Guinea Bissau

KEMBALI KE LADANG PERJANJIAN

Sekembali dari cuti di Indonesia, pada minggu-minggu pertama di Guinea Bissau saya memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali dengan iklim, budaya, dan terutama dengan bahasa Kreol. Dalam tahap pelayanan yang kedua ini saya melayani di tiga tempat dengan kebiasaan dan juga dengan bentuk pelayanan yang berbeda. Tempat- tempat itu adalah:

Sao Domingos

Letaknya lebih kurang 128 km sebelah Utara Guinea Bissau, berbatasan dengan Senegal. Mayoritas penduduknya masih animis ataupun beragama Katolik. Gereja Protestan bisa berkembang karena banyak orang yang cukup terbuka dengan Injil. Di situ, saya lebih berfokus pada pemuridan, pendidikan guru Sekolah Minggu, dan penginjilan. Selain itu, saya juga mengajar PA di gereja setempat.

Empada

Tempat kedua dalam pelayanan saya terletak lebih kurang 300 km sebelah Selatan Guinea Bissau. Penduduk di daerah ini, suku Beafada, mayoritas beragama non-Kristen yang cukup fanatik. Lebih dari tiga puluh tahun Injil diberitakan di antara suku mereka, tetapi sampai sekarang belum ada orang Beafada yang percaya. Tim kami lebih berfokus pada penginjilan ke desa-desa dan dari rumah ke rumah. Tidak jarang suku Beafada menolak Kristus secara terang-terangan. Gereja di Empada yang berasal dari latar belakang suku-suku lain tidak memiliki visi untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya. Jemaat di Empada bukan suatu perkecualian, walaupun Guinea Bissau adalah negara di Afrika Barat satu-satunya yang belum menjadi negara muslim. Gereja-gereja masih takut menginjili orang yang beragama lama. Selama tiga bulan saya membantu pelayanan teman saya yang berasal dari Brazil sampai dia pulang ke kampung halamannya. Karena tidak ada rekan sekerja di Empada, akhirnya saya pindah lagi ke tempat lain.

Ntchumbe

Letaknya lebih kurang 130 km sebelah Timur Guinea Bissau. Di sini terdapat satu-satunya sekolah Alkitab di negara ini. Sekolah Alkitab ini berada di lokasi yang sangat terpencil. Jika tidak memiliki kendaraan untuk menuju lokasi ini, satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan berjalan kaki sejauh 7 km dari jalan raya. Di sinilah saya mengajar sampai sekarang. Mulanya ini adalah pergumulan berat bagi saya karena harus mempersiapkan materi dari buku-buku berbahasa Portugis yang dimiliki di perpustakaan. Di samping itu, semua tugas dan makalah mahasiswa Alkitab ditulis dalam bahasa Portugis. Bahasa yang sudah lebih kurang lima tahun tidak saya gunakan ini harus dilatih lagi. Oleh karena kesulitan ini, akhirnya saya mengajar dalam bahasa Kreol dan memberi mereka tugas dalam bahasa Portugis. Mahasiswa tahun keempat terdiri dari empat orang dan mereka berasal dari latar belakang suku dan pendidikan yang berbeda. Tidak jarang saat mengajar, saya harus menunggu begitu lama karena mereka sangat lamban dalam menulis. Semua bahan harus ditulis di papan tulis. Maklum, buku atau makalah tidak ada. Jadi, semua serba tulisan tangan.

Karena tidak ada tetangga yang dekat, setiap hari saya bertemu dengan orang yang sama. Saya menikmati persekutuan dengan mereka karena kami mengenal baik satu sama lain. Bahkan setiap akhir pekan saya bersama dua mahasiswa mengunjungi Desa Biana dan Jadda yang beragama non-Kristen untuk penginjilan. Puji Tuhan, ada seorang ibu dan anak yang mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus. Saya juga mengajar di tingkat satu yang terdiri dari dua belas orang. Inilah jumlah terbanyak sejak sekolah Alkitab tersebut dimulai. Tahun ini, untuk pertama kalinya sekolah Alkitab menerima mahasiswa yang berlatar belakang non-Kristen.

Luas : 36.125 km2
Jumlah penduduk : 1,2 juta jiwa
Ibukota : Bissau dengan lebih kurang 223.000 jiwa
Suku bangsa : Afrika Barat [15 kelompok suku, di antaranya Balanta (suku terbesar), Manjako, Papel, Mankanya, Beafada, Bijago, Jola/Felupe, Nalu] (56,5 persen), Fulbe (5 kelompok suku) (25,4 persen), Mande (5 kelompok suku: Mandingo, Maninka, Mandinga, Sarakole, dan Susu) (14,9 persen), Lain-lain (orang Kreol, orang-orang Tanjung Verdian, orang-orang Guinea): (3,5 persen)
Bahasa Utama : Portugis
Bahasa Nasional : Kreol, dipakai oleh 60 persen dari jumlah penduduk
Ekonomi : Negara kurang berkembang. Infrastruktur sulit karena tingkat pendidikannya yang sangat rendah
Politik : Sejak 1974 merdeka dari Portugal. Demokrasi masih sulit, sering terjadi perang saudara. Pemilu terakhir awal tahun 2004
Agama : Animis (48.1 persen), Islam (44.1 persen), Katholik (7.0 persen), Kristen (0.9 persen)

TAHUN-TAHUN PERTAMA DI GUINEA BISSAU

Betapa senangnya hati seseorang jika ia mendapatkan sesuatu yang sudah lama ia rindukan atau doakan. Demikian juga hati saya; ketika berdoa selama dua belas tahun untuk negara Guinea Bissau, akhirnya dalam waktu Tuhan yang tepat, Ia membawa saya masuk juga ke "Tanah Perjanjian." Ketika tiba di Sao Domingos pada 11 Januari 2004, saya mengingat satu bagian Firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:24, "Ia yang memanggil kamu adalah setia Ia juga yang akan menggenapinya". Di situ saya bergabung dengan tim WEC yang terdiri dari Ibu M dan Keluarga Clarke.

Berhubung saya tiba pada hari Minggu, teman-teman langsung membawa saya ke gereja. Acara di sana sangat hangat karena jemaat, khususnya ibu-ibu menyanyi sambil menari-nari dan melompat-lompat sampai debu beterbangan ke mana-mana karena lantai gereja masih berupa tanah. Ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mengesankan sekaligus merupakan tantangan karena terus terang saya tidak bisa menari.

Hari-hari berikutnya, kami mulai mengunjungi orang-orang percaya di desa-desa di sekitar Sao Domingos. Jemaatnya sangat sederhana, namun memiliki kerinduan untuk beribadah. Di antara mereka ada yang harus berjalan kaki berjam-jam lamanya hanya untuk mengikuti kebaktian. Sering tak ada pemimpin atau orang yang mengajari mereka Firman Tuhan. Jemaat seringkali hanya terdiri dari ibu-ibu yang semuanya buta huruf. Maklum mereka sangat kurang dalam pengajaran.

Kami juga berkunjung ke desa yang belum memiliki orang percaya. Ibu M menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa Kreol dan saya mendukungnya dalam doa. Di sinilah saya mengerti betapa pentingnya pelayanan dalam tim. Sewaktu-waktu kami juga membawa satu atau dua orang pengemudi atau remaja untuk menemani kami. Mereka menerjemahkan bahasa Kreol kami ke dalam bahasa daerah karena seringkali orang desa tidak terlalu mengerti bahasa Kreol.

Dalam setiap kunjungan kami selalu harus bergumul dalam peperangan rohani. Hampir setiap desa mempunyai tempat-tempat penyembahan berhala. Misalnya pada bulan Agustus 2004, ketika Ibu M dan saya mengunjungi satu desa, ada sekelompok ibu-ibu, kira-kira dua puluh orang dengan dukun mereka yang baru keluar dari hutan di mana mereka mengadakan upacara penyunatan untuk mengikat diri kepada Iblis. Setelah kami berdua pulang, kami tidak bisa tidur sepanjang malam, karena terus `diganggu`. Akhirnya kami mengambil waktu untuk memuji Tuhan dan terus berdoa.

Sesudah beberapa bulan di Sao Domingos saya pindah ke Cacine, bagian Selatan. Di situ hanya ada gereja kecil. Anggota jemaatnya kebanyakan remaja dan anak-anak. Saya melayani remaja dan Sekolah Minggu, sekaligus mengajar beberapa remaja untuk terlibat di dalam pelayanan Sekolah Minggu. Setiap minggu keempat, kami membawa kaum remaja keluar untuk menyaksikan Injil.

Tantangan di Cacine berbeda dengan di Sao Domingos. Di Cacine ada banyak orang Wasai yang begitu kuat dengan kepercayaan takhyul dan penyembahan berhala. Pada akhir pelayanan saya di sana, ada anak pemimpin Wasai yang hilang di hutan kira-kira jam sembilan pagi. Menurut kepercayaan mereka, anak tersebut dibawa setan. Akhirnya, semua orang Wasai di kampung itu mencari si kecil. Baru jam tiga sore mereka menemukannya. Setelah itu, seluruh kampung mengadakan upacara khusus, agar setan tidak membalas dendam.

Sekarang saya mempelajari bahasa Portugis di ibu kota Bissau agar diperlengkapi untuk pelayan berikutnya.

ESPERANCA (HARAPAN) YOUTH CENTER DI INGORE, GUINEA BISSAU

Matahari bersinar, udara panas sekali, tetapi di dekat rumah misionaris WEC, ada sekelompok orang yang tertawa dan berkeringat. Mereka bekerja keras untuk membangun Youth Center di Ingore, sebuah desa terpencil di pedalaman Guinea Bissau, Afrika Barat yang berbatasan dengan Senegal. Postur mereka tinggi besar dan berkulit hitam. Sekalipun mereka bekerja keras, mereka masih bersukacita. Jika mereka tertawa, cuma gigi mereka yang putih dan sehat yang menonjol. Mata mereka bersinar pertanda sukacita. Dari pagi hingga petang mereka terus mencetak batu bata. Ada beberapa kelompok lain yang sibuk mencabut akar-akar pohon dari tanah supaya pondasi Youth Center bisa dibuat.

Mereka semua adalah anggota gereja Protestan Ingore di bawah pimpinan Pendeta Almandinyo dan pembina Bapak D. Karena negara mereka adalah sebuah negara yang miskin sekali, kebanyakan pemuda meninggalkan daerah asal mereka di pedalaman dan merantau ke ibu kota Bissau. Namun, di situ pun mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan pendidikan seperti yang mereka impikan. Akibatnya, kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran dan membuat kekacauan. Itulah sebabnya para hamba Tuhan, baik misionaris WEC maupun orang pribumi sendiri, beriman untuk mendirikan Youth center, agar generasi muda ini bisa dididik dan selanjutnya mampu mencari nafkah hidup sendiri.

Visi pembangunan tempat ini berawal dari Bapak D pada awal millenium ke-3. Pada tahun 2002, perencanaan ini disempurnakan dan pekerjaan pun dimulai. Banyak kesulitan yang dihadapi pada waktu itu, dan sampai sekarang pun masih demikian. Akta tanah susah diurus karena ada beberapa pemilik tanah yang tidak mau menjual tanah mereka. Bahan bangunan sangat sulit dibeli karena tidak ada persediaan. Itu sebabnya pembangunan ini tidak lancar. Sekarang sudah ada enam buah ruang kelas yang telah terselesaikan dengan satu ruang untuk kursus pertukangan yang sedang dikerjakan.

Marilah kita bergandengan tangan mendoakan mereka supaya mereka tetap bersemangat dan kebutuhan, baik moral maupun material bisa tercukupkan.

Pokok Doa:

Bahan diambil dan diedit dari sumber:

Judul Buletin : Terang Lintas Budaya, Edisi 63, 2005

e-JEMMi 17/2006

Afard di Djibouti

Orang Afar (Danakil) mengklaim bahwa mereka adalah keturunan anak Nuh, yaitu Ham. Mereka tinggal di Djibouti, negara bagian Afrika Timur, Somalia, Ethiopia, dan Eritrea. Orang Afar dari Djibouti hidup di sepanjang pantai yang berbatasan dengan Ethiopia dan Somalia, dan di daerah padang gurun Danakil yang membentang dari Ethiopia sampai Eritrea. Kadang kala Djibouti disebut "lembah neraka" karena Djibouti memunyai iklim paling panas dan paling kering di dunia.

Danakil lebih senang disebut Afar karena kata "danakil" dalam bahasa Arab merupakan istilah yang menyebalkan bagi mereka. Afar terdiri dari dua bagian, yaitu Asaemara (berwarna merah), bangsawan yang lebih bermartabat dan berkuasa, yang hidup di sepanjang pesisir; dan Adaemara (berwarna putih), orang biasa yang hidup di pegunungan dan gurun pasir. Danakil adalah orang-orang yang sombong serta menonjolkan kekuatan dan keberanian manusia. Wibawa dapat diperoleh dengan cara membunuh musuhnya.

SEPERTI APAKAH KEHIDUPAN MEREKA?

Sebagian besar orang Afar adalah kaum nomaden yang menggembalakan domba, kambing, ternak, dan unta. Beberapa kelompok Asaemara hidup di pantai sebagai nelayan. Akan tetapi, kekayaan seseorang diukur dari banyaknya ternak yang ia miliki. Kaum wanita bertugas memelihara domba, sapi, kambing, serta mengurus tenda. Kaum pria bertugas memelihara unta dan keledai serta membongkar tenda saat tiba waktunya untuk pindah.

Meskipun kaum Muslim diizinkan memiliki empat orang istri, pernikahan orang Afar biasanya monogami. Paling muda, para gadis boleh menikah saat berusia sepuluh tahun. Pernikahan di antara sepupu pertama itulah yang lebih disukai, khususnya antara seorang pria dengan anak perempuan bibinya. Mereka lebih suka mengadakan upacara pernikahan pada malam bulan purnama, dan upacara itu harus dihadiri seseorang yang dapat membaca Qur`an.

Daging dan susu merupakan komponen makanan bagi orang Afar. Susu juga menjadi sesaji yang penting. Sebagai contoh, ketika seorang tamu dijamu dengan susu segar yang hangat untuk diminum, si tuan rumah menyatakan bahwa dia memberikan perlindungan bagi tamunya. Jika seseorang dibunuh ketika ada dalam perlindungan mereka, kematiannnya harus dibalaskan seolah-olah dia termasuk anggota klan tersebut.

Orang Afar tinggal di tenda-tenda yang dikelilingi oleh semak belukar yang melindungi mereka dari serangan binatang buas atau suku-suku musuh. Gubuk mereka yang berbentuk oval, yang disebut "ari", terbuat dari anyaman pohon palem dan mudah dipindahkan. Pasar harian itu penting bagi masyarakat ini. Beberapa orang berjalan sangat jauh untuk menjual ternak, unta, kambing, domba, mentega, dan alas kaki jerami. Sebaliknya, mereka membeli barang-barang seperti kopi, gula, korek api, dan sabun.

APA KEPERCAYAAN MEREKA?

Di awal sejarah mereka, orang Afar sangat dipengaruhi oleh agama Islam. Sekarang pun, Islam masih memeroleh penghargaan yang tinggi. Orang Afar tidak makan daging babi dan jarang minum alkohol. Mereka yang mampu boleh melakukan ibadah umroh ke Mekah. Selain itu, banyak kepercayaan dan adat kebiasaan pra-Islam yang sudah umum berlaku di antara orang Danakil. Mereka percaya bahwa pohon dan semak belukar tertentu memiliki kekuatan yang sakral. Mereka juga memiliki ritual agama yang bermacam-macam, seperti meminyaki tubuh mereka dengan "ghee" (sejenis mentega). Roh-roh orang mati diyakini sangat berkuasa dan "perjamuan makan untuk orang meninggal", yang disebut "rabena", dirayakan setiap tahun. Mereka juga memberi korban tahunan ke laut untuk menjaga keselamatan desa mereka. Banyak orang memakai jimat pelindung dari kulit yang berisi ramuan dan ayat-ayat Qur`an.

APA YANG MENJADI KEBUTUHAN MEREKA?

Salah satu masalah yang paling serius di Djibouti adalah musim kemarau. Sayang sekali, sumber-sumber industri dan sumber-sumber alam untuk mengatasi masalah tersebut sangat kurang.

Sekarang ini, daerah itu berada di bawah tekanan politik yang semakin besar. Sejak Djibouti memeroleh kemerdekaannya pada tahun 1977, ketegangan di antara Somalia dan Danakil meningkat. Walaupun orang Somalia merasa menjadi koloni yang terhilang, Djibouti menguasai bagian vital garis rel yang menghubungkan Ethiopia ke luar negeri. Sejak saat itu, keduanya ingin menguasai daerah itu.

Beberapa orang Afar yang berpindah menjadi pemeluk agama Kristen hidup terisolir. Mereka juga ditekan oleh kerabat mereka agar kembali menjadi Islam. Mereka memerlukan kuasa Roh Kudus untuk memertahankan iman mereka dalam Kristus.

POKOK DOA

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joshua Project
Judul asli artikel : Afar of Djibouti
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.joshuaproject.net/peopctry.php

e-JEMMi 31/2008

Ajuran Kenya

Suku Ajuran termasuk dalam ras bangsa yang dikenal dengan nama Somalia. Bangsa Somalia tersebar di seluruh wilayah Afrika bagian timur laut dan timur tengah. Suku Ajuran adalah satu dari enam suku bangsa Somalia yang tinggal di bagian timur laut Afrika -- daerah yang biasa disebut "Tanduk Afrika", meliputi Somalia, Djibouti, dan Kenya. Suku Ajuran kebanyakan tinggal di sebuah provinsi bagian timur laut Kenya. Mereka memadati hampir seluruh populasi di sana.

Suku Ajuran adalah peternak seminomaden. Anggota suku sangat setia satu dengan yang lain. Mereka menyebar ke segala penjuru untuk memastikan ada cukup tanah dan air untuk semua ternak mereka. Mereka memandang rendah orang-orang yang bekerja dengan tangan, dan para pengrajin dianggap sebagai orang-orang kelas bawah. Kebanyakan orang Ajuran mampu berbicara dua bahasa -- bahasa asli mereka (Garreh-Ajuran) dan bahasa Somalia; beberapa di antaranya juga berbicara bahasa Swahili. Hanya sekitar dua persen penutur Garreh-Ajuran yang melek huruf.

Seperti Apa Kehidupan Mereka?

Suku Ajuran yang seminomaden tinggal di gubuk-gubuk yang mudah untuk dibawa ke mana-mana -- dibangun dari pohon muda bengkok yang ditutupi dengan kulit binatang atau tikar tenunan. Mereka dapat dengan mudah membongkar gubuk itu, membawanya dengan unta, kemudian pindah ke tempat lain bersama dengan ternak mereka. Desa-desa didiami oleh beberapa keluarga yang masih memiliki hubungan darah. Gubuk-gubuk mereka diatur letaknya sehingga membentuk lingkaran atau setengah lingkaran mengelilingi kandang ternak mereka. Desanya dibatasi dengan pagar semak berduri untuk melidungi mereka dari orang asing dan binatang buas. Tanggung jawab kaum lelaki adalah memelihara ternak. Sedangkan kaum wanita, mengurus rumah tangga dan mendirikan gubuk. Mereka memelihara ternak, memasak, dan mengurus keluarganya.

Pola perpindahan suku Ajuran tergantung pada area penggembalaan dan iklim daerah yang tak dapat diprediksi di tempat di mana mereka tinggal. Jika padang rumput dan air mulai langka, mereka mengemasi gubuk mereka dan pindah mengarungi gurun. Sumber mata pencaharian kebanyakan suku Ajuran didapat dari ternak mereka -- unta, lembu, kambing, dan domba.

Menurut hukum Islam, kaum pria diizinkan memiliki empat istri. Poligami sudah menjadi hal yang biasa di suku Ajuran. Sayangnya, tingkat perceraian sangat tinggi. Anak-anak dari orang tua yang cerai biasanya dibagi menurut kelamin; istri membawa anak perempuan dan suami membawa anak lelaki.

Dahulu, makanan pokok suku Ajuran hampir seluruhnya terbuat dari susu; namun demikian, kini mereka juga makan jagung dan nasi. Mengunyah "qat", obat perangsang halusinasi ringan, adalah kegiatan favorit pengisi waktu senggang.

Kaum wanita suku Ajuran menjalani hidup yang sangat berat. Mereka biasanya diperlakukan seperti budak. Beberapa percaya bahwa kaum wanita tidak memiliki jiwa. Terkadang, seorang wanita yang baru saja menikah dipukuli oleh suaminya agar ia belajar untuk patuh dan tunduk pada suaminya. Kaum pria ingin agar istrinya melahirkan banyak anak, sehingga sering kali wanita hamil berkali-kali. Karena masalah kekurangan gizi, para wanita harus berjuang agar anak-anaknya dapat bertahan hidup. Para istri tinggal di gubuk yang terpisah dari keluarganya.

Apa Kepercayaan Mereka?

Suku Somalia memeluk agama Islam pada tahun 1400-an. Kini, suku Ajuran adalah Muslim Shaffite. Mereka sangat ortodoks dalam praktik-praktik agama mereka. Bahkan, beberapa dari mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan Muslim Arab. Namun demikian, penelitian linguistik menunjukkan bahwa hal tersebut tidaklah benar.

Meski suku Ajuran adalah orang Muslim yang kukuh, hanya beberapa di antaranya saja yang benar-benar memahami kepercayaan yang mereka anut. Mereka adalah orang-orang yang sangat bangga akan agamanya dan menganggap orang Kristen sebagai orang yang rendah. Muslim menganggap Yesus sebagai nabi, guru, dan seorang yang baik hati, namun bukan sebagai Anak Allah. Mereka juga percaya bahwa semua pria dan binatang akan menentukan bagaimana hidup mereka setelah mati nanti. Mereka percaya bahwa mereka akan dihakimi berdasar kesalehan sikap dan pengetahuan akan Al-Quran. Muslim berdoa lima kali sehari dengan menghadap ke Mekah.

Apa Kebutuhan Mereka?

Beberapa tahun belakangan, Afrika bagian timur laut didera kekeringan yang amat parah. Fasilitas kesehatan yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tinggal di daerah itu. Mereka sangat membutuhkan tim medis Kristen dan bahan-bahan pangan. (t\Dian)

Pokok Doa

  1. Berdoa agar Tuhan mengirim lebih banyak misionaris yang dapat menjangkau orang-orang Ajuran yang belum mengenal Kristus dengan efektif.

  2. Mohon agar Tuhan mengurapi Injil yang mengudara melalui radio dan televisi kepada suku Ajuran. Biarlah Roh Kudus bekerja melalui sarana media yang ada tersebut.

  3. Mohon agar Tuhan melunakkan hati suku Ajuran terhadap orang Kristen sehingga mereka mau melihat kesaksian orang Kristen dan mau menerima Injil.

  4. Doakan agar Tuhan menyatakan diri-Nya kepada orang-orang Ajuran melalui mimpi dan visi, karena Injil atau misionaris sering sulit masuk di tengah-tengah mereka.

  5. Mohon agar Tuhan membangkitkan tim doa di berbagai tempat untuk mulai berdoa bagi suku Ajuran. Doakan agar kuasa yang membutakan hati orang Ajuran dipatahkan dan mereka dapat melihat Allah yang benar melalui Injil yang mereka dengar.

  6. Doakan agar segera berdiri gereja lokal yang kuat di antara suku Ajuran. Biarlah umat Tuhan ini dapat dipersatukan dalam satu keluarga Tuhan sehingga semakin kuat dalam menghadapi pencobaan-pencobaan.

  7. Mohon agar Tuhan mengirimkan misionaris dari tim medis untuk memberikan pertolongan bagi kebutuhan kesehatan suku Ajuran.

  8. Doakan juga untuk kebutuhan pangan di wilayah di mana suku Ajuran tinggal, karena mereka sering kekurangan makanan dan berpindah-pindah tempat.

Diterjemahkan dari:

Nama situs : Joshua Project
Judul asli artikel : Ajuran of Kenya
Penulis : Tidak dicantumkan
Alamat URL : http://www.joshuaproject.net/peopctry.php

e-JEMMi 13/2008