Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.05 Vol.10/2007 / Bhutan

Bhutan


Bhutan adalah negara kecil yang sangat indah dan strategis letaknya. Negara ini berbatasan dengan India di sebelah selatan dan Cina di sebelah utara. Pemandangan alamnya beragam, mulai dari dataran, dataran berpasir dan hutan lembah, sampai ke Gunung Himalaya yang curam dan berbatu. Masyarakat Bhutan menyebut negara mereka dengan sebutan "Druk-yal", yang berarti `tanah naga guntur`.

Masyarakat Bhutan terbagi menjadi tiga, yaitu Bhotia Tibet, Sharchop atau Bhotia Timur, dan masyarakat Nepal. Ada juga bermacam kelompok suku lainnya. Bhotia, yang meliputi orang-orang Bhutan, umumnya berkumpul di Bhutan sebelah barat dan tengah. Mereka adalah komunitas suku terbesar. Kebanyakan dari pemimpin sosial dan politik di negeri itu datang dari kelompok ini. Pada abad ke-8, banyak kaum elit yang berimigrasi ke Bhutan dari Tibet. Masyarakat Bhotia Tengah umumnya berbadan tinggi dan atletis. Seperti nenek moyangnya yang adalah orang Mongolia, masyarakat Bhotia memiliki mata yang kecil dan panjang, serta tulang punggung yang lebar. Mereka dikenal sebagai orang yang mandiri dan bersemangat.

SEPERTI APA KEHIDUPAN MEREKA?

Masyarakat Bhotia Tengah umumnya adalah petani. Mereka harus bekerja sepanjang hari di sawah agar bisa mencukupi kebutuhan keluarganya. Sebagian hasil panen dijual di pasar untuk membeli barang-barang lainnya yang mereka butuhkan. Pola makan masyarakat Bhotia terdiri dari nasi, kentang, dan sayuran. Daging hanya dikonsumsi dalam porsi kecil dan mereka mendapatkan susu dari ternak yak.

Petani Bhotia Tengah umumnya tinggal di perkampungan kecil atau di rumah terpisah. Di kota yang lebih besar, rumah dibangun secara berkelompok dan banyak yang dicat dengan desain yang menarik. Biasanya, rumah dibangun dari kayu dengan dinding berlumpur yang tebal untuk menjauhkan hawa dingin. Kebanyakan rumah memiliki dua lantai, namun ada pula yang memiliki empat lantai. Jika keluarga tersebut memiliki binatang, ternak mereka ditempatkan di lantai dasar. Atapnya dibuat dari kayu yang dikaitkan dengan batu-batu yang berat.

Pernikahan Bhotia Tengah bersifat monogami. Wanitanya menikah kira-kira pada usia 16 tahun, sedangkan pria pada usia 21. Upacara pernikahan yang formal tidak diadakan. Pengantin baru bisa tinggal bersama keluarga mempelai pria, keluarga mempelai wanita, atau tinggal di rumahnya sendiri, tergantung siapa yang lebih membutuhkan tenaga untuk bekerja di sawah. Tipe keluarga luas sangat penting dalam budaya Bhotia Tengah. Kakek dan neneklah yang sering kali merawat anggota keluarganya yang lebih muda.

Wanita Bhotia Tengah memakai kain tenunan tipis yang indah dengan desain yang berwarna-warni dan rumit. Sehelai kain panjang, disebut "kira", dililitkan di tubuh dan pada bagian bahu disematkan sepasang bros perak. Dan biasanya, di luar "kira" akan dipakai jaket kecil. Kaum pria memakai jubah kotak-kotak, yang disebut "gos". Sewaktu siang hari, "gos" dikencangkan memakai sabuk sampai mencapai lutut. Malam hari ketika tidur, "gos" dilonggarkan. Masyarakat Bhotia jarang memakai topi. Ketika memasuki kuil, pria dan wanita memakai syal sebagai tanda hormat. Warna syal itu tergantung dari derajat seseorang.

APA YANG MEREKA PERCAYAI?

Sekte "Red Hat" yang beranggotakan orang Tibet yang beragama Budha adalah agama yang paling dominan di Bhotia Tengah. Meskipun hampir semua orang beragama Budha, masih ada beberapa orang yang mempraktikkan perdukunan Tibet. Dukun-dukun tersebut memercayai adanya alam dewa, roh jahat, dan roh leluhur yang tak kasat mata.

Sebagian besar keluarga yang beragama Budha memiliki kuil pemujaan di dalam rumah mereka. Keluarga yang miskin mungkin hanya memiliki gambar atau lukisan Budha kecil. Walaupun demikian, keluarga yang kaya bisa memakai seluruh ruangan sebagai kuil, memperlengkapinya dengan altar yang luas, lampu, dupa atau kemenyan, dan benda-benda religius lainnya.

Karena sejarah mereka yang terisolir dari bangsa-bangsa lain, masyarakat Bhotia Tengah tidak memercayai orang asing. Mereka cukup konservatif terhadap sifat dan nilai tradisi kuno mereka. Namun, mereka rentan terhadap perubahan karena mereka membutuhkan obat-obatan dan fasilitas modern.

Meskipun usaha-usaha untuk mencapai Bhotia Tengah sudah dilakukan, masyarakat Bhotia masih terisolasi dan menolak Injil. Diperlukan doa dan usaha penginjilan yang lebih lagi untuk mematahkan dinding isolasi dan tradisi ini.

POKOK-POKOK DOA

  1. Berdoalah agar Tuhan mengirimkan tim medis Kristen untuk tinggal dan bekerja di Bhotia Tengah.

  2. Mintalah agar Tuhan menguatkan dan melindungi sejumlah kecil orang-orang Kristen yang ada di Bhotia Tengah.

  3. Berdoalah agar Tuhan memberikan keberanian pada orang-orang Kristen baru ini untuk mengabarkan Injil pada sesama mereka.

  4. Berdoalah agar Tuhan menambahkan jumlah ahli bahasa yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Kebumtamp.

  5. Mintalah agar Tuhan menyatakan diri-Nya melalui mimpi dan penglihatan kepada orang-orang Bhotia.

  6. Berdoalah pula agar otoritas akan kekuasaan spiritual yang mengikat Bhotia Tengah dapat direbut.

  7. Mintalah agar Tuhan membangkitkan tim doa yang akan mulai mematahkan segala keterikatan melalui campur tangan-Nya.

  8. Berdoalah agar Tuhan membangkitkan gereja-gereja lokal yang kuat di Bhotia Tengah. (t/Lanny)

Bahan diterjemahkan dari sumber:

Situs : Joshua Project
Penulis: --
Alamat URL : http://www.joshuaproject.net/bhutan


e-JEMMi 05/2007