Penginjilan dan Pelayanan Pribadi

PRAKATA

Pada tahun 1963, di Bandung sekelompok pemuda memulai pertemuan pada setiap hari Sabtu untuk memikirkan cara penginjilan yang tepat bagi bangsa Indonesia. Dalam waktu yang singkat mereka berhasil. Hampir setiap minggu ada kesaksian mengenai orang-orang yang baru dibawa kepada Yesus. Adakalanya seseorang sudah mulai menginjil walaupun baru hadir tiga kali saja.

Apa rahasia keberhasilan mereka? Padahal banyak orang tidak terlalu mengharapkan hasil yang sedemikian karena menduga bahwa tugas pemberitaan Injil merupakan tugas yang berat, yang menuntut pendidikan yang memakan waktu yang lama. Rahasia pertama, mereka menemukan kembali kesederhanaan Injil, sehingga cara penyampaiannya dapat segera dikuasai. Kedua, mereka sadar bahwa Roh Yesus bekerja-sama dengan siapapun yang mau menginjil, karena Dialah yang bertugas menyakinkan Injil kepada seseorang, asalkan Injil diberitakan kepadanya.

Buku persiapan untuk para pembimbing GERAPI (Gerakan Pekabaran Injil di mana lima puluh dua gereja mengadakan kampanye bersama di kota Bandung pada tahun 1966) merupakan usaha pertama dalam menyusun hasil pengalaman kelompok itu secara tertulis. Pada tahun-tahun berikutnya, bahan itu diperluas dengan:

  1. Penjelasan-penjelasan, yang menurut pengalaman biasa mendorong dan memberikan seseorang untuk menginjil.
  2. Ajaran-ajaran Alkitab yang paling dibutuhkan sebagai dasar teologis bagi sang penginjil.

Dengan demikian buku yang baru terbit ini adalah hasil dari pengalaman dalam mendidik ratusan penginjil pribadi di Indonesia selama kurang lebih dua belas tahun. Sebelumnya, bahan ini telah diterbitkan berulang kali dalam bentuk sementara. Dan kami berharap supaya dalam bentuk yang tetap dan lebih menarik ini terbuka jalan untuk menginjil bagi ribuan orang lain.

1. Mempersiapkan Diri Menjadi Penginjil Pribadi

Pelajaran 1

MEMPERSIAPKAN DIRI MENJADI
PENGINJIL PRIBADI

Telah banyak digunakan dalam usaha mengajak orang percaya untuk terjun ke dalam pekerjaan penginjilan pribadi seperti:

  • Menegaskan bahwa penginjilan adalah suatu tugas dan perintah dari Tuhan Yesus.
  • Pembentukan regu-regu yang berlomba-lomba mencari jiwa dengan disediakan hadiah-hadiah bagi regu pemenang.
  • Diajarkan bahwa usaha mencari jiwa akan menambah pahala di sorga.

Bagaimana pendapat saudara? Tepatkah semua pendorong yang diajukan di atas? ... Tidak! Hanya satu saja yang sesuai dengan Firman Tuhan, yaitu dorongan Kasih. II Korintus 5 berbunyi: "Karena kasih Kristus menggerakkan hati kami ... dan sudah menanggung ke atas kami kabar perdamaian itu. Sebab itu kami menjadi utusan bagi pihak Kristus," (ayat 14, 19, 20).

Kalau saudara pergi mencari jiwa-jiwa yang sesat dengan dorongan yang lain dari Kasih Kristus, maka sikap saudara terhadap orang yang cukup waktu dan dengan tenang merenungkan sengsara Yesus pada salib, dan merenungkan keadaan manusia yang belum percaya kepadaNya, pasti dengan segera saudara akan tergerak oleh kasih itu untuk pergi. Siapakah, yang walaupun hanya memiliki sedikit kasih akan dengan sadar membiarkan teman-temannya menuju ke kebinasaan? Tentu, semua akan diajak untuk melarikan diri ke tempat yang aman, bukan?

Apa sebabnya peristiwa penyaliban Yesus harus direnungkan sedalam-dalamnya sebagai penggerak kasih? Apakah hal ini suatu disiplin psikologis untuk membangkitkan perasaan...? Tidak! Perasaan hanya akan bertahan sesaat saja, lalu menghilang. Pengetahuanlah yang akan bertahan lama sebagai pembangkitan Kasih. Sebabnya dapat kita lihat dalam ayat yang berikut ini.

"Kasih Kristus itu menggerakkan kami ... sebab kami yakin seseorang telah mati karena orang sekalian" (II Korintus 5:14).

Demikianlah hubungan antara pengetahuan ("yakin") dan penggerak kasih. Dan pengetahuan itu tidak akan datang melalui khayal, melainkan telah disediakan bagi saudara di dalam Alkitab. Selidikilah nats-nats dasar dalam pelajaran ini, yakni II Korintus 5:11-20. Nats itu merupakan dasar pengetahuan saudara mengenai rencana Allah dan peranan saudara dalam pemberitaan Injil Yesus. Kiranya dengan merenungkannya, saudara akan tergerak untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan Yesus, Juru Selamat saudara.

Tetapi Tuhan Allah tidak akan memberikan tugas tersebut tanpa adanya kerelaan dari saudara sendiri. Panggilan terhadap nabi Yesaya merupakan contoh baik dari sikap terhadap panggilan Allah itu. Allah bertanya: "...Siapakah akan menjadi utusanKu?" Maka jawabanku: "Suruhkanlah aku" (Yesaya 6:8).

A. KEINSYAFAN AKAN RENCANA ALLAH BAGI SAUDARA

1. Keadaan manusia yang belum percaya kepada Yesus.

Manusia berkeadaan "mati dalam dosa" (Ef 2:1). Arti dari ucapan itu dapat saudara lihat dalam Yesaya 59:2, yaitu bahwa dosa telah menceraikan manusia dari pada Allah. Dengan kata lain, manusia dalam keadaan TERPISAH DARI ALLAH yang adalah sumber kehidupan satu-satunya.

Yesus melukiskan keadaan itu dalam Injil Yohanes pasal 15. Dalam perumpamaan "Pokok Anggur yang Benar" itu terlihat bilamana seseorang mempunyai hubungan dengan Yesus, barulah ia memiliki hidup. Kalau hubungan tersebut putus, ia menjadi kering serta tidak berguna bagi pemilik kebun (bandingkan I Yohanes 5:11,12).

a. Beberapa sifat dan sikap manusia

Tentu saja manusia yang berada di luar persekutuan dengan Allah memiliki sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan yang najis; dan tentu juga bahwa Tuhan Allah akan menentukan beberapa batas kesanggupan bagi mereka. Sebagai perincian dari sifat-sifat tersebut perhatikanlah pernyataan-pernyataan Tuhan yang berikut. Dan bila saudara belum melihat persesuaian antara penjelasan ini dengan pengalaman saudara dalam pergaulan sehari-hari periksalah diri saudara. Mungkin saudara masih mempunyai cita-cita dan sentimen-sentimen yang mengelabuhi pengertian saudara yang seharusnya.

1) Orang berdosa gemar melakukan yang jahat.

Mereka memberontak, melanggar setiap pernyataan dan kehendak Allah; malah mereka demikian bermusuhan dengan Allah, sehingga sering membenci orang-orang yang memihak Yesus (Efesus 2:1-3; Matius 10:16-24; Yohanes 15:18-21).

2) Mereka belum mempunyai pancaindra rohani.

Mereka tidak dapat melihat ataupun mengerti perkara-perkara rohani (Yohanes 3:3, I Korintus 2:14) sehingga Injil Yesus merupakan suatu kebodohan kepadanya (I Korintus 1:23). Si Iblis telah turut terlibat dalam hal ini membuat pemikiran mereka lebih kacau lagi (II Korintus 4:4), tetapi manusia tetap menganggap dirinya cerdas (Roma 1:22). Karena mereka memiliki hati yang bejat dan kehendak yang telah menyeleweng, orang-orang berdosa lebih menyukai kegelapan tersebut; bahkan menikmatinya sehingga mereka sering menolak sumber terang yang satu-satunya itu, yakni Yesus Kristus (Yohanes 1:4, 5, 9-11; 3:19-21).

3) Sia-sialah segala usaha, amal dan kebenaran dirinya.

Semua jalan keagamaan yang ditempuhnya ternyata buntu (Efesus 2:8, 9, Roma 3:20). Sama seperti nenek moyang kita telah menukarkan Allah yang benar dengan patung-patung berhala buatan tangannya (Roma 1:23), orang-orang berdosa sibuk menciptakan agama yang sesuai dengan keinginannya sendiri.

Hai saudara, semua keterangan ini agak berat untuk diterimanya, bukan? Berdoalah sejenak, ucapkanlah terima kasih kepada Yesus yang telah memindahkan saudara keluar dari lumpur kecemaran yang sama dengan orang-orang berdosa yang lain itu. Sungguh hidup baru dalam Yesus itu ringan, tetapi tidak ringan bagi Yesus - Ia harus disiksa untuk melepaskan saudara dari siksaan yang seharusnya ditanggung oleh saudara.

b. Kasih Allah dinyatakan kepada seluruh manusia.

Meskipun setiap bagian dari hidup manusia itu merosot serta segala perbuatannya najis, Tuhan tetap menganugerahkan dua pernyataan kasih untuk mendorong manusia kepada kesadaran dan kepercayaan. Selama hubungan dengan Yesus ini belum tercapai, seseorang tidak akan pernah puas bahkan akan tetap gelisah.

Yang pertama, bahwa setiap orang yang belum memperoleh keselamatan dalam Yesus akan merasakan suatu kekosongan dalam dirinya. Kekosongan yang seharusnya menjadi tempat kediaman Roh Yesus. Kekosongan itulah yang telah menggerakkan manusia untuk mencari-cari melalui macam-macam agama, tetapi keagamaan ternyata tidak memberi kepuasan.

Yang kedua, adalah "hati kecil." Fungsi hati kecil menjadi jelas bagi kita dalam Yohanes 16:8. Rohulkudus selalu memakai hati kecil untuk membangunkan kesadaran seseorang bahwa ia telah berbuat dosa. Selain menempelak, suara hati inilah yang akan memeteraikan kebenaran Firman Allah kepadanya supaya ia boleh memperoleh keselamatan. Akan tetapi jikalau tidak ada seorangpun memberitakan Firman itu kepadanya, maka tidak ada bahan yang bersifat kekal untuk disetujui oleh hati kecil itu.

2. Penyaliban Yesus perlu diberitakan

Kita yang percaya mengetahui bahwa segala sesuatu yang mustahil bagi orang berdosa telah dilaksanakan oleh Yesus. Orang yang najis sekalipun dapat dilepaskan dari hukuman maut melalui iman kepada Yesus Kristus. Yesus telah menggenapkan semua syarat yang dari Tuhan Allah kita. Di dalam Yesus setiap orang dapat memperoleh penebusan dan keselamatan.

Bacalah surat Roma 10:13-15. Jelas bahwa semua usaha dan pekerjaan Yesus pada salib menjadi sia-sia kalau orang berdosa tidak mengetahui tentang jalan kelepasan itu. Jikalau mereka dibiarkan saja meraba-raba dalam dunia yang gelap ini, pastilah mereka akan sesat sampai mati, lalu binasa. Mereka membutuhkan orang lain, yang dapat memegang tangan mereka dan mengantarnya kepada Yesus.

Tetapi siapakah orang itu yang akan memperkenalkan mereka kepada Kristus? Apakah setiap orang layak memangku jabatan yang luhur itu? Bukankah tugas itu sedemikian mulia, sehingga Tuhan hanya memilih petugas-petugas tertentu saja untuk melaksanakannya? ... Tidak demikian, saudara! Kalau Tuhan harus menunggu orang yang cukup layak dan suci, Injil tidak akan sampai terberitakan. Hanya Yesuslah orang yang layak dan suci. Yesuslah Penebus! Kita hanya alat pemberita saja.

Saudara boleh memberitahu jalan keselamatan itu. Sebab Tuhan Allah tidak melarang seorangpun dari anak-anakNya untuk menikmati sukacita sebagai pemberita Injil. Kita mempunyai contoh yang baik dalam Alkitab. Perhatikan Kisah Para Rasul 8:1-4. Siapakah orang-orang yang melarikan diri dari kota Yerusalem? Mereka adalah anggota-anggota biasa dari jemaat pertama itu. Perhatikan ayat 1: "kecuali rasul-rasul saja." Siapakah yang memberitakan kabar kesukaan itu? "sekalian orang yang terpecah-pecah itu" (ayat 4). yang memberitakan Injil Kabar Kesukaan di Yudea dan Samaria adalah semua orang percaya, kecuali petugas-petugas istimewa. Mungkin orang-orang ini sama seperti saudara sendiri. Mereka agak takut juga karena sedang melarikan diri. Tetapi ketakutan tersebut tidak dapat memadamkan berita sukacita yang mengalir dari hati yang penuh semangat.

3. Peranan Roh Kudus dalam pemberitaan Injil.

Roh Kudus merupakan kunci pengertian, apakah sebabnya orang-orang biasa juga dapat memberitakan Injil. Kalau pemberita Injil itu tergantung pada kesanggupan dan tenaga si pemberita Injil sendiri, maka hanya sedikit saja yang dapat menjalankannya. Kebanyakan orang merasa tidak mampu untuk belajar dan melatih diri dalam penginjilan sampai merasa cukup lancar.

Tetapi saudara boleh bersyukur kepada Tuhan bahwa tidaklah demikian halnya. Roh Kudus yang mempunyai peranan utama, dan saudara yang mempunyai peranan pelengkap. Saudara yang pergi, Roh yang melaksanakannya. Yang perlu bagi saudara hanyalah memberitahukan tentang jalan keselamatan kepada orang yang sesat dan Roh Kudus yang akan bekerja untuk meyakinkan dia. Dan kalau orang itu mau menerima Kristus, Roh Kuduslah yang akan mengerjakan mujizat pembaruan didalam batinnya. Dalam penginjilan hanya perlu supaya Injil diberitakan dengan sangat sederhana, serta mengajak orang itu untuk percaya.

B. PERSIAPAN ROHANI UNTUK MENJADI PEMBERITA INJIL

1. Saudara harus mengalaminya terlebih dahulu.

Dalam mencari jiwa-jiwa, saudara akan menemukan bermacam-macam penyakit rohani. Di kemudian hari, setiap jiwa yang saudara telah perkenalkan kepada Yesus Kristus akan menghadapi bermacam-macam pencobaan dan rintangan yang lain lagi. Orang buta tidak dapat menolong orang buta (Lukas 6:39). Jadi saudara sendirilah yang harus memanfaatkan segala janji Allah dalam hidup saudara. Saudara harus berkemenangan supaya saudara dapat dengan tegas menawarkan pertolongan Yesus kepada orang lain.

Beberapa pemberian rahmat Yesus yang saudara perlu alami adalah:

a. Kelahiran baru.

Kalau saudara sendiri belum diselamatkan menjadi Anak Allah, saudara perlu dilayani, bukan melayani. Kalau kelahiran baru belum saudara alami, betapa baiknya untuk menerima Yesus sekarang karena tak mungkin saudara selamat tanpa pembaharuan itu (Yohanes 3:3, 5; 1:12).

b. Kepastian selamat

Apakah saudara telah mendapatkan kepastian bahwa dosa-dosa saudara telah diampuni dan bahwa saudara telah memiliki tempat di sorga? Kepastian yang mutlak hanya diperoleh melalui Firman Allah. Kalau Tuhan mengatakan bahwa saudara telah selamat tentu saudara telah selamat (I Yohanes 5:13; Yohanes 5:24; Yohanes 1:12; I Petrus 2:24). Si iblis akan menertawakan segala dasar kepastian yang lain karena dasar-dasar yang lain itu hanyalah khayalan belaka.

c. Kemenangan terhadap godaan

Saudara telah disuruh supaya hidup dengan suci serta sempurna (Matius 5:8; 5:48; Roma 6:6). Iblis akan mengusahakan kelakuan yang bukan dengan maksud menodai dan meniadakan kesaksian saudara. Tetapi Iblis itu ompong, ia hanya dapat mengaum saja. Ia tidak berdaya lagi, karena giginya telah tercabut pada salib (I Yohanes 3-8b; Roma 6:14).

Melalui iman terimalah segala rahmat kemenangan yang telah disediakan Yesus (I Korintus 15:57;10:13; Filipi 4:13).

d. Persekutuan dan persaudaraan dalam kasih.

Yesus tidak bermaksud supaya saudara hidup dan bertahan seorang diri. Ia telah merencanakan suatu lingkungan khusus demi pertumbuhan iman saudara. Persekutuan itu menggantikan segala kerugian di dunia luar (Markus 10:29,30). Persekutuan dengan Yesus sendiri melalui doa dan Alkitab, dan persekutuan kasih dengan saudara-saudara seiman menjadi sumber penyegaran dan penghiburan bagi saudara dalam dunia yang kering ini.

2. Dipersenjatai oleh Roh Yesus

Bersediakah saudara dilengkapi untuk pekerjaan penginjilan pribadi? Roh Kudus menunggu untuk memberikan pertolongan-Nya atas dasar kerelaan dan ketaatan saudara. Fungsi utama Roh ialah untuk memasyhurkan nama Yesus. Jadi Roh itu hanya memberikan kuasa kepada seseorang yang "rela" dan "taat" memberitakan Injil.

a. Kuasa sebagai saksi.

Apakah saudara merasa tidak sanggup meyakinkan orang-orang lain? Sebenarnya hal "meyakinkan" bukanlah urusan saudara melainkan peranan Roh Allah. Menurut janji-janji dalam Firman Tuhan (Kisah 1:8; 2;38,39), saudara dapat diurapi dengan kuasa. Kuasa itu bukanlah sesuatu yang harus saudara tunggu-tunggu seperti rasul Petrus dan rasul Thomas. Mereka disuruh menunggu sampai pada waktunya Roh itu datang, yaitu sampai hari Pentakosta. Pada hari Pentakosta Roh Kudus yang bukan dari dunia, datang menetap di dunia. Sekarang Roh itu ada beserta kita setiap saat. Apalagi Ia telah mendiami anak-anak Allah, dan menunggu kesempatan untuk menyempurnakan mereka.

Kuasa ilahi adalah sesuatu yang dialami "sementara berjalan." Kuasa itu bukanlah milik saudara yang dapat dipegang-pegang dan dirasa terlebih dahulu, melainkan mempunyai maksud tertentu: "kuasa dalam bersaksi" yang tidak terlihat jelas terpisah dari aktivitas pemberitaan Injil. Kuasa itu bukan bagi saudara melainkan bagi kemuliaan Kristus.

b. Pedang Roh.

Hanya satu senjata yang diberikan kepada orang-orang percaya untuk menyerang, yaitu Alkitab. Tidak perlu saudara menunggu untuk diperlengkapi dengan Firman Tuhan. Ambil saja dan pakailah!

c. Perlengkapan rohani.

Paulus pernah melukiskan perlengkapan rohani yang diperuntukkan bagi kita sebagai persenjataan (Efesus 6:10-20). Perlengkapan ini boleh juga dilukiskan sebagai buah-buah Roh (Galatia 5:22,23; Yohanes 15:1-7). Tujuan Roh Kudus adalah untuk menimbulkan kehidupan dalam kehidupan seseorang buah-buah rohani yang sesuai dengan pemberitaannya. Kalau orang luar melihat Injil yang saudara beritakan itu terwujud dan diperlihatkan dalam kelakuan saudara sehari-hari, pastilah keyakinannya akan bertambah mengenai kebenaran Injil itu. Roh Kudus menginginkan dua jalan bagi pemberitaan Yesus, yaitu: melalui bibir dan melalui kesucian hidup - dalam sifat, sikap dan kehidupan saudara yang melawan segala anak panah iblis itu.

C. DISIPLIN ROHANI SEHARI-HARI

Hanya sejauh mana saudara menyediakan diri untuk diperlengkapi, sejauh itu pula Roh Kudus dapat bekerja di dalam diri saudara. Anak-anak Allah yang biasa menginjili telah mengalami bahwa hal-hal yang berikut perlu dilakukan sebagai langkah-langkah penyerahan rohani.

1. Menyelidiki Firman Allah.

Secara teratur dan terus menerus. Jangan hanya membaca saja, melainkan renungkan dan bandingkanlah nats dengan nats sampai ajaran-ajaran pokok meresap dan menjadi darah daging saudara ( I Petrus 2:2; Mazmur 119:11-18).

2. Menghafal ayat-ayat.

Roh Kudus akan bekerja dalam batas pengetahuan saudara tentang Firman Tuhan. Dalam hal ini saudara seumpama sebuah komputer di mana segala sesuatu yang telah tersimpan di dalamnya dapat diambil kembali oleh Roh Kudus untuk dipergunakan. Makin banyak ayat yang telah terhafalkan, berarti makin banyak pula ayat yang dimiliki oleh Roh Kudus sebagai dalam penginjilan. Menghafal merupakan hal yang penting sekali supaya saudara selalu dapat mengingat kembali letaknya suatu keterangan dari Firman Tuhan.

3. Berdoa

Berikanlah waktu-waktu tertentu pada setiap hari untuk bersekutu dengan Tuhan melalui doa. Jangan terburu-buru, melainkan dalam waktu yang tenang supaya Tuhan berkesempatan berbisik kepada saudara mengenai tugas-tugas yang akan dilaksanakan dan rintangan-rintangan pribadi yang harus diserahkan. Buatlah suatu daftar pokok doa yang penting yang perlu didoakan setiap hari.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 1

  1. Pilihlah 5 ayat yang paling mengesankan saudara dari pelajaran ini. Hafalkan ke 5 ayat tersebut.
  2. Daftarkanlah beberapa kebenaran Alkitab yang dapat merangsang pemberitaan Injil.
  3. Tulislah ringkasan "sifat dan keadaan manusia yang berdosa" dalam tiga atau empat kalimat.
  4. Bagaimanakah caranya supaya seseorang memperoleh kuasa dalam penginjilan?
  5. Daftarkanlah beberapa berkat rohani yang saudara telah alami. Untuk setiap berkat tersebut catatlah satu ayat Alkitab yang merupakan perjanjian untuk berkat itu.
  6. Sudahkah saudara turut serta dalam suatu kelompok pelajaran Alkitab dan doa? Kalau belum, tulislah nama 5 teman yang akan saudara ajak untuk membentuk sebuah kelompok doa dan pelajaran Alkitab

2. Apakah Injil Itu?

Penginjil-penginjil pribadi melaksanakan taraf pertama dari amanat Yesus: "Jadikanlah sekalian bangsa itu muridKu" (Matius 28:19). Kalau tugas itu diuraikan, akan saudara lihat bahwa kata "menjadikan" mencakup dua fungsi, yaitu pemberitaan dan pelayanan. Saudara akan selalu memberitakan INJIL yaitu tentang Yesus. Selanjutnya orang-orang yang ingin memperoleh keselamatan yang diberitakan itu akan dilayani dengan bahan tertentu. Penjelasan yang dibutuhkan dalam taraf pelayanan ini biasanya disebut JALAN KESELAMATAN (Pelajaran 4).

Ingatlah! orang-orang berdosa sangat terbatas pengertiannya. Mereka belum dapat meresapkan ajaran-ajaran rohani. Jadi berita dan penjelasan Injil itu harus diberikan dengan sederhana sekali. Tidak boleh saudara anggap bahwa seorang dewasa sanggup menangkap lebih dari pada yang dapat dimengerti oleh kanak-kanak (Matius 18:3). Dalam pelajaran ini saudara akan melihat apa yang harus diketahui tentang Injil yang menjadi dasar keselamatan.

"INJIL YESUS KRISTUS"

Rasul Paulus adalah contoh yang amat baik sebagai penginjil. Perhatikanlah sikapnya terhadap jemaat Korintus. Sewaktu ia memberitakan Injil - yang diutamakannya hanyalah inti yang penting saja, yaitu Yesus dan salibnya (I Kor 2:1-5). Di kemudian hari ia rasa perlu meringkaskan kembali Injil itu (I Korintus 15:1-4).

Rupanya orang-orang percaya di Korintus itu tidak berbeda dengan orang-orang zaman modern yang selalu ingin menambah-nambah dan meruwetkan hal-hal yang seharusnya sederhana. Mereka suka mencampuri dasar iman dengan nasehat-nasehat, ajaran-ajaran dan tafsiran-tafsiran, sehingga Injil menjadi ruwet dan kabur. Rasul Paulus merasa perlu mengingatkan mereka untuk kembali kepada Injil yang sebenarnya.

Telitilah ringkasan Injil dalam I Korintus fasal 15. Saudara akan menemui empat unsur. Dua di antaranya ialah mengenai Yesus dan karyaNya, dan dua mengenai pekerjaan Allah Bapa.

A. DUA HAL MENGENAI YESUS

1. Siapakah Yesus itu?

Pada zaman Yesus banyak orang yang mati tersalib. Menyalibkan merupakan cara pemerintah untuk membunuh penjahat. Kalau Yesus itu manusia saja, tentu salib tersebut tidak akan sampai mempunyai kuasa menyelamatkan seseorang. Kuasa salib terletak pada oknum Yesus yang mati padanya.

Perhatikanlah keistimewaan Yesus pada ayat 3. Ia disebut "Kristus," yaitu Messias atau Pelepas. Ia yang ditetapkan diutus dan diurapi Allah guna suatu tugas khusus pada salib itu (Filipi 2:5-11). Ialah yang digelari "Anak Allah" atau sesuai dengan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama "Anak Manusia". Tidak pernah ada seorang yang seperti Yesus. Ia mempunyai dua tabiat yang tergabung menjadi satu pribadi. Sebagai Anak Allah, Yesus mempunyai kuasa untuk mengerjakan keselamatan manusia pada salib itu. Sebagai anak manusia, Ia berhak mewakili manusia yang berdosa, sehingga mujizat pemersatu itu dapat diselesaikan. Dalam Surat Efesus kita membaca bahwa "Perseteruan kita dilenyapkan" karena "Ia merobohkan dinding penyekat ... dalam penyerahan tubuhnya" (Efesus 2:14-16).

2. Apakah tugas Yesus itu?

Banyak golongan agama ingin angkat suara mengenai inti luas atau batasnya peranan Yesus di dunia ini. Tetapi mereka semua keliru sama seperti orang-orang pada zaman Yesus (Matius 16:13, 14). Saudara juga telah mendengar suara-suara tersebut "Nabikah Dia? Gurukah Dia? Seorang Rajakah Dia?" Terhadap suara-suara yang keliru itu, saudara harus menjawab "Mungkinkah seorang raja terbunuh ketika sedang mewartakan kerajaannya yang tak terkalahkan?" "Seorang gurukah, memakai perumpamaan untuk menjelaskan sesuatu supaya jangan murid-muridnya mengerti?" (Lukas 8:10). "Seorang nabikah, menonjolkan diri sebagai oknum yang layak disembah?"

Kalau Yesus bukan raja, nabi atau guru dalam tugas utamaNya, apakah tugas sebenarnya? Tugas Yesus sebagai utusan Allah harus dilihat dari titik kemenanganNya. Ia menjelma hanya dengan satu tujuan saja, yaitu untuk mati ganti kita pada kayu salib (Filipi 2:5-11). Fungsi-fungsi lainnya hanyalah merupakan pernyataan sifat dan kodratNya. Mujizat-mujizat yang dibuatNya hanyalah merupakan hal-hal yang sekunder dalam menjalankan tugasNya sebagai Penebus manusia.

Perhatikan bahwa di dalam I Korintus 15:3, 4 rasul Paulus menyebutkan hanya satu tugas Yesus yaitu - DISALIBKAN, Pertama dipakai gelar "Kristus" bagi Yesus; kedua dijelaskan "Ia mati karena dosa." Injil tidak ada sangkut pautnya dengan hal-hal lain.

B. DUA HAL MENGENAI PERANAN ALLAH BAPA

Dua pokok lain dalam nats tersebut di atas adalah perbuatan-perbuatan Allah untuk memeteraikan dan mengesyahkan salib Yesus sebagai jalan keselamatan yang benar.

1. Kebangkitan Yesus

Kadang-kadang Injil disebut "Injil kebangkitan." Di kota Atena Paulus pernah memberitakan kebangkitan tubuh, tanpa menyebutkan salib (Kisah 17:22-23). Apakah hal itu merupakan suatu kelalaian dalam pelayanan Paulus? Tidak! Jikalau seorang tidak mau percaya akan Allah yang berkuasa membangkitkan tubuh Yesus maka tentu ia juga tidak akan menghargai berita tentang penyaliban Yesus. Penolakan terhadap yang satu berarti menolak kedua-duanya.

Kubur yang kosong adalah suatu bukti bahwa pengorbanan Yesus pada salib itu telah diterima oleh Tuhan Allah. Dengan membangkitkan tubuh Yesus, Allah telah mengumumkan kepada manusia bahwa hutang dosa manusia telah dilunasi. Karena kubur yang kosong telah menjadi suatu fakta dalam sejarah dengan demikian saudara telah mempunyai pegangan untuk menolak segala bisikan iblis yang meremehkan pekerjaan Yesus pada salib. Kuasa kebangkitan adalah kuasa yang luar biasa. Yesus telah mengumumkan sebelumnya bahwa Ia memiliki kuasa itu (Yohanes 10:17, 18), supaya murid-muridNya dapat dihiburkan serta dapat melihat bahwa segala sesuatu sungguh terjadi sesuai dengan apa yang Yesus telah katakan terlebih dahulu kepada mereka.

2. Setuju dengan nats Alkitab

Ini ditegaskan dua kali dalam nats kita. Paulus ingin supaya orang-orang Korintus mempunyai keyakinan yang kuat. Seolah-olah ia berkata: "Engkau herankah? Selidikilah Firman Tuhan sendiri dan lihatlah, karena segala-galanya telah dinubuatkan ratusan tahun yang lalu."

Hal ini merupakan bukti kedua yang diberikan Tuhan Allah, Manusia tidak sanggup meramalkan sesuatu, hanya Allah yang tidak terbatas pada masa kini. Salib dan kebangkitan bukan peristiwa-peristiwa yang kebetulan saja. Melalui banyak nabi, Allah telah menyediakan bagi semua manusia suatu perincian peristiwa yang akan terjadi sehubungan dengan penyaliban Mesias itu. Maksud pernyataan tersebut ialah, supaya setiap orang boleh melihat, merasa heran dan takut akan Allah yang telah menguasai dunia sedemikian rupa, sampai Ia dapat menetapkan suatu rencana ratusan tahun sebelumnya. Saudara boleh percaya bahwa penyaliban tersebut adalah pekerjaan Allah sendiri. Tidak perlu saudara ragu-ragu tentang apakah salib itu mempunyai kuasa untuk menyelamatkan jiwa seseorang dari dosanya atau tidak.

C. RINGKASAN INJIL

Keempat unsur dari I Korintus 15:3, 4 itu dapat diringkaskan sebagai berikut:

"Yesus adalah Anak Allah, yang telah mengganti hukuman saya pada kayu salib. Ia telah disyahkan menjadi penebus pribadi saya, dalam hal Allah sudah membangkitkan Dia dari kuburNya sesuai dengan isi Alkitab."

Dalam pelaksanaan tugas saudara sebagai pemberita Injil perkara-perkara lain tidak terlalu penting. Kalau saudara rela membatasi diri pada Injil yang sederhana itu saja, tentu hasil penuaian saudara akan menjadi besar.

Ringkasan Injil di atas dapat dimanfaatkan juga oleh saudara dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali kita didatangi oleh orang-orang yang ingin menyajikan suatu ajaran atau corak penafsiran yang baru kepada kita. Tetapi setiap ajaran baru itu dapat dinilai dengan empat ukuran ini.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 2

  1. Selidikilah "Amanat Kristus" dalam Matius 28:18-20.
    1. Apakah kedua fungsi yang lain itu, yang tidak menjadi tugas saudara pribadi?
    2. Menurut nats itu apakah kunci yang mensukseskan saudara sebagai penginjil pribadi?
  2. Perhatikanlah kembali ringkasan Injil dalam I Korintus 15:3, 4. Daftarkanlah beberapa hal yang biasanya dijelaskan oleh penginjil- penginjil pribadi yang tidak disebutkan oleh rasul Paulus.
  3. Jelaskan "Siapakah Yesus itu?" dalam sebuah karangan pendek.
  4. Pelajarilah traktat yang berjudul "Apakah Injil itu?" (lihat lampiran A).
  5. Coba jelaskan Injil kepada 5 orang!.

3. Mendekati Seseorang Dengan Injil

Pelajaran 3

MENDEKATI SESEORANG DENGAN INJIL

Dalam pelajaran yang kedua telah dibedakan "Injil" yang wajib diwartakan kepada semua orang dan "Jalan Keselamatan" yang akan dijelaskan kepada mereka yang ingin menerimanya (yang terbuka terhadap Injil). Dalam pelajaran ini akan kita bicarakan peranan saudara dalam membawa seseorang agar sampai kepada keinginan itu.

Tidak ada dua orang yang sama di dunia ini. Jadi mustahil saudara melatih diri dalam suatu jalan pendekatan tertentu yang berlaku untuk segala keadaan. Dalam pelajaran in kami hanya mengusulkan beberapa patokan saja supaya jangan saudara berputar-putar tanpa tujuan. Yang paling penting adalah beberapa langkah yang terarah. Tidak diperlukan suatu cara yang terperinci, karena Roh Kudus menyertai saudara dalam melaksanakan panggilan ini (lihat Matius 28:18-20). Roh Kudus selalu menunggu untuk menolong saudara. Bagi saudara hanyalah perlu mempunyai tujuan tertentu; dan saudara harus bijaksana mencari pokok-pokok yang dapat dialihkan kepada pelayanan rohani.

A. SIKAP SAUDARA MERUPAKAN HAL YANG PENTING

Tugas penginjilan pribadi lain sekali dibanding dengan tugas seorang penginjil umum. Orang-orang yang mengikuti suatu kebangunan rohani telah mempunyai sifat "ingin tahu." Sedangkan pribadi-pribadi yang saudara mau dekati dalam pergaulan sehari-hari pada umumnya belum mempunyai keinginan itu. Mereka telah merasa puas dengan pegangan agamanya dan keadaan jiwanya. Saudara perlu mengendalikan setiap pembicaraan, sehingga timbullah pertanyaan-pertanyaan dan rasa ingin tahu dalam hati mereka. Kalau mereka ingin tahu, barulah saudara dapat mulai menjelaskan Jalan Keselamatan itu.

Sikap saudara merupakan hal yang penting sekali. Janganlah menghakimi atau menasehatkan orang-orang yang masih duniawi. Mereka tidak akan gemar membicarakan perkara-perkara rohani dengan seorang yang disangkanya picik atau ganjil. Haruslah mempunyai sikap terbuka, dan memakai setiap kesempatan untuk menuju kepada Yesus, sebagai jawab terhadap setiap kebutuhan, khususnya pelepasan dari kuasa dosa.

Biarlah orang itu banyak berbicara.

Saudara harus menghindari perdebatan. Kalau seorang mulai berdebat, hatinya menjadi tertutup. Ia akan mulai membenarkan diri saja dan melawan setiap penjelasan saudara. Mulainya suatu perdebatan, menandakan macetnya usaha penginjilan pribadi. Supaya perdebatan tersebut dapat terhindarkan, dan tetap melancarkan diagnosa rohani yang harus dilaksanakan, biarlah orang yang dilayani itu banyak berbicara. Tetapi saudara perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengendalikan percakapan itu.

Orang yang didekati itu harus banyak berbicara. Ia akan menjadi lebih senang karena saudara ingin mengetahui isi hatinya, sehingga lambat laun kecurigaannya terhadap saudara akan hilang lenyap. Besar kemungkinan, selesai mengeluarkan segala isi hatinya, seperti keputus asaannya dan kekecewaannya, dengan penuh perhatian ia akan berkeinginan supaya saudara juga menjelaskan pendapat rohani saudara. Dan inilah kesempatan yang kita tunggu-tunggu.

Kalau ia telah berbicara banyak, itu akan menolong saudara untuk mengetahui keadaan jiwanya. Makin lama ia berbicara, makin jelas jenis kebutuhan rohaninya sehingga sampailah saatnya, obat yang dibutuhkannya, yaitu Firman Tuhan, dapat saudara berikan dengan tepat. Kalau si penginjil terlalu banyak berbicara akan menjadi kaburlah gejala-gejala penyakit rohaninya. Seorang penginjil pribadi harus berlatih untuk berdiam diri. Renungkanlah sikap seorang dokter terhadap pasiennya. Dokter tersebut tidak akan memberikan penjelasan. Ia hanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan, sampai diagnosa selesai. Dan tanpa banyak bicara ia menentukan obat yang sesuai dengan kebutuhan pasiennya.

B. GARIS BESAR DARI SUATU PENDEKATAN

1. Titik Tolak

Banyak orang yang sungguh-sungguh berhasrat untuk memberitakan Injil, tetapi takut untuk memulainya. Mereka gelisah memikirkan teknik pendekatannya.

Biasanya saudara dapat memulai dengan pertanyaan pertama dari deretan pertanyaan yang diberikan dalam bagian berikut ini. Tetapi sebelumnya, beberapa contoh permulaan lain diberikan supaya saudara bertambah yakin bahwa segala sesuatu dapat dimanfaatkan bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Mungkin saudara akan heran melihat bermacam-macam hal yang dapat dipakai sebagai permulaan untuk menjelaskan Injil.

a. Marah atau kecewakah kita melihat kelakuan seorang penjahat, atau jemu terhadap korupsi pada umumnya?

Contoh: "Aduh! Lihat, jeep itu menabrak sepeda lalu melarikan diri, jahat sekali!" ... Keluhan itu telah menyangkut kerohanian. Saudara dapat menjawab bahwa kelakuan semacam itu tidak mengherankan. "Bukankah semua berdosa di hadapan Allah? Apakah Allah membedakan dosa yang besar dan dosa yang kecil? Dosa kecil itu dipupuk, sampai akhirnya menghasilkan kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Dalam hal yang manakah saudara dan saya mempunyai perbedaan dengan penjahat itu? Bukankah kita orang berdosa juga? Bagaimanakah rencana saudara, untuk melenyapkan dosa pribadi di hadapan Allah, yang akan menghakimi kita pada Hari Kiamat?"

b. Jengkel karena tingkah laku yang tidak baik seorang tetangga, yang beragama Kristen.

Inilah titik permulaan yang baik sekali. Sama seperti contoh pertama tentang kejengkelan itu, keluhan itu dapat dipakai sebagai titik tolak untuk merangsang pengakuan mereka bahwa keagamaan tidak dapat menyelamatkan. Mengaku diri sebagai "orang Kristen" belum berarti apa-apa. Soal yang sebenarnya adalah apakah ia telah mempunyai iman kepada Yesus.

Saudara boleh berkata: "Apa yang dapat kita harapkan dari orang yang dosanya belum diampuni? ... Sudahkah dosa-dosa anda sendiri diampuni? " Dengan landasan orang Kristen "semu" ini saudara dapat berterus terang bahwa mutlaklah Injil Yesus itu. Oleh karena seorang "Kristen" yang dibicarakan, maka orang yang saudara ingin Injil itu tidak akan merasa tersinggung.

c. Orang tua dari pemuda-pemuda yang nakal - crossboy-crossboy.

Biasanya pemuda-pemuda tersebut menjadi perisau karena orang tuanya juga belum selamat. Mereka menyangsikan Injil karena mereka belum melihat bukti iman pada ayah dan ibunya, padahal orang tuanya mengakui Yesus sebagai Juru Selamat. Yang berikut adalah dua contoh tentang bagaimana memakai masalah itu menuju penginjilan.

"Pernahkah ibu menjelaskan jalan pengampunan dosa kepadanya pada waktu ia masih kecil?" "Kalau tidak, apakah ibu sendiri sudah mengetahui jalan itu? Apakah ibu telah mengalami pengampunan dosa?" "Sudahkah ibu mempunyai hak di hadapan Tuhan untuk meminta pertolonganNya dalam hal ini?" "Tuhan tidak akan mendengar doa semua orang. Ia telah menentukan bahwa mereka harus diselamatkan lebih dahulu, baru boleh meminta pertolongan," "Sudahkah ibu menjadi seorang anak Allah?"

d. Orang sakit yang minta didoakan.

Saudara boleh berdoa bagi orang sakit bila mereka minta didoakan (Yakobus 5:14-16). Tetapi periksalah terlebih dahulu, apakah orang itu telah selamat atau belum. Di hadapan Allah penyakit tubuh itu hanyalah soal kecil saja, jiwanya yang paling penting. Jangan biarkan dia mendatangi hamba-hamba Tuhan hanya demi "kepentingan diri" saja, tetapi supaya rela membereskan dirinya melalui Yesus. Selalu bedakan kesembuhan jasmani dan keselamatan jiwa sebagai dua perkara yang terpisah, meskipun sumber dari keduanya adalah rahmat salib Yesus. Yang sakit selalu bersikap serius terhadap penjelasan Injil, tetapi seringkali maksud dan tujuan mereka kabur.

2. Suatu deretan pertanyaan-pertanyaan.

Marilah kita beralih kepada deretan pertanyaan-pertanyaan yang dipakai dalam pendekatan, yaitu jikalau tidak ada jalan masuk seperti contoh-contoh di atas.

Supaya ia jangan merasa tersinggung, janganlah terlalu cepat menanyai hal-hal yang menyangkut pribadinya. Saudara harus mulai dengan pertanyaan-pertanyaan rohani yang umum dan tidak bereaksi terhadap jawaban-jawabannya, sekalipun ia hanya menyebut kejengkelan-kejengkelan terhadap kaum Kristen.

Pertanyaan-pertanyaan yang berikut diusulkan oleh seorang pelopor dan pengarang dalam bidang penginjilan pribadi, Gene Edwards. Perhatikanlah arah pertanyaan-pertanyaan ini, yang harus dimulai dengan perkara-perkara rohani yang umum menuju kepada hal-hal yang khusus di mana terbongkar kebutuhan pribadinya. Saudara harus memakai pertanyaan-pertanyaan semacam ini dengan lemah lembut supaya jangan ia tersinggung karena merasa bahwa saudara telah mencampuri urusan pribadinya.

  • Pernahkan saudara pikirkan hal-hal rohani?
  • Menurut pendapat saudara apakah kebutuhan rohani yang terbesar untuk seseorang?
  • Pernahkah dalam hidup saudara, saudara alami suatu waktu bila saudara pikirkan kebutuhan saudara sendiri untuk hidup yang kekal?
  • Menurut pendapat saudara apakah yang harus diperbuat supaya seseorang dapat masuk hidup yang kekal itu?
  • Bolehkah kita membaca tiga atau empat ayat dari Firman Allah yang menunjukkan kehendak Allah dengan hal ini?.

Kalau pertanyaan-pertanyaan yang di atas diteliti nampak suatu peralihan yang harus dari yang umum, yaitu "seseorang" kepada yang spesifik, "saudara sendiri." Tentu saja jawaban-jawabannya akan menunjukkan pendapat pribadi dari orang yang sedang didekati itu meskipun ditanyai tentang seseorang. Dengan jalan yang halus ini, ia tidak akan merasa suatu serangan terhadap dirinya. Apakah ia akan sedang mengeluarkan pendapatnya sendiri. Sikap kita yang selalu bertanya "menurut pendapat saudara" sangatlah menolong kita menuju pelayanan yang berhasil.

Pertanyaan yang keempat merupakan kunci.

Saudara boleh menyusun suatu deretan pertanyaan yang sesuai dengan pribadi dan lingkungan saudara sendiri. Tetapi harus selalu ada suatu pertanyaan yang seperti pertanyaan keempat di atas. Pertanyaan keempat itulah yang penting karena memungkinkan saudara sampai kepada suatu diagnosa (penilaian rohani). Saudara harus secara mutlak mengetahui penyakitnya sebelum ia diobati dengan Firman Allah. Pertanyaan yang keempat akan menentukan apakah ia telah mengetahui jalan keselamatan atau belum. Kalau belum, maka pastilah ia juga belum selamat. Kalau ternyata bahwa ia telah mengetahuinya, baiklah kita menambahkan suatu pertanyaan lagi, untuk menentukan apakah ia telah memanfaatkan pengetahuan itu dalam hatinya.

Saudara haruslah dengan terarah menggunakan "pertanyaan diagnosa" itu, khususnya kata kerja dari kalimat tersebut. Kata kerjanya harus selalu menanyakan suatu titik permulaan misalnya. "Masuk ke dalam hidup yang kekal," atau "memperoleh pengampunan dosa," atau "menjadi seorang Kristen" (yang terakhir bagi kaum Kristen saja). Dengan demikian saudara akan bebas untuk menanyakan kembali, kalau diagnosa itu masih kabur. Perhatikanlah contoh yang berikut, teristimewa kata-kata kerja yang dipakai. Inilah suatu percakapan antara seorang penginjil (P) dengan temannya (T).

P - "Apakah yang harus diperbuat supaya seseorang memperoleh keselamatan?"
T - "Ia harus hidup dengan baik dan taat kepada segala peraturan agamanya."
P - "Memang benar, seseorang yang telah selamat akan berbuat baik, tetapi bagaimanakah caranya supaya ia memperoleh keselamatannya?"
T - "Ia harus berusaha hidup suci dan berdoa meminta pertolongan dari Allah bukan?"
P - "Tentu saja, seorang yang telah mempunyai hidup yang kekal akan berbuat demikian, tetapi bagaimanakah jalannya supaya seseorang mendapat hidup yang kekal itu?"
T - "Ia harus dibaptiskan!"
P - "Seseorang yang diselamatkan pasti akan dibaptiskan, tetapi persoalannya ialah titik permulaannya. Bagaimanakah caranya supaya memperoleh keselamatan itu?"
T - "Saya tidak tahu. Bagaimana pendapat anda?"
P - "Bukan pendapat saya yang penting. Tetapi apakah saudara ingin melihat, apa yang Tuhan Allah telah katakan mengenai hal ini?"

Dalam percakapan di atas, ternyata bahwa teman penginjil itu belum selamat. Orang-orang yang telah selamat (sekalipun keliru pengertiannya) akan menyebutkan sesuatu tentang Yesus, karena Yesuslah sumber keselamatan yang satu-satunya. Meskipun ia seorang yang beragama Kristen yang telah dibaptiskan, rajin ke gereja, senantiasa berdoa, menjadi guru Sekolah Minggu, atau majelis gereja, dan ia sungguh-sungguh patuh; tetapi kalau ia belum mempunyai hubungan dengan Yesus secara pribadi, maka ia belum selamat. Semua kebaikan itu hanyalah usaha-usaha untuk menyelamatkan dirinya melalui keagamaan. (lihat Yohanes 6:28, 29; Matius 7:21, 23).

3. Beralih kepada "Jalan Keselamatan."

Kalau saudara telah yakin bahwa orang yang dilayani itu belum selamat, maka dengan sopan beralihlah kepada ke empat fakta rohani, sebagai penjelasan Jalan Keselamatan (pelajaran ke 4). Pertanyaan ke 5 (pada halaman 28 sesuai untuk menuju keperalihan ini).

Saudara harus waspada dalam mengendalikan seluruh percakapan pendekatan itu, supaya ketiga hal yang berikut ini telah diakuinya sebelum beralih kepada Jalam keselamatan. Kalau ia belum sampai kepada ketiga pengakuan yang berikut ini, ada kemungkinan bahwa ia akan menentang terhadap salah satu dari ke empat fakta rohani. Sebaiknya sebelum pertanyaan ke empat diajukan, ia telah:

a. mengaku adalah seorang berdosa.
b. mengaku tidak puas dengan pegangan yang lama, dan telah melihat bahwa prinsip lama atau "agama" itu tidak mungkin memberikan kepuasan rohani.
c. mulai berkeinginan untuk mengetahui tentang jalan yang harus ditempuhnya untuk memperoleh keselamatan.

4. Beberapa petunjuk praktis.

a. Jangan mengeluarkan senjata (Alkitab) sebelum ditentukan penyakit rohaninya dan sebelumnya ia berkeinginan melihat jawaban dari Firman itu.
b. Jangan mengajar atau menasihati. Fungsi saudara adalah untuk "menginjili." Meskipun orang itu kurang bersusila ataupun tidak beradab, jangan kaget atau heran. Perkara itu tidak akan diselesaikan oleh nasehat saudara, melainkan pada salib Yesus. Hanya berterima kasihlah karena dosanya demikian jelas sehingga ia insyaf bahwa ia membutuhkan seorang Juruselamat.
c. Injil Yesus sangat indah. Jangan membuang Injil itu di hadapan pengolok-olok. Rangsanglah dahulu, dan kalau timbul suatu minat, barulah memberitakan jalan kelepasan dalam Yesus itu.
d. Boleh juga kita mengambil sikap bahwa: "layaklah seorang yang ber - Pancasila mengetahui dasar kepercayaan orang-orang Kristen."
e. Kalau waktunya sempit, boleh juga lebih lekas menuju penjelasan Injil atau memberi kesaksian. Baik juga memberikan suatu traktat yang tepat. Tetapi lebih sempurna lagi untuk menentukan suatu waktu di mana saudara dapat berbicara dengan dia dengan tenang.
f. Kesaksian bukanlah riwayat hidup. Dalam suatu kesaksian Yesuslah yang harus menonjol dan bukan pengalaman saudara.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 3

  1. Apakah syarat-syarat yang harus digenapkan sebelum saudara beralih kepada penjelasan Injil?
  2. Tulislah sebanyak mungkin jawaban-jawaban salah yang dapat diberikan kepada pertanyaan pendekatan nomor empat.
  3. Hafalkanlah Yohanes 3:3 dan Yohanes 6:37b.
  4. Menurut pendapat saudara, apakah batas waktu bagi saudara untuk menginjili dalam beberapa keadaan? Tulislah situasi dan beberapa menit saudara boleh bercakap-cakap.
  5. Tulislah suatu pertanyaan tak langsung yang menyangkut iman. Tanyakan pertanyaan tersebut kepada sepuluh orang, satu demi satu. Pertimbangkanlah sendiri makna segala jawaban itu.

4. Menjelaskan Jalan Keselamatan

Pelajaran 4

Menjelaskan Jalan Keselamatan

Kalau hati seseorang telah terbuka terhadap Injil dan ia mau dilayani, saudara harus beralih kepada penjelasan selanjutnya, yaitu bagaimana caranya supaya memanfaatkan Injil itu. Penjelasan praktis ini diberi judul JALAN KESELAMATAN.

Pengetahuan dan keinsyafan

Belum cukup bagi seseorang hanya mengetahui jalan keselamatan itu saja. Ia sendiri harus bertindak untuk memperoleh keselamatan jiwa yang ditawarkan itu. Hanya pengetahuan yang disertai keinsyafan yang dapat mendorong dia untuk berbuat sesuatu. Dengan keinsyafan berarti ia sudah menyadari bahwa keterangan yang dimilikinya itu menyangkut dia sendiri; bahwa ialah yang berdosa dan perlu diselamatkan. Sebelum kebenaran itu ia resapkan, ia tidak akan merasa perlu untuk melarikan diri kepada Yesus. Tetapi bila ia telah insyaf ia tidak akan berkata lagi: "Semua manusia adalah berdosa!" "Sayalah orang yang celaka!"

Keempat fakta rohani

Telah lazim bahwa penginjil-penginjil pribadi menjelaskan Jalan Keselamatan itu menurut apa yang disebut "KE EMPAT FAKTA ROHANI." Fakta-fakta tersebut hanyalah alat saja, yaitu suatu urutan pokok-pokok dari Alkitab, supaya jangan saudara menyimpang dalam tugas pelayanan. Saudara akan menemukan bermacam-macam bentuk dari ke empat pokok ini, dalam buku-buku penuntun dan traktat-traktat dari pelbagai pengarang; tetapi garis besarnya selalu sama. Dengan memakai cara yang demikian sederhana setiap anak-anak Allah sanggup menginjili karena setiap orang sanggup menguasai empat buah kalimat saja.

Fakta-fakta yang pertama, kedua dan ketiga semata-mata merupakan tinjauan terhadap Injil. Ketiga pengajaran itu selalu diberitakan oleh setiap gereja Kristen; yaitu mengenai kegagalan manusia dan kemenangan Yesus pada salib. Tetapi fakta keempat yang sering dilalaikan. Mungkin kelalaian ini disebabkan karena sebagian pejabat-pejabat gereja belum sampai memikirkannya. Ada juga hamba-hamba Tuhan yang kuatir bahwa kalau "anugerah saja" yang terlalu ditekankan, maka orang-orang percaya akan bertambah malas dalam tugas-tugas gerejanya. Tetapi justru langkah keempat itulah yang menghidupkan, karena langkah ini akan memindahkan Injil dan bahan pemikiran menjadi dasar iman.

Terangkanlah yang berikut ini dengan jelas dan sederhana. Pada setiap langkah ingat bahwa keseluruh hidup seseorang harus diikut sertakan pada Yesus. Pembagian berikut akan menentukan sikap dan cara pelayanan saudara.

  1. Nyatakanlah fakta-fakta Alkitab dengan teratur. AKALNYA harus menguasai fakta-fakta itu sebelum ia diajak untuk menerima Yesus.
  2. Dalam berbicara hendaklah dengan penuh perasaan dan kasih. HATINYA (EMOSINYA) juga harus tertarik kepada Yesus.
  3. Berikanlah suatu tantangan yang positif. KEHENDAKNYA haruslah menyetujui Yesus sebagai dasar keselamatannya.

Ayat-ayat yang dicetak tebal harus dihafalkan dengan sempurna.

A. Fakta No. 1 - DOSA DAN HUKUMANNYA

"Saya telah berbuat dosa dan patut menerima hukuman maut yang kekal" (Roma 3:23; Roma 6:23; Yesaya 59:2).

Setiap orang telah berbuat dosa (Roma 3:23; Yesaya 53:6). ARTI dari dosa di sini adalah kurang dari ukuran Allah, yang Maha Suci dan Maha Adil itu.

Akibat dosa adalah maut (Roma 6:23). ARTI dari maut itu adalah perceraian dengan Allah (Yesaya 59:2). Oleh karena setiap orang telah berbuat dosa, maka ia harus hidup terpisah dari Allah dan kasihNya untuk selama-lamanya.

Biasanya orang-orang yang saudara akan layani itu mempunyai keinsyafan akan dosa-dosanya. Kalau demikian, bacakanlah bersama-sama dengan dia satu ayat sebagai landasan saja, kemudian langsung pindah pada fakta kedua.

Kalau hal dosa belum jelas bagi seseorang, keterangan yang berikut dapat diberikan. "Allah telah menyatakan ukuranNya bagi semua manusia dalam SEPULUH PERINTAH yang diberikan melalui Nabi Musa, tapi kemudian dalam "Khotbah di bukit" (Matius 5) Yesus telah menunjukkan, betapa luasnya ruang lingkup perintah-perintah tersebut. Disamping itu Yesus sendiri sudah menjadi suatu teladan (contoh) dari hidup manusia yang sesuai dengan kehendak Allah .... Jikalau orang yang dilayani itu tidak mau sadar atau mengaku fakta dosanya, suruhnya ia membandingkan dirinya dengan Yesus. Relakah ia secara pribadi menurut suatu hidup sebaik Yesus? ... Kalau tidak, tentu ia telah kurang diri ukuran Allah dan ini berarti bahwa ia termasuk golongan orang berdosa.

Kalau orang yang dilayani itu belum merasa gelisah atau berduka cita karena dosanya, maka perlu sekali fakta yang pertama ini dibicarakan sampai matang dahulu (II Korintus 7:8-10). Untuk keterangan yang lebih mendalam lagi selidikilah pasal 5 dari buku ini. Bimbingan tidak dapat diteruskan kepada fakta kedua sebelum ia "bertobat".

B. Fakta No. 2 - USAHA MANUSIA ITU SIA-SIA ADANYA

"Saya tidak sanggup melepaskan diri saya dari hukuman maut itu" (Efesus 2:8,9; Roma 3:20; Yohanes 14:6).

Pada umumnya manusia berada dalam alam fikiran yang sangat bertentangan dengan Injil Kristus. Mereka semua ingin memperoleh keselamatan, tetapi karena akalnya telah dinoda oleh dosa, maka dicari-carinya keselamatan itu dengan jalan-jalan yang salah. Mereka semua menganggap bahwa ada suatu usaha yang dapat membawa mereka kembali kepada jalan pergaulan dengan Allah. Lihatlah sikap orang muda yang kaya (Markus 10:17, 22). Ia telah merasa haus dalam jiwanya sehingga tergesa-gesa meminta nasihat dari Yesus. Segala perbuatannya yang salah itu belum memuaskan kehausan jiwanya. Tetapi tidak bertanya demikian: "Bagaimanakah jalannya supaya saya dapat memperoleh hidup yang kekal?" Sama sekali tidak! Sebab ia mempunyai maksud yang lain. Ia bertanya: "Apakah yang patut hamba perbuat?" Dalam pemikirannya, segala sesuatu harus berkisar pada usahanya sendiri. Demikian kabur mata rohaninya sehingga ia tidak dapat mengerti maksud Tuhan Yesus. Yesus seolah-olah menjawab: "Tahukah kamu siapa Aku?" Orang muda itu belum bersedia menerima sesuatu yang tidak dapat diusahakan sendiri ... Setelah pemuda itu pergi, dengan sedih Yesus menerangkan kepada kedua belas muridNya, bahwa keselamatan adalah mustahil untuk diusahakan oleh manusia; hanya dapat disediakan oleh Allah (ayat 27).

Kalau arti "dosa" itu kita tinjau kembali, nampaklah bahwa segala kesibukan manusia itu kosong belaka. Manusia telah mutlak kalah terhadap syarat-syarat yang ditentukan oleh Allah. Seandainya tidak ada rahmat, maka tidak ada juga keselamatan. Allah tidak dapat ditipu. Meskipun seorang menonjolkan segala perbuatannya yang baik, Allah mempunyai mata yang tajam dan dapat melihat setiap kejahatan yang telah disembunyikan di belakang tirai kesalehan itu (I Samuel 6:7b).

C. Fakta ke 3 - YESUSLAH JALAN

"Yesus adalah satu-satunya jalan pelepasan bagi saya karena Ia telah menjadi pengganti saya untuk dihukum pada salib itu" (Roma 5:8; I Petrus 2:24; I Petrus 3:18).

Sukakah saudara mengatakan bahwa Allah itu Kasih adanya? Tetapi saudara tidak boleh lupa bahwa Allah juga Maha Suci dan Maha Adil. Allah tidak akan membiarkan hutang dosa seseorang dengan begitu saja. Kalau Allah tidak menuntut upah dari dosa kita (maut) yang telah ditetapkanNya sendiri itu, Ia tidak tepat lagi dinamakan "Allah yang benar." Haruslah ada pembayaran terhadap hutang manusia itu.

Karena Allah sungguh kasih adanya Yesus telah menjelma menjadi manusia. Yesus datang untuk menebus manusia. Arti "menebus" adalah menyediakan jalan keluar bagi manusia yang tak berdaya lagi itu. Dengan cara yang kita sukar mengerti, Yesus telah memenuhi kesucian dan keadilan Allah dalam kematiannya pada salib. Sehingga manusia dapat dibebaskan dari hukuman maut (Yohanes 3:16; Roma 5:8).

Janganlah bicarakan unsur-unsur yang lain, kecuali Yesus. Setiap jalan pemikiran yang tidak menuju kepada penerimaan Yesus, harus dihindarkan. Hanya ada dua perkara yang terpenting di sini, yaitu bahwa:

  1. Yesus adalah Sang Penebus.
  2. Yesus pada saat ini sedang menawarkan pengampunan dosa dan keselamatan.

Adakah orang yang dilayani akan menjadi sedikit takut dan akan menunda keputusan. Ia akan mencari jalan keluar seperti membicarakan ajaran-ajaran Kristus, gereja, kelakuan orang-orang Kristen dan sebagainya. Tetapi hal-hal yang seperti ini tidak akan menempelak hati kecilnya. Hanya berita tentang Yesus tersalib yang berkuasa mendukakan hatinya. Karena itu janganlah saudara masuk ke dalam perangkap suatu percakapan agama.

Hanya Yesuslah yang dapat melaksanakan tugas penebusan itu, karena Yesus memiliki dua hal yang istimewa, yaitu:

- Yesus bukan hanya manusia saja. Ada dua tabiat yang tergabung dalam diri Yesus yaitu kemanusiaan dan keilahian. Dengan keilahiannya itu, Ia sanggup mengerjakan sesuatu bagi seluruh umat manusia.

- Hanya Yesus saya yang pernah hidup tanpa dosa. Sehingga Ia tidak memperoleh hukuman atas diriNya. Kalau perlu ditegaskan bahwa tidak ada jalan lain, lihatlah Yohanes 14:6 dan Kisah Para Rasul 4:12.

D. Fakta ke 4 - MENERIMA YESUS

"Untuk memperoleh keselamatan yang telah Yesus sediakan, saya harus menerima Dia secara pribadi" (Yohanes 1:12; Wahyu 3:20).

Keinsyafan terhadap fakta-fakta yang pertama, kedua dan ketiga itu tanpa penerimaan adalah seumpamanya sebuah hadiah yang tetap terbungkus. Hadiah itu telah diletakkan ke dalam tangannya. Orang itu mungkin sedang memandang kepada bungkusan yang sangat indah itu, tetapi ia belum menggunakan isinya. Sebelum hadiah Injil itu dia buka berarti selama itu pula pemiliknya masih seorang yang sesat. Kalau dia buka, ia akan menikmati isinya, yang pengampunan dosa, pembaharuan hidup, dan hidup yang kekal. Langkah penerimaan inilah yang akan membukakan semua anugerah kepada seseorang.

Tetapi "penerimaan" bukanlah suatu "penyerahan." Penyerahan berarti bahwa seseorang yang telah didiami oleh Roh Yesus akan memutuskan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepadaNya. Dari segi disiplin pribadinya ia melepaskan ikatan-ikatan duniawi yang mengelabuhi mata rohani. Penyerahan itu memungkinkan pengendalian dan penyesuaian pola-pola hidupnya.

Jagalah urutan yang tepat ini dalam setiap pelayanan. Ajaklah seseorang yang berdosa untuk "menerima" Yesus sebagai sumber pengampunan dosa. Ajaklah anak-anak Allah agar "menyerahkan diri" untuk pekerjaan Tuhan.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 4

  1. Hafalkanlah kelima ayat yang dicetak tebal dalam pelajaran ini.
  2. Di luar kepala, tulislah keempat fakta itu. Setiap fakta harus merupakan kalimat lengkap.
  3. Banyak usaha pelayanan menjadi macet karena penginjil tidak dapat menjelaskan arti dari istilah-istilah yang dipakainya. Untuk setiap istilah berikut ini, jelaskanlah artinya (dalam satu kalimat pendek).
    1. Dosa
    2. Keselamatan
    3. Maut
    4. Bertobat
  4. Mulailah menginjili teman-temanmu sekarang ini juga. Tidak usah merasa kuatir. Saudara telah mempunyai cukup bahan, dan Roh Kudus menunggu kesempatan untuk memanfaatkan bahan itu melalui saudara. Pelajaran-pelajaran selanjutnya hanyalah bahan untuk melancarkan pelajaran saudara dan untuk memperluas lapangan kerja bagi saudara.

5. Perluaslah Dasar Pengertian Saudara

Pelajaran 5

PERLUASAN DASAR PENGERTIAN SAUDARA

Pada umumnya keterangan yang diberikan dalam pelajaran keempat, telah cukup untuk menjelaskan jalan keselamatan. Dengan penjelasan ini orang-orang yang bukan Kristenpun tidak akan keliru tentang maksud Injil tersebut. Tetapi untuk mereka yang tergolong "Kristen semu," apalagi kalau mereka telah didatangi oleh bidat-bidat, seringkali dibutuhkan penjelasan yang lebih terperinci. Pengertian mereka sangat kabur karena iblis itu licik sekali (II Korintus 4:4). Perhatikanlah bagaimana cara iblis mencobai Tuhan Yesus (Matius 4). Ia lebih suka membelokkan Firman Allah daripada terang-terangan menolaknya.

Maksud dari pada pelajaran kelima ini adalah untuk meletakkan dasar yang lebih luas. Bahan ini disusun berdasarkan pengalaman dalam melayani orang-orang yang menganggap dirinya telah mengetahui isi kekristenan itu, padahal belum. Kami harap agar bahan ini dapat membantu saudara untuk melayani bermacam-macam orang dengan aneka ragam keragu-raguan.

Dalam pelayanan, berikanlah bahan-bahan yang seperlunya saja. Tugas saudara bukan untuk mengajarkan segala kebenaran, melainkan untuk membimbing kepada keinsyafan pribadi. Kalau orang yang dilayani itu telah sadar berdasarkan keempat fakta rohani, jangan ditambahi dari pasal ini. Usahakanlah selalu supaya Injil itu diberikan sesederhana mungkin.

A. PERTOBATAN DAN PENYERAHAN

1. Arti pertobatan

"Bertobat" mempunyai arti tertentu dalam pelayanan rohani, dan arti itu lebih daripada "menyesal." Seorang narapidana akan menyesal karena tertangkap basah. Hal itu bukanlah berarti pertobatan, jikalau ia tetap bermaksud untuk melakukan kejahatan yang sama setelah dibebaskan kembali. Seorang anak kecil akan merasa menyesal, kalau ia telah mendukakan ibunya. Tetapi pada keesokan harinya ia akan melakukan hal yang sama juga. Yang pertama, "bertobat" berarti bahwa seseorang telah demikian jemu dan menyesal atas kelakuannya sehingga ia memutuskan untuk mengubahnya.

Yang kedua, "bertobat" berarti bahwa setelah seseorang menyesal, ia akan berpaling kepada jalan yang benar (I Tesalonika 1:9, 10). Sering terjadi bahwa orang yang menyesal itu berpaling kepada jalan palsu yang lain, misalnya dengan membuat kompensasi. Satu contohnya orang-orang Parisi yang mencuri dari janda-janda (Lukas 20:27) tetapi berusaha menyembunyikan kelakuan yang jelek itu dibalik suatu kelakuan yang baik, yaitu menghiasi batu-batu kuburan para nabi (Matius 23; 29-36). Mereka berharap agar supaya perbuatannya yang baik itu demikian menyolok, sehingga keburukannya tidak diingat lagi oleh orang-orang lain. Itu bukan pertobatan. Bertobat berarti berubah dan berpaling kepada Yesus.

Yang ketiga, "bertobat" tidak mempunyai arti sesungguhnya bila terlepas dari sesuatu hubungan dengan Tuhan Allah. Misalnya, kadang-kadang seorang akan merasa berdosa karena telah melanggar adat istiadat sukunya. Pelanggaran itu, belum mempunyai orientasi rohani, karena hanya melihat kepada norma-norma manusia. Dosa adalah yang berhubungan dengan keadaan seseorang dan sikap Allah terhadap dia. Seseorang harus insyaf bahwa Tuhanlah yang dia hina, sehingga keadaannya sangat berbahaya.

2. Menyangkut seluruh pribadi

Pertobatan yang menyelamatkan itu mencakup keseluruhan dari pribadi seseorang:

  1. Ia akan merasa berdosa.
  2. Ia akan mengetahui bahwa ialah seorang yang jahat dan bahwa kejahatan itu mengakibatkan hukuman Allah.
  3. Ia akan memutuskan untuk berpaling kepada Allah melalui Yesus Kristus.

Petobat itu akan memihak kepada Allah dan menentang dirinya sendiri karena ia telah yakin bahwa Tuhan sajalah yang benar dan adil.

3. Pertobatan orang-orang percaya

Banyak tokoh gereja yang telah mementingkan pertobatan orang-orang percaya, misalnya Matinus Luther dan John Wesley. Memang benar bahwa anak-anak Allah lebih bersedia bertobat dari pada mereka yang belum percaya kepada Yesus Kristus. Banyak nats Alkitab yang menyangkut hal pertobatan itu, seperti I Yohanes 1:9 dan II Korintus 7:8-10 yang dialamatkan kepada kaum Kristen.

Sudahkah saudara memikirkan kebutuhan seorang yang telah selamat supaya bertobat? Perhatikanlah kebenaran-kebenaran yang berikut:

  1. Anak-anak Allah telah mempunyai Alkitab sebagai ukuran moralnya. Mereka tidak lagi keliru tentang kehendak Allah dan mengenai kecenderungan mereka untuk berbuat jahat.
  2. Hati yang didiami oleh Roh Yesus akan lebih berperasaan. Hati kecilnya lekas tertempelak atas sesuatu pelanggaran.
  3. Yesus mau diakui bukan saja sebagai Juruselamat saja, melainkan sebagai Tuhan.

Biasanya pada ketika menerima Yesus seseorang hanya sadar bahwa Yesus telah menyediakan tempat di sorga baginya. Padahal Yesus berkehendak untuk menjadi Juruselamat dan Tuhan bagi orang itu dalam kekekalan dan kekinian, karena Yesus jugalah yang telah menciptakan alam yang fana. Roh Yesus akan terus menerus berusaha untuk mengisyafkan dan menggelisahkan seseorang sampai ia bertobat dari kesia-siaan hidupnya serta menyerahkan diri secara bulat kepada Tuhan Yesus (Matius 22:37).

B. DOSA DAN HUKUMANNYA

Orang-orang yang percaya perlu mengetahui arti sebenarnya dari "dosa" dan arti sebenarnya dari "maut" itu.

Alkitab senantiasa membedakan dosa-dosa yang dilakukan dan difikirkan oleh seseorang, dari kedukaannya sebagai orang berdosa. Kelakuan-kelakuan itu hanya menandai keburukan batin dan keadaan batin itulah yang dipersoalkan.

1. Dosa-dosa dan kelakuan

Ada beberapa kata yang tidak sama artinya di dalam bahasa asli, yang semuanya diterjemahkan "dosa" atau "kesalahan" dalam Alkitab bahasa Indonesia. Di antaranya terdapat kata-kata yang berarti "melanggar," "tidak ber - Tuhan" dan "najis" tetapi kata yang banyak dipakai, "harmatia" berarti "kurang dari ukuran Allah" atau "tidak tepat pada ketetapan Allah." Kata inilah yang dipakai dalam Roma 3:23 dan dalam Roma 6:23, yaitu Allah yang Maha Suci telah menetapkan suatu ukuran bagi manusia. Ukuran tersebut ialah kesempurnaan hidup sehingga tak seorangpun berhak menuntut akan suatu jasa atas kelebihan mereka. Segala kebaikan telah termasuk syarat. Satu kelalaian atau pelanggaran, sekalipun kecil telah menggagalkan seseorang terhadap ukuran itu.

Pada lazimnya yang diakui oleh manusia sebagai ukuran yang dari Allah adalah yang disebut "Sepuluh Hukum" atau "Dasa Titah" (Keluaran 20:1-17). Mungkin seseorang yang salah tangkap tentang maksud Dasa Titah itu akan merasa bahwa ia telah menaati segala hukum Allah, seperti orang muda yang kaya itu (Markus 10:19-20). Kalau demikian, sebaiknyalah ia merenungkan Matius 5. Di situ Yesus sendiri memberikan penjelasan lanjutan bahwa maksud Sepuluh Hukum itu bukanlah hal-hal lahir yang ringan dilaksanakan, melainkan suatu taraf kesempurnaan batin (Matius 5:48). Dengan melihat apa yang dipikirkan dalam batin saja, sifat sebenarnya dari orang itu telah diketahui oleh Allah.

Pada taraf yang tertinggi ukuran Allah itu dinyatakan dalam diri Yesus, Yesuslah yang telah menjadi contoh hidup bagi manusia yang dikehendaki oleh Allah Yesuslah satu-satunya yang pernah melakukan syarat-syarat Torat itu dengan sempurna. Sanggupkah saudara untuk mencapai ukuran yang sesempurna Dia? Dengan melakukan suatu tindakan pemberontakan, satu kenajisan atau satu saja pemikiran yang tidak beres, atau satu kelalaian yang tidak disadari sudah berarti saudara gagal dan "kurang dari ukuran Allah" itu.

2. Hal "orang-orang berdosa."

Alkitab menjelaskan bahwa dosa-dosa kelakuan merupakan gejala-gejala saja, yang menyatakan pokok keadaan yang sebenarnya yaitu bahwa manusia sudah masuk golongan "orang-orang berdosa." Keadaan itu diwarisi sebagai akibat dosa dari Adam dan Hawa. Menurut Firman Tuhan, bukan kelakuan seseorang yang terpenting melainkan sumber kelakuannya yang ada dalam hati yang jahat. Dan itulah yang menimbulkan buah-buah yang pahit (Matius 7:15-20; 23:25-28). Jadi bukanlah "Sayalah orang berdosa, karena saya telah berbuat dosa" melainkan "Saya berbuat dosa karena sayalah seorang berdosa."

Meskipun seseorang merasa bahwa ia belum pernah berbuat dosa, tetapi secara rohani ia tetap tergolong orang berdosa. Tuhan hanya melihat kepadanya sebagai mayat rohani karena dalam jiwanya belum terjadi proses pembaharuan melalui iman (Efesus 2:1, 5, 6).

Kadang-kadang gambar "Jurang pemisah" dipakai untuk menjelaskan keadaan manusia yang berdosa. Gambar ini tepat sekali karena jarak yang memisahkan manusia dari Allah yang suci (Yesaya 59:2) demikian lebarnya sehingga tidak ada seorang juarapun yang sanggup meloncat untuk menyeberanginya.

3. Arti dari pada "maut."

Maut adalah akibat daripada dosa (Roma 6:23a). Apakah artinya maut? Boleh dikatakan bahwa manusia telah mati (Efesus 2:1) karena mewarisi upah dosa Adam dan Hawa. Dan kalau manusia tidak berpaling kepada Yesus Kristus, mereka akan mati untuk selama-lamanya. Kalau seseorang belum percaya kepada Yesus, meskipun ia mempunyai kehidupan jasmaniah, ia belum memiliki kehidupan rohani. Ia berada dalam keadaan mati rohani. Ia belum mempunyai hubungan dengan Allah yang Roh adanya (Yohanes 4:24).

Suatu riwayat dalam Alkitab yang paling jelas mengenai keadaan yang ganjil ini ditemukan dalam Kitab Kejadian pasal 2 dan 3, di mana Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Sebelum mereka berbuat dosa mereka mempunyai kehidupan jasmaniah yang sama seperti kita. Mereka dapat bergerak dan berbicara, mereka memikirkan dan memutuskan sesuatu. Di samping kehidupan jasmaniah itu mereka memiliki sesuatu yang lebih indah. Yaitu pergaulan pribadi dengan Tuhan Allah. Justru kehidupan rohaniah itulah yang lenyap pada saat mereka berbuat dosa.

Kalau seseorang tidak mengambil tindakan untuk menghubungkan dirinya kembali dengan Allah melalui Yesus, ia akan tinggal untuk selama-lamanya dalam kematian rohani yang diwarisnya itu. Dengan setiap dosa kelakuan yang ia perbuat, ia menyatakan bahwa ia menyetujui "kemayatan" itu.

C. HAL-HAL AGAMAWI YANG KELIRU

Menyesal sekali, tetapi dapat dimengerti juga adanya banyak unsur-unsur keagamaan yang hanya merupakan buah maut itu, perbuatan yang sia-sia belaka karena bukan Allah yang menetapkannya. Seringkali hal-hal agamawi itu nampak juga pada orang-orang yang menyebabkan dirinya Kristen. "Kristen semu" ini belum memiliki dasar pengertian dari Firman Allah, mereka menyisipkan pemikiran-pemikiran duniawi ke dalam kepercayaannya. Di samping memperpadukan unsur-unsur kekafiran dengan kepercayaan yang sebenarnya, seringkali acara-acara dan ajaran-ajaran Kristen yang benar itu diberi pengertian yang salah karena alam fikirannya yang duniawi.

Selidikilah Firman Tuhan tentang contoh-contoh berikut:

1. Upacara-upacara keagamaan

a. Kebaktian-kebaktian.

Sering orang-orang Kristen semu itu menganggap bahwa kewajiban yang satu-satunya telah mengikuti kebaktian-kebaktian. Sebaliknya iman yang benar itu seharusnya dinyatakan setiap hari melalui kelakuan-kelakuan yang sesuai dengan pengakuan (Mazmur 51:18, 19; Yesaya 1:12-18; Mazmur 24:3,4; Yakobus 2:26).

b. Perjamuan Kudus.

Kadang-kadang seorang menganggap bahwa ia diselamatkan "karena" mengikuti Perjamuan Kudus. Ada kalanya roti dan anggur itu dianggap menjadi barang suci yang mempunyai daya kekuatan dalam dirinya. Sebenarnya upacara itu hanyalah peringatan, bukan saluran berkat (Yohanes 6; I Korintus 11:23-26).

c. Pembaptisan.

Pembaptisan adalah pengakuan umum dan lambang dari apa yang telah terjadi dalam diri seorang melalui kepercayaannya. Bukti dari iman bukanlah surat pembaptisan, melainkan hidup yang baru dan suci (Kisah Para Rasul 10:47, 48; I Petrus 3:21; Roma 6:1-4).

2. Syarat-syarat Torat.

Hukum Allah diberikan sebagai "pelatih" atau skala pemeriksa diri bagi manusia. Maksudnya bukanlah supaya seseorang mencari keselamatan melalui ketaatannya. Tetapi diberikan untuk menyatakan keadaan yang sebenarnya, yaitu bahwa setiap manusia telah melanggar dan gagal. Jadi janganlah berharap pada jalan yang kosong melainkan kepada Yesus yang telah menggenapkan Torat itu (Matius 5:17; Roma 3:20; Roma 7:7; Galatia 2:16).

3. Kesusilaan dan amal.

Kesusilaan dan amal menyatakan kehendak yang baik tetapi belum menyatakan bahwa orang itu diperkenankan oleh Allah. Kornelius adalah contoh yang baik bahwa meskipun Allah ingin menyelamatkan seseorang yang berkelakuan baik tetapi Ia telah membatasi diriNya untuk hanya memperkenalkan mereka yang percaya kepada berita Injil (Kisah Para Rasul 10:1-11; 18, khususnya 11:13, 14).

D. LAMBANG-LAMBANG DARI KARYA KRISTUS

Yang paling penting dalam penginjilan ialah pengertian tentang Penyaliban Yesus. Walaupun hal-hal yang lain tetap kabur, tetapi harus jelas sekali baginya bahwa Yesus sudah mengerjakan sesuatu yang mutlak pada waktu Ia menyerahkan nyawaNya di kayu salib. Pekerjaan Yesus itu sedemikian ajaib sehingga sukar bagi manusia untuk mengertinya. Untuk menambah pengertian kita, Allah telah menyediakan beberapa gambaran. Dua di antaranya akan kita selidiki yaitu "korban perdamaian" dan "darah dan tubuh."

1. "Korban perdamaian."

Dalam Ibrani 10:24-28 dan Efesus 2:14-16 persembahan diri Yesus dibicarakan. Nats-nats tersebut menjelaskan bahwa persembahan itu telah memperdamaikan kita dengan Allah. Korban perdamaian adalah suatu istilah yang tetap bagi jalan kelepasan itu. Korban merupakan pembayaran hutang kepada Allah. Kita yang tidak sanggup lagi berbuat apa-apa wajiblah datang kepada salib Yesus bagaikan pengemis-pengemis. Di situlah seolah-olah diletakkan ke dalam tangan kita korban yakni Yesus itu. Kemudian kita pergi menghadap Allah dengan korban itu dalam tangan kita, dan korban itulah yang diterimaNya. Allah tidak lagi menuntut upah maut melainkan telah mengijinkan kita bersekutu kembali dengan Dia sebagai anak-anakNya.

2. "Darah dan tubuh."

Setiap kali kita merayakan perjamuan kudus, berarti kita memperingati kematian Yesus (I Korintus 11:24-26). Kita senantiasa makan roti dan minum anggur yang menjadi dua lambang dari apa yang Yesus telah lakukan bagi kita. Kedua lambang itu menyatakan dua segi dari pengorbanan Yesus.

Roti adalah lambang dari tubuh Yesus. Tubuh yang telah menerima hukuman kita. Segala siksaan yang patut diterima oleh kita sebagai orang berdosa, telah ditanggung oleh Yesus (I Petrus 2:24). Setiap langkah penghinaan dan penyiksaan yang Yesus alami menjadi bukti betapa najisnya diri kita ini, sehingga penderitaan yang sekejam itu harus dirasai oleh Yesus selaku pengganti kita. Kulit badanNya yang robek-robek dan kesakitanNya yang tak terhingga itu adalah pukulan yang layak bagi kita masing-masing.

Anggur adalah lambang dari darah Yesus yang ditumpahkan. Darah itulah yang menjadi alat penyucian segala kejahatan dan kenajisan kita (I Yohanes 1:7,9), dan juga menjadi sumber hidup yang kekal. Pada permulaan dari siksaannya darah mengalir keluar tetes demi tetes akibat penderaan cemeti yang berduri besi dan mahkota duri yang menusuk kepalaNya. Pada waktu rusuk Yesus ditembus dengan tombak oleh laskar Roma masih ada sejumlah darah yang keluar dari jantungnya, darah yang sudah terurai zat-zatnya, yang hanya dapat terjadi akibat dukacita yang hebat. Jantungnya hancur juga untuk memukul dosa kita yang sangat keji ini.

E. PENERIMAAN YESUS

Apakah yang terjadi pada saat penerimaan itu?

Jelas sekali dalam Firman Tuhan bahwa Allah mempunyai suatu rencana tertentu bagi manusia, yaitu mendiami hati manusia dengan rohNya. Istilah "menerima Dia" dalam Yohanes 1:12 bukanlah suatu kebetulan. Ada banyak istilah lain yang juga dapat dipakai untuk menjelaskan langkah memperoleh keselamatan, tetapi "menerima Dia" yang paling tepat.

Menerima berarti bahwa Roh Yesus yang menunggu di luar diterima ke dalam. Yesus telah ber Firman: "Ia tinggal beserta dengan kamu, dan Ia akan ada di dalam kamu" (Yohanes 14:17). "Kristus di dalam kamu" ialah istilah yang menjadi dasar bagi banyak penghiburan rohani (Efesus 1:13, 14; Kolose 1:27; I Yohanes 4:4 dan seterusnya). Paulus telah mengumpamakan orang-orang beriman sebagai "rumah Roh Kudus," yaitu bahwa Roh Kudus telah mendiami mereka. Paulus harus berkata kepada orang-orang Korintus: "Tidakkah kamu mengetahui ...?" Hal ini demikian ajaib, sehingga sukar bagi orang-orang di kota Korintus untuk percaya terhadap kemungkinannya (I Korintus 6:19, 20).

Roh Yesus selalu menunggu untuk memasuki rumah-rumah tubuh manusia yang telah ditebusNya itu. Ia sudah membayar harganya pada salib. DarahNya berkuasa untuk menyucikan tempat kediamanNya. Yesus hanya menunggu pada pintu hati yang dimilikiNya itu sambil mengetuk (Wahyu 3:20). Ia hanya menunggu supaya pintu hati dibukakan dari dalam, dan kalau dibukakan bagiNya. Ia sendiri akan masuk untuk membereskan dan selanjutnya bertempat tinggal di situ. Yesus akan menjaga, merawat dan memakai rumah yaitu tubuh manusia, sesuai dengan kehendakNya sendiri.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 5

  1. Setelah selesai membaca pelajaran ini, selidikilah nats-nats yang berikut:
    1. Keluaran 20:1-17 dan Matius 5:17-48.
    2. Roma 1:18-32 dan Galatia 5:16-26.
    3. Efesus 2:1-10 dan Mazmur 51.
    4. I Korintus 11:23-32 dan Yesaya 1:12-20.
  2. Perhatikanlah istilah "di dalam kamu" dari Roma 8:9-11. Dapatkah saudara menulis suatu definisi "orang Kristen" berdasarkan nats ini?
  3. Apakah sebabnya seorang yang telah selamat akan lebih merasa dirinya sebagai orang berdosa daripada sebelum ia menerima Yesus?

6. Membimbing Seorang Untuk Menerima Yesus

Pelajaran ini kita khususkan pada pelayanan orang yang belum menerima pengampunan dosa. Jenis-jenis pelayanan yang lain akan dibicarakan dalam pelajaran ketujuh.

A. BEBERAPA PETUNJUK UMUM

1. Maksudnya harus jelas.

Langkah penerimaan adalah sangat penting. Saudara harus lebih dahulu memastikan diri bahwa orang yang sedang dilayani itu mempunyai maksud yang sungguh-sungguh. Kadang-kadang seseorang hanya "tunduk saja" untuk melaksanakan suatu doa penerimaan, padahal baginya belum jelas siapa Yesus, bahkan juga belum yakin bahwa ia sendirilah orang yang najis di hadapan Allah. Perhatikanlah kedua contoh yang berikut ini.

a. Seorang yang bersikap ramah serta terbuka dan sudah dilayani selama satu setengah jam, tiba-tiba merelakan diri untuk menerima Yesus. Maksud sebenarnya bukanlah untuk memperoleh keselamatan. Ia hanya ingin minta diri dari penginjilan itu, dan ini dia lakukan dengan sopan. Karena pada sangkanya, setelah ia berpura-pura berdoa untuk menerima Kristus, maka ia telah bebas untuk pulang.

b. Seseorang minta dibimbing dalam penerimaan Yesus. Mungkin hal ini dilakukan sebab ia telah merasa bosan oleh desakan teman yang telah berusaha menginjili dia. Kalau ia sudah satu kali dilayani, maka pada sangkanya ia tidak akan disusahkan lagi. Setiap kali seorang lain ingin memperkenalkan dia kepada Yesus, ia dapat mencari jalan keluar dengan mengatakan: "Saya telah menerima Kristus pada tanggal sekian, tidak usah lagi."

Untuk menghindari pelayanan yang salah saudara harus waspada. Tujuan saudara bukan untuk melayani sekian banyak jiwa dalam "penerimaan." Tujuan saudara adalah untuk memperkenalkan jiwa-jiwa yang sesat kepada Yesus yang hidup.

Doa tidak mempunyai kuasa penyelamatan. Hanya Yesus yang berkuasa mengampuni dosa. Penerimaan yang pura-pura hanya mengebalkan hati seseorang, sehingga ia tidak akan terbuka lagi terhadap Injil.

2. Intelek, Emosi dan Kehendak

Manusia mempunyai intelek, emosi dan kehendak. Kalau saudara mau membimbing seseorang untuk menerima Yesus di samping melihat kesungguhannya, perlu saudara memperoleh kepastian bahwa penerimaan itu adalah penerimaan total. Ia perlu mengikut sertakan akal budi, perasaan dan kehendaknya kepada Yesus Kristus.

a. Akal - budi

Ia harus mengetahui bahwa Yesuslah jalan satu-satunya untuk memperoleh pengampunan dosa. Ia harus mengetahui bahwa keselamatan itu disediakan hanya melalui salib dan darah Yesus.

b. Emosi - perasaan.

Ia harus merasa bahwa dirinya seorang berdosa. Pengetahuan yang teoritis tidak akan menggerakkan dia untuk meninggalkan hidup yang lama untuk melekat pada Yesus. Hati kecilnyalah yang menjadi tempat pelayanan Roh Kudus terhadap mereka yang belum selamat (Yohanes 16:8). Roh kebenaran itu akan menempelak hati kecilnya dengan keinsyafan akan dosa. Roh itu akan bekerja juga dalam hati kecilnya untuk memeteraikan kebenaran dari Firman, "Jalan Keselamatan" yang telah saudara sampaikan kepadanya.

c. Kehendak - keinginan.

Meskipun ia telah mengatahui bahwa Yesus adalah Juru selamat dunia dan meskipun ia telah merasa dirinya seorang berdosa yang dimurkai Allah, jikalau ia belum memutuskan untuk menerima Yesus, ia belum selamat. Kehendak itu harus bertindak. Kalau ia belum memihak kepada Yesus, ia tetap berada pada pihak iblis.

B. CARA PELAKSANAAN PELAYANAN INI

Langkah-langkah ini adalah lanjutan dari pendekatan dan diagnosa yang telah dibicarakan dalam pasal 3. Kalau ia telah ingin tahu maka jalankanlah bimbingan yang berikut. Tiga langkah yaitu penjelasan, penerimaan, dan peneguhan harus berjalan satu persatu. Bahan yang perlu untuk langkah pertama itu telah dibicarakan dalam pelajaran yang keempat.

1. Langkah penjelasan.

a. Pakailah ayat-ayat landasan.

Penjelasan dari "keempat fakta rohani" itu menjadi bahan pertimbangan bagi inteleknya. Saudara harus dapat memastikan bahwa jalan keselamatan itu sungguh-sungguh dapat dimengerti. Janganlah saudara menjelaskan seperti memberikan kuliah. Tunjukkanlah ayat-ayat landasan. Ia sendiri harus membacanya dengan nyaring. Jangan anggap kalau ia telah membacanya dengan cara demikian ia telah mengertinya. Tanyakanlah mengenai setiap bagian kalimat dari nats-nats tersebut, sampai nyata bahwa maksud - arti Firman Tuhan itu telah diresapkannya.

Memberikan terlalu banyak ayat akan membingungkan. Seorang penginjil terkenal telah menegaskan bahwa satu dua ayat sudah cukup, supaya Injil itu diberikan sesederhana mungkin. Penginjil tersebut suka memakai Yesaya 53:6 bertalian dengan Yohanes 1:12. Tetapi sebagai patokan bagi saudara pakailah empat ayat saja, satu ayat untuk setiap faktor rohani dan dapat ditambah dengan satu ayat lagi bila perlu untuk menjelaskan sesuatu yang keliru.

Walaupun orang yang dilayani itu buta huruf, masih perlu juga saudara menunjukkan ayat-ayatnya kepadanya. Saudara sendiri harus membacakannya, tetapi ikutilah dengan jari saudara supaya ia melihat bahwa ini sungguh-sungguh dari Alkitab. Ia harus dapat membedakan perkataan Allah dengan perkataan saudara.

b. Tunggulah keinsyafan orang itu.

Perhatikan kembali bagian pengetahuan dan keinsyafan dari halaman 33. Dapatkah ia mengucapkan Roma 6:23 kembali dengan kata-katanya sendiri seperti berikut? "Sayalah seorang berdosa yang dimurkai Allah yang Maha Kuasa. Tetapi sekarang saya boleh pilih. Ada dua kemungkinan di hadapan saya. Saya boleh berjalan terus menuju maut itu, atau saya boleh mempercayakan diri kepada Yesus yang telah mati bagi saya. Dengan percaya, maka saya akan luput dari hukuman Allah itu, dan sangat berbahaya bagi saya untuk menunggu."

c. Tunggulah keinginan orang itu.

Kalau telah nyata bahwa ia mengerti dan insyaf maka masih perlu menanyakan lagi apakah ia "ingin" untuk menerima Yesus. Tidak boleh saudara meneruskan pembimbingan kalau ia belum mau. Banyak orang yang dengan semangat mengikuti penjelasan mengenai Injil hanya karena "ingin tahu" saja, tanpa maksud bertindak atas keterangan itu.

2. Langkah penerimaan

Bagaimanakah caranya untuk seseorang menerima Yesus? Pertama-tama harus diingat keadaan sebenarnya. Yesus sedang menunggu untuk diundang masuk dan mendiami hati orang itu. Biasanya undangan itu diberikan dalam doa, dan seringkali orang tersebut akan ragu-ragu mengenai cara berdoa. Sebaiknya penjelasan yang berikut diberikan sebelum ia menundukkan kepala untuk berdoa.

a. Berdoa kepada Yesus.

Gambaran Tuhan Allah masih terlalu umum, hanyalah Yesus yang telah mempunyai bentuk definisi baginya. Ajaklah ia berbicara kepada Yesus Kristus.

b. Apa yang diminta?

Tiga hal yang perlu diucapkan kepada Yesus yaitu:

  1. Masuklah ke dalam hatiku!
  2. Bersihkanlah hatiku yang buruk ini!
  3. Tinggallah tetap dalam hatiku untuk memelihara daku terus!

Ada beberapa cara doa yang lain berdasarkan perjanjian-perjanjian dalam Alkitab, tetapi doa yang di atas yang paling tepat. Cara ini agak memudahkan pelayanan rohani selanjutnya. Kalau seseorang telah mengetahui bahwa hatinya didiami Yesus, maka itulah dasar yang baik untuk digunakan menurut segala berkat yang telah disediakan oleh Yesus bagi orang-orang percaya.

Kadang-kadang orang yang dilayani itu telah menerima Yesus sementara mendengar penjelasan Injil yaitu sebelum sampai kepada doa penerimaan. Kalau demikian, bentuk doanya akan berubah menjadi pengucapan terima kasih, karena Yesus telah mengampuni dosanya.

Siapakah yang berdoa? Janganlah saudara menjadi seorang "dukun doa." Saudara bukan pengantar bagi orang lain. Tugas dan hak istimewa itu dimiliki oleh Yesus (I Timotius 2:5). Orang yang dilayani itu - ia sendirilah yang harus berurusan dengan Yesus. Saudara tidak boleh diminta mewakilinya dalam doa penerimaan. Kalau ia tidak mau berdoa karena malu, pimpinlah ia dalam satu doa pendek. Umumnya penjelasan mengenai maksud dari pada doa itu telah cukup. Kalau Roh Kudus telah menempelak hati dia sampai insyaf bahwa ia nyaris mati di hadapan Tuhan, maka ia akan lekas berdoa.

Doa adalah suatu percakapan bersama antara orang-orang percaya dengan Allah bapa. Kalau perlu saudara boleh mengganggu dia sementara ia berdoa. Kalau isi doanya menyatakan bahwa Injil belum jelas, hentikan saja doanya dan jelaskanlah kembali segala apa yang masih kurang jelas. Kalau ia mulai berdoa dengan menyebut bermacam-macam kesulitan pribadi dan kesulitan rumah tangga, maka hentikan saja. Sebelum Yesus diundang mendiami hatinya, ia belum mempunyai hak untuk meminta hal-hal yang lain itu dari Allah. Pada kemudian hari ia boleh mempersoalkan hal-hal yang lain itu, dan banyak juga persoalan-persoalan itu akan lenyap akibat penerimaan tersebut.

Suruhlah ia berdoa terlebih dahulu. Setelah ia selesai, barulah saudara boleh menyatakan persetujuan saudara dalam doa. Jagalah diri saudara! Hanya sedikit saja yang boleh diucapkan oleh saudara. Kalau saudara berdoa dengan panjang lebar, doa itu akan menghalangi dalam perkembangan imannya. Kemudian hari ia akan malu berdoa di hadapan orang lain karena merasa belum mengetahui ucapan-ucapan yang baik, yaitu contoh dari saudara itu yang menjadi teladan baginya. Pakailah doa yang sederhana tanpa berputar-putar, yang terdiri dari beberapa kalimat saja. Jangan sebutkan hal-hal yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan orang yang dibimbing itu.

3. Langkah peneguhan

Langkah pertama dalam tugas peneguhan ini hanya mempunyai satu maksud saja, yaitu memberikan keyakinan bahwa ia telah selamat. Setelah ia berdoa untuk menerima Yesus jelaskanlah jalan keselamatan itu sekali lagi, dan ajaklah ia berdoa untuk kedua kalinya.

Apakah sebabnya langkah-langkah meninjau kembali itu perlu? Karena dengan penerimaan Yesus itu ia telah menjadi orang baru dengan kedudukan baru. Sebelum penerimaan, ia masih digolongkan orang berdosa yang terpisah dari Allah. Sekarang ia digolongkan anak-anak Allah dan telah diberikan kedudukan baru. Ia telah selesai mempertimbangkan Injil itu, sebagai seorang yang harus memutuskan apakah ia mau selamat atau tidak. Sekarang ia memandang Injil itu sebagai yang memiliki keselamatan. Dengan mata rohaninya yang baru, ia dapat memeriksa kembali jalan keselamatan itu menjadi dasar kepastian bahwa ia telah diselamatkan melaluiNya.

Demikian pula doa kedua merupakan jenis doa yang baru. Sebelum ia bertindak menerima dan tinjauan dasar kepastian itu, ia dapat berdoa dengan "iman." Sekarang sebagai suatu langkah iman, ia akan berdoa mengucapkan terima kasih kepada Yesus karena ia telah diselamatkan olehNya.

Setelah ia selesai dengan pengucapan syukur kepada Tuhan - maka tetapkanlah waktu dan tempat untuk bertemu kembali, untuk menyelidiki Firman Allah dan berdoa bersama-sama.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 6

Sudahkah anda mulai menginjili pribadi-pribadi bagi Kristus?

Sudahkah anda mempunyai hasil yang nyata dari pelayanan anda?

Kalau anda dapat menjawab "Ya!" kami hanya dapat mengucap syukur bersama dengan anda serta mengajak anda untuk berjalan terus, dan untuk belajar terus.

Seandainya anda belum sukses memperkenalkan beberapa orang kepada Juruselamatnya janganlah meneruskan dengan pelajaran ketujuh. Tunggu dahulu. Pergilah keluar dan mempraktekkan bahan yang anda telah pelajari itu. Pelajaran-pelajaran berikut adalah sia-sia kalau pelajaran-pelajaran sampai sekarang belum dimanfaatkan.

Janganlah takut untuk berpraktek. Ingatlah bahwa Roh Kudus bersedia untuk menolong anda dalam pekabaran Injil.

7. Membimbing Anak-anak Allah

Seringkali seorang yang telah menerima Yesus Kristus harus dilayani kembali. Hal ini mungkin disebabkan karena ia kurang dibimbing pada waktu ia mengalami suatu kesulitan yang lain, pada kemudian harinya. Saudara harus berhati-hati dalam membuat diagnosa, karena tidak mungkin seseorang menerima Yesus dua kali. Kalau betul-betul ia telah menerima Yesus, ia membutuhkan jenis pelayanan yang lain lagi.

Ingatlah bahwa jarang sekali seseorang rela untuk langsung menyatakan persoalannya yang sebenarnya, karena malu. Tambahan pula biasanya ia menyadari beberapa kesulitan saja, yang hanya merupakan gejala-gejala. Ia belum sadar akan akar dari kesulitan-kesulitannya itu. Si pembimbing harus mengambil sikap seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Dokter seperti seorang dokter yang sedang memeriksa pasiennya. Dokter itu akan bertanya-tanya tentang gejala-gejala penyakit pasien itu. Segala pertanyaan itu akan menuju kepada pengupasan sesuatu yang belum dipikirkan oleh si pasien, akhirnya akan diketahui penyakitnya dengan tepat. Demikian juga halnya dalam bimbingan rohani. Perkara-perkara yang ia akui sebenarnya hanya merupakan akibat-akibat dari suatu dosa atau kekeliruan tertentu. Saudara harus mencari sesuatu di belakang gejala-gejala yang sementara itu, untuk melihat sumber dari kesulitan yang sedang dialaminya.

Menurut seorang penginjil yang bernama Oswald Smith, persoalan-persoalan Kristen dapat digolongkan menjadi tiga jenis pelayanan tertentu. Pembagian yang sederhana dan praktis itu dapat diselidiki dalam bukunya yang berjudul "The Consuming Fire" (Api yang menghanguskan). Ketiga jenis persoalan itu adalah:

  1. Keragu-raguan tentang keselamatan.
  2. Keputus-asaan karena kegagalan.
  3. Kemunduran ke dalam dosa.

Sebelum kita menyelidiki ketiga jenis persoalan itu sebaiknya ditegaskan sekali lagi bahwa penilaian dari si petobat sendiri jarang tepat. Seseorang yang belum menerima Yesus akan selalu mementingkan perkara-perkara kegagalan dan kesulitan hidup. Saudara harus dapat memastikan tentang apakah ia telah menerima Kristus atau belum. Kalau ia belum menerima Kristus, maka ia harus dilayani seperti dalam pelajaran keenam. Seringkali dengan menerima Kristus maka perkara-perkara yang lain yang dibicarakannya itu akan lenyap dan hilang tanpa memerlukan bimbingan khusus.

Dalam setiap jenis pelayanan ini, sedapat-dapatnya pakailah satu ayat saja, supaya dikemudian hari ia dapat mengingat kembali dasar pelayanannya.

A. ORANG-ORANG YANG RAGU-RAGU

Keragu-raguan adalah akibat dari tidak mengetahui atau tidak mempercayai isi Alkitab. Banyak orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Yesus Kristus, tetapi belum merasa pasti bahwa tempat di surga itu telah disediakan bagi pribadi-pribadi mereka. Bahkan ada pendeta-pendeta yang karena terlalu memikirkan hanya doktrin-doktrin yang tertentu saja, juga sama sekali belum mengenal bagian-bagian dari Firman Tuhan yang menjelaskan bahwa seseorang dapat mendapatkan kepastian tentang pengampunan dosa dan mendapat tempat di sorga. Keragu-raguan sungguh menghina nama Yesus, karena itu berarti menyatakan pendapat bahwa penyaliban Yesus itu tidak cukup berkuasa untuk membayar hutang dosa manusia seluruhnya.

Kitab yang paling tepat untuk seseorang yang ragu-ragu adalah Surat Pertama Yohanes. Dalam surat itu perkataan "mengetahui" atau "mengenal" dipakai sebanyak 42 kali. Ayat yang saudara akan pergunakan adalah I Yohanes 5:13 "Segala perkara ini telah kusuratkan kepadamu supaya kamu mengetahui, bahwa kamu beroleh hidup yang kekal yaitu kamu yang percaya akan nama Allah." Dalam pelayanan tersebut perlu saudara tegaskan dua perkataan yaitu: "mengetahui" dan "kusuratkan."

1. "Mengetahui."

Rasul Yohanes berpendapat bahwa ada sesuatu yang kurang beres pada seseorang yang belum merasa pasti mengenai keselamatannya. Dalam ayat 13 ini ia menyatakan apa sebabnya ia telah menulis, yaitu agar orang-orang percaya mengetahui ("yakin") bahwa mereka telah memperoleh hidup yang kekal dalam Tuhan Yesus.

Dasar keyakinan ini adalah kesempurnaan karya Yesus pada salib itu. Kesempurnaan dari salib tidak dapat diragu-ragukan lagi (I Yohanes 2:2).

Rasul Paulus juga mengupas persoalan yang sama. Ia memberitakan bahwa hutang dosa telah dilunasi bagi orang-orang yang percaya (I Korintus 6:20). Yesus sendiri sebelum mati pada salib, berkata: "Sudah genap" (Yohanes 19:30).

2. "Kusuratkan."

Kebanyakan orang yang ragu-ragu itu suka memeriksakan keadaan jiwanya pada pihak yang salah. Mereka boleh disebut "Hippis Rohani" karena tidak meneliti Firman Allah yang obyektip itu, melainkan meraba-raba dalam dunia khayal dan emosinya sendiri.

Titik pemeriksaan untuk mendapatkan kepastian selamat bukan terletak pada perasaan, melainkan pada dasar yang "tersurat." Allah yang setia telah menyuratkan (menetapkan) beberapa perjanjian. Antara lain Allah telah mengesahkan salib sebagai sumber keselamatan. Kalau seseorang percaya kepada Yesus, maka ia telah selamat karena Allah tidak akan ingkar janji yang disuratkanNya itu.

Tentu saja ada hal-hal yang "dirasai" oleh seorang anak-anak Allah. Ia telah "diperanakkan pula" menjadi "kejadian yang baru" (Yohanes 3:3, 5, 6; II Korintus 5:17). Tetapi janganlah ia salah tangkap terhadap perasaan-perasaan yang baru itu. Mulai pada saat penerimaan Yesus, kekaburan dosa dilenyapkan oleh darah Kristus. Pembaruan itu paling nampak pada hati kecilnya. Oleh karena proses penghalusan hati kecil itu, maka seorang anak Allah akan merasa lebih berdosa dari pada sebelum ia menerima Yesus. Di samping dapat dengan lebih tajam membedakan hal-hal yang baik dan yang jahat itu (Roma 12:1, 2), seorang anak Allah akan merasa haus untuk membaca Firman Tuhan, berdoa, dan bergaul dengan saudara-saudara seiman.

Perincian langkah-langkah pelayanan ini adalah sebagai berikut:

  1. Bicarakanlah I Yohanes 5:13 bersama-sama.
  2. Kalau orang yang ragu-ragu itu telah mengisyafi arti I Yohanes 5:13, pindahlah kepada ayat yang dahulu dipakainya sebagai dasar keselamatan. Kalau ia sungguh-sungguh percaya bahwa ayat itu benar, maka ia harus yakin bahwa ia telah memenuhi syarat yang ditetapkan Allah.
  3. Suruhlah ia berdoa kepada Yesus; yakin suatu doa pengucapan terima kasih, bahwa ia telah diselamatkan oleh darah Yesus.

B. ORANG-ORANG YANG SELALU JATUH DALAM PENCOBAAN

Ada beberapa ayat yang berfaedah untuk meneguhkan seseorang yang berada dalam penggodaan, misalnya Matius 11:28; Filipi 4:13 dan I Yohanes 4:4. Tetapi kami usulkan supaya saudara memakai ayat yang lazim dalam bimbingan ini, I Korintus 15:57, yang berbunyi: "Syukurlah kepada Allah yang mengaruniai kita kemenangan oleh sebab Tuhan kita Yesus Kristus." Kalau saudara mau memakai ayat ini, jelaskanlah ketiga perkataan ini, yaitu "syukurlah,""mengaruniai" dan "kemenangan."

1. "Kemenangan."

Alkitab tidak menawarkan sesuatu yang kosong belaka. Kemenangan telah disediakan bagi kita dalam kemenangan Yesus. Demikian ajaibnya berkat itu sehingga I Korintus 15 menyatakan kemenangan terhadap pencobaan yang paling ngeri, yaitu maut. Kemenangan bukan hanya berkat yang dapat dinikmati oleh anak-anak Allah, melainkan juga merupakan tugas dalam panggilan kita (I Yohanes 3:8; Efesus 2:7). Orang-orang percaya telah dipanggil untuk memperlihatkan kuasa rohani ini di hadapan dunia yang berdosa (Roma 6:14), bukti utama adalah kesucian hidup.

Banyak orang ingin "dibebaskan" dari penggodaan, tetapi rencana Allah lain, Allah telah menempatkan orang-orang percaya di dalam dunia yang penuh dosa dan godaan ini untuk menjadi bukti dari kuasaNya. Orang-orang beriman akan selalu digodai tetapi tidak perlu jatuh. Kunci pertama dari kemenangan ialah kesadaran bahwa setiap orang akan dicobai seumur hidupnya. Hanya dalam pencobaan, Yesus dapat memperlihatkan keajaiban kuasaNya. Meskipun seorang beriman akan dicobai namun ia tidak perlu merasa takut. Iblis akan mengaum-ngaum melihat siapa yang dapat ditipunya (I Petrus 5:8), tetapi iblis ompong, giginya telah dicabut oleh Tuhan Yesus (I Yohanes 3:8). Di mana saja seorang Kristen memutuskan untuk sedia menghadapi iblis itu, di situ juga ia akan menang (Roma 6:14).

2. "Mengaruniai."

Karunia bukan sesuatu yang dapat diusahakan seperti upah. Karunia adalah sesuatu yang diberikan dengan cuma-cuma, yang diperoleh hanya melalui iman. Pada umumnya arti karunia itu belum jelas bagi kaum Kristen. Kekaburan itu terbukti melalui demikian banyaknya penghias-penghias dinding yang berbunyi: "Berdoa dan bekerja." Kutipan itu salah seharusnya adalah "berdoa dan berjaga" (Matius 26:41). Orang-orang Kristen disuruh berjaga supaya jangan ditipu oleh si iblis. Kalau iblis mendatangi mereka, mereka hanya perlu melawan dan berdoa maka iblis terpaksa mundur (Yakobus 4:7).

Hanya dengan karunia saja seseorang dapat mengalami kemenangan rohani. Usaha pribadi yang sekuat-kuatnyapun tidak dapat mengatasi penggodaan. Selama seseorang masih berusaha selama itu pula belum ada kesempatan bagi Tuhan Yesus untuk memberi karunia kemenangan itu kepadanya. Hal ini dapat dijelaskan dengan lukisan berikut. Seorang yang nyaris mati tenggelam dalam air akan berusaha sekeras-kerasnya menyelamatkan diri, tetapi ia tidak tahu cara berenang. Seseorang penyelamat yang berpengalaman akan bertindak dengan menunggu sampai orang itu kehabisan tenaga, barulah orang itu dapat dihantarkan ke pantai. Demikian pula halnya dengan Yesus yang sedang menunggu kesempatan untuk menolong orang-orang yang gagal.

Contoh lain terdapat dalam Keluaran 14:13, yang dapat diucapkan kembali secara bebas seperti berikut, "Berdiam diri dan melihat keselamatan Tuhan!"

3. "Syukurlah."

Agar seorang dapat menikmati kemenangan rohani ia harus memberi kesempatan kepada Yesus untuk menolong. Tetapi cara memberikan kesempatan itu, bukanlah dengan memohonkan. Kemenangan itu telah menjadi bagian dari rahmat Allah, telah termasuk ke dalam "hak anak" bagi orang Kristen yang gagal tersebut, walaupun masih belum dipakainya. Bodoh sekali bagi seseorang untuk meminta sesuatu dari Tuhan yang ia sendiri telah memiliki. Ayat 57 itu menyuruh dia untuk mengucap syukur kepada Tuhan, karena kemenangan yang telah ada ini. Harus ia sadari dan berjanji untuk mulai memanfaatkan kemenangan yang telah disediakan itu.

C. ORANG-ORANG YANG TELAH MUNDUR

Inilah pelayanan satu-satunya di mana seorang pembimbing harus bertanya-tanya tentang dosa yang sebenarnya telah dilakukan. Dalam jenis-jenis pelayanan lain sudahlah cukup dengan mengetahui adanya persoalan dan kemudian memperkenalkannya kepada jawab dalam Tuhan Yesus. Tetapi bagi orang yang telah mundur, selalu ada titik permulaan yaitu suatu dosa tertentu yang dilakukannya dengan sengaja. Ribuan dosa yang lain yang merupakan akibat dari pemberontakan pertama.

Layani orang yang mundur berdasarkan I Yohanes 1:9. Ayat ini tidak menyuruh dia untuk "minta ampun" melainkan untuk "mengakui" dosanya. Tuhan menunggu pengakuannya bahwa persoalan pertama itu adalah benar-benar dosa. Biasanya seseorang rela mengaku ribuan dosa-dosanya yang lain asal dosa yang dicintainya itu boleh ia sembunyikan dan nikmati terus. Kalau dosa itu telah diakuinya, barulah Tuhan dapat mengurusnya. Ayat 9 telah menyatakan bahwa dengan pengakuan yang terang-terangan, ia akan diampuni dan disucikan. Tuhan bersedia melenyapkan dosa-dosa dan noda-noda akibat dosa itu juga, supaya orang itu dapat berjalan di dalam terang.

Suruhlah ia berdoa dengan mengaku dosa, serta mengucapkan terima kasih bahwa pengampunan tetap tersedia dalam Yesus yang rahmatnya tidak terbatas.

Kalau ia sungguh-sungguh, ia tidak akan meneruskan dosanya itu. Kehendak Tuhan tidak berubah sampai sekarang. Satu contoh ketetapan Allah ialah Kitab Yunus dalam Perjanjian Lama. Karena Yunus tidak mau taat akan perintah Tuhan ia melarikan diri, sehingga ia mengalami banyak goncangan, sampai ia ditelan oleh ikan besar. Setelah Yunus bertobat dan dibebaskan kembali, sekali lagi Tuhan berbicara kepadanya. Tuntutan Allah itu tetap sama. "Apakah Yunus mau pergi ke tempat di mana Allah telah menyuruhnya atau tidak?"

D. BEBERAPA TAMBAHAN

Hampir setiap kesulitan rohani dapat dilayani berdasarkan ketiga golongan di atas. Misalnya seorang ibu yang mempersoalkan kelakuan anak-anaknya yang tidak beres, atau suaminya yang belum percaya. Sebenarnya itu merupakan keputus-asaan atau kegagalan dari si ibu. Apakah yang ia harus lakukan? Ia harus berterima kasih karena rahmat yang telah disediakan baginya dalam Yesus. Biasanya dalam persoalan-persoalan pada si ibu tersebut juga.

Mungkin ia kurang menyatakan kasih dan kemenangan. Mungkin juga tujuannya tidak beres. Kadang-kadang seorang istri ingin supaya suaminya percaya, bukan supaya jiwa suaminya itu selamat, melainkan untuk menjamin kesejahteraan rumah tangganya saja. Wanita-wanita yang serupa itu sebenarnya kurang mengasihi suaminya.

Sama halnya seperti dalam penginjilan, ketiga jenis pelayanan ini menuntut pelanjutan. Bimbingan pertama hanyalah suatu krisis yang selalu harus ditinjau kembali, untuk pada kemudian kemenangan, kepastian atau pengampunan. Perlu saudara tentukan "waktu dan tempat" untuk bertemu kembali dengan orang yang dilayani itu. Pada pertemuan kedua itu pelayanan pertama ditinjau kembali dan perkara-perkara yang lain lagi dapat dibicarakan.

RESAPKANLAH PELAJARAN No. 7

  1. Hafalkanlah ketiga ayat dasar untuk pelayanan terhadap anak-anak Allah yaitu I Yohanes 5 : 13; I Korintus 15: 57 dan I Yohanes 1 : 9.
  2. Periksalah seluruh Surat Pertama Yohanes untuk melihat bahwa surat itu sungguh berfaedah bagi orang-orang yang percaya. Carilah ayat- ayat tambahan di dalamnya yang dapat dipakai untuk ketiga jenis pelayanan ini.
  3. Selidikilah dirimu untuk melihat kalau-kalau masih terdapat sesuatu dalam hidup anda sendiri yang perlu diselesaikan sesuai dengan ketiga macam kesulitan yang baru dipelajari ini.

8. Bimbingan Lanjutan: Coraknya

Pelanjutan ("Follow up") adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang setelah ia dilayani untuk menerima Yesus Kristus atau karena sesuatu persoalan rohani yang lain. Dalam pelanjutan ini ia dibimbing supaya hidupnya sungguh berakar dalam Firman Tuhan. Sebenarnya langkah pertama dari pelanjutan ini telah dilaksanakan pada waktu bimbingan pertama, yaitu pada waktu ia memperoleh kepastian selamat berdasarkan nats-nats tertentu dari Firman Tuhan.

A. KETAHUILAH TUJUAN DAN BATASNYA

Setelah seseorang menerima Yesus selaku Juruselamatnya ada suatu jangka waktu (selama beberapa minggu) yang sangat berfaedah untuk pelayanan rohani. Menyesal sekali bahwa kesempatan ini seringkali disia-siakan berhubung si pembimbing tidak tahu apa yang harus dilaksanakannya. Saudara harus mengetahui maksud pelanjutan ini, supaya kesempatan itu dimanfaatkan bagi Tuhan Yesus.

Saudara harus mengetahui batas pelayanan ini juga. Pada hakekatnya, bimbingan lanjutan ini berjalan serentak dengan pelayanan yang diberikan dari pihak gereja. Dengan demikian ada kalanya usaha pelayanan dari saudara akan disalah pahami dan dicurigai. Asal saudara jelas mengenai maksud dan batas-batas pelayanan ini, saudara dapat memberikan jawaban yang tepat tanpa perlu terjadi bentrokan dengan para rohaniawan.

1. Hubungan dengan gereja.

Sangat luas jenis-jenis pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan. Gereja mempunyai tugas pelayanan sebagai gereja dan mungkin saudara turut mengambil bagian dalam pelayanan itu sebagai anggota gereja. Tetapi sebagai pribadi saudara mempunyai tugas pelayanan juga.

Untuk melihat batas-batas bimbingan pribadi itu betapa baiknya kita merenungkan "Amanat Yesus" dan Injil Matius 28:19, 20. Dalam ayat-ayat itu dapat dibedakan tiga fungsi dari pelayanan, yaitu: tugas "menjadikan murid," tugas "membaptiskan" dan tugas "mengajar." Seorang penginjil pribadi hanya menjalankan tugas yang pertama saja dengan menyerahkan tugas yang kedua dan sebagian dari tugas ketiga itu kepada pelayanan gereja.

Meskipun pelayanan saudara hanya mencakup sebagiannya saja, tetapi seharusnya saudara membedakan dua segi dari tugas tersebut. Tugas pelayanan saudara itu mencakup:

  1. Membawa seorang kepada penerimaan Kristus sebagai Juruselamat.
  2. Membawanya kepada Yesus sebagai Tuhan.

Biasanya kedua fungsi itu dibedakan dengan istilah-istilah "Penginjilan" dan "Peneguhan." Penginjilan berarti bahwa saudara akan memperkenalkan seseorang kepada Kristus sehingga ia lahir baru dan menjadi bayi rohani. Fungsi yang kedua, "Peneguhan" berarti bahwa saudara akan membimbing orang itu sampai ia dapat berjalan dengan teguh atas dasar Firman Allah.

Tugas saudara belum boleh dianggap selesai sebelum orang yang dilayani itu dihubungkan kepada suatu gereja supaya dapat dilangsungkan tugas-tugas kedua dan ketiga dari amanat Yesus itu. Kalau ia belum mengikuti gereja belum boleh dikatakan bahwa ia telah diteguhkan dalam Alkitab.

2. Peneguhan bukan pelajaran Sidi.

Setelah orang yang dibimbing secara pribadi itu diserahkan kepada suatu gereja, ia akan diberi pengajaran yang disebut "Sidi." Dalam "Sidi" ia belajar tentang Tuhan Allah, dan tentang pertanggungjawabannya sebagai seorang Kristen dan sebagai anggota Gereja setempat. Biasanya pokok-pokok pertumbuhan iman kurang dibicarakan dalam pelajaran sidi.

Pokok-pokok pertumbuhan iman itu harus dipertanggung jawabkan oleh saudara sendiri sebagai penginjil pribadi. Walaupun gereja saudara menegaskan pokok-pokok tersebut, janganlah terlalu lekas meletakkan tugas pelanjutan itu, sebelum saudara pertimbangkan hal-hal berikut:

  1. Seperti telah dijelaskan maksud dari pelanjutan bukan semata- mata mengajar, tetapi untuk meneguhkan.
  2. Biasanya orang yang baru diinjili itu belum mempunyai ikatan dengan suatu gereja. Belum tentu gereja saudara yang paling tepat bagi dia. Ia harus diteguhkan lalu digabungkan dengan salah satu sidang jemaat.
  3. Biasanya rohaniawan setempat, yaitu pendeta-pendeta dan anggota- anggota majelis, demikian sibuk dengan waktu lagi untuk berkunjung kepada petobat-petobat baru.
  4. Kalau seorang bayi rohani langsung diserahkan kepada salah satu gereja dengan maksud supaya gereja itu meneruskan bimbingan, maka hal itu tidak tepat sebab kadang-kadang ia terpaksa menunggu sampai 6 atau 10 bulan, baru dimulai kelas-kelas baru untuk calon-calon anggota. Dan tentu saja peneguhan ini tidak boleh ditunda sedemikian lama.

B. CORAK-CORAK BAGI PELAYANAN YANG BAIK

Saudara mempunyai tugas yang sangat penting. Dan tentu saja saudara ingin mempunyai perincian atas tugas tersebut. Bahan apakah yang harus diberikan? Apakah filsafat pendekatan terhadap tugas ini? Apakah yang diperlukan seorang bayi rohani supaya ia dapat mewakili Kristus dalam lingkungannya yang penuh dosa itu?

1. Corak "Pengenalan."

Kalau kita memeriksa kembali pengalaman rohani kita sendiri, maka akan menjadi nyata bahwa "pengenalan" lebih penting dari "pengetahuan." Banyak orang mempunyai pengetahuan yang baik, tetapi memusuhi Yesus Kristus. Mungkin tidak pernah ada seorang Kristen yang lebih mengetahui isi Alkitab dari pada si iblis itu. Karl Marx tidak dididik dalam jurusan sosial politik. Charles Darwin tidak dididik dalam ilmu pengetahuan alam. Kedua-duanya memperoleh gelar dalam ilmu theologia. Tetapi mereka memusuhi Yesus Kristus. Pengetahuan itu hanyalah merupakan barang mati, kalau belum dihidupkan melalui pengenalan akan Yesus Kristus. Pengetahuan yang sedikit akan dimanfaatkan oleh iman, tatapi pengetahuan yang banyak akan sia-sia kalau tidak ada ketaatan.

Kalau seseorang yang hatinya tergerak untuk taat kepada Yesus sebagai Tuhannya, maka ia akan memanfaatkan segala sesuatu yang telah diajarkan kepadanya. Tambahan pula kalau ia menemukan hal-hal yang belum diselidikinya, maka ia sendiri akan mencari-cari jawabannya dari Alkitab.

Oleh karena itu corak pelayanan saudara haruslah merupakan pelayanan yang mengikut sertakan jiwa-jiwa kepada Kristus. Pengikutsertaan mana memerlukan beberapa kesadaran, yaitu:

a. Mengenal Tuhan Yesus.

Yang terutama dalam segala bahan pelanjutan harus ditonjolkan Tuhan Yesus Kristus. Dalam setiap pelajaran carilah contoh-contoh dari kehidupan dan perkataan Tuhan Yesus. Inilah corak yang harus menggariskan setiap langkah peneguhan, terhadap pokok-pokok pelajaran manapun.

Orang itu harus demikian mengenal Yesus sehingga nama Yesus selalu dihargainya. Dorongan terbesar untuk menjaga kesucian hidup ialah perasaan takut kalau-kalau sesuatu akan menajiskan nama Yesus.

  • Pelajaran-pelajaran tentang penyaliban Yesus akan membangunkan rasa terima kasih dan pengucapan syukur.
  • Pelajaran tentang kebangkitan Yesus akan memberikan kepastian selamat serta ketegasan dalam melawan pencobaan-pencobaan.
  • Pelajaran tentang perumpamaan-perumpamaan dan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus, akan meletakkan dasar untuk mengambil keputusan-keputusan sehari-hari.

Suatu gejala bahwa seseorang sungguh-sungguh mengenal Tuhan Yesus ialah, keinginan untuk memperkenalkan teman-temannya kepadaNya. Gejala lain lagi ialah keinginan dan kerinduan untuk lebih mengenal Yesus melalui Alkitab.

b. Mengenal diri sendiri.

Setiap orang Kristen harus mengenal diri sendiri. Inilah kunci yang mensukseskan hidup dengan berkemenangan. Ada dua kesadaran yang dibutuhkan, yaitu kesadaran mengenai "waktu dahulu" dan "waktu sekarang."

1) Waktu dahulu: Dengan Alkitab sebagai dasarnya ia harus melihat dan mengaku bahwa sebelum ia menerima Yesus Kristus ia adalah seorang berdosa yang sesat. Seandainya ia meninggal dunia pada waktu itu, pastilah ia telah terbuang ke neraka. Tidak ada suatu jasa apapun yang ia perbuat dalam hidupnya yang lama itu. Semuanya termasuk kesalahannya dan dimurkai Allah (Efesus 2:1-3). Setiap orang yang belum menerima Yesus tetap dalam kesesatan dan kesia-siaan itu.

2) Waktu sekarang: Ia harus mengetahui dan mengakui bahwa ia telah menjadi seorang anak Allah melalui iman kepada Yesus. Meskipun dari waktu ke waktu ia masih melihat dosa dalam dirinya, namun ia tetap mempunyai kedudukan sebagai anak Allah (Efesus 2:4-10; I Yohanes 1:5-2:2).

Keyakinan tentang kesesatannya yang dahulu itu mendorong pengucapan terima kasih dan penghargaan kepada Yesus. Pengetahuan tentang kedudukannya sebagai seorang anak Allah (Roma 8:15) memberanikan dia untuk memanfaatkan segala berkat yang telah disediakan oleh Allah Bapa.

c. Mengenal sifat dunia ini.

Banyak orang Kristen tidak menampilkan ciri-ciri kehidupan rohani, karena mereka belum mengakui sifat yang sebenarnya dari dunia ini. Mereka masih berharap akan pahala-pahala duniawi. Untuk orang yang percaya hanya ada satu pengharapan yang benar, yaitu Tuhan Yesus.

Seseorang yang baru percaya harus menyadari bahwa dunia ini akan membencinya. Dunia yang penuh dengan dosa tentu tidak akan senang bergaul dengan seseorang yang memihak kepada Yesus yang suci. Yesus sudah berkata bahwa Ia datang "membawa pedang" (Yohanes 15:18-27; Matius 10:34-39).

Kalau seseorang sungguh insyaf bahwa dunia ini adalah medan peperangan antara Yesus dengan Iblis, maka ia akan menjadi berhati-hati untuk memihak kepada dunia atau berharap kepada pahala dunia (I Yohanes 2:15-17). Kalau ia tahu bahwa segala barang yang fana ini akan dihanguskan dengan api (II Petrus 3:10) pada Hari Kiamat, maka ia akan tahu juga bahwa semua tawaran dunia itu kosong belaka.

Janganlah saudara sangka bahwa kesadaran ini akan melemahkan seorang bayi rohani, tetapi sebaliknya pengetahuan ini pasti akan menguatkannya. Makin cepat ia sadar tentang sifat sebenarnya dari dunia ini, makin cepat ia akan menjadi hamba Tuhan yang baik. Juga Iblis mengetahui hal itu dan akan berusaha menjatuhkan dia sebelum imannya berakar dalam Alkitab. Kalau saudara kurang berterus terang dalam pelayanan, berarti saudara akan membahayakan jiwa baru itu. Tetapi kalau ia didasarkan tentang daya upaya iblis dan kesia-siaan dunia ini, ia akan berlindung kepada Yesus melalui persekutuan dengan anak-anak Allah yang lain.

2. Corak "pengetahuan."

Dasar obyektip untuk kehidupan rohani yang stabil adalah Alkitab. Tugas pelanjutan bukan semata-mata mengajarkan tentang isi Alkitab, melainkan juga membiasakan orang itu untuk menggunakan Firman. Kalau saudara hanya mempunyai kesempatan satu atau dua kali saja untuk bertemu dengan orang yang dilayani itu, maka itu sudah cukup untuk memberi contoh yang baik. Asal ia sudah tahu bagaimana caranya untuk menyelidiki satu bagian dari Alkitab, maka ia dapat menggunakan cara yang sama itu terhadap bagian-bagian yang lain.

Bagaimanakah contoh yang baik itu, yang dapat diteladaninya pada kemudian hari? Yaitu janganlah saudara loncat dari satu ayat ke ayat yang lain menurut suatu pokok melainkan ambillah satu bagian yang tertentu dan batasi dari pada nats tersebut. Kalau saudara berpindah-pindah saja, maka Alkitab akan dianggapnya sabagai teka-teki di mana ia sendiri belum mempunyai kunci pengertiannya. Jangan lupa juga bahwa Allah lebih tahu dari kita. Kebijaksanaan Allah dalam menyusun suatu kitab tidak boleh dilupakan.

Supaya jangan sampai Alkitab itu terlalu asing baginya, berilah penjelasan tentang kitab-kitab yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Setelah beberapa pelajaran saja, segera, tuntun orang itu untuk mulai menyelidiki satu Kitab tertentu. Kitab-kitab yang baik untuk orang-orang yang baru percaya adalah: Injil Matius, Injil Yohanes, Galatia, I Petrus dan I Yohanes. Janganlah memakai Perjanjian Lama. Ia membutuhkan dua atau tiga tahun untuk menguasai isi Perjanjian Baru sebelum dibacakan Perjanjian Lama.

Jauhkanlah segala tafsiran-tafsiran yang memakai kiasan. Pakailah arti yang nyata dan jelas saja.

Padamkanlah segala kecenderungan untuk mempersoalkan karena kemudian hari bagian Alkitab yang lain akan menerangkan ayat itu juga.

3. Corak "rahmat."

Banyak sekali orang memeriksa Alkitab untuk melihat syarat-syarat yang perlu dipenuhi, untuk memperoleh berkat-berkat tertentu. Janganlah memakai cara itu. Pengertian itu keliru sekali, sebab saudara mempunyai tugas untuk mengutamakan rahmat dan bukan "Torat."

Apakah arti rahmat itu? Dan apakah yang ia harus ketahui mengenai rahmat itu?

  1. Bahwa segala sesuatu yang dibutuhkannya telah tersedia pada Yesus.
  2. Bahwa setiap berkat itu dapat dinikmatinya melalui iman tanpa syarat-syarat tambahan.

Dengan menerima Yesus ia sudah diberi hak untuk menikmati setiap berkat yang ada di Alkitab. Janganlah mengajak ia "berusaha" memperoleh sesuatu berkat. Asal ia sadar bahwa sesuatu berkat telah tersedia dalam Yesus, dengan sendirinya ia akan menikmati berkat tersebut.

Satu segi lain dari rahmat perlu dijelaskan. Kalau mengalami kesulitan, janganlah sekali-kali dibiarkan memeriksa diri tentang kemungkinan adanya dosa-dosa tertentu yang mengakibatkan persoalannya itu. Cara itu sangat bertentangan dengan Firman Tuhan. Itulah sejenis ketidak percayaan. Banyak kesulitan dialami akibat lingkungan yang berdosa dan bukan karena ketidak beresan pribadinya. Satu contoh ialah penyakit-penyakit yang hubungannya bukan langsung dengan dosa, melainkan dengan kuman.

RESAPKANLAH PELAJARAN NO. 8

  1. Pelajarilah kembali bahan yang dipakai bagi kelas-kelas Sidi dalam gereja anda sendiri. Daftarkanlah pokok-pokok peneguhan yang tidak termasuk dalam rencana itu.
  2. Siapakah Tuhan Yesus itu? Jelaskan dalam beberapa kalimat saja.
  3. Selidikilah Efesus 2:1-10. Ringkaskanlah:
    1. keadaan anda sebelum menerima Yesus.
    2. Hal-hal yang baru bagi anda dalam Yesus.
  4. Pikirkanlah pengalaman-pengalaman anda sendiri dalam penginjilan. Atau kalau anda baru saja mulai menginjili, pertimbangkanlah pengalaman seorang penginjil yang anda kenal:
    1. Dalam hal-hal apakah ia dicurigai atau salah dimengerti?
    2. Dalam hal-hal manakah ia harus dibenarkan?
    3. Hal-hal apakah seharusnya ia perbaiki?

9. Bimbingan Lanjutan: Cara Dan Bahan

Dalam menjalankan langkah-langkah pertama dalam pelanjutan ini, maka saudara harus melayaninya secara pribadi. Seseorang yang baru percaya, akan mempunyai beberapa pokok persoalan yang ingin dibicarakannya dengan saudara tanpa ditonton oleh orang lain. Itu hal yang biasa. Jadi sedikit-dikitnya saudara harus menyediakan waktu untuk bertemu 3 atau 4 kali, sampai bayi rohani ini dapat diikutsertakan dalam sebuah kelompok pelajaran Alkitab.

Seorang yang