Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / Daud dan Godaan: 3 Do’s to Defeat Temptations

Daud dan Godaan: 3 Do’s to Defeat Temptations


By suwandisetiawan - Posted on 12 March 2019

Alkitab mencatat bahwa Daud adalah “a man after God’s own heart”. Artinya, orang yang memahami hati Tuhan, yang hidupnya berkenan kepada-Nya (Kisah Para Rasul 13:22). Begitu berkenannya ia di hadapan Allah, Yesus sering kali memperkenalkan diri sebagai “Yesus, Anak Daud”.

Namun, raja yang tampak begitu sempurna ini pun tidak lolos dari godaan. Ini terjadi dalam kisah Daud dan Batsyeba (2 Samuel 11). Dosa perzinaan Daud merembet menjadi dosa yang lebih besar, bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang.

Yang namanya godaan memang tidak terelakkan dan ada di mana-mana. Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika godaan mulai mengintip? Bagaimana caranya agar kita mampu menjaga kekudusan diri dan tidak jatuh ke dalam dosa?
3 “Do’s” to Defeat Temptations Berdasarkan Kisah Daud

Berikut tiga “DO” yang perlu kita ingat saat menghadapi godaan:

1. Do what you need to do

Untuk menghindari godaan, langkah pertama kita adalah lakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Pada pergantian tahun, pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, maka Daud menyuruh Yoab maju beserta orang-orangnya dan seluruh orang Israel. Mereka memusnahkan bani Amon dan mengepung kota Raba, sedang Daud sendiri tinggal di Yerusalem. Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya. – 2 Samuel 11:1-2

Perhatikan kata-kata yang tercetak tebal. Kapan godaan mulai mengintai Daud?

Semua berawal ketika Daud, yang seharusnya pergi angkat senjata bersama pasukannya, memilih tetap tinggal di Yerusalem. Karena senggang, ia punya waktu untuk melamun; pikirannya pun kosong. Ia berjalan-jalan santai di atap istana dan tanpa sengaja melihat seorang wanita cantik sedang mandi.

Ketika Daud menganggur, godaan memiliki celah untuk masuk ke hatinya. Andaikan Daud ikut berperang saat itu, besar kemungkinannya ia tidak akan jatuh ke dalam dosa percabulan.

Jadi, biasanya godaan mengintip bukan saat seseorang sedang sibuk. Godaan muncul ketika semua orang sedang sibuk, tetapi kita sendiri bengong atau tidak melakukan apa-apa. Godaan datang saat semua orang pergi bekerja atau kuliah, sedangkan kita memilih bermalas-malasan sendirian di rumah. Di era digital, informasi begitu mudah didapat. Hanya dengan one mouse click, masuklah kita ke situs-situs terlarang, dan dosa pun hinggap.

Untuk menghindari godaan, langkah pertama kita adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Fokuslah pada apa yang mesti Anda kerjakan, entah itu belajar, bekerja, atau berkarya. Jangan sengaja menciptakan momen atau kesempatan yang berpotensi menjadi celah masuk godaan. Ini akan berujung pada dosa. Jagalah hati dan pikiran Anda dari hal-hal yang tak perlu Anda lihat, dengar, atau pikirkan.

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. – Amsal 4:23

2. Do not entertain your eyes, mind, ears, or any other senses

“Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” – 1 Petrus 5:8

Langkah kedua adalah jauhi sumber godaan secepat mungkin.

Kerap kali, godaan terpicu oleh apa yang ditangkap panca indera kita, entah mata, telinga, sentuhan, pikiran, dan lain sebagainya.

Salah satu cara agar godaan tidak berlanjut adalah menghentikannya pada celah awal di mana dia masuk. Daud tidak mengambil langkah ini. Sebaliknya, Daud malah menikmatinya. Akhirnya, ia mulai terlilit dosa yang lebih jahat, dan lebih jahat lagi.

Godaan ada dimana-mana. Ketika kita pergi ke mal dengan tujuan belanja, ada saja orang-orang dengan pakaian minim yang membuat pikiran kita jadi tidak murni. Hendak mencari bahan untuk kerja atau tugas, tiba-tiba gambar-gambar tak senonoh muncul begitu saja di layar komputer. Melihat angka berdigit banyak di data keuangan perusahaan, kita tergiur mengantungi sebagian. Godaan hadir meskipun kita tidak punya maksud untuk mencarinya sama sekali.

Namun, ada satu tokoh Alkitab yang berhasil menang dari godaan. Jika Daud tergoda, satu kali, oleh penglihatannya, Yusuf justru digoda, bahkan berkali-kali. Bedanya, Yusuf tidak jatuh ke dalam dosa karena ia memilih lari dari godaan.

Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: “Marilah tidur dengan aku.” Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. – Kejadian 39:12

Ya, godaan memang tidak terelakkan, tetapi bukan berarti tidak dapat kita atasi. Hentikan sumber godaan itu pada detik pertama Anda menyadarinya. Jangan dinikmati atau di-entertain. Jika perlu, larilah! Yusuf berlari dan ia berhasil lolos dari godaan. Kalau Yusuf bisa, Anda pun pasti bisa.

3. Domino Effect of Sin

Ditulisnya dalam surat itu, demikian: “Tempatkanlah Uria di barisan depan dalam pertempuran yang paling hebat, kemudian kamu mengundurkan diri dari padanya, supaya ia terbunuh mati.” – 2 Samuel 11:15

Langkah ketiga adalah ingatlah efek domino dosa.

Dari 2 Samuel 11, kita melihat bagaimana sebuah godaan kecil membuat Daud lambat-laun bergeser dari hidup benar. Dari seorang yang takut akan Tuhan, Daud berubah menjadi seorang pezina, bahkan pembunuh. Godaan kecil membuat Daud berbuat banyak dosa untuk menutupi yang sebelumnya

“Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari.” – 2 Samuel 12:10-11
Akibat satu dosa yang berkembang biak menjadi dosa-dosa lain, Daud menerima banyak konsekuensi. Keluarganya berantakan. Anaknya dari Batsyeba meninggal. Salah satu putranya, Absalom, berontak karena ingin menjadi raja. Terjadi pemerkosaan dalam keluarganya, pembunuhan dalam garis keturunannya, dan seterusnya.

Kisah Daud dan Batsyeba mengingatkan kita untuk memandang godaan kecil secara serius. Betapa pun remeh kelihatannya, godaan akan berbuah dosa. Dan, ibarat efek domino, dosa kecil dapat menuntun kita kepada dosa-dosa yang lebih besar, jika tidak dibasmi sejak dini.

Selain itu, kita juga tidak dapat lari dari konsekuensi dosa. Ada harga mahal yang harus dibayar akibat perbuatan kita.

Jadi, apa yang harus Anda perbuat ketika godaan mengintip? Do what you need to do. Sibukkan diri Anda dengan hal-hal positif, supaya godaan tidak mendapat celah masuk. Ketika godaan datang secara tidak sengaja, don’t entertain it! Jangan biarkan dia meracuni pikiran Anda. Dan, selalu ingat domino effect of sin. Dosa yang satu akan menimbulkan dosa-dosa lain, serta selalu ada konsekuensi yang harus dibayar.

Di atas semua itu, berdoalah, minta Tuhan untuk selalu menjaga hati dan perbuatan Anda.

“Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” – Matius 26:41

Source : https://gkdi.org/blog/daud-dan-godaan/

Tags