Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are heree-JEMMI No.01 Vol.11/2008 / Bahwa Kita Harus Menaruh Segala Harapan Kita Kepada Allah

Bahwa Kita Harus Menaruh Segala Harapan Kita Kepada Allah


Datangnya tahun 2008 cukup menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang, termasuk orang Kristen. Selain masalah ekonomi dan politik, saat ini dunia juga sedang diancam oleh berbagai masalah lingkungan hidup, seperti pemanasan global, pencemaran lingkungan, dan lain-lain. Tidak seperti generasi-generasi sebelumnya, para orang tua generasi zaman ini tidak lagi dapat berkata kepada anak cucunya bahwa masa depan mereka akan lebih baik dibandingkan masa-masa sebelumnya. Kekhawatiran-kekhawatiran ini perlahan-lahan akan membawa manusia pada titik di mana ia harus mengambil sikap hidup yang akan menguji iman percaya mereka pada Tuhan. Bagaimana dengan Saudara? Sikap hidup seperti apakah yang akan Anda ambil untuk bertahan dalam menghadapi tantangan di tahun 2008?

Simaklah doa yang ditulis oleh Thomas A. Kempis di bawah ini. Melalui doa ini, marilah kita belajar kepada siapa seharusnya kita menaruh pengharapan kita.

BAHWA KITA HARUS MENARUH SEGALA HARAPAN KITA KEPADA ALLAH

Tuhan, apakah yang menjadi kepercayaanku selama hidup di dunia ini; atau apakah yang merupakan penghiburanku yang paling besar di antara segala sesuatu yang ada di bawah langit ini?

Bukankah Engkau, ya Tuhan dan Allahku, yang sungguh Maharahim?

Bilamanakah aku pernah baik keadaanku tanpa Dikau? Atau bilamana aku pernah jelek keadaanku, jika Engkau bersama aku? Aku lebih suka melarat bersama Dikau, daripada kaya tanpa Dikau.

Aku lebih suka mengembara bagaikan orang asing bersama Dikau di dunia ini, daripada memiliki surga, tetapi tanpa Dikau. Di mana Engkau berada, di situlah surga; dan di mana Engkau tidak berada, di situ merupakan maut dan neraka.

Engkaulah seluruh harapanku, kepada-Mulah aku harus mengeluh, berseru, dan memohon.

Akhirnya, tak seorang pun yang dapat kupercaya sepenuhnya untuk menolong aku dalam kemalanganku sebaik-baiknya, kecuali Engkau, ya Allahku.

Engkaulah pengharapanku, kepercayaanku, dan sahabatku yang paling setia.

Semua orang mencari kepentingan diri sendiri; tetapi Engkau hanya menghendaki keselamatan dan kesempurnaanku, dan segalanya Engkau arahkan bagi kebahagiaanku.

Juga bila Engkau membiarkan aku tertimpa pencobaan-pencobaan dan kesusahan-kesusahan, semuanya itu pun Engkau tujukan untuk kebahagiaanku. Sebab dengan bermacam-macam jalan Engkau biasa menguji orang-orang yang Engkau cintai.

Dan waktu tertimpa pencobaan-pencobaan itu, maka aku tidak boleh kurang mencintai dan memuliakan Dikau, daripada jika aku merasa tertimbun oleh-Mu dengan hiburan-hiburan surgawi.

Maka kepada-Mu, ya Tuhan Allah, aku menaruh segala harapanku dan kepada-Mu aku berlindung; kepada-Mu kuserahkan segala kesusahan dan ketakutanku; sebab segala sesuatu yang di luar-Mu, tampaklah lemah dan goyah.

Sebab banyak sahabat tidak akan berguna bagiku dan pelindung-pelindung yang kuasa tidak akan mampu menolong aku; tiada penasihat bijaksana yang akan dapat memberi nasihat yang berguna, dan buku-buku yang tertulis oleh sarjana-sarjana tak ada yang akan mampu memberi penghiburan kepadaku; tiada barang suatu pun yang berharga dapat menolongku dan tak ada sesuatu tempat, sekali pun tersembunyi dan menarik hati, akan mampu memberi perlindungan kepadaku, jika Engkau sendiri tidak menolong, membantu, memperkokoh, menghibur, mengajar, dan melindungi aku.

Sebab segala sesuatu yang kelihatannya memberi tenteram dan bahagia, sesungguhnya bukan apa-apa jika Engkau tidak besertanya; dan sebenarnya semua itu tidak memberi kebahagiaan sedikit pun juga.

Engkaulah tujuan terakhir dari segala yang baik, Engkaulah yang memenuhi kehidupan dan merupakan sumber segala kebijaksanaan; dan menaruh harapan kepada Dikau melebihi segala sesuatu, itulah hiburan yang terkuat bagi hamba-hamba-Mu.

Kepada-Mu aku mengarahkan pandanganku; kepada-Mu kutaruh kepercayaanku, ya Allah, Bapa segala rahim (2 Korintus 1:3).

Berkatilah dan kuduskanlah jiwaku dengan berkat surgawi, agar menjadi tempat tinggal-Mu yang suci dan merupakan takhta kemuliaan-Mu yang kekal. Semoga dalam kenisah keallahan-Mu ini tiada terdapat sesuatu pun yang tidak berkenan kepada Wajah-Mu.

Sudi apalah kiranya memandang kepadaku dengan kebaikan yang sangat besar dan dengan belas kasihan-Mu yang tak terhingga itu, dan dengarkanlah doa hamba-Mu yang hina ini, yang jauh dari-Mu, bagaikan orang buangan merantau di dalam negeri yang penuh kegelapan maut ini.

Lindungilah dan peliharalah jiwa hamba-Mu yang berada di tengah bahaya-bahaya dalam kehidupan yang fana ini; dan hendaklah menuntun jiwaku ini dengan dikawal rahmat-Mu, melalui jalan ketenteraman masuk ke tanah air kemuliaan abadi. Amin.

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Judul buku : Mengikuti Jejak Kristus
Judul artikel : Bahwa Kita Harus Menaruh Segala Harapan Kita Melulu kepada Allah
Penulis : Thomas A. Kempis
Penerbit : Obor, 1997
Halaman : 235 -- 238

e-JEMMi 1/2008