Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMi No.48 Vol.15/2012 / Beban pada Bahu Anak Lelaki Pertama

Beban pada Bahu Anak Lelaki Pertama


Ini terjadi saat T berusia 14 tahun. Sangat mustahil untuk menebak bagaimana besarnya dampak dari apa yang akan dialami oleh anak laki-laki yang berasal dari Ethiopia ini. Tetapi, satu hal yang pasti "Hidupnya tidak akan sama lagi". Orang yang paling ia kasihi, ia hormati, panutan bagi hidupnya, telah meninggalkannya selamanya.

Ayah T, YD, telah menjadi pengikut Yesus sesaat sebelum T dilahirkan. Pada tahun 2005, YD memboyong keluarganya untuk pindah ke distrik Qelem Welega, di daerah Oromia untuk mencari kedamaian. Tetapi, YD memiliki keinginan yang kuat untuk melayani Tubuh Kristus. Ia memberikan semangatnya untuk Tuhan, belas kasihannya kepada saudara seiman, dan dedikasinya kepada pelayanannya. Hal ini menjadikannya sebagai pemimpin dan pengkhotbah di sebuah Gereja Injili Lokal yang sangat setia.

Namun, pada tanggal 15 Maret 2010, ayah T dibunuh dalam perjalanan pulang setelah melakukan pelayanan. Ibu T, MG, tertegun memikirkan nasib keenam anaknya. Selama ini, MG selalu menjadi ibu rumah tangga. Di tengah kelemahan fisik dan emosinya, ia mencoba untuk melawannya dan bergulat dengan tanggung jawabnya yang baru; mengatasi kehilangannya, bekerja di ladang pertanian agar makanan terus ada di atas meja, dan ia juga harus menghadiri sidang pengadilan pascapembunuhan yang menjadikan suaminya sebagai korban.

Sepeninggal YD, keluarga ini tidak sanggup lagi menyewa rumah yang mereka sewa sebelum tewasnya YD. Menyadari hal ini, para pemimpin gereja memobilisasi anggota gerejanya, untuk membantu membangun rumah baru yang bersebelahan dengan rumah sebelumnya. Tetapi karena dana tidak mencukupi, lebih dari setengah proses pembangunan rumah itu tidak dapat terselesaikan. Bangunan itu hampir tidak dapat disebut rumah. Tidak ada pelindung yang melindungi mereka dari angin, dingin, dan hujan. Mereka juga tidak memiliki tempat tidur dan matras.

Bagi T, yang adalah anak pertama, sangat jelas bahwa ia harus berkorban dan berjuang bagi keluarganya. Ia harus segera turun dan bekerja di ladang, meskipun untuk mencapai tujuan ia harus berjalan selama satu setengah jam lamanya. Tetapi, perjalanan T selama 3 jam ini tidak menyurutkan semangatnya. Ia menyadari hanya dengan bekerjalah, maka ia dan keluarganya dapat makan.

Di samping konsentrasi MG pada keadaan finansial mereka, hal yang menguras perhatiannya adalah kasus pembunuhan YD. Dengan dilanda perasaan cemas karena peristiwa pembunuhan suaminya masih sangat segar dalam ingatannya, ia tidak memiliki kekuatan lagi untuk menghadiri rangkaian sidang. T pun menyadari tidak ada perwakilan dari keluarganya untuk menghadiri pengadilan. Bulan berganti bulan, ia pun setia mengikuti rangkaian sidang yang menghabiskan 5-6 jam seorang diri. Rute yang ia lewati adalah rute yang sulit dan terkadang harus kehujanan.

Di samping menghadiri persidangan dan bekerja di ladang, T menyadari bahwa ia kehilangan banyak waktu untuk bersekolah. Tetapi, ia terus berjuang untuk yang terbaik bagi sekolahnya. Pendaftaran untuk tahun ajaran baru telah mendekat. MG telah mengupayakan yang terbaik, namun ia tidak berhasil mengumpulkan cukup banyak uang untuk membayar biaya pendaftaran, atau untuk membeli seragam dan alat tulis bagi T, apalagi untuk adik-adik T. Hal ini mengharuskan T untuk mengorbankan pendidikannya. Ia pun melakukannya tanpa ragu-ragu. Tragedi ini tidak dapat ia tolak, dan ia dengan rela mengambil beban yang harus dipikul olehnya dan mengangkat beban tersebut di atas bahunya.

Namun, Tuhan berencana lain. Sebuah organisasi Kristen mendengar tentang pembunuhan YD dan berkesempatan untuk mengunjungi mereka. Tim ini pun datang tanpa pemberitahuan karena memang tidak ada cara untuk berkomunikasi dengan mereka. Kedatangan Tim ini membawa kejutan dan senyum bagi keluarga T, dan kekuatan bagi umat percaya setempat yang saat itu berkumpul dalam sebuah rumah yang kecil. Setelah tim menyadari akan kebutuhan keluarga ini, mereka segera berkomitmen untuk membantu dana untuk pemenuhan kebutuhan, serta keperluan perlengkapan sekolah untuk semua anak. MG dan anak-anaknya terdiam sejenak karena bantuan untuk sekolah, peralatan, dan seragam baru itu seperti jatuh dari surga.

"Sekarang saya mengerti bahwa saya memiliki banyak ayah di gereja," kata T kepada pendetanya. "Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan atas dukungan dan kekuatan yang berasal dari gereja dan saudara seiman kami," lanjutnya. Ia terlihat sangat senang saat menerima seragam, pena, dan buku tulis untuk sekolah. "Adik perempuan saya sangat senang karena ia memiliki barang yang sama, yang dimiliki oleh teman-temannya di sekolah."

"Kami umat Kristen tidak dibatasi oleh warna kulit atau bahasa," kata MG. "Orang yang tidak mengenal kami juga turut membantu kami saat kami membutuhkan. Kami merasa sangat senang! Tuhan akan terus membantu saya untuk membesarkan anak-anak ini," katanya.

Diambil dari:

Judul buletin : Frontline Faith, September - Oktober 2011
Penulis : Tidak dicantumkan
Penerbit : Yayasan Open Doors Indonesia, Jakarta
Halaman : 2 -- 3

e-JEMMi 48/2012