapat memahami lebih lagi tentang Tuhan Yesus, maka aku membaca Alkitab secara teratur di rumah pada malam hari.

"Aku memahami bahwa hanya Tuhan Yesus satu-satunya yang dapat menyelamatkanku dengan sempurna dan memberikan hidup yang abadi kepadaku. Aku ingin bersaksi kepada keluargaku mengenai Tuhan Yesus, tetapi dengan cepat aku mendapat penolakan dari ibuku. Setelah melewati berbagai kesulitan dari anggota keluargaku, akhirnya aku dapat dengan mudah berhasil membagikan pengalamanku dengan Tuhan Yesus kepada semua saudara-saudaraku. Banyak tahun sudah kulalui dan aku sangat berbahagia untuk melayani Tuhan."

Diambil dari:

Nama situs : SABDA.org: Arsip 40 Hari Doa
Judul artikel : [40-Hari-2005][x11] Kesaksian Fatima, Senin, 17 Oktober 2005
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/2005/10-17/
Arsip 40 Hari Doa : http://www.sabda.org/publikasi/40hari/

e-JEMMi 28/2008

Kesaksian Pelayanan EHC di Hongaria

"Kuasa Yesus sungguh luarbiasa!"

Di Hongaria, kami melayani orang yang mencoba mengatasi kesendiriannya dengan alkohol, sementara yang lain mengalami depresi yang mendalam, berusaha bunuh diri, dan menganut pengajaran sesat. Kami dapat melihat penyesalan yang mendalam, ketakutan, kesakitan dan kesendirian.

Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yoh 10:10). Getaran untuk menawarkan hidup baru kepada yang terhilang dan sendirian mendorong direktur EHC dan timnya untuk melanjutkan usaha mereka, yaitu mengabarkan berita Injil pada setiap keluarga di Hongaria.

Orang-orang percaya dari sebuah gereja Reform di Budapest baru-baru ini bergabung. Dengan mengendarai sepeda motor dan naik sepeda dayung ke kota dekat Moroko, mereka mensharingkan Injil dari rumah ke rumah dan mengundang orang-orang kota pada sore hari untuk bertemu. Tim yang lain melakukannya di kota Yanyarc, Kisvarda dan Erk.

Satu kelompok yang terdiri dari tiga pemuda yang telah percaya di Vanyarc dipimpin Tuhan menuju sisi tempat tidur seorang pria tua berumur 50 tahun bernama Andrew yang sedang sekarat. Mereka bertiga menceritakan tentang hidup kekal dalam Kristus dan cerita ini memberikan kesan khusus dalam diri Andrew. Sekarang dia mendengarkan kaset penginjilan dan mengikuti kursus Alkitab tertulis. Tim yang lain bertemu dengan wanita muda yang "menderita akibat pengaruh kekuatan perdukunan". Seperti yang dijelaskan Peter, "Mula-mula dia tidak mau berbicara sama sekali pada kami, tetapi akhirnya kami mendapat kesempatan berbicara panjang lebar dan kami dapat menjelaskan bahwa kuasa Yesus jauh lebih besar dari kuasa yang mengikatnya!"

Pekerja EHC di Hongaria telah mengirimkan lebih dari 370.000 buklet Injil selama penginjilan keluar dari rumah ke rumah, dan lebih dari 4.200 penduduk memberi respon. Doakan agar lebih banyak lagi orang yang bersedia menyebarkan kabar baik seperti yang dilakukan pekerja EHC yang terus bergerak sampai menemukan rumah terakhir.

Sumber: FAX OF THE APOSTLES October 2000

e-JEMMi 09/2001

Kesaksian Pemain Sepak Bola

Berikut ini adalah empat dari kesaksian-kesaksian pemain sepak bola yang bertanding dalam pertandingan Piala Dunia 2002 yang dimuat dalam situs "Go the Goal":
==> http://www.gothegoal.com/english/

* JOSE ROBERTO JUNIOR DA SILVA - ZE ROBERTO
Club : Bayer Leverkusen (Germany)
Negara: Brazil
Posisi: Midfield

Allah mengijinkan banyak hal terjadi dalam hidup kita, terkadang untuk menguji kita dan untuk memperkuat iman kita. Kita harus dipersiapkan untuk menghadapi masa-masa sulit. Manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari Firman yang keluar dari mulut Allah. Hidup tidak hanya dipenuhi dengan kegembiraan saja, tetapi ada juga tantangan.

Saya berasal dari keluarga miskin yang tidak pernah memiliki sesuatu. Terkadang kami harus berjuang keras untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari kami sangat kekurangan. Sekarang saya dapat melihat perubahan dalam hidup saya -- saat dimana saya tidak memiliki sesuatu, dan saat ini saya dapat memiliki segalanya. Segala sesuatu yang saya maksudkan di sini bukanlah uang ataupun kepopuleran, tetapi sukacita atas hidup yang saya miliki. Hal ini berawal saat ibu saya menerima Yesus secara pribadi dan setia dalam doa-doanya. Dia tidak pernah memaksa kami -- saya dan kakak-kakak laki saya -- untuk pergi ke gereja. Namun, suatu hari Roh Kudus menjamah hati saya dan saya menyerahkan diri kepada Yesus sama seperti yang dilakukan ibu saya. Semenjak saat itu, Yesus mengubah hidup saya.

* DANIEL ZAFIRIS Clubs : Petrolul Ploiesti, National University Team (Romania)
Negara: Romania
Posisi: Forward

Saya menyaksikan film "Jesus of Nazareth" dan film ini sungguh menarik perhatian saya. Akhirnya saya menyimpulkan bahwa hidup tanpa Allah sama seperti bermain sepak bola tanpa sebuah bola. Karena itu, jika tidak ada bola, maka tidak seorang pun dapat bermain sepak bola. Tahun 1991, saya memahami bahwa apapun tujuan hidup saya (sebagai pemain sepak bola), berapa pun kesuksesan yang saya raih, namun jika saya tidak memiliki Yesus sebagai Allah yang hidup, maka semua kesuksesan yang saya raih cepat atau lambat akan segera hilang. Apa gunanya bagi setiap orang di dunia, khususnya para atlet, jika dia dapat meraih dunia tetapi kemudian dia kehilangan jiwanya? Saya telah mendapatkan tujuan baru dalam hidup saya. Sekarang saya tahu mengapa saya hidup. Sebelum menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi, saya adalah orang yang mengutamakan diri sendiri. Saya hanya memikirkan kebutuhan diri saya dan apa yang menjadi minat saya. Banyak kali saya tidak mengetahui kemana saya harus pergi dan kepada siapa menceritakan pergumulan saya. Namun sekarang, saya tahu bahwa saya dapat mengandalkan Kristus karena Dia memahami diri saya dan menguatkan saya untuk menghadapi situasi-situasi sulit baik dalam pertandingan, dalam kehidupan keluarga saya maupun dalam kehidupan pribadi saya.

* LUIS VIDIGAL
Club : Napoli (Italy)
Negara: Portugal
Posisi: Midfield

Hidup dengan ketenaran adalah sesuatu yang dapat menyulitkan. Tetapi Yesus mengajarkan bahwa saya tidak dapat meninggalkan dunia ini; saya harus bisa menghadapinya.

Saya yakin bahwa saya dapat mengerjakan segala sesuatu. Saya percaya dengan kemampuan saya untuk mencapai semua tujuan baik yang berhubungan dengan keluarga, sosial, maupun profesional. Namun pada kenyataanya, saya gagal untuk melakukan hal itu semua. Di Portugal ada sebuah persekutuan yang bernama Atletas de Cristo; dalam sebuah persekutuan yang saya ikuti, saya bertemu dengan orang-orang yang menolong saya untuk meraih tujuan-tujuan penting dalam hidup saya. Sejak saat itu, saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Semenjak saat itu tujuan hidup saya menjadi jelas. Saya juga belajar bagaimana caranya mengampuni, menerima diri saya sendiri, termasuk dalam membangun karir saya.

* BERT KONTERMAN
Club : Glasgow Rangers (Scotland)
Negara : Netherlands
Position: Defender

Saya berasal dari sebuah desa Kristen di Belanda. Setiap hari Minggu kami sekeluarga pergi ke gereja. Di sekolah, kami selalu berdoa sebelum memulai pelajaran dan saat menjelang sekolah usai. Kehidupan itu yang saya jalani di desa. Saya selalu berhubungan dengan kekristenan. Di kelas terakhir di Sekolah Menengah saya bertemu dengan seorang guru. Dia setiap pagi mengadakan pemahaman Alkitab dimana dia menjelaskan pasal-pasal Alkitab dan menggunakan kehidupan sehari-harinya sebagai contoh. Waktu-waktu itu sungguh memberikan pengaruh bagi saya karena sejak saat itu saya mulai memikirkan tentang Allah. Saya pikir saat itu merupakan titik balik yang mengubah pandangan saya terhadap Alkitab dan kekristenan. Kristus telah mengubah cara pandang saya tentang hidup. Semua orang di bumi pasti mengalami kesedihan dan permasalahan sekaligus juga mengalami hal-hal yang menyenangkan. Namun jika kita memiliki Allah sebagai tempat bersandar maka kita dapat menghargai segala sesuatu yang kita hadapi. Saya dapat menjalani kehidupan saya dan berjuang menghadapi permasalahan saya dengan bantuan dari Allah.

e-JEMMi 25/2002

Kesaksian SB

Selama dua jam setiap pagi, dan dua jam lagi setiap sore, Pendeta SB menghabiskan waktunya bersama Yesus. Dia membaca Alkitab, berdoa, dan menaikkan lagu-lagu pujian, sambil memetik gitarnya. Seperti nabi Daniel, persekutuannya dengan Allah adalah suatu bagian yang dilakukannya setiap hari.

Pada 12 Januari, saat itu listrik mati semalaman, dan dia sedang menikmati persekutuan malamnya dengan Bapa Surgawi. Dia duduk di ruangan depan rumahnya. Ruangan tersebut dipakai sebagai tempat suci bagi gereja kecilnya, yang telah dirintis oleh SB dan istrinya di barat laut Tajikistan. Persekutuan mereka merupakan satu-satunya gereja Kristen di kotanya, satu-satunya pos terdepan di kota yang memiliki 126 tempat ibadah agama lain.

Saat SB bernyanyi dan memainkan gitar, suara letusan senjata memecahkan keheningan malam. Peluru-peluru menembus kaca jendela depan. Tembakan pertama mengenai tangan SB, darahnya menciprat ke atas gitar yang dimainkannya. Tembakan kedua mengenai kakinya, sebelum tembakan terakhir ke arah dadanya yang mengakhiri hidupnya di dunia ini.

Mendengar suaminya berteriak, T berlari menuju ruangan di mana SB berada. Yang dapat dia lakukan bagi suaminya hanya melihatnya mati. Bagaimanapun, aksi penembak gelap tersebut belum berakhir. Dia berjalan di sekitar rumah, menembak membabi buta ketiga sisi dinding rumah. Dia juga menembaki mobil SB. Lalu penembak tersebut melarikan diri melalui gang sempit yang berdebu di belakang rumah, menghilang di kegelapan dingin malam.

Satu minggu sebelum penembakan, salah satu koran kota mencetak artikel mengenai gereja. Isi artikel tersebut memprovokasi. Ada satu kalimat di akhir artikel: "Jadi lebih baik SB diapakan?" Rupanya, penembak tersebut menganggap dirinya adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Di Tajikistan, para penganiaya utamanya bukan pemerintah tetapi kelompok-kelompok agama radikal yang beroperasi di negara itu.

SB membaca Alkitabnya. Dia melihat kepada firman Tuhan di Yohanes 12:24, "Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah." Ketika dia bangun pada 12 Januari, dia tidak menyadari bahwa dia akan menjadi benih itu, bahwa dia akan mati hari itu.

Penderitaan bukan hal yang baru bagi SB, tetapi jika kembali mengingat lima tahun yang lalu, mungkin sulit dibayangkan laki-laki ini menyerahkan hidupnya bagi Kristus. Dulunya SB adalah seorang pemimpin organisasi kejahatan di Tajikistan, seorang yang telah lima kali masuk penjara selama total 18 tahun. Di dalam penjara dia bertemu dengan SG, seorang Kristen, sesama narapidana yang mengenal Kristus melalui pelayanan kunjungan ke penjara oleh sebuah gereja. SG mulai berdoa agar Yesus menjadi nyata dalam hidup SB.

"Berdoalah bagi orang lain," kata SG. "Jangan buang-buang waktu berdoa bagi saya." SG pantang mundur. Dia adalah orang yang bertanggung jawab atas kapel penjara, dan selama tiga tahun dia terus berdoa setiap hari agar sahabatnya mau datang kepada Kristus. Pada bulan Agustus 2000, doa-doanya dijawab ketika SB berlutut dan menerima Kristus sebagai Juru Selamat dan Tuhan. Enam bulan kemudian, SB yang berapi-api ini memimpin pelajaran Alkitab di dalam penjara. Dia dibebaskan dari penjara pada November 2001, dan dibaptis tidak lama setelah itu. Tetapi dia akan kembali lagi ke penjara itu berkali-kali, karena di sana masih ada yang lain di balik terali besi -- yang memerlukan keselamatan Kristus.

SB melakukan perjalanan mengunjungi pelosok-pelosok negerinya. Dia adalah seorang pengkhotbah yang bergairah dengan kasihnya yang luar biasa bagi orang-orang. Allah memanggilnya untuk menanam sebuah gereja di kotanya -- sebuah kota yang tidak ada satu pun orang Kristen yang tinggal di sana, kecuali orang-orang agama radikal. SB dan T mulai melakukan perjalanan pada hari Minggu untuk mengadakan ibadah-ibadah; dan di awal 2003, mereka pindah ke kota lain. Sejak saat itu, gerejanya mulai bertumbuh dan jiwa-jiwa baru menerima Kristus. Tidak seorang pun yang tahu pelayanan SB di kota tidak akan bertahan lama, hanya setahun.

"Hidupnya bagi Kristus adalah bercahaya seperti bintang," kata SB, "seperti sebuah ledakan."

Sumber kerohaniannya yang berkobar-kobar berasal dari empat jam sehari menghabiskan waktu bersama Yesus di dalam doa, pembelajaran Alkitab, dan penyembahan.

"Saya sudah menjadi Kristen selama 12 tahun," kata T, istri SB, dan saya tidak pernah bertemu dengan seorang pendoa seperti SB. Seminggu sebelum kematiannya, SB memohon kepada Tuhan untuk memberikannya tambahan dua jam lagi -- di siang hari baginya untuk bersekutu dengan Allah.

Allah menjawab doanya dengan jalan yang tidak seorang pun harapkan, Tuhan memberikan kepada SB tidak hanya tambahan dua jam, tetapi kekekalan bersama Kristus. Tetapi bagi istrinya yang sekarang ditinggalkan, sepertinya terlalu berat.

"Selama 20 hari (setelah pembunuhan) saya tidak mau memegang Alkitab di tanganku," kata T pada saat KDP berdiri di samping kuburan suaminya, yang dikuburkan di suatu tanah bebatuan yang terbentang di luar kota kelahirannya. "Lalu Allah mulai menunjukkan kepadaku kebaikan-Nya. Awalnya, saya bertanya, 'Kenapa, Allah, kenapa?'" Terhenti sejenak dia mengusap air mata yang menetes turun ke wajahnya. "Setelah itu, saya mulai mengerti bahwa peristiwa ini merupakan rencana Allah. Saya mulai belajar bagaimana bersyukur kepada Allah melalui peristiwa ini."

Tetapi kesaksian SB tidak terhenti di sini. Nyatanya, benih kehidupannya mulai menghasilkan buah-buah kehidupan dan bahkan lebih banyak lagi. Suatu pencurahan kasih datang pertama kali dari pelosok-pelosok negaranya, lalu dari seluruh dunia. T telah menerima surat-surat dari berbagai penjara yang berbeda di Tajikistan, surat-surat dari para narapidana yang dipengaruhi oleh kehidupan dan pelayanan suaminya.

"Banyak orang telah dibangkitkan dari kerohanian mereka yang tertidur," kata SG. "Tidak hanya di Tajikistan, tetapi juga Kirgiztan dan Kazakstan. Banyak narapidana yang merupakan sahabat karibnya ketika mendengar kisah pembunuhannya, menjadi lebih dekat lagi dengan Kristus dan berkomitmen memberikan hidup mereka kepada Yesus."

Bahkan di kuburan SB, benih kehidupan menghasilkan buah. Anak angkat SB yang berumur 18 tahun, SJ, sebelumnya telah melarikan diri dari Tuhan. Saat SJ memandangi kuburan ayahnya, pesan kehidupan dari SB tumbuh subur di hatinya. Saat itu juga dia kembali menerima Kristus.

"Saya tidak tahu seperti apa ayah kandungku dan SB menjadi seorang ayah baru bagiku," kata SJ. "Ketika saya punya masalah, saya pergi mengunjunginya dan kami berbicara tentang masalah yang saya hadapi, dan dia menguatkan saya dan dia sangat mengerti saya. SB menjadi seperti ayah kandungku sendiri. Dia tidak pernah menghakimi siapa pun. Bagi saya, kata SB: 'Tugas saya adalah memberitahukan kepadamu mengenai Yesus dan mengatakan kepadamu bahwa kamu harus bertobat. Waktunya akan datang ketika kamu mengerti.' Dan dia benar bahwa waktunya sudah datang."

Pelayanan SB berlanjut. T masih tinggal di rumah di mana suaminya mati. Visi SB memperluas gerejanya sedang bergerak maju. Seminggu setelah kematiannya, banyak anggota jemaatnya tinggal dalam ketakutan. Sekarang hampir semua dari mereka telah kembali bersekutu.

"Kami telah berdoa dalam waktu yang lama, agar Allah menunjukkan perhatian-Nya ke kota di mana SB melayani dan sekarang sudah terwujud," kata T. "Allah telah menunjukkan rancangan-Nya, dan sekarang Dia telah membelokkan perhatian banyak orang di seluruh dunia ke kota itu. Allah sedang mempersiapkan berkat khusus, karena kita sedang berlutut berdoa selama berjam-jam dan juga berdoa bagi setiap uang yang kita sumbangkan untuk pembangunan gedung gereja baru. Kami hanya memiliki satu rencana di masa depan: untuk menyelesaikan pembangunan gedung baru kami, dan untuk melanjutkan pelayanan (memenangkan jiwa-jiwa) di daerah kami. Kami meminta kepada Allah hanya satu.... untuk melanjutkan pelayanan kami di tempat di mana SB dibunuh."

Ada seseorang yang mereka harapkan dapat dijangkau dengan benih Injil, yaitu orang yang telah membunuh SB, anak pemimpin tempat ibadah agama radikal. Saat ini dia sedang ditahan karena suatu kejahatan. "Satu hari kami akan bertemu dengan orang yang membunuh SB, karena kami memiliki pelayanan penjara di seluruh Tajikistan," kata SG, "dan kami siap untuk memberitakan Yesus kepadanya."

Pokok Doa:

  1. Doakan T, SJ, dan SG, agar Tuhan menyertai mereka dalam setiap pelayanan mereka menjangkau jiwa-jiwa di Tajikistan.

  2. Doakan pembunuh SB, agar bertobat dan mengalami jamahan kasih Kristus.

  3. Doakan orang-orang percaya di Tajikistan, agar bertekun dalam doa dan berani menyatakan iman mereka di tengah masyarakat yang belum mengenal kasih Kristus.

Diambil dari:

Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2004
Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan
Halaman : 3 -- 5

e-JEMMi 34/2011

Kesaksian Seorang Pendeta

Mereka menerobos masuk ke ruangan itu, sementara terdengar jeritan-jeritan rekan-rekan Kristen sedang dibantai di luar. Pendeta HP dan istrinya menolong memimpin kamp muda Indonesia, mereka merasa bertanggung jawab atas orang-orang muda ini. Saat sebelum penyerangan merupakan saat-saat pertumbuhan rohani dan penyembahan yang penuh sukacita. Namun kemudian mereka diserang. Ketika massa radikal mengelilingi gedung di mana mereka bersembunyi, pendeta HP keluar. Untuk mengalihkan perhatian massa yang haus darah itu dari istri dan kaum mudanya, pendeta itu diserang sementara yang lainnya melarikan diri.

"Yesus, tolong saya." Kalimat itu merupakan kalimat terakhirnya. Setelah kejadian itu, istrinya melihatnya terbaring di peti mati. Luka berat menyayat dada dan lengannya. Dalam keadaan marah dan terkejut, Nyonya HP berteriak kepada Tuhan, "Mengapa Engkau membiarkan hal ini terjadi? Mengapa Engkau tidak melindungi suamiku?" Namun Roh Kudus mengingatkannya akan perkataan suaminya beberapa hari sebelum serangan itu. "Jika kamu mengasihi Yesus, namun kamu lebih mengasihiku dan keluargamu, kamu tidak layak akan kerajaan Allah." Ia mengatakan karena ia telah siap mati bagi Allah. Mengingat kalimat itu, ia menolak untuk menjadi pahit hati. Ia tetap bekerja bersama gerejanya di Indonesia. Nasihat yang diberikan bagi umat Kristen di negara-negara bebas adalah: "Carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh, supaya kalian dapat bertahan di tengah-tengah kesulitan yang bertambah."

Kita tidak perlu mencari kesulitan. Kesulitan sudah punya alamat kita. Yesus sering mengingatkan murid-murid-Nya bahwa ujian merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Mencari Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh tidak berarti mencari kesulitan bagi kehidupan kita. Keuntungan dari mencari hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan adalah untuk mempersiapkan diri kita dengan lebih baik untuk hal-hal yang tak terelakkan. Kita tidak punya pilihan tentang kesulitan apa yang akan datang dalam hidup kita. Namun kita dapat memiliki hubungan dengan Tuhan yang menyiapkan kita untuk menghadapi kesulitan. Beberapa ujian bisa berarti kehilangan nyawa kita bagi kepentingan Kristus. Namun ini bukanlah pengorbanan yang sesungguhnya. Pengorbanan yang ekstrem harus muncul jauh sebelumnya. Kita harus mengorbankan keegoisan dalam setiap tingkatan dengan tujuan untuk mengembangkan keintiman dengan Tuhan dari waktu ke waktu. Ketika kita mengorbankan segalanya untuk mengejar hubungan yang terbaik dengan Kristus, kita sudah akan mengerjakan bagian yang tersulit.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Devosi Total
Penulis : The Voice of the Martyrs
Penerjemah : Fintawati Rahardjo dan Iyan Haryanto
Penerbit : Yayasan KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Surabaya 2005
Halaman : 16

Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/kesaksian_seorang_pendeta

Kesaksian Seputar Pelayanan Misi di Tiongkok

 KERINDUAN MELAYANI DI TANAH TIONGKOK

Semenjak kecil, Gladys Aylward sudah memiliki keinginan untuk menjadi misionaris di wilayah Tiongkok. Namun, sayangnya direktur dari English China Inland Mission, Dr. Max Robinson, hanya mau mengirim orang-orang yang memiliki gelar sarjana. Gladys ditolak karena dia tidak memenuhi syarat, dan Dr. Robinson memberinya surat referensi agar dia dapat bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Inggris. Namun Gladys tidak pernah menyerah dan dia tetap memiliki kerinduan untuk dapat menjadi seorang misionaris yang diutus ke Tiongkok.

Kemudian Gladys mendapat kesempatan bekerja pada seorang ahli Tiongkok, Sir Francis Jimmersen, yang mengenalkannya pada Jenny Lawson, seorang misionaris yang melayani di Tiongkok. Jenny Lawson adalah seorang wanita tua yang menjalankan sebuah usaha penginapan sebagai tempat singgah bagi para pengelana yang melintasi jalur perdagangan Tiongkok.

Gladys menabung uangnya, lalu dia melakukan perjalanan ke Tiongkok untuk bergabung dengan Jenny dalam mengelola penginapannya. Di penginapan ini selain mereka menyediakan makanan dan tempat menginap bagi para pengelana, mereka juga menceritakan tentang Yesus pada waktu makan. Selanjutnya para pengelana tersebut akan menceritakan kembali kisah ini pada orang lain selama mereka melakukan perjalanan. Ketika Nyonya Lawson meninggal, Gladys mulai menjalankan penginapan ini seorang diri.

Gladys melayani Yesus di Tiongkok antara lain dengan mengadopsi anak-anak yang tidak diinginkan orang tuanya dan menjadi ibu bagi mereka. Warna kulit dan latar belakang budaya yang berbeda bukan menjadi masalah bagi Gladys. Gladys juga memberikan perhatian kepada orang miskin, sakit, dan menderita, serta membela para tahanan agar mendapatkan perlakuan yang manusiawi. Dia juga menentang tindak kekerasan bagi para wanita dan dia memenangkan Undang-undang agar wanita mendapat pendidikan yang layak.

Selama masa perang Dunia ke II, saat kota tempat tinggalnya diambil alih orang Jepang, penguasa setempat menuliskan catatan terakhir dalam buku sejarah kotanya, bahwa dia mengenal Kristus berkat usaha yang dilakukan Gladys Aylward di Tiongkok, dan dia ingin mensharingkan iman yang telah menjadi sumber kekuatan Gladys. Tindakan terbesar yang dilakukan Gladys selama masa perang adalah memimpin 100 anak tunawisma untuk meninggalkan daerah peperangan dan membawa mereka berjalan menyeberangi gunung-gunung agar selamat. Gladys membawa anak-anak tersebut ke tempat Dr. Robinson, orang yang pernah menolak Gladys sebagai misionaris. Dr. Robinson meminta maaf kepada Gladys, dan menawarkan kedudukan pada Gladys sebagai Direktur "China Inland Mission" yang mengurusi bagian anak-anak.

Hal yang membuat Gladys dikenang banyak orang adalah usahanya untuk mengenalkan sebanyak mungkin orang kepada Yesus. Tuhan tentu berkenan kepada orang-orang yang mengasihiNya.

Sumber: Global Prayer Digest, 1 Januari 2001

  1. Berdoa agar kesaksian Gladys ini mendorong kita untuk berdoa bagi orang-orang Kristen yang saat ini sedang menunggu kesempatan untuk dapat melayani menjadi misionari. Untuk mereka yang ditolak, marilah berdoa agar mereka tidak menyerah sehingga mereka tetap taat dan setia menunggu panggilan Tuhan.

  2. Doakan untuk para misionaris yang saat ini melayani di Tiongkok agar Tuhan menyertai mereka dan menguatkan mereka untuk mengabarkan Kabar Baik pada orang orang Tiongkok.

  3. Doakan untuk orang-orang Kristen di Tiongkok agar mereka setia mengikut Tuhan dan tidak tergoda oleh hal-hal duniawi yang membuat mereka hidup tidak suci di hadapan Tuhan.

 PENGHANCURAN TEMPAT IBADAH

Lembaga-lembaga misi memberikan simpati yang besar sehubungan dengan penghancuran gereja-gereja di wilayah Tiongkok Tenggara. Pemerintah Tiongkok baru-baru ini telah menghancurkan sebanyak 450 tempat-tempat ibadah "yang tidak memiliki ijin". Jenis intimidasi ini dapat menyebabkan penduduk yang lemah imannya menyangkali kekristenan mereka. Tetapi di sisi lain, penderitaan ini juga mendorong umat percaya untuk lebih bersandar kepada Kristus sebagai sumber kekuatan.

Sumber: WHAT IN THE WORLD...is God doing? January 2001

  • Doakan bagi jemaat-jemaat yang kehilangan tempat ibadahnya agar mereka tetap setia dan tidak menyangkali iman mereka kepada Yesus.

  •  PENGANIAYAAN MENJADI MAKANAN SEHARI-HARI

    "Christian Solidarity Worldwide" melaporkan bahwa gereja-gereja menangis karena di Tiongkok tidak ada kebebasan beragama dan pemerintah tidak peduli dengan situasi yang dihadapi oleh orang-orang Kristen di sana. Penangkapan orang-orang Kristen sering terjadi disertai dengan penyiksaan. Mereka menceritakan bagaimana mereka dipukuli dengan tongkat, digantung dari atap dan diikat dalam posisi yang sangat menyakitkan. Ratusan orang Kristen ditahan di kamp-kamp kerja paksa di Tiongkok, dan sebagian dari mereka dibebaskan bila mereka dapat membayar denda yang sangat tinggi.

    Sumber: World Evangelical Fellowship (WEF) Jan 2001

    1. Doakan situasi di beberapa tempat di Tiongkok dimana penganiayaan masih terus berjalan. Biarlah ditengah penganiayaan ini kesaksian anak-anak Tuhan yang setia dapat mengubah banyak orang untuk berpaling kepada Tuhan.

    2. Doakan agar Tuhan memberi kekuatan kepada orang-orang Kristen yang sedang dianiaya agar tetap setia.

     KESETIAAN PENGINJIL KELILING

    Doakan para penginjil, baik yang dari luar negeri maupun dari Tiongkok sendiri, yang dengan berani dan hikmat dari Tuhan memberitakan Injil di negara Tiongkok. Pemerintah telah melarang para penginjil keliling ini tetapi mereka dengan setia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain tanpa merasa takut. Sebagian besar penginjil keliling dan pembina jemaat di gereja rumah tidak pernah menikmati pendidikan teologia formal. Oleh karena itu kebutuhan mereka adalah pendidikan teologia (sekolah Alkitab) bagi para penginjil keliling agar mereka lebih menguasai pengetahuan Firman Tuhan dan dapat menyampaikannya dengan lebih bertanggung jawab. Namun hal ini harus mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi.

    Sumber: Pokok Doa Immanuel Edisi Pebruari 2001

    1. Doakan agar para penginjil keliling dapat mengikuti pendidikan teologia (sekolah Alkitab) sehingga mereka dapat mengajar anggota jemaat mereka dengan lebih bertanggung jawab.

    2. Doakan juga untuk pengajar-pengajar (baik dari dalam maupun luar Tiongkok) agar mereka mengajar dengan benar sesuai dengan Kebenaran Alkitab.

     PELAYANAN SEKOLAH MINGGU

    Di Tiongkok ada 500++ juta orang yang masih di bawah umur 18 tahun, mereka perlu mendapatkan pengajaran tentang Tuhan di Sekolah Minggu. Namun SM hampir tidak ada di Tiongkok, karena Pemerintah melarang keras pendidikan agama bagi anak dan remaja. Ada beberapa gereja rumah yang memulai pelayanan SM bagi jemaatnya, mereka memerlukan bahan untuk mengajar SM. Sudah diterbitkan beberapa bahan SM dan guru-guru SM dilatih di tempat tersembunyi. Makin banyak gereja rumah meminta, agar guru-guru mereka juga dapat dilatih, supaya pelayanan di antara anak-anak menjadi lebih efektif.

    Sumber: Pokok Doa Immanuel Edisi Pebruari 2001

    1. Doakan agar ada tenaga pengajar yang melatih Guru SM di Tiongkok karena ada banyak orang yang terbeban mengajar anak-anak

    2. Doakan juga untuk penyediaan bahan-bahan pelajaran/pelatihan SM.

    3. Ikuti Publikasi elektronik e-BinaAnak, atau milis e-BinaGuru untuk belajar lebih banyak tentang Pelayanan Sekolah Minggu (termasuk Teori dan Praktek/Cara/Trik/Ide mengajar SM) ... dan jadi terlibat aktif dalam pelayananya ;-)

    <{subscribe-i-kan-BinaAnak@xc.org}> <{subscribe-i-kan-BinaGuru@xc.org}>

    e-JEMMi 08/2001

    Kesaksian Setelah Ajal Menjelang

    Pendeta Schmidt biasa melakukan visitasi ke sebuah rumah sakit. Seorang wanita berusia 87 tahun sedang sekarat dan dia ingin bertemu Pendeta Schmidt. Wanita ini mengucapkan terima kasih atas semua renungan yang telah diberikan pendeta ini. Wanita ini bertemu dengan Pendeta Schmidt sekitar tiga tahun yang lalu. Melalui Schmidt, wanita ini bisa ditolong untuk menerima Kristus sebagai Juruselamatnya pribadi dan menyerahkan hidup kepada-Nya.

    "Aku tahu akan kemana akhir perjalanan hidupku," kata wanita tua itu. Tiga hari kemudian, wanita ini meninggal. Orang-orang yang menyaksikan kematian ini berkomentar bahwa dia meninggal dalam damai dan tatapan terakhirnya terarah menuju surga. "Yesus, Yesus!" adalah kata-kata terakhir yang diucapkannya -- "Khotbah terakhirnya sebelum kematian menjemputnya."

    Beberapa hari kemudian, telepon di rumah Pendeta Schmidt berdering: seorang dokter klinik meneleponnya karena dia sebelumnya tidak pernah melihat orang yang meninggal dengan begitu damai. "Apa yang dimiliki wanita ini yang tidak saya miliki?" tanya dokter itu. "Aku bisa memberitahukannya kepada Anda." jawab Schmidt. Lalu pendeta ini mengundang dokter klinik itu untuk menghadiri ibadah di gereja yang ada di dekat rumah sakit. Selama ibadah, termasuk mendoakan orang- orang sakit, dokter ini juga merasa disembuhkan. Dia pun terheran- heran dengan peristiwa yang dialaminya. Ibadah, penyembuhan, dan percakapannya dengan Schmidt memberikan impresi yang sangat mendalam dalam hati dokter ini. Dia memutuskan untuk menerima Kristus saat mengendarai mobilnya menuju rumah. Karena begitu antusias, dia berhenti di tepi trotoar. Dokter itu dan Schmidt berdoa bersama dengan penuh sukacita.

    Tiba-tiba, sebuah mobil polisi berhenti di belakang mobil dokter itu. Polisi memeriksa mobil mereka dan meminta surat-suratnya serta bertanya tentang apa yang sedang mereka lakukan di tepi trotoar di malam yang sudah larut ini. "Berdoa!" jawab dokter dan Schmidt. Polisi itu merasa curiga. Mereka memeriksa kadar alkohol dokter dan Schmidt. Ternyata hasilnya negatif. Sebelum polisi itu pergi, dokter itu berkata kepada salah seorang polisi, "Anak muda, aku harap, suatu hari nanti kamu juga akan mendapatkan pengalaman yang sangat indah sama seperti yang kurasakan pada malam ini!"

    Beberapa hari kemudian, telepon di rumah Schmidt berdering lagi. Kali ini yang menelepon adalah salah seorang polisi yang memeriksa mobilnya beberapa hari yang lalu. Polisi ini bertanya, "Apa yang dimiliki dokter itu yang tidak saya miliki?" "Aku bisa menceritakannya kepadamu apa yang dimiliki dokter itu," jawab Schmidt. Dia lalu mengundang polisi itu untuk menghadiri ibadah pada Minggu berikutnya. Polisi ini datang bersama pacarnya. Pendeta Schmidt terpana, "Sangat menakjubkan saat melihat rentetan reaksi yang ditimbulkan oleh kematian yang damai di dalam Yesus yang dialami oleh seorang wanita tua."

    Diterjemahkan dari sumber:

    Judul Buletin : Body Life, Volume 22, Number 4/April 2004
    Halaman : 4

    e-JEMMi 24/2004

    Kesempatan Terakhir

    Joe Balraj akhirnya sampai di suatu desa yang jalanannya berdebu, panas dan lembab, di kota Madras.

    Joe Balraj, koordinator lokal film YESUS, menarik gerobak sapi dan menghentikan mobilnya disamping sebuah saluran pembuangan air yang sangat kotor. "Kami telah memutar Film YESUS di 18 desa yang berada di daerah ini," katanya. "Desa ini adalah salah satu diantaranya."

    Melalui jendela yang berdebu, saya mengikuti pandangan matanya pada sekelompok pondok yang terpencil yang beratapkan jerami.

    "Kira-kira ada 500 orang yang tinggal di desa ini, Paul. Sebelum kami memutarkan Film YESUS ini kepada mereka tujuh minggu yang lalu, mereka belum menganut suatu agama apa pun. Hari Minggu yang lalu kami membaptis 138 orang. Penduduk desa ini menerima Yesus melalui pemutaran Film YESUS ini, dan kami membentuk sebuah kelompok sel, dan pondok itu adalah tempat pertemuan kelompok sel ini."

    "Orang yang baru dimenangkan ini mengadakan pertemuan di sana tiga atau empat kali seminggu untuk berdoa dan membaca Alkitab," lanjutnya. "Gereja di India Selatan sedang mencoba mengirimkan pendeta bagi mereka, sementara itu salah satu penginjil kami yang berada di desa ini mengunjungi mereka dua kali seminggu untuk membantu mereka dalam menguatkan iman mereka." Dia membuka pintu mobil. "Ayo, aku akan mengajakmu menemui beberapa orang di antara mereka." katanya.

    Setiap orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa mereka memutuskan untuk menerima Yesus setelah melihat Film YESUS karena film inilah yang pertama kali mereka dengar untuk mengetahui bagaimana mengenal Tuhan. Dan itulah yang mereka inginkan: mengenal Tuhan.

    Salah seorang pemuda yang saya ajak bicara mengundang saya untuk datang ke rumahnya. Rumah itu sangatlah sederhana dan itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar orang yang sangat miskin. Ketika saya bertanya kepada mereka tentang apa yang paling mereka suka dari Yesus, pemuda itu menjawab, "Dia peduli pada orang-orang miskin seperti kami ini." Dengan suara yang lirih istrinya menambahkan, "Aku tahu Dia adalah orang yang miskin seperti kami karena Dia tidak pernah membawa tas."

    Pasangan yang lainnya tersenyum dan berkata, "Kami dulu sangat khawatir karena kami meminjam uang dalam jumlah yang sangat banyak kepada orang lain. Tetapi ketika kami melihat film itu, kami belajar bahwa Yesus mengatakan jika Dia memelihara burung-burung dan bunga- bunga di padang, maka Dia juga akan memelihara kami. Kami masih tidak yakin bagaimana kami akan membayar hutang-hutang kami, tetapi kami tahu bahwa Yesus akan menolong kami dalam mencari jalan keluarnya."

    Selanjutnya saya bertemu dengan Samuel, yang juga baru dimenangkan. Samuel berusia delapan puluhan, agak sedikit pendek, dengan rambut putih di seluruh kepalanya. Dia memandangku melalui kacamata yang bingkainya telah diberi lem karena hampir patah. Kulit coklatnya sudah berkeriput, dan dia berpakaian putih, tipis dan kumal. Dalam sepintas saja kita bisa tahu, dia pasti mengalami masa pemerintahan Gandhi. Samuel tinggal di desa kecil dan kumuh ini selama delapan puluhan tahun, tetapi baru sekarang dia mengenal Yesus.

    "Aku biarkan anak-anakku menjadi Kristen," katanya pada saya, "tetapi aku selalu melawan keyakinan mereka. Lalu pada saat aku melihat Film YESUS, baru pertama kalinya dalam hidupku aku mengerti bahwa YESUS tidak pernah mati untuk diri-Nya sendiri -- Dia mati untuk aku! Ketika aku memahami hal itu, baru aku sadar bahwa aku harus menerima Dia." Samuel menundukkan kepalanya seolah-olah dia marah kepada waktu. "Seandainya saja saya menerima Yesus ketika masih muda maka kami akan memiliki suatu persekutuan jemaat yang besar dan juga sebuah gereja di sini. Dia menatapku dengan tajamnya dan berkata dengan suara yang keras, "Kami membutuhkan sebuah gereja dan seorang pendeta. Apakah Anda bisa mencarinya bagi kami?"

    Ketika saya bersiap-siap untuk pulang, Samuel menarik tangan saya. "Sebagai orang Hindu aku biasa dipanggil Muni Swami, yang artinya 'guru kecil.'" Dia tersenyum lepas, "Tetapi hari Minggu kemarin aku dibaptis dan nama Kristenku adalah Samuel."

    Saya akan terus mengingat Samuel.

    Diterjemahkan dan diedit dari:
    Judul Buku I Just Saw Jesus
    Judul Artikel One Last Chance
    Penulis Paul Eshleman
    Penerbit The Jesus Project and Campus Crusade For Christ
    Halaman 174 - 175

    e-JEMMi 37/2003

    Kiprah Para Pekerja Bible League di Asia

    Para pekerja di Asia yang dilatih Bible League telah siap melayani untuk memberitakan Kabar Baik. Pelayanan Bible League telah memberikan dampak di semua wilayah yang dihantam tsunami, khususnya di Sri Lanka, India, Thailand, dan Indonesia. Bersyukur karena para staf Bible League dan pusat-pusat pelayanannya di semua wilayah tersebut bisa selamat dari bencana dan stok Alkitab yang tersedia tidak mengalami kerusakan.

    Saat ini, ribuan partner lokal dan relawan yang telah dilatih oleh Bible League untuk memberitakan Kabar Baik dan memuridkan mulai aktif melayani kebutuhan-kebutuhan komunitas di lingkungan mereka. Fokus pelayanan saat ini adalah menyediakan kebutuhan jasmani dan rohani bagi para korban bencana sekaligus keluarga mereka.

    Contohnya di Sri Lanka, gereja-gereja yang tidak mengalami kerusakan menjadi tempat berteduh bagi para pengungsi. Para pemimpin PA lokal yang telah dilatih Bible League dan para perintis gereja mulai bekerja di lima daerah yang mengalami kerusakan paling parah. Fokus pelayanan mereka adalah mendampingi para keluarga beserta anggota keluarganya termasuk anak-anak. Mereka akan menyediakan bacaan- bacaan rohani, melakukan pelayanan konseling, dan menenangkan setiap keluarga yang dilanda musibah. Mereka juga akan membantu penyediaan sekolah bagi anak-anak.

    Beberapa organisasi kemanusiaan telah bekerjasama dengan Bible League untuk memantapkan jaringan mereka dengan para relawan lokal supaya mempercepat pendistribusian bantuan ke lima daerah tersebut. Lebih dari tiga tahun terakhir ini, Bible League telah melatih lebih dari 116.000 orang Kristen lokal yang tinggal di negara-negara yang baru-baru ini dilanda tsunami. Mereka menyediakan bacaan rohani dan melatih orang-orang Kristen lokal tersebut agar dapat melayani penduduk di sekitarnya. Karena orang-orang Kristen lokal ini tinggal dan bekerja di daerah-daerah yang membutuhkan bantuan, maka mereka sekarang menjadi sarana-sarana yang sangat berguna di tangan Tuhan.

    Sekarang, jaringan yang telah dibentuk dengan orang-orang Kristen lokal ini menjadi infrastruktur yang efektif dalam memberikan respon kepada mereka yang membutuhkan. Bantuan Anda akan menolong Bible League dalam memberikan konseling, perawatan, dan dukungan rohani bagi korban tsunami. Silakan berkunjung ke Situs Bible League untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang organisasi ini dan bantuan apa yang bisa Anda berikan untuk memberitakan Kabar Baik.

    Diterjemahkan dari: http://www.bibleleague.com.au

    e-JEMMi 03/2005

    Kuba: Seorang Tahanan Kristen

    "Tanda tangani pernyataan itu!" teriak petugas Kuba sambil memaksakan sebuah pena ke dalam genggaman tangan tahanan Kristen itu, "Tanda tangani pernyataan itu!"

    Pernyataan tertulis di depan tahanan itu berisikan tuduhan terhadap orang Kristen lain. Tanda tangannya diperlukan pemerintah untuk menahan orang Kristen yang lain.

    "Saya tidak dapat menandatangani surat ini," kata orang Kristen itu dengan tenang sambil menatap mata petugas itu.

    "Mengapa?" tanya kapten itu dengan ketenangan yang dibuat-buat, sebelum menyumpahi pria itu. "Apakah kamu tahu bagaimana menulis namamu sendiri?"

    "Ini karena rantainya temanku. Rantai ini mencegah saya menandatanganinya."

    Petugas itu meraih tangan tahanan itu dengan kasar dan menaruhnya di depan wajahnya. "Tapi kamu tidak dirantai, Bodoh!" teriaknya.

    "O, tapi saya sedang dirantai," kata orang Kristen itu. "Saya terikat oleh rantai-rantai kesaksian yang selama berabad-abad telah memberikan nyawa mereka bagi Kristus. Saya akan menjadi salah satu mata rantai pada rantai itu, dan saya tidak akan memutuskannya."

    Sekalipun ia diancam dan dikasari, tahanan itu menolak menandatanganinya.

    Para martir Kristen tinggal di balik kesaksian yang kaya akan kehidupan yang luar biasa di tengah-tengah situasi yang mengerikan. Kekuatan mereka heroik. Perkataan mereka bijak. Ketenangan mereka tak tergoyahkan. Thomas Aquinas menulis, "Perkataan yang diucapkan oleh para martir di hadapan pihak yang berwenang bukanlah perkataan manusia atau suatu ekspresi sederhana dari keyakinan manusia, namun perkataan yang dikeluarkan oleh Roh Kudus melalui mereka yang mengikut Yesus." Kehidupan demi kehidupan, hubungan demi hubungan, perkataan yang dibicarakan melalui perkataan Roh Kudus di tengah-tengah penindasan, membentuk suatu kesaksian yang penuh kuasa. Anda juga memunyai potensi untuk menambahkan bab Anda sendiri sampai berhalaman-halaman. Anda juga adalah sebuah hubungan dalam rantai umat percaya. Maukah Anda memegangnya bersama?

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Penulis : Tim The Voice of the Martyrs
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2005
    Halaman : 68

    e-JEMMi 17/2009

    Kuk Yang Kupasang Itu Enak

    Berikut ini adalah kesaksian dari Aida Skripnikova (1961):

    Wanita muda itu berdiri di sudut ruangan sambil membagikan kartu- kartu kecil bertuliskan puisi-puisi di dalamnya. Beberapa orang menerima kartu-kartu tersebut karena ingin tahu tentang tulisan yang ada di dalamnya. Beberapa orang tertarik karena ia begitu cantik, tetapi kebanyakan mengambil kartu-kartunya karena sukacita dan kasih yang tampak di dalam senyumnya saat ia menatap ke dalam mata setiap orang dan memberi mereka sebuah kartu. Pada tiap kartu terdapat puisi yang telah ia tulis sendiri. Tiap puisi menyatakan kasih dan sukacita yang ia rasakan setelah mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

    Namun karena tindakannya itulah ia ditahan dan dibawa ke pengadilan. Di hadapan pengadilan dengan berani ia menyaksikan, "Masyarakat yang sedang kalian bangun, wahai Komunis, tidak pernah dapat menjadi adil karena kalian sendiri tidak adil." Aida dijatuhi hukuman satu tahun penjara.

    Ketika dilepaskan, ia langsung kembali ke pekerjaannya semula yaitu melayani di sebuah gereja bawah tanah. Karena kecantikannya, kemauan kerasnya, dan keberaniannya, ia dijuluki "a pirate from the house of prayer" oleh koran Komunis Izvestia.

    Salah satu hal yang berani ia tulis adalah, "Kalian para ateis, dapat mengadakan pertemuan bersama setiap saat dan melakukan apa pun yang kalian inginkan -- berbicara, membaca, dan bernyanyi. Jika demikian, mengapa kami tidak dapat saling mengunjungi? Hukum apa yang melarang hal ini? Mengapa kami tidak boleh berdoa atau membaca Alkitab kapan pun kami mau? Kami diijinkan untuk berbicara mengenai Allah hanya di gereja. Kalian pasti tidak akan setuju jika kalian diijinkan untuk berbicara mengenai teater hanya di teater atau mengenai buku-buku hanya di perpustakaan. Dengan cara yang sama, kami tidak dapat diam saat mengetahui ada hal-hal yang bertentangan dengan makna hidup kami -- yaitu Kristus." Untuk ucapannya itu sekali lagi Aida dijatuhi hukuman empat tahun penjara, tetapi hal ini tidak juga membuat imannya goyah.

    Pada usia 27, Aida masuk penjara lagi untuk keempat kalinya, tetapi agaknya penjara hanya memberi pengaruh sedikit. Penjara malah semakin meningkatkan cintanya terhadap Firman Allah dan betapa penting firman itu bagi imannya. "Di penjara, hal yang tersulit adalah hidup tanpa Alkitab."

    Pernah satu kali, sebuah Injil Markus diselundupkan ke penjara dan diberikan kepadanya. "Ketika para penjaga mengetahui bahwa aku memiliki sebuah Injil, mereka menjadi kuatir dan menggeledah seluruh penampungan. Pada penggeledahan kedua, para penjaga menemukan kitab itu. Aku dihukum karena hal ini dan dikurung sendiri dalam sel tahanan yang dingin selama sepuluh hari dan sepuluh malam dan terasing. Tetapi dua minggu kemudian aku diberi Alkitab Perjanjian Baru yang dapat aku simpan sampai hari pembebasanku."

    "Penjara sering kali digeledah, tetapi setiap kali Tuhan membantuku. Aku mengetahui terlebih dahulu mengenai penggeledahan tersebut sehigga aku dapat menyimpan kitab yang berharga itu. Banyak tahanan lain yang membantuku menyembunyikannya, walaupun mereka bukan orang Kristen."

    Para penjaga melakukan banyak hal untuk melemahkan iman Aida dan berusaha membuatnya menyangkali imannya, tetapi beberapa usaha itu menjadi senjata makan tuan. "Suatu kali seorang penjaga menunjukkan kepadaku satu paket makanan. Ia mengatakan kepadaku bahwa isinya coklat dan berbagai makanan lezat lainnya. Meskipun tidak diberikan kepadaku, paket makanan itu menguatkan aku saat mengetahui bahwa sahabat-sahabatku peduli terhadap diriku. Fakta ini jauh lebih berarti daripada makanan itu sendiri. Pada kesempatan lain, aku diberitahu bahwa ada kiriman sepuluh paket untukku dari Norwegia, tetapi paket-paket ini pun tidak diberikan kepadaku .... Merupakan sukacita yang besar bagi kami untuk mengalami persekutuan roh bersama orang-orang Kristen yang ada di berbagai wilayah. Hal ini memberikan harapan kepada kami yang ada di dalam penjara. Aku ingin mengirimkan sebuah ungkapan kasih dari kami semua yang ada di penjara kepada mereka yang telah peduli terhadap kami dan telah berdoa bagi kami."

    Ketika ia dibebaskan dari penjara, Aida telah berubah secara drastis. Kecantikan bagai bintang film yang dimilikinya pada masa mudanya bukan saja lenyap, tetapi pada usianya yang baru 30 tahun, ia tampak seperti berusia lebih dari 50 tahun. Ia kurus kering dan lusuh oleh tahun-tahun yang dihabiskan di dalam penjara. Jika Anda melihatnya, Anda tak akan pernah mengenalinya sebagai wanita yang sama, kecuali untuk satu hal: senyumannya. Senyumnya masih mencerminkan kasih dan sukacita karena pengenalannya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

    Saat menjalani masa penjaranya yang terakhir dan paling sulit, Aida menulis, "Ada makna satu ayat yang menjadi lebih jelas dari sebelumnya, 'Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.'" (Matius 11:30) dan Yesus sendiri mengatakannya. Selama tiga tahun di dalam penjara itu aku menjadi semakin memahami makna dari ayat tersebut."

    Informasi Tambahan

    Pada tahun 1991, sekitar 20 tahun setelah Aida menjalani masa penjaranya yang keempat, Uni Soviet pecah karena runtuhnya Komunis. Penganiayaan kaum Kristen yang dilakukan oleh pemerintah berhenti pada saat itu, setidaknya untuk satu masa. Iman dan perjuangan dari Aida dan banyak umat percaya lainnya melalui pelayanan di bawah tanah tidaklah sia-sia.

    Pada tahun 1992, utusan dari The Voice of the Martyrs menjumpai Aida di apartemen yang terawat dengan baik di sebuah gedung tua di St. Petersburg. Aida tidak menyimpan kegetiran kepada orang-orang yang telah menyiksanya di penjara, hanya pengampunan yang terpancar dari hatinya. Ia terkejut saat mengetahui kesaksiannya telah menarik banyak perhatian dari umat Kristen di seluruh dunia, dan ia amat bersyukur karena hal itu. Aida mengatakan, "Aku hanya mungkin bertahan karena dukungan banyak doa dari seluruh dunia. Jika tidak, aku tidak akan bertahan."

    "Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini." (Ibrani 13:3)

    Sumber:

    Judul buku : Jesus Freaks
    Judul asli artikel : A Pirate from The House of Prayer
    Penulis : dc Talk and The Voice of the Martyrs
    Penerbit : Albury Publishing, Tulsa, Oklahoma 1999
    Halaman : 84 -- 87

    e-JEMMi 44/2003


    LAPORAN TUGAS KEPERAWATAN DI ZAMBIA

    Saya kembali ke Inggris setelah menyelesaikan tugas keperawatan di Rumah Sakit St. Francis, Katete, Zambia. Saya berada di sana selama tujuh minggu (20 Februari -- 10 April) dan baru sekarang saya mulai memilah pemikiran dan perasaan saya selama berada di sana, agar bisa menuangkan pengalaman itu ke dalam kata-kata.

    Seperti apa kehidupan dan tugas keperawatan di Rumah Sakit St. Francis?

    Rumah Sakit St. Francis terletak di daerah Katete, salah satu provinsi di Zambia bagian timur. Terletak sekitar 500 kilometer dari ibukota Lusaka -- lima atau enam jam perjalanan dengan bis yang memiliki kursi yang empuk dan nyaman. Rumah Sakit St. Francis adalah rumah sakit misi terbesar di Zambia yang dikelola oleh Anglican Church (Gereja Anglikan) di Zambia dan Catholic Diocese of Chipata (Keuskupan Katolik di Chipata, kota yang terdekat). Rumah sakit tersebut juga menerima dana dari pemerintah Zambia, serta berbagai organisasi mancanegara. Rumah sakit ini memiliki sekitar 360 tempat tidur dan pelbet (tempat tidur lipat). Meskipun jumlah tempat tidurnya banyak, rumah sakit ini selalu dipenuhi pasien. Selalu ada pasien yang terbaring di lantai bangsal rumah sakit dan hal ini sudah menjadi pemandangan yang umum di sana.

    Selama berada di St. Francis, saya menghabiskan waktu di bangsal medis dan bedah, bahkan terkadang di ruang bedah, dan juga di bangsal pra dan paska persalinan. Di bangsal medis, penyakit yang paling sering ditangani adalah Tuberkolusis (TBC), Malaria, Meningitis, HIV, dan AIDS. Agar bisa memperoleh pengobatan, pasien terlebih dulu harus membeli kartu OPD (out-patients department - bagian yang mengurus pasien keluar) dengan sedikit biaya. Namun, seringkali pasien tidak dikenakan biaya pengobatan, sehingga banyak orang rela menempuh jarak bermil-mil untuk mendapatkan perawatan medis di St. Francis (sebagian orang bahkan datang jauh-jauh dari ibukota).

    Sebelum berangkat ke Zambia, saya sudah mengetahui bahwa HIV dan AIDS adalah masalah yang serius di negara-negara Afrika, namun setibanya saya di Rumah Sakit St. Francis, saya tidak sepenuhnya memahami hal ini. Di Zambia, satu dari lima orang dewasa mengidap HIV positif, dan saat ini, rata-rata harapan hidup seorang bayi yang baru lahir diperkirakan kurang dari 33 tahun. Setelah melihat dan mengalami bagaimana merawat orang-orang yang menanggung akibat dari virus HIV, statistik ini bukan lagi sekadar angka di atas kertas; statistik ini menjadi nyata dan menjadi tantangan. Merawat orang-orang yang mengidap HIV adalah pengalaman yang memerlukan kerendahan hati, dan akan terus saya ingat seumur hidup saya.

    Pelayanan keperawatan yang saya lakukan adalah yang paling dasar, seperti membalut luka (membersihkan dan membebat luka), dikarenakan begitu sederhananya obat-obatan dan peralatan yang ada. Meskipun demikian, rumah sakit melakukan apa saja yang bisa dilakukan. Terbatasnya obat-obatan dan peralatan yang dimiliki rumah sakit sepertinya tidak menjadi penghalang untuk tetap mengobati orang-orang sakit yang datang. Saya ingat ketika suatu hari saya bekerja di bangsal medis untuk pria (St. Augustine). Seorang pasien tua masuk rumah sakit untuk mendapat pengobatan atas penyakit pada lutut kanan dan punggung yang telah dideritanya selama tiga tahun. Dia dikirim ke bagian fisioterapi dan saat dia pulang, dia berteriak sekeras-kerasnya (dalam bahasa Chewa -- bahasa lokal) sambil mengangkat dan melambaikan tongkat (penuntun) yang baru didapatnya. Pada saat itu, saya berpikir bahwa dia sedang marah dan mengancam. Setelah bertanya pada salah seorang pasien (yang mengerti bahasa Chewa dan Inggris) tentang apa yang diteriakkan pria itu, saya baru mengerti bahwa ternyata teriakan pria tua itu adalah ungkapan rasa terima kasihnya kepada para dokter dan perawat atas tongkat yang baru diterimanya. Panjang tongkat itu pas untuk tubuhnya, tongkat itu membuatnya terbebas dari sakit punggung dan menolongnya untuk bisa berjalan dengan baik.

    Dari pengalaman pria tua itu, saya belajar bahwa kita tidak selalu harus memiliki solusi yang "canggih" untuk bisa memenuhi kebutuhan. Memang ada kalanya situasi di rumah sakit itu membuat frustrasi, misalnya, saat kehabisan obat-obatan penting yang dibutuhkan agar pasien bisa bertahan hidup. Namun, ketika keadaan seperti ini terjadi, saya harus mengingatkan diri saya dengan apa yang dikatakan oleh Dr. Shelagh Parkinson, direktur eksekutif Rumah Sakit St. Francis, dalam suratnya sebelum saya tiba di sana. Beliau menulis, "Saat berada dalam situasi yang bisa membuat kita frustrasi, bandingkan situasi itu dengan ketiadaan pelayanan kesehatan, dan jangan membandingkannya dengan sistem kesehatan yang dimiliki oleh negara-negara kaya."

    Perbedaan utama antara pelayanan keperawatan di Zambia dengan Inggris adalah anggota keluargalah yang mengurus kebutuhan kesehatan pasien, bukannya perawat. Setiap pasien memiliki seorang "bedsider", yaitu seorang anggota keluarga yang terus mendampingi pasien selama tinggal di rumah sakit dan membantu kebutuhan pribadinya -- makan, minum, mandi, dll. "Tugas" para perawat cenderung berkisar pada tugas-tugas medis dikarenakan minimnya jumlah dokter di rumah sakit. Oleh sebab itu, para perawat juga terlibat dalam -- di Inggris disebut sebagai tugas "tambahan", seperti mengambil darah pasien dan kanulasi (memasukkan selang kecil ke dalam tubuh untuk mengambil cairan tubuh), yang juga diajarkan kepada saya. Semua ini adalah hal yang baru bagi saya, namun para perawat di Zambia sangat terbuka dan mau menolong untuk mengajarkan pada saya bagaimana menjalankan prosedur-prosedur itu. Di Inggris, kesempatan belajar seperti ini tidak dapat saya peroleh.

    Keberadaan saya di Zambia telah meningkatkan rasa percaya diri saya sebagai seorang individu dan perawat, saat memulai tugas pertama saya sebagai seorang perawat baru yang berijazah. Pemahaman saya tentang arti "merawat" juga diperluas, begitu juga dengan pemahaman tentang penyakit dan permasalahan sosial yang memengaruhi individu di negara-negara berkembang. Sebelum penugasan ini, saya sudah pernah mengunjungi Zambia sebanyak dua kali dan bersinggungan langsung dengan budaya Zambia. Ini merupakan kenangan yang tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hidup saya. Suatu hari nanti, saya ingin kembali lagi ke Zambia (bersama dengan suami saya) untuk berterima kasih pada masyarakat di negara ini, yang tanpa sadar telah memberi dampak dalam kehidupan kami, dengan memberikan sesuatu yang berguna bagi mereka. Penugasan di sini sedikit banyak telah memampukan saya untuk memberikan sesuatu pada negara yang saya sayangi, dan juga memungkinkan saya untuk mempelajari keperawatan dan pelayanan kesehatan di negara berkembang.

    Saya ingin berterima kasih kepada Dr. dan Mr. Parkinson (Direktur Eksekutif dan Petugas Administrasi) dari Rumah Sakit St. Francis yang telah memperbolehkan saya melewati waktu di rumah sakit dan membuat saya merasa berada di rumah sendiri. (t/Lanny)

    Bahan diterjemahkan dari sumber:

    Nama situs : Christian Nurses and Midwives
    Judul asli : Nursing Elective to Zambia Report
    Penulis : Caroline Sawyer
    Alamat : http://christian-nurses-and-midwives-issues.blogspot.com/2009/08/nursing-elective-to-zambia-report.html

    e-JEMMi 19/2007

    Laos: Umat Kristen

    Meterai merah yang begitu mengancam di bagian bawah halaman sebuah dokumen menandakan simbol kantor komunis wilayah untuk area itu di Laos. Bagi umat Kristen, kalimat-kalimatnya lebih mengancam lagi.

    "Jika siapa pun, suku apa pun, keluarga apa pun tertipu untuk memercayai agama lain, seperti kekristenan atau lainnya, mereka harus kembali ke agama yang mereka percayai sebelumnya," demikian dinyatakan dokumen itu. "Adalah hal yang dilarang untuk mempropagandakan agama. Sebaliknya, umat percaya itu harus pindah dan tinggal di wilayah baru. Jika ada desa atau keluarga yang percaya pada agama lain, anggota komite partai harus mengumpulkan datanya, dan membuat daftar kelompok orang itu dan mengirimnya ke Kantor Urusan Pembangunan. Kami perlu mengetahui berapa banyak yang percaya kepada Yesus dan merupakan umat Kristen di wilayah ini." Dokumen yang tertanggal 18 Juli 1996 itu ditandatangani oleh Komite Tetap Urusan Pembangunan.

    Baru-baru ini umat Kristen Laos telah dipaksa, sering kali dengan todongan senjata, untuk menandatangani dokumen menyangkal pertobatan mereka. Bagi pemerintahan yang ateis, sepertinya agama apa pun lebih bisa diterima daripada penyembahan kepada Yesus Kristus. Walaupun ada usaha-usaha pemerintah seperti itu, gereja di Laos bertumbuh seiring dengan keberanian umat Kristen membagikan iman mereka.

    Saat otoritas manusia bertentangan dengan perintah-perintah Tuhan, sebuah garis ditarik; sebuah pilihan harus diambil. Apakah kita akan tunduk ke otoritas manusia atau menggabungkan diri kita dengan perintah-perintah Tuhan dan menerima konsekuensi-konsekuensinya. Saat damai merupakan tujuan, kita tidak dapat menata ulang prioritas-prioritas kita di sekeliling tuntutan-tuntutan manusia. Sebagai contoh, pemerintah Amerika Serikat telah menyatakan doa sebagai aktivitas ilegal di lingkungan sekolah. Namun, mereka tidak dapat benar-benar menjauhkan doa dari para pelajar dan fakultas yang berkeinginan menjalankan persekutuan dengan Tuhan mereka.

    Orang lain boleh memberlakukan hambatan yang sama bahkan lebih buruk. Namun, Tuhan mengatasi otoritas mereka ketika Ia sendiri menjadi Raja atas hati manusia. Kita dapat dengan yakin memilih untuk menaati Tuhan daripada otoritas manusia sebagai tindakan dari kehendak kita.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Judul buku asli : Extreme Devotion
    Penulis : The Voice of the Martyrs
    Penerjemah : Fintawati Raharjo dan Irwan Haryanto
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan
    (KDP), Surabaya 2005
    Halaman : 22

    e-JEMMi 28/2010



    Laporan dari Pelayanan di Balik Terali Besi Klaten dan Nusa Kambangan

    Di Nusa Kambangan hidupku terdampar di pulau yang sangat keras, pulau yang sangat kejam dan pulau mengerikan. Namun, di situ juga aku bertemu dengan Tuhan. Di tempat ini hidupku ditata ulang, dan di tempat ini aku menemukan kembali makna hidupku.

    Penggalan syair yang dilantunkan dengan penuh penghayatan oleh para napi yang kami kunjungi membuat kami terkesiap, terharu, dan merinding. Berbaur dengan mereka dalam pujian penyembahan, sharing pengalaman, dan pergumulan hidup mereka di balik terali-terali besi yang kokoh dengan penjagaan yang berlapis-lapis.

    Kami yang sedang berkunjung sangat terkejut, bahkan tercengang menyaksikan persekutuan di LP Batu, Besi. Para saudara-saudara yang terdampar di sana dan menjalani masa hukuman yang panjang saling berebut untuk memberikan kesaksian, baik penuturan secara verbal maupun kesaksian-kesaksian melalui pujian hasil ciptaan mereka di balik terali besi. Pemandangan yang langka, bukan? Bila dibandingkan dengan persekutuan-persekutuan di dunia bebas, di luar terali besi, betapa sulitnya meminta para anggota persekutuan untuk membagikan cinta kasih dan pengalaman hidupnya bersama Tuhan.

    Di antara para penghuni kamar di balik terali itu ada seorang pembunuh bayaran, desersi tentara, preman yang membunuh lawannya dan mengirimkan potongan-potongan tubuh lawannya tersebut kepada keluarganya, gembong narkoba yang menyembunyikan obat-obatan terlarang dengan cara menelan puluhan kapsul heroin dan divonis hukuman mati, perampok yang menghabisi korbannya, bahkan kakek yang dengan teganya memperkosa gadis cilik yang masih bau kencur.

    Namun, mereka masih bersyukur masuk ke LP Nusa Kambangan, sebab di situ mereka dijamah Tuhan. Di situ mereka mengalami perjumpaan secara pribadi dengan Kristus dan hidup mereka ditata ulang. Beberapa orang bercita-cita ingin menjadi hamba Tuhan selepas dari kurungan. Adakah gereja yang siap menerima mereka untuk menjadi hamba Tuhan? Di antara mereka ada yang menunggu untuk di eksekusi, ada yang masih menjalani hukuman puluhan tahun, dan ada juga yang akan bebas beberapa minggu lagi. Namun hal yang mengejutkan adalah ternyata mereka tidak siap untuk dibebaskan. Mereka takut untuk dapat lagi hidup dengan cara yang benar dan tidak jatuh lagi ke dalam lembah yang kelam. Sebab bagi mereka, Nusa Kambangan menjadikan hidup mereka terbebas dari dosa dan kejahatan. Bagi mereka, di luar terali besi justru ada banyak kejahatan dan kemaksiatan yang siap menjemput untuk membelenggu mereka.

    Dana-dana yang kami himpun dari partisipasi Saudara kami wujudkan dalam paket kunjungan berupa sabun mandi, sabun cuci, sikat dan pasta gigi, shampo, dan handuk. Adapula yang dapat kado sepatu, setelah mereka berbulan-bulan berdoa untuk mendapatkan sepatu dan kaos oblong. Kiranya sukacita kami mengunjungi mereka yang dilayani melalui buku-buku rohani ini mengalir dan menggerakkan hati Saudara semua.

    Sumber: Pelayanan dan Doa Sahabat Gloria Yogyakarta

    e-JEMMi 33/2005

    Lauren Tomasik dan Klinik Medis Hiv di Zambia

    Lauren Tomasik, seorang gadis berumur 18 tahun, telah mendapatkan visi. Siswi SMU Wheaton Academy ini memiliki kerinduan untuk melihat SMU Kristennya mengumpulkan 75.000 dolar untuk membangun sebuah klinik medis di Zambia untuk melawan penyebaran virus HIV/AIDS. Dan ia ingin uang tersebut berasal dari kantong 575 teman-teman sekolahnya.

    Ini bukanlah visi yang biasa. Namun, pada perkembangan selanjutnya sekolah ini juga tidak lagi menjadi sekolah yang biasa. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa dalam tiga tahun terakhir saja, murid- murid sekolah yang berlokasi di bagian barat pinggir kota Chicago ini telah berhasil mengumpulkan hampir 250.000 dolar untuk membantu penanggulangan HIV/AIDS di Afrika. Sebagian besar dari uang itu berasal dari kantong mereka sendiri.

    "Tuhan telah memanggil sekolah ini untuk melakukan proyek ini," kata Tomasik sambil menceritakan perkumpulan murid-murid yang anggotanya selalu mendorong satu sama lain untuk melupakan kegiatan nonton film, pergi ke Starbucks, bahkan kado-kado Natal dan gaun-gaun pesta kelulusan demi mengumpulkan uang untuk membantu teman-teman mereka di Zambia agar dapat mendapat pendidikan dan makanan. "Jika kita hidup di Wheaton, akan sangat mudah untuk hanya berfokus pada kepentingan diri sendiri dan terus hidup untuk komunitas kita saja." Ia juga bercerita bahwa mereka juga memiliki kehidupan yang makmur di kotanya, yang juga terkenal dengan budaya penginjilannya. "Namun, saya telah diberkati supaya saya juga dapat memberkati orang lain."

    PEMBERIAN PENGORBANAN

    Kisah mengenai murid-murid sebuah SMU dari kalangan menengah ke atas yang berubah menjadi teladan tentang hal berkorban ini bermula dari sebuah acara retret di pegunungan Colorado di musim panas 2002. Para ketua murid saat itu berkumpul untuk merencanakan bagaimana caranya kerohanian di sekolah mereka dapat dibina. Mereka lalu memikirkan ide-ide umum seperti mengadakan kelompok PA, acara doa pagi, dan hal-hal biasa lainnya.

    "Kami tahu apa yang diharapkan dari kami. Namun, kami begitu merasa bahwa Tuhan menginginkan kami melakukan sesuatu yang lebih dari semua itu," kata Christy Peed, alumnus sekolah itu. "Sesuatu yang dapat membuat orang benar-benar dapat merasakan kehadiran Tuhan dan bahwa kita tak dapat melakukan apa pun tanpa Dia."

    Kelompok itu selalu berdoa di berbagai kesempatan. Di bulan Oktober, mereka mengikuti proyek One Life Revolution, yang diadakan atas inisiatif organisasi World Vision dan Youth Specialties yang bertujuan melibatkan murid-murid dalam penanganan korban AIDS di Zambia. Ini sepertinya adalah jawaban yang sempurna. Para murid itu prihatin dengan statistik data yang menunjukkan bahwa penginjil di Amerika ternyata masih memberi perhatian yang sangat kecil terhadap pelayanan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS. Peed, yang orang tuanya adalah misionaris, tumbuh di Zambia dan menyaksikan langsung dampak mengerikan yang ditimbulkan AIDS pada keluarga-keluarga di sana. Zambia memiliki lebih dari 630.000 anak yang menjadi yatim piatu akibat HIV/AIDS. Sementara sekitar 1,1 juta orang telah terinfeksi virus itu.

    Program One Life itu menawarkan sebuah katalog yang menunjukkan cara-cara bagaimana murid-murid sekolah tersebut bisa membantu sebuah desa di Afrika dengan mengumpulkan dana. Kesempatan berpartisipasi meliputi mulai dari 8 dolar untuk membeli ayam sampai 53.000 dolar untuk membangun sebuah gedung sekolah. Meski perkiraan dana 45.000 dolar adalah angka terbesar kedua yang ada di katalog itu, murid-murid SMU itu berketetapan bahwa gedung sekolah itu adalah target yang harus mereka capai.

    Para ketua murid itu mempresentasikan proyek Zambia tersebut di depan teman-teman sekolahnya pada pertengahan bulan Nopember sambil menjelaskan sepuluh cara bagaimana tiap orang dapat ikut berkontribusi lewat pengorbanan pribadinya. "Kami tidak ingin proyek ini terlaksana lewat sesuatu seperti bantuan cek dari para orang tua mereka," kata Peed. "Kami ingin hal ini terlaksana lewat pengorbanan para murid."

    Di acara itu, para ketua murid mengatakan bahwa jika tiap murid di sekolah mereka dapat memberikan 100 dolar saja selama setahun, mereka akan dapat melebihi target menyumbangkan 53.000 dolar untuk pembangunan sekolah itu. Awalnya, hal itu sepertinya tidak begitu membangkitkan antusiasme para murid. Malah sepertinya mereka bahkan tak akan mendapatkan barang 10 dolar saja dari setiap murid, beberapa bahkan sangat menentang mimpi pelayanan besar ini. Beberapa murid merasa proyek "mahabesar" ini dibuat dengan terlalu terburu- buru, tidak masuk akal, dan hanya didorong oleh rasa bersalah. Beberapa lainnya mempertanyakan mengapa semua sumbangan itu harus diberikan jauh-jauh ke Afrika, apalagi untuk menolong korban penyakit yang biasanya didapat melalui hubungan seksual. Bermacam perdebatan setelah pertemuan itu sering sampai membuat Peed menangis.

    Mereka pun mengadakan banyak acara penggalangan dana. Namun, aliran dana masih sangat lambat. Ketika Tony Frank, direktur eksekutif organisasi World Vision Chicago mengunjungi SMU Wheaton Academy pada musim dingin, para murid baru mengumpulkan 5000 dolar dari visi mereka membangun sekolah di Zambia. "Jujur saja, saya rasa mungkin hanya akan terkumpul 10.000 dolar saja," kata Frank. "Saya memang tidak yakin dapat membayangkan yang lebih besar lagi."

    Pada musim semi, total dana yang terkumpul telah mencapai 20.000 dolar. Para ketua murid itu tertegun ketika menyadari bahwa mereka masih harus mengumpulkan 33.000 dolar selama 9 minggu untuk dapat memenuhi target mereka. Putus asa mencari pendekatan yang baru, mereka pun meminta nasihat pembimbing rohani dewasa mereka. Ia pun menantang mereka dan mengatakan bahwa proyek itu tak akan sukses sampai mereka benar-benar bertekun dalam doa. "Setiap kami pun lalu berkomitmen untuk mendoakan hal ini setiap hari," lanjut Peed, "dan itulah saat aliran uang itu tiba-tiba menjadi lancar."

    Doa mereka tidak hanya mengubah sikap mereka yang dulu diliputi ketakutan dan keraguan akan proyek ini, namun juga keseluruhan murid, guru, dan karyawan di sekolah itu. Pro kontra berhenti dan gairah besar untuk melayani Zambia semakin berkobar-kobar ketika ratusan murid mulai bergerak mengumpulkan dana. Pendeta Huber mengatakan bahwa uang itu terkumpul sedemikian cepat dari berbagai macam sumber yang berbeda sehingga sampai sekarang pun ia masih tak tahu dari mana semua uang itu berasal.

    Pada 2 Mei 2003, Proyek Zambia itu telah mencapai target 53.000 dolarnya. Namun, dana dari murid-murid masih terus mengalir. Pada tanggal 22 Mei, mereka telah mengumpulkan 77.000 dolar--yang berarti telah terjadi penambahan 24.000 dolar hanya dalam waktu 20 hari. Sumbangan telah dibulatkan menjadi 80.000 dolar pada akhir tahun proyek itu dicanangkan, telah cukup untuk membiayai gedung sekolah dan semua kategori yang ada dalam katalog One Life Revolution. Dan pada hari di mana Peed lulus dari SMU Wheaton Academy, para pekerja bangunan di utara Zambia, yaitu di Desa Kakolo telah mulai memancang tiang-tiang pondasi sekolah baru tersebut.

    `INI ADALAH MASALAH HUBUNGAN`

    Pada tahun ajaran berikutnya, para ketua murid mencoba melakukan proyek "mustahil" itu sekali lagi, dengan melanjutkan proyek yang kali ini memiliki target mengumpulkan dana 54.000 dolar untuk menyediakan kebutuhan pangan anak-anak di Kakolo selama setahun. Mereka berhasil mengumpulkan hampir 60.000 dolar. Semakin banyak murid berpartisipasi dengan cara yang lebih banyak.

    Zambia, seluruh Afrika dan wabah AIDS telah menjadi perhatian serius bagi para murid Wheaton Academy. "Proyek Zambia telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sekolah ini," kata Huber yang menaksir bahwa 90% murid yang ada telah berpartisipasi secara finansial dalam proyek ini. "Kami jatuh cinta dengan orang-orang itu. Sekarang hal ini telah menjadi masalah hubungan, bukan lagi masalah pencapaian proyek."

    Para murid sekarang merasakan adanya suatu hubungan tersendiri dengan sebaya mereka di Zambia, merasa bertanggung jawab atas mereka juga. Beberapa mensponsori anak-anak Zambia lewat organisasi seperti World Vision. Yang lain lagi memajang foto-foto dari Zambia sebagai pengingat harian mengenai bagaimana kehidupan anak-anak di Kakolo, dan banyak murid secara dramatis lalu mengubah kebiasaan pengeluaran mereka.

    Tim yang mula-mula menggagas proyek ini sekarang telah lulus. Namun, mereka membawa pesan kepada sekolah mereka mengenai apa yang dibutuhkan dunia, selain juga bukti bahwa murid-murid sekolah pun dapat membuat perbedaan mulai dari sekarang. "Anda sudah sering mendengar kalimat ini, tapi Anda tak akan benar-benar memahaminya sampai ketika Anda benar-benar melakukannya," kata salah seorang alumnus, Natalie Gorski.

    "Betapa luar biasanya Tuhan yang kita miliki. Dia telah mampu memakai kami sebagai alat-Nya dan mengatakan, `Lihat apa yang telah Aku lakukan pada SMU Wheaton Academy! Aku pun dapat melakukannya di seluruh Amerika Serikat.`"

    "Dengan bantuan Tuhan, semua orang dapat melakukan apa yang kami lakukan."

    Wakil World Vision, Frank mengatakan, "Hal ini benar-benar membuat imanku bertumbuh." Frank memang telah sering melihat anak-anak muda terlibat dalam pekerjaan kemanusiaan, namun tidak pernah sampai setingkat ini. "Saya melihat mereka sebagai sebuah teladan terang akan apa yang sedang terjadi pada generasi mereka ini."

    MIMPI YANG MENULAR

    Pada musim panas tahun 2004, bagian lain dari impian ini muncul. Sebuah tim murid itu mengunjungi Kakolo untuk melihat gedung sekolah dan dampak langsung dari keberadaannya. Ketika ada di sana, para murid itu pun menemukan cara baru untuk membantu desa itu.

    Proyek klinik bersalin 2004-2005 adalah proyek yang lebih ambisius, yang menuntut dari para murid itu lebih banyak dana, pengorbanan, dan tentunya iman yang lebih besar.

    Namun, satu kejadian unik terjadi di tengah perjalanan mereka memenuhi target 110.000 dolar untuk pembangunan klinik itu. Para orang dewasa mulai ikut ambil bagian. Kampanye "Zambian Meltdown" yang dilaksanakan telah membuat 14 guru dan karyawan kehilangan 230 kilo berat badannya dalam 100 hari, dan menghasilkan tambahan dana 19.000 dolar untuk penurunan berat badan itu. Kepala sekolah dan wakilnya juga masing-masing kehilangan 35 kilo berat badannya.

    Pembangunan klinik itu dilaksanakan sepanjang musim panas ini. "Kami tak sabar ingin mengunjungi klinik itu, di mana bayi-bayi bisa lahir dengan selamat dan bebas dari virus HIV," kata Huber.

    Untuk tahun ajaran 2005-2006, murid-murid Wheaton Academy telah meluncurkan situs AIDS Student Network di alamat http://www.aidsstudentnetwork.org/, yang bertujuan untuk merekrut 1.000 murid SMU Amerika untuk berpartisipasi melawan penyebaran wabah HIV/AIDS di Afrika.

    "Ini adalah visi yang besar," kata Huber yang mengakui bahwa kunjungan ke Kakolo yang diadakan pada Juli 2004 yang lalu itu telah mengguncang dunianya. Pada sebuah kebaktian di bulan Mei, dia berkata pada murid-murid, "Saya sangat suka atas fakta bahwa Tuhan semesta alam juga senang melakukan hal-hal yang tak pernah terpikirkan." (t/ary)

    Sumber diambil dan diterjemahkan dari:
    ==> http://www.christianitytoday.com/ct/2005/august/26.50.html

    e-JEMMi 38/2006

    Lebih Mudah Tanpa Pendaftaran

    Pendeta O, dari gereja Baptis di Urganch, Barat daya Uzbekistan, adalah seorang yang tinggi besar. Dia berpundak lebar dan berperut besar. Dengan rambut cepak merah kekuning-kuningan, dia dapat disebut sebagai seorang perwira angkatan bersenjata yang sudah pensiun. Kecelakaan kerja menyebabkan dia mengalami cedera kaki dan dia berjalan pincang. Pendeta O dan istrinya, N, dulunya adalah bekas pencandu alkohol dan pengguna obat-obatan terlarang. Mereka hidup setiap harinya dalam kasih karunia Allah yang telah membebaskan mereka dari suatu kehidupan yang penuh kecanduan.

    Mereka tiba di kota perbatasan yang berdebu ini pada tahun 1998, untuk menggembalakan jemaat terdaftar, siap untuk menjadi benih yang ditanam dan digunakan untuk Kerajaan Allah. Perselisihan mereka dengan pihak kepolisian, terjadi setahun kemudian dan menghebat sampai tahun-tahun selanjutnya.

    Awal tahun ini, pemerintah akhirnya menarik izin gereja Pendeta O. Kejahatankah? Bukan, tetapi karena mengundang anak-anak tuli untuk mengikuti sekolah minggu di gerejanya dan menceritakan kepada mereka tentang Yesus. Oleh karena "membuat masalah", izin mereka dicabut dan mereka diperintahkan untuk menghentikan persekutuan.

    Ketika Dewan Gereja Nasional Uzbekistan memprotes pemerintah, mereka diperintahkan untuk diam atau kewenangan mereka juga dicabut. Dewan Gereja Nasional dilengserkan, dan secara diam-diam memaksa O untuk berhenti berkhotbah dan menutup gerejanya -- berhenti menanam benih Injil di Urganch.

    Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat Pendeta O dan N. Mereka memutuskan untuk melanjutkan pelayanannya. O mengatakan kepada KDP bahwa ketika gerejanya terdaftar, setiap 3 bulan dia harus memberikan laporan-laporan kepada pemerintah. Laporan tersebut menceritakan secara spesifik tempat diadakannya persekutuan, apa yang mereka lakukan di dalam persekutuan tersebut, berapa banyak uang persembahan yang diberikan jemaat, bagaimana uang persembahan tersebut dihabiskan, dan berapa banyak jiwa yang menghadiri ibadah. Sejak izin gerejanya dicabut, dia tidak perlu lagi memberikan laporan-laporan tersebut. Dia bahagia memiliki waktu ekstra untuk dihabiskan bagi kegiatan-kegiatan pelayanan.

    Kami duduk di atas lantai di dalam apartemen kecilnya, minum teh, dan makan roti bundar yang sudah umum dikonsumsi oleh masyarakat daerah ini. Kami bertanya mengapa pemerintah begitu ketakutan terhadap gereja dan pertumbuhannya?

    "Saya tidak tahu mengapa mereka takut", katanya. "Tetapi pemerintah melihat bahwa kami melayani anak-anak dan orang-orang Uzbek, dan pemerintah melihat begitu banyak orang Uzbek datang ke gereja kami. Orang Uzbek sedang mencari-cari Allah yang sesungguhnya. Mereka lelah dengan agama-agama tradisional (agama lain dan komunisme/ateisme). Mereka lapar akan firman-Nya. Kami mengerti bahwa ini adalah peperangan rohani."

    Malam itu, gereja Pendeta O mengadakan persekutuan spesial untuk menayangkan film "The Passion of the Christ". Penjangkauan gereja kepada orang-orang tuli, telah menghasilkan buah. Dalam persekutuan tersebut, hampir setengah jemaat menaikkan pujian dengan tepuk tangan daripada bibir mereka. N mengundang 5 orang tetangga wanita untuk ikut menyaksikan film ini. Mereka sangat berhasrat untuk datang dan ingin tahu mengenai film ini, yang rumornya anti terhadap bangsa Yahudi. Banyak dari mereka pulang bercucuran air mata karena melihat dengan jelas gambaran penderitaan Kristus. Setelah ibadah, kelima wanita tersebut dipenuhi dengan berbagai pertanyaan. Mereka mengerumuni N -- ingin sekali meminta penjelasan, ingin sekali menerima benih-benih Injil.

    Pelayanan gereja di Urganch berlanjut. Polisi tidak melakukan penggerebekan terhadap persekutuan kami malam itu. Mungkin mereka akan melakukannya di malam lain. Pendeta O, N, dan orang-orang percaya lainnya di sana tidak tahu kapan mereka akan digerebek. Gerejanya tidak akan diberi lagi status terdaftar, jika mereka tidak menghentikan penginjilan atau mengurangi usaha-usaha pelayanan mereka -- jika mereka tidak berhenti menanam benih-benih Injil.

    Pendeta O memberitakan lebih lagi mengenai penganiayaan, lebih lagi mengenai perlunya benih-benih yang rela mati untuk melihat buah-buahnya tumbuh. Dia bekerja keras mempersiapkan kawanan dombanya untuk siap menghadapi penganiayaan yang akan datang. Dia sedang melatih para pemimpin rohani, mempersiapkan mereka jika suatu saat mereka diusir dari komunitas mereka.

    Pokok Doa

    1. Doakan pendeta O dan istrinya, N, supaya Tuhan menyertai pelayanan mereka dan memberkati hidup mereka.

    2. Doakan agar orang-orang percaya di Uzbekistan bersatu hati, dan Tuhan mengaruniakan keberanian bersaksi dan kesetiaan mengikut Dia.

    3. Doakan agar Tuhan memuaskan kerinduan orang-orang Uzbekistan yang haus akan kebenaran sejati. Doakan juga agar mereka membuka hati untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi November - Desember 2004
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan
    Halaman : 6 -- 9

    e-JEMMi 37/2011

    Lima Petobat Baru

    Michael tahu tentang semua agama. Dia telah mencoba beberapa agama selama beberapa tahun dan menghadiri ibadah di beragam gereja yang ada di dekat rumahnya di Liverpool, Inggris. Dia bahkan menjadi tuan rumah bagi persekutuan kelompok pemuda Kristen. Meskipun demikian, Michael tidak pernah benar-benar mengetahui fakta-fakta Injil.

    Seorang temannya memberi Michael sebuah traktat berjudul "How to Be Sure" (Bagaimana Bisa Yakin). Setelah membacanya, Michael tahu bahwa dia tidak merasa pasti dengan keselamatannya. Surat dari Michael berikut ini adalah kesaksian yang menceritakan kisah selanjutnya:

    "Saya sungguh-sungguh berterima kasih karena telah membaca traktat 'How to be Sure.' Saya menerimanya sebagai pemberian dari teman. Saya membaca traktat ini pada saat diadakan persekutuan pemuda Kristen di rumah saya. Sebagai buahnya, ada kelompok yang terdiri atas lima pemuda termasuk saya, menyadari bahwa kami benar-benar tidak mengetahui dasar-dasar ajaran Kristen. Akhirnya kami memutuskan untuk mengakui segala dosa kami, mohon ampun, dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Saat itu benar-benar merupakan kesempatan yang istimewa -- ada lima petobat baru, termasuk saya. Saya telah menganut dan mencoba semua agama selama bertahun-tahun. Saya mengikuti ibadah di semua gereja lokal selama 8 tahun. Baru sekarang ini, untuk pertama kalinya saya dapat berkata dengan yakin bahwa 'Saya telah diselamatkan di dalam Kristus'. Terima kasih banyak."

    Michael juga menceritakan bahwa wilayah tempat tinggalnya sungguh- sungguh merindukan berita Injil. Sekarang dia menggunakan traktat "How to Be Sure" untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di lingkungan sekitarnya.

    Sumber: Situs American Tract Society
    ==> http://www.atstracts.org/stories/

    e-JEMMi 21/2004

    Lo -- Si Petani Sederhana

    Lo adalah seorang petani yang sederhana dan setengah buta huruf. Dia mungkin dilihat sedikit aneh oleh tetangga-tetangganya -- berdiri di atas sebuah bendungan air, tanpa alas kaki, mengenakan baju dan celana panjang kotor yang digulung sampai setinggi lutut. Tetangga-tetangganya mengira dia sedang melakukan sejenis latihan tenaga dalam, sampai sekelompok anak kecil merangkak mendekatinya dan mereka ternyata mendengar dia berdoa. Dia berdoa untuk setiap hal yang dilihat melalui jari-jari tangannya yang terbuka.

    Ketika dia melihat ladang-ladang tetangganya, dia berdoa, "Tuhan,berkatilah tetangga-tetangga saya dan berikan kepada mereka hasil panen yang berlimpah." Ketika dia melihat kerbau temannya, dia berdoa, "Tuhan, tolong pelihara kerbau ini, agar tetap sehat dan kuat karena dia sangat penting bagi teman saya." Ketika dari kejauhan dia melihat asap yang naik dari sebuah tempat penambangan batu, dia berdoa, "Tuhan, lindungilah orang-orang yang bekerja dengan banyak dinamit di tempat penambangan batu tersebut. Biarlah setiap batu yang berasal dari tanah yang Kau ciptakan menjadi bagian dari sebuah rumah." Dia berputar lebih lanjut dan melihat jendela-jendela yang pecah di pabrik kaca: "Tuhan, lindungilah para wanita yang bekerja di pabrik tersebut dan biarlah mereka mengalami penyertaan-Mu selama bekerja." Dia berdoa untuk setiap hal yang dia bisa lihat. Penghuni rumah, pemilik ladang, seekor binatang, pohon-pohon atau bendungan-bendungan. Dia berdoa supaya mereka bisa berkembang dan tetap terpelihara.

    Lo adalah satu-satunya orang Kristen di daerah tersebut dan tetangga-tetangganya menganggap doanya itu sesuatu yang aneh. Mereka mengetahui kalau dia itu tidak terlalu pandai, sehingga mereka menyangka Lo setengah gila. Pada usia 51 tahun, Lo meninggal tanpa kehadiran seorang keluarga pun, karena serangan jantung. Sejak kematian Lo, satu persatu kecelakaan dan malapetaka mulai terjadi di daerah itu: empat orang terbunuh akibat terjadinya ledakan di tempat penambangan batu, seorang wanita muda kehilangan sebuah lengannya pada sebuah kecelakaan di pabrik gelas, ada kerbau mengamuk sampai menghancurkan saluran irigrasi yang penting. Akhirnya, para penduduk desa berkumpul dan berkata, "Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi akhir-akhir ini karena Lo sudah tidak ada lagi untuk mendoakan kita. Seperti yang kita ketahui dari anak-anak kita, tidak ada seorangpun terluka dan panen berlimpah ketika Lo mendoakan kita." Mereka berembuk sampai larut malam dan memutuskan untuk mencari tahu kepada Allah yang mana Lo berdoa dan mereka merasa menyesal karena tidak terlalu tertarik kepada kepercayaan Lo ketika dia masih hidup.

    Dalam rangka mencari jawaban tersebut, mereka menyalakan hio (sejenis dupa) di sebuah altar di desa mereka. Anehnya, patung pahlawan perang yang ada di atas altar selalu terjatuh setiap malam dengan muka terpuruk di lumpur. Akhirnya mereka mendapatkan sebuah ide: "Dewa selalu jatuh pada arah yang sama." Jatuhnya selalu menunjukkan ke arah bekas rumah Lo. Lalu mereka pergi ke rumah tersebut, yang sekarang ditinggali oleh sebuah keluarga, dan mulailah mereka mencari tahu. Setelah beberapa waktu, seseorang berteriak, "Saya telah menemukan sesuatu!" dan dia menarik sebuah buku kecil dari celah di bawah atap. Mereka membawa buku tersebut kehadapan patung dewa mereka dan menyalakan lebih banyak hio lagi danbertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada hari itu,seorang penginjil muda tiba di daerah itu dan mulai menginjili diladang-ladang: "Saudaraku, izinkan saya untuk menceritakan tentang Yesus Kristus."

    Tetapi, sebelum penginjil muda itu berkata lebih lanjut, sekelompok orang menangkapnya dan mengikat tangan dan kakinya dan berteriak kepadanya, "Apa yang kamu kerjakan? Hendak mengajarkan penyembahan yang lain?" Ketika sedang menyeretnya melewati altar, mereka mendengar suara yang keras dan sebuah teriakan. Mereka melepaskan penginjil tersebut dan berlari ke altar di mana mereka menemukan patung pemujaan mereka terjatuh lagi dan kali ini menimpa kaki seorang wanita muda. Ketika mereka sedang berusaha membebaskan wanita tersebut, penginjil muda tadi bergerak mendekat. Dia mengenali buku Lo yang diletakkan di altar, lalu mengangkatnya dan bertanya, "Ini adalah Alkitab. Di manakah kalian menemukannya?" Penduduk desa memandangnya dan bertanya apakah dia mengetahui tentang buku tersebut. "Tentu saja, ini adalah buku tentang Yesus Kristus, Allah yang terhebat, yang menjawab setiap doa, tidak seperti allah-allah lainnya."

    Itu adalah kata-kata yang sudah lama ingin di dengar oleh para penduduk desa. "Buku ini milik seorang petani di desa ini," kata mereka. "Semula kami pikir dia itu gila, tetapi kami dapat melihat dan merasakan bahwa doa-doanya sangat manjur. Tolong ceritakan kepada kami tentang Allah yang dia percaya!" Sang pengijil membersihkan debu yang ada di bajunya dan mulai berbicara. Dia memperhatikan bahwa ibu jarinya menunjuk ke sebuah bagian tertentu saat dia mengambil Alkitab yang terbuka tersebut. Ketika dia melihat dan membaca bagian tersebut, dia sangat takjub. Bagian itu adalah ayat dari 1 Samuel 5, yang menceritakan tentang Dagon, dewa orang Filistin yang jatuh tersungkur di hadapan Tabut Perjanjian. "Saya belum pernah memperoleh ayat yang lebih baik untuk berkotbah" dia berkata sambil tersenyum kecil.

    Beberapa waktu berlalu, para penduduk desa itu sekarang telah menjadi Kristen. Mereka berkata, "Panen kami meningkat dan jumlah kecelakaan yang terjadi menurun." Walaupun begitu, hal yang terbaikialah peninggalan kebiasaan yang Lo kerjakan. Setiap sore, sepuluh sampai lima belas orang berdiri di atas waduk-waduk, merentangkan sebelah tangannya, membuka jari-jarinya dan berputar perlahan ditempat, berdoa di dalam hati untuk setiap hal yang mereka lihat melalui jari-jari mereka.

    Sumber: Friday Fax, January 2002

    e-JEMMi 09/2002

    Luput dari Pemenggalan Kepala

    Jarang sekali seorang pendeta mau ditugaskan melayani di desa M -- Poso meskipun ini adalah desa Kristen. Banyak orang Kristen dibantai secara keji di sekitar daerah itu. JT (30 tahun), tidak takut menggantikan tugas penggembalaan seorang gembala GPdI yang meninggal karena sakit di desa M. JT hanya menggembalakan 2 keluarga karena jemaat lainnya telah mengungsi. JT tidak memiliki kendaraan untuk melaksanakan tugas-tugas pelayanan, dan untuk itu ia meminjam sepeda motor milik orang tuanya di desa P.

    Suatu sore -- 23 Desember 2004, JT menghadiri ibadah Natal bersama di desa T. Acara berakhir malam dan kembali ke desanya dalam kegelapan malam adalah berbahaya. Terpaksa ia bermalam di desa orang tuanya. Keesokan harinya, 24 Desember 2004, JT memulangkan istri dan anaknya ke desanya terlebih dahulu, dan kembali lagi untuk mengembalikan motor milik orang tuanya.

    Setelah memulangkan istri dan anaknya, ia mengembalikan motor itu ditemani seorang jemaatnya, J (18 tahun). Mereka masing-masing membawa motor melewati jalan di antara perkebunan cokelat. Di tengah perjalanan antara desa M dan P, tampak seorang pria berdiri di pinggir kanan jalan. JT tidak menyadari jika pria itu adalah seorang radikal yang sedang menyembunyikan sebuah parang. JT sempat membunyikan klakson dan terus melintas dalam kecepatan 30 km/jam. Rupanya pria itu berencana mengayunkan parangnya ke bagian leher ketika JT melintas di depan pria itu, sehingga otomatis kepala JT akan terpenggal dan menggelinding ke bawah.

    Ketika JT melintas persis di depan pria itu, seketika pria itu mengayunkan senjatanya. Ia kaget dan melakukan gerakan refleks untuk menghindar dengan cara membungkukkan badannya. Leher JT luput dari sebuah penggalan yang mematikan. Namun, parang itu tetap mengenai wajahnya. Mulut JT robek dari bagian pipi kanan ke pipi kiri. Sepuluh giginya bagian atas rontok dan lidahnya teriris. Karena pipinya robek, rahang bagian bawah menggelantung. Ia tidak sanggup mengatupkan mulutnya dan JT melemparkan motornya ke pinggir jalan.

    Menyaksikan JT terluka parah dan terancam nyawanya, J melompat dari motornya dan menghampiri pria itu. Mereka pun berduel. Pria itu jatuh. Dari balik semak-semak muncul tiga orang pria lainnya bersenjatakan parang, lalu mengeroyok J. J terluka di bagian pelipis dan sekujur punggungnya. Jari telunjuk kirinya putus. J berlari kembali ke arah desa M dalam kejaran tiga pria tersebut, sementara salah seorang pria itu mengejar JT yang berlari ke arah desa P. JT lari sambil memegangi rahang bagian bawah yang menggelantung sambil terkucur darah segar. Tangan Tuhan menolongnya. Semakin jauh JT dan J berlari, semakin tertinggal pengejarnya.

    "Aku menaikkan doa pengampunan saat berlari. Aku berteriak: 'Tuhan beri aku kekuatan! Aku ampuni mereka!' Seketika aku merasakan kekuatan mengalir dari atas, yang memampukan aku berlari makin kencang dan aku merasa badanku ringan sekali ketika lari. Tak terasa 1,5 kilometer telah aku lampaui hingga tiba di desa P. Aku bertemu warga Kristen dan aparat, lalu aku dibawa ke rumah sakit Poso dengan angkutan kota," kata JT. Sementara itu, J berlari terus hingga tiba di desa M dan bertemu aparat di pos keamanan, lalu ia dilarikan ke rumah sakit Poso dengan dibonceng sepeda motor. Di lokasi kejadian, polisi menemukan beberapa parang tajam sepanjang 70 sentimeter yang masih ada darahnya, dan 5 buah karung yang disediakan untuk membungkus kepala JT dan J yang akan dipenggal.

    JT merasa bahwa tugas penggembalaan merupakan sebuah panggilan yang kita tidak boleh memilih-milih. "Setelah ini aku tetap kembali melayani Tuhan. Sekarang aku bisa ikut merasakan penderitaan para martir yang mengasihi Allah. Jika waktu itu aku tidak memiliki sukacita dan terlalu berfokus pada penderitaanku, mungkin aku sudah menyangkal Kristus," ungkap JT. Dan lagi, J menambahkan, "Aku ingin para pendeta melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh."

    Dengan bantuan sebuah yayasan Kristen, JT mendapatkan bantuan medis lebih lanjut. JT dibuatkan gigi palsu dengan metode implantasi yaitu menanamkan titanium alloy sebagai pengganti akar. Sekarang JT tidak lagi kesulitan mengunyah makanan. Perhatian ini akan mengingatkan orang-orang Kristen teraniaya bahwa mereka tidak sendirian. Tetapi Tuhan bersama mereka melalui saudara seiman yang memberikan doa dan perhatian.

    Goresan bekas luka tampak di sepanjang wajah JT. Goresan ini bisa dihilangkan dengan operasi bedah plastik. Namun JT menolak ketika ia ditawari untuk melakukan operasi bedah plastik. JT menjawab, "Saya tidak perlu itu. Tanda ini akan menjadi kenangan dan kesaksian bagi banyak orang. Mereka akan sangat diberkati oleh kesaksian saya." Bagi sebagian orang, tanda bekas luka atau cacat adalah hal yang memalukan, tapi bagi orang yang mengasihi-Nya tanda itu adalah meterai perjanjian kemuliaan dengan Allah.

    Pokok Doa:

    1. Bersyukur bahwa Tuhan membuktikan penyertaan-Nya kepada anak-anak-Nya dan tidak membiarkan mereka seorang diri menghadapi penganiayaan.
    2. Berdoa untuk JT dan J, supaya mereka tetap dikuatkan Tuhan dan terus menyaksikan kasih-Nya dalam hidup mereka.
    3. Berdoa agar Tuhan memakai kesaksian ini untuk menguatkan setiap pembaca dalam menghadapi semua tantangan dan masalah.

    Diambil dari:

    Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret - April 2005
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
    Halaman : 11

    e-JEMMi 16/2012

    MENGAJAR KOMPUTER DAN MENANAM GEREJA

    Banyak orang Indonesia rindu menikmati salju dan tinggal di daerah yang dingin. Ini merupakan hak istimewa bagi kami sekeluarga. Sudah bertahun-tahun kami tinggal di Asia Tengah, sebuah negara dengan musim dingin dan salju yang luar biasa sehingga kami harus menyapu salju dari atap kami supaya atap itu tidak roboh. Salju memang enak untuk dilihat di gambar, tetapi sulit untuk dialami. Selama hampir enam bulan udara sangat dingin. Sampai dua puluh derajat celcius di bawah nol. Tanpa pemanas di rumah, kami tidak bisa bertahan, bukan hanya kamar, tempat tidur pun dipanaskan agar tidak terlalu dingin dan kami tidak jatuh sakit.

    Tetapi kami tidak datang ke Asia Tengah untuk menikmati salju, kami datang untuk memberitakan Injil kepada rakyat yang lama dikuasai oleh pemerintah komunis. Karena kami tidak bebas menceritakan Kabar Baik, Pak M mengajar komputer di sebuah sekolah di desa agar mendapat visa untuk tinggal di sana. Murid-murid di sekolah tersebut sangat nakal dan tidak menghargai guru maupun orang asing. Tanpa rotan, sekolah di Asia Tengah tidak dapat berjalan. Sekarang Pak M sudah mendidik dua pemuda pribumi sehingga mereka bisa mengajar.

    Kabar Baik diberitakan secara diam-diam, waktu belanja atau bekerja di kebun. Sekarang sudah ada orang lokal yang bertobat. Mereka sering mengalami kesulitan luar biasa. Karena ikatan kekeluargaan mereka sangat kuat, seseorang tidak bebas mengikuti Tuhan Yesus. Itu sebabnya kami menyekolahkan dua pemuda yang sudah mengenal Tuhan Yesus di ibu kota supaya mereka mendapat pendidikan dan bebas beribadat pada hari Minggu.

    Seorang teman kami yang lain sudah bertobat pula dan mengikuti sekolah Alkitab di ibu kota. Karena dia sudah berumur dan merupakan orang terkemuka, dia dengan istrinya tidak bisa dilarang menjadi Kristen. Pak Z (bukan nama asli) memiliki karunia menginjili. Di desanya, dia sudah bersaksi kepada banyak orang. Ada orang yang berani ikut ke persekutuan di rumah mereka, di mana kami mendukung Pak Z sekeluarga untuk melayani Tuhan lebih sungguh-sungguh lagi. Tetapi tantangan Pak Z tidak sedikit. Saat dia baru mulai melayani sebagai penginjil, satu dari lima anaknya dibunuh ketika dia sedang membawa taksi. Anak itu merupakan anak yang paling diharapkan untuk mendukung keluarga karena sudah berhasil di ibu kota. Selain itu, dia sudah menikah dan memiliki seorang bayi. Pembunuhan putra mereka merupakan suatu kejutan besar bagi Pak Z sekeluarga. Ketika pembunuh itu tertangkap dan diadili, Pak Z sebagai orang tua bersedia mengampuni dan menandatangani surat pengampunan. Sekarang keluarga ini masih terus bergumul untuk bisa terus mengampuni, tidak menjadi pahit ketika tantangan keuangan berat menghadapi, kuat menerima omongan/sindiran tetangga agar jangan ikut agama Kristen karena nanti bernasib malang seperti Pak Z.

    Kami sekeluarga meminta dukungan doa agar kami tetap bersemangat melayani di Asia Tengah dan orang Kristen di sana berani membayar harga yang mahal untuk keselamatan yang kekal seperti keluarga Pak Z.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 71, Tahun 2007
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Terang Lintas Budaya, Sidoarjo 2007
    Halaman : 3

    e-JEMMi 18/2008

    MENGULURKAN TANGAN MEMBAWA KASIH

    A DI PENJARA

    Ketika Open Doors mngunjungi A, di sebuah penjara di Jawa Barat, ia mengira kami adalah "tamu tak diundang". Beberapa kali ia menerima orang-orang yang dikiranya adalah teman, tapi ternyata mereka malah mencoba memaksanya untuk "kembali".

    A dijatuhi hukuman tiga setengah tahun penjara. Ia teringat kembali pada sidang kedua tanggal 17 Mei 2006 ketika hakim menjatuhkan vonis bersalah terhadap dirinya. Beberapa orang dari kelompok radikal mengunjunginya di penjara sehari sebelum sidang dan berkata, "Apa yang kau dapat setelah menjadi Kristen?", mereka mengejek A ketika menjawab, "Tuhan Yesus memberkatiku dengan luar biasa", sebuah hantaman mendarat di kepalanya. Saat ia menolak untuk mengucapkan kata-kata pengakuan iman sebuah agama, kembali sebuah hantaman menghujani pelipisnya.

    Kelompok-kelompok radikal juga mengancam akan menghancurkan beberapa gereja di kota A jika ia menolak untuk mengakui tuduhan yang dijatuhkan terhadap dirinya. Sebuah tekanan yang membuat A tidak dapat menolak.

    A perlahan mulai sembuh dari serangan stroke yang membuat lengan kanannya lumpuh. Meskipun berangsur pulih dari serangan stroke, penyakit darah tinggi dan diabetes yang dideritanya masih membuatnya merasa lemah.

    Hingga saat ini, A masih bergumul dalam perasaan khawatir dan rasa takut yang sesekali masih menghampirinya, "Saya dianiaya beberapa kali, enam gigi saya tanggal karena penganiayaan tersebut."

    Sebagai seorang suami dan ayah, sulit bagi A untuk bisa menerima situasinya sekarang, namun ia berkata, "Penderitaanku tidak seberapa dibandingkan dengan Yesus dan Rasul Paulus."

    Beberapa kali ia mengulang pesan yang sama, "Jangan takut. Tetaplah menjadi pengikut Yesus yang setia meskipun di tengah badai dan gelombang."

    Sebelum berpisah, ia menyanyikan sebuah pujian bagi Tuhan "Indah rencana-Mu Tuhan, dulu ku tak mengerti, dan ku tak tahu jalan-jalan-Mu Tuhan, hatiku pedih dan ku tak berdaya, namun ku mengerti sekarang, Kau selalu menolongku, indah rencana-Mu ...."

    MENGULURKAN TANGAN BAGI KELUARGA SEIMAN

    Open Doors membantu A dan keluarganya dalam bentuk bantuan SED (Social Economic Development). Memobilisasi doa bagi A dan keluarganya (istrinya, W, dan putri mereka, R).

    Keluarga A bukanlah satu-satunya keluarga yang saat ini menerima bantuan SED dari Open Doors Indonesia. Kami membantu banyak keluarga-keluarga yang tengah mengalami pergumulan karena mereka memilih untuk tetap setia menjadi pengikut Kristus.

    Kehidupan dari keluarga-keluarga yang mengalami krisis diharapkan tidak berhenti saat krisis menghantam keluarga-keluarga ini. Seperti yang terjadi dengan keluarga A, kehidupan mereka harus tetap berjalan meskipun suami dan ayah mereka berada dalam penjara. Jika Saudara pernah melalui sebuah krisis, Saudara pasti akan mengerti akan hal ini. Bahkan, jika Saudara pernah terluput dari hal-hal semacam ini pun, Saudara dapat membayangkan betapa perasaan putus asa dapat menyergap sewaktu-waktu di tengah krisis.

    Kehadiran Saudara seiman yang menopang dalam kasih adalah sebuah hal yang sangat berharga. Karena itu, Open Doors mengajak Saudara yang tergerak untuk menguatkan keluarga-keluarga di Indonesia yang mengalami krisis karena orang-orang yang mereka kasihi berada dalam penjara atau bahkan tewas terbunuh karena imannya. Berdoalah bagi keluarga-keluarga seiman kita ini. Dan bagi Saudara yang tergerak untuk membantu proyek SED Open Doors Indonesia, Saudara dapat menghubungi organisasi Open Doors Indonesia.

    Saat kami bertemu dengan A di penjara, ia mengatakan kerinduannya untuk menjadi contoh dan berkat bagi sesama tahanan. Ia bahkan menyisihkan uang untuk perpuluhan yang biasa diberikannya dalam sebuah ibadah yang diadakan di penjara.

    Maukah Saudara menjadi berkat bagi saudara-saudara seiman seperti A, yang meski di tengah sesulitan seperti apa pun, A dan masih banyak saudara-saudara seiman kita yang tertekan lainnya, tetap dapat menjadi saluran berkat?

    [Info tambahan: Untuk mengetahui informasi lebih banyak tentang pelayanan Open Doors Indonesia, silakan berkunjung ke: http://www.opendoors.org]

    Diambil dari:

    Judul buletin : Open Doors, Vol. 14, No. 5
    Judul kesaksian : Mengulurkan Tangan Membawa Kasih
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Open Doors, 2007
    Halaman : 2 -- 3

    e-JEMMi 16/2008

    Madame Jeanne Guyon

    Madame Jeanne Guyon dilahirkan sebagai anak yang cantik. Ia tinggal dalam keluarga Perancis yang berada. Pada umur sepuluh tahun, ia menemukan sebuah Alkitab dan menghabiskan seluruh hari-harinya untuk membacanya. Ia sering berdoa walaupun keluarganya menentangnya.

    Ketika berumur lima belas tahun, ia dinikahkan dangan seseorang yang cacat dan berumur 38 tahun. Ia tidak senang akan hal tersebut dan mencari kebahagiaan dalam kesetiaannya kepada Kristus.

    Sebagai wanita muda, ia terdorong masuk ke dalam dunia materialistis dalam pemerintahan Louis XIV saat itu. Kecantikan dan kecerdasannya menjadikannya memiliki tempat yang terkemuka dalam masyarakat Paris. Ketika ia belajar untuk semakin mendekatkan diri pada Kristus, wajahnya terkena cacar. Tragedi tersebut membawanya ke kehidupan rohani yang semakin mendalam.

    Karena tulisan hasil karyanya, doa-doanya, dan ajaran-ajarannya mengenai pentingnya hidup kudus telah memengaruhi masyarakat, Raja Louis XIV yang senang berfoya-foya, menjebloskan Madame Guyon dalam penjara. Hampir 25 tahun dari hidupnya dihabiskan di dalam empat penjara yang berbeda-beda, termasuk satu periode dalam penjara Bastille.

    Selama tujuh tahun ia menderita secara fisik karena racun yang diberikan kepadanya oleh musuhnya. Selama berada dalam penjara, ia menuliskan hasil pemikiran dan doanya, ada lebih dari 45 volume karya tulisannya. Ia menulis, "Engkau Tuhanku, tambahkan kasih dan kesabaranku dalam penderitaan, seiring dengan penderitaan yang kualami .... Semua kebahagiaan, dan kondisi rohani kita, baik yang sementara maupun yang kekal ada dalam penyerahan diri kita pada Tuhan. Biarkan Tuhan bekerja dalam kita dan dengan kita sesuai kehendak-Nya ...."

    Dalam tulisannya yang berjudul "Experiencing the Depths of Jesus Christ" (Mengalami Kedalaman Yesus Kristus), sering juga dinamakan "A Short and Very Easy Method of Prayer" (Metode Doa yang Pendek dan Sangat Mudah), Madame Guyon menulis, "Hasrat Tuhan yang terutama adalah menyatakan diri-Nya kepada kita. Untuk melakukan hal tersebut, Dia memberikan kepada Anda anugerah yang berlimpah. Tuhan memberi Anda pengalaman menikmati hadirat-Nya ...."

    Madame Guyon meninggal pada 1717, dalam kedamaian yang sempurna saat ia berumur 69 tahun. Kebenaran-kebenaran hasil tulisannya yang berisi tentang hubungannya dengan Kristus dianggap sebagai tulisan rohani terbaik dan memiliki pengaruh yang sangat luas pada zaman Francois Fenelon. "A Short and Very Easy Method of Prayer" dianggap sebagai bahan bacaan yang perlu oleh Watchman Nee, John Wesley, dan Hudson Taylor.

    Kekuatan tulisannya terletak pada kebenaran yang sederhana mengenai sebuah kehidupan bersama Kristus dan dalam memandang bahwa doa dan kekudusan merupakan tanggapan kasih yang diberikan bagi Tuhan. Tulisan dan hasil renungannya terus memengaruhi orang-orang Kristen selama beratus-ratus tahun kemudian.

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul buku : Batu-batu Tersembunyi dalam Pondasi Kita
    Judul artikel : Madame Jeanne Guyon
    Penulis : The Voice Of The Martyrs
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
    Halaman : 69 -- 71

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/madame_jeanne_guyon

    Mehdi Dibaj

    Pendeta Mehdi Dibaj dari Iran menghadapi pengadilan. Di pengadilan, ia diberikan kesempatan untuk membela dirinya dan menjelaskan mengapa ia berpindah dari "agama lain" menjadi pemeluk agama Kristen. Semua mata tertuju kepadanya ketika ia memberikan jawabannya.

    Adapun jawabannya sebagai berikut: "Orang memilih agama, tetapi orang Kristen dipilih oleh Yesus Kristus. Menjadi seorang Kristen berarti menjadi milik Kristus. Yesus memintaku untuk meninggalkan kehidupan lamaku dan mengikuti-Nya dengan setia. Sekalipun itu berarti saya harus dibenci oleh dunia dan tubuh saya harus binasa. Saya tahu pasti bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa beserta dengan saya.

    Saya berada di tangan Tuhan. Selama 45 tahun, saya berjalan di dalam mukjizat Tuhan dan kasih karunia-Nya memayungi saya. Tuhan Daniel, yang melindungi Daniel dan teman-temannya, juga akan menyertai saya selama di penjara. Tuhan akan menyatakan kebaikan dan kasih-Nya melalui siksaan yang akan saya alami.

    Dari semua nabi-nabi yang ada, hanya Yesus yang bangkit dari antara orang mati dan Ia tetap tinggal di dalam hati kita. Saya menyerahkan hidup saya ke dalam tangan-Nya. Bagi saya, hidup itu adalah sebuah kesempatan untuk melayani Tuhan dan kematian adalah suatu kesempatan yang berharga untuk berkumpul bersama dengan Yesus."

    Mehdi Dibaj dan keluarganya percaya kepada Yesus dan telah menjadi orang Kristen. Ia menerjemahkan buku-buku rohani dan siaran radio rohani ke dalam bahasa Parsi, yang banyak digunakan oleh orang Iran. Ia ditangkap pada tahun 1985 dan dituduh mengingkari agama yang pertama kali dianutnya. Ia dijatuhi hukuman mati atas pelanggaran tersebut.

    Di Iran, umat Kristiani yang baru bertobat biasanya mengalami tekanan. Beberapa di antara mereka bahkan mengalami penganiayaan. Ia dimasukkan ke dalam sebuah lubang selama dua tahun di mana ia tidak dapat menjulurkan kakinya. Sering kali ia mengalami kram di sekujur tubuhnya. Ketika ia dipenjara, istrinya dipaksa menikah dengan seorang pemeluk "agama lain".

    Ketika Dibaj menolak dengan tegas untuk menyangkali imannya, ia dijatuhi hukuman mati. Satu bulan kemudian, ia dibebaskan karena adanya tekanan dari pihak internasional. Beberapa saat setelah dibebaskan, ia ditemukan meninggal dalam taman. Insiden ini diyakini dilakukan oleh pemimpin "agama lain" yang tidak senang terhadapnya.

    Ketika Dibaj dipenjara, keempat anaknya dipelihara oleh seorang pendeta yang bernama Mohammed Ravanbakhsh. Dua tahun setelah kematian Dibaj, Ravanbakhsh juga menjadi martir. Ia digantung di sebuah pohon di hutan dekat Ghaem-Shahr. Walaupun kehilangan ayahnya, keempat anak tersebut tetap percaya kepada Yesus.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi dalam Pondasi Kita
    Judul artikel : Mehdi Dibaj
    Penulis : The Voice Of The Martyrs
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2000
    Halaman : 126 -- 128

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/mehdi_dibaj

    Melayani Tuhan dari Atas Kapal

    Saya merasa mendapat kehormatan dari Tuhan karena dapat melayani di tiga kapal Operation Mobilization (OM) -- LOGOS, DOULOS dan LOGOS II. Saya melayani di LOGOS sejak 1986 sampai karamnya di Argentina Selatan pada tahun 1988. Sebelum menikah, saya melayani di DOULOS dan LOGOS II dan pada tahun 2001-2004 bersama keluarga, saya melayani di LOGOS II.

    Saya bukan pelaut dan sering mengalami mabuk laut ketika berlayar. Hanya karena panggilan-Nyalah saya dapat bertahan dalam pelayanan ini dengan penuh sukacita. Saya adalah lulusan sekolah Theologia yang (biasanya) dipersiapkan melayani orang-orang Kristen. Akan tetapi, lambat laun saya mulai belajar untuk melayani orang-orang non-Kristen dan menjadi "Ergatai" atau pekerja yang bersedia mengotorkan tangan untuk Tuhan. Lewat proses penyangkalan diri dan menyadari bahwa melayani itu tidak hanya dari mimbar saja, saya memulai pelayanan dengan bekerja di gudang buku disamping pelayanan- pelayanan PI dan khotbah. Walaupun tidak mudah, di sana saya pun belajar untuk hidup bersama dengan 200 orang lain dari 50-an bangsa yang berbeda.

    Tapi anugerah Tuhan sangat luar biasa. Atas perkenaan-Nya, bukan hanya pengalaman pelayanan di sekitar 100 negara yang Ia berikan, tapi juga beraneka lingkup pendengar mulai dari presiden, hamba- hamba Tuhan, gereja-gereja, penjara, anak jalanan sampai suku-suku pedalaman.

    Saat bersama dengan keluarga melayani di Logos II (sebagai Direktur Pelatihan) anak-anak saya pun diberkati dengan sekolah yang sangat baik di kapal, bersama 17 anak-anak lainnya. Mereka mendapat pendidikan dengan British System Education. Selama itu, kami juga mengunjungi negara-negara yang dulu pernah saya layani seperti Polandia, Rusia, negara-negara Eropa, Amerika Latin dan Karibia, sehingga disamping mengikuti pelayanan, anak-anak juga mengerti apa itu arti Pelayanan Lintas Budaya.

    Bagi istri saya, bahkan sebelum menikah, ia juga pernah melayani di kapal. Tapi dengan tidak adanya "privasi" dan tidak ada dapur sendiri serta selalu hidup berpindah-pindah, menjadikan harga yang harus ia bayar sebagai seorang ibu adalah yang paling berat. Tuhan memang tidak pernah meminta kita melakukan sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan dan juga tidak pernah dimintanya sesuatu yang belum pernah diberikannya kepada kita. Sekalipun demikian, melalui pengalaman itu kami belajar bahwa ada harga yang harus dibayar jika kita ingin dunia mengenal Kristus.

    Pelayanan kapal (mission vessel) terbatas pada tempat-tempat yang "terbuka" dan "aman" di negara-negara yang mau menerima kami. Demikian juga dengan OM, secara sederhana Visi OM ships adalah: "Bringing Hope to the Peoples of the World (Membawa Pengharapan bagi Orang-orang di Seluruh Dunia)".

    Di setiap negara kami melakukan pelayanan yang disingkat METAL:

    (M) Mobilisasi gereja-gereja/umat Tuhan untuk penyampaian Kabar Baik sedunia dengan konferensi/seminar di atas kapal, baik untuk pendeta- pendeta, kaum profesional, ibu-ibu, dan lain-lain. Setiap Minggu ada 20-40 tim yang melayani gereja-gereja lokal melalui kesaksian dan Firman Tuhan.

    (E) Evangelism, menyampaikan Kabar Baik kepada semua lapisan masyarakat. Hari pertama kami tiba di suatu negara biasanya diawali dengan "Official Opening (Pembukaan Resmi)" yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin tinggi negara seperti presiden, menteri-menteri, para duta besar, dan lainnya. Dan dengan adanya liputan media massa, telah memberi kami kesempatan menyampaikan Kabar Baik secara lebih luas kepada kalangan yang sulit mendapat kesempatan mendengar Injil. Di kapal kami sendiri ada Youth Rally, yaitu tim-tim yang turun ke jalan-jalan, penjara, rumah sakit, rumah yatim piatu, dan sebagainya juga yang pergi ke pedalaman untuk menyampaikan Kabar Baik ini. Setiap akhir kunjungan di suatu negara kami mengadakan International Night yang biasanya diadakan di teater, stadion atau tempat yang bisa memuat banyak orang secara umum dan di sinilah Injil diberitakan.

    (T) Training (Pelatihan). Selain para awak kapal, di setiap negara, kami juga memiliki sekitar 50 sukarelawan yang membantu pelayanan kami. Para awak kapal itu adalah hamba-hamba Tuhan yang telah menyerahkan diri mereka untuk melayani dan belajar. Kami pun mengadakan berbagai macam pelatihan, selain dalam bidang rohani, teologia dan juga hal-hal praktis dalam pelayanan seperti sketchboard, khotbah, drama, dan sebagainya, tak lupa juga diajarkan ketrampilan-ketrampilan yang diperlukan, misalnya mereka yang bekerja di dek harus belajar tentang navigasi dan sebagainya. Ada juga kelas training yang diadakan 2-4 jam setiap hari dan study program untuk setiap awak kapal. Kenyataannya, hidup bersama dengan berbagai bangsa dan mengunjungi negara-negara yang kami layani itu sendiri sebenarnya sudah merupakan training lintas budaya.

    (A) Aid (Bantuan pelayanan sosial). Kerajaan Allah bukan hanya sekedar kata-kata. Olehnya kami juga melakukan pelayanan sosial baik di bidang medis maupun mengerjakan proyek-proyek seperti memperbaiki rumah-rumah jompo, yatim piatu, dan memberikan bantuan di mana kami bisa.

    (L) Literatur. Di setiap kapal kami membawa sekitar 300 ton buku- buku pendidikan dan rohani. Lebih dari 4000 judul kami bawa di Pameran Buku yang rata-rata didatangi 5.000 orang setiap harinya. Lewat acara itu, setiap orang berkesempatan membeli litetarur bermutu dengan harga murah dan paling tidak bisa membawa selembar traktat di tangannya. Kami juga sering menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan nasional.

    Semua kru yang terlibat di pelayanan kami adalah "sukarelawan", para utusan gereja yang didukung dalam doa dan dana oleh gerejanya masing-masing. Di kapal LOGOS II (juga di DOULOS) saja mereka berasal dari sekitar 50 bangsa. Memang, untuk menjalankan kapal kami memerlukan tenaga profesional seperti kapten, dokter, teknisi, dan nahkoda. Tapi selain itu kami juga memerlukan penginjil, guru, dan tenaga-tenaga lain yang mau melakukan apa saja untuk Tuhan seperti pekerja dek, dapur, dan sebagainya. Jadi tidak semua dari kami adalah pelaut. Tuhan memilih dan memakai orang-orang sederhana dan biasa serta yang takut akan Dia.

    Pokok Doa
    Kapal DOULOS adalah kapal penumpang tertua yang masih aktif dan dibuat pada tahun 1914. Ada 300 lebih hamba-hamba Tuhan yang melayani di sana. Saat ini, izin operasi kapal LOGOS II telah kembali diperpanjang karena penggantinya "LOGOS HOPE" masih belum siap. Doakan 200 lebih hamba-hamba Tuhan di LOGOS II. Doakan agar Tuhan mengirim pekerja-pekerja yang tepat untuk pelayanan kapal ini. Kiranya mereka dijauhkan dari motivasi sekedar untuk "jalan-jalan dan mau melihat dunia" sehingga pelayanan ini tetap diberkati-Nya. Sampai sekarang ada sekitar 30 juta orang pernah mengunjungi kapal- kapal misi ini. Doakan untuk perlindungan dari Tuhan karena hidup di atas air itu adalah hidup yang "rawan".

    OM membuka kesempatan bagi anak-anak muda Indonesia untuk melayani. Bagi Anda anak muda yang mau mendedikasikan hidupnya pada Tuhan melalui pelayanan OM Ships, silakan menghubungi: <info@id.om.org>

    Sumber kesaksian:
    Penulis: Pdt. Bagus (Ketua OM Indonesia)

    e-JEMMi 42/2005

    Melayani di Antara Suku-Suku

    Setelah melewati pergumulan yang sangat panjang dan doa yang tak ada putusnya, khususnya dalam menentukan suku atau tempat alokasi saya melayani. Akhirnya saya mengucap syukur karena mendapatkan tempat di tengah suku yang pernah saya kunjungi pada bulan Juli dan Agustus yang lalu. Setelah memilih wilayah suku ini sebagai tempat bekerja dan melayani untuk jangka waktu yang panjang, saya kembali pergi ke desa tersebut selama 2-3 minggu. Dengan ditemani seorang teman, saya berangkat ke wilayah suku tersebut pada 26 Oktober 2005.

    Masyarakat di sana sangat senang melihat saya kembali, mereka bertanya apakah saya akan kembali untuk menetap di sini. Dan saya langsung menjawab `Ya` dan entah dari mana datangnya jawaban itu tapi sepertinya saya memang yakin bahwa inilah jawaban Tuhan untuk saya. Ibu-ibu datang dengan bahasa daerah mereka yang masih sangat kental sekali, memeluk saya, sedangkan saya hanya terheran-heran dan bingung karena saya tidak mengerti semua apa yang mereka bicarakan. Kami bercakap-cakap dalam bahasa yang masih saya ingat dan itu membuat mereka tertawa karena mereka senang saya masih ingat apa yang saya pelajari dahulu, dan mereka juga membetulkan ucapan saya ketika saya menyebutnya dengan tidak benar.

    Hari-hari saya diwarnai dengan mengunjungi rumah-rumah di kampung. Dan dengan beberapa orang teman saya, kami membuat peta kampung. Kami mencatat semua rumah, sekolah, hutan, kali, atau apa saja yang dilihat di sana. Juga mencatat nama-nama dari setiap orang yang tinggal di sana. Jumlah rumah yang ada tercatat sekitar 64 rumah dengan jumlah penghuni sekitar 7-12 orang di setiap rumah. Jadi kira-kira yang tinggal kurang lebih 500 orang. Tapi tidak semua orang-orang di sana selalu berada di desa karena mereka biasanya pergi juga ke kampung-kampung lainnya. Kepala suku mengatakan keseluruhan suku yang tersebar di 11 kampung, hampir mencapai 1000 jiwa. Waktu saya mengunjungi rumah demi rumah sekaligus menjalin relasi dengan mereka, hati saya sangat sedih karena rumah mereka yang kecil itu tidak mempunyai dinding dan banyak sekali menampung orang.

    Karena sudah memutuskan untuk melayani di suku ini, saya juga harus mengunjungi kampung-kampung suku lainnya. Mengingat mereka juga tinggal di 10 kampung lainnya, saya pun berkesempatan untuk mengunjungi kampung lain tersebut. Jarak antar kampung adalah sekitar 4-5 jam jalan kaki atau naik perahu. Perjalanan sangat melelahkan karena harus berjalan kaki melewati hutan kemudian melewati sungai dan mendayung perahu di bawah terik matahari yang membuat kulit saya gosong. Pengalaman saya ikut perahu kali ini tidak terlalu membuat saya takut seperti dalam kunjungan pertama. Sebelum kami naik perahu, baju saya sudah basah duluan karena kami harus menyeberangi 2 sungai kecil sebelum menuju ke pelabuhan (mereka menamakan pelabuhan untuk tempat menyimpan perahu atau sebagai tempat keberangkatan dan persinggahan terakhir).

    Saya sudah terbiasa dengan perahu, dengan air yang kabur bahkan untuk bermain-main dengan lumpur di tepi sungai, dengan kondisi perahu yang hampir tenggelam dan juga dengan sengatan matahari yang sangat panas. Semuanya itu menjadi suatu kenikmatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hanya sesekali saya terlihat cemas ketika naik perahu, kalau-kalau buaya tiba-tiba muncul dari dasar sungai, tapi saya menyerahkan semua ketakutan saya kepada-Nya dan saya percaya Dia yang akan memelihara saya.

    Orang yang tinggal di kampung-kampung ini hanya sekitar 10-12 keluarga dan mereka sangat senang ketika kami mengunjungi mereka. Kami tinggal di rumah salah satu penduduk. Kami disuguhi papeda dan ayam yang sengaja mereka potong untuk kami. Mereka bilang, mereka berburu babi tapi tidak dapat, jadi kami makan ayam saja. Sungguh kebanggaan kalau mereka dapat menyuguhkan daging babi hutan kepada setiap tamu yang datang. Kami mandi di air yang cukup jernih di kolam yang kecil berukuran 1x2 meter dan kalau buang air harus di tengah-tengah hutan dan semak-semak. Ketika kami mau pulang, masyarakat mengantarkan sampai ke tepi sungai tempat menyimpan perahu dan berpesan supaya saya bisa kembali ke sana lain waktu untuk mengunjungi mereka. Dengan hati-hati saya menaiki perahu dan kami bernyanyi-nyanyi, sesekali terdengar teriakan karena perahu hampir tenggelam atau kalau perahu kami menabrak benda-benda yang keras seperti batu besar atau kayu besar. Saya merasakan semua badan saya capek sekali karena perjalanan yang cukup melelahkan.

    Pelayanan lain yang saya lakukan selama berada di suku ini adalah menceritakan Kabar Baik, juga mengajar di Sekolah yang ada di Xxx. Jumlah siswanya sekitar 13 orang. Gedung sekolahnya sangat sederhana, berlantai tanah, dinding dan atapnya terbuat dari kulit- kulit kayu. Walaupun mereka sudah tergolong orang-orang yang cukup mampu, tapi waktu saya mengajar, beberapa di antara mereka tidak lancar membaca, begitu juga dengan kemampuan matematikanya. Ketika teman saya bertanya 1+2, ada yang menjawab 100-an. Ini sangat menyedihkan dan ini terjadi karena kurangnya kesempatan bagi mereka untuk lebih banyak belajar, selain juga pengaruh bahasa daerah mereka yang memang hanya mengenal angka 1 dan 2. Kalau menyebutkan angka 3, itu gabungan dari 1 dan 2.

    Pada 11 Nopember, saya kembali lagi ke kota, tapi kepulangan ini bukan untuk selamanya. Saya akan datang lagi. Sebelum berpisah kami rapat dengan tokoh-tokoh masyarakat seperti kepala suku, kepala desa, dan yang lainnya bersama dengan konsultan Yyy yang sengaja datang untuk berbicara dengan masyarakat. Mereka menerima saya untuk melayani di desa. Mereka memberikan tanah untuk saya membangun rumah.

    Setibanya di kota, saya merasa badan saya demam dan infeksi telinga masih terasa mengganggu. Besoknya saya ke klinik untuk memeriksakan telinga, ternyata telinga saya sudah iritasi dan merah semuanya. Saya diberi obat tetes dan juga antibiotik untuk diminum.

    Minggu sorenya, saya merasa badan semakin panas dan kepala mau pecah, ternyata panasnya 39`C. Akhirnya saya ke dokter untuk periksa darah dan hasilnya sakit malaria tropika. Saya hanya minta supaya Tuhan memberikan kekuatan untuk menikmati sakit malaria ini. Ini pengalaman kedua dimana saya terjangkit sakit malaria. Yang pertama berjenis malaria tersiana dan yang kedua ini malaria tropika yang hampir membuat kepala saya pecah. Obat Kina dan Fansidar yang saya minum membuat saya terus berkeringat dingin dan tidak bisa tidur pada malam harinya. Saya belajar untuk senantiasa mengucap syukur dalam keadaan sakit sekalipun. Tapi sekarang, saya sudah sembuh dari sakit malaria sehingga saya bisa menuliskan kesaksian ini. Terima kasih untuk saudara/saudari yang membaca pengalaman saya ini. Biarlah mendapat berkat dari tulisan ini. Tolong berdoa terus untuk pelayanan saya: "Terima kasih dan Tuhan memberkati pelayanan kita bersama."

    Kiriman dari: Kartidaya

    e-JEMMi 09/2006

    Membuat Perbedaan yang Bertahan

    Stenly rindu untuk mengambil tantangan dalam lapangan misi. Sebagai lulusan baru dari sebuah sekolah Alkitab, Tuhan mengirimnya ke sebuah pulau terpencil di Indonesia. Di sana, penduduk mencampur perdukunan dan berhala dengan agama mayoritas. Stenly sangat berani dalam memberitakan Injil. Ia menyuruh kaum mayoritas untuk membakar patung-patung berhala mereka ketika mereka menerima Yesus Kristus. Suatu hari, ada seseorang yang bertobat; ia membakar berhalanya, di dalamnya terdapat kertas gulungan kitab suci agama mayoritas. Ketika warga mayoritas setempat mendengar akan hal ini, mereka menjadi amat marah dan melaporkan Stenly kepada petugas. Ia ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

    Pendeta dari sekolah Alkitab mendengar kabar penangkapan Stenly dan langsung pergi untuk menemuinya. Ketika pendeta S tiba di rumah tahanan, ia diberitahu bahwa Stenly telah dipindahkan ke penjara. Berhari-hari kemudian ketika pendeta S menemukan Stenly, ia menemukannya telah dipukuli dengan kejam; tubuhnya luka-luka, dan ia tidak sadarkan diri. Pukulan yang bertubi-tubi pada kepalanya telah meninggalkannya dalam keadaan koma. Pendeta S melakukan apa yang dapat ia lakukan untuk merawat Stenly dan membuatnya lebih nyaman. Stenly tampak pulih ketika pendeta S melakukan hal itu. Pendeta S bertanya seraya diiringi air mata, "Stenly, aku adalah pendeta S. Apakah kau dapat mendengarkanku?" Tetapi Stenly tidak dapat bergerak atau berbicara. Yang dapat ia lakukan hanyalah berbaring pada punggungnya dan menangis. Tak lama setelah kunjungan pendetanya, Stenly pergi untuk berada bersama Tuhan.

    Kematian Stenly menimbulkan dampak yang hebat terhadap mereka yang mengenalnya. Pada tengah malam, tujuh dari rekan-rekan mahasiswanya mendatangi pengawas, meminta supaya mereka mengabarkan Injil ke pulau di mana Stenly meninggal. Kematiannya juga menimbulkan dampak di kota kelahirannya. Di sana, 53 orang membuat keputusan untuk memasuki sekolah Alkitab, termasuk ibu dan saudara perempuan Stenly. Tak lama setelah mereka lulus, 7 orang di antara mereka pergi menginjili ke daerah tempat Stenly meninggal. Kehidupan Stenly membuat perbedaan yang besar di pulau kecil tersebut. Sebanyak 11 orang telah dibawa kepada Kristus karena iman Stenly. Telah terjadi juga kebangunan rohani di antara 300 orang Kristen tradisional di pulau itu. Kebanyakan dari mereka dulunya terikat alkohol, rokok, dan perjudian. Tetapi kini roh mereka menyala-nyala untuk mencari Tuhan dan mempelajari Alkitab.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Jesus Freaks
    Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
    Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
    Halaman : 154 -- 155

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/membuat_perbedaan_yang_bertahan

    Memperoleh Medali Kristus

    "Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia." (Amsal 3:3-4)

    Pendeta H berdiri perlahan-lahan dan mulai membuka baju dan jaket hitamnya. Itu adalah jaket yang sama yang ia pakai delapan hari yang lalu ketika orang-orang bersenjata menyerangnya. Istrinya dengan perlahan-lahan memeganginya untuk tetap berdiri tegak ketika jarinya menunjuk ke atas perban putih yang menutupi tiga lubang peluru di tubuhnya. "Ini adalah medaliku," katanya.

    Penyerangan tersebut terjadi pada suatu hari Minggu pagi. Pendeta H sedang mengendarai mobilnya di kota kelahirannya di Timur Tengah. Saat itulah ia mendengar kata, "BERHENTI!" Teriakan tersebut disertai dengan todongan sebuah senjata. H menyadari tiga orang pria bersenjata sedang berdiri di hadapannya. Sebelumnya, di gedung yang tidak jauh dari tempat kejadian, para pria ini bertanya kepada orang-orang apakah mereka tahu di mana "orang Kristen" berada. H sadar berhenti berarti mati. Dari ketiga hamba Tuhan yang menggembalakan gereja yang sekarang ia pimpin, satu dari mereka dibunuh, satunya lagi mengungsi. Hanya H yang masih tetap tinggal.

    Allah akan melindungiku, pikirnya saat itu. H tidak berhenti; ia menginjak gas lebih dalam lagi dan tetap melaju. Suara letusan senjata terdengar, total enam kali. Salah satu peluru menembus punggungnya dan keluar dari dadanya. Lalu peluru yang lain mengenai dadanya lagi. Lalu satu lagi mengenai tangannya. Ada lagi peluru yang lain yang menyerempet kepalanya. Pendeta H terus melarikan mobilnya. Ia memandang ke bawah dan melihat darah. Ia berhenti untuk mencari pertolongan. Ia berjarak kurang lebih dua kali lapangan sepak bola jauhnya dari para penyerangnya. Para penyerangnya melarikan diri.

    Pihak yang berwajib membawa H ke rumah sakit. "Dokter yang merawatku bertanya padaku, 'Apa yang terjadi padamu? Kalau melihat peluru yang telah melukaimu (luka pada organ tubuh dan pembuluh darah besar), ini adalah mukjizat." Di seluruh Timur Tengah ada suatu operasi kekerasan yang intensif untuk mengejar-ngejar orang Kristen seperti H. Di Afghanistan, para hamba Tuhan Kristen diculik dan dibunuh. Di Irak, ribuan orang Kristen telah meninggalkan kota-kota seperti Mosul karena tindakan terorisme, dan di Mesir tahun lalu, 20.000 orang 'agama lain' menyerang 1.000 orang Kristen oleh karena orang-orang percaya ini ingin membuka gereja rumah.

    "Seorang wanita di kota kami dibunuh karena membagikan Alkitab," kata H. "Mereka mau semua orang Kristen menjadi pemeluk 'agama lain'. Mereka membakar atau meledakkan rumah-rumah orang Kristen." H berkata pada hari Minggu ia diserang, ia diancam oleh sekelompok ekstremis 'agama lain'. "Orang itu menghubungiku dan berkata 'pedang akan menebas dan membunuhmu'," kata H. "Mereka memperingatkanku bahwa jika aku tidak kembali ke 'agama lain' mereka akan membunuhku." Di saat banyak orang Kristen telah meninggalkan Timur Tengah, ada orang-orang seperti H yang tinggal atau pergi berkeliling untuk memberitakan kabar keselamatan. Mereka sedang berada di garis depan peperangan 'agama lain' melawan Kekristenan, dan karena keberanian mereka di dalam Kristus, mereka tidak menerima keagungan maupun kemegahan, tetapi medali luka tembakan, penjara dan penganiayaan. Meskipun demikian mereka adalah pemenang.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan), Edisi Juli -- Agustus 2009
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
    Halaman : 3 -- 4

    e-JEMMi 16/2010



    Menanggapi Panggilan

    Saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi pada tahun 1980. Ketika itu, saya mengikuti retret sehari bersama teman- teman SMA di Kota Bogor. Setelah menerima Kristus, saya merasa diyakinkan akan keselamatan dan pengampunan dari Tuhan Yesus serta timbul kerinduan yang kuat untuk melayani Tuhan. Saya mulai melayani di persekutuan doa muda-mudi Bukit Duri dengan aktif sebagai pengurus.

    Selama kuliah, saya melayani di persekutuan mahasiswa sebagai Koordinator Kebaktian Tingkat Satu, Koordinator Kelompok Kecil, Ketua Pengurus Persekutuan Mahasiswa Fakultas Teknik UKI, semuanya masing-masing satu tahun lamanya. Pelayanan kami di UKI bekerja sama dengan badan kerohanian Senat dan PERKANTAS.

    Setelah lulus, saya bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan konsultan teknik selama tiga tahun dan dilanjutkan bekerja sebagai kontraktor selama empat tahun. Setelah bekerja selama tujuh tahun, saya mendapatkan dorongan lebih kuat untuk mengabdikan diri saya dalam ladang pelayanan yang full time. Saya berniat untuk belajar teologi di STT, tetapi saat itu belum dapat kesempatan yang baik. Akhirnya, saya meresponi panggilan Tuhan ketika teman gereja kami menceritakan pelayanan organisasi misi X dalam bidang penerjemahan Alkitab. Saat itu saya berdoa dan mencari tahu tentang apa itu pelayanan organisasi misi X. Fokus organisasi misi ini adalah pelayanan kepada suku-suku yang terabaikan. Organisasi misi X bukan hanya menyediakan firman Tuhan dalam bahasa suku-suku itu saja, melainkan juga melayani dalam bidang literasi (mengajar orang membaca dan menulis) dan memberdayakan masyarakat desa (bidang sosial, ekonomi, dan kesehatan). Setelah dijelaskan oleh salah seorang konsultan organisasi tersebut, saya memutuskan untuk bergabung dengan tim misi ini.

    Pelayanan kepada suku-suku terabaikan adalah pelayanan jangka panjang yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tim tenaga lapangan dilatih oleh tim misi X, lalu diutus untuk tinggal pada salah satu suku untuk mempelajari bahasa dan budaya mereka. Sampai mereka mampu memahami dengan baik bahasa suku tersebut, barulah mereka dapat mulai menerjemahkan firman Tuhan dalam bahasa suku tersebut. Untuk menyelesaikan satu terjemahan kitab Perjanjian Baru saja biasanya dibutuhkan tidak kurang dari delapan tahun lamanya.

    Saya ingin menceritakan kesaksian dari salah satu yang dilayani oleh organisasi misi tempat saya bernaung di Papua, yaitu suku A. Suku ini dahulu mempunyai kebiasaan untuk tukar-menukar pasangan (istri). Meskipun mereka telah menjadi Kristen, masih banyak pria/suami yang masih bertukar pasangan dengan suami yang lain. Hal ini dapat terjadi karena mereka tidak memiliki firman Tuhan yang dapat menjadi penuntun bagi perilaku hidup mereka.

    Pada tahun 2005 yang lalu, firman Tuhan dalam bentuk Perjanjian Baru telah selesai didedikasikan kepada seluruh masyarakat suku A. Dalam pesta dedikasi dan penyerahan Perjanjian Baru tersebut, salah seorang bersaksi, "Ketika dulu kami belum memiliki firman Tuhan dalam bahasa suku kami, kami hanya dapat mendengar firman yang dikhotbahkan (dalam bahasa Indonesia yang dapat kami mengerti sedikit), sama seperti mendengar suara kicauan burung di pohon tanpa memahami betul apa artinya. Tetapi setelah kami dapat membaca firman Tuhan dalam bahasa ibu kami, yaitu dalam bahasa A, kami dapat sungguh-sungguh mengerti dengan jelas apa yang dimaksudkan oleh firman Tuhan, sama seperti kami melihat dengan jelas ikan berenang di dalam kolam yang jernih." Demikianlah, melalui proses penerjemahan Alkitab dalam bahasa A, suku itu akhirnya menyadari bahwa firman Tuhan melarang mereka untuk bertukar pasangan. Akhirnya, para suami juga meninggalkan tradisi yang tidak sesuai dengan firman Tuhan itu dan hidup mereka diberkati dalam damai sejahtera Allah.

    Sekarang saya melayani sebagai tenaga administrasi di organisasi misi X. Organisasi X saat ini sedang menjangkau suku-suku terabaikan di enam daerah berbeda. Saya punya beban untuk lebih banyak melibatkan orang Kristen dan gereja-gereja untuk melakukan serta mendukung pekerjaan misi penerjemahan Alkitab kepada masyarakat yang belum memiliki firman Tuhan dalam bahasanya. Keterlibatan saya di lembaga ini memperkuat kerinduan saya bagi tumbuhnya gereja-gereja yang misioner di Indonesia. Saat ini saya sedang mendalami teologi di salah satu STT untuk menunjang pelayanan di gereja dan bagi pelayanan misi umumnya.

    *)Kesaksian di atas dikirim kepada Redaksi e-JEMMi melalui e-mail oleh DR yang melayani suku-suku terabaikan melalui sebuah organisasi misi.

    e-JEMMi 40/2006

    Mendengar Injil Melalui Radio (Bolivia)

    Sebuah syair lagu Kristen mengatakan "Go tell it on the mountain, over the hills and everywhere; Go tell it on the mountain, that Jesus Christ is born ..." ["Pergilah dan ceritakanlah ke seluruh gunung, bukit dan dimanapun; Pergilah dan ceritakanlah ke seluruh gunung, bahwa Yesus telah lahir. ] Inilah yang dilakukan oleh Radio Mosoj Chaski yang siarannya ditujukan terutama untuk orang-orang Quechua yang berdiam di daerah pegunungan Andes dan dataran rendah di Bolivia. Orang-orang Quechua jarang mendapat perhatian dan mereka sangat tidak tertarik akan berita Injil. 70% dari kelompok suku ini berada di lokasi-lokasi yang sangat sulit dijangkau.

    Namun Tuhan telah memberi jalan bagi orang-orang Quechua untuk mendengar Kabar Baik melalui gelombang radio. Sebelum radio Mosoj Chaski mulai mengudara untuk pertama kalinya, persiapan telah dilakukan tiga tahun sebelumnya. Mereka merekam lebih dari 1.400 program yang ditujukan khusus untuk membahas masalah sehari-hari yang dihadapi orang Quechua, dalam hal jasmani maupun rohani. Acara-acara yang disiapkan mencakup: pelajaran Alkitab, kehidupan keluarga, dan masalah wanita, kesehatan, pendidikan dan pengembangan masyarakat, serta perawatan hewan dan ketrampilan bercocok tanam, juga penerapan teknologi dan masalah hukum.

    Radio Mosoj Chaski mendapat sambutan sangat baik dari masyarakat setelah sembilan bulan mengudara. Hampir setiap hari staff mereka menerima kesaksian dari para pendengar yang hidupnya telah diubahkan melalui siaran-siaran dari radio Mosoj Chaski. Berikut ini adalah contoh beberapa kesaksian yang diterima:

    Radio Mosoj Chaski sedang mempersiapkan program-program baru untuk disiarkan dan terutama sedang mengerjakan "follow-up" untuk ajaran Kristen dan penginjilan yang dilakukan bersama dengan gereja-gereja lokal di sana. Ini semua adalah tugas yang sangat berat dan membutuhkan dana yang tidak sedikit. Mohon dukungan doa-doa saudara sekalian dalam mengerjakan tugas yang menggembirakan ini: memberitakan kabar Injil "over the hills and everywhere" kepada orang-orang Quechua di Bolivia.

    Sumber: SIMNOW Edisi 91 (kiriman dan terjemahan dari Rudy Kurniadi)

    e-JEMMi 02/2001

    Menebar Kasih

    Pada tanggal 9 - 18 September 2002, Obor Berkat Indonesia (OBI) kembali menggelar aksi kemanusiaan di beberapa daerah terpencil di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Daerah-daerah itu adalah Besoleh Popoh, Tambak Rejo, Sendang Biru, Lawang, Kermil, Polwitabes Surabaya, Petemon, Menganti, Panti Jompo Surabaya, Manyar Kertoadi, Jurang Jero, Bogorejo, Blora, Jipang, dan Sitirejo.

    Dalam aksi yang melibatkan 10 dokter umum dan 6 dokter gigi itu, ada sekitar 9.036 orang pasien (para petani miskin, buruh, ibu rumahtangga, dan anak-anak) yang memadati pos kesehatan OBI. Miskin, kumuh, langka pangan, langka ori, dan langka obat adalah potret yang memprihatinkan dari saudara-saudara kita di sana. Desa Blora, Jawa Tengah, dilanda kekeringan berkepanjangan yang menyebabkan banyak warga jatuh sakit karena kurang air. Kehadiran tim OBI menjadi berkat pada saat yang tepat. Kendati didera udara panas dan berdebu, para dokter dan para medis melayani hingga tuntas dari pagi sampai sore hari.

    Kejadian-kejadian ajaib berlangsung selama 9 hari pelayanan OBI. Seorang pasien yang datang dalam keadaan lumpuh, setelah diperiksa dan diberi dukungan moril oleh seorang dokter, bangkit dari kursi rodanya dan mampu berjalan dengan normal. Hal senada terjadi pada pasien bernama Fatima. Tekanan darahnya turun dari 190/110 menjadi 150/90.

    Menebar kasih, menyebar damai. Selagi hari masih siang, marilah kita menyatakan kasih dengan tidak jemu-jemu. Segala sesuatu pasti berakhir tetapi kasih tinggal tetap.

    Diambil dari:

    Judul Buletin : GARIS DEPAN, Edisi Oktober 2002
    Judul Artikel : Menebar Kasih
    Penerbit : Cahaya Bagi Negeri

    e-JEMMi 46/2002

    Mengabarkan Injil Melalui Warna

    Sepasang suami istri, Daren and Shawna menberitakan tentang kasih Allah kepada suku Lozi, yang tinggal di desa-desa terpencil di dekat sungai Zambesi. Pasangan ini telah merintis gereja-gereja di wilayah tersebut sekaligus juga melatih para pemimpin gereja di sana. Mereka memuridkan orang-orang Kristen Lozi, mengajar penduduk agar dapat bertumbuh di dalam Kristus dan membagikan Firman-Nya kepada suku- suku lain di sekitarnya.


    Shawna melihat bahwa investasinya telah mendatangkan hasil melalui persekutuannya dengan Marry, istri dari seorang misionaris Zambia yang melayani suku Lozi. Daren dan Shawna mengajarkan Injil dan cerita-cerita Alkitab kepada Marry selama kunjungannya ke desa Chipango. Mereka mendalami materi-materi Alkitab itu dengan sungguh- sungguh sampai akhirnya Marry siap untuk mengajarkan Injil kepada penduduk di desa-desa lain. "Beberapa orang mau datang dan mendengarkanku, tapi karena aku adalah seorang misionaris. Berbeda dengan Marry yang benar-benar dapat menjalin komunikasi dengan para penduduk setempat dan mengajarkan Alkitab kepada mereka." kata Shawna.


    Ketika baru-baru ini sekelompok relawan yang mengunjungi Shawna memberikan sejumlah kain aneka warna untuk membuat "Wordless Books" (buku tanpa kata-kata), dia merasa bahwa Allah telah menganugrahkan kepadanya sarana yang dapat mendukung pelayanannya. "Wordless Book" menggunakan warna untuk menceritakan tentang Yesus:

    =hitam= untuk dosa,
    =merah= untuk darah Yesus (yang menghapuskan dosa manusia),
    agar menjadi =putih= hatinya,
    =hijau= berarti tumbuh bersama Allah, dan
    =kuning= berarti surga (saat orang percaya bertemu Yesus secara langsung).
    Marry merencanakan untuk memakai cara itu dalam mengajarkan Injil kepada para wanita desa. Dia dapat memberikan Wordless Book kepada setiap wanita desa. Namun, Shawna dan Marry mulai kuatir saat persediaan Wordless Book mulai menipis. Beberapa wanita desa tidak mau mengabarkan Injil bila tidak mempunyai Wordless Book.


    "Aku memutuskan untuk menulis tentang Injil itu dan mendapat ide untuk menggunakan tanah hitam yang banyak terdapat di Solozi untuk menggambarkan tentang dosa." Tanah hitam itu menuntun Shawna untuk menemukan simbol-simbol lain yang dapat dilihat oleh suku Lozi: biji- bijian atau bunga berwarna merah sebagai simbol dari darah Yesus. Awan-awan putih yang muncul sesudah musim hujan untuk melambangkan hati yang bersih, rumput hijau yang melambangkan pertumbuhan, dan bunga-bunga kuning, pisang ataupun mangga untuk melambangkan surga. Dengan menggunakan benda-benda yang dapat dijumpai di sekitarnya, dengan mudah Marry dapat mengajarkan Injil kepada penduduk desa lain tanpa harus membawa Wordless Book. Cerita tentang warna-warna itu sendiri, meskipun tanpa Wordless Book maupun biji-bijian tadi, telah menjadi sarana juga. Shawna berkata, "Marry bercerita bahwa dia dapat menggunakan cerita tentang warna itu untuk mengabarkan Injil kepada para wanita dari 15 desa yang berbeda. Para wanita Lozi dapat dengan mudah mengingat dan menggunakan cerita tentang warna untuk menceritakan tentang anugrah keselamatan dari Allah kepada teman- teman dan anak-anak mereka.


    Sumber: NEWSBRIEF---2001-07-26

    Mengabarkan Kebenaran di Korea Utara

    Siang itu matahari sangat terik, membentuk sebuah bayangan atas kepala seorang wanita yang bernama CY ketika ia menceritakan kembali pengalamannya di Korea Utara. Tetesan air mata yang tidak terkontrol mengalir turun di pipi CY, menghentikan sejenak 2 jam wawancara kami. Seseorang memberikan selembar tisu kepadanya. Perlahan, ia mulai tenang. Dunia sepertinya terpikat dengan wajah baru Republik Rakyat Demokratis Korea (Korea Utara). Bagi dunia, negara tersebut sekarang dipandang sebagai suatu bangsa yang mendukung kemerdekaan berseni, dengan menerima para penggemar seni New York. Negara ini sekarang dipandang sebagai bangsa yang mendukung perdamaian yang telah menghancurkan menara pendingin nuklir Yongbyong miliknya sendiri -- simbol terbesar dari program nuklir negara itu.

    Tetapi bagi ribuan orang Kristen Korea Utara seperti CY, wajah negara ini tetap jahat. Adalah sulit sekali memahami suatu tempat yang begitu buruk. Orang-orang Kristen harus melarikan diri ke negara Komunis Cina demi suatu kebebasan beribadah yang lebih baik. Korea Utara adalah lebih dari pemerintahan yang diktator. Korea Utara adalah rezim totaliter karena warga negaranya tidak hanya mendukung pemimpin komunis mereka, tetapi harus menyembah pemerintah selayaknya menyembah tuhan. Lebih dari itu, Kim Il Sung, yang memodernisasi Korea Utara, menciptakan "Juche", agama negara. Pemerintah menggunakan paham kepercayaan untuk mempertahankan "Juche".

    Contohnya, anak-anak kecil Korea Utara setiap tahun diberi satu buah permen. Ini tergolong mewah untuk sebuah populasi yang hampir 40% anak-anak kekurangan gizi. Lebih lagi sebelum mereka memberikan permen tersebut, anak-anak harus tunduk berdoa sebagai ucapan syukur kepada "tuhan" negara diktator ini. Sebagai tambahan, anak-anak Korea Utara diajarkan menyanyikan lagu-lagu pujian yang diambil dari sebuah buku enam ratus halaman yang meninggikan Sung dan putranya, Kim Jong Il, pemimpin Korea Utara yang sekarang. Untuk tetap memertahankan "Juche", pemerintah menyakiti, menyiksa, memenjarakan, dan bahkan menculik warganya sendiri yang berani mengikuti apa yang mereka sebut "Tuhan surgawi," yang kita kenal sebagai satu-satunya Tuhan yang sebenarnya dan Putra-Nya, Yesus Kristus.

    Saat CY memberitahukan tentang ketidaktundukannya kepada "Juche" dan mengikuti Kristus, hal ini menunjukkan bukan hanya ketidakpatuhan saja, melainkan pengkhianatan kepada negara. Sebelumnya CY pernah menikah dengan seorang pejabat negara komunis di Korea Utara. Seperti setiap orang di Korea Utara, ia memunyai dua buah foto penting di rumahnya -- foto Kim Il Sung dan satunya lagi foto putranya, Kim Jong Il. Suami CY menghadiri sebuah kelompok belajar Kim Il Sung. Orang-orang berusaha menjadi teman suaminya. Suaminya begitu berpengaruh sehingga ketika seorang teman ditahan oleh pemerintahan yang otoriter ini, hanya diperlukan satu kata saja dari suami CY untuk melepaskan orang ini dari hukuman. Sebagai rasa terima kasih, orang ini memberikan kepada keluarga CY sebuah buku yang tidak dikenal.

    "Ini adalah kisah seseorang yang berasal dari surga yang menolong orang-orang miskin," kata orang itu. "Maukah kamu membacanya?" CY dan suaminya tidak pernah mendengar mengenai Alkitab, tetapi kedengarannya menarik dan mereka menerima buku itu. Buku itu basah dan berjamur karena dikubur di bawah tanah untuk menyembunyikannya dari petugas berwajib. Setiap malam, CY dengan hati-hati menutup korden jendelanya, duduk di ujung tempat tidur dan menutupi kepalanya dengan selimut. Ia mulai membaca lima bagian dari buku barunya itu -- Kejadian dan empat bagian yang ditulis oleh seseorang yang bernama Yohanes. Orang itu menantangnya untuk membaca bagian itu tiga kali sebelum membaca yang lainnya. Setiap malam ia membacanya dan pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan.

    Ia terkesima dengan kisah Yesus. "Di dalam Dia ada hidup ..." (Yohanes 1:4). "Dia adalah Anak domba Allah yang menghapus dosa" (Yohanes 1:29). Dunia membenci Dia (Yohanes 7:7) dan pengikut-Nya diperingatkan untuk menghadapi kebencian (1 Yohanes 3:13). Tetapi ada juga janji-janji -- janji kemenangan! "Dan inilah kemenangan yang telah mengalahkan dunia -- iman kita" (1 Yohanes 5:4). Kisah Injil dan janji-janji yang luar biasa menariknya, tetapi CY memendam begitu banyak pertanyaan dan tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya. Beberapa bulan kemudian, pamannya yang pindah ke Cina datang mengunjungi CY. Pada saat makan malam, CY memerhatikan pamannya berdiam sejenak dan menundukkan kepalanya sebelum makan. Saat CY memerhatikannya berdoa, Roh Kudus menggerakkan hatinya dan kisah-kisah yang ia baca di dalam Yohanes tiba-tiba menjadi jelas. Pertanyaan-pertanyaannya memudar dan timbullah imannya. Keesokan paginya, pamannya mengajarkan CY menyanyikan lagu "Amazing Grace".

    Pada sebuah negara yang para tetangganya saling memata-matai dan melapor kepada polisi, tidak ada rahasia yang bertahan lama. Aktivitas CY membaca Alkitab di tengah malam ketahuan. CY ditahan dan dikenai tuduhan menjadi "mata-mata keagamaan" dan "menyebarkan pemikiran-pemikiran antikomunis". "Saya ditangkap polisi dan disiksa. Mereka memaksa saya untuk berlutut di atas kursi. Mereka memukul wajah dan setiap bagian tubuh saya. Wajah saya lebam biru kehitam-hitaman. Mereka meminta saya untuk mengakui tindakan mata-mata saya, dan berkata, "Katakan kepada kami orang yang membawakan Alkitab ini kepadamu." "Saya mengatakan kepada mereka bahwa saya bukan seorang mata-mata, dan saya tidak melakukan tindakan mata-mata apa pun terhadap pemerintah Korea Utara. Saya tidak mengatakan nama orang itu dan saya bersikeras mengatakan kepada mereka bahwa saya satu-satunya orang yang membaca Alkitab itu."

    Ketika CY yang disiksa tidak mau "mengaku", polisi mendatangi suaminya, mengatakan kepadanya bahwa jika ia mau bersaksi melawan CY di pengadilan, maka CY akan pulang ke rumah dengan segera. "Petugas polisi mendatangi saya lagi. 'Suamimu akan menjadi saksi atas kejahatanmu! Oleh sebab itu mengakulah!'" CY sama sekali tidak dapat berkata-kata saat ia memikirkan pengkhianatan suaminya. "Setelah itu, mereka mengikat kedua kaki saya dan menggantung saya terbalik dan memukul saya. Di penjara, saya dipukuli setiap hari -- sepanjang hari. Polisi menyuruh saya berdiri dan meletakkan tangan saya di luar pintu, karena ada sebuah jendela kecil di pintu itu, dan mereka memukul jari-jari dan tangan saya dengan sebuah pipa. Tangan saya seluruhnya berdarah, dan kedua tangan saya robek. Saya tidak dapat menggunakan kedua tangan saya selama lebih dari 20 hari." CY menggerak-gerakkan tangannya ketika ia bercerita. Masih ada bekas-bekas penyiksaan di tangan itu. Beberapa jarinya bengkok dan terlihat ganjil.

    Pengadilan pertama CY adalah 5 jam cobaan ketika suaminya menyadari bahwa ia telah dikelabuhi oleh polisi. Ia diputuskan tidak bersalah. Namun tidak selamanya yang tampak itu benar-benar terjadi. Putusan tidak bersalah CY dengan segera dibatalkan. Ia sekali lagi diadili. Pada pengadilan keduanya, CY bahkan tidak dapat berbicara karena wajahnya lumpuh akibat berbagai pukulan. Setelah diadili selama 1 jam, ia didakwa dan dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. "Saya terus berdoa selama di penjara, bahkan ketika saya dipukuli oleh polisi." CY juga mengingat kembali ayat-ayat yang telah ia baca di Alkitab yang berjamur itu. Ia ingat kata-kata Yesus, "Siapapun yang memukul pipi kananmu, berikan kepada mereka pipi kirimu juga." Ia juga memegang janji dari 1 Yohanes bahwa imannya dapat mengatasi dunia, bahkan Korea Utara.

    Setelah 1 tahun di penjara, berat badannya turun. Ketika suaminya datang mengunjunginya di penjara, CY memohon kepadanya untuk mengeluarkan dia dari penjara. Suaminya menjual rumah mereka dan mengumpulkan uang semampunya dari teman dan sanak saudara dan kembali ke penjara dengan membawa uang dan sebuah televisi, yang ia berikan kepada petugas penjara sebagai "tebusan" mengeluarkan CY dari penjara. Rupanya berhasil, dan CY kembali pulang ke desanya. Tetapi ia tidak lagi menyembah kepada tuhan dunia. "Sebelum kejadian ini, saya percaya bahwa negara saya adalah yang terbaik di dunia! Tetapi saat di penjara, saya menyadari bagaimana Korea Utara yang sesungguhnya. Saya berkata bahwa jika saya dapat memulihkan kesehatan saya kembali, saya tidak mau lagi tinggal di negara ini karena saya tahu sekarang seperti apa negara ini sesungguhnya!"

    CY melarikan diri ke Cina dan akhirnya ke Korea Selatan. Sementara CY menderita dengan cobaan yang begitu mengerikan, orang-orang Korea Utara memikirkan cara yang lebih buruk untuk menyingkirkan kekristenan. Orang-orang Kristen tidak lagi hanya dipenjara, tetapi mereka juga "menghilang". Sembilan orang terakhir yang bekerja bagi KDP (Kasih Dalam Perbuatan) di Korea Utara menghilang begitu saja. Satu demi satu mereka mulai berhenti menghubungi. Kami juga telah menyediakan pelatihan dan peralatan untuk membangun sebuah wirausaha. Sekarang orang-orang percaya yang ikut pelatihan tersebut di tiga daerah yang terpisah telah menghilang. Pada bulan September 2007, berita menghilangnya mereka menjadi jelas. Pemerintah Korea Utara mengadakan pertemuan dengan para wartawan di ibukota Pyongyang, di hadapan media massa dunia. "Kami telah menangkap mata-mata," kata pejabat Korea Utara. Sebagai bukti, kamera yang berisi foto dan dokumentasi video mengenai "peralatan mata-mata" yang dicurigai.

    Kini, CY menjadi sukarelawan di sebuah stasiun radio di Seoul, Korea Selatan. Kami mensponsori siaran radio Injil ke tanah kelahirannya. Stasiun radio tersebut juga menyiarkan kisah-kisah para pembelot Korea Utara, memberitakan kepada para sanak saudara di Korea Utara bahwa sekarang mereka berhasil memperoleh kemerdekaan. Walau pernah dipenjara, dipukuli, dan dianiaya, CY masih tetap berjaga-jaga, menggunakan suaranya, dan doa-doanya untuk menghancurkan wajah kejahatan. Kami tidak tahu ada berapa banyak yang seperti CY di penjara-penjara Korea Utara, atau berapa banyak orang Kristen yang sedang berdoa dan menyembah di negara yang kadang kala disebut "Negara Pertapa". Tetapi mandat kami sudah jelas: kami tidak akan melupakan mereka. Sampai Kristus datang, sampai jumlah martir Korea Utara tercapai (Wahyu 6:9-11), kami tidak akan berhenti melayani menolong mereka.

    Mengirim Sebuah Alkitab Terbang

    Sebanyak 99% rakyat Korea Utara mampu baca tulis. Persentase tersebut sama dengan populasi di Amerika Serikat. Tingkat kemampuan baca tulis mereka begitu tinggi karena sejak kecil orang-orang Korea Utara dipaksa untuk membaca tulisan-tulisan diktator Kim Il Sung dan putranya Kim Jong Il. Tulisan-tulisan tersebut adalah tulang punggung "Juche", agama Korea Utara. Juche artinya "percaya pada diri sendiri". Tetapi kenyataannya mereka justru mendorong rakyat untuk berpegang pada pemerintah dan kediktatoran dalam segala hal. Orang-orang Kristen di Korea Utara sangat membutuhkan firman Tuhan. Inilah mengapa kami telah meluncurkan balon-balon Injil dan traktat-traktat injil ke Korea Utara selama lebih dari 20 tahun.

    Hari ini, kami bekerja sama dengan sekelompok pembelot Korea Utara untuk menjalankan proyek ini menggunakan teknologi yang dikembangkan oleh pemerintah Korea Selatan. Setiap balon besar diluncurkan termasuk sepuluh ribu traktat Injil, dicetak di atas plastik putih tahan air. Traktat di balon berasal dari Kitab Markus yang ditulis dalam bahasa Korea. Kami juga membagikan buku kecil "Bagaimana Mengenal Tuhan" dalam bahasa Korea. Sebagai tambahan traktat Injil ini, kami juga menyediakan ribuan Alkitab yang telah dicetak dalam bahasa Korea Utara untuk orang-orang Korea Utara yang sudah menantikannya. Gereja di Korea Utara sedang bertumbuh. Tuhan yang bekerja dan kami hanya memainkan peranan kecil dari apa yang sedang Dia kerjakan di sana.

    Orang Kristen Korea Utara yang Tak Kenal Menyerah

    Orang-orang Korea Utara sedang kelaparan tubuh dan jiwanya. Sebagian besar penduduk negara yang memunyai populasi sekitar 23 juta jiwa ini kekurangan gizi. "Kami dianggap diberkati jika kami dapat makan sekali sehari," kata seorang percaya Korea Utara. "Kami tahu ada keluarga-keluarga yang berhasil hidup hanya dengan memakan sup kentang busuk dan makanan kecil lainnya." Ada banyak orang di Korea Utara yang begitu keras kepala sehingga mereka lebih memilih kelaparan bersama anak-anak mereka sebelum meminta bantuan kepada pemerintah. "Saya malu untuk mengakui," tulis seorang Kristen Korea Utara, "bahwa sebelum menjadi pengikut Kristus, saya adalah salah satu dari banyak orang tua yang membiarkan anaknya meninggal mati kelaparan demi menyelamatkan diri sendiri. Setelah kedua putra saya meninggal, saya menjalani hidup tanpa tujuan. Lalu akhirnya Yesus menemukan saya."

    Kami telah melangkah untuk membebaskan orang-orang Korea Utara dari kejahatan jasmani dan spiritual yang disebarkan oleh pemerintah mereka. Pada tahun 1970-an, pemerintah Korea Utara mensponsori penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa Korea sebagai bukti untuk menunjukkan "kebebasan beragama". Hasil terjemahan itu dianggap sebagai yang paling akurat. Meskipun demikian, hanya tiga ratus Alkitab saja yang dicetak. Kami mendapatkan satu Alkitab dan sekarang kami mencetak ulang Alkitab tersebut untuk dibagikan kepada orang-orang percaya Korea Utara. Mengabarkan Injil bukan perkara mudah di Korea Utara. Kepemilikan atas sebuah Alkitab sama dengan hukuman mati. Dan sampai tiga generasi, keluarga Anda akan dipenjara. Oleh karena itu, banyak orang Kristen Korea Utara menyalin isi Alkitab dengan tulisan tangan dan menyembunyikannya di dinding-dinding rumah mereka atau menguburnya di halaman belakang agar tidak ditemukan.

    Kami juga mendukung program Kristen 0,5 jam setiap hari yang disiarkan ke Korea Utara melalui radio. Selama 10 menit, orang-orang mendengar drama kisah Yesus, yang diambil dari "Ia Hidup di Antara Kita". Selama 10 menit kemudian, dibacakan kisah dari buku "Berkorban demi Kristus". Dan 10 menit yang terakhir dihabiskan untuk membacakan firman Tuhan, cukup perlahan-lahan untuk mengizinkan para pendengar mencatat ayat-ayat yang dibawakan. Siaran-siaran ini juga direkam dan diformat ke dalam MP3 player yang dibagikan bersamaan pada saat bantuan makanan diberikan. "Pemberian makanan Anda telah menguatkan kami," kata seorang pengajar di kelompok gereja bawah tanah, "dan saya akan menggunakan kekuatan itu untuk mengabarkan Kristus. Tanpa Kristus, hidup tidak berarti. Inilah mengapa kami terus membahayakan hidup kami untuk mengabarkan nama-Nya."

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama buletin : KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Edisi Januari -- Februari 2009
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2009
    Halaman : 3 -- 8

    Mengenal Yesus Setelah Terjatuh dari Pohon

    "Saya tidak mengenal Yesus sampai suatu saat saya terjatuh dari pohon ...."

    Terbaring dan tak bisa bergerak di tengah hutan di Equador, Yempetz merasa yakin bahwa dia akan segera mati ... karena kelaparan atau menjadi makanan jaguar yang kelaparan.

    Yempetz, seorang dari Suku Shuar, adalah pria yang penuh percaya diri dan berusia sekitar 50 tahun. Di usianya itu dia masih dengan lincah memanjat cabang-cabang pohon raksasa di wilayah hutan Amazon. Kaki telanjangnya dengan terampil memijak cabang-cabang pohon yang kerap kali mempunyai permukaan licin di tengah-tengah hutan yang lembab itu.

    Suku Shuar terkenal sebagai "Jivaros" (arti literalnya adalah pemenggal kepala), yaitu pejuang perang yang ditakuti karena keahlian perang mereka yang sangat kejam. Seusai perang, para prajurit Jivaro segera menyusutkan kepala para musuhnya menjadi sebesar bola softball. Lalu, dengan bangganya mereka memamerkan kepala itu di dinding-dinding bambu rumah mereka. Selama berabad- abad, suku ini sama sekali belum pernah tersentuh oleh dunia luar ataupun Injil. Orang-orang Spanyol yang datang ke lembah di wilayah mereka untuk mencari emas sekitar tahun 1600-an telah diusir keluar dengan panah-panah beracun.

    Yempetz sedang memanjat pohon untuk memetik buah. Biasanya buah yang matang dan paling enak rasanya tersembunyi di bawah ranting-ranting pohon yang tertutupi daun-daun dan letaknya di paling ujung. Cara yang terbaik untuk memetik buah itu tanpa harus merusaknya adalah dengan memanjat pohon dan memetik buah-buah yang matang itu dengan tangan. Ini adalah hal yang biasa dilakukan Yempets ribuan kali.

    Namun pada suatu hari, saat Yempetz berusaha memanjat cabang yang tertinggi, kaki kanannya terpeleset dan dia terjatuh di tanah. Sakit yang luar biasa terasa di sekujur tubuhnya. Ketika Yempetz mencoba untuk berdiri, kakinya tidak mau digerakkan. Yempetz mengalami kelumpuhan dari pinggang ke telapak kaki. Selama berjam-jam Yempetz terbaring di dalam hutan ini. Dia merasa yakin bahwa cepat atau lambat dia akan mati ... karena kelaparan atau menjadi santapan para jaguar yang kelaparan.

    Beberapa jam kemudian, Yempetz ditemukan oleh beberapa pemuda desanya. Mereka kuatir karena Yempetz pergi ke hutan terlalu lama. Mereka mencari Yempetz dan menemukannya tergolek di bawah pohon. Yempetz dibawa pulang. Dukun di desanya memberi Yempetz obat-obatan tradisional, namun obat-obat itu tidak memberi kemajuan, kondisinya malah semakin memburuk.

    Bulan Mei 1999, seorang pendeta mengunjungi wilayah Shuar dan mendengar cerita tentang Yempetz. Dia mengunjungi Yempetz dan melihat kondisinya yang sangat kritis. Pendeta ini segera bergegas ke desa yang mempunyai radio dan memanggil MAF untuk segera mengirimkan penerbangan darurat. Yempetz segera diterbangkan ke rumah sakit misi HCJB di Shell. Namun karena peralatan rumah sakit tidak dapat mendukung perawatan Yempetz, maka dia diterbangkan lagi ke rumah sakit misi HCJB di Quito untuk menjalani operasi.

    Setelah operasi, Yempetz segera diterbangkan kembali ke rumah sakit yang ada di dekat desanya -- suku asli tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan perkotaan. Sedangkan proses pemulihan dan rehabilitasi yang harus dilalui Yempetz memerlukan waktu dan proses yang lama.

    Setelah berminggu-minggu melatih kaki dan tubuhnya dalam masa pemulihan, Yempetz mulai berani belajar berjalan untuk pertama kalinya menggunakan alat bantu. Pada hari itu, untuk pertama kalinya para karyawan rumah sakit melihat senyuman di wajah Yempetz sejak pertama kali ia diselamatkan dari hutan.

    Selanjutnya, melalui seorang penerjemah, Yempetz mengatakan kepada staf rumah sakit bahwa ia telah menyerahkan hidupnya kepada Yesus. "Saya percaya kepada Yesus dan saya telah menyerahkan hidup saya kepada-Nya. Saya tidak mengenal-Nya sebelum saya jatuh dari pohon."

    Pesawat MAF, rumah sakit misi, para pilot, mekanik, petugas radio, para dokter, dan para perawat semuanya bekerjasama menyediakan kehidupan jasmani dan rohani untuk orang-orang seperti Yempetz. Mereka, bersama-sama dengan Anda yang mendukung pelayanan kami, bisa mengubah dunia ... dimulai dengan memenangkan satu jiwa di setiap kesempatan/waktu. (T/End)

    Bahan diterjemahkan dari sumber:

    Situs : Mission Aviation Fellowship
    Judul Artikel : Stories from the Field
    Alamat URL : http://www.maf.org/news/stories/yempetz.html

    e-JEMMi 32/2005

    Menyangkal Yesus Atau Ditembak Mati?

    Berikut ini adalah kesaksian dari Shanti (bukan nama asli) dimana dia pernah menghadapi tantangan dalam mempertahankan imannya kepada Yesus.

    Bunyi-bunyi tembakan terdengar di luar gereja. Padahal sore itu gereja cukup ramai. Remaja-remaja hadir untuk mengikuti katekisasi dan penatua-penatua berkumpul untuk mengikuti rapat majelis. Ketika tembakan terdengar kami sedang menunggu kedatangan pak Pendeta. Aku pun berada di antara remaja-remaja itu. Peristiwa itu terjadi tahun 1964 waktu aku berusia 15 tahun.

    Beberapa kawanku dan penatua-penatua segera lari. Kami tahu bahwa tembakan itu berasal dari sebuah gerombolan pengacau. Daerah tempat tinggal kami, daerah Bengkayang-Sanggau, Kalimatan Barat merupakan daerah rawan yang sering dijadikan sasaran gerombolan pengacau.

    Aku ingin lari, tapi apa dayaku, kakiku terasa lemas. Aku hanya diam ketakutan. Tiba-tiba enam orang gerombolan pengacau bersenjata masuk ke gereja. Di gereja hanya tinggal aku dan lima orang penatua yang tidak sempat melarikan diri.

    "Angkat tangan semuanya!" seru seorang anggota gerombolan itu. Kami berenam terpaksa mengikuti apa yang mereka perintahkan. Gerombolan yang lain segera mengepung kami dan mengacungkan laras senjatanya ke tubuh kami. Aku sadar bahwa saat itu aku berada diantara hidup dan mati. "Turunkan gambar yang terpampang di atas itu!" sambungnya lagi seraya menunjuk gambar Tuhan Yesus yang berada di atas mimbar gereja. Aku tertegun melihat adegan itu. Dalam hati aku terus berdoa agar Tuhan campur tangan dalam situasi seperti itu. Rupanya karena takut ancaman senjata para gerombolan itu, maka diantara penatua ada yang berusaha menurunkan gambar Tuhan Yesus itu.

    "Apakah ini benar gambar Tuhanmu?" tanyanya lagi. Sebagai jawabannya aku dan penatua-penatua itu menganggukkan kepala. "Kenapa kalian menyembah manusia semacam ini? Ayo ludahi dan kencingi gambar ini. Kalau tidak kalian akan kubunuh semuanya!" bentaknya dengan suara keras. Karena takutnya, akhirnya satu demi satu penatua melaksanakan perintah si gerombolan.

    Aku menunggu giliranku dengan rasa takut yang menjadi-jadi. Tapi pada saat yang genting itu terdengar suara yang berbisik di batinku: "Imanmu bisa menyelamatkanmu. Jangan lakukan perbuatan itu, apapun yang terjadi." Waktu aku diperintah untuk melaksanakan adegan seperti para penatua, aku menolaknya. Aku menangis, lalu merangkul gambar Tuhan Yesus yang telah dikotori itu. Kubersihkan kotorannya dengan sapu tanganku, tanpa sadar aku berkata, "Tuhan biarlah aku mati bersamaMu." Melihat kelakuanku itu, seorang anggota gerombolan menghampiriku. "Bangkitlah dan duduklah di kursi itu," katanya. Aku pun duduk di kursi yang ditunjuknya sambil terus mendekap gambar Tuhan Yesus itu.

    "Anak gadis, kau takkan kubunuh, karena kau telah memperlihatkan kesetiaan kepada Tuhan, walaupun harus berhadapan dengan maut. Dan kalian, yang lima orang lagi, berbarislah di sudut sana." katanya sambil menunjuk sudut gereja. Kelima orang penatua itu berbaris di sudut gereja.

    "Kalian adalah manusia-manusia yang telah berani mengkhianati Tuhan kalian dan takut mati untukNya. Kalau manusia sudah berani berkhianat kepada Tuhannya, apalagi kepada sesuatu yang hanya berpredikat ideologi." Segera setelah ucapan itu selesai, serentetan tembakan dilepaskan dan ... terkulailah kelima penatua itu.

    Aku tak sadarkan diri dan tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ketika aku sadar, kudapati diriku sudah ada di rumah orangtuaku.

    Pengalaman yang dahsyat itu menyebabkan aku yakin bahwa iman adalah modal keselamatan. Dan itu tidak hanya berlaku bagiku, tapi bagi setiap orang yang percaya kepada Dia. Hari-hari setelah kejadian itu tangan Yesus terasa sekali terus menyentuh ke dalam setiap relung kehidupanku. Juga gejolak batinku untuk terus mengiring Dia makin menjadi-jadi.

    Setelah tamat SMA, aku melanjutkan ke sekolah Teologia. Tahun-tahun terus berlalu dan kini aku hidup sebagai pelayan Tuhan di tengah- tengah Jemaat di daerah pedalaman.

    Sampai hari ini dalam pengabdianku, ayat Efesus 2:8-9 selalu menjadi peganganku: "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. < http://www.bit.net.id/SABDA-Web/Efe/T_Efe2.htm#2:8 >

    [Catt.: Sampai saat ini Shanti masih aktif memberitakan Injil di pedalaman Irian Jaya.]

    Diambil dan diedit dari tulisan Sulaeman Effendie -- bagian dari
    Judul Buklet : Seri Kesaksian -- Menyangkal Yesus atau Ditembak Mati?; dan Delapan Kesaksian Lain
    Penerbit       : BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1999
    Halaman      : 1-4

    Merebut Kota di Korea

    Bab ini cukup singkat tetapi bermanfaat untuk dibaca karena ditulis oleh David Yonggi Cho, pendeta dari gereja terbesar di dunia. Kapan pun dia menceritakan sejarah bagaimana Gereja Yoido Full Gospel, di Korea, yang keanggotaannya bertumbuh hingga berjumlah lebih dari 600.000 orang {Cat. Red.: Jemaat Gereja Yoido Full Gospel telah berkembang menjadi lebih dari 800.000 orang pada tahun 2000.], maka hal pertama dan paling utama yang ia sangat tekankan adalah tentang dinamika rohani dari pelayanannya. Di dalam bab ini, Cho menekankan pentingnya doa, pengorbanan, serta kekudusan dalam memenangkan sebuah kota bagi Allah.

    "Kita sedang hidup di ambang peristiwa bersejarah yang penting di dalam sejarah gereja. Karena alasan inilah, saya selalu menganggap diri saya benar-benar beruntung bisa melayani Allah di saat-saat kritis ini. Di hari-hari terakhir ini, Allah sedang bergerak dengan dasyat melalui Roh Kudus-Nya dan memerintahkan kepada kita untuk bangkit, menyeberang, ikut bergumul, serta memenangkan kota bagi Allah. Allah sedang membangkitkan orang-orang kudus-Nya yang besar untuk menggenapi rencana-Nya di dalam generasi kita."

    "Pelayanan saya dimulai dengan usaha memenangkan kota. Ketika saya pertama kali menjadi pioner dalam gereja saya, tidak ada seorangpun yang mau datang ke kebaktian di tenda tentara kami yang sudah tua serta robek-robek oleh karena tekanan kuasa gelap yang begitu kuat atas desa tersebut. Kunci untuk melepaskan ikatan tersebut adalah ketika diusirnya kuasa iblis dari seorang wanita yang telah terbaring lumpuh selama tujuh tahun. Setelah berdoa berbulan-bulan, dan ketika iblis yang menguasai wanita tersebut diusir keluar dan dia mengalami kesembuhan, gereja kami berkembang dengan luar biasa. Langit di atas desa tersebut telah terbuka dan berkat Allah mulai dicurahkan. Saat ini, Gereja Yoido Full Gospel masih terus bertumbuh. Gereja kami sekarang beranggotakan 600.000 orang, dan kami sedang bergerak maju pada sasaran kami, yakni satu juta orang anggota pada tahun 1992. Saat ini target ini sedang mulai dicapai."

    "Pertumbuhan gereja kami dan pertumbuhan ke-Kristenan di seluruh negara Korea tidak terjadi secara kebetulan. Pertumbuhan tersebut terjadi melalui doa yang kuat, keras, dan sungguh-sungguh. Sebagaimana yang sudah dikatakan oleh Yesus di dalam Matius 11:12, '... Kerajaan Sorga diserang dan orang yang menyerangnya mencoba menguasainya'. Contohnya, di gereja Yoido Full Gospel, kami menyelenggarakan persekutuan doa semalam suntuk tiap malam, dan orang-orang yang hadir jumlahnya ribuan. Setiap Jumat malam, lebih dari lima belas ribu oramg bergandengan tangan dan bersatu hati berdoa agar kerajaan Allah datang. Di bukit doa, setiap harinya setidaknya tiga ribu orang berdoa, berpuasa, dan melayani Tuhan kapan saja. Secara keseluruhan, setiap tahunnya satu setengah juta orang datang ke sana dan berdoa. Ini tidak hanya terbatas bagi gereja kami saja; di seluruh Korea Selatan orang Kristen berdoa di sana. Salah satu ciri yang unik di Korea adalah bahwa jutaan orang setiap pagi pukul 05.30 berkumpul untuk berdoa, tidak memperdulikan hujan, angin, atau salju."

    "Pengorbanan yang besar diberikan oleh gereja Korea. Sesungguhnya, gereja Tuhan memang mengalami aniaya kekerasan. Suatu sejarah panjang tentang penganiayaan terhadap orang-orang Kristen oleh orang-orang Komunis dan oleh tentara pendudukan Jepang pernah dialami oleh Korea. Salah satunya adalah dipasangnya altar Shinto oleh orang-orang Jepang di semua gereja Kristen. Polisi militer berjaga-jaga untuk memaksakan aturan yang mengharuskan semua orang Kristen untuk membungkuk terlebih dahulu di depan altar berhala sebelum mereka masuk ke dalam gereja untuk menyembah Allah Yang Maha Kuasa. Mereka yang menolak untuk melakukan hal itu dipenjarakan dan dihukum berat, serta banyak sekali para hamba Tuhan yang dihukum mati oleh tentara Jepang. Banyak gereja dan secara bersama-sama memutuskan untuk menentang ketidakadilan ini. Banyak gereja yang bertindak seperti ini ditutup, dengan wanita serta anak-anak ada di dalamnya, kemudian dibakar sampai musnah oleh karena penolakan mereka untuk menyembah berhala. Sampai sekarang ini pun diperlukan pengorbanan yang besar untuk menjadi seorang Kristen di Korea. Orang-orang percaya merupakan kelompok minoritas. Tetapi sekarang, karena 'Darah orang-orang yang mati syahid adalah benih jemaat', kami menghitung, paling tidak seperempat bagian dari bangsa kami menjadi orang percaya di dalam Tuhan Yesus Kristus."

    "Akhirnya, sepatah kata nasihat. Adalah hal yang penting bagi mereka yang dipanggil untuk terlibat di dalam peperangan rohani untuk menyucikan serta menguduskan diri mereka, karena Dia adalah Allah yang kudus. banyak orang yang telah mengusir setan, yang telah bernubuat, dan yang telah melakukan mujizat-mujizat demi nama-Nya mungkin mendapat pernyataan Allah ini, 'Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah daripada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!' Iblis telah masuk ke dalam gereja dan menimbulkan ketidakadilan, kejahatan dan ketidakbenaran di tengah-tengah kita."

    "Sesuatu yang membuat hati saya hancur ketika menyaksikan banyak rekan sekerja yang bekerja untuk kerajaan Allah jatuh dan dipermalukan. Seperti ketujuh orang anak Skewa, roh jahat itu menerpa mereka, menggagahi mereka semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan telanjang dan luka-luka. Tanpa kesucian dan kekudusan, tanpa pengorbanan yang besar, dan tanpa kehidupan doa yang sungguh-sungguh, akan banyak orang yang benar-benar terluka. Roh jahat itu mungkin menjawab, 'Yesus aku kenal, dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?'."

    "Suatu perkara yang baik yang pernah diperingatkan kepada kita oleh Rasul Paulus, silakan baca Efesus 6:10-18".

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Roh-roh Territorial
    Penulis : C. Peter Wagner
    Judul Artikel: Merebut Kota di Korea
    Penulis : Paul Yonggi Cho
    Penerbit : Yayasan Pekabaran Injil Immanuel, Jakarta, 1994
    Halaman : 127 - 130

    e-JEMMi 03/2003

    Misi Ke Afrika: Kenya

    Pada bulan September 1998, saya diberi kesempatan untuk mengikuti program sukarela yang mengijinkan para muda-mudi gereja untuk berpartisipasi dalam pelayanan Kristen di luar negeri. Setiap tahun Majelis Internasional (IA) Gereja Yesus Sejati mengirimkan tiga atau empat tim pekerja ke Afrika untuk tugas penginjilan dan penggembalaan. Saya ditugaskan pada salah satu tim misi ini bersama Penatua Chen Heng Tao (Taiwan, Ketua IA), Pendeta Joseph Shek (Inggris) dan Saudara Chin T.K. (Inggris). Pekerjaan utama saya dalam tim ini adalah sebagai penerjemah Penatua Chen, yang hanya bisa berbahasa Mandarin.

    Kami mendapat tugas untuk mengunjungi Kenya, Afrika Selatan, dan Ghana selama 1 bulan. Karena sulit bagi saya untuk membagi semua pengalaman yang saya alami, saya akan memfokuskan pada beberapa pengamatan yang menarik dan pelajaran berharga yang saya pelajari di Kenya.

    Kenya terletak di pesisir timur Afrika dan berbatasan dengan Uganda Ethiopia, Tanzania, dan Samudra Hindia. Kenya terletak di garis khatulistiwa, karena itu sepanjang tahun cuaca di sana sangat panas.

    Kesan pertama saya tentang Afrika adalah rakyatnya sangat miskin. Kebutuhan pokok sangatlah kurang. Kebanyakan jemaat kita di sana tinggal di pedalaman, tidak ada listrik ataupun air bersih. Orang- orang bekerja keras sepanjang hidupnya semata-mata untuk mencari sesuap nasi bagi diri mereka.

    Beberapa orangtua terpaksa harus memberikan anaknya kepada orang lain karena mereka tidak dapat memberi makan anak-anaknya. Juga, Anak-anak perempuan sekitar umur lima belas atau enam belas tahun kadang-kadang menikah dengan laki-laki yang jauh lebih tua hanya agar mereka bisa makan. Anak-anak sering tidak makan selama beberapa hari sehingga tubuh mereka sangat kurus karena kekurangan gizi.

    Hari pertama di Kenya, kami menyewa sebuah van yang mengantar kami ke gereja yang terletak di pinggir kota, kira-kira 8 jam perjalanan lamanya. Sebelum memulai perjalanan, kami berhenti di warung kecil untuk membeli air mineral. Pdt. Shek dan pendeta-pendeta setempat masuk ke dalam untuk membeli air sementara saya tetap di dalam van. Ketika sedang menunggu, beberapa orang mendekati van melihat ke dalam. Setiap orang menginginkan sesuatu dari kami ....

    Yang sangat berkesan bagi saya adalah ketika seorang anak laki-laki berumur tiga belas tahun datang mendekat ke jendela van. Sekitar tiga puluh detik sesudah itu anak laki-laki itu mengulurkan tangannya ke dalam jendela dan bertanya, "Bolehkah saya memiliki jam tangan Anda? Bolehkah saya memiliki jaket Anda? Bolehkah saya memiliki pen Anda?"

    Saya tidak tahu harus berbuat apa. Kemudian saya menyadari bahwa waktu menunjukkan sekitar tengah hari dan hari itu adalah hari Rabu. Saya merasa aneh bahwa anak ini tidak berada di sekolah, jadi saya bertanya, "Kamu tidak sekolah?"

    "Ya, saya sekolah di Jesus Mission School," dia menjawab.

    "Jadi kamu tahu tentang Yesus?" saya bertanya.

    "Ya, saya tahu Yesus," dia berkata. "Yesus adalah Anak Allah."

    "Kalau begitu, mengapa kamu tidak meminta Yesus tapi meminta uang?" saya bertanya.

    Dia berkata, "Kalau saya meminta uang. Anda bisa memberi saya uang, tapi kalau saya meminta Yesus, Anda tidak dapat memberi saya Yesus."

    Jawabannya sungguh mengusik hati saya karena saya tidak punya jawaban untuknya. Pada dasarnya dia mengatakan bahwa jika dia meminta uang, itu dapat mengobati rasa laparnya, tetapi jika dia meminta Yesus, dia akan tetap lapar.

    Saya duduk di situ sambil berpikir, bagaimana kami dapat berkhotbah kepada mereka tentang suatu kebutuhan abstrak pada saat mereka lebih membutuhkan sesuatu untuk dapat memenuhi kebutuhan perut mereka? Apakah akan membawa perbedaan jika saya bercerita tentang Yesus kepada mereka?

    Mungkin ini adalah halangan terbesar bagi pekerjaan misi kita sekarang ini, bukan hanya di Afrika tapi di seluruh dunia. Yaitu, apa yang dapat Yesus lakukan untuk manusia? Jika seseorang bertanya kepada saya, "Dapatkah Anda memberi saya Yesus?" Bagaimana saya menjawabnya? Dapatkah saya memberikan Yesus kepadanya?

    Alkitab mencatat bahwa suatu hari Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ada seorang laki-laki yang pincang sejak lahir sedang meminta-minta sedekah. Intinya, pengemis ini juga menginginkan "uang untuk roti."

    Petrus berkata kepadanya,

    "Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kisah Para Rasul 3:6).

    Oleh iman dan kekuatan Yesus, Petrus menyembuhkan orang pincang itu. Orang ini menerima sesuatu yang melampaui apa yang dimintanya.

    Jika Yesus bisa memberi makan lima ribu orang. Dia juga bisa memberi makan anak laki-laki lapar di Kenya itu. Jika Yesus dapat menyembuhkan orang pincang melalui tangan Petrus, Dia juga dapat memberi makan mereka yang kelaparan melalui tangan kita.

    Kita semua haruslah bertanya pada diri kita sendiri, siapakah yang kita anggap paling kecil dalam hidup kita? Apakah anak laki-laki yang berdiri sendirian di jalan, yang tidak seorang pun mau berbicara kepadanya? Ataukah gelandangan yang tidur di luar supermarket? Bagaimana kita memberikan air sejuk?

    Jika kita melihat cukup dekat, kita akan menemukan orang-orang yang paling kecil dalam hidup kita sendiri. Kita tidak perlu kaya; kenyataannya, kita bahkan bisa saja miskin, sepanjang kita bersedia mengasihi dan memberi. Tuhan Yesus mengatakan, kita tidak akan kehilangan upah kita.

    Karena kemiskinan, penyakit, dan kematian, banyak anak Afrika menjadi yatim piatu. Orangtua mereka biasanya meninggal tanpa tanda- tanda terlebih dahulu. Di lain pihak, kita semua juga seperti yatim piatu. Orangtua kita tidak dapat bersama kita selamanya.

    Suami, istri, anak-anak, dan orang-orang yang kita cintai tidak akan selalu bersama dengan kita. Tetapi Tuhan Yesus berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita sebagai yatim piatu. Dia adalah Bapa surgawi kita.

    Pada akhir perjalanan, saya sangat senang karena akan segera pulang. Namun pada waktu yang bersamaan, saya sangat sedih karena harus meninggalkan Afrika. Melihat ke belakang, sedetik pun saya tidak menyesali perjalanan ini. Jika saya punya kesempatan, saya akan kembali ke sana. Saya mendorong setiap orang untuk pergi dan mengalaminya sendiri.

    Kadang-kadang, ketika sedang tidur, saya bermimpi tentang saudara/i seiman kita di Afrika. Ketika menaikkan pujian di sini, saya menutup mata dan saya dapat melihat bagaimana mereka bernyanyi dengan menjalani rutinitas hidup. Saya kembali mengingat pelajaran berharga yang telah saya pelajari.

    Sumber: Warta Sejati, Edisi 28/Jan-Feb 2002

    ==> http://www.gys.or.id

    e-JEMMi 43/2002

    Mukjizat Natal

    Kisah nyata ini terjadi pada malam Natal, saat Perang Dunia I pada 1914, tepatnya di front perang bagian barat Eropa. Pada saat itu, tentara Perancis, Inggris, dan Jerman saling baku tembak. Pada malam Natal yang dingin dan gelap itu, hampir setiap prajurit merasa bosan dan muak dengan berperang, apalagi setelah berbulan-bulan mereka meninggalkan rumah mereka, jauh dari istri, anak, maupun orang tuanya.

    Pada malam Natal, biasanya mereka berkumpul bersama seluruh anggota keluarga masing-masing, makan bersama, bahkan menyanyi bersama di bawah pohon terang di hadapan tungku api yang hangat.

    Berbeda dengan malam Natal saat itu, di mana cuaca di luar sangat dingin dan salju pun turun dengan lebatnya, mereka bukannya berada di antara anggota keluarga yang mereka kasihi, malah berada di antara musuh yang setiap saat bersedia menembak mati siapa saja yang bergerak.

    Tiada hadiah yang menunggu selain peluru dari senapan musuh, bahkan persediaan makanan pun berkurang jauh sehingga hari itu pun hampir seharian mereka belum makan. Pakaian basah kuyup karena turunnya salju. Biasanya, mereka berada di lingkungan dan suasana yang hangat dan bersih, tetapi kali ini mereka berada di dalam lubang parit, seperti layaknya seekor tikus, jangankan bisa mandi dan berpakaian bersih, tempat di mana mereka berada saat itu basah dan becek penuh dengan lumpur. Mereka menggigil kedinginan. Rasanya tiada keinginan yang lebih besar saat itu selain rasa damai untuk bisa berkumpul dengan orang-orang yang mereka kasihi.

    Seorang tentara yang terkena tembakan merintih kesakitan, sedangkan tentara lainnya menggigil kedinginan, bahkan pemimpin mereka -- yang biasanya keras dan tegas -- entah mengapa pada malam itu tampak sangat sedih, terlihat air mata turun berlinang di pipinya, rupanya ia teringat akan istri dan bayinya yang baru berusia enam bulan. Kapankah perang akan berakhir? Kapankah mereka bisa pulang kembali ke rumah masing-masing? Kapankah mereka bisa kembali memeluk orang-orang yang mereka kasihi? Dan, sebuah pertanyaan besar pula, apakah mereka bisa pulang dengan selamat dan berkumpul kembali bersama istri dan anak-anaknya? Entahlah ....

    Tak sepatah kata pun terdengar. Suasana malam yang gelap dan dingin terasa hening dan sepi sekali, masing-masing teringat dan memikirkan keluarganya masing-masing. Selama berjam-jam mereka duduk membisu. Tiba-tiba dari arah depan di front Jerman, cahaya kecil muncul dan bergoyang, cahaya tersebut tampak semakin nyata. Rupanya, seorang prajurit Jerman telah membuat pohon Natal kecil yang diangkat ke atas dari parit tempat persembunyian mereka sehingga tampak oleh seluruh prajurit di front tersebut.

    Pada saat yang bersamaan, terdengar alunan lembut suara lagu "Stille Nacht, heilige Nacht" (Malam Kudus). Pada awalnya lagu tersebut hanya sayup-sayup terdengar, namun semakin lama, lagu yang dinyanyikan tersebut semakin jelas dan keras terdengar. Hal itu membuat para tentara yang mendengarnya merinding dan merasa pilu karena teringat akan anggota keluarganya yang berada jauh dari medan perang.

    Ternyata seorang prajurit Jerman yang bernama Sprink yang menyanyikan lagu tersebut dengan suara yang sangat indah, jernih, dan merdu. Sebelum dikirim ke medan perang, prajurit Sprink adalah seorang penyanyi tenor opera yang terkenal. Rupanya, keheningan dan kegelapan suasana pada malam Natal itu telah mendorongnya untuk melepaskan emosi dengan menyanyikan lagu itu. Walaupun ia menyadari bahwa dengan menyanyikan lagu tersebut, prajurit musuh bisa mengetahui tempat persembunyian mereka.

    Ia menyanyikan lagu Malam Kudus tersebut bukan di tempat persembunyiannya, melainkan berdiri tegak, bahkan keluar dari persembunyiannya sehingga dapat terlihat jelas oleh semua musuhnya. Melalui lagu tersebut, ia ingin menyampaikan kabar gembira sambil mengingatkan kembali makna Natal, yaitu berbagi rasa damai dan kasih. Untuk hal ini, ia bersedia mengorbankan jiwanya, ia bersedia mati ditembak oleh musuhnya. Namun apa yang terjadi, apakah ia ditembak mati?

    Tidak! Entah mengapa, seakan-akan mukjizat terjadi, sebab pada saat yang bersamaan, semua prajurit yang berada di situ, satu demi satu keluar dari tempat persembunyiannya masing-masing, dan mereka mulai menyanyikannya bersama. Bahkan, seorang tentara Inggris, musuh besar Jerman, turut mengiringi mereka menyanyi sambil meniup dua bagpipes (alat musik Skotlandia) yang dibawanya khusus ke medan perang. Dengan perasaan terharu, mereka turut menyanyikan lagu Malam Kudus. Hujan air mata tak dapat dibendung -- air mata mereka yang berada jauh dari orang tua, anak, calon istri, kakak, adik, dan sahabat mereka.

    Tadinya lawan sekarang menjadi kawan. Sambil saling berpelukan, mereka menyanyikan lagu Malam Kudus dalam bahasa masing-masing. Perasaan damai dan sukacita benar-benar mereka rasakan. Setelah itu, mereka meneruskan menyanyi bersama lagu "Adeste Fideles" (Hai Mari Berhimpun). Mereka berhimpun bersama, tidak ada lagi perbedaan pangkat, derajat, usia, maupun bangsa, bahkan perasaan bermusuhan pun lenyap.

    Mereka berhimpun bersama musuh mereka, yang seharusnya saling tembak, saling bunuh, namun dalam suasana Natal itu mereka bisa berkumpul dan menyembah, memperingati Sang Bayi, Sang Juru Selamat. Rupanya, inilah mukjizat Natal yang benar-benar membawa suasana damai di malam yang suci ini.

    Doa:

    Aku sangat berharap, kiranya melalui tulisan ini, kita dapat membagikan kasih dan kedamaian kepada orang lain, serta mengajak kita semua untuk merenungkan kembali makna Natal. Apabila di antara kita masih menyimpan luka batin, marilah kita mengambil kesempatan pada hari Natal ini untuk saling memaafkan dan mendoakan satu sama lain, dan biarlah damai Kristus bertakhta di hati kita.

    "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah" (Matius 5:9).

    Ya, Tuhan, Engkau menyinari malam suci ini
    dengan cahaya damai-Mu.
    Ajarilah kami untuk melihat kedamaian
    yang seharusnya kami cari,
    kedamaian yang seharusnya kami jaga,
    dan kedamaian yang harus kami bagi.
    Semoga hari ini dan setiap hari,
    menjadi seperti hari Natal,
    seperti Engkau mengilhami diri kami untuk membawa damai
    dan pengampunan bagi semua orang yang kami jumpai.
    Terima kasih untuk kelahiran-Mu di dunia ini Tuhan Yesus,
    kelahiran-Mu membawa keajaiban bagi dunia ini
    dan bagi hidup kami.
    Segala pujian, hormat, dan syukur kami naikkan bagi-Mu,
    Yesus Kristus, Sang Raja.
    Amin.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : My Favourite Christmas
    Judul artikel : Mukjizat Natal
    Penulis : Mang Ucup
    Penerbit : Gloria Cyber Ministries
    Halaman : 52 -- 59

    e-JEMMi 51/2007

    Musik Bagi Telinga Mereka

    Sistem musikal yang dimiliki orang-orang Canela di hutan Amazon, Brazil, membuat kami sangat kebingungan. Bukan karena saya dan istri saya, Jo, buta terhadap irama musik dan tidak menghargai musik (selama bertahun-tahun kami bernyanyi dengan banyak kelompok musik). Bukan juga karena kami tidak pernah mendengar tentang musik Canela. Malahan, selama berada di desa, musik seperti itu selalu terdengar. Setiap malam, penduduk Canela menghantar kami tidur dengan nyanyiannya dari alun-alun kota.

    Kami belajar menyanyikan lagu-lagu Canela, tapi tetap tidak bisa memahami irama dan sistem nadanya. Saat orang-orang di sekitar kami menyanyi dan menari, Jo tidak tahu harus menyanyikan apa dan saya tidak tahu bagaimana harus menggerakkan kaki saya. Bagaimana kami bisa memperkenalkan komposisi himne asli Canela, sedangkan selama hampir dua puluh tahun berdoa dan berusaha, kami tetap tidak bisa memahami musik mereka?

    Kemudian, datanglah Dr. Tom, seorang konsultan musik-musik etnik dari Wycliffe. Tom merekam musik Canela selama beberapa minggu. Dia mempelajari dan menganalisis musik tersebut dengan menggunakan komputernya. Pada tahun selanjutnya, kami bertemu kembali dan akhirnya dia memperkenalkan dasar musik Canela pada kami .

    PERBEDAAN

    Seruling, yang dibuat dari ujung tanduk sapi, adalah bagian dari musik Canela yang rumit itu. Sekarang kami tahu mengapa kami tidak pernah bisa mempelajarinya. Tidak seperti sistem musikal yang terdiri dari delapan not dengan beberapa not tambahan, musik Canela ternyata memiliki lebih banyak not. Walaupun musik Canela bisa dinyanyikan atau dimainkan dengan instrumen seperti biola atau "slide flute", tapi mustahil dimainkan dengan keyboard.

    Perbedaan selanjutnya adalah pada kata-katanya. Ada banyak suku kata tambahan dan improvisasi yang ditambahkan pada kata dasar sehingga hampir mustahil untuk bisa memahami liriknya. Mungkin kita perlu melakukan yang sama pada lagu-lagu yang kita ketahui. Misalnya, kata "Glo-o-o-o- o-ria" pada lagu Natal, masing-masing "o" dinyanyikan dengan irama yang berbeda. Atau menambahkan improvisasi "fa la la la" pada lagu lainnya.

    Sistem musik Canela tidaklah sederhana. Seperti sebuah simfoni yang memiliki bagian yang berbeda, misalnya lagu pembuka, dll, begitu juga dengan sistem musik Canela memiliki tiga jenis utama. Pada setiap pesta besar atau kecil, mereka selalu memulai nyanyian dengan lagu "ihkenpoc" yang berirama lambat. Lalu perlahan berganti dengan musik "kyikyi" yang berirama sedang, dan berakhir dengan musik "ihkenpej" yang berirama cepat. Tom menemukan pola seperti ini dan dia memberitahukannya pada kami. Setelah saya memberinya lirik yang berdasar pada ayat Alkitab, Tom menggubah lebih dari dua puluh himne asli Canela.

    DITERIMA DENGAN BAIK

    Kemudian, kami berkunjung ke desa Canela untuk memperkenalkan lagu-lagu tersebut pada penduduk desa. Tindakan kami ini seperti menuang bensin ke atas api! Hanya dalam beberapa malam, ratusan penduduk Canela berkerumun untuk mendengarkan dan mempelajari lagu-lagu baru. Pemimpin nyanyian dan pemimpin tariannya sangat bersemangat. Dia ingin memiliki satu buku himne dan kemudian duduk selama berjam-jam mendengarkan rekaman yang telah kami persiapkan. Akhirnya, dia bisa mempelajari seluruh lagu dan melakukan perbaikan. Penduduk Canela yang lain mulai menambahkan ayat-ayat ke beberapa himne.

    Setiap malam, selama kelas pengajaran Alkitab, lebih dari setengah waktunya dipergunakan untuk menyanyikan lagu-lagu baru. Seorang penduduk Canela dengan menangis berkata, "Anda memberikan firman Tuhan kepada kami, di mana Tuhan bisa berbicara kepada kami. Tapi teman Anda, Tom, memberi kami lagu sehingga kami bisa bercakap-cakap dengan-Nya."

    Setelah pemberian Alkitab pada tahun 1990, seluruh penduduk Canela yang telah menerima salinan Alkitab terjemahan itu mengelilingi sang pemimpin pujian di alun-alun pusat. Mereka menyanyikan beberapa lagu baru Canela -- "Firman Tuhan Lebih Manis daripada Madu Bagiku" dan "Biarlah Kita Bersandar dan Mengikuti Perintah Tuhan".

    Apa yang dilakukan Tom terhadap budaya Canela ini bukan hanya memperlancar penerimaan masyarakat Canela terhadap Alkitab terjemahan baru, namun juga memudahkan dalam menerima keseluruhan pesan Injil. (t/Lanny)

    Bahan diterjemahkan dari sumber:

    Judul asli: "Music to Their Ears"
    Penulis : Jack Popjes
    Nama Situs: Wycliffe
    Situs : http://wycliffe.org/ethnomusic/canela.htm

    e-JEMMi 1/2007


    Dipublikasikan: http://misi.sabda.org/musik_bagi_telinga_mereka

    Musik Membawa Kami pada Mereka

    Perbedaan latar belakang bahasa antara pemusik dengan pendengarnya bukanlah sebuah halangan untuk menikmatinya. Falsafah ini dapat dijadikan landasan bahwa musik dapat dijadikan bahasa untuk menjangkau suku-suku yang belum mengenal firman-Nya.

    AU dan DL, yang mendalami bidang etnomusikologi, sedang melakukan pendekatan kepada sebuah suku yang dikenal melalui musik. Langkah yang mereka tempuh dimulai dengan melakukan survei langsung ke tengah-tengah masyarakat asli suku ini, dengan menemui para pimpinan/tokoh musik daerah tersebut. Melalui cara ini, AU dan DL pun melakukan pendekatan secara pribadi, walaupun ada dari mereka yang tertutup ketika diwawancarai.

    Suatu hari ketika AU sedang melakukan survei di kampung K. Ia bertemu dengan istri dari seorang tokoh musik kampung tersebut. Awalnya, ia sangat berhati-hati menjawab setiap pertanyaan AU. Namun setelah beberapa saat berbicara dengannya, ia menjadi lebih bebas setelah diwawancarai istri sang tokoh musik tersebut. AU pun lalu diundang untuk menyaksikan langsung pagelaran musik tradisional pimpinan suaminya di sebuah pesta pernikahan.

    Tapi perjalanan survei berikutnya tak semulus seperti di kampung K. Seorang mantan tokoh musik daerah menolak mentah-mentah. Bahkan sang tokoh musik ini menyuruh agar ia pergi ke kampung yang lain saja. Kendala memang hadir, tetapi AU dan DL tetap melangkahkan kakinya untuk menjangkau suku ini melalui musik.

    Kerinduan AU dan DL adalah agar masyarakat dari suku ini dimenangkan bagi Yesus melalui budaya musik mereka. Juga agar dari suku tersebut lahir sebuah kelompok musik rohani, yang anggotanya terdiri dari penduduk asli yang dapat menjadi berkat bagi sukunya dengan membawa pujian dan penyembahan dalam musik tradisional mereka. Pelayanan yang dilakukan AU dan DL tak hanya untuk memenangkan suku ini, tetapi juga untuk melestarikan budaya musik suku ini yang hampir punah ditenggelamkan oleh arus modernisasi.

    Untuk kerinduan mereka inilah AU sekarang sedang mempelajari berbagai alat musik tradisional suku langsung dari pemusik asli suku P. Tujuannya adalah agar mereka dapat lebih memahami budaya musik suku ini, sehingga dapat merancang metode pelayanan yang efektif melalui musik mereka. Oleh karena itu, sepanjang tahun 2008 AU dan DL berusaha mempelajari alat-alat musik tradisional suku P secara lebih serius.

    Kecintaan AU dan DL pada alat musik tak hanya dipendam untuk diri mereka sendiri. AU dan DL juga mengumpulkan dan menyusun materi-materi lokakarya etnomusikologi. Dengan diadakannya lokakarya ini, diharapkan masyarakat daerah dapat diberdayakan untuk menggali potensi budaya seni mereka sendiri untuk digunakan dalam mensosialisasikan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan sosial masyarakat, kebenaran firman Tuhan, dan juga untuk memuji dan menyembah Tuhan. Selain itu, melalui lokakarya ini peserta dapat menemukan nilai-nilai yang sangat berharga dalam budaya mereka untuk dipertahankan dan dihargai.

    Rencananya, sebuah lokakarya menciptakan lagu akan dilaksanakan bagi beberapa orang dari suku P, yang dilaksanakan atas kerja sama dengan salah satu mitra dalam pelayanan suku P. Dalam lokakaryanya ini diharapkan akan tercipta lagu-lagu bertemakan HIV/AIDS, yang akan digunakan untuk mendukung sosialisasi buku tentang HIV/AIDS dalam bahasa P, yang akan segera diterbitkan.

    Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk melayani suku-suku di Indonesia, dan musik adalah salah satunya.

    Tetap dukung dalam doa pelayanan AU dan DL di tengah-tengah suku P, agar hubungan yang telah terjalin dapat menjadi landasan untuk memberitakan kabar baik bagi masyarakat suku P. Doakan pula AU dan DL agar diberi hikmat dan kemampuan dalam mempelajari kebudayaan dan musik suku P.

    Pokok doa:

    1. Berdoalah agar Tuhan memberkati pelayanan AU dan DL, agar lewat metode mereka semakin banyak orang yang dilawat oleh Allah. Doakan juga agar Allah memberi hikmat kepada AU dan DL dan juga kemampuan dalam mempelajari kebudayaan dan musik suku P.

    2. Berdoalah agar ada orang-orang P yang yang tergerak untuk menjadi mitra kerja pelayanan AU dan DL, sehingga tidak hanya kebutuhan rohani saja yang dipenuhi, namun juga mereka dapat mempertahankan budaya kebanggaan mereka.

    3. Doakan agar semakin banyak pemusik Kristen yang dipanggil untuk melayani mereka yang belum terjangkau bagi Kristus melalui musik.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Berita Kartidaya Edisi 1 Tahun 2008
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kartidaya, Jakarta
    Halaman : 4 -- 5

    e-JEMMi 04/2012

    Natal Di China -- Sebuah Kisah Nyata

    Sekitar 26 tahun yang lalu, ada bencana besar yang terjadi di China dan berlangsung selama 10 tahun. Selama jangka waktu tersebut, banyak orang percaya di China dianiaya dan dibunuh. Orangtuaku termasuk diantaranya.


    Oleh karena latar belakang kepercayaan orangtua, aku dianggap "black child" dari keluarga revolusioner. Tidak ada seorang pun yang berani memeliharaku. Aku tidak punya tempat tinggal dan mulai menjalani hidup mandiri pada saat berusia 9 tahun. Sejak itu, untuk mendapatkan uang, aku menolong orang untuk mendorong kereta-kereta mereka. Malam harinya, aku tidur di jalanan. Saat itu sedang musim hujan dan salju, tidak seorang pun bekerja di luar dan aku tidak punya mata pencaharian. Lapar dan dingin menjadi bagian dari hidupku sehari-hari.


    Satu setengah tahun kemudian, aku bertemu dengan seseorang yang berusia lebih dari 50 tahun. Aku memanggil dia paman Shen. Dia seorang Kristen yang taat. Ketika tahu bahwa aku tuna wisma, dia memutuskan untuk merawat aku. Sebenarnya, paman Shen telah melarikan diri dari penjara dan dia tidak memiliki keluarga. Dia bertanya apakah aku mau tinggal dengannya. Aku setuju karena aku tahu dia seorang yang baik.


    Paman Shen memutuskan untuk pergi ke bagian barat laut China karena dia berpikir keadaan di sana jauh lebih aman. Kebanyakan tempat di bagian tersebut sangatlah miskin. Sebagian besar penduduk di wilayah pedesaan tidak berpendidikan. Mereka tidak dapat membaca ataupun memperbaiki mesin-mesin yang mereka miliki, Paman Shen adalah seorang ahli mekanik, jadi dia pergi ke banyak wilayah untuk memperbaiki mesin-mesin para petani. Dia mendapatkan makanan dan penginapan sebagai gantinya. Karena tidak ada banyak mesin di satu wilayah, maka kami sering berpindah-pindah tempat agar dapat terus bekerja. Jika tidak demikian, kami tidak dapat bertahan hidup.


    Suatu hari, di penghujung bulan Desember 1970, kita sama sekali tidak punya pekerjaan. Paman Shen memutuskan untuk mencari kerja di tempat lain. Kami berada di wilayah yang termiskin di China dan bermalam di gubuk yang biasa disebut "Grand Horsecart Inn." Suara- suara binatang membuat aku terjaga dan secara tidak sadar terlintas di pikiran tentang orangtuaku. Peristiwa saat mereka ditangkap terbayang lagi; ayahku diikat dan dipukuli berkali-kali sampai dia tidak dapat berdiri lagi ... sedangkan ibu dipaksa untuk berlutut, rambutnya dicukur habis dan wajahnya dilumuri dengan tinta hitam.


    Saat memikirkan mereka, aku bertanya pada diri sendiri, "Dimanakah mereka saat ini? Apakah mereka sudah meninggal? Apakah aku dapat melihat mereka lagi?" Aku tidak dapat menahan kepedihan dan airmata yang membanjiri wajahku.


    Aku tidak sadar kalau paman Shen juga terjaga, dan dia mendengar isakan tangisku. Dengan lembut dia meraih tanganku dan mencoba menghiburku. Kami duduk di tumpukan jerami kering tanpa bicara sepatah katapun. Beberapa saat kemudian, ketika melihat airmata yang mulai mengering, dengan suara lembut paman Shen bertanya, "Apakah kamu masih mengantuk?"


    Aku dengan tegas menjawab, "Tidak, aku tidak mengantuk sama sekali." "Tahukah kamu, hari apakah ini?" tanya paman Shen. "Tidak secara pasti. Setahu aku, ini adalah minggu terakhir di tahun ini."


    Paman Shen lalu berkata, "Hari ini adalah tanggal 25 Desember, hari Natal. Hari ini kita merayakan kelahiran Yesus. Tetapi, tahukah kamu bagaimana penderitaan yang dialami Yesus sebelum Dia disalibkan?"


    Paman Shen berbicara seakan-akan tahu bahwa aku sedang memikirkan tentang bagaimana penderitaan yang dialami orangtuaku sebelum mereka ditangkap dan dibawa pergi entah ke mana. Paman Shen mengutip ayat- ayat dalam Injil Matius 27:28-30, 'Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja orang Yahudi!" Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.'


    Saat paman Shen mengucapkan ayat-ayat tersebut, hatiku tersentak. Melalui penderitaan yang dialami orangtuaku, aku mencoba membayangkan bagaimana penderitaan yang dialami Yesus, Allahku, sebelum Dia disalib dan bagaimana kematian-Nya. Paman Shen melanjutkan kutipan ayatnya, " ...tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air." (Yohanes 19:34)


    Saat itu juga, seolah-olah hati aku merasakan kepedihan itu dan aku berkata dalam hati, "Yesus, ALLAH yang disembah orangtuaku dan paman Shen, adalah Allahku juga."


    Hari masih subuh saat itu, keadaan masih sepi dan dingin. Terhanyut oleh suasana saat itu, aku tidak tahu secara pasti kapan paman Shen mulai menyanyikan sebuah lagu, "Malam Kudus, sunyi senyap. Bintang- Mu gemerlap. Juruselamat manusia, telah datang ke dunia ..."


    Sejak saat itu, 20 tahun telah berlalu. Namun, aku masih merasa seperti hari kemarin. Aku masih dapat merasakan kehadiran paman Shen di sampingku dan mendengar nyanyiannya. Aku masih ingat dan mendengar paman Shen menceritakan tentang kelahiran Yesus:


    Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem dari Nazareth untuk mendaftarkan diri. Mereka melakukan perjalanan sejauh 100 mil, yang sangat sulit bagi mereka karena Maria sedang mengandung. Malam itu, Yesus lahir di sebuah kandang, sama seperti "Grand Horsecart Inn" tempat dimana aku dan paman Shen bermalam saat itu. Di kandang yang dingin itu, palungan adalah satu-satunya tempat bagi bayi Yesus. Pada malam yang dingin itulah Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan memulai kehidupan- Nya sebagai Anak Allah. Pada malam itu, di sebuah tempat yang bersahaja, Tuhan Yesus telah lahir. Tempat yang tidak terlalu jauh dari Golgota, dimana 33 tahun kemudian Dia dipakukan di atas kayu salib.


    Di malam yang dingin, beribu tahun yang lalu, tidak ada Santa Claus, tidak ada lampu-lampu gemerlap, tidak ada pohon Natal, tidak ada pertemuan keluarga ... malam yang dingin ... malam yang kudus!

    [[Catatan: Selama hidupnya Penulis telah dipenjarakan dua kali di China karena imannya kepada Yesus.]]

    Sumber:
    Kesaksian ini diterjemahkan dan diedit dari salah satu posting kesaksian dalam milis "e-Forum WPC."
    Judul Asli: "A True Story of Christmas in China"

    Pakistan: Saleema dan Raheela

    "Aku berdoa, agar persekutuanmu di dalam iman turut mengerjakan pengetahuan akan yang baik di antara kita untuk Kristus." (Filemon 1:6)

    "Jika kamu berjanji menanggung salibmu, hidupmu akan penuh dengan duri, pegunungan, dan kesulitan," demikian kata seorang remaja Pakistan dengan suara yang tegas. Saleema, seorang Kristen yang hidup di Pakistan, yang didominasi oleh umat "agama lain", membagikan imannya dengan seorang teman sekolahnya, Raheela, yang kemudian menerima Kristus.

    Keluarga Raheela yang sangat marah, menuntut Saleema karena "menobatkan seorang 'agama lain'", sebuah tuntutan yang bisa mengakibatkan hukuman mati di Pakistan. Saleema dan pendetanya ditahan, dan orang tuanya diinterogasi dan dipukuli oleh polisi. Saleema dianiaya selama dalam penahanan polisi, namun ia tidak mau mengingkari imannya. Malahan, ia menyanyikan dengan perlahan lagu-lagu rohani, dengan harapan bisa menarik yang lain kepada Kristus.

    Raheela kabur dari rumah, namun keluarganya dapat mengejarnya. Saat mereka menawarkannya kesempatan terakhir untuk mengingkari imannya dan kembali ke agama semula, ia menolaknya. Karena "kejahatannya", keluarganya sendiri menghukum mati Raheela.

    Saleema menjalani sidang dengar pendapat pengadilan yang sangat panjang. Keluarga Raheela menyalahkannya karena kematian anak perempuan mereka. Sebenarnya tuntutannya kalah, namun hidup Saleema tidak sama lagi. Ia dipaksa pindah ke bagian lain dari Pakistan, karena takut jika kelompok "agama lain" radikal akan membunuhnya. Namun duri, gunung, dan kesulitan tidak memadamkan imannya. Sesungguhnya, ia memang mempersiapkan diri melayani sebagai utusan Injil. Ia berkata, "Tak masalah betapa besar gunungnya, Yesus akan menolong saya untuk mengatasinya!"

    Para utusan Injil sering disalahartikan sebagai semacam kelompok khusus, pasukan unik dalam angkatan bersenjata Tuhan yang bertindak demi kepentingan kita. Namun sebenarnya, setiap orang percaya dipanggil untuk menjadi utusan Injil. Beberapa pekerjaan Tuhan bisa paling berharga terjadi di sekitar meja dapur, saat minum kopi, di rumah tetangga, dll.. Hati misi kita tetaplah sama di mana pun misi membawa kita. Kita terikat untuk membagikan kasih Kristus. Bagi beberapa orang, membagikan iman mereka dengan sahabat-sahabat terdekat merupakan perbuatan pribadi yang heroik. Bagi lainnya, keragaman konteks budaya akan membentuk ladang misi mereka. Ukuran misi kita bukanlah sesuatu yang penting. Motivasilah yang diperlukan. Seberapa beranikah Anda mau pergi membagikan Kabar Baik Kristus kepada orang yang membutuhkan?

    Pokok doa:

    1. Doakan setiap orang percaya di mana pun mereka berada (termasuk di Pakistan), agar memiliki hati yang rindu membagikan Kabar Baik Kristus dan berani melangkah untuk membagikan kasih Kristus dalam setiap kesempatan.

    2. Doakan "Raheela-Raheela" lain yang baru saja mengalami pertobatan namun mendapat tentangan dari keluarga besarnya, supaya mereka tetap teguh beriman kepada Kristus.

    Diambil dari:

    Judul asli buku : Extreme Devotion
    Judul buku : Devosi Total
    Penulis : The Voice of the Martyrs
    Penerjemah : Fintawati Raharjo, Irwan Haryanto
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2005
    Halaman : 12

    e-JEMMi 46/2011

    Pandita Ramabai Mukti Mission

    Berikut ini adalah sekilas cerita tentang Pandita Ramabai -- seorang wanita yang menjadi pendiri Pandita Ramabai Mukti Mission di India.

    Pandita Ramabai mulai mempelajari bahwa Yesus adalah jawaban yang dibutuhkan oleh para wanita India. Tahun 1882, Ramabai mendirikan Arya Mahila Samaj yang memberikan pendidikan bagi kaum wanita di India. Keberadaan organisasi tersebut menuntun Ramabai untuk mendirikan Sharada Sadan pada tahun 1889 -- sebuah sekolah yang akhirnya berkembang menjadi sebuah organisasi besar. Saat ini organisasi tersebut dikenal dengan nama Pandita Ramabai Mukti Mission. Pandita Ramabai menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Marathi dengan menggunakan Alkitab bahasa Yunani dan Ibrani sebagai acuannya.

    Tahun 1896, saat terjadi bencana kelaparan yang hebat di India, Ramabai mengunjungi desa-desa di wilayah Maharashtra dengan mengendarai kereta yang ditarik sapi. Wanita ini menyelamatkan ribuan anak dari kasta yang terabaikan, para janda, yatim piatu, dan para wanita miskin. Ramabai membawa mereka ke tempat penampungan Mukti dan Sharada Sadan. Segera sesudah peristiwa itu, Ramabai mendirikan Pandita Ramabai Mukti Mission -- sebuah tempat dimana sampai saat ini masih melayani dengan baik para wanita yang membutuhkan dan berasal dari kasta rendah. Masih dengan misi yang sama, pada tahun 1904, Pandita Ramabai bekerjasama dengan beberapa wanita mulai mendoakan secara teratur daftar orang-orang yang rindu memiliki pengalaman bersama Yesus. Roh Kudus pun tercurah sehingga banyak orang yang didoakan bersedia mengakui dosa mereka dan bertobat.

    Pelayanan yang dilakukan oleh Pandita Ramabai Mukti Mission terus berlanjut sampai saat ini sebagai penghormatan atas keberanian dan kegigihannya. Organisasi Pandita Ramabai Mukti Mission saat ini bergerak dalam hal pelayanan bagi anak-anak cacat, pendidikan sekolah, pelayanan kesehatan, rumah bagi mereka yang terabaikan, dan juga gereja. Naikkan syukur kepada Tuhan atas pelayanan dan pekerjaan yang dilakukan oleh Pandita Ramabai yang meninggal dunia di tahun 1922. Berdoa juga agar banyak wanita di India yang mengikuti jejak pelayanannya di abad ke-21 ini.

    Sumber: Global Prayer Digest, May 3, 2002

    e-JEMMi 20/2002

    Panggilan Irian Jaya

    Saya dibesarkan dalam suasana pertengkaran dan kebencian yang diciptakan oleh ayah saya yang belum lahir baru. Saya sangat menyayangi ibu saya, untuk itulah saya tidak dapat menerima cara ayah yang sangat kasar dalam memperlakukan ibu dan saya. Pernah suatu saat, saya diikat pada tiang bendera, lalu dicambuk dan dilarang makan. Terlebih lagi, pada kesempatan lain, saya ditombak dengan lembing, pernah juga saya diparang, dan hampir saja dibunuh. Semua pengalaman ini membuat saya menaruh perasaan dendam pada ayah. Saya trauma dan berjanji tidak akan kembali lagi ke rumah.

    Perasaan dendam yang sangat dalam telah menimbulkan kebencian terhadap ayah. Setelah tamat dari bangku SMP, saya ingin mendaftar sekolah tentara, hanya supaya dapat memiliki senjata yang hendak saya pakai untuk menembak mati ayah saya. Harapan untuk menjadi tentara tidak terpenuhi, sebab sewaktu saya tamat SMP tidak ada penerimaan prajurit baru. Lalu, saya lari meninggalkan rumah orangtua dan pergi ke kota Biak. Di sana, saya mencoba untuk mendaftar SMA Kristen, namun tidak diterima sebab pendaftaran telah ditutup. Hanya ada satu sekolah yang masih mau menerima murid baru, yaitu Sekolah Pendidikan Guru Agama Kristen (SPGAK) di Biak.

    Di sekolah ini saya belajar memahami Firman Tuhan dan mengerti tujuannya, namun kebencian dan sakit hati saya terhadap ayah tidak dapat hilang. Saya sendiri jatuh bangun dalam dosa -- suka mabuk, merokok, dan senang berkelahi. Saya belajar Firman Tuhan hanya karena kebetulan materi itu menjadi pelajaran wajib di SPGAK. Namun, hati saya sendiri jauh dari kebenaran Firman Tuhan.

    Tamat dari SPGAK, saya melanjutkan kuliah ke Sekolah Tinggi Teologia selama empat tahun. Pengalaman selama empat tahun tidak jauh lebih baik dibanding waktu di SPGAK. Sebab, kehidupan mahasiswa di STT tersebut begitu bebas. Para mahasiswa bisa mabuk-mabukan, merokok, dan sebagainya. Saya sendiri berjanji, tidak akan pulang ke rumah orangtua saya, sebelum ayah bertobat atau meninggal.

    Setelah tamat dari STT, saya tidak mau diutus kepada jemaat untuk melayani. Sebab saya menyadari betapa saya tidak layak untuk melakukan pelayanan tersebut. Saya memutuskan untuk tinggal di kampus. Kemudian, Sinode mengutus saya untuk mengikuti training motivator di Sukabumi, Jawa Barat selama delapan bulan. Saya senang sekali, sebab saya beranggapan bahwa dengan begitu saya semakin pergi jauh dari ayah saya. Tetapi, toh akibatnya saya tidak mengalami damai sejahtera, hati nurani selalu menuduh saya sebagai orang berdosa yang tidak layak untuk melayani Tuhan. Saya tetap menolak untuk berdamai dengan ayah saya. Saya berkeras hati untuk tidak kembali ke Irian Jaya, karena itu saya diutus untuk melayani di Bangka, Mentawai, dan Kalimantan Timur. Selama melakukan pelayanan, saya tidak pernah merasa sejahtera, bahkan saya mengalami penderitaan fisik dan kerohanian saya semakin merosot.

    Setelah tiga tahun melayani sebagai motivator, saya kembali ke Jakarta untuk menghadiri reuni. Saya memiliki kesempatan untuk mengikuti Institut Pendidikan Kepemimpinan yang diadakan oleh Persekutuan Evangelisasi Anak (PEA) di Bandung. Pada kesempatan itulah, saya menemukan jati diri saya sebagai orang berdosa yang dikasihi oleh Allah. Hal tersebut saya lihat berdasarkan praktik pelayanan terhadap anak-anak.

    Pada institut tersebut, para peserta dituntut untuk menjelaskan unsur-unsur Injil berdasarkan 1 Korintus 15:3,4 bahwa: "Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci". Itulah saat pertama di mana saya kagum dan terpesona dengan kabar suka cita tersebut. Sebab saya tahu bahwa Yesus telah mati untuk saya ketika saya masih berdosa (Roma 5:8). Karena Allah mengasihi saya yang berdosa ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk datang ke dunia dan mati di kayu salib hanya untuk menebus dosa-dosa saya.

    Tanggal 28 Juli 1988 adalah saat yang tak akan pernah saya lupakan selama hidup saya. Saat di mana saya menyadari bahwa saya adalah orang berdosa. Sungguh indah saat itu, suasana yang sulit dilukiskan dengan kata-kata yang paling indah. Sebab, selama 20 tahun saya berjanji untuk tidak akan menangis lagi karena kebencian yang sangat dalam terhadap ayah saya. Selama 20 tahun, saya menghindari Allah Bapa karena segala dosa saya. Namun pagi itu, tanggal 28 Juli 1988 Tuhan berbicara kepada saya: "Hai anak-Ku apakah engkau ingin menangis? Menangislah di pangkuan-Ku, sebab Aku ini Allah yang mempedulikan engkau."

    Mazmur 51:1-15, menggugah hati saya untuk merindukan hadirat Tuhan. Saya percaya bahwa Roh Kudus berkarya bagi keselamatan saya pada saat saya membaca bagian Firman Tuhan itu. Saya mengakui bahwa saya telah berdosa terhadap Bapa di surga, juga terhadap ayah saya. Di pagi yang indah itu, ada suatu kerinduan yang mendalam di hati saya kepada ayah dan terlebih pada ibu saya. Saya merasakan kekuatan yang sungguh luar biasa yang tidak dapat saya lawan. Hati saya luluh dan mau menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi saya. Karena itulah, saya bisa mengampuni ayah saya. Sejak saat itu, saya mengambil keputusan untuk tidak membenci ayah lagi. Saya berjanji untuk pulang kembali ke rumah orangtua dan menemui sanak saudara saya.

    Puji Tuhan atas anugerah-Nya, saya menikah dengan Louisa, pada tanggal 7 Juni 1990 di Gereja Jemaat Kristus Indonesia (GJKI), Bandung dan pada bulan Agustus 1993, saya pulang bersama istri dan putri kami, Naomi, menemui ayah dan ibu serta sanak saudara saya. Saya meminta maaf kepada ayah dan menceritakan bagaimana saya telah diselamatkan dari dosa. Ayah saya bertobat juga karena kebenaran Firman Tuhan yang telah mengubah hidup saya dan beliau membuka hati untuk menerima Yesus. Beliau menyesal telah melukai hati anak- anaknya. Saya tidak lagi membenci ayah dan saya rindu untuk kembali melayani Tuhan di antara orang-orang Irian Jaya. Saya bersyukur pada Allah sebab Ia telah mengobati luka hati saya dan tidak membiarkan saya larut dalam dosa, sebab Ia mengasihi saya dan telah rela mengorbankan diri demi saya. Dengan demikian, saya bisa menikmati persekutuan kasih bersama Dia di dunia ini.

    Saya tidak lagi takut untuk melayani jemaat, sebab saya tahu bahwa dosa saya sudah diampuni. Yesus telah mati untuk menggantikan saya untuk menerima hukuman. Saya tidak pernah takut lagi menghadapi kematian karena Yesuslah yang membuat saya menang atas maut.

    Saya sudah diselamatkan, maka saya rindu menyatakan berita suka cita ini kepada setiap anak dan kepada setiap pemuda yang menderita karena tekanan batin akibat sikap orangtuanya. Hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus ada kedamaian, kepastian keselamatan, serta keberanian untuk mengampuni. Di Irian Jaya ada banyak anak yang sedang menderita akibat perlakuan orangtua yang kurang menghargai anak mereka. Selain itu, masih banyak anak yang perlu dididik sesuai dengan pengajaran Alkitab.

    Pengalaman di masa lalu selalu mengingatkan saya untuk mendidik anak dengan baik berdasarkan kasih. Saya juga terbeban terhadap orangtua terutama para bapak yang kurang menghargai anak-anaknya, sehingga menimbulkan frustasi serta kebencian. Akibatnya, anak bertumbuh secara tidak wajar.

    Pengalaman di masa lalu telah mengajar saya untuk menghargai serta mengasihi istri saya di depan anak-anak saya, supaya mereka bangga mempunyai seorang ayah yang baik. Saya mendapat berkat melalui seorang istri yang baik, baik budi, serta dikaruniai seorang anak yang baik budi dan mengasihi Tuhan. Kami semua senang melayani Tuhan di mana saja Tuhan mengutus kami. Itulah tanda suka cita bersama Tuhan Yesus. Semua pengalaman ini, saya nikmati sebagai anugerah Tuhan yang semata-mata karena kasih-Nya kepada saya. Saya bersyukur punya Allah yang Maha Kasih seperti Tuhan Yesus

    * Penulis adalah hamba Tuhan yang didukung selama satu tahun oleh GKI Monrovia, Los Angeles (USA) untuk pelayanan di Nabire, Irian Jaya.

    Sumber:

    Judul Buletin : Newsletter GKI Monrovia, Th. IX, No. 5/Mei 1995
    Judul Artikel: Panggilan Irian Jaya
    Penulis : Septinus Asyerem
    Hal : 1 - 3

    e-JEMMi 31/2004


    Panggilan dari Myanmar

    Tanggal 17-30 Juni 1999, secara tak terduga saya dikirim ke Myanmar untuk membantu pelayanan di sana, karena 2 orang pendeta yang dijadwalkan ke sana berhalangan untuk pergi. Saya sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa saya akan pergi ke Myanmar; saya tidak mengenal dengan baik negara maupun orang-orangnya dan saya juga tidak tahu apa yang bisa saya bantu di sana. Tapi karena segala sesuatunya begitu mendadak, saya cepat-cepat mengurus visa, mengepak barang-barang, dan menyerahkan segala sesuatunya ke dalam tangan Tuhan lewat doa.

    Setibanya di bandara Myanmar, saya diharapkan bertemu dengan seorang bernama Thomas Yen, tetapi saya tidak mengenalnya. Saat keluar dari pintu gerbang, saya melihat sekelompok orang dan saya mendekati seseorang yang menurut saya paling mungkin bernama Thomas Yen. Ternyata dia memang Thomas, karena setelah saling memberi salam "Haleluya", kami merasa seperti teman lama. Di dalam Tuhan kita benar-benar satu keluarga!

    Pagi berikutnya, Thomas dan saya mengunjungi seorang saudari dari Taiwan yang sudah menikah dan pindah ke Myanmar. Kami berbincang- bincang tentang iman, berbagi pengalaman tentang kebesaran dan kemurahan Tuhan, dan saling menguatkan di dalam Tuhan. Kami juga berdoa memohon agar Tuhan tetap menjaga saudari ini dalam kasih-Nya dan membawa seluruh keluarganya kepada Kristus.

    Siang itu dalam perjalanan pulang menuju rumah Thomas, turun hujan badai yang sangat dahsyat dengan petir dan guruh sehingga jalan- jalan menjadi banjir dan mengakibatkan mobil kami mogok. Beberapa pekerja Myanmar berbaik hati membantu kami mendorong mobil ke pinggir jalan sehingga kami dapat menyalakan mesin mobil lagi dan akhirnya pulang ke rumah Thomas dengan selamat. Malam itu kami pergi ke kemah doa di Shwebogan. Sesampainya di sana, ternyata aliran listrik sedang padam. Ini adalah hal yang biasa terjadi setelah hujan badai terjadi seperti tadi siang.

    Pada hari kedua, sebelum subuh kami sudah berangkat ke Utara Myanmar untuk mengikuti kebaktian Sabat. Perjalanan ini ditempuh dengan pesawat terbang. Ketika kami turun dari pesawat di Kalaymyo, saya melihat bahwa "bandara" di sana hanya berupa pagar kayu (yang berfungsi sebagai pintu gerbang), sebuah pondok dari kayu, dan bangku-bangku kayu.

    Bersatu dalam Roh dan Kasih

    Karena hukum di Myanmar melarang orang asing tinggal di gereja, Thomas dan saya menurunkan koper-koper kami di hotel setempat. Selama pemadaman, tidak ada listrik untuk menyalakan kipas angin, sehingga udara menjadi luar biasa panas. Di musim kemarau ada banyak sekali nyamuk malaria, maka kami selalu minum pil anti malaria dan memohon agar Tuhan melindungi kami dari penyakit sehingga dapat melakukan pekerjaan-Nya.

    Sepanjang tepi jalan ada banyak "taxi" kecil berwarna biru -- mobil- mobil bekas buatan Jepang yang aslinya dibuat untuk petani. Setelah harga disetujui, kami masuk ke dalam mobil itu dan terguncang- guncang dalam perjalanan selama 20 menit di jalan yang tidak rata. Syukurlah, mesinnya masih bagus, dan kami bisa sampai di gereja Taungphila tepat pada waktunya untuk mengikuti kebaktian Sabat.

    Gereja di Taungphila adalah sebuah bangunan bertingkat 2 yang terbuat dari kayu, aulanya terletak di lantai 2. Sebuah papan nama besar tergantung di depan pintu bertuliskan Gereja Yesus Sejati dalam bahasa Burma, dan di bawahnya tertulis, "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat. 11:28). Bagian depan lantai dasar adalah ruang tamu kecil, dan bagian belakangnya adalah ruang makan dan dapur dengan atap rumbia. Ruang makan ini digunakan untuk tempat persekutuan dan seminar.

    Walaupun bangunannya sederhana, gereja ini sangatlah indah. Jemaatnya sendiri hidup miskin dan sederhana dalam pondok-pondok yang kecil dan kumuh. Di atas pintu depan rumah-rumahnya, mereka meletakkan plang dengan nama gereja tertulis di atasnya. Mereka sangat bangga menjadi jemaat Gereja Yesus Sejati, dan mereka menyaksikannya kepada orang lain, dengan demikian menyebarkan keharuman Kristus. Di dinding-dinding kayu rumahnya, mereka menuliskan ayat-ayat Alkitab atau kalimat-kalimat yang mengungkapkan kasih mereka kepada Tuhan. Walaupun kehidupan mereka sangat miskin dan sederhana, hati mereka penuh dengan sukacita yang berlimpah.

    Lebih dari 120 jemaat di Taungphila adalah penduduk asli, dan reputasi kota ini menjadi baik sejak ada banyak jemaat gereja di sana. Sebelum kebaktian dimulai, kita akan mendengar suara doa dan puji-pujian yang dinyanyikan dengan sepenuh hati. Jemaat-jemaat ini mempersembahkan segenap hati, jiwa, dan tenaga mereka dalam memuji dan memanjatkan syukur kepada Tuhan. Tidak ada piano, organ, atau keyboard di aula gereja, hanya sebuah drum besar dan gitar. Waktu itu saya mempelajari beberapa lagu baru. Kami sungguh-sungguh dipersatukan dalam Roh dan dalam kasih, dan saya merasakan kasih dan keramahan yang luar biasa dari saudara-saudari di sana.

    Kedamaian dan Sukacita dalam Roh

    Selama kunjungan singkat di gereja Taungphila ini, kami mengadakan seminar Alkitab tentang dasar-dasar kepercayaan, seminar untuk para pekerja gereja, kebaktian kebangunan rohani, dan kebaktian pekabaran Injil. Saat kebaktian kebangunan rohani, ada 19 orang dibaptis dan 11 orang menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadi.

    Selesai kebaktian kebangunan rohani, kami mengadakan kebaktian pekabaran Injil selama 3 hari di Nud Kyi Kone. Karena di sana tidak ada listrik, kami menggunakan lampu minyak. Setiap malam hadir lebih dari 100 orang simpatisan yang lapar dan haus akan kebenaran. Jemaat daerah ini sedang mencari sebidang tanah untuk membangun gedung gereja. Kami berdoa agar Tuhan membimbing usaha mereka ini sehingga nama Tuhan dapat dipermuliakan.

    Setiap hari Thomas dan saya berangkat pagi-pagi buta dan baru pulang setelah larut malam, tapi kami tidak pernah merasa lelah. Kami sungguh-sungguh mengalami kata-kata Rasul Paulus: "Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus" (Roma 14:17). Sungguh mengharukan melihat bagaimana para pekerja dan jemaat mendengarkan kebenaran dengan begitu penuh perhatian dan memiliki hati yang demikian bersungguh-sungguh untuk belajar. Mereka sungguh telah "memilih bagian yang terbaik" (Luk. 10:42).

    Lahan yang Subur untuk Penginjilan

    Saat ini ada satu gereja di Taungphila, satu gereja di Pyindaw Oo, dan ada kemah doa di enam area: Pyidawtha, Sakhamayi, Tiddicm, Falam, Nud Kyi Kone, dan Yangon Shwebogan. Secara keseluruhan ada 69 keluarga Kristen di wilayah ini.

    Mereka ini membutuhkan perhatian kita dan lebih banyak pekerja untuk mengabarkan Injil. Karena di Myanmar tidak ada pekerja penuh waktu ataupun pendeta, Majelis Internasional menunjuk Majelis Pusat Singapura untuk membantu pekerjaan di Myanmar. Mereka membutuhkan bantuan dalam bidang literatur, pendidikan agama, persekutuan pemuda, dan pelatihan pekerja. Sungguh, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit" (Mat. 9:37). Kami berharap agar saudara- saudari di seluruh dunia dapat menajamkan telinga mereka kepada panggilan dari "Makedonia" ini.

    Jemaat Myanmar menjalani kehidupan yang keras dan miskin, tetapi mereka adalah orang-orang yang berhati polos dan mereka berdoa dengan sungguh-sungguh, bersandar kepada Tuhan. Karena mereka begitu lapar dan haus akan kebenaran, anugerah Tuhan melimpah-limpah dalam kehidupan mereka. Walaupun Myanmar adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama non-Kristen, Myanmar adalah lahan yang subur untuk penginjilan.

    Saya sungguh bersyukur atas bimbingan dan perlindungan Tuhan selama 2 minggu di Myanmar dan juga atas kasih dan keramahan Sdr. Thomas, istrinya, dan jemaat setempat. Walaupun kami datang dari latar belakang kebudayaan yang berbeda, Injil Keselamatan tidaklah dipisahkan oleh kebangsaan. Tidak menjadi masalah apakah kita orang Yahudi atau bukan, hamba atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan; kita adalah satu tubuh di dalam Kristus Yesus. Allah telah membeli kita dengan darah-Nya dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa (Wah. 5:9). Dan orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah (Luk. 13:29).

    Kiranya Tuhan memberkati jemaat dan pekerjaan-Nya di Myanmar dengan berlimpah, sehingga mereka dapat berakar dan berbuah, menyebar- luaskan Injil Kerajaan Allah dan memuliakan nama Tuhan.

    Diedit dari Sumber:

    Judul Buletin : Warta Sejati, Edisi 34/ Jan - Feb 2003
    Judul Artikel : Panggilan Dari Myanmar
    Pengarang : Che Fu Ming -- Taiwan
    Penerbit : Departeman Literatur Gereja Yesus Sejati Indonesia
    Halaman : 37 - 40

    e-JEMMi 08/2004

    Paskah Terindah Dalam Hidupku

    oleh Eddie Ogan

    Aku tidak akan pernah melupakan PASKAH tahun 1946. Saat itu, aku masih berumur 14 tahun, adikku Ocy berumur 12 tahun dan kakakku Darlene 16 tahun. Kami tinggal bersama Mama. Meskipun hidup kami pas- pasan, kami berempat tahu apa yang kami lakukan. Papaku meninggal 5 tahun sebelumnya, meninggalkan Mama seorang diri dengan 7 anak yang masih sekolah. Pada tahun 1946 itu, kakak-kakakku perempuan telah menikah dan kakak-kakakku yang laki-laki sudah meninggalkan rumah.

    Sebulan sebelum PASKAH, pendeta di gereja kami mengumumkan bahwa akan ada persembahan khusus PASKAH yang akan diberikan kepada sebuah keluarga miskin. Dia meminta jemaatnya, tentu termasuk kami berempat, untuk menghemat uang dan menyisihkannya untuk persembahan. Sesampainya di rumah, kami berempat mendiskusikan tentang apa yang bisa kami perbuat. Kami memutuskan untuk membeli 50 pound kentang untuk persediaan makanan selama 1 bulan. Ini berarti menghemat uang belanja kami sebesar $20 dan dapat kami sisihkan untuk persembahan PASKAH itu.

    Lalu kami berpikir, apabila kami menggunakan lampu sehemat mungkin dan tidak mendengarkan radio, kami juga dapat menghemat bayaran listrik untuk bulan itu. Darlene akan bekerja membersihkan rumah dan halaman orang lain sebanyak mungkin bulan itu, lalu Ocy dan aku menjadi pengasuh anak (baby-sitter) bagi sebanyak mungkin keluarga yang kami dapat temui. Untuk setiap 15 sen uang, kami dapat membeli beberapa gulung benang katun yang cukup untuk membuat 3 buah gantungan pot, lalu dijual seharga $1 per biji. Dari penjualan gantungan pot itu, kami menghasilkan uang sebanyak $20.

    Bulan itu merupakan bulan terbaik yang kami alami. Setiap hari kami menghitung berapa jumlah uang yang dapat kami sisihkan. Setiap malam, dalam kegelapan, kami membicarakan tentang keluarga miskin yang akan menikmati persembahan uang dari gereja. Ada sekitar 80 jemaat yang beribadah di gereja kami, jadi kami membayangkan berapapun jumlah uang yang kami persembahkan, total persembahan dari seluruh jemaat pastilah 20 kali lebih besar dari jumlah uang yang dapat kami persembahkan. Selain itu, setiap Minggu Pendeta selalu mengingatkan jemaatnya tentang persembahan PASKAH tersebut.

    Sehari sebelum PASKAH, Ocy dan aku pergi ke toko bahan makanan untuk menukarkan seluruh uang koin kami dan manajer toko itu memberi kami uang kertas $20 sejumlah 3 lembar dan selembar $10. Kami berlarian sepanjang jalan menuju rumah untuk menunjukkan lembaran-lembaran uang kertas itu pada Mama dan Darlene. Kami belum pernah memiliki uang sebanyak itu sebelumnya. Malam itu kami berempat sangat bersukacita sehingga sulit bagi kami untuk memejamkan mata. Kami bahkan tidak peduli bahwa kami tidak punya baju baru untuk PASKAH; yang penting kami akan mempersembahkan uang jerih payah kami sebanyak $70 sebagai persembahan PASKAH. Kami sungguh tidak sabar menunggu untuk segera sampai di gereja!

    Hujan mewarnai hari Minggu PASKAH pagi itu. Kami tidak memiliki payung padahal jarak gereja dengan rumah kami lebih dari 1 mil. Tapi hal itu tidak menjadi masalah bagi kami berempat. Ketika sampai di gereja sekujur badan kami basah kuyub. Darlene memanfaatkan potongan kardus bekas untuk menutupi sepatu usangnya yang mulai menganga. Tapi karena hujan, kardus itu hancur dan kakinya menjadi basah. Meskipun begitu, kami berempat duduk di gereja dengan perasaan sangat bangga.

    Kami duduk di barisan kedua dari depan. Aku mendengar beberapa remaja membicarakan tentang anak-anak keluarga Smith yang memakai baju-baju lama. Tapi walaupun aku memandang remaja-remaja itu berpakaian baju-baju baru, namun aku tetap merasa kaya. Ketika waktu persembahan tiba, Mama memasukkan $10, dan masing-masing kami memasukkan $20. Saat berjalan pulang seusai ibadah, kami terus bernyanyi. Saat makan siang, Mama memberi kejutan. Dia telah membeli selusin telur dan kami boleh menikmati telur-telur PASKAH kami dengan kentang-kentang goreng!

    Saat menjelang sore, kami lihat Pak Pendeta berkunjung ke rumah kami. Mama membukakan pintu dan berbicara dengannya sebentar. Lalu, Mama masuk kembali ke rumah dengan sebuah amplop di tangannya. Kami bertanya apakah isi amplop itu, tapi Mama tidak memberi jawaban. Mama membuka amplop itu dan didalamnya terdapat sejumlah uang, 3 lembar uang $20, selembar uang $10, dan 17 lembar uang $1. Mama memasukkan kembali uang itu ke dalam amplop. Tak sepatah katapun diucapkannya, kami hanya terpekur memandangi lantai. Perasaan kami yang semula seperti seorang milioner, kini terhempas menjadi seperti orang papa yang sangat miskin.

    Selama ini kami telah hidup sebagai anak-anak yang bahagia dan kami sering merasa kasihan dengan anak-anak yang tidak memiliki orang tua seperti kami, atau yang tidak mempunyai rumah yang penuh dengan saudara laki-laki dan perempuan serta sering dikunjungi anak-anak lain. Walaupun kami tidak memiliki cukup sendok dan garpu untuk masing-masing kami, namun justru menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk berharap siapa yang akan mendapat garpu atau sendok yang lengkap malam itu. Dua pisau makan yang kami punyai harus kami pakai secara bergiliran.

    Aku tahu bahwa keluargaku tidak memiliki banyak barang seperti yang dimiliki keluarga lain, tetapi aku tidak pernah berpikir bahwa kami adalah keluarga miskin. Tapi, PASKAH tahun itu sungguh menyadarkan kami bahwa ternyata kami termasuk keluarga yang paling miskin di gereja kami.

    Aku sangat tidak suka dikatakan miskin. Tapi ketika aku melihat baju dan sepatu yang kupakai, hal ini membuatku merasa tidak lagi ingin pergi ke gereja. Setiap jemaat pastilah sudah tahu bahwa kami adalah keluarga miskin! Aku juga berpikir tentang sekolah. Saat itu aku ada di SMA kelas 1 dan meraih ranking 1 di antara 100 murid yang ada. Tapi apakah teman-teman di sekolah juga mengetahui bahwa aku termasuk orang miskin? Ingin rasanya aku memutuskan untuk keluar dari sekolah karena toh aku telah menyelesaikan SMP dan telah memenuhi batas wajib belajar yang ditentukan aturan hukum yang berlaku saat itu.

    Kami duduk dan diam sepanjang sisa hari Minggu itu. Ketika hari menjadi gelap, kami semua langsung pergi tidur. Sepanjang minggu itu kami bertiga pergi ke sekolah dan langsung pulang ke rumah. Tidak ada selera untuk bercanda dan berbicara sama sekali. Ketika hari Sabtu tiba, Mama menanyakan apa yang ingin kami lakukan dengan uang persembahan itu. Apa yang kira-kira akan dilakukan orang miskin bila mendapatkan uang? Kami tidak tahu, karena selama ini kami tidak pernah merasa bahwa kami orang miskin....

    Kami bertiga sebenarnya tidak ingin pergi ke gereja hari Minggu itu, tapi Mama berkata bahwa kami harus tetap beribadah. Meskipun matahari bersinar cerah, tapi kami sama sekali tidak berbicara sepanjang perjalanan ke gereja. Mama mulai menyanyikan sebuah pujian, tapi tak satupun dari kami yang turut menyanyi dan Mama hanya menyanyikan satu bait saja. Ada seorang misionaris yang datang berkotbah di gereja kami Minggu itu. Dia menceritakan tentang bagaimana gereja-gereja di Afrika dibangun dengan menggunakan batu bata yang dikeringkan dengan tenaga matahari dan gereja-gereja itu masih membutuhkan uang untuk membuat atap-atap gereja. Misionaris ini mengatakan bahwa uang sebesar $100 akan cukup untuk membuat atap gereja mereka. Pendeta gereja kami menghimbau, "Dapatkah kita memberi persembahan untuk menolong orang-orang di Afrika untuk membangun atap gereja mereka di sana?"

    Kami saling berpandangan dan untuk pertama kalinya sepanjang minggu itu, kami tersenyum. Mama dengan cepat mengambil amplop uang dari dompetnya. Dia memberikannya pada Darlene, lalu Darlene memberikannya padaku, dan langsung kuberikan ke Ocy, dan Ocy meletakkannya di kantong persembahan. Ketika persembahan itu dihitung, majelis mengumumkan bahwa jumlah semua persembahan yang terkumpul adalah "$100 lebih sedikit". Misionaris itu sungguh bersuka cita. Dia tidak menyangka akan mendapat persembahan yang begitu besar dari gereja yang kecil ini. Misionaris itu berkata, "Pasti ada orang-orang kaya di gereja ini."

    Perkataan itu menyentuh kami! Kamilah yang mempersembahkan $87 dari total persembahan "$100 lebih sedikit" tadi! Bukankah misionaris itu yang mengatakan bahwa kami kaya? Sejak saat itu, aku tidak pernah merasa miskin lagi. Aku selalu ingat betapa kayanya aku karena memiliki Yesus dalam hidupku.

    Kiriman dari David G.

    e-JEMMi 14/2001

    Pelayan Komputer

    Berikut ini adalah kesaksian oleh MS (Staf bidang komputer, salah satu organisasi misi di Indonesia).

    Saya bekerja sebagai pelayan komputer sejak 2002. Yang saya maksud dengan `pelayan komputer` tentu bukan orang yang melayani komputer, melainkan orang yang melayani Tuhan dalam bidang komputer.

    Organisasi tempat saya melayani menugaskan saya di kantor Kota A untuk bekerja di departemen komputer selama satu setengah tahun. Tugas saya adalah sebagai administrator untuk mengawasi jaringan komputer di kantor, juga sebagai teknisi yang membantu memperbaiki komputer jika ada komputer atau perangkat lainnya milik tenaga lapangan yang rusak. Dalam hal telekomunikasi, bagi anggota organisasi tempat saya melayani, email adalah alat komunikasi yang utama. Jadi, tugas saya yang lain adalah melayani anggota sebagai pemakai jasa email agar server email bekerja dengan baik, lalu lintas email tidak terganggu, serta memastikan koneksi internet yang menggunakan satelit tetap bisa berjalan dengan baik.

    Hampir seluruh staf di kantor menggunakan komputer sebagai alat bantu untuk pekerjaan mereka. Seluruh komputer tersebut terhubung dengan server dan seluruh data disimpan di server. Ini semua memerlukan perawatan, pengawasan, dan yang lebih penting, pembuatan back-up data agar data tidak hilang/rusak.

    Bagi seorang penerjemah Alkitab, peranan komputer sangatlah penting, mulai dari proses pengumpulan kosa kata bahasa sasaran, analisa fonologi, tata bahasa, sampai proses pencetakan. Tanpa dukungan komputer, sudah bisa dipastikan bahwa proses penerjemahan tidak akan secepat sekarang.

    Sebagai contoh, sebelum era penggunaan komputer, para penerjemah Alkitab mengumpulkan data untuk membuat kamus dengan menggunakan kotak bekas sepatu yang disekat-sekat untuk mengumpulkan kata-kata yang sejenis atau dimulai dengan huruf tertentu. Misalnya, untuk semua kata yang diawali dengan huruf `a`- abu, aku, asing, dll., dikumpulkan dalam sekat sendiri, demikian juga untuk kata-kata lain. Dengan cara seperti ini, proses pembuatan kamus memerlukan waktu yang lama sekali.

    Dengan dibuatnya program untuk pekerjaan ini, maka pembuatan database kumpulan kosa kata dan proses penyusunan data lebih cepat, pembuatan kamus lebih mudah, proses pengurutan data juga sangat simpel. Program tersebut akhirnya dinamakan `shoebox` (artinya: kotak sepatu), walaupun sebenarnya fungsi shoebox bukan hanya untuk menyusun kamus saja, tetapi juga untuk menganalisa bahasa agar lebih mudah dipahami dan dipelajari. Dengan kemajuan di bidang IT, sekarang sudah banyak dibuat program-program komputer untuk membantu penerjemah, misalnya Paratext, Adap-It, Carla, dll.

    Fungsi lain dari komputer adalah dalam hal mengoreksi ketepatan penerjemahan. Alkitab adalah Firman Tuhan yang tidak boleh salah diterjemahkan. Oleh sebab itu, dalam proses menerjemahkan Alkitab dilakukan pengecekan berulang-ulang, mulai dari konsep satu, diperbaiki menjadi konsep dua, kemudian diterjemahkan balik menjadi konsep tiga, setelah itu diuji coba ke masyarakat menjadi konsep empat, dan setelah selesai tahap ini, diperiksa lagi oleh konsultan menjadi konsep lima, dst., dst. Ada banyak tahap sampai Alkitab siap dicetak. Tiap tahap selalu ada yang harus diperbaiki.

    Dengan penggunaan komputer, maka proses perbaikan menjadi jauh lebih mudah; tinggal membuka file dan mengganti yang salah, tidak harus menulis lagi dari awal. Dengan mesin tik ...? Wah, berapa rim kertas yang diperlukan? Berapa botol tip-ex yang diperlukan? Dan berapa mesin tik yang harus disediakan karena per-pernya yang mulai meloncat keluar begitu penerjemahan menginjak kitab Kisah Para Rasul? Sudah bisa dipastikan, para penerjemah mesti membeli banyak sekali minyak pelumas agar roda dan gadar mesin tik tetap bisa berputar. Sudah bisa dipastikan pula bahwa begitu Alkitab selesai diterjemahkan, jari-jari para penerjemah menjadi kekar-kekar karena tiap hari fitnes di atas mesin tik. Unbelievable!

    Jadi, siapa pelayan komputer berikutnya yang mau bergabung dengan tim penerjemahan Alkitab?

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buletin: Berita Kartidaya, Edisi Maret 2006
    Judul Artikel: Pelayanan Komputer

    e-JEMMi 11/2006

    Pelayanan EHC Di Myanmar

    Myanmar (Birma), sebuah negara di kawasan Asia Timur, telah berada dibawah pemerintah militer selama beberapa dekade. Hampir 90% penduduknya beragama Budha, dengan populasi penduduk sekitar 48,8 juta jiwa. Salah satu organisasi Kristen yang melayani di negara tersebut adalah Every Home for Christ (EHC). Para pekerja EHC melakukan pelayanan terbaiknya untuk menjangkau setiap rumah di negara Myanmar ini dengan berita Injil. Selama bebeberapa tahun pelayanan mereka, EHC telah mendirikan 18 persekutuan Kristen di Myanmar dan menyebarkan literatur Alkitab ke hampir 70% penduduk Myanmar. Salah seorang perwakilan dari EHC menyatakan bahwa meskipun setan menyerang setiap usaha pelayanan EHC dalam berbagai cara, namun Tuhan selalu setia untuk mereka. Dengan keyakinan tersebut, EHC memiliki kesempatan lebih untuk mengabarkan Injil.

    Misionaris perintis EHC yang mengabdikan dirinya di Myanmar juga mengabarkan tentang berita keselamatan kepada kelompok penderita lepra di daerah terpencil. "Terus doakan agar Tuhan menyediakan lebih banyak relawan untuk mendistribusikan Alkitab dan banyak gereja untuk berpartisipasi secara aktif," kata U Zin Hla. Satu kelompok persekutuan Kristen di desa Tawa, aktif dalam membagikan Injil dan dalam menyediakan pertolongan kemanusiaan yang diperlukan. Menurut salah seorang koordinator persekutuan, EHC juga memiliki satu program yang ditujukan untuk penduduk Myanmar yang membutuhkan bantuan, yaitu seminggu sekali menyediakan makan bagi para janda di desa dan di setiap hari minggu membagikan beras bagi anak-anak sekolah minggu yang hidup berkekurangan.

    Sementara pekerja EHC membuat kemajuan yang luar biasa di negara yang mayoritas beragama Budha ini, U Zin Hla tahu bahwa banyak doa diperlukan untuk menjangkau setiap rumah di Myanmar: "Berdoalah agar Tuhan membuka pintu bagi penginjilan literatur di setiap daerah di negeri kami. Berdoalah agar Tuhan memberikan kebijaksanaan kepada kami untuk bekerja secara sitematis dengan kelompok-kelompok persekutuan Kristen yang sudah ada. Berdoalah bagi misionaris perintis yang pergi ke berbagai daerah terpencil. Beberapa dari mereka menderita berbagai macam penyakit dari tempat tersebut." Dibalik berbagai kesulitan yang dihadapi, tentu saja selalu ada kegembiraan ketika ada jiwa tersesat kembali kepada Kritus. Terpujilah Tuhan untuk empat petobat yang telah menerima Kristus. Mereka telah membakar semua altar dan pedang yang dimiliknya. Teruslah berdoa bagi orang-orang di Myanmar. Mintalah pada Tuhan agar membuka mata rohani mereka untuk melihat kebenaran. Berdoa juga bagi pekerja EHC yang mengabdikan dirinya, supaya mereka dapat mengatasi rintangan dalam usaha menyebarkan Injil ke seluruh daerah di Myanmar.

    Sumber: Fax of The Apostle, April 2001.

    e-JEMMi 18/2001

    Pelayanan di Desa Z

    Saya ingin memberikan satu kesaksian saat melakukan pelayanan di desa Z, di lereng kaki gunung X.

    Letak desa Z boleh dibilang cukup terpencil. Jalan menuju desa tsb hanya satu, yaitu menyusuri lereng gunung, dimana sisi kanan adalah tebing yang curam, sementara sisi kiri adalah jurang yang dalam. Kendaraan yang digunakan adalah sebuah Jeep Badak, itu pun kalau musim hujan (saat kami berangkat ke sana) rodanya harus dililit dengan rantai supaya tidak selip. Jeep Badak ini pulalah yang menjadi angkutan umum dan barang bagi orang-orang di desa Z. Beberapa hari sekali, Jeep Badak ini membawa berbagai keperluan rumah tangga untuk dijual pada penghuni desa. Sebagian besar penduduk hidup dari bercocok tanam dan memelihara ayam di rumah.

    Kami ber-12 (10 mahasiswa dan 2 mahasiswi), berangkat lebih awal dari rombongan Tim Pelayanan Mahasiswa ke desa Z. Tugas kami adalah "membuka jalan" dan "mengenali medan" sebelum acara puncak, yaitu KKR yang diadakan pada hari terakhir dari seluruh rangkaian pekan pelayanan yang kami siapkan. Tugas utama saya waktu itu adalah memikirkan bagaimana menjangkau anak-anak di desa tsb.

    Seusai ibadah pagi bersama, saya dan teman-teman mendapat ide untuk mengajak anak-anak bermain di depan halaman gereja. Permainan yang sangat sederhana, dimana kami sambil bernyanyi berpasangan (saling berhadapan) dan berpegangan tangan, bila lagu selesai kami berganti pasangan, demikian seterusnya. Rupanya usaha ini membuat banyak anak tertarik dan mau bermain bersama. Setelah itu, kami mulai mengajarkan "berhitung" pada anak-anak tsb (juga melalui permainan dan alat peraga sederhana yang kami buat di tempat). Rupanya usaha ini jauh lebih banyak menarik minat anak bahkan orang dewasa. Setelah terkumpul banyak anak, mulailah kami bercerita tentang Firman Tuhan dan mengajak anak-anak datang ke suatu tempat pada sore hari untuk bermain bersama dan mendengar cerita Firman Tuhan.

    Begitulah kami lakukan tiap-tiap pagi (bermain sambil mengumpulkan anak) dan pada sore hari kami mengajarkan Firman Tuhan pada mereka seperti yang dilakukan di Sekolah Minggu.

    Hingga pada suatu sore, tibalah giliran saya untuk menyampaikan Firman Tuhan - dalam BAHASA JAWA. Ini sungguh suatu masalah bagi saya. Untuk mendengar dan memahami bahasa Jawa orang desa Z adalah kesulitan tersendiri bagi saya (karena kosakata dan dialeknya berbeda dari yang biasa saya dengar), apalagi harus bercerita. Saya hampir putus asa, tapi teman-teman semua menguatkan saya dan menyatakan akan membantu bila nanti saya mengalami kesulitan.

    Saya berserah pada Tuhan, dengan mengingat bahwa ini adalah pekerjaan Tuhan, pastilah Tuhan punya jalan keluar bagi saya. Dan benar! Sore itu saya berdiri dengan yakin di depan anak-anak dan mulai menyampaikan Firman Tuhan DALAM BAHASA JAWA dengan sangat lancar, hingga teman-teman tidak perlu membantu saya. Bukan hanya saya yang terheran-heran, bahkan semua teman saya pun menjadi bingung dengan kefasihan Bahasa Jawa saya. Itu pertolongan Tuhan! (kalau diminta mengulanginya sekarang, percayalah, saya tidak bisa)

    Hal lain yang membuat saya terharu adalah saat mendengar anak-anak Kristen di desa Z memberi kesaksian, bahwa mereka sering diolok teman-teman mereka di sekolah karena mereka orang Kristen. Mereka diejek dengan mengatakan bahwa Tuhan orang Kristen "mati dipenteng" (mati disalib -- tapi dengan istilah yang kasar dan menghina). Anak-anak Kristen sering ditendang, atau dipukul tanpa alasan yang jelas. Anak-anak ini juga diintimidasi oleh orang-orang dewasa tertentu untuk beralih agama dengan iming-iming pakaian, serta materi lainnya. Tapi, sungguh ajaib kuasa Tuhan, dengan yakin anak-anak Kristen tsb bersaksi bahwa mereka TETAP PERCAYA kepada Tuhan Yesus dan SETIA MENGIKUTINYA meski mendapat perlakuan yang buruk.

    Akhirnya pada saat KKR diadakan, sekali lagi saya melihat kuasa Tuhan dinyatakan. Saya melihat sendiri bagaimana seorang rekan saya menyembuhkan seorang yang sakit tuli (dia sudah dikenal oleh penduduk sekitar sebagai orang yang tuli) dan hari itu dia bisa mendengar. Puji Tuhan!

    Dari pengalaman di atas, ada 3 hal penting yang saya pelajari:

    1. Kesaksian anak-anak di desa Z untuk tetap setia mengikut Tuhan adalah sebuah kesaksian iman yang luar biasa dari seorang anak.
    2. Pengalaman saat saya ditolong Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya dalam bahasa Jawa dengan lancar menunjukkan bahwa Tuhanlah yang sebenarnya bekerja, kita ini hanya "alat" di tangan-Nya.
    3. Peristiwa kesembuhan yang Tuhan berikan, tidak untuk membuat teman saya menjadi sombong. Semua menyadari bahwa itu adalah dari Tuhan saja! Pelayanan yang benar selalu membawa kemuliaan pada Tuhan, dan bukan pada manusia.

    Kiranya kesaksian di atas boleh menguatkan rekan-rekan semua. Tuhan memberkati.

    Sumber: Milis e-BinaGuru < subscribe-i-kan-binaguru@xc.org > Kiriman dari <Meilania@>

    e-JEMMi 02/2002



    Pelayanan di Penjara

    Kesaksian menarik tentang Mel Goebel berikut ini dituliskan oleh Ron Humphrey. Dia menuliskan bagaimana Mel Goebel men-sharing-kan sukacitanya dengan para narapidana dan mantan narapidana, setelah dia mendapat pengampunan dari Tuhan dan pemerintah.

    Sesampainya di kantor pemerintah Negara bagian Nebraska, Mel Goebel melangkahkan kakinya dengan gemetar sementara matanya memandang ke sekeliling ruangan. Dia tahu bahwa kejahatannya yang dulu telah diampuni oleh Tuhan Yesus; tapi apakah pemerintah Nebraska juga akan mengampuninya? Dulu, 16 tahun yang lalu sekitiar tahun 1971, ketika Mel baru berusia belasan tahun, dia terlibat dalam perampokan dan dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun. Mel teringat masa lalunya.

    Mel menghabiskan dua tahun pertamanya dibalik jeruji besi dengan menjadi penyelundup mariyuana di penjara. Kemudian ia berteman dengan narapidana lain, namanya Fred yang menuliskan "Tersenyumlah, Yesus adalah temanmu" di punggung jaketnya.

    "Ceritakan padaku tentang Yesus," ejek Mel pada Fred. "Aku belum pernah melihat kasih dalam diri seseorang."

    "Kristus akan memberikan kasih-Nya padamu," jawab Fred. "Dia akan memberimu kedamaian dalam pikiranmu. Dia akan memberi petunjuk dan memenuhi hidupmu dengan sukacita dan kebahagiaan."

    Mel teringat pada Yesus yang dikenalnya ketika ia masih anak-anak; dia pergi mengikuti kebaktian dan berdoa. Namun ia pulang ke rumah yang tidak memiliki kasih dan damai yang nyata. Rumahnya penuh dengan perselisihan, pelecehan, dan kata-kata kotor. Jika Yesus itu benar-benar nyata, mengapa Mel tidak merasakan kasih-Nya ketika ia beranjak dewasa?

    "Bisa mengalami kasih Allah merupakan perjalanan iman," jawab Fred. "Kamu harus membaca Alkitab dan carilah sendiri jawaban pertanyaan itu."

    Karena penasaran, Mel meminjam Alkitab dari kapel dan membaca ayat tentang kasih dan pengampunan. Suatu hari, di balik tirai kamar mandi dia berlutut dan mengakui dosa-dosanya. "Hari itu aku menemukan pengampunan dari Tuhan -- dan kedamaian yang selama ini aku cari."

    Sejak saat itu, Mel dan Jane Goebel, istrinya, menyebarkan Berita Sukacita tentang kasih Yesus Kristus. Pada saat itu, fokus perhatian Mel di penjara mulai diubahkan. Selama beberapa bulan, dia belajar untuk memahami dan memandang penjara sebagai suatu tempat dimana ia dapat belajar Alkitab, membangun persahabatan, dan menerapkan kekristenannya.

    Pada suatu saat Mel bertemu dengan Dallen Peterson, sukarelawan dari suatu komunitas yang tertarik dengan senyum ceria Mel. Mel terlihat lebih sehat dan wajah pucat yang tidak pucat seperti narapidana lainnya di penjara itu. Peterson adalah seorang pekerja baru yang melayani di sebuah penjara. Sukacita Mel, meskipun hidup di penjara, jauh melebihi sukacita yang dimiliki Peterson, seorang anggota dewan direksi Prison Fellowship Ministries (PFM).

    Menurut Dallen hal itu sangat luar biasa. Di penjara, tempat yang paling tidak berpengharapan, Allah memberikan harapan, sukacita, dan tujuan hidup. Di balik jeruji besi, Mel Goebel yang telah diubahkan mengabdikan hidupnya untuk menolong orang lain, khususnya para narapidana dan mantan narapidana seperti dirinya.

    Tiba saatnya Mel berdiri di kantor pemerintah negara bagian Nebraska untuk memperoleh selembar kertas pengampunan dari pemerintah negara bagian; sebagai bukti bahwa ia telah membayar kesalahannya. Ia melihat gubernur, sekretaris wilayah, dan dewan pengampunan hukuman ada di depannya. Seorang pengacara pemerintah berdiri dan menguraikan kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan Mel ketika ia masih muda.

    Kemudian Dallen Peterson berdiri. Dia menjelaskan tentang hati Mel yang telah diubahkan dan menegaskan keinginan Mel untuk menjadi anggota masyarakat yang produktif.

    Akhirnya, gubernur berdiri dan mengumumkan bahwa Mel Goebel telah diberi pengampunan seutuhnya dan seluruh haknya dipulihkan. Mel mencatat bahwa "Pengampunan diberikan segera oleh Tuhan; tetapi pengampunan dari masyarakat membutuhkan waktu yang lebih lama."

    Sampai pada masa pembebasannya, Mel tetap memegang janjinya. Dia menghadiri Prison Fellowship Washington Discipleship Seminar, mendirikan kantor PFM di Colorado, dan memulai persekutuan Filemon (bagi para mantan narapidana). Seiring dengan waktu, ia memperoleh gelar di bidang komunikasi organisasi dari Universitas Nebraska. Teman barunya Dallen Peterson mengundang Mel datang ke rumahnya, yang kemudian memberinya nasehat dan memberi pekerjaan kepadanya.

    Saat ini, Mel Goebel adalah seorang pengusaha sukses, namun ia tidak pernah melupakan kasih dan perhatiannya bagi para narapidana dan mantan narapidana. Ketika ia mengingat kembali hari pengampunannya pada tahun 1986, dia berpikir, "Suatu hari nanti kita akan menghadap Allah. Seluruh dosa kita akan disebutkan di hadapan-Nya sama seperti yang aku alami di tahun 1986. Aku tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosaku. Tetapi jika di hadapan pengadilan dunia saja aku sudah gemetaran, apa yang akan dirasakan oleh orang-orang yang tidak percaya pada pengampunan Yesus Kristus di hadapan tahta Allah? Aku tahu Yesus mau mengampuni. Oleh karena itu, aku harus mengatakannya kepada orang lain. Pada diri sendiri kukatakan bahwa melayani di penjara merupakan panggilan bagiku."

    Mel memenuhi panggilan itu. Dia menghabiskan waktunya selama 16 tahun menjadi staf Prison Fellowship dan mulai menanjak sampai menjadi direktur regional. Tahun 1994 dia mendirikan Network for Life (NFL), suatu pelayanan bagi para mantan narapidana.

    "NFL memperkenalkan gereja-gereja dan masyarakat dalam suatu komunitas yang bersedia menolong masa transisi bagi pria dan wanita yang baru keluar dari penjara," kata Mel. "Kami memperkenalkan mereka melalui program-program Prison Fellowship, karena mereka sudah mengenal cara itu. Kami memulai dengan belajar Alkitab, dan saat ini banyak di antara mereka yang menolong para mantan narapidana selama masa transisi mereka dari penjara."

    Mel Goebel mempunyai visi yang jelas mengenai pelayanan termasuk mendirikan "Window King" -- usaha membersihkan jendela yang mempekerjakan para mantan narapidana. Sebagian dari keuntungannya digunakan untuk mendukung pelayanan di penjara. Mel merasakan suatu panggilan 4 tahun yang lalu untuk memisahkan diri dari Prison Fellowship dan memulai biro jasa membersihkan jendela secara profesional yang disebut "Window King" dan berpusat di Colorado. Mel membuka pusat pelayanannya di dekat Denver dan dia mempunyai 17 cabang di seluruh negara. Dia mempekerjakan para mantan narapidana dan mantan anggota geng yang telah memutuskan untuk mengikut Yesus Kristus di tokonya. Sementara itu ada beberapa cabangnya yang kini telah dimiliki dan dikelola oleh para mantan narapidana.

    "Hanya ada satu alasan mengapa 'Window King' ada," tegas Mel. "Yaitu untuk mengabarkan Injil. Aku percaya bahwa semua yang aku miliki adalah milik Tuhan dan aku mempunyai tanggung jawab untuk memberitakan Injil kepada sebanyak mungkin orang sesuai dengan kemampuanku. Aku mendukung pelayanan-pelayanan seperti Prison Fellowship dan Prison Impact Ministries, yang bertujuan untuk menyebarkan Injil Tuhan. Dan kami memberikan perhatian khusus pada para mantan narapidana dengan memuridkan mereka, bekerja bersama dengan mereka, dan melatih mereka untuk menjadi anggota yang produktif, tidak hanya dalam Tubuh Kristus saja tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat mereka."

    Mel harus membagi waktunya antara bisnisnya dan isterinya, Jane, yang telah dinikahinya selama 22 tahun -- yang sekarang harus menggunakan kursi roda karena penyakit multiple sclerosis. Namun demikian, dia masih mempunyai waktu untuk mengadakan 12 kebaktian penginjilan selama satu tahun di penjara-penjara yang ada di Amerika Serikat.

    Sumber diterjemahkan dari:

    Judul Artikel: Prison Fellowship
    Penulis : Ron Humprey
    URL : Prison Fellowship Ministries
    ==> http://www.pfm.org/

    e-JEMMi 13/2003

    Pengalaman Pribadi

    Saya bersyukur untuk penyertaan Tuhan dan setiap pelajaran dalam mengenal Allah yang saya dapat selama tinggal di N sampai saat ini. Ketika mengingat hal-hal itu, bisa dirasakan bahwa Allah menginginkan sesuatu yang indah di dalam kehidupan saya secara pribadi untuk kemuliaan-Nya. Bersyukur untuk setiap teguran dari Allah karena kasih sayang-Nya.

    Saya mempunyai beberapa pengalaman pribadi yang sangat menarik. Beberapa kali saya diberi kesempatan secara pribadi untuk mengenal lebih dekat orang-orang N yang mempunyai latar belakang agama A. Dari diundang jalan-jalan, mengunjungi rumah mereka, sampai kepada diskusi-diskusi berdua. Suatu kali saya diajak oleh Pak Bis untuk berjalan-jalan karena kebetulan sedang tidak ada kegiatan di kampus. Kami mengunjungi daerah di pusat kota, dengan satu kali naik bus dari kampus sampai ke taman kota. Dia membawa saya ke daerah-daerah kuno di tengah kota. Kami juga sempat mampir ke rumah seorang temannya (agama B juga). Kesempatan ini sangat berharga bagi saya untuk bisa melihat dari dekat kehidupan mereka, kepercayaan mereka, selain melihat kondisi rumah asli orang-orang N yang masih kuno. Saya juga dihadiahi barang sebagai tanda berkat. Karena merupakan bagian dari budaya, saya pun tidak berpikir macam-macam, walaupun sebenarnya barang ini sebelumnya digunakan untuk menyembah dewa mereka. Setelah itu kami pergi ke rumah Pak Bis dan berada di sana untuk waktu yang cukup lama, saya pun mempergunakan kesempatan itu untuk lebih mengenal keluarga Pak Bis. Keluarga mereka memang termasuk kelas menengah. Rumah itu cukup besar dan tertata dengan bagus, beberapa kamar di lantai bawah juga disewakan untuk keluarga- keluarga. Sambil menikmati makanan khas orang N, saya bisa menikmati hubungan dengan keluarga ini tanpa ada rasa curiga tentang adanya maksud-maksud khusus di balik semua itu. Saya bersyukur bisa membangun hubungan dengan keluarga ini dan terus menyemangati untuk membangun hati untuk orang-orang yang terhilang. Sekarang saya sedang berpikir untuk mengatur jadwal saya karena Pak Bis mengundang makan malam di rumahnya. Saya tidak pernah berpikir akan ada kesempatan seperti ini.

    Di kesempatan yang lain ketika sedang bersantai di ruang santai di Departemen, Pak Bis mendatangi saya dan mengajak ngobrol. Karena waktu itu adalah waktu bebas, jadi saya bisa ngobrol dengannya cukup lama sambil menunggu. Tanpa saya sadari dia membawa saya kepada diskusi tentang "kedamaian yang sejati". Memang dialah yang memulai diskusi tentang hal apa yang bisa membuat kedamaian di dunia ini. Kami melihat jika semua orang bisa saling mengerti, memahami, puas satu sama lain maka bisa terjalin kedamaian walaupun masih ada faktor-faktor lain yang perlu dilihat. Pak Bis berargumen jika semua orang di dunia ini memiliki satu agama dan menyembah kepada satu Tuhan, yang waktu itu kami sepakati dengan sebutan "Super God". Ia sangat tertarik sekali dengan hal ini.

    Saya melihat dia haus menemukan kebenaran, kedamaian yang sejati. Ini membuat saya menjadi bersemangat untuk melanjutkan diskusi itu. Jika diantara semua god dan goddess yang disembah oleh orang A, orang B, orang C, orang D, orang E, dan yang lain, ada "Super God" maka alangkah indahnya jika semua menyembah kepada Dia. Ini kesimpulan sementara yang kami dapatkan. Waktu itu diskusi kami terhenti karena orang yang kami tunggu sudah datang. Saya mengajak Pak Bis untuk lain kali bisa melanjutkan diskusi kami, dan ternyata dia pun tertarik. Sebuah pelajaran baru telah saya dapatkan, untuk memperkenalkan orang kepada Kristus, saya tidak perlu memaksakan suatu pengetahuan dan doktrin. Tetapi lebih mengajak bersama-sama menemukan kebenaran dan kedamaian sejati sehingga membuat dia merasa bahwa saya juga sedang mencari kebenaran itu, sama-sama mencari "Super God" itu. Saya melihat bahwa Pak Bis senang dengan hal ini. Saya ingin sekali mulai mendoakan Pak Bis dan menyerahkannya kepada Roh Kudus untuk bekerja. Masih banyak orang yang haus akan kasih Allah yang sejati.

    Suatu kali ada teman lain dari satu Departemen, Pak Ram, mengajak saya untuk jalan-jalan di daerah yang sama di tengah kota, di daerah-daerah kuno. Dan waktu itu sedang ada festival yang diadakan. Ada sebuah patung yang ditaruh di sebuah kereta dengan atap yang menjulang tinggi. Kereta ini ditarik oleh orang banyak dan diarak mengelilingi kota kuno di tengah-tengah kota sampai akhirnya berhenti di suatu tempat yang serba putih juga. Semua orang yang datang dari tempat lain dan orang-orang yang di sekitarnya, melemparkan uang mereka ke dalam kereta ini untuk memberikan persembahan. Kemudian para pendeta dan orang-orang yang di atas kereta melemparkan bunga-bunga sebagai tanda berkat dari patung itu. Mereka meyakini ini sebagai cara untuk mencari kesejahteraan dan pengetahuan. Saya diajak untuk terus mengikuti kereta ini ke mana dia berjalan dan sempat diberi uang receh oleh Pak Ram untuk saya lemparkan ke dalam kereta. Tanpa pikir macam-macam dan supaya dia tidak kecewa, saya lemparkan uang itu ke dalam kereta dan kemudian dari kereta orang-orang melemparkan bunga dan yang harus kami tangkap. Saya tidak menangkapnya. Pak Ram menangkap bunga tersebut kemudian menaruh di kepalanya sebagai tanda berkat. Dia juga menaruh bunga di kepala saya. Saya juga tidak berpikiran macam-macam, silakan taruh di kepala saya, namun saya tetap menjaga hati nurani dengan mendoakan orang-orang yang ada di sekitar saya dan Pak Ram. Saya melihat banyak orang yang datang dan melakukan ritual ini. Ketika melihat kerumunan banyak orang yang melakukan ini, saya mengingat bahwa mereka sedang berjalan ke kebinasaan. Mungkin sepertinya mereka tertawa, senang, menari-nari, tetapi hidup mereka kosong. Saya berpikir bagaimana saya bisa menyampaikan kebenaran kepada banyak orang itu. Saya tidak tahu dan saya hanya berdoa. Mereka seperti domba-domba yang tidak bergembala.

    Kemudian saya diajak Pak Ram ke rumahnya. Memasuki lorong-lorong di bawah bangunan. Lewat perkampungan orang-orang kelas menengah ke bawah. Daerah ini termasuk daerah kuno dari sejarah kerajaan N. Melewati jalan-jalan sempit. Sebuah rumah kecil, tingkat, model kuno, saling berhimpitan dengan rumah-rumah yang lain dan sangat minim cahaya dari luar. Langit-langit rumah yang rendah dan pintu yang kecil membuat kita perlu membungkuk jika masuk. Keluarga Pak Ram termasuk keluarga menengah ke bawah. Tetapi saya bersyukur bisa menikmati waktu bersama dengan keluarga ini. Mereka menerima saya dan merasa senang. Saya bersyukur untuk kesempatan berkunjung ke rumah Pak Ram, bertemu dengan istri dan anak-anak mereka. Waktu pulang, saya pun diantar ke perhentian kendaraan umum dan ternyata jaraknya cukup jauh juga, dam kami pun harus kembali melewati jalan- jalan tadi. Di tengah jalan saya ingin mengambil foto patung. Setelah selesai mengambil foto, Pak Ram mengajak saya masuk dan memuja patung itu. Waktu itu saya berpikir hanya ingin melihat ke dalam dan melihat bagaimana mereka memuja.

    Untuk masuk ke tempat ini, saya harus melepas sepatu karena bahannya terbuat dari kulit, dan hal ini dilarang. Saya diminta untuk tidak berbahasa Inggris, dan tetap diam, jika ada orang bertanya, saya hanya boleh menjawab dengan memakai bahasa tubuh. Saya masuk ke dalam dan merasakan sesuatu yang cukup aneh juga. Pak Ram meminta saya untuk memberi uang receh sebagai persembahan dan menaruhnya di depan patung. Permintaan Pak Ram ini cukup membuat saya bingung. Orang-orang di sekitar saya berdoa sedangkan saya hanya diam saja dan melihat-lihat sampai Pak Ram selesai dan mengajak saya keluar. Di luar kuil saya sempat bingung terutama masalah hati nurani karena memberi uang tersebut. Saya terus berdoa supaya Allah memurnikan hati nurani saya. Saya cukup bergumul dengan hal itu. Belum selesai memikirkan hal itu, saya diajak lagi masuk ke dalam suatu tempat patung lain yang cukup terkenal di tengah kota. Namun saya menolaknya.

    Selesai sembahyang, dia bertanya mengapa saya tidak masuk. Dia berkata, dulu sewaktu dia ke Filipina, dia juga ke gereja dan tidak melihatnya sebagai masalah. Saya bingung bagaimana harus menjelaskannya. Saya memang punya alasan dalam membangun hubungan dengannya, tetapi saya cukup kesulitan untuk menjelaskan hal itu. Saya minta maaf padanya dan memberikan alasan yang sekiranya bisa diterima oleh dia tanpa memasukkan pengetahuan-pengetahuan rohani. Beberapa hari setelah itu dia juga mengajak saya untuk melakukan pemujaan seharian di sebuah bukit yang cukup tinggi saat bulan purnama. Saya bersyukur kepada Tuhan mendapatkan kesempatan ini, dan bergumul dalam hati nurani. Saya teringat pekerjaan saya sebelumnya dimana waktu itu saya bisa masuk ke dalam masjid, pondok pesantren, dapat duduk dan mengobrol dengan "mereka" tanpa dicurigai.

    Suatu kali saya diberi kesempatan bekerja bersama seorang staf pengajar di Departemen Mesin, Pak Reg. Ketika bersama-sama mengecek pekerjaan, ternyata pekerjaan tersebut belum bisa dikerjakan saat itu juga. Namun ternyata itu adalah suatu kesempatan yang berharga dimana saya bisa ngobrol dengan Pak Reg (agama B). Kami diskusi tentang kepuasan sejati. Dia melihat bahwa bukan uang yang memuaskan, bukan banyak istri yang memuaskan, bukan yang lain.

    Sebulan ini memang merupakan masa-masa ujian akhir semester, sehingga tidak banyak aktifitas di kampus dan dia pun merasa bosan. Dia berpikir bahwa dia akan puas kalau memiliki banyak pekerjaan. Saya mengatakan padanya bahwa jika kita puas dengan Tuhan, maka kita bisa puas dengan semua hal. Saya masih belajar bagaimana menjelaskannya dengan bahasa Inggris yang bisa dia mengerti. Tetapi saya bersyukur kepada Tuhan karena memiliki kesempatan untuk membagikan hal itu. Saya melihat bahwa ada banyak orang yang sedang haus akan kepuasan sejati.

    Ketika saya berjalan ke kampus saya teringat dengan satu lagu.

    Tiap hari kutemukan mereka yang terhilang
    Hidup yang tak menentu arah tujuan
    Dalam tawa mereka tersimpan duka
    Namun Tuhan mendengar tangis mereka
    Reff. Mereka perlukan (2x)
    Kasih Yesus yang besar s`bagai jawaban
    Mereka perlukan (2x)
    Tidakkah kau sadari Dia kasih yang sejati?
    Mereka perlukan

    Setiap hari melihat orang-orang yang melakukan pemujaan tetapi tidak tahu ke arah mana mereka berjalan, mereka tidak tahu, apa tujuan mereka. Tanpa mereka sadari mereka sedang berjalan ke arah kebinasaan. Mereka seperti domba yang tidak bergembala (Markus 6:34). Jika membayangkan mereka yang menyembah patung yang mereka buat sendiri, memandikan patung, menyembah batu-batu yang tidak bisa apa-apa, semuanya adalah kesia-siaan. Pernah suatu kali kami berjalan dari rumah Pak Samuel ke kampus bersama-sama tetangga Pak Samuel. Hampir setiap sudut jalan kami berhenti sebentar karena dia melakukan pemujaan ke patung atau bahkan batu-batu yang dianggap dewa bagi dia, memang itu ia percayai. Tetapi betapa sayangnya kehidupan yang ia miliki, semuanya sudah dibutakan. Saya belajar dari Yesus yang memiliki belas kasihan dan mendoakan mereka, dan mulai membagikan kebenaran.

    Suatu kali kami bersama keluarga dimana kami tinggal untuk makan malam bersama (seperti biasanya). Itu merupakan pengalaman dimana kami bisa membagikan tentang Kristus. Kebetulan saat itu saya sedang memakai sarung. Dan dari membicarakan sarung, pembicaraan perlahan sampai ke kehidupan keluarga, suami dan istri. Kami berdiskusi tentang peran pria dan wanita dalam konteks Alkitabiah dan pandangan umum dari berbagai agama sampai kepada penjelasan tentang penciptaan (di Kejadian). Memang bagi kami ini adalah sesuatu yang sulit untuk bisa dijelaskan dengan baik, bicara gampang tetapi praktek sulit, kami sadari bahwa kami belum mengalami itu. Tetapi kami bersyukur bisa menyampaikan bahwa hubungan suami dan istri merupakan analogi dari hubungan antara Kristus dengan jemaat (di Efesus). Point yang terus kami doakan adalah membagikan Injil dan meneguhkan keluarga ini.

    Hari-hari ini saya bersyukur dapat menikmati pengalaman yang berharga mengenai maksud Allah dalam kehidupan saya, kehendak Allah dalam proyek ini, dan terus belajar bersabar menantikan Allah. Melihat semuanya dari kacamata Allah sering kali membuat saya tidak bersabar karena keinginan pribadi, tawaran-tawaran yang muncul, dan lain-lain. Tetapi ketika terus mendekat kepada Allah, menggantungkan diri kepada Allah, Allah terus menolong untuk tetap bertahan pada apa yang menjadi rencana-Nya. Sekarang adalah bagaimana untuk terus melihat, bukan mengenai saya tetapi mengenai apa yang Allah inginkan (The Purpose Driven Life).

    Kembali mengingat akan semua janji Tuhan yang sudah dipegang selama ini, telah menolong saya untuk kembali meyakini Allah dalam segala hal.

    Ini Perkembangan Kami:
    Kami bersyukur untuk kegiatan baru yang dilakukan oleh Ariadin di Soil Lab dalam membantu mahasiswa S2 mengambil data bagi tesis mereka. Selain menambah pengetahuan tentang dunia Teknik Sipil, Ariadin juga bisa berkesempatan membangun hubungan lebih dalam dengan teman-teman mahasiswa S2 tersebut, karena praktis paling tidak 6 jam sehari mereka selalu bersama. Pernah suatu kali dalam pembicaraan mereka, Ariadin mempunyai kesempatan untuk membagikan keyakinannya dalam keselamatan, menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bersyukur kepada Tuhan untuk hal itu.

    Bagi Catur, aktifitas di Lab. Termodinamika memang sudah selesai. Sekarang ia sedang menantikan jadwal aktifitas di Lab. Instrumen untuk mempersiapkan kerja praktek semester depan. Staf pengajar masih sibuk jadi belum bisa dimulai. Dalam satu bulan ini ia sedang menghadapi ujian akhir semester jadi masih sibuk dengan aktifitas ujian. Terkadang bisa juga ikut menjaga ujian jika diajak oleh teman dari staf, sambil melihat sistem yang digunakan. Selama ini ia masih banyak membantu di Lab. Komputer dalam bidang perawatan. Sambil terus mengusahakan aktifitas pribadi yang efektif sehingga tidak mengalami kebosanan, menawarkan diri untuk membantu, mempelajari kembali buku-buku mata kuliah Teknik Mesin atau hal-hal yang lain.

    Kami juga mempunyai kesempatan untuk melihat proyek kerja dari salah satu International Non Government Organization (INGO) dari Amerika, dalam bidang pendidikan. Bersyukur kepada Tuhan untuk hal itu.

    Perkembangan N
    Hari-hari ini masih sensitif. Baru saja terjadi aksi mogok dalam pendidikan (educational strike), banyak sekolah-sekolah yang diliburkan. Aksi ini terjadi sebagai bentuk protes kepada pemerintah karena adanya penembakan kepada siswa-siswa salah satu sekolah oleh para tentara. Aksi tentara atau polisi terkadang cukup keras. Pernah saya melihat secara langsung di sebuah acara festival di tengah kota, bagaimana polisi memukuli orang-orang dengan tongkat dan terjadi kekacauan. Kondisi keamanan sudah membaik, tidak ada pemeriksaan seperti sebelumnya. Di dalam kota, pengaruh dari para Maois tidak terasa, lain halnya dengan di desa atau daerah.

    Bahan diedit dari sumber:

    Judul Buletin : Utusan, Vol. 9 Th. 4 Mei - Agustus 2005
    Judul Artikel : Pengalaman Pribadi
    Penulis : Catur
    Penerbit : Departemen Pengutusan Lintas Budaya (DPLB), Para Navigator
    Halaman : 16 -- 20

    e-JEMMi 36/2005

    Pengalaman Saya dengan Keberanian

    JS, staf Open Doors Singapura, baru-baru ini mengadakan perjalanan ke Bangladesh dan bertemu dengan beberapa umat Kristen lokal. Perjalanan tersebut sangat memberkatinya dan membawa pengaruh dalam hidupnya.

    "Saya harus menjadi terang bagi Yesus di desa ini karena terang-Nya hilang oleh kegelapan dalam hidup saya." Pernyataan ini datang dari seorang gadis di Bangladesh yang terlihat sama seperti gadis-gadis umumnya. Ia berusia 19 tahun, namanya ML. Ia adalah putri seorang dokter di desa G, Bangladesh.

    ML bercerita tentang penganiayaan yang terjadi atas dirinya karena ia seorang pengikut Kristus, dan bagaimana penduduk merendahkannya karena ia dan keluarganya adalah umat Kristen. Titik balik terjadi ketika orang tuanya mengizinkan ML untuk mengikuti kursus medis yang diadakan oleh Open Doors di Dhaka.

    Saat ini, meskipun ia hanya memiliki klinik kecil yang bisa menolong orang-orang sakit, namun banyak orang datang karena ia memiliki gaya hidup Kristen yang menunjukkan kasih Kristus. Dengan demikian, ia dapat membagikan berita Injil. Ia juga telah mematahkan batas gender yang masih memandang tabu perempuan bekerja.

    Banyak dari pasiennya adalah kaum pria, yang dulunya sering memandang rendah perempuan, namun mereka berubah sekarang. Di desa yang berpenduduk 10.000 orang ini, rumah sakit terdekat berjarak 1 jam perjalanan, dan tidak ada yang memberikan pengobatan dalam radius 50 kilometer. Kehadiran dokter desa adalah sesuatu yang sangat penting.

    Pelayanan Open Doors yang memberikan pelatihan bagi umat Kristen yang berlatar belakang agama lain, tidak hanya memberikan kesempatan untuk mencari nafkah bagi Gereja yang teraniaya, namun akhirnya penduduk desa bisa menerima mereka dengan baik.

    Saya pulang ke rumah dengan perasaan kagum pada mereka yang tetap tahan uji di tengah penderitaan. Seluruh keluarga ML telah membuka hati bagi Kristus. ML terus berbakti bagi desanya, seorang remaja sederhana, dengan hati yang mulia dan kasih Kristus terus tercurah setiap hari melalui pelayanannya sebagai "dokter" desa, membuat saya bertanya, apakah saya bisa memiliki keberanian untuk melakukan hal mulia seperti yang dilakukan ML itu?

    Saya tidak dapat melupakan air mata yang mengalir di wajah Pendeta MA (50 tahun) setelah saya berdoa baginya. "Saya sangat kesepian," ia terus mengulang kata-kata itu saat saya merangkul bahunya. Tidak ada lagi yang dapat saya katakan, namun hati saya bisa turut merasakan kesedihannya.

    Pendeta MA bercerita tentang penganiayaan yang dialaminya. Ia dipukuli dengan tongkat besi, ditendang, dan hampir buta sejak ia menjadi gembala sebuah gereja rumah yang berjemaatkan anggota yang sebelumnya berasal dari agama lain di desa H. Meskipun ia telah melewati penganiayaan yang berat itu, dia masih tetap diolok-olok oleh penduduk yang pernah memukulinya.

    Meski di tengah penganiayaan dan penderitaan yang dilalui oleh Pendeta MA dan jemaatnya, ia tetap tidak menghentikan pelayanan penggembalaannya. Ia tetap mencari jemaatnya untuk menguatkan mereka agar tetap setia pada iman mereka. Inilah hati gembala yang sesungguhnya, gembala yang tidak mengabaikan dan meninggalkan domba-dombanya.

    Melihat semangat yang tidak padam saat menggembalakan gereja rumah yang terdiri dari 10 jemaat, saya merefleksikan kasih saya pada Tuhan dan betapa besar hasrat saya untuk berkumpul dengan saudara-saudari seiman dan menyembah-Nya bersama.

    Saudara-Saudari, saya di sini mempertaruhkan pekerjaan, keluarga, dan hidup mereka untuk berkumpul bersama dan menyembah Tuhan. Sementara banyak dari kita yang hidup di negara bebas melakukannya karena rutinitas dan tugas.

    Melalui perjumpaan dengan Pendeta MA dan jemaatnya, saya semakin menghargai kebebasan dan kemerdekaan yang saya miliki di negara saya, dan betapa pentingnya untuk terus berdoa bagi mereka.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Frontline Faith, Edisi Januari -- Februari 2010
    Penulis : JS
    Halaman : 8 -- 9

    e-JEMMi 39/2012

    Pengantin Baru yang Menjadi Martir

    Lorenzo adalah seorang pemuda yang pendiam, lemah lembut dalam berbicara, dan serius. Ibunya, Veronica, dekat dengannya karena ia berbakti dan patuh. "Ia melakukan apa yang telah dikatakannya. Ia adalah seorang pemuda yang baik," kata Veronica. Pada usia 18 tahun, Lorenzo diundang menghadiri ibadah gereja injili tidak jauh dari rumahnya. Ketika ia menerima Kristus, keluarganya melihat sebuah perubahan terjadi dalam perilakunya. "Ia menjadi lebih baik terhadap orang lain dan anggota keluarganya," kata Veronica, "ia ingin bernyanyi dan mengabarkan firman. Ketika ia berdoa pada malam hari, ia biasanya berdoa selama 2 atau 3 jam dan meminta Tuhan mengampuninya atas kesalahan selama 1 hari."

    Ketika Lorenzo tumbuh makin dewasa, ia jatuh cinta kepada seorang gadis tetangga, Patricia, yang telah ia kenal selama bertahun-tahun. Pada usia 20 tahun, Lorenzo menikahinya. Mereka berencana membangun rumah mereka sendiri dan memenuhinya dengan anak-anak. Kedua mempelai berasal dari suku Tzotzil, dan tradisi mengharuskan Lorenzo untuk membayar pesta pernikahan tersebut. Lorenzo meminjam 500 peso (sekitar Rp 500.000) dari pamannya. Kemudian, 3 minggu setelah pernikahannya, Lorenzo yang merupakan pengantin baru ini memberanikan diri mengunjungi desa pamannya untuk membayar setengah dari utangnya. Sepupu Lorenzo dan kakaknya, Juan, ikut dengannya. Mereka tahu, masuk wilayah Jomalho akan berisiko bagi mereka. Mereka adalah orang Kristen dan orang-orang di desa itu menjalankan ritual tradisional Mayan. Orang-orang di desa itu mengusir orang Kristen keluar dan tidak menerima mereka masuk ke dalam desa mereka.

    Saat itu paman Lorenzo tidak berada di rumah ketika mereka tiba. Oleh karena itu, Lorenzo, Juan, dan sepupunya melangkah masuk ke dalam sebuah warung di desa itu untuk membeli minuman bersoda. Orang-orang desa mengetahui keberadan mereka dan tidak lama berselang sekumpulan kecil orang berkumpul di luar warung tersebut. Ketika ketiga pemuda Kristen berdiri untuk pergi, salah seorang dari mereka menunjuk Lorenzo sambil berteriak, "Hentikan dia! Dia baru saja merampok gereja!" Ketika pemuda ini tahu bahwa tuduhan itu adalah tidak benar dan tuduhan itu dikatakan sebagai alasan untuk menyerang mereka, mereka diingatkan akan sebuah ayat favorit Lorenzo dari Mazmur 102:2, "Ya TUHAN, lepaskanlah aku dari pada bibir dusta, dari pada lidah penipu."

    Juan dan sepupunya lari menuju hutan, tetapi Lorenzo ditangkap oleh gerombolan yang sedang marah ini. Ketika orang-orang desa memukuli dan menendanginya, Lorenzo berteriak memohon, "Jangan bunuh saya! Jangan bunuh saya! Saya baru saja menikah!" Gerombolan tersebut mengikat leher Lorenzo, dan pengantin baru yang menangis ketakutan ini dipaksa menggali kuburannya sendiri. Beberapa saksi berkata beberapa orang desa memukuli gigi Lorenzo dan kemudian mencungkil kedua bola matanya. Beberapa pria menarik tali yang mengikat leher Lorenzo dan pria lain menarik Lorenzo ke arah yang berlawanan. Lorenzo mati tercekik, mereka membuang mayatnya ke dalam lubang yang dalam dan memukul tengkorak kepalanya dengan batu besar. Mereka menutupi lubang tersebut dengan kotoran dan kembali ke rumah dan tempat pekerjaan mereka seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa.

    Para penyidik dari pemerintahan daerah Chiapas tiba di desa itu 3 hari setelah kejadian dan memindahkan mayat Lorenzo. Hanya 1 orang saja yang dihukum penjara. Ia dijatuhi hukuman 25 tahun penjara, tetapi sepertinya ia akan dibebaskan sebelum masa hukuman tuntas dijalaninya. Lorenzo adalah seorang Kristen yang percaya kepada kebenaran dan menyerahkan hidupnya demi kebenaran itu. Walaupun ia tidak jahat terhadap mereka, gerombolan itu membenci apa yang ia pegang teguh -- ia mengikut damai Yesus. Mereka menginginkan peperangan. Ia ingin mengisi anggur baru ke dalam kantung tua. Lebih dari 8 bulan telah berlalu sejak kematian Lorenzo. Veronica pun terus bergumul. Dengan uang pendapatan yang pas-pasan, ia sekarang bergantung kepada putrinya yang berumur 17 tahun untuk mengisi kekosongan ini. Veronica berkata, mengatasi kehilangan putra yang dikasihinya, Lorenzo, sangat sulit. "Saya telah menerima kematian putra saya dan melepaskannya pergi," katanya. "Saya telah meminta Tuhan untuk memberikan kepada saya kekuatan dan kasih karunia untuk melihat apa yang terjadi."

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama buletin : KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Edisi November -- Desember 2008
    Penulis : Tim KDP
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2008
    Halaman : 3 -- 5

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/pengantin_baru_yang_menjadi_martir

    Penginjil Muda Memenangkan China

    Anak-anak dan para remaja juga dipakai Allah untuk memberitakan injil. Kesaksian berikut ini adalah salah satu gerakan penginjilan yang sedang dipakai Allah di China. Para penginjil muda berjalan kaki dari satu desa ke desa lainnya. Selangkah lebih maju dari para petugas keamanan yang dengan putus asa berusaha menekan pertumbuhan gereja bawah tanah yang terus tumbuh menjamur di China.

    Detail dari gerakan ini diperoleh ketika seorang penginjil dari organisasi "American Healing", melakukan perjalanan ke China untuk melihat keadaan di sana. Ketika sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para pemimpin dari salah satu gerakan gereja bawah tanah terbesar, dia mendengar kesaksian dari dua gadis remaja yang merupakan ciri tipikal dari para penginjil muda di China. Dua gadis remaja yang berumur 18 dan 16 tahun ini menceritakan tentang bagaimana mereka meninggalkan rumah dua kali setahun untuk melakukan perjalanan penginjilan sebulan penuh. Dengan dana kurang dari US$25 untuk bekal makanan dan ongkos perjalanan, mereka bergerak dari satu kota ke kota yang lain untuk memberitakan injil sampai ada yang bertobat. Biasanya, para petobat baru mengundang dua penginjil muda tersebut untuk tinggal di rumah mereka. Petobat baru itu juga mengundang teman-teman dan sanak kerabatnya untuk mendengarkan pemberitaan tentang Yesus.

    Setelah sebuah gereja berdiri di sebuah kota/desa, maka dua penginjil muda ini akan berpindah ke kota/desa yang lain. Seringkali mereka harus berteduh di bawah pohon atau tidur di alam terbuka jika tidak bisa menemukan tempat berteduh. Dalam sebuah perjalanan yang baru saja mereka lakukan, kaki mereka memar-memar dan mengalami pendarahan akibat melakukan perjalanan selama 40 hari menyusuri pinggiran kota. Namun dalam jangka waktu tersebut mereka telah mendirikan 18 gereja dengan anggota kurang lebih 40 orang setiap gereja.

    Dua penginjil muda itu sharing kalau mereka telah melihat banyak sekali tanda ajaib dan mujizat ketika mereka berdoa. Salah seorang dari penginjil itu mengatakan bahwa Allah rindu memberitakan Firman- Nya dan Iman untuk menyatakan apa yang Yesus dapat kerjakan dalam diri mereka. kata salah seorang dari mereka. Dalam perjalanan mereka minggu yang lalu di sebuah kota di tepi pantai, mereka memberitakan Injil pada sebuah pertemuan di tempat terbuka dan hasilnya lebih dari 10.000 orang menerima Kristus. Walaupun lelaki dan perempuan dari semua umur terlibat dalam penginjilan, wanita muda lebih banyak yang dikirim. Hal ini dikarenakan para penduduk lebih jarang mencurigai kedatangan mereka daripada jika ada dua orang pria asing yang masuk ke kota/desa mereka. Meskipun laporan tentang terjadinya tanda-tanda ajaib dan mujizat semakin meningkat, tidak ada satupun dari para pemimpin gereja bawah tanah yang meng-klaim keberhasilan itu sebagai usaha mereka sendiri. Para pemimpin gereja itu menyatakan bahwa mereka semua bersaudara dalam Yesus. Salah seorang dari pemimpin gereja itu mengatakan, "Kami yang disebut pemimpin pun hanya mengecap pendidikan sekolah dasar. Pendidikan kami tidak tinggi; bagaimana kami dapat melakukan pekerjaan sebesar ini? Namun saya percaya semua keberhasilan ini adalah pekerjaan Roh Kudus."

    Sumber: NEWSBRIEF -- 2002-03-14

    e-JEMMi 26/2002

    Penginjilan Tetap Jalan Meskipun Serangan Menghadang !!

    (Bangladesh)

    Berikut ini adalah kisah seorang Penginjil yang melakukan pelayanan di Bangladesh, di antara saudara-saudara sepupu:

    Suatu pagi, saya pergi mengunjungi beberapa petobat baru dan orang- orang non-Kristen yang ingin mengetahui lebih banyak tentang Yesus. Untuk mengunjungi mereka, saya menyewa rickshaw (sejenis becak yang ditarik dari depan oleh manusia) dan sesudah makan siang saya mendapat kesempatan untuk bersaksi pada si penarik rickshaw yang telah seharian mengantar saya dari satu rumah ke rumah lainnya.

    Sore harinya, ada dorongan kuat dalam hati saya untuk mengunjungi Azim, seorang petobat baru, dan memberikan dukungan rohani kepadanya. Azim sejak kecil telah menerima pengajaran iman Islam dari ayahnya, seorang profesor Islam dan pemimpin fundamentalis yang radikal. Namun Azim sekarang telah meninggalkan kepercayaannya yang lama dan menerima Tuhan Yesus sebagai Allah dan Juruselamatnya pribadi. Biasanya, saya mengajak seorang teman untuk melakukan kunjungan seperti ini. Tetapi kali ini, demi keselamatan Azim, saya pergi sendirian. Saya menuju rumahnya sesudah hari gelap untuk menghindari perhatian orang dan saya berbicara dengan Azim selama satu jam. Setelah itu, saya pulang dengan naik rickshaw dan dengan sengaja saya meminta penarik rickshaw itu untuk melalui jalan lain dari biasanya.

    Kami melewati suatu daerah pertanian yang tidak ada satu rumah pun. Tiba-tiba 12 orang laki-laki melompat dari semak-semak. Mereka menangkap dan menarik saya keluar dari rickshaw. Tak sepatah kata pun mereka ucapkan ketika memukul kepala, muka, pundak, punggung dan kaki saya dengan tongkat besi. Karena ketakutan, si penarik rickshaw meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Kelompok ini terus memukul saya sampai saya tidak sadarkan diri. Lalu mereka melempar saya ke selokan karena mengira bahwa saya sudah mati. Saya tidak tahu berapa lama saya terbenam di dalam lumpur.

    Sungguh merupakan anugerah Allah, penarik rickshaw, yang mengantar dan sempat saya layani di siang hari itu, ternyata melewati tempat di mana saya berada. Tuhan pasti telah mengarahkan perhatiannya agar dapat melihat tubuh saya yang terbenam di dalam selokan. Dia turun, lalu membalikkan tubuh saya dan mengenali saya sebagai orang yang menyewanya siang hari tadi. Dia mengangkat saya dan menaruh saya di dalam rickshawnya, dan mengantar ke hotel tempat saya menginap. Lalu dia mencari dokter dan mengajaknya ke kamar saya. Setelah dua jam tidak sadar di kamar hotel, saya bangun dan merasakan sakit di sekujur tubuh saya. Paginya dalam keadaan masih lemah, saya merasa perlu segera meninggalkan hotel supaya para penyerang itu tidak menemukan saya. Azim, orang yang saya kunjungi mendengar mengenai penyerangan itu dan segera menemui saya. Ternyata, penyerang itu adalah para mahasiswa yang disewa ayahnya untuk membunuh saya segera setelah saya meninggalkan rumah Azim. Tapi puji Tuhan saya masih diberikan hidup dan dari peristiwa penyerangan itu justru telah mendorong Azim untuk semakin sungguh-sungguh memberitakan Kabar Baik setiap hari dari rumah ke rumah.

    Sumber: NEWSBRIEF--2000-11-03

    e-JEMMi 07/2001

    Penginjilan di Kepulauan Miskitos, Nikaragua

    EHC (Every Home for Christ) yang terdiri atas para misionaris pioner dari Nikaragua telah memulai suatu pelayanan outreach di pulau-pulau kecil yang ada di sepanjang pantai Karibia. Lebih dari 20 pulau yang dikenal dengan nama "Kepulauan Miskitos" merupakan suatu tantangan bagi pelayanan, namun juga menjadi suatu kesempatan berharga untuk memberitakan kebenaran sejati. Sangat sulit untuk mengunjungi kepulauan itu dan hanya dapat dijangkau dengan menggunakan perahu-perahu kecil.

    Kepulauan ini berada sekitar 50 mil dari pantai dan membutuhkan misionaris pioner yang berdedikasi untuk bisa melakukan navigasi dalam mengarungi Laut Karibia. "Kami menemukan kepulauan kecil ini di peta," demikian penjelasan Direktur EHC, "kami mengira kepulauan ini berpenduduk padat, namun ternyata kepulauan ini didiami oleh Suku Creole Miskitos. Setiap pulau kecil seperti sebuah kerajaan yang berdiri sendiri. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dengan memancing. Mayoritas penduduknya tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis. Beberapa orang Kolombia datang ke kepulauan ini untuk membeli udang, dan kadang-kadang ada perdagangan obat sebagai pengganti ikan dan udang. Injil belum didengar oleh para penduduk di kepulauan ini. Hal ini menjadi suatu tantangan bagi kami."

    Karena sebagian besar penduduk kepulauan ini buta huruf, para pekerja EHC mensharingkan Injil dengan menyediakan kaset audio rekaman Injil dalam bahasa Miskito. "Sangat mendesak sekali untuk memberitakan Injil kepada mereka. Banyak penduduk yang meninggal setiap harinya karena mengkosumsi obat-obat terlarang dan menderita sakit penyakit."

    Bagi para penduduk yang dapat membaca, literatur Injil telah dicetak dalam bahasa Miskito, meskipun semula sangat susah mencari seseorang yang bisa menangani penerjemahan tertulis dalam bahasa Miskito. "Kami dapat membagikan literatur Injil yang disediakan oleh Bible Society dari rumah ke rumah. Kami bersyukur pada Tuhan atas segala karya-Nya di kepulauan Miskitos ini. Pemberitaan Injil secara sistematis terus dilakukan di kepulauan ini."

    Di beberapa wilayah lain di Nikaragua, dimana para pekerja EHC menjulukinya sebagai "Pagan Cities", ada 174 orang yang baru-baru ini menerima Kristus dan ada dua persekutuan Kristen yang dibentuk. Sebagai tambahan, dalam pelayanan outreach selama tiga bulan ini, EHC telah mengunjungi 44.000 rumah dan sebanyak 3.000 penduduk memutuskan untuk beriman kepada Kristus.

    Sumber: Fax of the Apostles, February 2002

    e-JEMMi 36/2003

    Penyitaan Terjadi Lagi

    Kesaksian ini diharapkan bisa membuat kita semakin menghargai literatur-literatur Kristen, khususnya Alkitab, yang kita miliki. Kita patut bersyukur atas segala kemudahan untuk mendapatkan dan mempelajari Alkitab tersebut. Karena itu, janganlah berhenti mendoakan saudara-saudara kita di berbagai tempat di dunia yang masih mendapatkan ancaman, kesulitan bahkan penganiayaan saat mereka membagikan literatur-literatur Kristen, seperti kesaksian berikut.

    Sepertinya masa lalu terjadi lagi di bekas negara Uni Soviet. Seringkali kita mendengar penggerebekan terjadi saat ibadah di gereja-gereja bawah tanah, kemudian orang-orang ditangkap atau dikenakan sanksi. Biasanya ini terjadi di Asia Tengah atau Belarus. Namun ada juga laporan-laporan senada yang berasal dari Rusia.

    Akhir bulan Maret lalu, polisi menyita seluruh buku milik sebuah perpustakaan Kristen yang berlokasi di Neftemkusk. Sekitar pukul 11.30 pagi, tiba-tiba dua orang dari kesatuan polisi rahasia muncul di muka perpustakaan tersebut. Mereka kemudian menanyakan paspor dari dua orang Kristen yang menjaga perpustakaan tersebut. Kemudian seluruh buku disita.

    Ketika salah seorang penjaga itu mencoba untuk menulis nama-nama polisi tadi, mereka menyita buku catatannya. Tak lama kemudian, rumah kedua orang tadi digeledah oleh polisi rahasia. Setelah pemeriksaan tersebut, paspor kedua orang tadi dikembalikan dengan ancaman tidak boleh lagi membagikan literatur rohani di jalanan. Apabila kedua orang Kristen itu melakukannya lagi, maka mereka akan menerima surat perintah penangkapan dari petugas pengadilan tinggi.

    Sumber: Buletin Doa "Pintu-pintu Terbuka", Agustus-September 2003

    e-JEMMi 41/2003

    Perjuangan Orang-Orang Kristen Di Korea Utara

    Apakah anda pernah berpikir, bagaimana seandainya keluarga anda dikirim ke kamp-kamp konsentrasi, dimana kematian telah menunggu mereka, dimana mereka dipaksa bekerja dua puluh empat jam sehari, tujuh hari dalam seminggu, selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun sampai kematian menjemput mereka? Apakah anda juga dapat membayangkan bagaimana seandainya mereka dihukum untuk melakukan tugas-tugas berbahaya dan menjijikan di septitank (pembuangan kotoran) dan tempat-tempat pengecoran logam, dipukul, disiksa, dan dibunuh dengan cara-cara yang sangat tidak manusiawi? Terbayang jugakah anda saat mereka dihukum mati di depan umum setelah menjalani penyiksaan fisik? Kami tidak sedang menggambarkan kekejaman terhadap kaum Yahudi di Auschwitz pada tahun 40-an, tetapi ini adalah kenyataan kekejaman terhadap orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh terjadi di Korea Utara pada tahun 2000.

    Kekejaman mereka yang tak berperikemanusiaan dan mengerikan terhadap umat Kristen tersebut sulit untuk dibayangkan. Orang-orang Kristen yang ditahan di kamp-kamp tawanan di Korea Utara memiliki posisi yang unik. Mereka tidak ditahan untuk jangka waktu tertentu seperti tawanan-tawanan lainnya tetapi mereka di penjara selama mereka tetap memeluk kepercayaan mereka. Mereka baru akan dibebaskan jika mereka mau melepas kepercayaan Kristen mereka dan mau mengakui sistem kepercayaan Juche yang mengakui Kim Il Sung (pemimpin Korea Utara yang terdahulu) dan Kim Jong Il (pemimpin Korea Utara sekarang) sebagai penguasa tertinggi. Pengawas kamp akan memperoleh promosi bila mereka sukses dalam "merehabilitasi" tawanan yang memeluk agama Kristen. Tawaran promosi tersebut justru menjadi peluang bagi para pengawas untuk melakukan tindakan semena-mena, seperti pemukulan, penyiksaan, memberikan pekerjaan-pekerjaan yang berat, pemerkosaan, dan perlakuan-perlakuan keji lainnya terhadap tawanan yang beragama Kristen. Seorang mantan tawanan memberikan kesaksian bahwa ia pernah melihat seorang sipir menuangkan logam cair ke tubuh seorang tawanan Kristen hidup-hidup untuk memaksa tawanan tersebut melepaskan kekristenannya. Umat Kristen di Korea Utara ini sangat membutuhkan dukungan doa dari Gereja-gereja di seluruh dunia. Kelompok "Christian Human Rights" dan "Christian Solidarity Worldwide" telah mengadakan pertemuan dengan berbagai umat Kristen di Korea Utara untuk memperoleh fakta-fakta kekejaman tersebut dan meminta saran hal-hal apa saja yang perlu mereka doakan.

    Di bawah ini ada beberapa saran doa dari mereka:

    * Doakan penduduk Korea Utara yang bersembunyi di daerah-daerah perbatasan. Doakan pula keselamatan mereka saat mereka mencari makanan dan perlindungan, setelah mereka menjadi orang Kristen.

    * Doakan untuk umat Kristen di kamp-kamp tawanan politik di Korea Utara agar Tuhan sudi memberi ketabahan bagi mereka, kedamaian dan kegembiraan bahkan di saat-saat yang paling sulit sekalipun.

    * Doakan agar masyarakat internasional memiliki tekad untuk memperjuangkan hak-hak asasi manusia masyarakat Korea Utara. Doakan juga agar mereka tetap konsisten dalam menekan pemerintah Korea Utara untuk menghapus kamp-kamp tawanan politik dan memjamin kebebasan beragama bagi penduduknya.

    Sumber: Christian Solidarity Worldwide, July 2001.

    Perpaduan Antara Misi dengan Musik

    [Sebuah contoh dari perpaduan antara musik dan misi dengan cara yang kreatif terlihat dalam kehidupan dan pelayanan John Benham, yang memiliki hasrat untuk menghubungkan antara musik dan misi.]

    Menjangkau berbagai budaya dengan musik untuk menghubungkan hati manusia dengan hati Tuhan: The Music In World Cultures Training Center (Musik dalam Pusat Pelatihan Kebudayaan Dunia).

    "Didirikan tahun 1989, The Music in World Cultures (MIWC) adalah realisasi dari dua hasrat saya semenjak kecil: panggilan untuk melayani Tuhan dalam misi dan kecintaan saya akan musik. Pergumulan saya menggabungkan dua hasrat ini memakan waktu puluhan tahun. Dua katalis yang mewujudkan terjadinya hasrat saya, yaitu mengembangkan kelas 'Perspektif Alkitabiah tentang Pujian -- Sebuah seminar tentang Pujian dan Budaya,' dan membawakan seminar tersebut di sebuah gereja baru di pulau Taliabo di Indonesia. Misionaris Steve dan Mary Lonetti, yang sedang kembali untuk cuti, ikut serta dalam kelas ini. Undangan dari mereka untuk datang dan mengajar di gereja Taliabo bagi saya jauh dari yang dibayangkan sebelumnya, bahkan oleh mereka sendiri.

    Ada sebuah kebudayaan animisme, yang sangat melibatkan roh-roh yang sangat trampil dalam membunuh orang. Tapi telah terjadi perubahan yang sangat ajaib! Empat suku yang dulunya saling bersaing sekarang hidup bersama dalam damai. Mereka telah 'memberikan hati mereka' -- sekarang mereka hanya memiliki hati Tuhan yang mereka 'bagi bersama.'

    Saat itu bulan Juni, 1989. Sebuah pesawat mendarat di landasan terbang sementara dan saya disambut dengan lagu-lagu pujian baru bagi Tuhan. Ini bukanlah sebuah lagu penyambutan tradisional, tetapi sebuah deklarasi dari iman mereka yang baru di dalam Tuhan. Mereka telah "membuat" lebih dari 75 lagu baru. Lagu-lagu tersebut adalah ekspresi ucapan syukur atas kebebasan dari roh-roh dan sebuah ringkasan dari pengajaran-pengajaran tentang keselamatan dan hidup kekal. Kala, seorang mantan dukun suku, dia sendiri telah menggubah hampir seluruh kitab Efesus ke dalam musik.

    Sebuah alat perekam kecil Sony sangat membantu proses perekaman. Kaset demi kaset telah diisi dengan puji-pujian baru. Lagu-lagu ini akan terdengar dari beranda sejak pk. 6.00 pagi. Nyanyi -- rekam -- tulis -- nyanyi bersama; dan kemudian prosesnya dimulai dari awal lagi. Kami melakukannya seharian penuh sampai malam hari, setiap hari, setiap malam. Hal ini sangat melelahkan, tapi mudah menular. Pengalaman-pengalaman dalam seluruh hidup saya terpusat pada peristiwa tersebut. Dua hasrat saya telah terpadu.

    Perjalanan pertama itu diakhiri dengan undangan untuk melayani delapan suku lainnya dan ini merupakan kesempatan untuk menghabiskan sisa hidup saya di Indonesia. Tetapi sungguh tidak realistis jika berpikir bahwa permintaan-permintaan yang tidak terlalu banyak itu hanya dapat dilakukan oleh satu orang saja. Orang lain harus diperlengkapi juga. Inilah jawabannya: sebuah Pusat Etnomusikologi (Ethnomusicology Center -- ilmu yang mempelajari musik dalam suatu bangsa) dengan misinya untuk "memperlengkapi para pemusik, misionaris, dan pemimpin gereja dengan budaya musik etnik, sehingga seluruh bangsa dapat memuji Tuhan dalam roh dan kebenaran dengan menggunakan bahasa musik mereka sendiri."

    Dengan pimpinan Tuhan dan kepemimpinan visionaris di Crown College (St. Bonafacius, Minnesota), sebuah kerja sama dibangun untuk menyelenggarakan sebuah program Master of Art dalam bidang Etnomusikologi. Kurikulum dan bahan-bahannya dikembangkan, termasuk sebuah laboratorium komputer musik dan sebuah pusat sumber daya. Selama 10 tahun di Crown College, pusat sumber daya MIWC telah mengembangkan lebih dari 1500 buku versi cetak, 500 kaset audio dan kaset video yang berisi kebudayaan-kebudayaan musik dari berbagai negara.

    Segera setelah itu MIWC mengerjakan proyek-proyek khusus yang menggabungkan musik dengan pelayanan misi. Di tahun 1996 sebuah undangan datang guna menjajagi kemungkinan kerja sama dengan Gabungan Gereja Baptis di Ukraina untuk memulai sebuah proyek bersama dengan para pemusik dari gereja-gereja di Ukraina. Stephen Benham (putra dari John Benham) kemudian memegang tanggung jawab atas proyek ini yang menjadi bagian dari program penelitian S3 (doktor)-nya di bidang musik.

    Visi MIWC:

    Hasil MIWC:

    Untuk informasi lebih lanjut tentang musik dalam Kebudayaan Dunia (Music in World Cultures) atau perincian tentang program-program pendidikan MIWC, Anda dapat mengunjungi website kami di:

    ==> http://www.miwc.org [lihat kolom Profil/Sumber Misi] atau

    ==> http://www.bethel.org

    Sumber: Global-Worship Vol. 2, #14 June, 2001

    e-JEMMi 11/2002

    Pertobatan Isaac

    Menjadi anak-anak bisa sangat menakutkan! Isaac mempunyai banyak kisah yang tidak menyenangkan di masa mudanya.

    "Ketika aku berumur tujuh tahun, aku ikut berburu bersama kakakku di gerumbulan semak-semak. Karena gerakan-gerakan yang aku buat saat asyik berburu membuat ayahku mengira aku sebagai binatang sehingga ia menembak beberapa kali ke arahku. Aku tak sadarkan diri ketika ayah menghampiriku dan karena luka yang cukup serius, aku harus menjalani operasi punggung dan dada di Cape Hospital."

    "Waktu aku berumur delapan tahun, aku mendengar suara di dalam diriku yang terus berkata bahwa jika aku dapat melompati api, aku pasti akan menjadi seorang yang super suatu hari nanti. Suara itu mendorongku untuk melompati kobaran api tetapi aku justru terjatuh di tengah-tengah api yang menyala-nyala."

    "Suatu hari sepulangku dari sekolah, aku tidak dapat menahan diri untuk langsung menuju kamar kecil. Karena tergesa-gesa, aku terjatuh kedalam lubang kakus. Untunglah ada orang-orang yang mendengar teriakanku dan menarikku keluar dari lubang kakus. Namun demikian pengalaman itu sangat mengerikan bagiku!"

    Karena cemas dengan keadaan anaknya, ayah Isaac memanggil seorang Imam kepala untuk mendoakan anaknya. Setelah berdoa, Imam tersebut memberi secangkir air minum khusus yang harus diminum oleh Isaac. Tetapi segala usaha yang ditempuh ayahnya tersebut sia-sia saja. "Tiba-tiba terpikir olehku bahwa setan sebenarnya sedang mencoba menggangguku. Tetapi jika aku menengok ke belakang di sepanjang sejarah hidupku, aku tahu bahwa Tuhan sebenarnya telah menjaga aku dengan baik."

    Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, Isaac meneruskan studinya di Universitas Legon. Sukses yang diperolehnya semasa kuliah membuat Isaac mendapat pekerjaan di sekolahnya. Sayangnya, hal ini tetap tidak membuat Isaac tenang dan bahagia.

    "Beberapa orang mencoba memberitahuku tentang kekristenan, tetapi aku tetap teguh dengan kepercayaanku. Saat itu aku suka menggunakan "rajah" untuk melindungiku dari gangguan setan. Tetapi, itu juga tidak membuatku bahagia. Seorang wanita Kristen di kantorku pernah menasehatiku untuk menerima Kristus dalam hidupku. Namun aku justru mengatakan hal-hal yang buruk tentang Kristus dan menyuruhnya untuk berhenti berkhotbah di depanku."

    Suatu hari, Isaac kembali ke kampung halamannya dan sewaktu ia pulang dari tempatnya beribadah, Tiba-tiba sebuah suara melintas di kepalaku. Suara tersebut mengatakan padaku "Kau akan mati." Hal ini membuatku ketakutan setengah mati sehingga jantungku berdetak keras. Suara yang sama datang lagi tiga kali berturut-turut pada suatu malam waktu aku hendak tidur. Saat itu juga aku memutuskan bahwa aku harus membeli sebuah Alkitab keesokan paginya."

    Waktu pertama kali memiliki Aklitab, Isaac sangat takut untuk membukanya. Namun, begitu ia membuka Alkitab tersebut, apa yang ia baca membuatnya merasa tenang. Saat itu ia mulai sadar bahwa rekan kerjanya yang beragama Kristen itu memberinya nasehat karena ia benar-benar menginginkan yang terbaik baginya. Ia lalu pergi menemui temannya tersebut dan meminta maaf atas kekasaran yang telah ia perbuat waktu itu. Temannya kemudian mengajak Isaac untuk ikut beribadah bersamanya di gereja.

    Bagi Isaac, semua yang ia lihat dan ia dengar dalam ibadah saat itu tampaknya ditujukan hanya untuknya saja. "Aku yakin sekali bahwa semua yang telah terjadi dalam hidupku telah direncanakan oleh Tuhan." Dalam perjalanan pulang, Isaac mulai merenung dan menyadari bahwa ia sebenarnya adalah pribadi yang tidak menyenangkan dan penuh dosa. "Aku berdoa memohon ampun pada Tuhan. Aku menangis penuh penyesalan. Setelah tiga hari berlalu, aku baru menyadari, banyak hal telah merubah hidupku." Isaac akhirnya menemukan kebenaran yang menakjubkan, yaitu bahwa Tuhan sebenarnya mengasihinya sehingga Ia mau mengampuninya dan mengubahkan hidupnya.

    Mengetahui anaknya telah menjadi pengikut Kristus, ayah Isaac yang memintanya agar tidak meninggalkan agama yang dianutnya. Isaac menjawab permintaan ayahnya dengan berkata bahwa ia akan kembali menganut agamanya yang lama tapi dengan syarat ayahnya harus mampu mengambil kembali apa yang telah diberikan Kristus kepadanya. "Tentu saja hal ini tak mungkin karena tak akan ada seorangpun yang akan mampu mengambil kedamaian dan kebahagiaan yang telah kutemukan dalam Kristus."

    Pada suatu hari ayah Isaac sakit keras, dan dia minta didoakan oleh seorang pemimpin agama Kristen. Doakan agar kesempatan ini membuat dia (ayah Isaac) dapat membuka hatinya untuk Yesus. Sementara itu, saat ini, 20 dari 30 cucu ayah Isaac telah menjadikan Yesus sebagai Sahabat dan Penolong dalam kehidupan mereka.

    Sumber: S O O N, Issue no. 160

    Pertobatan Mohan Jhass

    oleh: Julie Blim

    Mohan Jhass terlahir dengan keberuntungan besar dalam sistem kasta India. Keluarganya termasuk dalam kasta Brahmana, dan Mohan adalah anak sulung. Hal ini berarti bahwa dia diijinkan -- dan sangat diharapkan -- untuk menjadi seorang pendeta Hindu.

    "Jika Anda lahir dalam suatu sistem keagamaan, dalam sebuah kasta, maka Anda mengerjakan apa yang dilakukan keluarga. Anda tidak dapat memilih profesi atau cara hidup sendiri," kata Mohan. "Meskipun saya berkelimpahan secara finansial, mempunyai rumah besar, keluarga besar, kekayaan orangtua, hak untuk menjadi pendeta Hindu -- saya memiliki semuanya itu. Namun masih ada sesuatu dalam diri saya yang berkata, 'Itu belum cukup.' Ada sesuatu tentang Allah yang lebih dari yang saya ketahui."

    Sejak berusia tiga tahun, Mohan telah memulai pelatihan kependetaannya. Dia belajar disiplin yang ekstra ketat dan banyak keahlian. Meskipun dia masih anak-anak, tapi sudah banyak pertanyaan yang mengganggu pikirannya. "Salah satu dari pertanyaan tersebut adalah saya sering bertanya kepada guru saya, 'Guru, kapankah saya akan mendapat kedamaian?' dan para guru akan selalu berkata, 'Saat kamu dewasa nanti.'"

    Ketika mencapai usia remaja, dia masih juga belum mendapat jawaban. "'Guru, saya masih belum merasakan kedamaian. Kapankah saya akan mendapatkannya?' Saat itu saya berusia sekitar 15 tahun," kata Mohan. "Guru saya pada waktu itu sudah berusia 90 tahun. Pada saat itu dia mengatakan kepada saya bahwa dia pun belum pernah merasakan kedamaian. Mereka sering mengatakan dan menggunakan kata damai, tetapi mereka tidak mengetahui apa artinya."

    Meskipun sedang bermasalah, Mohan tetap melanjutkan pelatihannya selama dua tahun. Kemudian seorang misionaris Amerika datang berkunjung ke pura-nya. Nama misionaris itu adalah Herb, dan Mohan ditugaskan untuk menjelaskan tentang ajaran Hindu kepada Herb. "Herb ingin mengetahui banyak hal dan saya dengan sangat bangga menceritakan padanya tentang evolusi ajaran Hindu," kata Mohan, "saya ceritakan dari mana asalnya ajaran ini dan bagaimana saya bisa mempercayainya. Saya ingin selalu bersama Herb untuk melatih kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Saat bersama Herb, saya melihat bahwa dia memiliki sesuatu yang berbeda."

    Mohan tidak dapat menahan dirinya untuk bertanya kepada Herb. "Apa yang sebenarnya kamu miliki?" tanya Mohan. "Ceritakan padaku tentang Allahmu." Herb sangat senang untuk menceritakan tentang Yesus Kristus kepada Mohan. Tak lama sesudah itu, Mohan mengerjakan sesuatu yang tak pernah terlintas dalam pikirannya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Mohan pergi ke gereja.

    "Setiap kali pendeta di gereja memandang diri saya, maka saya merasa seolah-olah dia berkata 'Mohan, kamu orang berdosa.' Memang dia tidak memanggil nama Mohan, namun dia berkhotbah bahwa semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Satu-satunya cara untuk mengenal Allah hanyalah dengan datang kepada Allah dalam kuasa darah Yesus yang telah membayar semua dosa," kata Mohan.

    "Saya tidak mengetahui bahwa saya adalah orang berdosa. Saya tidak berpikir bahwa saya berdosa, karena saya tidak merokok, tidak minum minuman keras, tidak mengerjakan hal-hal yang tidak berguna. Saya tidak melakukan itu semua. Hati saya penuh dengan kebanggaan tentang siapakah diri saya. Saya berpikir bahwa saya adalah seorang yang berarti. Saya mengetahui seni-seni perang, melakukan yoga, meditasi, dan saya merasa lebih unggul dalam segala hal. Juga latar belakang keluarga saya yang memberikan status. Menjadi seorang pendeta Hindu adalah hal yang luar biasa, namun tetap saja, saya tidak menemukan kedamaian."

    Mohan sangat tertarik dengan kebenaran itu, tetapi dia juga takut tentang bagaimana masa depannya. Herb mengetahui hal tersebut ketika mengajak Mohan pulang. Mohan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya. Sekarang dia harus menghadapi apa yang ditakutkannya. "Lebih baik kamu mati daripada menjadi seseorang yang paling dibenci dalam keluarga," kata Mohan. "Banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, dan, bahkan saat ini di India, mereka menghadapi kematian. Dan situasi yang sama juga diperhadapkan pada saya. Jika memilih Kristus, saya akan kehilangan hidup yang pernah saya jalani. Saya diberi waktu satu jam untuk memutuskannya.

    "Oleh keluarga, saya diminta untuk memilih antara menyerahkan hidup kepada Kristus atau menjalani hidup saya yang lama," kata Mohan. "Lalu saya berdoa. Saya berkata, 'Tuhan pandulah aku.' Kitab pertama yang saya buka adalah Lukas 9:23: "Kata-Nya kepada mereka semua: 'Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.'""

    "Saya berkata, 'Tuhan, saya ingin menyangkal segala sesuatu tentang diri saya, dan saya ingin kamu menjadi Allah dalam hidup saya.' Tindakan selanjutnya yang saya ingat adalah, ada ketukan di pintu. 'Apa keputusanmu?' Dan saya menjawab, 'Saya menjadi pengikut Kristus.' 'Keluar dari rumah ini!' adalah jawaban yang saya terima dari keluarga saya."

    Mohan dicampakkan keluarganya dan dia tidak mempunyai tempat tujuan. Akhirnya ia tinggal dan bekerja dalam pelayanan misi bersama Herb. Ia ingin pergi ke Amerika. Dalam enam bulan berikutnya, dia tiba di Longview, Texas, dengan berbekal beberapa baju dalam tasnya.

    "Saya bekerja selama 70 jam seminggu dan juga pergi kuliah," kata Mohan. Saya mencuci semua peralatan dapur di Le Tourneau University. Saya membersihkan semua ruangan pada malam hari. Dan saya beruntung bisa tidur selama 2 jam tiap malamnya."

    Mohan lulus dari dua disiplin ilmu yang diikutinya -- Alkitab dan teknik mesin. Kemudian dia menikah dengan Susan dan mereka memulai kehidupan berkeluarga. Mohan sekarang menjadi pendeta di sebuah gereja lokal dan melayani sebagai ahli terapi yang berpengalaman, memberitakan tentang Kristus.

    Sumber: Situs CBN WorldReach
    http://www.cbnworld.com/true/mohan.asp

    e-JEMMi 41/2002

    Peserta Kursus PESTA

    TIDAK MUDAH DIOMBANG-AMBINGKAN

    Oleh: Debora Rahmeinda

    Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin tahu dan ingin memperdalam pengetahuan tentang iman saya. Tetapi saya sungguh tidak tahu aliran mana, di mana, dan bagaimana caranya. Kalau ikut sekolah Alkitab, saya nggak mungkin ada waktu dan nanti kalau lulus mau jadi apa? Masa jadi pendeta? Apalagi suami saya juga tidak mengizinkan saya sering-sering keluar rumah atau sibuk dengan urusan di luar kepentingan anak-anak secara langsung.

    Kemudian saya diminta jadi guru sekolah minggu. Untuk menambah bahan-bahan mengajar, saya suka mencari di internet. Saya juga buka SABDA online untuk mencari ayat-ayat Alkitab pendukung. Secara tidak sengaja, saya melihat ada situs PESTA di mana kita bisa belajar secara online. Wah ini dia .... Saya sangat senang Tuhan menunjukkan situs ini. Saya segera mendaftar dan ternyata daftarnya mudah dan modulnya juga bagus. Malah saya juga mendapat teman-teman seiman tanpa dibatasi oleh ruang atau tempat. Ada yang berdomisili di Bandung, Binjai, Jerman, Korea, Singapore, dll.. Sementara saya sendiri berasal dari Jakarta.

    Ketika mengikuti kelas diskusi, saya lebih senang lagi, padahal kita tidak pernah bertatap muka, tapi terasa akrab. Dan ternyata saya dibuat heran dengan banyaknya pendapat yang berbeda yang membuka cara berpikir yang baru, belajar menghargai pendapat orang lain dan banyak yang menguatkan dasar iman kita. Sungguh banyak berkat yang saya dapat dari kelas online PESTA ini. Harapan saya, dengan ini, kita tidak mudah di ombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang salah yang menjauhkan kita dari kasih Kristus.

    "SUMUR" ROHANI
    Oleh: Soegianto

    Saya melihat kehidupan rekan saya yang sebelumnya pernah mengikuti kelas PESTA Online, dan saya melihat banyak perubahan yang dia alami dan pertumbuhan rohani yang pesat. Saya merasa saya mengalami stagnasi dalam kehidupan rohani saya. Dan kelas PESTA Online ini telah membangkitkan kerinduan saya untuk menggali lebih dalam kepada kebenaran-kebenaran firman Tuhan dan untuk saling membantu dengan teman-teman sekelas sebagai saudara seiman untuk terus bertumbuh melalui pembelajaran firman Tuhan. Pada zaman di mana diskusi rohani semakin sulit dilakukan (karena pekerjaan), maka kelas ini telah menolong saya sebagai salah satu "sumur" rohani setiap harinya (selama kelas ini berlangsung).

    Diambil dari:

    Nama publikasi : BERITA PESTA - Edisi 25/Juli/2007
    Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/berita_pesta/025/

    e-JEMMi 39/2007

    Pi Bagi Suku-Suku Indian

    Anak Indian melompat ke tengah jalan yang ramai sambil merenggut secarik kertas warna-warni yang sedang dibagikan. Namun, saat ia melihat kertas tersebut, wajahnya langsung murung. Kertas tersebut penuh titik-titik kecil yang tidak dipahami maksudnya baik olehnya maupun oleh ayahnya.

    Dari satu juta Indian yang berada di negara bagian Oaxaca, sebagian besar penduduknya buta huruf. Di beberapa kelompok suku, sebagian besar penduduknya hanya dapat berkomunikasi dengan bahasa lokal. Bahkan mereka yang berdarah Spanyol hanya memiliki kemampuan baca yang sangat rendah.

    Di sekitar pasar kota Tlaxiaco, terdapat lebih dari 100.000 penduduk Mixteca Indian yang terbagi menjadi 15 kelompok suku. Tiga dari ke- 15 suku tersebut tidak terjangkau dan hampir seluruh penduduknya tidak dapat membaca dan menulis.

    Para penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis ini berkomunikasi dengan bahasa lisan. Ahli bercerita di sana sangat dihargai karena merekalah yang menyampaikan informasi-informasi budaya kepada generasi yang akan datang. Cara-cara efektif untuk melakukan penginjilan di daerah tersebut, biasanya dalam bentuk kaset, film tentang Yesus, buku-buku bergambar, flanel-flanel bergambar, drama, dan cerita-cerita. Semuanya disampaikan dalam bahasa lokal. Materi- materi pemuridan yang diambil dari Alkitab juga disampaikan dalam bahasa yang biasa mereka gunakan.

    Naikkan doa pada Tuhan dan minta agar Dia menolong para penerjemah dan para perekam dalam mempersiapkan materi yang sesuai bagi tiga kelompok etnis Mixteca yang tak terjangkau ini. Berdoa juga agar materi-materi yang mereka persiapkan dapat segera sampai ke tangan suku-suku ini dan menyentuh hati mereka.

    Sumber: Global Prayer Digest, February 10, 2001

    Polisi Dari Krasnodar

    Oleh R. Lehtonen

    Sesudah mengadakan rapat di tempat kediaman pendeta di Krasnodar, pendeta dan istrinya mengundangku makan malam. Dalam perjalanan, kami bertiga berpapasan dengan seorang pria yang tajam tatapan matanya. Dia juga diundang untuk bergabung dengan kami.

    Selama makan malam tsb. aku kebetulan mendapat kesempatan untuk duduk di samping GK (singkatan namanya), pria yang tajam tatapan matanya. Sejak awal, ada sesuatu dalam dirinya yang tampak tidak asing lagi bagiku, khususnya dari caranya memandang dan bersikap. Aku berpikir keras untuk mencoba mengingat-ingat apakah kami pernah bertemu sebelumnya atau mungkin dia mirip dengan orang lain yang aku kenal. Lalu GK pun menceritakan tentang dirinya padaku:


    "Sebelum menjadi Kristen, saya adalah seorang polisi yang punya kedudukan tinggi dan bertanggung jawab penuh untuk memimpin langsung penindakan atas pelaku tindak kriminal yang serius sampai ke kejahatan biasa. Saya yang memimpin interogasi karena saya punya keahlian di bidang kriminologi. Saya lah orang yang berdiri di barisan terdepan dari kampanye-kampanye yang diadakan untuk melawan orang Kristen pada tahun 1970 dan 1980."


    Saat duduk dan mendengarkan GK bercerita, aku teringat saudara- saudaraku dalam Kristus yang berada di balik tirai besi. Pastilah mereka pernah bertemu GK berulang kali. Orang seperti dialah yang duduk bertatapan muka dengan orang-orang Kristen yang dihukum karena mencetak Alkitab secara rahasia. Orang seperti dialah yang telah menghancurkan rumah saudara-saudaraku dalam Kristus selama tahun-tahun dengan penuh kekerasan. Dia juga yang menghancurkan literatur-literatur Kristen dan mengirim orang-orang Kristen ke penjara atau ke tempat pengasingan. Dan saat ini orang itu sedang menikmati makan malam denganku.


    "Bulan Mei 1978, kami mendengar dari beberapa wartawan bahwa orang- orang Kristen berencana untuk mengadakan sebuah konferensi pemuda di daerah pinggiran Krasnodar, yaitu di wilayah Gorjatijij Kljutj. Menurut rencana, mereka akan naik kereta dan tiba hari Minggu pagi. Sesudah melintasi rel, mereka akan menuju ke hutan yang terletak di sebelah Utara stasiun."


    "Pada hari Minggu, kami menunggu kedatangan lebih dari 500 orang Kristen yang akan memasuki hutan di dekat stasiun. Tugas saya adalah menyusun strategi penyerangan. Beberapa ratus polisi dan petugas keamanan telah dihubungi dan mereka telah menempati posisi- posisi strategis di sekitar wilayah tersebut. Mereka menunggu perintah saya yang duduk dalam sebuah helikopter sambil memegang radio di tangan. Saya masih teringat bus-bus yang di parkir di dekat stasiun. Meskipun orang-orang Kristen itu berlarian ke segala penjuru, kami telah mengatur cara agar dapat menangkap sebagian besar dari mereka. Kami menggunakan beragam jenis senjata untuk memaksa orang-orang Kristen itu masuk ke dalam bus dan membawa mereka ke kantor polisi dimana kami mendata nama-nama mereka."


    Sebagian besar dari orang-orang muda yang tertangkap saat itu segera dibebaskan keesokan harinya, beberapa pemuda yang lain masih ditahan dan dijatuhi hukuman. JB, salah satu koordinator dari pertemuan pemuda tersebut, dihukum tiga tahun penjara. GK dan tim- nya dipuji-puji karena kesuksesan mereka dalam melaksanakan misi untuk menangkap orang-orang Kristen.


    Sepuluh tahun kemudian, saat GK melintasi gereja Pantekosta di Krasnodar, dia memasuki gereja itu. Selama mengikuti jalannya ibadah, dia menyadari betapa dirinya adalah orang yang berdosa. Di akhir ibadah, tanpa ada paksaan, dia maju ke mimbar dan minta pengampunan dari Tuhan. Hari ini, GK memimpin gereja yang sama dengan gereja yang 25 tahun y.l. telah dihancurkannya.


    Judul Asli: The Policeman from Krasnodar
    Sumber : Ljus i Öster (Light for the Peoples)
    URL : http://www.worldevangelicals.org/

    Polycarp

    (Sebuah Contoh Kasih dan Kesetiaan Tuhan)

    "Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10).

    Ayat ini menyingkapkan pesan Yesus yang ingin disampaikan kepada para pemimpin dan jemaat di Smirna untuk menunjukkan kepada gereja ini bahwa mereka akan mengalami penganiayaan hebat, namun diperintahkan untuk tetap berdiri teguh pada janji-janji Tuhan.

    Pada tahun 168 Masehi, seseorang bernama Polycarp menjadi martir. Polycarp merupakan pemimpin gereja di Smirna dan salah satu murid dari rasul Kristus terakhir, Yohanes. Ia belajar di bawah bimbingan Rasul Yohanes dan lainnya yang telah mengenal Yesus secara pribadi. Jika kita melihat kejadian menjelang kematian Polycarp, kita dapat melihat sebuah contoh kasih dan kesetiaan Tuhan kepada umat-Nya. Tuhan menggunakan Polycarp untuk mendemonstrasikan kasih-Nya kepada jiwa-jiwa tersesat.

    Gereja Smirna terasa damai dalam pemerintahan Kaisar Antonius Pius (138 -- 161), tetapi penganiayaan meningkat di sekitar Smirna. Ketika dua belas orang Kristen dimangsakan pada singa, orang-orang menuntut agar Polycarp ditangkap. Mereka menyatakan bahwa Polycarp adalah bapaknya orang Kristen, pemusnah para ilah, mengajar orang-orang untuk tidak memersembahkan korban atau mengadakan pemujaan.

    Saat Polycarp mengetahui bahwa para penganiayanya bersiap-siap menahannya, sahabat-sahabatnya menyembunyikan dirinya di sebuah desa. Namun usaha mereka gagal, para tentara Roma menemukan Polycarp. Polycarp menyambut penangkapnya dengan hangat dan menawarkan mereka makanan. Saat mereka makan, ia minta waktu satu jam untuk berdoa sebelum mereka membawanya untuk dieksekusi. Ia berdoa dengan penuh kesungguhan hati dengan harapan para tentara Roma tesebut tidak membawanya pergi.

    Namun, akhirnya ia dibawa dengan keledai menuju kota ke hadapan Komandan Militer Roma. Tuhan begitu setia kepada Polycarp saat ia berjalan menuju tempat eksekusi. Kehadiran Roh Kudus nyata dalam penderitaan Polycarp. Saat ia memasuki amphitheater, ia mendengar suara dari langit berkata, "Kuatlah, o, Polycarp! Beranilah dalam pengakuanmu dan dalam penderitaan yang menantimu." Sekalipun kekacauan melanda Polycarp, suara Tuhan terdengar jelas sebagai kata-kata yang menguatkan.

    Komandan berusaha membujuk Polycrap untuk menyangkal imannya. "Hargailah usiamu yang tua. Bersumpahlah demi ketuhanan kaisar. Bertobatlah dan katakanlah, `Persetan dengan orang-orang ateis.`" (Orang-orang Kristen disebut ateis karena mereka menolak mengakui kaisar sebagai Tuhan). Dengan serius, Polycarp menuding kerumunan orang tak percaya dan berkata, "Persetan dengan para ateis!" Komandan mendesaknya, "Caci makilah Kristus."

    Para pejabat juga memberinya kesempatan terakhir untuk meyangkal Tuhan, tetapi jawabnya, "Saya sudah melayani Tuhan Yesus Kristus selama delapan puluh enam tahun, dan Ia tidak pernah menyakiti saya. Bagaimana saya dapat mengingkari Raja saya, Raja yang menjaga saya dari segala hal yang jahat sampai sekarang dan menebus saya dalam kesetiaan-Nya?"

    Akhirnya Polycarp diikat pada sebuah tonggak kayu. Sebelum pengeksekusi meyalakan api, ia menaikkan doa terakhir. Setelah itu kobaran api segera mengelilingnya. Namun Polycap tidak terbakar. Sebagai usaha terakhir, si pengeksekusi menusukkan pedang ke jantung Polycarp, hal ini menyebabkan banyak darahnya tertumpah, darah tersebut memadamkan api yang sedang berkobar.

    Kematian Polycarp menunjukkan kepada kita bagaimana Tuhan senantiasa memberikan kemurahan bagi mereka yang berada di tengah-tengah penganiayaan, bahkan berada dalam kematian. Hal tersebut menunjukkan bahwa saat penganiayaan ada di mana-mana, kasih dan kesetiaan-Nya tetap mengikat kita.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Batu-batu Tersembunyi
    Judul artikel : Polycarp
    Penulis : Jonathan Cederberg
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2005
    Halaman : 15 -- 18

    e-JEMMi 31/2008

    Proyek Pohon Natal

    Susan Devore Williams

    Rencana itu pada dasarnya cukup sederhana. Gereja Baptis di Stockton, California, akan menaruh pohon Natal setinggi 2 meter di dekat mimbar. Hiasan untuk pohon itu dibuat oleh anak-anak Sekolah Minggu. Di bagian belakang, setiap hiasan tercantum nama keluarga atau nama orang yang memerlukan bantuan. Jemaat dari Gereja Baptis dengan sukarela akan "mengadopsi" salah satu keluarga yang kurang mampu ini selama masa Natal.

    Proyek yang disebut Proyek Pohon Natal ini telah dicoba setahun yang lalu oleh salah satu kelas Sekolah Minggu. Selama masa Natal 1984, William D. Webber, pendeta senior, mengharapkan peran serta dari 700 jemaat gerejanya.

    Panitia Pelayanan Masyarakat telah menetapkan sasaran 110 keluarga asuh yang perlu "diadopsi" oleh 110 keluarga jemaat Gereja Baptis. Tetapi, waktu proyek ini dimulai, timbul masalah aneh. Jemaat Gereja Baptis adalah jemaat yang mapan -- terdiri atas masyarakat kelas menengah atas. Kebutuhan apakah yang diperlukan oleh keluarga- keluarga itu? Dan, di mana menemukan 110 keluarga yang kurang mampu?

    Mark dan Valerie Turner, ketua proyek itu, berkata, "Kita bahkan tidak tahu, ada berapa banyak keluarga di luar gereja yang kebutuhannya tidak terpenuhi. Kita buta terhadap apa yang terjadi di Stockton."

    Kota metropolitan Stockton berpenduduk hampir 350.000 orang. Kota itu terletak di Pegunungan California Tengah, salah satu daerah pertanian yang paling subur di dunia, yang terkenal akan sayuran dan buah anggurnya. Jalur pelayanannya menghubungkan Pelabuhan Stockton dengan Teluk San Fransisco sehingga Stockton menjadi pusat pelayanan utama. Selama musim panen, ladang-ladang dan dermaga-dermaga ramai dengan aktivitas.

    Tetapi, di antara musim-musim panen terdapat kisah yang menyedihkan. Pada masa ini, ribuan pekerja ladang tidak mempunyai pekerjaan; persentasinya mencapai 25%. Orang-orang yang tidak bekerja ini, umumnya, tinggal di daerah terpencil di Stockton, jauh dari lingkungan keluarga Gereja Baptis. Waktu anggota gereja menghubungi wakil anggota masyarakat, mereka mulai melihat sisi yang menyedihkan dari kota mereka. Mereka segera menyadari bahwa tidak sulit menemukan 110 keluarga yang kurang mampu.

    Telepon dan kartu mulai melimpah. Kata Mark Turner, "Sering kami menjumpai lima sampai sepuluh orang anak tinggal bersama orangtua, kakek dan nenek, anjing dan kucing -- semuanya dalam satu pondok yang terdiri atas dua atau tiga kamar sempit. Meskipun begitu, permintaan mereka sangat sederhana. Orangtua jarang menginginkan sesuatu untuk mereka sendiri. Salah seorang janda tua hanya meminta sepasang sandal untuk dipakai di rumah. Seorang pria menulis, dia hanya berharap diberi air destilasi -- yang tidak bisa dibelinya -- untuk mesin dialisis ginjalnya."

    Setelah mengetahui keadaan tersebut, anggota-anggota gereja mulai bekerja. Mula-mula, anak-anak membuat 110 hiasan yang merupakan daftar keluarga-keluarga yang kurang mampu, lalu menggantung hiasan itu pada pohon Natal. Hiasan-hiasan itu akan diambil oleh keluarga- keluarga gereja, yang akan mencatat kebutuhan keluarga "asuh" mereka, lalu mereka akan memenuhinya.

    Ada beberapa keluarga Gereja Baptis yang sudah pensiun atau sedang mengalami masalah keuangan. Jadi, keluarga-keluarga ini memilih keluarga-keluarga yang memerlukan pelayanan, bukan barang yang harus dibeli, atau mereka bergabung dengan anggota gereja yang lain. Persahabatan terjalin selama proyek itu berjalan.

    Satu minggu sebelum Natal, seluruh anggota gereja berkumpul untuk Kebaktian Pengabdian. Hadiah-hadiah dibawa ke depan dan diletakkan di bawah pohon Natal. Mark Turner berkata, "Tidak ada seorang pun yang membayangkan, ada begitu banyak hadiah -- semuanya terbungkus dengan indahnya. Di dekat mimbar ini penuh dengan ratusan hadiah."

    Tujuh hari sebelum Natal merupakan waktu pengiriman. Satu kelompok yang terdiri atas para relawan bertugas membagikan hadiah-hadiah ke seluruh daerah Stockton. Tetapi sekarang, sisi lain dari Proyek Pohon Natal ini menjadi jelas. Proyek ini juga membantu keluarga- keluarga di dalam gereja dengan cara yang tidak terduga.

    Misalnya keluarga Regina Williams. Regina dan anak-anaknya, Michael yang berumur empat belas tahun, dan Jennifer, empat tahun, sudah lama hidup dalam kemiskinan. Cek dari suaminya yang cacat merupakan satu-satunya sumber penghasilan mereka. Pada waktu Natal 1984 semakin dekat, Regina merasa tertekan. Sekali lagi, ia tidak akan dapat memenuhi keinginan anak-anaknya.

    Waktu Proyek Pohon Natal diumumkan di gerejanya, Regina mula-mula merasa semakin tertekan. Gereja Baptis merupakan salah satu tempat yang menyenangkan baginya, dan ia ingin sekali menjadi anggota yang ikut berperan aktif dalam Proyek Pohon Natal. Tetapi karena ia sendiri kurang mampu, bagaimana ia dapat membantu orang lain?

    Akhirnya, dengan gembira Regina memutuskan untuk ikut menjadi anggota bagian pengiriman. Pada suatu hari, waktu ia bekerja dengan John dan Leah Lewis, mereka berhenti pada alamat yang salah. Tetapi dengan demikian, mereka menemukan keluarga yang sangat kekurangan.

    "Saya tahu dari dalam hati saya bahwa Tuhan telah memimpin kami ke sana karena satu alasan," kata Regina. "Di tempat itu ada 12 anak yang tinggal dengan orangtuanya hanya dalam dua kamar. Mereka tidak mempunyai apa-apa. Tidak ada pohon Natal, tidak ada mainan, bahkan hampir tidak ada makanan. Keadaan mereka menyentuh hati saya. Malam itu saya pulang ke rumah dan berkata kepada keluarga saya, "Saya rasa, Tuhan ingin supaya kita dapat membantu mereka. Marilah kita pikirkan apa yang dapat kita lakukan."

    Banyak yang mereka lakukan. Mereka mencari perabotan rumah tangga dan mainan yang mungkin diperlukan keluarga "asuh" itu. Mereka mengajak orang lain di lingkungan mereka dan bersama-sama mereka mengunjungi toko-toko murah dan tempat-tempat yang menjual barang- barang bekas. Anak-anak Regina membujuk seorang guru supaya keluarga asuh itu juga menjadi proyek kelasnya. Bahkan, ibu Regina yang juga tidak mampu, ikut ambil bagian. Waktu semua hadiah sudah dikirim, tumpukan hadiah itu membentuk sebuah gundukan kecil.

    "Hal itu membuka mata kita untuk menyadari bahwa banyak kebutuhan orang lain yang dapat dipenuhi dari keadaan kita meskipun kita kurang mampu," kata Regina. "Keluarga yang kurang mampu itu tentu sangat senang menerima semua hadiah, tetapi saya rasa keluarga saya sama senangnya karena dapat memberi."

    Regina tidak lagi merasa takut karena tidak dapat membahagiakan anak-anaknya pada hari Natal. Dan anak-anaknya tidak lagi merasa Natal hanya merupakan masa dimana kerinduan tidak terpenuhi. Dengan menggapai ke luar, dengan menawarkan kasih kepada orang lain, mereka membawa kasih yang baru ke dalam keluarga mereka.

    Keluarga Williams bukan satu-satunya anggota Gereja Baptis yang mengalami mata air kasih yang melimpah. Banyak keluarga lain yang mengalami pembaruan yang serupa. Semuanya membuktikan, pesan utama dari Proyek Pohon Natal, yaitu bahwa proyek penjangkauan ke luar gereja dapat sekaligus menolong keluarga di dalam gereja.

    Sebenarnya, proyek itu menimbulkan pengaruh yang menguntungkan bagi Gereja Baptis seutuhnya. "Pada bulan November 1984," kata Pendeta Webber, "gereja telah terbiasa untuk tidak mau tahu masalah orang lain. Sukar sekali mendorong orang supaya bersemangat dalam segala hal. Anggaran keuangan kami terbatas dan setiap minggu uang kolekte terus menurun. Tetapi Proyek Pohon Natal merupakan titik balik yang besar bagi kita. Gereja kita telah memperlihatkan kemurahan yang menakjubkan, yang melimpah, dan meluap. Dan kemurahan hati tidak dimulai dan berakhir dengan proyek itu. Defisit kita dalam waktu singkat sudah sirna. Sebaiknya pelayanan tetap dijalankan. Pujian kepada Allah terus dinaikkan."

    Sekali lagi, pesannya jelas: Keluarga -- termasuk keluarga dalam gereja -- dikuatkan dengan menjangkau ke luar.

    Bahan diedit dari sumber:
    Judul Buku : Kisah Nyata Seputar Natal
    Judul Artikel: Proyek Pohon Natal
    Penulis : Susan Devore Williams
    Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 1989
    Halaman : 178-181

    e-JEMMi 50/2004

    Pujian Penyembahan Untuk Orang-Orang Percaya Di Maldewa

    Boris dan Natasha Romanov (bukan nama sebenarnya) adalah misionaris yang bergerak di "bawah tanah" bagi penduduk pulau Maldewa yang terletak di dekat Sri Langka dan India dan penduduknya hampir 100% menganut agama non-Kristen. Natasha adalah seorang penduduk asli Maldewa dari keluarga bangsawan. Dia menjadi pengikut Kristus berkat kesaksian dari seorang misionaris Afrika Selatan, yang menyelundupkan sebuah Alkitab baginya. Dia bertemu Boris, suaminya, ketika Boris yang sedang bersepeda melewati rumah Natasha. Mereka berpapasan, selanjutnya mereka berkenalan dan menikah di Spanyol, tanah air Boris. Pada waktu pasangan Boris dan Natasha kembali ke Maldewa, mereka dipaksa untuk menikah lagi sesuai dengan kepercayaan non-Kristen yang dianut keluarga Natasha.

    Hal itu justru mendorong kerinduan pasangan tersebut untuk memberitakan Injil di Maldewa. Beberapa waktu kemudian mereka memimpin empat belas orang Maldewa kepada Kristus, dan memuridkan mereka secara rahasia. Namun, persekutuan rahasia mereka ditemukan. Pasangan Boris dan Natasha dipaksa terbang kembali ke Spanyol. Penduduk Maldewa yang telah percaya kepada Yesus ditahan dan mereka harus mendekam selama berbulan-bulan di penjara untuk disiksa, dipukul dan dipaksa untuk meninggalkan kepercayaannya kepada Kristus. Di Spanyol, Boris dan Natasha sangat memperhatikan orang- orang Maldewa yang mengalami siksaan tersebut. Mereka berdua tahu bahwa mereka akan ditangkap bila menginjakkan kaki di negara Maldewa lagi. Boris dan Natasha mengadakan beberapa kali persekutuan dengan orang-orang percaya yang ada di India untuk memberikan dukungan doa bagi orang-orang percaya di Malwadewa. Natasha sekarang telah kehilangan kewarganegaraan Malwadewa-nya dan dia tidak akan pernah dapat kembali ke negaranya. Pasangan ini sekarang tinggal di Spanyol.

    Natasha mulai memproduksi program-program radio bagi orang-orang percaya di Maldewa dimana musik penyembahan dan pengajaran kekristenan sudah termasuk dalam program radio tersebut. Natasha memiliki talenta di bidang musik dan dia telah membuat beberapa komposisi lagu serta merekam beberapa lagu penyembahan bagi penduduk asli Maldewa. Baru-baru ini seorang Kristen yang punya keahlian di bidang perekaman telah menolong Boris dan Natasha untuk membuat sebuah studio rekaman digital di kediaman mereka di Spanyol. Studio

    itu membantu mereka dalam membuat program-program radio dan musik penyembahan bagi sekelompok kecil orang percaya di Maldewa. Mereka juga menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Maldewa.

    Sumber: Global Worship Report Vol. 2, #15 July, 2001

    R Dan Keluarganya Dibebaskan Dari Dakwaan Penghujatan

    R yang berumur 16 tahun telah dibebaskan dari dakwaan bersama dengan ayahnya, S, dan 3 orang anggota keluarga lainnya. Sharing Life Ministry Pakistan (SLMP) telah mengadakan pertemuan rekonsiliasi antara para pemimpin Kristen dan para pemimpin sebuah agama lain, yang hasilnya sangat membantu dalam pembebasan mereka, demikian menurut laporan dari Compass Direct.

    "Ini adalah sebuah tanda yang luar biasa yang telah membuat sejarah," kata SK, seorang pekerja di SLMP. "Kasus ini merupakan keputusan awal bagi kasus-kasus penghujatan lainnya pada masa depan terhadap orang-orang Kristen."

    Mempelopori pertemuan-pertemuan rekonsiliasi antara SLMP dan pemimpin lokal dan nasional agama lain dimulai pada bulan November 2008. Daripada mencoba menyelesaikan masalah seperti ini di pengadilan, SLMP memilih langsung menemui para pemimpin "agama lain" untuk menunjukkan kepada mereka bahwa yang tertuduh tidak bersalah; lalu para imam mendorong orang "agama lain" (yang menuntut yang tertuduh) untuk mencabut tuntutannya.

    Pertemuan diadakan antara empat pemimpin "agama lain", perwakilan pemerintah MA dan SJ dari SLMP. Para ulama setuju membebaskan orang-orang Kristen ini setelah tim SLMP menjelaskan kepada mereka bahwa tuduhan penghujatan telah berkembang menjadi kesalahpahaman.

    Fatwa

    Para pemimpin agama lain setuju untuk mengeluarkan sebuah fatwa yang menyatakan para pria yang dituduh ternyata tidak bersalah atas penghujatan. Saksi dari pihak agama lain dalam kasus ini menarik kesaksiannya pada tanggal 13 Januari, dan Hakim Sheik Salahudin membebaskan kelima pria Kristen di pengadilan Toba Tek Singh.

    Para pengacara yang terlibat dalam kasus ini berkata mereka akan menggunakan jalan damai dalam kasus-kasus penghujatan yang akan datang. Mereka berkata bahwa melawan kasus-kasus semacam itu di pengadilan masih dapat membebaskan yang tidak bersalah, tetapi cara ini tidak menolong memecahkan masalah pertengkaran antarkelompok agama yang mengarah kepada kekerasan dan tuduhan-tuduhan palsu.

    R dan keluarganya telah dituduh melakukan penghujatan pada bulan April 2007, setelah percekcokan antara adik bungsunya D dengan seorang anak dari agama lain bernama St. Dalam proses argumentasi, sebuah stiker bertuliskan nama Tuhan yang sebelumnya menempel di kaos St terjatuh.

    Seorang tetangga setempat melihat stiker tersebut terjatuh di atas tanah dan menuduh anak-anak Kristen melakukan penghujatan. Segera setelah itu kekerasan pecah, akhirnya polisi menahan R, ayahnya, dan 3 orang sanak saudara lainnya. Peristiwa ini menyulut kekerasan dan diperkirakan ada dua ribu orang dari agama lain menyerang perkampungan Kristen, lingkungan Kristen, melempari rumah-rumah orang Kristen dengan batu dan memukuli mereka.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Mei -- Juni, 2010
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Halaman : 6
    Penerbit : Yayasan Kasi Dalam Perbuatan, Surabaya

    e-JEMMi 30/2010



    Raymond Lull: Misionaris Pertama yang Menginjili Pemeluk Keyakinan Lain (1252 -- 1515)

    "Apa yang sedang saya pikirkan?" Raymond Lull pasti terheran-heran. Mungkin ia merasa heran bagaimana mungkin ia bisa naik kapal untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang di Afrika Utara. Ia mungkin akan terbunuh dan dianiaya.

    Lull mengalami lahir baru pada usianya yang ke-30. Ia bertobat dari kebiasaan lamanya yang suka mengadakan pesta dan membuang waktu dengan sia-sia. Ia dilahirkan pada tahun 1232 di sebuah keluarga yang terhormat di Majorca, dekat lepas pantai negara Spanyol.

    Pada masa itu, umat Kristiani lebih banyak melakukan kehidupan doa dan merenungkan firman Tuhan. Ide Raymond Lull mengenai penyebaran Injil ke tempat asing diabaikan dan dianggap aneh oleh gereja saat itu.

    Fransiskus dari Asisi menganjurkan agar ia lebih mempraktikkan kasih Kristus daripada memakai kekerasan. Ia menyetujuinya. Ia menghabiskan 10 tahun untuk mempelajari bahasa penduduk setempat, kebudayaan mereka, dan memerdalam pengetahuan kekristenan.

    Ia naik kapal ke Tunisia. Ia mengumumkan bahwa kehadirannya adalah untuk mempelajari keyakinan penduduk itu dan menawarkan diskusi terbuka kepada mereka. Setelah diskusi tersebut, ada sebagian yang tertarik untuk mempelajari lebih dalam mengenai keristenan. Akibat diskusi tersebut, ia dimasukkan ke dalam penjara. Ia dideportasi dari Tunisia. Dan dalam perjalanannya ke kapal, ia dilempari dengan batu.

    Pada usianya yang ke-75, ia kembali lagi ke Afrika untuk menjangkau mereka. Ia mengundang mereka untuk menghadiri diskusi terbuka di Bugia, sebelah timur kota Aljazair. Kemudian ia segera dijebloskan kembali ke penjara untuk yang kedua kalinya.

    Lull kembali ke Eropa, tetapi segera ia bepergian kembali ke Bugia pada tahun 1314 ketika ia berusia lebih dari 80 tahun. Ia mengunjungi kelompok kecil yang sudah bertobat dan menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Ia mencoba secara diam-diam untuk membawa lebih banyak jiwa lagi kepada Kristus.

    Di dalam suratnya, ia menulis sebagai berikut, "Saya memiliki harta kekayaan yang cukup. Saya menikmati kehidupan saya, tetapi saya lebih suka meninggalkan semuanya untuk menceritakan tentang Kristus kepada mereka yang belum mengenal-Nya. Mereka memasukkan saya ke dalam penjara dan mencambuk saya. Sekarang saya telah bertambah tua, tetapi saya tidak kehilangan pengharapan pada-Nya. Tuhan berkeinginan supaya saya dapat tetap memertahankan iman saya sampai saya kembali ke pangkuan-Nya."

    Karena khotbahnya, ia ditangkap oleh penduduk. Ia dibawa ke luar kota oleh mereka dan oleh perintah raja, ia dilempari batu. Beberapa saat kemudian ia meninggal. Ia meninggal pada tanggal 30 Juni 1315.

    Ruth A. Tucker mengatakan, "Kehidupan Lull dan pekerjaannya merupakan kesaksian yang kuat sebagai seorang Kristen sejati di tengah-tengah sejarah gereja yang gelap pada masa itu .... Ia tetap setia kepada panggilan-Nya di dalam dan mengabarkan Injil."

    "Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil." (Filipi 1:12)

    "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Batu-Batu Tersembunyi dalam Pondasi Kita
    Judul asli buku : The Hidden Stones in Our Foundation
    Penulis : The Voice Of The Martyrs
    Penerjemah : Ivan Haryanto
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2005
    Halaman : 39 -- 41

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/raymond_lull

    Rekaman Musik Penyembahan

    John (bukan nama aslinya), adalah seorang pekerja YWAM (Youth With A Mission) di Asia Tengah yang memulai studio rekaman sederhana di tahun 1994. Pertama kalinya, dia merekam beberapa musik Kristen dalam bahasa-bahasa Turki dan Asia Tengah. Menurut John, "Sebelumnya saya tidak pernah mendengar tentang satu lagu yang ditulis oleh seorang percaya dari suku Uighur. Lalu, tahun 1995, saya mendengar bahwa ada seorang petani Uighur yang telah menjadi pengikut Kristus dan petani ini mulai menulis banyak lagu yang mengekspresikan imannya dan kasihnya kepada Allah. Saya segera menemui dia di rumahnya dimana kami saling sharing lagu. Sungguh hari yang menarik!" Setelah pertemuan pertama tersebut, petani itu menyediakan waktunya selama seminggu untuk merekam lagu-lagu tulisannya.

    Rekaman musik penyembahan ini memberikan dorongan semangat bagi orang-orang percaya setempat. Bahkan beberapa dari lagu tersebut dipakai sebagai lagu pengiring tarian dan diputar di stasiun radio dan televisi lokal. John menceritakan, "Saya sedang naik sebuah mobil angkutan yang menuju ke suatu desa dan pengemudinya, seorang penduduk lokal, sedang mendengarkan lagu-lagu melalui tape recorder- nya. Setelah beberapa lagu, salah satu lagu Kristen yang kami rekam mulai terdengar melalui pengeras suara. Lagu itu terpilih dan menjadi salah satu lagu yang direkam bersama lagu-lagu sekuler lainnya dalam suatu kaset serta dijual di pasaran. Kami berhenti di sebuah desa kecil dan saya mendatangi sebuah warung musik yang ada desa itu. Mereka pun memiliki dan menjual kaset itu. Dapat dipastikan, kaset itu telah terjual di desa kecil ini juga. Senyuman menghiasi wajah saya saat mengetahui bahwa satu lagu pujian penyembahan kepada Yesus yang ada dalam kaset itu telah dinyanyikan dan dimainkan berulang-ulang bahkan pada saat upacara pernikahan maupun upacara-upacara lainnya.

    Sejak tahun 1995, studio yang didirikan John, telah merekam 20 kaset penyembahan dalam berbagai bahasa asli. Hal ini disesuaikan dengan konteks beragam latar belakang dari penduduk setempat, termasuk Kazak, Kirghiz, Uzbek, dan Karakalpak. Dalam bekerja sama dengan para musisi, John mengatakan, "Kami tidak menganjurkan kepada mereka untuk menghasilkan suara-suara tertentu sehingga sesuai dengan keinginan kami. Yang kami perlukan dari mereka adalah kualitas yang baik dan sesuai dengan tujuan pelayanan." John merasakan bahwa sangat penting untuk menggunakan musik yang ditulis oleh orang-orang percaya setempat yang beribadah di gereja-gereja Asia Tengah karena tujuan dari musik penyembahan adalah untuk menarik perhatian dan memusatkan hati, pikiran, dan perasaan kasih kita kepada Allah. Musik ini sungguh tepat karena bisa diterima oleh para penduduk lokal dimana hentakan lagu dan iramanya telah dikenal mereka. Saya juga menolong para penduduk yang belum percaya untuk mengenal dan mengikut Yesus sesuai dengan konteks setempat. Mereka tidak merasa harus mengadopsi budaya asing."

    Sumber: Global Worship Report, June 2003
    ==> http://www.worship-arts-network.com/

    e-JEMMi 35/2003

    Renungkan Arti Kelahiran-Nya

    "Terang yang ilahi, Allah yang sejati, t'lah turun menjadi manusia. Allah sendiri dalam rupa insan! Sembah dan puji Dia, Tuhanmu!"

    Lagu Kidung Jemaat 109:2

    Apa perbedaan yang terjadi dengan adanya kelahiran Yesus? Itu adalah pertanyaan yang patut direnungkan sepanjang masa Advent.

    Seperti apa keadaan dunia kalau Ia tidak pernah lahir? Apakah kita masih menanti kelahiran-Nya? Apakah kita akan berharap Ia akan datang pada masa kehidupan kita? Pada hal apa kita akan mendasarkan iman kita? Dalam hal apa iman kita akan berbeda?

    Bagaimana perasaan kita kalau Ia tidak berjanji untuk mengirim Penghibur yang lain ketika Ia kembali ke surga? Mengapa penting bagi kita Ia berjanji untuk kembali ke dunia?

    Advent adalah saat yang tepat untuk mendiskusikan dengan keluarga pertanyaan-pertanyaan ini dan pertanyaan lainnya. Tanyakan "Bagaimana kalau?" Tempatkan diri Anda pada kedudukan orang-orang yang hidup jauh sebelum Yesus lahir.

    Pikirkan Tentang Kedatangan-Nya ke Bumi

    Pada saat teduh pribadi Anda, mungkin Anda ingin membuat daftar "alasan mengapa saya senang Yesus turun ke bumi." Inilah yang dilakukan Cynthia pada suatu masa Natal. Baru-baru ini ia menceritakan pengalamannya pada saya.

    "Setiap hari selama Advent, saya menulis di catatan pribadi saya, satu alasan mengapa saya senang Yesus lahir di dunia, dan kemudian saya merenungkan alasan itu beberapa kali sehari -- seperti ketika saya naik kereta api bawah tanah ke tempat kerja, ketika berjalan ke kantor, dan seterusnya.
    "Sepanjang hari saya memikirkan apa yang saya tulis. Tampaknya selama seminggu penuh saya tidak bisa melepaskan diri dari pikiran itu, dari semua arti Juruselamat -- penyembuh, penebus, penolong.
    "Perlahan-lahan saya menjelajahi pikiran lainnya: 'Saya senang Ia datang, jadi ada yang saya panggil Tuhan'; 'Saya senang Ia datang, saya bisa mempunyai dasar sukacita yang kokoh dalam kehidupan saya.'"
    Mungkin Anda ingin menyarankan pada kelas Pemahaman Alkitab atau persekutuan Anda untuk merenungkan kedatangan-Nya dengan cara seperti Cynthia. Mulailah dengan daftar kata-kata yang menyatakan konsep hal-hal yang paling penting bagi Anda: penyelamatan, pengampunan, kemerdekaan, sukacita, kasih, persekutuan, keamanan, persahabatan. Kemudian renungkan cara Yesus mengisi konsep-konsep ini dalam kehidupan Anda.

    Dorong anak-anak Anda untuk membuat daftar alasan mengapa mereka senang Yesus turun ke bumi. Seorang anak yang menjadi teman saya, Catherine, berumur delapan, menulis di catatan Adventnya:

    "Saya senang Yesus datang karena kami bisa memasang pohon Natal. Saya senang pohon Natal. Saya senang lampu-lampu berwarna di pohon kami dan bagaimana kertas keperakan membuat cahaya berkilauan di pohon. Kita seperti kertas keperakan yang memantulkan cahaya itu."

    Sumber:

    Judul Buku : 52 Cara Sederhana Membuat Natal Menjadi Istimewa
    Judul Artikel: Renungkan Arti Kelahiran-Nya [16]
    Pengarang : Jan Dargatz
    Penerbit : Interaksara, Batam, 1999
    Halaman : 58 - 60

    e-JEMMi 52/2002

    Resiko Menyebarkan Injil Di Afganistan

    Pemerintah Taliban di Afganistan mengatakan bahwa ada sekelompok pekerja sosial -- termasuk 2 orang Amerika dan beberapa warga Jerman -- telah ditangkap dan dipenjarakan sampai pengadilan tinggi Islam menyelesaikan penyelidikan atas tuduhan yang ditimpakan kepada mereka, yaitu tuduhan mereka telah mengabarkan Injil kepada penduduk Afganistan.


    Pemerintah Taliban telah mengumpulkan pernyataan-pernyataan dari penduduk Afganistan yang menyatakan bahwa kelompok itu telah membujuk penduduk untuk meninggalkan Islam. Menyebarkan Injil dianggap sebagai kejahatan dan patut dijatuhi hukuman mati di negara yang 95% penduduknya menganut agama Islam.


    Organisasi Shelter Now International melakukan pelayanannya di Afganistan dengan didukung oleh Vision for Asia -- lembaga bantuan Kristen Jerman. Lembaga bantuan ini semula dijalankan oleh orang- orang Amerika, namun kemudian diambil alih oleh orang-orang Jerman beberapa tahun yang lalu karena orang-orang Amerika itu mendapat perlakuan yang tidak baik di kamp pengungsi Afganistan.


    Sampai saat ini, pemerintah Taliban tidak mengijinkan seorang pun untuk mengunjungi pekerja-pekerja sosial yang ditahan tersebut.


    Sumber: NEWSBRIEF--2001-08-30

    Revival di Himalaya

    Beberapa tahun yang lalu pada waktu Natal yang bersalju, Kaleb (bukan nama sebenarnya) ingin pergi berbelanja. Dia adalah orang baru di Himalaya dan ingin jalan-jalan di kota sebelum meneruskan perjalanannya. Ketika itu dia memperhatikan para pejalan kaki berkerumun mengelilingi seorang gadis yang tidak sadarkan diri karena kerasukan. Gadis itu berteriak dan memutuskan rantai yang dipakai orang-orang untuk mengikatnya. Seorang dukun mencoba untuk mengusir kuasa jahat itu, tetapi tidak menunjukkan hasil.

    Meskipun merasa tidak pasti, Kaleb berjalan melalui kerumunan itu sambil membawa belanjaannya. Kata Kaleb:

    "Namun dalam hati, saya merasa yakin bahwa Yesus yang berkuasa dalam diri saya mampu menolong gadis itu. Jadi saya putuskan untuk berbalik mendekati kerumunan itu dan menyampaikan keinginan saya untuk mendoakan gadis itu."
    "Dukun yang ada hanya tersenyum, dan dia menunjukkan daftar panjang dari persembahan-persembahan yang seharusnya disediakan oleh keluarga gadis itu jika mereka menginginkan untuk mengusir kuasa-kuasa jahat itu. Dukun itu juga berkata bahwa saya tidak mengetahui betapa kuat roh-roh jahat yang menguasai si gadis. Meskipun demikian, saya tetap tenang, dan akhirnya diperbolehkan untuk mendoakannya dalam nama Yesus. Saya mendoakan gadis itu dan beberapa saat kemudian dia merasa tenang dan akhirnya dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Peristiwa ini menarik banyak orang dan mereka mulai bertanya dimana saya tinggal dan siapa saya sebenarnya."
    "Jam 05.00 keesokan paginya, kami sekeluarga dibangunkan oleh ketukan yang keras: sekitar 70 orang penduduk lokal berdiri di depan rumah sambil membawa obor. Mereka bertanya apakah Yesus tinggal di rumah kami. Dengan pasti kami menjawab, 'Ya', karena Yesus tinggal dalam diri kami. Semula kami berpikir bahwa gadis yang saya tolong kemarin kambuh lagi dan mereka datang untuk membunuh kami. Namun ternyata bukan itu masalahnya! Mereka membawa sejumlah orang sakit dan memohon kami agar bersedia mendoakan orang-orang sakit itu sebelum kami pindah tempat tinggal. Sungguh mengejutkan: setiap kali menumpangkan tangan kepada seseorang yang sakit, saya tahu dengan pasti apa yang perlu didoakan. Setiap orang sakit yang kami doakan disembuhkan atau dibebaskan dari pengaruh roh-roh jahat. Banyaknya penduduk yang datang mengalir ke tempat kami telah mencegah kami untuk melanjutkan perjalanan sesuai rencana pada hari itu. Kami berdoa dengan mereka sampai jam 20.00 malam. Kemungkinan ada sekitar 3.000 orang yang hadir di tempat kami. Kami memanfaatkan kesempatan tersebut semampu kami untuk mensharingkan tentang Yesus, dan kami memutuskan untuk tetap tinggal di kota itu."
    "Dalam waktu singkat, banyak orang yang menyatakan keinginan mereka untuk mengikut Yesus dan rindu untuk dibaptis. Lalu kami mulai mengatur mereka untuk membuka gereja-gereja rumah. Gerakan ini sungguh luar biasa dan saya perkirakan mereka yang menerima Kristus itu adalah 10% dari total populasi di wilayah tersebut!"
    "Saya kadang-kadang memikirkan apa yang akan terjadi jika saya mengabaikan suara Yesus yang mendorong saya untuk mendoakan gadis yang kerasukan roh-roh jahat di jalan beberapa hari yang lalu."

    Sumber: JOEL-NEWS-INTERNATIONAL-399 * 3 APRIL 2002 *

    e-JEMMi 50/2002

    Rintangan? ... Siapa Takut??

    Tragedi nuklir di Chernobyl tahun 1986 tetap membekas di Belarusia. Angka kematian melampaui angka kelahiran. 30% dari seluruh populasi adalah pencandu minuman keras. Bermacam-macam serangan terhadap orang Kristen tercatat di Belarusia -- termasuk pendeta pantekosta yang dipukuli oleh sekelompok gang di Minsk baru-baru ini.

    Penganiayaan dalam bentuk lain yang terjadi adalah serangan verbal dan diskriminasi. Surat kabar negara mempublikasikan sebuah artikel dengan judul "Kelompok Protestan ... membahayakan negara, baik dalam hal psikologis, maupun sekuritas." Mendapat serangan dan tuduhan seperti itu sangatlah sulit bagi orang-orang Kristen di Belarusia untuk melakukan penginjilan.

    Kendala lain: Persekutuan-persekutuan Kristen tidak diperkenankan mendaftarkan kelompok mereka secara resmi, dan sebagai akibatnya mereka tidak bisa memimjam atau membeli tempat untuk mengadakan kebaktian. Kendati banyak rintangan, Gereja Tuhan di Belarusia tetap bertumbuh. Menurut sebuah laporan yang dikeluarkan pada bulan September 2000, "Sejak tahun 1990 jumlah jemaat Protestan, baik yang terdaftar dan yang tidak terdaftar, telah meningkat lebih dari dua kali lipat, dan kini berjumlah lebih dari 1000." Puji Tuhan!

    Pokok doa: Mohon kepada Tuhan untuk membuka pintu-pintu kesempatan bagi pengkabaran Injil dan pendirian gereja di Belarusia.

    Sumber: SIM (Serving In Mission) Edisi September 2001

    Rotiku Hilang!

    Onyiyenchi Ijomah adalah seorang pelajar dari Nigeria. Dia menuliskan pengalamannya ketika sedang mempersiapkan diri untuk menempuh beberapa ujian.

    Saat aku masih berada di tahun terakhir di sekolah lanjutan, aku benar-benar ingin berhasil melewati ujian SSCE dengan baik. Ujian ini sangat penting bagiku agar aku dapat memperoleh pekerjaan. Suatu malam, aku terjaga dari tidur sambil memikirkan sesuatu. Karena sampai tengah malam aku masih terjaga dan tidak dapat tidur lagi, aku putuskan untuk pergi ke rumah teman dan meminta sekedar saran. Temanku bercerita tentang seorang dukun dan bagaimana dukun itu dapat menolong persoalanku. Aku memutuskan untuk pergi menemui dukun itu. Lalu aku pulang ke rumah dan kali ini aku dapat tidur dengan nyenyak.

    Aku mengunjungi dukun itu bersama dengan temanku. Dukun itu menyuruhku untuk membeli sepotong roti sebagai sarana agar ilmu sihirnya dapat bekerja. Setelah ia memberi mantera pada roti yang kubeli, ia menyuruhku untuk memberikannya kepada ibuku. "Jika kau tidak dapat melakukannya dalam waktu 24 jam," kata dukun itu memperingatkanku, "kau akan mati!"

    Dalam perjalanan pulang, aku mengalami kecelakaan dan roti itu hilang entah kemana! Saat aku sadar, aku sudah berada di rumah sakit. Beberapa perawat berdiri mengelilingiku sambil mengucap syukur kepada Tuhan karena aku masih hidup. Aku sangat terkejut dan bertanya kepada mereka apa yang telah terjadi. Mereka menjelaskan bahwa aku tidak sadar selama tiga hari. Setelah tiga puluh menit berlalu, tiba-tiba aku mulai ingat apa yang dikatakan dukun kepadaku tentang roti yang harus kuberikan kepada ibu. "Mana rotiku!" teriakku penuh ketakutan, "Aku akan mati, berikan aku rotiku!"

    Para dokter dan perawat di sekelilingku kebingungan melihat tingkahku yang aneh. Mereka bertanya kepadaku apa yang sebenarnya terjadi. Lalu aku mulai menceritakan kepada mereka tentang pertemuanku dengan seorang dukun. Mendengar ceritaku, dokter yang merawatku berkata bahwa aku tidak akan mati dan karena itu aku cukup sehat untuk menghadiri persekutuan Kristen bersama mereka. Persekutuan tersebut benar-benar telah mengubah hidupku karena melalui persekutuan itu aku menemukan kedamaian.

    Mengapa Ijomah menemukan hidupnya telah diubahkan setelah menghadiri persekutuan itu? Sebenarnya bukan persekutuan itu yang mengubahkan hidup Ijomah, melainkan Yesus Kristus sendiri yang telah berkenan untuk mengubah hidup Ijomah. Ijomah sekarang telah membuktikan sendiri bahwa kata-kata dukun tidak benar. Ia tidak meninggal hanya karena ia gagal melaksanakan tugas dari dukun tersebut. Apa yang diberikan oleh dukun hanya memberikan ketakutan bagi Ijomah.

    Yesus Kristus memberikan kedamaian dalam hidup Ijomah, dan bukan ketakutan, dan bahkan lebih dari itu. Para perawat meminta Allah untuk menyembuhkan Ijomah, dan dia tidak meninggal. Allah telah menyelamatkan nyawa Ijomah dari kecelakaan itu.

    Allah juga akan menyelamatkan kita dari suatu bentuk kematian lain. Alkitab mengatakan bahwa jiwa kita sebenarnya telah mati karena dosa. Kita selalu dipenuhi dengan ketakutan dan pikiran kita menjadi tidak damai. Namun, Allah telah mengutus Yesus Kristus (Isa Masih) ke dalam dunia untuk membebaskan kita dari rasa ketakutan dan memberikan kedamaian dalam pikiran dan kehidupan kita, Dia mati untuk menebus semua dosa kita. Saat kita percaya dan beriman kepada- Nya, Ia mengampuni dan menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kita dapat memiliki hidup baru yang indah -- dan Allah berjanji bahwa jiwa kita akan hidup tanpa rasa takut akan penghukuman.

    Sumber: S O O N, Issue no. 168

    Rumania: Seorang Wanita Muda

    Saat itu hampir tengah malam ketika para tahanan wanita mendengar para penjaga Komunis datang. Mereka cepat-cepat berkumpul mengelilingi seseorang yang dikutuk, seorang wanita muda yang dijatuhi hukuman mati karena imannya dalam Kristus. Mereka membisikkan ucapan selamat tinggal dengan buru-buru. Tak ada air mata dari wanita Rumania muda itu, tak ada jeritan memohon belas kasihan.

    Malam sebelumnya, para tahanan mendengarkan wanita muda itu, wajahnya bersinar dengan kasih. "Bagiku, kuburan ini adalah gerbang menuju kota surgawi," katanya kepada mereka. "Siapa yang dapat menceritakan keindahan kota itu? Di sana, kesedihan tidak dikenal. Hanya ada sukacita dan nyanyian. Setiap orang berpakaian dalam putihnya kemurnian. Kita dapat melihat Tuhan berhadapan wajah. Ada sukacita yang luar biasa yang tidak dapat diekspresikan dengan bahasa manusia. Mengapa aku harus menangis? Mengapa aku harus sedih?"

    Ia seharusnya akan menikah, namun malam ini, katanya kepada mereka, bukannya berada bersama tunangan duniawinya, ia akan bertemu dengan Pengantin pria surgawinya.

    Para penjaga yang tak kenal ampun masuk ke selnya dan wanita itu melangkah maju menghampiri mereka, siap pergi. Saat ia meninggalkan sel itu, dikelilingi para penjaga, ia mulai mengucapkan pengakuan iman rasuli. Beberapa menit kemudian, dengan air mata melelehi wajah mereka, para tahanan yang tertinggal mendengar suara tembakan. Para pengeksekusi menyangka bahwa mereka telah mengakhiri nyawa wanita muda itu, namun mereka hanyalah mengirimnya untuk hidup selamanya di tempat yang jauh lebih baik.

    Keberanian adalah jembatan yang membawa kita dari keberadaan di dunia ke kerinduan yang tak dapat dipahami akan masa depan surgawi. Mereka yang sangat memahami kepastian keberadaan surgawi mendapati bahwa lebih mudah menukarkan nyawa yang tak berharga di dunia dengan kewarganegaraan kekal di surga. Keberanian menolong kita membiarkan pergi semua yang mengikat kita di dunia - segala sesuatu yang membuat kita suka tinggal sini. Hal ini membutuhkan keberanian untuk percaya akan kehidupan setelah kematian. Bagaimanapun, kehidupan di dunia merupakan segala yang kita ketahui sampai waktunya kita meninggal. Kita cukup berani jika kita meluncur dalam iman, dengan percaya bahwa Kristus menjadikan mungkin bagi kita untuk menyeberang menuju kekekalan bersama-Nya. Suatu saat ketika kita telah membuat keputusan yang pasti itu, kita dapat menghadapi kehidupan dengan tujuan dan kematian dengan keberanian.

    Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21)

    Diambil dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Judul asli buku : Extreme Devotion
    Penulis : The Voice of the Martyrs
    Penerjemah : Fintawati R. dan Ivan H.
    Penerbit : Surabaya, KDP 2005
    Halaman : 27

    Dipublikasikan di: http://wanita.sabda.org/rumania_seorang_wanita_muda

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/rumania_seorang_wanita_muda

    Rumania: Vasile

    Di negara komunis Rumania, gereja-gereja ditutup dan program tujuh tahunan telah memenjarakan para gembala untuk "menghapuskan takhayul dari bangsa". Mengetahui hal tersebut, ketika Vasile dan istrinya mulai mengadakan lagi pertemuan gereja di rumah kecil mereka, mereka sudah menyadari risiko yang tidak terhindarkan karena akan senantiasa diawasi oleh pemerintah. Setiap malam Vasile berdoa, "Tuhan, jika Engkau mengetahui bahwa beberapa tahanan memerlukan bantuanku, kirimkanlah aku kembali ke penjara." Istrinya gemetar pada saat ia dengan agak lirih dan kurang tegas mengucapkan, "Amin."

    Tidak berapa lama, mereka mendapat kabar bahwa salah seorang anggota gereja telah diciduk dan salinan-salinan khotbah Vasile disita. Mereka juga mengetahui bahwa asisten gembala, sahabat, dan rekan sekerja mereka telah menjadi mata-mata musuh dan mengkhianati Vasile.

    Saat itu sudah pukul 01.00 pagi ketika polisi menyerbu apartemen kecil itu dan menahan Vasile. Pada saat mereka memborgolnya, Vasile berkata, "Saya tidak akan pergi dari sini dengan damai kecuali kalian mengizinkan saya untuk beberapa menit memeluk istri saya." Para polisi itu memenuhi permintaannya dengan enggan.

    Pasangan itu saling berpegangan tangan, berdoa, dan menaikkan pujian dengan penuh perasaan sehingga sang kapten pun ikut tersentuh. Akhirnya, mereka menggandeng dia keluar menuju mobil polisi. Dengan disertai cucuran air mata istri Vasile mengiringi kepergian mereka. Vasile berbalik dan menyerukan kalimatnya yang terakhir sebelum ia hilang selama bertahun-tahun, "Sampaikan cintaku kepada anak kita dan asisten gembala yang telah mengkhianatiku."

    Pengkhianatan yang ekstrem memerlukan pengampunan yang ekstrem juga. Jika musuh datang melawan kita dengan begitu kejam, bukankah sudah seharusnya kita bermurah hati dengan tindakan mengampuni? Pada saat musuh mencela kita serendah-rendahnya, bukankah sudah seharusnya kita menggapai ke tempat yang lebih tinggi agar menemukan kesediaan untuk mengampuni mereka? Yesus mengajar kita bahwa mengampuni kejahatan adalah untuk kebaikan kita sendiri. Pengkhianatan yang keji dapat membuat kita menutup hati terhadap pengalaman pengampunan kita sendiri. Jika Anda mendapati diri Anda sendiri kikir dalam hal mengampuni, Anda akan kurang terbebaskan dari dosa. Pengkhianatan adalah sesuatu yang sangat buruk. Kepahitan adalah kekalahan yang Anda tidak dapat tanggung. Kepada siapakah Anda perlu menawarkan pengampunan yang besar pada hari ini?

    Diambil dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Penulis : The Voice of the Martyrs
    Penerjemah : Fintawati Rahardjo dan Iyan Haryanto
    Penerbit : Yayasan KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Surabaya 2005
    Halaman : 10

    e-JEMMi 13/2010



    Rusia Masih Membutuhkan Firman Tuhan

    Pada tanggal 11 April 2001, tubuh Sergey Marar diketemukan di kota Teykovo. Sergey, salah seorang pendiri gereja di Rusia, ditemukan meninggal karena dibunuh dalam posisi sedang berlutut. Sebelum ajalnya ia sempat memberitahu pendeta seniornya bahwa ia menerima ancaman akan dibunuh. Namun ia tetap menjalani pelayanannya tanpa rasa takut.

    Alexei Rogovoy, yang berusia 83 tahun, telah mendekam di penjara sebanyak tiga kali, dan telah beberapa kali mengalami percobaan pembunuhan dari beberapa orang semenjak "menjadi Kristen pada tanggal 11 Juni 1965". Ia pada bulan Pebruari 2000 dipukuli, karena imannya, oleh seorang polisi yang marah -- Alexei telah menulis surat kepada seorang hakim mengenai perlakuan yang diterima orang- orang Kristen dari pihak kepolisian setempat. Meskipun Alexei menderita karena imannya, ia mengucap syukur kepada Tuhan akan kasih setia-Nya. "Saya mempunyai masa depan yang cemerlang karena saya akan bisa hidup bersama dengan Tuhan yang saya kasihi," katanya.

    Penganiayaan terhadap orang-orang Kristen di Rusia pada masa post- komunis, tetap menjadi suatu tragedi yang nyata. Namun banyak orang- orang Kristen di Barat berpendapat bahwa penduduk Rusia kini bisa memeluk agama dengan bebas, tanpa rasa takut.

    Pada awal tahun 1990-an, setelah jatuhnya Uni Soviet, banyak badan- badan Kristen yang segera mengulurkan tangan untuk menolong. Namun ternyata pekerjaan di Rusia tidak mudah dan hanya sedikit yang efektif. Perhatian yang diberikan kepada Rusia semakin berkurang, begitu pula dengan dana. Banyak badan organisasi Kristen yang pergi, sehingga banyak orang di dunia Barat mengira bahwa "Misi telah tercapai", dan kebutuhan rohani di Rusia sudah terpenuhi.

    Sesungguhnya hal ini jauh dari kenyataan. Rusia bukan negara yang sudah terjangkau oleh Injil. Sedikit sekali orang Rusia yang bisa terpenuhi harapannya untuk memperoleh Alkitab milik mereka sendiri. Menurut direktur dari Bible League di Rusia, hanya 1% dari sekitar 135 juta penduduk negara ini yang memiliki Alkitab; Yang miliki Perjanjian Baru baru 5%. Itulah sebabnya penting sekali bagi anda dan saya untuk tidak mengabaikan Rusia.

    "Selama bertahun-tahun saya tidak mempunyai Alkitab untuk bisa saya baca, karena Alkitab sulit sekali diperoleh pada masa komunisme", kata Alexei Rogovoy. "Satu-satunya cara agar saya bisa dikuatkan di dalam Tuhan adalah dengan mengingat-ingat kembali ayat-ayat Alkitab yang sudah saya hafalkan."

    Dengan adanya mitra misi seperti anda, Alexei akhirnya memiliki Alkitab sendiri dari Bible League tiga tahun yang lalu. "Sekarang, saya mengalami kesulitan membacanya, karena mata saya selalu menjadi berkaca-kaca dipenuhi air mata", katanya, "Sungguh suatu sukacita yang luar biasa bagi seorang kakek seperti saya, yang telah lama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membaca Alkitab, dan sekarang akhirnya bisa membacanya."

    Alexei menunggu selama 33 tahun untuk memperoleh Alkitabnya yang pertama. Berdoalah agar orang lain tidak harus menunggu selama itu. Rusia masih membutuhkan Firman Tuhan - terutama pada saat ini.

    Jika anda terbeban untuk membantu penyediaan Alkitab bagi orang- orang seperti Alexei di Rusia atau negara-negara lainnya, silakan hubungi The Bible League (Lembaga Alkitab) setempat, atau kunjungi ==> http://www.bibleleague.com

    Sumber: The Bible League < http://www.bibleleague.com >

    Catatan dari Situs: Fokus pelayanan "The Bible League" adalah menyediakan Alkitab bagi orang-orang Kristen yang baru bertobat dan orang-orang Kristen yang teraniaya.

    Catatan Redaksi: Informasi mengenai pelayanan "The Bible League" di Indonesia dapat anda baca di kolom Doa Bagi Misi Dunia.

    Rusia: Peter Siemens

    Peter Siemens terbaring di lantai penjara Rusia yang kotor setelah tidak sadar selama tiga hari. Dia telah ditahan karena menginjili anak-anak. Para tahanan lain telah memukulinya dengan keji karena mereka telah dijanjikan oleh penjaga akan mendapat keringanan hukuman jika melakukan hal tersebut kepada Peter. Ketika mereka memukuli Peter, ia tetap diam.

    Salah seorang tahanan bertanya, "Mengapa kamu tidak berteriak ketika kami memukuli kamu?"

    "Saya berpikir, mungkin kamu memukuli saya untuk kesenanganmu sendiri, tanpa sepengetahuan penjaga," Peter menjawab melalui bibirnya yang berdarah. "Jika demikian, dan saya berteriak, kamu pasti akan dihukum karena berperilaku buruk. Saya tidak mau kamu menderita karena Yesus mengasihi kamu, dan saya juga mengasihi kamu."

    Deklarasi Peter yang menyentuh hati ini telah memenangkan hati-hati yang keras di sel penjara. Mereka menyebarkan pesan ke seluruh penjara agar tidak seorang pun menyentuh Peter, tidak peduli ke mana dia dipindahkan atau apapun yang ditawarkan oleh penjaga.

    Para tahanan yang menunggu untuk menjalani hukuman mati mendengar cerita Peter dan mengirim pesan meminta pertolongannya. Peter menanggapi, dan dengan pertolongan penjaga yang baik, dia menceritakan kasih Yesus kepada mereka. Karena pelayanan Peter, beberapa orang mungkin telah bertobat sebelum mereka menjalani hukuman mati mereka. Hidupnya yang mencerminkan kasih Kristus telah memberikan kesempatan yang penting bagi orang lain. Mereka yang mungkin tidak akan pernah mendengar berita Injil, mendapat kesempatan untuk mendengarnya.

    *****

    Kata-kata yang diucapkan dapat sangat berkuasa. Kata-kata nasihat, kasih, atau kata-kata yang menguatkan dan diucapkan tepat waktu, dapat memberkati orang yang sedang membutuhkannya. Bagaimana dengan orang yang mengalami kekurangan dalam hal rohani? Kata-kata Peter Siemens didorong oleh kasihnya kepada Kristus. Kasih itu telah memampukannya berbicara mengenai kasih Kristus dengan berani kepada musuh-musuhnya ketika mereka sedang sangat membutuhkannya. Peter taat kepada pimpinan Allah dan Allah memakai kata-kata Peter untuk mengubah hukuman kekal yang akan dialami banyak tahanan di sana jika tidak mengenal Yesus. Apakah Allah memakai kata-kata orang lain untuk membawa Anda kepada Yesus? Ketika Allah memanggil Anda untuk menceritakan tentang Yesus kepada orang lain, maukah Anda menaatinya? Pikirkan betapa besar perbedaan yang dapat terjadi oleh karena teladan dan kata-kata Anda.

    *****

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Judul asli buku : Extreme Devotion
    Judul asli artikel : Virgin Islands: Leonard Dober
    Penulis : The Voice of The Martyrs
    Penerbit : KDP, Surabaya 2005
    Halaman : 181

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/rusia_peter_siemens

    Saat Itu Kami Berada Bersama dengan Kristus

    Satu per satu, imam-imam dan pendeta-pendeta Rumania berdiri menawarkan kata-kata pujian bagi Komunisme dan menyatakan loyalitas mereka bagi rezim yang baru. Pernyataan mereka mengenai persatuan, propaganda bagi para Komunis, disiarkan ke seluruh dunia melalui radio, langsung dari gedung parlemen.

    Hal itu terjadi satu tahun setelah Komunis mengambil alih kekuasan di Rumania. Pemerintah telah mengundang segenap pemimpin agama untuk menghadiri kongres di gedung parlemen -- lebih dari 4.000 orang yang menghadirinya. Pertama, mereka memilih Joseph Stalin sebagai presiden kehormatan dari kongres. Kemudian pidato-pidato dimulai. Pidato-pidatonya tidak masuk akal dan mengerikan. Komunisme didedikasikan bagi kehancuran agama, sebagaimana yang telah ditunjukkan di Rusia. Tetapi tetap saja, para uskup dan pendeta bangkit dan menyatakan bahwa Komunisme dan kekristenan secara fundamental sama dan kebohongan. Seolah-olah mereka meludah ke wajah Yesus Kristus.

    Sabina Wurmbrand tidak dapat menahannya lebih lama lagi. Ia berbisik kepada suaminya, "Richard, berdirilah dan hapuslah penghinaan ini dari wajah Kristus."

    Richard tahu apa yang akan terjadi: "Jika aku berbicara, kau akan kehilangan suamimu."

    Sabina menjawab, "Aku tidak memiliki keinginan untuk memiliki seorang pengecut sebagai suami."

    Pendeta Wurmbrand maju ke panggung. Dalam kekagetan semua orang, ia mulai berkhotbah. Langsung, kesunyian yang hebat terjadi di gedung.

    "Para pendelegasi, merupakan kewajiban kita bukan untuk memuji kekuatan-kekuatan dunia yang datang dan pergi, tetapi untuk memuliakan Tuhan sang Pencipta dan Kristus sebagai Juru Selamat, yang mati bagi kita di kayu salib."

    Seorang petugas Komunis melompat berdiri. Ini tidak mungkin diteruskan! Seluruh negeri sedang mendengarkan pesan mengenai Kristus diproklamasikan dari panggung parlemen Komunis. "Hak Anda untuk berbicara ditarik!" teriaknya.

    Wurmbrand tidak memedulikan peringatan itu dan meneruskan. Atmosfernya mulai berubah. Para pendengar mulai bertepuk tangan. Ia sedang mengatakan apa yang mereka semua ingin katakan, tetapi terlalu takut untuk mengatakannya.

    Petugas itu berteriak, "Potong mikrofonnya!" Kerumunan berteriak riuh menutup suaranya. "Pendeta! Pendeta! Pendeta!" Mereka melantunkan teriakan dan tepukan terus berlangsung lama setelah kabel-kabel mikrofon disingkirkan dan Wurmbrand telah melangkah turun. Kongres diakhiri untuk hari itu. Setelah itu, Richard Wurmbrand menjadi sasaran.

    Pada hari Minggu, 29 Februari 1948, Pendeta Wurmbrand sedang berada dalam perjalanan menuju gereja saat ia diculik oleh sekelompok polisi rahasia. Ia menceritakan apa yang terjadi kemudian:

    "Aku dibawa ke penjara sejauh tiga puluh kaki di bawah permukaan tanah di mana aku ditempatkan dalam kurungan terasing. Selama bertahun-tahun, aku ditempatkan seorang diri dalam sebuah sel. Tidak pernah aku melihat matahari, bulan, bintang-bintang, bunga-bunga. Tidak pernah aku melihat seorang pun kecuali para penginterogasi yang memukuli dan menyiksaku. Tidak pernah aku memiliki buku, tidak secarik kertas pun. Setelah bertahun-tahun aku harus menulis kembali, aku bahkan tidak ingat bagaimana cara menulis huruf besar D."

    "Untuk membuat perasaan terisolasi semakin buruk, penjara dijaga agar sunyi sepenuhnya. Bahkan para penjaga memakai sepatu kain supaya langkah mereka tidak terdengar."

    "Ketika pertama kali kami ditempatkan dalam kurungan terasing, rasanya seperti mati. Masing-masing dari kami hidup kembali dalam dosa-dosa masa lalunya dan tanggung jawab-tanggung jawabnya yang terabaikan. Kami semua memiliki rasa sakit yang tidak terperikan dalam hati. Kami memikirkan bahwa kami belum melakukan yang terbaik bagi yang Mahatinggi, bagi Dia yang telah memberikan diri-Nya bagi kami di atas kayu salib."

    "Aku berada dalam kedalaman penyesalan dan kesakitan, ketika tiba-tiba dinding dari penjara berkilau bagai intan. Aku telah melihat berbagai hal yang indah, tetapi tidak pernah kulihat keindahan-keindahan yang kulihat dalam sel gelap di bawah tanah itu. Tidak pernah kudengar sebelumnya musik seindah yang kudengar pada hari itu."

    "Raja atas segala raja, Yesus berada bersama kami. Kami melihat matanya yang penuh perhatian dan kasih. Ia menyeka air mata kami. Ia mengirimkan kepada kami kata-kata kasih dan kata-kata pengampunan. Kami tahu segala hal yang jahat dalam kehidupan kami telah berlalu, telah dilupakan oleh Allah. Kini, tiba hari-hari indah; pengantin wanita telah berada dalam pelukan pengantin pria -- kami berada bersama-sama dengan Kristus.

    "Kami tidak tahu bahwa kami sedang berada di dalam penjara. Kadang-kadang kami dipukuli dan disiksa. Kami seperti Stefanus, yang sementara dilempari batu, tidak melihat para pembunuhnya, tidak melihat batu-batunya, tetapi melihat surga terbuka dan Yesus berdiri di sebelah kanan Bapa. Dengan cara yang sama, kami tidak melihat para penyiksa Komunis. Kami tidak melihat bahwa kami sedang berada di penjara. Kami dikelilingi oleh para malaikat; kami sedang bersama dengan Allah."

    "Kami tidak lagi percaya mengenai Allah dan Kristus dan para malaikat karena ayat-ayat Alkitab mengatakan demikian. Kami tidak lagi mengingat ayat-ayat Alkitab. Kami ingat akan Allah karena kami mengalaminya. Dengan kerendahan hati yang besar, kami dapat mengatakan bersama para rasul, apa yang telah kami dengar, apa yang telah kami lihat dengan mata kami, apa yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami -- itulah yang kami tuliskan."

    "Setelah pengurungan dalam keterasingan selama bertahun-tahun, kami ditempatkan bersama-sama dalam sel-sel besar, kadang-kadang dengan 200 hingga 300 tahanan di dalam tiap sel. Aku tidak akan menceritakan seluruh kebenaran yang terjadi, karena Anda tidak akan tahan mendengarnya. Tetapi ini akan aku ceritakan. Tahanan-tahanan Kristen dipukuli dan kemudian diikat pada salib selama empat hari dan empat malam tiada henti. Para Komunis kemudian berdiri mengitari mereka, menghina, dan mengejek, "Lihatlah pada Kristus kalian, betapa cantiknya Ia, wangi-wangian apa yang Ia bawa dari surga." Kemudian mereka menendangi para tahanan lainnya, memaksa mereka untuk berlutut dan memerintahkan mereka untuk memuja dan menyembah salib-salib hidup yang dicemarkan ini."

    "Kemudian saat-saat yang lebih buruk tiba, saat-saat pencucian otak. Siapapun yang belum pernah melewati pencucian otak tidak dapat memahami apa arti penyiksaan. Dari pukul lima pagi hingga pukul sepuluh malam, 17 jam sehari, kami harus duduk dengan tegak sempurna. Kami tak diizinkan bersandar atau mengistirahatkan kepala kami. Untuk menutup mata adalah kejahatan. Selam 17 jam sehari kami harus mendengar, 'Komunisme adalah baik, Komunisme adalah baik, Komunisme adalah baik. Kekristenan adalah bodoh, kekristenan adalah bodoh, kekristenan adalah bodoh. Tidak ada lagi yang percaya kepada Kristus, tidak ada lagi yang percaya kepada Kristus, tidak ada lagi yang percaya kepada Kristus. Menyerahlah, menyerahlah, menyerahlah!' Selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan bertahun-tahun, kami harus mendengar hal ini."

    "Akhirnya yang terburuk tiba. Para Komunis menyiksa mereka yang percaya kepada Allah. Dengan penyulut besi yang merah membara, dengan pemukul karet, dengan tongkat, dengan segala macam cara, orang-orang Kristen disiksa oleh para Komunis."

    "Kemudian keajaiban itu terjadi. Pada saat-saat terburuk, saat kami disiksa lebih hebat dari sebelumnya, kami mulai mengasihi mereka yang menyiksa kami. Sama seperti sekuntum bunga, saat Anda menyakitinya di bawah kaki Anda, ia menghadiahi Anda dengan wanginya, semakin kami dihina dan disiksa, semakin kami mengasihani dan mengasihi para penyiksa kami."

    Banyak yang telah bertanya kepada Wurmbrand, "Bagaimana Anda dapat mengasihi seseorang yang sedang menyiksa Anda?" Ia menjawab:

    "Dengan melihat pada para pria ... tidak sebagaimana mereka adanya, tetapi sebagaimana mereka akan menjadi ... aku juga dapat melihat dalam para penganiaya kami seorang Saulus dari Tarsus -- seorang rasul Paulus di masa yang akan datang. Banyak petugas polisi rahasia kepada siapa kami bersaksi, menjadi orang-orang Kristen dan bersukacita untuk nantinya menderita dalam penjara karena telah menemukan Kristus kami. Walaupun kami disesah, sebagaimana Paulus, di dalam diri para pemenjara kami, kami melihat potensi dari pemenjara di Filipi yang bertobat. Kami bermimpi bahwa tak lama lagi mereka akan bertanya, "Apa yang harus kulakukan untuk diselamatkan?"

    "Pintu gerbang dari surga tidak tertutup bagi para orang Komunis. Demikian juga cahaya tidak disuramkan bagi mereka. Mereka dapat bertobat seperti semua orang lainnya. Dan kita harus memanggil mereka ke dalam pertobatan. Hanya kasih yang dapat mengubah para Komunis dan para teroris.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Jesus Freaks
    Penyusun : The Voice of the Martyrs
    Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
    Halaman : 67 -- 72

    Satu Orang Percaya, Seluruh Desa Diselamatkan

    Pengantar Redaksi:
    Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam melewati jalan berbatu dan menanjak, akhirnya rombongan kami sampai juga di desa Kenalan. Sejenak kami heran dan kagum memandangi sebuah gereja dengan arsitektur modern berdiri megah di desa yang terletak di lereng barat gunung. GKJ KENALAN, begitu nama yang terpampang di papan di halaman gereja. "Lebih bagus dan lebih besar daripada gerejaku." bisik seorang teman. Beberapa saat kemudian tampak serombongan jemaat memasuki halaman gereja. Hanya dalam waktu kurang dari setengah jam saja, gereja berkapasitas 400-an orang itu sudah penuh sesak. Terasa unik memang, di sebuah desa terpencil berdiri gedung gereja yang megah dengan jemaat sebanyak itu.

    Ya, sejarah lahirnya gereja ini sangat menarik. Sejak Sudarmono, mantan lurah desa Kenalan dan istrinya, Sumari, percaya pada Yesus sekitar 30 tahun yang lalu, saat ini hampir seluruh penduduk desa itu beriman dan percaya pada Yesus. Bagaimana semua itu bisa terjadi? Ikuti kisah menarik di bawah ini seperti yang dituturkan pasangan suami-istri itu kepada Sari dan Wawan dari majalah BAHANA.

    Sakit Keras

    Cerita ini berawal dari sakitnya Sumari, istriku tercinta. Sudah sekitar tujuh bulan dia tergeletak lemah tak berdaya di rumah akibat penyakit yang tidak jelas. Segala upaya kulakukan demi kesembuhan ibu dari anak-anakku itu. Beberapa tetanggaku menyarankan supaya aku datang pada "orang pintar" yang cukup terkenal di daerah kami. Karena belum percaya Yesus dan terdorong keinginan kuat supaya istriku sembuh, aku turuti saja saran mereka. Hampir 10 dukun sudah aku datangi namun tidak ada hasilnya. Bagaimana bisa berhasil kalau cara pengobatannya aneh? Obat dari dukun hanya berupa segelas air putih mentah yang diberi bunga mawar, kenanga, kanthil dicampur arang dari dupa yang telah dibakar. Air segelas itu harus diminum sampai habis. Meski tidak masuk akal, entah kenapa aku dan istriku percaya dan menuruti petunjuk dukun itu. Sakit istriku tidak kunjung sembuh malah sebaliknya semakin parah saja.

    Setelah lelah, berobat ke sana kemari, aku datang pada Pak Jasmin, seorang penyuluh pertanian yang bertugas di desaku. Aku ceritakan semua tentang istriku dan usaha yang telah kulakukan. Kemudian Pak Jasmin yang juga anggota majelis GKJ Ngablak itu menawarkan untuk mendoakan istriku secara Kristen. Meski belum pernah mengenal Yesus, aku rela saja istriku didoakan dalam nama Yesus karena aku sangat ingin dia sembuh. Tim doa GKJ Ngablak yang terdiri dari tujuh orang itu lalu mengunjungi rumahku. Mereka bersatu hati mendoakan istriku yang semakin hari semakin lemah saja. Sebelum pulang, mereka menganjurkan supaya istriku dibawa ke dokter saja. Herannya, istriku langsung menuruti anjuran mereka padahal sebelum itu dia tidak pernah mau kalau diajak berobat ke dokter. Mungkin Tuhan sendiri yang membuka hatinya. Hasil pemeriksaan dokter membuat hatiku miris. Bagaimana tidak? Ternyata ada tumor yang cukup ganas bersarang di rahim istriku. Dengan hati sedih, aku membawanya ke RS Dr. Karyadi untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Menurut dokter, akar tumor itu sudah menjalar ke mana-mana sehingga tidak dapat diangkat. Satu-satunya pengobatan adalah dengan cara disinar saja. Namun itu pun tidak dapat segera dilaksanakan karena Hb istriku terlalu rendah. Baru setelah seminggu dirawat, istriku dapat disinar (dibestral). Di rumah sakit itu, istriku tinggal sekamar dengan pasien kanker kandungan lainnya. Selama dirawat tiga bulan, istriku menyaksikan teman-teman sekamarnya meninggal satu per satu. Hanya dia yang dapat bertahan. Peristiwa tersebut tidak membuat istriku takut ataupun patah arang. Dia tetap semangat bahkan punya kemantapan dapat sembuh dari penyakit ini. Keyakinan ini didapatkannya setelah dia percaya dan menerima Yesus sebagai Juruselamat.

    Memang selama dirawat di rumah sakit, tim doa dari GKJ Ngablak dengan tekun membesuk dan mendoakan istriku. Dukungan inilah yang menyemangati istriku untuk bertahan hidup. Bahkan, dia pun mulai belajar berdoa dengan cara Kristen. Sejak mengenal Yesus, aku juga rajin berdoa dan mengadakan persekutuan doa di rumahku seminggu sekali. Itulah yang menguatkan aku.

    Pamit Pada Warga

    Sementara itu, keadaan istriku semakin parah saja. Suatu hari, dia sempat tidak sadar selama beberapa saat. Saat kejadian itu berlangsung, aku sedang di rumah sibuk memanen tembakau. Saking sibuknya, aku sampai lupa berdoa. Namun, Tuhan itu tetap baik. Akhirnya, istriku sadar kembali. Jika ditanya, apa yang dirasakan selama tidak sadar 30 menit itu istriku selalu tidak dapat menjelaskan. Selama sakit, istriku pernah bermimpi didatangi oleh seorang laki-laki berkerudung putih. Laki-laki yang wajahnya tidak begitu jelas itu lalu menjamah dan menyembuhkannya. Betapapun aku sudah berdoa dan beriman pada Yesus, sisi kemanusiaanku masih saja muncul. Hatiku tetap diliputi keraguan, apakah istriku benar-benar dapat sembuh? Data medis menunjukkan, secara akal manusia istriku tidak dapat disembuhkan lagi.

    Namun ternyata kuasa Tuhan melampaui segala akal manusia. Dari hari ke hari, keadaan istriku mulai membaik. Aku sangat percaya, ini adalah pekerjaan Tuhan saja. Karena itu, aku semakin percaya pada Yesus. Kemantapan hatiku untuk beriman pada Yesus ini langsung kusampaikan pada warga. Suatu hari aku mengumpulkan beberapa tokoh warga dari dua dusun di bawah pemerintahanku dalam suatu pertemuan yang kami sebut dengan rembug desa. Dalam pertemuan ini, aku menceritakan tentang keadaan istriku yang semakin membaik karena didoakan oleh Tim Doa dari GKJ Ngablak. Aku lalu menyatakan keinginanku untuk percaya pada Yesus dan memeluk agama Kristen. Puji Tuhan, beberapa tokoh itu tanpa paksaan siapa pun menyatakan keinginan yang sama.

    Bersama dengan mereka dan didukung oleh pendeta dan majelis dari GKJ Ngablak, aku merintis ibadah di desaku.

    Tempat Berpindah-pindah

    Sekitar 150 warga yang berasal dari tiga desa hadir dalam kebaktian perdana yang diselenggarakan pada minggu pertama bulan April 1974. Kenyataan ini sangat menggembirakanku. Kebahagiaanku bertambah, tatkala dokter mengizinkan istriku dibawa pulang karena keadaannya sudah membaik. Sebelum pulang, aku sempat bertanya kepada dokter apakah istriku benar-benar sembuh. Dokter pun menjawab, bahwa kanker tidak dapat sembuh total, harus tetap kontrol ke dokter. Aku pun pasrah saja. Kepulangan istriku dari rumah sakit, disambut gembira oleh para warga. Bayangkan, istriku yang sakit sudah sekian lama akhirnya dapat sembuh hanya oleh mukjizat dari Tuhan. Kesembuhan istriku, mendorong 153 warga desa meminta untuk dibaptis. Ya, akhirnya hati mereka pun terbuka dan menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadinya. Itu terjadi pada bulan Desember 1974 yang kemudian dijadikan tonggak berdirinya gereja kami.

    Selama kurang lebih empat tahun, kami tidak mempunyai gedung gereja. Kebaktian diadakan berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lain. Hingga suatu saat, muncul kesadaran pada warga untuk memiliki sendiri rumah ibadah. Sebagai ungkapan syukurku pada Tuhan, aku menyerahkan sebidang tanah untuk dibangun gereja. Namun untuk membangunnya kami masih membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tuhan lalu mengirimkan hamba-Nya dari Kanada untuk membantu kami. Dana sebanyak Rp. 1.700.000,00 yang diberikannya sangat berarti bagi kami. Akhirnya, kerinduan untuk memiliki gedung gereja dapat terwujud meski masih sangat sederhana. Walau begitu, gedung gereja kami dapat membawa berkat bagi warga desaku, baik yang percaya Yesus maupun tidak. Gedung itu berfungsi ganda. Hari Senin hingga Sabtu, tempat itu dipakai untuk sekolah sedangkan hari Minggu untuk ibadah.

    Seiring dengan perkembangan jemaat, gedung gereja tidak mampu lagi menampung jemaat. Kami lalu sepakat untuk merenovasi dengan bantuan beberapa donatur. Kami juga tetap melakukan swadaya dengan mengumpulkan hasil panen tembakau terbaik kami. Karena itu, sekarang ada istilah "mbako grejo" (tembakau gereja) untuk menyebut tembakau terbaik. Saat ini, kami sudah mempunyai gedung gereja yang dapat menampung 426 jemaat. Karena itulah, pada bulan November 2001 lalu gereja kami akhirnya didewasakan. GKJ KENALAN, itulah nama gereja kami. Meski belum mempunyai pendeta, kegiatan kerohanian di gereja kami tetap bergairah. Kelompok-kelompok PA yang tersebar di beberapa desa lain aktif melakukan kegiatannya. Ya, kami memang selalu rindu mempelajari firman Tuhan. Sejarah lahirnya gereja kami sering kali dianggap unik. Oleh karenanya, kami sering mendapat kunjungan dari saudara-saudara seiman yang berasal dari berbagai denominasi. Saat ini, hampir seluruh warga di desa Kenalan sudah percaya pada Yesus meski masih ada beberapa warga yang belum percaya. Namun kami tetap hidup damai dan saling menghormati. Sejak percaya Yesus, hatiku merasa damai dan tenteram. Mukjizat-Nya terus berlangsung dalam kehidupanku. Sumari, istriku dinyatakan sembuh total dari kanker yang dideritanya sejak tahun 1976. Ini adalah mujizat yang sangat besar karena sebelumnya, dokter memvonis dia tidak bisa sembuh. Kini sudah lebih dari 25 tahun, istriku tetap sehat. Kalaupun sakit, itu karena faktor usia maklum saja umurnya sudah 70 tahun. Untuk mengisi hari tua, kami berdua ingin memberi hidup bagi orang lain. Kami punya kerinduan untuk membantu sesama yang masih berkekurangan. Bukan berarti hidup kami sudah berkelimpahan. Justru di dalam kesederhanaan ini, kami ingin tetap dapat membawa berkat bagi sesama. Itu sebagai tanda ucapan syukur kami pada Tuhan yang telah memberikan kasih-Nya pada kami.

    Sumber diedit dari: Majalah Bahana Edisi Juni 2002
    ==> http://www.bahana-magazine.com/

    e-JEMMi 29/2002

    Satu-Satunya Orang Kristen di Maroko

    Baru-baru ini seorang percaya Maroko berkata kepada perwakilan KDP bahwa ketika menerima Kristus, ia merasa ia adalah "satu-satunya orang Kristen di Maroko". Walaupun demikian, ia kaget ketika ia bertemu beberapa orang Kristen Maroko, dan bergabung dengan persekutuan kecil mereka.

    Karena hanya beberapa orang Maroko adalah orang percaya, ketika seorang Maroko dikenalkan kepada Kristus oleh orang asing, melalui internet, atau radio, atau televisi, mereka sering kali merasa kesepian dan terasing karena mereka telah ditolak oleh budaya mereka sendiri. Pelita mereka menyala berkedip. Ketika mereka bersatu dalam persekutuan dengan orang-orang percaya lain, pelita mereka menjadi lebih terang. Persekutuan, pemuridan, dan penguatan adalah minyak bagi pelita mereka.

    Mungkin orang-orang percaya Maroko hanya berjumlah beberapa ribu. Mereka bersekutu di gereja-gereja rumah yang kecil di seluruh negeri, dan kegiatan mereka diawasi dengan ketat. Baru-baru ini beberapa pemimpin gereja rumah mengatakan kepada perwakilan kami bahwa polisi Keamanan Negara terus mengawasi mereka, menanyakan dan menginterogasi mereka secara berkala. Mengajak orang lain memeluk kepercayaan lain dilarang oleh undang-undang.

    Baru-baru ini kami bertemu dengan seorang penginjil Berber bernama Ashraf (bukan nama sebenarnya). Ia sering berpergian mengunjungi desa-desa di Pegunungan Atlas untuk mengabarkan Kristus dan memertontonkan film Yesus kepada mereka yang mau mendengar. Tetapi orang berlatar belakang "agama lain" ini membayar harga yang mahal karena kasih Yesus. Beberapa waktu sebelum ia menjadi Kristen, ia ditahan karena menjalin persahabatan dengan orang-orang Kristen. Ashraf berkata bahwa ia disiksa dengan disengat listrik selama interogasi pertamanya dan masa penahanan. Pihak yang berwenang ingin mengorek keterangan mengenai rekan Kristen sekerjanya dan kegiatan mereka.

    Kemudian setelah menjadi Kristen, Ashraf dipenjara dan dikirim ke rumah sakit jiwa di mana ia disuntik dengan berbagai macam obat, termasuk narkotika. Pihak yang berwajib merasa Ashraf sudah gila dengan meninggalkan "agama lain" dan mengabarkan kekristenan di desa-desa. Ashraf berkata, "Penderitaan adalah sebuah pemberian dari Tuhan." Pemberian itu adalah minyak yang menerangi pelitanya. "Tuhan berkata, datanglah orang-orang yang teraniaya oleh karena kamu menderita di dunia, kamu merupakan dorongan bagi yang lain."

    Ashraf dan pelitanya sedang mengarahkan orang-orang Maroko ke jalan keluar dari kegelapan. Kami berdoa supaya Tuhan melindunginya dan memberikan kepadanya kekuatan. Kami dikuatkan oleh kesaksiannya sebagai anak terang yang tidak gentar.

    Beberapa hal terperinci yang dikemukakan dalam artikel tersebut menyarankan informan untuk menghadiri beberapa ibadah gereja.

    Baru-baru ini tujuh gereja rumah ditutup oleh pihak yang berwenang, dan beberapa orang percaya dikenai tuntutan dengan tuduhan menghina "agama lain". Youssef Ourahmane, Hamid Ramadani, dan Rashid Essaghir dikabarkan akan dijatuhi hukuman tiga tahun penjara dan denda 5.000 euro (sekitar Rp75 juta). Pada saat berita dicetak, dua orang percaya lainnya, Djallal Dahmani dan Brahim Oudir, masih dalam persidangan. Perwakilan kami di Algeria berkata bahwa ia percaya penganiayaan akan memburuk tahun ini saat pemerintahan mencoba menanggapi peringatan mengenai sejumlah besar "agama lain" yang meninggalkan agama mereka menjadi kristen.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Edisi Mei-Juni 2008
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Surabaya 2008
    Halaman : 7

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/satu_satunya_orang_kristen_di_maroko

    Saya Hanya Mau Menyembah Tuhan!

    Setahun sesudah dibebaskan dari penjara Turkmenistan, Shagildy Atakov bersaksi bagaimana ia telah dibantu untuk tetap setia kepada Kristus karena melihat contoh kesetiaan para napi Kristen Rusia yang dipenjarakan semasa pendudukan Uni Soviet.

    Rumah tangga Atakov pertama kali diserbu oleh polisi rahasia bulan Desember 1998. Shagildy dituduh sebagai "musuh negara", karena aktif menjadi pendeta awam dari sebuah gereja di bawah tanah. Karena perbuatan "subversif" (merongrong negara) Shagildy ditangkap dan dipenjarakan dengan tuduhan yang direkayasa. Apa boleh buat, hari raya Natal tahun itu ia tidak dapat merayakan bersama keluarganya.

    Lebih dari tiga tahun berlalu sebelum Shagildy dibebaskan dan bertemu kembali dengan Gulya, istrinya, serta kelima anak lelakinya. Hampir empat puluh bulan ia ditahan dalam kamp kerja paksa. Para sipir penjara mendapat perintah khusus: "Jaga orang ini supaya melupakan siapa orangtua dan siapa Tuhannya."

    Para sipir penjara menempuh segala cara untuk melaksanakan perintah tersebut, sampai-sampai juga menghasut para napi lain agar memaksa Shagildy menyangkal iman.

    TETAP PERCAYA PADA RENCANA TUHAN

    Shagildy teringat peristiwa-peristiwa mengerikan yang dialaminya di sel penjara. Ia sendiri pun bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa Tuhan membiarkannya menderita demikian. Tetapi tak lama kemudian ia mendapat jawaban atas pertanyaannya.

    Pada malam pertama di dalam sel itu, ketika sedang tidur nyenyak tiba-tiba ia dibangunkan oleh salah seorang napi lain. Orang itu ingin tahu lebih banyak mengenai "agama"nya, karena melihat betapa kuat imannya. Tak lama kemudian, semua napi lain di sel itu juga bertanya-tanya tentang "Kabar Baik" itu.

    Tetapi Shagildy harus membayar mahal untuk semua itu. Ketika para penjaga penjara mendapati bahwa ia telah memberitakan Injil mengenai Kristus, ia disuruh menghadap dan dianiaya.

    Sekalipun harus menahan rasa sakit, Shagildy melihat bagaimana Tuhan bekerja. Beberapa malam sesudah ia mendapat penganiayaan berat itu, seorang penghuni sel lain datang kepadanya dan berbisik: "Shagildy, aku berhasil membawa sebuah kitab Injil bagimu -- bolehkah kita berdoa bersama sekarang? Aku ingin juga bisa berdoa seperti kamu."

    PENGHINAAN DAN PELECEHAN

    Mungkin pengalaman paling berat baginya adalah ketika dipindahkan ke kamp kerja paksa di kota Sejdi. Ia masih ingat benar kejadiannya: "Ternyata para petugas penjara telah lama menunggu kedatanganku. Mereka berteriak: 'Mana orang (Kristen) Baptis itu? Mana si Atakov?' Ketika saya maju dan memperkenalkan diri, mereka mencemooh saya: 'Mengapa kamu berbuat begini (pindah agama, maksudnya)? Bukankah kamu juga warga Turkmen, bukankah seharusnya kamu menganut agama non-Kristen?"

    "Seminggu kemudian saya disuruh menanggalkan semua pakaian dan berdiri di depan semua orang," demikian Shagildy meneruskan. "Mereka berpesan agar setiap muslim jangan berurusan lagi dengan saya, karena: 'Orang Turkmen ini telah murtad imannya dan menjadi orang Kristen. Sekarang ia berusaha mengkristenkan semua orang di sini. Jangan dekat-dekat orang ini!' Sementara dipermalukan itu saya berdiri saja, sambil menangis dan berdoa dalam hati agar Tuhan memberi saya kekuatan untuk tetap setia dan rendah hati, seperti Tuhan Yesus."

    TETAP SETIA KEPADA KRISTUS

    Bagaimana caranya Shagildy dapat bertahan meski menderita dan dipermalukan? Ia tahu itu hanya mungkin karena kuasa Roh Kudus. Ia mempunyai banyak cerita bagaimana Tuhan menolong dan menguatkannya selama berada di penjara.

    Terutama sekali, Shagildy dan Gulya berterima kasih kepada Tuhan karena begitu banyak dukungan dan kesetiaan pendoa syafaat "Open Doors" yang tersebar di seluruh dunia, karena mereka selalu membawa keluarga itu ke hadapan takhta Allah selama tiga tahun yang sulit itu.

    Shagildy dan istrinya juga berterima kasih karena diam-diam Tuhan telah mempersiapkan mereka untuk menghadapi aniaya yang akan mereka alami. Beberapa tahun yang silam, tak lama sebelum Shagildy bertobat, ia membaca kisah-kisah kesaksian dari umat Kristen Rusia. Ketika pemerintah Uni Soviet masih berkuasa, umat Kristen Rusia juga menderita aniaya demi pekabaran Injil. Mereka tetap setia dibawah tekanan dan aniaya di masa-masa lalu, dan Tuhan memakai kesaksian hidup mereka untuk menguatkan Shagildy sehingga ia dapat juga setia kepada Kristus ketika ia dipenjarakan dan dianiaya.

    "Penguasa berkata kalau saya bersedia mengucapkan sumpah pengabdian kepada Presiden, maka saya akan segera dibebaskan," kata Shagildy. "Tetapi saya jawab mereka, bahwa saya hanya dapat mengabdi kepada Tuhan yang kusembah. Setelah saya dibebaskan sekarang, sama juga. Saya hanya ingin mengabdi kepada Tuhan."

    Diedit dari sumber:
    Buletin Doa "PINTU-PINTU TERBUKA"
    Edisi April-Mei 2003, Vol.6, No.2

    e-JEMMi 19/2003


    Sebuah Keputusan Untuk Tetap Tinggal

    Mereka datang tanpa peringatan, tidak dari mana-mana.

    Penginjil To Dinh Trung sedang mengayuh sepedanya melintasi jalanan berdebu yang berbatu-batu di Vietnam Utara. Lubang-lubang di jalanan menyita perhatiannya sepenuhnya. Tiba-tiba ia dikelilingi oleh sekelompok petugas polisi komunis yang menariknya jatuh dari sepedanya dan mulai memukulinya. Mereka membuat penginjil ini menjadi bahan tertawaan di hadapan kerumunan orang-orang desa, merekam semuanya dalam video. Akhirnya, ia dibawa ke penjara dan ditahan di sana tanpa sebuah sidang.

    Trung telah berkeliling ribuan mil dengan sepedanya sementara melayani suku K'Ho. Lusinan penduduk desa K'Ho telah menjadi orang-orang Kristen setelah Trung mengunjungi mereka di rumah-rumah mereka. Tetapi K'Ho adalah salah satu dari enam puluh suku di Vietnam yang telah dilarang keras oleh pemerintah untuk diinjili orang Kristen. Tetap saja, ada sekelompok orang percaya yang terus bertambah jumlahnya membaktikan diri mereka untuk membawa Kabar Baik Injil "keluar perkemahan", di mana tidak ada gereja resmi yang berdiri. Beberapa di antara mereka adalah guru sekolah, tapi kebanyakan dari mereka adalah petani beras atau nelayan. Semuanya dianiaya oleh pemerintah komunis.

    Trung berada di penjara selama enam bulan sebelum persidangannya. Ia melihat hal ini sebagai kesempatan ilahi untuk berkhotbah kepada mereka yang masih terhilang di penjara. Apa lagi yang dapat dilakukan oleh komunis terhadapnya? Ia sudah berada di dalam penjara! Melalui usaha-usaha penginjilannya, banyak yang telah datang kepada Kristus di penjara di dekat Quang Ngai.

    Sementara itu, orang-orang Kristen di seluruh dunia menjadi siaga akan situasi Trung. Banyak yang berdoa dan menulis surat demi keadaannya. Karena tekanan yang diberikan kepada penguasa-penguasa di Vietnam, Trung ditawari pembebasan dini. Masalah satu-satunya: Penginjil itu belum siap untuk pergi! Ia merasakan panggilan Allah untuk tetap tinggal di penjara dan menggembalakan kawanan domba-dombanya yang baru percaya. Trung menolak pembebasan dininya dan memilih untuk menghabiskan seluruh masa penjaranya.

    Trung mendapatkan dorongan yang amat besar ketika ia mendengar mengenai banyaknya surat yang ditulis oleh orang-orang atas namanya. Ia tahu bahwa ia dipanggil untuk menjadi penginjil di Vietnam -- yang merupakan pekerjaan yang amat berbahaya. Doa-doa dan surat-surat memberikan kepadanya kekuatan untuk terus menjadi saksi terhadap rekan-rekan sepenjaranya bagi Kerajaan Allah.

    "Aku tidak peduli akan kehidupanku sendiri. Hal yang paling penting adalah bahwa aku menyelesaikan pelayananku, pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan Yesus kepadaku -- untuk memberitakan Kabar Baik kepada orang-orang mengenai anugerah keselamatan dari Allah."

    "Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah." (Kisah Para Rasul 20:24)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Jesus Freaks
    Penyusun : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
    Penerbit : Cipta Olah Pustaka, 1995
    Halaman : 190 -- 191

    e-JEMMi 41/2008

    Sebuah Kisah Nyata dari Afrika

    Setelah tiba di Zaire, mereka melapor ke kantor Misi setempat. Lalu dengan menggunakan parang, mereka membuka jalan melalui hutan pedalaman yang dipenuhi nyamuk malaria. David dan Svea membawa anaknya David Jr. yang masih berumur 2 tahun. Dalam perjalanan, David Jr. terkena penyakit malaria. Namun mereka pantang menyerah dan rela mati untuk Pekerjaan Injil. Tiba di tengah hutan, mereka menemukan sebuah desa di pedalaman. Namun penduduk desa ini tidak mengijinkan mereka memasuki desanya. "Tak boleh ada orang kulit putih yang boleh masuk ke desa. Dewa-dewa kami akan marah," demikian kata penduduk desa itu.

    Karena tidak menemukan desa lain, mereka akhirnya terpaksa tinggal di hutan dekat desa tersebut. Setelah beberapa bulan tinggal di tempat itu, mereka menderita kesepian dan kekurangan gizi. Selain itu, mereka juga jarang mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan penduduk desa. Setelah enam bulan berlalu, keluarga Erickson memutuskan untuk kembali ke kantor misi. Namun keluarga Flood memilih untuk tetap tinggal, apalagi karena saat itu Svea baru hamil dan sedang menderita malaria yang cukup buruk. Di samping itu David juga menginginkan agar anaknya lahir di Afrika dan ia sudah bertekad untuk memberikan hidupnya untuk melayani di tempat tersebut.

    Selama beberapa bulan Svea mencoba bertahan melawan demamnya yang semakin memburuk. Namun di tengah keadaan seperti itu ia masih menyediakan waktunya untuk melakukan bimbingan rohani kepada seorang anak kecil penduduk asli dari desa tersebut. Dapat dikatakan anak kecil itu adalah satu-satunya hasil pelayanan Injil melalui keluarga Flood ini. Saat Svea melayaninya, anak kecil ini hanya tersenyum kepadanya. Penyakit malaria yang diderita Svea semakin memburuk sampai ia hanya bisa berbaring saja. Tapi bersyukur bayi perempuannya berhasil lahir dengan selamat tidak kurang suatu apa. Namun Svea tidak mampu bertahan. Seminggu kemudian keadaannya sangat buruk dan menjelang kepergiannya, ia berbisik kepada David, "Berikan nama Aina pada anak kita," lalu ia meninggal.

    David amat sangat terpukul dengan kematian istrinya. Ia membuat peti mati buat Svea, lalu menguburkannya. Saat dia berdiri di samping kuburan, ia memandang pada anak laki-lakinya sambil mendengar tangis bayi perempuannya dari dalam gubuk yang terbuat dari lumpur. Timbul kekecewaan yang sangat dalam di hatinya. Dengan emosi yang tidak terkontrol David berseru, "Tuhan, mengapa Kau ijinkan hal ini terjadi? Bukankah kami datang kemari untuk memberikan hidup kami dan melayani Engkau?! Istriku yang cantik dan pandai, sekarang telah tiada. Anak sulungku kini baru berumur 3 tahun dan nyaris tidak terurus, apalagi si kecil yang baru lahir. Setahun lebih kami ada di hutan ini dan kami hanya memenangkan seorang anak kecil yang bahkan mungkin belum cukup memahami berita Injil yang kami ceritakan. Kau telah mengecewakan aku, Tuhan. Betapa sia-sianya hidupku!"

    Kemudian David kembali ke kantor misi Afrika. Saat itu David bertemu lagi dengan keluarga Erickson. David berteriak dengan penuh kejengkelan: "Saya akan kembali ke Swedia! Saya tidak mampu lagi mengurus anak ini. Saya ingin titipkan bayi perempuanku kepadamu." Kemudian David memberikan Aina kepada keluarga Erickson untuk dibesarkan. Sepanjang perjalanan ke Stockholm, David Flood berdiri di atas dek kapal. Ia merasa sangat kesal kepada Allah. Ia menceritakan kepada semua orang tentang pengalaman pahitnya, bahwa ia telah mengorbankan segalanya tetapi berakhir dengan kekecewaan. Ia yakin bahwa ia sudah berlaku setia tetapi Tuhan membalas hal itu dengan cara tidak mempedulikannya.

    Setelah tiba di Stockholm, David Flood memutuskan untuk memulai usaha di bidang import. Ia mengingatkan semua orang untuk tidak menyebut nama Tuhan didepannya. Jika mereka melakukan itu, segera ia naik pitam dan marah. David akhirnya terjatuh pada kebiasaan minum-minuman keras.

    Tidak lama setelah David Flood meninggalkan Afrika, pasangan suami- istri Erikson yang merawat Aina meninggal karena diracun oleh kepala suku dari daerah dimana mereka layani. Selanjutnya si kecil Aina diasuh oleh Arthur & Anna Berg. Keluarga ini membawa Aina ke sebuah desa yang bernama Masisi, Utara Konggo. Di sana Aina dipanggil "Aggie". Si kecil Aggie segera belajar bahasa Swahili dan bermain dengan anak-anak Kongo. Pada saat-saat sendirian si Aggie sering bermain dengan khayalan. Ia sering membayangkan bahwa ia memiliki empat saudara laki-laki dan satu saudara perempuan, dan ia memberi nama kepada masing-masing saudara khayalannya. Kadang-kadang ia menyediakan meja untuk bercakap-cakap dengan saudara khayalannya. Dalam khayalannya ia melihat bahwa saudara perempuannya selalu memandang dirinya.

    Keluarga Berg akhirnya kembali ke Amerika dan menetap di Minneapolis. Setelah dewasa, Aggie berusaha mencari ayahnya tapi sia-sia. Aggie menikah dengan Dewey Hurst, yang kemudian menjadi presiden dari sekolah Alkitab Northwest Bible College. Sampai saat itu Aggie tidak mengetahui bahwa ayahnya telah menikah lagi dengan adik Svea, yang tidak mengasihi Allah dan telah mempunyai anak lima, empat putra dan satu putri (tepat seperti khayalan Aggie).

    Suatu ketika Sekolah Alkitab memberikan tiket pada Aggie dan suaminya untuk pergi ke Swedia. Ini merupakan kesempatan bagi Aggie untuk mencari ayahnya. Saat tiba di London, Aggie dan suaminya berjalan kaki di dekat Royal Albert Hall. Ditengah jalan mereka melihat ada suatu pertemuan penginjilan. Lalu mereka masuk dan mendengarkan seorang pengkotbah kulit hitam yang sedang bersaksi bahwa Tuhan sedang melakukan perkara besar di Zaire. Hati Aggie terperanjat. Setelah selesai acara ia mendekati pengkotbah itu dan bertanya, "Pernahkah anda mengetahui pasangan penginjil yang bernama David dan Svea Flood?" Pengkotbah kulit hitam ini menjawab, "Ya, Svea adalah orang yang membimbing saya kepada Tuhan waktu saya masih anak-anak. Mereka memiliki bayi perempuan tetapi saya tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang." Aggie segera berseru: "Sayalah bayi perempuan itu! Saya adalah Aggie - Aina!"

    Mendengar seruan itu si Pengkotbah segera menggenggam tangan Aggie dan memeluk sambil menangis dengan sukacita. Aggie tidak percaya bahwa orang ini adalah bocah yang dilayani ibunya. Ia bertumbuh menjadi seorang penginjil yang melayani bangsanya dan pekerjaan Tuhan berkembang pesat dengan 110.000 orang Kristen, 32 Pos penginjilan, beberapa sekolah Alkitab dan sebuah rumah sakit dengan 120 tempat tidur.

    Esok harinya Aggie meneruskan perjalanan ke Stockholm dan berita telah tersebar luas bahwa mereka akan datang. Setibanya di hotel ketiga saudaranya telah menunggu mereka di sana dan akhirnya Aggie mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki saudara lima orang. Ia bertanya kepada mereka: "Dimana David kakakku ?" Mereka menunjuk seorang laki-laki yang duduk sendirian di lobi. David Jr. adalah pria yang nampak kering lesu dan berambut putih. Seperti ayahnya, iapun dipenuhi oleh kekecewaan, kepahitan dan hidup yang berantakan karena alkohol. Ketika Aggie bertanya tentang kabar ayahnya, David Jr. menjadi marah. Ternyata semua saudaranya membenci ayahnya dan sudah bertahun-tahun tidak membicarakan ayahnya. Lalu Aggie bertanya: "Bagaimana dengan saudaraku perempuan?" Tak lama kemudian saudara perempuannya datang ke hotel itu dan memeluk Aggie dan berkata: "Sepanjang hidupku aku telah merindukanmu. Biasanya aku membuka peta dunia dan menaruh sebuah mobil mainan yang berjalan di atasnya, seolah-olah aku sedang mengendarai mobil itu untuk mencarimu kemana- mana." Saudara perempuannya itu juga telah menjauhi ayahnya, tetapi ia berjanji untuk membantu Aggie mencari ayahnya.

    Lalu mereka memasuki sebuah bangunan tidak terawat. Setelah mengetuk pintu datanglah seorang wanita dan mempersilahkan mereka masuk. Di dalam ruangan itu penuh dengan botol minuman, tapi di sudut ruangan nampak seorang terbaring di ranjang kecil, yaitu ayahnya yang dulunya seorang penginjil. Ia berumur 73 tahun dan menderita diabetes, stroke dan katarak yang menutupi kedua matanya. Aggie jatuh di sisinya dan menangis, "Ayah, aku adalah si kecil yang kau tinggalkan di Afrika." Sesaat orang tua itu menoleh dan memandangnya. Air mata membasahi matanya, lalu ia menjawab, "Aku tak pernah bermaksud membuangmu, aku hanya tidak mampu untuk mengasuhnya lagi." Aggie menjawab, "Tidak apa-apa, Ayah. Tuhan telah memelihara aku".

    Tiba-tiba, wajah ayahnya menjadi gelap, "Tuhan tidak memeliharamu!" Ia mengamuk. "Ia telah menghancurkan seluruh keluarga kita! Ia membawa kita ke Afrika lalu meninggalkan kita. Tidak ada satupun hasil di sana. Semuanya sia-sia belaka!" Aggie kemudian menceritakan pertemuannya dengan seorang pengkotbah kulit hitam dan bagaimana perkembangan penginjilan di Zaire. Penginjil itulah si anak kecil yang dahulu pernah dilayani oleh ayah dan ibunya. "Sekarang semua orang mengenal anak kecil, si pengkotbah itu. Dan kisahnya telah dimuat di semua surat kabar." Saat itu Roh Kudus turun ke atas David Flood. Ia sadar dan tidak sanggup menahan air mata lalu bertobat. Tak lama setelah pertemuan itu David Flood meninggal, tetapi Allah telah memulihkan semuanya, kepahitan hatinya dan kekecewaannya.

    Pesan ini ditujukan kepada semua orang yang merasa bahwa ia berhak untuk marah kepada Tuhan!

    Sumber : {http://www.pondokrenungan.com/saksi/evangelism.html}

    e-JEMMi 04/2001

    Sekalipun di Bawah Kolong

    Suatu hari ketika masih kelas 1 SMP, Dewi mendengar orang-orang Kristen menyanyikan lagu puji-pujian di sebuah rumah yang dikunjunginya. Muncul rasa ingin tahunya akan kekristenan. Di sekolah agama lain, ia diajar bahwa ajaran orang Kristen itu salah dan Yesus tidak mati di salib, itu juga menambah rasa ingin tahunya. Ada sebuah ayat yang menarik perhatiannya, yaitu "Kata Yesus: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Dewi mulai rajin membaca Alkitab dan mendapati tentang kasih dan hal-hal yang bertolak belakang dengan apa yang telah diajarkan kepadanya selama ini. Imannya makin teguh, Dewi memutuskan untuk dibaptis sebagai langkah iman penyerahan hidupnya kepada Tuhan.

    Keluarganya belum ada yang tahu kalau ia sudah menjadi Kristen. Setiap kali ke gereja Dewi beralasan pergi ke rumah teman atau jalan-jalan ke kota. Kadang-kadang Dewi masih menjalankan perintah agama sehingga tidak ada yang menaruh curiga kepadanya. Namun, lama-lama hatinya tidak tenang untuk berpijak pada dua tempat yang berbeda. Kebetulan, sekolah Dewi pindah dari Mj ke Mk dan harus tinggal di rumah bibinya. Ia sering bertanya kenapa Dewi tidak pernah menjalankan perintah agama. Dewi merasa tidak nyaman dan ingin bebas menentukan iman percayanya. Untunglah istri pak Kar menawarinya untuk tinggal bersama mereka. Dewi tinggal bersama mereka selama 2 tahun sampai tamat SMP. Ketika akan naik ke SMU, Dewi pindah lagi ke Mj.

    Berita tentang iman barunya makin menyebar di sekolah. Wali kelas dan guru BP memanggilnya ke kantor. Mereka bertanya kepada Dewi, "Mengapa kamu menjadi Kristen? Kristen itukan salah jalannya. Apa kamu diberi uang untuk menjadi Kristen?" Dewi menjawab, "Aku percaya Yesus karena Ia sanggup menyelamatkanku dari api neraka. Yesus mencintaiku. Aku menjadi Kristen karena hati nuraniku, bukan karena uang." Mereka bertanya tentang banyak hal yang menyudutkan kekristenan. Dewi memberikan penjelasan atas setiap pertanyaan yang diajukan. Mereka bertanya, "Bagaimana mungkin Yesus membawa manusia kepada Tuhan?" Dewi menjawab, "Hal itu sangat mungkin terjadi, apalagi di kitab sucinya juga tertulis bahwa Tuhan itu Mahakuasa, sanggup melakukan apa saja. Jadilah maka akan terjadi. Kuasa Allah lebih besar daripada pikiran rasional manusia." Teman-teman perempuannya yang sebenarnya Kristen mengikuti jejaknya. Akhirnya sekolah mengizinkannya untuk tidak mengikuti pelajaran agama lain. Dewi mendapatkan pelajaran agama dari pendeta setempat. Semakin banyak teman sekolah yang mempergunjingkannya. Akhirnya, keluarganya menjadi tahu. Awalnya keluarganya tidak percaya kalau Dewi sudah menjadi Kristen.

    Pada suatu hari, tepatnya hari Minggu sepulang dari gereja, Dewi diseret untuk diinterogasi. Ada dua belas orang menyidangnya di dalam kamar, di antaranya orang tuanya, nenek, bibi, paman, kakak, sepupu, dan tetangga. Dewi mengakui bahwa dirinya sudah menjadi seorang Kristen. Dewi disuruh membaca pengakuan iman dan berserah. Dewi menolak. Mereka berkata, "Kami heran kenapa kamu bisa menjadi Kristen padahal dalam garis keturunan kita tidak ada yang Kristen. Memangnya kamu diberi mobil, rumah, atau harta?" "Tidak, aku percaya Yesus karena Ia menyelamatkanku," katanya. "Mana aku lihat kitabmu" pinta mereka. Sementara itu Dewi berdoa dalam hati. Bibi dan kakaknya menemukan kata Yesus Kristus dan bertanya apa itu artinya. Dewi menjelaskan bahwa Dialah yang menyelamatkannya. Mereka berniat membakar Alkitab itu. Pamannya berkata, "Percuma Alkitabnya dibakar kalau kata-katanya sudah tersimpan di dalam hatinya." Dewi terus disudutkan tetapi ia selalu memberi penjelasan dengan sabar. Ibunya sedikit menyerah dengan berkata, "Ya sudahlah, kalau memang itu kemauannya asalkan dia jangan sampai terjerumus pada hal-hal yang merusak seperti narkoba."

    Malamnya Dewi disidang lagi oleh kakak iparnya yang adalah seorang tokoh agama. Sebuah kata menyakitkan diberikan padanya, "Kami tidak akan mengakuimu lagi sebagai saudara, dan jangan lagi menginjakkan kakimu di rumah ini." Paman dan bibi mengusirnya. Ibunya membela tetapi paman dan bibinya berkata bahwa itu adalah rumah keluarga, mereka berhak mengusirnya. Dewi pun pergi dari rumah dan ditampung lagi di rumah pak Kar. Suatu saat pada hari raya, Dewi datang mengunjungi keluarganya untuk memelihara hubungan kekeluargaan. Bibi dan saudaranya mengajaknya ke dapur. Mereka berkata, "Kamu itu telah mencoreng nama baik keluarga." Dewi menjawab, Aku akan mencoreng nama baik keluarga jika aku mencuri atau melakukan perbuatan yang tidak baik." Mereka berkata bahwa amal perbuatan yang membuat kita masuk surga, demikian juga sering berdoa akan menolong kita saat kita melewati jembatan yang lurus. Dewi berkata, "Bukan 'tempat ibadah' atau gereja yang menyelamatkan kita, tapi Yesuslah yang telah menjadi jembatan itu bagi umat manusia."

    Mereka marah dan menamparnya. Mereka berkata, "Kami ini berusaha membawamu ke jalan yang benar" Dewi berkata, Aku sudah di jalan yang benar". Mereka sudah tidak tahan dan mengusirnya. Dewi berkata bahwa biarpun ia hidup di mana saja yang penting ia dekat dengan Tuhan. "Meski di bawah jembatan?" tanya mereka. "Ya, di kolong jembatan sekalipun," jawabnya. Dengan penuh emosi mereka menyuruhnya membaca pengakuan iman dan ayat-ayat. Dewi menolak. Lalu mereka mengambil air yang telah didoakan dan memaksanya untuk meminumnya. Dewi mau menerima air itu karena Dewi percaya kuasa Tuhan di atas segalanya, lalu Dewi berdoa, "Tuhan, Engkau menyucikan air ini dan kuasa Roh Allah mengatasi kuasa dari doa-doa atas air ini." Mereka marah mendengar doanya, lalu mengambil air lainnya dan memercikkannya ke wajah Dewi sambil komat-kamit. Dewi berdoa lagi, "Biarlah Roh Kudus yang mengurapiku dengan kuasa-Nya." Mereka heran mendengar kata Roh Kudus dan bertanya, apa itu Roh kudus?" Dewi menjelaskan tentang Roh Kudus. Mereka kewalahan dan berkata, "Sudahlah kamu tidak mau diobati. Pergi saja sana." Lalu mereka menampar mukanya sekali lagi. Saking kerasnya, kepalanya membentur dinding. Suasana saat itu sangat heboh sehingga orang-orang yang lewat di depan rumahnya berhenti untuk melihat apa yang sedang terjadi.

    Di sekolah, teman-teman yang mau bergaul dengannya ikut dikucilkan. Suatu saat kepala sekolahnya diganti yang baru. Dewi mengira mungkin ia lebih nasionalis, tapi sebaliknya. Saat upacara bendera, banyak diiringi membaca ayat-ayat dari kitab suci. Di sekolah, teman-teman yang memiliki masalah mulai berdatangan kepadanya untuk meminta nasihat. Dewi menganjurkan mereka untuk berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah yang hidup. Ada juga sebagian teman yang menghindarinya. Beberapa teman mengolok-oloknya dengan kata-kata "haleluya" atau "ada Yesus lewat". Dewi merasa bangga karena mereka menyebut nama Yesus dan berkata haleluya, karena haleluya artinya Puji Tuhan. Kadang-kadang mereka membaca ayat-ayat kitab suci yang spesial digunakan untuk mengusir setan ketika Dewi berada dekat dengan mereka. Dan mereka pun tertawa terbahak-bahak. Teman-temannya makin heran karena Dewi tidak marah dan tetap tersenyum.

    Teman-temannya tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang Yesus dari sisi orang Kristen yang benar. Dewi tahu konsekuensinya, jika pada akhirnya ada yang sentimen berlebihan padanya, ia mungkin akan dikeluarkan dari sekolah. "Saya tidak takut," katanya. Dewi tidak akan berhenti bersaksi tentang kasih Allah karena Dewi ingin semua teman-temannya diselamatkan. Toh, Yesus tidak pernah mengajarkan pemaksaan untuk mengikuti-Nya, atau untuk harus tetap mengikuti-Nya. Sebenarnya Dewi merasa sedih karena jauh dari orang-orang yang dikasihinya, tetapi Dewi tidak mau kehilangan Yesus. Dewi masih bisa bersukacita karena memiliki keluarga baru di dalam Tuhan. Dewi akan terus mencintai Yesus sampai mati. "Tidak ada sesuatu apapun yang bisa memisahkanku dari kasih Kristus. Tidak ada," katanya. Dewi sangat suka perkataan Yesus dalam Yohanes 10:11, "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." Dewi rindu suatu saat nanti semua keluarganya diselamatkan dan hidup dalam kebenaran.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan (KDP), Edisi Juli -- Agustus 2004
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2004
    Halaman : 9 -- 10

    Sekilas Kesaksian Tentang Penginjilan Di Timur Tengah

    Lebih dari 500 Gereja Baru Didirikan Melalui Program Siaran Radio


    Para ahli memperkirakan negara-negara Timur Tengah, dengan total penduduk kurang lebih 280 juta orang yang menggunakan bahasa Arab, hingga sekarang telah memiliki kurang lebih 1500 gereja Injili. Jumlah ini tentu sangat kontras sekali bila dibandingkan dengan negara Swis yang mempunyai 1200 gereja Injili dengan populasi penduduk sebesar 8 juta jiwa, atau Houston, Texas yang memiliki 3.000 gereja Injili untuk 4 juta penduduk. Jumlah gereja Injili di negara-negara Timur Tengah relatif konstan untuk beberapa waktu lamanya karena adanya beragam faktor yang mempersulit perintisan gereja-gereja baru.

    Di awal tahun 1997, sebuah radio misi Swedia, IBRA-Radio, memulai program-program yang ditujukan khusus untuk mengadakan perintisan gereja dengan nama: "Church without Walls" dan "Church in My House". Program tersebut sangat berbeda dari program radio Penginjilan tradisional karena sasarannya tidak hanya untuk satu pendengar saja. Program ini menyajikan instruksi yang diperlukan untuk mengadakan perintisan gereja rumah, termasuk rekaman kebaktian yang menggunakan bahasa Arab dari gereja-gereja rumah. Staf dari stasiun radio tersebut memberikan laporan tentang adanya perkembangan yang sangat pesat: selama 4 tahun terakhir ini telah dirintis berdirinya 500 gereja baru dan sebagian besar diantaranya adalah gereja rumah. Data tersebut diperoleh dari surat- surat pendengar yang melaporkan tentang adanya perintisan sebuah gereja baru. Kami memperkirakan bahwa jumlah penambahan gereja tersebut tidaklah sesuai dengan jumlah sebenarnya karena ada beberapa gereja yang tidak mengumumkan tentang pendiriannya karena alasan keamanan. Di beberapa negara, orang-orang Kristen mengalami penekanan dan penganiayaan yang brutal. Seorang staf dari stasiun radio memperkirakan bahwa mungkin ada 500 gereja rumah yang lain dari jumlah yang telah diketahui yang belum terdata. "Secara statistik, penambahan jumlah gereja ini merupakan perkembangan misionari yang paling penting di Timur Tengah selama 5 tahun terakhir ini," ucap seorang pengamat.

    Penyembuhan dan Mimpi

    Sebuah program radio berbahasa Arab yang berjudul "Sign and Wonders" memiliki jumlah pendengar sebesar jumlah pendengar program "Church in My House." Menurut para moderator radio berbahasa Arab, program tersebut menyiarkan berbagai pengalaman supernatural seperti mimpi, penglihatan dan penyembuhan dengan doa dalam nama Yesus. "Topik tersebut sedang hangat dibicarakan oleh penduduk di daerah kami. Banyak orang dari berbagai penjuru di Timur Tengah menelepon kami dan menceritakan bagaimana mereka memperoleh kesembuhan setelah berdoa dalam nama Yesus," ungkap seorang anggota moderator. "Bahkan banyak penduduk muslim yang sering menelepon kami untuk menceritakan mimpi dan penglihatan mereka tentang Yesus. Mereka ingin sekali tahu apa maksud dari mimpi dan penglihatan tersebut," tambah seorang dari produser radio tersebut.

    Semakin Terbuka Terhadap Injil

    Sebuah desa di Afrika Utara, seluruh penduduknya selalu berkumpul secara teratur untuk mengadakan ibadah. Negara lain di Afrika Utara, jumlah penduduknya yang beragama Kristen hanya 20 orang pada tahun 1996. Namun demikian, pada tahun 1997 ada berbagai faktor yang menyebabkan terjadinya perkembangan di luar dugaan; ada laporan yang menyatakan bahwa sebanyak 200 orang menjadi pengikut Kristus selama dua tahun terakhir ini. Dengan demikian, jumlah penduduk Kristen bertambah 10 kali lipat. Pelayanan radio Kristen jelas ikut memegang peran penting Di Afrika Utara.

    Penayangan Program Kristen di TV

    Penelitian yang telah dilakukan pada 180,000 keluarga di negara- negara lain menyatakan bahwa ada lebih dari 25% populasi Muslim yang tertarik untuk berbicara mengenai kekristenan -- jika ada orang-orang Kristen yang bersedia mengunjungi mereka. Namun demikian, kondisi sosial dan tekanan agama telah menghalangi niat orang-orang Islam yang tertarik terhadap kekristenan tersebut untuk dapat masuk ke gereja. Sebaliknya, orang-orang Kristen yang ada juga enggan berbicara dengan para Muslim karena takut akan adanya usaha infiltrasi terhadap gereja seperti yang pernah dilakukan di masa lalu. "Cara paling sederhana agar Injil dapat menjangkau keluarga Muslim adalah melalui radio," ucap seorang staff radio. Strategi pendekatan dengan menggunakan radio, untuk mengadakan perintisan gereja-gereja di Timur Tengah, akhir-akhir ini semakin efektif sehingga agen misi merencanakan akan menggunakan transmisi yang lebih bagus lagi sesegera mungkin setelah keuangan mencukupi. Akhir-akhir ini mereka juga memulai siaran dengan menggunakan bahasa Arab tentang program perintisan gereja rumah melalui satelit TV, hingga sekarang telah ada 26 program siaran yang dipancarkan. "Hal ini tidaklah mudah, dan membutuhkan banyak dukungan doa dan juga pergumulan pribadi," kata seorang aktor Arab yang beragama Kristen. "Kami tidak tahu apa yang akan menimpa diri kami jika wajah-wajah kami ditayangkan melalui televisi ke seluruh penjuru Timur Tengah. Tetapi, kami juga tahu bahwa harus ada seseorang yang berani membayar harga dengan menayangkan wajah kami di televisi. Kami sadar bahwa hanya Yesus Kristuslah yang sebenarnya memiliki kuasa atas politik dan agama, dengan demikian kami hanya menjalankan apa yang diijinkan oleh "Sang Penguasa".


    Sumber: FridayFax, November 2, 2001

    Selamat dari Perbudakan

    Pertama mereka mendengar suara mesin motor di dekat rumah mereka. Sementara S dan ibunya, MR, melihat orang yang bersepeda motor tersebut memacu motornya menyeberangi lapangan. Itu adalah M. M mendekati mereka dan turun dari sepeda motor. M menembakkan senjata pistolnya ke udara dan mendorong MR hingga jatuh ke tanah. Ia memukul S dan menyeretnya ke sepeda motor, memaksanya duduk di depannya. "Jika kamu bersuara, aku akan menembakmu," katanya, sambil mendorong ujung pistolnya di punggung S. MR berusaha mencegahnya, tetapi tidak mampu karena M mencekiknya. M melepaskan cekikannya dan memacu motornya. Ia membawa S ke rumahnya. Di dalam rumah ini, ia menjebloskan gadis ini ke dalam sebuah kamar yang hanya dilengkapi dengan sebuah tikar di lantai. Kamar ini akan menjadi penjaranya dan ruang penyiksaan selama empat bulan setelah hari itu.

    Sejarah Penganiayaan

    Orang-orang Kristen Pakistan seperti S diperlakukan lebih buruk daripada warga negara kelas dua. Mereka disebut "chora," yang artinya "tukang sapu kasta terendah." Mereka adalah orang-orang yang menjalani pekerjaan yang tidak dikehendaki. Pengadilan, polisi, dan pihak yang berwenang seringkali berprasangka buruk terhadap orang-orang Kristen, yang berjumlah hanya 2 persen dari populasi Pakistan. Hukum agama sedang diterapkan makin mendalam. Hukum ini mengizinkan kekerasan terhadap orang-orang Kristen atau mereka yang berkeyakinan lain. Hukum itu juga mengizinkan membunuh orang-orang "agama lain" yang meninggalkan agamanya. Oleh karena itu, penculikan dan penyerangan S pada bulan September 2007 bukanlah suatu hal yang luar biasa.

    Sekarang S berusia 20 tahun. Ia tumbuh di dalam keluarga Kristen dan dibaptis pada tahun 2002. Ayahnya meninggal pada tahun 1990 dan keluarganya -- ibu, saudari, dan kedua saudaranya berjuang untuk hidup. Kakak laki-lakinya, R, bekerja di sebuah pabrik kapas untuk menyokong pendidikan S. R memimpin saudara kembar dan ibunya berdoa setiap malam. R membela orang-orang Kristen di komunitas mereka. Ia terang-terangan menentang orang-orang "agama lain" yang menyiksa gadis-gadis Kristen. Mereka mengancam untuk membunuhnya. Suatu kali beberapa remaja dengan sebuah pistol menghentikan perjalanannya saat ia melalui ladang tebu tetapi ia berhasil meloloskan diri.

    Pada tanggal 3 Juli 2004, tiga orang pria "agama lain" yang merupakan teman R datang untuk berbicara dengannya. Ia keluar dan duduk bersama mereka di bawah pohon mangga. Mereka memberinya minuman yang sudah dicampur dengan pil tidur, dan R tertidur. Salah seorang dari mereka menembak kepala R, membunuhnya saat itu juga. Ketiga pria lain membuang mayatnya di alang-alang di samping jalan besar. Seseorang yang lewat menemukan mayatnya keesokan paginya.

    Berseru Kepada Tuhan

    Keluarga R saat itu hancur. Mereka telah kehilangan pemimpin spiritual mereka dan yang menafkahi mereka. S marah. "Aku ingin melihat para pembunuh itu di balik jeruji besi," katanya. Untuk mencari keadilan S sudah pasti akan membayar harga yang mahal. Orang-orang di Pakistan mendanai kejahatan penganiayaan terhadap orang-orang Kristen. Pejabat yang korup meminta uang untuk melakukan segala hal. Keluarga menjual rumah, ternak, dan tanah mereka demi uang untuk membayar proses kasus peradilan pembunuhan R oleh tiga orang pria tersebut. Setelah dua tahun, keluarga kehabisan uang. Pihak pengadilan mengatakan kepada mereka bahwa kasus mereka akan dihentikan jika mereka tidak dapat membayar.

    Lalu datanglah si M. Pada awal perkenalan, M layaknya seorang pahlawan. Walaupun ia "beragama lain", ia berjanji untuk menolong keluarga ini melalui kasus ini. Ia mengatakan bahwa ia mengenal pejabat negara yang akan menolong mereka. M memberikan S beberapa dokumen seraya mengatakan kepadanya bahwa berkas dokumen tersebut adalah untuk kasus pembunuhan kakaknya. Beberapa bulan kemudian, S dan keluarganya mendengar rumor yang beredar di desanya bahwa ia dan M telah menikah. Ternyata M menggunakan tanda tangan S untuk memalsukan sertifikat nikah. Para pemimpin desa menekan M hingga ia akhirnya menandatangani persetujuan perceraian. Tiga hari kemudian, pada tanggal 25 September 2007, M mengendarai sepeda motornya dan menculik S di bawah ancaman pistolnya.

    "Pindah Agama atau Mati"

    M menyekap S di lantai paling atas dari rumah bertingkat dua di balik dua pintu yang terkunci. Setiap malam ia berkali-kali melecehkan S. Terkadang ia juga datang pada siang hari untuk melecehkannya. Setelah itu, ia memukuli S. Ia meninju S, menamparnya, dan menghantamkan kepalanya ke tembok. Sementara M menyiksanya, S terus berdoa, berseru kepada Tuhan untuk menyelamatkannya. "Aku terus mengucapkan Mazmur 23, 120, dan 121 di dalam hatiku. Ayat-ayat itu menguatkanku bahwa Tuhan adalah

    benar-benar gembalaku, dan Ia akan membebaskanku segera. Oleh karena itu akan mendapatkan kekuatan," katanya. M berkata kepadanya, "Jika kamu berpindah agama, aku akan berhenti memukulimu." Tetapi S tetap teguh, dengan berkata kepadanya, "Kristen adalah agamaku, bukan 'agama lain'. Aku adalah seorang Kristen, dan jika kamu mau membunuhku maka bunuhlah aku, tetapi aku tidak akan masuk 'agama lain'."

    "Setiap hari, aku memerhatikan pintu," kata S. Setelah empat bulan dalam penyekapan, pada 11 Januari 2008, M lupa mengunci pintu. S menyelinap keluar dan melarikan diri ke rumah keluarganya yang meneteskan air mata sukacita atas kepulangannya.

    Memercayai Keadilan Tuhan

    Walaupun mereka kembali berkumpul, keluarga dalam keadaan yang sulit. Mereka meminjam uang dalam jumlah besar, sekitar 2 juta rupiah dari pemilik usaha pembuatan batu bata untuk mengajukan kasus penyekapan oleh M kepada pihak yang berwajib. Untuk membayar hutang itu, semua anggota keluarga bekerja sebagai budak (berdasarkan perjanjian dengan majikan) di tempat pembuatan batu bata. Di tempat-tempat inilah, banyak orang-orang Kristen Pakistan, seperti S, diperbudak oleh hutang mereka kepada pengutang yang kaya. Mereka bekerja membanting tulang di tempat ini, membuat batu bata dengan tangan mereka. Semua 11 orang anggota keluarga S tinggal di kompleks tempat pembuatan batu bata di sebuah rumah kecil tanah liat tanpa ada dapur dan kamar mandi. Mereka bekerja 12 jam per hari. Untuk setiap 1000 batu bata yang mereka buat, mereka mendapat upah Rp 30.000. Bahkan keponakan S yang masih kecil terpaksa ikut bekerja.

    Iman dalam Tuhan menguatkan keluarga ini. "Setiap hari di waktu malam kami mengadakan persekutuan doa di rumah dengan keluargaku. Aku merasa kuat di dalam imanku ketika kami membaca firman Tuhan," kata S. Setiap Kamis mereka menghadiri persekutuan doa di Gereja Apostolik Baru.

    Alkitab membantu memulihkan pikiran S juga. Ia berkata pada perwakilan kami, "Sebelumnya, ketika aku berusaha membawa para pembunuh kakak saya dan orang yang memperkosa aku ke meja hijau, aku sulit mengampuni mereka. Aku ingin membalas dendam. Lalu aku membaca dan mendengar di dalam firman Allah bahwa kita harus mengampuni mereka yang menganiaya kita. Itu adalah hal yang sulit bagiku -- untuk mengampuni mereka. Aku memerlukan waktu sekitar setahun untuk melupakan dan memaafkan mereka. Sekarang, aku telah mengampuni mereka yang menganiaya aku. Tuhan dapat melakukan apa pun. Ia akan menegakkan keadilan bagiku."

    Dibebaskan dari Perbudakan

    Perwakilan kami di Pakistan mendengar kisah S dan mewawancarainya pada bulan Juli 2008. Satu bulan kemudian perwakilan kami membayar hutang keluarga tersebut sekitar Rp 2 juta kepada pemilik usaha pembuatan batu bata. Perwakilan kami juga membelikan sebuah becak, yang akan digunakan keluarga ini untuk memulai bisnis transportasi. Adik laki-laki S, ML, akan mengantar penumpang dari desa ke halte bis. Ia mengharapkan mendapat pemasukan sekitar Rp 500.000 per bulan, yang akan cukup untuk membayar biaya makan dan kebutuhan hidup keluarga. "Doa adalah segalanya bagi kami," kata S kepada perwakilan kami. "Kakakku R selalu mendorong aku untuk berdoa. Ia berkata kita harus berdoa kepada Allah di dalam setiap keadaan. Keluargaku dan aku telah mengalami pengalaman yang luar biasa melalui semua ini bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umat-Nya. Sungguh ini adalah jawaban dari doa." Perwakilan kami dan keluarga S bersama-sama berdoa mengucap syukur.

    S ingin melanjutkan pendidikannya dan ingin menjadi seorang dokter suatu hari nanti. Perwakilan kami akan membayar biaya sekolahnya di Sekolah Pemerintah Khusus Perempuan. "Kami merasa ini adalah suatu kehormatan yang besar dan berkat dari Tuhan bahwa Ia memakai kami untuk kemuliaan-Nya," tulis perwakilan kami di Pakistan setelah ia bertemu dengan S. Ia juga baru saja menolong 11 keluarga Kristen lainnya dari perbudakan pembuatan batu bata. Keluarga S sudah mulai mengadakan persekutuan doa untuk teman-teman dan tetangga di rumah mereka, dan S ingin memulai pelayanan sekolah minggu. "Adalah keinginanku bahwa aku bisa berkhotbah dan mengajar tentang Yesus Kristus di antara orang-orang dan anak-anak desa kami, sehingga mereka juga dapat mengabarkan firman Tuhan dan hidup dengan iman yang kuat seperti aku."

    Perwakilan kami di Pakistan menerima sebuah surat terima kasih dari S atas pertolongan yang diberikan. Ia menulis, "Aku bersyukur kepada Tuhan yang memberikanku hidup baru. Ia menyelamatkan aku dari semua masalah. Keluargaku dan aku sangat mengasihi Allah, dan kami rindu semua orang di desaku berkumpul dan berdoa bersama. Kami akan mengabarkan firman Tuhan di mana pun di bagian dunia ini." Mari ingatlah S dan orang-orang yang hidup seperti mereka -- menderita karena iman mereka di Pakistan. Marilah kita semua berseru memohon pertolongan Tuhan untuk menjaga dan memberi kekuatan kepada mereka.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, edisi Mei -- Juni 2009
    Penulis : tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
    Halaman : 3 -- 5

    e-JEMMi 08/2010



    Semangat yang Luar Biasa

    Sama seperti anak-anak yang berusia tiga belas tahun lainnya, dunia Elina berputar di antara teman-temannya, baik di sekolah maupun di desa tempatnya tinggal, yang terletak 120 km dari ibu kota Bangladesh.

    Di sekolah, ia juga mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan, salah satunya adalah ketika teman-temannya mengejeknya karena ia adalah pengikut Kristus dan satu-satunya orang Kristen di sekolah. Bahkan, teman-teman di kampungnya juga mengejeknya karena ia adalah pengikut Kristus. "Anak laki-laki sering menggunakan kata-kata kotor untuk memojokkannya, mereka juga mengejek kekristenan dan budaya barat," demikian disampaikan ayah Elina.

    Lama-lama, keluarga Elina menjadi terbiasa akan hal ini, khususnya ayah Elina, Pendeta MD yang memimpin Gereja United Bethany. Ia sangat dikenal dengan dedikasinya dalam penginjilan. Suatu ketika, mereka benar-benar merasa terganggu hingga merencanakan untuk menuntut orang-orang yang sudah memojokkan mereka, tetapi akhirnya Pendeta MD menghapus pikiran tersebut. Ia sadar itu akan memerburuk keadaan, lama-lama mungkin mereka akan lelah, begitu pikirnya. Tetapi orang-orang itu tidak pernah lelah memojokkan keluarganya.

    Peristiwa yang Memilukan

    Pada suatu ketika, hari Jumat tanggal 2 Mei pukul tiga pagi, Elina terbangun dan pergi ke toilet umum yang letaknya beberapa langkah dari rumah mereka. Di luar rumah, ia mencoba mengatur langkahnya dalam kegelapan, tapi tidak menyadari apa yang sedang bergegas menuju kepadanya.

    Lima orang pemuda keluar dari semak dan menarik Elina. Ia mencoba melawan sekuat mungkin, tetapi kelima pemuda itu terlalu kuat baginya. Mereka menyeret Elina sejauh empat ratus meter ke tempat gelap dan secara bergantian melecehkannya. Setelah mereka selesai melakukan perbuatan asusila terhadap Elina, mereka menggotong Elina yang setengah tak sadarkan diri dan mencampakkannya di depan rumahnya. Dengan rasa sakit yang luar biasa, Elina mencoba membuka kain yang menutup mulutnya, dan setelah berhasil, ia berteriak minta pertolongan. Ayah Elina langsung keluar dan melihat kelima pemuda tadi sudah menghilang dalam kegelapan malam.

    Berdiri Teguh

    Pada hari yang sama, Pendeta MD pergi ke kantor polisi untuk melaporkan peristiwa yang telah menimpa putrinya. Reaksi pertama yang diterimanya dari pihak aparat adalah: "Tunjukkan dulu uang yang kau punya."

    Namun, surat kabar lokal segera meliput berita tentang Elina dan mengutuk kejahatan yang dilakukan lima pemuda yang telah menodai Elina. Kepala sekolah Elina mengirim surat permohonan kepada kepala polisi untuk menangkap pelaku kejahatan itu dan menghukum mereka.

    Akhirnya, kasus Elina ditangani dengan serius. Elina dapat mengidentifikasi pemuda-pemuda yang menyerangnya. Polisi berhasil menangkap salah seorang pelaku, sementara pelaku lain masih dalam pencarian.

    Pendeta MD dan keluarganya pindah ke rumah seorang teman keesokan harinya, Sabtu, 3 Mei. Elina menderita trauma dan memilih untuk tetap tinggal dalam rumah. Ancaman terus ditujukan pada keluarga ini, tapi pendeta MD mengatakan dengan tegas, "Saya sudah mati pada hari mereka menyerang Elina."

    Women to Women

    Ketika membaca kesaksian Elina, pertanyaan yang terlintas adalah: "Bagaimana perasaan ibunya? Apa yang dapat dilakukannya?" Apa yang Anda lakukan jika Anda adalah ibu Elina? Kisah Elina kembali mengingatkan kita akan kerasnya tantangan yang dihadapi gereja yang teraniaya. Lawan-lawan kita mengaum seperti singa yang mencari siapa yang dapat diterkamnya. Ketika umat Tuhan tetap teguh, lawan-lawan kita mencari titik kelemahan dan menyerang kita tepat di titik tersebut.

    Seorang perempuan yang mengikuti Women to Women di Manila bersaksi, kisah Elina membuatnya teringat pada putri kandungnya yang dilecehkan oleh ayahnya sendiri. Tetapi Elina dilecehkan dan dianiaya karena ia adalah pengikut Kristus. Karena itu, sakit yang dialami oleh dua keluarga ini sedikit berbeda. Yang menjadi target serangan sebetulnya bukan Elina, tetapi Tuhan yang ada dalam Elina.

    Maukah Anda, bersama rekan-rekan dalam persekutuan doa atau di tengah keluarga, berdoa bagi Elina, agar ia dipulihkan?

    "Underground"

    Hari-hari ini, kaum muda berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan di tengah komunitas mereka. Karena itu, mereka bekerja keras untuk mengejar 5 C (Career, Credit Card, Condominium, Club, Car, dan Credentials).

    Masih ingatkah Anda saat Anda berusia tiga belas tahun seperti Elina? Bukankah mimpi dan ambisi Anda begitu besar? Setiap anak-anak muda berkesempatan untuk menjadi sukses, meskipun untuk meraih impian dan menjadi sukses sering kali harus melewati berbagai rintangan dan tantangan yang tidak mudah. Tapi tantangan yang Anda hadapi mungkin tidak sesulit tantangan yang dihadapi Elina pada hari Jumat itu.

    Elina pasti sangat terpukul dan gemetar menghadapi peristiwa itu, tapi semangat yang ditunjukkannya untuk tetap berdiri teguh bagi Yesus hari lepas hari di desanya, di sekolahnya, adalah semangat luar biasa yang tidak diketahui banyak kaum muda saat ini.

    Maukah Anda, bersama teman-teman Anda di gereja atau di sekolah Anda, berdoa bagi Elina, agar Tuhan senantiasa melindungi dan menjaga Elina dan keluarganya? Hingga saat ini, mereka masih terus diancam akan dibunuh. Berdoalah bagi yayasan Shalom yang melayani keluarga ini dan tengah menolong mereka dalam kasus Elina.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama buletin : Open Doors, Edisi Juli -- Agustus, Volume 18, No. 4
    Judul artikel : Semangat yang Luar Biasa
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Open Doors, Jakarta 2008
    Halaman : 10 -- 11

    e-JEMMi 42/2008

    Seorang Anak Irak Membayangkan Yesus Seperti Sebuah Jubah Spesial

    "Tuhan selalu bersama kami tidak ada yang perlu dikhawatirkan, itulah pesan ayah padaku."

    Aku selalu berkhayal memiliki sebuah jubah spesial, seperti yang dimiliki oleh Superman, dan kupakai sambil berlari keluar masuk kamar adikku. Jubah itu berwarna emas dengan paduan warna merah, persis seperti gorden di ruang makan kami. Aku berimajinasi seolah-olah aku adalah pelindung kerajaan, dan adikku sebagai putri yang harus dilindungi -- ya, saat dia sedang tidak membuatku kesal.

    Biasanya aku bermain di luar rumah, namun ketika sedang ada perang, kami terpaksa harus bermain di dalam rumah sepanjang hari. Kalau kami mau bepergian, kami menggunakan mobil, tetapi pertama-tama aku membantu ayahku dulu untuk memeriksa bagian bawah mobil, kalau-kalau terpasang bom. Kemudian, kami memeriksa sekeliling rumah. Semua orang selalu khawatir saat mau bepergian, meski hanya untuk jarak dekat di dalam kota. Kami memunyai beberapa tas yang berisikan barang-barang penting, untuk jaga-jaga apabila sewaktu-waktu kami harus pergi melarikan diri di tengah malam. Belum terpikirkan, apakah mainan-mainanku masih akan muat di dalam tas-tas itu.

    Dulu kami selalu pergi ke gereja, tapi sekarang tidak lagi setelah apa yang terjadi (ketika Gereja Katolik Suriah di Baghdad dibom pada tanggal 31 Oktober 2010). Sungguh, itu adalah hal yang sangat menyedihkan yang terjadi di gereja kami, dan aku kehilangan banyak teman. Mereka terbunuh. Aku tidak melihatnya secara langsung, tapi aku banyak mendengar cerita tentang itu. Aku rasa semuanya tidak akan sama lagi seperti sebelumnya, dan aku pikir aku perlu mengemban peran sebagai pelindung dan penjaga.

    Apa artinya ini bagi kami? Apakah kami akan aman ataukah kami pun akan ikut terbunuh? Bagaimana kalau suatu hari ayah tidak pulang ke rumah? Siapa yang akan menjaga ibu dan adikku? Akulah yang bertanggung jawab menjaga mereka. Kalau aku punya jubah spesial itu, aku akan mampu melindungi mereka.

    Suatu malam sebelum adikku pergi tidur, orang tuaku berdoa bersamanya. Sebenarnya, dia punya banyak hal yang ingin dikatakan kepada Tuhan. Aku tidak selalu punya banyak hal untuk dikatakan dalam doa; aku hanya memikirkannya dan kadang-kadang berdoa pada Tuhan di dalam pikiranku. Saat ini aku dapat mendengar adikku berdoa. Dia berdoa, "Tuhan, tolonglah supaya mereka tidak mengebom gereja-gereja yang lain dan supaya tidak ada bom-bom mobil; hentikanlah pembunuhan." Dia menjadi sangat ketakutan sejak terjadinya pemboman di gereja. Ibuku sering berdoa untuknya di malam hari karena adikku sering mengalami mimpi buruk sejak itu. Aku pun berdoa untuknya.

    Kemudian, ayah akan datang padaku dan berdoa untukku. Dia selalu berpesan bahwa Yesus akan menjaga keluarga kami, dan aku tak perlu merasa khawatir. Ayah berkata bahwa Tuhan bahkan mengasihi orang-orang yang menyakiti kami. "Karena Yesus adalah kasih -- dan itulah jubah spesialmu," katanya.

    Diambil dari:

    Judul buletin : Frontline Faith, Edisi Maret-April 2011
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Halaman : 6

    e-JEMMi 35/2012

    Seorang Guru dan Traktat yang Dibagikannya

    Mary sedang dalam masalah. Selama bertahun-tahun, dalam berbagai kesempatan ia membagikan traktat yang disimpan di mejanya kepada setiap murid yang mengikuti kelasnya. Seorang pengacara yang duduk dalam dewan sekolah mengusulkan agar Mary dipecat karena kesaksiannya sebagai orang Kristen yang terlalu berlebihan. Ketika pengacara ini terpilih menjadi pimpinan dewan sekolah, dia semakin gencar mengusulkan pemecatan Mary.

    Bergumul menghadapi permasalahan tersebut, akhirnya Mary bisa mempertahankan pekerjaannya sebagai guru di sekolah itu. Ada peristiwa aneh yang terjadi. Setiap anggota dewan sekolah yang menghendaki pemecatannya, satu per satu dikeluarkan dari dewan sekolah karena melakukan kesalahan, termasuk pengacara yang menjadi pimpinan sekolah. Sebelum meninggalkan sekolah itu, pengacara itu masih mengancam bahwa suatu hari dia akan merusak kehidupan Mary dan anak-anaknya tidak akan pernah diijinkan untuk mengikuti kelas Mary.

    Beberapa bulan berlalu. Suatu ketika Mary menghadiri pemakaman dari seorang murid di sekolahnya. Mary datang terlambat, tapi ia berhasil mendapatkan tempat duduk di sebelah ... pengacara yang membencinya! Meskipun merasa tidak nyaman, Mary terdorong untuk memberikan sebuah traktat yang selalu tersedia dalam dompetnya. Traktat tersebut ditulis oleh seorang pengacara Kristen.

    Waktu berlalu. Pada permulaan semester baru, anak gadis pengacara yang membenci Mary, mendaftar di kelas Mary. Lalu Mary mengatakan padanya bahwa dia seharusnya mendaftar di kelas lain seperti yang diinginkan ayahnya. Sambil tersenyum lebar, anak gadis itu berkata bahwa hal itu tidak penting lagi. Ayahnya telah menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya pribadi karena kesaksian iman Mary, dan juga karena traktat yang diberikan Mary saat mereka bertemu di pemakaman.

    Sumber: Situs American Tract Society
    ==> http://www.atstracts.org/stories/

    e-JEMMi 21/2004

    Seorang Mantan Ateis

    Aku tumbuh dalam keluarga non-Kristen. Ayahku adalah seorang ateis dan ibuku adalah orang Kristen yang telah berpaling dari Tuhan -- kurasa karena ia menikahi Ayah. Bagaimanapun, aku tumbuh sebagai seorang ateis. Aku tidak pernah pergi ke gereja atau sekolah minggu, tidur sampai jam makan siang pada hari Minggu, dan membenci semua orang Kristen yang kuanggap bodoh.

    Saat remaja, aku mengalami masa-masa sulit karena beberapa masalah yang tidak akan kuceritakan -- karena akan membuat Anda bosan -- dan aku berpikir bahwa hidup akan lebih mudah dijalani jika aku membuang semua perasaan dan memutuskan hubungan dengan orang lain. Saat itu aku berusia sebelas tahun.

    Aku menghabiskan sepuluh tahun masa hidupku untuk mencapai apa yang kupikirkan itu dan juga mencoba untuk mencari arti hidup. Aku melalui masa-masa iseng, di mana aku menjadi sangat fanatik pada suatu subjek, dan kemudian melupakannya saat aku menyadari bahwa subjek itu tidak dapat mengenyangkan rasa lapar jiwaku. Aku tidak memiliki banyak teman di sekolah, dan orang-orang yang berhubungan denganku menganggapku sebagai sumber bencana.

    Aku berhenti sekolah setelah tidak lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan kemudian mendapat pekerjaan sebagai teknisi kimia di Departemen Penelitian Ilmiah dan Industri New Zealand (New Zealand Department of Scientific and Industrial Research). Karena telah memiliki penghasilan, aku pergi dari rumah dan tinggal di sebuah rumah seorang diri. Aku pergi bekerja dan bersekolah malam di sebuah politeknik setempat di mana aku tidak bicara dengan siapa pun. Tujuanku telah tercapai -- hidupku hampa dari segala emosi dan kontak berarti dengan orang lain. Menyebalkan.

    Tahun kedua bersekolah malam, aku memerhatikan ada seorang pria di kelas yang mencoba untuk berbicara denganku. Sebenarnya ia telah mencoba berbicara denganku tahun lalu, namun hidupku terlalu kacau untuk memerhatikannya. Untungnya ia adalah tipe orang yang penyabar. Ia adalah orang Kristen, dan ia mengundangku untuk bersama-sama menginjili. Aku hampir memukulnya. Setelah itu, ia hanya mencoba untuk menjadi teman dan tak lagi membicarakan soal penginjilan.

    Saat aku mulai memercayainya, kami mulai mengobrol tentang hidup dan hal-hal semacamnya. Aku menyadari bahwa segala hal tentang orang Kristen yang dikatakan padaku saat bertumbuh dewasa, tidaklah benar. Aku mulai bertanya kepadanya tentang imannya, dan ia pun menjawab -- jawaban yang tak mendesakku untuk menjadi Kristen.

    Setelah beberapa tahun, aku menyadari bahwa pandangannya lebih masuk akal daripada pandanganku. Aku mulai membaca Alkitab yang ia berikan, dan suatu malam saat aku sendirian di kamar, aku menyadari bahwa firman Tuhan itu benar, dan aku adalah orang terbodoh di dunia. Aku bersujud dan memohon agar Tuhan berkuasa atas hidupku.

    Ibuku telah kembali menjadi Kristen sehingga keluargaku terbagi menjadi dua kubu; Ibu dan aku adalah Kristen, sedang Ayah dan saudaraku ateis. Menjadi Kristen memang tidak menyelesaikan masalahku, tapi hal itu membantuku memahami masalah dan membuka jalan untuk Tuhan mulai memulihkanku dari masa laluku.

    Setelah beberapa tahun, aku mulai belajar di sekolah Alkitab pada malam hari untuk belajar lebih lagi mengenai Tuhan. Aku belajar di sana selama dua tahun, namun kemudian aku merasa terlalu berat untuk bekerja, belajar Alkitab saat malam, dan melayani di gereja dan departemen pemudanya pada saat bersamaan. Aku keluar dari pelayanan di gereja selama beberapa bulan dan gagal dalam salah satu mata pelajaran di sekolah Alkitab. Aku ingin memakai hidupku ini untuk melakukan sesuatu bagi Tuhan, tapi tidak tahu akan melakukan apa.

    Setelah perjuangan yang cukup lama dan pencarian jati diri, aku berhenti kerja dan melamar sebagai anggota medis pemuda di gerejaku. Aku beralih dari mengejar gelar diploma teologi ke gelar diploma pelayanan medis, yang lebih banyak praktiknya. Aku mencoba untuk tidak terlalu fokus belajar mengenai Tuhan dan lebih fokus untuk mengikut Tuhan. Sejauh ini, aku menikmatinya, namun aku tahu bahwa mengikut Tuhan adalah perjalanan seumur hidup. Perjalananku masih panjang.

    Menurutku, temanku saat di politeknik itu adalah penginjil terhebat yang pernah kutemui. Ia tidak pernah sekolah Alkitab atau mengikuti pelatihan Alkitab resmi, dan ia juga berkata bahwa aku jauh lebih mengerti tentang teologi daripada dia. Namun, ia memiliki kasih terhadap Tuhan yang membuatku masih terkesima hingga kini. (t/Dian)

    Diterjemahkan dari:

    Nama Situs : Darkness to Light
    Penulis : Darren "Daz" Gedye
    Alamat URL : http://www.dtl.org/salvation/article/testimony/ex-atheist.htm

    e-JEMMi 03/2008

    Sepupu Sedang Bekerja Keras di Antara Orang Hitam Afrika

    Sejak tahun 2002, selain mengajar di Sekolah Alkitab di Cape Town, Afrika Selatan dan bertandang ke rumah beberapa teman orang Melayu di Cape Town -- nenek moyang mereka berasal dari Indonesia dan datang ke Afrika tiga setengah abad lalu -- Tuhan memimpin saya untuk masuk ke kampus-kampus juga. Di sana saya bekerja sama dengan beberapa organisasi mahasiswa Kristen yang melayani di kampus, seperti PERKANTAS di Indonesia.

    Saya senang berada di antara para mahasiswa, ngobrol dengan mereka, memberi "kuping lebar-lebar" untuk mendengarkan pergumulan mereka serta dengan jeli berusaha menangkap "kata kunci" dari percakapan itu, agar dengan kata kunci itu obrolan bisa dikembangkan ke arah yang lebih terfokus: ...bahwa hanya dengan takut akan Tuhan, kita akan beroleh hikmat dan pengetahuan yang bermanfat untuk kerajaan Allah.

    Tidak jarang pembicaraan menjadi macet, sampai kepada nama yang ajaib Tuhan Yesus Kristus, sehingga harus dengan halus lagi melanjutkan obrolan tersebut, jika sang mahasiswa masih sudi mendengar. Jika dia kelihatan tidak tertarik lagi, tidak boleh dipaksakan dengan topik yang sama, tetapi dicoba dengan topik lain untuk menjembatani komunikasi.

    SAKILE MENJADI ABDULLAH

    Mahasiswa yang paling banyak bergabung dengan "PERKANTAS" kami, tempat saya terlibat, adalah para mahasiswa berkulit hitam Afrika. Tadinya saya mengharapkan lebih banyak bertemu dengan kulit sawo matang yang disebut Coloured (baca: kalet) karena mereka inilah yang pada umumnya beragama sepupu. Tetapi ternyata mereka tidak mau bergabung dengan para mahasiswa yang berkulit hitam. Saya bertanya pada Tuhan, mengapa Tuhan hanya memperhadapkan saya kepada mahasiswa berkulit hitam, yang menurut saya adalah orang Kristen? Saya mau mencari mereka yang terhilang.

    Suatu hari Tuhan menjawab doa tersebut. Ketika itu saya memimpin sebuah seminar tentang perkembangan sepupu melalui dunia kampus, politik, dan ekonomi. Pada akhir seminar, saya menantang mahasiswa untuk melihat kenyataan apa yang sedang terjadi di komunitas tempat tinggal mereka.

    Beberapa mahasiswa kemudian datang kepada saya menceritakan bahwa di permukiman mereka telah terjadi pengubahan agama melalui pemberian beasiswa dan bantuan makanan. Setiap orang yang menerima pertolongan ini, harus menandatangani penggantian nama menjadi nama-nama yang lazimnya digunakan oleh nama-nama sepupu. Sakile menjadi Abdullah, Lindiwe menjadi Khadizah, dan sebagainya. Melalui daftar nama-nama baru ini, akhirnya saudara sepupu kita ini berhak mendirikan tempat ibadah mereka di permukiman tersebut. Demikianlah strategi mereka untuk merebut orang-orang kulit hitam di Afrika Selatan. Selain itu, juga melalui pernikahan dengan sepupu dari latar belakang negara- negara Afrika lainnya yang merantau ke sini. Melalui kenyataan ini, saya semakin dikuatkan untuk meningkatkan pelayanan pemahaman Alkitab di antara mahasiswa berkulit hitam.

    TERLALU TUA MENJADI MAHASISWA

    Pengalaman yang sering kali tidak enak ialah ketika mahasiswa yang baru saya dekati bertanya, "Siapa Anda? Apa yang Anda kerjakan di sini?" Mereka bertanya ini karena saya kadang berbicara dengan bahasa mahasiswa, tetapi wajah dan penampilan saya sudah terlalu tua untuk setara dengan mereka. Kemudian arah percakapan yang sering kali saya arahkan selalu ke arah yang serius dan religius. "Kamu siapa dan apa pekerjaanmu?" Sungguh tidak gampang. Jika berterus terang tentang "pekerjaan", tembok pemisah akan segera berdiri. Jika saya berkata saya sedang belajar,... ya, tetapi saya bukan mahasiswa. Lalu saya ini siapa? Inilah yang sering menggelitik di hati.

    Tuhan kemudian membuka jalan. Tahun ini saya boleh mendaftar sebagai mahasiswa. Kehadiran saya dengan status baru di kampus kali ini membuat saya menjadi lebih percaya diri untuk bertemu dengan mahasiswa yang belum saya kenal. Jika mereka bertanya, "Kamu siapa dan sedang apa?" jawaban saya, "Saya mahasiswa". Mereka langsung berkata, "Kamu mahasiswa pasca sarjana?" Melalui pintu ini, jalan pun terbuka bagi saya sebagai mahasiswa senior yang membimbing mahasiswa yunior. Komunikasi menjadi lebih aman dan lancar.

    Membagi waktu dengan keluarga dan tantangan keuangan yang meningkat, itulah yang menjadi pokok doa. Terima kasih atas dukungan doa yang saya dan keluarga butuhkan.

    Bahan diambil dan diedit dari sumber:

    Judul buletin: Buletin Terang Lintas Budaya, Edisi 65/2006
    Penerbit : YPI Indonesia
    Halaman : 3
    Situs : http://www.wec-indo.org/

    e-JEMMi 39/2006

    Siaran "Gospel For Asia" Di India

    Ada seorang yang bernama Tularam. Dia tinggal di Himachal Pradesh, sebuah wilayah di India yang jarang menerima berita keselamatan. Itulah sebabnya banyak penduduk di sana yang belum mengenal Allah. Tetapi semuanya itu berubah saat Tularam menghidupkan radionya yang kebetulan sedang menyiarkan siaran dari "Gospel for Asia" (GFA). Saat itulah, untuk pertama kali dalam hidupnya, Tularam mendengar tentang Yesus, sang Juruselamat dunia. Saat Tularam men-sharingkan-kan pengenalannya tentang Yesus kepada para penduduk desa, ternyata mereka juga ingin mendengarkan program siaran GFA. Ini merupakan mujizat, karena penduduk desa Himachal Pradesh terkenal dengan kesetiaan mereka pada pemujaan terhadap berhala dan menjadi penganut animisme. Hati Tularam berlimpah dengan sukacita karena menyaksikan apa yang telah terjadi di desanya.

    Sebagai ungkapan atas sukacita yang dirasakannya, Tularam mengirimkan sepucuk surat ke GFA yang isinya seperti berikut ini:

    "Nama saya Tularam, dan saya mengirim surat ini atas nama seluruh penduduk desa Himachal Pradesh. Semenjak mendengarkan siaran radio dari GFA, hidup saya benar-benar diubahkan, dan saya menyerahkan hidup saya sepenuhnya dalam pimpinan tangan Tuhan. Juga, saya bersyukur kepada Allah karena akhirnya penduduk desa Himachal Pradesh memiliki kesempatan untuk mendengarkan Firman Allah dan mereka mengalami perubahan-perubahan yang sangat indah dalam kehidupan mereka. Ini semua berkat program radio yang telah didengar oleh penduduk Himachal Pradesh. Terlebih dari itu, Firman Allah yang diberitakan telah mengubah setiap hati yang mendengarnya dan mendorong mereka untuk bertobat. Saat ini, kami memutuskan hanya mau menjadi pengikut Yesus saja."

    Sumber: ReligionToday, April 5, 2001

    Siksaan yang Tak Terkatakan

    Seorang Pendeta bernama Felix (nama samaran) disiksa dengan besi yang panas membara dan pisau-pisau. Ia dipukuli dengan hebat. Tikus-tikus kelaparan dihalau masuk melalui pipa ke dalam selnya. Ia tak dapat tidur karena harus memertahankan dirinya setiap saat. Bila ia beristirahat, tikus-tikus akan menyerangnya.

    Ia terpaksa berdiri selama dua minggu, siang dan malam. Orang komunis ingin memaksanya mengkhianati saudara-saudara seimannya, namun ia tetap bertahan dengan setia. Akhirnya, mereka membawa putranya yang berusia 14 tahun dan memukuli anak itu di hadapan ayahnya. Mereka berkata bahwa mereka tidak akan berhenti memukuli anak itu sampai ia mau mengatakan apa yang mereka inginkan. Orang yang malang itu menjadi setengah gila.

    Ia bertahan sekuat tenaga, kemudian ia berteriak kepada anaknya, "Amos! (bukan nama sebenarnya) Aku harus mengatakan apa yang mereka kehendaki! Aku tak tahan lagi melihat engkau dipukuli!"

    Anak lelaki itu menjawab, "Ayah! Janganlah melakukan sesuatu yang tidak benar padaku dengan menjadi seorang pengkhianat sebagai orang tuaku. Bertahanlah! Bila mereka membunuhku, aku akan mati dengan kata-kata, 'Yesus dan tanah airku.'"

    Mendengar itu, orang komunis menjadi kalap. Mereka memukuli anak itu sampai mati. Darahnya terpercik di dinding sel. Ia mati dengan memuji nama Tuhan. Sesudah melihat peristiwa itu, saudara kami, Felix, berubah -- tidak sama seperti yang dulu.

    Borgol dengan paku-paku yang tajam di sisi dalamnya, dikenakan di pergelangan tangan kami. Bila kami tidak bergerak sama sekali, paku-paku itu tak menyakiti. Tapi dalam sel-sel yang dingin, jika kami menggigil kedinginan, pergelangan tangan kami akan robek oleh paku-paku itu.

    Orang-orang Kristen digantung terbalik dengan tali kemudian dipukuli dengan keras sehingga badannya terayun-ayun. Orang-orang Kristen juga dimasukkan dalam "sel pendingin", lemari es yang sangat dingin sehingga es dan embun beku menutupi bagian dalamnya. Aku pernah dilemparkan ke dalam salah satu sel tersebut dengan pakaian yang amat minim. Dokter penjara mengawasi dari celah-celah. Jika mereka melihat gejala membeku, mereka memberi tanda lalu para penjaga bergegas masuk untuk membawa kami ke luar agar tubuh kami kembali hangat. Sesudah hangat, kami segera dijebloskan kembali dalam kamar es itu agar membeku lagi. Dicairkan di luar lagi -- berulang-ulang! Bahkan hari ini, ada saat-saat di mana aku tidak mampu membuka lemari es.

    Kami orang Kristen terkadang dipaksa berdiri di kotak-kotak kayu yang ukurannya hanya sedikit lebih besar dari ukuran tubuh kami. Tidak ada ruang untuk bergerak. Lusinan paku-paku tajam ditancapkan di setiap sisi kotak tersebut, ujung paku-paku yang tajam itu menembus kayu. Selama tetap diam, kami tak menderita apa-apa. Tapi, kami harus berdiri dalam lemari itu selama berjam-jam. Saat kami mulai letih dan lelah, maka paku-paku tersebut menusuk tubuh kami. Paku-paku itu sangat mengerikan -- saat kami bergerak atau otot kami kejang.

    Apa yang dilakukan orang-orang komunis pada umat Kristen sungguh di luar akal sehat manusia. Aku pernah melihat orang komunis menyiksa orang-orang Kristen dan wajah mereka berseri-seri dengan gembira. Sambil menyiksa, mereka berteriak, "Memang, kami ini setan!"

    Kami bergumul bukan melawan daging dan darah, melainkan melawan penguasa-penguasa dan kekuatan jahat. Kami melihat komunisme bukanlah dari manusia, melainkan dari setan. Ini adalah kekuatan roh -- kekuatan kejahatan -- dan hanya dapat dilawan dengan suatu kekuatan roh yang lebih besar, yakni Roh Allah!

    Aku sering bertanya pada para penyiksa itu, "Tidakkah Anda memunyai rasa kasihan di hati Anda?" Biasanya mereka akan menjawab dengan mengutip perkataan Lenin: "Kamu tidak bisa membuat telur dadar tanpa memecahkan telurnya," dan "Kamu tidak dapat memotong kayu tanpa menyebabkan kepingan-kepingannya terbang." Aku berkata lagi, "Aku tahu itu kata-kata Lenin. Tapi ada perbedaan. Jika Anda memotong sekeping kayu, kayu itu tak merasakan apa-apa. Tapi di sini kamu berhubungan dengan manusia. Setiap pukulan menghasilkan rasa sakit, dan ada banyak ibu yang menangis."

    Percuma saja. Mereka adalah orang-orang yang materialistis. Bagi mereka, yang ada hanyalah benda (materi) belaka. Bagi mereka, seorang manusia adalah seperti kayu, seperti juga kulit telur. Dengan pedoman ini, mereka jatuh dalam jurang kejahatan dan kekejaman yang mahadalam.

    Kekejaman ateisme memang sukar dipercaya. Bila seseorang tak memunyai kepercayaan akan ganjaran atas perbuatan baik atau hukuman atas kejahatan yang dilakukan, maka tak ada alasan baginya untuk menjadi manusia. Tak ada lagi yang dapat mengekang unsur-unsur kejahatan yang bersemayam dalam jiwa manusia itu.

    Penyiksa komunis sering berkata, "Tak ada Tuhan, tak ada alam baka, tak ada pembalasan atas perbuatan jahat. Kami dapat berbuat sesuka hati kami." Pernah kudengar, seorang dari mereka berkata, "Terima kasih kepada Tuhan yang kepada-Nya aku bisa melampiaskan semua nafsu jahat dalam hatiku." Ia mengungkapkan itu dengan melakukan kebrutalan yang luar biasa dan penganiayaan terhadap para tahanan. Mereka bangga karena tak memunyai belas kasihan.

    Aku belajar dari mereka. Sebagaimana mereka tak memberikan tempat bagi Yesus sedikit pun dalam hati mereka, aku bertekad tak akan menyediakan tempat seujung rambut sekali pun untuk setan dalam hatiku.

    Aku telah memberi kesaksian di hadapan badan keamanan Amerika Serikat yang bernama US International Security Subcommittee. Aku menceritakan hal-hal yang mengerikan, misalnya orang Kristen yang disalib selama 4 hari dan 4 malam.

    Salib-salib itu diletakkan di atas tanah dan ratusan tahanan harus melakukan hajat mereka di atas bahan dan wajah orang yang disalib itu. Kemudian, salib ditegakkan lagi dan orang komunis mengejek serta menertawakannya, "Lihatlah Kristusmu! Alangkah cakapnya Ia! Alangkah sedapnya bau yang Ia bawa dari surga!"

    Jika aku terus bercerita tentang siksaan komunis yang mengerikan itu dan pengorbanan orang-orang Kristen, aku tidak akan pernah selesai. Bukan hanya penyiksaan yang dikenal, namun perbuatan kepahlawanan juga dikenal. Teladan kepahlawanan mereka yang berada di penjara benar-benar memberikan semangat bagi saudara-saudara yang masih bebas.

    "Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat."(Matius 10:21-22)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Berkorban Demi Kristus
    Judul asli buku : Tortured for Christ
    Penulis : Richard Wurmbrand
    Penerjemah : Ivan Haryanto
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 1999
    Halaman : 36 -- 40

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/siksaan_yang_tak_terkatakan

    Sudah: Petrus

    Dalam bahasa Arab, gelang kuningan itu dinamakan bacle. Petrus membawanya seolah-olah barang keramat. Gelang itu pengingat masa lalu keluarganya dan berkat luar biasa Petrus.

    Kakeknya yang membuat bacle itu, namun itu bukanlah olah kerajinan. Pada kenyataannya, ia dipaksa menggunakannya oleh guru-guru Mayoritasnya. Kakek Petrus ditangkap di Sudan selatan dan dibawa ke Sudan utara, di mana ia dibeli dan dijual sebagai seorang budak.

    Kakek Petrus meskipun dianiaya dan disiksa oleh guru-guru Mayoritasnya, tidak mau bergabung dengan iman mereka. Ia memegang teguh imannya dalam Kristus, tubuhnya menanggung luka-luka penolakannya. Karena ia bukan seorang Mayoritas, ia dipandang tidak lebih dari seekor binatang.

    Tak lama sebelum ia meninggal, kakek Petrus mencopot bacle itu dan memberikannya kepada ayah Petrus. "Keluarga kita tak selamanya menjadi budak" katanya, "namun kita tidak boleh lupa."

    Di kemudian hari ayah Petrus memberikannya kepada Petrus, ia membawa besertanya ketika melarikan diri dari tuan Mayoritasnya dan lari menuju kebebasan. Hari ini, bacle itu tidak lagi menjadi tanda kepemilikan, namun sebuah tanda kuasa Tuhan yang menaklukkan. Itu menjadi simbol tangan Tuhan atas sebuah keluarga yang bekerja atas tiga generasi untuk membawa mereka menuju kebebasan.

    "Jangan pemah melupakan bangsaku," desaknya. "Jangan pemah berhenti berdoa hagi umat Kristen teraniaya di Sudan."

    Lupa. Itu merupakan musuh nomor satu doa. Kita cepat menawarkan doa dukungan kita. Sayangnya, maksud baik kita jarang cukup untuk menolong kita menjalankan komitmen kita untuk berdoa bagi mereka yang membutuhkan. Apa yang dapat mengingatkan Anda untuk berdoa bagi mereka yang teraniaya di seluruh dunia? Mungkin stiker kecil di jam Anda dapat mengingatkan Anda. Setiap saat Anda metihat jam sepanjang hari dapat menjadi kesempatan bagi Anda untuk mengingat sekelompok orang yang tinggal di bawah penganiayaan agamawi. Apapun metode yang Anda pilih untuk lebih ingat akan peluang-peluang yang terhilang untuk berdoa, lakukanlah. Membaca kisah-kisah tentang umat percaya yang ekstrim tidak akan mengubah apapun. Berdoa bagi umat percaya yang ekstrim dapat mengubah segala hal -- bahkan mungkin hari ini.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Penulis : The Voice of the Martyrs
    Penerjemah : Fintawati Rahardjo dan Iyan Haryanto
    Penerbit : Yayasan KDP (Kasih Dalam Perbuatan), Surabaya 2005
    Halaman : 26

    Dipublikasian di: http://doa.sabda.org/sudan_petrus
    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/sudah_petrus

    Suku Bangsa Gedeo di Etiopia

    Jauh di pedalaman suatu daerah berbukit di Ethiopia Tengah sebelah selatan, tinggallah beberapa juta orang petani kopi yang -- meskipun terbagi dalam suku-suku bangsa yang sangat berbeda -- mempunyai kepercayaan bersama kepada suatu eksistensi (keberadaan) yang penuh kebaikan bernama Magano -- Pencipta segala yang ada dan yang hadir di mana-mana. Salah satu dari suku-suku bangsa itu disebut dengan Darassa, atau lebih tepat lagi, suku Gedeo. Sekalipun jumlah suku Gedeo ada setengah juta namun hanya sedikit yang benar-benar berdoa kepada Magano. Malahan, seorang pengamat melihat orang-orang Gedeo lebih aktif berusaha menyenangkan hati suatu eksistensi yang jahat yang disebut Sheit'an.

    Pada suatu hari Albert Brant bertanya kepada sekumpulan orang Gedeo, "Kalian sangat menghormati Magano, tetapi mengapa kalian mempersembahkan kurban kepada Sheit'an itu?" Inilah jawaban yang diterimanya: "Kami mempersembahkan kurban-kurban kepada Sheit'an bukan karena kami mencintainya, tetapi karena hubungan kami dengan Magano tidak begitu akrab, sehingga kami tak berani melepaskan diri dari Sheit'an!"

    Namun ada satu orang Gedeo yang berusaha mendapat jawaban pribadi dari Magano. Nama orang itu adalah Warrasa Wange. Ia adalah anggota "keluarga raja" suku bangsa Gedeo yang tinggal di sebuah kota bernama Dilla yang terletak di daerah yang paling ujung dari tanah suku Gedeo. Cara pendekatannya kepada Magano adalah dengan menaikkan doa sederhana supaya Magano berkenan menyatakan diri-Nya kepada suku Gedeo!

    Warrasa Wange dengan cepat mendapat jawaban. Penglihatan-penglihatan yang mengejutkan menguasai seluruh pikirannya secara dahsyat. Dilihatnya dua orang asing berkulit putih. (Catatan: Namun ada kaum "Caucasophobes" -- yaitu orang-orang yang membenci atau takut kepada "orang-orang putih" yang biasanya disebut orang Caucasian -- tidak setuju dengan keterangan Warrasa, tapi sejarah pastilah tidak dapat menyangkal kenyataan ini.)

    Warrasa melihat kedua orang putih itu mendirikan tempat berlindung yang tipis dan halus di bawah naungan pohon sycamore yang besar dekat Dilla, kampung halaman Warrasa. Tak lama kemudian mereka menegakkan bangunan-bangunan yang lebih permanen dengan atap yang berkilau-kilauan. Akhirnya bangunan-bangunan itu nampak di mana- mana, di seluruh bukit itu! Seumur hidupnya belum pernah si pemimmpi itu melihat bangunan-bangunan yang mirip sedikit pun dengan tempat berlindung yang tipis itu, maupun bangunan permanen yang atapnya berkilauan itu. Semua tempat tinggal di Tanah Gedeo beratapkan rumput. Kemudian Warrasa mendengar suara yang mengatakan, "Orang- orang ini akan menyampaikan kepadamu pesan dari Magano, Allah yang kau cari itu. Tunggulah kedatangan mereka."

    Pada bagian terakhir dari penglihatannya itu, Warrasa melihat dirinya mengangkat tiang-tengah dari rumahnya sendiri. Dalam simbolisme Gedeo, tiang-tengah rumah orang berarti hidupnya sendiri. Kemudian dibawanya tiang itu ke luar kota dan ditanamkannya di tanah di samping salah satu bangunan beratap kemilau milik orang-orang asing.

    Warrasa mengerti maknanya -- kelak hidupnya harus mempunyai hubungan dengan orang-orang asing itu, dan dengan pesan yang mereka bawa dari Magano. Maka menunggulah Warrasa. Delapan tahun berlalu. Selama delapan tahun itu, banyak ahli nujum di antara suku bangsa Gedeo yang meramalkan bahwa tak lama lagi akan datang orang-orang asing membawa pesan dari Magano.

    Pada suatu hari yang sangat panas pada bulan Desember 1948, Albert Brant, seorang Kanada bermata biru, bersama rekannya Glen Cain, tiba- tiba tampak di garis langit, mengendarai sebuah truk yang sudah tua. Tugas mereka -- memulai pelayanan Injil bagi kemuliaan Allah di antara suku Gedeo. Padahal sebenarnya mereka berharap mendapat izin dari pembesar-pembesar Ethiopia untuk memulai misi di pusat wilayah Gedeo, tetapi para pembesar Ethiopia mengatakan kepada mereka bahwa permohonan itu pasti ditolak karena iklim politik saat itu.

    "Mintalah saja supaya diizinkan pergi ke Dilla, kota yang paling jauh dari pusat kota," nasihat orang-orang itu sambil mengedipkan mata. "Kota itu jauh sekali dari pusat wilayah suku Gedeo. Tapi bukan hanya itu saja, orang-orang percaya bahwa suku Gedeo yang tinggal jauh terpencil itu juga tidak mungkin bisa dipengaruhi."

    "Nah, kita sudah sampai," kata Brant kepada Cain. "Memang, ini tempat yang paling ujung dari wilayah Gedeo, tetapi kita harus puas dengan ini."

    Sambil bernafas panjang, dibelokkannya truknya yang tua itu ke arah Dilla. Glen Cain menghapus keringatnya dari dahinya. "Wah, kota ini sungguh panas, Albert," katanya. "Mudah-mudahan kita dapat menemukan tempat yang teduh untuk tenda-tenda kita!"

    "Coba, lihat pohon sycamore besar di sana itu!" jawaban Albert. "Tepat seperti yang kuinginkan!"

    Brant mulai menjalankan truknya menaiki lereng bukit. Dari kejauhan Warrasa mendengar bunyi mesin mobil yang bising itu. Dia menengok ke arahnya dan tepat pada saat itu truk yang tua tadi berhenti di bawah cabang-cabang pohon sycamore yang terbentang luas. Dengan perlahan- lahan Warrasa berjalan mendekati truk itu, dan hatinya bertanya- tanya...

    Tiga puluh tahun kemudian, Warrasa (yang sekarang dengan penuh sukacita sudah menjadi pengikut Yesus Kristus, Putra Magano) bersama dengan Albert Brant dan orang-orang lainnya adalah anggota gereja- gereja yang jumlahnya lebih dari 200 orang masing-masing! Dengan bantuan Warrasa dan penduduk Dilla lainnya, hampir seluruh suku Gedeo telah dijamah oleh Injil -- walaupun Dilla letaknya sangat jauh dan terpencil dan orang-orangnya sulit dipengaruhi, kuasa Tuhan sanggup menjamahnya!

    Bahan diambil dari:

    Judul Buku : Kerinduan akan Allah yang Sejati
    Judul Artikel : Suku Gedeo di Ethiopia
    Penulis : Don Richardson
    Penerbit : Kalam Hidup, Bandung 1981
    Halaman : 89 -- 92

    Suku Cholanaikkan dari India

    Penelitian mengenai kelompok-kelompok bangsa yang belum terjangkau sudah berlangsung selama lebih dari 10 tahun sampai sekarang ini, dan untunglah, beberapa kelompok yang mula-mula digolongkan sebagai belum terjangkau kini sudah dijangkau. Salah satu studi kasus yang mengasyikkan datang dari kawan baik saya, George Samuel dari Kerala, India. George Samuel adalah seorang peserta pada Kongres Lausanne tahun 1974. Ketika membuka-buka Unreached People Directory, ia melihat sekelompok yang berjumlah sekitar 100 orang banyaknya, dinamakan suku Cholanaikkan. Mereka tinggal di daerah perbukitan Mangeri di bagian India dimana ia tinggal.

    Kemudian ia menemukan keterangan yang asli dari sekelompok penebang kayu. Pada tahun 1972, para penebang kayu itu telah menemukan orang- orang telanjang berkulit kuning langsat yang tinggal di gua-gua. Beberapa wartawan yang mendengar tentang kelompok ini, melalui para penebang kayu itu, menyelidiki dan menulis ceritanya di surat kabar. Informasi ini merembes melalui jaringan World Vision, mencapai Edward Dayton dan dimuat di dalam buku petunjuk. George Samuel belum pernah mendengar tentang orang Cholanaikkan, tetapi ketika ia melihat nama mereka, Allah membuat dia merasa terbeban bagi mereka.

    Ketika kembali ke India, Samuel mengumpulkan beberapa orang Kristen untuk mendoakan orang-orang Cholanaikkan. Mereka memutuskan untuk mengorganisasi suatu perwakilan misi baru yang dinamakan Tribal Mission, lalu mereka mengutus sekelompok orang untuk mengadakan hubungan. Setelah menumpang kendaraan untuk mencapai sejauh mungkin dengan kendaraan, mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki melintasi hutan rimba menuju Perbukitan Mangeri. Mereka dikerumuni dan diserang oleh nyamuk-nyamuk yang ganas dan rakus sehingga mereka tidak meneruskan perjalanan.

    Pada usaha yang kedua beberapa kali mereka harus melawan gerombolan gajah liar, namun mereka berhasil mencapai tujuan. Orang-orang Cholanaikkan itu takut kepada orang-orang aneh yang berpakaian ini dan mereka berpencar-pencar ke bagian-bagian yang dalam dari gua-gua mereka. Setelah mereka tidak mau keluar meskipun dibujuk terus- menerus, rombongan misionaris India ini mencoba cara lain. Mereka menanggalkan kemeja dan celana, menyisakan sedikit pakaian melilit pinggul mereka dan mendekati gua-gua itu lagi. Dengan demikian beberapa orang Cholanaikkan yang berani mulai keluar dan mereka mengadakan hubungan yang bersahabat.

    Mereka menemukan bahwa orang-orang Cholanaikkan tinggal di dalam gua-gua sebab takut kepada gajah liar. Makanan mereka adalah buah- buahan, sayur-mayur mentah dan madu hutan. Mereka tidak tahu bagaimana memasak makanan. Mereka tidak pernah menyikat gigi, mencukur, mandi atau memangkas rambut mereka. Bila cuaca dingin mereka menutup tubuhnya dengan potongan-potongan kulit kayu. Bahasa mereka adalah campuran bahasa Malayalam, Tamil, dan Kannada. Mereka sangat lemah karena penyakit dan borok-borok pada tubuh mereka.

    Sepasang misionaris India yang mampu berbahasa Malayalam dan Tamil menetap di tengah-tengah mereka. Sepasang suami istri ini mengobati borok-borok mereka, mengajarkan mereka cara memasak dan berbagai kebiasaan ilmu kesehatan, memberi obat bila mereka sakit dan menunjukkan kepada mereka bagaimana memakai pakaian. Sepasang misionaris ini juga mulai menyampaikan berita Injil dan beberapa orang Cholanaikkan menyerahkan hidup mereka kepada Yesus Kristus.

    Pada tahun yang ketiga mereka telah membangun sebuah gereja kecil dan menurut laporan yang terakhir ada 50 orang yang hadir secara teratur. Beberapa orang Cholanaikkan diundang ke kota untuk memberi kesaksian pada konferensi tahunan Tribal Mission. Sekarang ada empat orang yang mengikuti pendidikan di sebuah Sekolah Alkitab jangka pendek. Hampir tidak ada orang Cholanaikkan lagi yang tinggal di dalam gua. Seluruh standar kehidupan kelompok itu telah berubah.

    Tetapi itu baru permulaannya. Menemukan orang-orang Cholanaikkan ini telah memacu Tribal Mission untuk meneruskan penelitian tentang kelompok-kelompok yang belum terjangkau di kawasan mereka. Sewaktu menulis buku ini, mereka mempunyai 44 misionaris India yang bekerja di antara 14 suku di wilayah itu. Misalnya, Suku Paniyan adalah buruh pertanian yang mirip dengan orang Afrika yang berkulit hitam; Suku Kurichiya menganggap dirinya lebih tinggi dari kasta Brahmana dan menolak untuk makan bersama-sama mereka; Suku Aramadan, yang kotor dan tidak beragama, menjalankan poligami dan poliandri.

    Tribal Mission adalah satu contoh dari sejumlah pewakilan misi antar budaya yang berkembang dengan pesat. Perwakilan-perwakilan itu dibentuk di dua pertiga bagian dunia. Hal ini mengingatkan kita bahwa pekerjaan misionaris tak perlu semata-mata dihubungkan dengan orang Eropa dan Amerika. Banyak suku yang belum terjangkau akan diinjili oleh orang Amerika dan orang Eropa. Akan tetapi, yang lain akan dijangkau oleh orang Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Misalnya, di Nigeria, Evangelical Missionary Society of the Evangelical Churches of West Africa (yang berkembang dari Sudan Interior Mission) kini mengutus dan menyokong lebih dari 600 orang Nigeria yang melayani sebagai misionaris antar budaya.

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku: Strategi Perkembangan Gereja
    Penulis : C. Peter Wagner
    Penerbit : Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996
    Halaman : 161 - 164

    e-JEMMi 10/2004

    Suku Indian di Amerika Utara

    Dari Alaska ke Panama dan dari Baja California ke Labrador -- kabar Injil itu terus muncul dengan satu dan lain cara.

    Empat Keramat!

    Hampir semua Suku Indian berbicara mengenai keempat arah dan keempat angin. Suku Navaho menunjuk kepada empat gunungnya yang suci. Suku Sioux mempunyai upacara untuk mendatangkan hujan dengan menggunakan empat tim kuda yang masing-masing terdiri dari empat ekor kuda, setiap tim kuda itu dicat dengan warna yang sama -- semuanya empat warna. Banyak suku Indian memakai lambang salib yang berkaki empat bernama "Mata Allah" untuk menunjuk kepada Empat Keramat. Beberapa tua-tua Indian, pada waktu mengajarkan adat suku bangsa mereka kepada anak-anak, mempunyai kebiasaan menyusun bahan pelajaran mereka dalam empat golongan. Hasilnya ialah, bahwa anak-anak Indian berpendapat: mereka lebih mudah mengingat segala sesuatu yang telah dikelompokkan ke dalam empat golongan.

    Mintalah saja kepada sejumlah "penyimpan cerita-cerita kuno" dari Suku Indian, supaya menggambarkan inti dari Empat Keramat itu, maka pada umumnya jawaban mereka akan berbunyi demikian: Ketika Roh Agung (Wakan Tonka bagi Suku Sioux, Saharen-Tyee bagi Suku Yakima, dst.) menciptakan dunia ini, dia menugaskan Empat Keramat itu untuk memelihara ketertiban. Dengan demikian, Empat Keramat itu bukan empat dewa atau empat roh jahat, melainkan empat prinsip pemelihara ketertiban, yang menjaga supaya segala-galanya jangan hancur karena kekacauan.

    Mintalah saja kepada orang-orang Indian supaya menjelaskan Empat Keramat itu secara sendiri-sendiri, maka Anda tidak akan mendapat suatu jawaban. Sekiranya orang-orang Indian itu pernah tahu bagaimana yang satu berbeda dari ketiga yang lain, pengetahuan itu rupanya telah lama hilang. Orang-orang Indian berbicara tentang keempat-empatnya secara kolektif, dan tidak pernah dengan cara yang lain.

    Suatu hal yang perlu dicatat ialah bahwa sejumlah penginjil yang ditugaskan ke berbagai Suku Indian di Amerika Utara telah melaporkan, tanpa menyadari mengapa, bahwa setiap kali mereka mengajarkan Keempat Hukum Spiritual (Campus Crusade for Christ), orang-orang Indian itu langsung tertarik perhatiannya! Malahan telah sering terjadi kebangunan rohani bilamana bahan-bahan demikian itu dibicarakan secara mendalam, khususnya oleh seorang yang dihargai oleh orang-orang Indian itu.

    Ed Malone, seorang pendeta dari Whittier Christian Fellowship di California, setiap tahun mengadakan kunjungan ke daerah-daerah Suku Navaho untuk mengajar kepada pendeta-pendeta Indian yang masih muda dan penuh semangat. Inilah komentar Pendeta Malone: "Sungguh mengagumkan bagaimana khotbah yang terbagi dalam empat pokok dapat membangkitkan minat begitu besar di kalangan Suku Navaho!"

    Bayangkanlah seorang guru yang memegang buku kecil berjudul Empat Hukum Spiritual di depan sekelompok orang Indian, sambil berkata, "Di sini ada empat hukum rohani. Kalau kalian melanggarnya, hidup kalian pasti akan kacau. Kalau kalian menaatinya, Allah akan memberi kemantapan dan ketertiban dalam hidup kalian, keluarga kalian, pekerjaan kalian, masa depan kalian ...."

    Kepercayaan Indian yang kuno mengenai Empat Keramat itu tergantung seperti papan gema yang tak kelihatan di belakang para guru dan memberi tekanan serta kesungguhan yang khusus kepada setiap kata yang diucapkan guru itu.

    Apakah konsep Empat Keramat itu hanyalah suatu khayalan belaka? Atau mungkinkah ada sifat-sifatnya yang beralasan? Apakah Alkitab menyindir akan adanya Empat Keramat yang telah ditugaskan oleh Allah supaya memelihara ketertiban di dalam alam semesta?

    Saya percaya bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu ialah: "Ya, ada." Coba, pertimbangkanlah fakta-fakta ini:

    1. Kedua belas suku Israel yang menuju ke negeri yang dijanjikan, selalu berkemah dalam empat kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga suku. Panji-panji dibagikan bukan kepada setiap suku dari kedua belas suku itu, melainkan kepada setiap kelompok dari keempat kelompok itu.

    2. Altar atau mezbah Yahudi dibuat dengan empat "tanduk" yang menonjol dari keempat sudutnya. Persembahan kurban hanya dianggap sah kalau benar-benar diikatkan pada keempat tanduk itu, dan tidak hanya diletakkan di atas altar.

    3. Perjanjian Baru mempunyai empat Kitab Injil.

    4. Yesus wafat di atas kayu salib yang menunjuk keempat arah.

    5. Kitab Wahyu menceritakan tentang empat ekor kuda dengan empat warna yang berbeda-beda, dan empat orang penunggang yang berbeda- beda pula.

    6. Akhirnya, nampaknya Alkitab mengajarkan secara mutlak bahwa segala kenyataan terbagi ke dalam formasi yang bertingkat empat. Tingkat tertinggi disediakan bagi Allah, yaitu Raja atas segala- galanya. Di bawah Allah adalah tingkat warga, tempat yang sah bagi segala makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah. Di bawah tingkat warga itu kita dapati apa yang bisa kita sebut tingkat penghuni -- disediakan untuk dunia tumbuh-tumbuhan dan hewan. Akhirnya, pada tingkat yang paling rendah, maka zat, tenaga, dan hukum-hukum alam mendapat tempatnya.

    Tak ada satu pun di bumi ini yang tidak tergolong dalam salah satu dari keempat tingkat formasi yang kosmik itu. Selanjutnya, asal saja segala sesuatu tetap berada di dalam tingkat yang telah disediakan baginya, maka ketertiban akan terjamin! Dosa hanya terjadi bilamana suatu eksistensi yang diciptakan untuk berada pada tingkat warga, berusaha keluar dari tempatnya yang ditentukan baginya dan berusaha merebut tempat yang sah bagi Allah sebagai Penguasa segala-galanya.

    Sungguh, mungkin konsep Indian itu mempunyai makna yang lebih dalam daripada yang diduga orang pada pertimbangannya yang pertama.

    Catatan:

    1. Dari wawancara dengan Elmer Warkentin dan Clara Lima, utusan Injil yang bekerja sama dengan RBMU Internasional, di antara suku Dayak di Kalimantan (Borneo).
    2. Don Richardson, Peace Child (Ventura, CA: Regal Books, 1974), bab 2. Buku ini sudah diterjemahkan dengan judul Anak Perdamaian oleh Penerbit Kalam Hidup, Bandung, 1977
    3. Ibid., hal 284, 285.
    4. Don Richardson, Lords of the Earth (Ventura, CA: Regal Books, 1977), hal. 132-134. Buku ini sudah diterjemahkan dengan judul Penguasa-penguasa Bumi oleh Penerbit Kalam Hidup, Bandung, 1981.

    Sumber:

    Judul Buku : Kerinduan akan Allah yang Sejati
    Penulis : Don Richardson
    Halaman : 169-171

    e-JEMMi 15/2004

    Suku yang Hidup Kembali

    Tiga puluh lima tahun yang lalu, Suku Binumarien merupakan suku yang menuju kepunahan. Jumlah mereka menurun menjadi 100 orang. Mereka merasa putus asa dan tidak mempunyai keinginan untuk hidup.

    Pada saat seperti itu, Tuhan mengutus Des dan istrinya Jenny untuk menjangkau mereka. Des dan Jenny tinggal di tengah-tengah suku ini untuk mempelajari bahasa mereka dan menjadikan bahasa lisan itu menjadi bahasa tulisan. Setelah menjadi bahasa tertulis, Des dan Jenny mulai menerjemahkan Firman Tuhan ke dalam bahasa mereka agar mereka dapat memperoleh pengharapan yang ada dalam Yesus Kristus.

    Buku Matius merupakan buku pertama yang diterjemahkan oleh Des dan Jenny. Oleh karena Des merasa bahwa Matius 1:1-17 hanya merupakan silsilah, maka Des mulai menerjemahkan dari ayat 18. Des berpikir bahwa silsilah itu hanya akan membosankan pembacanya, jadi lebih baik mulai dengan suatu cerita. Ia tidak ingin pembacanya menjadi bosan membaca nama-nama saja dan akhirnya tidak mau membaca lagi. Karena itulah ia mulai dengan ayat 18.

    Setelah tiba pada akhir buku Matius, Des mau tidak mau harus menerjemahkan silsilah yang dianggapnya membosankan itu. "Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda" dan seterusnya. Demikianlah Des dengan dibantu oleh seorang pembantu bahasa menerjemahkan Matius 1:1-17.

    Pada malam itu, ketika Des sedang berjalan menuju tempat pertemuan desa untuk mengikuti suatu pertemuan yang akan diadakan, seseorang berkata kepadanya, "Bawalah kertas terakhir itu ke tempat pertemuan!" Beberapa waktu kemudian, orang-orang Binumarien bertanya, "Apa yang ada di sakumu itu?" Orang-orang sudah mengetahui bahwa Des memiliki kertas dalam sakunya karena pembantu penerjemah Des memberitahukan kepada mereka. Pembantu penerjemah sangat gembira membuat terjemahan bagian yang terakhir diterjemahkan itu, tetapi dia tidak mengutarakannya kepada Des.

    Orang-orang yang berada di sekitar tempat itu mulai mendesak Des untuk membacakan apa yang sudah diterjemahkannya, "Bacalah terjemahan itu! Sesudah itu baru kita akan mulai pertemuan kita," kata salah seorang dari mereka. "Baiklah," kata Des, "saya akan membacakan apa yang telah kami terjemahkan."

    Mereka semua duduk mengelilingi Des. Des mulai membaca, "Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda," dan seterusnya. Orang-orang yang mendengar mulai saling mendekat ke arah Des. Orang-orang yang berada di ruang lain mulai berdatangan ingin mendengar dengan lebih jelas. Dalam waktu singkat, seluruh ruang itu menjadi padat. Sebagian duduk mengelilingi Des, mereka yang di belakang berdiri dengan tenang.

    Des terus membacanya dan ia mulai merasa suasana menjadi tenang. Tidak ada orang yang berbicara. Semua mendengarkan dengan penuh perhatian. Des tidak mengetahui akan apa yang terjadi di sekelilingnya. Kepala desa yang pernah mengikuti kelas pemberantasan buta aksara yang dipimpin Des, terus memperhatikan Des membaca hasil terjemahan. Setelah Des selesai membaca seluruh silsilah itu, kepala desa berkata, "Dengarlah saudara-saudara, dengar! Apa yang Des bacakan bukanlah dongeng. Ini adalah kebenaran. Dongeng mana yang dapat memberikan nama-nama orang sepanjang sejarah? Tidak ada! Ini adalah sesuatu yang benar. Ini benar-benar terjadi!"

    Des merasa ditegur. Bagian yang dikerjakan paling akhir ini karena kuatir membosankan ternyata merupakan bagian yang paling penting bagi masyarakat Binumarien. Selama ini orang-orang Binumarien seringkali bertanya-tanya apakah Alkitab itu merupakan buku yang menyatakan kebenaran ataukah hanya dongeng-dongeng saja? Daftar silsilah ini telah menjawab pertanyaan mereka.

    Des sangat kagum melihat bagaimana bagian Alkitab yang dianggapnya membosankan, ternyata dalam budaya Binumarien merupakan suatu hal yang sangat menyentuh hati mereka. Des juga sangat kagum melihat cara Tuhan menjamah suku Binumarien yang hidup terpencil dan penuh keputusasaan.

    Setelah seluruh Perjanjian Baru selesai diterjemahkan, ternyata suku Binumarien bukannya berkurang sebagaimana yang telah terjadi sebelumnya, tetapi justru bertambah menjadi 267 orang. Mereka tidak lagi menjadi orang-orang yang putus asa, tetapi hidup dengan sukacita dan penuh pengharapan. Firman Tuhan telah mengubah mereka karena sekarang mereka mengerti akan arti dan maksud Tuhan dengan hidup ini.

    Walaupun jumlah suku Binumarien kecil, tetapi Tuhan tidak melupakan mereka. Di hadapan Tuhan mereka adalah manusia ciptaan-Nya yang telah jatuh ke dalam dosa dan memerlukan Tuhan Yesus. Darah Yesus telah tercurah bagi mereka juga. Suku Binumarien juga akan berada di hadapan takhta, memuji Tuhan seperti yang tertulis dalam Wahyu "Kemudian dari pada itu aku melihat sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa, berdiri di hadapan takhta dan di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka."

    Diedit dari sumber:

    Judul Buletin: : Kartidaya, Edisi II/1995
    Judul Artikel : Suku yang Hidup Kembali
    Halaman : 1 - 2

    e-JEMMi 14/2005

    Tantangan Adalah Kesempatan

    QM tidak gentar menghadapi tantangan. Ia ingin menjangkau orang-orang yang belum percaya di negaranya. Oleh karena itu, ia membawa istri dan anak-anaknya pindah ke wilayah yang paling tidak stabil di dunia -- sebuah provinsi di barat laut Pakistan. Kekerasan yang terus berlangsung membuat wilayah tersebut menjadi suatu tempat yang berbahaya, tapi QM justru melihatnya sebagai suatu kesempatan untuk membagikan kuasa Kristus. Sebuah organisasi misi memasok QM dengan buku-buku. QM juga menggunakan buku yang berjudul "Bagaimana Kita Mengenal Tuhan". QM menggunakan buku-buku untuk berbicara kepada orang-orang mengenai Kristus, walaupun isi buku-buku tersebut dapat mengakibatkan dirinya dihukum mati oleh para pengikut kelompok garis keras.

    Pada tanggal 3 September 2008, beberapa anggota kelompok tertentu menemui QM. Mereka memeriksanya dan menemukan sebuah buku "Bagaimana Kita Mengenal Tuhan". "Oh, rupanya ini penebusmu!" kata mereka. "Kami sedang mencari-cari orang yang membagikan buku ini selama 6 bulan terakhir." Orang-orang itu membawanya ke tempat pelatihan mereka. Mereka menahannya dalam sebuah ruang bawah tanah. Selama 2 jam mereka menggantungnya terbalik dengan kepala mencium lubang toilet jongkok. "Aku terus mengucapkan Mazmur 23. Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberiku kekuatan menghadapi segala macam penganiayaan dan membebaskanku," kata QM.

    Kelompok itu menunjukkan kepadanya foto-foto pemimpin Kristen dan memintanya untuk mengungkapkan identitas mereka. Orang yang menginterogasinya ingin tahu siapa yang mendukung pelayanannya. Akhirnya, mereka menelanjanginya, memukulinya, dan menguncinya di kamar mandi semalaman. Sementara istri QM, A, sangat khawatir ketika dia mendengar kelompok itu menangkap suaminya. Dia menghubungi para pendeta dan pemimpin QM. Mereka mulai berdoa untuk pembebasan QM. Di rumah sendirian, A membuka Alkitabnya pada Mazmur 125. Ia membaca, "Seperti gunung-gunung melindungi Yerusalem, demikianlah TUHAN melindungi umat-Nya sekarang dan selama-lamanya." (BIS)

    Kembali di tempat pelatihan tersebut, pada pukul 04.15 pagi, seseorang yang QM kenal membuka pintu. Ia memberi tanda kepada QM untuk melarikan diri. Ketika ia sampai di rumahnya pukul 06.30 pagi, QM benar-benar lelah, istrinya langsung menangis. "Jangan menangis," katanya kepada sang istri. "Aku masih hidup; Tuhan menyelamatkan hidupku, dan aku sudah pulang sekarang." Keesokan harinya QM dan keluarganya meninggalkan provinsi tersebut dan pergi ke daerah yang lebih aman. Di sana QM bertemu dengan organisasi yang telah mendukungnya. Mereka menjelaskan kepada QM bahwa orang-orang di seluruh dunia telah berdoa untuknya ketika ia dalam penahanan. QM mengatakan kepindahan ini hanya sementara.

    Setelah menunggu untuk membiarkan semuanya tenang, QM dan keluarganya akan kembali ke provinsi tersebut. Ia berkata, "Aku takut dan mengalami ketakutan, tetapi ketika aku menghadiri persekutuan doa dan mendengar bahwa orang-orang berdoa untukku, aku dikuatkan. Saat itu, aku memutuskan untuk kembali dan mengabarkan Injil di tempat yang sama. Ketakutanku sudah lenyap." Mari tetap berdoa untuk QM ketika ia terus menunjukkan kepada orang-orang garis keras bagaimana mengenal Tuhan.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret -- April 2009
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2009
    Halaman : 3 -- 4

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/tantangan_adalah_kesempatan

    Teknisi Radio di Amazon

    Perbatasan Ekuador adalah hutan bagian timur, dan kami menyebut hutan itu dengan bahasa Spanyol, "Oriente", yang berarti timur.

    Semenjak tiba di Ekuador sebagai teknisi radio untuk MAF, saya bercita-cita untuk mengerahkan tenaga saya bagi yang membutuhkan di suatu daerah di hutan Ekuador yang disebut "Oriente".

    Di seluruh "Oriente", hanya ada jalan setapak dan sungai yang menghubungkan desa-desa kecil di mana penduduknya berjuang untuk bertahan hidup di Amazon. Desa Mashumarentza (MAS) juga tidak memiliki jalan. Tapi desa itu memiliki landasan pesawat darurat yang dibersihkan dan diratakan dengan tangan. Baru-baru ini, kami mendarat di sana dengan pesawat kecil milik MAF untuk memasang alat modern canggih lainnya, yaitu sebuah radio dua arah.

    Budaya di mana saya dibesarkan mengajari saya, "Jangan menatap. Itu tidak sopan." Tapi di hutan, anak-anak dan orang dewasa menatap saya dengan tajam selama beberapa menit. Bertentangan dengan budaya di mana saya tumbuh, saya juga menatap mereka setelah melihat perbedaan budaya saya dan mereka. Saya tidak terbiasa melihat orang kelaparan, wanita-wanita berumur empat belas tahun yang menggendong satu atau dua anak mereka, suara aneh yang ditimbulkan oleh lidah saat penduduk desa berkomunikasi secara rahasia, atau keheranan ketika saya mengeluarkan alat sederhana untuk melakukan hal yang sederhana. Mereka sering bertanya: "Berapa harga alat itu?"

    Kami memulai pekerjaan dengan mendirikan tiang yang digunakan untuk menaikkan dan mengatur antena radio. Tidak ada listrik di hutan, jadi kami memasang tiang untuk papan penangkap cahaya matahari (solar panel) dan memasang alat yang mengubah cahaya matahari menjadi tenaga listrik yang kemudian tersimpan di baterai itu. Terakhir, kami menuju pondok tempat pengoperasian radio di mana saya menghubungkan kabel penting dan menunjukkan sistem yang lebih baru itu kepada kepala komunikasi.

    Terima kasih atas sumbangan orang-orang yang peduli dari Amerika Serikat, sebuah sistem radio yang membawa harapan bagi penduduk MAS yang terisolasi. Radio itu akan memanggil pesawat medis milik MAF untuk menolong orang yang digigit ular beracun, terkena penyakit berbahaya, atau kecelakaan -- semua itu merupakan peristiwa yang umum terjadi di tempat yang liar itu. Radio itu memampukan MAF untuk memberikan laporan cuaca kepada para pilot MAF yang terbang di atas hutan atau untuk mengirimkan proyek pengembangan masyarakat dan sumber-sumber kerohanian.

    Suatu tanda peringatan yang diperdengarkan dengan jelas di "pondok" radio mengumumkan bahwa ada orang-orang di luar sana yang tidak hanya mengetahui orang-orang MAS, tetapi juga sangat peduli untuk membantu hidup dan masa depan mereka. Dan lagi, tanda itu menyatakan bahwa radio itu dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan.

    Setelah menyelesaikan pekerjaan saya, seorang pilot MAF, Kapten Dale, membicarakan beberapa masalah penting dengan kepala desa. Saya mulai bermain dengan seorang bocah lelaki, kami saling menendang kacang kecil yang bulat. Sesaat setelah itu, seorang anak berteriak, "Eendooor!!" Permainan dimulai! Saya melawan semua anak kecil dalam sebuah pertandingan sepakbola "indoor" yang penuh semangat di hutan hujan Amazon yang sangat luas, yang juga merupakan perbatasan Peru.

    Ketika kami terbang kembali ke pangkalan kami di ujung Oriente, saya sangat bersyukur karena penduduk setempat mau bergabung dengan kami untuk menyediakan pertolongan bagi penduduk MAS yang terisolasi dan banyak pangkalan MAF lain yang melayani di hutan ini. Dan saya sangat bersyukur atas kesempatan untuk melayani dalam pekerjaan yang mengabulkan kerinduan saya untuk melayani Tuhan kita. (t/Dian)

    Diterjemahkan dari:

    Nama situs : Mission Aviation Fellowship
    Judul asli artikel : mazon Radioman
    Penulis : Robert DiCrasto
    Alamat URL : http://www.maf.org/field_stories/story-of-the-week/amazon-radioman

    e-JEMMi 33/2007

    Teladan dalam Hidupku

    Paul adalah cucu seorang raja dan anak seorang pria berpengaruh di kotanya. Ia dilahirkan dengan nama SU. Tetapi ketika ia memilih mengikuti Kristus, ia mengganti namanya menjadi Paul, suatu tanda ke arah yang baru dalam hidupnya. Pilihannya dibayar dengan sebuah harga.

    "Kakekku dulunya adalah seorang raja di kota ini," kata Paul kepada kontak KDP yang mengunjungi kotanya di tengah Nigeria. "Ayahku adalah seorang pemimpin "agama lain". Ia telah membawa sebagian besar para pemuja berhala di kota ini menjadi pemeluk "agama lain". Saya dilahirkan dan dibesarkan sebagai pengikut "agama lain". Dulunya, terkadang aku memimpin mereka dalam beribadah.

    Nabi yang Bernama Yesus

    SU adalah seorang "agama lain" yang taat. Ia berusaha mempelajari semua yang ia dapat mengenai agamanya. Dan terkadang, ia menonton video-video keagamaan juga. Suatu hari, ia pergi untuk mendapatkan sebuah kaset video mengenai nabi besar "agama lain".

    Ketika ia sampai ke toko video, video yang ia cari sedang habis. Tetapi toko itu menjual Film Yesus. SU tahu mengenai Yesus karena kitab agamanya menyebut Yesus (Isa) sebagai nabi. Jadi, ia memilih film itu. Ia juga akhirnya menemukan video yang ia cari mengenai nabi besar di toko yang lain dan ia pulang dengan membeli dua buah kaset video.

    SU mengundang sahabat-sahabatnya untuk menonton bersama video itu, pertama Film Yesus, lalu dilanjutkan dengan film yang satunya mengenai nabi besar. Sahabat-sahabatnya yang memeluk "agama lain" mengatakan kepadanya bahwa mereka tidak seharusnya menonton video Film Yesus karena Yesus adalah orang Kristen. "Bahkan kalaupun ia adalah Kristen," kata SU kepada sahabatnya, "Yesus ini adalah seorang nabi dalam agama kita. Dan kita harus melihat apa yang sudah Ia lakukan. Jika ada kesalahan (di dalam video tersebut), maka kita dapat mengoreksi." Ia memutar video itu dan mereka mulai menonton kisah Yesus.

    Memilih Yesus

    Kelompok tersebut tertarik oleh kisah, pengajaran agung, mukjizat-mukjizat, dan oleh cinta kasih mulia yang Yesus tunjukkan. "Ketika mereka menyalibkan Yesus, kami semua meneteskan air mata," ingat SU. "Ketika Yesus dibangkitkan (dari kematian) ..., kami semua berteriak: 'YEAH!'"

    Lalu tibalah waktu untuk menonton video mengenai nabi besar. Kisahnya mengenai Perang Badar, suatu kemenangan yang mengukuhkan denominasi agama mereka di dunia Arab. Film itu menggambarkan seorang pria di atas kudanya, mengayunkan sebuah pedang. "Sebelum kami mengerti apa yang sedang terjadi, kami mulai menonton pembunuhan terhadap orang-orang," kata SU. "Jadi aku bertanya kepada mereka, 'Inikah teladan bagi kita? Mengapa berbeda? Tidak menyembuhkan siapapun tapi membunuh orang-orang.'" "Isa ini lebih baik," kata SU.

    "Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat"

    Hari itu, SU dan sahabat-sahabatnya sepakat untuk mengikut Yesus. Mereka bertemu keesokan paginya, hari Minggu, untuk pergi ke suatu gereja dan menyatakan iman baru mereka. Di perjalanan, seorang pria bertanya ke mana mereka akan pergi. Dua dari mereka menyangkal bahwa mereka akan pergi ke gereja dan berhenti melanjutkan perjalanan. Di pintu pagar gereja, dua lagi dari mereka memutuskan untuk tidak mau membayar harga meninggalkan agama mereka, jadi mereka pergi.

    SU dan beberapa sahabatnya yang tersisa memasuki gereja. Orang-orang Kristen tidak yakin apa yang diharapkan darinya, putra seorang pemimpin "agama lain" dan mantan guru agama. Apakah ia datang untuk mencari masalah? Apakah ia datang untuk menyerang orang Kristen? Ketika ia diminta untuk menjelaskan kedatangannya, SU menjawab dengan suara keras, "Halleluyah! Sekarang aku mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat!"

    Hari itu penganiayaan dimulai. Orang-orang "agama lain" berkumpul di luar gedung gereja dan mulai melemparkan batu ke gereja. SU, yang sekarang bernama Paul, harus bersembunyi di rumah sang pendeta, sama seperti Paulus dalam Perjanjian Baru yang harus bersembunyi dari mereka yang mengincar nyawanya. Sebelum Paul kembali ke rumah hari itu, istrinya yang "beragama lain" telah mengambil semua barang yang ada di rumahnya, termasuk putra mereka dan pergi meninggalkannya.

    "Aku Akan Mati Hari Ini"

    Paul ditahan dan dibawa ke hadapan Emir, pemimpin tinggi dalam tingkatan "agama lain". Paul ingat yang terjadi saat itu, bahkan ada terlintas dalam pikirannya, "Aku akan mati hari ini." Tetapi ia juga berpikir; ia bersama Kristus. Ketika sang Emir bertanya apakah benar bahwa ia telah menjadi Kristen, Paul berkata, "Yang mulia, mari kita berdoa." Lalu ia menundukkan kepalanya dan mulai berdoa. Salah seorang penjaga ingin memukulnya saat itu, tetapi sang Emir mengibaskan tangannya. Terkesan dengan keberanian dan pendirian Paul, ia mengizinkan Paul untuk pergi, nyawanya diampuni. Tetapi keluarganya tidak kembali.

    Sekarang sudah hampir 9 tahun sejak hari itu, dan Paul tidak pernah lagi melihat istri dan putranya. Ia mendengar bahwa istrinya dinikahi putra sang Emir dan sekarang putranya dididik oleh seorang garis keras. Paul bersekolah di sekolah Alkitab dan hari ini ia adalah seorang pendeta dan penginjil, membawa orang-orang kepada keselamatan kekal di dalam Kristus. Masih ada ancaman-ancaman dan sewaktu-waktu ia bisa dibunuh, tetapi ia tidak gentar, ia tahu bahwa ia tidak boleh melawan, tapi mengasihi.

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Nama buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Edisi Maret -- April 2009
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Yayasan Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya 2009
    Halaman : 8 -- 9

    Televisi di Mongolia

    Sebuah kelompok di Dakota Selatan telah dijangkau dengan Injil melalui siaran televisi kepada penduduk Mongolia. 'The AMONG (American MONGolian) Foundation' didirikan sejak tahun 1991 yang terdiri atas pengusaha-pengusaha Kristen yang bersama-sama berdoa bagi negara Mongolia yang baru saja terbebas dari komunisme.

    Para pengusaha ini didorong untuk "mengadopsi" Mongolia bagi Kristus oleh Dr. Bill Bright dari Campus Crusade for Christ. 'The AMONG Foundation' terdiri atas 25 - 30 orang yang membantu dalam hal kebutuhan dana bagi penerjemahan film YESUS dalam bahasa Mongolia.

    Di awal tahun 1992, 23 orang dari Dakota Selatan melakukan perjalanan ke Ulaanbaatar, ibukota Mongolia, untuk menghadiri pertunjukan perdana film YESUS yang baru diterjemahkan dalam bahasa Mongolia. Ke-23 orang ini adalah delegasi "pengusaha" pertama dari Barat yang mengadakan perjalanan ke negara kecil ini. Selain itu kelompok "pengusaha" ini juga mengadakan sejumlah seminar tentang masalah perbankan, pengolahan tanah, manajemen bisnis, bagaimana memulai bisnis dan konsep-konsep pasar bebas. Kelompok ini diterima dengan baik oleh penduduk Mongolia.

    Setelah kembali ke negara asal mereka, kelompok orang Amerika ini tetap terus mendoakan penduduk Mongolia dan sejumlah misionaris yang ada di Mongolia. Kontak-kontak tetap dilanjutkan untuk menjaga komunikasi. Sejumlah bantuan kemanusiaan dikirim dengan kapal termasuk biji-bijian, persediaan obat-obatan, dsb.

    Sumber: Religion Today

    e-JEMMi 39/2002

    Teman Sejati

    Raj (nama samaran) ingin balas dendam. Selama 11 tahun Raj telah mengabdikan hidupnya untuk melakukan tindak kekerasan.

    Beberapa tahun yang lalu, keluarganya disiksa dan dibunuh oleh sekelompok tentara pemerintah di negaranya, Sri Lanka. Peristiwa pembunuhan orangtuanya itu secara rinci terekam terus dalam pikirannya, karena itu dia bergabung dengan kelompok Tamil Tigers -- kelompok pejuang aliran keras yang memiliki uang untuk membeli persenjataan yang ampuh. Kelompok ini ingin membentuk pemerintahan mandiri dari pemerintahan Sri Lanka sekarang, dan mereka membenci setiap orang yang mencoba menghalangi dan menghentikan rencana- rencana mereka.

    Kelompok Tamil Tigers melatih Raj untuk membunuh. Mereka juga mengajarkan semua pemikiran/ide-ide mereka. "Sekarang aku dapat membalas dendam kepada orang-orang yang telah membunuh ayah dan ibuku." Dengan cepat, Raj menjadi seorang pembunuh dan terkenal dengan kekejamannya. Itulah jalan yang ditempuhnya selama 11 tahun.

    Meskipun Raj telah membunuh banyak orang, keinginannya untuk membalas dendam tidak pernah hilang dalam hatinya. Terkadang hatinya terasa kosong dan dia merasa kesepian, meskipun dia memiliki banyak teman di kelompok Tamil Tigers.

    Suatu hari, Raj sedang bersama dengan kelompoknya ketika seorang pria dari desa terdekat mendekatinya. Pria itu mengatakan perkataan yang aneh namun lemah lembut. Dia menceritakan tentang kasih Allah dan Juruselamat yang bersedia mati untuk menanggung hukuman atas kesalahan dilakukan semua manusia.

    Raj sangat marah. Bagaimana pria tersebut dapat mengatakan tentang kematian dan hukuman yang sama sekali belum diketahuinya? Bukankah dia (Raj) tidak melakukan hal yang salah?

    Raj mengusir pria itu dan mengatakan akan membunuhnya kalau tidak segera pergi. Namun pria itu tidak menghentikan kesaksiannya tentang kasih Allah. Setiap hari dia selalu datang kembali dan menemui Raj untuk menunjukkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Raj pura-pura tidak mendengarkannya, tetapi seringkali pada sore hari, dia memikirkan apa yang dikatakan pria tadi. Semua yang dikatakan pria itu selalu terngiang-ngiang dalam telinganya.

    Sesudah beberapa bulan pertemuan dengan pria tersebut, akhirnya Raj meminta Allah untuk mengampuni segala kesalahan yang telah dia perbuat selama hidupnya. Raj ingin menjadi pengikut Kristus, meskipun dia tahu bahwa hal itu berarti dia harus meninggalkan kelompok Tamil Tigers yang pasti akan mencoba membunuhnya karena keputusannya.

    Raj melarikan diri dari kelompok Tamil Tigers dan pergi ke ibukota Kolombo. Di kota ini dia bertemu dengan sesama orang Kristen yang menolongnya untuk belajar mengenal Allah dan anak-Nya, Yesus. Pada akhirnya dia memiliki hidup baru dalam Kristus, teman-teman baru dan juga kedamaian baru dalam hidupnya. Dia tahu bahwa Allah mempersiapkan dirinya untuk kembali ke kelompok Tamil Tigers dan menceritakan tentang Yesus serta segala apa yang dapat dikerjakan- Nya untuk menyelamatkan mereka.

    Sumber: S O O N ~~ Issue no. 171

    e-JEMMi 15/2002

    Tembok Api

    Berikut ini adalah sebuah kesaksian yang berasal dari Republik Demokrat Kongo saat di sana terjadi peperangan antara pemerintah dengan tentara pemberontak.

    Pintu didobrak dengan keras saat tentara-tentara musuh memasuki rumah seorang pendeta muda. Semua tentara itu membawa senapan mesin dan mereka dalam posisi siap siaga untuk menembak. Rencana mereka adalah membunuh semua penduduk desa tersebut, dan dimulai dengan membunuh pendeta muda di desa itu bersama dengan keluarganya.

    Keluarga kecil ini terpaku dan menunggu apa yang akan terjadi kemudian. Tentara-tentara itu diliputi dengan kebencian. "Tunggu sebentar," kata Pendeta itu, "biarkan kami berdoa sebentar sebelum kami mati." Seluruh anggota keluarga itu berlutut di lantai dan bergandengan tangan membentuk satu lingkaran, dan memohon pertolongan dari Allah. Setelah selesai berdoa, mereka berpikir para tentara akan segera menghujani tubuh mereka dengan peluru-peluru dari senapan mesin. Namun hal itu tidak terjadi. Perlahan-lahan keluarga itu bangkit berdiri dan melihat keajaiban -- para tentara telah meninggalkan rumah tersebut.

    Beberapa bulan kemudian, mereka baru mengetahui apa yang menyebabkan para tentara itu meninggalkan desa tersebut. Hal itu terjadi ketika pendeta muda tadi sedang mengikuti persekutuan Kristen di kota lain dan dia saat itu sedang men-sharing-kan peristiwa yang baru dialaminya beberapa bulan yang lalu. "Para tentara tiba-tiba saja pergi meninggalkan rumah dan desa saya." Pendeta itu mengatakan bahwa sampai saat ini keluarganya dan para penduduk desa tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka meninggalkan desa tersebut.

    "Mungkin saya dapat menjelaskannya kepada anda," sahut seseorang yang duduk di belakang. Ternyata dia adalah salah seorang tentara yang ikut mendobrak pintu rumah pendeta muda tadi. "Seperti yang anda ketahui, saya ada di sana saat kami memasuki rumah anda. Saya adalah tentara yang mengarahkan senapan di kepala anak-anak anda saat keluarga anda semua berlutut dan berdoa. Kemudian tiba-tiba sebuah tembok api muncul dan mengelilingi semua keluarga anda. Kami bahkan tidak dapat melihat anda karena terhalang oleh kobaran- kobaran api itu. Api itu sangat panas dan kami segera menyadari bahwa rumah itu akan segera terbakar, jadi kami cepat-cepat melarikan diri.

    Ketika telah berada di luar, kami melihat rumah anda penuh dengan api - namun api itu tidak membakarnya dan kami segera melarikan diri dari desa itu juga. Mantan tentara itu melanjutkan kesaksiannya, "Beberapa waktu kemudian saya menyadari bahwa itu bukanlah api biasa seperti yang kami ketahui, tetapi itu adalah api yang dikirim oleh Allah. Jika dengan cara seperti itu cara Allah anda menjawab doa-doa yang anda naikkan, maka saya ingin mengenal-Nya juga. Saya sudah lelah bertempur dan membunuh orang. Itulah alasannya mengapa malam ini saya datang ke tempat ini."

    Mantan tentara ini telah mengetahui bagaimana Allah menjawab doa dan bagaimana Dia memperhatikan orang-orang yang mengasihi-Nya. Mantan tentara ini perlu belajar sendiri bagaimana mengenal, mempercayai, dan mengalami Kasih Allah dalam hidupnya.

    Sumber: S O O N, Issue no. 165

    Tidak Mudah Diombang-Ambingkan

    Oleh: Debora Rahmeinda

    Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin tahu dan ingin memperdalam pengetahuan tentang iman saya. Tetapi saya sungguh tidak tahu aliran mana, di mana, dan bagaimana caranya. Kalau ikut sekolah Alkitab, saya nggak mungkin ada waktu dan nanti kalau lulus mau jadi apa? Masa jadi pendeta? Apalagi suami saya juga tidak mengizinkan saya sering-sering keluar rumah atau sibuk dengan urusan di luar kepentingan anak-anak secara langsung.

    Kemudian saya diminta jadi guru sekolah minggu. Untuk menambah bahan-bahan mengajar, saya suka mencari di internet. Saya juga buka SABDA online untuk mencari ayat-ayat Alkitab pendukung. Secara tidak sengaja, saya melihat ada situs PESTA di mana kita bisa belajar secara online. Wah ini dia .... Saya sangat senang Tuhan menunjukkan situs ini. Saya segera mendaftar dan ternyata daftarnya mudah dan modulnya juga bagus. Malah saya juga mendapat teman-teman seiman tanpa dibatasi oleh ruang atau tempat. Ada yang berdomisili di Bandung, Binjai, Jerman, Korea, Singapore, dll.. Sementara saya sendiri berasal dari Jakarta.

    Ketika mengikuti kelas diskusi, saya lebih senang lagi, padahal kita tidak pernah bertatap muka, tapi terasa akrab. Dan ternyata saya dibuat heran dengan banyaknya pendapat yang berbeda yang membuka cara berpikir yang baru, belajar menghargai pendapat orang lain dan banyak yang menguatkan dasar iman kita. Sungguh banyak berkat yang saya dapat dari kelas online PESTA ini. Harapan saya, dengan ini, kita tidak mudah di ombang-ambingkan oleh ajaran-ajaran yang salah yang menjauhkan kita dari kasih Kristus.

    e-JEMMi 39/2007

    Tidak Rela Membayar Harga

    Para komunis mengangkat dua foto di hadapan mata Natasha. Satu foto menunjukkan Aida Skripnikova, dalam kecantikan masa mudanya yang bagaikan bintang film. Yang kedua, foto orang yang sama yang menunjukkan efek-efek mengerikan dari kehidupannya di penjara di Soviet. Kecantikan belia Aida Skripnikova telah lenyap. Ia tersenyum dengan bibir pecah-pecah dan wajah yang pucat. Ia tampak bagai seorang wanita tua. Kontras di antara kedua foto demikian menyedihkan hingga tak terasa Natasha memalingkan wajah.

    Natasha, pendiri majalah bawah tanah Kristen Rusia, telah dimasukkan berkali-kali ke dalam penjara. Ketika ia dilepaskan, ia mulai mencetak majalahnya kembali, dengan diam-diam, dan sekali lagi ia ditangkap. Kali ini ia mungkin diberikan hukuman yang berat.

    Pada penangkapannya yang terakhir, para komunis kemudian menunjukkan kepadanya gambar dari Sadunaite, seorang biarawati Katolik muda, diikuti dengan fotonya yang mengenaskan ketika ia dilepaskan. Mereka juga menunjukkan kepadanya gambar dari Viltchinskaya, yang pada usia 21 telah kehilangan seluruh gigi dan rambutnya karena makanan yang kurang memadai dan kekurangan sinar matahari ketika dikurung dalam sel penjaranya dan bekerja di kamp-kamp kerja paksa.

    "Inilah yang menanti Anda," mereka mengatakan kepada Natasha, "kecuali Anda bekerja sama dengan kami dan melaporkan nama-nama rekan-rekan kerjamu."

    Untuk menyelamatkan kecantikan fisiknya sendiri, Natasha memberikan kepada para komunis nama dari 50 orang Kristen lainnya. Ia menempatkan rekan-rekan sekerja di gereja bawah tanahnya dalam risiko pemenjaraan dan penyiksaan. Ia sendiri masih dijatuhi hukuman 6 tahun dalam penjara.

    Natasha lupa akan Maria Magdalena yang luntur riasannya karena air mata yang berlinangan. Maria Magdalena pun mengurapi kaki Yesus dengan minyak wangi miliknya yang paling mahal, bahkan menggunakan rambutnya untuk menyeka kaki Yesus. Natasha pun lupa akan Maria, ibu Yesus, patah hati, tersedu-sedu penuh kegetiran di kaki salib, lebih peduli akan Anaknya yang menderita dari pada rambutnya atau rupa lahiriahnya.

    Ia juga lupa akan Yesus, yang paling menderita, dengan wajah-Nya dan tubuh-Nya yang bengkak akibat pukulan, kotoran, dan ludah. Tubuh-Nya gemetar oleh kelelahan dan darah di mana-mana, yang mengurbankan penampilan-Nya sendiri sehingga "tidak ada keindahan yang membuat kita ingin melihat Dia" (Yesaya 53:2 FAYH).

    Jika Anda sampai pada pilihan yang dihadapkan kepada Natasha, apakah yang akan Anda perbuat?

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Jesus Freaks
    Penulis : Toby McKeehan dan Mark Heimermann
    Penerbit : Cipta Olah Pustaka
    Halaman : 127 -- 128

    e-JEMMi 26/2010



    Tiga Misionaris Yang Setia Dalam Pelayanannya Di Oaxaca

    Dr. Ota Walters tiba di Oaxaca tahun 1934 dengan menggunakan kereta api, dan untuk mencapai lokasi Miahuatlan, dia harus naik di punggung seekor bagal selama 3 hari perjalanan. Saat itu, dia menjadi satu-satunya penginjil di wilayah bagian Selatan Oaxaca, sekaligus sebagai satu-satunya ahli pertolongan medis bagi ribuan suku Indian Zapoteco.

    Seringkali, Dr. Ota Walters dilempari tomat atau batu saat dia melintasi wilayah pegunungan Sierra Madre. Asistennya membantunya membawakan mikroskop, obat-obatan dan juga Alkitab saat melintasi jalan-jalan kecil dan lembah-lembah yang berbahaya, ketika Dr. Ota hendak mengunjungi suku Indian terabaikan yang tinggal di wilayah Selatan Oaxaca. Semula, Dr. Ota bekerja sendirian baik untuk merawat pasien, mendirikan klinik, mengajar Alkitab dan memuridkan para petobat baru. Namun, bersyukur, pasangan Manis dan Jane Ruegseggers yang juga merupakan Baptist missionaries, tiba di kota terdekat dengan wilayah itu untuk menolong menanggung beban Dr. Ota.

    Manis dan Jane Ruegseggers melayani suku Indian Zapoteco selama 45 tahun. Sesudah berhasil menerjemahkan kitab Perjanjian Baru dalam bahasa suku tersebut, mereka melanjutkan pelayanan kesehatan, pemuridan dan perintisan gereja. Sebagai buahnya, ribuan orang menerima Yesus dan telah bersekutu bersama di beberapa gereja kecil yang berkembang di sekitar wilayah pegunungan itu.

    Keberanian, kesetiaan dan ketekunan Dr. Ota, Manis dan Jane Ruegseggers telah membuahkan ribuan petobat baru. Paling sedikit, ada sekitar 10 suku terabaikan yang telah menerima berita Injil dari para misionaris itu.

    Sumber: Global Prayer Digest, February 3 & 4, 2001

    e-JEMMi 11/2001

    Tokoh Penting Dalam Doa Sepanjang Sejarah Misi

    Doa tidak hanya dianggap penting dalam Alkitab, tetapi juga sepanjang sejarah gereja. Kalau kita menyelidiki sejarah, maka kita bisa menemukan banyak hamba Tuhan yang sungguh-sungguh berdoa dan berhasil dalam pelayanan mereka.

    Sebagai contoh adalah MARTIN LUTHER. Dia mengatakan, "Jikalau saya gagal untuk mengasingkan waktu dua jam untuk berdoa setiap pagi, maka iblis mendapat kemenangan sepanjang hari. Saya mempunyai banyak sekali pekerjaan, sehingga saya tidak dapat memulainya sebelum mengasingkan waktu tiga jam dalam doa setiap hari." Ia mempunyai semboyan, "Ia yang telah berdoa dengan baik, sudah belajar dengan baik."

    Pada waktu lima orang siswa SMU bertemu di Kota Halle di Jerman untuk berdoa dan membaca firman Tuhan bersama-sama, persekutuan ini menjadi benih bagi gerakan MISI MONROVIA yang begitu penting dalam sejarah misi.

    Sesudah CHARLES dan JOHN WESLEY dengan beberapa mahasiswa yang lain membuka persekutuan doa, membaca firman Tuhan bersama-sama, dan saling mendoakan, supaya mereka dipakai lebih efektif bagi Kerajaan Allah di dunia ini, Tuhan menanamkan kerinduan di dalam hati mereka untuk memberitakan Injil di antara orang Indian di Amerika. Ini menjadi permulaan gerakan metodis, yang sekarang tersebar di seluruh dunia.

    Pada mulanya WILLIAM CAREY, seorang tukang sepatu dari Inggris yang bertobat, sering mengikuti persekutuan doa. Dia sepakat dengan beberapa temannya untuk sungguh-sungguh mendoakan bangsa-bangsa yang belum mendengar Injil. Akhirnya dia berjanji, "Saya bersedia untuk pergi ke tempat orang kafir yang belum beragama dan yang belum mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, jikalau kalian setia mendoakan saya." Kelima temannya berjanji mendukung Carey dalam doa seumur hidup mereka. Itulah sebabnya Carey pergi ke India dan membawa Injil ke sana. Sesudah itu ia dan timnya di Serampore College menerjemahkan dan membantu/supervisi proses penerjemahan Alkitab ke dalam 36 bahasa. Teman doanya yang paling setia adalah adik perempuannya yang lumpuh yang tidak bisa ke luar dari tempat tidur. Bertahun-tahun dia dengan setia dan berjasa mendoakan kakaknya, sehingga Injil bisa diberitakan di Asia.

    Pada tahun 1881, DWIGHT L. MOODY, seorang penginjil Amerika datang ke Inggris dan mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) besar-besaran di sana. Banyak mahasiswa yang bertobat. Ada tujuh orang mahasiswa yang sangat pandai bertobat serta dipanggil Tuhan untuk melayani sebagai Misionaris. Mereka bergabung di bawah Yayasan Hudson Taylor di RRC. Salah satu di antara mereka adalah seorang olahragawan yang terkenal di Inggris bernama C.T. Studd. Pertama-tama Studd melayani di RRC, setelah itu di India dan seterusnya, dengan yayasannya sendiri ia melayani di negara Afrika. Dan masih banyak contoh yang lain.

    Pernah ada LIMA MAHASISWA di Amerika Serikat yang bertemu dua kali seminggu di pinggir sungai untuk berdoa. Pada suatu hari mereka lari dan masuk ke dalam suatu gudang supaya tidak kehujanan. Pada waktu hujan turun sangat lebat, mereka menyerahkan kehidupan mereka bagi misi sedunia kepada Tuhan. Salah satu di antara mereka adalah ADONIRAM JUDSON yang akhirnya menjadi misionaris di Burma (Myanmar). Kesuksesan Dr. Judson dalam pekerjaan Tuhan sebagai utusan Injil bersumber pada kenyataan bahwa ia menyediakan waktu untuk berdoa. Dia sendiri menjelaskan kepada jemaatnya pada waktu ditanya mengenai hal ini:

    "Aturlah urusan-urusan Saudara sedemikian rupa, sehingga dengan mudah Saudara dapat menyisihkan waktu dua atau tiga jam setiap hari, bukan saja untuk latihan-latihan kebaktian pribadi, tetapi khususnya untuk berdoa secara rahasia dan bersekutu dengan Allah. Dalam persekutuan pribadi dengan-Nya dalam bilik doa pribadi Saudara. Mulailah setiap hari dengan bangun sesudah tengah malam, dan lakukanlah kebaktian pribadi di tengah-tengah kegelapan dan kesunyian malam hari. Selanjutnya pada jam sembilan malam, sediakan waktu juga untuk berdoa. Bersikaplah tegas dalam hal ini untuk kepentingan Tuhan. Sadarilah bahwa waktu sekarang adalah singkat, dan kiranya pekerjaan dan kunjungan-kunjungan jangan merampas Saudara dari Tuhan."

    Dengan kebiasaan ini Dr. Judson membangun suatu kerajaan bagi Kristus dengan meletakkan dasarnya dari Allah, sebagai granit yang kekal di hati Burma (Myanmar). Dia berhasil dengan baik, dan dia merupakan seorang dari sedikit orang yang telah memberi kesan kepada dunia tentang kemahakuasaan Kristus. Banyak orang yang mempunyai karunia dan bakat yang lebih besar dan lebih terdidik daripada dia, tetapi tidak memberi kesan seperti Judson. Pekerjaan rohani mereka sama seperti jejak-jejak di atas pasir yang segera hilang, akan tetapi pekerjaan Judson terukir pada hati orang yang amat keras.

    50 tahun sesudah Judson dan teman-temannya berdoa di gudang di pinggir sungai di Amerika, ada seorang pemuda lain bernama WISHARD yang berdoa di tempat yang sama. Dan dia berkata, "Tuhan, saya bersedia untuk melayani Tuhan di mana-mana. Tempatkan saya di mana saya bisa dipakai secara efektif bagi kerajaan Allah." Dan Tuhan memakai pemuda ini untuk menanam pikiran misi di kalangan-kalangan CVMJ dan di persekutuan-persekutuan doa di universitas-universitas. Banyak mahasiswa melalui pemuda ini terpanggil untuk menjadi misionaris.

    Pada tahun 1888 ada 250 ORANG MAHASISWA yang bertemu selama satu bulan pada Konferensi Misi di bawah pimpinan Dwight L. Moody di Amerika Serikat. Banyak di antara mereka berdoa semalam suntuk, dan hampir 100 orang mahasiswa menyerahkan diri bagi pelayanan misi sedunia. Mereka mengatakan, "Semua orang harus pergi kepada semua bangsa." Tujuan mereka adalah untuk mencapai dunia ini dengan Injil dalam generasi mereka. Sampai tahun 1945 lebih dari 20.000 misionaris diutus dari Amerika (referensi: Paul Wagner, "ein Herz fuer Weltmission" [Stuttgart, Jerman, 1985] 34-37).

    Memang jelas sekali bahwa para hamba Tuhan ini dipakai oleh Tuhan. Allah menciptakan mereka dengan karunia untuk berdoa. Inilah tujuan Allah, yaitu manusia yang berdoa. Barangsiapa sudah lahir baru dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, dia juga menerima Roh Kudus. Roh Kudus ini mengajar manusia untuk berdoa. Ada yang berdoa lama selesai, ada juga yang berdoa sering tetapi singkat. Yang penting adalah bahwa setiap anak Tuhan harus berdoa. Tanpa doa, Jemaat Tuhan tidak bisa berhasil mengalahkan dunia ini dan tidak bisa memberitakan Injil. Kita perlu mempunyai prioritas yang jelas dan sesuai dengan Alkitab. Mari kita meniru para misionaris dan mulai berdoa dengan sungguh-sungguh. Martin Luther mengatakan, "Pekerjaan orang Kristen adalah berdoa, seperti seorang tukang sepatu yang membuat sepatu dan seorang penjahit yang menjahit baju, demikianlah seorang Kristen diperintahkan untuk berdoa." (referensi: Peter Meier dan John Hyde, "der Beter" [Beatenberg, Swiss, 1977] 55).

    Diedit dari sumber:

    Judul Buku : Doa dan Misi
    Judul Artikel: Beberapa Tokoh Penting dlm Doa Sepanjang Sejarah Misi
    Penulis : Dr. Veronika J. Elbers
    Penerbit : Seminari Alkitab Asia Tenggara, Malang, 2001
    Halaman : 16 - 21

    e-JEMMi 04/2003

    Tombol Merah dan 3000 Jiwa Pun Selamat

    Cina adalah salah satu negara dimana di sana Tuhan sering memberi hak istimewa pada para pengikutnya untuk mengalami penderitaan dan penganiayaan -- namun tentunya juga keajaiban luar biasa sebagai pernyataan dari kuasa-Nya. Walaupun kekristenan di Barat telah menghabiskan banyak waktu untuk membuktikan bahwa Anda bisa mendapatkan salah satu dari hal itu tanpa harus mengalami pengalaman lainnya, namun hal tersebut sebenarnya merupakan kombinasi antara salib dengan kebangkitan, penderitaan dengan kemuliaan Tuhan yang akan memiliki dampak paling lama di negara itu. Paul dan Joy Hattaway dari Asia Harvest menceritakan pengalaman ini:

    Ketika gelombang penganiayaan melanda seluruh Cina pada tahun 1950- an, pastor Li juga ditangkap di daerah selatan propinsi Guangdong. Dia dituduh melakukan "kegiatan-kegiatan kontra revolusioner" dan dihukum dengan menjalani kerja paksa di sebuah pertambangan biji besi yang terletak di daerah ujung timur laut Cina. Istri Li dan 5 anaknya, termasuk si bungsu yang masih bayi, tidak punya lagi penopang keluarga. Akhirnya mereka memutuskan untuk bergabung dengan pastor Li dengan menempuh perjalanan sejauh 2000 mil ke Heilongjiang demi memungkinkan mereka dapat mengunjunginya lebih sering, dan supaya mereka dapat lebih dekat seandainya suatu saat terjadi keajaiban, yaitu pastor Li dibebaskan.

    Keluarga itupun menjual semua yang mereka miliki dan membeli tiket untuk perjalanan naik kereta api selama seminggu. Ketika telah sampai, mereka menggunakan papan kayu tua dan selembar kain terpal untuk membuat sebuah gubuk reot di jalan dekat kamp pekerja itu. Pastor Li menjalani kerja paksa itu selama 14 jam tiap harinya, dengan makanan yang tak layak, dalam temperatur udara yang mendekati titik beku. Beliau pun meninggal 3 bulan kemudian.

    Ketika keluarganya mendengar berita duka itu, mereka pun merasa sangat terpukul dan putus asa. Istri Li tak mampu lagi melihat adanya masa depan bagi mereka, dan ingin mengakhiri hidupnya. Anak- anaknya menjadi terabaikan. Akhirnya, ia berkata pada anak-anak itu bahwa ia akan pergi untuk mencari kerja. Si sulung berkata, "Jangan, Bu, ibu tidak boleh pergi bekerja. Adik yang masih bayi membutuhkan ibu. Dia selalu menangis mencari ibu sepanjang hari. Saya saja yang bekerja." Gadis berusia 12 tahun itu pun pergi menghadap kepala kamp pekerja itu dan berkata padanya, "Ayah saya telah dikirim ke tempat yang tidak mengenal Tuhan ini karena dia mengasihi Yesus Kristus. Itulah satu-satunya pelanggaran yang dia lakukan. Ayah adalah orang baik, yang mengasihi orang lain dan membantu mereka. Sekarang ayah telah tiada, dan kami di sini tidak mempunyai makanan, uang dan tempat tinggal. Kami bahkan tak bisa kembali lagi ke selatan. Saya ingin tahu kalau saja ada pekerjaan yang dapat saya lakukan di kamp ini." Kepala kamp itu masih ingat dengan pastor Li, dan tahu bahwa gadis kecil itu adalah putrinya Li. Di dalam hatinya terbersit rasa kasihan, dan ia pun berkata,"Aku punya pekerjaan untukmu, tapi membosankan, dan bayarannya rendah." Gadis kecil itu tanpa ragu-ragu segera mengambil pekerjaan itu.

    Kepala kamp membawanya ke lokasi di mana 3000 pekerja paksa itu menambang biji besi. Ia berkata padanya, "Kamu lihat tombol merah itu? Tugasmu adalah berdiri di dekat tombol itu sepanjang hari, dan jika ada yang menyuruhmu memencetnya, kamu harus segera melakukannya. Itu adalah tombol alarm untuk membunyikan tanda peringatan di dalam tambang di bawah tanah. Ketika suara tanda peringatan berbunyi, para pekerja harus segera keluar secepatnya. Kamu tidak boleh memencet tombol itu sembarangan, harus hanya ketika ada yang menyuruhmu." Dan si sulung kecil dari keluarga Li itu pun berdiri di sebelah tombol itu sepanjang hari demi hari, minggu demi minggu. Ketika menerima upah pertamanya, kegembiraan luar biasa segera meliputi dirinya dan seluruh keluarganya meski besarnya hanya beberapa dolar saja.

    Di suatu siang, mendadak dia mendengar suatu suara "Pencet tombolnya!". Dia melihat dan berputar ke sekelilingnya, mencoba mencari tahu suara siapakah itu, namun tak seorang pun yang kelihatan. Tak lama kemudian, terdengar sekali lagi suara, "Cepat! Pencet tombolnya, sekarang!". Masih tak ada seorang pun yang kelihatan, dan dia mulai berpikir bahwa dia telah kehilangan akalnya. Dia hanya harus memencet tombol peringatan ketika ada sesuatu yang gawat, dan saat ini, semuanya kelihatan baik-baik saja. Beberapa detik kemudian, kembali sebuah suara terdengar, kali ini dengan nada yang sangat mendesak "Li Kecil, pencet tombolnya sekarang!" Kali ini dia segera menyadari bahwa itu adalah suara Tuhan-nya yang berkata padanya. Dia tidak mengerti alasan kenapa dia harus memencet tombol itu, tapi dia tahu bahwa dia harus menuruti- Nya.

    Alarm pun dibunyikan, dan 3000 orang segera naik ke permukaan secepatnya, dengan bingung dan penasaran apa yang telah terjadi. Kepala kamp juga berlari keluar dari kantornya, ingin tahu kenapa gadis kecil itu memencet tombol merah. Hanya berselang beberapa saat setelah pekerja terakhir meninggalkan lokasi pertambangan, sebuah gempa bumi hebat mengguncang tempat itu. Seluruh area pertambangan itu runtuh dan tak ada seorang pun yang mampu membangunnya kembali sampai saat ini. Suatu keheningan yang mencekam segera meliputi tempat itu saat guncangan gempa bumi itu berakhir, semua orang memandangi sosok kecil dan ringkih yang telah menekan tombol merah itu. Akhirnya, suara kepala kamp segera memecah keheningan, "Kawan Li, bagaimana ... bagaimana Anda tahu kalau harus menekan tombol merah itu?" Li Kecil menjawab sekeras-kerasnya, "Tuhan Yesus Kristus-lah yang menyuruh saya untuk memencet tombol merah itu. Ia menyuruh saya tiga kali sebelum saya melakukannya. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan bagi kita untuk mengenal Allah yang hidup dan yang sejati. Dia mencintai kalian semua dan Dia baru saja menunjukkan kasih-Nya dengan menyelamatkan kalian semua. Kalian harus berbalik dari dosa-dosa kalian dan memberikan hidup kalian pada-Nya!" Sekitar 3000 pekerja dan kepala kamp segera berlutut dan berdoa supaya Yesus mengampuni mereka dan mau hidup dalam hati mereka semua. (t/ary)

    Sumber: Asia Harvest Newsletter #80

    ==> http://www.asiaharvest.org/

    e-JEMMi 46/2005

    Tongaland -- Dulu dan Sekarang

    Lebih dari tiga tahun yang lalu Every Home for Christ sama sekali tidak mengetahui apapun tentang suku Tonga -- yang berjumlah sekitar 100.000 orang dan tinggal di bagian tenggara Zimbabwe. Suku ini terdaftar sebagai "suku terabaikan" di buku panduan misi pada saat itu. Sejak saat itu Allah telah merencanakan hal-hal yang mengagumkan dan suku ini sekarang dapat dikeluarkan dari daftar "suku terabaikan". Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kisahnya adalah sebagai berikut ....

    Direktur wilayah EHC, Pete Simonis, mengetahui banyak hal tentang suku Tonga karena dia pernah terlibat dalam usaha mengabarkan Injil kepada suku ini sejak awal. Dalam berbagai hal, suku Tonga mewakili ribuan kelompok suku terabaikan yang dilayani oleh para pekerja EHC di seluruh dunia. Para pekerja itu harus mengenalkan Injil kepada mereka sebelum dengan penuh percaya diri berkata bahwa mereka telah menjangkau rumah yang terakhir. Beginilah kisah dari Pete Simonis:

    Cleopas Chitapa, direktur EHC nasional di Zimbabwe, diminta untuk mengadakan penelitian dan mengumpulkan informasi sehingga dapat dipakai sebuah tim untuk memulai awal pelayanannya di antara suku Tonga. Cleopas bekerja keras untuk melakukan penelitian tersebut namun dia tidak mendapat terlalu banyak informasi. Hal ini sungguh mengherankan. "Saya akhirnya memastikan sebuah tanggal untuk bertemu Cleopas di Harare dan memintanya untuk menyerahkan hasil final penelitiannya sebelum saya tiba: 'Silakan pergi dan bertanya kepada jurusan ilmu humanisme atau universitas antropologi, dan jika mereka tidak mengetahuinya, pergilah ke perpustakaan untuk mencari kliping koran yang terbit secara nasional di negara anda dan lihat apa yang dapat anda temukan.'"

    Ketika saya tiba di Harare, Cleopas menyampaikan berita buruk. Universitas tidak dapat memberikan informasi apapun, sedangkan kliping koran hanya menyajikan sedikit cerita yang sama sekali tidak berguna. Pernyataan tersebut kedengarannya sungguh tidak masuk akal. Ada informasi yang melaporkan bahwa menurut rumor ada beberapa orang suku Tonga yang memiliki kaki berkuku dua seperti hewan tertentu dan kanibalisme kemungkinan masih ada di wilayah terpencil 'Tongaland yang Mengerikan!'

    Hanya ada satu cara untuk menemukan kebenaran: Cleopas dan saya harus pergi dan mencari fakta itu sendiri! Allah menyediakan mobil yang kami beri nama Yosua (sesuai dengan nama pengintai yang diutus oleh Musa) dan dana untuk membiayai kunjungan penelitian tersebut. Hari terakhir sebelum kami meninggalkan Harare, Allah memberikan terobosan besar. Anak laki-laki saya, Jean, yang mengikuti seminar medis tentang obat-obatan tropis di Harare, kemarin baru saja bertemu seorang gadis Tonga yang cantik, berpendidikan dan pintar, yang juga menghadiri seminar medis tersebut. Sore itu juga, saya pergi menemui gadis itu. Namanya Lydia dan dia tertawa saat mendengar informasi menggelikan yang kami terima mengenai sukunya. Namun dia sungguh senang ketika dia mengetahui tujuan perjalanan kami ke Tongaland. Airmata kebahagiaan merebak di matanya saat dia menjawab: 'Saya seorang Kristen juga. Keluarga saya di Tongaland semuanya telah percaya Yesus. Kakek saya adalah orang pertama yang meletakkan dasar bagi pelayanan misi pertama di Tongaland, di daerah kami, di dekat Mlibizi. Kakek saya telah pulang ke rumah Allah, tetapi nenek saya masih hidup!'

    Lydia memberikan informasi yang berharga tentang suku Tonga dan dia membuatkan peta kasar. Dengan pujian dalam hati, keesokan harinya Cleopas dan saya berangkat pagi-pagi sekali, dan ketika matahari terbenam sore harinya, kami telah berada di pusat wilayah Tongaland! Kami bersyukur kepada Allah untuk alat transportasi yang disediakannya, tetapi terlebih bersyukur saat bertemu dengan orang- orang yang mengagumkan. Neneknya Lydia buta, namun dia sangat senang karena Allah telah menuntun kami ke sini. Nenek itu berkeinginan agar cucunya membawa kami ke makam suaminya, yang perlu menempuh perjalanan panjang melewati ladang jagung menuju ke sebuah pohon besar. Di sana kami mengucap syukur kepada Allah untuk lelaki bernama Jack (kakeknya Lydia) yang telah mengundang Allah ke Tongaland lima dekade yang lalu. Kami melihat bahwa sudah ada sekitar 100 orang percaya di wilayah itu, buah dari pelayanan misi pertama dimulai dari tempat ini. Kami tidak dapat bertemu dengan pendeta dari sebuah gereja kecil yang ada di dekat tempat itu, tetapi keluarganya menceritakan tentang dia -- seorang pria bernama Robson Mkuli. Kami bertemu dia dan menjalin persahabatan dengannya.

    Cleopas kembali sesudah beberapa bulan dan mengatur acara pelatihan penginjilan di gerejanya Robson. Pelatihan itu diikuti sekitar 40 orang. Robson agak merasa skeptis dengan metode kami untuk memberitakan Injil dari rumah ke rumah. Dia menjelaskan bahwa dia dan para pekerjanya tidak mendapatkan hasil, karena selama 25 tahun mereka telah gagal untuk menjangkau orang-orang di sekitar mereka dengan Injil. "Lalu, kami mulai mengimplementasikan pendekatan EHC," Robson menjelaskannya. "Dan puji Tuhan! Saat ini, kami telah memulai empat gereja baru di Kasompole, Mabonolo, Manseme, dan Dangamuse. Mohon kirimkan kepada kami lebih banyak literatur dan Perjanjian Baru!"

    Banyak pendeta seperti Robson dilatih. Banyak pria dan wanita mulai ikut berpartisipasi untuk mengabarkan Injil ke semua rumah di Tongaland. "Allah menyertai kami sampai saat ini. Dalam jangka waktu 3 bulan di tahun 1999, 11.184 lembar literatur telah didistribusikan ke 7.461 rumah dan 4.693 orang membuka hati untuk menerima Yesus!" Sedikitnya ada 323 gereja rumah telah dimulai sejak sore itu lebih dari 3 tahun yang lalu ketika Cleopas dan saya tiba di Tongaland. Dan, yang lebih membahagiakan lebih dari 12.000 orang Tonga telah menerima Injil! Saat ini, kami dengan sukacita melaporkan bahwa hampir sebagian besar wilayah Tongaland telah dijangkau Injil. "Kami bersyukur kepada Allah untuk ratusan orang percaya yang telah menolong dengan cara memberikan sepeda kepada lebih dari 30 pekerja, membagikan puluhan ribu buklet Injil dan Alkitab. Kami sungguh berterima kasih karena Allah telah memakai para pekerja EHC untuk memberikan sedikit nilai tambah kepada investasi besar yang telah dikerjakan Allah dalam kehidupan orang-orang Tongaland selama bertahun-tahun, bahkan jauh sebelum kami tiba."

    Sumber: Fax of the Apostles, July 2002

    e-JEMMi 32/2002

    Tuaian Terus Menantang

    "Sila kencangkan tali kedar, pesawat akan mendarat di Bandara Pocentong, Kamboja ...." Itulah pengumuman dari kru pesawat Malaysia Airlines yang membawa saya, Lisa dan Dony (bukan nama sebenarnya), terbang dari Cengkareng menuju Kamboja. Maksud kru tersebut supaya sabuk pengaman segera dikencangkan karena pesawat akan mendarat. Jam menunjukkan pukul 11.00 siang waktu Kamboja. "Welcome to Cambodia" terpampang jelas di pintu kedatangan bandara itu.

    Hari Jumat 11 Pebruari 2005 untuk kedua kalinya saya menginjakkan kaki di negara yang baru beberapa tahun ini masuk anggota ASEAN, sedangkan Lisa dan Dony baru pertama kali ke sana. Kami tidak harus turun dari pesawat, karena pada saat ini airport Pocentong sudah mengalami pemugaran, berbeda ketika tujuh tahun yang lalu, saya harus turun dari pintu pesawat dan berjalan kaki menuju counter imigrasi. Saat ini dengan kemajuan teknologi kami tinggal turun dari pintu pesawat langsung melalui sebuah lorong yang dinamakan belalai gajah. Sebagaimana layaknya airport di negara yang sudah maju.

    "Selamat datang di Kamboja," kata Yanto dengan senyum yang memancar pada wajahnya. Ia telah menanti kedatangan kami sejak pukul 10.00. Memang Yanto dan keluarganya sudah hampir setahun ini tinggal di Pnom Penh. Setelah itu kami menaikkan barang-barang ke dalam bagasi taksi yang rupanya telah dipesan sebelumnya. Saya kagum dengan kemajuan pembangunan bandara, dari yang kelihatan kusam sekarang kelihatan wah, nampak kontras bila dibandingkan bandara kebanggaan kita Cengkareng, yang walaupun luas dan besar tapi tidak berkesan wah. Ironis memang, negara ini miskin tapi tidak ingin tengggelam dengan kemiskinannya, seperti kata orang, "yang penting penampilannya".

    Memang kesan kumuh dan kotor yang pernah saya lihat beberapa tahun yang lalu sudah mulai sirna. Saya meyaksikan sendiri pembangunan gedung di sana sini, bahkan jalan-jalan pun sudah banyak yang diaspal. Negara ini sudah menampakkan kestabilannya, kita tahu kondisi negara ini beberapa tahun lalu dilanda kemelut perang saudara. Mereka bertikai dan berusaha saling berebut kekuasaan, dan peristiwa yang paling terkenal beberapa waktu yang lalu adalah tragedi "killing field" yaitu ladang pembantaian. Konon kabarnya akibat perang saudara terjadi pembunuhan massal dan hampir sekitar sejuta jiwa melayang akibat pertikaian tersebut. Memang dalam dunia politik tidak ada istilah kawan sejati, yang ada kepentingan sejati, sejauh kepetingan atau tujuannya sama, masih bisa dianggap sebagai teman, namun apabila tujuan berbeda tentunya sudah langsung menjadi lawan.

    "Stop ... stop kita sudah sampai," kata Yanto. Kami menginap di sebuah guest house MCC, milik sebuah organisasi Kristen dari Amerika. Dengan ramah kami diterima oleh sekretaris MCC, orang setempat yang juga fasih berbahasa Inggris. Siang itu kami istirahat karena cuaca di sana rata-rata sekitar 34 derajat celcius dan kalau musim panas bisa sampai 37-39 derajat celcius, jadi bisa dibayangkan kalau siang udaranya sangat panas sekali. Di Indonesia saja kalau panas udaranya paling-paling hanya 32 derajat. Sekitar jam 12 siang segala aktivitas kantor istirahat karena cuaca panas yang cukup menyengat kepala. Belum lagi debu yang banyak bertebaran hampir di seluruh kota, hal ini dapat dimaklumi karena begitu panasnya cuaca di sana. Berbeda dengan Jakarta yang udara panasnya disebabkan oleh polusi udara.

    Selama di sana, waktu-waktu kami lalui dengan melihat, mengamati dan mencari informasi, baik melalui orang-orang Indonesia yang tinggal dan bekerja di sana dan juga beberapa orang asing yang kami temui. Informasi ini sangat penting agar kami mendapat gambaran yang seobyektif mungkin. Dunia pendidikan sangat berkembang pesat, banyak sekolah-sekolah lokal yang menawarkan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan di sekolah-sekolah seperti Newton Thilay Institut, American Institut dan universitas lain yang menawarkan hal yang sama. Mungkin mereka sudah menyadari globalisasi sehingga bahasa Inggris sebagai bahasa internasional sangat dikembangkan, walaupun sejauh pengamatan kami pengajarnya hanya orang lokal, bukan native speaker. Sejauh ini di negara kita, universitas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya adalah Universitas Pelita Harapan di Jakarta dan Universitas Advent di Cimahi. Di sana, seperti di Newton Thilay Institut, mulai dari anak TK sampai yang lebih tinggi, jika pagi hari semua berkomunikasi memakai bahasa Inggris dan siang memakai bahasa lokal yaitu Khmer. Biaya pendidikan pagi hari lebih mahal karena memakai bahasa asing. Kami juga mensurvei lembaga pendidikan yang dikelola orang Kristen yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

    Keadaan pasar umumnya hampir sama dengan keadaan pasar tradisional di negara kita. Yang membedakannya yaitu penggunaan uang, selain memakai uang lokal yaitu reel, mereka juga memakai uang dolar Amerika, jadi Betty sering memegang pecahan yang kecil seperti 1 dolar, 2 dolar dan terkadang ada yang 5 dolar dll. Sementara kalau di negara kita belum tentu para pedagang tradisional memegang uang dolar Amerika seumur hidupnya, yah inilah salah satu keunikannya. Kebanyakan makanan di sini banyak yang tidak halal (menurut saudara sepupu kita), hal ini dapat dimaklumi karena 95 % orang Kamboja beragama Budha yang sudah tentu tidak asing dengan makanan yang mengandung daging babi, yah hampir samalah kalau kita pergi ke Bali, menjadi pemandangan biasa kalau kita melihat di Bali ada rumah makan atau warung makanan yang banyak menyajikan menu daging babi. Saya jadi teringat masa kecil dimana ayah saya sering membuat masakan babi guling, karena kebetulan ayah saya suka memasak.

    Truong ... botsdam ... botsway ... chop ... itu sebagian aba-aba atau perintah dalam bahasa Khmer yang kami hafal selama di sana (terus ... belok kanan ... belok kiri ... stop). Memang perintah ini sangat penting karena transportasi yang banyak sekali dipakai masyarakat adalah ojek, tapi uniknya ojek di sana bisa memuat 4 orang dewasa termasuk tukang ojeknya, lagi-lagi tukang ojek pun juga sudah terbiasa menerima uang dolar Amerika. Di sana ada juga becak yang sama dengan negara kita, ada juga taksi tapi sangat mahal. Rupanya penyerapan tenaga kerja belum maksimal sehingga peluang kerja yang cukup terbuka lebar saat ini adalah menjadi tukang ojek. Hampir di mana-mana banyak sekali tukang ojek. Angkot belum ada saat ini, tapi bis antar kota sudah ada dan cukup memadai.

    Orang Indonesia yang tinggal di seantero Kamboja berjumlah sekitar 300 orang, "itu yang tercatat," kata salah seorang staf kedutaan Indonesia yang pernah kami temui, ketika sedang makan pecel lele di rumah makan Bengawan Solo yang saat ini dikelola oleh Mas Suyatno bersama keluarganya. Namanya Pak Tamel asli Sumatra Utara dan sudah 3 tahun bertugas di Kamboja, "Saya selalu rindu tanah air", katanya. Oleh sebab itu hampir setiap makan siang beliau mencari menu masakan Indonesia, terkadang pesan ayam bakar, ikan balado, pempek palembang dll. Dan rupanya banyak orang kedutaan yang pesan makanan di warung Mas Suyatno selain beberapa orang Indonesia yang tinggal di sana dan juga ada orang asing, "rasanya enak dan harga bersaing" itu motto yang dipakai oleh Mas Suyatno. Sebab di sana juga ada restoran Indonesia lainnya yaitu Kafe Bali, yang lokasinya dekat istana kerajaan dan Sungai Mekong yang membelah kota Phnom Phen. Tapi kata orang, menu makanan di Kafe Bali harganya lebih mahal ketimbang rumah makan Bengawan Solo, kepunyaan Mas Suyatno.

    "Nama saya Joko", demikian yang diucapkan saat berkenalan dengan Mas Joko yang asli dari Jawa, beliau sudah cukup lancar bahasa Khmer, karena sudah 2 tahun tinggal di sana. Selain itu beliau juga tinggal dengan pemuda-pemuda Khmer sekitar 16 orang. Mereka menyewa sebuah rumah model ruko berlantai 3 yang sewa sebulannya sekitar 280 $ US. Kebanyakan orang Khmer yang tinggal dengan Mas Joko bukan orang yang percaya, ada yang sudah bekerja, sebagian mahasiswa yang kebanyakan mereka berasal dari luar kota Phnom Penh. Saya melihat ada batas di sana sehubungan "going to the lost" menjangkau yang terhilang. Melalui persahabatan dan interaksi yang wajar, beberapa di antaranya menjadi orang percaya dan bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. Rupanya model seperti ini cukup efektif untuk membagikan dan mendemonstrasikan "Kabar Baik" secara wajar. "Saya banyak berdoa dan menggumulkan di hadapan Dia," kata Mas Joko.

    Ada salah seorang yang sudah percaya, mulanya orang ini membawa semua Kitab Suci dari berbagai agama dan semuanya dibaca dan dipelajarinya, sampai mengalami frustrasi selama berbulan-bulan, karena belum mendapatkan apa yang sedang dicarinya. Sampai pada suatu saat ada kesempatan mendengar Kabar Baik itu dan akhirnya dia menerima-Nya. Bahkan menjadi salah seorang yang cukup bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. Memang, ladang sudah menguning dan siap untuk dituai. Tuaian banyak sekali di sana karena saat ini mereka sangat terbuka dengan "Kebenaran" yang sesungguhnya. Masalahnya siapa yang akan mengabarkan Kabar Baik itu?

    "Sila kencangkan tali kedar ...." Tepat pukul 11.00 siang pesawat Malaysian Airlines yang kami tumpangi lepas landas dari Bandara Pocentong Kamboja menuju Cengkareng. Sambil memandang ke bawah dari kaca jendela pesawat, tampak dari ketinggian, negara Kamboja yang begitu menawan seperti sedang menantikan pembawa Kabar Baik itu datang kembali.


    Diambil dari:

    Judul Buletin : Utusan, Volume 9, Tahun 4, Mei - Agustus 2005
    Judul artikel : Tuaian Terus Menantang
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerbit : Dept. Pengutusan Lintas Budaya (DPLB), Para Navigator
    Halaman : 21 -- 23

    e-JEMMi 05/2006

    Tuhan Celikkan Mataku

    "Dulu, saya adalah penganut agama Hindu dan terbiasa untuk memuja semua dewa dan dewi, sedangkan suami saya melakukan praktek perdukunan," kata Jeewa saat dia mulai men-sharingkan kisahnya di desa Rajasthan dimana mereka tinggal. "Suatu hari saya sakit demam selama beberapa hari. Setelah sembuh, saya kehilangan penglihatan saya dan menjadi buta total. Suami saya mencoba melakukan segala kemampuannya sebagai dukun, tetapi saya tidak sembuh. Lalu dia membawa saya kepada beberapa dukun lain yang dianggapnya lebih mampu dan bahkan ke beberapa dokter spesialis mata, tetapi mereka tetap tidak mampu menyembuhkan penglihatan saya. Saya mempersembahkan banyak sajian untuk dewa dan dewi yang menjadi kepercayaan kami sekeluarga. Saya juga melakukan berbagai upacara ritual, dan menjanjikan banyak hal kepada dewa bila memberikan kesembuhan. Namun tak ada yang terjadi. Tujuh tahun berlalu. Suatu hari seorang misionaris dari Every Home for Christ, Brother Shanti, datang ke desa saya dan menceritakan berita baik mengenai keselamatan. Dia juga menceritakan bagaimana Yesus Kristus membuat orang lumpuh dapat berjalan, mencelikkan mata orang buta, dan menyembuhkan orang bisu dan tuli. Brother Santi juga menceritakan tentang Kasih Tuhan yang tertulis dalam Alkitab. Akhirnya, saya menerima Injil itu. Saya bertobat dan berjanji tidak akan lagi menyembah patung dewa-dewi, namun hanya mau menjadi pengikut Yesus. Lalu saya mulai bergabung sekelompok orang yang selalu bersekutu bersama tiap hari Minggu untuk memuji dan menyembah Yesus Kristus."

    "Suami saya menjadi terganggu dengan kepercayaan saya yang baru dan meminta saya untuk tidak menyembah Allah orang Kristen. Tetapi saya terus mencoba meyakinkan dia agar bersedia meninggalkan praktek perdukunannya. Hal ini memerlukan waktu selama 20 hari dan akhirnya suami saya mau menerima Yesus dan mulai menghadiri ibadah pada hari Minggu. Meskipun mata saya tidak menjadi sembuh, saya memiliki kedamaian dalam hati saya, yang juga dialami oleh suami saya. Namun pada hari ke 30, sesudah persekutuan, Brother Santi dan kami berdoa, tiba-tiba saya merasakan satu sentuhan di kedua mata saya dan saya pun dapat melihat. Saya berteriak kegirangan! Semua orang takut mendengar teriakan saya, mereka berpikir bahwa ada roh jahat yang telah menyerang saya. Tetapi ketika saya mengatakan pada mereka mengenai pulihnya penglihatan mata saya, setiap orang mulai memuji Allah! Sekarang, saya sehat dan seluruh keluarga saya telah menerima Yesus Kristus."

    Para pekerja dari Every Home for Christ (EHC) di India telah membagikan lebih dari 473 juta booklet Injil dari rumah ke rumah. Hasilnya: mereka mendapatkan 7,3 juta respon dan terbentuknya 22.522 persekutuan desa, yang disebut dengan kelompok Kristus.

    Sumber: Fax of the Apostles, April 2001

    Tuhan Sanggup Melindungi

    Kita sungguh bersyukur karena memiliki Allah yang begitu luar biasa Dia Allah yang setia dan selalu melindungi anak-anak-Nya. Berikut ini adalah kesaksian dari Ritha M. yang mengisahkan tentang bagaimana Allah yang dia percaya sanggup melindungi dia saat melayani penduduk desa Bissau di Afrika Barat.

    Tgl. 14 - 22 November 2000 yang lalu saya berada di desa Bula (40 km dari Bissau) dan tinggal bersama keluarga pendeta. Ini adalah bagian dari program orientasi saya, agar lebih mengerti budaya Afrika dan juga menikmati persekutuan dengan mereka. Selama di sana kami pergi ke berbagai desa yang lain untuk mengadakan penginjilan dan juga mengunjungi orang Kristen yang tinggal di desa terpencil. Kadangkala kami harus berjalan jauh (10-12 km) untuk mencapai satu tempat. Terik matahari yang menyengat cukup menguras tenaga. Namun setelah tiba dan melihat betapa sukacitanya mereka menyambut kami dan juga kesediaan mereka untuk mendengar Injil maka rasa capek tidak terasakan lagi. Puji Tuhan saya sungguh menikmati waktu tersebut.

    Tgl. 22 November, saya kembali ke Bissau. Menyeberangi sungai dengan perahu adalah bagian dari perjalanan kami. Perahu memuat penumpang lebih dari daya tampungnya, hal ini biasa terjadi di sini. ... Waktu saya tiba di Bissau, saya langsung diberitahu bahwa situasi di Bissau sedang tegang. Semua teman misionari di pedesaan sudah dihubungi lewat radio agar mereka tidak datang ke Bissau. Tapi kemungkinan waktu pengumuman radio, saya sedang dalam perjalanan, sehingga saya tidak tahu. Bekas pimpinan militer sedang menggalang kekuatan untuk melawan pemerintah. Dan waktu itu kekuatan militer terbagi dua, separuh memihak pemerintah dan separuh memihak pemberontak. Saya tidak berpengalaman menghadapi perang seperti teman-teman WEC yang lain yang sudah pernah menghadapi perang saudara di Bissau tahun yang lalu. Namun demikian, Tuhan sungguh memberi saya damai sejahtera, tanpa rasa takut dan panik.

    Malamnya kami berkumpul dan mengambil waktu berdoa untuk minta pimpinan Tuhan tentang apa yang harus kami lakukan. Apakah kami harus meninggalkan Bissau malam itu juga atau menunggu sampai pagi. Kalau kami pergi malam itu, maka masih ada kemungkinan bagi kami untuk mengungsi ke desa lain karena jalan masih terbuka. Hanya ada satu jalan untuk keluar dari Bissau yaitu lewat darat. Setelah berdoa, malam itu kami memutuskan untuk tidak pergi sampai keesokan harinya, namun kami diminta untuk mengepak barang-barang yang penting. Malam itu saya tidur sangat nyenyak mungkin juga karena kecapekan.

    Menjelang subuh saya terbangun dan mengambil waktu untuk berdoa. Ketika saya sedang berdoa, saya mendengar seseorang menggedor pintu gerbang. Saya langsung tahu bahwa sesuatu akan terjadi. Tuhan sungguh memenuhi saya dengan damai sejahtera-Nya. Saat itu kami diberitahu, bahwa sebentar lagi akan dilontarkan tembakan, untuk itu kami diminta untuk segera mengungsi. Kami masih berada di tempat dan tiba-tiba terdengar dentuman senjata bertalu-talu. Meski demikian Tuhan tetap memberi saya sejahtera dan tanpa panik menolong teman yang lain berkemas.

    Akhirnya pimpinan kami datang dengan mobil dan kami pergi menjemput seorang ibu beserta 3 orang anaknya yang masih kecil dan saudaranya, karena saat itu suaminya sedang di Brasil. Dalam perjalanan, kami melihat begitu banyak orang dengan barang mereka berjalan di tengah gelap. Hati saya sangat tersentuh dan menjerit kepada Tuhan untuk mendoakan mereka. Kami pergi ke rumah seorang pendeta (19 km dari lokasi tembak-menembak). Setelah menurunkan kami, pimpinan kembali ke lokasi untuk menolong mengangkut para pengungsi lain.

    Setelah hari mulai terang, saya pergi ke tempat pengungsian dan memberitakan Injil. Puji Tuhan saat itu beberapa orang menerima Yesus. Tuhan sungguh melakukan mujizat di negara ini, tiba-tiba sebagian pasukan pemberontak berbalik memihak pada pemerintah dan akhirnya sore hari itu situasi terkendali dan mulai normal kembali. Pemerintahan mengumumkan lewat radio meminta agar semua orang kembali ke rumah mereka. Saya senang sekali, oleh karena untuk kesekian kalinya Tuhan melindungi saya.

    Sumber: Terang Lintas Budaya, Edisi 45

    Tuhan Ubahkan Hidupku

    "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa", dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan kesabaranNya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal." (1Timotius 1:15-16)
    < http://www.sabda.org/sabdaweb/?p=1Timotius+1:15 >

    Sejak awal hidupnya, Bill Fay telah memutuskan untuk menjadi orang nomor satu dalam segala hal yang ia perbuat -- tidak peduli apa pun juga. Di perguruan tinggi ia menemukan berbagai cara untuk menipu demi mencapai tujuan. Namun yang lebih penting, ia belajar berjudi. Kenyataannya, bakat-bakatnya yang luar biasa sebagai penjudi licik, membantunya untuk membiayai kehidupannya di perguruan tinggi.

    Setelah lulus ia menjadi sales dan dengan cepat menapak jenjang kariernya. Namun dalam hidupnya, ia menghadapi suatu dimensi baru ketika ia mengunjungi Las Vegas, surga para penjudi. Karena keahliannya bermain kartu, ia mulai dikenal, dan ia menjalin hubungan dengan orang-orang terkemuka di dunia hitam. Sementara ia tetap memegang jabatannya, ia mulai menjadi penghubung mafia di seluruh negara.

    Bill pindah dari satu kota ke kota lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, dari satu istri ke istri lain, untuk mengejar tujuan pribadinya. Ia mengira akan memperolehnya ketika ia menjadi pimpinan di sebuah perusahaan besar. Ia memiliki banyak limousine, penghasilan besar, penghargaan, jam tangan Rolex, cincin berlian, dan emas di tangan serta lehernya. Namun di tengah-tengah tumpukan uang, kekuasaan, dan kemewahan; hidupnya sunyi dan kosong.

    Di samping pekerjaan tetap, Bill kemudian memutuskan untuk bergabung dengan perusahaan lain yang memanfaatkan kemampuan pemasarannya. Ia membangun salah satu rumah bordil terbesar di Amerika Serikat. Namun bisnis ini membawanya ke dalam kesulitan. Ia ditahan sehubungan dengan usahanya yang baru itu, dan perusahaan memecatnya. Meskipun demikian, Bill memulai bisnis penelitian dan mulai mencetak uang lagi.

    Sebagai hiburan yang menyenangkan selama hidupnya yang penuh gejolak dan ketegangan itu, Bill pergi ke sebuah tempat berlibur di Colorado yang bernama Lost Valley Ranch. Semula ia tidak tahu kalau tempat itu mempekerjakan orang-orang yang percaya pada Kristus. Namun ia memperhatikan bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan tempat tersebut.

    Bill dapat meladeni orang Kristen mana pun yang berani berdebat dengannya. Namun pada suatu pagi di hari Paskah, ia mendengar sesuatu yang mengganggunya sampai ia menyerahkan hidupnya pada Kristus. Selama kebaktian di tempat terbuka, seorang pria muda kira- kira berusia 22 tahun berbicara tentang perbedaan antara kebahagiaan dan kedamaian yang sejati. Bill mendengarkan dengan sungguh-sungguh karena ia tahu ia tidak memiliki kedamaian sejati. Namun saat pria itu berkata bahwa kedamaian datang hanya melalui hubungan pribadi dengan Yesus Kristus, Bill menaiki kudanya dan merengut, "Aku tidak butuh omong kosong seperti itu dalam hidupku." Dan ia mengendarai kudanya keluar dari padang rumput itu.

    Beberapa saat kemudian, Bill ingin bermain tenis. Ia berjalan masuk ke tempat penyimpanan raket dan bertemu seorang pria yang kelak memainkan peran penting sampai ia beriman pada Kristus, Dr. Paul Grant. Hari itu Paul baru saja bermain tenis setelah meminta kesempatan kepada Tuhan agar dapat bersaksi tentang imannya. Kedua orang itu bertemu, dan Paul bercerita tentang Kristus kepada Bill dengan penuh kasih.

    Paul mengundang Bill dan istrinya, Peggy, ke gereja. Setelah kebaktian ia mengundang mereka ke rumahnya. Paul dan istrinya, Kathie, memancarkan hubungan pribadi dengan Kristus. Walaupun tergerak oleh kesaksian mereka, Bill belum siap untuk memberikan hidupnya kepada Kristus.

    Masih dalam masa percobaan dari penahanan sebelumnya, Bill ditangkap lagi karena kasus pemukulan polisi. Setelah berakhir minggu di penjara dengan uang jaminan sebesar $250,000 dolar, hidupnya sampai pada titik kritis. Bill hanya duduk di rumahnya selama dua hari dengan berurai air mata. Kepahitan hidup terasakan olehnya. Ia ingin lari dari kenyataan melalui obat-obatan, alkohol, bahkan bunuh diri. Berkat kemurahan Allah, ia tidak memilih salah satu dari cara-cara tersebut.

    Istri Bill menyarankan agar ia mengundang pendeta yang telah menikahkan mereka. Setelah mengemukakan beberapa keberatan, akhirnya ia menelepon juga. Apa yang ia dengar tujuh tahun yang lalu di sebuah ranch, kembali muncul di benaknya. Kepada pendeta itu ia menyampaikan keinginannya akan kedamaian sejati. Hari berikutnya ia mengendarai mobilnya sejauh lebih dari 135 km ke sebuah gereja kecil di daerah pedalaman. Dengan berlutut di atas lantai yang berdebu, ia datang untuk mengenal Yesus Kristus secara pribadi. Hal itu terjadi tanggal 4 Maret 1981. Ia meninggalkan gereja itu sebagai orang yang berbeda.

    Ia kembali ke rumah dan menghadapi pemeriksaan pengadilan, namun diputus bebas. Ketika ia meninggalkan pengadilan, ia memutuskan untuk tidak pernah mendekati penjara lagi. Namun Tuhan memiliki rencana lain. Selama beberapa tahun kemudian, ia mengunjungi orang- orang hukuman di penjara untuk bersaksi tentang Yesus kepada mereka.

    Sejak itu, Bill telah bersaksi tentang imannya kepada orang-orang dari berbagai latar belakang dan mengajar banyak orang untuk melakukan hal yang sama. Namun Bill sendiri mengatakan, "Keajaiban yang terbesar dari semuanya bukanlah perubahan dalam apa yang saya lakukan, tetapi perubahan dalam diri saya. Pencarian kekuasaan, uang dan wanita telah digantikan dengan pengejaran kebajikan-kebajikan yang pernah saya rendahkan: kasih, kejujuran, kesetiaan, pengorbanan, kedisiplinan, kerendahan hati, iman, kesabaran, dan ketabahan. Dan karena saya tahu bahwa satu-satunya kehidupan yang berarti untuk dijalani adalah hidup melalui Kristus, saya telah menjadikan hidup saya hidup yang bersaksi tentang Dia kepada sesama manusia."


    Bill Fay adalah lulusan Seminari Denver, menjadi pendeta khusus liga utama tim baseball Colorado Rockies dan tim baseball Denver Zephyrs Triple-A, pendeta khusus di dua departemen kepolisian, pembicara program radio nasional Let's Go, pembicara nasional, dan pemimpin seminar.

    Sumber:

    Judul Buku: Bagaimana Bersaksi Tanpa Berdebat? Seri Mutiara Iman (SMI-002)
    Penulis : Richard W. De Haan
    Penerbit : Yayasan Gloria, 1997
    CD SABDA : Topik 29025

    e-JEMMi 32/2003

    Tukang Pos yang Menyelamatkan Natal

    Malam Natal adalah peristiwa meriah di rumah Schow di Cardston, Alberta, Kanada. Tradisi sungguh-sungguh terasa ketika kedelapan anaknya yang berusia 3 sampi 16 tahun mondar-mandir untuk membantu ibu mereka, Ingeborg, dalam persiapan masa Natal. Ibuku, Ruth baru berumur 8 tahun pada saat itu. Tetapi, ia masih ingat kejadian itu sampai saat ini. Biasanya, Natal selalu dilengkapi dengan Schow Danish fudge dan toffee. Schow Danish fudge adalah sejenis permen coklat yang lunak dari Denmark dan dibuat oleh keluarga Schow, sedangkan toffee adalah sejenis permen yang dibuat dari gula dan mentega. Toffe terbuat dari permen yang lentur dan bisa ditarik.

    Di tengah-tengah kegembiraan, tiba-tiba pintu belakang terbuka dengan suara keras. Angin yang sangat dingin berhembus masuk dan salju pun menyerbu ke dalam dapur yang nyaman. Sidney, 15 tahun, baru saja kembali dari tugasnya yakni mengantar koran. Ia sangat kedinginan dan akhirnya ia merasa senang karena berada di kehangatan rumah keluarga. Rex mengangkut arang dan kayu yang terakhir ke dalam rumah supaya tungku keluarga tetap menyala sepanjang malam. Tungku kami terbuat dari besi tuang.

    Musim salju 1927 adalah musim salju yang paling dingin yang pernah terjadi di kota kecil ini. Depresi membuat keluarga-keluarga berjuang untuk menghemat dan pandai menggunakan akal. Keluarga Schow memiliki beberapa ekor sapi dan ayam. Ini bisa membantu keluarga Schow untuk menyediakan susu, telur, krim, dan mentega. Persediaan makanan pun bisa tersedia bagi mereka. George Schow adalah orang yang mempunyai bakat sebagai tukang kayu. Bahkan, ia bisa membuat perasan keju dari bahan kayu sehingga keluarganya dapat membuat keju untuk keperluan sendiri.

    Pada senja hari, anak-anak berkumpul di sekeliling piano untuk menyanyikan lagu-lagu Natal. Mereka menantikan kedatangan ayah mereka, George, dari tempat kerjanya sambil memperhatikan jalannya waktu. Ayah mereka adalah seorang tukang pos yang bertugas mengantar surat-surat ke banyak kelompok kecil masyarakat di sekitar Cardston, misalnya Leavitt, Mountain View, Glenwood, dan Hillspring. Tetapi, George akan pulang cepat karena ini adalah malam Natal. Ia selalu memasang pohon Natal bila ia sampai di rumah. Untuk mempersiapkan Natal, anak-anak telah merangkai pop-corn dalam jumlah banyak dan menggunting bintang-bintang kecil yang indah terbuat dari kertas untuk digantung di pohon. Mereka membantu ibu mereka untuk memasang lilin-lilin berwarna yang indah di jepitan pohon. Lilin-lilin itu siap untuk dipasang di dahan-dahan yang kuat.

    Sesuai harapan, George pulang lebih awal dari pekerjaannya. Ia merasa senang telah selesai mengantarkan surat-surat pada hari itu. Ia lelah dan begitu kedinginan sehingga seluruh badannya terasa sakit. Tetapi, cinta yang meluap-luap dari keluarganya segera menghangatkan tubuh dan jiwanya. Betapa ia mencintai Natal! Dengan bantuan Sidney dan Rex, ia segera memaku papan-papan silang ke dasar pohon secara hati-hati. Kemudian, mereka mendirikannya di ruang keluarga. Tanpa hiasan pun, pohon itu kelihatan bagus sekali!

    Ketika anak-anak menghias pohon, George diam-diam menggiring istrinya ke dapur untuk menjauhi hiruk-pikuk kegembiraan. Kelihatannya, George dalam kesukaran. Ia berbagi cerita dengan Ingeborg tentang peristiwa-peristiwa terakhir yang terjadi ketika ia bekerja pada hari itu. Ketika sedang menuju ke rumah, ia diberitahu tentang kereta api malam yang mengantar sepuluh peti barang antaran ke stasiun. Semua peti itu ditujukan untuk satu keluarga yang tinggal di Hillspring. Namun, karena hari sudah malam dan hampir gelap, pengantaran peti itu harus ditunda sampai sehari sesudah Natal. Jarak tempuh ke Hillspring memang sangat jauh, terutama pada saat badai salju sedang berlangsung.

    Kepala rumah tangga keluarga yang sedang menunggu kiriman itu adalah Mr. Jeppson. Selama satu minggu, setiap hari Mr. Jeppson pergi ke stasiun untuk mencari tahu apakah ada paket yang tiba dari keluarga mereka di Amerikat Serikat. George tahu bahwa keluarga ini mempunyai beberapa anak dan sedang mengalami masa yang sulit. Untuk yang terakhir kali, Mr. Jeppson datang kembali ke stasiun pada Malam Natal. Ia putus asa dan terus mencari tahu tentang peti-peti itu. Ia pulang dengan tangan hampa dan sangat sedih. Rupanya, keluarga Jeppson menulis ke sanak-saudara mereka agar mereka mengirim apa pun untuk Natal. Barangkali, kirimannya bisa berupa selimut kain tua yang sudah usang untuk menghangatkan mereka atau sedikit uang untuk membeli arang.

    George dan Ingeborg adalah orang yang taat pada agama dan mereka mempunyai iman yang besar. Mereka berlutut dan berdoa dengan tenang untuk hal itu. Sesudah berdoa, mereka saling memandang dan mereka tahu apa yang harus dilakukan. Peti-peti itu harus diantarkan malam itu juga! Tetapi, Ingeborg mempunyai sebuah permintaan. George harus membawa Sidney, putra mereka yang tertua. George hanya dapat melihat dengan satu mata karena suatu peristiwa yang diderita pada awal hidup perkawinan mereka. Dengan penglihatannya yang terbatas, pengantaran di siang hari tidak menjadi masalah. Tetapi, daya tangkap di malam hari merupakan suatu tantangan yang sangat berat baginya, terutama dalam keadaan badai salju.

    George memanggil Sidney dan ia menerangkan situasi yang terjadi. Sidney tidak ragu-ragu sedikit pun. Ketika mereka bersiap-siap untuk pergi, anak-anak yang lain diberi tahu tentang perjalanan itu. Mereka membantu menyiapkan beberapa hal, misalnya membuat sandwich dan mengisi termos-termos. Anak-anak yang kecil mengisi kantong ayah mereka dengan kacang dan permen yang bisa mereka makan selama perjalanan. Secara diam-diam, semua anggota keluarga khawatir karena mereka akan terpisah pada waktu Natal.

    Setelah kereta salju dipasang, keluarga itu berkumpul untuk berdoa. Dengan iman yang besar, mereka melihat kereta salju itu menghilang secara cepat di malam yang bersalju. Dalam sekejap mata, George dan Sidney tiba di stasiun. Mereka mengangkut peti itu dan berangkat ke Hillspring. Mereka meletakkan tungku panas di bawah kaki agar badan mereka hangat. Selain itu, mereka memakai selendang untuk membungkus sekeliling wajah mereka. Mereka pun menghadapi badai salju di Malam Natal itu. Ketika badai salju mengamuk, anak-anak di rumah menggantung kaos kaki mereka. Kemudian, mereka menyampaikan doa-doa mereka dan bergegas ke tempat tidur. Mereka berharap bisa bertemu ayah dan kakak mereka pada pagi dini hari di hari Natal. Sementara itu, perjalanan kereta salju terus berlanjut dan menembus malam. Mereka membutuhkan waktu 8 jam perjalanan untuk mencapai rumah keluarga Jeppson. Selama perjalanan, mereka sering merasakan pengawalan khusus dan perasaan damai menyelimuti perjalanan itu. Mereka percaya bisa mencapai tujuan dengan selamat.

    Akhirnya, mereka lega karena bisa melihat cahaya di rumah keluarga Jeppson. George mengetuk pintu pelan-pelan pada dini hari di pagi Natal. Ia tidak kelihatan baik karena salju telah mengubah napasnya seperti es. Ini membuat bunga-bunga es beku menggantung pada selendang di sekeliling wajahnya. Ketika istri Mr. Jeppson membuka pintu, ia menjerit karena melihat penampilan George yang mengejutkannya. George menerangkan tujuan kedatangannya dan peti- peti itu dibawa masuk ke rumah. Melihat situasi rumah yang kosong, pasti keluarga Jeppson tidak akan merayakan Natal tanpa kedatangan peti-peti itu. Mata Bu Jeppson bercahaya ketika mereka mengeluarkan selimut-selimut baru, sarung tangan, sepatu, mantel, dan pakaian- pakaian lain untuk anak-anak. Selain itu, mereka juga mendapat ham dan bacon, buah-buahan, selai, dan segala macam permen. Mereka mengeluarkan terigu dan gula, kacang, dan bumbu-bumbu, bahkan boneka-boneka kecil untuk anak-anak. Di dalam paket kiriman juga disertakan surat kecil. Surat itu berisi informasi kepada keluarga Jeppson bahwa penduduk di sekeliling lembah telah mengadakan bazar untuk menyumbangkan semua barang kepada keluarga itu. Mereka mengajukan permintaan sederhana yakni selimut-selimut tua itu bisa berubah menjadi bantuan dan cinta yang melimpah dari ratusan orang yang peduli. George dan Sidney meninggalkan keluarga Jeppson yang sangat berbahagia. Mereka berterima kasih sedalam-dalamnya dan memulai perjalanan panjang untuk pulang ke rumah.

    Mereka berangkat dengan tungku yang hangat di kaki mereka dan beban yang ringan di kereta salju mereka. Ketika matahari terbit di atas rumah keluarga Schow, anak-anak bergegas memeriksa kaos kaki mereka. Mereka juga ingin melihat apakah ayah dan kakak mereka sudah pulang. Anak-anak terus mengawasi jendela sambil menunggu kembalinya ayah dan kakak mereka. Akhirnya, tepat sesudah makan siang, Paul melihat kereta salju yang tidak asing lagi dan semua lari menyongsong kedatangan George dan Sidney. Dalam keadaan lelah tetapi bahagia, George dan Sidney terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah dan mereka semua saling berpelukan. Keduanya bercerita tentang keluarga Jeppson dan betapa pentingnya isi peti-peti itu bagi keluarga Jeppson. Mereka membutuhkannya tidak hanya untuk Natal, tetapi juga untuk kelangsungan hidup mereka selama musim dingin. Selain itu, George dan Sydney juga bercerita tentang perlindungan dan pengawalan yang diberikan oleh Tuhan sepanjang perjalanan. Air mata cinta dan terima kasih memenuhi mata George ketika ia memeluk keluarganya erat-erat. Mereka betul-betul diberkati. George mencoba membayangkan kembali kebahagiaan yang dialami oleh keluarga Jeppson pada hari Natal itu. "Pengiriman paket khusus" yang menjadi mujizat Natal ini tak akan pernah dilupakan oleh keluarga Jeppson maupun keluarga Schow.

    Sumber:

    Judul buku : The Magic of Christmas Miracles (Koleksi Kisah Nyata Terbaru yang Sangat Memberikan Inspirasi)
    Penulis : Gayla Woolf Holt
    Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta 2002
    Halaman : 77 -- 83

    e-JEMMi 49/2003

    Ujian Alkitab untuk Ribuan Remaja

    Bayangkan tentang sebuah rally pemahaman Alkitab tahunan yang diikuti oleh 12.000 - 15.000 murid sekolah berusia 17 tahun!! Mereka adalah para remaja yang terbagi dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 300 - 500 remaja di seluruh kota untuk mempelajari topik-topik Alkitab yang telah disediakan.

    Bayangkan bahwa selama dua tahun para remaja tersebut sungguh-sungguh mempersiapkan diri untuk mengikuti 'Ujian Alkitab'. Mereka mengadakan 5 sampai 6 kali pertemuan setiap bulannya, dalam kelompok yang terdiri dari 30 - 40 remaja dan dipimpin oleh guru-guru Alkitab. Para remaja ini bersama-sama mempelajari kehidupan dan pengajaran Yesus Kristus dan topik-topik penting lainnya dalam Alkitab. Bayangkan bahwa 95% dari remaja tersebut berasal dari keluarga-keluarga non-Kristen. Sepertinya kita sedang memimpikan hal yang tidak mungkin terjadi.

    Namun hal itu benar-benar terjadi di Hong Kong selama bertahun-tahun melalui suatu sistem ujian umum. Setiap bulan Mei, pada masa ujian untuk mendapatkan "Certificate of Education", 'Religious Studies' (dengan Alkitab sebagai acuannya) ditawarkan sebagai mata pelajaran pilihan.

    Memang diakui bahwa pada kenyataannya rally remaja ini sedikit berbeda dengan gambaran yang ada di pikiran Anda -- suatu rally yang penuh pujian dan penyembahan. Para remaja yang mengikuti ujian umum Alkitab ini sangatlah serius dan mungkin agak sedikit stress. Namun, meskipun dalam kondisi yang demikian, potensi Alkitab untuk mengubah kehidupan ribuan remaja di Hong Kong sungguh luar biasa.

    Sejak tahun 1982, 'Ujian Alkitab' ini menggunakan sistem 'Open-Bible' ('Alkitab terbuka', selama ujian) supaya para remaja itu tidak hanya belajar menghafal sekumpulan fakta-fakta panjang dalam Alkitab tanpa memahami artinya. Penekanannya sekarang adalah para remaja mempunyai kemampuan untuk menganalisa dan mengintepretasi fakta-fakta dalam Alkitab, memahaminya sesuai dengan konteks aslinya, dan menemukan relevansinya dalam kehidupan mereka saat ini. Para murid remaja itu dianjurkan memberi tanda/simbol dan label pada Alkitab mereka untuk memudahkan mereka dalam menemukan ayat-ayat Alkitab yang relevan ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar problema pribadi dan sosial. Beberapa contoh Alkitab itu menjadi suatu karya seni dimana para pemiliknya dengan tekun meluangkan waktu selama berjam-jam untuk memberi simbol dan label pada ayat-ayat yang saling berkaitan! Menjelang saat ujian, para murid itu terlihat sedang membaca dan mempelajari Alkitab mereka ketika dalam kereta atau bus.

    Diterjemahkan dari sumber:

    Judul Buletin: East Asia's Millions, April - June 1996
    Judul Artikel: Open the Bible for Thousands of Schoolkids!
    Penulis : Betty Milton
    Penerbit : OMF Singapore
    Halaman : 8

    e-JEMMi 10/2003

    Upacara Badewa ... Bolehkah?

    Berikut ini adalah sebuah kesaksian yang disampaikan oleh Eko dan Eni (bukan nama sesungguhnya) yang saat ini melayani sebuah suku di pedalaman Kalimantan. Mereka menuliskan kesaksian ini karena terdorong oleh kerinduan agar masyarakat suku pedalaman itu dapat menyerahkan hidup mereka secara total kepada Yesus dan tidak tergantung lagi pada dukun. Kami berharap kesaksian ini dapat menolong kita untuk ikut bergumul dalam doa bagi pelayanan pekerjaan Tuhan di desa-desa pedalaman yang masih terikat dengan kuasa gelap. Kesaksian Eko dan Eni adalah sebagai berikut:

    "Sebelum menikah, Eko dan Eni masing-masing sudah mempunyai beban untuk melayani suku-suku yang belum memiliki Firman Tuhan. Setelah menikah mereka bersama-sama menggumuli suku yang memerlukan pelayanan. Dalam pergumulan ini, mereka merasa Tuhan memimpin mereka melayani di pedalaman Kalimantan. Setelah melakukan survey, mereka tahu bahwa Tuhan menghendaki mereka melayani sebuah suku di sebuah desa di pedalaman. Perjalanan menuju desa tsb. harus ditempuh melalui beberapa kota di Kalimantan dan membutuhkan waktu 25 jam.

    Kurang lebih 95% masyarakat suku desa ini masih menganut animisme. Salah satu upacara adat yang mereka lakukan adalah upacara Badewa untuk menyembuhkan orang sakit. Dalam upacara ini, dukun memanggil roh-roh. Lalu roh-roh ini merasuki tubuh dukun yang kemudian dapat memberikan pesan-pesan berupa larangan atau persembahan yang harus diberikan supaya si sakit menjadi sembuh.

    Pada suatu hari, beberapa orang desa yang telah percaya bertanya kepada Eko dan Eni, "Apakah orang Kristen boleh meminta dukun melakukan Badewa?" Hendrik menjawab, "Sesuai dengan Alkitab, kita harus minta kesembuhan hanya dari Tuhan. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahakuasa. Apakah kalian tidak mengetahuinya?" Mereka menggelengkan kepala dan berkata, "Walaupun kami sudah mengaku dan menjadi pengikut Kristus, tapi kami masih mengikuti upacara Badewa."

    Pembicaraan ini telah menimbulkan beban tersendiri bagi Eko dan Eni. Mereka telah melihat bahwa masyarakat suku desa ini memerlukan terjemahan Firman Tuhan dalam bahasa yang mereka sendiri.

    Beban tersebut dinyatakan oleh Eko dan Eni dengan mengatakan, "Kami berharap suatu hari nanti mereka tidak lagi memanggil dukun dan melakukan upacara Badewa, tapi mereka berdoa pada Tuhan dan memanggil nama Yesus yang berkuasa. Bukan hanya untuk menyembuhkan penyakit saja, tapi memanggil nama Yesus karena Dia sudah menjadi Tuhan dan Juruselamat mereka.""

    Sumber: Kartidaya, Triwulan I/2001

    Utusan Jangka Panjang

    Utusan jangka panjang kita di Kamboja, Pak H, akan kembali ke ladang utusan pada tanggal 2 Mei 2005 bulan depan bersama dua orang utusan jangka pendek kita, yaitu Sdr. H dan R. Sementara itu, Ibu S kembali ke Kamboja langsung dari Australia setelah menyelesaikan kursus pengajar bahasa Inggris bersertifikat Internasional, sekaligus menengok anaknya, S, yang sedang belajar di sana.

    Untuk jangka panjang ke depan, kita sedang menggumuli pendirian usaha kursus bahasa internasional di Kamboja sebagai salah satu alternatif identitas kehadiran para utusan kita di sana. Dengan adanya usaha tersebut, maka dapat ditampung utusan-utusan dari berbagai negara sehingga terbentuk tim utusan yang lebih lengkap.

    Saudara-saudari yang berlatar belakang bahasa Inggris bisa mulai berdoa. Mungkin saja ada kemungkinan untuk bergabung dengan tim utusan Kamboja.

    Saat ini, Kamboja merupakan negara yang paling terbuka terhadap Injil (baca kekristenan). Orang muda dan anak-anak sangat responsif terhadap berita Injil. Sangat mudah untuk mengajak mereka berbicara tentang Injil atau tentang hal-hal rohani. Sikap pemerintah juga cukup kondusif selama tidak terjadi pemaksaan dan hal-hal yang meresahkan masyarakat sekitar. Ini adalah saat yang luar biasa, baik bagi Kamboja maupun untuk berita Injil. Mari kita doakan agar utusan-utusan kita dapat melayani dengan efektif dan lebih banyak lagi yang bisa diutus ke sana.

    Banyak badan misi, organisasi Kristen, dan gereja-gereja sedang berlomba ikut "menuai" di ladang Kamboja, bahkan sekte Mormon dan "Yehovah Witness" bergerak cepat di sana dan memeroleh banyak pengikut dan mendirikan gereja yang besar dan mencolok.

    Mereka haus akan kepercayaan yang baru, yang datang dari luar. Mereka akan mengikuti apa pun yang menurut mereka baik dan memberikan prospek perbaikan kesejahteraan ekonomi dan keluarganya. Doakan agar utusan kita mendapatkan benih jiwa-jiwa yang baik, "foundational people" yang akan menjadi berkat bagi rakyat Kamboja dan negara-negara sekitarnya.

    Bersyukur untuk sdr. H dan R yang akan bergabung dengan tim Kamboja, doakan agar Tuhan memberkati segala persiapan yang mereka lakukan. Kehadiran mereka di ladang Kamboja sungguh sangat berarti di saat-saat sekarang, mengingat utusan kita, keluarga S, sangat memerlukan dukungan moril maupun tenaga untuk mendukung kehadirannya di sana, melalui identitas sebagai pengusaha restoran masakan Indonesia. Juga untuk ladang kampus, diperlukan terobosan baru untuk mendapatkan kontak-kontak mahasiswa atau siswa yang dapat ditindaklanjuti (follow-up) untuk jangka panjang.

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul Buletin : Utusan, Volume 9, Mei -- Agustus 2005
    Penulis : Kristaryanto
    Penerbit : Departemen Pengutusan Lintas Budaya (DPLB), Para Navigator
    Halaman : 8

    e-JEMMi 14/2008

    Virgin Islands: Leonard Dober

    Leonard Dober bertanya-tanya apakah Yesus berpikir bahwa salibnya terlalu berat; kemudian dia teringat bagian akhir doa Yesus di taman, "Bukan kehendak-Ku, tapi kehendak-Mu, Bapa." Tugas Leonard sepertinya tidak mungkin untuk dilakukan, tapi dia sedang melakukan kehendak Allah, bukan kehendaknya.

    Leonard Dober yakin bahwa Allah telah memanggilnya untuk menjangkau para budak di Virgin Islands. Dia berencana untuk menjangkau orang-orang ini dengan menjual diri menjadi budak dan bekerja bersama mereka sambil menceritakan tentang kasih Yesus kepada mereka. Dia begitu takut memikirkan bahwa dia akan menjadi budak. Dia ngeri membayangkan perlakuan yang akan diterimanya. "Tapi Kristus telah mati di atas kayu salib bagiku," pikirnya. "Tidak ada harga yang terlalu tinggi untuk melayani Dia."

    Penganiaya terkejam yang dihadapi Dober bukanlah para pemilik budak, tetapi orang-orang Kristen. Mereka mempertanyakan panggilannya untuk melayani para budak dan menertawakannya sebagai orang bodoh karena rencananya itu. Tapi Dober tidak menyerah. Pada tahun 1730, dia sampai di Virgin Islands.

    Ketika dia menjadi pelayan di rumah gubernur, dia takut posisinya ini akan menjauhkannya dari para budak yang ingin dilayaninya. Jadi dia pergi dan pindah dari rumah gubernur ke gubuk kotor di mana dia dapat bekerja bersama-sama dengan para budak.

    Dalam waktu tiga tahun, pelayanan Dober sudah mencakup lebih dari tiga belas ribu petobat baru.

    ***

    "Orang-orang sinting Yesus", itulah julukan dunia bagi orang-orang yang memiliki iman yang sedikit radikal. Dober adalah "orang sinting Yesus" pada abad delapan belas -- orang bebas yang memilih menjadi budak agar dapat memenangkan para budak bagi Yesus. Dia bersedia melakukan semua yang harus dilakukan untuk menunjukkan kesungguhan hatinya dalam melayani Yesus. Bagi Dober, hal ini berarti membuat suatu rencana yang tidak masuk akal bagi orang lain kecuali dirinya sendiri. Apakah Anda juga disingkirkan karena Anda telah menolak untuk mengikuti orang banyak? Jika Allah telah memanggil Anda untuk melakukan hal yang radikal dalam keluarga, gereja, atau komunitas Anda, Anda harus menaatinya. Biarkan orang menyebut Anda gila, tetapi Yesus akan mendapati Anda sebagai orang yang bersungguh- sungguh.

    ***

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul buku : Devosi Total
    Judul asli : Extreme Devotion
    Judul artikel : Virgin Islands: Leonard Dober
    Penulis : The Voice of The Martyrs
    Penerbit : KDP, Surabaya 2005
    Halaman : 199

    Dipublikasikan di: http://kesaksian.sabda.org/virgin_islands_leonard_dober

    Vivia Perpetua (Wafat Tahun 203)

    Pada tahun 202M, Kaisar Roma, Septimus Severus, melarang orang bertobat dan menjadi pengikut ajaran Yudaisme maupun Kristen.

    Oleh sebab itu, di Afrika Utara, Vivia Perpetua, Felicitas, dan beberapa petobat baru lainnya dipenjarakan dan akhirnya dihukum mati dengan cara dimasukkan ke dalam arena binatang buas di kota Kartago. Namun, pelaksanaan hukuman mati ditunda sampai Felicitas melahirkan seorang bayi perempuan setelah 8 bulan mengandung. Dalam "The Passion" -- berisi riwayat tentang penyiksaan para wanita ini -- Perpetua, seorang istri yang berpendidikan dan juga seorang ibu yang penuh kasih, menceritakan iman dan hidupnya selama berada dalam penjara. Wanita berusia 22 tahun ini menyimpulkan bahwa "sel bawah tanah bagiku adalah sebuah istana".

    Perpetua adalah seorang wanita yang diberi kehormatan untuk bertobat oleh Tuhan. Hari-harinya di sel bawah tanah ditandai dengan pertemuan-pertemuan doa, firman Tuhan, dan beberapa penglihatan. Pada malam menjelang dia dihukum mati, para tahanan merayakan "perjamuan kasih".

    Kemudian, sambil berjalan mendekati arena, Perpetua menyanyikan mazmur. Ia menghadapi binatang buas "dalam Roh" dan dalam kegembiraan. Ia bergabung dengan teman-temannya yang berlumuran darah karena dibantai. Mereka dibantai dengan diiringi sorak ejekan sementara mereka menyanyi, "Diselamatkan dan dibasuh..., diselamatkan dan dibasuh!"

    Tetapi apakah orang-orang di sekeliling kita menyadari bahwa sebenarnya kita memang diselamatkan dan dibasuh? Kiranya teladan yang diberikan Perpetua memberikan keberanian pada kita.

    Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13)

    Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (1 Korintus 1:18)

    Diambil dan disunting seperlunya dari:

    Judul buku : Batu-batu Tersembunyi dalam Fondasi Kita
    Judul buku asli : The Hidden Stones in Our Foundation
    Penulis : Tidak dicantumkan
    Penerjemah : Ivan Haryanto
    Penerbit : Kasih dalam Perbuatan, Surabaya 2005
    Halaman : 21

    e-JEMMi 27/2010



    Wahana Visi Indonesia

    Sejak tahun 2003 Wahana Visi Indonesia (WVI) mengembangkan Area Development Project (ADP) di salah satu kota di Indonesia.

    "Hati-hati ya," ucapan tersebut keluar dari mulut mungil Esterlita (9), ketika kami meninggalkan rumahnya yang berlantai kayu dan berdinding papan rapuh. Bangunan miring yang nyaris rubuh itu menjadi saksi bisu keakraban yang terbangun antara kami dengan keluarga kecil tanpa ibu rumah tangga tersebut.

    Diiringi tatapan polos sarat kegembiraan, anak suku B ini tidak mampu membendung keriangannya menggenggam biskuit dan penganan yang kami beli tidak jauh dari rumahnya. Kami sengaja singgah di warung tersebut untuk membeli oleh-oleh bagi Esterlita dan kedua saudaranya, Cecilia (11) dan Donatus (5).

    Berbeda dengan kakaknya, Esterlita tidak termasuk dalam program anak santun ADP di kota S. Program anak santun yang dikembangkan WVI baru bisa menjangkau sang kakak. Dibayangi kesulitan ekonomi, ia bersekolah tanpa kepastian akan masa depannya di bangku sekolah.

    Calok (32), sang ayah, hanyalah peladang yang bergantung pada curah hujan. Penghasilan dari memanen padi yang dilakukannya setahun sekali, tidak mampu mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu ia menjadi buruh penoreh karet yang dilakoni sejak kecil.

    Dalam sehari, Calok menoreh tujuh kilogram karet. Karena menoreh di kebun orang lain, dia harus menyetor 30% hasilnya kepada pemilik kebun. Sisanya 70% untuk dirinya. Kalau dalam sehari dia memperoleh tujuh kilogram dan harga perkilogramnya Rp 8.000, Calok hanya memperoleh Rp 39.200 dari total Rp 56.000. Jumlah tersebut ditukarkan di warung yang tak jauh dari rumahnya dengan beras, minyak goreng, garam, mecin, dan sedikit ikan asin. Sisanya digunakan untuk kebutuhan di hari lain. Dalam sebulan ia hanya bisa bekerja dua belas hari untuk menguras getah karet.

    Ketika kami singgah di rumahnya pada bulan Desember 2005, tepat pada musim hujan, Calok baru saja kembali dari menoreh getah karet. Sesuatu yang jarang dilakukan penoreh karet. Idealnya menoreh karet dilakukan pada saat batang pohon karet kering. Memang malam harinya hujan menyiram Dusun B. Batang karet yang dibasahi hujan tidak baik untuk ditoreh. Tapi tidak adanya penganan di rumah memaksa kepala rumah tangga itu pergi menoreh.

    Kehidupan keluarga ini memang sangat memprihatinkan. Kemiskinan memaksa sang ibu empat tahun lalu meninggalkan keluarga mengadu nasib ke Malaysia. Dengan perantaraan calo-calo tenaga kerja yang mudah ditemui di setiap desa, ia sampai ke negeri jiran melalui beberapa "tangan". Dari rencana dua tahun hingga sekarang, ibu tiga anak itu belum kembali.

    Upaya Calok untuk mengetahui nasib ibu anaknya kandas di hadapan calo yang memang sudah tidak tahu lagi rimba komoditas yang diekspornya. Sang calo yang bisa mendadak bersikap garang itu sudah mengantongi Rp. 300 ribu hanya untuk menginformasikan kepada agen adanya peminat ke negeri jiran. "Yah, mau gimana lagi. Saya tidak tahu harus cari ke mana," ucap Calok pendek.

    Calok tidak sendiri. Orang-orang yang senasib dengan dirinya mudah ditemui di setiap desa. Istri menjadi tenaga kerja sementara suami menjaga anak dan bertani di ladang.

    SEKOLAH PERCONTOHAN

    Dalam mengurai carut-marutnya permasalahan penduduk, ADP kota S tidak habis-habisnya menemui masalah yang tak berujung. Sejak kehadirannya pada tahun 2003, ADP yang beroperasi di 2 daerah tingkat dua ini telah merekrut 2.011 anak untuk disantuni.

    Upaya ADP tidak hanya berkutat pada santunan semata. Kualitas pendidikan seperti materi pelajaran, buku paket, dan fasilitas sekolah termasuk guru mendapat perhatian serius.

    Sejak tahun lalu, ADP telah mengembangkan SD Subsidi (SDS) sebagai sekolah percontohan. Sekolah yang bernaung di bawah sebuah yayasan Katolik ini memperoleh bantuan fasilitas pendidikan. "Kami juga sudah membangun pendopo yang juga digunakan masyarakat sekitar," kata T, project manager ADP kota S.

    Pihak ADP juga telah mengirim sejumlah guru SDS untuk mengikuti studi banding di kota P. Di kota tersebut Kepala Sekolah SDS, Y memperoleh pengetahuan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang mengacu pada standar UNICEF.

    Y yang telah mengabdi di bidang pendidikan sejak tahun 1971 kemudian membagi pengetahuannya kepada guru-guru di sekolahnya. "Bermitra dengan ADP, kami mengumpulkan guru-guru di Kecamatan S untuk bersama-sama menelaah dan memahami pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Dengan menerapkannya, penerapan KBK akan mulus."

    Bantuan lain dari ADP yang sangat membantu sekolah yang dipimpinnya adalah pengadaan tenaga pendidik. Sekolah yang didirikan tahun 1919 itu sejatinya memiliki lima guru. Dengan bantuan ADP, mereka memperoleh tambahan dua guru yang dibiayai ADP dan satu guru lagi yang dibiayai bersama oleh yayasan dan ADP. Sebulannya mereka menerima Rp. 520.000. Angka itu memang masih jauh di bawah standar upah minimum provinsi.

    Selain memberikan bantuan kepada anak santun, anak nonsantun juga tidak luput dari bantuan. Setiap anak santun memperoleh sepuluh buku, satu tas, satu pasang seragam sekolah untuk setiap semester, dan sepatu untuk digunakan satu tahun. Sedangkan kepada anak nonsantun diberikan tiga buku setiap semesternya. "Kami berharap tidak ada kecemburuan. Istilah kami, anak santun memberkati anak nonsantun," jelas Thomas.

    ADP juga berencana mendukung pengadaan buku-buku bacaan untuk perpustakaan. Selama ini perpustakaan yang disesaki empat rak baru dari ADP masih berisi buku-buku tahun 1970-an yang terlihat lusuh dengan sampul yang terkelupas.

    Bantuan ADP tidak melulu buku dan pelajaran. Di SDN 10 kota S, misalnya, ditemui instalasi air bersih yang tengah dibangun. Instalasi separuh jadi itu berupa mata air yang dipermanenkan dengan semen dan disambung dengan pipa ke WC sekolah. Sebelumnya, saat pelajaran akan dimulai anak-anak bergotong-royong mengangkut air dari lembah ke dataran tempat mereka bersekolah.

    Di sekolah yang ditempuh dua jam dari kota S ini, ADP menyantuni 56 anak. Jumlah tersebut belum termasuk rekrutmen untuk tahun 2006.

    SEKOLAH TANPA KEPASTIAN

    ADP kota S sendiri bertekad untuk tetap mendampingi anak santun yang ingin melanjutkan sekolahnya, meskipun dalam program disebutkan jika pendampingan hanya pada pendidikan tingkat dasar.

    Keinginan anak untuk sekolah dan maju sudah menjadi cita-cita masyarakat Dayak. Suku terbesar yang mendiami Pulau Kalimantan ini sebetulnya terbuka dengan kemajuan. Terutama jika berkenaan dengan nasib anak-anaknya.

    Sehari-hari Cecilia, puteri sulung Calok yang duduk di kelas 5 SD Baban Rancang ini terpaksa mengambil tanggung jawab sang ibu. Memasak, mencuci, dan mengasuh Donatus sudah dilakoninya sejak pagi. Ia berbagi tugas membersihkan rumah dengan Esterlita yang tengah duduk di kelas 2 SD. Keduanya juga bersama-sama berjalan kaki sejauh tiga kilometer ke sekolah yang dapat ia tempuh selama kurang lebih satu jam.

    Esterlita tidak tahu dari mana biaya sekolahnya didapat. Yang dia tahu, dia ingin belajar terus dan meraih cita-cita. "Aku ingin jadi guru," katanya sambil tertawa lepas. Cita-cita itu diperolehnya ketika melihat sosok ibu guru di sekolahnya. Mungkin pada sosok itu ia melihat ibunya yang mungkin tidak akan dijumpainya lagi. Matanya memancarkan keriangan yang teduh kala menangkap kilatan cahaya dari kamera. Di dalam mata itu tersimpan kekelaman. Kekelaman dari sosok anak yang terpaksa dewasa sebelum waktunya.

    Dia tidak tahu sampai kapan sang ayah mampu membiayai sekolahnya. Ia hanya berharap rekrutmen program santun ADP berikutnya bisa menjaringnya. Dengan demikian, sepatu, seragam, tas, buku, pensil, seperti milik kakaknya bisa dimilikinya juga. Pendapatan sang ayah sudah pasti tidak mencukupi biaya sekolahnya. Apalagi untuk mengantarkannya sampai pada cita-cita.

    Dibutuhkan kasih dan kepedulian dari sesama yang mau memercayakan bantuannya melalui WVI. Itu sudah cukup menyunggingkan senyum masa depan pada Esterlita-Esterlita lain di wilayah pelayanan WVI.

    "Datang lagi ya!" teriaknya dari jauh.

    Bahan diambil dan diedit dari sumber:

    Judul majalah: Bahana, Pebruari 2006 Vol. 178
    Judul artikel: Program Anak Santun Tingkat Kualitas Belajar
    Penulis : Robby Repi
    Penerbit : Andi, Yogyakarta
    Halaman : 51 - 52

    e-JEMMi 22/2006

    Wanita Berhati Mulia

    Takut akan Tuhan

    Meski ia berasal dari sebuah kelompok masyarakat yang paling rendah, Esther (28) memiliki rasa percaya diri yang besar karena ia tahu bahwa Tuhan mengasihinya. Ia telah menjadi pengikut Kristus sejak masih kecil. Ketika berusia delapan belas tahun, ia mengikuti pelatihan bagi hamba-hamba Tuhan dan terus bertumbuh dalam iman. Meski ia tidak bisa menyelesaikan sekolah menengah, Tuhan memakainya untuk melayani keluarga, gereja, dan masyarakat. Ia dan suaminya melayani di sebuah gereja rumah.

    Pekerja Keras

    Orang-orang di sekitarnya mengagumi Esther karena kerja kerasnya. Ia menerima bantuan SED (Social Economic Development) dari Open Doors dalam bentuk Micro Lending Program (pinjaman lunak). Seorang staf Open Doors mengisahkan, "Kami tidak pernah menghadapi masalah dengan Esther karena ia selalu membayar tepat waktu."

    "Saya sangat bersyukur pada Tuhan," ujar Esther. "Bantuan yang diberikan memampukan saya untuk hidup layak," Ia menunjukan rasa terima kasihnya dengan rasa kepedulian dan kasih terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan. Ia setia dalam perpuluhan, meski di saat yang sulit.

    Wanita dengan hikmat Tuhan

    Esther kini memimpin kelas baca-tulis di beberapa komunitas suku S. Ia memiliki komitmen yang patut dikagumi. Pernah suatu ketika ia diminta untuk mengajar baca-tulis di tengah sebuah komunitas M. Setelah berdoa dan mempertimbangkan beberapa hal, ia akhirnya bersedia.

    Hingga hari ini, hidup Esther berada dalam ancaman dan intimidasi. Kelompok fundamentalis pernah mengancam akan membunuhnya dan membiarkan mayatnya di tengah jalan agar semua orang yang lewat melihat apa yang terjadi pada dirinya. Esther berkata, "Apa pun kejahatan yang dirancangkan orang atas diri saya, jiwa saya tetap aman dalam Tuhan. Tidak ada satu pun yang dapat menahan saya untuk membagikan kebenaran."

    Diambil dan diedit seperlunya dari:

    Judul buletin : Open Doors, Edisi Maret-April 2007, Volume 12 No. 2
    Judul artikel : Wanita Berhati Mulia
    Penulis : tidak dicantumkan
    Halaman : 9

    e-JEMMi 31/2007

    World Harvest

    Jalan Menuju Kebenaran (A Road To Hope)

    Seperti yang kita semua ketahui, tahun 2005 lalu diawali dengan luka yang mendalam bagi jutaan manusia di seluruh dunia akibat tragedi tsunami. Kenyataannya, sampai saat ini masih banyak sekali warga Aceh yang hidup dalam trauma dan depresi.

    "Bu ... mandi ya?" bujuk seorang perawat kepada wanita setengah baya itu. Namun yang ditanya tetap berdiam diri, pandangan matanya menatap kosong ke depan, matanya selalu berkaca-kaca, dia tidak punya apa-apa lagi, semua keluarganya hilang. Perlahan dia menggeleng, "Tidak mau ... dilap saja ...." Gulungan air bah yang dalam sekejap menyapu habis seluruh keluarganya, membuat sang wanita setengah baya ini trauma terhadap air. Sudah beberapa bulan berlalu, namun dia selalu menggigil dan trauma setiap kali merasakan siraman air pada tubuhnya.

    Bencana yang telah merenggut lebih dari 166.000 nyawa dan menghilangkan 133.000 lainnya itu telah menyentuh hati banyak orang untuk membantu mereka dalam segala hal. Banyak organisasi kemanusiaan yang dengan cekatan menyumbang banyak bala bantuan setelah bencana terjadi. Tetapi, beberapa bulan setelah tsunami, banyak dari organisasi-organisasi tersebut juga sudah berkemas dan meninggalkan Aceh karena kondisi di sana sudah sedikit membaik. Hanya beberapa yang masih tinggal untuk terus membantu, salah satunya adalah sebuah organisasi kemanusiaan internasional bernama WORLD HARVEST.

    Sejak hari pertama musibah tsunami terjadi dan sesuai dengan permintaan pemerintah Indonesia, World Harvest telah menyumbangkan pertolongan darurat mendasar kepada orang-orang yang terkena musibah di Aceh dan bagian Sulawesi Utara seperti:

    1. Bantuan obat-obatan: Mengirimkan 10 buah kontainer obat-obatan dan peralatan medis sesuai dengan keperluan rumah sakit di Aceh.

    2. Pengiriman paramedis: Mengirimkan dokter-dokter dan perawat-perawat dari Indonesia, Amerika, dan Australia, yang telah menjadi sukarelawan untuk membantu di Aceh.

    3. Pembangunan POSKO: Tempat dimana para korban bisa mendapatkan bantuan medis dengan segera.

    4. Menggerakkan para sukarelawan dan pelayan masyarakat: mengirimkan para sukarelawan ke Aceh untuk memberikan bantuan konseling kepada para korban yang masih hidup dalam trauma.

    5. Bantuan bahan pangan: Mendistribusikan bahan-bahan makanan darurat kepada yang membutuhkan dan juga makanan bergizi bagi anak-anak.

    6. Konseling Krisis: Memfokuskan pada kesembuhan emosional para korban.

    7. Rehabilitasi Rumah Sakit: World Harvest dengan aktif ikut serta dalam merehabilitasi rumah-rumah sakit dan klinik-klinik yang telah hancur akibat tsunami.

    8. Bahan kebutuhan sekolah: Memberikan berbagai kebutuhan sekolah kepada anak-anak.

    Rob Fuller seorang dokter dari Amerika Serikat juga bergabung dengan World Harvest dalam tim bantuan Aceh. Ketika ditanyai apa yang memotivasi dia meninggalkan kehidupan dan pekerjaannya yang nyaman dan memilih untuk pergi ke belahan dunia lain untuk mengulurkan tangan, membersihkan luka-luka, merangkul dan ikut menangis dengan orang yang sama sekali tidak dia kenal di daerah yang bahkan mungkin sebelumnya tidak pernah ia dengar namanya, serta merta menjawab dengan senyumannya yang khas. Dia mengatakan dua patah kata yang bermakna sangat dalam: "Kasih Tuhan". Banyak orang yang telah merespon panggilan ini dan sebanyak 123 sukarelawan telah bergabung dengan tim pertolongan World Harvest untuk memberikan konseling, perawatan medis dan pendidikan kepada para pengungsi secara cuma- cuma.

    Setelah tsunami, dari 9 rumah sakit di Aceh, hanya 2 yang masih berfungsi dan salah satunya adalah Rumah Sakit Zainal Abidin. Biarpun rumah sakit ini adalah yang terbesar di Aceh, 95% dari fasilitasnya telah hancur oleh tsunami yang terjadi akhir tahun lalu. Serpihan besi-besi tua dan kawat-kawat bekas bangunan bercampur dengan air kotor yang tercemar mayat-mayat manusia yang membusuk, merupakan surga bagi kuman tetanus. Goresan luka kecil pun bisa berkembang menjadi infeksi yang berkepanjangan.

    Tim pertama terdiri dari 50 dokter asal Amerika, para konselor, dan penerjemah, yang dipimpin langsung oleh Pdt. Daniel Hanafi selaku VP International, di sana mereka menjumpai suatu keadaan yang mengenaskan. Puluhan orang bergeletakan dengan tubuh mengejang dan mulut berbusa, semuanya terkena tetanus. Para dokter tidak bisa berbuat apa-apa karena antibiotik tidak tersedia sama sekali. Beruntung saat itu separuh dari tim rombongan masih tertahan di Jakarta karena penuhnya pesawat. Mereka bisa dihubungi dan kesokan harinya tambahan antibiotik pun tiba.

    Kerja sama yang telah digalang oleh World Harvest dengan TNI selama hampir 8 tahun dalam program-program kemanusiaan di pulau Jawa memungkinkan mereka menggunakan fasilitas Angkatan Laut untuk mengirimkan peralatan-peratatan medis yang sangat dibutuhkan oleh Rumah Sakit Zainal Abidin. Tidak mengherankan sampai saat ini, World Harvest bersama Fokus Pada Keluarga (Focus On The Family) diberi kantor tersendiri di Rumah Sakit Zainal Abidin. Beruntung juga organisasi Fokus Pada Keluarga bukan merupakan barang baru lagi di Aceh. Selama hampir 5 tahun saran-saran pembinaan keluarga dari organisasi ini sangat akrab di telinga mereka lewat siaran Radio yang disiarkan secara rutin setiap minggunya.

    World Harvest kemudian bekerjasama dengan Fokus Pada Keluarga untuk membuka tenda di lokasi pemukiman para pengungsi. Selain memberikan pelayanan konseling diberikan juga fasilitas pengobatan gratis, pendidikan keterampilan, manajemen dan bahasa Inggris. Setelah musibah terjadi, diperlukan jangka waktu yang lama untuk mengurangi penderitaan para korban. World Harvest sadar bahwa usaha penyembuhan sendiri hanya akan membawa solusi jangka pendek kecuali ditemani oleh pembangunan transformasi jangka panjang.

    World Harvest telah memperkenalkan kepada masyarakat Aceh suatu komunitas baru, Community Transformational Center (CTC) -- Pusat Transformasi Komunitas untuk membantu para korban tsunami di propinsi Aceh. World Harvest telah berhasil meluncurkan program ini di wilayah Neuhuen tempat di mana penduduk setempat bisa mendapatkan pertolongan medis, pendidikan, latihan untuk bekerja dan konseling penanganan krisis.

    KETIKA SATU MENANGIS DAN SERIBU MENYAHUT, HIDUPLAH HARAPAN

    World Harvest tidak pernah berhenti untuk membantu masyarakat Aceh dalam membangun kembali kehidupan dan masa depan mereka. Masih banyak bantuan yang dibutuhkan. Oleh karena itulah World Harvest mengadakan Benefit Concert, "Harapan Untuk Aceh" yang diselenggarakan di Ford Amphitheatre, Hollywood, Amerika pada tanggal 2 Oktober 2005. Konser ini menampilkan artis-artis Kristen Indonesia, seperti Sidney Mohede dan grup band HPM (Harvest Praise Ministry), Frontline Generation dari Seattle, dan Four Walls dari Los Angeles. Untuk mentransformasikan kehidupan para korban, usaha yang keras sangatlah diperlukan. Saudara-saudara kita di Aceh memerlukan pertolongan kita untuk membangun kembali kehidupan mereka. Kami percaya ketika satu menangis dan seribu orang menyahut dan bergerak, maka muncullah harapan.

    World Harvest sampai saat ini masih terus mencari sukarelawan, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Amerika Serikat untuk dapat bergabung dalam tim "Harapan untuk Aceh". Apabila Anda ingin ikut serta dalam tim kami atau membantu World Harvest dalam melayani korban bencana, silakan mengunjungi Situs World Harvest di alamat:

    ==> http://www.worldharvest.cc//

    Diambil dari:

    Nama majalah : SPIRIT Indonesian Magazine, Edisi 28/Oktober 2005
    Halaman : 47 -- 48

    e-JEMMi 01/2006

    Yang Kuingini Hanya Yesus

    "Ini adalah waktunya," seorang yang kasar berkata kepada William. "Ini waktunya bagimu membuat satu keputusan. Ini waktunya bagimu untuk menerima perintah agama."

    William sangat ketakutan. Dia tahu apa yang mungkin menimpanya jika dia menolak masuk dalam agama yang mereka inginkan. Walaupun saat itu ia belum genap berusia 10 tahun, dia telah melihat akibatnya. Tetapi satu hal dia juga tahu, hanya ada satu Allah, dan itu berbeda dengan allahnya mereka.

    William ditangkap dari desanya yang ada di Sudan pada tahun 1997. Para militan datang ke desanya pukul tujuh pagi tepat pada saat panasnya Sudan padam oleh kabut pagi hari.

    Mendengar suara letusan senjata, ayah William mulai berlari memanggil keluarganya dan mencoba untuk tetap maju berhadapan dengan pasukan penyerang yang juga maju. Dia mengambil saudara William yang berumur tujuh tahun dan menggendongnya di tangannya agar dapat berlari cepat menghindari mereka, tetapi usahanya tidak berguna.

    "Berhenti!" perintah tentara-tentara radikal itu. "Jika kamu lari, kami akan menembakmu. Jika kamu berhenti berlari, kami tidak perlu menembakmu."

    Itu bohong, tetapi keluarga ini tidak memunyai pilihan. Mereka berhenti. William muda melihat orang-orang tersebut maju mendekati mereka, matanya mengamati antara moncong senjata mereka yang berwarna hitam dan kegelapan yang menyelimuti mata mereka.

    Hampir sebelum William mengetahui apa yang akan terjadi, para radikal telah mengikat ayah dan adiknya dengan tali. Sesaat setelah itu, ayah dan adik William mati dieksekusi oleh mereka.

    Ibu William berteriak sangat keras di dalam kepedihan dan perasaan kehilangan, dan orang-orang tersebut mulai memukuli ibunya.

    William dilemparkan ke sungai, tetapi dia tidak bisa berenang, dan dia mulai berteriak agar seseorang menolongnya. Ibu William berusaha melawan penyerang dan mendapatkan tangan William, menggenggam, dan menariknya ke tepian sungai. Tetapi salah seorang dari mereka mengambil kembali William dengan paksa dan melemparkannya lagi ke dalam sungai. Tidak rela melihat anaknya mati, ibu William terus berusaha melawan orang-orang tersebut untuk menyelamatkan William.

    Kali ini, orang-orang tersebut membiarkan mereka hidup, tetapi tujuannya adalah menjadikannya tawanan. William berjalan menjauh dari ibunya. Kedua tangannya diikat, dan mereka memperingatkan bahwa dia akan dipukuli jika sekali-kali mencoba untuk melarikan diri.

    Salah satu dari mereka membawa William ke rumah mereka. "Kamu harus mengawasi kambing dan domba," katanya pada William. Jika satu saja hewan tersebut hilang dari penjagaannya, William dipukul. Pernah suatu kali kepalanya dipukul dengan sisi tumpulnya kapak. Kali selanjutnya, tuannya membakar plastik dan plastik yang meleleh itu lalu diteteskan ke atas kulit William. William mengalami kesakitan yang sangat luar biasa dan dia mencium bau yang menjijikkan dari dagingnya sendiri yang terbakar.

    William telah berhasil melalui segala pencobaan tersebut. Sekarang mereka menginginkan William menjadi penganut agama mereka.

    "Saya tidak mau menjadi penganut agamamu," kata William menceritakan pengalamannya yang mengerikan. "Saya tahu ada satu Allah, dan Dia berbeda dengan allah mereka. Saya sudah dibaptis sebelum saya ditangkap. Saya seorang Kristen sepenuhnya dan saya mengasihi Yesus dengan sepenuh hati."

    Ancaman datang dan orang-orang tersebut mengepung William. Mereka berencana untuk membunuhnya. Tetapi Allah memberikan satu jalan keluar dari orang yang dia tidak sangka-sangka.

    "Ada seorang tua di sana, seorang kakek," ingat William. Dia adalah salah satu anggota dari keluarga yang menangkap William. Dia berkata, "Tidak seharusnya kamu memaksa seseorang untuk memeluk agamamu. Jika orang itu menolak dan kamu berniat membunuhnya, itu tidak benar. Apa yang harus kamu lakukan adalah biarkan dia apa adanya seperti saat kamu membawanya ke sini (sebagai seorang Kristen). Jika dia berkata dia tidak mau memeluk agamamu, biarkan dia. Tetapi jangan bunuh dia. Jika kamu membunuhnya di sini, saya tidak akan tinggal bersamamu."

    Perkataan orang tua tersebut menyelamatkan hidup William. Kemudian Allah menyediakan lagi jalan keluar bagi William untuk melarikan diri dan berhasil kembali ke desanya.

    Saya tidak mengingini agama lain, kata William sekarang, "Yang kuingini hanyalah Yesus."

    Diambil dan disunting seperlunya dari:<