Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereArtikel Misi / Berilah Saya Sesuatu yang Dapat Saya Pahami

Berilah Saya Sesuatu yang Dapat Saya Pahami


Pengantar:

Ada banyak orang skeptis di sekitar kita, termasuk di antara mereka adalah orang-orang ateis. Artikel berikut ini akan menolong Anda untuk memahami kebutuhan mereka, khususnya yang benar-benar sedang mencari kebenaran. Selamat menyimak.

"BERILAH SAYA SESUATU YANG DAPAT SAYA PAHAMI"
Diringkas oleh: Novita Yuniarti

Apakah Anda pernah memerhatikan bahasa tubuh orang skeptis yang menghadiri acara yang diperuntukkan bagi mereka yang mencari kebenaran? Sering kali para skeptis bersikap menantang, seperti mengubah posisi duduk atau memicingkan mata mereka ketika seorang pembicara menuju mimbar, seolah-olah dengan bersikap begitu mereka sedang berkata, "Teruskan saja, serang aku dengan jurus terbaikmu. Pertahananku sangat kuat; ayo kita lihat apakah kamu bisa menembusnya."

Banyak orang skeptis menantikan khotbah yang baik dan menarik. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat mengupayakan agar hal itu terjadi? Bagaimana berkomunikasi dengan para skeptis? Ada tujuh karakteristik khotbah yang dapat membuat orang-orang skeptis tertarik untuk mendengarkan. Poin ini juga berguna bagi orang Kristen dalam mendiskusikan hal-hal yang sifatnya rohani kepada mereka yang belum percaya.

  1. Judul yang membangkitkan minat.

    Suatu survei membuktikan sekitar 54 persen dari orang skeptis "sangat" atau "sedikit banyak" tertarik mengetahui judul khotbah yang akan disampaikan. Alasannya adalah karena waktu sangat berharga dan mereka tidak mau membuang waktu hanya untuk mendengarkan khotbah yang tidak relevan dan tidak menarik perhatian mereka. Selain itu, judul harus dapat membangkitkan minat dan meyakinkan bahwa mereka akan mendapatkan keuntungan dari investasi waktunya.

  2. Khotbah-khotbah dengan bobot tinggi.

    Para skeptis ingin mengetahui lebih banyak mengenai Alkitab. Mereka berharap Alkitab dapat menolong mereka dalam menghadapi persoalan hidup, seperti menyembuhkan luka, meredakan amarah, menyelesaikan konflik, menenangkan ketakutan, mengatasi kesepian, meningkatkan peranan sebagai orang tua, memerbaiki hubungan, dan memahami diri sendiri. Dengan memahami apa yang menjadi kebutuhan mereka, diharapkan khotbah yang disampaikan dapat membuat para skeptis menemukan apa yang mereka butuhkan.

  3. Khotbah-khotbah itu membahas pertanyaan "apa" dan "mengapa".

    Orang-orang skeptis membutuhkan khotbah yang tidak hanya mengatakan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi juga menjelaskan mengapa Tuhan memerintahkannya. Contohnya, saat membahas topik seputar seks di luar nikah, sebaiknya tidak hanya menjelaskan bahwa perbuatan tersebut melanggar perintah Tuhan, tetapi juga menjelaskan mengapa Tuhan memberi batasan-batasan dalam hubungan seksual. Hal ini karena Tuhan mengetahui kehancuran emosional yang kita alami ketika kita terlibat hubungan intim dengan seseorang di luar pernikahan. Ia memahami rasa kesepian yang muncul ketika keintiman berakhir dengan perpisahan. Ia memahami rasa bersalah dan malu yang menghantui. Ia memahami risiko penyakit-penyakit seksual. Ia memahami bahwa ketika kehamilan terjadi, sering kali sang ayah pergi dan meninggalkan sang ibu dengan beban membesarkan si anak sendirian. Dan Ia paham bahwa dibesarkan oleh orang tua tunggal membuat si anak menghadapi berbagai risiko di hampir setiap bidang kehidupan -- emosional, intelektual, perilaku, keuangan, dan bahkan secara fisik. Ini alasan mengapa Tuhan membuat batasan terhadap seksualitas. Ketika orang skeptis mengetahui bahwa perintah Tuhan dimotivasi oleh kasih dan perhatian-Nya yang besar bagi mereka, dan bukan untuk membatasi kesenangan, maka mereka akan menjadikan Kristus sebagai Allah mereka.

  4. Khotbah-khotbah itu janganlah yang "lebih suci dari engkau".

    Orang skeptis tidak suka diremehkan. Cepat atau lambat, mereka akan mengetahui motivasi sang pembicara. Mereka akan merespons dengan baik jika pembicara dapat menjadi sahabat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan secara terbuka.

  5. Khotbah-khotbah itu memakai bahasa "saya".

    Orang-orang Kristen memahami istilah-istilah seperti "penebusan" dan "kebenaran". Orang-orang skeptis menghargai istilah-istilah tersebut, tetapi beberapa orang Kristen tidak menghargainya. Alan Walker berkata, "Ada semacam penyembahan berhala dalam hal bahasa yang sedang berkembang dalam penginjilan. Banyak orang yang jika tidak mendengar frasa-frasa dan kata-kata dengan bahasa yang biasa mereka dengar, terkadang mereka mengklaim bahwa yang sedang dikhotbahkan itu bukan Injil yang dimaksud."

  6. Khotbah-khotbah yang menjawab berbagai pertanyaan saya.

    Banyak orang Kristen mampu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang Kristen lain, contohnya ketika mereka membicarakan mengenai baptisan, apakah harus diselamkan atau dipercikkan. Namun sangat disayangkan, beberapa dari mereka sangat ceroboh ketika menjawab pertanyaan yang diajukan oleh orang skeptis. Kita perlu mengingat kembali bahwa satu hal yang menarik perhatian para skeptis ketika menghadiri sebuah ibadah adalah khotbah yang disampaikan hendaknya menjawab hal-hal yang mereka butuhkan, bukan hanya sekadar memberi keterangan atau penjelasan yang membingungkan mereka.

  7. Pembicaranya kelihatannya benar-benar menyukai saya.

    Anda tidak akan pernah mampu menjalin persahabatan dengan para skeptis jika Anda tidak mengasihi mereka. Salah satu syarat agar dapar menjalin hubungan dengan mereka adalah dengan menyayangi dan menerima mereka apa adanya.

    Rasul Paulus berkata, "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna, untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (1 Korintus 13:1-2)

    Dua sisi yang saling berhubungan adalah jika kita memedulikan para skeptis, maka kita akan tergerak untuk menjalin hubungan dengan mereka. Kita akan memahami apa yang mereka pikiran ketika kita berusaha untuk mengenal mereka. Selanjutnya kita dapat menyampaikan berita keselamatan yang sangat mereka butuhkan bagi kehidupan mereka saat ini maupun di masa yang akan datang.

Diringkas dari:

Judul buku : Inside The Mind of Unchurched Harry and Mary
Judul artikel : "Berilah Saya Sesuatu yang Dapat Saya Pahami"
Penulis : Lee Strobel
Penerjemah : Jonathan Santoso
Penerbit : Majesty Books Publishers, Surabaya 2007
Halaman : 215 -- 225

e-JEMMi 5/2008