Jimmy duduk di depan, di sisi ayahnya yang sedang menyetir mobil. "hati-hati, Jimmy," kata Ayah, "kau harus bantu Ayah lihat t'rus pada mobil Paman John yang di depan sana. Kita akan mengikuti jejaknya dari North Carolina sampai ke Indiana. Khususnya perhatikan kalau ada mobil lain yang menyelinap masuk, atau kalau mobil kita harus berhenti di stopan."
Si Jimmy senang dapat membantu ayahnya. Sudah berminggu-minggu lamanya ia mengharapkan saat keberangkatan mereka. Jimmy dengan kedua orang tuanya menaiki mobil yang satu, sedangkan Paman John dengan tiga anggota gereja menaiki mobil yang satunya lagi. Mereka akan menghadiri suatu pekan persekutuan gereja di negara bagian Indiana. Wah, betapa senangnya bepergian bersama-sama!
Tetapi pada hari pertama dalam perjalanan mereka, pada waktu sinar matahari terasa paling terik, kira-kira jam satu siang salah satu ban mobil Ayah bocor. Ayah membunyikan klakson dua kali panjang, sekali pendek, dan sekali lagi panjang. Itulah aba-aba yang telah disetujui, agar mereka di mobil yang di depan dapat segera mengetahui bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan mobil yang dibelakang.
Mobil Paman John mundur pela-pelan sampai ke tempat di mana Ayah sibuk bekerja. Ia sudah mengeluarkan ban serep dan dongkrak.
"Wah, kurang mujur!" kata Paman John.
"Yah, tapi mujur juga. Terjadinya persis di sini, dibawah naungan pohon besar," balas Ayah.
Kedua bapak itu mulai bekerja sama, agar dapat lebih cepat selesai. Si Jimmy dan ibunya dan para penumpang lainnya itu menunggu di tempat yang teduh.
"Nah! Sekarang beres," kata Paman John. "Dan sekarang aku haus." Ia melihat sekeliling. Agak jauh dari jalan, kelihatan sebuah rumah kecil. Di serambi mukanya duduk seorang perempuan tua; kulitnya hitam legam dan rambutnya putih bersih. Ia duduk dengan memangku sebuah buku besar.
Paman John menunjuk ke arah perempuan tua itu. "Hei Jimmy, coba kau lari ke sana dan minta air minum," suruhnya.
Setelah si Jimmy sampai ke undak-undakan rumah, ia pun naik ke serambi. Perempuan tua itu berpaling ke arahnya tetapi tidak berkata sepatah kata pun. "Tolong, Ibu," kata Jimmy, "kami harus ganti ban yang bocor; kami semua haus. Boleh kami minta air minum di sini?"
Perempuan tua itu tersenyum. "Air minum? Wah, ada mata air yang airnya paling manis sana, di hutan, di belakang bukit kecil. Ini, Nak peganglah ini t'rus dan kau akan sampai ke sana!" Seraya menjelaskannya, perempuan tua itu meletakkan tangannya pada seutas tali kuat yang diikatkan pada tiang serambi muka. Kelihatannya tali itu terbentang di sepanjang halaman, lalu menghilang di belakang rumah.
Jimmy mengucapkan terima kasih. Lalu dengan sedikit ragu-ragu ia mulai memegang tali itu. Terus ia mengikutnya, . . . menyeberang halaman rumah, . . . masuk hutan, . . . terus mengikuti tali sampai di belakang sebuah bukit kecil. Di situ ia memang menemukan sebuah mata air. Dan benar juga, airnya manis sekali, lagi sangat dingin.
Setelah minum, Jimmy lalu kembali ke pinggir jalan dan menunjukkan tempatnya kepada orang lain. Mereka pun pergi ke sana dan minum sampai puas.
"Aku akan ke rumah ibu tua itu bersama kamu," kata Ayah kepada Jimmy. "Aku ingin menanyakan petunjuk jalan. Dan kita harus berterima kasih sekali lagi kepada ibu tua itu atas air minumnya."
Pelan-pelan mereka berdua berjalan melalui hutan kecil, lalu menyeberangi halaman rumah. "Sudah jelas orang yang tinggal di sini suka bunga," kata Ayah. "Belum pernah aku mencium sekian banyak bau wangi."
Pada saat mereka mendekati serambi muka, perempuan itu masih tetap duduk di sana. Tetapi ia tidak menoleh ke arah mereka. Rupa-rupanya matanya ditujukan ke depan, bukan arah buku besar yang sedang dipangkunya. Namun jari-jarinya bergerak dengan sangat cepat di atas halaman-halaman buku besar itu.
"Wah, dia orang buta!" Ayah berbisik kepada Jimmy. "itulah sebabnya ada tali: Untuk membimbing dia sampai ke mata air. Dan itulah sebabnya pula ia suka menanam bunga. ia tidak dapat melihatnya, namun ia dapat menikmati bau wanginya.
Rupanya pendengaran perempuan tua itu masih tajam, walau matanya buta. Ia mendengar suara bisikan itu, lalu ia berpaling ke arah Jimmy dan ayahnya. "Bagaimana Nak? Kau menemukan mata air itu? Segar rasanya pada hari yang panas terik seperti hari ini, ya?
"Memang segar, ibu, "jawab Jimmy dengan sopan. "Dan enak sekali!"
Lalu Ayah turut berbicara. "Kami berhutang budi kepada Ibu," katanya. Sejenak kemudian ia pun menambahkan: "Adakah apa-apa yang dapat kami kerjakan untuk Ibu, sebelum kami meneruskan perjalanan?"
Perempuan tua itu tersenyum. "O tidak, pak, terima kasih. Tidak usah. Kalian dapat melihat sendiri, mataku ini sudah rusak. Sejak kecil, malah. Tapi aku tidak perlu bantuan. Tidak usah!" Dan ia tertawa riang.
"Pasti ibu tidak tinggal sendirian di sini!" cetus Ayah.
"Sendirian! Dan aku suka tinggal di sini!" jawab perempuan tua itu sambil tertawa lagi. "Putraku, dia yang pasang tali-tali untukku. Tali ini, sampai ke mata air. Tali sana, sampai ke kandang ayam. Tali lain lagi, sampai ke pohon buah. Dan ada juga tali, sampai ke kebun sayur. Kalau di dalam rumah, tidak usah pakai tali segala, sebab aku dapat meraba-raba dan berjalan-jalan ke mana-mana."
Sekali lagi ia tersenyum ke arah Jimmy dan ayahnya, walau ia tidak dapat melihat mereka. "Aku hanya pegang tali-taliku t'rus," katanya lagi. Lalu ia pun mengangkat buku besar yang ada di pangkuannya itu. "Kalian tahu, ini apa?"
"Aku tahu itu sebuah buku Braille, yang dicetak dengan huruf-huruf timbul yang dapat diraba oleh jari-jari," jawab Ayah. "Dan kalau tidak salah, buku itu Alkitab."
"Betul! Betul!" kata perempuan berkulit hitam itu dengan nada suara yang gembira. "Nah, dengarlah, kalian, pada nasihat seorang yang sudah tua: Tadi kalian memegang taliku t'rus dan kalian sampai ke mata air. Nah, peganglah Alkitab ini t'rus, dan kalian akan sampai ke surga!"
"Benar, Ibu," kata Ayah.
Prempuan tua itu meletakkan tangannya yang berkeriput itu pada tali yang menuju mata air. "Peganglah ini t'rus mendapat air minum," katanya. Lalu ia menjamah tali yang menuju ke kebun. "Peganglah ini t'rus, mendapat makanan." Kemudian dengan penuh rasa kasih dan khidmat ia meletakkan tangannya pada Alkitabnya yang besar. "Peganglah ini t'rus, mendapat Tuhan Allah. Dan inilah taliku yang paling penting!"
"Benar," kata Ayah lagi. "Ibu, kalau aku, aku tidak usah memegang tali-tali seperti Ibu. Namun aku berusaha terus memegang ajaran-ajaran Alkitab. Sama halnya dengan anakku ini, juga sama dengan yang lainnya yang sedang bepergian bersama-sama dengan kami."
"Bagus! Bagus!" kata perempuan tua itu sambil tersenyum lebih lebar lagi.
Ayah Jimmy masih mengobrol sebentar lagi dengan perempuan tua itu. Lalu Paman John membunyikan klakson dari pinggir jalan, dan mereka harus pergi. Ternyata Ayah sama sekali lupa menanyakan petunjuk jalan.
Perempuan tua itu berdiri di serambi mukanya pada saat mereka berpamitan. Wajahnya dipalingkan ke arah bunyi derap kaki mereka. Ia menunggu sampai ia mendengar kedua mesin mobil itu dihidupkan kembali, lalu ia pun berseru lagi dengan suara keras: "Peganglah ini t'rus, hai kalian! Yah, selalu peganglah ini t'rus!" dan dengan kedua belah tangannya ia mengangkat Alkitabnya yang besar itu.
Si Jimmy menoleh kepada ayahnya; mukanya memeperlihatkan rasa heran. "Rupanya ia tidak sedih, Ayah walau matanya buta," kata Jimmy.
"Memang ia tidak sedih, Jimmy," Ayah menyetujui. "Ia sudah belajar sesuatu yang sering dilalaikan orang-orang lain yang punya mata tajam, Ibu tadi sudah tahu, kita harus berpegang terus pada apa yang paling penting."
Kedua mobil itu terus melaju naik bukit, turun ke lembah. Dan dengan irama ban-bannya yang berputar-putar terus, si Jimmy seolah-olah dapat mendengar lagi seruan perempuan tua yang berkulit hitam itu:
"Peganglah itu t'rus, hai kalian! Yah, selalu peganglah ini t'rus!"
TAMAT
Raja Henry VIII merasa pusing. Yang memusingkan pikiran sang raja Inggris ialah, pembicaraan penasihatnya yang terpercaya, Thomas Cromwell. Cromwell lagi-lagi berbicara mengenai keperluan adanya satu versi Alkitab bahasa Inggris yang pada umumnya diakui.
"Terlalu banyak perselisihan pendapat tentang Alkitab, hai Baginda yang mulia," kata Cromwell. "Sebagian orang ingin memakai terjemahan William Tyndale, yang dulu pernah dilarang. Sebagian lagi lebih suka versi Thomas Mattew. Yang lain lagi berpendapat bahwa terjemahan baru hasil karya Miles Coverdale adalah versi yang paling bagus. Sebaiknya Baginda sendiri yang memutuskan, edisi manakah harus dipakai. Lalu Baginda dapat bertitah supaya Alkitab versi itulah yang dicetak, agar dapat ditempatkan di dalam setiap gereja di seluruh Kerajaan Inggris."
Cukup panjang pembicaraan Thomas Cromwell itu! Lalu ia mohon diri, karena ia sadar bahwa sang raja sudah mulai pusing. Pada masa itu, empat setengah abad yang lalu, seorang penasihat raja tidak berani membangkitkan murka tuannya!
Selama beberapa minggu Raja Henry memikirkan nasihat Cromwell. Sambil mengusap-usap jenggotnya, ia bergumam: "Usul yang baik . . . aku akan melakukannya. Sekarang akulah kepala gereja di Inggris, dan bukan sri paus yang bertakhta di kota Roma. Jadi, akulah yang berhak memutuskan agar ada satu versi Alkitab bahasa Inggris yang diakui oleh umum.
Dengan suara keras sang raja berseru: "Panggil Thomas Cromwell!"
Ketika Cromwell masuk dan menghadap, Raja Henry memberi isyarat dengan tangannya. "Suruh orang mencetak Alkitab bahasa Inggris edisi baru!" katanya, seolah-olah dia sendiri yang menemukan gagasan baru itu.
"Baik, Baginda," kata Thomas Cromwell sambil tersenyum.
Tidak lama kemudian, Cromwell berunding dengan Miles Coverdale, orang yang mula-mula berhasil menerbitkan seluruh Alkitab dalam bahasa Inggris. Sebagian besar versi itu adalah hasil karya William Tyndale almarhum (lihat pasal 1 dalam buku ini); sisanya, hasil karya orang-orang lain, termasuk Coverdale sendiri.
"Maukah engkau menyiapkan versi baru itu?" tanya Thomas Cromwell kepada Miles Coverdale.
Coverdale rela saja melakukannya. Ia dapat memanfaatkan terjemahan gabungan yang sudah menjadi miliknya itu.
"Sebaiknya dicetak di Paris, ibu kota Perancis," Cromwell mengusulkan. "Di sana ada bengkel percetakan yang paling baik. Dan percayalah, Raja Henry tidak akan puas kecuali ada hasil yang paling baik!"
Maka Miles Coverdale mulai bekerja. Bila satu bagian naskahnya sudah siap, ia menyerahkannya kepada tukang-tukang cetak cetak di kota Paris. Dan bila naskah yang diserahkan itu sedang dicetak, bagian berikutnya sedang dizet. Rupanya tidak lama kemudian, seluruh Alkitab edisi baru pesanan sang raja itu akan selesai. Bahkan beberapa halamannya sudah dikirim ke negeri Inggris.
Tiba-tiba Thomas Cromwell menjadi gelisah. Di benua Eropa ada bahaya. Ada orang-orang tertentu yang tidak menginginkan rakyat jelata dapat membaca Alkitab. Jangan-jangan ada gerombolan musuh yang menyerbu bengkel percetakan di kota Paris! Boleh jadi mereka akan memusnahkan alat-alat percetakan, tumpukan-tumpukan kertas, beberapa halaman yang sudah jadi, dan naskah terjemahannya!
Memang sebagian dari halaman yang sudah jadi itu kemudian dirampas oleh musuh, dan dijual begitu saja kepada seorang tukang pembuat topi. Maka Thomas Cromwell memutuskan, sebaiknya seluruh proyek penerbitan sang raja itu dipindahkan ke negeri Inggris. " Di negeri sendiri kita tidak akan diganggu!" katanya.
Lalu Miles Coverdale disuruh memindahkan segala-galanya ke negeri Inggris: alat-alat percetakan kertas, bahkan tukang-tukang cetak juga. Dan pekerjaan itu pun diteruskan.
Akhirnya pada tahun 1539 seluruh Alkitab itu selesai dicetak. Ukuran halamannya sangat besar, sehingga versi itu segera diberi julukan: "Alkitab Agung."
"Nah, kalau sudah dicetak, pasti harus dibaca!" kata Raja Henry VIII. Ia mengeluarkan suatu titah supaya Alkitab Agung itu dibacakan di setiap gereja. Ia juga memerintahkan supaya di setiap gereja besar disediakan tiga atau empat buah meja khusus dengan sebuah Alkitab Agung di atasnya masing-masing, dan supaya meja-meja itu diletakkan di tempat yang berbeda-beda di dalam gereja. Jadi, siapa saja boleh masuk ke dalam gereja dan membaca sendiri isi Alkitab.
Titah sang raja pasti dilaksanakan dengan segera oleh rakyat. Tidak lama kemudian, di seluruh Kerajaan Inggris orang-orang saleh yang memasuki gereja atau katerdal mana saja, pasti menemukan di situ beberapa meja. Dan di atas setiap meja itu diletakkan sebuah eksemplar Alkitab Agung yang indah. Setiap Alkitab yang berukuran besar itu dirantaikan pada meja, sehingga tak mungkin dibawa pulang.
Empat setengah abad yang lalu, hanya sedikit saja orang yang mempunyai buku. Juga, hanya sedikit orang yang pandai membaca. Dan orang yang pandai membaca, biasanya suka membaca dengan bersuara.
Coba andaikan ada seorang saudagar yang berhenti di depan Alkitab Agung di sebuah gereja. Ia membolakbalikkan halaman demi halaman sampai ia menemukan sesuatu yang menarik. Lalu ia berdiri di situ sambil membaca dengan suara keras. Orang-orang lain yang berdiri di sekelilingnya mendengarkan dengan penuh perhatian, apalagi jika mereka sendiri kurang pandai membaca.
Beberapa waktu kemudian, saudagar itu pun pergi. Lalu ada seorang sarjana yang kemungkinan memasuki gereja. Ia juga membolakbalikkan halaman demi halaman yang besar itu, dan segera mulai membaca dengan bersuara.
Mungkin juga menyusul seorang mahasiswa, atau seorang anak bangsawan, ataupun seorang pegawai toko. Mereka masing-masing dengan senang hati membuka Alkitab dan membaca isinya. Mungkin di antara mereka itu ada yang membaca dengan suara yang lebih nyaring, dengan harapan akan dikagumi orang lain: "Ah! Orang itu sungguh pandai membaca!" Mungkin si pembaca Alkitab bahkan tidak menghiraukan waktu, bahwa saat itu kebaktian umum di gereja sudah dimulai.
Maka timbullah kekacauan besar di dalam gereja-gereja di seluruh Kerajaan Inggris. Orang-orang Inggris begitu asyik membaca Firman Allah, sehingga mereka tidak lagi memperhatikan apakah gereja itu sedang dipakai untuk beribadah atau tidak. Mungkin di tengah-tengah khotbah terdengar suara melengkung dari arah belakang ruang kebaktian, karena seseorang sedang membaca salah satu pasal Kitab Mazmur. Menyusullah suara kedua di sebelah kiri dengan sangat nyaring membaca Sepuluh Hukum Allah, sedangkan suara ketiga di sebelah kanan menyerukan Ucapan Bahagia Tuhan Yesus. Tentu saja bagi para anggota jemaat amat sulit mengikuti khotbah dalam keadaan seperti itu!
Maka sang raja harus mengeluarkan suatu peraturan baru: "Dilarang membaca bersuara keras jika ada upacara kebaktian yang sedang berlangsung." Tetapi di luar jam-jam ibadah itu, siapa saja boleh memasuki gereja dan membaca Alkitab Agung.
Pasti Raja Henry VIII senang atas keberhasilan tindakannya itu. Namun di Kerajaan Inggris masih banyak orang yang belum sempat mengetahui isi Alkitab. Di antara mereka itu ada yang kekurangan waktu, sehingga mereka tidak sempat membeli sebuah Alkitab untuk dibaca sendiri di rumah.
Rakyat biasa negeri Inggris harus menunggu dua setengah abad lagi, barulah mereka dapat membaca Alkitab dengan mudah sama seperti sang raja dan para bangsawan serta kaum cerdik pandai. Bahkan tindakan seorang raja yang memungkinkan mereka mempunyai Alkitab sendiri. Malah yang bertindak seorang anak perempuan dari rakyat biasa di Wales, salah satu daerah kecil dari Kerajaan Inggris Raya.
Menjelang permulaan tahun 1800an, Mary Jones baru berumur sepuluh tahun, namun ia sudah mempunyai dua cita-cita besar:
"Aku ingin belajar membaca!" kata si Mary. "Dan aku ingin punya sebuah Alkitab sendiri."
"Cuma orang kaya saja yang punya Alkitab," jawab ayahnya. "Dan kalau membaca, Ayah sendiri belum pernah belajar."
Ayah Mary Jones adalah seorang penenun kain. Walau ia tidak dapat membaca, namun ia seorang pembawa cerita yang pandai. Di gereja ia mendengarkan baik-baik waktu Firman Tuhan dibacakan dalam bahasanya sendiri, yaitu bahasa Wales. Lalu ia suka menceritakannya kembali kepada si Mary. Kisah nyata dari Alkitab itu adalah cerita kesayangan Mary Jones sejak kecil.
Pada waktu si Mary berumur sepuluh tahun, salah satu citanya itu mulai menjadi kenyataan. Sebuah sekolah dibuka, hanya tiga kilometer jauhnya dari tempat tinggalnya. Si Mary merasa tidak apa-apa setiap hari berjalan enam kilometer di lorong-lorong pegunungan, asal saja ia dapat belajar membaca.
Ada seorang tetangga keluarga Jones yang cukup kaya; ia mempunyai sebuah Alkitab. Istrinya mengajak si Mary main ke rumah mereka, agar ia dapat membaca Firman Tuhan. Semakin banyak ia membaca, semakin besar kerinduan hatinya untuk mempunyai sebuah Alkitab sendiri.
Untuk mewujudkan keinginannya, Mary Jones mulai memelihara ayam. Sedikit demi sedikit tabungannya menjadi berat. Namun ia harus menunggu selama enam tahun, baru uang simpanannya itu cukup untuk membeli sebuah Alkitab.
Di desa tempat tinggal Mary Jones tidak ada toko buku. Seseorang memberitahu dia, "Aku mendengar bahwa di desa Bala, Pdt. Charles suka menjual Alkitab. Tetapi jaraknya empat puluh kilometer dari sini. Apa lagi, jalannya menanjak!"
Tidak mengapa. Si Mary toh sudah bekerja dan sudah menabung selama enam tahun. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini, hanya oleh karena ia harus berjalan lagi empat puluh kilometer pulang ke rumahnya. Ia hanya memiliki sepasang sepatu saja, jadi sambil berjalan ia menjinjing sepatu itu agar tidak terlalu cepat menjadi usang.
Dengan kaki telanjang Mary Jones berjalan empat puluh kilometer di jalan yang menanjak. Di pinggir desa Bala, baru ia mengenakan lagi sepatunya: Tentu saja ia harus berpakaian rapi dan sopan pada saat menghadap sang pendeta untuk membeli sebuah Alkitab!
Tetapi pendeta itu memberi kabar yang sangat mengecewakan: "Alkitab berbahasa Wales itu hanya ada sisa tiga buah saja, dan ketiga-tiganya sudah dijanjikan kepada orang lain. Aku kurang tahu kapan akan ada lagi persediaan Alkitab."
Sampai saat itu Mary Jones sangat tabah. Tetapi ketika mendengar kabar yang demikian, ia langsung duduk dan menangis.
Pdt. Charles merasa prihatin, apalagi setelah si Mary dengan terbata-bata menceritakan pengalamannya. "Mungkin . . . mungkin salah seorang calon pembeli itu rela menunggu sampai ada kiriman lagi," usulnya.
Memang ia berhasil membujuk salah seorang calon pembeli itu untuk menunggu dengan sabar. Jadi, Alkitab yang semula dijanjikan kepada orang itu dapat dijual kepada Mary Jones. Pdt. Charles yang baik hati itu juga mengusahakan makanan, minuman, dan penginapan untuk si Mary. Gadis itu dapat beristirahat secukupnya sebelum menempuh perjalanan pulang kembali sejauh empat puluh kilometer.
Sesudah anak perempuan yang berumur enam belas tahun itu pulang, Pdt. Charles masih tetap mengenang dia. Mestinya ada cukup banyak Alkitab berbahasa Wales, katanya dalam hati. Pasti si Mary hanya salah satu di antara sekian banyak rakyat biasa yang ingin mempunyai sebuah Alkitab sendiri. Mestinya harga Alkitab lebih rendah, sehingga rakyat tidak harus menabung bertahun-tahun lamanya. Mestinya persediaan Alkitab lebih banyak, sehingga rakyat tidak harus berjalan kaki jauh-jauh di lorong pegunungan untuk menemukan hanya sebuah Alkitab saja.
Lalu Pdt. Charles mengadakan perjalanan jauh, dari desa Bala ke ibu kota London. Di sana ia berunding dengan pemimpin-pemimpin gereja. Kepada mereka ia menceritakan pengalamannya dengan si Mary Jones.
Melalui peristiwa itu, maka pada tahun 1804 didirikan Lembaga Alkitab Inggris Raya dan Luar Negeri. Itulah lembaga Alkitab yang pertama-tema didirikan di seluruh dunia. Kemudian di mana-mana menyusul lembaga-lembaga Alkitab yang lain, . . . termasuk Lembaga Alkitab Indonesia.
Pekerjaan setiap lembaga Alkitab itu ialah, menerjemahkan Firman Tuhan ke dalam bahasa sebanyak mungkin, menerbitkannya sehingga dapat dijual semurah mungkin, lalu mengedarkannya seluas mungkin. Itulah sebabnya pada masa sekarang ada ratusan juta orang di dunia ini yang sempat mempunyai Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.
Jadi, belum cukup jika ada seorang raja yang menitahkan supaya Alkitab diterbitkan dan dibacakan. Juga diperlukan cita-cita yang besar dari seorang rakyat biasa, yaitu seorang putri penenun kain. Mary Jones rela bekerja keras sambil menabung selama enam tahun, lalu rela berjalan kaki sejauh empat puluh kilometer, oleh karena tekadnya serta tindakannya itu, sekarang ada Alkitab bukan hanya di Inggris Raya, melainkan juga di seluruh dunia.
TAMAT
Matahari sudah mulai terbenam pada saat seorang pria dengan susah payah berjalan kaki lewat lorong yang becek menuju Desa Gersang.
Wah, jelek sekali jalan-jalan di daerah Polandia Timur ini, katanya pada dirinya sendiri. Kalau aku tidak bertekad untuk membawa Alkitab kepada orang-orang yang belum mempunyainya, pasti aku tidak mau bepergian ke daerah yang terpencil seperti ini!
Memang pria itu sudah biasa berjalan di jalan-jalan desa yang jelek. Umumnya ia tidak mengomel. Tetapi sudah bekerja keras sepanjang hari, kadang-kadang ia merasa sedikit jengkel.
Tenaganya hampir terkuras habis ketika lampu-lampu nampak berkedip-kedip pada jendela-jendela di Desa Gersang. Pada saat pria itu berjalan semakin dekat, anjing-anjing menggonggongi dia. Tetapi pria itu sudah biasa menghadapi anjing-anjing penjaga; seandainya tidak, pasti sudah berkali-kali ia diserang.
Ia mengetuk pintu rumah pertama yang didatanginya. Seorang pria muncul dipintu; tiga orang anak mengintip dari belakang punggungnya.
"Selamat sore." sapa tuan rumah itu. "Silakan masuk; sudah mulai dingin di luar."
"Selamat sore." Tetapi pria yang mengetuk pintu itu tidak segera masuk. "Pak, aku mencari tempat menginap. Aku bersedia membayar, juga untuk makananku. Dan aku pun menjual sebuah Buku yang berisi cerita-cerita yang paling indah di seluruh dunia."
Dengan tenang ia menunggu keputusan tuan rumah; ia tidak mau memaksa orang itu menerimanya. Tetapi biasanya, begitu orang memandang wajahnya, saat itu juga mereka merasa bahwa ia seorang yang dapat dipercaya.
"Bagaimana, Marya?" tanya tuan rumah itu kepada istrinya.
Istrinya melangkah maju dan memperhatikan wajah pria yang masih berdiri di luar itu. "Nanti malam pasti dingin sekali," katanya. "Kami punya cukup makanan di sini dan cukup tempat tidur juga." Lalu ia kembali ke tungku perapian agar dapat mengurus masakannya.
Maka pintu itu dibukakan lebih lebar. "Silakan masuk!" kata tuan rumah. "Kenalkan, namaku Antoni Kowalski."
"Dan aku, Karl Olsen, penjual Alkitab," jawab tamu itu seraya berjabat tangan. "Di samping menjual, aku pun suka menyampaikan cerita di tempat aku menginap."
Ketiga anak itu berdiri di sekeliling Karl Olsen pada saat ia duduk di dekat tungku perapian. Si Marya Kecil adalah anak sulung; namanya sama dengan nama ibunya. Ia Tersenyum tersipu-sipu. "Cerita, Pak?" bujuknya.
Ayahnya tertawa. "Si Marya tidak puas-puasnya mendengar cerita. Biarkan tamu kita memanaskan tangannya dulu, Nak!"
Tidak lama kemudian Karl Olsen sudah merasa hangat dan nyaman. Maka dibukanya bungkusannya dan dikeluarkannya sebuah Alkitab. "Nah, ini dia, Buku yang paling berharga di seluruh dunia. Kalian mau aku bacakan sebuah cerita, ya? Bagaimana kalau cerita ini, yang pernah dibawakan oleh Tuhan Yesus sendiri?"
Karl membuka Alkitabnya pada perumpamaan orang Samaria yang murah hati. "Kalian bagaikan orang Samaria terhadap diriku," katanya. "Dengan murah hati kalian sudah menerima aku, sehingga aku tidak kedinginan, dan aku selamat dari bahaya binatang buas yang mengintai dalam kegelapan malam."
Tibalah waktu makan malam. Karl makan dengan lahapnya. Makanan itu sangat sederhana, tetapi disuguhkan dalam keadaan panas dan diberi bumbu menurut seleranya.
Sesudah makan, Karl Olsen mulai bercerita lagi. Pak Antoni dan Ibu Marya duduk sambil mendengarkan, bersama dengan si Marya Kecil dan si Yan dan si Zosia. Yang dibacakan ialah cerita-cerita tentang Yusuf, tentang Daud, tentang Raja Salomo yang membangun Bait Allah yang indah, tentang Nabi Daniel yang dijebloskan ke dalam gua singa.
Sebelum ia menyampaikan tiap cerita baru, Karl membuka Alkitab pada pasalnya yang tepat. Smbil bercerita ia pun menyisipkan di sana sini dengan susunan kata persis seperti yang tertera di halaman Alkitab.
Si Marya Kecil menarik napas panjang pada saat Karl Olsen menutub Alkitab. "Papa, beli Buku itu, ya? Supaya setiap malam Papa dapat membacakan isinya," bujuknya. "Papa satu-satunya orang di Desa Gersang yang dapat membaca," ia menjelaskan dengan bagga kepada tamu itu.
Ayahnya mengerutkan dahinya. "Kita ini orang miskin, Nak. Tidak mampu membeli buku," katanya.
Suara Karl Olsen lirih pada saat ia mengatakan: "Mereka yang tidak mempunyai Buku ini memang miskin. Tetapi bagi mereka yang mempunyainya, Buku ini lebih berharga daripada banyak harta."
"Papa! Papa! Beli, ya, Papa!" si Marya terus membujuk.
Akhirnya Antoni Kowalski membeli sebuah Alkitab, meski untuk orang seperti dia harganya terhitung cukup mahal. Ia meletakkan Buku itu di tempat yang terhormat di dalam rumahnya.
Selama dua hari Karl Olsen tetap menginap pada keluarga Kowakski. Ia berkenalan dengan penduduk lain di desa itu. Tetapi tidak ada seorang pun, di antara mereka yang mau membeli Alkitab. Kitab-kitab Perjanjian Baru, bahkan Kitab-Kitab Injil yang kecil-kecil tidak ada satu pun yang laku.
Karl kecewa. Tadinya ia berbesar hati karena pada malam yang pertama itu ia sudah menemui sebuah keluarga yang rela membeli Alkitab lengkap. Harapannya semula ialah, pasti ada juga orang-orang lain di Desa Gersang yang mau membeli.
Pada hari yang ketiga, Karl Olsen berangkat menuju desa-desa lain. Sambil berjalan kaki melewati lorong yang becek, ia terus berpikir: Ah! Biarlah cuma sebuah Alkitab saja yang laku di Desa Gersang. Tadinya tidak ada Firman Allah sama sekali di sini. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi?
Kemudian datanglah musim salju di Polandia Timur. Matahari terbenam agak awal; kawanan serigala melolong di dalam kegelapan malam. Semua orang harus tetap tinggal di rumah.
Pada malam-malam seperti itu Antoni Kowalski biasa membuka Alkitabnya serta membacakan cerita-cerita yang sudah diberi tanda oleh Karl Olsen. Ia pun membacakan ajaran-ajaran Tuhan Yesus, menurut daftar penunjuk ayat yang ditinggalkan oleh penjual Alkitab itu.
Selama saat-saat pembacaan itu, Ibu Marya dengan si Marya Kecil serta Yan dan Zosia suka duduk mendengarkan. Kemudian mereka memperbincangkan apa yang sudah mereka dengar.
Kadang-kadang ada juga tetangga yang turut mendengarkan. Seraya mengambil Alkitabnya, Pak Antoni suka mengatakan: "Coba dengarkan apa yang sudah kutemukan di dalam Buku ini. Dengarkan baik-baik, dan berilah tanggapan."
Lalu ia akan membacakan dengan suara keras, sedangkan tetangga-tetangannya duduk termenung. Kemudian mereka memberi tanggapan dan memperbincangkan arti ayat-ayat tadi. Percakapan itu selalu berkisar pada hal-hal yang patut mereka terapkan dalam hidup mereka.
"Mengapa aku harus mengampuni musuhku?" tanya seorang tetangga. "Apakah Buku ini bermaksud, aku harus membantu seseorang memotong kayu, padahal ia sudah mencuri sebagian dari panen gandumku? Wah, tidak masuk akal!"
Pak antoni menggelengkan kepalanya. "Siapa tahu? Memang ini ajaran yang aneh." Lalu ia pun membuka sebuah ayat yang lain lagi. "Nah, ini: `Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.'''
Si Marya Kecil dan Yan ikut mendengarkan ayah mereka bertukar pikiran dengan tetangga-tetanggnya. Mereka saling berpandangan. Memang mereka tidak selalu memperlakukan teman-teman sepermainan mereka seperti mereka kehendaki supaya teman-teman itu memperlakukan mereka!
Sulit mengatakan secara persis, kapan dan bagaimana perbuahan ajaib itu mulai terjadi. "Seumpama ragi yang diadukan ke dalam tepung sampai khamir seluruhnya", demikian kata-kata Tuhan Yesus tentang Firman Allah yang berkerja dengan tidak kentara dalam hati manusia.
Demikianlah halnya di Desa Gersang. Ajaran-ajaran Alkitab mulai mengubah cara hidup Antoni Kowalski serta keluarganya dan tetangga-tetangganya. Desa Gersang mulai bersemi secara rohani, dengan pikiran dan perbuatan yang bersifat murah hati.
Pada suatu hari Pak Antoni dan Ibu Marya mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dengan terang-terangan. Tak ketinggalan juga si Marya Kecil dan Yan. Zosia, si bungsu, masih terlalu kecil untuk menjadi anggota gereja, namun ia pun mengasihi Tuhan Yesus sebagai Temannya yang terbaik.
Lambat laun orang-orang lain di desa itu juga memihak Tuhan Yesus dan menggabungkan diri dengan umat Kristen. Pada suatu hari Pak Antoni dan Ibu Marya mulai menghitung: "Seratus sembilan puluh delapan, . . . seratus sembilan puluh sembilan, . . . dua ratus. Sudah ada dua ratus orang Kristen!" kata mereka. "Alangkah baiknya jika Karl Olsen dapat diberitahu, betapa besarnya perubahan di desa ini sebagai hal dari Alkitab yang pernah dijualnya!"
Nah, justru fakta itu yang mulai mencemaskan hati kedua ratus orang Kristen baru di Desa Gersang: Alkitab yang mereka miliki itu hanya ada satu.
Mengapa kita juga tidak membelinya waktu Karl Olsen ada di sini dulu?" kata mereka dengan wajah sedih. "Bagaimana kalau Kitab Suci itu dicuri orang? Bagaimana kalau rumahmu kebakaran, Antoni?"
"Aku sudah tahu sebagian dari Alkitab di luar kepala," kata si Marya Kecil. "Aku sudah hafal cerita tentang Tuhan Yesus bersama kanak-kanak itu, dan juga Mazmur pasal 100."
"Dan aku pun sudah tahu di luar kepala cerita orang Samaria yang murah hati," kata si Yan dengan bangga. "Aku dapat menghafalkan seluruh cerita itu, tanpa kekeliruan sedikit pun."
Ibu Marya tidak mau ketinggalan. "Hatiku sarat dengan ayat-ayat yang pendek yang telah kauhafa," katanya. "Tetapi satu pasal semuanya? Wah, aku belum sanggup!"
Perkataan ibu Marya itu menimbulkan gagasan baru. "Kita harus menghafal selurh Alkitab!" demikianlah keputusan kedua ratus orang Kriten itu. "Tiap bagian yang indah, tiap bagian yang penting, harus dapat diucapkan di luar kepala."
Maka mereka membuat rencana bersama-sama. Mula-mula mereka mendaftarkan semua ayat dan pasal kesayangan mereka masing-masing, serta ajaran-ajaran Alkitab yang mereka anggap paling indah dan paling penting. Lalu setiap orang diberi tugas hafalan. Anak-anak kecil menghafal ayat-ayat pendek saja. Anak-anak yang lebih besar ditugasi menghafal cerita dan perumpamaan serta mazmur yang tidak terlalu sulit untuk diingat. Orang-orang dewasa ditunjuk untuk menghafal bagian-bagian Alkitab yang paling rumit. Dengan rajin dan tekun mereka mulai menunaikan tugas mereka masing-masing.
Kadang-kadang mereka berkumpul di rumah keluarga Kowalski. Seseorang akan mulai mengucapkan apa yang sudah dihafalkannya, misalnya dari Kitab Injil Lukas, pasal yang pertama. Orang tadi akan terus menghafal sejauh bagiannya. Lalu orang yang berikutnya akan berdiri dan meneruskan tugas hafalannya. Pak Antoni memegang Alkitab di tangannya, agar ia dapat memperhatikan tiap kata yang diucapkan itu persis dengan yang tertulis di dalam Firman Tuhan.
Setiap malam hari selama musim salju itu, tidak lagi terasa waktunya lewat dengan amat panjang. Setiap oramg Kristen di Desa Gersang memanfaatkan waktunya dengan menghafalkan Alkitab. Banyak sekali bagian Firman Allah yang sudah dapat diucapkan di luar kepala setelah musim salju itu lewat!
Selama musim semi dan musim panas dan musim rontok, mereka semua sibuk mengusahakan gandum dan memotong kayu dan mengerjakan tugas-tugas yang lain. Tetapi setiap musim salju selama tahun-tahun yang berikutnya, mereka terus menambah perbendaharaan ayat dan pasal hafalan mereka . . . .
Matahari sudah terbenam pada saat Karl Olsen dengan susah payah berjalan kaki lewat lorong yang becek menuju Desa Gersang lagi. Dulu aku pernah mampir di desa yang terpecil ini, demikianlah pikirnya. Waktu itu cuma sebuah Alkitab saja yang laku. Aku menjualnya kepada tuan rumah di sini . . . eh, siapa namanya?
Tenaganya hampir terkuras habis ketika lampu-lampu nampak berkedip-kedip pada jendela-jendela di Desa Gersang. Ia mengetuk pintu rumah pertama yang di datanginya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apakah keluarga yang dulu itu masih tinggal di situ, dan apakah ketiga anak mereka masih sehat-sehat saja.
Seorang gadis remaja membukakan pintu. Ia tertegun sejenak, lalu berlari ke dalam sambil memanggil ibunya: "Mama! Mama! Pak Karl Olsen datang kembali! Pak Karl Olsen!"
Seluruh keluarga Kowalski keluar dan menyambut tamu mereka dengan penuh sukacita: Pak Antoni, Ibu Marya, Yan, Zosia, dan "si Marya Kecil", yang sekarang lebih tinggi daripada ibunya. Kabar kedatangan Karl Olsen itu dengan cepat-cepat disampaikan ke rumah-rumah tetangga, dan mereka pun menyambut dia dengan girang.
Karl haren sekali. Mengapa mereka semua menyongsong dia dengan seramah itu? Mengapa mereka masih mengingat namanya selama bertahun-tahun itu?
Sedikit demi sedikit ia mendengar ceritanya. Pak Antoni mengeluarkan Alkitabnya, yang sudah hampir usang karena sudah terlalu sering dibuka-buka. Ibu Marya bercerita tentang dua ratus penduduk Desa Gersang yang sudah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Teman dan tetangga mereka sering memotong percakapannya dengan berita-berita yang lain, . . . tetapi tidak seorang pun yang bercerita tentang tugas hafalan mereka. Rupanya mereka merasa itu urusan mereka sendiri, yang mungkin tidak begitu menarik untuk diceritakan kepada orang lain.
Keesokan harinya, dengan senang hati penduduk Desa Gersang berkumpul untuk berbakti bersama-sama dengan Karl Olsen. Dalam kebaktian itu, Karl bertanya: Adakah seseorang di sini yang dapat mengucapkan ayat kesayangannya?"
Semua orang terdiam. Lalu Antoni Kowalski bertanya, "Ayat kesayangannya, Pak? Ataukah pasal kesayangannya?"
Karl Olsen kaget. "Pasal! Adakah di sini seseorang yang sudah menghafal kseluruhan dari satu pasal di dalam Alkitab?"
Lalu mereka bercerita kepadanya tentang kecemasan mereka dulu: Jangan-jangan Alkitab satu-satunya milik mereka itu hilang! Mereka menjelaskan bagaimana mereka membagi-bagi tugas hafalan. "Hampir seluruh Alkitab itu telah kami hafalkan," kata mereka dengan bangga. "Dan kami sedang berusaha menghafalkan sisanya."
Yan adalah orang pertama yang berdiri dan mulai mengucapkan ayat-ayat di luar kepala. Lalu Zosia, dan Marya, dan semua anak yang lain, ayat demi ayat, pasal demi pasal. Kaum dewasa pun mengucapkan beberapa ayat dan pasal kesayangan mereka.
Seminggu lamanya Karl Olsen menetap bersama-sama dengan orang-orang Kristen di Desa Gersang. Desa itu jauh sekali dari tempat tinggal orang-orang Kristen yang lain; banyak sekali pertanyaan mereka tentang saudara-saudara seiman mereka yang belum pernah mereka lihat! Dan mereka pun membeli Alkitab, Kitab Perjanjian Baru, dan Kitab-Kitab Injil sampai persediaan yang dibawa karl Olsen itu habis semuanya.
"Kami sudah mempunyai Alkitab di dalam hati kami," kata mereka. "Akan tetapi kami masing-masing hanya mempunyai sebagian saja. Padahal kami masing-masing memerlukan Firman Allah yang lengkap."
Semalam sebelum Karl Olsen hendak berangkat lagi dari Desa Gersang, ia berbaring di tempat tidurnya. Demikianlah renungan hatinya: Sungguh Firman Allah bekerja di dalam hati orang-orang di sini. Dari hanya satu Alkitab saja, . . . lihatlah hasilnya!
TAMAT
Pintu kantor lembaga Alkitab itu terkuak sedikit. Di depannya berdiri seorang pria berkulit hitam. Sudah tua bangka dia, bahkan begitu tua sehingga tubuhnya bungkuk sampai ke pinggangnya. Namun matanya masih cerah.
Pria muda yang duduk di belakang meja tulis di kantor itu juga seorang Negro, yakni seorang Amerika berkulit hitam. "Bagaimana, Oom?" tanyanya dengan nada sopan. "Oom perlu apa? Silakan masuk!"
Si Tua melangkah masuk dengan tertatih-tatih. Jelas terlihat, baju yang dipakainya itu adalah baju yang sudah dibuang orang lain. Sepatunya berlubang besar.
"Kalian jual Alkitab di sini, Nak?"
"Tentu saja, Oom."
"Kalian mau dengar ceritaku?"
"Ya, mau Oom." Petugas kantor yang masih muda itu memang ingin tahu, pengalaman apa gerangan yang hendak diceritakan oleh seorang kakek setua itu.
"Rasanya sulit mengingat waktu panjang yang sudah lewat dalam masa hidupku. Tapi aku masih bisa ingat tempo dulu, masa perbudakan manusia." Si Tua mendongakkan mukanya ke atas seolah-olah ingin melihat, apakah pemuda itu percaya akan ceritanya. "Memang aku lahir sebagai budak, Nak."
Pemuda itu mengangguk. Mengapa tidak percaya? Walau semua budak di seluruh Amerika Serikat sudah dimerdekakan berpuluh-puluh tahun yang lalu, namun kakek ini kelihatannya hampir sama tuanya seperti Metusalah yang dikisahkan dalam Kitab Kejadian itu.
"Ya, aku lahir sebagai budak. Dan tuanku dulu, ia bilang tidak boleh ada seorang anak budak pun di perkebunannya yang belajar membaca dan menulis. Tapi aku ini, . . . yah, aku rindu belajar. Dan memang aku belajar! Sering juga aku dipukul dengan cambuk kalau kedapatan sedang memegang buku." Si Tua tertawa terkekeh-kekeh. "Tapi aku nekat terus belajar membaca!"
Beberapa detik kemudian, ia pun meneruskan ceritanya. "Nah, tuanku dulu itu, ia mau kasih budak-budak sama putrinya. Sebagai hadiah! Lalu ayahku sendiri dan aku sendiri jadi budak putrinya. Lain lagi sifat dia dari sifat ayahnya! Katanya, aku boleh saja belajar membaca dan menulis. Katanya, pasti tidak ada jeleknya kalau orang membaca Alkitab. Memang betul!"
Si Tua tersenyum sendiri sambil mengenang kembali masa lampau itu. "Aku belajar membaca Alkitab. Belajar mencintainya, juga."
Kakek itu mengangkat wajahnya. "Sayang, aku tidak punya Alkitab sekarang. Dan aku ingin sekali punya. Rasanya aku sudah terlalu tua sekarang untuk bisa bekerja. Tapi aku masih bisa membaca . . . kalau punya Alkitab."
Petugas kantor itu lebih tertarik lagi. Apakah Si Tua akan meminta supaya ia menghadiahkan sebuah Alkitab kepadanya? Seandainya demikian, memang ada di kantor sedikit persediaan Alkitab yang dapat diberikannya secara gratis, menurut kebijaksanaannya sendiri.
"Aku tidak punya uang, Nak," kata kakek itu melanjutkan. "Tapi aku ingin sekali punya Alkitab. Kalau bisa, aku mau kasih imbalan. Nih, lihat, . . . orang suka kasih uang kalau aku mainkan lagu tarian bagi mereka dengan sulingku."
Tiba-tiba raut muka si Tua menjadi agak cemas. Ia sudah memberanikan diri datang ke kantor Lembaga Alkitab, dengan harapan bahwa melalui permainan sulingnya ia dapat memperoleh apa yang sangat dirindukannya itu. Tetapi sekarang nampaknya ia ragu-ragu. Mungkin di kantor lembaga Alkitab yang serba modern ini tidak ada seorang pun yang ingin mendengar musik tarian. Rupanya semua orang di sini sedang bekerja, dan tidak mau diganggu dengan musik tarian.
"Oom dapat memainkan lagu apa saja?" tanya pemuda itu lirih.
"Lagu-lagu tarian dan lagu-lagu gereja, Nak," jawab Si Tua dengan penuh harapan.
"kalau begitu, mainkan lagu-lagu gereja, Oom."
Si Tua mengangkat sulingnya dan menempelkannya pada bibirnya. Ia menarik napas panjang. Lalu not-not tinggi mulai mengalun di ruang kantor lembaga Alkitab. Suara suling itu lembut dan merdu.
Selama petugas kantor itu mendengar beberapa lagu rohani, dalam benaknya seolah-olah terlintas bayangan seorang anak laki-laki kecil berkulit hitam legam, . . . dengan susah payah membaca Firman Tuhan, . . . takut kalau-kalau dihukum, dan memang sewaktu-waktu menerima ganjaran cambuk.
Dengan cepat ia melangkah ke lemari tempat penyimpanan Alkitab yang khusus boleh diberikan dengan cuma-cuma. Diambilnya sebuah Alkitab; ditaruhnya pada meja dekat Si Tua. "Ini Oom. Cukupkah ini?"
Alunan musik dari suling Si Tua segera berhenti. Ia pun segera lupa akan sulingnya, yang ditaruhnya dengan begitu saja di atas meja. Kedua belah tangannya yang hitam dan keriput itu dengan semangat baru menggenggam Alkitab tadi. "Boleh, Nak? Sungguh boleh? Tanpa mesti kasih uang?"
"Rasanya Oom sudah membayar setimpal dengan harganya," kata pemuda itu sambil tersenyum. "Sekalipun Oom tidak memainkan lagu-lagu rohani tadi, Oom sudah membayarnya waktu masih kecil waktu Oom berani dicambuki, asal saja dapat belajar membaca Alkitab."
Beberapa menit kemudian, pemuda itu berdiri di pintu kantor. Ia memperhatikan Si Tua, yang berjalan kaki di trotoar dengan pelan-pelan. Namun langkahnya tidak tertatih-tatih seperti tadi. Sekarang ia sengaja berjalan pelan-pelan, agar ia dapat membaca Alkitab yang terbuka dalam genggaman tangannya itu. Dan ia pun membaca dengan bersuara.
Petugas kantor yang masih muda itu kembali ke meja tulisnya. Ia merenung. Alangkah indahnya . . . . katanya pada dirinya sendiri. Alangkah indahnya jika semua orang di seluruh dunia sama rindunya seperti Si Tua tadi untuk memiliki Alkitab!
TAMAT
"Ya, boleh, Nak," kata seorang ibu rumah tangga kepada seorang anak laki-laki belasan tahun yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya. "Kamu boleh menyewa kamar di sini selama bersekolah. Tetapi ibu tidak sanggup membersihkan kamar itu. Kamulah yang harus membersihkannya, ya? Dengan demikian Ibu dapat memberi harga sewa yang lebih murah."
Nama anak remaja Amerika itu John. Ia seorang putra desa yang terpaksa harus tinggal di sebuah kota kecil kalau mau meneruskan pendidikannya pada tingkat SLTA.
Terus terang, si John tidak begitu senang mendengar bahwa ia harus membersihkan kamarnya sendiri. Tetapi ia merasa dapat berbuat demikian kalau terpaksa. Memang, ibu tidak menentukan berapa sering saya harus membersihkan kamar, begitulah pikirannya. Maka John setuju akan menyewa kamar itu.
Beberapa hari setelah John mulai memakai kamar itu, ketika ia pulang dari sekolah, ia menemukan sebuah Alkitab di atas mejanya. Alkitab itu bukan milik John; pasti orang lain telah meletakkannya di situ.
John mengangkat Alkitab itu. Di atasnya ada secarik kertas dengan tulisan: "Inilah Buku yang paling baik di seluruh dunia. Mudah-mudahan kamu akan membacanya setiap hari."
John tersenyum sinis. Peduli amat dengan Alkitab! katanya pada diri sendiri. Dulu, waktu ia masih kecil, kadang-kadang si John pergi ke gereja dengan neneknya. Tetapi sejak di gereja desa itu, ia tidak pernah lagi membuka-buka Alkitab.
"Saya tidak perlu membaca Alkitab," gumamnya. Lalu ia merebahkan diri di tempat tidurnya yang kumal dan mulai membaca sebuah cerita . . . .
Dua minggu sudah lewat. John belum berbuat apa-apa untuk membereskan kamarnya. Tempat tidurnya tetap kumal; lantai tidak disapu; di atas setiap benda di kamar sewaan itu ada lapisan debu.
Namun dengan lewatnya waktu, John memperhatikan sesuatu yang aneh. Betapa pun tebalnya lapisan debu di atas lemari, meja, dan lantai, Alkitab itu tetap bersih. Ibu rumah tangga itu sedang menunggu dengan sabar sampai si John memenuhi janjinya dengan mulai membersihkan kamarnya. Tetapi sementara itu, setiap hari sang ibu diam-diam masuk dan membersihkan Alkitab yang ia harapkan akan dibaca oleh John.
John mulai merasa terganggu oleh keadaan kamarnya yang begitu berantakan. Ia merindukan sebuah kamar yang bersih; namun ia tidak berbuat apa-apa untuk membersihkannya. Pada waktu yang sama, John juga mulai terasa terganggu karena ia mengalami banyak kesulitan di sekolah. Tidak ada lagi ayah atau ibu yang menyuruh dia mengerjakan PR-nya. Banyak waktu dihabiskannya dengan bermain dan membaca cerita. Rupa-rupanya ia belum tahu bagaimana mengurus cara hidupnya sendiri.
Pada suatu hari John pulang dari sekolah dan berdiri sejenak di ambang pintu kamarnya. Ia melongok dan melihat-lihat ke dalam. Alangkah kotornya! Namun heran, di tengah-tengah segala sesuatu yang kotor dan berserakan itu, ada sebuah Alkitab yang tetap bersih.
Selama beberapa menit John masih mematung sambil melihat ke arah Alkitab itu. Tiba-tiba ia duduk di kursi dekat mejanya dan menggapai Alkitab yang senantiasa dibersihkannya itu. Ia masih ingat letaknya beberapa ayat dan pasal yang dulu pernah dipelajarinya di Sekolah Minggu, sewaktu ia masih seorang anak kecil di desa. Mulailah dia membaca.
Sambil membaca Alkitab, John menjadi sadar akan pikiran-pikiran baru yang sedang muncul dibenaknya. Saya ini sangat malas, katanya pada diri sendiri. Saya belum memenuhi janji saya kepada ibu itu, tentang membersihkan kamar ini. Dan saya pun bermalas-malasan saja di sekolah.
Rasanya di dalam Alkitab ada sebuah ayat entah di mana letaknya yang berbunyi begini: "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga." John tidak ingat lagi penunjuk ayat Pengkhotbah 9:10, namun ia yakin bahwa dulu ia pernah menghafalkan ayat itu.
Mungkin . . . mungkin jika saya membaca Alkitab, hal itu akan menolong diri saya, kata John dalam hati. Jika saya membaca tentang cara hidup Tuhan Yesus, mungkin saya dapat belajar bagaimana membagi waktu, bagaimana mengatur hidup saya sendiri.
John berdiri lagi. Ia melangkah ke lemari pakaiannya. Sang ibu telah menggantungkan sebuah bulu ayam di situ, dengan harapan si John akan memakainya. Bulu ayam itu kelihatannya masih baru, belum pernah digunakan. John menggapainya dan mulai membersihkan meja; baru kemudian ia meletakkan kembali Alkitab di atas meja itu . Lalu ia turun ke dapur untuk mencari ember dan kain pel. Dengan tekun ia bekerja terus, sampai kamarnya cukup bersih.
Entah apa sebabnya, . . . setelah itu setiap pelajaran di sekolah si John mulai berjalan lebih lancar. Rupa-rupanya John menjadi lebih pandai mengatur jadwal dan tugasnya. Memang kamar sewaan itu kadang-kadang berantakan lagi, tetapi tidak lama kemudian, pasti John membersihkannya kembali. Alkitab itu masih tetap diletakkan di atas meja, tetapi hampir setiap hari diambil dan dibuka-buka oleh si John: . . .
Bertahun-tahun sudah lewat. Pada suatu hari Minggu pagi, John berdiri di belakang mimbar di sebuah gereja kecil. Ia membuka Alkitab. Dengan suara jelas, dibacakannya kepada jemaat beberapa ayat. Lalu ia duduk kembali.
Sementara paduan suara menyampaikan lagu istimewa, pikiran John menerawang jauh . . . kembali kepada waktu ketika ia masih seorang siswa SLTA, dan pada suatu hari ia membuka Alkitab yang tetap bersih, di sebuah kamar sewaan yang pada waktu itu belum dibersihkan.
Semoga Tuhan memberkati ibu rumah tangga itu! kata John dalam hati. Pasti ia akan merasa heran, seandainya ia dapat melihat saya pada saat ini membacakan kata-kata yang indah dari Alkitab, sebagai persiapan untuk menyampaikan khotbah saya yang pertama-tama di gereja ini . . . yang saya sendiri menjadi gembala sidangnya!
TAMAT
Laurens mempunyai sebuah Alkitab yang baru. Betapa senang rasanya. Ia baru duduk di kelas 3 SD dan sesungguhnya belum dapat membaca ayat-ayat dengan lancar, namun ia bangga mempunyai sebuah Alkitab yang baru. Sesuai dengan sistem pendidikan di Amerika Serikat, pelajaran itu diadakan bukan di sekolah, melainkan di gereja, walau masih dalam jadwal belajar.
Pada suatu hari, ketika si Laurens sedang mengikuti pelajaran agama seperti biasanya, ada seorang murid SMP yang mengunjungi kelas 3 SD. Anak laki-laki itu kelihatannya cuku tinggi bila berdiri di depan Laurens dan kawan-kawannya.
"Anak-anak," kata Ibu Rusell, guru mereka, "David ingin mengumumkan sesuatu kepadamu. Ada pesan dari kakak-kakakmu di SMP. Mari kita dengarkan!"
David berdiri di depan. "Pasti kalian tahu bahwa negeri Jerman dan negeri Jepang kalah dalam perang beberapa tahun yang lalu," katanya.
Laurens menganggukkan kepalanya. Walau ia sendiri masih terlalu kecil untuk mengingat banyak hal dari masa perang itu, namun ia sudah pernah mendengar ceritanya dari orang tuannya. Ia tahu bahwa banyak kota di kedua negara asing itu rusak berat akibat pemboman. Banyak barang yang musnah; banyak orang yang tewas.
"Nah! Kami mendengar bahwa negeri Jerman dan Jepang kekurangan Alkitab," kata David meneruskan. "Tahukah kalian, ada banyak keluarga di sana yang tidak punya Alkitab satu pun tidak?"
Si Laurens mengacungkan tangannya. "Kenapa sih tidak beli saja? Kenapa orang tua dalam keluarga-keluarga itu tidak membeli Alkitab untuk anak-anak mereka?"
"Karena tidak ada Alkitab di toko buku di sana," David menjelaskan. "Dan seandainya ada, orang-orang di sana tidak punya cukup banyak uang untuk dapat membeli makanan bagi anak-anak mereka, apa lagi untuk membeli buku. Sebenarnya mereka tidak punya apa-apa. Tapi mereka sangat rindu punya Alkitab."
"Ya, memangnya kenapa?" tanya Laurens lagi. Anak laki-laki yang berambut merah itu sering mengajukan pertanyaan yang agak sulit dijawab.
"Nanti dulu, Dik," kata David dengan sabar. "Itulah sebabnya aku datang mengunjungi kelas 3 ini. Kelas kami akan menyediakan sebuah Tabungan Alkitab. Kami akan memasukkan uang kami, agar dapat mengirim Alkitab ke negeri Jerman dan negeri Jepang. Kami berharap dapat mengumpulkan dana sebanyak empat puluh dolar sebelum akhir tahun pelajaran ini. Dan kami pikir, mungkin kalian juga mau menyediakan Tabungan Alkitab."
"Tetapi . . . aku tidak punya uang tambahan," kata Laurens memprotes.
Murid SMP yang tinggi perawakannya itu memandang pada wajah Laurens sambil tersenyum nakal. "Lho! Kan kulihat kau kemarin sedang makan permen coklat?"
Muka si Laurens mulai memerah. "Tetapi itu . . . ya, itu . . . Huh! Masa aku tidak boleh makan permen cokelat?"
"Kami rela kehilangan permen cokelat," kata David menjelaskan. "Kami pun rela membagi-bagikan uang saku kami. Dan juga, kami akan mencari uang dengan cara-cara lain. Tetapi masing-masing menurut kerelaan hati sendiri. Tidak ada yang memaksa."
Laurens terdiam. Kepalanya yang merah itu terkulai, tetapi rahangnya mengeras. Ia tidak mau absen makan permen cokelatnya. Setiap hari sehabis sekolah ia suka jajan, dan permen coklat itulah makanan kesayangannya.
Setelah David pergi lagi, murid-murid kelas 3 itu memperbincangkan usulnya. Dengan bantuan ibu guru, mereka menyelidiki negeri-negeri jauh itu yang sangat kekurangan Alkitab. Hampir setiap anak dalam kelas 3 itu setuju untuk menyediakan Tabungan Alkitab. Hanya si Laurens saja yang tidak turut berunding. Ia duduk saja dengan muka yang masam.
Ketika pelajaran agama Kristen itu usai, ibu Russell menyuruh Laurens tinggal sejenak. "Laurens," katanya, "kawan-kawan sekelasmu telah setuju untuk menediakan tempat tabungan itu. Tetapi Ibu tidak mau engkau memasukkan uangmu ke dalamnya. Sesen pun kau tidak boleh!" katanya dengan tersenyum.
Laurens melongo. "Kenapa, Bu?"
"karena ini merupakan pemberian kasih, Nak. Yah, . . . pemberian dari anak-anak yang lebih senang orang lain mempunyai Alkitab daripada mendapat sesuatu untuk diri mereka sendiri. Seorang pun tidak boleh turut memberi kalau hatinya kurang senang. Lebih baik kau lupakan saja Tabungan Alkitab itu. Tidak seorang pun akan tahu siapa yang memasukkan uang dan siapa yang tidak." Ia tersenyum lagi dan mendorong Laurens ke arah pintu ruang kelas. "Pulang saja, Nak. jangan pikirkan hal itu lagi!"
Untuk sementara waktu si Laurens memang melupakan hal itu. Dengan senangnya ia jajan. "Hmm, . . ." kata si Henry seolah-olah menghitung-hitung dalam hati, "kalau aku tidak jajan satu hari dalam seminggu saja, . . . kira-kira berapa banyakkah yang dapat aku masukkan ke dalam Tabungan Alkitab itu?"
Hari demi hari ada murid-murid kelas 3 yang maju ke depan dan memasukkan sesuatu ke dalam tabungan itu kadang-kadang satu sen, atau lima sen, atau sepuluh sen. Tidak ada yang mencatat pemberian-pemberian mereka; tidak ada yang memperhatikan siapa yang memberi dan siapa yang tidak memberi.
Pada suatu pagi ketika Laurens sedang berjalan menuju sekalah, ia melihat di trotoar ada suatu benda yang mengkilap dalam sinar matahari. Lima puluh sen! Setengah dolar! Ia mulai menghitung-hitung dalam hati, berapa banyak permen coklat yang dapat dibelinya dengan uang sebanyak itu. Si Laurens sungguh doyan makan permen cokelat.
Lalu terlintas pikiran: Kalau uang ini aku masukkan ke dalam Tabungan Alkitab, aku tidak rugi apa-apa. Uang jajanku masih tetap utuh. Tetapi lebih baik uang ini kutukarkan dulu.
Maka Laurens membawa mata uang besar itu ke kios dan menukarkannya dengan sepuluh mata uang kecil. Di ruang kelas pelajaran agama Kristen, ia menunggu sampai semua kawannya sudah masuk. Lalu ia pun maju ke depan dan mulai menjatuhkan uangnya ke dalam tabungan itu. Satu persatu mata uang lima sen itu dijatuhkannya, sampai jumlahnya sepuluh biji. Semua anak memperhatikan perbuatannya. Lalu ia kembali ke tempat duduknya dengan raut muka yang sombong.
Tetapi beberapa jam kemudian, pada waktu si Laurens mampir ke kios sebelum pulang dari sekolah, hatinya mulai merasa tidak enak. Ia tidak segera melahap permen cokelatnya seperti biasa. Pada saat itu ia insaf. Tidak benar perbuatanku tadi . . . . Mereka semua mengira aku sudah mengorbankan sesuatu untuk menyumbang dana pembelian Alkitab, . . . padahal aku cuma memasukkan uang orang lain yang kebetulan jatuh di trotoar. Sama sekali bukan aku yang memberi, hanya orang yang kehilangan uang itu.
Bungkusan kecil permen cokelat yang tadinya hendak dibelinya itu ditaruhnya kembali. Tidak jadi Laurens membelinya. Sore itu ia menahan lapar sampai waktu ibunya menyajikan makanan di rumah. Dan esok harinya, uang sepuluh sen yang biasanya dibelikan permen coklat itu dimasukkannya ke dalam Tabungan Alkitab.
Sangat senang rasanya! Ia sudah turut serta dalam pemberian kasih. Ia sudah menolong orang-orang lain di negeri-negeri yang jauh, agar mereka pun dapat mempunyai Alkitab.
Minggu demi minggu murid-murid kelas 3 itu menyediakan Tabungan Alkitab. Menjelang akhir tahun sekolah, si David yang tinggi itu kembali lagi ke ruang kelas mereka. "Kami berhasil mengumpulkan dana empat puluh dolar!" katanya dengan mata yang berbinar-binar. "Rasanya mustahil uang sebanyak itu dikumpulkan murid-murid SMP, tetapi kami telah berhasil!"
Anak-anak kelas 3 itu berseru "Hore!" dan bertepuk tangan.
"Yang penting, uang itu sekarang akan dikirim ke negeri Jerman dan negeri Jepang, untuk dibelikan banyak Alkitab di sana," David melanjutkan "Nah, dengarkan, adik-adik: Kami akan memuat laporan di surat kabar tentang usaha semua kelas. Memang kamilah yang memulai proyek itu, tetapi alangkah baiknya kalau jumlah dana nanti jika digabung dapat mencapai delapan puluh dolar empat puluh dari kelas kami, dan empat puluh lagi dari kelas-kelas lainnya."
"Mustahil!" kata si Laurens. "Masakan anak-anak sekolah dapat menabung uang sebanyak itu."
Tetapi pada saat ayahnya membacakan laporan dari surat kabar itu, si Laurens hampir tidak percaya: ```semua kelas telah menggabungkan isi Tabungan Alkitab mereka masing-masing. Ternyata jumlahnya dua ratus enam puluh enam dolar, semuanya untuk membeli Alkitab bagi orang-orang Jerman dan orang-orang Jepang.'''
"Dua ratus enam puluh enam dolar wah!" cetus Laurens.
Beberapa minggu kemudian, mulailah tahun pelajaran yang baru. Kini Laurens duduk di kelas 4. Pada saat seorang murid bertanya kepada Ibu Rusell tentang Tabungan Alkitab, guru mereka itu tersenyum saja. "Tergantung kalian sendiri," katanya. "Kalau mau, boleh. Kalau tidak mau, jangan."
Laurens membuka pembicaraannya. "Menurut hematku, sebaiknya kita adakan lagi," katanya. "Hanya saja, kita semua sudah lebih besar sekarang. Mestinya kita dapat mengumpulkan lebih banyak uang. Misalnya, pamanku telah menjanjikan uang jasa kalau aku mau memelihara kudanya."
Susi juga memberi usul: "aku akan memasukkan uang persembahanku dari gereja."
Semua murid kerlas 4 itu menjadi diam.
"Wah, nanti banyak uang akan terkumpul kalau kita semua berbuat begitu," kata Henry.
"Lebih baik kalian pikir dulu," kata Ibu Rusell dengan tenang.
Setelah beberapa saat, si Laurens berbicara lagi. "Kupikir lebih baik jangan," katanya. "Gereja kita perlu menggunakan uang persembahan itu untuk banyak usaha yang baik. Kalau uang itu kita masukkan ke dalam Tabungan Alkitab itu harus kita ambil dari uang saku kita sendiri."
"Aku tidak diberi uang saku," kata Tom. "Tetapi aku dapat mencari uang dengan bekerja sambilan."
"Kalau aku, sering ada pemberian khusus dari ayahku yang boleh kupakai sesuka hatiku," kata Henry. "Aku dapat memasukkan sebagian dari uang itu."
Jadi, mereka memang membuat suatu peraturan: Semua uang yang dimasukkan ke dalam Tabungan Alkitab itu harus diambil dari uang saku, atau dari uang jasa, atau pun dari uang pemberian.
Kelas-kelas pelajaran agama Kristen yang lain juga menyukai peraturan itu bukan hanya di sekolah si Laurens, tetapi juga di sekolah-sekolah lain yang letaknya berdekatan. Mereka semua setuju dengan rencana itu. Maka mereka semua mulai menyediakan Tabungan Alkitab.
Menjelang akhir tahun pelajaran pada bulan Juni yang berikutnya, sudah ada dua ratus dolar lagi dalam tabungan-tabungan itu.
Di pertengahan tahun 1953, si Laurens dan teman-temannya sudah naik kelas; mereka duduk di kelas 5. "Mari kita membuat poster-poster," Laurens mengusulkan. "Kita dapat menempelkan poster-poster itu di mana-mana, agar murid-murid lain mau turut memberi." Dengan segera mereka berbuat demikian, dan bahkan murid-murid SMA mulai tertarik akan usaha pengumpulan dana itu.
Menjelang bulan juni lagi, jumlah pemberian mereka selama tiga tahun itu telah mencapai seribu dolar lebih!
"Mau diteruskn?" tanya Ibu Rusell pada waktu tahun pelajaran dimulai lagi.
"Mau!" Laurens dan teman-temannya sudah duduk di kelas 6. Dan proyek pengumpulan dana Alkitab itu dilanjutkan untuk satu tahun lagi.
"Aku akan menyusun daftar tentang semua cara yang kami pakai untuk mencari uang." kata Laurens. "Mungkin anak-anak di tempat lain akan tertarik juga mengetahuinya. Hai kawan-kawan, beritahu, kalau kalian punya cara baru untuk mendapatkan uang yang akan dimasukkan ke dalam Tabungan Alkitab kita."
Si Laurens lalu menyusun daftar itu. Sebagai judulnya ia menulis dengan huruf cetak: "CARA-CARA KITA MENGUMPULKAN UANG." Di bawah judul itu ada kalimat-kalimat sebagai berikut:
Aku sendiri memelihara kuda milik pamanku.
Susi tidak jadi membeli es krim.
Lolita membuat krans-krans Natal dan menjualnya.
Jack menabung untuk membeli sebuah pistol air,
tetapi uang itu kemudian dimasukkannya
ke dalam Tabungan Alkitab.
June mencari langganan baru untuk majalah.
Lorraine mencuci piring.
Marie menolong tetanggannya membereskan
tempat-tempat tidur.
Donald mengantar koran.
Makin lama makin panjang daftar itu! Orang-orang dewasa di seluruh daerah itu pun tertarik. Kalau ada tugas kecil yang perlu di kerjakan, mereka suka memanggil salah seorang murid sekolah. "Hei, kamu mau mendapat dua puluh lima sen untuk Tabungan Alkitabmu?" mereja suka menawarkan.
Laurens adalah murid yang paling bersemangat. Ketika tahun 1954 sudah tiba dan mereka sudah mengumpulkan dana sebesar tiga ribu dolar, ada beberapa anak yang diundang turut tampil pada siaran televisi. Tentu saja si Laurens termasuk rombongan acara itu.
Sekarang si Laurens sudah tinggi, sama seperti si David dulu. Sama seperti David pula, dialah orangnya yang suka pergi ke ruang-ruang kelas lain serta mendorong adik-adik kelasnya agar mereka turut memberi.
"Bukankah kau sudah bosan dengan proyek itu?" tanya seseorang. Sama sekali tidak!" jawab Laurens. "Tahun ini kami mencari uang untuk Alkitab dalam bahasa Hongaria, karena ada banyak pengungsi dari negeri itu. Semua harta mereka hampir ludes. Paling sedikit kami dapat menyediakan Alkitab untuk mereka."
Bulan Juni tahun 1957 sudah tiba. Laurens termasuk kelompok kecil murid-murid kelas 2 SMP yang bertugas menghitung jumlah uang yang telah ditabung selama masa enam tahun itu. "Lima ribu lima ratus dolar," Laurens menulis. "Wah! Dan coba bayangkan, . . . dulu aku seorang anak kecil yang bodoh, yang lebih senang membeli permen cokelat daripada untuk memberi Alkitab kepada orang-orang di seberang. Sungguh bodoh aku dulu!"
"Kamu bukan anak yang bodoh," kata Ibu Rusell,. "Sikapmu itu wajar saja. Waktu itu kau belum merasakan kesenangan memberi. Ingatkah kau perkataan Tuhan Yesus itu, yang dikutip dalam Kisah Para Rasul 20:35? `Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.'''
"Ya, Bu. Kami sudah membuktikan kebenaran ayat itu, kan?" kata Laurens. "Wah! Tahun depan, kira-kira kami dapat mengumpulkan berapa banyak uang ya?"
TAMAT
Ciri-ciri kepulauan Hawaii ada banyak yang mirip dengan ciri-ciri kepulauan Indonesia. Pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh di sana agak sama dengan pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh di sini.
Orang Hawaii, sama seperti orang Indonesia, adalah keturunan bangsa pelaut. Berabad-abad yang lalu, nenek moyang mereka berdatangan dari jauh ke pulau-pulau yang indah itu, dengan berlayar dalam perahu-perahu besar. Bahasa mereka pun masih termasuk serumpun bahasa Melayu. Jalan di sana disebut: alan. Langit disana disebut: lani. Dan dalam bahasa Hawaii kuno malo adalah untuk cawat yang dipakai oleh kaum pria agar mereka tidak merasa malu.
Namun selama berabad-abad bahasa Hawaii itu belum pernah ditulis. Bahasa itu hanya dipakai secara lisan saja, . . . sampai ada sebuah kapal layar yang berlabuh di kepulauan Hawaii pada tanggal 14 April 1820.
Pdt. dan Ibu Hiram Bingham, dengan dua belas utusan Injil yang lain, berlayar ke sana dengan kapal itu selama hampir setengah tahun. Begitu lama mereka menghabiskan waktu untuk mengarungi laut dari Amerika Serikat ke kepulauan Hawaii. Konon, pada masa itu belum ada kapal terbang atau pun kapal bermotor, belum ada radio dan radar ataupun alat-alat modern lainnya yang menunjang kelancaran perjalanan antar pulau dan benua pada masa kini.
Pdt. Bingham dan rekan-rekan sepanggilannya itu berlabuh, lalu turun ke darat. Mereka menghadap Raja Liholiho dan minta izin menetap di kepulauan Hawaii. Permohonan mereka itu diterjemahkan oleh seorang pedagang yang berperan sebagai pengalih bahasa.
Raja Liholiho agak bingung. Rupa-rupanya ia sudah mendengar sedikit tentang ajaran-ajaran agama Kristen. "Jika aku menerima kalian," katanya, "dan jika ajaran-ajaran kalian mulai berlaku di sini, itu berarti aku harus menceraikan empat dari kelima istriku yang tercinta, dan selanjutnya aku hanya boleh beristri seorang saja."
Untuk membujuk sang raja, rombongan utusan Injil itu menghadiahkan kepadanya sebuah Alkitab bahasa Inggris yang bagus. Baginda sangat menyukai Buku besar itu. Namun ia tidak dapat membacanya. Pada hakikatnya ia tidak dapat membaca sepatah kata pun dalam bahasa apa saja, karena bahasanya sendiri, bahasa Hawaii, belum pernah ditulis.
"Memang di seluruh kepulauan ini," demikianlah Pdt. Bingham menulis dalam sepucuk surat kepada temannya di Amerika, "tidak ada buku, pena, attau pun potlot, untuk dipakai baik untuk kesenangan maupun untuk urusan, baik untuk mendapat ilmu maupun untuk menyampaikan pikiran."
Raja Liholiho bersikeras bahwa para utusan Injil itu harus segera mengajarkan bahasa Inggris kepadanya. Pdt. Bingham dengan senang hati melayaninya, dan tidak lama kemudian sang raja dapat berseru dengan sangat nyaring: "How do you do! Aloha!" (Aloha adalah kata salaman yang paling lazim di kepulauan Hawaii.)
Sang raja dengan seluruh pengiringnya diajak menikmati suatu perjamuan di atas kapal, yang masih tetap menjadi tempat tinggal sementara untuk para utusan Injil. Keesokan harinya, Raja Lihaliho hendak membalas budi dengan mengundang rombongan orang asing itu ke pesta makannya sendiri.
Namun mereka menolak undangan itu, karena harinya jatuh tepat pada hari Minggu. Sang raja sangat murka. Tetapi kemudian ia diberi pengertian bahwa hal berpesta pada hari Minggu itu dianggap kapu (tabu) oleh umat Kristen. Maka undangan itu diundurkan sehari. pada hari Senin seluruh rombongan utusan Injil turrun ke darat dan makan bersama-sama dengan sang raja dan kelima istrinya.
Akhirnya Raja Liloho mengambil keputusan bahwa para utusan Injil itu boleh menetap di mana saja di kepulauan Hawaii, serta boleh tinggal "selama satu tahun." Mula-mula Pdt. Bingham dan kawan-kawannya agak bingung tentang batas waktu yang sedemikian pendeknya. Namun "satu tahun" itu kemudian diperpanjang sampai berpuluh-puluh tahun.
Pdt. dan Ibu Bingham menetap di pulau Oahu, sedangkan kebanyakan rekan sepanggilan mereka menetap di pulau Kauai. Dalam sepucuk surat yang dikirimnya ke Amerika, Pdt. Bingham menggambarkan kesibukan mereka semua: "Kami bekerja keras untuk belajar bahasa Hawaii. Kami pun berusaha menyusun sitem tulisan untuk bahasa itu serta menyediakan buku-buku pelajaran, agar semua penduduk di sini dapat belajar membaca secepat mungkin."
Memang hanya satu bulan setelah keluarga Bingham mendarat di pulau Oahu, mereka berhasil membuka sebuah sekolah untuk anak-anak Hawaii. Karena belum ada jam atau lonceng di kepulauan itu, anak-anak disuruh berkumpul tiap hari pada saat matahari mencapai ketinggian tertentu.
Tidak lama kemudian, Raja Liholiho menjadi kurang senang atas berhasilnya sekolah itu dan mengancam akan menutupnya. "Nanti anak-anak itu akan lebih cepat mnjadi pandai daripada aku sendiri!" demikianlah omelannya. Tetapi utusan-utusan Injil dapat meredakan kegeramannya dengan menjelaskan bahwa baginda sedang belajar bahasa Inggris, yang jauh lebih sulit daripada bahasa Hawaii yang dipakai oleh anak-anak sekolah.
Sementara itu, ada seorang raja bawahan di pulau Kauai yang dengan senang hati menerima ajaran bahasa Inggris maupun ajaran Alkitab. Tujuannya belajar bahasa asing itu ialah, justru supaya ia dapat membaca Firman Tuhan. Maka ia menulis sepucuk surat kepada badan zending di Amerika Serikat yang telah mengirim rombongan utusan Injil kepadanya. Inilah saduran suratnya itu:
Kawan-kawan yang baik hati,
Biarlah kami menulis beberapa baris saja untuk
mengucapkan terima kasih atas Buku yang baik itu, yang
diberikan oleh Tuhan Allah supaya kami membacanya.
Mudah-mudahan seluruh rakyat kami dengan segera akan membaca
Buku ini.
Kami percaya bahwa semua patung berhala kami itu
kurang berguna, dan bahwa Tuhan Allah itulah satu-satunya
Allah yang benar, yang telah menciptakan segala sesuatu.
Patung-patung berhala itu telah kami buang; tiada
gunanya, kami merasa tertipu olehnya. Kami telah memberi
mereka kelapa, nanas, daging babi, dan banyak hal yang baik,
namun mereka menipu kami. Sekarang kami sudah membuang
semuanya.
Setelah kami belajar dari orang-orang yang baik yang
telah kalian kirim ke mari, maka kami akan mulai menyembah
Tuhan Allah yang disembah oleh kalian. Kami senang oleh
karena kalian telah mengutus orang-orang baik itu ke mari,
agar mereka dapat menolong kami. Kami mengucapkan terima
kasih karena mereka telah mengajar putra kami. Kami
mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang berada di
Amerika.
Terimalah ini dari sahabat kalian
Raja Kaumualii
Sementara itu, Pdt. Hiram Bingham dan seorang kawan sekerjanya sedang membanting tulang menyusun abjad untuk bahasa Hawaii. Mereka menemukan bahwa dua belas huruf saja sudah cukup untuk menulis semua bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa itu: kelima huruf hidup, a, e, i, o, dan u, ditambah dengan tujuh huruf mati saja, yaitu h, k, l, m, n, p, dan w.
Namun mereka merasa sangat bingung pada waktu mereka mulai berusaha menerjemahkan Alkitab. Bagaimanakah nama Raja Daud itu dapat ditulis tanpa huruf D? Bagaimanakah nama Rut dapat ditulis tanpa huruf R maupun huruf t? Sama parahnya juga nama suami Rut, Boas, kalau harus ditulis tanpa huruf B maupun huruf s!
Maka mereka memutuskan untuk menambah sembilan huruf lagi pada abjad bahasa Hawaii, khusus agar dapat menulis nama-nama di dalam Alkitab. Namun kesembilan huruf itu tidak segera diajarkan kepada seseorang yang buta huruf. Biarlah dia belajar dulu kedua belas huruf yang cukup untuk melafalkan semua kata asli dalam bahasa ibunya. Kemudian ia baru akan diajarkan huruf-huruf tambahan.
Pada tanggal 7 Januari 1822, sebuah mesin cetak tiba di kepulauan Hawaii, sesuai dengan permintaan Pdt. Hiram Bingham. Raja Liholoho datang untuk melihat "alat ajaib" itu. Ketika satu halaman telah dizet dengan kata-kata dalam bahasa Hawaii, Pdt. Bingham membiarkan sang raja sendiri menekan pengukit mesin cetaknya. Baginda tersenyum lebar ketika ia melihat kertas putih itu yang diisi penuh dengan kata-kata yang dapat dibacanya sendiri.
Penggunaan seni cetak itu mengobarkan hidup baru dalam gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen di kepulauan Hawaii. Beberapa minggu kemudian, sudah terdaftar lima ratus pelajar baru. Pada saat Raja Liholiho pergi melawat ke seluruh wilayah kerajaannya, hadiah-hadiah yang dibawa sertanya bukan lagi jubah-jubah kebesaran yang terbuat dari bulu burang yang berwarna-warni, melainkan buku-buku pelajaran mengeja.
Pdt. Bingham telah menerjemahkan beberapa lagu rohani ke dalam bahasa Hawaii. Orang-orang Hawaii sangat menyukainya, serta menyanyikannya dengan penuh semangat dalam gedung-gedung gereja mereka yang terbuat dari rumput kering.
Pada tanggal 4 Agustus 1828, Pdt. Bingham mencatat bahwa ia sudah tidak usah lagi menggunakan seorang pengalih bahasa pada saat berkhotbah. Hari Minggu yang berikutnya, Raja Lihaliho dan ibunya datang mendengar Pdt. Bingham berkhotbah. Mereka naik sebuah gerobak yang ditarik oleh manusia, karena belum ada kuda maupun lembu di seluruh kepulauan Hawaii. Setelah kebaktian biasa, Pdt. Bingham juga menikahkan pengabar Injil bangsa Hawaii yang pertama. Pengantinnya yang cantik itu adalah seorang lulusan sekolah putri. Sang permaisuri begitu terharu menyaksikan pernikahan Kristen itu sampai-sampai ia menangis dengan suara nyaring selama ia berada di gereja.
Beberapa hari kemudian, Raja Liholiho menulis sepucuk surat kepada Raja Mahina di kepulauan Tahiti. Sengaja ia memakai bahasa Inggris, agar saingannya itu dapat mengetahui kepandaiannya yang baru. Demikianlah bunyinya surat sang raja itu:
O Mahina,
Kami sedang menulis pesan ini kepadamu. Kami merasa
terharu oleh karena putramu sudah meninggal. Kami mengirim
salam kasih kepadamu dan kepada seluruh kaum bangsawan di
kepulauanmu.
Kami sedang mempelajari Palapala [Alkitab]. Kalau
kami sudah pandai, kami akan datang ke tempatmu untuk
mengunjungimu. Semoga engkau akan diselamatkan oleh Yesus
Kristus.
Liholiho
Ibunya Raja Liholiho baru minta dibaptiskan pada saat menjelang kematiannya. Sang permaisuri itu pun menyuruh putranya menghadap dia, lalu memesan kepadanya sebagai berikut: "Peliharalah baik-baik kepulauanmu itu dan bangsa ini. Lindungilah para utusan Injil. Ikutlah jalan yang lurus. Ingatlah dan kuduskanlah Hari Sabat. Layanilah Tuhan Allah. Indahkanlah Firman Allah, agar engkau berhasil baik dan akan bertemu kembali dengan ibumu di surga kelak."
Kepada kaum bangsawan, permaisuri yang sedang menghadapi ajalnya itu berpesan: "Lindungilah guru-guru yang telah datang ke tempat orang-orang yang berhati gelap ini; indahkanlah ajaran-ajaran mereka. Sekali-kali jangan mengingkari perintah-perintah Tuhan. Dialah Allah yang baik. Dewa-dewa kita yang lama itu sia-sia belaka."
Pada bulan Nopember tahun 1828, sang raja dan para bangsawan menerbitkan undang-undang yang pertama untuk seluruh kepulauan Hawaii. Polanya? Sepuluh Hukum Tuhan. Pada minggu yang sama itu, halaman pertama dari Kitab Injil Lukas dalam bahasa Hawaii berhasil dicetak di kota Honolulu. Naskah-naskah terjemahan Kitab-Kitab Injil Matius, Markus, dan Yohanes sudah lebih dahulu dikirim ke Amerika untuk dicetak di sana.
Dalam tahun-tahun yang berikutnya, ada bagian-bagian dari Kitab Perjanjian Lama yang diterbitkan, dan terjemahan Kitab Perjanjian Baru itu pun mengalami beberapa perbaikan. Baru pada tahun 1839, setelah ia berkhotbah, belajar, dan mengajar di kepulauan Hawaii selama sembilan belas tahun, Pdt. Hiram Bingham dapat melaporkan: "Seluruh Alkitab sudah selesai!" Selesainya terjemahan lengkap dari Firman Allah itu benar-benar membawa pengaruh: Ribuan orang lagi berbondong-bondong memasuki gereja.
Sudah timbul suatu generasi baru di antara bangsa Hawaii, yang dibesarkan menurut ajaran-ajaran Alkitab. Mereka itu insaf bahwa masih banyak perubahan dan perbaikan yang perlu diadakan di tanah air mereka. Maka pada tahun 1839 sistem hukum mereka disempurnakan, dan pada tahun 1840 mereka menetapkan undang-undang dasar.
Ada raja baru yang masih muda, yaitu cucu Raja Liholiho. Ia menempuh suatu masa perjuangan yang panjang, bergumul dengan negara-negara asing agar daulat dan kemerdekaan kepulauan Hawii itu tetap dihormati. Dalam rangka usaha itu, pada tahun 1841 Pdt. Hiram Bingham pergi ke Washington, ibu kota Amerika Serikat. Kepada Konggres (DPR) di sana ia mempersembahkan sebuah salinan Alkitab lengkap dalam bahasa Hawaii. Dengan maksud tujuan yang sama, raja Hawaii yang masih muda itu pergi ke negeri Inggris dan bertemu dengan Ratu Victoria yang tersohor.
Pada tahun 1845, DPR Hawaii berkumpul di kota Honolulu untuk mendengar suatu pidato penting yang disampaikan oleh raja mereka. Inilah sebagian dari pidato baginda pada kesempatan itu:
Kemerdekaan negara kita telah diakui oleh Amerika
Serikat, Inggris Raya, Perancis, dan Belgia. Kami ingin tetap
memelihara hubungan perdamaian dan persahabatan dengan segala
bangsa.
Kami pun insaf betul bahwa Firman Tuhan merupakan
batu penjuru negara kita. Melalui pengaruhnya, bangsa kita
telah diperkenalkan ke dalam keluarga besar negara-negara
yang merdeka di seluruh dunia. Oleh karena itu, kami akan
berusaha terus-menerus untuk menjalankan pemerintahan kami
dengan sikap takut akan Allah; untuk mengimbangi kebenaran
dengan belas kasihan dalam menghukum kejahatan; dan untuk
memberi imbalan yang sepatutnya kepada rakyat yang rajin
berbuat baik.
Demikianlah pengaruh Alkitab terhadap suatu bangsa yang hanya satu generasi sebelumnya belum mempunyai bahasa yang ditulis!
TAMAT
John Wolsey menggigil. Dengan cepat ia keluar dari sungai yang sangat dingin airnya. Pantas saja John merasa kedinginan sampai kulitnya merinding, karena ia sedang telanjang. Dan sungai itu mengalir dari gunung yang tinggi, yang puncaknya berlapiskan salju.
Kedua orang suku Indian yang menemani dia dalam perjalanannya melalui hutan rimba di negeri Kanada itu juga hampir telanjang. Namun mereka sudah biasa dengan pakaian yang minim sekali, sedangkan John biasanya memakai baju panas, kemeja, dan celana yang hangat. Karena mereka harus mengarungi sungai, ia membuka pakaiannya, lalu membungkusnya dan menaruh di atas kepalanya agar tidak sampai basah.
Waktu menyeberang, John tetap memakai sepatunya. Ia khawatir kalau-kalau kakinya terkena batu runcing di dasar sungai. Setibanya di seberang, sepatu John sudah banyak menyerap air. Dengan tergesa-gesa ia mengenakan pakainya lagi. Kaus kakinya yang kering dan tebal itu segera mulai menghangatkan kakinya yang terasa seperti sudah beku. Tetapi kemudian ia harus memasukkan kakinya kembali ke dalam sepatunya yang basah kuyup itu.
Kedua orang suku Indian itu memandang John Wolsey dengan muka masam. Kaki mereka sudah biasa terkena batu runcing; kulit mereka pun sudah kebal terhadap angin dan air dingin. Namun mereka sudah berjanji akan menemani orang kulit putih dalam perjalanannya. Jadi, mereka menunggu denga sabar sampai ia selesai berpakaian lagi.
Dengan segera tubuh John menjadi hangat lagi, karena kedua pemandunya itu berjalan dengan cepat, dan terpaksa ia harus membuntuti mereka. Jika ia tidak salah mengerti keterangan mereka tadi, ia akan tiba di tempat perkemahan suku mereka sebelum matahari terbenam.
Hati John mulai deg-degan bila mengingat bahwa ia belum pernah menghadap kepala suku Indian mereka. Pada awal tiap kunjungannya ke suku yang baru, ia selalu ingat: Ada kemungkinan ia akan kehilangan nyawa. Memang, sampai sekarang setiap kepala suku yang ditemuinya itu berlaku cukup ramah terhadap dia. Tetapi seandainya ada hanya seorang kepala suku saja yang tidak suka terhadap John Wolsey, mungkin sekali rambutnya akan dijadikan hiasan kemah, sedangkan bangkainya akan dibuang ke dalam hutan.
Berjam-jam lamanya John mengikuti kedua orang Indian itu. Kadang-kadang kakinya tersandung batu, tetapi umumnya ia melangkah dengan mantap. Ia sudah banyak belajar bagaimana menelusuri jalan setapak di tengah hutan rimba.
Tiba-tiba kedua pemandu itu berhenti. Yang lebih muda menunjuk ke arah depan. Nampaklah asap yang mengepul ke atas.
"Itu tempat perkemahan sukuku!" kata pemuda itu. "Tunggu dulu di sini."
John rela saja menunggu. Ia tahu, pemuda itu akan memasuki perkemahan lebih dahulu agar dapat menghadap kepala suku. Ia akan menceritakan kedatangan soerang kulit putih, dan akan memohon supaya orang asing itu pun diperbolehkan menghadap.
Sementara orang Indian yang lebih muda itu pergi mendahului mereka, temannya yang lebih tua tetap mengawal John: Jangan-jangan ada suku Indian lain yang muncul di hutan ini dan langsung saja membunuh dia!
Satu jam kemudian, orang Indian yang lebih muda itu kembali. Ia melambaikan tangannya ke arah kumpulan asap tadi. Beritanya singkat saja: "Kepala suku rela menerimamu."
Ia tidak usah memberi keterangan lebih lanjut. Sejak John Wolsey tiba di daerah suku Cree beberapa bulan yang lalu, ia berusaha keras agar dapat mempelajari bahasa mereka. Namun hasilnya sedikit saja. Paling-paling ia dapat mengerti petunjuk-petunjuk sederhana dari kedua pemandunya itu. Tetapi ia tidak dapat mengikuti percakapan mereka. Ia pun tidak dapat mengatakan hal-hal yang sungguh penting kepada mereka.
Kepala suku dan para anggota pasukan perangnya itu bermuka masam pada saat John Wolsey dan kedua pemandunya memasuki perkemahan. Rupanya mereka kurang senang didatangi seorang kulit putih: apa lagi, ia seorang kulit putih yang tidak membawa serta bingkisan besar sebagai hadiah bagi mereka.
Namun dengan mantap John melangkah masuk ke dalam perkumpulan orang Indian itu. Ia menghadap kepala suku dan mengulurkan kedua belah tangannya sebagai tanda persahabatan. "Kawan-kawan!" ia berseru. Lalu ia memberi isyarat kepada pemandunya yang lebih tua itu. "Tolong beritahu mereka," pintanya.
Orang Indian itu mulai berbicara. Ia sudah biasa menemani John dalam perjalanan. Ia tahu apa yang biasa terjadi bila mereka baru pertama kali memasuki perkemahan suatu suku.
"Orang berkulit putih ini tidak membawa senjata, hai Tuanku," katanya dengan hormat kepada kepala suku itu. "Ia hanya membawa serta sebungkus benda-benda putih lebih tipis daripada kulit pohon, lebih keras daripada daunnya. Di atas benda-benda putih itu ada tanda-tanda, seolah-olah telah dicoreti dengan arang. Salah satu benda putih itu ada dipegang oleh orang berkulit putih ini, sedangkan matanya diarahkan kepadanya."
Kepala suku itu agak melongok ke depan agar ia dapat mendengar. Para anggota pasukan perangnya juga menarik napas panjang. Kira-kiranya apa yang dilakukan orang berkulit putih yang aneh ini, dengan semacam benda yang aneh pula?
Pemandu itu meneruskan ceritanya. "Setelah itu, hai Tuanku, dengan menggunakan semacam sihir yang belum kupahami, orang berkulit putih ini yang kurang mengerti bahasa kita namun dapat membuka mulutnya, dan yang keluar ialah . . . kata-kata dalam bahasa kita! Cerita-cerita yang belum pernah didengar oleh suku kita, itulah yang disampaikannya. Dan ajarannya itu mengenai Sang Roh Agung, bagaikan Bapak yang sangat mengasihi anak-anak-Nya."
"Sihir! Sihir!" Kata itu terdengar dibisikkan dari dalam kemah-kemah yang mengelilingi tempat John Wolsey dan pemandunya sedang menghadap kepala suku. Di belakang setiap pintu kemah yang terbuat dari kulit rusa itu, ibu-ibu dan anak-anak sedang asyik mendengarkan. "Orang berkulit putih ini pasti seorang tukang sihir yang besar!" mereka berbisik seorang kepada yang lain.
"Sihir?" kata kepala suku dengan nada bertanya. "Apakah ia memakai mantera dan guna-guna?"
"Tidak begitu, Tuanku," jawab pemandu itu. Rupanya ia sama saja seperti orang-orang berkulit putih lainnya. Namun . . . tidak sama juga. Walau ia sangat bodoh dan tidak dapat mengikuti jalan setapak tanpa bantuan seorang pemandu, namun ia berjalan terus dengan gigih. Ia tidak pernah marah atau mengomel, walaupun kadang-kadang usaha kami untuk memburu binatang gagal dan kami harus berjalan sepanjang hari tanpa makan."
"Dan . . . apa yang diinginkannya dari kami?" tanya kepala suku itu dengan was-was. "Ia sudah berjalan begitu jauh dari bangsanya sendiri."
"Ia cuma mau duduk-duduk bersama semua orang di sisi api unggun," pemandu itu melanjutkan. "Yah, pada malam hari, bila tugas sehari-hari selesai. Pada waktu itu ia mau membongkar bungkusannya dan mengeluarkan benda-benda putih yang seolah-olah dicoreti arang. Lalu ia mau membuka mulutnya dan menyampaikan kata-kata yang diberikan kepadanya oleh ilmu sihir itu. Hanya itu saja yang diinginkannya, hai Tuanku."
Kepala suku itu diam sebentar. Sesungguhnya ia kurang senang terhadap orang-orang berkulit putih. Mereka sering menipu sukunya, atau menjual minuman keras yang memabukkan kaum mudanya. Baru sebulan yang lalu, ada dua pemburu berkulit putih yang serta-merta masuk ke dalam perkemahan itu; rambut kepala mereka berdua telah menjadi hiasan kemah kepala suku. Tetapi orang berkulit putih yang ini . . . kelihatannya lain daripada yang lain. Di tengah-tengah mereka ia berdiri dengan sopan namun mantap. Tidak ada ciri-ciri ketakutan padanya hanya ciri-ciri persahabatan belaka.
"Biar dia tinggal di sini," kepala suku itu memutuskan. "Suruh ibu-ibu menyiapkan kemah bagi dia. Tetapi sebaliknya ia dijaga ketat; siapa tahu, mungkin ada siasat jahat."
Sebuah kemah kecil segera dipasang di tengah-tengah perkemahan, agar mudah dijaga. John Wolsey memasuki kemah itu untuk melepaskan lelah sejenak. Dari dalam bungkusannya ia mengeluarkan selimut dan pakaian cadangannya yang hanya satu stel itu. Lalu ia pun membongkar sebuah bungkusan kecil yang dilapisi kulit rusa putih halus. Ia melihat benda-benda putih yang sudah diceritakan oleh pemandunya itu.
Dengan pelan ia membolak-balikkan halaman demi halaman. Yang dicoreti di atasnya, bukanlah huruf-huruf biasa abjad biasa melainkan tanda-tanda yang mirip dengan gambar-gambar kecil. Dengan memeriksa nomor pasal dan ayat, John memilih bagian-bagian yang hendak dibacakannya kepada orang-orang Indian, yang sepanjang umur belum pernah mendengar sepatah kata pun dari Alkitab.
Lalu John tersenyum. Sungguh aneh: Di sana sini ia dapat mengerti hanya beberapa kata saja, dari, dari apa yang hendak dibacakannya itu. Namun ia tahu bahwa bunyi-bunyi yang dapat disampaikannya itu akan membawa arti yang dalam bagi setiap orang Indian yang mendengarnya.
John melamun sejenak. Ia teringat kembali akan seorang utusan Injil dahulu kala yang pernah diceritakan kepadanya; namanya, James Evans. Beberapa waktu yang lampau, James Evans pernah pergi kepada orang-orang suku Indian di daerah Danau Winnipeg, di Kanada. Mula-mula ia mempelajari bahasa lisan mereka. Lalu ia menentukan sebuah huruf berupa gambar kecil untuk setiap bunyi bahasa itu.
(Di antara bunyi-bunyi itu ada yang mirip dengan bunyi dalam bahasa Indonesia, namun artinya lain sekali. Misalnya saja, maka berarti "tetapi"; ayat berarti "ia telah.")
Dari kayu James Evans mengukir setiap gambar kecil tanda bunyi dalam bahasa suku Cree itu. Lalu ia melekatkan tanah liat pada setiap ukiran kayu itu, agar dapat dibuat cetakan. Setelah setiap cetakan yang tertuang itu kering, ia pun hendak menuangkan cairan timah ke dalamnya. Dengan demikian ia dapat membuat gambar-gambar kecil yang kemudian dapat diberi tinta, lalu dapat dikenakan pada kertas.
Tetapi pada waktu itu James Evans menghadapi suatu masalah besar. Di tengah-tengah hutan rimba di negeri Kanada, tidak ada timah untuk dicairkan; tidak ada kertas; juga tidak ada tinta untuk mencetak sesuatu di atas kertas itu.
Namun James Evans mendapat akal. Dos-dos tempat perbekalannya itu dilapisi logam, agar jangan dimakan rayap. Logam itu dibongkar dan dicairkannya untuk membuat gambar-gambar cetakan. Untuk membuat tinta, ia mencampur minyak ikan dengan jelaga lampu. Dan untuk kertasnya, ia memanfaatkan semacam kulit pohon yang tipis dan berwarna putih. Setelah ia berhasil mencetak beberapa helai kulit pohon itu, ibu-ibu suku Indian menjahitnya menjadi buku.
Ternyata gambar-gambar kecil itu mudah sekali dibaca, dengan mengucapkan bunyi-bunyi yang cocok. Pasti Tuhan Allah sendiri yang membimbing James Evans, kata John Wolsey pada dirinya sendiri di dalam kemah kecil itu. Sistem penulisan yang itu sangat sederhana. Bahkan aku sendiri, yang belum mengerti bahasa suku Cree, dapat membacakan Alkitab kepada mereka. Dan bunyi-bunyi aneh yang keluar dari mulutku itu membawa arti kepada semua orang yang mendengarkannya!
Lalu John berlutut di dalam kemah kecil itu. Ia memohon agar Firman Allah dapat meresap ke dalam hati orang-orang Indian. Ia berdoa agar mereka dapat mengerti dan menerima kasih Tuhan. Ia pun berdoa, semoga ia dapat tetap menyatakan kasihnya sendiri melalui persahabatan dan keberaniannya, sehingga orang-orang Indian itu rindu mengenal Sang Roh Agung yang disembahnya.
Senja telah tiba. Makan malam pun sudah selesai. Api unggun dinyalakan. Tubuh orang Indian itu membuat bayangan-bayangan besar pada lereng-lereng bukit batu yang melindungi lembah yang sunyi, tempat perkemahan mereka.
John Wolsey menunggu dengan tenang. Lalu kepala suku memberi isyarat, dan John maju ke depan. Ia berlutut dan memegang benda putih di tangannya, agar coretan di atasnya itu dapat dibaca dalam keremangan. Dengan pelan dan jelas ia membacakan isinya halaman demi halaman walau bunyinya membawa arti sedikit sekali bagi telinganya sendiri.
Kepala suku dan semua rakyatnya itu menarik napas panjang. Mereka tertegun mendengar kata-kata bahasa mereka sendiri keluar dari mulut orang asing berkulit putih itu.
"`Pada awal mulanya Sang Roh Agung membuat langit dan bumi, . . .'" demikianlah John membacakan. Setelah selesai menceritakan penciptaan itu, ia pun membalik beberapa halaman. "`Sang Roh Agung ini begitu mengasihi seisi dunia sehingga Ia mengirim Anak-Nya yang Kekasih . . .'"
Tidak ada suara kecuali keresek api unggun serta desau angin pohon-pohon cemara. Sekali lagi John membalik halaman dan mulai membacakan tentang Tuhan Yesus yang melayani orang banyak dengan menghajar dan menyembuhkan mereka.
Api unggun itu hampir padam, hanya tinggal baranya saja. Namun tidak ada seorang pun yang bergerak. Seorang bayi mulai merengek dalam pelukan ibunya; ibu itu dengan cepat menenangkannya, sambil tetap mendengarkan.
Lalu dengan terbata-bata John Wolsey mengucapkan beberapa kata dalam bahasa suku Cree yang telah dihafalkannya. Ia bersaksi bahwa Tuhan Allah, Sang Roh Agung, mengasihi semua orang Indian sama seperti Ia mengasihi anak-anak-Nya yang lain. Sang Roh Agung ingin supaya mereka pun mengasihi Dia sebagai anak-anak-Nya yang taat, dan supaya mereka mengikut Yesus Kristus.
Hening sejenak di sekitar api unggun itu . . . . Lalu kepala suku membuka suara. "Aneh sekali cerita itu," katanya. "Belum pernah kami mendengar cerita seperti itu. Masih adakah lagi?" tanyanya, sambil menuding ke arah benda-benda putih itu.
John Wolsey memberi isyarat kepada pemandunya yang lebih tua. Orang Indian itu mulai berbicara lagi:
"Berkali-kali orang kulit putih ini suka membuka mulutnya, sambil tetap memandang pada benda-benda putihnya selama dua malam, tiga malam, bahkan sampai empat malam berturut-turut. Setelah itu, ia pun akan meneruskan perjalanannya kecuali ada kepala suku yang mengundang dia untuk menetap lebih lama."
"Perjalanan? Mau ke mana dia?" tanya kepala suku.
Kali ini pemandu yang lebih muda yang menjawab. "Dari sini, hai Tuanku, ia mau pulang ke tempatnya sendiri. Sudah berminggu-minggu lamanya kami berjalan bersama dia. Sering kami berhenti di tempat-tempat perkemahan selama dua hari, tiga hari, bahkan sampai empat hari. Bila Tuanku ingin melepaskan dia, aku sudah berjanji akan menemani dia sampai ia kembali ke tempat bangsanya sendiri dengan selamat."
"Baik!" Kepala suku itu berdiri."Besok malam kami akan mendengarkan ceritanya lagi. Aneh . . . aneh sekali ceritanya itu!"
Para anggota pasukan perangnya ikut berdiri. Seseorang menimbun bara api unggun itu dengan abu. Hanya sinar rembulan saja yang menerangi mereka pada waktu mereka kembali ke kemahnya masing-masing.
Di dalam kemah kecil di tengah-tengah perkemahan suku itu, John Wolsey meringkuk di dalam selimutnya. Ia amat senang, sebab pada waktu ia membacakan Firman Allah tadi, ia telah memperhatikan wajah-wajah yang sungguh berminat.
Pada suatu hari, John berkata pada dirinya sendiri, akan datang utusan-utusan Injil yang dapat mengajar suku Cree, bagaimana cara membaca bahasa mereka sendiri. Para penginjil itu pun akan membawa serta seluruh Alkitab dalam bahasa suku Cree, . . . sedangkan aku ini hanya mempunyai beberapa halaman saja dari Firman Tuhan.
Sambil membayangkan masa depan yang bahagia itu, John Wolsey tertidur nyeyak . . . walau sebelumnya belum pernah ada seorang asing yang diperbolehkan menginap dengan aman di tengah-tengah perkemahan suku Cree.
TAMAT
Sudah enam tahun lamanya Adoniram Judson mencoba mengabarkan Injil di negeri Birma (kini Myanmar). Dengan segala daya upaya ia membanting tulang, berusaha memberitahu orang-orang Birma tentang Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi, dan tentang Yesus Kristus, satu-satunya Juru Selamat manusia yang berdosa.
Utusan Injil muda dari Amerika Serikat itu sudah mencoba berbagai macam cara penginjilan. Dengan susah payah ia telah menerjemahkan Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Birma; lalu ia menyuruh mencetak terjemahannya itu. Tetapi banyak orang Birma yang masih buta huruf. Dan mereka yang dapat membaca, sering mengejek hasil karya Adoniram Judson itu.
Pdt. Judson juga sudah berusaha meniru metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru-guru bangsa Birma sendiri. Ia menyuruh membangun sebuah pendopo untuk dia di pinggir jalan raya. Pendopo itu dikapur putih bersih, sehingga kelihatan lebih mencolok mata daripada pendopo-pendopo lainnya.
Sepanjang hari dengan sabar Adoniram Judson duduk di depan pendoponnya itu dan menyerukan kata-kata ajakan dari Kitab Nabi Yesaya, pasal 55:
Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air,
dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! . . .
Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku;
Dengarkankanlah, maka kamu akan hidup!"
Namun kebanyakan orang Birma yang lewat di depan pendopo Kristen itu masih terus berjalan. Hanya beberapa orang saja yang cukup berminat, sehingga mereka mampir untuk mendengarkan ajaran guru asing itu. Dan kebanyakan pengunjung pendopo itu pun tidak mau kembali lagi untuk yang kedua kalinya.
Ya, sudah jelas, bangsa Birma lebih suka mengikuti ajaran lain . . . ajaran yang sama sekali tidak memberi janji kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak mau mendengar Berita Kesukaan tentang Tuhan Yesus.
Anak Pdt Judson jatuh sakit dan meninggal; Judson sendiri dan istrinya sering dihinggapi penyakit. Namun ia pantang mundur. Dan akhirnya pada tahun 1819, ada tiga orang Birma yang percaya kepada Sang Juru Selamat.
Hanya tiga orang saja, setelah usaha pengabaran Injil selama enam tahun! Dan ketiga orang itu pun sangat takut terhadap pemerintah Birma; mereka minta dibaptiskan pada malam hari, di sebuah perairan yang sepi. Pada waktu itu ada raja baru yang bersemayam di Ava, ibu kota Birma; rupanya beliau lebih keras lagi melawan ajaran asing daripada raja yang memerintah sebelumnya.
Dengan sedih Pdt. Judson menutup pendoponya. Ia khawatir kalau-kalau penginjilan secara terbuka akan dibalas dengan tindakan kekerasan terhadap ketiga petobat baru itu. Pelanggar hukum di Kerajaan Birma pada masa itu bukan hanya dihukum mati saja: Boleh jadi ia dihukum mati dengan siksaan secara paling kejam.
Seorang pendeta pengantar Injil muda bernama James Colman datang dari Amerika untuk membantu keluarga Judson. Pada suatu hari dalam tahun 1819, Pdt. Colman mengusulkan, "Mengapa kita tidak pergi saja ke ibu kota dan menghadap raja baru itu? Mengapa kita tidak minta izin secara terang-terangan untuk menyebarkan ajaran Kristen di Kerajaan Birma.
Pdt. Judson bertanya, "Kalau ditolak?"
"Lebih baik kalau kita tahu," jawab rekannya yang masih muda itu. "kalau demikian halnya, mungkin lebih baik kita meninggalkan saja negeri Birma dan pergi ke tempat lain."
Meninggalkan Birma! Adoniram Judson tidak sampai hati memikirkan kemungkinan demikian. Bukankah ia telah menghabiskan masa enam tahun dengan usaha mempelajari bahasa Birma yang amat sulit itu? Bukankah ia baru mulai melihat hasil jerih payahnya itu, dengan pertobatan tiga orang Birma?
Namun Pdt. Judson setuju dengan usul Pdt. Colman. Mereka menyediakan sebuah perahu sungai yang panjang, dengan sepuluh orang pendayungnya. Perjalanan mereka ke ibu kota Ava itu memakan waktu 35 hari. Di pinggir sungai, di mana-mana mereka melihat patung-patung berhala yang menandakan bahwa penduduk setempat pasti belum mengenal Tuhan Yang Maha Esa.
Setiba di ibu kota Ava, mereka pergi ke pintu gerbang istana raja. Mereka menaiki sebuah tangga yang terbuat dari batu marmer. Mereka melalui sebuah ruang yang dilapisi kayu eban. Di depan mereka ada sebuah pintu yang berkilauan dengan batu permata. Lalu pintu itu dibukakan, dan mereka memasuki ruang takhta. Tiang-tiang dan langit-langit ruang agung itu berlapiskan emas.
Sementara menunggu kedatangan sang raja, Pdt. Judson berunding dengan salah seorang menteri kerajaan. Ia menyodorkan hadiah yang hendak dipersembahkan: sebuah Alkitab bahasa Inggris berukuran besar, dengan sampul keemasan. Ia juga memperlihatkan salah satu surat selebaran berbahasa Birma yang telah dikarangnya, serta sepucuk surat permohonan agar ia diperbolehkan mengajar orang-orang Birma tentang Tuhan Yesus.
Sang raja masuk dengan segala kebesarannya. Sang menteri dan para hadirin sujud sampai ke lantai, . . . kecuali kedua orang asing itu. Mereka hanya berlutut dengan sikap hormat.
Sang raja duduk di atas takhta. Lalu ia menuding seraya bertanya kepada menterinya, "Siapa kedua orang ini?"
Andoniram Judson yang menjawab: "Kami guru-guru agama, hai Baginda yang mulia."
"Wah! Kalian dapat berbicara bahasa Birma?" tanya sang raja, amat heran. Selama beberapa menit ia bercakap-cakap dengan Pdt. Judson, dan rupanya ia merasa senang.
Ketika sang raja bertanya tentang maksud kedatangan kedua orang asing itu, sang menteri maju dengan bertiarap sampai ia dapat meletakkan persembahan dan permohonan mereka di depan takhta.
Sang raja mulai membaca surat selebaran itu: "Tuhan yang Maha Esa hidup selama-lamanya, dan di samping Dia tidak ada allah lain." Dengan muka yang menunjukkan murka sang raja membiarkan surat selebaran itu jatuh ke lantai.
Sang menteri segera mengantarkan kedua orang asing itu keluar. Kemudian ia pun menjelaskan keputusan sang raja: "Tidak ada jawaban atas permohonanmu itu. Dan mengenai tulisan sucimu, sang raja tidak memerlukannya; bawalah pulang saja."
Dari ibu kota Ava, Adoniram Judson dan James Colman memang pulang ke kota pelabuhan Yangoon. Mereka telah gagal. Sebaiknya mereka sekeluarga bersiap-siap pindah ke tempat lain.
Namun . . . heran, ketiga orang Kristen Birma itu, yang pada mulanya takut dibaptiskan pada siang hari, justru menantang Pdt. Judson agar bersikap lebih berani. "Tetaplah tinggal dengan kami sampai ada sepuluh orang yang percaya, Pendeta," mereka membujuk. "Setelah itu, kalau terpaksa, pergilah, karena selanjutnya kepercayaan kami akan tersebar dengan sendirinya. Sekalipun sang raja mengancam, tak mungkin ia dapat mencegahnya!"
Memang ada yang percaya, . . . tetapi Adoniram Judson tetap tinggal. Dan dalam jangka waktu satu bulan saja, ada sembilan orang Birma lagi yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus!
Maka Judson pun memberanikan diri untuk berjuang terus, sambil menerjemahkan Firman Allah ke dalam bahasa Birma. Para anggota jemaat yang hanya beberapa orang itu berkata bahwa terjemahan Surat Efesus hasil karya gembala sidang mereka, jauh lebih mudah dipahami daripada terjemahan Injil Matius yang terdahulu. Pdt. Judson berbesar hati; ia pun mulai mengusahakan terjemahan Kisah Para Rasul.
Tugas terjemahan itu sulit sekali! Huruf-huruf bahasa Birma berbeda sama sekali dengan huruf-huruf yang dipakai dalam semua bahasa lainnya. Apa lagi, tidak ada tanda pemisah antara kata atau kalimat, misalnya huruf besar atau tanda baca. Tidak ada kamus; tidak ada buku pedoman tata bahasa. Di samping semua halangan ini, pada zaman itu tulisan bahasa Birma biasa digores pada daun lontar kering, sehingga amat sukar untuk dilihat, apa lagi untuk dibaca.
Berita mengenai keberhasilan Adoniran Judson dalam menguasai bahasa Birma itu sampai ke ibu kota. Sang raja pun berminat, karena untuk hubungan luar negeri ia sering memerlukan seorang pengalih bahasa. Maka keluarga Judson dipanggil untuk pindah ke Ava. Tetapi Pdt. Judson harus menunggu istrinya kembali dari Amerika; Ibu Judson terpaksa pulang untuk berobat. Sambil menunggu istrinya selama sepuluh bulan di Yangoon itu, Adoniram Judson berhasil menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Pernjanjian Baru ke dalam bahasa Birma.
Sesudah sembuh, Ibu Judson kembali, dan mereka segera pindah ke Ava. Salah seorang anggota jemaat di Yangoon itu ikut serta sebagai pembantu mereka.
Ternyata cuaca di ibu kota itu panas dan lembab; ini yang menyebabkan baik Pdt. Judson maupun istrinya sering sakit. Dan yang payah lagi berkobarlah perang antara Kerajaan Inggris dengan Kerajaan Birma.
Adoniram Judson seorang Amerika; ia bukan orang Inggris. Namun semua orang asing yang berkulit putih itu digiring bersama-sama ke dalam sebuah penjara yang dikhususkan untuk menjalani siksaan dan hukuman mati. Kedua kaki mereka masing-masing dipasang rantai seberat enam kilo. Lalu mereka dijebloskan ke dalam ruang penjara yang paling kotor dan gelap.
Seandainya Ibu Judson tidak setia menolong suaminya, pasti ia meninggal pada waktu sengsara itu. Tiap hari Ibu Judson datang dengan membawa makanan segar serta air minum yang bersih. Berkali-kali ia memberi uang suap kepada para penjaga, agar suaminya mendapat tempat yang agak sehat, di bawah naungan semacam gubuk di halaman penjara.
Selama beberapa minggu Ibu Judson tidak sanggup datang sendiri; seorang pembantu menggantikan dia. Lalu ia muncul lagi, dengan membawa serta bayinya yang baru lahir.
Tentu Pdt. Judson senang melihat bayinya yang mungil itu, serta istrinya yang sudah sehat kembali. Namun ada hal lain yang sering menyusahkan pikirannya: Bagaimana dengan naskah tulisan tangannya itu? Bagaimana dengan satu-satunya salinan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Birma?
Di rumah naskah itu kurang aman, karena rumah keluarga Judson sudah dua kali digeledah tentara kerajaan. Maka Ibu Judson menjahit sebuah bantal yang sengaja dibuat keras dan kumal, agar penjaga penjara tidak mengirannya. Di dalam bantal itulah ia memasukkan naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Birma.
Selama sebelas bulan Adoniram Judson tidur dengan kepala bersandarkan bantal yang berisi buku itu. Siang malam ia menderita; namun ia mengucap syukur kepada Tuhan, karena naskahnya yang berharga itu masih aman.
Tiba-tiba pada suatu hari semua tahanan disuruh berderet di halaman penjara. Rantai yang berat itu dilepaskan, lalu mereka diikat berdua-dua. Judson mohon dengan sangat agar ia boleh membawa serta bantalnya, sampai-sampai ia menangis dan orang-orang tahanan lainnya mengejek dia. Namun penjaga yang bengis menyobek bantal itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Judson dan para tahanan lainnya dipaksa berbaris sejauh enam belas kilometer di luar kota, di bawah terik matahari. Kaki mereka berdarah; mulut mereka kekeringan. Ada yang tidak tahan dalam perjalanan maut itu; ada yang meninggal sebelum tiba di tempat tujuan; ada juga yang jatuh pingsan di ujung jalan. Namun Pdt. Judson masih hidup. Dan ia masih tetap terkurung di dalam penjara di luar kota itu, selama tujuh bulan lagi.
Pada suatu hari ada berita dari sang raja; Ia memerlukan seorang pengalih bahasa yang pandai berbahasa Inggris dan bahasa Birma. Maka Adoniram Judson dibebaskan dari penjara, walau masih tetap dijaga dengan ketat.
Setibanya di ibu kota, yang pertama-tama dipertanyakan Judson ialah mengenai istri dan anaknya. Para penjaga memberitahu bahwa kedua orang itu masih selamat. Pertanyaan Judson yang kedua adalah mengenai bantalnya. Para penjaga tidak tahu, dan tidak ambil pusing tentang benda yang mereka anggap kurang berharga itu.
Ternyata Kerajaan Birma tidak kuat menghadapi pasukan perang Kerajaan Inggris. Tentara Birma dipukul kalah. Dalam perundingan perdamaian, jasa Adoniram Judson sebagai pengalih bahasa itu sangat diperlukan.
Akhirnya semua tugas yang dituntut sang raja itu selesai. Pdt. Judson dengan keluarganya boleh kembali ke Yangoon, kota pelabuhan dan tempat tinggal mereka semula. Di sana mereka kembali menjumpai orang-orang Kristen Birma, yang selama masa perang itu masih setia mengikut Tuhan Yesus.
Salah seorang di antara ketiga petobat yang pertama-tama itu, rupanya sangat senang bertemu kembali dengan gurunya. "Wah, kami kira Pendeta sudah meninggal! Lagi pula tiada kubur tempat tinggal kami dapat pergi berrkabung. Namun aku masih tetap memelihara bantal itu, tempat kepala Pendeta pernah bersandar."
"Bantal?" tanya Adoniram Judson, hampir tidak percaya. "Bantal apa itu?"
"Ya, bantal kecil itu yang dipakai Pendeta waktu di penjara. Untung aku sempat menyelamatkannya dari tempat sampah sebagai kenang-kenangan, pada hari itu ketika Pendeta digiring keluar halaman penjara dalam perjalanan maut."
Dengan tangan gemetar Pdt. Judson menerima kembali bantal yang kotor dan tersobek itu. Ia sengaja menyobek tutupnya lagi sehingga rusak sama sekali, dan . . . ternyata naskahnya masih utuh!
Maka dengan semangat baru Adoniram Judson mulai mengabarkan "isi bantal" itu kepada orang-orang Birma. Tidak lama kemudian, istri dan anaknya yang tercinta itu meninggal; namun ia berjuang terus. Dan ia pun meneruskan tugas terjemahan Firman Tuhan itu. Perkataan Raja Daud dalam Kitab Mazmur yang tengah dialihkannya itu sering menghibur hatinya yang sedang sedih.
Bertahun-tahun kemudian, pengabar Injil yang setia itu dikarunia sebuah keluarga baru. Istri keduanya itu melahirkan beberapa anak; di antara mereka, di kemudian hari ada yang menjadi hamba Tuhan sama seperti ayahnya.
Baru pada tahun 1835 seluruh Alkitab itu selesai diterjemahkannya ke dalam bahasa Birma. Namun Judson masih belum puas. Selama lima tahun ia mendalami lagi tulisan sastra bahasa Birma, baik prosa maupun puisi. Sering ia meminta pendapat para rekannya, baik utusan Injil maupun orang Kristen Birma. Akhirnya pada tahun 1840 ia merasa puas. Terjemahan Alkitab hasil karyanya yang diterbitkan pada tahun itu, hingga kini masih tetap dibaca di gereja-gereja di negeri Myanmar.
Selama tahun-tahun Adoniram Judson berjuang mati-matian demi tugas penginjilan dan penerjemahannya itu, suatu gerakan Kristen besar mulai nampak di negeri Birma. Bahkan pada masa hidup Judson, sudah ada ribuan orang Birma yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang, lebih dari satu setengah abad kemudian, ada ratusan ribu orang Kristen di negeri Myanmar.
Siapa tahu, mungkin semuanya itu tidak akan terjadi, . . . seandainya tidak ada seorang ibu Amerika yang pandai menjahit, serta seorang bapak bangsa Birma yang setia menyimpan bantal yang berisi buku, sampai saat ia menyerahkan kembali kepada pemiliknya!
TAMAT
Pada tahun 1939 itu, gempar sekali umat Kristen di kota Ujung pandang!
Ada penginjil tersohor yang datang dari benua Tiongkok; namanya, Dr. John Sung. Kata orang, ia sudah berkhotbah di mana-mana di Asia Tenggara, di Taiwan, di Philipina, di Malaysia, di Singapura, di MuangThai. Dan di mana pun juga ada banyak sekali orang yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Pada tahun 1939, untuk pertama kalinya penginjil ternama itu datang ke Indonesia. Ada kampanye penginjilan raksasa di Jakarta, di Bandung, di Madiun, di Solo, di Surabaya, . . . dan di Ujungpandang.
Pada tahun 1939 itu juga, di kota Ujungpandang tinggallah seorang gadis kecil yang biasa dipanggil "Mia. Nama lengkapnya ialah, Maria Josephien Jacob. Tetapi nama itu rasanya terlalu panjang untuk seorang anak perempuan yang begitu kecil.
Si Mia adalah salah satu di antara delapan anak dari seorang janda. Ibu Jacob harus bekerja keras untuk memenuhi keperluan keluarganya yang banyak itu. Pagi-pagi ia menggoreng pisang, lalu kakak-kakak Mia menjajakannya waktu mereka pergi ke sekolah. Siangnya ibu itu mencuci pakaian orang lain. Setelah dikanji, lalu diseterika, pakaian uang sudah bersih itu diantarkan sore hari. Malam pun Ibu Jacob masih tetap bekerja; ia menjahitkan pakaian orang Belanda, kaum penjajah pada masa itu.
Walau ia begitu sibuk, Ibu Jacob sangat setia kepada Tuhan. Setiap jam lima pagi, ia membagunkan seisi rumah untuk berdoa bersama-sama (si Mia biasanya duduk di pangkuan Mama). Setiap malam, ibadah keluarga itu diulang lagi. Setiap hari Minggu, seluruh keluarga Jacob pergi ke gereja. Dan setiap bulan, masing-masing anak disediakan amplop persepuluhan untuk dipersembahkan kepada Tuhan.
Waktu ibunya pergi berkunjung, si Mia sering diajak. Mereka suka membawa sup dan bubur untuk tetangga yang sedang sakit. Mereka juga pergi ke sebuah rumah yang dipakai untuk perjudian dan pelacuran, untuk menginjili penghuninya. Alhasil, seorang wanita yang tinggal di situ percaya kepada Tuhan Yesus. Ia keluar dari rumah itu, dan kemudian ia menikah dengan seorang pemuda dari gereja.
Tentu saja seluruh keluarga Jacob ikut gempar pada waktu mereka mendengar bahwa Dr. John Sung dari benua Tiongkok akan datang di kota Ujungpandang untuk mengabarkan Injil. Setiap kali ada kebaktian kebangunan rohani, mereka selalu hadir, Ibu Jacob juga selalu turut memberi persembahan khusus untuk membiayai KKR itu.
Si Mia duduk terpaku selama Dr. John Sung berkhotbah. Kata-katanya sederhana saja; dengan sangat jelas ia memaparkan dosa manusia serta keselamatan yang tersedia dalam Yesus Kristus.
Sepulangnya dari kebaktian khusus itu, si Mia tidak dapat melupakan penjelasan tentang dosa dan keselamatan yang disampaikan tadi. Dengan menangis ia menemui ibunya di kamar.
"Mama," katanya dengan terisak-isak, "semua uang yang hilang itu, Mia yang ambil. Minta ampun, Mama, Mia sering berbohong, Mia sering melawan Mama . . . ."
Ibu Jacob merangkul dan memeluk anaknya yang masih kecil itu. Lalu ia berdoa sambil menumpangkan tangannya di atas kepala Mia. Dan si Mia dalam hatinya merasa pasti: Baik ibunya maupun Tuhan Yesus Sang Juru Selamat sudah mengampuni dosanya. . . . .
Pada tahun 1942 itu, kembali gempar penduduk kota Ujungpandang!
Tentara Jepang telah mengepung seluruh Nusantara. Si Mia terpaksa putus sekolah, karena keluarga Jacob dari kota mengungsi ke desa Wiliwili.
Pada masa perang itu, banyak anak yang pendidikannya telantar. Melihat keadaan yang menyedihkan itu, ibu dan kakak si Mia membuka sebuah sekolah darurat. Paling sedikit di desa itu anak-anak dapat diajar membaca dan menulis. Ada seorang pejabat pemerintahan Jepang yang menyumbangkan buku-buku tulis untuk usaha pendidikan itu. Tetapi ibu dan kakak si Mia hanya sanggup menyekolahkan anak-anak itu sampai tingkat SD kelas 3 saja. Pendidikan Mia sendiri masih tetap terlantar.
Menjelang masa berakhirnya Perang Dunia II, keluarga Jacob sempat kembali ke kota Ujungpandang. Mia rajin belajar, karena hendak mengejar waktu yang terhilang itu. Tamatlah dia dari SD; lalu ia masuk SLTP.
Pada masa perjuangan fisik itu, kota Ujungpandang masih dikuasai Belanda. Bahasa pengantar di SLTP tempat Mia belajar itu, bahasa Belanda; bahasa Indonesia hanya diajarkan sebagai pelengkap saja. Sebagai akibatnya, Mia sangat pandai bahasa Belanda, sedangkan bahasa Indonesianya agak kurang. Mia tahu, ia tidak akan naik kelas kecuali pelajaran bahasa Belanda mendapat angka tinggi.
Namun kepala sekolah SLTP itu memberi Mia nasihat yang bijaksana: "Mia, tekunilah bahasa Indonesia," katanya. "Kelak Indonesia akan merdeka. Bahasa Indonesia akan sangat dibutuhkan di kemudian hari."
Pada tahun 1949, Mia Jacob tamat SLTP. Setiap pelajaran yang angka rata-ratanya cukup tinggi itu dipanggil satu per satu ke kantor kepala sekolah. Teman-teman yang masuk ranking itu seorang demi seorang dipanggil . . . tetapi nama Mia Jacob belum disebut-sebut.
Ternyata si Mia adalah pelajar yang paling akhir dipanggil untuk menghadap. Pada saat itu, barulah ia mengerti mengapa ia diharuskan sengaja menunggu sekian lama: Dialah bintang pelajar, bukan hanya di sekolahnya saja, tetapi di semua SLTP di seluruh kota Ujungpandang! Dan bukan hanya itu saja: Kepala sekolah menawarkan beasiswa, jika Mia rela pergi ke Belanda dan belajar menjadi seorang juru rawat.
Begitu ia keluar dari kantor kepala sekolah, Mia dikerumuni oleh teman-temannya. Mereka semua ingin merayakan prestasi mereka.
"Nanti di rumah saya ada pesta," kata salah seorang pelajar wanita itu. "Tentu kalian diundang!"
"Wah, saya akan mentraktir kalian ke rumah makan!" kata seorang gadis lain lagi dengan penuh semangat.
"Papa saya punya bioskop," kata anak perempuan yang ketiga dengan pongah. "Kalian boleh nonton gratis!"
Mia ikut saling menyalami teman-temannya. Namun dalam hatinya ia tidak begitu menghiraukan hiruk-pikuk mereka. Mengapa saya mendapat angka yang tertinggi? tanyanya pada diri sendiri. Saya bukan yang terpandai. Ada seorang teman sekelas yang lebih pandai. Namun . . . sayalah yang menjadi bintang pelajar sekota. Pasti ini karunia Tuhan, bukan karena kemampuan saya. Ini kebaikan Tuhan kepada saya!
Kepada teman-temannya yang sedang bersuka ria itu, Mia mohon diri. Tetapi ia tidak segera pulang: Ia mampir dulu ke gereja. Tentu Mia tahu, Tuhan ada di mana-mana. Namun Miia merasakan Tuhan lebih dekat bila ia memasuki gedung ibadah.
Hari itu hari kerja, dan tidak ada acara apa-apa; gedung gereja pun tertutup. Mia mencari penjaganya dan minta agar gereja dibuka. Untung, penjaga itu sudah mengenal si Mia dan keluarganya dengan baik; ia tidak curiga, walau Mia tidak menjelaskan maksudnya.
Mia memasuki aula kebaktian yang besar itu. Selangkah demi selangkah ia maju ke depan. Ia berlutut di hadapan mimbar. Di situ ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku tidak layak menerima pemberian-Mu yang terlalu baik ini. Terima kasih, Tuhan! Aku serahkan seluruh hidupku kepada-Mu yan terlalu baik ini. Terima kasih, Tuhan! Aku serahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Pakailah sesuka-Mu!"
Barulah sesudah itu Mia keluar dari gereja, pulang ke rumah, dan memberitahu ibu dan kakak-kakaknya bahwa ia telah mendapat kehormatan khusus sebagai bintang pelajar sekota Ujungpandang. . . .
Pada tahun 1951 itu, gempar lagi penduduk kota Ujungpandang!
Pemberontakan Andi Aziz telah berkobar di pulau Sulawesi. Sebagai akibatnya, untuk yang kedua kalinya Mia Jacob terpaksa putus sekolah.
Ternyata Mia tidak jadi pergi ke Belanda untuk menerima beasiswa yang ditawarkan itu. Ia tetap memasuki SLTA di kota Ujungpandang. Tetapi baru kelas 2, sekolahnya pun terhenti.
Ketika pemberontakan itu aman dan sekolah-sekolah dibuka kembali, keadaan sudah berubah. Bahasa Belanda bukan lagi bahasa pengantar, melainkan bahasa Indonesia. Sedangkan Mia merasa masih kurang pandai berbahasa Nasional itu.
Lalu ada kesempatan yang tak terduga untuk mulai memperbaiki bahasa Indonnesianya. Mia diminta menerjemahkan sebuah buku kecil tentang George Muller, seorang tokoh Kristen Inggris keturunan Jerman yang sangat mengandalkan kuasa doa dalam memelihara ratusan anak yatim piatu.
Pada tahun 1955, dari pulai Sulawesi Mia pindah ke pulau Jawa. Di Semarang ia masuk sebuah sekolah tinggi teologia yang diselenggarakan oleh gereja-gereja Baptis. Pendidikan Alkitab dan ketuhanan itu akan melengkapi dia untuk memenuhi panggilannya yang dulu sudah ia rasakan sejak ia menjadi bintang pelajar sekota.
Selama berkuliah di Semarang, Mia diminta menerjemahkan cerita-cerita Alkitab untuk anak-anak Sekolah Minggu. Namun kekurangannya dalam bahasa Indonesia itu masih sangat terasa . . . lebih-lebih ketika ia mulai berkenalan dengan seorang mahasiswa teologi yang bernama Juliaan Sigar. Dengan cepat mereka berdua menjadi akrab, sekalipun pemuda itu berani memperbaiki cara Mia berbicara. "Sebaiknya Mia belajar membedakan kata `kita' dengan kata `kami'," Juliaan menasihati dengan lemah lembut.
Tidak lama kemudian, Nona Mia Jacob menjadi Ibu Mia Sigar. Ia menolong suaminya menggembalakan sebuah gereja di Semarang, kemudian sebuah gereja di Solo. Dan Pendeta Sigar masih tetap menolong istrinya memperbaiki bahasa Indonesianya.
Pada tahun 1963, suami-istri yang pandai itu diminta pindah ke Bandung, agar mereka dapat melayani melalui Lembaga Literatur Baptis. Tidak lama kemudian, Pdt. Juliaan Sigar keluar dari kantor penerbit itu, karena ia menjadi gembala sidang sebuah gereja di kota Bandung. Tetapi Ibu Mia Sigar masih tetap bekerja diLembaga Literatur Baptis selama sepuluh tahun lebih. Banyak sekali lembaran Sekolah Minggu, pelajaran Sekolah Injil Liburan, dan buku-buku tentang pengabaran Injil yang diredaksikannya selama tahun-tahun ini.
Ketika putri tunggalnya masih kecil, Ibu Mia rindu agar dapat bekerja di rumah; dengan demikian ia tidak usah datang ke kantor setiap hari. Terbukalah kesempatan itu pada tahun 1974, ketika ia pindah pekerjaan ke Lembaga Alkitab Indonesia. Ia diminta mengambil alih suatu proyek penerjemahan yang sudah setengah jalan, yaitu: Kabar Baik untuk Masa Kini, atau Kitab Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari.
Tugas besar itu diselesaikannya pada tahun 1978. Lalu Ibu Mia diminta mengetauai sebuah panitia yang terdiri atas tiga wanita, untuk memperlengkapi terjemahan gaya baru itu dengan Perjanjian Lamanya. Kedua anggota panitia itu masing-masing adalah seorang rohaniawati dari Gereja Katolik, dan seorang pengarang dan ahli Alkitab dari Gereja Protestan. Sebagai seorang Baptis, Ibu Mia berhasil membimbing pekerjaan mereka dengan lancar. Pada tahun 1985, terbitlah Alkitab Kabar Baik yang sudah lengkap.
Sejak dahulu Ibu Mia sangat memperhatikan anak-anak. Walau anaknya sendiri hanya seorang, namun sering ada anak-anak lain di rumahnya, juga di gereja dan di SD Kristen yang dibina oleh suaminya. Tidaklah mengherankan, sesudah selesai dengan Alkitab Kabar Baik, Ibu Mia juga menerjemahkan Kabar Baik Untuk Anak-Anak.
Ibu Mia masih ingat kesulitannya yang dulu, dalam hal menguasai bahasa Indonesia. Mungkin itu yang menyebabkan dia tetap rela mengerjakan berbagai macam terjemahan Alkitab untuk orang yang memerlukan bahasa Indonesia yang sederhana dan jelas.
Sampai saat ini Ibu Mia Sigar masih mengenangkan pengalamannya yang dulu, ketika ia menjadi bintang pelajar sekota Ujungpandang. Kata Ibu Mia: "Jauh sebelum saya memikirkan apa pun untuk melayani Tuhan dalam bidang literatur rohani, Ia sudah mempunyai rencana bagi saya. Rencana-Nya, serta cara-Nya Ia memperlengkapi saya untuk tugas yang telah disediakan-Nya itu, nyata jelas!"
TAMAT
"Darat!" seru seorang kelasi yang sedang bertengger di mercu yang tiang itu. "Ada darat di s