Kebanyakan orang Abaza tinggal di negara-negara Rusia dan Georgia. Sejumlah besar komunitas mereka bisa ditemukan di negara Turki. Meski tersebar di seluruh negara tersebut, sebagian besar justru menetap di sepanjang pantai Laut Hitam di utara Turki.
Pada abad ke-15, daerah Gunung Kaukasus di Rusia dan Georgia dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman Turki. Pada saat itu, banyak orang Abaza berpindah agama dari Kristen menjadi Islam. Namun, secara bertahap Rusia mengambil alih daerah itu dan pada akhir 1800-an, mereka mendominasi orang-orang Abaza yang beragama Islam. Merasa terancam oleh agama Kristen Rusia, banyak orang Abaza menerima tawaran pengungsi dari Turki Muslim dan pindah ke sana. Sekarang, orang Abaza mulai berasimilasi dengan kebudayaan Turki, akibatnya mereka terancam kehilangan identitas mereka sebagai salah satu kelompok etnis Turki.
Seperti apakah kehidupan mereka?
Hanya ada sedikit informasi tentang kehidupan orang Abaza di Turki, namun pada kenyataannya, mereka sudah sangat berasimilasi dengan kebudayaan Turki. Maka timbullah asumsi bahwa mereka hidup seperti kebanyakan orang Turki di seluruh Turki meskipun mereka sudah berusaha untuk menjaga kebudayaan tradisional mereka melalui beberapa festival dan organisasi. Namun, orang Abaza mempertahankan bahasa ibu mereka, yang merupakan salah satu bahasa paling rumit di dunia. Bahasa ini memunyai lima puluh konsonan dengan pengucapan yang bermacam-macam untuk setiap konsonannya. Dikarenakan sulitnya bahasa mereka sendiri, orang Abaza lebih cakap dalam mempelajari bahasa lain.
Sebagian besar orang Abaza adalah petani dan penggembala. Tembakau adalah hasil panen utama, tapi mereka juga menanam teh, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Peternakan adalah aspek penting lain dalam ekonomi orang Abaza. Dikarenakan mata pencaharian mereka, sembilan dari sepuluh orang Abaza tinggal di pedesaan. Rumah mereka dibangun dari batu bata dan memunyai satu atau dua lantai. Kebanyakan rumah memunyai beranda dan balkon, tempat di mana seluruh keluarga menghabiskan waktu luang mereka dalam cuaca yang baik.
Kebanyakan wanita Abaza menikah saat berusia dua puluhan, sedangkan para pria menikah pada usia tiga puluhan atau bahkan empat puluhan. Pernikahan dengan saudara dilarang; seseorang tidak diperbolehkan menikahi orang yang memunyai nama belakang yang sama dengan kakeknya. Dahulu mereka dijodohkan, tapi sekarang pria dan wanita bebas memilih dengan siapa mereka akan menikah. Kadang-kadang, seorang wanita setuju untuk menikah, tapi orang tuanya tidak. Jika hal itu terjadi, pasangan pria dan teman-temannya akan menculik dan membawa sang wanita ke rumahnya, di mana upacara pernikahan diadakan. Keluarga mempelai wanita tidak menghadiri upacara pernikahan meski sang mempelai wanita tidak diculik. Si mempelai wanita harus tetap diam dan menyendiri saat keluarga mempelai pria berpesta pora.
Orang Abaza sangat menjunjung tinggi keramah-tamahan. Seorang tamu dihormati sama seperti mereka menghormati ayah atau kakek mereka. Tamu dipersilakan duduk di tempat terhormat. Kedatangan tamu diiringi dengan ritual pesta. Tuan rumah dan tamu saling memberi salam dengan minum anggur, saling menghormati, dan mengenali satu sama lain. Keramah-tamahan seperti itu adalah suatu kebanggaan bagi keluarga.
Apakah agama mereka?
Meskipun hampir semua orang Abaza di Rusia dan Georgia beragama Kristen, namun orang-orang Abaza di Turki beragama Islam. Islam adalah agama yang pengamalannya berdasar atas lima "tiang penopang" atau persyaratan dasar. Umat Islam harus percaya "bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah nabi-Nya." Mereka harus sembahyang lima kali sehari, menghadap Mekah, kota suci agama Islam. Mereka juga diharuskan untuk memberi sedekah kepada yang miskin, berpuasa selama bulan Ramadan, dan setidaknya naik haji ke Mekkah sekali dalam hidup mereka.
Apa yang mereka butuhkan?
Orang Abaza Turki benar-benar harus mendengar tentang Yesus sebagai Juru Selamat. Secara resmi, Turki adalah negara sekuler dengan kebebasan beragama yang terbatas. Oleh karena itu, orang Kristen tidak bisa bebas membagikan kepercayaan mereka. Doa syafaat yang sungguh-sungguh perlu dinaikkan untuk membebaskan orang Abaza dari belenggu setan.
Pokok-Pokok Doa
Diterjemahkan dari:
| Nama Situs | : | Joshua Project |
| Judul Artikel | : | Abaza of Turkey |
| Penulis | : | tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Orang Afar (Danakil) mengklaim bahwa mereka adalah keturunan anak Nuh, yaitu Ham. Mereka tinggal di Djibouti, negara bagian Afrika Timur, Somalia, Ethiopia, dan Eritrea. Orang Afar dari Djibouti hidup di sepanjang pantai yang berbatasan dengan Ethiopia dan Somalia, dan di daerah padang gurun Danakil yang membentang dari Ethiopia sampai Eritrea. Kadang kala Djibouti disebut "lembah neraka" karena Djibouti memunyai iklim paling panas dan paling kering di dunia.
Danakil lebih senang disebut Afar karena kata "danakil" dalam bahasa Arab merupakan istilah yang menyebalkan bagi mereka. Afar terdiri dari dua bagian, yaitu Asaemara (berwarna merah), bangsawan yang lebih bermartabat dan berkuasa, yang hidup di sepanjang pesisir; dan Adaemara (berwarna putih), orang biasa yang hidup di pegunungan dan gurun pasir. Danakil adalah orang-orang yang sombong serta menonjolkan kekuatan dan keberanian manusia. Wibawa dapat diperoleh dengan cara membunuh musuhnya.
SEPERTI APAKAH KEHIDUPAN MEREKA?
Sebagian besar orang Afar adalah kaum nomaden yang menggembalakan domba, kambing, ternak, dan unta. Beberapa kelompok Asaemara hidup di pantai sebagai nelayan. Akan tetapi, kekayaan seseorang diukur dari banyaknya ternak yang ia miliki. Kaum wanita bertugas memelihara domba, sapi, kambing, serta mengurus tenda. Kaum pria bertugas memelihara unta dan keledai serta membongkar tenda saat tiba waktunya untuk pindah.
Meskipun kaum Muslim diizinkan memiliki empat orang istri, pernikahan orang Afar biasanya monogami. Paling muda, para gadis boleh menikah saat berusia sepuluh tahun. Pernikahan di antara sepupu pertama itulah yang lebih disukai, khususnya antara seorang pria dengan anak perempuan bibinya. Mereka lebih suka mengadakan upacara pernikahan pada malam bulan purnama, dan upacara itu harus dihadiri seseorang yang dapat membaca Qur`an.
Daging dan susu merupakan komponen makanan bagi orang Afar. Susu juga menjadi sesaji yang penting. Sebagai contoh, ketika seorang tamu dijamu dengan susu segar yang hangat untuk diminum, si tuan rumah menyatakan bahwa dia memberikan perlindungan bagi tamunya. Jika seseorang dibunuh ketika ada dalam perlindungan mereka, kematiannnya harus dibalaskan seolah-olah dia termasuk anggota klan tersebut.
Orang Afar tinggal di tenda-tenda yang dikelilingi oleh semak belukar yang melindungi mereka dari serangan binatang buas atau suku-suku musuh. Gubuk mereka yang berbentuk oval, yang disebut "ari", terbuat dari anyaman pohon palem dan mudah dipindahkan. Pasar harian itu penting bagi masyarakat ini. Beberapa orang berjalan sangat jauh untuk menjual ternak, unta, kambing, domba, mentega, dan alas kaki jerami. Sebaliknya, mereka membeli barang-barang seperti kopi, gula, korek api, dan sabun.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Di awal sejarah mereka, orang Afar sangat dipengaruhi oleh agama Islam. Sekarang pun, Islam masih memeroleh penghargaan yang tinggi. Orang Afar tidak makan daging babi dan jarang minum alkohol. Mereka yang mampu boleh melakukan ibadah umroh ke Mekah. Selain itu, banyak kepercayaan dan adat kebiasaan pra-Islam yang sudah umum berlaku di antara orang Danakil. Mereka percaya bahwa pohon dan semak belukar tertentu memiliki kekuatan yang sakral. Mereka juga memiliki ritual agama yang bermacam-macam, seperti meminyaki tubuh mereka dengan "ghee" (sejenis mentega). Roh-roh orang mati diyakini sangat berkuasa dan "perjamuan makan untuk orang meninggal", yang disebut "rabena", dirayakan setiap tahun. Mereka juga memberi korban tahunan ke laut untuk menjaga keselamatan desa mereka. Banyak orang memakai jimat pelindung dari kulit yang berisi ramuan dan ayat-ayat Qur`an.
APA YANG MENJADI KEBUTUHAN MEREKA?
Salah satu masalah yang paling serius di Djibouti adalah musim kemarau. Sayang sekali, sumber-sumber industri dan sumber-sumber alam untuk mengatasi masalah tersebut sangat kurang.
Sekarang ini, daerah itu berada di bawah tekanan politik yang semakin besar. Sejak Djibouti memeroleh kemerdekaannya pada tahun 1977, ketegangan di antara Somalia dan Danakil meningkat. Walaupun orang Somalia merasa menjadi koloni yang terhilang, Djibouti menguasai bagian vital garis rel yang menghubungkan Ethiopia ke luar negeri. Sejak saat itu, keduanya ingin menguasai daerah itu.
Beberapa orang Afar yang berpindah menjadi pemeluk agama Kristen hidup terisolir. Mereka juga ditekan oleh kerabat mereka agar kembali menjadi Islam. Mereka memerlukan kuasa Roh Kudus untuk memertahankan iman mereka dalam Kristus.
POKOK DOA
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Judul asli artikel | : | Afar of Djibouti |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Suku Ajuran termasuk dalam ras bangsa yang dikenal dengan nama Somalia. Bangsa Somalia tersebar di seluruh wilayah Afrika bagian timur laut dan timur tengah. Suku Ajuran adalah satu dari enam suku bangsa Somalia yang tinggal di bagian timur laut Afrika -- daerah yang biasa disebut "Tanduk Afrika", meliputi Somalia, Djibouti, dan Kenya. Suku Ajuran kebanyakan tinggal di sebuah provinsi bagian timur laut Kenya. Mereka memadati hampir seluruh populasi di sana.
Suku Ajuran adalah peternak seminomaden. Anggota suku sangat setia satu dengan yang lain. Mereka menyebar ke segala penjuru untuk memastikan ada cukup tanah dan air untuk semua ternak mereka. Mereka memandang rendah orang-orang yang bekerja dengan tangan, dan para pengrajin dianggap sebagai orang-orang kelas bawah. Kebanyakan orang Ajuran mampu berbicara dua bahasa -- bahasa asli mereka (Garreh-Ajuran) dan bahasa Somalia; beberapa di antaranya juga berbicara bahasa Swahili. Hanya sekitar dua persen penutur Garreh-Ajuran yang melek huruf.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Suku Ajuran yang seminomaden tinggal di gubuk-gubuk yang mudah untuk dibawa ke mana-mana -- dibangun dari pohon muda bengkok yang ditutupi dengan kulit binatang atau tikar tenunan. Mereka dapat dengan mudah membongkar gubuk itu, membawanya dengan unta, kemudian pindah ke tempat lain bersama dengan ternak mereka. Desa-desa didiami oleh beberapa keluarga yang masih memiliki hubungan darah. Gubuk-gubuk mereka diatur letaknya sehingga membentuk lingkaran atau setengah lingkaran mengelilingi kandang ternak mereka. Desanya dibatasi dengan pagar semak berduri untuk melidungi mereka dari orang asing dan binatang buas. Tanggung jawab kaum lelaki adalah memelihara ternak. Sedangkan kaum wanita, mengurus rumah tangga dan mendirikan gubuk. Mereka memelihara ternak, memasak, dan mengurus keluarganya.
Pola perpindahan suku Ajuran tergantung pada area penggembalaan dan iklim daerah yang tak dapat diprediksi di tempat di mana mereka tinggal. Jika padang rumput dan air mulai langka, mereka mengemasi gubuk mereka dan pindah mengarungi gurun. Sumber mata pencaharian kebanyakan suku Ajuran didapat dari ternak mereka -- unta, lembu, kambing, dan domba.
Menurut hukum Islam, kaum pria diizinkan memiliki empat istri. Poligami sudah menjadi hal yang biasa di suku Ajuran. Sayangnya, tingkat perceraian sangat tinggi. Anak-anak dari orang tua yang cerai biasanya dibagi menurut kelamin; istri membawa anak perempuan dan suami membawa anak lelaki.
Dahulu, makanan pokok suku Ajuran hampir seluruhnya terbuat dari susu; namun demikian, kini mereka juga makan jagung dan nasi. Mengunyah "qat", obat perangsang halusinasi ringan, adalah kegiatan favorit pengisi waktu senggang.
Kaum wanita suku Ajuran menjalani hidup yang sangat berat. Mereka biasanya diperlakukan seperti budak. Beberapa percaya bahwa kaum wanita tidak memiliki jiwa. Terkadang, seorang wanita yang baru saja menikah dipukuli oleh suaminya agar ia belajar untuk patuh dan tunduk pada suaminya. Kaum pria ingin agar istrinya melahirkan banyak anak, sehingga sering kali wanita hamil berkali-kali. Karena masalah kekurangan gizi, para wanita harus berjuang agar anak-anaknya dapat bertahan hidup. Para istri tinggal di gubuk yang terpisah dari keluarganya.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Suku Somalia memeluk agama Islam pada tahun 1400-an. Kini, suku Ajuran adalah Muslim Shaffite. Mereka sangat ortodoks dalam praktik-praktik agama mereka. Bahkan, beberapa dari mereka percaya bahwa mereka adalah keturunan Muslim Arab. Namun demikian, penelitian linguistik menunjukkan bahwa hal tersebut tidaklah benar.
Meski suku Ajuran adalah orang Muslim yang kukuh, hanya beberapa di antaranya saja yang benar-benar memahami kepercayaan yang mereka anut. Mereka adalah orang-orang yang sangat bangga akan agamanya dan menganggap orang Kristen sebagai orang yang rendah. Muslim menganggap Yesus sebagai nabi, guru, dan seorang yang baik hati, namun bukan sebagai Anak Allah. Mereka juga percaya bahwa semua pria dan binatang akan menentukan bagaimana hidup mereka setelah mati nanti. Mereka percaya bahwa mereka akan dihakimi berdasar kesalehan sikap dan pengetahuan akan Al-Quran. Muslim berdoa lima kali sehari dengan menghadap ke Mekah.
APA KEBUTUHAN MEREKA?
Beberapa tahun belakangan, Afrika bagian timur laut didera kekeringan yang amat parah. Fasilitas kesehatan yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang tinggal di daerah itu. Mereka sangat membutuhkan tim medis Kristen dan bahan-bahan pangan. (t\Dian)
POKOK DOA
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Judul asli artikel | : | Ajuran of Kenya |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Orang-orang Albania dipercaya sebagai keturunan Illyrian, yang merupakan penduduk asli Balkan Peninsula bagian barat. Pada abad ke-6, orang-orang Slav mulai menempati daerah Illyrian dan mendesak Illyrian untuk tinggal di wilayah yang kini disebut Albania.
Menurut dialeknya, orang-orang Albania terbagi dalam dua kelompok besar, orang Gheg dan orang Tosk. Orang Gheg bermukim di sebelah utara sungai Shkumbin, sedangkan orang Tosk bermukim di sebelah selatan sungai tersebut. Dialek mereka sedikit berbeda dalam hal pelafalan dan perbendaharaan kata. Pada tahun 1950, dialek Tosk ditetapkan menjadi bahasa yang dipakai untuk semua publikasi di Albania, karena dialek itu adalah dialek yang paling banyak digunakan di Albania.
Di samping perbedaan dalam hal dialek, orang Gheg dan Tosk juga berbeda dalam banyak aspek sosial. Orang Gheg sangat keras dan berani, sedangkan orang Tosk dikenal sangat bersahabat, bersemangat, dan suka berbicara.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Sebelum mengalami perubahan yang dikenalkan oleh rezim komunis pada tahun 1940, orang-orang Albania merupakan orang suku yang tinggal dalam keluarga-keluarga besar yang disebut "fis". "Fis" memunyai banyak tradisi kuno, seperti "vendetta" atau "blood feuds" (pembalasan dendam di mana keluarga orang yang terbunuh mencoba untuk membunuh si pembunuh atau keluarganya) yang sering kali bertahan selama beberapa generasi. Untuk berlindung dari tradisi semacam itu, keluarga-keluarga tinggal di sebuah bangunan batu yang disebut "kula". Lantai bawah "kula" diberi celah-celah kecil dan bukan jendela, sementara di lantai atas, ada jendela yang dapat ditutup.
Albania merupakan negara yang terisolasi. Selama berabad-abad, Albania memiliki gaya hidup dan cara penyelesaian masalah yang kaya ragamnya. Namun demikian, sejak rezim komunis memasuki wilayah ini pada tahun 1944, gaya hidup tradisional berubah secara drastis. Pemerintah komunis percaya bahwa untuk mencapai suatu kesatuan, maka perbedaan suku, keyakinan, dan pakaian daerah harus dihapuskan. Masyarakat petani yang besar dibentuk dan pendidikan menjadi sebuah keharusan. Kompleks perumahan yang besar dibangun dan banyak penduduk desa pergi ke kota. Saat ini, sepertiga penduduk Albania tinggal di kota. Meningkatnya bidang industri dan pengenalan akan pendidikan yang wajib, menghapus banyak keanekaragaman daerah.
Runtuhnya rezim komunis di tahun 1991 menyebabkan trauma yang mendalam dan perubahan yang sangat cepat di Albania sehingga membuat orang Albania mengalami krisis identitas. Mereka terkejut menemukan bahwa kondisi bangsa mereka menurun pada tingkat kemiskinan. Keadaan sakit hati, marah, dan bingung membuat mereka berjuang untuk menemukan identitas mereka di negara yang dianggap paling miskin dan paling tidak berkembang di Eropa.
APA YANG MEREKA PERCAYAI?
Beberapa abad yang lalu, oleh orang Turki Ottoman, banyak penduduk Albania dipertobatkan menjadi Muslim. Namun begitu, mereka mempraktikkan "Islam tradisional" yang mencakup praktik okultisme, seperti berdoa kepada orang mati untuk mencari kesembuhan dan perlidungan dari roh jahat dan kutukan.
Pada tahun 1967, Albania mendeklarasikan dirinya sebagai "negara ateis pertama di dunia", menutup diri dari dunia luar. Sebelumnya, agama kebanyakan didasarkan pada takhayul. Banyak orang Gheg Albania menyatakan diri sebagai Katolik; namun begitu, dulu -- dan sampai sekarang -- itu hanyalah sebuah nama dan mereka tidak benar-benar menjadi Katolik.
Dengan tumbangnya rezim Komunis di tahun 1990, rata-rata tingkat kejahatan di Albania meningkat. Semenjak itu, praktik keagamaan tidak hanya diperbolehkan, tetapi juga digalakkan sebagai penangkal kejahatan. Orang-orang Muslim dari Timur Tengah berusaha untuk menyebarkan ajaran mereka di Albania dengan mengirim para misionaris, memberikan bantuan keuangan, dan membangun masjid. Saat ini, orang-orang Muslim, bersama dengan orang Katolik yang berada di bagian utara Albania dan dan orang Ortodoks yang berada di bagian selatan Albania, mendesak dibuatnya peraturan untuk melarang masuknya agama lain, seperti agama Kristen yang dianggap bukan sebagai agama orang Albania.
APA YANG MEREKA PERLUKAN?
Saat ini kondisi perekonomian Albania sangat tidak stabil. Sering kali terjadi pemogokan, khususnya di daerah pertambangan; mata uang Albania tidak ada nilainya; dan rata-rata tingkat pengangguran sangat tinggi. Orang-orang Albania harus mengetahui bahwa pengharapan dan rasa aman dapat mereka temukan di dalam Yesus Kristus.
POKOK DOA
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Penulis | : | tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Bhutan adalah negara kecil yang sangat indah dan strategis letaknya. Negara ini berbatasan dengan India di sebelah selatan dan Cina di sebelah utara. Pemandangan alamnya beragam, mulai dari dataran, dataran berpasir dan hutan lembah, sampai ke Gunung Himalaya yang curam dan berbatu. Masyarakat Bhutan menyebut negara mereka dengan sebutan "Druk-yal", yang berarti `tanah naga guntur`.
Masyarakat Bhutan terbagi menjadi tiga, yaitu Bhotia Tibet, Sharchop atau Bhotia Timur, dan masyarakat Nepal. Ada juga bermacam kelompok suku lainnya. Bhotia, yang meliputi orang-orang Bhutan, umumnya berkumpul di Bhutan sebelah barat dan tengah. Mereka adalah komunitas suku terbesar. Kebanyakan dari pemimpin sosial dan politik di negeri itu datang dari kelompok ini. Pada abad ke-8, banyak kaum elit yang berimigrasi ke Bhutan dari Tibet. Masyarakat Bhotia Tengah umumnya berbadan tinggi dan atletis. Seperti nenek moyangnya yang adalah orang Mongolia, masyarakat Bhotia memiliki mata yang kecil dan panjang, serta tulang punggung yang lebar. Mereka dikenal sebagai orang yang mandiri dan bersemangat.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Masyarakat Bhotia Tengah umumnya adalah petani. Mereka harus bekerja sepanjang hari di sawah agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Sebagian hasil panen dijual di pasar untuk membeli barang-barang lainnya yang mereka butuhkan. Pola makan masyarakat Bhotia terdiri dari nasi, kentang, dan sayuran. Daging hanya dikonsumsi dalam porsi kecil dan mereka mendapatkan susu dari ternak yak.
Petani Bhotia Tengah umumnya tinggal di perkampungan kecil atau di rumah terpisah. Di kota yang lebih besar, rumah dibangun secara berkelompok dan banyak yang dicat dengan desain yang menarik. Biasanya, rumah dibangun dari kayu dengan dinding berlumpur yang tebal untuk menjauhkan hawa dingin. Kebanyakan rumah memiliki dua lantai, namun ada pula yang memiliki empat lantai. Jika keluarga tersebut memiliki binatang, ternak mereka ditempatkan di lantai dasar. Atapnya dibuat dari kayu yang dikaitkan dengan batu-batu yang berat.
Pernikahan Bhotia Tengah bersifat monogami. Wanitanya menikah kira-kira pada usia 16 tahun, sedangkan pria pada usia 21. Upacara pernikahan yang formal tidak diadakan. Pengantin baru bisa tinggal bersama keluarga mempelai pria, keluarga mempelai wanita, atau tinggal di rumahnya sendiri, tergantung siapa yang lebih membutuhkan tenaga untuk bekerja di sawah. Tipe keluarga luas sangat penting dalam budaya Bhotia Tengah. Kakek dan neneklah yang sering kali merawat anggota keluarganya yang lebih muda.
Wanita Bhotia Tengah memakai kain tenunan tipis yang indah dengan desain yang berwarna-warni dan rumit. Sehelai kain panjang, disebut "kira", dililitkan di tubuh dan pada bagian bahu disematkan sepasang bros perak. Dan biasanya, di luar "kira" akan dipakai jaket kecil. Kaum pria memakai jubah kotak-kotak, yang disebut "gos". Sewaktu siang hari, "gos" dikencangkan memakai sabuk sampai mencapai lutut. Malam hari ketika tidur, "gos" dilonggarkan. Masyarakat Bhotia jarang memakai topi. Ketika memasuki kuil, pria dan wanita memakai syal sebagai tanda hormat. Warna syal itu tergantung dari derajat seseorang.
APA YANG MEREKA PERCAYAI?
Sekte "Red Hat" yang beranggotakan orang Tibet yang beragama Budha adalah agama yang paling dominan di Bhotia Tengah. Meskipun hampir semua orang beragama Budha, masih ada beberapa orang yang mempraktikkan perdukunan Tibet. Dukun-dukun tersebut memercayai adanya alam dewa, roh jahat, dan roh leluhur yang tak kasat mata.
Sebagian besar keluarga yang beragama Budha memiliki kuil pemujaan di dalam rumah mereka. Keluarga yang miskin mungkin hanya memiliki gambar atau lukisan Budha kecil. Walaupun demikian, keluarga yang kaya bisa memakai seluruh ruangan sebagai kuil, memperlengkapinya dengan altar yang luas, lampu, dupa atau kemenyan, dan benda-benda religius lainnya.
Karena sejarah mereka yang terisolir dari bangsa-bangsa lain, masyarakat Bhotia Tengah tidak memercayai orang asing. Mereka cukup konservatif terhadap sifat dan nilai tradisi kuno mereka. Namun, mereka rentan terhadap perubahan karena mereka membutuhkan obat-obatan dan fasilitas modern.
Meskipun usaha-usaha untuk mencapai Bhotia Tengah sudah dilakukan, masyarakat Bhotia masih terisolasi dan menolak Injil. Diperlukan doa dan usaha penginjilan yang lebih lagi untuk mematahkan dinding isolasi dan tradisi ini.
POKOK-POKOK DOA
Bahan diterjemahkan dari sumber:
| Situs | : | Joshua Project |
| Penulis | : | -- |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/bhutan |
Suku Cina Han adalah kelompok etnis terbesar di dunia, berjumlah sekitar 1,3 milyar jiwa. Meski sebagian besar tinggal di Cina, namun banyak juga yang telah bermigrasi ke negara-negara lain dan tinggal di hampir semua negara di dunia. Suku Cina Han yang ada di negara-negara Asia, antara lain di Laos, Nepal, Tanzania, Kamboja, dan Thailand, belum terjangkau oleh Injil.
Kebanyakan orang Cina Han adalah penutur beberapa dialek Cina, sebut saja Mandarin, Canton, dan Hokkian. Meski dialek-dialek tersebut mirip, penutur salah satu dialek tersebut tidak dapat memahami dialek lainnya.
Suku Cina Han mulai pindah ke negara-negara lain pada 1276 setelah invansi Mongolia. Banyak pergolakan dan konflik lain yang mengikuti invansi tersebut, dan orang Cina bertahan tinggal di negara-negara lain, terutama di Asia Tenggara. Ke mana pun mereka pergi, orang Cina hampir selalu tinggal di kota dan terlibat dalam bisnis dan perdagangan. Kini, keberadaan mereka sangat berpengaruh dalam ekonomi di banyak negara tersebut, meski jumlah mereka hanyalah sebagian kecil dari jumlah seluruh populasi.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Suku Cina Han bertahan tinggal di kota-kota. Di sejumlah negara, terutama negara-negara yang terpengaruh kehidupan barat, mereka adalah pengusaha. Bisnis mereka beragam, dari toko kecil sampai perusahaan internasional. Mereka tinggal di segala macam tipe tempat tinggal, dari apartemen kecil sampai mansion yang harganya selangit. Hampir semua orang Cina Han memertahankan makanan tradisionalnya. Nasi tetap menjadi makanan pokok dan mereka biasanya lebih suka menggunakan sumpit.
Selama pendudukan Jepang di Cina semasa Perang Dunia II, pergerakan kaum nasionalis mulai tumbuh di antara orang Cina Han yang tinggal di luar Cina. Anggota gerakan tersebut mulai mendukung Cina dengan penuh semangat. Saat Komunis menguasai Cina pada 1949, banyak suku Cina Han mendukung terjadinya revolusi -- bukan karena mereka setuju dengan ideologi komunis, tapi karena mereka rindu akan adanya kepemimpinan yang kuat dan persatuan di negara ibu mereka. Akibatnya, mereka menjadi sorotan pemerintah negara-negara di mana mereka tinggal. Karena suku Cina Han mendukung pemerintahan Komunis di Cina, pejabat-pejabat pemerintah takut kalau-kalau mereka juga mendukung revolusi komunis di negara-negara di mana mereka tinggal.
Banyak suku Cina Han yang tinggal di luar Cina menjaga budaya dan bahasa mereka dalam beragam intensitas, tergantung pada negara di mana mereka tinggal. Kecuali orang Cina Han yang tinggal di Thailand, mereka terus menuturkan dialek Cina mereka yang beragam. Dalam banyak negara, suku Cina Han juga masih menjalankan tradisi budaya Cina mereka, terutama yang berkaitan dengan pernikahan dan keluarga. Salah satu alasan utama mereka melestarikan budaya dan bahasa mereka adalah karena mereka memiliki keyakinan kuat akan keunggulan budaya mereka.
Suku Cina Han memperlakukan anak-anak mereka dengan penuh kasih dan biasanya lebih memanjakan anak laki-laki daripada perempuan. Anak-anak didorong untuk menjadi pintar di sekolah dan diberi lebih banyak waktu untuk belajar. Suku Cina Han terkenal dengan sopan santunnya dan akan berusaha sebisa mungkin untuk menghindari perselisihan. Namun demikian, sekalinya terjadi perselisihan, sangat sulit untuk diselesaikan karena mereka memiliki gengsi yang besar. Menyerah dalam suatu perselisihan akan membuat mereka kehilangan muka -- sesuatu hal yang dihindari oleh orang Cina Han, apa pun yang terjadi.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Suku Cina Han biasanya menjaga agama tradisi Cina mereka, yang dikarakterisasi oleh percampuran berbagai filosofi. Melalui perjalanan waktu, agama mereka telah ditambah elemen-elemen Budhaisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Keyakinan mereka berpusat pada konsep menjaga keharmonisan.
Orang Cina Han sangat memuja takhayul. Mereka mengacu pada primbon dalam menentukan tindakan seperti apa yang akan meningkatkan keharmonisan dan membawa keberuntungan. Mereka juga percaya pada sebuah kuil roh-roh yang mendiami bumi. Roh-roh para leluhurnya mengembara di bumi, dan jika diperlakukan dengan baik, mereka ramah dan akan membawa keberuntungan. Hantu dipercaya sebagai roh-roh orang yang marah dengan keadaan pada saat mereka mati; roh-roh itu dianggap jahat dan berubah-ubah sifatnya. Dewa-dewa adalah jiwa-jiwa orang-orang yang hidupnya suci atau saleh. Mereka dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang dapat digunakan untuk memberikan keberuntungan bagi orang-orang yang memujanya.
Meski orang Cina Han masih setia pada kepercayaan-kepercayaan itu, namun sepertinya kepercayaan-kepercayaan itu tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan pada praktiknya, kebanyakan dari mereka tidak beragama.
APA YANG MEREKA BUTUHKAN?
Suku Cina sering kali diperlakukan dengan tidak baik di tempat di mana mereka tinggal. Di beberapa negara, kerusuhan anti-Cina terjadi. Di hampir semua negara, penduduk pribumi iri hati pada suku Cina Han karena kesuksesan mereka dalam bisnis, perniagaan, dan perdagangan.
Orang Cina Han sangat membutuhkan bantuan rohani. Negara di mana mereka tinggal kebanyakan terbuka terhadap Injil, dan beberapa alat penginjilan juga tersedia dalam bahasa mereka. Namun demikian, hanya sedikit orang Cina Han di Laos, Nepal, Tanzania, dan Thailand yang menjadi Kristen. Mereka tetap terikat pada takhayul dan agama yang salah. Orang-orang yang berharga itu membutuhkan kasih orang-orang Kristen yang mengenalkan mereka pada Pribadi yang benar-benar dapat membebaskan mereka.
POKOK DOA
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Luas : 36.125 km2
Jumlah Penduduk : 1,2 juta
Ibu Kota : Bissau dengan lebih kurang 223.000 jiwa.
Urbanisasi 30%
Suku Bangsa :
KEMBALI KE LADANG PERJANJIAN
Sekembali dari cuti di Indonesia, pada minggu-minggu pertama di Guinea Bissau saya memerlukan waktu untuk beradaptasi kembali dengan iklim, budaya, dan terutama dengan bahasa Kreol. Dalam tahap pelayanan yang kedua ini saya melayani di tiga tempat dengan kebiasaan dan juga dengan bentuk pelayanan yang berbeda. Tempat- tempat itu adalah:
Sao Domingos
Letaknya lebih kurang 128 km sebelah Utara Guinea Bissau, berbatasan dengan Senegal. Mayoritas penduduknya masih animis ataupun beragama Katolik. Gereja Protestan bisa berkembang karena banyak orang yang cukup terbuka dengan Injil. Di situ, saya lebih berfokus pada pemuridan, pendidikan guru Sekolah Minggu, dan penginjilan. Selain itu, saya juga mengajar PA di gereja setempat.
Empada
Tempat kedua dalam pelayanan saya terletak lebih kurang 300 km sebelah Selatan Guinea Bissau. Penduduk di daerah ini, suku Beafada, mayoritas beragama non-Kristen yang cukup fanatik. Lebih dari tiga puluh tahun Injil diberitakan di antara suku mereka, tetapi sampai sekarang belum ada orang Beafada yang percaya. Tim kami lebih berfokus pada penginjilan ke desa-desa dan dari rumah ke rumah. Tidak jarang suku Beafada menolak Kristus secara terang-terangan. Gereja di Empada yang berasal dari latar belakang suku-suku lain tidak memiliki visi untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya. Jemaat di Empada bukan suatu perkecualian, walaupun Guinea Bissau adalah negara di Afrika Barat satu-satunya yang belum menjadi negara muslim. Gereja-gereja masih takut menginjili orang yang beragama lama. Selama tiga bulan saya membantu pelayanan teman saya yang berasal dari Brazil sampai dia pulang ke kampung halamannya. Karena tidak ada rekan sekerja di Empada, akhirnya saya pindah lagi ke tempat lain.
Ntchumbe
Letaknya lebih kurang 130 km sebelah Timur Guinea Bissau. Di sini terdapat satu-satunya sekolah Alkitab di negara ini. Sekolah Alkitab ini berada di lokasi yang sangat terpencil. Jika tidak memiliki kendaraan untuk menuju lokasi ini, satu-satunya cara untuk mencapainya adalah dengan berjalan kaki sejauh 7 km dari jalan raya. Di sinilah saya mengajar sampai sekarang. Mulanya ini adalah pergumulan berat bagi saya karena harus mempersiapkan materi dari buku-buku berbahasa Portugis yang dimiliki di perpustakaan. Di samping itu, semua tugas dan makalah mahasiswa Alkitab ditulis dalam bahasa Portugis. Bahasa yang sudah lebih kurang lima tahun tidak saya gunakan ini harus dilatih lagi. Oleh karena kesulitan ini, akhirnya saya mengajar dalam bahasa Kreol dan memberi mereka tugas dalam bahasa Portugis. Mahasiswa tahun keempat terdiri dari empat orang dan mereka berasal dari latar belakang suku dan pendidikan yang berbeda. Tidak jarang saat mengajar, saya harus menunggu begitu lama karena mereka sangat lamban dalam menulis. Semua bahan harus ditulis di papan tulis. Maklum, buku atau makalah tidak ada. Jadi, semua serba tulisan tangan.
Karena tidak ada tetangga yang dekat, setiap hari saya bertemu dengan orang yang sama. Saya menikmati persekutuan dengan mereka karena kami mengenal baik satu sama lain. Bahkan setiap akhir pekan saya bersama dua mahasiswa mengunjungi Desa Biana dan Jadda yang beragama non-Kristen untuk penginjilan. Puji Tuhan, ada seorang ibu dan anak yang mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus. Saya juga mengajar di tingkat satu yang terdiri dari dua belas orang. Inilah jumlah terbanyak sejak sekolah Alkitab tersebut dimulai. Tahun ini, untuk pertama kalinya sekolah Alkitab menerima mahasiswa yang berlatar belakang non-Kristen.
TAHUN-TAHUN PERTAMA DI GUINEA BISSAU
Betapa senangnya hati seseorang jika ia mendapatkan sesuatu yang sudah lama ia rindukan atau doakan. Demikian juga hati saya; ketika berdoa selama dua belas tahun untuk negara Guinea Bissau, akhirnya dalam waktu Tuhan yang tepat, Ia membawa saya masuk juga ke "Tanah Perjanjian." Ketika tiba di Sao Domingos pada 11 Januari 2004, saya mengingat satu bagian Firman Tuhan dari 1 Tesalonika 5:24, "Ia yang memanggil kamu adalah setia Ia juga yang akan menggenapinya". Di situ saya bergabung dengan tim WEC yang terdiri dari Ibu M dan Keluarga Clarke.
Berhubung saya tiba pada hari Minggu, teman-teman langsung membawa saya ke gereja. Acara di sana sangat hangat karena jemaat, khususnya ibu-ibu menyanyi sambil menari-nari dan melompat-lompat sampai debu beterbangan ke mana-mana karena lantai gereja masih berupa tanah. Ini merupakan pengalaman pertama yang sangat mengesankan sekaligus merupakan tantangan karena terus terang saya tidak bisa menari.
Hari-hari berikutnya, kami mulai mengunjungi orang-orang percaya di desa-desa di sekitar Sao Domingos. Jemaatnya sangat sederhana, namun memiliki kerinduan untuk beribadah. Di antara mereka ada yang harus berjalan kaki berjam-jam lamanya hanya untuk mengikuti kebaktian. Sering tak ada pemimpin atau orang yang mengajari mereka Firman Tuhan. Jemaat seringkali hanya terdiri dari ibu-ibu yang semuanya buta huruf. Maklum mereka sangat kurang dalam pengajaran.
Kami juga berkunjung ke desa yang belum memiliki orang percaya. Ibu M menyampaikan Firman Tuhan dalam bahasa Kreol dan saya mendukungnya dalam doa. Di sinilah saya mengerti betapa pentingnya pelayanan dalam tim. Sewaktu-waktu kami juga membawa satu atau dua orang pengemudi atau remaja untuk menemani kami. Mereka menerjemahkan bahasa Kreol kami ke dalam bahasa daerah karena seringkali orang desa tidak terlalu mengerti bahasa Kreol.
Dalam setiap kunjungan kami selalu harus bergumul dalam peperangan rohani. Hampir setiap desa mempunyai tempat-tempat penyembahan berhala. Misalnya pada bulan Agustus 2004, ketika Ibu M dan saya mengunjungi satu desa, ada sekelompok ibu-ibu, kira-kira dua puluh orang dengan dukun mereka yang baru keluar dari hutan di mana mereka mengadakan upacara penyunatan untuk mengikat diri kepada Iblis. Setelah kami berdua pulang, kami tidak bisa tidur sepanjang malam, karena terus `diganggu`. Akhirnya kami mengambil waktu untuk memuji Tuhan dan terus berdoa.
Sesudah beberapa bulan di Sao Domingos saya pindah ke Cacine, bagian Selatan. Di situ hanya ada gereja kecil. Anggota jemaatnya kebanyakan remaja dan anak-anak. Saya melayani remaja dan Sekolah Minggu, sekaligus mengajar beberapa remaja untuk terlibat di dalam pelayanan Sekolah Minggu. Setiap minggu keempat, kami membawa kaum remaja keluar untuk menyaksikan Injil.
Tantangan di Cacine berbeda dengan di Sao Domingos. Di Cacine ada banyak orang Wasai yang begitu kuat dengan kepercayaan takhyul dan penyembahan berhala. Pada akhir pelayanan saya di sana, ada anak pemimpin Wasai yang hilang di hutan kira-kira jam sembilan pagi. Menurut kepercayaan mereka, anak tersebut dibawa setan. Akhirnya, semua orang Wasai di kampung itu mencari si kecil. Baru jam tiga sore mereka menemukannya. Setelah itu, seluruh kampung mengadakan upacara khusus, agar setan tidak membalas dendam.
Sekarang saya mempelajari bahasa Portugis di ibu kota Bissau agar diperlengkapi untuk pelayan berikutnya.
ESPERANCA (HARAPAN) YOUTH CENTER DI INGORE, GUINEA BISSAU
Matahari bersinar, udara panas sekali, tetapi di dekat rumah misionaris WEC, ada sekelompok orang yang tertawa dan berkeringat. Mereka bekerja keras untuk membangun Youth Center di Ingore, sebuah desa terpencil di pedalaman Guinea Bissau, Afrika Barat yang berbatasan dengan Senegal. Postur mereka tinggi besar dan berkulit hitam. Sekalipun mereka bekerja keras, mereka masih bersukacita. Jika mereka tertawa, cuma gigi mereka yang putih dan sehat yang menonjol. Mata mereka bersinar pertanda sukacita. Dari pagi hingga petang mereka terus mencetak batu bata. Ada beberapa kelompok lain yang sibuk mencabut akar-akar pohon dari tanah supaya pondasi Youth Center bisa dibuat.
Mereka semua adalah anggota gereja Protestan Ingore di bawah pimpinan Pendeta Almandinyo dan pembina Bapak D. Karena negara mereka adalah sebuah negara yang miskin sekali, kebanyakan pemuda meninggalkan daerah asal mereka di pedalaman dan merantau ke ibu kota Bissau. Namun, di situ pun mereka tidak mendapatkan pekerjaan dan pendidikan seperti yang mereka impikan. Akibatnya, kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran dan membuat kekacauan. Itulah sebabnya para hamba Tuhan, baik misionaris WEC maupun orang pribumi sendiri, beriman untuk mendirikan Youth center, agar generasi muda ini bisa dididik dan selanjutnya mampu mencari nafkah hidup sendiri.
Visi pembangunan tempat ini berawal dari Bapak D pada awal millenium ke-3. Pada tahun 2002, perencanaan ini disempurnakan dan pekerjaan pun dimulai. Banyak kesulitan yang dihadapi pada waktu itu, dan sampai sekarang pun masih demikian. Akta tanah susah diurus karena ada beberapa pemilik tanah yang tidak mau menjual tanah mereka. Bahan bangunan sangat sulit dibeli karena tidak ada persediaan. Itu sebabnya pembangunan ini tidak lancar. Sekarang sudah ada enam buah ruang kelas yang telah terselesaikan dengan satu ruang untuk kursus pertukangan yang sedang dikerjakan.
Marilah kita bergandengan tangan mendoakan mereka supaya mereka tetap bersemangat dan kebutuhan, baik moral maupun material bisa tercukupkan.
POKOK DOA:
Bahan diambil dan diedit dari sumber:
| Judul Buletin | : | Terang Lintas Budaya, Edisi 63, 2005 |
Orang Indo-Pakistan sebenarnya berasal dari anak benua India. Kini, mereka tinggal di banyak negara dan banyak pula yang belum pernah dijangkau oleh Injil.
Di beberapa negara, sebagian besar orang Indo-Pakistan ini beragama Hindu, sedangkan yang tinggal di jazirah Arab, sebagian besar memeluk agama Kaum Kedar. Kebanyakan orang Indo-Pakistan berbicara dalam bahasa Hindi sebagai bahasa asli mereka, sementara yang lainnya menuturkan berbagai macam bahasa India lainnya. Terkadang, mereka juga menggunakan bahasa tutur yang dipakai di tempat mereka menetap sekarang.
Indo-Pakistan merupakan istilah umum yang digunakan untuk mewakili kelompok-kelompok etnis ini. Hal itu dikarenakan banyaknya penduduk asli India yang tidak menetapkan status mereka -- dalam kelompok bahasa mana mereka sebenarnya termasuk. Misalnya, banyak dari mereka mungkin sebenarnya adalah orang Gujarat, Hindi, atau Punjabi; namun mereka semua (khususnya untuk tujuan sensus), dikenal sebagai orang Indo-Pakistan.
SEPERTI APAKAH KEHIDUPAN MEREKA?
Secara tradisional, kehidupan orang India diatur oleh sistem kelas sosial yang kaku, yang dikenal sebagai sistem kasta. Kasta sebenarnya merupakan kelompok masyarakat yang didasarkan pada jenis pekerjaan. Orang-orang yang memiliki jenis pekerjaan yang sama akan masuk ke dalam kasta yang sama. Kasta-kasta tersebut dibagi ke dalam beberapa subkasta yang selanjutnya dibagi lagi ke dalam kelas-kelas sosial yang lebih kecil. Sistem kasta itu sangat kaku, dan anggota dari suatu kasta tidak diizinkan untuk pindah dari kasta di mana mereka dilahirkan. Orang-orang India hanya diperbolehkan menikah dengan orang-orang dari kasta yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang telah ditetapkan untuk kasta mereka. Pada umumnya, hanya orang-orang India dari kasta yang lebih tinggi dan lebih kayalah yang mampu pindah ke negara-negara lain. Setelah tiba di negara lain, mereka sering kali membuka usaha sendiri.
Brahmana merupakan kasta Hindu yang tertinggi. Kasta ini terdiri dari kaum rohaniawan dan cendekiawan. Namun, pengaruh Inggris di India secara bertahap membuka kesempatan bagi kasta-kasta lain untuk memeroleh pendidikan pula. Orang Indo-Pakistan yang ada di luar daerah India cenderung menonjolkan pengaruh Inggris daripada mereka yang tinggal di India. Para imigran tersebut juga menunjukkan pengaruh budaya Barat dalam gaya berpakaian mereka. Namun, beberapa orang Indo-Pakistan Hindu tetap mengenakan pakaian tradisional mereka; kaum pria mengenakan "dhoti" (kain yang dibalutkan pada pinggang) dan kaum wanita mengenakan "sari" (kain yang dibalutkan melingkar pada pinggul dan digantungkan pada pundak atau kepala). Sebagian besar dari mereka tetap mengonsumsi makanan asli India. Meskipun agama Hindu menganjurkan untuk umatnya makan sayuran, banyak juga orang India yang makan beberapa jenis daging.
Pengaruh ajaran agama sepupu sangat kuat pengaruhnya bagi beberapa orang Indo-Pakistan, khususnya di Semenanjung Arab. Di sana, orang-orang Indo-Pakistan diharuskan untuk mengikuti hukum agama yang berlaku. Misalnya, wanita-wanita diharuskan mengenakan cadar yang longgar dan jubah hitam yang biasanya dikenakan wanita-wanita Kaum Kedar. Cadar itu menutupi seluruh tubuh, dari kepala sampai ujung kaki dan sebagian besar wajah. Cadar lebih sering dikenakan di tempat umum dan selama bulan puasa. Orang-orang Indo-Pakistan Hindu diperlakukan sebagai warga kelas kedua oleh pemerintah Arab Saudi dan Yaman.
APAKAH KEPERCAYAAN MEREKA?
Agama Hindu merupakan agama yang memiliki banyak tuhan, artinya mereka memuja banyak dewa dan dewi. Dewa yang paling penting untuk disembah adalah Brahmana, yaitu sang pencipta alam semesta; Wisnu, penjaga alam semesta; dan Siwa, perusak alam semesta. Dewa agama Hindu yang lain, yang juga penting, adalah istri Siwa, yang memunyai beberapa nama. Dia paling dikenal dengan nama Durga, Kali, Parvati, atau Uma. Sebagai Parvati atau Uma, dia adalah dewi yang keibuan dan sangat dipuja. Sebagai Durga atau Kali, dia adalah dewi perusak yang ditakuti.
Menurut ajaran Hindu, binatang dan manusia memiliki jiwa. Orang Hindu percaya bahwa jiwa itu menjalani banyak kehidupan yang tak terhingga jumlahnya dalam raga yang berbeda-beda, lahir kembali atau berreinkarnasi menjadi binatang atau manusia setelah mati. Mereka percaya bahwa apabila seseorang melakukan hal-hal yang baik dalam hidupnya, jiwanya akan dilahirkan kembali dalam status yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika dia melakukan hal-hal yang jahat, jiwanya akan dilahirkan kembali dalam status yang lebih rendah, bahkan mungkin dalam rupa cacing! Daur hidup tersebut dipercaya akan terus berlangsung sampai jiwa tersebut mencapai kesempurnaan rohani dan masuk dalam nirwana.
Sebaliknya, orang-orang Kedar percaya hanya ada satu tuhan, yaitu Allah. Agama ini mendasarkan ajarannya pada lima "pokok" dasar. Orang Kedar harus mengakui bahwa "tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah nabi-Nya". Orang Kedar juga diwajibkan untuk berdoa lima kali sehari, memberi zakat bagi orang-orang miskin, berpuasa selama bulan Ramadan, dan mencoba untuk melakukan ibadah umroh paling tidak satu kali ke Mekah.
APA SAJA KEBUTUHAN MEREKA?
Orang Indo-Pakistan Hindu yang tinggal di semenanjung Arab memiliki kehidupan yang sulit karena pada kenyataannya mereka merupakan penganut agama minoritas di sana.
Beberapa negara yang didiami oleh sekelompok orang Indo-Pakistan tidak memerbolehkan misionaris Kristen memasuki negara-negara mereka. Akibatnya, sulit untuk menjangkau orang-orang Indo-Pakistan yang hidup di negara-negara tersebut. Meskipun orang-orang Indo-Pakistan yang memeluk agama saudara sepupu di beberapa negara mendapat jaminan kebebasan beragama, mereka tetap dibatasi oleh aturan-aturan agama. Orang-orang Kristen lokal harus menggunakan kesempatan ini untuk memberitakan Kristus kepada orang-orang Indo-Pakistan.
POKOK DOA
Diterjemahkan dan disunting seperlunya dari:
| Situs | : | Joshua Project |
| Judul asli artikel | : | Indo-Pakistani of Montserrat |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Masyarakat Korea yang tinggal di Korea Utara dan Selatan memiliki ciri-ciri khas Mongolia dan diyakini berasal dari satu kelompok ras yang sama. Bahasa Korea, yang merupakan bahasa nasional kedua negara tersebut, berkaitan dengan bahasa Jepang dan di dalamnya terdapat banyak kata-kata yang juga ditemukan dalam bahasa Cina. Sistem penulisan bahasa Korea menggunakan dua puluh enam simbol fonetik.
Secara resmi, Undang-Undang Korea Utara memberikan kekuasaan politik kepada masyarakat. Namun, kekuasaan yang sesungguhnya berada di tangan Partai Komunis. Undang-Undang tersebut memang menjamin hak-hak seperti kebebasan pers, kebebasan beragama, dan kebebasan berbicara, akan tetapi pada kenyataannya 23,6 juta masyarakat Korea di Korea Utara sangat dibatasi kebebasannya. Misalnya, seluruh siaran radio dan televisi dikontrol secara ketat oleh Komite Penyiaran Pusat Korea. Semua stasiun radio yang dimiliki swasta "diatur" menjadi frekuensi pemerintah. Berita-berita terkini sering kali disembunyikan dari khalayak umum atau bahkan diubah isinya. Masyarakat acapkali tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang terjadi sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun sesudahnya.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Sebelum tahun 1900-an, masyarakat Korea adalah masyarakat agrikultur dan memiliki hubungan kekeluargaan yang erat. Hampir semua orang tinggal di pedesaan kecil dan bekerja di sawah atau ladang. Tetapi semenjak akhir tahun 1940-an, pihak Komunis mulai menjadikannya negara industri. Saat ini, sebagian besar masyarakat perkotaan di Korea Utara bekerja di pabrik, sedangkan masyarakat pedesaan tetap bekerja di sawah atau ladang.
Perjodohan masih lazim terjadi di daerah pedesaan. Sekarang ini, jumlah masyarakat perkotaan yang memilih pasangan hidupnya sendiri terus bertambah. Selain itu, ikatan pernikahan dulunya sangat kuat sehingga jarang sekali terjadi perceraian -- bahkan perceraian tidak pernah terpikir di benak masyarakat. Namun saat ini, perceraian di antara masyarakat Korea yang berpendidikan dan tinggal di kawasan perkotaan terus meningkat. Hal ini menyebabkan perceraian tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang memalukan.
Bagi masyarakat Korea, pendidikan bersifat wajib untuk sebelas tahun pertama (termasuk setahun masa prasekolah) dan tidak dipungut biaya. Dan juga, harus ada persetujuan dari Partai Komunis agar para murid dapat meneruskan pendidikan setelah tingkat ke-10. Selama liburan musim panas, para murid juga harus bekerja untuk negara.
Di Korea Utara, pemerintah mengontrol seluruh aspek kehidupan masyarakat. Sebagian besar kesenian dan hiburan dibantu dan dikontrol oleh pemerintah. Bahkan cara seniman bekerja pun dibatasi. Pada intinya, segala hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Komunis dilarang oleh pemerintah.
Makanan utama masyarakat Korea adalah nasi dan terkadang dilengkapi dengan ikan, sayuran, atau buah. Makanan khasnya adalah kimchi, terbuat dari campuran kol, lobak putih, dan bermacam sayuran lainnya yang dibumbui rempah-rempah.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Sebelumnya, gabungan dari paham Konfusius, Budhisme, dan perdukunan (kepercayaan pada dunia dewa yang tak kasat mata, roh-roh jahat, dan roh-roh leluhur) mendominasi kepercayaan masyarakat Korea. Tapi sejak tahun 1945, kepercayaan tersebut secara resmi dibatasi. Penguasa Korea Utara yang pertama, Kim Il-sung, sangat dihormati dan dipuja rakyatnya. Dia dianggap mahatahu dan mahahadir. Sama dengan penguasa yang lama, pemerintahan di bawah Kim Jong-il ini juga menindas rakyatnya. Bagaimanapun juga, sampai sekarang belum diketahui apakah masyarakat harus memuja penguasa yang baru ini.
Meskipun secara teknis kebebasan beragama dijamin oleh pemerintah Korea Utara, pada kenyatannya kegiatan beragama sangat ditekan.
Masyarakat Korea percaya bahwa roh anggota keluarga yang telah meninggal tetap tinggal dalam keluarga. Karena alasan inilah, keluarga berusaha untuk melahirkan seorang pewaris laki-laki agar dapat meneruskan garis keturunan. Dialah yang akan melakukan ritual leluhur dalam rumah tangga dan di tempat pekuburan keluarga.
APA SAJA KEBUTUHAN MEREKA?
Setelah banjir bandang melanda Korea Utara, banyak daerah yang mengalami kekurangan pangan. Beberapa orang malahan terpaksa memakan rumput dan akar-akaran untuk bertahan hidup. Karena itulah, mereka harus diperkenalkan kepada Dia yang mampu mencukupi semua yang mereka butuhkan.
Secara politik, Korea Utara merupakan salah satu negara yang paling terkontrol di dunia. Pemerintah Korea secara resmi menentang kekristenan dan Injil di seluruh wilayahnya. Saat ini, masyarakat Korea Utara memerlukan kebebasan politik dan spiritual.
POKOK DOA
Bahan diterjemahkan dari sumber:
| Judul asli | : | North Korea |
| Situs | : | Joshua Project | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/ |
Kata "Arab" biasanya langsung mengingatkan kita pada orang-orang Badui berjubah putih yang mengarungi gurun dengan unta mereka. Namun sebenarnya, hal itu tidak sepenuhnya benar. Terdapat dua ratus juta orang Arab yang mendominasi populasi di 22 negara. Mereka merupakan kelompok etnis Muslim terbesar, paling beraneka ragam, dan paling berpengaruh dalam bidang politik di dunia.
Ada beberapa karakteristik yang menunjukkan bahwa seseorang itu benar-benar orang Arab. Salah satu karakteristik yang pasti adalah rasa bangga menjadi orang Arab. Semua aspek fisik, geografis, dan agama mereka sangat beraneka ragam; namun demikian, kefasihan dalam berbicara Arabic (atau dialek Arab) dan kecintaan terhadap budaya warisan Arab mungkin adalah dua hal paling penting.
Di dunia Arab modern, nilai-nilai tradisional sudah berubah. Hal ini disebabkan oleh urbanisasi, industrialisasi, dan berkurangnya suku-suku yang ada. Kini, hanya 5% dari orang Arab modern yang tinggal di gurun sebagai penggembala; dan beberapa komunitas orang Arab yang cukup besar bisa ditemukan di hampir semua dunia barat.
Seperti Apakah Kehidupan Mereka?
Bukan hal yang mudah untuk menjelaskan budaya Arab karena hal ini menyangkut sejarah ribuan tahun. Selama berabad-abad, mereka mengalami beberapa masa kejayaan. Meskipun begitu, mereka lebih banyak mengalami masa perjuangan.
Kini, sekitar 40% orang Arab tinggal di kota-kota besar. Hal ini, entah bagaimana, telah menyebabkan ikatan tradisional keluarga dan suku putus. Kini, para wanita dan pria memiliki pendidikan yang lebih tinggi dan kesempatan kerja yang lebih besar. Semua itu, juga perubahan-perubahan yang lain, menciptakan "kelas menengah" baru dalam masyarakat mereka.
Komunitas imigran Arab (orang Arab yang tinggal di negara-negara bukan Arab) masuk dalam ketegori "kelas menengah". Karena para imigran Arab sangat terbuka terhadap budaya barat, budaya dan gaya hidup tradisional mereka telah mengalami banyak perubahan. Akibatnya, ikatan budaya mereka merenggang.
Ada berbagai jenis pekerjaan bagi sebagian besar imigran Arab. Hal ini sangat membantu kehidupan miskin mereka. Namun di sisi lain, hal tersebut mengendorkan ikatan tradisional keluarga mereka. Para wanita diberi kebebasan untuk meninggalkan rumah. Perjodohan dan tekanan sosial untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan agama tradisional pun semakin sedikit.
Dibanding struktur sosial di gurun atau desa Arab, struktur sosial para imigran Arab lebih rumit. Sekarang ini, kebanyakan imigran Arab mengakui jati diri mereka berdasar kebangsaan, bukan kesukuan.
Meskipun persatuan politik masih merupakan mimpi bagi masyarakat Arab, bahasa Arab masih menjadi pemersatu paling utama. Dalam upayanya melestarikan bahasa ibu mereka, Arab telah mempertahankan dua jenis bahasa Arabic. Jenis bahasa yang pertama adalah bahasa Arab klasik (classical Arabic), bahasa religius dan sastra yang diucapkan dan dituliskan secara seragam di dunia Arab. Jenis bahasa yang kedua adalah bahasa Arab untuk percakapan sehari-hari (colloquial Arabic), bahasa lisan informal yang berbeda-beda, tergantung dialek masing-masing daerah. Kedua jenis bahasa tersebut digunakan oleh orang-orang Arab yang berpendidikan.
Beberapa upaya untuk memelihara tradisi budaya, seperti penamaan anak, telah dilakukan. Umumnya, nama seorang anak Arab mencerminkan tiga elemen penting dalam kehidupan Arab: sanak keluarga, rumah, dan agama. Jadi, seorang bocah lelaki mungkin saja bernama Muhammad bin Ibrahim al Hamza. "Muhammad" merupakan nama religiusnya. Lalu "bin Ibrahim" adalah nama ayahnya. Dan "Al Hamza" berarti dia berasal dari desa Hamza. Para gadis juga diberi nama yang mirip, yang tetap digunakan meski setelah mereka menikah. Hal ini menunjukkan tradisi Arab Muslim, meskipun para wanita tunduk pada para pria, mereka tetap mempertahankan identitas, hak, dan ikatan keluarga mereka.
Penyunatan bagi laki-laki masih merupakan sebuah tradisi dalam masyarakat Arab. Acara ini digelar pada sekitar tahun ketujuh, dan diadakan sebagai pertanda masuknya anak laki-laki ke dalam masyarakat religius. Para gadis jarang disunat, kecuali di beberapa daerah yang terisolasi.
Awal mula masa Islam adalah saat "identitas Arab" memunyai arti bahwa semua orang Arab adalah keturunan dari seorang pria biasa. Oleh karena itu, menjadi orang Arab akan dihargai, dihormati, dan mendapat hak istimewa.
Apakah agama mereka?
Mohammad pertama kali mengajar ajaran Islam pada orang Arab di awal abad ketujuh. Penerusnya dengan cepat mengajarkan agama Islam secara luas. Ke mana pun orang Muslim pergi, mereka meninggalkan elemen budaya Arab mereka, termasuk agama mereka.
Hubungan sejarah antara orang Arab dan agama Islam masih sangat kuat. Sekarang ini, sekitar 93% orang Arab adalah Muslim, yang termasuk dalam sejumlah sekte: Shia ("Ithna Ashari" atau "Ismaeli"), Alawi, Zaidi, dan Sunni. Muslim Sunni adalah sekte paling besar.
Apakah yang mereka butuhkan?
Azas-azas muslim sangat dijunjung tinggi. Dibutuhkan banyak doa untuk mengalihkan rintangan yang memisahkan mereka dari Kebenaran. Dibutuhkan hikmat Tuhan untuk mencari celah-celah kesempatan guna membagikan kasih Tuhan kepada mereka.
Pokok-Pokok Doa
Diterjemahkan dan diedit dari:
| Situs | : | Joshua Project |
| Judul asli | : | Arab of Rwanda |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php?rop3=100425&rog3=RW |
Secara umum, hari raya Natal di Jepang kalah pamornya dibandingkan dengan hari raya Tahun Baru. Di sana, Tahun Baru dianggap lebih penting daripada hari Natal. Tetapi meskipun hari Natal juga diperingati dengan cukup meriah di Jepang, baik dengan tukar-menukar kado, makan malam bersama, maupun memasang pohon Natal, semua itu hanya didasari pada rasa ketertarikan pada tradisi negara-negara Barat dalam merayakan Natal; bisa dikatakan mereka hanya ikut-ikutan. Selain itu, toko-toko yang ikut memeriahkan Natal di Jepang hanya menggembar-gemborkan Natal dan menjual ornamen-ornamen Natal. Natal dirayakan, tidak lain hanya untuk alasan komersial saja. Dan yang paling ironis, meski perayaan Natal di Jepang bisa dikatakan meriah, tidak banyak orang Jepang yang mengerti makna Natal yang sesungguhnya.
NATAL DAN TAHUN BARU DI JEPANG
Natal diperkenalkan di Jepang oleh para misionaris. Selama bertahun-tahun, yang merayakan Natal hanyalah orang-orang Jepang yang bertobat dan mengaku Yesus sebagai Juru Selamat. Namun begitu, kini suasana Natal di Jepang sangat meriah dan menyita perhatian hampir seluruh negeri. Tukar-menukar kado merupakan tradisi lama orang-orang Jepang. Toko-toko yang ada di Jepang memanfaatkan momen Natal untuk kepentingan komersial -- sama dengan yang dilakukan toko-toko di negara-negara Barat. Selama beberapa minggu sebelum Natal, toko-toko di sana mengembar-gemborkan Natal. Toko-toko itu memajang pernak-pernik Natal dan hadiah yang cocok untuk pria, wanita, dan terutama anak-anak. Dengan jumlah satu persen penduduk yang beragama Kristen, sedikit sekali orang Jepang yang benar-benar memahami makna Natal.
Kisah bayi Yesus yang lahir di palungan memang menarik bagi gadis-gadis cilik di Jepang karena mereka memang menyukai segala sesuatu yang berkenaan dengan bayi. Saat Natal, banyak orang yang mengenal palungan untuk pertama kalinya karena biasanya bayi Jepang tidak tidur di palungan.
Banyak tradisi Barat dalam merayakan Natal yang diadopsi oleh orang Jepang. Memang sudah merupakan kebiasaan orang Jepang untuk mencari sesuatu yang menarik dari negara-negara Barat dan kemudian mengubahnya menjadi sesuatu yang kental dengan khas Jepang. Selain tukar-menukar kado, keluarga-keluarga Jepang juga makan kalkun pada hari Natal, dan bahkan ada pohon Natal di beberapa tempat umum. Mereka menghias rumah mereka dengan pohon cemara, dan puji-pujian Natal dikumandangkan dengan sukacita di beberapa rumah. Sering kali, sebuah ranting juga digantung di langit-langit rumah. Krans Natal digantung di depan pintu sebagai simbol keberuntungan.
Di Jepang, ada tuhan atau pendeta yang disebut "Hoteiosho" -- versi lain Sinterklas. Ia digambarkan sebagai pria tua baik hati yang memanggul tas besar. Beberapa rumor mengatakan bahwa ia memunyai mata di bagian belakang kepalanya. Penting bagi anak-anak untuk bersikap baik saat tersiar kehadiran Hoteiosho.
Tahun Baru merupakan hari raya terpenting dalam kalender Jepang. Pada malam Tahun Baru, seluruh rumah dibersihkan dari atap sampai lantai bawah. Seluruh rumah dihiasi untuk menyambut hari itu. Saat segala sesuatu telah bersih dan rapi, seisi rumah memakai pakaian yang paling bagus, sering kali mereka memakai baju nasional Jepang -- kimono. Kemudian, kepala keluarga berjalan mengelilingi rumah sambil diikuti seisi rumah untuk mengusir roh-roh jahat. Ia melempar buncis kering ke setiap sudut rumah agar roh-roh jahat keluar dari rumah dan keberuntungan masuk ke rumah. Seluruh keluarga pergi ke kuil Shinto, menepukkan kedua tangan mereka untuk menarik perhatian tuhan mereka dan memohon peruntungan. Sering kali, kesialan-kesialannya dibakar, namun variasi kebiasaan itu tergantung pada kuil dan tuhannya.
SEJARAH KEKRISTENAN DI JEPANG
Sebelum kekristenan masuk ke negara yang sekarang disebut Amerika Serikat, kekristenan telah masuk ke negara Jepang. Agama Kristen pertama kali diperkenalkan di Jepang pada abad ke-16 oleh kaum Jesuit dan kemudian oleh para misionaris Fransiskan. Pada akhir abad itu, kira-kira ada 300.000 orang Jepang yang dibaptis.
Sayangnya, situasi yang menjanjikan itu mulai ditentang oleh kelompok misionaris lain dan intrik-intrik politik yang datang dari pemerintah Spanyol dan Portugis, serta partai-partai politik pemerintahan Jepang sendiri. Akibatnya, orang-orang Kristen ditindas.
Korban pertamanya adalah 6 biarawan Fransiskan dan 20 orang petobat yang disalib di Nagasaki pada 5 Februari 1597. Setelah adanya toleransi terhadap orang-orang Kristen yang hanya berlangsung selama beberapa waktu, banyak orang Kristen yang ditangkap, dipenjara, atau dianiaya dan dibunuh; dan gereja pun terpaksa bergerak di bawah tanah pada 1630. Meski begitu, saat Jepang kembali membuka diri kepada negara-negara Barat 250 tahun setelah peristiwa tersebut, ternyata komunitas Kristen Jepang masih bertahan di bawah tanah, tanpa pendeta dan Injil; mereka bertahan hanya dengan instruksi sederhana mengenai iman mereka, tetapi dengan iman yang teguh percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat mereka.
Gereja mulai bertumbuh lagi setelah Komodor Perry membuka negara Jepang dengan armadanya dari Amerika. Misionaris tumpah ruah ke Jepang.
Namun demikian, selama Perang Dunia II, oleh karena curiga dengan orang-orang Kristen dan orang-orang Barat, pemerintah Jepang menggiring orang-orang Kristen ke Nagasaki. Sungguh ironis, negara yang paling bertanggung jawab untuk menginjili orang-orang Jepang, malah menjatuhkan bom nuklir di Nagasaki dan membunuh banyak orang Kristen. Meski begitu, masih ada orang-orang Kristen yang berdedikasi di Jepang, dan gereja pun terus bertumbuh. (t/Dian)
Diterjemahkan seperlunya dari:
| Nama situs | : | Central Valley Christian School`s |
| Judul artikel | : | Christmas In Japan |
| Penulis | : | Ted Boswell | Alamat URL | : | http://www.cvc.org/christmas/japan.htm |
Pokok Doa:
Penduduk Amerika adalah masyarakat multietnis, jadi tidak dapat dikatakan hanya ada satu "tipe" orang Amerika. Kelompok-kelompok etnis inti di Amerika adalah para koloni dari Britania Raya, Belanda, Jerman, dan negara-negara Eropa lain yang tiba di bagian timur Amerika Utara pada awal tahun 1600-an. Sebenarnya, setiap kebangsaan dapat ditemukan dalam leluhur suatu suku bangsa yang disebut sebagai "orang-orang Amerika" ini. Amerika Serikat merdeka pada tahun 1776 dan menjadi luas di atas sebagian besar benua di bagian barat, juga beberapa tanah di luar negeri, beberapa di antaranya kini berdiri sendiri dan beberapa lainnya masih tergabung dengan Amerika. Orang-orang Amerika merupakan orang-orang yang suka menutup diri terhadap dunia luar selama beberapa generasi ketika membangun negaranya yang baru. Kini, pengaruh, budaya, dan militer Amerika berdampak besar di dunia. Media massa dan literatur-literatur Amerika membentuk pikiran dunia.
Di Mana Mereka Tinggal?
Sebagian besar orang Amerika tinggal di Amerika Serikat, dengan sebagian kecil populasi tersebar di seluruh dunia di lebih dari seratus negara.
Seperti Apa Kehidupan Mereka?
Sebagian besar orang Amerika makmur secara material. Mereka memiliki standar hidup yang lebih tinggi daripada tempat-tempat lain di seluruh dunia. Mereka hidup di pusat budaya dengan sistem komunikasi yang modern. Orang-orang Amerika sangat mengutamakan media massa dan hiburan. Mereka bisa menjadi orang yang sangat mementingkan diri sendiri dan egois, serta tidak peduli dengan dunia lain; tetapi mereka bisa juga menjadi sangat dermawan dan suka membantu orang-orang yang membutuhkan, juga memahami apa-apa yang terjadi di dunia di luar Amerika. Mereka adalah orang-orang yang sepertinya bergerak secara konstan serta didikte oleh karier dan lingkungan sekitarnya.
Meskipun kebanyakan orang Amerika hidup sejahtera, menurut statistik, tingkat kekerasan dalam masyarakat Amerika termasuk yang paling parah di dunia. Meski demikian, rata-rata orang Amerika biasanya tidak mengalami kekerasan dalam hidup sehari-hari. Meski keadaan telah berubah secara dramatis dalam setengah abad terakhir, rasisme telah memainkan peranan yang penting dalam sejarah Amerika.
Apa Kepercayaan Mereka?
Tradisi menolak adanya "gereja negara" telah memungkinkan kekristenan di Amerika untuk tumbuh dengan subur dan berhasil. Sebagian besar orang Amerika menyebut diri mereka orang Kristen. Meski begitu, banyak dari mereka yang adalah orang Kristen sebatas pada predikat saja atau memegang keyakinan yang sama sekali melenceng dari kepercayaan Kristen ortodoks. Sekularisme dan agama-agama Timur telah mengubah kepercayaan orang Amerika dalam sekitar seratus tahun terakhir. Namun, orang Amerika secara rutin beribadah di gereja, rata-rata sekitar sepuluh kali lebih sering daripada orang-orang di negara-negara Eropa. Meskipun mereka adalah salah satu masyarakat paling beriman di dunia, masyarakat mereka juga identik dengan kebejatan dan keasusilaan. Umumnya, orang Amerika percaya dengan kerja keras, pengandalan diri sendiri, prestasi individual, dan perhargaan jasa.
Apa yang Mereka Perlukan?
Orang-orang Amerika perlu lebih mengandalkan Tuhan daripada kemampuan mereka sendiri. Meskipun sangat dermawan dan terdepan dalam urusan mengirim misionaris, orang-orang Amerika seharusnya mengirim lebih banyak sumber daya kepada orang-orang yang kurang terjangkau, bukannya menggunakan sumber daya itu bagi kepentingan diri mereka sendiri. Mereka perlu memiliki pandangan yang benar, bukannya pandangan yang disesuaikan dengan dunia.
Pokok doa:
Doakan agar orang-orang Amerika mengalami kebangunan rohani yang sebenarnya.
Doakan agar banyak orang Amerika dapat menjadi pengikut Kristus, bukan hanya sebagai hadirin di sebuah gereja.
Doakan agar orang-orang Amerika lebih mengalihkan sumber daya mereka untuk menjangkau orang-orang yang kurang dan belum terjangkau. (t/Novita)
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Judul asli artikel | : | Americans, U.S. of American Samoa |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan |
| Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
SIAPAKAH ORANG ARMENIA ITU?
Sepanjang sejarah, Armenia menjadi medan perang bagi banyak penjajah dalam melawan kerajaan-kerajaan lain dan jembatan bagi banyak budaya dan peradaban. Selama 2.700 tahun terakhir, Armenia dikuasai oleh Kerajaan Persia, Alexander Agung, Kekaisaran Roma, orang-orang Romawi Timur, Arab, Mongolia, Tatar, Jerman, Persia, dan Rusia. Kerajaan-kerajaan di Armenia, para pangeran, dan bahkan suatu kekaisaran yang berumur pendek (95-55 SM) berusaha bertahan dan berkembang selama sekitar 1.700 tahun. Di bawah pemerintahan berbagai raja dan pangeran, orang Armenia mengembangkan kebudayaan yang canggih -- arsitektur dan abjad yang mereka ciptakan sendiri.
Revolusi Rusia tahun 1905 dan Revolusi Kaum Muda Turki (Young Turk) tahun 1908 memberi harapan bagi bangsa Armenia untuk melakukan reformasi yang sekaligus menjadi sebuah kesempatan untuk mendirikan negara di tanah bersejarah, Armenia. Namun, harapan itu musnah saat Turki (the Ottoman) dan Kerajaan Rusia berperang selama Perang Dunia I. Masa kelam sejarah Armenia terjadi ketika pembersihan bangsa Armenia dimulai pada tanggal 24 April 1915. Sekitar 1.750.000 orang Armenia dipindahkan ke Siria dan Mesopotamia oleh pemerintah Jerman. Karena mengalami kemiskinan, penyakit, dan pembantaian yang sistematis, sebagian besar dari mereka tewas. "Pembersihan etnis" Armenia dari tanah air mereka itu menggugah Raphael Lemkin untuk menciptakan istilah baru, "genocide" (genosida) pada tahun 1930-an untuk menggambarkan sejarah yang menyedihkan dari orang Asiria dan Armenia yang menjadi korban pertama pembersihan etnis di abad ke-20. Rahael Lemkin sendiri kemudian dikenal sebagai Bapak Perjanjian Genosida (Genocide Treaty). Negara ini baru merdeka pada tanggal 23 September 1991.
Sekarang terdapat hampir tujuh juta orang Armenia di seluruh dunia. Sebagian besar dari mereka berada di Armenia dan Amerika Serikat. Sementara lainnya tinggal di negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Syria, dan Libanon.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Sebagian besar komunitas orang Armenia di Arab merupakan pengungsi dan orang-orang yang selamat dari pembantaian dan pembersihan etnis. Mereka menambah jumlah orang Armenia di Mesir, Siria, Irak, Sudan dan Etiopia. Undang-undang Eropa pada awal abad ke-20 memungkinkan orang Armenia bekerja dalam bidang ekonomi dan administrasi, termasuk mendirikan organisasi budaya dan politik. Mesir, dengan komunitas orang Armenia yang kuat, menjadi panutan bagi orang-orang Armenia di daerah Arab hingga pertengahan abad ke-20. Namun, jumlah mereka menurun karena emigrasi besar-besaran sejak tahun 1952. Pada tahun 1989, diperkirakan terdapat 12.000 orang Armenia di Mesir. Pusat kebudayaan orang Armenia yang tinggal di Mesir berada di kota Kairo. Tapi banyak juga orang Armenia yang tinggal di Alexandria.
Komunitas orang Armenia yang berada di Palestina dan Yordania, yang tidak pernah berkembang besar, juga menarik para pengungsi dari Turki yang mencoba bermukim di Yerusalem, Haifa, dan Amman. Kehidupan rakyat Armenia yang relatif aman selama masa pemerintahan Inggris segera memicu perselisihan di antara orang Arab dan orang Yahudi. Menyusul pembentukan negara Israel pada tahun 1948 dan Perang Arab-Israel, banyak orang Armenia yang beremigrasi ke Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara yang lebih damai di Timur Tengah. Sebagian besar orang Armenia yang ada terlibat dalam kegiatan keagamaan dan ilmiah di organisasi keagamaan Armenia di Yerusalem.
Kebanyakan orang Armenia yang selamat dari pembantaian dan pembersihan etnis tinggal di Siria, terutama di Aleppo. Siria adalah negara di daerah Arab yang mempunyai komunitas orang Armenia terbesar dengan jumlah mencapai lebih dari seratus ribu orang. Para pendatang baru dibantu oleh misionaris dan organisasi-organisasi kemanusiaan Armenia dan Amerika. Upaya itu berhasil memberi suasana baru di daerah itu dan membuat komunitas itu menjadi salah satu komunitas paling aktif di dunia pada abad ke-20. Dalam banyak hal -- sekolah, gereja, organisasi, dan rumah sakit -- Armenia di Siria menjadi inspirasi dan contoh bagi komunitas Armenia di Beirut, Baghdad, Yerusalem, dan Amman selama lima puluh tahun menjelang abad ke-21. Orang Armenia, Asiria, Arab Kristen, dan sejumlah sekte non-Islam Sunni seperti Druze, `Alawis, dan Isma`ilis mau bekerja sama dengan kekuatan Eropa yang ada di daerah itu selama dan setelah Perang Dunia II.
Selama beberapa waktu, orang Armenia di Libanon merupakan komunitas Armenia paling penting di luar Uni Soviet dan Amerika Serikat. Inti komunitas modern juga muncul sebagai akibat dari pembantaian dan pembersihan etnis di Turki. Pada tahun 1926, terdapat sekitar 75.000 orang Armenia di Libanon dan Undang-Undang Libanon mengakui mereka dan juga hak-hak warga negara minoritas mereka yang pada waktu itu memperbolehkan orang Armenia memilih anggota parlemen pilihan mereka.
APAKAH AGAMA MEREKA?
Pada tahun 301 M, selama pemerintahan Raja Dirtad III, Armenia menjadi negara Kristen pertama di dunia. Seorang pendeta Kristen yang biasanya dikenal sebagai Krikor Lusavorich atau St. Gregory the Illuminator, berhasil menyembuhkan sang raja. Setelah peristiwa itu, Raja Dirtad III dibaptis dan menerima kekristenan sebagai agama resmi Armenia. Sebelumnya, dua penginjil sudah membawa agama Kristen ke Armenia, mereka adalah St. Thaddeus dan St. Bartholemew. Sekarang Armenia masih merupakan negara Kristen yang populasinya terdiri dari: Armenian Apostolic Orthodox (94%), Kristen lain (4%), dan Yezidi (Zoroastrian/animist, 2%).
POKOK-POKOK DOA
Pengalaman traumatis diusir dari tanah air mereka dan pembersihan etnis sangat membekas di hati orang Armenia.
Doakan agar bangsa ini dapat dipulihkan dan mampu bersatu dengan komunitas mereka yang terpencar-pencar itu.
Doakan orang Armenia yang ada di Timur Tengah supaya mereka tetap dapat berpegang teguh pada iman mereka dan memperoleh pengalaman pribadi dengan Yesus Kristus.
Doakan pula setiap pihak yang berupaya mewujudkan perdamaian karena itulah yang sangat dibutuhkan orang Armenia.
Doakan pelayanan kemanusiaan Kristen yang sangat dibutuhkan mengingat tingginya angka pengangguran.
Doakan agar Tuhan menyadarkan orang Armenia bahwa bukan identitas kebangsaan mereka yang membuat mereka menjadi Kristen, tetapi Tuhanlah yang menjadikan kekristenan sebagai hubungan rohani. (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
| Situs | : | Joshua Project |
| Judul asli | : | Armenian of Moldova |
| Penulis | : | tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php.htm |
Siapakah mereka?
West Coast Bajau dari Sabah, Malaysia adalah kelompok masyarakat yang terikat secara budaya dan bahasa. Mereka biasa dikenal dengan nama Bajau atau nama-nama lain (Badjaw, Badjao, Bajao, Bajo). Orang Bajau sering menyebut diri sendiri dengan Sama. Jumlah mereka diperkirakan sekitar 750.000 sampai 900.000 jiwa (Sather, 1997:2,5). Mereka tersebar di sepanjang pesisir dan pulau-pulau di Kepulauan Sulu, Kalimantan dan Indonesia bagian Timur. Orang Bajau dikenal sebagai masyarakat nomaden laut -- berdagang di laut dan tinggal di kapal. Namun demikian, sebagian besar orang Bajau sekarang tinggal menetap (Yap, 1995:2). Sebagian orang Bajau masih mencari penghasilan di laut, sedang yang lain sudah bertani.
Di Sabah, terdapat dua kelompok masyarakat Bajau, West Coast Bajau dan East Coast Bajau. Orientasi pembagian daratan dan lautan dapat dengan mudah diamati dari dua kelompok masyarakat itu. West Coast Bajau tinggal di pedalaman yang tak terlalu terpencil di sepanjang pantai barat dan utara. Mereka sudah mahir bertani dan beternak. Sedangkan East Coast Bajau tinggal di sepanjang pantai timur Sabah, khususnya di Semporna. Mereka lebih banyak tinggal di laut. Perbedaan antara West dan East Coast Bajau adalah orientasi tempat tinggal mereka; daratan dan lautan. Sebuah tes sudah memastikan bahwa West Coast Bajau dan East Coast Bajau berbicara bahasa yang berbeda (Baker, 1984:110).
Nenek moyang orang Bajau tidak dapat dipastikan. Dengan menggunakan data perbandingan bahasa, Pallesen (1985) mengemukakan sebuah "hipotesis penyebaran" berdasarkan lokasi penyebaran proto-Bajau di utara dan selatan dari lokasi dekat Mindanau, Filipina, ribuan tahun yang lalu. Pallesen memperhitungkan bahwa pada tahun 1100 M, orang Bajau sudah sampai Sulu bagian selatan dan pesisir timur laut Kalimantan (116 -- 123). Mitos asli orang Bajau menunjukkan bahwa mereka datang lebih awal di Kepulauan Sulu (Sather, 1997:17), waktunya diperkirakan sekitar akhir abad ke-14. Meskipun masa orang West Coast Bajau pertama kali tinggal di Kota Belud tidak dapat dipastikan, keberadaan mereka di sana sudah ditulis oleh Spencer St. John pada tahun 1850-an dan 1860-an (Yap, 1995:2).
Seperti Apakah Kehidupan Mereka?
Orang West Coast Bajau berbicara satu bahasa (Bajau) yang membawahi serangkaian dialek yang dapat saling dimengerti (Baker, 1984:101,111). Dialek Bajau yang berbeda-beda itu juga berperan sebagai pengenal dari mana bahasa atau penuturnya berasal.
Sekarang ini, orang West Coast Bajau tersebar di sepanjang daerah pesisir Sabah dari Kuala Penyu di barat daya sampai Terusan, timur Pitas. Mereka terutama tinggal di daerah Kota Belud, Kawang, Papar, Tuaran, Banggi, dan Puatan. Kabupaten Kota Belud, di daratan Tempasuk, di tengah Kota Kinabalu dan Kudat, merupakan daerah yang paling banyak ditinggali oleh masyarakat West Coast Bajau di Sabah. Kota Belud adalah jantung budaya masyarakat West Coast Bajau; beberapa menganggap Kota Belud sebagai kampung halaman orang Bajau.
Jumlah orang West Coast Bajau sekitar 40.000 jiwa. Menurut sensus penduduk tahun 1991, Kota Belud memunyai populasi orang Bajau terbesar dengan jumlah populasi sekitar hampir 20.000.
Pada skala lokal, paling tepat dikatakan jika unit organisasi sosial utama dalam masyarakat Bajau adalah rumah tangga, yang terdiri dari keluarga inti, yang jumlahnya kemudian sering bertambah, tergantung tahap perkembangan keluarga. Pertalian keluarga adalah hal penting dalam membentuk struktur rumah tangga dan berbagai bidang menurut wewenangnya, seperti warisan dan merawat orang tua, tapi rumah tangga Bajau lebih dikelola atas dasar pilihan tempat tinggal daripada peran keluarga yang sudah ditetapkan.
Agama juga berperan besar dalam organisasi sosial. Untuk orang Bajau, menjadi orang Bajau berarti menjadi Muslim dan tidak ada yang namanya non-Muslim. Karena banyak aspek kehidupan desa Bajau, seperti ibadah Ramadhan dan Hari Raya Puasa yang sangat beraroma Islam, tidaklah sulit untuk memahami akan seperti apa pendatang baru dalam masyarakat Bajau. Sekali dia menjadi Islam, dia akan melebur dalam kehidupan masyarakat Bajau. Islam menjaring pengikutnya dalam sistem dan ritual kepercayaan adat, sekaligus menyertakan maksud dan tujuannya pada banyak kegiatan desa. Orang Bajau adalah orang yang individualistis dalam banyak hal, tapi identitas Islam yang ada di antara mereka menciptakan suatu ikatan yang kuat dalam hidup mereka.
Apakah Agama Mereka?
Apakah agama utama masyarakat Bajau?
Sistem kepercayaan tradisional masyarakat West Coast Bajau sebenarnya adalah animisme; sejenis roh halus yang berinteraksi dengan manusia, baik secara positif maupun negatif. Contohnya, orang-orang takut untuk keluar malam sendirian karena kehadiran roh-roh orang mati atau roh halus yang mencari bayi atau mayat orang yang baru saja mati untuk dimakan. Kepercayaan tradisional berhubungan secara rumit dengan kepercayaan Islam (sistem kepercayaan yang mereka anut sekarang). Sebagian besar orang menganut baik kepercayaan tradisional maupun Islam, yang sulit untuk dipisahkan. Beragam kepercayaan takhayul dari zaman dulu masih memunyai tempat di kalangan masyarakat West Coast Bajau.
Apakah sudah pernah ada pengaruh Kristen dalam masyarakatnya?
Misionaris? Peneliti yang sudah tinggal dengan masyarakat West Coast Bajau selama bertahun-tahun mengatakan, "Setahuku tidak ada."
Apakah ada Injil dalam bahasa yang mereka mengerti?
Setahuku tidak ada Injil dalam bahasa Bajau, namun sejumlah orang West Coast Bajau yang agak berpendidikan, melek huruf (menurut beragam tingkat pendidikan), dapat menuturkan bahasa nasional, yaitu Bahasa Malayu. Injil sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu dalam berbagai media, tapi tidak diketahui dengan jelas apakah media-media itu dapat dijangkau oleh orang West Coast Bajau.
Apakah tersedia siaran radio Kristen?
Tidak. Tentu saja tidak ada dalam bahasa Bajau, meskipun terdapat stasiun radio Bajau yang siaran selama beberapa jam setiap harinya.
Apakah mereka sudah pernah melihat "Film Yesus"?
"Film Yesus" belum diproduksi dalam bahasa Bajau, tapi sudah diproduksi dalam Bahasa Malayu. Tidak diketahui apakah orang West Coast Bajau sudah pernah melihat film yang dalam Bahasa Malayu atau belum. Mungkin sulit bagi mereka untuk bisa mendapatkan film seperti itu.
Berapa orang West Coast Bajau yang Kristen?
Terdapat sejumlah orang West Coast Bajau yang menjadi Kristen. Namun, seorang peneliti besar mengatakan bahwa dia hanya bertemu satu orang Bajau yang Kristen. Tidak ada seorang Kristen lain dalam masyarakat West Coast Bajau yang pernah ditemui peneliti itu. Tampaknya masyarakat Bajau tidak memberi kebebasan bagi seorang yang menjadi Kristen untuk mengamalkan kepercayaan mereka di desa mereka sendiri; beberapa sudah pindah ke daerah lain.
Ada berapa banyak komunitas gereja Kristen di sana? Kelihatannya tidak ada. Namun, ada beberapa komunitas (kebanyakan SIB) yang terdiri dari kelompok etnis lain di daerah itu.
Apakah Ada Usaha untuk Menjangkau Mereka?
Beberapa orang Kristen lokal cukup mampu berbicara bahasa Bajau karena mereka tinggal dekat atau bekerja dengan orang West Coast Bajau. Namun, tidak ada usaha terorganisir untuk menjangkau masyarakat West Coast Bajau.
Pokok-Pokok Doa
Spiritual dan benteng-benteng lain.
Rasa takut akan penyakit, kekeringan, atau penyakit lain di luar kendali manusia mendorong mereka untuk mencari jawaban dengan mengadakan upacara yang setidaknya bernuansa Islam (contohnya, pembacaan Quran). Masyarakat West Coast Bajau menghubungkan upacara tersebut dengan kekuatan spiritual atau perlindungan. Dipercaya bahwa jika agama Islam lebih banyak diajarkan dan diamalkan, semakin sedikit pula kekuatan-kekuatan jahat yang akan mengganggu mereka. Kepercayaan ini dapat dipandang sebagai benteng spiritual dalam masyarakat. Beranjak dari Islam berarti (dalam pikiran mereka) mengundang pengaruh jahat kembali ke desa mereka.
Benteng lain adalah kepercayaan melakukan hal-hal yang baik (biasanya dikaitkan dengan agama Islam) agar Tuhan bermurah hati kepada mereka. Hal-hal baik itu di antaranya upacara sedekah atau zakat untuk memudahkan jalan seseorang menuju dunia berikutnya (atau untuk membantu anggota keluarga yang meninggal untuk mencapai dunia berikutnya). Mereka juga mengamalkan kewajiban agama, misalnya puasa selama bulan Ramadhan dan mengadakan doa harian yang terkait dengan hari besar dalam kalender Islam.
Benteng lain adalah yang ada dalam pikiran orang West Coast Bajau; menjadi orang Bajau berarti menjadi Muslim. Jika orang Bajau menjadi Kristen, dia tidak akan lagi dianggap sebagai orang Bajau; perubahan menjadi Kristen menghilangkan identitasnya sebagai orang Bajau. Tidak hanya demikian, dalam budaya masyarakat West Coast Bajau, terdapat penekanan penting (khususnya di desa) pada kegiatan komunal, dan kegiatan ini sering melibatkan upacara yang terkait dengan agama Islam. Untuk orang yang menjadi Kristen, dia harus membayar harga yang sangat mahal karena tidak ikut serta dalam banyak upacara desa yang merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat Bajau.
Benteng yang lain adalah rasa takut; ini berlaku bagi orang Kristen yang enggan menjangkau masyarakat West Coast Bajau karena takut ditolak oleh pemerintah. Sebenarnya sudah terjadi hubungan ekstensif antara orang Bajau dan mereka yang berasal dari kelompok etnis Kristen, di tempat kerja maupun di sekolah. Ada kesempatan untuk menempatkan saksi di tempat-tempat itu, tapi tidak pernah diketahui adanya penjangkauan yang jelas dan spesifik terhadap orang West Coast Bajau. Jika ada usaha yang mengarah ke penjangkauan seperti itu, harus ditangani dengan peka, tapi rasa takut bisa mencegah komunitas Kristen untuk beranjak menuju ke arah tersebut. (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Judul asli | : | Bajau, West Coast of Brunei |
| Penulis | : | Tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php |
Masyarakat Beja adalah sebuah kelompok gembala nomaden yang hidup tersebar di padang pasir di Sudan, Mesir, dan Eritrea. Mereka adalah kelompok etnis non-Arab terbesar di antara Sungai Nil dan Laut Merah. Mereka sering disebut "Fuzzy Wuzzies" karena rambut mereka yang sangat kusut. Mereka adalah masyarakat yang agresif, dengan postur tubuh yang kecil, kurus, tapi kuat; dan bentuk wajah yang lonjong/oval.
Orang-orang Beja adalah keturunan dari cucu Nuh, yaitu Kush (anak dari Ham). Mereka adalah orang Afrika asli yang telah mendiami tanah air yang sekarang ditempatinya selama lebih dari empat ribu tahun. Selama itu, mereka berbaur dengan suku-suku bangsa Arab lainnya, dan pemeluk agama non-Kristen yang taat. Masyarakat Beja di Eritrea terdiri dari dua suku: Ababda dan Beni Amer. Keduanya mendiami area seluas sekitar 20.000 mil persegi (50.000 kilomoter persegi) di bagian paling utara negara tersebut. Dalam sepuluh tahun terakhir, ribuan orang telah mengungsi ke Sudan akibat perang dan kekeringan.
SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?
Iklim Eritrea yang semitropis dipengaruhi oleh angin yang panas dan kering yang datang dari padang pasir Sahara dan Arabia. Curah hujan di bagian selatan hanya 100 mm per tahun. Masyarakat suku Beja memboyong sekawanan ternak dan unta mereka pindah untuk mencari tanah berumput yang lebih subur. Mereka ahli dalam mengurus ternak; hal ini tergambar melalui lagu-lagu dan cerita rakyat mereka.
Tak seperti suku-suku Beja yang lain, suku Beni Amer merupakan kelompok masyarakat nomaden yang bersatu menjadi satu unit politik. Mereka memiliki sistem sosial yang unik karena mirip dengan sistem "kasta". Sejak tahun 1948, sistem ini dilarang oleh pemerintah Etiopia.
Suku Beja tinggal di tenda-tenda bongkar pasang yang didirikan oleh kaum wanita. Tendanya berbentuk persegi panjang dan dibuat dari anyaman bulu kambing berwarna hitam atau abu-abu. Makanan sehari-hari mereka adalah produk olahan dari susu (terutama susu unta), daging sapi, dan biji-bijian. Pakaian tradisional mereka terbuat dari kulit hewan, namun sekarang ini banyak yang memakai pakaian-pakaian buatan pabrik. Mereka menggunakan uang untuk membeli pakaian dan barang-barang lain yang dibutuhkan. Masyarakat Beja menganggap "hidup itu bahagia" jika memiliki banyak ternak dan tinggal di padang rumput yang hijau dan subur.
Masyarakat Beja terpisah-pisah menjadi beberapa suku. Suku-suku tersebut diberi nama sesuai dengan nama nenek moyangnya dan garis keturunannya digariskan dari kaum lelaki. Masing-masing suku memiliki padang rumput dan sumber airnya sendiri, yang dapat digunakan suku lain setelah mendapat izin dari sang pemilik. Setiap suku terdiri dari sepuluh sampai dua belas keluarga. Permasalahan yang terjadi antarsuku sering diselesaikan oleh hukum adat suku Beja, namun sebagian besar masalah sehari-hari ditangani oleh kepala keluarga yang bersangkutan. Masyarakat Beja selalu ramah terhadap suku-suku lain, akan tetapi mereka tidak terlalu ramah terhadap orang asing.
Hanya orang Beja terkaya yang memiliki lebih dari satu istri. Setelah ada perjanjian pernikahan, keluarga mempelai wanita diberi banyak sekali ternak, pakaian, dan barang-barang lainnya. Pasangan-pasangan muda berkeinginan untuk memiliki banyak anak laki-laki dan memperoleh banyak unta betina.
APA KEPERCAYAAN MEREKA?
Semua masyarakat suku Beja beragama non-Kristen. Akan tetapi, mereka mengamalkan agama setempat. Hal ini mungkin dikarenakan masuknya mereka ke agama tersebut sangat dipengaruhi oleh keinginan mereka untuk membalas dendam kepada pemerintah Turki. Sekarang ini, kepercayaan mereka merupakan perpaduan dari banyak takhayul kuno. Misalnya, suku Beja percaya bahwa manusia dapat mengutuk orang lain dengan memberikan "mata setan" kepada orang yang akan dikutuk. Suku Beja juga percaya pada jin-jin jahat (roh-roh yang bisa berubah wujud menjadi binatang dan roh-roh lainnya yang tak kasat mata). Mereka percaya bahwa roh-roh jahat bisa mendatangkan penyakit, kegilaan, dan musibah. Dalam upacara penyembahan berhala, mereka mempraktikkan ilmu hitam dan mengorbankan binatang. Suku Beja melakukan banyak kegiatan agama, seperti mengulang-ulang doa, tanpa mengerti isi doa-doa tersebut.
APA YANG MEREKA PERLUKAN?
Sampai sekarang belum diketahui adanya masyarakat Beja yang beriman. Perlengkapan untuk mengabarkan Injil, penambahan jumlah penginjil, dan peningkatan doa syafaat adalah kunci untuk menjangkau mereka dengan Injil Kristus. (t/Lanny)
Bahan diterjemahkan dari:
| Situs | : | Joshua Project |
| Penulis | : | -- | URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php?rog3=ER&rop3=101211 |
POKOK-POKOK DOA
Mari mendukung pekerjaan Tuhan di dalam doa. Berdoalah agar Tuhan terus membuka jalan bagi penginjilan di Eritrea.
Berdoalah untuk orang-orang Kristen Eritrea yang masih sangat sedikit jumlahnya, tapi yang terus-menerus mengalami penganiayaan, baik dari pemerintah maupun orang-orang lain yang belum percaya. Biarlah Tuhan memberi kekuatan kepada mereka.
Doakan pula pemerintah Eritrea, kiranya Tuhan melembutkan hati mereka agar memiliki sikap takut akan Tuhan dan memberikan kelonggaran kepada penduduknya untuk memilih agama sesuai dengan iman mereka.
Berdoa untuk orang-orang Kristen di Indonesia agar tergerak untuk mengadopsi negara Eritrea ini menjadi bagian utama dari pokok doa syafaat mereka.
Siapakah orang Druze?
Orang Druze menganggap diri mereka sebagai "Mowahhidoon" (jamak) atau "Mowahhid" (tunggal) yang berarti monotheis atau percaya pada satu Tuhan. Pada umumnya mereka disebut "orang Druze", diambil dari nama el-Drzi, salah seorang pemimpin agama terkemuka suku Druze di masa lalu. Beberapa sumber menyatakan bahwa orang Druze bukan keturunan suku apa pun sebelum menganut kepercayaan al-Hakim, seorang khalifah muslim. Beberapa teori yang belum terbukti kebenarannya menyebutkan bahwa orang Druze merupakan keturunan orang Persia, sementara teori lain menganggap mereka sebagai keturunan orang Kristen, sejak zaman Perang Salib. Tapi teori yang terakhir ini sepertinya tidak benar karena Perang Salib pertama terjadi pada sekitar delapan puluh tahun setelah lenyapnya al-Hakim. Orang Druze setia kepada negara yang menguasai tanah mereka dan tidak mencoba mendirikan negara mereka sendiri. Mereka bisa ditemukan di Israel, Libanon, dan Siria. Bisa dikatakan mereka adalah para pejuang terbaik karena mereka tidak takut mati.
Seperti apakah kehidupan mereka?
Orang Druze tinggal di desa dan gunung dengan hanya memiliki beberapa bidang tanah dan barang-barang milik mereka pribadi, mereka tidak memiliki cita-cita mendirikan negara sendiri. Mereka memiliki gaya hidup menyendiri. Pindah agama, baik ke agama mereka ataupun dari agama mereka, merupakan sesuatu yang terlarang. Segera setelah beragama, mereka berhenti membuat perubahan baru. Sebaliknya, mereka memilih untuk melestarikan suku mereka dengan beranak cucu. Sampai sekarang, kebanyakan gadis di suku Druze menikah saat berumur 12 dan 15 tahun, sedangkan para pria menikah pada umur 16 atau 17 tahun. Saat orang Druze tinggal bersama orang-orang yang berbeda agama, mereka mencoba melebur dengan orang-orang itu untuk melindungi agama mereka dan agar mereka aman. Mereka bisa berdoa sebagai orang Islam atau pun sebagai orang Kristen, tergantung di mana mereka tinggal. Tetapi situasi tersebut sekarang mulai berubah karena tidak terjaminnya keamanan. Orang Druze sekarang lebih terbuka dalam hal-hal yang menyangkut kepercayaan mereka. Mereka sudah sejak lama diberitakan melakukan praktik poligami, tetapi sampai sekarang berita ini tidak terbukti. Mereka pantang minum anggur dan merokok karena adanya larangan yang jelas untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa mencemarkan agama mereka. Orang Druze memunyai kepekaan sosial yang tinggi, mereka merasa terikat satu sama lain walaupun mereka tersebar di beberapa negara.
Apakah kepercayaan mereka?
Agama yang dianut orang Druze dimulai pada abad 9 M, yaitu dari sebuah sekte Islam. Agama itu dipopulerkan oleh seorang da`i bernama Darazi dan Hamza bin Ali bin Ahmad, seorang penganut ilmu kebatinan dari Persia. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah menjelma menjadi manusia bernama al-Hakim Bi-amr Allah (985 atau 996 -- 1021 M), seorang khalifah muslim dari Kairo, Mesir. Sekarang mereka percaya bahwa apa yang diajarkan Darazi mulai menyimpang; tulisannya sekarang dianggap menghina Tuhan.
Orang Druze menganggap Al-Qur`an sebagai sesuatu yang suci, namun mereka hanya menganggapnya sebagai kulit luar yang membungkus "makna ajaran yang lebih dalam yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja". Kitab agama mereka pada umumnya dikenal dengan nama "Kitab Al Hikma", Buku Kebijaksanaan. Kitab ini adalah kumpulan buku, di mana enam buku pertama adalah buku-buku yang paling sering digunakan. Pada dasarnya mereka menganut paham monoteis, percaya pada satu Tuhan. Mereka mengenal tujuh nabi besar, termasuk di dalamnya, Adam, Abraham, dan Yesus (yang hanya mereka percaya sebagai putra Yusuf). Setiap nabi besar membawahi tujuh nabi yang masing-masing memunyai dua belas murid.
Orang Druze percaya pada perpindahan jiwa/roh. Artinya, saat seseorang mati, jiwanya secara spontan tereinkarnasi (dalam waktu dan ruang) dan kemudian terlahir kembali dalam kehidupan yang lain. Konsep pemikiran mereka mengenai surga dan neraka bersifat spiritual. Mereka percaya bahwa surga adalah kebahagiaan terbesar saat jiwa mereka bertemu dan bersatu dengan Pencipta mereka. Neraka adalah rasa sakit yang disebabkan hilangnya kesempatan bertemu sang Mahabesar yang mulia untuk selama-lamanya.
Apa saja kebutuhan mereka?
Orang Druze sudah tinggal di daerah utara Israel sejak abad ke-16 dan mereka bergabung dengan orang Israel sejak terbentuknya negara itu tahun 1948. Selama bertahun-tahun, lebih dari tiga ratus pria dari suku Druze mati untuk membela negara. Namun, orang Druze merasa belum menuai keuntungan dari bangsa yang sudah mereka bela. Israel sudah berupaya memenuhi kebutuhan mereka dengan menghubungkan desa-desa Druze ke jaringan fasilitas, meningkatkan layanan kesehatan, dan mengambil inisiatif untuk meningkatkan pendidikan, terutama bagi para pelajar.
Secara rohani, orang Druze harus bertemu dengan Mker mereka secara pribadi, menentang latihan mental yang hanya dipahami orang-orang tertentu yang diajarkan dalam agama mereka. (t/Dian)
Diterjemahkan dari:
| Nama situs | : | Joshua Project |
| Judul asli | : | Druze of Lebanon |
| Penulis | : | tidak dicantumkan | Alamat URL | : | http://www.joshuaproject.net/peopctry.php.htm |
POKOK DOA
Jumlah penduduk: 10,7 juta
Tempat tinggal : Tercerai-berai di seluruh RRC dengan konsentrasi di propinsi Nangksi. Ada juga yang tinggal di negara Taiwan, Kyrgyzstan, Kazakhstan dan Mongolia.
Agama : Islam
Orang Kristen sekitar 200 jiwa
SATU MINORITAS
Di Tiongkok bagian utara, secara khusus di propinsi Nangksi, sepertiga dari rakyatnya berasal dari latar belakang suku Hui. Di hampir setiap kota, propinsi dan daerah, selalu ada satu kelompok masyarakat minoritas suku Hui. Hampir 11 juta orang Hui tercerai berai di seluruh RRC. Walaupun mereka satu suku, terkadang mereka bisa terlihat berbeda jauh satu sama lain. Hal ini terjadi karena mereka sangat pandai menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Di samping itu agama dan kebudayaan di mana mereka tinggal sangat mudah mempengaruhi suku Hui, namun demikian identitas mereka sebagai orang Hui masih terlihat.
PENDATANG YANG BERHASIL
Leluhur orang Hui datang dari Arabia dan Persia sebagai pedagang. Dengan jumlah ratusan orang mereka melakukan perjalanan di rute "Jalur Sutera", yaitu menyeberang Asia menuju ke RRC. Pada abad ke-7 sampai ke-14 pejuang-pejuang Arab ini datang ke Tiongkok untuk membantu kaisar Cina berperang melawan musuh-musuhnya. Selain jalan darat, ada di antara mereka yang tiba melalui jalan laut. Dan para pendatang ini banyak yang tidak kembali ke kampung halaman mereka di Arabia dan Persia serta memilih menetap di RRC. Orang Hui sangat membanggakan latar belakang ini.
Ke mana saja mereka menetap di RRC, mereka mendirikan masjid- masjid, menikahi wanita-wanita Cina di tempat tersebut dan membimbing anak-anak mereka untuk menjadi Muslim. Agama mereka dicampuri dengan kebudayaan Tionghoa, sehingga mereka sekarang terkenal sebagai orang dengan agama Hui. Dari segi bentuk badan, mereka tidak berbeda jauh dengan suku Han, yang kita kenal sebagai orang-orang Cina. Suku Hui ini juga berbahasa Mandarin. Pakaian mereka sama dengan mayoritas masyarakat di RRC, tetapi sebenarnya mereka berbeda dengan orang Cina. Perbedaan itu sangat menyolok di bidang agama oleh karena kebanyakan orang Tiongkok tidak beragama atau ateis, sementara di sisi lain, suku Hui sangat menekankan agama mereka.
CARA HIDUP MEREKA
Dahulu orang Hui terkenal sebagai pedagang, yang juga menjadi penyebab utama mereka datang ke Tiongkok, tetapi sekarang mereka tidak lagi seperti itu. Pada masa kini jika mereka tinggal di pedesaan, mereka adalah petani yang menghasilkan beras dan gandum, tergantung pada iklim tempat di mana mereka tinggal. Jika mereka tinggal di kota, mereka mencari rumah di sekitar masjid, mereka juga banyak yang mengelola toko dan restoran. Selain itu, banyak juga yang bekerja sebagai penjual daging, pengemudi truk, pedagang kulit dan mutiara. Beberapa di antara mereka yang sudah menjadi dokter, guru, insinyur, dan dokter gigi sekalipun sampai sekarang tetap senang memelihara domba ataupun sapi. Mereka biasanya memakan nasi, daging sapi, ayam dan domba. Daging babi tidak dicicipi, kecuali jika disebut daging biri-biri, alkohol juga tidak mereka minum.
Agama orang Hui adalah Islam. Menurut ajaran mereka lima rukun Islam wajib ditaati. Di antara suku Hui, terdapat banyak sekte dan aliran. Generasi yang terdahulu mencoba mengadaptasi agama Islam dengan kebudayaan Cina, misalnya mereka membangun masjid tidak seperti layaknya sebuah masjid. Di samping itu ada juga sekte yang menekankan untuk menghormati pendiri dan tua-tua agama. Di daerah Tiongkok Utara bagian Barat, jumlah orang Hui lebih banyak sehingga orang Hui lebih konservatif dari pada yang ada di daerah Utara bagian Timur.
Perempuan Hui tidak boleh menikah dengan orang non-Hui, namun laki- laki suku Hui diijinkan mencari isteri dari suku Cina yang lain, asal mereka bersedia mengikuti agama Hui. Sejak 1949 orang Hui tidak bebas lagi mengatur pernikahan sesuai dengan ketentuan adat saja, sehingga sekarang ini orang tua tidak lagi bisa mengatur pernikahan anak mereka. Mereka tidak boleh menikah dalam usia yang sangat muda. Wanita diberi hak untuk menceraikan suami mereka jika mereka menginginkan dan mereka juga mendapat warisan.
Pada zaman Revolusi Kebudayaan suku Hui sangat dianiaya, tetapi mereka kuat dan bisa bertahan dalam tekanan yang berat itu. Pada waktu itu banyak masjid dihancurkan. Sesudah Revolusi Kebudayaan, mereka dengan cepat membangun rumah ibadah mereka kembali, seperti di propinsi Nangksi 1.400 masjid dibuka lagi. Sekarang pemerintah RRC lebih terbuka terhadap agama orang Hui. Masjid tidak harus membayar pajak lagi, para imam juga boleh belajar agama mereka dan tidak harus menyembunyikan diri di bawah tanah. Suku Hui diberi hak untuk mengebumikan orang mati dan tidak lagi diwajibkan untuk dikremasi, walaupun suku Han tetap diwajibkan untuk mengkremasikan mayat mereka. Orang Hui lebih terbeban mengikuti program KB di RRC, di mana hanya 1 anak yang diijinkan bagi satu keluarga, tetapi mereka sering masih memiliki 2 anak per keluarga. Sekarang mereka tetap diarahkan untuk tidak menikah cepat. Jika mereka menikah di atas umur 25 tahun, dan hanya mempunyai seorang anak saja, maka mereka diberi hadiah.
SIKAP TERHADAP AGAMA KRISTEN
Walaupun mereka sangat ramah terhadap orang Kristen namun mereka tetap menolak untuk menjadi Kristen. Jika mereka menjadi Kristen mereka akan dianianya oleh keluarga mereka, komunitas agama lain dan orang-orang Komunis atheis. Ikatan pada agama Islam itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Injil sulit diterima. Walaupun Injil sudah lebih dari 30 tahun diberitakan kepada mereka, namun belum ada hasilnya. Sekarang ini ada kira-kira 200 orang Kristen di antara orang Hui. Siaran radio dan literatur Kristen sudah tersedia untuk menjangkau mereka dengan Injil. Selain itu ada satu tim pelayanan yang memiliki beban bagi suku Hui.
POKOK-POKOK DOA