Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs e-MISI

Loading

You are hereBagian E. Pedoman untuk Menafsir Nubuatan

Bagian E. Pedoman untuk Menafsir Nubuatan


Untuk memahami bagian-bagian Alkitab yang mengungkapkan nubuatan,
orang Kristen harus mengetahui dua hukum, dan mengikuti enam aturan
penafsiran.

DUA HUKUM

1. Hukum Referensi Ganda. Kadang-kadang nubuatan tertuju pada
manusia, tetapi memiliki elemen-elemen yang dapat diterapkan pada
makhluk adikodrati atau manusia di masa yang akan datang. Sebagai
contoh, pada kisah pengutukan ular setelah kejatuhan manusia dalam
dosa, Allah mengatakan bahwa Dia akan mengadakan permusuhan antara
ular dan perempuan (Kejadian 3:14-15). Di sini Allah menunjuk pada
Iblis, yang berbicara melalui ular untuk mencobai Hawa. Dia sedang
menubuatkan pergumulan antara Kristus dan Iblis (Roma 16:20;
Galatia 3:16; Ibrani 11:15; Wahyu 19:11 - 20:10).

Nubuatan dalam Yesaya 14:1-32 dan Yehezkiel 28:1-26
tertuju pada raja-raja Israel. Namun dalam setiap penggenapannya, tidak
dapat dibatasi hanya pada orang-orang tersebut ketika mereka muncul dalam
sejarah. Keduanya mengacu pada Iblis, memberi informasi tentang ia
yang tidak terdapat di tempat lain dalam Alkitab.

2. Hukum Perspektif Nubuatan. Para nabi sering menggambarkan
peristiwa-peristiwa di masa yang akan datang dalam suatu gambaran
tanpa menunjukkan pemisahan dalam hal waktu. Hal ini dapat
diumpamakan seperti memandang puncak-puncak gunung dengan sekali
pandang tanpa memperhatikan lembah-lembah di antara puncak.

Yesus menggunakan hukum perspektif nubuatan ketika Dia
membacakan Kitab Suci di sebuah sinagoga di Nazaret. Dia membuka
gulungan kitab Yesaya dan membaca:

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk
menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah
mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang
tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan
orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan
telah datang" (Lukas 4:18-19).

Kemudian Yesus menutup gulungan kitab tersebut. Orang-orang yang
telah mengenal Yesaya 61:1-2 dengan baik mestinya bertanya-tanya
mengapa Yesus berhenti di tengah-tengah ayat kedua. Dia tidak
membacanya karena bagian terakhir dari ayat Yesaya 61:2, "dan hari
pembalasan Allah kita, untuk menghibur semua orang berkabung," mengacu
pada masa kesengsaraan. Jadi bagian pertama Yesaya 61:1-2 adalah
nubuatan tentang kedatangan Yesus yang pertama; sedangkan bagian terakhir
adalah nubuatan tentang kedatangan-Nya yang kedua. Nabi Yesaya melihat
semuanya itu dengan sekali pandang. Ia tidak mengetahui bahwa sedikitnya
ada rentang waktu duaribu tahun memisahkan kedua fase dalam nubuatannya.


Nubuatan dalam Yoel 2:28-32 juga memiliki penggenapan ganda.
Bagian pertama digenapi saat Pentakosta, seperti yang dikatakan Rasul
Petrus dalam khotbahnya (Kisah 2:17-21). Namun bagian
kedua, yang mengacu pada bulan yang berubah menjadi darah dan
tanda-tanda adikodrati lainnya, belum digenapi pada awal masa gereja
mula-mula (Kisah 2:19-20). Hal itu akan terjadi pada masa
kesengsaraan yang mendahului kedatangan kembali Kristus dengan segala
kemuliaan-Nya.

ENAM ATURAN


  1. Tafsirkan dalam konteks. Bersama seluruh bagian Alkitab,
    pertimbangkan penulis/pembicaranya, situasi, orang-orang yang menjadi
    tujuan pemberitaan, dan subjek nubuatan.

  • Tafsirkan secara harfiah (literal). Berikan arti yang lazim pada
    setiap kata, kenalilah gambaran-gambaran yang ada dalam pembicaraan.
    Jika para nabi menyebutkan jumlah hari atau tahun, terimalah apa
    adanya.
  • Berhati-hati dengan simbol. Jangan mengartikan bagian nubuatan
    dengan arti simbolik atau rohani bila penafsiran harfiah cukup logis.
    Sebagai contoh, gempa bumi dalam Wahyu 6:12-17 harus diterima
    sebagai gempa bumi yang sesungguhnya; bukannya diartikan sebagai
    perpecahan yang terjadi di antara umat manusia.
  • Lihatlah penggenapan yang segera akan terjadi. Pertama-tama
    lihatlah pada unsur-unsur nubuatan yang digenapi hanya dalam jangka
    waktu beberapa tahun, kemudian yang digenapi selama kedatangan
    Kristus yang pertama dan yang akan digenapi pada kedatangan-Nya yang
    kedua.
  • Tetaplah konsisten. Jangan memperlakukan nubuatan-nubuatan Kristus
    berbeda dari nubuatan-nubuatan Perjanjian Lama.
  • Jangan mengartikan terlalu jauh. Tolaklah godaan untuk menjadikan
    detil-detil kecil sebagai dogma. Beberapa pertanyaan berkenaan dengan
    akhir zaman, tetap tidak akan terjawab.

  • Tujuh manfaat pemahaman Alkitab bagi kita:

    1. Menyadarkan kita akan dosa (Ibrani 4:12)

    2. Membersihkan kita dari pencemaran dosa (Mazmur 119:9,11)

    3. Memberikan kekuatan (Keluaran 12:1-51; Ulangan 8:3)

    4. Memberitahu kita apa yang harus dilakukan (Yakobus 1:2)

    5. Mempersenjatai kita untuk menang atas dosa (Efesus 6:17)

    6. Menjadikan hidup kita berbuah (Mazmur 1:1-3)

    7. Memberikan kuasa dalam doa (Yohanes 15:7)

    - Wilbur M. Smith