Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBintang Pelajar Sekota

Bintang Pelajar Sekota


Pada tahun 1939 itu, gempar sekali umat Kristen di kota Ujung pandang!


Ada penginjil tersohor yang datang dari benua Tiongkok; namanya, Dr. John Sung. Kata orang, ia sudah berkhotbah di mana-mana di Asia Tenggara, di Taiwan, di Philipina, di Malaysia, di Singapura, di MuangThai. Dan di mana pun juga ada banyak sekali orang yang bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.

Pada tahun 1939, untuk pertama kalinya penginjil ternama itu datang ke Indonesia. Ada kampanye penginjilan raksasa di Jakarta, di Bandung, di Madiun, di Solo, di Surabaya, . . . dan di Ujungpandang.


Pada tahun 1939 itu juga, di kota Ujungpandang tinggallah seorang gadis kecil yang biasa dipanggil "Mia. Nama lengkapnya ialah, Maria Josephien Jacob. Tetapi nama itu rasanya terlalu panjang untuk seorang anak perempuan yang begitu kecil.


Si Mia adalah salah satu di antara delapan anak dari seorang janda. Ibu Jacob harus bekerja keras untuk memenuhi keperluan keluarganya yang banyak itu. Pagi-pagi ia menggoreng pisang, lalu kakak-kakak Mia menjajakannya waktu mereka pergi ke sekolah. Siangnya ibu itu mencuci pakaian orang lain. Setelah dikanji, lalu diseterika, pakaian uang sudah bersih itu diantarkan sore hari. Malam pun Ibu Jacob masih tetap bekerja; ia menjahitkan pakaian orang Belanda, kaum penjajah pada masa itu.


Walau ia begitu sibuk, Ibu Jacob sangat setia kepada Tuhan. Setiap jam lima pagi, ia membagunkan seisi rumah untuk berdoa bersama-sama (si Mia biasanya duduk di pangkuan Mama). Setiap malam, ibadah keluarga itu diulang lagi. Setiap hari Minggu, seluruh keluarga Jacob pergi ke gereja. Dan setiap bulan, masing-masing anak disediakan amplop persepuluhan untuk dipersembahkan kepada Tuhan.


Waktu ibunya pergi berkunjung, si Mia sering diajak. Mereka suka membawa sup dan bubur untuk tetangga yang sedang sakit. Mereka juga pergi ke sebuah rumah yang dipakai untuk perjudian dan pelacuran, untuk menginjili penghuninya. Alhasil, seorang wanita yang tinggal di situ percaya kepada Tuhan Yesus. Ia keluar dari rumah itu, dan kemudian ia menikah dengan seorang pemuda dari gereja.


Tentu saja seluruh keluarga Jacob ikut gempar pada waktu mereka mendengar bahwa Dr. John Sung dari benua Tiongkok akan datang di kota Ujungpandang untuk mengabarkan Injil. Setiap kali ada kebaktian kebangunan rohani, mereka selalu hadir, Ibu Jacob juga selalu turut memberi persembahan khusus untuk membiayai KKR itu.


Si Mia duduk terpaku selama Dr. John Sung berkhotbah. Kata-katanya sederhana saja; dengan sangat jelas ia memaparkan dosa manusia serta keselamatan yang tersedia dalam Yesus Kristus.


Sepulangnya dari kebaktian khusus itu, si Mia tidak dapat melupakan penjelasan tentang dosa dan keselamatan yang disampaikan tadi. Dengan menangis ia menemui ibunya di kamar.


"Mama," katanya dengan terisak-isak, "semua uang yang hilang itu, Mia yang ambil. Minta ampun, Mama, Mia sering berbohong, Mia sering melawan Mama . . . ."


Ibu Jacob merangkul dan memeluk anaknya yang masih kecil itu. Lalu ia berdoa sambil menumpangkan tangannya di atas kepala Mia. Dan si Mia dalam hatinya merasa pasti: Baik ibunya maupun Tuhan Yesus Sang Juru Selamat sudah mengampuni dosanya. . . . .


Pada tahun 1942 itu, kembali gempar penduduk kota Ujungpandang!


Tentara Jepang telah mengepung seluruh Nusantara. Si Mia terpaksa putus sekolah, karena keluarga Jacob dari kota mengungsi ke desa Wiliwili.


Pada masa perang itu, banyak anak yang pendidikannya telantar. Melihat keadaan yang menyedihkan itu, ibu dan kakak si Mia membuka sebuah sekolah darurat. Paling sedikit di desa itu anak-anak dapat diajar membaca dan menulis. Ada seorang pejabat pemerintahan Jepang yang menyumbangkan buku-buku tulis untuk usaha pendidikan itu. Tetapi ibu dan kakak si Mia hanya sanggup menyekolahkan anak-anak itu sampai tingkat SD kelas 3 saja. Pendidikan Mia sendiri masih tetap terlantar.


Menjelang masa berakhirnya Perang Dunia II, keluarga Jacob sempat kembali ke kota Ujungpandang. Mia rajin belajar, karena hendak mengejar waktu yang terhilang itu. Tamatlah dia dari SD; lalu ia masuk SLTP.


Pada masa perjuangan fisik itu, kota Ujungpandang masih dikuasai Belanda. Bahasa pengantar di SLTP tempat Mia belajar itu, bahasa Belanda; bahasa Indonesia hanya diajarkan sebagai pelengkap saja. Sebagai akibatnya, Mia sangat pandai bahasa Belanda, sedangkan bahasa Indonesianya agak kurang. Mia tahu, ia tidak akan naik kelas kecuali pelajaran bahasa Belanda mendapat angka tinggi.


Namun kepala sekolah SLTP itu memberi Mia nasihat yang bijaksana: "Mia, tekunilah bahasa Indonesia," katanya. "Kelak Indonesia akan merdeka. Bahasa Indonesia akan sangat dibutuhkan di kemudian hari."


Pada tahun 1949, Mia Jacob tamat SLTP. Setiap pelajaran yang angka rata-ratanya cukup tinggi itu dipanggil satu per satu ke kantor kepala sekolah. Teman-teman yang masuk ranking itu seorang demi seorang dipanggil . . . tetapi nama Mia Jacob belum disebut-sebut.


Ternyata si Mia adalah pelajar yang paling akhir dipanggil untuk menghadap. Pada saat itu, barulah ia mengerti mengapa ia diharuskan sengaja menunggu sekian lama: Dialah bintang pelajar, bukan hanya di sekolahnya saja, tetapi di semua SLTP di seluruh kota Ujungpandang! Dan bukan hanya itu saja: Kepala sekolah menawarkan beasiswa, jika Mia rela pergi ke Belanda dan belajar menjadi seorang juru rawat.


Begitu ia keluar dari kantor kepala sekolah, Mia dikerumuni oleh teman-temannya. Mereka semua ingin merayakan prestasi mereka.


"Nanti di rumah saya ada pesta," kata salah seorang pelajar wanita itu. "Tentu kalian diundang!"


"Wah, saya akan mentraktir kalian ke rumah makan!" kata seorang gadis lain lagi dengan penuh semangat.


"Papa saya punya bioskop," kata anak perempuan yang ketiga dengan pongah. "Kalian boleh nonton gratis!"


Mia ikut saling menyalami teman-temannya. Namun dalam hatinya ia tidak begitu menghiraukan hiruk-pikuk mereka. Mengapa saya mendapat angka yang tertinggi? tanyanya pada diri sendiri. Saya bukan yang terpandai. Ada seorang teman sekelas yang lebih pandai. Namun . . . sayalah yang menjadi bintang pelajar sekota. Pasti ini karunia Tuhan, bukan karena kemampuan saya. Ini kebaikan Tuhan kepada saya!


Kepada teman-temannya yang sedang bersuka ria itu, Mia mohon diri. Tetapi ia tidak segera pulang: Ia mampir dulu ke gereja. Tentu Mia tahu, Tuhan ada di mana-mana. Namun Miia merasakan Tuhan lebih dekat bila ia memasuki gedung ibadah.


Hari itu hari kerja, dan tidak ada acara apa-apa; gedung gereja pun tertutup. Mia mencari penjaganya dan minta agar gereja dibuka. Untung, penjaga itu sudah mengenal si Mia dan keluarganya dengan baik; ia tidak curiga, walau Mia tidak menjelaskan maksudnya.


Mia memasuki aula kebaktian yang besar itu. Selangkah demi selangkah ia maju ke depan. Ia berlutut di hadapan mimbar. Di situ ia mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan: "Ya Tuhan, aku tidak layak menerima pemberian-Mu yang terlalu baik ini. Terima kasih, Tuhan! Aku serahkan seluruh hidupku kepada-Mu yan terlalu baik ini. Terima kasih, Tuhan! Aku serahkan seluruh hidupku kepada-Mu. Pakailah sesuka-Mu!"


Barulah sesudah itu Mia keluar dari gereja, pulang ke rumah, dan memberitahu ibu dan kakak-kakaknya bahwa ia telah mendapat kehormatan khusus sebagai bintang pelajar sekota Ujungpandang. . . .


Pada tahun 1951 itu, gempar lagi penduduk kota Ujungpandang!


Pemberontakan Andi Aziz telah berkobar di pulau Sulawesi. Sebagai akibatnya, untuk yang kedua kalinya Mia Jacob terpaksa putus sekolah.


Ternyata Mia tidak jadi pergi ke Belanda untuk menerima beasiswa yang ditawarkan itu. Ia tetap memasuki SLTA di kota Ujungpandang. Tetapi baru kelas 2, sekolahnya pun terhenti.


Ketika pemberontakan itu aman dan sekolah-sekolah dibuka kembali, keadaan sudah berubah. Bahasa Belanda bukan lagi bahasa pengantar, melainkan bahasa Indonesia. Sedangkan Mia merasa masih kurang pandai berbahasa Nasional itu.


Lalu ada kesempatan yang tak terduga untuk mulai memperbaiki bahasa Indonnesianya. Mia diminta menerjemahkan sebuah buku kecil tentang George Muller, seorang tokoh Kristen Inggris keturunan Jerman yang sangat mengandalkan kuasa doa dalam memelihara ratusan anak yatim piatu.


Pada tahun 1955, dari pulai Sulawesi Mia pindah ke pulau Jawa. Di Semarang ia masuk sebuah sekolah tinggi teologia yang diselenggarakan oleh gereja-gereja Baptis. Pendidikan Alkitab dan ketuhanan itu akan melengkapi dia untuk memenuhi panggilannya yang dulu sudah ia rasakan sejak ia menjadi bintang pelajar sekota.


Selama berkuliah di Semarang, Mia diminta menerjemahkan cerita-cerita Alkitab untuk anak-anak Sekolah Minggu. Namun kekurangannya dalam bahasa Indonesia itu masih sangat terasa . . . lebih-lebih ketika ia mulai berkenalan dengan seorang mahasiswa teologi yang bernama Juliaan Sigar. Dengan cepat mereka berdua menjadi akrab, sekalipun pemuda itu berani memperbaiki cara Mia berbicara. "Sebaiknya Mia belajar membedakan kata `kita' dengan kata `kami'," Juliaan menasihati dengan lemah lembut.


Tidak lama kemudian, Nona Mia Jacob menjadi Ibu Mia Sigar. Ia menolong suaminya menggembalakan sebuah gereja di Semarang, kemudian sebuah gereja di Solo. Dan Pendeta Sigar masih tetap menolong istrinya memperbaiki bahasa Indonesianya.


Pada tahun 1963, suami-istri yang pandai itu diminta pindah ke Bandung, agar mereka dapat melayani melalui Lembaga Literatur Baptis. Tidak lama kemudian, Pdt. Juliaan Sigar keluar dari kantor penerbit itu, karena ia menjadi gembala sidang sebuah gereja di kota Bandung. Tetapi Ibu Mia Sigar masih tetap bekerja diLembaga Literatur Baptis selama sepuluh tahun lebih. Banyak sekali lembaran Sekolah Minggu, pelajaran Sekolah Injil Liburan, dan buku-buku tentang pengabaran Injil yang diredaksikannya selama tahun-tahun ini.


Ketika putri tunggalnya masih kecil, Ibu Mia rindu agar dapat bekerja di rumah; dengan demikian ia tidak usah datang ke kantor setiap hari. Terbukalah kesempatan itu pada tahun 1974, ketika ia pindah pekerjaan ke Lembaga Alkitab Indonesia. Ia diminta mengambil alih suatu proyek penerjemahan yang sudah setengah jalan, yaitu: Kabar Baik untuk Masa Kini, atau Kitab Perjanjian Baru Dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari.


Tugas besar itu diselesaikannya pada tahun 1978. Lalu Ibu Mia diminta mengetauai sebuah panitia yang terdiri atas tiga wanita, untuk memperlengkapi terjemahan gaya baru itu dengan Perjanjian Lamanya. Kedua anggota panitia itu masing-masing adalah seorang rohaniawati dari Gereja Katolik, dan seorang pengarang dan ahli Alkitab dari Gereja Protestan. Sebagai seorang Baptis, Ibu Mia berhasil membimbing pekerjaan mereka dengan lancar. Pada tahun 1985, terbitlah Alkitab Kabar Baik yang sudah lengkap.


Sejak dahulu Ibu Mia sangat memperhatikan anak-anak. Walau anaknya sendiri hanya seorang, namun sering ada anak-anak lain di rumahnya, juga di gereja dan di SD Kristen yang dibina oleh suaminya. Tidaklah mengherankan, sesudah selesai dengan Alkitab Kabar Baik, Ibu Mia juga menerjemahkan Kabar Baik Untuk Anak-Anak.


Ibu Mia masih ingat kesulitannya yang dulu, dalam hal menguasai bahasa Indonesia. Mungkin itu yang menyebabkan dia tetap rela mengerjakan berbagai macam terjemahan Alkitab untuk orang yang memerlukan bahasa Indonesia yang sederhana dan jelas.


Sampai saat ini Ibu Mia Sigar masih mengenangkan pengalamannya yang dulu, ketika ia menjadi bintang pelajar sekota Ujungpandang. Kata Ibu Mia: "Jauh sebelum saya memikirkan apa pun untuk melayani Tuhan dalam bidang literatur rohani, Ia sudah mempunyai rencana bagi saya. Rencana-Nya, serta cara-Nya Ia memperlengkapi saya untuk tugas yang telah disediakan-Nya itu, nyata jelas!"

TAMAT