Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heremisi / Pengalamanku Bermisi di Atas Kapal Logos Hope

Pengalamanku Bermisi di Atas Kapal Logos Hope


By admin - Posted on 05 December 2017

Membawa harapan dari pesisir ke pesisir

oleh: Kusuma Negara

September yang lalu, saya meninggalkan Indonesia untuk menjadi misionaris, bukan ke negara tertentu, melainkan di kapal bernama Logos Hope. Mungkin tidak banyak yang pernah dengar mengenai kapal ini, karena terakhir kali kapal ini mengunjungi Indonesia sudah puluhan tahun yang lalu. Berikut ini sepenggal kisah saya bersama pelayanan misi yang tidak ada duanya ini.

Sekilas mengenai sejarah kapal ini: bermula dari George Verwer, seorang misionaris asal Amerika Serikat yang di kemudian hari mendirikan organisasi misi Operation Mobilisation (OM), pada tahun 1959 ia memulai pelayanan misinya, dan tidak lama kemudian memobilisasi ribuan orang yang tergabung dalam tim-tim misi jangka pendek untuk pergi bermisi ke Eropa, Timur Tengah, dan India.

Visi George Verwer untuk memobilisasi lebih banyak orang lagi membawanya untuk menggunakan kapal untuk mengangkut ratusan misionaris tersebut melalui jalur laut ke negara-negara di seluruh dunia. Sejak 1970 hingga saat ini, telah ada 4 kapal yang pernah beroperasi, yang terakhir adalah kapal Logos Hope.

Bersama kapal Logos Hope saya mengunjungi banyak negara yang besar kemungkinan tidak mungkin akan saya kunjungi sendiri. Di tempat-tempat yang kami kunjungi tersebut, kami membagikan pengetahuan, bantuan, dan harapan kepada orang-orang di sana.

Kami membagikan pengetahuan, karena kapal Logos Hope juga adalah toko buku terapung terbesar di dunia. Ada lebih dari 5000 judul buku yang dijual di atas kapal kami, mulai dari Alkitab, buku anak-anak, hingga buku-buku teologi. Para penduduk di kota yang kami kunjungi dapat naik ke atas kapal/toko buku kami dan membeli buku, dan rata-rata setiap hari ada ribuan orang yang mengunjungi kapal. Selain membeli buku, kami juga mengajak mereka bicara, membagikan Kabar Baik dan harapan kepada mereka.

Selain menyediakan berbagai macam buku, kami juga membantu masyarakat setempat dengan berbagai cara, mulai dari menyediakan air bersih, pelayanan kesehatan/kacamata gratis, hingga membantu memperbaiki rumah yang rusak. Di salah satu pulau yang disapu oleh badai, 95% dari bangunan di pulau itu mengalami kerusakan. Oleh tuntunan Tuhan, kapal Logos Hope dijadwalkan mengunjungi negara tempat pulau tersebut berada, jauh sebelum pulau tersebut dilanda badai. Di sana, kami berkesempatan menolong penduduk setempat membersihkan rumah mereka yang hancur dan memperbaiki beberapa rumah.

Walaupun masih banyak aktivitas kami yang lain, seperti pelayanan rumah sakit dan penjara, pelayanan sekolah minggu, panti asuhan, panti jompo, berbagai seminar untuk anak-anak, remaja maupun pendeta, namun yang paling penting yang kami lakukan melalui pelayanan kapal ini adalah membagikan harapan. Dalam setiap tindakan, interaksi, dan ucapan, kami tidak melupakan bahwa kami berada di kapal ini untuk membagikan Injil kepada orang-orang yang belum mendengar. Setiap hari, jumlah orang yang disentuh oleh pelayanan ini ada ribuan orang, dan tidak sedikit dari mereka yang menjadi percaya, baik karena membaca, mendengar, maupun berbicara dengan salah seorang anggota kapal Logos Hope.

Hal lain yang membuat pelayanan ini unik adalah anggotanya yang berjumlah lebih dari 400 orang, dan berasal dari lebih dari 60 negara. Beberapa dari antaranya merupakan pasangan suami istri, dan bahkan ada yang membawa bayi mereka bersama tinggal di atas kapal ini. Selain itu, mulai dari awak kapal hingga kapten kapal ini bekerja tanpa digaji. Setiap dari kami didukung oleh donator kami masing-masing, tidak sedikit yang didukung oleh gereja asal kami. Rata-rata setiap dari kami berkomitmen melayani di kapal ini setidaknya 2 tahun, ada beberapa yang 1 tahun, dan ada program jangka pendek 3 bulan. Penduduk dari kota yang kami kunjungi dapat menjadi sukarelawan selama kami berlabuh di satu tempat, biasanya selama 2-3 minggu.

Kegiatan kami sehari-hari adalah bekerja. Karena kapal ini berjalan sepenuhnya didukung oleh para sukarelawan, masing-masing dari kami bekerja di bidang/departemen kami selama 5 hari dalam seminggu, 1 hari libur, dan 1 hari untuk melakukan pelayanan yang lain. Ada bermacam-macam pekerjaan, mulai dari awak kapal, bagian mesin, katering, kebersihan, toko buku, hingga pelayanan internal, seperti sekolah (untuk belasan anak-anak kru yang ada di kapal), klinik, dan kantor.

Saya bersyukur karena saya dipanggil Tuhan untuk melayani di tempat ini. Pertama kali saya mendengar tentang kapal ini adalah dari buku berjudul Logos, yang menceritakan tentang pelayanan kapal OM yang pertama. Beberapa tahun setelah itu, saya mendapat kesempatan untuk pergi, dan dengan dukungan dari gereja dan keluarga saya mengikuti pelatihan hingga akhirnya saya bergabung dengan lebih dari 100 orang lainnya pada bulan September yang lalu. Melalui pelayanan ini saya juga dibekali dengan berbagai cara untuk membagikan berita tentang keselamatan kepada bangsa-bangsa lain yang mungkin tidak akan saya temui dengan cara yang lain. Namun yang paling indah adalah saat-saat ketika saya merasa bahwa surga nanti akan mirip seperti ini, ketika orang-orang dari berbagai bahasa, bangsa, gereja berkumpul dan memuji Tuhan dalam bahasa mereka di dalam satu keluarga.