Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBahasa Yang Belum Pernah Ditulis (Kepulauan Hawaii, 1820 - 1845)

Bahasa Yang Belum Pernah Ditulis (Kepulauan Hawaii, 1820 - 1845)


Ciri-ciri kepulauan Hawaii ada banyak yang mirip dengan ciri-ciri kepulauan Indonesia. Pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh di sana agak sama dengan pepohonan dan buah-buahan yang tumbuh di sini.

Orang Hawaii, sama seperti orang Indonesia, adalah keturunan bangsa pelaut. Berabad-abad yang lalu, nenek moyang mereka berdatangan dari jauh ke pulau-pulau yang indah itu, dengan berlayar dalam perahu-perahu besar. Bahasa mereka pun masih termasuk serumpun bahasa Melayu. Jalan di sana disebut: alan. Langit disana disebut: lani. Dan dalam bahasa Hawaii kuno malo adalah untuk cawat yang dipakai oleh kaum pria agar mereka tidak merasa malu.

Namun selama berabad-abad bahasa Hawaii itu belum pernah ditulis. Bahasa itu hanya dipakai secara lisan saja, . . . sampai ada sebuah kapal layar yang berlabuh di kepulauan Hawaii pada tanggal 14 April 1820.

Pdt. dan Ibu Hiram Bingham, dengan dua belas utusan Injil yang lain, berlayar ke sana dengan kapal itu selama hampir setengah tahun. Begitu lama mereka menghabiskan waktu untuk mengarungi laut dari Amerika Serikat ke kepulauan Hawaii. Konon, pada masa itu belum ada kapal terbang atau pun kapal bermotor, belum ada radio dan radar ataupun alat-alat modern lainnya yang menunjang kelancaran perjalanan antar pulau dan benua pada masa kini.

Pdt. Bingham dan rekan-rekan sepanggilannya itu berlabuh, lalu turun ke darat. Mereka menghadap Raja Liholiho dan minta izin menetap di kepulauan Hawaii. Permohonan mereka itu diterjemahkan oleh seorang pedagang yang berperan sebagai pengalih bahasa.

Raja Liholiho agak bingung. Rupa-rupanya ia sudah mendengar sedikit tentang ajaran-ajaran agama Kristen. "Jika aku menerima kalian," katanya, "dan jika ajaran-ajaran kalian mulai berlaku di sini, itu berarti aku harus menceraikan empat dari kelima istriku yang tercinta, dan selanjutnya aku hanya boleh beristri seorang saja."

Untuk membujuk sang raja, rombongan utusan Injil itu menghadiahkan kepadanya sebuah Alkitab bahasa Inggris yang bagus. Baginda sangat menyukai Buku besar itu. Namun ia tidak dapat membacanya. Pada hakikatnya ia tidak dapat membaca sepatah kata pun dalam bahasa apa saja, karena bahasanya sendiri, bahasa Hawaii, belum pernah ditulis.

"Memang di seluruh kepulauan ini," demikianlah Pdt. Bingham menulis dalam sepucuk surat kepada temannya di Amerika, "tidak ada buku, pena, attau pun potlot, untuk dipakai baik untuk kesenangan maupun untuk urusan, baik untuk mendapat ilmu maupun untuk menyampaikan pikiran."

Raja Liholiho bersikeras bahwa para utusan Injil itu harus segera mengajarkan bahasa Inggris kepadanya. Pdt. Bingham dengan senang hati melayaninya, dan tidak lama kemudian sang raja dapat berseru dengan sangat nyaring: "How do you do! Aloha!" (Aloha adalah kata salaman yang paling lazim di kepulauan Hawaii.)

Sang raja dengan seluruh pengiringnya diajak menikmati suatu perjamuan di atas kapal, yang masih tetap menjadi tempat tinggal sementara untuk para utusan Injil. Keesokan harinya, Raja Lihaliho hendak membalas budi dengan mengundang rombongan orang asing itu ke pesta makannya sendiri.

Namun mereka menolak undangan itu, karena harinya jatuh tepat pada hari Minggu. Sang raja sangat murka. Tetapi kemudian ia diberi pengertian bahwa hal berpesta pada hari Minggu itu dianggap kapu (tabu) oleh umat Kristen. Maka undangan itu diundurkan sehari. pada hari Senin seluruh rombongan utusan Injil turrun ke darat dan makan bersama-sama dengan sang raja dan kelima istrinya.

Akhirnya Raja Liloho mengambil keputusan bahwa para utusan Injil itu boleh menetap di mana saja di kepulauan Hawaii, serta boleh tinggal "selama satu tahun." Mula-mula Pdt. Bingham dan kawan-kawannya agak bingung tentang batas waktu yang sedemikian pendeknya. Namun "satu tahun" itu kemudian diperpanjang sampai berpuluh-puluh tahun.

Pdt. dan Ibu Bingham menetap di pulau Oahu, sedangkan kebanyakan rekan sepanggilan mereka menetap di pulau Kauai. Dalam sepucuk surat yang dikirimnya ke Amerika, Pdt. Bingham menggambarkan kesibukan mereka semua: "Kami bekerja keras untuk belajar bahasa Hawaii. Kami pun berusaha menyusun sitem tulisan untuk bahasa itu serta menyediakan buku-buku pelajaran, agar semua penduduk di sini dapat belajar membaca secepat mungkin."

Memang hanya satu bulan setelah keluarga Bingham mendarat di pulau Oahu, mereka berhasil membuka sebuah sekolah untuk anak-anak Hawaii. Karena belum ada jam atau lonceng di kepulauan itu, anak-anak disuruh berkumpul tiap hari pada saat matahari mencapai ketinggian tertentu.

Tidak lama kemudian, Raja Liholiho menjadi kurang senang atas berhasilnya sekolah itu dan mengancam akan menutupnya. "Nanti anak-anak itu akan lebih cepat mnjadi pandai daripada aku sendiri!" demikianlah omelannya. Tetapi utusan-utusan Injil dapat meredakan kegeramannya dengan menjelaskan bahwa baginda sedang belajar bahasa Inggris, yang jauh lebih sulit daripada bahasa Hawaii yang dipakai oleh anak-anak sekolah.

Sementara itu, ada seorang raja bawahan di pulau Kauai yang dengan senang hati menerima ajaran bahasa Inggris maupun ajaran Alkitab. Tujuannya belajar bahasa asing itu ialah, justru supaya ia dapat membaca Firman Tuhan. Maka ia menulis sepucuk surat kepada badan zending di Amerika Serikat yang telah mengirim rombongan utusan Injil kepadanya. Inilah saduran suratnya itu:

Kawan-kawan yang baik hati,

Biarlah kami menulis beberapa baris saja untuk


mengucapkan terima kasih atas Buku yang baik itu, yang


diberikan oleh Tuhan Allah supaya kami membacanya.

Mudah-mudahan seluruh rakyat kami dengan segera akan membaca


Buku ini.

Kami percaya bahwa semua patung berhala kami itu


kurang berguna, dan bahwa Tuhan Allah itulah satu-satunya


Allah yang benar, yang telah menciptakan segala sesuatu.

Patung-patung berhala itu telah kami buang; tiada


gunanya, kami merasa tertipu olehnya. Kami telah memberi


mereka kelapa, nanas, daging babi, dan banyak hal yang baik,

namun mereka menipu kami. Sekarang kami sudah membuang


semuanya.

Setelah kami belajar dari orang-orang yang baik yang


telah kalian kirim ke mari, maka kami akan mulai menyembah


Tuhan Allah yang disembah oleh kalian. Kami senang oleh


karena kalian telah mengutus orang-orang baik itu ke mari,

agar mereka dapat menolong kami. Kami mengucapkan terima


kasih karena mereka telah mengajar putra kami. Kami


mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang berada di


Amerika.

Terimalah ini dari sahabat kalian


Raja Kaumualii

Sementara itu, Pdt. Hiram Bingham dan seorang kawan sekerjanya sedang membanting tulang menyusun abjad untuk bahasa Hawaii. Mereka menemukan bahwa dua belas huruf saja sudah cukup untuk menulis semua bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa itu: kelima huruf hidup, a, e, i, o, dan u, ditambah dengan tujuh huruf mati saja, yaitu h, k, l, m, n, p, dan w.

Namun mereka merasa sangat bingung pada waktu mereka mulai berusaha menerjemahkan Alkitab. Bagaimanakah nama Raja Daud itu dapat ditulis tanpa huruf D? Bagaimanakah nama Rut dapat ditulis tanpa huruf R maupun huruf t? Sama parahnya juga nama suami Rut, Boas, kalau harus ditulis tanpa huruf B maupun huruf s!

Maka mereka memutuskan untuk menambah sembilan huruf lagi pada abjad bahasa Hawaii, khusus agar dapat menulis nama-nama di dalam Alkitab. Namun kesembilan huruf itu tidak segera diajarkan kepada seseorang yang buta huruf. Biarlah dia belajar dulu kedua belas huruf yang cukup untuk melafalkan semua kata asli dalam bahasa ibunya. Kemudian ia baru akan diajarkan huruf-huruf tambahan.

Pada tanggal 7 Januari 1822, sebuah mesin cetak tiba di kepulauan Hawaii, sesuai dengan permintaan Pdt. Hiram Bingham. Raja Liholoho datang untuk melihat "alat ajaib" itu. Ketika satu halaman telah dizet dengan kata-kata dalam bahasa Hawaii, Pdt. Bingham membiarkan sang raja sendiri menekan pengukit mesin cetaknya. Baginda tersenyum lebar ketika ia melihat kertas putih itu yang diisi penuh dengan kata-kata yang dapat dibacanya sendiri.

Penggunaan seni cetak itu mengobarkan hidup baru dalam gereja-gereja dan sekolah-sekolah Kristen di kepulauan Hawaii. Beberapa minggu kemudian, sudah terdaftar lima ratus pelajar baru. Pada saat Raja Liholiho pergi melawat ke seluruh wilayah kerajaannya, hadiah-hadiah yang dibawa sertanya bukan lagi jubah-jubah kebesaran yang terbuat dari bulu burang yang berwarna-warni, melainkan buku-buku pelajaran mengeja.

Pdt. Bingham telah menerjemahkan beberapa lagu rohani ke dalam bahasa Hawaii. Orang-orang Hawaii sangat menyukainya, serta menyanyikannya dengan penuh semangat dalam gedung-gedung gereja mereka yang terbuat dari rumput kering.

Pada tanggal 4 Agustus 1828, Pdt. Bingham mencatat bahwa ia sudah tidak usah lagi menggunakan seorang pengalih bahasa pada saat berkhotbah. Hari Minggu yang berikutnya, Raja Lihaliho dan ibunya datang mendengar Pdt. Bingham berkhotbah. Mereka naik sebuah gerobak yang ditarik oleh manusia, karena belum ada kuda maupun lembu di seluruh kepulauan Hawaii. Setelah kebaktian biasa, Pdt. Bingham juga menikahkan pengabar Injil bangsa Hawaii yang pertama. Pengantinnya yang cantik itu adalah seorang lulusan sekolah putri. Sang permaisuri begitu terharu menyaksikan pernikahan Kristen itu sampai-sampai ia menangis dengan suara nyaring selama ia berada di gereja.

Beberapa hari kemudian, Raja Liholiho menulis sepucuk surat kepada Raja Mahina di kepulauan Tahiti. Sengaja ia memakai bahasa Inggris, agar saingannya itu dapat mengetahui kepandaiannya yang baru. Demikianlah bunyinya surat sang raja itu:

O Mahina,

Kami sedang menulis pesan ini kepadamu. Kami merasa


terharu oleh karena putramu sudah meninggal. Kami mengirim


salam kasih kepadamu dan kepada seluruh kaum bangsawan di


kepulauanmu.

Kami sedang mempelajari Palapala [Alkitab]. Kalau


kami sudah pandai, kami akan datang ke tempatmu untuk


mengunjungimu. Semoga engkau akan diselamatkan oleh Yesus


Kristus.

Liholiho

Ibunya Raja Liholiho baru minta dibaptiskan pada saat menjelang kematiannya. Sang permaisuri itu pun menyuruh putranya menghadap dia, lalu memesan kepadanya sebagai berikut: "Peliharalah baik-baik kepulauanmu itu dan bangsa ini. Lindungilah para utusan Injil. Ikutlah jalan yang lurus. Ingatlah dan kuduskanlah Hari Sabat. Layanilah Tuhan Allah. Indahkanlah Firman Allah, agar engkau berhasil baik dan akan bertemu kembali dengan ibumu di surga kelak."

Kepada kaum bangsawan, permaisuri yang sedang menghadapi ajalnya itu berpesan: "Lindungilah guru-guru yang telah datang ke tempat orang-orang yang berhati gelap ini; indahkanlah ajaran-ajaran mereka. Sekali-kali jangan mengingkari perintah-perintah Tuhan. Dialah Allah yang baik. Dewa-dewa kita yang lama itu sia-sia belaka."

Pada bulan Nopember tahun 1828, sang raja dan para bangsawan menerbitkan undang-undang yang pertama untuk seluruh kepulauan Hawaii. Polanya? Sepuluh Hukum Tuhan. Pada minggu yang sama itu, halaman pertama dari Kitab Injil Lukas dalam bahasa Hawaii berhasil dicetak di kota Honolulu. Naskah-naskah terjemahan Kitab-Kitab Injil Matius, Markus, dan Yohanes sudah lebih dahulu dikirim ke Amerika untuk dicetak di sana.

Dalam tahun-tahun yang berikutnya, ada bagian-bagian dari Kitab Perjanjian Lama yang diterbitkan, dan terjemahan Kitab Perjanjian Baru itu pun mengalami beberapa perbaikan. Baru pada tahun 1839, setelah ia berkhotbah, belajar, dan mengajar di kepulauan Hawaii selama sembilan belas tahun, Pdt. Hiram Bingham dapat melaporkan: "Seluruh Alkitab sudah selesai!" Selesainya terjemahan lengkap dari Firman Allah itu benar-benar membawa pengaruh: Ribuan orang lagi berbondong-bondong memasuki gereja.

Sudah timbul suatu generasi baru di antara bangsa Hawaii, yang dibesarkan menurut ajaran-ajaran Alkitab. Mereka itu insaf bahwa masih banyak perubahan dan perbaikan yang perlu diadakan di tanah air mereka. Maka pada tahun 1839 sistem hukum mereka disempurnakan, dan pada tahun 1840 mereka menetapkan undang-undang dasar.

Ada raja baru yang masih muda, yaitu cucu Raja Liholiho. Ia menempuh suatu masa perjuangan yang panjang, bergumul dengan negara-negara asing agar daulat dan kemerdekaan kepulauan Hawii itu tetap dihormati. Dalam rangka usaha itu, pada tahun 1841 Pdt. Hiram Bingham pergi ke Washington, ibu kota Amerika Serikat. Kepada Konggres (DPR) di sana ia mempersembahkan sebuah salinan Alkitab lengkap dalam bahasa Hawaii. Dengan maksud tujuan yang sama, raja Hawaii yang masih muda itu pergi ke negeri Inggris dan bertemu dengan Ratu Victoria yang tersohor.

Pada tahun 1845, DPR Hawaii berkumpul di kota Honolulu untuk mendengar suatu pidato penting yang disampaikan oleh raja mereka. Inilah sebagian dari pidato baginda pada kesempatan itu:

Kemerdekaan negara kita telah diakui oleh Amerika


Serikat, Inggris Raya, Perancis, dan Belgia. Kami ingin tetap


memelihara hubungan perdamaian dan persahabatan dengan segala


bangsa.

Kami pun insaf betul bahwa Firman Tuhan merupakan


batu penjuru negara kita. Melalui pengaruhnya, bangsa kita


telah diperkenalkan ke dalam keluarga besar negara-negara


yang merdeka di seluruh dunia. Oleh karena itu, kami akan


berusaha terus-menerus untuk menjalankan pemerintahan kami


dengan sikap takut akan Allah; untuk mengimbangi kebenaran


dengan belas kasihan dalam menghukum kejahatan; dan untuk


memberi imbalan yang sepatutnya kepada rakyat yang rajin


berbuat baik.

Demikianlah pengaruh Alkitab terhadap suatu bangsa yang hanya satu generasi sebelumnya belum mempunyai bahasa yang ditulis!

TAMAT