Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBantal Yang Berisi Buku (Myanmar, 1819 - 1840)

Bantal Yang Berisi Buku (Myanmar, 1819 - 1840)


Sudah enam tahun lamanya Adoniram Judson mencoba mengabarkan Injil di negeri Birma (kini Myanmar). Dengan segala daya upaya ia membanting tulang, berusaha memberitahu orang-orang Birma tentang Tuhan Yang Maha Esa, Pencipta langit dan bumi, dan tentang Yesus Kristus, satu-satunya Juru Selamat manusia yang berdosa.

Utusan Injil muda dari Amerika Serikat itu sudah mencoba berbagai macam cara penginjilan. Dengan susah payah ia telah menerjemahkan Kitab Injil Matius ke dalam bahasa Birma; lalu ia menyuruh mencetak terjemahannya itu. Tetapi banyak orang Birma yang masih buta huruf. Dan mereka yang dapat membaca, sering mengejek hasil karya Adoniram Judson itu.

Pdt. Judson juga sudah berusaha meniru metode mengajar yang lazim dipakai oleh guru-guru bangsa Birma sendiri. Ia menyuruh membangun sebuah pendopo untuk dia di pinggir jalan raya. Pendopo itu dikapur putih bersih, sehingga kelihatan lebih mencolok mata daripada pendopo-pendopo lainnya.

Sepanjang hari dengan sabar Adoniram Judson duduk di depan pendoponnya itu dan menyerukan kata-kata ajakan dari Kitab Nabi Yesaya, pasal 55:

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air,

dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! . . .

Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku;

Dengarkankanlah, maka kamu akan hidup!"

Namun kebanyakan orang Birma yang lewat di depan pendopo Kristen itu masih terus berjalan. Hanya beberapa orang saja yang cukup berminat, sehingga mereka mampir untuk mendengarkan ajaran guru asing itu. Dan kebanyakan pengunjung pendopo itu pun tidak mau kembali lagi untuk yang kedua kalinya.

Ya, sudah jelas, bangsa Birma lebih suka mengikuti ajaran lain . . . ajaran yang sama sekali tidak memberi janji kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat. Mereka tidak mau mendengar Berita Kesukaan tentang Tuhan Yesus.

Anak Pdt Judson jatuh sakit dan meninggal; Judson sendiri dan istrinya sering dihinggapi penyakit. Namun ia pantang mundur. Dan akhirnya pada tahun 1819, ada tiga orang Birma yang percaya kepada Sang Juru Selamat.

Hanya tiga orang saja, setelah usaha pengabaran Injil selama enam tahun! Dan ketiga orang itu pun sangat takut terhadap pemerintah Birma; mereka minta dibaptiskan pada malam hari, di sebuah perairan yang sepi. Pada waktu itu ada raja baru yang bersemayam di Ava, ibu kota Birma; rupanya beliau lebih keras lagi melawan ajaran asing daripada raja yang memerintah sebelumnya.

Dengan sedih Pdt. Judson menutup pendoponya. Ia khawatir kalau-kalau penginjilan secara terbuka akan dibalas dengan tindakan kekerasan terhadap ketiga petobat baru itu. Pelanggar hukum di Kerajaan Birma pada masa itu bukan hanya dihukum mati saja: Boleh jadi ia dihukum mati dengan siksaan secara paling kejam.

Seorang pendeta pengantar Injil muda bernama James Colman datang dari Amerika untuk membantu keluarga Judson. Pada suatu hari dalam tahun 1819, Pdt. Colman mengusulkan, "Mengapa kita tidak pergi saja ke ibu kota dan menghadap raja baru itu? Mengapa kita tidak minta izin secara terang-terangan untuk menyebarkan ajaran Kristen di Kerajaan Birma.

Pdt. Judson bertanya, "Kalau ditolak?"

"Lebih baik kalau kita tahu," jawab rekannya yang masih muda itu. "kalau demikian halnya, mungkin lebih baik kita meninggalkan saja negeri Birma dan pergi ke tempat lain."

Meninggalkan Birma! Adoniram Judson tidak sampai hati memikirkan kemungkinan demikian. Bukankah ia telah menghabiskan masa enam tahun dengan usaha mempelajari bahasa Birma yang amat sulit itu? Bukankah ia baru mulai melihat hasil jerih payahnya itu, dengan pertobatan tiga orang Birma?

Namun Pdt. Judson setuju dengan usul Pdt. Colman. Mereka menyediakan sebuah perahu sungai yang panjang, dengan sepuluh orang pendayungnya. Perjalanan mereka ke ibu kota Ava itu memakan waktu 35 hari. Di pinggir sungai, di mana-mana mereka melihat patung-patung berhala yang menandakan bahwa penduduk setempat pasti belum mengenal Tuhan Yang Maha Esa.

Setiba di ibu kota Ava, mereka pergi ke pintu gerbang istana raja. Mereka menaiki sebuah tangga yang terbuat dari batu marmer. Mereka melalui sebuah ruang yang dilapisi kayu eban. Di depan mereka ada sebuah pintu yang berkilauan dengan batu permata. Lalu pintu itu dibukakan, dan mereka memasuki ruang takhta. Tiang-tiang dan langit-langit ruang agung itu berlapiskan emas.

Sementara menunggu kedatangan sang raja, Pdt. Judson berunding dengan salah seorang menteri kerajaan. Ia menyodorkan hadiah yang hendak dipersembahkan: sebuah Alkitab bahasa Inggris berukuran besar, dengan sampul keemasan. Ia juga memperlihatkan salah satu surat selebaran berbahasa Birma yang telah dikarangnya, serta sepucuk surat permohonan agar ia diperbolehkan mengajar orang-orang Birma tentang Tuhan Yesus.

Sang raja masuk dengan segala kebesarannya. Sang menteri dan para hadirin sujud sampai ke lantai, . . . kecuali kedua orang asing itu. Mereka hanya berlutut dengan sikap hormat.

Sang raja duduk di atas takhta. Lalu ia menuding seraya bertanya kepada menterinya, "Siapa kedua orang ini?"

Andoniram Judson yang menjawab: "Kami guru-guru agama, hai Baginda yang mulia."

"Wah! Kalian dapat berbicara bahasa Birma?" tanya sang raja, amat heran. Selama beberapa menit ia bercakap-cakap dengan Pdt. Judson, dan rupanya ia merasa senang.

Ketika sang raja bertanya tentang maksud kedatangan kedua orang asing itu, sang menteri maju dengan bertiarap sampai ia dapat meletakkan persembahan dan permohonan mereka di depan takhta.

Sang raja mulai membaca surat selebaran itu: "Tuhan yang Maha Esa hidup selama-lamanya, dan di samping Dia tidak ada allah lain." Dengan muka yang menunjukkan murka sang raja membiarkan surat selebaran itu jatuh ke lantai.

Sang menteri segera mengantarkan kedua orang asing itu keluar. Kemudian ia pun menjelaskan keputusan sang raja: "Tidak ada jawaban atas permohonanmu itu. Dan mengenai tulisan sucimu, sang raja tidak memerlukannya; bawalah pulang saja."

Dari ibu kota Ava, Adoniram Judson dan James Colman memang pulang ke kota pelabuhan Yangoon. Mereka telah gagal. Sebaiknya mereka sekeluarga bersiap-siap pindah ke tempat lain.

Namun . . . heran, ketiga orang Kristen Birma itu, yang pada mulanya takut dibaptiskan pada siang hari, justru menantang Pdt. Judson agar bersikap lebih berani. "Tetaplah tinggal dengan kami sampai ada sepuluh orang yang percaya, Pendeta," mereka membujuk. "Setelah itu, kalau terpaksa, pergilah, karena selanjutnya kepercayaan kami akan tersebar dengan sendirinya. Sekalipun sang raja mengancam, tak mungkin ia dapat mencegahnya!"

Memang ada yang percaya, . . . tetapi Adoniram Judson tetap tinggal. Dan dalam jangka waktu satu bulan saja, ada sembilan orang Birma lagi yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus!

Maka Judson pun memberanikan diri untuk berjuang terus, sambil menerjemahkan Firman Allah ke dalam bahasa Birma. Para anggota jemaat yang hanya beberapa orang itu berkata bahwa terjemahan Surat Efesus hasil karya gembala sidang mereka, jauh lebih mudah dipahami daripada terjemahan Injil Matius yang terdahulu. Pdt. Judson berbesar hati; ia pun mulai mengusahakan terjemahan Kisah Para Rasul.

Tugas terjemahan itu sulit sekali! Huruf-huruf bahasa Birma berbeda sama sekali dengan huruf-huruf yang dipakai dalam semua bahasa lainnya. Apa lagi, tidak ada tanda pemisah antara kata atau kalimat, misalnya huruf besar atau tanda baca. Tidak ada kamus; tidak ada buku pedoman tata bahasa. Di samping semua halangan ini, pada zaman itu tulisan bahasa Birma biasa digores pada daun lontar kering, sehingga amat sukar untuk dilihat, apa lagi untuk dibaca.

Berita mengenai keberhasilan Adoniran Judson dalam menguasai bahasa Birma itu sampai ke ibu kota. Sang raja pun berminat, karena untuk hubungan luar negeri ia sering memerlukan seorang pengalih bahasa. Maka keluarga Judson dipanggil untuk pindah ke Ava. Tetapi Pdt. Judson harus menunggu istrinya kembali dari Amerika; Ibu Judson terpaksa pulang untuk berobat. Sambil menunggu istrinya selama sepuluh bulan di Yangoon itu, Adoniram Judson berhasil menyelesaikan terjemahan seluruh Kitab Pernjanjian Baru ke dalam bahasa Birma.

Sesudah sembuh, Ibu Judson kembali, dan mereka segera pindah ke Ava. Salah seorang anggota jemaat di Yangoon itu ikut serta sebagai pembantu mereka.

Ternyata cuaca di ibu kota itu panas dan lembab; ini yang menyebabkan baik Pdt. Judson maupun istrinya sering sakit. Dan yang payah lagi berkobarlah perang antara Kerajaan Inggris dengan Kerajaan Birma.

Adoniram Judson seorang Amerika; ia bukan orang Inggris. Namun semua orang asing yang berkulit putih itu digiring bersama-sama ke dalam sebuah penjara yang dikhususkan untuk menjalani siksaan dan hukuman mati. Kedua kaki mereka masing-masing dipasang rantai seberat enam kilo. Lalu mereka dijebloskan ke dalam ruang penjara yang paling kotor dan gelap.

Seandainya Ibu Judson tidak setia menolong suaminya, pasti ia meninggal pada waktu sengsara itu. Tiap hari Ibu Judson datang dengan membawa makanan segar serta air minum yang bersih. Berkali-kali ia memberi uang suap kepada para penjaga, agar suaminya mendapat tempat yang agak sehat, di bawah naungan semacam gubuk di halaman penjara.

Selama beberapa minggu Ibu Judson tidak sanggup datang sendiri; seorang pembantu menggantikan dia. Lalu ia muncul lagi, dengan membawa serta bayinya yang baru lahir.

Tentu Pdt. Judson senang melihat bayinya yang mungil itu, serta istrinya yang sudah sehat kembali. Namun ada hal lain yang sering menyusahkan pikirannya: Bagaimana dengan naskah tulisan tangannya itu? Bagaimana dengan satu-satunya salinan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Birma?

Di rumah naskah itu kurang aman, karena rumah keluarga Judson sudah dua kali digeledah tentara kerajaan. Maka Ibu Judson menjahit sebuah bantal yang sengaja dibuat keras dan kumal, agar penjaga penjara tidak mengirannya. Di dalam bantal itulah ia memasukkan naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Birma.

Selama sebelas bulan Adoniram Judson tidur dengan kepala bersandarkan bantal yang berisi buku itu. Siang malam ia menderita; namun ia mengucap syukur kepada Tuhan, karena naskahnya yang berharga itu masih aman.

Tiba-tiba pada suatu hari semua tahanan disuruh berderet di halaman penjara. Rantai yang berat itu dilepaskan, lalu mereka diikat berdua-dua. Judson mohon dengan sangat agar ia boleh membawa serta bantalnya, sampai-sampai ia menangis dan orang-orang tahanan lainnya mengejek dia. Namun penjaga yang bengis menyobek bantal itu, lalu membuangnya ke tempat sampah.

Judson dan para tahanan lainnya dipaksa berbaris sejauh enam belas kilometer di luar kota, di bawah terik matahari. Kaki mereka berdarah; mulut mereka kekeringan. Ada yang tidak tahan dalam perjalanan maut itu; ada yang meninggal sebelum tiba di tempat tujuan; ada juga yang jatuh pingsan di ujung jalan. Namun Pdt. Judson masih hidup. Dan ia masih tetap terkurung di dalam penjara di luar kota itu, selama tujuh bulan lagi.

Pada suatu hari ada berita dari sang raja; Ia memerlukan seorang pengalih bahasa yang pandai berbahasa Inggris dan bahasa Birma. Maka Adoniram Judson dibebaskan dari penjara, walau masih tetap dijaga dengan ketat.

Setibanya di ibu kota, yang pertama-tama dipertanyakan Judson ialah mengenai istri dan anaknya. Para penjaga memberitahu bahwa kedua orang itu masih selamat. Pertanyaan Judson yang kedua adalah mengenai bantalnya. Para penjaga tidak tahu, dan tidak ambil pusing tentang benda yang mereka anggap kurang berharga itu.

Ternyata Kerajaan Birma tidak kuat menghadapi pasukan perang Kerajaan Inggris. Tentara Birma dipukul kalah. Dalam perundingan perdamaian, jasa Adoniram Judson sebagai pengalih bahasa itu sangat diperlukan.

Akhirnya semua tugas yang dituntut sang raja itu selesai. Pdt. Judson dengan keluarganya boleh kembali ke Yangoon, kota pelabuhan dan tempat tinggal mereka semula. Di sana mereka kembali menjumpai orang-orang Kristen Birma, yang selama masa perang itu masih setia mengikut Tuhan Yesus.

Salah seorang di antara ketiga petobat yang pertama-tama itu, rupanya sangat senang bertemu kembali dengan gurunya. "Wah, kami kira Pendeta sudah meninggal! Lagi pula tiada kubur tempat tinggal kami dapat pergi berrkabung. Namun aku masih tetap memelihara bantal itu, tempat kepala Pendeta pernah bersandar."

"Bantal?" tanya Adoniram Judson, hampir tidak percaya. "Bantal apa itu?"

"Ya, bantal kecil itu yang dipakai Pendeta waktu di penjara. Untung aku sempat menyelamatkannya dari tempat sampah sebagai kenang-kenangan, pada hari itu ketika Pendeta digiring keluar halaman penjara dalam perjalanan maut."

Dengan tangan gemetar Pdt. Judson menerima kembali bantal yang kotor dan tersobek itu. Ia sengaja menyobek tutupnya lagi sehingga rusak sama sekali, dan . . . ternyata naskahnya masih utuh!

Maka dengan semangat baru Adoniram Judson mulai mengabarkan "isi bantal" itu kepada orang-orang Birma. Tidak lama kemudian, istri dan anaknya yang tercinta itu meninggal; namun ia berjuang terus. Dan ia pun meneruskan tugas terjemahan Firman Tuhan itu. Perkataan Raja Daud dalam Kitab Mazmur yang tengah dialihkannya itu sering menghibur hatinya yang sedang sedih.

Bertahun-tahun kemudian, pengabar Injil yang setia itu dikarunia sebuah keluarga baru. Istri keduanya itu melahirkan beberapa anak; di antara mereka, di kemudian hari ada yang menjadi hamba Tuhan sama seperti ayahnya.

Baru pada tahun 1835 seluruh Alkitab itu selesai diterjemahkannya ke dalam bahasa Birma. Namun Judson masih belum puas. Selama lima tahun ia mendalami lagi tulisan sastra bahasa Birma, baik prosa maupun puisi. Sering ia meminta pendapat para rekannya, baik utusan Injil maupun orang Kristen Birma. Akhirnya pada tahun 1840 ia merasa puas. Terjemahan Alkitab hasil karyanya yang diterbitkan pada tahun itu, hingga kini masih tetap dibaca di gereja-gereja di negeri Myanmar.

Selama tahun-tahun Adoniram Judson berjuang mati-matian demi tugas penginjilan dan penerjemahannya itu, suatu gerakan Kristen besar mulai nampak di negeri Birma. Bahkan pada masa hidup Judson, sudah ada ribuan orang Birma yang percaya kepada Tuhan Yesus. Dan sekarang, lebih dari satu setengah abad kemudian, ada ratusan ribu orang Kristen di negeri Myanmar.

Siapa tahu, mungkin semuanya itu tidak akan terjadi, . . . seandainya tidak ada seorang ibu Amerika yang pandai menjahit, serta seorang bapak bangsa Birma yang setia menyimpan bantal yang berisi buku, sampai saat ia menyerahkan kembali kepada pemiliknya!

TAMAT