Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.01 Vol.11/2008 / Belajar Bahasa dan Mencari Jiwa

Belajar Bahasa dan Mencari Jiwa


Belajar Bahasa dan Mencari Jiwa
Sekilas tentang pelayanan keluarga C di Asia Timur

Bel berbunyi, Pak C menutup buku, mengambil jaket tebal, memasang topinya, lalu pulang meninggalkan kampus besar dengan banyak mahasiswa asing di dalamnya. Ternyata belajar bahasa tidak gampang. Walaupun Pak C rajin dan sudah lebih dari satu tahun mempelajari bahasa setempat, di hatinya terkadang masih muncul perasaan putus asa dan merasa tidak mengalami kemajuan dalam pelajarannya, meskipun Pak C sadar bahwa itu hanyalah bisikan iblis yang ingin mematahkan semangatnya untuk melanjutkan pelayanan. Jika tidak rajin dan tekun dalam menghafal, maka akan sulit mengomunikasikan Injil kepada orang-orang setempat. Istri Pak C yang telah menunggu di flat asrama universitas untuk keluarga asing, lebih gampang mempelajari bahasa tersebut karena saat berada di Indonesia, mereka juga telah menggunakan dan memperdalam bahasa itu.

Sesudah belajar dan menyelesaikan PR, Pak C kembali ke kampus dan mencari asrama mahasiswa pribumi. Beliau ingin berkunjung ke beberapa mahasiswa yang telah dikunjunginya minggu yang lalu, yang bersedia untuk bersahabat dengan orang asing. Mereka mengobrol dan mengajar satu orang untuk bermain gitar sambil membicarakan tentang agama. Mahasiswa yang dicari Bapak tidak memiliki agama tertentu seperti kebanyakan orang di negara di mana mereka tinggal. Bukan hanya ratusan, bahkan ribuan orang di tempat itu menyembah kepercayaan lain.

Setiap orang yang ingin belajar tentang agama Kristen diundang ke rumah Pak C. Mereka berdiskusi dan menikmati hidangan yang enak yang disajikan istri Pak C. Lama kelamaan mahasiswa tersebut merasa diterima dan sering datang ke flat orang Indonesia. Setiap orang yang sudah mendengarkan Injil ditantang untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat mereka. Keluarga C sangat bersyukur kepada Tuhan oleh karena ada orang pribumi yang sudah dibaptiskan. Biasanya baptisan diadakan di bak kamar mandi, di flat mereka. Setelah itu mereka mengadakan perjamuan kudus dengan orang yang baru percaya. Walaupun situasinya sulit dan jemaat sangat kecil, tetapi sukacita mereka luar biasa. Sesudah baptisan, keluarga C mulai memuridkan petobat baru, sambil mengajar mereka untuk mencari jiwa. Biasanya petobat baru sangat rajin bersaksi di lingkungan dan keluarga mereka. Jika mereka tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan, mereka akan menanyakan kepada keluarga C dan mereka belajar bersama-sama.

Lewat pelayanan keluarga C kerajaan Allah bisa bertambah di antara suku yang jumlahnya tidak terlalu besar ini dan belum pernah mendengar Injil. Di bulan-bulan terakhir, orang asing dan juga keluarga C sangat diawasi oleh orang-orang setempat. Doakanlah agar pelayanan mereka dapat terus berlanjut di sana.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buletin : Terang Lintas Budaya Edisi 72 Tahun 2007
Penulis : tidak dicantumkan
Halaman : 3

e-JEMMi 1/2008