Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.04 Vol.16/2013 / Yang Bodoh dari Allah (1 Korintus 1:25)

Yang Bodoh dari Allah (1 Korintus 1:25)


Seseorang berdiri di atas sebuah kayu dan berusaha menjaga keseimbangannya melewati beberapa meja rapuh yang ada di bawahnya, sambil bermain biola. Seorang di antara penonton menyenggol temannya, "Aku heran, mengapa ia bermain biola di depan umum. Padahal ia tidak mahir dalam memainkannya." Ini merupakan contoh bagaimana orang-orang memberi penilaian terhadap pikiran-pikiran para tahanan Kristen yang disiksa fisik dan mental, di penjara bawah tanah komunis. Yang menarik perhatian adalah apakah surga masuk akal untuk diharapkan, seperti: perbaikan kehidupan dalam waktu cepat, makanan untuk mengatasi kelaparan, penghentian penyiksaan yang mengerikan. Kita tidak memperoleh apa yang kita harapkan karena surga tidak bekerja dengan cara manusia -- masuk akal. Alkitab tidak berbicara mengenai hal-hal masuk akal tentang Allah, tetapi lebih mengenai kebodohan-Nya (1 Korintus 1:21; Lukas 15:7).

Giacopone (Jacopone da Todi -ed.) adalah seorang Fransiskan yang dianggap gila karena hal-hal yang ia lakukan bagi Yesus. Konon, dalam sebuah penglihatan yang pernah diterimanya, Yesus muncul di hadapannya dan bertanya, "Mengapa kamu melakukan perbuatan gila seperti itu?" Ia menjawab, "Karena Engkaulah yang mengajarkannya. Jika saya gila, Engkau bahkan lebih gila lagi dari saya. Di mana kemasukakalan atas kesengsaraan-Mu bagi saya? Saya seorang yang gila, sebab Engkau telah menjadi yang lebih bodoh."

Apakah masuk akal pengorbanan Anak Allah bagi domba yang bodoh, kotor, dan dungu? Saya bertanya seperti ini kepada banyak penggembala domba, "Apa yang akan Anda lakukan jika Anda melihat seekor serigala?" Mereka semua menjawab, "Kami akan lari menyelamatkan diri kami." Tidak ada manusia yang mau mati demi domba. Yesus melakukan yang sebaliknya. Dia mati demi makhluk hidup yang lebih buruk daripada domba -- demi mereka yang menyangkal, mengkhianati-Nya, menuntut penyaliban-Nya, dan tidak setia kepada-Nya. Dia mati demi para pembunuh-Nya, demi semua yang menghujat dan membenci Allah.

Jangan terkejut jika Anda tidak berhasil mendapatkan dari Allah, sesuatu yang masuk akal yang Anda harapkan. Jika Dia benar-benar masuk akal, Dia tidak akan pernah mau mendengarkan doa dari orang-orang seperti kita, juga tidak akan memberikan keselamatan kepada kita. Jika Anda dalam keadaan sedih atas kasih gila-Nya yang belum Anda alami, Anda dianggap termasuk ke dalam perumpamaan domba yang hilang. Hanya domba yang hilang yang benar-benar bisa membuktikan kasih dan kepedulian-Nya. Domba-domba hilang lainnya yang berpikiran masuk akal mengatakan bahwa mereka diabaikan dan ditinggalkan. Ketika anak yang hilang kembali pulang ke rumah, ia dipeluk dengan kasih, diberikan sebuah cincin, dan dijamu dengan anak lembu tambun, musik, dan tarian. Anak yang setia, yang baru pulang dari ladang dengan sangat keletihan dan keringat yang bercucuran, bahkan tidak disambut dengan kata-kata yang hangat.

Seorang Samaria yang baik di dalam perumpamaan, bukanlah seorang turis. Ia sangat yakin untuk melakukan perjalanan penting -- bisnis dan pertemuan-pertemuan yang harus dihadiri. Perbuatannya yang luar biasa baik pasti telah sangat merugikannya. Mungkin saja, ia bahkan meninggalkan tugas-tugas lainnya karena ia berhenti di tengah jalan untuk melayani orang yang terluka. Ketika di dalam penjara yang sunyi, saya menunggu selama bertahun-tahun agar Allah datang memberikan bantuan. Saya menyadari bahwa Dia tinggal di sekitar saya, dan saya berusaha untuk memikirkan Dia sebagai Seorang Samaria yang baik. Saya yakin, Dia bermaksud untuk menolong, tetapi mungkin Dia melihat seorang terluka lainnya yang membuat-Nya berbelas kasih untuk menolong dan membawanya ke penginapan. Saya berpikir bahwa Dia melihat seekor burung gereja yang jatuh dan mungkin juga Dia berhenti untuk menyeka embun yang membebani kelopak bunga, agar burung tersebut dapat jatuh di atas bunga dengan empuknya. Di dalam penjara sunyi, kami bahagia mengenai kasih gila-Nya, bahkan di saat-saat ketika kami bukan penerima kasih gila-Nya.

Jangan memercayai yang masuk akal di dalam surga, maka Anda tidak akan pernah dikecewakan. Percayalah hanya pada kenyataan bahwa ada satu Pribadi yang mengasihi Anda begitu bodohnya, Dia mati demi Anda.

Diambil dari:

Judul buletin : Kasih Dalam Perbuatan, Mei -- Juni 2004
Penulis : Richard Wumbrand
Penerbit : Kasih Dalam Perbuatan, Surabaya
Halaman : 2

e-JEMMi 04/2013