Pandangan Saya tentang Misi

Oleh: Abraham Aji

Seperti kebanyakan orang percaya, konsep bermisi dan memberitakan Injil bukanlah sesuatu yang asing di telinga saya. Subjek ini sudah sering saya dengar, baik dalam khotbah, kesaksian, maupun dari membaca Kitab Suci, tepatnya dalam Kitab Matius pasal 28 yang membahas Amanat Agung. Kesan saya pada pekerjaan misi adalah bahwa misi merupakan tugas mulia yang diemban oleh setiap orang percaya. Namun, penerapannya masih cukup samar bagi saya. Pengertian saya terhadap misi adalah melakukan perjalanan ke suatu daerah/negara yang memiliki budaya dan bahasa yang berbeda dengan kita, dengan masyarakat yang belum mengenal Injil, dan kemudian memberitakannya. Ini adalah pekerjaan besar, dan rasanya tidak semua orang siap meninggalkan segalanya untuk memulai pelayanan di tempat yang benar-benar baru. Belum lagi kendala-kendala lain yang mungkin menyebabkan seseorang tidak bisa bermisi ke luar wilayahnya.

Bersyukur, melalui kesempatan untuk melayani di YLSA, saya semakin dekat dengan dunia teologi dan mendapatkan pengertian yang lebih luas mengenai misi. Saya menjadi tahu bahwa dalam misi, ada dua figur besar yang berperan, yaitu "yang diutus" dan "yang mengutus". Bila seseorang, karena tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan tidak mampu bermisi secara fisik, ia bisa mengambil bagian sebagai "yang mengutus" dengan memberi dukungan doa maupun dana, entah kepada misionaris ataupun lembaga misi. Hal yang sama berlaku juga untuk gereja, yang bertugas untuk mempersiapkan, membekali, dan mengutus misionaris. Melalui YLSA pula, saya mendapat perspektif baru tentang misi, yaitu misi pada era digital. Baru-baru ini, YLSA mengadakan acara +ED Pemuridan yang membahas bagaimana orang-orang percaya membuat murid pada abad ke-21. Melalui acara ini, pandangan saya dibukakan bahwa saat ini dunia maya menjadi ladang terbesar untuk bermisi. Dari jutaan orang yang menggunakan internet, masih banyak orang yang belum mengenal Kristus. Ini menjadi jalur misi baru dan harus direspons dengan segera oleh orang-orang percaya. Caranya, bisa dengan membagikan bahan-bahan digital kekristenan atau menjawab pertanyaan seputar persoalan hidup dari orang yang belum percaya menggunakan sudut pandang alkitabiah. Kemudian, melakukan pendekatan personel dan mengajak orang tersebut untuk datang kepada Allah.

Dengan semua peluang ini, sebetulnya tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak bermisi. Selebihnya, tinggal bergantung pada kehendak kita: Apakah kita akan taat pada Amanat Agung atau mengabaikannya? Satu hal yang saya agak sayangkan adalah gereja yang sepertinya kurang fokus pada topik misi. Saya bukan mengatakan bahwa gereja tidak peduli sama sekali tentang misi, tetapi sepanjang yang saya amati, gereja-gereja lebih fokus pada kesalehan jemaat lama, yang merupakan buah dari misi yang sudah lalu. Berdasarkan apa yang saya pahami, salah satu fungsi gereja sebetulnya adalah mengutus jemaat untuk bermisi, dan untuk itu diperlukan edukasi yang intens terhadap jemaat dan memperbanyak bahasan tentang misi agar jemaat pergi memuridkan dan membawa jiwa-jiwa baru.

Mengutip perkataan dari seorang hamba Tuhan di gereja saya: "Injil tidak tersebar luas karena gereja dan orang percaya tidak bertindak". Semua orang percaya sudah dipanggil untuk bermisi dan semuanya dapat bermisi; dan kita tidak perlu menunggu peneguhan yang supernatural dari Allah karena perintah bermisi sudah ditulis dalam Alkitab. Asalkan kita mau sungguh-sungguh mempelajari bahasa dan budaya asing, dan memahami doktrin agama dengan benar, bermisi sangat dimungkinkan terlebih pada era digital saat ini.

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin mengajak Anda merespons Amanat Agung yang sudah disampaikan oleh Allah. Saya juga berdoa kepada Allah semoga Ia memberi kepada kita semua hati yang penuh belas kasih kepada mereka yang terhilang.

Selamat bermisi dan memberitakan Kabar Baik. Semoga melalui ketaatan kita pada Amanat Agung, nama Allah semakin dikenal dan diagungkan.