Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Ketika Mengucap Terima Kasih Tak Semudah Kelihatannya

Ketika Mengucap Terima Kasih Tak Semudah Kelihatannya


By suwandisetiawan - Posted on 12 February 2019

Mengucap terima kasih kepada orang-orang yang berbuat baik kepada kita, atau kepada Tuhan ketika keadaan sedang baik, atau setelah menerima berkat, bukanlah hal sulit. Namun, bagaimana jika hal-hal yang tidak baik terjadi kepada kita? Saat segala sesuatu tak berjalan sesuai dengan yang diharapkan, masihkah kita berterima kasih kepada-Nya?

Kadang-kadang keadaan membuat kita sulit bersyukur, tetapi kita perlu belajar melakukannya. Banyak hal positif yang bisa kita pelajari dari ungkapan terima kasih.

1. Berterima kasih pada saat doa tidak dijawab sesuai harapan

Saat berdoa, pasti kita berharap doa itu akan dijawab seturut keinginan kita. Namun, bagaimana jika Tuhan berkata lain?

Misalnya, Anda berdoa minta petunjuk apakah pekerjaan yang kelihatan menggiurkan ini adalah pekerjaan yang tepat untuk Anda. Berita baiknya, Tuhan menjawab doa Anda dengan memberikan petunjuk yang jelas. Berita buruknya, Tuhan berkata tidak.

Bagaimana respons Anda ketika hal ini terjadi? Dapatkah Anda tetap mengucap terima kasih kepada Tuhan? Apakah Anda dapat melihat hal positif dari doa yang tidak dijawab dan belajar sesuatu darinya?

Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” – Markus 14:36

Dari ayat di atas, kita dapat melihat bahwa doa Yesus, anak Allah sendiri, pernah tidak dikabulkan. Kalau boleh pilih, tentunya Yesus tidak akan mau mati. Kenyataannya, apa yang Dia minta sebanyak tiga kali itu tidak dikabulkan oleh Bapa-Nya. Yesus pun menyerahkan seluruh hidup-Nya ke dalam kehendak Bapa dan ikhlas atas apapun yang akan terjadi pada-Nya.

Lihatlah apa yang terjadi kemudian. Melalui pengorbanan Yesus, Allah dapat menjalankan rancangan keselamatan yang luar biasa bagi manusia. Di balik doa yang tak terjawab, ada rencana-Nya yang lebih indah.

Belajar dari Yesus, mampukah kita sepenuhnya taat kepada Tuhan dan mengucap terima kasih atas doa yang tidak dijawab?

2. Terima kasih karena teguran yang penuh kasih

“Better to be slapped by the truth, than kissed with a lie.”

Lebih baik ditampar oleh kebenaran, daripada dicium oleh kebohongan. Kenyataan (biasanya sepaket dengan kejujuran) sering kali adalah hal yang pahit. Namun, bisakah kita mengucap terima kasih atas mereka yang mengambil langkah menegur kesalahan kita dengan kasih, ketimbang membahagiakan kita dalam kebohongan?

Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya: “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” – Markus 10:21

Seorang pemuda kaya bertanya kepada Yesus apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Sepuluh Perintah Allah sudah ia jalankan, tetapi Tuhan yang Mahatahu dengan penuh kasih mengatakan apa yang kurang darinya. Semuanya baik, kecuali prioritas hatinya yang masih tertuju kepada harta. Barangkali pemuda ini mengharapkan sebuah pujian seperti, “Good job”, tetapi yang ia dapatkan justru sebuah teguran yang penuh kasih.

Apakah kita bisa terima ketika sahabat, pembimbing, atau mentor kita menegur kita? Bagaimana respons kita terhadap mereka yang mengoreksi kesalahan kita? Membenci mereka atau introspeksi diri? Bisakah Anda berterima kasih karena mereka memilih mengambil resiko menegur Anda, alih-alih diam atau malah membicarakan Anda di belakang?

3. Berterima kasih karena didikan yang keras

Hidup yang tidak sejalan dengan keinginan kita bisa jadi merupakan arena didikan Tuhan. Masalah yang datang silih-berganti, dalam keluarga, pekerjaan, finansial, kesehatan, pendidikan, hubungan, dan lain sebagainya, merupakan contoh arena-arenanya.

“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? – Ibrani 12:5-7

Kita adalah anak-anak Allah. Ketika Allah mendidik kita dengan keras, pahamilah itu sebagai bagian dari proses pendisiplinan yang Dia terapkan untuk kita. Melalui banyak hal yang Tuhan biarkan terjadi dalam hidup, Dia menumbuhkan, membentuk karakter, dan mendewasakan kita. Dapatkah kita berterima kasih atas didikan-Nya itu?

“When life is sweet, say thank you and celebrate. When life is bitter, say thank you and grow.” Hari ini, sudahkah kita berterima kasih untuk segala hal, baik yang manis maupun pahit dalam hidup kita?

“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” – 1 Tesalonika 5:18

Source : https://gkdi.org/blog/terima-kasih-tak-semudah-kelihatannya/

Tags