Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

You are hererenungan / 3 Tipe Manusia Berdasarkan Amsal: Yang Manakah Anda?

3 Tipe Manusia Berdasarkan Amsal: Yang Manakah Anda?


By suwandisetiawan - Posted on 20 June 2019

Amsal adalah kitab berisi kumpulan perkataan penuh hikmat dan kebijaksanaan yang ditulis dengan gaya bahasa puitis. Isi antologi yang rentang penulisannya mencakup beberapa zaman ini sebagian besar ditulis oleh Salomo (Amsal 10:1-22:6). Sisanya merupakan kontribusi beberapa penulis lain, di antaranya: pegawai-pegawai Hizkia (Amsal 25-29), Agur bin Yake (Amsal 30), dan ibu Lemuel (Amsal 31).

Pepatah dan instruksi dalam Amsal mengajak orang untuk hidup bijaksana di dalam takut akan Tuhan agar punya kualitas kehidupan yang baik. Di sejumlah bagian, terdapat pembahasan tentang karakter-karakter manusia yang begitu universal, aplikatif, bahkan tetap relevan di masa modern ini.

Ada tiga tipe manusia menurut kitab Amsal yang bisa kita pelajari:

1. Orang yang Tidak Berpengalaman (Amsal 1:1-3:1-12)

Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang yang bijak memperhatikan langkahnya. – Amsal 14:15

Seorang anak ibarat selembar kertas yang putih bersih. Di atasnya, kita bisa membuat coretan-coretan yang asal-asalan atau membuat sebuah lukisan yang indah.

Demikian pula dengan orang muda yang belum berpengalaman. Biasanya mereka lebih polos sehingga mudah dibujuk dan ditipu. Mereka tidak tahu bahaya, kurang waspada dengan orang yang bermaksud mencelakai, menjerumuskan, atau membuat mereka menjadi alat kejahatan (Amsal 1:10-16) Karenanya, tak heran banyak anak muda terlibat pergaulan yang salah sehingga terjerumus dalam minuman keras, obat-obatan, atau praktik kejahatan.

Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya. – Amsal 1:32

Anjuran Amsal untuk orang yang tidak berpengalaman adalah mendengarkan didikan ayah-ibunya (Amsal 1:8-9). Orang tua sebaiknya tidak lelah dan bosan menasihati anak-anaknya. Nasihat orang tua akan menjadi pengingat bagi anak-anak ketika mereka dewasa dan menghadapi masalah, sehingga mampu melakukan hal benar.

Kristen Muda

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” – 1 Korintus 11:1

Paulus menasihati orang-orang yang tak berpengalaman, yang masih muda dalam kekristenan, untuk menjadi imitatornya di dalam mengikut Kristus.

Kunci untuk cepat bertumbuh adalah dengan meneladani pembimbing atau kakak-kakak rohani kita. Banyaklah mendengar nasihat, terbukalah dalam menerima ajaran, dan praktikkanlah didikan yang diterima. Dengan demikian, Anda tahu bagaimana cara merespon masalah dengan benar, juga lebih mahir dalam membantu orang lain mengenal Tuhan atau mengajar firman.

2. Orang yang Bijaksana (Amsal 3:1-26)

Bukan berarti mereka yang bijak itu tidak pernah berkonflik, tak punya masalah, atau tak pernah berbuat salah. Yusuf terlibat konflik dengan kesebelas saudaranya, tapi ia mau memaafkan mereka dan menganggap semua yang terjadi pada dirinya adalah atas kehendak dan rencana Tuhan.

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” – Kejadian 50:20

Ciri-ciri Orang Bijaksana

Rendah hati ketika didisiplinkan oleh Tuhan
Orang bijak selalu memetik pelajaran dari peristiwa-peristiwa hidup, mencari tahu apa maksud Tuhan mengizinkan semua itu terjadi, dan percaya pada jalan-Nya. Ketika mengalami cobaan atau tantangan hidup, ia tidak menjadi pahit atau kecewa sehingga melewatkan pelajaran berharga di baliknya.

Jalan TUHAN adalah perlindungan bagi orang yang tulus, tetapi kebinasaan bagi orang yang berbuat jahat. – Amsal 10:29

Tidak mudah marah atau kecewa pada orang lain karena selalu melihat dari sudut pandang Tuhan
Ketimbang buru-buru menyalahkan, menghakimi, atau memandang negatif orang lain, orang bijak akan mencoba menganalisis situasi dari berbagai sudut pandang, dan yang terutama, dari perspektif Tuhan. Ia mempertimbangkan apa yang penting dan tidak penting untuk dipermasalahkan.

Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh. – Amsal 12:16

Menyukai nasihat dan teguran
Bagi orang bijak, nasihat dan teguran adalah kesempatan untuk menambah pengetahuan. Pada praktiknya, ini memang tidak mudah. Teguran sebaik apa pun pastilah tidak enak dan menyakitkan rasanya. Namun, orang yang bijaksana yakin bahwa selalu ada cara pikir yang benar dalam segala hal.

Berilah orang bijak nasihat, maka ia akan menjadi lebih bijak, ajarilah orang benar, maka pengetahuannya akan bertambah. – Amsal 9:9

Singkatnya, orang bijaksana adalah mereka yang dikatakan dalam Amsal 2:9: “Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.”

3. Orang yang Bebal (Amsal 10)

Cobalah cek daftar di bawah ini untuk melihat apakah jangan-jangan kita termasuk orang bebal.

Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang
Sebenarnya ia tahu mana yang benar dan tidak, tapi selalu mengulangi pola dan kebodohan yang sama.

Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang yang bebal mengulangi kebodohannya. – Amsal 26:11

Susah menerima masukan dan nasihat, apalagi teguran
Ia merasa dirinya bijak, masalahnya paling berat, kasusnya spesial, dan tidak ada yang bisa memahaminya. Hanya ia yang tahu kebenarannya. Selalu melihat kesalahan orang lain tapi meluputkan kesalahan sendiri. Ia menolak introspeksi dan tidak mau berubah.

Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal … – Amsal 28:26

Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya. – Amsal 18:2

Amarahnya meledak-ledak

Di tangan orang bebal, masalah kecil jadi besar, padahal bisa diselesaikan dengan cara sederhana. Ia mengambek karena hal sepele dan merasa berhak untuk marah. Menghukum orang lain dengan aksi tutup mulut (silent treatment), diam seribu bahasa dengan hati yang penuh kemarahan dan kebencian.
Di sisi lain, bukan berarti orang bijak tidak bisa marah. Hanya saja, mereka berusaha meredakannya sebelum amarah itu membawa mereka kepada dosa.

Orang bebal melampiaskan amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya – Amsal 29:11

Menganggap dirinya bijak
Ia membenarkan tindakannya, mencari-cari alasan untuk tidak berubah, cenderung berputar-putar, berfokus pada hal negatif dari orang lain, dan membesar-besarkan kebaikannya sendiri.

Jawablah orang bebal menurut kebodohannya, supaya jangan ia menganggap dirinya bijak. – Amsal 26:5

Jadi, termasuk tipe yang manakah Anda saat ini?

Apakah Anda seorang Kristen Muda yang tak berpengalaman? Tidak apa, Anda dapat belajar dari kesalahan dan pengalaman orang lain. Anda masih bisa bertumbuh dan melengkapi diri dengan pengetahuan firman, serta meneladani pahlawan-pahlawan iman yang Anda kagumi.

Bagaimana jika Anda ternyata seorang yang bijaksana? Bagus, tapi tetaplah mawas diri dan jangan sombong. Orang bijak pun bisa melakukan kesalahan, dan karenanya, Anda perlu terus belajar dan melakukan introspeksi dari waktu ke waktu.

Dan, jika Anda adalah tipe orang bebal, akankah Anda tetap bertahan menjadi orang yang sama, atau ingin berubah menjadi lebih bijak? Kalau Anda ingin berubah, ketahuilah bahwa perubahan itu tidak sesulit yang Anda bayangkan. Dengan belajar merendahkan diri serta takut akan Tuhan, maka pemahaman Anda akan dibukakan sedikit demi sedikit. Niscaya, Anda akan lebih bijak dan bahkan bisa menuntun orang lain ke jalan yang benar pula.

Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian. – Amsal 9:10

Source : https://gkdi.org/blog/3-tipe-berdasarkan-amsal/

Tags